Anda di halaman 1dari 7

TOPIKAL PAPER

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT (Culture and Social Environment)


Fenomena Komuter

Pengajar : Dr. Aris Arif Mundayat, MA

Oleh : Isyawal Jambek 10/325608/PEK/16089 Angkatan 58 Bilingual

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

Culture & Social Environment

I. Deskripsi Fenomena Lingkungan Sosial dan Budaya Bagi masyarakat yang bertempat tinggal di Jakarta dan sekitarnya tentu tidak asing dengan istilah komuter. Istilah ini memang belum lama mereka dengar dan baru berkembang luas seiring dengan perkembangan pemukiman di wilayah sub-urban seperti Tangerang, Bekasi, Bogor dan Depok. Kata komuter (berasal dari bahasa Inggris commuter; dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penglaju), berarti seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya. Sebagai contoh, para pekerja yang bekerja di Jakarta, biasanya bertempat tinggal di jabodetabek, bahkan di tempat yang lebih jauh seperti Karawang, Sukabumi, dan Pandeglang. Mereka disebut komuter jika mereka pulang pergi dari tempat tinggal mereka ke tempat kerja mereka hampir setiap hari. komuter di kota besar seperti Jakarta banyak menghabiskan waktu mereka di perjalanan. Berangkat pagi gelap dan pulang setelah malam menjadi gelap. Hal ini disebabkan kemacetan yang menjadi langganan di kota-kota besar di Indonesia terutama di Jakarta. Para komuter menghadapi masalah mahalnya harga sewa rumah atau tanah di dekat tempat bekerja mereka, sehingga mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali tinggal di tempat yang cukup jauh dari tempat bekerja mereka. Daerah di sekeliling pusat pertumbuhan seperti Jakarta yang merupakan daerah tempat tinggal para komuter yang bekerja di pusat pertumbuhan tersebut secara demografis disebut sabuk komuter (commuter belt). Jumlah penglaju atau komuter Jakarta pada 2010 mencapai sekitar 5,4 juta orang setiap hari. Komuter itu berasal dari wilayah penyangga Jakarta (jabodetabek) yang mengalami pertambahan penduduk cukup signifikan. Data tersebut dihitung Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) berdasarkan jumlah perjalanan atau trip.

Culture & Social Environment

Data MTI menyebutkan, dari 5,4 juta komuter tersebut, sebanyak 50 % menggunakan bus dan angkutan umum sejenis, 44 % menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor serta hanya 3% menggunakan kereta api (KA). Akibatnya, jalanan penuh sesak oleh kendaraan bermotor terutama pada saat jam masuk dan pulang kerja. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi para komuter serta rasa senasib dan sepenanggungan, melahirkan ikatan batin yang kuat diantara mereka. Ikatan tersebut diformalisasikan dalam bentuk komunitas-komunitas resmi, baik on-line maupun off-line. Diantara komunitas komuter terbesar adalah KRL Mania. KRL-Mania adalah group milis bagi komunikasi penumpang dan pelanggan KRL Jabotabek. Selain sebagai media komunikasi sesama anggota, KRL-Mania juga berperan sebagai media yang meneruskan aspirasi anggota dan para penumpang KRL pada umumnya, kepada PT KA sebagai pengelola KRL. Sebagai sebuah Komunitas, KRL-Mania juga menjalankan fungsi sosialnya, antara lain dengan mengadakan kegiatan donor darah, pemberian paket sembako kepada penjaga pintu perlintasan kereta dan lain-lain. II. Analisis Fenomena Komuter Jakarta, sebagai pusat kegiatan ekonomi dan ibukota negara, memiliki daya tarik yang luar biasa bagi banyak orang. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, jumlah pendatang baru mencapai 69.554 orang di tahun 2009 dan menurun menjadi sekitar 60.000 orang di tahun 2010. Dari Sensus Penduduk tahun 2010, diketahui bahwa kepadatan penduduk rata-rata di DKI Jakarta adalah 14.476 jiwa per kilometer persegi, bandingkan dengan kota Pontianak, Kalimantan Barat yang hanya dihuni oleh rata-rata sekitar 1.648 jiwa per kilometer persegi. Tingkat pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat tinggi tentunya diikuti oleh kebutuhan akan tempat tinggal dan perumahan. Dengan kondisi Jakarta saat ini yang begitu padat, akan sulit bagi siapapun untuk mendapatkan lahan kosong untuk dijadikan perumahan, kalaupun ada maka seseorang harus merogoh koceknya lebih dalam mengingat harga lahan yang sangat tinggi.

