Anda di halaman 1dari 6

Shalat-shalat Sunnah

Posted by Abu Razin Batawy at 22:12 Sesungguhnya Allah mewajibkan dalam sehari semalam shalat lima waktu. Shalat lima waktu tersebut adalah tiang agama, di samping sebagai pemisah antara seseorang dengan kekufuran. Selain shalat lima waktu ada pula shalat-shalat lainnya yang disyariatkan sebagai tambahan dan penutup kekurangan, hukumnya sunat. Shalat inilah yang disebut dengan nama shalat tathawwu (sunat). Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang (kewajiban) dalam Islam? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: . Shalat lima waktu sehari semalam. Orang itu bertanya, Apakah ada kewajiban lagi selain itu? Beliau menjawab, Tidak, kecuali jika anda ingin bertathawwudst. (HR. Bukhari) Keutamaan shalat tathawwu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: : : : : Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Allah Azza wa Jalla akan berkata kepada para malaikat-Nya sedangkan Dia lebih mengetahui, Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya atau menguranginya? jika ternyata sempurna, maka dicatat sempurna. Namun jika kurang, Allah berfirman, Lihatlah! Apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunat? Jika ternyata ada, Allah berfirman, Sempurnakanlah shalat fardhu hamba-Ku dengan shalat sunatnya, lalu diambil amalannya seperti itu. (HR. Empat orang ahli hadits dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani) Macam-macam shalat sunat dan keutamaanya 1. Shalat sunat rawatib Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Tidak ada seorang muslim yang melakukan shalat karena Allah dalam setiap harinya sebanyak 12 rakat; yakni shalat sunat yang bukan fardhu, kecuali Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga atau akan dibangunkan untuknya rumah di surga. (HR. Muslim) Yaitu 4 rakat sebelum Zhuhur dan 2 rakat setelahnya, 2 rakat setelah Maghrib, 2 rakat setelah Isya dan 2 rakat sebelum shalat Shubuh sehingga jumlahnya 12. Bisa juga sebelum Zhuhur 2 rakat, sehingga jumlahnya 10. 2. Shalat malam (Tahajjud) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram (yakni tanggal sepuluh dengan sembilannya), dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR. Muslim) 3. Shalat dhuha

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Pada pagi hari setiap persendian kamu harus bersedekah; setiap tasbih adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laailaahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar maruf adalah sedekah, nahi mungkar juga sedekah dan hal itu bisa terpenuhi oleh dua rakat yang dikerjakannya di waktu Dhuha. (HR. Muslim) Jumlah shalat Dhuha bisa 2 rakat, 4 rakat, 6 rakat, 8 rakat maupun 12 rakat. 4. Shalat dua rakat setelah wudhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakat dengan khusyu melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Shalat tahiyyatul masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu masuk ke masjid, maka janganlah duduk sampai ia shalat dua rakat. (HR. Bukhari) Zhahir hadits ini adalah wajibnya shalat tahiyyatul masjid, namun jumhur ulama berpendapat bahwa hukumnya sunat. 6. Shalat antara azan dan iqamat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Antara dua azan (azan dan iqamat) ada shalat, antara dua azan ada shalat, pada ketiga kalinya Beliau mengatakan, Bagi siapa saja yang mau. (HR. Bukhari) 7. Shalat tobat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada seseorang yang melakukan suatu dosa, kemudian ia berdiri dan berwudhu, lalu shalat. Setelah itu, ia meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya. Kemudian Beliau membacakan surat Ali Imran: 135. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al Albani) 8. Shalat Sebelum Adzan Jumat Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Barang siapa yang mandi kemudian menghadiri shalat Jumat, sebelumnya ia shalat semampunya, lalu ia diam sampai khatib menyelesaikan khutbahnya, kemudian ia shalat bersamanya, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat yang satu ke Jumat berikutnya dengan ditambah tiga hari. (HR. Muslim)

