Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS KEBERHASILAN IPO BANK BJB

Dalam rangka memperkuat permodalan, bank BJB telah melaksanakan IPO dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8 Juli 2010 dengan jumlah saham yang dijual kepublik sebanyak 25%. Persiapan yang terencana dengan baik dan kondisi pasar modal yang kondusif mampu meningkatkan kepercayaan investor kepada bank BJB dimana pada saat penawaran perdana saham terjadi kelebihan permintaan sebesar 4,1 kali. Dengan harga perdana sebesar Rp 600 pada saat listing melesat sampai Rp 900. Kemudian dalam waktu yang singkat yaitu pada bulan Oktober 2010 harga saham bank BJB mencapai harga tertinggi yaitu Rp 1.780 dan seiring melemahnya asar dunia dan regional per Desember 2010 harga penutupan saham bank BJB menjadi ditutup di Rp 1.450 atau naik 142% dari harga perdana.

Ada kecenderungan bahwa harga penawaran di pasar perdana selalu lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama diperdagangkan di pasar sekunder (underpricing). Hal ini pula yang terjadi pada bank BJB. Hal ini kemungkinan terjadi disebabkan karena kesengajaan underwriter untuk menetapkan harga penawaran jauh dibawah harga pasar untuk meminimalkan kerugian yang harus ditanggung atas saham yang tidak terjual.

Bagi investor jelas informasi mengenai perusahaan merupakan hal yang sangat penting. Bila investor mendapatkan lebih banyak berita positif dibandingkan berita negatif mengenai perusahaan maka tingkat minat investor akan meningkat. Kenaikan minat investor akan menimbulkan penilaian yang overvalued atas perusahaan sehingga terjadi kenaikan volume permintaan. Kenaikan volume permintaan ini akan menyebabkan kenaikan harga saham seningga terjadi underpricing.

Dilihat dari laporan keuangan bank BJB, selama 5 tahun terakhir (terhitung dari 2006-2010) total asset bank BJB selalu mengalami peningkatan. Akhir 2010 total assetnya mencapai 43,4 Triliun rupiah. Tahun 2009 total asset bank BJB mencapai 32,4 Triliun. Sehingga terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Begitu juga dengan total ekuitas bank BJB, pada tahun 2010, total ekuitas bank BJB mencapai 4,9 Triliun dan pada tahun 2009, mencapai 3,09 Triliun rupiah yang berarti juga mengalami peningkatan. Selain melihat dari sisi total asset dan total ekuitas, di lihat dari total pendapatan dan laba bersih bank BJB juga selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2010 total pendapatan bank BJB adalah 4,8 Triliun rupiah dan pada tahun 2009 berjumlah 3,9 Triliun rupiah terjadi peningkatan sebesar 24,08%. Dan pada tahun 2010 laba bersih perusahaan mencapai 890 miliar rupiah sedangkan pada tahun 2009 mencapai 709 miliar rupiah. Terjadi peningkatan sebesar 25,53% pada laba bersih perusahaan tahun 2009-2010.

Hal ini menggambarkan bahwa bank BJB mampu meningkatkan laba di masa yang akan datang dan dapat menggunakan assetnya secara efisien dalam mengelola kegiatannya untuk mencapai keuntungan. Sehingga investor tertarik untuk menginvestasikan uang mereka di perusahaan ini.

Selain itu, tujuan utama bank BJB melaksanakan IPO adalah untuk memperkuat struktur permodalan. Dana hasil IPO digunakan untuk pengembangan teknologi informasi dan penambahan jaringan kantor. Tujuan Penggunaan Dana untuk Investasi juga merupakan faktor penting untuk menarik investor. Bagi perusahaan dengan kualitas baik, penggunaan dana IPO untuk belanja modal dapat dianggap sebagai upaya meningkatkan kualitas perusahaan. Pada umumnya perusahaan dengan fundamental bagus atau tujuan IPO nya untuk ekspansi lebih banyak diminati oleh investor.