Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE DAN POST OPERASI HERNIA DI RUANG PRABU KRESNA RSUD KOTA SEMARANG

DISUSUN OLEH: 1. Nurul Azkanuddin 2. Piengkan Hapsari 3. Findi Isak Sutrisno 4. Pipit Devis Ernasari 5. Rahmanda Senjaya

PRODI SI KEPERAWATAN FALKUTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2011/2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLOH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayatnya sehingga penyusun tugas ini dapat menyelesaikan dengan baik, penyusunan tugas ini berguna untuk memenuhi salah satu makalah PRAKTEK KLINIK KOMPREHENSIF I Semua ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi dari berbagai pihak oleh karena itu perkenankanlah penyusun menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1. 2. 3. 4. 5. Ibu Amin Samiasih,Skep, Msi, Med sebagai pembimbing akademik PKK I Bpk. Didik yulianto.Skep selaku kepala ruang prabu kresna RSUD Kota Semarang Orang tua kami masing-masing yang selalu menyertai doa dan nasehatnya. Teman-teman seperjuangan yang saling memberikan semangat dalam

menyelesaikan tugas ini. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Penyusun menyadari bahwa penyusun tugas ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun selalu penyusun harapkan demi kesempurnaan ini yang nantinya akan memberi manfaat kepada banyak pihak.

Semarang, 19 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................................................................................................................... KATA PENGANTAR..................................................................................................................... DAFTAR ISI BAB I : KONSEP DASAR ................................................................ 1 1 1 3 3 3 3 4 5 7 i ii

....................................................................................................................... iii

A. Pendahuluan C. Tujuan
BAB II

B. Latar Belakang ......................................................................................... ............


.................................................................................... ............ Tinjauan Teori ............................................................................................................. ...................................................................................................................... ... .......................................................................................................................

A. Pengertian B. Etiologi C. Klasifikasi E. Manifestasi F.

D. Patofisiologi .......................................................................................................................
Klinik.............................................................................................................

Penatalaksanaan..................................................................................................................

G. Konsep Kebutuhan Dasar Aman dan Nyaman


1. Pengkajian Fokus.......................................................................................................... 2. Pathways Keperawatan................................................................................................. 4. Fokus Intervensi Dan Rasional.................................................................................... 1. Pengkajian Fokus............................................................... 2. Pathway keperawatan................................................................ ................. 3. Diagnosa Keperawatan ............................................................................... 4. Fokus intervensi dan Rasional ................................................................... BAB IV Penutup 8 9 12

3. Diagnosa Keperawatan................................................................................................. 11 BAB III Penutup

1. Simpulan ................................................................................................................. 2. Saran....................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Insiden hernia pada populasi umum adalah 1%, dan pada bayi prematur 5%. Lakilaki paling sering terkena (85% kasus). Setengah dari kasus-kasus hernia inguinalis selama kanak-kanak terjadi pada bayi di bawah 6 bulan. Hernia pada sisi kanan lebih sering daripada sisi kiri (2: 1). 25% pasien menderita hernia bilateral. Sedangkan insiden tertinggi adalah pada masa bayi 9 lebih dari 50%), selebihnya terdapat pada anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun. Oleh karena itu perlu kiranya mengetahui bagaimana penyakit tersebut sehingga dapat diputuskan tindakan secara tepat, apalagi insiden yang terjadi pada anak-anak, maka sangat diperlukan suatu tindakan secara dini dan tepat. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Memberikan asuhan keperawatan kepada klien Hernia 2. Tujuan Khusus a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Untuk dapat memahami pengertian Hernia Untuk dapat memahami Anatomi Fisiologi Hernia Untuk dapat mengerti Etiologi Hernia Untuk dapat mengerti Klasifikasi Hernia Untuk dapat memahami Patofisiologi Hernia. Untuk dapat memahami Manifestasi klinik Hernia. Untuk dapat memahami Penatalaksaan Hernia Untuk dapat memahami Asuhan keperawatan Hernia Untuk dapat memahami alur jalannya penyakit Hernia Untuk dapat memahami Diagnosa keperawatan Hernia

k.

