Anda di halaman 1dari 18

1.

Tiga Isu Terkini Perbankan Nasional NERACA Jakarta - Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Gatot Suwondo mengungkapkan, saat ini setidaknya terdapat tiga isu utama terkait perbankan nasional yaitu masalah rasio simpanan ter- hadap penyaluran kredit atau loan deposit ratio (LDR), suku bunga tinggi, dan pendapatan bunga bersih atua net interest margin (NIM) yang juga masih tinggi. Memang, menurut Gatot, dalam tiga tahun terakhir level LDR mulai membaik, dan per September 2010 mencapai 77,1 %. Namun angka itu belum sesuai harapan masyarakat terutama Bank Indonesia (Bi) yang mengharapkan LDR antara 78% hingga 100%. "Pada Maret 2011, ditargetkan semua bank memiliki LDR 78-100 %, jika tidak akan ada sanksi dari BI," kata Gatot di sela BNI Economic Outlook 2011 di lakarta, Senin (29/11). Ia menyampaikan bahwa belum tercapainya target LDR bukan disebabkan oleh rendahnya komitmen kredit yang diberikan, tetapi komitmen kredit tersebut belum tersalurkan atau terserap ke sektor riil. Gatot .. menyebutkan undisbursed loan setiap tahunnya meningkat, dari tahun 2008 sekitar 19%, tahun 2009 sekitar 22,5%, dan per September 2010 menjadi 32%. Terkait dengan suku bunga yang tinggi, Gatot mengatakan, sebenarnya sudah turun 200 basis poin dibanding 2008. "Masih tingginya suku bunga lebih disebabkan tingginya inflasi dan tingginya risiko sektor riil, ke depan hambatan itu diharapkan teratasi sehingga penyaluran kredit lebih besar," katanya Sementara itu, Bank BNI menargetkan memperoleh dana lebih dari RplO triliun melalui right issue" yang direncanakan pada akhir 2010. "Kami targetkan dari right issue diperoleh Rpl0,40 triliun dana tambahan untuk modal BNI," kata Gatot di kesempatan yang sama. Menurut Gatot, pihaknya sudah mempersiapkan proses right issue (penerbitan saham perdana) dan diharapkan dapat terlaksana pada 10 Desember 2010. "Dengan tambahan modal ini diharapkan Bank BNI dapat berperan dalam memfasilitasi pembangunan ekonomi terutama dari sisi pembiayaan atau kredit," katanya. Adapun aksi right issue tersebut telah mendapat restu pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS LB) BNI di lakarta, Kamis pekan lalu. Adapun.
8

pemegang saham BNI setujui kepemilikan saham negara RI menjadi sebesar 60 % dan saham publik -10 %. Harga saham BNI dalam right issue ini ditetapkan sebesar Rp3.100 per lembar dengan harga hak (rights) membeli saham milik pemerintah sebesar Rp300 per lembar. Kala itu, Gatot mengatakan, dengan harga rights Pemerintah sebesar Rp300, maka pemerintah akan mendapat dana sebesar Rp710 miliar, sedangkan BNI akan mendapatkan tambahan modal sebesar RplO,4 triliun sehingga posisi modal inti meningkat dari posisi 10,2 % menjadi 16-17 %. Dengan tambahan modal RplO,4 triliun tersebut, maka CAR BNI akan meningkat dnri 12,5 % menjadi 20% infrastruktur dan 5 % untuk memperkuat modal anak perusahaan BNI (Harian Ekonomi Neraca Perbankan, 30 nov 2010).

2. Laba Bersih Citibank Terpangkas 29,75 Persen

KOMPAS/AGUS SUSANTO Ilustrasi JAKARTA, KOMPAS.com Kinerja Citibank NA minus pada kuartal pertama 2011. Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bank Indonesia (BI) per akhir Maret 2011, bank asal Amerika Serikat harus puas dengan posisi laba yang terpangkas hingga 29,75 persen menjadi Rp 403,39 miliar. Periode yang sama tahun lalu, Citibank berhasil mencatat keuntungan bersih sebesar Rp 574,3 miliar.
9

Penurunan laba ini disebabkan pendapatan bunga bersih tergunting menjadi Rp 741,194 miliar atau turun 3 persen dari Rp 764,178 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, pendapatan bunga bersih yang tercatat Rp 741,194 miliar hasil dari pengurangan pendapatan bunga sebesar Rp 1,007 triliun dengan beban bunga Rp 266,364 miliar. Bank harus memikul beban operasional, selain bunga, karena mengalami kenaikan 23,98 persen atau menjadi Rp 1,174 triliun dari Rp 947,034 miliar. Naiknya beban operasional ini karena penurunan nilai wajar aset keuangan (mark to market) mencapai Rp 220,385 miliar. Lalu, kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) mencapai Rp 148,113 miliar. Selain laba Citibank yang anjlok, pada awal tahun ini bank itu telah tertimpa dua kasus, yakni pembobolan nasabah kaya oleh oknum Relation Manager Citibank, Malinda Dee, dan tewasnya nasabah kartu kredit Irzen Octa oleh jasa pihak ketiga yang digunakan Citibank. (Kompas, Jumat, 3 Juni 2011)

