RENCANA USAHA

PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

PT PLN (PERSERO)
2011
20
11 - 2020
2020

PLTA Koto Panjang, Sumatra

Electricity for a better life

MEI{TERIENERGIDAN$UMBERDAYAMINERAL
R E P U B L I KI N D O N E S ! A
KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
N O M O R: 3 3 1 4 R / Z L / M E M / 2 O L L
TENTANG
PENGESAHAN RENCANA USAHA.PENYEDIAAN

TENAGA L1STRIK
pr pLN (PERSERO)
TAHUN2oli S.b. 2o2o

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA,
Membaca
: Surat
Direktur
pT
p_LN
Utama
-oe'"embe,
(persero)
Nomor
ianggal_

o-20
99q?ql1q1lq$y!/,?94
2orr,
Nomor
o4o32/101/DTRUT'1?9]]
D;;;*u"i
*dnEE4
2oir,'"i",
Nomoro4Lo2/ Dryur/2oTT-R
t"s;;";8-pt Desember
2o1r
,ro1i penlJsahan
perihal permbhonin
-a-----E-pLN
r\vr
2oII

- 2o2O;

.

nu-frir s

(persero)

r

Menimbang : a. bahwa sehrrlnnqg._q."?gan
telah terjadi. pelgb_ahan yang
signifikan

p?da sektor d""gi .!Girii,'il#r.a
RUprL Tdhun
2O1Os.d. 2019 sebagaimanE-b";;;'^ili;.;;f
aitetaptan-aaUm
- Keputusan
"s

Menteri Egglgi- aan uml-&
i,iorri5.*id i o
20/ M'ry.p.olg tanggaia
+/
iii,'
p.rrr
disesuaikan
..1.,-rf'fo
-b
dengan perkembangan"Situ""i
t..kiii^vr

b. bahwa berdasarkan pertimb.angan sebagaimana
dimaksud
dalam huruf a dan' sesuai kEtentuan" pasai -spemerintah--Ntmor
Peraturan
10
"v"i"[gl
?"ii"lig
Penyediaan dan pemanfaatan Tenag"i"tu"--r^gs"9
uJtiit*"u"g""i*i".
telah dua kari diubarr teralihi"i
-t-006, a.rrg"r, peraturan
Pemerintah -Nomor 26 fahu''
-aln
-fii"#;-bivi"
menetapkan
ilrru
Keputusan

Menterionergi

na'ifi1,ftr
penggse.han Renc?na
usat a--eenyed.iaan Tenasa
Listrik-pT elNr perslrol-i"i.,rn
tentans

2of i .la.-zoZo;

Mengingat

:

1. Vndang-undl5rg
zoog tentanry
._Nomor g0 Tahun
KetenaEalistrikin (r,emEaian
Negara RI Tahun 2oog wo*o?
13S,Talmbahant emUaian rv.g"r? ni N;;;; 5oS2);
2. Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 19g9 .
tentansr
dan pemanialtan {;"ag-" ii"t.if, "ir,";t##
lgnvediaan
NegaraRI-Tahun 19g9 Nomor z4,Tamiahan Lembaran

Nes?{qRtrNomor3s94)sebagaim;"4;J;i;

arr" r."ri-airb;i,
terakhir dengan peraturan Femerlnl"r, irio*o
r 26 Tahun
Negara RI rahun-- iooo Nomor s6
?ooq
.(Lembaran
Tambahan Lembaran lVegaraRI fvomoi+OZ-S);
3. Keputusan presiden Nomor s9/p rahun 2orr tanggal
18
Oktober 2OIl;
4. Peraturan Me$91i Energi dan sumber Daya Minerar Nomor
18 Tahun 2oLo tentz.ng_organis""T'-d"r, Tata Keria
"sum6ei- D;y"Kementerian, Er?ryi
Mir"rlj* (e^"iit"
^{*"
NegaraRI Tahun 2d'10Nomor Sd2it
5- Keulfrrs.an

-2
5. [gpltgqqt] {Iglteri Energi dan sumber Dava Mineral Nomor
o.v"
*',b zooa' t"
/ 20o8 fangs3113_
_N
722?^\ l?IUmum
/ Me\4
Kencana
Ketenagalistiikan Nasional;
",
"1;s
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

KEPUTUSANMENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
TENTANG PENGESAHAN RENCANC U-S-NHA PENYEDiAAN
TENAGALISTRIK PT PLN (PERSEROIrNH_UNi-ibN S.b. 'b'0._'

KESATU

Tenaga Listrik pr
\{e3sgrahkan Rencana usaha p^eny_ediaan
(ne_rsero)
Tahun
2orr
s.d,.
2otio
tercantum
fl,,n
oaram
Lampran- yang. merupakan
""tj"e.imana
bagiantidak terpisahkan
r
dari Keputusan nAdnteiiini.

KEDUA

PT. .PLN (Persero) meny?Fpaikan raporan perkembansan
^listrik
pelg.ksqn?an
usahh penyi:aiaan tenaga
J;-;;;;t";;
pg.ti"p 3 (tiga).butan tcepladaMenteri E;.rgi A;" s-"*b.iij"y;
Mineral c.q. Direktur Jenderar Ketenagalist?ikan.

KETIGA

Pjtg"tl
{itetapkannya^ Keputusan Menteri ini, Keputusan
-Jufinaya fr{ineiat
-t.irtl"g Nomdr 20;6
Vg$".fi-_pnergi dan Sumber
tanggal
pengesahan
8
icjrcj
f/20/ME\4/2o10^
Rencana
usaha ^p^enye"d'iaan
tenaga r,i"tril.--pr pLN (persero)
Tahun2010s.d.

2019dicabutaa"?inv"tar."" tia"r. u"ii"r.i,]'",

KEEMPAT

Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

,

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Desember 2OIL
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA.
trd.
JERO WACIK

Tembusan:
^1. Menteri Dalam Negeri
2. Menteri Nesara peiencanaan pembangul?n Nasionar/Kepala.Bapp.enas
3. sekretaris Jenderet;_L(";;nierian Bnergi dan.
sumber Dava Mrnerar
4. InspekturJenderar,'

t

Kementlrian

J ff;#;
fi#i riiir,"..r
ktur .rend'eiaf ai il iiir.'rne-"LrgT
fi
*",.
d
#;
E
san
sumber Daya
il^llt Bl'e
"
":lJi'dll.,,
Para

6.
Gubernur di seluruh Indonesia
7 . l?tq Bup_atilWalikotadi seluruh Indoesia
B . Drrektur Utama PT pLN (persero)
Salinansesuaidenganaslinya

PT PLN (PERSERO)

KEPUTUSANDIREKSTPT PLN (PERSERO)

NOMOR:1483 .K//D|R/2011

TENTANG
RENCANA USAHA PENYEDIAANTENAGA LISTRIK(RUPTL)
PT PLN (PERSERO)TAHUN 2011 -2020

PT PLN(PERSERO)
DTREKST
Menimbang

Mengingat

bahwa MenteriEnergi dan Sumber Daya Mineraltelah mengesahkan
Nasional(RUKN) pada tanggal 13
RencanaUmum Ketenagalistrikan
November2008;

:a

.4

.

b.

untukmenyediakan
rencanaPemerintah
bahwadalamrangkamendukung
tenaga listrik bagi masyarakatIndonesiasesuai RUKN sebagaimana
telahmembuat
dimaksuddalamhurufa di atas,maka PT PLN (Persero)
rencana pengembanganketenagalistrikanyang terpadu dengan
di
memperhatikanaspirasi masyarakatdelam sektor ketenagalistrikan
seluruhlndonesiayang dituangkandalam RencanaUsaha Penyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN(Persero)Tahun2011-2020;

c.

bahwa RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrik(RUPTL)PT PLN
(Persero)
sebagaimana
dimaksuddalamhurufb di atas,
Tahun2011-2020
perluditetapkan
denganKeputusanDireksiPT PLN(Persero).

Rl Nomor19 Tahun2003 tentangBadanUsahaMilik
Undang-Undang
Negara;
Terbatas;
Rl Nomor40 Tahun2007tentangPerseroan
2 . Undang-Undang
Rl Nomor30 Tahun2009tentangKetenagalistrikan;
3 . Undang-Undang
dan
Rl Nomor10 Tahun1989tentangPenyediaan
4 . PeraturanPemerintah
telahdiubahdenganPeraturan
TenagaListriksebagaimana
Pemanfaatan
Rl Nomor
Pemerintah
Rl Nomor 3 Tahun2005dan Peraturan
Pemerintah
26 Tahun2006;
Bentuk
Rl Nomor23Tahun1994tentangPengalihan
Peraturan
Pemerintah
5.
Perseroan
(Perum)
Perusahaan
Negara
Menjadi
Listrik
Perusahaan
Umum
(Persero);
6.
PeraturanPemerintahRl Nomor 45 Tahun 2005 tentang pendirian,
BadanUsahaMilikNegara;
Pengawasan
dan Pembubaran
Pengurusan,
7.
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
|;
istrikanNasiona
tentang RencanaUmum Ketenagal
2682.K21IMEM/2008
8.
AnggaranDasarPTPLN(Persero);
9.
KeputusanMenteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEPjis KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha Milik Negara
58/MBU/2008
dan KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha
Nomor KEP-25AMBU|2O09
tentang Pemberhentiandan
Milik Negara Nomor KEP-2'2A/MBUI2A11
Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT
PerusahaanListrikNegara;
tentang
DireksiPT PLN (Persero)Nomor001,1(030/DlR/1994
1 0 . Keputusan
PemberlakuanPeraturan Sehubungan Pengalihan Bentuk Hukum
Perusahaan;
tentang
1 1 KeputusanDireksiPT PLN (Persero)Nomor 304.}</DlR/2009
Keputusandi LingkunganPT PLN
BatasanKewenanganPengambilan
DireksiPT PLN
(Persero)senbagaimana
telahdiubahdenganKeputusan
(Persero)
1;
Nomor1387.l(DlRl2O1
t.

12. KeputusanDireksi PT PLN (Persero)Nomor 017.K1D1N2010
tentang
Organisasidan Tata Kerja PT PLN (Persero)sebagaimanatelah diubah
denganKeputusan
DireksiPT PLN(Persero)Nomor055.K1DlR/2010.
Memperhatikan

SuratDirekturUtamaPT PLN (Persero)Nomor OO761!4O2|D|RUT/2011
tanggal
14 November2011,Perihal: MekanismePelaporandan Pertanggungjawaban
KepalaSatuan/Sekretaris
Perusahaan/Kepala
Divisi di LingkunganPT PLN
(Persero).
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

KEPUTUSAN
DIREKSIPT PLN (PERSERO)TENTANG RENCANAUSAHA
PENYEDTAAN
TENAGAL|STR|K(RUPTL)pT pLN (PERSERO)
TAHUN20112020.

PERTAMA

RencanaUsahaPenyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN (Persero)
Tahun
2011-2020adalah sebagaimanatercantumdalam LampiranKeputusandan
merupakan
bagianyangtidakterpisahkan
dariKeputusan
ini.

KEDUA

RUPTL PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020 sebagaimanatercantum dalam
Lampiran Keputusan ini digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan
Rencana Jangka Panjang Perusahaan(RJPP) dan penetapanRencana Kerja
dan AnggaranPerusahaan(RKAP)PT PLN (Persero).

KETIGA

RUPTL PT PLN (Persero)Tahun 2011-2020sebagaimana dimaksud dalam
DiktumPERTAMA, akan ditinjauulang setiaptahun sesuaiperkembanganyang
terjadi.

Keputusan
ini mulaiberlakuterhitung
sejaktanggalditetapkan.

Ditetapkandi Jakarta
padatanggal,20 Desernber 2011
DIREKTUR UTAMA,

KATA PENGANTAR
Rencana Usaha PenyediaanTenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2011-2020 ini
disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
PemanfaatanTenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan PemerintahNomor 26 Tahun 2006, yang menyebutkan
bahwa badan usaha yang memilikiwilayah usaha wajib membuat Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum
Ketenagalistrikan
Nasional(RUKN).
RUPTL ini memperhatikanketentuan-ketentuan
dalam Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682.K21lMEMl2008 tentang
Rencana Umum Ketenagalistrikan
Nasional2008 - 2027 dan draft Rencana
Umum KetenagalistrikanNasional 2O1O- 2029 yang telah disusun oleh
Kementerian
EnergidanSumberDayaMineral.
Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikangambaran mengenai
RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrikoleh PT PLN (Persero)di seluruh
lndonesiauntuk kurunwaktu 2011 - 2020 yang akan digunakansebagaiacuan
dalam penyusunanrencanaperusahaanjangka panjangdan sebagaipedoman
dalam penyusunanprogramkerjatahunan.
Sejalan dengan perkembangandan perubahankondisi industri kelistrikandl
Indonesia, RUPTL ini akan diperbaharul secara berkala agar rencana
pengembangansistemkelistrikanmenjadilebihrelevan.
Akhirnya kami mengucapkanterima kasih dan penghargaanatas kontribusi
semua pihaksehinggaRUPTLini dapatdiselesaikan.

Jakarta. Desember2011
DIREKTUR
UTAMA

,4u1h4/
ruuJ
eervruo.l
RUPTL2011-2020

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................ii
SINGKATAN DAN KOSAKATA ...............................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Landasan Hukum ................................................................................................... 3
1.3 Visi dan Misi Perusahaan ...................................................................................... 3
1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL ............................................................ 4
1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya ...................................... 5
1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha ...................................................................... 8
1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat ....................................................... 8
1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur ...................................................... 9
1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali .............................................................. 10
1.7 Sistematika Dokumen RUPTL ............................................................................. 10
BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA ......................................12
2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
Kebutuhan Tenaga Listrik ........................................................................................... 12
2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit.............................................. 13
2.3 Kebijakan PengembaNgan Transmisi ................................................................. 17
2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi ................................................................... 19
2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan ...................................................... 20
2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan .................................... 21
BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI ...............................................................23
3.1 Penjualan Tenaga Listrik ..................................................................................... 23
ii

RUPTL 2011- 2020

3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan............................................................................. 26
3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur .................. 27
3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali .............................................................. 28
3.3 Kondisi Sistem Transmisi .................................................................................... 29
3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur ...... 29
3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali ............................................................. 31
3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali ..... 32
3.4 Kondisi Sistem Distribusi ..................................................................................... 33
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi ................................................................. 33
3.4.2 Keandalan Pasokan ......................................................................... 33
3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak ..................................................................... 33
3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek ........................................ 34
3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ……………………………………………………………………………35
3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali ............................................. 39
BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER............................................................. 41
4.1 Batubara .............................................................................................................. 41
4.2 Gas Alam ............................................................................................................. 43
4.2.1 LNG dan Mini-LNG .......................................................................... 46
4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas) ..................................................... 47
4.3 Panas Bumi ......................................................................................................... 48
4.4 Tenaga Air ........................................................................................................... 49
4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya ................................................................. 50
4.6 Nuklir.................................................................................................................... 50

RUPTL 2011- 2020

iii

BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 .........................52
5.1 Kriteria Perencanaan ........................................................................................... 52
5.1.1 Perencanaan Pembangkit ................................................................ 52
5.1.2 Perencanaan Transmisi ................................................................... 54
5.1.3 Perencanaan Distribusi .................................................................... 55
5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik............................................ 57
5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi ..................................................................... 58
5.2.2 Pertumbuhan Penduduk................................................................... 59
5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020 ............................................... 60
5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit ................................................................ 64
5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit .................................................. 64
5.4.2 Program

Percepatan

Pembangkit

Berbahan

bakar

Batubara

(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009) ........................................... 65
5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 ...................................... 67
5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan
PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. ........................................... 69
5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang ............ 69
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) .............. 69
5.4.7 Penambahan

Kapasitas

Pembangkit

Pada

Wilayah

Operasi

Indonesia Barat dan Indonesia Timur ......................................................... 70
5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali ............................. 74
5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta .................................................................. 79
5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar ....................................... 82
5.5.1 Sasaran Fuel Mix.............................................................................. 82
5.5.2 Sistem Jawa-Bali .............................................................................. 86
5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat ..................................................... 87

iv

RUPTL 2011- 2020

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur.................................................... 89
5.6 Analisis Sensitivitas ............................................................................................. 91
5.7 Proyeksi Emisi CO2............................................................................................. 93
5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) ........................................... 93
5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 ............................................. 97
5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism) ............................................... 101
5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk...................................... 102
5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Barat…………… ....................................................................................... 103
5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Timur…… .................................................................................................. 105
5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali ................. 106
5.10 Pengembangan Sistem Distribusi .................................................................... 109
5.9.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur ................ 109
5.9.2 Sistem Jawa-Bali ........................................................................... 110
5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan ............................... …………………………111
5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan…………………………………. 112
5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar ................................................................. 114
BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI.............................................................. 117
6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia .......................................................... 117
6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali .......................................................... 118
6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ........................................................................................................................ 120
6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP .................................................. 122
6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN .................................... 122
6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan ................................. 123
RUPTL 2011- 2020

v

6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan ........................................................... 123
6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan ............................................................... 123
6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL ........................ 126
BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 ...................................................... 127
7.1 Identifikasi Risiko ............................................................................................... 127
7.2 Pemetaan Risiko ................................................................................................ 128
7.3 Program Mitigasi Risiko ..................................................................................... 130
BAB VIII KESIMPULAN ........................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 132 

vi

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR BAB I
Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL ........................................................... 7
Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) ....................................... 10
GAMBAR BAB V
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 .... 62
Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020........... 63
Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan
RUKN ................................................................................................................. 63
Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 85
Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 90
Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Jawa Bali Skenario Baseline .............................................................................. 94
Gambar 5. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali
Skenario Baseline .............................................................................................. 95
Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline ......................................................... 96
Gambar 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera
Skenario Baseline .............................................................................................. 97
Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) ........ 98
Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali ........ 99
Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat .................................................................................................. 99

RUPTL 2011- 2020

vii

Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 100
GAMBAR BAB VI
Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak
Termasuk IPP) .................................................................................................. 118
Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali ........ 119
Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat ................................................................................................................. 120
Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Timur… ............................................................................................ 121
Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ............ 122

viii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR TABEL

TABEL BAB I
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL .......................... 7
TABEL BAB III
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) ............................................... 23
Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit]................................. 24
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) .............................................. 25
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010 ......... 26
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 ............................................................ 27
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) tahun 2010 .................................................................... 28
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 .. 29
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA) ............................................................................... 30
Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (kms) ................................................................................ 30
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000) ..... 31
Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali ..................... 31
Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT) .................. 32
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%) ........................................................... 33
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN...................................................................... 33
Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012 ....... 35
Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun
2015 ................................................................................................................... 37

TABEL BAB IV
Tabel 4. 1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali ......... 59
Tabel 4. 2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali .. 59

RUPTL 2011- 2020

ix

Tabel 4. 3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power
Development....................................................................................................... 60
Tabel 4. 4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan .................. 60

TABEL BAB V
Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ..................................................... 59
Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ........................................ 59
Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) ............................................................. 60
Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan ... 60
Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan ............. 61
Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio
Elektrifikasi .......................................................................................................... 62
Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar .............................................................. 65
Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW ......................... 66
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 .............................. 68
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 ................................. 69
Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) ............. 70
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) ... 72
Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) .. 72
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) ............................ 74
Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 .................................... 76
Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 ........................... 79
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur .................................................................................................. 80
Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali ....................................................... 81
Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar .. 83
Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis
Bahan Bakar (%) ................................................................................................ 83
Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 84
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia ................................................ 85
Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali .................................... 87
Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat ........... 88
x

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 89
Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur ......... 90
Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas ................ 91
Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar
............................................................................................................................ 92
Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) . 95
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) . 96
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM
dan VCM .......................................................................................................... 101
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia ..................................... 102
Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia ................ 103
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat 105
Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi
Indonesia Barat ................................................................................................ 105
Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia ................................... 109
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 109
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur 109
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali.......................... 110
Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014............. 111
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia
2011-2014 (Juta Rp) ........................................................................................ 112
Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil .............. 114
Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil ................... 114
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115
Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115

RUPTL 2011- 2020

xi

TABEL BAB VI
Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) . 117
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali..................... 118
Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Barat................................................................................................. 120
Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 121
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ................. 122
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2010-2015 ........ 124
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Milyar Rp) ................................................ 126  

xii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A. WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

134

A1.

137

A2.

SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA
A1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

138

A1.2.

Neraca Daya

140

A1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

145

A1.4.

Neraca Energi

147

A1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

150

A1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

173

A1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

191

A1.8.

Analisis Aliran Daya

201

A1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

212

A1.10.

Program Listrik Perdesaan

224

A1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

236

PENJELASAN LAMPIRAN A1

239

SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT

252

A2.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

253

A2.2.

Neraca Daya

255

A2.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

258

A2.4.

Neraca Energi

260

A2.5.

Capacity Balance Gardu Induk

263

A2.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

266

A2.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

270

A2.8.

Analisis Aliran Daya

272

A2.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

276

A2.10.

Program Listrik Perdesaan

278

A2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

280

PENJELASAN LAMPIRAN A2

RUPTL 2011- 2020

282

xiii

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

290

A3.

PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

292

A4.

PROVINSI SUMATERA UTARA

304

A5.

PROVINSI RIAU

315

A6.

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

326

A7.

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

334

A8.

PROVINSI SUMATERA BARAT

340

A9.

PROVINSI JAMBI

350

A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN

358

A11. PROVINSI BENGKULU

367

A12. PROVINSI LAMPUNG

373

A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT

381

A14. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

390

A14.1.

Sistem Isolated Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

391

A14.2.

Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara

401

A14.3.

Sistem Isolated Provinsi Riau

403

A14.4.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau

411

A14.5.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

420

A14.6.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat

423

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

432

B1. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH
DAN TIMUR (KALSELTENGTIM)

xiv

435

B1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

436

B1.2. Neraca Daya

438

B1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

441

B1.4. Neraca Energi

443

B1.5. Capacity Balance Gardu Induk

446

B1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

454

B1.7. Peta Pengembangan Penyaluran

461
RUPTL 2011- 2020

B1.8. Analisis Aliran Daya

464

B1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

471

B1.10.

Program Listrik Perdesaan

476

B1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

481

PENJELASAN LAMPIRAN B1

483

B2. SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA, SULAWESI TENGAH
DAN GORONTALO (SULUTTENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI
SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI
BARAT (SULSELRABAR)
494
B2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

496

B2.2. Neraca Daya

499

B2.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

504

B2.4. Neraca Energi

506

B2.5. Capacity Balance Gardu Induk

511

B2.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

525

B2.7. Peta Pengembangan Penyaluran

535

B2.8. Analisis Aliran Daya

542

B2.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

549

B2.10.

Program Listrik Perdesaan

551

B2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

553

PENJELASAN LAMPIRAN B2

556

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

571

B3.

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

572

B4.

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

582

B5.

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

591

B6.

PROVINSI SULAWESI UTARA

601

B7.

PROVINSI SULAWESI TENGAH

611

B8.

PROVINSI GORONTALO

619

B9.

PROVINSI SULAWESI SELATAN

626

B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA

634

B11. PROVINSI SULAWESI BARAT

642

RUPTL 2011- 2020

xv

B12. PROVINSI MALUKU

648

B13. PROVINSI MALUKU UTARA

656

B14. PROVINSI PAPUA

662

B15. PROVINSI PAPUA BARAT

671

B16. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

677

B17. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

687

B18. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI
INDONESIA TIMUR
695
B18.1.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan

696

B18.2.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah

699

B18.3.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur

707

B18.4.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara

723

B18.5.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah

728

B18.6.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan

741

B18.7.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara

743

B18.8.

Sistem Isolated Provinsi Maluku

749

B18.9.

Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara

757

B18.10. Sistem Isolated Provinsi Papua

763

B18.11. Sistem Isolated Provinsi Papua Barat

771

B18.12. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB

775

B18.13. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT

783

LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI

795

C1.

797

xvi

SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI
C1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

798

C1.2.

Neraca Daya

805

C1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

817

C1.4.

Neraca Energi

819

C1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

822

C1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

850

C1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

882

C1.8.

Analisis Aliran Daya

894
RUPTL 2011- 2020

PROVINSI JAWA BARAT 986 C5. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 921 C1.11. PROVINSI BANTEN 979 C4. PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA 968 C3. PROVINSI JAWA TIMUR 1009 C8. ANALISIS RISIKO RUPTL 2011. Program Listrik Pedesaan 923 C1.C1. PROVINSI BALI 1017 LAMPIRAN D. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 1005 C7.10. PROVINSI JAWA TENGAH 997 C6. Proyeksi Kebutuhan Investasi 930 PENJELASAN LAMPIRAN C1 938 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI JAWA BALI 966 C2.9.2020 1023 xvii .

dinyatakan dalam MVA Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan. seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV Integrated Gasification Combined Cycle RUPTL 2011. keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Sering disebut sebagai demand.SINGKATAN DAN KOSAKATA ADB : ASEAN Power Grid : Aturan Distribusi : Aturan Jaringan : Beban : Beban puncak : BPP BTU Capacity balance : : : Captive power : CCS CCT CDM : : : COD Daya mampu Daya terpasang DAS DMO EBITDA ERPA Excess power : : : : : : : : FSRU GAR : : GRK HSD HVDC IBT : : : : IGCC : xviii Air Dried Basis.2020 . yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi yang berbeda tegangan. Tax. merupakan besaran kebutuhan tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh. merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan total moisture Gas Rumah Kaca High Speed Diesel Oil High Voltage Direct Current Interbus Transformer. persyaratan dan standar untuk menjamin keamanan. Depreciation and Amortization Emission Reduction Purchase Agreement Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli oleh PLN Floating Storage and Regasification Unit Gross As Received. adalah nilai tertinggi dari langgam beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW Biaya Pokok Penyediaan British Thermal Unit Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh gardu induk tersebut. merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan inherent moisture saja Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan dan persyaratan untuk menjamin keamanan. keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan. MW atau MVA tergantung kepada konteksnya Atau peak load / peak demand. umumnya pelanggan industri dan komersial Carbon Capture and Storage Clean Coal Technology Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme Pembangunan Bersih Commercial Operating Date Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate Daerah Aliran Sungai Domestic Market Obligation Earning Before Interest.

Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan diatas titik kritis air Wilayah Kerja Pertambangan xix . prakiraan pemakaian energi listrik di masa depan Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak.IPP JTM : : JTR : kmr kms Life Extension : : : LNG LOLP : : Load factor : MFO MMBTU : : Mothballed MP3EI : : MMSCF : MMSCFD Neraca daya : : Non Coincident Peak Load Peaking Prakiraan beban : : : Reserve margin : Rasio elektrifikasi : SFC Tingkat cadangan : : Ultra super critical : WKP : RUPTL 2011. merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW puncak Marine Fuel Oil Million Metric BTU. menyatakan panjang jalur saluran transmisi kilometer-sirkuit. satuan yang biasa digunakan untuk mengukur kalori gas Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Million Metric Standard Cubic Foot.2020 Independent Power Producer Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik bertegangan 20 kV Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik bertengangan 220 V kilometer-route. suatu indeks keandalan sistem pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas pembangkit Faktor beban. menyatakan panjang konduktor saluran transmisi Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya mendekati akhir Liquified Natural Gas Loss of Load Probability. dinyatakan dalam % Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan jumlah keseluruhan rumah tangga Specific Fuel Consumption Reserve margin) adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak. satuan yang biasa digunakan untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu Million Metric Standard Cubic Foot per Day Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban puncak dan kapasitas pembangkit Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa melihat waktu terjadinya beban puncak Pembangkit pemikul beban puncak Demand forecast.

disusun untuk mencapai tujuan tertentu serta berdasarkan pada kriteria perencanaan dan kebijakan tertentu. dokumen perencanaan ini juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan. atau RUPTL. Dengan demikian rencana pengembangan sistem yang diperlukan PLN harus berjangka cukup panjang. diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara kelas 1. Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang dapat menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan. Hal ini penting dilakukan karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya dalam jangka panjang.BAB I PENDAHULUAN 1. Didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL.2020 1 . Untuk mencapai hal tersebut PLN telah menyusun sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang disebut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. dalam arti PLN tidak sembarang melakukan proyek kelistrikan tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik.1 LATAR BELAKANG PT PLN (Persero) selanjutnya disebut PLN sebagai sebuah perusahaan listrik merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang lead time-nya relatif panjang. Sebagai contoh. sehingga PLN secara alamiah perlu mempunyai sebuah rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang. yaitu 10 tahun.000 MW RUPTL 2011. RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi PLN sepuluh tahun mendatang yang optimal. agar dapat mengakomodasi lead time yang panjang dari proyek-proyek kelistrikan. 1 Misalnya PLTU Indramayu unit 4 dengan ukuran unit 1. Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang juga didorong oleh keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi yang efisien.000 MW1 mulai dari rencana awal hingga beroperasi.

Hal lain yang mendorong disusunnya RUPTL 2011-2020 ini adalah semakin menguatnya keinginan PLN untuk melayani kebutuhan tenaga listrik pada banyak daerah di Indonesia yang telah lama menderita kekurangan pasokan. sedangkan proyek pembangkit akan terbagi menjadi proyek milik PLN dan proyek milik swasta yang akan menjual listriknya ke PLN. RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat bagi setiap provinsi untuk melihat apa yang telah direncanakan oleh PLN pada daerahnya. baik proyek PLN maupun proyek listrik swasta atau independent power producer (IPP). RUPTL akan selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perubahan beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan sistem kelistrikan. Pada dasarnya semua proyek transmisi dan distribusi akan dilaksanakan oleh PLN. sehingga selalu dapat memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan pegangan dalam implementasinya. Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan sistem kelistrikan yang akan dilakukan oleh PLN sendiri dan proyek-proyek pembangkit yang akan ditawarkan kepada sektor swasta sebagai IPP.Penyusunan RUPTL tahun 2011-2020 ini sebagai amanat Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 dan didorong oleh timbulnya kebutuhan untuk memperbaharui RUPTL 2010-2019 setelah memperhatikan adanya keterlambatan banyak proyek pembangkit tenaga listrik terutama pembangkit listrik tenaga panas bumi.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan juga pemerintah kabupaten/kota) wajib membuat Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD. dan mengalihkan sebanyak mungkin pembangkit berbahanbakar minyak ke pembangkit berbahanbakar non-minyak. Hal-hal tersebut telah membuat PLN merasa perlu untuk memutakhirkan RUPTL yang ada.2020 . Namun demikian proses optimisasi perencanaan tetap dilakukan per sistem tenaga listrik apabila telah ada jaringan interkoneksi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. Beberapa ruas transmisi yang dedicated dengan suatu pembangkit IPP dapat dibangun oleh pengembang listrik swasta. maka RUPTL 2011-2020 ini juga membuat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi. beberapa pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara. Selanjutnya sejalan dengan UU No. utamanya prakiraan kebutuhan tenaga listrik dan progres pembangunan proyek kelistrikan. 2 RUPTL 2011.

saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi perusahaan kelas dunia. Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani.3 VISI DAN MISI PERUSAHAAN Pada Anggaran Dasar PLN tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan lapangan usaha PLN adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip perseroan terbatas. bebas subsidi. berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan (2) RUPTL digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga listrik bagi Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum.2 LANDASAN HUKUM 1. khususnya Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2): (1) RUPTL disusun Nasional.” Selain visi tersebut. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan 2. dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber energi setempat dan sumber energi terbarukan. (3) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682 K/21/MEM/2008 tanggal 13 November 2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. maka visi PLN adalah sebagai berikut: “Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh-kembang.RUPTL ini disusun melalui optimasi pengembangan sistem pembangkit dan transmisi. Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas.2020 3 . RUPTL 2011. menguntungkan. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006. ramah lingkungan dan dicintai pelanggan. 1. 1.

• Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap tahun dengan tingkat keandalan2 yang diinginkan secara least-cost. berorientasi pada kepuasan pelanggan. dicerminkan oleh pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 1% persen terhadap total produksi energi listrik pada tahun 2020. • Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. dan juga energi terbarukan lain seperti tenaga air. • Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP). 2 4 Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin. • Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan utamanya panas bumi sesuai dengan program pemerintah. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan 1. maka PLN akan: • Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait. Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik. • Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.4 TUJUAN DAN SASARAN PENYUSUNAN RUPTL Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan acuan pengembangan sarana kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan lebih baik.Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan mengacu kepada visi tersebut. anggota perusahaan.2020 . RUPTL 2011. peningkatan efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap perencanaan yang meliputi: • Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa daerah. dan pemegang saham. sehingga dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan.

• Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi sebesar 8-9%. khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang perencanaan ketenagalistrikan. Perencanaan transmisi dibuat oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh PLN Wilayah yang mengelola transmisi. Penyusunan ini dilakukan oleh Unitunit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing dengan memperhatikan kondisi kelistrikan yang ada. rencana distribusi dan rencana kelistrikan yang isolated. kebijakan perlindungan lingkungan. • Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar utamanya pertumbuhan ekonomi. kebijakan pemanfaatan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. 1. dan mencapai rasio elektrifikasi minimum 60% pada setiap provinsi di akhir tahun 2011. selanjutnya disusun prakiraan beban (demand forecast). kebijakan tingkat cadangan (reserve margin). rencana pembangkitan. rencana transmisi dan gardu induk (GI). seperti pengembangan panas bumi yang semakin besar. perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/ Wilayah. • PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai penjabaran dari RUKN dan kebijakan Pemerintah lainnya.2020 5 . • Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam RUPTL perioda sebelumnya dalam Forum Perencanaan. • Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin membaik. yaitu sebuah forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat untuk membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun prakiraan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik. Demand forecast.5 PROSES PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNGJAWABNYA Penyusunan RUPTL 2011-2020 ini dibuat dengan proses sebagai berikut: • RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2010-2029 digunakan sebagai pedoman dan rujukan. RUPTL 2011. asumsi pertumbuhan ekonomi dan prakiraan kebutuhan tenaga listrik.• Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN.

• Konsolidasi produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis PLN dan pengurusan untuk memperoleh pengesahan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sehingga draft RUPTL menjadi RUPTL resmi dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. dan populasi untuk membentuk model yang fit. Pada workshop perencanaan juga dilakukan verifikasi jadwal COD3 proyek-proyek pembangkit PLN dan IPP. estimasi pasokan gas alam dan LNG. dimaksudkan untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast.• Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan metoda regresi . 6 RUPTL 2011.2020 . 3 COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan secara komersial. • Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun.1. jumlah pelanggan.ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi listrik. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi referensi untuk pembuatan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) lima tahunan. rencana transmisi dan rencana pembangkit sistem isolated yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1. capacity balance dan rencana gardu induk. serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). • Untuk mempertegas akuntabilitas. demand forecast pada semua wilayah kerja PLN telah disahkan oleh General Manager Unit Bisnis Distribusi/Wilayah. pertumbuhan ekonomi. serta kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan tenaga listrik jangka pendek. daya tersambung.

Berbekal hasil kerja pada workshop demand forecast tersebut. 1 Proses Penyusunan RUPTL Pada workshop demand forecast. RUPTL 2011. − Rencana pengembangan pembangkit (neraca Asumsi dasar dan kebijakan. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL Kegiatan Pokok Kebijakan umum dan asumsi P3B Kitlur Wilayah Kit Distr Pusat U U U U U E E P Demand forecasting E Perencanaan Pembangkitan S S S Perencanaan Transmisi E E E S P. Tabel 1. neraca energi dan kebutuhan bahan bakar). Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel 1.− Konsolidasi dan check konsistensi RUPTL RUKN rencana pengembangan sistem. Pada saat yang sama. yang harus diselesaikan dalam waktu dua bulan. PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/ Wilayah membahas dan menyepakati asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan demand forecast di setiap wilayah. E*) P 4 Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan terdistribusi pada daerah-daerah/locality. Workshop Perencanaan − Rencana pengembangan transmisi dan distribusi. dilanjutkan dengan menyusun demand forecast secara agregat. Workshop − Demand forecast per Wilayah dan Demand Forecast per Provinsi Gambar 1. namun belum dibuat secara spasial4. PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan pembangkit pada sistem interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah. setiap unit PLN Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan membuat capacity balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau gardu induk baru. proyeksi kebutuhan tenaga listrik daya.2020 7 .1.

Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana pengembangan sistem per provinsi.Perencanaan Distribusi Perencanaan GI E E Perencanaan Pembangkitan Isolated E E P E E P E E P Konsolidasi E Keterangan: E: Pelaksana (Executor). P: Pembinaan (Parenting). yaitu tidak termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional Batam dan PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan walaupun keduanya merupakan anak perusahaan PLN. U: Pengguna (User).6.*) untuk Sistem Besar 1. yaitu Indonesia Barat.2020 . Ruang Lingkup RUPTL 2011-2020 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri ESDM tersebut.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan provinsi Kalimantan Barat. Badan Usaha Swasta atau Koperasi.6 RUANG LINGKUP DAN WILAYAH USAHA Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai Surat Keputusan No. S: Pendukung (Supporting). maka RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan sistem pada tiga wilayah operasi tersebut. Badan Usaha Milik Daerah. Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga wilayah operasi. 634-12/20/600.3/2011 tanggal 30 September 2011. 8 RUPTL 2011. Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini: 1. Indonesia Timur dan Jawa-Bali. Surat keputusan tersebut menetapkan Wilayah Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik Negara lainnya.

PLN Wilayah Sumatera Barat. Bangka. PLN Wilayah Lampung. Sulawesi. Belitung. Kalimantan Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia Timur dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah Kalimantan Timur. sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero).2020 9 . yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan. PLN Wilayah Sumatera Selatan – Jambi – Bengkulu. kepulauan Maluku dan Maluku Utara. kecuali beberapa pembangkit skala kecil di sistem-sistem kecil isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Batam. Kalimantan Barat Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat. 1. RUPTL 2011. PLN Wilayah Riau dan Kepri. PLN Wilayah Sumatera Utara. Papua. dilayani oleh PLN Wilayah Aceh.Sumatera Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau. sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero).6. Khusus untuk pulau Tarakan merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN. Sulawesi Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi UtaraTengah-Gorontalo dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat. Nusa Tenggara Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur. Pembangkit tenaga listrik di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan. PLN Wilayah Bangka – Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera. Pulau Batam sendiri merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN. dan Nusa Tenggara. Nias.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali provinsi Kalimantan Barat.

1. PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) 1. yaitu PLN Pembangkitan Tanjung Jati. Bab II menjelaskan kebijakan umum 10 RUPTL 2011. tujuan dan sasaran. Di wilayah ini tedapat juga unit operasi pembangkitan. yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali. Bab I menjelaskan latar belakang.2. dan provinsi Papua dan provinsi Papua Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua.Maluku dan Maluku Utara serta Papua Wilayah usaha PLN di provinsi Maluku dan provinsi Maluku Utara dilayani oleh PLN Wilayah Maluku & Maluku Utara. serta beberapa listrik swasta.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali Wilayah usaha PLN di Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat & Banten. dan sistematika dokumen. PLN Pembangkitan Muara Tawar. PLN Pembangkitan Indramayu dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali. PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang. PLN Pembangkitan Cilegon. Selain itu terdapat anak perusahaan PLN di bidang pembangkitan. Gambar 1. PLN Pembangkitan Lontar.6.2020 . PLN Distribusi Jawa Timur dan PLN Distribusi Bali. visi dan misi perusahaan.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1. landasan hukum.

meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan. Bab V menjelaskan rencana penyediaan tenaga listrik. Bab VIII memberikan kesimpulan. prakiraan kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit.2020 11 . asumsi dasar. Bab IV menjelaskan ketersediaan energi primer. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini. Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam lampiran – lampiran yang menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem kelistrikan dan setiap provinsi. RUPTL 2011. Bab VI menjelaskan kebutuhan investasi. transmisi dan distribusi. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah mitigasinya. serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar.pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan sistem.

Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani kebutuhan tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas pembangkit dan transmisi diharapkan telah selesai5 dan reserve margin telah mencukupi. transmisi dan distribusi. sekaligus untuk memperoleh revenue yang diperlukan untuk debt repayment dan pembayaran kepada listrik swasta. baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. PLN diminta mempertahankan bebas pemadaman listrik. RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi secara signifikan dengan menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup 5 12 Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2.2020 . 1.BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2011 . RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik dalam RUKN 2008-2027 yang diperbaharui dengan draft RUKN 2010-2029 yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2010. proyek pembangkit PLN dan IPP lainnya RUPTL 2011. maka penjualan akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit yang ada. pengembangan pembangkit. Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas karena proyek-proyek pembangkit belum sepenuhnya selesai.8 KEBIJAKAN PELAYANAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK MELAYANI PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan PLN yang juga dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram pada tanggal 27 Juli 2010. PLN telah dan akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan menyewa pembangkit. Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh Indonesia secara terus menerus. Bab II ini menjelaskan kebijakan dimaksud.2020 ini dibuat dengan memperhatikan kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan penjualan.

Kebijakan ini diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman.9 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang direncanakan. Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi.tinggi setiap tahun. biaya operasi dan pemeliharaan. terutama energi terbarukan. dan biaya energy not served6. disamping karena implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi efektif. Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve margin)7. Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost). Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah belum diperhitungkannya dampak program demand side management (DSM) dan program energy efficiency dalam membuat prakiraan demand.2020 13 . 1. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan. RUPTL 2011. dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat. biaya bahan bakar. Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan cukup tinggi sehingga diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan ekonomi sebagaimana direncanakan dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang wajar dalam industri tenaga listrik. Pembangkit sewa dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana 6 Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati konsumen akibat padam listrik 7 LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV. termasuk membuat rasio elektrifikasi semua provinsi minimal 60% pada akhir tahun 2011 dan melayani semua daftar tunggu pada akhir tahun 2011.

memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat dilakukan power exchange.pengembangan kapasitas jangka panjang. Namun demikian. Namun demikian perencanaan pembangkit panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan supply – demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan. Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi. Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik. yaitu hingga 80%. namun dalam jangka pendek diperhitungkan untuk mengatasi kondisi krisis. Mitigasi tersebut misalnya pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan. seringkali mengalami keterlambatan. sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan. serta status kesiapan pengembangannya. pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh lebih cepat9. maka PLN akan mengimbanginya dengan mitigasi tertentu. PLN akan memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari tahun ke tahun. Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional namun telah lama menderita kekurangan pasokan tenaga listrik. dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan berikutnya.2020 . 9 PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya dengan metoda regresi berdasar data historis. 14 RUPTL 2011. pengembangan panas bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria least cost sehingga mereka diperlakukan sebagai fixed plant8. terutama proyek IPP. Pemilihan lokasi kandidat pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi primer setempat atau kemudahan pasokan energi primer. yaitu Sumatra dan Kalimantan. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan dan Sumatera. prinsip regional balance¸ topologi 8 Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa menjalani proses optimisasi keekonomian. kedekatan dengan pusat beban. PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana reserve margin yang sangat besar.

000 MW dengan teknologi ultra super critical13 untuk memperoleh efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah.2020 15 . stabilitas tidak baik. pemukiman.jaringan transmisi yang dikehendaki. atau MW per menit. PLTA peaking dengan reservoir atau pembangkit berbahan bakar compressed natual gas (CNG). Penggunaan ukuran unit sebesar ini juga dimaksudkan untuk memperoleh manfaat dari economies of scale dan didorong oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk membangun pusat pembangkit skala besar di pulau Jawa. maka PLTGU sebagai pembangkit medium (pemikul beban menengah) menjadi tidak dapat direncanakan. dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan capacity factor yang relatif rendah. PLTU atau PLTGB dapat dikembangkan oleh PLN atau swasta. bathymetry. dinyatakan dalam % per menit. tegangan rendah. Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan. yaitu PLTU batubara. yaitu Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC) diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024. PLN telah merencanakan PLTU batubara kelas 1. walaupun untuk fungsi tersebut PLTU batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang mempunyai ramping rate12 tinggi seperti PLTG. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar. mini LNG. lingkungan dan sosial11. 13 PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang secara komersial. Untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali. dan kendala-kendala teknis. Antara lain kondisi tanah. arus hubung singkat terlalu tinggi. kendala pada sistem transmisi10. Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik tenaga gasifikasi batubara) skala kecil merupakan program untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem isolated skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup dekat. Namun pembangkit beban puncak tetap mengutamakan pembangkit non-BBM. Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan apabila terdapat kepastian pasokan gas. 11 RUPTL 2011. Jenis CCT lainnya. 12 Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah outputnya. atau LNG. Pembangkit berbahan bakar minyak hanya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak. hutan lindung. Pertimbangan 10 Pembebanan lebih. seperti pumped storage.

Regional balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang berada di region tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain melalui saluran transmisi interkoneksi. sepanjang hal tersebut layak secara teknis dan ekonomis. Situasi yang sama juga terjadi di sistem Sumatera. Dengan prinsip ini. 14 Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera – Jawa ini adalah kebutuhan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah terpenuhi dengan cukup.000 MW. PLN tidak dapat secara sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. kebutuhan transmisi interkoneksi antar region akan minimal. Untuk proyek-proyek yang jadwalnya masih cukup lama dan belum ditetapkan kepemilikannya. 16 RUPTL 2011. − PLTA dan pumped storage diupayakan menjadi proyek PLN. sehingga di wilayah ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP yang sebagian energinya akan ditransfer ke Sumbagut. atau ditugaskan oleh pemerintah sebagai proyek PLN. Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL disesuaikan dengan kemampuan pendanaan PLN.2020 . Dengan demikian sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai independent power producer (IPP). Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan: − PLTU batubara: Direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah mendapat indikasi pendanaan dari lender. Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam mengembangkan pembangkit di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat beban melalui transmisi.lainnya adalah ukuran sistem Jawa Bali telah mengakomodasi unit pembangkit kelas 1. cukup besar untuk Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan memenuhi prinsip regional balance. Mengingat kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar. Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU mulut tambang skala besar di Sumatra Selatan dan menyalurkan sebagian besar energi listriknya ke pulau Jawa melalui transmisi arus searah tegangan tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)14. dimana sumber daya energi (batubara. panas bumi dan gas) lebih banyak tersedia di Sumbagsel. untuk sementara dimasukkan dalam kelompok proyek PLN.

2020 17 . termasuk pembebasan lahan dan perizinan ROW. RUPTL 2011. 1. dan PLN mengoperasikan serta membayar sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan ditransfer menjadi milik PLN.− PLTG direncanakan sebagai proyek PLN. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Namun demikian. − PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi. 16 Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant. kecuali beberapa transmisi terkait dengan IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan oleh pengembang IPP.10 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSMISI Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandalan tertentu. atau Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total project dan PLN membeli listriknya. Beberapa WKP PLTP di Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya sebagai proyek PLN. Sedangkan potensi panas bumi yang WKPnya dimiliki oleh Pertamina berdasar regulasi terdahulu. Pengembangan transmisi pada dasarnya dikembangkan oleh PLN. 17 Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta. − PLTGU gas direncanakan sebagai proyek PLN apabila telah ada indikasi pendanaan (dan ada kepastian pasokan gas). Pertamina dan PLN dapat bekerja sama mengembangkan PLTP16. PLTGU gas juga direncanakan sebagai proyek PLN jika proyek tersebut merupakan pengembangan dari PLTG milik PLN (proyek add-on). pengembangan PLTP pada umumnya didorong untuk dikembangkan oleh swasta dengan proses pemenangan WKP dilakukan melalui tender oleh Pemda sebagai total project15. terbuka opsi proyek transmisi untuk dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu misalnya build lease transfer (BLT)17. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan 15 Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik) dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya membeli listrik dengan PPA. Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran.

Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar subsistem dengan pola operasi terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan. maka sistem Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan interkoneksi utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang sangat luas.2020 . biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah dan 18 Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan nasional. Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan dengan mempertimbangkan pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan.keterbatasan kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam hal mengurus perizinan dan pembebasan lahan. Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh. Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC adalah mengadopsi tegangan yang banyak digunakan di negara lain. Pemilihan tegangan HVDC disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut) yang banyak digunakan di dunia. Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N – 1 akan dilaksanakan reconductoring dan uprating. biaya pembebasan tanah. Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem isolated yang masih dilayani PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis. yaitu mulai tahun 2018. Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya pembangunan fasilitas sistem transmisi tegangan tinggi. misalnya 500 kV DC (India. melalui laut dan berkapasitas besar memerlukan teknologi transmisi daya arus searah (HVDC). Swedia). 18 RUPTL 2011. yaitu 500 kV DC dan 250 kV DC18. Kanada). Sebagai dampak dari kebijakan tersebut dalam RUPTL ini direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC pada tahap awal di koridor barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat diperlukan di koridor timur Sumatera. teknologi HVDC tidak mempunyai standar tegangan. 250 kV DC (Jepang. Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer energi listrik dari wilayah yang mempunyai sumber energi primer tinggi ke wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas.

pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan aspek keekonomian jangka panjang. Kegiatan berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan dan perbaikan sarana pelayanan.harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit pengelola sistem transmisi. kabel laut) dan perlengkapannya (pemutus. 1. penggunaan tiang. SPLN atau standar internasional yang berlaku.11 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan pada 4 hal. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas sampai dengan 60 MVA. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit per GITET dengan pola operasi terpisah dengan 2 unit per sub-sistem. d. perbaikan SAIDI dan SAIFI. Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai berikut: a. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah. Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi. namun dalam situasi khusus seperti pasokan untuk konsumen besar dan daerah padat beban dapat digunakan unit size hingga 100 MVA. e. kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. jenis saluran (saluran udara. dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik. dengan memenuhi standar SNI. b. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. dan 1 fasa per tipe per propinsi untuk GITET jenis konvensional. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS.2020 19 . c. RUPTL 2011. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan. yaitu: perbaikan tegangan pelayanan. kabel bawah tanah.

dengan tetap memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku. dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah. • Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut belum berlistrik. ditentukan oleh manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik. perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak).12 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melistriki masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari APBN. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat Jendral Ketenagalistrikan (DJK) dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi 80% dan desa berlistrik 98. jenis saluran (saluran udara. termasuk penggunaan tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar. • Dimungkinkan pemasangan Load Break Switch untuk menunjang perbaikan keandalan jaringan tegangan menengah dan tiang 14 meter serta konduktor 240 mm2 untuk mengantisipasi kebutuhan pengembangan sistem. besi atau kayu). daerah terpencil dan daerah perbatasan.9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen ESDM 2010-2014 adalah: • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek GI Baru atau Extension Trafo GI yang pendanaannya diperoleh dari APBN.2020 .Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton. sistem jaringan (radial. kabel bawah tanah). 1. • Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTSurya & hybrid PLTBayu yang sistemnya terhubung dengan grid PLN. 20 RUPTL 2011. • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar dan pembangkit mikro / mini tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari APBN. loop atau spindle). dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi tersebut belum disediakan dari APLN. • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar yang pendanaannya dari APLN.

Papua Barat. Proyek ini diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut untuk pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua – Maluku. biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). biomassa. walaupun hal ini hanya dilakukan secara sangat terbatas dan selektif. pulau-pulau terdepan yang 19 Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit. dan NTT. Dari kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan panas bumi yang sangat besar.2020 21 . arus laut. 20 Dapat dikembangkan menjadi 100 MW. NTB. dan fuel cell.13 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. RUPTL 2011. daerah tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi di provinsi Papua. pembangkit tenaga air skala besar. Khusus mengenai PLTS.• Melaksanakan program listrik murah dengan target masyarakat nelayan. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem berkapasitas 50 MW20 untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi Pegunungan Tengah yang sama sekali belum memiliki listrik. Namun kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek PLTA tanpa menganut prinsip demand driven19 demi mencapai suatu tujuan khusus tertentu. PLN juga mendorong penelitian dan pengembangan EBT lain seperti thermal solar power. 5 tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional. 1. PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan centralized PV secara besar-besaran untuk melistriki banyak komunitas terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal. OTEC (ocean thermal energy conversion). menengah dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa PLTS (tenaga surya). Kedua jenis energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap. walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain. PLTB (tenaga angin). PLN mempunyai kebijakan untuk memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air.

namun lebih didorong oleh semangat PLN untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terpencil untuk memperoleh akses ke tenaga listrik lebih cepat. terutama di wilayah Indonesia Timur.2020 . Pemanfaatan EBT seperti ini tidak selalu berbasis keekonomian. 22 RUPTL 2011.berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya.

1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan penjualan di Jawa Bali relatif lebih rendah daripada pertumbuhan di Sumatera.30 8.62 100.27 8.63 8.2% per tahun.44 17.92 13.66 5.93 4. Pertumbuhan penjualan yang rendah di Jawa Bali pada tahun 2006 disebabkan oleh adanya pengendalian penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit pada tahun tersebut21.2020 23 .92 4.32 3. Tabel 3.39 5.69 16.7 10.7 Growth (%) Jawa .13 4.15 2.57 3.59 8.40 4.8% per tahun sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.81 1.9 9.22 4.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6. RUPTL 2011.65 5.63 3.61 14.77 104.31%.92 11.08 7.96 2.62 6. Selanjutnya pada tahun 2008 mulai terjadi krisis finansial global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik tahun 2009 hanya tumbuh 3.1.64 10.0 8.22 11.21 7.64 3.11 113.24 4.63 133.48 119.42 10.15 9.39 3.56 10. Sulawesi dan Indonesia bagian timur.62 19.38 9.Bali Growth (%) Sumatera Growth (%) Kalimantan Growth (%) Sulawesi Growth (%) Indonesia Bagian Timur Growth (%) 2010 Rata-rata 6. yaitu rata-rata 9.28 7.68 1.91 10.11 145.31 8.59 7.33 9. sehingga 21 Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2005. Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi.08 7.97 127. Kalimantan.6 5.38 10.04 95. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5.66 89.59% per tahun.81 12.61 1. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) Wilayah 2006 2007 2008 2009 Indonesia 111.59 5.77 10.47 Pada Tabel 3.87 7.67 9.33 7.BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI 3.

sementara penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 2.2020 .6 46. Tabel 3.7% per tahun.4 1. Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 8.4 Rumah Tangga Komersial Total 24 RUPTL 2011.108. 3.2 46. dan Nusa Tenggara. yaitu rata-rata 1.633. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor rumah tangga. Papua.8 1.2 juta atau bertambah rata-rata 1. diikuti sektor bisnis dengan rata-rata 61 ribu pelanggan per tahun. Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya. Sulawesi dan Indonesia Timur diperkirakan masih berpotensi untuk meningkat lebih tinggi karena daftar tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang masih rendah.65 juta tiap tahunnya. Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik yang cukup parah hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan.4 988. dan pada tahun 2010 diatasi dengan sewa pembangkit.6 Publik 928.954.0% per tahun. Pertumbuhan di Sumatera.621.770.5 juta per tahun.7 42.2 1. sedangkan penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun.6 38.687.5 1.2 37.052.1 Jumlah Pelanggan Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2006 – 2010 mengalami peningkatan dari 35.4 35.5 34.8 Industri 46. Sedangkan pertumbuhan di Jawa pulih kembali dari dampak krisis keuangan global mulai tahun 2010. sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan dibatasi.1 36. yaitu Maluku. sektor publik rata-rata 55 ribu pelanggan per tahun.879. Tabel 3.1 35.562.585.6 juta menjadi 42. Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 8.164.147. dan terakhir sektor industri rata-rata 550 pelanggan per tahun.0 39.835.3 47.di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi dengan sewa pembangkit sepanjang tahun 2010.1 1.6 48.508.7% per tahun.877.1.897.7 1.3 39.128.2 menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan dalam lima tahun terakhir.3 1.182.1 1. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit] Jenis Pelanggan 2006 2007 2008 2009 2010 32. Kalimantan.

3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) Wilayah 2006 2007 2008 2009 2010*) Indonesia 59.3 65. Tabel 3.1.0 67.2 56.9 67.8 35.1 Kalimantan 54. yaitu sekitar 2. Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.7 54.2 60. Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali.1 62. yaitu dari 59.5 Jawa-Bali 63.2 53.5 53.2 Rasio Elektrifikasi Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dibagi dengan jumlah rumah tangga yang ada.7 *)Termasuk pelanggan non PLN Pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak merata pada masing-masing daerah. dan program GRASSS pada tahun 2010.6 31.6 30. • Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya tertinggi setelah Sumatera.2020 25 .7 Indonesia Bag Timur 30. Kalimantan.8 60. dengan rincian sebagai berikut: • Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan paling tinggi. Rasio elektrifikasi naik cukup tajam pada tahun 2010 karena adanya pembangkit sewa dan berjalannya program ’GRASSS’22 yang diadakan dalam beberapa tahap. • Jawa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1.0 69.0 60.4 Sumatra 57. yaitu sekitar 1.1 54.3% per tahun.8 62.51% pada tahun 2010.3 Sulawesi 53.4 62.9 66. 22 GRASSS: Gerakan sehari sejuta sambungan RUPTL 2011.0% pada tahun 2006 menjadi 66.3 68.9% per tahun.3.8 71.6 30. • Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun 2009 karena teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa pembangkit sewa.6 54.9 55. Sumatera. Perkembangan rasio elektrifikasi secara nasional dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.3.7% per tahun.

206 Daya Mampu Beban Puncak Bruto MW MW 17.954 20.5 Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem kelistrikan di luar Jawa Bali tidak dapat disajikan seperti diatas karena sistem kelistrikan di luar Jawa Bali masih terdiri dari beberapa subsistem yang beban puncaknya non coincident. yaitu hanya 1.301 17.2020 .369 16.• Indonesia bagian timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan yang paling rendah.906 23.309 16. hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi.1% per tahun.206 MW di sistem Jawa-Bali dan 7.6 5. yaitu rata-rata 4.892 21.8% (lihat tabel 3.840 20.960 15. dengan load factor cenderung meningkat.12%. Perbaikan load factor terjadi karena adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan pelanggan baru23.756 Beban Puncak Netto MW 15.236 22.3 Pertumbuhan Beban Puncak Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.9 5. 3.908 MW yang terdiri dari 23.296 22. 3.1).251 16. Tabel 3.4. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak tumbuh relatif rendah.211 18.6 0.126 22.7 77.784 17.3 5.1. 23 Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010 26 RUPTL 2011. yaitu rata-rata 6.7 79. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.2 Faktor Beban % 75 76 78.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN Pada tahun 2010 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia adalah 30.702 MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur.100 Pertumbuhan % 3.596 18.396 16. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010 Deskripsi Satuan 2006 2007 2008 2009 2010 Kapasitas Pembangkit MW 22.835 21.

3.330 1 1. Walaupun kapasitas terpasang pembangkit adalah 7.702 Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang.114 60 118 6.912 MW - 2102 492 38 - - 200 254 - 492 - Riau 90 43 - - 114 - 247 - - - - - - 124 124 207 190 Sumatera Barat Kep.2020 27 . Kapasitas pembangkit tersebut sudah termasuk IPP dengan kapasitas 792 MW.5. Tabel 3. Riau 247 124 Bengkulu 17 - - - 236 - 253 - 253 Sumatera Selatan 43 230 - 285 - - 558 268 825 Jambi 43 62 - - - - 105 - 105 Bangka Belitung 89 - - - - - 89 - 89 Lampung 96 21 - 200 122 - 439 - 439 Kalimantan Barat 217 34 - - 0 - 251 - 251 Kalimantan Selatan 134 21 - 130 30 - 315 - 315 Kalimantan Tengah - - - - - 78 Kalimantan Timur 247 40 60 - - - 347 Sulawesi Utara 114 - - - 54 60 228 58 - - - 1 - 59 Sulawesi Tengah 113 - - - 6 - Sulawesi Selatan 103 149 - Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timu TOTAL 24 PLTD Kapasitas Kapasitas Kapasitas Total Total Total PLN IPP PLN+IPP 78 - 78 45 392 3 231 119 31 150 - 400 255 655 - 8 - 8 - 76 - 76 105 - 59 123 - 25 8 - - - 75 - - - 105 - - - - - 105 - 76 - - - - - 76 - 76 119 - - - - 121 - 121 1 2 42 - - - 2 - 44 - 44 139 - - - 1 - 140 - 140 117 2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistemsistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada saat ini adalah 7.702 MW dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.702 MW. RUPTL 2011.910 792 18 7.2.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 PLN PROVINSI NAD Sumatera Utara PLTG PLTGU MW MW MW PLTU PLTA/M MW MW PLTP MW MW MW 205 - - - 2 - 207 53 411 818 490 140 - 1. kemampuan netto dari pembangkit tersebut lebih rendah dari angka tersebut karena banyak PLTD (1600 MW) yang telah berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating24.543 - - 985 878 1.

800 MW pada tahun 2010. Reserve margin yang rendah tersebut berlanjut ke awal tahun 2011 dan dan pada saat yang sama terjadi kondisi luar biasa pada 28 RUPTL 2011.2 Wilayah Operasi Jawa Bali Kapasitas pembangkit baru yang masuk ke sistem Jawa-Bali pada tahun 2010 adalah PLTU Labuan unit 2 (300 MW). reserve margin pada akhir tahun 2010 menipis menjadi hanya 24%.2020 .2.35 78 90. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) tahun 2010 No PLN Wilayah Kapasitas (MW) 1 Babel 2 Kalbar 3 Kalselteng 4 Kaltim 5 Kitsumbagsel 250 6 Kitsumbagut 108 7 Maluku 8 NAD 122 9 NTB 147 10 NTT 58. Dengan terus meningkatnya beban puncak sistem Jawa Bali dan tambahan pembangkit baru yang hanya 300 MW karena terlambatnya proyek FTP-1.9 Jumlah 43 112. maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 1. Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut.3 158. Tabel 3. hampir seluruh unit usaha PLN telah melakukan sewa pembangkit.833 MW.5 85 138. Jika beban puncak dibandingkan dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila menerapkan kriteria cadangan 35%.Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur mencapai 6.85 11 Papua 12 Riau dan Kepri 13 S2JB 14 Sulselrabar 15 Suluttenggo 107 16 Sumbar 11. Kapasitas pembangkit sewa yang ada di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun 2010 mencapai 1.4 3.5 34 289 1833.000 MW.

yaitu Saguling (700 MW). yaitu Nusa Tenggara Timur.3 575 1.5 4.587 1.2 4. Maluku.2020 29 .136 9. Sedangkan pulau lainnya. Jenis Pembangkit IP PJB PLN Jumlah IPP MW 1 PLTA 2 PLTU Batubara 1.507 19.984 8.17 39.045 4.206 100 3.7% per tahun dalam periode 2006 – 2010.035 23.961 6.518 252 1.283 3. RUPTL 2011.645 MVA meningkat menjadi 11. Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 9.9 3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera.065 MVA pada tahun 2010. 25 Seluruh PLTA besar di DAS Citarum. dimana kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2006 sekitar 7.92 % 1. dan Papua belum memiliki saluran transmisi. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 No.05 9.103 1.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI 3. sehingga telah terjadi beberapa kali defisit pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di Jawa Bali. Tabel 3.3 500 2.7. Kalimantan dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi.5 76 0.1 1.536 10.5 1 4.3. Rincian kapasitas pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit dan pengelolaannya dapat dilihat pada Tabel 3.4 2.2 1 500 PLTGU BBG/BBM BBM 4 1.4 800 BBG/BBM BBM 3 150 2.692 150 858 3.496 640 740 PLTG BBG/BBM BBM 40 62 806 320 5 PLTD 76 6 PLTP 360 Jumlah 8.18 2.pengoperasian PLTA di Jawa Barat25. Cirata (1000 MW) dan Jatiluhur (150 MW) mempunyai DMA (Duga Muka Air) yang jauh lebih rendah dari perkiraan tahun paling kering.

Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk
di sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MVA)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275/150 kV

160

160

160

160

160

4.419

4.474

4.804

5.17

5.92

360

360

360

350

335

1.094

1.174

1.174

1.383

1.453

70/20 kV

157

157

157

153

187

150/20 kV

923

1.045

1.074

1.064

1.064

70/20 kV

532

546

606

546

560

275/150 kV

160

160

160

160

160

150/20 kV

6.436

6.693

7.052

7.597

9.823

70/20 kV

1.049

1.063

1.018

1.138

1.082

150/20 kV
70/20 kV
Kalimantan
150/20 kV

Sulawesi

Sub-Total

Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (kms)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275 kV

-

781

781

1.011

1.011

150 kV

8.521

7.739

8.423

8.221

8.224

310

334

334

334

331

1.264

1.305

1.429

1.429

1.567

123

123

123

123

123

70 kV
Kalimantan
150 kV
70 kV
Sulawesi

1.769

1.839

1.957

1.957

2304

70 kV

505

505

505

519

832

275 kV

-

781

781

1.011

1.011

10.884

11.509

11.657

12.253

150 kV

Sub-Total

150 kV
70 kV
Total

30

11.554
938

962

962

976

1.287

12.492

12.627

13.252

13.594

14551

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat ratarata 3,9% per tahun dalam kurun waktu 2006-2010, dimana panjang saluran
transmisi pada tahun 2006 sekitar 12.492 kms meningkat menjadi 14.551 kms
pada tahun 2010.

3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali
Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem Jawa
Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000)
Level Tegangan

Unit

2006

2007

2008

2009

2010

150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

27,08

28,44

70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

Jumlah

MVA

28,18

28,87

28,90

29,82

31,19

B.Puncak

MW

15,95

16,26

16,31

17,21

18,10

Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali
Unit
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

500 kV

kms

5,05

5,05

5,09

5,11

5,05

150 kV

kms

11,27

11,61

11,85

11,97

12,37

70 kV

kms

3,66

3,58

3,61

3,61

3,61

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak
bertambah, bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi
150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas
pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan
trafo GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu
5 tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.

RUPTL 2011- 2020

31

Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)
Satuan
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

Kit.Sistem 500 kV

MW

12,97

12,97

12,97

12,97

12,97

Trf. 500/150 kV

MVA

17,00

17,00

17,00

17,50

19,5

Kit. Sistem 150 kV

MW

8,89

8,99

9,01

10,11

10,41

Trf. 150/70 kV

MVA

3,58

3,58

3,58

3,82

3,82

Kit. Sistem 70 kV

MW

0,27

0,27

0,27

0,27

0,27

Trf. 150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

26,33

28,44

Trf. 70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali
Pada beberapa tahun terakhir terdapat bottleneck sistem transmisi yang
memasok sistem Jakarta dan pulau Bali yang berdampak pada kenaikan biaya
operasi dari pembangkit BBM.
Beban listrik sistem Jakarta pada tahun 2010 adalah 7.250 MW dan dilayani
oleh pembangkit di Muara Karang dan Tanjung Priok yang terhubung ke sistem
jaringan tegangan tinggi 150 kV. Sistem 150 kV Jakarta ini juga dipasok oleh
sistem transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV melalui interbus transformer
(IBT) 500/150 kV di GITET Bekasi, Cawang, Gandul, Depok dan Kembangan.
Pembebanan trafo IBT di GITET-GITET tersebut telah melebihi 80%.
Untuk mengatasi pembebanan IBT yang tinggi telah dilakukan penambahan
IBT di GITET Bekasi-3 (November 2010) dan Gandul-3, Cibatu-4, dan
tambahan spare IBT 500/150 kV 166 MVA untuk GITET, Cibatu, Kembangan,
Depok, Balaraja dan Cawang. Penambahan IBT di Bekasi dan Gandul
dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian BBM di Muarakarang dan Priok.
Pulau Bali pada beberapa tahun terakhir mengalami defisit daya. Beban puncak
tahun 2010 adalah 549 MW, dilayani oleh pembangkit BBM dengan daya
mampu 380 MW dan kabel laut Jawa – Bali yang menyalurkan daya 180 MW.
Untuk mengatasi kekurangan daya jangka pendek, telah dilakukan sewa
pembangkit pada tahun 2010 sebesar 126 MW sehingga kondisi kelistrikan
pulau Bali mulai membaik, namun masih belum memenuhi keandalan yang
seharusnya.
Untuk mengurangi konsumsi BBM di pulau Bali, saat ini sedang dibangun
kabel laut sirkit 3,4 Jawa – Bali yang akan beroperasi pada bulan Mei 2012.

32

RUPTL 2011- 2020

3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI
Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi
pada lima tahun terakhir.
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi
Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2006 cenderung menurun ke
tingkat 7,64% pada tahun 2010 sejalan dengan usaha-usaha menekan susut
jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%)
2006

2007

2008

2009

2010

9,18

8,84

8,29

7,93

7,09

Susut Distribusi

3.4.2 Keandalan Pasokan
Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan
indikator SAIDI dan SAIFI26 jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat
pada Tabel 3.14.
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN
2006

2007

2008

2009

2010

SAIDI (jam/pelanggan/tahun)

27,01

28,94

80,90

16,70

7,00

SAIFI (kali/pelanggan/tahun)

13,85

12,77

13,33

10,78

6,85

Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat
pada Lampiran A, B dan C yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK
Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi
daerah-daerah yang kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit
berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta melistriki daerah
yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan
dan terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

26

SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average
Interruption Frequency Index

RUPTL 2011- 2020

33

3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek
3.5.1.1

Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat

Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi
Indonesia Barat dan Timur pada dasarnya disebabkan olehh keterlambatan
penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP.
Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan
pasokan dan menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien serta
menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya
tertinggal.
Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut
meliputi sewa pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi
listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan
Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU
batubara PerPres 71/2006, membangun saluran transmisi, mengamankan
kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS centralized
dan solar home system secara terbatas.
Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli
semua potensi excess power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup
untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu menambahnya dengan
menyewa pembangkit.
Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai
berikut: (i) memenuhi kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan
bersifat sementara sebelum pembangkit utama non-BBM beroperasi; (ii)
menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien dengan PLTD yang
mempunyai sfc (specific fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio
elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak
tersedia sumber daya EBT lainnya.
Sewa pembangkit tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG
(gas engine), PLTGB dan PLTU yang dapat tersedia dalam waktu relatif
singkat.
Tambahan sewa PLTD dan PLTGB/PLTMG yang dilakukan PLN pada tahun
2010 berjumlah 1.396 MW yang terdiri atas 837 MW di Indonesia Barat dan
559 MW di Indonesia Timur. Selanjutnya pada tahun 2011 akan dilakukan
tambahan sewa PLTD/PLTGB/PLTMG sebesar 932 MW. Pada tahun 2012 di
34

RUPTL 2011- 2020

Indonesia Barat akan dilakukan penambahan sewa sebesar 578 MW,
sedangkan di Indonesia Timur akan ada pengurangan sewa sebesar 211 MW
dengan rincian diberikan pada tabel 3.15.

Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012
No

3.5.1.2

Lokasi Sewa PLTD

Kapasitas (MW)
2011

2012

1

Indonesia Barat

688

578

2

Indonesia Timur

264

- 211

Wilayah Operasi Jawa Bali

Upaya yang dilakukan PLN di Jawa Bali meliputi memenuhi pertumbuhan
demand, mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan keandalan.

3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur
Hal – hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur meliputi antara lain:
3.5.2.1

Pembangkitan

Mempercepat pembangunan proyek percepatan PLTU batubara 10.000 MW
tahap 1, termasuk tambahan proyek PLTU Riau 2x110 MW27 dan PLTU
Muara Jawa/Teluk Balikpapan di Kaltim 2x110 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti
PLTA Asahan 3 – 174 MW, PLTA Peusangan 86 MW, PLTU Sumut Baru
2x200 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG Bangkanai 4x70 MW
(tahun pertama baseload dan tahun berikutnya berubah menjadi peaking),
PLTU Takalar 2x100 MW, PLTG Sulsel Baru 2x50 MW, Makassar (peaking)

27

Terjadi perbedaan antara kapasitas pembangkit terkontrak dan kapasitas sesuai PerPres No.
71/2006 jo PerPres 59/2009, yaitu PLTU Riau/Tenayan, PLTU Maluku dan PLTU Kaltim /Muara
Jawa/Teluk Balikpapan. Perbedaan kapasitas tersebut memerlukan endorsement dari
Kementerian ESDM.
RUPTL 2011- 2020

35

1x50 MW dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW, PLTU Lombok APBN
1x25 MW dan PLTU Atambua 4x6 MW serta banyak PLTU batubara skala
kecil dan PLTGB tersebar di luar Jawa Bali.

Melaksanakan program sewa PLTU di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
dengan kapasitas total antara 1.750 MW dan 2.160 MW sebagai upaya
mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek-proyek IPP dan proyekproyek PLTP baik yang dibangun oleh PLN maupun oleh IPP. Proyek PLTU
sewa ini diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013.

Mempercepat pengadaan gas untuk memasok PLTGU Belawan 2x400 MW
dan tambahan PLTG task force 100 MW tahun 201228.

Mempercepat penyelesaian kontrak gas PLTGU Sengkang 180 MW.

Mempercapat pengadaan gas untuk kawasan Indonesia Timur, antara lain
untuk PLTG Semberah 2x20 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG
Kaltim sewa 100 MW, PLTG Sulsel 2x50 MW, PLTG Makassar (peaking)
1x50 MW, dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik IPP, antara lain PLTA
Poso 195 MW, PLTU Jeneponto 2x100 MW, PLTU Takalar 2x100 MW,
PLTU Kalbar 2x25 MW, PLTU Kaltim 2x100 MW, PLTU Kalsel 2x100 MW,
PLTG Senipah 80 MW, PLTU Sulut 2x25 MW, PLTU Sumbawa 2x10 MW,
PLTU Sumsel-5 2x150 MW, PLTU Sumsel-6 2x300 MW, dan PLTU
Sumsel-7 2x150 MW.

Mempercepat pembangunan beberapa proyek PLTP dengan total kapasitas
minimal 1.025 MW untuk dapat beroperasi sampai dengan tahun 2015.
Proyek-proyek PLTP tersebut diberikan pada tabel 3.16.

28

Opsi pasokan gas ke Belawan adalah regasifikasi di Arun berikut pipa gas ke Belawan, atau
FSRU di Belawan dengan sumber LNG dari BP Tangguh.
36

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun 2015
No.

NAMA PEMBANGKIT

1

Ulumbu #1,2,3 & 4

2

Tulehu #1 & 2

3

Ulumbu #5 & 6

4

Lahendong 4

KAP. (MW)

DEVELOPER

NTT

4 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Maluku

2 X 10

PLN – TOTAL PROJECT

NTT

2 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Sulut

1 X 20

PLN (HULU) – PGE (HILIR)

5

Ulubelu #1 & 2

Lampung

2 X 55

PLN (HULU) – PGE (HILIR)

6

Hululais #1 & 2

Sumsel

2 X 55

PLN (HULU) – PGE (HILIR)
PLN (HULU) – PGE (HILIR)

7

Sungai Penuh #1 & 2

8

Lumut Balai #1 & 2

9

Ulubelu #3

Jambi

2 X 55

Sumsel

2 X 55

PGE

Lampung

1 X 55

PGE
PGE

10

Lahendon #5 & 6

Sulut

2 X 20

11

Karaha Bodas #1

Jabar

1 X 30

PGE

12

Kamojang #5

Jabar

1 X 60

PGE

13

Sarulla #1

Sumut

1 X 110

KONS. MEDCO

14

Dieng #2

Jateng

1 X 55

GEODIPA EN.

15

Patuha #1

Jabar

1 X 60

GEODIPA EN.

16

Wayang Windu #3

Jabar

1 X 120

STAR ENERGY

17

Tangkuban Perahu 2 #1

Jabar

1 X 30

WSS

Jumlah

LOKASI

1025

Mempercepat pengadaan pembangkit untuk dapat menyerap gas Jambi
Merang sebesar 65 bbtud. Proyek pembangkit tersebut adalah: 1) PLTG
Payo Selincah 2x50 MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012
akan menyerap gas sebesar 25 bbtud. 2) PLTG sewa di Rengat 20 MW
yang akan masuk ke sistem 20 kV akan menyerap gas sebesar 4 bbtud.
3) PLTG Duri 100 MW dengan rencana COD tahun 2012 akan menyerap
gas sebesar 24 bbtud. 4) Relokasi PLTG ex Jawa 3x20MW dengan
rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 12
bbtud.

Merencanakan beberapa kebutuhan pembangkit peaker untuk dapat
menyerap potensi gas yang ada, yaitu: 1) PLTG Belawan 400 MW untuk
dapat menyerap gas yang berasal dari FSRU LNG Belawan atau
regasifikasi LNG di Arun. 2) PLTMG Sei Gelam 90 MW untuk menyerap
CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. 3) PLTG/PLTMG Sangeti 80100 MW untuk menyerap gas Sangeti sebesar 6 bbtud, perlu dibangun
fasilitas CNG. 4) PLTG/PLTMG Jaka Baring 50-60 MW untuk menyerap
CNG Jaka Baring sebesar 3 bbtud. 5) Untuk dapat menyerap gas
Jabung sebesar 20-30 bbtud PLN akan membangun PLTG dengan total
kapasitas

500 MW

yang

berdasarkan

kebutuhan

sistem

akan

ditempatkan di Riau 200 MW, Jambi 100 MW dan Lampung 200 MW.
RUPTL 2011- 2020

37

Untuk itu diperlukan fasilitas mini LNG. 6) PLTG Bangkanai 280 MW
untuk menyerap gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas
CNG di dekat lokasi PLTG, PLTMG Bintuni untuk menyerap gas
Tangguh 2 bbtud.
3.5.2.2

Transmisi dan Gardu Induk

Mempercepat pembangunan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275 kV
di jalur barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau – Bangko - Muara Bungo –
Kiliranjao).

Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao – Payakumbuh –
Padang Sidempuan dan Payakumbuh - Garuda Sakti.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok –
Galang dan IBT 275/150 kV di Galang.

Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu – Binjai
dan IBT 275/150 kV di Binjai yang harus dapat beroperasi seiring dengan
beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada pertengahan tahun 2012.

Melaksanakan pembangunan transmisi 275 kV jalur timur Sumatera dari
Betung – Aur Duri – Rengat – Garuda Sakti.

Mempercepat interkoneksi Kalbar-Serawak melalui transmisi 275 kV yang
diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2014, untuk memenuhi kebutuhan
sistem Kalbar dan menurunkan BPP.

Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut. Tujuan
interkoneksi ini disamping untuk memenuhi kebutuhan sistem Bintan juga
sekaligus akan menurunkan BPP di sistem Bintan.

Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng Kaltim dan sistem interkoneksi 150 kV Sulut – Gorontalo termasuk
pemasangan reaktor di Gorontalo.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso – Palu,
transmisi 70 kV sistem Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem
Jayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel bawah tanah 150 kV
Tanjung Bunga – Bontoala.

38

RUPTL 2011- 2020

Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Tanjung – Buntok –
Muarateweh dan Muarateweh – Bangkanai.

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali
Hal – hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi
antara lain:

Penguatan pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program:
-

Mempercepat penyelesaian penambahan IBT 500/150kV 500 MVA di 2
lokasi, yaitu IBT-4 Bekasi 1x500MVA, IBT-2 Depok 1x500MVA.

-

Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu:
Durikosambi 2x500MVA (2013) dan Muaratawar 2x500MVA (2013).

-

Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung Jati - Tx
Ungaran, SUTET Suralaya Baru – Balaraja, SUTET Balaraja –
Kembangan (2013), dan Kembangan – Durikosambi (2013).

-

Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar – Cibinong – Bekasi – Cawang.

-

Menyediakan cadangan IBT 500/150kV 166 MVA di 3 lokasi GITET
yaitu Durikosambi, Bekasi, Muaratawar dan Gandul.

Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:
-

Penambahan IBT 500/150kV di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon
1x500MVA, IBT-3 Pedan 1x500 MVA, IBT-3 Krian 1x500MVA, IBT-3
Ungaran 1x500MVA, IBT-3 Mandirancan 1x500MVA, IBT-2 Ngimbang
1x500MVA, IBT-2 Tasikmalaya 1x500MVA dan IBT-2 Grati 1x500MVA.

-

Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung
1x500 MVA (2012), Tanjung Jati 2x500 MVA (2012), Rawalo/Kesugihan
1x500MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya
Selatan 2x500 MVA (2012).

-

Pengadaan spare IBT 166 MVA di 4 lokasi GITET, yaitu Mandirancan,
Pedan, Krian, Kediri dan Grati.

-

Mempercepat penyelesaian SUTET Grati – Surabaya Selatan (2012).

RUPTL 2011- 2020

39

Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu:
-

29

SUTT terkait dengan pembangkit PLTU IPP Cirebon 1x660 MW29, yaitu
SUTT Sunyaragi - PLTU Cirebon - Brebes – Kebasen.

Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3&4 (Mei 2012).
Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal
(2015).
Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130 MW +
2x125 MW (2014).

COD PLTU Cirebon adalah November 2011 berdasar laporan progres konstruksi.

40

RUPTL 2011- 2020

BAB IV
KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER

4.1 BATUBARA
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya
batubara Indonesia adalah 104,8 milyar ton yang tersebar terutama di
Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton), namun cadangan
batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton,
Sumatera 11,2 milyar ton).
Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan
kandungan panas kurang dari 5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas
medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit (12%) yang
berkualitas tinggi (6100–7100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)30.
Walaupun cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat
produksi batubara sangat tinggi, yaitu mencapai 320 juta ton pada tahun 2010.
Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke China, India,
Jepang, Korea Selatan dan Taiwan (265 juta ton) dan ke beberapa negara lain,
dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan domestik (60 juta
ton). Produksi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan meningkat
sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya
pasar batubara internasional. Jika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton,
maka seluruh cadangan batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton akan habis
dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak dilakukan eksplorasi baru. Untuk
menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat, Pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang
mewajibkan produsen batubara untuk menjual sebagian produksinya ke
pemakai dalam negeri.
Persoalan yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah aspek security of
supply dan aspek kualitas. Keamanan pasokan batubara sangat ditentukan

30

Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah
menggunakan standar GAR (gross as received). Perbedaan antara adb dan GAR dapat
dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai
GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.

RUPTL 2011- 2020

41

oleh kebijakan pemerintah mengenai DMO dan batasan harga dalam negeri,
khususnya untuk kelistrikan, disamping kesiapan infrastruktur seperti
pengembangan tambang batubara itu sendiri, jalan, jembatan, dermaga dan
sarana transportasi yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah dunia
hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan
harga batubara di pasar dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah. Pada saat yang sama harga batubara Indonesia telah menembus
angka US$ 100 per ton (6322 kcal/kg GAR), dan harga tinggi ini telah
mendorong produsen batubara untuk lebih banyak mengekspor batubaranya ke
pasar dunia, terutama ke China dan India. Masalah kesiapan infrastruktur
memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara
yang tersedia di tambang dapat sampai ke pusat-pusat pembangkit yang
tersebar di Indonesia.
Dalam RUPTL tahun 2011-2020 ini terdapat rencana pengembangan beberapa
PLTU mulut tambang di Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang yang
digunakan di sini adalah PLTU batubara yang berada di dekat tambang
batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi skala besar
yang memungkinkan batubara diangkut ke pasar secara besar-besaran,
sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada dasarnya menjadi tidak
tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut
tambang tidak ditetapkan berdasar HBA, melainkan berdasar formula cost plus
margin yang di lock-in sepanjang umur pembangkit dengan eskalasi tertentu.
PLN juga menghadapi persoalan dalam memperoleh pasokan batubara yang
sesuai dengan spesifikasi boiler PLTU. PLN tengah mengevaluasi beberapa
pilihan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara. Saat ini teknologi yang
dipilih adalah dengan coal dryer dan coal blending. PLN akan segera
mengadopsi teknologi coal dryer. Selain itu PLN mempunyai program untuk
membangun sebuah coal blending facility.
PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga
batubara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.
Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi karbon dioksida yang
menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel
dan bahan kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap
lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik
berbahanbakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang
ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi
perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa.
42

RUPTL 2011- 2020

Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC
(integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage)
belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang
secara teknis dan komersial.

4.2

GAS ALAM

Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang
terbesar dalam skala dunia, namun cadangan gas alam di Indonesia cukup
besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di kepulauan
Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur
(21,49 Tscf) serta Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan
cadangan di Natuna.
Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga
listrik di Indonesia tidak tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan
pasokan gas di hampir seluruh pembangkit berbahanbakar gas di Indonesia.
Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN terus mengalami penurunan dan
ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir ini31. Disamping cadangan gas
lapangan terus mengalami depletion, PLN juga menghadapi kesulitan dalam
memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar. Sumber-sumber
gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka
panjang dengan pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya
memperoleh pasokan gas dari sumber-sumber tersebut.

31

Misalnya Belawan, Teluk Lembu, Muara Karang, Priok, Muara Tawar, Tambak Lorok,
Pesanggaran/ Gilimanuk di Bali dan pembangkit lainnya.

RUPTL 2011- 2020

43

Tabel 4.1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali
No
1

2

Pembangkit
Muara Karang dan Priok

Muara Tawar

3

Cilegon

4

Tambaklorok

5

Gresik

6

Grati

Pemasok
PHE ONWJ (GSA)
PHE ONWJ (Excess capacity)
PGN ‐ Priok (GSA‐IP)
FSRU PT NR (proses GSA)
Jumlah
PERTAMINA ‐ P Tengah (GSA)
PGN (GSA)
MEDCO Lapangan Singa
MEDCO SCS
Ex kontrak PLN Jambi Merang*)
PGN ‐ Tambahan, Firm (GSA)
Tambahan dari Conoco Philip
Tambahan dari Petrochina
Jumlah
CNOOC (GSA)
PGN (GSA)
Jumlah
Petronas (Approval GSA)
SPP (GSA‐IP)
Jumlah
Kodeco (GSA)*
Hess (GSA)
KEI (GSA)
MKS (GSA)
WNE (GSA)
Petronas‐Bukit Tua (potensi‐PJB)
AEI
Jumlah
Santos Oyong (GSA‐IP)
Santos Wortel (GSA‐IP)
Parna Raya (Potensi‐IP)
Jumlah

2011
     100.0
       20.0
       30.0
         ‐
     150.0
       25.0
       59.0

2012
     100.0
       20.0
       30.0
     260.0
     410.0
       25.0
       59.0

2013
     100.0
       20.0

2014
     100.0
       20.0

2015
     100.0

2016
     100.0

2017

     175.0
     295.0
       25.0
       59.0

     175.0
     295.0
       25.0
       59.0

     175.0
     275.0
       25.0
       59.0

     140.0
     240.0

     140.0
     140.0

2018

2019

2020

     140.0       140.0       140.0
     140.0       140.0       140.0

       20.0        20.0        20.0
         34.8          31.1          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0
       20.0        20.0        20.0
       30.0
      158.8       185.1       139.0         99.0         99.0         15.0         15.0         15.0            ‐
           ‐
       80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0          80.0          80.0
       30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0          30.0          30.0
     110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0       110.0       110.0
      106.0       116.0       116.0       116.0       116.0       116.0
       50.0        50.0        50.0        50.0        50.0        50.0          50.0          50.0
         ‐
         ‐
       50.0        50.0      156.0      166.0      166.0      166.0       166.0       166.0
     123.0      123.0      123.0
         50.0          68.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0
     130.0      130.0      130.0        60.0        60.0        60.0        60.0          60.0          60.0
       11.0        11.0        11.0
       20.0        20.0        20.0        17.0        12.0        12.0        12.0          12.0          12.0
       25.0        54.0        62.0        47.0
          8.0
     192.0      352.0      334.0      225.0      181.0      184.0      169.0      122.0       122.0       122.0
       57.5        50.0        40.0        40.0        40.0
          7.5        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        20.0          20.0          20.0
       40.0        40.0        40.0        40.0        40.0          40.0          40.0
       65.0        80.0        70.0      110.0      110.0        70.0        70.0        60.0         60.0         60.0

Tabel 4.2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali
No
Pembangkit
1 Aceh Timur
2 Belawan

3
4
5
6
7

Teluk Lembu
PLTG sewa Bentu
PLTG sewa Melibur
PLTG sewa Jabung
Sungai Gelam

8 Sengeti (CNG)
9 Simpang Tuan
10 Payo Selincah
11
12
13
14
15

Jakabaring (CNG)
Indralaya
Talang Duku
Borang
Keramasan

16
17
18
19
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Duri
Rengat
Tanjung Batu
Semberah
Tarakan
Nunukan
CBM Sangata
PLTG Kolonedale
Sengkang
ANTAM + Indonesia
Luwuk
Indonesia Tersebar
KTI Tersebar

Pemasok
Medco Blok A
Kambuna
FSRU LNG Tangguh
Anggor (Potensi)
Kalila
Kalila Bentu (Potensi)
Kondur (Potensi)
Petro China (Potensi)
EMP Sungai Gelam
PEP ‐ TAC Sungai Gelam
PT Arthindo Utama
Perusda Jambi
Energasindo
Jambi Merang
PDPDE Sumsel
Medco E&P Indonesia
PGN
Medco E&P Indonesia
Medco E&P Indonesia
Pertamina EP
Jambi Merang
Jambi Merang
TAC Semco
TAC Semco
Lap Bangkudulis (Potensi)
Medco (Potensi)
VICO
Job PTM‐Medco Tiaka (Potensi)
EEES
EEES Kera (Potensi LNG)
Job PTM‐Medco Senoro (Potensi)
Pertamina EP Matindok (Potensi)
Bontang (Potensi)
Jumlah

2011
2012
2013
2014
        ‐
        ‐
      13.0       13.0
      25.3       13.0         5.0         ‐
        ‐
        ‐
        ‐
    105.0
      40.0
        5.0         9.0       30.0       30.0
        3.0         3.0         3.0
        0.6         0.6         0.6
      30.0       30.0       30.0
        ‐
        2.0         2.0         2.0
        ‐
        2.5         2.5         2.5
        5.6         5.6         5.6
        3.0         3.0
      18.0       18.0       18.0       18.0
        4.0       25.0       25.0       25.0
        ‐
        3.0         3.0         3.0
      19.3       24.0         ‐
        ‐
        8.0         8.0         8.0         8.0
      15.0       15.0       15.0         ‐
      22.0       22.0       22.0         ‐
      15.0       15.0       15.0       15.0
        ‐
      10.0       10.0       14.0
        ‐
        4.0         4.0         4.0
        7.0         7.0         7.0         7.0
        ‐
        5.0         5.0         5.0
      18.0       18.0       18.0
        2.5         2.5         2.5
        0.5         0.5         0.5         0.5
        2.0         2.0
        ‐
      15.0       15.0       15.0
      70.0
        5.0

2015
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0
        0.6
      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
      15.0
      14.0
        4.0
        7.0
        5.0
      18.0
        2.5
        0.5
        2.0
      15.0
      70.0
        5.0

2016
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0

2017
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0

      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐
      18.0
        2.5

      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐
      18.0
        2.5

        2.0
      15.0
      70.0
        5.0
      20.0
      41.5       41.5       41.5       41.5
   139.1    257.7    306.2    488.2    488.2    480.1

        2.0
      15.0
      70.0
        5.0
      20.0
      41.5
   480.1

2018
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

2019
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

2020
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

        2.0         ‐
        ‐
        ‐

        ‐
        ‐

        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐

        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐

        ‐
      25.0
        3.0
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐

        2.5         2.5
        2.0         2.0         2.0
      15.0       15.0       15.0
        5.0
      20.0
      41.5
   401.0

        5.0
      20.0       20.0
      41.5       41.5
   370.0    316.5

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk
pembangkit PLN di Jawa Bali dan di luar Jawa Bali.
Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, pasokan gas ke pembangkit
PLN pada umumnya akan menurun atau berkurang. Selain itu pengembangan
infrastruktur penyaluran gas dari sumur-sumur baru ke pembangkit PLN sangat
terbatas. Di lain pihak pembangkit PLN, khususnya PLTGU yang berada di
pusat beban, harus tetap dijalankan (must-run) karena peranannya tidak dapat
44

RUPTL 2011- 2020

digantikan oleh pembangkit di tempat lain. Selama ini pembangkit must run
tersebut terpaksa dioperasikan dengan BBM karena kekurangan pasokan gas.
Situasi tersebut mengharuskan PLN untuk memperoleh pasokan gas dalam
bentuk LNG walaupun pada harga yang relatif tinggi untuk digunakan pada
pembangkit tersebut. Pada saat ini telah direncanakan LNG floating storage &
regasification unit (FSRU) di 3 lokasi, yaitu Belawan untuk memasok PLTGU
Belawan32, Jakarta untuk memasok PLTGU Muara Karang dan Priok, serta
Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk memasok kebutuhan gas di pulau Jawa
secara umum33. Pasokan LNG ke FSRU tersebut akan berasal dari Bontang,
Tangguh atau impor.
PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dimanapun tersedia, karena
tersedianya gas dapat dengan cepat dan mudah diubah menjadi listrik34 untuk
memenuhi kebutuhan listrik setempat, terutama di daerah yang telah lama
menderita kekurangan listrik. PLN akan membeli gas pada semua volume,
termasuk gas dari sumber-sumber yang sangat kecil, gas flare dan gas
marginal.
Selain itu apabila dalam suatu sistem kelistrikan telah tersedia pembangkit
baseload yang cukup, PLN bermaksud untuk sedapat mungkin menyimpan gas
lapangan (gas pipa) dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan
memakainya untuk pembangkit peaking. Dengan cara ini PLN dapat
meningkatkan nilai dari gas karena menggantikan BBM pada pembangkit
peaking.
Dalam hal PLN memperoleh alokasi gas dalam bentuk LNG, seperti dari
Bontang, Donggi-Senoro, Tangguh atau Sengkang, PLN bermaksud akan
mendistribusikannya ke sejumlah pembangkit peaking tersebar dengan
teknologi mini-LNG. Hal ini telah diprogramkan oleh PLN untuk wilayah operasi
Indonesia Timur.
Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah
tidak tersedianya pipa transmisi gas alam ataupun fasilitas pendukung dari
sumber-sumbernya ke pusat pembangkit. PLN menyambut baik rencana

32

Pemerintah telah mengkaji opsi FSRU Belawan digantikan dengan memanfaatkan fasilitas
LNG plant di Arun.
33

Dikaitkan dengan rencana pembangunan pipa gas “Trans Jawa” di sepanjang pulau Jawa.

34

Membangun pembangkit berbahan bakar gas dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

RUPTL 2011- 2020

45

pembangunan pipa gas Trans-Jawa oleh Pertagas karena hal itu akan
mengintegrasikan sumber-sumber gas di Jawa dan sangat membantu
fleksibilitas operasi pasokan gas ke pusat-pusat pembangkit PLN di pulau
Jawa.
Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan
untuk memikul beban medium (mid-merit). Namun pada beberapa kontrak
pasokan gas terdapat ketentuan pemakaian gas yang membuat pembangkit
gas dioperasikan untuk mengisi beban dasar. Kesulitan dalam memperoleh
pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan
batubara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga
beberapa PLTU batubara di masa depan juga berperan sebagai pemikul beban
menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-60%).
PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit
beban puncak dengan beralih ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan
dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1 LNG dan Mini-LNG
PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan
pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan
Sumatera. Sedangkan di Indonesia Timur dan Barat PLN merencanakan
pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak. Mengingat harga gas
dari mini-LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya dipakai untuk pembangkit
peaking, bukan untuk pembangkit beban dasar.
Beberapa daerah di Indonesia Barat yang direncanakan memanfaatkan LNG:

46

Belawan: PLN mengambil LNG sebanyak yang diperlukan untuk
pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run, dan PLN tidak
memakai LNG untuk pembangkit baseload karena pertimbangan
keekonoman. LNG dari BP Tangguh akan dipakai sebagai berikut:
PLTGU Belawan dgn CF <50% memerlukan LNG 60 bbtud dan PLTG
peaker (400+50+90 MW) memerlukan LNG 25 bbtud. Apabila terdapat
keterlambatan proyek PLTU batubara seperti PLTU Pangkalan Susu,
maka Belawan dapat memakai LNG lebih banyak, yaitu hingga total 140
mmscfd.

Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari
lapangan Jabung dengan jangka waktu sampai dengan 7 tahun. PLN
RUPTL 2011- 2020

menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk
memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel
sebesar 500 MW pada tahun 2014. Sementara fasilitas LNG belum
terbangun, gas akan dialirkan ke PLTGU Muara Tawar dengan metode
swap.
Pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah:

Senoro, Bontang, Sengkang, Salawati, Simenggaris: PLN akan
mengambil gas dari sumber tersebut dalam bentuk LNG untuk
digunakan di pembangkit peaking 50 MW di Bontang, 50 MW di
Balikpapan, 50 MW di Samarinda, 150 MW di Sulawesi Selatan, 25 MW
di Minahasa dan 60 MW di Lombok, sepanjang layak secara
keekonomian.

Pemanfaatan LNG untuk sistem Jawa Bali mempertimbangkan harga LNG
yang relatif tinggi, sehingga LNG hanya dipakai untuk pembangkit beban
puncak dan pembangkit must-run. Pembangkit must-run dimaksud adalah
PLTGU/PLTG Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang peranannya belum
dapat digantikan oleh pembangkit yang lain. PLTGU Muara Karang dan Priok
dijalankan untuk menghabiskan pasokan gas pipa yang ada, dan
kekurangannya dipenuhi dengan LNG. Sedangkan kebutuhan gas/LNG untuk
Muara Tawar dihitung berdasar peran pembangkit ini di sistem, yaitu
dioperasikan sebagai peaker untuk mendukung tegangan sistem 500 kV di
subsistem Jakarta. Namun karena perioda beban puncak Jakarta sangat
panjang, yaitu dari jam 9 pagi sampai dengan jam 10 malam, maka kebutuhan
gasnya cukup besar dan diharapkan dapat dipenuhi dengan LNG.

4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)
Teknologi CNG untuk memenuhi kebutuhan gas suatu pembangkit merupakan
teknologi yang relatif baru dan untuk itu perlu dikaji kelayakan baik teknis dan
ekonomis terlebih dahulu. Namun PLN telah memetakan potensi pemanfaatan
CNG untuk Indonesia Barat dan Timur. CNG akan diarahkan untuk
memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif kecil maupun
sumur gas marginal. Saat ini sudah disepakati pembangunan CNG storage oleh
pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan dimanfaatkan untuk
PLTG Peaking Jaka Baring (40 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada
akhir tahun 2012.

RUPTL 2011- 2020

47

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Barat adalah:

CNG Sungai Gelam dengan kapasitas sebesar 4,5
digunakan untuk pembangkit peaking.

bbtud akan

Gas Jambi Merang sebesar 85 bbtud akan dialokasikan untuk
pembangkit PLTGU Duri (IPP) 2x45 MW, PLTG Payoselincah 100 MW,
PLTG sewa 20 MW di Rengat dan pembangkit di Duri dengan kapasitas
sekitar 160 MW.

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah PLTG Bangkanai,
Kalimantan Tengah.

4.2.3 Coal Bed Methane (CBM)
PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional, yaitu CBM (coal
bed methane). Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas
konvensional, terutama di South Sumatera Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin.
PLN pada saat ini tengah melakukan studi bersama Exxon-Mobil mengenai
pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia.
Disamping itu, saat ini sedang dilakukan proses negosiasi dengan VICO untuk
rencana pasokan gas dari lapangan CBM di Kalimantan Selatan.
4.3 PANAS BUMI
Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas
bumi di Indonesia yang menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya
adalah laporan studi oleh WestJEC pada tahun 2007 Master Plan Study for
Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan
tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah
9.000 MW, tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal 12.000 MW.
Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek
PLTP, terutama di Sumatera, Jawa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa
Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah kepada PLN untuk
mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi
terbarukan sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM
No. 15/201035 saja terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP untuk beroperasi

35

Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track

program phase 2 (FTP2).
48

RUPTL 2011- 2020

pada tahun 2014. Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan
seperti yang diharapkan karena berbagai masalah. PLN berharap masalahmasalah yang menghambat pengembangan panas bumi tersebut dapat segera
diatasi.

4.4 TENAGA AIR
Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS)
pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro
power inventory study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan
Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun
2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut36 adalah
26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek
yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru
(16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air
diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak
begitu sulit hingga sangat sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini
merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

NAMA
Peusangan 1‐2
Jambo Papeun‐3
Kluet‐1
Meulaboh‐5
Peusangan‐4
Kluet‐3
Sibubung‐1
Seunangan‐3
Teunom‐1
Woyla‐2
Ramasan‐1
Teripa‐4
Teunom‐3
Tampur‐1
Teunom‐2
Padang Guci‐2
Warsamson
Jatigede
Upper Cisokan‐PS
Matenggeng
Merangin‐2
Merangin‐5
Maung
Kalikonto‐2
Karangkates Ext.
Grindulu‐PS‐3
K. Konto‐PS

TIPE PROVINSI
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
RES
RES
RES
ROR
RES
RES
PST
PST
ROR
RES
RES
RES
PST
PST

Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Bengkulu
Irian Jaya
Jabar
Jabar
Jabar
Jambi
Jambi
Jateng
Jatim
Jatim
Jatim
Jatim

KAP. 
(MW)
86
25
41
43
31
24
32
31
24
242
119
185
102
330
230
21
49
175
1000
887
350
24
360
62
100
1000
1000

COD
2015
2019
2019
2019
2019
2021
2021
2021
2023
2024
2024
2024
2024
2025
2026
2020
2019
2014
2015
2020
2016
2024
2028
2016
2018
2021
2027

PLN/
   NO
NAMA
IPP
PLN
28 Pinoh
PLN
29 Kelai‐2
PLN
30 Besai‐2
PLN
31 Semung‐3
PLN
32 Isal‐2
PLN
33 Tina
PLN
34 Tala
PLN
35 Wai Rantjang
PLN
36 Bakaru (2nd)
PLN
37 Poko
PLN
38 Masuni
PLN
39 Mong
PLN
40 Batu
PLN
41 Poso‐2
PLN
42 Poso‐1
PLN
43 Lariang‐6
PLN
44 Konaweha‐3
PLN
45 Lasolo‐4
PLN
46 Watunohu‐1
PLN
47 Tamboli
PLN
48 Sawangan
PLN
49 Poigar‐3
PLN
50 Masang‐2
PLN
51 Sinamar‐2
PLN
52 Sinamar‐1
PLN
53 Anai‐1
PLN

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR

Kalbar
Kaltim
Lampung
Lampung
Maluku
Maluku
Maluku
NTT
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sultra
Sultra
Sulut
Sulut
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

KAP. 
(MW)
198
168
44
21
60
12
54
11
126
233
400
256
271
133
204
209
24
100
57
26
16
14
40
26
37
19

COD
2020
2020
2020
2020
2019
2020
2021
2020
2016
2020
2023
2024
2027
2011
2011
2024
2026
2026
2020
2020
2014
2018
2020
2020
2020

PLN/
   NO
NAMA
IPP
PLN
54 Batang Hari‐4
PLN
55 Kuantan‐2
PLN
56 Endikat‐2
PLN
57 Asahan 3
PLN
58 Asahan 4‐5
PLN
59 Simanggo‐2
PLN
60 Kumbih‐3
PLN
61 Sibundong‐4
PLN
62 Bila‐2
PLN
63 Raisan‐1
PLN
64 Toru‐2 (Tapanuli Utara)
PLN
65 Ordi‐5
PLN
66 Ordi‐3
PLN
67 Siria
PLN
68 Lake Toba
PLN
69 Toru‐3 (Tapanuli Utara)
PLN
70 Lawe Mamas
PLN
71 Simpang Aur
PLN
72 Rajamandala
PLN
73 Cibareno‐1
PLN
74 Mala‐2
PLN
75 Malea
PLN
76 Bonto Batu
PLN
77 Karama‐1
PLN
78 Gumanti‐1
PLN
79 Wampu

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
PST
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
ROR
ROR

Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Aceh
Bengkulu
Jabar
Jabar
Maluku
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sumbar
Sumut

KAP. 
(MW)
216
272
22
174
60
59
42
32
42
26
34
27
18
17
400
228
50
29
58
18
30
182
100
800
16
84

COD
2027
2028
2019
2015
2017
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2020
2020
2020
2026
2016
2014
2014
2020
2020
2017
2017
2022
2020
2016

PLN/
IPP
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP

36

Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), sosial
(resettlement), luas reservoir.

RUPTL 2011- 2020

49

COD yang dimaksud pada tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan
namun dapat diubah sesuai kebutuhan.
PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air
tersebut sebagai proyek PLN.

4.5 ENERGI BARU DAN TERBARUKAN LAINNYA
Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi
matahari dan energi kelautan. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi
terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan

No

Energi Baru dan
Terbarukan

Sumber Daya

Kapasitas Terpasang

Rasio
(%)

1

2

3

4 = 3/2

1

Mini/Mikrohidro

2

Biomass

500 MWe

86,1 MWe

17,22

49.810 Mwe

445,0 MWe

0,89

2

3

Tenaga Surya

4,80 kWh/m /hari

12,1 MWe

-

4

Tenaga Angin

9.290 MWe

1,1 MWe

0,01

5

Kelautan

240 GWe

1,1 MWe

0,01

Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6 NUKLIR
Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini
terjadi karena dalam proses optimisasi pemilihan kandidat pembangkit, ternyata
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersaing dengan jenis
pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra
supercritical.
Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya
kapital dan biaya O&M yang terkait dengan spent fuel disposal, dan biaya
decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi bersama antara
PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya
pembangunan PLTN sebesar $ 1.700/kW (EPC saja) atau $ 2.300/kW (setelah
memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut
kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2009),

50

RUPTL 2011- 2020

telah membuat PLTN menjadi salah satu opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC. Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan program tenaga nuklir pada banyak negara di dunia. biaya pengelolaan spent fuel dan biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas. dan semakin nyatanya ancaman emisi karbon terhadap perubahan iklim global. keselamatan. Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga energi primer lainnya seperti batubara dan gas alam.500 hingga US$ 5. Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi keekonomian PLTN mengingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan uranium dalam jumlah sedikit. program pembangunan PLTN hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah. budaya dan lingkungan. namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik. Apalagi dengan terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 yang sangat buruk dimana ribuan penduduk yang semula bermukim di dekat PLTN tersebut harus diungsikan ke daerah yang aman.biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 3. RUPTL 2011. Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan keekonomian dan keenergian. namun tetap saja kenaikan harga uranium dunia ini perlu terus dipantau.2020 51 . telah menyebabkan eskalasi penentangan terhadap pengembangan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. saat ini telah mencapai US$ 130/lb.500 /kW. Dengan adanya berbagai aspek yang multi dimensional tersebut. penerimaan sosial. Harga uranium yang pada tahun 2006 adalah sekitar US$ 30/lb.

274%. dan jenis unit37. jumlah unit.274%. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi.1. Simulasi dan optimisasi dilakukan dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning).1 Perencanaan Pembangkit 5.2020 .BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 5. 52 RUPTL 2011.1 KRITERIA PERENCANAAN 5. ukuran unit. kriteria LOLP < 0.274% adalah setara dengan reserve margin > 25-30% dengan basis daya mampu netto. Konfigurasi termurah diperoleh melalui proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya kapital. Apabila dinyatakan dengan daya terpasang. biaya bahan bakar. Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat ditetapkan sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih 37 Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF (equivalent availability factor) yang berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi. biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya energy not served. Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP) lebih kecil dari 0. maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%38. Pada sistem Jawa Bali.1 Sistem Interkoneksi Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode perencanaan. Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve margin tertentu yang nilainya tergantung pada tingkat ketersediaan (availability) setiap unit pembangkit. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih kecil dari 0.1. 38 Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.1. dan memenuhi kriteria keandalan tertentu.

simulasi produksi dilakukan dengan menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasinya diperkirakan tidak pasti. Pada metoda ini. Definisi cadangan disini adalah selisih antara daya mampu total pembangkit yang ada dan beban puncak. dan proyek IPP yang telah mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA). 39 Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi pendanaannya. direncanakan akan dihapuskan (retired) atau dibuat sebagai pembangkit stand by yang tidak dioperasikan tetapi tetap dipelihara (mothballed). dalam proses optimisasi diperlakukan sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan proyek tersebut. Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan memperhitungkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan yang telah committed39.1. Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar diutamakan berupa pembangkit berbahan bakar batubara. perencanaan dibuat dengan kriteria N-2. dan tidak memperhitungkan semua pembangkit sewa serta excess power. khususnya panasbumi dan tenaga air. yaitu cadangan minimum harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua.2020 53 . namun menggunakan metoda determinisitik. derating yang prosentasenya lebih besar.sedikit. 5.1. Selain itu beberapa pembangkit berbahanbakar minyak yang sudah tua. baik proyek PLN maupun IPP. dan pembangkit sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air non-reservoir). RUPTL 2011. tidak efisien dan dapat digantikan perannya dengan PLTU batubara.2 Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum interkoneksi (isolated) tidak menggunakan metoda probabilistik maupun optimisasi keekonomian. dan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding Jawa Bali. Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang. Pembangkit energi terbarukan.

1. Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan trafo mencapai 70%-80%. menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus dipelihara dan dilakukan penggantian parts yang aus. Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan apabila terjadi gangguan hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka tidak menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator dan kelompok generator lainnya. maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu menyalurkan keseluruhan arus beban. Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas pembangkitan dan kebutuhan beban. kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. 5. baik karena mengalami gangguan maupun dalam pemeliharaan. Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu pembangkit memerlukan kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life extension dan membangun pembangkit baru. efisiensi.2 Perencanaan Transmisi Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1. dan memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu.5. 54 RUPTL 2011. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. RUPTL ini mencantumkan biaya investasi (capex) yang diperlukan untuk itu. pada akhir umurnya sebuah pembangkit masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan melakukan rehabilitasi/refurbishment pada komponen-komponen tertentu. disamping untuk mengatasi bottleneck.1. baik statis maupun dinamis.3 Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Existing Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis selama umur tekno-ekonomisnya (life-time). sehingga kontinuitas penyaluran tenaga listrik terjaga. meningkatkan keandalan sistem. Kemudian.2020 .1. Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit transmisi padam. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan. Sebuah unit pembangkit dapat menjalani mid-life refurbishment untuk mempertahankan kapasitas.

