P. 1
Kajian Sistem Pendidikan Pencak Silat Tapak Suci Dalam Proses Kaderisasi ah

Kajian Sistem Pendidikan Pencak Silat Tapak Suci Dalam Proses Kaderisasi ah

|Views: 1,254|Likes:
Dipublikasikan oleh Hasanudin Dwi Sabdo Putro

More info:

Published by: Hasanudin Dwi Sabdo Putro on Mar 09, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman

dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

KAJIAN SISTEM PENDIDIKAN PENCAK SILAT TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH DALAM PROSES KADERISASI MUHAMMADIYAH (Sebuah Analisis Kritis)

KARYA ILMIAH
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Kenaikan Tingkat Kader Muda ke Kader Madya Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Oleh :

HASANUDIN DWI SABDO PUTRO
NBM : NBTS :

PERGURUAN SENI BELADIRI INDONESIA

TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH
PIMDA 058 KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2012
i

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

ii

KAJIAN SISTEM PENDIDIKAN PENCAK SILAT TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH DALAM PROSES KADERISASI MUHAMMADIYAH (Sebuah Analisis Kritis)
Dipersiapkan dan disusun oleh

HASANUDIN DWI SABDO PUTRO, S.Pd., M.Pd. NBM : NBTS :

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal …………………….2012 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima
SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Susunan Dewan Penguji

Penguji I

Penguji II

………………………….

…………………………..

Penguji III

………………………….

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

iii

ABSTRAK
Hasanudin Dwi Sabdo Putro.

Kajian Sistem Pendidikan Pencak Silat Tapak

suci putera muhammadiyah dalam Proses Kaderisasi Muhammadiyah, Perguruan Seni Beladiri Indonesia PIMDA 058 Kabupaten Sragen, 2012.
Tujuan umum kajian ini adalah mengkaji secara deskriptif mengenai

kurikulum pendidikan dan konsep pembelajaran modern serta kurikulum pendidikan/latihan dan konsep pembelajaran pada Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah serta implikasinya terhadap mata rantai kaderisasi pada Perguruan Tapak Suci sendiri dan pada induk Organisasi Persyarikatan Muhammadiyah. Sejalan dengan tujuannya, kajian ini didasarkan pada konsep-konsep literasi dari website dan blog serta pengamatan di lapangan secara empiris. Data-data yang didapatkan dikaji melalui analisis komparatif berdasakan teori, pendekatan, strategi dan model-model pendidikan formal dan modern. Hasil kajian dan pembahasan disimpulkan bahwa kurikulum pendidkan Tapak Suci belum tersusun secara sistematis, baku dan belum bersifat applicable baik ditinjau dari sisi kerangka, struktur dan pengembangan. Sistem pembelajaran kurang adanya perencanaan yang matang, pasti, terukur (authentic assessment) dan mampu telusur. Perlu adanya kajian yang lebih intensif baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk mengukur sigifikansi mengenai kontribusi kaderisasi Tapak Suci terhadap Persyarikatan Muhammadiyah. Karena diindikasikan banyaknya

pemutusan mata rantai kaderisasi baik di dalam Perguruan Tapak Suci sendiri maupun implikasinya terhadap persyarikatan Muhammadiyah sebagai induk organisasi. Dengan demikian akan dapat segera diketahui efektifitasnya, kendalakendala yang dihadapi guna acuan tindakan antisipasi dan pencegahan.

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

iv

KATA PENGANTAR

Subhaanallaah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah Allaahu Akbar, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia serta hanya kepada-Nya-lah kita memohon pertolongan atas segala urusan dunia, akherat dan agama. Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, para sahabat dan para pengikutnya. Berkat petunjuk dan pertolongan-Nya serta bimbingan dari Rekan-rekan dapat terselesaikan penulisan karya ilmiah ini dengan baik. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan akan menjadikan bahan pemikiran dalam rangka perbaikan mutu Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera

Muhammadiyah. Menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Semoga penulisan Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua pembaca pada umumnya Sragen, Februari 2012 Penulis Ttd Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd.

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

v

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ABSTRAK ................................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ..................................................................... B. Fokus Kajian ........................................................................ C. Dasar dan landasan ................................................................ D. Tujuan dan Manfaat ............................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kurikulum dan Pembelajaran ................................................ B. Konsep Pembelajaran ............................................................ BAB III PAPARAN DATA A. Kurikulum dan Pembelajaran Tapak Suci Putera 14 22 5 9 i ii iii iv v 1 2 3 4

Muhammadiyah .................................................................... B. Kaderisasi tapak Suci Putera Muhammadiyah ........................ BAB IV PEMBAHASAN A. Konsep Kurikulum Pencak Silat Tapak Suci Putera

Muhammadiyah ........................................................................ B. Perencanaan Pembelajaran Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah .......................................................................... C. Fenomena yang terjadi di Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dalam rangka Kaderisasi Muhammadiyah ......... BAB VI. PENUTUP A. Kesimpulan .......................................................................... B. Implikasi Penelitian .............................................................. C. Saran - saran ......................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

