Anda di halaman 1dari 14

Bagaimanakah Kita Diciptakan ?

Rabu, 07-Desember-2005, Penulis: Al Ustadz Abu Ishaq Muslim

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :


"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya." (At Tin : 5)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas bisa menjadi bahan renungan
buat kita! Sungguh kenyataannya terpampang di hadapan mata.
Alangkah sempurna penciptaannya dan alangkah indahnya!

Lalu pernahkan kita memikirkan dari mana kita diciptakan dan


bagaimana tahap-tahap penciptaannya? Pernahkah terpikir di benak
kita bahwa tadinya kita berasal dari tanah dan dari setetes mani yang
hina?

Pembahasan berikut ini mengajak Anda untuk melihat asal kejadian


manusia agar hilang kesombongan di hati dengan kesempurnaan
jasmani yang dimiliki dan agar kita bertasbih memuji Allah 'Azza wa
Jalla dengan kemahasempurnaan kekuasaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada para Malaikat-Nya
sebelum menciptakan Adam 'Alaihis Salam :
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." (Shad :
71)

Begitu pula dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan


orang-orang musyrikin yang ingkar dan sombong tentang dari apa
mereka diciptakan. Dia Yang Maha Tinggi berfirman :
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash
Shaffat : 11)
Dua ayat di atas dan ayat-ayat Al Qur'an lainnya yang serupa
dengannya menunjukkan bahwasanya asal kejadian manusia dari
tanah. Barangsiapa yang mengingkari hal ini, sungguh ia telah kufur
terhadap pengkabaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri.

Berkaitan dengan hal di atas, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala telah


menentukan tahapan-tahapan penciptaan itu dan begitu pula Rasul-
Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memberikan kabar kepada kita
akan hal tersebut dalam hadits-haditsnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :


"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air
mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha
Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (Al Mukminun : 12-14)

"Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari


kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu
dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya
dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami
tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang
telah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi … ." (Al
Hajj : 5)

Ayat-ayat di atas menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari


suatu keadaan kepada keadaan lain, yang menunjukkan akan
kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga Dia Jalla wa 'Alaa saja yang
berhak untuk diibadahi.

Begitu pula penggambaran penciptaan Adam 'Alaihis Salam yang Dia


ciptakan dari suatu saripati yang berasal dari tanah berwarna hitam
yang berbau busuk dan diberi bentuk.
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
(Al Hijr : 26)

Tanah tersebut diambil dari seluruh bagiannya, sebagaimana


dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
"Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (sepenuh
telapak tangan) tanah yang diambil dari seluruh bagiannya. Maka
datanglah anak Adam (memenuhi penjuru bumi dengan beragam
warna kulit dan tabiat). Di antara mereka ada yang berkulit merah,
putih, hitam, dan di antara yang demikian. Di antara mereka ada yang
bertabiat lembut, dan ada pula yang keras, ada yang berperangai
buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin)." (HR. Imam Ahmad, Abu
Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : 'Hasan shahih'. Dishahihkan oleh
Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi juz 3
hadits 2355 dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925)

Semoga Allah merahmati orang yang berkata dalam bait syi'irnya :


Diciptakan manusia dari saripati yang berbau busuk.
Dan ke saripati itulah semua manusia akan kembali.
Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Adam 'Alaihis Salam
dari tanah. Dia ciptakan pula Hawa 'Alaihas Salam dari Adam,
sebagaimana firman-Nya :
"Dia menciptakan kamu dari seorang diri, kemudian Dia jadikan
daripadanya istrinya … ." (Az Zumar : 6)

Dalam ayat lain :


"Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya
Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya … ." (Al
A'raf : 189)

Dari Adam dan Hawa 'Alaihimas Salam inilah terlahir anak-anak


manusia di muka bumi dan berketurunan dari air mani yang keluar dari
tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan hingga hari kiamat
nanti. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :


"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia
menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani)." (As
Sajdah : 7-8)

Imam Thabari rahimahullah dan selainnya mengatakan bahwa


diciptakan anak Adam dari mani Adam dan Adam sendiri diciptakan
dari tanah. (Lihat Tafsir Ath Thabari juz 9 halaman 202)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menempatkan nuthfah (yakni air mani yang


terpancar dari laki-laki dan perempuan dan bertemu ketika terjadi
jima') dalam rahim seorang ibu sampai waktu tertentu. Dia Yang Maha
Kuasa menjadikan rahim itu sebagai tempat yang aman dan kokoh
untuk menyimpan calon manusia. Dia nyatakan dalam firman-Nya :
"Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina? Kemudian
Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu
yang ditentukan." (Al Mursalat : 20-22)

