Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Demam Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus famili Flaviviridae dan disebarkan oleh nyamuk Aedes. Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular berbahaya yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah. Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD. Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis.Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini. Di Indonesia, tahun ini terdapat lebih dari 100.000 kasus penularan dan 1.100 penderita meninggal dunia. Situasi tersebut mendekati data tahun 2006 di mana terdapat 114.000 kasus dengan jumlah korban tewas 1.100 orang. Demikian ungkap Nyoman Kandun, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Indonesia. Dia memperkirakan bahwa hingga akhir tahun ini, penularan demam berdarah di Indonesia bisa mencapai 200.000 kasus. Sedangkan di Thailand, terdapat lebih dari 20.000 kasus yang dilaporkan pada Juni lalu dan penyakit tersebut telah merenggut nyawa 17 penderita. Bahkan, Singapura yang selama dikenal sebagai negeri yang bersih dan memiliki layanan kesehatan kelas satu juga tak luput dari wabah demam berdarah. Pemerintah setempat mengungkapkan sejak awal tahun ini terdapat hampir 5.000 kasus dan telah tiga penderita yang tewas. Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%).

Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk /Aedes aegypti/ dan /Aedes albopictus/. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai. Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972.Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun. KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) =35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003). Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun. Departemen kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan

larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. B. RUMUSAN MASALAH Mengingat masalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sangat luas, maka masalahmasalah yang akan dikaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana definisi dan ruang lingkup penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). 2. Bagaimana aspek epidemiologi di tinjau dari segi Person, Place, and Time penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). 3. Bagaimana program pencegahan Dengue (DBD). C. TUJUAN PENYUSUNAN Tujuan penyusunan makalah ini yang merujuk pada rumusan masalah yaitu : 1. Untuk definisi dan ruang lingkup penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). 2. Untuk aspek epidemiologi di tinjau dari segi Person, Place, and Time penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). 3. Untuk program pencegahan dan pengobatan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). D. MANFAAT PENYUSUNAN Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu sebagai berikut : 1. Makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD) 2. Makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan diskusi bagi mahasiswa dan pengobatan penyakit Demam Berdarah

BAB II
3

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan. Demam dengue merupakan penyakit yang ditularkan melalui perantaraan nyamuk, dan disebabkan oleh virus serotip DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 dari genus Flavivirus. Infeksi oleh salah satu serotip menyebabkan imunitas jangka panjang terhadap serotip tersebut. Oleh karena itu, seseorang dapat terkena infeksi virus dengue untuk kedua kalinya oleh serotip lainnya, dan infeksi kedua menyebabkan resiko tinggi untuk terjadinya demam berdarah dengue, bentuk yang berat dari penyakit ini. demam berdarah dengue bermanifestasi dengan perdarahan, trombositopeni dan meningkatnya permeabilitas vaskular yang dapat menyebabkan sindrom syok dengue, suatu keadaan yang dapat membahayakan kehidupan. B. PENYEBAB Demam dengue dan DHF disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus yang berbeda antigen. Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan serotipenya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehingga seseorang yang hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4 kali seumur hidupnya. Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari. Faktor resiko penting pada DHF adalah serotipe virus, dan faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan predisposisi genetis.Nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini menyerang sistem pembekuan darah. Ini bisa diketahui dari turunnya kadar trombosit dalam darah. Darah yang tidak bisa membeku akan mengakibatkan perdarahan. 4

C. GEJALA DAN TANDA KLINIS Penyakit demam berdarah ditunjukkan melalui munculnya beberapa gejala yakni : Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (380C- 400C). Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif, puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb. Hepatomegali (pembesaran hati). Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombositsampai 100.000 /mm. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala. Pendarahan pada hidung dan gusi. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah. Demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam-ruam. Radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntahmuntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk. Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke Dokter apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturutturut. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut. Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini : Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.

Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit. Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur dsb. Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian. D. MASA INKUBASI Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari. Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis jumlah platelet akan jatuh hingga pasien dianggap afebril. Sesudah masa tunas atau inkubasi selama 3-15 hari orang yang tertular dapat mengalami atau menderita penyakit DBD. E. PENULARAN Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti/Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk /Aedes aegypti/ berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia. F. PENYEBARAN Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, denganjumlah kasus sebagai berikut : 6

Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.234 orang. Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.414 orang (terjadi ledakan) Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang. Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang. Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang. Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang. Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang. G. PENCEGAHAN Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk /Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu : 1. Lingkungan Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh: Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali. Menutup dengan rapat tempat penampungan air. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.

2. Biologis. Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). 3. Kimiawi 7

Cara pengendalian ini antara lain dengan: Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala,dll sesuai dengan kondisi setempat.

BAB III TINJAUAN EPIDEMIOLOGI


A. DISTRIBUSI MENURUT ORANG Angka itu diperoleh DBD berdasarkan umur adalah penderita DBD berumur sekitar 15-55 tahun dan Orang yang beresiko tinggi terkena demam berdarah adalah anakanak yang berusia di bawah 15 tahun, penderita DBD lebih banyak pada usia anak sekolah. Menurut jenis pekerjaan yang memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena demam berdarah terdiri atas pelajar, pekerja, dan ibu rumah tangga. Menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi dikalangan pria daripada wanita karena Laki-laki lebih banyak beraktifitas daripada perempuan sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan pria, juga pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor intinsik Dari segi pengetahuan menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka semakin baik pengetahuan tentang DBD. maka berpengaruh terhadap prilaku seseorang termasuk kemampuan seseorang dalam menerima informasi Sehingga dapat mencegah penularan penyakit DBD. B. DISTRIBUSI MENURUT TEMPAT DBD terdeteksi keberadaannya di 102 negara di dari lima wilayah WHO yaitu : 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4 negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat. Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis dengan ke-empat serotipe virus secara bersama-sama diwilayah Amerika, Asia Pasifik dan Afrika. Indonesia, Myanmar, Thailand masuk kategori A yaitu : KLB/wabah siklis) terulang pada jangka waktu antara 3 sampai 5 tahun. Menyebar sampai daerah pedesaan, sirkulasi serotipe virus beragam. Sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Sejak tahun 2004 di Indonesia telah dilaporkan kasus tinggi untuk demam berdarah dengue di wilayah asia tenggara. Pada tahun 2005, Indonesia merupakan kontributor utama terhadap kasus demam berdarah dengue di wilayah asia tenggara (53%) dengan total 9

95,270 kasus dan 1298 kematian (CFR = 1.36%). Jika dibandingkan dengan tahun 2004, maka terdapat peningkatan kasus sebesar 17% dan kematian sebesar 36%. Pada tahun 2006 di Indonesia terdapat 57 % dari kasus demam berdarah dengue dan kematian hampir 70 % di wilayah asia tenggara. Pada tahun 2006, provinsi yang terjadi peningkatan kasus adalah Aceh, Bali, Sumsel, Lampung, Kalbar, Jatim, Jabar, Gorontalo dan DKI Jakarta. Peningkatan kasus secara signifikan terjadi di provinsi Jatim and Jabar. The case fatality rate sebesar 5% pada provinsi Sumsel. Provinsi dengan CFR lebih dari 1 % adalah Aceh, Sumut, Riau, Kep Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jating, Jatim, Kalbar, Kateng, Kalsel, Katim, Sulut, Sulteng and Sulbar. Penularan Demarn Berdarah Dengue dapat terjadi disemua tempat yang terdapat nyamuk penularan. Adapun tempat yang potensial untuk terjadinya penularan DBD adalah : 1. Wilayah yang banyak kasus DBD (Endemis). 2. Tempat-tempat unlum merupakan temp at berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar tempat - tempat umum antara lain: a. b. c. Sekolah. RS / Puskesmas dan Sarana pelayanan kesehatan lainnya. Tempat mnmn lainnya seperti : hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat

