Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR PUSTAKA

PENDUHULUAN.........................................................................................2 Latar Belakang .........................................................................................2 KAJIAN PUSTAKA.......................................................................................5 Islam Agama yang lengkap dan Universal..............................................5 Islam Dalam Konteks Ilmu Pengetahuan Dan Ekonomi...........................6 Riba.......................................................................................................6 Definisi Riba.......................................................................................6 Hukum Riba Bagi Umat Islam...............................................................11 Riba prespektif Non Muslim..................................................................11 Konsep Bunga (riba) bagi Yahudi......................................................11 Konsep Bunga (riba) bagi Yunani dan Romawi..................................12 Konsep Bunga (riba) dikalangan Kristen............................................12 PEMBAHASAN..........................................................................................13 Islam Sebagai Agama yang Komplit.....................................................13 Riba Padangan Hukum.........................................................................14 Riba Pandangan Sejarah......................................................................16 D. Dampak riba bagi sosial dan perekonomian....................................18 E. Solusi...............................................................................................19 PENUTUP.................................................................................................19 a. Simpulan..........................................................................................19 b. Saran...............................................................................................20 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................20

PENDUHULUAN Latar Belakang Islam merupakan agama yang sempurna dengan ajaran-ajarannya yang universal. Beribadah dalam islam ada dua aspek yakni aspek manusia sebagai hamba dengan Allah SWT sebagai pencipta alam semesta hal ini biasa disebut ibadah dan aspek manusia dengan manusia dalam berhubungan dan berinteraksi biasa disebut muamalah.Dari aspek diatas jelas sekali bahwa islam merupakan agama yang komplit, maka tidak benar bahwa kita mengambil kesimpulan bahwa Islam hanya mengatur tentang masalah ibadah saja, bahkan untuk masalah muamalah yang terdiri dari pergaulan, hokum, pendidikan, pergaulan maupun ekonomi. Dalam masalah ibadah yang terdiri dari aqidah dan ahlaq yang bersifa konstan dimanupun berada dan dari masa ke masa bersifat absolut. Bersifat absolute itu berarti dari masa ke masa yang dilakukan terdahulu hingga sekarang sama. Sedangkangkan masalah muamalah bersifat konstan menurut masa ke masa. Alquran dalam hukum yang bersifat ibadah sangat jelas seperti kaitannya tentang ibadah seperti bersuci, sholat, zakat dan haji dan tentang ibadah detailnya juga diperinci secara jelas dalam hadis tetapi muamalah hanya bersifat prinsi-prinsip saja, baik al quran maupun hadis tidak ada aturan secara terperinci atau absolut. Bertitik tolak dari hadis rosulallah yakni kamu lebih mengetahui urusan duniamu (riwayat muslim) memberi gambaran bahwa untuk urusan dunia kita sebagai umat muslim untuk senantiasa melakukan sesuatu dengan berpikir dan berpedoman pada prinsip-prinsip syariah. Dalam Al-quran berfikir mempuyai tempat yang penting, diantara firman Allah SWT : ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS Shad; 29) dari kedua hukum diatas jelas bahwa akal untuk berfikir mempunyai kedudukan yang tinggi dalam agama islam, hal ini dimaksudakan agar manusia senantiasa mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan berpegang pada hukum baik Al-Quran maupun hadis. Penjelasan diatas menunjukkan korelasi positif Al-Quran sebagai kitab petunjuk umat manusia dalam ilmu pengetahuan.

