Anda di halaman 1dari 37

AUDIT ATAS SALDO KAS JENIS - JENIS PERKIRAAN KAS Berikut ini adalah jenis-jenis perkiraan kas yang

utama : Perkiraan kas umum (General cash account). Perkiraan ini menampung aliran kas masuk dan keluar pada suatu waktu sehingga jenis perkiraan ini sangat penting bagi sebagian besar organisasi (perusahaan). Perkiraan penggajian impres (Imprest payroll account). Perkiraan penggajian impres digunakan sebagai upaya meningkatkan pengendalian intern. Dilakukan dengan membuat perkiraan bank impres dengan cara menetapkan dana dengan jumlah tertentu untuk digunakan dan secara periodik diganti kembali sehingga sama dengan jumlah semula lagi. Perkiraan bank cabang (Branch bank account). Perusahaan yang beroperasi dengan banyak lokasi seringkali memerlukan rekening bank terpisah pada setiap lokasi. Terdapat dua jenis kebijakan yang dianut oleh perusahaan-perusahaan dalam menggunakan perkiraan bank cabang, yaitu ; Setoran dan pengeluaran untuk cabang dilaksanakan dari suatu perkiraan bank khusus dan kelebihan kas secara periodik dikirim ke rekening bank kantor pusat. Rekening untuk penerimaan dan rekening untuk pengeluaran dipisahkan. Semua penerimaan disetorkan di bank cabang dan totalnya ditransfer ke perkiraan umum secara periodik. Perkiraan pengeluaran dibentuk dengan basis impres. Dana kas kecil impres (Imprest petty cash fund). Dana ini dipergunakan untuk pembelian tunai yang jumlahnya relatif kecil-kecil sehingga lebih mudah dan cepat daripada menggunakan cek. Ekuivalen-ekuivalen kas (Cash equivalents). Kelebihan kas yang diakumulasikan selama bagian tertentu dari siklus operasi yang diperlukan di masa mendatang biasanya disimpan dalam investasi jangka pendek yang likuid dan relatif tidak mengandung risiko yang signifikan atas perubahan tingkat bunga. KAS DI BANK DAN SIKLUS-SILKLUS TRANSAKSI Siklus-siklus transaksi yang terkait dengan kas di bank adalah : 1. Siklus perolehan dan pembayaran kembali modal 2. Siklus perolehan dan pembayaran 3. Siklus penjualan dan penerimaan kas 4. Siklus penggajian dan kepegawaian. Keempat siklus transaksi tersebut saling berhubungan dengan titik pusat pada perkiraan kas umum. Oleh sebab itu perkiraan kas umum sangat penting dalam hampir setiap audit bahkan jika saldo akhirnya tidak material. Dalam audit atas kas, harus dibuat pembedaan antara : verifikasi rekonsiliasi klien atas saldo rekening koran dengan buku besar dan, Verifikasi apakah kas yang tercatat di buku besar telah mencerminkan dengan benar semua transaksi kas yang dilaksanakan selama tahun tersebut. Pembedaan tersebut dilakukan karena terdapat salah saji yang mengakibatkan pembayaran atau penerimaan kas yang tidak pantas, tetapi tidak satupun terungkap sebagai bagian dari audit atas rekonsiliasi bank, misalnya ; Kesalahan untuk menagih pelanggan Menagih pelanggan dengan harga yang lebih rendah Defalkasi kas Pembayaran ganda atas satu faktur rekanan pemasok

Pembayaran yang tidak patut atas pengeluaran pribadi pejabat perusahaan Pembayaran untuk bahan baku yang tidak pernah diterima Pembayaran kepada pegawai untuk jumlah jam kerja yang melampaui jumlah jam kerja yang dijalaninya. Pembayaran bunga kepada pihak yang memiliki hubungan istimewa di atas suku bunga yang berlaku. Salah saji tersebut dapat ditemukan jika dilakukan melalui pengujian atas transaksi. Salah saji yang dapat ditemukan melalui pengujian atas rekonsiliasi bank dapat berupa ; Kegagalan memasukkan selembar cek yang belum dikliring bank pada daftar cek beredar, walaupun sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas Kas yang diterima oleh klien sesudah tanggal neraca tetapi dicatat sebagai penerimaan kas dalam tahun berjalan Setoran yang dicatat dalam buku kas mendekati akhir tahun, disetorkan ke bank, dan dimasukkan dalam rekonsiliasi bank sebagai setoran dalam perjalanan Pembayaran wesel bayar yang didebit langsung ke saldo bank oleh bank tetapi tidak dicantumkan dalam catatan klien. Oleh sebab itu penting untuk membedakan pengujian atas transaksi yang berkaitan dengan perkiraan kas dengan pengujian yang menetapkan apakah saldo buku telah direkonsiliasi dengan saldo bank. AUDIT ATAS PERKIRAAN KAS UMUM Metodologi perancangan pengujian terinci atas saldo kas di bank : 1. Tentukan materialitas dan tetapkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan untuk kas di bank 2. Tetapkan risiko pengendalian untuk kas di bank 3. Rancang dan laksanakan pengujian atas pengendalian, pengujian substantif atas transaksi, dan prosedur analitis atas beberapa siklus 4. Rancang dan laksanakan prosedur analitis untuk saldo kas di bank 5. Rancang pengujian terinci atas saldo kas di bank untuk memenuhi tujuan spesifik audit yang berupa ; prosedur audit, ukuran sampel, pos/unsur yang dipilih dan saat pelaksanaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi audit atas kas akhir tahun : Kas dipengaruhi oleh sebagian besar siklus lainnya Meskipun saldo kas itu sendiri biasanya tidak besar, jumlah rupiah debit dan kredit yang mempengaruhi saldo tersebut pada umumnya lebih besar daripada perkiraan lainnya (materialitas) Kas adalah harta yang paling disukai untuk dicuri (risiko bawaan). Pengendalian intern atas saldo kas akhir tahun dalam perkiraan kas umum dapat dibagi dalam dua kategori : Pengendalian atas siklus transaksi yang mempengaruhi pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas Rekonsiliasi bank secara independen. Jika pengendalian yang mempengaruhi transaksi yang berkaitan dengan kas telah mencukupi, pengujian audit untuk rekonsiliasi bank akhir tahun dapat dikurangi. Prosedur audit atas saldo kas akhir tahun dapat dilakukan dengan :

Penerimaan konfirmasi bank, yaitu penerimaan konfirmasi secara langsung dari setiap bank/lembaga keuangan lain dimana klien melaksanakan kegiatan bisnis Penerimaan suatu rekening koran pada titik pisah-batas, yaitu suatu laporan bank pisah-batas atas suatu rekening koran untuk periode sebagian salinan slip-slip setoran dan dokumendokumen lain yang termasuk dalam rekening koran yang dikirim oleh bank secara langsung ke Kantor Akuntan Publik Pengujian atas rekonsiliasi bank tujuannya untuk verifikasi apakah saldo bank klien yang tercatat berjumlah sama dengan jumlah kas sebenarnya yang ada di bank kecuali untuk setoran dalam perjalanan, cek-cek yang beredar dan pos-pos rekonsiliasi lainnya. Prosedur berorientasi fraud dapat dilakukan dengan cara : Pengujian yang diperluas atas rekonsiliasi bank jika auditor percaya bahwa rekonsiliasi bank akhir tahun dengan sengaja telah disalahsajikan Pembuktian kas dilakukan jika auditor menyakini pengendalian intern atas kas dianggap tidak memadai. Auditor mempergunakan pembuktian kas guna menetapkan apakah ; Semua penerimaan kas yang tercatat telah disetorkan Semua setoran di bank dicatat dalam pembukuan Semua pengeluaran kas yang tercatat dibayarkan oleh bank Semua jumlah yang dibayar oleh bank telah dicatat Pengujian untuk kiting. Kiting adalah suatu jenis penipuan dengan memanfaatkan periode yang diperlukan untuk suatu cek yang dikliring melalui sistem perbankan dengan penyajian jumlah yang sama pada setoran di dua bank sekaligus. AUDIT ATAS PERKIRAAN BANK PENGGAJIAN Audit atas perkiraan bank penggajian umumnya meliputi rekonsiliasi cek-cek yang beredar. Dalam pengujian ini, perlu diperoleh rekonsiliasi bank, konfirmasi bank dan suatu rekening koran pisah-batas. AUDIT ATAS KAS KECIL Meskipun seringkali jumlahnya tidak material, kas kecil selalu diperiksa, terutama karena adanya kemungkinan defalkasi dan adanya permintaan klien akan suat penelaahan audit. Penelaahan dalam verifikasi kas kecil harus diarahkan pada pengujian transaksi kas kecil, bukan pada saldo akhir perkiraan tersebut. AUDIT ATAS SALDO AKUN KAS, Substantive Test atas Saldo Kas,Pengujian Mendetail Saldo Kas (Test of Details of Balances) AUDIT ATAS SALDO AKUN KAS Kas yang dicantumkan di neraca terdiri dari kas di tangan dan kas di bank. Mengingat kas ini mudah digelapkan dan diselewengkan maka pengendalian internnya sangat ketat. Dalam audit kas auditor harus menerapkan prosedur analitis secara keseluruhan penentuan tingkat internalitas risiko melekat, risiko pengendalian kas dan risiko deteksi atau risiko audit kas. Pengujian mendetail transaksi kas setidaknya meliputi pengujian atas cut off kas, penelusuran transfer bank dan pembuatan prof of cash. Substantive Test atas Saldo Kas Tujuan khusus audit saldo kas adalah memperoleh bukti yang meyakinkan mengenai adanya atau kebenaran asersi manajemen yang berhubungan dengan saldo kas, yaitu adanya atau terjadinya, kelengkapannya, hak dan kewajibannya, penilaian atas alokasi serta penyajian dan pengungkapannya.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam audit saldo kas adalah: 1. menentukan risiko deteksi; 2. merancang substantif test; 3. melakukan prosedur awal; 4. melakukan prosedur analitis Pengujian Mendetail Saldo Kas (Test of Details of Balances) Kegiatan dalam pengujian mendetail saldo kas (Test of details of balance) adalah: menghitung kas di tangan; 1. mengonfirmasi simpanan dan pinjaman di bank; 2. mengonfirmasi perjanjian lain dengan bank; 3. menscan, mereview, dan membuat rekonsiliasi bank; 4. mendapatkan dan menggunakan bank out of statement; 5. membandingkan penyajian pernyataan dengan PABU 6. pertimbangan-pertimbangan lain seperti pengujian deteksi lapping dan prosedur audit. AUDIT INVESTASI Pemahaman Pengendalian Internal Transaksi Investasi A. Deskripsi Investasi Investasi merupakan penanaman uang di luar perusahaan yang dapat berupa surat berharga atau aktiva lain yang tidak digunakan secara langsung dalam kegiatan produksi perusahaan. Menurut tujuannya investasi dibagi menjadi dua kelompok : 1. Investasi jangka pendek (temporary invesment). Pada umumnya investasi ini berupa surat berharga yang harganya relatif stabil, seperti saham, obligasi, atau surat berharga yang lain. Tujuan pokok pembelian surat berharga ini adalah untuk menanamkan kas yang untuk sementara waktu tidak digunakan dalam keguiatan bisnis perusahaan. Investasi jangka pendek disajikan di neraca dalam kelompok aktiva lancar. 2. Investasi jangka panjang (long-term investment). Investasi jangka panjang terdiri dari surat berharga (seperti saham, obligasi, hutang hipotek, wesel, piutang) atau berupa surat persekot pada perusahaan afiliasi, dana khusus (seperti sinking fund, dana pensiun), dan aktiva tetap yang tidak digunakan secara langsung dalam keguatan perusahaan (seperti tanah untuk ekspansi pabrik). Tujuan pokok dalam investasi jangka panjang adalah membperoleh bunga atau deviden dalam jangka panjang untuk membentuk dana khusus atau untuk mengendalikan perusahaan lain melalui pemilikan saham. Investasi ini disajikan dalam neraca dalam kelompok aktiva tidak lancar. B. Tujuan Audit Tujuan audit dalam rangka kelima kategori asersi statement keuangan dalam transaksi siklus investasi antara lain : 1. Eksistensi dan Okurensi a. Pencatatan saldo investasi dalam neraca mencerminkan jumlah investasi yang benarbenar ada pada saat tanggal neraca b. Pendapatan dari investasi, gains and losses yang dihasilkan dari transaksi investasi dan kejadian yang terjadi untuk periode akuntansi yang diaudit. 2. a. Kesempurnaan Semua bentuk investasi telah disajikan dalam neraca

b. Semua transaksi investasi serta kejadian yan mempengaruhinya telah dimasukkan dalam statemen penghasilan dalam be tuk pendapatan investasi, serta gains and losses. 3. a. Hak dan Kewajiban Semua transaksi yang ada benar-benar dimiliki oleh klien.

4. Penilaian atau Alokasi a. Semua bentuk investasi disajikan dalam neraca berdasarkan biaya perolehan, kepemilikannya, atau nilai pasar yang memadai. b. Pendapatan investasi serta gains and losses telah disajikan dalam jumlah yang wajar. 5. Penyajian dan Pengungkapan a. Saldo investasi telah diidentifikasi dan diklarifikasi dengan layak dalam laporan keuangan b. Dasar-dasar penilaian akuntansi dan jaminan investasi secara kolateral telah diungkapkan dengan secukupnya. C. Materialitas, Resiko, dan Strategi Audit

Materialitas Pertimbangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas ini adalah penentuan besarnya salah saji yang akan mempengaruhi keputusan seorang pemakai laporan keuangan yang layak. Pertimbangan kedua adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan. Resiko a. Risiko Inheren Risiko inheren yang berkaitan dengan asersi eksistensi/keberadaan seringkali rendah karena aktiva tetap tidak mudah dicuri. Akan keberadaan, risiko inheren dapat meningkat sampai ke tingkat sedang atau tinggi karena potensi bahwa aktiva yang dibesituakan atau tidak digunakan lagi mungkin tidak dihapuskan. b. Risiko Prosedur Analitis Risiko prosedur analitis unsur elemen dari risiko deteksi bahwa prosedur analitis akan gagal mendeteksi kesalahan yang material. Prosedur analitis bersifat efektif dari segi biaya dan hal itu dapat membantu auditor dalam mengevaluasi kelayakan laporan keuangan. c. Risiko Pengendalian Aspek yang sama dari pengendalian internal yang menetapkan kesadaran akan tingkat pengendalian yang tinggi seperti lingkungan pengendalian yang kuat, penilaian risiko yang efektif, akuntabilitas yang efektif atas penggunaan sumber daya, dan pemantauan sistem pengendalian adalah penting dalam konteks akuntansi untuk aktiva tetap. Salah satu transaksi penting yang berkaitan dengan aktiva tetap adalah akuntansi awal untuk akuisisi aktiva tetap. Strategi Audit Strategi audit dalam siklus ini sangat tergantung pada frekuensi transaksi investasi itu sendiri. Apabila transaksi investasi relatif sedikit pada umumnya akan lebih efisien untuk menggunakan pendekatan substantif dan juga digunakan pengujian kendalian untuk melihat resiko kendali pada tingkat yang rendah. Apabila transaksi investasi relatif sering terjadi, akan lebih efisien untuk menggunakan pengujian kendalian untuk memperoleh bukti yang mendukung resiko kendalian dengan tingkat yang rendah.

