Anda di halaman 1dari 1056

RENCANA USAHA

PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

PT PLN (PERSERO)
2011
20
11 - 2020
2020

PLTA Koto Panjang, Sumatra

Electricity for a better life

MEI{TERIENERGIDAN$UMBERDAYAMINERAL
R E P U B L I KI N D O N E S ! A
KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
N O M O R: 3 3 1 4 R / Z L / M E M / 2 O L L
TENTANG
PENGESAHAN RENCANA USAHA.PENYEDIAAN

TENAGA L1STRIK
pr pLN (PERSERO)
TAHUN2oli S.b. 2o2o

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


REPUBLIK INDONESIA,
Membaca
: Surat
Direktur
pT
p_LN
Utama
-oe'"embe,
(persero)
Nomor
ianggal_

o-20
99q?ql1q1lq$y!/,?94
2orr,
Nomor
o4o32/101/DTRUT'1?9]]
D;;;*u"i
*dnEE4
2oir,'"i",
Nomoro4Lo2/ Dryur/2oTT-R
t"s;;";8-pt Desember
2o1r
,ro1i penlJsahan
perihal permbhonin
-a-----E-pLN
r\vr
2oII

- 2o2O;

nu-frir s

(persero)

Menimbang : a. bahwa sehrrlnnqg._q."?gan


telah terjadi. pelgb_ahan yang
signifikan

p?da sektor d""gi .!Girii,'il#r.a


RUprL Tdhun
2O1Os.d. 2019 sebagaimanE-b";;;'^ili;.;;f
aitetaptan-aaUm
- Keputusan
"s

Menteri Egglgi- aan uml-&


i,iorri5.*id i o
20/ M'ry.p.olg tanggaia
+/
iii,'
p.rrr
disesuaikan
..1.,-rf'fo
-b
dengan perkembangan"Situ""i
t..kiii^vr

b. bahwa berdasarkan pertimb.angan sebagaimana


dimaksud
dalam huruf a dan' sesuai kEtentuan" pasai -spemerintah--Ntmor
Peraturan
10
"v"i"[gl
?"ii"lig
Penyediaan dan pemanfaatan Tenag"i"tu"--r^gs"9
uJtiit*"u"g""i*i".
telah dua kari diubarr teralihi"i
-t-006, a.rrg"r, peraturan
Pemerintah -Nomor 26 fahu''
-aln
-fii"#;-bivi"
menetapkan
ilrru
Keputusan

Menterionergi

na'ifi1,ftr
penggse.han Renc?na
usat a--eenyed.iaan Tenasa
Listrik-pT elNr perslrol-i"i.,rn
tentans

2of i .la.-zoZo;

Mengingat

1. Vndang-undl5rg
zoog tentanry
._Nomor g0 Tahun
KetenaEalistrikin (r,emEaian
Negara RI Tahun 2oog wo*o?
13S,Talmbahant emUaian rv.g"r? ni N;;;; 5oS2);
2. Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 19g9 .
tentansr
dan pemanialtan {;"ag-" ii"t.if, "ir,";t##
lgnvediaan
NegaraRI-Tahun 19g9 Nomor z4,Tamiahan Lembaran

Nes?{qRtrNomor3s94)sebagaim;"4;J;i;

arr" r."ri-airb;i,
terakhir dengan peraturan Femerlnl"r, irio*o
r 26 Tahun
Negara RI rahun-- iooo Nomor s6
?ooq
.(Lembaran
Tambahan Lembaran lVegaraRI fvomoi+OZ-S);
3. Keputusan presiden Nomor s9/p rahun 2orr tanggal
18
Oktober 2OIl;
4. Peraturan Me$91i Energi dan sumber Daya Minerar Nomor
18 Tahun 2oLo tentz.ng_organis""T'-d"r, Tata Keria
"sum6ei- D;y"Kementerian, Er?ryi
Mir"rlj* (e^"iit"
^{*"
NegaraRI Tahun 2d'10Nomor Sd2it
5- Keulfrrs.an

-2
5. [gpltgqqt] {Iglteri Energi dan sumber Dava Mineral Nomor
o.v"
*',b zooa' t"
/ 20o8 fangs3113_
_N
722?^\ l?IUmum
/ Me\4
Kencana
Ketenagalistiikan Nasional;
",
"1;s
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

KEPUTUSANMENTERI ENERGI DAN SUMBER


DAYA MINERAL
TENTANG PENGESAHAN RENCANC U-S-NHA PENYEDiAAN
TENAGALISTRIK PT PLN (PERSEROIrNH_UNi-ibN S.b. 'b'0._'

KESATU

Tenaga Listrik pr
\{e3sgrahkan Rencana usaha p^eny_ediaan
(ne_rsero)
Tahun
2orr
s.d,.
2otio
tercantum
fl,,n
oaram
Lampran- yang. merupakan
""tj"e.imana
bagiantidak terpisahkan
r
dari Keputusan nAdnteiiini.

KEDUA

PT. .PLN (Persero) meny?Fpaikan raporan perkembansan


^listrik
pelg.ksqn?an
usahh penyi:aiaan tenaga
J;-;;;;t";;
pg.ti"p 3 (tiga).butan tcepladaMenteri E;.rgi A;" s-"*b.iij"y;
Mineral c.q. Direktur Jenderar Ketenagalist?ikan.

KETIGA

Pjtg"tl
{itetapkannya^ Keputusan Menteri ini, Keputusan
-Jufinaya fr{ineiat
-t.irtl"g Nomdr 20;6
Vg$".fi-_pnergi dan Sumber
tanggal
pengesahan
8
icjrcj
f/20/ME\4/2o10^
Rencana
usaha ^p^enye"d'iaan
tenaga r,i"tril.--pr pLN (persero)
Tahun2010s.d.

2019dicabutaa"?inv"tar."" tia"r. u"ii"r.i,]'",

KEEMPAT

Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Desember 2OIL
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA.
trd.
JERO WACIK

Tembusan:
^1. Menteri Dalam Negeri
2. Menteri Nesara peiencanaan pembangul?n Nasionar/Kepala.Bapp.enas
3. sekretaris Jenderet;_L(";;nierian Bnergi dan.
sumber Dava Mrnerar
4. InspekturJenderar,'

Kementlrian

J ff;#;
fi#i riiir,"..r
ktur .rend'eiaf ai il iiir.'rne-"LrgT
fi
*",.
d
#;
E
san
sumber Daya
il^llt Bl'e
"
":lJi'dll.,,
Para

6.
Gubernur di seluruh Indonesia
7 . l?tq Bup_atilWalikotadi seluruh Indoesia
B . Drrektur Utama PT pLN (persero)
Salinansesuaidenganaslinya

PT PLN (PERSERO)

KEPUTUSANDIREKSTPT PLN (PERSERO)

NOMOR:1483 .K//D|R/2011

TENTANG
RENCANA USAHA PENYEDIAANTENAGA LISTRIK(RUPTL)
PT PLN (PERSERO)TAHUN 2011 -2020

PT PLN(PERSERO)
DTREKST
Menimbang

Mengingat

bahwa MenteriEnergi dan Sumber Daya Mineraltelah mengesahkan


Nasional(RUKN) pada tanggal 13
RencanaUmum Ketenagalistrikan
November2008;

:a

.4

b.

untukmenyediakan
rencanaPemerintah
bahwadalamrangkamendukung
tenaga listrik bagi masyarakatIndonesiasesuai RUKN sebagaimana
telahmembuat
dimaksuddalamhurufa di atas,maka PT PLN (Persero)
rencana pengembanganketenagalistrikanyang terpadu dengan
di
memperhatikanaspirasi masyarakatdelam sektor ketenagalistrikan
seluruhlndonesiayang dituangkandalam RencanaUsaha Penyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN(Persero)Tahun2011-2020;

c.

bahwa RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrik(RUPTL)PT PLN


(Persero)
sebagaimana
dimaksuddalamhurufb di atas,
Tahun2011-2020
perluditetapkan
denganKeputusanDireksiPT PLN(Persero).

Rl Nomor19 Tahun2003 tentangBadanUsahaMilik


Undang-Undang
Negara;
Terbatas;
Rl Nomor40 Tahun2007tentangPerseroan
2 . Undang-Undang
Rl Nomor30 Tahun2009tentangKetenagalistrikan;
3 . Undang-Undang
dan
Rl Nomor10 Tahun1989tentangPenyediaan
4 . PeraturanPemerintah
telahdiubahdenganPeraturan
TenagaListriksebagaimana
Pemanfaatan
Rl Nomor
Pemerintah
Rl Nomor 3 Tahun2005dan Peraturan
Pemerintah
26 Tahun2006;
Bentuk
Rl Nomor23Tahun1994tentangPengalihan
Peraturan
Pemerintah
5.
Perseroan
(Perum)
Perusahaan
Negara
Menjadi
Listrik
Perusahaan
Umum
(Persero);
6.
PeraturanPemerintahRl Nomor 45 Tahun 2005 tentang pendirian,
BadanUsahaMilikNegara;
Pengawasan
dan Pembubaran
Pengurusan,
7.
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
|;
istrikanNasiona
tentang RencanaUmum Ketenagal
2682.K21IMEM/2008
8.
AnggaranDasarPTPLN(Persero);
9.
KeputusanMenteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEPjis KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha Milik Negara
58/MBU/2008
dan KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha
Nomor KEP-25AMBU|2O09
tentang Pemberhentiandan
Milik Negara Nomor KEP-2'2A/MBUI2A11
Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT
PerusahaanListrikNegara;
tentang
DireksiPT PLN (Persero)Nomor001,1(030/DlR/1994
1 0 . Keputusan
PemberlakuanPeraturan Sehubungan Pengalihan Bentuk Hukum
Perusahaan;
tentang
1 1 KeputusanDireksiPT PLN (Persero)Nomor 304.}</DlR/2009
Keputusandi LingkunganPT PLN
BatasanKewenanganPengambilan
DireksiPT PLN
(Persero)senbagaimana
telahdiubahdenganKeputusan
(Persero)
1;
Nomor1387.l(DlRl2O1
t.

12. KeputusanDireksi PT PLN (Persero)Nomor 017.K1D1N2010


tentang
Organisasidan Tata Kerja PT PLN (Persero)sebagaimanatelah diubah
denganKeputusan
DireksiPT PLN(Persero)Nomor055.K1DlR/2010.
Memperhatikan

SuratDirekturUtamaPT PLN (Persero)Nomor OO761!4O2|D|RUT/2011


tanggal
14 November2011,Perihal: MekanismePelaporandan Pertanggungjawaban
KepalaSatuan/Sekretaris
Perusahaan/Kepala
Divisi di LingkunganPT PLN
(Persero).
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

KEPUTUSAN
DIREKSIPT PLN (PERSERO)TENTANG RENCANAUSAHA
PENYEDTAAN
TENAGAL|STR|K(RUPTL)pT pLN (PERSERO)
TAHUN20112020.

PERTAMA

RencanaUsahaPenyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN (Persero)
Tahun
2011-2020adalah sebagaimanatercantumdalam LampiranKeputusandan
merupakan
bagianyangtidakterpisahkan
dariKeputusan
ini.

KEDUA

RUPTL PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020 sebagaimanatercantum dalam


Lampiran Keputusan ini digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan
Rencana Jangka Panjang Perusahaan(RJPP) dan penetapanRencana Kerja
dan AnggaranPerusahaan(RKAP)PT PLN (Persero).

KETIGA

RUPTL PT PLN (Persero)Tahun 2011-2020sebagaimana dimaksud dalam


DiktumPERTAMA, akan ditinjauulang setiaptahun sesuaiperkembanganyang
terjadi.

Keputusan
ini mulaiberlakuterhitung
sejaktanggalditetapkan.

Ditetapkandi Jakarta
padatanggal,20 Desernber 2011
DIREKTUR UTAMA,

KATA PENGANTAR
Rencana Usaha PenyediaanTenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2011-2020 ini
disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
PemanfaatanTenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan PemerintahNomor 26 Tahun 2006, yang menyebutkan
bahwa badan usaha yang memilikiwilayah usaha wajib membuat Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum
Ketenagalistrikan
Nasional(RUKN).
RUPTL ini memperhatikanketentuan-ketentuan
dalam Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682.K21lMEMl2008 tentang
Rencana Umum Ketenagalistrikan
Nasional2008 - 2027 dan draft Rencana
Umum KetenagalistrikanNasional 2O1O- 2029 yang telah disusun oleh
Kementerian
EnergidanSumberDayaMineral.
Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikangambaran mengenai
RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrikoleh PT PLN (Persero)di seluruh
lndonesiauntuk kurunwaktu 2011 - 2020 yang akan digunakansebagaiacuan
dalam penyusunanrencanaperusahaanjangka panjangdan sebagaipedoman
dalam penyusunanprogramkerjatahunan.
Sejalan dengan perkembangandan perubahankondisi industri kelistrikandl
Indonesia, RUPTL ini akan diperbaharul secara berkala agar rencana
pengembangansistemkelistrikanmenjadilebihrelevan.
Akhirnya kami mengucapkanterima kasih dan penghargaanatas kontribusi
semua pihaksehinggaRUPTLini dapatdiselesaikan.

Jakarta. Desember2011
DIREKTUR
UTAMA

,4u1h4/
ruuJ
eervruo.l
RUPTL2011-2020

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................ii
SINGKATAN DAN KOSAKATA ...............................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Landasan Hukum ................................................................................................... 3
1.3 Visi dan Misi Perusahaan ...................................................................................... 3
1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL ............................................................ 4
1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya ...................................... 5
1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha ...................................................................... 8
1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat ....................................................... 8
1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur ...................................................... 9
1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali .............................................................. 10
1.7 Sistematika Dokumen RUPTL ............................................................................. 10
BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA ......................................12
2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
Kebutuhan Tenaga Listrik ........................................................................................... 12
2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit.............................................. 13
2.3 Kebijakan PengembaNgan Transmisi ................................................................. 17
2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi ................................................................... 19
2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan ...................................................... 20
2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan .................................... 21
BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI ...............................................................23
3.1 Penjualan Tenaga Listrik ..................................................................................... 23
ii

RUPTL 2011- 2020

3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan............................................................................. 26


3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur .................. 27
3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali .............................................................. 28
3.3 Kondisi Sistem Transmisi .................................................................................... 29
3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur ...... 29
3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali ............................................................. 31
3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali ..... 32
3.4 Kondisi Sistem Distribusi ..................................................................................... 33
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi ................................................................. 33
3.4.2 Keandalan Pasokan ......................................................................... 33
3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak ..................................................................... 33
3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek ........................................ 34
3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur 35
3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali ............................................. 39
BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER............................................................. 41
4.1 Batubara .............................................................................................................. 41
4.2 Gas Alam ............................................................................................................. 43
4.2.1 LNG dan Mini-LNG .......................................................................... 46
4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas) ..................................................... 47
4.3 Panas Bumi ......................................................................................................... 48
4.4 Tenaga Air ........................................................................................................... 49
4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya ................................................................. 50
4.6 Nuklir.................................................................................................................... 50

RUPTL 2011- 2020

iii

BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 2020 .........................52


5.1 Kriteria Perencanaan ........................................................................................... 52
5.1.1 Perencanaan Pembangkit ................................................................ 52
5.1.2 Perencanaan Transmisi ................................................................... 54
5.1.3 Perencanaan Distribusi .................................................................... 55
5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik............................................ 57
5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi ..................................................................... 58
5.2.2 Pertumbuhan Penduduk................................................................... 59
5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020 ............................................... 60
5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit ................................................................ 64
5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit .................................................. 64
5.4.2 Program

Percepatan

Pembangkit

Berbahan

bakar

Batubara

(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009) ........................................... 65


5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 ...................................... 67
5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan
PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. ........................................... 69
5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang ............ 69
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) .............. 69
5.4.7 Penambahan

Kapasitas

Pembangkit

Pada

Wilayah

Operasi

Indonesia Barat dan Indonesia Timur ......................................................... 70


5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali ............................. 74
5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta .................................................................. 79
5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar ....................................... 82
5.5.1 Sasaran Fuel Mix.............................................................................. 82
5.5.2 Sistem Jawa-Bali .............................................................................. 86
5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat ..................................................... 87

iv

RUPTL 2011- 2020

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur.................................................... 89


5.6 Analisis Sensitivitas ............................................................................................. 91
5.7 Proyeksi Emisi CO2............................................................................................. 93
5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) ........................................... 93
5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 ............................................. 97
5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism) ............................................... 101
5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk...................................... 102
5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Barat ....................................................................................... 103
5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Timur .................................................................................................. 105
5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali ................. 106
5.10 Pengembangan Sistem Distribusi .................................................................... 109
5.9.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur ................ 109
5.9.2 Sistem Jawa-Bali ........................................................................... 110
5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan ............................... 111
5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan. 112
5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar ................................................................. 114
BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI.............................................................. 117
6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia .......................................................... 117
6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali .......................................................... 118
6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ........................................................................................................................ 120
6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP .................................................. 122
6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN .................................... 122
6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan ................................. 123
RUPTL 2011- 2020

6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan ........................................................... 123


6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan ............................................................... 123
6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL ........................ 126
BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 ...................................................... 127
7.1 Identifikasi Risiko ............................................................................................... 127
7.2 Pemetaan Risiko ................................................................................................ 128
7.3 Program Mitigasi Risiko ..................................................................................... 130
BAB VIII KESIMPULAN ........................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 132

vi

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR BAB I
Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL ........................................................... 7
Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) ....................................... 10
GAMBAR BAB V
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 .... 62
Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020........... 63
Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan
RUKN ................................................................................................................. 63
Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 85
Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 90
Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Jawa Bali Skenario Baseline .............................................................................. 94
Gambar 5. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali
Skenario Baseline .............................................................................................. 95
Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline ......................................................... 96
Gambar 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera
Skenario Baseline .............................................................................................. 97
Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) ........ 98
Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali ........ 99
Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat .................................................................................................. 99

RUPTL 2011- 2020

vii

Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 100
GAMBAR BAB VI
Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak
Termasuk IPP) .................................................................................................. 118
Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa Bali ........ 119
Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat ................................................................................................................. 120
Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Timur ............................................................................................ 121
Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ............ 122

viii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR TABEL

TABEL BAB I
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL .......................... 7
TABEL BAB III
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) ............................................... 23
Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit]................................. 24
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) .............................................. 25
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 2010 ......... 26
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 ............................................................ 27
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) tahun 2010 .................................................................... 28
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 .. 29
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA) ............................................................................... 30
Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (kms) ................................................................................ 30
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000) ..... 31
Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali ..................... 31
Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT) .................. 32
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%) ........................................................... 33
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN...................................................................... 33
Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012 ....... 35
Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun
2015 ................................................................................................................... 37

TABEL BAB IV
Tabel 4. 1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali ......... 59
Tabel 4. 2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali .. 59

RUPTL 2011- 2020

ix

Tabel 4. 3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power


Development....................................................................................................... 60
Tabel 4. 4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan .................. 60

TABEL BAB V
Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ..................................................... 59
Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ........................................ 59
Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) ............................................................. 60
Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan ... 60
Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan ............. 61
Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio
Elektrifikasi .......................................................................................................... 62
Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar .............................................................. 65
Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW ......................... 66
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 .............................. 68
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 ................................. 69
Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) ............. 70
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) ... 72
Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) .. 72
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) ............................ 74
Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 .................................... 76
Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 ........................... 79
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur .................................................................................................. 80
Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali ....................................................... 81
Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar .. 83
Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis
Bahan Bakar (%) ................................................................................................ 83
Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 84
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia ................................................ 85
Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali .................................... 87
Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat ........... 88
x

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


............................................................................................................................ 89
Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur ......... 90
Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas ................ 91
Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar
............................................................................................................................ 92
Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) . 95
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) . 96
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM
dan VCM .......................................................................................................... 101
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia ..................................... 102
Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia ................ 103
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat 105
Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi
Indonesia Barat ................................................................................................ 105
Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia ................................... 109
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 109
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur 109
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali.......................... 110
Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014............. 111
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia
2011-2014 (Juta Rp) ........................................................................................ 112
Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil .............. 114
Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil ................... 114
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115
Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115

RUPTL 2011- 2020

xi

TABEL BAB VI
Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) . 117
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa Bali..................... 118
Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Barat................................................................................................. 120
Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 121
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ................. 122
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2010-2015 ........ 124
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Milyar Rp) ................................................ 126

xii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A. WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

134

A1.

137

A2.

SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA


A1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

138

A1.2.

Neraca Daya

140

A1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

145

A1.4.

Neraca Energi

147

A1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

150

A1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

173

A1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

191

A1.8.

Analisis Aliran Daya

201

A1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

212

A1.10.

Program Listrik Perdesaan

224

A1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

236

PENJELASAN LAMPIRAN A1

239

SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT

252

A2.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

253

A2.2.

Neraca Daya

255

A2.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

258

A2.4.

Neraca Energi

260

A2.5.

Capacity Balance Gardu Induk

263

A2.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

266

A2.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

270

A2.8.

Analisis Aliran Daya

272

A2.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

276

A2.10.

Program Listrik Perdesaan

278

A2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

280

PENJELASAN LAMPIRAN A2

RUPTL 2011- 2020

282

xiii

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI


WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

290

A3.

PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

292

A4.

PROVINSI SUMATERA UTARA

304

A5.

PROVINSI RIAU

315

A6.

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

326

A7.

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

334

A8.

PROVINSI SUMATERA BARAT

340

A9.

PROVINSI JAMBI

350

A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN

358

A11. PROVINSI BENGKULU

367

A12. PROVINSI LAMPUNG

373

A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT

381

A14. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED


WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

390

A14.1.

Sistem Isolated Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

391

A14.2.

Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara

401

A14.3.

Sistem Isolated Provinsi Riau

403

A14.4.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau

411

A14.5.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

420

A14.6.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat

423

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

432

B1. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH


DAN TIMUR (KALSELTENGTIM)

xiv

435

B1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

436

B1.2. Neraca Daya

438

B1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

441

B1.4. Neraca Energi

443

B1.5. Capacity Balance Gardu Induk

446

B1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

454

B1.7. Peta Pengembangan Penyaluran

461
RUPTL 2011- 2020

B1.8. Analisis Aliran Daya

464

B1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

471

B1.10.

Program Listrik Perdesaan

476

B1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

481

PENJELASAN LAMPIRAN B1

483

B2. SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA, SULAWESI TENGAH


DAN GORONTALO (SULUTTENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI
SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI
BARAT (SULSELRABAR)
494
B2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

496

B2.2. Neraca Daya

499

B2.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

504

B2.4. Neraca Energi

506

B2.5. Capacity Balance Gardu Induk

511

B2.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

525

B2.7. Peta Pengembangan Penyaluran

535

B2.8. Analisis Aliran Daya

542

B2.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

549

B2.10.

Program Listrik Perdesaan

551

B2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

553

PENJELASAN LAMPIRAN B2

556

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI


WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

571

B3.

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

572

B4.

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

582

B5.

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

591

B6.

PROVINSI SULAWESI UTARA

601

B7.

PROVINSI SULAWESI TENGAH

611

B8.

PROVINSI GORONTALO

619

B9.

PROVINSI SULAWESI SELATAN

626

B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA

634

B11. PROVINSI SULAWESI BARAT

642

RUPTL 2011- 2020

xv

B12. PROVINSI MALUKU

648

B13. PROVINSI MALUKU UTARA

656

B14. PROVINSI PAPUA

662

B15. PROVINSI PAPUA BARAT

671

B16. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

677

B17. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

687

B18. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI


INDONESIA TIMUR
695
B18.1.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan

696

B18.2.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah

699

B18.3.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur

707

B18.4.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara

723

B18.5.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah

728

B18.6.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan

741

B18.7.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara

743

B18.8.

Sistem Isolated Provinsi Maluku

749

B18.9.

Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara

757

B18.10. Sistem Isolated Provinsi Papua

763

B18.11. Sistem Isolated Provinsi Papua Barat

771

B18.12. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB

775

B18.13. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT

783

LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI

795

C1.

797

xvi

SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI


C1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

798

C1.2.

Neraca Daya

805

C1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

817

C1.4.

Neraca Energi

819

C1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

822

C1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

850

C1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

882

C1.8.

Analisis Aliran Daya

894
RUPTL 2011- 2020

C1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

921

C1.10.

Program Listrik Pedesaan

923

C1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

930

PENJELASAN LAMPIRAN C1

938

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI


WILAYAH OPERASI JAWA BALI

966

C2.

PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

968

C3.

PROVINSI BANTEN

979

C4.

PROVINSI JAWA BARAT

986

C5.

PROVINSI JAWA TENGAH

997

C6.

PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

1005

C7.

PROVINSI JAWA TIMUR

1009

C8.

PROVINSI BALI

1017

LAMPIRAN D. ANALISIS RISIKO

RUPTL 2011- 2020

1023

xvii

SINGKATAN DAN KOSAKATA


ADB

ASEAN Power Grid

Aturan Distribusi

Aturan Jaringan

Beban

Beban puncak

BPP
BTU
Capacity balance

:
:
:

Captive power

CCS
CCT
CDM

:
:
:

COD
Daya mampu
Daya terpasang
DAS
DMO
EBITDA
ERPA
Excess power

:
:
:
:
:
:
:
:

FSRU
GAR

:
:

GRK
HSD
HVDC
IBT

:
:
:
:

IGCC

xviii

Air Dried Basis, merupakan nilai kalori batubara yang


memperhitungkan inherent moisture saja
Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN
Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan
dan persyaratan untuk menjamin keamanan, keandalan serta
pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien
dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik
Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan, persyaratan
dan standar untuk menjamin keamanan, keandalan serta
pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang
efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik
Sering disebut sebagai demand, merupakan besaran kebutuhan
tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh, MW atau MVA
tergantung kepada konteksnya
Atau peak load / peak demand, adalah nilai tertinggi dari langgam
beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW
Biaya Pokok Penyediaan
British Thermal Unit
Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah
gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh
gardu induk tersebut, dinyatakan dalam MVA
Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan, umumnya
pelanggan industri dan komersial
Carbon Capture and Storage
Clean Coal Technology
Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme
Pembangunan Bersih
Commercial Operating Date
Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW
Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate
Daerah Aliran Sungai
Domestic Market Obligation
Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization
Emission Reduction Purchase Agreement
Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli
oleh PLN
Floating Storage and Regasification Unit
Gross As Received, merupakan nilai kalori batubara yang
memperhitungkan total moisture
Gas Rumah Kaca
High Speed Diesel Oil
High Voltage Direct Current
Interbus Transformer, yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi
yang berbeda tegangan, seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV
Integrated Gasification Combined Cycle
RUPTL 2011- 2020

IPP
JTM

:
:

JTR

kmr
kms
Life Extension

:
:
:

LNG
LOLP

:
:

Load factor

MFO
MMBTU

:
:

Mothballed
MP3EI

:
:

MMSCF

MMSCFD
Neraca daya

:
:

Non Coincident Peak


Load
Peaking
Prakiraan beban

:
:
:

Reserve margin

Rasio elektrifikasi

SFC
Tingkat cadangan

:
:

Ultra super critical

WKP

RUPTL 2011- 2020

Independent Power Producer


Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik
bertegangan 20 kV
Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik
bertengangan 220 V
kilometer-route, menyatakan panjang jalur saluran transmisi
kilometer-sirkuit, menyatakan panjang konduktor saluran transmisi
Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya
mendekati akhir
Liquified Natural Gas
Loss of Load Probability, suatu indeks keandalan sistem
pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas
pembangkit
Faktor beban, merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW
puncak
Marine Fuel Oil
Million Metric BTU, satuan yang biasa digunakan untuk mengukur
kalori gas
Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia
Million Metric Standard Cubic Foot, satuan yang biasa digunakan
untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu
Million Metric Standard Cubic Foot per Day
Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban
puncak dan kapasitas pembangkit
Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa
melihat waktu terjadinya beban puncak
Pembangkit pemikul beban puncak
Demand forecast, prakiraan pemakaian energi listrik di masa
depan
Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak, dinyatakan
dalam %
Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan
jumlah keseluruhan rumah tangga
Specific Fuel Consumption
Reserve margin) adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh
perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak.
Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan
diatas titik kritis air
Wilayah Kerja Pertambangan

xix

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


PT PLN (Persero) selanjutnya disebut PLN sebagai sebuah perusahaan listrik
merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang lead time-nya
relatif panjang, sehingga PLN secara alamiah perlu mempunyai sebuah
rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang. Sebagai
contoh, diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara
kelas 1.000 MW1 mulai dari rencana awal hingga beroperasi. Dengan demikian
rencana pengembangan sistem yang diperlukan PLN harus berjangka cukup
panjang, yaitu 10 tahun, agar dapat mengakomodasi lead time yang panjang
dari proyek-proyek kelistrikan.
Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka
panjang juga didorong oleh keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi
yang efisien, dalam arti PLN tidak sembarang melakukan proyek kelistrikan
tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik. Hal ini penting dilakukan
karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya
dalam jangka panjang. Untuk mencapai hal tersebut PLN telah menyusun
sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang disebut
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, atau RUPTL.
RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi
PLN sepuluh tahun mendatang yang optimal, disusun untuk mencapai tujuan
tertentu serta berdasarkan pada kriteria perencanaan dan kebijakan tertentu.
Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang
dapat menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan.
Didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL,
dokumen perencanaan ini juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan
perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan.

Misalnya PLTU Indramayu unit 4 dengan ukuran unit 1.000 MW

RUPTL 2011- 2020

Penyusunan RUPTL tahun 2011-2020 ini sebagai amanat Pasal 5 ayat (1) dan
ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 dan didorong oleh
timbulnya kebutuhan untuk memperbaharui RUPTL 2010-2019 setelah
memperhatikan adanya keterlambatan banyak proyek pembangkit tenaga listrik
terutama pembangkit listrik tenaga panas bumi, beberapa pembangkit listrik
tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara, baik proyek PLN
maupun proyek listrik swasta atau independent power producer (IPP). Hal lain
yang mendorong disusunnya RUPTL 2011-2020 ini adalah semakin
menguatnya keinginan PLN untuk melayani kebutuhan tenaga listrik pada
banyak daerah di Indonesia yang telah lama menderita kekurangan pasokan,
dan mengalihkan sebanyak mungkin pembangkit berbahanbakar minyak ke
pembangkit berbahanbakar non-minyak. Hal-hal tersebut telah membuat PLN
merasa perlu untuk memutakhirkan RUPTL yang ada.
Selanjutnya sejalan dengan UU No.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan
juga pemerintah kabupaten/kota) wajib membuat Rencana Umum
Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD, maka RUPTL 2011-2020 ini juga
membuat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi. Namun demikian proses
optimisasi perencanaan tetap dilakukan per sistem tenaga listrik apabila telah
ada jaringan interkoneksi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.
RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat bagi setiap provinsi untuk
melihat apa yang telah direncanakan oleh PLN pada daerahnya.
Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan sistem
kelistrikan yang akan dilakukan oleh PLN sendiri dan proyek-proyek
pembangkit yang akan ditawarkan kepada sektor swasta sebagai IPP. Pada
dasarnya semua proyek transmisi dan distribusi akan dilaksanakan oleh PLN,
sedangkan proyek pembangkit akan terbagi menjadi proyek milik PLN dan
proyek milik swasta yang akan menjual listriknya ke PLN. Beberapa ruas
transmisi yang dedicated dengan suatu pembangkit IPP dapat dibangun oleh
pengembang listrik swasta.
RUPTL akan selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perubahan
beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana
pengembangan sistem kelistrikan, utamanya prakiraan kebutuhan tenaga listrik
dan progres pembangunan proyek kelistrikan, sehingga selalu dapat
memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan
pegangan dalam implementasinya.
2

RUPTL 2011- 2020

RUPTL ini disusun melalui optimasi pengembangan sistem pembangkit dan


transmisi, dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber energi setempat
dan sumber energi terbarukan.
1.2 LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006, khususnya Pasal 5
ayat (1) dan ayat (2):
(1) RUPTL disusun
Nasional.

berdasarkan

Rencana

Umum

Ketenagalistrikan

(2) RUPTL digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga


listrik bagi Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan
Umum.
(3) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682
K/21/MEM/2008 tanggal 13 November 2008 tentang Rencana Umum
Ketenagalistrikan Nasional.

1.3 VISI DAN MISI PERUSAHAAN


Pada Anggaran Dasar PLN tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan
lapangan usaha PLN adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga
listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta
memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang
ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan
prinsip-prinsip perseroan terbatas.
Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas, maka visi
PLN adalah sebagai berikut: Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang
Bertumbuh-kembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi
Insani.
Selain visi tersebut, saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi
perusahaan kelas dunia, bebas subsidi, menguntungkan, ramah lingkungan
dan dicintai pelanggan.

RUPTL 2011- 2020

Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan


tenaga listrik dan mengacu kepada visi tersebut, maka PLN akan:

Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi


pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.

Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas


kehidupan masyarakat.

Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.


Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan

1.4 TUJUAN DAN SASARAN PENYUSUNAN RUPTL


Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan
acuan pengembangan sarana kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan
tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan lebih baik, sehingga
dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan.
Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional
adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik, peningkatan
efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap perencanaan yang
meliputi:

Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa


daerah.

Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap


tahun dengan tingkat keandalan2 yang diinginkan secara least-cost.

Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk


menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP), dicerminkan oleh
pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi
pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 1% persen terhadap total
produksi energi listrik pada tahun 2020.

Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan utamanya panas


bumi sesuai dengan program pemerintah, dan juga energi terbarukan lain
seperti tenaga air.

Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin.


RUPTL 2011- 2020

Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN, dan mencapai


rasio elektrifikasi minimum 60% pada setiap provinsi di akhir tahun 2011.

Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin membaik.

Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi sebesar 8-9%.

1.5 PROSES PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNGJAWABNYA


Penyusunan RUPTL 2011-2020 ini dibuat dengan proses sebagai berikut:

RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2010-2029 digunakan sebagai pedoman


dan rujukan, khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang
perencanaan ketenagalistrikan, kebijakan pemanfaatan energi primer untuk
pembangkit tenaga listrik, kebijakan perlindungan lingkungan, kebijakan
tingkat cadangan (reserve margin), asumsi pertumbuhan ekonomi dan
prakiraan kebutuhan tenaga listrik.

PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai


penjabaran dari RUKN dan kebijakan Pemerintah lainnya, seperti
pengembangan panas bumi yang semakin besar.

Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam


RUPTL perioda sebelumnya dalam Forum Perencanaan, yaitu sebuah
forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat untuk
membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun prakiraan
pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik.

Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar utamanya pertumbuhan


ekonomi, selanjutnya disusun prakiraan beban (demand forecast), rencana
pembangkitan, rencana transmisi dan gardu induk (GI), rencana distribusi
dan rencana kelistrikan yang isolated. Penyusunan ini dilakukan oleh Unitunit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing
dengan memperhatikan kondisi kelistrikan yang ada. Demand forecast,
perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/
Wilayah. Perencanaan transmisi dibuat oleh PLN Penyaluran dan Pusat
Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh PLN Wilayah yang mengelola
transmisi. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilakukan oleh
PLN Kantor Pusat.

RUPTL 2011- 2020

Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan


metoda regresi - ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi
listrik, daya tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan
populasi untuk membentuk model yang fit.

Untuk mempertegas akuntabilitas, demand forecast pada semua wilayah


kerja PLN telah disahkan oleh General Manager Unit Bisnis
Distribusi/Wilayah.

Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN


Kantor Pusat dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun, dimaksudkan
untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast, capacity balance
dan rencana gardu induk, rencana transmisi dan rencana pembangkit
sistem isolated yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. Pada workshop
perencanaan juga dilakukan verifikasi jadwal COD3 proyek-proyek
pembangkit PLN dan IPP, estimasi pasokan gas alam dan LNG, serta
kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan
tenaga listrik jangka pendek.

Konsolidasi produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis


PLN dan pengurusan untuk memperoleh pengesahan oleh Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral sehingga draft RUPTL menjadi RUPTL resmi
dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi
referensi untuk pembuatan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP)
lima tahunan, serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN
dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1.1.

COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan
secara komersial.
6

RUPTL 2011- 2020

Konsolidasi dan check konsistensi

RUPTL

RUKN

rencana pengembangan sistem.

Rencana pengembangan pembangkit (neraca


Asumsi dasar dan
kebijakan, proyeksi
kebutuhan tenaga listrik

daya, neraca energi dan kebutuhan bahan


bakar).

Workshop
Perencanaan

Rencana pengembangan transmisi dan


distribusi.

Workshop

Demand forecast per Wilayah dan

Demand Forecast

per Provinsi

Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL

Pada workshop demand forecast, PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/
Wilayah membahas dan menyepakati asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan
demand forecast di setiap wilayah, dilanjutkan dengan menyusun demand
forecast secara agregat, namun belum dibuat secara spasial4. Berbekal hasil
kerja pada workshop demand forecast tersebut, setiap unit PLN
Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan membuat capacity
balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan
kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau
gardu induk baru, yang harus diselesaikan dalam waktu dua bulan.
Pada saat yang sama, PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan
pembangkit pada sistem interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan
tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah.
Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel 1.1.
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL
Kegiatan Pokok
Kebijakan umum
dan asumsi

P3B

Kitlur

Wilayah

Kit

Distr

Pusat

Demand forecasting

Perencanaan Pembangkitan

Perencanaan Transmisi

P, E*)
P

Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan


terdistribusi pada daerah-daerah/locality.
RUPTL 2011- 2020

Perencanaan Distribusi
Perencanaan GI

Perencanaan Pembangkitan
Isolated

Konsolidasi

Keterangan:
E: Pelaksana (Executor); P: Pembinaan (Parenting); U: Pengguna (User); S: Pendukung
(Supporting),*) untuk Sistem Besar

1.6 RUANG LINGKUP DAN WILAYAH USAHA


Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral sesuai Surat Keputusan No. 634-12/20/600.3/2011
tanggal 30 September 2011. Surat keputusan tersebut menetapkan Wilayah
Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali yang
ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik
Negara lainnya, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Swasta atau
Koperasi.
Ruang Lingkup RUPTL 2011-2020 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN
yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri ESDM tersebut, yaitu tidak
termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional Batam dan PT
Pelayanan Listrik Nasional Tarakan walaupun keduanya merupakan anak
perusahaan PLN.
Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga
wilayah operasi, yaitu Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Jawa-Bali, maka
RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan sistem pada tiga wilayah
operasi tersebut. Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana
pengembangan sistem per provinsi.
Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini:

1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat


Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan provinsi Kalimantan
Barat.

RUPTL 2011- 2020

Sumatera
Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau, Bangka,
Belitung, Nias, dilayani oleh PLN Wilayah Aceh, PLN Wilayah Sumatera Utara,
PLN Wilayah Sumatera Barat, PLN Wilayah Riau dan Kepri, PLN Wilayah
Sumatera Selatan Jambi Bengkulu, PLN Wilayah Lampung, PLN Wilayah
Bangka Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera.
Pembangkit tenaga listrik di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN
Pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera
Bagian Selatan, kecuali beberapa pembangkit skala kecil di sistem-sistem kecil
isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. Pulau Batam sendiri merupakan
wilayah usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional
Batam, sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero).
Kalimantan Barat
Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat.

1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur


Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali provinsi
Kalimantan Barat, Sulawesi, kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Papua, dan
Nusa Tenggara. Khusus untuk pulau Tarakan merupakan wilayah usaha anak
perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan, sehingga tidak
tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero).

Kalimantan
Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia
Timur dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah
Kalimantan Timur.
Sulawesi
Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi UtaraTengah-Gorontalo dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat.
Nusa Tenggara
Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN
Wilayah Nusa Tenggara Barat dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur.

RUPTL 2011- 2020

Maluku dan Maluku Utara serta Papua


Wilayah usaha PLN di provinsi Maluku dan provinsi Maluku Utara dilayani oleh
PLN Wilayah Maluku & Maluku Utara, dan provinsi Papua dan provinsi Papua
Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua.

1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali


Wilayah usaha PLN di Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat &
Banten, PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang, PLN Distribusi Jawa
Tengah & DI Yogyakarta, PLN Distribusi Jawa Timur dan PLN Distribusi Bali. Di
wilayah ini tedapat juga unit operasi pembangkitan, yaitu PLN Pembangkitan
Tanjung Jati, PLN Pembangkitan Muara Tawar, PLN Pembangkitan Cilegon,
PLN Pembangkitan Lontar, PLN Pembangkitan Indramayu dan PLN Penyaluran
dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali. Selain itu terdapat anak perusahaan PLN
di bidang pembangkitan, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa
Bali, serta beberapa listrik swasta.
Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1.2.

Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero)

1.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL


Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bab I
menjelaskan latar belakang, landasan hukum, visi dan misi perusahaan, tujuan
dan sasaran, dan sistematika dokumen. Bab II menjelaskan kebijakan umum
10

RUPTL 2011- 2020

pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan


sistem. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini, Bab IV menjelaskan
ketersediaan energi primer. Bab V menjelaskan rencana penyediaan tenaga
listrik, meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan, asumsi dasar, prakiraan
kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit, transmisi dan
distribusi, serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar. Bab VI menjelaskan
kebutuhan investasi. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah
mitigasinya. Bab VIII memberikan kesimpulan.
Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam
lampiran lampiran yang menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem
kelistrikan dan setiap provinsi.

RUPTL 2011- 2020

11

BAB II
KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA
Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2011 - 2020 ini dibuat dengan
memperhatikan kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan
penjualan, pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi. Bab II ini
menjelaskan kebijakan dimaksud.
1.8 KEBIJAKAN PELAYANAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK
MELAYANI PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan
PLN yang juga dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram
pada tanggal 27 Juli 2010, PLN diminta mempertahankan bebas pemadaman
listrik. Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan
tenaga listrik dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh
Indonesia secara terus menerus, baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang, Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani
kebutuhan tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas
karena proyek-proyek pembangkit belum sepenuhnya selesai, PLN telah dan
akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan menyewa pembangkit.
Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas pembangkit dan
transmisi diharapkan telah selesai5 dan reserve margin telah mencukupi, maka
penjualan akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit yang
ada, sekaligus untuk memperoleh revenue yang diperlukan untuk debt
repayment dan pembayaran kepada listrik swasta.
RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik
dalam RUKN 2008-2027 yang diperbaharui dengan draft RUKN 2010-2029
yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada
tahun 2010.
RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi secara signifikan
dengan menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup

12

Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2, proyek pembangkit PLN dan IPP
lainnya
RUPTL 2011- 2020

tinggi setiap tahun, termasuk membuat rasio elektrifikasi semua provinsi


minimal 60% pada akhir tahun 2011 dan melayani semua daftar tunggu pada
akhir tahun 2011.
Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah belum
diperhitungkannya dampak program demand side management (DSM) dan
program energy efficiency dalam membuat prakiraan demand. Kebijakan ini
diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman,
disamping karena implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu
yang cukup lama untuk menjadi efektif.
Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan
cukup tinggi sehingga diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan ekonomi sebagaimana direncanakan
dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI).