Penerapan GI minimalis hanya dilakukan pada daerah yang sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting. peralatan proteksi & kontrol. Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan kontinuitas pasokan kepada pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan upaya: • Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain yang minimal dipasok oleh 2 Gardu Induk dan 15 feeder.2020 55 . 5. tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi atau T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang lengkap/sempurna. GI minimalis juga dapat diterapkan untuk memasok lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang dan mengalami drop tegangan yang besar. Tujuan pembangunan GI minimalis ini adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat dari timing normal kebutuhan GI. sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2 sumber.3 Perencanaan Distribusi Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: • Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk menjaga agar tegangan pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987. supply AC/DC & battery dikemas dalam kontainer.Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah.1. • Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal. Pada RUPTL 2011-2020 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis. yaitu sebuah GI dengan spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau bahkan tanpa busbar. pada sistem yang selama ini masih dioperasikan dengan PLTD. • Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem kelistrikan secara menyeluruh dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan biaya pokok penyediaan. • Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang lebih andal seperti spindle. RUPTL 2011.

jaringan tegangan rendah/JTR. yaitu penyambungan pelanggan dan perkuatan distribusi dengan perincian sebagai berikut: – Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik – Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability) pelayanan tenaga listrik pada pelanggan (power quality). dan kualitas – Menurunkan susut teknis jaringan – Rehabilitasi jaringan tua.2020 . efisien. maka pembangkit energi terbarukan sampai dengan 10 MW dapat tersambung langsung ke jaringan distribusi. – Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan. automatic voltage regulator/AVR dsb). andal. – Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM. Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana pendistribusian tenaga listrik yang cukup. – Distribusi beban (tersebar merata. Memonitor pengoperasian recloser atau AVS. dan susut teknis wajar. dsb). – Luas area yang dilayani. – Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan. Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua kegiatan. gardu distribusi/GD. dikoordinasikan dengan reclosing relay penyulang di GI. dan menyempurnakan metode pemeliharaan-periodiknya. Penyambungan pembangkit tersebut harus memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code). 56 RUPTL 2011. • Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada daerah yang sangat padat beban dan potensi pendapatan tinggi. – Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu antara lain: – Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR). terkonsentrasi.• Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM. berkualitas. Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti dimaksud dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009.

lemari es dan lainnya. Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses meningkatkan output barang dan jasa. dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang baik. Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama. sehingga rasio elektrifikasi akan mencapai 94% pada tahun 2020. Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik saat ini maupun di masa yang akan datang agar PLN dapat memenuhi kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut. Hal ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia. Penambahan pelanggan baru tersebut tidak hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga mencakup mereka yang berada di luar wilayah usaha. PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang besar. Faktor kedua adalah program elektrifikasi.5. yaitu rata-rata 2. disamping input-input barang dan jasa lainnya. TV. Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat.2020 57 .6 juta per tahun. yaitu pertumbuhan ekonomi. Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik PLN adalah pengalihan dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri RUPTL 2011. AC. khususnya pada daerah-daerah yang telah menjadi wilayah usaha PLN. Sebagai upaya PLN untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam wilayah usahanya.2 ASUMSI DALAM PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan barang-barang / peralatan listrik seperti radio. program elektrifikasi dan pengalihan captive power ke jaringan PLN. Proses tersebut memerlukan tenaga listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya. PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Umum wajib menyediakan tenaga listrik secara terusmenerus. Sebagai langkah awal PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga 10 tahun ke depan.

sementara harga jual listrik PLN relatif lebih murah. dan populasi untuk membentuk persamaan yang fit. daya tersambung. yaitu pertumbuhan ekonomi dan populasi. Captive power ini timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan di suatu daerah.berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN. maka digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. Model ini merupakan metode regresi yang menggunakan data historis dari penjualan energi listrik. Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / bisnis. jumlah pelanggan. Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah model prakiraan beban yang disebut “Simple-E”. Faktor ketiga ini sangat bergantung kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem kelistrikan dan skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power. Faktor lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka melayani kebutuhan pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang cukup dan andal. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar.1. terutama pelanggan industri dan bisnis.2020 . Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan listrik ke depan dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar (korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik. maka captive power ini dengan berbagai pertimbangannya akan beralih menjadi pelanggan PLN.1 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang dinyatakan dalam produk domestik bruto (PDB) dengan harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata 5.32% seperti diperlihatkan pada Tabel 5. 5. jadi tidak berlaku umum.18% per tahun. pertumbuhan ekonomi. atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 5. dan uji statistik.2. 58 RUPTL 2011. Penyambungan pelanggan baru tergantung dari ketersediaan pendanaan.5% – 6. Bilamana kemampuan PLN untuk melayani di daerah tersebut telah meningkat. Aplikasi ini dilengkapi juga dengan fasilitas melihat tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti parameter tingkat korelasi.

57 1.2 8.2 6.50 6.08 Sumber: Statistik Indonesia.9 6.9 6.2 7.3 7.3 7.44 1. selanjutnya oleh PLN angka tersebut dijabarkan menjadi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.2.96 2.7 6.50 1. RUPTL 2011.5 7.1 6.2 8.31 4. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Wilayah 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Indonesia 6. luar Jawa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.32 6.90 3.08 2.66 1.7 6.5 8.85 1.2 6.9 6.2020 59 .7 Luar Jawa Bali 7.2 8.06 4.4 6.1 disebabkan oleh imbas krisis financial global yang terjadi pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009. BPS Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4.5%) sebagaimana terlihat pada tabel 5.7 6.9 Jawa Bali 6. Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga tahun 2020 PLN menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh Bappenas dan Badan Pusat Statistik dalam buku ”Proyeksi Penduduk Indonesia 20002025” [1] edisi tahun 2008.39 1.05 5.17 2. maka RUPTL ini mengadopsi asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang digunakan dalam RPJMN 2011-2014 dan Draft RUKN 2010 – 2029 untuk periode diatas 2014 sebesar 6.2.75 1. Tabel 5. Perekonomian Indonesia kembali pulih pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6.7 6.83 4.7 6.2 8.0 7.8 8.9% per tahun.78 5.1%.67 5.6 juta orang dan jumlah rumah tangga 61.9 6.50 6.Tabel 5.2 5. Pemerintah memandang pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2011-2014.2 8.2 Pertumbuhan Penduduk Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237.22 Growth PDB (%) 4. Pada Tabel 5.4 juta KK berdasar sensus penduduk tahun 2010.7 8.9 6.3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia PDB 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 PDB (Triliun Rp) 1. Memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi tersebut diatas.

84 1.71 1.9 284.7 51. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) Tahun Indonesia Jawa .96 0.2020 Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5.90 1.67 1.9 227.92 0. 4 Pertumbuhan Ekonomi. Tabel 5.5.92 1.456 2015 6.9 305.4 47.6 38.3 55.4 32. atau tumbuh rata-rata 8.2020 .9 328.1 35.301 2020 6.Tabel 5.7 2011 6.1 145.9 264.49 2014 1.3 PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK 2011 .345 2013 7.4 210.053 MW atau tumbuh ratarata sebesar 8. kebutuhan tenaga listrik selanjutnya diproyeksikan dan hasilnya diberikan pada Tabel 5.053 RUPTL 2011.00 0.22 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025” [1] 5.03 0.2.31 2019 0.46 2015 1.444 2017 6.78 1.9 246.5% per tahun.06 0.768 2019 6.496 2018 6.35 2018 0.87 1.361 2016 6.14% per tahun.3 TWh.88 0.5 177. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun 2020 akan menjadi 328.39 2017 1.6 44.792 2012 6.4 27.56 2012 1.53 2013 1.15 0. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan Beban Puncak Periode 2010 – 2020 60 Tahun Pertumbuhan Sales Jumlah Beban Puncak (non-coincident) MW 25.75 1.Bali Luar Jawa Bali 2011 1.81 1.8 30.2 193.63 1.856 2014 7.18 0. Sedangkan beban puncak non coincident pada tahun 2020 akan menjadi 55.177 TWh 2010 Ekonomi % 6.2 162.09 0.26 2020 0.2 41.12 0.42 2016 1.

5 56. Tabel 5.5.7 juta per tahun.3 2019 262.9 2018 260.4 2013 246.0 juta pada tahun 2020 atau bertambah rata-rata 2.Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2011 adalah sebesar 45.9 50.2020 61 .7 53. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk.8 77.3%) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.4 87.1 2014 249.4 Rasio Elek RUKN % 83. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi dari 71.2 92.5.1 90.0 61.3 58.7 92. Juta Juta % 2011 241.8 juta dan akan bertambah menjadi 69. Pertumbuhan Pelanggan dan Rasio Elektrifikasi Periode 2011 – 2020 Tahun Penduduk Pelanggan Rasio Elek.4% pada tahun 2020.7 2020 264.0 94.7 64.9 69.2 74. pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi diperlihatkan pada Tabel 5. rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015 diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN (0.1 82. RUPTL 2011.5 2017 258.9% pada tahun 2011 menjadi 94.4 79.0 45.6 66.8 71.8 85.9 2012 243.2 Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam RUKN tahun 2008-2027.9 48.9 2015 252.7 2016 255. Proyeksi jumlah penduduk.

1 24.8% per tahun.5 88.9 210.Indonesia . 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik.3 % 11.Jawa-Bali .2 8.2 TWh pada tahun 2011 menjadi 241.7 79.1 158.8 7.9 9.6 8.2 7.3 TWh pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 10.1 7.4 75.3 284.5 9.1 26.4 211.Indonesia Timur .4 8.2 13.8 86.3 241.5 85.1.5 18.0 177.Indonesia .5 10.4 15.1 TWh menjadi 31.Energy Demand . Pada periode 2011-2020 kebutuhan listrik sistem Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 125.1 76.8 65.7 81.8% Gambar 5.Indonesia Timur . atau tumbuh rata-rata 7.3 93.0 8.2020 .8 135.4 91. Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi Unit 1.8 9.2 31.4 6.7 85.7 TWh atau tumbuh rata-rata 10.0 90.1 12.6 10.6 46.Tabel 5.Jawa-Bali .5 8.9 246.Indonesia Barat 3. Wilayah Indonesia Barat tumbuh dari 24.9 81.1 26.7 32.Rasio Elektrifikasi .1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 62 RUPTL 2011.5 22. Untuk Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari 13.0 % 71.4 97.8% 125 TWh 241 TWh JB : 7.2 94.0 10.0 9.Indonesia Barat 2011 2012 2014 2016 2018 2020 TWh 162.3 88.4 67.4 39.6 76.2 TWh pada tahun 2020.6 Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 2011–2020 ditunjukkan pada Tabel 5.4 125.8 15.2 9.6 328.5 7.Jawa-Bali .4 14. 24 TWh 55 TWh 2011 2020 IB : 10.1 9.2 184.1 81.3 74.Indonesia Barat 2.5 74.0 TWh pada tahun 2011 menjadi 55.2% per tahun.8% per tahun.9 72.Indonesia Timur .2% 31 13 TWh TWh IT : 10.4 16.5 72.7 55.Pertumbuhan .6 dan Gambar 5.Indonesia .

000 10. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi pelanggan industri adalah cukup kecil. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem Jawa Bali kelompok pelanggan industri mempunyai porsi yang sangat besar. 450.000 Publik Bisnis 100.0  200.000 200.2020 63 .0  400.0  300.000 Industri Publik Bisnis 15.2.0  250.000 150.000 350. yaitu 40% dari total penjualan.000 Industri 100. yaitu 59% untuk Indonesia Timur dan 60% untuk Indonesia Barat.000 35.0  50.0  ‐ 2010 2011 2012 2013 RUPTL 2014 2015 RUKN 08‐27 2016 2017 2018 2019 2020 RUKN 10‐29 Gambar 5.0  350.000 250. Pelanggan residensial masih mendominasi penjualan hingga tahun 2020.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN RUPTL 2011.000 Indonesia Jawa‐Bali 250.000 50.0  150.000 Residensial 0 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 60.000 Indonesia Barat 20.000 30. 300.000 20.3.000 Industri 150.000 Publik Bisnis 50.000 Industri Publik Bisnis 30.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020 Proyeksi penjualan pada RUPTL 2011-2020 sedikit lebih tinggi daripada draft RUKN 20102029. yaitu masing-masing hanya 10% dan 17%.Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada Gambar 5.000 40. namun lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.000 Residensial 50.000 Residensial 10.000 200.0  100.000 300.000 Indonesia Timur 25.000 0 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 5.000 Residensial 5.

Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih kecil. 40 41 Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai efisiensi jauh lebih tinggi daripada teknologi subcritical. PLTGU LNG/gas alam 750 MW.7. 50 MW dan 100 MW dengan PLTG pemikul beban puncak 25-30 MW dan 50 MW. Untuk sistem Kalimantan dan Sulawesi. serta PLTA.000 MW juga disertakan sebagai kandidat dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan.000 MW per unit didasarkan pada pertimbangan efisiensi41 dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban puncaknya sudah akan melampaui 25. kandidat PLTU batubara adalah 100 MW.1. Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali sebesar 1.4.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit 5. kandidat PLTU batubara adalah 25 MW. Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5. kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah PLTU batubara ultra supercritical kelas 1. 5. Selain itu terdapat beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110 MW. 300 MW dan 400 MW.1. PLTG BBM pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW40.000 MW.4.2020 . PLTG pemikul beban puncak 100 MW.2 Sistem Jawa-Bali Pada sistem Jawa-Bali. 200 MW. PLTN jenis pressurised water reactor kelas 1. 64 RUPTL 2011.5.000 MW dan supercritical 600 MW.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit di Indonesia Barat dan Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas sistem. Untuk sistem Sumatera misalnya.4 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT 5.

Tabel 5.2020 65 . RUPTL 2011. Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak kurang lebih 10.000 MW”.370 kcal/l Uap Panas Bumi Uranium (tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan karena diperlakukan sebagai fixed plant) USD 120/lb *) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel 5. 59 tahun 2009. 71/2006 jo Perpres No. Program ini dikenal sebagai “Proyek Percepatan Pembangkit 10.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan (Perpres No.59/2009) bakar Batubara Dengan Peraturan Presiden No.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan Presiden No.100 kcal/kg Batubara – Lignite USD 50/Ton 4. Berdasar penugasan tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5.000 kcal/Mscf HSD *) USD 0.62/Liter 9.78/Liter 9.8.070 kcal/l MFO *) USD 0.200 kcal/kg Batubara – Lignite di Mulut Tambang USD 35/Ton 4.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia.4.000 kcal/Mscf LNG USD 10/MMBTU 252. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar Jenis Energi Primer Harga Nilai Kalor Batubara – Sub Bituminous USD 80/Ton 5.200 kcal/kg Gas alam USD 6/MMBTU 252.

5 2012-2013 PLTU 1 Sulut 2x25 2014 2x112 2012-2013 PLTU 2 di Kalteng 2x7 Batal Nama Pembangkit PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) PLTU di Lampung (Tarahan Baru) PLTU 1 di Kalbar (Parit Baru) PLTU di Kaltim (Kariangau) PLTU 1 di Kalteng (Pulang Pisau) PLTU di Kalsel (Asam-Asam) PLTU 2 di Sulut (Amurang) PLTU di Gorontalo PLTU di Maluku Utara (Tidore) PLTU 2 di Papua (Jayapura) PLTU 1 di Papua (Timika) PLTU di Maluku (Ambon) Sampai dengan Desember 2010 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah selesai dan beroperasi komersial adalah hanya PLTU Labuan Unit 1 dan unit 2 (2x300 MW).Tabel 5.59/2009) Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi PLTU 2 di Banten (Labuan) 2x315 2009-2010 3x330 2011 1x625 2011 3x315 2011-2012 3x350 2012-2013 2x315 2011 1x600 2014 2x315 2012 1x660 2012 2x300 2013 PLTU di NAD (Meulaboh) 2x110 2012 PLTU 2 di Sumut (Pangkalan Susu) 2x220 2012 PLTU 1 di Riau (Bengkalis) 2x10 2012 PLTU Tenayan di Riau 2x110 PLTU di Kepri (Tanjung Balai) PLTU di Jabar Utara (Indramayu) PLTU 1 di Banten (Suralaya Unit 8) PLTU 3 di Banten (Lontar) PLTU di Jabar Selatan (Pelabuhan Ratu) PLTU 1 di Jateng (Rembang) PLTU 2 di Jateng (PLTU Adipala) PLTU 1 di Jatim (Pacitan) PLTU 2 di Jatim (Paiton Unit 9) PLTU 3 di Jatim (Tanjung Awar-awar) PLTU 4 di Babel (Belitung) PLTU 3 di Babel (Air Anyer) PLTU 2 di Riau (Selat Panjang) PLTU 2 di Kalbar (Pantai Kura-Kura) PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) Kapasitas (MW) Tahun Operasi 2x112 2012-2013 2x100 2012 2x50 2012 2x100 2013-2014 2x60 2012-2013 2x65 2011 2x25 2011 2x25 2012-2013 2x7 2012 2x10 2012 2x7 Batal 2x15 2012-2013 PLTU di Sultra (Kendari) 2x10 2011-2012 2014 PLTU di Sulsel (Barru) 2x50 2012 2x7 2011 PLTU 2 di NTB (Lombok) 2x25 2012 2x16.71/2006 jo Perpres No.5 2012 PLTU 1 di NTT (Ende) 2x7 2012 2x30 2010-2011 PLTU 2 di NTT (Kupang) 2x15 2012 2x5 Batal PLTU 1 di NTB (Bima) 2x10 2012 2x27.2020 . 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW (Peraturan Presiden No. sedangkan pembangkit lain yang semula dijadwalkan selesai 66 RUPTL 2011.

sedangkan sebagian besar akan beroperasi tahun 2012-2013. dan selanjutnya pada 2014 akan beroperasi PLTU Adipala (660 MW). PLTU Kotabaru. Paiton baru (660 MW). PLTU 2 Sulut. Keterlambatan tersebut terutama disebabkan oleh financing yang terlambat dan permasalahan konstruksi. PLTU Bangka. RUPTL 2011. PLTP Salak. PLTU Tarahan. 15/2010 mencakup PLTU batubara 3. PLTG 100 MW dan PLTA 1.204 MW. Proyek-proyek pembangkit PerPres 71 di Jawa Bali mengalami keterlambatan rata-rata 1 tahun. Pada tahun 2012 dijadwalkan proyek-proyek sebanyak 1. Pelabuhan Ratu 1-2 (2x350 MW).165 MW.dalam tahun 2010 ternyata mundur ke tahun 2011 sebesar 4. PLTGU Senoro. PLTGU 860 MW. Lontar Unit 3 (315 MW). yaitu Suralaya Unit 8 (625 MW). Untuk Indonesia Barat dan Timur proyek pembangkit yang akan mulai beroperasi 2011 adalah PLTU Tanjung Balai Karimun. PLTU Asam-Asam. sedangkan proyek-proyek di luar Jawa Bali akan mengalami keterlambatan lebih dari itu. 02/2010 jo No. PLTU Bali Timur. 5. Dalam perjalanannya proyek-proyek yang termasuk dalam program tersebut banyak mengalami keterlambatan dan beberapa telah diusulkan kepada Kementerian ESDM untuk dibatalkan karena masalah-masalah seperti kekurangan pasokan gas dan ketidaksiapan pengembangan panas bumi.2020 67 . PLTP Darajat. dan PLTU Kendari.391 MW. PLTU Waingapu.4. Lontar 1-2 (2x315 MW) dan Rembang unit 1-2 (2x315 MW). PLTP 3.967 MW. Indramayu Unit 1-2-3 (3x330 MW). Sedangkan pada tahun 2013 akan beroperasi PLTU Pelabuhan Ratu 3 (350 MW) dan Tanjung Awar-awar 2 (350 MW). PLTU Masohi. PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking). Proyek-proyek yang diusulkan untuk dibatalkan adalah PLTGU Muara Tawar add-on Blok 3-4. Selain itu juga terdapat proyek yang diusulkan untuk dikeluarkan dari FTP2 karena akan didanai dengan APBN yaitu PLTU Sampit.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. dengan kapasitas total 9.522 MW.365 MW berikut akan beroperasi: Pacitan 1-2 (2x315MW). dan Tanjung Awar-awar 1 (350 MW). PLTU Moutong.

PLTA Semangka. PLTP Sipoholon Ria-Ria.2020 .804 3. PLTA Bonto Batu.221 6.9 akan menjadi 66%. 68 RUPTL 2011.757 IPP MW 484 0 0 4. Pengembangan panas bumi sebanyak itu selama 10 tahun ke depan merupakan suatu rencana pengembangan yang relatif sangat besar untuk PLTP dengan jumlah investasi yang sangat tinggi42. PLTA Wampu. Usulan perubahan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 yang telah disampaikan PLN diberikan pada Tabel 5.992 MW tersebut terdiri atas 3. Selain mengusulkan pembatalan beberapa proyek. beberapa PLTU kecil menjadi PLTGB dan hampir semua PLTP terlambat.269 280 64 340 1.235 MW sebagai proyek IPP. Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 42 Kebutuhan investasi sekitar US$ 9 milyar jika biaya pengembangan US$ 2. PLTGB 64 MW dan PLTA 1.530 1. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 Pemilik Satuan PLTA PLTG PLTGB PLTP PLTU Jumlah PLN MW 1. Proyek PLTA yang diusulkan sebesar 516 MW antara lain PLTA Rajamandala. PLTG 280 MW.992 Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5. Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 9. PLTA Hasang dan PLTA Peusangan-4.9 dengan komposisi PLTU batubara 3.235 Jumlah MW 1.992 MW untuk jangka waktu sampai dengan tahun 2019.870 MW. Tabel 5.753 MW dengan kapasitas total 9. PLTP 4.025 MW. PLN juga mengusulkan tambahan beberapa proyek pembangkit EBT seperti PLTA dan PLTP yang baru saja memperoleh penetapan WKP oleh Kementerian ESDM berikut transmisi terkaitnya.025 9. PLTP Wai Ratai. PLTP Gunung Ciremai. PLTP Bonjol dan PLTP Mataloko.753 280 64 4.Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang berubah status dan jadwal yaitu PLTGU Bangkanai (IPP) menjadi PLTG Bangkanai (PLN). PLTP Suoh Sekincau. Sedangkan proyek PLTP yang diusulkan sebesar 885 MW antara lain PLTP Gunung Endut.757 MW sebagai proyek PLN dan 6.870 3. PLTP Simbolon Samosir.247 MW hingga tahun 2020. Pengembangan ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL 2011-2020 ini yang mencapai 6. PLTP Danau Ranau.500/kW. PLTA Malea.

Tabel 5. PLN telah mengusulkan agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan berdasarkan harga pasar. dan sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2.4.4. dan harga tersebut berlaku sepanjang umur PPA (locked-in).510 MW akan dikembangkan oleh IPP dan 800 MW oleh PLN. Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit – pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (interkoneksi). 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 No Nama Proyek Kapasitas Provinsi Status Keterangan 1 PLTU Jateng 2x1000 MW Jateng Sudah Tender Sudah PPA 2 PLTU Jambi 2x400 MW Jambi Prioritas Solicited karena ada dalam RUPTL 2010-2019 3 PLTU Sumsel-9 2x600 MW Sumsel Potensial Solicited 4 PLTU Sumsel-10 600 MW Sumsel Potensial Solicited 5 PLTU Kaltim 2x100 MW Kaltim Potensial Solicited 6 PLTU Sulut 2x55 MW Sulut Potensial Solicited 7 PLTA Karama 450 MW Sulbar Prioritas Unsolicited Usulan Pemprov Sulbar PLN mengusulkan proyek nomor 1 s. 6 sebagai proyek KPS.11.310 MW PLTU batubara mulut tambang di Sumatera sampai dengan tahun 2020.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang Dalam RUPTL 2011-2020 terdapat rencana pembangunan 7. yang terdiri dari 6.10. Pada saat ini terdapat 7 proyek yang terdapat dalam buku KPS 2011 seperti dalam tabel 5. 5. 67/2005 jo PerPres No.tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN dalam membuat pinjaman baru. 13/2010. 5. Memperhatikan lokasi PLTU mulut tambang yang berada di dekat sumber batubara yang tidak mempunyai akses untuk mentransportasi batubara keluar dari sumber batubara tersebut dalam volume yang besar.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan PerPres No.4.d.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia ditunjukkan pada Tabel 5.2020 69 . 5. melainkan berdasarkan biaya produksi batubara plus margin. RUPTL 2011.

505 102 60 180 102 204 8 32 688 1. (2) Sistem Kalimantan Barat.656 1. sementara PLTGU gas dengan kapasitas 3.9%.172 3.582 343 1 246 5.8%.040 7 1.887 194 123 1.972 415 750 630 18 2 135 950 10 4.426 13 790 41 49 4 27 1 5 2 2.112 63 743 405 1 17 20 12 0 5. – PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun.290 480 22 5 362 14 4.436 2. disusul oleh PLTA sebesar 6.782 2.877 3.463 425 1.372 2.992 1.357 1.254 250 83 30 22 3 558 1.1%.008 1.036 752 2.073 115 296 1. Untuk energi terbarukan.110 1.945 2.034 1.274 4.882 Total 19.774 24 444 222 4 8 1 4.785 957 85 6 581 22 1 6.3 GW atau 5.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Indonesia Barat dan Indonesia Timur Pada Wilayah Operasi Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari 5 sistem interkoneksi.537 5. yang terbesar adalah panas bumi sebesar 6.106 1.8 GW atau pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 5.971 55 116 1.780 898 20 480 22 5 279 14 1. 5.345 Tabel 5.2 GW atau 11.090 140 41 51 312 22 5.992 35.Tabel 5.5 GW atau 43.283 1.6 GW per tahun.440 243 1 6 3 55.583 5.029 130 104 22 200 20 1.477 4.4 GW atau 56.803 3.1 GW atau 11.164 4.2020 .6 GW atau 63.132 33 234 8 81 4.675 937 1 40 3 4.944 4.270 83 2.015 450 195 135 780 4.698 24 594 222 20 18 6 1 5. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 24.590 2.247 3.263 4.1% dari tambahan kapasitas keseluruhan.7%.040 7 7.353 16.11 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: – Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode 2011 – 2020) untuk seluruh Indonesia adalah 55.030 33 30 49 4.917 2.4. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 3.610 750 75 17 2 294 450 6 1 5.404 20 750 75 17 2 294 450 6 1 3. 70 RUPTL 2011.181 1.570 235 140 41 7 242 20 2.829 1.690 4. yaitu mencapai 35.573 6.110 20 85 5 541 19 1 1.289 1. – Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 31.141 63 873 509 1 38 220 32 0 6.2% dari kapasitas total.971 2.102 924 150 16 10 6 1.719 855 44 70 2 3.832 426 30 22 4 804 1.440 164 1 6 3 31.521 245 90 45 16 1.019 1.495 460 206 378 837 79 23.093 194 501 2.947 258 790 41 139 49 43 1 5 2 4. yaitu: (1) Sistem Sumatra.718 1.522 220 750 630 18 2 950 10 4.

13 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 4.6 GW (58. Luwuk.916 MW di Indonesia Barat dan 7. Dari tabel 5. Kendari.372 MW dan juga PLTA sebesar 2. Kolaka.4%).3 GW (52.908 MW. Gorontalo.1 Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15. termasuk committed dan ongoing projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5.13. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan.12 dan Tabel 5. Pangkalan Bun. lebih kecil dibandingkan pembangkit yang dibangun oleh PLN. Tanjung Pinang dan Palu. Sumbawa. Meulaboh. Rengat. Kupang.2020 71 .5. Belitung. Bau-Bau. Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 3.4. Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated yang cukup besar dengan beban puncak di atas 50 MW. Lombok. Pengembangan pembangkit di Indonesia barat dan Timur untuk PLTP diproyeksikan cukup besar. Tanjung Balai Karimun. 5. Sampit. yaitu 3.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Barat yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8. Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Sungai Penuh.6%). yaitu Jayapura. Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam skala relatif kecil. Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 7. (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5) Sistem Sulawesi Selatan. Sintang.6 GW (47. Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil khususnya Indonesia bagian timur yang besar bebannya belum cukup tinggi untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil. Bontang.4%). Ketapang. dan terdapat beberapa sistem isolated dengan beban puncak di atas 10 MW. Takengon. yaitu Bangka.2 GW (41. Bima.781 MW di Indonesia Timur. Saat ini perusahaan yang RUPTL 2011.(3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur. Ambon. Sedangkan pada tabel 5. Sorong.6%). Ternate.

806 2.455 1.012 851 84 8.525 748 220 570 32 45 8 1.416 Tabel 5.180 493 1.078 166 1.251 1.159 38 70 41 89 4 32 1 5 2 1.245 202 925 194 123 785 74 1 6 3 4.mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).085 2.309 132 1 6 3 7.440 639 45 120 41 12 32 7 895 132 101 30 22 4 249 7 544 275 75 75 6 139 16 1 586 378 70 50 22 5 230 11 766 282 65 75 17 2 294 1 736 200 30 30 18 2 117 7 404 - 2.267 1. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.115 250 250 313 222 0 535 818 55 130 424 28 1.084 1.225 4.099 105 15.619 55 116 602 95 39 2.195 4. Tabel 5.556 1.144 930 56 986 600 612 40 1. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.252 400 405 83 888 425 690 1.721 550 116 2.623 1. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 72 2011 2012 165 24 - 2013 2014 4 8 343 8 25 1 17 20 1 0 202 413 871 25 200 60 - 344 450 33 30 15 60 - 7 10 6 17 200 4 - 180 80 41 8 27 2015 2016 561 13 70 41 49 4 16 1 5 2 761 222 15 120 41 7 32 5 2017 2018 30 22 3 59 7 5 139 13 268 20 50 22 5 230 11 441 203 1 312 606 598 25 417 30 132 18 215 55 110 50 - - 1 190 - - 40 5 60 20 83 - 75 - 2019 2020 282 20 75 17 2 294 Total 30 18 2 7 1 691 57 45 200 30 - - 1 117 16 679 2 454 341 3 274 160 - 48 481 396 45 347 190 24 11 18 6 1 250 543 8 85 1 34 220 4 0 895 404 180 530 33 71 8 42 1.202 455 180 1.082 8.362 205 570 8 783 688 220 20 12 940 250 437 687 50 10 365 6 431 30 30 49 3 112 522 6 528 522 220 200 3 945 239 239 14 130 44 16 204 42 22 95 5 164 543 220 32 45 840 642 440 39 23 1.577 55 116 580 34 2.330 660 20 39 23 12 2.2020 .683 430 405 30 132 3 1. Apabila proyek tersebut layak secara teknis.781 RUPTL 2011.957 253 180 140 112 525 58 3.917 246 2.065 194 235 1. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 74 222 0 296 804 55 380 12 1.334 4.000 947 690 6 1.367 130 66 166 247 21 7.643 772 220 200 3 1.673 650 612 10 405 6 1.

– Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera. – PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2016. – PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. Sulawesi.2020 73 .4. – Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan pembangkit kecil tersebar di wilayah operasi Indonesia Timur. – Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi. RUPTL 2011. Maluku dan Papua yang menjadi andalan pasokan listrik setempat. – Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada.5.3 Proyek – Proyek Strategis Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat meliputi antara lain: – Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang mengalami kekurangan pasokan tenaga listrik dan untuk mengurangi pemakaian BBM.5. – PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan tujuh Kabupaten Baru di Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum dilayani listrik PLN.4. sangat strategis untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara. pembangunan PLTG peaking di Kaltim dan Sulsel.5. – PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC. 5.2 Neraca Daya Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat pada Lampiran A dan Lampiran B. – PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat dioperasikan sebagai pembangkit peaking.

6.415 600 855 750 450 2.9 GW atau 8.2 GW per tahun.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali 5.130 1.320 385 257 3 2.070 2. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 13.040 37 2020 Total 600 1.440 6 32.685 22.800 3.000 165 750 400 18 950 3.708 660 815 1. Tabel 5.9 GW atau 9.0%.780 743 4 4.7 GW atau 42.050 2015 660 2016 660 150 3.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: – Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan (periode 20112020) untuk Jawa-Bali adalah 32.000 750 750 400 450 950 400 210 3.147 RUPTL 2011.167 1.100 380 1.440 6 18.000 1.5 GW atau 57.875 2.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit Pada Tabel 5.837 950 100 374 2.6%.211 2.1%.8 GW atau 8.8%.965 444 743 2014 1.687 950 309 2.037 1. disusul oleh PLTG 1 GW atau 3.415 855 183 4.040 150 18 3 1.283 12.1%.875 150 100 65 13.495 2.102 1. – PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun.040 4.660 385 3.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang dibutuhkan dalam kurun waktu 2011-2020 di sistem Jawa-Bali.200 815 400 2.2 GW atau pertambahan kapasitas ratarata mencapai 3. Tabel 5.6 GW atau 70.520 325 2. yaitu mencapai 22. termasuk PLTM skala kecil tersebar sebesar 118 MW dan PLTGB 6 MW.527 1.520 325 62 1.565 2.000 600 - 2019 62 1.965 3.535 2.4.462 10.798 3.5.050 2018 1.4% dari tambahan kapasitas keseluruhan.947 3. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total 74 2011 2012 2013 3.845 3. sementara PLTGU gas menempati urutan kedua dengan kapasitas 2.9% dan PLTA/PLTM/PS sebesar 2.979 2017 3 813 3 873 1.178 1.860 270 600 815 855 165 60 150 9 4 68 18 47 18 819 819 128 398 2.092 3. – Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 18.4. Untuk energi terbarukan seperti panas bumi sebesar 2.2020 .655 1.860 270 37 4.050 60 68 1.195 594 9 4.

5.317 MW.4. Kapasitas tersebut akan dipenuhi oleh 2 unit PLTU IPP kelas 600 MW dan ekspansi PLTU Lontar 1x660 MW.023 MW (tidak termasuk PLTM tersebar 118 MW dan PLTGB 6 MW). tambahan pembangkit dari proyek-proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan (proyek ongoing) berjumlah 10.200 MW per tahun. dimana tambahan sebesar 1. Jadwal dan kebutuhan masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada 5. Upper Cisokan Pumped Storage 4x250 MW.737 MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No. diperlukan tambahan pembangkit sebesar 3x600 MW pada tahun 2015.040 MW adalah Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2. Jumlah tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN berjumlah 18.4%). RUPTL 2011.2020 75 . Tambahan kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk PLTU Tanjung Jati A yang akan dikembangkan oleh PT TJPC atau ekspansi pembangkit eksisting PLN atau ekspansi IPP atau pembangunan PLTU baru.625 MW adalah proyek IPP.16. dimana 1. Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2013). Dalam jangka menengah (2014 – 2016) tambahan pembangkit yang berupa proyek PLN berjumlah 2. PLTU Madura 2x200 MW dan proyek-proyek panas bumi. Untuk meningkatkan reserve margin mendekati kriteria keandalan yang dikehendaki. Untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek transmisi HVDC Sumatera-Jawa yang sangat panjang (700 km) dan pembangkitnya di Sumatera Selatan.100 MW merupakan Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2. Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 25% karena mundurnya Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 antara lain PLTU Indramayu 1x1000 MW. Selain itu masih ada rencana Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 yang beroperasi pada 2013 yaitu PLTP Patuha 60 MW (IPP). yang terdiri dari pembangkit PLN berjumlah 8.6.71/2006 dan sisanya sebesar 1. dalam RUPTL ini direncanakan tambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa-Bali pada tahun 2016-2017 sebesar 2x660 MW.2 Neraca Daya Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa Bali sampai dengan tahun 2020 berjumlah 32.6%) dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13. atau rata-rata sekitar 3.456 MW (57.782 MW.352 MW. sedangkan proyek IPP berjumlah 6.567 MW (42.

482 -589 3.801 211.721 78.925 20.747 79.4 142.531 16.925 20.0 222.844 50.838 60 60 1.606 0 3.163 33.4 153.134 7.065 78.8 270.9 207.000 1.Tabel 5.845 4.774 79.000 MW % 750 1.023 1.664 PLTGU PLTU PLTU PLTU 660 815 660 400 1.130 4.787 8.217 10.764 34 30 31 39 43 41 39 39 - - 60 - - 810 4.531 16.9 192.742 MW MW 21.8 36.928 158.606 0 3.082 -400 3.200 1.606 0 3.040 450 4.Tanda panah mengindikasikan pergeseran jadwal operasi dari rencana semula (RUPTL 2010-2019) ke jadwal baru (RUPTL 2011-2020).106 79.947 3.415 1.092 2.550 7.089 7.800 450 500 3.531 16.167 1.655 165 165 3.5 20.994 79.531 16.000 660 600 660 325 - 660 160 110 595 220 440 415 165 380 1.007 17.606 0 3.1 165.474 815 4.265 32.697 79.845 3.769 8.000 1.2020 .7 31.974 225.763 197.9 38.415 855 855 2.110 27.102 1.531 16.925 20.1 23.499 53.315 41.404 79.091 31.531 16.102 1.635 171.664 660 4.050 150 810 870 870 - 380 380 - 1.100 - - - - - 150 660 815 810 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA - 660 3.429 47.672 135.822 79.606 0 3.240 6.283 146.262 45.800 1.606 0 3.100 3.092 2.200 600 1.130 3.7 27.925 20.925 20.8 22.770 79.407 17.531 8.050 PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTG PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA 750 1. 76 RUPTL 2011.0 253. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 PROYEK Kebutuhan Pertumbuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % GWh % MW 125.000 1.190 375 10 47 2.7 29.925 21.606 -476 3.000 600 600 150 400 400 100 37 62 110 1.925 20.6 25.962 3.407 7.606 0 3.037 1.305 241.353 36. Awar-awar Cilacap Baru / Adipala Tanjung Jati B #3-4 Sub Total On-going & Committed Rencana PLTGU Tuban/Cepu Indramayu #4 (FTP2) & #5 Lontar Exp #4 PLTU Bekasi PLTG Peaker Semarang PLTG LNG Karangkates #4-5 Kesamben (Jatim) Kalikonto-2 (Jatim) Jatigede (Jabar) Upper Cisokan PS Matenggeng PS Grindulu PS Sub Total Rencana Total PLN IPP On-going dan Committed Project Cikarang Listrindo Cirebon Paiton #3 Celukan Bawang Sub Total On-going & Committed Rencana Banten Madura (2x200 MW) FTP2 Sumsel-8 MT Sumsel-9 MT (PPP) Sumsel-10 MT (PPP) *) PLTU Jawa Tengah (PPP) PLTU Jawa-1 PLTU Jawa-2 PLTU Jawa-3 PLTP FTP2 PLTP Non FTP2 Rajamandala (FTP2) Sub Total Rencana Total IPP Total Tambahan TOTAL KAPASITAS SISTEM RESERVE MARGIN MW PLTGU PLTGU PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU 210 234 743 625 315 630 700 350 990 630 630 660 700 660 660 3.023 1.0 237.529 31 41 Catatan: .0 178.8 33.925 - - - - - KAPASITAS Kapasitas Terpasang PLN Retired/Mothballed IPP PROYEK-PROYEK PLN On-going dan Committed Project Muara Karang Rep Blok 2 Muara Tawar Blok 5 Priok Extension (Blok 3) Suralaya #8 Labuan Teluk Naga/Lontar Pelabuhan Ratu Indramayu Rembang Pacitan Paiton Baru Tj.415 2.531 16.848 7.531 16.925 20.925 20.037 1.625 184.

yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 6.040 MW.500 MW. Neraca daya sistem Jawa-Bali pada tabel 5. Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering Muara Karang dan Priok dan Muara Tawar Blok 5) direncanakan PLTGU dengan kapasitas 1. Berdasarkan hasil kajian peran pembangkit Muaratawar di sistem Jawa Bali tahun 2012 . maka telah dikaji kembali kelayakan dari proyek PLTGU Muara Tawar Add-on Blok 2-3-4.500 MW yang akan menggunakan bahan bakar gas alam yaitu PLTGU Tuban/Cepu 1. Memperhatikan peran pembangkit Muara Tawar yang penting untuk menjaga tegangan sistem 500 kV di Jakarta dan memperhatikan pula ketidakpastian pasoka gas ke Muara Tawar.14 mencantumkan PLTU Sumsel-8. Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di Jawa-Bali terlihat dengan jelas pada tabel 4.700 MW) dan PLTGU Blok-5 (234 MW) cukup untuk tetap menjaga tegangan di subsistem Jakarta. Mengingat pasokan gas ke Muara Tawar yang semakin menurun dan ketidakpastian pasokan LNG. kecuali beberapa pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan menggunakan bahan bakar minyak atau LNG jika tersedia.937 MW dan IPP sebesar 5.Dalam jangka panjang (2017–2020) jumlah penambahan kapasitas pembangkit adalah 12. RUPTL 2011. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan pembangkit Muara Tawar eksisting (total 1.2020.565 MW. Matenggeng di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah sebesar 900 MW dan Grindulu di Jawa Timur sebesar 1. Sumsel-9 dan Sumsel-10 yang merupakan PLTU Mulut Tambang di Sumatera Selatan.2020 77 .14 dimana PLN tidak lagi merencanakan pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak. maka direncanakan PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) yang lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan akan terhubung ke GITET Muara Tawar.502 MW. Disamping PLTG peaker tersebut direncanakan tiga buah PLTA Pump Storage sebagai pemikul beban puncak. proyek PLTGU Muara Tawar Add-on 2-3-4 sudah tidak diperlukan lagi.000 MW. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Mulut Tambang tersebut PLN sedang membangun transmisi 500 kV HVDC interkoneksi Sumatera – Jawa. yaitu Upper Cisokan di Jawa Barat dengan kapasitas 1.

memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban dasar dan memperbaiki load factor sistem. Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2017. Jawa Tengah dan Jawa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5. 13/2010. 5. dan berlokasi relatif dekat dengan pusat beban industri di sebelah timur Jakarta. Proyek ini sangat strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Jawa dengan memanfaatkan cadangan low rank coal di Sumatra Selatan.4. - PLTU Indramayu (2x1. Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2016 dan 2017.000 MW).4 Regional Balance Sistem Jawa Bali Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa Bagian Barat.000 MW). 78 RUPTL 2011.6. Proyek ini sangat strategis karena dapat meminimalkan biaya operasi sistem serta memberikan banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik. serta merupakan proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) dengan PerPres No.3 Proyek-proyek Strategis Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut: - PLTU IPP Jawa Tengah (2x1. Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala besar di pulau Jawa. - PLTA Pompa Upper Cisokan (1.2020 .040 MW). maka pengembangan proyek pembangkit baru sebaiknya berlokasi di Jawa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance. antara lain berfungsi sebagai pembangkit beban puncak. Priok dan Muara Tawar. - PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan berfungsi untuk menjaga tegangan di Jakarta serta mengurangi pemakaian BBM/LNG di Muara Karang.16. 67/2005 jo PerPres No. Proyek ini hanya dilaksanakan setelah kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan cadangan yang cukup banyak.6.4. - PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC Sumatera – Jawa dengan kapasitas 3.000 MW. sebagai spinning reserve (cadangan putar).5. pengatur frekuensi.

5 Reserve (%) Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di Jawa bagian barat sebelah timur (seputar Bekasi. yaitu mencapai sekitar 33% dari total kapasitas terpasang. diperlukan konstruksi breakwater yang relatif mahal.675 7. Pada saat ini region Jawa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum mengalami kendala penyaluran listrik ke arah barat karena adanya transmisi 500 kV jalur selatan.129 3. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 5. Pada kedua tabel tersebut. Lokasi PLTU batubara skala besar di pantai selatan pulau Jawa belum merupakan pilihan prioritas. Indramayu. yang dimaksud dengan proyek on going adalah proyek IPP yang telah memiliki PPA dan secara resmi telah mendapat RUPTL 2011.890 4.4.0 27. 5.16 dan Tabel 5.318 7. Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali dapat dilihat pada Lampiran C1. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit baru tidak mempertimbangkan regional balance.611 2. Pekalongan.429 3. Cirebon) atau Jawa Tengah sebelah barat (seputar Tegal.102 Tambahan Kapasitas (MW) 300 - - Total (MW) 12.1 64.102 Beban Puncak (MW) 11.2. karena pertimbangan kesulitan transportasi batubara pada musim-musim gelombang tinggi.17. maka pada masa yang akan datang diperkirakan akan muncul kendala penyaluran.2020 79 . 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 Regional Balance Jawa Bagian Barat Jawa Tengah Jawa Timur dan Bali Kapasitas Terpasang (MW) 12.Tabel 5. Batang). Pemalang. Karawang.9 Partisipasi Listrik Swasta Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10 tahun mendatang sangat besar. risiko tsunami dan gempa bumi yang lebih tinggi. Penerapan regional balance dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari keperluan untuk membangun transmisi 500 kV pada jalur baru dari timur ke arah barat pulau Jawa.675 7.

4 (FTP2) 2012 PLTP 2013 PLTP Kapasitas (MW) 154 1 x 3 1 x 1 1 x 1 1 x 0 2 x 1 Tahun Operasi 2013-2015 2011 2011 2011 2011 2011-2012 2 x 1 3 x 1 2011-2013 1 x 0 1 x 6 2012 1 x 1 2 x 0 3 x 1 2011-2012 2012 2012 2012-2013 2012-2014 1 x 2 1 x 2 2013 1 x 1 1 x 1 2013 1 x 1 1 x 1 1 x 2 2 x 1 1 x 6 1 x 2 1 x 1 1 x 2 4 x 1 1 x 3 2 x 4 2 x 1 2 x 2 1 x 6 1 x 4 5 x 1 2 x 1 4 x 55 3 x 110 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013-2017 2013-2017 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014-2015 2014-2015 2014-2015 2015 Lho Pria Laot 2 x 55 1 x 7 Muara Laboh (FTP2) 2 x 110 2017 2017 RUPTL 2011. Proyek IPP yang statusnya belum mempunyai PPA ini akan diadakan oleh PLN melalui proses tender kompetitif.2 PLTA Malea #1.2 PLTU PLTU Proyek Rencana PLTA Wampu 2014 2015 PLTM Biak II Simpang Aur (FTP2) 45 23 PLTA PLTA PLTM Biak III Semangka 56 2016 PLTM Ibu PLTA Hasang 40 2017 PLTM Kotaraya PLTA Peusangan-4 83 2018 PLTM Mampueno/Sakita 2 x 8 2 x 50 2 x 45 2015 PLTM Pakasalo 2016 PLTM Rea 2016 PLTM Wae Lega .2 (Keban Agung) PLTU Pangkalan Bun 3 x 65 2 x 1 1 x 4 1 x 4 2 x 114 2 x 7 2 x 114 2 x 113 2 x 6 Nama Pembangkit PLTM PLTM Tersebar Sumut 2012 PLTM Hek 2012 PLTM Praikalala I 2012 PLTM Umbuwangu I 2013 PLTM Wae Roa 2011 PLTM Lewa 2012 PLTM Lokomboro III 2014 PLTM Praikalala II 2015 PLTM Kukusan 2011 PLTM Segara Anak 2013 PLTM Umbuwangu II 2013 PLTM Waekelosawa Molotabu 2 x 6 2 x 100 2 x 10 2013 PLTM Maidang Tanah Grogot 2 x 6 2013 PLTM Bambalo III PLTM Biak I PLTU Gorontalo Energi PLTU Jeneponto Bosowa #1. ST Cycle 1 x 90 1 x 30 PLTGU Sengkang-ST-CC .Manggarai 2013 PLTM Wolodaesa 2012-2013 PLTM Ngaoli 2012 PLTM Wai Nibe 2013 PLTM Batubota 2012 PLTM Bintang Bano 2012 PLTM Bunta 2013 PLTM Lambangan 2011-2017 PLTM Mala-2 PLTA Sawangan PLTA Bontobatu (Buttu batu 1) #1.2 PLTB Waingapu PLTG Aceh PLTG Sengkang.2 PLTU Ketapang PLTU Banjarsari PLTU Sumsel . Sedangkan proyek IPP dalam kategori ‘rencana’ meliputi mereka yang telah mempunyai PPA namun belum financial closure. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi Proyek On Going PLTA Poso Energy PLTM Goal PLTM Kokok Putih PLTM Wawopada PLTU Simpang Belimbing #1. Op.2020 .Unit 3 1 x 120 PLTGU Duri 80 2014-2017 PLTP Sarulla I (FTP2) 2012 PLTP Ulubelu #3. Di dalam kategori rencana juga terdapat proyek IPP yang belum ada pemiliknya namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini sebagai kebutuhan sistem.Unit 2 PLTG Senipah PLTGB Putussibau (FTP2) PLTGB Tanjung Batu (FTP2) PLTGB Belitung . Ada juga proyek yang baru mendapat HOA sudah dimasukkan dalam kategori ‘rencana’.Borong 2 x 4 2 x 4 2014 PLTP Lumut Balai (FTP2) PLTGU Gunung Megang. Cycle .pendanaan (financial closure).2 PLTGB Melak PLTGB Kotabangun PLTGB Selayar (FTP 2) PLTGB Tual PLTGB Tobelo (FTP2) PLTGB Larantuka 1 x 1 3 x 22 1 x 60 2 x 40 2 x 4 2 x 4 1 x 5 1 x 6 1 x 3 2012 PLTM Rhee 2 x 4 2 x 4 2012-2013 PLTM Walesi Blok II 2013 PLTM Sita . Tabel 5.

2 PLTU Simpang Belimbing #3.2 2019 PLTU Sulsel-2 (Takalar Punaga) #1.4 PLTU PLTU 2 x 25 2 x 10 2014-2015 2014-2015 2 x 25 2 x 100 2015 2014-2015 2015 2 x 10 1 x 7 2015-2016 1 x 50 2 x 100 2017 2016 2017-2018 2017-2018 2020 2014 2015 2015 2015 2015-2016 2 x 150 2 x 150 2 x 300 PLTU PLTU 2014-2015 2 x 15 2 x 7 2 x 30 PLTU 2013 2014-2015 2 x 7 2 x 25 2017 2014 2014 2014-2015 2 x 15 2 x 7 2 x 55 2 x 100 2018-2019 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2 x 7 2 x 100 2 x 100 2 x 20 1 x 1 2 x 4 1 x 7 2014 2 x 7 2 x 7 2 x 110 2 x 55 1 x 55 1 x 55 Tahun Operasi 2 x 300 2 x 400 2015-2016 2015-2016 2016-2017 2016-2017 2018-2019 2 x 25 2 x 7 2019-2020 2 x 7 2 x 7 2013-2014 2 x 15 2 x 28 2014 2013 2014 2014 2 x 25 2 x 10 2014 2014 Tabel 5.7 Riau Mulut Tambang Sumsel .2 2013 PLTU Bau-Bau #1.2 2013 PLTU Melak (FTP2) PLTU Biak (FTP2) Jayapura-Skouw 2014 PLTU Kaltim (MT) 2014 PLTU Kendari Baru I (FTP2) #1.1 2 x 3 1 x 20 2015-2016 PLTU Toboali 2015-2017 PLTU Pontianak .Kema 2 x 5 110 2019 PLTU Sumbawa Baru I (FTP2) 2019 PLTU Mamuju (FTP2) #1. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi Proyek On Going Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi PLTP Tangkuban Perahu 2 2 x 30 2015-2016 PLTG Cikarang Listrindo 1 x 150 2011 PLTP Patuha 1 x 60 2 x 60 2013 2015 PLTU Cirebon 1 x 660 2011 PLTP Bedugul 1 x 10 2015 1 x 130 + 2 x 125 2014 PLTP Kamojang 1 x 30 1 x 60 2015 2016 1 x 815 2012 PLTP Candi Umbul Telomoyo 1 x 55 2019 PLTP Wayang Windu 1 x 110 1 x 110 PLTU Celukan Bawang PLTU Paiton 3 Proyek Dalam Rencana RUPTL 2011.2 PLTP Songa Wayaua (FTP2) PLTP Hu'u (Ekspansi) PLTS Waingapu PLTU Sarolangun PLTU IPP Kemitraan PLTU Muko Muko PLTU Nias PLTU Nias (FTP2) Kapasitas (MW) 2 x 110 Tahun Operasi 2017 PLTU Lombok 1 x 110 1 x 55 2017 PLTU Maruni / Andai 2017 PLTU Nabire-Kalibobo 240 Kapasitas (MW) 2 x 25 Nama Pembangkit 2018 PLTU Nunukan (FTP2) 2018-2019 PLTU Kalsel . Talang PLTP Bonjol PLTP Danau Ranau PLTP Jaboi (FTP2) PLTP Simbolon Samosir PLTP Sipoholon Ria-ria PLTP Wai Ratai PLTP Jailolo (Ekspansi) PLTP Tamboli #1.2 Tanjung Pinang 1 (TLB) 2 x 114 2 x 15 2014 PLTU Kolaka (FTP2) #1.2020 2015 2017 81 . Karimun 2 x 7 2014 PLTU Selat Panjang Baru #1. Mulut Tambang 2012 PLTU Jambi (KPS) 2 x 6 2 x 7 2011 PLTU Pontianak .2 (FTP2) 1 x 20 165 2019 PLTU Makbusun / Sorong 2019 PLTU Merauke-Gudang Arang 110 2019 PLTU Sulut I .2 PLTP Lahendong V (FTP-2) PLTP Sokoria (FTP2) PLTP Ulumbu PLTP Oka Larantuka PLTP Lahendong VI (FTP-2) PLTP Atadei (FTP2) PLTP Jailolo (FTP2) PLTP Sokoria PLTP Hu'u (FTP2) PLTP Lainea #1.5 2017 PLTU Sumsel .2 2019 PLTU Luwuk (FTP2) 2020 PLTU Merauke-Ekspansi 2013 PLTU Embalut (Ekspansi) 1 x 5 2 x 5 1 x 20 1 x 5 1 x 5 2014 PLTU Kaltim (PPP) 2015 PLTU Sulut (PPP) 2015 PLTU Kalteng .2 TB.1 (FTP2) 2018-2019 PLTU Kaltim .6.Nama Pembangkit PLTP Rajabasa (FTP2) PLTP Sarulla II (FTP2) PLTP Seulawah (FTP2) PLTP Sorik Marapi (FTP2) PLTP Rantau Dedap (FTP2) PLTP Suoh Sekincau PLTP G.3 1 x 5 2 x 5 3 x 5 1 x 20 2 x 10 1 x 5 2016 PLTU Tanjung Pinang 2 (FTP2) 2016-2017 PLTU Tembilahan 2016-2020 PLTU Bangka (FTP2) 2017 PLTU Sumsel .

82 RUPTL 2011.1 Fuel Mix 1999-2008 Tabel 5.5.1 Sasaran Fuel Mix 5.2020 .5 PROYEKSI NERACA ENERGI DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR 5. dan karena infrastrukturnya belum tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.5. 43 PLTU Sumatra mulut tambang diperhitungkan sebagai IPP di sistem Jawa Bali karena sebagian besar produksinya akan ditransfer ke Jawa dengan menggunakan transmisi HVDC.19 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN (Persero) dalam sepuluh tahun terakhir. Konsumsi batubara terus meningkat. namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan gas yang depleted dari sumbernya.1.Kapasitas Tahun (MW) Operasi Kapasitas Tahun (MW) Operasi PLTU Madura 2 x 200 2015 PLTP Gn Lawu 2 x 55 2019-2020 PLTU Jawa-1 1 x 660 2015 PLTP Karaha Bodas 1 x 30 2 x 55 2015 2016 PLTU Jawa-2 1 x 600 2015 PLTP Guci 1 x 55 2018 1 x 55 2019 PLTU Jawa-3 2 x 660 2016-2017 PLTP Ijen 2 x 55 2019 PLTU Jawa Tengah 2 x 1000 2016-2017 PLTP Wilis/Ngebel 2 x 55 2018 1 x 55 2019 PLTU Banten 1 x 660 2016 PLTP Gn Ceremai 2 x 55 2019-2020 5 x 600 2016-2018 PLTP Gn Endut 1 x 55 2019 1 x 47 2014 PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018 PLTP Baturaden 2 x 110 2018-2019 PLTP Arjuno Welirang 2 x 55 2019-2020 Nama Pembangkit PLTU Sumatera Mulut Tambang 43 PLTA Rajamandala PLTP Cibuni PLTP Dieng 10 2016 1 x 55 2015 1 x 60 2 x 55 2016 2018-2019 1 x 55 2018 PLTP Ungaran 1 x 30 2 x 55 2019 2019-2020 PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018 PLTP Tangkuban Perahu 1 2 x 55 2018 Nama Pembangkit 1 x 55 2016 2 x 110 2017-2018 PLTP Tampomas 1 x 45 2018 PLTP Cisolok-Sukarame 1 x 50 2 x 55 2017 2018-2019 PLTP Iyang Argopuro 5.

namun produksi listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik termasuk pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN.02 229 13.41 2000 5.06 2003 7. Dalam RUPTL ini komposisi fuel mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada Tabel 5.9 2020 0.32 182 21.41 266 21. RUPTL 2011-2020 merencanakan proyek pembangkit seperti dijelaskan pada Bab 5.26 2004 8.91 143 16.61 184 15.4 Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada Tabel 5.00 193 14. Tabel 5.3 6. gas alam 17%.Tabel 5.40 222 14.69 171 21. RUPTL 2011. Dalam tahun 2008 komposisi produksi kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM 36%.32 283 23.20. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Tahun BBM GAS Batubara juta kl bcf juta ton 1999 4.70 237 11. Target fuel mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari pembangkit 44 Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun masih tetap tinggi sampai sekarang.09 2007 10.0 4.2 16.98 158 19.51 176 15.47 2008 11.41 2005 9. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis Bahan Bakar (%) Tahun BBM Batubara Gas Tenaga air Panas Bumi 2011 21.96 Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terakhir ini adalah fuel-mix yang terjebak pada pemakaian minyak yang terlalu banyak44.03 2002 7.6 50.00 2009 9.19.92 2010 9.90 2006 9.2 17.8 5. panas bumi 3% dan tenaga air 9%.14 2001 5.8 12. batubara 35%.2020 83 .8 64.

879 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2.846 17.005 371. Opsi LNG juga akan dikembangkan untuk PLTGU yang berada di Belawan.038 7 63 314 42.149 11.037 4. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD 29.841 16.992 28.346 8.628 6 63 737 29.002 43.428 2 MFO 10. dan hasilnya diperlihatkan pada Tabel 5.000 MW yang akan menurunkan konsumsi BBM secara signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik.088 31.578 151.349 20.331 30.970 14.691 46.432 Hydro 11. Jakarta dan Grati.541 5 Batubara 93.21 dan Gambar 5.150 5 63 709 11.817 15.549 2. Pembangunan dan sewa PLTD berbahan bakar BBM sangat dibatasi hanya untuk mengatasi krisis penyediaan tenaga listrik jangka pendek.043 134.394 30.078 279.204 12. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (GWh) No. Jawa.405 299.374 6 7 8 9 10 Surya/Hybrid Biomass Impor Geothermal TOTA L - 2013 Pada Tabel 5.311 178.4.21 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang punggung sistem pembangkitan Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun mendatang.302 322.261 2. dan akan diganti dengan PLTU batubara skala kecil.749 193.868 221.292 17.387 4 63 9.listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara.049 110.814 258.113 10.897 6 63 738 36. panas bumi dan PLTGU gas.441 43.2020 .606 6 63 733 23.650 202.429 2 63 9.385 556 44 56 51 65 85 65 3 Gas 32.363 12.828 220.017 42.392 238.791 13.331 2.874 29.118 35.964 7 63 317 46. Hal ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi konsumsi BBM.3.657 25.3 dan konfigurasi pembangkit pada butir 4. Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4. selanjutnya dilakukan simulasi produksi energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP.828 345.658 4.084 207.578 6.158 46.524 163. disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit energi terbarukan. Pembangkit yang akan dibangun antara lain adalah proyek percepatan 10.939 238. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak dikembangkan di Sumatera. Tabel 5.635 4 LNG 7.807 2.891 6 63 721 19. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.068 20.197 4 63 8. sementara pembangkit berbahan bakar minyak direncanakan semakin jauh berkurang. 84 RUPTL 2011.704 19. kecuali pada sistem kelistrikan yang terlalu kecil dan terpencil.033 185.429 21.465 2. Disamping itu konversi pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN terus mengupayakan tambahan kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa kendala.316 2.

5 595.6 47.8 3 Gas (bcf) 329.8 589.4 277.5 44.7 248.2020 41.22.000 300.691.7 34. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 1 HSD ( x 10^3 kl ) 7. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun 2011 adalah 17%.3 577.9 49 96.000 100. Tabel 5.7 59. sedangkan LNG mulai tahun 2012 sebesar 4% dan meningkat menjadi 9% pada 2020%. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (GWh) Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi dalam penyediaan listrik yang semakin besar secara signifikan.0 49 88.788.6 49 109.254.3 35.3 4.1 170.8 120. dimana kontribusinya sebesar 5% pada 2011 dan akan meningkat menjadi 12% pada 2020.1 227.3 341. Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 5.7 1.263.4 365.8 358.9 90. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia No.000 50.610.6 49 116.9 39.2 263.000 150.21 diperlukan bahan bakar dengan volume yang diperlihatkan pada Tabel 5.3 2 MFO ( x 10^3 kl ) 1.8 39.2 4 LNG (bcf) 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) RUPTL 2011.6 1.Pada tahun 2011 konsumsi BBM masih sebesar 21%.7 49 2015 2016 2017 2018 2019 2020 633.3 344.1 37.954.2 49 101.0 49 125.8 337.3 49 82. 400.1 197. akan menurun menjadi 8% pada tahun 2020.464.604.8 2.737.7 211.3 159.442.000 GWh 250. Sementara itu kontribusi batubara akan meningkat dari 50% pada tahun 2011 menjadi 64% pada tahun 2020.2 545.000 2011 Impor 2012 Biomass 2013 Surya/Hybrid 2014 HSD  2015 MFO  2016 LNG Gas 2017 Batubara 2018 2019 Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.7 550.000 350.7 240.0 59.000 200.8 633. dan direncanakan menurun menjadi 5% pada 2013 dan <1% pada 2020.131.794.274.190.3 49 73.4 122.7 49 85 .002.754.

322 2019 139 19.532 142.742 9. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh) 86 RUPTL 2011.000 GWh 200.2020 .028 5.000 50.400 2017 114 25.554 237.774 11.23 dan Gambar 5.746 133. yaitu mengurangi pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan gas.273 2015 216 31.107 6.5.065 8.856 16 33.995 300.106 22.509 2012 4.904 144.926 122.365 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTA L 2011 13.722 2020 140 22.522 173.4 kali dan kebutuhan gas alam meningkat 2 kali lipat. Tabel 5.5.140 153.029 178.097 6.822 30.695 5.080 7.615 25.474 222.422 94.085 84.416 2018 120 16.466 7.418 109.724 5.568 165.786 8.218 4.770 16.655 157. Dalam kurun waktu 2011-2020.000 2011 HSD  2012 MFO  2013 2014 LNG 2015 Gas 2016 Batubara 2017 Geothermal 2018 2019 2020 Hydro Gambar 5. kebutuhan batubara meningkat 2.978 192.504 253. Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai diversifikasi energi.684 24. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh) No.143 15.823 34.273 2014 1.5.092 5.470 24.163 184.292 7.303 7.117 166.000 150.697 9.000 100.549 8.000 250.606 7.404 28.169 270.2 Sistem Jawa-Bali Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun 2011-2020 berdasarkan jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.271 2013 1.412 207. sedangkan kebutuhan BBM menurun drastis karena digantikan oleh LNG/CNG.721 8.747 14.981 35.188 25.582 9.128 2016 232 31.

Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat dilihat pada Tabel 5.410. Namun demikian porsi gas alam menurun dari 18% pada 2011 menjadi hanya 8% pada 2020. RUPTL 2011.1 93.701.2 69. 2% minyak dan 21% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.1 204. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali No. yaitu 68% dari seluruh produksi pada tahun 2020.532 GWh pada tahun 2011 menjadi 30.0 199.8 247. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG) mengalami peningkatan sejak tahun 2011 menjadi hampir 2 kali lipat pada tahun 2020.3 2014 516.1 79.5 74.6 80.8 241. Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai tahun 2020. sedangkan LNG meningkat dari 5% pada 2012 menjadi 9% pada 2020).1 263.0 2017 32. atau meningkat hampir 4 kali lipat.3 240. 12% tenaga air.Pada Tabel 5. Tabel 5.896.8 36. dan Kalimantan Barat diperlihatkan pada Lampiran B. Panas bumi mengalami peningkatan secara signifikan dari 8.827.1 87.1 2020 39.055. maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 51% batubara.6 49.4 59.712.4 84.224.2 44.8 159.2020 87 .23 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya.25 dan Gambar 5.1 49.2 2013 561.24.6 64. Sedangkan pangsa tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem Jawa Bali sudah sulit untuk dikembangkan.8 2018 34.5.5.3 187.0 123.4 141.376.7 3.161.4 307.0 5. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatra. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana pengembangan pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.8 260. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10^3 kl ) MFO ( x 10^3 kl ) Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 2011 3.5 2012 1.563.8 2016 65. 15% gas alam.2 2019 39. Hal ini terjadi karena pasokan gas pipa untuk pembangkit semakin menurun sehingga LNG menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pembangkit walaupun harganya mencapai lebih dari 2 kali lipat dari gas pipa.1 212.5 262.5 57.8 2015 61.595.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik.169 GWh pada tahun 2020.494.8 81.3 129.

317 20.030 32.254 63 709 2.820 4.346 5.502 4. Sebagai contoh.7 49.923. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh) Kebutuhan bahan bakar di Luar Jawa dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.000 60.394 4.821 63 721 6.114 6.362 2020 996 35 4.4 67.773 49.033 6.232 16.586 4.Tabel 5.876.441 7.5 46.2020 .1 12.225.8 4.4 39.000 50.307.8 49. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh) No.713 2.4 49.200 64.000 20.458 2.9 248.144.8 11.1 19.476 29.932 4.717 2013 3.819.854 5.1 82.6 225.765 42.859 63 317 13.7 49.000 10.2 247.273 20.745 2014 940 177 7.377 63 63 28.2 8.407 2012 7.9 37.8 14.689 63 801 35. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD ( x 10^3 kl ) 2.1 76. Tabel 5.226.1 9.1 49. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Biomass Impor Geothermal TOTA L 2011 10.0 665.049 2015 913 3 7.531 3.499 5.5 78.7 77.281 38. pasokan gas 88 RUPTL 2011.415 10.000 2011 2012 Impor 2013 Biomass HSD  MFO  LNG 2016 Gas 2017 Batubara Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.112 63 314 11.569 2017 822 21 6.269 24.691 58.1 2013 11.788 4.811 63 738 11.713 1.6 43.0 49.9 37.107 2016 834 16 7. hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN.350 5.8 227. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat No.333.1 15.26.3 46.6 1.324 17.5 37.353 54.205 63 737 10.1 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 274.148 7.1 6.096 7.293 4.865 46.368 2019 982 55 4.977.8 49.1 12.000 30.1 10.000 GWh 40.4 304.6 49.1 37.26 yang terus menurun sesungguhnya masih jauh di bawah kebutuhan.1 18.575 5.1 2 MFO ( x 10^3 kl ) 685.8 84.9 51.1 3 Gas (bcf) 52.2 49.493 7.8 4 LNG (bcf) 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 4.095 7.445 63 733 6.635.869.6 49.4 44.392 63 64 31.854.8 37.7 258.533 3.6 273.389 17.5 924.1 Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 5.459 2018 898 35 5.0 5.3 0.087 2014 2015 2018 2019 70.

964 1.831 5.469 5 629 21. 4% minyak dan 7% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.116 1.323 6 1.319 3.236 3.199 2014 1.295 2015 1.2020 2011 5.818 2.421 41 4. Maluku & Papua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran A.153 5.980 2018 1.380 30 3.569 378 4. 15% gas alam.307 30 4.345 7 2. Idealnya gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat pembangkit. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Indonesia Timur (GWh) No. maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 58% batubara.349 21.399 41 3.033 2.606 6 1.071 23.788 2.916 2.748 3.216 4 446 16. Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena depletion.351 1.041 1.874 891 14.498 30 4.659 6 2.007 17.283 2020 1.676 694 7.5. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTA L RUPTL 2011.090 18. 5.923 1. 15% tenaga air.016 1.740 2012 5.234 2 438 14.977 2013 2.483 2.6. Sulawesi.522 2019 1. Tabel 5.984 156 4.503 7 2.653 2017 1.2 juta ton akan meningkat tajam menjadi 20 juta ton pada tahun 2020.801 25.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik. atau sekitar 5 kali lipat untuk 10 tahun mendatang.633 33.292 89 .636 36. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Kalimantan.071 839 13.829 6 2.166 4.042 721 11.414 2016 1.395 30.360 2.345 4 458 19.409 1. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 4.158 27.27 dan Gambar 5.820 2.242 30 4.928 902 15.

2 juta ton pada tahun 2020.6 788.5 8.0 7.6 6.1 3.2 13.345.4 3.1 2.7 30.000 15.5 301.3 22.2 323.2 19.3 21.7 318.7 521. 90 RUPTL 2011.5 24.7 3 Gas (bcf) 13.000 GWh 25.2020 .000 35. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 1.298.5 356.3 2 MFO ( x 10^3 kl ) 612.0 12. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh) Kebutuhan bahan bakar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD ( x 10^3 kl ) 1.28 Tabel 5.3 1.539.105.9 4.2 23.0 113.000 20.0 23.3 33.2 276.3 8.3 30.2 1.038.3 juta ton akan meningkat tajam menjadi 12.4 4 LNG (bcf) - - 3.2 3.834.163.310.794.000 2011 2012 Surya/Hybrid 2013 2014 2015 HSD  MFO  LNG 2016 Gas 2017 2018 Batubara 2019 Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.7 30.8 3.1 21.0 273.000 10.8 288.40. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur No.961.000 30.1 269. atau sekitar tujuh kali lipat untuk 10 tahun mendatang.5 33.5 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.1 21.000 5.8 10.4 9.7 30.165.2 3.6 9.8 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 4.989.

Hal ini dilakukan karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling volatile dan dapat berubah secara cepat dan lebar.30. dan lain-lain. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi di sektor ketenagalistrikan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan kapasitas. Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 cases di luar base case45 untuk sistem Jawa Bali. karena sistem ini merupakan sistem terbesar di Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di wilayahwilayah lainnya. Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana pengembangan sistem kelistrikan. transmisi dan distribusi yang pasti.2020 91 . proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik. Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis risiko pada Bab 7. harga EPC proyek. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas diberikan pada Tabel 5. sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih terbatas.5. maka dalam RUPTL ini telah dilakukan analisis sensitivitas. Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa variabel ketidakpastian yang di luar kendali PLN. misalnya harga bahan bakar. karena diperlukan adanya rencana program pengembangan kapasitas pembangkit. Tabel 5. Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas Harga Case Base Case Crude Oil US$/barel 95 Coal US$/ton 80 Gas US$/mmbtu 6 LNG US$/mmbtu 10 Case 1 130 80 6 10 Case 2 95 80 6 10 Case 3 95 100 6 10 Case 4 95 80 7 10 45 Base case adalah case yang diadopsi dalam RUPTL 2011 – 2020 ini. RUPTL 2011. analisis sensitivitas dalam RUPTL ini hanya dibuat untuk perubahan harga bahan bakar.6 ANALISIS SENSITIVITAS RUPTL 2011–2020 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem kelistrikan dengan skenario tunggal.

2020 .550 100 100 96 113 103 Objective Function Juta USD % 3 Base Case Harga bahan bakar Crude Oil 2 Satuan Penambahan Kapasitas PLTU MW 24.800 24.800 MW (base case) 92 RUPTL 2011.600 600 MW 33.350 33.400 Jumlah Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap rencana pengembangan sistem.800 PLTGU MW 6. Sebaliknya jika harga batubara naik dari $80 menjadi $100 (Case 3). kapasitas dan jadwal).542 65. Namun banyaknya PLTU batubara akan menyebabkan pembangkit yang seharusnya memikul beban dasar menjadi beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian daripadanya akan mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.400 33. Hal ini dapat dimengerti karena porsi pemakaian BBM memang sangat kecil.750 6. dengan mengambil alih pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU). maka kapasitas PLTU batubara hanya akan menurun dari 24. dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas. dan hanya sedikit menaikkan nilai objective function biaya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.800 MW (base case) menjadi 28.600 1. yaitu hanya 1% dari fuel mix pada tahun 2020.800 1.800 MW (Case 2). Case 2 untuk melihat dampak penurunan harga batubara.000 15.000 PLTG MW 1.30. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar No 1 Case Study Batubara Case 1 Case 2 Case 3 Case 4 USD/barrel 95 130 95 95 95 USD/ton 80 80 50 100 80 Gas USD/mmbtu 6 6 6 6 7 LNG USD/mmbtu 10 10 10 10 10 58.350 33.063 58.800 16.Tabel 5. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif terhadap penurunan harga batubara. dengan demikian RUPTL ini tidak sensitif terhadap perubahan harga minyak.750 3. Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak menjadi US$130 tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis.000 3.338 59.800 29.400 33.800 1. Sementara penurunan harga batubara dari $80 menjadi $50 pada Case 2 akan menambah kapasitas PLTU batubara dari 24. Case 3 untuk melihat pengaruh kenaikan harga batubara.090 55.800 28.

belum memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai salah satu variabel biaya.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) Pengembangan pembangkitan yang semata-mata berdasarkan prinsip leastcost tanpa mempertimbangkan intervensi kebijakan pemerintah seperti pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan 46 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change).2020 93 . Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4). Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana combined cycle plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit lainnya.7 PROYEKSI EMISI CO2 Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2011-2020. maka combined cycle tidak dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $80. Penggunaan teknologi boiler supercritical di pulau Jawa juga membuktikan bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi emisi CO2 dari pembangkitan tenaga listrik. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensitif terhadap kenaikan harga gas.800 MW (base case) menjadi 29. maka kapasitas pembangkit batubara akan naik tajam dari 24. 5.7. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah.2 mengenai kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit dan butir 5.800 MW dan peranannya digantikan dengan pembangkit berbahan bakar gas.menjadi 16.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit. 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. RUPTL 2011. RUPTL ini tidak mengabaikan aspek emisi CO2. sebagaimana dapat dilihat pada butir 2. 5. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6.800 MW. dan peranan pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara. Namun demikian. Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan dikonversi menjadi emisi CO2 (dalam ton CO2) dengan menggunakan faktor pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC46.

0  60.8% dari total produksi pada tahun 2020. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 236 juta ton CO2. 5.000 MW dengan produksi mencapai 72.000  200.0  75.000  100. Rencana pengembangan ini selanjutnya disebut sebagai baseline.0  10.0  40.rencana pengembangan pembangkit yang sangat didominasi oleh PLTU batubara.7. 2016 dan tahun 2020. MW million tCO2 250. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Jawa Bali Skenario Baseline Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Jawa Bali akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 27.000  125.000  225.0  30. Tabel 5.0  150.000  175. sehingga tidak terjadi penambahan kapasitas PLTP secara signifikan (hanya PLTP existing dan committed projects).0  70.31 menunjukkan komposisi bauran energi (energy mix) pada tahun 2010.2020 .0  50.1 Sistem Jawa Bali Gambar 5.000  50.0  20.000  25.0  ‐ ‐ 2010 COAL 2012 OIL GAS 2014 GEOTHERMAL 2016 2018 HYDRO 2020 NUCLEAR EMISI Gambar 5.8 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan oleh skenario baseline untuk sistem Jawa Bali.1. Dapat dilihat pada tabel tersebut bahwa energi terbarukan khususnya panas bumi tidak kompetitif melawan pembangkit fosil. 94 RUPTL 2011.

867 100 Objective Function Mill.616 46.110 8.728 151.023 20.0  ‐ 2009 2010 2011 2012 Batubara 2013 Gas 2014 LNG 2015 HSD 2016 2017 2018 2019 MFO Gambar 5.8 Geothermal GWh 6.0  20.813 8.2020 95 . PLTGU gas alam sebesar 800 MW.2 Sistem Sumatera Gambar 5.0  160.1.110 2. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) Unit 2010 2016 2020 Coal GWh Oil Portion (%) 84.430 62.0  180.8 Nuclear GWh 0 0 0 0 Total Production GWh 129.0  200.1 Gas GWh 30.0  140.452 72.0  60. PLTGU LNG 400 MW dan IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) sebesar 400 MW pada tahun RUPTL 2011. Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Sumatera akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 2.0  80.000 MW.8 GWh 206 4 20 0.087 59.10 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan dalam skenario baseline untuk sistem Sumatera.575 Juta tCO2 220. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali Skenario Baseline 5.7.029 67.929 235.0  120.893 12.641 8.5 Hydro GWh 7.0  40.262 3.475 227.Tabel 5. USD 14.965 322.0  100.

0 10.588            10.000 15.1% untuk panas bumi.642             15           103              0.731     19. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) Unit 2010 2016 2020 Portion (%) Coal GWh       5.2% untuk bahan bakar minyak.32 menunjukkan komposisi bauran energi pada tahun 2010.2020. 9.608       4.8 juta ton CO2.2% untuk batubara. Capacity of Facilities.0 - 0.437              9. 13. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28. 6.1 Hydro GWh       3. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline Produksi listrik tahun 2020 berdasarkan energi primer dalam skenario baseline sistem Sumatera adalah 60.2 Oil GWh       3.000 10.0 Million  USD           513           713       1.0 Geothermal GWh  ‐          4.588       4.382       3.000 35.363     32.207            60.729       4.0 30.231          100. MWe Million tCO2 12.0 2010 2012 2014 2016 2018 2020 COAL GAS LNG MFO HSD GEO IGPP HYD PUMP Emission Gambar 5.000 5.0% untuk gasifikasi batubara dan hanya 0.0 2.000 20.031 Construction  Cost 96 RUPTL 2011. Tabel 5. PLTP tidak kompetitif secara ekonomis.000 25.2 Gas GWh       5.6 Total Production GWh     18.026     27. 2016 dan tahun 2020.283     45. Tabel 5. sehingga dalam baseline ini hanya tercantum proyek-proyek PLTP yang telah committed.0 4.2020 .735              6.925       6.8% untuk gas.0 8.8 Coal Gasification GWh  ‐     ‐          2.0 6. 10.6% untuk tenaga air.161            13.

11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera Skenario Baseline 5.Juta tCO2 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2010 2011 2012 2013 2014 Batubara  Gas 2015 LNG 2016 MFO 2017 2018 2019 HSD Gambar 5.2020 97 .2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 Pemerintah telah menetapkan Perpres No. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No.4. 5.2. RUPTL 2011.7. 15 tahun 2010 mengenai Program Percepatan Pembangkit Tahap 2. 245 juta ton (89%) berasal dari pembakaran batubara. khususnya panas bumi. Dari Gambar 5. Dengan adanya intervensi kebijakan pemerintah mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sedikit berbeda dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO2.1 Emisi CO2 Indonesia Gambar 5.12 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi listrik Indonesia dilakukan dengan fuel mix seperti pada Gambar 5.7.12 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia akan meningkat dari 141 juta ton pada 2011 menjadi 276 juta ton pada tahun 2020. Dari 276 juta ton emisi tersebut. Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan menggunakan energi terbarukan.

panas bumi dan penggunaan teknologi supercritical.2020 .8 kgCO2/kWh pada 2013-2014 dan selanjutnya akan menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan PLTA sehingga average grid emission factor pada tahun 2020 menjadi 0. atau naik hampir 2 kali lipat.778 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0. Emisi naik dari 110 juta ton pada 2011 menjadi 205 juta ton pada 2020. 47 Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh] 98 RUPTL 2011.2. Grid emission factor membaik dari 0.745 kgCO2/kWh. Perbaikan faktor emisi ini dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam. 5.756 kgCO2/kWh pada 2020.2 Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.763 kgCO2/kWh.13. akan meningkat menjadi 0.7.Juta tCO2 300 275 250 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 2015 2016 2017 2018 2019 HSD MFO LNG Gas Batubara  2020 Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) Average grid emission factor47 untuk Indonesia pada tahun 2011 adalah 0.

14.3 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan pada gambar 5. Grid emission factor meningkat dari 0. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali 5.7.749 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0.Juta tCO2 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 2014 Biomass HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5.704 kgCO2/kWh pada 2020.856 kgCO2/kWh pada 2013 dan berangsur-angsur menurun menjadi 0. Emisi naik dari 21 juta ton menjadi 45 juta ton. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat RUPTL 2011. Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.2. atau naik sekitar 2 kali lipat.2020 99 . Juta tCO2 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5.

PLN akan melakukan upaya pengurangan emisi GRK dari semua kegiatan ketenagalistrikan (pembangkit. Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air. gardu induk dan distribusi).2020 . PLN akan menggunakan peluang yang diberikan oleh Protokol Kyoto (PK).731 kgCO2/kWh pada 2020.15.4 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan pada Gambar 5. dan berangsur-angsur menurun menjadi 0.8 kali lipat.5 juta ton pada 2020.2.641 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0. Emisi naik dari 9.5. Juta tCO2 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5. Grid emission factor meningkat dari 0.784 kgCO2/kWh pada 2014 dengan masuknya PLTU skala kecil di 70 lokasi. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur 5. atau naik 2.4 juta ton pada 2011 menjadi 26. 100 RUPTL 2011. transmisi.8 PROYEK CDM (CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM) Sesuai Misi PLN ”menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan”. dan dengan komitmen nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).7. yaitu peluang bagi Negara Non Annex I untuk mendapatkan kredit dari upaya pengurangan emisi GRK melalui mekanisme CDM (Clean Development Mechanism) yang akan berlaku dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sesuai dengan masa berlakunya Protokol Kyoto dan kesepakatan yang akan dicapai oleh para pihak untuk pasca tahun 2012.

Sulawesi Utara CDM Registered 66.6 MW). Minahasa. Merasap (1.020 RUPTL 2011.663 4 PLTA Genyem (20 MW) Papua CDM PDD Development 50. Sulawesi Utara CDM PDD Development 50.713 3 PLTP Lahendong III (20 MW) Tomohon.282 7 PLTA Sipansihaporas (50 MW) Sumatra Utara VCS Validation completed 159. transmisi/gardu induk dan distribusi. Gorontalo.2020 101 . Daftar proyek PLN yang dikembangkan melalui mekanisme CDM dan VCM dapat dilihat pada Tabel 5. Kebijakan pengembangan proyek CDM di unit-unit PLN termasuk penjualan CER-nya dilakukan secara terpusat.048 9 PLTA Musi (210 MW) Bengkulu VCS Validation completed 847. dan Sulawesi Utara CDM PDD Development 8. dan hasilnya hingga saat ini PLN telah menandatangani 5 ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements).33. Selain itu PLN juga mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM (Voluntary Carbon Mechanism). Tabel 5.2 MW). Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan pentingnya CDM dan melakukan assessment beberapa potensi proyek CDM.780 2 PLTP Lahendong II (20 MW) Tomohon.Implementasi CDM akan diterapkan untuk semua kegiatan di lingkungan PLN yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi proyek CDM di sisi pembangkitan. Minahasa. sedangkan Anak Perusahaan dapat mengelola dan mengembangkan proyek CDM sendiri dengan melakukan koordinasi dengan PLN Pusat.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM dan VCM No Nama Proyek Lokasi Emission Reduction Mechanism Status Saat Ini Annual Project Emission Reduction (tCO2e/year) 1 PLTP Kamojang IV (60 MW) Jawa Barat CDM Registered 402. Mongango (1. dimana saat ini sudah ada 3 proyek yang telah selesai proses validasinya sesuai VCS (Voluntary Carbon Standard).749 6 PLTMG Bontang (14 MW) Kalimantan Timur CDM Under validation 21.000 5 PLTM Lobong (1.596 8 PLTA Lau Renun (82 MW) Sumatra Utara VCS Validation completed 229.5 MW) Kalimantan Barat.

333 3.729 8. Sedangkan pengembangan transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan sebagai transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru.162 150 kV 70 kV TOTAL 102 RUPTL 2011.211 1.34 dan Tabel 5.9 PENGEMBANGAN SISTEM PENYALURAN DAN GARDU INDUK Pada periode 2011-2020 pengembangan sistem penyaluran masih berupa pengembangan sistem dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem JawaBali serta tegangan 500 kV. Khusus untuk pasokan ke sistem Jakarta. 275 kV.282 168 1.056 49.717 5.813 3. Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk mentransfer tenaga listrik dari pembangkit mulut tambang di Sumbagsel dan Riau ke Sumbagut.573 2.822 10.172 774 1.754 7.360 250 kV DC - - - - - 462 - - - - 462 3. Tabel 5.016 36.873 972 1.192 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.100 - - - - 1.206 1 - 334 - - - 3.951 3. menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik.532 110 - 130 - - 5.554 MVA untuk pengembangan gardu induk serta 49. pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan menggunakan jalur transmisi 150 kV atau 70 kV. 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat.812 6. Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di sekitar konverter transmisi HVDC di Sumatera sebagai feeder pemasok listrik dari pembangkit mulut tambang.35.5. Disamping itu juga sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.625 500 kV DC - - - - - 1.173 1. Pembangunan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien.100 275 kV - 642 2.565 4.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia Satuan kms TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500 kV AC 82 172 374 12 459 738 538 170 40 40 2.2020 .254 370 1. Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun expansion.805 5.541 2.083 2. Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 114.012 1.967 7.

000 275/150 kV 1.060 114. yaitu di sistem Sumbar-Riau.000 270 5.460 9.000 2.600 4.670 6.9. Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga terdapat di beberapa sistem.250 - 500 500 - 250 10.000 33.680 8.220 4. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain: – Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur barat dan jalur timur. antara lain rencana pembangunan sirkit kedua dan reconductoring beberapa ruas transmisi di sistem Sumbagut dan Sumbagsel.860 250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600 150/70 kV 60 60 123 - 60 60 - - - - 363 150/20 kV 9.920 4.020 15.2020 103 .500 3.200 4. Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan terlaksana pada tahun 2012.140 5. Sumbagsel dan Kalbar.130 6.340 4.830 5.150 kms pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.886 70/20 kV TOTAL 715 640 410 260 270 180 150 210 290 230 3.36 dan Tabel 5.000 1.554 5.580 59.000 - - - - 3. 275 kV. 150 kV dan 70 kV) serta 21.355 20.746 11.000 500/150 kV 8. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu induk dan transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel ke sistem interkoneksi (dedieselisasi).000 - - - 3.500 500 1.620 8.293 10.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2020 akan banyak mengubah topologi jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi 275 kV dan 500 kV di Sumatera. RUPTL 2011.470 4.500 1.000 2020 Total 500/275 kV - - - - - 1.450 MVA untuk pengembangan gardu induk (500 kV.720 15.000 5.000 4.490 500 kV DC - - - - - 3.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2. Pengembangan juga banyak dilakukan untuk memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo.660 1.390 6.37. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 29.181 14.090 2.Tabel 5.

50 Pemilihan level tegangan ±250 kV HVDC bipolar ini masih terbuka kemungkinan untuk diubah ke 500 kV HVDC monopolar. Interkoneksi Kalbar – Serawak direncanakan beroperasi 2014 dimaksudkan untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN khususnya pada waktu beban puncak sampai dengan tahun 2019 untuk menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak. 77/2008. 1. – Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya dengan perluasan wilayah usaha PLN Batam. Interkoneksi Sumatera – Malaysia direncanakan beroperasi 2017 dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari tukar menukar tenaga listrik antara Sumatera dan Malaysia pada jam-jam tertentu. meliputi interkoneksi Sumatera-Malaysia (HVDC ± 250 kV)50 dan Kalimantan Barat-Sarawak (275 kV HVAC). Pada saat off peak di Sumatera (siang hari) PLN mengirim tenaga listrik ke Malaysia yang pada saat yang sama sedang meningkatkan keandalan sistem Sumatera. Pada saat peak load di Sumatera (malam hari) PLN menerima tenaga listrik dari Malaysia yang pada saat yang sama sedang dalam kondisi off peak. Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan ASEAN Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN Power Grid yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Perpres No. Setelah tahun 2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli 48 Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih banyak menggunakan pembangkit BBM. Selain itu terbuka kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat terlambat. 2. – Interkoneksi Batam – Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga listrik dari Batam48 dengan mempertimbangkan rencana pengembangan pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian Bintan49. 104 RUPTL 2011.– Proyek transmisi 500 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur timur. 49 Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN Batam.2020 .

743 790 667 382 740 21.090 5.170 1.410 2. Papua dan Nusa Tenggara sedang dilaksanakan pembangunan transmisi 70 kV dan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU batubara di wilayah tersebut. sementara di wilayah Sulselrabar sedang dibangun transmisi 275 kV dari PLTA Poso ke Palopo.643 4.990 3.000 - - - - 3. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat Satuan kms TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500 kV AC - - - - - - - 150 - - 150 500 kV DC - - - - - 800 - - - - 800 275 kV - 160 2.9.200 3.750 2.000 275/150 kV 1.350 840 810 870 810 570 750 11. Tabel 5.532 110 - 130 - - 4.440 1. Di wilayah Maluku.000 29.250 - 500 500 - 250 10.490 3.150 Tabel 5.370 3.513 3. 150 kV dan 70 kV.000 - - 3.000 500/150 kV - - - - - - - - - - - 500 kV DC - - - - - 3.018 2.tenaga listrik selama waktu beban puncak karena semua pembangunan pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai. Pada tahun 2013 sistem Sulawesi Tengah. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500/275 kV - - - - - 1.340 600 1.450 TOTAL 5.000 - 2.500 250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600 150/70 kV - - - - - - - - - - - 150/20 kV 960 2.000 - 5.499 1.878 250 kV DC 150 kV - - - - - 462 - - - - 462 694 1.000 1. Evakuasi daya dari rencana PLTU sewa di Balikpapan dan Asam-Asam akan menyebabkan kondisi bottleneck di beberapa ruas transmisi di sistem Kalsel RUPTL 2011.010 7.318 2.310 70 kV TOTAL - 310 - 240 - - - - - - 550 694 2.371 790 387 382 740 14.486 1.000 2. sistem Sulawesi Tenggara dan sistem Sulawesi Selatan akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 275 kV dan 150 kV.113 6.2020 105 .2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Pengembangan sistem transmisi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur meliputi pembangunan transmisi dan gardu induk 275 kV.880 70/20 kV 30 260 30 60 - 30 - 30 30 - 470 1.172 774 1.

144 380 170 13. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Satuan kms TRANSMISI 2011 275 kV 150 kV 70 kV TOTAL 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 482 482 1. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Satuan MVA TRAFO 2011 275/150 kV 2012 270 2013 150/70 kV 60 60 123 870 760 940 TOTAL 2015 2016 2017 2018 2019 2020 90 150/20 kV 70/20 kV 2014 Total 430 950 60 60 450 540 363 630 480 730 320 6.752 494 168 834 370 866 1 1. 106 RUPTL 2011. Tabel 5.453 1. Untuk mengatasi kondisi tersebut direncanakan reconductoring pada ruas-ruas tersebut. namun implementasi rencana interkoneksi tersebut tergantung pada kelayakan dari hasil studi dasar laut.434 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.837 2.188 5.207 3.618 495 680 1.581 2.40 dan Tabel 5. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Timur antara lain: – Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Kalselteng – Kaltim – Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Sulut – Gorontalo.573 1.interkoneksi pulau Seram – Ambon dan interkoneksi Sultra – pulau Muna – pulau Buton.477 3. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 9.161 2.175 1.090 780 720 750 570 810 490 9.dan Kaltim.144 380 170 16. Rencana pengembangan interkoneksi tegangan tinggi antar pulau di area Indonesia Timur meliputi interkoneksi pulau Laut – Kalsel .2020 .39.379 334 680 1. Wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 150 kV pada tahun 2012.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali Pada Tabel 5.670 245 260 300 140 270 120 120 90 80 170 1.9. 150 kV dan 70 kV) serta 16.795 1.188 MVA untuk pengembangan gardu induk (275 kV.41 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di sistem Jawa-Bali.350 1.38 dan Tabel 5.515 2.247 1.683 3.434 Tabel 5.

970 3. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 500/150 kV 8. PLTU Paiton Expansion dan PLTU IPP Tanjung Jati Expansion (2011.41 merupakan perkuatan grid yang tersebar di Jawa. di sini hanya diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead line yang berada di pulau Jawa. 2017).660 6.509 1.Tabel 5. 2020). PLTU Jawa Tengah Infrastruktur dan PLTU Indramayu (2016/2017.560 3.570 75.220 4.980 4.40 adalah transmisi HVDC interkonesi Sumatra – Jawa.562 1.40 RUPTL 2011.660 1. Rencana pada Tabel 5.500 500 1. 2014).475 174 342 210 106 8.900 2. selebihnya diperhitungkan sebagai pengembangan sistem transmisi Sumatra. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali Satuan kms TRANSMISI 500 kV AC 2011 2012 2013 2014 2015 82 172 374 12 459 1.710 1.528 712 362 250 146 11.591 2. PLTGU baru (2019/2020) dan pumped storage Upper Cisokan (2016).916 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL Total - 440 120 80 60 17.500 4.916 7.640 5.090 6.500 3.490 7.850 9.850 3.990 2. Matenggeng dan Grindulu (2019/2020.232 500 kV DC 150 kV 738 2017 2018 2019 2020 490 20 40 40 2.950 657 1. Selain itu dibangun juga transmisi 500 kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan Jakarta seperti Balaraja-Kembangan dan Kembangan-Durikosambi-Muara Karang.016 9.830 5.300 3. Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi.593 - 110 1.578 Tabel 5.000 2.000 4. Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5. Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke pusat beban di Bali (2015).052 1.960 Dari Tabel 5. Transmisi tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Suralaya Baru dan PLTU Adipala (tahun 2011.2012).000 5.520 6.630 3.000 33.031 1.475 kms.000 MW.593 300 100 1.510 41. bahkan di sistem 70 kV di Jawa Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait dengan proyek percepatan pembangkit 10.40 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2020 akan dibangun transmisi 500 kV AC sepanjang 2.2020 107 . utamanya seputar Jabotabek. Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 5.674 Total 538 300 70 kV TOTAL 2016 210 2.500 1.336 30 30 90 180 60 1.

maka penghematan biaya bahan bakar yang diperoleh masih jauh lebih besar.Incomer (Tasik .hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok konsumen besar dan saluran distribusi khusus. Program pemasangan trafotrafo 150/70 kV dan 70/20 kV pada tabel tersebut juga hanya merupakan relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur.Jawa berikut GITET Xbogor .Depok dan Cilegon – Cibinong) untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di Sumatra Selatan ke sistem Jawa Bali tahun 2016. Pembangunan JBC ini berpotensi menghasilkan saving sebesar USD 617 juta (NPV) selama 20 tahun bila dibandingkan dengan membangun pembangkit di Bali. – Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3. – Proyek transmisi SUTET 500 kV tx Ungaran-Pemalang-MandirancanIndramayu tahun 2014. Apabila dibandingkan dengan biaya investasi (EPC cost) sebesar Rp 410 miliar.000 MW Sumatra .23 triliun selama 20 bulan operasi (Mei 2012Desember 2013) hingga beroperasinya Jawa-Bali Crossing 150 kV. Tahap pertama pada tahun 2013 beroperasi 150 kV dan tahap kedua pada tahun 2015 beroperasi 500 kV. Dengan adanya transfer energi dari sistem Jawa melalui kabel laut Jawa-Bali #1-4 sebesar 300 MW (mempertimbangkan N-1). – GITET Cawang Baru dan GITET Muara Karang. Beberapa proyek transmisi strategis di Jawa-Bali antara lain: – Kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 tahun 2012. – SUTET Durikosambi – Muara Karang. 108 RUPTL 2011.2020 . akan diperoleh penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp 2. – Pembangunan SUTET 500 kV Paiton – New Kapal termasuk overhead line 500 kV / submarine cable 500 kV menyeberangi selat Bali (Jawa Bali Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali. Pembangunan kabel laut Jawa-Bali sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat menekan pemakaian BBM di Bali dalam jangka pendek.

1 23.7 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.8 5.0 1.2 7. 225.8 1.6 6.2 25.159.404.232.6 Tambahan Pelanggan 5. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 27.0 kms jaringan tegangan menengah.5 21.5 kms jaringan tegangan rendah.721.7 6.642.332.5 juta pelanggan.607.2020 109 .216.3 6.099.5.4 225.267.3 juta pelanggan.708.7 661.683.227.750.920.7 kms jaringan tegangan rendah.539.593.563.066.9 14.2 6. 8.3 5.956.296.4 2.524.6 539.0 6.666.005.429.813.9 555.4 2.841.655.0 7.554.8 2. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 5.716. 65.896.4 18.4 Trafo Distribusi MVA 3.398.038.4 3.460.980.364.4 1.1 4.8 24.2 25. 37.0 kms jaringan tegangan menengah.1 542. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 adalah sebesar 74.8 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Jaringan TM kms 18.7 572.497.250.4 Jaringan TR kms 17.1 5.2 22.389.2 4.128.44.3 juta pelanggan.2 18.780.6 573.9 208.4 kms jaringan tegangan menengah.6 2.418.4 2.0 3.5 6.332. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 6.5 1.638.10 PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI Rencana pengembangan sistem distribusi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.4 1.0 Jaringan TR kms 6.3 3.298.759.573.9 4.431.5 7.1 2.7 20.721.865.135.644.4 651.066.1 3.334.9 3.5 62.9 2.7 Trafo Distribusi MVA 1.5 21.431.1 20.080.590.626.4 kms jaringan tegangan rendah.494.784.6 3.0 593.488.454.7 27.739.9 19.739. Tabel 5.980.414.077.8 1.7 2.749.2 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.1 Tambahan Pelanggan Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur dapat dilihat pada Tabel 5.0 6.965.8 1.592.5 69.088. Tabel 5.850.6 2.666.42.3 6.172.1 24.4 18.9 21. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia hingga tahun 2020 adalah sebesar 208.6 7.368.607.1 21. Tabel 5.43.593. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia Barat hingga tahun 2020 adalah sebesar 62.8 ribu plgn 1.152.2 ribu plgn 3.2 6.1 6.982.622.435. 14.425. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur RUPTL 2011.404.454. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Barat Jaringan TM kms 5.707.0 669.3 1.9 26.7 37.543.3 7.7 6.688.10.2 2. 69.164.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat dapat dilihat pada Tabel 5.3 23.

1 814.7 481.8 15.528.119. struktur dasar laut.Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150 kV.1 1.644.7 8.671.2 70.188.7 1.2 7.1 7.4 Jawa-Bali Jaringan TM kms Jaringan TR kms 7.4 8.636.029.2 7.6 8.4 5.577.780.850.9 519.216.9 7.520.137.2 Sistem Jawa-Bali Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik dapat diproyeksikan seperti pada Tabel 5.047.2 74. enjiniring dan studi dasar laut (seabed study) meliputi: route.2 65.922.286.202.8 7.843.0 1.506.6 1.620.221.4 885.721.8 1.3 6.Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV • Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV • Bali – Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan meliputi keekonomian.908.851. Tabel 5.045.2 7.8 5.9 384.673.4 1.4 9.7 6.577.2 1.4 396.7 1.3 7.581.5 10.4 763.6 5.0 9.7 6.7 90.667.Pulau Nunukan – Sebatik dengan kabel laut 20 kV • Kendari .10.303.8 409. dan lain sebagainya.7 1.475.712.762. lingkungan.4 Tambahan Pelanggan 110 RUPTL 2011. direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut 20 kV atau 70 kV.528.790.5 1. peletakan kabel.8 6. • Bitung – Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV • Ambon – Haruku .161.5 7.343.840.7 7.784.797.190.145.3 Trafo Distribusi MVA 1.200.7 ribu plgn 1.8 9.099.803. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 7.036.851.371.761.012.8 8.9 748.8 11.583.2 375.Seram dengan kabel laut 70 kV.668.2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Timur Jaringan TM kms 5.7 1.4 1.5 787.432.Batulicin dengan kabel laut 20 kV • Kaltim .031.2 1.744.2 10.1 Tambahan Pelanggan ribu plgn Interkoneksi Antarpulau Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan daratan pulau besar dan sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM.Pulau Muna .2020 . yaitu: • Pulau Laut (Kotabaru) .2 1.564.4 757.943.8 441.1 6.189.296.9 859.7 7.5 8.9 463.752.0 14.1 5.072.9 1.5 Trafo Distribusi MVA 693.7 415.445.7 6. Haruku-Saparua KL 20 kV • Pulau Ternate – Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV • Lombok .0 7.2 989.9 6.222. 5.45.752.8 1.1 8.974.735.9 7.406.6 1.4 10.9 5.688.4 1.8 1.271.5 5.0 917.0 Jaringan TR kms 4.

864 - 2012 4.4 386.8 7. dengan mengacu pada sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah/RPJM tahun 2010-2014.3 kms.9% di tahun 2014.403. kecuali untuk 4 Satker Lisdes merupakan gabungan dua provinsi seperti: Satker Lisdes Riau & Riau Kepulauan. • Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2011 sampai dengan 2020 untuk sistem Jawa Bali diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah sebanyak 70. yaitu untuk rasio elektrifikasi dari 67.4 27.9 7.11 PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh 28 Satuan Kerja Listrik Desa / Satker Lisdes.498.466 248.466 - 2014 Total 7.881.833 83.1 373.615.0 7. serta Papua & Papua Barat. 5.488 20. dimana untuk 24 Satker Lisdes tersebut berada pada masing-masing provinsi.4 5.3 377.7 27. produktivitas ekonomi.5 juta. Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat.682. dan untuk rasio desa berlistrik 94.9 5.0 3.843.078 83.198.092 RUPTL 2011.369. Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas.330.2020 111 . kapasitas trafo distribusi 14.326. jaringan tegangan rendah 90.507.1 233. Rekap program listrik perdesaan 2011-2014 dan investasinya dapat dilihat pada Tabel 5. sosial dan budaya masyarakat Tabel 5. juga bertujuan untuk: • Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan • Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan • Mendorong pedesaan • Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya.46 dan Tabel 5.3 5.6 4.1 1.850. Jawa Tengah & Yogyakarta.585.092 2013 7.2% tahun 2010 menjadi sebesar 80% di tahun 2014. Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik.847 382.6% tahun 2010 menjadi sebesar 98.915 1.47.495. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 Tahun JTM JTR Kms kms Trafo MVA Unit Jml Pelanggan Listrik Murah dan Hemat (RTS) 2011 8.424 427.620 MVA dan jumlah pelanggan 15.623 438.4 kms.

PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas.116.332. Biomassa: PLN tidak bermaksud untuk membangun sendiri pembangkit listrik tenaga biomassa karena PLN tidak mempunyai kendali atas pasokan biomassanya.231.9 635.783.6 905.4.559.799. 112 RUPTL 2011.053.2 1.260.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 (Juta Rp) Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Listrik murah dan Hemat (RTS) Total 2011 1.8 - 3.657. PLN siap untuk memanfaatkan biofuel apabila tersedia.070.6 5.2020 .713.059. Karena itu PLN mendorong swasta untuk mengembangkannya dan PLN akan membeli listriknya.839.4 22.105.894.12 PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA telah dibahas dalam pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.082.818. namun mengingat teknologi dan keekonomiannya masih belum diketahui.223. Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar.3 3.055. PLN baru akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek penelitian dan pengembangan.279.128.8 - 2012 1.762.0 13.9 286.068.7 286. Biofuel: tergantung kepada kesiapan pasar biofuel.799.0 22.661.0 3.6 2013 2.7 - Total 7.2 2.229.0 - 2.5 - 3.092 RTS (rumah tangga sasaran).500. PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau masyarakat untuk melistriki kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke grid atau sistem kelistrikan PLN.194.Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sebanyak 83. Butir ini hanya membahas pengembangan EBT skala kecil.603. Tabel 5.282.849.205. maka pengembangannya akan terbatas di daerah yang memiliki potensi.7 - 2014 2.4 651.4 1.0 668.722.697.2 444.236.7 385.500.746.056.

48 dan Tabel 5. RUPTL 2011. seperti daerah sekitar puncak pegunungan Jayawijaya Papua.000 set. namun terbatas di provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum akan mendapatkan listrik konvensional.2020 113 . dan menurunkan BPP pada daerah tertentu yang ongkos angkut BBM sangat mahal. Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera ‘super hemat energi’ (SEHEN) bukan merupakan program pengembangan kapasitas sistem kelistrikan. NTT dan Papua dengan terlebih daulu dibuat kajian kelayakannya. Pembangunan PLTS Terpusat (Komunal).49. Program SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS terpusat/komunal (centralized PV)”. Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih bersifat sementara dan hanya diterapkan secara terbatas di propinsi-propinsi yang rasio elektrifikasinya masih rendah. Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya ditunjukkan pada Tabel 5.48. Jumlah SHS yang akan dipasang adalah sekitar 377. • SHS (panel surya + lampu LED denga batere di dalamnya) skala kecil tersebar. Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil secepatnya. mencegah penambahan penggunaan BBM kalau seandainya dilayani dengan diesel. PLN merencanakan untuk membangun PLTS sebagai berikut: • PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan kapasitas diberikan pada tabel 5.Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi baru yang dapat diterapkan pada sistem kelistrikan isolated skala kecil. Solar Home System (SHS) dan Lentera Super Hemat Energi (SEHEN) Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan sulitnya menjangkau daerah terpencil. yaitu NTB.

2020 TOTAL 8.054 843 672 1.960 3 PLT Bayu - - 30 30 45 45 60 60 75 75 420 4 PLT Biomass 40 83 88 88 88 100 100 113 113 125 935 5 PLT Kelautan - - 12 - - 30 30 30 30 30 162 6 PLT Bio-Fuel PLT GasBatubara - 25 38 38 35 20 18 18 20 23 233 12 64 162 86 44 14 44 28 12 20 486 - - - - - - - - - - 117 410 1.137 1.969 *) Rencana PLTS sd 2014 adalah program 1.237 7 TOTAL 5.190 1.Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan proyek. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil No Pembangkit EBT Satuan 1 PLTMH MW 2 PLT Surya 3 TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 TOTAL 23 37 198 126 46 193 203 214 225 235 1500 MWp*) 2 30 50 60 70 70 75 75 80 80 592 PLT Bayu MW 0 0 10 10 15 15 20 20 25 25 140 4 PLT Biomass MW 16 33 35 35 35 40 40 45 45 50 374 5 PLT Kelautan MW 0 0 2 0 0 5 5 5 5 5 27 6 PLT Bio-Fuel MW**) - 10 15 15 14 8 7 7 8 9 93 7 PLT GasBatubara MW 6 32 81 43 22 7 22 14 6 10 243 MW 47 142 391 289 202 338 372 380 394 414 TOTAL 2.114 1.000 pulau. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil TAHUN No Pembangkit EBT 1 PLTMH 55 89 475 302 110 463 487 514 540 564 3.022 1.796 . sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi **) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel Tabel 5.13 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 PROYEK PLTU SKALA KECIL TERSEBAR Program PLTU batubara skala kecil tersebar semula direncanakan oleh PLN di 71 lokasi untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik yang terjadi di wilayah tersebut dan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dengan 114 RUPTL 2011.600 2 PLT Surya 10 150 250 300 350 350 375 375 400 400 2. Tabel 5.