Dari nuthfah, Allah jadikan 'alaqah yakni segumpal darah beku yang
bergantung di dinding rahim. Dari 'alaqah menjadi mudhghah yakni
sepotong daging kecil yang belum memiliki bentuk. Setelah itu dari
sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah Subhanahu wa
Ta'ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki
dengan tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging
untuk menyelubungi tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan
kuat. Ditiupkanlah ruh, lalu bergeraklah makhluk tersebut menjadi
makhluk baru yang dapat melihat, mendengar, dan meraba. (Bisa
dilihat keterangan tentang hal ini dalam kitab-kitab tafsir, antara lain
dalam Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain)

Demikianlah kemahakuasaan Rabb Pencipta segala sesuatu, sungguh


dapat mengundang kekaguman dan ketakjuban manusia yang mau
menggunakan akal sehatnya. Semoga Allah meridhai 'Umar Ibnul
Khaththab, ketika turun awal ayat di atas (tentang penciptaan
manusia) terucap dari lisannya pujian :
"Fatabarakallahu ahsanul khaliqin"
Maha Suci Allah, Pencipa Yang Paling Baik

Lalu Allah turunkan firman-Nya :


"Fatabarakallahu ahsanul khaliqin" untuk melengkapi ayat di atas.
(Lihat Asbabun Nuzul oleh Imam Suyuthi, Tafsir Ibnu Katsir juz 3
halaman 241, dan Aysarut Tafasir Abu Bakar Jabir Al Jazairi juz 3
halaman 507-508)
Maha Kuasa Allah Tabaraka wa Ta'ala, Dia memindahkan calon manusia
dari nuthfah menjadi 'alaqah. Dari 'alaqah menjadi mudhghah dan
seterusnya tanpa membelah perut sang ibu bahkan calon manusia
tersebut tersembunyi dalam tiga kegelapan, sebagaimana firman-Nya :
" … Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian
dalam tiga kegelapan … ." (Az Zumar : 6)

Yang dimaksud "tiga kegelapan" dalam ayat di atas adalah kegelapan


dalam selaput yang menutup bayi dalam rahim, kegelapan dalam
rahim, dan kegelapan dalam perut. Demikian yang dikatakan Ibnu
'Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, Abu Malik, Adh Dhahhak, Qatadah, As Sudy,
dan Ibnu Zaid. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 46 dan
keterangan dalam Adlwaul Bayan juz 5 halaman 778)

Sekarang kita lihat keterangan tentang kejadian manusia dari hadits-


hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Abi 'Abdurrahman
'Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata :
Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam dan beliau adalah yang selalu benar (jujur) dan dibenarkan.
Beliau bersabda (yang artinya) "Sesungguhnya setiap kalian
dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa
nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari).
Kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula.
Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh
kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezkinya,
ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada illah
selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal
dengan amalan ahli Surga sehingga tidak ada di antara dia dan Surga
melainkan hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya
ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga
ia memasukinya. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang
beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan
neraka melainkan hanya tinggal sehasta. Maka telah mendahuluinya
ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga sehingga ia
memasukinya." (HR. Bukhari 6/303 -Fathul Bari dan Muslim 2643,
shahih)

Berita Nubuwwah di atas mengabarkan bahwa proses perubahan janin


anak manusia berlangsung selama 120 hari dalam tiga bentuk yang
tiap-tiap bentuk berlangsung selama 40 hari. Yakni 40 hari pertama
sebagai nuthfah, 40 hari kedua dalam bentuk segumpal darah, dan 40
hari ketiga dalam bentuk segumpal daging. Setelah berlalu 120 hari,
Allah perintahkan seorang Malaikat untuk meniupkan ruh dan
menuliskan untuknya 4 perkara di atas.

Dalam riwayat lain :


Malaikat masuk menuju nuthfah setelah nuthfah itu menetap dalam
rahim selama 40 atau 45 malam, maka Malaikat itu berkata : "Wahai
Rabbku! Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia?" Lalu ia
menulisnya. Kemudian berkata lagi : "Wahai Rabbku! Laki-laki atau
perempuan?" Lalu ia menulisnya dan ditulis (pula) amalnya, atsarnya,
ajalnya, dan rezkinya, kemudian digulung lembaran catatan tidak
ditambah padanya dan tidak dikurangi. (HR. Muslim dan Hudzaifah bin
Usaid radhiallahu 'anhu, shahih)