Untuk dapat mamahami Intervensi dan Rasional Hernia l. Untuk dapat memahami konsep dasar kebutuhan aman dan nyaman pasien Hernia

BAB II Tinjauan Teori A. PENGERTIAN Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek kongenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246). Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216). Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253). Hernia Ingunalis Lateral adalah hernia yang melalui alunus ingunalis intermus/lateralis menyelusuri kanalis ingunalis dan keluar dari rongga perut melalui analus ingunalis ekserna/medilis (Mansjoer A, 2000). B. KLASIFIKASI 1.Hernia ke ducible / reversible Dimana jaringan yang keluar mudah dikembalikan ke dalam rongga abdomen. 2.. Hernia irreducible Dimana jaringan yang keluar tidak dapat dikembalikan dengan mudah ke dalam rongga abdomen karena adanya perlekatan pada kantung. 3.Hernia strangulata Leher kantong yang bekerja sebagai penahan menyumbat aliran darah, lumen usus tersumbat dan usus sendiri akan menjadi gangrene dalam waktu beberapa jam. 4.Hernia insisional Kantung hernia memasuki celah bekas sayatan operasi. Biasanya luka yang pernah terkena infeksi.

5. Hernia inguinalis Kantung hernia memasuki celah inguinalis. Hernia ini mengikuti funikulus spermatikus atau ligamentum teres uteri. Hernia dapat dimulai pada cincin inguinalis yang lemah (direct) tanda-tandanya ada benjolan pada region inguinalis. C. ANATOMI FISIOLOGI Saluran gantrointestinal (gastointestinal tractus), juga disebut saluran digestik (digestive tract) adalah sebuah saluran berotot yang memanjang mulai dari mulut sampa ke anus. Pada prinsipnya fungsi utama sistem gastrointestinal (GI) adalah mensuplai nutrisi ke sel-sel tubuh yang diperoleh melalui proses Ingestion yang terjadi pada saat mulai intake makanan masuk kedalam mulut, Digestion dimana peristiwa mencerna makanan dimulai dalam lambung dan usus halus dan Absorption yang terjadi terutama dalam usus halus dan juga dalam usus besar. Proses eliminasi adalah pengeluaran sisa-sisa hasil pencernaan. Sistem GI (Digestive System) terdiri dari saluran GI dan organ beserta kelenjar yang terkati dengan pencernaan yaitu mulut, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sedangkan organ-organ yang berhubungan adalah hati, pankreas, dan kandung empedu. Faktor psikologis atau emosi seperti stress dan kecemasan akan mempengaruhi fungsi-fungsi GI. Stress dapat dimeanifestasikan sebagai anoreksia, nyeri epigastrium dan abdomen, atau diare. Faktor fisik yang dapat mempengaruhi fungsi-fungsi GI seperti intake diet, mengkonsumsi minuman/makanan yang beralkohol atau caffeine, merokok, kelemahan. Beberapa gangguan organik yang mempengaruhi misalnya penyakit peptic ulcer, ulceratisi colitis yang dapat menyebabkan gangguan GI. Struktur dan Fungsi Sistem GI Saluran GI merupakan tabung sepanjang 9 meter yang berentang mulai dari mulut sampai ke anus. Pada umumnya saluran ini terdiri dari 4 lapisan yaitu mulai dari dalam lapisan mukosa, submukosa, otot dan serosa.

Saluran GI diaktifkan oleh sistem saraf otonom yaitu saraf parasimpatis, sedang saraf simpatis bersifat menghambat sistem GI. Misalnya adanya peristaltik yang meningkat karena perangsangan /stimulasi saraf parasimpatis dan terjadi penurunan akibat stimulasi saraf simpatis. Sistem GI dan organ yang terkait (organ asesoris) rata-rata memperoleh cardiac output sebanyak 25 % sampai dengan 30 %. Sirkulasi dalam sistem GI terutama pada aliran darah vena dimana Sistem GI mengalirkan darah vena melalui vena portal. Bagian atas sistem GI menerima darah dari arteri splanikus. Usus halus menerima darah dari cabang arteri hepatik dan arteri mesenterika superior. Usus besar menerima darah terutama dari arteri mesenterika superior dan inferior. Dua jenis gerakan saluran GI yaitu mencampur dan mengaduk. Gerakan ini menyebabkan teriadinya segmentasi dan peristaltik. Sekresi dari sistem GI yang terdiri dari enzim dan hormon untuk mendukung pencernaan, dan mukus akan memberikan perlindungan dan melunakkan, juga air dan elektrolit. Organ abdominal dibungkus oleh peritoneum. Terdapat 2 lapisan yaitu peritoneum parieteal yang merupakan dinding dari rongga peritoneum dan peritoneum visceral yang membungkus organ abdomen. Berikut ini akan diuraikan sistem pencernaan tersebut sebagai berikut: a. M u l u t Rongga mulut dibentuk oleh pipi, langit-langit keras, dan langit-langit lembut. Lidah pada bagian dasar rongga mulut. Bibir merupakan jaringan penutup yang terdapat pada bagian depan mulut yang berfungsi membuka/menutup mulut. Fungsi mulut adalah : 1. Mengunyah 2. Sekresi saliva dari kelenjar parotis, sublingual, dan submandibularis 3. Menelan yang merupakan aktifitas refleks gerakan makanan dalam mulut melalui faring kedalan esofagus. Makanan ini berupa bolus.

