Anda di halaman 1dari 13

Saya mengelola usaha pengolahan sampah" (Abu Maarik/Panji Gumilang/Abu Toto/Toto Salam/ASPG) VIVAnews - Abu Maarik ternyata menyetorkan

dananya langsung ke kantor pusat Bank CIC, di Fatmawati, Jakarta Selatan. Seorang mantan karyawan Bank CIC mengatakan, Abu Maarik datang sekitar setengah atau sebulan sekali menyetorkan duitnya ke bank milik Robert Tantular itu. mm Bila dia datang, para teller pusing, karena harus menghitung uang receh sampai ratusan juta rupiah. Saat itu tidak ada ratusan ribu, adanya pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu, Rp10 ribu, dan pecahan-pecahan kecil. "Uangnya semuanya kucel," kata sumber VIVAnews.com, Selasa 3 April 2011. Setiap kali datang, Abu Maarik menyetor hingga Rp200 juta. "Pada 1996, uang Rp200 juta sangat besar," katanya. Dia menceritakan, Abu Maarik yang beralamat di Indramayu ini hanya mau dilayani seorang manajer di bank itu. Selain manajer, hanya Robert Tantular. "Dua orang itu saja," ujarnya. Karena kantornya sempit, setiap kali Abu Maarik datang, selalu menjadi perhatian karyawan. Saat pembicaraan pun, sebagian karyawannya bisa mendengar. Sumber ini menambahkan, karena penasaran dengan banyaknya uang yang disetor, dia sempat bertanya apa bisnis Abu Maarik. "Saya mengelola usaha pengolahan sampah," kata dia menirukan Abu Maarik. Di CIC, Abu Maarik menjadi nasabah kelas kakap dengan simpanan miliaran rupiah. Sehingga sejumlah layanan pun diberikan cuma-cuma. Abu Maarik bisa meminjam uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah dengan jaminan uang simpanan itu. "Fasilitas kredit back to back ini tidak diberikan kepada setiap nasabah." Uang miliaran rupiah ini sebenarnya pernah tercium Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Pada rapat dengar pendapat dengan Pansus Century Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua PPATK Yunus Huein mengatakan, ada simpanan sangat besar, yaitu Rp46,2 miliar milik Abu Maarik. Namun dia tak menjelaskan siapa Abu Maarik ini. Ketua Tim Pengawas Kasus Bank Century di DPR Priyo Budi Santoso sempat mendesak pengusutan dana miliaran rupiah di Bank Century yang diduga milik jaringan Negara Islam Indonesia (NII). "Kami meminta dan mendesak aparat penegak hukum, termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) segera mengungkap dana itu," kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 29 April 2011. Imam Supriyanto, mantan "menteri" NII yakin nama Abu Maarik itu tak lain Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang, pemimpin Pesantren Al Zaytun, Haurgeulis, Idramayu, Jawa Barat. "Wajah Abu Maarik ini mirip sekali dengan Panji Gumilang yang saya lihat di televisi. Bedanya, dulu masih kurus." Abu Toto sendiri kepada wartawan tvOne Riga Danniswara, membantah bila dikaitkan dengan NII. Menurut Toto, perjuangan NII telah berakhir setelah Kartosoewiryo meninggal pada 5 September 1962. "Itu adalah fase turun gunung, semua kembali ke Ibu Pertiwi

[pemerintahan Republik Indonesia]," ujar dia di kediaman pribadinya, di kompleks Mahad Al Zaytun, Jumat 29 April 2011. Sources : Vivanews.com

Diposkan oleh Aji Cemerlang di 07:14 0 komentar Link ke posting ini

Selasa, 03 Mei 2011


Makna Haji Bagi NII Gadungan

Prosesi melempar Jumrah (jumrah dengan duit, duit, dan duit) Sources : vivanews.com VIVAnews - Pengikut komunitas Negara Islam Indonesia (NII) memiliki cara sendiri untuk menunaikan ibadah haji. Dalam Islam, mereka yang menunaikan ibadah haji akan berangkat ke Tanah Suci Mekah di Arab Saudi. Tapi bagi NII, untuk naik haji cukup ke Indramayu, ke Pondok Pesantren Al Zaytun. "Ibadah Haji dalam NII itu adalah perkumpulan NII dari seluruh Indonesia. Semua petinggi kumpul di Indramayu," kata Ken Setiawan, pendiri NII Crisis Center yang juga anggota NII sejak 2.000 sampai 2002, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Kamis 28 April 2011. Puncak ibadah haji dalam Islam jatuh pada 9 Zulhijah. Tapi dalam komunitas NII, puncak haji jatuh setiap tanggal 1 Muharram. Dalam berhaji bagi Islam ada beberapa tahapan. Tahapan-tahapan itu antara lain, Tawaf atau tahapan berhaji dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. "Kalau di NII, tawaf ini cukup berkeliling pondok pesantran Al Zaytun yang seluas 1.200 hektar. Saat naik haji di NII, kami ditunjukkan kebanggaan Al Zaytun dengan kata-kata,

inilah

Islam,"

kata

Ken.

