Anda di halaman 1dari 36

PEDOMAN STANDAR PELAKSANAAN PROGRAM ANTI PENCUCIAN UANG DAN PENCEGAHAN PENDANAAN TERORISME (APU DAN PPT)

PT. BPR SUPER MANDIRI


1 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB I KEBIJAKAN UMUM

Penerapan Program APU dan PPT ini mengacu pada Pedoman Standar Pelaksanaan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPR dan BPRS) yang dilekuarkan oleh Bank Indonesia (Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/14/DKBU tanggal 12 Me 2011). Dalam rangka mendukung pelaksanaan Program APU dan PPT diperlukan pengawasan aktif dari Direksi dan Komisaris, serta membentuk unit kerja khusus/menunjuk pegawai yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Program APU dan PPT. A. PENGAWASAN AKTIF DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS 1. Direksi melakukan pengawasan secara aktif yang meliputi: a. Memastikan bahwa BPR memiliki kebijakan dan prosedur program APU dan PPT yang sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPR dan BPRS) yang dilekuarkan oleh Bank Indonesia; b. Mengusulkan kebijakan dan prosedur tertulis Program APU dan PPT kepada Dewan Komisaris; c. Memastikan Program APU dan PPT dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan prosedur tertulis yang telah ditetapkan;

2 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

d. Membentuk

unit kerja khusus dan/atau

menunjuk pegawai

yang

bertanggung jawab terhadap Program APU dan PPT; e. Memastikan bahwa unit kerja khusus/pegawai yang melaksanakan kebijakan dan prosedur program APU dan PPT terpisah dari unit kerja/pegawai yang mengawasi pelaksanaannya; f. Pengawasan atas keaptuhan unit kerja/pegawai dalam menerapkan program APU dan PPT; g. Memastikan bahwa kantor cabang (jika ada) memiliki pegawai yang bertanggung jawab terhadap Program APU dan PPT; h. Memastikan bahwa kebijakan dan prosedur program APU dan PPT sejalan dengan perubahan dan pengembangan produk, jasa, dan teknologi BPR serta sesuai dengan perkembangan modus pencucian uang atau pendanaan terorisme; dan i. Memastikan bahwa seluruh pegawai, khususnya pegawai terkait dan pegawai baru, telah mendapatkan pengetahuan yang berkaitan dengan program APU dan PPT secara berkala. 2. Menunjuk seorang Direktur yang menangani Program APU dan PPT dengan tugas dan tanggung jawab sbb: a. Menetapkan dan mengevaluasi transaksi yang memerlukan persetujuan pejabat eksekutif; b. Mengevaluasi secara berkala untuk memastikan ketepatan kebijakan, prosedur dan penetapan tingkat risiko dari area yg berisiko tinggi dan Politically Exposed Person (PEP); c. Menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan BPR telah memenuhi ketentuan Bank Indonesia tentang APU dan PPT dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait; d. Memastikan cakupan pengawasan aktif Direksi telah terpenuhi secara memadai; e. Memantau dan menjaga kepatuhan BPR terhadap seluruh komitmen yang dibuat BPR kepada Bank Indonesia; f. Memantau pelaksanaan tugas unit kerja khusus dan/atau pegawai yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program APU dan PPT; 3 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

g. Memberikan rekomendasi kepada Direktur Utama mengenai pejabat yang akan memimpin unit kerja khusus atau pegawai yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program APU dan PPT; h. Memberikan persetujuan terhadap Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM). 3. Dewan Komisaris melakukan pwngawasan aktif, meliputi: a. Memberikan persetujuan atas kebijakan dan prosedur pelaksanaan program APU dan PPT; dan b. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan tanggung jawab Direksi terhadap pelaksanaan program APU dan PPT. B. UNIT KERJA KHUSUS/PEGAWAI PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN PROGRAM APU DAN PPT. Dalam rangka melaksanakan Program APU dan PPT, maka BPR membuat kebijakan sebagai berikut: 1. Menunjuk seorang pegawai yang bertanggung jawab dalam melaksanakan Program APU dan PPT; 2. Pegawai yang ditunjuk tersebut adalah pegawai di luar unit kerja operasional yang melayani Nasabah (Teller dan Customer Service). 3. Pegawai yang ditunjuk melapor dan bertanggung jawab kepada Direktur yang menangani Program APU dan PPT. 4. Pegawai yang ditunjuk melakukan koordinasi pelaksanaan program APU dan PPT dengan seluruh unit kerja operasional. 5. Petugas yang ditunjuk bertugas dan bertanggung jawab atas: a. Memantau adanya sistem yang mendukung program APU dan PPT; b. Memantau pengkinian profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah; c. Melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan Program APU dan PPT dengan unit kerja operasional; d. Memastikah bahwa kebijakan dan prosedur telah sesuai dengan perkembangan Program APU dan PPT yang terkini; e. Menerima laporan trransaksi keuangan yang berpotensi mencurigakan dari unit kerja oprasional dan melakukan analisa atas laporan tersebut; 4 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

f. Menyusun LTKM dan laporan lainnya sebagaimana dimaksud dalam UU PPTPPU untuk disampaikan kepada PPATK berdasarkan persetujuan Direktur; g. Memantau bahwa: 1) Terdapat mekanisme komunikasi yang baik dari setiap unit kerja dengan menjaga kerahasian informasi; 2) Unit kerja atau pegawai terkait mempersiapkan LTKM dan LTKT sebelum menyampaikan kepada UKK atau pegawai yang ditunjuk yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program APU dan PPT; 3) Area yang berisiko tinggi terkait dengan APU dan PPT dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku dan sumber informasi yang memadai. h. Berperan sebagai petugas penghubung bagi otoritas yang berwenang, antara lain Bank Indonesia, PPATK dan Penegak Hukum.

5 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB II KEBIJAKAN CUSTOMER DUE DILLIGENCE (CDD) DAN ENHANCED DUE DILLIGENCE (EDD)
1. BPR melaksanakan CDD pada saat: a. melakukan hubungan usaha dengan calon Nasabah. Apabila rekening merupakan rekening joint account atau rekening bersama maka CDD dilakukan terhadap seluruh pemegang rekening joint account tersebut; b. c. melakukan hubungan usaha dengan Walk In Customer (WIC); BPR meragukan kebenaran informasi yang diberikan oleh Nasabah, penerima kuasa, dan/atau Beneficial Owner; atau d. terdapat transaksi keuangan yang tidak wajar yang terkait dengan pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme. 2. Untuk Nasabah yang telah ada sebelum kebijakan ini berlaku, BPR melakukan CDD sesuai dengan pendekatan berdasarkan materialitas dan risiko apabila: a. terdapat transaksi dalam jumlah yang signifikan atau lebih dari Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah); b. terdapat perubahan standar dokumentasi yang mendasar; c. terdapat perubahan pola transaksi yang signifikan; d. informasi pada profil Nasabah yang tersedia dalam Customer Information File (CIF) belum dilengkapi dengan dokumen sebagaimana dimaksud pada bab IV huruf A butir 3. e. diindikasikan menggunakan nama fiktif. 3. Melakukan EDD apabila calon Nasabah/Nasabah/wic yang memenuhi ketentuan berikut: a. tergolong berisiko tinggi atau PEP; b. melakukan transaksi yang terkait dengan negara berisiko tinggi; atau c. melakukan transaksi tidak sesuai dengan profil.

