Anda di halaman 1dari 10

FENOMENA ANAK JALANAN DI DKI JAKARTA TRIWULAN IV (OKTOBER - DESEMBER 2001)

Hasil survei anak jalanan triwulan IV, periode Oktober - Desember 2001 di 25 kantong penelitian di DKI Jakarta memperlihatkan penurunan jumlah anak jalanan sebesar 2,02 % bila dibandingkan dengan hasil survei triwulan III. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat dari kelima wilayah penelitian, telah terjadi penurunan populasi anak jalanan di tiga wilayah yang dianggap sebagai basis anak jalanan yaitu masing-masing Jakarta Utara 9.14 %, Jakarta Timur 2.76 % dan Jakarta Selatan 24.85 %. Sementara itu, untuk triwulan IV, jumlah anak jalanan terkecil berada di Wilayah Jakarta Utara yaitu sebesar 15,34 %. Ini berarti menggeser posisi jumlah anak jalanan di wilayah Jakarta Pusat pada triwulan sebelumnya. Ditinjau dari komposisi umur, hasil survei triwulan IV menunjukkan bahwa jumlah anak jalanan terbanyak berada pada kelompok umur 10 - 14 tahun (30,12%) diikuti oleh kelompok umur 5 9 tahun (25,52%), kelompok umur 15 18 tahun (22,58%), kelompok umur 19 21 tahun (13.85%) dan terkecil ada pada kelompok umur dibawah 5 tahun (7,95%). Bila dibandingkan dengan kondisi triwulan III, telah terjadi kenaikan untuk kelompok umur 10 14 tahun dan penurunan untuk kelompok umur dibawah 5 tahun. Namun demikian secara umum jumlah anak jalanan di kedua kelompok umur ini menunjukkan pola yang hampir sama dengan keadaan hasil survei triwulan III 2001. Survei Anak Jalanan triwulan IV juga meliput faktor faktor penyebab menjadi anak jalanan. Hasil survei menunjukkan bahwa faktor dominan penyebab menjadi anak jalanan adalah akibat dari korban eksploitasi kerja yaitu sebesar 44,95%. Faktor berikutnya adalah karena alasan lainnya, misalnya tidak mempunyai orang tua atau sanak famili (23,69%), tidak mempunyai tempat tinggal (18,67%) dan alasan keluarga tidak harmonis (12,69%). Secara umum faktor penyebab menjadi anak jalanan pada triwulan IV tidak jauh berbeda dengan kondisi pada triwulan III 2001. Sudah dapat diduga bahwa kegiatan mencari nafkah anak jalanan adalah mengamen, menjadi pedagang asongan, mengemis atau kegiatan lainnya. Hasil survei triwulan IV menunjukkan bahwa lebih dari 50% anak jalanan mencari nafkah dengan cara mengamen, kemudian mengasong (27,46%), mengemis (12,50%) dan kegiatan lainnya (9,91%). Merokok, ternyata masih merupakan kebiasaan buruk yang paling dominan di kalangan anak jalanan (69,15%), disusul dengan minum-minuman keras (13,48%), lainnya (12,02) dan pemakaian narkoba (5,35%). Bila dibandingkan dengan triwulan III, kenaikan terbesar terjadi pada kebiasaan merokok.

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

I. PENDAHULUAN Berita resmi statistik anak jalanan triwulan IV 2001 merupakan lanjutan hasil survei triwulan III 2001 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melengkapi salah satu indikator sosial di Indonesia. Saat ini BPS baru dapat menampilkan fenomena anak jalanan di DKI Jakarta, mengingat jumlah anak jalanan di DKI Jakarta sebagai ibukota negara adalah yang terbesar. Seperti survei sebelumnya, survei anak jalanan triwulan IV 2001 ini, dilakukan di 25 kantong anak jalanan di lima wilayah di DKI Jakarta yang tergolong besar, baik dari segi luas areal maupun jumlah anak jalanan. Metoda observasinya adalah melakukan interview langsung dengan informan dan anak jalanan untuk mendukung kesesuaian informasi (matching). Informan adalah orang-orang yang dianggap mengetahui secara baik kehidupan dan keseharian anak jalanan pada kantong terpilih, misalnya tukang parkir, pedagang rokok atau gorengan yang secara tetap mangkal di lokasi kantong terpilih, satpam atau petugas keamanan, dan preman yang menguasai wilayah kantong terpilih, biasanya disebut JAGGER. II. JUMLAH ANAK JALANAN DI DKI JAKARTA

Hasil Survei Anak Jalanan Triwulan IV yang dilaksanakan bulan Oktober s.d Desember 2001 memperlihatkan bahwa prosentase jumlah anak jalanan terbesar berada di wilayah Jakarta Barat, yaitu sebesar 29,51%. Ini berarti bahwa jumlah anak jalanan di wilayah Jakarta Barat hampir dua kali lipat banyaknya dibandingkan dengan jumlah anak jalanan di wilayah Jakarta Utara (15,34%). Lokasi hunian anak jalanan terbesar berikutnya adalah wilayah Jakarta Pusat (19,22%), Jakarta Timur (18,81%) dan Jakarta Selatan (17,12%).

