Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Sebagai Tugas Praktek Mata Pelajaran Pendidikan Lingkungan Kota Jakarta


DISUSUN OLEH :

ANGGITTA REALIZA ANDINI & SENDY AYU RENGGANIS


KELAS : 9-1

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas karunianya, tugas perjalan ke Kota Tua ini dapat terselesaikan dengan baik. Tugas ini disusun untuk diserahkan sebagai tugas mata pelajaran PLKJ dengan judul Rahasia Sejarah di Kota Tua dan dengan harapan semoga makalah ini bisa bermanfaat serta menjadikan salah satu sumber pengetahuan dan wawasan sejarah. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Gusnadi selaku guru mata pelajaran PLKJ di kelas 9-1 dan teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis juga mohon maaf apabila terdapat kesalahan baik dari segi penyusunan atau materi. Untuk itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan karya tulis selanjutnya. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat kita semua terutama pelajar.

Jakarta, 19 Februari 2012 Penulis Anggitta Realiza .A & Sendy Ayu .R

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR............................................................ i DAFTAR ISI.......................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 BAB II Latar Belakang ............................................... Identifikasi............. ........................................ Tujuan Penelitian............................................ Metode Penelitian........................................... Kegunaan Penetian......................................... Sistematika Penelitian.................................... 1 2 2 2 2 2 ii

PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Kota Tua........................................... 2.2 Museum Fatahillah di Kota Tua....................... 2.3 Museum Wayang di Kota Tua....... .................. 2.4 Isi bagian dalam Museum Wayang.................. 2.5 Manfaat Berkunjung ke Museum..................... 2.6 Wawancara Pengunjung................................ 2.7 Laporan Perjalanan........................................ 3-4 4-6 6-8 8 - 16 16 17 - 18 19

BAB III

PENUTUP 20 20 iii

3.1 Kesimpulan.................................................. 3.2 Saran........................................................... DAFTAR PUSTAKA........................................................

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mengingat banyaknya sumber pengetahuan yang bisa diambil dari berbagai tempat bersejarah seperti museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah, maka tidak ada salahnya apabila kita juga dapat berkunjung ke museum dan tempat bersejarah. Tetapi, seringkali kita sebagai pelajar tidak pernah berkunjung ke tempat bersejarah dan lebih memilih tempat-tempat yang ramai seperti mall,cafe dan tempat-tempat nongkrong yang lainnya. Ini salah satu penyebab kita tidak mencintai budaya sendiri dan tidak mengetahui sejarah-sejarah yang tersimpan. Padahal dari sebuah museum saja kita dapat melihat dan mengetahui berbagai hal yang tidak diketahui sebelumnya. Maka dari itu diperlukan kesadaran untuk para remaja saat ini untuk mencintai budaya sendiri dan apa sejarahnya.

1.2 Identifikasi Masalah - Apa saja yang bisa kita ambil dari mengunjungi sebuah museum atau tempat bersejarah ? - Apa saja yang ada di dalam museum tersebut? - Bagaimana sejarah museum tersebut ? - Apa pengaruh tempat tersebut bagi pelajar? 1.3 Tujuan Penelitian - Sebagai pengetahuan bagi para remaja tentang sejarah suatu benda atau tempat tertentu - Meningkatkan rasa cinta terhadap budaya sendiri - Mengetahui sejarah tempat yang dikunjungi - Mengetahui apa saja yang ada di dalam tempat itu - Mengetahui manfaat apa yang dapat kita ambil dari mengunjungi sebuah museum 1.4 Metode Penelitian Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metode perjalanan langsung ke sebuah museum Kegunaan Penelitian Manfaat penulisan karya tulis ini adalah agar remaja khususnya pelajar dapat selalu memanfaatkan museum sebagai salah satu sumber pengetahuan. Sistematika Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 Latar Belakang Masalah Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian Metode Penelitian Kegunaan Penetian Sistematika Penelitian

1.5

1.6

BAB II PEMBAHASAN 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 Sejarah Kota Tua Museum Fatahillah di Kota Tua Museum Wayang di Kota Tua Isi Bagian Dalam Museum Wayang Manfaat Mengunjungi Sebuah Museum Laporan Perjalanan Wawancara Pengunjung

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Kota Tua

Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah. Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia. Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda

Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang. Tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana. Meski dekrit Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.