ibadah dan lain-lain. 3. Pemukiman baru dipinggir kota. Karena dilokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah dimana kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier. Penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue di daerah perkotaan lebih intensif dari pada di daerah pedesaan. Hal ini disebabkan kepadatan jumlah penduduk yang tinggi didaerah perkotaan. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain sangat berdekatan sehingga memudahkan nyamuk penular Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) menyebarkan virus dengue dari satu orang ke orang lain yang ada disekitarnya (jarak terbang nyamuk Aedes aegypti biasanya tidak lebih dari 100 meter). Selain itu mobilitas penduduk dikota pada umumnya. jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan.

10

C. DISTRIBUSI MENURUT WAKTU Situasi DBD setiap tahunnya mempunyai gambaran yang khas yaitu dimana selalu diawali dengan jumlah kasus mulai meninggi dan akan terus meningkat sampai puncak tertinggi, setelah itu jumlah kasus mulai menurun dan terus menurun sampai ke titik terendah (bulan dengan kasus terendah). Berdasarkan data Depkes, bulan dengan kasus DBD tertinggi dan terendah dalam periode lima tahun (1999-2003) mengalami pergeseran setiap tahunnya. Bulan dengan kasus DBD tertinggi terjadi antara Maret hingga Mei dan bulan dengan kasus DBD terendah terjadi antara September hingga Nopember. Potensi tertular DBD makin besar karena nyamuk pembawanya aktif menggigit pada pukul 8.00-10.00 dan pukul 15.00-17.00 pada pagi dan siang hari terutama pada musim penghujan. D. INSIDENS DEMAM BERDARAH DENGUE. Selama periode 1968 -1988 insidens demam berdarah dengue cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1968 jumlah penderita demam berdarah dengue yang dirawat ada 53 orang, meninggal 24 orang (41,3%). Jumlah wilayah terjangkit 2 buah Dati II kemudian pada tahun 1988 jumlah kasusnya meningkat menjadi 47.573 orang (insidens = 27,1 per 100.000 penduduk) dengan kematian 1.527 orang (3,2%). Jumlah Dati II yang dilaporkan terjangkit adalah 201 Dati II. Setelah terjadinya kejadian luar biasa demam berdarah dengue nasional pada tahun 1988, kasus demam berdarah dengue di Indonesia menurun tajam. Hal ini mungkin berkaitan dengan kebijaksanaan program demam berdarah dengue yang dikembangkan selama satu dasawarsa terakhir. Insidens rate demam berdarah dengue pada tahun 1989 (awal repelita V) turun menjadi 6,1 per 100.000 penduduk kemudian pada tahun kedua dan ketiga mengalami peningkatan menjadi 12,73 dan 11,56 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1993 (akhir repelita V) insidens rate mengalami penurunan menjadi 9,2 per 100.000 penduduk. Kemudian pada tahun 1994 insidens rate demam berdarah meningkat kembali dari 9,4 menjadi 18,4 per 100.000 penduduk pada tahun 1995 dan 22,96 per 100.000 penduduk pada tahun 1996 wilayah Dati II terjangkit demam berdarah dengue bertambah luas yaitu dari 201 Dati pada tahun 1988 menjadi 211 Dati II pada tahun 1996. 11

