Anda di halaman 1dari 13

IMPLIKASI PRINSIP EMPLOYABILITY SKILLS PADA SEKOLAH KEJURUAN BAB I.

PENDAHULUAN Dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan hal tersebut diharapkan segala pihak dapat berkontribusi menghasilkan peserta didik seperti tujuan pendidikan nasional tersebut baik dalam segi hard skill maupun soft skill. Dalam lingkup dunia kerja saat ini, sumber daya manusia yang unggul tidak hanya memiliki kemampuan hard skills saja melainkan juga memiliki kemampuan dalam aspek soft skills. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata keberhasilan seseorang di masyarakat tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain atau yang sering disebut sebagai soft skills. Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skills dan 80% oleh soft skills. Merupakan suatu realita jika disadari bahwa sistem pendidikan keteknikan di Indonesia saat ini berorientasikan pada muatan hard skills, bahkan seringkali mengabaikan unsur soft skills. Kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skills-nya, maka perlu ditentukan seberapa besar semestinya muatan soft skills dalam kurikulum pendidikan. Realita saat ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan keteknikan di Indonesia saat ini berorientasikan pada muatan soft skills. Hal ini dibuktikan oleh beberapa survey, yakni salah satu Penelitian yang merupakan tindak lanjut hasil penelitian eksploratif terhadap 130 industri di 16 provinsi di Indonesia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan terbesar antara kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri dengan kompetensi lulusan SMK adalah pada aspek soft skills seperti : kejujuran, kedisiplinan, komunikasi, inisiatif dan kerjasama tim. Hasil survey di 50 SMK di Indonesia juga menunjukkan bahwa pengembangan soft skills belum mendapat perhatian serius dalam pembelajaran. (http://jurnal.sttnbatan.ac.id/wpcontent/uploads/2010/03/A-14_ok.pdf) Selain itu penelitian yang melatarbelakangi kebutuhan aspek soft skills di dunia kerja yang dilakukan oleh Widarto, dkk tahun 2007. tentang urgensi aspek-aspek kompetensi lulusan SMK yang dibutuhkan di dunia industri adalah kejujuran, etos kerja, tanggungjawab, disiplin, menerapkan prinsipprinsip keselamatan dan kesehatan kerja, inisiatif dan kreatifitas. Jelas bahwa dilihat dari sisi kompetensi maupun skill yang dibutuhkan, soft skills memiliki peran kunci dalam menentukan kualifikasi yang dibutuhkan industri. Setelah itu Penelitian juga dilakukan oleh Widarto, dkk, tahun 2009, menghasilkan rumusan soft skills yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri secara berurutan berdasarkan skala prioritas adalah : disiplin, kejujuran, komitmen, tanggungjawab, rasa percaya diri, etika, sopan santun, kerjasama, kreativitas, komunikasi, 1

kepemimpinan, entrepeneurship, dan berorganisasi. Untuk itu diperlukan perangkat kurikulum yang mampu mengintregasikan soft skills dalam proses pembelajaran, sementara soft skills tidak perlu berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Model integrasi soft skills harus komprehensif yakni mulai dari konteks, input, proses, output, dan outcome semuanya harus diperhatikan secara seksama. Selain masalah-masalah yang ada tentang aspek soft skills diatas, perlu juga dilihat dari proses pembelajaran di SMK. Apalagi kebutuhan industri atau dunia usaha ini biasanya diambil langsung dari lulusan SMK. Maka dari itu perlu adanya strategi atau metode yang mendukung agar lulusan SMK dapat mengembangkan aspek soft skills yang dimilikinya. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada sebuah kelas di sekolah kejuruan. Ditemukan beberapa kesimpulan mengenai proses pembelajaran di sekolah dengan hasil prestasi belajar rata-rata baik dalam hal akademik. Tetapi dalam hal aspek soft skills yang dimiliki siswa, yakni masih belum terlatih dalam hal mengembangkan aspek soft skills komitmen, tanggung jawab, kerjasama, kteatifitas, dan etika. Penggunaan strategi konvensional atau metode ceramah ternyata kurang membangkitkan aspek soft skills siswa. Dimana siswa dalam proses pembelajaran tersebut hanya menulis, melihat dan mendengarkan saja. Tidak ada kegiatan siswa agar siswa tersebut aktif, sehingga proses pembelajaran di kelas belum bisa mengembangkan aspek soft skills yang dimiliki siswa tersebut. Jika melihat realita di atas, dapat dilihat bahwa pendidikan soft skills sudah sepantasnyalah jika menjadi kebutuhan penting dalam dunia pendidikan sehingga harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan ataupun proses belajar-mengajar. Namun juga perlu disadari bahwa untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Lebih jauh lagi, pendidikan soft skills idealnya bukan saja hanya diterapkan untuk anakdidik saja, tetapi juga bagi pendidik. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skills pada proses pembelajarannya. Maka dari itu penulis ingin menawarkan konsep tentang pengembangan pembelajaran aspek soft skill pada siswa SMK dengan mencoba menerapkan pada kurikulum sekolah agar siswa terlatih untuk mengembangkan aspek soft skill yang berada pada dirinya masing-masing. BAB II. KONSEP EMPLOYABILITY SKILLS Soft Skills adalah Kemampuan non teknis yang dimiliki seseorang yang sudah ada didalam dirinya sejak lahir, Kemampuan non teknis yang tidak terlihat wujudnya namun sangatdiperlukan untuk sukses dan Kemampuan non teknis yang bisa berupa talenta dan bisa pula ditingkatkan dengan pelatihan. Tidak ada kesepakatan tunggal tentang makna soft skills, tetapi secara umum istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan untuk berkembang dalam pekerjaan. Sebagai contoh kemampuan seorang arsitek untuk membaca dan menterjemahkan gambar perencanaan merupakan hard skills, namun kemampuan untuk bekerja efektif dengan bawahannya, komunikasi dengan pelanggan dan atasan merupakan aspek soft skills. Dalam hal ini soft skills diistilahkan pula dengan Employability Skills. (William P,2006).

