Anda di halaman 1dari 59

PENGAMATAN PENYAKIT YANG MENYERANG TANAMAN PADI (Oryza sativa L)

MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER MATA KULIAH Peramalan Hama dan Epidemiologi Penyakit yang dibimbing oleh Bapak DR. H. Anton Muhibuddin, SP. MP

oleh : PUTRI SETYA RAHMITA 105040204111016 Kelas : K

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI Desember 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah S.W.T karena atas rahmat dan hidayahnya dapat terselesaikan Laporan Individu Peramalan Hama dan Epidemiologi Penyakit. Dalam Studi Pengamatan Penyakit pada Komoditas Padi. Makalah hasil pengamatan penyakit peramalan penyakit pada komoditas padi ini merupakan salah satu tugas akhir semester 3. Pada kesempatan ini tak lupa penyusun mengucapkan terimakasih kepada: 1. Kedua orang tua tercinta yang telah banyak berkorban dan memberikan bantuan baik motivasi maupun materi hingga terselesaikannya makalah hasil fieldtrip ekologi pertanian ini. 2. Dosen mata kuliah Peramalan Hama dan Epidemiologi Penyakit DR. H. Anton Muhibuddin, SP. MP , yang membimbing saya. 3. Asisten praktikum yang telah membimbing dan membantu dalam pelaksanaan dan penyusunan hingga terselesaikannya makalah ini, terutama kak Ervan selaku asisten praktikum kelompok kami. 4. Teman-teman yang telah membantu dan memberikan semangat untuk menyelesaikan makalah ini. 5. Semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu yang telah telah meluangkan waktu untuk turut membantu dalam penulisan makalah ini hingga selesai. Penyusun menyadari bahwa di dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan sehingga diharapkan pada semua pihak untuk dapat memberikakn kritikan dan saran masukan yang bermanfaat guna penyempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Akhirnya penulisan berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Malang, Desember 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman merupakan tumbuhan yang dibududayakan oleh pelaku budidaya atau oleh petani. Dalam melakukan proses budidaya tanaman, kita sering menjumpai hama atau penyakit yang menyerang tanaman budidaya. Hal itu yang menjadi masalah dalam usaha budidaya karena hama dan penyakit dapat menyebabkan penurunan terhadap hasil produksi dan dapat merugikan secara ekonomi. Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berusaha, memenuhi kebutuhan primer yaitu makanan. Dalam sejarah hidup manusia dari tahun ketahun mengalami perubahan yang diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini dibuktikan dibeberapa daerah yang semula makanan pokoknya ketela, sagu, jagung akhimya beralih makan nasi. Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah, mudah disajikan, enak dan nilai energi yang terkandung didalamnya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan. Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat. Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropi ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.

1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk mengetahui perkembangan penyakit dari komoditas padi selama 1 bulan dengan interval pengamatan tiap 3 hari sekali. Selain itu pengamatan sangat memiliki manfaat yaitu untuk mengetahui langkah selanjutnya apa yang akan diambil untuk tindakan selanjutnya untuk menangani penyakit dari komoditas padi tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sejarah Padi Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan

Asia sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Asal-usul budidaya padi diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai

Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawarawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus dibagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) kebagian akar.

Pada tahun 1984 pemerintah Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini tidak dapat dilanjutkan dan baru kembali pulih sejak tahun 2007.

2.2. Klasifikasi Padi Nama umum Indonesia: Padi, pari (Jawa), pare (Sunda) Inggris: Rice Pilipina: Palai

Padi Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas: Commelinidae Ordo: Poales Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan) Genus: Oryza Spesies: Oryza sativa L. 2.3. Morfologi Padi 2.3.1. Akar. Berdasarkan literatur Aak (1992) akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Akar tanaman padi dapat dibedakan atas : a) Radikula; akar yang tumbuh pada saat benih berkecambah. Pada benih yang

sedang berkecambah timbul calon akar dan batang. Calon akar mengalami pertumbuhan ke arah bawah sehingga terbentuk akar tunggang, sedangkan calon batang akan tumbuh ke atas sehingga terbentuk batang dan daun.

b)

Akar serabut (akaradventif); setelah 5-6 hari terbentuk akar tunggang, akar

serabut akan tumbuh. c) Akar rambut ; merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang dan akar

serabut. Akar ini merupakan saluran pada kulit akar yang berada diluar, dan ini penting dalam pengisapan air maupun zat-zat makanan. Akar rambut biasanya berumur pendek sedangkan bentuk dan panjangnya sama dengan akar serabut. d) Akar tajuk (crown roots) ;adalah akar yang tumbuh dari ruas batang terendah.

Akar tajuk ini dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di tanah yaitu akar yang dangkal dan akar yang dalam. Apabila kandungan udara di dalam tanah rendah,maka akarakar dangkal mudah berkembang.

Gambar . Pertumbuhan akar padi Bagian akar yang telah dewasa (lebih tua) dan telah mengalami perkembangan akan berwarna coklat, sedangkan akar yangbaru atau bagian akar yangmasih muda berwarna putih. 2.3.2. Batang. Padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang daripada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yangmembalut ruas sampai buku bagian atas.Tepat pada buku bagian atas ujumg dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg terpanjang dan terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut daunbendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir padi. Pertumbuhan batang tanaman padi adalah merumpun, dimana terdapat satu batang tunggal/batang utama yang mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah kanan

dan sukma 2, 4, 6 sebelah kiri. Dari tiap-tiap sukma ini timbul tunas yang disebut tunasorde pertama.

Gambar. Pertumbuhan daun dan batang padi Tunas orde pertama tumbuhnya didahului oleh tunas yang tumbuh dari sukma pertama, kemudian diikuti oleh sukma kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari sukma ketiga dan seterusnya sampai kepad apembentukan tunas terakhir yang keenam pada batang tunggal.Tunas-tunas yang timbul dari tunas orde pertama disebu ttunas orde kedua. Biasanya dari tunas-tunas orde pertama ini yang menghasilkan tunas-tunas orde kedua ialah tunas orde pertama yang terbawah sekali pada batang tunggal/ utama. Pembentukan tunas dari orde ketiga pada umunya tidak terjadi,oleh karena tunas-tunas dari orde ketiga tidak mempunyai ruang hidup dalam kesesakan dengan tunas-tunas dari orde pertama dan kedua. 2.3.3. Daun. Padi termasuk tanaman jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang berbeda-beda, baik bentuk, susunan, atau bagian bagiannya. Ciri khas daun padi adalah adanya sisik dan telinga daun. Hal inilah yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain. Adapun bagian-bagian daun padi adalah : a) Helaian daun ; terletak pada batang padi dan selalu ada. Bentuknya memanjang

seperti pita. Panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang bersangkutan. b) Pelepah daun (upih) ;merupakan bagian daun yang menyelubungi batang,

pelepah daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi. c) Lidah daun ; lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih.

Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan diantara batang dan pelepah daun (upih). Disamping itu lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air memudahkan penyebaran penyakit. Daun yang muncul pada saat terjadi perkecambahan dinamakan coleoptile. Koleopti lkeluar dari benih yang disebar dan akan memanjang terus sampai permukaan air. koleoptil

baru membuka, kemudian diikuti keluarnya daun pertama, daun kedua dan seterusnya hingga mencapai puncak yang disebut daun bendera, sedangkan daun terpanjang biasanya pada daun ketiga. Daun bendera merupakan daun yang lebih pendek daripada daun-daun di bawahnya, namun lebih lebar dari pada daun sebelumnya. Daun bendera ini terletak di bawah malai padi. Daun padi mula-mula berupa tunas yang kemudian berkembang menjadi daun. Daun pertama pada batang keluar bersamaan dengan timbulnya tunas (calon daun) berikutnya. Pertumbuhan daun yang satu dengan daun berikutnya (daun baru) mempunyai selang waktu 7 hari,dan 7 hari berikutnya akan muncul daun baru lainnya.

Gambar 50 Bagian daun tanaman padi 2.3.4. Bunga. Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas dinamakan malai. Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai tergantung pada varietas padi yang ditanam dancara bercocok tanam. Dari sumbu utama pada ruas buku148yang terakhir inilah biasanya panjang malai (rangkaian bunga) diukur. Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3 ukuran yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm), dan malai panjang (lebih dari 30cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 15-20 buah, yang paling rendah 7 buah cabang, dan yang terbanyak dapat mencapai 30 buah cabang. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi besarnya rendemen tanaman padi varietas baru, setiap malai bisa mencapai100-120 bunga (Aak, 1992). Bunga padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu (DepartemenPertanian, 1983).

Gambar . Bunga padi dan malai. Komponen-komponen (bagian) bunga padi adalah: a) b) c) d) e) f) 2.3.5. Buah. Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah,sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini terjadi setelah selesai penyerbukkan dan pembuahan. Lemma dan palea serta bagian lain yang membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen Pertanian, 1983). Jika bunga padi telah dewasa, kedua belahan kembang mahkota (palea dan lemmanya) yang semula bersatu akan membuka dengan sendirinya sedemikian rupa sehingga antara lemma dan palea terjadi siku/sudut sebesar 30-600. Membukanya kedua belahan kembang mahkota itu terjadi pada umumnya pada hari-hari cerah antara jam 10-12, dimana suhu kira-kira 30-320C. Di dalam dua daun mahkota palea dan lemma itu terdapat bagian dalam dari bunga padi yang terdiri dari bakal buah (biasa disebut karyiopsis). Jika buah padi telah masak, kedua belahan daun mahkota bunga itulah yang menjadi pembungkus berasnya (sekam). Diatas karyiopsis terdapat dua kepala putik yang dipikul oleh masing-masing tangkainya. Lodicula yang berjumlah dua buah, sebenarnya merupakan daun mahkota yang telah berubah bentuk. Pada waktu padi hendak berbunga, lodicula menjad imengembang karena menghisap cairan dari bakal buah. Pengembangan ini mendorong kepala sari tangkai sari, palea (belahan yang besar), lemma (belahan yang kecil), kepala putik, tangkai bunga.

lemma dan palea terpisah dan terbuka. Hal ini memungkinkan benang sari yang memanjang keluar dari bagian atas atau dari samping bunga yang terbuka tadi. Terbukanya bunga diikuti dengan pecahnya kandung serbuk, yang kemudian menumpahkan tepung sarinya. Sesudah tepung sarinya ditumpahkan dari kandung serbuk maka lemma dan palea menutup kembali. Dengan berpindahnya tepung sari dari kepala putik maka selesailah sudah proses penyerbukkan. Kemudian terjadilah pembulaian yang menghasilkan lembaga danendosperm. Endosperm adalahpenting sebagai sumbercadangan makanan bagitanaman yang baru tumbuh

2.4. Budidaya Padi Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka, tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat ialah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyakit, tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur ialah tanaman yang pertumbuhan clan perkembangannya tidak terhambat, entah oleh kondisi biji atau kondisi lingkungan.

PADI SAWAH Teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga berbuah ini harus dipelihara yang baik, terutama harus diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang sering kali menurunkan produksi.