1.9 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT


Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi
pertumbuhan beban yang direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentu
diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik.
Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan
keandalan pasokan yang diinginkan, dengan mengutamakan pemanfaatan
sumber energi setempat, terutama energi terbarukan.
Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan
secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost),
dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang wajar dalam industri tenaga
listrik. Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present
value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi, biaya
bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan, dan biaya energy not served6.
Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load
Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve margin)7. Pembangkit sewa
dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana

6
Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function
untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati konsumen akibat padam listrik
7
LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV.

RUPTL 2011- 2020

13

pengembangan kapasitas jangka panjang, namun dalam jangka pendek


diperhitungkan untuk mengatasi kondisi krisis.
Namun demikian, sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak
mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan, pengembangan panas
bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria least cost sehingga mereka
diperlakukan sebagai fixed plant8. Namun demikian perencanaan pembangkit
panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan supply
demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan, serta status kesiapan
pengembangannya.
Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional
namun telah lama menderita kekurangan pasokan tenaga listrik, yaitu Sumatra
dan Kalimantan, PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana
reserve margin yang sangat besar, yaitu hingga 80%. Kebijakan ini diambil
dengan pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan
dan Sumatera, terutama proyek IPP, seringkali mengalami keterlambatan,
pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya
keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan
Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh lebih cepat9.
Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan
tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi, PLN akan
memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari tahun ke tahun.
Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik, maka PLN akan
mengimbanginya dengan mitigasi tertentu. Mitigasi tersebut misalnya
pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan,
memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat
dilakukan power exchange, dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan
berikutnya.
Pemilihan lokasi kandidat pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan
ketersediaan sumber energi primer setempat atau kemudahan pasokan energi
primer, kedekatan dengan pusat beban, prinsip regional balance topologi

Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa
menjalani proses optimisasi keekonomian.
9
PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman
merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya
dengan metoda regresi berdasar data historis.
14

RUPTL 2011- 2020

jaringan transmisi yang dikehendaki, kendala pada sistem transmisi10, dan


kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosial11.
Pembangkit berbahan bakar minyak hanya direncanakan untuk memenuhi
kebutuhan pembangkit beban puncak. Namun pembangkit beban puncak tetap
mengutamakan pembangkit non-BBM, seperti pumped storage, PLTA peaking
dengan reservoir atau pembangkit berbahan bakar compressed natual gas
(CNG), mini LNG, atau LNG.
Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan
apabila terdapat kepastian pasokan gas.
Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan, maka PLTGU sebagai
pembangkit medium (pemikul beban menengah) menjadi tidak dapat
direncanakan. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar, yaitu PLTU
batubara, dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan
capacity factor yang relatif rendah, walaupun untuk fungsi tersebut PLTU
batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang mempunyai ramping
rate12 tinggi seperti PLTG.
Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik
tenaga gasifikasi batubara) skala kecil merupakan program untuk
menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem isolated
skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup
dekat. PLTU atau PLTGB dapat dikembangkan oleh PLN atau swasta.
Untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali, PLN telah merencanakan PLTU batubara
kelas 1.000 MW dengan teknologi ultra super critical13 untuk memperoleh
efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah. Penggunaan ukuran
unit sebesar ini juga dimaksudkan untuk memperoleh manfaat dari economies
of scale dan didorong oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk
membangun pusat pembangkit skala besar di pulau Jawa. Pertimbangan

10

Pembebanan lebih, tegangan rendah, arus hubung singkat terlalu tinggi, stabilitas tidak baik.
Antara lain kondisi tanah, bathymetry, hutan lindung, pemukiman.
12
Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah outputnya, dinyatakan
dalam % per menit, atau MW per menit.
13
PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang
secara komersial. Jenis CCT lainnya, yaitu Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC)
diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024.
11

RUPTL 2011- 2020

15

lainnya adalah ukuran sistem Jawa Bali telah


mengakomodasi unit pembangkit kelas 1.000 MW.

cukup

besar

untuk

Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan memenuhi prinsip


regional balance. Regional balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik
suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang berada di region
tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain
melalui saluran transmisi interkoneksi. Dengan prinsip ini, kebutuhan transmisi
interkoneksi antar region akan minimal.
Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam
mengembangkan pembangkit di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat
beban melalui transmisi, sepanjang hal tersebut layak secara teknis dan
ekonomis. Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU
mulut tambang skala besar di Sumatra Selatan dan menyalurkan sebagian
besar energi listriknya ke pulau Jawa melalui transmisi arus searah tegangan
tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)14. Situasi yang
sama juga terjadi di sistem Sumatera, dimana sumber daya energi (batubara,
panas bumi dan gas) lebih banyak tersedia di Sumbagsel, sehingga di wilayah
ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP yang sebagian energinya
akan ditransfer ke Sumbagut.
Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL
disesuaikan dengan kemampuan pendanaan PLN. Mengingat kebutuhan
investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar, PLN tidak dapat secara
sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. Dengan demikian
sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai
independent power producer (IPP).
Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan:
PLTU batubara: Direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah
mendapat indikasi pendanaan dari lender, atau ditugaskan oleh pemerintah
sebagai proyek PLN. Untuk proyek-proyek yang jadwalnya masih cukup
lama dan belum ditetapkan kepemilikannya, untuk sementara dimasukkan
dalam kelompok proyek PLN.
PLTA dan pumped storage diupayakan menjadi proyek PLN.

14

Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera Jawa ini adalah kebutuhan
listrik di seluruh wilayah Sumatera telah terpenuhi dengan cukup.
16

RUPTL 2011- 2020

PLTG direncanakan sebagai proyek PLN.


PLTGU gas direncanakan sebagai proyek PLN apabila telah ada indikasi
pendanaan (dan ada kepastian pasokan gas). PLTGU gas juga
direncanakan sebagai proyek PLN jika proyek tersebut merupakan
pengembangan dari PLTG milik PLN (proyek add-on).
PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi,
pengembangan PLTP pada umumnya didorong untuk dikembangkan oleh
swasta dengan proses pemenangan WKP dilakukan melalui tender oleh
Pemda sebagai total project15. Sedangkan potensi panas bumi yang WKPnya dimiliki oleh Pertamina berdasar regulasi terdahulu, Pertamina dan PLN
dapat bekerja sama mengembangkan PLTP16. Beberapa WKP PLTP di
Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya sebagai
proyek PLN.

1.10

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSMISI

Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya


keseimbangan antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya
pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandalan tertentu.
Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai
usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan
dan fleksibilitas operasi.
Pengembangan transmisi pada dasarnya dikembangkan oleh PLN, kecuali
beberapa transmisi terkait dengan IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan
oleh pengembang IPP. Namun demikian, terbuka opsi proyek transmisi untuk
dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu misalnya build
lease transfer (BLT)17. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan

15

Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik)
dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya membeli listrik dengan PPA.
16
Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant, atau
Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total project dan PLN membeli listriknya.
17
Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta,
termasuk pembebasan lahan dan perizinan ROW, dan PLN mengoperasikan serta membayar
sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan
ditransfer menjadi milik PLN.
RUPTL 2011- 2020

17

keterbatasan kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan


perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam hal mengurus perizinan dan
pembebasan lahan.
Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer
energi listrik dari wilayah yang mempunyai sumber energi primer tinggi ke
wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas, maka sistem
Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan
interkoneksi utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang
sangat luas. Sebagai dampak dari kebijakan tersebut dalam RUPTL ini
direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC
pada tahap awal di koridor barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat
diperlukan di koridor timur Sumatera, yaitu mulai tahun 2018.
Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh, melalui laut dan
berkapasitas besar memerlukan teknologi transmisi daya arus searah (HVDC).
Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC adalah mengadopsi
tegangan yang banyak digunakan di negara lain, yaitu 500 kV DC dan 250 kV
DC18.
Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan
dengan mempertimbangkan pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan.
Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar subsistem dengan pola operasi terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan.
Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N 1 akan
dilaksanakan reconductoring dan uprating.
Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem
isolated yang masih dilayani PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan
mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis.
Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya
pembangunan fasilitas sistem transmisi tegangan tinggi, biaya pembebasan
tanah, biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah dan

18

Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan
nasional, teknologi HVDC tidak mempunyai standar tegangan. Pemilihan tegangan HVDC
disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut) yang
banyak digunakan di dunia, misalnya 500 kV DC (India, Kanada), 250 kV DC (Jepang, Swedia).
18

RUPTL 2011- 2020

harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit
pengelola sistem transmisi.
Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi, penggunaan tiang, jenis
saluran (saluran udara, kabel bawah tanah, kabel laut) dan perlengkapannya
(pemutus, pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan aspek keekonomian
jangka panjang, dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik,
dengan memenuhi standar SNI, SPLN atau standar internasional yang berlaku.
Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai
berikut:
a. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh
ketersediaan lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang
dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat
mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI
terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena
keterbatasan tersebut.
b. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan
yang baik di ujung jaringan tegangan menengah.
c. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas
sampai dengan 60 MVA, namun dalam situasi khusus seperti pasokan untuk
konsumen besar dan daerah padat beban dapat digunakan unit size hingga
100 MVA.
d. Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit
per GITET dengan pola operasi terpisah dengan 2 unit per sub-sistem.
e. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS, dan 1
fasa per tipe per propinsi untuk GITET jenis konvensional.

1.11

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI

Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan


pada 4 hal, yaitu: perbaikan tegangan pelayanan, perbaikan SAIDI dan SAIFI,
penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Kegiatan
berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan
dan perbaikan sarana pelayanan.

RUPTL 2011- 2020

19

Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton, besi atau kayu), jenis saluran
(saluran udara, kabel bawah tanah), sistem jaringan (radial, loop atau spindle),
perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak), termasuk penggunaan
tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar, ditentukan oleh
manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka
panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik, dengan tetap
memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku.

1.12

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN

Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada


PLN untuk melistriki masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari
APBN, dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih
rendah. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat Jendral Ketenagalistrikan (DJK)
dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi
80% dan desa berlistrik 98,9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) Departemen ESDM 2010-2014 adalah:

Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi


daya dari proyek GI Baru atau Extension Trafo GI yang pendanaannya
diperoleh dari APBN.

Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi


daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar dan pembangkit mikro / mini
tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari APBN.

Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi


daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar yang pendanaannya dari
APLN, dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi tersebut belum
disediakan dari APLN.

Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut
belum berlistrik, daerah terpencil dan daerah perbatasan.

Dimungkinkan pemasangan Load Break Switch


untuk menunjang
perbaikan keandalan jaringan tegangan menengah dan tiang 14 meter
serta konduktor 240 mm2
untuk mengantisipasi kebutuhan
pengembangan sistem.

Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTSurya & hybrid PLTBayu yang


sistemnya terhubung dengan grid PLN.

20

RUPTL 2011- 2020

Melaksanakan program listrik murah dengan target masyarakat nelayan,


daerah tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi di provinsi Papua,
Papua Barat, NTB, dan NTT.

1.13

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN

Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan energi baru dan


terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. 5
tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional, PLN mempunyai kebijakan
untuk memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air. Kedua jenis
energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap,
walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya
rencana pembangkit yang lain.
Namun kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek
PLTA tanpa menganut prinsip demand driven19 demi mencapai suatu tujuan
khusus tertentu, walaupun hal ini hanya dilakukan secara sangat terbatas dan
selektif. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem
berkapasitas 50 MW20 untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi
Pegunungan Tengah yang sama sekali belum memiliki listrik. Proyek ini
diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut untuk
pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua
Maluku.
Dari kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan
panas bumi yang sangat besar, pembangkit tenaga air skala besar, menengah
dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa PLTS (tenaga surya), PLTB
(tenaga angin), biomassa, biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). PLN
juga mendorong penelitian dan pengembangan EBT lain seperti thermal solar
power, arus laut, OTEC (ocean thermal energy conversion), dan fuel cell.
Khusus mengenai PLTS, PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan
centralized PV secara besar-besaran untuk melistriki banyak komunitas
terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal, pulau-pulau terdepan yang

19

Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya


jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit.

20

Dapat dikembangkan menjadi 100 MW.

RUPTL 2011- 2020

21

berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya, terutama


di wilayah Indonesia Timur. Pemanfaatan EBT seperti ini tidak selalu berbasis
keekonomian, namun lebih didorong oleh semangat PLN untuk memberikan
kesempatan kepada masyarakat terpencil untuk memperoleh akses ke tenaga
listrik lebih cepat.

22

RUPTL 2011- 2020

BAB III
KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI
3.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK
Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6,8% per
tahun sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh)
Wilayah

2006

2007

2008

2009

Indonesia

111,48

119,97

127,63

133,11

145,66

5,08

7,62

6,38

9,42

10,66

89,04

95,62

100,77

104,11

113,40

4,28

7,39

5,39

3,31

8,92

13,61

14,69

16,44

17,62

19,67

9,33

7,92

11,87

7,22

11,63

3,64

3,92

4,24

4,65

5,13

4,59

7,63

8,15

9,56

10.32

3,57

3,93

4,22

4,59

5,08

7,64

10,21

7,30

8,77

10,68

1,61

1,81

1,96

2,15

2,38

10,81

12,27

8,33

9,91

10,7

Growth (%)
Jawa - Bali
Growth (%)
Sumatera
Growth (%)
Kalimantan
Growth (%)
Sulawesi
Growth (%)
Indonesia Bagian Timur
Growth (%)

2010

Rata-rata

6,6

5,9

9,59

8,0

8,7

10,47

Pada Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan penjualan di Jawa Bali relatif
lebih rendah daripada pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan
Indonesia bagian timur.
Pertumbuhan penjualan yang rendah di Jawa Bali pada tahun 2006 disebabkan
oleh adanya pengendalian penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit
pada tahun tersebut21. Selanjutnya pada tahun 2008 mulai terjadi krisis finansial
global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik
tahun 2009 hanya tumbuh 3,31%.
Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi, yaitu rata-rata
9,59% per tahun. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan
kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5,2% per tahun, sehingga

21

Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2005.

RUPTL 2011- 2020

23

di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi
dengan sewa pembangkit sepanjang tahun 2010.
Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 8,0% per tahun,
sedangkan penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun,
sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan dibatasi.
Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 8,7% per tahun,
sementara penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 2,7% per tahun.
Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik yang cukup parah
hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan, dan pada tahun 2010
diatasi dengan sewa pembangkit.
Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya, yaitu Maluku, Papua,
dan Nusa Tenggara.
Pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur
diperkirakan masih berpotensi untuk meningkat lebih tinggi karena daftar
tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang
masih rendah. Sedangkan pertumbuhan di Jawa pulih kembali dari dampak
krisis keuangan global mulai tahun 2010.

3.1.1 Jumlah Pelanggan


Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2006 2010 mengalami peningkatan
dari 35,6 juta menjadi 42,2 juta atau bertambah rata-rata 1,65 juta tiap
tahunnya. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor rumah
tangga, yaitu rata-rata 1,5 juta per tahun, diikuti sektor bisnis dengan rata-rata
61 ribu pelanggan per tahun, sektor publik rata-rata 55 ribu pelanggan per
tahun, dan terakhir sektor industri rata-rata 550 pelanggan per tahun. Tabel 3.2
menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan
dalam lima tahun terakhir.
Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit]
Jenis Pelanggan

2006

2007

2008

2009

2010

32,954.5

34,508.1

35,835.1

36,897.0

39,108.5

1,633.1

1,585.1

1,687.3

1,770.4

1,877.6

Publik

928.4

988.8

1,052.2

1,164.7

1,147.8

Industri

46.2

46.6

46.3

47.6

48.4

35,562.2

37,128.6

38,621.3

39,879.7

42,182.4

Rumah Tangga
Komersial

Total

24

RUPTL 2011- 2020

3.1.2

Rasio Elektrifikasi

Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik
dibagi dengan jumlah rumah tangga yang ada. Perkembangan rasio elektrifikasi
secara nasional dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, yaitu dari 59,0% pada
tahun 2006 menjadi 66,51% pada tahun 2010.
Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%)
Wilayah

2006

2007

2008

2009

2010*)

Indonesia

59,0

60,8

62,3

65,0

67,5

Jawa-Bali

63,9

66,3

68,0

69,8

71,4

Sumatra

57,2

56,8

60,2

60,9

67,1

Kalimantan

54,7

54,5

53,9

55,1

62,3

Sulawesi

53,2

53,6

54,1

54,4

62,7

Indonesia Bag Timur

30,6

30,6

30,6

31,8

35,7

*)Termasuk pelanggan non PLN

Pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak
merata pada masing-masing daerah, dengan rincian sebagai berikut:

Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan paling tinggi, yaitu sekitar


2,3% per tahun.

Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya tertinggi setelah Sumatera, yaitu


sekitar 1,9% per tahun. Rasio elektrifikasi naik cukup tajam pada tahun 2010
karena adanya pembangkit sewa dan berjalannya program GRASSS22 yang
diadakan dalam beberapa tahap.

Jawa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1,7% per tahun.

Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun


2009 karena teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa
pembangkit sewa, dan program GRASSS pada tahun 2010.

22

GRASSS: Gerakan sehari sejuta sambungan

RUPTL 2011- 2020

25

Indonesia bagian timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan yang


paling rendah, yaitu hanya 1,1% per tahun. Hal ini disebabkan oleh
keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.

3.1.3 Pertumbuhan Beban Puncak


Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat
dilihat pada Tabel 3.4. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak
tumbuh relatif rendah, yaitu rata-rata 4,12%, dengan load factor cenderung
meningkat, hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi,
yaitu rata-rata 6,8% (lihat tabel 3.1). Perbaikan load factor terjadi karena
adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak
pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan
pelanggan baru23.
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 2010
Deskripsi

Satuan

2006

2007

2008

2009

2010

Kapasitas Pembangkit

MW

22.126

22.236

22.296

22.906

23.206

Daya Mampu
Beban Puncak Bruto

MW
MW

17.960
15.954

20.309
16.840

20.369
16.892

21.784
17.835

21.596
18.756

Beban Puncak Netto

MW

15.396

16.251

16.301

17.211

18.100

Pertumbuhan

3,9

5,6

0,3

5,6

5,2

Faktor Beban

75

76

78,7

77,7

79,5

Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem


kelistrikan di luar Jawa Bali tidak dapat disajikan seperti diatas karena sistem
kelistrikan di luar Jawa Bali masih terdiri dari beberapa subsistem yang beban
puncaknya non coincident.

3.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN


Pada tahun 2010 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia
adalah 30.908 MW yang terdiri dari 23.206 MW di sistem Jawa-Bali dan
7.702 MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur.

23

Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010

26

RUPTL 2011- 2020

3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur


Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistemsistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada saat ini adalah 7.702 MW
dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.5. Kapasitas pembangkit tersebut
sudah termasuk IPP dengan kapasitas 792 MW. Walaupun kapasitas terpasang
pembangkit adalah 7.702 MW, kemampuan netto dari pembangkit tersebut
lebih rendah dari angka tersebut karena banyak PLTD (1600 MW) yang telah
berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating24.
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) Tahun 2010
PLN
PROVINSI

NAD
Sumatera Utara

PLTG

PLTGU

MW

MW

MW

PLTU PLTA/M
MW

MW

PLTP
MW

MW

MW

205

207

53

411

818

490

140

1,912

MW

2102
492

38

200

254

492

Riau

90

43

114

247

124

124

207

190

Sumatera Barat

Kep. Riau

247
124

Bengkulu

17

236

253

253

Sumatera Selatan

43

230

285

558

268

825

Jambi

43

62

105

105

Bangka Belitung

89

89

89

Lampung

96

21

200

122

439

439

Kalimantan Barat

217

34

251

251

Kalimantan Selatan

134

21

130

30

315

315

Kalimantan Tengah

78

Kalimantan Timur

247

40

60

347

Sulawesi Utara

114

54

60

228

58

59

Sulawesi Tengah

113

Sulawesi Selatan

103

149
-

Gorontalo

Sulawesi Barat
Sulawesi Tenggara
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat
Nusa Tenggara Bara
Nusa Tenggara Timu
TOTAL

24

PLTD

Kapasitas Kapasitas Kapasitas


Total
Total
Total
PLN
IPP
PLN+IPP

78

78

45

392

231

119

31

150

400

255

655

76

76
105

59

123

25

75

105

105

76

76

76

119

121

121

42

44

44

139

140

140

117
2,543

985

878

1,330

1
1,114

60

118
6,910

792

18
7,702

Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang.

RUPTL 2011- 2020

27

Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur


mencapai 6.800 MW pada tahun 2010. Jika beban puncak dibandingkan
dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila menerapkan kriteria
cadangan 35%, maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 1.000 MW.
Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut, hampir seluruh unit
usaha PLN telah melakukan sewa pembangkit. Kapasitas pembangkit sewa
yang ada di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun
2010 mencapai 1.833 MW.
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
(MW) tahun 2010
No

PLN Wilayah

Kapasitas
(MW)

Babel

Kalbar

Kalselteng

Kaltim

Kitsumbagsel

250

Kitsumbagut

108

Maluku

NAD

122

NTB

147

10

NTT

58.85

11

Papua

12

Riau dan Kepri

13

S2JB

14

Sulselrabar

15

Suluttenggo

107

16

Sumbar

11.9

Jumlah

43
112.5
85
138.35

78

90.3
158.5
34
289

1833.4

3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali


Kapasitas pembangkit baru yang masuk ke sistem Jawa-Bali pada tahun 2010
adalah PLTU Labuan unit 2 (300 MW). Dengan terus meningkatnya beban
puncak sistem Jawa Bali dan tambahan pembangkit baru yang hanya 300 MW
karena terlambatnya proyek FTP-1, reserve margin pada akhir tahun 2010
menipis menjadi hanya 24%. Reserve margin yang rendah tersebut berlanjut ke
awal tahun 2011 dan dan pada saat yang sama terjadi kondisi luar biasa pada

28

RUPTL 2011- 2020

pengoperasian PLTA di Jawa Barat25, sehingga telah terjadi beberapa kali


defisit pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di Jawa Bali.
Rincian kapasitas pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit
dan pengelolaannya dapat dilihat pada Tabel 3.7.
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010
No.

Jenis Pembangkit

IP

PJB

PLN

Jumlah

IPP
MW

PLTA

PLTU
Batubara

1.103

1.283

3.4

800

BBG/BBM
BBM
3

150

2.536

10.9

3.05

9.17

39.5

4.3

500

2.2

4.507

19.4

2.136

9.2

1
500

PLTGU
BBG/BBM
BBM

1.92

1.18

2.587

1.496

640

740

PLTG
BBG/BBM
BBM

40

62

806

320

PLTD

76

PLTP

360

Jumlah

8.961

6.692

150
858

3.518

252

1.1

1.984

8.5

76

0.3

575

1.045

4.5

4.035

23.206

100

3.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI


3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur
Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun
waktu 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti
terutama di sistem Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan selesainya
beberapa proyek transmisi. Sedangkan pulau lainnya, yaitu Nusa Tenggara
Timur, Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi.
Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 9,7% per tahun dalam periode
2006 2010, dimana kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2006 sekitar
7.645 MVA meningkat menjadi 11.065 MVA pada tahun 2010.

25

Seluruh PLTA besar di DAS Citarum, yaitu Saguling (700 MW), Cirata (1000 MW) dan Jatiluhur

(150 MW) mempunyai DMA (Duga Muka Air) yang jauh lebih rendah dari perkiraan tahun paling kering.

RUPTL 2011- 2020

29

Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk
di sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MVA)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275/150 kV

160

160

160

160

160

4.419

4.474

4.804

5.17

5.92

360

360

360

350

335

1.094

1.174

1.174

1.383

1.453

70/20 kV

157

157

157

153

187

150/20 kV

923

1.045

1.074

1.064

1.064

70/20 kV

532

546

606

546

560

275/150 kV

160

160

160

160

160

150/20 kV

6.436

6.693

7.052

7.597

9.823

70/20 kV

1.049

1.063

1.018

1.138

1.082

150/20 kV
70/20 kV
Kalimantan
150/20 kV

Sulawesi

Sub-Total

Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan


Indonesia Timur (kms)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275 kV

781

781

1.011

1.011

150 kV

8.521

7.739

8.423

8.221

8.224

310

334

334

334

331

1.264

1.305

1.429

1.429

1.567

123

123

123

123

123

70 kV
Kalimantan
150 kV
70 kV
Sulawesi

1.769

1.839

1.957

1.957

2304

70 kV

505

505

505

519

832

275 kV

781

781

1.011

1.011

10.884

11.509

11.657

12.253

150 kV

Sub-Total

150 kV
70 kV
Total

30

11.554
938

962

962

976

1.287

12.492

12.627

13.252

13.594

14551

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat ratarata 3,9% per tahun dalam kurun waktu 2006-2010, dimana panjang saluran
transmisi pada tahun 2006 sekitar 12.492 kms meningkat menjadi 14.551 kms
pada tahun 2010.

3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali


Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem Jawa
Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000)
Level Tegangan

Unit

2006

2007

2008

2009

2010

150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

27,08

28,44

70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

Jumlah

MVA

28,18

28,87

28,90

29,82

31,19

B.Puncak

MW

15,95

16,26

16,31

17,21

18,10

Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali


Unit
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

500 kV

kms

5,05

5,05

5,09

5,11

5,05

150 kV

kms

11,27

11,61

11,85

11,97

12,37

70 kV

kms

3,66

3,58

3,61

3,61

3,61

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak
bertambah, bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi
150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas
pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan
trafo GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu
5 tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.

RUPTL 2011- 2020

31

Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)


Satuan
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

Kit.Sistem 500 kV

MW

12,97

12,97

12,97

12,97

12,97

Trf. 500/150 kV

MVA

17,00

17,00

17,00

17,50

19,5

Kit. Sistem 150 kV

MW

8,89

8,99

9,01

10,11

10,41

Trf. 150/70 kV

MVA

3,58

3,58

3,58

3,82

3,82

Kit. Sistem 70 kV

MW

0,27

0,27

0,27

0,27

0,27

Trf. 150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

26,33

28,44

Trf. 70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali


Pada beberapa tahun terakhir terdapat bottleneck sistem transmisi yang
memasok sistem Jakarta dan pulau Bali yang berdampak pada kenaikan biaya
operasi dari pembangkit BBM.
Beban listrik sistem Jakarta pada tahun 2010 adalah 7.250 MW dan dilayani
oleh pembangkit di Muara Karang dan Tanjung Priok yang terhubung ke sistem
jaringan tegangan tinggi 150 kV. Sistem 150 kV Jakarta ini juga dipasok oleh
sistem transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV melalui interbus transformer
(IBT) 500/150 kV di GITET Bekasi, Cawang, Gandul, Depok dan Kembangan.
Pembebanan trafo IBT di GITET-GITET tersebut telah melebihi 80%.
Untuk mengatasi pembebanan IBT yang tinggi telah dilakukan penambahan
IBT di GITET Bekasi-3 (November 2010) dan Gandul-3, Cibatu-4, dan
tambahan spare IBT 500/150 kV 166 MVA untuk GITET, Cibatu, Kembangan,
Depok, Balaraja dan Cawang. Penambahan IBT di Bekasi dan Gandul
dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian BBM di Muarakarang dan Priok.
Pulau Bali pada beberapa tahun terakhir mengalami defisit daya. Beban puncak
tahun 2010 adalah 549 MW, dilayani oleh pembangkit BBM dengan daya
mampu 380 MW dan kabel laut Jawa Bali yang menyalurkan daya 180 MW.
Untuk mengatasi kekurangan daya jangka pendek, telah dilakukan sewa
pembangkit pada tahun 2010 sebesar 126 MW sehingga kondisi kelistrikan
pulau Bali mulai membaik, namun masih belum memenuhi keandalan yang
seharusnya.
Untuk mengurangi konsumsi BBM di pulau Bali, saat ini sedang dibangun
kabel laut sirkit 3,4 Jawa Bali yang akan beroperasi pada bulan Mei 2012.

32

RUPTL 2011- 2020

3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI


Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi
pada lima tahun terakhir.
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi
Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2006 cenderung menurun ke
tingkat 7,64% pada tahun 2010 sejalan dengan usaha-usaha menekan susut
jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%)
2006

2007

2008

2009

2010

9,18

8,84

8,29

7,93

7,09

Susut Distribusi

3.4.2 Keandalan Pasokan


Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan
indikator SAIDI dan SAIFI26 jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat
pada Tabel 3.14.
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN
2006

2007

2008

2009

2010

SAIDI (jam/pelanggan/tahun)

27,01

28,94

80,90

16,70

7,00

SAIFI (kali/pelanggan/tahun)

13,85

12,77

13,33

10,78

6,85

Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat
pada Lampiran A, B dan C yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK


Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi
daerah-daerah yang kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit
berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta melistriki daerah
yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan
dan terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

26

SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average
Interruption Frequency Index

RUPTL 2011- 2020

33

3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek


3.5.1.1

Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat

Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi


Indonesia Barat dan Timur pada dasarnya disebabkan olehh keterlambatan
penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP.
Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan
pasokan dan menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien serta
menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya
tertinggal.
Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut
meliputi sewa pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi
listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan
Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU
batubara PerPres 71/2006, membangun saluran transmisi, mengamankan
kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS centralized
dan solar home system secara terbatas.
Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli
semua potensi excess power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup
untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu menambahnya dengan
menyewa pembangkit.
Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai
berikut: (i) memenuhi kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan
bersifat sementara sebelum pembangkit utama non-BBM beroperasi; (ii)
menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien dengan PLTD yang
mempunyai sfc (specific fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio
elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak
tersedia sumber daya EBT lainnya.
Sewa pembangkit tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG
(gas engine), PLTGB dan PLTU yang dapat tersedia dalam waktu relatif
singkat.
Tambahan sewa PLTD dan PLTGB/PLTMG yang dilakukan PLN pada tahun
2010 berjumlah 1.396 MW yang terdiri atas 837 MW di Indonesia Barat dan
559 MW di Indonesia Timur. Selanjutnya pada tahun 2011 akan dilakukan
tambahan sewa PLTD/PLTGB/PLTMG sebesar 932 MW. Pada tahun 2012 di
34

RUPTL 2011- 2020

Indonesia Barat akan dilakukan penambahan sewa sebesar 578 MW,


sedangkan di Indonesia Timur akan ada pengurangan sewa sebesar 211 MW
dengan rincian diberikan pada tabel 3.15.

Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012


No

3.5.1.2

Lokasi Sewa PLTD

Kapasitas (MW)
2011

2012

Indonesia Barat

688

578

Indonesia Timur

264

- 211

Wilayah Operasi Jawa Bali

Upaya yang dilakukan PLN di Jawa Bali meliputi memenuhi pertumbuhan


demand, mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan keandalan.

3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia


Timur
Hal hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur meliputi antara lain:
3.5.2.1

Pembangkitan

Mempercepat pembangunan proyek percepatan PLTU batubara 10.000 MW


tahap 1, termasuk tambahan proyek PLTU Riau 2x110 MW27 dan PLTU
Muara Jawa/Teluk Balikpapan di Kaltim 2x110 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti


PLTA Asahan 3 174 MW, PLTA Peusangan 86 MW, PLTU Sumut Baru
2x200 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG Bangkanai 4x70 MW
(tahun pertama baseload dan tahun berikutnya berubah menjadi peaking),
PLTU Takalar 2x100 MW, PLTG Sulsel Baru 2x50 MW, Makassar (peaking)

27

Terjadi perbedaan antara kapasitas pembangkit terkontrak dan kapasitas sesuai PerPres No.
71/2006 jo PerPres 59/2009, yaitu PLTU Riau/Tenayan, PLTU Maluku dan PLTU Kaltim /Muara
Jawa/Teluk Balikpapan. Perbedaan kapasitas tersebut memerlukan endorsement dari
Kementerian ESDM.
RUPTL 2011- 2020

35

1x50 MW dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW, PLTU Lombok APBN
1x25 MW dan PLTU Atambua 4x6 MW serta banyak PLTU batubara skala
kecil dan PLTGB tersebar di luar Jawa Bali.

Melaksanakan program sewa PLTU di Indonesia Barat dan Indonesia Timur


dengan kapasitas total antara 1.750 MW dan 2.160 MW sebagai upaya
mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek-proyek IPP dan proyekproyek PLTP baik yang dibangun oleh PLN maupun oleh IPP. Proyek PLTU
sewa ini diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013.

Mempercepat pengadaan gas untuk memasok PLTGU Belawan 2x400 MW


dan tambahan PLTG task force 100 MW tahun 201228.

Mempercepat penyelesaian kontrak gas PLTGU Sengkang 180 MW.

Mempercapat pengadaan gas untuk kawasan Indonesia Timur, antara lain


untuk PLTG Semberah 2x20 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG
Kaltim sewa 100 MW, PLTG Sulsel 2x50 MW, PLTG Makassar (peaking)
1x50 MW, dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik IPP, antara lain PLTA


Poso 195 MW, PLTU Jeneponto 2x100 MW, PLTU Takalar 2x100 MW,
PLTU Kalbar 2x25 MW, PLTU Kaltim 2x100 MW, PLTU Kalsel 2x100 MW,
PLTG Senipah 80 MW, PLTU Sulut 2x25 MW, PLTU Sumbawa 2x10 MW,
PLTU Sumsel-5 2x150 MW, PLTU Sumsel-6 2x300 MW, dan PLTU
Sumsel-7 2x150 MW.

Mempercepat pembangunan beberapa proyek PLTP dengan total kapasitas


minimal 1.025 MW untuk dapat beroperasi sampai dengan tahun 2015.
Proyek-proyek PLTP tersebut diberikan pada tabel 3.16.

28

Opsi pasokan gas ke Belawan adalah regasifikasi di Arun berikut pipa gas ke Belawan, atau
FSRU di Belawan dengan sumber LNG dari BP Tangguh.
36

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun 2015
No.

NAMA PEMBANGKIT

Ulumbu #1,2,3 & 4

Tulehu #1 & 2

Ulumbu #5 & 6

Lahendong 4

KAP. (MW)

DEVELOPER

NTT

4 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Maluku

2 X 10

PLN TOTAL PROJECT

NTT

2 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Sulut

1 X 20

PLN (HULU) PGE (HILIR)

Ulubelu #1 & 2

Lampung

2 X 55

PLN (HULU) PGE (HILIR)

Hululais #1 & 2

Sumsel

2 X 55

PLN (HULU) PGE (HILIR)


PLN (HULU) PGE (HILIR)

Sungai Penuh #1 & 2

Lumut Balai #1 & 2

Ulubelu #3

Jambi

2 X 55

Sumsel

2 X 55

PGE

Lampung

1 X 55

PGE
PGE

10

Lahendon #5 & 6

Sulut

2 X 20

11

Karaha Bodas #1

Jabar

1 X 30

PGE

12

Kamojang #5

Jabar

1 X 60

PGE

13

Sarulla #1

Sumut

1 X 110

KONS. MEDCO

14

Dieng #2

Jateng

1 X 55

GEODIPA EN.

15

Patuha #1

Jabar

1 X 60

GEODIPA EN.

16

Wayang Windu #3

Jabar

1 X 120

STAR ENERGY

17

Tangkuban Perahu 2 #1

Jabar

1 X 30

WSS

Jumlah

LOKASI

1025

Mempercepat pengadaan pembangkit untuk dapat menyerap gas Jambi


Merang sebesar 65 bbtud. Proyek pembangkit tersebut adalah: 1) PLTG
Payo Selincah 2x50 MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012
akan menyerap gas sebesar 25 bbtud. 2) PLTG sewa di Rengat 20 MW
yang akan masuk ke sistem 20 kV akan menyerap gas sebesar 4 bbtud.
3) PLTG Duri 100 MW dengan rencana COD tahun 2012 akan menyerap
gas sebesar 24 bbtud. 4) Relokasi PLTG ex Jawa 3x20MW dengan
rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 12
bbtud.

Merencanakan beberapa kebutuhan pembangkit peaker untuk dapat


menyerap potensi gas yang ada, yaitu: 1) PLTG Belawan 400 MW untuk
dapat menyerap gas yang berasal dari FSRU LNG Belawan atau
regasifikasi LNG di Arun. 2) PLTMG Sei Gelam 90 MW untuk menyerap
CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. 3) PLTG/PLTMG Sangeti 80100 MW untuk menyerap gas Sangeti sebesar 6 bbtud, perlu dibangun
fasilitas CNG. 4) PLTG/PLTMG Jaka Baring 50-60 MW untuk menyerap
CNG Jaka Baring sebesar 3 bbtud. 5) Untuk dapat menyerap gas
Jabung sebesar 20-30 bbtud PLN akan membangun PLTG dengan total
kapasitas

500 MW

yang

berdasarkan

kebutuhan

sistem

akan

ditempatkan di Riau 200 MW, Jambi 100 MW dan Lampung 200 MW.
RUPTL 2011- 2020

37

Untuk itu diperlukan fasilitas mini LNG. 6) PLTG Bangkanai 280 MW


untuk menyerap gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas
CNG di dekat lokasi PLTG, PLTMG Bintuni untuk menyerap gas
Tangguh 2 bbtud.
3.5.2.2

Transmisi dan Gardu Induk

Mempercepat pembangunan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275 kV


di jalur barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau Bangko - Muara Bungo
Kiliranjao).

Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao Payakumbuh


Padang Sidempuan dan Payakumbuh - Garuda Sakti.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok


Galang dan IBT 275/150 kV di Galang.

Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu Binjai


dan IBT 275/150 kV di Binjai yang harus dapat beroperasi seiring dengan
beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada pertengahan tahun 2012.

Melaksanakan pembangunan transmisi 275 kV jalur timur Sumatera dari


Betung Aur Duri Rengat Garuda Sakti.

Mempercepat interkoneksi Kalbar-Serawak melalui transmisi 275 kV yang


diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2014, untuk memenuhi kebutuhan
sistem Kalbar dan menurunkan BPP.

Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut. Tujuan


interkoneksi ini disamping untuk memenuhi kebutuhan sistem Bintan juga
sekaligus akan menurunkan BPP di sistem Bintan.

Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng Kaltim dan sistem interkoneksi 150 kV Sulut Gorontalo termasuk
pemasangan reaktor di Gorontalo.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso Palu,


transmisi 70 kV sistem Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem
Jayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel bawah tanah 150 kV
Tanjung Bunga Bontoala.

38

RUPTL 2011- 2020

Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Tanjung Buntok


Muarateweh dan Muarateweh Bangkanai.

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali


Hal hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi
antara lain:

Penguatan pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program:


-

Mempercepat penyelesaian penambahan IBT 500/150kV 500 MVA di 2


lokasi, yaitu IBT-4 Bekasi 1x500MVA, IBT-2 Depok 1x500MVA.

Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu:


Durikosambi 2x500MVA (2013) dan Muaratawar 2x500MVA (2013).

Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung Jati - Tx


Ungaran, SUTET Suralaya Baru Balaraja, SUTET Balaraja
Kembangan (2013), dan Kembangan Durikosambi (2013).

Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar Cibinong Bekasi Cawang.

Menyediakan cadangan IBT 500/150kV 166 MVA di 3 lokasi GITET


yaitu Durikosambi, Bekasi, Muaratawar dan Gandul.

Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:


-

Penambahan IBT 500/150kV di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon


1x500MVA, IBT-3 Pedan 1x500 MVA, IBT-3 Krian 1x500MVA, IBT-3
Ungaran 1x500MVA, IBT-3 Mandirancan 1x500MVA, IBT-2 Ngimbang
1x500MVA, IBT-2 Tasikmalaya 1x500MVA dan IBT-2 Grati 1x500MVA.

Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung


1x500 MVA (2012), Tanjung Jati 2x500 MVA (2012), Rawalo/Kesugihan
1x500MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya
Selatan 2x500 MVA (2012).

Pengadaan spare IBT 166 MVA di 4 lokasi GITET, yaitu Mandirancan,


Pedan, Krian, Kediri dan Grati.

Mempercepat penyelesaian SUTET Grati Surabaya Selatan (2012).

RUPTL 2011- 2020

39

Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu:


-

29

SUTT terkait dengan pembangkit PLTU IPP Cirebon 1x660 MW29, yaitu
SUTT Sunyaragi - PLTU Cirebon - Brebes Kebasen.

Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3&4 (Mei 2012).
Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal
(2015).
Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130 MW +
2x125 MW (2014).

COD PLTU Cirebon adalah November 2011 berdasar laporan progres konstruksi.

40

RUPTL 2011- 2020

BAB IV
KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER

4.1 BATUBARA
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya
batubara Indonesia adalah 104,8 milyar ton yang tersebar terutama di
Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton), namun cadangan
batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton,
Sumatera 11,2 milyar ton).
Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan
kandungan panas kurang dari 5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas
medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit (12%) yang
berkualitas tinggi (61007100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)30.
Walaupun cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat
produksi batubara sangat tinggi, yaitu mencapai 320 juta ton pada tahun 2010.
Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke China, India,
Jepang, Korea Selatan dan Taiwan (265 juta ton) dan ke beberapa negara lain,
dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan domestik (60 juta
ton). Produksi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan meningkat
sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya
pasar batubara internasional. Jika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton,
maka seluruh cadangan batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton akan habis
dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak dilakukan eksplorasi baru. Untuk
menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat, Pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang
mewajibkan produsen batubara untuk menjual sebagian produksinya ke
pemakai dalam negeri.
Persoalan yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah aspek security of
supply dan aspek kualitas. Keamanan pasokan batubara sangat ditentukan

30

Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah
menggunakan standar GAR (gross as received). Perbedaan antara adb dan GAR dapat
dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai
GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.

RUPTL 2011- 2020

41

oleh kebijakan pemerintah mengenai DMO dan batasan harga dalam negeri,
khususnya untuk kelistrikan, disamping kesiapan infrastruktur seperti
pengembangan tambang batubara itu sendiri, jalan, jembatan, dermaga dan
sarana transportasi yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah dunia
hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan
harga batubara di pasar dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah. Pada saat yang sama harga batubara Indonesia telah menembus
angka US$ 100 per ton (6322 kcal/kg GAR), dan harga tinggi ini telah
mendorong produsen batubara untuk lebih banyak mengekspor batubaranya ke
pasar dunia, terutama ke China dan India. Masalah kesiapan infrastruktur
memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara
yang tersedia di tambang dapat sampai ke pusat-pusat pembangkit yang
tersebar di Indonesia.
Dalam RUPTL tahun 2011-2020 ini terdapat rencana pengembangan beberapa
PLTU mulut tambang di Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang yang
digunakan di sini adalah PLTU batubara yang berada di dekat tambang
batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi skala besar
yang memungkinkan batubara diangkut ke pasar secara besar-besaran,
sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada dasarnya menjadi tidak
tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut
tambang tidak ditetapkan berdasar HBA, melainkan berdasar formula cost plus
margin yang di lock-in sepanjang umur pembangkit dengan eskalasi tertentu.
PLN juga menghadapi persoalan dalam memperoleh pasokan batubara yang
sesuai dengan spesifikasi boiler PLTU. PLN tengah mengevaluasi beberapa
pilihan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara. Saat ini teknologi yang
dipilih adalah dengan coal dryer dan coal blending. PLN akan segera
mengadopsi teknologi coal dryer. Selain itu PLN mempunyai program untuk
membangun sebuah coal blending facility.
PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga
batubara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.
Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi karbon dioksida yang
menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel
dan bahan kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap
lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik
berbahanbakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang
ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi
perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa.
42

RUPTL 2011- 2020

Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC


(integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage)
belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang
secara teknis dan komersial.

