Anda di halaman 1dari 14

KATA SERAPAN DALAM BAHASA INDONESIA

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Yang dibimbing oleh Asyikin M.Pd danAna Sari. S.Sos.I

Oleh: KELOMPOK 1

Allamah Adjie Pamungkas Ansyori Eka Saputra Iga Desy Martiana Tori Hidayat .

911.05.0007 911.05.0009 911.05.0046 911.05.0114

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN INTAN LAMPUNG 2019

I. KATA SERAPAN DALAM BAHASA INDONESIA


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, namun manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu--yang sering dianggap lebih mudah--adalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu. Penyerapan KATA ASING terjadi karena beberapa hal berikut: 1.Kata asing tersebut lebih cocok konotasinya. 2.Bercorak Internasional 3.Lebih singkat dibandingkan dengan terjemahannya. 4.Mempermudah karena dalam bahasa Indonesia terlalu banyak sinonimnya

1. Sejarah hubungan dengan penutur


Telah berabad-abad lamanya nenek moyang penutur bahasa Indonesia berhubungan dengan berbagai bangsa di dunia. Bahasa Sanskerta tercatat terawal dibawa masuk ke Indonesia yakni sejak mula tarikh Masehi. Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa sastra dan perantara dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu tersebar luas di pulau Jawa pada abad ke-7 dan ke-8, lalu agama Buddha mengalami keadaan yang sama pada abad ke-8 dan ke-9.

1.1. Hubungan dengan penutur India dan persekitarannya


Beriringan dengan perkembangan agama Hndu itu berlangsung pula perdagangan rempah-rempah dengan bangsa India yang sebagian dari mereka penutur bahasa Hindi, sebagian yang lain orang Tamil dari India bagian selatan dan Sri Lanka bagian timur yang bahasanya menjadi perantara karya sastra yang subur. Bahasa Tamil pernah memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu.

1.2. Hubungan dengan penutur Cina


Hubungan ini sudah terjadi sejak abad ke-7 ketika para saudagar Cina berdagang ke Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, bahkan sampai juga ke Maluku Utara. Pada saat Kerajaan Sriwijaya muncul dan kukuh, Cina membuka hubungan diplomatik dengannya untuk mengamankan usaha perdagangan dan pelayarannya. Pada tahun 922 musafir Cina melawat ke Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Sejak abad ke-11 ratusan ribu perantau Cina meninggalkan tanah leluhurnya dan menetap di banyak bagian Nusantara (Kepulauan Antara, sebutan bagi Indonesia). Yang disubut dengan bahasa Cina adalah bahasa di negara Cina (banyak bahasa). Empat di antara bahasa-bahasa itu yang di kenal di Indonesia yakni Amoi, Hakka, Kanton, dan Mandarin. Kontak yang begitu lama dengan penutur Cina ini mengakibatkan perolehan kata serapan yang banyak pula dari bahasa Cina, namun penggunaannya tidak digunakan sebagai perantara keagamaan, keilmuan, dan kesusastraan di Indonesia sehingga ia tidak terpelihara keasliannya dan sangat

mungkin banyak ia berbaur dengan bahasa di Indonesia. Contohnya anglo, bakso, cat, giwang, kue/ kuih, sampan, dan tahu.

1.3. Hubungan dengan penutur Arab


Bahasa Arab dibawa ke Indonesia mulai abad ketujuh oleh saudagar dari Persia, India, dan Arab yang juga menjadi penyebar agama Islam. Kosakata bahasa Arab yang merupakan bahasa pengungkapan agama Islam mula berpengaruh ke dalam bahasa Melayu terutama sejak abad ke-12 saat banyak raja memeluk agama Islam. Kata-kata serapan dari bahasa Arab misalnya abad, bandar, daftar, edar, fasik, gairah, hadiah, hakim, ibarat, jilid, kudus, mimbar, sehat, taat, dan wajah. Karena banyak di antara pedagang itu adalah penutur bahasa Parsi, tidak sedikit kosakata Parsi masuk ke dalam bahasa Melayu, seperti acar, baju, domba, kenduri, piala, saudagar, dan topan.