Ayat-ayat tersebut mendorong umat muslim untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan pada Al-Quran dan Hadis sehingga banyak melahirkan tokoh-tokoh muslim dalam bidang bidang ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh-tokoh muslim di bidang ilmu pengetahuam adalah tokoh-tokoh muslim dalam bidang ekonomi. Tokoh muslim dalam bidang ekonomi hadir sebelum adanya Tokoh ekonom dari Barah bermunculan. Ilmuan muslim pada abad 8 hingga abad 13 melahirkan pemikiran-pemikiran yang saat itu mendominasi peradaban dunia. Took ekonom muslim melahirkan berbagai teori ekonomi yang kesemuanya bersumber pada kemahabesaran Allah SWT. Para tokoh muslim menjadikan pijakan para zaman Rosulallah dan khulafaur rosyidin dalam memimpin dan mengatur pemerintahan di zamannya untuk menjadikan teori-teori ekonomi. Dalam sejarah Islam mengalami kejayaan pada masa rosulallah dan kholifatur rosiddin, dimasa itu islam terus berkembang dengan pesatnya di berbagai bidang baik itu pendidikan, social budaya, ketahanan maupun ekonomi. Semua bidang dijalankan sesuai dengan syariat Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai islam. Tidak terkecuali dam bidang ekonomi, dalam bidang ekonomi dari mulai zaman Rosulallah sudah mengenal berbagai kegiatan ekonomi. Salah satu bukti empiris bahwa bidang ekonomi adalah adanya sistem keuangan yang sudah tertata rapi dan adanya pajak. Sesudah Rosulallah digantikan oleh khalifah daalam bidang perekonomi semakin maju. Tetapi setelah kalah pada perang salib, buku ilmu pengetahuan dihanguskan dan berbagai teori ekonomi buah pikiran ilmuan muslim diganti dengan berbagai teori ekonomi yang di buat oleh orang-orang Barat yang dianggap menguntungkan sendiri, yang teori-teori itu diaku sebagai teori baru yang mereka lahirkan. Para sejarah ekonomi menghanguskan kontribusi ilmuan muslim dalam ekonomi sehingga para generasi islam yang baru tidak mengengal teori ekonomi yang berlandaskan islam. Salah satu hasil pemikiran ekonom Barat adalah bunga, ada berbagai macam devinisi bunga menurut berbagai ekonom kovensional, tetapi dapat kita ambil benang merahnya bahwa bunga adalah mengambil tambahan dari pokok. Dalam Islam sendiri, riba mempunyai berbagai pengertian, tetapi dari semua pengertian itu dapat

diambil benang merahnya bahwa riba adalah pengambilan tambagan baik itu transaksi jual beli maupun pinjam meminjam. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa mengambil tambahan adalah riba dan bunga adalah mengambil tambahan, dan keberadaannya dapat merugikan orang lain. Bagaimana dengan keuntungan? Kalau kita mengambil kesimpulan bahwa keuntungan berarti riba, dalam Islam sendiri keuntungan bukan riba sebab keutungan berkorelasi negative dengan kerugian tetapi bunga adalah sesuatu yang pasti dan tidak ada kerugian didalamnya sebab dalam perjanjian awalnya membayar sekian untuk tambahan. Awal keberadaan bunga berasal dari kaum yang mempunyai uang meminjamkan uang pada orang lain, karena banyak yang meminjam uang maka pemilik uang menjadikan suatu bisnis rentenir. Keberadaan riba (bunga) menjadi sesuatu yang banyak dipertentangkan bukan saja umat muslim tetapi dari berbagai kalangan baik itu zaman Yunani dan Romawi, agama Budha, Yahudi terutama agama Islam. Dilarangnya riba (bunga) salah satunya dikarenakan riba sangat merugikan bagi kaum miskin (baik secara mikro maupun secara makro). Riba sendiri hanya untuk memperkaya kaum pemodal saja dan menjerat kaum miskin sehingga kaum pemodal semakin kaya dan malas sebab mereka duduk saja akan ada keuntungan dan kaum miskin semakin terjerat karena adanya riba (bunga). Tetapi saat ini riba (bunga) menjadi sesuatu yang mendarah daging bahkan tidak sedikit kaum muslim pada masa ini yang terjerat di dalamnya. Pendidikan ekonomi konvensional yang tokoh dianut adalah Barat sudah masuk ke semua lini pendidikan bahwa bunga sebagai ganti atas nilai uang atas waktu seakan menghalalkan sesuatu yang dilarang oleh agama. Dan sudah sepatutnya kita umat muslim kembali pada fitro dan hukum yang sudah sempurna yakni Al Quran dan Hadist, meskipun secara bertahap menuju kehidupan yang Madani. A. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah: 1.
2.

Bagaimana riba dalam pandangan sejarah dan hukum? Apa dampak riba bagi social ekonomi?

KAJIAN PUSTAKA Islam Agama yang lengkap dan Universal Tidak satu agama yang lengkap seperti islam, prinsip hidup ada di atur dalam kitab suci, yakni Al-Quran. Dalam firman Allah SWT artinya Dan Kami telah kami turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu: maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah dating padamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombahlah berbuat kebajikan. Hanya pada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. Maka Muhammad menjadi utusan Allah SWT untuk menyelamatkan umat. Dan Islam diturunkan untuk menyelamatkan umat (seperti sebutannya; islam= selamat) dari kehancuran akhlaq) (surat apa?). Dan tidaklah kami mengutus kamu (Nabi Muhammad SAW) melaninkan untuk menjadi rahmad bagi alam semesta. (Al- Anbiyya:107) Katakan: Hai Manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi;tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rosulNya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu dapat petunjuk. (QS Al Araaf:158) Islam diturunkan oleh Allah sebagai prinsip hidup umat muslim sebab AlQuran merupakan kitab terakhir yang sempurna Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.(QS Al Baqorah; 2).