6 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Apabila hasil EDD tidak diperoleh alasan yang jelas, maka terhadap transaksi tersebut dilakukan pemantauan yang lebih ketat. 4. Penetapan penggolongan berisiko tinggi dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan PPATK yang mengatur mengenai pedoman identifikasi produk, Nasabah, usaha dan negara berisiko tinggi bagi penyedia jasa keuangan dan pedoman mengenai identifikasi transaksi keuangan mencurigakan terkait pendanaan terorisme bagi penyedia jasa keuangan. 5. BPR wajib melakukan EDD sebagaimana dimaksud pada angka 3 di atas dengan cara melakukan CDD sebagaimana dimaksud dalam bab IV serta melakukan kegiatan-kegiatan berikut: a. Bagi calon Nasabah 1) Mrminta informasi tambahan yang diperlukan untuk memastikan kebenaran profil calon Nasabah; dan/atau 2) Meminta dokumen pendukung tambahan untuk meyakini kebenaran informasi mengenai identitas dan sumber dana. b. Bagi Nasabah atau Beneficial Owner: 1) Melakukan kegiatan seperti yang dilakukan terhadap calon Nasabah sebagaimana dimaksud pada huruf a. 2) Melakukan analisa secara berkala paling kurang mengenai sumber dana, tujuan transaksi, dan hubungan usaha dg pihak-pihak terkait; dan 3) Memantau lebih ketat pola transaksi Nasabah untuk kepentingan pengkinian profil Nasabah atau Beneficial Owner.

7 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB III KEBIJAKAN PENGELOMPOKAN NASABAH

Untuk mendukung kebijakan dan pelaksanaan CDD yang efektif, maka BPR mengelompokkan Nasabah berdasarkan tingkat risiko terhadap kemungkinan terjadinya pencucian uang atau pendanaan terorisme. A. PENGELOMPOKAN NASABAH 1. BPR mengelompokkan Nasabah dalam 3 kelompok, yaitu: a. Kelompok risiko rendah b. Kelompok risiko menengah c. Kelompok risiko tinggi 2. Pengelompokkan berkesinambungan. 3. Penilaian risiko secara memadai dan pemantauan dilakukan terhadap Nasabah yang telah menjalani hubungan usaha dengan mempertimbangkan informasi yang diperoleh, profil Nasabah dan kebutuhan Nasabah terhadap produk/jasa yang digunakan. 4. Apabila terdapat ketidak sesuaian antara transaksi/profil Nasabah dengan tingkat risiko yang telah ditetapkan, maka harus dilakukan penyesuaian dengan melakukan: a. Menerapkan prosedur CDD bagi Nasabah yg semula risiko rendah berubah menjadi risiko menengah; b. Menerapkan prosedur EDD bagi Nasabah yg semula risiko rendah atau menengah berubah menjadi risiko tinggi atau PEP. Nasabah didokumentasikan dan dipantau secara

8 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

B. PENETAPAN PROFIL RISIKO 1. Penetapan profil risiko dilakukan berdasarkan hal-hal berikut: Tabel 1: Matriks klasifikasi profil risiko Unsur Risiko
Identitas Nasabah

Rendah

Sedang

Tinggi Kartu identitas


Nasabah palsu; kedaluarsa lebih dari tahun.

Lokasi Usaha

Profil Pekerjaan

Memiliki kartu Kartu identitas identitas yang kadaluarsa, masih berlaku; namun belum lebih dari 1 Domisili sesuai tahun. alamat dalam kartu identitas. Domisili tidak sesuai alamat dalam kartu identitas Lokasi usaha dekat Lokasi usaha dengan bank atau berjauhan dg diketahui oleh BPR. lokasi BPR atau di luar wilayah kantor BPR. Buruh tani Pegawai Perusahaan Pegawai usaha PNS non kecil pelayanan publik Serabutan, tidak memiliki penghasilan secara reguler

Kartu identitas
1

Lokasi

Nilai Transaksi

NIlai transaksi ren- Peningkatan


dah, dibawah Rp 10 juta dan sesuai profil

jumlah transaksi tidak significant atau significant namun didukung dengan dokumen yang memadai atau masih tergolong wajar.

usaha Nasabah berada di zona perdagangan bebas Tergolong sebagai PEP PNS pelayanan publik Aparat penegak hukum Orang yang namanya tercantum dalam daftar yang dikeluarkan oleh PPATK Nilai transaksi tunai dalam jumlah besar, lebih dari Rp. 100 juta dan/atau tidak sesuai profil.

9 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Unsur Risiko
Kegiatan Usaha

Rendah

Sedang

Tinggi
Hiburan malam Diskotik Export/Import Biro jasa pengurusan dokumen Agen penjualan rumah; Sekuritas; Pedagang perhiasan; Pedagang mobil; Pengacara, akuntan, konsultan keuangan Multilevel marketing Perusahaan yang dikelola oleh Beneficial Owner Terdapat pemberitaan negatif Beneficial Owner Debitur dengan agunan milik orang lain Nasabah yang sering memberikan kuasa kepada pihak lain untuk melakukan penarikan dana

Pedagang sayur di Valas pasar tradisional Pengiriman Pelaku UMKM Uang

Struktur Kepemilikan

Perusahaan kecil Struktur yang dikelola kepemilikan sendiri perusahaan kompleks Perusahaan UMKM sehingga akses yang jelas informasi kepemilikannya terbatas

Informasi Lainnya

Tidak terdapat Memiliki usaha informasi negatif lainnya dislain. amping sebagai karyawan perusahaan Debitur dengan agunan milik orang tua

2. Penetapan klasifikasi risiko Nasabah dilakukan sbb:

10 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Penetapan klasifikasi tingkat risiko calon Nasabah atau Nasabah adalah berdasarkan rating risiko tertinggi dari suatu item yang diperoleh calon Nasabah atau Nasabah tersebut.

Unsur Risiko - Identitas - Lokasi Usaha


-

Rendah Sedang

Tinggi

Hasil Akhir

Profil pekerjaan Nilai Transaksi Kegiatan Usaha Struktur Kepemilikan Informas i lain

Nasabah yang tergolong PEP, maka secara otomatis ditetapkan sebagai Nasabah berisiko tinggi.

Sebelum digunakan anda harus buang bagian ini terlebih dahulu...kalau belum tahu caranya, silahkan tanya kepada sipembuat pedoman ini. Kalau ini masih nonggol, maka ketahuan anda hanya copy-paste... he.he.he...