b. Esofagus

Esofasgus

merupakan saluran berotot yang terletak dibagian belakang

trakhea dan laring. Dibagian bawah dari esofagus terdapat sphincter yang befungsi mencegah aliran balik isi lambung ke esofagus. Fungsi esofagus adalah adalah Menerima bolus dari faring dan menyalurkan kedalam lambung. c. Lambung Lambung terletak di bagian kuadran kiri atas dari abdomen dan mempunyai kapasitas kira-kira 1500 mL. Terdapat 3 bagian utama yaitu fundus, badan dan antrum. Pylorus adalah bagian kecil dari antrum Fungsi lambung adalah : 1. Mencerna makanan secara mekanikal. 2. Sekresi, yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 3000 mL gastric juice (cairan lambung) per hari. Komponene utamanya yaitu mukus, HCL (hydrochloric acid), pensinogen, dan air. Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam aliran darah. 3. Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi polipeptida 4. Absorpsi, secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air, alkohol, glukosa, dan beberapa obat. 5. Pencegahan, banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalam lambung oleh HCL. 6. Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam

duodenum. Pada saat chyme siap masuk kedalam duodenum, akan terjadi peristaltik yang lambat yang berjalan dari fundus ke pylorus.

d. Usus Halus Panjangnya kira-kira 6 meter dengan diameter 2.5 cm. Berentang dari sphincter pylorus ke katup ileocecal. Usus halus dibagi dalam duodenum, jejenum, dan ileum. Duodenum panjangnya 25 cm, jejenum 2.5 m dan ileum 3.5 m. Bagian mukosa dan submukosa yang disebut villi yang dapat meningkatkan area permukaan usus guna memungkinkan absorpsi maksimal. Setiap villus dikelilingi oleh jaringan kapiler dan pembuluh limfe yang disebut Lacteal. Lacteal akan mengabsorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.jaringan kapiler akan mengabsorpsi nutrisi yang lain dan air. Fungsi usus halus adalah : 1. Sekresi mukus. Sel-sel goblet dan kelenjar mukosa duodenum akan mensekresi

mukus guna melindungi mukosa usus. 2. Mensekresi enzim. Sel-sel mikrovilli (brush border cell) mensekresi sucrase,

maltase, lactase dan enterokinase yang bekerja pada disakarida guna membentuk monosakarida yaitu peptidase yang bekerja pada polipeptida, dan enterokinase yang mengaktifkan trypsinogen dari pankreas. 3. Mensekresi hormon. Sel-sel endokrin mensekresi cholecystokinin, secretin, dan

enterogastrone yang mengontrol sekresi empedu, pancreatic juice, dan gastric juice. 4. Mencerna secara kimiawi. Enzim dari pankreas dan empedu dari hati masuk

kedalam duodenum. Pencernaan secara kimiawi terutama terjadi dalam jejenum yang siap untuk diabsorpsi kedalam kapiler darah dan lacteal dari villi. Karbohidrat oleh enzim amilase (berasal dari saliva dan pankreas) menjadi disakarida (sukrosa, maltosa dan laktosa), yang oleh sucrase, maltase dan lactase menjadi monosakarida (fruktosa, glucosa, dan galaktosa). Protein, oleh enzim pepsin (dari lambung) dan trypsin (dari pankreas) menjadi peptida, yang oleh peptidase (dari usus halus) menjadi asam amino.Lemak, oleh empedu diemulsikan, dan selanjutnya oleh lipase menjadi

monogliserida dan asalm lemak bebas. 5. Absorpsi. Nutrisi dan air akan bergerak dari lumen usu kedalam kapiler darah dan

lacteal dari villi. 6. Aktifitas motorik. Mencampur, kontraksi dan peristaltik. Gerakan mencampur

