Anda di halaman 1dari 9

PERBANDINGAN HUKUM ACARA DALAM STATUTA ROMA TAHUN 1998 DAN UU NO.

26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA

Sejak lama untuk mengatasi berbagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia, ada beberapa Negara yang sengaja membentuk suatu badan peradilan dalam rangka menyelesaikan hal tersebut disertai dengan deklarasinya masing-masing, misalnya International Military Tribunal Nuremberg (November 1945 September 1946) dalam rangka mengadili para pelaku kejahatan dalam Perang Dunia II di Eropa dengan Charter Of The International Military Tribunal Nuremberg 1945 serta International Military Tribunal Tokyo (1946 - 1948) yang berdiri untuk menyelesaikan masalah kejahatan di kawasan Timur Jauh (Kawasan Asia dan pasifik) dengan Charter Of The International Military Tribunal Tokyo 16 januari 1946. Pada perkembangan selanjutnya, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) Tahun 1948 mendorong perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat dunia. Dengan deklarasi ini maka perhatian masyarakat internasional lebih mendalam tentang hak asasi manusia sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikatnya dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-nya yang wajib di hormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) Tahun 1948 juga menjadi titik balik bagi pemerintahan negara-negara di seluruh dunia karena deklarasi ini memberikan pandangan yang lebih luas dan mendalam tentang betapa pentingnya hak asasi manusia, maka ini merupakan awal pemikiran bahwa pendidikan tentang hak asasi manusia menjadi penting sebagai salah satu cara agar bentuk-bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia menjadi setidaknya dapat diminimalisir. Sistem pemerintahan negara-negara di dunia juga menjadi lebih menaruh penghormatan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia sebagai kerangka konstitusi pada landasan yuridis yang tertinggi dalam kehidupan bernegara.
1

Pasal 1 ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

Negara Indonesia juga menjadi salah satu Negara yang memahami lebih mendalam tentang konteks hak asasi manusia sebagai suatu hak yang bersifat hakiki yang perlu untuk dihormati, walaupun untuk mencapai hal tersebut Indonesia melewati banyak tahapan yang terbilang cukup panjang. Dimulai dari berakhirnya rezim orde baru oleh Soeharto yang represif selama kurang lebih 33 tahun (1965 - 1998), dimana selama masa pemerintahannya banyak terjadi berbagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia, oleh karena itu berakhirnya rezim soeharto menjadi tanda tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk lebih menghormati hak asasi manusia dalam setiap langkah pemerintahannya. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam laporan tahunnya menyatakan bahwa pemerintah perlu menuntaskan segala bentuk pelanggaran HAM yang pernah terjadi di tanah air sebagai akibat dari struktur kekuasaan orde baru yang otoriter2. Sejarah pelanggaran HAM pasca orde baru bertambah panjang yang berbentuk aksi kekerasan massa, konflik antar etnis yang banyak menelan korban jiwa dan pembumihangusan di Timor-timur pasca jejak pendapat. Maraknya pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang terjadi di Indonesia membuat pandangan masyarakat internasional beralih ke negara kita, yang dilanjutkan dengan dorongan masyarakat internasional agar Indonesia membentuk International Tribunal guna mengadili para pelaku pelanggaran hak asasi manusia tersebut serta resolusi yang dikeluarkan oleh Komisi Tinggi PBB yang memerintahkan Indonesia untuk mengungkap berbagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang terjadi. Pada akhirnya Indonesia menolak resolusi tersebut dengan konsekuensi bahwa Indonesia harus menyelesaikan permasalahan tentang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Timor-Timur, yang pada saat itu akan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Selanjutnya setelah diketahui bahwa pelanggara hak asasi yang terjadi di Timor Timur memiliki nuansa khusus yaitu

penyalahgunaan kekuasaan dalam arti terlibatnya pihak penguasa dalam rangka pelanggaran yang terjadi. Karena Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia tidak mampu menyelesaikan permasalahan pelanggaran hak asasi manusia seperti itu maka dibentuklah UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dengan sebelumnya telah dibentuk Komnas HAM melalui Keppres no. 50 tahun 19933.