Islam Dalam Konteks Ilmu Pengetahuan Dan Ekonomi Dalam ilmu pengetahuan islam mengajarkan umat muslim untuk berpikir dalam masalah muamalah. Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat dan supaya mendapatkan pelajaran orangorang yang mempunyai pikiran (QS As Shad, 29) Tidaklah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan, diantara manusia ada yang membantah tentang keesahan Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk tanpa kitab yang memberi penerangan (QS. Luqman:20) Bagaimana bila terdapat umat yang tidak menyakini Al-quran, sebagaimana: Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya pada ayat-ayat Tuhan, Dan sesungguhnya azab di akhrat itu lebih berat da kekal. (QS:127) Dari kedua ayat tersebut kita disuruh untuk berpikir dengan akal supaya kita bisa mengetahui ilmu pegetahuan, dan dalam islam kedudukan akal sangat penting untuk menetukan arah tentunya sesuai dengan prinsip syariah. Selain Al-Quran dalam Hadis juga disebutkan bahwa belajar wajib bagi muslim dan muslimah (Bukhori dan Muslim). Tugas munusia di dunia yang antara lain : Tidak aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku( QS. Adz Dururiyah:36) Riba Sub bab ini menerangkan riba secara bahasa, dan dasar hukum riba dalam Al Quran dan Hadits. Definisi Riba Riba secara bahasa mempunyai arti sesuatu yang lebih, bertambah dan berkembang. Allah berfirman: Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan

apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai ridha Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah yang melipat gandakankan (pahala). (QS. Ar Rum: 39). Maksud dari ayat diatas menunjukkan bahwa apabila seseorang hartanya diperoleh dari jalan riba maka hartanya tidak akan berkah. Menurut Ulama SyafiI riba berarti bentuk transaksi dengan cara menetapkan pengganti tertentu yang tidak diketahui kesamaannya, dalam ukuran syari pada saat transaksi, ada penangguhan terhadap kedua barang yang ditukar atau salah satu dari keduanya. Menurut ulama Hanafiah riba adalah nilai lebih yang tidak ada pada barang yang ditukar berdasarkan syari yang dipersaratkan kepada salah satu pihak yang berakad pada saat transaksi.
1. Sebab-sebab haramnya riba

Karena Allah dan Rosul-Nya melarang atau mengharamkan Riba Riba sudah dengan jelas diterangkan dalam Al Quran. Ayat-ayat yang menerangkan diharamkannya riba diantaranya adalah:
i. Allah menghalakan jual beli dan mengharamkan riba ( QS. Al-Baqarah:279). ii. Hai orang-oran beriman, janganlah kamu memakan harta riba secara berlipat

ganda dan takutlah kamu kepada Allah mudah-mudahan kamu menang (QS. Ali Imron: 130 ) iii. Dan disebabkan mereka memakan riba, kami haramkan kepada mereka untuk mengambil, memakan dan memanfaatkan barang (QS. An Nisa:161)
iv. Allah menghapus berkah harta riba dan menyuburkan harta shodaqoh ( QS.

Al Baqarah : 279) Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai ridha Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah yang melipat gandakankan (pahala). (QS. Ar Ruum: 39). Rosululluh bersabda:

Satu dirham uang riba yang dimakan seseorang, sedangkan orang tersebut mengetahuinya, dosa perbuatan tersebut lebih berat dari dosa enampuluh kali zina (Riwayat Ahmad ) Riba memiliki empat puluh pintu dosa, dosa yang paling ringan dari dosa riba adalah seperti berzina dengan ibunya ( Riwayat Ibnu Jarir) Rosulallah melaknat pemakan riba, dau saksinya, dua penulisnya, jika mereka tahu yang demikian, mereka dilaknat lidah Muhammad pada hari kiamat (Riwayat Nasai). Macam-macam riba Dalam Al-Quran menyatakan: maka yang baik bagimu ialah sebanyak pokomu semula kamu tak boleh menganiaya dan dianiyaya ( QS. Al-Baqarah :279) Ulama fikih membagi riba menjadi berbagi macam, antara lain:
1. Riba al fadhl atau bunga tambahan, yakni menukar harta yang mempuyai