28

28

29

30 30 31 32

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Muhammadiyah patut bersyukur karena memiliki organisasi pelapis, yang sangat lengkap, mulai dari ortom yang membina para ibu-ibu yang dikenal dengan Aisyiyah, organisasi yang membina para pemudi yang disebut Nasyia, organisasi yang membina para pemuda yang dikenal dengan nama Pemuda Muhammadiyah, yang membina para Mahasiswa yang dikenal dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, organisasi yang membina para pelajar atau remaja putra-putri yang kenal dengan nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan organisasi yang membina ketangkasan dalam bidang pencak silat yang dikenal dengan nama Tapak suci Putera Muhammadiyah yang membina pada setiap lapisan umur. Setiap Ortom Muhammadiyah ini memiliki peran dan bidang garapan yang berbeda, tetapi sesungguhnya semua ortom ini memiliki fungsi yang sama bagi Organisasi Muhammadiyah yaitu : 1. Sebagai wadah pembibitan buat Muhammadiyah untuk mendapatkan kader yang akan melanjutkan estafet kepeminpian Muhammadiyah. 2. Sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah. Ortom sebagai sumber amunisi bagi Muhammadiyah bagi ketersediaan tenaga kader yang baru, sehingga ortom tidak boleh berhenti mengkader orangorang yang menjadi sasaran pembinaannya, dan Muhammadiyah sebagai induk organisasi harus membantu dan menyiapkan sarana dan prasarana agar tugastugas pengkaderan tidak berhenti, jangan hanya mau menerima hasil tapi tidak mau pusing terhadapa apa yang dilakukan oleh Ortom. Sebagai pelopor dalam pegerakan Muhammadiyah, itu berarti ortom harus berada digarda terdepan untuk mengawal organisasi Muhammadiyah dalam mengsukseskan program, bahkan ia harus siap menjadi anak panah, yang siap ditembakkan kapan saja diperlukan oleh Muhammadiyah.

1

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

2

Sebagai pelangsung, seharusnya tidak ada amal usaha Muhammadiyah yang kandas ditengah jalan atau ketidak sampaian, karena ia harus tampil ke depana membawa program Muhammadiyah sehingga berlangsung setiap masa, tidak malah mereka yang mematikan amal atau program Muhammadiyah. Sebagai penyempurna, ortom harus tampil ke depan menyempurnakan amal usaha muhammadiyah sehingga tidak terbengkalai dan kalau ada

kekurangannya, maka angkatan Muda Muhammadiyah (ortom) harus tampil memperbaikinya. Tapak Suci Putera Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi otonomi Muhammadiyah merupakan perguruan Pencak Silat yang memiliki kedudukan yang strategis dalam memerankan fungsinya sebagai organisasi otonomi tersebut. Namun demikian fungsi Tapak Suci sebagai organisasi untuk kaderisasi Muhammadiyah belum bisa berjalan sesuai harapan. Hal ini bisa dilihat dari implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran yang sebagian besar kurang terencana dan terstruktur. Sehingga banyak kader (pelatih) melatih tanpa konsep dan arah yang pasti, sehingga target pembelajaran kurang dapat terpenuhi dengan baik. Dampaknya adalah banyak siswa yang mengalami kejenuhan yang pada akhirnya berhenti megikuti latihan. Hal ini akan memutus salah satu mata rantai kaderisasi Muhammadiyah. Berdasarkan permasalahan tersebut menarik dikaji fenomena-fenomena yang yang menyangkut banyak hal yang terjadi dalam Perguruan Pencak Silat Tapak Suci sebagai sebuah analisis kritis.

B. Fokus Kajian 1. Sejauhmana konsep kurikulum Pencak Silat Tapak Suci Putera

Muhammadiyah? 2. Sejauhmana perencanaan pelaksanaan pembelajaran Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah? 3. Fenomena-fenomena apa saja yang terjadi di Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dalam rangka Kaderisasi Muhammadiyah?

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

3

C. Dasar dan Landasan 1. Al Qur’an Surat Al Alaq ayat 1 :

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan” 2. Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 104:

Artinya : “Hendaklah ada segolongan umat diantara kamu yang menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan yang munkar, dan mereka itulah orangorang yang beruntung”. 3. Al Qur’an Surat Al Anfal ayat 60 :

Artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. 4. Al Qur’an Surat Ash Shaff ayat 4 :

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

4

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

D. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan dari kajian ini adalah untuk membahas lebih mendalam mengenai : a. Konsep kurikulum Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah b. Perencanaan pelaksanaan pembelajaran Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah. c. Fenomena-fenomena yang terjadi di Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dalam rangka Kaderisasi Muhammadiyah. 2. Manfaat dari kajian ini diharapkan dapat memberikan masukan baik internal Perguruan Tapak Suci, Ortom Muhammadiyah yang lain maupun induk organisasi Muhammadiyah, yakni : a. Dapat dijadikan bahan pertimbangan dan guna perbaikan Suci system Putera

pengelolaan

Pendidikan

Organisasi

Tapak

Muhammadiyah. b. Membuka mata para pimpinan Muhammadiyah dari berbagai tingkat agar dapat memandang Tapak Suci sebagai sebuah aset strategis persyarikatan yang harus ditumbuhkembangkan. c. Menggugah semangat dakwah islamiyah amar ma’ruf nahi munkar d. Dapat dijadikan dasar pemikiran untuk kajian-kajian kritis berikutnya

