Anda di halaman 1dari 19

Saudaraku, Koreksilah Pergaulanmu

Jum'at, 21-Desember-2007, Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin


Rawiyah

Sebagai jalan hidup dan agama yang mengemban misi rahmatan lil
‘alamin, Islam tentu mengatur kaidah bermuamalah atau bergaul bagi
pemeluknya. Baik itu terhadap sesama muslim maupun pemeluk
agama lain. Tidak mengentengkan yakni tidak tenggelam dalam
budaya toleransi yang menjebak, namun juga tidak berlebihan semisal
melakukan tindak anarkis.

Tentu bukan hal aneh lagi jika kita menjumpai bermacam-macam


warna dan perilaku dalam kehidupan masyarakat kita. Ini terjadi
dengan sebab yang beragam. Terkadang dilatarbelakangi lingkungan,
masyarakat, pergaulan, teman-teman, dan sebagainya. Semuanya ini
menuntut agar kita bisa memosisikan syariat sebagai landasan
pergaulan sehingga bisa merangkul semua perbedaan tersebut dengan
cara menyingkirkan sesuatu yang tidak ada syariatnya dan
mengokohkan yang ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Ironinya, perbedaan itu selama ini justru dijadikan sebuah kebanggaan
sebagai bentuk keangkuhan dan kesombongan. Bahkan ada yang
sudah dijadikan sebagai ajaran yang harus dianut oleh setiap orang.
Akhirnya setiap seruan yang mengajak kepada adab dan akhlak Islami
menjadi sebuah seruan yang tidak berarti. Atau jika ada orang yang
mempraktikkan adab bergaul yang Islami justru dicibir, dianggap aneh
dan asing, bahkan dilekati tuduhan yang bukan-bukan. Atau divonis
sebagai orang yang melakukan pengrusakan dan kehancuran
sebagaimana igauan Fir’aun menanggapi akhlak dan perilaku serta
dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam:
‫ن يُظْهَِر فِي‬ َ َ ُ ‫ل دينك‬ َ ُ ‫خا‬
َ َ ‫ه إِنِّي أ‬ ْ ُ ‫ن ذَُروْنِي أَقْت‬
ْ َ ْ ِ َ ِّ‫ن يُبَد‬
ْ ‫م أو ْ أ‬ ْ ‫فأ‬ ُ َّ ‫سى وَلْيَدْع ُ َرب‬
َ ْ‫مو‬
ُ ‫ل‬ َ ‫وَقَا‬
ُ ْ‫ل فِْرع َو‬
َ ْ
َ ‫ض ال ْ َف‬
َ‫ساد‬ ِ ‫الْر‬
“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): ‘Biarkanlah aku
membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena
sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau
menimbulkan kerusakan di muka bumi’.” (Ghafir: 26)
Igauan pengikut Fir’aun juga menimpa Nabi Harun ‘alaihissalam,
saudara Musa ‘alaihissalam:
َ ‫خرجاك ُم م‬ َ ‫حران يريدا‬
ُ ُ ‫ما وَيَذْهَبَا بِطَرِيْقَتِك‬
‫م‬ َ ِ ‫حرِه‬
ْ ‫س‬ ْ ُ ‫ضك‬
ِ ِ‫م ب‬ ِ ‫ن أْر‬
ْ ِ ْ َ ِ ْ ُ‫ن ي‬
ْ ‫نأ‬ َ َ‫ن ل‬
ِ َ ْ ِ ُ ِ َ ِ ‫سا‬ ْ ِ ‫قَالُوا إ‬
ِ ‫ن هَذ َا‬
‫مث ْلَى‬ُ ْ ‫ال‬
“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli
sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya
dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama’.” (Thaha: 63)
Bahkan kaum munafiqin berusaha cuci tangan dari perbuatan mereka
yang jelas-jelas rusak dengan mengatakan bahwa mereka adalah
orang-orang yang melakukan perbaikan.
َ ْ
ُ ِ ‫صل‬
َ ْ‫حو‬
‫ن‬ ْ ‫م‬
ُ ‫ن‬
ُ ‫ح‬ َ َّ ‫ض قَالُوا إِن‬
ْ َ ‫ما ن‬ ِ ‫سدُوا فِي الْر‬ ْ ُ‫ل لَه‬
ِ ْ‫م ل َ تُف‬ َ ْ ‫وَإِذ َا قِي‬
“Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami
orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah: 11) [Lihat
kitab Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna karya Asy-Syaikh Muqbil
rahimahullahu hal. 11]
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan
agar setiap orang berakhlak di hadapan manusia dengan akhlak yang
mulia.
‫ن‬
ٍ ‫س‬
َ ‫ح‬ ٍ ُ ‫خل‬
َ ‫ق‬ َ ‫ق النَّا‬
ُ ِ‫س ب‬ ِ ِ ‫خال‬
َ ‫َو‬
“Dan berakhlaklah kamu kepada manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1988 dari sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah
radhiyallahu 'anhu dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
'anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani
rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 96)
Bahkan berbudi pekerti yang baik merupakan tonggak dakwah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ْ َ ‫م اْل‬
ِ َ ‫خل‬
‫ق‬ َ ِ‫مكَار‬
َ ‫م‬ ِّ َ ‫ت ِلُت‬
َ ‫م‬ َ َّ ‫إِن‬
ُ ْ ‫ما بُعِث‬
“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan budi
pekerti.” (HR. Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad beliau,
2/318, dan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Al-Adabul Mufrad
no. 273, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Bahkan permasalahan budi pekerti inilah yang diwanti-wanti oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala pada dakwah rasul-Nya:
َ ِ ‫حوْل‬
‫ك‬ َ ‫ن‬
ْ ‫م‬ ُّ َ‫ب لَنْف‬
ِ ‫ضوا‬ َ ْ ‫ت فَظًّا غَلِي‬
ِ ْ ‫ظ الْقَل‬ َ ْ ‫م َولَوْ كُن‬
ْ ُ‫ت لَه‬
َ ْ ‫ن اللهِ لِن‬
َ ‫م‬
ِ ٍ‫مة‬
َ ‫ح‬ َ ِ ‫فَب‬
ْ ‫ما َر‬
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya
Musa dan Harun ‘alaihimassalam menghadapi sejahat-jahat manusia di
permukaan bumi ini, yaitu Fir’aun, dengan penuh kelemahlembutan.
َ
‫شى‬ ْ َ ‫ه يَتَذ َكَُّر أَوْ ي‬
َ ‫خ‬ ُ ّ ‫ه قَوْل ً لَي ِّنًا لَعَل‬
ُ َ ‫فَقُوْل َ ل‬
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang
lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

