Anda di halaman 1dari 8

KEWAJIBAN BERTAUHID DAN MENJAUHI KESYIRIKAN

Kamis, 14-Desember-2006, Penulis: Al Ustadz Hamzah

Apa Tujuan Diciptakannya Jin Dan Manusia ?

Banyak akal yang salah dalam menjawab pertanyaan ini dan banyak
pemahaman yang membingungkan dalam perkara ini, kecuali akal
yang tersinar wahyu Ilahi yang terbimbing dengan wahyu tersebut
serta mengikuti para rosulNya.

Akal seseorang lemah dari keluasan pengetahuan tujuaan


diciptakannya jin dan manusia, oleh karena itu perlu mengetahuinya
dari Kitabullah (Al Qur‘an) yang tidak ada kebathilan padanya yang
diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Allah
‘Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang tujuan penciptaan ini
didalam firmanNya :
“ Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (mengesakan
ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak mengendaki rizki sedikitpun dari
mereka dan Aku tidak mengendaki supaya mereka memberi makan
pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang
mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariat:56-58)

Berkata Al Imam Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini : “Bahawasanya


Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah hanya kepadaNya
saja tidak ada sekutu bagiNya. Barangsiapa mentaatiNya maka Allah
akan membalasnya dengan balasan yang sempurna. Dan barngsiapa
yang durhaka (menentang) kepadaNya maka Allah akan
mengadzabnya dengan adzab yang sangat dahsyat. Dan Allah
memberitakan bahwanya Dia tidak butuh kepada makhukNya bahkan
merekalah yang butuh kepadaNya dan Dialah Yang menciptakan dan
Yang memberi rizki mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan makhluk untuk ibadah kepadaNya.


Dan ini konsekwensi akal yang sehat. Karena tidak ada yang berhak
mendapatkan ibadah kecuali Dzat Yang mampu dalam mencipta dan
memberi rizki, sebagaimana Allah Ta’ala firman:
“Berhala-berhala yang mereka ibadahi selain Allah itu tidak mampu
dalam menciptakan (membuat) sesuatu apapun, sedang berhala-
berhala tersebut dicipakan (dibuat oleh orang)”. (An Nahl:20) Dan juga
Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu
memberikan rizki kepada kalian” (Al Ankabut:17)

Misi Diutusnya Para Rosul

Allah yang menetapkan ibadah ini pada makhluk-Nya.Dia pulalah yang


mengutus para Rosul-Nya untuk berdakwah atau menyeru ummatnya
kepada peribadatan kepada Allah semata, dan melarang dari
peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
“Sungguh Kami mengutus seorang rosul pada setiap kelompok
manusia untuk menyerukan beribadalah kepada Allah saja dan
tinggalkan thoghut”. (An Nahl:36)

Dan juga Dia berfirman :


“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan
yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al
Anbiya’:25)
Ibadah merupakan hikmah yang karenanyalah diciptakan jin dan
manusia. Dan karena ibadah ini pulalah diciptakan langit dan bumi,
dunia dan akhirat, jannah (surga) dan nar (neraka). Dan karena ibadah
inilah Allah mengutus para rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya,
mensyariatkan hukum-hukum-Nya dan menjelaskan halal dan haram
untuk menguji makhlukNya, siapa diantara mereka yang paling baik
amalnya.

Pengertian ibadah

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: ”Ibadah adalah suatu nama yang
mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhoi-Nya
baik berupa ucapan maupun perbuatan baik yang tampak maupun
yang tersembunyi”.
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah
tidaklah dikatakan ibadah sampai diikhlashkan untuk Allah. Apabila
ibadah itu tercampur suatu kesyirikan maka ibadah tersebut tertolak
atau tidak diterima atas pelakunya dan ibadah tersebut batal dari
asalnya, karena ibadah tersebut ketika itu tidak dinamakan ibadah
syar’i.

Jadi suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah syar’i kecuali disertai


dengan tauhid (mengesekan Allah dalam ibadah). Berkata Ibnu Abbas :
ِ‫حيْد ُ الله‬
ِ ْ‫عبَادَة ُ اللهِ تَو‬
ِ ibadatullah (beribadah kepada Allah) maknanya
adalah tauhidullah (mengesakan Allah dalam ibadah).