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kurikulum dan Pembelajaran 1. Kerangka Dasar Kurikulum Definisi kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Kompetensi merupakan kemampuan yang mencakup tiga aspek yakni Kognitif (pengetahuan), Afektif (sikap) dan Psikomotorik (ketrampilan). Kurikulum dilaksanakan dalam rangka

membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosialemosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk mencapai tujuan dan citacita yang diharapkan. Kompetensi Dasar merupakan pengembangan potensi-potensi perkembangan pada anak didik yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan usianya berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikator yang dapat diukur dan diamati. Hasil Belajar merupakan cerminan kemampuan anak yang dicapai dari suatu tahapan pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Indikator merupakan hasil belajar yang lebih spesifik dan terukur dalam satu kompetensi dasar. Apabila serangkaian indikator dalam satu kompetensi dasar sudah tercapai, berarti target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi. Kurikulum harus mempunyai keranga dasar dan struktur kurikulum. Kerangka dasar kurikulum terdiri dari : a. Bidang-bidang yang diajarkan Kurikulum menetapkan bidang-bidang apa saja yang diajarkan, ada cakupan garis besar isi serta esensi maksud dan tujuannya. Hal ini akan memberikan arah yang jelas suatu bidang pelajaran tertentu itu akan diarahkan kemana dengan indicator yang jelas dan terukur.

5

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

6

b. Prinsip pengembangan kurikulum Kutikulum harus fleksibelbisa dikembangkan, tidak bersifat kaku. Pengembangan kurikulum didasarkan padaprinsip-prinsip sebagai berikut : 1). Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa siswa/peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. 2). Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang usia serta jenis pendidikan, tanpa membedakan suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan pokok kurikulum, muatan tambahan, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi. c. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap tempat pendidikan/latihan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut. 1). Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

7

pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya menyenangkan. 2). Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. 3). Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral. 4). Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan). 5). Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan secara bebas, dinamis dan

multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

8

6). Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. 7). Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi bidang inti, bidang tambahan dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai jenis dan jenjang pendidikan. 2. Struktur Kurikulum Pendidikan Umum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan bidang yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap bidang pelajaran pada setiap pokok bahasan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.

Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kemampuan dan kemampuan dasar yang dikembangkan berdasarkan standar

kelulusan/ketuntasan. Bidang tambahan dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang setiap jenjang pendidikan. 3. Kalender Pendidikan Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu periode tahun ajaran yang mencakup permulaan periode tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. 4. Perencanaan Proses Pembelajaran Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas Bidang pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. a. Silabus

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

9

Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas bidang pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dapat dikembangkan oleh satuan tempat latihan berdasarkan kebutuhan. b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. RPP disusun secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk

berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. B. Konsep Pembelajaran Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: a. pendekatan pembelajaran, b. strategi pembelajaran, c. metode pembelajaran; d. teknik pembelajaran; e. taktik pembelajaran; dan f. model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilahistilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. 1. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). minat, dan

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

10

2.

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu: a. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan

mempertimbangkan kebutuhan. b. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. c. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. d. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: a. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. b. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. c. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. d. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

11

konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. 3. Strategi pembelajaran sifatnya digunakan masih konseptual metode dan untuk

mengimplementasikannya

berbagai

pembelajaran

tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. 4. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

12

5.

Sementara

taktik

pembelajaranmerupakan

gaya

seseorang

dalam

melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat) 6. Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi

pembelajaran.Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

13

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahanbahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru/pelatih dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan pembelajaran yang yang memadai dalam efektif, kreatif mengembangkan dan berbagai model

menyenangkan,

sebagaimana

diisyaratkan dalam Konsep Kurikulum.

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

BAB III PAPARAN DATA

A. Kurikulum dan Pembelajaran Tapak Suci 1. Kerangka Dasar Kurikulum Dalam pendidikan dan latihan melalui proses pembelajaran Tapak Suci Putera Muhammadiyah ada beberapa unsur/komponen/bidang yang diajarkan, antara lain : Al Islam, Kemuhammadiyahan, Ketapaksucian, Mental Beladiri, Keorganisasian dan Kepemimpinan. Browsing diberbagai sumber keilmuan Tapak Suci, Penulis tidak menemukan patokan baku yang sah. Tidak ada acuan standar kriteria minimal untuk dipedomani. Berikut adalah kerangka kurikulum yang didownload dari http://www.tapaksuci-cabang01sepanjang.page.tl/TentangTapak-Suci.htm