Shalat ini tidak dilakukan setelah azan dikumandangkan, tetapi sebelumnya sampai khatib datang. 9. Shalat badiyyah Jumat Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Apabila salah seorang di antara kamu shalat Jumat, maka kerjakanlah setelahnya empat rakat. (HR. Muslim) Bisa juga ia kerjakan hanya dua rakat karena Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam pernah melakukannya. 10. Shalat sunat di masjid sepulang safar Kaab bin Malik mengatakan: Beliau yakni Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam- apabila pulang dari safar, memulai datang ke masjid, lalu shalat dua rakat, kemudian duduk menghadap orang-orang. (HR. Bukhari dan Muslim) 11. Shalat Istikharah (meminta pilihan) Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu ingin melakukan suatu perbuatan, maka lakukanlah shalat dua rakat bukan di shalat fardhu. Setelah itu ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, meminta upaya dengan kekuasaan-Mu. Aku meminta kepada-Mu di antara karunia-Mu yang besar. Engkau kuasa, aku tidak kuasa, Engkau Mengetahu aku tidak mengetahui. Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, jika hal ini (ia sebutkan pilihannya) baik untukku, agamaku, duniaku dan akibatnya, cepat atau lambat, maka taqdirkanlah buatku dan mudahkanlah ia, kemudian berikanlah keberkahan kepadanya. Namun, apabila hal itu buruk buatku baik untuk agamaku, duniaku dan akibatnya, cepat atau lambat, maka hindarkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku darinya, taqdirkanlah untukku yang baik di manapun aku berada, lalu ridhailah aku. (HR. Bukhari) Jika melihat kandungan doa istikharah di atas, menunjukkan bahwa seseorang melakukan sholat istikharah ini ketika telah memilih suatu perbuatan, ketika itulah disyariatkan shalat istikharah, kemudian ia melanjutkan perbuatan yang dipilihnya itu baik hatinya tentram maupun tidak.

12. Shalat gerhana Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda: , , , Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena hidupnya. Apabila kamu melihatnya berdoalah kepada Allah dan lakukanlah shalat sampai hilang. (HR. Bukhari dan Muslim) Jumlahnya dua rakat, dilakukan secara berjamaah. Masing-masing rakat dua kali ruku dan dua kali berdiri (pada setiap berdiri membaca Al Fatihah dan surat). Setelah melakukan shalat imam disunnahkan untuk berkhutbah, menasehati orang-orang, mendorong mereka untuk beristighfar dan beramal shalih. 13. Shalat isyraq Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Barang siapa shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikr mengingat Allah sampai matahari terbit. Setelah itu ia shalat dua rakat, maka ia akan mendapatkan pahala seperti satu kali hajji dan umrah secara sempurna, sempurna dan sempurna. (HR. Tirmidzi) Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha di bagian awalnya ketika matahari terbit setinggi satu tombak (jarak antara terbit matahari/syuruq dengan setinggi satu tombak kira-kira jam). Catatan: Shalat sunat lebih utama di rumah.

- Shalat sunat boleh sambil duduk meskipun ia mampu berdiri. Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: Jika seseorang shalat sambil berdiri, maka itu lebih utama. Barang siapa yang shalat sambil duduk, maka ia akan mendapatkan separuh pahala orang yang shalat sambil berdiri. (HR. Bukhari) - Demikian juga dibolehkan shalat sunat di atas kendaraan, ketika takbiratul ihram ia menghadapkan kendaraan ke kiblat. Setelah itu, terserah kendaraannya menghadap ke mana

saja. Beberapa shalat sunat yang tidak ada tuntunannya Di antara shalat sunat yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah shalat Futuhul quluub, shalat lihurmati Rasuulillah, shalat Nishfu Syaban, shalat Raghaaib, shalat Kifayah, Shalat ruyatin Nabi. Ditulis oleh Abu Yahya Marwan bin Musa Disebarkan Melalui www.arabic.web.id Maraaji: Ash Shalawat ghairu mafruudhah (terb. Darul wathan), As Sunan wal mubtadaat (M. Abdus Salam) dll.