2.3 Sejarah Museum Fatahillah

Ket : Museum Fatahillah (tampak depan) Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di

Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin. Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua. Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Ket : Sebuah ruangan luas berlantai kayu di Museum Sejarah Jakarta dengan lemari kaca berukuran besar menempel pada dinding dengan ornamen indah terbuat dari perunggu.

Ket : Sebuah sudut di Museum Sejarah Jakarta yang memamerkan contoh dapur tradisional di kampung-kampung Betawi.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya

terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

2.4 Museum Wayang di Kota Tua

Ket: Museum Wayang (Tampak Depan )

Ket : Foto kami saat di Museum Wayang (18 Februari 2012)

Gedung yang artistik di Jalan Pintu Besar Utara No.27 Jakarta Barat ini dibangun tahun 1912,sebelumnya adalah tanah gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama de Oude Holandsche Kerk. Pada tahun 1732 diperbaiki dan namanya diganti menjadi de Nieuw Holandsche Kerk. Bangunan gereja ini pernah hancur total akibat gempa bumi. Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli banguna ini. Oleh lembaga itu gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia dan pada tanggal 22 Desember 1039 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum.

Pada tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayyaan RI yang selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang. Museum Wayang diresmikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Bapak H. Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975 dan sejak 16 September 2003 mendapat perluasan bangunannya hibah dari Bapak H. Probosutejo.

2.5 Isi Bagian Dalam Museum Wayang


Di dalam Museum Wayang ini terdapat banyak macam wayang dari berbagai belahan nusantara. Di sana pengunjung diajak untuk mengenal berbagai karakter, sikap maupun perilaku lakon dari berbagai daerah melalui tampilan wayang yang mempunyai bobot yang luhur dan tinggi nilainya dalam budaya kita dengan menyaksikan sejumlah koleksi wayang, seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber, wayang kaca, gamelan serta lukisan-lukisan wayang. Museum Wayang menampilkan pula berbagai koleksi wayang dan boneka dari negara-negara sahabat di antaranya: Malaysia, Thailand, Suriname, Cina, Vietnam, Perancis, Rusia, Polandia, India, dan Kamboja.

Ket. Wayang Golek Raja Rahwana

Padepokan Sokalima terletak diantara perbatasan negara Hastinapura dengan Cempalareja,berada di daerah perbukitan diantara kedua negara tersebut,sebelah timurnya terdapat hutan yang dihuni banyak binatang buas serta makluk2 aneh sebangsa raksasa,jin dan genderuwo.

Ket : Tembikar Semar dari Cirebon, Jawa Barat


Semar merupakan tokoh wayang yang sangat terkenal yang selalu memihak terhadap kebenaran. Dalam cerita sayembara, ia bisa menelan Gunung, tetapi tidak bisa keluar, akhirnya tubuhnya menjadi gemuk. Tembikar pada masa yang lalu berfungsi sebagai alat untuk menyimpan uang (menabung) sedikit demi sedikit menabung akhirnya menjadi untung. Tembikar ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat dibuat pada tahun 1968, menjadi koleksi Museum Wayang pada tahun 1975.

Ket : Semar Di dalam Pedalangan sangat terkenal menjadi Punakawan keturunan Pandawa dan memberi jalan dan memberi bimbingan bagi para ksatria membenarkan yang salah, meluruskan tindakan yang keliru menuju perbaikan/kebenaran, terkenal sebagai Dewa yang mengejawantah, apabila diperlukan dalam penyelesaian yang sangat penting, berubah wujud dengan Shangyang Ismaya. Mempunyai pengikut : Gareng, Petruk, Bagong.

Ket : Wayang Golek Bandung, Jawa Barat (DURYUDANA)

ASBENJAWI NEGARA HASTINA


Patih Sengkuni memegang / perintah Prabu Duryudana agar siap siaga memata- matai perjalanan Raden Bratasena mencari sarang angin di Gunung Reksa Muka *** Dari kiri ke kanan : 1. Citraksa (WGP Elung Bandung) 2. Citraksi (WGP Elung Bandung) 3. Kartamarma (WGP Elung Bandung) 4. Dursasana (WGP Elung Bandung) 5. Patih Sengkuni (WGP Elung Bandung) 6. Adipati Karna (WGP Elung