Para stakeholders sepakat tentang arti pentingnya employability skills pada jenjang pendidikan tinggi. Yorke (2006) menyatakan the higher education system is subject to governmental steer, one form of which is to give an emphasis to the enhancement of the employability of new graduates. Little (2006) menyatakan para stakeholder menaruh perhatian bahwa pendidikan tinggi sebaiknya meningkatkan employability skills lulusan. Sementara itu, Raybould & Wilkins (2005) menyatakan universities must change their focus from producing graduates to fill existing jobs to producing graduates who can create new jobs in a dynamic growth sector of the economy. Lankard (1990) mendefinisikan employability skills sebagai suatu keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan atau untuk dapat tetap bekerja dengan baik, meliputi personal skills, interpersonal skills, attitudes, habits dan behaviors. Overtoom (2000) mendefinisikan employability skills sebagai kelompok keterampilan inti bersifat dapat ditransfer yang menggambarkan fungsi utama pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan tempat kerja di abad ke-21. Robinson (2000) menyatakan employability skills terdiri dari tiga kelompok keterampilan yang meliputi: (1) basic academic skills, (2) higher-order thinking skills, dan (3) personal qualities. The Secretarys Commission on Achieving Necessary Skills (SCANS) mendefinisikan employability skills sebagai workplace know-how yang meliputi workplace competencies dan foundations skills (SCANS, 1991). Workplace competencies dapat digunakan secara efektif dalam meningkatkan produktivitas kerja terdiri dari lima yaitu: (1) Resources (sumberdaya); (2) Interpersonal skills (keterampilan interpersonal); (3) Information (informasi); (4) Systems (sistem); dan (5) Technology (teknologi). Sementara itu, foundation skills dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja para pekerja, meliputi: (1) Basic skills (keterampilan dasar); (2) Thinking skills (keterampilan berfikir); dan (3) Personal qualities (kualitas individu). The Conference Board of Canada (2000) mendefinisikan employability skills sebagai suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan keterampilan dan kualitas individu yang dikehendaki oleh pemberi kerja terhadap pekerja baru apabila mereka mulai bekerja. Employability skills dilihat dari tiga elemen keterampilan utama yaitu: (1) Fundamentals Skills, yang meliputi: keterampilan berkomunikasi, keterampilan mengelola informasi, keterampilan matematik dan keterampilan menyelesaikan masalah; (2) personal management skills, yang meliputi: keterampilan dalam bersikap dan berperilaku positif, keterampilan bertanggungjawab, keterampilan dalam beradaptasi, keterampilan belajar berkelanjutan dan keterampilan bekerja secara aman; (3) Teamwork Skills, yang meliputi: keterampilan dalam bekerja dengan orang lain dalam suatu tim dan keterampilan berpastisipasi dalam suatu projek atau tugas. Dari berbagai definisi tersebut dapat dikatakan bahwa employability skills merupakan sekumpulan keterampilan-keterampilan non-teknis bersifat dapat ditransfer yang relevan untuk memasuki dunia kerja, untuk tetap bertahan dan mengembangkan karir di tempat kerja, ataupun untuk pengembangan karir di tempat kerja baru. Keterampilan-keterampilan tersebut termasuk diantaranya: keterampilan personal, keterampilan interpersonal, sikap, kebiasaan, perilaku, keterampilan akademik dasar, keterampilan berfikir tingkat tinggi.