11 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB IV PROSEDUR IDENTIFIKASI, VERIFIKASI DAN PEMANTAUAN NASABAH (CUSTOMER DUE DILLIGENCE)

A. KEBIJAKAN PENERIMAAN NASABAH 1. Kebijakan penerimaan Nasabah adalah sebagai berikut: a. Sebelum melakukan hubungan usaha dengan Nasabah, BPR wajib meminta informasi kepada calon Nasabah mengenai : Identitas diri calon Nasabah (KTP, SIM, Pasport, dan lain-lain); Identitas Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili Beneficial Owner; Informasi sumber dana; Informasi pekerjaan; Informasi rata-rata penghasilan per bulan; Informasi maksud dan tujuan hubungan usaha calon Nasabah dengan BPR; Informasi lain yang memungkinkan BPR untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah; b. BPR meminta bukti-bukti identitas dan dokumen pendukung informasi calon Nasabah. c. BPR wajib meneliti kebenaran dokumen pendukung identitas calon Nasabah. d. Apabila terdapat keraguan terhadap kartu identitas yang ada, BPR meminta kartu identitas lebih dari satu yang dikeluarkan oleh pihak yg berwenang. e. BPR wajib bertatap muka dengan calon Nasabah pada saat pembukaan rekening.

12 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

f. BPR melakukan wawancara dengan calon Nasabah untuk memperoleh keyakinan atas kebenaran informasi, bukti-bukti identitas dan dokumen pendukung. g. BPR tidak menerima Nasabah Anonim atau nama fiktif. h. Waspada terhadap transaksi atau hubungan usaha dengan calon Nasabah yang memiliki mitra usaha dari negara yang memenuhi kriteria berisiko tinggi. i. Proses verifikasi identitas calon Nasabah diselesaikan sebelum membina hubungan usaha dengan calon Nasabah. j. BPR menolak pembukaan rekening calon Nasabah dan menolak transaksi dengan WIC yang memenuhi kriteria sbb: Tidak memenuhi ketentuan atau persyaratan sebagaimana diatur dalam pasal 13,14,15,16 dan 17 Peraturan Bank Indonesia no 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program APU dan PPT bagi BPR/BPRS atau Diketahui menggunakan identitas dan/atau memberikan informasi yang tidak benar. k. BPR mendokumentasikan calon Nasabah atau WIC yang memenuhi kriteria huruf j di atas dalam suatu daftar tersendiri dan melaporkannya dalam LTKM apabila transaksinya tidak wajar atau mencurigakan.

2. Kebijakan Permintaan Informasi: Sebelum melakukan hubungan usaha dengan Nasabah, BPR wajib meminta informasi yang memungkinkan BPR untuk mengetahui profil calon Nasabah. a. b. Calon Nasabah diidentifikasi dan diklasifikasikan menjadi kelompok perorangan dan perusahaan. BPR wajib meminta informasi calon Nasabah sbb:

13 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Tabel 2: Informasi Calon Nasabah


N o Perorangan Nama lengkap termasuk alias. Perusahaan (termasuk bank) Nama perusahaan termasuk bentuk badan hukum Nomor izin usaha dari instansi yang berwenang Alamat kedudukan Yayasan/ Perkumpulan Nama yayasan/ perkumpulan termasuk bentuk badan hukum (apabila berbadan hukum) Nomor izin bidang kegiatan/usaha atau nomor bukti pendaftaran pada instansi yang berwenang Alamat kedudukan No Telepon Tempat dan tanggal pendirian Tempat dan pendirian tanggal Lembaga Negara/ Pemerintah Nama lembaga Negara/ Pemerintah

b.

Nomor dokumen identitas

c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m n.

Alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas Alamat tempat tinggal terkini termasuk no. telephon apabila ada Tempat dan tanggal lahir Kewarganegaraan Pekerjaan (nama dan alamat perusahaan / institusi, jabatan) Jenis kelamin Status perkawinan Identitas Beneficial Owner apabila ada Sumber dana Rata-rata penghasilan Maksud dan tujuan hubungan usaha Informasil lain yang memungkinkan bank untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah

Alamat kedudukan No Telepon

Identitas Beneficial Owner apabila ada Sumber dana Maksud dan tujuan hubungan usaha Informasi lain yang diperlukan

Identitas Beneficial Owner apabila ada Sumber dana Maksud dan tujuan hubungan usaha Informasi lain yang diperlukan mis. laporan keuangan calon Nasabah atau keterangan mengenai pelanggan utamanya

14 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

b.

BPR wajib meminta informasi kepada WIC sebagai berikut: Tabel 3: Informasi WIC
No WIC yang melakukan transaksi sebesar Rp 100 juta atau lebih Perorangan Perusahaan Nama lengkap Nama perusahaan termasuk alias. Nomor dokumen Nomor izin usaha dari identitas instansi yang berwenang Alamat tempat tinggal Alamat kedudukan yang tercantum pada kartu identitas Alamat tempat tinggal terkini termasuk no. telephon apa bila ada Tempat dan tanggal lahir Kewarganegaraan Pekerjaan Jenis kelamin Status perkawinan Identitas Beneficial Owner apabila ada Sumber dana Rata-rata penghasilan Maksud dan tujuan hubungan usaha Informasil lain yang memungkinkan bank untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah WIC yang melakukan transaksi dibawah Rp 100 juta Perorangan Perusahaan Nama lengkap Nama perusahaan termasuk alias. Nomor dokumen identitas Alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas Alamat kedudukan

b. c.

d. e. f. g. h. i. j. k. l. m n.

Tempat dan tanggal pendirian Bentuk badan hukum

Identitas Beneficial Owner apabila ada Sumber dana Maksud dan tujuan hubungan usaha Informasi lain yang diperlukan

3. Kebijakan Permintaan Dokumen 3.1. Nasabah Perorangan Dokumen pendukung utama yang wajib diminta adalah: Kartu Tanda Penduduk (KTP); atau Surat Izin Mengemudi (SIM); atau Paspor Dokumen pendukung tambahan: Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Kartu Keluarga (KK) 15 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

3.2. Nasabah Perusahaan Dokumen identitas yang wajib diminta adalah: Akte pendirian dan/atau anggaran dasar perusahaan; dan Izin usaha atau izin lainnya dari instansi berwenang 3.3. Nasabah Yayasan/Perkumpulan Dokumen identitas yang wajib diminta adalah: Akte pendirian yang telah disahkan oleh instansi berwenang; dan/atau Izin kegiatan yayasan atau surat tanda terdaftar sebagai perkumpulan. Disamping dokumen identitas, BPR wajib memperoleh dokumen lainnya berupa: Tabel 4: Dokumen Pendukung Nasabah Perorangan dan Perusahaan:

16 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Perorangan Spesimen tanda tangan

Perusahaan (selain bank) Usaha Mikro dan Bukan usaha Mikro dan Usaha Kecil Usaha Kecil Spesimen tandatangan Specimen tanda tangan pengurus atau pihak anggota Direksi yang yang diberi kuasa berwenang mewakili melakukan hubungan perusahaan untuk usaha dg BPR melakukan transaksi dengan BPR kartu NPWP bagi Nasabah yang diwajibkan untuk memiliki NPWP sesuai dengan ketentuan yang berlaku Surat Izin Tempat Usaha (SITU) atau dokumen lain yang dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang kartu NPWP bagi Nasabah yang diwajibkan untuk memiliki NPWP sesuai dengan ketentuan yang berlaku Surat Izin Tempat Usaha (SITU) atau dokumen lain yang dipersyaratkan oleh instansi yang berwenang laporan keuangan atau deskripsi kegiatan usaha perusahaan struktur manajemen perusahaan struktur kepemilikan perusahaan Dokumen identitas anggota Direksi yg berwenang mewakili perusahaan atau yg diberi kuasa untuk melakukan hubungan usaha dg BPR.