3. Bank Dunia: Atasi KKN di Sektor Pembangunan Jalan

President Bank Dunia Robert Zoellick JAKARTA, KOMPAS.com Bank Dunia menginginkan tindakan yang lebih kuat untuk mengatasi tindak korupsi yang terjadi di sektor pembangunan infrastruktur jalan yang terdapat baik di negara maju maupun berkembang. Berdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk "Curbing Fraud, Corruption, and Collusion in the Road Sector" yang diterima di Jakarta, Jumat (3/6/2011) , kerugian dalam proses pengadaan dan penipuan atau penggelapan dalam eksekusi kontrak dapat diatasi dengan memberantas segala bentuk kolusi dan korupsi.
10

"Korupsi di sektor jalan merupakan permasalahan baik bagi negara maju maupun berkembang, tetapi dampak kerugian ekonomi dan sosialnya lebih terasa bagi komunitas miskin di negara-negara berkembang," kata Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick. Menurut Zoellick, pembangunan jalan yang terencana dengan baik, terjaga perawatannya, dan mendahulukan faktor keamanan sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan mengatasi tingkat kemiskinan. Karenanya, masih menurut dia, memerangi kolusi dan korupsi dalam proses tender dan pelaksanaan pembangunan sektor jalan merupakan prioritas untuk mencapai investasi berkelanjutan. Meski proyek yang dibiayai pihak perbankan di sektor jalan telah secara konsisten menghasilkan pengembangan yang positif, tetapi bahayanya, tindak penipuan atau penggelapan, korupsi, dan kolusi masih mengancam di sektor tersebut. "Negara-negara yang berhasil mengatasi kolusi secara efektif telah berhadapan dengan kartel dan tren korupsi lainnya yang telah mewabah di sektor ini," kata Wakil Presiden Bank Dunia Bidang Integritas Leonard McCarthy. Menurut McCarthy, dibutuhkan kemauan politik dan kapasitas yang kredibel serta terinformasi dengan baik untuk mencegah risiko dan mendeteksi sejak awal adanya red flag (bendera merah/pelanggaran) dalam proses tender sebagai tambahan bagi tindakan penegakan hukum saat tindak pidana korupsi itu terjadi. Untuk mengurangi risiko kolusi dan korupsi, Bank Dunia bergantung pada perangkat pengawasan yang ditingkatkan, sumber-sumber investigatif, dan sistem hukuman fungsional. Laporan lembaga keuangan multilateral itu juga menyarankan, selain mengadopsi pengukuran preventif pada tingkat proyek, juga dibutuhkan adanya perhatian dalam pengawasan proyek, khususnya berfokus pada verifikasi estimasi biaya dan identifikasi penawaran yang bersifat kolusif. "Kajian ini adalah tolok ukur lainnya dalam meningkatkan momentum internasional yang dimulai dari pertemuan Aliansi Pemburu Korupsi (Corruption Hunters Alliance) yang diluncurkan Bank Dunia pada Desember 2010 lalu," katanya (Kompas, Jumat, 3 Juni 2011).

11

4. Inilah Sederet Skandal Bank Kasus pembobolan bank kembali terungkap. Kali ini deposito milik Elnusa di Bank Mega.

Kantor Pusat Bank Mega (grup para) Kasus pembobolan bank kembali terungkap. Kali ini deposito milik PT Elnusa Tbk di Bank Mega lenyap Rp111 miliar. Kepolisian telah menetapkan tersangka terhadap Direktur Keuangan Elnusa SN dan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka-Cikarang, IHB. Mereka diduga berperan mencairkan dana deposito itu untuk kepentingan pribadi. Kasus pembobolan dana nasabah ini telah menambah daftar panjang skandal bank dalam beberapa bulan terakhir. Aksi terheboh adalah Inong Melinda alias Malinda Dee beberapa waktu lalu. Pejabat Citibank ini mengelabuhi sejumlah nasabah kakap hingga rugi miliaran rupiah. Ternyata dua kasus ini hanya sebagian kecil saja. Sebab, Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri telah memiliki catatan pembobolan bank yang terjadi belakangan ini. Pertama, pembobolan kantor kas Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tamini Square sebesar Rp29 miliar. Kasus ini melibatkan supervisor bank berinisial AM dan empat tersangka lain. Modusnya membuka rekening atas nama tersangka lain, kemudian mentransfer uang ke dalam rekening yang kemudian ditukar dalam bentuk dolar. Kedua, pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif pada Bank Internasional Indonesia (BII) pada 31 Januari 2011. Tersangka merupakan account officer BII di kantor cabang Pangeran Jayakarta. Total kerugian Rp3,6 miliar.