potensi riba dengan brang yang jenisnya sama disertai adanya penambahan pada salah satu berang yang dipertukarkan. Sesuai dengan Hadist Rosulullah (Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sebanding dan jangan kalian menambah bagian yang satu atas bagian lainnya. Jangan pula kalian menjual uang dengan uang kecuali nilainya . Jangan pula kalian menjual uang dengan uang kecuali nilainya sebanding dan jangan kalian menambah bagian yang satu atas bagian yang lainnya.Bukhori). Adapun periwayat yang lain menyebutkan bahwa emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan syair, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, harus sebanding dan tunai. Orang-orang menambah dan meminta berarti dia berbuat riba, orang yang menerima dan memberi dalam hal ini sama saja. (Muslim).
2. Riba an nassaiI atau penangguhan pembayaran yakni jual-beli harta ribawi

dengan harta ribawi yang lain yang ada pada keduanya dengan pembayaran yang ditangguhkan. Larangan itu ditunjukkan berupa Hadis: Dan janganlah kamu menjual barang yang gaib dan najiz.

3. Riba al yad yaitu menukar harta ribawi lain yang memiliki illat sama

disartkan ada penangguhan pembayaran, namun penangguhan serah terima kedua barang yang dipertukarkan atau salah satu nya dari waktu transaksi berlangsung. Jual beli harta ribawi dan syarat-syarat sahnya Allah SWT berfirman: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS Al Baqoroh: 185). Dalam Ayat lain: Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS. Al-Hajj: 78)

Syarat-syarat itu antara lain 1. Sama jenis

Jika barang yang dipertukarkan sama jenisnya agar bebas dari ribawi maka dilakukan tiga syarat :
a.

Sepadan ( mumatslahi) = dua benda yang dipertukarkan harus bias

diukur
b. c.

Transaksi hendaknya dilakukan saat itu juga (hulul) Serah-terima langsung (taqabudh)

2.

Berbeda jenis tetapi illatnya sama

Illatnya sama disini diartikan bahwa barang ribawi yang tidak disebutkan dalam Quran maupun Hadist tetapi punya perlakuan yang sama yaitu sama ada takarannya/ ditimbang (ulama Hanafiah) dan ditambahkan lagi benda berharga dan benda yang bias dimakan (ulama Syafiiah)
a. Akad hendaknya dilakukan saat itu juga (hulul) b. Hendaknya serah terima barang langsung dilakukan saat transaksi (taqabudh) 3.

Berbeda illat

Menurut Ulama Syafii : terjadi perbedan illat pada keduanya, akan bebas dari ribawi apabila satunya barang berharga dan satunya barang termasuk jenis makanan dan tidak disyaratkan satu syaratpun. Menurut Ulama Hanafiah : terjadi perbedaan illat pada keduanya, akan bebas dari ribawi apabila satu barang ditakar dan satu barang ditimbang dan tidak disyaratkan satu syarat pun 4. Dipertukarkan dengan barang bukan ribawi

Berdasarkan kesepakatan para ulama, jual beli dengan menukarkan harta riba dengan harta yang bukan ribawi sah hukumnya tanpa syarat apapun, sepanjang salah satu barang yang dipertukarkan bukan jenis harta ribawi. Barang-Barang Yang Dianggap Sejenis Dan Yang Tidak Menurut hadist emas dengan emas terdapat riba kecuali ambillah yang ini dan yang ini, gandum dengan gandum terdapat riba kecuali ambillah yang ini dan yang ini, syair dengan syair terdapat riba kecuali ambillah yang ini dan yang ini, begitu juga kurma dengan kurma terdapat riba kecuali ambillah yang ini dan yang ini Imam Bukhori. Ulama SyafiI berpendapat bahwa yang diharamkan adalah emas dengan berbagai modifikasinya, tak terkecuali. Kurma dengan berbagai macam jenisnya masih satu jenis begitu juga kismis, biji gandum dengan berbagai macam jenisnya masih satu jenis begitu juga jekai, setiap buah yang basa dan kering dan bagian yang basah dan keringnya adalah satu jenis, apa saja yang dimodifikasi dari barang asalnya, daging-daging hewan jenisnya berbeda-beda. Dalam surat An Nisa ayat 160-161 disebutkan bahwa maka disebabkan yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih (QS An Nisa 160-161).

