Anda di halaman 1dari 8

Noda-noda Maksiat

Kamis, 07-Februari-2008, Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

Ketika kita melewati tempat penimbunan sampah, anda pasti mencium


bau yang tidak sedap, lalu anda secara refleks menutup hidung
dengan tangan atau sapu tangan anda. Jika anda mengatakan, "Saya
tidak mencium bau yang tidak sedap itu" maka, orang yang
mendengarnya bakal mengatakan bahwa hidung anda sedang tidak
sehat, mungkin terkena flu berat atau lainnya.

Di waktu yang sama, anda melihat para pemulung yang asyik mengais
sampah, seolah-solah tidak merasa terganggu oleh bau yang tidak
sedap itu. Kenapa? Karena mereka sudah terbiasa dengan bau tersebut
sehingga menjadi biasa-biasa saja.

Beginilah perumpamaan orang yang telah terbiasa dengan


maksiat yang menyebabkan hati mereka terkotori oleh noda-noda
kemaksiatan. Mereka tidak dapat lagi mencium bau busuk
kemaksiatan, akibat tebalnya noda-noda maksiat yang menempel
pada dinding hatinya, sehingga menghalangi cahaya keimanan
menembus kegelapan hatinya. Oleh karena itu, tatkala berbuat
maksiat mereka tidak dapat lagi menerima cahaya sebagaimana yang
dirasakan oleh hati yang diterangi dengan lentera keimanan. Jika
kalian membacakan dan menyampaikan petunjuk, dan nasihat ilahi
kepadanya, maka ia gusar, bahkan menolaknya karena kerasnya hati
yang diselimuti oleh "noda" dan "karat" maksiat.

Dosa dan maksiat (seperti, bermusik, cukur jenggot, makan riba,


minum khomer, zina, gossip, dusta, pacaran, memandang dan
menyentuh lawan jenis bukan mahram, mencuri, sogok, dan
lainnya), semua ini telah menutupi hatinya sebagaimana firman Allah,

"Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka


usahakan itu menutupi hati mereka". (QS. Al-Muthoffifin:14 ).
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

"Sesungguhnya orang yang beriman jika melakukan suatu dosa, maka


dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan
mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah
hatinya. Jika dosa itu bertambah, maka titik hitam itupun bertambah
hingga memenuhi hatinya." [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334),
dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Wahai saudaraku, sampai kapankah engkau mau terus berada dalam


kubangan kemaksiatan? Berlumuran dengan dosa dan penyimpangan,
mendurhakai Rabb yang telah menciptakanmu dan memberi segala
apa yang engkau butuhkan di dalam kehidupan ini.

Apakah engkau tidak berpikir? Allah -Azza wa Jalla- telah memberikan


kepadamu kesehatan, harta benda, anak-anak dan segala kebutuhan
yang lainnya, lalu engkau menggunakannya untuk durhaka dan
bermaksiat kepadanya?

Al -Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauziy-rahimahullah-


berkata dalam Shoid Al-Khothir (hal. 195-196), “Seyogyanya bagi
setiap orang yang memiliki hati, dan pikiran agar khawatir terhadap
akibat maksiat, karena tidak ada hubungan kerabat, dan silaturrahni
antara seorang anak Adam dengan Allah. Allah hanyalah Penegak dan
Pemutus keadilan. Jika kelembutan Allah mampu meliputi (menutupi)
dosa-dosa. Cuman jika Allah ingin mengampuni dosa itu, maka Dia
akan mengampuni segala dosa yang besar. Jika hendak menyiksa
seseorang, maka Allah akan menyiksanya, dengan siksaan yang masih
dianggap ringan. Maka takut dan khawatirlah kalian. Sunnguh
aku telah menyaksikan beberapa kaum dari kalangan orang-
orang yang hidup mewah bergelimang dalam kezhaliman dan
maksiat, yang tersembunyi maupun yang nampak. Mereka telah
lelah dari arah yang mereka tak sangka; merekapun meninggalkan
prinsipnya, dan membatalkan sesuatu yang mereka bangun berupa
aturan-aturan yang mereka telah buat untuk keturunan mereka.
Perkara itu tidaklah terjadi, kecuali karena mereka telah
melalaikan hak-hak Allah -’Azza wa Jalla-. Mereka menyangka
bahwa apa yang mereka lakukan berupa kebaikan mampu
menghadapi segala sesautu yang sedang terjadi berupa kejelekan
(maksiat). Akhirnya, bahtera imaginasi mereka melenceng, lalu masuk
kedalam air berbahaya yang menenggalamkannya… Takutlah kepada
Allah, senantiasalah kalian merasa diawasi oleh Allah”.