12

Ketiga, pencairan deposito dan nasabah tanpa sepengetahuan pemiliknya di Bank Mandiri. Modusnya memalsukan tanda tangan di slip penarikan, kemudian ditransfer ke rekening tersangka. Kasus yang dilaporkan 1 Februari 2011 dengan nilai kerugian Rp18 miliar. Polisi menetapkan lima tersangka, Salah satunya costumer service. Keempat, terjadi di Bank Negara Indonesia (BNI), dengan modus mengirimkan berita telex palsu. Isinya berupa perintah untuk memindahkan slip surat keputusan membuka rekening peminjaman modal kerja. Perkara ini melibatkan wakil pimpinan BNI di sebuah cabang Depok. Namun kasus ini berhasil dicegah karena sistem bank berhasil menghentikan transaksi itu. Kelima, pencairan deposito milik nasabah oleh pengurus bank tanpa sepengetahuan pemiliknya di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Pundi Artha Sejahtera. Pada saat jatuh tempo deposito itu tidak bisa dibayarkan. Kasus ini melibatkan Direktur Utama BPR Pundi Artha, dua komisaris, komisaris utama, dan marketing. Keenam, terjadi pada Bank Danamon, dengan modus menarik uang kas berulangulang dari kantor cabang pembantu Menara Bank Danamon. Tersangka merupakan mantan teller Bank Danamon. Kasus yang dilaporkan 9 Maret 2011, dengan nilai kerugian Rp1,9 miliar dan US$110 ribu. Ketujuh, terjadi pada Panin Bank dengan modus penggelapan dana nasabah yang dilakukan Kepala Operasi Panin Bank. Kejahatan ini dilakukan Kepala Operasional Panin Bank Cabang Metro Sunter, MAW, dengan kerugian Rp2,5 miliar. Kedelapan, pembobolan yang dilakukan mantan relationship manager Citigold Citibank, Malinda Dee. MD menarik dana nasabah tanpa sepengetahuan pemilik melalui slip penarikan kosong yang sudah ditandatangani nasabah. Nilai kerugian sebesar Rp4,5 miliar (VIVAnews, 25 April 2011).

5. Kasus Pembobolan Citibank: Pembobolan Bank Bisa Terjadi Secara Acak

13

Kasus Pembobolan Citibank: Pembobolan Bank Bisa Terjadi Secara Acak Pengamat perbankan dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Usman Hidayat mengatakan, kasus pembobolan dana nasabah senilai Rp17 miliar oleh karyawan Citibank Indonesia tidak bisa digeneralisasi ke bank-bank yang lain. Sebab, ini adalah risiko operasional menyangkut internal fraud (kejahatan orang dalam). Karena itu, menurutnya, aksi kriminal ini sangat tergantung pada moralitas atau company value dan sistem reward dan punishment di bank bersangkutan. Ini merupakan salah satu skema mitigasi risiko yang direkomendasikan oleh komite basel II. Sebab, betapapun canggihnya IT dan SOP (Standar Operasional Perusahaan), tapi jika SDM (Sumber Daya Manusia)-nya tidak memiliki integritas, moralitas dan company value, pembobolan dari dalam akan terjadi, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (29/3). Karena itu, dia menegaskan, kasus kejahatan internal, bukan menyangkut soal kompleksitas usaha dan seberapa canggih teknologi informasi. Kejadian semacam ini akan terjadi secara acak di bank manapun dan apapun, tandas Usman. Dia menyarankan, pembinaan SDM internal bank harus ditingkatkan. SDM sangat susah diukur kareana tergantung padavalue dan culture perusahaan itu. Jika karyawan sudah berkomitmen memegang nilai-nilai perusahaan, kasus pembobolan di Citibank seharusnya tidak akan terjadi, ungkapnya. Begitu juga dengan bank-bank lain meskipun gaji kecil dan standar IT yang rendah. Secanggih apapun IT, merupakan buatan manusia. Jika manusianya bertendensi jahat, bank akan tetap terbobol. Karena itu, Peraturan Bank Indonesia (PBI) mengenai Good Corporate Governance (GCG) bukan hanya ditegakkan tapi juga harus dipelihara. Menurutnya, tingkatan good governance yang paling tinggi adalah company value dan bukan kepengurusan. Citibank jadi preseden buruk, sehingga bank-bank lain harus antisipatif mencegah kejadian serupa tak terulang, timpalnya. Pebankan, lanjut Usman, harus mengelola company values sehingga karyawan turut menjaganya. Karena itu, out put-nya pun akan positif. Dia menambahkan, company value bukan barang jadi sehingga harus dikembangkan dan di-maintain sesuai perkembangan terkini.
14