D.

Pemahaman Terhadap Struktur Pengendalian Intern

Auditor harus mampu memahami kategori prosedur pengendalian yang diterapkan dalam transaksi investasi. Hal-hal berikut yang harus diperhatikan dalam membentuk pengendalian intern yang memadai. Misalnya : setiap transaksi memperoleh persetujuan yang memadai, adanya pemisahan yang jelas terhadap fungsi-fungsi pelaksanaan, pencatatan, dan penyimpanan, setiap transaksi didukung oleh dokumen pendukung, dokumen sekuritas disimpan dalam safety deposit box, perhitungan sekuritas dilakuakn oleh orang yang independen dan secara periodik dicocokkan dengan saldo catatannya. Dalam rangka menyusun strategi audit substansi, auditor harus mempunyai keyakinan bahwa struktur pengendalian internal klien mencukupi sebagai dasar perencanaan audit. Pemahaman ini dalam rangka untuk identifikasi potensi salah saji serta mendesain pengujian yang tepat. 1. Catatan-catatan dan dokumen-dokumen yang digunakan a. Sertifikat saham, dokumen ini menunjukkan jumlah saham yang dimiliki klien sebagai salah satu pemegang saham. Dokumen-dokumen ini memberikan pembuktian terhadap asesrsi eksistensi dan okurensinya. b. Sertifikat obligasidokumen ini menunjukkan jumlah obligasi yang dimiliki klien sebagai pemegang obligasi. Dokumen-dokumen ini memberikan pembuktian terhadap asesrsi eksistensi dan okurensinya. c. Bond Indenture, kontrak yang memberikan pernyataan atau perjanjian syarat-syarat obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang mengeluarkan obligasi. d. Brokers advice, dokumen yang dikeluarkan oleh pialang yang memberi spesifikasi mengenai harga pertukaran dalam transaksi investasi. Dokumen ini merupakan sumber utama pencatatan transaksi investasi, serta memberikan pembuktian terhadap asersi penilaian atau alokasinya. e. Book of original entry, buku jurnal yang digunakan untyuk mencatat semua transaksi yang terkait dalam investasi. f. Invesment subsidiary ledger, merupakan buku pembantu investasi yang digunakan untuk mencatat berbagai jenis portofolio investasi maupun bentuk sekuritas. 2. Fungsi-fungsi yang terkait Berikut disajikan beberapa fungsi yang terkait dalam siklus investasi beserta aspek pengendaliannya : a. Pembelian sekuritas, pembelian dilaksanakan berdasarkan otorisasi manajemen puncak b. Penerimaan penghasilan periodeik, check devidend, maupun bunga harus langsung disetorkan ke bank. c. Penjualan sekuritas, penjualan sekuritas dilakukan berdasarkan otorisasi manajemen dan semua penerimaan cek harus disetorkan langsung ke bank. d. Pencatatan transaksi sekutitas, semua transaksi harus disimpan dengan aman. e. Pemeliharaan kecermatan buku besar pembantu, saldo catatan dalam buku besar pembantu dibandingkan dengan jumlah sekuritas yang ada secara berkala. Penerapan Pengujian Pengendalian, Pengujian Transaksi, Dan Pengujian Detail Akun Investasi A. Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Investasi 1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan investasi.

2. Membuktikan bahwa saldo investasi mencerminkan kepentingan klien yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan investasi selama tahun yang diaudit. 3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat selama tahun yang diaudit dan kelengkapan saldo investasi yang disajikan di neraca. 4. Membuktikan bahwa saldo investasi yang dicantumkan di neraca merupakan milik klien. 5. Membuktikan kewajaran penilaian invesatasi yang dicantukmakn di neraca. 6. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan investasi di neraca. MEMPEROLEH KEYAKINAN KEANDALAN CATATAN AKUNTANSI YANG BERSANGKUTAN DENGAN INVESTASI Sebelum auditor melakukan pengujian mengenai kewajaran saldo investasi yang dicantumkan di neraca, ia harus memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntansi yang mendukung informasi investasi yang disajikan di neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo investasi yang dicantumkan di neraca dengan akun investasi di dalam buku besar dan selanjutnya keregister bukti kas keluar dan jurnal penerimaan kas, dan buku pembantu investasi. MEMBUKTIKAN ASERSI KEBERADAAN DAN KETERJADIAN INVESTASI YANG DICANTUMKAN DI NERACA Auditor membuktikan apakhsaldo investasi mencerminkan kepentingan klien yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan ketrjadian transaksi yang berkaitan dengan investasi selama tahun yang diaudit. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini: 1. Pengujian analitik 2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan investasi 3. Inspeksi terhadap sekuritas yang ada di tangan klien 4. Konfirmasi sekuritas yang berada di tangan pihak luar MEMBUKTIKAN ASERSI KELENGKAPAN INVESTASI YANG DICANTUMKAN DI NERACA Untuk membuktikan bahwa invesatasi yang dicantimkan di neraca mencakup semua kepentingan klien terhadap aktiva entitas lain pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan investasi dalam tahun yang diaudit, auditor melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini: 1. Pengujian analitik 2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan investasi 3. Inspeksi terhadap sekuritas yang ada di tangan klien 4. Konfirmasi sekuritas yang berada di tangan pihak luar MEMBUKTIKAN ASERSI HAK KEPEMILIKAN KLIEN ATAS INVESTASI PADA TANGGAL NERACA Untuk membuktikan hak kepemilikan klien atas investasi pada tanggal neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini : 1. Pemeriksaaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan investasi. 2. Konfirmasi sekuritas yang berada di tangan pihak luar. MEMBUKTIKAN ASERSI PENYAJIAN PEMEGANG SAHAM DI NERACA DAN PENGUNGKAPAN EKUITAS

Penyajian dan pengungkapan unsur-unsur laporan keuangan harus didasarkan pada prinsip akuntansi berterima umum. Pengujian substantif terhadap investasi diarahkan untuk mencapai salah tujuan membuktikan apakah unsur investasi telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Satu-satunya pengujian substantif untuk membuktikan asersi pengujian dan pengungkapan ekuitas pemegang saham di neraca adalah dengan membandingkan penyajian dan pengungkapan investasi di neraca yang diaudit dengan prinsipm akuntansi berterima umum melalui berbagai prosedur berikut ini : 1. Pemeriksaan terhadap klasifikasi surat berharga sebagai investasi sementara dan investasi jangka panjang 2. Pemeriksaan terhadap investasi jangka panjang mengenai kemungkinan sebagai alat pengendalian perusahaan lain B. Program Pengujian Substantif Terhadap Investasi

1. Prosedur Audit Awal Sebelum membuktikan apakah saldo investasi yang dicantumkan oleh klien didalam neracanya sesuai dengan investasi yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi investasi yang dicantumkan di neraca dengan catatan informasi yang mendukungnya. Hal tersebut perlu untuk dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa informasi invwestasi yang dicantumkan di neraca didukung oleh catatan akuntasi yang dipercaya. Untuk itu, auditor melakukan 6 prosedur audit, berikut ini : a. Mengusut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun investasi yang bersangkutan di dalam buku besar Untuk memperoleh bahwa saldo investasi yang tercantum di neraca di dukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran mekanisme pencatatannya, maka saldo investasi yang dicantumkan di neraca di usut ke akun buku besar berikut ini : Investasi sementara : akun ini digunakan untuk menampung transaksi pembelian dan penjualan surat berharga sebagai investasi sementara. Investasi jangka panjang : kelompok akun ini terdiri rekening-rekening ; investasi saham, investasi obligasi, piutang hipotek, piutang wesel, piutang kepada perusahaan afiliasi, dana pelunasan obligasi, dana pensiun, dan aktiva tetap untuk expansi b. Menghitung kembali saldo akun investasi di buku besar Untuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian penghitungan saldo akun investasi, auditor menghitung kembali saldo akun investasi sementara dan investasi jangka panjang, dengan menambah saldo awal dengan jumlah pendebitan dan menguranginya dengan jumlah pengkreditan tiap-tiap akun tersebut. c. Mengusut saldo awal akun investasi ke kertas kerja tahun yang lalu Sebelum auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang menyangkut akun investasi, ia perlu memperoleh keyakinan atas kebenaran saldo awal akun tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, auditor melakukan pengusutan prosedur awal akun investasi ke kertas kerja tahun lalu. Kertas kerja tahun lalu dapat menyediakan informasi tentang berbagai koreksi yang di ajukan oleh auditor dalam audit tahun yang lalu, sehingga auditor dapat mengevaluasi tindak lanjut yang telah ditempuh oleh klien dalam menanggapi koreksi yang diajukan oleh auditor. d. Melakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun investasi Ketidak beresan dalam transaksi pembelian dan transaksi penjualan investasi dapat ditemukan melalui review atas mutasi luar biasa, baik dalam jumlah maupun sumber posting dalam akun investasi.

e. Mengusut posting pendebitan dan pengkreditan akan utang usaha ke jurnal yang bersangkutan Pendebitan dalam akun investasi sementara dan investasi jangka panjang di sut ke register bukti kas keluar dan pengkreditan ke rekening-rekening tersebut diusut ke jurnal penerimaan kas untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan investasi bersal dari jurnal-jurnal yang bersangkutan. f. Melakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun kontrol investasi di buku besar Saldo akun kontrol investasi di dalam buku tersebut kemudian dicocokan dengan jumlah saldo akun investasi untuk memperoleh keyakinan bahwa catatan akuntasi klien yang bersangkutan dengan investasi dapat dipercaya ketelitiannya. 2. Prosedur Analitik Pada tahap awal pengujian substantif terhadap investasi, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audik lebih intensif. Untuk itu auditor melakukan perhitungan berbagai ratio : Ratio investasi sementara dengan aktiva lancar Ratio investasi jangka panjang dengan aktiva lancar Rate of returns tiap-tiap golongan investasi Ratio yang telah dihitung tersebut kemudian dibandingkan dengan garapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau rasio yang dianggarkan. Pembandingan ini membantu auditor untuk mngungkapkan : a. Peristiwa atau transaksi yang tidak biasa b. Perubahan akuntansi c. Perubahan usaha d. Fluktuasi acak e. Salah saji 3. Pengujian Terhadap Transaksi Rinci Pengujian terhadap transaksi rinci meliputi tahap-tahap berikut: Memeriksa Dokumen yang Mendukung Perolehan Surat Berharga yang dimiliki oleh Klien pada tanggal Neraca Untuk membuktikan hak milik klien atas surat berharga yang berada di tangan klien atau di tangan pihak lain pada tanggal neraca auditor melakukan pemeriksaan terhadap dokumen yang mendukung perolehan surat berharga tersebut. Menghitung Kembali Pendapatan Bunga dan Dividen Tahun yang diaudit Penghasilan bunga dan dividen dicatat dalam kelompok akun pendapatan di luar usaha. Dalam memverifikasi penghasilan bunga dan dividen tersebut, auditor menganalisis akun pendapatan investasi yang terdapat dalam kelompok pendapatan di luar usaha dan mengusut pendapatan yang dicatat di akun tersebut ke bukti kas masuk dan bukti memorial. Kemudian auditor menghitung kembali pendapatan bunga dan dividen berdasarkan informasi yang tercantum dalam sertifikat surat berharga. Menghitung Kembali Laba dan Rugi yang Timbul dari Transaksi Penjualan Surat Berharga Dalam memverifikasi penghasilan bunga dan dividen auditor disamping menghitung kembali pendapatan bunga yang menjadi hak klien dalam tahun yang diperiksa, juga melakukan perhitungan kembali capital gain/loss yang dicatat oleh klien dalam tahun yang diperiksa. Capital gain/loss yang timbul dari penjualan surat berharga ini dihitung dengan cara mengurangi hasil penjualan surat berharga yang dijual. Menghitung Kembali Laba atau Rugi yang Timbul dari Transaksi Penjualan Investasi