2020 115 .Indonesia Barat a. Tabel 5.Indonesia Timur a. beberapa lokasi dibatalkan atau diubah ke PLTGB.50 dan 5.menggantikan pembangkit BBM terdiri dari Indonesia Barat 16 lokasi dan Indonesia Timur 35 lokasi.FTP‐2 ‐IPP 1 PLTU Ketapang Kalbar 2 PLTU Nias Sumut 3 PLTU Tanjung Pinang Riau b. diutamakan sewa pembangkit dengan bahan bakar yang murah. Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan Indonesia Timur RUPTL 2011. Dalam perkembangannya. Jika ada penyewaan di masa mendatang. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur No Nama Proyek I.Reguler ‐PLN 4 PLTU Ipuh Bengkulu 5 PLTU Mentok Babel 6 PLTU Natuna Riau 7 PLTU Sanggau Kalbar 8 PLTU Sintang Kalbar 9 PLTU Tanjung Uban Riau 10 PLTU Tapak Tuan NAD 11 PLTU Tebo Jambi 12 PLTU Tembilahan Riau 13 PLTU Tj Jabung Jambi ‐IPP 14 PLTU Baturaja Jambi 15 PLTU Muko Muko Jambi 16 PLTU Toboali Babel II.Reguler ‐PLN 27 PLTU Alor NTT 28 PLTU Ampana Sulut 29 PLTU Berau Kaltim 30 PLTU Buntok Kaltim 31 PLTU Kendari Sulsel 32 PLTU Kuala Kurun Kalsel 33 PLTU Kuala Pambuang Kalsel 34 PLTU Malinau Kaltim 35 PLTU Raha Sulsel 36 PLTU Rote NTT 37 PLTU Sofifi Maluku 38 PLTU Talaud Sulut 39 PLTU Tj Selor Kaltim 40 PLTU Toli‐Toli Sulteng 41 PLTU Wangi Wangi Sultra ‐IPP 42 PLTU Andai (Manokwari) Papua 43 PLTU Sorong Papua 44 PLTU Sumbawa Baru I NTB 45 PLTU Tawaeli Ekspansi Sulut Kapasitas  (MW) COD  Estimasi 2 x 7 2 x 10 2 x 10 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2015 2013 2014 2014 2014 2 x 3 2 x 3 2 x 7 2 x 7 1 x 10 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 7 3 x 15 2 x 3 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2013 2012 2013 2012 2013 2013 2012 2014 2013 2 x 7 2 x 15 2 x 10 2 x 15 2014 2014 2014 2014 Tabel 5.51 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana pengembangan pembangkit PLTU batubara skala kecil dan PLTGB lokasi di Indonesia Barat dan Indonesia Timur.Indonesia Timur (lanjutan) ‐IPP 20 PLTU Biak Papua 21 PLTU Kolaka Sulsel 22 PLTU Luwuk Sulteng 23 PLTU Melak Kaltim 24 PLTU Merauke Papua 25 PLTU Nabire Papua 26 PLTU Nunukan Kaltim b.FTP‐2 ‐PLN 17 PLTU Bau Bau Sulsel 18 PLTU Kotabaru Kalsel 19 PLTU Sumbawa Barat NTB Kapasitas  (MW) COD  Estimasi 2 x 10 3 x 7 2 x 15 2013 2014 2014 2 x 3 2 x 7 2 x 7 2 x 7 3 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2013 2012 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2 x 10 2 x 4 2 x 7 2013 2014 2014 2 x 10 2 x 7 2 x 7 2014 2013 2013 No Nama Proyek II.

sehingga rincian proyek pada Tabel 5.51 masih dapat berubah sesuai hasil survei dan studi.50 dan 5.No Nama Proyek Indonesia Barat ‐FTP‐2 1 PLTGB Putusibau Kalbar 2 PLTGB Rokan Hilir Riau 3 PLTGB Sabang NAD ‐Reguler 4 PLTGB Bengkalis Riau 5 PLTGB Dabo Singkep Riau 6 PLTGB Mentawai Sumbar 7 PLTGB Nanga Pingoh Kalbar 8 PLTGB Selat Panjang Riau 9 PLTGB Sinabang NAD 10 PLTGB Singkil NAD 11 PLTGB Tanjung Batu Sumsel 12 PLTGB Tanjung Pandan Babel No Nama Proyek Indonesia Timur ‐FTP‐2 13 PLTGB Larantuka NTT 14 PLTGB Selayar Sulteng 15 PLTGB Tahuna Sulut 16 PLTGB Tobelo Maluku 17 PLTGB Tual Maluku 18 PLTGB Timika ‐Reguler 19 PLTGB Bunyu Kaltim 20 PLTGB Buru Maluku 21 PLTGB Kota Bangun Kaltim 22 PLTGB Langgur Maluku 23 PLTGB Muara Wahau Kaltim 24 PLTGB Tana Tidung Kaltim TOTAL KAPASITAS Kapasitas  (MW) Pemilik COD  Estimasi 2 x 4 2 x 4 2 x 4 IPP IPP PLN 2012 2012 2013 6 2 x 3 2 x 3 2 x 3 6 2 x 3 2 x 3 2 x 4 5 PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN IPP IPP 2015 2013 2013 2013 2012 2013 2013 2013 2014 Kapasitas  (MW) Pemilik COD  Estimasi 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 IPP IPP IPP IPP IPP IPP 2013 2012 2013 2014 2013 2014 2 2 x 3 2. 116 RUPTL 2011. PLN tengah melakukan survei lokasi dan studi kelayakan.5 2 x 3 2 2 PLN PLN PLN PLN PLN PLN 2013 2013 2013 2013 2013 2013 Catatan: PLTU Manokwari = PLTU Andai Pada saat RUPTL ini disusun.2020 .

1 959.0 2. baik obligasi lokal maupun global.5 1.5 1.3 2.313.4 2.7 42.253.5 2.8 3.4 2015 2.3 331.034.2 717.7 7.1 7.854.385.2 7.114.3 1.026.2020 117 .117.320.2 505.235.3 2.395.9 814.961.5 2016 1.055.1 1.310.003.1 dan Gambar 6.467.496. AFD) untuk mendanai proyekproyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatra – Jawa dengan skema two step loan.352.389.8 1.960.502.494.0 405.7 175.2 1.3 4.629.1 12.261.5 1.187.186.0 2.114.1 2014 2.0 75.9 2.8 1.031.9 1.5 6.1 2.3 3.0 14.602.477.6 32. ADB) dan bilaterial (JICA.8 387.650.6 60.4 3.7 2.0 2.9 4. Tabel 6.5 4.701.9 2.414.168.269.5 3.1 604.3 2.7 2013 2.225.5 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.892.522.9 2.7 480.1 Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut.2 2.535.5 1.076.2 1.375.4 113.6 1.0 13.1 2.5 2.907.6 2.4 1.693.7 1.605.3 4. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 2.854.3 1.870.0 2.5 5.928. Proyek percepatan pembangkit 10.3 1.3 1.017.812.5 372.1.1 1.238.395.8 920.8 1.253. Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan).683.8 688.0 1.033.162.6 3. RUPTL 2011.7 3.1 79.8 1.219.6 26.539.461.722.028.781.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah.073.7 2012 2.461.6 1.1 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI INDONESIA Untuk membangun sarana pembangkitan.464.166. transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana diuraikan pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar US$ 60.181.7 1.5 2.998.4 2.7 2018 2.3 884.6 2.2 2017 1.7 1. maka disadari adanya tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana tersebut.0 13.3 1.9 Juta US$ Total 21.3 4.477.172.683.264.5 1. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik swasta/IPP.3 1.4 1.576.337.166. Akhirakhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan multilateral (IBRD.6 5.8 4.853.4 288.5 4.978.BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI 6.740.5 2.8 2020 2.1 2019 2.2 4.4 1.984.7 2.199.741.063.909.725.320.035.2 2.6 7.0 1.261.3 282.278.477.939.5 72.605.7 6.0 34.556.172.3 1.075.3 1.468.1 4.072.269.5 2. namun setelah tahun 2006 peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan sebaliknya pendanaan dengan obligasi terus meningkat.5 10.106.539.531.

8 1.5 3.0  Pembangkit 3.955.671.4 3.3 33.109. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total 118 Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 1. Tabel 6.2 739. Kebutuhan investasi tersebut juga telah memperhitungkan biaya rehabilitasi/life extention pembangkit.6 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.7 228.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.9 2.8 2.9 1.005.1 738.9 254.5 1.9 1.594.364.5 2.1 2.1 1.8 3.8 1. Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 18.581.115.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) 6.0 108.8 miliar per tahun.349.0  Total Investasi 5.2020 .967.000.8 600.3 2.138.0  7.517.785.1 8.929.000.921.260.0 RUPTL 2011.0  6. Porsi investasi pembangkit PLN setelah 2016 meningkat karena proyek pembangkit di atas tahun 2018 masih diasumsikan sebagai proyek PLN serta memperhitungkan disbursement investasi pembangkit yang beroperasi setelah tahun 2020.7 4.801.4 6.7 4.605.8 370.374.338.5 2014 1.1 710.243.319.521.397.388.7 772.8 1.682.856.0  1.9 1.6 84.932.985.3 683.1 551.1 2.1 7.6 796.445.4 25.2 1.9 2017 1.4 1.5 710.6 2015 1.0 1.5 5.975.128.7 549.0 2020 1.0 812.4 2.0  4.993.5 6.1 1.826.1 3.2.246.8 377.2 1.247.6 2019 1.000.942.364.0 1.0 635.5 622.381.567.9 768.4 329.093.5 738.2 Juta US$ Total 12.305.4 3.3 466.3 47.5 19.3 2.679.2 1.0  Transmisi Distribusi 2.Juta USD 8.9 739.529.5 1.3 145.000.000.7 2.2 296.340.468.252.3 miliar atau sekitar US$ 1.9 600.191.2 532.909.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI Pengembangan pembangkitan.3 683.1 556.8 1.8 1.446.6 1.8 549.384.6 574.1 1.4 202.8 768.8 958.708.0 2.2 dan Gambar 6.8 13.7 1.057. transmisi dan distribusi oleh PLN sampai dengan tahun 2020 di sistem Jawa Bali membutuhkan dana investasi sebesar US$ 33.5 511.000.1 796.2 964.274.4 1.1 574.7 1.3 796.0 50.5 881.2 812.1 2012 1.5 1.3 55.9 2013 1.795.588.0 1.932.1 532.7 42.0 1.496.4 148.1 804.7 600.1 1.513.744.739.1 645.4 1.000.000.360.3 1.7 18.528.1 154.131.5 2018 1.8 2016 912.2 452.164.3 2.

Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah. kredit ekspor dan sumber lainnya.000 MW senilai US$ 3.4 miliar dan US$ 6. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. Proyek percepatan pembangkit Perpres No. Proyek penyaluran pada tahun 2011-2012 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan pembangkit. APBN. dan hal ini akan dijelaskan pada butir 5. Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 8. obligasi. sedangkan PLTU Indramayu 2x1.9 miliar. dan PLN pada saat ini tengah mengkaji kemampuannya dalam membuat pinjaman baru. Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan pendanaannya ke lender multilateral. RUPTL 2011. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber.5. Namun proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi sumber pendanaan yang pasti. pinjaman luar negeri (two step loan).5000 4500 4000 Juta USD 3500 Total Investasi 3000 2500 Pembangkit 2000 1500 Penyaluran 1000 Distribusi 500 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Tahun Gambar 6.2020 119 .

007.9 560.3 876.250.006.4 806.2 19.490.0  2.1 2.3 376.9 2012 908. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat 120 RUPTL 2011.5 1.8 634.6 1.6 427.7 191.585.9 2020 364.4 306.9 959.0  Pembangkit 1.4 409.890.2 792.000.2 2.2 116.7 188.1 801.8 334.274.000.4 447.7 miliar per tahun dan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 10 miliar atau rata-rata US$ 1 miliar.4 395.4.0  Distribusi 500.677.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.4 1.1 1.0 1.8 2014 843.2 302.8 2017 186.0  1.1 596.4 418. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 610.102.8 996.0 380.3 2.080.0 447.7 2015 674.3 773.250.457.3 359.5 1.2 2013 1.302.9 213.0 2018 405.5 111.0  Total Investasi 2.309.2 385.1 1.603.833.6 104.7 232.2 1.3 520.000.0 9.8 190. Tabel 6.5 758.4 1.0 152.2 1.0  Transmisi 1.0 2019 573.4 611.6 2016 257.528.0 872.8 1.3 312.4 339.500.4 1.6 332.9 miliar atau rata-rata US$ 1.625.454.6 2.9 48.6.0  1.3 2.120.3 1.2 Juta US$ Total 5.780.0  2.750.9 11.8 418.7 536.0  250.9 16.455.0 3.4 153.0  2.9 717.8 258.7 323.681.3 475.4 490.0 4.443.8 102.6 671.1 1.2 427.7 69.5 34.0 8.1 395.4 263.8 387.0 2.1 366.2 3.2020 .926.1 3.4 436.3 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit.3 7.2 359.1 397. tidak termasuk proyek IPP.0  750. sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 2011-2020 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah sebesar US$ 16.9 436.2 205.2 Juta USD 3.2 631.1 323.4 306.3 578.5 334. dengan disbursement tahunan seperti pada Tabel 6.1 975.833.1 262.517.002.3 dan Tabel 6.9 629.1 1.8 16.9 737.219.086.4 385.1 57.500.067.4 941.8 85.2 602.8 560.1 18.446.750.

695.9 28.500.3 65.0 5.5 432.3 269.8 1.0 813.6 315.7 242.6 2019 170. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 8.7 6.060. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 372.7 239.8 543.0  Distribusi 300.8 113.4 346.5 2.2 458.6 30.7 244.9 miliar.1 404.71/2006.8 347.6 216.2 268.9 119.9 33.6 192.9 139.5 181.4 569.6 27. Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 20122013 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No.9 176.696. sedangkan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 5.7 5.1 446.9 1.7 892.511.121.4 147.950.6 5.4 235.0 447.5 938.3 1.360.5 90. Sulawesi dan Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.0  Transmisi 600.9 584.5 65.6 358.5 165.006.8 Juta USD 1.2 121.0 760. RUPTL 2011.3 645.4 334.5 395.4 4.3 10.4 522.5 miliar.2020 121 .2 2018 392.Tabel 6.1 13.8 242.2 2015 266.0  Pembangkit 900.3 600.5 996.0 699.9 1.0 480.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.0 1.229.517.695.0 290.3 1.2 290.445.800.665.0 1.9 79.1 2016 353.1 31.0  Total  Investasi 1.7 918.2 251.1 102.3 315.5 5.8 344. Sedangkan disbursement proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi sistem-sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat.7 2014 480. Proyek transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh pengembangan transmisi 275 kV untuk interkoneksi seluruh Sumatra.3 563.7 152.8 565.6 866.5 553.7 2013 623.0 129.4 10.7 577.0  1.1 0.8 592.1 460.213.8 66.7 250.8 356.2 243.7 0.0 334.0 503.8 2020 5.4 4.0 267.9 385.4 2.6 198.3 346.7 493.6 707.4 1.8 244.8 2012 574.793.5 2017 456. terutama di sistem Sumatra.6 121.3 42.4 Juta US$ Total 3. di samping pengembangan transmisi 150 kV di Sumatra.7 251.6 242.7 269.8 250.200.7 216.3 267.7 210.

161.646.5 5.172.8 1.599.2 717.650.5 1.1 1.2020 .395.261.087.8 1.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap tahunnya membutuhkan dana investasi yang sangat besar.5 4.0 4.369.0 12.7 11.0 1.269.655.1 1.888. yaitu rata-rata hampir US$ 9.4 113.056.1 604.6 1.860.7 175.275.2 1.3 1.3 3.0  10.0  Pembangkit 8.0 96.261.3 1.3 8.432.477.1 79.713.1 7.1 2016 5.3 9.6 9.8 1.347.9 2.720.2 505.5 372.5.0 3.789. termasuk listrik swasta/IPP.2 2. PLN + IPP Tabel 6.278.0 5.7 20.5 3.253.8 387.5 9.395.8 2015 6.0  Transmisi Distribusi 2. dan juga menjelaskan dampak dari rencana investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).0  4.815.350.474.098.8 6.313.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan dalam RUPTL ini akan dipenuhi.088.6 miliar per tahun.7 7.3 1.5 4.9 6.3 7.9 1.5 1.000.9 2.6.725.3 13.2 5.907. PLN + IPP Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 3.307.7 480.0 14.204.7 1.457.161.253. 6.000.397.4 1.0 59. Tabel 6.4 1.7 2014 7.539.138.8 8.2 7.531.3 331.7 2.783.955.2 miliar selama tahun 2011-2020.371.026.4 1.1 10.414.6 2.4 4.3 1.036.0 1.0 67.057.5 2.172.2 8.199.5 6.4 3.384.000.7 Juta USD 14.5 2.7 1.6 2019 3.048.4 1.6 4.375.951.842. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia.170.307.748.6 2.476.089.535.2 2012 4.194.3 72.6 2013 6.320.477.367.3 1.3 3.523.1 2020 2.166.5 1. 122 RUPTL 2011.461.757.306.485.784.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.0 4.7 12.034.726.2 1.0  Total Investasi 12.269.8 3.000.539.633.320.5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN PLN Butir 6.0 13.0 2.7 42.918. adalah US$ 96.166.8 2018 4.657.8 3.7 Juta US$ Total 46.9 2.389.261.077.066.461.000.0 13.6 3.4 2017 4.000.277.0 75. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada Tabel 6.605.7 288.3 3.475.338.7 2.7 10.9 3.106.643.5 2.8 1.2 6.2 2.5 6.2 1.0 8.384.3 282.089.146. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia.605.4 KEBUTUHAN INVESTASI KELISTRIKAN PLN DAN IPP Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan Indonesia secara keseluruhan.0  6.8 688.7 37.0 1.701.674.8 986.135.813.4 405.928.000.3 9.5 1.

(iv) Marjin PSO53 8% pada tahun 2011-2015.6. pinjaman baru.5. Harga Listrik dan Subsidi (PSO. dan dana internal. Rp 881/kWh pada tahun 2013. Rp 8.2 Asumsi Proyeksi Keuangan Kemampuan PLN untuk melakukan pinjaman sangat ditentukan oleh indikator indikator keuangan perusahaan. 6. dan debt-equity ratio (rasio hutang terhadap aset). Asumsi dasar makro ekonomi dan asumsi korporasi yang digunakan dalam membuat proyeksi keuangan ini adalah sebagai berikut: (i) Tingkat bunga pinjaman baru 3-6% untuk pinjaman dalam nominasi valuta asing (US$) dan 912% untuk pinjaman dalam mata uang Rupiah. Rp 8.000/US$ sampai dengan 2015. 6. pinjaman komersial perbankan lainnya serta hibah luar negeri. public service obligation) Harga rata-rata listrik pada tahun 2011 adalah Rp 729/kWh. misalnya rasio hutang52. Selanjutnya pada bagian ini akan diberikan gambaran mengenai biaya pokok penyediaan listrik. Rasio tersebut digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman PLN dengan para lender dan bond holder. dan Rp 880/kWh pada tahun 2014-2015. yaitu APBN sebagai penyertaan modal pemerintah (ekuiti). meningkat menjadi rata-rata Rp 802/kWh pada tahun 2012.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 60. Hal ini bertujuan untuk 51 Hanya mencakup base cost. sedangkan dana pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA.5. pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi. (iii) Kurs Rp 8. (ii) Terjadi kenaikan tarif listrik sebesar 10% pada tahun 2012 dan 10% lagi pada tahun 2013. obligasi nasional maupun internasional. 52 Yang diukur dari pendapatan operasi terhadap kewajiban hutang yang jatuh tempo dan pembayaran bunga 53 Marjin terhadap biaya pokok penyediaan RUPTL 2011. proyeksi EBITDA dan EBITDA margin. Rp 8.900/US$ tahun 2013.850/US$ tahun 2012.950/US$ tahun 2014 dan Rp 9. tidak termasuk financing cost.2020 123 .5.3 Hasil Proyeksi Keuangan a. Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap.800/US$ tahun 2011. sub-loan agreement).5 miliar51 sampai dengan tahun 2020 akan dipenuhi dari berbagai sumber pendanaan.

Peningkatan laba tahun 2011 akan digunakan oleh PLN untuk membayar deviden kepada pemerintah dan memperkuat pendanaan internal (anggaran PLN atau APLN) untuk pembiayaan proyek-proyek kelistrikan seperti proyek pembangkit. 54 Untuk menutupi selisih antara tarif dan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) 124 RUPTL 2011.98 729 BPP (Rp/KWh) Laba/Rugi Bersih Rp.6.97 40.80 14. Pada tahun-tahun selanjutnya kenaikan tarif dilakukan untuk dapat mengurangi subsidi pemerintah54 seperti diperlihatkan pada tabel 6.2020 .014 14.187 1. Selain itu laba bersih juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan internal perusahaan untuk berinvestasi sehingga dapat mengurangi kebutuhan dana eksternal (pinjaman). Rasio hutang terhadap aset PLN sebelum program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 (fast track 1) adalah sekitar 30%. Kenaikan TDL ini akan menghasilkan pendanaan internal yang sangat dibutuhkan untuk pembiayaan investasi. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2011-2015 Tahun 2011 2012 Subsidi T Rp 87. maka PLN harus mencari pinjaman komersial dan concessional untuk menutupi kekurangan kebutuhan investasi.061 994 990 1.10 *) Tidak ada kenaikan tarif hanya adjustment sebesar setengah dari inflasi dalam negeri. T Tarif Rata-rata (Rp/KWh) 2013 2014*) 2015*) 36. proyek transmisi dan fasilitas trafo distribusi untuk melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dan peningkatan keandalan pasokan listrik.86 12.07 47. Pendanaan APBN diperkirakan akan mencapai sekitar Rp 10 trilyun/tahun.97 7. Tabel 6. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN) Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah karena sebelum tahun 2009 PLN tidak memperoleh marjin PSO.43 802 881 880 880 1. b.23 14.64 54. sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal (seluruh investasi didanai dengan hutang). namun kemudian meningkat menjadi 53% pada tahun 2010 akibat seluruh pendaanaan proyek fast track 1 berasal dari pinjaman komersial dan obligasi.mengurangi jumlah subsidi pemerintah dan meningkatkan laba bersih perusahaan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. c. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi dan (iii) pinjaman.Peningkatan dana dari APBN. Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas. PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena dibatasi oleh covenant pinjaman yang disyaratkan oleh lender dan bond holder.Peningkatan pendapatan PLN baik dari peningkatan tarif maupun peningkatan marjin PSO. APLN hanya didapat dari selisih antara marjin PSO + depresiasi aset dan pembayaran cicilan pokok. Hal ini menjadi semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat. baik dari tarif maupun marjin PSO. RUPTL 2011. Tabel 6. .7 menunjukkan komposisi sumber dana investasi untuk mencukupi kebutuhan rencana investasi 5 tahun ke depan. APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba operasi yang sangat terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata. maka peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat ditingkatkan jika revenue PLN meningkat.Peningkatan tarif PLN dan marjin PSO akan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik. maka harus dilakukan perbaikan sebagai berikut: . Dana internal untuk investasi diperkirakan akan meningkat dari 32% dari kebutuhan total investasi pada tahun 2011 menjadi sekitar 36% pada tahun 2015.2020 125 .

0 28. terus-menerus dan memenuhi syarat mutu dan keandalan. maka PLN akan melakukan investasi sesuai batas kemampuannya. sedangkan benchmarking dengan utility yang regulated di negara lain pada umumnya ROA berkisar 8%.5 miliar per tahun adalah diluar kemampuan PLN apabila model ekonomi kelistrikan tetap seperti yang terjadi pada saat ini.6 12.0 29.0 20.3 9 . Jika nilai kebutuhan investasi dalam RUPTL adalah diluar kemampuan PLN selaku korporasi.6 62.6 23. 126 RUPTL 2011.4 38.2020 . Tabel 6.5 miliar per tahun. maka PLN akan tidak melaksanakan beberapa proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL dan melaporkan situasi ini kepada Pemerintah.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL Seperti ditunjukkan pada butir 6. dan kekurangan pendanaan (funding gap) ini akan dilaporkan ke Pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang diperlukan untuk melaksanakan seluruh proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL yang akan dilaksanakan oleh PLN. Namun demikian RUPTL 2011-2020 tetap disusun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan melayani pertumbuhan demand listrik yang diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup.4 27.1 9 .9 3. yaitu subsidi hanya diberikan untuk menutup biaya operasi. dan tanpa diberikan margin yang cukup55 untuk membuat PLN mampu menggalang dana investasi yang lebih besar.5 9.5 6.8 0.2 66.8 10.0 28.0 26.1.7 3.6 9 .5.- Peningkatan pinjaman murah (SLA) dimana pemerintah sebagai penjamin pinjaman. 55 Marjin PSO 8% akan menghasilkan ROA sebesar 1-3%. 7 Sumber Dana Investasi (Trilyun Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 APBN Internal Fund Pinjaman (committed) Pinjaman baru Total Kebutuhan Dana 9.7 2. pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang akan dilaksanakan oleh PLN sesuai RUPTL 2011-2020 mencapai US$ 61 miliar atau rata-rata US$ 60. Penyediaan dana investasi sebesar US$ 60.4 76.1 63.1 61.5 28. Jika pendanaan yang diperoleh ternyata masih tidak mencukupi untuk melaksanakan program-program RUPTL secara penuh.

cost over-run. termasuk PLTP Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN. RUPTL 2011.BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 Analisis risiko RUPTL 2011-2020 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi kerawanan atau kelemahan yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang yang dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL. Bagian kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. performance instalasi. Bab ini terdiri dari tiga bagian. serta proyeksi pasokan energi primer dan kebutuhan investasi. Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemetaan risiko dominan yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. Risiko pengembangan ketenagalistrikan 1. kesalahan desain.2020 127 . yaitu proyeksi kebutuhan/permintaan tenaga listrik. baik oleh PLN maupun oleh swasta. dan rekomendasi program mitigasi untuk risiko-risiko tersebut. pemetaan risiko. Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri. pembangunan. 2. uraian analisis risiko pada bab ini akan dilakukan berdasarkan issue-issue utama RUPTL.1 IDENTIFIKASI RISIKO Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi aspek sebagai berikut: A. Bagian ketiga menjelaskan berbagai program mitigasi risiko yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko tersebut. dampak lingkungan dan sosial. pengembangan pembangkit. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP. Analisis risiko mencakup identifikasi risiko. keselamatan ketenagalistrikan. 7. pendanaan. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan. keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek. transmisi dan distribusi.

B.l. Risiko Operasional 1. kerusakan peralatan/fasilitas operasi. 7. baik bencana alam maupun bencana akibat manusia (a. Risiko likuiditas. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi 1. kehilangan peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia perusahaan. Risiko regulasi. risiko kepastian subsidi dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan D. gas) dan risiko harga energi primer. Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi. polusi dan kebisingan 4. kesembilan risiko tersebut memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta berikut. Risiko ketersediaan dan harga energi primer Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan batubara. Risiko permintaan listrik Kesalahan dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di dalamnya risiko pertumbuhan ekonomi). Risiko bencana. risiko pencairan dana pinjaman untuk investasi dan risiko likuiditas aset. Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu. juga limbah. risiko akibat kesalahan manusia 2. 2. meliputi risiko tarif listrik. Risiko Keuangan 1. meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran penerimaan subsidi.3. berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi karena pengaruhnya pada kesehatan. 128 RUPTL 2011. Risiko produksi/operasi.2 PEMETAAN RISIKO Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi. C. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan metoda kualitatif berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa lalu. sabotase) 3. seperti kekurangan/kelangkaan energi primer. Risiko lingkungan.2020 .

risiko permintaan tenaga listrik serta risiko bencana. yaitu risiko dengan probabilitas kejadian yang tinggi tetapi dampak yang RUPTL 2011. risiko dapat dikelompokkan dalam empat area berdasarkan tingkat probabilitas dan dampaknya. Dampak 5 1 2 6 4 4 3 9 8 7 3 5 2 10 1 1 2 3 4 5 Probabilitas Gambar 7. yaitu risiko dengan tingkat probabilitas kejadian tinggi dan dampaknya juga tinggi. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP. yaitu risiko dengan probabilitas kejadian rendah tetapi bila terjadi menimbulkan dampak yang tinggi. Risiko regulasi Berdasarkan pemetaan risiko di atas. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik 4. Risiko lingkungan dan sosial 10. Risiko bencana 9. termasuk PLTP 3. keterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas.Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan dan dampak pada kelancaran operasional perusahaan. 1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL Keterangan: 1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN 2. Risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi 6. - Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko. yaitu: - Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko. Risiko likuiditas 7. Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan proyek-proyek PLN. Risiko produksi/operasi 8.2020 129 . Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah ketersediaan dan harga energi primer. Risiko ketersediaan dan harga energi primer 5. - Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko.

Namun demikian. 7. Termasuk ke dalam area ini adalah risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah risiko produksi/operasi. 4. 8. - Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko. 1. 3.ditimbulkannya rendah. 7. yaitu daerah dengan probabilitas rendah dan dampak yang ditimbulkannya juga rendah.3 PROGRAM MITIGASI RISIKO Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena metoda dan sarana mitigasi terus berkembang. 9. 2. 6.2020 . 5. Mitigasi risiko pembangunan PLN Mitigasi risiko pembangunan IPP Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik Mitigasi risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer Mitigasi risiko likuiditas Mitigasi risiko produksi/operasi Mitigasi risiko bencana Mitigasi risiko lingkungan Mitigasi risiko regulasi Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. 10. pokok-pokok program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi risiko diuraikan sebagai berikut. risiko regulasi dan risiko lingkungan. 130 RUPTL 2011.

100 kms transmisi 500 kV HVDC. proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 328.053 MW. diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk periode 2011 . 3.736 MVA trafo 150/20 kV. Untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik untuk periode 2011-2020 diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah 208.263 kms.490 MVA trafo interbus IBT 500/150 kV. 5.647 MW.680 MVA IBT 275/150 kV. 462 kms transmisi 250 kV HVDC.675 kms SUTET 500 kV AC. Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN dapat mempunyai kemampuan untuk membiayai proyek-proyek kelistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL. peningkatan ekuitas dari pemerintah (APBN) dan PLN mendapat marjin PSO.9 milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13.431 MVA. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut.5 milyar.176 kms SUTT 150 kV.490 kms SUTT 70 kV. antara lain kenaikan tarif listrik.180 MW dan IPP sebesar 23.194 MVA yang terdiri atas 59. penyaluran dan distribusi selama periode 2011 – 2020 untuk memenuhi kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara keseluruhan adalah sebesar US$ 96.3 TWh. diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 49.404 kms dan kapasitas trafo distribusi 37. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar 114.BAB VIII KESIMPULAN Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun mendatang rata-rata 6.360 kms transmisi 275 kV AC. investasi penyaluran sebesar US$ 14. 1. Kebutuhan investasi pembangkit.2020 131 .47% selama 10 tahun mendatang. 3. diantaranya yang akan dibangun oleh PLN sebesar 31.467 MW. 3.2 milyar.355 MVA 70/20 kV dan 33. yang terdiri atas 2.9% per tahun dan bergerak dari realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun 2010.2020 sebesar 54.000 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC. dengan pembiayaan yang bersumber dari dana internal dan eksternal.6 milyar yang terdiri dari investasi pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 68. tegangan rendah 225. Beban puncak pada tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai 55. RUPTL 2011. apabila asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan dipenuhi. atau mengalami pertumbuhan ratarata 8. 36. 10.607 kms. Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini. IBT 333 MVA IBT 150/70 kV.

01. Keputusan Menteri ESDM No. Undang-undang No. 59/2009 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara 5. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Mataram. BPS. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2010 – 2029.Tahun 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan 9. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan 2. 15/2010 tentang Daftar Proyekproyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan. 27 Juli 2011 13.DAFTAR PUSTAKA 1. Bappenas. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Presiden No. 2011 12. Peraturan Menteri ESDM No. UN Population Fund. Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No.3/2011 tentang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 10. 634-12/20/600. 4/2010 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan.02. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik 3. Peraturan Presiden No. 2005 132 RUPTL 2011. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of Understanding on the ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN) 6. 2/2010 jo No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional 4.AH. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025. 71/2006 jo No.2020 . Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 – 2027. Batubara dan Gas 7. AHU-46951. Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden No. Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait 8. 2008 11.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 – 2019. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia. Statistik 2009. PT PLN (Persero). Pengkajian Energi UI. 2011 26. 2011 30. PT PLN (Persero). PT PLN (Persero). WestJec. Pemerintah Daerah RUPTL 2011. 2010 31. Nippon Koei.2020 133 . DEN. Direktorat Perencanaan dan Teknologi.14. PT PLN (Persero). Statistik 2010. Berita Resmi Statistik. Draft Energy Outlook 2008. 2006 23. Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2011 – 2015. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam Mendukung Ketahanan Energi. BPS. 2009 16. 2011 22. Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. PT PLN (Persero). Statistik 2007. 2008 18. 2008 dan update dari website BPS 15. Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010 mengenai Sumber Daya dan Cadangan Batubara. Website Kementerian ESDM. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006. 27. Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. PT PLN (Persero). 2008 25. PT PLN (Persero). 2010 17. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero). Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 – 2018. Statistik 2008. 2008 19. 2010 28. Draft Kebijakan Energi Nasional. 2007 29. 2010 21. Februari 2008 24. 2009 20. BPS. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 – 2005.

LAMPIRA AN A AYAH OP PERASI WILA INDO ONESIA BARAT B Lampiran A ini menjelaskan rencana r pe engemban ngan ssistem kellistrikan di Wilayah Operasi O In ndonesia Barat B 134 .

1 11. Progrram Energi Barru dan Terbarukan A2.1 12.8 8. Progrram Listrik Perd desaan A2.1 1.2 2.3 3. Proye eksi Kebutuhan n Tenaga Listrikk A2. Analissis Aliran Daya a A1.9 9. Neracca Energi A1.1 10.4 4.9 9. Progrram Energi Barru dan Terbarukan A1. Peta Pengembanga an Penyaluran A1. WILAYAH W OPE ERASI INDONE ESIA BARAT A1.3 3.6 6.LAM MPIRAN A. Neracca Energi A2.1 11. SISTEM INTERKON NEKSI KALIMA ANTAN BARA AT A2.1 10. Renccana Pengemba angan Penyalu uran A2.5 5.7 7. Analissis Aliran Daya a A2. Peta Pengembanga an Penyaluran A2. Proye eksi Kebutuhan n Investasi PEN NJELASAN LA AMPIRAN A1 A2. Kebu utuhan Fisik Pengembangan Distribusi D A2. Neracca Daya A2.6 6.7 7. Proye ek-Proyek IPP Terkendala A1. SISTEM INTERKON NEKSI SUMAT TERA A1.1 12. Capa acity Balance Gardu G Induk A2.1 1. Kebu utuhan Fisik Pengembangan Distribusi D A1.4 4. Proye eksi Kebutuhan n Tenaga Listrikk A1. Proye eksi Kebutuhan n Investasi PEN NJELASAN LA AMPIRAN A2 135 . Proye ek-Proyek IPP Terkendala A2. Renccana Pengemba angan Penyalu uran A1.8 8. Capa acity Balance Gardu G Induk A1. Progrram Listrik Perd desaan A1. Neracca Daya A1.2 2.5 5.

1. PROVIN NSI BENGKUL LU A12. PROVIN NSI KEPULAU UAN RIAU A7. A14. A14. 136 . PROVIN NSI SUMATER RA SELATAN A11. PROVIN NSI LAMPUNG G A13. PROVIN NSI KEPULAU UAN BANGKA BELITUNG A8. A14.3. PROVIN NSI RIAU A6. A14. A14.4.2. PROVIN NSI JAMBI A10. NERAC CA DAYA SIST TEM-SISTEM IS SOLATED WILAYA AH OPERASI INDONESIA BARAT B Sistem Isolated Provin nsi Nanggroe Aceh A Darussala am Sistem Isolated Provin nsi Sumatera Utara U Sistem Isolated Provin nsi Riau Sistem Isolated Provin nsi Kepulauan Riau R Sistem Isolated Provin nsi Kepulauan Bangka B Belitun ng Sistem Isolated Provin nsi Kalimantan Barat A14.6.RENCA ANA PENGEM MBANGAN SIS STEM KELISTR RIKAN PER PR ROVINSI WILA AYAH OPER RASI INDONES SIA BARAT A3.5. PROVIN NSI SUMATER RA UTARA A5. PROVIN NSI KALIMANTAN BARAT A14. PROVIN NSI NANGGRO OE ACEH DAR RUSSALAM A4. PROVIN NSI SUMATER RA BARAT A9.

LA AMPIRAN A1 SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 137 .

LA AMPIRAN N A1.1 PROYE EKSI KEBU UTUHAN TENAGA A LISTRIK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 138 .

4 65.6 66.446 28.00 6 00 6.516 7.00 5 00 5.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi Sumatera KETERANGAN 139 SATUAN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Energi Jual GWh 20.00 5 00 5.264 % 65.336 37.91 9.197 34.065 7.3 66.00 22.953 25.264 5 00 5.656 44.821 5.874 9.169 48.54 9.990 43.4 65.475 25.656 44.641 Energi Siap Salur TT PS Pembangkit Energi Dibangkitkan Load Factor Beban Puncak Sistem GWh % GWh .3 65.9 67.00 6 00 6.043 33.80 9.64 9.952 6.034 52.50 9.0 MW 4.169 48.0 66.190 31.377 Susut T & D % 9.35 22.559 28.197 34.336 37.00 5 00 5.7 66.00 6 00 6.814 36.579 8.46 9.00 6 00 6.193 8.269 4.00 5 00 5.304 31.380 40.59 9.475 25.304 31.415 5.70 9.4 65.034 52.794 39.42 9.380 40.00 5 00 5.248 22.446 28.509 47.

2 A NE ERACA DA AYA SISTEM INTE ERKONEK KSI SUMATERA 140 .LAMPIRAN A1.

000 PLTGU PLN PLTP IPP 79% PLTP PLN 14.000 PLTA PLN PLTU IPP PLTU FTP2 73% PLTU PLN 12.Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera MW Reserve Margin 18.000 PLTG PLN 75% PLTA IPP PLTA PLN 78% PLTGU IPP 16.000 - 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Tahun .000 Kapasitas Terpasang 2.000 Beban Puncak 56% PLTU IPP 50% 8 000 8.000 PLTU PLN (FTP2) 27% PLTU PLN 4 000 4.000 PLTG PLN PLTA IPP 74% PLTP IPP PLTU & PLTG Sewa 64% Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN 141 10.000 37% 6.

175 662 942 109 4.520 3. 1 2 142 3 Kebutuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Tingkat pertumbuhan Pasokan Kapasitas Terpasang PLN PLTA PLTMH PLTU PLTG PLTGU PLTD Swasta Sewa IPP PLTA PLTMH PLTU PLTG PLTGU PLTMG PLTP Retired & Mothballed (PLN) Tambahan Kapasitas PLN On-going Project Tarahan (FTP1) Meulaboh #1.266 2.579 47.516 39.2 (FTP1) Pangkalan Susu #1.776 67 8.952 35.862 3.441 847 8 915 620 942 109 3.456 3.983 66 7.883 847 8 1.415 32.266 2.822 3.113 65 5.219 65 5.949 847 8 890 263 942 - 3.641 MW MW MW MW MW MW MW MW 4.2 Duri 1 (Ex Relokasi Jawa) Keramasan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW % 23.266 2.Neraca Daya Sistem Sumatera [1/3] No Pasokan dan kebutuhan No.193 51.742 847 8 1.009 847 8 890 263 942 60 3.696 66 6.245 67 8.269 26.266 2.819 847 8 760 263 942 - 3.819 847 8 760 263 942 - 3.396 66 7.551 3.009 847 8 890 263 942 60 3.821 29.819 847 8 760 263 942 - MW MW MW MW MW MW MW MW MW MW 533 447 180 16 80 150 12 10 - 633 447 180 16 80 150 12 10 117 633 447 180 16 80 150 12 10 300 95 447 180 16 80 150 12 10 586 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 60 447 180 16 80 150 12 10 130 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 - PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTG PLTGU 100 40 100 220 220 112 55 20 220 112 55 86 .806 67 9.414 65 4.175 662 942 249 4.065 42.059 65 4.874 56.396 2.2 (FTP1) Sumbar Pesisir #1.819 847 8 760 263 942 - 3.2 (FTP1) Ulubelu #1.

Mulut Tambang Hululais (FTP2) Sungai Penuh (FTP2) SEWA Sungai Gelam Borang B Borang Talang Duku (sewa beli) Payo Selincah (sewa beli) Tarahan #5.4 (FTP2) .6 Dumai Sumbagut IPP On-going Project Simpang Belimbing #1.2 Ekspansi Gunung Megang.1. Meulaboh #3. ST Cycle Satuan 2011 PLTG/MG PLTG/MG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP 90 50 100 20 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 60 400 120 70 500 200 30 88 174 175 110 175 86 55 110 400 200 200 400 110 110 PLTMG PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU 12 30 30 60 50 PLTU 227 PLTGU 2012 -12 -30 -30 30 30 50 240 240 360 30 -30 30 400 . 143 Rencana Sungai Gelam (CNG/Peaker) Jaka Baring (CNG/Peaker) Duri Sengeti (CNG/Peaker) Belawan Lhokseumawe Aceh Timur Pembangkit Peaker *) Batanghari Peusangan 1-2 Asahan III (FTP2) Merangin Simonggo-2 Masang-2 Riau (Amandemen FTP1) Pangkalan Susu #3.Neraca Daya Sistem Sumatera [2/3] No Pasokan dan kebutuhan No.4 Sumsel .

Pasokan dan kebutuhan 144 ` 4 5 Rencana Duri Aceh Sumsel .2 Lumut Balai (FTP2) Sarulla I (FTP2) Ulubelu #3.470 75 16.050 75 Ket: *) Mengingat pengembang belum melakukan eksplorasi sehingga tingkat ketidak pastian besarnya kapasitas masih cukup tinggi.7 Sumsel . maka perhitungan reserve margin didasarkan pada kapasitas PLTP Sorik Marapi sebesar 2x55 MW.11.5 Sumsel .612 37 83 8. . Mulut Tambang Banjarsari Sumsel .2 (Keban Agung) Sumsel .4 PLTM Tersebar Sumut Jumlah Pasokan Reserve Margin Satuan 2011 PLTGU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTM MW % 2012 2013 100 44 22 2014 2015 2016 2017 150 150 300 300 300 300 2018 2019 400 400 2020 227 230 225 150 150 225 110 110 110 220 110 55 110 220 220 240 110 110 *) 110 110 55 110 55 20 110 165 220 45 23 56 40 83 5.311 24 6.4 (FTP2) Seulawah (FTP2) Sarulla II (FTP2) Rajabasa (FTP2) Muara Laboh (FTP2) Sorik Marapi (FTP2) *) Rantau Dedap (FTP2) Suoh Sekincau Wai Ratai Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria G.665 64 12.448 56 32 8. Mulut Tambang Riau Mulut Tambang Jambi KPS Sumut .005 79 17.6.913 50 39 10.198 73 13. Talang Danau Ranau Bonjol Kepahiyang Wampu Simpang Aur (FTP2) Semangka Hasang Peusangan .Neraca Daya Sistem Sumatera [3/3] No.557 79 14.

3 A PROY YEK-PRO OYEK IPP TERKEND DALA SIST TEM INTER RKONEKS SI SUMAT TERA 145 .LAM MPIRAN A1.

5 MW W masuk dalam m kategori 3. PLTP Sib bayak 2x5. yaitu u proyek IPP sudah memiliki Kategori 3: tahap pen ng mencapai Fin nancial Closing g (FC). PLTU Re engat 2x5. PLTU Te embilahan 2x5.A1. PPTL tettapi tiak kunjun Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Sumatera a adalah. Saat ini penyelesaian p IPP terkendala tersebut sedan ng diproses ole eh Komite Direktur D untuk IPP dan Kerjasa ama Kemitraan n.5 MW W masuk dalam m kategori 1 PLTU MT T Banjarsari 2xx100 MW masu uk dalam kategori 3 PLTU Ku uala Tanjung 2xx100 MW masu uk dalam kateg gori 3 PLTU MT T Keban Agung g 2x112. dan merekka dimasukkan dalam 3 ka ategori PPTL te erkendala seba agai berkut : Kategori 1: tahap operrasi. b Kategori 2: tahap kon nstruksi. ndanaan. 146 .3 Pro oyek-proyek IP PP yg terkenda ala Dalam program p IPP te erdapat bebera apa proyek yang pelaksanaa an kontralk PPTL/PPA-n nya mengalami kendala.5 MW masuk dalam kategori 3 PLTP Sa arulla 330 MW masuk dalam kategori k 3. yaitu proyyek IPP sudah mencapai COD namun bermasalah. yaitu proyek IPP sudah s mencapai Financial Closing (FC) tapi konstruksinya bemasalah h sehingga tida ak kunjung mencapai COD D.5 masuk dalam m kategori 3.

4 A NE ERACA EN NERGI SIS STEM INTERKONEKSI SUMA ATERA 147 .LAMPIRAN A1.

003 47.276 13.517 40.518 7.030 HSD 8.679 6.417 16.502 6.809 19.932 7.040 7.076 321 - - - - - - - 63 64 801 2.273 4.850 23.773 11.270 9.476 5.691 13.232 4.865 10.714 Gas 5.765 6.314 100 100 100 - - - - MFO 1.989 56.353 11.200 Hydro 3.805 51.415 7.120 37.269 4.Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sumatera (GWh) 148 JENIS 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Batubara 6.718 5.466 6.398 3.295 1.022 5.707 2.820 4.324 4.622 30.114 7.586 5.567 Geothermal .424 15.843 44.444 27.035 7.216 5.317 4.303 5.389 7.967 26.957 34.671 15.293 4.690 4.575 LNG - - - 4.050 Total 24.414 14.788 7.

761 12.139 9.255 14.363 10.425 .241 1.152 9.795 16.484 556 MFO ( x 1000 kL ) 379 317 94 53 77 77 GAS (GBTU) LNG (GBTU) Batubara (kTON) 2013 - - - 4.746 2014 27 - 2015 2016 27 - 27 - 2017 2018 2019 2020 - - - - - - - - 84 83 78 68 51 47 44 34 34 34 34 34 36 41 9.007 6.006 8.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Interkoneksi Sumatera 149 FUEL TYPE 2011 2012 HSD ( x 1000 kL ) 2.

5 A CAPA ACITY BA ALANCE GARDU G IN NDUK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATRA 150 .LAM MPIRAN A1.

8 51% 46.8 66% 103.6 65% 16. Trafo MVA Gardu Induk TEG JML MVA 150/20 Total 1x30 30 30 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) SISTEM ACEH 1 GI ALUE DUA/ LANGSA PLTD SEWA 2 GI TUALANG CUT 42% 150/20 3x10 Total 3 GI ALUE BATEE/ IDI 150/20 1x30 151 GI LHOKSEUMAWE 150/20 5 GI BIREUEN 30 Total 60 30 150/20 150/20 2x30 Total GI SIGLI 60 150/20 1x10 10 150/20 Total 1x20 20 30 PLTD SEWA 7 GI BANDA ACEH I / LAMBAROE 150/20 2x30 60 1x60 60 Total 120 PLTD SEWA 8 ULEE KARENG 150/20 Total 2x60 9 LAM PISANG 150/20 Total 2x60 18.8 47% 40 47.8 58% 122.5 65% 15.7 56% 31.5 38% 21.5 53.9 57% 55% 62% 52% 58% 64% 72% 63% 34.1 46% 60 30 30 PLTD SEWA 6 10 20 30 150/20 PLTD SEWA 51% 30 30 2x30 18.0 55% 62% 68% 75% 62% 69% 60% 17.4 43% 47% 50% 36% UP 30-10 19.6 27.8 72% 44.6 70% 78.2 57% 117.0 31% 30 36% 23.0 UP 60-30 33.2 10 30 30 Total 4 15.6 54.4 60% 68.8 67.9 73.0 UP 30-10 20 UP 30-10 31.0 51.1 39% 42% 47.3 42.1 38.0 61% 51.Capacity Balance GI N Nanggroe A Aceh hD Darussalam l (NAD) 2011 Kapasitas No.4 22.5 19.8 70% 50 49% 55 54% 61 60% 65 64% 70 69% 30 120 29% 35 34% 50 49% 30 40.6 73.7 25.4 68% 19.2 27.4 67% 73.5 UP 60-10 50 48.5 46% 25.0 58.4 55% 61.9 46% 51.1 59.3 68% 124.0 38.1 32.8 57% 65% 74% 16.9 23.8 45% 40 42.1 79.4 34.6 51% 56.2 51% 87.5 42% 23.0 41.4 30 28.0 43% 50 106.1 38% 60 50 88.0 120 30% 45 44% 30 30 .0 43.9 57% 64% 43% 48% 53% 59% 66% 72% 102.7 47.8 62% 20 30 30.9 49% 31.2 29% 20 35% 30 20 30 UP 60-30 78.8 64.8 38.2 25.7 50% 28.9 72% 39% 30 21.

4 1x30 9.2 11 2 44% 11.1 7.6 6.6 73% 19.0 12 0 47% 2x30 14.7 16.1 17.9 12.5 58% 63% 69% 38% 13.4 53% 30 30 21.1 40.5 19.6 34.1 17.1 27.3 21.0 35.7 29.1 32.1 41% 30 .5 76% 32.4 14.6 7.0 28% 33% 38% 43% 48% 57% 69% 98 9.5 10 5 41% 10.6 53% 37% 15 GI PANTONLABU 2016 150/20 Total 14 GI JANTHO 60 39% T t l Total 13 GI KUTA CANE 2015 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Total 11 GI SUBULUSSALAM 2014 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo 150/20 Total 94 9.5 1x30 8.3 14.8 60 53% 1x30 2019 2020 21.2 33.3 37.7 15.5 21.4 37% 30 6.9 7. Trafo MVA Gardu Induk 10 GI TAKENGON TEG JML 150/20 2x30 MVA 2012 2013 12 GI MEULABOH 19.0 54% 62% 73% 42% 47% 53% 63% 69% 150/20 30 10.0 67% 17.6 23.4 7.1 13.4 41.9 24.9 10 9 43% 11.0 12.5 24.4 57% 15.8 19.8 15.6 11 6 45% 12.3 60% 16.7 39.1 10 1 40% 10.0 35.7 14.8 70% 18.8 63% 66% 69% 71% 49% 51% 53% 55% 11.8 18.7 13.Capacity Balance GI NAD (lanjutan (l j 1) 2011 Kapasitas No.1 26% 27% 28% 29% 30% 31% 32% 14.5 43% 47% 53% 58% 63% 69% 38% 41% 16.8 150/20 Total 1x30 150/20 2x30 152 150/20 150/20 Total 26.7 22.5 19.4 30 25% 2x30 60 30 21.4 25.2 24.7 16.1 6.1 32% 30 30 30 30 12.2 41% 42% 44% 46% 48% 50% 51% 14.3 26.8 38% 10.1 63% 17.8 8.9 36.0 13.3 Total 17 GI BLANG PIDIE 150/20 Total 1 30 1x30 18 GI TAPAK TUAN 150/20 1x30 Total 19 GI COT TRUENG 2018 30 150/20 Total 16 GI KRUENG RAYA 2017 20.4 45% 47% 49% 51% 54% 56% 58% 60% 13.6 13.

04 1 02 1.1 19% 20% 21% 22% 23% 24% 13.06 1 04 1.03 1 04 1.07 1 07 1.6 18.02 153 .4 15.5 44% TOTAL PEAK GI 227 298 409 461 526 581 640 701 782 850 TOTAL PEAK SISTEM 212 278 381 431 489 549 612 681 755 833 DIVERSITY FACTOR 1 07 1.6 Total 21 Add 30 18% 1x30 11.07 1 07 1. 20 Trafo MVA Gardu Induk GI BLANG KJEREN TEG JML 150/20 1x30 MVA Peak Add 2012 Peak Add 2013 Peak GI SAMALANGA 150/20 2014 Peak Add 2015 Peak Add 2016 Peak Add 2017 Peak Add 2018 Peak Add 2019 Peak 2020 Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 4.8 6.9 5.6 5.8 Total 46% 30 4.4 5.0 16.6 53% 59% 65% 72% 40% 30 22.07 1 06 1.07 1 07 1.Capacity Balance GI A h (lanjutan Aceh (l j 2) 2011 Kapasitas No.04 1 03 1.07 1 07 1.3 20.1 5.

12 79% 42.5 60 Total 91.70 74% 19.03 65% 133.00 71% 114.68 66% 35.41 56% 61.05 53% 75.65 74% 120.84 53% 108.29 50% 54.97 56% 90.25 23% 25.16 52% 84.21 73% 118.65 39% 20.72 58% 62.40 46% 45.43 83% 33.22 42% 16.85 42% UAI 60 UP 30 UAI ADD 60 ADD 60 GI 60 .80 43% 46.47 79% 127.53 83% GI BARU 45.49 34% 18.93 40% 43.68 40 29% 21.22 24% 26.86 69% 112. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 2 3 154 4 5 6 7 8 9 SISTEM SUMUT GLUGUR GIS LISTRIK TITI KUNING PAYA PASIR MABAR KIM LABUHAN LAMHOTMA DENAI 150/20 150/20 60 60 Total 120.19 66% 107.48 75% 99.93 19% 20.32 23% 24.13 38% 41.77 64% 60.28 26% 13.93 47% 51.43 60% 65.5 * 60 * 60 60.06 59% 95.99 65% 70.15 66% 107.73 20% 21.65 99% 76.55 74% 80.42 22% 23.43 62% 101.83 41% 22.72 63% 61.85 74% 40.80 44% 47.55 60% 99.48 94% 86.03 78% 42.94 78% 126.0 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 60 Total 60 150/20 150/20 150/20 Total 87.50 32% 17.Capacity Balance GI Sumut No.73 64% 40.78 94% 50.17 25% 19.36 88% 143.47 62% 101.70 83% 135.67 60% 65.75 70% 38.62 49% 80.86 65% 105.56 21% 22.85 45% 39.14 49% 53.66 69% 150.88 54% 58.71 70% 37.61 69% 75.16 74% 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 92.65 53% 57.49 57% 92.83 62% 42.25 75% 40.64 66% 141.86 46% 50.87 41% 44.0 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 150/20 31.85 81% UP & ADD 14.24 90% 97.27 70% 113.08 62% 35.49 59% 64.07 43% 23.53 36% 19.5 150/20 20 Total 20 150/20 60 Total 60 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) ADD 60 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 95.08 88% 47.22 70% 113.23 25% 27.47 50% 81.

57 46% 24.38 49% 53.00 76% 123.57 60% 82.51 59% 83.81 56% 91.07 55% 29.26 58% 93.47 45% 48.53 47% 50.08 34% 37.74 59% 32.37 58% 25.98 41% 22.22 64% 98.5 150/20 60 Total 60 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 60 60 Total 120 45.84 44% 47.54 62% 30.48 52% 28.95 54% 57.29 43% 46.84 49% 52.93 47% 13. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA SISTEM SUMUT 10 NAMURAMBE 11 SEI ROTAN 12 PAYA GELI 155 13 BINJAI 14 P.21 44% 47.80 65% 104.98 49% 26.5 Total 91.68 42% 57.86 64% 104.14 77% 89.82 44% UAI 60 GI 60 .78 90% 48.44 48% 65.14 49% 20.24 44% 23.79 81% 29.90 35% 37.78 41% 44.80 39% 41.00 91.05 46% 74.47 47% 49.11 39% 51. MORAWA 17 TEBING TINGGI 18 KUALA TANJUNG 150/20 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 60 Total 60 150/20 150/20 60 31.18 40% 65.04 73% 119.98 48% 60.59 72% 117.80 37% 39.30 49% 44.47 75% 61.18 36% 39.42 55% 88.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 1) No.60 55% 37.28 84% 137.70 57% 84.76 49% 57.61 55% 54.26 67% 146.84 37% UAI 60 UAI 60 UAI 60 ADD 60 40.30 41% 44.18 57% 77.42 39% 41. BRANDAN 15 PERBAUNGAN 16 T.31 36% 50.26 64% 97.13 51% 69.76 58% 31.91 41% 44.5 30 Total 61.88 78% 128.69 51% 55.83 60% ADD UAI 60 37.12 13% 35.86 72% 157.71 68% 112.94 46% 49.34 51% 54.06 42% 45.65 37% 39.91 39% 42.40 52% 56.53 48% 58.46 43% 70.09 33% 35.06 46% 43.37 31% 34.95 49% 80.04 54% 73.38 61% 98.5 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 30 30 Total 60 150/20 150/20 31.20 52% 85.18 37% 61.13 43% 46.82 60% 47.53 68% 110.97 45% 61.

81 49% 21.05 63% 16.16 68% 12.42 78% 16.52 52% 41.88 69% 56.60 56% 61.43 56% 76.41 9% 2.72 71% 18.81 63% 83.65 42% 15.05 12% 3.12 40% 17.32 9% UP 30.82 61% 66.06 60% 64.85 66% 17.41 45% 74.85 47% 25.09 57% 76.89 55% 44.5 61.03 68% 92.06 62% 49.69 51% 68.32 66% 3.82 11% 2.5 150/20 30 Total 30 150/20 150/20 30 20 Total 50 150/20 20 Total 20 150/20 10 Total 10 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 71.47 58% 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) UP 20 11.77 35% 15.53 37% 16.28 49% 39.60 67% 72.17 83% 37.18 12% 11.05 59% 79.92 33% 14.87 54% 14.31 38% 17.34 34% 14.89 74% 20.94 12% 3.85 62% 83.71 11% 2.40 56% 30.26 93% 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) UAI 60 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 77.56 49% 16.26 50% 54.51 32% 13.70 69% 65.28 50% 26.98 42% 18.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 2) No.61 10% 2.21 52% 13.0 122 150/20 20 Total 20 150/20 150/20 150/20 Total 30 0 31.58 49% 13.84 65% 88.89 65% 52.81 99% 17.02 79% 21.63 28. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA SISTEM SUMUT 19 PEMATANG SIANTAR 20 GUNUNG PARA 21 KISARAN 156 22 AEK KANOPAN 23 R.40 58% 47.91 63% 35.34 53% 57.72 63% 68.85 51% 2.14 38% UP 45.22 83% 22.79 53% 28.44 72% 13.10 59% 31.82 47% 20.12 31% 13.78 99% 12.5 45% UAI 48.67 37% 16.40 65% 87.29 60% 16.5 30.98 47% 59.36 47% 51.37 60% 79.74 30% 51.05 73% 59.0 ADD 30 UP 40 UAI 30 ADD 30 .50 44% 23.58 58% 62.67 14% UP 30 UAI UP 20 2.94 55% 73. PRAPAT 24 KOTA PINANG 25 BRASTAGI 26 SIDIKALANG 27 TELE 150/20 150/20 30 60 Total 90 150/20 10 Total 10 150/20 150/20 150/20 Total 60 31.88 44% 19.98 54% 72.51 10% 2.56 57% 15.21 36% 15.93 52% 69.

89 44% 27.83 82% 22.91 35% 30 15.97 33% 17.15 32% 25.98 35% 19. Gardu Induk Trafo MVA MVA 28 PORSEA 29 TARUTUNG 30 SIBOLGA 31 P.19 71% 19.91 33% 26.00 6% 3.93 35% 31.80 42% 18.30 54% 15.79 49% 17.71 30% 24.49 35% 28.37 7% 3.78 39% 17.70 45% 1.06 83% 14.84 47% 25.48 43% 20 14.34 43% 18.69 20% 1.47 85% 14.15 80% 28.76 29% 10.85 26% 1.46 76% 20.95 8% 36.24 6% 3.76 21% 3.69 48% 8.65 41% 36.43 33% 30 UP 20 37.38 43% 38.12 6% 3.43 37% 33.31 36% 29.80 7% 3.21 40% 21.30 33% 11.08 38% 17.59 47% 8.91 44% 15.59 19% 1.10 30% 16.16 37% 9.36 45% 15.46 37% 13.29 38% 16.25 30% 10.00 39% 34.28 41% 17.29 51% 17.66 19% 1.06 37% 20.76 32% 11.34 54% 14.30 48% 16.82 47% 16.42 31% 25.12 50% 23.82 37% 16.51 7% 3.56 18% 1.53 18% 1.5 62 150/20 10 Total 10 150/20 150/20 Total 30 0 30 150/20 150/20 Total 30 30 60 150/20 10 Total 10 150/20 36 SALAK (Untuk menyerap energi PLTM) Total 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 14.72 20% 1.29 27% 9.65 7% 3.42 42% 22.28 44% 23.50 18% ADD 10 30 60 60 .51 34% 60 29.11 47% 42.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 3) Kapasitas No.0 67% 18. SIDIMPUAN 157 32 GUNUNG TUA 33 TANJUNG PURA 34 PANYABUNGAN 35 PARLILITAN 150/20 Total 20 20 150/20 150/20 Total 10 10 20 150/20 150/20 Total 30 10 40 150/20 150/20 Total 30 31.01 31% 16.62 19% 1.36 36% 15.86 35% 12.68 34% 27.20 45% 40.81 52% 18.51 50% 27.

479.34 9% 2.200 1.404 404 78 44.3 1.5 1.172 172 78 44.333 333 78 44.0 1.540 1.272 272 78 44.0 11.8 17% 9.78 23% 12.48 21% 11.58 140% 1.32 5% 2.0 34.89 19% 10.19 4% 2.30 116% 61.48 121% 63.558 558 78 44.0 34.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 4) Kapasitas No.48 24% 13.014 1.194.6 1.08 8% 2.0 11.0 11.795 1.16 8% 2.094.0 11.011 1.PT Grouth Sumatera .0 11.11 22% 11.0 34.478 478 78 44.325.79 125% 66.255.012 1.43 10% 2.139.03 28% 11.563.730 730 78 44.001 1.25 112% 59.642 642 78 44.0 11.0 11.7 1.386 1.0 34.0 1.0 34.159 1.711 1.33 18% 9.24 130% 68.06 4% 2.PT Gunung Gahapi TOTAL PEAK GI umum TOTAL PEAK SISTEM INT DIVERSITY FACTOR 2 399 2.012 1.825 825 78 44.463 1.746.399 150/20 150/20 .0 34.5 1.00 4% 2.83 135% 71.017 COD 2012 TOTAL PEAK GI Peak Load Big Customer (I4) .39 5% 2.23 26% 14.1 1.46 5% 55.12 4% 2.63 10% 8.4 1.317 1.00 8% 2.4 1.25 9% 2.0 11.217 217 78 44.0 34. Gardu Induk Trafo MVA MVA 150/20 37 NEGERI DOLOK (Untuk menyerap energi PLTM) Total 60 150/20 150/20 Total 30 30 60 150/20 30 Total 30 150/20 60 Total 60 38 KUALA NAMU 39 PANGURURAN 158 40 LABUHAN BILIK 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 60 2.624 1.50 6% 2.400.012 1.0 11.011 1.0 34.652.012 1.31 108% 57.53 10% 2.25 4% 2.0 34.0 34.011 1.271 1.1 1.

3 42.0 57% 63% 69% 76% 51% 56% 61% 67% 73% 82.8 9.9 23.9 45% 48% 53% 59% 66% 74% 41% 45% 50% 55% 30 30 21.3 LUBUK ALUNG BUNGUS (NEW) PARIAMAN (NEW) KAMBANG (NEW) 150 150/20 20 150/20 30 Total 50 150/20 150/20 150/20 / 30 30 30 30 30 8.2 60 .4 19.8 17.3 24.3 15.3 38.7 17.5 14.0 22.0 82.0 82.8 27.2 50.2 34.1 43.8 38.7 44.5 19.1 57% 63% 70% 51% 56% 62% 67% 74% 40.3 10.4 40.3 54.3 34% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 69% 38% 42% 11 11.6 41% 44% 49% 55% 62% 70% 39% 44% 49% 54% UP 30-60 30 INDARUNG Total 5 28.2 57.9 68.1 1 16.7 67% 44% 50.8 75.5 52.2 35.0 15.4 12.3 64.2 32.7 42.7 1 18.5 1 1 15.3 36.0 25.0 82.1 29.5 48% 53% 59% 51% 56% 62% 68% 42% 58.0 55% 30 32.Capacity Balance GI S b Sumbar No.0 82.3 23.3 11.8 36.7 14.1 46.8 66% 52% 39.4 43% 45% 50% 55% 61% 69% 76% 52% 57% 62% 10.3 21.0 82.2 1 13.4 62.0 82.1 12.8 49.5 11.8 52.0 82.6 1 12.0 82.0 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 18.4 4 27.8 47. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2020 Add Peak Trafo Load (MVA) (MW) Add Trafo (MVA) CABANG PADANG 1 2 159 3 4 PIP PAUH LIMO SIMPANG HARU 150/20 20 150/20 30 Total 50 150/20 60 150/20 30 Total 90 150/20 42 150/20 42 Total 84 6 7 8 29.6 26.5 71.6 40.1 52.9 20.8 20.0 82.

5 66% 73% 40% 10.3 24.8 52.9 65% 29% 30.9 13.6 32% 36% 40% 45% 50% 55% 61% 66% 30 30 Add Add Trafo (MVA) 60 CABANG BUKITTINGGI 11 MANINJAU 12 PADANG LUAR 150/20 20 160 150/20 20 150/20 30 Total 50 30 UP 20-60 40 NEW 13 SIMPANG EMPAT 150/20 30 14 BATANG AGAM 0.5 20.3 40.7 39.4 23.6 15.8 25.5 69.6 30.1 44.6 15.5 29.3 28.4/20 20 (NEW) 15 GI PADANG PANJANG 150/20 10 30 30 60 5.0 42.8 32.0 36.9 58.2 27.4 32.1 19.0 21.3 16.7 26.4 17.7 11.5 23.8 31.6 22.4 17.2 35.3 47.6 25.0 48.2 22.3 62.2 13.1 22.6 20.8 15.4 39.7 20.3 75.1 31.2 52.7 32.0 91% 47% 52% 57% 63% 70% 56% 61% 67% 73% 13.2 10.3 34.5 18.8 65% 33% 37% 41% 45% 51% 57% 62% 69% 57% 22.0 26.5 68.7 16.9 24.8 52.6 77% 81% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 68% 74% 21.1 84% 91% 53% 61% 69% 39% 44% 50% 56% 63% CABANG SOLOK 16 SOLOK 17 SALAK 18 KILIRAN JAO 150/20 20 150/20 20 Total 40 150/20 150/20 / 20 UP 20-60 40 30 30 20 150/20 10 Total 30 30 30 .9 18.1 28.7 25. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 9 GI/GIS KOTA PADANG 10 GI SUNGAI PENUH (NEW) (NEW) 150/20 150/20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2020 Peak Trafo Load (MVA) (MW) 52.1 13.0 63.6 9.9 18.1 13.2 14.4 57.5 28.3 33.0 44% 49% 54% 59% 65% 71% 120 16.5 36.1 43.0 12.6 57.5 60% 63% 70% 31% 35% 39% 43% 48% 52% 58% 27.3 20.7 90% 47% 52% 58% 64% 71% 39% 43% 47% 52% 11.4 52% 57% 62% 68% 49% 22.9 47.Capacity Balance GI S b (lanjutan Sumbar (l j 1) No.

9 TOTAL PEAK SISTEM 402.9 54.03 1.1 50% 55% 61% 68% 75% 41% 45% 49% Add Trafo (MVA) CABANG PAYAKUMBUH 20.0 25.0 34.RUMBAI/GNG.7 49.0 746.0 23.5 12.03 1.03 1.4 561.4 629.03 1.0 724.3 447.0 15.8 578.9 18. Kapasitas Trafo MVA Gardu Induk MVA 19 GI S.6 14.5 20.0 25.03 1.4 9.03 1.5 666.5 28.8 45.5 17.1 53% 37% 41% 45% 50% 55% 61% 66% 72% 39% TOTAL PEAK GI 414.5 611.1 15.3 1.8 472.03 1.4 10.03 1.4 11.6 14.1 21.1 41.MEDAN (NEW) 150/20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 30 30 Add 2020 Peak Trafo Load (MVA) (MW) 12.8 486.1 810.7 515.Capacity Balance GI S b (lanjutan Sumbar (l j 2) No.03 20 PAYAKUMBUH 21 BATUSANGKAR 161 DIVERSITY FACTOR 150/20 150/20 30 30 30 30 30 .1 38.8 686.4 878.3 79% 50% 55% 61% 67% 50% 55% 60% 65% 71% 13.1 31.4 786.5 16.3 19.3 434.9 530.8 853.03 1.

23 35.15 15.00 Total 7 (MVA) Peak Load (MW) 15.82 44% 11 PASIR PANGARAYAN Add Trafo 14.34 92.93 91.81 55% 81% 150/19 150/20 Total 30 30 60 10 10 41.87 25.17 70.48 21.97 25.55 51.01 55% 30 GI Baru 120 GI Baru 120 Trf baru 20 Uprating 30 Trf baru .69 67% 70% 42% 50% 55% 60% 66% 46.75 18.79 59.39 24.51 41.53 37.57 52% 8 20 Trf Baru 2014 Add Trafo 30.17 60 Trf Baru 113.06 97.97 77.42 44.94 45% 46% 50% 54% 58% 62% 68% 56% 74% Alih bbn Pasir Putih 80.61 63% 66% 64% 68% 38% 42% 47% 70% 78% 83.04 19.06 16.96 13.55 15.30 47.25 56% 57% 53% 55% 61% 66% 71% 76% 42% 22.82 30.44 47.55 73.40 64.64 39.92 76% 3 GARUDA SAKTI 150/20 150/20 150/20 Total 50 50 60 160 TELUK LEMBU 150/20 150/20 Total 60 60 120 162 PLTD Sewa 5 DURI DUMAI 150/20 150/20 Total BAGAN BATU 9 TELUK KUANTAN PASIR PUTIH (MVA) 2015 2016 2018 2017 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) 15.07 35.06 55.22 15.07 15.04 46% 50% 54% 58% 63% 69% 12.77 54.24 70.15 53% 59% 61% 59% 63% 71% 56% 62% 69% 78% 34.Capacity Balance GI Ri Riau No.52 16.18 59.58 86% 46% 38.22 33.09 45% 55% 57% 58% 60% 63% 50.80 51.46 13.93 16.14 26.11 41.23 44.04 61. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 2 KOTO PANJANG BANGKINANG 150/20 20 Total 20 150/20 30 2011 Add Peak Trafo (MVA) Load (MW) 14.47 34.90 75% 71% 60% 30 UpRating 36.87 64.53 60 Trf Baru 57.13 33.21 14.68 126.21 83.00 PLTD Sewa 6 30 Trf Baru 109.30 34.93 53.37 17.38 45.35 66% 54% 58% 63% 69% 78% 112.61 43% 44% 48% 51% 55% 59% 64% 32.45 100.00 60 GI Baru 0 0 Alih Bbn Kandis 14.90 81% 59% 13.17 46.25 38.95 88.64 71% 10 NEW GARUDA SAKTI (MVA) Peak Load (MW) 46% 74.17 150/20 150/20 Total 150/20 10 30 40 0 20 UpRating 47% 150/20 Alih bbn KID Alih Bbn GIS Kota Alih bbn Perawang 150/20 60 Up Rating 14.69 19.51 Alih bbn Bangkinang 2013 Add Trafo 40.04 43.63 14.21 80% 4 2012 Peak Load (MW) 14.19 84.55 54.48 54.08 51% 52% 56% 59% 62% 66% 71% 36.48 52.89 18.58 86.30 50.26 64.62 57.63 Alih bbn Kit Tenayan 45% 30 30 60 28.51 18.71 73% 74% 60 Trf Baru 30 Up Rating 90.36 52% 46% 34% 31% 32% 34% 36% 80.13 59.16 44.99 21.72 54.54 32.

50 49% 11.67 85.07 16.92 11.73 12.00 32.81 45% 573.95 1.40 56% 30 GI Baru 13.23 530.00 GI Baru 41% 45% 15.32 52% 180 675.00 50 432.53 49% 54% 59% 65% 30.46 150/20 0 37% 14.12 576.26 6 3.65 29.61 38% 39% 43% 46% 49% 53% 58% 15 PANGKALAN KERINCI 150/20 0 30 GI Baru 9.75 15.35 54% 15.43 9.30 62% 30 GI Baru 30 GI Baru 18.98 10.56 14 47 14.59 10.35 11.00 30.00 270 532.31 10.18 13.03 43% 14 BAGAN SIAPI-API 150/20 0 30 GI Baru 9.2 44% TOTAL PEAK GI TOTAL PEAK SISTEM DIVERSITY FACTOR 382.22 1.49 1.29 1.00 39% 30 GI Baru 12.Capacity Balance GI Ri (lanjutan) Riau (l j ) No.82 1.80 55% 58% 62% 1.00 26.47 53% 10.16 7 3. 723.81 68% 11 38 11.90 11.68 623.13 45% 47% 51% 54% 58% 62% 67% 14.30 56% 110 726.96 23.67 38% 40% 43% 45% 48% 51% 10.16 45% 49% 30.51 50% 44% 57% 10.10 40.00 Trf Baru 52% 60% 69% 79% 13.20 163 10.69 14.83 24. 9 381.50 18.38 74% 12 06 12.52 0 0 30 GI Baru 30 Trf baru 22.74 25.00 200 486. 9 672.26 576.01 38 .69 40% 22.42 13.2 14.06 45% 47% 9.65 1.01 8 9.59 34.57 21 GI LIPAT KAIN 150/20 0 8.32 44% 30 GI Baru 24. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 12 RENGAT 150/20 Total 2011 2012 Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2013 Add Trafo (MVA) 0 0 Peak (MVA) 24.75 13 51 13.68 1.58 67 .50 779.49 40% 12 75 12.61 13.59 36% 20.08 9.98 1. 1.20 22 GI/GIS KOTA PEKANBARU 22.81 20.92 14.67 1.00 1.52 35.25 58% 64% 69% 74% 40% 9.88 56% 41% 33% 17.00 30 .16 485.00 60 GI Baru 210 22.8 530.00 3 .52 12.84 27.02 16 GI SIAK SRI INDRA PURA 150/20 0 17 KIT TENAYAN 150/20 0 18 PERAWANG 150/20 0 19 KID DUMAI 150/20 0 20 GI KANDIS 150/20 0 10 57 10.83 16.00 64% 60 852.53 49% 30 627.75 431.18 30.51 12.39 48% 13 TEMBILAHAN 150/20 Total 2014 Add Trafo Load (MW) 60 GI Baru Peak Load (MW) 2016 2015 Add Trafo (MVA) 2017 2018 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) 22.25 17.01 28.42 42% 45% 1.95 849.63 19.52 31.11 38% 30 Trf baru 11.77 15.75 59% 0 782.53 12.41 61% 77% 48% 11.58 13.36 1.

57 58% 95.75 52% 22. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 BUKITSIGUNTANG PTM 2012 2 TALANG RATU PTM di 2013/2014 164 3 SEDUDUK PUTIH PTM 2012 4 SUNGAI JUARO 5 BOOM BARU 70 kV 70/12 70/20 15 15 Total 30 70/12 70/12 70/20 70/20 Total 10 5 10 10 30 70/12 70/20 Total 15 30 45 70/12 70/20 Total 15 20 35 70/12 70/20 Total 15 30 45 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 70/12 70/12 70/20 70/20 Total 5 5 15 10 35 7 SUNGAI KEDUKAN Trafo II 15 MVA (Step up : Pertamina) 70/12 70/20 Total 10 15 25 8 KERAMASAN Sudah realisasi trafo 60 MVA 70/12 70/12 150/20 Total 15 10 60 25 PTM DI 2012 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Add Peak Trafo Load (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) Uprate 15-30 MVA 70/20 Uprate trafo 15-30 MVA SKI P3B Tambah 30 MVA 70/20 28.58 100% 16.44 69% 24.72 45% 37.32 32% 13.38 59% 24.54 65% 17.22 58% 22.53 49% 30 18.28 74% 15 21.58 46% 14.64 90% 29.32 30% 12.80 42% 12.86 60% 49.49 35% 14.64 49% 15.73 63% Relokasi Trafo d 30.39 29% 8.84 65% 20.06 51% 14.57 49% 40.66 96% 32.18 47% 15 Uprate 15-30 32.27 42% 29.81 52% 19.06 44% 16.76 84% 45.24 65% 23.59 85% 31.74 53% 45.78 65% 27.12 64% 34.16 62% 22.30 98% 13.69 38% 26.88 74% 40.69 33% 21.69 59% 18.50 68% 75.05 62% 40.15 52% 34.10 57% 37.53 108% 7.87 57% 64.21 iK 79% 6 BUNGARAN PTM 2012/2013 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) uprate trafo III 15-30 uprate trafo IV10-30 33.58 51% 60 60 .56 53% 88.86 53% 44.13 63% 11.65 54% 24.68 56% 17.20 56% 20.06 59% 21.56 68% 44.75 53% 16.11 61% 33.47 49% 81.38 85% 19.22 59% 15.44 112% 28.67 85% 36.16 89% 51.90 89% 24.11 49% 31.55 36% 25.38 56% 36.97 35% 10.Capacity Balance GI S2JB No.66 42% 11.53 49% 53.63 72% 57.10 54% 16.76 48% 35 20.88 70% 10.26 87% 25.94 64% 69.15 58% 17.07 74% 17.75 46% 13.

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
1)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

165

9 TALANG KELAPA

150/20

60
60

49,06
96%

10 BORANG
(Beban ditarik ke
PLTMG Sako)

150/20
150/20
Total

15
30
45

SKI P3BS

11 MARIANA

150/20
150/20

2x16
32

12 SIMPANG TIGA

150/20
150/20
Total

30
60
60

150/20
150/20
Total

15
30
30

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20
150/20
Total

30
30
60

150/20
150/20
Total

10
20
30

150/20
150/20
Total

10
15
25

13 PRABUMULIH

14 BUKIT ASAM

15 BATURAJA

16 LAHAT

17 PAGAR ALAM

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
UAI P3BS
40,73
60
40%

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)
60

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

106,74
60%

116,46
65%

45,64
36%

54,64
43%

75,33
59%

81,24
64%

89,15
70%

97,27
54%

18,92
49%

20,14
53%

21,34
56%

22,72
59%

24,07
63%

62,41
28,27
54%

68,31
29,97
57%

74,39
31,63
60%

81,42
33,55
64%

88,67
35,43
67%

12,12
32%

13,22
35%

14,86
39%

16,37
43%

18,04
47%

34,80
16,86
62%

39,05
20,34
75%

45,10
22,61
83%

51,10
24,72
91%

57,90
27,05
51%

49,43
97%

53,96
53%

60,46
59%

44,09
43%

50,13
49%

53,47
52%

58,15
57%

62,96
62%

68,60
67%

74,27
49%

26,20
69%

28,87
32%

32,73
37%

36,41
41%

40,51
45%

42,87
48%

46,07
52%

49,26
55%

52,93
59%

56,60
63%

64,43
63%

69,99
69%

116,37
57%

122,70
60%

60

60

30
30

78,27
51%

60

85,85
56%

94,18
62%

98,29
64%

104,16
68%

109,82
54%

60

72,05
47%

60

92,39
60%

90,87
51%

85,13
48%

89,87
59%

94,43
62%

99,76
65%

104,88
69%

18,32
43%

20,04
47%

21,68
51%

28,99
57%

30,54
60%

Uprate 30->60
60,23
79%

30

Uprate
p
30-60
77,74
76%

30

18,88
74%

Uprate 10->30 MVA
20,63
20
49%

16,07
38%

12,10
28%

14,36
34%

15,35
36%

16,87
40%

19,19
90%

Uprate 10-30
20,85
55%

23,31
61%

21,34
56%

23,56
62%

24,52
64%

25,98
68%

20

Uprate 15-30
27,36 15
54%

60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
2)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

18 LUBUKLINGGAU

150/20

150/20
150/20

2x30
60

150/20
150/20

2x30
60

21 GUNUNG MEGANG

150/20

30

1 GI Kenten

150/20
150/20

60
60
120

20 GUMAWANG

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

30
20
50

19 BETUNG

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

Uprate 20->60
49,60
40
65%

166

54,85
72%

56,37
74%

61,55
48%

24,79
49%

27,63
54%

21,91
43%

20,22
40%

28,32
56%

30,90
61%

34,72
68%

38,27
50%

Relokasi 30 MVA ex Baturaja
30,90
60
34,72
40%
45%

28,32
111%

3 JAKABARING / KEDUKAN EXT 150/20

60

69,59
55%

74,35
58%

67,72
53%

73,26
57%

79,74
63%

23,72
47%

25,54
50%

28,19
55%

30,84
60%

34,01
44%

42,17
55%

39,80
52%

42,37
55%

44,89
59%

47,79
62%

50,62
66%

38,27
50%

42,17
55%

34,22
45%

33,04
43%

33,95
44%

35,56
46%

37,11
49%

46,27
45%

52,42
51%

59,39
58%

64,02
63%

70,07
69%

76,31
50%

83,52
55%

90,96
59%

12,59
25%

13,85
27%

15,23
30%

16,75
33%

18,43
36%

20,27
40%

22,30
44%

24,53
48%

12,69
50%

13,81
54%

15,01
59%

16,32
64%

17,63
69%

19,04
37%

18,38
36%

19,66
39%

21,04
41%

22,51
44%

24,09
47%

25,77
51%

27,58
54%

16,54
65%

17,36
34%

18,23
36%

19,14
38%

20,10
39%

10,52
41%

11,26
44%

12,04
47%

12,89
51%

13,79
54%

13,05
51%

13,97
55%

14,94
59%

15,99
63%

30

60

86,19
68%

30

37,19
49%

60
4 KAYU AGUNG

150/20

30

5 TANJUNG API-API

150/20
150/20
Total

30
30
60
0%

6 SUNGAI LILIN

150/20

30

7 MUARA DUA

150/20

30

8 MUARA RUPIT

150/20

30

16,05
31%

17,17
34%

15,00
59%

dari GI Betung

15,75
62%
dari GI Baturaja
9,83
39%

30

30

20,56
40%

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
3)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

9 SEKAYU

150/20

30

10 TEBING TINGGI

150/20

30

11 GIS Kota I

150/20

60
60
120

12 Martapura

150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

150/20

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
10,5
41%
12,7
50%

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
11,2
44%
13,5
53%

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,0
47%
14,3
56%
0,0%

-

167

MVA

1.082

TOTAL PEAK GI

MW

694,23

85

745,91

1.532

Persentase pembebanan
PEAK SISTEM INT. SUMSEL
Diversity Factor

%
MW

75,48
627,00
1,11

57,28
697,15
1,07

450

1.907
818,47
50,49
767,43
1,07

375

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
13,7
54%

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
14,7 58%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
15,7
30
31%

15,1
59%
55,9
54,8%

16,1
63%
60,8
59,6%

17,0
67%
66,5
65,2%

18,0
35%
72,4
47,3%

14,7
49%
14,0
55%
2.447 240

15,6
52%
15,9
62%
2.642 195

16,6
55%
17,5
69%
2.702

17,6
59%
19,1
30
38%
2.942 240

2.147

904,08

1008,61

1071,46

1144,86

1228,64

1325,28

1422,62

50,96
843,40
1,07

55,27
930,54
1,08

57,12
998
1,07

55
1.070
1,07

55
1.147
1,07

58
1.238
1,07

57
1.335
1,07

-

30

Total Kap. Terpasang GI

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,8
50%

masuk di 2016
13,8
46%
10,0
39%
60
2.207
60

30
-

13 Pendopo

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
9,8
38%

2.087

180

60

30
60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
4)
No.

Kapasitas
Trafo MVA

Gardu Induk

MVA
1 SUKAMERINDU

2 PEKALONGAN

168

3 TES

70/20
70/20
70/20

15
30
30

Total

75

70/20
70/20
150/20
Total

5
10
30
15

70/20

5
15

150/20

30

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

74,87
98%

28,81
38%

19,95
,
78%

23,27
,
91%

24,40
,
48%

4,12
32%

4,33
34%

3,92
31%

-

150/20

3 Sukamerindu 2 / Pulau Baai

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20

30

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

33,39
44%

24,65
32%

26,09
34%

29,69
39%

31,42
41%

33,82
44%

36,40
48%

27,93
,
55%

28,69
,
56%

29,17
,
57%

32,45
,
64%

32,99
,
65%

34,24
,
67%

35,54
,
70%

4,54
36%

4,77
37%

5,01
39%

5,26
41%

5,52
43%

5,80
45%

6,09
48%

21,52
42%

22,97
45%

24,52
48%

17,56
34%

18,67
37%

19,85
39%

21,12
41%

14,01
55%

14,71
58%

15,45
61%

81,61
53%

87,34
57%

93,49
61%

13,60
53%

14,56
57%

15,58
61%

9,29
36%

10,00
39%

10,77
42%

0%

18,90
74%

20,17
40%

150/20

30

0%

0%

0%

0%

12,10
47%

12,71
50%

13,35
52%

54,24
53%

61,66
60%

65,51
64%

69,20
68%

77,26
50%

0%

0%

10,92
43%

11,53
45%

12,88
50%

30

0%

5 GI BinTuhan

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

mundur ke 2012

2 Muko-Muko
Ditarik dari argamakmur

g
4 GI ArgaMakmur

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

71,10
93%

USULAN GI BARU 150/20 KV
1 MANNA / MASSAT

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

60

GI Bin Tuhan Masuk
8,62
34%

30

Total Kap. Terpasang GI
Total Kap.Terpasang Pembangkit

MVA
MW

120
-

TOTAL PEAK GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM BENGKULU
Diversity Factor

MW
%
MW

94,97
94
97
93,11
85,92
1,11

-

150
121,16
121
16
95,03
108,67
1,11

30

330
131,94
131
94
47,04
117,18
1,13

180

330
149,04
149
04
53,14
132,61
1,12

-

360
169,63
169
63
55,43
152,87
1,11

30

360
178,22
178
22
58,24
161,16
1,11

-

450
188,45
188
45
49,27
170,91
1,10

90

450
197,83
197
83
51,72
180,04
1,10

-

450
210,32
210
32
54,99
191,35
1,10

-

450
223,67
223
67
58,48
203,05
1,10

-

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
5))
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

1 JAMBI (AUR DURI)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

Total

30
30
30
60

150/20
150/20
Total

60
60
120

3 MUARA BUNGO

150/20

30
30
60

45,75
90%

4 BANGKO

150/20

30

27,22
107%

UAI P3BS
30,48
60
40%

5 GI. MUARA BULIAN

150/20

30

19,41
76%

UAI P3BS
22,87
60
30%

USULAN GI BARU 150/20 KV
1 GI SABAK

150/20

30

2 PAYO SELINCAH

150/20
150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

169

3 GI KUALA TUNGKAL

150/20

150/20

30

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

45,67
90%

UAI P3BS
51,74
60
51%

46,92
46%

54,10
53%

58,17
57%

62,84
62%

67,51
66%

76,54
75%

UAI P3BS
86,57
60
57%

95,78
63%

104,66
68%

111,85
73%

120,17
79%

128,42
63%

55,96
55%

58,75
58%

62,04
61%

65,12
64%

69,15
45%

27,56
36%

29,10
38%

30,95
40%

32,68
43%

34,99
46%

37,46
37%

27,88
36%

29,21
38%

30,76
40%

32,22
42%

34,10
45%

36,10
47%

11,33
44%

11,65
46%

12,04
47%

12,38
49%

12,86
50%

13,36
26%

13,88
54%

14,21
56%

14,47
57%

14,89
58%

0

0

0

15,31
60 03
60,03

51,22
100%

0%

2 GI SAROLANGUN

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

49,25
48%

0%

33,29
44%

24,82
32%
dimundur ke 2013
10,28
40%

0,00
0%

0%

0%

0

0

0

660

-

660

-

77,04
50%

30

37,81
49%
30

13,74
27%

-

15,32
60%

15,60
31%

30

15,90
62 36
62,36

16,52
64 78
64,78
1.020

720

870

930

260,3

295,1

312,6

333,0

352,8

393,3

420,9

452,1

%

84,15
194,29
1,10

52,91
220,76
1,10

48,62
236,58
1,10

52,61
269,67
1,09

55,72
285,45
1,10

59,4
304
1,10

57,65
322,34
1,09

53,18
359,50
1,09

53,24
383,51
1,10

52,14
413,90
1,09

3.167
1.490,8
1
490 8
1.368,9
1,09

3.227
1.582,7
1
582 7
1.462,6
1,08

3.617
1.686,1
1
686 1
1.563,3
1,08

3.962
1.820
1
820
1.687
1,08

4.082
1.956
1
956
1.813
1,08

-

60

39,55
39%

242,9

3.077
1.348,2
1
348 2
1.245,7
1,08

30

73,42
48%

300

2.867
1.210,7
1
210 7
1.121,2
1,08

660

166,50
65%

214,6

2.222
1.109,9
1
109 9
1.026,6
1,08

90

149,80
73%

MW

1.502
1.003,8
1
003 8
907,2
1,11

630

60

85,33
56%

MVA

MVA
MW
MW

240

0

138,70
68%

79,48
52%

TOTAL PEAK GI

PLN WS2JB
Kapasitas terpasang GI
PEAK GI WS2JB
PEAK SISTEM S2JB
DIVERSITY FACTOR

540

dimundur ke 2014
13,63
53%

60

60

Total Kap terpasang GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM JAMBI
Diversity Factor

-

60

73,27
48%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

4.412
2.098,4
2
098 4
1.952
1,07

Capacity Balance GI
Lampung
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

1

TARAHAN
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

2

TELUK BETUNG
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

3

NATAR
Terpasang
B b P
Beban
Puncak
k
Pembebanan Trafo

170

4

SUTAMI
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

5

KALIANDA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

6

GI TEGINENENG

Peak

2014
Add

Peak

2015
Add

Peak

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(2x30)

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

35,51

41,88

43,30

41,04

41,37

41,09

40,41

39,27

37,65

35,43

%

69,6%

82,1%

84,91%

80,5%

81,1%

80,6%

79,2%

77,0%

73,8%

69,5%

150/20
MW

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(1x60)

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

(1x60)

%
150/20
MW

72,91

86,18

86,40

89,32

77,38

81,37

67,07

70,26

73,56

76,86

71,5%

84,5%

84,7%

87,6%

75,9%

79,8%

65,8%

68,9%

72,1%

75,4%

60

60

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(2x30)

51,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

40 78
40,78

49 06
49,06

%

80,0%

48,1%

150/20
MW

60

60

60

60

52 87
52,87

56 86
56,86

49 79
49,79

39 91
39,91

39 74
39,74

40 87
40,87

42 26
42,26

43 74
43,74

51,8%

55,7%

48,8%

39,1%

39,0%

40,1%

41,4%

42,9%

60

60

60

90

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

76,5

MW

28,71

34,06

36,53

39,10

41,49

43,66

%

56,3%

66,8%

71,6%

76,7%

81,4%

57,1%

150/20
MW

(2x30)

90
30

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

45,86

48,08

50,36

52,65

59,9%

62,8%

65,8%

68,8%

30

30

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

22 19
22,19

26 67
26,67

%

87,0%

52,3%
70

28 73
28,73

30 89
30,89

22 15
22,15

23 38
23,38

29 09
29,09

30 57
30,57

32 09
32,09

33 61
33,61

56,3%

60,6%

43,4%

45,8%

57,0%

59,9%

62,9%

65,9%

70

110

150

150

150

(2x20)

59,5

59,5

59,5

93,5

93,5

93,5

93,5

127,5

127,5

127,5

(1x30)

45,49

54,79

59,08

63,56

40

67,71

71,49

75,31

79,16

40

83,13

87,12

76,5%

92,1%

99,3%

68,0%

*2)

72,4%

76,5%

80,5%

62,1%

*2)

65,2%

68,3%

GI ADIJAYA

70

30

MW
%

70

110

110

110

Total

30

30

60

60

60

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

28,16

34,37

%

110,4%

67,4%

GI MENGGALA

Total

50

50

30

50

37,23

40,21

42,98

73,0%

78,8%

56,2%

50

50

50

30

45,50

48,05

50,62

53,27

55,92

59,5%

62,8%

66,2%

69,6%

73,1%

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

42,5

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

37,89

28,49

31,50

34,66

37,58

39,88

40

42,54

45,23

48,00

50,78

89,2%

67,0%

74,1%

81,5%

88,4%

52,1%

*2)

55,6%

59,1%

62,7%

66,4%

GI SRIBAWONO

%
150/20

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

120

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

102,0

Beban Puncak

MW

(1x30)

BUKIT KEMUNING

%

33,13

41,30

45,07

40

49,00

49,66

52,80

55,96

59,15

62,45

65,75

30

77,9%

97,2%

58,9%

*2)

64,1%

64,9%

69,0%

73,2%

77,3%

81,6%

64,5%

*3)

Total

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

76,5

Beban Puncak

MW

32,73

40,65

%

128,3%

53,1%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

MW

Pembebanan Trafo
10

2013
Add

Total

Pembebanan Trafo
9

Peak

Terpasang

Pembebanan Trafo
8

2012
Add

Beban Puncak
Pembebanan Trafo
7

150/20
MW

Peak

30

90

90
60

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

48,86

40,98

43,99

46,26

49,00

51,76

54,62

57,48

63,9%

53,6%

57,5%

60,5%

64,1%

67,7%

71,4%

75,1%

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
1)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

11

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

80

120

120

120

120

120

120

180

68,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

153,0

Beban Puncak

MW

51,95

40

68,20

71,13

73,61

40

80,14

69,09

73,93

78,81

83,85

88,90

%

76,4%

*2)

100,3%

104,6%

72,2%

*2)

78,6%

67,7%

72,5%

77,3%

82,2%

58,1%

Total

50

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

44,92

44,95

40

48,25

41,01

38,67

40,72

42,79

44,88

47,04

49,20

105,7%

58,8%

*2)

63,1%

53,6%

50,6%

53,2%

55,9%

58,7%

61,5%

64,3%

PAGELARAN

GI METRO

%

50

90

90

90

90

90

90

90

90

90

Total

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban P
Puncak
ncak

MW

(1 20)
(1x20)

171

GI NEW TARAHAN

GI SUKARAME

%
150/20
MW

30

28 81
28,81

32 07
32,07

33 56
33,56

40

35 13
35,13

36 58
36,58

37 90
37,90

39 23
39,23

40 58
40,58

41 97
41,97

43 36
43,36

67,8%

75,4%

43,9%

*2)

45,9%

47,8%

49,5%

51,3%

53,0%

54,9%

56,7%

30

60

25,5

51,0

MW

19,73

23,39

%

77,4%

45,9%

(1x30)

60
30

60

120

51,0

51,0

102,0

25,63

36,67

42,49

50,2%

71,9%

41,7%

60

120

120

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

47,70

53,07

58,59

120

64,37

120

70,29

120

46,8%

52,0%

57,4%

63,1%

68,9%

150/20

30

30

30

60

60

60

60

60

60

120

120

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

102,0

102,0

Beban Puncak

MW

21 19
21,19

25 14
25,14

33 82
33,82

40 39
40,39

44 16
44,16

43 53
43,53

34 51
34,51

38 20
38,20

42 36
42,36

%

83,1%

98,6%

66,3%

79,2%

86,6%

85,4%

67,7%

74,9%

41,5%

GI BLAMBANGAN UMPU

30

MW

(1x30)

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

6,74

8,37

9,12

9,91

10,63

11,30

11,97

12,64

13,34

14,04

%

26,4%

32,8%

35,8%

38,9%

41,7%

44,3%

46,9%

49,6%

52,3%

55,0%

GI LIWA

30

30

30

30

60

60

60

60

60

60

60

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

,
19,17

23,47
,

25,45
,

27,53
,

%

75,2%

92,0%

99,8%

54,0%

150/20
MW

30

30

30

29,45
,

31,20
,

32,96
,

34,74
,

36,58
,

38,43
,

57,7%

61,2%

64,6%

68,1%

71,7%

75,3%

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

10,69

11,36

11,96

12,57

13,18

13,81

14,45

%

41,9%

44,5%

46,9%

49,3%

51,7%

54,2%

56,7%

150/20

30

30

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

18,29

19,43

20,58

21,74

11,82

12,44

71,7%

76,2%

80,7%

85,2%

46,4%

48,8%

MW

Beban Puncak

MW

17,03

%

66,8%

GI ULU BELU

30

30

30

Terpasang
Pembebanan Trafo

30

25,5

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

30

30

MW

Terpasang

30

25,5

Terpasang

Beban Puncak

30

46 99
46,99
46,1%

150/20

GI KOTA AGUNG

30

60

Terpasang

150/20

30

30

Beban Puncak

GI SEPUTIH BANYAK

150/20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

8,49

9,11

9,76

10,36

10,91

11,47

12,03

12,61

13,19

%

49,9%

53,6%

57,4%

61,0%

64,2%

67,5%

70,8%

74,2%

77,6%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

80

Pembebanan Trafo

20

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

19

2015
Add

80

Pembebanan Trafo

18

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

17

2014
Add

40

Terpasang

16

Peak

(2x20)

Beban Puncak

15

2013
Add

MW

Pembebanan Trafo
14

Peak

Total

Pembebanan Trafo
13

2012
Add

Terpasang

KOTABUMI

Pembebanan Trafo
12

Peak

60

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
2)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

21

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

2 x 30

60

60

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

23,30

24,55

25,82

27,09

28,41

29,73

%

45,7%

48,1%

50,6%

53,1%

55,7%

58,3%

GI TELUK RATAI

150/20

60

30

30

30

30

30

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

Beban Puncak

MW

12,91

13,58

14,25

14,94

15,64

16,35

%

50,6%

53,2%

55,9%

58,6%

61,3%

64,1%

150/20

GI KETAPANG

30

30

30

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

13,72

15,95

18,04

20,11

21,98

53,8%

62,5%

70,8%

78,9%

43,1%

30

30

30

30

60

60
51,0

172

GI MESUJI

%
150/20

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

16,84

18,04

19,24

20,46

21,71

%

66,1%

70,7%

75,5%

80,2%

42,6%

GI JATI AGUNG

150/20

51,0
30

23,05
45,2%

30

22,97
45,0%

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

17,11

18,80

20,63

22,31

%

67,1%

73,7%

80,9%

43,7%

GI LANGKAPURA

150/20

30

30

23,90
46,9%

60

60

60

60

Terpasang

MW

51,0

51,0

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

35,69

37,44

39,25

41,06

%

70,0%

73,4%

77,0%

80,5%

30

30

60

GI PAKUAN RATU

150/20

60

60

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

17,82

19,03

20,26

21,52

69,9%

74,6%

79,4%

42,2%

GI BENGKUNAT
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

%
150/20
MW

30

60
51,0
30

22,79
44,7%

30

30

25,5

25,5

MW

11,12

11,70

%

43,6%

45,9%

70/20
MW

90

90
76,5

3 x 30

90

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

MW

55,95

56,79

57,67

58,48

52,00

52,00

52,00

52,00

52,00

%

73,1%

74,2%

75,4%

76,4%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

60

60

60

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

7,22

7,97

8,73

9,51

10,29

%

14,2%

15,6%

17,1%

18,6%

20,2%
1.204

150/20
MW

60

60

1x60

60

PEAK GI

MW

570

727

782

845

921

975

1.037

1.092

1.149

PEAK SYSTEM

MW

569

693

749

809

864

914

965

1.016

1.068

1.121

1,08

1,07

1,07

DIVERSITY FACTOR

Add

Load
(MW)

60

Terpasang

28

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
28

2015
Add

60

Pembebanan Trafo
27

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
26

2014
Add

60

Pembebanan Trafo
25

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
24

2013
Add

51,0

Pembebanan Trafo
23

Peak

MW

Pembebanan Trafo
22

2012
Add

Terpasang

GI GEDONG TATAAN

150/20

Peak

1,00

1,05

1,04

1,04

1,07

1,07

1,07

LAM
MPIRAN A1.6

RENCAN
NA PENGE
EMBANGA
AN PENY
YALURAN
N
SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATRA

173

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Sumatra
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

174

500 kV AC

-

-

-

-

-

-

-

150

-

-

150

500 kV DC

-

-

-

-

-

800

-

-

-

-

800

275 kV

-

160

1,992

774

1,532

110

-

130

-

-

4,698

250 kV DC

-

-

-

-

-

462

-

-

-

-

462

582

1,455

3,784

2,039

1,486

531

590

387

382

440

11,676

-

310

-

240

-

-

-

-

-

-

550

582

1,925

5,776

3,053

3,018

1,903

590

667

382

440

18,336

150 kV
70 kV
TOTAL

(MVA)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500/275 kV

-

-

-

-

-

1,000

-

2,000

-

500 kV DC

-

-

-

-

-

3,000

-

-

-

-

3,000

275/150 kV

1,000

-

4,500

2,000

1,250

-

500

500

-

250

10,000

250 kV DC

-

-

-

-

-

600

-

-

-

-

600

150/20 kV

900

2,600

1,980

1,140

810

660

780

780

510

690

10,850

70/20 kV

30

260

30

60

-

30

-

30

30

-

470

1,930

2,860

6,510

3,200

2,060

5,290

1,280

3,310

540

940

27,920

TOTAL

3,000

Pengembangan Penyaluran Sumatra

175

No.

Propinsi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu

Dari
Dari 
Jantho
Sigli
Meulaboh
Panton Labu
Bireun
Sidikalang
Brastagi/Berastagi
PLTU Meulaboh
Blang Pidie
Ulee Kareng
Samalanga
Krueng Raya
Takengon
Cot Trueng
PLTA Peusangan‐2
PLTA Peusangan‐1
PLTP Seulawah
Takengon
Banda Aceh
Air Anyir
Air Anyir
Suge
Dukong
Pangkal Pinang
Pangkal Pinang
Kelapa
Koba
Air Anyir/Sungai Liat
Air Anyir/Sungai Liat
Pagar Alam
Pekalongan

Ke
Ke 
Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh)
PLTU Meulaboh
PLTU Meulaboh
Incomer (Idi ‐ Lhokseumawe)
g
Takengon
Sabulussalam
Kutacane
Blang Pidie
Tapak Tuan
Banda Aceh
Incomer (Bireun Sigli)
Incomer (Bireun ‐ Sigli)
Ulee Kareng
Blang Kjeren
Incomer (Bireun ‐ Lhokseumawe)
Takengon
PLTA Peusangan‐2
2 Pi Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh)
PLTA Peusangan‐4
Lam Pisang
Pangkal Pinang
Sungai Liat
Dukong
Manggar
Kelapa
Koba
Mentok
Toboali
PLTU Bangka Baru III
PLTU Bangka Baru III
Manna
Pulo Baai

Tegangan
Tegangan 
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor
Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
,
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
cct 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
4 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk

kms
kms 

Biaya
(M USD)

COD

1
333
60
2
126
111.2
290
190
130
40
4
60
174
6
22
14
32
20
30
44
112
50
140
120
120
140
120
100
96
90

0.06
74.95
3.32
0.11
9.62
6.16
16.07
10.53
7.20
9.00
0 22
0.22
4.58
9.64
0.33
1.68
1.07
3.55
1.11
2.29
2.44
6.20
2.77
7.76
6.65
6.65
7.76
6.65
5.54
5.32
6.87

2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2011
2011
2012
2012
2014
2014
2016
2016
2018
2012
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 1)

176

No.

Propinsi

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60

Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Dari 
PLTA Simpang Aur 1
PLTA Simpang Aur 1
Pekalongan
Pulau Baai
Kambang
Manna
Muko‐muko/Bantal/Ipoh
PLTP Kepahiyang
Bangko
PLTA Merangin
PLTG CNG Sei Gelam
PLTG CNG Sei Gelam
Sabak
PLTG CNG Sengeti
Muara Bulian
PLTP Sungai Penuh
Sabak
Tanjung Kasam
Tanjung Kasam
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Sri Bintan
Air Raja
Bukit Kemuning (uprate)
PLTU Tarahan (FTP1)
Seputih Banyak
Ulubelu
Menggala
Sutami (uprate)
Baturaja (uprate)

Ke 
Incomer 1 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai)
PLTA Simpang Aur 2
PLTP Hululais
Arga Makmur
Muko‐muko/Bantal/Ipoh
Bintuhan
Arga Makmur
Incomer 2 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai)
PLTA Merangin
Sungai Penuh
Aur Duri
Aur Duri
Inc 1 Phi ( Payo Selincah ‐ Aur Duri )
Aur Duri
Sarolangun
Sungai Penuh
Kuala Tungkal
Tanjung Sauh
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Sri Bintan
Air Raja
Kijang
Kotabumi (uprate)
Incomer 2 Phi (New Tarahan ‐ Kalianda)
Dipasena
Incomer 1 Phi (Batutegi ‐ Pagelaran)
Seputih Banyak
Natar (uprate)
Bukit Kemuning (uprate)

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
4 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 340 mm2  
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 3 x 300 mm2
cct 3 x 300 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 3 x 300 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, ACCC 310 mm2

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

20
12
120
180
220
140
360
80
136
110
60
121.6
26
130
84
108.8
6
10
12
60
60
70
40
67.6
1
120
40
120
60.4
96

1.53
0.66
9.16
13.74
16.79
7.76
27.48
6.11
30.61
24.76
3.32
3.64
1.44
7.20
4.65
6.03
2 42
2.42
1.11
4.84
3.32
3.32
3.88
2.22
9.04
0.23
9.16
3.05
27.01
8.08
12.84

2015
2015
2015
2015
2015
2017
2020
2020
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2015
2018
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2011
2011
2012
2012
2013
2013
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 2)

177

No.

Propinsi

61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Dari 
Pagelaran
Bukit Kemuning
PLTP Ulubelu #3,4
Pagelaran
Gedon Tataan
Kalianda
Gumawang
Mesuji
PLTA Semangka
Natar
Pakuan Ratu
Pakuan Ratu
Langkapura
Kalianda
Besai
Liwa
Teluk Ratai
PLTG Duri
PLTG Duri
Teluk Kuantan
Bangkinang
Pasir Putih
Tenayan / PLTU Riau
Dumai
Dumai
Pasir Putih
PLTU Sewa Dumai
Duri (up rate)
Garuda Sakti (up rate)
Rengat
New Garuda Sakti
Tenayan / PLTU Riau

Ke 
Kota Agung
Liwa
Ulubelu
Gedong Tataan
Teluk Ratai
Ketapang
Mesuji
Dipasena
Kota Agung
Jatiagung
Inc 1 Phi (Menggala ‐ Gumawang)
Inc 1 Phi (Menggala 
Gumawang)
Inc 2 Phi (Natar ‐ Teluk Betung)
PLTP Rajabasa
PLTP Suoh sekincau
Bengkunat
PLTP Wai Ratai
Incomer 2 Phi (G Sakti Duri)
Incomer 2 Phi (G.Sakti ‐ Duri)
Rengat
Pasir Pangarayan
Garuda Sakti
Pasir Putih
KID Dumai
Bagan Siapi api
Pangkalan Kerinci
Dumai
Dumai (up rate)
Duri (up rate)
Pangkalan Kerinci
Incomer ( G.Sakti ‐ Duri)
Perawang

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 Hawk
4 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

80
80
20
60
60
90
160
152
60
16
1
2
40
38
120
40
22
194
220
55
35
56
228
134
14
118
230
220
12
50

4.43
4.43
1.11
4.58
3.32
20.26
12.21
11.60
3.32
35.52
0.23
0.11
3.05
2.11
6.65
2.22
1 68
1.68
14.81
12.19
12.38
7.88
3.10
12.63
10.23
1.07
15.79
30.77
16.79
1.61
2.77

2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2019
2011
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 3)

178

No.

Propinsi

91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel

Dari 
Teluk Lembu
Tenayan / PLTU Riau
Rengat
Pasir Putih
Kandis
Bangkinang
Indarung
Bungus
Kiliranjao
Maninjau
Padang Luar
Padang Luar
Singkarak
PLTU Sumbar Pessel
Kiliranjao
PIP/S Haru/Pauh Limo
Sungai Rumbai
Simpang Empat
Simpang Empat
Solok
Payakumbuh
PLTU Simpang Belimbing
Lahat
PLTU Simpang Belimbing
Tanjung Api‐Api
Kenten 
Betung
Bukit Asam (uprate)
Jakabaring
Gandus
Mariana
Kayu Agung

Ke 
GIS Kota Pekan Baru
Siak Sri Indra Pura
Tembilahan
Teluk Lembu
Incomer ( New G.Sakti ‐ Duri)
Lipat Kain
Bungus
Kambang
Teluk Kuantan
Padang Luar
Payakumbuh
Batusangkar
2 pi Incomer (Bungus‐Kambang)
Sungai Rumbai
GI/GIS Kota Padang
PLTP Muara Labuh
Masang 2
Masang‐2
PLTP Gunung Talang
PLTP Bonjol
Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam)
Pagar Alam
Lahat
Incomer 1 Pi (T. Kelapa‐Borang)/Kenten 
Inc 2 Phi ( Talang Kelapa ‐ Borang )
Sekayu
Baturaja (uprate)
Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Mariana)
Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Talang Kelapa)
Kayu Agung
Gumawang

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
4 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
cct 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 2nd cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

14
100
120
40
10
70
35
180
52
42
32
25
20
70
16
160
30
20
104
120
94.6
120
40
1
70
78
1
20
60
90

31.08
5.54
6.65
3.05
2.68
3.88
2.67
13.74
1.69
1.36
1.04
0.81
0.76
5.34
0.89
12.21
1 66
1.66
1.11
7.94
10.86
5.24
10.86
3.62
0.09
3.88
10.44
0.09
44.40
13.50
20.26

2014
2014
2014
2015
2015
2015
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2016
2017
2017
2019
2019
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 4)

179

No.

Propinsi

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150

Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut

Dari 
Sungai Lilin
Betung
Lubuk Linggau
Sumsel‐11, MT
Lahat
Muara Dua
Lahat
Gumawang
Sarolangun
PLTP Rantau Dedap
Muara Dua
Muara Dua
Galang
Galang
Rantau prapat
Lamhotma
Dolok Sanggul/Parlilitan
Tanjung Morawa
Tanjung Morawa
Padang Sidempuan
Sei Rotan (uprate)
Galang
Sidikalang
Tele
Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2)
PLTU Sewa Sumbagut
Tanjung Pura
PLTA Wampu
Teluk Dalam
PLTU Nias
Mabar
GIS Listrik

Ke 
Betung
Talang Kelapa
Tebing Tinggi
Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam)
PLTU Banjar Sari
Baturaja
PLTU Keban Agung
Martapura
Muara Rupit
PLTP Lumut Balai
PLTP Danau Ranau
PLTP Danau Ranau
Namurambe
Tanjung Morawa
Labuhan Bilik
Belawan
Incomer 1 Phi (Tele‐Tarutung)
Kuala Namu
Kuala Namu
Panyabungan
Tebing Tinggi (uprate)
Negeri Dolok
Salak
Pangururan
Pangkalan Brandan
Tebing Tinggi
Incomer (P.Brandan‐Binjai)
Brastagi
Gunung Sitoli
Gunung Sitoli
Glugur
KIM

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
1 cct, CU 1000 mm2
1 cct, CU 1000 mm2

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

120
55.2
150
120
40
92
70
120
80
40
90
80
20
130
6.2
76
34
140
108
66
60
26
22
30
30
80
220
20
10
10

6.65
8.43
8.31
10.86
3.62
7.02
15.76
6.65
4.43
3.05
6.87
18.01
4.50
7.20
0.28
4.21
2 60
2.60
7.76
14.45
3.66
3.32
1.44
4.95
2.29
1.66
4.43
12.19
1.11
22.20
22.20

2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2016
2017
2018
2019
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2015
2015

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 5)

180

No.