1. PERSEMAIAN Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai. a. Penggunaan benih - Benih unggul - Bersertifikat

- Kebutuhan benih 25 -30 kg / ha b. Persiapan lahan untuk persemaian - Tanah harus subur - Cahaya matahari - Pengairan - Pengawasan c. Pengolahan tanah calon persemaian - Persemaian kering - Persemaian basah - Persemaian sistem dapog Persemaian Kering Persemaian kering biasanya dilakukan pada tanah-tanah remah, banyak terdapat didaerah sawah tadah hujan. Persemaian tanah kering harus dilakukan dengan baik yaitu : - Tanah dibersihkan dari rumput clan sisa - sisa jerami yang masih tertinggal, agar tidak mengganggu pertumbuhan bibit. - Tanah dibajak atau dicangkul lebih dalam dari pada apa yang dilakukan pada persemaian basah, agar akar bibit bisa dapat memasuki tanah lebih dalam, sehingga dapat menyerap hara lebih banyak. - Selanjutnya tanah digaru. Areal persemaian yang tanahnya sempit dapat dikerjakan dengan cangkul, yang pada dasarnya pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, agar tanah menjadi gembur. Ukuran bedengan persemaian : - Panjang bedengan : 500 -600 cm atau menurut kebutuhan, akan tetapi perlu diupayakan agar bedengan tersebut tidak terlalu panjag - Lebar bedengan 100 -150 cm - Tinggi bedengan 20 -30 cm Diantara kedua bedengan yang berdekatan selokan, dengan ukuran lebar 30-40 cm. Pembuatan selokan ini dimaksud untuk mempermudah : - Penaburan benih dan pencabutan bibit - Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi : Penyiangan Pengairan Pemupukan

Pemberantasan hama dan penyakit Persemaian diupayakan lebih dari 1/25 luas sawah yang akan ditanami, penggunaan benih pada persemaian kering lebih banyak dari persemaian basah. Persemaian Basah Perbedaan antara persemaian kering dan basah terletak pada penggunaan air. Persemaian basah, sejak awal pengolahan tanah telah membutuhkan genangan air. Fungsi genangan air : - Air akan melunakan tanah - Air dapat mematikan tanaman pengganggu ( rumput ) - Air dapat dipergunakan untuk memberantas serangga pernsak bibit Tanah yang telah cukup memperoleh genangan air akan menjadi lunak, tanah yang sudah lunak ini diolah dengan bajak dan garu masing-masing 2 kali. Namun sebelum pengolahan tanah harus dilakukan perbaikan pematang terlebih dahulu, kemudian petak sawah dibagi menurut keperluan. Luas persemaian yang digunakan 1/20 dari areal pertanaman yang akan ditanami. Sistem Dapog Di Filipina telah dikenal cara penyemaian dengan sistem dapog, sistem tersebut di Kabupaten Bantul telah dipraktekan di Desa Pendowoharjo, Sewon. Cara penyemaian dengan sistem dapog : - Persiapan persemaian seperti pada persemaian basah - Petak yang akan ditebari benih ditutup dengan daun pisang - Kemudian benih ditebarkan diatas daun pisang, sehingga pertumbuhan benih dapat menyerap makanan dari putik lembaga - Setiap hari daun pisang ditekan sedikit demi sedikit kebawah - Air dimasukan sedikit demi sedikit hingga cukup sampai hari ke 4 - Pada umur 10 hari daun pisang digulung dan dipindahkan kepersemaian yang baru atau tempat penanaman disawah d. Penaburan benih Perlakuan sebagai upaya persiapan Benih terlebih dahulu direndam dalam air dengan maksud : - Seleksi terhadap benih yang kurang baik, terapung, melayang harus dibuang - Agar terjadi proses tisiologis

Proses tisiologis berarti terjadinya perubahan didalam benih yang akhimya benih cepat berkecambah. Terserap atau masuknya air kedalam benih akan mempercepat proses tisiologis Lama perendaman benih Benih direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diperam ( sebelumnya ditiriskan atau dietus ) Lamanya pemeraman Benih diperam selama 48 jam, agar didalam pemeraman tersebut benih berkecambah. Pelaksanaan menebar benih Hal- hal yang hams diperhatikan dalam menebar benih adalah : - Benih telah berkecambah dengan panjang kurang lebih 1 mm - Benih tersebar rata - Kerapatan benih harus sama e. Pemeliharaan persemaian 1) Pengairan Pada pesemaian secara kering Pengairan pada pesemaian kering dilakukan dengan cara mengalirkan air keselokan yang berada diantara bedengan, agar terjadi perembesan sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung, meskipun dalam hal ini sering kali ditumbuhi oleh tumbuhan pengganggu atau rumput. Air berperan menghambat atau bahkan menghentikan pertumbuhan tanaman pengganggu / rumput. Perlu diketahui bahwa banyaknya air dan kedalamanya merupakan faktor yang memperngaruhi perkembangan semai, terutama pada pesemaian yang dilakukan secara basah. Pada pesemaian basah Pengairan pada pesemaian basah dilakukan dengan cara sebagai berikut : - Bedengan digenangi air selama 24 jam - Setelah genagan itu berlangsung selama 24 jam, kemudian air dikurang hingga keadakan macak-macak (nyemek-nyemek), kemudian benih mulai bisa disebar. Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macakmacak ini, dimaksudkan agar benih yang disebar dapat merata dan mudah melekat ditanah sehingga akar mudah masuk kedalam tanah. - Benih tidak busuk akibat genagan air - Memudahkan benih bernafas / mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga proses perkecambahan lebih cepat

- Benih mendapat sinar matahari secara langsung Agar benih dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan keadaan, misalnya : bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar benih tidak hanyut. Penggenangan air dilakukan lagi pada saat menjelang pemindahan bibit dari pesemaian kelahan pertanaman, untuk memudahkan pencabutan. 2) Pemupukan dipersemaian Biasanya unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar ialah unsur hara makro. Sedangkan pupuk buatan / anorganik seperti Urea, TSP dll diberikan menjelang penyebaran benih dipesemaian, bila perlu diberi zat pengatur tumbuh. Pemberian zat pengatur tumbuh pada benih dilakukan menjelang benih disebar.

2. PERSIAPAN DAN PENGOLAHAN TANAH SAWAH Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah ( struktur tanah ) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap : a. Pembersihan b. Pencangkulan c. Pembajakan d. Penggaruan a. Pembersihan - Selokan-selokan perlu dibersihkan - Jerami yang ada perlu dibabat untuk pembuatan kompos b. Pencangkulan Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak c. Membajak - Memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah - Membalikkan tanah beserta tumbuhan rumput ( jerami ) sehingga akhirnya membusuk. - Proses pembusukan dengan bantuan mikro organisme yang ada dalam tanah d. Menggaru - Meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah - Pada saat menggaru sebaiknya sawah dalam keaadan basah - Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar

- Penggaruan yang dilakukan berulang kali akan memberikan keuntungan : Permukaan tanah menjadi rata Air yang merembes kebawah menjadi berkurang -Sisa tanaman atau rumput

akan terbenam Penanaman menjadi mudah Meratakan pembagian pupuk dan pupuk terbenam

3. PENANAMAN Dalam penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah : a. Persiapan lahan b. Umur bibit c. Tahap penanaman a. Persiapan lahan Tanah yang sudah diolah dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk ditanami bibit padi. b. Umur bibit Bila umur bibit sudah cukup sesuai dengan jenis padi, bibit tersebut segera dapat dipindahkan dengan cara mencabut bibit c. Tahap penanaman Tahap penanaman dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu 1. Memindahkan bibit 2. Menanam 1) Memindahkan bibit Bibit dipesemaian yang telah berumum 17-25 hari (tergantung jenis padinya, genjah / dalam) dapat segera dipindahkan kelahan yang telah disiapkan. Syarat -syarat bibit yang siap dipindahkan ke sawah : - Bibit telah berumur 17 -25 hari - Bibit berdaun 5 -7 helai - Batang bagian bawah besar, dan kuat - Pertumbuhan bibit seragam ( pada jenis padi yang sama) - Bibit tidak terserang hama dan penyakit Bibit yang berumur lebih dari 25 hari kurang baik, bahkan mungkin telah ada yang mempunyai anakan.

2) Menanam Dalam menanam bibit padi, hal- hal yang harus diperhatikan adalah : a. Sistim larikan ( cara tanam ) b. Jarak tanam c. Hubungan tanaman d. Jumlah tanaman tiap lobang e. Kedalam menanam bibit f. Cara menanam a) Sistim larikan ( cara tanam ) - Akan kelihatan rapi - Memudahkan pemeliharaan terutama dalam penyiangan - Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit akan lebih baik dan cepat - Dan perlakuan-perlakuan lainnya - Kebutuhan bibit / pemakaian benih bisa diketahui dengan mudah b) Jarak tanam Faktor yang ikut menentukan jarak tanam pada tanaman padi, tergantung pada : - .Jenis tanaman - Kesuburan tanah - Ketinggian tempat / musim - Jenis tanaman Jenis padi tertentu dapat menghasilkan banyak anakan. Jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih besar, sebaliknya jenis padi yang memiliki jumlah anakan sedikit memerlukan jarak tanam yang lebih sempit. - Kesuburan tanah Penyerapan hara oleh akar tanaman padi akan mempengaruhi penentuan jarak tanam, sebab perkembangan akar atau tanaman itu sendiri pada tanah yang subur lebih baik dari pada perkembangan akar / tanaman pada tanah yang kurang subur. Oleh karena itu jarak tanam yang dibutuhkan pada tanah yang suburpun akan lebih lebar daTi pada jarak tanam padah tanah yang kurang subur.

- Ketinggian tempat. Daerah yang mempunyai ketinggian tertentu seperti daerah pegunungan akan memerlikan jarak tanam yang lebih rapat dari pada jarak tanam didataran rendah, hal ini berhubungan erat dengan penyediaan air. Tanaman padi varietas unggul memerlukan jarak tanam 20 x 20 cm pada musim kemarau, dan 25 x 25 cm pada musim hujan. c) Hubungan tanaman Hubungan tanaman berkaitan dengan jarak tanam. Hubungan tanaman yang sering diterapkan ialah : - Hubungan tanaman bujur sangkar ( segi empat ) - Hubungan tanaman empat persegi panjang. - Hubungan tanaman 2 baris. d) Jumlah tanaman ( bibit ) tiap lobang. Bibit tanaman yang baik sangat menentukan penggunaannya pada setiap lubang. Pemakian bibit tiap lubang antara 2 -3 batang e) Kedalaman penanaman bibit Bibit yang ditanam terlalu dalam / dangkal menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik, kedalam tanaman yang baik 3 -4 cm. f) Cara menanam Penanaman bibit padi diawali dengan menggaris tanah / menggunakan tali pengukur untuk menentukan jarak tanam. Setelah pengukuran jarak tanam selesai dilakukan penanaman padi secara serentak.

4 PEMELIHARAAN Meliputi : a. Penyulaman dan penyiangan b. Pengairan c. Pemupukan a. Penyulaman dan penyiangan.

Yang harus diperhatikan dalam penyulaman : - Bibit yang digunakan harus jenis yang sama - Bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu - Penyulaman tidak boleh melampoi 10 hari setelah tanam.

- Selain tanaman pokok ( tanaman pengganggu ) supaya dihilangkan. b. Pengairan Pengairan disawah dapat dibedakan : - Pengairan secara terns menerus - Pengairan secara piriodik c. Pemupukan Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan makanan yang berperan sangat penting bagi tanaman baik dalam proses pertumbuhan / produksi, pupuk yang sering digunakan oleh petani berupa : - Pupuk alam ( organik ) - Pupuk buatan ( an organik ) Dosis pupuk yang digunakan : - Pupuk Urea 250 -300 kg / ha - Pupuk SP 36 75 -100 kg / ha - Pupuk KCI 50 -100 kg / ha - Atau disesuaikan dengan analisa tanah

2.5. Syarat Tumbuh Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 -1500 m dpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 22 cm dengan pH antara 4 -7.