4.2

GAS ALAM

Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang


terbesar dalam skala dunia, namun cadangan gas alam di Indonesia cukup
besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di kepulauan
Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur
(21,49 Tscf) serta Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan
cadangan di Natuna.
Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga
listrik di Indonesia tidak tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan
pasokan gas di hampir seluruh pembangkit berbahanbakar gas di Indonesia.
Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN terus mengalami penurunan dan
ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir ini31. Disamping cadangan gas
lapangan terus mengalami depletion, PLN juga menghadapi kesulitan dalam
memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar. Sumber-sumber
gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka
panjang dengan pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya
memperoleh pasokan gas dari sumber-sumber tersebut.

31

Misalnya Belawan, Teluk Lembu, Muara Karang, Priok, Muara Tawar, Tambak Lorok,
Pesanggaran/ Gilimanuk di Bali dan pembangkit lainnya.

RUPTL 2011- 2020

43

Tabel 4.1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali
No
1

Pembangkit
MuaraKarangdanPriok

MuaraTawar

Cilegon

Tambaklorok

Gresik

Grati

Pemasok
PHEONWJ(GSA)
PHEONWJ(Excesscapacity)
PGNPriok(GSAIP)
FSRUPTNR(prosesGSA)
Jumlah
PERTAMINAPTengah(GSA)
PGN(GSA)
MEDCOLapanganSinga
MEDCOSCS
ExkontrakPLNJambiMerang*)
PGNTambahan,Firm(GSA)
TambahandariConocoPhilip
TambahandariPetrochina
Jumlah
CNOOC(GSA)
PGN(GSA)
Jumlah
Petronas(ApprovalGSA)
SPP(GSAIP)
Jumlah
Kodeco(GSA)*
Hess(GSA)
KEI(GSA)
MKS(GSA)
WNE(GSA)
PetronasBukitTua(potensiPJB)
AEI
Jumlah
SantosOyong(GSAIP)
SantosWortel(GSAIP)
ParnaRaya(PotensiIP)
Jumlah

2011
100.0
20.0
30.0

150.0
25.0
59.0

2012
100.0
20.0
30.0
260.0
410.0
25.0
59.0

2013
100.0
20.0

2014
100.0
20.0

2015
100.0

2016
100.0

2017

175.0
295.0
25.0
59.0

175.0
295.0
25.0
59.0

175.0
275.0
25.0
59.0

140.0
240.0

140.0
140.0

2018

2019

2020

140.0 140.0 140.0


140.0 140.0 140.0

20.0 20.0 20.0


34.8 31.1 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0
20.0 20.0 20.0
30.0
158.8 185.1 139.0 99.0 99.0 15.0 15.0 15.0

80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0
30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0
110.0 110.0 110.0 110.0 110.0 110.0 110.0 110.0 110.0 110.0
106.0 116.0 116.0 116.0 116.0 116.0
50.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0

50.0 50.0 156.0 166.0 166.0 166.0 166.0 166.0


123.0 123.0 123.0
50.0 68.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0 50.0
130.0 130.0 130.0 60.0 60.0 60.0 60.0 60.0 60.0
11.0 11.0 11.0
20.0 20.0 20.0 17.0 12.0 12.0 12.0 12.0 12.0
25.0 54.0 62.0 47.0
8.0
192.0 352.0 334.0 225.0 181.0 184.0 169.0 122.0 122.0 122.0
57.5 50.0 40.0 40.0 40.0
7.5 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 30.0 20.0 20.0 20.0
40.0 40.0 40.0 40.0 40.0 40.0 40.0
65.0 80.0 70.0 110.0 110.0 70.0 70.0 60.0 60.0 60.0

Tabel 4.2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali
No
Pembangkit
1 AcehTimur
2 Belawan

3
4
5
6
7

TelukLembu
PLTGsewaBentu
PLTGsewaMelibur
PLTGsewaJabung
SungaiGelam

8 Sengeti(CNG)
9 SimpangTuan
10 PayoSelincah
11
12
13
14
15

Jakabaring(CNG)
Indralaya
TalangDuku
Borang
Keramasan

16
17
18
19
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Duri
Rengat
TanjungBatu
Semberah
Tarakan
Nunukan
CBMSangata
PLTGKolonedale
Sengkang
ANTAM+Indonesia
Luwuk
IndonesiaTersebar
KTITersebar

Pemasok
MedcoBlokA
Kambuna
FSRULNGTangguh
Anggor(Potensi)
Kalila
KalilaBentu(Potensi)
Kondur(Potensi)
PetroChina(Potensi)
EMPSungaiGelam
PEPTACSungaiGelam
PTArthindoUtama
PerusdaJambi
Energasindo
JambiMerang
PDPDESumsel
MedcoE&PIndonesia
PGN
MedcoE&PIndonesia
MedcoE&PIndonesia
PertaminaEP
JambiMerang
JambiMerang
TACSemco
TACSemco
LapBangkudulis(Potensi)
Medco(Potensi)
VICO
JobPTMMedcoTiaka(Potensi)
EEES
EEESKera(PotensiLNG)
JobPTMMedcoSenoro(Potensi)
PertaminaEPMatindok(Potensi)
Bontang(Potensi)
Jumlah

2011
2012
2013
2014

13.0 13.0
25.3 13.0 5.0

105.0
40.0
5.0 9.0 30.0 30.0
3.0 3.0 3.0
0.6 0.6 0.6
30.0 30.0 30.0

2.0 2.0 2.0

2.5 2.5 2.5


5.6 5.6 5.6
3.0 3.0
18.0 18.0 18.0 18.0
4.0 25.0 25.0 25.0

3.0 3.0 3.0


19.3 24.0

8.0 8.0 8.0 8.0


15.0 15.0 15.0
22.0 22.0 22.0
15.0 15.0 15.0 15.0

10.0 10.0 14.0

4.0 4.0 4.0


7.0 7.0 7.0 7.0

5.0 5.0 5.0


18.0 18.0 18.0
2.5 2.5 2.5
0.5 0.5 0.5 0.5
2.0 2.0

15.0 15.0 15.0


70.0
5.0

2015
13.0

105.0
40.0
30.0
3.0
0.6
30.0
2.0
2.5
5.6
3.0
18.0
25.0
3.0

8.0

15.0
14.0
4.0
7.0
5.0
18.0
2.5
0.5
2.0
15.0
70.0
5.0

2016
13.0

105.0
40.0
30.0
3.0

2017
13.0

105.0
40.0
30.0
3.0

30.0
2.0
2.5
5.6
3.0
18.0
25.0
3.0

8.0

14.0
4.0

18.0
2.5

30.0
2.0
2.5
5.6
3.0
18.0
25.0
3.0

8.0

14.0
4.0

18.0
2.5

2.0
15.0
70.0
5.0
20.0
41.5 41.5 41.5 41.5
139.1 257.7 306.2 488.2 488.2 480.1

2.0
15.0
70.0
5.0
20.0
41.5
480.1

2018
13.0

155.0
40.0
30.0

2019
13.0

155.0
40.0
30.0

2020
13.0

155.0
40.0
30.0

2.0

3.0
18.0
25.0
3.0

8.0

14.0
4.0

25.0
3.0

14.0
4.0

2.5 2.5
2.0 2.0 2.0
15.0 15.0 15.0
5.0
20.0
41.5
401.0

5.0
20.0 20.0
41.5 41.5
370.0 316.5

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk
pembangkit PLN di Jawa Bali dan di luar Jawa Bali.
Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, pasokan gas ke pembangkit
PLN pada umumnya akan menurun atau berkurang. Selain itu pengembangan
infrastruktur penyaluran gas dari sumur-sumur baru ke pembangkit PLN sangat
terbatas. Di lain pihak pembangkit PLN, khususnya PLTGU yang berada di
pusat beban, harus tetap dijalankan (must-run) karena peranannya tidak dapat
44

RUPTL 2011- 2020

digantikan oleh pembangkit di tempat lain. Selama ini pembangkit must run
tersebut terpaksa dioperasikan dengan BBM karena kekurangan pasokan gas.
Situasi tersebut mengharuskan PLN untuk memperoleh pasokan gas dalam
bentuk LNG walaupun pada harga yang relatif tinggi untuk digunakan pada
pembangkit tersebut. Pada saat ini telah direncanakan LNG floating storage &
regasification unit (FSRU) di 3 lokasi, yaitu Belawan untuk memasok PLTGU
Belawan32, Jakarta untuk memasok PLTGU Muara Karang dan Priok, serta
Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk memasok kebutuhan gas di pulau Jawa
secara umum33. Pasokan LNG ke FSRU tersebut akan berasal dari Bontang,
Tangguh atau impor.
PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dimanapun tersedia, karena
tersedianya gas dapat dengan cepat dan mudah diubah menjadi listrik34 untuk
memenuhi kebutuhan listrik setempat, terutama di daerah yang telah lama
menderita kekurangan listrik. PLN akan membeli gas pada semua volume,
termasuk gas dari sumber-sumber yang sangat kecil, gas flare dan gas
marginal.
Selain itu apabila dalam suatu sistem kelistrikan telah tersedia pembangkit
baseload yang cukup, PLN bermaksud untuk sedapat mungkin menyimpan gas
lapangan (gas pipa) dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan
memakainya untuk pembangkit peaking. Dengan cara ini PLN dapat
meningkatkan nilai dari gas karena menggantikan BBM pada pembangkit
peaking.
Dalam hal PLN memperoleh alokasi gas dalam bentuk LNG, seperti dari
Bontang, Donggi-Senoro, Tangguh atau Sengkang, PLN bermaksud akan
mendistribusikannya ke sejumlah pembangkit peaking tersebar dengan
teknologi mini-LNG. Hal ini telah diprogramkan oleh PLN untuk wilayah operasi
Indonesia Timur.
Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah
tidak tersedianya pipa transmisi gas alam ataupun fasilitas pendukung dari
sumber-sumbernya ke pusat pembangkit. PLN menyambut baik rencana

32

Pemerintah telah mengkaji opsi FSRU Belawan digantikan dengan memanfaatkan fasilitas
LNG plant di Arun.
33

Dikaitkan dengan rencana pembangunan pipa gas Trans Jawa di sepanjang pulau Jawa.

34

Membangun pembangkit berbahan bakar gas dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

RUPTL 2011- 2020

45

pembangunan pipa gas Trans-Jawa oleh Pertagas karena hal itu akan
mengintegrasikan sumber-sumber gas di Jawa dan sangat membantu
fleksibilitas operasi pasokan gas ke pusat-pusat pembangkit PLN di pulau
Jawa.
Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan
untuk memikul beban medium (mid-merit). Namun pada beberapa kontrak
pasokan gas terdapat ketentuan pemakaian gas yang membuat pembangkit
gas dioperasikan untuk mengisi beban dasar. Kesulitan dalam memperoleh
pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan
batubara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga
beberapa PLTU batubara di masa depan juga berperan sebagai pemikul beban
menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-60%).
PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit
beban puncak dengan beralih ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan
dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1 LNG dan Mini-LNG


PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan
pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan
Sumatera. Sedangkan di Indonesia Timur dan Barat PLN merencanakan
pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak. Mengingat harga gas
dari mini-LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya dipakai untuk pembangkit
peaking, bukan untuk pembangkit beban dasar.
Beberapa daerah di Indonesia Barat yang direncanakan memanfaatkan LNG:

46

Belawan: PLN mengambil LNG sebanyak yang diperlukan untuk


pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run, dan PLN tidak
memakai LNG untuk pembangkit baseload karena pertimbangan
keekonoman. LNG dari BP Tangguh akan dipakai sebagai berikut:
PLTGU Belawan dgn CF <50% memerlukan LNG 60 bbtud dan PLTG
peaker (400+50+90 MW) memerlukan LNG 25 bbtud. Apabila terdapat
keterlambatan proyek PLTU batubara seperti PLTU Pangkalan Susu,
maka Belawan dapat memakai LNG lebih banyak, yaitu hingga total 140
mmscfd.

Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari
lapangan Jabung dengan jangka waktu sampai dengan 7 tahun. PLN
RUPTL 2011- 2020

menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk


memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel
sebesar 500 MW pada tahun 2014. Sementara fasilitas LNG belum
terbangun, gas akan dialirkan ke PLTGU Muara Tawar dengan metode
swap.
Pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah:

Senoro, Bontang, Sengkang, Salawati, Simenggaris: PLN akan


mengambil gas dari sumber tersebut dalam bentuk LNG untuk
digunakan di pembangkit peaking 50 MW di Bontang, 50 MW di
Balikpapan, 50 MW di Samarinda, 150 MW di Sulawesi Selatan, 25 MW
di Minahasa dan 60 MW di Lombok, sepanjang layak secara
keekonomian.

Pemanfaatan LNG untuk sistem Jawa Bali mempertimbangkan harga LNG


yang relatif tinggi, sehingga LNG hanya dipakai untuk pembangkit beban
puncak dan pembangkit must-run. Pembangkit must-run dimaksud adalah
PLTGU/PLTG Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang peranannya belum
dapat digantikan oleh pembangkit yang lain. PLTGU Muara Karang dan Priok
dijalankan untuk menghabiskan pasokan gas pipa yang ada, dan
kekurangannya dipenuhi dengan LNG. Sedangkan kebutuhan gas/LNG untuk
Muara Tawar dihitung berdasar peran pembangkit ini di sistem, yaitu
dioperasikan sebagai peaker untuk mendukung tegangan sistem 500 kV di
subsistem Jakarta. Namun karena perioda beban puncak Jakarta sangat
panjang, yaitu dari jam 9 pagi sampai dengan jam 10 malam, maka kebutuhan
gasnya cukup besar dan diharapkan dapat dipenuhi dengan LNG.

4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)


Teknologi CNG untuk memenuhi kebutuhan gas suatu pembangkit merupakan
teknologi yang relatif baru dan untuk itu perlu dikaji kelayakan baik teknis dan
ekonomis terlebih dahulu. Namun PLN telah memetakan potensi pemanfaatan
CNG untuk Indonesia Barat dan Timur. CNG akan diarahkan untuk
memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif kecil maupun
sumur gas marginal. Saat ini sudah disepakati pembangunan CNG storage oleh
pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan dimanfaatkan untuk
PLTG Peaking Jaka Baring (40 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada
akhir tahun 2012.

RUPTL 2011- 2020

47

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Barat adalah:

CNG Sungai Gelam dengan kapasitas sebesar 4,5


digunakan untuk pembangkit peaking.

bbtud akan

Gas Jambi Merang sebesar 85 bbtud akan dialokasikan untuk


pembangkit PLTGU Duri (IPP) 2x45 MW, PLTG Payoselincah 100 MW,
PLTG sewa 20 MW di Rengat dan pembangkit di Duri dengan kapasitas
sekitar 160 MW.

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah PLTG Bangkanai,


Kalimantan Tengah.

4.2.3 Coal Bed Methane (CBM)


PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional, yaitu CBM (coal
bed methane). Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas
konvensional, terutama di South Sumatera Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin.
PLN pada saat ini tengah melakukan studi bersama Exxon-Mobil mengenai
pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia.
Disamping itu, saat ini sedang dilakukan proses negosiasi dengan VICO untuk
rencana pasokan gas dari lapangan CBM di Kalimantan Selatan.
4.3 PANAS BUMI
Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas
bumi di Indonesia yang menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya
adalah laporan studi oleh WestJEC pada tahun 2007 Master Plan Study for
Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan
tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah
9.000 MW, tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal 12.000 MW.
Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek
PLTP, terutama di Sumatera, Jawa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa
Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah kepada PLN untuk
mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi
terbarukan sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM
No. 15/201035 saja terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP untuk beroperasi

35

Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track

program phase 2 (FTP2).


48

RUPTL 2011- 2020

pada tahun 2014. Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan
seperti yang diharapkan karena berbagai masalah. PLN berharap masalahmasalah yang menghambat pengembangan panas bumi tersebut dapat segera
diatasi.

4.4 TENAGA AIR


Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS)
pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro
power inventory study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan
Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun
2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut36 adalah
26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek
yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru
(16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air
diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak
begitu sulit hingga sangat sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini
merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

NAMA
Peusangan12
JamboPapeun3
Kluet1
Meulaboh5
Peusangan4
Kluet3
Sibubung1
Seunangan3
Teunom1
Woyla2
Ramasan1
Teripa4
Teunom3
Tampur1
Teunom2
PadangGuci2
Warsamson
Jatigede
UpperCisokanPS
Matenggeng
Merangin2
Merangin5
Maung
Kalikonto2
KarangkatesExt.
GrinduluPS3
K.KontoPS

TIPE PROVINSI
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
RES
RES
RES
ROR
RES
RES
PST
PST
ROR
RES
RES
RES
PST
PST

Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Bengkulu
IrianJaya
Jabar
Jabar
Jabar
Jambi
Jambi
Jateng
Jatim
Jatim
Jatim
Jatim

KAP.
(MW)
86
25
41
43
31
24
32
31
24
242
119
185
102
330
230
21
49
175
1000
887
350
24
360
62
100
1000
1000

COD
2015
2019
2019
2019
2019
2021
2021
2021
2023
2024
2024
2024
2024
2025
2026
2020
2019
2014
2015
2020
2016
2024
2028
2016
2018
2021
2027

PLN/
NO
NAMA
IPP
PLN
28 Pinoh
PLN
29 Kelai2
PLN
30 Besai2
PLN
31 Semung3
PLN
32 Isal2
PLN
33 Tina
PLN
34 Tala
PLN
35 WaiRantjang
PLN
36 Bakaru(2nd)
PLN
37 Poko
PLN
38 Masuni
PLN
39 Mong
PLN
40 Batu
PLN
41 Poso2
PLN
42 Poso1
PLN
43 Lariang6
PLN
44 Konaweha3
PLN
45 Lasolo4
PLN
46 Watunohu1
PLN
47 Tamboli
PLN
48 Sawangan
PLN
49 Poigar3
PLN
50 Masang2
PLN
51 Sinamar2
PLN
52 Sinamar1
PLN
53 Anai1
PLN

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR

Kalbar
Kaltim
Lampung
Lampung
Maluku
Maluku
Maluku
NTT
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sultra
Sultra
Sulut
Sulut
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

KAP.
(MW)
198
168
44
21
60
12
54
11
126
233
400
256
271
133
204
209
24
100
57
26
16
14
40
26
37
19

COD
2020
2020
2020
2020
2019
2020
2021
2020
2016
2020
2023
2024
2027
2011
2011
2024
2026
2026
2020
2020
2014
2018
2020
2020
2020

PLN/
NO
NAMA
IPP
PLN
54 BatangHari4
PLN
55 Kuantan2
PLN
56 Endikat2
PLN
57 Asahan3
PLN
58 Asahan45
PLN
59 Simanggo2
PLN
60 Kumbih3
PLN
61 Sibundong4
PLN
62 Bila2
PLN
63 Raisan1
PLN
64 Toru2(TapanuliUtara)
PLN
65 Ordi5
PLN
66 Ordi3
PLN
67 Siria
PLN
68 LakeToba
PLN
69 Toru3(TapanuliUtara)
PLN
70 LaweMamas
PLN
71 SimpangAur
PLN
72 Rajamandala
PLN
73 Cibareno1
PLN
74 Mala2
PLN
75 Malea
PLN
76 BontoBatu
PLN
77 Karama1
PLN
78 Gumanti1
PLN
79 Wampu

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
PST
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
ROR
ROR

Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Aceh
Bengkulu
Jabar
Jabar
Maluku
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sumbar
Sumut

KAP.
(MW)
216
272
22
174
60
59
42
32
42
26
34
27
18
17
400
228
50
29
58
18
30
182
100
800
16
84

COD
2027
2028
2019
2015
2017
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2020
2020
2020
2026
2016
2014
2014
2020
2020
2017
2017
2022
2020
2016

PLN/
IPP
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP

36

Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), sosial
(resettlement), luas reservoir.

RUPTL 2011- 2020

49

COD yang dimaksud pada tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan
namun dapat diubah sesuai kebutuhan.
PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air
tersebut sebagai proyek PLN.

4.5 ENERGI BARU DAN TERBARUKAN LAINNYA


Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi
matahari dan energi kelautan. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi
terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan

No

Energi Baru dan


Terbarukan

Sumber Daya

Kapasitas Terpasang

Rasio
(%)

4 = 3/2

Mini/Mikrohidro

Biomass

500 MWe

86,1 MWe

17,22

49.810 Mwe

445,0 MWe

0,89

Tenaga Surya

4,80 kWh/m /hari

12,1 MWe

Tenaga Angin

9.290 MWe

1,1 MWe

0,01

Kelautan

240 GWe

1,1 MWe

0,01

Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6 NUKLIR
Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini
terjadi karena dalam proses optimisasi pemilihan kandidat pembangkit, ternyata
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersaing dengan jenis
pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra
supercritical.
Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya
kapital dan biaya O&M yang terkait dengan spent fuel disposal, dan biaya
decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi bersama antara
PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya
pembangunan PLTN sebesar $ 1.700/kW (EPC saja) atau $ 2.300/kW (setelah
memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut
kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2009),

50

RUPTL 2011- 2020

biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 3.500
hingga US$ 5.500 /kW.
Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan
program tenaga nuklir pada banyak negara di dunia. Harga uranium yang pada
tahun 2006 adalah sekitar US$ 30/lb, saat ini telah mencapai US$ 130/lb.
Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi
keekonomian PLTN mengingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan
uranium dalam jumlah sedikit, namun tetap saja kenaikan harga uranium dunia
ini perlu terus dipantau.
Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga
energi primer lainnya seperti batubara dan gas alam, dan semakin nyatanya
ancaman emisi karbon terhadap perubahan iklim global, telah membuat PLTN
menjadi salah satu opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut
memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC, biaya pengelolaan
spent fuel dan biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas.
Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak
semata-mata didasarkan pada pertimbangan keekonomian dan keenergian,
namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik, keselamatan, penerimaan
sosial, budaya dan lingkungan. Apalagi dengan terjadinya kecelakaan PLTN
Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 yang sangat buruk dimana ribuan
penduduk yang semula bermukim di dekat PLTN tersebut harus diungsikan ke
daerah yang aman, telah menyebabkan eskalasi penentangan terhadap
pengembangan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. Dengan adanya
berbagai aspek yang multi dimensional tersebut, program pembangunan PLTN
hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah.

RUPTL 2011- 2020

51

BAB V
RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 2020

5.1 KRITERIA PERENCANAAN


5.1.1 Perencanaan Pembangkit
5.1.1.1

Sistem Interkoneksi

Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi


pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan
listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode perencanaan, dan
memenuhi kriteria keandalan tertentu. Konfigurasi termurah diperoleh melalui
proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya
kapital, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya energy
not served. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari
pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. Simulasi dan
optimisasi dilakukan dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien
Automatic System Planning).
Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP)
lebih kecil dari 0.274%. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya
beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih
kecil dari 0.274%.
Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve
margin tertentu yang nilainya tergantung pada tingkat ketersediaan (availability)
setiap unit pembangkit, jumlah unit, ukuran unit, dan jenis unit37.
Pada sistem Jawa Bali, kriteria LOLP < 0.274% adalah setara dengan reserve
margin > 25-30% dengan basis daya mampu netto. Apabila dinyatakan dengan
daya terpasang, maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%38.
Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat
ditetapkan sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih

37

Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF
(equivalent availability factor) yang berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi.
38
Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.
52

RUPTL 2011- 2020

sedikit, derating yang prosentasenya lebih besar, dan pertumbuhan yang lebih
tinggi dibanding Jawa Bali.
Pembangkit energi terbarukan, khususnya panasbumi dan tenaga air, dalam
proses optimisasi diperlakukan sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan
masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan proyek
tersebut.
Rencana
pengembangan
kapasitas
pembangkitan
dibuat
dengan
memperhitungkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan yang telah
committed39, baik proyek PLN maupun IPP, dan tidak memperhitungkan semua
pembangkit sewa serta excess power. Selain itu beberapa pembangkit
berbahanbakar minyak yang sudah tua, tidak efisien dan dapat digantikan
perannya dengan PLTU batubara, direncanakan akan dihapuskan (retired) atau
dibuat sebagai pembangkit stand by yang tidak dioperasikan tetapi tetap
dipelihara (mothballed).
Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar
diutamakan berupa pembangkit berbahan bakar batubara, dan pembangkit
sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air non-reservoir).
Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang, simulasi
produksi dilakukan dengan menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi
dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasinya
diperkirakan tidak pasti.
5.1.1.2

Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated

Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum


interkoneksi (isolated) tidak menggunakan metoda probabilistik maupun
optimisasi keekonomian, namun menggunakan metoda determinisitik. Pada
metoda ini, perencanaan dibuat dengan kriteria N-2, yaitu cadangan minimum
harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua.
Definisi cadangan disini adalah selisih antara daya mampu total pembangkit
yang ada dan beban puncak.

39

Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi
pendanaannya, dan proyek IPP yang telah mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau
paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA).

RUPTL 2011- 2020

53

5.1.1.3

Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Existing

Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis


selama umur tekno-ekonomisnya (life-time). Sebuah unit pembangkit dapat
menjalani mid-life refurbishment untuk mempertahankan kapasitas, efisiensi,
menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus dipelihara
dan dilakukan penggantian parts yang aus. Kemudian, pada akhir umurnya
sebuah pembangkit masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan
melakukan rehabilitasi/refurbishment pada komponen-komponen tertentu.
RUPTL ini mencantumkan biaya investasi (capex) yang diperlukan untuk itu.
Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu
pembangkit memerlukan kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life
extension dan membangun pembangkit baru.

5.1.2 Perencanaan Transmisi


Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1,
baik statis maupun dinamis. Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit
transmisi padam, baik karena mengalami gangguan maupun dalam
pemeliharaan, maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu
menyalurkan keseluruhan arus beban, sehingga kontinuitas penyaluran tenaga
listrik terjaga. Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan apabila terjadi gangguan
hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka
tidak menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator
dan kelompok generator lainnya.
Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh
keseimbangan antara kapasitas pembangkitan dan kebutuhan beban,
disamping untuk mengatasi bottleneck, meningkatkan keandalan sistem, dan
memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu.
Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan
penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan
trafo mencapai 70%-80%.
Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan
lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung
oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau
lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak
dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut.
54

RUPTL 2011- 2020

Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang


baik di ujung jaringan tegangan menengah.
Pada RUPTL 2011-2020 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis,
yaitu sebuah GI dengan spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau
bahkan tanpa busbar; peralatan proteksi & kontrol, supply AC/DC & battery
dikemas dalam kontainer; tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi
atau T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang
lengkap/sempurna. Penerapan GI minimalis hanya dilakukan pada daerah yang
sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting. Tujuan pembangunan GI minimalis ini
adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat
dari timing normal kebutuhan GI, pada sistem yang selama ini masih
dioperasikan dengan PLTD. GI minimalis juga dapat diterapkan untuk memasok
lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang dan
mengalami drop tegangan yang besar.

5.1.3 Perencanaan Distribusi


Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai
berikut:

Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk


menjaga agar tegangan pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987.

Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang
lebih andal seperti spindle, sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota
minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2 sumber.

Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal.

Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem


kelistrikan secara menyeluruh dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan
biaya pokok penyediaan.

Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan


kontinuitas pasokan kepada pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan
upaya:

Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain


yang minimal dipasok oleh 2 Gardu Induk dan 15 feeder,

RUPTL 2011- 2020

55

Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM,


dikoordinasikan dengan reclosing relay penyulang di GI. Memonitor
pengoperasian recloser atau AVS, dan menyempurnakan metode
pemeliharaan-periodiknya.

Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada


daerah yang sangat padat beban dan potensi pendapatan tinggi.

Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana


pendistribusian tenaga listrik yang cukup, andal, berkualitas, efisien, dan susut
teknis wajar.
Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua
kegiatan, yaitu penyambungan pelanggan dan perkuatan distribusi dengan
perincian sebagai berikut:
Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan
energi listrik
Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability)
pelayanan tenaga listrik pada pelanggan (power quality).

dan

kualitas

Menurunkan susut teknis jaringan


Rehabilitasi jaringan tua.
Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan
Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka
mengantisipasi pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan
penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu antara lain:
Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR),
Luas area yang dilayani,
Distribusi beban (tersebar merata, terkonsentrasi, dsb),
Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan,
Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan,
Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM,
gardu distribusi/GD, jaringan tegangan rendah/JTR, automatic voltage
regulator/AVR dsb).
Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti
dimaksud dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009, maka
pembangkit energi terbarukan sampai dengan 10 MW dapat tersambung
langsung ke jaringan distribusi. Penyambungan pembangkit tersebut harus
memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code).
56

RUPTL 2011- 2020

5.2 ASUMSI DALAM PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009
tentang Ketenagalistrikan, PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik untuk Umum wajib menyediakan tenaga listrik secara terusmenerus, dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang
baik. Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik
saat ini maupun di masa yang akan datang agar PLN dapat memenuhi
kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut. Sebagai langkah awal
PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga
10 tahun ke depan.
Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama,
yaitu pertumbuhan ekonomi, program elektrifikasi dan pengalihan captive power
ke jaringan PLN.
Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses
meningkatkan output barang dan jasa. Proses tersebut memerlukan tenaga
listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya, disamping input-input
barang dan jasa lainnya. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah
peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan
barang-barang / peralatan listrik seperti radio, TV, AC, lemari es dan lainnya.
Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat.
Faktor kedua adalah program elektrifikasi. Sebagai upaya PLN untuk
mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka
PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam wilayah usahanya. Hal
ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus
meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, khususnya pada daerah-daerah
yang telah menjadi wilayah usaha PLN.
PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang
besar, yaitu rata-rata 2,6 juta per tahun, sehingga rasio elektrifikasi akan
mencapai 94% pada tahun 2020. Penambahan pelanggan baru tersebut tidak
hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga
mencakup mereka yang berada di luar wilayah usaha.
Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik
PLN adalah pengalihan dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri

RUPTL 2011- 2020

57

berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN. Captive power ini timbul
sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan di
suatu daerah, terutama pelanggan industri dan bisnis. Bilamana kemampuan
PLN untuk melayani di daerah tersebut telah meningkat, maka captive power ini
dengan berbagai pertimbangannya akan beralih menjadi pelanggan PLN.
Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM
untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / bisnis, sementara
harga jual listrik PLN relatif lebih murah. Faktor ketiga ini sangat bergantung
kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem kelistrikan dan
skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power, jadi tidak berlaku
umum.
Faktor lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah
kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka
melayani kebutuhan pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan pasokan
listrik yang cukup dan andal. Penyambungan pelanggan baru tergantung dari
ketersediaan pendanaan.
Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah
model prakiraan beban yang disebut Simple-E. Model ini merupakan metode
regresi yang menggunakan data historis dari penjualan energi listrik, daya
tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan populasi untuk
membentuk persamaan yang fit. Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan
listrik ke depan dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar
(korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik, yaitu pertumbuhan ekonomi
dan populasi. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar, maka
digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. Aplikasi ini dilengkapi juga
dengan fasilitas melihat tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti
parameter tingkat korelasi, dan uji statistik.

5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang
dinyatakan dalam produk domestik bruto (PDB) dengan harga konstan tahun
2000 mengalami kenaikan rata-rata 5,18% per tahun, atau lebih rendah
dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 5,5% 6,32%
seperti diperlihatkan pada Tabel 5.1.

58

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


PDB

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

PDB (Triliun Rp)

1.39

1.44

1.50

1.57

1.66

1.75

1.85

1.96

2.08

2.17

2.22

Growth PDB (%)

4,90

3,83

4,31

4,78

5,05

5,67

5,50

6,32

6,06

4,50

6,08

Sumber: Statistik Indonesia, BPS

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4,5%) sebagaimana


terlihat pada tabel 5.1 disebabkan oleh imbas krisis financial global yang terjadi
pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009. Perekonomian Indonesia kembali pulih
pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6,1%. Pemerintah memandang
pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik sebagaimana dituangkan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2011-2014.
Memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi tersebut diatas, maka RUPTL
ini mengadopsi asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang digunakan dalam
RPJMN 2011-2014 dan Draft RUKN 2010 2029 untuk periode diatas 2014
sebesar 6,9% per tahun, selanjutnya oleh PLN angka tersebut dijabarkan
menjadi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.2.

Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Wilayah

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Indonesia

6,2

6,5

7,2

7,4

6,9

6,9

6,9

6,9

6,9

6,9

Jawa Bali

6,1

6,3

7,0

7,2

6,7

6,7

6,7

6,7

6,7

6,7

Luar Jawa Bali

7,3

7,7

8,5

8,8

8,2

8,2

8,2

8,2

8,2

8,2

5.2.2 Pertumbuhan Penduduk


Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237,6 juta orang dan
jumlah rumah tangga 61,4 juta KK berdasar sensus penduduk tahun 2010.
Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga tahun 2020 PLN
menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh Bappenas
dan Badan Pusat Statistik dalam buku Proyeksi Penduduk Indonesia 20002025 [1] edisi tahun 2008.
Pada Tabel 5.3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali,
luar Jawa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.

RUPTL 2011- 2020

59

Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%)


Tahun

Indonesia

Jawa - Bali

Luar Jawa
Bali

2011

1,18

0,92

1,56

2012

1,15

0,90

1,53

2013

1,12

0,87

1,49

2014

1,09

0,84

1,46

2015

1,06

0,81

1,42

2016

1,03

0,78

1,39

2017

1,00

0,75

1,35

2018

0,96

0,71

1,31

2019

0,92

0,67

1,26

2020

0,88

0,63

1,22

Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 2025 [1]

5.3 PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK 2011 - 2020


Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5.2, kebutuhan tenaga listrik selanjutnya
diproyeksikan dan hasilnya diberikan pada Tabel 5.5. Dari tabel tersebut dapat
dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun 2020 akan menjadi
328,3 TWh, atau tumbuh rata-rata 8,5% per tahun. Sedangkan beban puncak
non coincident pada tahun 2020 akan menjadi 55.053 MW atau tumbuh ratarata sebesar 8,14% per tahun.

Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan


Beban Puncak Periode 2010 2020

60

Tahun

Pertumbuhan

Sales

Jumlah Beban
Puncak
(non-coincident)
MW
25.177

TWh

2010

Ekonomi
%
6,1

145,7

2011

6,2

162,4

27.792

2012

6,5

177,8

30.345

2013

7,2

193,4

32.856

2014

7,4

210,1

35.456

2015

6,9

227,6

38.361

2016

6,9

246,2

41.444

2017

6,9

264,6

44.496

2018

6,9

284,4

47.768

2019

6,9

305,7

51.301

2020

6,9

328,3

55.053

RUPTL 2011- 2020

Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2011 adalah sebesar 45,8 juta dan akan
bertambah menjadi 69,0 juta pada tahun 2020 atau bertambah rata-rata 2,7 juta
per tahun. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio
elektrifikasi dari 71,9% pada tahun 2011 menjadi 94,4% pada tahun 2020.
Proyeksi jumlah penduduk, pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi
diperlihatkan pada Tabel 5.5.

Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan


Rasio Elektrifikasi Periode 2011 2020

Tahun

Penduduk Pelanggan Rasio Elek.


Juta

Juta

2011

241.0

45.8

71.9

2012

243.9

48.2

74.4

2013

246.9

50.8

77.1

2014

249.7

53.4

79.9

2015

252.5

56.1

82.7

2016

255.3

58.8

85.5

2017

258.0

61.4

87.9

2018

260.7

64.1

90.3

2019

262.6

66.7

92.7

2020

264.9

69.0

94.4

Rasio
Elek
RUKN
%

83.2

92.2

Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam


RUKN tahun 2008-2027, rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015
diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN (0,3%) sebagaimana
dapat dilihat pada Tabel 5.5.

RUPTL 2011- 2020

61

Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi


Unit
1.Energy Demand
- Indonesia
- Jawa-Bali
- Indonesia Timur
- Indonesia Barat
2.Pertumbuhan
- Indonesia
- Jawa-Bali
- Indonesia Timur
- Indonesia Barat
3.Rasio Elektrifikasi
- Indonesia
- Jawa-Bali
- Indonesia Timur
- Indonesia Barat

2011

2012

2014

2016

2018

2020

TWh

162,4
125,2
13,1
24,0

177,8
135,8
15,1
26,9

210,1
158,5
18,7
32,9

246,2
184,5
22,4
39,3

284,4
211,1
26,6
46,6

328,3
241,2
31,7
55,3

11,5
10,4
16,4
14,5

9,5
8,4
15,1
12,0

8,6
8,0
10,6
10,4

8,2
7,9
9,2
9,1

7,5
7,0
9,2
8,8

7,4
6,8
9,1
9,0

71,9
72,8
65,5
74,3

74,4
75,4
67,6
76,7

79,9
81,5
72,1
81,5

85,5
88,1
76,7
85,0

90,3
93,7
81,3
88,2

94,4
97,8
86,4
91,6

Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 20112020 ditunjukkan pada Tabel


5.6 dan Gambar 5.1. Pada periode 2011-2020 kebutuhan listrik sistem Jawa
Bali diperkirakan akan meningkat dari 125,2 TWh pada tahun 2011 menjadi
241,2 TWh pada tahun 2020, atau tumbuh rata-rata 7,8% per tahun. Untuk
Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari
13,1 TWh menjadi 31,7 TWh atau tumbuh rata-rata 10,8% per tahun. Wilayah
Indonesia Barat tumbuh dari 24,0 TWh pada tahun 2011 menjadi 55,3 TWh
pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 10,2% per tahun.
24
TWh

55
TWh
2011 2020

IB : 10,2%

31
13 TWh
TWh

IT : 10,8%
125
TWh

241
TWh

JB : 7,8%
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020

62

RUPTL 2011- 2020

Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada
Gambar 5.2. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem Jawa Bali
kelompok pelanggan industri mempunyai porsi yang sangat besar, yaitu 40%
dari total penjualan. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi
pelanggan industri adalah cukup kecil, yaitu masing-masing hanya 10% dan
17%. Pelanggan residensial masih mendominasi penjualan hingga tahun 2020,
yaitu 59% untuk Indonesia Timur dan 60% untuk Indonesia Barat.
300,000

350,000
300,000

250,000

Indonesia

JawaBali

250,000

200,000

200,000

Industri

150,000

Publik
Bisnis

100,000

150,000

Residensial

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

60,000

35,000
30,000

50,000
40,000

Publik
Bisnis

50,000

Residensial

50,000

Industri

100,000

IndonesiaBarat

20,000

Industri
Publik
Bisnis

30,000
20,000

IndonesiaTimur

25,000

Industri
Publik
Bisnis

15,000
10,000

Residensial

10,000

Residensial

5,000
0

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020


Proyeksi penjualan pada RUPTL 2011-2020 sedikit lebih tinggi daripada draft RUKN 20102029, namun lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.3.
450.0
400.0
350.0
300.0
250.0
200.0
150.0
100.0
50.0

2010

2011

2012

2013
RUPTL

2014

2015

RUKN0827

2016

2017

2018

2019

2020

RUKN1029

Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN

RUPTL 2011- 2020

63

5.4 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT


5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit
5.4.1.1

Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur

Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit


di Indonesia Barat dan Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas
sistem. Untuk sistem Sumatera misalnya, kandidat PLTU batubara adalah
100 MW, 200 MW, 300 MW dan 400 MW. PLTG pemikul beban puncak 100
MW. Untuk sistem Kalimantan dan Sulawesi, kandidat PLTU batubara adalah
25 MW, 50 MW dan 100 MW dengan PLTG pemikul beban puncak 25-30 MW
dan 50 MW. Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih
kecil.
5.4.1.2

Sistem Jawa-Bali

Pada sistem Jawa-Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk


rencana pengembangan adalah PLTU batubara ultra supercritical kelas 1.000
MW dan supercritical 600 MW, PLTGU LNG/gas alam 750 MW, PLTG BBM
pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW40. Selain
itu terdapat beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110 MW, serta PLTA. PLTN jenis
pressurised water reactor kelas 1.000 MW juga disertakan sebagai kandidat
dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan.
Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali sebesar
1.000 MW per unit didasarkan pada pertimbangan efisiensi41 dan kesesuaian
dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban puncaknya sudah
akan melampaui 25.000 MW.
Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5.7.

40
41

Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan


Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai
efisiensi jauh lebih tinggi daripada teknologi subcritical.

64

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar


Jenis Energi Primer

Harga

Nilai Kalor

Batubara Sub Bituminous

USD 80/Ton

5.100 kcal/kg

Batubara Lignite

USD 50/Ton

4.200 kcal/kg

Batubara Lignite di Mulut Tambang

USD 35/Ton

4.200 kcal/kg

Gas alam

USD 6/MMBTU

252.000 kcal/Mscf

LNG

USD 10/MMBTU

252.000 kcal/Mscf

HSD *)

USD 0,78/Liter

9.070 kcal/l

MFO *)

USD 0,62/Liter

9.370 kcal/l

Uap Panas Bumi


Uranium

(tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan


karena diperlakukan sebagai fixed plant)
USD 120/lb

*) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel

5.4.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan


(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009)

bakar

Batubara

Dengan Peraturan Presiden No.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan
Presiden No. 59 tahun 2009, Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero)
untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak
kurang lebih 10.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga
memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Program ini dikenal
sebagai Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW. Berdasar penugasan
tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit
dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5.8.