Kualitas tenaga kerja bergantung pada kualitas sistem yang dimiliki seseorang dengan keterampilan yang pantas, kebiasaan (habits), dan sikap dalam setiap langkah kehidupannya sebelum memasuki dunia kerja, selama dalam pekerjaan, dan diantara pekerjaan dan karier (Stern, 2003). Selama proses persiapan karier pertama-tama sangat perlu memperhatikan fundamental skills yang terdiri dari basic skills (listening, reading, writing, speaking, math), thinking skills (how to learn, create, solve problem, make decision,ect), dan personal qualities (Responsibility, integrity, self-confidence, moral, character,loyality, etc). Fundamental skills sangat penting dan pokok dalam perkembangan karier seseorang dalam pekerjaan. BAB. III IMPLEMENTASI KONSEP EMPLOYABILITY SKILLS DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH KEJURUAN Suatu sitem pendidikan dikatakan berhasil dilihat dari keluarannya, dimana setelah melewati sistem persekolahan dalam hal ini peserta didik tersebut tidak menunggu waktu yang lama dalam mencari pekerjaan ataupun lansung bekerja saat itu juga. Hal yang mendasari bahwa sistem pendidikan itu berjalan dengan baik dilihat dari aspek kurikulumnya. Ada (4) empat pilar atau fokus pendidikan yang dicanangkan UNESCO (Delors, 1996) apabila diterapkan dengan baik di sekolah-sekolah (di Indonesia) akan mampu membekali siswa den gan kecakapan hidup yang dibutuhkan siswa tersebut untuk bekal hidup di masyarakat. Empat pilar pendid ikan itu adalah belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi jati diri (learning to be), dan belajar untuk hidup bermasyarakat dalam damai (learning to live to gether) merupakan pegangan yang perlu dijadikan landasan dan pedoman dalam pembelajaran di sekolah - sekolah untuk dapat menghasilkan gener asi-generasi penerus bangsa sesuai harapan masyarakat dan bangsa Indonesia. Untuk dapat mencapai (4) empat pilar pendidikan yang disertai kepemilikan bekal kecakapan hidup (life skills) yang dibutuhkan siswa dari hasil perolehan pendidikan di sekolah, siswa seyogyanya mendapatkan pendidikan di sekolah yang mempraktekkan pembelajaran dengan memberdayakan siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan fisik dan sosial agar siswa m emahami pengetahuan yang dikaitkan de ngan lingkungan sekitarnya (learning ti know). Kemudian, praktek pembelajaran tersebut memfasilitasi siswa agar melakukan perbuatan atas dasar dari pen getahuan yang dipahaminya untu k memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do). Dari hasil belajar seperti itu, siswa diharapkan dapat membangun kepercayaan dirinya supaya da pat menjadi jati dirinya sendiri (learning to be) dan sekaligus juga berinteraksi dengan berbagai individu dan kelompok yang ber anekaragam dan berbeda akan me mbentuk kepribadian yang memahami kemajemukan dan melahirkan sikap toleran dengan keanekaragaman dan perbedaan yang dimiliki masing-masing individu (learning to live together) sesuai hak masing-masing. Pendidikan kejuruan/vokasi selalu mendekatkan hubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (Du-Di). Pada era otonomi kualitas pendidikan kejuruan/vokasi akan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah. Ketika pemerintah daerah memiliki political will yang baik dan kuat terhadap dunia pendidikan kejuruan/vokasi, ada peluang yang cukup luas bahwa pendidikan kejuruan/vokasi di daerah bersangkutan akan maju. Sebaliknya, 4