1.4. Hubungan dengan penutur Portugis


Bahasa Portugis dikenali masyarakat penutur bahasa Melayu sejak bangsa Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 setelah setahun sebelumnya ia menduduki Goa. Portugis dikecundangi atas saingan dengan Belanda yang datang kemudian dan menyingkir ke daerah timur Nusantara. Meski demikian, pada abad ke17 bahasa Portugis sudah menjadi bahasa perhubungan antaretnis di samping bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Portugis seperti algojo, bangku, dadu, gardu, meja, picu, renda, dan tenda.

1.5. Hubungan dengan penutur Belanda


Belanda mendatangi Nusantara pada awal abad ke-17 ketika ia mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1606, kemudian ia menuju ke pulau Jawa dan daerah lain di sebelah barat. Sejak itulah, secara bertahap Belanda menguasai banyak daerah di Indonesia. Bahasa Belanda tidak sepenuhnya dapat menggeser kedudukan bahasa Portugis karena pada dasarnya bahasa Belanda lebih sukar untuk dipelajari, lagipula orang-orang Belanda sendiri tidak suka membuka diri bagi orang-orang yang ingin mempelajari kebudayaan Belanda termasuklah bahasanya. Hanya saja pendudukannya semakin luas meliputi hampir di seluruh negeri dalam kurun waktu yang lama (350 tahun penjajahan Belanda di Indonesia). Belanda juga merupakan sumber utama untuk menimba ilmu bagi kaum pergerakan. Maka itu, komunikasi gagasan kenegaraan pada saat negara Indonesia didirikan banyak mengacu pada bahasa Belanda. Kata-kata serapan dari bahasa Belanda seperti abonemen, bangkrut, dongkrak, ember, formulir, dan tekor.

1.6. Hubungan dengan penutur Inggris


Bangsa Inggris tercatat pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Raffles menginvasi Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1811 dan beliau bertugas di sana selama lima tahun. Sebelum dipindahkan ke Singapura, dia juga bertugas di Bengkulu pada tahun 1818. Sesungguhnya pada tahun 1696 pun Inggris pernah mengirim utusan Ralph Orp ke Padang (Sumatra Barat), namun dia mendarat di Bengkulu dan menetap di sana. Di Bengkulu juga dibangun Benteng Marlborough pada tahun 1714-1719. Itu bererti sedikit banyak hubungan dengan bangsa Inggris telah terjadi lama di daerah yang dekat dengan pusat pemakaian bahasa Melayu.

1.7. Hubungan dengan penutur Jepang


Pendudukan Jepang di Indonesia yang selama tiga setengah tahun tidak meninggalkan warisan yang dapat bertahan melewati beberapa angkatan. Kata-kata serapan dari bahasa Jepang yang digunakan umumnya bukanlah hasil hubungan bahasa pada masa pendudukan, melainkan imbas kekuatan ekonomi dan teknologinya.

2. Perbendaharaan kata serapan


Di antara bahasa-bahasa di atas, ada beberapa yang tidak lagi menjadi sumber penyerapan kata baru yaitu bahasa Tamil, Parsi, Hindi, dan Portugis. Kedudukan mereka telah tergeser oleh bahasa Inggris yang penggunaannya lebih mendunia. Walaupun begitu, bukan bererti hanya bahasa Inggris yang menjadi rujukan penyerapan bahasa Indonesia pada masa yang akan datang. Penyerapan kata dari bahasa Cina sampai sekarang masih terjadi di bidang pariboga termasuk bahasa Jepang yang agaknya juga potensial menjadi sumber penyerapan. Di antara penutur bahasa Indonesia beranggapan bahwa bahasa Sanskerta yang sudah mati itu merupakan sesuatu yang bernilai tinggi dan klasik. Alasan itulah yang menjadi pendorong penghidupan kembali bahasa tersebut. Kata-kata Sanskerta sering diserap dari sumber yang tidak langsung, yaitu Jawa Kuna. Sistem morfologi bahasa Jawa Kuna lebih dekat kepada bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa Kuna misalnya acara, bahtera, cakrawala, darma, gapura, jaksa, kerja, lambat, menteri, perkasa, sangsi, tatkala, dan wanita. Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan, terutama dalam bidang agama Islam. Kata rela (senang hati) dan korban (yang menderita akibat suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke dalam bahasa Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran makna, masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (perkenan) dan kurban (persembahan kepada Tuhan). Dua kata terakhir berkaitan dengan konsep keagamaan. Ia umumnya dipelihara betul sehingga makna (kadang-kadang juga bentuknya) cenderung tidak mengalami perubahan. Sebelum Ch. A. van Ophuijsen menerbitkan sistem ejaan untuk bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis tidak menjadi pertimbangan penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan disesuaikan pada lafalnya saja. Meski kontak budaya dengan penutur bahasa-bahasa itu berkesan silih berganti, proses penyerapan itu ada kalanya pada kurun waktu yang tmpang tindih sehingga orang-orang dapat mengenali suatu kata serapan berasal dari bahasa yang mereka kenal saja, misalnya pompa dan kapten sebagai serapan dari bahasa Portugis, Belanda, atau Inggris. Kata alkohol yang sebenar asalnya dari bahasa Arab, tetapi sebagian besar orang agaknya mengenal kata itu berasal dari bahasa Belanda. Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam kosa kata Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, namun ada juga kata-kata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di Indonesia antara masa kolonialisme Belanda.. Kata-kata itu seperti kalar, sepanar, dan wesket. Juga badminton, kiper, gol, bridge. Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda sumbernya tidak disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang yang lebih dikenal adalah bahasa Inggris. 4