Pasalnya, motif kejahatan berjalan dinamis. Bisa saja dipicu penemuan-penemuan baru terkait pembobolan pasword atau user id atau dipicu juga kejadian serupa di luar negeri. Company value harus ditegakkan dan di-maintain secara dinamis juga, imbuh Usman. Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam mengatakan, seorang wanita pegawai bank Citibank yang merupakan bank terkemuka di Jakarta diduga melakukan kejahatan pidana perbankan. Selain money laundering, yang bersangkutan juga diduga menggelapkan uang nasabah bank tempatnya bekerja. "Pelakunya seorang wanita dengan inisial MD (47), pekerjaan pegawai bank tersebut. Jadi yang bersangkutan memanipulasi data kemudian memindahkan rekening orang ke rekening yang bersangkutan, sehingga banyak terjadi korban. Korban yang baru melapor tiga," ujar Anton. Zenobia Jasmine, Country Corporate Affairs Citibank Indonesia menyatakan, pihaknya menjamin akan mengembalikan kerugian yang dialami nasabah yang dananya dibobol karyawan bank ini. Citibank siap mengganti dana Rp17 miliar yang digelapkan salah seorang karyawannya. "Ini merupakan kejadian yang hanya terjadi di satu tempat dan kami telah bertindak cepat untuk menghubungi seluruh nasabah yang mungkin terkena dampak," imbuhnya kepada INILAH (Inilah.com, 30 maret 2011)

6. Kasus Penagih Citibank Direkonstruksi Ulang

Citibank (AP Photo/Paul Sakuma)


15

Polres Jakarta Selatan rekonstruksi ulang kasus dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan penagih (debt collector) kartu kredit Citibank yang menewaskan nasabah Irzen Octa (50), yang juga Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa (PPB). "Jadi [rekonstruksi ulang] sore ini. Tim sudah berangkat, saya akan cek lagi," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Polisi, Budi Irawan, saat dihubungi VIVAnews.com, Kamis 31 Maret 2011. Pantauan VIVAnews.com, sejumlah tim penyidik dari Polres Jakarta Selatan sudah tiba di lokasi kejadian, di salah satu kantor Citibank yang berada di lantai lima gedung Menara Jamsostek, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tim penyidik Polres Jakarta Selatan datang tidak bersamaan. Tim penyidik satu persatu berkumpul hingga sekitar pukul 16.30 WIB di kantor debt collector Citibank ini. Kendati demikian, petugas keamanan setempat mengatakan tidak ada pemeriksaan yang dilakukan polisi hari ini. "Tidak ada polisi yang datang hari ini. Tapi minggu depan," kata petugas keamanan di lantai lima. Irzan meninggal di halaman Menara Jamsostek pada Selasa 29 Maret 2011 lalu. Korban tewas setelah menanyakan jumlah tagihan kartu kredit yang membengkak hingga Rp100 juta. Menurut korban, tagihan kartu kreditnya semula hanya Rp48 juta. Tidak mendapat penjelasan mengenai hal itu, korban malah dibawa ke ruang bagian penagihan dan dipaksa pelaku untuk membayar. Tiga orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Tiga tersangka adalah H dan D, petugas bagian penagihan, dan B karyawan bagian penagihan. Penahanan terhadap tersangka telah dilakukan sejak kemarin (VIVAnews, 31 Maret 2011)

7. BI : Kasus Citibank Tak Kurangi Kepercayaan Masyarakat Yogyakarta (ANTARA News) - Kasus pembobolan dana nasabah di Citibank dan Bank Mega tidak akan mengurangi kepercayaan masyarakat kepada perbankan, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Ardhayadi Mitroatmodjo. "Meskipun ada kasus pembobolan dana nasabah perbankan, masyarakat tetap menyimpan dananya di bank. Hal itu menunjukkan masyarakat masih percaya pada bank," katanya usai diskusi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) di Yogyakarta, Kamis.