NEGARA AMARTA
Pandawa, menerima kedatangan Prabu Kresna, sedang membicarakan Raden Bratasena, tidak lama kemudian Raden Bratasena datang selanjutnya minta izin untuk mencari " BANYU SUCI PERWITASARI" di " TELENGING KALBU" *** Dari kiri ke kanan : 1. Sadewa ( WG Elung Bandung ) 2. Nakula ( WG Elung Bandung ) 3. Kresna ( WG Hasil Lomba ) 4. Arjuna ( WG Elung Bandung ) 5. Bratasena ( WG Elung Bandung ) 6. Dewi Kunti ( WG Elung Bandung ) 7. Yudistira ( WG Elung Bandung )

Bandung)

Negara Amarta
Pandawa mengucapkan puji syukur kepada dewa, bahwa Raden Bratasena (Wrekudara) karena kesungguhannya ia bisa mencapai apa yang dicari, meskipun banyak halangan dan rintangan, kembali dengan selamat bertemu keluarga. *** Dari kiri ke kanan : 1. Raden Wrekudara ( WGP Bogor ) 2. Prabu Kresna ( WGP Elung Bandung ) 3. Raden Arjuna ( WGP Elung Bandung ) 4. Semar ( WGP Elung Bandung ) 5. Dewi Kunti ( WGP Bogor ) 6. Raden Yudistira ( WGP Bogor ) 7. Raden Nakula ( WGP Bogor ) 8. Raden Sadewa ( WGP Bogor )

Wayang Golek Purwa Wayang Golek Mini Bandung


Wayang Golek Bandung Wayang untuk Janturan yaitu khusus Wayang untuk dipajang atau dipamerkan, penyusunan dan penempatan tokohtokoh pewayangan dalam janturan ini mengambil dari kisah Mahabarata antara lain sebelah kanan tokoh

Kahayangan Jonggringsaloka Betara Guru bersama para Dewa, merasa yidak nyaman apakah di Marcapada ada masalah (garagara) . Kemudian, ia mengutus Batara Marada supaya turun ke Marcapada (Bumi) untuk melihat keaadan disana. *** Dari kiri ke kanan : 1. Batara Yamadipati ( WKP Surakarta ) 2. Batara Brahma ( WKP Surakarta ) 3. Batara Indra ( WKP Surakarta ) 4. Batara Bayu ( WKP Surakarta ) 5. Batara Narada ( WKP Surakarta ) 6. Batara Guru (WKP Surakarta )

Ket : Wayang Kulit Purwa Ngabean


Prabu Kresna Triwirkrama ( Berubah menjadi Raksasa) - Karena ajian Balasewu Titisan Batara Wisnu bisa berubah wujud atau rupa menjadi Brahala atau Raksasa Besar

Ket : Boneka / Wayang

Golek Canton China


Boneka ini dibuat pada tahun 2001 oleh Tzar Purbaya, merupakan hasil tiruan koleksi almarhum Marsekal Madya TNI H. Budiharjo, Ketua Umum Yayasan NAWANGI yang aslinya pernah dititipkan di Museum Wayang dan saat ini berada di Nama : Boneka Museum Budiharjo di daerah

Katakali Magelang, Jawa Tingal, dari Kerala India Selatan Umrunya Tengah.

Dibuat dari : Anonim, Gips diperkirakan lebih dari 350 Tahun milik keluarga Lie Sea : 1671 tahun No. Inventaris : MW/B/135 dari Semarang, Jawa Tengah Keterangan Canton, China. berasal dari : 3 (tiga) buah boneka dari Kerala India Selatan Sumbangan dari Bapak Sugiarto, Mantan Duta Besar India di Indonesia.

BONEKA RUSIA
Boneka Rusia ini terbuat dari Giffs/ kayu/ kain menceritakan/ menggambarkan masyarakat Rusia, diperkirakan dibuat pada tahun 2001, Boneka ini merupakan sumbangan dan menjadi koleksi Museum Wayang pada tahun 2009.