Manusia Dalam Hidup


Bersikap dan menyikapi manusia serta bergaul bersama mereka
membutuhkan ilmu yang dalam tentang syariat, karena manusia
memiliki ragam agama dan aliran serta memiliki ragam perangai dan
tabiat. Untuk memudahkan kita dalam pembahasan tentang hal
bergaul dengan manusia, secara umum kita mengklasifikasikan mereka
menjadi dua golongan:
Pertama: Kafir
Kedua: Muslim
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengajarkan kepada kita cara bergaul dan bermuamalah
bersama mereka, baik yang kafir atau yang muslim. Hal ini
menunjukkan kesempurnaan Islam dan bahwa Islam adalah agama
rahmat bagi semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َ َ ‫الْيو‬
‫م دِيْنًا‬ ْ ِ ‫م اْل‬
َ َ ‫سل‬ ُ ُ ‫ت لَك‬
ُ ْ ‫ضي‬
ِ ‫متِي وََر‬ ْ ُ ‫ت ع َلَيْك‬
َ ْ‫م نِع‬ ُ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫م وَأت‬ ْ ُ ‫ت لَك‬
ْ ُ ‫م دِيْنَك‬ ُ ْ ‫مل‬
َ ْ ‫م أك‬
َ ْ َ
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan
telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam
itu menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 3)
Sehingga tidak ada lagi alasan untuk salah dalam bergaul bersama
mereka, baik yang beriman ataupun yang ingkar kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, karena hujjah telah tegak, malamnya bagaikan
siangnya (telah demikian jelas).
‫م‬
ٌ ْ ‫ميْعٌ عَلِي‬ َ َ‫ه ل‬
ِ ‫س‬ َّ ِ ‫ن بَي ِّنَةٍ وَإ‬
َ ‫ن الل‬ َّ ‫ح‬
ْ َ‫ي ع‬ َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
َ ‫حيَا‬
ْ َ ‫ن بَي ِّنَةٍ وَي‬ َ َ ‫ن هَل‬
ْ َ‫ك ع‬ ْ ‫م‬ َ ِ ‫لِيَهْل‬
َ ‫ك‬
“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang
nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan
yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Al-Anfal: 42)