2.6. Arti Penting dan Manfaat Padi pada Kehidupan Manusia Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh

manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi. Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya. 2.7. Penyakit yang Menyerang Tanaman Padi a. Tungro Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi. Dua spesies wereng hijau Nephotettix malayanus dan N.virescens adalah serangga yang menyebarkan (vektor) virus tungro. Cara pengendalian Varietas tahan. Penggunaan varietas tahan seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tungro. Rotasi varietas penting untuk mengurangi gangguan ketahanan. Pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sumber penyakit dan menghancurkan telur dan tempat penetasan wereng hijau. Bajak segera setelah panen bila tanaman sebelumnya terkena penyakit. Cabut dan bakar tanaman yang sakit. Ini perlu dilakukan kecuali bila serangan tungro sudah menyeluruh. Bila serangan sudah tinggi maka mungkin ada tanaman yang terinfeksi tungro tapi kelihatan sehat. Mencabut tanaman yang terinfeksi dapat mengganggu wereng hijau sehingga makin menyebarluaskan infeksi tungro. Tanam benih langsung (Tabela): Infeksi tungro biasanya lebih rendah pada tabela karena lebih tingginya populasi tanaman (bila dibandingkan tanam pindah). Dengan demikian wereng cenderung mencari dan makan serta menyerang tanaman yang lebih rendah populasinya. Waktu Tanam: Tanam padi saat populasi wereng hijau dan tungro rendah.

Tanam serempak: Upayakan petani tanam serempak. Ini mengurangi penyebaran tungro dari satu lahan ke lahan lainnya karena stadium tumbuh yang relatif seragam. Bera atau rotasi. Pertanaman padi terus-menerus akan meningkatkan populasi wereng hijau sehingga sulit mencegah infeksi tungro. Adanya periode bera atau tanaman lain selain padi dapat mengurangi populasi wereng hijau dan ketersediaan inang untuk virus tungro. b. Hawar Bakteri (HB-Bacterial blight) Hawar Bakteri (HB) atau Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit yang dapat menginfeksi bibit dan tanaman tua. Bila HB terjadi pada tanaman muda disebut kresek dan bila terjadi pada tanaman tua disebut hawar daun. Tanaman yang terinfeksi kehilangan areal daun dan menghasilkan gabah yang lebih sedikit dan hampa. Pada pembibitan, daun yang terinfeksi berubah hijau keabu-abuan menggulung dan akhirnya mati. Cara pengendalian Gunakan varietas tahan. Ini adalah cara yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit. Pemupukan lengkapPenyakit semakin parah bila pupuk N dipakai secara berlebihan, tanpa P dan K Kurangi kerusakan bibit dan penyebaran penyakit Infeksi bibit terjadi melalui luka dan kerusakan bagian tanaman. Penanganan yang buruk atau angin kencang dan hujan dapat menyebabkan tanaman sakit. Penyakit menyebar melalui kontak langsung antara daun sehat dengan daun sakit melalui air dan angin. Kurangi penyebaran penyakit dengan penanganan bibit secara baik waktu tanam pindah, pengairan dangkal pada persemaian, dan membuat drainase yang baik ketika genangan tinggi Kurangi jumlah inokulum Tunggul tanaman yang terinfeksi dan gulma dapat menjadi sumber inokulum. Pertahankan kebersihan sawah buang atau bajak gulma, jerami yang terinfeksi, ratun padi yang semuanya dapat menjadi sumber inokulum. Keringkan sawah upayakan sawah bera mengering untuk membunuh bakteri yang mungkin bertahan dalam tanah atau sisa tanaman. c. Bercak cokelat sempit Gejala serangan : Di daun dan pelepah daun terdapat bercak cokelat yag sempit seperti garis-garis pendek. Pada varietas yang tahan bercak berukuran 0,2-1 cm x 0,1 cm, berwarna cokelat gelap. Pada varietas yang rentan, bercaknya lebih besar dan berwarna cokelat terang.

Disebabkan oleh cendawan Cescopora oryzae, dengan penularan melalui udara dan inang alternatif. Cara pencegahan : 1. Menggunakan variets yang tahan penyakit ini 2. Bila diperlukan menyemprotkan fungisida di daun d. Bercak daun cokelat Gejala serangan : Disebabkan oleh jamur Helminthosporium oryzae atau Drechslera oryzae. Gejalanya ditandai oleh adanya bercak cokelat di kulit gabah dan daun. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna cokelat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar, berwarna cokelat dengan pusat kelabu. Penyebaran penyakit ini disebabkan oleh angin dan dapat terbawa benih. Cara pencegahan : 1. Menanam varietas yang tahan 2. Menggunakan benih yang sehat dan telah diberi perlakuan fungisida atau air panas pada benih. 3. Pemberian pupuk yang seimbang, terutama K yang cukup 4. Pemberian fungisida mankozeb 80% (Dipthane M-45), namun terbatas hanya untuk benih saja e. Bercak garis Gejala serangan : Garis-garis yang kebasahan muncul diantara urat-urat daun setelah pemindahan bibit. Garisgaris tersebut tampak tembus cahaya bila dilihat dengan menantang sumber cahaya. Garisgaris itu kemudian memanjang dan berubah menjadi cokelat dengan lingkaran kuning di sekelilingnya. Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas camprestris pv oryzicola. Ditularkan melalui benih, percikan air, dan masuk melalui luka dan stomata. Cara pencegahan : Menanan varietas yang tahan, seperti Singkarak, Mahakam, Sentani, Atomita 2. Memusnahkan sisa tanaman padi dan gulma inang diantara musim pertanaman. f. Bercak pelepah daun Gejala serangan :Bercak terutama terdapat di seludang daun. Bercak berbentuk bulat lonjong, berwarna kelabu kehijau-hijauan yang kemudian menjadi putih kelabu dengan pinggiran cokelat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang 2-3 cm.

Disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani dan R. oryzae, cendawan ini berkembang pesat pada kondisi lembab, juga berkembang pesat pada tanaman yang dipupuk berat dengan pupuk N. Cara pencegahan : 1. Menjaga jarak tanam agar tidak terlalu rapat 2. menghindari pemupukan N yang berlebihan 3. Penyemprotan fungisida pada masa pembentukan anakan maksimum g. Hangus palsu Gejala serangan : Bulir-bulir padi berubah menjadi gumpalan spora yang berukuran sampai 1 cm. Gumpala spora tersbut mula-mula berwarna kuning sampai oranye, kemudian menjadi hijau gelap. Disebabkan oleh cendawan Ustilaginoidea virens, cendawan ini berkembang pesat pada kondisi lembab, banyak hujan, mendung pada masa pembungaan dan tanaman yang dipupuk berat dengan pupuk N. penularan terjadi lewat udara. Cara pencegahan : Menggunakan varietas yang tahan. h. Kerdil hampa Gejala serangan : Tanaman kerdil dengan gejala utama daun padi menjadi kasar tidak teratur. Bagian daun yang kasar biasanya menguning, rusak atau terpilin. Pada tanaman dewasa daun benderanya pendek, terpilin, salah bentuk atau kasar tak beraturan. Bulir padi hanya sedikit yang terisi. Disebabkan oleh virus kerdil hampa yang dapat ditularkan oleh wereng cokelat. Cara pencegahan : 1. Menggunakan varietas yang tahan. 2. Memberantas serangga penularnya dengan insektisida. i.Kerdil rumput Gejala serangan : Tanaman yang terinfeksi sangat kerdil dengan banyak anakan sehingga menyerupai rumput. Daunnya sempit, pendek , kaku, hijau pucat dan kadang-kadang mempunyai bercak seperti karat. Tanaman yang terinfeksi dapat bertahan samapi dewasa, namun malainya sedikit, cokelat dan bulirnya hampa. Disebabkan oleh virus kerdil rumput yang dapat ditularkan oleh wereng cokelat. Cara pencegahan : 1. Menggunakan varietas yang tahan.

2. Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terinfeksi agar tidak menular. 3. Memberantas serangga penularnya dengan insektisida. j. Kresek Gejala serangan : Tepi daun tanaman yang terinfeksi mula-mula bernoda seperti garis-garis basah yang kemudian meluas berwarna putih kekuning-kuningan. Kematian jaringan daun mulai terjadi di tepi helai kesatu atau kedua, atau di setiap titik permukaan daun yang luka dan selanjutnya meluas ke seluruh permukaan daun. Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Yang masuh melalui hidatoda di tepi daun, luka di daun atau akar yang putus. Penyebarannya melalui angin, embun, air hujan dan air irigasi. Cara pencegahan : 1. Menggunakan varietas yang tahan. 2. Menggunakan bibit yang sehat 3. Mencegah kerusakan bibit sewaktu pemindahan. 4. Menghindari penggunaan pupuk N yang berlebihan. 2.8. Faktor Penyebab Perkembangan Epidemi A. Penyebab Penyakit Faktor Lingkungan Bila penyebab penyakit adalah faktor lingkungan fisik atau kimia maka biasanya penyakit menjadi makin berat dengan pertambahan waktu, sedang kecepatan perkembangan tersebut beragam menurut jenis pohon, jenis faktor penyebab penyakit serta seberapa jauh penyimpangan kondisi faktor penyebab tersebut dari kondisi yang cukup baik untuk perkembangan pohon yang bersangkutan. Makin besar penyimpangan jenis pohon tertentu, makin cepatlah dan mungkin makin beratlah penyakit yang ditimbulkannya. Tiap jenis pohon memerlukan syarat mengenai faktor fisik atau kimia tertentu untuk pertumbuhannya yang optimal, oleh karena itu suatu kondisi lingkungan fisik atau kimia tertentu mungkin sekali cukup baik untuk pertumbuhan jenis pohon yang satu tetapi tidak baik untuk pertumbuhan jenis pohon yang lain. Demikian pula pada suatu kondisi lingkungan fisik atau kimia tertentu, suatu jenis pohon yang semula pada umurumur tertentu tidak menunjang gejala suatu penyakit, pada umur-umur lebih lanjut dapat menjadi sakit. Pengaruh Suhu Tumbuhan umumnya tumbuh pada kisaran suhu 1 sampai 40 OC, kebanyakan jenis tumbuhan tumbuh sangat baik antara 15 dan 30 OC. Tumbuhan berbeda kemampuan