CALON SISWA a. Pengenalan tradisi tapak suci 1) Tata Cara Hormat 2) Sikap Mawar 3) Sikap Jongkok dan Memakai Sabuk 4) Tata Cara Duduk Sempurna. 5) Tata cara Duduk bebas (Sikap Teratai) 6) Do'a Pembuka Latihan 7) Do'a Penutup Latihan 8) Tata Cara Jika datang terlambat atau minta ijin saat latihan. b. Bentuk Kuda-Kuda Dasar 1) Kuda-Kuda Berat ditengah 2) Kuda-Kuda Berat dibawah 3) Kuda-kuda Berat didepan 4) Kuda-Kuda Berat dibelakang 5) Kuda-Kuda satu kaki
14

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

15

6) Kuda-Kuda Segaris Menghadap c. Kuda-Kuda Balik 1) Balik 1 2) Balik 2 3) Balik 3 4) Balik 4 d. Jurus Dasar 1) Katak Melempar Tubuh 2) Mawar Mekar 3) Mawar Layu 4) Naga Terbang dalam 5) Naga Terbang Luar 6) Tandukan Naga Jantan 7) Ikan Terbang menjulang angkasa 8) Ikan Terbang Menggoyang sirip 9) Rajawali Mengibas sayap atas 10) Rajawali Mengibas sayap Bawah 11) Rajawali Mengibas sayap Luar 12) Rajawali Mengibas sayap Dalam 13) Harimau Membuka Jalan 14) Harimau Menutup Jalan e. Rangkaian Jurus 1) Bunga Rampai Matahari satu

SISWA DASAR a. BENTUK KUDA-KUDA DASAR 1) Kuda-Kuda Berat ditengah 2) Kuda-Kuda Berat dibawah 3) Kuda-kuda Berat didepan 4) Kuda-Kuda Berat dibelakang

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

16

5) Kuda-Kuda satu kaki 6) Kuda-Kuda Segaris Menghadap b. CARA MELANGKAH 1) Melangkah maju 3x, mundur 3x 2) Menggeser Maju 3X, mundur 3X 3) Menggeser Samping kanan 3X, kiri 3X 4) Langkah DEDET maju 3X, mundur 3x c. KUDA-KUDA BALIK 1) Balik 1 2) Balik 2 3) Balik 3 4) Balik 4 d. HINDARAN 1) Rajawali Terbang 2) Tangkai Mawar Layu tertiup angina e. JURUS DASAR 1) Katak Melempar Tubuh 2) Mawar Mekar 3) Mawar Layu 4) Naga Terbang dalam 5) Naga Terbang Luar 6) Tandukan Naga Jantan 7) Ikan Terbang menjulang angkasa 8) Ikan Terbang Menggoyang sirip 9) Rajawali Mengibas sayap atas 10) Rajawali Mengibas sayap Bawah 11) Rajawali Mengibas sayap Luar 12) Rajawali Mengibas sayap Dalam 13) Harimau Membuka Jalan 14) Harimau Menutup Jalan

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

17

f. RANGKAIAN JURUS 1) Bunga Rampai Putih Dasar g. TEKNIS PRAKTIS 1) Katak Melempar Tubuh VS Mawar Mekar 2) Naga Terbang dalam VS Rajawali Mengibas sayap luar 3) Ikan Terbang menggoyang sirip VS Rajawali Mengibas sayap bawah 4) Ikan Terbang Menjulang angkasa VS Mawar Layu h. FISIK 1) Push Up Putra 10X Putri 5X 2) Sit Up Putra 10X Putri 5X 3) Back Up Putra 10X Putri 5X

SISWA I a. SALAM NASIONAL b. JURUS DASAR 1) Pagutan Merpati 2) Merpati mengibas sayap 3) Sambaran Merpati 4) Tandukan Naga Jantan 5) Sambaran Naga 6) Pagutan Naga 7) Ikan Terbang Menerjang Sarang 8) Benturan Harimau 9) Kibasan Harimau 10) Harimau menggoyang ekor 11) Terkaman Harimau 12) Belitan Tangkai Mawar c. CARA MELANGKAH DAN HINDARAN 1) 2) 3) 4) 5) Melipat maju 3X, Mundur 3X Meloncat Maju 3X, Mundur 3X Harimau Tidur (4 Penjuru mata angin) Harimau Lapar Meliuk diri Memutar maju 3X, Mundur 3X

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

18

6) Menggulung kedepan 3X, kebelakang 3X d. KELOMPOK JURUS DASAR 1) Mawar Mekar 2) Mawar Layu 3) Katak Melempar Tubuh 4) Merpati Mengibas Sayap 5) Ikan Terbang Menjulang ke Angkasa 6) Ikan Terbang Menggoyang Sirip 7) Ikan Terbang Menerjang sarang e. RANGKAIAN JURUS 1) Bunga Rampai Putih Dasar 2) Bunga Rampai Kuning Dasar f. JURUS DASAR TOYA 1) 3 Jenis Serangan 2) 2 Jenis Tangkisan g. TEKNIK PRAKTIS 1) Katak Melempar Tubuh, Tandukan Naga VS Mawar Mekar, Rajawali mengibas sayap Dalam 2) Tandukan Naga, Merpati mengibas sayap VS Mawar layu, Rajawali Mengibas sayap atas 3) Ikan Terbang menjulang angkasa,Ikan Terbang menggoyang sirip VS Mawar layu,Rajawali Mengibas sayap Bawah 4) Harimau membuka jalan (Kanan-kiri) VS Mawar Layu (kanankiri). h. FISIK 1) Push Up Putra 15X Putri 10X 2) Sit Up Putra 15X Putri 10X 3) Back Up Putra 15X Putri 10X