Kemudian, lanjut Ken, yang lebih aneh lagi saat proses lontar atau lempar jumrah. Saat naik haji dalam Islam, proses melempar jumroh dilakukan dengan melempar tujuh buah batu-batu kecil atau kerikil ke arah tiga tiang di kota Mina, Arab Saudi. "Di NII, melempar jumrah itu dilakukan dengan tujuh buah sak semen. Menurut petinggi NII, kalau pakai kerikil, kapan Islam bisa maju," kata Ken. Tujuh buah sak semen itu tidak sertamerta dilempar di Al Zaytun, tetapi diwujudkan dalam bentuk uang. Berapa harga total dari tujuh sak semen itu. Dari jumrah tujuh sak semen itu mengalir dana ratusan juta. Ada yang menyumbang lebih dari harga tujuh sak semen. "Saat ini NII masih dipimpin Panji Gumilang alias Abu Toto alias Abu Maarif. Posisi Panji Gumilang sebagai Presiden," kata Ken. (sj) Video 1

Video2 Video lengkap Prosesi Melempar Jumroh NII Gadungan Sources : Kaskus.us

Diposkan oleh Aji Cemerlang di 07:48 0 komentar Link ke posting ini

Minggu, 01 Mei 2011


FUUI Tantang Panji Gumilang
K.H. Athian Ali M. Da'i, MA Bandung - Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) menantang Panji Gumilang untuk dialog terbuka dengan para ulama. Tak hanya itu, pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun harus berani dikonfrontir dengan mantan pengikutnya, yang selama ini menyatakan Panji Gumilang adalah pimpinan NII KW 9. "Sepuluh tahun lalu setelah saya bersama ulama lainnya menyatakan NII sesat, kami langsung mengundang Panji Gumilang dengan surat resmi yang dibawa orang khusus biar benar-benar sampai. Jangankan hadir untuk diskusi, menanggapi surat kami pun tidak," kata Ketua FUUI Athian Ali saat dihubungi melalui telepon, Minggu (1//5/2011). Karena itu, Athian mengaku senang dengan kemunculan Panji Gumilang di berbagai media. Meski menurutnya apa yang disampaikan Abu Toto (nama lain Panji Gumilangg-red) tidak jelas, isinya mengambang. "Dia tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dia cukup hati-hati. Karena dia tahu kalau dia mengiyakan, dia akan hancur. Kalau menolak, dia tahu itu akan memancing saksi-saksi

bekas

bawahannya

yang

akan

menentang

ucapannya,"

ujar

Athian.

Karena itu, Athian menantang Panji Gumilang untuk mau berdialog dengan para ulama terkait gerakan NII KW 9 yang diyakini Athian dipimpin oleh Panji. "Makanya hari ini kami berharap, dia mau kami ajak diskusi untuk membuktikan siapa yang berbohong," katanya. Athian juga menyatakan akan menghadirkan para saksi mata yang dikumpulkan FUUI. Mereka adalah para mantan Anggota NII KW 9, di mana di antaranya merupakan mantan pejabat NII KW 9. "Berani tidak dia dipertemukan? Tapi saya yakin dia tidak mau. Karena dia tahu apa yang kami tuduhkan pada dia selama ini adalah benar," tandas Athian. Ketika ditanya apakah akan mengundang secara resmi? "Saya undang sekarang melalui media. Berani tidak?" tantang Athian. Sebelumnya kepada wartawan Panji Gumilang menyatakan jika NII sudah tamat. Karena itu dia mengaku heran kenapa dia selalu dikaitkan dengan NII. Sources Detik.com Diposkan oleh Aji Cemerlang di 21:03 2 komentar Link ke posting ini
http://nii-alzaytun.blogspot.com/