Perusahaan berupa Bank spesimen tanda tangan anggota Direksi yg berwenang mewakili perusahaan atau pihak yg diberi kuasa untuk melakukan hubungan usaha dg BPR. Kartu NPWP

b.

c.

Izin usaha dari Bank Indonesia

d. e. f. g.

17 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Tabel 5: Dokumen pendukung Nasabah selain Perorangan dan Perusahaan:


Lembaga Negara/ Pemerintah Spesimen tandatangan pejabat atau pihak yang diberi kuasa melakukan hubungan usaha dg BPR surat penunjukan bagi pihakpihak yang berwenang mewakili lembaga atau perwakilan dalam melakukan hubungan usaha dengan BPR Dokumen identitas pejabat atau pihak yang diberi kuasa melakukan hubungan usaha dg BPR

Yayasan a. Spesimen tandatangan pengurus atau pihak yang diberi kuasa melakukan hubungan usaha dg BPR izin bidang kegiatan/tujuan yayasan

Perkumpulan Spesimen tandatangan pengurus atau pihak yang diberi kuasa melakukan hubungan usaha dg BPR bukti pendaftaran pada instansi yang berwenang

b.

c. d. e.

deskripsi kegiatan yayasan struktur pengurus yayasan dokumen identitas anggota pengurus yang berwenang mewakili yayasan untuk melakukan hubungan usaha dengan BPR

nama penyelenggara dokumen identitas anggota pengurus yang berwenang mewakili yayasan untuk melakukan hubungan usaha dengan BPR

18 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

B. PROSEDUR PENERIMAAN, IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI NASABAH 1. 2. Peosedur identifikasi dan verifikasi Nasabah dilakukan sebelum diterima sebagai Nasabah BPR. Sistem prosedur penerimaan, identifikasi dan verifikasi nasabah yang diterapkan adalah:

SISTEM PROSEDUR
PT. BPR SUPER MANDIRI Pejabat:
1. Dir 2. Ka.Kas
Sistem

No.

NSB-01
Tanggal

OPERASIONAL
Prosedur

7-10-2011

PENERIMAAN NASABAH Staff: Direktur Ka.Kantor Kas


1. CS 2. P.apu&ppt

Staf Customer Service Staf APU & PPT PIC


CS

TAHAPAN 1. Melakukan
identifikasi calon Nasabah

KEGIATAN 1.1 Lakukan identifikasi calon Nasabah, apakah 1.2 1.3


perorangan, perusahaan, yayasan/ perkumpulan atau lembaga. Minta dan pandu calon Nasabah untuk mengisi formulir penerimaan Nasabah. Pastikan calon Nasabah mengisi semua informasi yang diperlukan sesuai hasil identifikasi di atas. Minta calon Nasabah menyerahkan fotocopy dokumen pendukung. Minta calon Nasabah untuk memperlihatkan dokumen pendukung yg asli. Teliti isian formulir penerimaan Nasabah dan verifikasi dokumen pendukung untuk memastikan bahwa data dan dokumen pendukung adalah benar, absah dan terkini. Lakukan wawancara untuk lebih mengenal profil Nasabah, termasuk ada tidaknya Beneficial Owner. Cocokan kesesuaian profil calon Nasabah dengan foto diri yang tercantum dalam kartu identitas. Mintalah kepada calon Nasabah untuk memberikan lebih dari satu dokumen identitas apabila timbul keraguan terhadap kartu identitas yang ada. Tatausahakan fotocopy kartu identitas setelah dilakukan pencocokan dengan dokumen asli yang sah. Lakukan cek silang apabila diperlukan, antara lain dengan cara:

2. Meminta dokumen pendukung

2.1 2.2

CS

3. Melakukan verifikasi dokumen pendukung

3.1

CS Ka.Kas Direktur

3.2 3.3 3.4

3.5 3.6

19 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

1. Menghubungi kembali calon Nasabah


melalui telepon. 2. Menghubungi pejabat sdm, atasan atau rekan kerja ybs 3. Konfirmasi penghasilan dengan mensyaratkan slip gaji ataupun rekening koran dari bank. Lakukan cek terhadap: 4. Daftar Teroris 5. Informasi lain jika ada. Buat keputusan apakah akan mengadakan hubungan usaha: 1. Terima sbg Nasabah jika wajar dan tidak ada yg mencurigakan 2. Tolak sbg Nasabah jika tidak wajar atau mencurigakan. Beri nomor Nasabah bagi yang sudah diterima sbg Nasabah. Lakukan dokumentasi formulir penerimaan Nasabah termasuk bukti pendukungnya bagi yang diterima sebagai Nasabah. Buat daftar calon Nasabah yang ditolak bagi yang tidak diterima. Berikan formulir sesuai dengan produk yang dipilih oleh Nasabah. Layani Nasabah sesuai prosedur produk yang dilpilih.

3.7

4. Membuat keputusan 4.1.


menerima atau menolak sebagai Nasabah 4.2. 5. Membuat dokumentasi 5.1 5.2 6. Memberikan pelayanan sesuai dengan produk/jasa BPR yang dipilih 6.1 6.2

Ka.Kas Direktur

CS CS

CS

7. Menetapkan klasifikasi risiko

7.1. Lakukan analisa profil risiko 7.2. Masukkan ke dalam daftar nasabah sesuai klasifikasi risiko.

P.apu&ppt Direktur CS

Catatan:

20 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

C. PEMANTAUAN BPR melakukan kegiatan pemantauan profil dan transaksi Nasabah secara berkesinambungan meliputi kegiatan: a. Memastikan kelengkapan informasi dan dokumen Nasabah b. Meneliti kesesuaian antara profil transaksi dengan profil Nasabah c. Meneliti kemiripan atau kesamaan nama dengan nama yang tercantum dalam daftar teroris d. Meneliti kemiripan atau kesamaan nama dengan nama tersangka atau terdakwa yg dipublikasikan di media massa atau otoritas yg berwenang. 2. Apabila nilai transaksi tidak sesuai profil Nasabah atau mencapai Rp. 100 juta, BPR meminta informasi tentang tujuan transaksi dan sumber dana. 3. Pemantauan dilakukan secara berkala dengan menggunakan pendekatan berdasarkan risiko. 4. Apabila hasil pemantauan terdapat kemiripan atau kesamaan nama sebagaimana dimaksud pada angka 1c dan 1d, maka BPR wajib melakukan klarifikasi kepada Nasabah untuk memastikan kemiripan tersebut. 5. Melaporkan Nasabah dalam LTKM apabila nama dan identitas Nasabah sesuai dengan tersangka atau terdakwa yg diinformasikan dalam media massa dan/atau sesuai daftar teroris sebagaimana dimaksud pada angka 1c. 6. Dilakukan pemantauan lebih ketat apabila: a. Transaksi pengiriman uang yang terkait dg Negara berisiko tinggi b. Pembayaran pinjaman/kredit yang dipercepat dan/atau nilainya lebih dari yg seharusnya dan dilakukan dengan nilai yang signifikan. c. Belum dilakukan tatap muka dengan Nasabah pada awal melakukan hubungan usaha. 1. 7. Seluruh kegiatan pemantauan didokumentasikan dengan tertib. 8. Sistem prosedur pemantauan yang diterapkan adalah:

SISTEM PROSEDUR
PT. BPR SUPER MANDIRI Pejabat:
3. Dir 4. Ka.Kas
Sistem

No.

NSB-02
Tanggal

OPERASIONAL
Prosedur

7-10-2011

PEMANTAUAN NASABAH Staff: Direktur Ka.Kantor Kas


3. CS 4. P.APU&PPT

Staff Customer Service Staff APU & PPT PIC

TAHAPAN

KEGIATAN

21 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

1. Melakukan pemantauan profil nasabah

2. Melakukan pemantauan transaksi nasabah

3. Melakukan
pemantauan terhadap rekening

1.4 Periksa kelengkapan isian formulir penerimaan nasabah dan cocokkan dengan dokumen identitas yang dilampirkan. Jika terdapat kekurangan atau ketidakcocokan, segera meminta CS untuk meminta nasabah melengkapi dan memperbaikinya atau melakukan pengkinian data. 1.5 Periksa kesesuaian antara pekerjaan dan penghasilan. Jika terdapat keraguan, segera meminta CS untuk melakukan klarifikasi ulang kepada nasabah. 1.6 Periksa nama nasabah terhadap Daftar Nama Teroris yang Dipublikasikan PBB. Jika terdapat kesamaan ataupun kemiripan, segera buat laporan kepada Direktur untuk ditindaklanjuti. 1.7 Periksa nama nasabah terhadap nama tersangka atau terdakwa yang dipublikasikan di media masa. Jika terdapat kesamaan, segera buat laporan kepada Direktur untuk ditindaklanjuti. 2.3 Periksa daftar mutasi harian dari transaksi nasabah. 2.4 Jika nilai transaksi melebihi 50 (lima puluh) kali dari nilai transaksi kebiasaannya atau mencapai Rp. 100 juta (seratus juta) ataupun lebih, maka pastikan nasabah mengisi dan menandatangani form pernyataan transaksi keuangan. Jika tidak ada form pernyataan, segera berkoordinasi dengan CS atau Teller atau Kepala Kantor Kas untuk segera meminta nasabah melengkapinya. 2.5 Lakukan analisa terhadap isian form pernyataan transaksi keuangan. Jika terdapat keraguan atas informasi yang disampaikan atau ketidakwajaran, maka berikan usulan kepada Direktur untuk dilaporkan ke PPATK. 3.1 Periksa apakah ada nasabah yang memiliki lebih dari 1 (satu) rekening. 3.2 Jika terdapat beberapa rekening, periksalah seluruh nilai transaksi apakah sesuai dengan profilnya. Jika terdapat ketidakwajaran, segera buat laporan kepada Direktur untuk ditindaklanjuti. 3.3 Periksa frekuensi transaksi nasabah dalam 1 (satu) bulan, jika frekuensinya tidak sesuai profilnya, segera buat laporan kepada Direktur untuk ditindaklanjuti.

P.APU&PPT

P.APU&PPT

P.APU&PPT

Catatan:

22 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

D. PENGKINIAN 1. BPR melakukan pengkinian data terhadap informasi dan dokumen serta menatausahakannya sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia no 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program APU dan PPT bagi BPR/BPRS. 2. BPR harus melakukan pengkinian data antara lain pada saat: a. Pembukaan rekening tambahan; b. Perpanjangan fasilitas pinjaman; c. Penggantian buku tabungan atau produk lainnya; atau d. Terdapat transaksi yg signifikan dan/atau tidak sesuai dg profil Nasabah 3. Selain itu, BPR melakukan pengkinian data dengan menggunakan skala prioritas dengan parameter sbb: a. Tingkat risiko Nasabah tinggi; b. Transaksi dengan jumlah yg signifikan dan/atau menyimpang dari profil transaksi atau profil Nasabah; c. Saldo yang nilainya signifikan; atau d. Informasi yang dimiliki BPR belum sesuai dengan PBI APU dan PPT. 4. Seluruh kegiatan pengkinian data harus diadministrasikan. 5. Dalam melakukan pengkinian data tersebut, BPR wajib melakukan pemantauan terhadap informasi dan dokumen Nasabah. E. DAFTAR TERORIS 3. 4. BPR wajib memelihara Daftar Teroris yang diterima dari Bank Indonesia. Daftar Teroris digunakan dalam kegiatan pemantauan dan kegiatan verifikasi dokumen saat penerimaan Nasabah.

23 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB V PENATAUSAHAAN DOKUMEN DAN PELAPORAN


a. PENATAUSAHAAN DOKUMEN 1. BPR menatausahakan data atau dokumen secara akurat dan lengkap sehingga mudah pencariannya jika diperlukan. 2. Jangka waktu penatausahaan dokumen adalah sbb: a. Dokumen data Nasabah atau WIC disimpan paling kurang 5 tahun sejak: i. Berakhirnya hubungan usaha dg Nasabah ii. Transaksi yg dilakukan dengan WIC iii. Ditemukannya ketidak sesuaian transaksi dengan tujuan ekonomis dan/atau tujuan usaha. b. Dokumen Nasabah atau WIC yang terkait dengan transaksi keuangan dg jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam UU yang mengatur mengenai dokumen perusahaan. 3. Dokumen yang ditatausahakan adalah lembar asli transaksi ataupun fotocopy. 4. Dokumen yang ditatausahakan meliputi: a. Identitas Nasabah atau WIC; dan b. Informasi jumlah uang yang digunakan, tanggal transaksi, sumber dana dan tujuan transaksi, serta nomor rekening yg terkait dg transaksi. 5. BPR wajib memberikan informasi dan/atau dokumen yang dimaksud pada angka 4 di atas kepada Bank Indonesia dan/atau otoritas lain yg berwenang.

b.