Propinsi

151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184

Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumbar
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Riau
Sumbar
Sumsel
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
NAD
Riau
Jambi
Sumsel
Riau
NAD
Riau
Riau
Riau
Riau
J bi
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Lampung

Dari 
Simangkok
Panyabungan
Porsea
Tarutung
PLTP Sipoholon Ria‐Ria
Pangkalan Susu
g
Kiliranjao
Simangkok
Galang
PLTP Sarulla (FTP 2)
Padang Sidempuan
Payakumbuh
Padang Sidempuan
Lahat
Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5
Lahat
Muara Enim
Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5
Bayung Lincir/PLTU Sumsel
5
Betung
Sigli
Rengat
Aur Duri
Muara Enim
Rengat
Sigli
Border
Pulau Rupat Utara
P. Rupat Selatan 
Sumatera Landing Point
PLTU J bi
PLTU Jambi
Muara Enim
Muara Enim
Muara Enim
Ketapang

Ke 
PLTA Asahan III(FTP 2)
PLTP Sorik Marapi (FTP 2)
PLTA Hasang
PLTP Simbolon Samosir
2 Pi Incomer (Tarutung‐Porsea)
Binjai
j
Payakumbuh
Galang
Binjai
Simangkok
PLTP Sarulla (FTP 2)
New Garuda Sakti
New Garuda Sakti
Payakumbuh
Lumut Balai
Aur Duri
Muara Enim
Gumawang
Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7
Sungai Lilin/PLTU Sumsel
7
Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7
Lhokseumawe
New Garuda Sakti
Rengat
Betung
Cirenti (PLTU Riau MT)
Cirenti (PLTU Riau MT)
Ulee Kareng
Pulau Rupat
Pulau Rupat Selatan
Sumatra Landing Point
New Garuda Sakti
A D i
Aur Duri
PLTU MT HVDC A
PLTU MT HVDC B
perbatasan Sumsel/Lampung
perbatasan Sumsel/Lampung

Tegangan 

Conductor 

kms 

Biaya
(M USD)

COD

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
500 kV
500 kV
500 kV
500 kV
500 kV DC
500 kV DC

2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
4 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
,
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 Cable MI with IRC
2 cct, 2xCardinal 548 m
2 Cable MI with IRC
2 cct, 2xCardinal 548 m
2 cct, 4 Zebra
t 4Z b
2 cct 4 Zebra
2 cct 4 Zebra
2 cct 4 Falcon
2 cct 4 Falcon

22
46
60
50
8
160
282
318
160
194
138
300
600
50
120
70
290
124
120
322
440
420
350
110
130
52
60
10
340
150
400
100
200
600

1.68
2.55
3.32
2.77
0.44
36.01
63.47
71.57
36.01
43.67
31.06
67.52
135.05
11.25
27.01
15.76
65.27
27 91
27.91
27.01
72.47
143.61
137.08
78.78
24 76
24.76
29.26
51.00
2.60
9.80
14.90
48 96
48.96
133.37
33.35
67.20
201.60

2016
2017
2017
2018
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2016
2018
2016
2016
2016
2016
2018
2016
2016
2016
2016

Pengembangan Gardu Induk Sumatra
No.  Propinsi

181

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

Sigli
Banda Aceh
Meulaboh
PLTU Meulaboh Ext LB
Jantho
Panton Labu
Takengon
Bireun Ext LB
Sabulussalam
Kutacane/Kotacane
Blang Pidie
PLTU Meulaboh Ext LB
Tapak Tuan
Lhokseumawe
Ulee Kareng
Samalanga
Krueng Raya
Banda Aceh Ext LB
Tualang Cut
Blang Kjeren
Langsa
Sigli
Cot Trueng
Takengon
Idi
Banda Aceh
Bireuen
Jantho
Meulaboh
Tualang Cut
Lam Pisang
Krueng Raya Ext LB
Panton labu
Cot Trueng
Samalanga
Tualang Cut
Bireun
Subulussalam
Pangkal Pinang
Sungai Liat

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru

30
60
2x30
2 LB
30
30
60
2 LB
30
30
30
2 LB
30
60
120
30
60
2 LB
30
30
30
60
30
2 LB
30
60
30
30
30
30
120
2 LB
30
30
30
30
30
30
60
30

1.40
2.12
4.03
1.24
2.64
2.64
3 36
3.36
1.24
2.64
2.64
3.88
1.24
2.64
2 12
2.12
4.03
2.64
4.03
1.24
1.40
2.64
1 40
1.40
2.12
2.64
1.24
1.40
2.12
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
4.95
1.24
1.40
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
1.40
4.00
2.62

2011
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2011
2011

Keterangan
Uprating 10 MVA Ex Banda Aceh
Uprating 30 MVA
1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
T/L ke Meulaboh
1x30 MVA 
1x30 MVA 
2x30 MVA
2x30 MVA 
ke Takengon
1x30 MVA 
1x30 MVA 
4 L/B (2 T/L ke Meulaboh dan 2 T/L ke T.Tuan)
T/L ke Blang Pidie
1x30 MVA 
2x60 + 2 LB
1x30 MVA 
2x30 MVA
ke Krueng Raya
1x30 MVA 
Uprating 10 MVA
1x30 MVA 
ke Blang Kjeren
Uprating 30 MVA

2x60
Ke arah Lamp Pisang

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 1)
No.  Propinsi

182

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi

Nama Gardu Induk 
Air Anyir
Dukong
Manggar
Suge
Kelapa
Koba
Sungai Liat
Sungai Liat
Mentok
Toboali
Dukong
Pangkal Pinang
Koba
Manggar
Air Anyir
Air Anyir
Dukong
Manna
Pulau Baai
Pekalongan Ext LB
Pekalongan
Manna
Pekalongan Ext LB
Pekalongan Ext LB
Muko‐muko
Argamakmur
Pulau Baai Ext LB
Pulau Baai
Bintuhan
Manna Ext LB
Muko muko Ext LB
Muko‐muko Ext LB
Payoselincah Ext LB
Sungai Penuh
Bangko Ext LB
Aurduri
Payoselincah
Bangko
Muaro Bulian
Muaro Bulian
Muara Sabak
Muaro Bungo
Sarolangun
Muara Bulian Ext LB
Sungai Penuh

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

150/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension

30
30
20
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
120
2 LB
30
30
2 LB
2 LB
30
30
2 LB
60
30
2 LB
2 LB
2 LB
4 LB
30
2 LB
60
60
60
60
30
60
30
2 LB
30

2.62
2.20
2.38
2.20
2.62
2.62
1 39
1.39
2.62
2.62
1.26
1.39
1.39
1.26
1 39
1.39
1.26
2.64
4.03
1.24
1.40
1.40
1 24
1.24
2.64
3.88
1.24
2.12
2.64
1.24
1 24
1.24
2.49
2.64
1.24
2.12
2.12
2.12
2 12
2.12
2.64
2.12
2.64
1.24
1.40

2011
2012
2012
2012
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2018
2018
2018
2019
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2015
2015
2015
2017
2017
2017
2020
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2014
2014
2014

Keterangan

1x30 MVA 
2x60 MVA
T/L Pulo Baai

T/L Hululais
T/L
Hululais
1x30 MVA 
1x30 MVA 
T/L ke Argamakmur
1x30 MVA 
T/L ke Bin Tuhan
T/L ke Argamakmur
T/L ke Argamakmur
untuk PLTG Payo Selincah & PLTG Sungai Gelam 12MW
1x30 MVA 
T/L ke Sungai penuh

1x30 MVA 
T/L ke GI PLTG Sei Gelam CNG, bay eks IBT 275/150 kV
1x30 MVA 
T/L Ke Sarolangun

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 2)

183

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

PLTP Sungai Penuh Ext LB
Sungai Penuh Ext LB
PLTA Merangin Ext LB
Sarolangun Ext LB
Payoselincah
Kuala Tungkal
Muara Sabak Ext LB
Muara Sabak Ext LB
Aurduri
Muaro Bungo
Bangko
Muara Sabak
Sarolangun
Payoselincah
Air Raja
Air Raja
Sri Bintan 
Kijang
Tanjung Uban
Pulau Ngenang
Tanjung Uban
Seputih banyak
Sribawono Ext LB
Sribawono Ext LB
Menggala  Ext LB
Kotabumi
Ulubelu
Kalianda
Adijaya
Bukit Kemuning
Natar
Pagelaran
New Tarahan
Dipasena
Sukarame
Metro
Sribawono
Kota Agung
Kota Agung
Pagelaran  Ext LB
Liwa
Bukit Kemuning  Ext LB
Tegineneng
Seputih Banyak

Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension

2 LB
2 LB
4 LB
2 LB
60
30
2 LB
2 LB
60
60
30
30
30
60
60
30
60
2x30
10
60
30
2 LB
2 LB
2 LB
60
30
30
30
60
60
60
30
90
30
60
60
30
2 LB
30
2 LB
60
30

1.24
1.24
1.83
1.24
2.12
2.64
1 24
1.24
2.12
2.12
1.40
1.40
1.40
2.12
3 34
3.34
2.62
3.34
3.34
1.90
2.12
3.88
1 24
1.24
1.24
2.12
3.88
1.40
1.40
2.12
2 12
2.12
2.12
1.40
4.72
1.40
2.12
2.12
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
2.12
1.40

2015
2015
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2018
2019
2019
2020
2020
2013
2013
2013
2013
2013
2015
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014

Keterangan
Untuk PLTP Sungai Penuh
T/L ke PLTP Sungai Penuh
untuk PLTP Merangin 2 Pi
T/L Muara Rupit
1x30 MVA 
T/L Kuala Tungkal
T/L
Kuala Tungkal

Up Rate 30 ke 60

1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN

1x30 MVA 
T/L Seputih Banyak
T/L
Seputih Banyak
T/L Seputih Banyak
Uprating 20 MVA
1x20 MVA 

Uprating 20 MVA
1x20 MVA 
Uprating 20 MVA
Uprating 20 MVA
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L Kota Agung
1x30 MVA 
T/L Liwa
Uprating 20 MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 3)

184

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160

Kotabumi
Ketapang
Kalianda  Ext LB
Gedong Tataan
Pagelaran  Ext LB
Mesuji
Gumawang Ext LB
Gumawang  Ext LB
Teluk Ratai
New Tarahan
Adijaya
Dipasena
Mesuji  Ext LB
Sutami
Pakuan Ratu
Pakuan Ratu
Menggala
Jati Agung
Natar Ext LB
Kalianda  Ext LB
Langkapura
Besai  Ext LB
Tegineneng
Mesuji
Bengkunat
Liwa Ext LB
Pakuan Ratu
Jati Agung
Sukarame
Ketapang
Teluk Ratai Ext LB
Kotabumi
Sribawono
Bangkinang
Bagan Batu
Duri
Koto Panjang
Koto Panjang
Garuda Sakti
Teluk Kuantan Ext LB
Teluk Lembu
Dumai
Pasir Putih

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru

60
30
2 LB
60
2 LB
30
2 LB
2 LB
30
60
30
120
2 LB
30
30
60
30
2 LB
2 LB
60
2 LB
60
30
30
2 LB
30
30
60
30
2 LB
60
60
30
30
60
20
80
1 LB
60
60
60

2,12
2,64
1,24
5,28
1,24
2,64
1 24
1,24
2,64
2,12
1,40
5,28
1,24
1,40
2 64
2,64
2,12
2,64
3,11
1,24
4,03
1,24
2 12
2,12
1,40
2,64
1,24
1,40
1,40
2,12
1 40
1,40
1,24
2,12
2,12
1,40
1,40
2,12
2 12
2,12
3,27
0,62
2,12
2,12
6,52

2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2020
2020
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Keterangan
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L Ketapang
2x30 MVA
T/L Gedon Tataan
1x30 MVA 
T/L Mesuji
T/L Mesuji
1x30 MVA 

1x30 MVA 
T/L Mesuji
1x30 MVA
1x30 MVA 
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Jati Agung
T/L PLTP Raja Basa
1x60 MVA
T/L PLTP Suoh Sekincau
Uprating 20 MVA
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Bengkunat

T/L ke PLTP Wai Ratai
Uprating 30 MVA

T/L ke Kiliranjao
Uprating 30 MVA
2x30 MVA + 4 LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 4)

185

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200

Garuda Sakti Ext LB
Pasir Pangaraian
Bangkinang Ext LB
Rengat
Teluk Kuantan Ext LB
KIT Tenayan
KID Dumai
KID Dumai
Dumai Ext LB
Bagan Siapiapi
Dumai Ext LB
Pangkalan Kerinci
New Garuda Sakti
GI/GIS Kota Pekanbaru
Teluk Lembu Ext LB
Teluk Lembu Ext LB
Teluk Lembu Ext LB
Pasir Putih Ext LB
Perawang
Tenayan Ext LB
Tembilahan
Rengat Ext LB
Siak Sri Indra Pura
Siak Sri Indra Pura
Tenayan Ext LB
Kandis
Lipat Kain
Bangkinang Ext LB
Pasir Putih
Bangkinang
Teluk Kuantan
Teluk Kuantan
Duri
KIT Tenayan
Tembilahan
KID Dumai
Bagan Batu
Bungus
Indarung Ext LB
Indarung Ext LB
Kambang
Padang Luar
PIP
Pauh Limo
Simpang Empat

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension

2 LB
30
2 LB
2x30
2 LB
30
30
2 LB
30
2 LB
30
2x60
60
2 LB
2 LB
2 LB
2 LB
30
2 LB
30
2 LB
30
2 LB
30
30
2 LB
120
60
30
60
30
30
30
30
30
2 LB
2 LB
30
60
30
60
30

1.24
2.64
1.24
5.28
1.24
2.64
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
3.88
6.73
5.28
3 11
3.11
1.24
1.24
2.64
1.24
2.64
1.24
2 64
2.64
1.24
2.64
2.64
1.24
4.24
2.12
1 40
1.40
2.12
1.40
1.40
1.40
1.40
3.88
1 24
1.24
2.64
2.12
1.39
2.12
1.40

2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2017
2017
2019
2019
2020
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

Keterangan
T/L ke Pasir Putih
1x30 MVA 
T/L ke Pasir Pangaraian
1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
T/L ke Rengat
GI Pembangkit 1x30 MVA
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L ke KID Dumai
1x30 MVA 
T/L ke Bagan Siapiapi
1x30 MVA 
1x60 MVA didanai APBN, 1x60 MVA didanai APLN

1x60 MVA
T/L ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/L
ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/L ke Pasir Putih
T/L ke Teluk Lembu
1x30 MVA 
T/L ke Perawang
1x30 MVA 
T/L ke Tembilahan
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Siak Sri Indra Pura
1x30 MVA 
1x30 MVA 
T/L ke Lipat Kain
2x60 MVA

On Going
ke Bungus
ke
Bungus
1x30 MVA 
Uprating 20 MVA
Mengganti trafo rusak
Uprating 30 MVA

62 1.12 2.40 0.64 1.62 0.40 1.24 1.28 1.40 10.40 1.24 1.62 0.40 2.09 1.12 2.40 2.24 0 62 0.40 1.62 0.12 0.40 1 40 1.40 1.62 1.40 2.24 2.40 1.12 1 40 1.12 2.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 5) 186 No.62 1.12 1.40 2.12 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2016 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Keterangan Uprating 20 MVA 2nd sirkit ke Teluk Kuantan 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Maninjau&Payakumbuh 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Padang Luar T/L ke arah Singkarak T/L ke arah Batusangkar T/L ke Sungai Rumbai 1x30 MVA  2x60 MVA T/L ke PLTP Muara Labuh T/L ke GI/GIS Kota Padang Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA T/L 2nd Sirkit Pagar Alam T/L 2nd Sirkit Pagar Alam Uprating 15 MVA 2x30 MVA 2x30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA .62 0.40 1.40 1.40 2.12 2.12 1 40 1.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 Padang Panjang Solok Payakumbuh Kiliranjao Ext LB Maninjau Ext LB Padang Luar Ext LB Payakumbuh Ext LB Payakumbuh Ext LB Batusangkar Ext LB Singkarak Ext LB Salak Kiliranjao Ext LB Sungai Rumbai Maninjau Kiliranjao Payakumbuh GI/GIS Kota Padang Sungai Rumbai Ext LB Bungus Kambang Simpang Empat Solok PIP Ext LB Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman PIP GIS Kota Padang Padang Luar Padang Luar Batusangkar Baturaja Lubuk Linggau Lahat Ext LB Pagar Alam Ext LB Bukit Siguntang Tanjung Api‐Api Tanjung Api‐Api Lahat Pagar Alam Gungung Megang Simpang Tiga Prabumulih 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 30 60 30 1 LB 1 LB 2 LB 1 LB 1 LB 1 LB 1 LB 30 2 LB 30 30 30 30 120 2 LB 30 30 60 30 2 LB 30 30 30 60 60 30 30 60 60 1 LB 1 LB 30 60 30 30 60 60 60 1.40 1.27 5 28 5.

03 2.24 1.62 2.12 1.12 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2018 2018 2018 Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Keterangan T/L ke Manna Untuk ST Gunung Megang Uprating 15 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA 2x60 MVA 2x60 MVA 1x30 MVA  T/L Ke Sekayu 1x60 MVA T/L Gumawang T/L Kayu Agung T/L ke Kayu Agung Uprating 15 MVA 1x30 MVA  1x30 MVA  T/L arah Tebing Tinggi Untuk PLTGU Keramasan Untuk PLTP Lumut Balai 1x30 MVA  T/L ke Sungai Lilin 1x30 MVA  T/L ke Muara dua Untuk PLTU Banjar Sari & Untuk PLTU Keban Agung 1x30 MVA  T/L ke Martapura 1x30 MVA 1x30 MVA  .64 1.49 1.12 2.64 1 40 1.24 1.24 2.24 1.64 1.40 4.27 1 27 1.24 4.40 2.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 Baturaja Pagar Alam Ext LB Gunung Megang Ext LB Talang Kelapa Bukit Siguntang Bungaran Bungaran Kenten Gandus Sekayu Betung Ext LB Jakabaring Baturaja Keramasan Kayu Agung Ext LB Gumawang Ext LB Bukit Asam Mariana Ext LB Bukit Siguntang Kayu Agung Gumawang Tebing Tinggi Lubuk Linggau Ext LB Keramasan Ext LB Lahat Ext LB Sungai Lilin Betung Ext LB Lubuk Linggau Lubuk Linggau Muara dua Baturaja Ext LB Lahat Ext LB Mariana Martapura Gumawang Ext LB Muara Rupit Muara Rupit Keramasan Sungai Lilin Kenten Talang Kelapa Bukit Asam 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Baru Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 60 2 LB 1 LB 60 30 30 30 120 120 30 2 LB 60 60 60 2 LB 2 LB 60 2 LB 30 30 30 30 2 LB 2 LB 2 LB 30 2 LB 60 30 2 LB 4 LB 30 30 2 LB 30 60 30 60 60 60 2.27 1.27 4.24 1.24 2 12 2.24 2 64 2.12 1.27 2.03 2.24 2.64 1.12 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 6) 187 No.12 2 12 2.64 2.64 1.24 0.03 2.12 1.40 2.12 2.24 2.12 1.03 4.64 1.

24 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 7) 188 No.24 1.40 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Keterangan Uprating 15 MVA Untuk Double Pi dan T/L PLTP D.Ranau Uprating 30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 30 MVA Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA 2 LB arah Namurambe dan 2 LB arah T.40 2.12 2.12 2.12 2.49 3.66 2 12 2.12 1.40 2.12 0.40 2 12 2.12 2.62 0.  Propinsi Nama Gardu Induk  281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 Pagar Alam Betung Kayu Agung Muara Dua Ext LB Sekayu Tebing Tinggi Gandus Simpang Tiga Rantau Prapat Gunung Para Tanjung Morawa Tele Gunung Tua Binjai Padang Sidempuan Denai Tebing Tinggi Kisaran Pematang Siantar Gunung Tua Sei Rotan Sei Rotan Glugur Rantau Prapat Brastagi Sidikalang Porsea Tarutung Sibolga Perbaungan Namurambe Aek Kanopan  Galang Labuhan Bilik Lamhotma Lamhotma Lamhotma Ext LB Belawan Ext LB Namurambe Ext LB Denai Ext LB Labuhan Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 30 30 2 LB 30 30 60 60 60 30 60 30 30 60 30 60 60 60 60 10 60 60 60 60 30 20 30 60 60 60 30 0 60 30 30 1 LB 1 LB 2 LB 2 LB 30 1.40 2 12 2.15 1.12 1.40 1.12 2.40 0.62 1.12 1.40 1.40 1 40 1.12 2.12 2.Marowa 1x60 MVA Uprating 20 ke 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Ke arah Belawan Ke arah Lamhotma Ke arah Galang Ke arah Galang .40 1.40 1.36 1.12 2.40 1.12 1.12 2.12 2.24 1.12 2.40 2 12 2.40 1.12 2.

24 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 8) 189 No.24 1.24 1.  Propinsi Nama Gardu Induk  321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Tanjung Marowa Ext LB Panyabungan Padang Sidempuan Ext LB Sidikalang Ext LB Brastagi/Berastagi Ext LB Brastagi/Berastagi Ext LB Paya Pasir Salak Sidikalang Ext LB Negeri Dolok Galang Ext LB Pangururan Tele Ext LB Tele Ext LB Rantau Prapat Ext LB Pangkalan Brandan Ext LB Pangkalan Susu Ext LB Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Kota Pinang Kota Pinang KIM Ext LB GIS Listrik ext LB Mabar Ext LB Glugur Ext LB Brastagi Ext LB Simangkok Ext LB Tanjung Pura Tanjung Pura Titi Kuning GIS Listrik Paya Geli Panyabungan Ext LB Tarutung Ext LB Rantauprapat Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Belawan Ext LB Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Baru Baru Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 10 60 2 LB 60 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 60 60 2 LB 60 2 LB 30 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 30 30 30 30 1 LB 1 LB 1 LB 1 LB 2 LB 2 LB 30 60 60 60 2 LB 2 LB 2 TB 2 TB 2 TB 2 TB 2 TB 1.40 2.24 1.24 2.24 1.64 1 24 1.12 2.12 1.24 1 24 1.24 4.24 1.12 2.55 1.20 2.24 2.24 1.03 1.64 2.12 2.24 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 Keterangan 1x10 MVA  2x30 MVA T/L ke Kuala Namu 2x30 MVA T/L Ke Panyabungan ke Sabulussalam ke Kutacane ke Kutacane ke Salak Ke arah Negeri Dolok 1x30 MVA  ke Pangururan ke Pangururan T/L Ke Labuhan Bilik T/L ke PLTU Pangkalan Susu Ke arah Pangkalan Brandan 1x30 MVA  1x30 MVA  1x30 MVA  Ke arah GIS Listrik Ke arah KIM Ke arah Glugur Ke arah Mabar T/L ke PLTA Wampu Ke arah PLTA Asahan III 1x60 MVA Ke PLTP Sorik Merapi Ke PLTP Pusuk Bukit Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 275/150 kV Untuk IBT 275/150 kV .12 1.24 2.24 1 40 1.24 1.55 1.90 4.55 1.24 1.03 1.55 1.24 1 24 1.20 1 40 1.12 1.24 2.40 1.

81 7.28 24.03 17.95 16.77 36.92 21 03 21.08 24.00 21.17 35.13 24.77 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2018 2018 2020 2016 2016 2018 2016 2016 2016 2018 2018 2018 Sumut Sumut Jambi Jambi Riau Sumbar Sumbar Sumsel Sumsel Sumut Sumut Sumut Jambi Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel NAD NAD NAD Riau Riau Sumsel Sumsel Sumsel Sumut Jambi NAD Jambi Sumsel Riau Riau Jambi Lampung Sumsel Sumsel Jambi Riau Riau Keterangan 2x500 MVA 2 x 250 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 1 x 250 MVA 1 x 250 MVA 1 x 250 MVA 2 x 500 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA 2 LB arah Lumut Balai dan 2 LB arah Muara Enim 2x250 MVA 2x250 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x500 MVA Untuk Mengantisipasi PLTU Hululais 1 x 125 MVA 2x250 MVA Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin 2x250 MVA 2x250 MVA HVDC ke Peninsula HVDC ke Peninsula 1x500 MVA 2x500 MVA 2x500 MVA 2x500 MVA Untuk 500kV Aurduri 2x500 MVA 2x500 MVA .47 324 00 324.21 12.68 9.08                 8 12.11 21.31 25.03 25.88 25.45 19.00 54.08 12.08 20 08 20.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 Binjai Pangkalan Susu Bangko Muara Bungo New Garuda Sakti Kiliranjao Payakumbuh Lahat Lubuk Linggau Galang Sarulla Padang Sidempuan Aur Duri Lahat Lumut Balai Betung Gumawang Sigli PLTU Meulaboh Lhokseumawe Rengat Riau Mulut Tambang Muara Enim Bayung Lincir/PLTU Sumsel ‐ 5 Sungai Lilin/PLTU Sumsel ‐ 7 Pangkalan Susu Bangko Ulee Kareng Ulee Kareng Aurduri Lubuk Linggau New Garuda Sakti HVDC Station Converter HVDC Switching Station PLTU Jambi 500 kV Ketapang Switching Station Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Aurduri 500kV New Garuda Sakti 500 kV Rengat 500 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 250 kV DC 250 kV DC 500 kV 500 kV DC 500 kV DC 500 kV DC 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Extension Baru Extension Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru 1000 0 250 250 500 250 250 1000 250 1000 500 500 500 0 500 500 500 250 250 250 250                  ‐ 0 0 0 250 500 500 0 250 600 0 0 0 3000 1000 500 1000 500 31.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 9) 190 No.08 20.32 35.98 20.98 2 97 2.22 25.97 24.08 20.83 9.08 21.03 2.00 21.28 19.50 20.82 1.66 20 17 20.

LAM MPIRAN A1.7 PET TA PENGE EMBANGA AN PENY YALURAN SISTEM INTERKONEKSI SUM MATRA 191 .

Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera 192 Eksisting 70 kV Eksisting 150 kV Eksisting 275 kV (Operasi 150 kV) Rencana 150 kV Rencana 275 kV AC Rencana 250 kV DC Rencana 500 kV AC Rencana 500 kV DC .

Sistem Nangroe Aceh Darussalam (NAD) 193 .

Sistem Sumatera Utara 194 .

Sistem Riau 195 .

Sistem Sumatera Barat 196 .

Sistem Jambi 197 .

Sistem Bengkulu 198 .

Sistem Sumatera Selatan 199 .

Sistem Lampung 200 .

LAM MPIRAN A1.8 ANALISIS ALIRA AN DAYA A SIS STEM INT TERKONEKSI SUMA ATRA 201 .

12 MW 83 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA TAHUN 2011 SUB SISTEM NAD SUB SISTEM BENGKULU LANGSA 85.240.78 MW MBNGO 168.78 MW 1.28 MW MW 568.209.68 568 68 MW 599.77 402.4 MW 160 MW SMKOK 148.2 MW PYBUH SUB SISTEM RIAU KTPJG BBATU KLJAO SUB SISTEM LAMPUNG SUB SISTEM SUMBAR 397 MW 275 kV 150 kV 196 MW 359 MW 458.7 MW 875 MW .158.4 MW LLGAU INALUM LLGAU SUB SISTEM SUMUT BNGKO 0 MW 177 MW SUB SISTEM SUMSEL BTRJA 222.9 MW 211 MW PKLNG 172.4 MW 121 MW 194.8 MW PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 160 MW KTPNG BKMNG & BUMPU 172.3 MW PBDAN 202 SUB SISTEM JAMBI 1.

1 MW 164.9 MW 1049 MW 1273 MW 626 MW 464 MW 199 MW PBDAN 80.5 MW 28.PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 160 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA TAHUN 2012 LLGAU 56 MW 56 MW BNGKO 8.2 MW 64.MW 47.88 MW .8 MW 97.6 MW 47.5 MW SUB SISTEM JAMBI SUB SISTEM SUMUT SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL PYBUH SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL 177.9 MW 188.2 MW 203 KTPNG BTRJA 82.8 MW SUB SISTEM BENGKULU MBNGO 38.4 MW 723 MW 151 MW BKMNG & BUMPU SUB SISTEM LAMPUNG LNGSA 360 MW 525 MW 150 kV 200 MW SUB SISTEM RIAU 275 kV PSUSU KTPJG BBAT TU 858 MW BNJAI 460 MW SUB SISTEM NAD 705 MW 273 MW 373 MW PLTU Pangkalan Susu 1 X 220 MW .5MW SMKOK 160 MW LAHAT 67.8 MW SUB SISTEM BANGKO KLJAO 67.

3 MW W 134 MW SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL GLANG 152 MW W 138.9 MW 156.8 MW W 36 MW LLGAU 156.6 MW KTPJG PSUSU SUB SISTEM LAMPUNG LNGSA 537 MW SUB SISTEM NAD PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 717 3 MW 792 MW 717.3 MW 53.5 MW W 25.6 MW 15.2 MW SUB SISTEM BANGKO KLJAO 174.PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA TAHUN 2013 PLTP SARULLA 160 MW SUB SISTEM JAMBI PYBUH SMKOK 25.6 MW 552 MW 522 MW 966 MW 1400 MW 286 MW PBDAN 160.6 MW W BNGKO 134.6 MW 204 KTPNG BTRJA & MRDUA 199.4 MW W SUB SISTEM BENGKULU MBNGO 134.4 MW 277.3 150 kV 304 MW BKMNG SUB SISTEM RIAU 697 MW 275 kV 304 MW BB BATU 705 MW BNJAI 259 MW 451 MW .8 MW W LAHAT PYBUH SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL 160 MW 129.MW 53.2 MW 792 MW 95.6 MW SUB SISTEM SUMUT 18.8 MW 138.6 MW .9 MW 261.

6 MW 160 MW 100 MW 100 MW .4 MW 17.5 MW 267.8 MW 10 MW 100.MNGLA M 400 MW BKMNG BBATU U 104.9 MW 232.4 MW 205 21.3 MW 430.6 MW 44.2 MW 46.1 MW 34.4 MW 11.8 MW 93 MW GLANG 233.9 MW 293.8 MW 229 MW 69.

720 MW BBATU 266 MW BKMNG MNGLA 300 MW 51.8 MW 361 MW 202.2 2 MW 39.1 MW 47.2 2 MW GLA ANG 206 2.9 MW 83.6 MW 6 MW 14.2 MW 6 MW 199.2 MW 439 MW 280 MW 182.7 MW 73.8 MW 67.9 MW 118.6 MW 156 MW 300 MW 159.9 MW 48.4 MW .7 MW 18.

7 MW 40.3 MW 128.1 MW 240 MW 240 MW 4.4 MW W 55.1 MW 136.9 MW 146.6 MW 317.2 MW 8.6 MW 144.1 MW 6.190 MW 600 MW 402 MW BKMNG MNGLA 540 MW W 65.8 MW 194.7 MW 191.6 MW 160 MW 300 MW 160 MW .3 MW 139.9 MW 284.1 MW W GLANG G 207 38.8 MW W 62.9 MW 160.

6 MW W GLANG 208 30.2 MW 228.4 MW 8 MW 30.3 MW 45.3 MW W 160 MW 290 MW 170 MW .4 MW W MW 127.4 MW 500 MW 178.190 MW 600 MW 458.6 MW 198.2 MW W 64.3 MW 111.7 M 29 MW 38.6 MW 28 MW 445.8 240 MW 240 MW 147.6 M MW 90.4 MW 22 22.5 MW W 178.2 MW 178.9 MW BKMNG MNGLA 1.

6 MW 239 MW 10 MW 294 MW 140 MW 180 MW 160 MW 80 MW .3 MW 60.6 MW 540 MW 654 M MW 275.2 M 400 MW 397.8 MW 125.160 MW 720 MW 540 MW BKMNG MNGLA 55.1 MW 260.3 MW GLAN NG 209 53 MW 240 MW W 200 MW 138.4 MW MW 585.9 M MW 330 MW 211 MW 380 MW 260 MW W 200 MW W 1.3 MW 445 MW 39 93.7 MW W 13.

6 MW 718 MW 443 MW 22.6 MW 299.8 MW W 160 MW 150 MW 160 MW 80 MW .5 MW 500 MW 1126 MW 145 MW W 344 MW 231 MW 718 MW 240 MW W 240 MW W 35 MW 1.5 MW W 194 MW 39.6 MW W 267.9 MW W 11.9 MW 4 GLAN NG 210 26.3 MW W 209 MW 14.1 MW 196.3 MW 420 MW 4 453.200 MW 800 MW W 511.4 MW BKMNG MNGLA 105 MW 361.

7 MW 450 MW 424.7 MW 214.4 MW 42.170 MW W 760 MW 515 MW BKMNG MNGLA 126.7 MW W 261 M MW 64.6 MW 758 MW 445.3 M MW 66.7 MW 470.3 M MW 186.3 MW 59.6 MW W 266.7 MW GLANG 211 40.6 MW W 160 MW 200 MW 160 MW W 160 MW .4 MW 375 MW 52 20 MW 135 5 MW 1151 1 MW 299 MW 758 MW 270 M MW 270 M MW 29.5 5 MW 10.

9 KEBUTUH HAN FISIK K PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SIS STEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 212 .LA AMPIRAN N A1.

005 213 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Juta USD Tahun JTM 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 148.251 Trafo MVA 1.4 Trafo 50.711 4.5 876.5 298.9 36.5 .512 605.7 Pelanggan 39.895 522.0 6 .273 5.206 594.955 53.1 34.590 55.548 5.8 79.470 766 819 836 872 900 941 978 1.0 42.285 4.951 6.0 111.4 37.6 272.399 6.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 6.011 5.509 4.6 8.4 126.403 5.0 06.3 301.1 76.072 9.1 98.6 36.2 39.608 5.356 537.3 .426. 37.091.031 5.694 Pelanggan 1.114.951 493.293 498.9 392.8 145.1 43.8 275.8 106.9 248.3 JTR 100.1 Total 338.3 54.562 4.5 188.7 174.3 1.0 379.7 34.242 619.2 35.982 5.1 39.271 5.8 63.0 38.661 5.0 140.3 104.041 1.4 87.7 3.569 4.291 6.0 419.516 506.010.869 4.2 108.2 36.0 69.618 JTR kms 6.0 41.2 359.1 64.1 32.5 336.8 38.788 5.635 540.3 38.8 88.0 304.3 161.4 123.

6 28.5 4.2 5.598 31.3 6.9 23.418 33.8 567.979 JTR kms 994 1.447 34.578 11.2 53.4 2.8 2.9 65.208 1.1 5. 2.332 362.2 60.4 34.9 2.9 181.5 36.3 298.2 2.2 16.5 5.377 1.290 1.179 34.068 1.469 1.216 1.3 32.2 .2 .1 7.7 45.6 8.7 21.0 69.8 5.298 1.7 .4 23.9 26.193 40.7 7.3 Total 42.3 18.3 14.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Aceh Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1.0 22.1 2.2 17.225 214 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Aceh Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 21.8 .558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.132 1.9 39.478 1.9 57.673 1.000 1.9 6.3 2.4 19.4 30.291 30.4 3.1 51.171 41.6 JTR 13.568 1.1 61. 24. 48.385 1. 15.0 2.786 13.3 73.7 Pelanggan 3.227 39.5 25.5 Trafo 4.369 35.4 2.140 1.061 1.

3 8.6 33.718 1.467 17.8 16.3 16. 49.2 1.538 1.9 15.238 132.4 1.076 2.9 10.6 8.0 44.6 40.376 1.6 .2 8.9 9.7 140.0 8.378 1.266 118.1 7.720 116.092 918 996 1.3 61.7 JTR 12.016 1.587 113.339 1.640 127.004 215 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumut Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 26.160 Pelanggan 125.7 Total 49.2 Trafo 1.011 120.8 2.1 36.078 1.1 Pelanggan 8.6 71.438 1.4 14.4 48.3 8.9 11.414 11.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.0 2.461 1.5 28.3 .4 2.1 8.8 66.3 1.9 0.7 13.197.5 342.1 584.5 1.1 57.7 8.903 2.158 1.0 52. 27.7 29.6 18.1 52.7 14.218 1.1 47.6 29.6 1.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.7 8.8 12.2 83.215 122.7 76.538 1.260 1.957 118.353 102.4 8.805 JTR kms 1. 8.2 2.291 2.

5 3.3 8.8 3.1 .4 6.9 8.6 29.3 3.0 9.3 8.0 3.8 24.0 7.004 369.4 7.7 JTR 6.0 6.9 9.6 8.670 42.5 2.715 35.5 9.9 Trafo 5.6 92.2 9.7 67.633 39.2 7.5 6.4 81.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3.5 27.7 6.0 3.205 34.3 Total 21.4 6.1 27.8 7.1 8.2 3.1 3.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32.9 7.4 8.3 30.075 37.420 36.8 28.534 216 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumbar Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7.286 35.4 3.3 7.203 38.4 273.8 9. 26.1 9.8 .4 .7 9.6 31.2 31.9 10.0 26.323 38.2 10.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.2 Pelanggan 2.5 7.3 .

610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.7 2.9 155.6 13.6 .4 30.8 2.7 13.5 33.4 10.399 60.1 2.3 2.9 5.5 2.476 67.8 13.5 11.1 Trafo 7.3 14.2 14.5 Total 71.4 11. 10.2 11.454 Pelanggan 216.6 377.7 11.649 65.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Riau Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.6 2.626 217 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Riau Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 31.2 3 .1 14.2 37.0 .9 12.408 64.2 JTR 26.2 Pelanggan 6.3 32.0 12.595 JTR kms 1.5 4.7 6.2 10.6 33.7 31.151 62.5 0.700 64.1 4.5 11.5 .3 34.8 4.743 58.3 12.548 63.7 34.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.549 780.5 12.7 14.6 4.8 2.9 2.5 2.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.8 11.2 6. 37.7 130.3 60.003 57.8 2.4 32.

0 8.5 .5 11.9 1.335 13.0 Trafo 1.2 37.5 0.404 218 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kepulauan Riau Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 6.8 44.9 1.8 10.566 16.1 4.6 6.8 2.1 4.1 3.8 0.9 9.0 1. 2.876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2.6 0.2 10.4 9.3 4.0 0.5 10.9 3.9 0.1 Pelanggan 1.8 5.7 4.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.4 3.8 0.9 0.7 0.1 3.7 Total 15.5 3.6 0.0 4.272 13.1 JTR 5.0 0.4 0.6 3.8 0.837 14.7 0.8 8.8 0.164 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.6 4.2 8.287 19.7 97.9 2.8 0.3 4.113 169.487 18.964 17.0 5.1 .9 .700 16.842 15.9 4.

3 2.9 195.0 15.8 13.9 14.7 7.424 33.4 64.433 30.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.8 25.7 5.4 15.567 34.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.4 .4 100.7 1.2 0.7 6.6 1.4 0. 3.4 0.765 33.7 8.3 Total 27. 6.0 7.1 .516 37.4 Pelanggan 4.7 21.9 18.9 0.3 1.6 3.3 11. 0.5 0.0 5.565 31.8 4.5 JTR 9.0 2.3 0.2 8.591 29.868 219 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Jambi Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 13.5 5.1 Trafo 0.589 37.7 10.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Jambi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.725 389.8 3.9 5.4 7.1 5.1 9.8 2.1 10.2 0.8 17.5 27.4 5.2 0.3 0.1 2.3 0.9 24.693 36.8 17.

7 44.0 .7 33.0 6.204 88.0 Total 36. 7.5 68.3 20.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.3 27.9 Trafo 1.9 4.8 14.2 50.3 JTR 11.896 1.372 116.8 6.6 432.3 11.5 16.2 0.2 6.599 73.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.0 12.799 220 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Selatan Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 18.0 131.735 83.9 41.8 0.059 69.5 12.7 .0 31.4 5.1 1.7 5.6 .9 19. 12.427 102.1 2.7 24.1 10.6 0.7 76.6 12. 33.7 38.0 1.2 6.0 23.1 5.306 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.865 76.8 1.997 70.7 6.8 17.4 14.1 1.3 Pelanggan 6.4 6.7 23.031.2 2.5 16.644 116.4 212.9 59.8 9.4 36.

4 11.260 221 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Bengkulu Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Bengkulu Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.262 34.442 11.5 21.3 2.2 0.4 6.2 0.1 9.2 0.2 0.3 JTR 4.1 Total 12.366 24.3 144.6 8.1 0.2 .2 0.6 11.3 15.816 221.4 2.3 0.1 19.0 19.301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40.2 0.115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.5 3.3 18. 9.4 9.182 14.836 17. 0.3 5.3 84.2 4.9 12.3 10.100 16.2 0.1 0.1 0.6 Pelanggan 0.2 4.1 Trafo 0.146 16.3 0.6 6.2 7. 0.3 11.6 9.3 0.0 3.963 19.9 7.5 6.4 0.3 0.2 8.3 0.3 0.147 26.8 3.2 0.4 5.4 55.

1 7.3 31.527 96.4 96.6 19 7 19.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Lampung Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.330.2 184.7 3.6 .7 16.5 13.0 Trafo 28.4 3.230 143.2 7.0 2.1 4.5 39.6 6.2 20.182 148.793 153.9 18.4 37 3.7 19.2 5.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.8 4.9 36.6 5.093 98.9 45.7 3.7 8.1 Pelanggan 4.3 71 7.3 387.2 3.0 Total 49.5 7.1 6.6 13 0 13.6 15.1 70.721 101.3 36.182 1.692 222 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Lampung Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10.0 3.1 7.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.7 10.322 93.0 12.5 33.6 14.8 7.3 29.0 17.0 43 6 43.5 JTR 5.225 155.6 42.0 9.5 7.417 104.7 13.7 37.3 9.

3 1.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.9 1.2 2.6 5.1 17.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Bangka Belitung Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.1 1.2 1.7 0.7 Pelanggan 2.4 0.4 6.2 3.719 10.6 0.1 Total 12.468 11.345 10.226 9.0 25.8 2.6 1.1 0.3 .9 .3 0.2 2.7 0.0 4.7 0.2 0.7 0.8 8.0 4.9 2. 0.3 0.3 4.4 0.4 0.7 Trafo 1.091 11.944 12.924 11.6 1.6 5.8 1.486 9.2 0.6 3.2 4.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.6 0.6 0.766 157.8 4.3 JTR 4.594 223 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Bangka Belitung Juta USD Tahun 2011 0 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 5.624 12.8 .3 .2 1.8 2.0 4.3 1.5 1.5 1.2 0.0 0.0 54.8 0.4 1.

10 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SIS STEM INT TERKONE EKSI SUMATERA 224 .LA AMPIRAN N A1.

601.1 Trafo Unit 2.274 125.240.601.6      2.237.6 1.4 225 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 602.351.1 218 991 7 218.5 406.9 158.867.9 146.4 378 469 5 378.7          2.506.7 231.3 2.344.624.6 1 520 102 5 1.260.758.5 1.223.079.520.038.426 1.7      677.7 309.5 69.531.469.7     1.148.280.3 .962.0 32.746.9 1 531 0 1.2 953.819.8 291.186.991.8 89.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera K b h Fi ik J i Li ik P d R i lS Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 3.207.899.2 3.370.280.401.9 44 4 44.8       61.1        363.994.102.8 3.9 893 240 2 893.424.7     4.4 MVA 139.190.587.0 1 810 2 1.883.601.132.6 590.5 JTR kms 3.727 122.440 Listrik murah Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 89 727 89.887.0       11.657.034.810.1     12.0 3.9         337.515       5.263 758 1.539.4 89.2 3.317.8 - 29 401 0 29.131 8 515 8.

827.7         149.305.933.6 17.0 226 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi NAD (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 30.2        128.5 209.5           795.5 36 497 2 36.0           20.9 151 5 151.325.0 JTR kms 669.2 103 449 2 116.2                 ‐                ‐        362.7        50.330.1 162.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi NAD K b h Fi ik J i Li ik P d P i i NAD Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 411.4 .4 57.003.5 6.4          30.251.086.497.1 16.018 10 018 5.8 Pembangkit Pelanggan Total 141.0 164.1         1.7 32.8 9.707.518 1 620 1.376.476.5 11.227 5.039.847.6 Trafo Unit 266 71 114 108 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 10.620           559.6 50 575 4 50.0 MVA 12.575.625.0 221.2 42.7 6.0 44 4.763.449.553.423.254.0 103.1 16 376 6 16.4 7.0 58 0 58.

169.661.360.9 18 055 1 18.414.1 200.003.179.530           573.1 25.0 JTR kms 201.883.614 3 614 11.246.3 210.1 MVA 4.0        1.5          17.4 23.4          76.8 Pembangkit Pelanggan Total 94.339.978.0 4.317.0 422.6         274.364.2 109.0 440.4 153.055.9           25.297.590 2 530 2.3 8.235.6 6.8 18.746.472.0 86 1 86.1 18.090.2 4.343.322.8 22 297 1 22.7 144 235 4 144.938.9 38.0             697.3 Trafo Unit 157 60 155 201 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 3.4        48.6                 ‐                ‐        430.0 103 883 2 103.0 227 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 37.826.7 20 2.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS U Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 350.7 .042 10.0 110 0 110.3 10.

778.2 .419 11 419 9.953.8        120.5 17.415.896.620           367.3 97.297.1 16.8 13 778 1 13.560.2         282.0 273.0         1.0 307.243.0                 ‐                ‐        447.1 30.325.1 4.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS B Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 315.332.2 Trafo Unit 166 41 80 80 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 11.5 93 044 3 93.002.420.518.9 23.4 145 243 0 145.0 301.1 295.0 JTR kms 255.000 1 620 1.8 52.021.5 41.027.0 228 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 61.472.0 155.323.3 20 2.0        44.0 7.0           32.3 Pembangkit Pelanggan Total 94.845.629.1 38 420 5 38.5 7.348.798.899.150.2          24.480 12.5        1.044.9 10.1 MVA 7.0 145 0 145.0 132 0 132.

9                848.205           667.0 11.1        111.460.5                 ‐                ‐        397.755 14.855 8 855 13.534.9          49.8 24.5 75.1        85.6 Trafo Unit 380 90 97 100 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 8.0 60 6.0 JTR kms 389.5 96.8 47 998 8 47.0 .265.8 40.815 229 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau (uta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 59.0 213 9 213.912.0 170.940.0              36.177.0 180.8 Pembangkit Pelanggan Total 136.341.0 MVA 28.0 170.381.3 18 183 0 18.9 190.176.234.020.4 24 352 8 24.352.8 41.0 20.7 22.5         201.3 35.0            972.0 198 0 198.7 7.0 7.8 51.5 90 534 5 90.747.033.653.979.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau  K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 310.460.998.062.183.

046.7 Pembangkit Pelanggan Total 101.0 Listrik murah dan Hemat (RTS) 90 13 125 13.3 -                 ‐                ‐        101.125.1 11.164.164.5 26.439.0 JTR kms Trafo MVA Jml Pelanggan Unit 239 3 239.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri K l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 280 0 280.1        11.125 425             90.442.0           13.3 60 6.7            63.439.442.0 230 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 63.3            6.3 .0             239.0           280.046.5          26.

9 64.175.396.1 MVA 23.4 471.0 25.5 53 5.344.477.2 535.3          79.0 436.0              43.553.595.2 11.400 16.8 8.164.1 JTR kms 319.165.089.111.3 26.1 49 157 8 49.023.0 572.3 44.686.498.450 8 450 18.721.1 32.2 24.0            1.387.9 60 990 9 60.7        150.0 246.5         1.200.398.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Jambi K b h Fi ik J i Li ik P d P i i J bi Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 366.7 230 165 0 230.6 136.6 .7 10 686 7 10.329.7 Trafo Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 360 76 379 360 8.7 109 329 6 109.250 231 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Jambi (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 75.400 80       1.6      21.7 Pembangkit                 ‐ Pelanggan Total 10.148.8      162.162.0 121 4 121.157.6 114.8 28.965.990.181.8 57.452.4        657.0 127 2 127.1         323.394.

9      102.5 68 6.1 Pembangkit Pelanggan Total 153.6 236 680 0 236.265.0 32.7 .236.0 29.155.7        202.970.9 49.0 11.0         416.236 16 236 39.0 148 0 148.218.3 74 410 0 74.8 133 530 0 133.0 MVA 29.0 611.0 238 0 238.0         1.5 11.0 146.287.581.0 34.000 42.0          59.0                 ‐                ‐        721.000 625       1.530.8 12.5 28 740 0 28.0 750.015.640.0           97.960.642.890.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS S l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 480.680.3        2.6 18.0 560.437.0 JTR kms 323.490.0 750.554.0 79.740.410.0 232 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 86.641.0 251.059.747.5 Trafo Unit 459 135 240 225 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 16.311.313.0 74.

2 .9 71.0          33.717.4 63 360 6 63.4                 ‐                ‐        794.3 Pembangkit Pelanggan Total 150.7 294.7 8.0 340 9 340.724.9        180.2 27.678.1 34.9         538.9 769.0 MVA 11.0 41 4.117.175.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu K b h Fi ik J i Li ik P d P i iB k l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 450.0             4.0 668.8 199.500.399.1 9.9         1.0 776.313.523.731.6 67.523.718.117.0 150 0 150.0 JTR kms 344.3 277 678 7 277.3 188 731 8 188.500 470           584.847.400.335.0 233 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 102.5 25 586 2 25.586.972.0 15.0 674.1 9.7 47.360.3 Trafo Unit 149 71 180 184 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 4 500 4.310.836.2        2.072.268.4        75.3 13.

5         1.592.4 163 237 2 163.7 16 163 7 19.2 34.000 20.0 215 0 215.039.5       35.4 4.0 42 4.8 22 138 0 22.7 45.5 157.0 234 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Lampung (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 99.2 172.9 48.440.258.040           420.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Lampung K b h Fi ik J i Li ik P d P i iL Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 370.4 JTR kms 633.396.0 MVA 17.5 8.283.0 17.6 87.5 280.0 310.110.593.4 71.907.2 6.655.560.150.7 Trafo Unit 230 62 76 52 Listrik murah Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 10.0 227.2        564.342.265.7 28.187.288.438.054.138.602.1 Pembangkit                 ‐ Pelanggan Total 16.163.6 13.5 .1           952.8         301.580 10 580 20.699.4 80 342 6 80.3        61.5          31.580.9        166.0           50.237.405.000 1 040 1.2 44 592 9 44.1 205.0 150 0 150.

9 45.370 4.6 2 550 6 2.433.550.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung K b h Fi ik J i Li ik P d P i i B k B li Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 292.879.445.023.8 85 804 5 85.859.184.407.5 2.312.718.7 128 879 5 128.0             647.043.4 Trafo Jml Pelanggan Unit Listrik murah dan Hemat (RTS) 96 62 105 130 2.0 JTR kms 147.6          2.1        47.601.5 137.7 .550.5 83.7 25.7 5.0 55 0 55.0 345.5 89.380.2 15 143 8 15.6        1.955.0 MVA 7.8 29.8 20.8         272.8         4.8 Pelanggan Total 2.468.0 215.136.368.601.418 105           393.0 235 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit 51.1        407.938.268.7 25 380 7 25.239.143.0          86.804.8 9.0 6.0 182 0 182.7 57.0 230.863.930 2 930 5.0 365.0 38 3.0           12.339.2 5.1 11.0          31.745.

LA AMPIRA AN A1.11 PROYEKS SI KEBUT TUHAN KE EBUTUHA AN INVES STASI SIS STEM INT TERKONE EKSI SUMA ATERA 236 .

428 4 549 4. g .969 3.445 76 19 428 19.254 3 004 3.333 3. Transmisi & Distribusi [Fixed Asset Addition] Sumatra (Juta US$) Tahun 237 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 T t l Total Investasi Pembangkit T/L dan GI 480 135 1.549 Distribusi 281 299 359 398 297 321 344 374 395 402 3 469 3.515 411 1.792 54 1.004 4.687 97 1.252 900 2.Proyeksi y Kebutuhan Investasi Pembangkit.473 3.691 1.210 826 2.446 .332 264 2.025 582 3.923 27 446 27.128 1.225 3.241 1.469 Total 895 2.205 2 025 2.

PENJELASAN LAMPIRAN A WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 238 .

806 GWh pada tahun 2020. Dengan beroperasinya interkoneksi Sumatera. yaitu meningkat dari 23. 239 .269 MW dan akan tumbuh rata-rata 10. Interkoneksi kedua sistem melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padangsidempuan pada tahun 2014 diharapkan akan dapat mewujudkan sistem interkoneksi Sumatera 1 . Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2011 adalah 4. Sekitar 43% dari produksi tersebut adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut) dan selebihnya nya untuk Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel). 1 Untuk memastikan hal tersebut diperlukan studi small signal stability.641 MW pada tahun 2020.4% per tahun antara tahun 2011 dan 2020.2% per tahun. yaitu adanya osilasi inter-area pada frekuensi rendah dengan damping sangat rendah antara kelompok generator di Sumbagut dan kelompok generator di Sumbagselteng.4% sampai 67. walaupun besarnya daya yang dapat ditransfer akan dibatasi oleh limit stabilitas sistem interkoneksi.PENJELASAN LAMPIRAN A1 SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA A1.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 10. Faktor beban diperkirakan antara 65.0%.1. sehingga menjadi 9.414 GWh pada tahun 2011 menjadi 56.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi masih lemah Walaupun telah dibangun transmisi 150 kV Baganbatu – Rantauprapat yang menghubungkan sistem Sumbagut dan Sumbagselteng. A1. namun kedua sistem tersebut pada dasarnya secara elektris masih terpisah. maka sistem Sumbagsel yang memiliki sumber energi primer yang banyak dan murah akan dapat memasok sebagian kebutuhan sistem Sumbagut. Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 2011 – 2020 ditunjukkan pada Lampiran A1. Kedua sistem ini belum dapat dioperasikan sebagai satu sistem interkoneksi karena terkendala oleh masalah stabilitas.

PLTU Sumsel 5 adalah PLTU Bayung Lencir. termasuk PLTP yang masih green field bahkan WKP-nya belum ditender. merupakan proyek yang sangat strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini terjadi juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit yang eksisting. Proyek PLTP yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2014 adalah PLTP yang WKP-nya telah dimiliki oleh Pertamina. kecuali PLTP. PLTU Sumsel 2 adalah PLTU Keban Agung. Hal ini dimaksudkan agar PLN dapat menawarkan proyek IPP kepada pengembang melalui tender kompetitif. Bahkan proyek pembangkit PLN juga mengalami keterlambatan. 240 . Proyek PLTU Percepatan Tahap I ( PLTU Meulaboh. tingkat keberhasilan proyek IPP sangat rendah. Proyek-proyek strategis 1. PLTU Pangkalan Susu. Apabila keadaan tersebut benarbenar terjadi maka sistem Sumatera akan mengalami over supply. Namun melihat pengalaman PLN selama ini. PLTU Riau Mulut Tambang adalah PLTU Cirenti. tidak disebut nama lokasinya secara spesifik. termasuk proyek PLN dalam program percepatan tahap 1. Dari perjelasan diatas dapat dimengerti bahwa perencanaan reserve margin yang tinggi hingga 78% dimaksudkan semata-mata untuk memberikan kepastian yang lebih tinggi kepada masyarakat Sumatera (yang telah lama menderita kekurangan listrik) bahwa listrik akan tersedia cukup di Sumatera. yaitu mencapai 78% pada tahun 2017 apabila semua proyek pembangkit berjalan dan selesai tepat waktu. Lebih dari itu. PLTU Sumsel 6 adalah PLTU Mulut Tambang Pendopo.Rencana reserve margin tinggi Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin yang tinggi. PLTU Tarahan) dan PLTA Asahan III. Status beberapa IPP saat ini dalam RUPTL 2011 – 2020 adalah sebagai berikut: PLTU Sumbar 1 adalah PLTU Kambang. PLTU Sumsel 7 adalah PLTU Sungai Lilin. dalam RUPTL 2011-2020 ini direncanakan banyak sekali pembangkit panas bumi (PLTP) yang mencapai 2. Penamaan proyek PLTU IPP Proyek-proyek IPP yang belum financial closing. namun hanya disebutkan kawasan daerah dimana proyek tersebut berada.495 MW. PLTU Sumbar Pesisir. yaitu hanya sekitar 16%.

Pembangkit baru dalam program percepatan tahap II – PLTU Pangkalan Susu#3. Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada. Proyek-proyek PLTP lainnya akan dikembangkan oleh IPP dengan total kapasitas 2. PLTP Sungai Penuh #1.2.2 (2x55 MW). namun sampai dengan saat ini eksplorasi yang dilakukan pihak swasta terhadap proyek-proyek PLTP tersebut belum tuntas. PLN akan membangun sisi hilir pada lokasi-lokasi sebagai berikut: PLTP Ulubelu #1. PLTP Seulawah 55 MW. PLTU Mulut Tambang (IPP) skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC harus dapat diselesaikan selaras dengan penyelesaian proyek interkoneksi Jawa-Sumatera 500 kV HVDC. Potensi pembangkit hidro Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. 241 .4 2x200 MW – PLTA Asahan III 174 MW – PLTP Hulu Lais #1. PLTP Sarulla I 6x55 MW.2 (2x55 MW). Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS). PLTP HuluLais #1.165 MW sampai dengan tahun 2020.4 (2x55 MW).2 (2x55 MW). PLTP Rantau Dedap 4x55 MW dan PLTP Sorik Marapi 240 MW. 4.2 2x55 MW dan PLTP Sungai Penuh 2x55 MW – PLTP-PLTP yang akan dikembangkan oleh swasta/ IPP yaitu PLTP Ulubelu 3. sehingga hal ini menjadi sangat rawan terhadap ketersediaan reserve margin di sistem Sumatera seperti telah dijelaskan sebelumnya. PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. PLTP Sarulla II 2x55 MW. PLTP Rajabasa 4x55 MW. Khusus untuk PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sumber dana sudah tersedia dari JBIC dimana Loan Agreement sudah ditandatangani pada tahun 2005. PLTP Muara Laboh 4x55 MW. Pengembangan PLTP Terkait dengan kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal. PLTP Lumut Balai 4x55 MW. 3.

− Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya. Peranan Minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2010 masih tinggi.324 GWh dan cenderung konstan berdasarkan sumber paskokan LNG yang telah teridentifikasi.Apabila proyek tersebut layak secara teknis. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut. Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014. Peranan pembangkit gas yang semula 4. − Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada.4 dialokasikan per unit pembangkit berdasarkan merit order dengan menggunakan model simulasi produksi dengan asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut: − Harga bahan bakar HSD = USD 0. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera. yaitu sekitar 4.4 Neraca Energi Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi. akan sangat berkurang menjadi sekitar nol pada tahun 2014. dan batubara = USD 80/ton. maka produksi energi per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. gas alam = USD 6 /mmbtu. Hal ini terjadi karena PLTU Belawan 1 – 4 tidak dioperasikan lagi dan PLTGU Belawan.4 Produksi energi pada Lampiran B1.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A1. Lampiran B1.62 /liter. Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. MFO=USD 0. PLTG Task Force.2 A1. c. dan secara bertahap akan menurun kembali menjadi 4. PLTG Paya Pasir di Sumatera Utara dioperasikan dengan LNG b.575 GWh pada tahun 2020. yaitu sekitar 6.525 GWh. Hal ini karena 242 .78 /liter.946 GWh pada tahun 2010 akan naik menjadi 7. − Ketersediaan batubara tidak terbatas.932 GWh pada tahun 2014.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut adalah sebagai berikut: a.3 A1.

menjadi rendah jika semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai jadwal.714 GWh pada tahun 2020.200 GWh. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A1.346 GWh akan naik 6 kali lipat menjadi 26. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP. e. Peranan hydro pada tahun 2020 akan mencapai 7. Sedangkan MFO sudah tidak diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya operasi PLTU Belawan 14 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara. PLTA Peusangan 1-2 pada tahun dan PLTA Merangin pada tahun 2016 serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017. atau 23% dari produksi total.2 juta liter dan semakin turun menjadi 27 ribu liter pada tahun 2014.495 MW pada tahun 2020.050 GWh. yaitu PLTU batubara. Banyaknya kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor pembangkit beban dasar lainnya. 243 . yang pada tahun 2009 hanya 10 MW akan menjadi 2. Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. Pada tahun 2010 hanya 4. namun sejalan dengan rencana akan dibangunnya LNG floating terminal maka PLTGU akan dijalankan dengan LNG. Kebutuhan bahan bakar HSD pada tahun 2011 sebesar 2.pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari kontrak yang ada.538 GWh dan akan semakin besar dengan masuknya PLTA semakin besar dengan masuknya PLTA Asahan 3. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian implementasinya masih rendah 2 akan membuat situasi yang cukup rawan bagi Sumatera apabila pengembangan PLTP yang direncanakan tidak terlaksana sesuai jadwal mengingat ketidakpastian pelaksanaan beberapa pembangkit IPP juga tinggi. f. 2 Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan drilling.4. Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami depletion. Kontribusi pembangkit geothermal akan meningkat luar biasa besar pada tahun 2020 dengan produksi 13. Peranan pembangkit hidro pada tahun 2010 semula 4. d.

Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan dan de-dieselisasi serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru. PLTA. kebutuhan pembangunan Gardu Induk Baru dan pengembangan trafo GI eksisting sampai tahun 2020 sebesar 28.400 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1.0 juta ton pada tahun 2011 menjadi 16.5 Capacity Balance Gardu Induk Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan memasukkan GI existing dan GI ongoing project. • Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. PLTU IPP dan PLTP IPP. selanjutnya disusun kembali capacity balance yang baru setelah mempertimbangkan penambahan GI baru tersebut. Dengan kriteria keandalan dan asumsi di atas. A1.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi proyek berikut: • Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan.4 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 6 kali lipat. • Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya 244 . Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan. A1.Volume pemakaian batubara meningkat dari tahun ke tahun. • Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan dan PLTA IPP Asahan 1. yaitu naik dari 4.5. Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI. Selanjutnya dari Capacity Balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing masing GI. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. GI yang telah berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan trafo. dimana hasil pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan sistem penyaluran.

A1. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. PLTG Duri (40 MW). • Pembangunan transmisi dan kabel laut ±250 kV HVDC Sumatera – Peninsular Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem tersebut. Dari simulasi aliran daya terlihat.dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber energi primer ke demand di Sumatera bagian utara. Namun pada RUPTL 2011-2020 ini hanya ditunjukkan hasil analisa aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja. 245 . hal ini disebabkan tidak adanya pembangkit baru di sistem Sumbagteng. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Tarahan #1 (100 MW). Profil tegangan sistem masih berada dalam kriteria operasi yang bervariasi antara 90%-105%.7 Peta Pengembangan Penyaluran Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran A1. 150 kV dan 70 kV.7.6. A1. meliputi sistem 275 kV. transfer daya terlihat menuju Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng). dengan penjelasan sebagai berikut : 1. Analisa aliran daya tahun 2011 Aliran Daya tahun 2011. PLTU Simpang Belimbing #1. baik dari Sumatera Bagian Utara maupun Sumatera Bagian Selatan. Transfer Daya dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terbatas pada kisaran transfer 224 MW dikarenakan masalah limit stabilitas transfer daya menggunakan sistem 150 kV di titik interkoneksi Sumbagselteng (Lubuk Linggau – Bangko). dimana sub sistem ini menerima daya dari sub sistem Sumatera Barat sebesar 172 MW.8 Analisis Aliran Daya Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. kekurangan pembangkitan pada tahun 2010 ini berada di sub sistem Riau. Prakiraan aliran daya di sistem 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai tahun 2011 sampai dengan 2020.2 (227 MW) dan PLTG/PLTMG sewa total 182 MW.

yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh – Kiliranjao dan Binjai – Galang – Simangkok. PLTG Peaker total 160 MW. yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (282 kV) dan terendah di GI Binjai (275 kV). Payakumbuh – Padang Sidempuan – Sarulla – Simangkok dan Lahat – Gumawang. Transfer dari sub sistem Sumatera Barat ke sub Sistem Riau berkurang hingga menjadi 80 MW seiring dengan beroperasinya beberapa pembangkit di Riau. Analisa aliran daya tahun 2014 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. 4. dan PLTU Riau FTP1 #1 telah beroperasi 100 MW. PLTU Pangkalan Susu – FTP1 #2 (1x220 MW).2. PLTU Sumbar Pesisir #1 (112 MW). PLTU Tarahan #2 (100 MW). yang sebelumnya dioperasikan pada tegangan 150 kV. Tegangan sistem 275 kV cukup baik. yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh – New Garuda Sakti. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng. Analisa aliran daya tahun 2013 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (285 kV) dan terendah di GI Binjai (278 kV). Tambahan transmisi 275 kV baru adalah Pangkalan Susu – Binjai. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 110 246 . PLTG Sengeti (60 MW) dan PLTU Sewa (840 MW). PLTP Ulubelu-FTP2 #1 (1x55 MW). PLTP Ulubelu #2 (1x55 MW). Tegangan sistem 275 kV cukup baik. PLTG Gunung Megang ST (30 MW) dll. Transfer ke sub sistem Riau menjadi 160 MW. PLTG Belawan (400 MW). 3. PLTU Pangkalan Susu #1 (220 MW). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTGU Keramasan (86 MW). Analisa aliran daya tahun 2012 Pada tahun ini akan dioperasikan sistem tegangan 275 kV pada transmisi 275 kV Lahat – Lubuk Linggau – Bangko – Muara Bungo – Kiliranjao. PLTU Riau FTP1 #1 (100 MW). PLTU Sumbar Pesisir FTP1 #2 (112 MW). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Meulaboh FTP 1 (2x110 MW).

PLTP Hululais FTP2 (110 MW). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Pangkalan Susu FTP2 #3.4 (110 MW).5 MW). Analisa aliran daya tahun 2015 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru.4 (2x200 MW). Keban Agung 225 MW.MW. PLTU Banjarsari (230 MW). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Riau FTP1 #2 (100 MW). PLTU Meulaboh #3 (200 MW). PLTU Sumsel-7 #1 (150 MW). yaitu transmisi 275 kV Muara Enim . 6.4 (2x55 MW). PLTA Lawe Mamas (45 MW) dan PLTG peaking total 500 MW. PLTU Sumsel-5 #1 (150 MW). PLTU Keban Agung (2x112. PLTP Sarulla-FTP2 (110 MW). Pada tahap awal pembangunan segmen transmisi 275 kV Aur Duri – Rengat ini dibangun dengan konstruksi 500 kV. PLTP Lumut Balai (110 MW) dan PLTP Sarulla (220 MW). PLTP Sungai Penuh FTP2 (110 MW).Bayung Lincir (Sumsel-5) Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti seiring dengan tambahan pembangkit PLTU mulut tambang Sumsel-5 150 MW. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 216 MW. PLTP Ulubelu #3. Sumsel-7 150 MW.Betung – Sungai Lilin (Sumsel-7) . 5. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Riau menjadi 230 MW dan transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 230 MW.4 (400 247 . yang kemudian mulai akan dioperasikan dengan sistem 500 kV setelah beroperasinya PLTU di Jambi sampai dengan 800 MW mulai tahun 2018. Analisa aliran daya tahun 2016 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Lhokseumawe dan pengoperasian transmisi 275 kV Meulaboh – Sigli yang sebelumnya dioperasikan dengan tegangan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU Meulaboh #3. PLTU Simpang Belimbing Ekspansi (227 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng ke. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 305 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV sub Sistem Jambi (Aur Duri) ke sub sistem Riau (Rengat) sebesar 202 MW. PLTP Lumut Balai-FTP2 #3.

Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Peusangan (88 MW). PLTA Masang-2 (55 MW). PLTU Sumsel-7 #2 (150 MW). Analisa aliran daya tahun 2018 Pada tahun ini transmisi 500 kV dari PLTU Jambi – Aur Duri – New Garuda Sakti sudah beroperasi.Selain itu juga diperlukan pembangunan transmisi 275 kV PLTU Cirenti – Rengat untuk mengevakuasi daya PLTU Cirenti. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 420 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 211 MW. PLTU Sumsel-6 #1 (300 MW). melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan seiring dengan mulai beroperasinya pembangkit mulut tambang dan panas bumi di sistem Sumbagselteng. PLTA Merangin (175 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 400 248 .MW). PLTU Sumsel-5 #2 (150 MW). seiring dengan beroperasinya PLTU Jambi unit #1 (1 x 400 MW) Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. Analisa aliran daya tahun 2017 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. PLTU Riau MT #2 (300 MW). PLTP Muara Laboh FTP2 (220 MW) dan PLTP Sarulla II FTP2 (110 MW). PLTA Asahan III (174 MW). 7. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Merangin #2 (175 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. PLTU Sumsel-6 #2 (300 MW). yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Ulee Kareng untuk memasok kota Banda Aceh dan sekitarnya. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 261 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 226 MW. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 540 MW. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 225 MW. PLTP Rajabasa FTP2 (220 MW). 8. PLTU Riau MT #1 (300 MW). PLTA Simonggo-2 (86 MW).

10. PLTP Sorik Marapi FTP2 (240 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW). Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS Jambi #1 (1x400 MW). Tambahan pembangkit baru antara lain PLTG Peaker (200 MW) dan PLTP tersebar (695 MW) A1. dengan transfer daya sebesar 360 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS #2 (1x400 MW). PLTU Sumsel-1 #2 (400 MW) dan PLTP Rantau Dedap FTP2 #2 (110 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 660 MW. PLTP Rantau Dedap FTP2 (110 MW). 249 . • Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan • Perbaikan SAIDI dan SAIFI • Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua • Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1. 9. transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda Sakti sebesar 1100 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 440 MW. dengan transfer daya sebesar 490 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan. Analisa aliran daya tahun 2019 Arah aliran daya masih dari selatan ke utara. PLTU Sumsel-1 #1 (400 MW). Analisa aliran daya tahun 2020 Arah aliran daya dari selatan ke utara. transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda Sakti sebesar 1150 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 450 MW.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk.9.

3 161.711 4.114.5 188.5 336.273 5.5 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 61.1 98.1 Total 338.951 6.569 4.470 766 819 836 872 900 941 978 1.0 41.054 MVA untuk menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 6.469 juta USD (JTM USD 1.7 174.285 4.1 76.0 304.8 79.4 37.072 9.4 87. • Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 67.0 379.9 36.6 272.076 juta.0 42.2 35.1 64.8 38.2 108.5 876.242 619.293 498.010.0 38.1 43.3 301. JTR USD 1.9 248.3 54.0 419.1 39.618 Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTR kms 6.005 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Juta USD Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 148.4 123.206 594.8 275.403 5.1 34.951 493.0 140.2 39.6 36.8 145.661 5.8 106.788 5.562 4.5 298. JTR 65.10 Program Listrik Perdesaan 250 .2 359.8 88. menjadi 73.356 537.4 Trafo 50.0 juta.635 540.548 5.1 32.0 111.2 37.426. dan sambungan pelanggan 419 juta USD) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 350 juta.271 5. Kapasitas gardu distribusi 14.895 522.3 38.516 506.600 kms.399 6.3 1.041 1. gardu USD 410 juta.510 kms.4 126.955 53. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.7 Pelanggan 39.564 juta.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera JTM kms 6.0 69.982 5. untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 3.3 104.608 5.251 Trafo MVA 1.011 5.091.694 Pelanggan 1.869 4.3 % di tahun 2014 untuk regional sumatera A1.031 5.590 55.509 4.7 3.9 392.1 % tahun 2010.8 63.3 JTR 100.512 605.7 34.291 6.

7      4.994.6 590.8 Total 1.657.240.0       11.0 1.148.223.207.601.1 Trafo MVA Unit 139.1       5. A1. JTR Rp 1.506.515        337.819.351 kms.5 69. untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 4.22 triliun.0 3.12.88 triliun (JTM Rp 2.280.3 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Sumatera tahun 2011-2014 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2010-2014 direncanakan membangun JTM 12.531.9 158.601.520.8 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan 29.401.758.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 3.624.469.9 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 89.746.7      677.186.587.263 44.038.0 32.260.274 125.280.6 291.079.810.102.899.727 122.351.7 309.034.9 2.962.317.3 2.539.237.9 1.8 -     2.7         2. halaman 96.5 JTR kms 3.426 89. Kapasitas gardu distribusi 363 MVA.4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 602.5 1.9 146.424.2 3.280 kms.11. JTR 11.7      1.6 1.131 8.370.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.1 218.8 triliun.7 231.5 406.190.132.1 1.2 3. gardu Rp 0.867. 251 .887.4 378.9 893.440        363. pembnagkit dan pelanggan Rp 2.6       61.991.883.4 758 89.601.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.7 triliun. transmisi dan gardu induk sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.2 953.6 triliun A1.8 3.8 1.4     12.344.

LA AMPIRAN N A2 SISTEM M INTERKO ONEKSI KALIMANTAN K BAR RAT 252 .

LAM
MPIRAN A2.1

PROY
YEKSI KEB
BUTUHAN
N TENAG
GA LISTRIK
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

253

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Kalimantan Barat

Sistem

254

Wil Kalbar
Sistem Khatulistiwa
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak

Satuan 2011

GWh
%
MW

1.121
69
186

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.379
74
211

1.749
77
259

2.021
68
339

2.201
69
362

2.544
74
394

2.707
68
457

2.879
68
486

3.060
68
516

3.304
69
548

LA
AMPIRAN
N A2.2

NERACA
A DAYA
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

255

MW

Grafik Neraca Daya Sistem Kalbar
900

Pembangkit Terpasang PLN

54%

Pembangkit Sewa

PLTG PLN

PLTGB Sewa

800

PLTU PLN

51%

PLTU FTP2

700

47% PLTA PLN

53%

PLTU IPP
Power Purchase (Sesco)
PLTA PLN

600

g
Reserve Margin
Beban Puncak

45%

256

500

43%

46%
Power Purchase (Sesco)
PLTU IPP

57%
400
300

45%

37%
PLTU (FTP2)

200

PLTU (FTP2)
Kapasitas Terpasang

100
-

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun
256

Neraca Daya Sistem Kalbar
Kebutuhan dan Pasokan

257

Kebutuhan
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Daya Terpasang
PLN
PLTG-HSD PLN (Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Raya & Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Wie & Sudirman)
Interkoneksi sistem-sistem isolated
S
Sewa
Retired & Moultbolled (PLN)
Tambahan Kapasitas
PLN
On-going dan Committed Project
Pantai Kura-Kura (FTP1)
Parit Baru (FTP1)
Rencana
Parit Baru - Loan China (FTP2)
Nanga Pinoh
Kalbar - 1
Kalbar - 2
IPP
Rencana
Pontianak - 2
Pontianak - 3

Satuan 2011
GWh
%
MW

MW
MW
MW
MW
MW

2012

2013

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1,121
69
186

1,379
74
211

1,749
77
259

2,021
68
339

2,201
69
362

2,544
74
394

2,707
68
457

2,879
68
486

3,060
68
516

3,304
69
548

270

290

253

117

42

50

75

61

61

69

34
100
19
117
6

34
100
19
137
-

34
100
19
12
88
-

47
70
153

42
-

50
-

75
-

61
-

61
-

69
-

PLTU
PLTU

55
100

PLTU

50

50

PLTA
PLTU

50

49
50

49

PLTU

PLTU
PLTU

50

50

25

25

50

Power Purchase dengan SESCo (Peaking) 275 KV
Power Purchase dengan
g SESCo ((Baseload)) 275 KV
Jumlah Pasokan
Reserve Margin

2014

120
50

-50

MW

270

290

408

492

517

575

699

734

759

842

%

45

37

57

45

43

46

53

51

47

54

LAM
MPIRAN A2.3
A

PRO
OYEK-PR
ROYEK IPP TERKENDALA
SISTEM KALIMAN
K
NTAN BAR
RAT

258

A2.3
3 Proyek-proye
ek IPP yg terke
endala
Dalam perenccanaan pemban
ngkit IPP, ada beberapa
b
proye
ek pembangkit IPP yang
Perjanjian Pem
mbelian Tenag
ga Listrik (PPTL
L) nya mengala
ami kendala. Ka
ategori
PPTL terkend
dala adalah,
Kateg
gori 1, tahap op
perasi adalah ta
ahap dimana IP
PP sudah menccapai
COD.
Kateg
gori 2, tahap pe
embangunan/ko
onstruksi diman
na IPP sudah mencapai
m
Finan
ncial Closing (F
FC) tapi belum mencapai
m
COD
D.
Kateg
gori 3, Tahap pendanaan
p
IPP yang sudah memiliki
m
PPTL, tetapi
t
belum
m mencapai Fin
nancial Closing
(FC).
Pembangkit IP
PP yang terken
ndala di sistem Kalimantan Ba
arat adalah,
- PLT
TU Ketapang 2xx7 MW masuk dalam kategori 2
- PLT
TU Pontianak 2x25
2
MW masu
uk dalam kategori 2
Saat ini penye
elesaian IPP terkendala tersebut sedang dip
proses oleh Kom
mite
Direktur untukk IPP dan Kerja
asama Kemitraa
an.

259

LA
AMPIRAN
N A2.4

NERACA ENERGI
E
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

260

Proyeksi Neraca Energi
Sistem Kalbar
(GWh)

261

JENIS
Batubara
Gas
LNG
HSD
MFO
SESCO
Hydro
y
Total

2011
-

2012
-

2013
824

2014
1.228

2015
1.471

2016
1.788

2017
1.793

2018
1.797

2019
2.377

2020
2.641

117
1.004
1.121

257
1.121
1.379

171
753
1.749

12
72
709
2.021

6
3
721
2.201

7
16
733
2.544

7
21
737
150
2.707

10
35
738
300
2.879

14
55
314
300
3.060

10
35
317
300
3.304

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
Sistem Kalbar
FUEL TYPE

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

262

HSD ( x 1000 kL )

42

89

114

4

0

1

1

3

7

3

MFO ( x 1000 kL )

254

279

171

18

1

4

5

9

14

9

LNG (GBTU)

-

-

-

-

-

Batubara (kTON)

-

-

565

701

868

GAS (GBTU)
-

-

-

-

-

1.102

1.137

1.178

1.610

1.832

LA
AMPIRAN
N A2.5

CA
APACITY
Y BALANC
CE GARDU
U INDUK
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

263

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
No.

1

2

3

4

5

6

264

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

TEG.

CAPACITY

(KV)

MVA

NAMA GI

GI SIANTAN

GI SEI RAYA

GI. PARIT BARU

GI. MEMPAWAH

GI.SINGKAWANG

GI. KOTA BARU

GI PLTU KURA-KURA

GI SAMBAS

GI SANGGAU

GI TAYAN

GI BENGKAYANG

GI NGABANG

GI SEKADAU

GI SINTANG

GI NANGA PINOH

GI KETAPANG

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

2

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

1

2

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

20

30

60

60

30

30

30

30

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

30

30

30

60

20

60

2014
Add Trf
MVA

25,67

29,33

34,04

40,13

50,34%

57,50%

66,75%

39,34%

38,01

35,75

74,54%

23,37%

120

60

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

2016
Peak Add Trf
MW
MVA

2017
Peak Add Trf
MW
MVA

2018
Peak Add Trf
MW
MVA

2019
Peak Add Trf
MW
MVA

48,04

51,82

53,64

56,15

61,82

47,10%

50,81%

52,59%

55,05%

60,61%

30

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
67,13
65,82%

39,00

40,90

46,01

50,10

52,62

52,69

69,12

69,40

25,49%

26,73%

30,07%

32,75%

34,39%

34,44%

45,17%

45,36%

15,18

15,60

17,34

15,86

17,33

15,66

22,55

59,54%

61,17%

67,98%

62,19%

67,98%

61,40%

44,22%

16,78

17,55

15,00

21,85

65,79%

68,84%

58,84%

42,84%

30

30

32,68

33,06

35,31

64,08%

64,83%

69,24%

23,66

30,63

33,75

29,04

31,51

33,89

46,40%

60,06%

66,17%

56,94%

61,79%

66,45%

14,62

15,30

16,34

15,85

19,33

57,35%
,

60,01%
,

64,09%
,

62,16%
,

37,90%
,

30

20,12

21,85

28,72

33,74

32,69

39,45%
,

42,85%
,

56,32%
,

66,17%
,

64,09%
,

14,41

16,93

15,79

17,07

13,31

13,87

15,29

15,81

17,44

24,96

56,50%

66,39%

61,91%

66,96%

52,19%

54,40%

59,97%

62,01%

68,40%

48,95%

11,71

12,14

12,83

13,88

14,88

15,34

16,50

17,73

14,06

15,29

45,94%

47,60%

50,33%

54,44%

58,37%

60,17%

64,70%

69,54%

55,13%

59,98%

12,02

12,83

16,02

15,18

15,80

17,16

23,63

47,13%

50,33%

62,81%

59,53%

61,96%

67,29%

46,33%

30

30

Peak
MW

17,04

15,63

19,59

66,82%

61,31%

38,41%

30

30

17,22

21,74

33,76%

42,63%

21,48

23,55

25,80

28,02

42,12%

46,17%

50,60%

54,95%

6,54

7,29

8,04

8,54

9,45

10,46

11,58

12,70

25,66%

28,57%

31,55%

33,48%

37,08%

41,04%

45,41%

49,79%

6,48

7,15

7,82

8,21

9,01

9,88

10,82

11,75

25,41%

28,03%

30,65%

32,22%

35,33%

38,73%

42,44%

46,09%

9,07

10,01

10,94

11,50

12,61

13,83

15,15

16,45

35,57%

39,24%

42,91%

45,10%

49,46%

54,22%

59,42%

64,53%

6,66

10,28

7,66

8,40

9,20

10,09

10,95

26,12%

40,33%

30,03%

32,93%

36,09%

39,56%

42,96%

18,36

20,27

21,51

23,82

26,36

32,17

31,99

35,99%

39,74%

42,18%

46,70%

51,69%

63,08%

62,72%

9,43

10,34

11,34

9,43

13,49

55,48%

60,84%

66,70%

55,45%

79,38%

28,53

30,98

33,62

33,15

55,95%
,

60,74%
,

65,92%
,

65,01%
,

30

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
TEG.
No.

CAPACITY

NAMA GI
MVA

(KV)
17

GI SANDAI

150/20

1

30

30

18

GI KOTA BARU 2

150/20

1

30

30

19

20

GI SUKADANA

GI PUTUSIBAU

150/20

150/20

1

1

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

Peak
MW

2014
Add Trf
MVA

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

30

2016
Peak Add Trf
MW
MVA
3,36

2017
Peak Add Trf
MW
MVA
3,68

2018
Peak Add Trf
MW
MVA
4,04

2019
Peak Add Trf
MW
MVA
4,42

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
7,80

13,17%

14,44%

15,83%

17,35%

30,60%

8,76

9,42

10,12

10,88

11,59

34,35%
,

36,93%
,

39,70%
,

42,67%
,

45,43%
,

8,76

9,70

10,73

11,88

13,02

34,35%

38,03%

42,10%

46,58%

51,08%

14,77

30

57,92%
Penambahan Trafo (MVA)
Total Beban Gardu Induk
Beban Pembangkit Siantan
Beban Pembangkit Sei Ra
Raya
a
Total Beban Gardu Induk & PLTD
Total Beban Sistem
Diversity Factor

710

-

120

-

90

30

30

30

30

30

30

136,39

154,61

185,27

248,05

270,73

311,91

370,39

406,81

442,94

494,54

20,00
20 00
20,00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

176,39

194,61

225,27

288,05

310,73

351,91

410,39

446,81

482,94

534,54

173,34

192,33

224,27

287,01

309,73

378,08

410,28

445,11

482,82

533,53

1,02

1,01

1,00

1,00

1,00

0,93

1,00

1,00

1,00

1,00

265

LAM
MPIRAN A2.6

RENCA
ANA PEN
NGEMBAN
NGAN PEN
NYALURA
AN
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

266

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Kalimantan Barat
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

275 kV

-

-

180

-

-

-

-

-

-

-

180

150 kV

112

310

596

280

-

180

860

-

-

300

2.638

112

310

776

280

-

180

860

-

-

300

2.818

TOTAL

267

(MVA)
Tegangan
275/150 kV

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

-

-

250

-

-

-

-

-

-

-

250

150/20 kV

60

150

90

210

30

150

90

30

60

60

930

TOTAL

60

150

340

210

30

150

90

30

60

60

1.180

Rencana Pengembangan Transmisi
Kalimantan Barat

268

N
No.

P
Propinsi
i i

D i
Dari 

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

Parit Baru
Sei Raya
PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2
Singkawang
Siantan
Singkawang
Bengkayang
Ngabang
PLTU Parit Baru (IPP)
Tayan
Sanggau
Sintang
Sintang
Sukadana
Sandai
Nanga Pinoh
Ketapang
Sintang
Bengkayang

K
Ke 
Kota Baru
Kota Baru
Incomer 2 pi (Singkawang‐Mempawah)
Sambas
Tayan
Bengkayang
Ngabang
Tayan
Parit Baru
Sanggau
Sekadau
Sekadau
Nanga Pinoh
Sandai
Tayan
Kota Baru 2
Sukadana
Putusibau
Perbatasan

T
Tegangan 
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV

C d t
Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra

k
kms 

Biaya
(M USD)

COD

40
32
40
126
184
120
180
110
6
180
100
180
180
180
300
180
200
300
180

2,22
1,77
2,22
6,98
10 19
10,19
6,65
9,97
6,09
0,33
9,97
5,54
9,97
9,97
13,74
22,90
9,97
15,27
22,90
28,36

2011
2011
2011
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2016
2016
2016
2016
2017
2020
2013

Rencana Pengembangan Gardu Induk
Kalimantan Barat
No.  Propinsi

269

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
K lb
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 

Kap

Jumlah 

COD 

Kota Baru 
Parit Baru Ext LB
Parit
Baru Ext LB
Sei Raya Ext LB
PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2
Sei Raya
Sambas
Singkawang Ext LB
Tayan 
Tayan Ext LB
Tayan Ext LB
Sei Raya Ext LB
Bengkayang 
Ngabang 
Sanggau 
Sekadau 
Sintang 
Si t
Siantan
Mempawah
Singkawang
Naga Pinoh 
Sintang Ext LB
Sukadana 
Sandai 
Sanggau
Kota Baru 2
Ketapang 
Parit Baru
Sambas
Siantan
Putusibau 
Kota Baru
Kota Baru
Bengkayang 

150/20 kV
150/20 kV
150/20
kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
275/150 kV

Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
E t i
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru

30
2 LB
2
LB
2 LB
30
120
30
2 LB
30
2 LB
2 LB
2 LB
30
30
30
30
60
60
30
30
30
1 LB
30
30
30
30
60
30
30
60
30
30
250

2,62
1,24
1
24
1,24
1,37
3,81
2,42
1,24
2,42
1 24
1,24
1,24
2,62
2,62
2,62
2,62
4,00
1 39
1,39
1,39
1,39
2,62
0,62
2,62
2,62
1 39
1,39
2,62
4,00
1,39
1,39
1,39
2,62
1 39
1,39
25,98

2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2020
2020
2013

Keterangan

L
LAMPIRA
AN A2.7

PE
ETA PENG
GEMBANG
GAN PENY
YALURAN
N
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

270

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
KALIMANTAN
- 2020
your computer,
and then open theBARAT
file again. If2011
the red x still
appears, you

PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP); 
2 x 400 KW (2012)
ARUK
PLTU 2 KALBAR  TJ. GUNDUL
(PLN); 
2 x 27,5 MW (2013)
2 x 27,5 MW (2013)
PLTU PERPRES TAHAP II  2 X 
50 MW (2014) LOAN CHINA

GI. SAMBAS
Thn 2013

PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN); 
2 x 750 KW (2010)

BIAWAK
SERIKIN
JAGOI BABANG

KUCHING

GI MAMBONG (MATANG)

GI. SINGKAWANG
Thn 2009

GI. NGABANG
Thn 2013
55 km

GI. PARIT BARU

GI SANGGAU
Thn 2014

GI. SIANTAN
GI. TAYAN
GI
GI. SEI RAYA Thn 2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011

PLTGB (IPP) 8 MW  (2012)
GI. PUTUSIBAU
Thn 2020

BADAU

ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2013

GI. PLTU KURA-KURA
Thn
2011
GI. MEMPAWAH

PLTU 1 KALBAR ‐PARIT BARU (PLN); 2 x 50 
MW (2013)
PLTU  PARIT BERKAT (IPP); 2 x 25 MW  
(2014);
(2014); 

BATU KAYA

TEBEDU

PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW (2012)

GI. SINTANG
Thn 2014

GI. SEKADAU
Thn 2014
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X 
7 MW (2012)

PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)
PLTGB NANGAPINOH 
(PLN); 6 (2013)
PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18
GI. NANGA PINOH
Thn 2016

PLTU TAYAN (IPP); 2 X 25 
MW (2015)
GI. K0TA
BARU2 2017
GI. SUKADANA
Thn 2017
GI. SANDAI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (PLN) ; 
2 X 10 MW (2013)

GI. KETAPANG
GI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X 7 MW (2012)

KETERANGAN :
Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

PLTU Rencana
PLTMH Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

LA
AMPIRAN
N A2.8

ANAL
LISIS ALIR
RAN DAYA
A
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

272

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012

273

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015 274 .

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018 275 .

9 KEBUTUHA AN FISIK PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SISTEM KALIMANT S K TAN BAR RAT 276 .L LAMPIRA AN A2.

3 38.4 Trafo 4.1 13.6 5.7 4.7 38. 18.2 .8 3.3 17.9 11.1 11.9 0.2 17.189 40.7 44.4 18.980 41.973 38.6 7.3 5.5 .6 364.9 4.3 5.7 7.419 52.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Tahun 277 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.6 2.8 6.2 19.4 3.5 10. 2.457 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.7 160.1 33.7 JTR 7.1 41.0 9.467 58.2 10.6 7.105 46.6 56.3 Pelanggan 2.5 2.773 464.0 .3 18.8 13.353 55.2 4.655 49.8 26.4 .6 Total 25.7 12.8 19.543 36.0 36.6 11.9 15.2 35.2 113.3 2.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.5 5.1 4.5 4.9 32.7 44.

LAM MPIRAN A2.10 A PR ROGRAM LISTRIK PERDESA AAN SISTEM KALIMANT S K TAN BAR RAT 278 .

8 23.5         1.1       22.395.909.1 22.9        277.4            1.081.992.8 6.0         445.875.5 511.808.375.0 182 5 182.0                ‐        776.9 .0 Listrik murah dan Hemat (RTS) 197 62 47 47 5.8 7 099 4 7.416.509.5 91 808 3 91.3 159 909 4 159.525 875              353              14.623.983.4 8.0 167 6 167.125 4.0 JTR kms Trafo MVA Jml Pelanggan Unit 221.0 468.5 258 817 0 258.500.5 54.281.3 108.375 279 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit 82.8 46.108.9          17.500.909.802.0 274.0 10.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348.3 2.3 645.0 23 2.0 Pelanggan Total 166.796.817.3 2.391.966.725 5 725 4.6 590.4 156.120.4 76.4 7.996.0        29.099.

L LAMPIRA AN A2.11 PROYEK KSI KEBUT TUHAN IN NVESTASI SISTE EM KALIM MANTAN BARAT B 280 .

g .Proyeksi y Kebutuhan Investasi Pembangkit.178 283 Distribusi 25 35 37 39 26 38 42 45 33 45 364 Total 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1.825 . Transmisi & Distribusi [Fixed Asset Addition] Kalimantan Barat (Juta US$) Tahun 281 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit T/L dan GI 0 13 82 14 322 98 75 37 163 1 75 69 149 21 74 1 119 1 119 27 1.

A2. 282 . Untuk memenuhi kebutuhan listrik tahun 2011-2020. Faktor beban diperkirakan antara 67. Ngabang dan Ketapang. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran A2. Sistem-sistem kecil lainnya masih beroperasi isolated. kecuali PLTU Percepatan Tahap 1.304 GWh pada tahun 2020.6% sampai 76. diperkirakan produksi energi listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 12. yaitu PLTU Parit Baru (2x50 MW) dan PLTU Kura-kura (2x25 MW) yang direncanakan beroperasi tahun 2013. di Kalimantan Barat terdapat sewa PLTD lebih dari 100 MW. Saat ini sistem Kalimantan Barat belum terinterkoneksi dengan sistem Kalimantan Selatan dan Tengah.6% per tahun sampai dengan tahun 2020. Sintang. Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 270 MW (termasuk sewa).121 GWh pada tahun 2011 menjadi 3.1. Sekadau. Saat ini. Tambahan pembangkit pada sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap rencana. dimana semua pembangkit di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga biaya operasi sangat tinggi. Sanggau. Penandatangan kontrak untuk kedua PLTU ini sudah dilaksanakan pada tahun 2009. yaitu meningkat dari 1.7% per tahun. SISTEM KALIMANTAN BARAT A2.9% Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2011 sebesar 186 MW akan meingkat menjadi 548 MW pada tahun 2020 dengan tersambungnya beberapa sistem isolated yaitu sistem Singkawang.PENJELASAN LAMPIRAN A2. Sambas. yaitu tumbuh rata-rata 12. Nanga Pinoh.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi Sistem interkoneksi Kalimantan Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Kalimantan Barat (Khatulistiwa) merupakan salah satu sistem besar di pulau Kalimantan selain Sistem Kaltim (Mahakam) dan Sistem Kalimantan Selatan & Tengah (Barito).

meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan mengantisipasi keterlambatan pembangunan proyek PLTU.Sarawak Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan BPP dengan menggantikan pembangkit BBM. Tidak ada ketentuan take or pay yang berbasis daya. Untuk memenuhi kebutuhan demand jangka panjang di Kalbar.Pada tahun 2014 dan 2015 sistem Kalimantan Barat akan melakukan pembelian listrik dari Serawak sebesar 50 MW pada LWBP dan 120 MW pada WBP untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. Setelah 5 tahun akan berubah menjadi power exchange. Pola operasi 5 tahun pertama adalah impor 50 MW flat pada LWBP dan maksimum 180 MW (on top dari beban dasar) pada WBP. PLTU batubara (ex Loan China 2x50 MW) di Parit Baru juga diharapkan beroperasi pada tahun 2014. maka direncanakan pembangunan PLTU Kalbar-1 sebesar 2x50 MW dan PLTU Kalbar-2 (2x50 MW). PLTU Batubara Dengan adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang. Proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2014. maka direncanakan PLTU batubara 3x7 MW di Sintang untuk beroperasi pada tahun 2012. hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang berbahan bakar mahal Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan mencapai 57% pada tahun 2013. interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasi power pada WBP. PLTU IPP Pontianak-2 diperkirakan akan mundur dalam waktu yang lama. Interkoneksi Kalbar . PLTU Pantai Kura-kura FTP1 (2x27. Dalam jangka panjang (setelah tahun ke-5) dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari Serawak adalah hanya selama WBP. Proyek-proyek strategis: 283 .5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2x50) diharapkan beroperasi pada tahun 2013. Namun hal ini masih dapat diterima dengan pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbaga sebab. Selain itu PLTU IPP juga akan dilaksanakan di Ketapang sebesar 2x10 MW. sedangkan PLTU IPP Pontianak 3 diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2015.

Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Produksi dengan menggunakan BBM adalah sebesar 650 GWh dan produksi dengan BBM dari pembangkit sewa sebesar 718 GWh (termasuk sistem isolated). Potensi air di daerah Nanga Pinoh memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut untuk 284 . Pada tahun 2011 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru berbahan bakar selain BBM. b. Sumber energi tersebut adalah Air.4. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU. c. Peranan sumber energi lain selain BBM dan batubara juga direncanakan. juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. maka produksi dengan BBM untuk sistem interkoneksi akan mencapa 1. produksi energi per jenis energi primer di sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2. maka diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar dapat dikurangi. HSD dan MFO. Adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang juga membuka peluang pembangunan PLTU batubara di daerah tersebut. A2. Rencana pembangunan beberapa PLTU di Kalbar merupakan salah satu usaha mengurangi biaya operasi pembangkitan mengingat pembangkit di Kalbar 100% berbahan bakar minyak. A2. − PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) 2x50MW dan PLTU Pontianak-3 diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem Kalbar.4 Neraca Energi Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan pengembangan pembangkit. Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.2.121 GWh.− Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai KuraKura) merupakan proyek strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini sudah terjadi.3.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A2. Peranan MFO yang pada tahun 2010 masih cukup tinggi di Kalbar.

Peranan HSD hingga tahun 2020 tetap penting.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar sampai dengan tahun 2020 adalah sepanjang 2. – Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan. A2. mengingat beberapa sistem kecil terisolasi dan tidak terhubung ke Grid sistem khatulistiwa masih menggunakan PLTD sebagai pembangkit. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem interkoneksi sebesar 296 juta liter dan pada tahun 2020 sebesar 12 juta liter. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A2.240 MVA.5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%.83 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 4 kali lipat. Volume pemakaian batubara meningkat dari 0. – Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. d.4. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. meliputi.818 kms. – Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar . A2. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020.57 juta ton pada tahun 2013 menjadi 1.memenuhi kebutuhan listrik. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan Barat sampai dengan tahun 2020 sebesar 1. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada Lampiran A2.5.Sarawak untuk mendapatkan benefit ekonomi dari energy exchange pada saat terjadi 285 . PLTU IPP dan PLTA. PLTA Nanga Pinoh direncanakan dapat beroperasi sebesar 98 MW pada tahun 2017/2018.

transmisi 150 kV Singkawang–Bengkayang dan transmisi 150 kV Siantan–Tayan. Tegangan sistem tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (142 kV). Tahun 2015 PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 2x27.6. Tahun 2018 PLTU Kalbar-1 2x50 MW. 2.d 2012 adalah transmisi 150 kV Sambas–Singkawang. Pada RUPTL 20112020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012. Tambahan transmisi baru dari tahun 2013 s. PLTA Nanga Pinoh 89 MW beroperasi pada tahun 2016-2018.8 Analisis Aliran Daya Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya.5 MW. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. transmisi 150 kV Bengkayang – Nabang – Tayan – Sanggau – Sintang.d 2015 adalah transmisi 275 kV Bengkayang – Border (Sarawak). yaitu 50 MW di LWBP dan 120 MW di WBP. Sistem Kalbar juga telah terinterkoneksi dengan sitem Sarawak.7 Peta Pengembangan Penyaluran Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2. Pola operasi interkoneksi dengan Sarawak masing tetap sama. Tahun 2012 Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 s. 2015 dan 2019. PLTU Parit Baru (FTP1) 2x50 MW.7. PLTU Pontianak-3 50 MW sudah beroperasi pada tahun 2013 s.perbedaan marginal cost antara kedua sistem. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2. Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. A2. A2. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Tegangan sistem tertinggi di GI Singkawang (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (148. 3. Interkoneksi ini juga bermanfaat sebagai contingency apabila konstruksi pembangkit baru terlambat. Tegangan sistem 286 .d 2015. PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) .5 kV).

d 2019 ada tiga ruas transmisi yaitu SUTT 150 kV Tayan–Sandai.9.655 49.980 41. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1.543 36.944 287 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44. SUTT 150 kV Sukadana–Ketapang.189 40.353 55.tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (153 kV) dan tegangan terendah di GI Nanga Pinoh (143 kV).9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. A2.973 38.419 52.773 464.467 58. SUTT 150 kV Sandai–Sukadana. PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.105 46. Tambahan transmisi baru dari tahun 2016 s.457 .381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3. • Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan • Perbaikan SAIDI dan SAIFI • Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua • Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran A2.

5 4.8 26.0              353             14.9 32.725 4.2 35.3 Total 2.5 % di tahun 2014 untuk regional Kalimantan Barat.6 364.2 18.5 511.3 2.PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM JTR 10.3 2. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.1 33.525            1.8 3.375 288 Listrik murah 875 . JTR 3.6 7.0 182.509.7 7.5 5.3 645.6 2.9 15.3 18. menjadi 66.9 4.0 36.0 167.8 6.7 160. gardu distribusi USD 56 juta dan sambungan pelanggan USD 34 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 36 juta.5 2.5         1.4 3.7 Trafo 7. kapasitas gardu distribusi 540 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 464 ribu pelanggan.0 2.623.7 12.4 197 62 47 47 5.4 18.6 11.10 Program Listrik Perdesaan Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348.7 44.0 10.3 38.1 41.3 5.2 17.9 11.7 4.0 9.8 19.0 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 20112020 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 1.9          17.1 13.8 13.3 % tahun 2010.1 11.7 38.4 2.2 4. A2. • Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 58.6 590.6 25.6 5.3 5.944 kms.1 4.0 JTR kms Trafo MVA Unit Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 221.5 10.2 19. JTR USD 113 juta.2 10.6 56.381 kms.4 Pelanggan 4.3 2.125 4.2 113.6 7.7 44.3 17.0 468. untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 364 juta (JTM USD 161 juta.

5 JTR Trafo Pembangkit 54.0 milyar. A2.5 91.5 milyar).8 23.510 kms.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.802.8 46.4 156.8 milyar.808.395. halaman 96.500.0 Pelanggan Total 166.11. JTR 1.817. pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 22.9         277.996.1       22.1 22.8 7. gardu distribusi Rp 30.12.909. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.391.909.983.099. Kapasitas gardu distribusi 17 MVA.120.281.375. JTR Rp 278.3 159.875.416. untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 776.108.081.3 milyar (dengan rincian JTM Rp 445.0 milyar. dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 1.0        29.5 258.Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 82.4 8.966.624 kms.0                 ‐         776.9 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Barat tahun 2011-2014 diatas.0 274. transmisi dan gardu induk sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.4 76.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4. A2.3 108.500.8 6.796.992.4 7.0         445. 289 .

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 290 .

PROVINSI LAMPUNG A13. PROVINSI JAMBI A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN A11. PROVINSI SUMATERA BARAT A9. PROVINSI RIAU A6.RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT A3. PROVINSI SUMATERA UTARA A5. PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG A8. PROVINSI KEPULAUAN RIAU A7. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM A4. PROVINSI KALIMANTAN BARAT 291 . PROVINSI BENGKULU A12.

Saat ini daerah yang sudah dipasok sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui 7 gardu induk yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang. Bireuen. Sekitar 71% dari sistem kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sisanya 29% dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar. Aceh Timur.1. Pidie dan Pidie Jaya. Langsa. Peta sistem kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ditunjukkan pada Gambar A3. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. dengan posisi pembangkit semua berada di Sumut.LAMPIRAN A. Gambar A3.1 Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 292 . Banda Aceh dan Aceh Besar. Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok oleh PLTD berbahan bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV. Lhokseumawe.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM A3.1.

1 dan Tabel A3.2 KIT-PLTD // 20 KV= 15 MW 20 3 Lhokseumawe a. Nagan Raya. Aceh Tenggara. Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah 390 MVA. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa genset sebesar 150 MW di 4 lokasi.7 293 .Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan pemadaman karena jumlah kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai cadangan daya yang cukup.9 MW 28. Aceh Barat Daya. Juli Bireun 30 30 4 Langsa a. Pemadaman dalam skala besar bisa terjadi apabila ada gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit pembangkit berkapasitas besar. Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya. Idi 30 Jumlah 10 85. Aceh Selatan. Aceh Barat. Kota Subulussalam. Rincian kapasitas GI dan pembangkit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3. Tualang Cut 10 c. Bayu Keterangan 60 2 Sigli a.2. Tabel A3. Gayo Lues. Aceh Singkil. Alur Bate.4 KIT-PLTD // 20 KV= 20 MW 81.9 KIT-PLTD // 20 KV= 57. Kota Sabang dan Simeulu terdapat genset sewa dengan kapasitas total 53 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut.1 Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2010 Nama No Gardu Induk Kapasitas Trafo (MVA) Peak Load #1 #2 #3 1 Banda Aceh a. Tijue (MW) 10 390 239. Lambaro 30 30 30 10 30 30 b.2 KIT-PLTD // 20 KV= 70 MW 44. Alur Dua 30 b.

PLTM HSD. baik di sistem interkoneksi maupun sistem isolated. 294 . yaitu Rp 2. Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih tinggi. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2010 No Nama Pembangkit A Sistem Interkoneksi 150 KV 1 Banda Aceh Bahan Bakar Pemilik PLTD HSD PLN 22 86 Swasta PLN 45 14 81 Swasta 70 PLN 8 Swasta 20 PLN 0 Swasta 15 Genset Sewa 2 Lhokseumawe PLTD HSD Genset Sewa 3 Sigli PLTD HSD Genset Sewa 4 Langsa Daya Beban Mampu Puncak (MW) (MW) Jenis PLTD HSD Genset Sewa Total A 28 44 194 240 13 13 B Sistem Isolated 1 Takengon 2 Sabang 3 Kutacane PLTD HSD PLN PLTD HSD PLN 7 4 PLN 14 9 PLTD. Air 4 Blangkejeren PLTD HSD PLN 5 3 5 Meulaboh PLTD HSD PLN 46 23 6 Calang PLTD HSD PLN 6 5 6 Sinabang PLTD HSD PLN 7 4 7 Blang Pidie PLTD HSD PLN 16 9 8 Tapaktuan 9 Subulussalam 10 Isolated Kepulauan Total B PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD PLN PLN PLN 7 19 2 282 4 12 1 172 Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang telah mencapai sekitar 325 MW sebagian besar dipasok dari pembangkit-pembangkit yang berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan Brandan – Langsa – Idie – hingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 230 MW dan sistem isolated tersebar rata-rata 85 MW.Tabel A3.2.238/kWh karena masih dioperasikannya banyak PLTD.

9% dan tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh sekitar 13. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari 272 MW pada tahun 2009 menjadi 299 MW pada tahun 2010.3.6 219. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada Tabel A3. Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 961 GWh (64%). PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.4.7 3.9 14.7 267.3.0 Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 16. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik.5 44.4% per tahun.491.0 100. dimana penjualan pada tahun 2006 sebesar 839 GWh telah meningkat menjadi 1. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2010 No 1 2 3 4 Kelompok Tarif Rumah Tangga Komersil Publik Industri Jumlah Energi Jual (GWh) 960. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. Penjualan pada tahun 2010 tumbuh hinggga 16. kemudian sektor bisnis sebesar 268 GWh (18%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.492 GWh pada tahun 2010.1 1.9 Porsi (%) 64. Hal tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi AcehNias pada tahun 2006 s/d 2010.A3. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal penting dalam pemulihan ekonomi Aceh.4 17. Tabel A3.8%. 295 .2.

798 1.619 1.508 2. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan pembangunan sarana pembangkit.515 5. namun sudah dieksploitasi dan saat ini sudah jauh berkurang.4.855 2.727 3.029. transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.184. yaitu panas bumi 589 MW.254 1.313.869 5.3.698 1.2.936 2.Tabel A3.214. Disamping itu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga terdapat cadangan gas.149.368 4.402 2.279.068.108.2% A3. tenaga air 1. Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.246.552 1.920 1.105 1.609 4. 296 .687 1.0% Pelanggan 1.482 MW dan cadangan batubara 1.111 2.089 1.252 3.024 12. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.208 3.9% Produksi (Gwh) 1.448 1.842 3.409 11.7 miliar ton.206 2.476 3.904 4.044 4.349.7% Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 11. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersedia cukup besar.084 3.

5. Peta Sumber Energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pengembangan Pembangkit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2020 diperlukan pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya sebesar 1. 297 .102 MW dan pada sistem isolated dengan daya sebesar 65 MW dengan rincian diberikan pada Tabel A3.2.Gambar A3.

Singkil 8 MW. Lhokseumawe 70 MW. Kutacane 6 MW. Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini. PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW. dan Sabang 8 MW. maka beroperasinya PLTA Peusangan 88 MW.5. Calang 4 MW. Takengon 4 MW. Blang Pidie 4 MW dan Sinabang 3 MW. Sabang 2 MW. Meulaboh 15 MW.5 70 400 88 7 55 83 10 1167 COD 2012 2012 2012-13 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2015-16 2016 2017 2017 2018 2019 Pembangunan PLTP Seulawah 55 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan WKP PLTP Jaboi di Sabang 10 MW sudah dilelang oleh Pemko Sabang. Mengingat daya pembangkit pada sistem interkoneksi Sumut – Aceh belum seimbang dengan demand yang ada.5 MW.2 (FTP1) Tapaktuan Aceh Aie Tajun / Sinabang Lhokseumawe Sabang (FTP2) Singkil Meulaboh Takengon Aceh Timur Meulaboh #3. Langsa 15 MW. Rencana Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Proyek Meulaboh #1. 298 .Tabel A3. Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok penyediaan listrik di sistem kecil isolated akan dibangun PLTU skala kecil di Tapak Tuan 2x7 MW.4 Peusangan 1-2 Lho Pria Laot Seulawah (FTP2) Peusangan-4 Jaboi (FTP2) Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTG PLTGB PLTG PLTGB PLTGB PLTM PLTM PLTG PLTU PLTA PLTP PLTP PLTA PLTP PLN PLN Swasta PLN PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 220 14 66 6 120 8 8 10 1. sampai dengan beroperasinya PLTU Nagan 2x100 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV. sebagai berikut: Banda Aceh 45 MW. PLTGB di Sinabang 6 MW. Blang Keujeuren 2 MW. Rimo 7 MW. Kuta Fajar 2. dan PLTP Seulawah Agam 55 MW sangat penting untuk memperbaiki sistem kelistrikan Aceh. Sigli 20 MW. PLTG Lhokseumawe 120 MW.

