Anda di halaman 1dari 14

TUGAS METODOLOGI PENELITIAN

PENYUSUNAN DOV DAN PEDOMAN WAWANCARA

Oleh

Kelompok 4
1. Rian Fahmi (10120140) 6. Andreas Agung Utomo (10120140)

2. Karina Ega Nirwana (10120140) 3. Eni Rahmawati

7. Kadek Mahardika Yudha (10120140) 8. Benny Setiawan (10120140)

(10120140)

4. Eirene Lestari P Hutagaol 5. Wahyu Lestari

(10120140)

9. I Dewa Gede

(10120140)

(10120140)

FAKULTAS PARIWISATA D4 PARIWISATA UNIVERSITAS UDAYANA 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya paper yang berjudul Penyusunan DOV dan Pedoman Wawancara dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yaitu 1. Dosen Metodologi Penelitian 2. Narasumber ataupun referensi yang didapatkan 3. Para teman ataupun sahabat yang memberi kritik dan saran dalam pembuatan paper ini. 4. Dan pihak-pihak yang terkait lainnya Kepada semuanya itu saya mengucapkan terima kasih atas bantuan moral maupun material sehingga paper ini dapat tersusun dengan baik. Penulis menyadari bahwa apa yang telah dipaparkan pada paper ini masih jauh dari tingkat sempurna baik menyangkut isi, teknis, maupun bahasa. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan paper ini. Betapapun kekurangan itu, penilaian sepenuhnya diserahkan kepada para pembaca. Akhirnya penulis berharap semoga paper ini dapat bermanfaat sehingga dapat disimak dalam bentuk bahan bacaan.

Denpasar, 26 Februari 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................i BAB I. PENDAHULUAN..............................................................................................................1 1.1 Latar Belakang......................................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................................1 1.3 Tujuan Penelitian..................................................................................................................1 1.4 Manfaat Penelitian................................................................................................................2 BAB II. PEMBAHASAN...............................................................................................................3 2.1 Pengertian Definisi Operasional Variabel ( DOV )............................................................3 2.2 Langkah Langkah Penyusunan DOV...............................................................................3 2.3 Menyusun Pedoman Wawancara........................................................................................4 ..............................................................................................................................................6 2.3.1 Tujuan, Aspek dan Hal-hal yang Mempengaruhi Wawancara..................................6 2.3.2 Wawancara Efektif......................................................................................................7 2.3.3 Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Wawancara...............................................8 DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................1

ii

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Laporan penelitian adalah uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses kegiatan penelitian. Oleh karena itu isi laporan penelitian bukan hanya tentang langkah-langkah yang telah dilakukan oleh peneliti saja tetapi, juga latar belakang permasalahan, kerangka berpikir, dukungan teori, metodologi, interpretasi hasil penelitian, penyusunan definisi operasionan variable, pedoman wawancara, kesimpulan dan saran, dan lainnya yang bersifat memperkuat makna penelitian yang dilakukan. Membuat laporan penelitian pada umumnya harus mengikuti prosedur dan tata cara yang sudah disepakati secara ilmiah agar mudah dipahami oleh pihak lain. Membuat laporan penelitian pada umumnya banyak peneliti yang mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara, dalam melakukan wawancara tersebut diperlukan tata cara wawancara yang baik dan benar agar sesuai dengan penelitan. Dalam menyusun suatu proposal/skripsi/tesis ataupun penelitian, peneliti akan bekerja mulai dari tahap konseptual sampai ke tahap operasional, dalam tahap operasional peneliti akan melakukan penyusunan variable-variable dari penelitiannya yang harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar dapat memperkuat makna dari penelitian yang dilakukan. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian definisi operasional variable (DOV)? 2. Bagaimana langkah-langkah penyusunan definisi operasional variable (DOV)? 3. Bagaimana menyusun pedoman wawancara? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Mendeskripsikan pengertian definisi operasional variable. 2. Menjelaskan langkah-langkah penyusunan definisi operasional variable terkait dengan penelitian. 3. Menjelaskan tata cara dalam menyusun pedoman wawancara terkait dengan penelitian. 1

1.4 Manfaat Penelitian 1. Agar dapat menambah ataupun mengembangkan ilmu mahasiswa mengenai penyusunan DOV dan pedoman wawancara dalam melakukan penelitian.

2. Agar dosen ataupun pembaca dapat menambah referensi tentang penyusunan DOV dan pedoman wawancara.

BAB II.