2
3

Ignatius Haryanto, Kejahatan Negara,Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, 1999,hlm.31. Komnas HAM, www.wikipedia.org, 15-05-2010 ; 23:58

Sesuai dengan prinsip International Criminal Court yang didirikan berdasarkan Statuta Roma 19984 yang menyatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusai adalah extra-ordinary crime maka membutuhkan perlakuan dan kualifikasi yang khusus. Dengan pertimbangan tersebut maka sangat dibutuhkan sebuah pengadilan khusus untuk mengadili para pelaku pelanggaran hak asasi manusia itu, dimana didalamnya kandungan tentang ketentuan hukum pidana juga bersifat khusus. Pengertian tentang perlunya peradilan yang secara khusus dengan aturan yang bersifat khusus pula inilah yang menjadi landasan pemikiran untuk adanya pengadilan khusus yang dikenal dengan pengadilan HAM5. Pengadilan Hak Asasi Manusia adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat6 yang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi di dalam wilayah teritorial Indonesia serta pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia, yang mana terjadi setelah undang-undang pengadilan HAM dibentuk (asas legalitas). Dengan sejarah yang cukup panjang tentang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Indonesia, yang mana hal ini menjadi suatu pembelajaran bahwa hak asasi sebagai hak yang bersifat hakiki yang terdapat dalam setiap individu manusia sangat penting untuk dihormati sampai akhirnya Indonesia memutuskan untuk membentuk suatu pengadilan khusus yaitu Pengadilan Hak Asasi Manusia berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Hal tentang pembentukan pengadilan hak asasi manusia di Indonesia juga tidak terlepas dari campur tangan masyarakat Internasional serta diilhami oleh berbagai deklarasi yang terbentuk sejalan dengan proses tersebut, salah satu yang paling berpengaruh adalah Statuta Roma 1989. Statuta Roma 1989 merupakan hasil dari suatu konferensi diplomatik yang berlangsung di Roma pada tanggal 15 17 Juni 1998 dimana rancangan naskahnya disusun dalam waktu yang cukup panjang yaitu sekitar tahun 1994 sampai akhirnya selesai pada bulan April 1998 lalu kemudian dibahas dan diotentikasi dengan cara penandatanganan oleh wakilwakil dari negara-negara yang hadir dalam konferensi diplomatik di Roma tersebut. Sejalan
4

I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional, Yrama Widya, Bandung, 2006, hlm. 205 Muladi, Pengadilan Pidana bagi Pelanggar HAM Berat di Era Demokrasi, 2000, Jurnal Demokrasi dan HAM, Jakarta, hlm. 54. 6 Pasal 1 ayat (3) UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia
5

dengan hal tersebut maka Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court) mulai berdiri sebagai suatu badan pengadilan pidana internasional yang bersifat permanen dengan kedudukan di Den Haag (The Hague) Negeri Belanda7. Indonesia sebagai negara yang ikut serta dalam konferensi di Roma pada tanggal 15 17 Juni 1998 tersebut sejak awal memang mengikuti perkembangan hak asasi manusia si dunia serta menunjukkan keinginannya untuk menjadi state party dari International Criminal Court, hal ini terlihat dari dibentuknya UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dimana hal ini merupakan adopsi dari Statuta Roma 1998. Untuk melihat dengan lebih jelas sejauh mana Indonesia mengadopsi Statuta Roma 1998 sebagai cikal bakal pembentukan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia maka akan lebih baik bila kedua ketentuan tersebut diperbandingkan, karena dengan begitu akan menjadi lebih jelas bagian yang diadopsi serta untuk melihat kekurangan dan kelebihan masing-masing ketentuan tersebut dalam ruang lingkupnya masing-masing. Untuk lebih khususnya, berikut ini akan diperbandingkan Statuta Roma 1998 dengan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dalam hal hukum acara.