Dalam memverifikasi nilai investasi yang dicantumkan di neraca, auditor memeriksa dokumen yang mendukung penjualan investasi dan sekaligus menghitung kembali laba atau rugi yang timbul dari transaksi penjualan investasi tersebut. Memeriksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Pembelian Surat Berharga dalam Periode Sekitar Tanggal Neraca Verifikasi ketepatan pisah batas yang digunakan oleh klien dalam mencatat transaksi yang bersangkutan dengan investasi dilakukan oleh auditor dengan memeriksa buku pembantu investasi dan mengusut transaksi pembelian surat berharga dalam periode sekitar tanggal neraca ke dokumen pendukungnya. Dari pemeriksaan tersebut auditor akan dapat menemukan kemungkinan ketidaktepatan pisah batas yang digunakan oleh klien dalam mencatat transaksi perolehan surat berharga. Memeriksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Penjualan Surat Berharga dalam Periode Sekitar Tanggal Neraca Verifikasi ketepatan pisah batas yang digunakan oleh klien dalam mencatat transaksi yang bersangkutan dengan investasi dilakukan pula oleh auditor dengan memeriksa buku pembantu investasi dan mengusut transaksi penjualan surat berharga dalam periode sekitar tanggal neraca ke dokumen pendukungnya. Dari pemeriksaan tersebut auditor akan dapat menemukan kemungkinan ketidaktepatan pisah batas yang digunakan oleh klien dalam mencatat transaksi penjualan surat berharga. Memeriksa Dokumen yang Mendukung Transaksi Perolehan dan Penjualan Investasi Pengujian substantif terhadap investasi meliputi pemeriksaan terhadap bukti yang mendukung transaksi pembelian surat berharga yang terjadi dalam tahun yang diperiksa. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kewajaran penentuan cost investasi. Auditor melakukan pemeriksaan terhadap bukti yang mendukung transaksi penjualan surat berharga untuk menentukan ketelitian pengkreditan akun investasi dan penentuan laba dan rugi yang timbul dari transaksi tersebut. 4. Pengujian Terhadap Akun Rinci Pelajari Notulen Rapat Pemegang Saham Penanaman dana di luar perusahaan, terutama yang bersifat jangka panjang biasanya memerlukan otorisasi dari pemilik perusahaan. Oleh karena itu, auditor berkewajuban untuk mempelajari notulen rapat pemegang saham ntuk mengetahui apakah dalam tahun yang diperiksa pemegang saham telah membuat keputusan yang berhubungan dengan penanaman dana perusahaan dalam bentuk investasi jangka panjang penjualan surat berharga yang dimiliki sebagai investasi jangka panjang juga memerlukan otorisasi dari pemegang saham. Dalam memeriksa mutasi investasi jangka panjang, auditor menguji apakah setiap lpenjualan surat berharga yang dimiliki telah mendapatkan otorisasi dari yang berwenang. Investasi jangka pendek biasanya dikelola oleh direktur keuangan. Oleh karena itu dalam melakukan pengujian substantif terhadap investasi jangka pendek, auditor perlu mempelajari notulen rapat direksi untuk memperoleh informsi mengenai kebijakan investasi jangka pendek lainnya. Minta Daftar Surat Berharga yang ada di tangan Klien dan Lakukan Penghitungan dan Inspeksi TerhadapSertifikat Surat Berharga Tersebut langkah selanjutnya auditor meminta klien untuk membuat daftar demua investasi yang dimiliki klien pada tanggal neraca. Auditor harus menguji ketelitian informasi yang tercantum dalam daftar investasi dengan melakukan prosedur audit berikut:

1. Melakukan rekonsiliasi jumlah biaya investasi yang tercantum dalam daftar tersebut dengan akun kontrol investasi yang bersangkutan dalam buku besar. 2. Mengusut biaya setiap jenis surat berharga yang tercantum di dalam daftar tersebut dalam buku pembantu investasi. Untuk membuktikan keberadaan investasi yang tercantum didalam daftar tersebut auditor mengadakan poengamatan fisik dan perhitungan terhadap sertifikat surat berharga yang ada di tangan klien pada tanggal neraca. Kirimkan KonfirmasiTentang Surat Berharga Milik Klien yang Berada di Tangan Pihak Lain Jika sertifikat surat berharga mili klien berada di tangan pihak lain pada tanggal neraca, misalnya dipegang oleh kreditur sebagai jaminan utang yang ditarik oleh klien, auditor harusmemperoleh konfirmasi dari pemegang sertifikat tersebut, untuk membuktikan keberadaan investasi yang dicantimkan oleh klien di neraca. Dalam surat konfirmasi tersebut auditor menanyakan mengenai nomer seri surat berharga, tarif bunga, nilai nominal, dan nama yang tercantum di dalamnya. Lakukan Rekonsiliasi Antara Surat Berharga yang Dihitung dengan Hasil Konfirmasi dan Jumlah yang Duhasilkan di Neraca. Untuk membuktikan keberadaan investasi yang disajikan di neraca, informasi hasil perhitungan dan pengamatan fisik terhadap serrifikat investasi dan jawaban konfirmasi dari pemegang sertifikat investasi klien diccocokkan dengan jumlah investasi yang dicantumkan di neraca. Lakukan inspeksi dan pemeriksaan terhadap polis asuransi surat berharga Jika klien memiliki sertifikat surat berharga dalam jumlah yang banyak, biasanya klien menuntut asuransi ungtuk melindungi dari resiko pencurian. Polis asuransi yang disimpan klien dapat memberikan informasi mengenai hak milik klien atas surat berharga yang dicantunkan di neraca. Minta konfirmasi mengenai surat berharga yang dijadikan jaminan penarikan utang Prosedur pemeriksaan ini telah ditempuh oleh auditor pad saat auditor melakukan pemeriksaan terhadap kas. Dalam pemeriksaan terhadap kas, auditor mengirim surat konfirmasi bank. Dari jwaban konfirmasi bank tersebut, auditor dapat mengetahui jenis, tarif deviden atau bunga, dan nominal surat berharga yang dijaminkan dalam surat penarikan utang. Bandingkan metode penilaian investasi yang digunakan oleh klien dengan prinsip akuntansi diterima umum Menurut prinsip akuntansi diterima umum, investasi harus disajikan di neraca dengan cara tertentu seperti disebutkan di atas. Auditor membandingkan metode penilaian investasi yang digunakan oleh klien dengan metode yang sesuai dengan prinsip akuntansi diterima umum. Bandingkan nilai investasi dengan harga pasar surat berharga Saldo investasi dicantumkan di neraca pada nilai yang lebih rendah antara harga pasar surat berharga pada tanggal neraca dengan kosnya. Untuk memverifikasi penilaian klien terhadap investasi jangka pendeknya, auditor membansingkan nilai pasar dengan kos surat berharga. 5. Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan

Periksa klasifikasi surat berharga sebagai investasi sementara dan investasi jangka panjang

Untuk memverifikasi penyajian investasi di neraca, auditor melakukan wawancara dengan direktur keuangan mengenai kebijakan investasi sementara yang diperoleh auditor dari notulen rapat pemegang saham dan direksi, auditor dapat menentukan apakah klien telah menyajikan investasinya dalam kelompok aktiva yang seharusnya. Periksa investasi jangka panjang mengenai kemungkinan sebagai alat pengendalian perusahaan lain Jika investasi dalam perusahaan lain dimaksudkan untuk mengendalikan perusahaan tersebut, klien harus menyajikan investasi jangka panjang ini menurut salah satu metode berikut ini : equity method atau pulling of interest method. PENYELESAIAN AUDIT Langkah akhir suatu proses pemeriksaan auditor adalah penerbitan laporan audit. Untuk itu auditor menyusun laporan keuangan auditan (audited financial statement), penjelasan laporan keuangan (notes to financial statement), dan pernyataan pendapat auditor. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh auditor dalam penyelesaian audit ini yaitu: 1. Penelaahan terhadap adanya kewajiban-kewajiban bersyarat (contingent liabilities); 2. Penelaahan transaksi-transaksi setelah tanggal neraca (subsequent event); 3. Penemuan kemudian fakta-fakta yang terdapat pada tanggal laporan auditor; 4. Pengikhtisaran dan menarik kesimpulan-kesimpulan; 5. Penelaahan pengungkapan-pengungkapan laporan keuangan; 6. Informasi biaya pengganti yang tidak diaudit; 7. Surat representasi manajement (client representation letter); 8. Penelaahan kertas kerja. Tanggung jawab auditor untuk menelaah peristiwa kemudian biasanya dibatasi untuk periode yang diawali tanggal neraca dan berakhir pada tanggal laporan audit. Karena tanggal laporan audit berhubungan dengan penyelesaian prosedur auditing yang penting di kantor klien, penelaahan peristiwa kemudian seharusnya diselesaikan mendekati akhir penugasan. Peristiwa kemudian yang perlu dijelaskan di dalam laporan audit adalah: 1. Jumlah yang material; 2. Merupakan peristiwa yang penting dan bersifat luar biasa; 3. Terjadi pada periode sejak tanggal neraca sampai dengan tanggal selesainya pekerjaan lapangan. MENELAAH KEJADIAN SESUDAHNYA (SUBSEQUENT EVENTS) 1. Jenis Peristiwa Kemudian Terdapat dua jenis peristiwa kemudian yang memerlukan pertimbangan manajemen dan evaluasi auditor yaitu: a. peristiwa kemudian yang mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan auditan, sehingga auditor berkewajiban mengusulkan adjustment terhadap laporan keuangan tersebut terhadap klien; b. peristiwa kemudian yang tidak mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan auditan, tetapi memerlukan komentar dalam bentuk catatan kaki di dalam laporan keuangan klien atau komentar di dalam laporan audit. 2. Pengujian Audit a. Prosedur yang biasanya dipadukan sebagai bagian dari verifikasi atas saldo perkiraan akhir tahun; b. Prosedur yang dilaksanakan khusus dengan tujuan menemukan transaksi atau peristiwa yang harus diakui sebagi peristiwa kemudian.

3. Tanggal Ganda (Dual Dating) Terkadang auditor menemukan bahwa peristiwa kemudian yang penting terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai tetapi sebelum laporan audit diterbitkan. informasi tersebut berasal dari manajemen atau pers. PERISTIWA YANG MEMPUNYAI DAMPAK LANGSUNG TERHADAP LAPORAN KEUANGAN DAN MEMERLUKAN PENYESUAIAN Peristiwa atau transaksi ini memberikan tambahan informasi kepada manajemen dalam menentukan penilaian saldo akun saat tanggal neraca dan bagi auditor dalam verifikasi saldo. Misalkan, apabila auditor mendapatkan kesulitan dalam menentukan penilaian yang benar atas persediaan akibat keusangan, penjualan persediaan bahan baku sisa dalam periode berikut akan dimasukkan dalam catatan akuntansi sebagai nilai terbawa (carrying value) persediaan pada tanggal neraca. Contoh peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap penyajian laporan keuangan klien adalah: 1. Pengumuman kebangkrutan debitur klien karena terjadinya kesulitan keuangan debitur tersebut, yang jumlah piutangnya kepada debitur tersebut melebihi jumlah cadangan kerugian piutang yang telah dibentuk klien; 2. Penyelesaian perkara pengadilan yang jumlahnya berbeda dengan jumlah yang telah dicatat di dalam buku klien; 3. Penjualan ekuipment yang sudah tidak dipakai lagi dalam kegiatan usaha klien, dengan harga di bawah nilai bukunya kini; 4. Penjualan surat berharga pada harga yang lebih rendah daripada kos yang dicatat di dalam buku klien. Apabila peristiwa setelah tanggal neraca digunakan untuk mengevaluasi jumlah yang terdapat dalam laporan keuangan, kecermatan harus diambil untuk membedakan antara kondisi yang sudah ada pada tanggal neraca dan yang terjadi setelah tanggal neraca. Informasi peristiwa setelah tanggal neraca seharusnya tidak langsung dimasukkan ke dalam laporan keuangan apabila kondisi yang menyebabkan perubahan penilaian tersebut tidak terjadi sampai setelah tanggal neraca. Misalkan, penjualan barang sisa dalam periode berikutnya tidak relevan dalam penilaian persediaan untuk keusangan apabila terjadi setelah tanggal neraca. PERISTIWA YANG TIDAK MEMPUNYAI DAMPAK LANGSUNG TERHADAP LAPORAN KEUANGAN TETAPI DIPERLUKAN PENGUNGKAPAN Peristiwa setelah tanggal neraca jenis ini memberikan bahan bukti atas kondisi yang tidak terjadi pada tanggal neraca yang dilaporkan tetapi sangat signifikan sehingga diperlukan pengungkapan meskipun tidak diperlukan penyesuaian. Biasanya, peristiwa ini dapat secara cukup diungkapkan dengan menggunakan catatan kaki, tetapi kadang-kadang sangat signifikan sehingga memerlukan pelengkap laporan keuangan historis berupa laporan yang memperhitungkan dampak peristiwa tersebut seolah-olah telah terjadi pada tanggal neraca. Berikut ini adalah contoh peristiwa atau transaksi setelah tanggal neraca yang memerlukan pengungkapan tetapi tidak memerlukan penyesuaian dalam laporan keuangan: 1. Penurunan dalam nilai pasar efek-efek yang disimpan sebagai investasi sementara atau penjualan kembali efek-efek; 2. Penerbitan obligasi atau efek-efek ekuitas; 3. Penurunan nilai pasar persediaan sebagai konsekuensi tindakan pemerintah yang menghalangi penjualan barang; 4. Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat kebakaran. PROSEDUR AUDIT