SISWA II a. SALAM NASIONAL

b. EVALUASI MATERI SISWA I 1) Cara melangkah 2) Kelompok Jurus Dasar

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

19

3) Jurus Dasar Toya 4) Jurus c. JURUS DASAR 1) Sabetan Ikan Terbang 2) Benturan Harimau 3) Tapukan Harimau 4) Kibasan Harimau d. SIKAP AWAL JURUS 1) Mawar 2) Katak 3) Ikan Terbang 4) Naga 5) Harimau 6) Merpati 7) Rajawali 8) Lembu e. KELOMPOK JURUS DASAR 1) Harimau membuka jalan 2) Harimau menutup jalan 3) Benturan Harimau 4) Tandukan Lembu Jantan 5) Naga 6) Rajawali f. POLA LANGKAH 1) Langkah segi tiga 2) Langkah Segi empat 3) Langkah paku-paku g. JURUS TOYA 1) Sesuai yang diajarkan Cabang h. TEKNIS PRAKTIS

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

20

1) 6 jenis serangan diakhiri dengan kuncian atau menjatuhkan. i. JURUS NASIONAL TANGAN KOSONG Minimal 3 macam 1) Katak 2) Ikan 3) Naga 4) Mawar j. FISIK 1) Push Up Putra 20X Putri 15X 2) Sit Up Putra 20X Putri 15X 3) Back Up Putra 20X Putri 15X

SISWA III a. SALAM NASIONAL b. EVALUASI MATERI SISWA II 1) Sikap Awal Jurus 2) Kelompok Jurus Dasar c. JURUS DASAR 1) Sabetan Ikan Terbang 2) Benturan Harimau 3) Tapukan Harimau 4) Kibasan Harimau d. POLA LANGKAH 1) Langkah segi tiga 2) Langkah Segi empat 3) Langkah paku-paku e. JURUS SENJATA Sesuai yang diajarkan Cabang 1) Senjata Toya 2) Senjata Golok / Senjata Tajam lainnya

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

21

f. TEKNIK PRAKTIS 1) 6 jenis serangan diakhiri dengan kuncian atau menjatuhkan. g. TEKNIS PRAKTIS SENJATA TOYA 1) 4 Jenis serangan berbeda x 4 jenis tangkisan h. JURUS NASIONAL TANGAN KOSONG Minimal 4 macam 1) Katak 2) Ikan 3) Naga 4) Mawar 5) Rajawali i. FISIK 1) Push Up Putra 25X Putri 20X 2) Sit Up Putra 25X Putri 20X 3) Back Up Putra 25X Putri 20X

SISWA IV a. SALAM NASIONAL b. BENTUK KUDA-KUDA DASAR 1) Kuda-Kuda Berat ditengah 2) Kuda-Kuda Berat dibawah 3) Kuda-kuda Berat didepan 4) Kuda-Kuda Berat dibelakang 5) Kuda-Kuda satu kaki 6) Kuda-Kuda Segaris Menghadap c. CARA MELANGKAH 1) Melangkah maju 3x, mundur 3x 2) Menggeser Maju 3X, mundur 3X 3) Menggeser Samping kanan 3X, kiri 3X 4) Langkah DEDET maju 3X, mundur 3x

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

22

5) Melipat maju 3X, Mundur 3X 6) Meloncat Maju 3X, Mundur 3X 7) Memutar maju 3X, Mundur 3X 8) Menggulung kedepan 3X, kebelakang 3X d. HINDARAN 1) Rajawali Terbang 2) Tangkai Mawar Layu Tertiup Angin 3) Harimau Lapar Meliuk diri e. JATUHAN 1) Jatuhan Depan 2) Jatuhan Belakang 3) Jatuhan samping kanan & kiri 4) Harimau Tidur (4 Penjuru mata angin)