Ingatlah, bumi tempat kita berbuat maksiat, akan mengabarkan apa


yang telah kita lakukan di atasnya, kaki yang kita gunakan untuk
melangkah, tangan yang kita gunakan untuk memegang, mata yang
kita gunakan untuk melihat, telinga untuk mendengar dan lainnya,
semuanya akan memberikan persaksian terhadap apa yang telah
diperbuatnya dipengadilan yang terbesar dan teradil kelak.

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati seluruhnya akan


dimintai pertanggung jawaban" (QS. Al-Isra’: 36)

Ahli Tafsir Negeri Andalusia, Al-Imam Abu Abdillah Al-


Qurthubiy-rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini dalam
tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (10/225), "Maksudnya, setiap
badan itu akan ditanyai tentang apa yang ia lakukan; hati akan akan
ditanyai tentang sesuatu yang ia pikirkan, dan yakini; telinga dan
pandangan akan ditanyai tentang apa yang ia lihat dan dengar dari hal
itu".

Sadarlah wahai saudaraku, sesungguhnya jasad kita amatlah rapuh


jika dibandingkan dengan makhluk lainnya seperti batu, tanah, gunung
dan lain-lain. Keistimewaan kita dari makhluk yang lain hanyalah
terletak pada akal kita. Akal kita pun sangat terbatas kemampuannya
bila dibandingkan dengan kekuasaan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
Maka janganlah engkau tertipu dengan kecerdasan akal yang ada pada
dirimu. Jangan sekali-kali engkau menjadi congkak, sombong dan keras
kepala karena godaan setan dan hawa nafsu.
"Dan apakah manusia tidak memperhatikan, bahwa kami
menciptakannya dari setitik air (mani), lalu tiba-tiba ia menjadi
penantang yang nyata" (QS. Yasin: 77)

Janganlah engkau menjadikan setan sebagai teman karibmu, sebab


Allah telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkahnya yang
akan menghantarkan kita kedalam jurang kebinasaan dan
memerintahkan kita untuk menjadikannya sebagai musuh. Karena
peperangan antara kita dan mereka akan terus berlangsung hingga
ajal tiba.

Ingatlah! Sesungguhnya panglima mereka, Iblis -la’natullah ‘alaihi-


telah bersumpah dihadapan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-

"Sungguh demi keagungan-Mu, benar-benar aku akan menyesatkan


mereka semua" (QS.Shood: 82)

Iblis juga berkata dengan sombong,

"Dia (Iblis) berkata, "Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku
akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku
akan mendatangi mereka dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur." (QS. Al-A’raaf: 16-17)

Janganlah engkau tergoda kepada bisikan-bisikannya yang


membuatmu jadi orang yang durhaka kepada Ar-Rahman dan
termasuk orang yang menyesal dengan penyesalan yang sangat besar,
karena kelak di hari kiamat Iblis akan berlepas diri darimu dan
mengingkarimu sebagaimana Allah –’Azza wa Jalla- telah mengabarkan
di dalam firman-Nya,
" Dan ingatlah pada hari ketika orang-orang dzolim menggigit jari-
jarinya menyesali perbuatannya, seraya berkata" wahai sekiranya dulu
aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku,
Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman karibku,
sungguh dia (setan) telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-
Qur’an itu telah datang kepadaku dan setan itu tidak mau menolong
manusia" .(QS. Al-Furqaan: 27-29)

Maka setan pun membantah dan mengingkarinya. Allah -Ta’ala-


berfirman,

"(Setan) yang menyertainya berkata, "Ya Tuhan kami, aku tidak


menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan
yang jauh " . (QS. Qaaf: 27)

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan,


"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar,
dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya.
Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar)
aku mengajak kamu lalu kamu mematuhi ajakanku, oleh sebab
itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu
sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat
menolongku. Sesungghunya aku tidak membenarkan perbuatanmu
mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. "Sungguh orang
yang dzholim akan mendapat siksaan yang pedih" . (QS. Ibrahim: 22).

