Anda di halaman 1dari 38

SKENARIO Seorang anak wanita, 9 tahun di antar oleh ibunya ke poliklinik mata dengan keluhan sulit membaca tulisan

di papan tulis. Kakak dan ibunya memakai kaca mata. Kata kunci : 1. 2. 3. Anak wanita 9 tahun Sulit membaca tulisan di papan tulis Kakak dan ibu memakai kaca mata.

Pertanyaan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Anatomi, histologi, dan fisiologi dari organ penglihatan? Bagaimana mekanisme terjadinya penglihatan (fisiologi) ? Bagaimana fisiologi perkembangan penglihatan anak? Penyakit apa saja yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan ? Adakah hubungan riwayat keuarga dengan keluhan? Differential diagnosis? a. Epidemiologi DD? b. Etiologi dan factor resiko DD? c. Gambaran klinis dari DD? d. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis? e. Bagaimana penatalaksanaannya? f. Bagaimana pencegahannya? g. Bagaimana Komplikasinya? h. Bagaimana prognosisnya?

JAWABAN 1. anatomi mata mata terletak di dalam cavum orbita. Cavum orbita merupakan Suatu ruang berbentuk LIMAS/Pyramid dengan APEX pada bagian dalam. Dibentuk oleh bagian dari tulang-tulang CRANIUM: 1. Os Frontale 2. Os Ethmoidale 3. Os Sphenoidale

4. Os Zygomaticum 5. Os Lacrimale 6. Maxilla Bagian depannya LUBANG = ADITUS ORBITAE MARGO ORBITALIS

Tepi sekeliling Aditus Orbitae

Organ visual Terdiri : 1. Bulbus Oculi ( = Bola Mata ) 2. Alat Accessoria Oculi ( Alat Tambahan Mata ) o o o o Palpebrae ( kelopak mata ) Conjunctiva Otot-otot mata Apparatus lacrimalis

3. Struktur Penunjang o o o Terletak Septum Orbitae Corpus Adiposum Orbitae Fascia Balbi

dalam cavum orbita

Bulbus oculi Terdiri dari 3 lapisan, dari luar ke dalam :


1. 2.

Tunica Fibrosa ( SCornea dan sclera ) Tunica Vasculosa ( = Uvea / Chorioidea, Cilliary body dan iris ) Retina

3.

SCLERA o o Suatu jaringan ikat fibrosa Ada lubang pada : Posterior masuk N. OPTICUS + Pembuluh darah keras, kuat, putih

(av. Centralis Retinae) Anterior o berhubungan dengan Ruang CAMERA POSTERIOR

Tempat melekatnya otot-otot mata

Bagian luar Sclera dibungkus oleh Fascia Bulbi kecuali Cornea dan N. Opticus

UVEA ( CHORIOIDEA ) o o Suatu lapisan pembuluh darah + muscular Kedepan membentuk Corpus Ciliare + Processus Ciliaris Iris o Corpus Ciliare + Processus Ciliare Dari Proe. Ciliare terdapat serabut-serabut yang Menggantung Lensa Mata Zonula Ciliare

Atur Akomodasi Lensa o Iris

Terdapat otot sirkuler (m. sphincter pupillae) + radier (m. dilator pupillae) Terdapat lubang Pupil

Atur Akomodasi Cahaya RETINA o o Suatu lapisan sel-sel nervosa sebagai fotoreseptor Pada bagian dalam posterior ( Fundus Oculi ), terdapat : Tonjolan papilla n. Opticus (blind spot ) Macula Lutea sensitif cahaya Fovea Centralis sensitif cahaya lekukan pada Central Macula Lutea, paling tonjolan dilateral papilla, oval, terdiri sel cone,

Bagian ANTERIOR Bulbus Oculi, terdiri : 1. Cornea 2. Camera anterior ( ruang antara cornea iris ) 3. Iris 4. Camera posterior ( ruang antara iris lensa ) Lensa Crystalina o o Struktur Bening Bikonkaf, Lebih Cembung Pada Bagian Anterior Terletak: Antara Camera Post Terhadap Corpus Vitreus Digantung / Fiksasi Oleh Zonula Ciliare Terhadap Processus Ciliare

Otot Bulbus Oculi + Gerakan 1. M. Rectus Superior 2. M. Rectus Inferior 3. M. Rectus Lateralis 4. M. Rectus Medialis Elevasi (+ Adduksi) Depresi (+ Adduksi) Abduksi Adduksi

5. M. Obliquus Superior Rotasi medial (abd + depr) 6. M. Obliquus Inferior Rotasi lateral (abd + elev) o Menggerakkan Bulbus Oculi

o Insertio pada sclera bulbus Oculi dan melalui Anulus tendineus ke sekeliling For. Opticum o Dibungkus oleh Fascia Bulbi o Semua otot bola mata diinnervasi N. III, kecuali m. Rectus Lat (N. VI) dan m. Obliquus Inferior (N. IV) Apparatus Lacrimalis 1. Glandula Lacrimalis o Terletak Di Sudut Craniolateral Cavum Orbita o Terdiri Dari 2 Bagian Terletak Di Atas Palpebra Pars Orbitalis Terletak Di Bawah Palpebra Pars Palpebralis Disalurkan Ke Fornix Conjunctivalis Sup

o Produksi Air Mata

2. Ductus & Saccus Lacrimalis o Suatu Saluran + Kantong Di Sudut Medial Mata o Terdapat 2 Canaliculus (Sup + Inf) o Pada Ujung Bebas (Lateral) Canaliculus Terdapat Lubang o Menampung + Mengalirkan Air Mata 3. Ductus Nasolacrimalis o Saluran Dari Saccus Lacrimalis Ke Cavum Nasi (Pada Meatus Nasi Inferior) o Terletak Dalam Maxilla Arteri Dalam Orbita, Berasal Dari: 1. A. Ophthalmica (Arteri Utama) o o Masuk Cavum Orbita Melalui For. Opticum Bercabang: 1. A. Centralis Retinae 2. A. Supraorbitalis 3. A. Supratrochlearis 4. A. Lacrimalis 5. A. Dorsalis Nasi 6. A. Ethmoidalis Anterior 7. A. Ethmoidalis Posterior Punctum Lacrimalis