Tabel A3. Pengembangan GI Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Jantho Meulaboh Panton Labu Blang Pidie Kutacane Sabulussalam Takengon Tapak Tuan Blang Kjeren Krueng Raya Samalanga Ulee Kareng Cot Trueng Lam Pisang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 299 Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 30 30 60 30 30 60 30 120 30 120 690 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2018 .250 MVA sampai dengan tahun 2020. maka kebutuhan penambahan kapasitas trafo GI di PLN Wilayah Aceh tahun 2011 s/d 2020 untuk pembangunan GI baru adalah sebesar 690 MVA dan extension GI sebesar 660 MVA. Disamping itu juga akan dibangun GI 275 kV di Aceh dengan total kapasitas 1.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Pembangunan GI baru untuk mengevakuasi energi listrik dari pembangkit skala besar dan dari hasil perkiraan pertumbuhan dan capacity balance per gardu induk.6.

2 juta seperti yang ditampilkan dalam Tabel A3.98 2015 275/150 kV Baru 500 21.2 Jumlah Pengembangan Transmisi Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2020 adalah 1.8.03 2018 1250 87.9 dan Tabel A3. Pengembangan Extension GI Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Banda Aceh Sigli Lhokseumawe Langsa Tualang Cut Banda Aceh Idi Sigli Bireuen Jantho Meulaboh Tualang Cut Cot Trueng Panton Labu Samalanga Bireun Subulussalam Tualang Cut Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 60 30 60 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 660 COD 2011 2011 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2018 2019 2019 2019 2020 2020 2020 Tabel A3. 300 .645 kms (150 kV) dan 452 kms (275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 263.Tabel A3.10.7.08 2015 3 Sigli 4 Ulee Kareng 275/150 kV Baru 250 25. Pengembangan GI 275 kV No Nama Gardu Induk Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 1 Lhokseumawe 2 PLTU Meulaboh 275/150 kV Baru 250 20.08 2015 275/150 kV Baru 250 20.

cct.2 4. cct. Pembangunan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Jantho Meulaboh Panton Labu Sigli Bireun Blang Pidie Brastagi/Berastagi PLTU Meulaboh Sidikalang Krueng Raya Samalanga Takengon Ulee Kareng Cot Trueng PLTA Peusangan-1 PLTA Peusangan-2 PLTP Seulawah Banda Aceh Takengon Jumlah Ke Konduktor Tegangan Inc.10.7 3. cct.200 pelanggan setiap tahunnya. (Sigli-Banda Aceh) Lam Pisang PLTA Peusangan-4 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 cct. cct.5 130 29.6 7.1 10. cct. cct. cct. cct.0 0. cct.3 1.3 MVA. 301 .3 452 101. 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 322 72.2 9.7 COD 2015 2018 Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tersebut di point 2. JTR sekitar 13. (Bireun-Sigli) Blang Kjeren Banda Aceh Inc.3 1.6 0. cct.11. cct.9. cct.1 3.2 16. cct.979 kms. (Sigli-Banda Aceh) PLTU Meulaboh Inc.2 di atas.0 9. diperlukan pembangunan JTM 11. (Bireun-Lhokseumawe) PLTA Peusangan-2 Takengon 2 Pi Inc.1 75.Tabel A3. Selaras dengan penambahan pelanggan.6 9. cct. cct. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Zebra 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 1 60 2 333 126 130 290 190 111. diperlukan tambahan pelanggan baru 362 ribu pelanggan atau rata-rata 36. seperti ditampilkan dalam Tabel A3. Pembangunan Transmisi 275 kV No 1 Sigli 2 Sigli Jumlah Dari Ke Tegangan Lhokseumawe Ulee Kareng 275 kV 275 kV Konduktor 2 cct. cct.3 0.5 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2016 2016 2017 2018 2018 Tabel A3.558 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 720.1 1.5 2.1 161. 2 Zebra 2 cct. (Idi-Lhokseumawe) PLTU Meulaboh Takengon Tapak Tuan Kutacane Blang Pidie Sabulussalam Ulee Kareng Inc. cct.5 6.2 60 4 174 40 6 14 22 32 30 20 1645 0. cct.

namun yang akan dikembangkan oleh Pemko Sabang saat ini sebesar 2 x 5 MW yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013 dan 2017.132 1.979 JTR kms 994 1.11. 302 . Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam telah menetapkannya sebagai kawasan industri yang akan menjadi pusat kemajuan ekonomi Aceh.568 1.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.061 1.193 40.673 1. PENGEMBANGAN PULAU WEH – SABANG Sabang merupakan merupakan kawasan istimewa karena berada pada jalur lalu lintas pelayaran dan penerbangan internasional.Tabel A3. Dalam rangka mendukung pengembangan kawasan Sabang oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam.8 MW.578 11.786 13. PLN mendorong pembangunan PLTP Jaboi 7 MW oleh IPP dan siap untuk membeli dengan harga yang wajar. telah dibentuk BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang) dengan harapan dapat menjadi fasilitator dalam pengembangan ekonomi baik skala provinsi.2 MW dan beban puncak 2. nasional.290 1.000 1.068 1.179 34.418 33.216 1. Untuk mempercepat pengembangan Sabang.227 39.140 1. Disamping itu untuk menjaga kemungkinan kemunduran beroperasinya PLTP Jaboi.171 41.447 34.478 1.332 362.377 1. Disamping itu pulau yang eksotis ini juga akan dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sistem kelistrikan saat ini dipasok dari PLTD dan genset sewa dengan daya mampu 4.298 1. PLN juga akan PLTGB 8 MW pada tahun 2013.469 1.4. Untuk memajukan Sabang. penyediaan tenaga yang memadai dan handal sangatlah diperlukan.385 1.291 30.208 1.369 35.225 A3. regional dan international. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1.598 31. Potensi energi panas bumi di Sabang diperkirakan sebesar 70 MW. sehingga menjadi salah satu pintu gerbang kegiatan ekonomi Indonesia.

609 4.515 5.097 46 494 240 127 462 455 217 251 101 78 2.478 Pembangkit (MW) 303 0 278 176 70 200 288 62 83 10 0 1.476 3.842 3.12. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A3.206 2.472 .869 5.600 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 396 847 278 328 36 32 180 0 0 2.727 3.5.368 4.084 3.111 2.904 4.508 2.855 2.936 2.698 1.402 2.205 Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 5.409 34.A3.12.044 4. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.208 3.024 31.167 GI (MVA) 90 120 240 300 930 60 30 650 90 90 2. Tabel A3.591 Produksi Energi (Gwh) 1. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.

4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA UTARA A4. maka pada saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir. Untuk menanggulangi pemadaman yang berkepanjangan. ada beberapa PLTMH yang memasok listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW. PLN Wilayah Sumatera Utara melakukan demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban.1.1. yaitu membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru.339 MW dan dipasok oleh Sektor Pembangkitan Belawan.146 MVA.LAMPIRAN A. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem transmisi 150 kV (tidak termasuk Pulau Nias / Gunung Sitoli. Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban. Pulau Tello dan Pulau Sembilan yang beroperasi secara isolated). Jumlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2. Disamping pusat-pusat pembangkit di atas. Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan beban puncak. 304 . Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan Labuhan Angin. Sektor Pembangkitan Medan. Teluk Dalam. Peta kelistrikan sistem Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4. Saat ini beban puncak sekitar 1.

305 .1. Pakkat(2x5).5).2013 ACSR 1 x 240 mm2 30 km .6 km .2019 ACSR 1 x 240 mm2 25 km .2014 Panyabungan Edit September 2011 Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G PLTU D PLTD PLTG A PLTA PLTGU P PLTP Kit Eksisting Kit Rencana GU P ke GI Payakumbuh (Sumatera Barat) AC PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA UTARA Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV PLTP Sorik Merapi (FTP2) 240 MW – 2018 S 23 R 1 km x 2 .2013 ACSR 1 x 240 mm2 65 km – 2012 Rantau Prapat Kota Pinang Tarutung P PLTP Sipoholon Ria-Ria Sarulla 55 MW – 2019 ACSR 2 x 430 mm2 69 km .2016 Asahan III A ACSR 1 x 240 mm2 7 km .Lae‐Kombih2(2x4) 2 CU 1000 KIM 10 km ‐ 2015 Paya Geli Kualatanjung D Renun to GI Sabussalam (NAD) A Brastagi PLTA Renun 2 x 41 MW G Lamhotma Glugur Binjai PLTU Sewa Kuala Tanjung 3x120 MW – 2013 ACSR 2 x 240 mm2 15 km .2 40 01 mm 7 2 PT PLN (Persero) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc Gambar A4.14 MW Kisaran ACSR 4 x 282 mm 200 km .Susu #1.2020 Sidikalang Pangururan 2 Porsea ACSR 1 x 240 mm2 13 km . kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4.2013 Labuhan Bilik A PLTA Hasang 40 MW ‐ 2017 Dolok Sanggul/ Parlilitan PLTA Asahan I 180 MW ‐ 2010 Asahan I Simangkok Tele Salak PLTMH tersebar Parlilitan (3x2.2011 ACSR 2 x 430 mm2 11 km ‐ 2013 ACSR 1 x 240 mm2 15 km ‐ 2013 T. Susu #3.2013 PLTMH tersebar Lae‐Ordi‐1(2x2. Namun pasokan tenaga listrik (pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu (derating capacity) karena umur pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit baru yang relatif kecil.Lae‐Ordi‐ 2(2x5). Simonggo(3x3).4 ACSR 2 x 430 mm2 2 x 200 MW – 2015 80 km .2013 Pematang Siantar Namurambe Sei Rotan Kuala Namu Titi Kuning ACSR 2 x 430 mm2 40 km ‐ 2012 Denai ACSR 2 x 240 mm2 17 km – 2013 T.2) Karai‐12(2x3.2013 PLTG BELAWAN 400 MW – 2013 GU U P. Secara lebih rinci.2013 PLTP Sarulla 1 (FTP2) 330 MW – 2014/2015 PLTP Sarulla 2 (FTP2) 110 MW – 2017 Sibolga Labuhan Angin Aek Kanopan PLTA Asahan III (FTP2) 174 MW ‐ 2016 A A P ACSR 2 x 240 mm2 11 km . Brandan PLTA Wampu 45 MW – 2014 Belawan G PLTGU Belawan 395.85 MW 5 6 Perbaungan 10 7 3 9 1 14 16 8 ACSR 2 x 430 mm2 80 km . Peta Kelistrikan Sumatera Utara Penjualan tenaga listrik PLN di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonominya.85 MW & 12. Pura PLTG Paya Pasir 90 MW (Total) 11 4 to GI Kutacane (NAD) Binjai 13 2 11 12 ACSR 1 x 240 mm 178 km . Rahu‐1(2x4).2017 A A PLTA Simonggo – 2 86 MW – 2017 P ACSR 1x 240 mm 2 km .2 km ‐ 2012 Labuhan G PLTG Glugur 19.2013 ACSR 1 x 240 mm2 40 km ‐ 2014 Galang P ACSR 1 x 240 mm2 33 km .2018 PLTP Simbolon Samosir 2 x 55 MW – 2019 2 ACSR 2 x 430 mm2 97 km .Para A PLTP Sibayak 10 MW ACSR 1 x 240 mm2 55.3 MW & 422.2013 U Tebing Tinggi 15 A 2 Paya Pasir Mabar PLTU Belawan 4 x 65 MW ACSR 2 x 240 mm2 6.U ke GI Langsa (NAD) PLTU P.7) Karai‐13(2x4.Morawa 2 ACSR 2 x 430 mm Galang 10 km ‐ 2012 PLTD Titi Kuning 6 x 4.2) G. TaraBintang(2x5).5).5). Hutaraja(2x2.5 MW U A PLTU Labuhan Angin 2 x 115 MW ke GI Bagan Batu (Riau) Gunung Tua PLTA Sipan 17 MW & 33 MW Padang Sidempuan ACSR 1 x 240 mm2 70 km – 2013 ACSR 2 x 430 mm2 300 km . Rahu‐2(2x2.5) Perbaungan GIS Listrik D ACSR 2 x 430 mm2 159 km .1.2 (FTP1) 2 x 220 MW – 2012/2013 PLTU P.2013 Negeri Dolok PLTM Tersebar Karai‐1(2x5) Karai‐7(2x3.2013 ACSR 1 x 240 mm2 30 km .

#1 2 PT Growt Sum.0 82.5 0.0 210 210 205 10 180 8 8 25 6 9 10 1.3 0.5 1.1 GT 2.0 GT 2.9 0. Pembangkit A Sektor Pembangkitan Belawan 1 PLTU Belawan PLTU Belawan 2 PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan 3 PLTG Belawan TTF B Sektor Pembangkitan Medan 1 PLTG Glugur PLTG Glugur PLTG Glugur TTF 2 PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir TTF PLTG Paya Pasir TTF 3 PLTD Titi Kuning 4 PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta) 5 PLTD Sewa Belawan (AKE) C Sektor Pembangkitan Pandan 1 PLTMH Batang Gadis 2 PLTMH Tonduhan 3 PLTMH Kombih I 4 PLTMH Kombih II 5 PLTMH Boho 6 PLTMH Aek Raisan 7 PLTMH Aek Silang 8 PLTMH Aek Sibundong 9 PLTA Sipansihaporas 10 PLTA Lau Renun D Sektor Pembangkitan Labuhan Angin 1 PLTU Labuhan Angin E IPP 1 PLTP Sibayak 2 PLTA Asahan I 3 PLTMH Parlilitan 4 PLTMH Silau II F Excess Power 1 PT Growt Sum.8 0.2 ST 1.2 1.2 1994 1987/88 1987/88 1987/88 1989 1987/89 1988 1987 2003/04 2005/06 1.2 ST 2.#2 3 PT Growt Asia TOTA L Unit Tahun Operasi 1.2 1 1.1.4 1.1 GT 1.2 1.822 .7 50.183 130 130 118 129 149 130 130 163 105 300 20 13 12 29 40 21 22 34 25 20 65 139.2 3.0 - 1984 1989 1993 1988 1995 1995 1994 1994 - 1 2 3 1.2 1. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2010 No.4 GT 1.2 - 2008 2010 2010 2010 - 2009 2010 2011 306 Kapasitas Terpasang (MW) 1.0 230 230 206 11 180 8 8 25 6 9 10 2.2 1.Tabel A4.7 0.2 1.2 3.033 90 105 105 115 120 130 130 133 105 213 0 0 11 0 33 17 18 34 18 18 65 136.2 1 1 1.5 0.4 5 6 7 1-6 - 1975 1967 2008 1976 1978 1983 2008 1976 2008 2008 1.8 0.2 2008 1.8 50.084 Daya Mampu (MW) 1.3 0.0 80.2 1.4 1.5 0.2 1.1 0.

605 1.650 4.380 5.000 3. 307 .920 700 700 33. Tabel A4.850 4.903 400 400 20.700 4. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.598 4.PLTD Sewa . Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang tegangannya terlalu rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang (sampai 200 km dari gardu induk). misalnya GI Titi Kuning.225 8. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.920 6.320 Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari seluruh demand di provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi. GIS Listrik dan GI KIM.650 14. Pulau Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4.2. Dengan adanya pembangunan KIM 3 (Kawasan Industri Medan tahap tiga) diperlukan penambahan GI baru untuk mengurangi beban lebih pada beberapa GI. A4.3. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada Tabel A4.PLTD Sewa Total PLTD Gunung Sitoli 2 Teluk Dalam .Sedangkan kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung Sitoli.2.PLTD Sewa Total PLTD Teluk Dalam 3 Pulau Tello .PLTD PLN . Pembangkit Sistem Isolated per 2010 No Daya Terpasang Mampu (kW) (kW) Lokasi PLTD 1 Gunung Sitoli .2. Situasi ini telah diketahui oleh PLN dan direncanakan penanggulangannya dalam RUPTL ini.500 24.070 5.PLTD PLN Total PLTD Pulau Tello Total PLTD Cabang Nias 12.PLTD PLN .178 5.Teluk Dalam (Pulau Nias).

616.915.853 17.750 1.2% Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Produksi (Gwh) 7.8% Beban Puncak (MW) 1. GI dan distribusi sebagai berikut.134.451 2.257 7.250 13.631 15.669 2. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.928 3.9% Pelanggan 2.4. transmisi. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sales (Gwh) 7. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik cukup besar dalam bentuk tenaga air dan panas bumi.041 3.258 11.212 12.642 9.797.899 2.289 8.998 8.421 10.208 2.942 2.487 10.825 3.367.251 2.676.320 11.5.281 3.921 8.3.537 15.210 12.3.388 14.489.248.Tabel A4. Daftar Potensi PLTA > 10 MW No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Perkiraan Kapasitas Pengembang COD (MW) Asahan 3 2015 PLN 174 Wampu 2016 IPP 84 Asahan 4-5 2017 PLN 60 Simanggo-2 2018 PLN 59 Bila-2 2019 PLN 42 Kumbih-3 2019 PLN 42 Sibundong-4 2019 PLN 32 Lake Toba 2020 PLN 400 Ordi-3 2020 PLN 18 Ordi-5 2020 PLN 27 Raisan-1 2020 PLN 26 Siria 2020 PLN 17 Toru-2 (Tapanuli Utara) 2020 PLN 34 Toru-3 (Tapanuli Utara) 2026 PLN 228 Nama 308 .919 3.Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.721 9.935 3.907 8.612 1.484 1.331 14.9% A4. Tabel A4.991 9.068 2.869 3.748.681 3.363 1.032.4 dan Tabel A4. Namun provinsi ini tidak mempunyai potensi batubara sedangkan sumber gas alam telah mengalami penurunan.226 13.

0 7.2 5.0 10. Sinabung Pusuk Bukit Simbolon Existing / Expansion Existing / Expansion High Possibility Low Possibility Tidak cukup data Tidak cukup data Tidak cukup data 660 160 500 50 - 309 Dibatasi Oleh Taman Nasional Demand (MW) (MW) 630 630 40 40 100 100 50 50 - .0 PLTU Nias 31.0 PT Victorindo Alam Lestari 8.5 10.5.0 7.6. Apabila proyek tersebut layak secara teknis.5 PT Nubika Jaya 15.0 10.6 LOKASI Tobasa Humbahas Humbahas Dairi Pakpak Barat Pakpak Barat Taput Simalungun Simalungun Simalungun Simalungun Pakpak Barat Humbahas Tapteng Tapteng Langkat Humbahas Humbahas Dairi COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 NO 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 II 1 2 3 4 5 NAMA PEMBANGKIT DAYA (MW) 8.0 9.3 10.Evergreen Paper Int 2.5 Total 137.0 Sidikalang 1 Sidikalang 2 Simbelin 1 Simonggo Sei Wampu 2 Lae Kombih 4 Aek Sisiran Aek Rambe Batang Toru 3 Batang Toru 4 Total IPP EXCESS POWER PT. Daftar Potensi PLTM < 10 MW NO I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 NAMA PEMBANGKIT IPP Parluasan Huta Raja Pakkat 1 Lau Gunung Lae Ordi Lae Kombih 3 Batang Toru Karai 1 Karai 7 Karai 12 Karai 13 Lae Ordi 2 Tara Bintang Raisan Huta Dolok Raisan Naga Timbul Sei Wampu 1 Rahu 1 Rahu 2 Sidikalang 1 DAYA (MW) 4.0 7.0 6.0 7.Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan.6 Daftar Potensi Panas Bumi Lokasi Panas Bumi Keterangan Potensi (MW) Sarulla & Sibual Buali Sibayak/Lau Debuk-Debuk Sorik Merapi Sipaholon G.0 8.7 6.0 10.0 8. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).0 Total Excess Power 59.2 5. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut. Tabel A4.4 6.0 9.0 3.0 8.0 PTPN III Sei Mangkei 3. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.0 10.0 10.0 7.6 7.5 LOKASI COD Dairi Dairi Dairi Humbahas Langkat Pakpak Barat Humbahas Humbahas Taput Taput 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 Deli Serdang Simalungun Labuhan Batu Padang Lawas Gunung Sitoli 2012 2012 2012 2012 2014 Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia oleh WestJEC/Direktorat Jendral Minerbapabum tahun 2007.0 10. Tabel A4. potensi panas bumi yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.0 10.0 9.0 78.

Selain itu direncanakan pula pengembangan transmisi 150 kV yang merupakan jaringan regional untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan yang lebih terbatas.4 (FTP2) Asahan III (FTP2) Hasang Sarulla II (FTP2) Simonggo-2 Sorik Marapi (FTP2) Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria Pembangkit Peaker Sumut-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTG PLTU PLTM PLTA PLTGB PLTP PLTU PLTU PLTA PLTA PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLTG PLTU PLN PLN Sewa Swasta Swasta PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN Swasta Swasta Swasta PLN Sewa Kapasitas (MW) 440 400 360 154 45 8 330 21 400 174 38 110 86 240 110 55 200 225 3396 COD 2012-13 2013 2013 2013-15 2014 2014 2014-15 2014-15 2015 2016 2017 2017 2017 2018 2019 2019 2020 2020 Pengembangan Transmisi Di Sumatera dalam waktu dekat akan terwujud transmisi 275 kV sebagai tulang punggung sistem interkoneksi Sumatera 1 .7.Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2020 diperlukan pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4. Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera Utara setelah tahun 2020.2 (FTP1) Belawan Sumbagut PLTM Tersebar Sumut Wampu Nias Sarulla I (FTP2) Nias (FTP2) Pangkalan Susu #3.7. PLTP dan PLTA skala besar. Tabel A4. untuk ditransmisikan ke pusat-pusat beban. yaitu untuk mengatasi bottleneck penyaluran daya. mengevakuasi daya dari pusat 1 Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sumatera pada koridor timur. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Proyek Pangkalan Susu #1. Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan energi listrik antar provinsi di Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit utama seperti PLTU batubara. 310 .262 kms guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan. Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 2.

2 Hawk 6. cct. cct.2 1 cct.4 2 cct.8 dan Tabel A4.9.1 194 43.9. 1 Hawk 76 4.8 4 cct.3 2 cct.7 318 71. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV No 1 2 3 4 5 Dari Pangkalan Susu Galang Padang Sidempuan PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Jumlah Ke Binjai Binjai PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Galang Konduktor Tegangan 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 2 2 2 2 2 cct. 2 Zebra 22 5.3 2 cct.6 2 cct.8.0 138 31.4 1354 149.2 0. AC3 310 mm2 108 14. CU 1000 mm2 10 22. cct.Brandan-Binjai) Tele Pangururan PLTA Wampu Brastagi PLTU Nias Gunung Sitoli Teluk Dalam Gunung Sitoli GIS Listrik KIM Mabar Glugur Simangkok PLTA Asahan III(FTP 2) Panyabungan PLTP Sorik Marapi (FTP 2) Porsea PLTA Hasang Tarutung PLTP Simbolon Samosir PLTP Sipoholon Ria-Ria 2 Pi Inc. (Tarutung-Porsea) Jumlah Konduktor 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV COD 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2017 2018 2019 Tabel A4. 1 Hawk 50 2. CU 1000 mm2 10 22. meningkatkan keandalan pasokan.2 Tegangan Galang Namurambe Galang Tanjung Morawa Lamhotma Belawan Dolok Sanggul/Parlilitan Incomer 1 Pi (Tele-Tarutung) Rantau prapat Labuhan Bilik Galang Negeri Dolok Padang Sidempuan Panyabungan Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2) Pangkalan Brandan PLTU Sewa Sumbagut Tebing Tinggi Sei Rotan (uprate) Tebing Tinggi (uprate) Sidikalang Salak Tanjung Morawa Kuala Namu Tanjung Pura Inc. Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4.0 2 cct. 1 Hawk 30 1. 1 Hawk 46 2. 1 Hawk 130 7.1 2 cct.7 2 cct. Tabel A4.2 2 cct. 2 Hawk 34 2. 2 Hawk 30 2. 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 160 36. 1 Hawk 220 12.7 2 cct. 1 Hawk 60 3. 1 Hawk 8 0.3 2 cct.2 2 cct. menurunkan losses transmisi dan distribusi.7 2 cct. 1 Hawk 20 1. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Ke Panjang Biaya (kms) (juta US$) 2 cct.4 2 cct. mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu 311 . 1 Hawk 140 7. 2 Zebra 20 4.5 2 cct.2 2 cct. 1 Hawk 60 3. 2 Hawk 22 1. memperbaiki mutu tegangan. 1 Hawk 80 4. cct.2 1 cct. 2 Zebra 80 18.0 2 cct.8 2 cct. 1 Hawk 66 3. (P.0 160 36.pembangkit.6 970 218.3 COD 2012 2013 2013 2013 2013 Pembangunan Gardu Induk Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani pertumbuhan beban. 1 Hawk 26 1.4 2 cct.3 2 cct. mendapatkan tegangan pelayanan yang baik dengan membatasi panjang JTM. serta meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik.5 1 2nd cct.

470 MVA seperti terlihat pada Tabel A4. Tabel A4. Tabel A4.10 berikut.10.11. Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.11. Rencana Extension GI s/d Tahun 2020 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Binjai Denai Gunung Para Gunung Tua Padang Sidempuan Rantau Prapat Tanjung Morawa Tele Aek Kanopan Brastagi Glugur Gunung Tua Kisaran Labuhan Lamhotma Namurambe Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 30 30 60 60 30 30 60 60 10 60 30 60 60 COD No 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Pematang Siantar Perbaungan Porsea Rantau Prapat Sei Rotan Sibolga Sidikalang Tarutung Tebing Tinggi Paya Pasir Kota Pinang GIS Listrik Tanjung Pura Titi Kuning Paya Geli Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 20 60 60 60 30 30 60 60 30 60 30 60 60 1470 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2017 2017 2018 Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan pada Tabel A4.12.jauh dari konsumen. Rencana Pembangunan GI Baru s/d Tahun 2020 No Nama Gardu Induk Tegangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Galang Labuhan Bilik Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Negeri Dolok Pangururan Panyabungan Salak Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 0 60 10 60 60 30 60 60 30 30 30 430 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 Selain itu diperlukan juga extension banyak GI existing dengan menambah unit trafo hingga tambahan kapasitas seluruhnya mencapai 1. 312 .

538 1.4.011 120.720 116.160 Pelanggan 125. JTR sekitar 11. SISTEM ISOLATED NIAS DAN TELUK DALAM Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai kondisi sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera. (iii) Rawan gempa dan rawan 313 .2 juta pelanggan atau rata-rata 120.467 17.215 122.158 1.83 2011 275/150 kV 275/150 kV Baru Baru 0 1000 9. (ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota.850 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2. diperlukan pembangunan JTM 17.13. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.88 2013 275/150 kV Baru 500 24. Tabel A4.016 1.461 1.004 A4.092 918 996 1.800 kms.414 11.12.376 1.Tabel A4.805 JTR kms 1.260 1.078 1.076 2.197.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.218 1.353 102.718 1.160 MVA.587 113.11 35.438 1.378 1.03 2015 3250 143.00 2013 250 21.903 2. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.000 pelanggan setiap tahunnya.291 2. Rencana Pembangunan GI 275 kV s/d Tahun 2020 No Nama Gardu Induk 1 Binjai 2 Pangkalan Susu 3 Galang 4 Padang Sidempuan 5 Sarulla 6 Pangkalan Susu Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 1000 31.640 127.13 2012 2013 275/150 kV Baru 500 21.538 1.957 118.13.339 1. seperti ditampilkan dalam Tabel A4.0 275/150 kV Extension Jumlah Pengembangan Distribusi Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2020 adalah sekitar 1.238 132.266 118.

150 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 472 1. A4.226 13.421 10.231 320 504 315 469 496 5. maka telah diambil langkah-langkah sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan pembangunan PLTU 3x7 MW (IPP) dan PLTGB 8 MW (PLN).642 9.669 2. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan tahun 2020 adalah seperti Tabel A4.451 2.907 20. (v) Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan.251 2. beban puncak 9.537 15.326 320 20 22 106 50 8 0 2.921 8. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 7.14.750 1.991 110.258 11. Jumlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu.360 880 2. (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit dijangkau.974 Beban Puncak (MW) 1.487 10.631 15.721 9.998 8. terdiri dari Ranting Gunung Sitoli dan Ranting Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello.858 kW. Pasokan listrik untuk sistem kelistrikan dipasok dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk Dalam.210 12.longsor.968 Produksi Energi (Gwh) 7.960 kW.360 90 250 0 150 60 0 0 5.853 17.14 berikut: Tabel A4.612 1.484 1.320 11.453 Pembangkit (MW) 314 0 220 1.398 GI (MVA) 1.289 120.324 96 457 1.212 12. daya mampu 12.5. Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias.904 kW.072 507 1.468 .899 2.388 14.250 13.363 1. dan mengingat kondisi pembangkitan sudah tua.331 14.068 2. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya terpasang 28. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. daya tersambung 35 MVA dengan penjualan mencapai 52 GWh.257 7.063 209 666 174 236 240 165 425 3.

Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5.LAMPIRAN A.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI RIAU A5. yaitu Koto Panjang. Sebagian GI tersebut sudah mengalami overload dan perlu segera dimitigasi. Dumai. 315 .1. Bangkinang. Duri. Teluk Lembu. KONDISI SAAT INI Sistem Interkoneksi Pada sistem kelistrikan di Provinsi Riau terdapat 8 gardu induk (GI) 150 kV. Bagan Batu dan Taluk Kuantan. Garuda Sakti. dimana 43% dari kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang. dimana 30% (711 MW) berupa PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan kapasitas. Kapasitas pembangkit PLN di Riau yang tersambung ke grid sebesar 267 MW. dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan Riau masih diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara. Dengan demikian sistem Riau ikut mengalami defisit daya.1. Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit. Sistem kelistrikan Riau dipasok dari grid Sumatera sebesar 379 MW.

1. Kabupaten Bengkalis dan Meranti.Gambar A5. Bakar Pemilik PLTA PLTG PLTD PLTD PLTG PLTD PLTD Air Gas/HSD HSD HSD Gas HSD HSD PLN PLN PLN PLN PT Riau.1. Tabel A5. 316 .Power Sewa Sewa Kapasitas Terpasang (MW) 114 43 8 12 20 40 30 267 Jumlah Sistem Isolated Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu. Kapasitas Pembangkit per 2010 No. Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan daya mampu 44 MW. Indragiri Hilir.1. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Pembangkit PLTA Koto Panjang PLTG Teluk Lembu PLTD Teluk Lembu PLTD Dumai/Bg Besar PLTG Riau Power PLTD Sewa Teluk Lembu PLTD Sewa Dumai Jenis B. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV ditunjukkan pada Tabel A5.

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan.0 10 5.6 33 41.0 0 1.4 2.1 2. Dumai 3. Dumai 3.6 18. Rengat JUMLAH Daya Jumlah Terpasang Mampu (unit) (MW) (MW) Beban Puncak (MW) 42 80 115 7.1 17.0 1.1 4.8 18. Daftar pembangkit pada sistem isolated diberikan pada Tabel A5. Cab.6 16.2.0 38.2 44.2. 317 . Rengat JUMLAH MESIN SEWA 1. Cab. Cab.7 18.5 13. sehingga PLN menyewa pembangkit diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek. Cab.2 2.5 4. Rengat JUMLAH MESIN PEMDA 1.0 237 83.3 37. Cab. A5.3 Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh menurunnya daya mampu pembangkit.6 37. Cab.5 32. Pekanbaru 2. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila ada dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau.1 2.6 4. Pekanbaru 2.0 4.6-8.2 2.6 21. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6.3 1.2 1. Cab.7% pada tahun 2006-2010 (tidak termasuk migas) dan kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang.0 7.9 3 2 2 1. Dumai 3. meningkatnya konsusmsi listrik oleh pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan baru) dan kebutuhan sistem isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual beli (kontrak).2.8 12.6 3. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Riau. Tabel A5. Cab. Pekanbaru 2. Cab.7 7 23 13 2. Pembangkit Isolated per 2010 UNIT MESIN PLN 1.1 5.

274 3.687 4. Kuala Enok dan Tenayan-Pekanbaru.4% Produksi (Gwh) 2.302.3.923 1.013 3.663 3. karena seiring dengan perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai.726 5. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan.156 1.253 9.3.024 10.968 11.704 1.472 5. seperti Kawasan Industri Khusus Dumai.235.028 919.897 6. ditandai oleh adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten yang telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).046 4.028 4.386 4. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A5.031 1. pertumbuhan listrik di Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi.Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat.726 5.366.082 5.090 5.105. Kawasan Kuala Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru. Segat di 318 . A5.630 859. antara lain Seng.7% Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1. Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.422 10.680 1. Tabel A5.3.772 977.401 3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit pada sistem isolated dan sistem interkoneksi 150 kV serta pengembangan jaringan transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan.479 5.040.722 4.900 3.623 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. Buton.2% Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi. Dari realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.169.368 4.3% Pelanggan 801.

Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi. Menurut pra studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air yang cukup besar. Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas sekitar 1.4. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV yang memasok sistem Riau. Tabel A5.kabupaten Pelalawan. Disamping itu terdapat potensi batubarayang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi dengan cadangan 1. Namun perlu dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan dapat mempengaruhi potensi debit air.732 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5. Bento dan Baru di Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk Lembu.4. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 Proyek Duri 1 (Relokasi) Duri Duri Rengat Selat Panjang Bengkalis (FTP1) Dumai IPP Kemitraan Tembilahan Riau (Amandemen FTP1) Pembangkit Peaker Selat Panjang Baru #1.55 juta metrik ton2.2 Bengkalis PLTGB Riau Mulut Tambang Jumlah Jenis Pemilik PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTGB PLTU PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Sewa Swasta PLN PLN PLN Swasta PLN Swasta Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau 319 Kapasitas COD (MW) 60 2011-12 100 2012 100 2012 20 2012 6 2012 20 2013 240 2013 14 2013 14 2013 220 2013-14 200 2014 14 2014 24 2015/17/19 600 2016-17 1632 . yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170 MW.

000 MW tahap 1 yang saat ini sedang tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem interkoneksi 150 kV. PLTU Riau Mulut Tambang 2x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun 2016 – 2017. termasuk gas skala kecil. hingga tahun 2020 diperlukan pengembangan 14 GI 150 kV baru dengan kapasitas total 600 MVA dan extension GI dengan tambahan kapasitas 730 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5. Selat Kabupaten Inhil. PLTG Duri dengan kapasitas total 160 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya mengurangi kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan Jambi Merang.6. seperti di Melibur Kabupaten Meranti. Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Tembilahan Kabupaten Inhil.5 dan Tabel A5.PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan salah satu proyek percepatan pembangkit 10. Pembangunan GI 150 kV Baru No Nama Gardu Induk Tegangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bagan Siapiapi KID Dumai KIT Tenayan Pangkalan Kerinci Pasir Pangaraian Pasir Putih Rengat GI/GIS Kota Pekanbaru New Garuda Sakti Perawang Siak Sri Indra Pura Tembilahan Kandis Lipat Kain Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 320 Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 60 60 60 120 30 30 30 30 30 600 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 .5. Tabel A5. Bentu Kabupaten Kampar. Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa Minyak Kabupaten Siak Sri Indrapura. Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG).

28 2013 275/150 kV Baru 250 20. 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana UD$ 510.68 19. Sakti HVDC St. 500 kV dan HVDC ±250 kV No Nama Gardu Induk Tegangan 1 New Garuda Sakti 2 Rengat 275/150 kV 3 Riau Mulut Tambang 4 HVDC Switching Station 5 New G. Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Gardu Induk Bagan Batu Bangkinang Dumai Duri Garuda Sakti Koto Panjang Teluk Lembu Bangkinang Pasir Putih Duri KIT Tenayan Teluk Kuantan KID Dumai Tembilahan Bagan Batu Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 60 60 80 20 60 60 120 60 30 30 30 30 30 730 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2016 2016 2017 2017 2017 2019 2019 2020 Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi 275 kV dan 500 kV3.22 2016 2016 2018 500 kV Baru 500 25.9.77 2018 2850 151.1 Jumlah Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2020 adalah sepanjang 1.312 kms (275 kV. serta konverter transmisi HVDC ±250 kVDC yang merupakan bagian dari link interkoneksi Sumatera – Malaysia seperti pada Tabel A5.942 kms (150 kV) dan 1.Tabel A5.8 dan Tabel A5.14 2015 250 kV DC 250 kV DC 500/275 kV Baru Baru Baru 0 600 1000 16.95 36. Pembangunan GI 275kV. 3 GITET 500 kV di New Garuda Sakti dan Rengat merupakan bagian dari transmisi interkoneksi 500 kV yang merupakan tulang punggung kelistrikan Pulau Sumatera koridor timur. 321 .Converter 6 New Garuda Sakti 500 kV 7 Rengat 500 kV Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) Baru 500 24.8 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A5.7.6.7.08 2015 275/150 kV Baru 0 8. Tabel A5.

10.6 56 3.1 194 14.6 COD 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 Tabel A5. cct. ( G.4 134 10.6 Cable MI with IRC 52 51.8. 4 Zebra 440 143. cct.8 55 12.6 cct. namun dalam jangka menengah akan dioperasikan sementara dengan tegangan 275 kV.9 12 1. 2 Zebra 300 67.9 1312 314.8 cct. cct.7 220 12. Pembangunan SUTT 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dari PLTG Duri Bangkinang Dumai Dumai Duri (up rate) Garuda Sakti (up rate) Pasir Putih Pasir Putih PLTU Sewa Dumai Teluk Kuantan Tenayan / PLTU Riau New Garuda Sakti Rengat Rengat Teluk Lembu Tenayan / PLTU Riau Tenayan / PLTU Riau Bangkinang Kandis Pasir Putih Jumlah Ke Konduktor Tegangan Inc.2 228 12. cct. diperlukan 322 . dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 64 ribu pelanggan per tahun.6 14 31. cct. cct.Sakti-Duri) Teluk Lembu 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 cct. cct. cct. cct.8 100 5. 2 Cardinal 340 14. cct. cct.Tabel A5.Sakti-Duri) Pasir Pangaraian Bagan Siapi api KID Dumai Dumai (up rate) Duri (up rate) Garuda Sakti Pangkalan Kerinci Dumai Rengat Pasir Putih Inc. ( New G.7 40 3.2 Konduktor Tegangan 2 2 2 2 2 2 2 COD 2013 2015 2016 2016 2016 2016 2016 Transmisi Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti akan dibangun dengan desain tegangan 500 kV karena pada jangka panjang akan merupakan bagian dari sistem transmisi 500 kV.8 35 7.2 14 1.0 Cable MI with IRC 10 9. Pembanguan Transmisi 275 kV.5 70 3. cct. cct. cct. 2 Cardinal 60 2. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 780 ribu pelanggan sampai dengan 2020. 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk AC3 310 mm2 AC3 310 mm2 2 Zebra 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Zebra AC3 310 mm2 2 Hawk 1 Hawk CU 1000 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk AC3 310 mm2 2 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 22 1.8 230 30. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.6 220 16.1 1942 196. PLN berencana untuk menyambung hingga 216. cct.8 120 6. cct. 500 kV dan HVDC ± 250 kV No Dari 1 2 3 4 5 6 7 Payakumbuh Rengat Border P. cct. 2 Zebra 110 24.Sakti-Duri) Pangkalan Kerinci Tembilahan GIS Kota Pekan Baru Perawang Siak Sri Indra Pura Lipat Kain Inc.5 cct. cct. Rupat Selatan Pulau Rupat Utara Rengat Sumatera Landing Point Jumlah Ke New Garuda Sakti New Garuda Sakti Pulau Rupat Sumatra Landing Point Pulau Rupat Selatan Cirenti (PLTU Riau MT) New Garuda Sakti 275 kV 275 kV 250 kV DC 250 kV DC 250 kV DC 275 kV 250 kV DC Panjang Biaya (kms) (juta US$) cct.1 118 15.8 cct.000 sambungan pada tahun 2011 untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%. 2 Pi (G.1 50 2. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. cct.9 10 2.

548 63. seperti ditampilkan dalam Tabel A5.454 Pelanggan 216.10.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.476 67. SISTEM KELISTRIKAN PULAU RUPAT Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang istimewa karena kedekatannya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia.003 57.151 62.610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.700 64.pembangunan JTM 6.408 64. JTR sekitar 7. Jalur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.649 65.595 kms.454 MVA.399 60.595 JTR kms 1. 323 .2.610 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 3.4.626 A5. Pulau ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai yang telah dirancang sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau Sumatera.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.10. Tabel A5.743 58.549 780. Peta Pulau Rupat ditampilkan pada Gambar A5. Pulau ini sangat indah dan berpotensi menjadi tujuan wisata yang akan sangat diminati.

Peta Pulau Rupat Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 3. 878 kVA. Sistem distribusi listrik berupa JTM sepanjang 69 kms. gardu distribusi 36 unit. Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera dan Malaysia.11. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi hingga tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5. JTR 92 kms.5. 324 .195 kW dengan beban puncak 841 kW. A5. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.600 kW namun daya mampunya hanya 1.2.Gambar A5. Rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Rupat adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut.

368 4.024 7.479 5.422 45. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.11.486 Produksi Energi (Gwh) 2.722 4.726 5.254 76 211 535 414 234 570 435 96 44 32 2.900 3.046 4.500 60 30 4.584 516 560 572 0 0 0 0 3.028 4.646 .897 6.Tabel A5.401 3.013 3.663 3.274 3.726 5.363 Pembangkit (MW) 325 40 246 398 324 12 300 306 0 6 0 1.687 4.090 5.082 5.632 GI (MVA) 60 280 770 270 310 780 120 1.386 4.180 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 22 0 1.472 5.864 Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.968 42.

Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang. Provinsi Kepulauan Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi Republik Indonesia dimasa depan. Kabupaten Natuna. dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari 2.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk. dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot project pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan Pemerintah Singapura.LAMPIRAN A. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di Kepulauan Riau (Batam. KONDISI SAAT INI Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah timur dan juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah Asia Tenggara.1. Kabupaten Bintan. 326 .6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (tanpa BATAM) A6. Batam. Bintan. Kabupaten Karimun. dengan 95% dari wilayahnya merupakan lautan.

Gambar A6. yaitu Provinsi Kepulauan Riau. Sistem Tanjung Pinang dipasok dari PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang 43 MW dan untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan 20 kV.1.1.7 MW dan daya mampu 65. Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit kecil tersebar dengan kapasitas total 90. Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang yang melayani 3 daerah administrasi. KEK ini nantinya merupakan simpul-simpul dari pusat kegiatan ekonomi unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang berdaya saing internasional. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama yang erat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia usaha.9 MW seperti terlihat pada Tabel A6. 327 . Kotamadya Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan. Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup dan andal terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

A6.9 55. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7.2.5 Pemilik PLN Jumlah (Unit) Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah berlangsung beberapa tahun terakhir. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat. meningkatnya pertumbuhan pemakaian tenaga listrik alami. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Kepulauan Riau.6 0.0 10.Tabel A6. ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. 328 . pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.4 Total 144 90. Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2011-2020 Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.4 Pemda 5 0. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya mampu mesin pembangkit.2.8 0.1.7 Sewa 3 9.9 65.0 11. Pembangkit Isolated per 2010 Daya Terpasang (MW) Daya Mampu (MW) Beban Puncak (MW) 136 80.7 65. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem isolated dilakukan dengan sewa pembangkit. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A6.3 53.53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas) dan diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. baik karena gangguan mesin pembangkit maupun usia.

175 248. Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil.945 197.930 153.119 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.645 214.3.Tabel A6.663 266. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat cadangan gas yang sangat besar.185 1. Pengembangan Sarana Kelistrikan Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.034 1.3.323 10.0% Produksi (Gwh) 582 642 715 816 925 1.950 286.185 1.211 231.111 1. di West Natuna Basin terdapat potensi gas alam sebesar 51.049 1. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM.46 TCF. yaitu 222 TCF dan 500 juta barel minyak. 329 .0% Pelanggan 139.103 181.062 9.255 1.2.249 11. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem isolated.4% A6.266 167. transmisi dan distribusi sebagai berikut.6% Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 10.

5. Karimun (Terkendala) TB. Karimun #3.4. Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV.Tabel A6.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A6. 330 . Tabel A6. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Air Raja Kijang Sri Bintan Tanjung Uban Pulau Ngenang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 60 10 220 COD 2013 2013 2013 2013 2013 Selain itu diperlukan juga extension GI dengan menambah unit trafo 150/20 kV kapasitas 60 MVA pada tahun 2015 di GI Tanjung Uban.2 (FTP1) Tanjung Batu (FTP2) Dabo Singkep Natuna Tanjung Uban Tanjung Pinang 1 (TLB) TB.4.3. diperlukan pengembangan transmisi 150 kV sepanjang 258 kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21. Karimun-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTGB PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta PLN PLN Kapasitas (MW) 14 8 9 14 14 30 14 14 14 30 30 20 211 COD 2011 2012 2012/18 2013 2013-14 2014 2014 2014-15 2015 2015 2019-20 2019-20 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi di Pulau Ngenang seperti diperlihatkan pada Tabel A6. Karimun #1. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Proyek TB.4 Tanjung Batu Baru Tanjung Pinang 2 (FTP2) Tanjung Pinang 3 TB.

Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk menggantikan peran PLTD di sistem Bintan. cct.8 70 3.940 pelanggan setiap tahunnya. cct. JTR sekitar 2. cct.335 13.566 16. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.272 13. baik peak maupun baseload. dengan transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah. cct.964 17. sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan sistem Batam melalui kabel laut 150 kV. seperti ditampilkan dalam Tabel A6.5. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1. 1 Hawk 3 x 300 mm2 1 Hawk 3 x 300 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 40 2.6. Pembangunan SUTT 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Air Raja Pulau Ngenang Sri Bintan Tanjung Kasam Tanjung Sauh Tanjung Taluk Tanjung Uban Jumlah Ke Konduktor Tegangan Kijang Tanjung Taluk Air Raja Tanjung Sauh Pulau Ngenang Tanjung Uban Sri Bintan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 cct.837 14.3 60 3. cct. diperlukan pembangunan JTM 1.3.876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2. cct. Interkoneksi ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan yang jauh lebih besar.700 16.1 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup banyak seperti pada tabel A6.875 kms. Tabel A6.9 6 2.3 258 21.164 331 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.6 berikut.404 .2 12 4. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.1 60 3. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 169 ribu pelanggan sampai dengan 2020 atau rata-rata 16.287 19.487 18.113 169.842 15.164 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 900 MVA.4 10 1.Tabel A6.

080 kW.355 kW. Peta Pulau Natuna Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong.7. Sistem distribusi berupa SUTM sepanjang 57. Gambar A6. Jepang. A6.4.4 kms dengan jumlah gardu 29 unit dan kapasitas terpasang 2.2. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A6. Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3.3. Korea dan Taiwan.845 kW dan beban puncak 2. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir A6. Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna berupa penambahan PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. daya mampu 2. 332 .A6. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.450 kVA. SISTEM KELISTRIKAN NATUNA Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan Laut Cina Selatan seperti terlihat pada Gambar A6.2.5.

185 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.323 9.Tabel A6.676 Pembangkit (MW) 333 14 14 21 58 51 0 0 3 25 25 211 GI (MVA) 0 0 220 0 60 0 0 0 0 0 280 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 0 258 0 0 0 0 0 0 0 258 44 21 87 126 114 11 11 14 58 57 544 .034 1.049 1.255 1.028 Produksi Energi (Gwh) 582 642 715 816 925 1.111 1.249 9.119 1.7.588 Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 1.185 1.

yaitu: PLTD Merawang. yaitu: PLTD Pilang. PLTD Koba. Babel Saat Ini 334 . 2. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan pada Gambar A7. Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV. Pembangkitpembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV. PLTD Mentok. dan PLTU Listrindo (Biomassa). Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa.LAMPIRAN A. PLTD Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP). Gambar A7.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG A7.1. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan menjadi dua sistem kelistrikan yang terpisah yaitu: 1.1. PLTD Toboali.1. Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP.

menggantikan mesin-mesin yang 335 .6 MW dengan daya mampu sebesar 99. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Provinsi Kep. Total kapasitas terpasang adalah 144. termasuk pembangkit rental dan IPP dengan daya mampu sebesar 46. sehingga sangat diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban.8 MW.1 memperlihatkan komposisi sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2010 A7.1. antara lain pada tahun 2010 adalah Visit Archi Babel dan Babel Benderang. Tabel A7. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan.Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh dari pembangkit dengan bahan bakar HSD. Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan.2.25 MW. Tabel A7. Salah satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik.

2% Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 16. Tabel A7.2. Potensi Sumber Energi Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat terbatas.163 1.881 302. Oleh sebab itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di Babel harus didatangkan dari luar wilayah berupa batubara.124 308.458 314.2% Pelanggan 208.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Pengembangan sarana di Provinsi Kep.726 295. berikut.367 1. diperlukan pengembangan sarana pembangkit.417 328.137 16.399 289.839 2.3.7% Produksi (Gwh) 747 839 953 1. gas dan BBM. meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga listrik. gardu induk dan distribusi.149 266.736 237.2. 336 .421 1. maka proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung pada tahun 2011–2020 dapat dilihat pada Tabel A7.086 1. Pengembangan Pembangkit Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Bangka Belitung sampai dengan tahun 2020 adalah seperti ditampilkan pada Tabel A7. Bangka Belitung dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.6% A7.277 1.566 1.888 321. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1. transmisi. Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.820 15.605 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.051 8.210 1.sudah tua.071 1.

337 . Tabel A7. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Proyek Air Anyer (FTP1) Belitung Baru (FTP1) Belitung-2 / Tanjung Pandan Belitung-3 Mentok Toboali Bangka (FTP2) Bangka IV (Peaker) Belitung-4 Belitung (Peaker) Bangka-3 Bangka-5 Belitung-5 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLN PLN Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN Kapasitas (MW) 60 33 5 17 14 14 60 40 34 20 60 30 17 404 COD 2011 2012-13 2013 2014 2014 2014 2015-16 2015/18 2015/19 2017-18 2018-19 2020 2020 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV di 10 lokasi seperti diperlihatkan pada Tabel A7. Pembangunan GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Gardu Induk Air Anyir Pangkal Pinang Sungai Liat Dukong Manggar Suge Kelapa Koba Mentok Toboali Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 20 30 30 30 30 30 320 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2014 2014 2016 2016 Selain itu diperlukan juga extension GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dan 70/20 kV hingga total tambahan kapasitas mencapai 210 MVA tersebar dibeberapa GI.3.4.Tabel A7.4.

4 M USD seperti ditampilkan pada Tabel A7. cct.6. diperlukan pengembangan transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 946 kms dengan kebutuhan dana sekitar 52.5 946 52. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dari Air Anyir Air Anyir Dukong Suge Pangkal Pinang Pangkal Pinang Kelapa Koba Air Anyir/Sungai Liat Jumlah Ke Tegangan Pangkal Pinang Sungai Liat Manggar Dukong Kelapa Koba Mentok Toboali PLTU Bangka Baru III 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.4 COD 2011 2011 2012 2012 2014 2014 2016 2016 2018 Peta jaringan 150 kV di Bangka dan jaringan 70 kV di Belitung diperlihatkan pada Gambar A7. cct. 338 . 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 44 2. Tabel A7.8 50 2. cct. cct. cct.2 dan Gambar A7.6 120 6. cct.6.6 100 5.4 112 6.2 140 7.3.Tabel A7. cct.8 120 6.5.6 140 7. Pembangunan Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Gardu Induk Sungai Liat Dukong Koba Manggar Pangkal Pinang Air Anyir Dukong Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 210 COD 2015 2016 2018 2018 2018 2019 2019 Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV. cct.8 120 6.

Peta Jaringan Sistem Bangka Gambar A7. Peta Jaringan Sistem Belitung 339 .3.2.Gambar A7.

486 9. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.421 1.820 11. Tabel A7.226 9.Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.091 11. Selanjutnya akan disambung rata-rata 13.071 1. diperlukan pembangunan JTM 1.566 1.7 berikut.277 1.594 A7.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.163 1.258 Pembangkit (MW) 340 60 17 22 45 67 30 10 60 47 47 404 GI (MVA) 120 80 0 60 30 90 0 90 60 0 530 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 156 190 0 240 0 260 0 100 0 0 946 136 74 62 135 79 78 9 82 114 112 881 .645 kms.4.080 Produksi Energi (Gwh) 747 839 953 1.345 10. seperti ditampilkan dalam Tabel A7.924 11.367 1. Gardu Distribusí 151 MVA.719 10.8. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.7.051 Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 2. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 158 ribu pelanggan sampai dengan 2020.8. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.137 13.000 pelanggan per tahun.944 12. JTR sepanjang 1.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.210 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1.766 157.605 1.468 11.839 2. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% pada tahun 2011 akan disambung 58.000 pelanggan. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7.624 12.744 kms. Tabel A7.086 1.

2 (FTP1) 2 x 112 MW – 2012/2013 ACSR 2 x 240 mm2 90 km .2017 U PLTU Sumbar Pesisir #1.75 MW ke GI Koto Panjang (Riau) PLTP Bonjol 165 MW – 2019 ACSR 1 x 240 mm 15 km – 2017 PLTA Maninjau 4 x 17 MW ACSR 2 x 430 mm2 150 km .2013 ACSR 2 x 430 mm2 300 km . 2nd cct – 2012 A Lubuk Alung PIP PLTG Pauh Limo 3 x 21.8 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA BARAT A8.2015 Edit September 2011 GU ke GI Bangko (JAMBI) ke GI Muko-muko (Bengkulu) BENGKULU   Gambar A8. KONDISI SAAT INI Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (diluar kepulauan Mentawai) berasal dari sistem interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (Jambi-SumbarRiau) melalui 14 gardu induk dengan kapasitas total 565 MVA dan beban puncak sebesar 348 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.2013 PLTA Masang – 2 55 MW – 2017 ACSR 1 x 240 mm2 35 km – 2013 P 2 ACSR 2 x 240 mm 17.2011 ke GI Muara Bungo (Jambi) P PLTP Muara Labuh 2 x 110 MW – 2017 Kambang JAMBI PT PLN (Persero) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G PLTU D PLTD GI Rencana PLTG A PLTA PLTGU P PLTP GI Eksisting GI 275/150 kV Renc Kit Eksisting Kit Rencana Sungai Penuh PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA BARAT Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV ACSR 2 x 240 mm2 110 km . 2 nd cct . 2nd cct – 2012 ACSR 1 x 240 mm2 42 km.1.LAMPIRAN A.2013 Batusangkar Padang Singkarak Panjang Pariaman RIAU 2 ACSR 1 x 240 mm2 32 km. 341 .Talang 20 MW – 2019 Bungus ACSR 2 x 430 mm2 117 km (Operasi 150 kV) ACSR 2 x 240 mm2 5 km .2012 Salak Pauh Limo GI/GIS Kota ke GI Teluk Kuantan (Riau) Ombilin U G ACSR 2 x 240 mm2 8 km – 2016 ACSR 2 x 430 mm2 141 km .1.2012 ACSR 2 x 240 mm2 80 km .1.1.35 MW Kiliranjao Solok Simpang Haru PLTU Ombilin 2 x 100 MW ACSR 1 x 240 mm2 10 km – 2019 Indarung ACSR 1 x 240 mm2 52 km. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8. 2nd cct – 2012 PLTA Singkarak 4 x 43.5 km – 2011 Sungai Rumbai PLTP G. SUMATERA UTARA New Garuda Sakti ke GI Padang Sidempuan (Sumatera Utara) Ke GI New Garuda Sakti (Riau) Koto Panjang PLTA Batang Agam 3 x 3.5 MW A A Simpang Empat 2 P ACSR 1 x 240 mm 52 km – 2020 Maninjau Payakumbuh A Padang Luar A ACSR 1 x 240 mm2 25 km.

Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang. sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk sistem-sistem isolated sendiri dengan beban puncak total sebesar 4. Namun pada musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan kapasitas. sebagian Balai Selasa.2 MW.2. Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai.1 MW yang dipasok dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2.9 MW. Kapasitas Pembangkit di Sistem Interkoneksi Per 2010 No Nama Pembangkit 1 2 3 4 5 Ombilin Pauh Limo Maninjau Singkarak Batang Agam Jenis Bahan Bakar PLTU PLTG PLTA PLTA PLTA Batubara HSD Air Air Air Pemilik PLN PLN PLN PLN PLN Total Kapasitas Terpasang (MW) 200 64 68 131 11 474 Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 348 MW. Hal tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat rendah akibat jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir Selatan (±260 km).1. Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut mengingat jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah tersebut. 342 . saat ini mempunyai beban puncak 2. Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar 100 MW. Pembangkit isolated di Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8. maka Provinsi Sumbar pada saat musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi Riau sebesar ± 150 MW.Tabel A8.

1 0.6 7.2 0. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.9 2.3. Dari realisasi penjualan tenaga listrik pada enam tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.4 0.187 GWh di tahun 2010.8% per tahun.2 1. sektor industri (34%).4 0.5 A8. Pembangkit di Sistem Isolated per 2010 No Nama Pembangkit Kepulauan Mentawai 1 Sikabaluan 2 Sikakap 3 Sipora 4 Seay Baru 5 Saumangayak 6 Simalakopa 7 Simalepet 8 Tua Pejat Pesisir Selatan 1 Lakuak 2 Balai Selasa 3 Indra Pura 4 Tapan 5 Lunang 6 Salido Kecil Solok Selatan 1 Pinang Awan Jenis Bahan Bakar Pemilik PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTMH HSD HSD HSD HSD HSD Air PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Air PLN PLTM Total Isolated Kapasitas Terpasang (MW) 2.3 1. Indikator penjualan energi listrik yang merefleksikan permintaan tenaga listrik masyarakat meningkat dari 1.2.2 0. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 5 tahun terakhir adalah 6. Konsumsi tenaga listrik diserap oleh sektor rumah tangga (45%).0 0.741 GWh pada tahun 2006 menjadi 2.3 0.3 0.4 10.1 0.1 0. 343 . maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A8.9 0.8 0.2.Tabel A8.6 1. sektor komersil (13%) dan sektor publik (8%).

418 2.243 981. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.468 4.226 5. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2. panas bumi dan tenaga air.265 1.131.470 2.915 3. Menurut informasi dari Kementerian ESDM.957 946. potensi batubara tersebar di Kota Sawahlunto.387 9. Kabupaten Solok.7% A8.739 1.754 5. Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan.568 1.913 5. potensi panas bumi di Sumatera Barat adalah sekitar 908 MW dan berada di Muaralabuh – Kabupaten Solok Selatan dan di Talang .4% Pelanggan 876.253 2.571 3.7% Produksi (Gwh) 2.678 4. 344 .Tabel A8.4.171.647 2. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara.062 1.897 1.017.6% Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 9. Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti terlihat pada Tabel A8.728 9. Menurut informasi dari Bapeda Sumatera Barat. Kabupaten Sijunjung. transmisi dan distribusi sebagai berikut.093.725 3.014 3.Kabupaten Solok.916 4.330 3.219 3.213.3.242 910.551 3. Kabupaten Pesisir Selatan.663 1.055.318 4.057 4.3.

Talang Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTA PLTP PLTP PLTP PLN PLN Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 224 55 220 165 20 684 COD 2012-13 2017 2017 2019 2019 Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada Tabel A8. Sangir Bt.4 3. Lengayang Bt. Tabel A8.0 19.9 0. Kambang Bt.2 8. Palangai Bt.6 1.1 4.Sumpur Bt. Langir Bt. Sijunjung S. Air Haji Bt.6.2 2.Gumanti Bt Sikiah RSV ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV Kapasitas (MW) 34.2 Kabupaten/ Kecamatan Pasaman Solok Solok Tanah Datar Agam Pessel Pessel Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota S. Mahat Bt. Palangki Bt.4. Gumanti Bt. Guntung Bt.5 3.4 18.7 29.1 7.5 dan Tabel A8.5.8 2.6 2.0 Kabupaten/ Kecamatan Slk Selatan Slk Selatan Slk Selatan Dhamasraya Pasbar Pasbar Slk Selatan Pessel Solok Agam Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Tanah Datar S.2 5.6 10.5 8. Tuik Bt. Untuk Kepulauan Mentawai direncanakan pembangkit 9.7 4. Kuantan Batanghari ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV ROR RSV Kapasitas (MW) 21.9 30.2 (FTP1) Masang-2 Muara Laboh (FTP2) Bonjol G. Asik Bt.1 4. Kampar Kanan Bt. Potensi Tenaga Air No Lokasi DAS Type 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Pasaman Sangir-2 Sangir-3 Sinamar-2 Masang-2 Tuik Lanajan-2 Lubuk-2 Asik Lubuk-4U Sumpur-1U Kampar KN-1 Kampar KN-2 Kapur-1 Mahat-10 Mahat-2U Sumpur-K1 Palangki-1 Palangki-2 Sibakur Sibayang Sukam Kuantan-1 Batanghari-2 Bt. Tumpatih Bt. Sijunjung Slk Selatan No Lokasi DAS Type 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Batanghari-3 Batanghari-5 Batanghari-6 Batanghari-7 Fatimah Sikarbau Balangir Landai-1 Sumani Guntung Sungai Putih Kerambil Muaro Sako Induring Palangai-3 Kambang-1 Kapas-1 Landai-2 Sumpur-K2 Lawas-1D Gumanti-1 Sikiah-1 Sikiah-2 Batanghari Batanghari Batanghari Batanghari Fatimah Sikarbau Balangir Bt. Kampar Kanan Bt. Palangki Bt.8 6. Muaro Sako Bt. Sibakur Bt.Tabel A8.6 12.4 2.9 3.Sibayang Bt.8 0. Sijunjung S. Bayang Janiah Bt.2 MW.2 4. Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel A8.2 7. Lubuk Bt. Sangir Bt. Sijunjung Solok Solok Solok Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2020 direncanakan pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan transfer energi dengan sistem interkoneksi Sumatera. Lawas Bt. Rokan Bt. Lumpo Bt.8 0. Sukam Bt. Pengembangan Pembangkit di Sistem Interkoneksi No 1 2 3 4 5 Proyek Sumbar Pesisir #1. Masang Bt.6 0. Sijunjung S. Jalamu Bt. Sinamar Bt.1 11. yaitu PLTS 0.5 15. Sumpur Bt.4 6.4 22. Sijunjung Agam S.6 2. Pasaman Bt.1 14.7 1. Sumani Bt.1 6.2 MW (2011).4 8. 345 .2 11. Sumpur Bt.6.7 10.9 5.8 17.8 13.1 5. Mahat Bt. PLTGB 6 MW (2013) dan PLTGB 3 MW (2020).7 0. Kapur Bt.6 1. Sijunjung S.

0 5.0 3.4 1.0 2.8.Tabel A8.8 Jumlah Tabel A8.5 1.66 2013 275/150 kV Baru 250 20.0 4.7.6 COD 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2020 berupa 2 buah GI 275 kV dan 4 buah GI 150 kV yang diperlihatkan pada Tabel A8.6.8.0 4.6 51.0 5. Pengembangan GI 275 kV Baru No Nama Gardu Induk 1 Kiliranjao 2 Payakumbuh Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 250 19.0 1.7 dan Tabel A8.0 4.0 3. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Proyek Manggani Gumanti Gumanti Sinamar Sinamar Lubuk Gadang Gunung Tujuh Gunung Tujuh Tarusan Bayang Bayang Muara Sako Sumpur Kambahan Fatimah Sikarban Guntung Jumlah Jenis Pemilik PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 1.0 5.4 0. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 Nama Gardu Induk Bungus Kambang Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 346 Kapasitas (MVA) 30 30 30 120 210 COD 2011 2011 2013 2016 .0 3.5 2. Tabel A8.1 5.17 2013 500 39.

diperlukan juga pengembangan transmisi 275 kV sepanjang 882 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 786 kms dengan kebutuhan dana investasi USD 249. Pengembangan Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Gardu Induk Padang Luar Padang Panjang Pauh Limo Payakumbuh PIP Simpang Empat Solok Salak Maninjau Kiliranjao Payakumbuh Bungus Kambang Simpang Empat Solok Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman Batusangkar GIS Kota Padang Padang Luar PIP Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 30 60 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 30 60 30 60 840 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV.9.Selain itu juga direncanakan pengembangan GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dengan tambahan kapasitas total 840 MVA sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A8.11. Pembangunan Transmisi 275 kV Baru No Dari 1 Kiliranjao 2 Padang Sidempuan Jumlah Ke Payakumbuh Payakumbuh Tegangan 275 kV 275 kV 347 Konduktor 2 cct. Tabel A8.9.10.7 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A8.0 882 198.10 dan Tabel A8.5 COD 2013 2013 . 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 282 63. 2 Zebra 2 cct. Tabel A8.5 600 135.

8 25 0. 2 Hawk 2nd cct. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.286 35.420 36. diproyeksikan akan terjadi penambahan pelanggan baru sekitar 369 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2020.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.4 32 1.205 34.715 35.7 42 1. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.13.9 20 1.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32.7 52 1.633 39. 2 Hawk cct. 1 Hawk cct. 1 Hawk cct.0 20 0.823 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 471 MVA.9 30 1.2 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2016 2017 2017 2019 2019 Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.8 70 5. diperlukan pembangunan JTM 3. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A8.203 38.2 104 7. 2 Hawk cct.1 786 51. 1 Hawk 2nd cct. 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 180 13.12.7 160 12. 2 Hawk cct.7 35 2.534 A8. Tabel A8.242 kms. JTR sekitar 3. 2 Hawk cct. 1 Hawk cct. 1 Hawk 2nd cct.323 38. 2 Hawk cct.670 42.004 369. atau rata-rata 36.Tabel A8.075 37.12. 348 .11.4.3 16 0. seperti ditampilkan dalam Tabel A8. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dari Ke Bungus Indarung Kiliranjao Maninjau Padang Luar PLTU Sumbar Pessel Singkarak Kiliranjao PIP/S Haru/Pauh Limo Simpang Empat Sungai Rumbai Payakumbuh Solok Jumlah Konduktor Tegangan Kambang Bungus Teluk Kuantan Padang Luar Payakumbuh 2 pi Inc.900 pelanggan per tahun. 2 Hawk 2nd cct. (Bungus-Kambang) Batusangkar Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Masang-2 PLTP Muara Labuh PLTP Bonjol PLTP Gunung Talang 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 1 1 1 4 1 2 2 2 2 2 2 cct.

550 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 215 171 952 0 0 16 190 0 124 0 1.913 5.295 Produksi Energi (Gwh) 2.219 3.754 5.014 3.330 3. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.Tabel A8.678 4.551 3.253 2.647 2.057 4.418 2.916 4.470 2.668 47 203 438 28 27 42 617 33 460 42 1.387 36.936 .176 Pembangkit (MW) 0 112 118 0 0 0 275 0 185 3 693 349 GI (MVA) 60 300 560 30 0 180 150 60 30 180 1.692 Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 6.728 38.915 3.318 4.226 5.13.468 4.725 3.

1.LAMPIRAN A. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi Kapasitas pembangkit di Provinsi Jambi adalah sekitar 222.9 MW seperti ditunjukkan pada Tabel A9. GI Payo Selincah (2x60MVA). GI Muara Bulian (30 MVA).9 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI JAMBI A9.1.1.1. GI Muara Bungo (2x30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA). KONDISI SAAT INI Jumlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi Jambi (interkoneksi dan isolated) saat ini sebesar 207 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui saluran transmisi 150 KV dengan 5 GI. 350 . Peta jaringan distribusi Provinsi Jambi seperti ditunjukkan pada Gambar A9. Gambar A9. yaitu GI Aur Duri (2x30 MVA).

891 2.2.316 1.000 2.Tabel A9.1.2.482 9.588 1.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A9.3.016 2.143 2.7% A9.8% Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 8.382 6.586 690. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.658 827. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.873 2.448 2.453 1. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Kebutuhan listrik diserap oleh konsumen rumah tangga (62%).289 2. konsumen publik (7%) dan konsumen industri (7%).749 1.277 1.629 8.303 2.3% Produksi (Gwh) 1. Tabel A9.159 1. Kapasitas Pembangkit per 2010 No 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit Jenis Bahan Bakar Pemilik PLTD Payo Selincah PLTD Gas Alam+HSD PLN PLTG Payo Selincah PLTG Gas Alam Sewa PLTG Batang Hari PLTG Gas Alam PLN PLTG Eks Sunyarangi PLTG Gas Alam Sewa PLTD lokasi tersebar Jumlah PLTD HSD PLN Kapasitas (MW) 31 100 62 18 12 223 A9. konsumen komersil (24%).972 592.574 755.783 1. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.141 789.151 721. transmisi dan distribusi sebagai berikut.280 555. 351 .8% Pelanggan 522.144 2.640 1.444 1.152 659.561 630.

gas dan tenaga air.715 kkal/kg yang tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten Kerinci.3. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 di Jambi direncanakan akan dipenuhi dengan mengembangkan pembangkit di Jambi dan di daerah lain pada sistem interkoneksi Sumatera. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi Jambi. Potensi gas terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung dan Kabupaten Muaro Jambi dan potensi tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air Batu).4 dan Tabel A9.1 Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Proyek Sarolangun Sungai Gelam Payo Selincah Sungai Gelam (CNG/Peaker) Sengeti (CNG/Peaker) Batanghari Kuala Tungkal Tebo Pembangkit Peaker Sungai Penuh (FTP2) Merangin Jambi (KPS) Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTU PLTU PLTG PLTP PLTA PLTU Swasta Sewa Sewa Beli PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 12 12 100 90 80 30 14 14 100 110 350 800 1712 COD 2011 2011 2011-12 2012 2012-13 2013 2013 2013 2014 2015 2016-17 2018-19 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension GI existing seperti pada Tabel A9.712 MW seperti ditampilkan pada Tabel A9. Tabel A5. Adapun pembangkit yang direncanakan berada di Provinsi Jambi mempunyai kapasitas total 1. 352 .Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Provinsi Jambi terdiri dari batubara. potensi batubara yang layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5.3.5.

Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV No Nama Gardu Induk 1 Bangko 2 Muara Bungo Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 250 21. Pengembangan Extension GI 150/20 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Aurduri Bangko Muaro Bulian Payoselincah Muaro Bungo Sungai Penuh Payoselincah Aurduri Muaro Bungo Bangko Muara Sabak Payoselincah Sarolangun Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 60 60 60 30 60 60 60 30 30 60 30 660 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2018 2018 2019 2019 2020 2020 Berkaitan dengan pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV Sumatera.98 2014 275/150 kV Extension 500 17. Tabel A9.08 2013 3 Aur Duri 4 Bangko 275/150 kV Baru 500 25.5.81 2018 500/275 kV Baru 500 25.4.Tabel A9. Pengembangan GI 150 kV No 1 2 3 4 Nama Gardu Induk Sungai Penuh Muara Sabak Sarolangun Kuala Tungkal Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 120 COD 2012 2013 2014 2018 Tabel A9.92 2017 5 Aurduri 6 Aurduri 500kV 7 PLTU Jambi 500 kV 275/150 kV Extension 0 2. seperti pada Tabel A9.5 Jumlah 353 .82 2018 2000 123.6. GI Muara Bungo dan GI Aur Duri.08 2013 275/150 kV Baru 250 20.6. akan dibangun 3 buah GI 275 kV yaitu GI Bangko.77 2018 500 kV Baru 0 9.

Pembanguan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 Dari Bangko PLTA Merangin PLTG CNG Sei Gelam PLTG CNG Sengeti Muara Sabak Muara Bulian PLTP Sungai Penuh Muara Sabak Jumlah Ke Tegangan PLTA Merangin Sungai Penuh Aur Duri Aur Duri Inc. cct.6 3.7 dan Tabel A9.8 6.7. Pembanguan Transmisi 275 dan 500 kV No Dari 1 Bayung Lincir 2 Aur Duri 3 PLTU Jambi Jumlah Ke Aur Duri Rengat Aur Duri Tegangan 275 kV 275 kV 500 kV Konduktor 2 cct.1 150 49. cct.3 26 1.1 Peta sistem kelistrikan Provinsi Jambi diperlihatkan pada Gambar A9. 4 Zebra 2 cct. diperlukan pengembangan transmisi 150 KV. 2 Zebra 2 Zebra 1 Hawk 1 Hawk 2 x 340 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk COD 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2015 2018 Tabel A9.7 108.8.8 60 3. 354 COD 2014 2015 2018 . 275 KV dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.6 130 7. cct. 4 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 120 27.7 Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.2. cct. 2 Zebra 2 cct. cct.2 84 4. cct. 1 Pi (Payo Selincah-Aur Duri) Sarolangun Sungai Penuh Kuala Tungkal 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Panjang Biaya (kms) (juta US$) 136 30.0 690 213.8. cct.6 110 24.Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera. Tabel A9.4 121.0 420 137.0 776 81.

2013 2 A C S 75 R 4 km x 2 . JTR sekitar 2.900 pelanggan per tahun. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 38.ACSR 1 x 240 mm2 30 km . seperti ditampilkan dalam Tabel A9. diperlukan pembangunan JTM 2.626 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 257 MVA.9. Khusus untuk tahun 2011 akan disambung sekitar 85 ribu pelanggan untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%.800 kms. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.2. Peta Jaringan Provinsi Jambi Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan pelanggan baru sebanyak 390 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020.2 82 01 mm 8 2 m m 0 4 43 1 x 20 2 R km CS 0 A 6 Gambar A9. 355 .

868 A9.4.85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi di Kabupaten Tanjung Jabung kapasitas terpasang 7.43 PLN 4 Kuala Tungkal PLTD 4.11.2 MW.589 37. PLTD Sungai Lokan. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.10.725 389.15 PLN 2 Sungai Lokan PLTD 0.91 PLN 5 Batang Asai PLTD 0.5.516 37.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84. Tabel A9. PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala Tungkal.00 PLN PLTMG 7.Tabel A9.567 34. yaitu PLTD Pelabuhan Dagang.565 31. 356 .424 33. PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun dengan total kapasitas terpasang 12. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2010 Jenis Kapasitas (MW) Pemilik 1 Pelabuhan Dagang PLTD 3.9.55 PLN No Nama Pembangkit 6 Sarolangun 7 Tanjung Jabung Power Total PLTD 3.20 Swasta 20. SISTEM ISOLATED Provinsi Jambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak.433 30.693 36. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9.05 A9.591 29.765 33. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.82 PLN 3 Mendahara Tengah PLTD 0.

629 19.651 .453 1.466 55 134 188 133 336 282 302 643 548 29 2.891 2.507 Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 3.Tabel A9.640 1.11.783 1.303 2.444 1.000 2.143 2.178 Pembangkit (MW) 357 74 160 118 100 110 175 175 400 400 0 1.144 2.159 1.749 1.016 2.873 2.289 2.118 Produksi Energi (Gwh) 1.316 1.588 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.712 GI (MVA) 0 270 590 560 0 0 560 650 60 90 2.482 18.277 1.448 2.780 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 246 208 250 504 0 0 259 0 0 1.

Untuk sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD.LAMPIRAN A.1. 2 cc U G SR 17 2 x 5k 4 m 30 m -2 01 m 2 5 AC G 2x 60 km 330 mm 2 .2012 AC SR 2 nd 2 0 mm 2 x 24 15 ACSR km – 20 35 GU 2 01 Gambar A10.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dan dipasok dari pembangkit yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV.10 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA SELATAN A10. t.1. 358 . Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan Pembangkit yang memasok Provinsi Sumsel diberikan pada Tabel A10.

4 PLTG Indralaya GT # 1.2 PLTGU Indralaya ST # 1. industri (14%) dan publik (8%) Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.0 260.0 40. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A10.8 12.9 50. komersil (18%).0 PLTG Truck Mounted #1.9 0.2.0 6.4 Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV.0 40.4 PLN (Isolated) PLTD Makarti Jaya PLTD Sungsang PLTD Air Saleh PLTD Simpang Sender PLTD Teluk Agung IPP PLTMG Sako Kenten PLTMG Musi II PLTMG Prabumulih Total Kapasitas (MW) 30.1 PLTG Indralaya GT # 1. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI SUMATERA SELATAN Konsumsi energi listrik di Sumsel diserap oleh konsumen rumah tangga (60%).0 19. terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV dan 13 GI 150/20 kV.0 60.2 14.0 879.2 PLTD Sungai Juaro #1.4 1.2 PLTG Keramasan #1.5 43.2.0 60. Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI dengan total kapasitas trafo 932 MVA.3.0 64. dengan 4 trafo IBT 150/70 kV yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas 400 MVA.1 25. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010 No A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama PLN (Interkoneksi) PLTU Keramasan #1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.6 1.1.0 25.1 1.8 12.2 Kapasitas (MW) 829.2.0 40.3.7 1. 359 .0 20.2.0 No 13 14 B 15 16 17 18 19 C 20 21 22 Nama PLTMG Rental Borang PLTU Bukit Asam # 1.0 100.2 PLTG Borang PLTG Talang Duku PLTG Sewa Beli Tl.Tabel A10. A10. Duku PLTG Sewa Beli Borang PLTG Keramasan AKE #1.

344 1.027.3.335 9.758 5.813.911 MW 64.954.8% Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1.196 4.728 kW 53.200 Ha 9.238 1.460 3. gas bumi.279.Tabel A10.913 1.00 TCF 1.273 4. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.797 1.3% Pelanggan 1.383 3.361 ton Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Telah dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Belum dimanfaatkan : Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov.6 MMSTB 24179.188 10.845 4.676.276.5 BSCF 47. panas bumi dan gas metan batubara (CBM).529 1.070 1.610.089 3.176.969 1.2.599 7.85 x 10 MW 16.696 9.576 6.933.3.147 1.07 ribu BBL 434.885 1.24 GWh 235.395.01 kWh Produksi 27.64 ribu MMBTU 9.3.822 2.1 Milyar Ton 183.664 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 3.054 6.027 6. sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A10.108. Tabel A10. Potensi Sumber Energi Sumber Daya Minyak Bumi (Oil) Gas Bumi Batubara Coal Bed Methane Panas Bumi (Geothermal) Gambut Potensi Air (Mini/Mikro Hidro) Energi Surya Biomassa Biogas Sumber Potensi 757. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.081 7.743.1% Produksi (Gwh) 3.626 8.1% A10.781 4.589 6.157 5. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara.884.385. minyak bumi.160 5. Sumatera Selatan 2008 360 .034.513 7.648 5.900 1. transmisi dan distribusi sebagai berikut.

795 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A10. 361 .29 MW Telanai Banding Agung Gambar A10. Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020.2.4.P_57 18 P_55 3 P_56 4 17 5 7 10 12 15 13 01-074-27 6 11 16 8 P_59 PLTU 2 x 113 MW Simpang Belimbing 9 PLTU 2 x 135 MW Keban Agung 19 2 20 14 01-074-15 01-074-141 P_53 PLTP 4 x 55 MW Lumut Balai 01-074-07 01-074-02 PLTM 2 x 2. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 3.

Mulut Tambang Sumsel-10.000 MW merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low rank di Sumatera Selatan. Rencana ini dilakukan dengan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan Sumatera pada umumnya melalui pengembangan banyak pembangkit batubara. panas bumi dan gas. 362 . Mulut Tambang Jumlah Jenis Pemilik PLTMG PLTU PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTU PLTGU PLTU PLTU PLTP PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTU Sewa Swasta Sewa Beli Sewa Swasta PLN Swasta PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLN Kapasitas (MW) 30 227 60 60 30 50 20 86 230 227 220 225 300 300 600 1200 1200 600 220 110 800 6795 COD 2011 2011 2011 2011-12 2012 2012 2013 2013 2014 2014 2014-15 2015 2015-16 2015-16 2016-17 2016 2017 2018 2018-19 2019 2019-20 Pengembangan PLTU Sumsel-8. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Provinsi Sumsel memerlukan pembangunan GI 150 kV baru di 11 lokasi dengan kapasitas sebesar 570 MVA seperti pada Tabel A10.2 Talang Duku Borang Gunung Megang. Mulut Tambang Sumsel-9.Tabel A10. MT Lumut Balai (FTP2) Sumsel-2 (Keban Agung) Sumsel-5 Sumsel-7 Sumsel-6. PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan kapasitas total 3. Mulut Tambang Rantau Dedap (FTP2) Danau Ranau Sumsel-1. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Proyek Borang Simpang Belimbing #1. Listrik dari ketiga PLTU tersebut dimaksudkan akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui transmisi HVDC 500 kV Jawa-Sumatera. ST Cycle Jaka Baring (CNG/Peaker) Baturaja Keramasan Banjarsari Sumsel-11. Mulut Tambang Sumsel-8.5.4.

di Provinsi Sumatera Selatan terdapat proyek-proyek pengembangan GI 275 kV. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Gardu Induk Tegangan Tanjung Api-Api Gandus Jakabaring Kenten Sekayu Kayu Agung Sungai Lilin Tebing Tinggi Muara dua Martapura Muara Rupit Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 120 60 120 30 30 30 30 30 30 30 570 COD 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2016 2017 Selain itu juga diperlukan pengembangan GI existing kapasitas total trafo 1.470 MVA sampai tahun 2020 seperti pada Tabel A10.Tabel A10. Tabel A10. Pengembangan Extension GI 70 kV dan 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Baturaja Bukit Siguntang Lubuk Linggau Baturaja Bukit Siguntang Bungaran Gungung Megang Lahat Pagar Alam Prabumulih Simpang Tiga Talang Kelapa Baturaja Bukit Asam Bukit Siguntang Keramasan Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 60 30 60 60 30 30 60 60 60 60 60 30 60 COD No 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Gumawang Lubuk Linggau Mariana Keramasan Sungai Lilin Bukit Asam Kenten Pagar Alam Talang Kelapa Betung Kayu Agung Gandus Sekayu Simpang Tiga Tebing Tinggi Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 60 30 60 60 30 60 30 30 60 30 60 30 1470 COD 2014 2014 2015 2017 2017 2018 2018 2018 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020 Sebagai bagian dari rencana pengembangan kelistrikan Sumatera dan nasional. 363 .6.5.7.6. GI 500 kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10.

6 2 cct. Kelapa-Borang ) Pagar Alam Lahat Inc.9 2 cct.6 5.5 Muara Enim Sungai Lilin/PLTU Sumsel . 2 Zebra 60 13. 2 Pi (Keramasan-Mariana) Talang Kelapa Gumawang PLTU Banjar Sari Tebing Tinggi Kayu Agung Inc.8. 2 Hawk 90 6.9. 2 Hawk 55. 1 Hawk 94. 2 Zebra 70 15.8. 1 Pi (Prabumulih-Bk. 1 Hawk 70 3.00 21. CU 1000 mm2 20 44. 2 Pi (Keramasan-T. 1 Hawk 120 6. Kelapa) Inc. 500 kV dan 500 kV DC sepanjang 2. 2 x 330 mm2 1 0.9 2 cct. AC3 310 mm2 78 10.0 2 cct. Asam) Inc.2 8.1 Pi (T.08 324. 2 Hawk 40 3.6 2 cct. Asam) Betung PLTU Keban Agung Baturaja Martapura Muara Rupit PLTP Lumut Balai PLTP Danau Ranau 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 364 Panjang Biaya (kms) (juta US$) 2 cct. 1 Hawk 150 8.50 20.Kelapa-Borang )/Kenten Sekayu Baturaja (uprate) Inc.2 2 cct.1 1 2nd cct.9 2 cct. 2 Zebra 90 20. 2 x 330 mm2 1 0.9 Konduktor COD 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2018 2019 .21 12.31 7. 2 Pi (T. Pembanguan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Dari PLTU Simpang Belimbing Kenten Lahat PLTU Simpang Belimbing Tanjung Api-Api Betung Bukit Asam (uprate) Gandus Jakabaring Betung Kayu Agung Lahat Lubuk Linggau Mariana Sumsel-11.9 2 cct.28 12.7. MT Sungai Lilin Lahat Muara Dua Gumawang Sarolangun PLTP Rantau Dedap Muara Dua Jumlah Ke Tegangan Inc.4 2 cct.Tabel A10. 2 x 330 mm2 120 10. 2 Hawk 92 7.6 2 cct.45 550.97 24.03 2.6 2 cct.08 12.876 kms sampai dengan tahun 2020 dengan kebutuhan dana sekitar USD 498.2 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2020 Pengembangan Transmisi Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV.1 2 cct.4 2 cct. 500 kV dan 500 kV HVDC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Gardu Induk Tegangan Lahat Lubuk Linggau Betung Gumawang Lahat Lumut Balai Bayung Lincir/PLTU Sumsel .3 2 cct.3 2 cct. 2 x 330 mm2 40 3.00 54. 2 x 330 mm2 120 10.7 Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Lubuk Linggau Jumlah Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Extension 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 500 kV DC Baru 500/275 kV Baru 275/150 kV Extension 1000 250 500 500 0 500 0 0 0 3000 1000 250 7000 35. Tabel A10. 275 kV.9 1672 204. 1 Hawk 80 4. 2 x 330 mm2 40 3.8 2 cct. 1 Hawk 120 6.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A10.1 2 2nd cct. 2 x 330 mm2 120 10. dan Tabel A10.32 24. 1 Pi (Prabumulih-Bk.4 2 cct. Pengembangan GI 275 kV.5 2 cct.4 2 cct.

372 116.306 365 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233. 2 Zebra cct.997 70.03 juta pelanggan.8 dan tabel A10.735 83. 2 Zebra cct. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung ratarata 88.3 70 15.059 69. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.865 76.3 124 27.9 350 78. Pembanguan Transmisi 275 kV.8 290 65.204 88.896 1.031. Tabel A10. Selaras dengan penambahan pelanggan. seperti ditampilkan dalam Tabel A10.599 73.2 COD 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2016 Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10.799 .427 102. diperlukan pembangunan JTM 5.400 pelanggan. 2 Zebra cct.644 116.700 pelanggan per tahun.8 200 67.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.10.306 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 675 MVA. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 233. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.Tabel A10.2 1204 293. JTR sekitar 5. 500 kV dan 500 kV DC No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Betung Lahat Lahat Muara Enim Bayung Lincir Muara Enim Muara Enim Jumlah Ke Tegangan Konduktor Sungai Lilin 275 kV Lumut Balai 275 kV Muara Enim 275 kV Gumawang 275 kV Sungai Lilin 275 kV Betung 275 kV perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC 2 2 2 2 2 2 2 cct. 2 Zebra cct.9 terdapat pula ruas transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang Sumsel-8. 2 Zebra cct. diperlukan tambahan sebesar 1.9.152kms. Panjang dan rute transmisi 500 kV tersebut akan ditentukan kemudian sesuai hasil lelang ketiga PLTU mulut tambang tersebut.0 50 11. 2 Zebra cct 4 Falcon Panjang Biaya (kms) (juta US$) 120 27. Sumsel-9 dan Sumsel-10 ke GI 500 kV Muara Enim.10.

696 54.188 50.054 6.961 . pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A10.460 3.073 604 6.157 5.758 5.238 1.576 6. Tabel A10. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 3.273 4.790 1.383 3. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.196 4.11.680 60 4.147 1.081 7.289 512 320 80 40 90 0 2.178 1.661 Pembangkit (MW) 366 347 110 106 567 635 600 300 110 620 400 3.876 372 124 301 1.160 5.253 1.335 9.781 4.089 3.305 445 306 1.040 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 120 256 169 1.513 7.845 4.11.063 Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1.589 6.4.795 GI (MVA) 150 510 1.A10.030 120 210 60 430 9.648 5.012 Produksi Energi (Gwh) 3.599 7.070 1.027 6.

Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui transmisi 150 kV dan 70 kV. terdiri dari 92 MW beban puncak interkoneksi dan 21 MW beban puncak sistem isolated.1.LAMPIRAN A.1. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11.11 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI BENGKULU A11.1. Gambar A11.1. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan PLTMH. 367 . KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Bengkulu saat ini mempunyai beban puncak sekitar 113 MW.

Selain 368 .Tabel A11.6 A11.9% Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 7.6 Jumlah 255.6 8.938 415.919 449.2% Produksi (Gwh) 564 638 716 796 849 908 978 1.722 311.088 335. transmisi dan distribusi sebagai berikut.034 1. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.2.106 1.1.351 369.8% Pelanggan 284. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A11.072 9.2.2. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010 No.001 1. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI BENGKULU Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.756 400.019 465. Tabel A11.180 8.3.7% A11.084 431. 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit PLTA Musi PLTA Tes PLTD Isolated PLTD Isolated PLTM Isolated Bahan Bakar Pemilik Air Air HSD HSD Air PLN PLN PLN Sewa PLN Kapasitas Terpasang (MW) 210.835 6.793 381.0 17. sumber energi yang tersedia di Bengkulu untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi dengan perkiraan potensi mencapai 400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP.8 1.6 17. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.

Peta Potensi Energi Primer Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020.2. Gambar A11. Gambar A11.3.2 memperlihatkan sebaran dan jumlah potensi energi tersebut.3. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 367 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A11.itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 Proyek Ipuh Muko Muko Hululais (FTP2) Simpang Aur (FTP2) Kepahiyang Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTP PLTA PLTP PLN Swasta PLN Swasta PLN 369 Kapasitas (MW) 6 8 110 23 220 367 COD 2013 2013 2015 2015 2020 . Tabel A11.

Baai) 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 370 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 cct.5 80 6. Pembangunan Transmisi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dari Pagar Alam Pekalongan Kambang Pekalongan PLTA Simpang Aur 1 PLTA Simpang Aur 1 Pulau Baai Manna Muko-muko/Bantal/Ipoh PLTP Kepahiyang Jumlah Ke Konduktor Tegangan Manna Pulo Baai Muko-muko/Bantal/Ipoh PLTP Hululais Inc.6. 1 Pi (Pekalongan-P.4. Baai) PLTA Simpang Aur 2 Arga Makmur Bintuhan Arga Makmur Inc.4 COD 2012 2013 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2020 2020 . Rincian kegiatan terdapat pada Tabel A11. 2 Pi (Pekalongan-P.6. cct.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2020 yaitu 5 penambahan GI baru dan 3 pengembangan GI existing. Tabel A11.7 140 7.7 180 13.4 juta.9 220 16.3 90 6. cct.8 120 9. cct. cct.5. Tabel A11. cct. cct. cct. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Manna Pulau Baai Argamakmur Muko-muko Bintuhan Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 120 30 30 30 240 COD 2012 2013 2015 2015 2017 Tabel A11.2 20 1. cct.5.8 360 27. dibutuhkan juga pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1. cct. Total penambahan kapasitas trafo GI mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti pada Tabel A11.4 dan Tabel A11.318 kms dengan biaya sebesar US$ 95.1 1318 95. Pengembangan GI Existing 150 kV dan 70 kV No Nama Gardu Induk 1 Manna 2 Pekalongan 3 Pulau Baai Jumlah Kapasitas (MVA) 150/20 kV 30 150/20 kV 30 150/20 kV 60 120 Tegangan COD 2013 2013 2017 Pengembangan Transmisi Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit.5 12 0. 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 96 5.

100 pelanggan per tahun.963 19.7. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A11.115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.7.4.262 34.Pengembangan Distribusi Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 221 ribu sambungan untuk kurun waktu 2011-2020.442 11.836 17.182 14. JTR sepanjang 2.115 kms.301 kms dan penambahan kapasitas gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada Tabel A11.147 26. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Tabel A11. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 20.8.100 16.260 A11. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.146 16.816 221.366 24. 371 .301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40. dengan kebutuhan pertambahan JTM sebanyak 2. dimana untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% di tahun 2011 akan disambung 40.147 pelanggan.

867 Produksi Energi (Gwh) 564 638 716 796 849 908 978 1.571 Pembangkit (MW) 372 0 0 14 0 133 0 0 0 0 220 367 GI (MVA) 0 30 180 0 60 0 90 0 0 0 360 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 96 90 0 552 0 140 0 0 440 1.001 1.072 7.180 8.8.106 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.Tabel A11.034 1.318 13 17 56 17 269 21 25 19 18 406 862 .768 Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 1.

373 .1. Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah sebagai berikut : Kota Agung di Kabupaten Tanggamus.5 MW) yang pada umumnya merupakan PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan. Gambar A12.12 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI LAMPUNG A12.1.2. Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji. Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi. Peta kelistrikan Provinsi Lampung diperlihatkan pada Gambar A12. meliputi sistem tersebar yang kecil (< 0.1. Liwa dan Ulubelu di Kabupaten Lampung Barat.LAMPIRAN A. KONDISI SAAT INI Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi Sumatera seperti ditunjukkan pada Gambar A12. Pugung Tampak dan Bengkunat di Lampung Barat.

Pembangkit yang berada di Provinsi Lampun ditunjukkan pada Tabel A12.2 90 PLTA Batutegi #1.3 28 Jumlah 377 374 Daya Mampu (MW) 89 28 200 12 11 20 361 .2. Kapasitas Pembangkit per 2010 No 1 2 3 4 5 6 Daya Pembangkit Terpasang (MW) PLTA Besai #1.4 15 PLTD Teluk Betung #7.10 14 PLTD Tegineneng #1.8.U Gambar A12.1.4 200 PLTD Tarahan #2.2 30 PLTU Tarahan #3. Tabel A12.2 .607 GWh.1.Peta Kelistrikan Provinsi Lampung Beban puncak Lampung pada tahun 2010 adalah 482 MW dengan produksi energi 2.

637 3.325 3.361 4.968.106 3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.6% Produksi (Gwh) 3. Pertumbuhan ini masih berpotensi untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi. Selain itu juga terdapat potensi biomassa dan batubara. Potensi Sumber Energi Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung.064.428 4.163. Tabel A12.673 8.074 2.7% A12. potensi sumber energi utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel A12.353 2.077 5.094 8.491 9.754 6. 375 .416 5.3. yaitu mencapai 11.2. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya provinsi Lampung dalam lima tahun terakhir sangat tinggi. PENGEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.274. karena pada tahun 2010 baru mencapai 60%.264. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.181 1.762 6.874.A12.1%.731.075 5.260 2.206 1.746 5.411 5. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A12.578.3 dan Tabel A12.124 6.368.041 1. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.102 10.6% Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.388 1.429.747 5.2.989 4.4.491 2. transmisi dan distribusi sebagai berikut.2% Pelanggan 1.733 1.679 4.052 4.2.811 3.411 1.

diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 1.5 40.5. I 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Mesuji Tulang bawang Besai / Umpu Giham Pukau Giham Aringik Tangkas Campang Limau Sinar Mulia Way Abung Way Umpu II Seputih / Sekampung 1 Bumiayu Kapasitas (MW) 7.6 5. Potensi Panas Bumi No.9 Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020.60 1.00 600.301 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A12. 376 . III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Lokasi Semangka Semangka Atas I Semangka Atas II Semangka Atas III Semangka Bawah I Semangka Bawah II Semung I Semung II Semung III Manula I Manula II Simpang Lunik I Simpang Lunik II Simpang Lunik III Kapasitas (MW) 26.8 3.4.1 3.00 1.00 978.8 38.50 16. Potensi Tenaga Air No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Area Potency (Mwe) Reserve (Mwe) Speculative Hipothetic Possible Probable Proven Regency Way Umpu Way Kanan Danau Ranau Lampung Barat Purunan Lampung Barat Gn.4 23.7 8.Tabel A12.00 39.8 23.00 600.3.2 35.4 6. Belirang Lampung selatan Total Potency = 2.20 No.072 37 37 110 110 Tabel A12.7 11.2 28. Sekincau Lampung Barat Bacingot Lampung Barat Suoh Antata Lampung Barat Pajar Bulan Lampung Barat Natar Lampung selatan Ulu Belu Tanggamus Lempasing Lampung selatan Way Ratai Lampung selatan Kalianda Lampung selatan Pmt.855 Mwe 100 25 225 100 25 225 225 925 185 100 163 156 194 40 838 222 130 300 380 40 1.00 80.

7.6.Tabel A12.4 (FTP2) Semangka Rajabasa (FTP2) Suoh Sekincau Wai Ratai Jumlah PLTU PLTP PLTU PLTG PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLN PLN Sewa PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 200 110 240 200 110 56 220 110 55 1301 COD 2012 2012-13 2013 2014 2015 2016 2017 2018-19 2019 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan GI Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan 14 buah gardu induk baru dan pengembangan GI existing sampai dengan tahun 2020 seperti diperlihatkan pada Tabel A12.2 Tarahan #5.5. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Proyek Jenis Pemilik Tarahan (FTP1) Ulubelu #1. Tabel A12.6 Pembangkit Peaker Ulubelu #3.6 dan Tabel A12. Rencana GI Baru 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Seputih banyak Dipasena Ulubelu Kota Agung Liwa Dipasena Gedong Tataan Ketapang Mesuji Teluk Ratai Jati Agung Pakuan Ratu Langkapura Bengkunat Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 377 Kapasitas (MVA) 30 90 30 30 30 120 60 30 30 30 30 30 60 30 630 COD 2011 2012 2012 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2019 .

6 20 1. 2 Pi (New Tarahan-Kalianda) Dipasena Inc. cct.0 80 4.6 40 2.124 kms diperlihatkan pada Tabel A12.8. cct.1 96 12. 1 Pi (Batutegi-Pagelaran) Bukit Kemuning (uprate) Seputih Banyak Natar (uprate) Tegineneng (uprate) Liwa Kota Agung Teluk Ratai Mesuji Ketapang Dipasena Gedong Tataan Ulubelu Jatiagung Inc. cct. cct.2 90 20. 2 Pi (Natar-Teluk Betung) PLTP Suoh sekincau Bengkunat PLTP Wai Ratai 150 kV 150 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct. cct. cct. Tabel A12. 378 . cct.1 38 2.1 16 35. cct. cct.1 2 0. cct. cct.8 120 27.2 120 9.3 160 12.2 1524 184. cct.Tabel A12. cct. cct. cct.0 1 0. cct. cct.3 152 11. cct.4 60 3.5 1 0.3 40 3.2 40 3.6 60 4. cct. cct.1 120 6. cct.8 Pengembangan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Bukit Kemuning (uprate) PLTU Tarahan (FTP1) Seputih Banyak Ulubelu Baturaja (uprate) Menggala Sutami (uprate) Pagelaran (uprate) Bukit Kemuning Pagelaran Gedon Tataan Gumawang Kalianda Mesuji Pagelaran PLTP Ulubelu #3. cct. AC3 310 mm2 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk AC3 310 mm2 2 Zebra AC3 310 mm2 AC3 310 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Zebra 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk CU 1000 mm2 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 68 9. Rencana Pengembangan GI Existing No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Kotabumi Adijaya Bukit Kemuning Kalianda Natar New Tarahan Pagelaran Metro Sribawono Sukarame Kotabumi Seputih banyak Tegineneng Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 60 30 60 60 60 30 60 30 60 COD No 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Gardu Induk Adijaya New Tarahan Menggala Sutami Mesuji Tegineneng Jati Agung Ketapang Pakuan Ratu Sukarame Kotabumi Sribawono Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 60 30 30 60 30 30 30 60 60 60 1170 COD 2015 2015 2016 2016 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2020 2020 Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2020 sepanjang 2. cct.2 60 3.4 80 4.6 COD 2011 2011 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2017 2017 2018 2019 2019 Di provinsi ini melintas transmisi 500 kV HVDC Sumatera-Jawa dengan switching station dan landing point kabel laut 500 kV HVDC akan berada di Ketapang. 1 Pi (Menggala-Gumawang) Kota Agung PLTP Rajabasa Inc.0 30 4.7.4 Natar Pakuan Ratu PLTA Semangka Kalianda Langkapura Besai Liwa Teluk Ratai Jumlah Ke Konduktor Tegangan Kotabumi (uprate) Inc.0 30 4.

230 143.4.10. penambahan pelanggan baru sampai dengan 2020 adalah 1.330. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 236.417 104.093 98. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A12.527 96.721 101. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.225 155.182 1.600 pelanggan per tahun.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.9. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.692 A12. Tabel A12.331 ribu pelanggan.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236. seperti ditampilkan dalam Tabel A12.Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.409 kms. diperlukan pembangunan JTM 2.225 pelanggan dan pada tahuntahun selanjutnya akan disambung rata-rata 121. 379 .268 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 766 MVA. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.322 93.9.793 153. JTR sekitar 2.182 148.

811 3.491 48.679 4.709 Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.989 4.746 5.747 5.124 6.325 3.052 4.124 67 443 184 168 380 367 524 173 321 44 2.102 45.361 4.637 3.754 6.800 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 69 160 276 160 542 677 42 38 160 0 2.411 5.671 .10.041 1.106 3.Tabel A12.416 5.075 5.077 5. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.301 GI (MVA) 90 390 150 210 360 150 60 90 180 120 1.384 Produksi Energi (Gwh) 3.094 8.507 Pembangkit (MW) 380 0 255 295 200 110 56 220 55 110 0 1.428 4.762 6.

Sukadana dan sistem tersebar.4 4 53.3 55 3. Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 283 MW dengan produksi 1.3 13 54.LAMPIRAN A.0 381 Beban Faktor Puncak (MW) Beban (%) 175 65.5 22 1. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Total Produksi GWh % 1003 67.3 22 1.9 1478 100.4 19 66.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat. Nanga Pinoh.5 109 7.4 61 4. Putussibau. Ngabang.4 4 54.478 GWh. Ketapang. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga Singkawang. Bengkayang. Tabel A13. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini.7 15 1. Sintang.1. Sistem isolated terdiri atas sistem Sambas.1.1 19 1. Sekadau.13 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO) DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT A13.9 3 52. Tabel A13.8 4 58.3 13 57.0 32 31.9 21 1.4 88 5.3 12 51. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV dan beberapa sistem isolated.0 63 4. Sanggau.5 283 59.9 4 63.6 .

2. Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58. Tabel A13. Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit berbahan bakar minyak. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2010 Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Total Daya Terpasang (MW) 236 6 15 7 14 5 16 6 6 24 50 385 Daya Mampu (MW) 212 5 15 5 14 4 14 5 5 22 37 339 A13. Pertumbuhan ekonomi selama 2006-2010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5. yaitu rata-rata 9. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.1% per tahun. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata 9. Untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal. konsumen komersil (28%).2.1% per tahun. 382 .2% per tahun. Kecukupan dan keandalan pasokan masih relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan pembangkitan tidak memadai.Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi.2. konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%). Penjualan tenaga listrik diserap oleh konsumen rumah tangga & sosial (61%).3%. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A13.3. Kapasitas pembangkit adalah 385 MW dengan daya mampu 339 MW seperti diperlihatkan pada Tabel A13. dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga.

Sumber batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU/PLTGB di Sanggau.313 2. Potensi batubara terdapat di daerah Sintang. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.060 9.0% Produksi (Gwh) 1.723 2.406 1. Sintang.287 6. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air. berupa batubara dengan kandungan kalori yang tinggi. Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten Mempawah.204 3.954 3.205 2. namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala infrastruktur transportasi.276 875.536 738.030 2.713 1.954 2. Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului dengan survey dan studi yang mendalam.869 2. Nanga Pinoh dan Putusibau.130 2.820 3.9% Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 8.695 928.047 983. gambut dan batubara.516 779. Sintang.1% Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 186 MW.562 699.594 1.Tabel A13. Sekadau.599 2. Sedangkan sistem-sistem isolated kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.7% per tahun.3. 383 . Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada tahun 2020 menjadi 548 MW atau tumbuh rata-rata 12. Sanggau. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek lingkungan. Nanga Pinoh.3.476 8.779 1.042. dan sejalan dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada sistem-sistem isolated (Sistem Sambas. Pada saat ini potensi yang dapat dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW. A13.514 1.9% Pelanggan 622.019 662.510 2.621 826.559 1.394 2.

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Di Provinsi Kalimantan Barat akan dibangun 15 buah GI 150 kV baru dan pengembangan trafo GI existing sebesar 930 MVA.6. Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM untuk pembangkit beban puncak.4. PLN bermaksud mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga 180 MW.2 14 8 14 21 20 6 55 100 100 50 100 98 100 50 736 COD 2011 2012 2012 2012-13 2012-13 2013 2013 2013 2013 2014-15 2015 2016-17 2017-18 2019-20 2019-20 Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat. Rencana pembangunan GI diberikan pada Tabel A13. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Proyek Riam Badau Ketapang (IPP) Putussibau (FTP2) Sanggau Sintang Ketapang (FTP2) Nanga pinoh Pantai Kura-Kura (FTP1) Parit Baru (FTP1) Parit Baru-Loan China (FTP2) Pontianak-3 Kalbar-1 Nanga pinoh Kalbar-2 Pontianak-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTM PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTA PLTU PLTU PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 0. Tabel A13.Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13. Selain itu akan dibangun pula GI 275 kV sebagai simpul interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Serawak. 384 .4. Adanya rencana impor baseload sebesar 50 MW adalah untuk mengurangi ketidakpastian penyediaan pembangkit baseload di sistem Kalimantan Barat.5 dan Tabel A13. PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi 275 kV antar negara yang berkapasitas lebih dari 200 MW.

385 .7.5.Tabel A13.6. Pengembangan/Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Gardu Induk Sei Raya Mempawah Siantan Singkawang Sanggau Parit Baru Sambas Siantan Kota Baru Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 120 30 60 30 30 30 30 60 30 420 COD 2012 2014 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pengembangan Transmisi Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat adalah seperti terlihat pada Tabel A13. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Kota Baru PLTU Kura-Kura Sambas Bengkayang Ngabang Tayan Sanggau Sekadau Sintang Kota Baru 2 Nanga Pinoh Sandai Sukadana Ketapang Putusibau Bengkayang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 60 30 250 760 COD 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013 Tabel A13.

2 120 6. cct. cct. PLN berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke perbatasan negara dan trafo IBT berkapasitas 250 MVA. cct. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 275 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Parit Baru PLTU Kura-Kura Sei Raya Singkawang Bengkayang Ngabang PLTU Parit Baru (IPP) Siantan Singkawang Sanggau Sintang Tayan Nanga Pinoh Sandai Sintang Sukadana Ketapang Sintang Bengkayang Jumlah Ke Tegangan Kota Baru Inc.4 2818 195. Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13.0 180 10.Tabel A13. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 40 2.7. cct.7 200 15. cct.8 126 7.9 180 28. cct. cct. cct. cct.0 COD 2011 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013 Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut. cct.0 300 22. cct. cct.0 180 10. cct.1 6 0. cct.0 180 10. cct. 2 pi (Singkawang-Mempawah) Kota Baru Sambas Ngabang Tayan Parit Baru Tayan Bengkayang Sekadau Sekadau Sanggau Kota Baru 2 Tayan Nanga Pinoh Sandai Sukadana Putusibau Perbatasan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 275 kV Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.5 180 10. cct. cct.6 100 5.0 110 6. 386 .2 40 2.3 184 10.2 32 1.9 180 10. cct.0 180 13.3 300 22.1.

GI KUALA KURUN Kuala Kurun GI.2 X 25 MW (2015) PLTGB (IPP) 8 MW (2012) GI. 6 (2013) PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18 GI. SEI RAYA Thn2013 GI. or the image may have been corrupted.380 kms. SEKADAU Thn 2014 PLTU SANGGAU (PLN). 2 X 7 MW (2012) PLTGB NANGAPINOH (PLN). TAYAN GI. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. If 2011 the red x still appears.1. NGABANG Thn2013 55 km GI. 2 X7 MW (2012) KETERANGAN : Gardu Induk 275 kV Rencana Transmisi 275 kV Rencana Transmisi 150 kV Eksisting Transmisi 150 kV Rencana Gardu Induk 150 kV Eksisting Gardu Induk 150 kV Rencana PLTU Rencana PLTMH Rencana Listrik Perbatasan Eksisting Listrik Perbatasan Rencana Gambar A13. SINTANG Thn 2014 GI.5 MW (2013) PLTU PERPRES TAHAP II 2 X 50 MW (2014) LOAN CHINA SERIKIN JAGOI BABANG BATU KAYA GI. SANDAI Thn 2017 PLTU KETAPANG (PLN) . Restart your computer.8. Your computer may not have enough RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN memory to open the image. 2 x 400 KW (2012) ARUK PLTU 2 KALBAR TJ. SAMBAS Thn2013 GI SANGGAU Thn 2014 PLTU SINTANG (PLN). MEMPAWAH PLTU 1 KALBAR‐PARIT BARU (PLN). 2 x 27. 2 x 750 KW (2010) BIAWAK GI.944 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi 540 MVA sampai dengan tahun 2020 seperti ditampilkan dalam Tabel A13. SIANTAN GI. PLTU KURA-KURA Thn 2011 GI. 387 . PARIT BARU PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN). PUTUSIBAU Thn 2020 BADAU ENTIKONG GI & GITET.GUNDUL (PLN). SUKADANA Thn 2017 GI. diperlukan tambahan pelanggan sebanyak 46. KOTA BARU Thn 2011 PLTU TAYAN (IPP).400 sambungan per tahun.The image cannot be displayed. you … KALIMANTAN . 2 x 25 MW (2014). KUCHING GI MAMBONG (MATANG) TEBEDU GI. 2 X 10 MW (2013) GI. BENGKAYANG Thn 2013 GI. 2 x 50 MW (2013) PLTU PARIT BERKAT (IPP).2020 PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP). SINGKAWANG Thn 2009 GI. NANGA PINOH Thn 2016 GI. and then open theBARAT file again. JTR sekitar 3. KETAPANG Thn 2017 PLTU KETAPANG (IPP) . K0TA BARU22017 GI. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut diperlukan pembangunan JTM 1. 3 X 7 MW 2012) ( GI.