May 4th, 2011 | Author: oposisi NII MESIN POLITIK PKPB, REPUBLIKAN ,JKWIRANTO Sempat terjadi perdebatan seru di forum terkait berita ini yang datang dari Okezone JAKARTA - Kelompok Negara Islam Indonesia (NII) ternyata pernah menjadi mesin politik bagi partai politik, termasuk calon presiden/wakil presiden yang bersaing di Pemilu 1999 dan Pemilu 2004. Pengakuan ini disampaikan mantan anggota NII (1996-2001), Sukanto yang kini menjadi Ketua Tim Rehabilitasi Korban NII. Dukungan kekuatan ini dilakukan melalui pengerahan santri dan santriwati di Pondok Pesantren Al Zaytun. Sukanto menyebut pada Pemilu 2004, kelompok NII memilih Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dan Golkar. Untuk Pilpres 2004 mendukung pasangan Wiranto-Shalahudin Wahid. Sementara Partai Republikan didukung pada Pemilu 2009 karena NII menyusupkan lima calon legislatif. Pilpres 2009, kelompok Al Zaytun kembali mendukung Jusuf Kalla-Wiranto. Ada perintah pimpinan. Struktural kepemimpinan menyatakan harus seperti itu memberikan dukungan politik kepada kelompok tertentu, kata Sutanto, usai mengikuti diskusi membahas NII di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (4/5/2011). Sukanto menambahkan, dukungan yang diberikan NII melalui Ponpes Al Zaytun yang dipimpin Panji Gumilang, tidak gratis. Panji Gumilang dalam beberapa kali ceramahnya menyebut teman kami adalah yang membantu kami. Jadi selama ada harga yang pas mereka

akan bantu dan yang jelas di Al Zaytun itu tidak banyak hanya tiga ribu hingga delapan ribu orang, jelas dia. Menurut Sukanto, perintah mendukung parpol dan pasangan tertentu akan dipatuhi pengikut kelompoknya. Semua adalah perintah. Karena kami dengar doktrinnya kami dengar kami taat, sesuai dengan baiatnya, harus taat dengan pimpinan. Dalam hal ini perintah pimpinan seperti halnya perintah nabi, imbuh Sukanto. Namun, bila ada yang kedapatan tidak menjalankan perintah ini, orang itu akan dianggap berdosa. Karena tidak taat dan menjadi pengkhianat, pungkasnya.
http://www.oposisi.net/2011/05/nii-mesin-politik-pkpb-republikan-jk-wiranto/

NII Tak Lebih Dari Konteks Politik


Selasa, 03 Mei 2011 16:24 irwansyah
Pontianak, Indowarta Ketua Forum Umat Islam (FUI) Kalbar Drs. H. Haitami Salim, M Ag menganggap kembali merebaknya kasus Negara Islam Indonesia (NII) KW9 tak lebih dari konteks politik saja. Pergerakan politik itu sifatnya tenggelam timbul, tinggal bagaimana kesempatan itu ada atau tidak, ujarnya ketika dijumpai Indowarta, Selasa (3/5) di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak. Menurutnya NII akan mendapat dukungan jika mereka mempunyai perjuangan yang rasional. Jika tidak rasional maka sampai kapanpun itu hanya akan menjadi perlawanan saja, katanya. Untuk kita, lanjutnya, NKRI itu harga mati dan Islam memberi dukungan penuh terhadap perjuangan kemerdekaan,papar tokoh yang dua periode menjadi Ketua STAIN Pontianak ini. Dikatakannya, tidak ada daerah di Indonesia ini yang mengalami perpecahan karena Islam. Kalau saja Aceh itu serius ingin menjadi Negara Islam, mungkin sudah sejak dulu lepas dari NKRI. Tapi nyatanya kan tidak, ungkap Haitami mencontohkan. Banyaknya mahasiswa yang menjadi korban NII, menurut Haitami karena kebanyakan mahasiwa masih mempunyai sudut pandang politik yang lemah, terutama sudaut pandang politik ke-Islaman. Kita harus memberi pencerahan politik kepada mahasiswa, paparnya. Ketika dikonfirmasi apakah NII ini ada penyokongnya dari luar negeri, Haitami menyatakan bahwa hampir tidak ada pergerakan suatu negara itu yang berhenti pada negara itu, mereka pasti mempunyai gelindan di luar negara tersebut. Kegamangan dunia pendidikan Islam di Indonesia Dari kacamata politik terhadap pendidikan Islam, Haitami berpendapat saat ini hampir semua orang mempunyai pandangan bahwa pondok pesantren sebagai tempat memproduk teroris. Al-Zaytun yang kita banggakan dan kita pandang sebagai pondok pesantren modern mendapat isu sebagai sarang NII, ujarnya. Menurut Haitami, lembaga pendidikan Islam seperti IAIN dan STAIN kini sering diisukan sebagai tempat pemurtadan dan mengalirnya pemikiran-pemikiran liberal. Lalu, pendidikan Islam mana lagi yang mau dibanggakan? Saya khawatir bahwa ini semua adalah upaya pembunuhan terhadap