Dalam Ash Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu dari Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu
berkata : "Wahai Rabbku! Nuthfah, Wahai Rabbku! Segumpal darah,
wahai Rabbku! Segumpal daging." Maka apabila Allah menghendaki
untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : "Wahai
Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau
bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?" Maka
ditulis yang demikian dalam perut ibunya. (HR. Bukhari `11/477 -Fathul
Bari dan Muslim 2646 riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu)

Dari beberapa riwayat di atas, ulama menggabungkannya sehingga


dipahami bahwasanya Malaikat yang ditugasi menjaga rahim terus
memperhatikan keadaan nuthfah dan ia berkata : "Wahai Rabbku! Ini
'alaqah, ini mudhghah" pada waktu-waktu tertentu saat terjadinya
perubahan dengan perintah Allah dan Dia Subhanahu wa Ta'ala Maha
Tahu. Adapun Malaikat yang ditugasi, ia baru mengetahui setelah
terjadinya perubahan tersebut karena tidaklah semua nuthfah akan
menjadi anak. Perubahan nuthfah itu terjadi pada waktu 40 hari yang
pertama dan saat itulah ditulis rezki, ajal, amal, dan sengsara atau
bahagianya. Kemudian pada waktu yang lain, Malaikat tersebut
menjalankan tugas yang lain yakni membentuk calon manusia tersebut
dan membentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging, dan tulang,
apakah calon manusia itu laki-laki ataukah perempuan. Yang demikian
itu terjadi pada waktu 40 hari yang ketiga saat janin berbentuk
mudhghah dan sebelum ditiupkannya ruh karena ruh baru ditiup
setelah sempurna bentuknya.

Adapun sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :


Apabila telah melewati nuthfah waktu 42 malam, Allah mengutus
padanya seorang Malaikat, maka dia membentuknya dan membentuk
pendengarannya, panglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya.
Kemudian Malaikat itu berkata : "Wahai Rabbku! Laki-laki atau
perempuan … ."

Al Qadhi 'Iyadl dan selainnya mengatakan bahwasanya sabda beliau


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di atas tidak menunjukkan dhahirnya dan
tidak benar pendapat yang membawakan hadits ini pada makna
dhahirnya. Akan tetapi yang dimaksudkan maka dia membentuknya
dan membentuk pendengarannya, penglihatannya … dan seterusnya
adalah bahwasanya Malaikat itu menulis yang demikian, kemudian
pelaksanaannya pada waktu yang lain (pada waktu 40 hari yang
ketiga) dan tidak mungkin pada waktu 40 hari yang pertama. Urutan
perubahan tersebut sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surat Al
Mukminun ayat 12 sampai 14. (Lihat keterangan hal ini dalam Shahih
Muslim Syarah Imam An Nawawi, halaman 189-191)

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (II/484)


membawakan secara ringkas perkataan Ibnu Ash Shalah : "Adapun
sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam hadits Hudzaifah
bahwasanya pembentukan terjadi pada awal waktu 40 hari yang
kedua. Sedangkan dalam dhahir hadits Ibnu Mas'ud dikatakan bahwa
pembentukan baru terjadi setelah calon anak manusia menjadi
mudhghah (segumpal daging). Maka hadits yang pertama (hadits
Hudzaifah) dibawa pengertiannya kepada pembentukan secara lafadh
dan secara penulisan saja belum ada perbuatan, yakni pada masa itu
disebutkan bagaimana pembentukan calon anak manusia dan Malaikat
yang ditugasi menuliskannya."

Dalam ta'liq kitab Tuhfatul Wadud halaman 203-204 disebutkan


bahwasanya hadits yang menyatakan Malaikat membentuk nuthfah
setelah berada di rahim selama 40 malam, tidaklah bertentangan
dengan hadits-hadits yang lain. Karena pembentukan Malaikat atas
nuthfah terjadi setelah nuthfah tersebut bergantung di dinding rahim
selama 40 hari yakni ketika telah berubah menjadi mudhghah. Wallahu
A'lam.