8. A. Ciliaris Anterior 9. A. Ciliaris Posterior Longi 1. A. Infraorbitalis o o Cabang A. Maxillaris Masuk Ke Cavum Orbita Pada Fissura Orbitale Inferior

Vena Dalam Orbita Terdapat 2 Vena Utama: 1. V. Ophthalmica Superior Via Fissura Orbitale Sup. 2. V. Ophthalmica Inferior Via Fissura Orbitale Inf. V. Ophthalmica Inferior 1. Ke V. Ophth. Sup + Plexus Pterygoideus 2. Anastomose Dengan V. Angularis / V. Facialis V. Ophthalmica Superior Sinus Cavernosus

Saraf Dalam Orbita Ke dalam orbita, masuk: 1. N. Opticus via for. Opticum 2. N. Ophthalmicus (cabang n. V) via fissura orbitale superior N. Opticus masuk dalam bulbus oculi

N. Ophthalmicus bercabang intraorbital: 1. N. Frontalis 2. N. Lacrimalis 3. N. Nasociliaris, cabang N. Ethmoidalis ant N. Ethmoidalis post N. Ciliaris breves N. Ciliaris longus

N. Oculomotoris (iii), n. Trochlearis (iv), n. Abducens (vi) via fissura orbitale inferior Innervasi bulbus oculi oleh n. Nasociliaris via n. Ciliaris longus + breves 1. Sensoris dari cornea 2. Motoris sympathis + parasympathis Sympathis Parasympathis m. Dilator pupillae, vasoconstrictor, m. Tarsalis m. Sphincter pupillae & corpus ciliare

3. Serabut parasympathis berasal dari n. Iii yang bergabung ke n. Nasociliaris via ganglion ciliare. Innervasi motoris otot mata n. iii, iv, vi

Fisiologi Mata

Dari luar, mata itu tampak berbentuk bulat dan dilindungi oleh kelopak mata. Conjunctiva, yang mengandung banyak pembuluh darah, adalah selaput lendir yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian depan bola mata hingga ke cornea. Selaput ini mencegah benda-benda asing di dalam mata seperti bulu mata atau lensa kontak (contact lens), agar tidak tergelincir ke belakang mata. Bersama-sama dengan kelenjar lacrimal yang memproduksi air mata, selaput ini turut menjaga agar cornea tidak kering. Air mata mempunyai fungsi yang penting sebagai minyak pelumas dan turut mencegah kekeringan pada mata. Kelebihan air mata dibuang melalui lubang-lubang kecil pada kelopak mata dan mengalir ke dalam hidung. Bulu mata (pada bagian luar kelopak mata) serupa fungsinya dengan kumis pada kucing, yang bereaksi cepat terhadap rangsangan eksternal, yang menyebabkan mata berkedip dengan cepat untuk menghindari cedera. Dinding keras atau "putih" mata disebut sclera. sclera ini buram dan melindungi bagian-bagian mata yang lebih peka. Pada bagian depan mata, yang sinambung dengan sclera, terdapat cornea, yang merupakan jendela bagi mata, yang berbentuk bulat. Cornea tidak mengandung pembuluh darah dan bening, berfungsi mengarahkan cahaya ke dalam mata. Meskipun lebih tipis daripada lensa yang terdapat di bagian dalam mata, cornea merupakan lensa cembung yang sangat kuat. Bersama-sama dengan lensa, cornea memfokuskan citra optik pada retina yang terletak di bagian belakang mata. Cornea, yang mengandung banyak serabut syaraf, merupakan bagian dari tubuh manusia yang paling peka, sehingga iritasi yang kecil sekali

pun dapat menimbulkan rasa nyeri yang parah padanya. Cornea dapat menjadi buram jika mengalami kerusakan atau terinfeksi. Lensa, seperti halnya cornea, bening bila sehat. Lensa berbentuk cembung pada kedua permukaannya, dan mengandung air dan protein. Lensa tidak mengandung syaraf ataupun pembuluh darah dan strukturnya elastis. Akan tetapi, elastisitasnya berkurang seiring dengan bertambahnya usia, yang mengakibatkan orang berkesulitan membaca tulisan kecil pada usiapertengahan (presbyopia). Lensa membagi mata menjadi dua

segmen: bagian mata yang berada di depan lensa disebut anterior chamber (rongga depan) dan berisi cairan bening, aqueous, yang senantiasa diproduksi oleh ciliary body. Aqueous memberikan gizi yang penting bagi lensa, membantu membersihkan kotoran dan mengatur tekanan di dalam bola mata serta memelihara bentuk mata. Kelebihan aqueous dikeluarkan oleh trabeculum yaitu jaringan saluran penyaring yang terdapat di sudut anterior chamber Di samping berfungsi memproduksi aqueous, ciliary body mempunyai tiga macam otot yang membantu memfokuskan lensa, agar citra yang terbentuk pada retina tetap jelas. Bagian mata yang terletak di belakang lensa, yang dibatasi oleh retina, kadangkadang disebut posterior chamber (rongga belakang). Rongga ini berisi vitreous, zat bening yang menyerupai jeli, yang memenuhi empat perlima bagian dari mata. Seperti aqueous, vitreous tidak berisi pembuluh darah ataupun serabut syaraf, dan sebagian besar (99%) berupa air. Satu persen lainnya terdiri dari collagen dan asam hyaluronic yang berfungsi memelihara konsistensi vitreous agar bentuknya tetap selaras dengan mata. Jika karena sebab tertentu kebeningan vitreous itu berkurang, misalnya karena infeksi, maka ketajaman penglihatan menjadi terganggu. Cahaya masuk melalui lensa dan vitreous menuju ke lapisan mata paling dalam, yaitu retina. Retina terdiri dari beberapa lapisan yang berisi dua jenis sel, yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dalam responnya terhadap rangsangan visual, yang bekerja berdasarkan reaksi fotokimia. Informasi yang dihasilkannya masuk ke otak melalui syaraf optik. Bagian yang paling peka dari retina ini disebut macula, yang bagian tengahnya disebut fovea. Fovea terdiri dari sel-sel berbentuk roket yang disebut "cones", yang peka terhadap citra visual yang rinci dan warna, dan karenanya bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan. Sel-sel berbentuk seperti rokok yang disebut "rods" sebagian