Culture & Social Environment

Dengan semakin berkembangnya suatu kota, dimana harga lahan di pusat kota yang semakin mahal, maka mulai bermunculan pusat-pusat permukiman dan pusat-pusat kegiatan di pinggiran kota (sub-urban). Masyarakat sub-urban awalnya dianggap sebagai budaya kelas yang lebih rendah daripada masyarakat perkotaan, namun dalam perkembangannya tidaklah demikian. Kenyataannya sebagian masyarakat sub-urban hari ini adalah orang-orang dengan kelas sosial yang tidak lebih rendah atau bahkan sebagiannya lebih tinggi dari masyarakat perkotaan. Hanya saja karena semakin langkanya lahan pemukiman di tengah-tengah kota yang memaksa mereka untuk berada di pinggiran kota. Tingginya ketergantungan masyarakat sub-urban dengan aktivitas di pusat kota yang jaraknya relatif jauh berdampak pada perubahan pola perjalanan masyarakat harian. Jarak perjalanan yang jauh, waktu tempuh yang semakin lama, pelayanan angkutan umum yang terbatas, dan kemacetan pada jam puncak menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Para komuter Jakarta umumnya bertempat tinggal di wilayah penyangga Jakarta (Jabodetabek) yang jarak antara rumah dan tempat kerja mereka bervariasi antara 20 Km sampai 60 Km, dengan waktu tempuh 1 s.d. 3 jam. Masalah lain yang melatarbelakangi keberadaan para komuter ini adalah terpusatnya lapangan pekerjaan baik formal maupun informal di wilayah perkotaan. Hal tersebut mendorong masyarakat untuk mencari pekerjaan di wilayah perkotaan. Setiap hari arus masyarakat yang masuk ke wilayah perkotaan sangat besar bahkan hampir menyamai jumlah penduduk yang bermukim di kota. Adapun di Jakarta, aktivitas perkantoran baik swasta maupun pemerintahan terpusat di wilayah Jakarta Pusat, sehingga pada pagi hari akan terlihat mobilisasi jutaan manusia dari segala penjuru masuk ke Jakarta dan sebaliknya pada sore hari mereka berduyun-duyun meninggalkannya untuk kembali ke rumah masing-masing, beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk melakukan hal yang sama keesokan harinya.

Culture & Social Environment

III. Solusi Fenomena komuter di satu sisi dapat dipandang sebagai masalah yang butuh solusi, namun di sisi lain ia bisa dianggap sebagai suatu kewajaran yang menyertai daerah yang berkembang. Terbatasnya perumahan dan kesempatan atau kemampuan untuk memiliki rumah di tengah-tengah kota menjadi alasan logis seseorang untuk menjadi komuter dan hal tersebut sedianya bukanlah sebuah masalah. Namun hal tersebut menjadi masalah tatkala seseorang harus mengorbankan uang, waktu dan tenaga yang terlampau besar untuk mencapai tempat kerjanya. Kemacetan yang panjang dan angkutan umum yang tidak memadai memaksa seorang komuter harus menghabiskan tiga sampai empat jam dari 24 jam waktu yang ia miliki dalam sehari untuk bersusah payah pergi dan pulang dari tempat kerjanya. penulis studi dan profesor ekonomi Jennifer Roberts, dari Universitas Sheffield menyebutkan bahwa Komuter menyebabkan kendala waktu dan fleksibilitas yang berkurang akibat adanya stres dari perjalanan yang tidak dapat dijelaskan. Oleh karena itu, solusi yang harus diberikan dalam masalah ini tentu saja adalah menyempurnakan dan meningkatkan sarana dan prasarana yang akan memudahkan para komuter dalam melakukan aktivitas dari dan ke tempat kerjanya. Diantara tindakan yang dapat dilakukan adalah menyediakan transportasi masal yang memadai dan layak bagi para komuter sehingga mereka dapat menikmati perjalanan dan tidak merasa kelelahan. Sarana transportasi yang ada saat ini belum memadai dan masih jauh untuk dikatakan nyaman terutama KRL ekonomi jabotabek. Menurut pengamatan kami, pada jam-jam sibuk KRL tersebut bisa dipadati penumpang dengan dengan kepadatan yang teramat sangat, sehingga sering didengar celotehan para penumpang bahwa di KRL tersebut penumpang tidak perlu berpegangan dan tidak perlu takut jatuh karena memang tidak tersedia ruang bagi mereka untuk terjatuh. Di sisi lain, fenomena komuter ini bisa dilihat sebagai akibat dari sekumpulan masalah. Masalah yang paling terlihat adalah tidak meratanya lokasi-lokasi perkantoran dan terpusat di sekitar kawasan segitiga mas (Sudirman, Gatot Subroto, dan MH Thamrin). Segitiga emas