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Definisi Operasional Variabel ( DOV )

Definisi operasional ialah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat di observasi dari apa yang sedang didefinisikan atau mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain . Penekanan pengertian definisi operasional ialah pada kata dapat diobservasi.Apabila seorang peneliti melakukan suatu observasi terhadap suatu gejala atau obyek,maka peneliti lain juga dapat melakukan hal yang sama, yaitu mengidentifikasi apa yang telah didefinisikan oleh peneliti pertama. Operasionalisasi variable bermanfaat untuk: a. Mengidentifikasi criteria yang dapat diobservasi yang sedang didefinisikan. b. Menunjukkan bahwa suatu konsep atau objek mungkin mempunyai lebih dari satu definisi operasional. c. Mengetahui bahwa definisi operasional bersifat unik dalam situasi dimanadefinisi tersebut harus digunakan.

2.2 Langkah Langkah Penyusunan DOV

Ada tiga pendekatan untuk menyusun definisi operasional variabel , yaitu disebut Tipe A, Tipe B dan Tipe C. 3

a. Definisi Operasional Tipe A Definisi operasional Tipe A dapat disusun didasarkan pada operasi yang harus dilakukan, sehingga menyebabkan gejala atau keadaan yang didefinisikan menjadinyata atau dapat terjadi. Dengan menggunakan prosedur tertentu peneliti dapat membuat gejala menjadi nyata. Contoh: Konflik didefinisikan sebagai keadaan yang dihasilkan dengan menempatkan dua orang atau lebih pada situasi dimana masing-masing orang mempunyai tujuan yang sama, tetapi hanya satu orang yang akan dapat mencapainya. b. Definisi Operasional Tipe B Definisi operasional Tipe B dapat disusun didasarkan pada bagaimana obyek tertentu yang didefinisikan dapat dioperasionalisasikan, yaitu berupa apa yangdilakukannya atau apa yang menyusun karaktersitik-karakteristik dinamisnya. Contoh: Orang pandai dapat didefinisikan sebagai seorang yang mendapatkan nilainilai tinggi di sekolahnya. c. Definisi Operasional Tipe C Definisi operasional Tipe C dapat disusun didasarkan pada penampakanseperti apa obyek atau gejala yang didefinisikan tersebut, yaitu apa saja yangmenyusun karaktersitik-karaktersitik statisnya. Contoh: Orang pandai dapat didefinisikan sebagai orang yang mempunyai ingatankuat, menguasai beberapa bahasa asing, kemampuan berpikir baik, sistematis danmempunyai kemampuan menghitung secara cepat.

2.3 Menyusun Pedoman Wawancara

Charles Stewart dan W. B. Cash mendefinisikannya sebagai sebuah proses komunikasi berpasangan dengan suatu tujuan yang serius dan telah ditetapkan sebelumnya yang dirancang untuk bertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab

Robert Kahn dan Charles Channel mendefinisikan wawancara sebagai suatu pola yang dikhususkan dari interaksi verbal diprakarsai untuk suatu tujuan tertentu, dan difokuskan pada sejumlah bidang kandungan tertentu, dengan proses eliminasi materi yang tak ada kaitannya secara berkelanjutan. Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspekaspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998) Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspekaspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998) Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara : a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika

mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan. b. c. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat

dilakukan. 5

Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu : a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya

kurang baik. b. c. d. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh

interviwer. Orang-orang dalam sebuah wawancara berada dalam sebuah hubungan interpersonal. Meskipun demikian, variasi-variasi tertentu dari wawancara bisa mencakup orang-orang dalam kelompok-kelompok. Umumnya, peran pewawancara akan dikembangkan dalam hal tiga fungsi utamanya: (1) merencanakan strategi-strategi, (2) melaksanakan atau mengatur wawancara, (3) mengukur hasil-hasilnya.

2.3.1 Tujuan, Aspek dan Hal-hal yang Mempengaruhi Wawancara Orang-orang melakukan wawancara untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan tugas; mereka punya sesuatu yang ingin mereka capai, yakni, menyeleksi seseorang untuk suatu pekerjaan, mengumpulkan data penelitian, menerima pasien, atau menulis kisah berita. Tujuan terkait tugas inilah yang membedakan wawancara dari sekedar perbincangan biasa. Suatu percakapan bisa sampai kemana saja; akan tetapi, wawancara harus difokuskan pada kandungan isi yang sesuai dengan tujuan anda. Wawancara adalah suatu bentuk yang khusus dari komunikasi oral dan berhadapan muka dalam suatu hubungan interpersonal yang dimasuki untuk sebuah tujuan tertentu yang diasosiasikan dengan pokok bahasan tertentu. Keefektifannya bisa dinilai dalam hal tujuan wawancara, teknik-teknik yang digunakan, kerangka waktunya, sudut pandang orang yang melakukan evaluasi, dan reliabilitas dan validitas informasi yang diperoleh. 6