pendidikan Islam, ujarnya cemas seraya menambahkan, ataupun tidak langsung dirinya melihat ada pendiskreditan terhadap Islam. Bahkan jenjang Aliyah (sederajat SMA), dikatakan Haitami, saat ini tidak lagi mengakomodir jurusan agama, kebanyakan justru memasukkan jurusan-jurusan umum. Terakhir, menurut Haitami yang terpenting adalah proses dalam pendidikan itu sendiri. Pemerintah jangan hanya mengambil ujungnya saja, harus ada proses untuk mencerdaskan mereka agar tidak jatuh ke mulut harimau, ujarnya mengumpamakan. (Fai/Ryn)

http://www.indowarta.com/index.php?option=com_content&view=article&id=12369%3Anii-taklebih-dari-konteks-politik&catid=137%3Akalimantan-barat&Itemid=376

MUI Kutip Ucapan Mantan Kepala Intelijen: NII KW9, Buatan Intelijen!

Apakah ada relasi antara kelompok yang bernama Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9) dengan Mahad Az Zaytun di Indramayu? Untuk mendapat jawabannya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pun melakukan investigasi. Disamping menemukan kaitannya, MUI pun mendapat pengakuan dari mantan kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin, sekarang Badan Intelijen Nasional/BIN) bahwa badan intelijen negara era Soeharto telah melakukan Operasi Khusus (Opsus) untuk pembusukan NII dengan membuat NII KW9 yang menyimpang jauh dari NII asli. Hal itu diungkap Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat H Aminuddin Yaqub dalam acara talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke-30, Selasa (10/5) siang di Wisma Antara, Jakarta. Pada Maret 2002, MUI membentuk tim investigasi yang diketuai KH Makruf Amin untuk menjawab pertanyaan: (1) apa dan bagaimana sistem pendidikan di Az Zaytun? (2) apa dan bagaimana NII itu? dan (3) apakah ada relasi antara NII dan Az Zaytun? Untuk menjawab pertanyaan nomor satu relatif mudah. Saya menginap delapan hari tujuh malam di Az Zaytun, ujar Aminuddin yang saat itu menjadi sekretaris tim investagasi MUI. Belum kita temukan aktivitas penyimpangan. Santri tetap shalat. Silabinya pun berupa silabi gabungan dari Depag, Diknas, dan Gontor, ujarnya.

Untuk menjawab pertanyaan nomor dua, relatif sulit dan ini pula yang menyebabkan penelitian berlangsung lama hingga baru selesai delapan bulan kemudian. NII ini sangat kompleks, kita kaji dan datangi korban-korbannya sampai ke Jakarta, Banten bahkan Gorontalo! ujarnya. Dari hasil penelusuran itu dapat disimpulkan dua hal. Pertama, ada NII asli yang didirikan SM Kartosoewirjo pada tahun 1949 dan ada NII palsu alias NII KW9 yang menyimpang jauh dari NII Kartosoewirjo apalagi ajaran Islam lantaran menganggap shalat tidak wajib, serta melakukan pencurian, penipuan bahkan pelacuran untuk mendapatkan sejumlah uang untuk disetorkan kepada negara NII KW9. NII Kartosoewirjo tidak bisa dikatakan sesat karena tidak ada ajarannya yang menyimpang dari Islam, hanya saja NII Kartosoewirjo berbeda visi politiknya dengan pemerintah sehingga dilarang. NII Kartosoewirjo murni politik untuk menengakkan syariah Islam, dari sudut pandang agama, kita tidak melihat ada penyimpangan, ujarnya. Bagaimana dengan jawaban atas pertanyaan nomor tiga? Menurutnya ternyata ada tiga relasi yang sangat signifikan antara Az Zaytun dan NII KW9. Pertama, dari aspek historis. Az Zaytun lahir tidak lepas dari NII KW9. Apakah NII KW9 bermetamorfosa jadi Az Zaytun? Untuk mendapat jawabannya, MUI pun menghubungi Abu Toto (pimpinan NII KW9) alias Panji Gumilang (Pimpinan Az Zaytun). Saya komfirmasi ke Abu Toto tapi Abu Toto tidak mau diwawancarai, ujarnya. Ketiga, ada aliran dana yang sangat relevan. Yakni adanya haraqah muharam alias adanya setoran dana dari camat dan gubernur NII KW9 di Az Zaytun, tegasnya. Dalam investigasi itu,MUI pun tidak lupa mengundang mantan Ketua Bakin ZA Maulani untuk pendalaman karena MUI mensinyalir kasus ini ada campur tangan intelijen negara. Menurutnya, mantan kepala intelijen negara era BJ Habibie itu tidak membantah dugaan itu bahkan ZA Maulani pun dengan tegas menyatakan bahwa NII KW9 merupakan Operasi Khusus (Opsus) Defeksi (pembusukan dari dalam) yang dipimpin wakil ketua Bakin saat itu Ali Moertopo. Almarhum ZA Maulani dengan tegas menyatakan bahwa NII merupakan defeksi pada masa Ali Moertopo, ujarnya. Kemudian pada 2003, MUI pun menyerahkan temuannya kepada Mabes Polri untuk ditindaklanjuti. Saya menghadap Dada Rosada, Kabes Intelkam Mabes Polri, semua database saya serahkan, ujarnya. Namun sayangnya temuan tersebut tidak ditindaklanjuti secara serius oleh Polri. Lelaki yang konsern menangani korban NII KW9 ini pun merasa kecewa dan menganggap pemerintah telah bertindak dzalim. Saya konsern ke korban yang terjebak NII KW9, pembiaran terhadap itu merupakan kedzaliman yang luar biasa dari pemerintah, sesalnya. Mantan camat di NII KW9 Imam Shalahuddin dan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto hadir pula sebagai pembicara dalam acara yang digelar sebulan sekali oleh HTI tersebut.