Prosedur audit untuk menelaah peristiwa setelah tanggal neraca dibagi menjadi dua kategori, yaitu: 1. Prosedur yang biasanya dipadukan sebagai bagian dari verifikasi saldo akun akhir tahun; Prosedur ini meliputi pengujian pisah batas (cut off) dan penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari pengujian terinci atas saldo. Misalkan, penjualan dan pembelian periode setelah tanggal neraca diperiksa untuk menentukan apakah batas (cut off) sudah akurat. 2. Prosedur yang dilaksanakan secara khusus dengan tujuan menemukan transaksi atau peristiwa yang harus diakui sebagai peristiwa setelah tanggal neraca. Prosedur ini dilaksanakan secara khusus dengan tujuan mendapatkan informasi yang harus dimasukkan ke dalam saldo akun tahun berjalan atau diungkapkan dengan catatan kaki. Prosedur pengujian ini biasanya terdiri dari tanya jawab dengan manajemen, korespondensi dengan pengacara, menelaah laporan intern yang disiapkan setelah tanggal neraca, menelaah catatan yang disiapkan setelah tanggal neraca, memeriksa notulen yang disiapkan setelah tanggal neraca, dan mendapatkan surat pernyataan. Kadang-kadang auditor menemukan bahwa peristiwa setelah tanggal neraca yang penting terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai, tetapi sebelum laporan audit diterbitkan. Dalam situasi tersebut, PSA 43 (SA 530) mewajibkan auditor untuk memperluas pengujian audit atas peristiwa setelah tanggal neraca terbaru yang terungkap untuk meyakinkan bahwa klien telah secara benar mengungkapkannya. Auditor mempunyai dua pilihan yang sama-sama dapat diterima untuk memperluas pengujian atas peristiwa setelah tanggal neraca yaitu dengan memperluas periode dari seluruh pengujian atas peristiwa setelah tanggal neraca sampai tanggal di saat auditor puas bahwa peristiwa setelah tanggal neraca terbaru yang ditetapkan telah dinyatakan dengan benar, atau membatasi penelaahan kepada hal yang berkaitan dengan peristiwa setelah tanggal neraca yang baru. Untuk pilihan pertama, tanggal laporan audit akan diubah, sedangkan untuk pilihan kedua laporan audit akan ditanggali ganda. PENEMUAN KEMUDIAN FAKTA YANG ADA PADA TANGGAL LAPORAN AUDITOR 01 Prosedur yang dijelaskan dalam Seksi ini harus diikuti oleh auditor yang setelah tanggal laporan auditor atas laporan keuangan auditan, menyadari tentang fakta yang mungkin telah ada pada tanggal laporan auditor, yang mungkin berdampak terhadap laporannya, jika fakta tersebut diketahuinya pada waktu itu. 02 Karena beragamnya kondisi yang mungkin dihadapi oleh auditor, maka prosedur-prosedur berikut ini ditetapkan dalam garis besar saja; tindakan khusus yang harus diambil oleh auditor dalam kasus tertentu dapat sedikit bervariasi tergantung atas keadaan yang dihadapinya. Auditor disarankan meminta nasihat dari penasihat hukumnya bila ia menemukan keadaanyang dicakup dalam Seksi ini, karena adanya implikasi hukum yang mungkin timbul dari tindakan-tindakan auditor, misalnya kemungkinan adanya implikasi hukum sehubungan dengan ketentuan kerahasiaan dalam komunikasi antara auditor dengan kliennya. TANGGUNG JAWAB AUDITOR 03Setelah auditor menerbitkan laporannya, ia tidak berkewajiban untuk meminta keterangan lebih lanjut atau melaksanakan prosedur audit apa pun berkenaan dengan laporan keuangan auditan yang dicakup oleh laporannya, kecuali jika ia mendapatkan informasi baru yang dapat berdampak terhadap laporannya. Di samping itu, Seksi ini tidak berlaku untuk situasi yang timbul dari perkembangan atau peristiwa yang terjadi setelah tanggal laporan auditor. Seksi ini juga tidak berlaku untuk penyelesaian kontijensi dan masalah lain yang terjadi

setelah penerbitan laporan auditor, yang telah diungkapkan dalam laporan keuangan dan untuk hal-hal yang telah mengakibatkan penyimpangan dari laporan auditor bentuk baku. PROSEDUR AUDIT Bila auditor menyadari adanya informasi yang bersangkutan dengan laporankeuangan yang sebelumnya telah dilaporkannya, namun tidak diketahuinya pada tanggal laporan auditnya, yang karena sifat dan sumber informasi tersebut mengharuskan auditor menyelidiki informasi tersebut, jika hal itu diketahuinya selama pelaksanaan audit, segera sepanjang praktis dilakukan, ia harus menentukan apakah informasi tersebut andal dan apakah fakta tersebut ada pada tanggal laporan auditnya. Dalam hubungan ini, auditor harus membicarakan masalah ini dengan kliennya pada tingkatan manajemen yang semestinya, termasuk dewan komisaris, dan meminta kerja sama mereka dalam penyelidikan apapun yang dianggap perlu. Bila informasi yang ditemukan kemudian ternyata andal dan ada pada tanggal laporan audit, auditor harus mengambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam paragraf berikut ini, jika sifat dan dampak masalah tersebut sedemikian rupa sehingga (a) laporan auditor akan terpengaruh jika informasi tersebut diketahui pada tanggal laporan auditnya dan belum dicerminkan dalam laporan keuangan, dan (b) auditor yakin ada orang yang sekarang mengandalkan atau kemungkinan besar mengandalkan laporan keuangan tersebut memandang penting terhadap informasi tersebut. Sehubungan dengan (b), pertimbangan harus dilakukan, di antaranya, waktu yang telah lewat sejak laporan keuangan diterbitkan. LANGKAH PENGUNGKAPAN OLEH KLIEN Jika auditor berkesimpulan, setelah mempertimbangkan (a) dan (b) dalam paragraf 05, tindakan harus diambil oleh auditor untuk mencegah peletakan kepercayaan di masa yang akan datang terhadap laporan auditnya, ia harus memberi tahu kepada kliennya untuk membuat pengungkapan semestinya tentang informasi baru yang ditemukan dan dampaknya terhadap laporan keuangan kepada orang yang sekarang mengandalkan atau kemungkinan besar mengandalkan laporan keuangan dan laporan auditor yang bersangkutan. Jika klien membuat pengungkapan semestinya, metode yang digunakan dan pengungkapan yang dilakukan tergantung atas keadaan berikut ini: a.Jika dampak informasi yang ditemukan kemudian terhadap laporan keuangan dan laporan auditor dapat ditentukan segera, pengungkapan harus berupa penerbitan, sesegera mun laporan keuangan dan laporan audit yang telah direvisi. Alasan revisi biasanya harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan dan diacu dalam laporan audit. Umumnya, hanya laporan keuangan auditan paling akhir yang memerlukan revisi, meskipun revisi tersebut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam tahun-tahun sebelumnya. b.Jika penerbitan laporan keuangan yang disertai dengan laporan auditor untuk periode kemudian akan segera dilakukan, sehingga pengungkapan tidak tertunda, Penemuan Kemudian Fakta yang Ada padaTanggal Laporan Auditor semestinya tentang revisi dapat dilakukan dalam laporan tersebut, bukan dengan menerbitkan kembali laporan sebelumnya sesuai dengan subparagraf (a). c.Jika dampak informasi yang ditemukan kemudian atas laporan keuangan tidak dapat ditentukan tanpa penyelidikan yang memakan lama, penerbitan laporan keuangan dan laporan audit yang direvisi perlu ditunda. Dalam keadaan ini, pengungkapan semestinya akan berupa pemberitahuan oleh klien kepada orang- orang yang diketahui meletakkan atau kemungkinan besar meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan dan laporan auditoryangbersangkutanuntuk tidak mengandalkan laporan keuangan yang bersangkutan,

dan bahwa revisi laporan keuangan dan laporan auditor akan diterbitkan dengan selesainya penyelidikan. Jika berlaku, klien harus disarankan untuk membicarakan dengan Bapepam, bursa, dan badan pengatur lainnya, mengenai pengungkapan yang dilakukan dan cara-cara yang ditempuh dalam menghadapi keadaan tersebut. LANGKAH YANG DITEMPUH OLEH AUDITOR Auditor harus melaksanakan langkah apa pun yang dipandang perlu untukmemuaskannya bahwa Mien telah melakukan pengungkapan yang ditetapkan dalam paragraf 06. Jika Mien menolak untuk melakukan pengungkapan yang disebutkan dalam paragraf 06, auditor harus memberitahu setiap anggota dewan komisaris dan/atau komite audit mengenai penolakan tersebut dan kenyataan bahwa, dengan tidak adanya pengungkapan tersebut oleh klien, auditor akan menempuh langkah sebagaimana digariskan berikut ini untuk mencegah pengguna laporan meletakkan kepercayaan terhadap laporan auditnya di masa yang akan datang. Langkah-langkah yang semestinya diambil oleh auditor tergantung atas tingkat kepastian pengetahuan auditor tentang adanya orang-orang yang sekarang atau yang akan meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan dan laporan audit, dan yang memandang penting informasi tersebut, serta tingkat kepraktisan bagi auditor untuk dapat berkomunikasi dengan mereka. Kecuali jika penasihat hukum auditor memberikan rekomendasi lain, auditor harus mengambil langkah berikut ini sepanjang dapat berlaku: a.Pemberitahuan kepada klien bahwa laporan auditor harus tidak lagi dihubungkan dengan laporan keuangan. b.Pemberitahuan kepada badan pengatur yang memiliki jurisdiksi atas klien bahwa laporan auditor tidak lagi dapat diandalkan. c.Pemberitahuan kepada setiap orang yang diketahui oleh auditor meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan bahwa laporan auditnya tidak lagi dapat diandalkan. Umumnya, tidak praktis bagi auditor untuk mengirimkan pemberitahuan individual kepada pemegang saham atau investor yang jumlahnya banyak, yang biasanya identitas mereka tidak diketahui oleh auditor. Pemberitahuan tersebut harus disertai dengan permintaan bahwa badan tersebut melakukan langkah apa pun yang dipandang tepat untuk melakukan pengungkapan yang diperlukan. Bagi perusahaan-perusahaan yang berada di bawah jurisdiksi Bapepam dan bursa efek pemberitahuan melalui lembaga tersebut merupakan cara yang tepat. PENGUNGKAPAN Panduan berikut ini harus dianut oleh auditor dalam menentukan isi pengungkapan yang ditujukan kepada pihak selain klien, sesuai dengan yang digariskan dalam paragraf 08. a.Jika auditor telah dapat melakukan penyelidikan yang memuaskan terhadap informasi dan telah menentukan bahwa informasi tersebut andal: (1) Pengungkapan harus menjelaskan dampak informasi yang diperoleh kemudian terhadap laporan auditor jika informasi tersebut telah diketahui oleh auditor pada tanggal laporan auditnya dan tidak dicerminkan dalam laporan keuangan. Pengungkapan harus termasuk penjelasan tentang sifat informasi yang diperoleh kemudian dan dampaknya terhadap laporan keuangan. (2) Informasi yang diungkapkan harus setepat dan senyata mungkin dan harus tidak melampaui dari yang dipandang perlu untuk tujuan yang disebutkan dalam subparagraf (1)di atas. Komentar terhadap perilaku atau motivasi seseorang harus dihindarkan. b.Jika klien tidak mau bekerja sama dan sebagai akibatnya auditor tidak dapat melakukan penyelidikan yang memuaskan terhadap informasi tersebut, pengungkapan auditor tidak perlu merinci informasi khusus tertentu, namun hanya menunjukkan bahwa informasi tersebut telah diketahui oleh auditor yang kliennya tidak memberikan kerja sama dalam menguatkan

informasi tersebut dan bahwa, jika informasi tersebut benar, auditor percaya bahwa laporan auditnya harus tidak lagi dapat diandalkan atau dihubungkan dengan laporan keuangan kliennya. Pengungkapan tidak perlu dilakukan kecuali jika auditor percaya bahwa laporan keuangan kemungkinan menyesatkan dan laporan auditnya tidak dapat diandalkan. 10 Pengertian dalam Seksi ini tidak terbatas hanya untuk korporasi, namun dapat diterapkan dalam semua keadaan yang di dalamnya laporan keuangan telah diaudit dan dilaporkan oleh auditor. TANGGAL BERLAKU EFEKTIF Seksi ini berlaku efektif tanggal 1 Agustus 2001. Penerapan lebih awal dari tanggal efektif berlakunya aturan dalam Seksi ini diizinkan. Masa transisi ditetapkan mulai dari 1 Agustus 2001sampai dengan 31 Desember 2001. Dalam masa transisi tersebut berlaku standar yang terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan Standat Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001. Setelah tanggal 31 Menelaah Kewajiban Bersyarat dan Komitmen Kewajiban bersyarat adalah kemungkinan potensi kewajiban di masa mendatang kepada pihak ketiga untuk jumlah yang tidak diketahui sebagai akibat aktivitas yang telah terjadi. Kondisi yang menyebabkan adanya kewajiban bersyarat : 1. Terdapat potensi pembayaran di masa datang kepada pihak ketiga yang diakibatkan kondisi yang ada. 2. Terdapat ketidakpastian atas jumlah pembayaran di masa datang 3. Hasil tertentu akan ditentukan oleh peristiwa atau kejadian di masa datang. Terdapat kewajiban-kewajiban bersyarat tertentu yang menjadi perhatian utama auditor, yaitu: 1. Perkara hukum yang tertunda atas pelanggaran paten, kewajiban produk atau tindakan lain. 2. Perselisihan pajak penghasilan. 3. Garansi produk. 4. Wesel tagih yang didiskontokan. 5. Garansi atas kewajiban pihak lain. 6. Saldo yang belum digunakan dalam letters of credit yang masih beredar a) Prosedur audit untuk menemukan kewajiban bersyarat Berikut ini adalah beberapa prosedur audit yang umum digunakan, untuk mencari kewajiban bersyarat, yaitu: danya kemungkinan kewajiban bersyarat yang belum dicatat. perselisihan atas pajak penghasilan. anya indikasi tuntutan atau kewajiban lain penasihat hukum atas adanya indikasi kewajiban bersyarat. us tuntutan hukum yang tertunda atau kewajiban bersyarat lainnya. bersyarat lainnya. atas saldo yang digunakan maupun yang belum digunakan.