bertahannya terhadap suhu ekstrim pada tingkat prtumbuhan yang berbeda. Misalnya, tumbuhan yang lebih tua, dan lebih keras akan lebih tahan terhadap suhu rendah dibanding kecambah muda. Jaringan atau organ berbeda dari tumbuhan yang sama mungkin sangat bervariasi kesensitifannya (kepekaannya) terhadap suhu rendah yang sama. Tunas jauh lebih sensitif (peka) dibanding daun dan sebagainya. Pengaruh Suhu Tinggi Pada umunya tumbuhan lebih cepat rusak dan lebih cepat meluas kerusakannya apabila suhu lebih tinggi dari suhu maksimum untuk pertumbuhannya dibanding apabila suhu lebih rendah dari suhu minimum. Pengaruh suhu tinggi pada pertumbuhan berhubungan dengan pengaruh faktor lingkungan yang lain, terutama kelebihan cahaya, kekeringan, kekurangan oksigen, atau angin kencang bersamaan dengan kelembaban relatif yang rendah. Suhu tinggi biasanya berperan dalam kerusakan sunsclad yang tampak pada bagian terkena sinar matahari pada buah berdaging dan sayuran, seperti cabe, apel, tomat, umbi lapis bawang dan umbi kentang. Hari dengan sinar matahari terik dan panas maka suhu jaringan buah yang terdapat di bawah sinar matahari langsung mungkin jauh lebih tinggi disbanding dengan jaringan buah dari sisi yang terlindung dan dikelilingi udara. Hal tersebut menghasilkan perubahan warna, kelihatan basah berair, melepuh, dan keringnya jaringan di bawah kulit, yang menyebabkan permukaan buah lekuk. Suhu tinggi juga terlibat dalam kekacauan air biji (water core) pada apel dan penurunan oksigen yang menyebabkan terjadinya blacheart pada kentang. Pengaruh Suhu Rendah Kerusakan tumbuhan yang disebabkan oleh suhu rendah lebih besar dibanding dengan suhu tinggi. Suhu di bawah tiitik beku menyebabkan berbagai kerusakan terhadap tumbuhan. Kerusakan tersebut meliputi kerusakan yang disebabkan oleh late frost (embun upas) terhadap titik meristematik muda atau keseluruhan bagian tumbuhan herba, embun upas yang membunuh tunas pada persik, cherry, dan pepohonan lain, dan membunuh bunga, buah muda dan kadang-kadang raning sukulen sebagian pepohohonan. Kerusakan yang terjadi bervariasi tegantung pada tingkat penurunan suhu dan lama suhu rendah tersebut berlangsung. Kerusakan awal hanya mempengaruhi jaringan vaskular utama yang lebih meluas yang berselang-selang pada umbi akan menghasilkan nekrosis seperti jaring. Tingkat kerusakan yang lebih umum, sebagian besar umbi menjadi rusak, menghasilkan nekrosis yang disebut blotch-type (tipe bisul). Pengaruh Kelembaban Pengaruh Kelembaban Tanah Rendah

Gangguan kelembaban di dalam tanah mungkin bertanggung jawab terhadap lebih banyaknya tumbuhan yang tumbuh jelek dan menjadi tidak produktif sepanjang musim. Kekurangan air mungkin juga terjadi secara lokal pada jenis tanah tertentu, kemiringan tertentu atau lapisan tanah yang tipis yang dibawahnya terdapat batu atau pasir. Tumbuhan yang menderita karena kekurangan kelembaban tanah biasanya tetap kerdil, hijau pucat sampai kuning terang, mempunyai daun, bunga dan buah sedikit, kecil dan jarang, dan jika kekeringan berlanjut tumbuhan layu dan mati. Walaupun tumbuhan setahun jauh lebih rentan terhadap periode pendek kekurangan air, tetapi tumbuhan dan pepohonan juga dapat rusak dengan periode kering yang berlangsung lama dan menghasilkan pertumbuhan yang lambat, daun menjadi kecil dan hangus, ranting pendek, dieback, defoliasi (pengguguran daun) dan akhirnya layu dan mati. Tumbuhan yang lemah karena kekeringan juga lebih rentan terhadap serangan patogen dan serangga tertentu. Pengaruh Kelembaban Tanah Tinggi Akbat kelebihan kelembaban tanah yang disebabkan banjir atau drainas yang jelek, bulubulu akar tumbuhan membusuk, mungkin karena menurunnya suplai oksigen ke akar. Kekurangan oksigen menyebabkan sel-sel akar mengalami stres, sesak napas dan kolapsi. Keadaan basah, an-aerob menguntungkan pertumbuhan mikroorganisme an-aerob, yang selama proses hidupnya membentuk substansi seperti nitrit, yang beracun bagi tumbuhan. Disamping itu, sel-sel akar yang dirusak secara langsung oleh kekurangan oksigen akan kehilangan permeabilitas selektifnya dan dapat memberi peluang terambilnya zat-zat besi atau bahan-bahan beracun lain oleh tumbuhan. Drainase yang jelek menyebabkan tumbuhan tidak vigor, seringkali menyebabkan layu dan daun berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan. Banjir selama musim tanam dapat menyebabkan kelayuan tetap dan kematian tumbuhan semusim sukulen dalam dua sampai tiga hari. Pepohonan yang dapat mati karena tergenang air, tetapi biasanya muncul kerusakan lebih lambat yaitu selama beberapa minggu jika akar tergenang terus-menerus. Kekurangan Oksigen Tingkat oksigen rendah yang terjadi pada pusat buah atau sayuran yang berdaging di lapangan, terutama selama periode pernapasan cepat pada suhu tinggi, atau pada penyimpanan produk tersebut di dalam tumpukan yang besar sekali. Contoh dari kasus ini adalah berkembangnya penyakit yang disebut blackheart pada kentang, yang dalam suhu cukup tinggi merangsang pernapasan dan reaksi enzimatik yang abnormal pada umbi kentang. Suplai (penyediaan) oksigen sel pada bagian dalam umbi tidak mencukupi untuk mendukung peningkatan pernapasan, dan sel tersebut mati karena kekurangan oksidasi.

Reaksi enzimatik yang diaktivasi oleh suhu tinggi dan kurang oksidasi berjalan sebelum, selama dan sesudah kematian sel. Reaksi tersebut secara abnormal mengoksidasi penyusun tumbuhan yang normal menjadi pigmen melanin hitam. Pigmen tersebut menyebar ke sekitar jaringan umbi dan akhirnya menjadikan umbi tampak hitam. Cahaya Kekurangan cahaya memperlambat pembentukan klorofil dan mendorong pertumbuhan ramping dengan ruas yang panjang, kemudian menyebabkan daun berwarna hijau pucat, pertumbuhan seperti kumparan, dan gugurnya daun bunga secara prematur. Keadaan tersebut dikenal dengan etiolasi. Tumbuhan teretiolasi didapatkan di lapangan hanya apabila tumbuhan tersebut ditanam dengan jarak yang terlalu dekat atau apabila ditanam di bawah pohon atau benda lain. Kelebihan cahaya agak jarang terjadi di alam dan jarang merusak tumbuhan. Banyak kerusakan yang berhubungan dengan cahaya mungkin akibat suhu tinggi yang menyertai intensitas cahaya tinggi. Polutan Udara Hampir semua polutan udara yang menyebabkan kerusakan pada tumbuhan berbentuk gas, tetapi beberapa bahan yang berupa partikel atau debu juga mempengaruhi vegetasi. Beberapa gas kontaminan seperti etilen, amoniak, klorin dan kadang-kadang uap air raksa, menyebarkan pengaruh buruknya melewati daerah tertentu. Seringkali tumbuhan atau hasil tumbuhan yang disimpan dalam gudang dengan ventilasi yang tidak baik dipengaruhi oleh polutan yang dihasilkan oleh tumbuhan itu sendiri (etilen) atau dari kebocoran sistem pendingin (amoniak). Beberapa kerusakan yang disebabkan oleh polutan udara sebagai berikut : - Klorin (Cl2) yang berasal dari kilang minyak, menyebabkan daun terlihat keputihan, terjadinya nekrosis antar tulang daun, tepi daun nampak seperti hangus. - Etilen (CH2CH2) yang berasal dari gas buangan automobil, menyebabkan tumbuhan tetap kerdil, daun berkembang secara abnormal dan senesen secara prematur. - Sulfur dioksida (SO2) yang berasal dari asap pabrik, pada konsentrasi menyebabkan klorosis umum dan pada konsentrasi tinggi menyebabkan keputihan pada jaringan antar tulang daun. Defisiensi Hara pada Tumbuhan Tumbuhan membutuhkan beberapa unsur mineral untuk pertumbuhan yang normal. Beberapa unsur, seperti nitrogen, posfor, kalium, magnesium dan sulfur dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar yang disebut unsur makro, sedangkan yang lain seperti besi, boron, mangan, seng, tembaga, molibdenum dan klorin dalam jumlah kecil yang disebut unsur

mikro. Jenis gejala yang dihasilkan oleh defisiensi hara tertentu trutama tergantung pada fungsi unsur tersebut di dalam tumbuhan. Fungsi-fungsi tersebut mungkin menghambat atau mengganggu apabila unsur-unsur tersebut terbatas. Gejala tertentu biasanya sama pada defisiensi beberap unsur, tetapi ciri-ciri diagnostik lain biasanya berhubungan dengan defisiensi unsur tertentu. Gejala yang ditimbulkan tumbuhan sebagai akibat defisiensi hara adalah sebagai berikut : - Nitrogen, apabila terjadi defisiensi menyebabkan tumbuhan tumbuh jelek dan berwarna hijau muda. Daun bagian bawah berubah kuning atau coklat muda dan batang pendek dan kurus. - Posfor, apabila terjadi defisiensi menyebabkan tumbuhan tumbuh jelek dan daun hijau kebiruan. Daun bagian bawah kadang-kadang berubah menjadi karat muda dengan bercak ungu atau coklat. - Kalium, apabila terjadi defisiensi menyebabkan tumbuhan mempunyai tunas kecil yang pada keadaan ganas timbul mati-ujung. Daun yang lebih tua memperlihatkan gejala klorosis dengan kecoklatan pada ujung pinggirnya mengering dan biasanya banyak bercak coklat di pinggirnya. - Besi, apabila terjadi defisiensi menyebabkan daun muda mengalami klorosis berat, tetapi tulang daun utamanya tetap hijau seperti biasa. Kadang-kadang berkembang bercak coklat. Sebagian atau keseluruhan daun mungkin mati. - Seng, apabila terjadi defisiensi menyebabkan terjadinya gejala klorosis antar pertulangan daun yang akhirnya menyebabkan nekrosis dan menghasilkan pigmentasi ungu. Jumlah daun sedikit dan mengecil, ruas pendek dan tunas berbentu roset, dan produksi buah rendah. Daun gugur dengan cepat.