3. Senarai kata serapan dalam bahasa Indonesia


Senarai kata serapan dalam bahasa Indonesia Asal Bahasa Jumlah Kata Arab Belanda Cina Hindi Inggris Parsi Portugis Tamil 1.495 kata 3.280 kata 290 kata 7 kata 1.610 kata 63 kata 131 kata 83 kata

Sanskerta-Jawa Kuna 677 kata


Sumber: Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Pusat Bahasa).

II. PEDOMAN dan CARA PENYERAPAN KATA ASING dalam BAHASA INDONESIA
1. Penyesuaian fonem
1.1. Tanpa perubahan 1. ae jika tidak bervariasi dengan e. Contoh: aerobe aerob. 2. ai 3. au 4. e 5. ea 6. ei 7. eo 8. eu 9. f 10. i jika di awal suku kata di muka vokal. Contoh: ion ion. 11. ie jika lafalnya bukan i. Contoh: variety varietas. 12. kh (Arab) 13. ng 14. ps 15. pt 16. u 17. ua

18. ue 19. ui 20. uo 21. v 22. x, jika di awal kata. Contoh: xenon xenon. 23. y, jika lafalnya y. Contoh: yen yen. 24. z. 1.2. Dengan perubahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. aa (Belanda) a. Contoh: octaaf oktaf. ae e, jika bervariasi dengan e. Contoh: haemoglobin hemoglobin. c k, jika di muka a, u, o, dan konsonan. Contoh: crystal kristal. c s, jika di muka e, i, oe, dan y. Contoh: cylinder silinder. cc k, jika di muka o, u, dan konsonan. Contoh: accumulation akumulasi. cc ks, jika di muka e dan i. Contoh: accent aksen. ch dan cch k, jika di muka a, o, dan konsonan. Contoh: saccharin sakarin. 8. ch s, jika lafalnya s atau sy. Contoh: machine mesin. 9. ch c, jika lafalnya c. Contoh: check cek. 10. 1 (Sansekerta) s. Contoh: stra sastra. 11. ee (Belanda) e. Contoh: systeem sistem. 12. gh g. Contoh: sorghum sorgum. 13. gue ge 14. ie (Belanda) i, jika lafalnya i. Contoh: politiek politik. 15. oe (oi Yunani) e 16. oo (Belanda) o. Contoh: komfoor kompor. 17. oo (Inggris) u. Contoh: cartoon kartun. 18. oo (vokal ganda) tetap. Contoh: zoology zoologi. 19. ph f. Contoh: phase fase. 20. q k 21. rh r. Contoh: rhetoric retorika. 22. sc sk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: scriptie skripsi. 23. sc s, jika di muka e, i, dan y. Contoh: scenography senografi. 24. sch sk, jika di muka vokal. Contoh: schema skema. 25. t s, jika di muka i. Contoh: ratio rasio. 26. th t. Contoh: methode metode. 27. uu u. Contoh: vacuum vakum. 28. v (Sanskerta) w atau v 29. x ks, jika tidak di awal kata. Contoh: exception eksepsi. 30. xc ksk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: excavation ekskavasi. 31. y i, jika lafalnya i. Contoh: dynamo dinamo. 32. konsonan ganda menjadi konsonan tunggal, kecuali jika dapat membingungkan. Contoh: effect efek, mass massa.