disebabkan oleh kontraksi serabut otot sirkuler pada usus menyebabkan chyme kontak dengan villi untuk diabsorpsi. Peristaltik akan mendorong chyme melalui saluran dengan rata-rata 1 2 cm per menit. Chyme tinggal dalam usus halus selama 3-10 jam, dan zat sisa akan bergerak kedalam usus besar. Stimulasi oleh sistem simpatis akan menghambat motilitas dan aktifitas sekresi usus halus. Sistem parasimpatis terutama saraf vagus(N X) akan meningkatkan tonus otot intestinal, motilitas, dan proses pencernaan. e. Hati Adalah organ terbesar yang terdapat dalam rongga abdomen, yang pada orang dewasa kira-kira seberat 1,37 kg. Letaknya pada hipokondria kanan dan area hipogastik. Unit fungsional dari hati disebut lobulus yang mengandung hepatosit (sel hati) yang ada disekitar vena sentral hati. Kapiler (sinusoid) berlokasi diantara hepatosit dan bersama dengan sel Kuffer yang mempunyai fungsi pagosit (mengeluarkan bakteri dan toksin dari tubuh). Saluran empedu interlobaris membentuk kapiler empedu (canaliculi). Sel hepatik akan mensekresi empedu kedalam canaliculi. Sistem sirlulasi portal (enterohepatic) membawa darah yang berasal dari lambung, usus, limfa, dan pankreas. Darah masuk kedalam hati melalui vena portal.. Fungsi : Menghasilkan , menyimpan dan mentransfortasi serta ekresi sejumlah substan/zat yang diperlukan dalam :

1.

Metabolisme karbohidrat yaitu mengkonversi glucose menjadi glycogen

(glygenesis),

2.

Metabolisma protein yaitu sintesa asam amino nonessential, sintesa plasma

protein, sintesa faktor-faktor pembekuan, dan mem urea dari NH3 3. Metabolisme lemak yaitu mensintesa lipoprotein, memecahkan triglyserida

menjadi asam lemak dan gliserol, membentuk ketone bodies, mensintesa asam lemak dari asam amino dan glucose, mensintesa dan memecahkan sholesterol. 4. Detoksifikasi : menginaktivasi obata-obatan dan zat lainnya serta

mengekresi zat-zat yang tidak diperlukan 5. Memproduksi empedu : membentuk empedu yang mengandung garam

empedu, pigmen empedu dan cholesterol (empedu dihasilkan setiap hari sekitar 1 liter). 6. Menyimpan : Glucose dalam bentuk glycogen, vitamin yang larut dalam

lemak (A,D,E,K) dan yang larut dalam air (B1, B2, Cobvalamin, Vit C), asam lemak, mineral mineral, asam amino dalam bentuk albumin dan ( globulin. 7. Sistem pagosit (sel kuffer) : memecahkan eritrosit yang sudah tua, eritrosit,

bakteri, dan partikel lainnya, memecahkan hemoglobil dari eritrosit kedalam bilirubin dan biliverdin. f. Usus Besar Usus besar dimulai dari katup ileocecal ke anus dan rata-rata panjangnya 1,5 m. Usus halkus terbagi kedalam cecum, colon, dan rectum. Vermiform appendix berada pada bagian distal dari cecum. Colon terbagi menjadi colon ascending, colon transversal, colon descending, dan bagian sigmoid. Bagian akhir dari usus

besar adalah rectum dan anus. Sphincter internal dan eksternal pada anus berfungsi untuk mengontrol pembukaan anus.

Fungsi utama usus besar adalah : 1.Sebagai aktifitas motorik. Gerakan mengayun dan peristaltik akan menggerakkan zat sisa menuju kebagian distal. 2.Sekresi. Pada umunya memproduksi mukus yang melindungi mukosas akan tidak mengalami injury, melunakkan feces yang memungkinkan bergerak dengan lancar kearah pelepasan dan menghambat pengaruh pembentukan keasaman oleh bakteri. 3.Absorpsi air, garam, dan chlorida. Colon mempunyai kemampuan mengabsorpsi 90 % air dan garam dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. 4.Mensintesa vitamin. Bakteri pada uisus halus akan mensintesa vitamin K, thiamin, riboflavin, vitamin B12, dan folic acid. 5.Membentuk feces. Feces terdiri dari air dan massa padat. Massa padat termasuk sisa makanan dan sel yang mati. Pigmen empedu memberikan warna pada feces. Dan menstimulasi gerakan isi usus kearah pelepasan. 6.Defekasi. Yaitu aktifitas mengeluarkan feces dari dalam tubuh keluar. Pada saat feces dan gas berada dalam rektum, tekanan dalam rektum meningkat, menyebabkan terjadinya refleks defekasi.