kepala daerah yang tidak memiliki visi yang baik di bidang pendidikan dapat dipastikan daerah itu akan mengalami stagnasi dan kemandegan menuju pemberdayaan masyarakat yang well educated, tidak akan pernah mendapat momentum yang baik untuk berkembang (Suyanto; 2001). Dalam proses perubahannya pendidikan kejuruan membutuhkan kepemimpinan pendidikan kejuruan. Re-engineering pendidikan menengah kejuruan menempatkan SMK untuk berkembang menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Terpadu (PPPKT). Untuk berkembang dalam setiap event pemilihan bupati/walikota dan gubernur yang juga akan berpengaruh serius bagi pendidikan kejuruan. Apakah tuntutan penguatan kemandirian dalam peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan kejuruan telah menjadi kebijakan perubahan pengelolaan pendidikan bermutu. Untuk itu diperlukan evaluasi menyeluruh berhubungan dengan konteks, input, proses, produk, dan outcome. Pendidikan kejuruan/vokasi selalu mendekatkan hubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (Du-Di). Pada era otonomi kualitas pendidikan kejuruan/vokasi akan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah. Ketika pemerintah daerah memiliki political will yang baik dan kuat terhadap dunia pendidikan kejuruan/vokasi, ada peluang yang cukup luas bahwa pendidikan kejuruan/vokasi di daerah bersangkutan akan maju. Sebaliknya, kepala daerah yang tidak memiliki visi yang baik di bidang pendidikan dapat dipastikan daerah itu akan mengalami stagnasi dan kemandegan menuju pemberdayaan masyarakat yang well educated, tidak akan pernah mendapat momentum yang baik untuk berkembang (Suyanto; 2001). Dalam proses perubahannya pendidikan kejuruan membutuhkan kepemimpinan pendidikan kejuruan. Re-engineering pendidikan menengah kejuruan menempatkan SMK untuk berkembang menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Terpadu (PPPKT). Untuk ketenagaan,keuangan, sarana prasarana, sistem informasi manajemen (SIM) pendidikan kejuruan, pengembangan regulasi dan legislasi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia manajer,staf, dan pelaksana, pengembangan tugas dan fungsi serta struktur organisasi, proses pengambilan keputusan, prosedur dan mekanisme kerja, hubungan dan jaringan antar organisasi, pengembangan dewan pendidikan dan komite sekolah dan pengembangan kepemimpinan sekolah. Idealnya sistim pendidikan kejuruan diera otonomi harus bisa memberikan kunci kerja (WorkKeys). WorkKeys adalah sistim pengembangan ketenagakerjaan yang dirancang secara komprehensif untuk membantu seseorang mengembangkan ketrampilan kerja dan kemampuannya sebagai pekerja yang lebih baik sehingga dapat bersaing mendapatkan pekerjaan yang layak atau memutuskan untuk mengikuti training terlebih dahulu. Ada dua komponen utama dari WorkKeys yaitu job profiling dan assessments. Job profiling menyediakan analisis menyeluruh dari kebutuhan pekerjaan dan ketrampilan yang dibutuhkan agar berhasil baik dalam perkerjaan. Assessments adalah penilaian dengan cara membandingkan kemampuan diri seseorang terhadap kualifikasi pekerjaan sehingga dapat menentukan apakah bisa melakukan suatu pekerjaan atau harus mengambil training terlebih dahulu. Dengan demikian terkait pendapat Gill, Dar, dan Fluitmen maka Pemerintah daerah harus memahami kebutuhan pengembangan ketenagakerjaan melalui pendidikan dan pelatihan kejuruan.

Untuk mewujudkan proses pendidikan sebagaimana diharapkan di atas, kebijakan reformulasi pendidikan perlu dilakukan pada tatanan horizontal maupun vertikal. Reformulasi tatanan horizontal dimaksudkan bahwa proses pendidikan pada setiap jalur dan jenis pendidikan dimungkinkan adanya proses lintas pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan melalui bridging course atau bridging training. Tatanan vertikal dimaksudkan bahwa proses pendidikan dengan memperhatikan secara cermat artikulasi materi pembelajaran yang ditempuh peserta didik sehingga tidak terjadi adanya overlapping dan perlunya sinkronisasi materi pembelajaran antara suatu jenjang dengan jenjang berikutnya. Orientasi materi pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar, khususnya sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) lebih diarahkan pada contextual learning dan life skills serta job values. Pada tahun pertama jenjang pendidikan menengah jalur formal tidak dibedakan antara jenis pendidikan umum (SMU) dan pendidikan kejuruan (SMK). Kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja, apalagi sekedar keterampilan manual. Artinya kecakapan hidup ini mencakup kemampuan individu untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupannya yang bersifat praktek sosial maupun individual. Outcome pendidikan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: konsumtif dan investatif (Schultz, 1963). Aspek konsumtif berhubungan dengan kesenangan manfaat-manfaat yang diterima oleh siswa, keluarga, dan masyarakat keseluruhan. Siswa bisa saja mengalami konsumtif yang kurang baik, namun kegiatan-kegiatan. seperti musik, olah raga, seni , dan kerajinan bisa membantu kesenangan siswa di sekolah. Keluarga merasa diringankan tugasnya ketika anaknya berada di sekolah, manfaat yang besar pun dirasakan oleh guru dan orang lain (Wisbrod, 1962:116-118). Masyarakat pun memperole h manfaat konsumtif dengan ber kurangnya tingkat kejahatan. Orang -orang merasa senang melihat pa ra ramaja belajar, bermain, dan berprilaku dan bisa saja mereka itu bersaing dalam lapangan kerja dalam tempo 3 sampai 4 tahun. Outcome pendidikan dapat membentuk: 1. Kemampuan dasar. Keberhasilan siswa dalam mencapai kemampuan berhitung dan membaca; 2. Kemampuan kejuruan. Dapat sege ra digunakan untuk beka l hidup di masyarakat; 3. Kreativitas. Merupakan ukuran untuk menilai keberhasilan sek olah dengan bertambahnya krativitas anak (manfaat investatif); 4. Sikap. Salah satu fungsi sekolah adalah membentuk sikap yang baik sikap in meliputi untuk diri sendiri, teman, keluarga;