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Tabel 1. Prosentase Jumlah Anak Jalanan dan Perubahannya (Triwulan IV terhadap Triwulan III 2001) Menurut Wilayah/Kodya di DKI Jakarta Prosentase Triwulan III (2) 15.40 26.80 16.54 18.96 22.31 100.00 Prosentase Triwulan IV (3) 19.22 29.51 15.34 18.81 17.12 100.00 Prosentase Perubahan (4) 22.32 7.91 -9.14 -2.76 -24.85 -2.02

Wilayah/Kodya 1. 2. 3. 4. 5. (1) Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Selatan Total

Secara total, jumlah anak jalanan pada triwulan IV mengalami penurunan sebesar 2,02% bila dibandingkan dengan triwulan III. Ada beberapa kemungkinan penyebab penurunan ini, antara lain keberhasilan upaya pemerintah mengentas anak jalanan kembali ke rumah masing-masing, ketatnya penggarukan (tramtib) atau mereka pindah ke wilayah lain yang berdekatan dengan DKI Jakarta, misalnya Tangerang, Bekasi atau Depok. Pada tabel 1 di atas juga diperlihatkan secara rinci prosentase jumlah anak jalanan dan perubahannya sehingga gambaran kemungkinan mobilitas antar wilayah yang cukup tinggi dapat diketahui dengan lebih pasti. III. ANAK JALANAN MENURUT KELOMPOK UMUR DAN WILAYAH Berdasarkan tabel 2. jumlah anak jalanan terbesar berada pada kelompok umur 10 14 tahun yaitu 30,12%, kemudian disusul masing-masing oleh anak jalanan pada kelompok umur : 5 9 tahun sebesar 25,52%, 15 18 tahun sebesar 22,58%, umur 19 21 tahun sebesar 13,85%, dan yang terkecil berada pada kelompok umur di bawah 5 tahun yaitu sebesar 7,95%.

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Tabel 2. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Kelompok Umur Di DKI Jakarta Pada Triwulan IV Tahun 2001

Kelompok Umur 1. 2. 3. 4. 5. (1) Dibawah 5 tahun 5 --- 9 tahun 10 -- 14 tahun 15 -- 18 tahun 19 -- 21 tahun Total

Prosentase Jumlah (2) 7.95 25.52 30.12 22.58 13.85 100.00

Dari tabel 2 di atas juga dapat dibaca bahwa lebih dari 50% anak jalanan berada pada kelompok usia sekolah, khususnya pada pendidikan dasar, yaitu umur 5 9 tahun dan 10 14 tahun. Bila tingkat analisis dikembangkan sampai dengan usia pendidikan menengah (15 18 tahun) maka jumlah anak jalanan akan semakin banyak, yaitu lebih dari 75%. Hal ini mengisyaratkan bahwa masih banyak anak pada usia pendidikan dasar dan menengah yang belum mendapat kesempatan untuk bersekolah, terpaksa berkegiatan ganda - sekolah sambil cari nafkah atau orang tuanya kurang mampu membiayai sekolahnya sehingga mereka frustrasi dan berada di jalanan. Ini juga bisa diartikan sebagian besar anak jalanan seharusnya bersekolah dan belajar dengan baik tetapi malahan menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja di jalanan. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan harus segera dicarikan solusi pemecahan yang paling efektif dan efisien dan secara operasional dapat dikerjakan. Untuk melengkapi bahan analisis tentang anak jalanan dan kelompok umur, berikut ini disajikan prosentase jumlah anak jalanan menurut kelompok umur dan wilayah di seluruh kotamadya di DKI Jakarta.