PELAPORAN 1. BPR wajib menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM), Laporan Transaksi Keuangan Tunai (LTKT) dan laporan lain kepada PPATK sebagaimana diatur dalam UU PPTPPU. 2. Berdasarkan hasil pemantauan atas profil Nasabah dan transaksi Nasabah, BPR wajib melaporkan dalam LTKM apabila: a. Nasabah memiliki kemiripan atau kesamaan nama dan identitas dg nama tersangka atau terdakwa yg diinformasikan dalam media massa dan/atau sesuai dengan daftar teroris. b. Nasabah yg ditutup hubungan usahanya karena tidak bersedia melengkapi informasi dan dokumen pendukung dan BPR menilai transaksi yg dilakukan tidak wajar atau mencurigakan; atau c. Transaksi keuangan yg memenuhi kriteria mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam UU PPTPPU. 3. BPR wajib menyampaikan LTKM kepada PPATK paling lambat 3 hari kerja setelah diketahui adanya unsur transaksi keuangan mencurigakan. 24 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

4. BPR wajib menyampaikan LTKT kepada PPATK paling lambat 14 hari kerja terhitung sejak tanggal transaksi dilakukan. 5. Tatacara pelaporan mengacu pada Pedoman PPATK.

25 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB VI PEMINDAHAN DANA


A. PROSEDUR PEMINDAHAN DANA Prosedur berikut dilakukan saat melayani Nasabah / WIC akan melakukan pemindahan dana melalui BPR:

SISTEM PROSEDUR
PT. BPR SUPER MANDIRI Pejabat:
5. Dir 6. Ka.Kas
Sistem

No.

NSB-03
Tanggal

OPERASIONAL
Prosedur

7-10-2011

PEMINDAHAN DANA Staff: Direktur Ka.Kantor Kas


5. CS 6. P.APU&PPT 7. Tlr

Staff Customer Service Staff APU & PPT Teller PIC


Tlr/CS

TAHAPAN 1. Melakukan
identifikasi

KEGIATAN 1.1 Mintalah kartu identitas Nasabah atau WIC pengirim. 1.2 Lakukan identifikasi dan verifikasi terhadap Nasabah atau WIC pengirim, yaitu: a. Nomor rekening dan identitas Nasabah pengirim atau WIC pengirim. b. Tanggal transaksi dan nominal

2. Meneliti kesesuaian profil dan/atau nilai transaksi signifikan

2.1 Minta Nasabah atau WIC pengirim untuk Tlr/CS mengisi form pernyataan sumber dana, Ka.Kas P.Apu&Ppt jika nominal transaksi tidak sesuai profil Nasabah atau nominal mencapai Rp. 100 juta atau lebih. 2.2 Teliti kelengkapan pengisian data. 2.3 Apabila Nasabah/WIC tidak memenuhi permintaan informasi sebagaimana dimaksud pada angka 2 di atas, maka BPR dapat: a. Menolak untuk melaksanakan transaksi pemindahan dana; b. Membatalkan transaksi pemindahan dana dan/atau; c. Mengakhiri hubungan usaha dengan nasabah.

26 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

2.4 Jika pengisian informasinya lengkap, lanjutkan ke tahap berikutnya.


3. Melayani transaksi

4. Analisa transaksi

3.1 Layani transaksi nasabah. 3.2 Dokumentasikan bukti transaksi dan dokumen pendukungnya. 3.3 Serahkan dokumen ke UKK/ Pegawai Khusus APU-PPT bagi transaksi yg memenuhi unsur mencurigakan. 4.1 Apabila transaksi pemindahan dana memenuhi kriteria mencurigakan, maka laporkan sebagai LTKM kepada PPATK.

Tlr Cs

P.Apu&Ppt Dir

B. PERMINTAAN INFORMASI Prosedur berikut dilakukan oleh BPR Penerima saat menerima pemindahan dana dari Bank lain:

SISTEM PROSEDUR
PT. BPR SUPER MANDIRI Pejabat:
7. Dir 8. Ka.Kas
Sistem

No.

NSB-04
Tanggal

OPERASIONAL
Prosedur

7-10-2011

MENERIMA PEMINDAHAN DANA Staff: 8. CS Direktur Staff Customer Service 9. P.APU&PPT Ka.Kantor Kas Staff APU & PPT 10.Tlr Teller KEGIATAN 1.1 Menerima data/informasi dari bagian terkait tentang adanya transaksi pemindahan dana masuk dari bank lain. 1.2 Lakukan identifikasi dan verifikasi terhadap Nasabah penerima dan pengirim, yaitu: a. Nomor rekening dan identitas Nasabah penerima. b. Tanggal transaksi dan nominal c. Siapa pengirimnya PIC
P.Apu&Ppt

TAHAPAN 1. Melakukan
identifikasi

2. Melakukan analisa transaksi

2.1 Apabila transaksi pemindahan dana P.Apu&Ppt memenuhi kriteria mencurigakan, maka Dir laporkan sebagai LTKM kepada PPATK.

27 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB VII PENUTUPAN HUBUNGAN DAN PENOLAKAN TRANSAKSI


A. PENOLAKAN CALON NASABAH / WIC 1. BPR wajib menolak melakukan hubungan usaha dengan calon Nasabah dan/atau melaksanakan transaksi dengan WIC, dalam hal calon Nasabah/WIC : a. Tidak memenuhi pasal 13,14,15,16, dan 17 Peraturan Bank Indonesia no. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program APU dan PPT bagi BPR/BPRS atau b. Diketahui menggunakan identitas dan/atau memberikan informasi yang tidak benar. 2. BPR menolak transaksi, membatalkan transaksi dan/atau menutup hubungan usaha dengan Nasabah dalam hal: a. Kriteria sebagaimana dimaksud angka 1 terpenuhi; b. BPR ragu terhadap kebenaran informasi yang diberikan; c. Penggunaan rekening tidak sesuai dengan profil Nasabah. 3. BPR wajib: a. Mendokumentasikan data calon Nasabah, WIC atau Nasabah yang memenuhi kriteria angka 1 dan 2 di atas. b. Melaporkan calon Nasabah, WIC atau Nasabah sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan 2 dalam laporan LTKM kepada PPATK apabila transaksinya tidak wajar atau mencurigakan. B. PENUTUPAN HUBUNGAN USAHA DENGAN NASABAH 1. BPR menutup hubungan usaha dengan Nasabah apabila: a. Nasabah tidak memenuhi ketentuan permintaan informasi dan dokumen pendukung sebagai mana dimaksud dalam tabel 1, tabel 3 dan tabel 4; b. BPR ragu terhadap kebenaran informasi Nasabah; atau c. Penggunaan rekening tidak sesuai dengan profil Nasabah. 2. Melaporkan Nasabah sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan 2 dalam LTKM kepada PPATK.