Dalam talkshow yang bertema Teror NII, Kriminalisasi Perjuangan Islam (Membongkar Skenario Jahat di Balik Isu NII) Ismail menegaskan, merebaknya kembali isu NII merupakan politik monsterisasi yang dilakukan pemerintah karena kekalahan intelektual untuk menghadang semakin kuatnya keinginan masyarakat untuk hidup dalam negara yang menerapkan syariah Islam kaffah yang sering disebut sebagai negara Islam, daulah Islam atau khilafah. Akibat dari politik monsterisasi ini sangat berbahaya karena orang jadi takut bergabung dengan kelompok dakwah yang berjuang diberlakukannya syariah Islam secara kaffah oleh negara karena takut terjebak NII KW9. Lebih parahnya lagi korban politik monsterisasi ini tidak lagi berfikir secara rasional atau pun logis. Buktinya, si korban meyakini Islam itu bagus, buktinya, mereka ingin membangun keluarga Islam, anaknya pun disekolahkan di sekolah Islam, ekonominya pun ingin ekonomi Islam. Tapi ketika menyebut negara Islam, jadi takut. Mestinya kita juga percaya bahwa negara Islam itu bagus. Jadi mengapa bisa giliran negara Islam, itu kok jelek? jadi tidak logis, orang kok tiba-tiba tidak mau negara Islam? pungkasnya retorik.[]joko prasetyo/mediaumat.com
http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/11/mui-kutip-ucapan-mantan-kepala-intelijen-nii-kw9-buatanintelijen/

Kewibawaan Tradisional, Islam, Dan Pemberontakan


oleh: amirmassa

Pengarang : Karl D. Jakson

Summary rating: 5 stars (1 Tinjauan) Kunjungan : 119 kata:900

More About : nii dari sudut pandang politik


Kew ibaw aan Tra

Ideologi negara Islam Indonesia yang selanjutnya disingkat NII terendam dalam paradoks. Pada satu pihak NII adalah anugerah Tuhan, tata tertibnya diwahyukan oleh ilahi, dan karenamya tetap abadi, yang ditentukan oleh Syariat Islam sebagaimana dijamin oleh Quran dan hadist Rasul. Dalam tata tertib politik yang ditentukan berdasarkan agama ini, semua kedaulatan berada di tangan Tuhan. Pemerinyah hanya mengeluarkan UU mengenai hal-ikhwal yang tidak diuraikan secara tegas semasa Nabi Muhammad. Bahkan sampai kepada detail-detail hukuman yang harus dijatuhkan untuk tindak pidana umum. KUHAP NII lebih berdasarkan diri atas kearifan yang telah diwahyukan dalam Quran, ketimbang atas pertimbangan manusia yang menghadapi keadaan sosial dalam abad ke-20.