besar terdapat di bagian tepi retina, dan hanya sedikit saja yang terdapat pada bagian tengah. Sel-sel ini terutama peka terhadap pergerakan dan sangat peka terhadap cahaya, sehingga bekerjanya lebih baik dalam keadaan cahaya yang lebih redup. Di antara retina dan sclera terdapat choroid, yang merupakan lapisan lingkaran utama mata, yang berfungsi mengalirkan darah untuk memberi makanan kepada berbagai bagian mata (terutama kepala syaraf optik). Di depan lensa adalah iris, yang berupa bagian mata yang berwarna, berisi jaringan otot yang dapat mengerut atau mengembang, sehingga berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk melalui pupil, yaitu bagian tengah iris, terus ke retina. The Ciliary body terletak di antara iris dan choroid, dan ketiga struktur ini membentuk uvea.

Histology mata bola mata terdiri dari 3 Lapisan utama Tunika Fibrosa : kornea dan sklera Tunika Vaskulosa : iris, korpos siliaris dan koroid Tunika Nervosa : retina Sklera Membran kuat, kenyal, melindungi 5/6 bgn posterior bola mata 1. Episklera : Jaringan ikat jarang D serat kolagen & elastin 2. Stroma Sklera (Subst Propria Sklera): Jaringan ikat padat kolagen D serat kolagen tebal, sedikit sel fibroblast dg inti kecil 3. & cab sitoplasma yg panjang

Lamina Fuska : Serat kolagen; khas : melanosit & makrofag yg berisi melanin

Kornea Membran transparan, avaskuler, terdiri dari 5 lapisan

1. Epitel Ep berlapis gepeng tdk bertanduk, 5 7 lapis sel Sel-sel dihubungkan o/ desmosom & fasia ocluden, pd permukaan terdpt mikrovili Lapisan basal sel kolumnair, mitosis Lap peralihan 2-3 lapis sel polihedral Lap superf sel-sel gepeng

2. Membrana Bowman  Tebal 4-8 m  Fibril kolagen halus tersusun acak  Berlubang-lubang dilalui oleh serabut saraf 3. Stroma / Substansi propria Bgn yg paling tebal dr kornea Lamel-lamel kolagen tersusun sejajar dg permukaan kornea Tebal lamel 35 nm

Keratosit di antara lamel diduga menghasilkan mikrofibril kolagen

4. Membrana Descemet Lap homogen Elastis, tipis Transparan Terdiri dr mikrofibril kolagen Tebal 5 10 nm

5. Endotel Iris Bgn terdepan dr tunika vaskulosa, fungsi sbg diafragma, permukaan ant dibagi 2 oleh kolaret zona dalam & zona luar. 1. Lapisan batas anterior  Terdiri dr fibroblast & melanosit  Fibroblast sel gepeng yg bercab2, beranastomose membtk jala-jala  Melanosit bercabang-cabang, saling berhub dgn cab2 fibroblast 1 lapis sel btk heksagonal Tebal 5 nm Nukleus di sentral Zonula occluden

2. Stroma iris Jar. ikat longgar & serat kolagen halus, fibroblast, melanosit, mast sel, p. drh Warna iris sel-sel pigmen M. sphincter pupillae neuroektoderm, otot polos yg sirkuler

3. Epitel anterior Lap. nonpigmen di ant M. dilatator pupillae neuroektoderm, otot polos berjln radier, miofilamen & melanosom

4. Epitel posterior Sel-sel kolumnar, berpigmen

Korpus Siliaris Btk segitiga (pot. melintang) Menghubungkan segmen anteerior & posterior bola mata Fungsi utama : Produksi humor akuos Proses akomodasi

Terdiri dari 2 bagian : 1. Pars plana Pars plikata Lamina suprasiliaris 2. Dibtk oleh lamina suprakoroid Peralihan korpus siliaris dgn sklera

Otot siliaris 3 lapis otot polos longitudinal, radier & sirkuler Ketiga otot berfungsi sbg 1 kesatuan dlm proses akomodasi

3.

Stroma siliaris Banyak kapiler Memisahkan m. siliaris dgn epitel siliaris

4.

Lamina basalis

5.

Epitel berpigmen  Sel-sel kubis  Nukleus besar  Sitoplasma mengandung granula melanin, desmosom & makula okluden

6.

Epitel nonpigmen  Sel-sel kubis & kolumnar, nukleus besar.  Retikulum endoplasma & app. golgi berperanan dlm produksi humor akuos

Koroid o o o 1. Membran tipis dgn tebal rata-rata 0.25 mm Terletak antara sklera & retina Fungsi utama sbg sumber nutrisi utk lap. luar retina Lamina suprakoroid Tebal 30 m

Jar. ikat longgar Serat kolagen & elastik Fibroblast & melanosit

2.