RUPTL 2011- 2020

65

Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW


(Peraturan Presiden No.71/2006 jo Perpres No.59/2009)
Nama Pembangkit

Kapasitas
(MW)

Tahun
Operasi

PLTU 2 di Banten (Labuan)

2x315

2009-2010

3x330

2011

1x625

2011

3x315

2011-2012

3x350

2012-2013

2x315

2011

1x600

2014

2x315

2012

1x660

2012

2x300

2013

PLTU di NAD (Meulaboh)

2x110

2012

PLTU 2 di Sumut
(Pangkalan Susu)

2x220

2012

PLTU 1 di Riau (Bengkalis)

2x10

2012

PLTU Tenayan di Riau

2x110

PLTU di Kepri (Tanjung


Balai)

PLTU di Jabar Utara


(Indramayu)
PLTU 1 di Banten
(Suralaya Unit 8)
PLTU 3 di Banten (Lontar)
PLTU di Jabar Selatan
(Pelabuhan Ratu)
PLTU 1 di Jateng
(Rembang)
PLTU 2 di Jateng (PLTU
Adipala)
PLTU 1 di Jatim (Pacitan)
PLTU 2 di Jatim (Paiton
Unit 9)
PLTU 3 di Jatim
(Tanjung Awar-awar)

PLTU 4 di Babel (Belitung)


PLTU 3 di Babel (Air
Anyer)
PLTU 2 di Riau (Selat
Panjang)
PLTU 2 di Kalbar (Pantai
Kura-Kura)
PLTU di Sumbar
(Teluk Sirih)

Kapasitas
(MW)

Tahun
Operasi

2x112

2012-2013

2x100

2012

2x50

2012

2x100

2013-2014

2x60

2012-2013

2x65

2011

2x25

2011

2x25

2012-2013

2x7

2012

2x10

2012

2x7

Batal

2x15

2012-2013

PLTU di Sultra (Kendari)

2x10

2011-2012

2014

PLTU di Sulsel (Barru)

2x50

2012

2x7

2011

PLTU 2 di NTB
(Lombok)

2x25

2012

2x16.5

2012

PLTU 1 di NTT (Ende)

2x7

2012

2x30

2010-2011

PLTU 2 di NTT
(Kupang)

2x15

2012

2x5

Batal

PLTU 1 di NTB (Bima)

2x10

2012

2x27,5

2012-2013

PLTU 1 Sulut

2x25

2014

2x112

2012-2013

PLTU 2 di Kalteng

2x7

Batal

Nama Pembangkit
PLTU di Sumbar
(Teluk Sirih)
PLTU di Lampung
(Tarahan Baru)
PLTU 1 di Kalbar
(Parit Baru)
PLTU di Kaltim
(Kariangau)
PLTU 1 di Kalteng
(Pulang Pisau)
PLTU di Kalsel
(Asam-Asam)
PLTU 2 di Sulut
(Amurang)
PLTU di Gorontalo
PLTU di Maluku Utara
(Tidore)
PLTU 2 di Papua
(Jayapura)
PLTU 1 di Papua
(Timika)
PLTU di Maluku
(Ambon)

Sampai dengan Desember 2010 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah


selesai dan beroperasi komersial adalah hanya PLTU Labuan Unit 1 dan unit 2
(2x300 MW), sedangkan pembangkit lain yang semula dijadwalkan selesai
66

RUPTL 2011- 2020

dalam tahun 2010 ternyata mundur ke tahun 2011 sebesar 4.165 MW, yaitu
Suralaya Unit 8 (625 MW), Indramayu Unit 1-2-3 (3x330 MW), Lontar 1-2
(2x315 MW) dan Rembang unit 1-2 (2x315 MW).
Pada tahun 2012 dijadwalkan proyek-proyek sebanyak 1.365 MW berikut akan
beroperasi: Pacitan 1-2 (2x315MW), Paiton baru (660 MW), Lontar Unit 3 (315
MW), Pelabuhan Ratu 1-2 (2x350 MW), dan Tanjung Awar-awar 1 (350 MW).
Sedangkan pada tahun 2013 akan beroperasi PLTU Pelabuhan Ratu 3 (350
MW) dan Tanjung Awar-awar 2 (350 MW), dan selanjutnya pada 2014 akan
beroperasi PLTU Adipala (660 MW).
Proyek-proyek pembangkit PerPres 71 di Jawa Bali mengalami keterlambatan
rata-rata 1 tahun, sedangkan proyek-proyek di luar Jawa Bali akan mengalami
keterlambatan lebih dari itu. Keterlambatan tersebut terutama disebabkan oleh
financing yang terlambat dan permasalahan konstruksi.
Untuk Indonesia Barat dan Timur proyek pembangkit yang akan mulai
beroperasi 2011 adalah PLTU Tanjung Balai Karimun, PLTU Tarahan, PLTU
Bangka, PLTU Asam-Asam, PLTU 2 Sulut, dan PLTU Kendari, sedangkan
sebagian besar akan beroperasi tahun 2012-2013.

5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2


Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No. 02/2010 jo No. 15/2010 mencakup PLTU batubara
3.391 MW, PLTP 3.967 MW, PLTGU 860 MW, PLTG 100 MW dan PLTA 1.204
MW, dengan kapasitas total 9.522 MW.
Dalam perjalanannya proyek-proyek yang termasuk dalam program tersebut
banyak mengalami keterlambatan dan beberapa telah diusulkan kepada
Kementerian ESDM untuk dibatalkan karena masalah-masalah seperti
kekurangan pasokan gas dan ketidaksiapan pengembangan panas bumi.
Proyek-proyek yang diusulkan untuk dibatalkan adalah PLTGU Muara Tawar
add-on Blok 3-4, PLTU Bali Timur, PLTP Darajat, PLTP Salak, PLTGU Senoro,
PLTU Masohi, PLTU Waingapu, PLTU Moutong. Selain itu juga terdapat proyek
yang diusulkan untuk dikeluarkan dari FTP2 karena akan didanai dengan APBN
yaitu PLTU Sampit, PLTU Kotabaru, PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking).

RUPTL 2011- 2020

67

Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang berubah status dan jadwal
yaitu PLTGU Bangkanai (IPP) menjadi PLTG Bangkanai (PLN), beberapa
PLTU kecil menjadi PLTGB dan hampir semua PLTP terlambat.
Selain mengusulkan pembatalan beberapa proyek, PLN juga mengusulkan
tambahan beberapa proyek pembangkit EBT seperti PLTA dan PLTP yang baru
saja memperoleh penetapan WKP oleh Kementerian ESDM berikut transmisi
terkaitnya. Proyek PLTA yang diusulkan sebesar 516 MW antara lain PLTA
Rajamandala, PLTA Bonto Batu, PLTA Malea, PLTA Wampu, PLTA Semangka,
PLTA Hasang dan PLTA Peusangan-4. Sedangkan proyek PLTP yang
diusulkan sebesar 885 MW antara lain PLTP Gunung Endut, PLTP Gunung
Ciremai, PLTP Suoh Sekincau, PLTP Wai Ratai, PLTP Danau Ranau, PLTP
Simbolon Samosir, PLTP Sipoholon Ria-Ria, PLTP Bonjol dan PLTP Mataloko.
Usulan perubahan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 yang telah
disampaikan PLN diberikan pada Tabel 5.9 dengan komposisi PLTU batubara
3.025 MW, PLTP 4.870 MW, PLTG 280 MW, PLTGB 64 MW dan PLTA 1.753
MW dengan kapasitas total 9.992 MW untuk jangka waktu sampai dengan
tahun 2019.
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2
Pemilik

Satuan

PLTA

PLTG

PLTGB

PLTP

PLTU

Jumlah

PLN

MW

1,269

280

64

340

1,804

3,757

IPP

MW

484

4,530

1,221

6,235

Jumlah

MW

1,753

280

64

4,870

3,025

9,992

Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5.9 akan
menjadi 66%. Pengembangan panas bumi sebanyak itu selama 10 tahun ke
depan merupakan suatu rencana pengembangan yang relatif sangat besar
untuk PLTP dengan jumlah investasi yang sangat tinggi42. Pengembangan ini
merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL 2011-2020
ini yang mencapai 6.247 MW hingga tahun 2020.
Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 9.992 MW tersebut terdiri
atas 3.757 MW sebagai proyek PLN dan 6.235 MW sebagai proyek IPP.
Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2

42

Kebutuhan investasi sekitar US$ 9 milyar jika biaya pengembangan US$ 2.500/kW.

68

RUPTL 2011- 2020

tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN
dalam membuat pinjaman baru.

5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan


PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010.
Pada saat ini terdapat 7 proyek yang terdapat dalam buku KPS 2011 seperti
dalam tabel 5.10.
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011
No

Nama Proyek

Kapasitas

Provinsi

Status

Keterangan

PLTU Jateng

2x1000 MW

Jateng

Sudah Tender

Sudah PPA

PLTU Jambi

2x400 MW

Jambi

Prioritas

Solicited karena ada dalam


RUPTL 2010-2019

PLTU Sumsel-9

2x600 MW

Sumsel

Potensial

Solicited

PLTU Sumsel-10

600 MW

Sumsel

Potensial

Solicited

PLTU Kaltim

2x100 MW

Kaltim

Potensial

Solicited

PLTU Sulut

2x55 MW

Sulut

Potensial

Solicited

PLTA Karama

450 MW

Sulbar

Prioritas

Unsolicited Usulan Pemprov


Sulbar

PLN mengusulkan proyek nomor 1 s.d. 6 sebagai proyek KPS.

5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang


Dalam RUPTL 2011-2020 terdapat rencana pembangunan 7.310 MW PLTU
batubara mulut tambang di Sumatera sampai dengan tahun 2020, yang terdiri
dari 6.510 MW akan dikembangkan oleh IPP dan 800 MW oleh PLN.
Memperhatikan lokasi PLTU mulut tambang yang berada di dekat sumber
batubara yang tidak mempunyai akses untuk mentransportasi batubara keluar
dari sumber batubara tersebut dalam volume yang besar, PLN telah
mengusulkan agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan
berdasarkan harga pasar, melainkan berdasarkan biaya produksi batubara plus
margin, dan harga tersebut berlaku sepanjang umur PPA (locked-in).
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia)
Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia
ditunjukkan pada Tabel 5.11. Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit
pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (interkoneksi), dan
sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2.
RUPTL 2011- 2020

69

Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW)


Tahun
PLN
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PS
PLTGB
PLTB
PLTS
PLTH
Total
IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PS
PLTGB
PLTB
PLTS
PLTH
Total
PLN+IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PS
PLTGB
PLTB
PLTS
PLTH
Total

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

3,774
24
444
222
4
8
1
4,477

4,112
63
743
405
1
17
20
12
0
5,372

2,971
55
116
1,030
33
30
49
4,283

1,426
13
790
41
49
4
27
1
5
2
2,357

1,570
235
140
41
7
242
20
2,254

250
83
30
22
3
558
1,040
7
1,992

1,110
20
85
5
541
19
1
1,780

898
20
480
22
5
279
14
1,718

1,404
20
750
75
17
2
294
450
6
1
3,019

1,522
220
750
630
18
2
950
10
4,102

924
150
16
10
6
1,106

1,029
130
104
22
200
20
1,505

102
60
180
102
204
8
32
688

1,521
245
90
45
16
1,917

2,719
855
44
70
2
3,690

4,582
343
1
246
5,172

3,675
937
1
40
3
4,656

1,110
1,270
83
2,463

425
1,590
2,015

450
195
135
780

4,698
24
594
222
20
18
6
1
5,583

5,141
63
873
509
1
38
220
32
0
6,877

3,073
115
296
1,132
33
234
8
81
4,971

2,947
258
790
41
139
49
43
1
5
2
4,274

4,289
1,090
140
41
51
312
22
5,944

4,832
426
30
22
4
804
1,040
7
7,164

4,785
957
85
6
581
22
1
6,436

2,008
1,290
480
22
5
362
14
4,181

1,829
1,610
750
75
17
2
294
450
6
1
5,034

1,972
415
750
630
18
2
135
950
10
4,882

Total
19,036
752
2,803
3,887
194
123
1,945
2,440
164
1
6
3
31,353
16,537
5,495
460
206
378
837
79
23,992
35,573
6,247
3,263
4,093
194
501
2,782
2,440
243
1
6
3
55,345

Tabel 5.11 menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode


2011 2020) untuk seluruh Indonesia adalah 55,8 GW atau pertambahan
kapasitas rata-rata mencapai 5,6 GW per tahun.

Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 31,4 GW atau


56,1% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Partisipasi swasta
direncanakan sebesar 24,5 GW atau 43,9%.

PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun,


yaitu mencapai 35,6 GW atau 63,7%, sementara PLTGU gas dengan
kapasitas 3,3 GW atau 5,8%. Untuk energi terbarukan, yang terbesar
adalah panas bumi sebesar 6,2 GW atau 11,2% dari kapasitas total, disusul
oleh PLTA sebesar 6,1 GW atau 11,1%.

5.4.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit


Indonesia Barat dan Indonesia Timur

Pada

Wilayah

Operasi

Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari
5 sistem interkoneksi, yaitu: (1) Sistem Sumatra, (2) Sistem Kalimantan Barat,

70

RUPTL 2011- 2020

(3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur, (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5)
Sistem Sulawesi Selatan.
Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated
yang cukup besar dengan beban puncak di atas 50 MW, yaitu Bangka,
Lombok, Tanjung Pinang dan Palu, dan terdapat beberapa sistem isolated
dengan beban puncak di atas 10 MW, yaitu Jayapura, Sorong, Ambon, Ternate,
Kupang, Sumbawa, Bima, Luwuk, Gorontalo, Kendari, Kolaka, Bau-Bau,
Bontang, Sampit, Pangkalan Bun, Sintang, Ketapang, Belitung, Rengat,
Tanjung Balai Karimun, Sungai Penuh, Takengon, Meulaboh.
5.4.5.1

Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia


Barat dan Indonesia Timur

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020


diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15.916 MW di Indonesia
Barat dan 7.781 MW di Indonesia Timur, termasuk committed dan ongoing
projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5.12 dan Tabel 5.13.
Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun
2020 di Indonesia Barat yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8,3 GW
(52,4%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 7,6 GW
(47,6%). Sedangkan pada tabel 5.13 dapat dilihat bahwa pengembangan
pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN
adalah sebanyak 4,6 GW (58,6%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek
IPP sebanyak 3,2 GW (41,4%), lebih kecil dibandingkan pembangkit yang
dibangun oleh PLN.
Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil
khususnya Indonesia bagian timur yang besar bebannya belum cukup tinggi
untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil.
Pengembangan pembangkit di Indonesia barat dan Timur untuk PLTP
diproyeksikan cukup besar, yaitu 3.372 MW dan juga PLTA sebesar 2.908 MW.
Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi
terbarukan.
Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam
RUPTL 2011-2020 ini adalah PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam
skala relatif kecil.
Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang
Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang
RUPTL 2011- 2020

71

mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).


Apabila proyek tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan
kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited
tersebut akan diproses lebih lanjut.
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW)
Tahun
PLN
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PLTGB
Total
IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PLTGB
Total
PLN+IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PLTGB
Total

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

74
222
0
296

804
55
380
12
1,251

1,577
55
116
580
34
2,362

205
570
8
783

688
220
20
12
940

250
437
687

50
10
365
6
431

30
30
49
3
112

522
6
528

522
220
200
3
945

239
239

14
130
44
16
204

42
22
95
5
164

543
220
32
45
840

642
440
39
23
1,144

930
56
986

600
612
40
1,252

400
405
83
888

425
690
1,115

250
250

313
222
0
535

818
55
130
424
28
1,455

1,619
55
116
602
95
39
2,525

748
220
570
32
45
8
1,623

1,330
660
20
39
23
12
2,084

1,180
493
1,673

650
612
10
405
6
1,683

430
405
30
132
3
1,000

947
690
6
1,643

772
220
200
3
1,195

4,721
550
116
2,012
851
84
8,334
4,085
2,367
130
66
166
247
21
7,082
8,806
2,917
246
2,078
166
1,099
105
15,416

Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW)


Tahun
PLN
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PLTGB
PLTB
PLTS
PLTH
Total
IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PLTGB
PLTB
PLTS
PLTH
Total
PLN+IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTD
PLTM
PLTA
PLTGB
PLTB
PLTS
PLTH
Total

72

2011

2012

165
24
-

2013

2014

4
8

343
8
25
1
17
20

202

413

871

25

200

60

344
450
33
30
15

60
-

7
10
6

17
200
4
-

180
80
41
8
27

2015

2016

561
13
70
41
49
4
16
1
5
2
761

222
15
120
41
7
32
5

2017

2018

30
22
3
59
7

5
139
13

268
20
50
22
5
230
11

441

203

1
312

606

598
25

417
30

132
18

215
55

110
50

1
190

40

60
20

83
-

75
-

2019

2020

282
20
75
17
2
294

Total

30
18
2
7

1
691

57

45

200
30

1
117

16
679

2
454

341

3
274

160

48

481

396

45

347

190
24
11
18
6
1
250

543
8
85
1
34
220
4
0
895

404
180
530
33
71
8
42
1,267

1,159
38
70
41
89
4
32
1
5
2
1,440

639
45
120
41
12
32
7
895

132
101
30
22
4
249
7
544

275
75
75
6
139
16
1
586

378
70
50
22
5
230
11
766

282
65
75
17
2
294
1
736

200
30
30
18
2
117
7
404

2,245
202
925
194
123
785
74
1
6
3
4,556
1,957
253
180
140
112
525
58
3,225
4,202
455
180
1,065
194
235
1,309
132
1
6
3
7,781

RUPTL 2011- 2020

5.4.5.2

Neraca Daya

Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat
pada Lampiran A dan Lampiran B.
5.4.5.3

Proyek Proyek Strategis

Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat


meliputi antara lain:
Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang
mengalami kekurangan pasokan tenaga listrik dan untuk mengurangi
pemakaian BBM.
Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi.
Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera,
Sulawesi, Maluku dan Papua yang menjadi andalan pasokan listrik setempat.
PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat
dioperasikan sebagai pembangkit peaking, pembangunan PLTG peaking di
Kaltim dan Sulsel.
PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan
tujuh Kabupaten Baru di Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum
dilayani listrik PLN.
Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan
pembangkit kecil tersebar di wilayah operasi Indonesia Timur.
PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun
2016, sangat strategis untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara,
PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan
sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP.
PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang
listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping
ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC.
Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan
bakar gas yang ada.

RUPTL 2011- 2020

73

5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali


5.4.6.1

Garis Besar Penambahan Pembangkit

Pada Tabel 5.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang
dibutuhkan dalam kurun waktu 2011-2020 di sistem Jawa-Bali.
Tabel 5.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan (periode 20112020) untuk Jawa-Bali adalah 32,2 GW atau pertambahan kapasitas ratarata mencapai 3,2 GW per tahun, termasuk PLTM skala kecil tersebar
sebesar 118 MW dan PLTGB 6 MW.

Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 18,5 GW atau


57,4% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Partisipasi swasta
direncanakan sebesar 13,7 GW atau 42,6%.

PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun,


yaitu mencapai 22,6 GW atau 70,1%, sementara PLTGU gas menempati
urutan kedua dengan kapasitas 2,8 GW atau 8,8%. Untuk energi
terbarukan seperti panas bumi sebesar 2,9 GW atau 8,9% dan
PLTA/PLTM/PS sebesar 2.9 GW atau 9,1%, disusul oleh PLTG 1 GW atau
3.0%.
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW)

Tahun
PLN
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTM
PLTA
PS
PLTGB
Total
IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTM
PLTA
PS
PLTGB
Total
PLN+IPP
PLTU
PLTP
PLTGU
PLTG
PLTM
PLTA
PS
PLTGB
Total

74

2011

2012

2013

3,535

2,965

444

743

2014

1,050

2015

660

2016

660

150

3,708

660

815

1,050

2018

1,000

600

2019

62
1,040

37

2020

Total

600

1,000

750

750
400

450

950

400
210

3,979

2017

3
813

3
873

1,102

1,037

1,000

1,800

3,100

380

1,660
385

3,520
325

2,860
270

600
815

855

165

60
150
9

68

18
47

18

819

819

128

398

2,092

3,845

3,130

1,415

855

183

4,195
594
9
4,798

3,780
743
4
4,527

1,050
60
68
1,178

1,040
150
18
3
1,211

2,320
385
257
3
2,965

3,520
325
62
1,040
4,947

3,860
270
37
4,167

1,200
815
400
2,415

600
855
750
450
2,655

1,000
165
750
400
18
950
3,283

12,070
2,687
950
309
2,440
6
18,462
10,495
2,875
150
100
65
13,685
22,565
2,875
2,837
950
100
374
2,440
6
32,147

RUPTL 2011- 2020

5.4.6.2 Neraca Daya


Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa Bali sampai
dengan tahun 2020 berjumlah 32.023 MW (tidak termasuk PLTM tersebar 118
MW dan PLTGB 6 MW), atau rata-rata sekitar 3.200 MW per tahun. Jumlah
tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN berjumlah 18.456 MW (57,6%)
dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13.567 MW (42,4%). Jadwal dan
kebutuhan masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada 5.16.
Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2013), tambahan pembangkit dari
proyek-proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan (proyek ongoing) berjumlah 10.352 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN berjumlah
8.737 MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No.71/2006 dan
sisanya sebesar 1.625 MW adalah proyek IPP. Selain itu masih ada rencana
Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 yang beroperasi pada 2013 yaitu
PLTP Patuha 60 MW (IPP).
Dalam jangka menengah (2014 2016) tambahan pembangkit yang berupa
proyek PLN berjumlah 2.782 MW, dimana tambahan sebesar 1.040 MW adalah
Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2, sedangkan proyek IPP berjumlah
6.317 MW, dimana 1.100 MW merupakan Proyek Percepatan Pembangkit
Tahap 2. Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 25% karena
mundurnya Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 antara lain PLTU
Indramayu 1x1000 MW, Upper Cisokan Pumped Storage 4x250 MW, PLTU
Madura 2x200 MW dan proyek-proyek panas bumi.
Untuk meningkatkan reserve margin mendekati kriteria keandalan yang
dikehendaki, diperlukan tambahan pembangkit sebesar 3x600 MW pada tahun
2015. Kapasitas tersebut akan dipenuhi oleh 2 unit PLTU IPP kelas 600 MW
dan ekspansi PLTU Lontar 1x660 MW.
Untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek transmisi HVDC
Sumatera-Jawa yang sangat panjang (700 km) dan pembangkitnya di
Sumatera Selatan, dalam RUPTL ini direncanakan tambahan kapasitas
pembangkit di sistem Jawa-Bali pada tahun 2016-2017 sebesar 2x660 MW.
Tambahan kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk PLTU Tanjung Jati A
yang akan dikembangkan oleh PT TJPC atau ekspansi pembangkit eksisting
PLN atau ekspansi IPP atau pembangunan PLTU baru.

RUPTL 2011- 2020

75

Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020

PROYEK
Kebutuhan
Pertumbuhan
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak Bruto

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
GWh
%
MW

125,217
10.4
142,065
78.5
20,672

135,769
8.4
153,721
78.8
22,283

146,787
8.1
165,697
79.1
23,928

158,531
8.0
178,774
79.6
25,635

171,089
7.9
192,747
79.7
27,625

184,550
7.9
207,770
79.7
29,763

197,407
7.0
222,106
79.7
31,801

211,134
7.0
237,404
79.8
33,974

225,848
7.0
253,822
79.8
36,305

241,240
6.8
270,994
79.9
38,742

MW
MW

21,407
17,482
-589
3,925

21,007
17,082
-400
3,925

20,531
16,606
-476
3,925

20,531
16,606
0
3,925

20,531
16,606
0
3,925

20,531
16,606
0
3,925

20,531
16,606
0
3,925

20,531
16,606
0
3,925

20,531
16,606
0
3,925

20,531
16,606
0
3,925

KAPASITAS
Kapasitas Terpasang
PLN
Retired/Mothballed
IPP
PROYEK-PROYEK
PLN
On-going dan Committed Project
Muara Karang Rep Blok 2
Muara Tawar Blok 5
Priok Extension (Blok 3)
Suralaya #8
Labuan
Teluk Naga/Lontar
Pelabuhan Ratu
Indramayu
Rembang
Pacitan
Paiton Baru
Tj. Awar-awar
Cilacap Baru / Adipala
Tanjung Jati B #3-4
Sub Total On-going & Committed
Rencana
PLTGU Tuban/Cepu
Indramayu #4 (FTP2) & #5
Lontar Exp #4
PLTU Bekasi
PLTG Peaker Semarang
PLTG LNG
Karangkates #4-5
Kesamben (Jatim)
Kalikonto-2 (Jatim)
Jatigede (Jabar)
Upper Cisokan PS
Matenggeng PS
Grindulu PS
Sub Total Rencana
Total PLN
IPP
On-going dan Committed Project
Cikarang Listrindo
Cirebon
Paiton #3
Celukan Bawang
Sub Total On-going & Committed
Rencana
Banten
Madura (2x200 MW) FTP2
Sumsel-8 MT
Sumsel-9 MT (PPP)
Sumsel-10 MT (PPP)
*)
PLTU Jawa Tengah (PPP)
PLTU Jawa-1
PLTU Jawa-2
PLTU Jawa-3
PLTP FTP2
PLTP Non FTP2
Rajamandala (FTP2)
Sub Total Rencana
Total IPP
Total Tambahan
TOTAL KAPASITAS SISTEM
RESERVE MARGIN

MW

PLTGU
PLTGU
PLTGU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU

210
234
743
625
315

630
700

350

990
630
630
660
700
660
660
3,664

660
4,023

1,050

PLTGU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTG
PLTG
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA

750
1,000

MW
%

750
1,000

600

600

150
400

400

100
37
62
110
1,040
450
4,023

1,050

150
810

870
870

380
380

1,102
1,102

1,037
1,037

1,000
1,000

1,800
1,800

450
500
3,100
3,100

150
660
815
810

PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTP
PLTP
PLTA

660

3,664

PLTGU
PLTU
PLTU
PLTU

660

815

660
400
1,200
1,200
600
1,000

1,000

660
600
660
325
-

660
160
110

595
220

440
415

165

380
1,190

375
10
47
2,092
2,092
2,962

3,845
3,845
4,947

3,130
3,130
4,167

1,415
1,415
2,415

855
855
2,655

165
165
3,265

32,163

33,353

36,315

41,262

45,429

47,844

50,499

53,764

34

30

31

39

43

41

39

39

60
-

810
4,474

815
4,838

60
60
1,110

27,091

31,529

31

41

Catatan:
- Tanda panah mengindikasikan pergeseran jadwal operasi dari rencana semula (RUPTL 2010-2019) ke jadwal
baru (RUPTL 2011-2020).

76

RUPTL 2011- 2020

Dalam jangka panjang (20172020) jumlah penambahan kapasitas pembangkit


adalah 12.502 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 6.937 MW dan
IPP sebesar 5.565 MW.
Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di Jawa-Bali
terlihat dengan jelas pada tabel 4.14 dimana PLN tidak lagi merencanakan
pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak, kecuali beberapa
pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan
menggunakan bahan bakar minyak atau LNG jika tersedia. Disamping PLTG
peaker tersebut direncanakan tiga buah PLTA Pump Storage sebagai pemikul
beban puncak, yaitu Upper Cisokan di Jawa Barat dengan kapasitas 1.040 MW,
Matenggeng di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah sebesar 900 MW
dan Grindulu di Jawa Timur sebesar 1.000 MW.
Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering
Muara Karang dan Priok dan Muara Tawar Blok 5) direncanakan PLTGU
dengan kapasitas 1.500 MW yang akan menggunakan bahan bakar gas alam
yaitu PLTGU Tuban/Cepu 1.500 MW.
Mengingat pasokan gas ke Muara Tawar yang semakin menurun dan
ketidakpastian pasokan LNG, maka telah dikaji kembali kelayakan dari proyek
PLTGU Muara Tawar Add-on Blok 2-3-4. Berdasarkan hasil kajian peran
pembangkit Muaratawar di sistem Jawa Bali tahun 2012 - 2020, proyek PLTGU
Muara Tawar Add-on 2-3-4 sudah tidak diperlukan lagi. Hasil kajian
menunjukkan bahwa dengan pembangkit Muara Tawar eksisting (total 1.700
MW) dan PLTGU Blok-5 (234 MW) cukup untuk tetap menjaga tegangan di
subsistem Jakarta.
Memperhatikan peran pembangkit Muara Tawar yang penting untuk menjaga
tegangan sistem 500 kV di Jakarta dan memperhatikan pula ketidakpastian
pasoka gas ke Muara Tawar, maka direncanakan PLTU Bekasi 2x600 MW
(2018/2019) yang lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan akan
terhubung ke GITET Muara Tawar.
Neraca daya sistem Jawa-Bali pada tabel 5.14 mencantumkan PLTU Sumsel-8,
Sumsel-9 dan Sumsel-10 yang merupakan PLTU Mulut Tambang di Sumatera
Selatan. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Mulut Tambang tersebut
PLN sedang membangun transmisi 500 kV HVDC interkoneksi Sumatera
Jawa.

RUPTL 2011- 2020

77

5.4.6.3

Proyek-proyek Strategis

Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut:
-

PLTU IPP Jawa Tengah (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis
karena dibutuhkan sistem pada tahun 2016 dan 2017, serta merupakan
proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama
Pemerintah dan Swasta (KPS) dengan PerPres No. 67/2005 jo PerPres
No. 13/2010.

PLTU Indramayu (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis karena


dibutuhkan sistem pada tahun 2017, dan berlokasi relatif dekat dengan
pusat beban industri di sebelah timur Jakarta.

PLTA Pompa Upper Cisokan (1.040 MW). Proyek ini sangat strategis
karena dapat meminimalkan biaya operasi sistem serta memberikan
banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik, antara lain berfungsi
sebagai pembangkit beban puncak, pengatur frekuensi, sebagai spinning
reserve (cadangan putar), memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban
dasar dan memperbaiki load factor sistem.

PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC


Sumatera Jawa dengan kapasitas 3.000 MW. Proyek ini sangat
strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi
kebutuhan tenaga listrik di Jawa dengan memanfaatkan cadangan low
rank coal di Sumatra Selatan. Proyek ini hanya dilaksanakan setelah
kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan cadangan
yang cukup banyak. Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin
sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala
besar di pulau Jawa.

PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya


berada dekat pusat beban Jakarta dan berfungsi untuk menjaga
tegangan di Jakarta serta mengurangi pemakaian BBM/LNG di Muara
Karang, Priok dan Muara Tawar.

5.4.6.4

Regional Balance Sistem Jawa Bali

Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa
Bagian Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 5.16, maka pengembangan proyek pembangkit baru sebaiknya
berlokasi di Jawa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance.

78

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010


Regional Balance

Jawa Bagian
Barat

Jawa Tengah

Jawa Timur dan


Bali

Kapasitas Terpasang (MW)

12.129

3.675

7.102

Tambahan Kapasitas (MW)

300

Total (MW)

12.429

3.675

7.102

Beban Puncak (MW)

11.611

2.890

4.318

7,0

27.1

64.5

Reserve (%)

Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di Jawa bagian barat sebelah timur
(seputar Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon) atau Jawa Tengah sebelah
barat (seputar Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang).
Pada saat ini region Jawa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum
mengalami kendala penyaluran listrik ke arah barat karena adanya transmisi
500 kV jalur selatan. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit baru tidak
mempertimbangkan regional balance, maka pada masa yang akan datang
diperkirakan akan muncul kendala penyaluran. Penerapan regional balance
dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari keperluan untuk
membangun transmisi 500 kV pada jalur baru dari timur ke arah barat pulau
Jawa.
Lokasi PLTU batubara skala besar di pantai selatan pulau Jawa belum
merupakan pilihan prioritas, karena pertimbangan kesulitan transportasi
batubara pada musim-musim gelombang tinggi, diperlukan konstruksi
breakwater yang relatif mahal, risiko tsunami dan gempa bumi yang lebih tinggi.
Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali
dapat dilihat pada Lampiran C1.2.

5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta


Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10
tahun mendatang sangat besar, yaitu mencapai sekitar 33% dari total kapasitas
terpasang. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 5.16 dan
Tabel 5.17.
Pada kedua tabel tersebut, yang dimaksud dengan proyek on going adalah
proyek IPP yang telah memiliki PPA dan secara resmi telah mendapat
RUPTL 2011- 2020

79

pendanaan (financial closure). Sedangkan proyek IPP dalam kategori rencana


meliputi mereka yang telah mempunyai PPA namun belum financial closure.
Ada juga proyek yang baru mendapat HOA sudah dimasukkan dalam kategori
rencana.
Di dalam kategori rencana juga terdapat proyek IPP yang belum ada pemiliknya
namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini sebagai kebutuhan sistem. Proyek
IPP yang statusnya belum mempunyai PPA ini akan diadakan oleh PLN melalui
proses tender kompetitif.
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Nama Pembangkit

Kapasitas
(MW)

Tahun
Operasi

Proyek On Going
PLTA

Poso Energy

PLTM

Goal

PLTM

Kokok Putih

PLTM

Wawopada

PLTU

Simpang Belimbing #1,2

PLTU

Ketapang

PLTU

Banjarsari

PLTU

Sumsel - 2 (Keban Agung)

PLTU

Pangkalan Bun

3 x 65
2 x 1
1 x 4
1 x 4
2 x 114
2 x 7
2 x 114
2 x 113
2 x 6

Nama Pembangkit
PLTM

PLTM Tersebar Sumut

2012

PLTM

Hek

2012

PLTM

Praikalala I

2012

PLTM

Umbuwangu I

2013

PLTM

Wae Roa

2011

PLTM

Lewa

2012

PLTM

Lokomboro III

2014

PLTM

Praikalala II

2015

PLTM

Kukusan

2011

PLTM

Segara Anak

2013

PLTM

Umbuwangu II

2013

PLTM

Waekelosawa

Molotabu

2 x 6
2 x 100
2 x 10

2013

PLTM

Maidang

Tanah Grogot

2 x 6

2013

PLTM

Bambalo III

PLTM

Biak I

PLTU

Gorontalo Energi

PLTU

Jeneponto Bosowa #1,2

PLTU
PLTU

Proyek Rencana
PLTA

Wampu

2014
2015

PLTM

Biak II

Simpang Aur (FTP2)

45
23

PLTA
PLTA

PLTM

Biak III

Semangka

56

2016

PLTM

Ibu

PLTA

Hasang

40

2017

PLTM

Kotaraya

PLTA

Peusangan-4

83

2018

PLTM

Mampueno/Sakita

2 x 8
2 x 50
2 x 45

2015

PLTM

Pakasalo

2016

PLTM

Rea

2016

PLTM

Wae Lega - Manggarai

2013

PLTM

Wolodaesa

2012-2013

PLTM

Ngaoli

2012

PLTM

Wai Nibe

2013

PLTM

Batubota

2012

PLTM

Bintang Bano

2012

PLTM

Bunta

2013

PLTM

Lambangan

2011-2017

PLTM

Mala-2

PLTA

Sawangan

PLTA

Bontobatu (Buttu batu 1) #1,2

PLTA

Malea #1,2

PLTB

Waingapu

PLTG

Aceh

PLTG

Sengkang, Op. Cycle - Unit 2

PLTG

Senipah

PLTGB Putussibau (FTP2)


PLTGB Tanjung Batu (FTP2)
PLTGB Belitung - 2
PLTGB Melak
PLTGB Kotabangun
PLTGB Selayar (FTP 2)
PLTGB Tual
PLTGB Tobelo (FTP2)
PLTGB Larantuka

1 x 1
3 x 22
1 x 60
2 x 40
2 x 4
2 x 4
1 x 5
1 x 6
1 x 3

2012

PLTM

Rhee

2 x 4
2 x 4

2012-2013

PLTM

Walesi Blok II

2013

PLTM

Sita - Borong

2 x 4
2 x 4

2014

PLTP

Lumut Balai (FTP2)

PLTGU Gunung Megang, ST Cycle

1 x 90
1 x 30

PLTGU Sengkang-ST-CC - Unit 3

1 x 120

PLTGU Duri

80

2014-2017

PLTP

Sarulla I (FTP2)

2012

PLTP

Ulubelu #3,4 (FTP2)

2012

PLTP

2013

PLTP

Kapasitas
(MW)
154
1 x 3
1 x 1
1 x 1
1 x 0
2 x 1

Tahun
Operasi
2013-2015
2011
2011
2011
2011
2011-2012

2 x 1
3 x 1

2011-2013

1 x 0
1 x 6

2012

1 x 1
2 x 0
3 x 1

2011-2012
2012
2012
2012-2013
2012-2014

1 x 2
1 x 2

2013

1 x 1
1 x 1

2013

1 x 1
1 x 1
1 x 2
2 x 1
1 x 6
1 x 2
1 x 1
1 x 2
4 x 1
1 x 3
2 x 4
2 x 1
2 x 2
1 x 6
1 x 4
5 x 1
2 x 1
4 x 55
3 x 110

2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013-2017
2013-2017
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014-2015
2014-2015
2014-2015
2015

Lho Pria Laot

2 x 55
1 x 7

Muara Laboh (FTP2)

2 x 110

2017

2017

RUPTL 2011- 2020

Nama Pembangkit
PLTP

Rajabasa (FTP2)

PLTP

Sarulla II (FTP2)

PLTP

Seulawah (FTP2)

PLTP

Sorik Marapi (FTP2)

PLTP

Rantau Dedap (FTP2)

PLTP

Suoh Sekincau

PLTP

G. Talang

PLTP

Bonjol

PLTP

Danau Ranau

PLTP

Jaboi (FTP2)

PLTP

Simbolon Samosir

PLTP

Sipoholon Ria-ria

PLTP

Wai Ratai

PLTP

Jailolo (Ekspansi)

PLTP

Tamboli #1,2

PLTP

Lahendong V (FTP-2)

PLTP

Sokoria (FTP2)

PLTP

Ulumbu

PLTP

Oka Larantuka

PLTP

Lahendong VI (FTP-2)

PLTP

Atadei (FTP2)

PLTP

Jailolo (FTP2)

PLTP

Sokoria

PLTP

Hu'u (FTP2)

PLTP

Lainea #1,2

PLTP

Songa Wayaua (FTP2)

PLTP

Hu'u (Ekspansi)

PLTS

Waingapu

PLTU

Sarolangun

PLTU

IPP Kemitraan

PLTU

Muko Muko

PLTU

Nias

PLTU

Nias (FTP2)

Kapasitas
(MW)
2 x 110

Tahun
Operasi
2017

PLTU

Lombok

1 x 110
1 x 55

2017

PLTU

Maruni / Andai

2017

PLTU

Nabire-Kalibobo

240

Kapasitas
(MW)
2 x 25

Nama Pembangkit

2018

PLTU

Nunukan (FTP2)

2018-2019

PLTU

Kalsel - 1 (FTP2)

2018-2019

PLTU

Kaltim - 2 (FTP2)

1 x 20
165

2019

PLTU

Makbusun / Sorong

2019

PLTU

Merauke-Gudang Arang

110

2019

PLTU

Sulut I - Kema

2 x 5
110

2019

PLTU

Sumbawa Baru I (FTP2)

2019

PLTU

Mamuju (FTP2) #1,2

2019

PLTU

Sulsel-2 (Takalar Punaga) #1,2

2019

PLTU

Luwuk (FTP2)

2020

PLTU

Merauke-Ekspansi

2013

PLTU

Embalut (Ekspansi)

1 x 5
2 x 5
1 x 20
1 x 5
1 x 5

2014

PLTU

Kaltim (PPP)

2015

PLTU

Sulut (PPP)

2015

PLTU

Kalteng - 1

2 x 3
1 x 20

2015-2016

PLTU

Toboali

2015-2017

PLTU

Pontianak - 3

1 x 5
2 x 5
3 x 5
1 x 20
2 x 10
1 x 5

2016

PLTU

Tanjung Pinang 2 (FTP2)

2016-2017

PLTU

Tembilahan

2016-2020

PLTU

Bangka (FTP2)

2017

PLTU

Sumsel - 5

2017

PLTU

Sumsel - 7
Riau Mulut Tambang
Sumsel - 6, Mulut Tambang

2012

PLTU

Jambi (KPS)

2 x 6
2 x 7

2011

PLTU

Pontianak - 2

2013

PLTU

Bau-Bau #1,2

2013

PLTU

Melak (FTP2)

PLTU

Biak (FTP2)
Jayapura-Skouw

2014

PLTU

Kaltim (MT)

2014

PLTU

Kendari Baru I (FTP2) #1,2

Tanjung Pinang 1 (TLB)

2 x 114
2 x 15

2014

PLTU

Kolaka (FTP2) #1,2

TB. Karimun

2 x 7

2014

PLTU

Selat Panjang Baru #1,2

PLTU

Simpang Belimbing #3,4

PLTU
PLTU

2 x 25
2 x 10

2014-2015
2014-2015

2 x 25
2 x 100

2015

2014-2015

2015

2 x 10
1 x 7

2015-2016

1 x 50
2 x 100

2017

2016
2017-2018
2017-2018
2020
2014
2015
2015
2015
2015-2016

2 x 150
2 x 150
2 x 300

PLTU

PLTU

2014-2015

2 x 15
2 x 7
2 x 30

PLTU

2013

2014-2015

2 x 7
2 x 25

2017

2014

2014
2014-2015

2 x 15
2 x 7

2 x 55
2 x 100

2018-2019

2 x 7
2 x 7

2014
2014

2 x 7
2 x 100
2 x 100

2 x 20
1 x 1

2 x 4
1 x 7

2014

2 x 7
2 x 7

2 x 110
2 x 55

1 x 55
1 x 55

Tahun
Operasi

2 x 300
2 x 400

2015-2016
2015-2016
2016-2017
2016-2017
2018-2019

2 x 25
2 x 7

2019-2020

2 x 7
2 x 7

2013-2014

2 x 15
2 x 28

2014

2013
2014
2014

2 x 25
2 x 10

2014
2014

Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali


Nama Pembangkit

Kapasitas
(MW)

Tahun
Operasi

Proyek On Going

Nama Pembangkit

Kapasitas
(MW)

Tahun
Operasi

PLTP Tangkuban Perahu 2

2 x 30

2015-2016

PLTG Cikarang Listrindo

1 x 150

2011

PLTP Patuha

1 x 60
2 x 60

2013
2015

PLTU Cirebon

1 x 660

2011

PLTP Bedugul

1 x 10

2015

1 x 130 +
2 x 125

2014

PLTP Kamojang

1 x 30
1 x 60

2015
2016

1 x 815

2012

PLTP Candi Umbul Telomoyo

1 x 55

2019

PLTP Wayang Windu

1 x 110
1 x 110

PLTU Celukan Bawang


PLTU Paiton 3

Proyek Dalam Rencana

RUPTL 2011- 2020

2015
2017

81

Kapasitas

Tahun

(MW)

Operasi

Kapasitas

Tahun

(MW)

Operasi

PLTU Madura

2 x 200

2015

PLTP Gn Lawu

2 x 55

2019-2020

PLTU Jawa-1

1 x 660

2015

PLTP Karaha Bodas

1 x 30
2 x 55

2015
2016

PLTU Jawa-2

1 x 600

2015

PLTP Guci

1 x 55

2018

1 x 55

2019

PLTU Jawa-3

2 x 660

2016-2017

PLTP Ijen

2 x 55

2019

PLTU Jawa Tengah

2 x 1000

2016-2017

PLTP Wilis/Ngebel

2 x 55

2018

1 x 55

2019

PLTU Banten

1 x 660

2016

PLTP Gn Ceremai

2 x 55

2019-2020

5 x 600

2016-2018

PLTP Gn Endut

1 x 55

2019

1 x 47

2014

PLTP Rawa Dano

1 x 110

2018

PLTP Baturaden

2 x 110

2018-2019

PLTP Arjuno Welirang

2 x 55

2019-2020

Nama Pembangkit

PLTU Sumatera Mulut


Tambang

43

PLTA Rajamandala
PLTP Cibuni
PLTP Dieng

10

2016

1 x 55

2015

1 x 60
2 x 55

2016
2018-2019

1 x 55

2018

PLTP Ungaran

1 x 30
2 x 55

2019
2019-2020

PLTP Rawa Dano

1 x 110

2018

PLTP Tangkuban Perahu 1

2 x 55

2018

Nama Pembangkit

1 x 55

2016

2 x 110

2017-2018

PLTP Tampomas

1 x 45

2018

PLTP Cisolok-Sukarame

1 x 50
2 x 55

2017
2018-2019

PLTP Iyang Argopuro

5.5 PROYEKSI NERACA ENERGI DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR


5.5.1 Sasaran Fuel Mix
5.5.1.1

Fuel Mix 1999-2008

Tabel 5.19 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN


(Persero) dalam sepuluh tahun terakhir. Konsumsi batubara terus meningkat,
namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan gas
yang depleted dari sumbernya, dan karena infrastrukturnya belum tersedia
cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.