B. Penyebab Penyakit oleh Faktor yang Dapat Menular Bagi penyakit yang disebabkan oleh faktor yang dapat menular, berhasil atau tidaknya suatu penyakit berkembang pada suatu pohon atau pertanaman tergantung pada tiga faktor yaitu sifat genetik pohon, keganasan (virulensi) patogen dan keadaan lingkungan. Sifat Genetik Pohon Dalam populasi tiap jenis terdapat ketahanan pohon terhadap suatu jenis patogen. Beberapa individu, galur, atau tanaman yang berasal dari tempat tumbuh tertentu mungkin lebih tahan terhadap suatu jenis patogen, dibandingkan dengan individu, galur, atau yang berasal dari tempat tumbuh lain. Ketahanan ini dapat terjadi karena kemampuan pohon untuk membentuk struktur-struktur tertentu yang tidak menguntungkan perkembangan patogen

pada pohon tersebut, seperti kurangnya jumlah stomata per satuan luas daun, pembentukan lapisan kutikula yang tebal, pembentukan jaringan dengan sel-sel yang berdinding gabus tebal segera setelah patogen memasuki jaringan tanaman atau produksi bahan-bahan toksik di dalam jaringan yang cukup banyak sebelum atau sesudah patogen memasuki jaringan tanaman, sehingga patogen mati sebelum dapat berkembang lebih lanjut dan gagal menyebabkan penyakit pada pohon. Ketahanan suatu jenis pohon terhadap serangan suatu jenis patogen tidak selalu sama pada semua umur. Contoh yang khas adalah penyakit lodoh yang disebsbkan oleh Pythium spp., Phytophthora spp., Fusarium spp. dan Rhizoctonia spp. yang hanya terjadi pada kecambah. Keganasan Patogen Penyakit yangt disebabkan oleh patogen seperti jamur, bakteri, virus, mikoplasma, nematoda dan sebagainya, mempunyai sifat-sifat fisiologis yang beragam dan termasuk kemampuannya dalam menyebabkan penyakit pada suatu jenis pohon. Berbagai galur atau asal (isolat) suatu jenis patogen dapat beragam keganasannya (virulensinya), tergantung pada gen yang terkandung di dalam inti atau bahan yang bertindak sebagai inti. Mengingat susunan gen karena berbagai proses dapat berubah, maka demikian pula virulensi pada suatu jenis patogen dapat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan itu bisa terjadi karena hibridisasi, heterokariosis dan paraseksualisme. Pada bakteri dikenal adanya konjugasi, transfusi, dan transduksi. Di samping itu perubahan keganasan virulensi dapat terjadi karena mutasi dan adaptasi sitoplasmik. Itulah sebabnya mengapa suatu jenis patogen yang sama, dan yang memiliki bentuk serta cara perkembangbiakan yang sama, tetapi yang berasal dari berbagai daerah atau berbagai jenis pohon, dapat berlainan keganasannya. Demikian pula suatu galur tertentu patogen yang semula memiliki suatu taraf keganasan tertentu sesudah beberapa waktu dapat berubah memiliki taraf keganasan yang lain atau terpecah menjadi beberapa galur dengan berbagai taraf keganasan. Keadaan Lingkungan Faktor lingkungan dapat dipisahkan antara yang biotik (hidup) dan yang abiotik (mati). Sebagai contoh untuk biotik adalah jasad-jasad renik yang ada di sekitar patogen. Pengaruh faktor lingkungan biotik yang jelas adalah pada pathogen yang bertahan hidup dan berkembang di dalam tanah, yang biasanya menyerang akar. Jasad yang berkembang di sekitar patogen adalah yang secara langsung berpengaruh terhadap daya tahan hidup patogen dengan bertindak sebagai parasit, vektor, saingan dalam memperoleh makanan atau dengan melalui antibiosis.Unsurunsur biotik yag lain dapat berpengaruh secara tidak langsung terhadap pathogen. Hal ini dsebabkan karena adanya interaksi antara jasad renik di sekitar

patogen. Interasi dapat mengakibatkan berkembangnya atau turunnya populasi jasad renik yang menguntungkan atau merugikan patogen. Dengan demikian maka unsur-unsur biotk lingkungan dapat berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap perkembangan penyakit pada pohon. Kelompok faktor lingkungan yang lain adalah unsur-unsur abiotik (tidak hidup) seperti suhu, kadar air tanah, kelembaban udara, pH tanah dan bahan-bahan kimia di dalam tanah. Suatu faktor abiotik tertentu dapat menyebabkan pohon mengalami tekanan hingga penyakit yang ditimbulkan oleh patogen menjadi lebih berat dibandingkan dengan bila pohon hanya terserang oleh patogen. Faktor lingkungan fisik atau kimia dapat bekerja sendiri dan menyebabkan pohon menjadi sakit tanpa adanya serangan suatu patogen, dan dapat pula mmpengaruhi perkembangan penyakit yang ditimbulkan oleh patogen.

2.9. Patogen, Gejala pada Tanaman, dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Patogen Salah satu patogen yang menimbulkan penyakit dengan kerugian yang besar adalah Phytophthora sp. Lebih dari 66% dari semua penyakit akar dan lebih dari 90% penyakit busuk pangkal batang pada tanaman berkayu disebabkan oleh Phytophthora sp. Berdasarkan beberapa literatur jenis Phytophthora yang biasa menyerang pada tanaman jeruk di banyak negara antara lain P. hibernalis, P. boehmeriae, P. cactorum, P. cinnamomi, P. citricola, P. citrophthora, P. drechsleri, P. megasperma, P. palmivora, P. parasitica (P. nicotianae), P. capsici, dan P. arecae, Sedangkan yang menyerang tanaman anggur adalah P. citricola, tanaman strawberry adalah jenis P. fragariae, dan tanaman apel adalah P. cactorum, P. drechsleri, P. cryptogea, P. citricola, P. cambivora, dan P. arecae. Ciri-ciri morfologi patogen Phytophthora berasal dari bahasa Yunani, phyto yang berarti tanaman dan phthora yang artinya merusak, jamur ini disebut juga jamur air karena selain di tanah dan daerah daun sebagian besar siklus hidupnya dapat terjadi di air (Erwin dan Ribeiro, 1996). Phytophthora yang ditumbuhkan pada media biakan atau jaringan tanaman dalam keadaan lembab, umumnya tidak berpigmen, dan apabila dilihat di bawah mikroskop, miseliumnya berwarna hyalin. Miselium bercabang dan memiliki struktur seperti tabung. Pertumbuhan umumnya terjadi pada ujung hifa (Erwin dan Ribeiro, 1996). Spesies Phytophthora sp. menghasilkan spora aseksual pada kondisi lingkungan yang mendukung (suhu dan kelembaban optimum). Spora aseksual disebut sporangium. Sporangia dibentuk pada sporangiofor. Ukuran dan bentuk sporangia bermacam-macam (ovoid,

obovoid, ellipsoid, limoniform (seperti lemon) dan pyriform (seperti buah pir). Sporangium berkecambah dan akar membentuk tabung kecambah apabila kontak dengan tanaman (Erwin dan Ribeiro, 1996). Zoospora merupakan spora seksual yang dihasilkan melalui peleburan gamet jantan (oogonium) dan betina (antheredium). Zoospora dapat menyebar melalui percikan air dan aliran air dipermukaan tanah. Spora ini memiliki flagel yang dapat membantu pergerakannya mendekati inang (Erwin dan Ribeiro, 1996) Jamur ini dapat bertahan dalam tanah dan mengadakan infeksinya terutama melalui tanah dan disini dapat membentuk sporangium dan spora kembara. Jamur terutama dipencarkan oleh air hujan dan air pengairan yang mengalir di atas permukaan tanah. Infeksi ke pangkal batang dibantu oleh adanya luka, misalnya yang disebabkan oleh alat-alat pertanian. Di dalam kebun P. cactorum dapat terbawa oleh aliran air bersama-sama dengan tanah. Selain itu jamur dapat terangkut jauh karena terbawa oleh bibit (okulasi) dan tanah yang menyertai bibit ini (Semangun, 2000) Gejala infeksi pada tanaman

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 2

Gambar 4

Gambar 3

Gambar 4

Gejalanya pada kulit pangkal batang terdapat bagian yang membusuk dan berbatas jelas. Bagian yang membusuk sering mengeluarkan cairan yang berwarna kecoklatan, sehingga penyakit sering disebut sebagai penyakit kecap (Gambar 1 dan 2). Pembusukan dapat meluas ke bawah dan terjadi pembusukan akar (Gambar 3) tetapi dapat juga kesamping sehingga pangkal batang digelang dan tanaman mati. Kadang-kadang bagian yang sakit tidak meluas, kulit yang busuk menjadi kering dan lepas, sehingga terjadi kanker atau luka terbuka yang dibatasi oleh jaringan kalus (Semangun, 2000). Tanaman tahunan dan kecambah yang terserang kemungkinan akan mati dalam beberapa hari, minggu atau bulan, sedangkan pada tanaman tua proses kematian dapat berlangsung lambat atau cepat, tergantung pada populasi jamur di dalam tanah dan kondisi lingkungan. Gejala yang terlihat pada tanaman tua adalah berkurangnya jumlah daun, daun menguning dan dieback pada ranting dan cabang. Semua tanaman yang diserang oleh Phytophthora menunjukkan kematian akar-akar yang kecil dan adanya nekrotik berupa lesio berwarna coklat pada akar-akar yang tua (besar) (Gambar 4). Pada tanaman muda atau tanaman tua yang sukulen, sistem perakaran menjadi hancur, diikuti oleh kematian tanaman (Agrios, 1997).

2.10. Cara Patogen Menyerang Tanaman Inang Patogen menyerang tumbuhan inang dengan berbagai macam cara guna memperoleh zat makanan yang dibutuhkan oleh patogen yang ada pada inang. Untuk dapat masuk kedalam inang patogen mampu mematahkan reaksi pertahanan tumbuhan inang. Dalam menyerang tumbuhan, patogen mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh terhadap komponen tertentu dari tumbuhan dan juga berpengaruh terhadap aktivitas metabolisme tumbuhan inang. Beberapa cara patogen untuk dapat masuk kedalam inang diantaranya dengan cara mekanis dan cara kimia. Cara Mekanis Cara mekanis yang dilakukan oleh patogen yaitu dengan cara penetrasi langsung ke tumbuhan inang. Dalam proses penetrasi ini seringkali dibantu oleh enzim yang dikeluarkan patogen untuk melunakkan dinding sel. Pada jamur dan tumbuhan tingkat tinggi parasit, dalam melakukan penetrasi sebelumnya diameter sebagian hifa atau radikel yang kontak dengan inang tersebut membesar dan membentuk semacam gelembung pipih yang biasa disebut dengan appresorium yang akhirnya dapat masuk ke dalam lapisan kutikula dan dinding sel. Skema penetrasi patogen terhadap dinding sel tanaman

Cara Kimia Pengaruh patogen terhadap tumbuhan inang hampir seluruhnya karena proses biokimia akibat dari senyawa kimia yang dikeluarkan patogen atau karena adanya senyawa kimia yang diproduksi tumbuhan akibat adanya serangan patogen. Substansi kimia yang dikeluarkan patogen diantaranya enzim, toksin, zat tumbuh dan polisakarida. Dari keempat substansi kimia tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda terhadap kerusakan inang. Misalnya saja, enzim sangat berperan terhadap timbulnya gejala busuk basah, sedang zat tumbuh sangat berperan pada terjadinya bengkak akar atau batang. Selain itu toksin berpengaruh terhadap terjadinya hawar.

Enzim Secara umum, enzim dari patogen berperan dalam memecah struktur komponen sel inang, merusak substansi makanan dalam sel dan merusak fungsi protoplas. Toksin berpengaruh terhadap fungsi protoplas, merubah permeabilitas dan fungsi membran sel. Zat tumbuh mempengaruhi fungsi hormonal sel dalam meningkatkan atau mengurangi kemampuan membelah dan membesarnya sel. Sedang polisakarida hanya berperan pasif dalam penyakit vaskuler yang berkaitan dengan translokasi air dalam inang dan ada kemungkinan polisakarida bersifat toksik terhadap sel tumbuhan. Enzim oleh sebagian besar jenis patogen dikeluarkan setelah kontak dengan tumbuhan inang. Tempat terjadinya kontak antara patogen dengan permukaan tumbuhan adalah dinding sel epidermis yang terdiri dari beberapa lapisan substansi kimia. Degradasi setiap lapisan tersebut melibatkan satu atau beberapa enzim yang dikeluarkan patogen.