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Tabel 3. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Kelompok Umur dan Wilayah/Kodya di DKI Jakarta Pada Triwulan IV 2001

Wilayah/Kodya 1. 2. 3. 4. 5. (1) Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Pusat Barat Utara Timur Selatan

< 5 th (2) 17.72 30.12 17.51 21.52 13.13 100.00

5-9 th (3) 16.33 32.72 16.79 19.79 14.36 100.00

10-14 th (4) 17.30 30.92 15.32 20.75 15.71 100.00

15-18 th (5) 22.97 25.53 19.06 16.34 16.10 100.00

19-21 th (6) 23.47 26.67 5.32 15.28 29.26 100.00

Total

Dari tabel 3 diatas terlihat secara keseluruhan bahwa prosentase terbesar anak jalanan pada semua kelompok umur berada di wilayah Jakarta Barat. Pengecualian terjadi pada kelompok umur 19 21 tahun yang terbesar berada di wilayah Jakarta Selatan yakni sebesar 29,26%. Angka-angka diatas memberikan gambaran tidak meratanya persebaran anak jalanan menurut umur, yang tercermin pada prosentase jumlah anak jalanan yang relatif besar di wilayah Jakarta Barat dengan persentase lebih dari 25% dari seluruh jumlah anak jalanan yang berada di DKI Jakarta. IV. ALASAN/PENYEBAB MENJADI ANAK JALANAN Krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan banyak keluarga mengalami kemiskinan dan kesulitan ekonomi. Kemiskinan yang dialami keluarga berdampak negatif pada anak-anaknya dengan disuruhnya anak-anaknya ikut bekerja untuk membantu mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga dan diri anak itu sendiri. Ini terlihat dari besarnya prosentase jumlah anak jalanan yang menjadi korban eksploitasi kerja sebesar 44,95% (tabel 4).

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Tabel 4. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Alasan/Penyebab Menjadi Anak Jalanan di DKI Jakarta Pada Triwulan IV 2001

Alasan menjadi anak jalanan 1. 2. 3. 4. (1) Korban eksploitasi kerja Keluarga tidak harmonis Tidak punya tempat tinggal Lainnya Total

Prosentase Jumlah (2) 44.95 12.69 18.67 23.69 100.00

Disamping korban eksploitasi kerja, ada penyebab lain mereka menjadi anak jalanan, yaitu tidak mempunyai tempat tinggal sebesar 18,67% dan disebabkan oleh keluarga tidak harmonis sebesar 12,69%. Cukup banyaknya anak jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal bisa jadi diakibatkan karena mereka berasal dari luar kota dan mencoba mengadu nasib di Jakarta, atau ada pula yang sudah tidak mempunyai orang tua dan sekaligus tidak punya warisan tempat tinggal serta sebagian besar keluarga orang tua anakanak itu tidak bersedia menampung. Untuk alasan yang disebabkan keluarga tidak harmonis dimungkinkan oleh perlakuan orang tua yang sewenang-wenang terhadap anak, orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar anak, kegagalan orang tua dalam melindungi anak dan tidak dapat memberikan kasih sayang seperti yang diharapkan mereka. V. ANAK JALANAN MENURUT JENIS KEGIATAN A. MENCARI NAFKAH Kehidupan anak jalanan dengan kehidupan anak lainnya sangat berbeda. Kalau anak-anak pada umumnya menghabiskan waktunya untuk sekolah dan bermain, anak jalanan sebagian besar waktunya terpaksa digunakan untuk mencari nafkah di jalanan.
UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Tabel 5. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Kegiatan Mencari Nafkah di DKI Jakarta Pada Triwulan IV 2001 Kegiatan untuk mencari nafkah (penghasilan) 1. 2. 3. 4. (1) Mengamen Mengasong Mengemis Lainnya Total

Prosentase Jumlah (2) 50.13 27.46 12.50 9.91 100.00

Pada tabel 5 di atas diperlihatkan gambaran jumlah anak jalanan yang melakukan kegiatan mencari nafkah dengan mengamen sebesar 50,13%, mengasong 27,46%, mengemis 12,50% dan yang mempunyai kegiatan lainnya seperti mencuci kendaraan, dagang koran dan lainnya baik positif maupun negatif sebesar 9,91%. Ternyata dari kegiatan untuk mencari nafkah terbesar yang merupakan kegiatan yang paling disenangi dan populer di kalangan anak jalanan adalah kegiatan mengamen. Hasil survei pada tabel 6 menunjukkan bahwa pada 25 kantong anak jalanan yang menjadi objek penelitian di wilayah masing sebesar 28,21%, 32,66%, DKI Jakarta, prosentase terbesar untuk dan 31,48%. Hal ini sekaligus mengamen, mengasong, mengemis dan lainnya ada di wilayah Jakarta Barat masing26,25% memperlihatkan bahwa wilayah Jakarta Barat merupakan ladang subur bagi anak jalan untuk mencari nafkah dan atau mengais rejeki. Kegiatan mengemis di wilayah Jakarta Pusat menduduki posisi pertama yaitu dengan prosentase sebesar 23,79%, diikuti oleh kegiatan mengasong dan kegiatan lainnya. Wilayah Jakarta Timur relatif bersih dari kegiatan mengemis, hal ini tercermin dari paling kecilnya prosentase kegiatan mengemis pada wilayah ini (13,36%).