B. Kaderisasi Tapak Suci Putera Muhammadiyah 1. Lahirnya Tapak Suci Atas izin Allah SWT, pada malam Jumat, tanggal 10 Rabiulawwal 1383 H, atau bertepatan dengan 31 Juli 1963, di Kauman, Yogyakarta, dideklarasikan berdirinya Persatuan Pencak Silat TAPAK SUCI. Pada waktu deklarasi, digariskan bahwa; (1) Tapak Suci berjiwa ajaran KH. Ahmad Dahlan; (2) Keilmuan Tapak Suci metodis dinamis; (3) Keilmuan Tapak Suci bersih dari syirik. Nama Perguruan dirumuskan dengan mengambil dasar dari ajaran Perguruan Kauman, sehingga ditetapkanlah nama TAPAK SUCI. Tata tertib upacara disusun oleh Moh. Barie Irsyad. Doa dan Ikrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh M. Fahmie Ishom. Lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Sudjak. Lambang Tim Inti Kosegu dibuat oleh Ajib Hamzah. Bentuk dan warna pakaian ditentukan oleh M. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Susunan pengurusnya yang pertama sebagaimana tersebut sebagai berikut: Pelindung : H. Djarnawi Hadikusuma

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

23

Penasehat Ketua I Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Bendahara I Bendahara II Perlengkapan Anggota Bidang Keilmuan Bidang Medis

: Drs.Med. M. Diham Hadjam : M.Barie Irsjad : Drs.Irfan Hadjam : M.Rustam : M.Dalhar Suwardi : M.Sobri Achmad : M.Zundar Wiesman : Achmad Djakfar; M.Slamet : M.Djakfal Kusuma; Anis Susanto : A. Dimyati; M.Wahib : Dr.M.Baried Ishom

Pada usia enam bulan Tapak Suci dapat tampil yang pertama dihadapan masyarakat yaitu pada Pagelaran Pencak Silat dalam Ta'aruf Pembukaan Kongres Islam Asia Afrika di Kepatihan, Yogyakarta. Setahun setelah berdiri, tepatnya tahun 1964, TAPAK SUCI secara de facto sudah merupakan gerakan Muhammadiyah. Lambang Sinar Matahari pun dimasukkan ke dalam Lambang TAPAK SUCI sebagai identitas bahwa TAPAK SUCI adalah gerakan Muhammadiyah. Sebutan perguruan dilengkapi menjadi TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH, berdasar kenyataan bahwa Tapak Suci didirikan oleh putera-putera dari keluargakeluarga Muhammadiyah. HR.Haiban Hadjid menjalankan amanat sebagai Ketua Umum, dan H.Djarnawi Hadikusuma duduk sebagai Penasehat. Di tahun 1964 dibukalah pendaftaran anggota untuk umum secara besarbesaran. Pada kesempatan ini cukup banyak anggota baru yang mendaftar, termasuk yang berasal dari aktifis PPI, KAPPI, KAMI, dan HMI, di Yogyakarta. Aris Margono (pelajar SPG Muhammadiyah I Yogyakarta), adalah salah satu murid yang belajar Tapak Suci pada masa itu. Ia adalah aktifis KAPPI di Yogyakarta. Ia gugur pada tanggal 10 Maret 1966, dan kemudian diabadikan sebagai Pahlawan Ampera di Yogyakarta. Seorang aktifis lainnya, Aris

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

24

Munandar (Pelajar SMP Muhammadiyah X, Yogyakarta), juga gugur pada hari yang sama. Setelah meletusnya pemberontakan G30 S/PKI, Tapak Suci kembali ke sarang dan berkonsetrasi kembali pada organisasi. Kali ini organisasi mesti memenuhi kebutuhan untuk melatih di daerah-daerah. Beberapa daerah mengajukan permintaan untuk dibuka latihan Tapak Suci. Hal itu pulalah yang mendorong Tapak Suci cepat tersebar ke daerah-daerah. Beberapa praktisi beladiri yang berada di lingkungan Muhammadiyah pun ikut bergabung dengan Tapak Suci, sehingga dengan demikian menyemarakkan gegap gempita Tapak Suci baik dari sisi organisasi maupun keilmuan. Perguruan Tapak Suci yang awalnya hanya di Yogyakarta akhirnya berkembang keluar Yogyakarta dan masuk ke daerah-daerah lainnya. Tapak Suci betul-betul dihadapkan pada tantangan berupa kaderisasi dan manajerial organisasi. 2. Keluarga Pertama Di Jember, Jawa Timur, sebelumnya sudah terdapat sebuah perguruan besar, yaitu Perguruan Guntur. Perguruan Guntur dipimpin oleh H.Syeh

Abussamad Alwi, Buchory Achmad, dan Hadiningram. Ketika Tapak Suci mengembangakn sayapnya ke wilayah timur, kedua perguruan ini saling bertemu. Perguruan Guntur menyatakan akan bergabung dengan Tapak Suci apabila Tapak Suci memiliki kelebihan. Setelah melalui pembuktian, penampilan jurus, dan adu kaweruh, cita-cita kedua perguruan ini dimuluskan oleh Allah SWT. Perguruan Guntur menyatakan bergabung dengan Tapak Suci. Atas ridho dan kehendak Allah SWT, Jember menjadi Keluarga Pertama Tapak Suci yang berada di luar Yogyakarta.

