Anda di halaman 1dari 1

Definisi CAPD CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis) merupakan metode pencucian darah dengan mengunakan peritoneum (selaput

yang melapisi perut dan pembungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolic dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut, kemudian cairan dikeluarkan, dibuang, dan diganti dengan cairan yang baru. Dialysis peritoneal (DP) adalah salah satu bentuk dialysis untuk membantu penanganan pasien GGA (Gagal Ginjal Akut) maupun GGK (Gagal Ginjal Kronik), menggunakan membrane peritoneum yang bersifat semipermeable. Melalui membrane tersebut darah dapat difiltrasi. (Sudoyo W, Aru. 581) Epidemiology CAPD Dialisis Peritoneal (DP) sudah lama dikenal. Sarjana pertama yang melakukan DP di klinik pada seorang pasien uremia karena obstruksi ureter akibat kanker kandungan adalah Ganter (1923). Perkembangan selanjutnya memakan waktu cukup lama dan baru maxwell (1959) mengajukan teknik dialisis intermiten yang merupakan modifikasi dari tekni yang diajukan Grollman, dkk (1951). Sampai saat ini teknik ini masih tetap terpakai. Perkembangan selanjutnya ditunjang dengan tersedianya antibiotik serta cairan dialisat komersial. Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) sebagai salah satu alternatif terapi pengganti pada Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) telah diintroduksikan sejak tahun 1975 oleh Popovich dan Monchief (Thomas, 2003). Beberapa tahun berselang negara negara di Asia mulai menerapkan program CAPD. Demikian juga di Indoneia sejak awal tahun 1980-an telah dilakukan CAPD secara insidentil (Tambunan, 2007). Meskipun telah tiga dekade sejak dikenalkan CAPD dan telah diupayakan pelatihan dan simposium keperawatan sejak awal tahun 1990-an, namun CAPD belum menjadi suatu pilihan terapi pengganti PGTA di Indonesia.