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Tabel 6. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Kegiatan Mencari Nafkah dan Wilayah di DKI Jakarta Pada Triwulan IV 2001 Wilayah/Kodya 1. 2. 3. 4. (1) Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Pusat Barat Utara Timur Kegiatan Mencari Nafkah Mengamen Mengasong Mengemis Lainnya (2) (3) (4) (5) 16.71 21.72 23.79 19.19 28.21 32.66 26.25 31.48 14.96 13.43 15.63 22.12 23.71 14.53 13.36 12.93 16.41 100.00 17.67 100.00 20.96 14.28

5. Jakarta Selatan Total

100.00 100.00

B. PENDIDIKAN Berdasarkan kegiatan pendidikan (lihat tabel 7), ternyata banyak juga anak jalanan di DKI Jakarta yang statusnya masih sekolah. Hasil survei triwulan IV menunjukkan bahwa 35,91% anak jalanan masih berstatus sebagai anak sekolah. Selanjutnya mereka yang sudah tidak sekolah lagi tercatat ada sebanyak 44,33% sedang yang masih punya keinginan sekolah tetapi tidak mampu sebanyak 15,71% dari total seluruh anak jalanan di DKI Jakarta. Tabel 7. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Kegiatan Pendidikan di DKI Jakarta Pada Triwulan IV 2001 Kegiatan Pendidikan 1. 2. 3. 4. (1) Masih sekolah Tidak sekolah lagi Mau sekolah tapi tidak mampu Lainnya Total Prosentase Jumlah (2) 35.91 44.33 15.71 4.05 100.00

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Fenomena tersebut di atas sekaligus memperlihatkan bahwa masih banyak anak sekolah yang menjadi anak jalanan. Mereka seharusnya berkonsentrasi penuh pada pelajaran sekolahnya namun karena keadaan ekonomi yang semakin sulit, terpaksa sekolah sambil cari nafkah. Walaupun sulit dibayangkan prestasi sekolahnya, mereka tetap harus diberi acungan jempol karena rela mengorbankan masa kanak-kanaknya demi membantu orang tua dalam mencari tambahan penghasilan. VI. ANAK JALANAN BERDASARKAN KEBIASAAN NEGATIF YANG SULIT DIHINDARI Lingkungan kehidupan jalanan sangat keras, buruk dan seringkali berimbas pada prilaku negatif anak jalanan. Mereka seharusnya belum mengenal rokok tetapi merokok karena lingkungannya demikian. Minuman keras, narkoba dan sex bebas seakan merupakan keadaan yang tak terhindarkan lagi bagi mereka. Mereka menjadi lebih dewasa dari umurnya karena sering melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya sebagai anak-anak. Tabel 8. Prosentase Jumlah Anak Jalanan Menurut Kebiasaan Buruk di DKI Jakarta Pada Triwulan IV 2001

Kebiasaan buruk yang paling disenangi dan sulit dihindari (negatif) (1) 1. Merokok 2. Minuman keras 3. Narkoba 4. Lainnya Total

Prosentase Jumlah (2) 69.15 13.48 5.35 12.02 100.00

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

Hasil survei pada tabel 8 memperlihatkan betapa kebiasaan merokok merupakan hal yang wajar dilakukan anak jalanan. Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh anak jalanan menduduki peringkat tertinggi sebesar 69,15%, diikuti oleh kebiasaan minumminuman keras sebesar 13,48%, kebiasaan lain sebesar 12,02% dan memakai narkoba sebesar 5,35%. Kecenderungan anak jalanan untuk berprilaku negatif yang cukup besar ini bisa jadi disebabkan karena mereka ingin cepat dibilang dewasa, selain karena faktor lain seperti stress berat. Kedewasaan di kalangan mereka dianggap sebagai lambang kejantanan dan kematangan berusaha. Sedangkan bagi anak jalanan yang mengkonsumsi minuman keras itu sebagian besar karena pengaruh dari rekan mereka. Selanjutnya dari meminum-minuman keras meningkat ke konsumsi narkoba tanpa mempertimbangkan lagi efek samping yang ditimbulkan yang dapat menyebabkan berubahnya tingkahlaku yang semula mengikuti norma menjadi anak yang kurang memiliki etika dan tidak patuh terhadap peraturanperaturan yang berlaku di masyarakat dan hukum negara.

Untuk Keterangan lebih lanjut hubungi : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (UPPM-STIS) u.p. R. Dwi Harwin Kusmaryo, SE, MA. Ir.Akhmat Munawar, M.Si. E-mail : stis@jakarta.wasantara.net.id Telp. 8197577

UPPM STIS - Fenomena Anak Jalanan Di DKI Jakarta Triwulan IV 2001

10