yang angka insidens demam berdarah denguenya cukup tinggi pada tahun 1996 (>10/100.000 penduduk) yaitu : Propinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi. E. ANGKA KEMATIAN DBD. Angka kematian Demam Berdarah Dengue dari tahun ke tahun tampak menurun secara konsisten. Pada tahun 1968 angka kematian Demam Berdarah Dengue sebesar 41,3% menurun menjadi 2,7% pada tahun 1996. Secara keseluruhan angka kematian (CFR) cenderung menurun dengan rata-rata 2,5% pertahun. Terjadinya penurunan angka kematian Demam Berdarah Dengue ini salah satu penyebabnya adalah semakin baiknya penata laksanaan kasus Demam Berdarah Dengue di rumah sakit dan Puskesmas, sertat semakin banyak warga masyarakat yang mengetahui tanda-tanda dan akibat penyakit Demam Berdarah Dengue, sehingga penderita segera dibawa berobat ke rumah sakit atau puskesmas. Meskipun demikian pada tahun 1996 ada beberapa program di Indonesia yang angka kematian masih cukup tinggi (>5%) yaitu propinsi Aceh, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Timor-Timor. Tingginya angka kematian disebabkan propinsi tersebut menurut tim observasi Demam Berdarah Dengue di Propinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, salah satu diakibatkan oleh daerah tersebut ketat dalam menentukan diagnosa Demam Berdarah Dengue (penderita tersangka demam berdarah dengue yang tidak dirawat di rumah sakit tidak dimasukkan dalam kasus Demam Berdarah Dengue), sehingga jumlah kasus Demam Berdarah Dengue dalam perhitungan CFR menjadi kecil dan akibatnya CFR menjadi besar. Secara nasional penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia setiap tahun terjadi pada bulan September sampai dengan Februari dengan puncak pada bulan Desember atau Januari yang bertepatan dengan waktu musim hujan. Akan tetapi Untuk kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya musim penularan terjadi pada bulan Maret sampai dengan Agustus dengan puncak terjadi pada bulan Juni atau Juli.

12

BAB IV PEMBAHASAN A. DISTRIBUSI MENURUT ORANG Jumlah penderita DBD mengalami puncak pada tahun 1998 dengan 513 orang penderita, kemudian mulai terjadi penurunan. Mulai tahun 2001 mulai terjadi peningkatan dan relatif stabil tinggi sampai 2003 dan pada tahun 2004 ada kecenderungan peningkatan jumlah penderita DBD. Trend jumlah penderita DBD per tahun seperti terlihat pada grafik. Grafik 1. Distribusi penderita DBD per bulan di Kabupaten Trenggalek sampai dengan November 2004

Mulai tahun 1999 sampai dengan November 2004, jumlah penderita DBD laki-laki dan perempuan dengan proporsi hampir sama tiap tahunnya. Seperti terlihat pada grafik 4, di Kabupaten Trenggalek sampai dengan November 2004, jumlah penderita DBD tertinggi pada umur 5-9 tahun. Pada usia 5-6 tahun anak mulai masuk TK dan pada usia 7-9 tahun anak duduk dalam bangku SD. Melihat data ini

13

tidak menutup kemungkinan penularannya terjadi bukan pada rumah mereka, tapi pada sekolah anak-anak tersebut.

Grafik 2. distribusi Penderita Dbd Menurut Golongan Umur Di Kabupaten Trenggalek Sampai Dengan November 2004

Seperti terlihat pada gambar di atasdi Kabupaten Trenggalek sampai dengan November 2004, jumlah penderita DBD tertinggi pada umur 5-9 tahun. Pada usia 5-6 tahun anak mulai masuk TK dan pada usia 7-9 tahun anak duduk dalam bangku SD. Melihat data ini tidak menutup kemungkinan penularannya terjadi bukan pada rumah mereka, tapi pada sekolah anak-anak tersebut.

14

B. DISTRIBUSI MENURUT TEMPAT Grafik 3. Distribusi penderita dbd per kecamatan di kabupaten trenggalek sampai dengan november 2004

KAMPAK

0 0 1 0 0

3 5 5 17 14 12 27 31 22 31 48 63 18 49 55 67 39 60 68

DONGKO

1 0

PULE

WATULIMO

DURENAN

TUGU

TRENGGALEK

14

JUMLAH (ORANG ) 20 40

60

80

S/D NOV 2004

2003

Sesuai dengan grafik diatas, dapat dilihat bahwa hanya Kecamatan Panggul yang terbebas dari DBD. Jumlah penderita terbanyak terdapat pada wilayah perkotaan yaitu Kecamatan Trenggalek, Kecamatan Tugu dan Kecamatan Durenan. Jumlah penderita DBD mengalami peningkatan yang bermakna di Kecamatan Trenggalek sampai dengan November 2004 yaitu 4,8 kali dibanding tahun 2003. Hal ini perlu mendapat perhatian yang serius.