43

PLTU Sumatra mulut tambang diperhitungkan sebagai IPP di sistem Jawa Bali karena
sebagian besar produksinya akan ditransfer ke Jawa dengan menggunakan transmisi HVDC.
82

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Tahun

BBM

GAS

Batubara

juta kl

bcf

juta ton

1999

4,70

237

11,41

2000

5,02

229

13,14

2001

5,40

222

14,03

2002

7,00

193

14,06

2003

7,61

184

15,26

2004

8,51

176

15,41

2005

9,91

143

16,90

2006

9,98

158

19,09

2007

10,69

171

21,47

2008

11,32

182

21,00

2009

9,41

266

21,92

2010

9,32

283

23,96

Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terakhir ini adalah fuel-mix
yang terjebak pada pemakaian minyak yang terlalu banyak44, namun produksi
listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik termasuk
pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN. Dalam tahun 2008 komposisi
produksi kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM 36%, batubara 35%, gas
alam 17%, panas bumi 3% dan tenaga air 9%. Dalam RUPTL ini komposisi fuel
mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada Tabel
5.20.

Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis Bahan
Bakar (%)
Tahun

BBM

Batubara

Gas

Tenaga air

Panas Bumi

2011

21,6

50,2

17,3

6,0

4,9

2020

0,8

64,2

16,8

5,8

12,4

Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada Tabel 5.19, RUPTL 2011-2020
merencanakan proyek pembangkit seperti dijelaskan pada Bab 5. Target fuel
mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari pembangkit

44

Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun
masih tetap tinggi sampai sekarang.

RUPTL 2011- 2020

83

listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara, panas bumi dan
PLTGU gas. Pembangkit yang akan dibangun antara lain adalah proyek
percepatan 10.000 MW yang akan menurunkan konsumsi BBM secara
signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik.
Disamping itu konversi pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas
pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN terus mengupayakan tambahan
kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa
kendala. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak
dikembangkan di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.
Pembangunan dan sewa PLTD berbahan bakar BBM sangat dibatasi hanya
untuk mengatasi krisis penyediaan tenaga listrik jangka pendek, dan akan
diganti dengan PLTU batubara skala kecil, kecuali pada sistem kelistrikan yang
terlalu kecil dan terpencil. Opsi LNG juga akan dikembangkan untuk PLTGU
yang berada di Belawan, Jakarta dan Grati.
Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4.3 dan
konfigurasi pembangkit pada butir 4.4, selanjutnya dilakukan simulasi produksi
energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP, dan hasilnya diperlihatkan
pada Tabel 5.21 dan Gambar 5.3.

Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Total Indonesia (GWh)
No.

FUEL TYPE

2011

2012

HSD

29,846

17,346

8,658

4,331

2,549

2,465

2,316

2,261

2,428

MFO

10,037

4,807

2,385

556

44

56

51

65

85

65

Gas

32,017

42,691

46,158

46,002

43,441

43,118

35,657

25,992

28,331

30,879

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020
2,635

LNG

7,578

6,113

10,970

14,817

15,068

20,874

29,394

30,088

31,541

Batubara

93,049

110,043

134,578

151,524

163,311

178,749

193,084

207,868

221,392

238,432

Hydro

11,149

11,204

12,363

12,791

13,841

16,292

17,704

19,349

20,429

21,429

2
63
9,033
185,197

4
63
8,650
202,387

4
63
9,828
220,150

5
63
709
11,939
238,891

6
63
721
19,814
258,606

6
63
733
23,078
279,628

6
63
737
29,405
299,897

6
63
738
36,302
322,038

7
63
314
42,828
345,964

7
63
317
46,005
371,374

6
7
8
9
10

Surya/Hybrid
Biomass
Impor
Geothermal
TOTA L

2013

Pada Tabel 5.21 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang
punggung sistem pembangkitan Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun
mendatang, disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit energi
terbarukan, sementara pembangkit berbahan bakar minyak direncanakan
semakin jauh berkurang. Hal ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi
konsumsi BBM.

84

RUPTL 2011- 2020

Pada tahun 2011 konsumsi BBM masih sebesar 21%, dan direncanakan
menurun menjadi 5% pada 2013 dan <1% pada 2020. Sementara itu kontribusi
batubara akan meningkat dari 50% pada tahun 2011 menjadi 64% pada tahun
2020. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun 2011 adalah 17%, akan
menurun menjadi 8% pada tahun 2020, sedangkan LNG mulai tahun 2012
sebesar 4% dan meningkat menjadi 9% pada 2020%.
400,000

350,000

300,000

GWh

250,000

200,000

150,000

100,000

50,000

2011
Impor

2012

Biomass

2013

Surya/Hybrid

2014
HSD

2015
MFO

2016
LNG

Gas

2017
Batubara

2018

2019

Geothermal

2020
Hydro

Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Total Indonesia (GWh)

Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi
dalam penyediaan listrik yang semakin besar secara signifikan, dimana
kontribusinya sebesar 5% pada 2011 dan akan meningkat menjadi 12% pada
2020.
Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 5.21 diperlukan bahan bakar
dengan volume yang diperlihatkan pada Tabel 5.22.
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia
No.

FUEL TYPE

2011

2012

2013

2014

HSD ( x 10^3 kl )

7,464.3

4,610.8

2,274.6

1,131.8

633.5

595.2

545.7

550.8

589.3

MFO ( x 10^3 kl )

1,604.7

1,190.3

577.3

159.7

34.1

37.3

35.9

39.5

44.8

39.8

Gas (bcf)

329.8

337.8

358.4

365.3

344.3

341.4

277.1

197.7

211.1

227.2

LNG (bcf)

5
6

Batubara (10^3 ton)


Biomass (10^3 ton)

RUPTL 2011- 2020

41,794.7
49

2015

2016

2017

2018

2019

2020
633.0

59.6

47.9

90.8

120.4

122.1

170.7

240.7

248.2

263.7

59,254.3
49

73,788.3
49

82,954.0
49

88,754.9
49

96,002.2
49

101,442.6
49

109,263.6
49

116,691.0
49

125,737.7
49

85

5.5.2 Sistem Jawa-Bali


Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun
2011-2020 berdasarkan jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.23 dan
Gambar 5.5.
Dalam kurun waktu 2011-2020, kebutuhan batubara meningkat 2,4 kali dan
kebutuhan gas alam meningkat 2 kali lipat, sedangkan kebutuhan BBM
menurun drastis karena digantikan oleh LNG/CNG.
Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan
dengan kebijakan pemerintah mengenai diversifikasi energi, yaitu mengurangi
pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan gas.

Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Sistem Jawa-Bali (GWh)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

FUEL TYPE
HSD
MFO
Gas
LNG
Batubara
Hydro
Surya/Hybrid
Geothermal
TOTA L

2011
13,218
4,615
25,085
84,107
6,509

2012
4,856
16
33,292
7,422
94,724
5,271

2013
1,981
35,092
5,418
109,365
5,273

2014
1,823
34,028
5,926
122,695
5,273

2015
216
31,582
9,746
133,097
6,128

2016
232
31,742
9,904
144,080
7,400

2017
114
25,143
15,655
157,303
7,416

2018
120
16,684
24,117
166,606
7,322

2019
139
19,470
24,522
173,466
7,722

2020
140
22,188
25,163
184,786
8,549

8,532
142,065

8,140
153,721

8,568
165,697

9,029
178,774

11,978
192,747

14,412
207,770

16,474
222,106

22,554
237,404

28,504
253,822

30,169
270,995

300,000

250,000

GWh

200,000

150,000

100,000

50,000

2011
HSD

2012
MFO

2013

2014
LNG

2015
Gas

2016
Batubara

2017
Geothermal

2018

2019

2020

Hydro

Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Sistem Jawa-Bali (GWh)

86

RUPTL 2011- 2020

Pada Tabel 5.23 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya,
yaitu 68% dari seluruh produksi pada tahun 2020. Panas bumi mengalami
peningkatan secara signifikan dari 8.532 GWh pada tahun 2011 menjadi 30.169
GWh pada tahun 2020, atau meningkat hampir 4 kali lipat. Sedangkan pangsa
tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem Jawa Bali
sudah sulit untuk dikembangkan. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG)
mengalami peningkatan sejak tahun 2011 menjadi hampir 2 kali lipat pada
tahun 2020. Namun demikian porsi gas alam menurun dari 18% pada 2011
menjadi hanya 8% pada 2020, sedangkan LNG meningkat dari 5% pada 2012
menjadi 9% pada 2020). Hal ini terjadi karena pasokan gas pipa untuk
pembangkit semakin menurun sehingga LNG menjadi alternatif untuk
memenuhi kebutuhan pembangkit walaupun harganya mencapai lebih dari 2
kali lipat dari gas pipa.
Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat
dilihat pada Tabel 5.24. Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai
tahun 2020. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana pengembangan
pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.

Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali


No.
1
2
3
4
5
6

FUEL TYPE
HSD ( x 10^3 kl )
MFO ( x 10^3 kl )
Gas (bcf)
LNG (bcf)
Batubara (10^3 ton)
Biomass (10^3 ton)

2011
3,055.4
307.1
263.8
36,224.5

2012
1,376.7
3.8
247.4
59.6
49,410.2

2013
561.5
262.2
44.5
57,494.3

2014
516.8
260.1
49.6
64,563.8

2015
61.3
240.6
80.2
69,896.8

2016
65.8
241.8
81.5
74,827.0

2017
32.3
187.3
129.1
79,701.8

2018
34.0
123.0
199.4
84,161.2

2019
39.4
141.1
204.1
87,712.1

2020
39.8
159.1
212.1
93,595.0

5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat


Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga
listrik, maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat
diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 51% batubara, 15% gas alam,
12% tenaga air, 2% minyak dan 21% panas bumi seperti diperlihatkan pada
Tabel 5.25 dan Gambar 5.5.
Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatra, dan
Kalimantan Barat diperlihatkan pada Lampiran B.

RUPTL 2011- 2020

87

Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

FUEL TYPE
HSD
MFO
Gas
LNG
Batubara
Hydro
Surya/Hybrid
Biomass
Impor
Geothermal
TOTA L

2011
10,713
2,499
5,114
6,533
3,407

2012
7,458
2,441
7,415
10,531
3,717

2013
3,713
1,148
7,389
17,394
4,745

2014
940
177
7,932
4,324
17,346
5,049

2015
913
3
7,788
4,232
16,854
5,107

2016
834
16
7,502
4,273
20,350
5,569

2017
822
21
6,586
4,317
20,033
6,459

2018
898
35
5,293
4,269
24,096
7,368

2019
982
55
4,820
4,476
29,095
7,362

2020
996
35
4,575
5,030
32,493
7,377

63
63
28,392

63
64
31,689

63
801
35,254

63
709
2,281
38,821

63
721
6,765
42,445

63
733
6,865
46,205

63
737
10,773
49,811

63
738
11,353
54,112

63
314
11,691
58,859

63
317
13,200
64,087

2014

2015

2018

2019

70,000

60,000

50,000

GWh

40,000

30,000

20,000

10,000

2011

2012
Impor

2013

Biomass

HSD

MFO

LNG

2016
Gas

2017
Batubara

Geothermal

2020

Hydro

Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)

Kebutuhan bahan bakar di Luar Jawa dari tahun 2011 sampai dengan tahun
2020 diberikan pada Table 5.26.

Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat


No.

FUEL TYPE

2011

2012

HSD ( x 10^3 kl )

2,869.6

1,923.5

924.7

258.9

248.8

227.6

225.2

247.6

273.1

MFO ( x 10^3 kl )

685.0

665.4

304.3

46.3

0.8

4.0

5.2

8.8

14.1

9.1

Gas (bcf)

52.7

77.1

76.8

84.1

82.5

78.4

67.9

51.5

46.6

43.8

LNG (bcf)

5
6

Batubara (10^3 ton)


Biomass (10^3 ton)

4,225.1
49.1

6,854.6
49.1

2013

11,333.0
49.1

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020
274.9

37.9

37.1

37.5

37.8

37.4

39.4

44.8

11,226.7
49.1

10,819.7
49.1

12,876.8
49.1

12,635.2
49.1

15,307.6
49.1

18,144.8
49.1

19,977.4
49.1

Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 5.26 yang terus menurun
sesungguhnya masih jauh di bawah kebutuhan, hal ini disebabkan oleh adanya
keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN. Sebagai contoh, pasokan gas
88

RUPTL 2011- 2020

untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena
depletion. Idealnya gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat
pembangkit.
Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan
tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.
Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 4,2 juta ton akan meningkat tajam
menjadi 20 juta ton pada tahun 2020, atau sekitar 5 kali lipat untuk 10 tahun
mendatang.

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur


Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga
listrik, maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur
diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 58% batubara, 15% gas alam,
15% tenaga air, 4% minyak dan 7% panas bumi seperti diperlihatkan pada
Tabel 5.27 dan Gambar 5.6.
Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Kalimantan,
Sulawesi, Maluku & Papua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran A.

Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Indonesia Timur (GWh)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

FUEL TYPE
HSD
MFO
Gas
LNG
Batubara
Hydro
Surya/Hybrid
Geothermal
TOTA L

RUPTL 2011- 2020

2011
5,916
2,923
1,818
2,409
1,234
2
438
14,740

2012
5,033
2,351
1,984
156
4,788
2,216
4
446
16,977

2013
2,964
1,236
3,676
694
7,820
2,345
4
458
19,199

2014
1,569
378
4,042
721
11,483
2,469
5
629
21,295

2015
1,421
41
4,071
839
13,360
2,606
6
1,071
23,414

2016
1,399
41
3,874
891
14,319
3,323
6
1,801
25,653

2017
1,380
30
3,928
902
15,748
3,829
6
2,158
27,980

2018
1,242
30
4,016
1,007
17,166
4,659
6
2,395
30,522

2019
1,307
30
4,041
1,090
18,831
5,345
7
2,633
33,283

2020
1,498
30
4,116
1,349
21,153
5,503
7
2,636
36,292

89

40,000

35,000

30,000

GWh

25,000

20,000

15,000

10,000

5,000

2011

2012
Surya/Hybrid

2013

2014

2015

HSD

MFO

LNG

2016
Gas

2017

2018

Batubara

2019

Geothermal

2020

Hydro

Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar


Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh)

Kebutuhan bahan bakar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan
pada Table 5.28

Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur


No.

FUEL TYPE

2011

2012

HSD ( x 10^3 kl )

1,539.2

1,310.6

788.5

356.2

323.5

301.8

288.1

269.2

276.7

318.3

MFO ( x 10^3 kl )

612.7

521.0

273.0

113.5

33.3

33.3

30.7

30.7

30.7

30.7

Gas (bcf)

13.2

13.2

19.3

21.1

21.1

21.3

22.0

23.2

23.5

24.4

LNG (bcf)

3.4

3.2

3.1

3.2

3.8

3.9

4.6

6.8

5
6

Batubara (10^3 ton)


Biomass (10^3 ton)

4,961.0

7,163.5

8,038.3

8,298.4

9,105.6

9,794.8

10,834.0

12,165.3

1,345.1

2,989.5

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan


tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.
Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 1,3 juta ton akan meningkat tajam
menjadi 12,2 juta ton pada tahun 2020, atau sekitar tujuh kali lipat untuk 10
tahun mendatang.

90

RUPTL 2011- 2020

5.6 ANALISIS SENSITIVITAS


RUPTL 20112020 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem
kelistrikan dengan skenario tunggal, karena diperlukan adanya rencana
program pengembangan kapasitas pembangkit, transmisi dan distribusi yang
pasti. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi
di sektor ketenagalistrikan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan
kapasitas.
Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa
variabel ketidakpastian yang di luar kendali PLN, misalnya harga bahan bakar,
harga EPC proyek, proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik, dan lain-lain.
Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana
pengembangan sistem kelistrikan, maka dalam RUPTL ini telah dilakukan
analisis sensitivitas.
Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada, analisis sensitivitas dalam
RUPTL ini hanya dibuat untuk perubahan harga bahan bakar. Hal ini dilakukan
karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling volatile dan dapat
berubah secara cepat dan lebar, sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih
terbatas. Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga
listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis risiko pada Bab 7.
Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 cases di luar base case45
untuk sistem Jawa Bali, karena sistem ini merupakan sistem terbesar di
Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di wilayahwilayah lainnya. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas
diberikan pada Tabel 5.30.

Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas


Harga
Case
Base Case

Crude Oil
US$/barel
95

Coal
US$/ton
80

Gas
US$/mmbtu
6

LNG
US$/mmbtu
10

Case 1

130

80

10

Case 2

95

80

10

Case 3

95

100

10

Case 4

95

80

10

45

Base case adalah case yang diadopsi dalam RUPTL 2011 2020 ini.

RUPTL 2011- 2020

91

Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar


No
1

Case Study

Batubara

Case 1

Case 2

Case 3

Case 4

USD/barrel

95

130

95

95

95

USD/ton

80

80

50

100

80

Gas

USD/mmbtu

LNG

USD/mmbtu

10

10

10

10

10

58.063

58.090

55.542

65.338

59.550

100

100

96

113

103

Objective Function

Juta USD
%

Base
Case

Harga bahan bakar


Crude Oil

Satuan

Penambahan Kapasitas
PLTU

MW

24.800

24.800

28.800

16.800

29.800

PLTGU

MW

6.750

6.750

3.000

15.000

3.000

PLTG

MW

1.800

1.800

1.600

1.600

600

MW

33.350

33.350

33.400

33.400

33.400

Jumlah

Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak kenaikan harga minyak mentah


terhadap rencana pengembangan sistem, Case 2 untuk melihat dampak
penurunan harga batubara, Case 3 untuk melihat pengaruh kenaikan harga
batubara, dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas.
Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak
menjadi US$130 tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis, kapasitas dan
jadwal), dan hanya sedikit menaikkan nilai objective function biaya
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.30. Hal ini dapat dimengerti karena
porsi pemakaian BBM memang sangat kecil, yaitu hanya 1% dari fuel mix pada
tahun 2020, dengan demikian RUPTL ini tidak sensitif terhadap perubahan
harga minyak.
Sementara penurunan harga batubara dari $80 menjadi $50 pada Case 2 akan
menambah kapasitas PLTU batubara dari 24.800 MW (base case) menjadi
28.800 MW (Case 2), dengan mengambil alih pembangkit berbahan bakar gas
(PLTGU). Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif terhadap
penurunan harga batubara. Namun banyaknya PLTU batubara akan
menyebabkan pembangkit yang seharusnya memikul beban dasar menjadi
beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian daripadanya akan
mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.
Sebaliknya jika harga batubara naik dari $80 menjadi $100 (Case 3), maka
kapasitas PLTU batubara hanya akan menurun dari 24.800 MW (base case)

92

RUPTL 2011- 2020

menjadi 16.800 MW dan peranannya digantikan dengan pembangkit berbahan


bakar gas.
Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4), maka kapasitas
pembangkit batubara akan naik tajam dari 24.800 MW (base case) menjadi
29.800 MW. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensitif terhadap
kenaikan harga gas. Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana
combined cycle plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit
lainnya. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6, maka combined cycle tidak
dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $80, dan
peranan pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara.

5.7 PROYEKSI EMISI CO2


Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2011-2020, sebagaimana dapat
dilihat pada butir 2.2 mengenai kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit
dan butir 5.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit, belum
memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai salah satu variabel biaya. Namun
demikian, RUPTL ini tidak mengabaikan aspek emisi CO2. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam
sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah.
Penggunaan teknologi boiler supercritical di pulau Jawa juga membuktikan
bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi emisi CO2 dari pembangkitan
tenaga listrik.
Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan
dikonversi menjadi emisi CO2 (dalam ton CO2) dengan menggunakan faktor
pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC46.

5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost)


Pengembangan pembangkitan yang semata-mata berdasarkan prinsip leastcost tanpa mempertimbangkan intervensi kebijakan pemerintah seperti
pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan

46

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2006 IPCC Guidelines for National
Greenhouse Gas Inventories.
RUPTL 2011- 2020

93

rencana pengembangan pembangkit yang sangat didominasi oleh PLTU


batubara. Rencana pengembangan ini selanjutnya disebut sebagai baseline.
5.7.1.1

Sistem Jawa Bali

Gambar 5.8 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan oleh skenario
baseline untuk sistem Jawa Bali.
MW

milliontCO2
250.0

70,000

225.0

60,000

200.0
50,000

175.0
150.0

40,000

125.0
30,000

100.0
75.0

20,000

50.0
10,000

25.0

2010

COAL

2012

OIL

GAS

2014

GEOTHERMAL

2016

2018

HYDRO

2020

NUCLEAR

EMISI

Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Jawa Bali
Skenario Baseline

Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Jawa Bali


akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar
27.000 MW dengan produksi mencapai 72,8% dari total produksi pada tahun
2020. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai
236 juta ton CO2.
Tabel 5.31 menunjukkan komposisi bauran energi (energy mix) pada tahun
2010, 2016 dan tahun 2020. Dapat dilihat pada tabel tersebut bahwa energi
terbarukan khususnya panas bumi tidak kompetitif melawan pembangkit fosil,
sehingga tidak terjadi penambahan kapasitas PLTP secara signifikan (hanya
PLTP existing dan committed projects).

94

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh)
Unit

2010

2016

2020

Coal

GWh

Oil

Portion
(%)

84,728

151,929

235,452

72.8

GWh

206

20

0.1

Gas

GWh

30,087

59,029

67,023

20.8

Geothermal

GWh

6,641

8,110

8,110

2.5

Hydro

GWh

7,813

8,893

12,262

3.8

Nuclear

GWh

Total
Production

GWh

129,475

227,965

322,867

100

Objective
Function

Mill.
USD

14,616

46,430

62,575

JutatCO2
220.0
200.0
180.0
160.0
140.0
120.0
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0

2009

2010

2011

2012
Batubara

2013
Gas

2014
LNG

2015
HSD

2016

2017

2018

2019

MFO

Gambar 5. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali Skenario Baseline

5.7.1.2

Sistem Sumatera

Gambar 5.10 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan dalam
skenario baseline untuk sistem Sumatera.
Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Sumatera
akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar
2.000 MW, PLTGU gas alam sebesar 800 MW, PLTGU LNG 400 MW dan
IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) sebesar 400 MW pada tahun
RUPTL 2011- 2020

95

2020. PLTP tidak kompetitif secara ekonomis, sehingga dalam baseline ini
hanya tercantum proyek-proyek PLTP yang telah committed. Emisi CO2 yang
dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28,8 juta ton CO2.
Tabel 5.32 menunjukkan komposisi bauran energi pada tahun 2010, 2016 dan
tahun 2020.
Capacity of
Facilities, MWe

Million tCO2

12,000

35.0

30.0

10,000

25.0
8,000
20.0
6,000
15.0
4,000
10.0
2,000

5.0

0.0
2010

2012

2014

2016

2018

2020

COAL

GAS

LNG

MFO

HSD

GEO

IGPP

HYD

PUMP

Emission

Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem


Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline

Produksi listrik tahun 2020 berdasarkan energi primer dalam skenario baseline
sistem Sumatera adalah 60,2% untuk batubara, 13,6% untuk tenaga air, 10,1%
untuk panas bumi, 9,8% untuk gas, 6,0% untuk gasifikasi batubara dan hanya
0,2% untuk bahan bakar minyak.
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh)
Unit

2010

2016

2020

Portion(%)

Coal

GWh

5.731

19.026

27.207

60,2

Oil

GWh

3.642

15

103

0,2

Gas

GWh

5.382

3.729

4.437

9,8

CoalGasification

GWh

2.735

6,0

Geothermal

GWh

4.588

4.588

10,1

Hydro

GWh

3.608

4.925

6.161

13,6

TotalProduction

GWh

18.363

32.283

45.231

100,0

Million
USD

513

713

1.031

Construction
Cost

96

RUPTL 2011- 2020

JutatCO2
40
35
30
25
20
15
10
5
0
2010

2011

2012

2013

2014

Batubara

Gas

2015

LNG

2016

MFO

2017

2018

2019

HSD

Gambar 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera Skenario Baseline

5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020


Pemerintah telah menetapkan Perpres No. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM
No. 15 tahun 2010 mengenai Program Percepatan Pembangkit Tahap 2.
Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan menggunakan energi
terbarukan, khususnya panas bumi. Dengan adanya intervensi kebijakan
pemerintah mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya
akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sedikit berbeda
dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO2.
5.7.2.1

Emisi CO2 Indonesia

Gambar 5.12 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi
listrik Indonesia dilakukan dengan fuel mix seperti pada Gambar 5.4. Dari
Gambar 5.12 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia akan meningkat dari
141 juta ton pada 2011 menjadi 276 juta ton pada tahun 2020. Dari 276 juta ton
emisi tersebut, 245 juta ton (89%) berasal dari pembakaran batubara.

RUPTL 2011- 2020

97

JutatCO2
300
275
250
225
200
175
150
125
100
75
50
25
0
2011

2012

2013

Biomass

2014

2015

2016

2017

2018

2019

HSD

MFO

LNG

Gas

Batubara

2020

Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia)

Average grid emission factor47 untuk Indonesia pada tahun 2011 adalah
0,763 kgCO2/kWh, akan meningkat menjadi 0,8 kgCO2/kWh pada 2013-2014
dan selanjutnya akan menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan
PLTA sehingga average grid emission factor pada tahun 2020 menjadi 0,745
kgCO2/kWh.
5.7.2.2

Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali

Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.13.
Emisi naik dari 110 juta ton pada 2011 menjadi 205 juta ton pada 2020, atau
naik hampir 2 kali lipat. Grid emission factor membaik dari 0,778 kgCO2/kWh
pada 2011 menjadi 0,756 kgCO2/kWh pada 2020. Perbaikan faktor emisi ini
dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam, panas bumi dan penggunaan
teknologi supercritical.

47

Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh]

98

RUPTL 2011- 2020

JutatCO2
225
200
175
150
125
100
75
50
25
0
2011

2012

2013

2014

Biomass

HSD

2015

MFO

2016

LNG

2017

2018

Gas

2019

2020

Batubara

Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali

5.7.2.3

Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat

Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan


pada gambar 5.14. Emisi naik dari 21 juta ton menjadi 45 juta ton, atau naik
sekitar 2 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0,749 kgCO2/kWh pada
2011 menjadi 0,856 kgCO2/kWh pada 2013 dan berangsur-angsur menurun
menjadi 0,704 kgCO2/kWh pada 2020. Faktor emisi yang membaik ini
disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
JutatCO2
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
2011

2012

2013

Biomass

2014

HSD

2015

MFO

2016

LNG

2017

2018

Gas

2019

2020

Batubara

Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat

RUPTL 2011- 2020

99

5.7.2.4

Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur

Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan


pada Gambar 5.15. Emisi naik dari 9,4 juta ton pada 2011 menjadi 26,5 juta ton
pada 2020, atau naik 2,8 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0,641
kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0,784 kgCO2/kWh pada 2014 dengan
masuknya PLTU skala kecil di 70 lokasi, dan berangsur-angsur menurun
menjadi 0,731 kgCO2/kWh pada 2020. Faktor emisi yang membaik ini
disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
JutatCO2
30
25
20
15
10
5
0
2011

2012

2013

Biomass

2014

HSD

2015

MFO

2016

LNG

2017

2018

Gas

2019

2020

Batubara

Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur

5.8 PROYEK CDM (CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM)


Sesuai Misi PLN menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan,
dan dengan komitmen nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca
(GRK), PLN akan melakukan upaya pengurangan emisi GRK dari semua
kegiatan ketenagalistrikan (pembangkit, transmisi, gardu induk dan distribusi).
PLN akan menggunakan peluang yang diberikan oleh Protokol Kyoto (PK),
yaitu peluang bagi Negara Non Annex I untuk mendapatkan kredit dari upaya
pengurangan emisi GRK melalui mekanisme CDM (Clean Development
Mechanism) yang akan berlaku dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012
sesuai dengan masa berlakunya Protokol Kyoto dan kesepakatan yang akan
dicapai oleh para pihak untuk pasca tahun 2012.

100

RUPTL 2011- 2020

Implementasi CDM akan diterapkan untuk semua kegiatan di lingkungan PLN


yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi proyek CDM di sisi
pembangkitan, transmisi/gardu induk dan distribusi.
Kebijakan pengembangan proyek CDM di unit-unit PLN termasuk penjualan
CER-nya dilakukan secara terpusat, sedangkan Anak Perusahaan dapat
mengelola dan mengembangkan proyek CDM sendiri dengan melakukan
koordinasi dengan PLN Pusat.
Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan pentingnya CDM dan melakukan
assessment beberapa potensi proyek CDM, dan hasilnya hingga saat ini PLN
telah menandatangani 5 ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements).
Selain itu PLN juga mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM
(Voluntary Carbon Mechanism), dimana saat ini sudah ada 3 proyek yang telah
selesai proses validasinya sesuai VCS (Voluntary Carbon Standard). Daftar
proyek PLN yang dikembangkan melalui mekanisme CDM dan VCM dapat
dilihat pada Tabel 5.33.
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM dan VCM
No

Nama Proyek

Lokasi

Emission
Reduction
Mechanism

Status Saat
Ini

Annual Project
Emission
Reduction
(tCO2e/year)

PLTP Kamojang IV (60 MW)

Jawa Barat

CDM

Registered

402,780

PLTP Lahendong II (20 MW)

Tomohon, Minahasa,
Sulawesi Utara

CDM

Registered

66,713

PLTP Lahendong III (20 MW)

Tomohon, Minahasa,
Sulawesi Utara

CDM

PDD
Development

50,663

PLTA Genyem (20 MW)

Papua

CDM

PDD
Development

50,000

PLTM Lobong (1,6 MW),


Mongango (1,2 MW),
Merasap (1,5 MW)

Kalimantan Barat,
Gorontalo, dan
Sulawesi Utara

CDM

PDD
Development

8,749

PLTMG Bontang (14 MW)

Kalimantan Timur

CDM

Under
validation

21,282

PLTA Sipansihaporas (50


MW)

Sumatra Utara

VCS

Validation
completed

159,596

PLTA Lau Renun (82 MW)

Sumatra Utara

VCS

Validation
completed

229,048

PLTA Musi (210 MW)

Bengkulu

VCS

Validation
completed

847,020

RUPTL 2011- 2020

101

5.9 PENGEMBANGAN SISTEM PENYALURAN DAN GARDU INDUK


Pada periode 2011-2020 pengembangan sistem penyaluran masih berupa
pengembangan sistem dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem JawaBali serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia
Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan saluran transmisi secara umum
diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di
sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Disamping itu juga
sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan
pelayanan.
Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa pada umumnya dimaksudkan untuk
mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun expansion,
menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik. Khusus untuk
pasokan ke sistem Jakarta, pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan
menggunakan jalur transmisi 150 kV atau 70 kV. Sedangkan pengembangan
transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan sebagai
transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru.
Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk mentransfer
tenaga listrik dari pembangkit mulut tambang di Sumbagsel dan Riau ke
Sumbagut. Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di sekitar konverter
transmisi HVDC di Sumatera sebagai feeder pemasok listrik dari pembangkit
mulut tambang.
Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2020
diproyeksikan sebesar 114.554 MVA untuk pengembangan gardu induk serta
49.192 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel
5.34 dan Tabel 5.35.
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia
Satuan kms

TRANSMISI

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500 kV AC

82

172

374

12

459

738

538

170

40

40

2,625

500 kV DC

1,100

1,100

275 kV

642

2,172

774

1,532

110

130

5,360

250 kV DC

462

462

3,717

5,754

7,812

6,813

3,573

2,541

2,211

1,873

972

1,016

36,282

168

1,254

370

1,206

334

3,333

3,967

7,822

10,729

8,805

5,565

4,951

3,083

2,173

1,012

1,056

49,162

150 kV
70 kV
TOTAL

102

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia


Satuan MVA

TRAFO

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2,000

2020

Total

500/275 kV

1,000

3,000

500/150 kV

8,660

1,830

5,000

2,000

4,000

5,500

3,500

500

1,500

1,000

33,490

500 kV DC

3,000

3,000

275/150 kV

1,000

270

5,090

2,000

1,250

500

500

250

10,860

250 kV DC

600

600

150/70 kV

60

60

123

60

60

363

150/20 kV

9,746

11,220

4,670

6,200

4,140

5,340

4,470

4,920

4,600

4,580

59,886

70/20 kV
TOTAL

715

640

410

260

270

180

150

210

290

230

3,355

20,181

14,020

15,293

10,460

9,720

15,680

8,620

8,130

6,390

6,060

114,554

5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia


Barat
Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2020 akan
banyak mengubah topologi jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi
275 kV dan 500 kV di Sumatera. Pengembangan juga banyak dilakukan untuk
memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo.
Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga
terdapat di beberapa sistem, antara lain rencana pembangunan sirkit kedua
dan reconductoring beberapa ruas transmisi di sistem Sumbagut dan
Sumbagsel.
Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan
terlaksana pada tahun 2012. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu
induk dan transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel
ke sistem interkoneksi (dedieselisasi), yaitu di sistem Sumbar-Riau, Sumbagsel
dan Kalbar.
Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat
hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 29.450 MVA untuk pengembangan
gardu induk (500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 21.150 kms
pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.36 dan Tabel 5.37.
Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain:
Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan
Sumatera Bagian Utara jalur barat dan jalur timur.

RUPTL 2011- 2020

103

Proyek transmisi 500 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan


Sumatera Bagian Utara jalur timur.
Interkoneksi Batam Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk
memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga
listrik dari Batam48 dengan mempertimbangkan rencana pengembangan
pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian
Bintan49. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya
dengan perluasan wilayah usaha PLN Batam.
Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi
dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga, meliputi interkoneksi
Sumatera-Malaysia (HVDC 250 kV)50 dan Kalimantan Barat-Sarawak (275
kV HVAC). Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan
ASEAN Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN
Power Grid yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Perpres
No. 77/2008.
1. Interkoneksi Sumatera Malaysia direncanakan beroperasi 2017
dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari tukar menukar
tenaga listrik antara Sumatera dan Malaysia pada jam-jam tertentu. Pada
saat peak load di Sumatera (malam hari) PLN menerima tenaga listrik
dari Malaysia yang pada saat yang sama sedang dalam kondisi off peak.
Pada saat off peak di Sumatera (siang hari) PLN mengirim tenaga listrik
ke Malaysia yang pada saat yang sama sedang meningkatkan keandalan
sistem Sumatera.
2. Interkoneksi Kalbar Serawak direncanakan beroperasi 2014
dimaksudkan untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN
khususnya pada waktu beban puncak sampai dengan tahun 2019 untuk
menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak. Selain itu terbuka
kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban
puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat
terlambat. Setelah tahun 2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli

48

Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih
banyak menggunakan pembangkit BBM.
49
Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN
Batam.
50
Pemilihan level tegangan 250 kV HVDC bipolar ini masih terbuka kemungkinan untuk
diubah ke 500 kV HVDC monopolar.
104

RUPTL 2011- 2020

tenaga listrik selama waktu beban puncak karena semua pembangunan


pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai.
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
Satuan kms

TRANSMISI

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500 kV AC

150

150

500 kV DC

800

800

275 kV

160

2,172

774

1,532

110

130

4,878

250 kV DC
150 kV

462

462

694

1,643

4,318

2,499

1,486

1,371

790

387

382

740

14,310

70 kV
TOTAL

310

240

550

694

2,113

6,490

3,513

3,018

2,743

790

667

382

740

21,150

Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Satuan MVA

TRAFO

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500/275 kV

1,000

2,000

3,000

500/150 kV

500 kV DC

3,000

3,000

275/150 kV

1,000

5,000

2,000

1,250

500

500

250

10,500

250 kV DC

600

600

150/70 kV

150/20 kV

960

2,750

2,170

1,350

840

810

870

810

570

750

11,880

70/20 kV

30

260

30

60

30

30

30

470

1,990

3,010

7,200

3,410

2,090

5,440

1,370

3,340

600

1,000

29,450

TOTAL

5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia


Timur
Pengembangan sistem transmisi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
meliputi pembangunan transmisi dan gardu induk 275 kV, 150 kV dan 70 kV. Di
wilayah Maluku, Papua dan Nusa Tenggara sedang dilaksanakan
pembangunan transmisi 70 kV dan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU
batubara di wilayah tersebut, sementara di wilayah Sulselrabar sedang
dibangun transmisi 275 kV dari PLTA Poso ke Palopo. Pada tahun 2013 sistem
Sulawesi Tengah, sistem Sulawesi Tenggara dan sistem Sulawesi Selatan
akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 275 kV dan 150 kV.
Evakuasi daya dari rencana PLTU sewa di Balikpapan dan Asam-Asam akan
menyebabkan kondisi bottleneck di beberapa ruas transmisi di sistem Kalsel

RUPTL 2011- 2020

105

dan Kaltim. Untuk mengatasi kondisi tersebut direncanakan reconductoring


pada ruas-ruas tersebut.
Rencana pengembangan interkoneksi tegangan tinggi antar pulau di area
Indonesia Timur meliputi interkoneksi pulau Laut Kalsel ,interkoneksi pulau
Seram Ambon dan interkoneksi Sultra pulau Muna pulau Buton, namun
implementasi rencana interkoneksi tersebut tergantung pada kelayakan dari
hasil studi dasar laut.
Wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur akan terinterkoneksi melalui
jaringan transmisi 150 kV pada tahun 2012.
Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 9.188 MVA untuk pengembangan
gardu induk (275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 16.434 kms pengembangan
jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.38 dan Tabel 5.39.
Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Timur antara lain:
Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Kalselteng Kaltim
Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Sulut Gorontalo.

Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur


Satuan kms

TRANSMISI

2011

275 kV
150 kV
70 kV
TOTAL

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

482

482

1,515

2,161

2,837

2,752

494

168

834

370

866

1,683

3,477

3,207

3,618

495

680

1,247

1,144

380

170

13,379

334
680

1,581

2,573
1,144

380

170

16,434

Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur


Satuan MVA

TRAFO

2011

275/150 kV

2012
270

2013

150/70 kV

60

60

123

870

760

940

TOTAL

2015

2016

2017

2018

2019

2020

90

150/20 kV
70/20 kV

2014

Total
430

950

60

60

450

540

363
630

480

730

320

6,670

245

260

300

140

270

120

120

90

80

170

1,795

1,175

1,350

1,453

1,090

780

720

750

570

810

490

9,188

5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali


Pada Tabel 5.40 dan Tabel 5.41 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas
penyaluran dan gardu induk di sistem Jawa-Bali.
106

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali


Satuan kms

TRANSMISI
500 kV AC

2011

2012

2013

2014

2015

82

172

374

12

459

1,509

1,950

657

1,562

1,593

110

1,591

2,232

500 kV DC
150 kV

738

2017

2018

2019

2020

490

20

40

40

2,475

174

342

210

106

8,593

300

100
1,031

1,674

Total

538

300

70 kV
TOTAL

2016

210
2,052

1,528

712

362

250

146

11,578

Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali


Satuan MVA

TRAFO

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

500/150 kV

8,660

1,830

5,000

2,000

4,000

5,500

3,500

500

1,500

1,000

33,490

7,916

7,710

1,560

3,900

2,850

3,990

2,970

3,630

3,300

3,510

41,336

30

30

90

180

60

1,090

6,850

9,520

6,500

4,220

4,980

4,570

75,916

150/70 kV
150/20 kV
70/20 kV
TOTAL

Total

440

120

80

60

17,016

9,660

6,640

5,960

Dari Tabel 5.40 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2020 akan dibangun
transmisi 500 kV AC sepanjang 2.475 kms. Transmisi tersebut dimaksudkan
untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Suralaya Baru dan
PLTU Adipala (tahun 2011, 2014), PLTU Paiton Expansion dan PLTU IPP
Tanjung Jati Expansion (2011,2012), PLTU Jawa Tengah Infrastruktur dan
PLTU Indramayu (2016/2017, 2017), Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke
pusat beban di Bali (2015), PLTGU baru (2019/2020) dan pumped storage
Upper Cisokan (2016), Matenggeng dan Grindulu (2019/2020, 2020). Selain itu
dibangun juga transmisi 500 kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan
Jakarta seperti Balaraja-Kembangan dan Kembangan-Durikosambi-Muara
Karang.
Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 5.41 merupakan
perkuatan grid yang tersebar di Jawa, utamanya seputar Jabotabek.
Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5.40 adalah transmisi HVDC interkonesi
Sumatra Jawa, di sini hanya diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead
line yang berada di pulau Jawa, selebihnya diperhitungkan sebagai
pengembangan sistem transmisi Sumatra.
Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi, bahkan
di sistem 70 kV di Jawa Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait
dengan proyek percepatan pembangkit 10.000 MW. Rencana pada Tabel 5.40
RUPTL 2011- 2020

107

hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok


konsumen besar dan saluran distribusi khusus. Program pemasangan trafotrafo 150/70 kV dan 70/20 kV pada tabel tersebut juga hanya merupakan
relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur.
Beberapa proyek transmisi strategis di Jawa-Bali antara lain:
Kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 tahun 2012.
Pembangunan kabel laut Jawa-Bali sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat
menekan pemakaian BBM di Bali dalam jangka pendek. Dengan adanya
transfer energi dari sistem Jawa melalui kabel laut Jawa-Bali #1-4 sebesar
300 MW (mempertimbangkan N-1), akan diperoleh penghematan biaya
bahan bakar sebesar Rp 2,23 triliun selama 20 bulan operasi (Mei 2012Desember 2013) hingga beroperasinya Jawa-Bali Crossing 150 kV. Apabila
dibandingkan dengan biaya investasi (EPC cost) sebesar Rp 410 miliar,
maka penghematan biaya bahan bakar yang diperoleh masih jauh lebih
besar.
SUTET Durikosambi Muara Karang.
GITET Cawang Baru dan GITET Muara Karang.
Pembangunan SUTET 500 kV Paiton New Kapal termasuk overhead line
500 kV / submarine cable 500 kV menyeberangi selat Bali (Jawa Bali
Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali. Tahap
pertama pada tahun 2013 beroperasi 150 kV dan tahap kedua pada tahun
2015 beroperasi 500 kV. Pembangunan JBC ini berpotensi menghasilkan
saving sebesar USD 617 juta (NPV) selama 20 tahun bila dibandingkan
dengan membangun pembangkit di Bali.
Proyek transmisi SUTET 500 kV tx Ungaran-Pemalang-MandirancanIndramayu tahun 2014.
Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3,000 MW Sumatra - Jawa
berikut GITET Xbogor - Incomer (Tasik - Depok dan Cilegon Cibinong)
untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di Sumatra Selatan ke
sistem Jawa Bali tahun 2016.