16

Menurut dia, hingga kini belum ada penarikan dana secara besar-besaran oleh para deposan. Para deposan sudah mendapatkan penjelasan sehingga mereka mau memahami dan tetap menyimpan dananya di bank. "Kasus pembobolan dana nasabah itu terjadi akibat lemahnya kontrol internal perbankan dan ada beberapa hal prinsip tidak dilaksanakan," katanya. Oleh karena itu, BI selaku bank sentral telah memperkuat pengawasan terhadap perbankan nasional agar kasus pembobolan dana nasabah tidak terjadi lagi. Ia mengatakan dalam konteks itu pengawasan internal bank juga harus berfungsi sebagaimana mestinya. Pengawasan internal bank seharusnya sering melakukan mutasi atau rotasi untuk jabatan strategis dan penting. "Upaya itu untuk mengantisipasi dan mendeteksi dini adanya penyimpangan di perbankan, sehingga kejadian yang tidak diinginkan dapat dicegah," katanya. (Antara News, 28 April 2011)

8. Kasus Century, Data KPK Lebih Lengkap

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menangani kasus bail out Bank Century hanya berdasarkan proses hukum dari penyidik KPK. KPK tidak akan berkoordinasi dengan Pansus Hak Angket Century untuk membongkar kasus yang diduga merugikan negara Rp 6,7 triliun ini. "Oh tidak. Kami tidak ada koordinasi dengan Pansus. Cuma memang Pansus pernah memanggil kami dan kami sudah jelaskan apa yang kami kerjakan di depan Pansus," kata Plt

17

Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean seusai menghadiri pemaparan laporan akhir tahun Mahkamah Agung, Kamis (25/2/2010) di Gedung MA, Jakarta. Tumpak menjelaskan, apa yang sudah diperoleh Pansus dari hasil pemeriksaannya juga sudah dimiliki KPK sebelumnya. Tumpak mengatakan, data yang dimiliki oleh KPK bahkan lebih lengkap dibanding milik Pansus. "Karena kami penyelidikan, kami aparat penegak hukum, tentu kami lebih lengkaplah," kata dia. Lalu apakah hasil penyelidikan sementara KPK saat ini sama dengan pandangan fraksi dalam Pansus yang menyebut Boediono dan Sri Mulyani sebagai pihak yang bertanggung jawab? "Belum tentu. Tidak mesti begitu. Kami melihat dari sisi hukumnya. Itu (Pansus) kan politik," tegasnya. Kembali ditanya apakah KPK juga berencana memanggil Boediono dan Sri Mulyani untuk dimintai keterangan terkait penyelidikan KPK mengenai kasus Century, Tumpak mengatakan, itu bisa saja dilakukan tergantung kebutuhan penyelidikan. "Itu tergantung penyidiknya, kalau memang dipandang perlu di tingkat penyelidikan, ya dipanggil. Itu kewenangan penyelidik, saya tidak touch segitu jauh," tuntasnya. (Jakarta.com)

9. IHSG Masih Loyo JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali transaksi hari ini di zona merah. Pada pukul 9.50 WIB, indeks bursa kita sudah turun 0,3 persen ke level 3.822,52. Indeks loyo lantaran di hampir semua sektoral. Pelemahan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur yang melemah sebesar 0,81 persen . Di posisi kedua ada indeks sektor industri daerah yang melemah 0,56 persen . Secara keseluruhan, ada 78 saham yang melorot harganya. Sementara yang tidak berubah sebanyak 83 saham. Sisanya, 46 saham mengalami kenaikan harga. Saham yang anjlok diantaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang turun 0,64 persen ke level Rp 46.800 per saham. Saham perusahaan tambang PT Bukit Asam tbk (PTBA) juga sudah melorot 1,17 persen ke level Rp 21.150 per saham.

18

Saham yang menguat diantaranya, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang melonjak 1,32 persen ke level Rp 23.050 per saham. Begitu juga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang menguat 1,62 persen menjadi Rp 18.850 per saham. Saham-saham yang menghuni posisi teratas top losers antara lain PT Ciputra Surya Tbk (CTRS) yang turun 5,26 persen ke Rp 720, PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) yang turun 3,70 persen ke Rp 520, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang turun 2,86 persen ke Rp 680. Sementara itu PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) yang naik 4,00 persen ke Rp 520, PT Apac Citra Centertex Tbk (MYTX) yang naik 3,88 persen ke Rp 134, dan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) yang naik 3,28 persen ke Rp 126 masih bisa bertahan di posisi teratas top gainers.(Kompas, 7 Juni 2011)