Contoh bagian tanaman yang telah rusak akibat adanya enzim dari patogen tanaman.

Toksin Toksin merupakan substansi yang sangat beracun dan efektif pada konsentrasi yang sangat rendah. Toksin dapat menyebabkan kerusakan pada sel inang dengan merubah

permeabilitas membran sel, inaktivasi atau menghambat kerja enzim sehingga dapat menghentikan reaksi-reaksi enzimatis. Toksin tertentu juga bertindak sebagai antimetabolit yang mengakibatkan defisiensi faktor pertumbuhan esensial. Toksin yang dikeluarkan oleh patogen dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu patotoksin, vivotoksin dan fitotoksin. Patotoksin Patotoksin ialah toksin yang sangat berperan dalam menentukan tingkat keparahan penyakit. Berdasarkan luas kisaran inangnya patotoksin digolongkan menjadi dua, yaitu spesifik dan non-spesifik. Vivotoksin dan fitotoksin umumnya bersifat non-spesifik. Vivotoksin Vivotoksin ialah substansi kimia yang diproduksi oleh patogen dalam tumbuhan inang dan/atau oleh inang itu sendiri yang ada kaitanya dengan terjadinya penyakit, tetapi toksin ini bukan agen yang memulai terjadinya penyakit. Beberapa kriteria yang ditunjukkan oleh vivotoksin diantaranya: dapat dipisahkan dari tumbuhan inang sakit, dapat dipurifikasi dan karakterisasi kimia, menyebabkan dari sebagian gejala kerusakan pada tumbuhan sehat, dan dapat diproduksi oleh organisme penyebab penyakit. Fitotoksin Fitotoksin adalah toksin yang diproduksi oleh parasit yang dapat menyebabkan sebagian kecil atau tidak sama sekali gejala kerusakan pada tumbuhan inang oleh pathogen. Tidak ada hubungan antara produksi toksin oleh patogen dengan patogenesitas penyebab penyakit. Contoh gejala pada tanaman inang akibat toksin nonspesifik

Contoh gejala pada tanaman inang akibat toksin spesifik

Zat Tumbuh Zat tumbuh yang terpenting yaitu auksin, giberellin dan sitokinin, selain itu etilen dan penghambat tumbuh juga memegang peranan penting dalam kehidupan tumbuhan. Patogen tumbuhan dapat memproduksi beberapa macam zat tumbuh atau zat penghambat yang sama dengan yang diproduksi oleh tumbuhan, dapat memproduksi zat tumbuh lain atau zat penghambat yang berbeda dengan yang ada dalam tumbuhan, atau dapat memproduksi substansi yang merangsang atau menghambat produksi zat tumbuh atau zat penghambat oleh tumbuhan. Patogen seringkali menyebabkan ketidak seimbangan sistem hormonal pada tumbuhan dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal sehingga pada tumbuhan yang terinfeksi oleh patogen tersebut akan timbul gejala kerdil, pertumbuhan berlebihan, terlalu banyaknya akar-akar cabang dan berubahnya bentuk batang. Contoh gejala pembengkakan pada akar tanaman

Polisakarida Beberapa pathogen mungkin dapat mengeluarkan substansi lender yang

menyelubungi tubuh pathogen tersebut untuk melindungi diri dari factor lingkungan luar yang tidak menguntungkan. Peranan polisakarida pada penyakit tumbuhan hanya terbatas pada layu. Pada vaskuler, polisakarida dalam jumlah yang cukup banyak akan terakumulasi pada xilem yang akan menyumbat aliran air pada tanaman.

2.11. Upaya Menejemen Pengendalian Cendawan dan Pathogen Penyakit tanaman dapat berkembang dan menyebar bila kondisi seperti suhu dan kelembaban memenuhi syarat untuk berkembang, selain itu kondisi tanaman dan teknis budidaya juga berperan. Penyebab penyakit yang sering menyerang tanaman yaitu bakteri dan cendawan. Bakteri dan cendawan cenderung berkembang pada lingkungan yang mempunyai kelembaban tinggi (>80%), dimana bakteri berkembang pada suhu tinggi (>28oC), sedangkan cendawan pada suhu rendah (<22 -25oC). Tanaman yang mengalami stres rentan terhadap serangan penyakit, stres yang dimaksud dapat dikarenakan (1) penggantian media baru dan (2) penggenangan air di daerah perakaran dalam jangka waktu lama. Faktor lainnya adalah salah pemberian pupuk (konsentrasi pupuk yang kurang/lebih dan macam pupuk yang salah). Pengaturan jarak tanam ataupun jarak antar pot tanaman di dalam membudidayakan tanaman juga mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit. Semakin rapat jarak antar tanaman memberikan resiko tinggi dalam penyebaran penyakit tersebut. Demikian pula dengan media tanam yang salah menentukan komposisi dan perbandingannya. Bila media tanam terlalu lembab dan kuat memegang air maka akan membuat akar tanaman membusuk yang dapat menjadi awal masuknya penyakit. Solusi selain mencegah dengan menggunakan fungisida dan bakterisida adalah dengan cara kontrol lingkungan dengan membuat lingkungan sekitar tanaman mudah teraliri udara, mengatur penyiraman air, pemberian pupuk yang tepat (konsentrasi,macam pupuk), mengatur jarak antar tanaman dan membuat media tanam tepat komposisi dan perbandingan.

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Hasil Pengamatan Dari seluruh penyakit yang menyerang tanaman padi, saya hanya melakukan 2 pengamatan yaitu pengamatan mengenai, penyakit karah daun padi yang biasa disebut Pyricularia oryzae dan bintik perang atau lecuh daun atau daun tirus yang biasa disebut Helminthosporium oryzae. Saya melakukan pengamatan dimulai sejak hari Rabu tanggal 30 November 2011 sampai tanggal 24 Desember 2011. Pengamatan dilakukan 3 hari sekali selama hampir satu bulan, jadi total ada 9 kali pengamatan. Tempat Pengamatan : Lahan Padi belakang UIN ( Sigura-gura) Waktu Pengamatan : Pengamatan I 30 November 2011 Pengamatan II 3 Desember 2011 Pengamatan III 6 Desember 2011 Pengamatan IV 9 Desember 2011 Pengamatan V 12 Desember 2011 Pengamatan VI 15 Desember 2011 Pengamatan VII 18 Desember 2011 Pengamatan VIII 21 Desember 2011 Pengamatan IX 24 Desember 2011

3.2. Data Pengamatan Tanaman Padi 1 Jumlah Penyebaran Penyakit P1 6 cm 5 titik P2 6.2 cm 5 titik P3 7.1 cm 5 titik P4 12.8 cm 7 titik P5 15.2 cm 9 titik P6 16.7 cm 6 titik P7 17.3 cm 3 titik P8 18,6 cm 5 titik P9 20.2 cm 7 titik

Jenis Penyakit Pyricularia oryzae Helminthosporium oryzae

Tanaman Padi 2 Jumlah Penyebaran Penyakit

Jenis Penyakit P1 Pyricularia oryzae Helminthosporium oryzae 5.5 cm 1 titik P2 5.8 cm 1 titik P3 6.2 cm 3 titik P4 10.1 cm 8 titik P5 11.6 cm 8 titik P6 12.2 cm 11 titik P7 13.4 cm 14 titik P8 14.1 cm 16 titik P9 16.7 cm 19 titik

Tanaman Padi 3

Jumlah Penyebaran Penyakit Jenis Penyakit P1 Pyricularia oryzae Helminthosporium oryzae 0.9 cm 0 titik P2 1.1 cm 1 titik P3 1.6 cm 1 titik P4 3.8 cm 6 titik P5 4.3 cm 8 titik P6 5.4 cm 8 titik P7 6.7 cm 11 titik P8 7.1 cm 13 titik P9 7.9 cm 14 titik

3.5. Gambar Pyricularia oryzae Tanaman 1

Pengamatan 2 Pengamatan 1 Pengamatan 1 Pengamatan 2

Pengamatan 3 Pengamatan 3

Pengamatan 4 Pengamatan 4

Pengamatan 5 Pengamatan 5

Pengamatan 6 Pengamatan 6

Pengamatan 7 Pengamatan 7

Pengamatan 8 Pengamatan 8

Pengamatan 9 Pengamatan 9

Tanaman 2

Pengamatan 1 Pengamatan 1

Pengamatan 2 Pengamatan 2

Pengamatan 3

Pengamatan 3

Pengamatan 4 Pengamatan 4

Pengamatan 5 Pengamatan 5

Pengamatan 6 Pengamatan 6

Pengamatan 7 Pengamatan 7

Penga Pengamatan 8 Pengamatan 9

Tanaman 3

Pengamatan 1

Pengamatan 2

Pengamatan 3

Pengamatan 4

Pengamatan 5

Pengamatan 6

Pengamatan 7

Pengamatan 8

Pengamatan 9

Helminthospora oryzae Tanaman 1

Pengamatan 1

Pengamatan 2

Pengamatan 3

Pengamatan 4

Pengamatan 5

Pengamatan 6

Pengamatan 7

Pengamatan 8

Pengamatan 9

Tanaman 2

Pengamatan 1

Pengamatan 2

Pengamatan 3

Pengamatan 4

Pengamatan 5

Pengamatan 6

Pengamatan 7

Pengamatan 8

Pengamatan 9

Tanaman 3

Pengamatan 1

Pengamatan 2

Pengamatan 3

Pengamatan 4

Pengamatan 5

Pengamtan 6

Pengamatan 7

Pengamatan 8

Pengamatan 9

3.3 KLasifikasi Penyakit Blas( Pyricularia oryzae Cav ) Blas merupakan penyakit padi tertua yang penyebarannya meliputi semua negara penanam padi dan merupakan penyakit utama pada padi gogo. Penyakit ini telah menyerang lebih dari 70 negara penghasil padi di dunia (Thurston, 1984). Berdasarkan laporan pertama tahun 1637 dalam buku Agronomic Practices, diketahui bahwa sejak zaman dinasti Ming di Cina sudah ditemukan penyakit demam padi oleh Soong Ying Shin yang kemudian disebut blas. Nama penyebab penyakit ini ditemukan oleh Cavara pada tahun 1891 dan sebutan blas pertama kali diberikan oleh Mitkalf pada tahun 1907 (Ou, 1972). Pyricularia oryzae Cav. penyebab penyakit blas merupakan golongan cendawan yang secara morfologi tidak berbeda dengan Pyricularia grisea yang diketahui banyak menyerang jenis rumput-rumputan dan gulma (Rush, 1992).