Hukum Riba Bagi Umat Islam Hukum riba bagi umat muslim dibagi menjadi empat tahap pelarangan. Tahap pertama : Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan, apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhoan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahala)(QS. Ar Rum: 39)

Tahap dua: Dalam surat An Nisa ayat 160-161 disebutkan bahwa maka disebabkan yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orangorang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih (QS An Nisa 160-161). Tahap ketiga: Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan harta riba secara berlipat ganda dan takutlah kamu kepada Allah mudah-mudahan kamu menang (QS. Al Imron: 130 ) Tahap keempat: Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orangorang yang berima. Maka jika kamu tidak meninggalkan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rosulnya memerangimu. Dan, jika kamu bertobat (dari pengambilan riba ) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiyaya. (QS Al Baqoroh: 278-279) Riba prespektif Non Muslim Konsep Bunga (riba) bagi Yahudi Kitab Exodus ( keluaran) pasal 22 ayat 25 menyatakan jika engkau meminjam uang kepada salah serang umat-Ku, orang yang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia,: jangan engkau bebankan bunga uang terhadapnya. Kitab Deuteronomy (Ulangan) Pasal 23 ayat 19 menyatakan Jangan engkau membungakan kepada saudaramu, baik uanga maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan.

Kitab Levicius (Imamat) Pasal 25 ayat 36- 37 menyatakan Janganlah kamu mengambil bunga uang atau riba baginya, Melainkan engkau harus takut kepada Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup diantaramu. Janganlah member uangmu kepada dengan meminta bunga, juga makananmu jangan kau beri dengan meminta riba. Konsep Bunga (riba) bagi Yunani dan Romawi Pada sekitar abad V SM hingga IV M terdapat Undang-undang yang membenarkan penduduk mengambil bunga denan tingkat maksimal yang dibenarkan hukum (maximum legal rate). Nilai suku bunga ini berubah-ubah sesuai dengan berubahnya waktu, tetapi pengambilannya tidak dibenarkan dengan cara bunga berbunga (double countable). Pada 342 SM pemerintahan Genucia pengambilan bunga tidak diperbolehkan, tetapi pada 88 SM pemerintahan Unciaria diberbolekan seperti aturan semula. Tetapi ahli filsafat Yunani, Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) mengecam praktek bunga. Begitu pula ahli Filsafat Romawi Cato ( 234- 149 SM ) dan Cicero ( 106- 43 SM) juga mengkutuk praktek pengambilan bunga. Konsep Bunga (riba) dikalangan Kristen Dalam kitab perjanjian baru dalam Lukas 34- 35 : Dan, jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang lain karena kam berharap akan sesuatu darinya, Apa jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihanilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Maha Tinggi sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat

PEMBAHASAN Islam Sebagai Agama yang Komplit Islam merupakan agama yang sangat lengkap,hukum dan aturannya sudah tertulis dalam Al- Quran dan dilengkapi dengan ucapan, tindakan dan perilaku yang tertuang dalam Hadist Rosulallah yang taklain merupakan umat terpilih yang bertugas untuk meluruskan umat pada waktu itu. Semua aturan sudah tertulis dalam Al-Quran dan Hadis tak terkecuali tentang mumalah, dalam muamalah mengatur berbagai macam tatanan kehidupan manusia dengan manusia ataupun alam, yang didalammya terdapat pembahasan tentang ekonomi, dan dalam masalah ekonomi terdapat masalah riba. Dalam Islam sendiri, riba mempunyai berbagai pengertian, tetapi dari semua pengertian itu dapat diambil benang merahnya bahwa riba adalah pengambilan tambagan baik itu transaksi jual beli maupun pinjam meminjam. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa mengambil tambahan adalah riba dan bunga adalah mengambil tambahan, dan keberadaannya dapat merugikan orang lain. Bagaimana dengan keuntungan? Kalau kita mengambil kesimpulan bahwa keuntungan berarti riba, dalam islam sendiri keuntungan bukan riba sebab keuntungan berkorelasi negative dengan kerugian tetapi bunga adalah sesuatu yang pasti dan tidak ada kerugian didalamnya sebab dalam perjanjian awalnya membayar sekian untuk tambahan. Disini yang tidak boleh adalah tidak adil sebab peminjam diwajibkan dan ada keharusan. Awal keberadaan bunga berasal dari kaum yang mempunyai uang meminjamkan uang pada orang lain, karena banyak yang meminjam uang maka pemilik uang menjadikan suatu bisnis rentenir. Keberadaan riba (bunga) menjadi sesuatu yang banyak dipertentangkan bukan saja umat muslim tetapi dari berbagai kalangan baik itu zaman Yunani dan Romawi, agama Budha, Yahudi terutama agama Islam.