Stroma koroid o o o o Banyak vena & arteriole Bgn terluar (lap. Haller) terdiri dr vena besar Bgn dalam (lap. Sattler) terdiri dr vena sedang & arteriole Ruang antar p. darah jar. ikat jarang berisi serat kolagen & elastis

3.

Koriokapiler Lap. dgn kapiler2 berdiameter 40 60 m Dinding tipis

4.

Membrana Bruch Lap. homogen, tebal 2.5 m Memisahkan epitel pigmen retina dgn koriokapiler, dikelilingi oleh membran elastis

Retina Terdiri dr 10 lapisan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Lap. epitel pigmen Lap. Sel batang & kerucut Membrana limitan eksterna Lap. nuklear luar Lap. pleksiform luar Lap. nuklear dalam Lap. pleksiform dalam Lap. sel-sel ganglion Lap. serabut-serabut saraf Membrana limitan interna

Fisiologi penglihatan

Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan strukturstruktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini disebut kesalahan refraksi. Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Pemglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap (konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dinbantu dengan perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal. Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.

Mekanisme Penglihatan Normal

Bagaimana fisiologi perkembangan penglihatan anak?


Saat lahir, bola mata anak relatif lebih besar dibandingkan dengan sisa tubuh lainnya daripada dewasa. Mata juga relatif lebih pendek dan akan mencapai ukuran yang sebenarnya sekitar umur 7-8 tahun. Ini akan membuat mata itu sangat hipermetropik. Pada anak yang normal biasanya ketajaman penglihatannya tidak akan mencapai 20/20 sampai usia 3-6 tahun.8,9 Sebagian besar bayi saat lahir mengalami hipermetropia ringan. Hipermetropia tersebut secara perlahan-lahan berkurang sampai saat remaja, untuk mencapai emetropia (mata normal). Kelengkungan kornea jauh lebih curam dan mendatar saat lahir dan mendekati kelengkungan dewasa pada usia sekitar 1 tahun. Lensa jauh lebih sferis pada saat lahir dan mencapai bentuk dewasa pada usia sekitar 6 tahun. Panjang sumbu saat lahir adalah pendek (17,3 mm), kemudian terus memanjang dan stabil pada usia sekitar 10-15 tahun.8 Perkembangan normal mekanisme fisiologi retina dan korteks penglihatan ditentukan oleh pengalaman visual pasca lahir. Penglihatan sentral berkembang sejak lahir sampai usia 6-7 tahun, apabila penglihatan belum juga berkembang sampai saat itu maka kecil kemungkinan bahwa perkembangan akan terjadi. Gangguan penglihatan seperti kelainan refraksi selama periode kritis perkembangan (berlangsung kira-kira sampai usia 8 tahun) akan menghambat pembentukan penglihatan normal sehingga terjadi ambliopia. Pada ambliopia terjadi penurunan ketajaman penglihatan tanpa penyakit mata organik sehingga tidak dapat dikoreksi dengan kacamata.
y y y Baru lahir 6 Minggu 3 bulan - Menggerakkan kepala ke sumber cahaya besar - Mulai melakukan fiksasi gerakan mata tidak teratur ke arah sinar - Dapat menggerakan mata kearah benda bergerak

4-6 bulan

- Koordinasi penglihatan dengan gerakan mata, dapat melihat dan mengambil objek

y y y y y

9 bulan 1 tahun 2 tahun 3 tahun 5 tahun

- Tajam penglihatan 20/200 - Tajam penglihatan 20/100 - Tajam penglihatan 20/40 - Tajam penglihatan 20/30 - Tajam penglihatan 2/20

Perkembangan kemampuan melihat sangat bergantung pada perkembangan tumbuh anak pada keseluruhan, mulai dari daya membedakan sampai pada kemampuan menilai pengertian melihat. Walaupun perkembangan bola mata sudah lengkap waktu lahir, mielinisasi berjalan terus sesudah lahir. Demikian pula ERG mulai dengan gelombang rendah berkembang terus sampai dewasa. Tajam penglihatan anak baru dapat diukur secara kuantitatif pada usia 2 tahun.

Myopia

Miopia disebut rabun jauh karena berkurangnya kemampuan melihat jauh tapi dapat melihat dekat dengan lebih baik. Miopia terjadi jika kornea (terlalu cembung) dan lensa (kecembungan kuat) berkekuatan lebih atau bola mata terlalu panjang sehingga titik fokus sinar yang dibiaskan akan terletak di depan retina.

Klasifikasi Dikenal beberapa bentuk myopia: a. Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Peningkatan indeks refraksi daripada lensa berhubungan dengan permulaan dini atau moderate dari katarak nuklear sklerotik. Merupakan penyebab umum terjadinya Miopia pada usia tua. Perubahan kekerasan lensa meningkatkan indeks refraksi, dengan demikian membuat mata menjadi myopik.

b.

Myopia aksial, myopia akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa normal. Diameter antero-posterior dari bola mata lebih panjang dari normal, walaupun kornea dan kurvatura lensa normal dan lensa dalam posisi anatominya normal. Miopia dalam bentuk ini dijumpai pada proptosis sebagai hasil dari tidak normalnya besar segmen anterior, peripapillary myopic crescent dan exaggerated cincin skleral, dan stafiloma posterior.

c.

Myopia kurvatura, besar bola mata normal tetapi kurvatura kornea dan lensa lebih

besar dari normal. Mata memiliki diameter antero-posterior normal, tetapi kelengkungan dari kornea lebih curam dari rata-rata, misal : pembawaan sejak lahir atau keratokonus, atau kelengkungan lensa bertambah seperti pada hiperglikemia sedang ataupun berat, yang menyebabkan lensa membesar.