2. Penyesuaian akhiran
2.1. Tanpa perubahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. -anda, -andum, -endum -ar -ase, -ose -ein -ein. Contoh: protein protein. -et -or. Contoh: dictator diktator. -ot

2.2. Dengan perubahan 1. -(a)tion, -(a)tie (Belanda) -(a)si. Contoh: action, actie aksi. 2. -aat (Belanda) -at. Contoh: plaat pelat. 3. -able, -ble -bel 4. -ac -ak 5. -acy, -cy -asi, -si 6. -age -ase. Contoh: percentage persentase. 7. -air -er 8. -al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) -al. Contoh: formeel formal. 9. -ance, -ence -ans, -ens (yang bervariasi dengan -ancy, -ency) 10. -ancy, -ency -ansi, -ensi (yang bervariasi dengan -ance, -ence) 11. -ant -an. Contoh: accountant akuntan. 12. -archy, -archie (Belanda) -arki. Contoh: anarchy, anarchie anarki. 13. -ary, -air (Belanda) -er. Contoh: primary, primair primer. 14. -asm -asme 15. -ate -at 16. -eel (Belanda) -el, jika tak ada padanan dalam bahasa Inggris. 17. -end -en 18. -ete, -ette -et 19. -eur (Belanda), -or -ur, -ir. Contoh: director, directeur direktur. 20. -eus (Belanda) -us 21. -ic, -ique -ik 22. -icle -ikel 23. -ics, -ica -ik, -ika. Contoh: logic, logica logika. 24. -id, -ide -ida 25. -ief, -ive -if. Contoh: descriptive, descriptief deskriptif. 26. -iel, -ile, -le -il. Contoh: percentile persentil. 27. -ific -ifik 28. -isch, -ic -ik. Contoh: elektronic elektronik 29. -isch, -ical -is. Contoh: optimistisch, optimistical optimistis 30. -ism, -isme (Belanda) -isme. Contoh: modernism, modernisme modernisme. Beberapa perkecualian: prism->prisma, schism->skisma 31. -ist -is. Contoh: egoist egois. 32. -ite -it 7

33. -ity -itas 34. -logue -log. Contoh: dialogue dialog. 35. -logy, -logie -logi. Contoh: analogy, analogie analogi. 36. -loog (Belanda) -log. Contoh: epiloog epilog. 37. -oid, -ode (Belanda) -oid. Contoh: hominoid, hominoide hominoid. 38. -oir(e) -oar. Contoh: trottoir trotoar. 39. -ous ditanggalkan 40. -sion, -tion -si 41. -sy -si 42. -ter, -tre -ter 43. -ty, -teit -tas2 . Contoh: university, universiteit universitas. 44. -ure, -uur -ur. Contoh: premature, prematuur prematur.

3. Penyesuaian awalan
3.1. Tanpa perubahan 1. a-, ab-, abs- ("dari", "menyimpang dari", "menjauhkan dari") 2. a-, an- ("tidak", "bukan", "tanpa")3 3. am-, amb- ("sekeliling", "keduanya") 4. ana-, an- ("ke atas", "ke belakang", "terbalik") 5. ante- ("sebelum", "depan") 4 6. anti-, ant- ("bertentangan dengan") 7. apo- ("lepas", "terpisah", "berhubungan dengan") 8. aut-, auto- ("sendiri", "bertindak sendiri")5 9. bi- ("pada kedua sisi", "dua")6 10. de- ("memindahkan", "mengurangi") 11. di- ("dua kali", "mengandung dua ...") 12. dia- ("melalui", "melintas") 13. dis- ("ketiadaan", "tidak") 14. em-, en- ("dalam", "di dalam") 15. endo- ("di dalam") 16. epi- ("di atas", "sesudah") 17. hemi- ("separuh", "setengah") 18. hemo- ("darah") 19. hepta- ("tujuh", "mengandung tujuh")7 20. hetero- ("lain", "berada") 21. im-, in- ("tidak", "di dalam", "ke dalam") 22. infra- ("bawah", "di bawah", "di dalam") 8

