Anda di halaman 1dari 4

Definisi Varisela Varisela adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus varisela-zoster (VVZ), terdapat diseluruh

dunia, tanpa perbedaan ras maupun jenis kelamin. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak dan merupakan infeksi primer VVZ pada individu yang rentan, Kurang lebih 90% kasus terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan kurang dari 5% pada usia lebih dari 15 tahun. Pada anak-anak yang imunokompeten gejala biasanya ringan, dapat sembuh dengan sendirinya dan jarang terjadi komplikasi. Pada oramg dewasa dan orang yang imunokompromais gejalanya lebih berat dan sering terjadi komplikasi yang dapat fatal. Walaupun dapat sembyh sendiri, mengingat penyakit tersebut dapat menyebakan komplikasi dan berakibat fatal pada kelompok tertentu, penatalaksanannya (pengobatan dan pencegahan ) memerlukan pemahaman mengenai patogenesis dan gambaran klinisnya Etiopatogenesis Varisela disebabakan oleh virus varisela-zoster yang temasuk dlm famili virus herpes. Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran nafas atas orofaring. Multipikasi virus di tempat tersebut diikuti oleh penyebaran virus dalam jumlah sedikit melalui darah dan limfe (Viremia primer). Virus VVZ dimusnahkan oleh sel sistem retikuloendotelial, yang merupakan tempat utama replikasi virus selama masa inkubasi. Selama masa inkubasi infeksi virus dihambat sebagian oleh mekanisme pertahanan tubuh dan respon imun yang timbul. Pada sebagian besar individu replikasi virus dapat mengatasi pertahanan tubuh yang belum berkembang sehingga 2 minggu setelah infeksi tejadi viremia sekunder dalam jumlah yang lebih banyak. Hal tersebut menyebabkan semam dan malaise serta menyebarkan virus ke seluruh tubuh terutama ke kulit dan mukosa. Respon imun penderita menghentikan viremia dan menghambat berlanjutnya lesi pada kulit dan organ lain. Terjadinya komplikasi Varisela mencerminkan gagalnya sistem imun menghentikan replikasi dan penyebaran virus serta membatasi berlanjutnya infeksi. Dalam 2-5 hari setelah gejala klinis varisela terlihat, antibodi (IgG,IgM,IgA) spesifik terhadaP VVZ dapat dideteksi dan mencapai titer tertinggi pada minggu kedua atau ketiga. Setelah itu titer IgG menurun perlahan, sedangkan IgM dan IgA menurun lebih cepat dan tidak terdeteksi satu tahun setelah infeksi. Imunitas selular terhadap VVZ juga berkembang selama infekasi dan menetap bertahun-tahun. Imunitas humoral terhadap VVZ berfungsi protektif terhadap varisela. Imunitas selular lebih penting daripada imunitas humoral pada penyembuhan varisela Gambaran Klinis Pada anak kecil jarang terdapat gejala prodromal, kadang hanya terdapat demamdan malaise ringan bersamaan dengan timbulnya lesi kulit. Pada anak lebih besar dan orang dewasa biasanya terdapat gejala prodromal berupa demam, kedinginan, malaise, nyeri kepala, anoreksia, nyeri punggung, dan nyeri tenggorokan 2-3 hari sebelum lesi kulit timbul. Lesi kulit mula-mula timbul di muka dan skalp, kemudian menyebar secara cepat ke badan dan sedikit ke ekstremitas, sehingga memberi gambaran distribusi sentral. Lesi baru timbul dalam jumlah banyak dan cenderung lebih banyak pada kulit di daerah