Bergaul dengan Orang-Orang Kafir


Dengan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-
hamba-Nya, Dia telah membimbing bagaimana semestinya bergaul
bersama orang-orang kafir yang berbeda agama. Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menjelaskan segala perkara yang merupakan ciri hidup
mereka, berikut bentuk kedengkian mereka terhadap Islam dan kaum
muslimin. Semuanya ini memiliki hikmah agar kaum mukminin selalu
berada di atas kemuliaan pada agamanya, sehingga agama orang-
orang kafir rendah dan hina.
Belakangan ini kita tidak bisa memilah antara orang-orang muslim dan
kafir dalam banyak perkara. Bahkan perkara yang merupakan prinsip
agama, yaitu masalah al-wala` (loyalitas) dan al-bara` (berlepas diri),
telah menjadi sesuatu yang pudar dalam kehidupan beragama kaum
muslimin.
Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk berpegang dengan
prinsip-prinsip aqidah Islamiyah dengan cara berloyalitas terhadap
pemeluknya dan memusuhi musuh-musuhnya, mencintai ahli tauhid
dan berloyalitas kepadanya, benci terhadap ahli syirik dan
memusuhinya. Hal ini termasuk millah Ibrahim dan orang-orang yang
beriman bersamanya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memerintahkan kita untuk mencontoh mereka sebagaimana dalam
firman-Nya:
َ ُ ُ ‫قَد كَانت لَك‬
‫ما‬َّ ‫م‬ ْ ُ ‫منْك‬
ِ َ‫م و‬ ِ ُ‫م إِنَّا بَُرآء‬ ِ ْ‫ه إِذ ْ قَالُوا لِقَو‬
ْ ِ‫مه‬ ُ َ‫مع‬
َ ‫ن‬ َ ْ ‫م وَال ّذِي‬َ ْ ‫ة فِي إِبَْراهِي‬ ٌ َ ‫سن‬
َ ‫ح‬َ ٌ ‫سوَة‬
ْ ‫مأ‬ ْ ْ َ ْ
َ
ِ‫منُوا بِالله‬ ِ ْ ‫حتَّى تُؤ‬
َ ‫ضاءُ أبَدًا‬ َ ْ‫م الْعَدَاوَة ُ وَالْبَغ‬
ُ ُ ‫م وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَك‬ْ ُ ‫ن اللهِ كَفَْرنَا بِك‬ِ ْ‫ن دُو‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ن‬ َ ْ‫تَعْبُدُو‬
‫ه‬ ْ َ‫و‬
ُ َ ‫حد‬
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada
Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari
kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari
(kekafiran) kalian dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara
kami dan kalian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada
Allah saja’.” (Al-Mumtahanah: 4)
Dan prinsip ini merupakan agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
َ َ ‫خذ ُوا الْيهود والن َصارى أَولِياءَ بعضه‬ َ َ
ْ ُ ‫منْك‬
‫م‬ ِ ‫م‬ ْ ُ‫ن يَتَوَل ّه‬
ْ ‫م‬َ َ‫ض و‬
ٍ ْ‫م أوْلِيَاءُ بَع‬ ْ ُ ُ َْ َ ْ َ َ ّ َ َ ْ َُ ِ َّ ‫منُوا ل َ تَت‬ َ ْ ‫يَا أيُّهَا ال ّذِي‬
َ ‫نآ‬
َ
‫ن‬ ِ ِ ‫م الظ ّال‬
َ ْ ‫مي‬ َ ْ‫ه ل َ يَهْدِي الْقَو‬
َ ‫ن الل‬ َّ ِ ‫م إ‬
ْ ُ‫منْه‬ ُ َّ ‫فَإِن‬
ِ ‫ه‬
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-
orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian
mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Al-
Ma`idah: 51) [Lihat Al-Wala` wal Bara` karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan
hal. 4)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dalam banyak hal
dan membongkar kedengkian serta kebencian orang-orang kafir
terhadap Islam dan kaum muslimin. Seperti dalam firman-Nya:
َ ُ ‫خذ ُوا عَدوي وعَدوَك‬ َ َ
‫ما‬َ ِ ‫موَدَّةِ وَقَد ْ كَفَُروا ب‬َ ْ ‫م بِال‬
ْ ِ‫ن إِلَيْه‬
َ ْ‫م أوْلِيَاءَ تُلْقُو‬ ْ ّ ُ َ ِّ ُ ِ َّ ‫منُوا ل َ تَت‬ َ ْ ‫يَا أيُّهَا ال ّذِي‬
َ ‫نآ‬
َ ُ ‫ل وإيَاك‬
ْ ُ ‫منُوا بِاللهِ َربِّك‬
‫م‬ ِ ْ ‫ن تُؤ‬
ْ ‫مأ‬ ْ ّ ِ َ َ ْ‫سو‬ ُ ‫ن الَّر‬ َ ْ‫جو‬ ُ ِ‫خر‬ْ ُ ‫قّ ي‬ َ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫ح‬ َ ‫م‬ ْ ُ ‫جاءَك‬
ِ ‫م‬ َ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku
dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan
kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang.
Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang
datang kepada kalian, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kalian
karena kalian beriman kepada Allah Rabb kalian.” (Al-Mumtahanah: 1)
ْ َ
ُ‫ضاء‬َ ْ‫ت الْبَغ‬ ِ َ ‫م قَد ْ بَد‬ْ ُّ ‫ما عَنِت‬
َ ‫خبَال ً وَدُّوا‬ َ ‫م‬ ْ ُ ‫م ل َ يَألُوْنَك‬
ْ ُ ‫ن دُوْنِك‬ْ ‫م‬ ِ ‫ة‬ ً َ ‫خذ ُوا بِطَان‬ِ َّ ‫ن آَنُوا ل َ تَت‬
َ ْ ‫يَا يُّهَا ال ّذِي‬
َ ُ‫خفي صدوره‬ َ ‫م‬
َ ْ‫م تَعْقِلُو‬
‫ن‬ ْ ُ ‫ن كُنْت‬
ْ ِ‫ت إ‬ِ ‫م اْليَا‬ ُ ُ ‫م أكْبَُر قَد ْ بَيَّنَّا لَك‬ ْ ُْ ُ ُ ِ ْ ُ ‫ما ت‬
َ َ‫م و‬ ْ ِ‫ن أفْوَاهِه‬ ْ ِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil orang-orang
yang di luar kalangan kalian menjadi teman kepercayaan kalian,
(karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan
bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah
nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh
hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan
kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (Ali ‘Imran:
118)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang
konsep hidup mereka terhadap Islam dan kaum muslimin yang penuh
dengan kedengkian serta niat jahat. Maka, tidak pantas seorang
muslim menjadikan mereka sebagai sahabat di dalam hidup dan teman
bergaul sehari-hari.
Di antara sikap-sikap yang diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir
adalah sebagai berikut:
1. Tidak menyerupai mereka dalam semua perkara, terlebih dalam
masalah aqidah dan ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah memperingatkan masalah ini dalam sebuah sabda beliau:
‫م‬
ْ ُ‫منْه‬ َ َّ ‫شب‬
ِ َ‫ه بِقَوْم ٍ فَهُو‬ َ َ‫ن ت‬
ْ ‫م‬
َ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya dia termasuk dari
mereka.” (HR. Al-Imam Ahmad dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu
'anhuma)
2. Larangan menyerupai mereka dalam seluruh perkara, seperti
menyerupai mereka dalam pakaian khas mereka, adat/kebiasaan,
ibadah, dan akhlak. Seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis,
berbicara dengan bahasa mereka tanpa ada keperluan/hajat, cara
berpakaian, makan, minum dan sebagainya.
3. Tidak bertempat tinggal di negeri mereka atau pergi ke negeri
mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak
mau meninggalkan negeri orang-orang kafir padahal mereka sanggup
untuk melakukan hal itu dalam firman-Nya:
َ ْ َ َ َ َ
‫ض‬
ِ ‫ن فِي الْر‬ َ ْ ‫ضعَفِي‬ْ َ ‫ست‬ ُ ‫م قَالُوا كُنَّا‬
ْ ‫م‬ ْ ُ ‫م كُنْت‬ َ ْ ‫م قَالُوا فِي‬
ْ ِ‫سه‬
ِ ُ‫مي أنْف‬ ِ ِ ‫ة ظَال‬ َ ْ ‫م ال‬
ُ َ ‫ملَئِك‬ َ ْ ‫ن ال ّذِي‬
ُ ُ‫ن تَوَفّاه‬ ّ ِ‫إ‬
َّ‫ إل‬.‫ك مأواهُم جهن َم وساءَت مصيرا‬ ْ ُ َ ُ ‫قَالُوا أَل َم تك‬
ِ ًْ ِ َ ْ َ َ ُ ّ َ َ ْ َ َ َ ِ ‫جُروا فِيْهَا فَأولَئ‬ ِ ‫ة فَتُهَا‬ً َ‫سع‬
ِ ‫ض اللهِ وَا‬ ُ ‫ن أْر‬ ْ َ ْ
ً‫سبِيْل‬ ً َ ‫حيْل‬
َ ْ‫ة وَل َ يَهْتَدُو‬
َ ‫ن‬ ِ ‫ن‬
َ ْ‫ستَطِيْعُو‬ ِ ‫ولْدَا‬
ْ َ‫ن ل َي‬ ِ ْ ‫ساءِ وَال‬
َ ِّ ‫ل وَالن‬
ِ ‫جا‬
َ ِ‫ن الّر‬
َ ‫م‬
ِ ‫ن‬
َ ْ ‫ضعَفِي‬
ْ َ ‫ست‬ ُ ْ ‫ال‬
ْ ‫م‬
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam
keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-
orang yang tertindas di negeri (Makkah)’ Para malaikat berkata:
‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi
itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-
laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya
dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (An-Nisa`: 97-98)
Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini ialah
muslimin Makkah yang tidak mau hijrah bersama Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam padahal mereka sanggup melakukannya. Mereka
ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi
ke perang Badr. Akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam
peperangan itu.
4. Tidak membela mereka dengan mendukung segala permusuhannya
terhadap Islam dan kaum muslimin. Membela mereka dengan cara
demikian atau sampai ke martabat ini termasuk yang akan
mengeluarkannya dari Islam. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
rahimahullahu menyebutkan di antara sepuluh pembatal keislaman
adalah membela orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin.
5. Tidak meminta bantuan kepada mereka, memercayai mereka, dan
menyerahkan posisi strategis yang menyangkut rahasia kaum
muslimin.
Dan banyak lagi cara berhubungan serta bergaul yang bertentangan
dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang kesimpulannya berujung pada meletakkan wala`
(loyalitas) sebagaimana kita berikan kepada saudara kita sesama
muslim.