Riba Padangan Hukum Menurut Sayyid Quthb ( Antonio, 2001: 38 ) kronologi riba dibagi menjadi empat tingkatan yang pertama terdapat dalam surat Ar Rum 39 bahwa riba itu tidak menolong seseorang yang membutukan. Pada tahap ke dua : Dalam surat An Nisa ayat 160-161 Dari ayat tersebut digambarkan bahwa riba merupakan sesuatu yang buruk, Dalam Ayat tersebut juga dijelaskan bahwa Allah SWT mengancam akan member balasan keras kepada kaum Yahudi yang memakan riba, dan di ayat tersebut juga dijelaskan bahwa memakan riba sama dengan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil. Tahap ke tiga Hai orang-oran beriman, janganlah kamu memakan harta riba secara berlipat ganda dan takutlah kamu kepada Allah mudah-mudahan kamu menang (QS. Al Imron: 130 ). Pada tahap ini riba merupakan sesuatu yang diharamkan dengan dikaitkannya suatu tambahan kepada peminjaman dan pemberi pinjaman. Dalam ayat ini diserukannya haramnya riba yang berlipatganda untuk orang-orang yang beriman.Ayat ini turun pada tahun ke 3 H. Ayat ini terakhir, dalam ayat ini riba merupakan sesuatu yang harus diperangi berapapun. Di riwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa pada suatu ketika Bilal membawa barni (sejenis kurma berkualitas baik) kehadapan rasulullah saw. Dan beliau bertanya kepadanya,Darimana engkau mendapatkannya? bilal menjawab,saya mempunyai sejumlah kurma dari jenis yang rendah mutunya dan menukarkannya dua sha untuk satu sha kurma jenis barni untuk di makan oleh rasulullah saw.selepas itu rasulullah saw. terus berkata,hati-hati.hati-hati. ini sesungguhnya riba, ini sesungguhnya riba.jangan berbuat begini, tetepi jika kamu membeli (kurma yang mutunya lebih tinggi), juallah kurma yang mutunya rendah untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut untuk membeli kurma yang bermutu tinggi itu.(HR Bukhari). Hadist ini mempunyai pengertian bahwa riba dengan jenis fadhil dan riba dengan jenis nasiah hukumnya haram. Dari Abu Jabir bin Adillah ra. Ia berkata. Rosulullah saw melarang menjual satu tumpuk kurma yang tidak diketahui takarannya dengan kurma sudah diketahui takarannya. Kandungan hadis ini adalah bahwa haram menukar atapun menjual barang makanan dari takaran yang jelas pada takara yang

tidak jelas sebab hal ini akan menimbulkan kebohongan dan salah satu pihak akan dirugikan, dan salah satu pihak akan didholimi. Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar bahwa ayahnya berkata,Rasulullah saw. melarang penjualan emas dengan emas dan perak dengan perak kecuali sama beratnya, dan membolehkan kita menjual emas dengan perak dan begitu juga sebaliknya sesuai dengan keinginan kita.(HR Bukhari). Dari semua hadis diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ayat Al-Quran yang mengharamkan riba diperkuat dengan hadis-hadis diatas dan dapat ditarik benang merahnya bahwa riba merupakan sesuatu yang haram hukumnya dan riba dapat merugikan orang lain, meskipun pinjam meminjam atas dasar membantu tetapi apabila ada unsur menambahkan, maka hukum-nya riba dan hal itu merupakan sesuatu yang dibenci Allah. Meskipun hukum riba jelas tidak diperbolehkan, tetapi riba tumbuh subur di Indonesia hal itu dikarenakan riba sudah mengakan dan fenomena yang perlu diselasaikan. Banyak upaya ulama untuk menghentikan praktek riba (bunga) antara lain: NU dalam bahtsul massail di Bandar Lampung menyatakan : 1. Haram, sebab termasuk utang dipungkut retenir, 2. Halal sebab tidak ada syarat pada waktu akad sedangkan adat yang berlaku tidak dapat begitu saja dijadikan syarat, 3. Syubhat sebab para ahli hukum berselisih pendapat tentangnya. Majilis Tarjih Muhammadiyah dalam Muhtamar di Sidoarjo pada tahun 1968 memutuskan, antara lain: 1. Riba hukumnya haram karena tidak diperbolehkan dalam Al-Quran dan Hadis, 2. Bank dengan sistem bunga hukumnya haram dan bank dengan sistem bagi hasil hukumnya halal selain dalam Lukas dalam kitab perjanjian lama pun juga membahs tentang pelarangan tentang bunga(riba). Adapun runtutannya ada di dalam pembahasa riba dalam pandangan hukum. Dari semua sumber diatas dapat ditarik satu benang merah bahwa islam melarang riba adanya riba. Dan bukan itu saja agama lain-pun tidak membolehkan bunga, antara lain Budha dalam teks Vedic (2000 1400SM), Sutra (700 100 SM) dan Jakatas dalam