108

RUPTL 2011- 2020

5.10

PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI

Rencana pengembangan sistem distribusi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel


5.42. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia hingga tahun 2020 adalah
sebesar 208.607,4 kms jaringan tegangan menengah, 225.404,4 kms jaringan
tegangan rendah, 37.431,2 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.
Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta
untuk menampung tambahan sekitar 27,3 juta pelanggan.
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia
2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Jumlah

Indonesia
Jaringan TM

kms

18,425.4

18,573.2

18,066.9

19,716.4

18,435.1

20,332.9

21,750.3

23,088.1

24,497.2

25,721.9

208,607.4

Jaringan TR

kms

17,666.1

21,080.5

21,666.1

23,554.7

20,683.5

21,688.2

22,759.8

24,172.2

25,488.9

26,644.4

225,404.4

Trafo Distribusi

MVA

3,227.4

3,721.1

3,841.1

4,038.6

3,267.0

3,590.3

3,707.9

3,965.9

4,066.2

4,005.7

37,431.2

ribu plgn

3,813.4

2,460.4

2,622.6

2,739.8

2,739.9

2,749.6

2,626.2

2,655.4

2,638.7

2,250.7

27,296.6

Tambahan Pelanggan

5.10.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur


Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat dapat dilihat pada Tabel 5.43. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia
Barat hingga tahun 2020 adalah sebesar 62.980,0 kms jaringan tegangan
menengah, 69.454,7 kms jaringan tegangan rendah, 14.593,8 MVA tambahan
kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk
mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 6,5 juta
pelanggan.
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat
2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Jumlah

Indonesia Barat
Jaringan TM

kms

5,642.8

5,592.1

6,429.6

6,982.3

5,563.1

5,956.7

6,334.3

6,708.2

6,920.2

6,850.5

62,980.0

Jaringan TR

kms

6,398.7

6,128.0

7,152.3

7,780.3

6,159.0

6,543.5

6,896.5

7,332.6

7,539.2

7,524.5

69,454.7

Trafo Distribusi

MVA

1,414.4

1,389.8

1,865.1

2,077.8

1,232.3

1,298.4

1,364.8

1,418.0

1,368.5

1,164.9

14,593.8

ribu plgn

1,135.4

651.7

661.0

669.7

572.1

542.6

539.9

555.6

573.0

593.0

6,494.1

Tambahan Pelanggan

Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia


Timur dapat dilihat pada Tabel 5.44. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah
Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 adalah sebesar 74.784,0 kms
jaringan tegangan menengah, 65.099,5 kms jaringan tegangan rendah, 8.216,7
MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan
untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar
5,3 juta pelanggan.
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur

RUPTL 2011- 2020

109

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Jumlah

Indonesia Timur
Jaringan TM

kms

5,047.6

5,790.7

6,161.3

7,012.3

6,671.8

7,072.7

7,851.1

8,667.8

9,668.5

10,840.2

74,784.0

Jaringan TR

kms

4,045.9

6,189.7

6,761.2

7,744.5

5,943.1

5,922.7

6,343.1

6,803.2

7,371.9

7,974.2

65,099.5

Trafo Distribusi

MVA

693.4

885.5

787.4

757.9

748.4

763.1

814.9

859.0

917.2

989.7

8,216.7

1,406.2

375.9

384.4

396.7

415.8

409.8

441.9

463.7

481.9

519.8

5,296.1

Tambahan Pelanggan

ribu plgn

Interkoneksi Antarpulau
Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan
daratan pulau besar dan sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM,
direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut 20 kV atau 70 kV,
yaitu:

Pulau Laut (Kotabaru) - Batulicin dengan kabel laut 20 kV

Kaltim - Pulau Nunukan Sebatik dengan kabel laut 20 kV

Kendari - Pulau Muna - Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150
kV.

Bitung Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV

Ambon Haruku - Seram dengan kabel laut 70 kV, Haruku-Saparua KL


20 kV

Pulau Ternate Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV

Lombok - Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV

Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV

Bali Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV

Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian


kelayakan meliputi keekonomian, enjiniring dan studi dasar laut (seabed study)
meliputi: route, peletakan kabel, lingkungan, struktur dasar laut, dan lain
sebagainya.

5.10.2 Sistem Jawa-Bali


Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan
energi listrik dapat diproyeksikan seperti pada Tabel 5.45.
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali
2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Jumlah

7,735.0

7,190.4

5,475.9

5,721.8

6,200.2

7,303.5

7,564.9

7,712.1

7,908.4

8,031.2

70,843.4

Jawa-Bali
Jaringan TM

kms

Jaringan TR

kms

7,221.5

8,762.7

7,752.6

8,029.8

8,581.4

9,222.0

9,520.2

10,036.4

10,577.8

11,145.7

90,850.3

Trafo Distribusi

MVA

1,119.6

1,445.8

1,188.6

1,202.9

1,286.4

1,528.7

1,528.2

1,688.8

1,780.5

1,851.0

14,620.7

ribu plgn

1,271.7

1,432.7

1,577.2

1,673.4

1,752.0

1,797.2

1,644.4

1,636.1

1,583.8

1,137.8

15,506.4

Tambahan Pelanggan

110

RUPTL 2011- 2020

Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2011 sampai dengan 2020
untuk sistem Jawa Bali diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah
sebanyak 70.843,4 kms, jaringan tegangan rendah 90.850,3 kms, kapasitas
trafo distribusi 14.620 MVA dan jumlah pelanggan 15,5 juta.
5.11

PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN

Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh
28 Satuan Kerja Listrik Desa / Satker Lisdes, dimana untuk 24 Satker Lisdes
tersebut berada pada masing-masing provinsi, kecuali untuk 4 Satker Lisdes
merupakan gabungan dua provinsi seperti: Satker Lisdes Riau & Riau
Kepulauan, Jawa Tengah & Yogyakarta, Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat,
serta Papua & Papua Barat.
Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan
rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik, dengan mengacu pada sasaran
Rencana Pembangunan Jangka Menengah/RPJM tahun 2010-2014, yaitu
untuk rasio elektrifikasi dari 67,2% tahun 2010 menjadi sebesar 80% di tahun
2014, dan untuk rasio desa berlistrik 94,6% tahun 2010 menjadi sebesar
98,9% di tahun 2014. Rekap program listrik perdesaan 2011-2014 dan
investasinya dapat dilihat pada Tabel 5.46 dan Tabel 5.47.
Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas, juga bertujuan
untuk:

Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan

Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan

Mendorong
pedesaan

Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh


informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya.

Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga


akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

produktivitas

ekonomi,

sosial

dan

budaya

masyarakat

Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014


Tahun

JTM

JTR

Kms

kms

Trafo
MVA

Unit

Jml
Pelanggan

Listrik Murah
dan Hemat (RTS)

2011

8.198,0

7.615,1

373,3

5.847

382.864

2012

4.495,6

4.881,1

233,0

3.466

248.833

83.092

2013

7.585,9

7.507,4

386,4

5.623

438.466

2014
Total

7.403,4
27.682,8

7.326,7
27.330,3

377,1
1.369,9

5.488
20.424

427.915
1.498.078

83.092

RUPTL 2011- 2020

111

Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk
masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sebanyak 83.092 RTS (rumah
tangga sasaran).
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014
(Juta Rp)

Tahun

JTM

JTR

Trafo

Pembangkit

Listrik
murah
dan Hemat
(RTS)

Total

2011

1.762.282,6

905.657,2

444.332,0

22.500,0

3.223.783,8

2012

1.205.603,0

668.894,7

385.697,0

2.260.194,7

286.799,6

2013

2.105.722,4

1.082.279,4

651.229,8

3.839.231,7

2014

2.055.053,2

1.056.236,9

635.559,5

3.746.849,7

Total

7.128.661,3

3.713.068,2

2.116.818,4

22.500,0

13.070.059,9

286.799,6

5.12

PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN

Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA
telah dibahas dalam pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.4. Butir
ini hanya membahas pengembangan EBT skala kecil.
PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau
masyarakat untuk melistriki kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke
grid atau sistem kelistrikan PLN.
PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas, maka
pengembangannya akan terbatas di daerah yang memiliki potensi.
Biomassa: PLN tidak bermaksud untuk membangun sendiri pembangkit listrik
tenaga biomassa karena PLN tidak mempunyai kendali atas pasokan
biomassanya. Karena itu PLN mendorong swasta untuk mengembangkannya
dan PLN akan membeli listriknya.
Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar, namun
mengingat teknologi dan keekonomiannya masih belum diketahui, PLN baru
akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek penelitian dan
pengembangan.
Biofuel:

tergantung

kepada

kesiapan

pasar

biofuel,

PLN

siap

untuk

memanfaatkan biofuel apabila tersedia.


112

RUPTL 2011- 2020

Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi
baru yang dapat diterapkan pada sistem kelistrikan isolated skala kecil.
Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya
ditunjukkan pada Tabel 5.48 dan Tabel 5.49.

Pembangunan PLTS Terpusat (Komunal), Solar Home System (SHS) dan


Lentera Super Hemat Energi (SEHEN)
Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan
sulitnya menjangkau daerah terpencil, PLN merencanakan untuk membangun
PLTS sebagai berikut:

PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan


kapasitas diberikan pada tabel 5.48.

SHS (panel surya + lampu LED denga batere di dalamnya) skala kecil
tersebar, namun terbatas di provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat
rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum akan
mendapatkan listrik konvensional. Jumlah SHS yang akan dipasang
adalah sekitar 377.000 set.

Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil


secepatnya, mencegah penambahan penggunaan BBM kalau seandainya
dilayani dengan diesel, dan menurunkan BPP pada daerah tertentu yang
ongkos angkut BBM sangat mahal, seperti daerah sekitar puncak pegunungan
Jayawijaya Papua.
Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera super hemat energi (SEHEN)
bukan merupakan program pengembangan kapasitas sistem kelistrikan.
Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih bersifat sementara
dan hanya diterapkan secara terbatas di propinsi-propinsi yang rasio
elektrifikasinya masih rendah, yaitu NTB, NTT dan Papua dengan terlebih daulu
dibuat kajian kelayakannya. Program SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS
terpusat/komunal (centralized PV).

RUPTL 2011- 2020

113

Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan


kajian kelayakan proyek.

Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil


No

Pembangkit EBT

Satuan

PLTMH

MW

PLT Surya

TAHUN
2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

TOTAL

23

37

198

126

46

193

203

214

225

235

1500

MWp*)

30

50

60

70

70

75

75

80

80

592

PLT Bayu

MW

10

10

15

15

20

20

25

25

140

PLT Biomass

MW

16

33

35

35

35

40

40

45

45

50

374

PLT Kelautan

MW

27

PLT Bio-Fuel

MW**)

10

15

15

14

93

PLT GasBatubara

MW

32

81

43

22

22

14

10

243

MW

47

142

391

289

202

338

372

380

394

414

TOTAL

2,969

*) Rencana PLTS sd 2014 adalah program 1.000 pulau, sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi
**) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel

Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil


TAHUN

No

Pembangkit EBT

PLTMH

55

89

475

302

110

463

487

514

540

564

3,600

PLT Surya

10

150

250

300

350

350

375

375

400

400

2,960

PLT Bayu

30

30

45

45

60

60

75

75

420

PLT Biomass

40

83

88

88

88

100

100

113

113

125

935

PLT Kelautan

12

30

30

30

30

30

162

PLT Bio-Fuel
PLT GasBatubara

25

38

38

35

20

18

18

20

23

233

12

64

162

86

44

14

44

28

12

20

486

117

410

1,054

843

672

1,022

1,114

1,137

1,190

1,237

TOTAL

5.13

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

PROYEK PLTU SKALA KECIL TERSEBAR

Program PLTU batubara skala kecil tersebar semula direncanakan oleh PLN di
71 lokasi untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik yang terjadi di wilayah
tersebut dan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dengan
114

RUPTL 2011- 2020

TOTAL

8,796

menggantikan pembangkit BBM terdiri dari Indonesia Barat 16 lokasi dan


Indonesia Timur 35 lokasi.
Jika ada penyewaan di masa mendatang, diutamakan sewa pembangkit
dengan bahan bakar yang murah.
Dalam perkembangannya, beberapa lokasi dibatalkan atau diubah ke PLTGB.
Tabel 5.50 dan 5.51 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana
pengembangan pembangkit PLTU batubara skala kecil dan PLTGB lokasi di
Indonesia Barat dan Indonesia Timur.
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
No

NamaProyek

I.IndonesiaBarat
a.FTP2
IPP
1 PLTUKetapangKalbar
2 PLTUNiasSumut
3 PLTUTanjungPinangRiau
b.Reguler
PLN
4 PLTUIpuhBengkulu
5 PLTUMentokBabel
6 PLTUNatunaRiau
7 PLTUSanggauKalbar
8 PLTUSintangKalbar
9 PLTUTanjungUbanRiau
10 PLTUTapakTuanNAD
11 PLTUTeboJambi
12 PLTUTembilahanRiau
13 PLTUTjJabungJambi
IPP
14 PLTUBaturajaJambi
15 PLTUMukoMukoJambi
16 PLTUToboaliBabel
II.IndonesiaTimur
a.FTP2
PLN
17 PLTUBauBauSulsel
18 PLTUKotabaruKalsel
19 PLTUSumbawaBaratNTB

Kapasitas
(MW)

COD
Estimasi

2x10
3x7
2x15

2013
2014
2014

2x3
2x7
2x7
2x7
3x7
2x7
2x7
2x7
2x7
2x7

2014
2014
2013
2012
2012
2013
2012
2013
2013
2013

2x10
2x4
2x7

2013
2014
2014

2x10
2x7
2x7

2014
2013
2013

No

NamaProyek

II.IndonesiaTimur(lanjutan)
IPP
20 PLTUBiakPapua
21 PLTUKolakaSulsel
22 PLTULuwukSulteng
23 PLTUMelakKaltim
24 PLTUMeraukePapua
25 PLTUNabirePapua
26 PLTUNunukanKaltim
b.Reguler
PLN
27 PLTUAlorNTT
28 PLTUAmpanaSulut
29 PLTUBerauKaltim
30 PLTUBuntokKaltim
31 PLTUKendariSulsel
32 PLTUKualaKurunKalsel
33 PLTUKualaPambuangKalsel
34 PLTUMalinauKaltim
35 PLTURahaSulsel
36 PLTURoteNTT
37 PLTUSofifiMaluku
38 PLTUTalaudSulut
39 PLTUTjSelorKaltim
40 PLTUToliToliSulteng
41 PLTUWangiWangiSultra
IPP
42 PLTUAndai(Manokwari)Papua
43 PLTUSorongPapua
44 PLTUSumbawaBaruINTB
45 PLTUTawaeliEkspansiSulut

Kapasitas
(MW)

COD
Estimasi

2x7
2x10
2x10
2x7
2x7
2x7
2x7

2014
2014
2015
2013
2014
2014
2014

2x3
2x3
2x7
2x7
1x10
2x3
2x3
2x3
2x3
2x3
2x3
2x3
2x7
3x15
2x3

2012
2013
2012
2013
2013
2013
2013
2012
2013
2012
2013
2013
2012
2014
2013

2x7
2x15
2x10
2x15

2014
2014
2014
2014

Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan Indonesia Timur

RUPTL 2011- 2020

115

No

NamaProyek

IndonesiaBarat
FTP2
1 PLTGBPutusibauKalbar
2 PLTGBRokanHilirRiau
3 PLTGBSabangNAD
Reguler
4 PLTGBBengkalisRiau
5 PLTGBDaboSingkepRiau
6 PLTGBMentawaiSumbar
7 PLTGBNangaPingohKalbar
8 PLTGBSelatPanjangRiau
9 PLTGBSinabangNAD
10 PLTGBSingkilNAD
11 PLTGBTanjungBatuSumsel
12 PLTGBTanjungPandanBabel

No

NamaProyek

IndonesiaTimur
FTP2
13 PLTGBLarantukaNTT
14 PLTGBSelayarSulteng
15 PLTGBTahunaSulut
16 PLTGBTobeloMaluku
17 PLTGBTualMaluku
18 PLTGBTimika
Reguler
19 PLTGBBunyuKaltim
20 PLTGBBuruMaluku
21 PLTGBKotaBangunKaltim
22 PLTGBLanggurMaluku
23 PLTGBMuaraWahauKaltim
24 PLTGBTanaTidungKaltim
TOTALKAPASITAS

Kapasitas
(MW)

Pemilik

COD
Estimasi

2x4
2x4
2x4

IPP
IPP
PLN

2012
2012
2013

6
2x3
2x3
2x3
6
2x3
2x3
2x4
5

PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
IPP
IPP

2015
2013
2013
2013
2012
2013
2013
2013
2014

Kapasitas
(MW)

Pemilik

COD
Estimasi

2x4
2x4
2x4
2x4
2x4
2x4

IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP

2013
2012
2013
2014
2013
2014

2
2x3
2,5
2x3
2
2

PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN

2013
2013
2013
2013
2013
2013

Catatan: PLTU Manokwari = PLTU Andai

Pada saat RUPTL ini disusun, PLN tengah melakukan survei lokasi dan studi
kelayakan, sehingga rincian proyek pada Tabel 5.50 dan 5.51 masih dapat
berubah sesuai hasil survei dan studi.

116

RUPTL 2011- 2020

BAB VI
KEBUTUHAN DANA INVESTASI
6.1 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI INDONESIA
Untuk membangun sarana pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik
sebagaimana diuraikan pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar
US$ 60,5 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada
Tabel 6.1 dan Gambar 6.1. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek
PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik swasta/IPP.

Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)


Item
Pembangkit

Penyaluran

Distribusi

Total

Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total

2011
2,235.3
1,028.8
3,264.1
2,725.8
688.4
3,414.2
1,261.5
1,261.5
4,961.1
2,978.6
7,939.7

2012
2,576.3
1,117.6
3,693.9
2,026.2
505.2
2,531.4
1,269.5
1,269.5
4,602.5
2,892.2
7,494.7

2013
2,854.5
1,181.3
4,035.8
1,313.8
387.3
1,701.2
1,172.1
1,172.1
4,168.3
2,740.7
6,909.1

2014
2,683.9
1,186.5
3,870.3
1,535.5
372.3
1,907.8
1,253.3
1,253.3
4,219.3
2,812.1
7,031.4

2015
2,055.7
1,017.7
3,073.4
2,106.3
282.9
2,389.3
1,166.8
1,166.8
4,162.0
2,467.5
6,629.5

2016
1,522.9
814.7
2,337.6
1,199.7
175.4
1,375.1
1,320.5
1,320.5
2,722.6
2,310.6
5,033.2

2017
1,781.1
959.9
2,741.1
604.4
113.2
717.6
1,395.0
1,395.0
2,385.5
2,468.2
4,853.7

2018
2,072.7
1,003.3
3,076.0
405.0
75.7
480.7
1,477.4
1,477.4
2,477.7
2,556.5
5,034.1

2019
2,063.8
920.6
2,984.4
288.7
42.3
331.0
1,539.3
1,539.3
2,352.5
2,502.3
4,854.8

2020
2,114.3
884.2
2,998.5
72.7
7.1
79.8
1,605.5
1,605.5
2,187.0
2,496.9
4,683.9

Juta US$
Total
21,960.5
10,114.6
32,075.1
12,278.0
2,650.0
14,928.0
13,461.0
13,461.0
34,238.6
26,225.6
60,464.1

Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, maka disadari adanya
tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana tersebut.
Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari
penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan), namun setelah tahun 2006
peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan sebaliknya pendanaan
dengan obligasi terus meningkat, baik obligasi lokal maupun global. Proyek
percepatan pembangkit 10.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam
negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah. Akhirakhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan
multilateral (IBRD, ADB) dan bilaterial (JICA, AFD) untuk mendanai proyekproyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan
transmisi HVDC Sumatra Jawa dengan skema two step loan.

RUPTL 2011- 2020

117

JutaUSD
8,000.0
7,000.0
6,000.0

TotalInvestasi
5,000.0
4,000.0

Pembangkit

3,000.0

Transmisi
Distribusi

2,000.0
1,000.0

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)

6.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI


Pengembangan pembangkitan, transmisi dan distribusi oleh PLN sampai
dengan tahun 2020 di sistem Jawa Bali membutuhkan dana investasi sebesar
US$ 33,6 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada
Tabel 6.2 dan Gambar 6.2.
Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah
sebesar US$ 18,3 miliar atau sekitar US$ 1,8 miliar per tahun. Porsi investasi
pembangkit PLN setelah 2016 meningkat karena proyek pembangkit di atas
tahun 2018 masih diasumsikan sebagai proyek PLN serta memperhitungkan
disbursement investasi pembangkit yang beroperasi setelah tahun 2020.
Kebutuhan investasi tersebut juga telah memperhitungkan biaya rehabilitasi/life
extention pembangkit.
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa Bali
Item
Pembangkit

Penyaluran

Distribusi

Total

118

Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total

2011
1,252.6
574.0
1,826.5
1,993.8
370.3
2,364.1
738.5
738.5
3,246.4
1,682.7
4,929.1

2012
1,093.5
511.7
1,605.2
964.3
145.0
1,109.3
683.3
683.3
2,057.8
1,340.1
3,397.9

2013
1,128.1
551.2
1,679.3
466.0
108.1
574.2
532.1
532.1
1,594.1
1,191.4
2,785.5

2014
1,360.1
645.0
2,005.1
804.1
154.8
958.8
549.7
549.7
2,164.2
1,349.4
3,513.6

2015
1,115.1
556.0
1,671.1
1,381.4
148.4
1,529.8
600.9
600.9
2,496.5
1,305.4
3,801.8

2016
912.2
452.1
1,364.3
796.6
84.5
881.1
710.5
710.5
1,708.8
1,247.1
2,955.9

2017
1,138.7
600.7
1,739.4
329.3
47.8
377.2
739.9
739.9
1,468.0
1,388.5
2,856.5

2018
1,274.0
635.9
1,909.9
254.7
42.2
296.9
768.8
768.8
1,528.8
1,446.8
2,975.6

2019
1,319.5
622.8
1,942.4
202.4
25.7
228.1
796.6
796.6
1,521.9
1,445.1
2,967.0

2020
1,744.7
772.3
2,517.0
50.7
4.3
55.0
812.2
812.2
1,795.4
1,588.8
3,384.2

Juta US$
Total
12,338.5
5,921.7
18,260.1
7,243.3
1,131.1
8,374.4
6,932.5
6,932.5
19,581.8
13,985.3
33,567.0

RUPTL 2011- 2020

5000
4500
4000

Juta USD

3500

TotalInvestasi
3000
2500

Pembangkit

2000
1500

Penyaluran

1000

Distribusi

500
0
2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun

Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa Bali

Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. Proyek


percepatan pembangkit Perpres No.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar
negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah. Proyek
pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan
pendanaannya ke lender multilateral, sedangkan PLTU Indramayu 2x1.000 MW
senilai US$ 3.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. Namun
proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi
sumber pendanaan yang pasti, dan PLN pada saat ini tengah mengkaji
kemampuannya dalam membuat pinjaman baru, dan hal ini akan dijelaskan
pada butir 5.5.
Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing
sebesar US$ 8,4 miliar dan US$ 6,9 miliar. Proyek penyaluran pada tahun
2011-2012 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan
pembangkit. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN,
obligasi, APBN, pinjaman luar negeri (two step loan), kredit ekspor dan sumber
lainnya. Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN.

RUPTL 2011- 2020

119

6.3 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI WILAYAH OPERASI INDONESIA


BARAT DAN INDONESIA TIMUR
Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit, sistem penyaluran dan distribusi
dalam kurun waktu 2011-2020 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah
sebesar US$ 16,9 miliar atau rata-rata US$ 1,7 miliar per tahun dan untuk
Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 10 miliar atau rata-rata
US$ 1 miliar, tidak termasuk proyek IPP, dengan disbursement tahunan seperti
pada Tabel 6.3 dan Tabel 6.4.

Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Item
Pembangkit

Penyaluran

Distribusi

Total

Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total

2011
610.1
262.0
872.1
397.2
205.2
602.4
306.4
306.4
1,007.3
773.6
1,780.9

2012
908.1
366.8
1,274.9
717.8
258.1
975.8
334.5
334.5
1,625.9
959.3
2,585.2

2013
1,102.8
387.5
1,490.3
578.9
213.2
792.1
395.4
395.4
1,681.8
996.0
2,677.8

2014
843.3
376.1
1,219.4
611.8
190.1
801.9
436.4
436.4
1,455.1
1,002.6
2,457.7

2015
674.6
332.2
1,006.8
634.8
102.9
737.7
323.1
323.1
1,309.5
758.2
2,067.6

2016
257.0
152.4
409.4
263.9
48.3
312.2
359.3
359.3
520.9
560.0
1,080.8

2017
186.2
116.2
302.4
153.5
34.7
188.2
385.4
385.4
339.7
536.3
876.0

2018
405.7
191.1
596.8
85.2
19.6
104.8
418.4
418.4
490.9
629.1
1,120.0

2019
573.7
232.4
806.1
57.9
11.7
69.6
427.2
427.2
631.6
671.3
1,302.9

2020
364.5
111.3
475.8
16.3
2.1
18.4
447.0
447.0
380.8
560.4
941.2

Juta US$
Total
5,926.1
2,528.0
8,454.1
3,517.2
1,086.0
4,603.2
3,833.0
3,833.0
9,443.3
7,446.9
16,890.2

JutaUSD
3,000.0
2,750.0
2,500.0

TotalInvestasi

2,250.0
2,000.0

Pembangkit

1,750.0
1,500.0
1,250.0

Transmisi

1,000.0
750.0

Distribusi

500.0
250.0

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat

120

RUPTL 2011- 2020

Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
Item
Pembangkit

Penyaluran

Distribusi

Total

Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total

2011
372.6
192.8
565.4
334.8
113.0
447.7
216.6
216.6
707.4
522.3
1,229.8

2012
574.7
239.0
813.8
344.1
102.1
446.2
251.7
251.7
918.8
592.8
1,511.7

2013
623.6
242.6
866.2
268.8
66.0
334.8
244.7
244.7
892.5
553.3
1,445.7

2014
480.5
165.3
645.9
119.6
27.4
147.0
267.3
267.3
600.1
460.0
1,060.2

2015
266.0
129.5
395.5
90.1
31.6
121.7
242.8
242.8
356.1
404.0
760.1

2016
353.7
210.3
563.9
139.3
42.5
181.8
250.7
250.7
493.0
503.5
996.5

2017
456.2
243.0
699.2
121.6
30.7
152.3
269.7
269.7
577.8
543.4
1,121.2

2018
392.9
176.4
569.3
65.1
13.9
79.0
290.2
290.2
458.0
480.5
938.6

2019
170.5
65.4
235.9
28.4
4.9
33.3
315.6
315.6
198.9
385.9
584.8

2020
5.1
0.6
5.7
5.7
0.7
6.4
346.3
346.3
10.8
347.6
358.4

Juta US$
Total
3,696.0
1,665.0
5,360.9
1,517.5
432.9
1,950.4
2,695.5
2,695.5
5,213.4
4,793.4
10,006.8

JutaUSD
1,800.0
1,500.0

Total
Investasi

1,200.0

Pembangkit

900.0

Transmisi

600.0

Distribusi

300.0

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur

Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek


pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 8,5 miliar, sedangkan
untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 5,9 miliar.
Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 20122013 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No.71/2006.
Sedangkan disbursement proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus
menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi sistem-sistem
Indonesia Timur dan Indonesia Barat, terutama di sistem Sumatra. Proyek
transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh
pengembangan transmisi 275 kV untuk interkoneksi seluruh Sumatra, di
samping pengembangan transmisi 150 kV di Sumatra, Sulawesi dan
Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.

RUPTL 2011- 2020

121

6.4 KEBUTUHAN INVESTASI KELISTRIKAN PLN DAN IPP


Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan
Indonesia secara keseluruhan, termasuk listrik swasta/IPP, adalah US$ 96,2
miliar selama tahun 2011-2020. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada
Tabel 6.5.
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP
Item
Pembangkit

Penyaluran

Distribusi

Total

Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total
Fc
Lc
Total

2011
3,088.0
1,397.5
4,485.5
2,725.8
688.4
3,414.2
1,261.5
1,261.5
5,813.8
3,347.3
9,161.2

2012
4,135.8
1,951.9
6,087.7
2,026.2
505.2
2,531.4
1,269.5
1,269.5
6,161.9
3,726.6
9,888.6

2013
6,036.2
2,748.2
8,784.4
1,313.8
387.3
1,701.2
1,172.1
1,172.1
7,350.0
4,307.7
11,657.7

2014
7,098.0
3,048.7
10,146.7
1,535.5
372.3
1,907.8
1,253.3
1,253.3
8,633.5
4,674.3
13,307.8

2015
6,369.7
2,720.3
9,089.9
2,106.3
282.9
2,389.3
1,166.8
1,166.8
8,476.0
4,170.0
12,646.1

2016
5,077.6
2,261.3
7,338.9
1,199.7
175.4
1,375.1
1,320.5
1,320.5
6,277.3
3,757.1
10,034.4

2017
4,918.9
2,275.2
7,194.1
604.4
113.2
717.6
1,395.0
1,395.0
5,523.3
3,783.5
9,306.8

2018
4,384.6
2,089.8
6,474.4
405.0
75.7
480.7
1,477.4
1,477.4
4,789.6
3,643.0
8,432.6

2019
3,367.2
1,475.6
4,842.7
288.7
42.3
331.0
1,539.3
1,539.3
3,655.8
3,057.2
6,713.1

2020
2,384.8
986.5
3,371.3
72.7
7.1
79.8
1,605.5
1,605.5
2,457.5
2,599.2
5,056.7

Juta US$
Total
46,860.7
20,955.0
67,815.7
12,278.0
2,650.0
14,928.0
13,461.0
13,461.0
59,138.7
37,066.0
96,204.7

JutaUSD
14,000.0

TotalInvestasi
12,000.0
10,000.0

Pembangkit

8,000.0
6,000.0
4,000.0

Transmisi

Distribusi

2,000.0

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP

Tabel 6.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap


tahunnya membutuhkan dana investasi yang sangat besar, yaitu rata-rata
hampir US$ 9,6 miliar per tahun.
6.5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN PLN
Butir 6.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan
dalam RUPTL ini akan dipenuhi, dan juga menjelaskan dampak dari rencana
investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).

122

RUPTL 2011- 2020

6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan


Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 60,5 miliar51 sampai dengan tahun 2020
akan dipenuhi dari berbagai sumber pendanaan, yaitu APBN sebagai
penyertaan modal pemerintah (ekuiti), pinjaman baru, dan dana internal.
Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap,
sedangkan dana pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA, sub-loan
agreement), pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi, obligasi
nasional maupun internasional, pinjaman komersial perbankan lainnya serta
hibah luar negeri.
6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan
Kemampuan PLN untuk melakukan pinjaman sangat ditentukan oleh indikator indikator keuangan perusahaan, misalnya rasio hutang52, proyeksi EBITDA dan
EBITDA margin, dan debt-equity ratio (rasio hutang terhadap aset). Rasio
tersebut digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman PLN dengan
para lender dan bond holder. Selanjutnya pada bagian ini akan diberikan
gambaran mengenai biaya pokok penyediaan listrik.
Asumsi dasar makro ekonomi dan asumsi korporasi yang digunakan dalam
membuat proyeksi keuangan ini adalah sebagai berikut: (i) Tingkat bunga
pinjaman baru 3-6% untuk pinjaman dalam nominasi valuta asing (US$) dan 912% untuk pinjaman dalam mata uang Rupiah, (ii) Terjadi kenaikan tarif listrik
sebesar 10% pada tahun 2012 dan 10% lagi pada tahun 2013, (iii) Kurs Rp
8.800/US$ tahun 2011, Rp 8.850/US$ tahun 2012, Rp 8.900/US$ tahun 2013,
Rp 8.950/US$ tahun 2014 dan Rp 9.000/US$ sampai dengan 2015, (iv) Marjin
PSO53 8% pada tahun 2011-2015.

6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan


a. Harga Listrik dan Subsidi (PSO, public service obligation)
Harga rata-rata listrik pada tahun 2011 adalah Rp 729/kWh, meningkat
menjadi rata-rata Rp 802/kWh pada tahun 2012, Rp 881/kWh pada tahun
2013, dan Rp 880/kWh pada tahun 2014-2015. Hal ini bertujuan untuk

51

Hanya mencakup base cost, tidak termasuk financing cost.

52

Yang diukur dari pendapatan operasi terhadap kewajiban hutang yang jatuh tempo dan
pembayaran bunga
53
Marjin terhadap biaya pokok penyediaan
RUPTL 2011- 2020

123

mengurangi jumlah subsidi pemerintah dan meningkatkan laba bersih


perusahaan. Peningkatan laba tahun 2011 akan digunakan oleh PLN untuk
membayar deviden kepada pemerintah dan memperkuat pendanaan
internal (anggaran PLN atau APLN) untuk pembiayaan proyek-proyek
kelistrikan seperti proyek pembangkit, proyek transmisi dan fasilitas trafo
distribusi untuk melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dan
peningkatan keandalan pasokan listrik.
Pada tahun-tahun selanjutnya kenaikan tarif dilakukan untuk dapat
mengurangi subsidi pemerintah54 seperti diperlihatkan pada tabel 6.6. Selain
itu laba bersih juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan
internal perusahaan untuk berinvestasi sehingga dapat mengurangi
kebutuhan dana eksternal (pinjaman).
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2011-2015
Tahun

2011

2012

Subsidi T Rp

87,64

54,98

729

BPP (Rp/KWh)
Laba/Rugi Bersih Rp. T

Tarif Rata-rata (Rp/KWh)

2013

2014*)

2015*)

36,97

40,07

47,43

802

881

880

880

1.187

1.061

994

990

1.014

14,97

7,86

12,80

14,23

14,10

*) Tidak ada kenaikan tarif hanya adjustment sebesar setengah dari inflasi dalam negeri.

Kenaikan TDL ini akan menghasilkan pendanaan internal yang sangat


dibutuhkan untuk pembiayaan investasi. Pendanaan APBN diperkirakan
akan mencapai sekitar Rp 10 trilyun/tahun, maka PLN harus mencari
pinjaman komersial dan concessional untuk menutupi kekurangan
kebutuhan investasi.
b. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN)
Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah
karena sebelum tahun 2009 PLN tidak memperoleh marjin PSO,
sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal
(seluruh investasi didanai dengan hutang). Rasio hutang terhadap aset
PLN sebelum program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 (fast
track 1) adalah sekitar 30%, namun kemudian meningkat menjadi 53%
pada tahun 2010 akibat seluruh pendaanaan proyek fast track 1 berasal
dari pinjaman komersial dan obligasi.

54

Untuk menutupi selisih antara tarif dan Biaya Pokok Penyediaan (BPP)

124

RUPTL 2011- 2020

Peningkatan tarif PLN dan marjin PSO akan sangat diperlukan untuk
meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk
memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik. Dana internal untuk investasi
diperkirakan akan meningkat dari 32% dari kebutuhan total investasi
pada tahun 2011 menjadi sekitar 36% pada tahun 2015.
c. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi
Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas
pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi
dan (iii) pinjaman.
APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba operasi yang sangat
terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata. APLN hanya didapat
dari selisih antara marjin PSO + depresiasi aset dan pembayaran cicilan
pokok.
PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena
dibatasi oleh covenant pinjaman yang disyaratkan oleh lender dan bond
holder. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat
ditingkatkan jika revenue PLN meningkat, baik dari tarif maupun marjin
PSO.
Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan
meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas, maka
peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi
pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. Hal ini menjadi
semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke
tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat.
Tabel 6.7 menunjukkan komposisi sumber dana investasi untuk
mencukupi kebutuhan rencana investasi 5 tahun ke depan.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga
kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik
guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh
Pemerintah, maka harus dilakukan perbaikan sebagai berikut:
- Peningkatan pendapatan PLN baik dari peningkatan tarif maupun
peningkatan marjin PSO.
- Peningkatan dana dari APBN.

RUPTL 2011- 2020

125

Peningkatan pinjaman murah (SLA) dimana pemerintah sebagai


penjamin pinjaman.
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Trilyun Rp)
Tahun

2011

2012

2013

2014

2015

APBN
Internal Fund
Pinjaman (committed)
Pinjaman baru
Total Kebutuhan Dana

9,0
20,5
28,9
3,6
62,1

9 ,0
28,4
38,8
0,4
76,6

9 ,0
29,8
10,6
12,1
61,5

9,0
26,7
3,4
27,2
66,3

9 ,0
28,7
2,6
23,1
63,5

6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL


Seperti ditunjukkan pada butir 6.1, pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang
akan dilaksanakan oleh PLN sesuai RUPTL 2011-2020 mencapai US$ 61 miliar
atau rata-rata US$ 60,5 miliar per tahun. Penyediaan dana investasi sebesar
US$ 60,5 miliar per tahun adalah diluar kemampuan PLN apabila model
ekonomi kelistrikan tetap seperti yang terjadi pada saat ini, yaitu subsidi hanya
diberikan untuk menutup biaya operasi, dan tanpa diberikan margin yang
cukup55 untuk membuat PLN mampu menggalang dana investasi yang lebih
besar.
Namun demikian RUPTL 2011-2020 tetap disusun untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi nasional dengan melayani pertumbuhan demand listrik
yang diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup, terus-menerus dan
memenuhi syarat mutu dan keandalan.
Jika nilai kebutuhan investasi dalam RUPTL adalah diluar kemampuan PLN
selaku korporasi, maka PLN akan melakukan investasi sesuai batas
kemampuannya, dan kekurangan pendanaan (funding gap) ini akan dilaporkan
ke Pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang diperlukan
untuk melaksanakan seluruh proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL yang
akan dilaksanakan oleh PLN.
Jika pendanaan yang diperoleh ternyata masih tidak mencukupi untuk
melaksanakan program-program RUPTL secara penuh, maka PLN akan tidak
melaksanakan beberapa proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL dan
melaporkan situasi ini kepada Pemerintah.

55

Marjin PSO 8% akan menghasilkan ROA sebesar 1-3%, sedangkan benchmarking dengan
utility yang regulated di negara lain pada umumnya ROA berkisar 8%.
126

RUPTL 2011- 2020

BAB VII
ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020
Analisis risiko RUPTL 2011-2020 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi
kerawanan atau kelemahan yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure
atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang yang
dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL.
Analisis risiko mencakup identifikasi risiko, pemetaan risiko, dan rekomendasi
program mitigasi untuk risiko-risiko tersebut. Bab ini terdiri dari tiga bagian.
Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemetaan risiko dominan
yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. Bagian
kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. Bagian ketiga menjelaskan berbagai
program mitigasi risiko yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko
tersebut.
Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri, uraian analisis risiko pada bab ini
akan dilakukan berdasarkan issue-issue utama RUPTL, yaitu proyeksi
kebutuhan/permintaan tenaga listrik, pengembangan pembangkit, transmisi dan
distribusi, serta proyeksi pasokan energi primer dan kebutuhan investasi, baik
oleh PLN maupun oleh swasta.

7.1 IDENTIFIKASI RISIKO


Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi
aspek sebagai berikut:
A. Risiko pengembangan ketenagalistrikan
1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN
Berupa
risiko-risiko
perijinan
dan
persetujuan,
pendanaan,
pembangunan, keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek, cost
over-run,
kesalahan
desain,
keselamatan
ketenagalistrikan,
performance instalasi, dampak lingkungan dan sosial.
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP, termasuk PLTP
Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN.
RUPTL 2011- 2020

127

3. Risiko permintaan listrik


Kesalahan dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di
dalamnya risiko pertumbuhan ekonomi).
B. Risiko Keuangan
1. Risiko likuiditas, meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran
penerimaan subsidi, risiko pencairan dana pinjaman untuk investasi dan
risiko likuiditas aset.
C. Risiko Operasional
1. Risiko produksi/operasi, seperti kekurangan/kelangkaan energi
primer, kerusakan peralatan/fasilitas operasi, kehilangan
peralatan/fasilitas
operasi/kebocoran
informasi
rahasia
perusahaan, risiko akibat kesalahan manusia
2. Risiko bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat
manusia (a.l. sabotase)
3. Risiko lingkungan, berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi
karena pengaruhnya pada kesehatan, juga limbah, polusi dan
kebisingan
4. Risiko regulasi, meliputi risiko tarif listrik, risiko kepastian subsidi
dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan
D. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi
1. Risiko ketersediaan dan harga energi primer
Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan
batubara, gas) dan risiko harga energi primer.
2. Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi.
Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

7.2 PEMETAAN RISIKO


Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi,
kesembilan risiko tersebut memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta
berikut. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan metoda kualitatif
berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa
lalu, dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu.

128

RUPTL 2011- 2020

Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan
dan dampak pada kelancaran operasional perusahaan.
Dampak
5

2
6

4
3

8
7
3

2
10

1
1

Probabilitas
Gambar 7. 1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL

Keterangan:
1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP,
termasuk PLTP
3. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik
4. Risiko ketersediaan dan harga energi
primer

5.

Risiko merencanakan reserve


margin terlalu tinggi
6. Risiko likuiditas
7. Risiko produksi/operasi
8. Risiko bencana
9. Risiko lingkungan dan sosial
10. Risiko regulasi

Berdasarkan pemetaan risiko di atas, risiko dapat dikelompokkan dalam empat


area berdasarkan tingkat probabilitas dan dampaknya, yaitu:
-

Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko, yaitu risiko
dengan tingkat probabilitas kejadian tinggi dan dampaknya juga tinggi.
Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan
proyek-proyek PLN, keterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas.

Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko, yaitu risiko
dengan probabilitas kejadian rendah tetapi bila terjadi menimbulkan
dampak yang tinggi. Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah
ketersediaan dan harga energi primer, risiko permintaan tenaga listrik serta
risiko bencana.

Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko, yaitu
risiko dengan probabilitas kejadian yang tinggi tetapi dampak yang

RUPTL 2011- 2020

129

ditimbulkannya rendah. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah risiko
produksi/operasi.
-

Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko, yaitu daerah
dengan probabilitas rendah dan dampak yang ditimbulkannya juga rendah.
Termasuk ke dalam area ini adalah risiko merencanakan reserve margin
terlalu tinggi, risiko regulasi dan risiko lingkungan.