Bergaul dengan Orang-Orang Islam


Berteman karena agama adalah sebuah anjuran, dan mencari teman
yang baik adalah sebuah perintah. Sementara berteman dengan orang
yang tidak baik justru akan membahayakan bagi diri dan agamanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam masalah ini dalam
firman-Nya:
َ
‫م‬ َ ‫ه وَل َ تَعْد ُ عَيْنَا‬
ْ ُ‫ك ع َنْه‬ ُ َ‫جه‬
ْ َ‫ن و‬
َ ْ‫ي يُرِيْدُو‬ ِ َ‫م بِالْغَدَاةِ وَالْع‬
ِّ ‫ش‬ ْ ُ‫ن َربَّه‬ َ ْ ‫معَ ال ّذِي‬
َ ْ‫ن يَدْع ُو‬ َ ‫س‬
َ ‫ك‬ َ ْ‫صبِْر نَف‬ ْ ‫وَا‬
‫مُره ُ فُُرطًا‬ َ ‫ة ال ْحياة الدُنيا ول َ تطع من أَغْفَلْنا قَلْبه ع َن ذكْرنا واتَبع هَواه وكَا‬
ْ ‫نأ‬ َ َ ُ َ َ َّ َ َِ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ِ ُ َ َّْ ِ َ َ َ َ ‫تُرِيْد ُ زِيْن‬
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang
menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami,
serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati
batas.” (Al-Kahfi: 28)
َّ ِ ‫ن الْعِلْم ِ إ‬ َ َ َ
َ َّ ‫ن َرب‬
‫ك‬ َ ‫م‬ ْ ُ‫مبْلَغُه‬
ِ ‫م‬ َ ‫ك‬َ ِ ‫ ذَل‬.‫حيَاة َ الدُّنْيَا‬َ ْ ‫م يُرِد ْ إِل ّ ال‬
ْ َ ‫ن ذِكْرِنَا وَل‬
ْ َ ‫ن تَوَل ّى ع‬
ْ ‫م‬
َ ‫ن‬ ْ ِ‫فَأع ْر‬
ْ َ‫ض ع‬
َ َّ ‫ض‬ َ
‫ن اهْتَدَى‬ ِ ‫م‬َ ِ‫م ب‬ُ َ ‫سبِيْلِهِ وَهُوَ أع ْل‬
َ ‫ن‬ ْ َ‫ل ع‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬َ ِ‫م ب‬ ُ َ ‫هُوَ أعْل‬
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari
peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.
Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu,
Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(An-Najm: 29-30)
Untuk lebih jelasnya serta agar bisa mendudukkan tuntunan agama
dalam bermualah bersama mereka, kita klasifikasikan kaum muslimin
menjadi beberapa golongan. Ini (bukan kondisi yang memang harus
diterima apa adanya, namun) semata-mata mendekatkan kepada
pemahaman.