944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.2.8.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3. yaitu Entikong sebesar 150 kVA dan Seluas sebesar 100 kVA. sementara kondisi kelistrikan di wilayah Sarawak lebih baik.773 464. 388 .189 40.419 52.Tabel A13. Peta kelistrikan di daerah perbatasan diberikan pada Gambar A13.980 41.973 38.655 49.353 55.4.457 A13. ELEKTRIFIKASI DAERAH PERBATASAN ANTAR NEGARA Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak masih belum tercukupi. Berikutnya akan dilakukan pembelian listrik dari Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya.467 58.105 46.543 36. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1. yaitu di Sajingan dan Badau. Hal ini menimbulkan terjadinya kesenjangan pada daerah perbatasan. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem isolated di daerah perbatasan.

5.723 2.818 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1.635 Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 4.954 2.869 2.2.476 24.9.130 2.394 2.406 1. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan A13.9.954 3.205 2.030 2.424 Pembangkit (MW) 389 0 43 195 50 100 50 99 49 75 75 736 GI (MVA) 60 150 340 210 30 150 90 30 60 60 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.510 2.060 21. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.779 1.180 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 112 126 780 460 0 840 200 0 0 300 2.656 Produksi Energi (Gwh) 1.599 2.825 .313 2.559 1.820 3.204 3.713 1.594 1.Gambar A13. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A13. Tabel A13.

LAM MPIRAN A14 NERACA DAYA SIISTEM-S SISTEM IS SOLATED WILAYA AH OPER RASI INDONESIA BARAT 390 .

1 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI AC CEH 391 .LAMP PIRAN A14.

87 1 PLTD 0.71 3.9 65.1 41 4.9 0.4 4.68 3.9 0.7 0.7 28.4 0.7 0.4 1.7 18.7 28.4 5.4 28.1 0.6 66.2 65.7 0.1 4 1 4.7 18.0 Genset BPKS 1 30 1.0 2.92 1 PLTD 0.4 0.9 0.7 66.7 0.6 0 4 0.0 4.7 Caterpillar 0.2 % 64.2 0.1 25.3 16 2 16.5 7.4 0.2 0.4 2 3 2.71 PLTD Aneuk Loat 392 Marcedes MTU 0.2 Marcedes MTU 0.4 3.0 1.9 0.7 11.4 2.71 3.9 0.1 4 1 4.5 0 6 0.2 0.2 66.71 3.0 4.0 4.3 Tambahan Pembangkit PLN Sabang (FTP2) 2 PLTGB 8 IPP Lho Pria Laot PLTP Jaboi (FTP2) PLTP Jumlah Kapasitas MW 6.4 74 7.4 1.5 6 3 6.2 0.9 0.4 1.5 3.0 24.5 3.9 0.2 0.4 66.5 7.9 1 7 1.2 0.0 Operasi 1.7 11.5 65.3 27.71 3.4 1.4 1.7 Pasokan Kapasitas Terpasang MW Derating Kapasitas Pembangkit PLN 7 4 7.4 0.4 0.0 1.1 41 4.4 1.36 2 PLTD 0.5 29.7 6.4 5.9 0.0 4.1 41 4.0 S Surplus/Defisit l /D fi i MW 7 10 .2 4.4 PLTD Sewa Sewa Diesel 2.0 4.5 7.68 6.1 41 4.7 0.4 4.9 0.0 4.9 0.4 1.8 67.9 23.71 3.7 0.7 6 5 6.9 0.7 0.4 1.7 Cadangan MW 2.9 0.1 5.9 Caterpillar 0.00 PLTD 2.0 Load Faktor 20.9 0.71 3.9 0.9 Caterpillar 1.4 1.0 66.4 41 4.4 6.9 0.71 3.2 0.7 0.7 0.7 11.4 1.1 41 4.8 21.4 5.9 0.5 4.Neraca Daya Sistem Sabang Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan Produksi Energi GWh Beban Puncak MW 3.4 1.2 0.1 1 9 1.7 3.3 13 1.7 0.9 0.3 2 1 2.7 0.9 5.4 5.4 0.2 0.7 4.0 4.4 7.44 1 PLTD 1.4 1.4 1.9 0.2 16 0 16.2 26.30 PLTD 1 3 1.5 Pemeliharaan 1.5 3.7 11.8 4.0 4.6 30.4 0.18 1 PLTD 0.

0 MAK 2.2 Relokasi dari Lampung 4.0 1.9 Pemeliharaan 4.2 2 PLTD 9.39 2 PLTD 4.9 6.1 % 56.0 Beban Puncak MW 8. Caterpillar 0.3 Merrless 0.45 1 PLTD 0. 0. 1 PLTD 0.67 2 PLTD 1.3 23.0 PLTD 2.9 .8 393 SWD 6 FG MTU 0.0 Cummins 0.5 Sewa Sewa Diesel Surplus/Defisit 2.7 9.1 22.4 6 5 6.1 Cadangan MW 6.4 2.0 Jumlah Kapasitas MW 22.7 MW 23.8 45.2 56.2 1.7 0.1 22.3 Derating Capacity 1.3 1.92 .8 4.0 2.Neraca Daya Sistem Blangpidie Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 42.5 4.1 Load Faktor Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 Pasokan Kapasitas Terpasang PLTD Suak 0.99 3 PLTD 3.7 Caterpillar p 0.72 1 PLTD 0.5 6 2 6.00 MW Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 2017 2018 2019 2020 .5 0.0 9.2 Pembangkit PLN 22.0 3.2 0.9 .5 Operasi 2.5 Caterpillar 0.95 1 PLTD 1.23 1 PLTD 0.

4 0.7 5 5 5.7 19.6 0.5 PLTD 4.2 % 59 8 59.0 2.5 Beban Puncak MW 5.2 MTU 12V 2000 0.1 Pemeliharaan 1.7 0.1 7.0 2 PLTU Jumlah Kapasitas MW Cadangan MW 14.7 2.1 1 7 1.73 5.1 2 PLTD 2.8 60 2 60.6 9.0 1.0 Operasi 1.1 32.0 Sewa Sewa Diesel Tambahan Kapasitas PLN Tapaktuan 7.73 PLTD Tapaktuan MTU 12V 4000 2 PLTD 2.2 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan L dF Load Faktor k Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 Pasokan Kapasitas Terpasang MW Derating Kapasitas Pembangkit PLN 10.5 S Surplus/Defisit l /D fi i MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .2 2.5 1.1 8.7 1 PLTD 0.4 6.Neraca Daya Sistem Tapaktuan Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 Produksi Energi GWh 31.0 SWD 6FG 0.0 394 1.9 6.7 SWD 9F 1.7 2 PLTD 1.0 9.

8 Cadangan MW 1.0 Tambahan Pembangkit PLN Singkil 3.1 .2 1.4 10 1 1 PLTU PLTB 1.8 Beban Puncak MW 11. GLA Pemeliharaan 1. GSS PLTBayu PT.5 12.0 1.7 14.0 PLTD Kuta Fajar PLTD 1.0 2 PLTGB 6. 9.9 12.0 Operasi 0.0 1.8 PLTD Rimo PLTD .0 Jumlah Kapasitas MW 14.8 Load Faktor 60. 4.0 1.9 Beli Energi / IPP PLTU PT.6 .3 53.Neraca Daya Sistem Subulussalam Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 55. p f Surplus/Defisit MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .0 9.9 1.2 Pasokan Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Kapasitas Terpasang MW 14.2 PLTD Sewa PLTD 9.9 0.5 395 PLTD Singkil PLTD 0.5 23.7 Derating Capacity 2.8 % 53.9 Pembangkit PLN 12.9 0.

1 Cadangan MW 2.Neraca Daya Sistem Kutacane Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kebutuhan Produksi Energi GWh 49.96 1 PLTD 2.5 0.64 1 PLTD 0.7 0.0 1.6 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity 0.6 .8 Pemeliharaan 2.3 10.6 .5 PLTM Sepakat Turbin WKC PLTD Sewa Rental genset HSD Suplai dari 20 kV Sistem Sumut Tambahan Pembangkit IPP Lawe Mamas 30 3 PLTA 50 Jumlah Kapasitas MW 13.8 2.3 14.5 1.6 55.2 Beban Puncak MW 10.5 PLTD 5.9 0.85 2 PLTD 1.0 SWD 8FG 0.8 % 54. PLTD Kuning MTU .0 2.0 2.85 3 PLTD 396 SWD 6TM 1.9 0.10 2.4 MW 14. 0.0 Operasi 0. 2.62 14.6 14.4 Surplus/Defisit MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2019 2020 .7 0.0 5.8 Load Faktor 52.75 2 PLTD 1.6 0.6 Cummins 0.7 Pembangkit PLN 13.7 1.0 1.

6 0.0 Cadangan MW 1.0 1.7 7 0 7. 3.3 0.6 5.6 .0 Sewa 397 Rental genset HSD 2.6 .9 15. Bata 0.8 1.2 J l h Kapasitas Jumlah K it MW 6 7 6.4 4.6 5. 3.0 2.3 43.6 .0 PLTD 1.8 1.1 PLTD Rema MW 3.0 7 0 7.6 0.5 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2019 2020 .1 5.8 0.1 5.8 1.4 Load Faktor Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV Pasokan Kapasitas Terpasang MW 5.0 Tambahan Pembangkit PLN Rel.7 2 Beli Energi Rerebe Putri Betung Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 0. dari PLTD L.0 7 0 7.Neraca Daya Sistem Blangkejeran Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kebutuhan Produksi Energi GWh 14. 3.6 Pembangkit PLN MW 5. PLTD 2.6 % 43.2 4.0 0.8 16.9 1.8 0.6 Derating Capacity MW 0.1 5.8 0.8 1.4 PLTM PLTM 0.0 1.6 5.7 17.8 0.4 43.0 1.8 0.6 Beban Puncak MW 3.9 4.0 2.3 43.6 .6 0.

0 7.3 0.5 Jumlah Kapasitas MW 23.1 23.5 Tambahan Pembangkit PLN Peusangan 43 2 PLTA 88.5 6.0 18.4 PLTMH 0.8 2.4 Beban Puncak MW 18.6 21.8 IPP/Beli Energi KERPAP Pemeliharaan Operasi S Surplus/Defisit l /D fi it MW 1.0 7.4 21.6 PLTMH Angkup PLTD Sewa PLTD Suplai dari 20 kV GI Bireun 6.4 0.3 60.0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .3 36.4 1.2 2.0 24.Neraca Daya Sistem Takengon Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 57.0 Derating Capacity MW 2.1 9.9 % 36.1 PLTD Janarata PLTD 0.4 0 9 0.1 Cadangan MW 4.2 4.4 2.9 0 0 0.0 0.3 PLTD Jagong Jeget PLTD 0.5 Kapasitas Terpasang MW 24.5 3 PLTMH 1.6 0.6 Load Faktor Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Pembangkit PLN 398 PLTD Ayangan PLTD 9.

2 4.9 63.6 0.87 0.33 6.9 Beban Puncak MW 3.1 1.8 5.0 PLTD Sewa S Rental genset HSD Tambahan Pembangkit PLN Aie Tajun 3 2 PLTGB 60 6.53 4.0 3.5 0.0 24.1 3.4 0.4 0.0 Derating Capacity 0.6 0.7 63.16 2.87 0.6 0.6 0.4 0.16 2.1 1.5 0.5 0.87 0.5 MTU 0.7 1.36 1 PLTD 0.87 0.7 2.5 0.53 4.9 23.0 7.5 0.4 MTU 0.0 5.53 Load Faktor Pasokan Kapasitas Terpasang PLTD Lasikin 399 MTU 0.2 % 63.5 2.0 3.7 28.16 PLTD 2.5 10.8 63.7 2.5 0.8 63.9 4.5 0.9 1.4 0.5 0.5 0.1 1.6 0.0 5.0 Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 0.7 21.0 3.7 0.6 0.16 2.1 4.87 1 PLTD 0.33 4.87 0.16 2.0 3.1 4.0 5.16 2.1 4.4 0.3 .0 5.0 3.6 0.5 10.2 25.5 0.1 1.53 4.5 10.3 6.6 Caterpillar 0.0 5.6 0.5 0.1 4.7 3.4 19.6 0.1 1.5 0.48 1 PLTD 0.53 4.1 1.0 5.16 2.7 0.5 20.7 63.3 3.0 5.9 1.5 1.58 1 PLTD 0.7 63.5 0.0 3.16 2.8 63.5 27.9 2.6 0.6 0.7 63.87 0.6 Caterpillar 0.5 Pembangkit PLN 6.16 2.0 2.1 1.6 0.4 0.53 4.4 0.3 2.5 10.53 4.4 0.1 4.1 4.5 4.Neraca Daya Sistem Sinabang Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan Produksi Energi GWh 18.87 0.6 0.5 0.58 1 PLTD 0.1 4.5 10.53 4.7 MW 7.3 4.0 5.5 0.3 10.6 0.5 0.5 10.87 Wartsilla 1.87 0.0 5.4 0.5 10.1 1.5 3.6 0.6 0.87 0.4 26.1 1.1 1.08 2 PLTD 2.16 2.5 Cadangan MW 1.0 Jumlah Kapasitas MW 6.1 1.8 63.6 0.1 4.0 3.6 0.1 1.1 0.

8 Sewa PLTD 16.6 Operasi 3.0 Media Group PLTU 8.1 Derating MW 5.1 Surplus/Defisit MW 9.1 Cadangan MW 6.1 400 Seunebok PLTD 19.9 Kapasitas Terpasang MW 50.0 Load Faktor Rencana tahun 2012 masuk Grid 150 kV Pasokan Pembangkit PLN 45.0 Tambahan Pembangkit PLN Nagan PLTU 220 Jumlah Kapasitas MW 45.5 Alue Bilie PLTD Jeuram PLTD 1.2 Calang PLTD 1.0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .4 % 47.2 Lamno PLTD 2.Neraca Daya Sistem Meulaboh Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 124 Beban Puncak MW 29.3 Teunom PLTD 1.7 Pemeliharaan 3.

LAMP PIRAN A14.2 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI SUMATE S ERA UTA ARA 401 .

0 3.0 3.0 97.75 Daihatsu 0.0 5.4 4.53 PLTD Sewa Gunung Sitoli Teluk Dalam Tambahan Pembangkit PLN Nias IPP Nias (FTP2) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit (N-1) Unit 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 54.1 2.0 11.6 7.4 4.0 1.0 1.1 37.8 43.6 1.0 1.6 7.5 8.5 86.6 7.6 15.6 1.5 1.3 14.9 19.7 42.0 1.0 4.4 4.1 7.8 92.6 7.6 1.0 4.01 Deutz MWM 1.0 2.6 7.Neraca Daya Sistem Nias 402 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Kapasitas Pembangkit PLN PLTD Gunung Sitoli Deutz 0.0 4.0 30.1 0.0 1.0 1.6 1.6 7.5 1.1 2.1 2.3 21.6 23.1 0.6 1 1 1 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 1.5 44.0 2.10 Daihatsu 0.6 15.0 5.4 4.0 7.8 0.0 24.6 1.2 37.0 2.6 7.1 0.0 1.6 PLTGB PLTU MW MW MW 8.6 1.0 1.1 5.0 43.0 4.0 4.6 7.8 0.1 0.6 1.1 43.4 24.0 2.22 Cummins 1.5 7.01 MTU 1.1 2.0 3.9 25.0 8.1 2.6 7.6 15.8 0.5 1.0 4.5 43.0 4.1 2.8 0.0 1.2 37.4 4.0 4.6 7.0 1.4 4.6 23.4 72.5 1.5 7.3 65.8 0.6 1.4 MW MW 23.0 37.1 2.5 1.5 1.0 5.6 15.8 43.2 24.6 1.0 1.5 7.0 4.5 1.6 1.5 1.5 1.5 22.0 0.8 42.1 0.0 11.0 4.1 42.0 3.0 7.6 15.53 PLTD Teluk Dalam Cummins 1.2 61.1 0.6 7.0 2.1 4.8 0.7 18.8 0.0 43.3 77.0 3.3 68.1 0.4 4.1 24.0 7.4 4.6 15.8 0.0 1.1 2.4 4.6 1.0 37.6 15.5 PLTD PLTD 5.1 6.8 0.6 1.0 4.6 1.0 16.5 37.5 1.6 23.6 2 2 4 3 PLTD PLTD PLTD PLTD 1.4 4.56 Deutz KHD 1.1 0.1 0.0 7.1 14.1 .0 4.0 8.0 4.1 2.0 11.0 58.5 9.5 3.4 4.1 0.6 15.0 4.4 81.0 8.0 7.7 24.8 0.1 0.6 1.0 1.5 1.8 17.6 43.5 1.8 0.0 1.1 2.0 4.2 20.5 1.0 11.5 1.0 4.1 2.

3 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI RIAU R 403 .LAMP PIRAN A14.

79 0.0 Tambahan Pembangkit MTU (Pemda) 0.0 3.7 3.60 1 PLTD 0.0 6.20 0.00 3 2 1 PLTD PLTU PLTD 4.5 77.00 3.00 3.60 0.0 3.8 2.5 0.18 0.2 3.6 78.0 404 0.9 4.1 10.9 77.8 0.8 3.17 0.8 MW MW 0.1 4.8 1.2 5.30 M VA Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 5.2 32. Tahun 2014.2 Disupplai dari grid 150 kV SIS.2 3.6 2019 2020 .Neraca Daya Sistem Siak Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN MTU M.8 3.0 0.6 2014 2015 2016 2017 2018 35.8 28.2 1.0 0.79 1 PLTD 0.59 6.8 78.79 0.D Sewa Sewa Diesel Sewa PLTU (Pemda) Sewa MFO Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 25.79 0.1 10.3 0.62 1.

0 11.5 10.5 0.8 1.2 0.5 3.5 70.9 18.Neraca Daya Sistem Bengkalis 405 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Deutz Deutz Yamar Sewa Pembangkit Sewa Genset MFO Sewa Mesin 1 (HSD) Sewa Mesin 2 (HSD) Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 110.05 10.0 16.0 11.2 14.20 1.0 26.9 44.6 70.8 69.60 2 1 2 PLTD PLTD PLTD 1.0 6.3 92.9 21.4 6.1 15.0 11.7 1.9 6.8 150.9 38.5 11.5 10.44 0.5 2.5 5.0 38.5 28.6 3.0 32.9 19.6 MW MW 18.6 -0.19 1.7 1.0 11.6 11.7 70.2 06 0.4 69.4 69.5 69.5 10.8 32.8 1.0 119.2 06 0.40 0.0 12 1.5 6.1 139.96 6.98 1.6 129.3 28.20 0.4 70.6 GWh % MW 72.5 5.0 15 1.5 10.72 1.6 .47 0.72 2.0 8.03 1.8 69.0 15 1.72 2.18 0.12 10.5 11.0 12.5 7.19 0.0 2 2 PLTU PLTGB Tambahan Pembangkit PLN Bengkalis (FTP1) 10 Bengkalis PLTGB 3 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 2020 164.0 1.0 1.5 10.9 24.0 11.56 0.01 1.2 10.0 MW MW MW 20.0 16.0 11.0 12 1.0 6.51 0.0 15 1.0 70.0 6.0 15 1.98 16.7 82.0 15 1.2 10.9 22.0 15 1.1 101.2 13.0 1 3 6 PLTD 6.72 2.5 10.2 2.18 1.7 44.

2 11 2 10.4 1.4 2.2 35.0 17 0 10.3 67.9 67.1 1.1 1.5 8.0 7.0 17 0 10.4 1.4 66.0 .6 9.3 17.0 1.2 2 2 PLTD PLTD 1.4 17.6 4.9 4.1 1.4 2.4 1.0 1.3 1.4 1.6 17.7 16.4 98.5 15.5 17.4 32.7 11.4 1.6 1.2 78.2 1.2 9.0 1.2 10.2 1.5 17.5 2 1 3 3 PLTD PLTD 6 6 6 6 6 6 3 3 PLTGB 6 3 3 PLTG 10 2 PLTU MW MW MW 3 14 14.3 1.5 4.6 1.2 1.3 84.5 1.Neraca Daya Sistem Selat Panjang 406 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN BWSC Deutz Sewa Pembangkit Sewa Genset MFO Sewa Mesin (HSD) Tambahan Pembangkit PLN Selat Panjang Sewa PLTG Project IPP Selat Panjang Baru #1.1 53.9 67.2 13.0 17 0 10.0 17 0 10.0 7.3 17.4 2.4 14.0 7.0 3.1 1.7 4.0 1.9 11.8 18.0 1.0 4.4 32.3 90.2 60.9 22 2.3 66.0 17 0 10.0 3.1 66.0 7.0 1.3 67.4 1.8 35.1 1.0 1.0 7.2 1.2 11 2 10.4 1.5 1.1 67.2 66.0 17 0 10.0 0.1 4.0 7.5 66.8 10.2 1.2 1.4 1.1 12.6 107.6 30.0 17 0 10.7 4.2 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 47.0 2.9 4.4 1.3 71.8 11.8 4.4 30.2 32.3 67.1 MW MW 4.0 4.0 4.3 35.3 32.0 7.3 1.7 17.

0 2.5 1.3 6.Neraca Daya Sistem Bagan Siapiapi 407 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN Deutz BA 12M 816 Deutz KHD BV 8M Mitsubishi Pembangkit Sewa Sewa HSD Sewa Mesin Pemda PLTGB Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 31.8 1.41 0.8 1.2 MW MW 2.0 0.0 11 0 1.4 5.2 0.4 5.1 11 1 1.0 2.2 0.0 2.8 1.2 0.0 11 0 1.2 0.8 1.6 8.6 2 1 1 PLTD PLTD PLTD 0.8 1.81 0.9 55.39 0.0 2014 2015 2016 2017 2018 Disupplai dari grid 150 kV SIS. Tahun 2014.2 2.3 55.5 1 3 2 PLTD PLTD PLTGB 2.3 0.30 M VA Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW MW MW 11.42 0.8 11.43 0.8 1.38 2.8 2.40 0.0 2.0 2.79 0.4 5.0 2019 2020 .3 39.5 7.2 55.6 1.6 2.83 0.6 1.2 2.9 11.4 35.

0 5.3 MW MW 8.0 0.0 11.64 0 64 2 4 PLTD PLTD 1.63 0.3 3.4 2012 2013 2014 2015 2016 2017 95.0 2.3 26 2.Tahun 2013 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 18.0 2.3 63.2 0.0 20.2 1.5 63.2 10.4 2.0 Disuplai dari Grid 150 kV SIS.0 14.5 2018 2019 2020 .00 2 2 5 PLTD PLTD PLTD 2.0 15.0 5.00 2.6 1.2 1.0 1.0 Tambahan Pembangkit PLN Rengat 10 2 PLTG IPP IPP Kemitraan 2 PLTU 7.9 29.2 0.00 1.9 34 3.1 17.3 2.Neraca Daya Sistem Rengat 408 Pasokan/Kebutuhan K b t h Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN PLTD Air Molek PLTD Danau Raja Pembangkit Pemda MTU 12V 2000G 62 MTU 16V 2000G 62 Project Sewa Sewa Diesel1 Sewa Diesel2 Sewa Diesel3 Unit 2011 GWh % MW 84.00 1.

00 Sewa Mesin3 (HSD) 0.2 1.0 1.Neraca Daya Sistem Tembilahan 409 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN SWD 0.4 MW MW 7.59 7.4 59.6 2 PLTD 0.50 1.5 11.8 6.60 Pembangkit Pemda Komatsu 0.40 Relokasi Ex Tlk Kuantan PLTD 0.54 0.89 3 1 2 4 PLTD PLTD PLTD PLTD 0.34 Deutz KHD BV 8M 1.3 2019 2020 .7 1.79 7.0 6.6 1.5 15.2 2.50 0.79 1.0 86.8 15.51 1. Tahun 2015 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 16.27 Yanmar 0.1 59.0 0.79 1.2 7.18 1.69 7.48 1.0 3.80 Sewa genset (MFO) Tambahan Pembangkit PLN Tembilahan Unit 2011 2012 2013 2014 GWh % MW 61.9 26.8 6.17 1.6 1.71 0.9 8.6 59.8 69.19 1.67 0.8 25.80 0.0 1.5 1 1 PLTD PLTD PLTD 3.6 13.2 0.5 0.58 0.18 1.79 1.00 Di pasok dari grid 150 kV.0 1.2 0.6 1.2 7.6 59.5 2.0 6.7 1.0 0.46 4 PLTD 1.20 Yanmar 0.5 0.79 1.3 78.49 1.9 1.26 Pembangkit Sewa Sewa Mesin2 (HSD) 3.5 0.0 PLTU 2015 2016 2017 2018 14.5 0.76 0.9 16.0 8.

0 1.6 0.79 2014 7.1 1.6 0.79 2019 10.2 50.2 50.9 51.4 1.6 0.79 2018 9.6 0.4 1.3 2.6 1.79 2020 11.0 MW MW 2.0 2.6 0.77 2012 5.79 2015 7.6 0.2 1.83 0.8 1.2 0.77 0.5 50.7 1.8 50.77 410 0.9 1. Tahun 2013 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 2017 9.2 2.8 0.77 0.81 1 2 PLTD 2.77 0.6 0.60 0.0 0.6 0.8 1.77 0.6 50.79 .8 50.6 0.9 2.6 0.79 2016 8.2 1.1 50.6 0.5 1.79 Tambahan Pembangkit PLN Di pasok dari grid 150 kV.8 1.Neraca Daya Sistem Kuala Enok Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Mitsubishi S6U Catterpilar Sewa Sewa Diesel Unit GWh % MW MW MW 2011 5.6 51.9 2013 6.5 1.6 1.6 0.77 0.0 3.2 1.3 1.6 1.0 3.6 1.7 51.77 0.77 0.6 0.77 0.36 2 1 PLTD PLTD 0.

4 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PR ROVINSI KEPULA AUAN RIA AU 411 .LAMP PIRAN A14.

6 156.8 76.8 114.2 78.4 819.8 1.2 318.7 886.1 78.0 52.9 1.9 1.1 129.Neraca Daya Sistem Bintan Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas 412 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 GWh % MW 286.0 27.5 948.7 Pembangkit PLN PLTD Tanjung Pinang PLTD Tanjung Uban Pembangkit Sewa Tanjung Uban PLTD PLTD PLTD 27.2 8.9 10.6 69.6 40.2 8.010.077.4 74.6 40.Tur PLTU 30 PLN Tanjung Uban Tanjung Pinang 3 PLTU PLTU IPP Tanjung Pinang 1 (TLB) Tanjung Pinang 2 (FTP2) PLTU PLTU Suplai dari Batam (Peaking) Suplai dari Batam (Base) MW MW Jumlah Kapasitas Reserve Margin MW % 7 2019 2020 1.4 91.9 1.9 78.7 582.6 137.6 146.7 524.9 10.0 Tambahan T b h Pembangkit P b kit SEWA Sewa PLTU PT Cap.4 15 15 7 30 30 68 45 68 30 10 40 10 125 46 134 46 10 174 52 10 174 43 10 10 184 42 194 41 209 42 234 50 .9 749.9 121.9 72.8 85.3 78.9 10.3 69.1 69.0 27.3 47.2 8.9 MW MW 40.

2 38.0 77.Neraca Daya Tanjung Pinang Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas p Terpasang p g Derating kapasitas Pembangkit PLN Manufacture MAK 8M MAK 6M Allen Mitshubishi 413 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 257.9 38.9 .0 1.9 76.0 1.7 7.6 680.2 571.2 42.2 57. 11.6 68.5 MW MW 38.0 15.0 1.3 69.5 90.2 318.3 61.0 PLN PLTU Tanjug Pinang III PLTU IPP Tanjung Pinang I (TLB) Tanjung Pinang II (FTP2) PLTU PLTU 30. 11.2 623.9 PLTD PLTD PLTD PLTD 8.6 63.8 8.7 16.6 52.8 8.0 9.8 98.7 69.0 30.4 83.8 74.4 467.6 520.2 22 .2 363.8 72.0 16.9 .4 76.0 -2.2 78.3 78.5 413.0 30 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi S Surplus/Defisit l /D fi it MW MW MW MW MW 61.2 78.1 69. 11.9 47.4 284.5 Tambahan Pembangkit SEWA Sewa PLTU PT CTI PLTU 30.0 33 3.8 9.0 15.9 .2 1.0 30.

6 80.92 2.0 2.6 2019 91.3 1 1.8 76.5 14.1 2020 100.2 .4 5.0 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam Kapasitas Efektif Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 9.86 2.Neraca Daya Tanjung Uban 414 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN Manufacture MWM Perkins Deutz Volvo Pembangkit Sewa Sewa Genset Bl Energi PT BIIE MFO Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Project PLN PLTU Tanjung Uban Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 29.2 4.0 2.0 2.1 2018 81.0 2016 62.5 38.5 70.9 9.0 2 1 2 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 7.0 2.8 74.4 7.11 0.9 79.1 2017 71. 0.8 77.1 1.0 2015 53.7 70.8 9.94 2.1 79.0 2.0 Size Jlh unit 0.3 2.0 2.11 0.0 2 PLTU 2014 45.88 0.3 1 PLTD 1.2 1 0.9 10.7 78.02 0.2 .11 0.3 14.5 1.0 2.3 2.5 6.8 71.1 11.8 33.2 1 0. 0.1 13.1 1.0 2.8 8.0 2.02 0.9 .02 0.0 1.12 0.2 MW 2.94 0.5 1.

7 161.0 7.2 128.2 13.8 34.4 69.8 7.0 14.8 7.8 7.5 37.0 7.0 3.0 6.2 1.8 7.0 10.2 1.2 13.0 11.3 44.8 # # # 1 1 1 PLTD PLTD PLTD 2 4 3 2 4 5 2 4 5 PLTU PLTU PLTU 14 7 7 # 2 2 1 10 10 # 2 PLTU 61.2 13 2 4.2 13.4 20.6 246.2 13.0 3.0 81.0 3.0 7.0 MW MW 13.6 182.3 29.0 10.2 13 2 4.8 7.2 40.8 22.9 75.2 13.Neraca Daya Sistem Tanjung Balai Karimun 415 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN MAK 8M 453B Allen # # Pembangkit Sewa Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Tambahan Pembangkit PLN TB.9 142.2 IPP TB.0 10.2 1.0 281.2 1.0 7.2 1.1 226.0 1.2 13.4 51.4 51.0 10.8 .2 13 2 4.0 17.2 264.0 10. Karimun #1.4 TB.2 51.2 13 2 4.0 3.0 9.0 7.4 81.2 13.0 7.0 10.0 14.8 204.0 10.8 71.2 13.2 1.2 13 2 4.0 MW MW MW 14 32.2 1. Karimun .8 7.2 13 2 4.2 13 2 4.9 26.9 51.8 7.7 80.7 77.0 7.9 70.0 24.0 10.2 13 2 4.8 7.0 10.4 82.4 80.0 10.0 7.0 7.2 1.2 1.0 9.9 19.0 17.0 7.2 13 2 4.2 4 1 PLTD PLTD 7.2 1. Karimun (Terkendala) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 117.7 31.2 13.8 7.0 2.0 3.2 13 2 4.3 34.0 3. Karimun #3.1 34.0 3.0 7.2 (FTP1) TB.0 3.0 3.0 71.

05 Sewa Sewa Diesel 2.5 Sewa Diesel 1 Tambahan Pembangkit PLN Tanjung Batu Baru 7.3 57.1 62.1 0.9 57.6 22.0 1.Neraca Daya Sistem Tanjung Batu 416 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Komatsu 0.28 0.0 8.0 1.3 2.0 7.8 22.0 1.1 1.1 1.57 2 1 PLTD PLTD 0.0 62.1 6.65 0.0 47.1 0.1 2.0 IPP Tanjung Batu (FTP2) 4.2 65.1 6.8 59.5 64.1 0.5 10.0 2.65 0.1 0.28 0.3 .8 66.3 7.0 2.1 7.7 6.57 1.30 Deutz BA 12M 1.3 14.1 7.6 MW MW 1.0 1.1 4.80 0.8 65.0 8.9 12.0 8.65 0.1 7.1 7.2 9.57 1.0 8.3 1.0 2 PLTU 2 PLTGB MW MW MW 2016 2017 2018 2019 2020 52.1 3.28 0.0 1.0 16.4 1.28 0.3 11.0 5.1 8.80 0.65 0.8 67.4 64.7 71.0 2.1 7.28 0.65 0.57 1.1 1.4 1.3 33.4 1.3 0.80 0.4 8.1 8.1 3.80 2 2 PLTD PLTD 5.7 8.4 1.6 22.0 2.1 10.1 7.1 1.4 41.57 1.1 1.4 55.8 11.0 8.9 36.5 55.8 11.2 22.1 22.80 0.0 1.7 23.0 8.0 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 GWh % MW 30.

4 0.78 2.4 7.8 1.1 21.78 2.7 67.7 1.2 06 0.0 PLTGB MW MW MW 6.2 7.6 60.7 7.76 0.8 1.5 10.78 2.7 1.76 0.4 23.7 1.3 10.2 06 0.8 1.9 66.6 2.3 5.4 0.6 0.7 26.4 0.0 10.78 0.0 2.0 43.4 0.8 1.90 0.8 1.90 0.5 4.90 0.0 6.2 06 0.90 0.76 PLTD PLTD 2.6 1.6 56.2 06 0.Neraca Daya Sistem Dabo Singkep 417 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN MAK MTU Pembangkit Sewa Sewa Genset Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Dabo Singk ep Kapasitas Efektif Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 19.8 35.4 0.4 6.6 0.74 2.2 06 0.7 1.8 1.1 67.9 65.93 0.78 2.90 0.6 2.6 7.78 2.76 0.7 1.4 0.76 0.0 29.0 3.76 0.6 41.7 1.2 66.4 4.2 06 0.4 MW 2.4 0.78 PLTD PLTD 0.0 3.9 55.78 2.4 32.0 3.6 1.78 2.8 7.4 0.0 10.4 0.1 7.7 57.6 0.8 1.2 06 0.90 0.2 06 0.7 6.1 38.76 0.76 0.1 3.2 5.90 0.8 1.2 06 0.7 1.6 4.4 0.6 2.90 0.7 1.1 4.4 7.7 1.76 0.9 .8 1.8 12.8 1.7 62.9 5.78 2.2 06 0.90 0.7 1.

0 0.60 0.20 0.0 8.00 0.6 2.8 6.9 15.1 8.20 0.0 0.6 2.0 69.6 7.6 7.0 35.2 4.1 19.4 0.7 24.9 74.1 7.1 7.00 0.06 1.0 26.7 39.3 5.00 0.16 2 1 1.20 0.6 1.8 6.9 0.14 1.00 0.00 0.6 7.0 0.6 1.14 1.20 0.6 3.9 7.9 4.20 0.1 7.00 0.6 7.00 0.0 3.20 0.0 0.6 0.06 1.3 66.7 75.0 0.8 64.14 1.1 7.4 21.1 6.0 1.6 7.8 15.0 2 PLTU Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 MW MW MW MW MW 14.14 1.06 1.00 0.8 6.6 3.3 15.0 15.0 0.00 0.8 3 1 2 PLTD PLTD Tambahan Pembangkit PLN Natuna 7.20 0.8 22.06 1.06 1.14 1.6 0.4 3.7 0.7 75.9 0.06 1.6 2.06 1.06 1.20 0.1 7.1 5.Neraca Daya Sistem Ranai 418 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Daihatsu Komatshu Project Sewa SEWA Perusda SEWA MFO Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 17.14 1.0 0.7 .0 0.7 0.20 0.4 76.14 1.1 4.6 15.6 32.6 3.20 0.0 1.6 15.9 71.6 11.14 1.0 5.9 74.06 1.6 7.2 15.3 37.1 7.1 7.06 1.5 5.6 7.6 7.1 MW MW 1.14 1.4 65.3 4.3 29.00 0.14 1.

0 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW MW MW 3.5 3.60 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 419 GWh % MW 9.20 1.20 1.20 1.9 10.20 1.20 1.1 20.0 68.2 12.6 71.1 11.3 58.9 19.20 1.1 2.52 0.7 70.20 1.4 2.5 MW MW 1.3 21.8 2.20 1.20 1.2 56.3 71.20 1.20 1.2 0.6 3.10 MWM 0.8 3.5 2.32 1.3 55.20 1.15 0.52 1.6 0.20 1.0 2.4 14.98 Tambahan Pembangkit PLN Relokasi PLTD 2.8 0.0 2.20 PLTD PLTD PLTD 0.22 Yanmar 0.08 0.Neraca Daya Sistem Belakang Padang Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Deutz 0.52 1.20 1.20 1.5 16.5 1 1 2 Disuplai dari Grid 20 kV Kabel Laut Batam .3 1.7 61.7 17.2 0.9 71.3 65.

LAMP PIRAN A14.5 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI BANGKA B A BELITU UNG 420 .

0 113.1 1.0 3.1 1.1 2.9 4.0 PLN Merawang Mentok Koba *) Toboali Dari Sistem Isolated Miirless (Relokasi dari Sukamerindu) MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 39.0 2.1 66.2 86.0 2.1 86.5 Tambahan Pembangkit PLN Relokasi Mesin Miirless dari Pulau Baai Relokasi Mesin Batam ke Toboali Relokasi Mesin Batam ke Mentok Bangka IV (Peaker) Ai A Air Anyer (FTP1) Mentok Bangka .0 2.0 2.3 Bangka .8 629.2 86.8 99.1 2.9 65.0 2.9 5.0 3.0 2.9 MW 85.7 0.4 139.3 109.203.1 1.0 40.8 24.1 0.3 0.2 86.1 0.0 26.2 86.2 17.1 5.2 17.1 5.8 66.0 38.2 17.602.2 86.0 26.8 5.3 66.1 0.1 0.8 803.0 24.1 0.0 2.0 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 5 2.3 0.2 17.1 0.2 17.2 65.2 238.8 208.0 3.0 26.7 123.0 26.0 5.2 39.379.9 3.0 1.0 4.2 17.0 3.0 1.7 276.7 0.6 184.3 5.0 2.0 65.7 5.0 2.5 20 20 20 60 14 30 30 30 30 30 239 58 269 62 14 153 57 153 40 181 46 195 40 269 46 319 53 349 47 399 44 .8 714.3 66.9 3.9 4.0 24.0 1.2 65.Neraca Daya Sistem Bangka 421 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Beban Puncak Load Faktor Pasokan Kapasitas Terpasang Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 GWh MW % 560.1 0.5 5.7 66.9 24.0 Sewa PLTD Sewa PLTD HSD tersebar 1 Sewa PLTD HSD tersebar 2 Sewa PLTD HSD tersebar 3 Bangka (Sewa) MW PLTD PLTD PLTD PLTU 45 17 16 12 45 17 16 12 75 17 16 12 30 PLTD PLTD PLTD PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU 2.5 IPP Bangka (FTP2) T b li Toboali PLTU PLTU Jumlah Kapasitas MW Reserve Margin % 2017 2018 2019 2020 957.1 1.8 165.9 151.0 4.1 0.7 5.0 26.2 85.0 2.065.9 871.0 3.1 0.0 97.4 5.0 3.2 65.0 26.

8 267.4 66.0 9.9 290.5 16.2 66.7 79.0 PLTU PLTD 7 20 7 20 7 11 7 7 7 7 7 7 7 Tambahan Kapasitas PLN B lit Belitung B Baru (FTP1) Belitung .3 Belitung .0 3.0 9.0 3.0 27.3 55.4 66.2 92.4 Belitung Peaker PLTU PLTU PLTU PLTG 17 17 17 17 17 17 10 10 98 59 108 56 125 57 142 54 IPP Belitung .0 9.2 61.0 6.0 9.6 50.0 6.1 534.2 Jumlah Kapasitas Reserve Margin PLTGB MW % 5 44 34 53 44 65 57 71 53 88 75 88 59 .0 16.9 319.0 6.0 3.0 355.4 65.0 16.5 3.Neraca Daya Sistem Belitung Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Beban Puncak Load Faktor Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh MW % 186.0 3.3 69.0 6.0 6.0 36.0 9.4 65.3 66.0 3.0 401.0 16.0 9.8 46.0 6.0 3.8 209.8 36.4 66.0 9.0 16.0 9.7 32.4 65.0 16.0 6.3 65.0 9.5 13.0 459.0 6.2 41.0 3.0 16.0 6.8 238.0 16.0 3.1 422 Pasokan Kapasitas Terpasang PLN Pilang Manggar IPP Biomass Sewa MW MW PLTD PLTD 43.3 65.0 3.

6 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI KA ALIMANTAN BAR RAT 423 .LAMP PIRAN A14.

5 -3.2 240.0 3.2 35.0 PLTU PLTU PLTD PLTGB MW MW MW 20.0 2.0 2.8 3.0 28.1 58.2 33.0 10.2 27.0 38.0 2.0 10.0 0.1 0.0 10.0 7.4 5.0 3.4 5.0 64.3 40.0 3.5 64.2 31.2 WARTSILA I 2.0 0.2 187.6 212.0 .0 38.8 64.7 0.6 6.4 5.4 5.0 175.7 24.6 6.0 7.6 64.0 58.0 7.0 38.0 38.3 45.6 6.7 14.1 0.2 37.8 226.0 0.0 PLTD PLTD PLTD 2.0 11.8 1.2 3.1 0.7 17.1 0.1 64.0 10.1 10.7 64.2 24.0 45.8 256.8 64.3 42.4 200.0 7.1 21.7 17.0 7.9 64.0 PLTD PLTD 7.0 9.Neraca Daya Sistem Ketapang 424 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ 1.4 5.0 151.7 64.4 5.6 6.5 MW MW 24.1 5.0 2.1 17.0 3.0 3.1 134.1 17.1 17.0 14.0 2.0 4.6 6.1 0.0 0.7 14.0 2.0 4.0 2.0 0.8 55.0 7.0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Interkoneksi dengan Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 14.1 0.1 17.9 64.0 Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Ketapang (FTP2) Sewa/IPP Ketapang (IPP) Relokasi Sewa Diesel Sewa Sukadana Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2 2 2 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 118.0 0.0 0.8 RUSTON I 3.7 55.6 6.

9 66.0 66.50 .2 22.4 .5 0.2 12.8 66.5 1.4 . III 0. 0.4 66.0 2.0 PLTD 2.7 PLTD PLTD 5.9 66.8 18.5 66.7 0.5 1.0 MW MW 16.5 1.2 MW . 0.52 DEUTZ MWM 0.0 4.6 120.7 2. II 0. I 0. 0.8 66.0 4.3 0. 0.2 14.0 2.0 4.0 2.5 1. MITSUBISHI 1.50 MTU ( TRAILER ) 0.00 2.4 81.5 1.3 0.6 66.00 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 0.0 2.MWM KHD 1.2 23.2 25.8 106.00 0.MWM KHD 1.Neraca Daya Sistem Sambas 425 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD.6 66.0 4.0 GWh % MW 71.10 0.0 2.3 0.3 0.1 154.0 4.3 MW MW 15.0 5.60 DEUTZ.5 0.2 19.10 0.7 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 6.9 128.0 91.6 1.0 1.2 15.7 2.0 4.50 DEUTZ.2 18.0 . II 0.2 20.40 DEUTZ.7 0.5 0.0 .5 1.5 1.2 26.6 1.5 0.70 PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 113.0 6.40 2.2 137. SWD.0 2.70 MTU III 0.6 145.7 0.34 SWD.00 0.40 15.2 66.00 MTU II 0.5 1.34 .

0 54.2 8.0 6.6 11 1.9 5.6 54.6 1.1 0.0 MW MW MW 12.6 53.0 PLTGB 60 6.6 0.Neraca Daya Sistem Ngabang 426 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN MERCEDES (MTU) 0.7 1.1 54.9 MITSUBISHI 1.9 1.6 11 1.8 54.8 53.9 2016 35.4 2017 2018 37.1 49 4.4 23.2 6.7 54.9 2020 44.0 3.4 9.6 53.9 39.3 2019 42.1 11 Sewa Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Sewa PLTGB Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 2011 2012 GWh % MW 20.0 6.6 2.9 5.6 6.2 PLTD PLTD PLTD 0.7 1.1 PLTD 3.6 1.0 6.9 1.1 7.0 2.5 2013 26.6 0.4 .0 6.3 8.0 MW MW 6.3 54.2 7.8 4.6 2014 30.9 54.6 MERCEDES (MTU) 1.9 -6 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 12.1 55 5.5 2015 32.0 6.

0 0.0 0.1 67.0 0.4 8.0 7.8 0.8 1.8 1.8 67.0 1.2 0.4 8.8 0.8 67.4 134.5 18.8 1.3 8.7 67.5 12.2 67.2 1.2 1.0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 18.5 20.5 14.5 16.2 0.4 25.2 1.2 152.2 1.7 67.3 2.0 2.0 67.5 21.8 0.2 Tambahan Pembangkit PLN Sanggau Sewa Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 1 1 1 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 74.4 2.4 27.0 MW MW 16.2 1.4 MW MW 14.4 0.2 0.2 1.2 110.2 0.3 14.0 16.6 84.4 67.0 1.0 6.2 1.0 7.2 7.5 MW 2.Neraca Daya Sistem Sanggau 427 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD BBI SWD BBI DEUTZ MWM M TU MITSUBISHI MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Unit 1.2 1.0 0.0 2.7 118.2 7.0 16.2 1.2 0.4 22.8 0.4 95.8 1.8 24.0 16.0 1.0 .4 24.7 161.0 23.0 16.4 0.4 0.0 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 1.2 1.2 1.0 0.2 0.0 0.0 2.5 67.2 1.0 16.9 67.0 126.0 16.0 PLTU PLTD 2.7 143.2 PLTD PLTD 6.

3 PLTD 60 6.5 1.5 7.6 64.0 PLTU PLTGB 30 3.5 92 9.6 64.3 34 3.2 145.2 1.1 1.0 24.0 0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 33.5 15 1.0 7.0 0 0 0.3 1.0 21.1 1.Neraca Daya Sistem Sintang 428 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD BBI SWD BBI DEUTZ DEUTZ DEUTZ M TU MITSUBISHI MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Unit 0.7 81.5 15.9 2.3 16.5 1.9 15 9 0.5 1.3 20.5 25.4 21.5 1.0 0.0 1.5 15 1.5 1.4 22.3 1.5 1.3 Tambahan Pembangkit PLN Sintang 3 Sewa PLTGB Sewa Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 1 1 1 1 1 1 1 1 7 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 71.8 113.0 1.8 1.3 64.5 1.5 1.9 64.1 1.0 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 0.9 64.0 0 0 0.2 1.2 .3 0.0 21.5 27.2 1.0 0.4 91.4 MW MW 15.5 1.0 0.3 1.4 MW 14.4 128.0 21.4 24.9 0.1 120.5 1.3 105.5 15 1.5 00 0.0 MW MW 18.0 0.9 15 9 0.5 99 9.5 15 1.2 12.0 60 6.3 0.5 64.8 64.0 0 0 0.0 00 0.8 136.0 32.4 64.9 24.1 64.2 1.5 10 0 10.0 24.0 0.5 1.3 1.0 0.1 1.3 18.9 8.0 -3 3.5 1.3 14.0 0.9 64.5 1.0 8.0 21.0 0 0 0.8 154.5 7.0 0 0 0.

9 40.3 0.5 0.3 0.5 08 0.0 3.5 08 0.9 54.1 23 2.5 0.5 0.3 13 1.1 9.6 Interkoneksi Grid 150 kV Sist.2 -6 11.3 13 1.0 00 0.2 51.5 0.8 1 1 1 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 0.8 37.5 08 0.5 54.1 63 6.0 1.1 32.5 0.0 3 1 PLTD PLTD 3.8 0.0 1.8 0.8 0.3 0.5 0.1 33 3.5 0.0 53.3 0.0 9.3 0.3 10.1 33 3.0 2.3 0.5 0.6 5.7 MW 8.0 PLTD 2.1 10.0 MW MW 8.5 MW MW 63 6.0 8.8 0.5 0.5 3.3 13 1.0 Tambahan Pembangkit PLN Nanga pinoh Sewa Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 PLTGB 6.0 00 0.3 53.3 0.7 54.3 0.3 28.6 53.8 0.0 1.Neraca Daya Sistem Nanga Pinoh 429 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM DEUTZ MWM DEUTZ MWM MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 25.8 0.7 6.0 11.8 6.0 1.5 1.5 08 0.0 0.8 1.0 00 0.5 08 0.1 53.5 1.5 42.8 0.5 0.0 2.3 0.3 13 1.5 0.2 10.5 08 0.6 48.0 1.6 54.8 7.5 2.5 0.9 8.4 53. Khatulistiwa 8.0 2.1 00 0.8 0.3 13 1.8 0.0 .0 45.8 54.5 54.4 11.3 0.5 0.0 00 0.

3 2.0 MW MW 4.0 0.4 07 0.7 1.0 0.6 45.3 45.0 00 0.0 00 0.0 PLTD PLTD PLTD 0.7 11.5 0.0 0.7 1.0 00 0.Neraca Daya Sistem Sekadau Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM 0.2 4.0 0.4 M TU 07 0.9 8.9 45.1 4.6 45.7 1.4 4 4 1.2 2.1 1.1 3.7 3.0 0.0 0.9 1.0 0.5 10.6 0.7 7.4 4 4 1.0 3.2 45.4 9.9 00 0.7 45.7 0.7 PLTD 3.1 MW MW 4.6 0.1 8.5 0.7 0.5 M TU 0.3 45.0 0.2 9.1 4.0 0.4 2.0 3.4 07 0.6 0.6 3.0 0.0 4.8 44.0 0 0 00 0.7 0.4 07 0.0 Tambahan Pembangkit Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 29 2.0 0.6 45.7 1.0 0.0 .5 6.0 0.4 4 4 1.5 0.0 0.8 12.7 1.0 0.7 PLTD Sewa Sewa Diesel Unit 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 430 GWh % MW 5.6 2.0 1.3 45.0 0.0 0.5 2.1 2.

9 1.0 0.0 1.5 0.5 0.6 1.1 3.0 14.1 59.3 51.0 dengan sistem khatulisti wa 02 0.5 59.0 09 0.3 59.5 59.00 Sewa Putussibau 431 Tambahan Pembangkit PLN Riam Badau IPP Putussibau (FTP2) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 23.4 8.9 10 1.9 6.9 1.9 2.2 8.1 59.0 09 0.9 1.6 26.4 0.0 0.90 M TU 1 00 1.0 PLTD PLTD PLTD 0.9 1.5 11.5 0.9 10 1.9 1.6 1.9 10 1.5 14.7 48.9 14.0 1.5 0.4 0.2 6.0 0.6 1.2 45.2 59.5 0.2 .6 1.2 7.2 8.5 0.4 0.8 37.6 1.0 0.9 10 1.2 7.2 4.6 59.2 5.2 5.0 09 0.4 0.0 4.9 10 1.1 3.9 5.0 4.1 6.0 Interkon eksi Grid 150 kV 1.5 11.6 1.1 6.2 9.0 1.9 1.6 1.0 09 0.4 0.6 1.0 11.0 PLTD PLTMH PLTGB MW MW MW 4.9 1.0 0.4 0.9 MW MW 6.5 0.0 11.2 9.Neraca Daya Sistem Putussibau Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM 0.0 59.0 4.9 0.9 1.0 1.0 09 0.1 8.8 59.1 3.9 10 1.8 35.9 1.1 3.0 09 0.0 09 0.2 6.9 10 1.0 0.7 42.9 1.50 M TU 0.0 0.4 0.4 0.9 0.4 0.5 0.6 1.9 11.2 30.9 59.2 39.9 10 1.0 09 0.0 0.5 0.9 10 1.9 7.9 2.1 0.0 09 0.0 0.1 6.1 3.9 1.

LAMPIRA AN B AYAH OP PERASI WILA INDO ONESIA TIMUR Lampiran B ini menjelaskan rencana r pe engemban ngan ssistem kelistrikan di Wilayah Operasi O In ndonesia Timur T 432 .

SISTEM INT TERKONEKSI KALIMANTAN N SELATAN. Neraca Energi B1 1. Analisis Aliran Da aya B2 2. Pro oyeksi Kebutuh han Tenaga Listrik B2 2. Petta Pengembangan Penyaluran B1 1. Pro ogram Energi Baru B dan Terba arukan B2 2. Rencana Pengem mbangan Penya aluran B1 1.4.3. Pro ogram Energi Baru B dan Terba arukan B1 1.4. Kebutuhan Fisik Pengembangan P n Distribusi B2 2.1. Pro oyeksi Kebutuh han Investasi PE ENJELASAN LAMPIRAN L B2 2 433 . Petta Pengembangan Penyaluran B2 2. Pro oyek-Proyek IP PP Terkendala B2 2.7. SISTEM INT TERKONEKSI SULAWESI UT TARA.12. Capacity Balance e Gardu Induk B1 1. Neraca Daya B2 2. Neraca Energi B2 2. Neraca Daya B1 1.9.8.2. Kebutuhan Fisik Pengembangan P n Distribusi B1 1.9.10.1.7.8.6.5.LA AMPIRAN B.12.5. Pro oyeksi Kebutuh han Tenaga Listrik B1 1. Rencana Pengem mbangan Penya aluran B2 2. TENGAH DAN TIMUR R (KALSELTE ENGTIM) B1 1.11. SULAW WESI TENGAH H DA AN GORONTA ALO (SULUTTE ENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI SU ULAWESI SEL LATAN. Pro ogram Listrik Perdesaan B2 2. Capacity Balance e Gardu Induk B2 2.11. WILAYAH OP PERASI INDON NESIA TIMUR B1 1.6. Analisis Aliran Da aya B1 1. Pro oyek-Proyek IP PP Terkendala B1 1.2. Pro ogram Listrik Perdesaan B1 1.10. Pro oyeksi Kebutuh han Investasi PE ENJELASAN LAMPIRAN L B1 B2 2.3. SULAW WESI TENGGA ARA DAN SUL LAWESI BARA AT (S SULSELRABAR R) B2 2.

B4.6. PROVINSI KALIMANTAN K N TENGAH PROVINSI KALIMANTAN K N TIMUR B5.8.3. B18. B18. PROVINSI SULAWESI S UT TARA B6. PROVINSI NUSA N TENGG GARA BARAT (NTB) ( B16. PROVINSI PAPUA P BARA AT B15. B18. B18.5.1.13.9. B18. PROVINSI NUSA N TENGG GARA TIMUR (N NTT) B17.11.4.2. PROVINSI SULAWESI S TE ENGAH PROVINSI GORONTALO G B8. B18. B18. B18. 434 . PROVINSI SULAWESI S TE ENGGARA B10.12. PROVINSI SULAWESI S BA ARAT PROVINSI MALUKU M B12. B13. B18. PROVINSI SULAWESI S SE ELATAN B9. B18.10. PROVINSI MALUKU M UTA ARA PROVINSI PAPUA P B14.NERACA DAYA D SISTEM--SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI O INDO ONESIA TIMUR Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Sela atan Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Teng gah Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Timu ur Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Utara Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Tengah Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Selatan Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Tenggara Sistem Isola ated Provinsi Maluku M Sistem Isola ated Provinsi Maluku M Utara Sistem Isola ated Provinsi Papua Sistem Isola ated Provinsi Papua Barat Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT TB Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT TT RENCANA A PENGEMBAN NGAN SISTEM M KELISTRIKA AN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI IND DONESIA TIMU UR PROVINSI KALIMANTAN K N SELATAN B3. B18. B18. B18.7. B11. B7. B18.

LA AMPIRAN N B1 SISTE EM INTER RKONEKS SI KALSEL LTENGTIM M 435 .

1 PRO OYEKSI KE EBUTUHA AN TENAG GA LISTR RIK SIST TEM INTER RKONEKSI KALSE ELTENGT TIM 436 .L LAMPIRA AN B1.

148 69 852 5.719 11.P Proyeksi k iK Kebutuhan b t h T Tenaga Li Listrik t ik Sistem Si t Kalseltengtim K l lt ti SISTEM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 437 4 Wil KALSELTENG Sistem Barito Energi Produksi (GWh Load Factor (%) Beban Puncak (MW) 2.757 70 288 2.864 .346 8.746 69 623 4.371 69 723 4.118 69 680 4.892 71 942 Wil KALTIM Sistem Mahakam Energi Produksi (GWh L dF Load Factor t (%) Beban Puncak (MW) 1.767 68 964 6.475 67 424 2.980 67 504 3.432 69 1.246 69 371 2.434 68 575 3.879 Load Factor (%) 68 Beban Puncak (MW) 650 4.282 69 544 3.686 69 610 4.571 69 922 INTERKONEKSI KALSELTENG & KALTIM Energi Produksi (GWh 3.463 70 1.584 10.715 69 1.119 7.122 67 362 2.787 69 460 3.919 70 799 5.381 71 868 5.870 69 1.021 69 666 4.499 70 737 4.663 70 1.744 69 785 5.530 70 1.233 8.460 9.720 68 795 5.139 69 1.

2 N NERACA D DAYA SISTE EM INTERKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 438 .LA AMPIRAN N B1.

500 PLTG PLN PLTG IPP 61% PLTG IPP PLTA PLN 3.500 33% 1.MW Grafik Neraca Daya Sistem Kalseltengtim Reserve Margin 3.500 70% Pembangkit IPP  & Sewa Pembangkit Terpasang  PLN Beban Puncak 2.000 63% PLTU PLN 69% PLTU IPP PLTG PLN 75% PLTU Sewa 2.000 70% PLTA PLN PLTGU IPP 71% 76% PLTU PLN 1.000 500 PLTU IPP 36% Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa Pembangkit Terpasang PLN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 439 439 .

463 70.0 1.1 Kaltim (PPP) Jumlah Pasokan (Terpasang) Reserve Margin (Terpasang) Unit GWh GWh % MW MW MW MW MW MW 2011 1 798 1.697 76 1.346 3 355 270 85 85 - 2017 3 191 3.191 10. tidak diperhitungkan dalam reserve i 2.916 8.870 69.291 70 2.056 33 1.139 69.8 795 6 752 493 259 85 174 - 2015 2 666 2.719 2020 3 191 3.439 6.530 69.232 5.191 11.4 1.233 3 355 270 85 85 90 90 2016 2 916 2. 1 2 3 4 5 440 • • Kebutuhan dan Pasokan Kebutuhan Keb t han Produksi Faktor Beban Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang PLN SWASTA IPP Sewa & Excess Power Retired & Mothballed PLTG PLTD Tambahan Kapasitas SEWA Rencana PLTG Bontang (Gas Storage) PLTU Sewa Asam Asam (3x50 MW) PLTU Sewa Kariangau (2x120 MW) PLN On Going Project Pulang Pisau (FTP1) Asam Asam (FTP1) Kaltim Peaking (APBN) Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) Sampit (APBN) Rencana Kaltim (Peaking) Kalsel (Peaking) Bangkanai (FTP2) Kelai (Kaltim) Kusan IPP On Going Mahakam (Senipah) Pangkalan Bun Rencana Kalsel .584 2019 3 191 3.666 7.191 8.8 1.460 2018 3 191 3.798 3.663 69.2 1.3 964 3 621 390 231 85 146 102 20 82 100 100 100 100 50 55 *)) 200 200 882 36 1.2 (FTP2) Kaltim ((MT)) Kalteng .6 1.681 69 2.5 1.Neraca Daya Sistem Kalseltengtim No.767 68.556 75 2.091 70 2.191 9.806 63 3.720 67.864 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 150 240 60 60 130 100 220 50 50 50 140 70 70 75 75 65 82 14 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU MW % 2014 2 439 2.006 61 .1 650 2 738 479 259 85 174 - PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU 2012 842 4.715 68.1 (FTP2) Embalut (Ekspansi) Kaltim .119 3 445 360 85 85 30 30 100 PLTG PLTG PLTG PLTA PLTA PLTG PLTU 2013 2 232 2.911 71 *) Kemungkinan bisa masuk lebih awal 1 unit tahun 2013 **) Kemungkinan tidak jalan.9 1.879 68.432 68.

3 P PROYEK-PROYEK K IPP TERKENDALA A SIS STEM INTE ERKONEK KSI KALS SELTENG GTIM 441 .L LAMPIRA AN B1.

• PL LTU Embalut 2xx22. tahap p pendanaan dimana IPP sudah memiliki PPTL namun tidak kunjung mencapai financial closin ng (FC). tahap p konstruksi dim mana IPP suda ah mencapai fin nancial clo osing tapi tidak kunjung konstrruksi. 442 . Pembangkitt IPP yang terke endala di sistem m Kalseltengtim m adalah.3 Proyek-proy yek IPP Yang Terkendala T gelolaan proyekk IPP terdapatt beberapa pro oyek pembangkkit IPP Dalam peng yang Perjan njian Pembelian n Tenaga Listrrik (PPTL) nya mengalami ke endala. • Ka ategori 2. • Ka ategori 3.B1.5 MW masuk dalam kateg gori 1 • PL LTU Tanah Gro ogot 2x7 MW masuk m dalam ka ategori 2 • PL LTU Pangkalan Bun 2x5.5 MW W masuk dalam m kategori 2 • PL LTA MT Kaltim 2x27.5 MW ma asuk dalam kattegori 3 Saat ini pen nyelesaian IPP terkendala terssebut sedang diproses d oleh Komite K Direktur unttuk IPP dan Kerjasama K Kem mitraan dan sebagian dianta aranya sudah dalam m tahap penyelesaian akhir. yaitu: • Ka ategori 1: tah hap operasi yaitu y tahap dimana d IPP sudah beroperasi namun n bermasalah. IPP dengan PPTL terkenda ala dikategorikkan dalam 3 kategori.

LA AMPIRAN N B1.4 NE ERACA ENERGI SISTE EM INTER RKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 443 .

365 3.309 1 628 1.884 6.444 1 445 1.314 5.442 1 442 1.219 7.Proyeksi Neraca Energi Sistem Kalseltengtim (GWh) 444 4 Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Batubara 1.448 LNG - 156 155 156 155 156 156 234 310 311 HSD 778 705 247 238 234 230 235 227 229 238 MFO 998 734 456 5 - - - - - - Geot.172 4.686 Gas 185 333 1 309 1.445 1 442 1.442 1 448 1. - - - - - - - - - - Hydro 106 106 106 106 106 300 300 540 780 780 .658 1 444 1.599 7.628 1 658 1.770 8.547 2.065 5.

171 3.594 2.054 1.648 4.928 5.546 4. - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - .319 5.012 4.259 3.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Kalseltengtim Jenis Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Batubara 10^3 ton 1.872 3 5 12 13 13 14 13 13 13 13 2 2 1 1 1 1 1 2 3 Gas bcf LNG - 2020 445 4 HSD 10^3 kl 271 233 52 19 19 15 18 14 15 18 MFO 10^3 kl 242 198 124 10 7 4 6 3 3 6 Geot.

5 C CAPACITY Y BALAN NCE GARD DU INDUK K SISTEM INTE ERKONEK KSI KALS SELTENGT TIM 446 .L LAMPIRA AN B1.

1 2 3 4 NAMA [perGI.3 42% 9.2 37% 26.1 64% 75.8 55% 46.2 38% 28.7 70% 41.6 I  54% 63.4 23% 11.2 50% 27.0 49% uprating dari  6 MVA 30.0 65% 38.8 55% 14.3 48% 17.4 36% 16.0 10 21.5 51% 19.6 64% 39.0 .xls]GI CEMPAKA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 5 6 7 8 Jml 1 2011 Kap [MVA] Total  Total Kap [MVA] 60 60 Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2012 Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2013 2014 Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Load Load [MVA] [MW] [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2015 Peak Peak  Load [MW] 2016 Add Add  Trafo [MVA] Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2017 2018 2019 2020 Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 31.8 58% 50.1 54% 31.0 45% 9.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY No.0 60.3 54% 33.xls]GI [ l] TEG (KV) 150/20 GI CEMPAKA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI BANJARMASIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI TRISAKTI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI TRISAKTI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI MANTUIL   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SEBERANG BARITO   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SELAT   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 447 4 [perGI.1 56% 11.6 77% 45.1 51% 10.9 50% 18.0 69% 24.2 42% 8.3 45% 16.1 61% 40.7 54% 11.3 62% 53.6 59% 69.0 49.7 51% 59.6 51% 21.7 70% 40.6 49% 29.8 46% 54.7 64% 1 1.3 40% 14.9 55% 1 2.4 65% 28.5 46% 22.1 38% 18.9 50% 10.1 61% 34.5 36% 22.6 59% 12.0 43.6 24.8 55% 64.3 59% 36.4 42% 14.5 42% 60.0 61% 37.5 66% 57.2 49% 27.00        ‐ 22 8.9 68% 31.3 45% 1 60 28.0 20 30 35.9 59% 35.0 10 10 6.5 50% 24.5 28% 2 2 1 30 20 20 6 10 20 30 66 12 15 20 47 uprating beban dipindah ke GI Trisakti 150 30.0 24% 12.1 45% 26.5 34% 17.0    12.9 74% 37.4 32% 15.7 42% 20.0 1 1 6 10.3 33% 35% 26.9 41% 58.7 55% 60 40 20 60.0 44.0 42% 10.2 39% 15.0 2 6 15.1 53% 19.0 22.2 41% 60 60.6 46% 17.0 52% uprating 10 MVA 30.1 52% 29.0 50% 21.4 58% 33.2 61% 12.6 51% 19.7 65% 2 1.

3 35% 15.0 .4 68% 19.2 44% 47% 27.6 51% 29.99 14 55% 15.2 53% 16.9 63% 18.xls]GI GI TAPPING PULANG PISAU 150/20   ‐ Beban Puncak ( MW ) 2 1 1 2 1 1 1 30 30 30 10 30 30 10 2011 Total  Peak  Kap Load [MVA] [MW] Add  Trafo [MVA] 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Peak  Add  Peak  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Add  Add Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] 2018 2019 2020 Peak  Peak  Peak  Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 60 15.5 53% 30.44 20 38% 22.3 65% 38.7 38% koordinnasi dg pikitring change amuntai oo d as dg p t g c a ge a u ta 30.0 23.6 45% 3.4 68% 20.2 52% 30.3 59% 5.7 25.3 46% 12.6 38% 22.4 60% 35.0 65% 37.4 41% 24.7 37% 30.5 50% 43.11 11 41% 11.2 56% 32.0 66% 6.3 57% 12.8 0 77 0.2 69% 29.6 62% 6.8 66% 28.9 63% 37.3 54% 30.6 46% 17.0 30 30 10 Uprating d 30.66 11 43% 13.0 53% 20.0 21.3 60% 17.1 59% 16.2 47% 28.00 13 48% 14.0 35% 20.8 42% 24.4 57% 22.0 56% 5.1 56% 32.22 22 41% 24.6 60% 35.7 47% 14.7 35% 13.3 23% 60 30 60.6 46% Uprating dari 30 MVA 60.5 40% 11.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY No.4 64% 19.7 66% 25.0 45% 4.9 57% 33.0 20 30.7 47% 14.00 40.99 15 59% 17.3 45% 26.7 52% 5.44 17 64% 18.0 30 30.6 65% 18.6 54% 17.4 49% 12.5 60% 35. 9 10 11 12 448 4 13 14 15 16 TEG (KV) Jml Kap [MVA] GI PALANGKARAYA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 2 30 GI BARIKIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 G JU G GI TANJUNG   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 50/ 0 GI AMUNTAI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI ASAM‐ASAM   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI PELAIHARI   ‐ Beban Puncak ( MW ) Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI RANTAU/BINUANG   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 NAMA [perGI.7 41% 16.6 40% 3.5 50% 4.3 56% 25.7 68% 41.11 24 45% 12.3 53% 16.2 37% 14.6 49% 19.3 28% 36.77 30.0 61% 23.2 39% 22.88 18 35% 30 0 30.7 41% 4.0 20.9 55% 32.

3 49% 28.9 48% 14.8 44% 13.xls]GI 17 GI BATULICIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI KAYU TANGI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SAMPIT   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI KASONGAN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI PANGKALAN BUN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI BUNTOK/AMPAH   ‐ Beban Puncak ( MW ) Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI MUARA TEWEH   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 18 19 20 449 4 21 22 23 24 GI PALANGKARAYA II [New] 150/20   ‐ Beban Puncak ( MW ) 2011 Total  Peak  Total Peak Kap Jml Kap Load [MVA] [MVA] [MW] 1 1 1 1 1 1 1 1 30 30 30 30 30 30 30 60 Add  Add Trafo [MVA] 2012 2013 2014 2015 2016 Peak  Add  Peak Add Peak  Peak Peak Add  Peak  Add Peak  Peak Add  Add Peak  Peak Add  Add Add Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] 2017 2018 2019 2020 Peak  Peak Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 30 0.4 42% .0 21.0 21.3 46% 14.0 30 30 0 30.2 53% 21.0 0% 0.0 0% 16.0 0% 0.0 0% 0.4 51% 29.2 41% 24.4 64% 37.0 0% 14.0 0% 18.1 43% p g uprating dari 30 MVA 60.8 70% 20.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY TEG (KV) No.0 0% 9.00 0% 12.8 44% 12.0 38.5 48% 42.66 14 54% 0.1 45% 00.11 12 45% 13.88 21 40% 30 15.3 54% 32.11 16 60% 17.6 51% 14.4 40% 34.0 45.4 38% 30 30.2 37% 22.3 43% 26.8 40% 12.7 53% 31.00 0% 10.3 38% 10.0 21.6 36% 10.2 41% 24.3 57% 16.4 40% 23.4 58% 16. NAMA [perGI.0 0% 0.0 30 30.8 40% 11.7 70% 41.4 38% 30.7 66% 19.8 36% 0.0 0% 18.7 46% 26.7 54% 16.0 30 30.4 68% 19.2 47% 27.4 61% 18.11 13 49% 14.4 36% 30 30.6 58% 60 60.3 39% 23.2 37% 22.5 49% 29.1 59% 35.5 34% 20.88 17 66% 19.00 0% 00.3 45% 24.4 40% 0.9 63% 18.77 19 37% 10.2 60% 17.2 53% 0.8 70% 21.1 60% 18.8 55% 15.3 43% 25.3 53% 16.4 36% 0.00 0% 00.1 33% 19.2 52% 11.1 34% 9.

6 0.8 1 06 1.7 36% 20.5 44% 25.03 150.4 1 03 1.7 0.6 54% 17.8 44% 12.0 739.5 0.6 58% 17.6 1 01 1.2 61% 36.0 0% 6.1 32% 23.8 48% 28.7 32% 0% 0% 8.2 43% 24.0 0.2 53% 15.9 0.0 30% 8.6 630.5 0.6 38% 21.1 45% 302.9 28% 17.92 0.6 608.6 120.4 40% 22.0 0% 0.04 60.0 801.03 90.03 .0 0.6 32% 10.0         180 0.0 448.4 27% 8.7 40% 11.6 556.3 1 03 1.01 0.0 716.5 507.0 22% 6.0 630.06 30.8 25% 7.0 0% 0.0 578.0 0% 0.0 739.0 37% 10.0 869.8 1 03 1.xls]GI 450 4 27 GI BANDARA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 28 GI KOTABARU   ‐ Beban Puncak ( MW ) TOTAL BEBAN GI GI KONSUMEN .7 779.6 0.01 30 60 30 90.0 537.0 52% 30.0 801.5 660.9 1 03 1.0 63% 0% 0% 14.0 374.1 67% 0% 0% 14.0 578. NAMA [perGI.0 374.3 41% 23.9 443.03 180.BESAR GI UMUM    Beban Puncak GI DIVERSITY FACTOR DIVERSITY FACTOR 150/20 70/20 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Peak  Peak  Peak  Kap Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Kap Load Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 30 30 60 30 30 0.3 1 04 1.3 23% 6.6 327.6 1 01 1.9 48% 14.0 448.0 537.7 30.6 0.5 56% 33.0 682.6 371.04 1 04 1.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY TEG (KV) Jml 25 GI KUALA KURUN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 1 26 GI KANDANGAN   ‐ Beban Puncak ( MW ) / 150/20 No.0 869.0 33% 19.0 847.0 302.0 682.6 0 92 0.

5 77.0 21.9 33.2 19.6 126.0 127.7 11.9 66.8 23.8 22.5 76.5 28.9 41.5 117.4 48.4 64.7 63.5 77.6 66% 75% 44% 52% 59% 64% 71% 77% 56% 61% - - - BEBAN LEWAT PLTD 2.5 77.4 31% 41% 35% 42% 48% 52% 57% 62% 68% 74% 24.9 15.3 27.6 55.5 30.3 47.2 40.7 42.5 77.9 83.5 77.8 38.1 86.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.9 121. GI Batakan/Manggar Sari 1992 150/20 2 20 1 30 1 60 130 BEBAN LEWAT PLTD 3.0 40.8 33.0 77.7 52% 51% 60% 70% 78% 79% 75% 72% 65% 52% - - - - - - - - - - 9.0 12.6 35.7 60.7 16.5 90.2 83.7 66.7 69.3 104.5 77. GI Karang Joang/Giri Rejo 1993 451 4 4.4 55.5 40. Substation No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Transf (MVA) (MVA) (MW) (MVA) 2013 Add Peak Transf (MW) (MVA) 2014 Add Peak Transf (MW) (MVA) Add 2015 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2016 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2017 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2018 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2019 Peak Transf (MW) (MVA) 2020 Add Peak Transf (MW) (MVA) (MW) SISTEM MAHAKAM uprating 30 MVA 1. GI Gn Malang / Industri 1992 150/20 1 60 1 20 1 30 110 60 57.6 60 60 60 98.4 19.6 72.5 71% 60% 61% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 36.9 79.0 97. 150/20 GI Sei Keledang/Harapan Baru 1993 150/20 1 30 1 30 1 30 1 30 60 60 BEBAN LEWAT PLTD 5 GI Karang Asem/Tengkawang 1996 150/20 1 30 1 30 1 60 120 BEBAN LEWAT PLTD 6 GI Tanjung Batu/Embalut 1996 150/20 1 30 1 30 1 30 60 84.7 27.0 45% 51% 53% 63% 72% 78% 49% 57% 65% 74% 35.1 27% 20 Add Transf (MVA) .2 26.2 17.0 112.0 20.8 24.8 84.2 30.8 31% 36% 42% 48% 53% 58% 63% 69% 75% BEBAN LEWAT PLTD 7 GI Palaran/Bukuan 1996 150/20 30 12.0 18% 20% 24% 28% 32% 35% 39% 42% 46% 50% 13.0 28.7 26.

8 23.4 41.2 19.4 29.3 17.0 14.1 31.8 38.4 27.4 71.9 18.4 42% 55% 77% 50% 66% 58% 75% 15.2 48.1 40.2 25.0 28.8 13.2 18.1 17.3 93.0 57.6 58.9 19.2 42% 30 30 60 60 30 23.9 21.5 150/20 13 GI Petung 2011 10.2 47% 54% 59% 64% 71% 77% 84% 22.3 44% 48% 55% 60% 66% 72% 40% 19.2 19.5 48.8 30.7 60% 69% 75% 55% 60% 65% 71% Rencana Tambahan GI 9 GI Sambutan 2010 10.4 54% 59% 67% 74% 40% 44% 48% 53% 11.9 16.2 21.6 71% 60% 72% 51% 11.7 60% 68% 40% 13.5 54.3 15.5 21.3 43% 60 80.0 150/20 452 4 10 GI Kuaro / Tanah Grogot 2011 150/20 11 GI Bontang 2011 37% 30 14.5 53.7 150/20 30 53% 30 73% 14.2 59% 30 .8 26.4 57% 62% 71% 78% 43% 47% 51% 56% 32.6 37.8 19.4 45.7 68.8 34. Substation No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Transf 2013 Add Peak Transf 2014 Add Peak Transf Add 2015 Peak Transf 2016 Add Peak Transf Add 2017 Peak Transf 2018 Add Peak Transf Add 2019 Peak Transf 2020 Add Peak Transf Add Transf (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Tenggarong / Bukit Biru 2007 150/20 1 30 30 16.7 44.4 21.5 29.1 41.1 23.2 49% 32% 30 25.7 150/20 14 GI New Industri / Balikpapan 2013 150/20 40% 30 47% 12 GI Sangatta 2012 25.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.4 30 30 30 60 30 30 122.4 16.

4 897.04 1.00 1.5 44.3 48.7 52% 57% 62% 68% 74% 81% 30 (MW) (MVA) 30 (MW) 15.5 44.0 43.3 48.1 22.1 24.00 150/20 30 24.3 634.5 526.7 150/20 GI Bulungan / Tj Selor 30 77% 30 27.00 1.9 1.9 22% 24% 26% 29% 31% 34% 37% 41% 28.0 20% (MVA) 2015 (MW) GI Kariangau 2012 17 Peak Transf GI PLTG Sembera S b 2012 Add 2012 (MVA) .8 37% 56% 42% 34.04 1.9 33.04 1.04 1.00 1.9 GI New Samarinda (MVA) Peak 15 5 15.8 Add Transf 20 1 20.9 41% 45% 49% 54% 59% TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 30.3 756.4 46% 50% 55% 60% 11.1 12.04 1.7 32.6 448.2 29.0 (MVA) Peak 18 4 18.00 1.4 693.9 (MVA) Add Transf 2017 (MVA) 150/20 (MW) 2016 11 0 11.8 TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 275.0 935.04 DIVERSITY FACTOR 453 4 SISTEM BERAU 17 GI Berau / Tj Redep 2013 18 20.8 40.9 42% 38% 2011 10.6 (MW) Add Transf 2020 12 0 12.4 64% TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 286.1 10.00 1.1 657.1 368.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.04 1.9 37.6 36.7 33.2 13.2 46% (MVA) Peak 13 1 13.2 430.1 720.04 1.04 1.9 857.4 602.9 33.6 15.04 1.5 30 (MW) Add Transf 14 2 14.6 788.1 40.9 37.1 354.6 578.3 14.1 40.3 TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 30. Substation No Unit 2011 Total Peak Size (MVA) (MVA) 15 16 (MW) 150/20 (MVA) 2013 Add Peak Transf 2014 Add Peak Transf Add Peak Transf Peak 2018 21 9 21.0 30 (MVA) Peak 2019 (MW) 78% (MW) Add Transf 2018 60 20.1 30.3 825.1 508.1 22.4 150/20 (MW) Add Transf 16 9 16.3 DIVERSITY FACTOR 1.

6 RENCA ANA PENGEMBAN NGAN PEN NYALURA AN SISTE EM INTER RKONEKS SI KALSEL LTENGTIM M 454 .LA AMPIRAN N B1.

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Kalimantan Selatan. Tengah dan Timur (kms) T Tegangan T/L 500 kV 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 J l h Jumlah - - - - - - - - - - - T/L 275 kV T/L 150 kV 328 1859 878 T/L 70 kV Jumlah 1046 240 138 236.5 80 328 1859 958 80 1046 240 138 236.5 455 4 (MVA) Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 500/275 kV - - - - - - - - - - - 275/150 kV - - - - - - - - - - - 270 60 450 180 60 270 60 30 30 570 210 360 150/70 kV 150/20 kV 140 70/20 kV Jumlah 140 270 120 120 330 30 240 30 2060 120 120 330 30 240 30 2300 .5 510 5235.5 510 0 0 5315.

06 2017 Planned Unall Kalteng Kalselteng Palangkaraya Sampit 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2 260 31. ACCC 460 mm2 74 6. ACSR 1 x 240 mm2 138 12. ACSR 2x240 mm2 100 12.41 2012 on going APBN Kalsel Kalselteng Tanjung Perbatasan 150 kV 2cct.98 2013 Planned APBN Kalteng Kalselteng PLTU P. Laut 70 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 344 30.59 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng PLTU Kalsel Baru-1(FTP 2) Tanjung 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2 0.36 2013 on going APLN Kalteng Kalselteng Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat . Raya -Selat) 150 kV 4cct.37 2014 Propose APBN . ACCC 460 mm2 6 4. ACSR 2x240 mm2 248 30. ACSR 2x240 mm2 220 26. ACSR 2x240 mm2 220 26.62 2013 Planned APBN K lt Kalteng K l lt Kalselteng PLTGU B Bangkanai k i M Muara T Tewehh 150 kV 2 t ACSR 22x240 2cct. ACSR 1x240 mm2 42 3.Rencana Pengembangan Penyaluran Kalimantan Selatan.Rantau) 150 kV 2cct.83 2012 on going ADB Kalsel Kalselteng Rantau Incomer 2 phi (Barikin .79 2012 on going APBN Kalteng Kalselteng Kasongan Incomer phi (Sampit .28 2016 Planned Unall Kalsel Kalselteng Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2cct.87 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2 284 34.43 2014 Planned Unall Kalsel Kalselteng PLTA Kusan Single phi (Cempaka . ACCC 460 mm2 180 30. Laut Kotabaru 70 kV 2cct.5 26.74 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng PLTU Asam-asam (Perpres) Mantuil 150 kV 2cct.25 2012 on going APBN Kalteng Kalselteng Tanjung Buntok 150 kV 2cct.25 2012 Planned Unall Kalsel Kalselteng Up rating Asam-Asam Pelaihari-Cempaka-Mantuil 150 kV 2cct.26 2014 Planned IPP Kalsel Kalselteng Barikin Kayutangi 150 kV 2cct.Cempaka) 150 kV 4cct. ACSR 2x 240 mm2 2 0. ACSR 1 x 240 mm2 2 0. ACSR 1x240 mm2 66 5. ACSR 2x240 mm2 346 30. 240 mm22 100 12 26 12.P raya) 150 kV 2cct.26 2013 Pl Planned d APLN Kalteng Kalselteng Muara Teweh Buntok 150 kV 2cct.50 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng Landing point P. ACSR 2x240 mm2 240 29.88 2012 Planned APBN Kalteng Kalselteng Sampit Pangkalan Bun 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 4 0.00 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng Batu Licin Landing point P.Pisau Incomer 2 phi (P.18 2014 Planned Unall Kalteng Kalselteng Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2cct. Tengah dan Timur Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber 456 4 Kalsel Kalselteng Barikin Amuntai 150 kV 2 cct.P raya) 150 kV 2cct.98 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng Asam-asam Batu licin 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 94 8. ACSR 2x240 mm2 212.

29 2014 Plan APLN Kaltim Kaltim Harapan Baru Bukuan 150 kV Up rating mejadi Twin Hawk 24 5. ACSR 2x240 mm2 180 22. ACSR 2x240 mm2 8 0. ACSR 2x240 mm2 260 60 .Kuaro) 150 kV 4cct. ACSR 2x240 mm2 90 11. ACSR 1 x 240 mm2 40 3.72 2012 plan APBN Kaltim Kaltim PLTG Senipah incomer Manggar Sari .Rencana Pengembangan Penyaluran K li Kalimantan t S Selatan.. l t T Tengah h dan d Timur Ti Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Biaya MUSD COD Status Sumber 457 4 Kalteng Kalselteng Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2cct.Bontang 150 kV 2cct. ACSR 1x240 mm2 110 8.K. ACSR 12x 240 mm2 196 17. ACSR 2 x 240 mm2 93 11. ACSR 2x240 mm2 8 0.68 2014 Planned APBN Kalteng Kalselteng Kasongan Kuala Kurun 150 kV 2cct. Joang 150 kV 2cct.04 2012 Plan IPP Kaltim Kaltim Petung Incomer 2 phi (Karjo . ACSR 2 x 240 mm2 6 0.90 2014 Plan APBN 2cct.74 2012 Plan APBN Kaltim Kaltim PLTU Teluk Balikpapan Incomer 2 phi (Karjo .49 2012 Plan APLN Kaltim Kaltim Up rating Teluk Balikpapan K.24 2018 Plan Unall 31. ACSR 2x240 mm2 90 11.04 2018 Plan Unall 14. ACSR 2x 240 mm2 240 7. ACSR 2x240 mm2 310 38. ACSR 2x240 mm2 14 1.60 2012 Plan APLN Kaltim Kaltim PLTU Kaltim 2 (FTP-2) Bontang 150 kV 2 cct.Joang 150 kV 2 cct.01 2012 on going ADB Kaltim Kaltim Kuaro Perbatasan 150 kV 2cct. ACSR 2x 240 mm3 120 10.56 2014 Planned APBN Kalteng Kalselteng PLTU Kalteng 1 Kasongan 150 kV 2cct. ACSR 1x240 mm2 160 Kaltim Kaltim PLTA Kelai Sangatta 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 16 1. ACSR 2xZebra 16 1.98 2017 Plan IPP 2cct.Kuaro) 150 kV 2cct.44 2014 Planned Unall Kalteng Kalselteng PLTU Sampit Sampit 150 kV 2cct.70 2013 Plan IPP Kaltim Kaltim PLTG Senipah Bukuan/Palaran 150 kV 2 cct.07 2012 Plan APBN Kaltim Kaltim GI Sembera incomer Sambutan .35 2014 Plan Unall Kaltim Kaltim Tenggarong gg g Kota Bangun g 150 kV 2cct.40 2012 on going ADB Kaltim Kaltim Bontang Sambutan 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 30 3.96 2017 Plan Unall 2cct. ACSR 2x240 mm2 120 9.60 2015 Planned Unall Kaltim Kaltim Karang Joang Kuaro 150 kV 2cct.88 2018 Plan Unall Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim New Samarinda PLTU Kaltim (PPP) Bontang Sambutan Incomer 2 pi (Senipah-Palaran/Bukuan) Sangatta 150 kV 150 kV 150 kV Kaltim Kaltim Berau Tanjung Selor 150 kV 2cct.

68 2.39 1.23 1.26 2.23 1.23 1.23 2.23 1. Tengah dan Timur Propinsi 458 4 Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Nama Gardu Induk Amuntai (GI baru ) Barikin Ext LB Kayu Tangi (GI baru ) Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam-asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam-asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Kotabaru Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Kotabaru Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (NEW LINE) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Mantuil p g) Trisakti ((Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension New New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 2 LB 30 2 LB 3 CB 2 CB 2 LB 2 LB 30 2 LB 2 LB 60 30 30 2 LB 2 LB 30 60 30 2 LB 2 LB 2 LB 60 30 60 60 30 60 30 30 30 2.62 1.10 1.23 1.10 1.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.23 1.23 2.23 2.10 1.62 1.39 1.62 1.23 1.39 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 Operasi Operasi Operasi Operasi On Going On Going Operasi Operasi On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Planned Proposed Proposed p Proposed Proposed Planned Planned APBN APBN APBN APLN APLN APLN APLN APLN APBN APLN Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall IBRD Unall IBRD IBRD IBRD IBRD Unall Unall .23 2.35 1.39 2.10 2.39 1.10 2.10 2.23 1.62 1.62 1.

23 2.62 1.23 1 39 1.23 2.23 1.10 3.23 1.23 2.62 2017 2017 2017 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2014 2015 2015 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 Planned Planned Proposed On Going On Going On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Planned Planned Proposed Planned Operasi Plan On Going g On Going Plan On Going On Going Unall Unall IBRD APBN APBN APBN APBN APBN APLN APBN APBN APBN APLN Unall Unall Unall IBRD IBRD Unall APLN IBRD APLN APBN APLN APLN APLN APBN APBN APBN .23 2. 3.62 1.62 5.62 0.85 1.62 1.62 1.23 2.52 1.39 2.62 2.24 2.39 1.23 .Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.23 1.23 2.39 2.75 1. Tengah dan Timur Propinsi 459 4 Kalsel Kalsel Kalsel Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Nama Gardu Induk Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTGU) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Kuala Kurun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU ) Puruk Cahu Bukuan/Palaran Ext LB Sambutan Bukuan/Palaran g Joang/Giri g Rejo j Ext LB Karang Kuaro / Tanah Grogot Petung Sambutan Ext LB Bontang Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Ekst Relocating Extension New (4 LB) New Extension New 30 2 LB 30 30 4LB 30 2 LB 30 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 60 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 2 LB 30 20 2 LB 30 30 2 LB 30 1.62 1.34 1.

2.39 1.57 2.10 1.23 2.10 2.10 2.23 1.10 .10 2.39 1.62 2.75 2.39 2.39 2.62 2.2x30) 150/20 kV Uprating 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV N New 150/20 kV New 150/20 kV Ekstension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 60 60 60 60 30 30 2 LB 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 60 30 30 2 LB 30 30 60 60 60 30 4.62 1. Tengah dan Timur Propinsi 460 4 Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim K lti Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Nama Gardu Induk GI PLTG Sambera Industri/Gunung Malang Sei Kleidang / Harapan Baru Tengkawang/Karang Asem Sambutan Bontang Bontang Ext LB Kariangau / Tel.10 1.62 2.10 1.62 1.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.62 1 39 1.39 2. Balikpapan Tenggarong / Bukit Biru Kariangau / Teluk Balikpapan Kota Bangun Berau / Tj Redep Bulungan / Tj Selor New Industri Berau / Tj Redep Sambutan Kuaro / Tanah Grogot Bontang New Industri N New S Samarinda i d Sangatta Sambutan Ext LB Petung New Samarinda Sambutan New Industri Sei Kleidang / Harapan Baru Tenggarong / Bukit Biru Tegangan Baru/Extension 150/20 kV New (4 LB .39 1.39 1.10 2 62 2.39 1.39 1.39 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 Plan Plan Plan On Going Plan Plan Proposed On Going Plan Plan Plan Plan Plan Proposed Plan Plan Plan Plan Plan Pl Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan APBN Unall Unall APBN Unall Unall Unall APLN Unall Unall APBN Unall Unall IBRD Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall .

7 PE ETA PENG GEMBANG GAN PENY YALURAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI KALSE ELTENGT TIM 461 .L LAMPIRA AN B1.

Peta Kelistrikan Sistem Kalselteng 2013 2015 PLTG BANGKANAI 140 MW (2013) 70 MW (2014). 70 MW (2015) Puruk Cahu D Muara Teweh D D ACSR 2X240 mm2 110 km (2013) PLTU KUALA KURUN 2X3 MW (2013) U U 2011 2012 ACSR 1X240 mm2 172 km (2013) PLTU CENKO 2X7 MW (2011) Sampit D U U Pangkalan Bun D PLTU SAMPIT 2X25 MW (2014) 2012 New Palangkaraya D D PLTU PULANG PISAU 2X60 MW (2012) Tanjung 2010 U ACSR 2X240 mm2 21 km (2011) Barikin ACSR 2X240 mm2 120 km (2014) Ranatu PLTA KUSAN 2X32.5 MW (2017) Kayutangi D Seberan g Barito 2010 D Amuntai U Selat ACSR 2X240 mm2 142 km (2012) ACSR 2X240 mm2 130 km (2012) PLTU KALSEL [IPP] 2X100 MW (2015/16) Palangkaraya ACSR 2X240 mm2 174 km (2012) Buntok D ACSR 2X240 mm2 60 km (2015) Kasongan 2016 ke GI Kuaro ( KALTIM) 2012 PLTU BUNTOK 2X7 MW (2013) ACSR 2X240 mm2 172 km (2015) PLTU KALTENG-1 2X100 MW (2020) 2013 ACSR 2X429 mm2 40 km (2013) ACSR 1X240 mm2 98 km (2014) Kuala Kurun U ACSR 1X240 mm2G 47 km (2014) Trisakti A Ulin Mantuil PLTU ASAM ASAM #1 & 2 (2X65 MW) A PLTA RIAM KANAN 3X10 MW Cempaka ACSR 2X240 mm2 Pelaihari 124 km (2012) U Kotabaru Batu Licin 2011 D ACSR 1X240 mm2 40 kkm (2013) PLTU ASAM ASAM 2X65 MW (2011) U PLTU Sewa 3X50 MW (2013) .

5 MW – 2014 U Karangjoang G KALIMANTAN TENGAH 2012 PLTU Kaltim (PPP) 2x100 MW – 2017 Manggarsari U Industri Petung Kuaro ke GI Tanjung (Kalsel) 2012 KALIMANTAN SELATAN PLTG Senipah 2x41 MW – 2013 PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP1 2 100 MW – 2014 2x100 PLTU Sewa 2x120 MW .Peta Kelistrikan Sistem Kaltim SABAH (MALAYSIA) BRUNEI DARUSSALAM 2013 Tj. Redep 2x7 MW – 2012 U 2010 Sangata PT PLN (Persero) / / / / / / / / / / / / PLTU Kaltim-2 (IPP) 2x100 MW – 2015/16 Bontang KALIMANTAN BARAT2015 U G Sewa 2012100PLTG MW – 2012 G PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI KALIMANTAN TIMUR GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Juli 2011 U PLTU Embalut (Ekspansi) 1x50 MW – 2014 PLTU Kaltim (MT) 2x27. Selor 2x7 MW – 2012 U 2011 SARAWAK (MALAYSIA) Tj. Selor PLTU Tj.2013 SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGAH . Redep PLTU Tj.

L LAMPIRA AN B1.8 ANAL LISIS ALIR RAN DAY YA SISTE EM iNTER RKONEKS SI KALSELTENGTIM 464 .

0 + + 47.8 U NAMA GI MW MVAR KV SC LEVEL PLTU ASAM ASAM 4X65 MW Beban Sistem : Losses : Flow dalam MW/MVAR 504.2 5992.6 RANTAU 20.5 1491.0 1.0 9.1 G 13 2 13.1 24.8 153.3 5079.0 27.4 4.7 AMUNTAI 0.7 1.5 7.0 10.94 21.1 6.0 ULIN 40.4 25.6 65.3 13.9 SEBAR 15.6 MW #### 154.0 5209.0 12.8 465 TRISAKTI 150 16.0 42 5.2 6.8 18.6 11 0 11.6 1.0 4.5 150.2 14.3 2.4 MANTUIL 15.3 36.3 15.0 15.6 9.9 4.3 3.3 6794.4 TRISAKTI 70 12.0 61.7 7.8 A 9.2 155.0 3670.0 PLTG 128 0 B A NGKA NA I 140 M W 128.0 7.6 25.4 PLTU SAMPIT 2X25 MW PLTU PULPIS 3.4 A 50.4 6485.3 6420.0 6.8 155.0 U PLTU BUNTOK 2X7 MW .6 3.0 20.4 15.1 1.0 10.5 151.0 U SAMPIT 1.0 73.6 3030.7 154.0 6917.8 5.9 14.4 PALANGKA 50.1 1.0 BUNTOK 11.1 4.0 9.37 38.18 3.0 10.5 TANJUNG 19.2 D 33.1 13.1 5250.0 KASONGAN 154.6 152.4 7.1 2333.0 15.4 13.3 1.2 54.6 41.1 BARIKIN 32.6 CEMPAKA 70 150.1 6650.9 4817.5 U SELAT 12.9 151.3 14.4 149.8 BATULICIN 4.8 -5.0 36.1 154.0 ASAM ASAM 14.0 4421.4 19.8 71.4 CEMPAKA PELAIHARI 50.0 15.0 149.6 4318.7 152.0 2149.2 9.8 6.5 150.0 149.8 KAYUTANGI 22.7 3625.9 67.7 33.8 7.2 9.5 18.0 PULPIS 13.1 2285.3 4707.4 155.6 3307.5 151.8 6.7 65.2 3.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2013 PLTU PULPIS 2X60 MW 18.1 PLTA RIAM KANAN 30 MW 31.0 5254.8 27.7 0.0 M TEWEH 8.0 155.3 8024.5 -9.0 MW 5.0 13.

1 4.0 6 .4 CEMPAKA 146.5 20.0 87.3 9.1 14.8 22.2 6.0 MW 10.8 140 145.7 13 2.5 14.8 31.6 9.0 20.4 22.2 .1 U ` SEBAR 8.0 21.2 BUNTOK 7.0 16.4 150.2 13 29.6 6.9 7.1 PALANGKA KASONGAN 46.2 22.0 12.2 3.7 5.8 150.4 11.7 155.8 22.1 9.4 `12.2 8.0 15.0 1.5 ASAM ASAM 18.2 66.8 SAMPIT 23.6 66.6 U BATULICIN 14.6 13.6 70.9 U PLTU KALSELTENG 100 MW 58.0 U RANTAU TRISAKTI 466 4 14.4 6.8 25.8 32.2 M TEWEH 36.0 52.8 11.8 60.4 K KURUN 3.6 1.4 2.7 31.6 148.9 3.5 15.9 22.6 147.2 TRISAKTI 145.4 4.0 45.2 158 68.7 10.5 151.6 151.2 15.0 148.4 24.3 MW 9.8 ULIN M 29.9 0.4 151.1 TRANSFER KE KALTIM BARIKIN A 12.4 PLTU BUNTOK 2X7 MW 153.9 64.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2015 PLTU PULPIS 2X60 MW PLTU SAMPIT 2x25 MW U SELAT 13.2 40.1 11.2 6.2 15.4 132.2 GU PLTGU BANGKANAI 280 MW 15.7 KAYUTANGI 19.4 153.1 46 26.6 41.1 10.5 25.4 PBUN 21.6 12.6 9.4 6.9 U PLTU ASAM ASAM 4X65 MW KET : NAMA GI MW MVAR KV Beban Sistem : Losses : Flow dalam MW/MVAR 623.3 24.5 146.6 3.5 44.4 9.6 155.0 PULPIS 5.6 129.5 TANJUNG 19.5 146.4 18.9 9.8 19.3 35.8 145.1 6.2 20.8 CEMPAKA 38.2 1.0 150.3 PLTA RIAM KANAN 30 MW MANTUIL 153.1 AMUNTAI 147.1 PELAIHARI 17.8 113.

0 3.4 PBUN 31.8 31.6 19.8 9.0 7.8 145.6 24.6 1.8 GU 6.7 19.2 13.7 26.5 68.1 BATULICIN 29.4 144.4 150.9 8.6 7.6 TANJUNG 38.6 ULIN M TRISAKTI 148.0 4.2 153.8 66.3 12.6 107.6 20.6 34.6 60.2 155.9 19.6 U 14.2 0.4 CEMPAKA PELAIHARI 24.0 467 4 24.1 11.6 144.4 40.1 147.0 MW 2.3 153.7 26 52.2 5.4 152.4 36 2 36.0 51.0 PALANGKA KASONGAN 37.4 116 59.0 154.8 11.6 38.6 A 144.8 SEBAR 19.8 14.9 29.8 6.4 .6 5.0 63.8 24.4 12.6 0.6 13.7 50.8 152.9 60.6 8.8 154.4 149.0 MANTUIL U AMUNTAI 144.2 BUNTOK 21.4 6.1 64.7 64.12% Flow dalam MW/MVAR 14.2 13.0 0.4 6.4 04 0.8 PLTU CENKO 2X7 MW K KURUN 16.1 5.9 10.1 144.1 10.7 7.7 76.2 8.3 4.2 U PLTU ASAM ASAM 4X65 MW KET : NAMA GI MW MVAR KV Daya Pembangkit .6 48.4 66.2 U 7.8 116.1 28.0 MW Losses : 20.3 148.7 31.4 RANTAU 75.8 52.2 60.5 18.3 33.2 149.4 KAYUTANGI 144.7 PLTU KALSETENG 2X100 MW 1.1 60.8 34.4 M TEWEH 2.9 15.6 3.2 SAMPIT 42.4 PLTGU BANGKANAI 280 MW 0.2 8.7 23.0 MW Beban Sistem : 942.2 25.4 PLTA RIAM KANAN 30 MW BANDARA 36.8 63.2 14.2 15.4 74.2 ASAM ASAM 32.6 146.4 PLTA KUSAN 65 MW 46.3 8.1 TRISAKTI 144.4 16.4 TRANSFER KE KALTIM BARIKIN 26.3 154.6 PLTU BUNTOK 2X100 MW 12 2 12.0 PULPIS 19.8 8.5 PLTU BUNTOK 2X7 MW 25 KANDAGAN 17.8 7.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2020 PLTU PULPIS 2X60 MW PLTU SAMPIT 2x25 MW PLTU PULPIS 1X100 MW U SELAT 24.2 41. 962.4 A 23.2 PRK CAHU 10.4 46.2 23.2 BANGKANAI 40.4 8.6 5.6 24.6 12.6 CEMPAKA 12.

8 LOAD 268.9 53.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2011 40.5 MW 61.4 LOSS 1.2 144.4 147.4 MW 9.2 3.4 112.0 22 G 20 6.0 MW PLTU CFK U 144.0 25.0 EMBALUT 9.2 MW MW 77.3 6.3 40.1 143.6 26.3 64.9 .2 142.7 140.3 139.0 468 4 MW 58.0 HARAPAN BARU MW 36.8 BUKIT BIRU 15.0 15.0 40.7 D G D D 20.9 D BUKUAN 30.6 34.5 MW INDUSTRI 71.4 MW TENGKAWANG 54.7 MANGGAR SARI 29.2 MW MW MW MW 138.2 5.1 143.9 MW MW 21.7 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 270.2 3.4 MW 31.8 G D SAMBUTAN MW 21.0 13.9 6 11.9 U MW 142.3 MW 30.0 142.8 15.6 KARANG JOANG 20.0 21.

5 149.0 G 109.7 147 5 147.8 MW MW 15.0 153.3 MW KUARO 19.0 G 60.3 148 3 148.3 151 4 151.1 45.4 MW 16.0 MW PENAJAM 19.5 152.6 7.6 69.2 MW 59.8 MW 469 4 5.0 LOSS 3.8 149.6 60.4 MW TENGKAWANG 88.3 U SEMBERA 150.8 16.1 LOAD 508.0 MW MW EMBALUT 43.0 MW 2.2 150.1 KALSEL -33.0 MW 150.2 149.0 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 479.0 MW 28.4 KARANG JOANG 52.0 BUKIT BIRU 21.6 18.9 G 34.1 MW 6.0 193.9 4.0 151.6 149.0 13.8 21.6 6.5 8.4 KALSEL 51.9 140.0 MW 12.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2015 107.0 4.9 MW 33.0 MW 151.4 INDUSTRI 68.3 69.0 60.8 MW 13.6 U 30.5 16.0 15.3 149.4 BONTANG MW 32.8 9.6 217.0 MW NEW INDUSTRI 41.0 33.2 MW PLTG SENIPAH 60.8 PLTU MT 13.1 HARAPAN BARU MW 51.4 MW 74.2 BUKUAN 91.0 24.8 PLTU CFK U 42.2 MW 33.5 MW MANGGAR SARI 151.3 148.2 MW SAMBUTAN 11.8 11.6 140.5 150 3 150.5 G 8.0 4.0 MW 18.0 U MW KARIANGAU 29.3 .9 20.

0 149.8 143.8 MW PLTG SENIPAH 143.2 MW TENGKAWANG 79.0 MW 20.0 40.0 MW 145.6 G 80.0 MW 150.7 MW MANGGAR SARI MW 50.0 MW 470 4 145.0 MW 11.1 139 6 139.5 40 6 40.7 MW KUARO 36.0 13.3 6.6 141.1 142.8 MW 160.4 29.9 143.6 U INDUSTRI 86.6 MW 54.1 LOAD 898.9 219.2 U MW U MW 50.6 G 66.0 90.0 144.9 147 5 147.7 160.2 INFRASTRUKTUR BUKUAN 178.0 SANGATTA MW A 38.1 90 0 90.5 G 53.0 MW 160.2 MW NEW INDUSTRI 80.0 BUKIT BIRU 34.6 .8 105.1 KALSEL 65.1 12 1.3 MW 42.7 156.7 35.3 PENAJAM 35.3 MW 63.9 11.2 17.2 MW 46.2 MW 64 146.5 U MW KARANG JOANG KARIANGAU 56.7 U SEMBERA MW 84.2 MW 40.3 143.2 381.1 15.0 MW KALSEL 104.3 LOSS 20.4 MW SAMBUTAN 21.8 143.1 PLTU CFK U 152.5 84.5 MW 36 0 36.8 MW 53.3 9.0 MW MW EMBALUT 20.2 38.4 HARAPAN BARU MW 81.3 34.9 140.8 41.6 26.5 416.2 143 5 143.9 BONTANG MW 60.2 141.1 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 982.0 G 207.0 -4.8 86.0 23.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2020 KELAI 150.7 144.0 MW 34.1 4.9 65.6 11.8 146.0 26.0 142.1 145 1 145.7 6.6 MW MW 20.4 202.9 PLTU MT 13.6 MW NEW SMARINDA 144.0 142.3 13 4 13.

9 KEBUTU UHAN FIS SIK PENG GEMBANG GAN DISTRIBUSI SIST TEM INTE ERKONEK KSI KALSELTENGT TIM 471 .L LAMPIRA AN B1.

0 1609.987 5 204 5.6 72.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalsel.2 67.0 16.5 6.204 221 129 114 129.3 4. Kalteng & Kaltim JTM JTR Trafo 2011 kms 4.679 2016 4.0 88.780 5.788 .1 101.169 46.6 110.623 2014 5.4 52.4 5.138 204 130.8 16.4 5.0 43.0 91.0 6.628 234 134.7 112.545 4.5 55.2 177.0 5.9 14.4 71.6 155.229 2011-2020 54.5 829.098 kms 2.296 5.727 204 120.9 6.2 64.239 472 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi P Propinsi i i Kalsel.8 126.2 79.166 Tahun Pelanggan 109. 88 2015 4.0 65.114 2020 7.040 6.650 2018 6.6 176.3 .4 2011-2020 578.1 Trafo Pelanggan Total 10.7 55.6 17.655 MVA 142 2012 3.997 181 109. 96 6.783 4.0 0 241 121.5 77.9 3.3 196.4 146.973 3.022 1.7 17.584 5.8 13. K l l Kalteng K lt & Kaltim K lti Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 34.4 146.5 53.1 82.117 244 111.3 215.4 159.389 2017 5.161.914 4.4 145.400 2013 4.037 2.8 58.5 14.7 74.1 13.054 2019 6 987 6.209 4.6 5.5 JTR 63.330 191 113.3 6.3 11.202 159 81.

1 10 4 10.4 43.4 34.7 1.5 .8 1.5 37.2 51.7 315.0 63.0 4.071 2013 1.159 59 41.6 3.5 480.6 18.277 2016 1.3 70.5 41.4 24 9 24.7 4.4 8.5 9.7 38.060 Tahun Pelanggan 30.1 2.3 24.806 2020 2.6 46.2 13.0 2.850 1.008 1.2 12.7 1.5 16 1.2 36 3.369 828 51 33.3 57.3 40 5 40.9 2.400 2018 2.272 63 42.622 2011-2020 18.254 kms 865 MVA 45 2012 1.2 11.2 35.533 10.1 27.395 68 44.4 37.786 473 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Selatan Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM JTR Trafo Pelanggan Total 9.0 2.805 2017 2.256 1.206 533 373.4 107.536 1.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalimantan Selatan JTM JTR Trafo 2011 kms 1.1 30.9 23.2 3.4 3.591 880 47 36.3 4.6 3.0 1.7 21.066 2019 2.7 3.7 8.6 5.3 10.814 2015 1.413 2014 1 417 1.465 982 50 32.2 38.057 55 39.2 48.787 964 51 37.6 1.4 14.417 804 44 34 814 34.

3 26.5 1.3 5.3 19.4 20.6 13.813 474 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Tengah Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 14.0 4.4 4.5 10.782 2014 766 380 18 16.2 1.6 16.208 kms 1.0 54.8 5.9 4.293 2018 1.1 21.3 1.5 20.450 2016 966 455 20 18.595 2015 860 415 19 17.8 0.6 13.9 1.8 0.6 26.2 3.2 32.294 MVA 43 2012 792 464 15 15.287 2019 1 371 1.348 2017 1.706 230 226.1 4.2 29.371 600 25 21 332 21.9 0.085 499 22 19.5 209.540 659 27 22.010 2013 740 391 17 15.0 .7 1.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalimantan Tengah JTM JTR Trafo 2011 kms 2.7 19.0 14.1 1 1 1.547 5.8 6.8 0.332 2020 2011-2020 1.0 36.6 1.7 0 7 0.1 1.7 308.8 23.8 2.4 1.0 1.7 0.5 18.3 7.0 0.219 547 24 20.431 11.2 23.2 20 2 18.0 49 4.341 Tahun Pelanggan 59.1 2011-2020 68.5 36.7 0.5 13 5 12.

8 28 2 28.2 30.1 29 1 41.389 3.0 83 8.774 115 54.452 2.765 Tahun Pelanggan 18.5 57.0 8.2 30.7 82 1 82.429 2014 3.8 6 8 12.7 1 7 3.2 42.260 561.577 110 53.5 3.7 874.0 1.319 2013 2 474 2.332 2.8 2.6 10.220 2.1 90.7 2.6 .1 3.379 2015 2.855 180 70.701 2019 3.125 1.898 176 62 429 62.020 122 58 701 58.756 94 34.0 27.113 4.1 65.9 65 9 99.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi p Kalimantan Timur JTM JTR Trafo 2011 kms 636 kms 495 MVA 54 2012 1.0 10.2 3.7 5.176 2011-2020 24.1 53.7 37.2 29.2 100.658 2.8 41 8 41.953 2016 2.1 37.843 138 76.8 9.9 35.0 39.9 3.9 6.236 2017 2.6 52.957 2018 2 734 2.089 30.976 2020 3.2 29 3 29.3 31.574 138 67.1 51.3 8.5 108.3 331.7 27 2.5 94.8 83.8 46.7 13.7 3.734 3 020 3.6 75.1 1.641 475 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Timur Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 10.080 3.332 133 64.8 2011-2020 418.4 21.474 3 898 3.1 120.