15

C. DISTRIBUSI MENURUT WAKTU Grafik 4. Distribusi penderita dbd per bulan di kabupaten trenggalek sampai dengan november 2004
NOVEMBER OKTOBER SEPTEMBER AGUSTUS JULI JUNI MEI APRIL MARET P EBRUARI JANUARI 0 50 JUMLAH 100 59 127 150 0 0 0 1 2 22 52 134 13

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa distribusi penderita DBD per bulan di Kabupaten Trenggalek paling banyak terjadi antara bulan Mei 2004 sampai Januari 2005. Ini dikarenakan pada rentang waktu tersebut adalah musim hujan. Jumlah penderita DBD di Kabupaten Trenggalek tahun 2004 paling tinggi pada bulan Maret sebanyak 134 orang, setelah itu terjadi penurunan sampai 0 . Mulai bulan November yang merupakan musim penghujan terlihat peningkatan jumlah penderita DBD yaitu dengan 13 penderita.

16

Grafik 5. Distribusi penderita dbd per bulan di kabupaten trenggalek sampai dengan november 2004
600

500

513

) G N A R O ( H A L M U J

400 369

410

300 269 217 198 155 100 105 120 111 88 28 0


1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003

257

200

187

Berdasarkan Grafik di atas, Jumlah penderita DBD mengalami puncak pada tahun 1998 dengan 513 orang penderita, kemudian mulai terjadi penurunan. Mulai tahun 2001 mulai terjadi peningkatan dan relatif stabil tinggi sampai 2003 dan pada tahun 2004 ada kecenderungan peningkatan jumlah penderita DBD.

17

BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan. B. SARAN 1. Perlunya digalakkan Gerakan 3 M plus tidak hanya bila terjadi wabah tetapi harus dijadikan gerakan nasional melalui pendekatan masyarakat. 2. Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS) perlu dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna. 3. Segenap pihak yang terkait dapat bekerja sama untuk mencegah DBD.

18

DAFTAR PUSTAKA Fachrizal, Achmad, dkk. Pemberdayaan Siswa Pemantau Jentik (Wamantik) Sebagai Upaya Pencegahan Kejadian Luar Biasa (Klb) Demam Berdarah Dengue. Jurnal PKMM-3-7-1. Marini, Dina. 2009. Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Mengenai DBD pada Keluarga di Kelurahan Padang Bulan Tahun 2009. Skripsi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara. Sitorus, Rotua Sumihar. 2009. Perilaku Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Medan Johor Kota Medan Tahun 2009. Tesis, Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara. Sukowinarsih, Tur Endah dan Widya Harry Cahyati. 2010. Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Angka Bebas Jentik Aedes Aegypti Di Wilayah Kerja Puskesmas Sekaran Kota Semarang. Jurnal KEMAS - Volume 6 / No. 1 / Juli - Desember 2010. Suyasa, I N Gede, dkk. 2008. Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat dengan Keberadaan Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Selatan. Jurnal ECOTROPHIC 3 (1) : 1 6 http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_berdarah http://ginaseptiani.wordpress.com/2009/04/25/demam-berdarah-dengue-masalah-dan-carapenanggulangannya/ http://www.infopenyakit.com/2008/03/penyakit-demam-berdarah-dengue-dbd.html http://www.blogdokter.net/2008/06/27/demam-berdarah-dengue/ http://asuhan-keperawatan-patriani.blogspot.com/2008/07/demam-berdarah-denguedbd.html http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm http://organisasi.org/penyakit-demam-berdarah-dengue-dbd-pengertian-penyabab-gejaladbd http://www.drjaka.com/2010/03/demam-berdarah-dengue-etiologi-dan.html http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/demam-berdarah-dengue/ http://alfredsaleh.wordpress.com/2006/10/10/penyakit-demam-berdarah/

19