A.PERBEDAAN
N O
1

Statuta Roma 1998


Mengatur tentang hukum acara suatu badan peradilan khusus hak asasi manusia yang memiliki kewenangan mengadili apabila hukum nasional bersifat unwilling dan unable Sehubungan dengan sifat unwilling dan unable dari negara tertentu maka Statuta Roma 1998 menjelaskan tentang kewenangan International Criminal Court

UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia


Mengatur tentang hukum acara suatu badan peradilan khusus hak asasi manusia yang memiliki kewenangan sebagai pengadilan tingkat pertama Mengatur tentang hukum acara Pengadilan Hak Asasi Manusia sebagai pengadilan utama bagi setiap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi

I Wayan Parthiana, loc.cit.

3 4

sebagai pengadilan yang bersifat melengkapi (complementary rinciple) Majelis Hakimnya yang disebut dengan The Presidency bersifat permanen Hukum acara yang digunakan dalam setiap kasus yang sedang ditangani bersifat dinamis karena dapat ditentukan oleh Majelis Negara-Negara Peserta berdasarkan persetujuan dua pertiga dari negara-negara peserta sebagai anggota majelis dengan cara amandemen (Pasal 51) Dijelaskan bahwa walaupun dalam Statuta Roma 1998 ini telah ada hukum acara tetapi dimungkinkan untuk keberadaan peraturanperaturan lain yang menunjang dan memperlancar tugas dan fungsinya terutama yang bersifat internal, dimana yang berwenang adalah para hakim dengan suara mayoritas (Pasal 52 ayat (1)) Terdapat perbedaan dalam hal suatu peristiwa yang dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia itu diserahkan oleh negara peserta atau Dewan Keamanan kepada Jaksa penuntut (Pasal 13) Menjelaskan tentang hal apa saja yang harus dipertimbangkan Jaksa Penuntut dalam hal akan memulai penyelidikan (Pasal 53 ayat (1))

Majelis Hakimnya bersifat ad-hoc Hukum acara yang digunakan dalam setiap kasus yang sedang ditangani secara mutlak mengikuti ketentuan dalam UU ini dan selama tidak diatur maka menggunakan ketentuan hukum acara pidana (Pasal 10)

Tidak ada penjelasan bahwa dapat berlaku ketentuan lain selain yang terdapat dalam UU ini

Tidak ada perbedaan dalam hal suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia merupakan hasil dari penyerahan diri ataupun hasil penyelidikan oleh Komisi Nasional HAM Hanya menyebutkan bahwa penyelidikan dapat dilakukan dengana adanya bukti permulaan yang cukup atas terjadinya peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berat (Pasal 19 ayat (2)) Tidask ada ketentuan yang menjelaskan tentang pertimbangan-pertimbangan dalam hal suatu peristiwa tidak akan diselidiki Memasukkan unsur masyarakat sebagai tim yang dapat melakukan penyelidikan (Pasal 18 ayat (2))

Menjelaskan tentang pertimbanganpertimbangan apa saja dalam hal suatu peristiwa tidak akan diselidiki (Pasal 53 ayat (2)) 9 Yang melakukan penyelidikan adalah Jaksa Penuntut yang merupakan majelis yang telah ditentukan sebelumnya, dimana keanggotaannya adalah berasal dari negaranegara peserta 10 Mengenal Pra - Peradilan yang dilakukan oleh Kamar Pra - Peradilan 11 Dalam hal hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut adalah bahwa tidak ada alasan yang cukup kuat dan masuk akan untuk melanjutkan kasus tersebut maka harus

Tidak mengenal proses Pra -Peradilan Tidak ada penjelasan bahwa apabila kasus yang dianggap merupakan pelanggaran hak asasi manusia tersebut ternyata tidak dapat dituntut harus diteruskan kemana, dengan

diberitahukan kepada Kamar Pra Peradilan untuk kemudian meneruskan dilakukannya peninjauan terhadap keputusan Jaksa Penuntut tersebut (Pasal 53 ayat (1)) 12 Menjelaskan tentang syarat formil dan syarat materil yang harus dipenuhi dalam surat perintah penahanan dan surat panggilan (Pasal 58)