Pendidikan yang komprehen sif dapat ditempuh denga cara: (1) membangun keimanan, jiwa, dan semangat, (2) membangun dan mengembangangkan sikap mental dan watak berwirausaha, (3) mengembangkan daya fikir dan cara berfikir wirausaha, (4) memajukan dan mengembangkan daya penggerak diri, (5) mengerti dan menguasa i teknik-teknik dalam menghadapi resiko, persaingan dan suatu p roses kerja sama, (6) mengert i dan menguasai kemampuan menjual idea/gagasan, (7) memiliki kemampuan kepengurusan atau pengelolaan,

serta (8) mempunyai keahlian tertentu termasuk penguasaan bahasa asing tertentu untuk keperluan komunikasi (Riyanto, dalam Junus dkk, 2004:4). Paradigma yang berkembang di lingkungan masyarakat terhadap sekolah kejuruan/ SMK sampai saat ini masih menempatkan sekolah kejuruan sebagai alternatif kedua. Peminatnya pun rata-rata datang dari golongan masyarakat menengah ke bawah. Alasan mereka memilih sekolah kejuruan karena sekolah kejuruan mem-berikan keterampilan yang sesuai dengan program keahliannya masingmasing. Harapan mereka setelah menyelesaikan pen-didikannya adalah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Paradigma sekolah kejuruan sebagai alternatif kedua tampaknya akan berubah dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah untuk lebih mengembangkan sekolah kejuruan (SMK) menjadi sekolah menengah yang sejajar dengan sekolah menengah lainnya/SMA. Setidaknya jumlah sekolah kejuruan/SMK pada tahun 2010 akan berimbang dengan SMA. Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan, dalam mengembangkan sekolah kejuruan di antaranya memberikan informasi kepada masyarakat dan melakukan promosi melalui media cetak maupun media elektronika. Selain itu, melakukan kerja sama dengan institusi pasangan sebagai penguna lulusan untuk menyalurkan lulusan sekolah kejuruan guna mengisi peluang kerja sesuai dengan bidangnya. Bahkan, beberapa sekolah kejuruan telah menempuh kerja sama dengan beberapa industri dan pengguna lulusan dalam menyalurkan lulusan yang dijembatani dengan adanya BKK (bursa kerja khusus). Untuk bisa mengisi peluang kerja, apalagi dengan semakin terbukanya peluang kerja global, perlu dipersiapkan lulusan yang memiliki kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Salah satunya dengan melaksanakan validasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja (kurikulum implementatif). Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU Sisdiknas). Kurikulum implementatif merupakan pengembangan dari kurikulum nasional yang dianggap perlu disesuaikan dengan kepentingan daerah atau sekolah. Sinkronisasi kurikulum dapat dilakukan dengan ruang lingkup: (1) Menyesuaikan ruang lingkup kompetensi dengan kebutuhan institusi pasangan/dunia usaha/ dunia industri dalam maupun luar negeri. (2) Menambah atau mengurangi topik/materi pelajaran. (3) Penyesuaian cara penyampaian standar kompetensi dengan situasi serta kondisi daerah dan lingkungan di mana sekolah berada. Pengembangan kurikulum implementatif dapat dilakukan salah satunya melalui validasi kurikulum. Validasi kurikulum adalah penyusunan kurikulum bersama antara sekolah dengan pengguna lulusan/institusi pasangan. Kegiatan ini dianggap lebih efektif dan efisien karena kurikulum yang dihasilkan akan dilaksanakan di sekolah kejuruan dan sudah sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari institusi pasangan. Apa yang dipelajari oleh siswa selama belajar di sekolah akan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan di lingkungan kerja sehingga diharapkan semua lulusan dapat mengisi lapangan kerja yang ada. Validasi kurikulum