Pertama: Golongan orang-orang yang benar-benar beriman


Orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
sebenar-benarnya, memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya dan
mendapatkan nama yang harum. Sungguh betapa banyak ayat-ayat Al-
Qur`an yang menjelaskan pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap
mereka dan mengangkat kedudukan mereka yang tinggi.
َ ِ ‫ت أُولَئ‬ َ َ
ِ‫خيُْر الْبَرِيَّة‬
َ ‫م‬
ْ ُ‫ك ه‬ ِ ‫حا‬ َّ ‫ملُوا ال‬
َ ِ ‫صال‬ ِ َ ‫منُوا وَع‬ َ ْ ‫ن ال ّذِي‬
َ ‫نآ‬ ّ ِ‫إ‬
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Al-Bayyinah: 7)
ُ ‫يرفَع الله الَّذين آمنوا منك ُم والَّذي‬
‫ت‬ٍ ‫جا‬ َ ْ ‫ن أوتُوا الْعِل‬
َ ‫م دََر‬ َ ِْ َ ْ ْ ِ ُ َ َ ِْ ُ ِ َْ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-
Mujadalah: 11)
َ َ
‫صوْا‬ َ ‫ق وَتَوَا‬ َ ْ ‫صوْا بِال‬
ِّ ‫ح‬ َ ‫ت وَتَوَا‬
ِ ‫حا‬ َّ ‫ملُوا ال‬
َ ِ ‫صال‬ ِ َ ‫منُوا وَع‬ َ ْ ‫ إِل ّ ال ّذِي‬.ٍ‫سر‬
َ ‫نآ‬ ُ ‫ن لَفِي‬
ْ ‫خ‬ َ ْ ‫ن اْلِن‬
َ ‫سا‬ ْ َ‫وَالْع‬
َّ ِ ‫ إ‬.ِ‫صر‬
‫ر‬
ِ ْ ‫صب‬َّ ‫بِال‬
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati
supaya menetapi kesabaran.” (Al-’Ashr: 1-3)
َ َ َ َ َ
َ ْ ‫ وَال ّذِي‬.‫ن‬
‫ن‬ َ ْ‫ضو‬ ُ ِ‫معْر‬ ُ ِ‫ن الل ّغْو‬ ِ َ‫م ع‬ َ ْ ‫ وَال ّذِي‬.‫ن‬
ْ ُ‫ن ه‬ َ ْ‫شعُو‬ ِ ‫خا‬ َ ‫م‬ْ ِ‫صلَتِه‬
َ ‫م فِي‬ َ ْ ‫ ال ّذِي‬.‫ن‬
ْ ُ‫ن ه‬ َ ْ‫منُو‬ ُ ْ ‫ح ال‬
ِ ْ ‫مؤ‬ َ َ ‫قَد ْ أفْل‬
َ َ ‫ إل َّ عَلَى أ َزواجه‬.‫ والَّذين هُم لِفُروجهم حافظُون‬.‫علُون‬
‫م‬ ْ ُ‫مانُه‬َ ْ ‫ت أي‬ْ َ ‫ملَك‬َ ‫ما‬ َ ْ ‫م أو‬ ْ ِ ِ َ ْ ِ َ ْ ِ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ‫م لِلَّزكَاةِ فَا‬ ْ ُ‫ه‬
ُ
‫ن‬َ ْ‫م الْعَادُو‬ ُ ُ‫ك ه‬َ ِ ‫ك فَأولَئ‬ َ ِ ‫ن ابْتَغَى وََراءَ ذَل‬ َ َ‫ ف‬.‫ن‬
ِ ‫م‬ َ ْ ‫مي‬ِ ْ‫ملُو‬
َ ‫م غَيُْر‬ ْ ُ‫فَإِنَّه‬
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.
Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang
menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak
yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah
orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu`minun: 1-6)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan kedudukan mereka
yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya bergaul
bersama mereka dengan pergaulan yang penuh kasih sayang dan
cinta, menganggap mereka sebagai saudara dalam agama dan aqidah
sekalipun berbeda nasab, berjauhan negeri, dan berbeda zaman. Hal
ini dipertegas olah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
َ َ
‫ل فِي‬ ْ َ ‫ن وَل َ ت‬
ْ َ‫جع‬ ِ ‫ما‬ َ ْ ‫سبَقُوْنَا بِاْلِي‬
َ ‫ن‬ َ ْ ‫خوَانِنَا ال ّذِي‬
ْ ِ ‫ن َربَّنَا اغْفِْر لَنَا وَِل‬
َ ْ‫م يَقُوْلُو‬
ْ ِ ‫ن بَعْدِه‬
ْ ‫م‬
ِ ‫جاءُوا‬ َ ْ ‫وَال ّذِي‬
َ ‫ن‬
َ َّ ‫منُوا َربَّنَا إِن‬ َ ً
‫م‬
ٌ ْ ‫حي‬
ِ ‫ف َر‬ ٌ ْ‫ك َرءُو‬ َ ‫نآ‬ َ ْ ‫قُلُوْبِنَا ِغل ّ لِل ّذِي‬
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-
saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah
Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-
orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)
َ ‫ل الله والَّذين مع‬
‫م‬
ْ ُ‫ماءُ بَيْنَه‬ َ ‫شدَّاءُ ع َلَى الْك ُ َّفارِ ُر‬
َ ‫ح‬ ِ ‫هأ‬ُ َ َ َ ِْ َ ِ ُ ْ‫سو‬ َّ ‫ح‬
ُ ‫مد ٌ َر‬ َ ‫م‬
ُ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang di antara mereka.” (Al-Fath: 29)
Menganggap mereka adalah saudara dan berusaha mendamaikan bila
terjadi perselisihan di antara mereka.
َ َ
َ ْ‫مو‬
‫ن‬ ُ ‫ح‬ ْ ُ ‫ه لَعَل ّك‬
َ ‫م تُْر‬ َ ‫م وَاتَّقُوا الل‬ َ َ‫ن أ‬
ْ ُ ‫خوَيْك‬ ْ ‫خوَة ٌ فَأ‬
ُ ِ ‫صل‬
َ ْ ‫حوا بَي‬ َ ْ‫منُو‬
ْ ِ‫ن إ‬ ُ ْ ‫ما ال‬
ِ ْ ‫مؤ‬ َ َّ ‫إِن‬
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu
dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (Al-
Hujurat: 10)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫ضا‬
ً ْ‫ه بَع‬ ُ ْ‫شد ُّ بَع‬
ُ ‫ض‬ ِ ‫ن كَالْبُنْيَا‬
ُ َ‫ن ي‬ ِ ‫م‬ ُ ْ ‫ن لِل‬
ِ ْ ‫مؤ‬ ُ ْ ‫ال‬
ِ ْ ‫مؤ‬
ُ ‫م‬
“Perumpamaan persaudaraan orang-orang yang beriman bagaikan
sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan yang lain.” (HR. Al-
Imam Al-Bukhari dan Muslim no. 2585 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari
radhiyallahu 'anhu)
ْ ُ‫ه ع‬
‫ضوٌ تَدَاع َى‬ ِ ‫شتَكَى‬
ُ ْ ‫من‬ ِ ‫سد ِ الْوَا‬
ْ ‫حد ِ إِذ َا ا‬ َ ْ ‫ل ال‬
َ ‫ج‬ َ َ‫م ك‬
ِ َ ‫مث‬ ْ ِ‫مه‬
ِ ‫ح‬
ُ ‫م وَتََرا‬
ْ ِ ‫ن فِي تَوَا ِدّه‬
َ ْ ‫منِي‬ ُ ْ ‫ل ال‬
ِ ْ ‫مؤ‬ ُ َ ‫مث‬
َ
َّ ‫مى وَال‬
ِ‫سهَر‬ ُ ْ ‫سد ِ بِال‬
َّ ‫ح‬ َ ْ ‫سائُِر ال‬
َ ‫ج‬ َ
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan berkasih
sayang, mereka bagaikan satu jasad yang bila salah satu anggota
badannya sakit, seluruh jasadnya merasakan sakit panas dan berjaga.”
(HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim no. 2586 dari sahabat An-Nu’man
bin Basyir radhiyallahu 'anhuma)
Juga sebagai bentuk penerapan pergaulan kita bersama mereka adalah
berloyalitas kepada mereka secara sempurna:
َ َ
‫ن‬ ْ ُ‫ن ال َّزكَاة َ وَه‬
َ ْ‫م َراكِعُو‬ َ ْ‫صلَة َ وَيُؤْتُو‬
َّ ‫ن ال‬
َ ْ‫مو‬ َ ْ ‫منُوا ال ّذِي‬
ُ ْ ‫ن يُقِي‬ َ ْ ‫ه وَال ّذِي‬
َ ‫نآ‬ ُ ُ ‫سول‬
ْ ُ ‫ه وََر‬
ُ ‫م الل‬ َ َّ ‫إِن‬
ُ ُ ‫ما وَلِيُّك‬
“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-
orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat,
seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil
Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya,
maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti
menang.” (Al-Ma`idah: 55)