3. Pemantapan Organisasi Di tahun 1966 diselenggarakan Konferensi Nasional I Tapak Suci yang dihadiri oleh para utusan dari daerah-daerah. Pada saat itu berhasil dirumuskan pemantapan organisasi secara nasional, dan Perguruan Tapak

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

25

Suci dikembangkan lagi namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Kemudian melalui Sidang Tanwir Muhammadiyah pada tanggal 28 Juli s.d 1 Agustus 1967 di Yogyakarta, Tapak Suci Putera Muhammadiyah diterima dan ditetapkan menjadi organisasi otonom ke-11 di Persyarikatan

Muhammadiyah. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan KH. Ahmad Badawi, seorang pimpinan Muhammadiyah yang berwawasan luas dan bijaksana, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PP.Muhammadiyah. KH.Ahmad Badawi memandang bahwa TAPAK SUCI sangat efektif sebagai tempat pembinaan Kader Muhammadiyah. Dari rintisan sejarah ini dapat kita temui bahwa Tapak Suci tidak dibesarkan oleh kehebatan orang perorang. Keilmuan Tapak Suci juga bukan keilmuan yang berasal dari kehebatan satu orang semata. Tapak Suci lahir, tumbuh, dan menjadi besar karena berjamaah. Tapak Suci lahir karena ridho dan kerelaan, yang direspon oleh kerja nyata yang ikhlas. Makna Tapak Suci telah mengisyaratkan anggotanya untuk berkarya nyata dengan ikhlas dan berserah diri kepada Allah, sebagai manifestasi dari tindak-tanduk kesucian. 4. Proses Pengkaderan Dalam kajian AD ART, Proses Pengkaderan Tapak Suci dimulai dari Calon Siswa sampai pada tataran tertinggi yakni Pendekar Besar. Tingkat Sabuk pada Perguruan TAPAK SUCI terdiri dari 15 (lima belas) tingkat, yang terbagi dalam Tiga Jenjang, yaitu: SISWA, KADER, dan PENDEKAR, sebagai berikut : No Jenjang . 1 Jenjang SISWA SISWA adalah sebutan untuk jenjang pendidikan dasar pada Perguruan. Masa pendidikan dan pelatihan (diklat) pada jenjang SISWA ditempuh sekurang-

Tingkat SISWA DASAR Polos SISWA SATU Melati Cokelat Satu

Sabuk

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

26

No .

Jenjang kurangnya selama 6 (enam) bulan per tingkat. Evaluasi akhir berupa Ujian Kenaikan Tingkat. Warna Dasar Sabuk: Kuning Medium Ukuran: L = 8 cm. P = 2,5 m. Warna Dasar Tanda Tingkat: Kuning Warna Melati: Cokelat. Warna Putik: Kuning.

Tingkat SISWA DUA - Melati Cokelat Dua SISWA TIGA Melati Cokelat Tiga SISWA EMPAT Melati Cokelat Empat KADER DASAR, K.Dsr - Polos KADER MUDA, K.Ma Melati Merah Satu KADER MADYA, K.Mdy Melati Merah Dua KADER KEPALA, K.Ka - Melati Merah Tiga KADER UTAMA, K.Ua - Melati Merah Empat

Sabuk

2

Jenjang KADER Warna Dasar Sabuk: Biru Ukuran: L=8 cm. P=2,5 m. Warna Dasar Tanda Tingkat: Biru Warna Melati: Merah. Warna Putik: Kuning. KADER, adalah jenjang bagi seseorang yang telah selesai dan dinyatakan lulus menempuh pendidikan dan pembinaan pada jenjang SISWA. Pendidikan dan latihan ditempuh sekurangkurangnya selama 1 tahun per tingkat.

Tingkat Pelatih: Pelatih IV, Pelatih III, Pelatih II, Pelatih I

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

27

No Jenjang . 3 Jenjang PENDEKAR Warna Dasar Sabuk: Hitam Ukuran: L=8 cm. P=3 m. Warna Dasar Tanda Tingkat: Merah Warna Melati: Hitam Warna Putik: Kuning PENDEKAR adalah jenjang tertinggi dalam tingkat sabuk di Perguruan TAPAK SUCI. Pembinaan dan Pengembangan Pendekar diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat. Setiap dua tahun sekali, evaluasi akhir dilakukan dalam bentuk Ujian Kenaikan Tingkat.

Tingkat PENDEKAR MUDA, P.Ma - Melati Hitam Satu

Sabuk

PENDEKAR MADYA, P.Mdy Melati Hitam Dua PENDEKAR KEPALA, P.Ka - Melati Hitam Tiga PENDEKAR UTAMA, P.Ua - Melati Hitam Empat PENDEKAR BESAR, P.Br - Melati Hitam Lima

Pendekar Kehormatan Warna Dasar pada Tanda Tingkat: Merah. Warna Melati: Hijau. Warna Putik: Kuning