D. ETIOLOGI Penyebab penyakit hernia dapat diakibatkan beberapa hal seperti : 1. Kongenital Kelemahan pada otot merupakan salah satu factor resiko yang berhubungan dengan factor peningkatan tekanan intra abdomen. Kelemahan otot tidak dapat dicegah dengan cara olah raga atau latihan-latihan 2. Obesitas Obesitas salah satu penyebab peningkatan tekanan intra abdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat dicegah dengan pengontrolanberat badan. 3. Ibu Hamil Pada ibu hamil tekanan intra abdomen meningkat terutama pada daerah rahim dan sekitarnya. 4. Mengedan Mengedan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen. 5. Pengangkatan beban berat mengangkat beban berat sehingga terjadi peningkatan tekanan abdomen yang mengakibatkan rusaknya integritas dinding otot perut dan dapat menyebabkan terdorong keluar suatu organ karena defek dan timbulnya tonjolan pada organ E. PATOFISIOLOGI Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena melemahkan jaringan atau ruang luas pada ugamen inguinal atau dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cidera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua dari faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia. Hernia inguinalis , hernia ini terjadi melalui cincin inguinal dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumya terjadi pada pria dari pada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum.Hernia inguinalis , hernia ini melewati dinding abdomen diarea kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia

inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia femoralis, hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritonium dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkar serata dan strangulasi dengan tipe hernia ini. Hernia umbilikalis, hernia imbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara (Ester, 2002 : 53)Hernia umbilicalis terjadi karena kegagalan orifisium umbilikal untuk menutup (Nettina, 2001 : 253) Bila tekanan dari cincin hernia (cincin dari jaringan otot yang dilalui oleh protusi usus) memotong suplai darah ke segmen hernia dari usus, usus menjadi terstrangulasi. Situasi ini adalah kedaruratan bedah karena kecuali usus terlepas, usus ini cepat menjadi gangren karena kekurangan supali darah (Ester, 2002 : 55). Pembedahan sering dilakukan terhadap hernia yang besar atau terdapat resiko tinggi untuk terjadi inkarserasi. Suatu tindakan herniorrhaphy terdiri atas tindakan menjepit defek di dalam fascia. Akibat dan keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan perdarahan, sering terjadi pembengkakan skrotum. Setelah perbaikan hernia inguinal indirek. Komplikasi ini sangat menimbulkan rasa nyeri dan pergerakan apapun akan membuat pasien tidak nyaman, kompres es akan membantu mengurangi nyeri (Long. 1996 : 246).

F. MANIFESTASI KLINIK 1. 2. 3. 4. Menangis terus Muntah Distensi abdomen Nyeri bila sudah ditemukan komplikasi

5. 6.

Benjolan yang hilang timbul di paha yang muncul pada waktu berdiri, Gelisah, kadang-kadang perut kembung Operatif merupakan satu pengobatan yang rasional, untuk Hernia prinsip dasar

batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring G. PENATALAKSANAAN operasi terdiri dari herniotomi dan herniorafi. 1. Konservatif seperti pemberian sedatif. Kompres, posisi tidur Trandelenburg

hanya ditujukan pada hernia kanal. 2. Pembedahan a. Herniotomi : kantong hernia dibuka dan didorong kedalam rongga

abdomen kantong proximal dijahit, ikat stangulasi, mungkin dipotong, kantong distal dibiarkan. b. Herniorafi : setelah heniotomi dilakukan tindakan memperkecil

annulus internus diperkuat dinding belakang kanalis ingunal ini penting untuk mencegah terjadinya residif.