23. inter- ("antara", "saling")8 24. intro- ("dalam", "ke dalam") 25. iso- ("sama") 26. meta- ("sesudah", "berubah", "perubahan") 27. mono- ("tunggal", "mengandung satu")9 28. pan-, pant-, panto ("semua", "keseluruhan") 29. para- ("di samping", "erat berhubungan dengan", "hampir") 30. penta- ("lima", "mengandung lima")10 31. peri- ("sekeliling", "dekat", "melingkupi") 32. pre-("sebelum", "sebelumnya", "di muka")11 33. pro- ("sebelum", "di depan") 34. proto- ("pertama", "mula-mula") 35. pseudo-, pseud- ("palsu") 36. re- ("lagi", "kembali")12 37. retro- ("ke belakang", "terletak di belakang") 38. semi- ("separuhnya", "sedikit banyak") 39. sub-13 ("bawah", "di bawah", "agak", "hampir") 40. super-, sur- ("lebih dari", "berada di atas") 41. supra- ("unggul", "melebihi") 42. tele- ("jauh", "melewati", "jarak") 43. trans- ("ke/di seberang", "lewat", "mengalihkan") 44. tri- ("tiga") 45. ultra- ("melebihi", "super") 46. uni- ("satu", "tunggal") 3.2. Dengan perubahan 1. ad-, ac- ad-, ak- ("ke", "berdekatan dengan", "melekat pada") 2. cata- kata- ("bawah", "sesuai dengan") 3. co-, com-, con- ko-, kom-, kon- ("dengan", "bersama-sama", "berhubungan dengan") 4. contra- kontra- ("menentang", "berlawanan") 5. ec-, eco- ek-, eko- ("lingkungan hidup") 6. ex- eks- ("sebelah luar", "mengeluarkan") 7. exo-, ex- ekso-, eks- ("di luar") 8. extra- ekstra- ("di luar") 9. hexa- heksa- ("enam", "mengandung enam") 10. hyper- hiper- ("di atas", "lewat", "super") 11. hypo- hipo- ("bawah", "di bawah") 9

12. poly- poli- ("banyak", "berkelebihan") 13. quasi- kuasi- ("seolah-olah", "kira-kira") 14. syn- sin- ("dengan", "bersama-sama", "pada waktu")

4. Penyerapan dengan penerjemahan


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 1. 2. 3. 4. 5. a- tak-. Contoh: asymetric tak simetri ante- purba-. Contoh: antedate purbatanggal anti- prati-. Contoh: antibiotics pratirasa auto- swa-. Contoh: autobiography swariwayat de- awa-. Contoh: demultiplexing awa-pemultipleksan bi- dwi-, bi-. Contoh: bilingual dwibahasa inter- antar-, inter-. Contoh: international antarbangsa mal- mal-, mala-. Contoh: malnutrition malagizi, malnutrisi post- pasca-. Contoh: postgraduate pascasarjana purna-. Contoh: purnawirawan pre- pra-. Contoh: prehistory prasejarah re- -ulang. Contoh: recalculate hitung ulang -ble laik-. Contoh: edible laik-santap -like lir-, bak-. Contoh: jelly-like liragar -less nir-, awa-, mala-, tan-. Contoh: seedless nirbiji; colourless awawarna, tanwarna

5. Aturan penyerapan imbuhan


Aturan-aturan imbuhan serapan dari bahasa asing mengikuti aturan yang kurang lebih sama dengan aturan pembentukan kata berimbuhan lain. 1. Disambung jika menggunakan kata dasar. Contoh: dwiwarna, pascasarjana. 2. Dipisah jika menggunakan kata bentukan atau turunan. Contoh: pra pemilu. 3. Diberi tanda hubung jika kata dasar berawalan huruf kapital. Contoh: nonIndonesia, anti-Israel.