Hal-hal yang mempengaruhi interpretasi pewawancara terhadap pesan-pesan adalah: motivasi, tujuan, persepsi, pola pikir, keahlian bahasa, sikap, dan memori. Hal-hal ini juga mempengaruhi interpretasi yang diwawancarai mengenai isi wawancara. Aspek-aspek wawancara yang dapat direncanakan adalah tujuan-tujuan, pertanyaanpertanyaan, setting, dan reaksi terhadap permasalahan-permasalahan khusus. Perencanaan semacam itu bisa memberikan kesiapan bagi si pewawancara untuk semua kemungkinankemungkinan yang mungkin muncul dalam wawancara. Proses-proses yang berhubungan dengan melaksanakan wawancara adalah mensetting suasananya, mendengarkan, menyelidiki, memotivasi, dan mengendalikan wawancara. Hal-hal ini melibatkan suatu teknik komunikasi tingkat tinggi, dan panduan-panduan yang relevan.

2.3.2 Wawancara Efektif Kata profesional yang digunakan untuk mewawancarai menyiratkan bahwa ada beragam tingkat kemahiran dalam keahlian-keahlian (skill) yang dibutuhkan untuk mewawancarai secara efektif. Felix Lopez membandingkan pewawancara profesional dengan seorang musisi profesional. Umumnya, peran pewawancara akan dikembangkan dalam hal tiga fungsi utamanya: (1) merencanakan strategi-strategi, (2) melaksanakan atau mengatur wawancara, dan (3) mengukur hasil-hasilnya. Orang-orang melakukan wawancara untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan tugas; mereka punya sesuatu yang ingin mereka capai, yakni, menyeleksi seseorang untuk suatu pekerjaan, mengumpulkan data penelitian, menerima pasien, atau menulis kisah berita. Tujuan terkait tugas inilah yang membedakan wawancara dari sekedar perbincangan biasa. Suatu percakapan bisa sampai kemana saja; akan tetapi, wawancara harus difokuskan pada kandungan isi yang sesuai dengan tujuan anda.

2.3.3 Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Wawancara Oleh karena wawancara pada dasarnya merupakan suatu bentuk komunikasi antar pribadi yang unik, akan bermanfaat apabila kita mengawali analisis kita dengan sutu model komunikasi yang umum. Komunikasi dalam wawancara sebagai suatu proses timbal balik. Kedua orang dalam sebuah wawancara memberikan kontribusi pada interaksi, dan keefektifan upaya-upaya mereka bergantung pada kerjasama timbal balik. Tak satupun dari keduanya yang memiliki kendali eksklusif atas perilaku komunikasi orang satunya, dan salah satunya sama-sama bisa memilih untuk menghentikan komunikasi. Menciptakan suatu suasana dimana si interviewee bersedia untuk berkomunikasi. Komunikasi dua arah umumnya lebih efektif dari komunikasi satu arah. Komunikasi satu arah dicirikan oleh pesan-pesan yang pada dasarnya berjalan ke satu arah saja, misalnya, dari pewawancara ke yang diwawancarai. Pengirimnya tidak begitu tertarik pada respon-respon, pertanyaan-pertanyaan, komentar-komentar, atau reaksi-reaksi dari si penerima. Sebagai akibatnya, dalam sebuah situasi satu arah si pewawancara tidak merasa bahwa sudah terjadi saling pengertian atau bahwa pesannya sudah efektif karena tidak ada umpan balik (feedback). (Banyak orang yang merasa nyaman dengan situasi satu arah karena hal ini efisien dalam hal menghemat waktu dan mereka tidak harus merasa khawatir tentang reaksi mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar) Tentukan feedback menjadi alat penentu arah dari tujuan wawancara. Pesan-pesan dikirimkan ke dua arah, sehingga kedua individu sama-sama berpartisipasi sebagai pengirim dan penerima, dan masing-masing harus mau menerima respon-respon, atau feedback, yang diterima dari orang lainnya. Komunikasi dua arah membutuhkan waktu. Eksperimen dan latihan-latihan telah menunjukkan bahwa upaya dan waktu yang lebih banyak, dan kesediaan untuk menerima feedback berperan besar dalam meningkatkan kemungkinan bahwa orang-orang yang terlibat akan saling memahami satu dengan yang lainnya. Hindari keliru mengasumsikan mereka sudah tahu dengan pasti hasil-hasil yang mereka inginkan, si penerima pasti juga tahu. Sehingga, mereka seringkali mengabaikan untuk memberikan rincian-rincian penjelas. Kadangkala harapan untuk mendapatkan feedback tidak pernah diartikulasikan, dan orang-orangpun tidak memberikannya. Anda mungkin harus membuat permintaan yang jelas bahwa anda menginginkan feedback dan membangun suatu situasi yang memungkinkan orang yang diwawancarai untuk memberikan feedback tersebut. 8