7.3 PROGRAM MITIGASI RISIKO


Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena
metoda dan sarana mitigasi terus berkembang. Namun demikian, pokok-pokok
program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi risiko diuraikan
sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Mitigasi risiko pembangunan PLN


Mitigasi risiko pembangunan IPP
Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik
Mitigasi risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi
Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer
Mitigasi risiko likuiditas
Mitigasi risiko produksi/operasi
Mitigasi risiko bencana
Mitigasi risiko lingkungan
Mitigasi risiko regulasi

Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

130

RUPTL 2011- 2020

BAB VIII
KESIMPULAN
Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun
mendatang rata-rata 6,9% per tahun dan bergerak dari realisasi kebutuhan
tenaga listrik tahun 2010, proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun 2020
diperkirakan akan mencapai 328,3 TWh, atau mengalami pertumbuhan ratarata 8,47% selama 10 tahun mendatang. Beban puncak pada tahun 2020
diproyeksikan akan mencapai 55.053 MW. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga
listrik tersebut, diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk
periode 2011 - 2020 sebesar 54.647 MW, diantaranya yang akan dibangun oleh
PLN sebesar 31.180 MW dan IPP sebesar 23.467 MW.
Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini, diperlukan pengembangan
transmisi sepanjang 49.263 kms, yang terdiri atas 2.675 kms SUTET 500 kV
AC, 1.100 kms transmisi 500 kV HVDC, 462 kms transmisi 250 kV HVDC,
5.360 kms transmisi 275 kV AC, 36.176 kms SUTT 150 kV, 3.490 kms SUTT 70
kV. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar 114.194 MVA yang
terdiri atas 59.736 MVA trafo 150/20 kV, 3.355 MVA 70/20 kV dan 33.490 MVA
trafo interbus IBT 500/150 kV, 10.680 MVA IBT 275/150 kV, IBT 333 MVA IBT
150/70 kV, 3.000 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC. Untuk
mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik untuk periode 2011-2020
diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah 208.607 kms, tegangan
rendah 225.404 kms dan kapasitas trafo distribusi 37.431 MVA.
Kebutuhan investasi pembangkit, penyaluran dan distribusi selama periode
2011 2020 untuk memenuhi kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara
keseluruhan adalah sebesar US$ 96,6 milyar yang terdiri dari investasi
pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 68,2 milyar, investasi penyaluran
sebesar US$ 14,9 milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13,5 milyar.
Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN dapat mempunyai
kemampuan untuk membiayai proyek-proyek kelistrikan sebagaimana
direncanakan dalam RUPTL, dengan pembiayaan yang bersumber dari dana
internal dan eksternal, apabila asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi
keuangan dipenuhi, antara lain kenaikan tarif listrik, peningkatan ekuitas dari
pemerintah (APBN) dan PLN mendapat marjin PSO.

RUPTL 2011- 2020

131

DAFTAR PUSTAKA

1.

Undang-undang No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan

2.

Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan


Pemanfaatan Tenaga Listrik

3.

Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional

4.

Peraturan Presiden No. 71/2006 jo No. 59/2009 tentang Penugasan kepada


PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit
Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara

5.

Peraturan Presiden No. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of


Understanding on the ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian
Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN)

6.

Peraturan Presiden No. 4/2010 tentang Penugasan kepada PT PLN


(Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga
Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas

7.

Peraturan Menteri ESDM No. 2/2010 jo No. 15/2010 tentang Daftar Proyekproyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang
Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Serta Transmisi
Terkait

8.

Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-46951.AH.01.02.Tahun


2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan

9.

Keputusan Menteri ESDM No. 634-12/20/600.3/2011 tentang Izin Usaha


Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero)

10. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 2027,


Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2008
11. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2010 2029,
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2011
12. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan
Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir, Mataram, 27 Juli 2011
13. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 2025, Bappenas, BPS, UN
Population Fund, 2005
132

RUPTL 2011- 2020

14. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 2005, BPS, 2008 dan update dari
website BPS
15. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 2018,
PT PLN (Persero), 2009
16. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 2019,
PT PLN (Persero), 2010
17. Draft Energy Outlook 2008, Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber
Daya Mineral, 2008
18. Statistik 2007, PT PLN (Persero), 2008
19. Statistik 2008, PT PLN (Persero), 2009
20. Statistik 2009, PT PLN (Persero), 2010
21. Statistik 2010, PT PLN (Persero), 2011
22. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006, Pengkajian Energi UI, 2006
23. Berita Resmi Statistik, BPS, Februari 2008
24. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero), Direktorat Perencanaan
dan Teknologi, 2008
25. Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2011 2015, PT PLN
(Persero), 2011
26. Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010
mengenai Sumber Daya dan Cadangan Batubara.
27. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam
Mendukung Ketahanan Energi, 2010
28. Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of
Indonesia, WestJec, 2007
29. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in
Indonesia, Nippon Koei, 2011
30. Draft Kebijakan Energi Nasional, DEN, 2010
31. Website Kementerian ESDM, Pemerintah Daerah

RUPTL 2011- 2020

133

LAMPIRA
AN A
AYAH OP
PERASI
WILA
INDO
ONESIA BARAT
B

Lampiran A ini menjelaskan rencana


r
pe
engemban
ngan
ssistem kellistrikan di Wilayah Operasi
O
In
ndonesia Barat
B

134

LAM
MPIRAN A. WILAYAH
W
OPE
ERASI INDONE
ESIA BARAT
A1.
SISTEM INTERKON
NEKSI SUMAT
TERA
A1.1
1.
Proye
eksi Kebutuhan
n Tenaga Listrikk
A1.2
2.
Neracca Daya
A1.3
3.
Proye
ek-Proyek IPP Terkendala
A1.4
4.
Neracca Energi
A1.5
5.
Capa
acity Balance Gardu
G
Induk
A1.6
6.
Renccana Pengemba
angan Penyalu
uran
A1.7
7.
Peta Pengembanga
an Penyaluran
A1.8
8.
Analissis Aliran Daya
a
A1.9
9.
Kebu
utuhan Fisik Pengembangan Distribusi
D
A1.1
10.
Progrram Listrik Perd
desaan
A1.1
11.
Progrram Energi Barru dan Terbarukan
A1.1
12.
Proye
eksi Kebutuhan
n Investasi
PEN
NJELASAN LA
AMPIRAN A1
A2.
SISTEM INTERKON
NEKSI KALIMA
ANTAN BARA
AT
A2.1
1.
Proye
eksi Kebutuhan
n Tenaga Listrikk
A2.2
2.
Neracca Daya
A2.3
3.
Proye
ek-Proyek IPP Terkendala
A2.4
4.
Neracca Energi
A2.5
5.
Capa
acity Balance Gardu
G
Induk
A2.6
6.
Renccana Pengemba
angan Penyalu
uran
A2.7
7.
Peta Pengembanga
an Penyaluran
A2.8
8.
Analissis Aliran Daya
a
A2.9
9.
Kebu
utuhan Fisik Pengembangan Distribusi
D
A2.1
10.
Progrram Listrik Perd
desaan
A2.1
11.
Progrram Energi Barru dan Terbarukan
A2.1
12.
Proye
eksi Kebutuhan
n Investasi
PEN
NJELASAN LA
AMPIRAN A2

135

RENCA
ANA PENGEM
MBANGAN SIS
STEM KELISTR
RIKAN PER PR
ROVINSI WILA
AYAH
OPER
RASI INDONES
SIA BARAT
A3.
PROVIN
NSI NANGGRO
OE ACEH DAR
RUSSALAM
A4.
PROVIN
NSI SUMATER
RA UTARA
A5.
PROVIN
NSI RIAU
A6.
PROVIN
NSI KEPULAU
UAN RIAU
A7.
PROVIN
NSI KEPULAU
UAN BANGKA BELITUNG
A8.
PROVIN
NSI SUMATER
RA BARAT
A9.
PROVIN
NSI JAMBI
A10.
PROVIN
NSI SUMATER
RA SELATAN
A11.
PROVIN
NSI BENGKUL
LU
A12.
PROVIN
NSI LAMPUNG
G
A13.
PROVIN
NSI KALIMANTAN BARAT
A14.
NERAC
CA DAYA SIST
TEM-SISTEM IS
SOLATED
WILAYA
AH OPERASI INDONESIA BARAT
B
Sistem Isolated Provin
nsi Nanggroe Aceh
A
Darussala
am
Sistem Isolated Provin
nsi Sumatera Utara
U
Sistem Isolated Provin
nsi Riau
Sistem Isolated Provin
nsi Kepulauan Riau
R
Sistem Isolated Provin
nsi Kepulauan Bangka
B
Belitun
ng
Sistem Isolated Provin
nsi Kalimantan Barat
A14.1.
A14.2.
A14.3.
A14.4.
A14.5.
A14.6.

136

LA
AMPIRAN A1

SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATERA

137

LA
AMPIRAN
N A1.1

PROYE
EKSI KEBU
UTUHAN TENAGA
A LISTRIK
SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATERA

138

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Sistem Interkoneksi Sumatera
KETERANGAN

139

SATUAN

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Energi Jual

GWh

20.248

22.953

25.559

28.190

31.043

33.814

36.794

39.990

43.509

47.377

Susut T & D

9,91

9,80

9,70

9,64

9,59

9,54

9,50

9,46

9,42

9,35

22.475

25.446

28.304

31.197

34.336

37.380

40.656

44.169

48.034

52.264

5 00
5,00

5 00
5,00

6 00
6,00

6 00
6,00

6 00
6,00

6 00
6,00

5 00
5,00

5 00
5,00

5 00
5,00

5 00
5,00

22.475

25.446

28.304

31.197

34.336

37.380

40.656

44.169

48.034

52.264

65,4

65,4

65,3

65,4

65,7

66,0

66,3

66,6

66,9

67,0

MW

4.269

4.821

5.415

5.952

6.516

7.065

7.579

8.193

8.874

9.641

Energi Siap Salur TT


PS Pembangkit
Energi Dibangkitkan
Load Factor
Beban Puncak Sistem

GWh
%
GWh

LAMPIRAN A1.2
A

NE
ERACA DA
AYA
SISTEM INTE
ERKONEK
KSI SUMATERA

140

Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera

MW

Reserve Margin

18.000

PLTG PLN

75%

PLTA IPP
PLTA PLN

78%

PLTGU IPP

16.000

PLTGU PLN
PLTP IPP

79%

PLTP PLN

14.000

PLTA PLN

PLTU IPP
PLTU FTP2

73%

PLTU PLN

12.000

PLTG PLN
PLTA IPP

74%

PLTP IPP

PLTU & PLTG Sewa

64%

Pembangkit IPP & Sewa


Pembangkit Terpasang PLN

141

10.000

Beban Puncak

56%

PLTU IPP

50%

8 000
8.000

37%
6.000

PLTU PLN (FTP2)

27%

PLTU PLN

4 000
4.000

Kapasitas Terpasang

2.000
-

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun

Neraca Daya Sistem Sumatera [1/3]


No Pasokan dan kebutuhan
No.
1

142
3

Kebutuhan
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak Bruto
Tingkat pertumbuhan
Pasokan
Kapasitas Terpasang
PLN
PLTA
PLTMH
PLTU
PLTG
PLTGU
PLTD
Swasta
Sewa
IPP
PLTA
PLTMH
PLTU
PLTG
PLTGU
PLTMG
PLTP
Retired & Mothballed (PLN)
Tambahan Kapasitas
PLN
On-going Project
Tarahan (FTP1)
Meulaboh #1,2 (FTP1)
Pangkalan Susu #1,2 (FTP1)
Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1)
Ulubelu #1,2
Duri 1 (Ex Relokasi Jawa)
Keramasan

Satuan 2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW
%

23.414
65
4.269

26.059
65
4.821

29.113
65
5.415

32.219
65
5.952

35.696
66
6.516

39.396
66
7.065

42.983
66
7.579

47.245
67
8.193

51.776
67
8.874

56.806
67
9.641

MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW

4.862
3.883
847
8
1.175
662
942
249

4.822
3.742
847
8
1.175
662
942
109

4.520
3.441
847
8
915
620
942
109

3.551
3.009
847
8
890
263
942
60

3.456
3.009
847
8
890
263
942
60

3.396
2.949
847
8
890
263
942
-

3.266
2.819
847
8
760
263
942
-

3.266
2.819
847
8
760
263
942
-

3.266
2.819
847
8
760
263
942
-

3.266
2.819
847
8
760
263
942
-

MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW
MW

533
447
180
16
80
150
12
10
-

633
447
180
16
80
150
12
10
117

633
447
180
16
80
150
12
10
300

95
447
180
16
80
150
12
10
586

447
180
16
80
150
12
10
-

447
180
16
80
150
12
10
60

447
180
16
80
150
12
10
130

447
180
16
80
150
12
10
-

447
180
16
80
150
12
10
-

447
180
16
80
150
12
10
-

PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTP
PLTG
PLTGU

100

40

100
220
220
112
55
20

220
112
55
86

Neraca Daya Sistem Sumatera [2/3]


No Pasokan dan kebutuhan
No.

143

Rencana
Sungai Gelam (CNG/Peaker)
Jaka Baring (CNG/Peaker)
Duri
Sengeti (CNG/Peaker)
Belawan
Lhokseumawe
Aceh Timur
Pembangkit Peaker *)
Batanghari
Peusangan 1-2
Asahan III (FTP2)
Merangin
Simonggo-2
Masang-2
Riau (Amandemen FTP1)
Pangkalan Susu #3,4 (FTP2)
,
Meulaboh #3,4
Sumsel - 1, Mulut Tambang
Hululais (FTP2)
Sungai Penuh (FTP2)
SEWA
Sungai Gelam
Borang
B
Borang
Talang Duku (sewa beli)
Payo Selincah (sewa beli)
Tarahan #5,6
Dumai
Sumbagut
IPP
On-going Project
Simpang Belimbing #1,2
Ekspansi
Gunung Megang, ST Cycle

Satuan 2011
PLTG/MG
PLTG/MG
PLTG
PLTG
PLTG
PLTG
PLTG
PLTG
PLTGU
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTP
PLTP

90
50
100
20

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

60
400
120
70
500

200

30
88
174
175

110

175
86
55

110
400
200

200
400

110
110

PLTMG
PLTMG
PLTG
PLTG
PLTG
PLTU
PLTU
PLTU

12
30
30
60
50

PLTU

227

PLTGU

2012

-12
-30
-30
30

30
50
240
240
360

30

-30
30

400

Neraca Daya Sistem Sumatera [3/3]


No. Pasokan dan kebutuhan

144
`

4
5

Rencana
Duri
Aceh
Sumsel - 11, Mulut Tambang
Banjarsari
Sumsel - 2 (Keban Agung)
Sumsel - 5
Sumsel - 7
Sumsel - 6, Mulut Tambang
Riau Mulut Tambang
Jambi KPS
Sumut - 2
Lumut Balai (FTP2)
Sarulla I (FTP2)
Ulubelu #3,4 (FTP2)
Seulawah (FTP2)
Sarulla II (FTP2)
Rajabasa (FTP2)
Muara Laboh (FTP2)
Sorik Marapi (FTP2) *)
Rantau Dedap (FTP2)
Suoh Sekincau
Wai Ratai
Simbolon Samosir
Sipoholon Ria-Ria
G. Talang
Danau Ranau
Bonjol
Kepahiyang
Wampu
Simpang Aur (FTP2)
Semangka
Hasang
Peusangan - 4
PLTM Tersebar Sumut
Jumlah Pasokan
Reserve Margin

Satuan 2011
PLTGU
PLTG
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTP
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTA
PLTM
MW
%

2012

2013

100
44

22

2014

2015

2016

2017

150
150
300
300

300
300

2018

2019

400

400

2020

227
230
225
150
150

225
110
110

110
220
110
55
110
220
220
240
110
110

*)
110
110
55
110
55
20
110
165
220

45
23
56
40
83
5,311
24

6,612
37

83
8,448
56

32
8,913
50

39
10,665
64

12,198
73

13,557
79

14,470
75

16,005
79

17,050
75

Ket: *) Mengingat pengembang belum melakukan eksplorasi sehingga tingkat ketidak pastian besarnya kapasitas masih
cukup tinggi, maka perhitungan reserve margin didasarkan pada kapasitas PLTP Sorik Marapi sebesar 2x55 MW.

LAM
MPIRAN A1.3
A

PROY
YEK-PRO
OYEK IPP TERKEND
DALA
SIST
TEM INTER
RKONEKS
SI SUMAT
TERA

145

A1.3 Pro
oyek-proyek IP
PP yg terkenda
ala
Dalam program
p
IPP te
erdapat bebera
apa proyek yang pelaksanaa
an
kontralk PPTL/PPA-n
nya mengalami kendala, dan merekka
dimasukkan dalam 3 ka
ategori PPTL te
erkendala seba
agai berkut :
Kategori 1: tahap operrasi, yaitu proyyek IPP sudah mencapai COD
namun bermasalah;
b
Kategori 2: tahap kon
nstruksi, yaitu proyek IPP sudah
s
mencapai
Financial Closing (FC) tapi konstruksinya bemasalah
h sehingga tida
ak
kunjung mencapai COD
D;
ndanaan, yaitu
u proyek IPP sudah memiliki
Kategori 3: tahap pen
ng mencapai Fin
nancial Closing
g (FC).
PPTL tettapi tiak kunjun
Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Sumatera
a adalah,
PLTP Sib
bayak 2x5,5 MW
W masuk dalam
m kategori 1
PLTU MT
T Banjarsari 2xx100 MW masu
uk dalam kategori 3
PLTU Ku
uala Tanjung 2xx100 MW masu
uk dalam kateg
gori 3
PLTU MT
T Keban Agung
g 2x112,5 MW masuk dalam kategori 3
PLTP Sa
arulla 330 MW masuk dalam kategori
k
3.
PLTU Re
engat 2x5,5 MW
W masuk dalam
m kategori 3.
PLTU Te
embilahan 2x5,5 masuk dalam
m kategori 3.
Saat ini penyelesaian
p
IPP terkendala tersebut sedan
ng diproses ole
eh
Komite Direktur
D
untuk IPP dan Kerjasa
ama Kemitraan
n.

146

LAMPIRAN A1.4
A

NE
ERACA EN
NERGI
SIS
STEM INTERKONEKSI SUMA
ATERA

147

Neraca Energi
Sistem Interkoneksi Sumatera
(GWh)

148

JENIS

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Batubara

6.270

9.671

15.414

14.276

13.417

16.424

15.809

19.850

23.967

26.714

Gas

5.114

7.415

7.389

7.932

7.788

7.502

6.586

5.293

4.820

4.575

LNG

4.324

4.232

4.273

4.317

4.269

4.476

5.030

HSD

8.303

5.707

2.314

100

100

100

MFO

1.295

1.076

321

63

64

801

2.466

6.765

6.865

10.773

11.353

11.691

13.200

Hydro

3.398

3.690

4.718

5.022

5.216

5.679

6.518

7.040

7.035

7.050

Total

24.444

27.622

30.957

34.120

37.517

40.843

44.003

47.805

51.989

56.567

Geothermal

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer


Sistem Interkoneksi Sumatera

149

FUEL TYPE

2011

2012

HSD ( x 1000 kL )

2.241

1.484

556

MFO ( x 1000 kL )

379

317

94

53

77

77

GAS (GBTU)
LNG (GBTU)
Batubara (kTON)

2013

4.007

6.152

9.746

2014
27
-

2015

2016

27
-

27
-

2017

2018

2019

2020

84

83

78

68

51

47

44

34

34

34

34

34

36

41

9.006

8.363

10.139

9.761

12.255

14.795

16.425

LAM
MPIRAN A1.5
A

CAPA
ACITY BA
ALANCE GARDU
G
IN
NDUK
SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATRA

150

Capacity Balance GI
N
Nanggroe
A
Aceh
hD
Darussalam
l
(NAD)
2011

Kapasitas
No.

Trafo MVA

Gardu Induk
TEG

JML

MVA

150/20
Total

1x30

30
30

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add
Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)

SISTEM ACEH
1

GI ALUE DUA/ LANGSA

PLTD SEWA
2

GI TUALANG CUT

42%
150/20

3x10

Total
3

GI ALUE BATEE/ IDI

150/20

1x30

151

GI LHOKSEUMAWE

150/20

GI BIREUEN

30

Total

60
30

150/20
150/20

2x30

Total
GI SIGLI

60

150/20

1x10

10

150/20
Total

1x20

20
30

PLTD SEWA
7

GI BANDA ACEH I / LAMBAROE

150/20

2x30

60

1x60

60

Total

120

PLTD SEWA
8

ULEE KARENG

150/20
Total

2x60

LAM PISANG

150/20
Total

2x60

18,5

19,9

72%

39%

30

21,9

23,7

25,6

27,4

43%

47%

50%

36%

UP 30-10
19,4

22,2

25,2

27,8

57%

65%

74%

16,6
65%

16,5
65%

15,8
62%

20

30

30,1

32,1

39%

42%

47,0

51,0

UP 30-10
20

UP 30-10

31,4

34,8

38,3

42,0

55%

62%

68%

75%

62%

69%

60%

17,4
68%

19,5
38%

21,5
42%

23,5
46%

25,7
50%

28,7
56%

31,0
61%

51,8
51%

46,9
46%

51,6
51%

56,4
55%

61,4
60%

68,4
67%

73,8
72%

44,0

41,7

47,5

53,0

58,8

64,9

73,1

79,9

57%

55%

62%

52%

58%

64%

72%

63%

34,0

38,0

43,5

UP 60-10
50
48,6

54,1

59,8

67,6

73,9

57%

64%

43%

48%

53%

59%

66%

72%

102,2
57%

117,8
66%

103,8
58%

122,3
68%

124,8
70%

50
49%

55
54%

61
60%

65
64%

70
69%

30 120
29%

35
34%

50
49%

30

40,8
45%

40

42,8
47%

40

47,1
46%

60

30
30

PLTD SEWA
6

10

20

30

150/20
PLTD SEWA

51%

30
30

2x30

18,2
10

30
30

Total
4

15,0

UP 60-30
33,1

38,0

31%

30

36%

23,4

30

28,2

29%

20

35%

30

20

30

UP 60-30
78,1
38%

60
50

88,0
43%

50

106,6
70%

78,2
51%

87,9
49%

31,0 120
30%

45
44%

30

30

Capacity Balance GI
NAD (lanjutan
(l j
1)
2011

Kapasitas
No.

Trafo MVA

Gardu Induk

10 GI TAKENGON

TEG

JML

150/20

2x30

MVA

2012

2013

12 GI MEULABOH

19,8

150/20
Total

1x30

150/20

2x30

152

150/20

150/20
Total

26,8

60

53%
1x30

2019

2020

21,7

22,6

23,5

24,4

25,3

26,2

41%

42%

44%

46%

48%

50%

51%

14,4
57%

15,3
60%

16,1
63%

17,0
67%

17,8
70%

18,6
73%

19,5
76%

32,2

33,6

34,9

36,3

37,7

39,1

40,4

41,8

63%

66%

69%

71%

49%

51%

53%

55%

11,4

1x30

9,5

1x30

8,1
32%

30

30

30

30

12,0

12,6

13,1

13,7

14,3

14,8

15,4

45%

47%

49%

51%

54%

56%

58%

60%

13,7

15,8

18,5

21,2

24,1

27,1

32,0

35,0

54%

62%

73%

42%

47%

53%

63%

69%

150/20

30

10,9

12,0

13,4

14,7

16,1

17,5

19,5

43%

47%

53%

58%

63%

69%

38%

41%

16,8

19,3

21,9

24,7

29,0

35,0

28%

33%

38%

43%

48%

57%

69%

98
9,8
38%

10,1
10
1
40%

10,5
10
5
41%

10,9
10
9
43%

11,2
11
2
44%

11,6
11
6
45%

12,0
12
0
47%

2x30

14,3

Total
17 GI BLANG PIDIE

150/20
Total

1 30
1x30

18 GI TAPAK TUAN

150/20

1x30

Total
19 GI COT TRUENG

2018

30

150/20
Total

16 GI KRUENG RAYA

2017

20,7

13,6
53%

37%
15 GI PANTONLABU

2016

150/20

Total
14 GI JANTHO

60

39%

T t l
Total
13 GI KUTA CANE

2015

(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)

Total
11 GI SUBULUSSALAM

2014

Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add
Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo

150/20
Total

94
9,4
37%

30

6,4

30

25%
2x30

60

30

21,1

6,6

6,9

7,1

7,4

7,6

7,8

8,1

26%

27%

28%

29%

30%

31%

32%

14,7

16,1

17,5

19,5

58%

63%

69%

38%

13,4
53%

30

30

21,1
41%

30

Capacity Balance GI
A h (lanjutan
Aceh
(l j
2)
2011

Kapasitas
No.

20

Trafo MVA

Gardu Induk

GI BLANG KJEREN

TEG

JML

150/20

1x30

MVA

Peak

Add

2012
Peak

Add

2013
Peak

GI SAMALANGA

150/20

2014
Peak

Add

2015
Peak

Add

2016
Peak

Add

2017
Peak

Add

2018
Peak

Add

2019
Peak

2020

Add

Peak

Add

Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
4,6

Total
21

Add

30

18%
1x30

11,8

Total

46%

30

4,9

5,1

5,4

5,6

5,8

6,1

19%

20%

21%

22%

23%

24%

13,4

15,0

16,6

18,3

20,6

53%

59%

65%

72%

40%

30

22,5
44%

TOTAL PEAK GI

227

298

409

461

526

581

640

701

782

850

TOTAL PEAK SISTEM

212

278

381

431

489

549

612

681

755

833

DIVERSITY FACTOR

1 07
1,07

1 07
1,07

1 07
1,07

1 07
1,07

1 07
1,07

1 06
1,06

1 04
1,04

1 03
1,03

1 04
1,04

1 02
1,02

153

Capacity Balance GI
Sumut
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

154

SISTEM SUMUT
GLUGUR

GIS LISTRIK

TITI KUNING

PAYA PASIR

MABAR

KIM

LABUHAN

LAMHOTMA

DENAI

150/20
150/20

60
60

Total

120,0

150/20
150/20

60
60

Total

120

150/20
150/20
150/20
Total

60
60
60
180

150/20

60

Total

60

150/20
150/20
150/20
Total

87.5 *
60 *
60
60,0

150/20
150/20
150/20
Total

60
60
60
180

150/20
150/20

31,5
60

Total

91,5

150/20

20

Total

20

150/20

60

Total

60

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

ADD
60

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

95,43
62%

101,15
66%

107,22
70%

113,65
74%

120,47
79%

127,70
83%

135,36
88%

143,48
94%

86,49
57%

92,55
60%

99,03
65%

133,64
66%

141,66
69%

150,16
74%

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

92,24
90%

97,77
64%

60,49
59%

64,72
63%

61,67
60%

65,99
65%

70,61
69%

75,55
74%

80,84
53%

108,00
71%

114,48
75%

99,86
65%

105,86
69%

112,21
73%

118,94
78%

126,08
62%

35,75
70%

38,25
75%

40,93
40%

43,80
43%

46,86
46%

50,14
49%

53,65
53%

57,41
56%

61,43
60%

65,73
64%

40,03
78%

42,43
83%

33,68
66%

35,71
70%

37,85
74%

40,12
79%

42,53
83%

GI BARU
45,08
88%

47,78
94%

50,65
99%

76,47
50%

81,05
53%

75,62
49%

80,16
52%

84,97
56%

90,06
59%

95,47
62%

101,19
66%

107,27
70%

113,70
74%

19,17
25%

19,93
19%

20,73
20%

21,56
21%

22,42
22%

23,32
23%

24,25
23%

25,22
24%

26,23
25%

27,28
26%

13,85
81%

UP & ADD
14,68
40
29%

21,22
42%

16,50
32%

17,49
34%

18,53
36%

19,65
39%

20,83
41%

22,07
43%

23,40
46%

45,85
45%

39,13
38%

41,87
41%

44,80
44%

47,93
47%

51,29
50%

54,88
54%

58,72
58%

62,83
62%

42,85
42%

UAI
60

UP
30
UAI

ADD
60

ADD
60

GI
60

Capacity Balance GI
S
Sumut
(l j
(lanjutan
1)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

SISTEM SUMUT
10 NAMURAMBE

11 SEI ROTAN

12 PAYA GELI

155

13 BINJAI

14 P. BRANDAN

15 PERBAUNGAN

16 T. MORAWA

17 TEBING TINGGI

18 KUALA TANJUNG

150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

60

Total

60

150/20
150/20

60
31,5

Total

91,5

150/20
150/20
150/20
Total

60
60
60
180

150/20
150/20

60
60

Total

120

150/20
150/20

30
30

Total

60

150/20
150/20

31,5
30

Total

61,5

150/20

60

Total

60

150/20
150/20

60
60

Total

120

150/20
150/20

60
60

Total

120

45,78
90%

48,53
48%

58,47
75%

61,98
48%
60,00

91,83
60%

ADD
UAI
60

37,65
37%

39,91
39%

42,30
41%

44,84
44%

47,53
47%

50,38
49%

53,40
52%

56,61
55%

54,68
42%

57,97
45%

61,44
48%

65,13
51%

69,04
54%

73,18
57%

77,57
60%

82,22
64%

98,26
64%

97,86
64%

104,71
68%

112,04
73%

119,88
78%

128,28
84%

137,26
67%

146,86
72%

157,14
77%

89,51
59%

83,42
55%

88,26
58%

93,38
61%

98,80
65%

104,53
68%

110,59
72%

117,00
76%

123,79
81%

29,37
58%

25,14
49%

20,98
41%

22,24
44%

23,57
46%

24,98
49%

26,48
52%

28,07
55%

29,76
58%

31,54
62%

30,74
59%

32,37
31%

34,09
33%

35,90
35%

37,80
37%

39,80
39%

41,91
41%

44,13
43%

46,47
45%

48,93
47%

13,12
13%

35,08
34%

37,18
36%

39,42
39%

41,78
41%

44,29
43%

46,94
46%

49,76
49%

57,18
37%

61,18
40%

65,46
43%

70,05
46%

74,95
49%

80,20
52%

85,81
56%

91,82
60%

47,06
46%

43,06
42%

45,21
44%

47,47
47%

49,84
49%

52,34
51%

54,95
54%

57,70
57%

84,60
55%

37,84
37%

UAI
60

UAI
60

UAI
60

ADD
60

40,11
39%

51,69
51%

55,31
36%

50,30
49%

44,82
44%

UAI
60

GI
60

Capacity Balance GI
S
Sumut
(l j
(lanjutan
2)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

SISTEM SUMUT
19 PEMATANG SIANTAR

20 GUNUNG PARA

21 KISARAN

156

22 AEK KANOPAN

23 R. PRAPAT

24 KOTA PINANG

25 BRASTAGI

26 SIDIKALANG

27 TELE

150/20
150/20

30
60

Total

90

150/20

10

Total

10

150/20
150/20
150/20
Total

60
31,5
30,0
122

150/20

20

Total

20

150/20
150/20
150/20
Total

30
0
31,5
61,5

150/20

30

Total

30

150/20
150/20

30
20

Total

50

150/20

20

Total

20

150/20

10

Total

10

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

71,26
93%

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

UAI
60

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

77,82
61%

66,93
52%

69,94
55%

73,09
57%

76,37
60%

79,81
63%

83,40
65%

87,16
68%

12,58
49%

13,21
52%

13,87
54%

14,56
57%

15,29
60%

16,05
63%

16,85
66%

17,70
69%

65,69
51%

68,98
54%

72,43
56%

76,05
59%

79,85
62%

83,84
65%

88,03
68%

92,44
72%

13,12
31%

13,51
32%

13,92
33%

14,34
34%

14,77
35%

15,21
36%

15,67
37%

16,14
38%

UP
45,63 28,5
45% UAI

48,36
47%

51,26
50%

54,34
53%

57,60
56%

61,06
60%

64,72
63%

68,60
67%

72,72
71%

18,89
74%

20,02
79%

21,22
83%

22,50
44%

23,85
47%

25,28
50%

26,79
53%

28,40
56%

30,10
59%

31,91
63%

35,17
83%

37,28
49%

39,52
52%

41,89
55%

44,40
58%

47,06
62%

49,89
65%

52,88
69%

56,05
73%

59,42
78%

16,81
99%

17,65
42%

15,53
37%

16,31
38%

17,12
40%

17,98
42%

18,88
44%

19,82
47%

20,81
49%

21,85
51%

2,41
9%

2,51
10%

2,61
10%

2,71
11%

2,82
11%

2,94
12%

3,05
12%

3,18
12%

11,41
45%

74,47
58%

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

UP
20

11,98
47%

59,58
58%

62,56
49%

16,78
99%

12,74
30%

51,32
66%

3,67
14%

UP
30
UAI

UP
20

2,32
9%

UP
30,0

ADD
30

UP
40

UAI
30

ADD
30

Capacity Balance GI
S
Sumut
(l j
(lanjutan
3)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo MVA
MVA

28 PORSEA

29 TARUTUNG

30 SIBOLGA

31 P. SIDIMPUAN

157
32 GUNUNG TUA

33 TANJUNG PURA

34 PANYABUNGAN

35 PARLILITAN

150/20
Total

20
20

150/20
150/20
Total

10
10
20

150/20
150/20
Total

30
10
40

150/20
150/20
Total

30
31.5
62

150/20

10

Total

10

150/20
150/20
Total

30
0
30

150/20
150/20
Total

30
30
60

150/20

10

Total

10

150/20
36 SALAK
(Untuk menyerap energi PLTM)
Total

2011
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2012
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2013
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2014
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2015
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

14.06
83%

14.48
43%

20

14.91
44%

15.36
45%

15.82
47%

16.30
48%

16.79
49%

17.29
51%

17.81
52%

18.34
54%

14.47
85%

14.91
35%

30

15.36
36%

15.82
37%

16.29
38%

16.78
39%

17.28
41%

17.80
42%

18.34
43%

18.89
44%

27.15
80%

28.51
34%

60

29.93
35%

31.43
37%

33.00
39%

34.65
41%

36.38
43%

38.20
45%

40.11
47%

42.12
50%

23.71
30%

24.42
31%

25.15
32%

25.91
33%

26.68
34%

27.49
35%

28.31
36%

29.16
37%

9.29
27%

9.76
29%

10.25
30%

10.76
32%

11.30
33%

11.86
35%

12.46
37%

13.08
38%

17.0
67%

18.19
71%

19.46
76%

20.83
82%

22.28
44%

23.84
47%

25.51
50%

27.30
54%

15.10
30%

16.01
31%

16.97
33%

17.98
35%

19.06
37%

20.21
40%

21.42
42%

22.70
45%

1.53
18%

1.56
18%

1.59
19%

1.62
19%

1.66
19%

1.69
20%

1.72
20%

1.76
21%

3.00
6%

3.12
6%

3.24
6%

3.37
7%

3.51
7%

3.65
7%

3.80
7%

3.95
8%

36.59
47%

8.43
33%

30

UP
20

37.69
48%

8.85
26%

1.50
18%

ADD
10

30

60
60

Capacity Balance GI
S
Sumut
(l j
(lanjutan
4)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo MVA
MVA

150/20
37 NEGERI DOLOK
(Untuk menyerap energi PLTM)
Total

60

150/20
150/20
Total

30
30
60

150/20

30

Total

30

150/20

60

Total

60

38 KUALA NAMU

39 PANGURURAN

158

40 LABUHAN BILIK

2011
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2012
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2013
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2014
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2015
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load Trafo
(MW) (MVA)

60
2.00
4%

2.06
4%

2.12
4%

2.19
4%

2.25
4%

2.32
5%

2.39
5%

2.46
5%

55.31
108%

57.25
112%

59.30
116%

61.48
121%

63.79
125%

66.24
130%

68.83
135%

71.58
140%

1.50
6%

2.00
8%

2.08
8%

2.16
8%

2.25
9%

2.34
9%

2.43
10%

2.53
10%

2.63
10%

8.8
17%

9.33
18%

9.89
19%

10.48
21%

11.11
22%

11.78
23%

12.48
24%

13.23
26%

14.03
28%

11,172
172
78
44.0
34.0

11,217
217
78
44.0
34.0

11,272
272
78
44.0
34.0

11,333
333
78
44.0
34.0

11,404
404
78
44.0
34.0

11,478
478
78
44.0
34.0

11,558
558
78
44.0
34.0

11,642
642
78
44.0
34.0

11,730
730
78
44.0
34.0

11,825
825
78
44.0
34.0

1,094.3
1,159
1.012

1,139.1
1,200
1.014

1,194.0
1,271
1.001

1,255.1
1,317
1.012

1,325.7
1,386
1.012

1,400.4
1,463
1.011

1,479.6
1,540
1.012

1,563.5
1,624
1.011

1,652.4
1,711
1.011

1,746.5
1,795
1.017

COD 2012

TOTAL PEAK GI
Peak Load Big Customer (I4)
- PT Grouth Sumatera
- PT Gunung Gahapi
TOTAL PEAK GI umum
TOTAL PEAK SISTEM INT
DIVERSITY FACTOR

2 399
2,399
150/20
150/20

Capacity Balance GI
S b
Sumbar
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

2020

Add

Peak

Trafo Load
(MVA) (MW)

Add
Trafo
(MVA)

CABANG PADANG
1

159

PIP

PAUH LIMO

SIMPANG HARU

150/20

20

150/20

30

Total

50

150/20

60

150/20

30

Total

90

150/20

42

150/20

42

Total

84

29,7

67%

44%

50,5

52,8

66%

52%

39,0
55%

30

32,8

36,4

40,2

34,8

38,3

42,1

46,2

50,5

48%

53%

59%

51%

56%

62%

68%

42%

58,3

64,5

71,1

52,2

57,4

62,9

68,8

75,1

57%

63%

70%

51%

56%

62%

67%

74%

40,7

44,8

49,3

54,3

36,6

40,1

43,8

47,8

52,0

57%

63%

69%

76%

51%

56%

61%

67%

73%

82,0

82,0

82,0

82,0

82,0

82,0

82,0

82,0

82,0

82,0

64%

64%

64%

64%

64%

64%

64%

64%

64%

64%

18,4

19,3

21,3

23,6

26,1

29,2

32,2

35,3

38,7

42,4

43%

45%

50%

55%

61%

69%

76%

52%

57%

62%

10,5

11,1

12,5

14,0

15,7

17,9

20,0

22,3

24,8

27,6

41%

44%

49%

55%

62%

70%

39%

44%

49%

54%

UP 30-60
30

INDARUNG
Total

28,3

LUBUK ALUNG

BUNGUS

(NEW)

PARIAMAN

(NEW)

KAMBANG (NEW)

150

150/20

20

150/20

30

Total

50

150/20

150/20

150/20
/

30

30

30

30

30

8,8

9,3

10,3

11,4

12,7

14,3

15,8

17,5

19,3

34%

36%

40%

45%

50%

56%

62%

69%

38%

42%

11
11,6

1
12,2

1
13,5

1 1
15,1

1
16,7

1
18,8

20,9

23,0

25,4
4

27,9

45%

48%

53%

59%

66%

74%

41%

45%

50%

55%

30

30

21,2

60

Capacity Balance GI
S b (lanjutan
Sumbar
(l j
1)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

GI/GIS KOTA PADANG

10 GI SUNGAI PENUH

(NEW)

(NEW)

150/20

150/20

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

2020
Peak

Trafo Load
(MVA) (MW)

52,9

58,0

63,5

69,3

75,4

52%

57%

62%

68%

49%

22,6

25,2

27,6

30,3

33,0

36,0

44%

49%

54%

59%

65%

71%

120

16,9

18,6

20,5

66%

73%

40%

10,2

10,7

11,9

13,2

14,7

16,5

18,3

20,2

22,3

24,5

60%

63%

70%

31%

35%

39%

43%

48%

52%

58%

27,8

25,3

28,1

31,3

34,7

39,1

43,3

47,8

52,6

57,8

65%

33%

37%

41%

45%

51%

57%

62%

69%

57%

22,9

24,0

26,5

29,4

32,5

36,3

40,1

44,0

48,2

52,7

90%

47%

52%

58%

64%

71%

39%

43%

47%

52%

11,0

12,2

13,6

15,3

16,9

18,7

20,6

22,6

32%

36%

40%

45%

50%

55%

61%

66%

30

30

Add

Add
Trafo
(MVA)
60

CABANG BUKITTINGGI
11 MANINJAU

12 PADANG LUAR

150/20

20

160

150/20

20

150/20

30

Total

50

30

UP 20-60
40
NEW

13 SIMPANG EMPAT

150/20

30

14 BATANG AGAM

0.4/20

20

(NEW)
15 GI PADANG PANJANG

150/20

10

30

30

60

5,6

9,9

65%

29%

30,8

32,2

35,4

39,0

42,9

47,8

52,4

57,3

62,5

68,0

91%

47%

52%

57%

63%

70%

56%

61%

67%

73%

13,1

13,8

15,4

17,1

19,0

21,4

23,7

26,1

28,8

31,6

77%

81%

36%

40%

45%

50%

56%

62%

68%

74%

21,5

23,1

13,6

15,4

17,5

20,1

22,7

25,5

28,7

32,1

84%

91%

53%

61%

69%

39%

44%

50%

56%

63%

CABANG SOLOK
16 SOLOK

17 SALAK

18 KILIRAN JAO

150/20

20

150/20

20

Total

40

150/20

150/20
/

20

UP 20-60
40

30

30

20

150/20

10

Total

30

30

30

Capacity Balance GI
S b (lanjutan
Sumbar
(l j
2)
No.