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

BAB IV PEMBAHASAN HASIL KAJIAN

A. Konsep kurikulum Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah Dari penelusuran kurikulum Tapak Suci Putera Muhammadiyah, jika dikomparasikan dengan konsep kurikulum pendidikan yang ideal, maka sebenarnya sudah ada kerangka kurikulum Pendidikan Tapak Suci khususnya keilmuan ragawi/pencak silat. Sedang untuk bidang

keorganiisasian, Al Islam Kemuhammadiyahan, Ketapaksucian dan lain-lain tidak ditemukan. Kerangka kurikulum yang terbatas inipun belum disusun secara sistematis sehingga pasti akan menimbulkan penafsiran dan implementasi yang variatif. Konsep ketentuan pengembangan juga belum ditemukan. Bahkan konsep , demikian pula struktur kurikulumnya. Mungkin sudah ada hanya penulis yang belum dapat menemukannya. Tindak lanjut dari temuan ini adalah : 1. Jika memang belum ada struktur kurikulum yang applicable serta bersifat baku dan universal maka perlu adanya penyusunan kurikulum baku. Mengingat kurikulum merupakan software yang akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan Tapak Suci di segala lini atau wilayah kerja / cabang. 2. Jika memang sudah ada, maka perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif dan menyeluruh. Apalagi era digital seperti sekarang ini informasi akan dapat diakses secara cepat dan akurat dari manapun dan bahkan oleh siapapun B. Perencanaan pelaksanaan pembelajaran Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Temuan dari berbagai pengamatan, browsing dan observasi memang belum ada konsep perencanaan pembelajaran dengan kaidah-kaidah modern sesuai dengan teori pembelajaran. Kebanyakan Pelatih melatih/mengajar tanpa konsep sehingga ketercapaiannya tidak dapat diukur secara accountable.
30

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

31

C. Fenomena-fenomena yang terjadi di Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dalam rangka Kaderisasi Muhammadiyah. Tidak ada sesuatu yang mengikat antara proses kaderisasi yang ada di perguruan Tapak Suci dengan induk organisasi yakni Muhammadiyah. Hal ini sangat memungkinkan putusnya mata rantai proses kaderisasi. Bisa jadi kader yang sudah dibentuk dengan susah payah pada akhirnya lepas tanpa ada control yang baik. Hal ini sangat tidak sehat untuk proses kaderisasi yang berjenjang. Baik untuk Tapak Suci sendiri maupun dengan Muhammadiyah.

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

32

BAB V PENUTUP

A. Simpulan 1. Diakui ataupun tidak namun berdasarkan pengamatan dan penerapan di lapangan Kurikulum Pendidikan Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah masih sangat mentah. Tidak ada patokan pasti dan aturan main yang dibakukan. 2. Pengelolaan dan perencanaan pembelajaran kurang sistematis dan kurang professional. Sangat dimungkinkan tujuan pembelajaran tidak tercapai dan mandek ditengah perjalanan. 3. Kontribusi keberhasilan proses pengkaderan Tapak Suci terhadap Tapak Suci sendiri maupun terhadap Muhammadiyah baik secara kualitatif maupun kuantitatif tidak bisa diukur. Atau bahkan secara statistic dilihat dari populasi awal mungkin kontribusi/keberhasilannya tidak signifikan. Diindikasikan bahwa hanya individu yang memiliki ikatan emosional baik dari sisi cultural, history atau maaf secara material yang akan terus bertahan atau berperan sebagai kader. Perlu adanya penelitian yang lebih intensif untuk pembuktiannya.

A. Implikasi 1. Proses pendidkan Tapak Suci Putera Muhammadiyah akan dapat berhasil jika didukung oleh software pendidikan yakni kurikulum yang sistematis baku dan tersosialisasi secara menyeluruh. 2. Pelaksanaan pembelajaran Tapak Suci Putera Muhammadiyah akan berjalan efektif jika guru/pelatih menyusun perencanaan pembelajaran yang sistematis dan dijadikan pedoman dalam setiap melaksanakan proses pembelajaran. 3. Proses kaderisasi Muhammadiyah akan berhasil jika Pengkaderan di Organisasi otonomi yang salah satunya adalah Tapak Suci juga berhasil.

“TAPAK SUCI” MARTIAL ART BIG FAMILY “Dengan Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Kuat” “Tanpa Iman dan Akhlaq Saya Menjadi Lemah” Hasanudin Dwi Sabdo Putro, S.Pd., M.Pd. Fitri Ristanti, S.Pd. Rois, Latif, Hasim, Fikri (Putra Tercinta)

33

B. Saran 1. Hendaknya segera disusun kurikulum pendidikan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dalam upaya pengelolaan kea rah profesionalitas organisasi yang berbasis pendidikan. 2. Perlu adanya penyusunan perencanaan pembelajaran Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah dan bidang-bidang terkait yang berbasis pada pembelajaran modern agar segala sesuatunya terkontrol, terukur dan mampu telusur. 3. Mengingatkan pada penulis sendiri dan pada semuanya, menyitir ayat dalam Al Qur’an QS Al Hasyr ayat 18 :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sumber: Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja. Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung. Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/) http://pptapaksuci.org/tradisi/29-tingkat-sabuk.html http://www.tapaksuci-cabang01sepanjang.page.tl/Tentang-Tapak-Suci.htm

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->