Budha (600 400SM), Yahudi ( injil yang direvisi, Eksodus 22: 25, Deuteronomy 23:19-20, kitab Lavictus (imamat 36-37), Nastrani dalam Lukas 34-35 selain dalam Lukas dalam kitab perjanjian lama pun juga membahs tentang pelarangan tentang bunga(riba). Adapun runtutannya ada di dalam pembahasa riba dalam pandangan hukum. Dari semua hukum yang menulis tentang bunga atau riba banyak hukum dari agama lain yang tidak memperbolehkan adanya bunga (riba) meskipun ada beberapa hukum yang hanya pada tingkatan tidak membolehkan, tetapi ada hukum yang mengecam riba. Riba Pandangan Sejarah Riba ada tidak baru-baru ini saja, riba ada sejak 2000 tahun SM dan menjadi permasalahan social ekonomi yang ada pada zaman tersebut, dan sudah banyak hukum yang menangkalnya tetapi riba masih tetap subur dan berkembang sampai saat ini. Dalam pandangan sejarah Islam pernah mengalami kejayaan pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz yang zaman itu bank, rentenir tidak ada dan kemiskinan yang menjadi permasalahan dari masa ke masa pada masa khalifah Umar bin Abudul Aziz tidak diketemukan. Pada masa Rosul sampai islam runtuh karena kekalahan pada perang salib islam sangat menjaga agar praktek riba tidak ada, dan pada kenyataanya pada masa itu tidak ada krisis global seperti sekarang sering terjadi. Sistem bunga di Babilonia telah ada sejak zaman raja Ur Nammu (sekitar 21132096 SM) raja Hammurabi (sekitar 1792-1750SM)telah mempraktekkan sistem bunga. Awal kemuncullan bank pada sekitar VI SM dan bank pertama yang muncul adalah bank Igibi. Dan ketika peradaban zaman Yunani dan Romawi bunga sudah ada, tetapi took filsafat menentang, tokoh itu antara lain Plato (427-347) dan Aristoteles (384 -322 SM), Alasannya adalah bunga meyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dan bunga juga membuat eksploitasi golongan kaya pada golongan miskin.

Dikalangan Nasrani bunga menjadi pembahasan dari masa ke masa, antara lain St Basil (329-379) Baginya, mengambil bunga adalah adalah mengambil keuntungan dari mereka yang memerlukan. Demikian mengumpulkan emas dan kekayaan dari air mata dan kesusahan orang miskin. St Gregory dan Nyssa (335-395) menggutuk praktek bunga karena meurutnya pertolongan melalui pinjaman adalah palsu. St John Chrysostom (344-404) berpendapat larangan yang terdapat dari perjanjian lama yang ditunjukkan bagi orang-orang Yahudi juga berlaku bagi perjanjian baru. St Anselm dan Centurbury (1033-1109) menganggap bahwa bunga sama dengan perampokan. Dari semua deretan peraturan diatas menggungkapkan bahwa bunga pada waktu itu sudah merajalela dan membuat dampak social yang cukup signifikan. Hal ini terbukti dari beberapa kali peraturan dibuat untuk mempertegas peraturan yang lama. Tetapi pada perang salib banyak ajaran yang tujuan untuk melemahkan umat muslim salh satunya dengan riba, sebab dengan adanya riba (bunga) umat muslim yang hartanya habis karena perang salib akan merasa tergantunga pada penjajah (dalam hal ekonomi) dan pada akhirnya negara-negara kecil tersebut dapat disetir dalam hal kebijakan ekonominya. Dan ini merupakan politik ekonomi negara Barat dengan tujuan agar umat muslim tidak dapat Berjaya. Pada beberapa tahun terakhir ini banyak Negara yang mengalami krisis global, yang salah satu Negara yang terkena krisis global antara lain Negara-negara yang mempraktekkan bunga, sedangkan bagaimana Negara- Negara yang tidak mempraktekkan bunga? Dalam sejarah perekonomian, saat kejayaan islam, tidak pernah terkena krisis global seperti yang sering terjadi saat ini sebab mereka tidak mempraktekkan sistem bunga, bahkan mereka banyak menggecam praktek sistem bunga. kenapa dengan sistem bunga?. Sistem bunga berhubungan erat sekali dengan inflasi sehingga membentuk lingkaran setan dan kalau terus-menerus akan terjadi krisis, dan bila hal ini ada hubungannya dengan banyak negara akan menyebabkan krisis global.

D.