Pengertiaan Tauhid Dan Macam-Macamnya

At Tauhid adalah mengesakan Allah dalam perkara-perkara khusus


bagiNya berupa ar-rubuyiah, al uluhiyah dan al asmaul husna.
Tauhud terbagi menjadi 3 macam :
a. Tauhid Rububiyyah, mengesakan (Allah) dalam pencipataan,
pemilikan dan pengaturan alam semesta.Tauhid jenis ini diyakini oleh
kaum musyrikin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Katakanlah siapa yang memberi rizki pada kalian dari langit dan bumi,
Siapakah yang memiliki (menciptakan) penglihatan, Siapa yang
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang
mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan ? maka
mereka (kaum musyrikin) menjawab “Allah”(karena mereka meyakini
semua itu –red) maka katakannlah: kenapa kalian tidak bertaqwa
kepadNya ? (Kemudian kaliaan mengikhlaskan ibadah hanya
kepadaNya tiada sekutu bagiNya dan kalian meninggalkan
sesembahan selain Allah)” (Yunus:31).

b.Tauhid Uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu


dengan tidak menjadikan bersama Allah sesuatu yang diibadahi dan
bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Tauhid jenis ini banyak
diingkari dan ditentang oleh kebanyakan makhluk. Oleh karena itu
Allah mengutus para rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Allah
berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan
yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku” (Al
Anbiya’:25)

c.Tauhidul Asma’ Was Sifat, yaitu mengesakan Allah dalam nama dan
sifat yang Allah namai dan sifati pada dirinya didalam kitabNya atau
melalui lisan RosulNya ? . Yang demikian ini dengan menetapkan apa
yang Allah tetapkan dan menafikan (meniadakan) apa yang Allah
nafikan, tanpa tahrif dan ta’thil, tanpa takyif dan tamtsil.( ) Tauhid jenis
ini diyakini sebagian musyrikin dan diingkari oleh sebagian yang
lainnya.
Jika seseorang meyakini sifat-sifat yang Allah berhak mendapat sifat
tersebut dan dia mensucikan Allah dari semua perkara yang Allah suci
dari darinya serta dia menyakini bahwasanya Allah sajalah pencipta
segala sesuatu maka tidaklah sebagai muwahhid sampai dia bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.

Pengertian Syirik dan Macam- MacamNya

Syirik merupakan lawan tauhid. Syirik ada 2 macam:


a. Syirik Akbar yaitu segala kesyirikan yang telah disebutkan dalam
syariat yang berkonsekwensi keluarnya seseorang dari agamanya.
b. Syirik Ashghor yaitu segala amalan baik ucapan maupun perbuatan
yang disebutkan dalam syariat pensifatan kesyirikan, akan tetapi tidak
mengeluarkan pelakunya dari agamanya. Seperti riya’, bersumpah
dengan selain Allah, ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan
Karenamu, maka…”, dll.

Perbedaan Kedua macam Syirik Dan Kesamaanya

Syirik Akbar mengeluarkan seseorang dari agamanya, menggugurkan


seluruh amalan, dan pelakunya kekal di nar (neraka) sedangkan syirik
ashghor tidak mengeluarkan seseorang dari agamanya, hanya
menggugurkan amalan yang dia berbuat syirik dalam amalan tersebut
dan pelakunya tidak kekal di dalam nar (neraka).

Adapun kesamaannya, kedua-duanya tidak diampuni oleh Allah (jika


dia meninggal dalam keadaan belum sempat bertaubat kepada Allah).
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah
mengampuni dosa selain syirik bagi orang yang Allah kehendaki” (An
Nisa’:48)
Dalam ayat tersebut Allah memberitakan bahwasanya Dia tidak
mengampuni dosa syirik bagi yang tidak bertaubat darinya. Sedangkan
dosa selain syirik maka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah
berkehendak, maka Allah ampuni dan jika Allah berkehendak lain,
maka Allah mengadzabnya.