H. KONSEP KEBUTUHAN DASAR AMAN DAN NYAMAN Apa saja ? Factor yang mempengaruhi ? Cara mengukur ? Penatalaksanaan ? dan formakologi dan Farmakologi I. PENGKAJIAN FOKUS (TERMASUK JUGA PEMERIKSAAN PENUNJANG) Kasus Pemicu: Hernia Tn H, 30 tahun, dibawa ke IGD dengan diagnose medis Hernia inginalis sinistra lalu dirawat di ruang prabu kresna Di RSUD Semarang dengan keluhan yang muncul terdapat massa di inguinal kiri setelah aktifitas berat dan terasa sangat nyeri di daerah

perut kiri bawah serta mudah kelelahan . Pemeriksaan Fisik : TD 120/80 mmHg , Nadi 68x/menit , RR 16x/menit Suhu 37,6C. 1.Demografi Nama : Tn H Umur : 30 tahun Jenis kelamin: laki-laki 2.Keluhan Utama: muncul massa di ingunial kiri setelah aktivitas berat dan terasa nyeri 3.Riwayat Kesehatan a.Riwayat penyakit sekarang : Muncul massa di ingunial kanan setelah aktivitas berat dan terasa nyeri b.Riwayat penyakit dahulu :c.Riwayat keluarga : apakah ada keluarga pasien yang mempunyai penyakit ulkus,colitis,kanker carsinoma dan berhubungan dengan GI 4.Data fokus terkait perubah pola fungsi a.Pola aktivitas/istirahat Gejala : - Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat, duduk, mengemudi dan waktu lama b.Pola eliminasi Gejala : konstipasi dan adanya inkartinensia/retensi urine c.Pola neurosensori Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki Tanda : penurunan reflek tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia. Nyeri tekan/spasme otot paravertebralis, penurunan persepsi nyeri d.Pola kenyamanan Gejala : nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, defekasi, nyeri yang tidak ada hentinya, nyeri yang menjalar ke kaki, bokong, bahu/lengan, kaku pada leher. (Doenges, 1999 : 320-321) e.Pola nutrisi

Asupan diet, Alergi makanan, intoleransi makan,diet khusus, disfagia. 5.Pemeriksaan Fisik Inspeksi a. Bibir dan Rahang: warna, tekstur, lesi,simetris dan pembengkakan b. Gigi : Krepos, goyah dan berlobang c. Mukosa ( bagian dari mulut ):Kemerahan, pucat, bercak putih, plak, ulkus dan pendarahan. d. Perut ( abdomen): bentuk simetris( penimbunan cairan di rongga perut) Asimetris ( pembengkakan di rongga perut), gerakan dinding perut (gerakan peristatiknya) Auskultasi a. Suara atau bunyi peristatik usus( suara menghilang pada usus lumpuh, suara meninggi pada penyumbatan usus dan suara mengeras pada diare) b. c. Perkusi a. b. c. Palpasi a. b. c. Tempat nyeri tekan .dimulai dari area yang tidak nyeri.nyeri Bagian perut yang tegang Organ-organ dirongga perut 1) Palpasi lambung ( nyeri tekan, carsinoma atau tumor lambung dan dilatasi lambung. 2) Palpasi hati( normal :tidak teraba.Bila teraba bagaimana sifatnya : tajam/tumpul( tepi hepar), permukaan: rata/ benjolan) menunjukan peradangan baik peritolineum atau organ perut. Pembesaran organ udara bebas dalam perut cairan dirongga perut.normal terdengar tympani Gerakan cairan hanya didengar daerah hipogastrium kiri Bisisng pembuluh darah terdengar bila penyumbatan atau

penyempitan sistolik.

3) Palpasi kandung empedu( Normal: tidak teraba. Bila peradangan dijumpai tanda khas Murphy sign) 4) Palpasi limfa( Normal : tidak teraba.Pada infeksi akut limpa menjadi besar dengan konsistensi lunak). 5) Palpasi ginjal( Bagaian bawah ginjal kanan dapat teraba pada orang sehat dengan dinding perutnya lemas.Peradangan ginjal dapat disangsikan dengan perabaan kandung empedu) 6) Palpasi colon( Pada umumnya tidak teraba, kecuali bila udara/fases sehingga akan teraba suatu benjolan berbentuk sosis). d. e. f. Benjolan dalam perut ( posisi, ukuran , konsitensi, bentuk Cairan bebas di rongga perut Palpasi lobang Hernia ( adanya penonjolan diatas dinding dan mortilitas)

perut, dapat ditentukan apakah karena tumor atau sebagaian isi rongga abdomen menonjol melalui lubang hernia) 6.Pemeriksaan Penunjang a. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus. b. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih dan ketidak seimbangan elektrolit.