yangcekung dan terlindungi, mis interskapula dan bagian medial ekstremitas. Telapak tangan dan kaki dapat terkena. Lesi mula-mula berupa makula eritematosa yang cepat berkembang menjadi papul, vesikel, pustul,dan krusta. Vesikel biasanya superfisial dan dindingnya tipis sehingga terlihat seperti tetesan air di atas kulit. Biasanya berdiameter 23mm, berbentuk elips, dengan dengan aksis panjangnya sejajar dengan lipatan kulit. Mula-mula vesikel di kelilingi daerah eritematosa sehingga terlihat seperti embun di atas daun bunga mawar. Cairan vesikel cepat menjadi keruh karena masuknya sel radang sehingga menjadi pustul. Lesi kemudian mengering, mula-mula di bagian tengah dehingga menyebabkan umbilikasi (delle), dan menjadi krusta. Krusta akan lepas dalam 1-3 minggu, meninggalkan bekas cekung kemerahan yang akan berangsur menghilang, kadang meninggalkan bercak hipopigmentasi yang dapat menetap selama beberapa minggu/ bulan.Pada varisela tanpa komplikasi jarang terjadi parut, kecuali bila terjadi superinfeksi bakterial atau krusta dilepaskan. Vesikel juga terdapat di mukosa mulut, terutama pada palatum, dan cepat dapat pecah sehingga seringkali hanya terlihat sebagai ulkus dangkal berdiameter 2-3mm. Vesilel dapat pula timbul di hidung, faring, laring, trakea, saluran cerna, saluran kemih, vagina, dan konjungtiva. Gambaran khas untuk varisela adalah terdapatnya semua stadium lesi secara bersamaan pada satu saat. Jumlah lesi pada anak imunokompeten rata-rata 250-500. Pada kasus sekunder karena pajanan dirumah, gejala klinisnya lebih berat daripada kasus primer karena pajanan disekolah. Hal ini mungkin disebabkan karena pajanan dirumah lebih intens dan lebih lama sehingga inokulasi virus lebih banyak. Pada umumnya anak kecil mempunyai gejala paling ringan sedangkan pada orang dewasa lebih berat. Demam biasanya berlangsung selama lesi baru masih timbul dan tingginya demam sesuai dengan beratnya erupsi kulit. Jarang diatas 39C tetapi pada keadaan yang berat dengan jumlah lesi banyak dapat mencapat 40,5C. Demam yang berlanjut atau yang kambuh kembali dapat disebabkan ole infeksi sekunder bakterial atau komplikasi lainnya. Nyeri kepala, mialgia, anoreksia sering menyertai demam dan lebih berat pada anak besar dan orang dewasa. Gejala yang paling menggangguadalah gatal yang biasanya timbul selama stadium vesikular Komplikasi Pada anak yang imunokompeten, varisela biasanya ringan dan jarang disertai komplikasi. Komplikasi terering adalah infeksi sekunder bakterial pada lesi kulit, biasanya disebabkan stafilokokus atau streptokokus, sehingga terjadi impetigo, furunkel,selulitis, atau erisipelas. Infeksi tersebut sering menyebabkan parut tetapi jarang terjadi sepsis. Vesikel dapat menjadi bula bila terinfeksi stafilokokus yang menghasilkan toksin eksfoliatif. Pnnneumonia, otitis media, dan meningitis supurativ jarang terjadi,biasanya pada anak usia kurang dari 7 tahun dan responsif terhadap antibiotik yang tepat. Pada orang dewasa demam dan gejala konstitusi lrbih berat dan dan berlangsung lebih lama, erupsi kulit lebih luas, dan komplikasi lebih sering terjadi. Pneumonia varisela primer merupakan komplikasi tersering pada orang dewasa. Varisela pada kehamilan mengancam ibu maupun janinnya. Pada wanita hamil penyakit ini lebih berat dan kematian akibat pneumonia varisela dan penyebaran varisela meningkat, terytama bila varisela terjadi pada trimester ketiga. Janin dapat meninggal