Kebalikan dari unsur-unsur yang ditentukan ini, UUD dan KUHAP NII berisi pula ketentuan-ketentuan modern yang mencolok. Misalnya dalam UUD dinyatakan bahwa NII berbentuk Republik. Kekuasaan poko legislatif berada ditangan parlemen (Majelis Syuro) yang dipilih. Imam (Kepala negara) dipilih oleh Majelis syuro dan takkan dapat membuat UU tampa persetujuan Majelis Syuro. Imama dapat dilengserkan karena melanggar konstitusi. Akan ada persamaan di hadapan UU, kebebasan beribadat, kebebasan berbicara, berkumpul dan berserikat bagi semua warga negara. Semua warga negara mempunyai hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi manusia. Serta negara akan mengelolah semua cabang produksi yang penting. Jika ditilik secara keseluruhan UUD dan KUHAP NII, menyajikan campuran fundamentalis Islam yang diturunkan dari Quran secara langsung dan cetak biru bagi negara yang agak modern namun tetap Islami. Dalam UUD dan KUHAP NII, etiket-etiket seperti kanan atau kiri, absolutis atau republiken, teokratis atau punya kebebasan, tidak akan menjelsakan dengan baik konsep NII ini. Perbedaan-perbedaan ini hanya sedikit sekali kemampuan menjelaskannya, kerena NII merupakan seluruh hal yang diatas. NII ini absolutis sekaligus republiken, ia anti komunis tetapi juga anti kapitalis. NII menjamin kebebasan beribadat bagi yang non-muslim, tetapi memutuskan hukukuman mati bagi berbagai tingkat kemurtadan dan kemunduran iman oleh kaum Muslimin. Kontradiksi yang sangat kentara ini, hanya dapat dipecahkan dengan meninjau NII dari berbagai sudut pandang, dengan mencari nasehat dari teori politik lebih luas ketimbang konteks Indonesia, serta dengan memahami pandangan cooperative tantang hak-hak yang melandasi UUD dan KUHAP tersebut. Sekalipun Quran tegas dalam perintah-perintahnya mengenai kewajiban-kewajiban pribadi tentang agama dan ahlak. Namun Quran tidak mengatakan sesuatu apapun mengenai struktur politik negara. Ajaran Islam secara umum mewajibkan negara memelihara nilai-nilai keagamaan, menghormati peraturan-peraturan agama dan menjamin supaya tingkah laku keagamaan pribadi sesuai dengan cita-cita Quraniah. Mengenai kewajiban-kewajiban ini, Syariat Islam memang bersifat abadi. Ia menjamin sumber mutlak yang diwahyukan langsung oleh Iradat Tuhan yang mewakili kata terakhir mengenai subjek ini. Dokumen-dokumen NII langsung dan tak menimbulkan keraguan dalam mentaati pengutamaan Quraniah. Hukuman-hukuman bagi pencuri, pembunuhan, minum tuak/alkohol, zinah, melalaikan shalat atau membayar zakat dll, diatas segala-galanya, hukuman bagi kemurtadan agak dialihkan langsung dari Quran. Banyaknya anggota badan yang dipotong untuk pencuri dan penggunaan eksekusi mati terhadap mereka yang mengakui berzinah dan membunuh, tapi agaknya dalam konstitusi NII tidak mengamalkan Islam yang dirasionalisasi dengan rujukan langsung dari Quran. Para pendukung dan pelopor NII itu niscaya terkobar disanubarinya masing-masing semangat nasionalisme yang berkobar-kobar. Pergerakan revolusi Indonesia menghubungkan bangkitnya pemberontakan Darul Islam secara langsung dengan penolakan Kartosoewirjo terhadap strategi diplomasi yang disetujui para pemimpin nasionalis Sekular, seperti Sjahrir, Soekarno dan Hatta.

NII melakukan perjuangan bersenjata sebagai sarana paling mungkin untuk menghasilkan Indonesia yang tidak hanya merdeka, melainkan juga islami.tujuan pertama adalah kedaulatan dari cengkraman penjajah, tetapi kedaulatan itu tidak bisa memakai jubah sekular, karena negara sekular betapun menguntungkannya, tidak dapat membebaskan umat Islam dari kaum kafir. Tidak dapat membiarkan pemerintah kaum kafir, membuat Islam menjadi benteng melawan legitimasi pemerintahan kolonial. Tapi pemberontakan terhadap negara sekular setelah kedaulatan, berasal dari kepercayaan yang sama, bahkan legitimasi kewibawaan pemerintahan hanyalah dapat dijalankan oleh kaum muslim ortodoks yang bertindak atas nama Tuhan serta menurut aturanaturan Syariat Islam. Dalam hampir setiap ikhtiar politik yang menggunakan kekerasan, menganga jurang antara cita-cita yang termaktub didalam konstitusi dan perilaku pemeran pemberontakan. Begitupula perjuangan dalam mewujudkan NII ini, pada setiap kesempatan, ketentuan konstitusi yang lebih moderat dan modern dikorbankan kepada pemberlakuan keadaan darurat perang di jalan Tuhan. Dan dengan berlakunya gerakan itu, maka yang diingat hanya kekejaman-kekejaman yang sukar digambarkan ketimbang kesalehannya. Struktur parlementer yang mulia dikesampingkan. UU darurat perang diumumkan, imam Kartosoewirjo memerintah dengan dekrit untuk selama sengketa. Perlindungan berdasarkan konstitusi bagi hak-hak kaum Muslimin dan Non-Muslim di cabut demi kepentingan hukum Islam mengenai peperangan yang menegaskan bahwa perang harus dilakukan terhadap mereka: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Yang musyrik (bertuhan selain Allah); Yang melanggar baiat (muharrab); Yang tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan rasul-Nya; Yang tidak menepati agama yang benar (Islam); Yang munafik (yang merintangi berlakunya hukum Islam dengan berkedok Islam); Mereka yang bughat, yakni orang-orang yang tidak taat kepada Imam dengan alasan pendapat sendiri, membatalkan yang haq yang keluar dari Imam dengan sangka-sangka; 7. Penyamun, yakni oramg yang merampok dengan berkawan-kawan.

