Anda di halaman 1dari 5

Pengertian dan Peran Metrologi METROLOGI adalah ilmu pengetahuan tentang ukur mengukur secara luas.

Metrologi meliputi semua aspek pengukuran praktis dan teoritis, termasuk juga ketidakpastian pengukuran dan bidang aplikasinya. Sebagaimana kita yakini bahwa dalam kehidupan seharihari setiap manusia tidak pernah luput dari kebutuhan dan pengetahuan tentang pengukuran, penakaran dan penimbangan. Bagaimanapun, dalam kehidupan sehari-hari saat ini kita memang memerlukan pengetahuan serta alat pengukuran, penakaran, dan penimbangan yang tingkat ketelitiannya sesuai dengan kebutuhan. Dapat kita lihat, teknologi industry sangat memerlukan alat dan teknik pengukuran yang akurat. Demikian halnya dengan aktivitas konsumsi sehari-hari, seperti makanan, kebutuhan air minum, penerangan, telepon, dan bahan bakar, semuanya memerlukan alat ukur, takaran serta timbangan. Oleh karena itu, metrologi senantiasa relevan dengan dinamika hidup manusia pada setiap masa. Kinerja dari kegiatan kemetrologian hampir menyangkut atau berhubungan dengan semua aspek kehidupan manusia, mulai dari proses sebelum kita dilahirkan ke dunia sampai kita meninggal dunia. Beberapa contoh berikut merupakan bukti sederhana tentang pentingnya metrologi dalam hidup manusia.

Seorang ibu yang mengandung akan dianjurkan oleh bidan atau dokter yang merawatnya untuk menimbang berat badannya secara rutin agar perkembangan kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya dapat diketahui. Menginjak dewasa, manusia akan berhadapan dengan berbagai aktivitas hidup yang kompleks, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, tempat tinggal, begitu juga sarana transportasi, di mana semua itu memerlukan pengetahuan serta alat untuk mengukur, menakar, atau menimbang. Ketika manusia meninggal, keluarga dan kerabatnya wajib mempersiapkan kain kafan dan air untuk memandikan jenazahnya, di mana ketersediaan alat-alat itu juga memerlukan alat bantu ukuran, takaran, dan timbangan.

Demikian betapa metrologi memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Mulai dari hal-hal yang kecil hingga masalah-masalah pemenuhan kebutuhan hidup yang kompleks. 2. Metrologi dalam Pandangan Agama Begitu penting dan luasnya penggunaan metrologi dalam kehidupan manusia sehingga kitabkitab suci berbagai agama juga memerintahkan agar manusia senantiasa menetapkan standar ukuran, takaran, maupun timbangan yang adil dan benar.

a. Islam Islam sangat menekankan mengenai pentingnya penegakan ukuran, takaran, dan timbangan secara adil, benar (sah), jujur, dan teliti agar secara moral dan material tidak ada pihak yang dirugikan. Dalam Al-Quran surat al-Mutaffifin ayat 1-6 Allah SWT. telah berfirman : Kecelakaan bagi orang-orang curang (yang dimaksud adalah orang curang dalam mengukur, menakar atau menimbang), yaitu orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mengurangi. Tidaklah orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari besar,

yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam. Adapun dalam surat ar-Rahman ayat 8-9 Allah SWT, berfirman : Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu Dari kedua ayat tadi diketahui bahwa dalam berdagang kita tidak boleh berbuat curang dengan mengurangi ukuran, takaran, atau timbangan. Setiap perintah Allah SWT mempunyai hukum wajib sehingga wajib pula bagi kita untuk menegakkan ukuran, takaran, atau timbangan dengan benar. Oleh karena itu, dengan dasar iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta dasar moral maupun peraturan perundangan yang berlaku maka dalam berdagang setiap muslim harus menggunakan alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya yang sah untuk di gunakan, yakni yang sudah ditera atau tera ulang. Bagi yang melanggar, maka ia bukan pedagang muslim yang baik, selain dikenakan pidana yang terdapat dalam undang-undang tentang kemetrologian, di akhirat kelak juga akan dihadapkan kepada Allah SWT, untuk mempertanggung-jawabkan amalannya sewaktu hidup di dunia. b. Kristen dan Katholik Dalam perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, termaktub dasar dan keterangan yang menyangkut tentang ukuran, takaran, maupun timbangan. Beberapa kutipan penting yang kiranya patut diketahui diantaranya adalah : Data, maka dalam pundi-pundimu jangan ada dua macam batu timbangan, yaitu sebuah yang besar dan sebuah yang kecil. Maka dalam rumahmu pun tidak boleh ada dua macam sukat (disebut juga efa jenis ukuran/takaran). Disebuah yang besar dan sebuah yang kecil. Melainkan hendaklah padamu batu timbangan yang betul dan benar, haruslah padamu takaran yang utuh dan tepat, supaya kamu melanjutkan umurmu dalam negeri yang dikaruniakan Tuhan, Allahmu, kepadamu. Karena barangsiapa yang berbuat demikian, ia itu kebencian kepada Tuhan, Allahmu, dan bagi segala orang yang berbuat perkara yang tidak benar (kitab Ulangan 25:13-16). Dalam firman tersebut terlihat bahwa seseorang dilarang berbuat curang dalam ukuran, takaran, atau timbangan. Dengan kata lain, setiap orang harus menggunakan ukuran, takaran dan penimbangan dengan benar dan tepat agar hidupnya selamat, sedangkan bagi mereka yang melanggar akan digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang berbuat curang atau tidak benar. Lebih lanjut mengenai ukuran, takaran atau timbangan disebutkan pula dalam sebuah firman dalam Perjanjian Lama, di antaranya adalah sebagai berikut : Jangan kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul, dan him yang betul haruslah kamu pakai. (Imamat 19:35-36) Ayat-ayat tersebut mengandung perumpamaan atau peringatan untuk orang-orang yang tidak adil, tidak benar, dan tidak betul dalam menggunakan alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapanya. c. Agama Hindu Sebagaimana telah diketahui bagi penganut Hindu, Weda merupakan sumber hukum yang paling utama yang memuat berbagai peraturan atau ketentuan mengenai kehidupan manusia. Berpegangan dan mempelajari Weda merupakan perintah dan kewajiban bagi umat Hindu, sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharmacastra yang artinya : Pelajarilah hukum suci yang diikuti oleh orang yang mendalami ajaran Weda, hukum-hukum yang diresapkan dalam hati oleh orang-orang budiman, orang-orang yang tidak pernah punya rasa benci maupun cinta yang berlebih-lebihan.(M. Dc, Buku II Sarga 1) Manawa Dharmacastra atau Manu Dharmacastra atau Weda Smtri merupakan satu Compedium Hukum Hindu yang harus dijadikan pegangan oleh umatnya dalam mencari nafkah dengan jual beli atau berdagang yang menggunakan alat-alat ukur, takar dan timbangan

beserta perlengkapanya. Dalam penggunaan alat-alat tersebut, umat Hindu harus mematuhi hukum atau aturan yang disebutkan dalam Manawa Dharmacastra, Yakni : Semua timbangan dan ukuran panjang dengan tegas dan sekali adalam enam bulan hendaknya diperiksa lagi. (M.Dc. Buku VIII Sarga 403) Sarga tersebut menegaskan bahwa dalam jangka enam bulan alat ukur dan timbangan harus diperiksa kembali, dalam pengertian ditera ulang untuk dinyatakan sah atau batal. Batas waktu enam bulan berlaku menurut Weda, namun yang terpenting adalah ditera ulang sebelum digunakan berusaha atau berdagang sehingga selaras dengan peraturan perundangan yang berlaku. d. Agama Budha Bagi umat Budha yang menggunakan alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya dalam jual-beli atau berdagang maka baginya wajib mematuhi hukum atau ajaran yang berlaku dalam agama Budha. Ajaran-ajaran yang diberikan oleh Buddha Gautama, seperti disebutkan dalam ajaran ke delapan yang menegaskan tentang Keharusan menepati kebaikan dan bersifat kasih sayang, untuk mencapai kesucian. Larangan sangat penting dan sangat berat dari ajaran Buddha Gautama tersurat dalam Ajaran Kesepuluh yang mengajarkan tentang Larangan berdusta dan memperdayakan orang lain. Oleh karena itu, bagi umat Buddha yang berdagang dengan menggunakan alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya haruslah menggunakan alat-alat tersebut secara legal atau yang telah bertanda tera sah yang berlaku sehingga akan mendapatkan keselamatan sebagaimana Buddha Gautama telah memperingatkan umatnya agar hati-hati dalam menjalani hidup yang penuh oleh tipu daya dan kecurangan ini. 3. Metrologi sebagai Kebutuhan Fundamental Masalah pengukuran juga telah menjadi kebutuhan fundamental bagi pemerintah, pedagang, pengusaha, konsumen dan masyarakat luas. Pengukuran berkontribusi pada mutu kehidupan masyarakat melalui perlindungan konsumen, pelestarian lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam secara rasional, serta peningkatan daya saing industri jasa dan manufaktur. Oleh karena itu, kemampuan metrologi suatu negara merupakan salah satu ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat serta perkembangan teknologinya dalam berbagai bidang. Metrologi telah menjadi bagian integral dari proses pengendalian produk dan inovasi. Kapasitas industri untuk berinovasi adalah salah satu faktor daya saing produk di pasar dewasa ini. Inovasi dapat diterapkan pada proses produksi atau manajemen, produknya sendiri, pelayanan jasa, atau fungsi-fungsi pelayanan lainya. Peningkatan mutu yang konsisten memerlukan prosedur-prosedur yang menggunakan parameter metrologi sedemikian hingga prosedur-prosedur yang baru diimplementasikan dapat dibandingkan dengan prosedur terdahulu. Dengan parameter metrologi juga dapat ditentukan bahwa produk domestic dan luar negri yang dikonsumsi masyarakat sesuai dengan standar kesehatan dan keamanan. Dalam konteks perdagangan antar negara, metrologi adalah bagian esensial dari mekanisme penilaian kesesuaian (pengujian, inspeksi, dan sertifikasi produk), sekaligus mekanisme kunci agar suatu produk dapat diterima. Pemerintah atau pihak yang berwenang di Negara pengimpor perlu diyakini bahwa produk yang diimpornya tidak berbahaya bagi warga negaranya. Negara pengimpor mensyaratkan kehandalan data pengujian, hasil inspeksi atau sertifikasi dari Negara pengekspor dan bahwa pernyataan keamanan produknya tidak diragukan. Tanpa kepercayaan seperti ini, Negara pengimpor terpaksa akan melakukan duplikasi penilaian kesesuaian. Karena itu, harus dibuktikan bahwa semua aspek dari proses penilaian dimaksud telah dilakukan secara professional. Dalam konteks inilah, metrologi menyumbangkan dasar kuat bagi kepercayaan tersebut dengan dilakukannya pengukuran dalam pelaksanaan penilaian kesesuiaan produk yang bersangkutan secara obyektif dan menurut