kata lain apabila keputusan Komnas HAM adalah negatif terhadap kasus tersebut maka secara otomatis kasus tersebut tidak diteruskan. Tidak menjelaskan tentang syarat formil dan syarat materil yang harus dipenuhi dalam surat perintah penahanan dan surat panggilan, melainkan hanya menjelaskan tentang tenggat waktu penahanan untuk masing-masing kepentingannya, misalnya untuk penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan (Pasal 13 - 17) Jaksa Agung sebagai penyidik dan penuntut umum dapat mengeluarkan surat perintah penahanan tanpa harus didahului oleh permohonan dari pihak lain (Pasal 12 ayat (1)) Surat perintah penahanan memiliki tenggat waktu tertentu dan dapat diperpanjang (Pasal 22 ayat (1), (2), dan (3)) Dalam melaksanaan tugasnya sebagai penyidik, terdapat ketentuan bahwa sebelumnya harus mengucapkan sumpah atau janji terlebih dahulu (Pasal 21 ayat (4)) Tidak ada ketentuan bahwa pelaksanaan proses penyidikan dapat dilakukan di luar pengadilan Tidak ada ketentuan tentang perubahan surat perintah penahanan, tetapi dalam hal tenggat waktu yang diberikan tidak dapat terpenuhi maka akan dikelarkan surat perintah penghentian penyidikan (Pasal 22 ayat (4)) Tidak ada pembedaan dalam hal ketentuan penyidikan Tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa terdakwa wajib hadir dalam persidangan maka dimungkinkan pemeriksaan perkara secara in absentia Tidak menjelaskan tentang syarat-syarat dalam pengambilan putusan tetapi menyebutkan tenggat waktu yang harus

13 Disebutkan bahwa untuk mengeluarkan sebuah surat perintah penahanan oleh Kamar Pra - Peradilan, maka harus ada permintaan dari Jaksa Penuntut (Pasal 57 ayat (3)) 14 Surat perintah penahanan tidak mengenal tenggat waktu, dalam arti sifatnya berlaku terus sampai Pengadilan mengambil keputusan lain (Pasal 58 ayat (4)) 15 Tidak ada ketentuan bagi penyidik untuk mengucapkan sumpah atau janji

16 Terdapat kemungkinan bahwa pelaksanaan proses penyidikan dapat dilakukan di luar Pengadilan apabila diputuskan demikian sebelumnya (Pasal 62) 17 Menjelaskan bahwa terhada surat perintah penahanan dapat dimodifikasi apabila perkembangan baru, dalam hal ada kejahatan lain yang dilakukan dan masih merupakan ruang lingkup yurisdiksi Pengadilan (Pasal 58 ayat (6)) 18 Dilakukan pembedaan ketentuan penyidikan dalam hal adanya pengakuan bersalah (Pasal 65) 19 Terdapat ketentuan yang mewajibkan kehadiran terdakwa dalam proses persidangan atau dengan kata lain tidak mengenal pemeriksaan perkara secara in absentia (Pasal 63) 20 Menjelaskan tentang syarat-syarat dalam pengambilan putusan tetapi tidak menyebutkan tenggat waktu yang harus

dipenuhi untuk memberikan putusan terhadap sebuah kasus (Pasal 74) 21 Ketentuan tentang pemberian ganti rugi kepada korban diatur dalam Statuta Roma 1998 atau ketentuannya merupakan kesatuan

dipenuhi untuk memberikan putusan terhadap sebuah kasus (Pasal 31) Ketentuan tentang pemberian ganti rugi diatur lebih lanjut dalam Peraturan pemerintah (Pasal 35 ayat (3))

