Anda di halaman 1dari 4

Nama : Kevin Kristhopher Lumbantobing NIM : 12010099 Tugas Geomorfologi 10 Konsep Dasar Thornbury (1969) Konsep 1 : Proses yang

berlangsung secara fisik saat ini memiliki kecepatan yang berbeda, selaras dengan waktu geologi. Dasar - dasar geologi modern yang dikenal sebagai uniformitarian telah dikembangkan oleh Hutton pada tahun 1785, selanjutnya ditulis kembali oleh Playfair pada tahun 1802 dan dikembangkan oleh Lyell sebagai maha karyanya dengan judul Dasar - dasar Geologi ( Principles of Geology ). Hutton mencetuskan : " present is the key to the past " telah diterapkan secara baku sehingga menimbulkan perdebatan,karena pernyataan tersebut mengandung arti bahwa proses geologi yang berlangsung selaras dengan waktu geologi memiliki kecepatan yang sama dengan saat sekarang. Konsep ini tentunya salah, karena galasiasi (pencairan es) memiliki peran yang sangat penting sejak kala Plistosen dan sepanjang waktu geologi dari pada sekarang. Perlu dipahami juga bahwa iklim sekarang telah berubah, daerah yang memiliki iklim basah pada masa lalu, sekarang telah berubah menjadi beriklim kering (gurun) dan sebaliknya. Periode dari ketidakstabilan gerakan kulit bumi berlangsung pada periode pemekaran, sedangkan kulit bumi sekarang relatif stabil. Salah satu contoh proses geologi yang berlangsung selaras dengan waktu geologi yaitu pengikisan lembah oleh arus yang berlangsung sejak masa lalu sampai sekarang, tetapi pengikisan lembah oleh pencairan es (glasiasi) pada kala Plistosen memiliki perbedaan dengan proses glasiasi pada umumnya. Angin telah mengendapkan batupasir Navajo sejak kala Yura dan memiliki perbedaan dengan gerakan yang dipengaruhi oleh angin sekarang. Konsep 2 : Geologi struktur merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap evolusi bentang alam yang tampak sekarang. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan bentang alam adalah struktur geologi, proses geomorfologi dan tingkat pengaruhnya. Saat ini beberapa ahli geomorfologi meragukan pengaruh struktur geologi sebagai faktor utama yang mempengaruhi perkembangan bentang alam, akan tetapi para ahli geologi setuju terhadap konsep proses dan geologi struktur sebagai pengaruh utama. Pernyataan struktur geologi tidak hanya diterapkan pada pandangan sempit, seperti struktur batuan, struktur perlipatan, struktur sesar dan ketidak selarasan,tetapi perhatian perlu ditekankan pula terhadap material bumi penyusun bentang alam secara keseluruhan yang memiliki perbedaan pengaruh fisika dan kimia. Pandangan struktur geologi selanjutnya didalam pembahasan ini adalah suatu fenomena geologi yang lebih luas, yaitu posisi batuan di tempat yang tinggi, kekar, perlapisan batuan,sesar dan perlipatan, kekerasan mineral tertentu, porositas batuan dan berbagai macam perbedaan pada batuan penyusun kulit bumi. Pernyataan struktur geologi dapat dimanfaatkan untuk memahami stratigrafi dan struktur susunan (sikuen) batuan yang muncul sebagai singkapan pada suatu daerah, seperti perlapisan horisontal, perlapisan yang memiliki kemiringan perlapisan (dip), terlipat atau tersesarkan, sehingga pemahaman struktur geologi yang sederhana menjadi penting.Ungkapan batuan keras (tahan) atau lunak (tidak tahan) terhadap proses geomorfologi merupakan pemakaian ungkapan yang biasa selama digunakan untuk pandangan yang relatif dan tidak ditekankan untuk pandangan pengaruh fisika atau kimia, karena batuan dipengaruhi pula oleh proses fisika dan kimia. Suatu batuan mungkin tahan terhadap salah satu proses geomorfologi, tetapi tidak tahan terhadap proses geomorfologi lainnya dan dibawah kondisi iklim tertentu menunjukkan perbedaan tingkat ketahanan batuan. Secara umum tampilan struktur batuan harus lebih tua daripada perkembangan bentang alam. Kejadian diatropisme perlipatan pada kala Plistosen sangat sulit disebut tidak tererosi, sehingga diperkirakan bahwa struktur batuan telah terbentuk sebelum bentang alam.