Perubahan janin dari nuthfah menjadi 'alaqah dan seterusnya itu


berlangsung setahap demi setahap (tidak sekaligus). Pada waktu 40
hari yang pertama, darah masih bercampur dengan nuthfah, terus
bercampur sedikit demi sedikit hingga sempurna menjadi 'alaqah pada
40 hari yang kedua, dan sebelum itu tidaklah ia dinamakan 'alaqah.
Kemudian 'alaqah bercampur dengan daging, sedikit demi sedikit
hingga berubah menjadi mudhghah. (Lihat Fathul Bari)

Tatkala telah sempurna waktu 4 bulan, ditiupkanlah ruh dan hal ini
telah disepakati oleh ulama. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
membangun madzhabnya yang masyhur berdasarkan dhahir hadits
Ibnu Mas'ud bahwasanya anak ditiupkan ruh padanya setelah berlalu
waktu 4 bulan. Karena itu bila janin seorang wanita gugur setelah
sempurna 4 bulan, janin tersebut dishalatkan (telah memiliki ruh
kemudian meninggal). Diriwayatkan yang demikian juga dari Sa'id
Ibnul Musayyib dan merupakan salah satu dari pendapatnya Imam
Syafi'i dan Ishaq.

Dinukilkan dari Imam Ahmad bahwasanya ia berkata : "Apabila janin


telah mencapai umur 4 bulan 10 hari, maka pada waktu yang 10 hari
itu ditiupkan padanya ruh dan dishalatkan atasnya (bila janin tersebut
gugur)." (Lihat Iqadzul Himam Al Muntaqa min Jami' Al 'Ulum wa Al
Hikam halaman 88-89 oleh Abi Usamah Salim bin 'Ied Al Hilali)
Kita lihat dalam hadits Ibnu Mas'ud di atas bahwasanya penulisan
Malaikat terjadi setelah berlalu waktu 40 hari yang ketiga. Sedangkan
pada riwayat-riwayat di atas, penulisan Malaikat terjadi setelah waktu
40 hari yang pertama. Riwayat-riwayat tersebut tidaklah bertentangan.
Imam An Nawawi rahimahullah menerangkan dalam Syarah Muslim
(juz 5 halaman 191) setelah membawakan lafadh hadits dari Imam
Bukhari berikut ini (yang artinya) : 'Sesungguhnya penciptaan setiap
kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari (sebagai
nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga.
Kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah
mengutus seorang Malaikat dan diperintah (untuk menuliskan) empat
perkara, rezkinya dan ajalnya, sengsara atau bahagianya. Kemudian
ditiupkan ruh padanya … .'
Sabda beliau ((… ????????…)) dengan menggunakan ((… ?? …))
menunjukkan diakhirkannya penulisan Malaikat atas perkara-perkara
tersebut setelah waktu 40 hari yang ketiga. Sedangkan dalam hadits-
hadits yang lain penulisan itu ditetapkan setelah waktu 40 hari yang
pertama. Jawaban dari permasalahan ini adalah bahwasanya sabda
beliau ((… ????? ????? ????? ???? ???? ?? …)) merupakan ma'thuf dari
sabdanya ((… ??????????????? …)) bukan dengan sabda sebelumnya
yakni ((… ????????????????? …)). Maka sabda beliau ((…
????????????????? ???????????????????…)) merupakan kalimat sisipan
antara ma'thuf dan ma'thuf 'alaih dan yang demikian ini dibolehkan
dan biasa dijumpai dalam Al Qur'an, hadits yang shahih, dan selainnya
dari ucapan orang-orang Arab."

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :


"Sabda beliau ((… ??????????????????????… )) merupakan ma'thuf dari
(( … ????? … )). Adapun sabdanya (( … ?????… )) merupakan
kesempurnaan dari kalimat-kalimat yang awal. Dan tidaklah yang
dimaksudkan bahwasanya penulisan Malaikat itu baru terjadi setelah
selesai tiga tahap kejadian (dari nuthfah sampai menjadi mudhghah).
Bisa jadi (yang diberitakan dalam hadits Ibnu Mas'ud) yang
dimaksudkan adalah untuk susunan berita saja, bukan susunan yang
diberitakan." (Fathul Bari 11/485)

Yang jelas penulisan takdir untuk janin di perut ibunya bukanlah


penulisan takdir yang ditetapkan untuk semua makhluk sebelum
makhluk itu dicipta. Karena takdir yang demikian telah ditetapkan
50.000 tahun sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhuma :
"Sesungguhnya Allah menetapkan takdir-takdir makhluknya lima puluh
ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi." (HR. Muslim
2653, shahih)

Dalam hadits 'Ubadah bin Shamit radhiallahu 'anhu dari Nabi


Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena (Al Qalam). Lalu Dia
berfirman kepadanya : "Tulislah!" Maka pena menuliskan segala apa
yang akan terjadi hingga hari kiamat. (HR. Abu Daud 4700, Tirmidzi
2100, dan selain keduanya. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali
dalam Iqadzul Himam)