Menurut derajat beratnya myopia dibagi dalam: a. Myopia ringan, miopianya 1-3 dioptri b. Miopia sedang, miopinya 3-6 dioptri c. Miopia berat atau tinggi, miopinya lebih besar dari 6 dioptri

Menurut perjalanan myopia dikenal bentuk : a. Myopia stasioner, myopia menetap setelah dewasa

b. Myopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata c. Myopia maligna, myopia yang berjalan progresif yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan myopia pernisiosa/myopia maligna/miopiadegeneratif. Biasanya terjadi bila myopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.

Epidemiologi Miopia memiliki insiden 2,1% di Amerika Serikat dan peringkat ke tujuh yang menyebabkan kebutaan, serta tampak memiliki predileksi tinggi pada keturunan Cina, Yahudi, dan Jepang. Angka kejadiannya lebih sering 2 kali lipat pada perempuan dibanding laki-laki. Keturunan kulit hitam biasanya bebas dari kelainan ini. Menurut National Eye Institute Study, miopia merupakan penyebab kelima tersering yang mengganggu penglihatan dan merupakan penyebab kutujuh yang tersering kebutaan di Amerika Serikat, sedangkan di Inggris merupakan penyebab kebutaan tersering.

Etiologi Miopia tinggi dapat diturunkan, baik secara autosomal dominan maupun autosomal resesif. Penurunan secara sex linked sangat jarang terjadi, biasanya terjadi pada miopia yang berhubungan dengan penyakit mata lain atau penyakit sistemik. Pada ras oriental, kebanyakan miopia tinggi diturunkan secara autosomal resesif. Etiologi miopia belum diketahui secara pasti. Ada beberapa keadaan yang dapat menyebabkan timbulnya miopia seperti alergi, gangguan endokrin, kekurangan makanan, herediter, kerja dekat yang berlebihan dan kekurangan zat kimia (kekurangan kalsium, kekurangan vitamin) (Desvianita cit Slone, 1997).

Pada mata miopia fokus sistem optik mata terletak di depan retina, sinar sejajar yang masuk ke dalam mata difokuskan di dalam badan kaca. Jika penderita miopia tanpa koreksi melihat ke objek yang jauh, sinar divergenlah yang akan mencapai retina sehingga bayangan menjadi kabur. Ada dua penyebab yaitu : daya refraksi terlalu kuat atau sumbu mata terlalu panjang (Hoolwich, 1993). Miopia yang sering dijumpai adalah miopia aksial. Miopia aksial adalah bayangan jatuh di depan retina dapat terjadi jika bola mata terlalu panjang. Penyebab dari miopia aksial adalah perkembangan yang menyimpang dari normal yang di dapat secara kongenital pada waktu awal kelahiran, yang dinamakan tipe herediter. Bila karena peningkatan kurvatura kornea atau lensa, kelainan ini disebut miopia kurvatura (desvianita cit Slone, 1997). Penyebab panjangnya bola mata dapat diakibatkan beberapa keadaan : 1. Tekanan dari otot ekstra okuler selama konvergensi yang berlebihan. 2. Radang, pelunakan lapisan bola mata bersama-sama dengan peningkatan tekanan yang dihasilkan oleh pembuluh darah dari kepala sebagai akibat dari posisi tubuh yang membungkuk. 3. Bentuk dari lingkaran wajah yang lebar yang menyebabkan konvergensi yang berlebihan (Desvianita cit Perera, 1997). Peningkatan kurvatura kornea dapat ditemukan pada keratokonus yaitu kelainan pada bentuk kornea. Pada penderita katarak (kekeruhan lensa) terjadi miopia karena lensa bertambah cembung atau akibat bertambah padatnya inti lensa ( Desvianita cit Slone, 1997). Miopia dapat ditimbulkan oleh karena indeks bias yang tidak normal, misalnya akibat kadar gula yang tinggi dalam cairan mata (diabetes mellitus) atau kadar protein yang meninggi pada peradangan mata. Miopia bias juga terjadi akibat spasme berkepanjangan dari otot siliaris (spasme akomodatif), misalnya akibat terlalu lama melihat objek yang dekat. Keadaan ini menimbulkan kelainan yang disebut pseudo miopia (Sastradiwiria, 1989).

Gejala klinis Gejala umum miopia antara lain: Mata kabur bila melihat jauh Sering sakit kepala Menyipitkan mata bila melihat jauh (squinting / narrowing lids)

- Lebih menyukai pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dekat dibanding pekerjaan yang memerlukan penglihatan jauh. Pada mata didapatkan: Kamera Okuli Anterior lebih dalam Pupil biasanya lebih besar Sklera tipis Vitreus lebih cair Fundus tigroid Miopi crescent pada pemeriksaan funduskopi

Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis A. Cara Subyektif Cara subyektif ini penderita aktif menyatakan kabur terangnya saat di periksa. Pemeriksaan dilakukan guns mengetahui derajat lensa negatif yang diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan sehingga menjadi normal atau tercapai tajam penglihatan terbaik. Alat yang digunakan adalah kartu Snellen, bingkai percobaan dan sebuah set lensa coba. Tehnik pemeriksaan : 1. Penderita duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter. 2. Pada mata dipasang bingkai percobaan dan satu mata ditutup. 3. Penderita di suruh membaca kartu Snellen mulai huruf terbesar dan diteruskan sampai huruf terkecil yang masih dapat dibaca.