28 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB VIII BENEFICIAL OWNER


Pada saat melakukan penerimaan Nasabah ataupun melayani transaksi WIC, BPR wajib memastikan apakah calon Nasabah atau WIC mewakili Benefcial Owner. Dalam hal calon Nasabah atau WIC mewakili Beneficial Owner, maka prosedur berikut wajib dilakukan: 1. Melakukan prosedur CDD terhadap Beneficial Owner yang sama ketatnya dengan prosedur CDD terhadap calon Nasabah atau WIC. 2. Melakukan prosedur EDD apabila Beneficial Owner tergolong sebagai PEP. 3. Memperoleh bukti atas identitas dan/atau informasi lainnya dari Beneficial Owner yang sama dengan calon Nasabah sebagaimana dimaksud pada tabel 1, tabel 3 dan tabel 4 di tambah dengan: Tabel 6: Bukti dan Informasi lainnya terkait Beneficial Owner (BO)
No. BO dari Nasabah Perorangan 1 Hubungan hukum antara calon Nasabah atau WIC dengan BO yg ditunjukkan dg: surat penugasan, surat perjanjian, surat kuasa, atau bentuk lainnya. Pernyataan dari calon Nasabah atau WIC mengenai kebenaran identitas maupun sumber dana dari BO. BO dari Nasabah Perusahaan/ Yayasan/ Perkumpulan Dokumen dan informasi identitas pemilik atau pengendali akhir perusahaan, yayasan atau perkumpulan. BO dari Nasabah berupa Bank lain di dalam Negeri Pernyataan tertulis dari Bank dimaksud bahwa identitas BO telah dilakukan verifikasi oleh Bank lain di dalam negeri tersebut.

Pernyataan dari calon Nasabah atau WIC mengenai kebenaran identitas maupun sumber dana dari BO.

4. Apabila BPR meragukan atau tidak dapat meyakini identitas Beneficial Owner, BPR wajib menolak melakukan hubungan usaha atau menolak transaksi dengan calon Nasabah atau WIC. 5. Mendokumentasikan Beneficial Owner yang mendapatkan pengecualian. CATATAN: 1. Terhadap Nasabah Perusahaan, yang termasuk sebagai Pengendali adalah: a. Memiliki saham perusahaan sebesar 25% atau lebih dari jumlah saham yang dikeluarkan dan memiliki hak suara; atau b. Memiliki saham perusahaan kurang dari 25% dari jumlah saham yang dikeluarkan dan memiliki hak suara, namun yang bersangkutan dapat dibuktikan telah melakukan pengendalian perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. 29 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Sedangkan yang termasuk sebagai pengendali terakhir adalah apabila perorangan atau badan hukum yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki saham perusahaan dan merupakan pengendali terakhir dari perusahaan dan/atau keseluruhan kelompok usaha yang mengendalikan perusahaan. 2. Terhadap Nasabah perorangan yang termasuk sebagai pengendali adalah apabila memiliki kepentingan atas suatu transaksi yang dilakukan. 3. Dokumen identitas pemilik atau pengendali akhir dapat berupa surat pernyataan atau dokumen lain yg memuat informasi mengenai identitas pemilik atau pengendali akhir. 4. Apabila Beneficial Owner berupa lembaga pemerintah atau perusahaan yg terdaftar di bursa efek, maka kewajiban penyampaian dokumen dan/atau identitas pengendali akhir dikecualikan atau tidak berlaku.

30 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB IX POLITICALLY EXPOSED PERSON (PEP) DAN AREA BERISIKO TINGGI


A. PROSEDUR TERHADAP PEP DAN AREA BERISIKO TINGGI 1. BPR melakukan penelitian terhadap calon Nasabah, Nasabah dan Beneficial Owner yang memenuhi kriteria berisiko tinggi atau PEP. 2. BPR melakukan prosedur EDD pada awal hubungan usaha terhadap calon Nasabah yang diketahui tergolong PEP. 3. Buat daftar tersendiri bagi Nasabah dan Beneficial Owner yang tergolong berisiko tinggi atau PEP. 4. BPR wajib membuat daftar seperti yang dimaksud pada angka 3 di atas terhadap Nasabah atau WIC yang menerima kiriman uang dari dan/atau melakukan transaksi lainnya dengan pihak berasal dari negara berisiko tinggi melalui rekening BPR di Bank Umum dan/atau Unit Usaha Syariah di dalam negeri. 5. Hubungan usaha dengan calon Nasabah yang tergolong PEP harus atas persetujuan Direksi atau Pejabat Eksekutif. 6. BPR menetapkan mitigasi risiko serta waspada, apabila ada transaksi atau hubungan usaha dengan Nasabah terkait dengan negara yg belum memadai dalam melaksanakan rekomendasi FATF. 7. Direksi atau Pejabat Eksekutif berwenang untuk: a. Memberikan persetujuan atau penolakan terhadap calon Nasabah yang tergolong berisiko tinggi atau PEP; dan b. Membuat keputusan untuk meneruskan atau menghentikan hubungan usaha dengan Nasabah atau Beneficial Owner yang tergolong PEP. B. PENETAPAN PEP DAN KRITERIA BERISIKO TINGGI 1. Produk dan Jasa Berisiko Tinggi Produk dan jasa bank yang berisiko tinggi adalah: a. Electronic banking b. Internet banking c. Pemindahan dana d. Pemberian kredit/ pembayaran dan pendanaan e. Jual beli valas

2. Nasabah Berisiko Tinggi Salah satu Nasabah berisiko tinggi adalah PEP, yaotu orang yang memiliki kewenangan publik diantaranya adalah Penyelenggara Negara dan/atau anggota partai politik yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan dan operasional partai politik. 31 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

Tabel 7: Ketentuan mengenai PEP Ketentuan


UU No. 28 tahun 1999

Definisi
Pejabat Negara yang menjalankan funfsi eksekutif, legislatif atau yudikatif dan pejabat lain yg fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dg ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Keterangan
Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara; Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara Menteri Gubernur Hakim Pejabat negara yg lain sesuai dg ketentuan peraturan perundangundangan yg berlaku dan Pejabat lain yg memiliki fungsi strategis dl kaitannya dg penyelenggaraan negara sesuai dg ketentuan perundang-undangan yg berlaku. Pejabat eselon II dan pejabat lain yg disamakan di lingkungan instansi Pemerintah dan/atau lembaga negara. Semua kepala kantor di lingkungan Departemen Keuangan. Pengawas Bea dan Cukai. Auditor Pejabat yg mengeluarkan perijinan Pejabat/Kepala Unit Masyarakat dan Pejabat pembuat regulasi.

SE/03/M.PAN/01/2005 tgl 20 Januari 2005

Penyelenggara Negara

3. Usaha Berisiko Tinggi a. b. c. d. e. f. g. h. Pedagang Efek yang melakukan fungsi sebagai Perantara Efek (Nasabah perusahaan). Perusahaan Asuransi dan Broker Asuransi (Perusahaan). Money Changer (Perusahaan). Dana Pensiun dan Usaha Pembiayaan (Perusahaan). Tempat hiburan dan executive club. Jasa pengiriman uang. Jasa akuntan, pengacara dan notaris (Perusahaan/ Perorangan). Jasa surveyor dan agen real estat (Perusahaan).