KlasifIkasi

Kingdom : Fungi Divisi : Eumycota Kelas : Hypomycetes Genus : Pyricularia Spesies :Pyricularia oryzae GejalaPenyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun dan blas leher. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman, berbentuk belah ketupat, dengan pusat bercak berwarna putih . Sedang blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkanleher malai tidak mampu menopang malai dan patah . Kemampuan patogen membentukstrain dengan cepat menyebabkan pengendalian penyakit ini sangat sulit Morfologi a.Berbentuk kumparan lebar ditengah, ukuran bercak besar ( 1 1,5X0,3-0,5 cm ) b.Termasuk jenis pathogen dengan mutabilitas vertical tinggi ( mudah membentuk ras baru) c.Cendawan menyerang daun, buku, leher malai, bulir padi ,dan kolar daun. Bentuk dan ukuran bercak dipengaruhi oleh perbedaan kultivar dan kondisi lingkungan.Reproduksi dan siklus hidup Tingkat keragaman Pyricularia oryzae cukup tinggi karena cendawan ini mampu melakukanperkawinan antarhaploid hifa yang berlainan material genetiknya ( Zeyler et al, 1997 ) serta adanyaelemen transposon POT2 ( Kachroo et al 1994 ) dan MAGGY (Leony et al 1994) dalam genom yangmemungkinkan terjadinya segresi dan rekombinasi antar ras Pyricularia oryzae sehingga tingkat mutasi cukup tinggi ( Kiyosawa 1976 )

Ekologi

a.Kelebihan N menimbulkan pertumbuhan sukulensi sehingga parasit berkembang dengan lebih baik didalamnya b.Salah satu factor lingkungan yang mempengaruh terhadap epidemic penyakit tanaman adalah factor spasial. Factor spasial berperan dalam keragaman genetic populasi Pyriculariaoryzae dan keberadaan inang atau varietas yang ditanam Daur Hidup

Daur hidup P.oryzae berawal dari pelepasan spora oleh embun atau hujan dan dibawa oleh angin. Cendawan yang tumbuh kemudian menghasilkan lebih banyak spora. Konidia atau spora yang terbang terbawa angin kemudian jatuh pada daun padi. Pembentukan spora

mencapai puncak pada 3-8 hari setelah timbul gejala awal. Spora dihasilkan oleh bercak sekitar 6 Hari Setelah Inokulasi (HSI). Satu bercak bisa mencapai 2000-6000 spora per hari dalam dua minggu. Spora umumnya dilepas dini hari, sekitar pukul 02.00-06.00. Daerah tropis juga bisa terjadi pelepasan spora pada siang hari. Peranan air hujan sangat penting untuk pelepasan spora. Banyaknya spora yang ditangkap oleh daun tergantung pada kecepatan angin dan posisi atau sudut kemiringan daun (Semangun, 1991). Spora kemudian berkecambah dan cendawan menembus permukaan daun atau masuk ke dalam daun melalui stomata. Cendawan lalu tumbuh dan setelah 4-5 hari menimbulkan bercak pada daun. Bercak juga bisa terjadi pada buku dan bagian malai. Bercak memanjang runcing pada kedua ujungnya (belah ketupat) dengan ukuran dan bentuk berbeda menurut varietas padinya (Balitbangtan,1991). Cara Penyerangan dan Gejala Penyakit Blas

Konidiospor berkecambah pada permukaan daun dan menghasilkan apresoria coklat pada pucuk pembuluh, dimana infeksi akan berkembang dan melakukan penetrasi pada sel-sel epidermal melalui kutikula. Setelah invasi, fungi berhasil berkembang melalui

percabangannya dan memasuki epidermal tetangga atau sel-sel tetangga dengan penetrasi langsung (Yoshi, 1937 dalam Matsuo et. al, 1995). Luka akibat serangan P. oryzae bisa terjadi pada semua bagian tanaman, namun jarang sekali menyerang pada batang. Karakter luka pada helai daun beragam sesuai kondisi lingkungan dan tingkat ketahanan tanaman inang. Luka pada awalnya berwarna sering putih hingga abuabu hijau denga n pinggir hijau gelap. Luka yang lebih tua biasanya memutih hingga keabuabuan dengan pingir menguning. Bentuknya beragam, tapi biasanya berbentuk seperti permata atau belah ketupat. Ukuran luka bervariasi sesuai dengan umur tanaman dan tingkat ketahanan tanaman. Luka pada helai daun saat fase reproduktif biasanya lebih luas daripada tanaman yang masih muda. Infeksi pada bagian lain dari tanaman adalah pada pangkal malai, pelepah daun dan ruas batang (Singh, 1978)

3.4. Grafik Pyricularia oryzae

Penjelasan : Pada pengamatan penyakit Pyricularia oryzae yang menyerang daun padi intensitas serangan dapat diukur secara langsung dengan menggunakan pengukuran sederhana yaitu dengan menggunakan mistar atau penggaris. Semakin panjang gejala penyakit yang ditunjukkan, berarti gejala penyakit yang menyerang tanaman tersebut cukup banyak dan dengan kata lain semakin membahayakan. Hal itu ditunjukkan dengan semakin tingginya grafik perkembangan penyebaran penyakit blast atau Pyricularia oryzae, biasanya apabila grafik menunjukkan semakin tinggi panjang tingkatan serangan berarti itu menunjukkan dimungkankan pada lahan padi tersebut tidak dilakukan pengendalian atau perlakuan khusus guna menurunkan tingkat serangan dari penyakit tersebut. Kita harus mengetahui waktu ambang ekonomi dari tanaman padi yang terserang Pyricularia oryzae, apabila sudah melebihi dari amabang ekonomi yang sudah ditentukan dan bila dibiarkan akan mengakibatkan kerugian yang berdampak pada hasil produksi maka harus dilakukan tindakan selanjutnya untuk mencegah penyebarannya, namun apabila dari ambang ekonominya tidak terlalu mengkhawatirkan dan tidak mempengaruhi dari hasil produksi, maka tidak diadakannya pengendalian itu tidak apa, justru apabila dengan kita melakukan pengendalian akan menamnah biaya lagi lebih baik tidak usah dilakukan. Mungkin dari hasil pertimbangan walaupun semakin tinggi penyebaran penyakitnya selama tidak mengurangi atau menggangu dari hasil tanaman padi tersebut makanya tidak dilakukan pengendalian. Oleh karena itu grafik naik dan terus naik dari hari ke hari.

Selain itu masih ada cara lain untuk mengetahui p-enyebaran penyakit tersebut pada 1 tanaman tersebut, hal tersebut bisa dilakukan dengan grading atau presentase kerusakan. Setelah rumus : didapat hasil grading, maka perlu dimasukkan dalam

P = n. v / N. Z x 100 %
P = tingkat serangan n = jumlah tanaman/ bagian tanaman dari tiap kategori serangan v = nilai skala tiap kategori serangan N = jumlah tanaman/ bagian tanaman yang diamati Z = harga numerik dari kategori serangan Karena tanaman yang daunnya baru rusak sedikit menguning ttidak sama dengan tanaman yang sudah banyak bagian-bagiannya yang mengering. Maka dari itu dilakukan pengamatan dengan pemmberian nilai skor ini disebut dengan metode pemberian skor pada tanaman yang diserang oleh hama, nilai skor kerusakan tanaman menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan sebagai berikut : Skor Kerusakan 0 1 2 3 4 Tahap Kerusakan Tanaman Tidak ada kerusakan Tingkat Kerusakan 1 - < 25% Tingkat Kerusakan 25 - < 50% Tingkat Kerusakan 50 - < 75 % Tingkat Kerusakan > = 25%

Perbandingan Jurnal 1. Induced resistance of rice plant to blast (Pyricularia grisea) by treatment using natri tetraborate (Na2B4O7) under field condition. Pada jurnal ini menjelaskan bahwa penulis atau peneiliti menggunakan treatment atau perlakuan khusus dengan menggunakan senyawa natri tetraborate (Na2B4O7) dengan konsentrasi kecil atau paling tidak sesuai dengan dosis. Perlakuan ini disemprotkan pada benih sebelum tanam dan juga daunnya. Guna penyemprotan ini adalah agar tanaman dapat seed

mengurangi atau jadi memiliki sistem ketahanan terhadap penyakit Pyricularia grisea, minimal dapat mengurangi intensitas serangan dari jamur tersenut. Selain itu treatment ini sangat bermanfaat guna merangsang pertumbuhan akar, merangsang perkencambahan dan merangsang perpanjangan koleoptil. Mulanya sebelum menggunakan treatment ini penulis atau peneliti masih menggunakan fungisida, namun dirasa dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan resistensi, oleh karena itu perubahan menggunakan senyawa natri tetraborate dirasa cukup efisien.

Setelah dilakuakan treatment perkembangan penyakitpun juga mengalami penurunan tidak setinggi atau separah apabila tidak dilakukan perlakuan khusus tersebut. 2. Inhibition of phosphatidylcholine and chitin biosynthesis in Pyricularia oryzae, Botrytis fabae andFusariumgraminearum by edifenphos Pada jurnal kedua ini hampir memiliki kesamaan dengan jurnal pertama, yaitu melakukan perlakuan khusus atau treatment guna menekan laju perkembangan penyakit Pyricularia oryzae, namun disini perbedaannya menggunakan cara yang berbeda untuk mengendalikannya, pada jurnal ini kita menggunakan edifenphos. Dengan menggunakan edifenphos kita

dapat

menghambat

biosintesis

fosfatidilkolin

dan

kitin

di

Pyricularia oryzae, hal ini dapat dibuktikan dengan berkurangnya 50% dengan menggunakan edifenphos pada konsentrasi 7,25 and 190~ L

Mrespectively masing-masing. Dengan menggunakan edifenphos dapat disinyalir mampu mengurangi dari perkembangan penyakit Pyricularia oryzae.

3. The effect of temperature and relative humidity on the airbone concentration of Pyricularia oryzae spores and the development of rice blast in southern Spain Pada jurnal ketiga ini menjelaskan mengenai Efek atau pengaruh dari suhu atau temperature dan kelembaban relatif mampu mempengaruhi
konsentrasi spora Pyricularia oryzae dan pengembangan blast di Selatan Spanyol. Kelembaban relatif 95% dan suhu rata-rata 26-27 C adalah

keadaan yang optimal untuk infeksi dan substansial disukai rilis spora. Gejala pertama dari infeksi yang terdeteksi pada daun ketika tanaman itu masih masa anakan. Kenaikan suhu 1C pada awal Agustus (pertengaha n tahap anakan) menyebabkan peningkatan intensitas rata-rata penyakit. Kehadiran spora dalam udara dari 15 Juli meramalkan muncul nya lesi daun beberapa hari kemudian. Konsentrasi spora puncak di Agustus dapat digunakan untuk meramalkan ledakan malai. Menilai

konsentrasi udara dari P. oryzae dapat membantu dalam memahami dinamika populasi patogen ini.

4. DETERMINATION OF SILICON FROM RICE BY-PRODUCTS AND CHEMICAL SOURCES ON RICE BLAST MANAGEMENT Pada jurnal keempat ini menjelaskan mengenai pentingnya komoditas padi atau beras, di Kenya beras merupakan komoditas nomor 3 setelah gandum dan maizena. Jurnal ini tidak jauh berbeda dengan jurnal yang sebelumnya yaitu mengenai adanya treatment atau adanya perlakuan khusus untuk mengendalikan blast atau pyricularia oryzae. Disini menggunakan 6 perlakuan yaitu menggunakan straw, control, husk ask, potasium silicate, straw ash dan CaSiO3. Dari seluruh perlakuan tersebut dinyatakan perlakuan yang paling efektif yaitu menggunakan CaSiO3 atau calcium silicate. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan grafik sebagai berikut :

5. HERBICIDE AND NUTRIENT EFFECTS ON THE DEVELOPMENT OF GRAY LEAF SPOT CAUSED BY PYRICULARIA GRISEA ON TALL FESCUE Pada jurnal kelima ini juga sama dengan jurnal-jurnal sebelumnya. Pada jurnal ini kita menggunakan 9 perlakuan yaitu : Dithiopyr, Fenoxaprop, 2,4D + MCPP + dicamba, 2,4-D, dan Untreated. Dari seluruh perlakuan ini perlakuan yang dirasa paling efektif yaitu perlakuan dengan menggunakan Untreated. Hal tersebut dapat dilihat dari rendahnya grafik dibandingkan dengan menggunakan perlakuan yang lainnya

Helminthosporium Oryzae Tanaman 1

Tanaman 2

Tanaman 3

Penjelasan : Pada pengukuran intensitas serangan Helminthosporium oryzae yang menyerang ketiga tanaman padi, dapat diukur dengan cara menghitung jumlah bercak coklat yang nampak pada daun padi. Selain itu dengan menggunakan penglihatan menggunakan mata telanjang dapat diketahui apakah serangan dari jamur ini membahayakan atau tidak. Hal itu juga bisa kita lihat pada grafik yang telah kita buat, semakin tingginya grafik dapat disimpulkan semakin tinggi tingkat serangan pada tanaman tersebut, dapat juga kita menggunakan teknik perhitungan yang kita dapatkan menggunakan perhitungan Ms.Excel.