Konsep 3 :

Relief permukaan bumi yang luas karena proses geomor fologi berlangsung pada tingkat yang berbeda. Alasan utama permukaan bumi memiliki gradasional yang berbeda adalah karena kerakbumi disusun oleh batuan yang berbeda dan struktur yang berbeda, sehingga memiliki ketahanan batuan terhadap proses geomorfologi yang berbeda pula. Proses geomorfologi yang memiliki keanekaragaman sangat kecil, masih memiliki arti yang sangat penting, kecuali pada daerah diatropisme sekarang (Resen) dapat diperkirakan bahwa daerah yang memiliki posisi topografi yang tinggi disusun oleh batuan yang keras, sedangkan daerah dengan posisi topografi lebih rendah disusun oleh batuan yang lunak. Perbedaan komposisi batuan dan struktur tercermin dari keanekaragaman geomorfologi dan topografi lokal. Topografi minor dan rinci atau disebut sebagai mikrotopografi memiliki hubungan yang erat dengan keanekaragaman batuan, tetapi terlalu kecil untuk diamati. Keanekaragaman batuan dan struktur geologi merupakan faktor utama yang mempengaruhi perubahan permukaan bumi, tetapi bukan berarti proses geomorfologi tidak memiliki peran, karena pada batas - batas tertentu dengan tingkat yang berbeda proses geomorfologi masih berlangsung. Tingkat kecepatan proses geomorfologi local memberi pengaruh terhadap perubahan permukaan bumi, terutama pengaruh perbedaan temperatur, tingkat kelembaban, konfigurasi kerapatan kontur dan vegetasi.Perbedaan kondisi iklim mikro yang sangat menonjol antara dasar lembah dengan puncak bukit dan antara lahan terbuka dengan lahan tertutup vegetasi akan tampak dari jumlah penguapan lokal, tingkat kelembaban tanah dan tingkat perubahan tahunan temperatur, sehingga banyak sekali faktor yang mempengaruhi tingkat proses geomorfologi lokal, seperti tingkat pelapukan, perombakan massa batuan, erosi dan pengendapan yang memiliki pengaruh terhadap keanekaragaman geomorfologi. Konsep 4 : Proses geomorfologi meninggalkan jejak pada bentang alam dan proses geomorfologi yang berkembang mem bentuk ciri - ciri pada bentang alam. Penggunaan istilah proses yang dipakai untuk semua perubahan yang terjadi terhadap rupa bumi secara fisika dan kimia. Proses diatropisma dan vulkanisma dipengaruhi oleh gaya yang berasal dari dalam bumi, sehingga oleh Penck disebut sebagai proses endogenetik, sedangkan proses yang lain, seperti pelapukan,perombakan massa batuan dan erosi yang dipengaruhi oleh gaya eksternal disebut sebagai proses eksogenetik. Secara umum proses endogenetik bersifat membangun, sedangkan proses eksogenetik bersifat sebaliknya, yaitu pengikisan terhadap permukaan bumi. Konsep proses geomorfologi yang berlangsung terhadap permukaan bumi bukan sesuatu yang baru, tetapi pemikiran tentang proses geomorfologi akan meninggalkan jejak di atas permukaan bumi adalah pemikiran yang lebih maju. bentang alam memiliki ciri - ciri tertentu, tergantung pada proses geomorfologi yang berpengaruh terhadap bentang alam tersebut. Dataran banjir, kipas aluvial, dan delta merupakan hasil kegiatan arus sungai, sehingga ciri ciri yang berkembang pada bentang alam tersebut dapat dimanfaatkan untuk klasifikasi genetika bentang alam. Rekayasa yang tepat dari suatu arti proses evolusi bentang alam tidak hanya memberikan gambaran yang lebih baik dari perkembangan bentang alam, tetapi termasuk juga menegaskan hubungan genetika terjadinya bentang alam. Proses geomorfologi yang rumit dan media yang bekerja dibawah kondisi iklim tertentu disebut sebagai sistem morfogenik Konsep 5 : Media erosi yang berbeda pada permukaan bumi mem bentuk susunan bentang alam tertentu. Ciri - ciri proses bentang alam tergantung pada tahap perkembangan proses, dan W.M Davis menyebutnya sebagai konsep siklus geomorfologi. Tahap perkembangan proses diawali dari tahap muda, dewasa dan tua. Pada tahap akhir dari proses geomorfologi permukaan bumi memiliki topografi berelief rendah yang disebut sebagai peneplain (perataan). Beberapa ahli geomorfologi percaya bahwa permukaan bumi memiliki keteraturan umur, tetapi tidak semua yakin bahwa tahap muda, dewasa dan tua yang dikemukakan oleh W.M Davis merupakan suatu kenyataan. Konsep umum yang digunakan pada tingkat dasar memiliki beberapa kelemahan apabila diterapkan pada evolusi permukaan bumi yang lebih rumit, karena akan sulit menentukan karakteristik perkembangan bentang alam yang khusus, sehingga menimbulkan keraguan, terutama terhadap peneplain (perataan) yang dianggap sebagai akhir dari suatu siklus geomorfologi. Istilah siklus geomorfologi tidak selalu tepat untuk menunjukkan suatu perubahan bentang alam akibat gradasional, tetapi mencari istilah atau konsep pengganti sangat sulit, sehingga