Daftar musuh-musuh mencakup segala-galanya, meninggalkan hanya sedikit orang bebas dari serangan, kecuali mata-mata Darul Islam sendiri. Teori republikeinisme parlementer, sekalipun dijamin hak-hak yang sama bagi orang-orang non-muslim dan kebebasan-kebebasan yang pada umumnya dicakup oleh konstitusi NII, ditenggelamkan dalam absolutisme keadaan darurat perang negara Islam.*** Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/history/2060566-kewibawaan-tradisional-islam-danpemberontakan/#ixzz1PFoE32eB

Kewibawaan Tradisional, Islam, Dan Pemberontakan


oleh: amirmassa

Pengarang : Karl D. Jakson

Summary rating: 5 stars (1 Tinjauan) Kunjungan : 119

kata:900

More About : nii dari sudut pandang politik


Kew ibaw aan Tra

Ideologi negara Islam Indonesia yang selanjutnya disingkat NII terendam dalam paradoks. Pada satu pihak NII adalah anugerah Tuhan, tata tertibnya diwahyukan oleh ilahi, dan karenamya tetap abadi, yang ditentukan oleh Syariat Islam sebagaimana dijamin oleh Quran dan hadist Rasul. Dalam tata tertib politik yang ditentukan berdasarkan agama ini, semua kedaulatan berada di tangan Tuhan. Pemerinyah hanya mengeluarkan UU mengenai hal-ikhwal yang tidak diuraikan secara tegas semasa Nabi Muhammad. Bahkan sampai kepada detail-detail hukuman yang harus dijatuhkan untuk tindak pidana umum. KUHAP NII lebih berdasarkan diri atas kearifan yang telah diwahyukan dalam Quran, ketimbang atas pertimbangan manusia yang menghadapi keadaan sosial dalam abad ke-20. Kebalikan dari unsur-unsur yang ditentukan ini, UUD dan KUHAP NII berisi pula ketentuan-ketentuan modern yang mencolok. Misalnya dalam UUD dinyatakan bahwa NII berbentuk Republik. Kekuasaan poko legislatif berada ditangan parlemen (Majelis Syuro) yang dipilih. Imam (Kepala negara) dipilih oleh Majelis syuro dan takkan dapat membuat UU tampa persetujuan Majelis Syuro. Imama dapat dilengserkan karena melanggar konstitusi. Akan ada persamaan di hadapan UU, kebebasan beribadat, kebebasan berbicara, berkumpul dan berserikat bagi semua warga negara. Semua warga negara mempunyai hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi manusia. Serta negara akan mengelolah semua cabang produksi yang penting. Jika ditilik secara keseluruhan UUD dan KUHAP NII, menyajikan campuran fundamentalis Islam yang diturunkan dari Quran secara langsung dan cetak biru bagi negara yang agak modern namun tetap Islami. Dalam UUD dan KUHAP NII, etiket-etiket seperti kanan atau kiri, absolutis atau republiken, teokratis atau punya kebebasan, tidak akan menjelsakan dengan baik konsep NII ini. Perbedaan-perbedaan ini hanya sedikit sekali kemampuan menjelaskannya, kerena NII merupakan seluruh hal yang diatas. NII ini absolutis sekaligus republiken, ia anti komunis tetapi juga anti kapitalis. NII menjamin kebebasan beribadat bagi yang non-muslim, tetapi memutuskan hukukuman mati bagi berbagai tingkat kemurtadan dan kemunduran iman oleh kaum Muslimin. Kontradiksi yang sangat kentara ini, hanya dapat dipecahkan dengan meninjau NII dari berbagai sudut pandang, dengan mencari nasehat dari teori politik lebih luas ketimbang konteks Indonesia, serta dengan memahami pandangan cooperative tantang hak-hak yang melandasi UUD dan KUHAP tersebut. Sekalipun Quran tegas dalam perintah-perintahnya mengenai kewajiban-kewajiban pribadi tentang agama dan ahlak. Namun Quran tidak mengatakan sesuatu apapun mengenai