sebaiknya dilaksanakan secara terencana, terprogram, dan berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan-perkembangan yang terjadi di lingkungan kerja. Dengan mengundang sejumlah dunia usaha atau dunia industri sebagai pengguna lulusan, guru akan lebih mengetahui dan telah memprediksikan kecakapan hidup apa saja yang harus dimiliki dan dikuasai oleh siswa agar dapat mengisi peluang kerja yang akan datang. Kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh se-orang lulusan sekolah kejuruan/SMK meliputi (1) kecakapan hidup spesifik (kecakapan akademik dan kecakapan vokasional/sesuai dengan program keahlian) dan (2) kecakapan generik (kecakapan personal dan kecakapan sosial). Kecakapan hidup (life skil) yang dimiliki oleh siswa tamatan sekolah kejuruan/SMK tidak perlu diragukan lagi, karena apa yang dipelajari di sekolah sudah sesuai dengan yang dituntut oleh dunia kerja, dan setiap lulusan sekolah kejuruan/SMK memiliki kemampuan untuk mengisi lapangan kerja di masa yang ada, bahkan peluang kerja di masa yang akan datang. (Tini Sugiarti) Ketidak mudahan dalam implementasi tidak boleh melunturkan pengakuan terhadap konsep. Belajar pada kasus evaluasi pendidikan selama ini, yang selalu dihantui oleh sulitnya mengukur ranah afektif, sehingga evaluasi hanya mengukur ranah kognitif. Demikian pula integrasi soft skills dalam pembelajaran memang tidak mudah, tetapi harus dicari secara sungguh-sungguh dan bukan dilupakan hanya karena sulit. Untuk membahas integrasi soft skills dengan kurikulum, perlu disepakati dulu bahwa kurikulum adalah skenario pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan potensinya agar mampu menghadapi problema kehidupan dan kemudian memecahkannya secara arif dan kreatif, berarti pembelajaran pada semua matapelajaran seharusnya diorientasikan ke tujuan itu dan hasil belajar juga diukur berdasarkan kemampuan yang bersangkutan dalam memecahkan problem kehidupan. Pengembangan aspek-aspek soft skills tersebut dapat dibarengkan dengan substansi matapelajaran atau bahkan sebagai metoda pembelajarannya. Misalnya jika komunikasi dan kerjasama lisan ingin dikembangkan bersama topik tertentu di program keahlian tata busana, maka ketiga aspek itu dikembangkan ketika topik tersebut dibahas, misalnya ada diskusi dan kerja kelompok. Kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat dan memahami pendapat orang lain, serta kemampuan bekerjasama memang dirancang dan diukur hasilnya dalam pembelajaran topik tersebut. Bahkan jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras (aspek-aspek pada kesadaran diri) perlu dikembangkan oleh semua guru, pada semua topik dan bahkan dijadikan pembiasaan. Secara sengaja, semua mata pelajaran mengembangkan sikap-sikap tersebut, sehingga merupakan pembiasaan. Kerja kelompok yang diatur agar terjadi interaksi secara maksimal antara anggota, diskusi dalam kelompok, menggali informasi dari berbabagi sumber untuk suatu tugas, pembelajaran berdasarkan masalah, merupakan contoh metoda pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecakapan hidup. Hanya saja, sekali lagi metoda itu secara sengaja dirancang untuk mengembangkan kecakapan tertentu dan diukur hasilnya sebagai bagian hasil belajar. Dengan kata lain, guru/dosen/instruktur perlu merancang aspek soft skills apa yang akan dikembangkan bersama materi yang akan dibahas dan oleh karena itu 8

metoda mengajar apa yang paling cocok. Jika digunakan kurikulum berorientasi kompetensi maka soft skills seharusnya dimasukan sebagai kompetensi dasar yang dikembangkan bersama mata pelajaran lainnya. Dengan demikian setiap mata pelajaran dituntut untuk mengembangkannya bersama kompetensi substansi mata pelajaran atau bahkan merupakan aplikasi substansi matapelajaran dalam kehidupan. Cara mengevaluasi hasil belajar seringkali memegang peran penting dalam pendidikan. Pengalaman selama ini menujukkan guru dan sekolah ingin siswanya mendapatkan nilai bagus dalam Ujian Akhir Nasional (UAN)dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) untuk SLTA atau SMK. Untuk itu, guru dan sekolah mengarahkan pembelajarannya untuk UAN dan SPMB. Karena soal-soal UAN dan SPMB hanya mencakup kognitif dan hanya untuk sebagian kecil mata pelajaran, maka ke arah itu pula fokus pembelajaran. Bahkan yang berkembang adalah melakukan drill disertai trik-trik mengerjakan soal ujian tahun lalu. Matapelajaran lain dan aspek lain, yang menekankan sikap dan kreativitas dinomorduakan. Terjadilah apa yang disebut teaching for the test. Jika kecakapan hidup memang disepakati sebagai orientasi pendidikan, maka evaluasi hasil belajar termasuk UAN harus mengintegrasikan employability skills. A. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI ( KBK ) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu ( Depdiknas, 2003 : 9 ). Kurikulum 2004 yang merupakan pembaharuan dan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) mempunyai pengertian sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan ( kompetensi ) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu ( E. Mulyasa, 2002 : 39 ). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mempunyai niali-nilai kelebihan tertentu dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, diantaranya mempunyai nilai inovasi kurikulum apabila dilihat dari karakteristiknya sebab mempunyai ciri-ciri kebersengajaan ( deliberate ), kebaruan ( novel ), kekhususan ( specifik ), dan relevan dengan tujuan sistem ( direction to goal attainment ) ( Miles dalam Asep Tapip Yani, 2003 : 20 ). Selain itu menurut Roger dalam Asep Tapip Yani ( 2003 : 20 ) Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mempunyai karakteristik keberterimaan ( acceptability ), yang di dalamnya terkandung ukuran-ukuran lain yakni : manfaat relatif ( relative advantage ), kesesuaian ( compatibility ), kompleksitas ( complekxity ) triabilitas ( triability ), dan observabilitas ( observability ). Sehingga melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab dengan arti lain peserta didik diarahkan untuk memperoleh kompetensi-kompetensi tertentu. Menurut Warya Zakarlya ( 2003 : 20 ) . Kompetensi-kompetensi dasar pada kurikulum tersebut esensinya berorientasikan pada kecakapan hidup atau life skill. Diharapkan bahwa peserta didik begitu lepas dari kegiatan 9

pendidikan mempunyai suatu kemampuan-kemampuan dasar untuk hidup dalam kehidupannya di masyarakat. Kemampuan-kemampuan dasar untuk hidup tersebut disebut juga dengan pendidikan keterampilan untuk menempuh hidup ( Life Skill Education ) dimana didalamnya terdiri atas keterampilan perjalanan hidup, penemuan jati diri, bermasyarakat, pemeliharaan lingkungan, memperoleh pekerjaan ( Ahmad Riyanto, 2002 : 6 ). Kompetensi dasar yang ada pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran tertentu yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.