10. Bank Mandiri: Kasus Citibank adalah Hikmah REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTALarangan yang dikenakan Bank Indonesia kepada Citibank dalam layanan privat banking dan kartu kredit memberikan peluang bank pesaing untuk melakukan ekspansi. Melihat kondisi itu, bank Mandiri lebih memilih menyebut kondisi itu sebagai hikmah. Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini saat berkunjung ke Republika, Selasa (31/5) mengatakan ada dua hal hikmah yang menjadi perhatian Bank Mandiri terkait kasus pembobolan Citibank. Pertama, Bank Mandiri harus mengevaluasi standar operasi kerja. Kedua, implementasi layanan harus sesuai dengan standar operasi yang berlaku. Zaini memastikan ada atau tidaknya pinalti, perluasan pengguna kartu kredit merupakan langkah strategis yang terus dilakukan. Saat sini saja, kata dia, pengguna kartu kredit mencapai 2.08 juta, untuk debit mencapai 8.6 juta dan pre paid 768.169. Yang pasti, kata Zaini, bank Mandiri tak lupa memfokuskan pendidikan bagi konsumen untuk menghindari adanya resiko dalam transaksi. Selama ini, menurut dia, kasus penipuan yang terjadi dilakukan oleh orang kepercayaan. Maka dari itu, edukasi mutlak diperlukan agar penipuan yang merugikan nasabah tidak lagi terulang.(Republika, 6 Juni 2011)

19

11. BTN Masih Dilarang BI Cari Nasabah Tajir JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mengatakan sekarang ini mereka masih belum boleh mencari nasabah kaya terkait pembenahan standard operating procedure (SOP). Sedangkan BI sendiri telah membuka suspensi 23 bank untuk mencari nasabah kaya pada tanggal 2 Juni 2011. Hal tersebut dikarenakan masih adanya SOP yang harus dibenahi di BTN tersebut. Walaupun demikian BTN Optimis akan mulai membuka layanan priority banking pada bulan ini. "Priority banking, kita sedang membenahi SOP, belumlah ya. Mudah-mudahan bulan ini," ungkap Wakil Direktur Utama Bank BTN Evi Firmansyah ketika ditemui di sela acara Penawaran Umum Obligasi XV Bank BTN 2011 di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta (7/6/2011). Dijelaskan Evi, SOP yang harus dibenahi adalah seperti strategi antifraud. Dia juga menjelaskan hal ini juga mencegah banknya dari kejadian fraud belakangan ini. "Kita seperti antifraud, kan ada aturannya mengantisipasi, jangan sampai terjadi kaya teman-teman," jelasnya. Untuk sertifikasi sendiri, dia mengaku telah mendapatkannya, dan untuk prosedur dia juga mengaku telah memenuhinya seperti kamera dan recorder. "Sertifikasi kita sudah ada, sesuai dengan cabangnya kan. Penempatan TV sama recorder juga," tambahnya. Dia menambahkan, untuk antisipasi fraud ini sendiri akan lebih difokuskan pada sumber daya manusianya (SDM), dan sekarang dia mengaku masih memikirkan mengenai priority banking ini untuk ke depannya. "Nanti ada rotasi, enam bulan sekali. Itu masih kita pikirin ya, nasabahnya sudah nyaman. Sudah ada kasus kemarin, kita hati-hati saja, " pungkasnya. (Okezone, 7 Juni 2011)

12. Tekanan Global, IHSG Langsung Anjlok 15 Poin JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah seiring tertekannya indeks saham global. IHSG pun dibuka turun 15 poin kali ini. IHSG, pada awal perdagangan Selasa (7/6/2011) bergerak melemah 15,3 poin atau 0,43 persen menjadi 3.818,9. Indeks LQ45 juga turun 3,53 poin atau 0,5 persen ke 678,18. Menyusul indeks Wall Street yang melemah. Indeks saham Asia juga terpantau tertekan. Hang Seng turun 135,12 poin atau 0,59 persen ke 22.814,44, Straits Times turun
20

10,35 poin atau 0,33 persen ke 3.103 tapi Nikkei menguat 2,97 poin atau 0,03 persen ke 9.383. Seluruh sektor terpantau bergerak menguat. Sektor perkebunan turu 8,99 poin atau 0,4 persen, sektor tambang turun 14,87 poin atau 0,5 persen dan sektor keuangan turun 2,48 poin atau 0,5 persen. Volume transaksi turun 120,6 juta lembar saham senilai nilai transaksi Rp148,3 miliar. Sebanyak 37 saham menguat, 72 saham melemah dan 75 saham stagnan. Saham yang bergerak melemah (top lossers) antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp350 ke Rp46.750, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turun Rp300 ke Rp21.100 dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun Rp150 ke Rp17.400. Dan saham yang bergerak menguat (top gainers) adalah PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik Rp300 ke Rp18.850, PT United Tractor Tbk (UNTR) naik Rp100 ke Rp22.850 dan PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp250 ke Rp59.550. (Okezone, 7 Juni 2011)