Kedua: Golongan Orang-orang yang Bermaksiat


Teman sangat memengaruhi baik tidaknya agama seseorang dan
berpengaruh pula terhadap kebahagiaan dunia dan akhirat. Kisah
kematian Abu Thalib paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentu bukanlah
rahasia lagi. Diceritakan bahwa dia memilih tetap bersama agama
nenek moyangnya, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di
samping ranjang kematiannya mentalqin kalimat Laa ilaha illallah. Ini
dikarenakan mengultuskan ajaran nenek moyang dan salah dalam
memilih teman bergaul. (Lihat Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memperingatkan agar kita berhati-hati dalam mencari teman.
َ
ُ ِ ‫خال‬
‫ل‬ َ ُ‫ن ي‬
ْ ‫م‬
َ ‫م‬ َ ‫خلِيْلِهِ فَلْيَنْظُْر أ‬
ْ ُ ‫حدُك‬ َ ‫ن‬
ِ ْ ‫ى دِي‬ َ ْ ‫ال‬
َ ‫مْرءُ عَل‬
“Seseorang sesuai dengan agama/adat kebiasaan temannya, maka
lihatlah teman bergaulnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi
no. 2379 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
ِ‫ك وَناَفِِخ الْكِيْر‬
ِ ‫س‬ ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬ ِ ‫م‬ َ َ ‫سوْءِ ك‬
ِ ‫حا‬ ُّ ‫صالِِح وَال‬
َّ ‫س ال‬ َ ْ ‫ل ال‬
ِ ْ ‫جلِي‬ ُ َ ‫مث‬
َ
“Perumpamaan teman yang baik dan jelek adalah seperti berteman
dengan penjual minyak wangi dan tukang pandai besi.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim no. 2628 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu
'anhu)
Ada dua atau tiga kemungkinan bagimu jika engkau berteman dengan
tukang minyak wangi. (Pertama) engkau membeli wewangian darinya
sehingga engkau menjadi wangi, (kedua) dia memberimu, atau (ketiga)
engkau mencium bau yang harum. Sebaliknya jika engkau berteman
dengan tukang pandai besi hanya ada dua kemungkinan: dia akan
membakar pakaianmu dengan percikan api tersebut, atau engkau
mencium bau yang tak sedap.
Orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berada
dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya jangan dijadikan
sebagai teman hidup kecuali dalam batasan agama, seperti
mendakwahi mereka dan mengajak untuk meninggalkan kebiasaan
mereka yang jelek. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َ َ َ
‫م‬ُ َ ‫ك هُوَ أعْل‬ َ َّ ‫ن َرب‬َّ ِ ‫ن إ‬
ُ ‫س‬
َ ‫ح‬
ْ ‫يأ‬ َ ِ ‫م بِال ّتِي ه‬
ْ ُ‫جادِلْه‬ َ َ‫سنَةِ و‬ َ ْ ‫عظَةِ ال‬
َ ‫ح‬ َ ْ ‫مةِ وَال‬
ِ ْ‫مو‬ ِ ْ ‫ك بِال‬
َ ْ ‫حك‬ َ ِّ ‫ل َرب‬ َ ‫ادْع ُ إِلَى‬
ِ ْ ‫سبِي‬
َ َّ ‫ض‬
‫ن‬ ُ ْ ‫م بِال‬
َ ْ ‫مهْتَدِي‬ ُ َ ‫سبِيْلِهِ وَهُوَ أع ْل‬
َ ‫ن‬ ْ َ‫ل ع‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ َ ِ‫ب‬
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Ketiga: Golongan Orang-orang Awam