L LAMPIRA AN B1.10 0 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SISTE EM INTER RKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 476 .

214           99      1.198 359.588            740 477 4 Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel.824        233.179.688 48.472 - 2014 234.706    1.Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel.961 196.353 26.990 350. Kalteng.451        159.398 - 2012 133. Kalteng.753 - Total 740        2.557 272. Kaltim   Tahun JTM kms Trafo JTR kms MVA Unit Jumlah Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS) 2011 655 313 24 370 29.875 2013 774 360 30 373 18.770 2012 424 190 17 197 9.357 50.053 33. Kaltim (Juta Rp) Tahun JTM JTR Trafo Total Listrik murah & hemat (RTS) 2011 175.620 60.918 69.304      75.590 .609        1.145 67.142 36.148          2.822 - Total        782.456 2.590 2013 239.190 - 2014 755 351 29 364 17.

752.7 58 7.561.038.7 72 752 7            32.5           207.824 150                            150 478 4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Total 47.907.0 3.029.4 .Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Listrik m urah Jm l Pelanggan dan Hem at (RTS) Unit 186.036.7 4.3 4.417.8 17.0 37 4.2 60.489.102.2 207 362 2               72.8 54.1            394.051.6 .8               286              33.601.009.3 .6 5. 86.672.8 7.8 60 7.2 94.716.3 131 15. 27. 11.0 .7 96.4 17. 38.8 87.693.362.0 8.000 117.075               676.169.8 312 716 8 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 525.2 60.956.0           19.500 188.4 10.0 7.0 143.837.9 84.9 61.2 .9 32 601 9                      ‐        312.249 184.459.

0 7.4              673             31.439.7 27.6 78.9 11.924.624.0 111.4 12.1 41.959.9 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 612.7 173.5 10.586            1.1              126.5 .2 168.1 26.3 209.125.798 358.6             79.000 367.8           618.807.5 104.710.000 167.802.164.156.346.867.503.4 101.3 40.5 18.0 5.833.5 100 4.484.384 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 175                           175 479 4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah (juta Rp) Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Total 72.6           326.3 25.305.5 203.0 95.9         36.0 138 10.2                        ‐          530.559.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 272.344.4 47.0 12.623.8 215 8.6 109.635.100.1 220 8.

330.0 12.084.0 7.977.532.1 9.8 53.7 11.192.0 54.938.584.708.059.143 2014 Total 212.1 60 1.1 63.5 99.295.5              346             10.2                33.272.6 94 2.295.5 101 4.1         42.9 34.4                1.5 .579.301.5 10.000.3 12.380 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 415                           415 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur (juta Rp) 480 4 Tahun JTM JTR Trafo 2011 55.1 Pembangkit Total Listrik m urah dan Hem at (RTS) 76.4             50.6 2012 47.6 6.0          336.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur Tahun JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 2011 197.890.2 96.0 59.025.0 9.4 1.6 2013 2014 Total 74.3           248.452.591.375 2013 218.6 72.7 14.906.3 91 2.7 10.7           201.770 2012 139.092               767.8 8.420.452.9 14.

LAM MPIRAN B1.12 PROYEKSII KEBUTU UHAN INV VESTASI SIST TEM INTER RKONEKS SI KALSE ELTENGTIIM 481 .

73 110.0 31.9 9.4 17.9 2014 788.37 159.44 177.6 157.39 215.5 2013 484.4 500.8 Total 3068.4 2016 150.8 411.6 447.7 *) Distribusi : Nilai investasi untuk total wilayah Kalselteng dan Kaltim .0 2018 148.0 1.6 2012 72.08 196. Transmisi & Distribusi (j t USD) (juta (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 482 4 2011 244.1 2015 356.2 2019 140.2 796.3 121.Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit.6 248.4 1087.609.4 533.00 176.38 126.01 146.06 155.62 1.3 386.3 346.9 61.1 45.6 604.9 2017 399.1 56.3 .8 748.16 145. 5426.3 2020 284.4 312.

Buntok. Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah (Sistem Barito) Untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam tahun 2011-2020.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Saat ini ada dua sistem besar kelistrikan di Kalimantan yang masuk wilayah operasi Indonesia Timur. Petung dan Tanah Grogot. produksi listrik pada sistem Barito meningkat rata-rata 12.892 GWh pada tahun 2020 dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 67% sampai 71% Beban puncak sistem interkoneksi Barito naik dari 362 MW pada tahun 2011 menjadi 942 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Pangkalan Bun. produksi listrik pada sistem Mahakam meningkat rata-rata 13. yaitu 1. dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 69% sampai 69. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran B1.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan. Kalimantahn Tengah dan Kalimantan Timur (Kalseltengtim) termasuk wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan sangat 483 .3% per tahun termasuk adanya pengalihan dari isolated masuk ke sistem. B1.7% Beban puncak sistem interkoneksi Mahakam diperkirakan naik dari 288 MW pada tahun 2011 menjadi 922 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Bontang. yaitu dari 2.PENJELASAN LAMPIRAN B1 SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM B1. Sampit. Sistem interkoneksi Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode tahun 2011-2020. Muara Teweh.757 GWh pada tahun 2011 menjadi 5.122 GWh pada tahun 2011 naik menjadi 5.571 GWh pada tahun 2020. Sangatta.0% per tahun. Puruk Cahu dan Kuala Kurun. Sistem Barito dan Sistem Mahakam direncanakan akan terhubung menjadi satu sistem Kalseltengtim pada akhir tahun 2012 dengan selesainya pembangunan transmisi 150 kV Tanjung (Kalsel) – Kuaro – Karangjoang (Kaltim). yaitu sistem Mahakam di Kalimantan Timur dan sistem Barito di Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Selatan.

mengingat ketiga Propinsi di Kalimantan ini merupakan sumber energi primer nasional yang sangat besar baik batubara maupun gas alam. yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12. berikut PLTG 560 MW. Rencana reserve margin yg sangat tinggi hingga 76% pada tahun 2013 didasarkan pada keinginan PLN yang sangat kuat untuk memastikan kebutuhan listrik di provinsi Kaltim. Kalsel. maka dilakukan sewa PLTU batubara di Kalsel 3x50 MW dan di Kaltim 2x120 MW serta sewa PLTG peaking di Bontang Kaltim 100 MW dengan mengakomodir reserve margin sampai sekitar 76%. di sistem Kalseltengtim akan ada penambahan pembangkit baru baik milik PLN maupun IPP termasuk sewa PLTU dan PLTG sekitar 1. Pada periode 2011 sampai dengan 2016. Untuk mengurangi penggunaan BBM pada waktu beban puncak. PLTG gas 100 MW dan PLTA 215 MW. serta sewa dan excess power 174 MW. Pada saat ini kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP adalah 564 MW. direncanakan akan ada penambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 715 MW yang terdiri dari PLTU batubara 400 MW.934 MW.6% per tahun sampai dengan tahun 2020. neraca daya masing-masing sistem Kalselteng dan sistem Kaltim telah memenuhi kriteria regional balance sehingga ketergantungan daya antar sub sistem relatif rendah. 484 . Mengingat Kalimantan mempunyai cadangan batubara yang melimpah.tinggi. namun sudah lama menderita kekurangan pasokan listrik. Pembangkit-pembangkit tersebut dijadwalkan beroperasi secara bertahap mulai tahun 2012 sampai 2015. direncanakan membangun PLTG peaking berbahan bakar gas alam lengkap dengan gas storage (CNG/LNG storage) yaitu PLTG Kaltim peaking 2x50 MW dan PLTG Bangkanai 4x70 MW.374 MW. Selanjutnya setelah tahun 2016. Sebagaimana diketahui bahwa tingkat keberhasilan proyek pembangkit di Kalimantan masih rendah dan sebagai antisipasi terhadap kondisi tersebut. bahkan mungkin berlebihan. dimana saat ini dalam tahap proses pengadaan dan sebagian sudah konstruksi. Beberapa pembangkit di sistem ini masih menggunakan BBM sehingga biaya operasinya tinggi. Secara geografis. Kalteng akan tercukupi. maka sebagian besar pembangkit yang akan dibangun berupa PLTU batubara dengan total kapasitas 1.

maka PLN akan mengimbanginya dengan pemasaran listrik yang agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan.Selain itu.3 485 . Salah satu yang dapat dilakukan adalah mendorong pertumbuhan industri padat energi di Kalimantan seperti industri baja. industri keramik.2. Neraca Daya Sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1. Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada tahun 2013 sampai 2017. − PLTG Bangkanai 4x70 MW. karena proyek ini dapat menurunkan biaya operasi dan mencukupi kebutuhan listrik di Sistem Mahakam Kalimantan Timur. − Penyediaan gas untuk PLTG Sambera 2 x 20 MW dan untuk PLTD Cogindo 40 MW yang saat ini masih dioperasikan dengan bahan bakar MFO. − PLTU Asam-Asam (Perpres 1) 2x65 MW. PLN akan memonitor progres proyek dari tahun ke tahun. perlu penanganan khusus untuk aspek lingkungan sehubungan adanya satu jenis spesies langka (kera berhidung merah) yang diperkirakan hidup dikawasan hutan sekitar lokasi proyek.PLTA Kusan. Apabila progres fisik proyek berjalan baik sesuai rencana. kaca dan sebagainya.3 Proyek-proyek IPP Yang Terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B1.PLTU Pulang Pisau 2x60 MW karena permasalahan kondisi tanah pondasi. . Adapun proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : − PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan (Perpres 1) 2 x 100 MW. kemudian pada tahun-tahun berikutnya digunakan sebagai pembangkit peaking untuk mengurangi penggunaan BBM. Sedangkan proyek-proyek yang diperkirakan mundur dari jadwal : . − Tambahan pasokan gas ke PLTGU Tanjung Batu untuk menurunkan biaya operasi sistem Kalimantan Timur. B1. sewa PLTU batubara dan PLTG gas tersebut juga dimaksudkan untuk secepatnya dapat mengurangi penggunaan BBM di sistem Kalseltengtim. untuk memenuhi kebutuhan beban pada tahun 2013 sebelum PLTU IPP beroperasi. dan menunda jadwal proyek pembangkit berikutnya.

Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Dengan beroperasinya PLTU. 486 .05 juta ton pada tahun 2011 menjadi 5. Kebutuhan energi primer di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1.6 kali lipat.4. b.776 GWh atau 49% dari produksi total sistem Kalseltengtim. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO sebesar 513 juta liter dan pada tahun 2020 menjadi 24 juta liter. d. rencana pengembangan PLTG Bangkanai 4x70 MW.87 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 5. Selain itu. Volume pemakaian batubara meningkat dari 1. Peranan MFO dan HSD pada tahun 2011 untuk sistem Kalseltengtim masih cukup tinggi dimana konsumsi MFO dan HSD adalah sebesar 1.4 Neraca Energi Rencana pembangunan beberapa PLTU batubara dan PLTG peaking di sistem Kalseltengtim merupakan salah satu upaya menurunkan biaya operasi mengingat sebagian besar pembangkit di Kalseltengtim masih berbahan bakar minyak. diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan ini dapat dikurangi. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU batubara. PLTG Kaltim peaking 2x50 MW serta PLTA Kusan 65 MW dan PLTA Kelai 150 MW. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1. diharapkan dapat menurunkan peran BBM khususnya pada waktu beban puncak.4. c. Demikian halnya dengan PLTG Sambera 40 MW dan PLTG Senipah 2x41 MW diharapkan akan semakin memperkecil penggunaan BBM. peranan pembangkit berbahan bakar HSD dan MFO akan menurun dimana hingga tahun 2020 produksi pembangkit berbahan bakar minyak sebesar 238 GWh atau 2 % dari produksi total sistem Kalseltengtim. PLTG gas dan PLTA.B1.

5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. B1.6. PLTG peaking dan PLTA serta untuk menggantikan PLTD. ƒ Sedangkan proyek transmisi 150 kV yang perlu segera beroperasi pada tahun 2012 adalah. transmisi 150 kV Tanjung – Kuaro – Karangjoang untuk menghubungkan sistem Kalselteng dan Kaltim serta transmisi 150 kV PLTGU Tanjung – Buntok – Muara Teweh – Bangkanai.5. meliputi : ƒ Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit percepatan tahap I dan tahap II. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 akan mencapai 2. 487 .6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik dan sekaligus untuk mengurangi penggunaan BBM pada sistem kelistrikan yang sebelumnya masih isolated. Untuk keperluan pengendalian operasional sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Kalseltengtim khususnya pada subsistem Kalselteng dalam rangka menjaga tingkat mutu dan keandalan sistem penyaluran. direncanakan pembangunan sistem SCADA (supervisory control and data acquisition) termasuk media komunikasi dan prasarananya di Kalimantan Selatan. proyek pembangkit IPP.330 MVA Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalseltengtim seperti pada Lampiran B1.B1.315 kms. ƒ Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1. Kebutuhan pembangunan transmisi 150 kV dan 70 kV baru dan up rating untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 sekitar 5. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.

Pada RUPTL 20112020 ini. Tahun 2011 Tambahan transmisi baru dari tahun 2010 s. Teluk Balikpapan Incomer 2 phi Karang Joang – Kuaro (2012). PLTU MT Kaltim-Bukuan (2014). 2015 dan 2017.B1.Kuaro (2012). Penajam Incomer 1 phi Karang Joang – Kuaro. PLTG Senipah – PLTU MT Kaltim(2014).d 2011 adalah : Bukuan – Sambutan. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar Tanjung Batu ke GI Tengkawang sebesar 77 MW. Uprating Harapan Baru – Bukuan (2013). Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Bontang ke GI Sambera sebesar 107 MW. hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012. B1. 488 . PLTU Kaltim – 2 (FTP-2) dan PLTU Embalut Ekspansi 50 MW. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Manggarsari (148 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139 kV). dan Berau – Tanjung Selor (2015). Tahun 2015 Dari tahun 2011 hingga tahun 2015.7 Peta Pengembangan Penyaluran Cukup jelas. Pembebanan trasmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1. Sedangkan PLTU Kaltim MT 2x15 MW diperkirakan akan mundur. PLTG Senipah 2x41 MW. PLTU Teluk Balikpapan 2 x 100 MW. Pembebanan trasmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1. ada beberapa tambahan pembangkit yaitu PLTG Kaltim 50 MW. dan sistem Mahakam Kalimantan Timur menerima transfer energi dari sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 33 MW. Karang Joang .8 Analisis Aliran Daya Sistem Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Analisa aliran daya pada sistem Mahakam dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Prakiraan aliran daya sistem Mahakam dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Tambahan ruas transmisi pada tahun 2011-2015 adalah : PLTG Senipah – incomer single pi Manggarsari (2012) – Karangjoang. PLTG (FTP2) – Sambutan (2012). 2.

Tambahan ruas transmisi 150 kV pada tahun 2016-2020 adalah : New Samarinda . Profile tegangan pada sistem interkoneksi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih memenuhi standar. Tegangan terendah terjadi pada GI Kayu Tangi sebesar 489 .Sambutan(2017) dan PLTA Kelai – Sangatta (2018) Bontang. Tahun 2020 Pada tahun 2020. Pembebanan trasmisi masih dibawah 50% sehingga masih memenuhi keandalan N-1.Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi terjadi di GI Bontang (153 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Manggarsari (147 kV) 3. PLTU Pulang Pisau 2x60 MW dan PLTG Bangkanai 140 MW. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Kelai (156 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139. Pada tahun 2013 ini diperkirakan telah terjadi interkoneksi sistem Barito dengan sistem Mahakam (Kalimantan Timur). Tahun 2013 Pada tahun 2013 sistem isolated Sampit. PLTG Kaltim 50 MW peaking (2018). Prakiraan aliran daya sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem barito) dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Kelai dan Bontang ke GI Sambera sebesar 202 MW. Kasongan. dan sistem Mahakam Kalimantan Timur mengirimkan transfer energi ke sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 65 MW. Total beban interkoneksi sistem Barito sebesar : 504 MW. PLTU Kaltim Infrastruktur 200 MW (PPP book) dan PLTA Kelai 2x75 MW telah beroperasi. 2015 dan 2017. Pada RUPTL 2011-2020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012.6 kV) Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah ( Sistem Barito) Analisa aliran daya pada sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem Barito) dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. dan adanya penambahan pembangkit baru di sistem Barito yaitu PLTU Asam–Asam (FTP-1) 2x65 MW. Batulicin dan Buntok telah terhubung dengan sistem Barito.

ƒ Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan baru.2%).9 kV. Tahun 2020 Hingga tahun ini terjadi penambahan pembangkit PLTA Kusan sebesar 65 MW. 3.2 MW. dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 1 100 MW.1 kV dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 154.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 24. sedangkan tegangan tertinggi terjadi pada GI Sampit dengan tegangan sebesar 155. PLTU Sampit 2x25 MW. Tahun 2015 Penambahan pembangkit baru masuk sistem Barito terdiri dari PLTG Bangkanai extension sebesar 2x70 MW.6 MW (1. pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Kayutangi sebesar 145. ƒ Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan ƒ Perbaikan SAIDI dan SAIFI 490 .6 kV.4 MW dengan pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance. 2. Total beban sistem Barito sebesar 942 MW dan Losses 20 MW (2. PLTU Kalteng-1 2x100 MW dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 2 (100 MW) ke sistem Barito. Kuala Kurun dan Pangkalan Bun.149. Total beban sistem Barito sebesar 623 MW dengan Losses 10.1 dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 155.4 MW. Aliran daya dari Kalteng ke Kalsel sebesar 0. Sedangkan perluasan/penambahan jaringan transmisi untuk menghubungkan sistem isolated ke sistem interkoneksi meliputi sub sistem Puruk Cahu. Perluasan transmisi meliputi segmen Kuala Kurun – Kasongan dan PLTA Kusan – Kadongan. Losses yang terjadi pada kondisi ini sebesar : 5. sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 0. Profil tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Trisakti sebesar 144.3 MW (1.8 MW.7 %).6 kV. B1.8 kV.1 %) Aliran daya dari Kalsel ke Kalteng sebesar 50.

5 829.9 3.3 4.1 146.628 Trafo MVA 142 159 244 241 204 181 191 204 221 234 2011-2020 54.8 13.2 67.3 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Selatan.7 17.780 JTR kms 2.098 3.788 130. Kalteng dan Kaltim 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 JTM kms 4.4 146.3 11.623 121.783 4.3 196.6 110.209 6.584 5.1 101.114 134.8 16.166 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 Propinsi Kalsel.9.296 4.5 14.389 113.650 120.239 81.5 10. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : 491 .4 5.4 63.4 71.655 4.4 52.679 109.3 215.1 82.997 4.229 1.022 Tahun Pelanggan 109.161.987 7.5 6. Kalteng dan Kaltim Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 34.037 2.3 6. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur seperti pada Lampiran B1. Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi 2011-2020 Propinsi Kalsel.0 88.6 5.5 77.9 6.1 13.6 72.0 43.4 145.973 5.0 5.4 2011-2020 578.727 5.204 5.4 5.2 177.5 53.6 176.914 4.5 55.8 58.169 46.545 6.0 91.ƒ Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Selatan.6 17.2 64.117 6.7 112.400 111.8 126.2 79.202 5.330 4.4 159.138 3.9 14.040 4.7 74.7 55.609.0 65.0 1.0 6.0 16.6 155.054 129.

609 juta dengan rincian JTM US$ 578 juta.304      75. gardu distribusi dengan kapasitas 2. gardu distribusi US$ 146 juta.875 2013 774 360 30 373 18. tidak selamanya mengalami peningkatan volume/kapasitas yang sama atau lebih tinggi. JTR dan gardu distribusi yang akan dibangun.770 2012 424 190 17 197 9.10 Program Listrik Perdesaan Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel. ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 54.169 kms. tahun 2011 tidak semua daftar tunggu bisa disambung karena keterbatasan kemampuan pasokan. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dilapangan. Kalteng dan Kaltim 2011-2014 Tahun JTM kms JTR kms Trafo MVA Unit Jumlah Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS) 2011 655 313 24 370 29.609        1.16 juta pelanggan. Sebaliknya dengan di Kaltim. dan sambungan pelanggan US$ 55 juta.022 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1. ƒ Rencana JTM. Kebutuhan anggaran per tahun diperkirakan sebesar US$ 160 juta. ƒ Perkiraan biaya total untuk pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan sekitar US$ 1.214           99      1.588            740 492 . JTR 46.037 kms.753 - Total 740        2. JTR US$ 829 juta. Akibatnya tambahan pelanggan baru pada tahun 2012 tidak sebanyak yang akan disambung pada tahun 2011.ƒ Pada tahun 2012 terjadi penurunan jumlah pelanggan yang akan disambung disebabkan sebagian besar daftar tunggu calon pelanggan di Kalselteng diselesaikan di tahun 2011 sehingga pada tahun 2012 calon pelanggan sudah berkurang.190 - 2014 755 351 29 364 17. B1.

609 kms.688 48.3 s/d. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 20112014 diatas. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 64% tahun 2010.053 33.706    1. 493 . gardu distribusi Rp 160 milyar. 4.214 kms.Prakiraan Biaya Jaringan Listrik Perdesaan (Rp Juta) Regional Kalsel.620 60.456 2. menjadi 75. JTR Rp 233 milyar.6% di tahun 2020 untuk regional Kalimantan Selatan.824        233. Kalteng dan Kaltim 2011-2014 Tahun JTM JTR Trafo Total Listrik murah & hemat (RTS) 2011 175.179.398 - 2012 133. ƒ Perkiraan total biaya selama kurun waktu tersebut untuk kegiatan listrik perdesaan sebesar Rp 1.18 triliun dengan rincian JTM Rp 782 miliar. B1. gardu distribusi dengan kapasitas 99 MVA.357 50.990 350.353 26.148          2.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.590 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Selatan. dan sambungan pelanggan Rp 2.822 - Total        782.451        159.7% di tahun 2014 dan 92.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Cukup jelas sebagaimana diuraikan dalam sub Bab 4.6. JTR 1. transmisi dan gardu induk sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1.145 67.472 - 2014 234.557 272.918 69. B1. dapat dijelaskan sebagai berikut : ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 2.12.59 milyar.961 196.198 359. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.142 36.590 2013 239.

L LAMPIRA AN B2 SISTEM INTERK KONEKSII SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERK KONEKSII SULSEL LRABAR 494 .

Rencana Pengembanga P an Penyalura an B2.1. Peta Penge embangan Pe enyaluran B2.5. Proyek-Pro oyek IPP Terk kendala B2.10. Proyeksi Ke ebutuhan Tenaga Listrik Neraca Day ya B2.6.8.2.9. SULAW WESI TENGAH DAN GORONTALO (SUL LUTTENGGO O) DAN SIST TEM INTERKONEKSI SULA AWESI SELA ATAN. Capacity Ba alance Gardu u Induk B2. Analisis Aliran Daya B2.L LAMPIRA AN B2 B2.3. aan Program Listrik Perdesa B2.11. Neraca Ene ergi B2.12. Proyeksi Ke ebutuhan Inv vestasi B2.4.7. ASAN LAMPIIRAN B2 PENJELA 495 . nergi Baru da an Terbaruka an Program En B2. SULA AWESI TENGGAR RA DAN SUL LAWESI BARAT (SULSE ELRABAR) B2. SISTE EM INTERKO ONEKSI SUL LAWESI UTA ARA. stribusi Kebutuhan Fisik Pengembangan Dis B2.

LA AMPIRA AN B2.1 PROYE EKSI KEBU UTUHAN TENAGA A LISTRIK SISTEM INTERK KONEKSII SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERK KONEKSII SULSEL LRABAR 496 .

3 3.1 59.5 23.5 2.8 60.3 2.0 74.0 1.2 60.2 59.6 440 5 440.1 102.070.Load Factor (%) .799.135.0 57.5 1.5 31.1 25.7 373 3 373.3 45.6 56.2 19.8 1.2 64.5 245 8 245.4 61.Load Factor (%) .177.0 62.9 1.6 511.1 59.6 41.2 91.5 123.394.786. 2 497 3 4 5 Sistem 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Sistem Sulut .4 520 3 520.0 82.0 266 5 266.7 2.7 34.9 40.1 62.254.6 2.4 57.0 266 5 266.505.2 40.2 42.Load Factor (%) .9 211.4 278.1 56.2 59.8 94.9 566 6 566.3 3.8 63.0 478 7 478.3 61.6 440 5 440.423.3 61.0 40.Beban Puncak ( MW ) 1.135.0 478 7 478.555.8 61.8 61.8 61.7 Sistem Gorontalo .374.1 1.952.Beban Puncak ( MW ) 1.8 64.7 324.070.Proyeksi y Kebutuhan Tenaga g Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Suluttenggo No 1.5 245 8 245.3 2.Beban Puncak ( MW ) 66.Beban Puncak ( MW ) 257.2 61.4 65.7 137.5 69.9 373.4 229.Produksi ( GWh ) .557.809.6 75.2 151.6 63.5 274.4 194.8 61.7 81.8 61.7 Sistem Sulut-Gtalo-Tolitoli .6 1.0 56.3 344 0 344.2 61.423.4 57.6 Sistem Interkoneksi Sulteng .4 403.9 566 6 566.2 352.952.1 405 5 405.9 38.Load Factor (%) .6 62.3 21.2 60.786.2 57.557.4 289 1 289.7 40.9 100.Beban B b P Puncakk ( MW ) 1.0 346.984.302.3 436.Produksi ( GWh ) .8 1.0 56.1 405 5 405.7 2.6 40.8 60.2 51.6 .9 60.650.4 520 3 520.5 1.3 28.7 56.7 59.7 87.5 1.8 383.0 165.4 55.7 1.0 40.337.3 40.337.2 Sistem Tolitoli-Moutong .8 2.045.6 40.9 61.6 41.4 289 1 289.7 373 3 373.5 111.Load Factor (%) .4 1.2 1.0 1.3 301.1 298.0 253.555.144.302.6 321.9 60.5 2.799.3 418.Produksi ( GWh ) .5 2.Produksi ( GWh ) .9 61.3 344 0 344.0 56.Produksi ( GWh ) .3 65.1 1.5 2.1 1.7 471.

9          63.7 152 7.9 62.275.691.5 1.3 58.0 63.6 86 449.3 6.100.358        1.4          43.950.9          63.0        427.015.3        885.0 63.8     6.0            728 Beban Puncak ((MW)) 498 Sistem Sulsel (Prop Sulsel) Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Sistem Sulsel (Prop Sulbar) Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Sistem Sultra Energi g Produksi ((GWh)) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Interkoneksi SULSELRABAR Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) 2015 2016    6.9        222. SULSELRABAR Sistem Sulsel (Prop Sulsel & Sulbar)     4.3 6.9 2017 2018 2019 2020    9.6 55.5    5.0 55.4        1.847.3 62.7 55.2 128 718.1 726.476.5 57.3 5.5 55.127         1.141.404.4 53.1 63.6    1.2        798.777.885.6     6.619.1         698.017.7          63.1 62.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Sulselrabar SISTEM 2011 2012 2013 2014    4.8 55.092.021        1.6        528.2 64 355.1 1.4 62.1          63.865.5           63.456.8        310.2 541.0          50.2 63.2           833           929     3.491        1.4    7.1 63.3 59.7    4.6        259.2        475.3 59.7 61.1 59.6 9.1        183.6 1.4          35.913.722.3 93 492.0 100 4.8 55.918.0 139 793.2 63.6 63.119.820.541.346.525.5 967.9 1.9 75 409.5 118 653.7    5.6 Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) 63.7 63.212.227.3          63.237        1.778.3 59.387.799    4.9          78.1    9.928.8    1.6           70.6 10.3 54.7    1.7 62.0         152.135.8    1.3 63.166.3           63.2 8.845.6          63.3 63.3 59.1 Wil.9    7.7         345.063.6    5.8 1.7 109 594.2           29.6 1.0    9.5 1.626.391.6    7.0 53.420.1 1.1 59.4 63.4          63.984.6     1.8 .9    1.604.1 300.7          87.5 61.4 8.1    8.8          63.9 56.113.4          97.2 56.5    8.7 55.102.279.4        970.6 5.500.4        108.651.6          63.1        384.7 63.229.639        1.7    5.

2 NERACA DAYA D SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSEL LRABAR 499 .LA AMPIRAN N B2.

MW Grafik Neraca Daya Sistem Sulut-Gorontalo 900 Reserve Margin PLTG PLN PLTG60% PLN PLTA/MPLN 800 68% PLTP PLN PLTG PLN PLTP IPP 58% PLTU IPP 700 64% PLTU PLN PLTU Sewa 600 47% PembangkitIPP &Sewa 64% 57% PembangkitTerpasangPLN 500 Beban Puncak 500 PLTP PLN 69% PLTP IPP 65% PLTU IPP 57% 400 300 PLTU PLN PLTD Sewa 200 PLTU Sewa Pembangkit Terpasang 100 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 500 .

558 61 479 2.786 59 344 1.337 61 441 2.071 62 567 MW MW 314 168 318 172 271 172 209 174 169 166 169 166 149 146 149 146 149 146 149 146 MW MW 3 111 3 111 3 64 - 20 PLTU PLTM PLTU PLTU PLTP 3 - - 3 - 40 3 - - 20 3 3 3 - - - - - - 50 1 50 25 25 20 PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA PLTG PLTG 50 45 40 40 16 25 PLTU PLTU 25 25 25 20 25 PLTP PLTP PLTU PLTU MW % - 3 - 25 20 20 110 12 *) 385 57 439 65 487 69 565 64 586 57 666 64 696 58 806 68 831 60 831 47 .Neraca Daya Sistem Sulut Sulut-Gorontalo Gorontalo Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Factor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang PLN SWASTA IPP SEWA Retired & Mothballed PLTD 501 1 Tambahan Pasokan SEWA Rencana PLTU Sewa Amurang (2x25) PLN On-Going Project Mini Hydro 20 kV Sulut II (FTP1) Gorontalo ((FTP1)) Lahendong IV Rencana Sulut I (FTP1) Tolitoli (3x15 MW) Kotamobagu I (FTP2) Kotamobagu II (FTP2) Sawangan Minahasa GT (Peaking) Gorontalo GT (Peaking) IPP On-Going Project Molotabu (2x10 MW) Sulut I (Kema) Rencana Lahendong V (FTP2) Lahendong VI (FTP2) Sulut (PPP) Gorontalo.555 61 289 1.303 61 246 1. 2x6 MW (Terkendala) Jumlah Pasokan (Terpasang) Reserve Margin (Terpasang) Unit GWh % MW 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 1.952 60 373 2.800 61 520 3.423 61 267 1.136 60 405 2.

MW Grafik Neraca Daya Sistem Sulsel Reserve Margin 3.000 PLTU PLN 11% PLTU IPP 500 Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa Pembangkit g Terpasang p g 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 .500 PLTA IPP  PLTU PLN   PLTGU IPP PLTU IPP  63% PLTU Sewa 2.500 PLTA IPP 56% 1.000 PLTG PLN  PLTGU IPP  53% 61% PLTM (PLN+IPP)  PLTA PLN  2.000 Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN 502 Beban Puncak 70% 62% 52% 49% PLTA PLN PLTG PLN 61% PLTGU IPP 1.

2 1.2 1.Neraca Daya Sistem Sulsel No.639 9.237 7.799 MW MW MW MW 786 254 257 275 81 786 254 257 275 - 530 213 197 120 41 401 146 135 120 67 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 100 50 100 100 150 100 150 126 PLTU PLTU PLTM 240 100 8 PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU PLTA PLTA PLTG PLTGU PLTA PLTM PLTU 100 50 117 60 10 PLTA PLTA PLTU PLTU PLTM MW % 130 5.2 1.0 200 (60) 180 7.358 8.1 833 5.3 1.846 63.577 70 100 50 100 1.021 6.525 63.018 63 2.Barru (FTP1) Mini hydro 20 kV Rencana Sulsel Baru Makassar (Peaking) Takalar (FTP2) S l l-B Sulsel Barru (Ek (Ekspansi) i) Sulsel-2 Bakaru II PLTA Poko IPP On-going Project Sengkang Sengkang Poso (Transfer ke Selatan) Mini hydro 20 kV Sulsel-1 / Jeneponto Bosowa Rencana Bonto Batu (Buttu Batu 1) Malea Mamuju (FTP2) Sulsel-3 (Takalar) Mini hydro 20 kV 4 5 Jumlah Pasokan Reserve Margin Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 4.127 6.0 728 4.275 63.644 61 2.652 63. 1 2 3 Kebutuhan dan Pasokan 503 Kebutuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Pasokan Kapasitas Daya Terpasang PLN IPP Sewa Mesin Retired & Mothballed Tambahan Kapasitas SEWA Rencana PLTU Sewa Barru 2x(120-150) PLN On-going Project Sulsel .491 9.985 63.018 49 2.605 63.828 62 2.4 1.5 100 90 806 11 3 11 1.136 63.761 53 .268 52 2.648 61 1.230 63.4 1.018 63.1 929 5.102 63.304 56 1.1 1.

L LAMPIRA AN B2.3 PROY YEK-PROY YEK IPP YANG Y TER RKENDAL LA SIST TEM INTERKONEK KSI SULUT TTENGGO O DAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULSE ELRABAR R 504 .

505 .. • Kate egori 1.B2. Tahap p pendanaan IP PP yang sudah memiliki PPTL L. • PLT TU Tawaeli 2x13. • Kate egori 2.3 Proyek--Proyek IPP Ya ang Terkendalla Dalam perenccanaan pemban ngkit IPP. Kateg gori PPTL terke endala adalah. teta api belum menccapai Financial Closing (FC). Kate egori 3. ada beberapa proyyek pembangkkit IPP yang Perrjanjian Pembe elian Tenaga Listrik L (PPTL) nya mengalam mi kendala. K Beberapa pro oyek kategori 2 sudah dalam tahap konstruksi da an diharapkan tah hun 2012/2013 sudah beroperasi. tahap pembangunan/konstruksi dim mana IPP suda ah men ncapai Financia al Closing (FC) tapi belum me encapai COD. tahap p operasi adalah tahap dima ana IPP suda ah men ncapai COD.5 MW masukk dalam katego ori 1 • PLT TA Poso 3x65 MW M masuk dala am kategori 2 • PLT TU Jeneponto 2x100 2 MW massuk dalam kate egori 2 • PLT TA Manippi 1x10 MW masuk dalam d kategori 2 • PLT TU Gorontalo 2x6 MW masuk dalam kategorri 2 • PLT TU Molotabu 2xx10 MW masukk dalam katego ori 2 Saat ini penyyelesaian IPP terkendala tersebut sedang g diproses oleh Komite Direktu ur untuk IPP da an Kerjasama Kemitraan. • Pembangkit IP PP yang terkendala di sistem Sulawesi S adala ah.

LA AMPIRAN N B2.4 N NERACA E ENERGI SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULUTTENGGO O DAN N SISTEM INTE ERKONEK KSI SULS SELRABAR 506 .

106 116 0 1.272 2.209 1.556 1.337 2.230 6.157 408 902 78 0 1.558 2.205 1.196 2.102 9.373 117 0 1.518 2.187 2.136 2.207 2.528 3.071 507 Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulselrabar Jenis 2011 Batubara 133 Gas 2012 (GWh) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 684 1.934 2.891 2.197 2.985 .189 1.200 2.164 414 1.886 2. H d Hydro 99 Jumlah 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 (GWh) 2020 295 157 430 322 378 154 139 430 322 578 39 84 103 430 322 866 38 7 514 322 823 39 0 644 385 564 39 0 1.018 4.272 Jumlah 4. - - - - - - - - - - Hydro 591 1.114 1.068 1.164 416 1.605 5.954 4.164 414 1.198 2.628 2.525 8.Gorontalo Jenis 2011 Batubara Gas LNG HSD MFO Geot.860 3.423 1.201 1.201 LNG - - 238 226 213 223 235 239 239 398 HSD 259 120 29 14 - - - - - - MFO 1.136 5.555 1.275 9.393 5.652 6.747 1.514 1.563 1.303 1.Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulut .073 401 93 - - - - - - Geot.846 7.194 2.800 3.521 1.136 398 695 78 1.

399 8.586 1.136 1.953 1.514 1.207 2.201 LNG - - 277 264 252 262 313 317 355 515 HSD 554 274 113 20 0 0 0 0 0 MFO 1.056 .157 1.688 7.691 - 2018 - 2019 2020 - - - - - 644 1.451 3.200 2.164 1.320 6.212 505 93 Geot.300 2.196 2.527 Jumlah 5.902 13.687 2.646 2. 430 430 430 514 Hydro 913 1.518 2.856 5.971 2.424 4.198 2.487 Gas 1.187 2.Proyeksi Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sulut-Gorontalo dan Sistem Sulselrabar (GWh) 508 Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Batubara 232 1.164 1.120 8.678 1.531 1.222 4.833 11.194 2.801 3.164 1.511 1.197 2.863 10.982 9.028 6.499 6.063 1.

713 1.575 2.863 2.261 1.861 3.P Proyeksi k iK Kebutuhan b t h E Energii P Primer i Si Sistem t S Sulut l t . Geot - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - 509 Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulselrabar Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 88 454 bcf 13 13 Gas LNG - 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 698 1.Gorontalo G t l Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 79 303 465 700 664 456 561 714 800 999 - - - - - - - - - - - - Gas bcf LNG 2013 2014 2015 2016 0 0 0 0 4 0 0 HSD 10^3 kl 168 88 48 MFO 10^3 kl 40 35 26 2017 2018 1 - 2019 2020 1 1 1 0 0 0 - - - - - - - Geot.297 2. - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - .335 17 17 17 17 17 17 17 17 3 3 3 3 3 3 3 5 - 2020 HSD 10^3 kl 72 33 10 4 - - - - - - MFO 10^3 kl 387 273 102 24 - - - - - - Geot Geot.

376 2.858 3.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulut – Gorontalo dan Sistem Sulselrabar Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 167 bcf 13 Gas LNG 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 756 1.289 3.163 1. Geot - - - Hydro - - - 2020 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - .662 4.319 2.334 13 17 17 17 17 17 17 17 17 3 3 3 3 4 4 4 6 0 0 - 0 0 0 - - 510 HSD 10^3 kl 240 121 57 8 MFO 10^3 kl 427 308 128 24 Geot.960 2.

5 CA APACITY BALANC CE GARDU U INDUK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULUT TTENGGO O DAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULSE ELRABAR R 511 .LAM MPIRAN B2.

beban GI Daya sebagian diambil GI Maros 2005 : ex Pnk 70/20 2 20 40 (2012 .5 27.3 32.8 26.7 31% 35% 40% 45% 51% 58% 65% .6 29.beban GI Mandai sebagian diambil GI KIMA 30.9 35.5 38. (2012 .9 35.9 35.1 35.8 14.7 39.2 30 12.0 30.relok dr Bontoala) 23.beban GI Daya sebagian diambil GI Daya Baru & GI Maros 2019-sebagian GI KIMA 32.1 49.4 66% 38% 30 (APLN 2018) 21.4 21.3 38.5 25.9 35.4 60 42% 5 (APLN 2018) 60 46.2 69% 53% 20 Daya 2015 .3 15.7 19.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.2 37% Mandai 512 70/20 1 5 - 70/20 1 2.8 33.5 27.4 21.5 42% 46% 51% 55% 60% 64% 35% 60 38.6 19.5 23.0 32.6 33% -10 40% 27% (2011 .3 95% 64% -20 22% 24% 27% 30% 33% 36% 39% 36% 23.1 30.3 30 10.9 17.9 47% 52% 58% 63% 70% 38% 20 MVA stand by-dibatasi trafo bay 4 Daya Baru 2013 150/20 1 60 - (APLN 2012) - 21.ke Nii Tanasa) 60 23.4 32.relok 10 MVA .5 - 1996 : ex Pnkng 1 20 20 2005 : ex Pnkng 1 20 20 40 3.3 23.8 28.6 34.20 MVA .3 20.9 59% 64% 65% 70% 70% 70% 70% 70% 2013 . (APLN 2011) 16.4 35.9 46% Maros 2011 70/20 1 10 150/20 1 30 Add Trans 10 Jalur Tengah g ((APLN 2012)) 10 8.9 35. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size Add Peak Trans (MVA) (MVA) 2013 2012 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans 2020 Add Peak Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 1 Pangkep 70/20 1 20 150/20 1 30 st 30 30 2.relok 30 MVA dr Bontoala) 40 2014 .1 44.

No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans (MVA) (MVA) 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans 2016 Add Peak Trans 2017 Add Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 6 KIMA Makassar 2015 150/20 1 60 - (APLN 2014) 7.relok 20 MVA ke Borongloe) 70 52 61 67 75 83 91 100 109 118 129 118.5 60 86.2 87.8 99.2 62.7 30.0 87.2 56% 61% 63% 68% 59% -30 64% 68% 68% (2017 .6 82.7 60 15% 8.20 kV disuplai PLTD Sewatama Tello 8 (APLN 2016) 42.8 96.8 51.6 63.8 75.5 42% -30 48% 53% 58% 63% 68% 49% 2020-sebagian 60 81.4 78.ke Majene) 9 Bontoala (2012 .beban GI Tallo Lama sebagian diambil GI KIMA 1995 150/20 2 30 60 60 (APLN 2011) 44.7 60 115.relok 30 MVA .5 60 59% 67.8 115.9 64.3 87.beban GI Panakukang sebagian diambil 60 60 (APLN 2012) 60.ke Makale) (2018 .4 60 49.ke Sinjai) .8 115.6 60 47% 60.relok 30 MVA .8 69.3 75.relok 20 MVA ke Mandai) 1995 70/20 2 20 40 (2012 .ke Palopo) Tallo Lama 2015 .0 15.KIMA ambil sebagian beban Mandai & Tallo Lama 7 Tello 1992 30/20 1 20 - 2004 150/20 1 30 30 30 513 s.8 115.d 2010 .relok 30 MVA .6 58% 63% GIS Bontoala-II 2011 150/20 1 60 (APLN 2014) - 51.3 53% 57% 56% (2011.6 59% 65% 53% 60 70 kV masih dipertahankan 10 Panakukang 1995 2005 70/20 2 20 70/20 1 20 2 30 150/20 2018 .2 105.5 74.relok 30 MVA ke Daya) 70/20 1 30 30 (2012 .1 60 81.relok 30 MVA .4 69.0 58.5 16% 24% 31% 39% 60% 2015 .9 88% 51% (APLN 2016) 60 2020-beban GI 57.3 12.0 59% 60 (APLN 2015) 70.8 19.5 108.0 54.8 69% 62% -30 68% 75% 69% -30 76% 76% 76% 76% (2013 .2 128.4 86.8 66% 73% 54% 60 (APLN 2017) 90.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.

6 62.2 37% 44% 49% 54% 61% 67% 74% 49% 60 68..4 36.9 49..7 27.1 21.6 29.8 56.2 42.6 31.1 25.9 94% 54% 59% 64% 70% 43% 30 46% 50% 53% 57% 23.7 53% 47% Borongloe 2006 70/20 1 10 70/20 1 20 st 2023 .7 33.2 32.Beban G 150/20 1 30 30 30 514 13 28.4 41.ke .3 37.relok 20 MVA dr Bontoala) 20 (APLN 2015) 15.8 25.3 60 45.2 35..8 23.0 30.3 38.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.Ta 12 Tanjung Bunga 2006 2020 .8 42.relok 16 MVA .Beban G 20 20 14 (APLN 2017) (2012 . No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size (MVA) Add Peak Trans (MVA) 2013 2012 Add Peak Trans Add 2014 Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans 2017 Add Peak Trans Add 2018 Peak Trans 2019 Add Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 11 Panakukang Baru / Antang 2018 150/20 (APLN 2017) 1 60 10.6 57.8 38% 42% 46% 51% 55% 60% 65% 70% 45% 60 .6 41% 45% 50% 55% 60% 65% 70% 45% -16 49% Tallasa 1996 150/20 1 16 16 2000 150/20 1 20 20 36 (APLN 2018) 19.4 43% 55% 60 Ambil sebagian beban Panakukang .Tello . 15 Sungguminasa 1998 150/20 1 30 30 30 (APLN 2019) 25.2 33.3 45.1 33% 60 29.9 18.3 20.2 59.9 30 35% (2019 . .3 39.7 33.3 56.4 51.5 28.6 46.7 53.6 60 21% (APLN 2019) 21.

0 34% 39% 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 31% 30 Barru 150/20 2 5 10 10 30 515 Pinrang Branch 1 Bakaru 150/20 1 20 20 20 2 (APLN 2019) 30 Pinrang 1 5 st diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 150/20 1 16 16 150/20 1 20 20 36 (APBN 2012) 19.7 7.0 30.6 12.9 45. (APLN 2019) 13.2 12.5 33.9 23.4 17.7 8.3 14.0 8.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.2 36.4 11.4 22.relok 16 M .0 38.0 28.3 8.0 26.1 30 50% 54% 59% 64% 69% 75% 66% -16 2019.8 30.6 10. SUBSTATION No 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MVA)(MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Pare .8 11.2 10.2 24. Pare-pare 150/20 1 16 16 16 2.2 30 15.Pare Branch 1.8 9.1 34% 39% 43% 47% 52% 57% 61% 66% 72% 47% 6.6 7.7 6.0 10.9 41.1 13.0 25.0 18.2 79% 23% 25% 27% 29% 32% 34% 37% 39% 42% 5.5 13.6 20.5 9.4 65% 75% 45% 30 (APBN 2019) 27.

5 17.5 12.1 33.6 9.8 14.3 22 7 22.relok 20 MVA .6 13 3 13.5 68% 78% 34% 30 Bone / Watampone Sebagian beban GI Bone diam 1995 150/20 1 20 20 2000 150/20 1 20 20 40 (APBN 2017) 23.98 38.7 10.9 10.4 13.7 8.) .3 23.9 9. SUBSTATION No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MVA)(MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Mamuju Branch 1 Polmas 2000 diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 150/20 1 20 20 20 2 150/20 1 20 13..1 36.2 51% 58% 64% 28% 30% 33% 35% 37% 40% 43% 15 8 15.7 43.8 12.7 24 2 24.4 39.8 11.9 15.8 22.2 46.9 21 3 21.9 17.3 46% 51% 56% 61% 67% 73% 55% -20 20 56% 56% (2018 . Soppeng 1995 150/20 1 20 20 diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 2000 150/20 1 20 20 150/20 1 -20 -20 2008.2 30.8 13.2 37% 40% 43% 47% 50% 53% 57% 20 20 516 12.3 16.8 25.3 20.0 Majene 2000 3 (APBN 2012) (2017 -30 MVA -relok dari Tallo Lama) 30 14.3 45% 52% 57% 62% 68% 73% 31% 8.4 71% 81% 36% 30 39% 42% 45% 49% 52% 56% 60% 7.ke .6 11.84 30 37.0 18.1 unit ke 20 2.4 39% 30 27.3 34% 36% 38% Mamuju 2009 150/20 1 20 20 20 (APBN 2013) 30 Watampone Branch 1. (APBN 2012) 11 6 11.9 19..3 14 5 14.8 17 2 17.2 18 5 18.3 15.8 15.5 19 9 19.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.2 16.

4 33 6 33.0 25.1 22 9 22.6 36 0 36.9 27.9 34.9 37% 30 30 34.2 22.0 30.2 25.0 29.1 22.8 22.0 45% 50% 54% 59% 64% 69% 46% 49% 53% 19.6 29.6 27.4 30 41% 4 24.2 55% 59% (APBN 2018) 150/20 1 30 - 19.3 40.3 20.6 77% 48% 30 Sengkang 1999 2002 (rusak th. Sidrap 1995 150/20 1 20 20 20 (APBN 2017) 17.6 30 39% 2 Sinjai 2007 150/20 1 20 20 20 2018 -30 MVA .3 21.7 29.1 20.6 21. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak 2019 Add Trans Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Watampone Branch 3.4 31.3 20.5 48% 53% 58% 64% 69% 75% 51% 30 37.relok dr Panakukang 16.5 24.5 27. Bulukumba 2006 150/20 1 20 20 20 (APBN 2017) 16 6 16.3 23.8 18.6 19.6 30 39% 3 30 30 27.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.0 24.1 32.6 51% .dr Tanjun 15.1 29 2 29.6 30 (APBN 2019) 24.9 25 0 25.0 30 (APBN 2017) 30 Bulukumba Branch 1.5 16.2 21 1 21.1 41% 43% Jeneponto 2006 150/20 1 20 20 20 2019 -relok 30 MVA .6 51% 56% 61% 66% 71% 38% 41% 44% 19 2 19.2 150/20 1 16 150/20 1 30 - 1 20 20 2008-dari sopeng - 517 20 17.9 28.2 19.2 45% 50% 55% 60% 65% 70% 47% 18.0 27 1 27.1 17.7 47% 41% 45% 49% 53% 57% 61% 65% 70% 14.2 15.7 29.2 31 4 31.4 Kajuara 2019 5 20.4 30 41% 6 22.2 25.3 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 47% Siwa / Keera 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 13.9 32.

6 16.Batu) 2016 150/20 1 30 - (APBN 2015) - 7.1 37% 41% 26% 29% 31% 33% 35% 8.9 13.3 30 36% 5 30 10. (2013 .Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.30 MVA .4 39.2 11.4 13.7 45% 30 (APBN 2019) 31.5 29% 4 Wotu 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) 9.2 12.2 19.0 32% 34% 37% 39% Enrekang (SY PLTA B.7 60 52% 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 49% -20 2020 -relok 20 M 2.1 14.3 11.2 15.3 14.4 45.8 40% 44% 48% 52% 56% 61% 66% 11.1 8.9 33.4 15. Palopo 2006 (2013-sebagian beban diambil GI Siwa) 150/20 2 20 40 (2011 -Relok 30 MVA -dari Tello) 40 26. Makale 2006 150/20 1 20 20 20 518 8 3.1 14.4 10.2 12.5 16.7 47% 51% 56% 61% 66% 71% 39% Malili 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) 10.2 13.6 36.0 25.8 42% 30 (APBN 2019) 30 .0 15.8 18.8 17.relok dr Panakukang) 11.1 13. No SUBSTATION 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans 2017 Add Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans ((MVA)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) Palopo Branch 1.1 30.3 42.5 67% 77% 34% 30 beban Makale sebagian diambil Enrekang 15.1 14.7 28.7 9.

0 30 ((APBN 2018)) 60.6 11.9 31.2 (APBN 2012) - 4 14.2 42% 5.7 8.0 50.5 7.0 30.8 21% 31% 53% 30.6 50.4 18.6 13.0 60 (APBN 2019) 60 .6 28.9 19.1 56.70/20 .5 17.0 17.0 6.8 58% 63% 68% 74% 48% 40% Kendari-150 kv 2013 150/20 1 30 30 (APBN 2012) 35.9 52.30 MVA .2 47. Kendari150)) 54.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.operasi p GI lain di Sistem Kendari ((Unaaha.2 30 48% 2 150/20 1 30 - 5.7 16.9 40.3 2013/14 ..6 6.1 22% 24% 26% 28% 30% 33% 36% 22.20 kV disuplai PLTD (30 MW) 30 (APBN 2014) 37.7 24.0 44.6 14.9 18% 42% 46% 49% 53% 58% 63% 68% 37% 30 20.3 9.5 34.1 7.21 30 519 20% 16.Mandonga 70/20 1 30 30 2013 . Kolaka 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 12.20 kV disuplai PLTD (77 MW) 5 15.3 44% 48% 52% 57% 62% 67% Unaha 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) (APBN 2013) 19.5 51% 55% 60% 65% 70% 38% 30 21.5 26.7 2011/12 .0 Lasusua 2013 3 (APBN 2018) 13.6 30 77% Kendari 2011-Mandon 21.8 12.0 41% 30 2011 . No SUBSTATION 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans 2016 Add Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Kendari Branch 1.7 61.

5 12.02 1.249 1.0 70 7.3 53 5.3 20 kV di disuplai l i PLTD & PLTM (7 MW) 30 (APBN 2015) 30 Big Consumer 1.5 14.relok dari Maros 70 kV 2011-relok dr M 70/20 1 10 10 (APBN 2014) 9.6 20.0 32.7 15.02 1.3 53 5.02 1.0 39.0 70 7.3 53 5.460 1.380 150 1.0 32.0 10 Semen Bosowa 150/20 TOTAL PEAK KONSUMEN BESAR (MW) 76 TOTAL PEAK LOAD 1 (MW) 389 330 454 250 504 180 555 - 614 120 671 90 733 120 797 180 865 180 938 150 TOTAL PEAK LOAD 2 (MW) 211 210 244 - 289 210 315 30 345 - 375 30 405 30 437 150 470 60 505 180 TOTAL PEAK LOAD 3 (MW) 64 50 71 - 122 180 131 30 141 80 153 30 166 - 180 - 196 60 214 60 TOTAL SYSTEM PEAK LOAD (MW) 740 590 846 250 992 570 1.3 53 5.02 1.0 32.153 1.6 63% 69% 74% 40% 14.10 MVA .0 36% 8 20 Bau-Bau 520 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 17.7 11.3 90 32.607 300 1.9 20.7 11.6 30.574 1.6 23.7 20 57% 7 10.02 1. 2 3 Tonasa III & IV 150/20 3 32 150/30/20 1 20 2 45 Barawaja 95 39.0 32.733 390 SCENARIO NORMAL (MW) ANNUAL DIVERSITY FACTOR 849 76 76 76 76 76 76 76 76 76 727 831 970 1.0 39.3 53 5.02 1.10 MVA .0 32.8 12.0 17.177 200 1.3 53 5.9 10.0 39.0 39.3 53 5.0 39.5 13.0 32.0 20 53 5. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans 2016 Add Peak Trans 2017 Add Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Kendari Branch 6 Nii Tanasa 2011 .0 32.4 25.6 13.02 1.3 30 9.3 53 5.3 53 5.02 1.490 330 1.0 39.02 .baru (SY PLTU Nii Tanasa) 2011-PLTU N 70/20 1 10 10 2011 .352 1.0 39.0 32.0 39.4 18.697 1.0 41% 45% 51% 42% 46% 50% 54% 59% 70 7.0 32.275 150 1.0 39.4 27.7 16.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.02 1.056 1.0 21.078 60 1.6 43% 47% 51% 56% 61% Raha 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 9.9 39% 42% 45% 49% 53% 57% 62% 18.

33 41% 43% 44% 46% 47% 49% 51% 32.86 27 79 27.95 66% 72% 78% 84% 52.00 9.14 36.00 9.02 18.34 10.12 30.18 7.33 95% 6 GI Teling 150 kV (GIS) 150/20 1 0 .24 10.20 39% 43% 47% 51% 55% 28.45 41.09 26.79 Beban dialihkan ke GI Kema serta antisipasi GI Kema terlambat ( Catatan : PLTU Amurang 2 x 25 MW dan PLTP Lahendong IV 20 MW dan - 16.79 14.78 11.64 26.24 11.47 17.72 88% 23% 25% 28% 31% 34% 37% 41% 45% 49% 5.00 57.62 9.90 20 20 - 17.36 46.Beban Puncak ( MW ) 50 - Mengantisipasi COD GIS Teling terlambat up grade trafo dari 10 MVA menjadi 20 MVA - 45 33 45.78 521 8.36 51% 56% 61% 67% 74% 81% 81% 81% (Relokasi dari GI Teling 10 MVA) - 8.76 20.67 34.09 25 96 25.39 22.00 67% 77% 88% 50% 12.63 10.73 94% 49% 51% 53% 54% 57% 59% 62% 64% 67% 20 20 Sebagian Beban dialihkan ke GI Paniki (Beban Ranomuut 8 28.71 12.Beban Puncak ( MW ) 70/20 2 10 22 20 10.20 12.83 38.62 14.18 46.58 13.20 10 00 22.00 36% .89 11.16 24.55 24 24 24. Jumlah Unit Total Add Peak Sistem Size Trafo 2012 2013 2014 2015 Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo 2016 Peak 2017 2018 2019 2020 Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 1 GI Ranomut 70/20 3 20 .15 46.51 10.00 21.Beban Puncak ( MW ) Sebagian beban dialihkan ke GI Paniki - 31.79 29 33 29.98 10.04 8.94 7.99 30.74 15.Beban Sewa Genset (MW) 4 GI Tonsealama 70/20 1 10 .Beban Puncak ( MW ) 5 GI Teling 10 10 70/20 1 10 10 1 20 20 1 20 20 .36 46.97 23 55 23.Capacity p y Balance GI Sistem Sulutenggo gg Kapasitas Trafo No.40 30.07 15.60 8.05 9.57 11.17 78% 46% 10 10 .00 9.96 26 86 26.Beban Puncak ( MW ) 2 GI Sawangan 60 70/20 1 10 .Beban Puncak ( MW ) 3 GI Bitung 60 70/20 1 20 44.93 9.Beban Puncak ( MW ) 7 GI Tomohon . GARDU INDUK 2011 Teg.73 20.62 12.25 30.24 25 09 25.32 42.38 56% 64% 72% 81% 61% 68% 18.58 62% 76% 80% 85% 45% 48% 51% 54% 57% 61% .00 22.87 22 87 39% 0 Beban dr GI Teling 70 kV 0 18.27 10.61 10.84 40% 24.

70 25.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas Trafo No.00 19.Beban B b P Puncak k ( MW ) 10 GI Tasik Ria 70/20 1 20 1 20 .00 22.63 462.31 13.81 23.Beban Puncak ( MW ) - - 20 70/20 1 20 522 .31 6.02 60.00 45% 42.97 23.00 13.0 1.90 6.22 72% 20 .0 268.36 9.46 245.00 0 150/20 18.47 30.83 20 72 20.0 1.Beban Pembangkit Kota (MW) 12 GI Likupang 13.39 320.24 11.0 0.60 8.47 292.02 408.19 12.30 35% 41% 45% 50% 55% 60% 67% 74% 82% 85% 11.68 56% 61% 67% 10.03 344.Beban Puncak ( MW ) 1 0 0.03 0.74 34.23 28.00 23.62 12.89 0 0 TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 1.00 247.26 4.12 17 GI Molibagu 0 150/20 .0 1.00 10.34 291.44 61% 68% 77% 86% 27.10 18 83 18.00 4.41 30.25 56% 6.54 14.37 28 07 28.88 24.00 0.00 30.52 17 10 17. GARDU INDUK Teg.28 30.06 0.0 0.93 25 37 25.79 4.86 31.19 20.02 30.25 5.05 38.Beban Puncak ( MW ) 11 GI Otam 20 0 28.46 59% 65% 71% 78% 86% 38% 42% 46% 50% 60% 10.71 6.00 0.23 20 00 15 52 15.69 8.75 0% 0% 0% 24% 25% 27% 29% 31% 33% 36% TOTAL BEBAN GARDU INDUK 222.00 51% 42.92 50% 55% 61% 67% 74% 38.04 0.00 5.0 1.00 3.65 11.6 267.99 28.54 422.04 120.01 4.18 3.62 40% 43% 46% 50% 54% 58% 13 23 20.02 445.60 317.0 1.85 86% 0 0 150/20 16.82 5.76 375.47 30.00 52.00 61.94 30.56 30.35 80% 20 20 150/20 15.57 3.00 3.95 50% 5.85 30.46 9.51 5.00 90.00 5.01 40.90 TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM 209.05 32 30 32.0 1.Beban Puncak ( MW ) 15 GI Bintauna 1 0 .0 0.11 11.48 30.00 4.78 28% 30% 18.28 6.57 30.00 25.26 12.48 225.Beban Puncak ( MW ) 16 GI Paniki 1 0 .38 19.00 26.51 21.00 10.35 37% 0.82 21.36 6.58 27.00 48% 54% 60% 38.Beban Puncak ( MW ) 17.50 20.44 227.00 10.08 80% 45% 50% 55% 61% 68% 76% 61% 72% 0.43 31.90 43.15 5.51 4.24 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% 53% 59% 64% 0.78 32% 33% 35% 38% 40% 42% 45% 47% 50% 0 0 0 150/20 20.38 33% 37% 40% 45% 49% 54% 59% 65% 17.89 16.99 7.71 385.0 .35 30.07 31 05 31. Teg Sistem Jumlah Unit Total Add Size 2011 Peak Trafo 2012 Add Peak Trafo Add 2013 Peak Trafo Add 2014 Peak Trafo 2015 Add Peak Trafo 2016 Add Peak Trafo 2017 Add Peak Trafo 2018 Add Peak Trafo 2019 Add Peak Trafo Add 2020 Peak Trafo Add Trafo (MVA) (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Kawangkoan 150/20 1 20 .99 70.74 351.75 20 20 150/20 - 20 20 .13 12.91 7.19 10.37 3.Beban Puncak ( MW ) 14 GI Lolak 1 0 .79 34.00 21.0 1.99 110.30 10.Beban Puncak ( MW ) 13 GI Kema - 1 0 .Beban Puncak ( MW ) 9 GI Lopana 20 150/20 1 20 .51 35.72 22 93 22.

32 0 0 150/20 8 68 8.03 33% .50 7.71 13 98 13.Beban Puncak ( MW ) 4 GI Poso 25.88 6.12 30.46 0 0 0.44 80% 0 0 .74 24% 54% 60% 66% 72% 80% 22% 24% 26% 0.Beban Puncak ( MW ) 6 GI Ampana 29.00 26.08 44.00 0.55 10 50 10.0 32% 35% 39% 0.00 0.00 15 38 30. Jumlah Unit Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Sistem Unit Size Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 1 GI Talise 70/20 1 30 30 1 10 10 .47 37% 40% 44% 48.4 50% 55% 61% 67% 74% 52.23 16.2 30. GARDU INDUK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Teg.86 9.96 27% 54% 60% 66% 72% 80% 44% 48% 53% 0.00 5.0 6.Beban Puncak ( MW ) 32.05 6.37 57% 62% 16 9 16.10 47.68 0 0 .00 15.50 11 55 11.00 0.67 150/20 1 0 1 0 9 55 9.61 20 47 20.38 30.00 0.00 0.08 30.00 Pembangkit Silae PLTD Silae 2 GI Parigi ((catatan : Sebagian g Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Transmisi)) 0.00 33.00 5.00 15.5 30.17 29% 20.00 5.00 36.50 18.49 30.00 30% 20.Beban Puncak ( MW ) 523 3 GI Silae 70/20 2 0 150/20 1 0 150/20 1 0 .00 57.Beban Puncak ( MW ) 40 70/20 1 20 .00 0.55 12 71 12.23 10.00 0.50 6.98 47% 52% 57% 63% 69% 76% 0.00 24.00 2.00 59% 64% 71% 0.34 58.Beban Puncak ( MW ) 5 GI Tentena 29.43 40.00 0.00 35.62 43.08 80% 60% 66% 73% 80% 7.97 21.66 7.15 30.9 18 61 18.60 50.18 80% 0 0 .Beban Puncak ( MW ) 7 GI Kolonedale 39.15 19.00 53.44 70% 20 20 .00 8.05 30.00 0.00 0.32 8.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas Trafo No.57 29.00 0.38 30 00 33% (catatan : Sebagian Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Transmisi) 22.00 5.00 5.

5 171.32 8.8 189.7 65% 77% 60% 66% 73% 80% 59% 64% 71% 0.00 20.08 44.3 58.21 0.80 30.00 8.00 17.20 10.86 18% 20% 22% 24% 27% 29% 32% 15.Beban Puncak ( MW ) 12 GI Siboa 150/20 1 .07 14.05 50.43 0.2 180.50 6.00 0.5 103.6 283.00 16.0 1.0 .00 0. Jumlah Unit Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Sistem Unit Size Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Palu Baru 150/20 1 0 .1 126.0 0.00 0.39 19.Beban Puncak ( MW ) 9 GI Leok 0 150/20 1 .36 9.82 30.0 1.49 30.86 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% 10.13 39% 43% 47% 52% 57% 63% 69% 7.05 8.00 30.81 17.5 155.Beban Puncak ( MW ) 10 GI Toli-Toli Toli Toli 150/20 1 .88 0.3 302.37 15.05 6.0 1.00 0.00 5.00 0.3 66.Beban Puncak ( MW ) 14 GI Moilong 0 150/20 .6 218.05 8.00 48.66 7.5 308.00 0.Beban Puncak ( MW ) 13 GI Luwuk 150/20 1 .00 36.05 8.86 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR TOTAL BEBAN GARDU INDUK TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 34.50 18.00 0.8 333. GARDU INDUK 2011 2012 2013 2014 2015 2017 2016 2018 2019 2020 Teg.00 21.0 0.57 54% 60% 66% 72% 80% 44% 48% 5.08 50.47 0.0 26.97 21.05 6.50 6.0 1.0 232.00 20.00 40.6 198.13 12.07 120.00 0.66 7.7 270.15 19.16 30.05 90.5 245.0 1.9 0.04 0.66 7.00 0.Beban Puncak ( MW ) 1 0 0 20 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 20 0 0 0 30 0 dari Sebagian GI Talise 0.12 11.0 1.00 0.32 8.12 30.3 256.06 0.6 210.0 1.66 70.00 11.00 5.00 0.00 0.24 13.05 6.00 33.00 13.27 0.08 53.96 24.00 30.Beban Puncak ( MW ) 524 11 GI Moutong 150/20 1 .60 30.05 30.8 140.00 0.00 0.50 6.46 28% 30% 33% 37% 40% 44% 49% 5.00 5.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas K it Trafo No.32 8.00 5.

LAM MPIRAN B2.6 RENCA ANA PENG GEMBANGAN PEN NYALURA AN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTTENGGO O DAN SISTEM INTER RKONEKS SI SULSE ELRABAR 525 .

8 MVA Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 270 90 360 60 400 63 490 183 150/20 kV 60 610 70/20 kV 80 30 30 750 760 673 500/275 kV 275/150 kV 150/70 kV Jumlah 590 590 150 390 140 420 30 60 20 20 180 450 160 440 460 460 290 3940 20 290 310 4773 .8 488 1417 24 62 14 1030.8 101 255 112 308 524 380 170 6693.8 1032 1431 T/L 70 kV 526 Jumlah 482 1451 254 112 308 524 380 170 1 1451 6110 8 6110.Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Sulawesi Kms Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah - - - - - - - - - - - T/L 500 kV T/L 275 kV T/L 150 kV 482 1006 8 1006.

87 2013 Planned Unall Tentena (PLTA Poso) Sulteng PLTU Tawaeli Expansion Sulteng PLTMG Cendana Pura Luwuk 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 16 1. ACSR 1 x 240 mm2 164 14.45 2012 Commited APBN Sulteng Palu Baru Talise 70 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 238 21. ACSR 1 x 240 mm2 14 1.18 2012 Commited APLN Sulteng Palu Baru Silae 150 kV 2 cct. Zebra.22 2014 Planned Unall Sulteng Toli-toli Siboa 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 248 22.76 2011 Selesai Gorontalo PLTU Gorontalo Energi (IPP) Botupingge 150 kV 2 cct.07 2017 Planned Unall Sulteng Bunta Luwuk 150 kV 2 cct.13 2020 Planned Unall Sulut PLTU Sulut II (Pepres) Lopana 150 kV 2 cct.12 2012 Commited APLN Sulteng Poso Palu Baru 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 30 1. ACSR 1 x 240 mm2 170 15.87 2012 Planned APBN Sulteng Wotu 275 kV 2 cct.25 2013 On Going APBN Incomer double phi Buroko-Isimu 527 Gorontalo PLTU TLG (Molotabu) (IPP) Botupingge 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 260 23.60 2019 Planned Unall Sulteng Ampana Bunta 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 220 19.14 2014 Planned Unall Sulteng Moutong Incomer Single phi (Toli2 (Toli2-Siboa) Siboa) 150 kV 2 cct cct.22 2012 On Going IPP TIP 24 (Talise-Parigi) 70 kV 2 cct.78 2017 Planned Unall Sulteng PLTA Poso (Tentena) Poso 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 180 16.67 2014 Planned IPP Gorontalo Marisa Moutong 150 kV 2 cct.01 2011 On Going IPP Gorontalo Isimu Marisa 150 kV 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 36 4.58 2015 Planned Unall Sulteng Poso Ampana 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 76 6.02 2013 Planned Unall Sulteng Toli-toli Leok 150 kV 2 cct. 430 mm 272 61. ACSR 1 x 240 mm2 96 8. ACSR 1 x 240 mm2 80 7. ACSR 1 x 240 mm2 20 1.42 2012 Planned IPP Gorontalo PLTU Gorontalo (Perpres) 150 kV 4 cct.Pengembangan Transmisi Sulawesi Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan Gorontalo Isimu Botupingge 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 30 2. ACSR 1 x 240 mm2 216 19. ACSR 1 x 240 mm2 220 19 58 19.54 2011 On Going APBN . ACSR 1 x 240 mm2 14 0. ACSR 1 x 240 mm2 50 4. ACSR 1 x 240 mm2 90 8.41 2011 On Going APLN Sulut Lopana Teling (GIS) 150 kV 2 cct.02 2014 Planned Unall Gorontalo New PLTG (Marisa) Marisa 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 180 16.58 2011 On Going APBN Gorontalo Isimu Buroko APBN 150 kV 2 cct.91 2019 Planned Unall Sulteng Kolonedale Incomer single phi Poso-Ampana 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 190 16.

85 2015 Planned Unall Sulut PLTA Sawangan Sawangan 70 kV 2 cct. 2xZebra.18 2012 On Going APBN Sengkang Siwa/Keera (New) 150 kV 150 kV 2 cct cct.34 2012 Commited APBN 528 Sulut Bintauna Tapping (Lolak . 2xHawk.Ags 2011 operasi 150 kV 2 cct.07 2013 Planned APBN Sulsel Tallo Lama (loop) Bontoala (loop) 150 kV 2 cct.20 7. ACSR 1 x 240 mm2 4 0. 2xZebra.8 0.78 2011 On Going APBN Sulsel Wotu PLTU Bosowa Jeneponto Palopo TIP. 430 mm 2 cct.09 2014 Planned Unall Sulut PLTP Kotamobagu Otam 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 60 5. ACSR 1 x 240 mm2 16 1 42 1. 2x430 mm 260 25. 2x430 mm Sulsel 2 cct. 2xZebra.88 88 2014 2014 Planned Pl Planned d APBN IPP Sulsel S l l Sulsel .06 2013 Planned APBN PLTU Takalar Punaga Tanjung Bunga 150 kV 2 cct.88 2011 Sdh operasi p APBN Sulsel Sengkang Sidrap . 2xHawk.81 2011 Sdh operasi APBN Sulsel PLTU Perpres .06 2015 Planned Unall Sulut PLTU Sulut I (IPP) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct. 1 phi (Maros-Sungguminasa) 150 kV 150 kV 2 cct.78 2018 Planned IPP Sulsel Sidrap Maros (New) .75 2014 Planned Unall Sulut PLTG Minahasa Likupang 150 kV 2 cct.43 2011 On Going APBN Sulsel Tallo Lama (Uprating Cond) Tello (Uprating Cond) 150 kV 2 cct. 2xZebra 2xZebra. 2x430 mm 10. 2xZebra. 2x430 mm 82 2 80 0. 240 mm 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 32 2.Pengembangan Transmisi Sulawesi Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan Sulut Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki) 150 kV 2 cct cct.75 2013 Planned APBN Sulsel Wotu Daya Baru Malili (New) Inc. ACSR 1 x 240 mm2 132 11. ACSR 1 x 240 mm2 10 0. 2xZebra. Hawk. 400 mm 9 2. ACSR 1 x 240 mm2 1 0. 57 275 kV 2 cct.Ags 2011 operasi 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 20 1. ACSR 1 x 240 mm2 1 0.Ags g 2011 operasi p 150 kV 2 cct.70 2013 Planned APLN Sulut Otam Molibagu 150 kV 2 cct.42 2012 Commited APBN Sulut Ranomut Baru (Paniki) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct. 2x430 mm 80 7. 2xZebra. UGC. 2x430 mm 210 47.90 2013 Planned Unall Sulut Likupang Bitung 70 kV 1 cct. 2xHawk. 2x430 mm 130 12. 240 mm 4.Barru Incomer 2 phi (barru-pare) 150 kV 4 cct. 12 1 18 1. ACSR 1 x 240 mm2 32 5. 240 mm 180 22. TACSR 14 0. Zebra.Buroko) 150 kV 2 cct.61 2011 Sdh operasi APBN Sulsel Maros ((New)) Sungguminasa gg .18 2012 On Going APBN Sulsel Sulsel PLTU Bosowa Jeneponto TIP 58 TIP. 240 mm 140 17. XLPE.17 2013 Planned APBN Sulsel Siwa/Keera Palopo 150 kV 2 cct.36 2012 Planned Unall Sulut PLTP Lahendong V & VI Kawangkoan 150 kV 2 cct.27 2012 On Going IPP 150 kV 12 1.

2xHawk. 2x430 mm 24 2.Pengembangan Transmisi Sulawesi 529 kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan 2 cct. Hawk. 240 mm 150 18.89 2011 O Going On G i APBN Sultra 290 35. 400 mm 2 cct.56 2013 Planned APBN Sultra Lasusua (New) Kolaka (New) 150 kV 2 cct. 1 phi (Pangkep-Tello) Inc.53 2019 Planned Unall PLTU Sewa barru Inc. 2xHawk. 240 mm 40 3. 430 mm 30 2. 2xHawk. 2xHawk. ACSR 2x240 mm2 90 11.(New) Sulsel S lt Sultra Conductor Sultra PLTA Watunohu 1 Lasusua (New) 150 kV 2 cct cct.68 2014 Planned APBN Sultra PLTU Kendari (FTP2) Inc.91 2017 Planned Unall 150 kV 2 cct. 2 phi (Sidrap-Maros) 150 kV 4 cct. 1 phi (Maros-Sungguminasa) Sulsel Kajuara .36 2018 Planned Unall Inc.Nii T Tanasa Malili (New) M d Mandonga/Kendari /K d i Lasusua (New) 70 kV 150 kV 2 cct. 240 mm 220 19.Kabel Laut 150 kV 2 cct. 1 phi (SInjai-Bone) 150 kV 2 cct.49 2013 Planned APBN Sultra Kendari (new) Raha (new) 150 kV 2 cct. 2 phi (Makale-Sidrap) 150 kV 150 kV Sulsel PLTA Malea Makale Sulsel Sulsel PLTA Bakaru II Panakukang baru/Antang Enrekang Inc.58 2014 Planned APBN Sultra Kendari (new) Raha (new) .45 2014 Planned IPP Sulbar Pasangkayu Mamuju 150 kV 2 cct. 2xZebra. 240 mm 10 0.13 2014 Planned APBN Sultra PLTA Konawe Unahaa (New) 150 kV 2 cct. 240 mm 80 9 81 9. 240 mm 232 28.67 2016 Planned IPP 150 kV 40 4. 240 mm 24 1 89 1. Kabel Laut 10 10. 240 mm 80 9. t O Ostrich t i h (ex-P3B ( P3B JB) 2 cct. 2xHawk 2xHawk. 2xZebra. 2 phi (Kendari-Raha) 150 kV 2 cct. 240 mm 170 15. ACSR 2x240 mm2 400 49. 2xHawk.39 2013 Planned APBN Sultra PLTU Kolaka (FTP2) Kolaka 150 kV 2 cct.60 2019 Planned Unall . 240 mm 50 4. UGC.81 2018 Planned Unall Sulbar Pasangkayu Silae 150 kV 2 cct. 240 mm 110 13.45 2013 Planned APBN Sultra Kolaka (New) Unahaa (New) 150 kV 2 cct. 240 mm 2 0.18 2016 Planned IPP 150 kV 2 cct. 240 mm 6 0. 240 mm 2 cct. Hawk.05 2018 Planned Unall Sulbar PLTA Poko Bakaru 150 kV 2 cct. Hawk.81 2016 Planned Unall Propinsi Dari Ke Tegangan Sulsel Sulsel KIMA Makassar (New) SY PLTA Bbatu/Enrekang Inc. Hawk.78 2019 Planned Unall PLTU P Perpres . 2xHawk.04 2014 Planned APBN Sulbar PLTU Mamuju (FTP2) Mamuju 150 kV 2 cct. Hawk. Hawk. Hawk.89 2014 Planned IPP Sultra Raha (new) Bau-Bau (New) 150 kV 2 cct.61 2015 Planned APBN 2 0. XLPE. Hawk.78 2013 Planned IPP Sultra Unahaa (New) Kendari (New) 150 kV 2 cct. Zebra. 2x430 mm 20 1. 240 mm 20 1.

39 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Barru 150/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.39 2012 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Makale 150/20 kV Extension 30 1. ).(GI Baru)+2 LB 150/20 kV New 30 2.62 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Sengkang.39 2012 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.38 2014 Operasi Sulbar Sulselrabar Mamuju 150/20 kV Extension 30 1.39 2011 On going APLN APBN P Propinsi i i Wilayah Gorontalo Suluttenggo Botupingge Gorontalo Suluttenggo PLTU Gorontalo 150/20 kV New 20 3. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Borongloe 70/20 kV Extension 20 0.62 Gorontalo Suluttenggo Buroko 150/20 kV New 20 Gorontalo Suluttenggo Botupingge 150/20 kV Extension Gorontalo Suluttenggo Isimu 150/20 kV Extension Sulbar Sulselrabar Polmas 150/20 kV Sulbar Sulselrabar Majene 150/20 kV 530 Sulbar Sulselrabar Pasangkayu 150/20 kV New 20 2.23 2012 On g going g APBN Sulsel Sulselrabar Bontoala (loop T.47 2011 On going APBN 30 1.39 2011 On going APLN Extension 30 1.39 2014 On going APLN Sulsel Sulselrabar Mandai 70/20 kV Extension 20 0.00 2012 Relok APLN Sulsel Sulselrabar Siwa/Keera .39 2012 On g going g APLN Sulsel Sulselrabar Palopo IBT 275/150 kV New 180 14.45 2012 Planned IPP .90 2013 Planned Unall 30 1.62 Gorontalo Suluttenggo Marisa 150/20 kV New 30 2.Lama).62 2011 On going APLN 2011 On going APBN 2011 On going APBN 2011 On going APBN 4.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber 150/20 kV New 30 2.23 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Pangkep 150/20 kV Extension 30 1.39 2011 On going APLN/APBN Sulsel Sulselrabar Sinjai 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned Unall Extension 30 1.24 Gorontalo Suluttenggo Isimu 150/20 kV New 30 2.39 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Daya 70/20 kV Extension 30 0.23 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Tallo Lama ((loop p Btoala).00 2011 On g going g APLN Sulsel Sulselrabar Bulukumba 150/20 kV Extension 30 1.00 2011 Relok APBN Sulsel Sulselrabar Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2. Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.00 2011 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Tallasa 150/20 kV Extension 60 2.39 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Jeneponto 150/20 kV Extension 30 1.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Bontoala 150/20 kV Extension 60 2.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Pare-pare p 150/20 kV Extension 30 0.

23 2017 Proposed PLTA Bakaru-II Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.10 2016 P Proposed d IBRD Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga 150/20 kV Extension 60 2.39 2017 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Sinjai 150/20 kV Extension 30 1.10 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.10 2018 Planned Unall .39 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bulukumba 150/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 60 3 34 3. Ext 4 LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.39 2017 Planned Unall Proposed PLTA Poko P Propinsi i i Wilayah Sulsel Sulselrabar Sulsel Sulsel Nama Gardu Induk Sulsel Sulselrabar Bakaru.85 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga.10 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Pinrang 150/20 kV Extension 30 1.39 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Soppeng 150/20 kV Extension 30 1.47 2018 Sulsel Sulselrabar Pangkep 150/20 kV Extension 60 2.62 2012 On going APBN Sulselrabar Siwa. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.10 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar KIMA Makassar .23 2012 On going APBN Sulselrabar Pinrang 150/20 kV Extension 30 1.10 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Wotu IBT 275/150 kV New 90 7.10 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Panakkukang 150/20 kV Extension 60 2.62 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Makale.39 2015 Planned Unall S l l Sulsel S l l b Sulselrabar P Panakkukang kk k 150/20 kV E t Extension i 60 2 10 2.62 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Malili .23 2014 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Daya Baru .34 2015 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Bontoala 150/20 kV Extension 60 2.34 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tello 150/20 kV Extension 60 2.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi 531 Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber Palopo + Ext 2 LB 150/20 kV Extension 30 2.10 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Borongloe 70/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.39 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Maros 150/20 kV Extension 60 2.(GI baru) + 2 LB 150/20 kV New 60 3.39 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar SY PLTA Bontobatu/Enrekang 150/20 kV New 30 2.23 2016 Proposed PLTA Malea Sulsel Sulselrabar Sidrap.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.22 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Wotu . Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.10 2015 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Sidrap 150/20 kV Extension 30 1.10 2018 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tello 150/20 kV Extension 60 2.26 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Sungguminasa 150/20 kV Extension 60 2.

10 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga 150/20 kV Extension 60 2.34 2018 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Pare-Pare 150/20 kV Extension 30 1.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Kajuara .62 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Moutong 150/20 kV New 30 2.10 Bontala .24 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Toli-Toli 150/20 kV New 30 2.90 2013 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Leok 150/20 kV New 20 3.86 2012 Planned IPP Sulteng Suluttenggo Poso 150/20 kV New 30 2.62 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Kajuara 150/20 kV Extension 30 1.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Malili 150/20 kV Extension 20 0.39 2018 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Daya Baru 150/20 kV Extension 60 2 10 2.10 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Soppeng 150/20 kV Extension 30 1.39 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Siwa/Keera 150/20 kV Extension 30 1.GI New + 2 LB 150/20 kV New 30 2.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tallasa 150/20 kV Extension 60 2.GIS II .39 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Jeneponto 150/20 kV Extension 20 0.62 2014 Planned Unall .00 2020 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Wotu 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV Extension 30 1.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Maros 150/20 kV Extension 60 2.62 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Siboa (PLTU) 150/20 kV New 30 2.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV New 30 2 62 2.10 Nama Gard Gardu Ind Induk k Stat s Status S mber Sumber 2018 Planned Unall 2018 Planned Unall 532 Sulsel Sulselrabar Panakukang baru/Antang .(GI baru 150/20 kV New 60 3.98 2012 Sulteng Suluttenggo Tentena IBT 275/150 kV New 90 4.00 2019 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Panakukang baru/Antang 150/20 kV Extension 60 2.39 2020 Planned Unall Commited APBN Sulteng Suluttenggo PLTA Poso 150/20 kV New 10 2.(GI baru) 150/20 kV New 60 2.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi P i i Propinsi Wila ah Wilayah Sulsel Sulselrabar Sulsel Sulselrabar Tegangan Bar /E tension Baru/Extension Kap Juta US$ COD Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Sidrap 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Silae 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Silae 150/20 kV Extension 30 1.

38 2016 Proposed Sulteng Suluttenggo Poso 150/20 kV Extension 30 1 86 1.5 MVA 150/70 kV New 63 0.24 2019 Planned Unall g Sulteng Suluttenggo gg Silae 150/20 kV Extension 30 1. 150/20 kV Extension 4 LB 2 47 2.62 2012 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Lasusua .2 LB 150/20 kV New 30 2.85 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Kolaka.38 2017 Proposed IBRD Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV Extension 30 1.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.(GI Baru 150 kV) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.00 2013 Relok APBN Sultra Sulselrabar Raha .26 2011 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Nii Tanasa 70/20 kV Extension 10 0.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.85 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Unaaha 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Kendari .Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Propinsi Wilayah Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber Unall Sulteng Suluttenggo Luwuk 150/20 kV New 30 2.86 2016 Proposed IBRD Sulteng Suluttenggo Ampana 150/20 kV New 20 2.47 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Unahaa .62 2013 Planned Unall Sultra Sultra Sulselrabar Sulselrabar Bau-Bau Kolaka 150/20 kV 150/20 kV New Extension 30 30 2.90 2020 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Parigi 70/20 kV Extension 20 1.00 2011 Relok APLN Sultra Sulselrabar Kolaka . Ext 4 LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.24 2014 Planned Unall APBN Sulteng Suluttenggo Talise 70/20 kV Extension 30 1.39 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Kendari Ext 4 LB Kendari.39 2014 2014 Planned Planned Unall Unall .51 2020 Planned Unall 533 Sultra Sulselrabar Kendari 70/20 kV Extension 30 1.47 2013 Planned Unall Sultra Sulselrabar Kendari .90 2018 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Kolonedale 150/20 kV New 20 3.90 2018 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Luwuk 150/20 kV Extension 30 1.IBT 2x31.62 2014 Planned Sulteng Suluttenggo Moilong 150/20 kV New 20 3.90 2019 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Tentena 150/20 kV Extension 30 1.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.(GI Baru) .62 1.

90 2013 Planned Unall Sulut gg Tomohon Suluttenggo 70/20 kV Extension 30 1.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.62 2011 On going APLN Status Sumber 534 Sulut Suluttenggo Tomohon (IBT) 150/70 kV Extension 60 2.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Teling 150/20 kV Extension 30 1.38 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Otam 150/20 kV Extension 30 1.27 2013 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kawangkoan 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Teling 150/20 kV Extension 30 1.90 2020 Planned Unall .90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.10 2017 Planned Unall Propinsi Wilayah Nama Gardu Induk Sultra Sulselrabar Sultra Sulselrabar Sultra Sulselrabar Kendari 150/20 kV Extension 60 Sultra Sulselrabar Unahaa 150/20 kV Extension 60 Sultra Sulselrabar Nii Tanasa 70/20 kV Extension 20 0.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Tegangan Baru/Extension Kap Juta J t US$ COD Raha 150/20 kV Extension 30 1.00 2011 On going APLN Sulut Suluttenggo Teling (GIS) 150/20 kV New 30 2.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Proposed APLN & APBN Sulut Suluttenggo Bintauna (Tap) 150/20 kV New 10 2.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Sawangan 70/20 kV Extension 30 1.63 2013 On g going g Unall Sulut Suluttenggo Molibagu 150/20 kV New 20 2.38 201 2017 Pl Planned d U ll Unall Sulut Suluttenggo Otam 150/20 kV Extension 30 1.00 2018 Relok Unall Sulut Suluttenggo Teling (GIS) 150/20 kV New 30 4.63 2015 Planned Unall S l Sulut S l Suluttenggo T li Teling 70/20 0/20 kV E Extension i 20 1 38 1.90 2018 Planned Unall Sulut Suluttenggo Paniki 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 C Commited it d APBN Sulut Suluttenggo Teling (IBT) 150/70 kV Extension 60 2.39 2014 Planned Unall Bau-Bau 150/20 kV Extension 30 1.62 2011 Proposed APBN/APLN Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV New 30 2.62 2012 Commited APBN S l t Sulut S l tt Suluttenggo P iki Paniki 150/20 kV N New 30 2 62 2.39 2016 Proposed IBRD 2.10 2016 Proposed IBRD 2.90 2013 Planned Unall Sulut Suluttenggo Paniki 150/20 kV Extension 30 1.

7 PETA A PENGE EMBANGA AN PENYA ALURAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTTENGGO O DAN SISTEM INTER RKONEKS SI SULSE ELRABAR 535 .LA AMPIRAN N B2.

2011 PLTP Lahendong V & VI 2x20 MW – 2014/2015 .2012 PLTU Sewa 2x25 MW .2015 P PLTP Kotamobagu I&II 2x40 MW – 2016 GORONTALO ACSR 1x240 mm2 64 km .Provinsi Sulawesi Utara PT PLN (Persero) (P ) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI UTARA / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTG Minahasa 3x25 MW .2013 2 P P Lopana PLTU Sulut II (FTP1) 2x25 MW – 2011 U Tomohon P PLTU Sulut I (FTP1) 2x25 MW .2014 U Lolak Bintauna ACSR 1x240 mm2 40 km .2011 Otam ACSR 1x240 mm2 40 km .2013 Buroko Tonsealama PLTU Sulut I (Kema) 2x25 MW .2012 Tasik Ria Kema A U Sawangan ACSR 1x240 mm 48 km .2012 Paniki Teling Edit Juli 2011 ACSR 1x240 mm2 Bitung D Ranomut 30 km .2017/2018 PLTP Lahendong I.II&III 3x20 MW Kawangkoan ACSR 1x240 mm2 10 km .2012/2017/2019 PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Likupang G 2 PLTA Sawangan 2x8 MW – 2015 ACSR 1x240 mm 8 km .2014 Molibagu PLTU Sulut (PPP) 2x55 MW .2011 ke GI Isimu (Gorontalo) U PLTP Lahendong IV 1x20 MW .2011 ACSR 1x240 mm2 16 km .2014/2015 U ACSR 2x240 mm2 18 km .

2011 Marisa G Moutong PLTG Gorontalo 1x25 MW – 2017 PT PLN (Persero) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI GORONTALO / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Desember 2010 Buroko ACSR 1x240 mm2 27 km .2012 U ACSR 1x240 mm2 15 km .2012 Botupingge ACSR 1x240 mm2 8 km .2014 ACSR 1x240 mm2 110 km .2011 U ke GI Buroko (Sulut) ACSR 1x240 mm2 8 km .Provinsi Gorontalo PLTU Gorontalo (FTP1) 2x25 MW – 2012/2013 SULAWESI TENGAH ACSR 1x240 mm2 76 km .2013 Isimu ke GI Moutong (Sulteng) ACSR 1x240 mm2 105 km .2014 U PLTU GE 2x6 MW – 2013 PLTU TLG 2x10 MW – 2013 SULAWESI UTARA .

2014 ACSR 1x240 mm2 70 km – 2014 Moutong Siboa PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW .2015 GORONTALO U P Bunta PLTU Ampana 2x3 MW–2013/14 Talise ACSR 1x240 mm2 ACSR 1x240 mm2 15 km .Provinsi Sulawesi Tengah PLTU Tolitoli 3x15 MW .2012 25 km .2014 Palu Baru U ACSR CS 1x240 mm2 119 km .2013 PLTMG Luwuk 2x10 MW–2012/13 Tentena PT PLN (Persero) K l Kolonedale d l PLTA Poso 65 MW – 2011 PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW–2015/16 Luwuk ACSR 1x240 mm2 72 km .2018 Silae ke g y GI Pasangkayu (Sulbar) ke GI Marisa (Gorontalo) / / / / / / / / ke GI Wotu (Sulsel) SULAWESI TENGGARA PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Ek i ti Kit Rencana Edit Juli 2011 .2012 Poso ACSR 1x240 mm2 124 km – 2017 U Toili G A SULAWESI SELATAN ACSR 1x240 mm2 90 km k .2019 ACSR 1x240 mm 80 km .2013 ACSR 1x240 mm2 110 km .2012 ACSR 1x240 mm2 90 km – 2019 Ampana ACSR 1x240 mm2 85 km – 2020 2 SULAWESI BARAT SULAWESI UTARA PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW .2014 KALIMANTAN TIMUR Leok Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km – 2014 U ACSR 1x240 mm2 108 km .

2011 Bontoala Daya Baru Tello G PLTG Sulsel Baru (Peaking) Panakukang 2x50 MW-2012 Tanjung Sungguminasa Bunga PLTG Makassar (Peaking) ke ke 1x50 MW-2013 PLTU GI Tallasa 1x50 MW-2015 Takalar PLTA Bonto B t Batu B t 2x50 MW – 2016 ACSR 1x430 mm2 120 km .2011 SULAWESI TENGAH ACSR 1x430 mm2 136 km .2013 Malili PLTA Malea 2x45 MW – 2016 Maros Bosowa Mandai Kima ACSR 2x430 mm2 Tallo Daya Lama 40 km .2012 Wotu ACSR 1x240 mm2 145 km .2016 (Sulbar) ke GI Lasusua (Sultra) Palopo Makale ke GI Polman (Sulbar) BakaruA ACSR 1x430 mm2 90 km .2013 A A Enrekang ACSR 2x430 mm2 150 km .Provinsi Sulawesi Selatan ke GI Barru Pangkep ke GI Tentena/ PLTA Poso (Sulteng) ke GI Sidrap SULAWESI BARAT Tonasa ACSR 2x430 mm2 130 km .2012 Bulukumba SULAWESI TENGGARA A M U / / / / / / / / Tallasa Bulukumba U U Jeneponto / / / / PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI SELATAN GI 500 kV Existing / Rencana U / U PLTU Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana G / G PLTG Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana P / P PLTP Existing / Rencana A / A PLTGU Existing / GI 70 kV Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GU GU Rencana / GI 500/275/150 kV Existing / RencanaGB / GB PLTGB Existing / M / M GI 275/150 kV Existing g / Rencana Rencana D / D GI 150/70 kV Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana Kit Eksisting T/L 70 kV Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana Kit Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana Edit Juli 2011 T/L 500 kV Existing / Rencana .2013 Sengkang Sidrap GU PLTU Sewa 2x100 MW-2013 PLTGU Sengkang 180 MW – 2013 Soppeng U U PLTM Tangka/Manipi 10 MW – 2011 Barru 2 ACSR 2x430 mm 130 km .2012 ACSR 1x240 mm2 41 km .2010 G PLTBG Selayar 2x4 MW – 2012/2013 Bone PT PLN (Persero) Jeneponto U PLTG Sengkang 60 MW – 2012 G PLTU Sulsel-Barru (FTP1) 2x50 MW .2013 PLTA Bakaru II 2x63 MW – 2019 ke A PLTA Poso ACSR 1x430 mm2 15 km .2016 Pare Keera/ Siwa ACSR 2x430 mm2 65 km .2010 Tonasa Tallasa U Pangkep Maros Bosowa Tello D Sungguminasa Sinjai PLTU Takalar Punaga IPP 2x100 MW – 2014/2015 PLTU Bosowa 2x100 MW – 2013 PLTU Jeneponto eks Spanyol (Takalar-FTP II) 2x100 MW – 2014/2015 Kajuara ACSR 2x430 mm2 40 km .2011 Pinrang D ACSR 1x430 mm2 70 km .

Provinsi Sulawesi Barat ke GI Silae (Sulteng) ACSR 2x240 mm2 45 km .2015 SULAWESI SELATAN U Mamuju PT PLN (Persero) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI BARAT PLTA Poko 117 MW – 2020 A Polmas Majene ke GI Pinrang (Sulsel) / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing g / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing g / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Mei 2011 .2018 PLTU Mamuju (FTP2) 2x25 MW .2014 Pasangkayu SULAWESI TENGAH ACSR 2x240 mm2 200 km .

Provinsi Sulawesi Tenggara .

L LAMPIRA AN B2.8 ANA ALISIS AL LIRAN DAY YA SIS STEM INTE ERKONEK KSI SULU UTTENGG GO DA AN SIS STEM INTE ERKONEK KSI SULS SELRABA AR 542 .

3 145.9 9.6 3.1 G 18 MW A 5 MW 46 MW P 72 MW A 7 MW KEMA 21.9 12 MW TASIKRIA 6.4 3.GORONTALO 2013 Capasitor : Pembangkit Beban Susut 1.2 147.9 66.2 1.1 D 24 MW .8 MW 3.7 7 MW 15 MW TNSEALMA 6.3 A 5.2 BINTAUNA 1.3 O 314.8 12.0 3.8 SAWANGAN 26 MW 12.9 15 MW 7 21 MW 27 543 44 U MW ANGGREK 7.6 147.1 MW 310.2 66.6 146.7 148.5 BITUNG 8.1 144.7 0.0 18 MW 4 MW LOLAK 4.5 3.2 1.2 147.7 44 MW U 36 MW U ISIMU 21.1 65.0 1.5 O LOPANA 8.7 147.1 20 MW LIKUPANG 5.8 3.0 31 8 MW LEOK 4.8 150.0 66.9 31 MW MW OTAM 27.4 147.7 2.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2013) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .4 9.5 67.6 66.3 10.5 147.4 19.9 66.0 15 MARISA 6.7 3.9 6.5 45 MW % 150 kV 70 kV 30 kV RANOMUUT 20.5 9.3 150.3 MW PANIKI 23.5 MW 1 MW BUROKO 2.4 7 MW BTPNGGE 22.2 D 8 MW MW 26 MW KAWANGKN 15.0 10.0 TELING 61 MW 44.1 MW 145.7 31 MW D 8 15 MW MW TOMOHON 14.0 7.6 147.

99 25 145.3 3 MW 23 MW 41 MW 12 MW 2 MW TASIKRIA 8.8 149.0 2.6 147.6 BITUNG 9.6 TELING 74 MW 53.1 7.5 65.6 147.7 OTAM 31.0 1.0 65.6 32 3 MW 17 MOUTONG 8.4 66.5 3.0 4.3 LOPANA 9.6 66.3 BTPNGGE 26.1 0.2 MW 145.7 149.8 11.1 46 MW LEOK 55.3 KAWANGKN 17.4 MW BINTAUNA 1.9 34 3.8 23.8 G 15 MW MW .4 147.1 MARISA 7.1 149.GORONTALO 2015 Capasitor : Pembangkit Beban Susut 369.4 145.1 148.8 35 MW % 150 kV 70 kV 30 kV LIKUPANG 6.4 148.2 2.9 8.1 5.8 36 MW U 62 MW U SIBOA 9.7 RANOMUUT 23.0 PANIKI 28.3 3.4 A 6.9 D 9 MW A 5 MW 13 MW 70 MW KEMA 25.1 11 9 11.4 D 0 MW 8 MW MW 19 MW 11 MW 14.2 LOLAK 5.0 149.2 10.9 66.3 D 4 MW MW 9 MW 59 MW TNSEALMA 7.9 6 MW 11 6 MW 12 12 MW ANGGREK 9.0 150.4 14.4 U TOLI-TOLI 11.3 38 3.2 12 MW 7 ISIMU 24.8 SAWANGAN 34 MW 16 MW TOMOHON 17.0 MW 3.2 4.7 P P P A 7 MW 72 MW 36 MW U 20 65.5 11.0 4.2 148.4 66.5 12.22 150.8 MW 366.8 MW 1.9 149.1 544 U 35 MW 24 U MW BUROKO 3.4 4.88 11 149.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2015) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .0 2.

4 12 MW 4 MARISA 11.3 6.9 6.2 9.5 P P P A 7 MW 72 MW 36 MW U 144 MW 62.1 7.1 1.5 6.150 kV - 20 Mvar 20 Mvar 568.3 145.5 61.8 17 MW 29 MW 82 MW 12 MW 3 MW TASIKRIA 13.4 65.2 BITUNG 14.6 A 23 MW 67 MW 74 MW KEMA 43.2 12.7 MW 555.4 146.3 143.0 G 15 MW A 10.4 MW 96 MW KAWANGKN 21.5 63.5 147.9 4.150 kV Isimu .3 % 150 kV 70 kV 30 kV LIKUPANG 9.0 144.2 G 47 MW OTAM 44.7 52 38 MW 39 MOUTONG 13.9 64.6 ISIMU 36.8 MW 29 MW 31 MW 22.8 89 MW LEOK 8.8 145.9 63.1 44 MW U 105 MW U SIBOA 14.2 38.2 141.3 MW Pembangkit Beban Susut 2.5 143.2 21.1 144.88 11 146.2 20.1 3.0 SAWANGAN 34 MW 24 MW TOMOHON 28.1 6.GORONTALO 2020 Capasitor : Teling .1 54 MW RANOMUUT 34.9 148.0 15.7 TELING 7 MW 85.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2020) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .4 4.5 D 4 22 MW MW 24 MW TNSEALMA 9.6 6.3 2.1 16.3 PANIKI 46.3 146.2 101 MW 144.4 145.0 U 545 75 MW 24 U MW BUROKO 4.4 U TOLI-TOLI 17.2 BTPNGGE 39.3 5.7 LOPANA 11.4 MW 13.4 145.7 D 0 MW .7 144.0 MW BINTAUNA 2.7 17.2 3.0 19.8 144.8 5.3 LOLAK 7.9 64.4 9 MW 26 MW 9 24 MW ANGGREK 13.

3 3.0 PLTD SUPPA POLMAS 15.8 9.2 6.8 PINRANG 25.5 27.5 144 4 144.0 145 3 145.4 17 4 110 6 110.1 151.0 150.8 TELLO 54.1 13.3 2011 144.5 2011 G 57.4     24.6 (275 kV) 2012 2013      1.7 2 X 50 MW 4.116.0 10.2 MAROS5 ‐ JT 20.8 G 4.0 6.0 19.8 69.4 7.6   17. LAMA MAMUJU 10.3 148.3 3.6 PLTU BOSOWA  JENEPONTO BULUKUMBA 20.1 2013 KOLAKA 12.5 3.5 BAKARU 7.3 P LTU Nii Tanasa         12 Pembangkit : Distribusi :       1.2 149.6 2013 KEERA/SIWA SENGKANG PLTGU SENGKANG 135 MW 148.0 23.8 8.1         60         10 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3     33.2 149.3 SINJAI 21.5 PALOPO 25.2   133.8 14.3 PLTU Bau         80              ‐         60 PLTU Bsowa         60 PLTG Tello1 Sultra      180     33.4 23.5 SOPPENG 145.6 BARRU New 148.0 14.4 PLTU NII TANASA     14.5 144.6 22.8 PLTGU SENGKANG PLTA POSO Sul.3 32.0 G PLTA BAKARU 2X63 MW   146.7 145.0 546 2011 TN.3 10.6 2013 KENDARI 47.8 2013 UNAAHA 19.9 3.7 17.2 21.3 70 kV 148 5 148.5 13. Tengah 70.8        2.8 4.0 73 7.0 149.7 1.1 145.0 90 G         10 2011 (Uprating) TL.6 149.2 PARE2     16.4 144.6 16 WOTU G TALLASA 25.2 2011 51.4 MAKALE SIDRAP 2011 22.6 144.5 148.0 PLTU Kdri(2x25)         20 PLTU Tawaeli Ex     25.9 MW Susut Transmisi :              37.6 180 MW 17.MINASA 32.8     20.0 G PLTU KENDARI PLTU KOLAKA 2 X 25 MW 2 X 10 MW BAU‐BAU 17.2 MW Flow dalam MW/MVAR 2013 RAHA 9.4 8.2 2x100 MW ke Sistem G 152.3 150.3 8.2 152.5 12.3 150.0 144.7 32.3 145.2 BONTOALA 67.0 150.1 8.0 8.8 70 kV 17.8 144.3 147.5 143.2 PANGKEP     21.4 DAYA BARU   169.1 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW 147.0 2012 2013 LASUSUA MALILI 10.1 10.5 6.9 G 9.7 8 4.5       '2012 149.4 SG.8 21.2 13.4 8.0 150.0         14 PLTA Poso      180 PLTU Kolaka     33.3% 3.5 8.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ POSO ‐ PALU ‐ 2013 Eksisting 150 kV 2009 Rencana 150 kV 2015 Eksisting 2015 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG TELLO G MAJENE         73 Reaktor : ‐120       43 Palopo ‐ 275 kV ‐120 Capacitor :         20 PLTU BARRU 9.3 5.3 Sulteng : g         32 PLTU Tawaeli     20.4        8.8 BOSOWA PANAKUKANG 78. BUNGA 37.0 15.6        7.7 4 X 10 MW G        4.1 11.0 144 0 144.5 Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV .4 2013 NII TANASA 147.4 PLTM Bili      120 PLTG Skg1 g            6 PLTG Skg2 PLTGU Skg      135 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka PLTG ‐ GE Tello              ‐ PLTM Rtballa PLTD Suppa PLTU Sulsel‐1 2.5 7.4 147.078.1 G KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) PLTA Bakaru 5.2 MW       1.8 BONE 30.0 53 5.

3 11. LAMA TELLO 64 4 64. Tengah (Poso) 11.5 BONE 36.8 146.4 10.6 7.8 G .7 54 5.0 8.8 34.7 SINJAI 25.3         10 G 63 8 63.8 2015 MAKALE SIDRAP 2010 27.9 13.5 145.338.9 SENGKANG 20. Kayu  ‐ Silae ‐ Palu 149.8 12.8 144.4 TL.3 5.1 144.6% 2013 UNAAHA 149.0 9.9   119.5 150 0 150.8 26.0 2010 144.1 15.0 154.0 8.8 MAMUJU 12.3 MW              35.9 146.8 G PLTU PUNAGA TAKALAR   122.7 3.0 149.5         50 PLTU Sulsel‐1         50 PLTU Bsowa         50 PLTG Tello1            6 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3              ‐ PLTU Mamuju      140 PLTU Jnponto     23.1 149.6        7.8 25 8 144.7 MW       1.5 PANGKEP KIMA MKS       7.3        3.8 MALILI 13.6 2013 KENDARI 54.4 2013 KOLAKA 14.7 17.8        7.4 3x65 MW PLTA POSO 154.5 70 kV ke Ps.8 PLTU JNPONTO 2X100 MW Sul.3 153.3 MW 22.9 144.9     23.5 G KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) Sulselbar : PLTA Bakaru 6.7 19.0 Flow dalam MW/MVAR       1.6 5.9 10.4 PLTM Bili PLTGU Skg PLTD Suppa PLTG ‐ GE Tello Sultra :      110 PLTG Skg1            6 PLTG Skg2      120 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka              ‐ PLTM Rtballa 25 2.1 BOSOWA PANAKUKANG 96.3 RAHA 4.9 Sulteng :         34 PLTU Nii Tanasa         24 PLTU Tawaeli     60.4 180 MW 2013 G Sul.0 4.6 TALLASA 30.2 7.1 4.3 148.1 7.303.2 149.7         20 G PLTU MAMUJU G 2011 2X25 MW POLMAS 17.0 5. Tengah (Luwuk) WOTU G 145.6 SOPPENG 17.6 150.2 PARE2 20 4 20.MINASA 16.6 PLTGU SENORO PALOPO 30.7 13.4 38.0 PLTU Kdri(2x25)         36 PLTU Tawaeli Ex   140.5 12.4 145.6   148.4 PINRANG BARRU 70 kV 151.7 2 X 100 MW     16.7 39.2 MAROS5 ‐ JT 27.0 2013 NII TANASA 146.7 9.9 PLTU PUNAGA     23.0 65.5 ‐51 2 X 50 MW 4.6 PLTGU SENGKANG 135 MW 148.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ (+ POSO ‐ PALU ‐ LUWUK) ‐ 2015 Eksisting 150 kV Rencana 150 kV 2010 2015 Eksisting 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG PEAKING G MAJENE 2015       80 Reaktor Reaktor ::         50 Palopo ‐ 275 kV Capacitor : Capacitor : 5 ‐51 PLTU BARRU PLTU BARRU 11.6 22.4 177.9 26.0 12.4 PLTU NII TANASA PLTU NII TANASA        5.4 143.6     42.0 BAKARU 8.4 ((275 kV)) 150 2 150.3 4 X 10 MW G     10.0 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW & 2X10 MW 2 X 10 MW Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV 150.3 8.8 15.2 2013 G PLTGU SENGKANG 11.1 30.0         12 PLTA Poso PLTU Kolaka         22 PLTGU Senoro PLTU Bau            ‐ 1         20 Pembangkit :         20 Distribusi :      165 Susut Transmisi :   200.2        5.0 25.4 2013 LASUSUA JENEPONTO BULUKUMBA 24.4 149.8 PLTU KOLAKA 2013 BAU‐BAU 20.7 77 144.2     10.8 149.6 32.2   25.8 SG.4 147.2 4.4 BONTOALA 82.8 PLTU KENDARI 2 X 25 MW 10.6 10.4     22.0 144.5 10.7 2013 KEERA/SIWA ke Sistem G 150.4 69.1 DAYA BARU   177.3 26.7 2.6 547 2x120 MW 2010 TN. BUNGA 46.2 143.1 PLTU BOSOWA 2X100 MW ke Sistem G (275 kV) 62.0 G PLTA BAKARU 2X63 MW     16.1 6.3 145.5 11.0 144.0 143.