13. Triwulan I Laba Bank-Bank Syariah Tembus Rp400 Miliar JAKARTA - Laba perbankan syariah pada triwulan I/2011 mencapai Rp400 miliar tumbuh sekitar 21,95 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sekitar Rp328 miliar. Berdasarkan statistik perbankan syariah yang dikeluarkan Bank Indonesia, peningkatan laba itu dihasilkan pendapatan operasional yang mencapai Rp2,75 triliun, naik 42,33 persen dibandingkan Maret 2010 yang sebesar Rp1,93 triliun. "Kenaikan pendapatan operasional itu sejalan dengan ekspansi pembiayaan pada 11 bank syariah 23 unit usaha syariah (UUS) yang tumbuh 47,9 persen menjadi Rp74,25 triliun, dibandingkan dengan Maret 2010 yang sebesar Rp50,02 triliun," demikian seperti yang tertuang dalam data statistik BI di Jakarta, Selasa (17/5/2011). Selanjutnya kenaikan laba juga didukung oleh bagi hasil investasi yang tidak terikat yang naik 43,08 persen dari Rp745 miliar menjadi Rp1,06 triliun pada akhir Maret. Selain itu pendapatan operasional lainnya juga naik 23,03 persen menjadi Rp406 miliar dan pendapatan non operasional meningkat 33,75 persen menjadi Rp1,27 triliun.

21

Adapun dari sisi beban juga terjadi peningkatan terutama pada beban operasional yang naik 42,72 persen dari Rp955 miliar menjadi Rp1,36 triliun. Sementara itu beban non operasional mencapai Rp1,26 triliun, naik 32,49 persen dari periode sebelumnya. Dalam mendukung perkembangan bisnis, kantor cabang bank syariah telah bertambah 334 unit atau meningkat 38,65 persen menjadi 1.268 unit, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sekitar 934 cabang. Sementara itu jumlah kantor pada UUS hanya bertambah delapan unit dari 299 menjadi 307 cabang. Hal ini terjadi karena beberapa UUS besar telah melakukan pemisahan usaha dari induk pada tahun lalu dan berubah menjadi bank syariah (Okezone, 17 Mei 2011)

14. Kinerja BNI London Meningkat Signifikan REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA - Direktur Treasure and Financial Intitution BNI Adi Setianto mengatakan, kinerja BNI London telah menunjukan peningkatan yang signifikan dengan aset 300 juta dolar AS. "Aset di cabang yang menjadi perwakilan kawasan Eropa, Afrika dan Timur Tengah akan bertambah dengan perolehan pinjaman dari Wells Fargo Bank NA, menjadi 350 juta dolar AS," katanya di sela-sela penandatangan perjanjian kerja sama pinjaman BNI dengan Wells Fargo Bank NA, di Nusa Dua, Bali, Senin. Dia menjelaskan, peningkatan yang signifikan itu seiring peningkatan perekonomian Indonesia yang terus membaik dan mendapat kepercayaan dari masyarakat internasional. "Tambahan aset sebesar 50 juta dolar AS tersebut akan digunakan untuk ekspansi bisnis di tiga kawasan tersebut," katanya. Menurut Adi, keberadaan cabang BNI di ibu kota Inggris itu berfungsi untuk menjebatani nasabah di Tanah Air yang mau berbisnis ke luar negeri dalam hal pembayaran transaksi perdagangan. Begitu juga sebaliknya, BNI London itu menjadi pelantara pihak yang berada di tiga kawasan tersebut yang berniat melakukan bisnis ke Indonesia. Sementara General Manager International Division BNI Bob T Ananta mengatakan, jumlah aset yang dimiliki BNI London adalah 20 persen dari total aset lima cabang bank

22

milik pemerintah itu di luar negeri. "Total ases lima cabang kami di luar negeri berjumlah 1,7 miliar dolar AS," katanya. Aset yang paling besar dimiliki oleh BNI Singapura dengan jumlah sekitar 500 juta dolar AS atau 40 persen dari seluruhnya. Setelah itu Hongkong, Tokyo, London dan New York. "Kami tidak akan melakukan penambahan cabang lagi di luar negeri, tetapi berupaya lebih mengoptimalkan kerja sama dengan bank koresponden yang jumlahnya hampir 1.400 termasuk cabang," ujarnya. Dari jumlah bank koresponden tersebut, tambah dia, yang masih aktif sekita 300 bank (Republika, 7 Juni 2011)