Orang awam membutuhkan bantuan orang-orang alim untuk mengajari
mereka bimbingan agama. Bukan untuk dihakimi dan divonis bila
melakukan kesalahan di atas kejahilan/keawaman mereka. Namun
untuk diingatkan dan dibimbing ke jalan yang benar. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫م‬ َّ ‫ن وَع َا‬
ْ ِ‫متِه‬ َ ْ ‫مي‬
ِ ِ ‫سل‬
ْ ‫م‬ َّ ِ ‫سوْلِهِ وَِلَئ‬
ُ ْ ‫مةِ ال‬ َ ‫ن؟ قَا‬
ُ ‫ وَلَِر‬،ِ‫ وَلِكِتَابِه‬،ِ‫ لِله‬:‫ل‬ َ ِ ‫ ل‬:‫ قُلْنَا‬.‫ة‬
ْ ‫م‬ ُ ‫ح‬ ِ َّ ‫ن الن‬
َ ْ ‫صي‬ ُ ْ ‫الدِّي‬
“Agama itu adalah nasihat.” Mereka berkata: “Bagi siapa, ya
Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bagi Allah, bagi kitab-kitab-Nya, bagi
rasul-rasul-Nya, bagi pemimpin kaum muslimin dan orang umum
mereka.” (HR. Muslim no. 55 dari sahabat Tamim bin Aus Ad-Dari
radhiyallahu 'anhu)
Bila kita salah meletakkan sikap terhadap mereka, dikhawatirkan
mereka menjauh dari kebenaran bahkan fobi terhadapnya. Bila hal itu
terjadi karena diri kita, akan menyebabkan kita terjatuh di dalam dosa,
sebagaimana telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu dan Abu Musa Al-
Asy’ari radhiyallahu 'anhu: “Berilah mereka kabar gembira dan jangan
engkau menyebabkan mereka lari (dari kebenaran).”
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri meletakkan hukum khusus bagi
mereka, sebagaimana di dalam firman-Nya:
ً‫سوْل‬ َ َ‫حتَّى نَبْع‬
ُ ‫ث َر‬ َ ‫ن‬ ُ ‫ما كُنَّا‬
َ ْ ‫معَذِّبِي‬ َ َ‫و‬
“Dan kami tidak akan mengadzab sebelum kami mengutus seorang
rasul.” (Al-Isra`: 15)
Asy-Syaukani rahimahullahu di dalam tafsir beliau berkata: “Allah tidak
akan mengadzab hamba-Nya kecuali setelah tegak hujjah dengan
diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab kepada mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak membiarkan
mereka hidup sia-sia dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan
menyiksa mereka melainkan setelah tegak hujjah atas mereka. Dan
pendapat yang rajih adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
mengadzab mereka di dunia ataupun di akhirat, kecuali setelah
diutusnya para rasul kepada mereka. Demikianlah yang dikatakan oleh
sebagian ahli ilmu.” (Fathul Qadir, hal. 956)
Namun orang-orang awam tersebut akan keluar dari hukum khusus di
atas apabila keawamannya tersebut disebabkan tiga perkara:
Pertama: Disebabkan istikbar (menyombongkan diri) dengan tidak mau
mempelajari kebenaran atau sombong di hadapan kebenaran, maka
kejahilan yang disebabkan hal ini tidak akan diampuni oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala bila dia terjatuh dalam kemaksiatan karenanya.
Kedua: Disebabkan tafrith (mengentengkan dan meremehkan)
pengajaran ilmu agama yang benar sehingga tidak mau
mempelajarinya terlebih mengamalkannya.
Ketiga: Disebabkan i’radh (berpaling) dari mempelajari ilmu agama
sehingga bila dia terjatuh dalam penyelisihan karena kejahilannya,
maka tidak akan dimaafkan. (lihat faidah dalam syarah Kasyfus
Subhat)
Bergaul bersama mereka dalam tiga sebab kejahilan ini harus ekstra
hati-hati dan harus menjauhkan diri dari mereka, karena mereka tidak
akan mendatangkan kebaikan sedikitpun bagi agama. Dalam bergaul
bersama orang yang benar-benar awam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjadi uswatun hasanah dalam hal ini. Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu mengisahkan:
َ ٌّ ِ ‫ل أَعَْراب‬
ِ‫ دَع ُوْه ُ وَأهْرِقُوا ع َلَى بَوْلِه‬:‫ي‬ ُّ ِ ‫ل النَّب‬ َ ‫ فَقَا‬،ِ‫س إِلَيْهِ لِيَقَعُوا فِيْه‬ُ ‫م النَّا‬َ ‫جد ِ فَقَا‬ِ ‫س‬ َ ْ ‫ي فِي ال‬
ْ ‫م‬ َ ‫بَا‬
َ
‫ن‬ ِّ َ‫مع‬
َ ْ ‫سرِي‬ َ ‫م تُبْعَث ُوا‬ ْ َ ‫ن وَل‬ ِّ َ ‫مي‬
َ ْ ‫سرِي‬ ُ ‫م‬ َ َّ ‫ماءٍ فَإِن‬
ْ ُ ‫ما بُعِثْت‬ َ ‫ن‬ ِ ‫ماءٍ أوْ ذَنُوْبًا‬
ْ ‫م‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ِ ً ‫جل‬ْ ‫س‬َ
Dari Abu Hurairah berkata: Seorang Badui kencing di masjid, lalu
orang-orang bangkit untuk memukulnya (dalam riwayat yang lain
mereka menghardiknya). Rasulullah berkata: “Biarkan dia, tuangkan air
di atas kencingnya atau satu ember dari air karena sesungguhnya
kalian diutus sebagai pemberi kemudahan bukan memberikan
kesulitan.” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab)