4. Lensa negatif terkecil dipasang pada tempatnya dan bila tajam penglihatan menjadi lebih baik ditambahkan kekuatannya perlahan-lahan hingga dapat di baca huruf pada baris terbawah. 5. Sampai terbaca basis 6/6. 1. Mata yang lain dikerjakan dengan cara yang sama (Ilyas, 2003). B. Cara Obyektif Cara ini untuk anomali refraksi tanpa harus menanyakan bagaimana tambah atau kurangnya kejelasan yang di periksa, dengan menggunakan alat-alat tertentu yaitu retinoskop. Cara objektif ini dinilai keadaan refraksi mata dengan cara mengamati gerakan bayangan cahaya dalam pupil yang dipantulkan kembali oleh retina. Pada saat pemeriksaan retinoskop tanpa sikloplegik (untuk melumpuhkan akomodasi), pasien harus menatap jauh. Mata kiri diperiksa dengan mata kiri, mata kanan dengan mata kanan dan jangan terlalu jauh arahnya dengan poros visuil mata. Jarak pemeriksaan biasanya meter dan dipakai sinar yang sejajar atau sedikit divergen berkas cahayanya. Bila sinar yang terpantul dari mata dan tampak di pupil bergerak searah dengan gerakan retinoskop, tambahkan lensa plus. Terus tambah sampai tampak hampir diam atau hampir terbalik arahnya. Keadaan ini dikatakan point of reversal (POR), sebaliknya bila terbalik tambahkan lensa minus sampai diam. Nilai refraksi sama dengan nilai POR dikurangi dengan ekivalen dioptri untuk jarak tersebut, misalnya untuk jarak meter dikurangi 2 dioptri (Sastrawiria, 1989). Cara pemeriksaan subyektif dan obyektif biasanya dilakukan pada setiap pasien. Cara ini sering dilakukan pada anak kecil dan pada orang yang tidak kooperatif, cukup dengan pemeriksaan objektif. Untuk yang tidak terbiasa, pemeriksaan subjektif saja pada umumnya bisa dilakukan (Sastrawiria, 1989). Penatalakasanaan Koreksi terhadap miopia dapat dilakukan diantaranya dengan : Kacamata

Kacamata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki refraksi. Koreksi miopia dengan kacamata, dapat dilakukan dengan menggunakan lensa konkaf

(cekung/negatif) karena berkas cahaya yang melewati suatu lensa cekung akan menyebar. Bila permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu tinggi atau bila bola mata terlalu panjang seperti pada miopia, keadaan ini dapat dinetralisir dengan meletakkan lensa sferis konkaf di depan mata. Lensa cekung yang akan mendivergensikan berkas cahaya sebelum masuk ke mata, dengan demikian fokus bayangan dapat dimundurkan ke arah retina Lensa kontak Lensa kontak yang biasanya digunakan ada 2 jenis yaitu, lensa kontak keras yang terbuat dari bahan plastik polimetilmetacrilat (PMMA) dan lensa kontak lunak terbuat dari bermacam-macam plastik hidrogen. Lensa kontak keras secara spesifik diindikasikan untuk koreksi astigmatisma ireguler, sedangkan lensa kontak lunak digunakan untuk mengobati gangguan permukaan kornea. Salah satu indikasi penggunaan lensa kontak adalah untuk koreksi miopia tinggi, dimana lensa ini menghasilkan kualitas bayangan lebih baik dari kacamata. Namun komplikasi dari penggunaan lensa kontak dapat mengakibatkan iritasi kornea, pembentukan pembuluh darah kornea atau melengkungkan permukaan kornea. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan berkala pada pemakai lensa kontak. Bedah keratoretraktif Bedah keratoretraktifmencakup serangkaian metode untuk mengubah

kelengkungan permukaan anterior bola mata diantaranya adalah keratotomy radial, keratomileusis, keratofakia, epikeratofakia. Lensa intraocular Penanaman lensa intraokuler merupakan metode pilihan untk koreksi kesalahan refraksi. Ekstraksi lensa jernih Ekstraksi lensa bening telah banyak dicobakan oleh ahli bedah di dunia pada pasien dengan miopia berat karena resiko tindakan yang minimal

Pencegahan Kebanyakan anak-anak miopia hanya dengan miopia tingkat rendah hingga menengah, tapi beberapa akan tumbuh secara progresif menjadi miopia tinggi. Faktor resiko terjadinya hal

tersebut antara lain faktor etnik, refraksi orangtua, dan tingkat progresi miopia. Pada anak-anak tersebut, intervensi harus diperhitungkan. Pengontrolan miopia antara lain dengan: Zat Sikloplegik

Berdasarkan laporan penelitian, pemberian harian atropin dan cyclopentolate mengurangi tingkat progresi miopia pada anak-anak. Meskipun demikian, hal ini tidak sebanding dengan ketidaknyamanan, toksisitas dan resiko yang berkaitan dengan sikloplegia kronis. Selain itu, penambahan lensa plus ukuran tinggi (contoh: 2,50 D) diperlukan untuk melihat dekat karena inaktivasi otot silier. Meskipun progresi melambat selama terapi, efek jangka panjang tidak lebih dari 1-2 D. Lensa plus untuk melihat dekat

Efektivitas pemakaian lensa bifokus untuk mengontrol miopia pada anak-anak masih kontroversial, beberapa penelitian tidak menunjukkan reduksi progresi miopia yang bermakna namun ada juga penelitian yang menemukan bahwa pemakaian lensa bifokus dapat mengontrol miopia. Ukuran adisi dekat yang efektif masih diperdebatkan. Bila membaca atau melakukan kerja jarak dekat secara intensif, istirahatlah tiap 30

menit. Selama istirahat, berdirilah dan memandang ke luar jendela. Bila membaca, pertahankan jarak baca yang cukup dari buku. Pencahayaan yang cukup untuk membaca. Batasi waktu bila menonton televisi dan video game. Duduk 5-6 kaki dari televisi. Jenis-jenis intervensi lain seperti pemakaian vitamin, bedah sklera, obat penurun

tekanan bola mata, teknik relaksasi mata, akupunktur. Namun, efektivitasnya belum teruji dalam penelitian.

Komplikasi Abalasio retina Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0D (- 4,75) D sekitar 1/6662. Sedangkan pada (- 5)D (-9,75) D resiko meningkat menjadi 1/1335. Lebih dari (-10) D resiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan factor resiko pada miopia rendah tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.