prosedur yang diterima semua pihak. 4. Metrologi Legal Metrologi pada abad sekarang ini memang memiliki fungsi dan peran yang sangat dominan. Hal itu ditandai dengan banyaknya kesepakatan, aturan, atau konvensi internasional yang berhubungan dengan sistem keseragaman penggunaan satuan ukuran, standar ukuran, dan metode pengukuran serta alat-alat ukurnya. Di samping itu, ada pula sistem ketertulusuran alat ukur yang mengacu kepada standar ukuran yang telah disepakati secara internasional. Dengan demikian, akan mudah dipahami mengenai kebenaran, baik kualitas maupun kuantitas, barang atau jasa yang akan ditransaksikan, baik di dalam negeri maupun di masyarakat internasional. Dalam praktiknya, metrologi terbagi atas tiga jenis, yaitu : a. Metrologi legal --- sebagaimana yang tercantum dalam Ketentuan Umum UndangUndang Legal adalah metrologi yang menglola satuan-satuan ukuran, metoda-metoda pengukuran dan alat-alat ukur, yang menyangkut persyaratan teknik dan peraturan berdasarkan undang-undang yang bertujuan melindungi kepentingan umum dalam hal kebenaran. b. Metrologi radiasi nuklir adalah metrologi yang menyangkut persyaratan teknik dalam pemakaian zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya yang diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berrtujuan menjamin kesehatan dan keselamatan dangan memberikan ketelitian dan keandalan yang dapat dipertanggungjawabkan. c. Metrologi teknik adalah metrologi yang menyangkut persyaratan teknik dan pengembangan metode pengukuran, perawatan dan pengembangan standar nasional untuk satuan ukuran dan alat ukur sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memberikan kepastian dan kebenaran dalam pengukuran. Lebih jauh mengenai metrologi legal, dalam konsideran Undang-Undang No. 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal (dapat disingkat UUML) terkandung dua aspek, yaitu aspek filosofis dan aspek yuridis. Aspek filosofis merupakan hakikat dan tujuan sebagai pertimbangan untuk membuat UUML, yaitu melindungi kepentingan umum dalam hal kebenaran pengukuran. Oleh karena itu, di negara Indonesia diharapkan dapat tercipta adanya tertib ukur disegala bidang sebagaimana diutarakan dalam penjelasan umum undang-undang tersebut. Aspek yuridis antara lain meliputi adanya kepastian hukum, dalam menggunakan satuan ukuran, standar satuan, metode pengukuran, serta alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya (UTTP). Hal tersebut tertulis dalam konsideran Undang-Undang Nomor 2 tahun 1981 tentang Metrologi adalah sebagai berikut : 1. Bahwa untuk melindungi kepentingan umum perlu adanya jaminan kebenaran pengukuran serta adanya ketertiban dan kepastian hukum dalam pemakaian satuan ukuran, standar satuan, metode pengukuran dan alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya; 2. Bahwa pengukuran tentang alat-alat ukur takar, timbang dan perlengkapanya sebagaimana ditetapkan dalam Ijkodonnantie 1949 Staatsblad Nomor 175 perlu diganti, karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan perekonomian dan kemajuan teknologi, serta Sistem Internasional untuk satuan (SI). Secara sepihak, pengetahuan pengukuran diutamakan untuk keperluan berniaga sehingga dampak dari ketidak-benaran dalam pengukuran untuk berniaga secara langsung akan mengakibatkan adanya orang-orang yang dirugikan. Dengan demikian, diperlukan pengukuran yang legal, yaitu mulai dari alat ukurnya, metode pengukuran satuan, hingga alat ukur semuanya harus diatur secara legal.

Dikutip dari buku : Tepat Mengukur Akurat Menimbang karangan Djainul Arifin; Ditulis ulang oleh: Rommy Roy Kurniawan (Staf Kemetrologian - Disperindag)
http://disperindag.depok.go.id/content/metrologi-dalam-gerak-hidup-manusia-0