Keempat: Golongan Ahli Bid’ah dan orang yang terjatuh padanya


Kita memaklumi bahwa kemaksiatan yang paling besar setelah dosa
kufur dan syirik adalah kebid’ahan di dalam agama. Sebuah
kemaksiatan yang paling dicintai dan disukai oleh iblis. Hal ini
ditegaskan oleh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu:
“Sesungguhnya kebid’ahan amat sangat disenangi oleh iblis daripada
perbuatan maksiat. Karena (orang yang melakukan) perbuatan bid’ah
tidak akan (kecil kemungkinan) bertaubat darinya. Sedangkan
kemaksiatan akan (memungkinkan pelakunya) bertaubat darinya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan, makna
pernyataan bahwa kebid’ahan tidak akan diberi taubat, karena seorang
mubtadi’ (ahli bid’ah) menjadikan sesuatu yang tidak pernah
disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai
agama. Dan kebid’ahan itu telah dihiasi dengan kejelekan amalannya
sehingga nampaknya baik. Tentunya dia tidak akan bertaubat selama
dia menganggap perbuatannya adalah baik, karena awal dari pintu
bertaubat adalah mengetahui tentang kejelekan tersebut.” (At-Tuhfatul
‘Iraqiyyah, hal. 7)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari
perbuatan yang disukai iblis ini sebelum terjadinya, dalam banyak
sabdanya. Di antaranya:
ٌ َ ‫ضلَل‬ ُّ ُ ‫ة وك‬ َّ ُ ‫ن ك‬ ُ
‫ة‬ َ ٍ‫ل بِدْعَة‬ َ ٌ َ ‫حدَثَةٍ بِدْع‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ل‬ ُ ‫ت اْل‬
َّ ِ ‫موْرِ فَإ‬ ِ ‫حدَث َا‬
ْ ‫م‬ ْ ُ ‫وَإِيَّاك‬
ُ ُ‫م و‬
“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama,
dan setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap
kebid’ahan itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no.
2678 dan selain beliau berdua dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah
radhiyallahu 'anhu. Dan disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam khutbatul hajah dalam riwayat Al-Imam Muslim dari
sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu)
Tentang pelakunya, beliau telah memperingatkan dengan tegas dan
keras sebagaimana ucapan beliau tentang Khawarij. Dalam sebuah
kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dari
keturunan orang ini muncul suatu kaum yang mereka membaca Al-
Qur`an namun tidak sampai tenggorokan mereka. Mereka keluar dari
agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya. Mereka
membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah
berhala. Jika saya menjumpai mereka, akan saya perangi mereka
sebagaimana Allah memerangi kaum ‘Ad.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim
dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Di mana saja kalian menjumpai mereka maka bunuhlah
mereka, karena membunuh mereka mendapatkan pahala bagi
pembunuhnya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari
sahabat ‘Ali radhiyallahu 'anhu)
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa
membunuh mereka maka dialah orang yang paling utama di sisi Allah.”
(HR. Abu Dawud no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu
'anhu dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “Berbahagialah orang
yang membunuh mereka dan terbunuh oleh mereka.” (HR. Abu Dawud
no. 4765 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda: “(Mereka adalah)
sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit.” (HR. Ahmad
no. 19172 dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu)
Tidak termasuk seorang yang benar imannya jika dia menganggap
banyak perkara syariat yang belum disampaikan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak termasuk berjalan di atas jalan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika kita bergandengan tangan
dengan ahli bid’ah dan duduk bersamanya dalam satu majelis.
Para ulama salaf telah mengajarkan kita sikap bergaul yang baik
dengan ahli bid’ah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mendengar
ucapan ahli bid’ah maka dia telah keluar dari pemeliharaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan dia dilimpahkan kepada kebid’ahan
tersebut.”
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Barangsiapa duduk bersama
ahli bid’ah maka dia tidak akan diberikan hikmah.” Beliau juga berkata:
“Jangan kalian duduk bersama ahli bid’ah karena aku takut laknat
menimpamu.“ Beliau berkata pula: “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah
maka telah batal amalannya dan telah keluar cahaya Islam dari dalam
hatinya.” Beliau berkata juga: “Barangsiapa yang duduk bersama ahli
bid’ah di sebuah jalan (dan kamu lewat di majelis tersebut) maka
hendaklah kamu mengambil jalan yang lain.”
Beliau juga berkata: “Barangsiapa memuliakan ahli bid’ah berarti dia
telah membantunya untuk menghancurkan Islam. Barangsiapa
memberikan senyumnya kepada ahli bid’ah maka sungguh dia telah
menyepelekan apa yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang menikahkan anaknya bersama ahli
bid’ah maka sungguh dia telah memutuskan hubungan kekeluargaan.
Dan barangsiapa yang mengikuti jenazah ahli bid’ah maka dia terus
berada dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai dia kembali.”
Bahkan beliau berkata: “Aku bisa saja makan bersama seorang Yahudi
dan Nasrani, namun aku tidak akan makan bersama ahli bid’ah. Aku
senang bila ada benteng dari besi antara diriku dengan ahli bida’h.”
(Lihat Syarhus Sunnah, Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu hal. 137-
139)
Adapun mereka yang terjatuh dalam kebid’ahan dalam keadaan tidak
mengetahui itu adalah sebuah kebid’ahan dalam agama, kita berharap
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan hidayah kepada mereka dan memaafkan kesalahan
mereka. Sikap kita kepada mereka adalah sebagaimana sikap kita
terhadap orang yang awam, yang butuh diselamatkan dan diajak
kepada jalan yang benar.
Terkadang seseorang tergiur dengan sebuah penampilan sunnah
seperti pakaian sunnah, jenggot sunnah, ‘imamah sunnah, dan
sebagainya. Namun apalah artinya jika engkau menampilkan sunnah
sementara engkau tidak berjalan di atas jalan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Engkau tidak beraqidah di atas aqidah
beliau, engkau tidak beribadah sesuai dengan tuntunan beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagainya. Butuh alat pembanding
dan penilai, itulah kebenaran. Oleh karena itu “kenalilah kebenaran,
engkau akan mengenal pemeluk kebenaran.” Wallahu a‘lam bish--
shawab.
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=517