Wawancara-wawancara terjadi karena suatu tujuan, dan memfokuskan pada jenis-jenis informasi tertentu. Salah satu karakteristik dari pewawancara yang baik adalah kemampuan untuk mengendalikan interaksi sehingga tujuan wawancara tercapai. Hal ini berarti bahwa tidak semua komentar atau respon relevan. Oleh karenanya, anda mungkin perlu menetapkan batasan-batasan mengenai jenis respon yang tepat. Tingkatan kendali yang diperlukan dalam suatu wawancara sangatlah bervariasi. Pada wawancara-wawancara medis, penelitian, dan bisnis tertentu kendali mungkin cukup mudah untuk dipertahankan dan cukup penting; dalam wawancara-wawancara jurnalistik dan untuk memperoleh informasi, dimana orang yang diwawancarai tidak selalu harus mau bekerja sama dengan anda, kendali mungkin merupakan sesuatu yang hampir mustahil untuk dipertahankan. Karena feedback adalah dimensi wawancara yang penting, anda perlu melakukan upaya yang sangat penuh kesadaran dan terencana untuk mendapatkan feedback apabila tidak diberikan secara sukarela. Saran-saran berikut adalah teknik-teknik yang sangat bermanfaat guna menghasilkan feedback: (1) meminta feedback; (2) mendengarkan ketika diberikan; (3) melatih orang-orang agar merasa anda mau menerima feedback; (4) mempertahankan suasana yang memungkinkan adanya feedback. Tiap komunikator membutuhkan skill-skill mengirimkan dan menerima yang seimbang. Seringkali ketika orang-orang berpikir tentang komunikasi dalam kaitannya dengan mengirimkan dan menerima, mereka menganggap satu orang sebagai pengirim dan orang lainnya sebagai penerima. Hal ini patut disayangkan karena satu orang kemudian ditandai sebagai pembicara dan orang lainnya sebagai pendengar. Tentu saja, anda memerlukan kecakapan dalam berbahasa agar bisa mengekspresikan pemikiran-pemikiran anda dengan baik. Tapi, sayangnya kebanyakan orang memiliki latihan yang lebih banyak dalam mengemukakan daripada dalam mendengarkan. Oleh karena itu, kami menggaris bawahi mendengarkan sebagai salah satu kunci dari skill-skill mewawancarai dan berkomunikasi. Masing-masing orang adalah filter komunikasi yang unik; karenanya, selalu siap untuk perbedaan-perbedaan. Dalam beberapa hal tiap orang tidak sama dengan tiap-tiap orang lainnya; tidak ada dua orang yang benar-benar serupa. Ini yang membuat komunikasi menjadi 9

begitu menantang; dua orang yang memiliki perbedaan dalam hal-hal yang penting, yang memiliki tujuan-tujuan berbeda, yang menggunakan bahasa secara berbeda, dan yang memiliki gaya-gaya berkomunikasi yang berbeda pula kemudian saling berbagi kesamaan yang mereka miliki. Salah satu penyebab terbesar dari permasalahan-permasalahan komunikasi adalah bahwa kita menganggap bahwa orang-orang sama seperti diri kita sendiri dan bukannya menyesuaikan diri dengan fakta bahwa mereka mungkin berbeda dalam beberapa hal. Keefektifan diukur dalam kaitannya dengan sejumlah ukuran-ukuran berbeda. Anda harus menilai keefektifan anda berdasarkan hasil-hasilnya. Tentu saja ini menyiratkan bahwa anda mampu mengidentifikasi apa tujuan-tujuan anda dengan pasti. Seorang pewawancara profesional secara otomatis mengidentifikasikan sebuah tujuan. Kadangkadang, para pewawancara menilai keefektifan dengan teknik-teknik yang telah mereka gunakan. Memfokuskan pada teknik-teknik, serta belajar bagaimana cara menghindari pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mengarahkan. Semua wawancara tersusun atas dua dimensi penting yang bisa dianalisa keefektifannya: kandungan isi dan hubungan. Yang cenderung akan lebih difokuskan adalah isi. Hendaknya melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi atau untuk memberikan informasi. Akan tetapi, menganggap bahwa hubungan antar pewawancara dan orang yang diwawancarai sama pentingnya dalam kebanyakan situasi.

10

DAFTAR PUSTAKA
Nazir,Moh.2005.Metode Penelitian.Jakarta:Penerbit Ghalia Indonesia Sugiyono.2009.Metode Penelitian Pendidikan.Bandung: Alfabeta Wardiyanta.2006.Metode Penelitian Pariwisata.Yogyakarta:Penerbit ANDI Yogyakarta http://defoper.blogspot.com/ http://tesisdisertasi.blogspot.com/2009/11/penerapan-teori-dalam-penyusunan.html file:///E:/metdologi%20pnlitian/Variabel-Dan-Definisi-Operasional-Variabel.htm