15. Bank Nasional yang Dikuasai Asing Harus Untungkan Perekonomian Nasional REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kemudahan bagi pihak asing untuk menjadi pemilik di bank-bank nasional harusnya diikuti dengan aturan agar bank itu benar-benar bermanfaat bagi perekonomian nasional dan tidak hanya mencari untung semata. Demikian pendapat pengamat ekonomi Dradjat H Wibowo, Aviliani dan Mirza Adityaswara di Jakarta, Kamis, ketika dimintai komentarnya mengenai meningkatnya kepemilikan asing dalam perbankan nasional yang saat ini sudah menguasai sekitar 40 persen aset perbankan. "Kepemilikan asing harus diatur agar lebih seimbang, terutama agar pencairan kreditnya harus ditingkatkan," kata Mirza. Keuntungan yang didapat oleh bank-bank nasional milik asing ini, lanjutnya juga sebaiknya diarahkan pada pengembangan usaha bank itu seperti membuka cabang baru sehingga kredit yang disalurkan bank tersebut juga terus bertumbuh. Sementara Aviliani menilai masuknya pihak asing ke dalam perekonomian Indonesia sebenarnya tidak menjadi masalah jika tidak mempengaruhi jantung perekonomian dan tidak mengganggu kebutuhan rakyat banyak. "Namun masalahnya perbankan merupakan jantung perekonomian nasional saat ini, sehingga kalau tidak diperkecil batas kepemilikan asing bisa mengganggu ekonomi kita. Sekarang sudah 40 persen aset perbankan yang dimiliki asing, dan kalau tidak dikurangi jumlahnya akan terus bertambah," katanya.
23

Aturan mengenai bolehnya pihak asing memiliki saham bank di Indonesia hingga 99 persen diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 29/1999 mengenai pembelian saham bank umum yang dikeluarkan oleh Presiden BJ Habibie pada Mei 1999. Drajat H Wibowo menilai sulit untuk mengubah aturan dalam PP tersebut meski berbagai pihak menilai kepemilikan asing yang sangat besar tidak menguntungkan perekonomian nasional. "Untuk mengubah PP itu pasti prosesnya akan panjang. Keberadaan asing di perbankan nasional harusnya menjadi pemicu dan pendorong kemajuan bank-bank BUMN. Pemerintah harus menaikkan modal bank-bank BUMN dengan berbagai cara agar perekonomian bisa terdorong," katanya. Namun, menurutnya jika tuntutan menurunkan batas kepemilikan asing di perbankan cukup besar, yang bisa dilakukan diawal adalah mengubah UU Nomor 10/1998 mengenai Perbankan yang banyak memuat tentang liberalisasi perbankan meski tidak secara langsung menyebutkan batas maksimum kepemilikan asing. Dalam Bab IV Pasal 22 ayat 1 B disebutkan bahwa bank dapat didirikan oleh warga negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia dengan warga negara asing dan atau badan hukum asing secara kemitraan. Sementara pada Pasal 26 ayat 2 disebutkan warga negara Indonesia, warga negara asing, badan hukum Indonesia, dan atau badan hukum asing dapat membeli saham Bank Umum, secara langsung dan atau melalui bursa efek. "Di undang-undang ini sangat jelas kalau kita menerapkan liberalisasi ekonomi melalui perbankan dan itu boleh-boleh saja asal kita sudah memiliki jaring yang melindungi kepentingan ekonomi nasional," katanya.(Republika, 7 juni 2011)

24

Komentar : Kasus Citibank Harus Jadi Pelajaran Ketua Persatuan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menyatakan sanksi yang dijatuhkan Bank Indonesia terhadap Citibank terkait penggelapan dana nasabah Citigold oleh Malinda Dee dan tewasnya nasabah katru kredit Citibank Irzen octa, dinilai cukup berat. Menurutnya Citibank akan kehilangan pasar potensial kartu kredit dan terhambatnya ekspansi pembukaan kantor baru. Belum lagi, kepercayaan masyarakat terhadap bank asal Amerika Serikat tersebut akan berkurang. Menurut saya kasus Citibank dapat menjadi pelajaran bagi perbankan nasional dan karenanya bank harus memperketat kontrol internal, untuk memastikan kasus pembobolan dana nasabah dan kekerasan oleh debt collector tidak lagi terulang. Namun di sisi lain, penulis meminta masyarakat memiliki kesadaran untuk menyelesaikan hutang dengan pihak bank secara tertib. Sebelumnya Bank Indonesia menjatuhkan sanksi bagi Citbank diantaranya adalah penghentian layanan nasabah prioritas selama satu tahun, larangan penerbitan kartu kredit selama dua tahun dan larangan membuka cabang baru selama satu tahun. Terkait hal tersebut, BI melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap 20 pejabat Citibank, sejak hari Senin lalu yang akan berlangsung selama 40 hari.

25

Anda mungkin juga menyukai