32 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

i. j.

Pedagang logam mulia (Perusahaan/perorangan). Usaha barang-barang antik, dealer mobil, kapal barang/barang mewah. k. Agen perjalanan. l. Milik pegawai BPR sendiri. 4. Negara Berisiko Tinggi

serta

penjual

a. Negara yang pelaksanaan rekomendasi FATF diidentifikasikan belum memadai; b. termasuk dalam daftar FATF statement; c. diketahui secara luas sebagai tempat penghasil dan pusat perdagangan narkoba; d. dikenal secara luas menerapkan banking secrecy laws yang ketat; e. dikenal sebagai tax haven yang berdasarkan OECD terdapat 38 negara/wilayah yang tergolong tax haven yaitu:
1. Aruba 2. Anguilla 3. Antigua and Barbuda 4. Bermuda 5. Bahamas 6. Bahrain 7. Belize 8. British Virgin Islands 9. Cook Islands 10.Cyprus 11.Dominica 12.Gibraltar 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Grenada Guernsey Isle of Man Jersey Liberia Malta Marshall Islands Mauritius Montserrat Niue Nauru Netherlands Antilles 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. Samoa Panama San Marino Seychelles St. Lucia St. Kitts & Nevis St. Vincent and the Grenadines Turks & Caicos Islands US Virgin Islands Vanuatu Cayman Islands

f. g.

dikenal memiliki tingkat korupsi yang tinggi; dianggap merupakan sumber kegiatan terorisme, seperti yang diidentifikasikan oleh Office of Foreign Asset Control (OFAC); serta h. Terkena sanksi PBB. Sehubungan dengan area berisiko tinggi diatas, BPR wajib meneliti adanya Nasabah dan Beneficial Owner yang memenuhi kriteria berisiko tinggi tersebut dan mendokumenatsikannya dalam daftar tersendiri.

33 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

C. ENHANCED DUE DILLIGENCE (EDD) 1. BPR melakukan kegiatan CDD yang lebih mendalam terhadap Nasabah berisiko tinggi dan yang tergolong PEP. 2. Bagi Calon Nasabah: a. BPR meminta informasi tambahan yg diperlukan untuk memastikan kebenaran profil calon Nasabah dan/atau b. BPR meminta dokumen pendukung tambahan untuk meyakini kebenaran informasi mengenai identitas dan sumber dana. 3. Bagi Nasabah atau Beneficial Owner a. Melakukan kegiatan seperti pada angka 2 di atas; b. Melakukan analisa secara berkala paling kurang terhadap informasi mengenai sumber dana, tujuan transaksi dan hubungan usaha dg pihakpihak yg terkait, yaitu: i. Perusahaan yg dimiliki atau dikelola oleh PEP; ii. Keluarga PEP sampai dengan drajat kedua; dan/atau iii. Pihak-pihak yg secara umum dan diketahui publik mempunyai hubungan dekat dg PEP; dan c. Memantau lebih dekat pola transaksi Nasabah untuk kepentingan pengkinian profil Nasabah atau Beneficial Owner.

34 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB X CDD YANG LEBIH SEDERHANA


1. BPR menerapkan CDD yang lebih sederhana terhadap calon Nasabah atau transaksi berisiko rendah yang memenuhi kriteria berikut: a. Tujuan pembukaan rekening untuk pembayaran gaji karyawan; b. Rekening berupa tabungan wajib terkait dengan pemberian kredit; c. Calon Nasabah berupa perusahaan publik (yang terdaftar pada bursa efek). d. Nilai transaksi awal pembukaan rekening di bawah Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). 2. Informasi dan dokumen yang dibutuhkan dalam CDD adalah:
Perorangan Perusahaan (selain bank) Usaha Mikro dan Bukan usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Kecil Nama perusahaan Nama perusahaan Alamat kedudukan dokumen identitas anggota Direksi yang berwenang mewakili perusahaan untuk melakukan hubungan usaha dengan BPR Spesimen tandatangan anggota Direksi yang berwenang mewakili perusahaan atau pihak yg diberi kuasa untuk melakukan hubungan usaha dengan BPR Alamat kedudukan dokumen identitas anggota Direksi yang berwenang mewakili perusahaan untuk melakukan hubungan usaha dengan BPR Spesimen tandatangan anggota Direksi yang berwenang mewakili perusahaan atau pihak yg diberi kuasa untuk melakukan hubungan usaha dengan BPR WIC Perusahaan

1. 2. 3.

Nama lengkap termasuk alias. Nomor dokumen identitas Alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas Alamat tempat tinggal terkini termasuk no. telephon apa bila ada

Nama perusahaan Alamat kedudukan

4.

5. 6. 7.

Tempat dan tanggal lahir Dokumen identitas Specimen tanda tangan

3. BPR membuat suatu daftar Nasabah yang mendapat perlakuan CDD yg lebih sederhana, yang antara lain memuat alasan penetapan risiko rendah. 4. Dalam hal Nasabah yang mendapat perlakuan CDD lebih sederhana melakukan transaksi yg diidentifikasikan adanya pencucian uang atau pendanaan terorisme, maka Nasabah tersebut dikeluarkan dari daftar sebagaimana dimaksud pada angka 3 di atas.

35 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri

BAB XI CDD OLEH PIHAK KETIGA

1. 2. 3.

4. 5. 6.

BPR dapat menggunakan hasil CDD yang telah dilakukan oleh pihak ketiga (lembaga keuangan) terhadap calon Nasabahnya yang telah menjadi Nasabah pada pihak ketiga tersebut. BPR tetap harus melakukan proses identifikasi dan verifikasi atas hasil CDD yang dilakukan oleh pihak ketiga tersebut. Hasil CDD pihak ketiga yang dapat digunakan BPR adalah hasil CDD dari pihak ketiga yang memenuhi kriteria paling kurang sbb: a. Memiliki prosedur CDD sesuai dengan ketentuan yang berlaku; b. Memiliki kerjasama dengan BPR dalam bentuk kesepakatan tertulis. c. Tunduk pada pengawasan otoritas berwenang (antara lain Bank Indonesia atau Bapepam LK). d. Bersedia memenuhi permintaan informasi berikut: i. Nama lengkap sesuai dengan yg tercantum pada kartu identitas ii. Alamat, tempat dan tanggal lahir iii. Nomor kartu identitas, dan iv. Kewarganegaraan dari calon nasabah v. Salinan dokumen pendukung. BPR wajib memastikan kecukupan identifikasi dan verifikasi atas CDD yang telah dilakukan oleh pihak ketiga. Tanggung jawab akhir atas hasil identifikasi dan verifikasi calon nasabah menjadi tanggung jawab BPR. BPR melaksanakan penatausahaan dokumen hasil CDD yang dilakukan pihak ketiga serta data hasil identifikasi dan verifikasi yang dilakukan oleh BPR sendiri. ===========ooooOoooo============

36 Pedoman Standar Pelaksanaan Program APU dan PPT | PT.BPR Superi Mandiri