karena kelahiran prematur atau kematian ibu karena varisela pneumonia berat. Viremia pada ibu dapat menyebabkan infeksi intrauterin (kongenital) Komplikasi pada susunan saraf pusat lebih jarang terjadi, dapat berupa syndrom reye, ataksia serebri akut, ensefalitis, mielitis atau syndrom guillain-barre. Komplikasi yang jarang terjadi antara lain hepatitis, miokarditis, glomerulonefritis, orkitis, apendisitis, pankreatitis, gastritis, artritis, vaskulitis Henocschonlein, serta neuritis, keratitis dan iritis mata. Dignosis Varisela biasanya mudah untuk didiagnosis berdasarkan erupsi kulit yang timbul, terutama bila ada riwayat terpajan varisela 2-3 minggu sebelumnya. Diagnosis klinis dapat didasarkan atas adanya 1. Erupsi papulovesikular yang dapat disertai demam dan gejala konstitusi ringan, dapat didahului gejala prodromal 2. Lesi kulit timbul dalam jumlah banyak dengan distribusi sentral 3. Lesi kulit berkembang cepat, mulai dari makula menjadi papul, vesikel, pustul, dan terakhir menjadi krusta 4. Terdapat semua stadia lesi secara bersamaan pada satu saat dalam suatu daerah anatomik 5. Terdapat di lesi mukosa mulut Diagnosis banding Infeksi VHS diseminata dapat menyerupai varisela, terutama pada neonatus, ibu hamil, pasien imunokompromais, dan pasien dengan eksema. Namun distribusi lesi berbeda karena pada herpes simplek lesi lebih banyak terdapat di sekitarlesi primer/rekuren. Keduanya dapat dibedakan dari isolasi virus atau deteksi dan identifikasi antigen virus pada lesi. Varisela berat mirip cacar (smallpox), namun dengan telah dibasminya cacar, kesulitan diagnostik tersebut dapat dihilangkan. Beberapa penyakit lain yang dapat menyerupai varisella antara lain, impetigo, eksantem vesikular pada infeksi virus,skabies, dermatitis kontak,dermatitis herpetiformis, reupsi obat, sifilis sekunder, dan eritema multiforme Penatalaksanaan Pengobatan umum Pada anak normal varisela biasanya ringan dan dapat sembuh sendiri. Untuk mengatasi gatal dapat diberikan kompres dingin atau lotion kalamin dan antihistamin oral. Bila lesi masih vesicular dapat diberikan bedak agar tidak mudah pecah, dapat ditambahkan anti pruritus di dalamnya, misalnya menthol0,25-5%. Bila vesikel sudah pecah atau berbentuk krusta, dapat diberikan salep antubiotik untuk mencegah infeksi sekunder bacterial. Mandi rendam dengan air hangat yang diberi antiseptic dapat mengurangi gatal dan mencegah infeksi bacterial sekunder pada kulit. Krim atau lotion yang mengandung kortikosteroid serta salep yang bersifat oklusif sebaiknya tidak digunakan. Kadang diperlukan antipiretik, tetapi golongan salisilatsebaiknya dihindari karena sering dihubungkan dengan terjadinya sindrom reye. Kuku jari tangan harus dipotongdan dijaga

kebersihannyauntuk mencegah infeksi sekunder dan parut yang dapat terjadi karena garukan. Obat antivirus Dengan tersedianya obat antivirus yang efektif terhadap VVZ, dokter maupun pasien/orangtua pasien sering dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan obat antivirus atau tidak. Beberapa analog nukleosida (asiklovir,famsiklovir,valasiklovir,vidarabin), foskarnet,dan interferon terbukti efektif untuk mengobati infeksi VVZ. Kelompok neonatus Neonatus Anak Rejimen pengobatan Asiklovir 500mg/m setiap 8 jam selama 10 hari Hanya simtomatik atau dengan Asiklovir 4x20mg/kgBB peroral selama 5 hari Pubertas, dewasa, pengguna Asiklovir 5x800mg/hari peroral selama 7 hari,atau glukokortikoid Valasiklovir 3x1g/hari peroral selama 7 hari,atau Famsiklovir 3x500mg/hari peroral selama 7 hari Kehamilan, pneumonia Asiklovir 5x800mg/hari peroral selama 7 hari atau Asiklovir 10mg/kgBB intravena setiap 8jam selama 7 hari Pengobatan Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi pada pasien penderita imunokompeten adalah superinfeksi bacterial. Bila infeksi hanya local pada kulit dapat diberikankompres atau antibiotic topical. Antibiotik