Culture & Social Environment

sering dikatakan sebagai barometer perekonomian nasional, kantor-kantor pusat perusahan besar banyak berada di kawasan ini dan tidak ketinggalan juga kantor-kantor pemerintahan. Akibatnya kemacetan akan terjadi pada jalan-jalan yang mengarah kepada kawasan ini. Seandainya ada pemerataan lokasi-lokasi perkantoran di daerah Timur, Barat, dan Selatan Jakarta, hal ini kiranya akan mengurangi kosentrasi kemacetan kendaraan di daerah tertentu. Masalah berikutnya yang kami pandang relevan dengan fenomena komuter ini adalah sulitnya mendapatkan tempat tinggal di sekitar pusat kota. Solusi yang dimungkinkan dalam masalah ini adalah dengan membangun apartemen. Apartemen-apartemen ini tidak memerlukan lahan yang terlalu luas, namun dengan konstruksi bangunan yang vertikal dapat dapat menyediakan tempat tinggal yang layak untuk banyak orang. Solusi tersebut telah dilakukan oleh banyak pengembang dan ditawarkan untuk masyarakat kelas menegah ke atas dengan harga yang bervariasi. Dengan berada di tengah-tengah kota seseorang dapat menanggalkan gelar komuternya dan tidak perlu bersusah payah dan berjibaku untuk mencapai tempat kerjanya. IV. Kesimpulan Keberadaan komuter merupakan fenomena sosial dan budaya yang lahir seiring dengan berkembangnya perekonomian suatu daerah. Ditinjau sebagai fenomena sosial karena komunitas komuter terdiri dari individu-individu yang berinteraksi dalam suatu lingkungan sosial khusus yang dipengaruhi oleh berbagai aspek (diantaranya desakan kebutuhan ekonomi) yang melahirkan ikatan batin yang kuat diantara mereka. Sebagai sebuah lingkungan sosial para komuter juga memiliki relasi atau hubungan dengan lingkungan bisnis dimana mereka bekerja. Organisasi bisnis dapat memberikan input yang positif bagi para komuter untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan tentu saja sebaliknya para komuter akan memberi kinerja yang lebih baik bagi organisasi. Adapun kaitannya dengan fenomena budaya, maka dapat dikaitkan dengan munculnya sistem kekerabatan diantara para komuter yang ditandai dengan lahirnya berbagai komunitas yang mewadahi aspirasi dan aktivitas mereka, dan menyatukan kesamaan nilai yang ada diantara mereka.

Culture & Social Environment

REFERENSI

1.

Cahyani, F.T. Urbanisasi Ke Jakarta Menurun Tiap Tahun, http://news.okezone.com, diakses pada tanggal 6 Maret 2012

2.

Nurlaila. Aida, Efek Buruk Seorang Pekerja Komuter, http://kosmo.vivanews.com , diakses pada tanggal 6 Maret 2012

3.

Weira. Yandika, Jakarta Bukan Persoalan Ruas Jalan, http://lifestyle.kompasiana.com, diakses pada tanggal 6 Maret 2012

4. 5.

http://krlmania.com, diakses pada tanggal 6 Maret 2012 http://marulihaloho.wordpress.com, 5.4 Juta Komuter serbu DKI Jakarta, diakses pada tanggal diakses pada tanggal 6 Maret 2012

6.

http://megapolitankompas.com, 2020 penduduk DKI 11 Juta Jiwa, diakses pada tanggal 6 Maret 2012

7.

http://propertybusinessacademy.com, Konsep Back To The City pada Apartemen, diakses pada tanggal diakses pada tanggal 6 Maret 2012

8.

http://pengendara.wordpress.com, Komuter Jakarta Raya, diakses pada tanggal diakses pada tanggal 6 Maret 2012