Vitreal Liquefaction dan Detachment

Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan 2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Hal ini berhubungan denga hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan beresiko untuk terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus detachment pada miopia tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat memanjangnya bola mata. Miopic makulopaty

Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapanagn pandang berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan kurangnya lapangan pandang. Miop vaskular koroid/degenerasi makular miopic juga merupakan konsekuensi dari degenerasi makular normal, dan ini disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang tumbuh di bawah sentral retina. Glaukoma

Resiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stress akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula. Katarak

Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Dilaporkan bahwa pada orang dengan miopia onset katarak muncul lebih cepat.

Prognosis Diagnosis awal pada penderita miopia adalah sangat penting karena seorang anak yang sudah positif miopia tidak mungkin dapat melihat dengan baik dalam jarak jauh.

Hipermetropia

Hipermetropia adalah Suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar aksis visual tanpa akomodasi difokuskan pd satu titik di belakang retina. Epidemiologi Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

Klasifikasi o Berdasarkan klinik : 1. Hipermetrop total - tanpa akomodasi - diperoleh dengan cara melumpuhkan m. ciliar dengan siklopegik 2. Hipermetrop manifest - dengan akomodasi - diperoleh tanpa melumpuhkan m. ciliar Hipermetrop manifest tdd : Hipermetrop manifest fakultatif : akomodasi mata mampu memfokuskan sinar sejajar aksis visual tepat di

retina. ketajaman visus yg diperoleh: 5/5 tanpa koreksi

Hipermetrop manifest absolut : akomodasi mata tidak mampu memfokuskan sinar tepat di retina ketajaman visus yg diperoleh:<5/5, dengan koreksi lensa sferis konveks

diperoleh visus 5/5

3.

Hipermetrop latent ( Hl ) Diperoleh dari selisih antara hipermetrop total (Ht) dan hipermetrop manifest

(Hm), rumus : Ht = Hm + Hl besarnya Hm dan Hl tidak konstan tergantung umur dan kegiatan akomodasi

seseorang.

Etiologi Sumbu bola mata yang pendek, kelengkungan kornea kurang, indeks bias yang kurang , kebiasaan membaca yg buruk. o Berdasarkan kausanya :

1. Hipermetrop kurvatur Disebabkan lengkung kurvatur media refrakta berkurang , ditemukan pada : kornea yang datar 2. Hipermetrop indeks Disebabkan berkurangnya indeks refraksi, ditemukan pada : subluksasi lensa post, dislokasi lensa, afakia, lensa tipis 3. Hipermetrop aksial Disebabkan berkurangnya jarak kornea dan fokus bayangan retina, ditemukan pada : mikroftalmi, ablasi retina

Gejala klinis Sebagian besar tanpa keluhan Biasanya penglihatan jauh baik, penglihatan dkt memberi gejala astenopia akomodatif Rasa nyeri di mata/atas mata

- Rasa sakit kepala bag. Frontal/Occipita

- Lakrimasi - Fotofobia
- Rasa terbakar dan berat di mata

- BMD dangkal - Funduskopi :


y

pseudopapil edem

Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis Secara subyektif Dalam hal ini penderita aktif menyatakan lebih tegas atau lebih kabur huruf-huruf pada kartu uji snellen, baik cara coba-coba atau pengabutan (fogging)

Pemeriksaan obyektif Dengan menggunakan alat-alat tertentu, ditentukan keadaan refraksi tanpa menanya pasien. Cara ini baik digunakan pada pasien yang kurang kooperatif dan anakanak. Alat ini dapat juga dipakai untuk menilai ada atau tidaknya kekeruhan media dan ada tidaknya astigmatisme. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah oftalmoskop direk, gambar fundus yang dihasilkan akan tampak kabur bila pasien mengalami kelainan refraksi. Dengan cara memutar cakram yang berisi lensa dengan pelbagai ukuran pada oftalmoskop maka gambaran akan terlihat jelas dan kekuatan lensa yang memberikan gambaran fundus yang paling jelas adalah kelainan refraksi.

Penatalaksanaan 1. Menambah kekuatan dioptri dengan lensa sferis konveks (positif) terkuat visus terbaik,

dalam bentuk : kaca mata, lensa kontak, IOL

2.

Menambah derajat lengkung / curvatur lensa berupa tindakan : Epikeratopakia,

keratomileusis, keratopakia,komb. keratopaki & keratomileusis

Pencegahan Bermain di luar rumah. Menurut penelitian di Boston, Amerika Serikat, jika anak-anak seusia kita banyak bermain di luar rumah, akan lebih sedikit terkena gangguan mata seperti miopi. Misalnya bermain sepeda, bola kai, basket dan lain-lain. Permainan di luar rumah akan mencegah terlalu banyak menonton televise dan computer. Karena, jika bermain dalam rumah akan banyak menonton televise atau bermain computer. Keuntungan lainnya bermain di luar rumah adalah mata mendapat sinar matahari yang cukup untuk tubuh dan mata. Untuk tubuh, sinar matahari yang mengandung vitamin D sangat penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Sedangkan untuk mata, cahaya matahari dapat mengecilkan pupil, yaitu bagian mata yang mengatur besar kecilnya cahaya yang masuk ke lensa mata, sehingga mata kita dapat melihat lebih jelas atau lebih focus. Duduk dengan posisi tegak ketika menulis. Istirahatkan mata setiap 30-60 menit setelah menoton TV, computer atau setelah

membaca. Aturlah jarak baca yang tepat (> 30 cm) Gunakan penerangan yang cukup Jangan membaca dengan posisi tidur.

Komplikasi Strabismus konvergen Glaukoma sekunder

Prognosis Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

Astigmatisma

Suatu kelainan refraksi dimana tiap meridian kurvatur mempunyai kekuatan refraksi yang berbeda sinar-sinar sejajar tidak difokuskan pada satu titik.