penggunaan istilah siklus geomorfologi tidak hanya menyatakan siklus alam yang mewakili tahap evolusi bentuk permukaan bumi tetapi termasuk pula pemikiran bahwa perkembangan permukaan bumi terjadi secara teratur dan berurutan dengan tidak menggunakan penamaan evolusi permukaan bumi sebagai tahap muda,dewasa atau tua yang memiliki pengertian bahwa topografi yang berada pada tahap yang sama memiliki ciri yang sama pula. Kondisi geologi dan keragaman iklim membentuk ciri permukaan bumi yang sangat beragam walaupun proses geomorfologi berkembang pada periode yang sama. Konsep 6 : Evolusi geomorfologi tidak sesederhana yang dibayangkan. Perdebaan dan pertentangan didalam ilmu pengetahuan merupakan akibat dari penjelasan yang sangat sederhana dan tidak jelas. Mempelajari bentang alam akan mengalami kesulitan jika tidak memahami bahwa topografi merupakan hasil dari proses atau siklus geomorfologi. Pada umumnya topografi rinci hasil dari siklus erosi yang berlangsung . Horberg (1952) mengelompokkan bentang alam menjadi beberapa kategori,yaitu (1) bentang alam sederhana, (2) bentang alam campuran, (3) bentang alam siklus tunggal, (4) bentang alam multi siklus dan (5) bentang alam hasil pembentukan kembali. Bentang alam sederhana merupakan hasil proses geomorfologi tunggal, artinya bentang alam tersebut meninggalkan jejak siklus erosi yang terjadi hanya satu kali dan umumnya terbatas pada permukaan bumi yang baru terbentuk, seperti pengangkatan lantai samudera, permukaan kerucut vulkanik, dataran lava, plato atau endapan yang tertutup oleh endapan glasial Plistosen. Bentang alam campuran merupakan hasil siklus erosi lebih dari satu kali atau hasil dua atau lebih proses geomorfologi, sehingga timbul perdebatan karena pada semua bentang alam telah terjadi proses geomorfologi yang bercampur, walaupun pada beberapa bentang alam dapat ditemukan proses geomorfologi tunggal, tetapi sangat jarang terjadi. Sebagai contoh bentang alam hasil dari kegiatan aliran air, tetapi perlu disadari bahwa proses yang berlangsung tidak hanya kegiatan aliran air saja, proses proses yang lain seperti pelapukan, gerakan material karena gravitasi, dan perpindahan material oleh angin sangat berpengaruh terhadapperkembangan bentuk rupa bumi. Kondisi yang sama terjadi pada bentang alam hasil pelarutan oleh air tanah, erosi oleh limpasan air permukaan dan proses - proses yang berlangsung terhadap pembentukkan bentang alam. Bentang alam campuran tercermin sangat baik pada daerah yang dipengaruhi oleh glasiasi Plistosen. Konsep bentang alam dengan iklim yang beragam dapat dimasukan sebagai konsep bentang alam yang rumit, karena berkembang dibawah kondisi iklim yang beragam sebagai faktor yang mempengaruhi proses geomorfologi dan sangat berhubungan dengan kondisi iklim kala Plistosen. Munculnya bentang alam masa lampau yang telah ditutupi oleh batuan beku atau batuan sedimen karena batuan penutup tersebut terkikis, seperti saluran - saluran pada masa praglasial yang muncul dan hanya sebagian kecil menjadi ciri lokal. Konsep 7 : Topografi bumi yang paling menonjol adalah topografi yang lebih muda dari kala Plistosen. Ciri - ciri topografi tua jarang ditemukan, kecuali berupa bentang alam tua yang tersingkap ke permukaan akibat dari gradasional. Sebagian besar topografi sekarang lebih muda dari kala Plistosen. Ashley (1931) percaya bahwa pahatan rupa bumi seperti gunung, lembah, pantai, danau, sungai, air terjun dan tebing berumur lebih muda dari Miosen, serta terbentuk sejak munculnya manusia dan sebagian kecil muka bumi sekarang memiliki hubungan yang jelas dengan permukaan bumi pra Miosen. Diperkirakan pula bahwa permukaan bumi 90 % terbentuk setelah Tersier dan mungkin99 % terbentuk setelah Miosen Tengah. Secara umum struktur geologi lebih tua dari pada ciri - ciri topografi yang terbentuk di atasnya, kecuali yang ditemukan pada daerah diatropisma Plistosen Awal dan Resen. Pegunungan Himalaya pertama terlipat pada kala Kapur, kemudian kala Eosen dan Miosen, tetapi lereng sekarang terbentuk pada kala Plistosen dan air terjun yang terbentuk saat ini lebih muda dari relif rinci yang berumur Plistosen dan Resen.