4 138.8     15.2 71.6 G BAKARU 13.6 35.6 145.3 ‐63 2 X 50 MW 6.3 (Luwuk) 140 0 140.2 148.4 180 MW MALILI PLTU JNPONTO 2X100 MW Sul.995.6     31.0 12.6 10.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ (+ POSO ‐ PALU ‐ LUWUK) ‐ 2020 Eksisting 150 kV Rencana 150 kV 2010 2020 Eksisting 2020 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG PEAKING G MAJENE       80 Reaktor :         50 Palopo ‐ 275 kV Capacitor : ‐63 PLTU BARRU 16.9 2013 UNAAHA 34.3 146. LAMA 87.1 18.7   160.8 2013 LASUSUA     23.6 18.6   246.0 BULUKUMBA 34.7 82.8 2013 KEERA/SIWA 150.7 10.9        3.0 PLTG Tello4     40.4 PLTA BAKARU BLOK I DAN II PLTA POKO 149.9 PLTGU SENGKANG 135 MW 147.1 22 MAKALE 15.1 12.0 ke Sistem Sul.9 PINRANG 45.9 21.5 MW              62.7 SG.0 PLTU Kdri(2x25)         36 PLTU Tawaeli Ex         12 PLTA Poso   140.6 SINJAI 29.8 136.0 PLTU Kolaka              ‐ PLTU Bau         22 PLTGU Senoro     40.0 140.4 138.0 46.2 14.1% 6. Kayu 147.9 35.2 5.7 BOSOWA 32.4 BARRU 70 kV ke Ps.7 PLTU BOSOWA 2X100 MW ke Sistem G 149.6 19.0 PLTA         40         74 PLTG Palu         20 Pembangkit :         20 Distribusi :       1.2     12.2 10.0 Sultra :       80 G              ‐ PLTU KENDARI 2 X 25 MW         34 PLTU Nii Tanasa         24 PLTU Tawaeli   110.2 136.6 2015 SIDRAP 2010 40.0 22 6 22.9 16.9 WOTU G 141.8 DAYA BARU   150.2 2013 3x65 MW G PLTGU SENGKANG 6.4 16.0 PLTG Tello5     70.7 G Sulteng : 2013 KOLAKA 8.2 2x120 MW 2X50 MW 45.6 12. BUNGA 59.3 15.3 20. Tengah 68.7 145.1 KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) PLTA Bakaru II 9.7 ENREKANG 10.Batu         80 PLTU Mamuju         50 PLTU Bsowa         50 PLTG Tello1      140 PLTU Jnponto     40.0 45.3 150.27 PLTA poko         50 PLTU Sulsel‐1 PLTA Malea   195.6 4.9 20.MINASA 57.6 14.2 PNK BARU 56.5 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW & 2X10 MW 149.7 14.0 144.7 PLTA KONAWE G PLTU KOLAKA PLTA LALINDU 2013 BAU‐BAU 30.6 18.2 PLTA MALEA 2X45 MW 2X45 MW 548 G 2010 TN.BATU   47.2 MAROS5 ‐ JT 49.8 30.6 36.0 Flow dalam MW/MVAR RAHA 15.7 138.7         20 MAMUJU 18.6 152.3 4 X 10 MW G JENEPONTO 143.4 145.5 137.9 MW       1.2 148.8 2013 NII TANASA 143.0 47.6 23. Tengah (275 kV) 19.2 TELLO 86.0 136.1 137.6 9.9 3.0 149.6 PANGKEP     38.4 MW      165 Susut Transmisi :   200.5 KIMA MKS     30.0 12.3 136.3 24.6 5.2 G 150.1 153.9     89.0 23.6 TL.3 137.1 6.4   203.6 2013 KENDARI Sulselbar : PLTA Bakaru PLTM Bili PLTGU Skg PLTD Suppa PLTG ‐ GE Tello         45 PLTG Skg1            4 PLTG Skg2      120 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka              ‐ PLTM Rtballa 37 3.1 141.933.4 2013 G 81 8.7 13.6 PANAKUKANG 115.3 53.8 138.0 7.0 PLTA B.4 PLTA B.0 146.8 KAJUARA 24.8 141.9 G PLTU PUNAGA TAKALAR        5.5 70 kV  ‐ Silae ‐ Palu PARE2     14.0 14.1 PLTU NII TANASA PLTU NII TANASA     15.5 68.1 149.1 141.0 PLTU PUNAGA            6 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3     40.2 TALLASA 2 X 100 MW PLTGU SENORO PALOPO 29 7 29.2 137.8 PLTA POSO 154.6 8.7     66.3 G (275 kV) (Poso) 5.6 BONTOALA 128.7 SENGKANG        7.8 2 X 10 MW Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV .8 SOPPENG 24.5 G PLTU MAMUJU G         10 2011 2X25 MW POLMAS 25.4 33.3 BONE 38.

9 KEBUTUHA AN FISIK PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SISTE EM INTERKONEKSI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKSI SULSEL LRABAR 549 .LAM MPIRAN B2.

4 35.2 8.7 50.9 21.5 8.831 1 520 1.095 13.351 MVA 549 2012 657 900 338 126.5 8.857 4.034 2019 1 831 1.016 402 144.277 454 173.9 85.0 8.940 2016 1.0 94 9.1 17.5 62.196 419 162.0 11.778 2013 830 1.372 493 185.6 12.5 22 7 22.2 Total 53.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Regional Sulawesi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.7 24.8 Trafo 23.805 2014 1.3 6.4 19.5 80.6 55.989 2018 1.1 517.437 523 194.1 58 5 58.5 206.094 kms 1.634 1.145 12.717 550 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi R i Regional l Sulawesi S l i Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 13.9 70.9 JTR 9.6 91 9.880 2015 1.4 7.006 1.498 2017 1.8 14.4 6.156 1.0 17 3 17.5 9.1 22.7 6.542 2020 2011-2020 2.6 17.1 15.6 Pelanggan 7.2 26.119 401 152.5 40.0 8.9 7.4 10.0 7.7 46.2 16.749 1.6 10.1 9.143 1.796.6 18.669 613 222.2 2011-2020 144.276 Tahun Pelanggan 228.6 .4 9.520 560 204 542 204.3 19.9 10.497 1.7 5.9 43.297 1.

LA AMPIRA AN B2.10 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSELRABAR 551 .

0 1.325.539 273 539 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 3.423                       3.8 1.8 106.292.5 85.8 69.080.0 1.021 53.287 50.7 104.0 772.6            4.055.107.8 1.3 4 361 3       370.314.0 1.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi Tahun 552 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 1.4 1.678.322.0 89.6 1.797.361.969 4 969           273.0 1.8 1.423 3 423 .081.741.346.2 370 2          4.5 931.1 83.284.9 4 284 9       4.

LA AMPIRAN N B2.12 PR ROYEKSI KEBUTU UHAN INVESTASI SISTE EM INTER RKONEKS SI S SULUTTE NGGO DAN N SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSELR S RABAR 553 .

61 2012 393.31 2013 179.2 230.13 15.5 154.61 20.22 463 34 463.94 16.6 248.24 19.82 2018 327.12 18.0 2609 52 2609.71 2014 372.45 24.49 21.45 2017 41.22 2016 131.52 .00 127.75 3.00 42.94 17.Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulutenggo (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 554 2011 79.55 2020 56 20.4 537.8 487.06 17.6 167.21 2019 166.37 22.3 89.54 40.1 236.92 72.3 100.88 2015 205.11 97.90 27.50 24.34 193 0 193.50 7.2 356.76 Total 1953 22 1953.

13 576.3 2018 392.0 144.04 26.0 226.14 4284.8 140.0 642.83 37.35 32.Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulselrabar (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 555 2011 53.50 8.2 2016 322.7 568.90 76.1 433.4 604.48 62.50 11.74 332.0 .4 631.36 46.3 2019 582.8 2020 172.5 507.0 2012 515.50 30.90 87.51 28.9 Total 3375.8 2014 453.65 86.01 35.78 26.5 2013 391.80 19.42 29.9 2017 93.1 384.44 29.00 41.60 7.4 2015 396.30 187.

2 SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA-GORONTALO. SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI BARAT (SULSELRABAR) B2. Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulteng (selama ini disebut sistem Palu) melayani beban kota Palu dan kota Parigi dengan beban puncak pada akhir 2011 diperkirakan akan mencapai sekitar 75 MW. Dengan pertumbuhan rata-rata 11. Untuk melayani beban di Propinsi Sulawesi Barat yang berdekatan dengan Sulteng yaitu daerah Pasangkayu. SULAWESI TENGAH DAN SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI SELATAN. direncanakan pada akhir tahun 2012 akan terhubung dan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso di Sulawesi Tengah melalui transmisi 275 kV Poso-Palopo milik IPP seiring dengan beroperasinya PLTA Poso. Beban puncak sistem Sulut pada akhir tahun 2011 diperkirakan sekitar 194 MW dan sistem Gorontalo sebesar 51 MW.PENJELASAN LAMPIRAN B. Barat dan Tenggara (Sulselrabar) Saat ini sistem Sulawesi Selatan yang juga memasok sebagian Sulawesi Barat (disebut sistem Sulselbar). maka beban puncak sistem Sulut – Gorontalo diperkirakan akan meningkat dari 246 MW pada tahun 2011 menjadi 567 MW pada tahun 2020. Selanjutnya pada tahun 2013 sistem Sulselbar direncanakan interkoneksi dengan sistem Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui GI Wotu 275/150 kV membentuk sistem Sulselrabar. Pada tahun 2012 sistem Sulteng direncanakan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso melalui gardu induk Poso sehingga beban puncak sistem Sulteng pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 192 MW. 556 .4% per tahun sampai tahun 2020. namun pada tahun 2012 kedua sistem tersebut akan terinterkoneksi. pada tahun 2014 akan dibangun transmisi 150 kV Palu – Pasangkayu dan selanjutnya interkoneksi sistem Sulteng dengan sistem Sulselrabar melalui Pasangkayu akan dibangun setelah memenuhi kelayakan.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Sulawesi Utara – Gorontalo Saat ini sistem Sulawesi Utara (Sulut) masih terpisah dengan sistem Gorontalo. Sistem Sulawesi Selatan.

PLTA 16 MW dan PLTG peaking 100 MW. Proyek pembangkit berikutnya yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2011 adalah PLTP Lahendong IV 1x20MW yang dibangun oleh PLN dan uap panas bumi disediakan oleh Pertamina Geothermal Energy dengan pendanaan dari Loan ADB 1982 – INO. juga sebagai antisipasi terhadap kemungkinan tertundanya penyelesaian beberapa proyek yang ada agar tidak terjadi krisis listrik dikemudian hari serta untuk menurunkan biaya operasi. maka beban puncak sistem Sulselrabar diperkirakan akan meningkat dari 728 MW ditahun 2011 menjadi 1.2 Neraca Daya Sistem Sulawesi Utara – Gorontalo (Sulut-Gorontalo) Sistem Sulut-Gorontalo memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi. terdiri dari PLTU 425 MW (termasuk PLTU sewa 50 MW).1. Banyaknya proyek pembangkit tersebut selain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban. Proyeksi kebutuhan beban sistem Sulut–Gorontalo. Kondisi sistem Sulut pada tahun 2011 diperkirakan masih cukup rawan karena tanpa cadangan yang memadahi. PLTP 140 MW. Dengan pertumbuhan rata-rata 11.2% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated. banyak pembangkit baru yang akan dibangun selama kurun waktu 2011-2020 yaitu mencapai 681 MW.Gaorontalo yaitu mencapai 69% pada tahun 2013.9% per tahun sampai tahun 2020. B2. Untuk mengimbangi pertumbuhan beban yang tinggi tersebut.Beban puncak pada akhir tahun 2011 untuk sistem Sulselbar diperkirakan 728 MW dan sistem Sultra 64 MW. Namun demikian. secara teoritis tersedia reserve margin yang cukup tinggi pada sistem Sulut . terdapat beberapa proyek pembangkit lain yang diperkirakan akan mundur dari jadwal semula yaitu : 557 .950 MW pada tahun 2020. sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran B2. Oleh karena itu. walaupun proyek percepatan tahap I yaitu PLTU II Sulut 2x25 MW yang berlokasi di Amurang akan beroperasi. yaitu rata-rata 12.

ƒ PLTA Sawangan 2x8 MW memanfaatkan DAS Tondano.ƒ PLTU Gorontalo 2x25 MW di Gorontalo mengalami keterlambatan dan diperkirakan baru akan beroperasi pada tahun 2012/2013 ƒ PLTG Minahasa 1x25MW sebagai pembangkit peaking yang didanai APLN. ƒ PLTU IPP Sulut I di Kema (2x25 MW) mundur menjadi tahun 2014/2015. ƒ PLTU Sulut (PPP) kapasitas 2x55 MW yang telah diusulkan masuk dalam PPP Book Bappenas 2011. ƒ Proyek pembangkit program percepatan tahap II : . merupakan proyek yang strategis karena selain proyek ini akan memasok permintaan tenaga 558 . ƒ Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : − PLTU percepatan tahap I. rencana operasi diperkirakan mundur ke tahun 2014/15. akan dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi tahun 2015. maka saat ini tengah diproses sewa PLTU batubara 2x25 MW di Sulut dan dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2013. Sehubungan masih tingginya tingkat ketidakpastian penyelesaian proyek-proyek tersebut dan untuk mengatisipasi keterlambatan proyek agar tidak terjadi krisis daya dikemudian hari. menggunakan pendanaan dari pinjaman luar negeri. dijadwalkan beroperasi 2014 bersamaan interkoneksi sistem Tolitoli dengan sistem Sulut-Gorontalo melalui Moutong. Buol dan Moutong. yaitu PLTU Sulut II 2x25MW. akan mundur ke tahun 2013 dan untuk tahap awal diperkirakan masih akan menggunakan BBM sebelum gas LNG tersedia. direncanakan beroperasi tahun 2018. ƒ PLTU Tolitoli 3x15 MW untuk menggantikan PLTU skala kecil di Tolitoli. Proyek baru yang akan dibangun dan dijadwalkan beroperasi mulai 2014 yaitu: ƒ PLTU I Sulut 2x25 MW (Proyek percepatan tahap I) dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2014 untuk memperkuat sistem Sulut-Gorontalo sehubungan proyek PLTU IPP Minahasa 2x55 MW tidak berlanjut. .PLTP Kotamubagu I dan II masing-masing 40 MW mundur ke tahun 2016 sehubungan sumber panas bumi berada di daerah hutan cagar alam Gunung Ambang.PLTP Lahendong V dan VI (2x20 MW) IPP.

listrik pada tahun 2011. Untuk mengimbangi kondisi tersebut. Masa kontrak sewa pembangkit 559 . Dalam waktu dekat. sistem Sulselbar masih dalam kondisi cukup rawan karena beroperasi tanpa cadangan yang memadahi dan sebagian besar dipasok dari pembangkit IPP dan sewa. dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2014.2% per tahun sampai dengan tahun 2020. − Proyek PLTP Lahendong IV 1x20MW. diharapkan PLTA Poso IPP akan beroperasi pada tahun 2012 bersamaan dengan selesainya transmisi 150 kV Poso-Palu sehingga kebutuhan beban di Sulteng akan dapat tercukupi.3% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated.Tenggara (Sulselrabar) Sistem Sulsel-Barat (sistem Sulselbar) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi yaitu rata-rata tumbuh 11. ƒ PLTU Palu 2x15 MW dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2015. Sebagaimana diketahui bahwa porsi pembangkit PLN hanya 262 MW. Sampai dengan tahun 2012. sedangkan pembangkit IPP dan sewa mencapai 544 MW. Pasokan listrik di sistem Palu saat ini didominasi oleh PLTU IPP dan untuk beban puncak masih mengandalkan PLTD. Beberapa pembangkit yang akan dibangun dalam waktu dekat antara lain: ƒ Ekspansi PLTU IPP Tawaeli dengan kapasitas 2x15 MW. terdiri dari PLTA 130 MW.Barat . PLTU 60 MW. maka selama kurun waktu 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan total kapasitas mencapai 280 MW. PLTG peaking 50 MW dan PLTP 65 MW. Sistem Sulawesi Selatan . juga sekaligus untuk mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. − PLTU I Sulut (Perpres tahap I) 2x25 MW − PLTU IPP Sulut I (Kema) 2x25MW Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulawesi Tengah memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12. Pada tahun 2011. sistem Sulteng dalam kondisi tanpa cadangan dan belum mampu melayani seluruh kebutuhan calon pelanggan baru dan penambahan daya pelanggan eksisting.

semula dijadwalkan beroperasi pada tahun 2010 namun mundur menjadi tahun 2012.akan diakhiri setelah proyek pembangkit baru selesai dan mampu menggantikan peran pembangkit sewa. ƒ Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : 1 Sistem Sulsel mempunyai cukup banyak PLTA dan kemampuan produksi PLTA sangat dipengaruhi oleh variasi kondisi musim. − PLTU Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: progress proyek mencapai 80%.480 MW terdiri dari PLTU 1. Dalam rangka memenuhi kebutuhan beban yang cukup tinggi dan sekaligus sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya proyek tidak bisa selesai tepat waktu. dilakukan sewa PLTU 2x120 MW yang ditempatkan bersebelahan dengan PLTU Barru di Sulsel dan dijadwalkan dapat beroperasi pada 2013. Selama periode 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan kapasitas total mencapai 2. ƒ Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan proyek-proyek IPP dan PLN. Tambahan pembangkit baru yang dapat terealisasi pada tahun 2011 diperkirakan hanya PLTMH PLN 8 MW dan PLTMH IPP 20 MW yang terhubung ke 20 kV.490 MW (termasuk PLTU sewa). akan dibangun pembangkit baru dalam jumlah cukup besar termasuk sewa PLTU dengan memberikan toleransi reserve margin yang cukup tinggi yaitu 70%. ƒ Tambahan pembangkit baru yang merupakan proyek IPP diperkirakan dapat selesai 2012-2013. − PLTA Poso 3x65 MW: progres pekerjaan proyek ini di lapangan sudah mencapai 80% dan diperkirakan dapat beroperasi tahun 2012. PLTGU 180 MW dan PLTG peaking 200 MW. 560 . Reserve margin yang tinggi juga dimaksudkan untuk mengantisipasi penurunan kemampuan PLTA pada musim kering1. PLTA/M 594 MW. ƒ Pembangkit program percepatan tahap II PLTU Takalar FTP-2 (2x100 MW). akan mundur dari tahun 2014 menjadi tahun 2014/2015. Proyek-proyek yang diperkirakan akan mengalami keterlambatan antara lain: ƒ Proyek percepatan tahap I yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50 MW. yaitu sebagai berikut : − PLTG/U Sengkang IPP 2x60 MW: mundur dari tahun 2010 menjadi 2012. diharapkan tahun 2012 sudah beroperasi.

3 Proyek-Proyek IPP Yang Terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B2. − PLTU IPP Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: proyek ini sangat penting untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik jangka pendek dan menengah khususnya pada periode 2012-2014. − PLTA Poso IPP 2x65 MW untuk sistem Sulselbar.− PLTU percepatan tahap I. Sebagaimana diketahui bahwa potensi tenaga air di Sulawesi terutama di Wilayah Sulselrabar sangat besar dan salah satu lokasi yang diindikasikan adalah di DAS sungai Karama. maka rencana PLTA tersebut akan dimasukkan dalam neraca daya pada RUPTL periode berikutnya sesuai kebutuhan sistem untuk menggantikan rencana pembangkit berbahan bakar fosil yang mempunyai peran sejenis dan belum ada komitmen untuk pembangunannya. 561 . yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50MW.3. proyek ini akan dapat mengatasi kekurangan pasokan daya terutama untuk tahun 2012. − PLTU Sulsel-3 (Takalar) IPP 2x100 MW.2 B2. digunakan software ProSym yang pada prinsipnya menggunakan kaidah merit order. Untuk menghitung alokasi produksi per unit pembangkit agar diperoleh nilai bauran energi yang paling ekonomis dan optimal. Neraca Daya sistem Sulut – Gorontalo dan sistem Sulselrabar sebagaimana diperlihatkan pada lampiran B2.4 Neraca Energi Produksi Energi Energi yang diproduksi pembangkit pada suatu sistem kelistrikan selaras dengan pertumbuhan demand dan keberagaman jenis pembangkit yang akan dibangun. − PLTG/U Sengkang IPP extension 2x60MW. karena dapat mengatasi kekurangan pasokan daya dan sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. Saat ini tengah dilakukan studi kelayakan pada lokasi tersebut dan bila hasil studi menyatakan layak dibangun PLTA. B2. dijadwalkan beroperasi tahun 2014/2015.

716 GWh pada tahun 2020. d. Hal ini karena adanya penambahan kapasitas pembangkit pada PLTG Sengkang dan pembangkit peaking berbahan bakar LNG. Bonto Batu dan 562 . b. yaitu dari rencana 272 GWh pada tahun 2011 akan naik menjadi 6. Mulai tahun 2014/2015 peran MFO dan HSD akan habis digantikan dengan gas LNG. Lampiran B2. Bakaru II. yaitu peran MFO dan HSD pada tahun 2011 masih besar masing-masing 1. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTU batubara yang pada tahun 2010 hanya 27 MW akan menjadi 1.955 MW pada tahun 2020. Poso.487 GWh pada tahun 2020 untuk sistem interkoneksi besar di Sulawesi. − Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya. − Ketersediaan batubara tidak terbatas. sehubungan masuknya PLTG peaking dengan bahan bakar gas LNG dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. Peranan pembangkit batubara akan menjadi dominan. Peranan pembangkit gas meningkat pada sistem interkoneksi di Sulawesi dari 1. Hal yang sama juga terjadi pada sistem interkoneksi Sulselbar.521 GWh dan 259 GWh.514 GWh pada tahun 2011 menjadi 2. Konawe dan Watunohu.4. Mulai tahun 2015 peran keduanya akan habis dan digantikan dengan gas LNG sehubungan masuknya PLTG peaking dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. dengan asumsi : − Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada. c. yaitu dengan masuknya beberapa proyek PLTA berikut: Bakaru II. Penggunaan HSD untuk jangka panjang tidak menjadi nol karena HSD masih tetap dibutuhkan oleh pembangkit kecil pada sistem isolated.Hasil perhitungan simulasi produksi energi per jenis energi primer di sistem Sulawesi sebagaimana diberikan pada Lampiran B2. Bonto Batu. Peranan pembangkit hidro semakin meningkat khususnya di Sulawesi Selatan. Malea. e.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Peranan MFO dan HSD di sistem interkoneksi Sulut-Gorontalo pada tahun 2011 masih tinggi yaitu masing-masing 157 GWh dan 295 GWh.

Gas Senoro akan diambil PLN dalam bentuk LNG untuk bahan bakar pembangkit peaking di Sulsel dan Sulut. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sulawesi dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B2.773 MVA. Pemakaian gas di Sulawesi oleh pembangkit IPP yaitu PLTGU Sengkang. B2.5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Sedangkan volume pemakaian batubara meningkat dari 0. Peranan panas bumi akan meningkat khususnya di Sulawesi Utara dengan akan beroperasinya PLTP Lahendong IV dan V serta PLTP Kotamobagu dari 430 GWh tahun 2011 menjadi 1. Kebutuhan HSD akan turun tajam dari 240 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015. sedangkan PLTA lainnya merupakan pembangkit beban menengah/dasar. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Sulawesi sampai dengan tahun 2020 sebesar 4.17 juta ton pada tahun 2011 menjadi 4. Pemakaian gas oleh PLN hanya untuk pembangkit peaking sehubungan pembatalan proyek PLTGU di Senoro akibat alokasi gas Senoro kepada PLN hanya 20 mmscfd.164 GWh pada tahun 2020. Sama halnya dengan pemakaian MFO dari 427 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015.33 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 26 kali lipat. f. 563 .4.5.Poko merupakan pembangkit beban puncak. Pembangunan PLTGU Donggi-Senoro menjadi tidak optimal karena lokasinya sangat jauh dari pusat beban. Pemakaian LNG di Sulawesi akan dimulai pada tahun 2013 sebesar 3. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.4 bcf dan akan menjadi 6 bcf pada tahun 2020. dan diasumsikan pasokan gas tetap ada hingga tahun 2020.

2015 dan tahun 2019 dengan hasil sebagai berikut : a. PLTU IPP. yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut II – Lopana. sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran.3 MW.8 MW dengan jumlah pasokan sebesar 314. 564 . perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.7. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150. PLTA IPP dan PLTP IPP. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Bitung (67. SUTT 150 kV Lopana – Teling. Total beban sistem sebesar 310. system Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi. B2. Analisa load flow dilakukan beberapa tahun yaitu tahun 2012.4 kV).1 MW. GI Paniki dan GI Ranomuut (87 MW) dan ke Gorontalo yaitu GI Isimu dan GI Botupingge (36 MW).6.0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (144. • Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Sulut–Gorontalo. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 hingga 2013 ada tujuh ruas transmisi.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran sistem Sulut – Gorontalo.7 Peta Pengembangan Penyaluran Cukup jelas seperti terlihat pada Lampiran B2.B2. GI serta transmisi eksisting dan yang akan dibangun baru. • Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan. Tahun 2013 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo yaitu dari kelompok pembangkit (PLTP dan PLTU Sulut II) ke utara yaitu GI Teling.1 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65.5 kV). Berdasarkan hasil simulasi aliran daya susut sistem sebesar 3. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2. B2.8 Analisis Aliran Daya Analisa Aliran Daya Sistem Minahasa –Gorontalo Analisa aliran daya pada sistem interkoneksi Minahasa-Gorontalo dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit.

dan PLTG Minahasa #1.0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (145. SUTT 150 kV Paniki – Kema. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (66.9 kV). PLTU Sulut I (Kema) #1 dan PLTA Sawangan 2 unit. #3 . dan PLTU Sulut (PPP) #1. PLTU Tolitoli. Total beban sistem sebesar 366 MW dengan jumlah pasokan sebesar 369. yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut (PPP) ke Kema/Tanjung Merah.5 kV). Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTG Gorontalo #1.SUTT 150 kV Teling – Paniki.7 kV). Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Otam (148.9 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65.4 MW dengan jumlah pasokan sebesar 568. Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 13. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150.8 MW. PLTG Minahasa #2.3 MW. b.2 kV). Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 3.2 kV) dan terendah di GI Likupang (61. #2. c. Tahun 2020 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masingmasing sebesar 150 MW ke Manado dan 105 MW ke Gorontalo.2 kV) dan tegangan terendah di GI Botupingge (141. Total beban sistem sebesar 555. Untuk mempertahankan level tegangan pada batas normal dibutuhkan tambahan kapasitor 20 MVar yang terpasang di GI Isimu sehingga total kapasitor sebesar 40 Mvar. dimana penambahan ruas transmisi ada beberapa ruas yaitu SUTT 150 kV Moutong – Marisa. PLTU Sulut I (kema) #2. SUTT 150 kV GI Otam – PLTP Kotamobagu. Sedangkan pembangkit baru yang dijadwalkan akan beroperasi yaitu PLTU Sulut II #1 dan #2. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (65.8 MW. Tahun 2015 Aliran daya mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masing-masing sebesar 133 MW ke Manado dan 62 MW ke Gorontalo. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTP Lahendong #5 dan #6. Pada tahun 2016 hingga 2020 ada penambahan transmisi baru. Pada tahun ini sub sistem Tolitoli telah interkoneksi dengan sistem.7 MW. SUTT 150 kV PLTU Kema – GI Kema dan GI Kawangkoan – PLTP #5 dan #6. SUTT 150 kV Buroko – Isimu (GI Anggrek incomer). PLTU Anggrek #2. SUTT 150 kV Isimu – Botupingge dan SUTT 150 kV Isimu – Marisa. PLTU 1 Sulut di Buroko. 565 .

Analisa load flow dilakukan untuk tahun 2012. dengan susut transmisi sebesar 37. Uprating TL 150 kV Tello – Tallo Lama. dengan 566 . PLTGU Sengkang 3 x 60 MW.2 MW. Pembangkit yang beroperasi adalah PLTA Bakaru 2 x 63 MW. TL 150 kV Sengkang – Sidrap (2011). Underground 150 kV Bontoala – Tallo Lama.Analisa Aliran Daya Sistem Sulawesi Selatan Analisa aliran daya pada sistem Sulsel dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit eksisting dan penambahan pembangkit baru sesuai neraca daya 2011–2020. Total beban sistem sebesar 833 MW dan pembangkit beroperasi sebesar 870. PLTGU Sengkang 2 x 60 MW. tegangan sistem masih dalam batas normal. PLTA Bakaru dan PLTA Poso sehingga ada daya sekitar 370 MW yang mengalir dari utara ke selatan propinsi Sulawesi Selatan. TL 150 kV Sengkang – Siwa/Keera (2011). 2015 dan 2019. Pada kondisi tersebut. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2011 – 2013 adalah. Tahun 2013 Sebagian besar kebutuhan energi listrik di pusat beban kota Makassar dan sekitarnya. b. a. TL 150 kV jalur tengah Sidrap – Maros (New S/S) – Sungguminasa (2011). PLTA Poso 3 x 65 MW (145 MW Transfer ke Selatan – 2012).4 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143. TL 150 kV PLTU Takalar – Tanjung Bunga.7 kV. Tambahan transmisi baru pada tahun 2011 – 2013 adalah. Tegangan tertinggi terjadi di GI Wotu 152.3 %). meliputi sistem 150 kV dan 70 kV.2 MW (3. PLTGU Sengkang 135 MW. PLTD Suppa 60 MW dan PLTA Poso 3 x 65 MW. ekspansi 2 dan 3 (2011/12). TL 275 kV PLTA Poso – Palopo. PLTU Sulsel Perpres 1 di Barru 2x50 MW (2012). PLTU Bosowa 2 x 100 MW (2012). melalui transmisi 150 kV. masih dipasok dari pembangkit yang posisinya berada di bagian utara Propinsi Sulawesi Selatan yaitu dari PLTGU/G Sengkang. Aliran daya sistem Sulselbar masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya. Tahun 2015 Pada tahun ini sistem Sulselbar sudah terinterkoneksi dengan sistem Sultra melalui transmisi 150 kV.

Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal. PLTA Bontobatu 2 x 50 MW (2016). Total beban sistem sebesar 1.5 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1. dengan susut transmisi sebesar 62.7 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 149.3 MW dan susut transmisi sebesar 35. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2013 . PLTU Takalar (eks loan Spanyol) FTP2 2x100 MW (2014/15) dan PLTU Mamuju FTP2 2x25 MW (2014). Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal.3 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 145. Total beban sistem sebesar 1. dengan transfer daya sebesar 62 MW.9 kV (sistem Sultra).9 MW. ƒ Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan ƒ Perbaikan SAIDI dan SAIFI 567 .PLTU Sulsel 3 2 x 150 MW (2018/19).3 MW (2. PLTA Konewa 2 x 25 MW (2016). B2.1 %).9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. PLTA Malea 2 x 45 MW (2016). tegangan tertinggi di GI Wotu 154. Tahun 2020 Aliran daya masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya sebesar 600 MW. tegangan tertinggi di GI Wotu 154. PLTU Sulsel-3 (Takalar) 2x100 MW (2014/15).995.6 %). c.127 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1. Sedangkan sistem Sultra mendapat pasokan daya dari PLTA Poso.3 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 136. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2016 – 2020 adalah.4 MW (3. Tambahan transmisi baru pada tahun 2013 – 2015 adalah TL 150 kV Wotu – Malili – Kolaka – Unaaha – Kendari (2014).transfer daya sebesar 368 MW.2015 adalah.8.7 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143.4 kV (sistem Sultra).933. PLTA Bakaru-II 2 x 63 MW (2019).162. PLTG Makassar 100 MW (2020). PLTP Lainea 20 MW (2017) . Gambaran yang lebih rinci untuk kondisi pada tahun-tahun tertentu hasil simulasi aliran daya untuk sistem besar di Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.

989 2018 1.094 kms 1.669 613 222.437 523 194.277 454 173.778 2013 830 1.749 1.351 MVA 549 2012 657 900 338 126.119 401 152.796.156 1.297 1.095 13.372 493 185.542 2020 2011-2020 2.831 1.9. Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi 2011-2020 se Sulawesi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.940 2016 1.497 1.498 2017 1.805 2014 1.880 2015 1.ƒ Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua ƒ Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan ƒ Menurunkan suut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan distribusi yang sudah tua dan tidak layak dioperasikan ƒ Proyeksi kebutuhan distribusi diberikan pada Lampiran B2.520 560 204.717 .276 Tahun 568 Pelanggan 228.006 1.857 4.016 402 144.145 12.634 1.196 419 162.034 2019 1.143 1.

JTR 12.145 kms.1 2018 17.Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 se Sulawesi Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 13.285 kms.0 6.5 46.7 2015 12. ƒ Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut untuk menunjang pengembangan sistem distribusi.7 35.3 9.8 8.10 Program Listrik Pedesaan Program listrik pedesaan pemerintah yang tertuang dalam RPJM 2010-2014 adalah meningkatkan ratio elektrifikasi Indonesia pada tahun 2014 menjadi 80%.6 juta (JTM US$ 145 juta. ƒ Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60.5 19.1 5.8 206.361 kms.857 kms. dan sambungan pelanggan US$ 80. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60.5 2019 19.6 7.2 9.0 21.4 40.3 15.8 juta pelanggan.6 juta.2 8.1 2011-2020 144.9 17.6 80. menjadi 69.6 55.8 juta.5 8. JTR 4.8 % di tahun 2014 untuk regional Sulawesi.1 9. JTR US$ 85.9 85.2 10.2 MVA.5 10. gardu US$ 206.0 50.4 22.9 26.3 % tahun 2009.3% (tahun 2010) menjadi 69.6 7.0 18. membutuhkan biaya sebesar US$ 517.6 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya distribusi regional Sulawesi tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 13.2 9.0 43.6 2017 16.4 2012 8. 569 .6 6.7 9.9 2020 22.6 62.7 2016 14.1 7.1 58.9 24.4 7.0 9.2 517.9 8.9 2014 11.4 23. B2.8% di tahun 2014 untuk regional Sulawesi .5 70.7 53.5 17. kapasitas gardu distribusi 370.5 2013 10. Kapasitas gardu distribusi 4749 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1.4 6. Untuk menunjang program tersebut di pulau Sulawesi direncanakan membangun JTM 4.2 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar US$ 52 juta.

Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit. transmisi dan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.3 s/d 4.10 B2.12. 570 .11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4.12.6 B2.Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi untuk listrik pedesaan diberikan pada Lampiran B2.

PROVINSI SULAWESI UTARA LAMPIRAN B7. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) 571 . PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LAMPIRAN B4. PROVINSI SULAWESI TENGAH LAMPIRAN B8. PROVINSI PAPUA LAMPIRAN B15. PROVINSI SULAWESI BARAT LAMPIRAN B12. PROVINSI SULAWESI TENGGARA LAMPIRAN B11. PROVINSI MALUKU UTARA LAMPIRAN B14. PROVINSI KALIMANTAN TENGAH LAMPIRAN B5. PROVINSI MALUKU LAMPIRAN B13. PROVINSI SULAWESI SELATAN LAMPIRAN B10. PROVINSI PAPUA BARAT LAMPIRAN B16. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR LAMPIRAN B6.RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR LAMPIRAN B3. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) LAMPIRAN B17. PROVINSI GORONTALO LAMPIRAN B9.

sehingga rasio elektrifikasi sekitar 73. Gambar B3.LAMPIRAN B. jaringan dan pelanggan PLN .4%. Total daya terpasang adalah sekitar 423 MW dengan daya mampu 311 MW dan beban puncak 292 MW pada kwartal ketiga tahun 2011.1. Konfigurasi saat ini dan rencana pengembangan sistem kelistrikan interkoneksi di Kalimantan Selatan dapat dilihat pada gambar B3.1 Peta pengembangan sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan 1 ULD adalah unit satuan pelayanan PLN yang dikelola oleh badan usaha di daerah terpencil yang mengelola pembangkit. Jumlah pelanggan pada waktu yang sama adalah sekitar 757 ribu pelanggan. 572 . sedangkan sistem–sistem isolated tersebar antara lain sistem Pagatan. Situasi sistem kelistrikan di provinsi ini pada dasarnya masih terbatas dan tanpa cadangan.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar dipasok dari sistem Barito. Kotabaru serta Unit Listrik Desa (ULD)1 dipasok dari PLTD setempat.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN B3.

PLTU. Pusat beban sistem Barito berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan porsi sekitar 80% dari seluruh beban sistem Barito.7 MW. Jumlah ULD adalah sebanyak 20 unit dengan daya terpasang 6. untuk sementara penambahan pelanggan baru dilaksanakan dengan cara selektif. dipasok dari beberapa jenis pembangkit meliputi PLTA.Sistem Interkoneksi Barito Sistem Barito merupakan sistem interkoneksi dengan jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV. 573 . Kondisi sistem kelistrikan Barito saat ini masih belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. merupakan sistem yang terhubung dengan jaringan tegangan menengah 20 kV. Daya mampu sistem Barito saat ini sekitar 280 MW dengan beban puncak 265 MW. Akibat kondisi kelistrikan yang terbatas ini. Sistem Barito merupakan pemasok utama kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sistem Barito akan dapat melayani kebutuhan masyarakat setelah PLTU Kalsel di Asam-Asam beroperasi. Sistem Isolated Pagatan Di Kalimantan Selatan masih banyak terdapat sistem-sistem kecil isolated tersebar. terhubung melalui jaringan 20 kV dan melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Pulau Laut. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kondisi kekurangan pasokan tersebut adalah menyewa PLTD minyak jangka pendek dengan total daya 128 MW. dan menambah daya melalui pembelian tenaga listrik excess power dari industri yang mempunyai cadangan daya. melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Tanah Bumbu dan sebagian kabupaten Pulau Laut. - ULD merupakan sistem kelistrikan yang tersebar di daerah terpencil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa setempat dan bebannya masih rendah. Sistem Kotabaru terletak di pulau Laut yang terpisah dari daratan pulau Kalimantan. - Sistem Kotabaru juga merupakan sistem isolated dengan pasokan listrik dari PLTD. PLTD minyak dan PLTG minyak. dan beberapa diantaranya yang relatif besar adalah: - Sistem Pagatan/Batulicin. Kondisi kelistrikan di sistem Pagatan ini juga mengalami keterbatasan daya pembangkit dan untuk memenuhi kebutuhan dilakukan sewa PLTD minyak serta membeli excess power. Sistem Pagatan direncanakan akan diinterkoneksikan dengan sistem Barito menggunakan transmisi 150 kV. mengingat daya yang ada masih sangat terbatas.

6 14.Daya terpasang dan beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat pada tabel B3. proyeksi kebutuhan listrik 2011–2020 diberikan pada tabel B3.1 Sistem Kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan per Oktober 2011 Sistem Kabupaten Daya Terpasang [ MW ] Daya Mampu [ MW ] Beban Puncak [ MW ] Keterangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kab Banjar Kab Tapin Kab HSS 1.1. Di beberapa kawasan.2.7 311.7 4.1 15.5 Kab Tanah Bumbu 17. Sistem Batulicin TOTAL B3. 574 .1 Isolated 4. ULD (20 Lokasi Tersebar) Tersebar 6. Kondisi demikian akan berpengaruh kepada pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang. kondisi tanahnya juga cocok ditanami kelapa sawit. Sistem Kotabaru Kab Kotabaru 11. Eksploitasi sumber daya alam berupa batubara dan mulai berkembangnya perkebunan kelapa sawit telah membuat ekonomi Kalimantan Selatan tumbuh dinamis dan prospektif. Tabel B3.4 10.3 Isolated 422.7 4.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Kalimantan Selatan memiliki sumber daya energi yang cukup banyak dengan tersedianya cadangan batubara dan gas methane yang cukup besar.2 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong Kab Balangan Kab Barito Kuala Kab Tanah Laut 2. Berdasarkan realisasi pengusahaan lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.6 265.3 292.3 8.3 Isolated 3. Sistem Barito 387.5 280.

241 841.137 954. Sampai saat ini batubara Kalsel telah dipakai sebagai bahan bakar di berbagai PLTU di Indonesia termasuk di PLTU Asam-Asam.131. meliputi batubara.889.2 2.7 2.9 2.586.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana kelistrikan yang meliputi pembangkit.8 3.156.2 2. Deposit batubara diperkirakan lebih dari 1.238.2 2.5 4.958. 575 .3.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 1.066.2 1.057.083.454.426.7 2.038.800.8 miliar ton.0 3.7 Produksi (GWh) 1. tenaga air dan energi surya. transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat dan sebaran penduduknya sebagai berikut.774.702. sementara produksinya rata-rata mencapai 12 juta ton per tahun.7 3.3% 9.055 877.604 1.225.470.3% B3. Potensi energi primer yang potensial untuk dikembangkan khususnya bagi desadesa tertinggal yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN adalah batubara.758 772.450. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber energi primer yang banyak.032 4.4% Jumlah Pelanggan 740.5 3.5 2.732.891.7 1.646.7 2.1 9.3% Beban Puncak (MW) 331 366 390 423 459 499 542 589 641 697 9. Potensi batubaranya sangat besar dengan berbagai tingkat kalori sebagaimana dapat dilihat pada table B3.410 1.4 2.1 1.538 995. gas methan batubara (coal bed methana /CBM) dan tenaga air.259.Tabel B3.829 806.9 2.332 915.

Amandit.3 Potensi Batubara Kalimantan Selatan No.620.33  5100 ‐ 6100  4.5 menampilkan perincian pengembangan pembangkit dimaksud.81   334.38   1.793. Tabel B3. Tabel B3.517.249. antara lain DAS Barito.01  6100 ‐ 7100  336.86   536. 2006 Sumber Tenaga Air/Hidro Kalimantan Selatan merupakan daerah yang mempunyai sumber daya tenaga air. adb) 1 Kalori Rendah <5100 2 Kalori Sedang 3 Kalori Tinggi 4 Kalori Sangat Tinggi Sumberdaya ( Juta Ton) Tereka Tertunjuk Terukur Cadangan (Juta Ton) Jumlah  370.09   9.95   1.87   0. Balangan. Keberadaan DAS tersebut kurang berpotensi untuk dijadikan PLTA run-off-river karena topografinya landai.6 MW 4 PLTMH Kiram Atas Banjar 0.6 MW 6 PLTMH Gendang Timburu Kotabaru 0.526. Kintap. Batulicin.867. Badan Geologi KESDM. 576 . Riam Kiwa.99   971.00   29.13   301.46   7.Tabel B3. Kualitas Kelas Kriteria (Kal/gr.64   478. PLTA dan PLTG peaking.62   0.6 MW Total 99.00   600. Propinsi Kalimantan Selatan Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode 2011-2020 direncanakan tambahan 6 proyek pembangkit listrik berkapasitas 609 MW.36  > 7100  17.14   5. Secara rinci potensi tenaga air dapat dilihat pada tabel B3.19   33.95   44.4. Umumnya DAS tersebut berhulu di pegunungan Meratus dan bermuara di laut Jawa dan selat Makassar.62   0.48   3.6 MW Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi. Batang Alai. Riam Kanan. Tapin.86 MW 5 PLTMH Sampanahan Kotabaru 0. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTU batubara. dan Sampanahan.12   109.101.36   2.00   12.4 Potensi energi air di Kalimantan Selatan NO NAMA BENDUNGAN KABUPATEN KAPASITAS 1 PLTA Kusan Tanah Bumbu 65 MW 2 PLTMH Riam Kiwa Banjar 10 MW 3 PLTMH Muara Kendihin Hulu Sungai Selatan 0.287.84  Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi. sehingga head-nya relatif kecil.

sehingga pengembangan sistem dilakukan dengan menggunakan tegangan 150 kV. 577 . Selama periode 2011-2020 direncanakan akan dibangun saluran transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 1. Adanya potensi tenaga air di DAS Kusan yang lokasinya jauh dari pusat beban memerlukan transmisi 150 kV untuk menyalurkan energinya. Selain itu pembangunan sistem transmisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan daya hantar listrik mengingat adanya rencana pembangunan PLTU dalam satu kawasan di Asam-Asam.6.5 Rencana Pengembangan Pembangkit di Kalsel No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Asam Asam (FTP1) PLN PLTU 2x65 2011 On Going 2 Kotabaru (APBN) PLN PLTU 2x7 2013 On Going 3 Kusan PLN PLTA 65 2017 Rencana 4 Kalsel (Peaking) PLN PLTG 50 2019 Rencana 5 Asam Asam Sewa XPLTU 3x50 2013 Rencana 6 Kalsel-1 (FTP2) Swasta PLTU 2x100 2015/16 Rencana Total Kapasitas 609 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban kelistrikan di sistem interkoneksi Kalimantan Selatan relatif besar dan jaringan tegangan tinggi akan menjangkau beban yang secara geografis semakin jauh. Rencana pengembangan sistem interkoneksi 70 kV untuk menghubungkan grid Barito dengan sistem Kotabaru di pulau Laut.Tabel B3.725 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 212 juta seperti ditampilkan dalam tabel B3. dimana saat ini dalam tahap studi kelayakan dan studi dasar laut.

 1xHAWK               6              4.5 2013 9 Landing point P.2 2012 7 Up rating Asam‐Asam 150 kV 2cct. 2xHAWK          220            27. 578 . 1xHAWK          138            12.6 2013 10 Tanjung 11 PLTU Kalsel 1 (FTP 2) Barikin  150 kV 150 kV 2 cct. Rencana pembangunan gardu induk baru pada tabel B3. 2xHAWK          213            26.813          223. 1xHAWK             66              5.9 2011 2 Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct.0 2013 8 Batu Licin Perbatasan Incomer 2 phi Barikin ‐  Cempaka Pelaihari‐Cempaka‐ Mantuil  Landing point P. akan mencapai 24 buah dengan kapasitas total 750 MVA. Laut Kotabaru 70 kV 2 cct. Biaya investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 55 juta dengan rincian terdapat pada tabel B3. 2xHAWK               2              0. Khusus di Pulau Laut.6 Rencana pembangunan Transmisi 150 kV No 1 Dari Barikin  Ke Amuntai Tegangan Konduktor Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD) COD 150 kV 2 cct.7. 2xHAWK          248            30. 2xHAWK          100            12.3 2016 13 Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2 cct.7 2011 3 PLTU Asam‐Asam (FTP1) Mantuil 150 kV 2 cct.2 Catatan: Tingkat tegangan kabel laut yang menginterkoneksi Pulau Laut dan Kalimantan sedang dalam kajian.Tabel B3.0 2011 4 Asam‐asam Batu licin 150 kV 2 cct. direncanakan pengembangan GI 70/20 kV dan saat ini masih dalam tahap kajian. 2xHAWK          284            34.8 2012 6 Rantau  150 kV 4cct. 1xHAWK             42              3.7 tersebut dapat dibangun secara minimalis untuk mengakomodasi beban yang masih relatif kecil untuk mempercepat pembangunan dan menekan biaya investasi. 1xZEBRA          180            30. 2xHAWK 2 cct. Laut 70 kV 2 cct. 1xHAWK             74              6.4 2012 5 Tanjung  150 kV 2 cct.3          240            29. Pengembangan Gardu Induk Jumlah GI yang direncanakan akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya.4 2014 2014 12 PLTA Kusan 150 kV 2 cct.1 2017 Kayutangi Single phi Cempaka ‐  Rantau Jumlah       1.

23             1.39             2. Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi sampai tahun 2020 termasuk untuk listrik pedesaan adalah 18.23             2.62             1.42 Tegangan Baru/Extension 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150/70 kV 70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension COD 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas.62             1. direncanakan juga pembangunan jaringan distribusi 20 kV.23             1.206 kms JTR dan 533 MVA trafo distribusi dengan rincian ditunjukkan dalam tabel B3.39             1.8.23             1.23             2.39             1.10             0.23             1.10             1. 579 .23             2.39             1.Tabel B3.10             1.23             1.23             2.533 kms JTM. Proyeksi tersebut dimaksudkan untuk menambah rata-rata 37.39 Jumlah            750            55. 10.10             2.94             3.7 Pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Gardu Induk Amuntai (GI baru ) Barikin Ext LB Kayu Tangi (GI baru )  Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam‐asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam‐asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Batulicin Kota Baru (GI baru )  Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (NEW LINE) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Mantuil Trisakti (Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari Daya  (MVA)              30 2 LB              30 2 LB 3 CB 2 CB 2 LB 2 LB              30 2 LB 2 LB              60 2 LB              30              30 2 LB 2 LB              30              60 2 LB 2 LB 2 LB              60              30              60              60              30              60              30              30              30              30 2 LB              30 Anggaran  (juta USD)             2.39             1.23             1.10             2.35             1.10             2.16             1.10             1.23             1.23             1.000 pelanggan per tahun selama 10 tahun.62             1.26             2.62             1.39             1.

Sistem kelistrikannya dipasok dengan PLTD dan dikelola oleh Unit Listrik Desa. PLN juga mendorong pengembangan PLTMH oleh swasta untuk memanfaatkan potensi tenaga air.413 2014 1.787 964 51 37.159 59 41.395 68 44. beberapa sistem isolated diupayakan secara bertahap masuk ke dalam sistem interkoneksi Barito melalui grid extension.622 2011-2020 18.417 804 44 34. B3. Untuk yang belum terjangkau grid.8 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.850 1.465 982 50 32. daerah isolated dibangun PLTU batubara skala kecil seperti Pulau Laut.369 828 51 33.272 63 42. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 di Provinsi Kalimantan Selatan diberikan pada tabel B3.206 533 373.806 2020 2.805 Tahun Pelanggan 30.533 10.Tabel B3.057 55 39.400 2018 2.060 B3.4 Sistem Kelistrikan Isolated Kalimantan Selatan dengan wilayah daratan yang sangat luas mempunyai banyak kelompok penduduk yang tersebar jauh dan terisolasi.066 2019 2.591 880 47 36.254 kms 865 MVA 45 2012 1.277 2016 1.9.814 2015 1. Selain itu PLN secara sangat terbatas juga berencana memasang PLTS komunal. 580 .786 2017 2.008 1.071 2013 1. Untuk melayani masyarakat sekaligus sebagai upaya meningkatkan ratio elektrifikasi di Kalimantan Selatan.256 1.536 1.5 Rangkuman Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.

9 120 213 181.131 Jumlah 697 65 50 609 581 750 - 57.0 - 88.703 3.067 2.259 2.451 589 2019 2.647 459 2016 2.801 331 130 60 328 111.Tabel B3.732 2.471 3.892 2.0 100 180 - 189.958 3.426 423 100 60 340 225.9 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun 2011 2012 Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Beban Produksi Pembangkit GI Transmisi Anggaran Puncak (GWh) (MW) (MVA) (kms) (juta USD) (MW) 280.6 2014 1.386.3 - 70.239 4.813 1.454 1.587 2.890 499 2017 2.4 1.775 641 2020 3.0 1.157 542 2018 2.225 390 164 210 260 121.057 366 30 534 Sales (GWh) 2013 1.3 .6 2015 2.3 90 138 61.1 1.

4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH B4. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dan rencana pengembangan sistemnya diperlihatkan pada gambar B4. 11 ribu pelanggan publik dan 104 pelanggan industri. 582 . dimana 66 MW diantaranya masuk dalam sistem Barito. Beban puncak total non coincident se Kalimantan Tengah pada tahun 2011 adalah sekitar 140 MW.56 MW di sistem isolated tersebar. Jumlah pelanggan Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2010 adalah sekitar 284 ribu pelanggan dengan rincian 249 ribu pelanggan rumah tangga.4 MW di sistem Barito dan 81.1 Kondisi Saat Ini Sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Tengah dipasok dari sistem interkoneksi Barito dengan transmisi 150 kV dari Kalimantan Selatan melalui beberapa GI di Kalteng yaitu GI Selat.1. dengan daya mampu pembangkitan rata-rata dalam kondisi pas-pasan. GI Pulang Pisau dan GI Palangkaraya. Sistem kelistrikan di daerah lainnya masih merupakan sistem isolated tersebar.LAMPIRAN B. 23 ribu pelanggan bisnis. GI Selat memasok beban di kabupaten Kuala Kapuas dan sekitarnya. Sedangkan daya mampu pembangkit sekitar 147 MW dengan rincian 54. GI Pulang Pisau memasok beban di kabupaten Pulang Pisau dan GI Palangkaraya memasok beban kota Palangkaraya dan kabupaten Katingan.

Sistem Sampit Kab Kotawaringin Timur 52.7 Isolated 4. proyeksi kebutuhan listrik Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2011–2020 diberikan pada tabel B4.3 Isolated 8. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.2 Isolated 9.5 9.7 1.6 Isolated 147. Sistem Kuala Kurun Kab Gunung Mas 5.1. Mengingat rasio elektrifikasi di Kalimantan Tengah masih cukup rendah (sekitar 55%) termasuk pelanggan listrik non PLN.2 5.0 Daya Mampu sistem Barito adalah 335 MW dengan beban Puncak sebesar 331.6 1.0 11.2. Sistem Sukamara Kab Sukamara 3. Sistem Nanga Bulik Kab Lamandau 2.1 3. Sistem Muara Teweh Kab Barito Utara 6.4 Isolated 6.0 12. Eksploitasi batubara telah membuat ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh dinamis dan prospektif.4 Isolated 5.Gambar B4.1 23.6 140. Sistem Buntok Kab Barito Selatan 16.4 Kab Katingan/Kasongan Kab Barito Timur / Tamiyang Layang 2. Sistem Pangkalan Bun Kab Kotawaringin Barat 39.1 Sistem Kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah per Oktober 2011 Sistem Kalimantan Tengah Daya Terpasang [ MW ] Daya Mampu [ MW ] Beban Puncak [ MW ] Keterangan 66.3 Kab Pulang Pisau 54. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah Sedangkan rincian data pembangkit dan beban puncak sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat pada tabel B4.8 18.7 Isolated 10. Sistem Puruk Cahu Kab Murung Raya 4. UL D (57 Lokasi tersebar) Tersebar Total 195.1 B4.9 1. Sistem Kuala Pambuang Kab Seruyan 7.8 Isolated 3.7 6.1 2. Sistem Barito 58.9 Isolated 14.3 Isolated 7.3 3.7 2. maka pertumbuhan kebutuhan listrik di masa mendatang diperkirakan akan tinggi.7 25.8 20.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Kalimantan Tengah memiliki sumber energi yang cukup banyak dengan tersimpannya cadangan batubara dan gas methan batubara (CBM) dalam jumlah yang cukup besar. Memperhatikan realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya termasuk dengan memperhitungkan daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional. Tabel B4.5 2.2 1. 583 .8 2.5 MW Kota Palangka Raya Kab Kapuas 1. hal itu akan berpengaruh pada kebutuhan listrik di Kalimantan Tengah.4 7.1.

369.3 1.1 1.1 1. yaitu utamanya batubara. baik pemerintah maupun perusahaan asing seperti PT BHP .148.7 1.9 1. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya energi yang besar.8 11.1 9. Batubara Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai potensi batubara yang cukup banyak dan kabupaten Barito Utara merupakan kabupaten yang paling banyak memiliki cadangan batubara.8 1.152 390.8 11.8 187.889 6.0 201.748 408.0% Produksi (GWh) 843.3 272.5 924.253.7 1.751.371 374. Selain itu khusus untuk perdesaan yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana kelistrikan meliputi pembangkit.496.1 1.0 152.914.1 1.Biliton memperkirakan terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori di atas 7. Potensi energi yang potensial untuk dikembangkan di Kalimantan Tengah adalah batubara.000 kkal per kg di kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara.0% B4.135.197 426.1 888.346.2 1.361 358. Survey yang telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi.0 1.545 445.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Prov Kalimantan Tengah Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 741.8 817.8 234.2% Beban Puncak (MW) 127.236.043.000 kkal per kg dan juga ditemukan batubara dengan kandungan kalori di atas 8.9 1.468.603.637.0 1.8% Jumlah Pelanggan 343.052. dan beberapa gas alam.0 252.126 487.458 509.3 294.4 216. Batubara ditemukan di daerah 584 .Tabel B4.1 966.5 1.3 173. transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut. selain pembangkit batubara juga dapat dikembangkan mikrohidro dan biomassa.839 466.

2006 Gas Alam Potensi gas alam di Kalimantan Tengah terdapat di Bangkanai di dekat Muara Teweh. dan berdasarkan hasil penelitian daerah ini memiliki potensi gas yang akan dieksploitasi sebesar 20 mmscfd selama 20 tahun.613           48.6  Jumlah Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi. adb) Hipotetik Tereka Tertunjuk Terukur Jumlah Cadangan (Juta Ton) 1 Kalori Rendah <5100              ‐     483.6           44.7     262. Muara Teweh dan Kasongan.Muara Bakah. Sungai Lahei.5                 ‐  4 Kalori Sangat  Tinggi > 7100              ‐     247. Bakanon. Sumber Tenaga Air Kalimantan Tengah memiliki potensi tenaga air yang berkaitan dengan DAS Barito dan Katingan di daerah Puruk Cahu.1  3 Kalori Tinggi 6100 ‐ 7100     122.1        44.6     449. 585 .0     324.5      122.4 berikut menampilkan perincian pengembangan pembangkit di Kalimantan Tengah. Tabel B4. Jenis pembangkit yang akan dibangun adalah PLTU batubara di beberapa lokasi dan PLTG gas di Bangkanai sebagai pembangkit peaking dengan menggunakan gas storage CNG (compress natural gas).0     1. Status potensi tersebut dalam tahap identifikasi oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Tengah. Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan beban sampai dengan tahun 2020 termasuk memenuhi daftar tunggu.3 Potensi Batubara Kalimantan Tengah Sumberdaya ( Juta Ton) Kriteria No. Kualitas (Kal/gr.6             ‐        77.7             ‐        72.9             ‐              ‐     483.8             4.9                 ‐  2 Kalori Sedang 5100 ‐ 6100              ‐     296.4         5.8         5.4     354. dan memerlukan studi lebih lanjut untuk dapat dikembangkan.7     974.1     194. Sungai Maruwai dan sekitarnya. direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 693 MW. Sungai Montalat. Potensi batubara di Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Table B4. walaupun diperkirakan akan turun secara bertahap menjadi 16 mmscfd mulai tahun ke 16.3 Tabel B4.

Tabel B4.968 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 202 juta seperti ditampilkan dalam tabel B4. 586 .1 Swasta PLTU 2x100 2020 Rencana Total Kapasitas 693 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Seiring dengan rencana pembangunan PLTU batubara dan PLTG di Bangkanai serta untuk menyambung sistem isolated masuk ke grid Barito. #2 (FTP2) PLN PLTG 2x70 2013 Rencana 3 Buntok PLN PLTU 2x7 2013 On Going 4 Kuala Pambuang PLN PLTU 2x3 2013 Rencana 5 Kuala Kurun PLN PLTU 2x3 2013 Rencana 6 Bangkanai #3 (FTP2) PLN PLTG 1x70 2014 Rencana 7 Sampit (FTP2) PLN PLTU 2x25 2014 On Going 8 Bangkanai #4 (FTP2) PLN PLTG 1x70 2015 Rencana 9 Kuala Pambuang Ekspansi PLN PLTU 3 2017 Rencana 10 Pangkalan Bun (Cenko) Swasta PLTU 2x7 2011 Operasi 11 Kalteng . direncanakan akan dibangun transmisi 150 kV untuk menyalurkan energi listrik dari pembangkit tersebut ke pusat beban. Selama tahun 2011-2020 transmisi 150 kV yang akan dibangun sekitar 1. sehingga transmisi 150 kV yang akan dibangun menjadi sangat panjang. Pembangunan transmisi juga dimaksudkan untuk dapat melistriki lebih banyak penduduk Kalimantan Tengah sekaligus untuk mengambil-alih PLTD minyak masuk ke grid Kalselteng 150 kV dalam rangka menurunkan biaya pokok produksi. Sebagaimana diketahui bahwa sebaran penduduk Kalimantan Tengah sangat berjauhan.1. Rencana pengembangan sistem transmisi di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sesuai dengan peta yang diperlihatkan pada gambar B4.5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Pulang Pisau (FTP1) PLN PLTU 2x60 2012 On Going 2 Bangkanai #1. Selain itu letak sumber gas alam Bangkanai juga berada di ujung sebelah timur laut Provinsi Kalimantan Tengah dan jauh dari pusat beban.

0 2013 7 PLTU  P.6. dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 39 juta seperti ditunjukkan pada tabel B4. Pengembangan grid tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan dan menurunkan biaya pokok produksi.2 2014 9 Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2 cct. 1xHAWK                4               0.6 2014 12 PLTU Kalteng‐1 Kasongan 150 kV 2 cct.Tabel B4.8 2012 2 cct.4 2013 8 Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat ‐ P raya) 150 kV 2 cct. 2xHAWK           196            17. 587 . 2xHAWK           220            27.7 2014 13 Kasongan  Kuala Kurun 150 kV 2 cct. termasuk trafo untuk perluasan. 1xHAWK                2               0. Gardu induk yang akan dibangun pada tahun 2011-2020 tersebar di 8 lokasi dengan daya 330 MVA.5 Rencana pembangunan transmisi 150 kV 2 cct. 2xHAWK           100            12.968          202. Pengembangan gardu induk ini dimaksudkan untuk mendukung interkoneksi sistem isolated tersebut dengan sistem Barito yang selanjutnya disebut sistem Kalselteng dengan transmisi 150 kV. 1xHAWK           120            10.4 2014 11 PLTU Sampit Sampit 150 kV 2 cct. 1xHAWK             40               3.Pisau Incomer 2 phi (P.4 2014 10 Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2 cct.4 2015 Jumlah        1. 2xHAWK             94               8. 2xHAWK           240            29. 2xHAWK           260            31.3 2013 Muara Teweh Buntok 150 kV 2 cct.2 2012 150 kV 2 cct. 2xHAWK Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD)           346            30.9 2013 Pangkalan Bun 150 kV 2 cct. 1xHAWK           344            30.6 2013 Muara Teweh 150 kV 2 cct. Raya ‐Selat) 150 kV 4 cct.8 No Dari 1 Palangkaraya 2 Kasongan  3 Tanjung  4 5 6 Ke Tegangan Konduktor Sampit 150 kV Incomer phi (Sampit ‐ P raya) 150 kV Buntok Sampit PLTGU Bangkanai COD Pengembangan Gardu Induk Di luar sistem Barito terdapat banyak sistem isolated relatif kecil dan berlokasi saling berjauhan yang dipasok PLTD minyak. 2xHAWK                2               0.

Tabel B4.62              5.000 ribu pelanggan baru selama 2011.23              2.23              2. maka perlu disambung 60.706 kms JTR dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 230 MVA.10              3. Untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% pada akhir tahun 2011. seperti ditunjukkan pada tabel B4.62              1.04 Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas.24              2. 5.34              1. Pada periode berikutnya akan disambung sekitar 18.7.23 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 Jumlah                330            39.62              1. 588 .39              1.23              1.8.62              1.500 pelanggan setiap tahunnya.23              2.23              1. secara rinci ditampilkan pada tabel B4. Jaringan distribusi yang akan dikembangkan selama periode 2011-2020 termasuk untuk melistriki perdesaan adalah 11.23              2.62              2.6 Rencana pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTG) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Kuala Kurun (GI Baru) Puruk Cahu (GI Baru) Pangkalan Bun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU ) Tegangan Baru/Extension Kapasitas  (MVA) Anggaran  (juta USD) COD 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension New New Extension Extension Extension                  30 4LB                  30 2 LB                  30 2 LB                  30                  30 2 LB 2 LB                  30                  60 2 LB                  30                  30                  30 2 LB 2 LB              2.547 kms JTM.62              1. dilakukan juga rencana pengembangan jaringan distribusi termasuk listrik perdesaan.62              2.

219 547 24 20.208 kms 1.287 2019 1.540 659 27 22.5.Tabel B4.813 B4.547 5. sehingga dilakukan sewa PLTD jangka pendek.7 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 2. Sistem Isolated Sistem kelistrikan yang kecil pada daerah terpencil yang pada saat ini dipasok oleh PLTD minyak pada dasarnya akan diambil oleh jaringan intekoneksi Kalimantan dengan grid extension.4 Sistem Kelistrikan Barito dan Sistem-Sistem Isolated Sistem Barito Permasalahan ketidakcukupan pasokan pembangkit di sistem Barito sudah berlangsung cukup lama dan PLN pada saat ini tengah berupaya membangun PLTU batubara yang diprogramkan dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.294 MVA 43 2012 792 464 15 15.706 230 226. kecuali sistem isolated yang berlokasi sangat jauh dari grid dimana direncanakan PLTU skala kecil.000 MW tahap 1 (FTP1).085 499 22 19.293 2018 1.595 2015 860 415 19 17. Progres pembangunan PLTU tersebut lebih lambat daripada yang direncanakan.431 11. yaitu PLTU Pulang Pisau.348 2017 1.450 2016 966 455 20 18.332 2020 2011-2020 1. misalnya PLTU Kuala Pambuang.341 Tahun Pelanggan 59.010 2013 740 391 17 15.371 600 25 21. 589 .782 2014 766 380 18 16. dan beberapa PLTU lain yang ditunjukkan pada tabel B4.

135 1.4 192. Tabel B4.2 32.5 23.9 .253 1.497 1.8.8 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Sales (GWh) Produksi (GWh) 742 817 888 966 1.1 89.347 1.5 316.1 1.751 1.968 80.6 33.B4.369 1.297.148 1.638 Jumlah 844 924 1.236 1.3 441.1 29.044 1.469 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan dana investasi sampai dengan tahun 2020 sebagaimana diperlihatkan pada tabel B4.1 60.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.915 Beban Puncak (MW) 127 152 174 187 201 217 234 252 272 294 Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Pembangkit (MW) 14 286 120 70 GI (MVA) 30 30 120 120 30 3 200 693 590 330 Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 348 928 452 240 1.053 1.603 1.

selain PLTD HSD juga sebagian telah dipasok menggunakan PLTMG berbahan bakar gas alam. Kotabangun.1. Akibatnya pada waktu-waktu tertentu masih terjadi pemadaman secara terbatas.1. Sedangkan di beberapa daerah lain yang berpenduduk relatif sedikit. Kapasitas tersebut termasuk pembangkit sewa untuk memenuhi kebutuhan beban yang terus meningkat. sistem kelistrikannya masih sangat kecil dan dilayani dengan jaringan tegangan rendah 220 volt yang tersambung langsung dari PLTD setempat. Bulungan. Malinau. Sistem kelistrikan di beberapa wilayah di Kabupaten lain. Sistem kelistrikan yang paling berkembang di Provinsi Kalimantan Timur adalah sistem Mahakam. Kapasitas terpasang keseluruhan sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2010 sekitar 495 MW dengan daya mampu sekitar 401 MW dan beban puncak 340 MW. sehingga biaya pokok produksi masih relatif tinggi. sedangkan beban yang ada tumbuh dengan cepat. Melak. Sistem Mahakam dipasok dari beberapa jenis pembangkit yaitu PLTU. Nunukan.LAMPIRAN B. Khusus untuk kota Bontang dan Petung. Kota Bontang. Sedangkan untuk sistem Mahakam pada tahun yang sama. Sangatta. PLTGU dan PLTG dengan daya terpasang pada Oktober 2011 mencapai 405 MW. Kalimantan Timur saat ini tidak lagi mengalami defisit daya sepanjang tidak menambah pelanggan besar baru. PLTD.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR B5. daya mampu sekitar 280 MW dan beban puncak 261 MW. Petung. dan Tanah Grogot masih dilayani dengan sistem jaringan tegangan menengah 20 kV dan dipasok dari PLTD HSD. Kemampuan daya di sistem kelistrikan ini masih mengalami keterbatasan akibat dalam beberapa tahun terakhir hampir tidak ada penambahan pembangkit baru.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan di Kalimantan Timur secara keseluruhan masih didominasi oleh pembangkit-pembangkit berbahan bakar minyak. 591 . Balikpapan dan Tenggarong. daya mampu sekitar 274 MW dengan beban puncak 243 MW sesuai tabel B5. yaitu sebuah sistem interkoneksi tegangan tinggi 150 kV yang melayani kota Samarinda. yaitu Kabupaten Berau. Peta kelistrikan Provinsi Kalimantan Timur ditunjukkan pada Gambar B5. utamanya bila ada salah satu pembangkit yang mengalami gangguan.

Gambar B5. dan Petung Tanah Grogot dan Kuaro Kotabangun Melak Bontang Sangatta Tanjung Redeb Tanjung Selor Nunukan Malinau .13 5.05 4.96 5.  Tenggarong.9 15.05 2. Samboja dan  Muara Jawa Penajam.89 5.7 10.6 8 1.4 5.1 26 11.4 0.2 8.01 6.2 4.3 592 DAERAH PELAYANAN Samarinda.1 Kondisi kelistrikan per Sistem per akhir tahun 2010 No SISTEM Daya (MW) Mampu Beban Puncak 1 Mahakam 274 243 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Petung Tanah Grogot Kotabangun Melak Bontang Sangatta Berau Bulungan Nunukan Malinau 11.2 7. Balikpapan.1 Peta kelistrikan di Provinsi Kaltim Tabel B5.7 15.7 3.

3% per tahun. Adanya daftar tunggu ini membuat tambahan beban yang akan datang diperkirakan akan naik sangat tinggi setelah PLTU batubara baru beroperasi. 2 Tidak termasuk Tarakan 593 . Akibatnya daftar tunggu terutama konsumen industri dan bisnis menumpuk.32% per tahun. kondisi sistem kelistrikan di Kaltim tidak mampu mengimbangi pertumbuhan beban listrik yang begitu tinggi karena banyak proyek PLTU batubara yang semula akan dibangun oleh investor swasta ternyata banyak yang tidak terwujud.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Kalimantan Timur Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Timur2 selama 5 tahun terakhir tumbuh cukup tinggi. sedangkan terendah adalah pada sektor industri yang tumbuh negatif (-2.9% per tahun).2% per tahun). proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 ditunjukkan pada tabel B5.2. Daftar tunggu konsumen besar di Kalimantan Timur direncanakan dapat dilayani setelah pembangkit-pembangkit baru skala cukup besar beroperasi. yaitu rata-rata 8. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kaltim selama 2006–2010 relatif rendah. B5. termasuk masyarakat yang dilistriki secara swadaya oleh perusahaan swasta dan pengguna PLTS. sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi non migas cukup tinggi sebesar 8. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang. Mengacu pada realisasi penjualan tenaga listrik PLN selama lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu calon pelanggan yang cukup besar. Dalam beberapa tahun terakhir.03%.Rasio elektrifikasi di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2010 adalah 67%. yaitu hanya rata-rata 3. Pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor bisnis (10. dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.

594 .2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) Produksi (GWh) Beban Puncak (MW) Jumlah Pelanggan 2.352 3.919 4.9 1.812.8 4.577 5. transmisi dan distribusi.553 5. .2 4. Kalimantan Timur merupakan lumbung energi primer.287.7% 8.775. direncanakan akan dibangun pembangkit.8 596.2 851.610.731 3.357.876 4.1 402.937.045.2 3.396.4 533.820.4 5.3 933.923 2. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Kalimantan Timur.165.Cadangan minyak bumi di Kalimantan Timur sebesar 985 MMSTB dan produksinya mencapai 57 MMSTB per tahun.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan beban yang tinggi di Provinsi Kalimantan Timur. sumber energi yang ada meliputi : .8 714.7 856.8 910.9 1.1 1.6 743.7 975.8 6.6 2.0% B5.7 536.299.042.Cadangan gas bumi mencapai 46 TSCF dengan produksi 2 TSCF per tahun.659.8 3. sebagai daerah penghasil batubara dan migas dalam jumlah besar.1 499.684 4.2 783. dengan mempertimbangkan ketersediaan potensi energi primer setempat. .707.1 2. Potensi Energi Primer Sumber energi primer di Kalimantan Timur tersedia dalam jumlah besar.Potensi gas metan batubara (CBM) sebesar 108 TSCF.Tabel B5.605 2.367. .4 451.131.7 796.2 628.107.2% 11.729 11.1 4.543.Cadangan batubara mencapai 25 milyar ton dengan tingkat produksi mencapai 120 juta ton per tahun.018.7 666.398.1 5.2% 11.710.172.183.

3 2x7 2x3 2x7 2x50 2x7 2x110 2x7 7 14 2x5 2x3 2x1 2x3 3x3 10 2x75 50 2x3 5 2x3. Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020. direncanakan tambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 1. dan 205 MW di Tabang.5 2x7 50 2 2x100 2x100 2011 2012 2012 2012 2013 2013/14 2014 2014 2017 2015 2015/20 2015/18 2016/19 2016 2016/18/20 2016 2018/19 2018 2018 2019 2011/12 2011/12/13 2012 2013 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015/16 2017 On Going On Going Rencana On Going On Going Rencana On Going Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana On Going On Going Rencana Rencana On Going Rencana On Going On Going Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana On Going On Going Rencana Total Kapasitas 1.5 100 2x120 6 5 3 2x41 2x7 4 2x27.Potensi tenaga air yang cukup besar. yang perlu distudi lebih lanjut. Kutai Kartanegara sekitar 214 km dari Tenggarong..500 MW di Kayan.3 berikut.661 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada tabel B5.3 Rencana Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 PROYEK Sebatik Tanjung Selor Malinau Tanjung Redeb Kaltim (FTP 2) Melak Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) Sangatta Sangatta Tanjung Redeb (Ekspansi) Sangatta (Peaking) Malinau Ekspansi Tana Tidung (Peaking) Nunukan Melak Berau Kelai #1&2 Kaltim (Peaking) Nunukan Ekspansi Berau Benuo Taka Arena Maju Bersama Bontang Kariangau Melak Lati (Ekspansi) Kotabangun Mahakam (Senipah) Tanah Grogot (Terkendala) Tana Tidung Kaltim (MT) Nunukan Embalut (Ekspansi) Tana Tidung Kaltim-2 (FTP2) Kaltim (PPP) PEMILIK JENIS MW COD STATUS PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Sewa Sewa Sewa Sewa Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLTS PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTMG PLTU PLTD PLTMG PLTMG PLTMG PLTA PLTG PLTMG PLTMG PLTMG PLTD XPLTG XPLTU PLTGB PLTU PLTGB PLTG PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU 0. antara lain 1.2 3x7.661 595 . Tabel B5. Tanjung Selor sekitar 300 km dari Sangatta.

Sebagai upaya untuk menurunkan penggunaan BBM dan pengembangan kelistrikan. ACSR 2x240 mm2 2cct. ACSR 2x240 mm2 Up rating ke Twin Hawk 2cct. ACSR 2x240 mm2              9.9 2014 2014 2014 2017 2017 2018 2018 2018 Tegangan Kuaro Perbatasan Sambutan incomer Sambutan ‐ Bontang Incomer 1 pi (Manggar Sari‐Industri) Incomer 2 phi (Karjo ‐ Kuaro) Incomer 2 phi (Karjo ‐ Kuaro) K.1              1.535.3 COD   Pengembangan Gardu Induk Seiring dengan pembangunan transmisi 150 kV untuk memenuhi pertumbuhan beban.0              0. ACSR 2 x 240 mm2             93  2cct. ACSR 2x240 mm2             90 2cct. Sampai dengan tahun 2020.4.5              1.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban sistem kelistrikan Kalimantan Timur sudah cukup besar tetapi masih banyak daerah yang belum terjangkau oleh sistem Mahakam. ACSR 2 x 240 mm2                6 4cct. ACSR 2x240 mm2                8 2cct. direncanakan akan dibangun GI 150 kV di 12 lokasi tersebar termasuk perluasannya dengan kapasitas total 1.535 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 175. ACSR 2xZebra             16 2 cct. ACSR 2x240 mm2           310 2cct. 596 .7            11.0              1. Joang Bontang Bukuan/Palaran Bukuan Kota Bangun Sambutan Incomer 2 pi (Senipah‐Bukuan) Sangata Tanjung Selor Sangata Konduktor Jumlah           120             24           110             16                8             90           160           260    1. GI Bontang dan GI Sangatta. ACSR 1x240 mm2 2cct. Sedangkan rencana pengembangan GI baru terkait dengan proyek pembangkit adalah GI PLTG Sembera dan GI Kariangau. direncanakan pengembangan jaringan transmisi 150 kV sepanjang 1. ACSR 2x240 mm2             30 Anggaran  (juta USD)            38.4            22.7              0.3              5.3              9. Rencana pengembangan GI baru untuk menggantikan PLTD adalah GI Kuaro/Tanah Grogot. Tabel B5.0            11. ACSR 2x240 mm2             14 2 cct.7 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct.0            14.5. Rencana Pengembangan Transmisi di Kaltim No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Dari 112342001 112342002 112342003 112342004 112342005 112342006 112342007 112342008 112342009 112342010 112342011 112342012 112342013 112342014 112342015 112342016 112342017 Karang Joang Kuaro Bontang  GI Sembera  PLTG Senipah Petung PLTU Teluk Balikpapan Up rating Teluk Balikpapan PLTU Kaltim 2 (FTP‐2) PLTG Senipah Harapan Baru Tenggarong New Samarinda PLTU Kaltim (PPP) Bontang  Berau PLTA Kelai Ke 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Panjang  (kms) 2cct.0            11.4. ACSR 2x240 mm2 2cct. ACSR 2x240 mm2 2cct.8              2. ACSR 1x240 mm2 2cct.6              3.3 juta seperti ditampilkan dalam tabel B5.190 MVA seperti pada tabel B5.0          175. di daerah-daerah terpencil yang masih menggunakan PLTD secara bertahap akan diupayakan untuk dibangun jaringan transmisi 150 kV dan diinterkoneksikan dengan sistem Mahakam. ACSR 2x240 mm2           180  2cct. GI Petung.2            31.

23        2.39        2.10        1.23        2.10        1.39        1.62        0.39         1.39        1.39        2.Rencana GI baru untuk mengantisipasi GI yang sudah tidak dapat dikembangkan lagi adalah GI New Industri dan GI New Samarinda.39        2.10        2.27 597 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 .39        1.10        2.62        1.23        1. Balikpapan Tenggarong / Bukit Biru Kota Bangun Kariangau / Teluk Balikpapan Berau / Tj Redep Bulungan / Tj Selor New Industri Berau / Tj Redep Sambutan Kuaro / Tanah Grogot Bontang New Industri New Samarinda Sangatta Sambutan Ext LB Petung New Samarinda Sambutan New Industri Sei Kleidang / Harapan Baru Tenggarong / Bukit Biru Tegangan Baru/Extension 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension New Ekst Relocating Extension New (4 LB) New Extension New New (4 LB ‐ 2x30) Uprating Extension Extension Extension Extension Extension New Extension New Extension New New New Extension Extension Extension Extension Extension New New Ekstension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Jumlah Daya  (MVA) 2 LB       30       20 2 LB         30         30 2 LB         30         60         60         60         60         30         30 2 LB         30         30         30         30         30         30         30         30         60         30         30         60         30         30 2 LB         30         30         60         60         60         30 Anggaran  (juta USD)        1.85        1.62        2.62        4. Pengembangan GI lainnya merupakan pengembangan dari rencana GI baru.75        1.75        1.5 Pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Gardu Induk Bukuan/Palaran Ext LB Sambutan Bukuan/Palaran Karang Joang/Giri Rejo Ext LB Kuaro / Tanah Grogot Petung Sambutan Ext LB Bontang GI PLTG Sambera Industri/Gunung Malang Sei Kleidang / Harapan Baru Tengkawang/Karang Asem Sambutan Bontang Bontang Ext LB Kariangau / Tel.39        1.62        1.57        2.62        2.52        1.23        2.23        3.190           70.10        2.10        2.62        2.62        1.10        2.39        2.10        1.39        1. Tabel B5.

125 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 1. JTR sekitar 30.200 sambungan per tahun.260 MVA.089 kms.GI Bontang U G ACSR 2X240 mm 2 90 km (2012) PLTU Tanjungselor 2x7 MW (2014/15) GI Kotabangun ACSR 1X240 mm 2 50 km (2018) U GI Tenggarong PLTU CFK 2x25 MW GI Semberah G U GU PLTGU Batakan 2x25 MW Samarinda GI Tengkawang ACSR 1X240 mm 2 60 km (2018) PLTG Sewa 100 MW (2012) PLTU Embalut (Exp) 1x50 MW (2014) U PLTU Kaltim-2 FTP2 2x100 MW (2016/17) GI Harapan Baru GI Sambutan GI Palaran/Bukuan ACSR 2X240 mm 2 30 km (2013) PLTU Tanjungredep 2x7 MW (2012/13) U U U ACSR 2X240 mm 2 30 km (2013) G GI Karang Joang ACSR 2X240 mm 2 155 km (2012) GI Petung ACSR 2X240 mm 2 40 km (2012) PLTU Kaltim (PPP) 2x100 MW (2017/18) PLTU Kaltim (MT) 2x27. Jaringan distrubusi yang akan dibangun meliputi JTM sepanjang 24.5 MW (2014) PLTG Mahakam/Senipah 2x40 MW (2013) GI Manggarsari GI Industri U Balikpapan U PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP-1 2x100 MW (2013/14) PLTU Sewa Kariangau 2x120 MW (2013) GI Kuaro ACSR 2X240 mm 2 93 km (2012) Gambar B5.6. untuk mendukung rencana penambahan pelanggan baru rata-rata 56. 598 .2 Peta rencana pengembangan sistem interkoneksi Kaltim Pengembangan Distribusi Rencana pengembangan jaringan distribusi termasuk listrik perdesaan selama kurun waktu 2011-2020 sebagaimana ditunjukkan pada tabel B5.

701 2019 3. Rencana pengembangan kelistrikan di Kabupatan Tana Tidung dimasukkan dalam kelompok sistem isolated tersebar karena beban puncak masih di bawah 1 MW.976 2020 3.734 3.080 3.855 180 70.Tabel B5.332 2.429 2014 3.953 2016 2.452 2. Selanjutnya akan dilakukan studi untuk membangun jaringan distribusi 20 kV dari Tana Tidung ke Malinau setelah PLTU 2 x 3 MW beroperasi.828 km2 dengan jumlah penduduk 28 ribu jiwa.236 2017 2.765 Tahun Pelanggan 18. Untuk daerah-daerah yang memiliki potensi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).020 122 58.898 176 62.220 2.574 138 67.176 2011-2020 24.6.641 B5.089 30.379 2015 2.260 561.389 3.658 2.113 4.474 3. 599 .756 94 34.843 138 76. Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 636 kms 495 MVA 54 2012 1.577 110 53.774 115 54.4 Sistem Kelistrikan Isolated Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Tana Tidung merupakan kabupaten baru dan mulai resmi beraktivitas pada tahun 2007 dengan luas wilayah 4. Sistem Kelistrikan Daerah Terpencil Sistem kelistrikan skala sangat kecil di daerah terpencil yang sangat jauh dari pusat beban saat ini direncanakan untuk dipasok dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui kerja sama dengan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah atau Satuan Kerja Listrik Perdesaan berencana akan membangun PLTMH dan pengelolaannya diserahkan ke penduduk setempat.957 2018 2.332 133 64.319 2013 2.125 1.

108 8 30 - 114.629. Wilayah Indonesia di daerah perbatasan sebagian besar masih belum berlistrik.543 784 120 30 - 227. B5.300 3.938 856 207 210 24 389.367 402 17 50 2012 2.8 2013 2.6 .820 3.3 2.4 2015 3.2 2014 3.399 4.812 1.4 2017 4.7 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Produksi Beban Pembangkit (GWh) Puncak (MW) (MW) GI (MVA) Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 2011 2.775 5.288 1.173 537 463 240 30 263.7 Tabel B5.357 934 137 30 620 297.9 2016 4.045 4.2 1. untuk pembangkit listrik setempat untuk menggantikan penggunaan BBM. PLN akan membangun PLTMG dengan memanfaatkan gas yang terdapat di Sembakung/ Sebaung di daratan Kaltim dan listriknya akan disalurkan ke Nunukan dan Sebatik melalui jaringan kabel laut 20 kV.396 2.611 6.661 1.659 451 145 210 717 242.166 715 124 90 - 284.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.190 Jumlah 600 - 1.535 33.132 2. PLN tengah berupaya untuk mendapatkan pasokan gas alam.707 4.0 2020 5.710 629 360 60 144 664.0 2019 5. termasuk gas skala kecil. Untuk melistriki daerah perbatasan tersebut.183 5.3 2018 4. Selain itu PLN berencana akan melakukan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Satuan Kerja Listrik Perdesaan untuk mambangun PLTMH dan PLTS.019 81 240 - 113. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah sebagaimana terdapat dalam tabel B5. Malaysia yaitu Nunukan dan Malinau.Sistem Kelistrikan Daerah Perbatasan Ada dua kabupaten di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Sabah.

LAMPIRAN B. Lopana. Gambar B6. PLTP dan PLTD yang disalurkan melalui sistem transmisi 70 kV dan 150 kV dengan 12 gardu induk (GI). Bitung. Teling. Sistem kelistrikan ini dipasok oleh beberapa jenis pembangkit. Tabel B6. Otam dan Lolak. Likupang.1 Kondisi Kelistrikan Sulawesi Utara Saat Ini Kelistrikan Daratan Sistem kelistrikan di Provinsi Sulawesi Utara daratan pada akhir tahun 2010 mempunyai beban puncak sekitar 167 MW.1.6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SULAWESI UTARA B6. Tasikria. Tomohon. Kapasitas terpasang seluruh GI adalah 290 MVA. Tonsea Lama. Kawangkoan. Sawangan.1 berikut adalah rincian pembangkit eksisting dan peta sistem kelistrikan dimaksud termasuk rencana pengembangannya ditunjukkan pada gambar B6. yakni PLTA. yaitu GI Ranomuut.1 Peta kelistrikan di Provinsi Sulawesi Utara 601 .

00 13 PLTD Sewa Kotamobagu Sewa HSD 11. 602 . Kapasitas Pembangkit di Sulut Daratan No Pembangkit Pemilik Bahan Bakar Daya (MW) Terpasang Mampu 1 PLTA Tonsealama PLN Hydro 14.00 9 PLTM Poigar I PLN Hydro 2.00 2 PLTA Tanggari I PLN Hydro 18. menggunakan jaringan tegangan menengah 20 kV.00 20.73 1.00 5 PLTD Lopana PLN HSD 10. Selain itu masih terdapat cukup banyak sistem-sistem sangat kecil yang langsung terhubung ke beban menggunakan jaringan 220 volt dan lokasinya tersebar.00 8 PLTP Lahendong III PLN Geothermal 20.40 2.00 11.08 Total Sistem Kelistrikan Pulau-Pulau Di Provinsi Sulawesi Utara terdapat beberapa pulau yang berlokasi dekat dengan daratan Sulut maupun sejumlah besar pulau-pulau yang tersebar hingga ke perbatasan Filipina.00 16.40 10 PLTM Lobong PLN Hydro 1.00 4 PLTD Bitung PLN HSD 56.82 MW.00 35. Sistem di pulau-pulau yang relative besar adalah sistem Sangihe dengan beban puncak sekitar 5.65 202. Daftar pembangkit di pulau-pulau tersebar dengan beban relative besar sebagaimana diperlihatkan pada tabel B6.2.1.00 6 PLTP Lahendong I PLN Geothermal 20.00 20.60 11 PLTD Kotamobagu PLN HSD 8.00 7 PLTP Lahendong II PLN Geothermal 20.00 9.02 4. seperti Miangas di kabupaten Talaud.65 12 PLTD Sewa Minahasa Sewa HSD 35.52 28. serta pulau-pulau kecil lainnya.00 14 PLTM Mobuya IPP Hydro 3. Marore di kabupaten Sangihe.00 17.30 3 PLTA Tanggari II PLN Hydro 19.00 15 PLTD Molibagu PLN HSD 2.Tabel B6.00 3.60 1.00 20.38 13. Kelistrikan di seluruh pulau tersebut dipasok dari PLTD dan 1 PLTM di pulau Sangihe.13 241.

603 .420 1.500 3.000 80 2.174 21.962 0 1.320 1.2 Kapasitas Pembangkit Pulau-Pulau Tersebar No Pembangkit Pemilik Bahan  Bakar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 PLTD Tahuna PLTD Peta PLTD Lesabe PLTD Tamako PLTM Ulupeliang PLTB Malamenggu PLTD Sewa (Peta) PLTD Ondong PLTD Lirung PLTD Tagulandang PLTD Beo PLTD Melongnguane PLTD Mangaran PLTD Essang PLTD Tersebar Cab Manado PLTD Tersebar Cab Tahuna Jumlah PLN PLN PLN PLN PLN PLN Sewa PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN HSD HSD HSD HSD Hydro Bayu HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD Daya (MW) Terpasang 5.510 1. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.260 1.Tabel B6.450 1.540 Mampu 3.140 1. Berdasarkan realisasi penjualan tenaga listrik PLN dalam lima tahun terakhir termasuk memperhitungkan adanya daftar tunggu calon pelanggan baru yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.022 1.770 1.3.400 615 650 2.800 4. proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada tabel B6.143 1. Dengan demikian ekonomi Sulawesi Utara diharapkan akan tumbuh lebih cepat terutama pada sektor industri pariwisata dan perhotelan. Sulawesi Utara kini sedang giat menyiapkan infrastruktur untuk pengembangan industri pengolahan hasil laut dan pelabuhan internasional serta menjadikan Sulawesi Utara sebagai daerah tujuan wisata internasional.665 1.760 2.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Setelah kegiatan berskala internasional “World Ocean Conference” sukses dilaksanakan pada tahun 2009.962 B6.850 900 850 2.615 0 840 900 915 0 2. Hal tersebut akan berdampak langsung kepada peningkatan kebutuhan energi listrik.055 1.204 30.

6 2.556. PLN bersama instansi terkait berencana mengusulkan kepada Menteri Kehutanan untuk pengalihan status sebagian cagar alam gunung Ambang menjadi Taman Wisata Alam.0 445.107 511.552. Potensi Energi Primer Sulawesi Utara memiliki potensi sumber energi terbarukan yang cukup besar berupa panas bumi hingga 700 MW yang tersebar di Lahendong. 10/2010 dan PP No. yang dieksploitasi baru sebesar 78 MW yaitu di Lahendong unit 1.2 9.120.064 449. transmisi dan distribusi di Provinsi Sulawesi Utara dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.3% B6.7 1.2 1.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sulawesi Utara Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 973.5 1. 28/2011.470.0 408.4 1. Kendala yang dihadapi untuk mengembangkan potensi panas bumi dan tenaga air tersebut adalah masalah status lahan. Tompaso dan Kotamobagu (gunung Ambang). Namun demikian dengan terbitnya PP No.2 1.4 1.536 495. Dari potensi panas bumi tersebut.3 1.7% 9.934.5 1.3 Produksi (GWh) 1.291 3. Perubahan 604 .540 464. termasuk potensi tenaga air.287.4 247.037 527.0 268.1 1.3 291.6 317.842 563.267. 2.765.068.4 1.226.5% Jumlah Pelanggan 420.342.7 1.325.413.5 2.058.120.3 2.6 2.288 543.610.3 1.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana pembangkit.873.705.172.Tabel B6.356 479. dimana sebagian besar potensi tersebut berada di kawasan cagar alam Kotamobagu (Gunung Ambang).1 8.975 435.7 1.8 375.4% Beban Puncak (MW) 209.8 2.4.4 227. 3 dan 4 dan berpeluang untuk dikembangkan adalah potensi sebagaimana terdapat pada table B6.0 344.

6 Sistem Minahasa 1.05 SSI Jarak Kit ke Sistem Status Jumlah Potensi Air 59.40 SSI 10 Salongo Salongo / Bolaang Uki 0. Karakteristik tenaga angin yang cenderung tidak kontinu dan radiasi matahari yang efektifitasnnya cukup rendah memerlukan penerapan sistem pembangkit baik photo voltaic maupun tenaga bayu dengan desain khusus.2 Sistem Tahuna 0.3 Sistem Minahasa 0. Poigar IV (14 MW).50 SSI 15 Ulupeliang II Ulung Peliang/ Tamako 0.2 Sistem Minahasa 1.7 Sistem Minahasa 5. Tabel B6.0 Sistem Minahasa Sistem Minahasa Jarak Kit ke Sistem Status 1 Poigar II 2 Poigar III Wulurmahatus /Modoinding 20.6 Sistem Minahasa 0.4 Potensi Energi Terbarukan Air dan Panas Bumi Potensi Tenaga Air No Nama Proyek Interkoneksi ke Sistem Lokasi Potensi (MW) Wulurmahatus /Modoinding 30. 2006 605 .9 Sistem Minahasa 5.00 SSI 6 Lobong II Bilalang IV/ Passi 0.00 SSI 7 Apado Bilalang IV/ Passi 0.50 SSI 16 Belengan Belengan /Manganitu 1. pengembangan pembangkit di pulau-pulau ke depan diprioritaskan menggunakan sistem hibrid (interkoneksi dengan PLTD eksisting). Poigar III (20 MW).3 Sistem Minahasa 0.20 SSI 12 Milangodaa I Milangodaa I/ Bolaang Uki 0. 1994 Potensi panas bumi: Distamben Prov Sulut. Beberapa lokasi yang dapat dikembangkan potensinya menjadi PLTA adalah Poigar II (30 MW).7 Potensi Panas Bumi No Nama Proyek Lokasi Potensi (MW) Interkoneksi dengan Sistem 21 Lahendong V Tompaso 20.3 Sistem Tahuna 1.50 FS Tahun 2008 13 Milangodaa II Milangodaa II/ Bolaang Uki 0.00 SSI 5 Molobog Molobog / Kotabuan 0.6 Sistem Minahasa 1.0 3 Woran Woran/Tombasian 0.0 Sistem Minahasa Pra FS Jumlah Potensi Panas Bumi 440 Potensi tenaga air: Studi potensi hidro oleh PLN PI Sarana Fisik dan Fasilitas Penunjang.00 FS Tahun 2008 14 Pilolahunga Mamalia/ Bolaang Uki 0.2 Sistem Minahasa 1.8 Sistem Minahasa 2.00 SSI 9 Bilalang Bilalang I/ Pasi 0.7 Sistem Minahasa 4.status lahan ini akan membuka peluang bagi PLN untuk mengembangkan potensi energi terbarukan di lokasi tersebut.0 Sistem Minahasa On Going 23 Gunung Ambang Kotamobagu 400.0 Sistem Minahasa On Going 22 Lahendong VI Tompaso 20.5 Sistem Minahasa 4. Sumber energi terbarukan yang tersedia di pulau-pulau berupa tenaga angin dan radiasi matahari.50 SSI 11 Tangangah Tengangah/ Bolaang Uki 1.10 SSI 4 Morea Morea / Belang 0.55 SSI 8 Kinali Otam /Pasi 1.

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 direncanakan tambahan 16 unit pembangkit baru dengan kapasitas total 559 MW. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTP.5 Pengembangan Pembangkit di Sulawesi Utara No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Lahendong IV PLN PLTP 20 2011 On Going 2 Sulut II (FTP 1) / Amurang PLN PLTU 2x25 2011/12 On Going 3 Minahasa GT (Peaking) PLN PLTG 3x25 2012/17/19 Rencana 4 Talaud PLN PLTU 2x3 2013/14 Rencana 5 Sulut I (FTP 1) PLN PLTU 2x25 2014 Rencana 6 Lelipang/Belengan PLN PLTM 2x0. serta PLTG peaking. PLTMH. Berdasarkan proyeksi beban dan kondisi geografis di Sulawesi Utara.Kema Swasta PLTU 2x25 2014/15 On Going 15 Lahendong VI (FTP 2) Swasta PLTP 20 2015 Rencana 16 Tahuna Swasta PLTGB 3 2017 Rencana 17 Sulut (PPP) Swasta PLTU 2x55 2018 Rencana Total Kapasitas 559. PLTA. PLTU batubara.7 Selain daftar rencana tersebut diatas. PLTS jenis terkonsentrasi /komunal serta PLT biomas.5 2014 Rencana 8 Kotamobagu I (FTP 2) PLN PLTP 2x20 2016 Rencana 9 Kotamobagu II (FTP 2) PLN PLTP 2x20 2016 Rencana 10 Sawangan PLN PLTA 2x8 2015 Rencana 11 Amurang Sewa XPLTU 2x25 2013 Rencana 12 Tahuna (FTP 2) Swasta PLTGB 8 2013 Rencana 13 Lahendong V (FTP 2) Swasta PLTP 20 2014 Rencana 14 Sulut I . Tabel B6. juga diberikan peluang pengembangan pembangkit skala kecil lainnya yang berbasis energi terbarukan seperti PLTMH. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Kondisi beban sistem kelistrikan Sulut sudah cukup besar dan untuk menjangkau daerah yang semakin jauh.5 berikut menampilkan rincian rencana pengembangan pembangkit di Provinsi Sulawesi Utara. sampai dengan tahun 2020 jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV yang 606 . direncanakan pengembangan transmisi menggunakan tegangan 150 kV dan 70 kV.6 2014 Rencana 7 Duminanga PLN PLTM 1x0. Tabel B6.

1 4 5 6 7 8 9 10 11 2012 2012 2013 2014 2014 2014 Pengembangan Gardu Induk (GI) Sejalan dengan rencana pengembangan transmisi. ACSR 1 x 240 mm2             32               2.5 2011 3 Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki)  Ranomut Baru (Paniki)  Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct. Tabel B6.8 12 70 kV 2 cct.4 2011 2 Lopana Teling (GIS) 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2                1               0.1 70 kV 1 cct.7.4 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2           132            11. ACSR 1 x 240 mm2             32               5.8 2018 Jumlah           463            48. ACSR 1 x 240 mm2             60               5. pada masa yang akan datang akan menerapkan GI jenis gas insulated switchgear (GIS) seperti yang sedang dibangun di Teling Baru. ACSR 2 x 240 mm2             36               4. Khusus kota Manado dimana harga tanah untuk membangun GI telah semakin mahal dan sulit didapat. gardu induk yang akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya adalah GI 150 kV tersebar di 17 lokasi dan GI 70 kV di 2 lokasi dengan kapasitas trafo total sekitar 620 MVA. Dana investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 44 juta sebagaimana ditunjukkan pada tabel B6. ACSR 1 x 240 mm2                4               0.7 PLTP Kotamobagu (FTP2) PLTA Sawangan Otam Sawangan 150 kV 2 cct.3 2012 2012 Bintauna Likupang Tapping (Lolak ‐ Buroko) Bitung 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2             32               5.akan dibangun sepanjang 463 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 48 juta seperti ditampilkan pada tabel B6. 607 .7 Pembangunan Transmisi 150 kVdan 70 kV No Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD) COD 1 PLTU Sulut II (FTP1) Lopana 150 kV 2 cct. Sedangkan untuk GI yang masih jauh di luar kota Manado akan menggunakan tipe outdoor karena secara ekonomi masih lebih menguntungkan dari pada tipe GIS. ACSR 1 x 240 mm2             96               8.8.1 2015 2015 13 PLTU Sulut I (IPP) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.7 PLTG Minahasa Bitung  Likupang Likupang 150 kV 2 cct.7 PLTP Lahendong V & VI (FTP2) Otam Kawangkoan Molibagu 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2             20               1.1 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2                1               0.4 70 kV 1 cct. ACSR 1 x 240 mm2                1               0. ACSR 1 x 240 mm2             16               1.

9. dimana dalam implementasinya akan didahului dengan studi kelayakan dan studi dasar laut.Tabel B6.62                 2. secara rinci ditampilkan pada tabel B6.90                 1.90                 1.62                 1.8 Pengembangan Gardu Induk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Gardu Induk Teling (GIS) Teling (GIS) Tomohon (IBT) Kema / Tanjung Merah Paniki Teling (IBT) Bintauna (Tap) Kawangkoan Paniki Tomohon Otam Teling Kema / Tanjung Merah Molibagu Sawangan Teling Otam Paniki Kema / Tanjung Merah Teling Tegangan Baru/Extension Daya  (MVA) Anggaran  (juta USD) COD 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New New Extension New New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension             30             30             60             30             30             60             10             30             30             30             30             30             30             20             30             20             30             30             30             30                 4.400 sambungan setiap tahun.62                 2.63                 1. 2.62                 2.63                 1.90                 1.90                 1. Jaringan distribusi yang akan dikembangkan selama periode 2011-2020 termasuk untuk melistriki perdesaan adalah 1. Pengembangan jaringan distribusi tersebut belum termasuk adanya rencana interkoneksi dari daratan Sulawesi Utara dengan pulau kecil yang berdekatan.90                 2.90                 1.015 kms JTR dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 389 MVA.38                 1.00                 2.90                 1.90 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2017 2018 2019 2019 2019 Jumlah           620               43.27                 1.76 Pengembangan Distribusi Pengembangan distribusi di Provinsi Sulawesi Utara dimaksudkan untuk memenuhi rencana tambahan pelanggan baru sekitar 154 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020 atau rata-rata 15.62                 2.394 kms JTM.62                 2.90                 1. 608 .

089 2013 127 184 35 14.929 2018 143 206 41 16. Jarak antar pulau cukup jauh dan transportasi laut yang digunakan masih sebatas kapal motor berkapasitas kecil. 609 .571 2017 140 202 39 15. Di Kabupaten Talaud terdapat empat pulau terdepan dari wilayah NKRI.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. dan Siau. Marore.325 B6.015 389 154.394 2. B6.449 1. kecukupan dan keandalan pasokan listrik PLN yang telah ada disana perlu ditingkatkan dengan melaksanakan pembangunan pusat listrik tenaga surya (PLTS) dengan sistem hybrid. Akses untuk mendapatkan energi primer dari luar sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca terutama gelombang laut. Talaud. sebagian pulau memiliki gunung berapi.9 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 144 kms 209 MVA 42 2012 124 179 33 14. Marampit dan pulau Karatung.816 2015 133 193 37 15.641 Tahun Pelanggan 12.554 2020 2011-2020 171 247 47 19.10.476 2014 130 188 36 14. kecuali untuk pulau Sangihe. Sebagian besar mata pencaharian dari penduduk di kepulauan tersebut adalah nelayan tradisional dan hanya mengandalkan hasil laut. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti pada tabel B6.180 2016 137 198 38 15.4 Sistem Kelistrikan di Kepulauan Gugusan kepulauan di Sulawesi Utara merupakan bagian dari Sabuk Wallacea. Mengingat letaknya yang sangat strategis bagi NKRI.Tabel B6. yakni pulau Miangas.251 2019 145 210 42 16.

556 445.121 375.0 130 112 86.935 344.552 1.765 317.1 Jumlah 120.0 30 33 136.8 28.0 80.0 2017 1.059 2.325 408.0 90 1 28.0 61.0 111.2 2012 1.Tabel B6.6 2015 1.0 30 2019 2.1 .6 2016 1.3 26.343 247.068 1.287 1.0 120 132 103.8 20 101.0 90 2020 2.0 610 - 620 463 870.3 98.471 268.3 559.611 291.120 209.873 2.4 50.3 27.173 1.705 1.9 2013 1.414 1.0 20 2018 1.267 2.4 45.6 61.0 110 165 228.1 10.9 2014 1.226 227.0 25.10 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Produksi Beban Pembangkit (GWh) Puncak (MW) (MW) GI (MVA) Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 2011 973 1.

LAMPIRAN B.2015 U ACSR 1x240 mm2 25 km .2014 ACSR 1x240 mm2 70 km – 2014 ke GI Marisa (Gorontalo) Moutong Siboa PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW .2012 SULAWESI BARAT SULAWESI UTARA PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW .2014 Palu Baru Bunta PLTU Ampana 2x3 MW–2013/14 Talise ACSR 1x240 mm2 15 km .2013 ACSR 1x240 mm2 110 km .2018 P Silae ke GI Pasangkayu (Sulbar) GORONTALO / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana Gambar B7.2012 Poso ACSR 1x240 mm2 124 km – 2017 U Toili G ACSR 1x240 mm2 90 km . Sistem Kelistrikan di Sulawesi Tengah 611 U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Juli 2011 . Gambar sistem interkoneksi Palu-Parigi eksisting dan rencana pengembangannya sebagaimana terlihat pada gambar B7. Sistem Interkoneksi 70 kV Palu-Parigi Sistem kelistrikan kota Palu dan sekitarnya dilayani oleh sistem interkoneksi Palu-Parigi 70 kV melalui GI Talise dan GI Parigi.2012 U ACSR 1x240 mm2 119 km . dipasok dari pembangkit PLTU IPP Tawaeli dan PLTD Parigi. Pada umumnya sistem-sistem tersebut dipasok dari pembangkit jenis PLTD dan sebagian PLTMH. selain mendapatkan pasokan listrik dari PLTD juga dipasok dari PLTU batubara.1.2014 KALIMANTAN TIMUR Leok Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km – 2014 U ACSR 1x240 mm2 108 km . Selain itu.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan yang melayani pelanggan di Provinsi Sulawesi Tengah terdiri dari sistem interkoneksi 70 kV Palu-Parigi dan sistem isolated 20 kV dengan lokasi tersebar.2019 A ACSR 1x240 mm2 90 km – 2019 Ampana ACSR 1x240 mm2 85 km – 2020 ACSR 1x240 mm2 80 km . PLTU Tolitoli 3x15 MW . kota Palu juga dipasok dari PLTD Silae dan PLTD Sewa di Palu melalui jaringan 20 kV dengan total beban puncak tahun 2010 sekitar 63 MW.2013 PLTMG Luwuk 2x10 MW–2012/13 Tentena PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH / / / / / / / / ke GI Wotu (Sulsel) SULAWESI TENGGARA PERENCANAAN SISTEM PT PLN (Persero) Kolonedale PLTA Poso 65 MW – 2011 SULAWESI SELATAN PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW–2015/16 Luwuk ACSR 1x240 mm2 72 km .1.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SULAWESI TENGAH B7. Khusus sistem Palu.

2 1.6 PLTM IPP Total (MW)              0.2              9.8              1.5 Jumlah 62.0 2.0 25.2                    3.6                    4.9              2.0                    3. Tabel B7.0 22.0 7.5 8.1 dan B7.8              2.2. sistem Poso dan sistem Luwuk dipasok dari PLTM dan PLTD.7              2.3                    2.6                    2.1 2.5 103.7 3.0 4 PLTU Tawaeli 30.0 13.4 Beban  Puncak  (MW) * 58.2                    2.1 .0              3.0            13.4              3.0 *) Beban puncak 2010 sekitar 58 MW Tabel B7.2 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Kecil Tersebar (per Sistem) No Sistem Kelistrikan PLTD PLN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Poso Tentena Kolonedale Bungku Tolitoli Leok Moutong‐KRaya‐Palasa Bangkir Luwuk ‐ Moilong Ampana Bunta Banggai Sulteng Tersebar 4.0 9.6              4.5              6.5 No Jenis Pembangkit Total Daya  Mampu  (MW) 24.7            12. Rincian kapasitas pembangkit dan baban puncak sistem kelistrikan isolated di Sulawesi Tengah pada tahun 2010 sebagaimana terdapat pada tabel B7.7 74.5                 28. Selain itu masih terdapat sistem isolated kecil tersebar lainnya.3              5.2 2 PLTD Parigi 5.4 1.6 3 PLTD Sewa 27.8                    5.0            20.8              5.2 2. yang semuanya dipasok dari PLTD PLN dan PLTD sewa serta di beberapa lokasi dibantu PLTD oleh Pemkab setempat.9 5.1 2.1 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Palu-Parigi (dalam MW) 1 PLTD Silae Daya  Terpasang  (MW) 41.1              6.Sistem Isolated Di Sulawesi Tengah terdapat sistem kelistrikan yang terhubung dengan jaringan 20 kV seperti sistem Tolitoli.5          102.1 612              5.7              4.0              1.6 PLTD Sewa/ PLTM PLN PEMDA                    4. dengan beban masing-masing sistem sudah diatas 5 MW.5 2.7            11.8              1.

3 1.503.221.5 1.2 145.0 261.336.375.241.3 214.963 6.981 390.3 1.3 176.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana pembangkit. Memperhatikan data penjualan tenaga listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.4 744.307 443.9% Beban Puncak (MW) 129.7 11.8 656.101. Tabel B7. terutama tenaga air. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.844 533.678 501.0% Produksi (GWh) 594.5% B7.6 1.928 416. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada tabel B7.0 894.3 10. Potensi Energi Primer Potensi energi primer yang tersedia di Sulawesi Tengah sangat besar dan berpeluang besar untuk dikembangkan.120. gas alam dan panas bumi.1 671.0 823.4 805.200 471.404 602.3 1. diperkirakan kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Sulawesi Tengah juga akan terus meningkat.6 993.010.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 523.6 194.4% Jumlah Pelanggan 344.1 1.B7.1 1.1 591.5 10.1 313. Potensi tenaga air yang besar adalah DAS Poso yang dapat dikembangkan menjadi PLTA skala besar hingga 580 MW.4 1. Seiring dengan tingginya potensi ekonomi tersebut.7 237.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah sebagai salah satu penghasil utama komoditi coklat mempunyai potensi ekonomi yang baik.722 567.377 366. transmisi dan distribusi di Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat termasuk pola sebaran penduduknya sebagai berikut.3 160.4 910. Pengembangan tenaga air pada skala tersebut akan dapat memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik di Sulawesi Tengah dan bahkan masih 613 . Selain itu adanya potensi gas alam di Luwuk yang akan dikelola secara komesial akan memberikan dampak positip terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah.3 288.3.5 727.

Taripa. Tentena. Namun alokasi gas tersebut kemudian turun menjadi hanya 25 mmscfd. Bunta. maka pengembangan PLTA Poso selain untuk melayani kebutuhan 3 PLTGU Senoro ini juga masuk dalam proyek FTP2. Sedangkan pemanfaatan gas alam untuk pembangkitan tenaga listrik tergantung pada kebijakan pemerintah. Sebanyak 280 MW atau 55% dari total tambahan kapasitas pembangkit akan dibangun oleh PLN dan sisanya sebesar 337 MW atau 45% direncanakan dibangun oleh swasta.4. di Sulawesi Tengah juga terdapat potensi tenaga air skala kecil yang tersebar di Poso.berlebih untuk dikirim ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 617 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada tabel B7. Tomata. yaitu 352 MW atau 68%. sehingga masih memerlukan studi lebih lanjut. di Sulawesi Tengah juga terdapat potensi tenaga panas bumi yang cukup besar dan tersebar di Donggala dan Poso hingga sejumlah lebih dari 500 MW. semula direncanakan PLN akan mendapat alokasi pasokan gas 60 mmscfd sehingga PLN telah merencanakan pembangunan PLTGU 240 MW di Senoro3. Khusus pasokan gas dari lapangan Donggi dan Senoro. Selanjutnya PLN berencana memanfaatkan gas Donggi-Senoro dalam bentuk LNG untuk digunakan pada pembangkit beban puncak di Sulawesi dan kawasan timur Indonesia. Luwuk. dengan status resource masih speculative serta reserve possible. Volume gas ini tidak cukup untuk mengoperasikan PLTGU 240 MW. Namun terdapat tanta