a) Evaluasi kewajiban bersyarat yang diketahui Kalau auditor menyimpulkan bahwa terdapat kewajiban bersyarat, dia harus mengevaluasi signifikansi potensi kewajiban dan sifat pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangan. Potensi kewajiban dalam beberapa kasus yang lain, pengungkapan mungkin tidak diperlukan kalau hal bersyarat itu sangat rendah atau tidak material. b) Prosedur Audit untuk menemukan komitmen Penelitian untuk mencari komitmen yang belum diketahui biasanya dilakukan sebagai bagian dari audit atas masing-masing area audit. Misalkan, dalam melakukan verifikasi penjualan, auditor seharusnya waspada atas adanya komitmen penjualan. Auditor seharusnya waspada atas adanya kemungkinan komitmen sewaktu membaca kontrak atau arsip korenspondensi, dan tanya jawab harus dilakukan ke manajemen. Permintaan Keterangan ke pengacara Klien Prosedur utama yang diandalkan auditor untuk mengungkapkan tuntutan hukum yang diketahui atau klaim lain terhadap klien dan mengidentifikasi klaim tambahan yaitu tanya jawab dengan pengacara klien. Auditor mengandalkan keahlian dan pengetahuan pengacara mengenai masalah hukum guna memberikan pendapatan profesional atas hasil tuntutan hukum yang diharapkan dan kemungkinan jumlah kewajiban termasuk biaya sidang. Pengacara juga mungkin mengetahui tuntutan dan kliam yang tertunda bahwa manajemen mungkin mengabaikannya. Sesuai dengan praktek umum, banyak kantor akuntan publik menganalisa biaya hukum untuk sepanjang tahun dan mengirimkan surat tanya-jawab standar ke seluruh pengacara yang terlibat dengan klien dalam tahun berjalan atau tahun lalu, ditambah pengacara yang terlibat dengan klien dalam tahun berjalan atau tahun lalu, ditambah pengacara kantor akuntan public itu sendiri. Surat tanya jawab standar ke pengacara klien, yang harus disusun dalam kop surat klien dan ditanda tangani salah satu pejabat perusahaan. Harus mencakup informasi berikut: untut atau tidak atau tidak dituntut dengan mana pengacara terlibat secara mendalam. setiap pos yang ada didalam pos itu. an hukum yang tertunda atau ancaman yang didaftarkan atau pernyataan bahwa daftar klien itu lengkap. memberitahu manajemen masalah hukum yang mengharuskan adanya pengungkapan dalam laporan keuangan dan menanggapi langsung auditor. Pengacara dalam tahun berjalan dapat menjadi enggan untuk menyediakan informasi tertentu ke auditor karena mereka dapat terjerat kekewajiban hukum karena menyediakan informasi yang salah atau informasi rahasia. Sifat dari penolakan pengacara untuk memberi auditor lengkap mengenai kewajiban hukum dibagi menjadi dua kategori: penolakan akibat tidak adanya pengetahuan mengenai hal yang melibatkan kewajiban bersyarat dan penolakan untuk mengungkapakan informasi karena dipertimbangkan sebagai informasi yang rahasia. Kalau pengacara menolak untuk memberikan auditor dengan informasi mengenai tuntutan hukum yang material ( klaim yang sudah didaftarkan ) atau klaim yang didaftarkan, maka auditor harus memmodifikasi laporan audit supaya mencerminkan kurangnya bukti yang tersedia. Persyaratan tersebut dalam SAS 12 ( AU 337 ) memiliki pengaruh yang mengharuskan manajemen untuk memberikan izin kepada pengacaranya menyediakan informasi kewajiban bersyarat kepada auditor dan guna mendorong pengacara bekerjasama dengan auditor dalam memperoleh informasi mengenai yang bersyarat.

Jenis-Jenis Peristiwa Kemudian 1. Peristiwa kemudian yang mempunyai dampak langsung pada laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian. Peristiwa atau transaksi ini memberikan tambahan informasi ke manajemen dalam menentukan penilaian saldo akun saat tanggal neraca dan ke auditor dalam verifikasi saldo. Peristiwa periode kemudian semacam yang berikut ini memerlukan penyesuaian atas akun saldo di dalam laporan keuangan tahun berjalan jika jumlahnya material: a. Pengumuman bangkrut oleh pelanggan yang mempunyai saldo piutang usaha yang beredar sehingga mempengaruhi kondisi laporan keuangan. b. Penyelesaian perkara hukum dengan jumlah yang berbeda dari jumlah yang dibukukan dalam buku. c. Pengaktifan aktiva peralatan yang tidak digunakan dalam operasi menurut tingakat harga di bawah nilai buku saat ini. d. Penjualan investasi menurut harga di bawah harga perolehan yang dibukukan. 2. Peristiwa kemudian yang tidak berdampak langsung pada laporan keuangan tetapi pengungkapannya dianjurkan. Peristiwa kemudian jenis ini memberikan bahan bukti atas kondisi yang tidak terjadi pada tanggal neraca yang dilaporkan tetapi sangat signifikan sehingga diperlukan pengungkapan meskipun tidak diperlukan penyesuaian. Biasanya peristiwa ini cukup diungkapkan dengan menggunakan catatan kaki, tetapi kadang sangat signifikan sehingga memerlukan suplemen laporan keuangan historis berupa laporan yang memperhitungkan dampak peristiwa tersebut seolaholah telah terjadi pada tanggal neraca. Contohnya: a. Penurunan nilai pasar surat berharga yang disimpan sebagai investasi sementara atau penjualan kembali suarat berharga. b. Penerbitan obligasi atau surat berharga lainnya. c. Penurunan nilai pasar persediaan sebagai konsekuensi tindakan pemerintah yang menghalangi penjualan barang. d. Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat kebakaran. e. Merger atau akuisisi. A. Tes Audit Prosedur audit untuk penelaahan peristiwa kemudian dapat dibagi menjadi dua kategori: 1. Prosedur yang biasanya dipadukan sebagai bagian dari verifikasi saldo akun akhir tahun. Kategori ini meliputi pengujian pisah batas dan penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari pengujian terinci atas saldo. 2. Prosedur yang dilaksanakan secara khusus dengan tujuan menemukan transaksi atau peristiwa yang harus diakui sebagai peristiwa kemudian. Kategori pengujian kedua dilaksanakan secara khusus dengan tujuan mendapatkan informasi yang harus dimasukkan ke dalam saldo akun tahun berjalan atau diungkapkan dengan catatan kaki. Pengujianpengujian tersebut adalah sebagai berikut: a. Permintaan keterangan ke manajemen. b. Korespondensi dengan pengacara. c. Menelaah laporan intern yang disiapkan setelah tanggal neraca. d. Menelaah catatan pembukuan yang disiapkan setelah tanggal neraca. e. Memriksa notulen yang diterbitkan setelah tanggal neraca. f. Mendapatkan surat representasi.

A. Tanggal Ganda SAS 1 (AU 530) mewajibkan auditor untuk memperluas pengujian audit atas peristiwa kemudian terbaru yang terungkap untuk meyakinkan bahwa klien telah secara benar mengungkapkannya. Auditor mempunyai dua pilihan yang sama yang dapat diterima untuk memperluas pengujian atas peristiwa kemudian, yaitu memperluas periode dari seluruh pengujian atas periistiwa kemudian sampai tanggal di mana auditor puas bahwa peristiwa kemudian terbaru yang ditetapkan telah dinyatakan dengan benar, atau membatasi penelaahan ke hal yang berkaitan dengan peristiwa kemudian yang baru. Untuk opsi pertama tanggal laporan audit akan diubah sehingga mutakhir. Untuk opsi kedua laporan audit akan diberikan tanggal ganda, yang berarti laporan audit melibatkan dua tanggal. Tanggal pertama adalah tanggal penyelesaian kerja lapangan yang tidak mencakup kekecualian tertentu. Tanggal kedua, yang terjadi kemudian, membahas kekecualian itu. Pengumpulan Bahan Bukti Akhir Selain penelaahan peristiwa kemudian, auditor mempunyai beberapa tanggung jawab pengumpulan bahan bukti audit akhir yang dapat diterapkan ke semua siklus. Lima jenis pengumpulan bahan bukti audit akhir ini meliputi: 1. Melaksanakan lima prosedur analitik. 2. Mengevaluasi asumsi going concern. 3. Mendapatkan surat representasi manajemen. 4. Mempertimbangkan informasi yang menyertai laporan keuangan dasar. 5. Membaca informasi lain dalam laporan tahunan. Prosedur analitik adalah salah satu jenis bahan bukti yang terpenting untuk menaksir kelangsungan hidup. Diskusi dengan manajemen dan penelaahan rencana masa depan merupakan pertimbangan penting dalam mengevaluasi prosedur analitik. SAS 85 (AU333) mewajibkan auditor untuk memperoleh surat representasi yang mendokumentasikan reprentasi lisan yang terpenting dari manajemen selama audit. Surat representasi klien disiapkan pada kop surat klien, ditujukan ke kantor akuntan public, dan ditandatangani oleh pejabat tinggi perusahaan biasanya presiden direktur dan direktur keuangan. Tujuan surat representasi klien : 1. Mengingatkan manajemen akan tanggung jawabnya mengenai asersi dalam laporan keuangan. Misalnya, kalau surat representasi meliputi acuan ke aktiva yang digadaikan dan kewajiban bersyarat, manajemen yang jujur akan diingatkan atas kelalaian yang tidak disengaja untuk mengungkapkan informasi secara cukup. Untuk memenuhi tujuan ini, surat representasi seharusnya cukup rinci sebagai pengingat ke manajemen. 2. Mendokumentasikan tanggapan manajemen atas pernyataan mengenai berbagai aspek audit. Ini memberikan dokumentasi tertulis atas pernyataan manajemen dalam peristiwa ketidak sepakatan atau tuntutan hukum antara klien dan auditor. Karena lebih formal daripada komunikasi lisan, maka surat representasi juga membantu mengurangi salah pengertian antara manajemen dan auditor. SAS 85 menyarankan empat kategori masalah tertentu yang seharusnya dimasukkan. Empat kategori ini meliputi : 1. Laporan Keuangan Pengakuan manajemen mengenai tanggung jawabnya untuk menyajikan secara wajar laporan keuangan mengenai posisi keuangan, hasil operasi, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan itu disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 2. Kelengkapan Informasi

Kelengkapan dan ketersediaan semua notulen rapat umum pemegang saham, notulen rapat direktur, dan komite direktur. Ketiadaan transaksi yang tidak dibukukan. 3. Pengakuan, Pengukuran, dan Pengungkapan Keyakinan manajemen bahwa pengaruh dari salah saji laporan keuangan yang tidak dikoreksi adalah tidak material terhadap laporan keuangan. 1)Manajemen, 2) pegawai yang mempunyai peran yang signifikan dalam pengendalian intern, 3) lain-lain dimana kecurangan dapat mempunyai pengaruh material pada laporan keuangan. dari atau hutang ke pihak terkait. Klaim yang tidak dituntut atau penilaian bahwa konsultan hukum perusahaan telah menyarankan kemungkinan asersi dan harus diungkapkan sesuai dengan FASB statement No.5, Accounting for Contingencies. Kepemilikan aktiva gadai atau rintangan atas aktiva yang memuaskan, dan penempatan aktiva sebagai jaminan. garuhi laporan keuangan. 4. Peristiwa Kemudian Kebangkrutan pelanggan utama dengan akun piutang dagang yang masih belum dibayar pada tanggal neraca. keuangan dasar, meliputi : Laporan komparatif terinci yang mendukung keseluruhan pengendalian atas laporan keuangan utama atas akun-akun seperti harga pokok penjualan, beban operasi, dan aktiva rupa-rupa. Tambahan informasi yang diwajibkan oleh FASB dan SEC. Data statistik untuk tahun lalu dalam bentuk rasio dan tren. Skedul pertanggungan asuransi. Komentar tertentu atas perubahan yang terjadi di dalam laporan. Mengevaluasi Hasil Evaluasi akhir atas kecukupan bahan bukti adalah berupa penelaahan oleh auditor atas seluruh audit untuk menentukan apakah seluruh aspek penting telah cukup diuji setelah memepertimbangkan situasi penugasan. Langkah utama dalam proses ini adalah penelaahan program audit untuk meyakinkan bahwa seluruh bagian telah secara akurat diselesaikan dan didokumentasikan dan bahwa seluruh tujuan audit telah dipenuhi. Bagian penting dari penelaahan ini adalah untuk memutuskan program audit yang memadai setelah memepertimbangkan bidang permasalahan yang terungkap saat audit berlangsung. Alat bantu yang digunakan dalam menarik kesimpulan tentang kecukupan bahan audit, auditor dapat menggunakan daftar penyelesaian penugasan. Jika audit menyimpulkan bahwa bahan kecukupan bahan bukti tidak diperoleh guna menarik kesimpulan mengenai kewajaran representasi klien, ada dua pilihan yaitu tambahan bahan bukti harus diperoleh atau memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pernyataan menolak pendapat. Ketika auditor menemukan salah saji yang material, nreraca saldo harus disesuaikan untuk mengkoreksi laporan keuangan. Selain salah saji yang material seringkali terdapat salah saji

yang tidak material ditemukan yang tidak disesuaiakan pada saat ditemukan. Oleh karena itu perlu untuk menggabungkan masing-masing salah saji yang tidak material untuk mengevaluasi apakah jumlah yang digabungkan material. Metode penggabungan yang sering digunakan oleh auditor adalah skedul audit salah-saji yang tidak disesuaikan (ikhtisar salah saji yang mungkin). Jika auditor percaya bahwa terdapat kecukupan bahan bukti tetapi tidak menjamin kesimpulan mengenai penyajian laporan keuangan yang wajar, auditor sekali lagi mempunyai dua pilihan : laporan harus direvisi hingga auditor puas atau memberikan pendapat wajar tanpa syarat atau menolak untuk memberikan pendapat harus diterbitkan Pertimbangan utama dalam menyelesaikan audit adalah menentukan apakah pengungkapan dalam laporan keuangan telah mencukupi. Penekanan pada kebanyakan pemeriksaan adalah pada verifikasi akurasi saldo pada buku besar dengan menguji akun yang paling penting dalam neraca saldo. Tugas penting lainnya adalah memastikan bahwa saldo akun pada neraca saldo dijumlah dengan benar keseluruhannya dan diungkapkan pada laporan keuangan. Dalam mengaudit, auditor bertindak sebagai penasihat saat menyiapkan laporan keuangan dan manajemen tetap memikul tanggung jawab akhir untuk menyetujui penerbitan laporan keuangan. Tiga alasan utama mengapa kertas kerja atau dokumentasi audit penting secara menyeluruh ditelaah oleh anggota lain dari kantor akuntan public pada saat penyelesaian audit : 1. Untuk mengevaluasi pelaksanaan atau kinerja staf yang belum berpengalaman. 2. Untuk memastikan bahwa audit memenuhi standar pelaksanaan kantor akuntan publik. 3. Untuk menetralkan bias yang seringakli masuk ke dalam pertimbangan auditor. Menerbitkan Laporan Audit Auditor jangan mengambil keputusan mengenai laporan audit yang layak untuk diterbitkan hingga semua bahan bukti dikumpulkan dan dievaluasi. Dalam kebanyakan audit auditor menerbitkan lapiran dengan wajar tanpa syarat (unqualified opinion). Komunikasi dengan Komite audit dan Manajemen Unsur utama yang harus dikomunikasikan ke komite audit atau badan sejenis berdasarkan SAS 6 adalah : 1. wab auditor berdasarkan standar audit yang berlaku umum, meliputi tanggung jawab untuk mengevaluasi struktur pengendalian intern. 2. -pokok kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan ke dalam laporan keuangan. 3. ng signifikan yang ditemukan sepanjang audit. 4. Pertimbangan auditor mengenai kualitas, akseptabilitas, dan prinsipprinsip klien. 5. Ketidaksepakatan dengan manajemen mengenai lingkup audit. 6. Kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam pelaksanaan audit. 7. Topik signifikan yang dibahas dengan manajemen yang berkaitan dengan penerapan prinsip akuntansi dan standar audit. 8. Tanggung jawab auditor atas informasi lainnya. Surat-surat ke manajemen (management letter) dimaksudkan untuk memberitahu karyawan klien rekomendasi akuntan publik dalam rangka memperbaiki usaha klien yang berisi saran untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien. Penemuan Fakta Yang Berikut Auditor memepunyai kewajiban untuk memastikan bahwa pengguna yang mengandalkan laporan laporan keuangan itu diberitahukan mengenai salah saji. Jika auditor mengetahui