Kemudian Allah -Azza wa Jalla- menghardik mereka dengan hardikan


yang sangat menghinakan,

"Allah berfirman, "Janganlah kamu bertengkar dihadapan-Ku, padahal


sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.
Keputusan disisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak
menganiaya hamba-hamba-Ku" (QS. Qaaf: 28-29)

Bukankah engkau takut dengan panasnya api neraka? Lalu kenapa


engkau bergegas menghampirinya dengan menimbun dosa? Bukankah
engkau ingin masuk ke dalam surga dan merasakan segala
kenikmatannya? Namun mengapa engkau tidak mau beramal untuk
meraihnya? Engkau tiap hari melihat orang yang meninggal dunia,
namun engkau tidak mengambil pelajaran darinya. Sudah berapa janji
yang telah engkau ucapkan kepada Rabb-mu, namun engkau sendiri
yang melanggarnya. Sudah seyogyanya engkau malu di hadapan
Allah.

Oleh karena itu, kembalilah kepada Tuhan-mu! Janganlah engkau


menunda-nunda taubatmu hingga engkau tidak mampu lagi untuk
melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut
sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit
baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan
semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke
dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia
tidak mampu lagi untuk mencabutnya.

Abdur Rahman Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata dalam Shoidul


Khothir (hal.210-211), "Maha Suci Sang Raja Maha Agung (Allah) yang
barangsiapa yang mengenalnya, maka ia akan takut kepada-Nya;
barang siapa yang merasa aman terhadap makar-Nya, maka ia tak
akan mengenal-Nya. Sungguh aku telah merenungi suatu perkara
yang amat agung, yaitu Allah –Azza wa Jalla- selalu memberi
penangguhan sampai seakan Dia lalai. Maka anda akan melihat
tangan orang-orang yang suka bermaksiat dalam keadaan bebas,
seakan-akan tak ada yang menghalanginya. Jika ia semakin bebas,
dan akal lepas, maka Allah akan memberikan hukuman kepada orang
itu seperti hukuman raja yang sombong. Penangguhan (hukuman
dosa) itu hanyalah untuk menguji kesabaran orang yang bersabar, dan
mengulurkan penangguhan bagi orang yang zholim. Maka tegarlah
orang yang sabar ini di atas kesabarannya, dan si zholim ini diberi
balasan atas kejelekan perbuatannya".
Janganlah engkau memandang remeh dosa-dosa yang kau lakukan,
namun lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat. Janganlah engkau
memandang remeh dosa-dosa, karena engkau akan menyesalinya
kelak, dan janganlah kalian memandang remeh dosa-dosa, karena
sesungguhnya tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-
menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan
istighfar, sebab gunung itu berasal dari kerikil-kerikil kecil.

Cobalah renungi peringatan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-


tentang bahaya meremehkan dosa-dosa kecil

"Jauhilah kalian dosa-dosa kecil, karena perumpamaan dosa-dosa kecil


itu laksana suatu kaum yang singgah disuatu lembah kemudian
masing-masing membawa sebatang ranting, hingga mreka dapat
mngumpulkan kayu yang cukup untuk memasakkan roti mereka.
Sesungguhnya pelaku dosa-dosa kecil tatkala disiksa dengan sebab
dosa-dosa yang dianggap remeh, (niscaya) hal itu akan
membinasakannya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (22860), Ath-
Thobroniy dalam Al-Kabir (10500), dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul
Iman (7267). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-
Shohihah (389)]

Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata,


"Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa
melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa
kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika
semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin
besar urusannya di sisi Allah". [Lihat Ad-Daa’u wad Dawaa’ (hal. 93-
94), cet. Dar Ibnul Jauziy, dengan tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 40 Tahun I. Penerbit :


Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto
Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP :
08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung
Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi :
Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu
Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi.
Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary
(085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

http://almakassari.com/?p=188#more-188