Pemeriksaan Laborat tanggal 13 12 2011 jam 12.00 Hematologi Hasil Hemoglobin Hematokrit jml Leokosit jlm trombosit masa perdarahan masa pembekuan kimia klinik glukosa darah sewaktu ureum creatinin SGOP SGPT imunologi HBSAG b. Pemeriksaan Radiologi X foto dada ECG : Normal : Normal negatif negatif 136 18.5 0.7 26 24 mg/dl mg/dl mg/dl u/l u/l 70 - 110 15.0- 43.0 07 1.1 <31 <31 14.8 43.10 7.4 245 21 min 30 sec 07 min 30 sec satuan g/dl 8 /ul 10^3/ul RNF 13 5 15 Nilai normal 14 18 g/dl 42 52 4.8 10.8

J. PATHWAY KEPERAWATAN Defek Dinding Abdomen HERNIA Hernia ingualis lateralis atau skrotalis Benjolan Hernioraphy Luka Resiko infeksi inderekta Peningkatan Rongga perut Yang terus menerus Benjolan dilipat paha isi terjepit stangulata Gejala mudah kencing Tidak ada suplai Darah Timbulnya gejala ileus Penurunan perfusi Jaringan perifer nekrosis anoreksia infeksi gangren Kerusakan intergritas kulit Perut kembung Kulit Memerah dan terasa panas Nyeri yang bergerak Intoleransi aktifitas Takut bergerak Direkta Menuju keanulus ingunalis eksterna Nyeri Mengejan saat bab , angkat beban berat / aktivitas berat

Terputusnya Benjolan Inkontinutas Jaringan Nyeri

Timbul benjolan di skrotum Buli buli membentuk dinding media hernia

bertambah besar apabila, batuk ,mengejan kuat ,bersin

Resiko kekurangan K. PENGELOMPOKAN DATA Kerusakan nutrisi intergritas kulit

Tanggal 13 12 -2011

Data ( Ds dan Do) Ds : Nyeri terasa di perut bagian kiri bawah, bertambah jika beraktifitas mudah lelah berhubungan dengan kelemahan fisik . pasien mengeluhkan Berat badan menurun . Do : TTV KU : Baik TD : 100 / 80 mmhg N : 82x / menit RR : 16x / menit suhu : 36.5 palpasi perut ada benjolan di bagian perut kiri bawah .

ttd

L. Analisa Data Data ( Ds dan Do ) Ds : Nyeri terasa di perut bagian kiri bawah , bertambah beraktifitas Do : Terdapat di perut penonjolan jika Masalah ( p) Nyeri Etiologi (e) Adanya penonjolan bagian perut bawah

di

bagian kiri bawah TD : 100 / 80 mmhg N : 82x / menit RR : 16x / menit suhu : 36.5 Ds : Pasien mengatakan Resiko berhubungan makan berkurang

penurunan

berat Napsu makan berkurang

penurunan berat badan badan , perubahan nutrisi napsu kurang dari kebutuhan

Do : BB dahulu 65 kg Sekarang 63 kg Do : mudah lelah Intoleransi aktivitas dengan Mudah lelah adanya

berhubungan kelemahan fisik .

kelemahan fisik .

Tidak bisa berktifitas terlalu lama dan berat. Ds : ekspresi klien tidak bersemangat , dan terlihat malas bergerak TD : 100 / 80 mmhg N : 82x / menit RR : 16x / menit suhu : 36.5

M. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. 3. Nyeri akut berhubungan dengan insisi pembebedahan . Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Intelorensi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik .

berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan. N. INTERVENSI DAN RASIONAL 1. Diagnosa Keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan insisi pembedahan Tujuan: pasien tidak merasa takut, postur tubuh rileks, tidak mengeluh nyeri atau nyeri berkurang . INTERVENSI 1. Selidiki keluhan nyeri, perhatikan RASIONAL Nyeri insisi bermakna pada pasca operasi

lokasi, intensitas (skala 0 10) dan awal, diperberat oleh pergerakan, batuk,

faktor pemberat/penghilang

distensi abdomen, mual.