Konsep 8 : Pemahaman terhadap bentang alam sekarang diperlukan pemahaman kondisi geologi dan iklim pada kala Plistosen. Pemahaman topografi rupa bumi adalah untuk mengenal perubahan kondisi geologi dan kondisi iklim kala Plistosen yang mempengaruhi topografi sekarang. Glasiasi sangat berpengaruh baik secara langsung atau tidak langsung, Material -material hasil pengikisan glasial dan tiupan angin menyebar luas sampai ke daerah yang tidak mengalami glasiasi. Daerah - daerah yang terletak pada lintang menengah, faktor iklim sangat berpengaruh, sehingga daerah sekarang beriklim arid atau semi arid pada zaman glasial beriklim basah. Kurang lebih 100 cekungan di pedalaman Amerika Serikat bagian Barat yang saat ini berbentuk danau dengan iklim arid dan semi arid menunjukkan sistemfluvial yang sama dengan di Asia, Afrika, Australia dan Amerika Utara, sehingga dapat disimpulkan bahwa glasial sangat mempengaruhi iklim dunia.Daerah - daerah yang sekarang beriklim sedang, selama zaman glasial pernah beriklim seperti di sub arktik Amerika Utara dan Eurasia yang dicerminkan oleh tanah yang membeku secara permanen dan biasa disebut sebagai permafrost Rejim aliran yang dipengaruhi oleh perubahan iklim ditandai dengan perselingan antara agradasi (pengendapan) dan gradasi (pengikisan). Perubahan muka air laut memiliki pengaruh terhadap topografi, karena pembekuan samudera menyebabkan penurunan muka air laut dan kembali normal pada zaman interglasial. Pencairan es terhadap lautan sangat berpengaruh terhadap pembentukkan koral. Hasil pengikisan akibat pencairan es atau endapan glasial yang tertiup angina membentuk gumuk pasir (sand dunes) atau bercampur dengan lanau atau lempung disebut sebagai loess. Glasiasi sangat berpengaruh terhadap pembentukkan danau,seperti Great Lakes merupakan sistem aliran yang dipengaruhi oleh glasial terbesar didunia. Glasiasi kala Plistosen merupakan peristiwa yang paling besar walaupun diatropisma yang berkembang sejak Pliosen, Plistosen sampai Resen masih berperan sebagai faktor pengaruh pembentukkan bentang alam. Konsep 9 : Pengenalan iklim sangat penting untuk dapat memahami dengan baik perbedaan proses geomorfologi yang berlangsung. Faktor iklim, khususnya temperatur dan penguapan sangat berpengaruh terhadap proses geomorfologi. Perubahan iklim dapat berpengaruh secara langsung atau tidak langsung, sebagai contoh iklim yang berpengaruh tidak langsung terhadap proses geomorfologi adalah sebaran, kerapatan dan jenis vegetasi, sedangkan pengaruh langsung antara lain curah hujan, penguapan dan perubahan temperaturan harian. Konsep 10 : Geomorfologi menekankan kondisi sekarang bermanfaat untuk mengungkap sejarah perkembangan bumi Geomorfologi cenderung menekankan asal - usul (proses) bentang alam saat ini dan masa lalu selaras dengan waktu geologi. Ahli geomorfologi selalu melakukan pendekatan dengan menggunakan hukum uniformitarianisme. Paleogeomorfologi bentang alam merupakan sejarah alam geomorfologi yang diperkenalkan oleh Bryan(1940) dan menjelaskan bahwa bentang alam merupakan hasil dari suatu proses, sehingga tidak ada alasan untuk memisahkan antara studi bentang alam, dengan geologidinamik. Perbedaan antara bentang alam dengan geologi dinamik yang paling jelas adalah proses terjadinya bentang alam atau sisa - sisa bentang alam yang relatif muda.