III.ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA


Perbedaan tingkat pendidikan ataupun golongan ternyata juga berpengaruh terhadap gaya penulisan. Pembaca dari kalangan pendidikan menengah cenderung bersikap mengacuhkan gaya penulisan dan sturuktur kalimat karena yang dipentingkan oleh mereka adalah pesan yang ingin disampaikan. Lain halnya dengan para akademisi ataupun golongan terpelajar. Gaya penulisan mereka sedikit berbeda, terutama dalam segi kebakuan dan ketidakbakuan kata/kalimat. Akan tetapi, dalam realitanya masih terdapat juga kesalahan-kesalahan yang ditemukan dalam hal penulisannya.

10

Kesalahan-kesalahan berbahasa yang tejadi itu merupakan indikasi dari kurangnya pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia selalu berkembang dari waktu ke waktu dan mau tidak mau harus dapat diikuti dengan baik oleh masyarakat. Surat kabar sebagai media informasi bagi masyarakat sudah tentu harus dapat memberi contoh bahasa Indonesia yang baik dan benar. Editor dapat menampilkan format surat pembaca yang tepat penulisannya dengan meng-edit atau memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam surat-surat tersebut. Dengan demikian, akan diperoleh pula pemahaman tentang bahasa yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia.

Contoh : Lebar tanah yang akan dijual luasnya mencapai 10 hectare. (tidak tepat) Lebar tanah yang akan dijual luasnya mencapai 10 hektar. (tepat) Andi mendownload program All-quran. (tidak tepat) Andi mengunduh program Al-quran. (tidak tepat) Upayakan penambahan artikel yang sifatnya informasi dan analisa serta harapan penyelesaian, sehingga Koran ini bisa bertahan dibaca minimal 40 menit, syukur meningkat. (tidak tepat) Upayakan penambahan artikel yang informatif dan analitis serta harapan penyelesaian koran ini bisa bertahan dibaca minimal 40 menit, syukur meningkat. (tepat) Extra kulikuler yang tersedia di IAIN Raden Intan antara lain : IBRAH, KAMMI, SBI, PRAMUKA, BAPPINDA, BLITZ, ORI, dll. (tidak tepat) Ekstra kulikuler yang tersedia di IAIN Raden Intan antara lain : IBRAH, KAMMI, SBI, PRAMUKA, BAPPINDA, BLITZ, ORI, dll. (tepat) Almari itu terbuat dari kayu jati. (tidak tepat) Lemari itu terbuat dari kayu jati. (tepat) Bentuk tubuh hewan dibagi menjadi dua yaitu asymetric dan symetric. (tidak tepat) Bentuk tubuh hewan dibagi menjadi dua yaitu tidak simetri dan simetri. (tepat) Kecepatan download sebuah file ditentukan oleh besarnya bandwidth yang kita peroleh dari provider internet.(tidak tepat) Kecepatan mengunduh sebuah berkas ditentukan oleh besarnya lebar jalur yang kita peroleh dari penyedia layanan internet. (tepat)

SUMBER : 1. wikipedia Indonesia 2. Kamus besar bahasa Indonesia. 11

3. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Pusat Bahasa). 4. analisis kesalahan berbahasa.com

12

13

Dalam penulisan modern biasa dieja sebagai

Tidak semua akhiran -ty bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas.
3

sering diterjemahkan dengan awalan tak-, Contoh: takpadan (asimetri)


4

sering diterjemahkan dengan awalan purba-, Contoh: purbatanggal (antedate)


5

sering diterjemahkan dengan awalan swa-, Contoh: swadidik (autodidak)


6

sering diterjemahkan dengan awalan dwi-, Contoh: dwibahasa (bilingual)


7

sering diterjemahkan dengan awalan sapta-, Contoh: saptamarga


8

sering diterjemahkan dengan awalan antar-, Contoh: antarnegara (internasional), antarbagian (interseksi)
9

sering diterjemahkan dengan awalan eka-, Contoh: ekatuhan (monoteis)


10

sering diterjemahkan dengan awalan panca-, Contoh: pancasila


11

sering diterjemahkan dengan awalan pra-, Contoh: pratayang, prasangka, praduga


12

13

sering diterjemahkan dengan awalan ulang-, Contoh: ulangsusun, ulangbuat sering diterjemahkan dengan awalan anak-, Contoh: anakjenis, anakbenua