Misalnya pada pengamatan tanaman pertama pada salah 1 daunnya ada rumus y = 0.013x2 + 0.591x + 2.582 kita bisa juga mengetahui jumlah bercak yang menyerang
tanaman tersebut pada hari ke 40, dengan x=40 dan x2 =1600.

y = 0.013x2 + 0.591x + 2.582 = (0.013 x 1600) + (0.591 x 40) + 2.582 = 20.8 + 23.64 + 2.582 = 47.022 Jadi dapat disimpulkan jumlah bercak pada tanaman pertama pada salah satu daunnya ada kurang lebih 47 bercak. Pada perhitungan tanaman kedua dan ketiga dapat menggunakan cara yang sama dengan memasukkan nilai hari yang ingin dicari menggunakan rumus yang ada pada tiap grafik. Kita harus mengetahui waktu ambang ekonomi dari tanaman padi yang terserang Pyricularia oryzae, apabila sudah melebihi dari amabang ekonomi yang sudah ditentukan dan bila dibiarkan akan mengakibatkan kerugian yang berdampak pada hasil produksi maka harus dilakukan tindakan selanjutnya untuk mencegah penyebarannya, namun apabila dari ambang ekonominya tidak terlalu mengkhawatirkan dan tidak mempengaruhi dari hasil produksi, maka tidak diadakannya pengendalian itu tidak apa, justru apabila dengan kita melakukan pengendalian akan menamnah biaya lagi lebih baik tidak usah dilakukan. Mungkin dari hasil pertimbangan walaupun semakin tinggi penyebaran penyakitnya selama tidak mengurangi atau menggangu dari hasil tanaman padi tersebut makanya tidak dilakukan pengendalian. Oleh karena itu grafik naik dan terus naik dari hari ke hari. Selain itu kita juga bisa menggunakan skoring atau grading. Setelah hasil grading, maka perlu dimasukkan dalam rumus : didapat

P = n. v / N. Z x 100 %
P = tingkat serangan n = jumlah tanaman/ bagian tanaman dari tiap kategori serangan v = nilai skala tiap kategori serangan N = jumlah tanaman/ bagian tanaman yang diamati Z = harga numerik dari kategori serangan

Karena tanaman yang daunnya baru rusak sedikit menguning ttidak sama dengan tanaman yang sudah banyak bagian-bagiannya yang mengering. Maka dari itu dilakukan pengamatan dengan pemmberian nilai skor ini disebut dengan metode pemberian skor pada tanaman yang diserang oleh hama, nilai skor kerusakan tanaman menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan sebagai berikut : Skor Kerusakan 0 1 2 3 4 Tahap Kerusakan Tanaman Tidak ada kerusakan Tingkat Kerusakan 1 - < 25% Tingkat Kerusakan 25 - < 50% Tingkat Kerusakan 50 - < 75 % Tingkat Kerusakan > = 25%

Perbandingan Jurnal 1. Cloning and characterisation of xylanase genes from phytopathogenic fungi with a special reference to Helminthosporium turcicum, the cause of northern leaf blight of maize Pada jurnal pertama ini membahas mengenai clonning yang dilakukan pada Helminthosporium turicum yang mampu menghasilkan gen xylanese. Hal ini mungkin dilakukan agar tanaman memiliki ketahan dari penyakit yang disebabkan oleh jamur tersebut

2. EPIDEMIOLOGY AND MANAGEMENT OF TURCICIUM LEAF BLIGHT OF MAIZE CAUSED BY Exserohilum turcicium (Pass.) Leonard and Suggs.

Pada jurnal ini mengatakan tentang pelajaran mengenai studi epidemiologi. Penulis mengambil contoh pada daerah Kamataka di tahun 2003-2004 bisa dikatakan perkembangan penyakitnya cukup tinggi, ini bisa dlihat dari diagram batang tersebut

Setelah dilakukannya pengendalian atau treatment khusus pada tanaman jagung yang terserang penyakit ini didapati produksi dari tanaman padi terus meningkat. Dapat dilihat pada diagram batang disamping.

3. Helminthosporoside, a Host-specific Toxin from Helminthosporium sacchari* Jurnal ketiga ini menjelaskan mengenai perkembangan penyakit Helminthosporium sacchari. Pada jurnal ini menyebutkan bahwa perkembangan penyakit ini cukup membahayakan, hal tersebut dapat dilihat dari

Setelah dilakukan treatment atau perlakuan khusus memiliki perbedaan, paling tidak penyebaran penyakitnya tidak terlalu tinngi.

4. Occurrence and epidemiological aspects of potato silver scurf in California Pada jurnal keempat ini menjelaskan mengenai perkembangan penyakit Helminthosporium solani yang menyerang pada tanaman kentang yang ada di California. Hampir sama dengan jurnal-jurnal lainnya bahwa tingkat serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur ini cukup membahayakan, dikarenakan semakin lama perkembangana semakin banyak atau semakin tinggi, hal itu bisa dilihat dari grafik

5. Trichoderma as a Seed Treatment to Control Helminthosporium Leaf Spot Disease of Chrysalidocarpus lutescens Pada jurnal kelima ini, penyakit Helminthosporium (Bipolaris) menyebabkan kerusakan sekitar 90% di Sri Langka. Jamur ini menyebar disaat musim hujan utamanya dan menyerang pada tanaman Chrysalidocarpus lutescens (cane palm). Penyakit ini disinyalir cukup membahayakn karena menyerang 90% tanaman. Perlu adanya treatment atau perlakuan khusus untuk mengendalikan penyakit ini. Dengan perlakuan menggunakan Trichoderma mampu mengurangi intensitas serangan dari penyakit ini. Hal ini terbukti dari grafik.

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Kedua penyakit tersebut yaitu Pyricularia oryzae dan Helminthosporium oryzae sama-sama disebabkan oleh jamur. Salah dua penyakit yang menyerang tanaman padi yaitu Pyricularia oryzae dan Helminthosporium oryzae dirasakan cukup membahayakan bagi tanaman karena perkembangan selalu meninggi, kecuali apabila kita melakukan treatment atau perlakuan khusus untuk tanaman padi tersebut untuk mengurangi intensitas serangan dari tanaman tersebut. Selain membahayakan bagi tanaman padi ternyata juga membahayakan bagi tanaman lainnya. Perkembangan penyakitnya juga sama tingginya. Untuk menghitung serangan intensitas penyakit dapat diketahui dari tingginya grafik yang dapat kita buat dari Ms. Excel dan memunculkan chart yang berisi rumus untuk mengetahui serangan di hari-hari berikutnya apakah tambah tinggi atau mungkin bisa menurun. Selain itun kita juga bisa menggunakan scoring grading untuk mengetahui kerusakan pada satu tanaman.

DAFTAR PUTAKA A. Latief Abadi. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Anonymousa. 2011 http://abumutsanna.wordpress.com/2008/09/23/penyakit-tanaman-padi/ Diakses 27 Desember 2011 Anonymousb. 2011 http://agroporno.blogspot.com/2007/07/bercak-coklathelminthosporium -oryzae.html Diakses 27 Desember 2011 Anonymousc. 2011 http://anekaplanta.wordpress.com/2010/02/03/manajemenpengendalian - cendawan-dan-bakteri-patogen-pada-tanaman/ Diakses 27 Desember 2011 Anonymousd. 2011 http://balitjestro.litbang.deptan.go.id/id/208.html Diakses 30 Desember 2011 Anonymouse. 2011 http://balitpa.litbang.deptan.go.id Diakses tanggal 27 Desember 2011 Anonymousf. 2011 http://eprints.undip.ac.id/26470/1/ginajar_wiro_msi.pdf Diakses 27 Desember 2011 Anonymousg. 2011 http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=8317 Diakses tanggal 30 Desember Anonymoush. 2011 http://id.wikipedia.org Diakses 27 Desember 2011 Anonymousi. 2011 http://journal.ipb.ac.id/index.php/hayati/article/download/216/82 Diakses tanggal 30 Desember Anonymousj. 2011 http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/17_Layout_SS10051_ArisTWahyu di%20et%20al%20Makara%2020%5B1%5D.1.11%20Used%20_Rvised.pdf Diakses tanggal 30 Desember 2011 Anonymousk. 2011 http://library.usu.ac.id/download/fp/07004376.pdf Diakses tanggal 30 Desember 2011 Anonymousl. 2011 http://lampung.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/publikasi/deskrip sipadi.pdf Diakses tanggal 30 Desember Anonymousm. 2011 http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&vie w=article&id=300:penyakit-tungro-dan-pengendaliannyapada tanaman padi&catid =53:artikel& Itemid=49 Diakses tanggal 30 Desember Anonymousn. 2011 http://www.agroindonesia.com/~agroindo/cpas2/nonmember/entry.php3? parent=204&id=322. Diakses tanggal 30 Desember Anonymouso. 2011 http://www.clrri.org/lib/omonrice/9-14.pdf Diakses tanggal 4 Januari 2012

Anonymousp. 2011 http://www.naturalnusantara.co.id/indek_3_3_3.php?id=9 Diakses tanggal


30 Desember

Anonymousq. 2011 http://www.kari.org/biennialconference/conference12/docs/DETERMIN ATION%20OF%20SILICON%20FROM%20RICE%20BYPRODUCTS%20AND%2 0CHEMICAL%20SOURCES%20ON%20RICE%20BLAST%20MANAGEMENT.p df Diakses tanggal 4 Januari 2012 Anonymousr. 2011 http://www.mic.sgmjournals.org/content/139/6/1371.full.pdf Diakses tanggal 4 Januari 2012 Anonymouss. 2011 http://www.revistas.inia.es/index.php/sjar/article/download/294/291

Diakses tanggal 4 Januari 2012 Anonymoust. 2011 http://www.ethesis.helsinki.fi/julkaisut/maa/sbiol/vk/degefu/cloninga.pdf Diakse 4 Januari 2012 Anonymousu. 2011 http://www.scielo.br/pdf/hb/v22n4/23177.pdf Diakses 4 Januari 2012 G.N. Agrios. Plant Pathology. Hama dan Penyakit Tanaman Padi, Departemen Pertanian 1982. Masalah Lapang Hama, Penyakit dan Hara Pada Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan 2008 Perlindungan tanaman Hudi Matnawy, Penerbit Kanisus, Yogyakarta 1994

Petunjuk Teknis Lapang, PTT Padi Sawah Irigasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Deptan 2008