B. PERSAMAAN
Sebagaimana halnya sebuah perbandingan, maka terhadap Statuta Roma 1998 dan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia ini juga akan dijelaskan tentang beberapa persamaan yang terdapat dalam kedua ketentuan tersebut. Disamping berbagai persamaan tentang hal-hal dapat dilihat dari bentuk perbedaannya, maka berikut ini adalah beberapa persamaan dari kedua ketentuan tersebut yang lebih bersifat dasar, yaitu : 1. Kedua pengadilan hak asasi manusia yang dibentuk berdasarkan masing-masing ketentuan tersebut sifatnya permanen atau tetap 2. Badan atau divisi yang melakukan penyelidikan merupakan organ yang mandiri atau terpisah dari Pengadilan, yaitu dalam Statuta Roma 1998 adalah Kamar Pra - Peradilan sedangkan dalam UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang berwenang melaksanakan penyelidikan adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) 3. Mengenal presumption of innocence atau asas praduga tak bersalah, dalam arti bahwa seseorang harus tetap dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kesalahan atau orang yang telah melakukan kesalahan sebelum ada bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa orang tersebut bersalah. 4. Mengenal upaya hukum yang dilakukan apabila orang yang diadili tersebut merasa bahwa putusan hakim yang sebelumnya tidak mampu memberikan keadilan. Yang membedakan adalah bahwa dalam Statuta Roma dijelaskan upaya hukum hanya dapat ditempuh sampai pada tingkat banding dan dilakukan pada pengadilan yang sama, sedangkan dalam UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dapat dilakukan upaya hukum sampai

tinbgkat kasasi dan pada pengadilan yang berbeda, yaitu banding pada Pengadilan Tinggi HAM dan kasasi pada Mahkamah Agung HAM.

Setelah pada bagian sebelumnya dijelaskan tentang perbedaan dan persamaan yang terdapat dalam kedua ketentuan tersebut, yaitu Statuta Roma 1998 dan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia maka dapat dilihat dengan jelas bahwa betapapun terdapat perbedaan diantara kedua ketentuan tersebut tetapi secara keseluruhan kedua ketentuan tersebut memiliki kesamaan dalam prinsip-prinsip umum yang dianut. Prinsip-prinsip umum yang terdapat dalam kedua ketentuan tersebut dengan jelas dapat menggambarkan bahwa pembentukan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia tersebut mengadopsi Statuta Roma 1998 walaupun tidak secara utuh atau bahkan menjadi tidak total sehingga banyak ketentuan yang kemudian akan menjadi berbeda artinya. Tentang perbedaan diantara keduanya, hal tersebut terjadi karena pada dasarnya kedua ketentuan ini memang dibuat atau dibentuk untuk dua kepentingan yang jauh berbeda, walaupun kedua ketentuan tersebut dibentuk untuk kepentingan pembentukan sebuah pengadilan hak asasi manusia tetapi dalam konteks yang sangat berbeda. Statuta Roma 1998 dibentuk sebagai ketentuan yang menjadi dasar untuk berdirinya sebuah pengadilan hak asasi manusia internasional yang bersifat permanen, dimana anggotanya adalah negara-negara. Negara sebagai subjek hukum internasional memiliki sifat yang kompleks karena menyangkt banyak orang di dalamnya (warga negara) dengan banyak kepentingan, maka menjadi jelas bahwa berbagai ketentuan yang terdapat dalam Statuta Roma 1998 sangat kompleks pula dan mengatur berbagai hal yang berhubungan dengan eksistensi sebuah pengadilan yang beranggotakan negara-negara dalam menjalankan tugasnya. Alasan lainnya adalah bahwa kewenangan International Criminal Court yang diatur dalam Statuta Roma 1998 ini berlaku bila pihak negara unwilling atau unable, maka menjadi besar harapan bahwa berbagai peraturan yang terdapat dalam ketentuan ini bisa memberikan jalan keluar yang lebih baik. Sedangkan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia sebagai dasar bagi pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia dengan sifatnya yang permanen dan berlaku nasional sehingga berbagai aturan di dalamnya masih harus tetap

didukung oleh berbagai bentuk peraturan lainnya, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau Peraturan Pemerintah. Sistem adopsi yang dilakukan dalam pembentukan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang tidak terlalu baik ini menjadi masalah tersendiri yaitu bahwa banyak ketentuan dalam UU ini yang menjadi tumpul dan tidak dapat diaplikasikan dengan baik.