LUKISAN KACA
Karya Ki. Entus/ Bahendi Lukisan ini berjudul tentang " Karno Tanding" / Arjuna Wijaya (Baratayudha) perang besar Baratayudha telah terjadi. Peperangan antara Pandawa dan Kurawa, masalah mendasar adalah perebutan Negara Astina. Kurawa mengangkat Adipati Karna sebagai Senopati Astina bersais Prabu Salya (mertuanya), sedangkan Pandawa menunjuk Arjuna bersma Prabu Kresna (penasehatnya). Untuk mengimbangi penampilan Adipati

Bukan sekedar menjadi obyek rekreasi semata, dimemakai ini Karna, Arjuna museum mahkota dapat dilakukan studi bagi para pelajar dan akademis , bahkan dapat ada seperti Adipati Karna, maka dijadikan tempat pelatihan , pusat dokumentasi, dan penelitian istilah/ disebut "Karno Tanding" dan pewayangan, serta dapat dijadikan media pengetahuan budaya antar kejayaan/ kemenangan dipihak daerah, dan antar bangsa. Untuk mendukung keberadaannya, di museum Arjuna (Pandawa). ini secara periodik diadakan, perubahan tata pamer,pagelaran wayang dan atraksi pembuatan wayang. Secara periodik museum ini juga mengadakan pagelaran wayang yang dapat dinikmati pada hari mingu II,III dan terakhir, pada jam 10.0014.00 WIB.

Wayang Indonesia telah diakui oleh UNESCO ( United Eduacational and Cultural Organization) pada tanggal 7 November 2003 di Kota Paris, dengan memproklamirkan Wayang Indonesia Masterpiece of the Oral and Intengible Heritage of Humanity dimana wayang Indonesia telah diakui sebagai karya agung budaya dunia. Secara resmi penyerahan Piagam Penghargaan UNESCO dilaksanakan pada tnggal 21 April 2004 di Paris, Perancis. 2.6 Manfaat Berkunjung ke Museum - Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan - Memberikan kesan rekreasi untuk menyegarkan pikiran - Mendapat banyak pengetahuan sejarah - Memotivasi untuk selalu mencintai tanah air - Mengetahui banyaknya budaya yang dimiliki negara kita

2.8 Laporan Perjalanan Hari, tanggal perjalanan : Sabtu, 18 Februari 2012 Tempat : Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat Waktu : 12.00 15.00 Tujuan : Mengetahui sejarah dan koleksi yang ada di museum Sewaktu di kawasan Kota Tua, kami memilih untuk mengunjungi Museum Wayang dan Museum Fatahillah. Kami sengaja mengunjunginya siang hari karena kami juga mempunyai acara pemotretan buku tahunan pada pagi harinya di Museum Bank Indonesia.

Untungnya jarak anatar Museum Fatahillah dan Museum Wayang dekat. Kedua museum tersebut hampir mempunyai ciri khas yang sama yaitu sama- sama memiliki arsitektur zaman Belanda. Di Museum Fatahillah, kami melihat banyak sekali koleksi yang tersimpan seperti gerabah, kerajinan tangan, dan peralatan-peralatan kuno berciri khas Betawi. Museum itu sangat ramai dibanding museum yang lainnya sehingga kami hanya sebentar mengunjunginya. Setelah itu, kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Wayang . Kemudian, dengan membeli tiket seharga Rp 500,-, kami dapat memasuki museum itu dan mendapat sebuah brosur yang berisi sejarah museum itu. Di Museum Wayang, kami pun melihat berbagai koleksi wayang yang terpajang di dinding dinding kacanya sehingga kami bisa melihat secara langsung koleksi wayang- wayang itu. Banyak di antara teman-teman kami yang antusias membaca keterangan yang ditempel di dekat masing masing koleksi wayang tersebut. Ratusan wayang-wayang itu diambil dari berbagai daerah di nusantara, tetapi ada juga yang sengaja disumbangkan oleh pemiliknya untuk dimuseumkan. Setelah puas melihat-lihat dan mengambil gambar dari beebrapa koleksi wayang- wayang itu, selanjutnya kami memtuskan untuk pulang. Hari itu benar- benar membuat kami merasa senang karena dapat merasakan kebersamaan yang berbeda dari sebelumnya.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Banyak sekali sumber-sumber sejarah di kita bisa dapatkan di kota ini, sekalipun kota ini merupakan kota Metropolitan yang ramai dan berpolusi. Museum museum yang ada saat ini harus kita lestarikan dan dipelihara sebaik mungkin karena di dalamnya tersimpan banyak sekali

budaya-budaya terdahulu yang mengandung nilai sejarah yang sangat tinggu. 3.2 Saran Sebagai genarasi penerus bangsa ini, kita harus mampu melestarikan budaya- budaya bangsa ini supaya budaya kita dapat diperkenalkan di mancanegara dan aset bangsa yang sangat berharga ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA
www.google.com www.wikipedia.com Pengamatan