Banyak nash yang menyebutkan bahwa penetapan takdir seseorang


apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara telah ditulis
terdahulu. Antara lain dalam Shahihain dari Ali bin Abi Thalib
radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
bersabda :
"Tidak ada satu jiwa melainkan Allah telah menulis tempatnya di Surga
atau di neraka dan telah ditulis sengsara atau bahagia." Maka seorang
laki-laki berkata : "Wahai Rasulullah! Mengapa kita tidak mengikuti
(saja) ketentuan kita (yang telah ditulis) dan kita tinggalkan amal?"
Maka beliau bersabda : "Beramal-lah, maka setiap orang akan
dimudahkan terhadap apa yang ditetapkan baginya. Adapun orang
yang bahagia akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan
amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara akan
dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang
sengsara." Kemudian beliau membaca : "Adapun orang yang
memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan
adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan
menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS. Al Lail : 5-7) [HR. Bukhari
3/225 -Fathul Bari dan Muslim 2647]

Bahagia atau sengsara seseorang ditentukan oleh akhir amalnya,


sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Ibnu Mas'ud di atas. Demikian
pula dalam hadits berikut, dari Sahl bin Sa'ad radhiallahu 'anhu dari
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
"Sesungguhnya hanyalah amal-amal ditentukan pada akhirnya
(penutupnya)." (HR. Bukhari 11/330 -Fathul Bari)

Sebagai penutup dapat kita simpulkan bahwa Allah Maha Kuasa


menciptakan apa saja yang Dia kehendaki. Dia menciptakan manusia
pertama (Adam 'Alaihis Salam) dari tanah, sedangkan anak-anak Adam
berketurunan dengan nuthfah hingga akhir kehidupan nanti. Dia
tempatkan nuthfah dalam rahim ibu dan dijaga oleh seorang Malaikat.
Nuthfah ini kemudian pada akhirnya menjadi segumpal daging dan dari
segumpal daging terus berkembang hingga menjadi sosok anak
manusia kecil yang bernyawa lengkap dengan pendengaran,
penglihatan, tangan, dan kaki. Bersamaan dengan itu telah ditulis
ketentuan takdir untuknya, apakah rezkinya lapang ataukah sempit,
apakah amalnya baik atau sebaliknya, kapan datang ajalnya dan
apakah ia termasuk hamba Allah yang beruntung ataukah yang
sengsara. Naudzubillah!

Dari tanah manusia berasal dan pada akhirnya akan kembali menjadi
tanah. Mungkin ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
Daftar Bacaan :
1. Al Qur'anul Karim.
2. Adlwaul Bayan. Asy Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi.
3. Ad Durul Mantsur fi At Tafsir Al Ma'tsur. Imam As Suyuthi.
4. Ahkamuth Thifli. Asy Syaikh Ahmad Al 'Aysawi.
5. Asbabun Nuzul. Imam As Suyuthi.
6. 'Aunul Ma'bud. Al Hafidh Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
7. Aysarut Tafasir. Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi.
8. Fathul Bari. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Atsqalani.
9. Iqadzul Himam Al Muntaqa min Jami' Al 'Ulum wal Hikam. Syaikh Abi
Usamah Salim bin 'Ied Al Hilali.
10. Jami' Al 'Ulum wal Hikam. Al Hafidh Ibnu Rajab Al Hanbali.
11. Jami' Al Bayan fi Ta'wil Al Qur'an. Ibnu Jarir Ath Thabari.
12. Mu'jam Mufradat Alfadzil Qur'an. Al 'Allamah Al Ashfahani.
13. Shahih Muslim Syarah An Nawawi. Imam An Nawawi.
14. Shahih Sunan Abi Daud. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
15. Shahih Sunan At Tirmidzi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
16. Tafsir Ibnu Katsir. Al Hafidh Ibnu Katsir.
17. Tafsir Al Qurthubi. Imam Al Qurthubi.
Artinya : Jejak kehidupannya.
Ma'thuf merupakan istilah dalam ilmu nahwu yang bermakna kurang
lebih lafadh yang mengikuti lafadh tertentu yang terletak sebelumnya.
Ma'thuf 'alaih bermakna lafadh yang diikuti oleh lafadh tertentu yang
terletak sesudahnya.

(Dinukil dari Majalah Salafy - MUSLIMAH Edisi XIX/Rabi'ul


Awwal/1418/1997], ditulis oleh : ustadz Abul Muslim Al Atsari dan
ustadzah Zulfa. Peringatan : Majalah Salafy edisi 2002 dan seterusnya,
dipegang oleh Ja'far Umar Thalib dan isinya sarat dengan kesesatan
Sufiyahnya. Allahu a'lam)