Dalam pelaksanaannya Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) memberikan keleluasaan pada pihak sekolah untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan dan potensi sekolah yang ada, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat di sekitar sekolah. Walaupun demikian ada standar-standar tertentu yang tak dapat ditinggalkan oleh pihak sekolah untuk standarisasinya. B. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH ( MBS ) Manajemen Berbasis Sekolah merupakan sebuah model inovasi pendidikan yang menempatkan kewenangan pengelolaan sekolah dalam satu keutuhan entitas sistem dimana di dalamnya terkandung makna adanya desentralisasi kewenangan ( otonomi sekolah ) yang diberikan kepada pihak sekolah untuk membuat kebijakan sekolah berdasarkan pengambilan keputusan dari seluruh unsur yang berkepentingan ( stkaeholders ) terhadap sekolah atau dikenal sebagai shared decision making. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan konsep yang timbul akibat pergeseran paradigma pendidikan, yaitu pergeseran dari bureaucracy base management ke school and community base management. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menurut Dadi Permadi ( 2001 : 19 ) merupakan : Bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Sedangkan menurut Iim Wasliman (1991 : 3 ) . Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) merupakan konsep gagasan keleluasaan sekolah dalam menata kualitas sesuai dengan prioritas kebutuhan lingkungannya. Konsep-konsep tersebut essensinya memberikan dan menawarkan solusi upaya-upaya yang dapat dilakukan dari bawah ( bottom-up ) dari sekolah atau masyarakat jadi upaya yang dilakukan tersebut bukan atas intruksi dari atas tapi muncul atas dorongan dan kemauan dan kemampuan sendiri untuk mengelola potensi dan kemampuan sekolah tersebut dalam usaha meningkatankan mutu dan kualitas sekolah dan tentunya juga mutu dan kualitas lulusan sekolah. Berdasarkan pengertian tersebut Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) adalah suatu konsep desentralisasi bidang pendidikan yang ditandai dengan adanya otonomi yang luas di tingkat sekolah, mengacu pada koridor dan kerangka kebijakan nasional. Atas dasar konsep tersebut diharapkan dapat melahirkan sikap kepemilikan ( ownership ) dan kebanggaan ( pride ) dari para stakeholders terhadap sekolah. Kondisi ini sangat penting sebab sikap kepemilikan 10

dan kebanggaan ini akan mendukung pengembangan sekolah selanjutnya. Selain itu sekolah dapat lebih leluasa mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk mengarahkan pada skala prioritas sesuai kebutuhan masyarakat. Implikasinya karena seluruh aspek dilibatkan maka masyarakatpun diharapkan berpartisipasi dalam pengelolaan sekolah dan memahami program sekolah dan dapat turut serta mengontrol pelaksanaannya. Dengan arti lain sekolah sebagai pusat perubahan dan pusat pendidikan serta budaya ( center of change ) sesuai dengan Wawasan Wiyatamandala keberadaannya harus bertumpu dan dimiliki oleh masyarakat yang menggunakan jasa pendidikan ( customer ) dan sekolah sebagai penyedia layanan jasa ( service provider ). Apabila hal itu terjadi, maka akan muncul kualitas kontrol terhadap kinerja sekolah dan sekolah mau tidak mau harus dapat memberikan jaminan mutu ( quality assurance ) untuk memenuhi kepuasan pelanggannya ( customer satisfication ). C. LIFE SKILLS EDUCATION Life Skills Educational mempunyai pengertian secara umum sebagai pendidikan keterampilan untuk menempuh kehidupan. Pengertian secara lebih khusus adalah pendidikan yang bernuansakan atau berwawasan keterampilan yang diharapkan nantinya peserta didik mempunyai keterampilan untuk menempuh perjalanan hidup atau menjalani kehidupan. Secara garis besarnya Life Skills Education merupakan salah satu fokus analisis dalam pengembangan kurikulum pendidikan sekolah yang menekankan pada kecakapan atau keterampilan hidup atau bekerja ( Djaman Satori, 2002 : 27 ). Life Skills Educational harus diimplementasikan pada peserta didik melalui kegiatan pendidikan baik itu melalui pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal dalam keluarga dan masyarakat. Dalam Life Skills Educational ada empat jenis komponen keterampilan, yaitu personal skills education, social skills education, environment skills education, dan vocational/occupational skill education ( Ahmad Riyanto, 2002 : 7 ). Personal skills education yaitu pendidikan keterampilan mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan aktualisasi diri. Social skills education merupakan pendidikan keterampilan yang berhubungan dengan sesama atau sosial. Environment skills education yaitu pendidikan keterampilan yang berhubungan dengan lingkungan. Vocational/occupational skill education adalah pendidikan keterampilan yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan jenis pekerjaan. Life Skills Educational memiliki makna yang lebih luas dari employability skills dan vocational skills. Keduanya merupakan bagian dari program Life Skills Educational ( Djaman Satori, 2002 : 27 ). Life Skills Educational atau pendidikan keterampilan hidup mengacu pada berbagai ragam atau macam kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk menempuh kehidupannya dengan berhasil, bahagia, dan bermartabat di masyarakat. Employability skills mengacu pada serangkaian keterampilan yang mendukung pada seseorang untuk melaksanakan tugas pekerjaannya dengan berhasil. Employability skills mempunyai tiga komponen yang terdiri dari keterampilan dasar, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan karakter serta keterampilan afektif. Vocational skills merupakan penguasaan keterampilan khusus untuk melakukan suatu pekerjaan yang disebut dengan specific occupational skills.