Mengapa Harus Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan

Allah berfirman :
“Wahai manusia beribadahlah kalian kepada rabb kalian yang
menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian
bertaqwa” (Al Baqoroh:21)
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
(mengesakan ibadahnya) kepada-Ku” (Adz Dzariat:56)
“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada
Allah dengan mengikhlaskan agama (ibadah) ini untuk Allah dan
berpaling dari seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid” (Al
Bayyinah:5)
Dan sangat banyak ayat-ayat tentang perintah beribadah kepada Allah,
maksud ibadah yang karenayalah diciptakannya jin dan manusia
adalah mengesakan Allah dalam ibadah dan mengkhususkan Allah
dalam seluruh ketaatan yang diperintahkan seperti sholat, shaum,
zakat, haji, menyembelih, bernadzar, dan jenis-jenis ibadah yang lain.
Sebagaimana Allah berfirman :
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku
untuk Allah Rabb semesta alam yang tiada sekutu bagiNya. Dan
karenanyalah (ikhlas dalam ibadah) aku diperintah dan aku adalah
orang yang pertama kali berserah diri kepada Allah” (Al An’am:162-163
Disamping Allah memerintahkan untuk bertauhid, Allah pulalah yang
melarang lawan tauhid tersebut yaitu kesyirikan, sebagaiman Allah
berfirman :
“Katakanlah : Kemarilah aku bacakan apa yang di haramkan atas kalian
dari Rabb kalian yaitu: janganlah kalian menyekutukanNya dengan
sesuatu apapun” (Al An’am:151)
“Sesungguhnya masjid-masjid ini milik Allah maka janganlah kalian
beribadah kepada sesuatu apapun bersama Allah” (Al Jin:18)
“Barangsiapa yang beribadah bersama Allah kepada sesembahan yang
lain yang tidak ada dalil baginya tentang itu, maka sesungguhnya
hisab (perhitungan)nya disisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang
kafir itu tidak beruntung” (Al Mukminun:117)

“Yang berbuat demikian itulah Alloh Robbmu, hanya milikNyalah


kerajaan. Dan orang-orang yang kalian berdo’a kepadanya selain Allah
tidak memiliki sesuatu apapun walaupun setipis kulit biji kurma, jika
kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian
dan jika mereka mendengar, mereka tidak bisa mengabulkan do’a
kalian. Dan dihari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian. Dan
tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Dzat
Yang Maha Mengetahui” (Fathir:13-14)
Allah Azza Wa jalla menjelaskan dalam ayat ini bahwasanya sholat dan
menyembelih untuk selain Allah dan berdo’a kepada mayit, berhala,
pepohanan, dan bebatuan., semua itu adalah kesyirikan dan kekufuran
kepada Allah. Dan seluruh yang diibadahi selain Allah seperti para nabi,
malaikat , wali-wali, atau jin dan yang lainnya, mereka semua tidak
bisa memberikan mafaat dan menolak madhorot bagi penyembahnya.
Mereka tidak bisa mendengar do’a pemyembahnya. Dan jika mereka
mendengar, mereka tidak mampu mengambulkan.
Maka wajib bagi setiap mukallaf baik jin dan manusia berwaspada dari
kesyirikan ini, memperingati dan menjelaskan bathilnya kesyirikan ini.
Dan bahwasanya kesyirikan ini menyelisihi risalah para rosul yang
menyeru kepada Tauhidullah dan mengikhlaskan ibadah untukNya.
Rosulullah ? tinggal di Makkah selama 13 tahun menyeru kepada
tauhid dan memperingati manusia dari kesyirikan. Kemudian beliau
hijrah ke Madinah menebarkan dakwah disana di tengah-tengah kaum
Muhajirin dan Anshor , berjihad di jalan Allah, menulis dan menjelaskan
dakwah dan syariat yang beliau bawa kepada raja-raja dan tokoh-tokoh
masyarakat. Beliau dan para shahabat bersabar dalam dakwah ini
sampai menanglah agama Allah ini, dan manusia berbondong-bondong
masuk kedalam Islam. Tersinarlah tauhid dan sirnalah kesyirikan di
Makkah, Madinah dan seluruh kepulaun yang di kuasai oleh beliau dan
yang dikuasai oleh para shahabat setelah beliau.Jayalah Islam dan
muslimin disaat itu karena mereka berpegang teguh dengan
tauhidullah dan meninggalkan kesyirikan.
“Dialah Dzat yang mengutus rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan
agama yang haq agar Dia memenangkannya diatas seluruh agama,
sekalipun orang musyrik itu benci” (Ash Shoff:9) Wallahu A’lam Bish
showab

Buletin Dakwah Al-Ilmu, Jember


http://assalafy.org/al-ilmu.php?tahun1=4