Secara teori, pada setiap titik pada permukaan yang lengkung, arah dari kelengkungan yang terbesar dan yang terkecil selalu terpisah 90 derajat tetapi arah ini bias beribah saat melewati satu

titik ke titik yang lain. Bila meridian utama dari astigmatisma mempunyai orientasi yang konstan pada setiap titik yang melewati pupil dan apabila ukuran astigmatisma ini sama pada setiap titik. Kondisi refraktif ini dikenal sebagai astigmatisma regular. Dan ini bisa dikoreksi dengan kacamata lensa silindris.

Klasifikasi Astigmat regular Sinar yang sejajar dengan aksis visual difokuskan pada titik dalam bentuk satu garis di belakang kornea. Terutama disbbkan oleh kelainan kurvatur kornea Pembagian : a) berdasarkan letak/posisi prinsipel meridian : astigmat with the rule Suatu astigmatisma dimana meridian vertical lebih curam dari horizontal, dikoreksi dengan lensa silindris positif dengan axis 90O 20O atau lensa silindris negatif dengan axis 180 O 20 O. Astigmat against the rule Suatu astigmatisma dimana meridian horizontalnya lebih curam dari meridian vertical. Koreksinya dengan lensa silindris positif dengan axis 180O 20o atau lensa silindris negatif dengan axis 90 O 20 O. Astigmat obliq ( jarang ditemukan ) Suatu bentuk regular astigmatisma dimana garis meridian utamanya tidak tegak lurus tapi miring dengan axis 45O dan 135O.

b) berdsrkan letak fokus bayangan sinar kedua prinsipel meridian : Simpel astigmat:

Berkas cahaya pada satu meridian terfokus tepat did retina, dan cahaya pada meridian yang lain terfokus pada titik didepan retina disebut simple myopic astigmatisma. Jika cahaya itu terfokus dibelakang retina disebut simple hypermetropic astigmatisma. 1. 2. simpel miop astigmat koreksi: lensa C (-) koreksi : C (+)

simpel hipermetrop astigmat

- compound astigmat : Pada jenis ini, berkas cahaya pada kedua meridian terfokus didepan retina disebut astigmatisma Miopia compound dan jika terfokus dibelakang retina disebut astigmatisma Hipermetropia compound. 1. compound miop astig. koreksi : S(-) C(-) koreksi : S(+) C(+)

2. compound hipermetrop astig. - Mixed astigmat

Koreksi : - Lensa S (-) C (+) atau Lensa S (+) C (-)

Astigmat Ireguler Sinar-sinar yang sejajar denan aksis visual difokuskan pada titik berbeda-beda, tidak teratur di belakang kornea. Terutama oleh kelainan curvatur kornea dan lensa. Meridian bentuknya

bukan sferis, bukan cilinder.


Suatu astigmatisma dimana sinar-sinar sejajar dengan garis pandang dibias tidak teratur. Astigmatisma irregular ini bersifat / mempunyai perubahan-perubahan irregular dari tenaga refraksinya pada meridian-meridian yang berbeda. Terdapat multi meridian yang tidak dapat dianalisa secara geometris. Lensa silindris hanya sedikit memperbaiki penglihatan dalam kasus-kasus ini, tapi dapat diterapi dengan lensa kontak rigid.

Koreksi: tidak mungkin dengan lensa Sferis lensa cilinder atau kombinasi hanya dapat dilakukan dengan cara merubah bentuk permukaan media refraksi dengan Hard contact lens.

Epidemiologi Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

Tanda Dan Gejala Pada umunya, seseorang yang menderita astigmatismus tinggi menyebabkan gejala-gejala sebagai berikut : - Memiringkan kepala atau disebut dengan titling his head , pada umunya keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmatismus oblique yang tinggi. - Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas. - Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan untuk mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmatismus juga menyipitkan mata pada saat bekerja dekat seperti membaca. - Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan mendekati mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk memperbesar bayangan, meskipun bayangan di retina tampak buram. Sedang pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai dengan gejalagejala sebagai ber ikut : - Sakit kepala pada bagian frontal. - Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya penderita akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau Etiologi Tekanan yang berlebihan pada kornea, kebiasaan membaca yang buruk dan kebiasaan menggunakan mata untuk melihat objek yang terlalu dekat.

Pemeriksaan untuk menegakkakn diagnosis 1. Pemeriksaan pin hole

Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan, atau kelainan retina

lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah setelah dilakukan pin hole berarti pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik. Bila ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien terdapat kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang menggangu penglihatan
2. Uji refraksi

a. Subjektif Optotipe dari Snellen & Trial lens Metode yang digunakan adalah dengan Metoda trial and error b. Objektif - Autorefraktometer - Keratometri - Uji pengaburan Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya dikaburkan dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu Snellen, misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta melihat kisi-kisi juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila garis juring pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu lensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180. Perlahan-lahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder ditentukan yang ditambahkan. Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan-lahan

ditar uh lensa negatif sampai pasien melihat jelas

Keratoskop
Penatalaksanaan o simpel astigmat: a. b. o simpel miop astigmat koreksi: lensa C (-) koreksi : C (+)

simpel hipermetrop astigmat

compound astigmat : b. compound miop astig. koreksi : S(-) C(-) koreksi : S(+) C(+)

c. compound hipermetrop astig. o

mixed astigmat , koreksi : - Lensa S (-) C (+) atau Lensa S (+) C (-)

Pencegahan o o o o hindari ketegangan mata dan stress membaca di lingkungan dengan pencahayaan yang sesuai hindari menggosok mata mengkonsumsi makanan sehat yang mengandung vitamin A, D, lutein dan zeaxhantin.

Prognosis Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.