11

Selain itu ada beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan untuk mengembangkan employability skills di SMK, beberapa pilihan tersebut adalah: 1. Menyusun mata pelajaran khusus untuk mengembangkan dan melatihkan employability skills. 2. Menawarkan pelatihan employability skills di sekolah, seperti pembentukan organisasi ekstrakurikuler di luar jam pembelajaran. 3. Menyertakan materi employability skills dalam mata pelajaran lain yang relevan. Berdasarkan hal di atas diharapkan bahwa pengembangan life skills dalam kegiatan pendidikan lebih diarahkan pada penguasaan specific occupational skills. Kegiatan tersebut merupakan elaborasi yang dengan sendirinya dijiwai oleh pemaknaan life skills, employability skills, vocational skills.

BAB IV. KESIMPULAN Dari berbagai pemaparan materi tersebut dapat dikatakan bahwa employability skills merupakan sekumpulan keterampilan-keterampilan non-teknis bersifat dapat ditransfer yang relevan untuk memasuki dunia kerja, untuk tetap bertahan dan mengembangkan karir di tempat kerja, ataupun untuk pengembangan karir di tempat kerja baru. Keterampilan-keterampilan tersebut termasuk diantaranya: keterampilan personal, keterampilan interpersonal, sikap, kebiasaan, perilaku, keterampilan akademik dasar, keterampilan berfikir tingkat tinggi. Employability skills sebagai suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan keterampilan dan kualitas individu yang dikehendaki oleh pemberi kerja terhadap pekerja baru apabila mereka mulai bekerja. Employability skills dilihat dari tiga elemen keterampilan utama yaitu: (1) Fundamentals Skills, yang meliputi: keterampilan berkomunikasi, keterampilan mengelola informasi, keterampilan matematik dan keterampilan menyelesaikan masalah; (2) personal management skills, yang meliputi: keterampilan dalam bersikap dan berperilaku positif, keterampilan bertanggungjawab, keterampilan dalam beradaptasi, keterampilan belajar berkelanjutan dan keterampilan bekerja secara aman; (3) Teamwork Skills, yang meliputi: keterampilan dalam bekerja dengan orang lain dalam suatu tim dan keterampilan berpastisipasi dalam suatu projek atau tugas. DAFTAR PUSTAKA Didin Muhafidin dan H. Dody Hermana (2006). Life Skill dan Pasar Kerja Junus, N, dkk. (2004). Manajemen Pendidikan Menengah Makalah Seminar. Bandung: Prodi Adpend UPI. Atas Berwawasan Wirausaha

Komariah, Aan. (2003). Broad Based Education (Kajian Mikro Pelaksanaan Life Skills bagi Siswa DO SLTP mela lui Community College). Bandung: Jurnal Adpen UPI. Muhammad Ali. 2009. Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Grasindo-Imtima. Jakarta

12

Murniati AR, Nasir Usman. 2009. Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung: Citapustaka media perintis Sudji Munadi. 2008. Transformasi Teknologi Pada Pendidikan Kejuruan . E-mail: sudji.munadi@uny.ac.id) Padang. Diposting 24 September 2011 Sudjani (2010). http://hipkin.or.id/?p=70. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan dalam Menghasilkan Guru SMK di Era Global dan Otonomi

Sumarno. Employability skill dan Pengaruhnya Terhadap Penghasilan Lulusan SMK Teknologi dan Industri Suwati. 2008. Sekolah Bukan Untuk Mencari Pekerjaan Jakarta: Pustaka Grafika, Yahya bin Buntat.(2008). Kemahiran Employability (Employability Skills) Konsep Dan Pengertian Dari Pengkaji Barat. Fakulti Pendidikan Universiti Teknologi Malaysia Skudai Yusuf Hadi Miarso, 2009.Kajian Pemetaan Pendidikan Kejuruan.

13