2. Anjurkan pasien untuk melaporkan Intervensi diri pada kontrol nyeri nyeri segera saat mulai. memudahkan pemulihan otot/jaringan dengan menurunkan tegangan otot dan memperbaiki sirkulasi 3. Pantau tanda-tanda vital Respon autonemik meliputi perubahan pada TD, nadi dan pernapasan yang berhubungan dengan keluhan/penghilang nyeri. Abnormalitas tanda vital terus menerus memerlukan evaluasi lanjut. 4. Kaji insisi bedah, perhatikan edema ; perubahan konter luka (pembentukan hematoma) atau inflamasi mengeringnya tepi luka 5. Berikan tindakan kenyamanan, misal gosokan punggung, pembebatan insisi selama perubahan posisi dan latihan batuk/bernapas, lingkungan tenang. 6. Berikan analgesik sesuai terapi Mengontrol/mengurangi nyeri untuk meningkatkan istirahat dan meningkatkan kerjasama dengan aturan terapeutik 2. Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan. Tujuan: Perdarahan pada jaringan, bengkak, inflamasi lokal atau terjadinya infeksi dapat menyebabkan peningkatan nyeri insisi. Memberikan dukungan relaksasi, memfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping.

Menunjukan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium serta tak mengalami tanda malnutrisi dan menunjukan perilaku perubahan pola hidup meningkatkan atau mempertahankan berat badan normal. INTERVENSI 1. Tinjau faktor-faktor individual yang mempengaruhi kemampuan untuk mencerna/makan makanan, misal : status puasa, mual, ikusperistaltik setelah selang dilepaskan 2. Aukultasi bising usus palpasi abdomen. Catat pasase flatus 3. Identifikasi kesukaan/ketidaksukaan diet dari pasien. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein dan vitamin C Menentukan kembalinya peristaltik (biasanya dalam 2 4 hari) Meningkatkan kerjasama pasien dengan aturan diet, protein/vitamin C adalah kontributor utama untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan. Malnutrisi adalah faktor dalam menurunkan pertahanan terhadap infeksi 4. Berikan cairan IU, misal : albumin. Memperbaiki keseimbangan cairan dan Lipid, elektrolit elektrolit. Inflamasi usus, erosi mukosa, infeksi. 3. Diagnosa Keperawatan Intelorensi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik . Tujuan Menunjukkan teknik, melakukan perubahan pola hidup untuk menghindari infeksi ulang atau transmisi ke orang lain. INTERVENSI 1. Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tentang : batasi pengunjung sesuai RASIONAL Meningkatkan istirahat dan ketenagan : menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan RASIONAL Mempengaruhi pilihan intervensi

keperluan 2. Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik Meningkatkan tinggi pernapasan dan meminimalkan tekanan pada urea tertentu untuk menurunkan risiko kerusakan jaringan 3. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentan, gerak sendi pasif/aktif 4. Dorong penggunaan teknik manajemen stres, contoh : relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi. Berikan aktivitas hiburan yang tepat, contoh : menonton TV, radio, membaca Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253).klarifikasi Hernia ke ducible / reversible Dimana jaringan yang keluar mudah dikembalikan ke dalam rongga abdomen.Hernia irreducible Dimana jaringan yang keluar tidak dapat dikembalikan dengan mudah ke dalam rongga abdomen karena adanya perlekatan pada kantung.Hernia strangulata Leher kantong yang bekerja sebagai penahan menyumbat aliran darah, lumen usus

tersumbat dan usus sendiri akan menjadi gangrene dalam waktu beberapa jam.Hernia insisional Kantung hernia memasuki celah bekas sayatan operasi. Biasanya luka yang pernah terkena infeksi Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding usus bersangkutan.Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cimcin, kantong dan isi hernia berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas hernia bawaan atau kongenital dan hernia dapatkan atau akuisita. Hernia diberi nama menurut letaknya, misalnya diafragma, inguinal, umbilikal, femoral.penyebab penyakit kongenital, obesitas, ibu hamil, mengedan, pengangkatan bedan berat. Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena melemahkan jaringan atau ruang luas pada ugamen inguinal atau dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cidera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua dari faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia.serta gejal klinisnya Menangis terus,Muntah, Distensi abdomen, Nyeri bila sudah ditemukan komplikasi ,Benjolan yang hilang timbul di paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring dan Gelisah, kadang-kadang perut kembung

DAFTAR PUSTAKA Doenges, M.E. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC. Jakarta http://dafid-pekajangan.blogspot.com/2008/02/askep-hernia.html
HTTP://RESTI-AGISTA.BLOGSPOT.COM/2009/10/HERNIA.HTML HTTP://MUSCULOSKELETALBEDAH.BLOGSPOT.COM/2009/07/ASUHAN-KEPERAWATAN-PADA-PASIEN-DENGAN HERNIA

http://rentalhikari.wordpress.com/2009/11/06/askep-hernia/ Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC. McFarland, Gertrude K et al. 1995. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC. Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 2. Jakarta: EGC.