struktur politik negara. Ajaran Islam secara umum mewajibkan negara memelihara nilai-nilai keagamaan, menghormati peraturan-peraturan agama dan menjamin supaya tingkah laku keagamaan pribadi sesuai dengan cita-cita Quraniah. Mengenai kewajiban-kewajiban ini, Syariat Islam memang bersifat abadi. Ia menjamin sumber mutlak yang diwahyukan langsung oleh Iradat Tuhan yang mewakili kata terakhir mengenai subjek ini. Dokumen-dokumen NII langsung dan tak menimbulkan keraguan dalam mentaati pengutamaan Quraniah. Hukuman-hukuman bagi pencuri, pembunuhan, minum tuak/alkohol, zinah, melalaikan shalat atau membayar zakat dll, diatas segala-galanya, hukuman bagi kemurtadan agak dialihkan langsung dari Quran. Banyaknya anggota badan yang dipotong untuk pencuri dan penggunaan eksekusi mati terhadap mereka yang mengakui berzinah dan membunuh, tapi agaknya dalam konstitusi NII tidak mengamalkan Islam yang dirasionalisasi dengan rujukan langsung dari Quran. Para pendukung dan pelopor NII itu niscaya terkobar disanubarinya masing-masing semangat nasionalisme yang berkobar-kobar. Pergerakan revolusi Indonesia menghubungkan bangkitnya pemberontakan Darul Islam secara langsung dengan penolakan Kartosoewirjo terhadap strategi diplomasi yang disetujui para pemimpin nasionalis Sekular, seperti Sjahrir, Soekarno dan Hatta. NII melakukan perjuangan bersenjata sebagai sarana paling mungkin untuk menghasilkan Indonesia yang tidak hanya merdeka, melainkan juga islami.tujuan pertama adalah kedaulatan dari cengkraman penjajah, tetapi kedaulatan itu tidak bisa memakai jubah sekular, karena negara sekular betapun menguntungkannya, tidak dapat membebaskan umat Islam dari kaum kafir. Tidak dapat membiarkan pemerintah kaum kafir, membuat Islam menjadi benteng melawan legitimasi pemerintahan kolonial. Tapi pemberontakan terhadap negara sekular setelah kedaulatan, berasal dari kepercayaan yang sama, bahkan legitimasi kewibawaan pemerintahan hanyalah dapat dijalankan oleh kaum muslim ortodoks yang bertindak atas nama Tuhan serta menurut aturanaturan Syariat Islam. Dalam hampir setiap ikhtiar politik yang menggunakan kekerasan, menganga jurang antara cita-cita yang termaktub didalam konstitusi dan perilaku pemeran pemberontakan. Begitupula perjuangan dalam mewujudkan NII ini, pada setiap kesempatan, ketentuan konstitusi yang lebih moderat dan modern dikorbankan kepada pemberlakuan keadaan darurat perang di jalan Tuhan. Dan dengan berlakunya gerakan itu, maka yang diingat hanya kekejaman-kekejaman yang sukar digambarkan ketimbang kesalehannya. Struktur parlementer yang mulia dikesampingkan. UU darurat perang diumumkan, imam Kartosoewirjo memerintah dengan dekrit untuk selama sengketa. Perlindungan berdasarkan konstitusi bagi hak-hak kaum Muslimin dan Non-Muslim di cabut demi kepentingan hukum Islam mengenai peperangan yang menegaskan bahwa perang harus dilakukan terhadap mereka: 1. 2. 3. 4. Yang musyrik (bertuhan selain Allah); Yang melanggar baiat (muharrab); Yang tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan rasul-Nya; Yang tidak menepati agama yang benar (Islam);

5. Yang munafik (yang merintangi berlakunya hukum Islam dengan berkedok Islam); 6. Mereka yang bughat, yakni orang-orang yang tidak taat kepada Imam dengan alasan pendapat sendiri, membatalkan yang haq yang keluar dari Imam dengan sangka-sangka; 7. Penyamun, yakni oramg yang merampok dengan berkawan-kawan.

Daftar musuh-musuh mencakup segala-galanya, meninggalkan hanya sedikit orang bebas dari serangan, kecuali mata-mata Darul Islam sendiri. Teori republikeinisme parlementer, sekalipun dijamin hak-hak yang sama bagi orang-orang non-muslim dan kebebasan-kebebasan yang pada umumnya dicakup oleh konstitusi NII, ditenggelamkan dalam absolutisme keadaan darurat perang negara Islam.*** Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/history/2060566-kewibawaan-tradisional-islam-danpemberontakan/#ixzz1PFoE32eB http://id.shvoong.com/humanities/history/2060566-kewibawaan-tradisional-islam-danpemberontakan/