salah saji sebelum laporan audit diterbitkan , auditor akan memaksa agar manajemen mengoreksi salah saji atau alternatifnya laporan audit akan yang berbeda akan diterbitkan. Hal ini disebut penemuan fakta kemudian (subsequent discovery of facts). Pendekatan yang paling disukai untuk diikuti sewaktu auditor menemukan laporan keuangan yang menyesatkan adalah meminta klien merevisi segera laporan keuangan yang berisi penjelasan. Klien harus memberitahukan ke SEC dan badan pengatur lainnya mengenai laporan keuangan yang menyesatkan. Auditor bertanggung jawab untuk memastikan bahwa klien mengambil langkah yang tepat dalam memberitahu pengguna bahwa laporan keuangan itu menyesatkan. Jika klien menolak untuk bekerja sama dalam mengungkapkan informasi yang salah saji, auditor harus memberitahu dewan direktur, lembaga perundangan-undangan yang mempunyai yurisdiksi atas kilen, dan setiap orang yang mengandalkan laporan keuangan tersebut bahwa laporan tersebut tidak lagi dapat dipercaya. Penelaahan atas Peristiwa Kemudian dan Penemuan Fakta Kemudian Gambar di atas memperlihatkan mengenai periode yang tercakup oleh penelaahan atas peristiwa kemudian dan mengenai penemuan fakta setelah tanggal laporan audit. Jika auditor menemukan fakta kemudian setelah tanggal laporan audit tetapi sebelum laporan keuangan diterbitkan maka auditor meminta klien agar laporan keuangan direvisi sebelum diterbitkan. Tanggung jawab auditor untuk periode tanggal 11 Maret 2003 sampai dengan 26 Maret 2003 adalah sama dengan untuk periode 26 Maret 2003. Jika peristiwa kemudian ditemukan dalam periode ini maka salah satu dari dua pilihan yang telah dibahas pada topik tanggal berganda (dual dating) harus dipenuhi. DISCLAIMER ATAS LAPORAN AUDITOR BERKAITAN DENGAN GOING CONCERN PERUSAHAAN Kapan auditor menerbitkan laporan auditor yang tidak menyatakan pendapat (disclaimer opinion) yang terkait dengan ketidakpastian atas kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama jangka waktu pantas ? IPSA No. 30.02 tentang Pertimbangan Auditor atas Kemampuan Entitas dalam Mempertahankan Kelangsungan Hidupnya: Interpretasi atas PSA No. 30 yang diterbitkan pada tanggal 6 Maret 2009 dalam para. 09 memberikan pedoman sebagai berikut : Auditor menerbitkan laporan auditor yang tidak menyatakan pendapat yang terkait dengan ketidakpastian atas kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama jangka waktu pantas ketika kedua kondisi di bawah ini terjadi : Terdapat demikian banyaknya (pervasive) dan signifikannya dampak yang potensial terhadap laporan keuangan yang disebabkan oleh beberapa ketidakpastian yang material yang terkait dengan kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama jangka waktu pantas; dan Terdapat kemungkinan yang besar (imminent) bahwa penyelesaian dari ketidakpastian yang terkait dengan kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama jangka waktu pantas berpotensi menghasilkan penyelesaian yang tidak menguntungkan (unfavorable outcome), sehingga laporan keuangan secara keseluruhan menjadi tidak berarti. Lebih lanjut, IPSA No. 30.02 tersebut juga menjelaskan bahwa : Diterbitkannya laporan auditor yang tidak menyatakan pendapat yang terkait dengan ketidakpastian atas kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama jangka waktu pantas tidak mengurangi tanggung jawab auditor untuk melaksanakan audit secara menyeluruh dan seksama. Jika terjadi juga penyimpangan terhadap prinsip

akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, auditor juga harus menjelaskan penyimpangan tersebut dalam suatu paragraf tambahan yang dicantumkan setelah paragraf lingkup. Adapun paragraf ini menjelaskan bahwa walaupun auditor sudah memutuskan untuk memberikan opini disclaimer atas laporan keuangan perusahaan berkaitan dengan masalah kelangsungan hidup (going concern), namun auditor tetap harus melanjutkan pemeriksaannya dan menerapkan prosedur-prosedur pemeriksaan yang diperlukan atas laporan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Jika pada saat pemeriksaan auditor menemukan masalahmasalah lain yang berkaitan dengan penyimpangan dari PSAK maka di samping masalah going concern, auditor juga harus mendisclose masalah penyimpangan dari PSAK tersebut dalam paragraf tambahan di opini auditor yang akan diterbitkannya. Mengingat demikian penting dan signifikannya hal-hal tersebut di atas, auditor harus mempertimbangkan secara saksama semua hal yang terkait dengan kondisi dikeluarkannya laporan auditor yang tidak menyatakan pendapat, terutama yang berkaitan dengan ketidakpastian atas kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama jangka waktu pantas, berdasarkan standar profesi yang berlaku, sebelum menerbitkan laporan auditor yang tidak menyatakan pendapat. Menurut PSA No. 30, yang dimaksud dengan jangka waktu pantas seperti yang tercantum dalam pernyataan-pernyataan di atas adalah suatu periode yang tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit. Laporan Auditor Independen - Bentuk Baku Pada tahap akhir penugasannya, Auditor harus menerbitkan Audit Report (Laporan Auditor). Berdasarkan bentuknya Audit Report ada 2 jenis: (1) Laporan Auditor Bentuk Baku (2) Laporan Auditor modifikasi dari Laporan Auditor Bentuk Baku (dapat berupa modifikasi kata atau penambahan explanatory paragraph). Tidak ada kondisi yang memerlukan paragraf penjelas (explanatory paragraph) atau modifikasi kalimat (modified wording) dalam laporan Opini yang diberikan ada 4 macam: (1) Unqualified, (2) qualified, (3) adverse, dan (4) disclaimer of opinion. Laporan bentuk baku dengan unqualified opinion digunakan apabila terdapat keadaan berikut: 1. Seluruh (empat) basic financial statements tercakup dalam laporan keuangan yang diaudit 2. Ketiga Standar Umum telah dilaksanakan secara sepenuhnya. 3. Bukti audit yang memadai telah dikumpulkan dan ketiga Standar Pekerjaan 4. Lapangan telah dilaksanakan oleh Auditor Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan SAK/GAAP dan dilaksanakan secara konsisten. 5. Tidak ada kondisi yang memerlukan paragraf penjelas (explanatory paragraph) atau modifikasi kalimat (modified wording) dalam laporan 1.Pengaitan Nama Auditor Dengan Laporan Keuangan

Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan jika ia mengizinkan namanya dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan tersebut. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, ia juga dianggap berkaitan dengan laporan keuangan tersebut, meskipun ia tidak mencantumkan namanya dalam laporan tersebut. Meskipun akuntan dapat berpartisipasi dalam penyusutan laporan keuangan, laporan keuangan merupakan representasi manajemen, dan kewajaran penyajiannya sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia merupakan tanggung jawab manajemen. Akuntan dapat dikaitkan dengan laporan keuangan auditan atau yang tidak diaudit. Laporan keuangan disebut telah diaudit bila akuntan telah menerapkan prosedur auditing yang cukup untuk memungkinkannya menyatakan pendapat atau laporan tersebut. Laporan keuangan (informasi keuangan) interim entitas publik yang tidak diaudit disebut sebagai di-review bila akuntan menerapkan prosedur yang memungkinkannya untuk menyatakan pendapat atas laporan (informasi) tersebut. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat Atas Laporan Keuangan Yang Tidak Diaudit Jika seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan suatu entitas publik, namun belum mengaudit atau me-review laporan tersebut, bentuk laporan yang diterbitkan oleh akuntan tersebut adalah sebagai berikut: Pernyataan tidak memberikan pendapat merupakan cara yang digunakan oleh akuntan untuk mematuhi standar pelaporan keempat yang alam hal ini nama akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan yang tidak diaudit. Pernyataan tidak memberikan pendapat dapat dilampirkan pada laporan keuangan yang tidak diaudit atau dimasukkan ke dalam laporan keuangan tersebut. Sebagai tambahan, setiap halaman laporan keuangan tersebut harus secara jelas diberi tanda tidak diaudit. Bila akuntan menerbitkan bentuk pernyataan tidak memberikan pendapat semacam ini, ia tidak bertanggung jawab untuk melaksanakan prosedur apa pun selain hanya membaca laporan keuangan tersebut untuk menemukan salah saji material yang nyata. Jika akuntan menyadari bahwa dimasukkan dalam komunikasi tertulis suatu entitas publik yang disusun oleh klien yang berisi laporan keuangan yang tidak diaudit atau direview, ia harus meminta bahwa namanya tidak dimasukkan dalam komunikasi tersebut, bahwa laporan keuangan diberi tanda sebagai tidak diaudit dan terdapat catatan bahwa ia tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan tersebut.Jika klien tidak mematuhi permintaan tersebut, akuntan harus menasihati kliennya bahwa ia tidak mengizinkan penggunaan namanya dan harus mempertimbangkan tindakan lain yang mungkin sesuai. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat Atas Laporan Keuangan Yang Tidak Diaudit Yang Disusun Berdasarkan Basis Akuntansi Komprehensif Jika akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan entitas publik yang tidak diaudit yang disusun berdasarkan basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, maka pendapat atas laporan keuangan tersebut dapat berbunyi seperti berikut ini[Pihak yang dituju oleh auditor] 2. Bentuk Baku Laporan Auditor atas Laporan Keuangan Laporan auditor bentuk baku memuat suatu pernyataan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan suatu entitas, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Kesimpulan ini

dibuat hanya bilamana auditor telah merumuskan pendapat demikian berdasarkan suatu audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing. Berikut adalah berbagai tipe pendapat auditor: a. Pendapat wajar tanpa pengecualian. b. Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. c. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku. d. Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf e. penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya. f. Pendapat wajar dengan pengecualian. g. Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. h. Pendapat tidak wajar. i. Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. j. Pernyataan tidak memberikan pendapat. k. Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakah bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. l. Laporan auditor bentuk baku harus menyebutkan laporan keuangan auditan dalam paragraf pengantar, menggambarkan sifat audit dalam paragraf lingkup audit, dan menyatakan pendapat auditor dalam paragraf pendapat. Unsur pokok laporan auditor bentuk baku adalah sebagai berikut: m. Suatu judul yang memuat kata independen. n. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan yang disebutkan dalam laporan auditor o. telah diaudit oleh auditor. p. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan dan tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan atas auditnya. q. Suatu pernyataan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang r. ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. s. Suatu pernyataan bahwa standar auditing tersebut mengharuskan auditor merencanakan dan melaksanakan auditnya agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. t. Suatu pernyataan bahwa audit meliputi: (1) Pemeriksaan(examination), atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. (2) Penentuan prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi-estimasi signifikan yang dibuat manajemen. (3)Penilaian penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. u. Suatu pernyataan bahwa auditor yakin bahwa audit yang dilaksanakan memberikan dasar memadai untuk memberikan pendapat. v. Suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan pada tanggal neraca dan hasil usaha dan arus kas untuk periode yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Laporan auditor dapat dialamatkan kepada direksi perusahaan yang laporan keuangannya diaudit, dewan komisaris, dan/atau para pemegang saham. Laporan auditor atas laporan keuangan perusahaan yang tidak berbentuk perseroan terbatas harus dialamatkan sesuai dengan keadaannya, misalnya dialamatkan kepada para anggota persekutuan atau kepada pemilik. Kadang-kadang auditor diminta untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan yang bukan kliennya. Dalam hal ini biasanya laporan dialamatkan kepada klien sebagai pemberi tugas dan bukan kepada direksi perusahaan atau para pemegang saham yang laporan keuangannya diaudit oleh auditor. w. Laporan auditor bentuk baku yang meliputi satu periode akuntansi disajikan sebagai berikut: x. Laporan Auditor Independen Laporan Audit Bentuk Baku 1.Pengaitan Nama Auditor Dengan Laporan Keuangan Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan jika ia mengizinkan namanya dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan tersebut. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, ia juga dianggap berkaitan dengan laporan keuangan tersebut, meskipun ia tidak mencantumkan namanya dalam laporan tersebut. Meskipun akuntan dapat berpartisipasi dalam penyusutan laporan keuangan, laporan keuangan merupakan representasi manajemen, dan kewajaran penyajiannya sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia merupakan tanggung jawab manajemen. Akuntan dapat dikaitkan dengan laporan keuangan auditan atau yang tidak diaudit. Laporan keuangan disebut telah diaudit bila akuntan telah menerapkan prosedur auditing yang cukup untuk memungkinkannya menyatakan pendapat atau laporan tersebut. Laporan keuangan (informasi keuangan) interim entitas publik yang tidak diaudit disebut sebagai di-review bila akuntan menerapkan prosedur yang memungkinkannya untuk menyatakan pendapat atas laporan (informasi) tersebut. JASA ATESTASI Atestasi adalah adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan Tipe perikatan atestasi: Examination (Pemeriksaan) jasa atestasi dari KAP berupa sebuah pernyataan tertulis yang menyatakan apakah asersi yang dibuat secara keseluruhan telah sesuai dengan kriteria yang terlah ditetapkan. Review jasa atestasi dari KAP yang memberikan keyakinan negatif (negative assurance), yang menyatakan apakah informasi yang diperoleh telah menunjukkan bahwa asersi tersebut tidak disajikan, dalam segala hal yang material, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan atau yang telah dinyatakan. Agreed-upon procedures (prosedur yang disepakati) jasa atestasi terhadap asersi manajemen atas prosedur-prosedur yang akan dilaksanakan Jasa Atestasi Asersi adalah pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang secara implisit dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain (pihak ketiga). Untuk laporan keuangan historis, asersi merupakan pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi

berterima umum (Generally Accepted Accounting Principles). Jasa atestasi profesi akuntan publik dapat dibagi lebih lanjut menjadi 4 jenis : 1. Auditing Jasa auditing mencakup pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Akuntan Publik yang memberikan jasa auditing disebut dengan istilah auditor. Atas dasar audit yang dilaksanakan terhadap laporan keuangan historis suatu entitas, auditor menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan usaha entitas sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum. Dalam menghasilkan jasa auditing ini, auditor memberikan keyakinan positif (positive assurance) atas asersi yang dibuat oleh manajemen dalam laporan keuangan historis. Keyakinan (assurance) menunjukkan tingkat kepastian yang dicapai dan ini disampaikan oleh auditor bahwa kesimpulannya yang dinyatakan dalam laporannya adalah benar. Tingkat keyakinan yang dapat dicapai oleh auditor ditentukan oleh hasil pengumpulan bukti. Semakin banyak jumlah bukti kompeten dan relevan yang dikumpulkan, semakin tinggi tingkat keyakinan yang dicapai oleh auditor. Jasa ini merupakan jasa profesi akuntan publik yang paling dikenal dalam masyarakat dan seringkali disebut sebagai jasa tradisional profesi akuntan publik. 2. Pemeriksaan ( Examination ) Istilah pemeriksaan digunakan untuk jasa lain yang dihasilkan oleh akuntan publik yang berupa pernyataan pendapat tentang kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh instansi pemerintah atau badan pengatur. Dalam menghasilkan jasa pemeriksaan Akuntan Publik memberikan keyakinan positif atas asersi yang dibuat oleh manajemen. Pemeriksaan yang dilakukan oleh profesi akuntan publik terhadap laporan keuangan historis disebut dengan istilah auditing, dan akuntan publik yang menghasilkan jasa auditing disebut dengan istilah auditor. Pemeriksaan oleh profesi akuntan publik selain terhadap laporan keuangan historis, seperti misalnya terhadap informasi keuangan prospektif, disebut dengan istilah pemeriksaan, dan akuntan publik yang menghasilkan jasa pemeriksaan semacam ini disebut praktisi. Dengan demikian istilah auditing dan auditor khusus digunakan jika jasa profesi akuntan publik berkaitan dengan atestasi atas asersi terkandung dalam laporan keuangan historis. 3. Review Jasa review terutama berupa permintaan keterangan dan prosedur analitis terhadap informasi keuangan suatu entitas dengan tujuan untuk memberikan keyakinan negatif atas asersi yang terkandung dalam informasi keuangan tersebut. Keyakinan negatif lebih rendah tingkatnya dibandingkan dengan keyakinan positif yang diberikan oleh akuntan publik dalam jasa auditing dan jasa pemeriksaan, karena lingkup prosedur yang digunakan oleh akuntan publik dalam mengumpulkan bukti lebih sempit dalam jasa review dibandingkan dengan yang digunakan dalam jasa auditing dan jasa pemeriksaan. Dalam menghasilkan jasa auditing dan pemeriksaan, akuntan publik melaksanakan berbagai prosedur berikut ini : inspeksi, observasi, konfirmasi, permintaan keterangan, pengusutan (tracing), dan analisis. Dengan hanya dua prosedur (permintaan keterangan dan prosedur analitis) yang dilaksanakan dalam jasa review, akuntan publik memberikan keyakinan negatif atas asersi yang dibuat oleh manajemen, sehingga tingkat keyakinan yang diberikan oleh akuntan dalam laporan hasil review lebih rendah dibandingkan dengan tingkat yang diberikan dalam jasa auditing dan jasa pemeriksaan. 4. Prosedur yang disepakati ( Agreed Upon Procedure )

Jasa atestasi atas asersi manajemen dapat dilaksanakan oleh akuntan publik berdasarkan prosedur yang disepakati antara klien-klien dengan akuntan publik. Lingkup pekerjaan yang dilaksanakan oleh akuntan publik dalam menghasilkan jasa atestasi dengan prosedur yang disepakati lebih sempit dibandingkan dengan auditing dan pemeriksaan. Sebagai contoh, klien dan akuntan publik dapat bersepakat bahwa prosedur tertentu akan diterapkan semua unsur laporan keuangan. Untuk tipe jasa ini, akuntan publik dapat menerbitkan suatu ringkasan temuan atau suatu keyakinan negatif seperti yang dihasilkan dalam jasa review. Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi: pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures). Salah satu tipe pemeriksaan adalah audit alas laporan keuangan historis yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini diatur berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Tipe pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif, diatur berdasarkan pedoman yang lebih bersifat umum dalam standar atestasi yang diuraikan dalam Seksi ini. Asersi (assertion) adalah suatu deklarasi, atau suatu rangkaian deklarasi secara keseluruhan, oleh pihak yang bertanggung jawab atas deklarasi tersebut. Jadi, asersi adalah pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang secara implisit dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain (pihak ketiga). Untuk laporan keuangan historis, asersi merupakan pernyataan dalam laporan keuangan oleh manajemen sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Suatu perikatan atestasi2 adalah perikatan yang di dalamnya praktisi mengadakan perikatan untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu simpulan tentang keandalan asersi3 tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain. Bila seorang akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik (selanjutnya disebut sebagai praktisi) melaksanakan suatu perikatan atestasi, I sebagaimana didefinisikan berikut ini, perikatan tersebut diatur dengan standar atestasi dan pernyataan serta interpretasi pernyataan yang berkaitan dengan standar tersebut. Risiko atestasi adalah risiko bahwa praktisi secara tidak diketahuinya gagal untuk melakukan modifikasi semestinya terhadap laporannya atas asersi yang secara material berisi salah saji. Risiko atestasi terdiri atas (a) risiko (yang terdiri dari risiko bawaan dan risiko pengendalian) bahwa asersi berisi kekeliruan yang mungkin material dan (b) risiko bahwa praktisi akan tidak dapat mendeteksi kekeliruan tersebut (risiko deteksi). Kertas kerja adalah catatan yang disimpan oleh praktisi tentang pekerjaan yang dilaksanakan, informasi yang diperoleh, dan simpulan penting yang dibuat dalam perikatan. Contoh kertas kerja adalah program kerja, analisis, memorandum, surat konfirmasi dan surat representasi, ringkasan dokumen entitas, skedul atau komentar yang dibuat atau diperoleh praktisi. Kertas kerja juga dapat berbentuk data yang disimpan dalam pita magnetik, film, atau media yang lain. Kertas kerja adalah milik praktisi. Namun, hak kepemilikan praktisi atas kertas kerja dibatasi oleh Kode Erik Ikatan Akuntan Indonesia dan Aturan Erika Kompartemen Akuntan Publik yang berkaitan dengan kerahasiaan informasi yang diperoleh praktisi dari kliennya.

STANDAR ATESTASI Standar Umum 1.Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang me-miliki keahlian dan pelatihan teknis cukup dalam fungsi atestasi. 2.Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki pengetahuan cukup dalam bidang yang bersangkutan dgn asersi. 3.Praktisi harus melaksanakan perikatan hanya jika ia memiliki alasan untuk meyakinkan dirinya bahwa dua kondisi berikut ini ada: Asersi dapat dinilai dengan kriteria rasional, baik yang telah ditetapkan oleh badan yang diakui atau yang dinyatakan dalam penyajian asersi tersebut dengan cara cukup jelas dan komprehensif bagi pembaca yang diketahui mampu memahaminya Asersi tersebut dapat diestimasi atau diukur secara konsisten dan rasional dengan menggunakan kriteria tersebut. 4.Dalam semua hal yang bersangkutan dengan perikatan, sikap mental independen harus dipertahankan oleh praktisi. 5.Kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh praktisi dalam melaksanakan perikatan, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaksanaan perikatan tersebut. Standar Pekerjaan Lapangan 1.Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten, harus disupervisi dengan semestinya. 2.Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan yang dinyatakan dalam laporan Standar Pelaporan 1.Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan. 2.Laporan harus menyatakan simpul-an praktisi mengenai apakah asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur. SAT SEKSI 200 PROYEKSI DAN PRAKIRAAN KEUANGAN Seksi ini menetapkan standar dan memberikan panduan bagi akuntan mengenai pelaksanaan dan pelaporan untuk perikatan pemeriksaan, kompilasi, atau penerapan prosedur yang disepakati terhadap laporan keuangan prospektif. Prakiraan keuangan adalah laporan keuangan prospektif yang menyajikan, sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas yang diharapkan dari suatu entitas. Proyeksi keuangan adalah laporan keuangan prospektif yang menyajikan, sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab, atas dasar satu atau lebih asumsi

hipotetis, posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan yang diharapkan dari suatu entitas Tujuan informasi keuangan proforma adalah untuk memperlihatkan dampak signifikan transaksi (atau peristiwa) yang diselesaikan atau diusulkan terjadi pada tanggal sebelumnya terhadap laporan keuangan historis. Meskipun transaksi tersebut dapat berupa transaksi yang bersifat prospektif, Seksi ini tidak berlaku atas penyajian semacam itu karena pada dasarnya penyajian tersebut merupakan laporan keuangan historis dan berisi laporan keuangan prospektif. Lihat SAT Seksi 300 [PSAT No. 03] Pelaporan Informasi Keuangan Proforma. Kompilasi laporan keuangan prospektif merupakan jasa profesional yang mencakup: a.Merakit, menurut kebutuhan, laporan keuangan prospektif berdasarkan asumsi pihak yang bertanggung jawab. b.Melaksanakan prosedur kompilasi yang diharuskan5, termasuk membaca laporan keuangan prospektif beserta ikhtisar asumsi dan kebijakan akuntansi pokok serta mempertimbangkan apakah laporan keuangan tersebut (i) disajikan sesuai dengan panduan dalam Pernyataan ini dan (ii) tidak secara nyata tidak tepat. c.Menerbitkan laporan kompilasi. Standar berikut ini berlaku pada kompilasi suatu laporan keuangan prospektif dan laporan yang dihasilkannya: a.Kompilasi harus dilakukan oleh mereka yang mempunyai pendidikan teknis dan kecakapan cukup dalam mengkompilasi laporan keuangan prospektif. b.Kemahiran profesional harus dilaksanakan dengan cermat dan seksama dalam melakukan kompilasi dan penyusunan laporan. c.Pelaksanaan harus direncanakan secara matang, dan tenaga asisten, jika ada, harus disupervisi secara memadai. d.Prosedur kompilasi yang dapat diterapkan harus dilaksanakan sebagai dasar pelaporan atas laporan keuangan prospektif yang dikompilasi (lihat Lampiran B untuk prosedur yang harus dilakukan). e.Laporan yang didasarkan atas kompilasi laporan keuangan prospektif oleh akuntan harus sesuai dengan panduan yang dicantumkan dalam paragraf 16 sampai dengan 26 Seksi ini. SAT SEKSI 300 PELAPORAN INFORMASI KEUANGAN PROFORMA Seksi ini memberikan panduan bagi akuntan yang mengadakan perikatan untuk memeriksa atau me-review dan melaporkan informasi keuangan proforma. Perikatan ini harus dilaksanakan berdasarkan standar umum dan standar pekerjaan lapangan yang ditetapkan dalam SAT Seksi 100 [PSAT No. 07] StandarAtestasi, dan standar pelaksanaan dan pelaporan khusus yang dirumuskan dalam Seksi ini. Tujuan penyajian informasi keuangan proforma adalah untuk memperlihatkan dampak signifikan transaksi (atau peristiwa) yang diselesaikan atau diusulkan terjadi pada tanggal sebelumnya terhadap laporan keuangan historis. Informasi keuangan proforma umumnya digunakan untuk memperlihatkan dampak transaksi-transaksi seperti berikut ini: 1. Penggabungan usaha. 2. Perubahan permodalan. 3.Penghentian bagian bisnis yang signifikan. 4.Perubahan dalam bentuk organisasi atau status sebagai entitas yang memiliki otonomi. 5.Penjualan yang diusulkan atas sekuritas dan penggunaan hasilnya. Akuntan dapat menyepakati untuk melaporkan pemeriksaan atau review atas informasi keuangan proforma jika kondisi berikut ini dipenuhi:

a.Dokumen yang berisi informasi keuangan proforma mencakup (atau disatukan dengan cara mengacu) laporan keuangan lengkap entitas untuk tahun yang paling akhir (atau untuk tahun yang sebelumnya jika laporan keuangan yang paling akhir belum tersedia) dan, jika informasi keuangan proforma disajikan untuk periode interim, dokumen tersebut juga mencakup (atau disatukan dengan cara mengacu) informasi keuangan interim historis untuk periode tersebut (yang dapat disajikan dalam bentuk ringkasan). b.Laporan keuangan historis entitas (atau, dalam hal penggabungan usaha, bagian signifikan entitas yang bergabung) yang dipakai sebagai dasar informasi keuangan proforma, telah diaudit atau direview. c.Akuntan yang melaporkan informasi keuangan proforma harus memiliki tingkat pengetahuan memadai tentang praktik akuntansi dan pelaporan bagian signifikan entitas yang bergabung. Tujuan prosedur pemeriksaan akuntan yang diterapkan terhadap informasi keuangan proforma adalah untuk memberikan keyakinan memadai apakah: a.Asumsi manajemen memberikan dasar yang masuk akal untuk menyajikan dampak langsung signifikan yang disebabkan oleh transaksi (atau peristiwa) yang bersangkutan. b.Penyesuaian proforma mencerminkan dampak semestinya asumsi tersebut. c.Kolom proforma mencerminkan penerapan semestinya penyesuaian tersebut KOMPILASI DAN REVIEW ATAS LAPORAN KEUANGAN Seksi ini mendefinisikan kompilasi laporan keuangan dan review atas laporan keuangan entitas nonpublik dan memberikan panduan bagi akuntan mengenai standar dan prosedur yang digunakan untuk perikatan tersebut. Akuntan harus menerbitkan laporan setelah ia menyelesaikan suatu perikatan kompilasi atau review suatu laporan keuangan entitas nonpublik sesuai dengan ketentuan dalam Seksi ini. Akuntan tidak boleh menerbitkan laporan apa pun atas laporan keuangan entitas nonpublik yang tidak diauditnya atau menyampaikan laporan keuangan seperti itu kepada kliennya atau pihak lain, jika ia tidak mematuhi pedoman dalam Seksi ini. Seksi ini mengakui bahwa akuntan dapat memberikan jasa akuntansi lain, baik yang berhubungan dengan kompilasi maupun review suatu laporan keuangan atau suatu jasa yang terpisah. Seksi ini membedakan pemberian jasa semacam itu dengan jasa kompilasi dan jasa review suatu laporan keuangan. Seksi ini tidak menetapkan standar dan prosedur untuk jasa akuntansi lain berikut ini: a.Menyusun daftar saldo (trial balance). b.Memberikan bantuan dalam penyelesaian buku besar c.Memberikan jasa konsultansi dalam bidang akuntansi, perpajakan, dan jasa lain yang sejenis. d.Mengisi surat pemberitahuan pajak tahunan (SPT) pajak penghasilan. e.Memberikan berbagai jasa pembukuan atau pengolahan data secara manual atau dengan menggunakan mesin pembukuan/komputer sepanjang hasil akhirnya bukan merupakan laporan keuangan f.Mengolah data keuangan untuk klien kantor akuntan lain. Kompilasi laporan keuangan. Penyajian dalam bentuk laporan keuangan, informasi yang merupakan pernyataan manajemen (pemilik) tanpa usaha untuk memberikan pernyataan

suatu keyakinan apa pun terhadap laporan tersebut. (Akuntan mungkin memandang perlu untuk melakukan jasa akuntansi lainnya agar memungkinkan ia melakukan kompilasi laporan keuangan. Lihat paragraf 11). Review atas laporan keuangan. Pelaksanaan prosedur permintaan keterangan dan analisis yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan untuk memberikan keyakinan terbatas, bahwa tidak terdapat modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar Laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, atau sesuai dengan basis akuntansi komprehensif yang lain. (Akuntan mungkin memandang perlu untuk melakukan kompilasi laporan keuangan atau melakukan jasa akuntansi lain agar memungkinkan ia melakukan suatu review. Lihat paragraf 28). Tujuan review sangat berbeda dengan tujuan kompilasi. Hasil review yang dilaksanakan melalui prosedur permintaan keterangan dan analisis harus menjadi dasar memadai bagi akuntan untuk memberikan keyakinan terbatas, bahwa tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan; sedangkan dalam suatu kompilasi, akuntan tidak memberikan keyakinan seperti itu. Tujuan review juga sangat berbeda dengan tujuan audit atas laporan keuangan yang dilaksanakan sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Tujuan audit adalah untuk memberikan dasar memadai untuk menyatakan suatu pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan. Review tidak memberikan dasar untuk menyatakan pendapat seperti itu, karena dalam review tidak mencakup pemerolehan suatu pemahaman atas pengendalian intern, penetapan risiko pengendalian, pengujian catatan akuntansi dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan dengan cara pemerolehan bahan bukti yang menguatkan melalui inspeksi, pengamatan, atau konfirmasi, dan prosedur tertentu lainnya yang biasa dilaksanakan dalam suatu audit. Review dapat menjadikan perhatian akuntan tertuju kepada hal-hal penting yang mempengaruhi laporan keuangan, namun tidak memberikan keyakinan bahwa akuntan akan mengetahui semua hal penting yang akan terungkap melalui suatu audit. Pelaporan Akuntan Mengenai Hasil Review atas Laporan Keuangan Laporan keuangan yang di-review oleh akuntan harus disertai dengan laporan akuntan yang menyatakan bahwa: a.Review dilaksanakan sesuai dengan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. b.Semua informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen (atau pemilik) entitas tersebut. c.Review terutama mencakup permintaan keterangan kepada para pejabat penting perusahaan dan prosedur analitik yang diterapkan terhadap data keuangan. d.Lingkup review jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang tujuannya untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan, dan dengan demikian tidak dinyatakan pendapat semacam itu dalam suatu review. e.Akuntan tidak mengetahui adanya suatu modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, selain dari perubahan, jika ada, yang telah diungkapkan dalam laporan akuntan.

Prosedur lain yang mungkin telah dilaksanakan akuntan sebelum atau selama perikatan review, termasuk yang dilaksanakan dalam hubungannya dengan kompilasi laporan keuangan, tidak boleh diungkapkan dalam laporan akuntan LAPORAN KOMPILASI ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG DIMASUKKAN DALAM FORMULIR TERTENTU Persyaratan SAR Seksi 100 [PSAR No. 01] Kompilasi dan Review atas Laporan Keuangan dan SAR Seksi 200 [PSAR No. 02] Pelaporan atas Laporan Keuangan Komparatif berlaku bila laporan keuangan tidak diaudit suatu entitas nonpublik dimasukkan ke dalam suatu formulir tertentu. Seksi ini mengubah SAR Seksi 100 [PSAR No. 01] dan SAR Seksi 200 [PSAR No. 02] untuk memberikan panduan tentang bentuk alternatif laporan kompilasi baku bila formulir tertentu atau instruksi yang berkaitan menuntut penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dengan secara khusus menyebutkan suatu prinsip pengukuran yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau tidak mensyaratkan pengungkapan yang diharuskan oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.1 Seksi ini juga memberikan panduan tambahan yang berlaku untuk laporan atas laporan keuangan yang dimasukkan ke dalam formulir tertentu. Untuk tujuan Seksi ini, suatu formulir tertentu adalah formulir baku yang telah dicetak sebelumnya (preprinted form) yang didesain atau diberlakukan oleh badan yang kepadanya formulir tersebut harus diserahkan. Sebagai contoh adalah formulir yang digunakan oleh asosiasi industri perdagangan, lembaga kredit, bank, dan badan pemerintah, badan pengatur selain yang berkaitan dengan penjualan atau perdagangan sekuritas. Suatu formulir yang didesain atau diberlakukan oleh entitas yang laporan keuangannya harus dikompilasi tidak dipandang sebagai suatu formulir tertentu. Istilah laporan keuangan dan entitas nonpublik didefinisikan dalam paragraf 4 SAR Seksi 100 [PSAR No. 01] Kompilasi dan Review atas Laporan Keuangan. Jika akuntan menjadi tahu tentang penyimpangan dari persyaratan formulir tertentu atau perintah yang bersangkutan, ia harus mempertimbangkan bahwa penyimpangan tersebut sama dengan suatu penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dalam menentukan dampaknya terhadap laporannya. Akuntan dilarang menandatangani suatu formulir laporan yang telah dicetak sebelumnya yang tidak sesuai dengan panduan dalam Seksi ini atau SAR Seksi 100 [PSAR No. 01] Kompilasi dan Review atas Laporan Keuangan. Dalam situasi semacam ini, akuntan harus menambahkan laporan semestinya terhadap formulir tertentu tersebut. AUDIT ATAS PENETAPAN HARGA DAN KOMPILASI Pengujian kompilasi persediaan (inventory compilation test) mencakup semua pengujian ikhtisar kuantitas fisik, perkalian harga dengan kuantitas, penjumlahan ikhtisar persediaan, dan penelusuran total ke buku besar. Audit atas penetapan harga dan kompilasi terdiri dari :

Pengendalian Penetapan Harga dan Kompilasi Keberadan struktur pengendalian intern yang memadai untuk biaya per unit yang terintegrasi dengan produksi dan catatan akuntansi lain, penting untuk menyakinkan bahwa tingkat biaya yang memadai telah digunakan untuk menilai persediaan akhir. Satu pengendalian intern yang penting adalah penggunaan catatan biaya standar (standard cost record), yang menunjukkan penyimpangan dalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead serta dapat digunakan untuk mengevaluasi produksi. Prosedur penetapan Harga dan Kompilasi Kerangka acuan untuk menerapkan tujuan audit adalah daftar persediaan yang didapat dari klien yang mencantumkan deskripsi, jumlah, harga per unit, dan nilai perkalian dari tiap jenis persediaan. Daftar persediaan terdiri dari deskripsi jenis persediaan dengan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi disusun terpisah. Jumlahnya sama dengan angka pada buku besar. Penilaian Persediaan Dalam melakukan pengujian harga, tiga hal penting mengenai metode penetapan harga klien : Metode tersebut harus sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum Penerapannya konsisten dari tahun ke tahun Harus mempertimbangkan antara nilai pasar dan nilai pengganti (replacement cost). REVIEW JASA KONSULTASI STANDAR JASA KONSULTASI Merupakan panduan bagi praktisi (akuntan publik) yang menyediakan jasa konsultansi bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Dalam jasa konsultansi, para praktisi menyajikan temuan, kesimpulan dan rekomendasi. Sifat dan lingkup pekerjaan jasa konsultansi ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dengan kliennya. Umumnya, pekerjaan jasa konsultansi dilaksanakan untuk kepentingan klien. Jasa konsultansi dapat berupa: Konsultasi (consultation) memberikan konsultasi atau saran profesional (profesional advise) berdasarkan pada kesepakatan bersama dengan klien. Contoh jenis jasa ini adalah review dan komentar terhadap rencana bisnis buatan klien Jasa pemberian saran profesional (advisory services) - mengembangkan temuan, kesimpulan, dan rekomendasi untuk dipertimbangkan dan diputuskan oleh klien. Contoh jenis jasa ini adalah pemberian bantuan dalam proses perencanaan strategik Jasa implementasi - mewujudkan rencana kegiatan menjadi kenyataan. Sumber daya dan personel klien digabung dengan sumber daya dan personel praktisi untuk mencapai tujuan implementasi. Contoh jenis jasa ini adalah penyediaan jasa instalasi sistem komputer dan jasa pendukung yang berkaitan. Jasa transaksi - menyediakan jasa yang berhubungan dengan beberapa transaksi khusus klien yang umumnya dengan pihak ketiga. Contoh jenis jasa adalah jasa pengurusan kepailitan. Jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainnya - menyediakan staf yang memadai (dalam hal kompetensi dan jumlah) dan kemungkinan jasa pendukung lain untuk melaksanakan tugas yang ditentukan oleh klien. Staf tersebut akan bekerja di bawah pengarahan klien sepanjang keadaan mengharuskan demikian. Contoh jenis jasa ini adalah menajemen fasilitas pemrosesan data Jasa produk - menyediakan bagi klien suatu produk dan jasa profesional sebagai pendukung atas instalasi, penggunaan, atau pemeliharaan produk tertentu. Contoh jenis jasa

ini adalah penjualan dan penyerahan paket program pelatihan, penjualan dan implementasi perangkat lunak computer JASA INTERNAL AUDIT Internal Audit merupakan suatu departemen yang berada di dalam struktur organisasi perusahaan, peran internal audit sendiri ialah untuk membantu tercapainya tujuan perusahaan, menambah nilai untuk kemajuan perusahaan dan mencari, mencegah, atau mengatasi atas fraud yang terjadi pada perusahaan. Internal Audit sendiri walaupun berada di dalam struktur organisasi perusahaan harus bersikap independen dalam menjalankan tugasnya. Di indonesia peran Internal Audit pada perusahaan yang telah listing di bursa efek semakin berkembang dalam rangka menciptakan budaya dan kinerja perusahaan yang baik. Namun di setiap perusahaan peran dan tanggung jawab internal audit berbeda-beda, perusahaan yang mempunyai kompleksitas yang tinggi atas transaksinya, atau core bisnis dari perusahaan tersebut dapat menentukan tingkat peran dan tanggung jawab internal audit pada suatu perusahaan. Internal Audit pada waktu lampau diperankan sebagai watchdog, namun pada saat ini internal audit diperankan sebagai internal consultant bagi manajemen. Namun perusahaan jarang memiliki fungsi audit internal disebabkan berbagai macam alasan. Ruang lingkup internal audit tidak lagi sebatas pada aspek operasional dan keuangan, namun meliputi juga legal, sumberdaya manusia, environment, dan aspek-aspek lain. Internal audit melakukan assesment terhadap efektivitas kebijakan strategis manajemen hingga efektivitas dan efisiensi teknis operasional. Pengembangan Audit Internal Perusahaan Melakukan assessment terhadap kinerja perusahaan berikut rekomendasinya (seperti efektivitas organisasi , pendekatan dan metodologi audit, kapabilitas dan performance staff auditor), pengembangan sistem dan prosedur audit, pengembangan job descriptions, training dan workshop. Jasa audit internal Melaksanakan fungsi internal audit perusahaan, mulai dari perencanaan, fieldwork, hingga report dan evaluasi tindak lanjut hasil audit.Meliputi audit keuangan (accounting dan financial, audit asset, audit perusahaan berdasarkan ISO 9001) Apa Manfaat Audit Internal? 1. Kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Auditor Internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan resiko, pengendalian, dan proses governance. 2. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Audit Internal a. Menyusun serta melaksanakan rencana Audit Internal. b. Menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian interen sesuai dengan kebijakan perusahaan. c. Melakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang keuangan, akuntansi, operasional, teknologi informasi dan kegiatan lainnya. d. Melakukan pemeriksaan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan dan perundanganundangan yang terkait. e. Mengidentifikasi alternatif perbaikan dan peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya dan dana.

f. Memberikan saran perbaikan dan informasi yang obyektif tentang kegiatan yang diperiksa pada semua tingkat manajemen. g. Membuat laporan hasil audit dan menyampaikan laporan tersebut kepada Direksi dan Komisaris. h. Memantau, menganalisis dan melaporkan pelaksanaan tindak lanjut perbaikan yang telah direkomendasikan. i. Mendukung pelaksanaan tugas Komite Audit. j. Menyusun program untuk mengevaluasi mutu kegiatan audit internal yang dilakukannya.