Dampak riba bagi sosial dan perekonomian Apabila ditelisik lebih jauh, Apa yang menyebabkan riba (bunga) dilarang

dan dikecam baik dalam Al-Quran dan Hadits maupun peraturan-peraturan yang berlaku pada waktu itu? Secara social bunga dapat menurunkan semangat kerja masyarakat, sebab kalau kita lihat prakteknya dengan adanya bunga, bunga menjadi indikator mereka, dengan adanya bunga masyarakat yang mempunyai modal akan mengukur keuntungan sudut pandang bunga, sehingga mengakibatkan malas untuk berusaha dan malasnya berusaha akan berdampak pada masyarakat kaya mengesploitasi uangnya(modal) untuk meraup sebesar-besarnya keuntungan dan hal ini kemudian terjadi rentenir, sehingga hal ini sulit untuk mencapai kesejateraan bersama dan pada akhirnya cepat ataupun lambat masyarakat akan dapat menjadi terpeca belah. Pembayaran bunga yang berkelanjutan akan menurunkan standar kehidupan mereka, sehingga kaum miskin akan semakin miskin dan kaum pemilik modal (orang kaya) akan semakin meraup untung dari kesusahan orang miskin tersebut dan pada akhirnya yang semakin diuntungkan adalah para pemilik modal (orang kaya) yang meraup untung (bunga) dari kesusahan orang miskin. Adanya bunga juga mengakibatkan sistem ekonomi semakin lelu sebab adanya bunga menuruntakan daya beli masyarakat, turunnya daya beli masyarakat akan berdampak pada produksi turun sehingga sector produksi merosot dan pada akhirnya merosotnya sector produksi juga akan mengakibtakan pengangguran dan penganguran akan bertambah, sehigga akan mengurangi kesejateraan negara tersebut. Hal tersebut sudah barang tentu menjadi kerugian banyak pihak, tetapi menjadi monopoli pihak tertentu (konglomerat), modal yang mereka punya lebih pada spekulatif bukan untuk usaha rill. Para konglomerat lebih senang untuk berbagai kegiatan yang sifatnya spekulatif sehingga dapat mengkacaukan pasar modal dan ekonomi secara makro. Dalam sistem bunga ini negara juga banyak dirugikan, negara yang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, negara harus mengeluarkan banyak uang, uang

itu disebutnya dalam anggaran pembelanjaan negara disebut dengan biaya stabilitas ekonomi yang biaya itu tak lain adalah uang untuk membayar bunga di bank Indonesia ( SBI, Sukuk dls), dan uang stabilitas ekonomi itu diperoleh dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat. Pendek kata uang yang dikumpulkan dari rakyat untuk peningkatan standar hidup dibayarkan kepada orang kaya. Kemudian lahir pertanyaan, apabila sekomlek itu permasalahan yang ditimbulkan dari bunga lalu bagaimana mengatasinya? E. Solusi Disadari atau tidak bunga (riba) merugikan, sebab bisa mencekik rakyat kecil yang pada akhirnya hanya untuk orang kaya. Sebab sistem bunga merupakan sistem yang membayar kemudian bekerja, sehingga bunga itu akan selalu melekat pada setiap pinjaman, dan itu dapat mencekik, sebab sebelum pinjam sudah ada akad untuk membayar kelebihan, tetapi bila dibalik bekerja dulu baru membagi hasil, hal ini beda lagi sebab hasil sudah didapat baru dibagi. PENUTUP a. Simpulan Dari hukumnya riba (bunga) atau istilah lain yang sama dengan tambahan dari pokok sesuatu yang dilarang agama, baik itu agama Allah yakni agama Islam maupun Yahudi, Budha, dan Kristen dan dapat ditarik benang merah bahwa semua agama tidak memperbolehkan riba. Dan hukum yang kuat pada waktu itu juga melarang riba seperti beberapa kali peraturan Gereja melarang praktek riba, Kesepakatan sarjana Nasrani, Bashul Masail NU, Peraturan Muhammadiyah, Fatwa MUI mengecam adanya riba. Selain itu sejarah, riba (bunga) sudah ada berabad-abad lamanya sebelum adanya Al-Quran turun. Lahirnya riba (bunga) yakni kaum kaya meminjamkan uang pada kaum miskin dan kemudian hal ini dijadikan bisnis oleh kaum kaya dengan menambahkan bunga (riba) tersebut.

b.

Saran Riba sudah dikaji dimanapun, baik secara teoritis maupun secara praktik.

Agama apapun sudah secara jelas mengharamkan adanya praktik riba. Riba sudah jelas betapa negatif dampaknya dalam kehidupan dari segala aspek, terutama aspek ekonomi. Maka dengan demikian, larangan terhadap riba sudah harus dimulai sejak dini dengan edukasi menyeluruh, yang diarahkan kepada masayarakat baik akademisi, praktisi, maupun bidang yang lain, serta regulasi pemerintah yang mendukung. DAFTAR PUSTAKA