Kapasitas
Trafo MVA

Gardu Induk

MVA
19 GI S.RUMBAI/GNG.MEDAN

(NEW)

150/20

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

30

30

Add

2020
Peak

Trafo Load
(MVA) (MW)

12,6

14,0

15,5

17,3

19,1

21,0

23,0

25,1

50%

55%

61%

68%

75%

41%

45%

49%

Add
Trafo
(MVA)

CABANG PAYAKUMBUH
20,0

25,5

28,1

31,0

34,1

38,1

41,8

45,7

49,9

54,3

79%

50%

55%

61%

67%

50%

55%

60%

65%

71%

13,4

9,4

10,4

11,5

12,6

14,1

15,5

16,9

18,5

20,1

53%

37%

41%

45%

50%

55%

61%

66%

72%

39%

TOTAL PEAK GI

414,3

447,8

486,9

530,8

578,4

629,8

686,0

746,1

810,4

878,9

TOTAL PEAK SISTEM

402,3

434,8

472,7

515,4

561,5

611,5

666,0

724,4

786,8

853,3

1,03

1,03

1,03

1,03

1,03

1,03

1,03

1,03

1,03

1,03

20 PAYAKUMBUH

21 BATUSANGKAR

161

DIVERSITY FACTOR

150/20

150/20

30

30

30

30

30

Capacity Balance GI
Ri
Riau
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

KOTO PANJANG

BANGKINANG

150/20

20

Total

20

150/20

30

2011
Add

Peak

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

14,55

15,58

86%

46%

38,92
76%

GARUDA SAKTI

150/20
150/20
150/20
Total

50
50
60
160

TELUK LEMBU

150/20
150/20
Total

60
60
120

162

PLTD Sewa
5

DURI

DUMAI

150/20
150/20
Total

BAGAN BATU

TELUK KUANTAN

PASIR PUTIH

(MVA)

2015

2016

2018

2017

2019

2020

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

15,06

16,37

17,51

18,69

19,99

21,61

43%

44%

48%

51%

55%

59%

64%

32,13

33,54

32,47

34,64

39,04

43,30

47,93

53,18

59,61

63%

66%

64%

68%

38%

42%

47%

70%

78%

83,55

73,77

54,30

50,48

52,48

54,62

57,36

52%

46%

34%

31%

32%

34%

36%

80,19

84,58

86,95

88,34

92,06

97,09

45%

55%

57%

58%

60%

63%

50,55

54,79

59,26

64,24

70,35

66%

54%

58%

63%

69%

78%

112,71

73%

74%

60
Trf Baru

30
Up Rating

90,17

60
Trf Baru

113,53

60
Trf Baru

57,72

54,38

45,90

75%

71%

60%

30
UpRating

36,30

34,07

35,25

38,51

41,42

44,44

47,80

51,94

45%

46%

50%

54%

58%

62%

68%

56%

74%

Alih bbn
Pasir Putih

80,63
Alih bbn
Kit Tenayan

45%

30
30
60

28,04

61,81

55%

81%

150/19

150/20
Total

30
30
60

10
10

41,16

44,90

81%

59%

13,17

150/20
150/20
Total

150/20

10
30
40

20
UpRating

47%

150/20

Alih bbn
KID

Alih Bbn
GIS Kota

Alih bbn
Perawang

150/20

60
Up Rating

14,46

13,63

14,15

15,52

16,75

18,04

19,48

21,25

56%

57%

53%

55%

61%

66%

71%

76%

42%

22,39

24,87

25,97

25,14

26,82

30,22

33,53

37,11

41,17

46,15

53%

59%

61%

59%

63%

71%

56%

62%

69%

78%

34,23

35,87

64,97

77,21

83,93

91,45

100,69

67%

70%

42%

50%

55%

60%

66%

46,55

51,06

55,13

59,40

64,17

70,04

46%

50%

54%

58%

63%

69%

12,96

13,21

14,22

15,07

15,93

16,89

18,08

51%

52%

56%

59%

62%

66%

71%

36,00

60
GI Baru

Alih Bbn
Kandis

14,23

44,82
44%

11 PASIR PANGARAYAN

Add Trafo

14,64

71%

10 NEW GARUDA SAKTI

(MVA)

Peak
Load
(MW)

46%

74,57

52%

20
Trf Baru

2014

Add Trafo

30,00

Total

(MVA)

Peak
Load
(MW)
15,68

126,51
Alih bbn
Bangkinang

2013

Add Trafo

40,00

PLTD Sewa
6

30
Trf Baru

109,21
80%

2012

Peak
Load
(MW)

14,01
55%

30
GI Baru

120
GI Baru

120
Trf baru

20
Uprating

30
Trf baru

Capacity Balance GI
Ri (lanjutan)
Riau
(l j
)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

12

RENGAT

150/20
Total

2011

2012

Peak

Add

Peak

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

2013

Add Trafo
(MVA)

0
0

Peak

(MVA)

24,39
48%

13 TEMBILAHAN

150/20
Total

2014

Add Trafo

Load
(MW)

60
GI Baru

Peak
Load
(MW)

2016

2015

Add Trafo
(MVA)

2017

2018

2019

2020

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Peak

Add

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

Load
(MW)

Trafo
(MVA)

22,96

23,74

25,84

27,65

29,52

31,59

34,13

45%

47%

51%

54%

58%

62%

67%

14,83

16,25

17,50

18,81

20,25

58%

64%

69%

74%

40%

9,98

10,92

11,73

12,58

13,52

0
0

30
GI Baru

30
Trf baru

22,03
43%

14 BAGAN SIAPI-API

150/20

30
GI Baru

9,61
38%

39%

43%

46%

49%

53%

58%

15 PANGKALAN KERINCI

150/20

30
GI Baru

9,43

9,59

10,31

10,90

11,51

12,18

13,02

16 GI SIAK SRI INDRA PURA

150/20

17 KIT TENAYAN

150/20

18 PERAWANG

150/20

19 KID DUMAI

150/20

20 GI KANDIS

150/20

10 57
10,57

21 GI LIPAT KAIN

150/20

8,46

150/20

37%

14,67

38%

40%

43%

45%

48%

51%

10,35

11,52

12,61

13,77

15,07

16,65

1,18

30,00
GI Baru

41%

45%

15,63

19,53

49%

54%

59%

65%

30,52

35,10

40,36

1,20

163

10,00
39%

30
GI Baru

12,50
49%

11,32
44%

30
GI Baru

24,41

61%

77%

48%

11,53

12,42

13,16

45%

49%

30,00
Trf Baru

52%

60%

69%

79%

13,92

14,75

15,80

55%

58%

62%

1,2

14,40
56%

30
GI Baru

13,69

14,35

54%

15,88

56%

41%

33%

17,30

62%

30
GI Baru
30
GI Baru

18,81

68%

11 38
11,38

74%

12 06
12,06

45%

47%

9,08

9,59

36%

20,49
40%

12 75
12,75

13 51
13,51

50%

44%

57%

10,69

40%

22,56

14 47
14,47

53%

10,11

38%

30
Trf baru

11,42

42%

45%

1,20

22 GI/GIS KOTA PEKANBARU

22,2
44%

TOTAL PEAK GI
TOTAL PEAK SISTEM
DIVERSITY FACTOR

382,01
38 , 9
381,49
1,00

50

432,75
431,00
3 ,00
1,00

200

486,16
485,67
85,67
1,00

270

532,23
530,8
530,82
1,00

60
GI Baru

210

22,83

24,81

45%

573,26
576,12
576,
1,00

26,53

49%

30

627,26
6 3,68
623,68
1,01

28,32

52%

180

675,58
67 , 9
672,29
1,00

30,30

56%

110

726,16
7 3,
723,22
1,00

32,75

59%

782,50
779,98
1,00

64%

60

852,01
8 9,95
849,95
1,00

30

Capacity Balance GI
S2JB
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

1 BUKITSIGUNTANG
PTM 2012

2 TALANG RATU
PTM di 2013/2014

164

3 SEDUDUK PUTIH
PTM 2012

4 SUNGAI JUARO

5 BOOM BARU 70 kV

70/12
70/20

15
15

Total

30

70/12
70/12
70/20
70/20
Total

10
5
10
10
30

70/12
70/20
Total

15
30
45

70/12
70/20
Total

15
20
35

70/12
70/20
Total

15
30
45

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

70/12
70/12
70/20
70/20
Total

5
5
15
10
35

7 SUNGAI KEDUKAN
Trafo II 15 MVA
(Step up : Pertamina)

70/12
70/20
Total

10
15
25

8 KERAMASAN
Sudah realisasi trafo 60 MVA

70/12
70/12
150/20
Total

15
10
60
25

PTM DI 2012

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

Uprate 15-30 MVA 70/20


Uprate trafo 15-30 MVA
SKI P3B
Tambah 30 MVA 70/20
28,28
74%

15

21,59
85%

31,53
49%

30

18,88
74%

40,74
53%

45,86
60%

49,12
64%

34,72
45%

37,57
49%

40,86
53%

44,22
58%

22,26
87%

25,58
100%

16,54
65%

17,88
70%

10,66
42%

11,75
46%

13,06
51%

14,38
56%

36,18
47%

15

Uprate 15-30
32,67
85%

36,66
96%

32,38
85%

19,75
52%

22,38
59%

24,13
63%

11,32
30%

12,32
32%

13,49
35%

14,69
38%

26,64
90%

29,30
98%

13,58
46%

14,64
49%

15,75
53%

16,10
54%

16,68
56%

17,15
58%

17,69
59%

18,11
61%

33,90
89%

24,84
65%

20,65
54%

24,78
65%

27,53
108%

7,39
29%

8,97
35%

10,80
42%

12,69
33%

21,55
36%

25,27
42%

29,11
49%

31,15
52%

34,10
57%

37,05
62%

40,56
68%

44,07
74%

17,81
52%

19,20
56%

20,06
59%

21,16
62%

22,24
65%

23,44
69%

24,63
72%

57,87
57%

64,94
64%

69,50
68%

75,47
49%

81,56
53%

88,57
58%

95,73
63%

Relokasi Trafo
d 30,21
iK

79%

6 BUNGARAN
PTM 2012/2013

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

uprate trafo III 15-30


uprate trafo IV10-30
33,44
112%

28,76
48%

35

20,22
59%

15,06
44%

16,53
49%

53,76
84%

45,16
89%

51,58
51%

60

60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
1)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

165

9 TALANG KELAPA

150/20

60
60

49,06
96%

10 BORANG
(Beban ditarik ke
PLTMG Sako)

150/20
150/20
Total

15
30
45

SKI P3BS

11 MARIANA

150/20
150/20

2x16
32

12 SIMPANG TIGA

150/20
150/20
Total

30
60
60

150/20
150/20
Total

15
30
30

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20
150/20
Total

30
30
60

150/20
150/20
Total

10
20
30

150/20
150/20
Total

10
15
25

13 PRABUMULIH

14 BUKIT ASAM

15 BATURAJA

16 LAHAT

17 PAGAR ALAM

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
UAI P3BS
40,73
60
40%

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)
60

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

106,74
60%

116,46
65%

45,64
36%

54,64
43%

75,33
59%

81,24
64%

89,15
70%

97,27
54%

18,92
49%

20,14
53%

21,34
56%

22,72
59%

24,07
63%

62,41
28,27
54%

68,31
29,97
57%

74,39
31,63
60%

81,42
33,55
64%

88,67
35,43
67%

12,12
32%

13,22
35%

14,86
39%

16,37
43%

18,04
47%

34,80
16,86
62%

39,05
20,34
75%

45,10
22,61
83%

51,10
24,72
91%

57,90
27,05
51%

49,43
97%

53,96
53%

60,46
59%

44,09
43%

50,13
49%

53,47
52%

58,15
57%

62,96
62%

68,60
67%

74,27
49%

26,20
69%

28,87
32%

32,73
37%

36,41
41%

40,51
45%

42,87
48%

46,07
52%

49,26
55%

52,93
59%

56,60
63%

64,43
63%

69,99
69%

116,37
57%

122,70
60%

60

60

30
30

78,27
51%

60

85,85
56%

94,18
62%

98,29
64%

104,16
68%

109,82
54%

60

72,05
47%

60

92,39
60%

90,87
51%

85,13
48%

89,87
59%

94,43
62%

99,76
65%

104,88
69%

18,32
43%

20,04
47%

21,68
51%

28,99
57%

30,54
60%

Uprate 30->60
60,23
79%

30

Uprate
p
30-60
77,74
76%

30

18,88
74%

Uprate 10->30 MVA


20,63
20
49%

16,07
38%

12,10
28%

14,36
34%

15,35
36%

16,87
40%

19,19
90%

Uprate 10-30
20,85
55%

23,31
61%

21,34
56%

23,56
62%

24,52
64%

25,98
68%

20

Uprate 15-30
27,36 15
54%

60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
2)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

18 LUBUKLINGGAU

150/20

150/20
150/20

2x30
60

150/20
150/20

2x30
60

21 GUNUNG MEGANG

150/20

30

1 GI Kenten

150/20
150/20

60
60
120

20 GUMAWANG

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

30
20
50

19 BETUNG

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

Uprate 20->60
49,60
40
65%

166

54,85
72%

56,37
74%

61,55
48%

24,79
49%

27,63
54%

21,91
43%

20,22
40%

28,32
56%

30,90
61%

34,72
68%

38,27
50%

Relokasi 30 MVA ex Baturaja


30,90
60
34,72
40%
45%

28,32
111%

3 JAKABARING / KEDUKAN EXT 150/20

60

69,59
55%

74,35
58%

67,72
53%

73,26
57%

79,74
63%

23,72
47%

25,54
50%

28,19
55%

30,84
60%

34,01
44%

42,17
55%

39,80
52%

42,37
55%

44,89
59%

47,79
62%

50,62
66%

38,27
50%

42,17
55%

34,22
45%

33,04
43%

33,95
44%

35,56
46%

37,11
49%

46,27
45%

52,42
51%

59,39
58%

64,02
63%

70,07
69%

76,31
50%

83,52
55%

90,96
59%

12,59
25%

13,85
27%

15,23
30%

16,75
33%

18,43
36%

20,27
40%

22,30
44%

24,53
48%

12,69
50%

13,81
54%

15,01
59%

16,32
64%

17,63
69%

19,04
37%

18,38
36%

19,66
39%

21,04
41%

22,51
44%

24,09
47%

25,77
51%

27,58
54%

16,54
65%

17,36
34%

18,23
36%

19,14
38%

20,10
39%

10,52
41%

11,26
44%

12,04
47%

12,89
51%

13,79
54%

13,05
51%

13,97
55%

14,94
59%

15,99
63%

30

60

86,19
68%

30

37,19
49%

60
4 KAYU AGUNG

150/20

30

5 TANJUNG API-API

150/20
150/20
Total

30
30
60
0%

6 SUNGAI LILIN

150/20

30

7 MUARA DUA

150/20

30

8 MUARA RUPIT

150/20

30

16,05
31%

17,17
34%

15,00
59%

dari GI Betung

15,75
62%
dari GI Baturaja
9,83
39%

30

30

20,56
40%

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
3)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

9 SEKAYU

150/20

30

10 TEBING TINGGI

150/20

30

11 GIS Kota I

150/20

60
60
120

12 Martapura

150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

150/20

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
10,5
41%
12,7
50%

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
11,2
44%
13,5
53%

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,0
47%
14,3
56%
0,0%

167

MVA

1.082

TOTAL PEAK GI

MW

694,23

85

745,91

1.532

Persentase pembebanan
PEAK SISTEM INT. SUMSEL
Diversity Factor

%
MW

75,48
627,00
1,11

57,28
697,15
1,07

450

1.907
818,47
50,49
767,43
1,07

375

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
13,7
54%

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
14,7 58%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
15,7
30
31%

15,1
59%
55,9
54,8%

16,1
63%
60,8
59,6%

17,0
67%
66,5
65,2%

18,0
35%
72,4
47,3%

14,7
49%
14,0
55%
2.447 240

15,6
52%
15,9
62%
2.642 195

16,6
55%
17,5
69%
2.702

17,6
59%
19,1
30
38%
2.942 240

2.147

904,08

1008,61

1071,46

1144,86

1228,64

1325,28

1422,62

50,96
843,40
1,07

55,27
930,54
1,08

57,12
998
1,07

55
1.070
1,07

55
1.147
1,07

58
1.238
1,07

57
1.335
1,07

30

Total Kap. Terpasang GI

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,8
50%

masuk di 2016
13,8
46%
10,0
39%
60
2.207
60

30
-

13 Pendopo

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
9,8
38%

2.087

180

60

30
60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
4)
No.

Kapasitas
Trafo MVA

Gardu Induk

MVA
1 SUKAMERINDU

2 PEKALONGAN

168

3 TES

70/20
70/20
70/20

15
30
30

Total

75

70/20
70/20
150/20
Total

5
10
30
15

70/20

5
15

150/20

30

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

74,87
98%

28,81
38%

19,95
,
78%

23,27
,
91%

24,40
,
48%

4,12
32%

4,33
34%

3,92
31%

150/20

3 Sukamerindu 2 / Pulau Baai

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20

30

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

33,39
44%

24,65
32%

26,09
34%

29,69
39%

31,42
41%

33,82
44%

36,40
48%

27,93
,
55%

28,69
,
56%

29,17
,
57%

32,45
,
64%

32,99
,
65%

34,24
,
67%

35,54
,
70%

4,54
36%

4,77
37%

5,01
39%

5,26
41%

5,52
43%

5,80
45%

6,09
48%

21,52
42%

22,97
45%

24,52
48%

17,56
34%

18,67
37%

19,85
39%

21,12
41%

14,01
55%

14,71
58%

15,45
61%

81,61
53%

87,34
57%

93,49
61%

13,60
53%

14,56
57%

15,58
61%

9,29
36%

10,00
39%

10,77
42%

0%

18,90
74%

20,17
40%

150/20

30

0%

0%

0%

0%

12,10
47%

12,71
50%

13,35
52%

54,24
53%

61,66
60%

65,51
64%

69,20
68%

77,26
50%

0%

0%

10,92
43%

11,53
45%

12,88
50%

30

0%

5 GI BinTuhan

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

mundur ke 2012

2 Muko-Muko
Ditarik dari argamakmur

g
4 GI ArgaMakmur

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

71,10
93%

USULAN GI BARU 150/20 KV


1 MANNA / MASSAT

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

60

GI Bin Tuhan Masuk


8,62
34%

30

Total Kap. Terpasang GI


Total Kap.Terpasang Pembangkit

MVA
MW

120
-

TOTAL PEAK GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM BENGKULU
Diversity Factor

MW
%
MW

94,97
94
97
93,11
85,92
1,11

150
121,16
121
16
95,03
108,67
1,11

30

330
131,94
131
94
47,04
117,18
1,13

180

330
149,04
149
04
53,14
132,61
1,12

360
169,63
169
63
55,43
152,87
1,11

30

360
178,22
178
22
58,24
161,16
1,11

450
188,45
188
45
49,27
170,91
1,10

90

450
197,83
197
83
51,72
180,04
1,10

450
210,32
210
32
54,99
191,35
1,10

450
223,67
223
67
58,48
203,05
1,10

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
5))
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

1 JAMBI (AUR DURI)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

Total

30
30
30
60

150/20
150/20
Total

60
60
120

3 MUARA BUNGO

150/20

30
30
60

45,75
90%

4 BANGKO

150/20

30

27,22
107%

UAI P3BS
30,48
60
40%

5 GI. MUARA BULIAN

150/20

30

19,41
76%

UAI P3BS
22,87
60
30%

USULAN GI BARU 150/20 KV


1 GI SABAK

150/20

30

2 PAYO SELINCAH

150/20
150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

169

3 GI KUALA TUNGKAL

150/20

150/20

30

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

45,67
90%

UAI P3BS
51,74
60
51%

46,92
46%

54,10
53%

58,17
57%

62,84
62%

67,51
66%

76,54
75%

UAI P3BS
86,57
60
57%

95,78
63%

104,66
68%

111,85
73%

120,17
79%

128,42
63%

55,96
55%

58,75
58%

62,04
61%

65,12
64%

69,15
45%

27,56
36%

29,10
38%

30,95
40%

32,68
43%

34,99
46%

37,46
37%

27,88
36%

29,21
38%

30,76
40%

32,22
42%

34,10
45%

36,10
47%

11,33
44%

11,65
46%

12,04
47%

12,38
49%

12,86
50%

13,36
26%

13,88
54%

14,21
56%

14,47
57%

14,89
58%

15,31
60 03
60,03

51,22
100%

0%

2 GI SAROLANGUN

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

49,25
48%

0%

33,29
44%

24,82
32%
dimundur ke 2013
10,28
40%

0,00
0%

0%

0%

660

660

77,04
50%

30

37,81
49%
30

13,74
27%

15,32
60%

15,60
31%

30

15,90
62 36
62,36

16,52
64 78
64,78
1.020

720

870

930

260,3

295,1

312,6

333,0

352,8

393,3

420,9

452,1

84,15
194,29
1,10

52,91
220,76
1,10

48,62
236,58
1,10

52,61
269,67
1,09

55,72
285,45
1,10

59,4
304
1,10

57,65
322,34
1,09

53,18
359,50
1,09

53,24
383,51
1,10

52,14
413,90
1,09

3.167
1.490,8
1
490 8
1.368,9
1,09

3.227
1.582,7
1
582 7
1.462,6
1,08

3.617
1.686,1
1
686 1
1.563,3
1,08

3.962
1.820
1
820
1.687
1,08

4.082
1.956
1
956
1.813
1,08

60

39,55
39%

242,9

3.077
1.348,2
1
348 2
1.245,7
1,08

30

73,42
48%

300

2.867
1.210,7
1
210 7
1.121,2
1,08

660

166,50
65%

214,6

2.222
1.109,9
1
109 9
1.026,6
1,08

90

149,80
73%

MW

1.502
1.003,8
1
003 8
907,2
1,11

630

60

85,33
56%

MVA

MVA
MW
MW

240

138,70
68%

79,48
52%

TOTAL PEAK GI

PLN WS2JB
Kapasitas terpasang GI
PEAK GI WS2JB
PEAK SISTEM S2JB
DIVERSITY FACTOR

540

dimundur ke 2014
13,63
53%

60

60

Total Kap terpasang GI


Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM JAMBI
Diversity Factor

60

73,27
48%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

4.412
2.098,4
2
098 4
1.952
1,07

Capacity Balance GI
Lampung
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

TARAHAN
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

TELUK BETUNG
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

NATAR
Terpasang
B b P
Beban
Puncak
k
Pembebanan Trafo

170

SUTAMI
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

KALIANDA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

GI TEGINENENG

Peak

2014
Add

Peak

2015
Add

Peak

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(2x30)

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

35,51

41,88

43,30

41,04

41,37

41,09

40,41

39,27

37,65

35,43

69,6%

82,1%

84,91%

80,5%

81,1%

80,6%

79,2%

77,0%

73,8%

69,5%

150/20
MW

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(1x60)

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

(1x60)

%
150/20
MW

72,91

86,18

86,40

89,32

77,38

81,37

67,07

70,26

73,56

76,86

71,5%

84,5%

84,7%

87,6%

75,9%

79,8%

65,8%

68,9%

72,1%

75,4%

60

60

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(2x30)

51,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

40 78
40,78

49 06
49,06

80,0%

48,1%

150/20
MW

60

60

60

60

52 87
52,87

56 86
56,86

49 79
49,79

39 91
39,91

39 74
39,74

40 87
40,87

42 26
42,26

43 74
43,74

51,8%

55,7%

48,8%

39,1%

39,0%

40,1%

41,4%

42,9%

60

60

60

90

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

76,5

MW

28,71

34,06

36,53

39,10

41,49

43,66

56,3%

66,8%

71,6%

76,7%

81,4%

57,1%

150/20
MW

(2x30)

90
30

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

45,86

48,08

50,36

52,65

59,9%

62,8%

65,8%

68,8%

30

30

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

22 19
22,19

26 67
26,67

87,0%

52,3%
70

28 73
28,73

30 89
30,89

22 15
22,15

23 38
23,38

29 09
29,09

30 57
30,57

32 09
32,09

33 61
33,61

56,3%

60,6%

43,4%

45,8%

57,0%

59,9%

62,9%

65,9%

70

110

150

150

150

(2x20)

59,5

59,5

59,5

93,5

93,5

93,5

93,5

127,5

127,5

127,5

(1x30)

45,49

54,79

59,08

63,56

40

67,71

71,49

75,31

79,16

40

83,13

87,12

76,5%

92,1%

99,3%

68,0%

*2)

72,4%

76,5%

80,5%

62,1%

*2)

65,2%

68,3%

GI ADIJAYA

70

30

MW
%

70

110

110

110

Total

30

30

60

60

60

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

28,16

34,37

110,4%

67,4%

GI MENGGALA

Total

50

50

30

50

37,23

40,21

42,98

73,0%

78,8%

56,2%

50

50

50

30

45,50

48,05

50,62

53,27

55,92

59,5%

62,8%

66,2%

69,6%

73,1%

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

42,5

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

37,89

28,49

31,50

34,66

37,58

39,88

40

42,54

45,23

48,00

50,78

89,2%

67,0%

74,1%

81,5%

88,4%

52,1%

*2)

55,6%

59,1%

62,7%

66,4%

GI SRIBAWONO

%
150/20

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

120

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

102,0

Beban Puncak

MW

(1x30)

BUKIT KEMUNING

33,13

41,30

45,07

40

49,00

49,66

52,80

55,96

59,15

62,45

65,75

30

77,9%

97,2%

58,9%

*2)

64,1%

64,9%

69,0%

73,2%

77,3%

81,6%

64,5%

*3)

Total

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

76,5

Beban Puncak

MW

32,73

40,65

128,3%

53,1%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

MW

Pembebanan Trafo
10

2013
Add

Total

Pembebanan Trafo
9

Peak

Terpasang

Pembebanan Trafo
8

2012
Add

Beban Puncak
Pembebanan Trafo
7

150/20
MW

Peak

30

90

90
60

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

48,86

40,98

43,99

46,26

49,00

51,76

54,62

57,48

63,9%

53,6%

57,5%

60,5%

64,1%

67,7%

71,4%

75,1%

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
1)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

11

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

80

120

120

120

120

120

120

180

68,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

153,0

Beban Puncak

MW

51,95

40

68,20

71,13

73,61

40

80,14

69,09

73,93

78,81

83,85

88,90

76,4%

*2)

100,3%

104,6%

72,2%

*2)

78,6%

67,7%

72,5%

77,3%

82,2%

58,1%

Total

50

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

44,92

44,95

40

48,25

41,01

38,67

40,72

42,79

44,88

47,04

49,20

105,7%

58,8%

*2)

63,1%

53,6%

50,6%

53,2%

55,9%

58,7%

61,5%

64,3%

PAGELARAN

GI METRO

50

90

90

90

90

90

90

90

90

90

Total

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban P
Puncak
ncak

MW

(1 20)
(1x20)

171

GI NEW TARAHAN

GI SUKARAME

%
150/20
MW

30

28 81
28,81

32 07
32,07

33 56
33,56

40

35 13
35,13

36 58
36,58

37 90
37,90

39 23
39,23

40 58
40,58

41 97
41,97

43 36
43,36

67,8%

75,4%

43,9%

*2)

45,9%

47,8%

49,5%

51,3%

53,0%

54,9%

56,7%

30

60

25,5

51,0

MW

19,73

23,39

77,4%

45,9%

(1x30)

60
30

60

120

51,0

51,0

102,0

25,63

36,67

42,49

50,2%

71,9%

41,7%

60

120

120

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

47,70

53,07

58,59

120

64,37

120

70,29

120

46,8%

52,0%

57,4%

63,1%

68,9%

150/20

30

30

30

60

60

60

60

60

60

120

120

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

102,0

102,0

Beban Puncak

MW

21 19
21,19

25 14
25,14

33 82
33,82

40 39
40,39

44 16
44,16

43 53
43,53

34 51
34,51

38 20
38,20

42 36
42,36

83,1%

98,6%

66,3%

79,2%

86,6%

85,4%

67,7%

74,9%

41,5%

GI BLAMBANGAN UMPU

30

MW

(1x30)

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

6,74

8,37

9,12

9,91

10,63

11,30

11,97

12,64

13,34

14,04

26,4%

32,8%

35,8%

38,9%

41,7%

44,3%

46,9%

49,6%

52,3%

55,0%

GI LIWA

30

30

30

30

60

60

60

60

60

60

60

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

,
19,17

23,47
,

25,45
,

27,53
,

75,2%

92,0%

99,8%

54,0%

150/20
MW

30

30

30

29,45
,

31,20
,

32,96
,

34,74
,

36,58
,

38,43
,

57,7%

61,2%

64,6%

68,1%

71,7%

75,3%

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

10,69

11,36

11,96

12,57

13,18

13,81

14,45

41,9%

44,5%

46,9%

49,3%

51,7%

54,2%

56,7%

150/20

30

30

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

18,29

19,43

20,58

21,74

11,82

12,44

71,7%

76,2%

80,7%

85,2%

46,4%

48,8%

MW

Beban Puncak

MW

17,03

66,8%

GI ULU BELU

30

30

30

Terpasang
Pembebanan Trafo

30

25,5

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

30

30

MW

Terpasang

30

25,5

Terpasang

Beban Puncak

30

46 99
46,99
46,1%

150/20

GI KOTA AGUNG

30

60

Terpasang

150/20

30

30

Beban Puncak

GI SEPUTIH BANYAK

150/20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

8,49

9,11

9,76

10,36

10,91

11,47

12,03

12,61

13,19

49,9%

53,6%

57,4%

61,0%

64,2%

67,5%

70,8%

74,2%

77,6%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

80

Pembebanan Trafo

20

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

19

2015
Add

80

Pembebanan Trafo

18

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

17

2014
Add

40

Terpasang

16

Peak

(2x20)

Beban Puncak

15

2013
Add

MW

Pembebanan Trafo
14

Peak

Total

Pembebanan Trafo
13

2012
Add

Terpasang

KOTABUMI

Pembebanan Trafo
12

Peak

60

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
2)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

21

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

2 x 30

60

60

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

23,30

24,55

25,82

27,09

28,41

29,73

45,7%

48,1%

50,6%

53,1%

55,7%

58,3%

GI TELUK RATAI

150/20

60

30

30

30

30

30

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

Beban Puncak

MW

12,91

13,58

14,25

14,94

15,64

16,35

50,6%

53,2%

55,9%

58,6%

61,3%

64,1%

150/20

GI KETAPANG

30

30

30

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

13,72

15,95

18,04

20,11

21,98

53,8%

62,5%

70,8%

78,9%

43,1%

30

30

30

30

60

60
51,0

172

GI MESUJI

%
150/20

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

16,84

18,04

19,24

20,46

21,71

66,1%

70,7%

75,5%

80,2%

42,6%

GI JATI AGUNG

150/20

51,0
30

23,05
45,2%

30

22,97
45,0%

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

17,11

18,80

20,63

22,31

67,1%

73,7%

80,9%

43,7%

GI LANGKAPURA

150/20

30

30

23,90
46,9%

60

60

60

60

Terpasang

MW

51,0

51,0

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

35,69

37,44

39,25

41,06

70,0%

73,4%

77,0%

80,5%

30

30

60

GI PAKUAN RATU

150/20

60

60

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

17,82

19,03

20,26

21,52

69,9%

74,6%

79,4%

42,2%

GI BENGKUNAT
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

%
150/20
MW

30

60
51,0
30

22,79
44,7%

30

30

25,5

25,5

MW

11,12

11,70

43,6%

45,9%

70/20
MW

90

90
76,5

3 x 30

90

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

MW

55,95

56,79

57,67

58,48

52,00

52,00

52,00

52,00

52,00

73,1%

74,2%

75,4%

76,4%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

60

60

60

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

7,22

7,97

8,73

9,51

10,29

14,2%

15,6%

17,1%

18,6%

20,2%
1.204

150/20
MW

60

60

1x60

60

PEAK GI

MW

570

727

782

845

921

975

1.037

1.092

1.149

PEAK SYSTEM

MW

569

693

749

809

864

914

965

1.016

1.068

1.121

1,08

1,07

1,07

DIVERSITY FACTOR

Add

Load
(MW)

60

Terpasang

28

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
28

2015
Add

60

Pembebanan Trafo
27

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
26

2014
Add

60

Pembebanan Trafo
25

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
24

2013
Add

51,0

Pembebanan Trafo
23

Peak

MW

Pembebanan Trafo
22

2012
Add

Terpasang

GI GEDONG TATAAN

150/20

Peak

1,00

1,05

1,04

1,04

1,07

1,07

1,07

LAM
MPIRAN A1.6

RENCAN
NA PENGE
EMBANGA
AN PENY
YALURAN
N
SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATRA

173

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI


Sumatra
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

174

500 kV AC

150

150

500 kV DC

800

800

275 kV

160

1,992

774

1,532

110

130

4,698

250 kV DC

462

462

582

1,455

3,784

2,039

1,486

531

590

387

382

440

11,676

310

240

550

582

1,925

5,776

3,053

3,018

1,903

590

667

382

440

18,336

150 kV
70 kV
TOTAL

(MVA)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500/275 kV

1,000

2,000

500 kV DC

3,000

3,000

275/150 kV

1,000

4,500

2,000

1,250

500

500

250

10,000

250 kV DC

600

600

150/20 kV

900

2,600

1,980

1,140

810

660

780

780

510

690

10,850

70/20 kV

30

260

30

60

30

30

30

470

1,930

2,860

6,510

3,200

2,060

5,290

1,280

3,310

540

940

27,920

TOTAL

3,000

Pengembangan Penyaluran Sumatra

175

No.

Propinsi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu

Dari
Dari
Jantho
Sigli
Meulaboh
PantonLabu
Bireun
Sidikalang
Brastagi/Berastagi
PLTUMeulaboh
BlangPidie
UleeKareng
Samalanga
KruengRaya
Takengon
CotTrueng
PLTAPeusangan2
PLTAPeusangan1
PLTPSeulawah
Takengon
BandaAceh
AirAnyir
AirAnyir
Suge
Dukong
PangkalPinang
PangkalPinang
Kelapa
Koba
Air Anyir/Sungai Liat
AirAnyir/SungaiLiat
PagarAlam
Pekalongan

Ke
Ke
Incomer(SigliBandaAceh)
PLTUMeulaboh
PLTUMeulaboh
Incomer(IdiLhokseumawe)
g
Takengon
Sabulussalam
Kutacane
BlangPidie
TapakTuan
BandaAceh
Incomer (Bireun Sigli)
Incomer(BireunSigli)
UleeKareng
BlangKjeren
Incomer(BireunLhokseumawe)
Takengon
PLTAPeusangan2
2PiIncomer(SigliBandaAceh)
PLTAPeusangan4
LamPisang
PangkalPinang
SungaiLiat
Dukong
Manggar
Kelapa
Koba
Mentok
Toboali
PLTU Bangka Baru III
PLTUBangkaBaruIII
Manna
PuloBaai

Tegangan
Tegangan
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
70kV
70kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV

Conductor
Conductor
2 cct,1Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
,
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
cct 1 Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
4 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk

kms
kms

Biaya
(MUSD)

COD

1
333
60
2
126
111.2
290
190
130
40
4
60
174
6
22
14
32
20
30
44
112
50
140
120
120
140
120
100
96
90

0.06
74.95
3.32
0.11
9.62
6.16
16.07
10.53
7.20
9.00
0 22
0.22
4.58
9.64
0.33
1.68
1.07
3.55
1.11
2.29
2.44
6.20
2.77
7.76
6.65
6.65
7.76
6.65
5.54
5.32
6.87

2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2011
2011
2012
2012
2014
2014
2016
2016
2018
2012
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 1)

176

No.

Propinsi

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60

Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Dari
PLTASimpangAur1
PLTASimpangAur1
Pekalongan
PulauBaai
Kambang
Manna
Mukomuko/Bantal/Ipoh
PLTPKepahiyang
Bangko
PLTAMerangin
PLTG CNG Sei Gelam
PLTGCNGSeiGelam
Sabak
PLTGCNGSengeti
MuaraBulian
PLTPSungaiPenuh
Sabak
Tanjung Kasam
TanjungKasam
TanjungSauh
PulauNgenang
TanjungTaluk
TanjungUban
SriBintan
AirRaja
BukitKemuning(uprate)
PLTUTarahan(FTP1)
SeputihBanyak
Ulubelu
Menggala
Sutami(uprate)
Baturaja(uprate)

Ke
Incomer1Phi(PekalonganPulauBaai)
PLTASimpangAur2
PLTPHululais
ArgaMakmur
Mukomuko/Bantal/Ipoh
Bintuhan
ArgaMakmur
Incomer2Phi(PekalonganPulauBaai)
PLTAMerangin
SungaiPenuh
Aur Duri
AurDuri
Inc1Phi(PayoSelincahAurDuri)
AurDuri
Sarolangun
SungaiPenuh
KualaTungkal
Tanjung Sauh
TanjungSauh
PulauNgenang
TanjungTaluk
TanjungUban
SriBintan
AirRaja
Kijang
Kotabumi(uprate)
Incomer2Phi(NewTarahanKalianda)
Dipasena
Incomer1Phi(BatutegiPagelaran)
SeputihBanyak
Natar(uprate)
BukitKemuning(uprate)

Tegangan
g g
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
70kV
150kV
150kV
150kV
150kV

Conductor
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
4 cct,2Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct,2x340mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,3x300mm2
cct 3 x 300 mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,3x300mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,ACCC310mm2

kms

Biaya
(MUSD)
(M
USD)

COD

20
12
120
180
220
140
360
80
136
110
60
121.6
26
130
84
108.8
6
10
12
60
60
70
40
67.6
1
120
40
120
60.4
96

1.53
0.66
9.16
13.74
16.79
7.76
27.48
6.11
30.61
24.76
3.32
3.64
1.44
7.20
4.65
6.03
2 42
2.42
1.11
4.84
3.32
3.32
3.88
2.22
9.04
0.23
9.16
3.05
27.01
8.08
12.84

2015
2015
2015
2015
2015
2017
2020
2020
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2015
2018
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2011
2011
2012
2012
2013
2013
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 2)

177

No.

Propinsi

61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Dari
Pagelaran
BukitKemuning
PLTPUlubelu#3,4
Pagelaran
GedonTataan
Kalianda
Gumawang
Mesuji
PLTASemangka
Natar
Pakuan Ratu
PakuanRatu
Langkapura
Kalianda
Besai
Liwa
TelukRatai
PLTG Duri
PLTGDuri
TelukKuantan
Bangkinang
PasirPutih
Tenayan/PLTURiau
Dumai
Dumai
PasirPutih
PLTUSewaDumai
Duri(uprate)
GarudaSakti(uprate)
Rengat
NewGarudaSakti
Tenayan/PLTURiau

Ke
KotaAgung
Liwa
Ulubelu
GedongTataan
TelukRatai
Ketapang
Mesuji
Dipasena
KotaAgung
Jatiagung
Inc 1 Phi (Menggala Gumawang)
Inc1Phi(Menggala
Gumawang)
Inc2Phi(NatarTelukBetung)
PLTPRajabasa
PLTPSuohsekincau
Bengkunat
PLTPWaiRatai
Incomer 2 Phi (G Sakti Duri)
Incomer2Phi(G.SaktiDuri)
Rengat
PasirPangarayan
GarudaSakti
PasirPutih
KIDDumai
BaganSiapiapi
PangkalanKerinci
Dumai
Dumai(uprate)
Duri(uprate)
PangkalanKerinci
Incomer(G.SaktiDuri)
Perawang

Tegangan
g g
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV

Conductor
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,CU1000mm2
2 cct,2Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
cct 2 Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,2Hawk
4 cct,ACCC310mm2
2 cct,1Hawk

kms

Biaya
(MUSD)
(M
USD)

COD

80
80
20
60
60
90
160
152
60
16
1
2
40
38
120
40
22
194
220
55
35
56
228
134
14
118
230
220
12
50

4.43
4.43
1.11
4.58
3.32
20.26
12.21
11.60
3.32
35.52
0.23
0.11
3.05
2.11
6.65
2.22
1 68
1.68
14.81
12.19
12.38
7.88
3.10
12.63
10.23
1.07
15.79
30.77
16.79
1.61
2.77

2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2019
2011
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 3)

178

No.

Propinsi

91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel

Dari
TelukLembu
Tenayan/PLTURiau
Rengat
PasirPutih
Kandis
Bangkinang
Indarung
Bungus
Kiliranjao
Maninjau
Padang Luar
PadangLuar
Singkarak
PLTUSumbarPessel
Kiliranjao
PIP/SHaru/PauhLimo
SungaiRumbai
Simpang Empat
SimpangEmpat
Solok
Payakumbuh
PLTUSimpangBelimbing
Lahat
PLTUSimpangBelimbing
TanjungApiApi
Kenten
Betung
BukitAsam(uprate)
Jakabaring
Gandus
Mariana
KayuAgung

Ke
GISKotaPekanBaru
SiakSriIndraPura
Tembilahan
TelukLembu
Incomer(NewG.SaktiDuri)
LipatKain
Bungus
Kambang
TelukKuantan
PadangLuar
Payakumbuh
Batusangkar
2piIncomer(BungusKambang)
SungaiRumbai
GI/GISKotaPadang
PLTPMuaraLabuh
Masang 2
Masang2
PLTPGunungTalang
PLTPBonjol
Incomer1Phi(PrabumulihBukitAsam)
PagarAlam
Lahat
Incomer1Pi(T.KelapaBorang)/Kenten
Inc2Phi(TalangKelapaBorang)
Sekayu
Baturaja(uprate)
Inc2Phi(KeramasanMariana)
Inc2Phi(KeramasanTalangKelapa)
KayuAgung
Gumawang

Tegangan
g g
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV

Conductor
2 cct,CU1000mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
1 2ndcct,1Hawk
1 2ndcct,1Hawk
1 2ndcct,1Hawk
2nd cct, 1 Hawk
1 2ndcct,1Hawk
4 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
cct 1 Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2x330mm2
2 2ndcct,1Hawk
2 cct,2x330mm2
2 cct,2x330mm2
2 cct,2x330mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,2x330mm2
2 cct,CU1000mm2
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra

kms

Biaya
(MUSD)
(M
USD)

COD

14
100
120
40
10
70
35
180
52
42
32
25
20
70
16
160
30
20
104
120
94.6
120
40
1
70
78
1
20
60
90

31.08
5.54
6.65
3.05
2.68
3.88
2.67
13.74
1.69
1.36
1.04
0.81
0.76
5.34
0.89
12.21
1 66
1.66
1.11
7.94
10.86
5.24
10.86
3.62
0.09
3.88
10.44
0.09
44.40
13.50
20.26

2014
2014
2014
2015
2015
2015
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2016
2017
2017
2019
2019
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 4)

179

No.

Propinsi

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150

Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut

Dari
SungaiLilin
Betung
LubukLinggau
Sumsel11,MT
Lahat
MuaraDua
Lahat
Gumawang
Sarolangun
PLTPRantauDedap
Muara Dua
MuaraDua
Galang
Galang
Rantauprapat
Lamhotma
DolokSanggul/Parlilitan
Tanjung Morawa
TanjungMorawa
PadangSidempuan
SeiRotan(uprate)
Galang
Sidikalang
Tele
PangkalanSusu3&4(FTP2)
PLTUSewaSumbagut
TanjungPura
PLTAWampu
TelukDalam
PLTUNias
Mabar
GISListrik

Ke
Betung
TalangKelapa
TebingTinggi
Incomer1Phi(PrabumulihBukitAsam)
PLTUBanjarSari
Baturaja
PLTUKebanAgung
Martapura
MuaraRupit
PLTPLumutBalai
PLTP Danau Ranau
PLTPDanauRanau
Namurambe
TanjungMorawa
LabuhanBilik
Belawan
Incomer1Phi(TeleTarutung)
Kuala Namu
KualaNamu
Panyabungan
TebingTinggi(uprate)
NegeriDolok
Salak
Pangururan
PangkalanBrandan
TebingTinggi
Incomer(P.BrandanBinjai)
Brastagi
GunungSitoli
GunungSitoli
Glugur
KIM

Tegangan
g g
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
70kV
70kV
150kV
150kV

Conductor
2 cct,1Hawk
1 2ndcct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2x330mm2
2 cct,2x330mm2
2 cct,2Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
cct, 2 Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,1Hawk
1 2ndcct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
cct 2 Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,ACCC310mm2
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Zebra
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
1 cct,CU1000mm2
1 cct,CU1000mm2

kms

Biaya
(MUSD)
(M
USD)

COD

120
55.2
150
120
40
92
70
120
80
40
90
80
20
130
6.2
76
34
140
108
66
60
26
22
30
30
80
220
20
10
10

6.65
8.43
8.31
10.86
3.62
7.02
15.76
6.65
4.43
3.05
6.87
18.01
4.50
7.20
0.28
4.21
2 60
2.60
7.76
14.45
3.66
3.32
1.44
4.95
2.29
1.66
4.43
12.19
1.11
22.20
22.20

2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2016
2017
2018
2019
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2015
2015

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 5)

180

No.

Propinsi

151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184

Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumbar
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Riau
Sumbar
Sumsel
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
NAD
Riau
Jambi
Sumsel
Riau
NAD
Riau
Riau
Riau
Riau
J bi
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Lampung

Dari
Simangkok
Panyabungan
Porsea
Tarutung
PLTPSipoholonRiaRia
PangkalanSusu
g
Kiliranjao
Simangkok
Galang
PLTPSarulla(FTP2)
PadangSidempuan
Payakumbuh
PadangSidempuan
Lahat
BayungLincir/PLTUSumsel5
Lahat
MuaraEnim
Bayung Lincir/PLTU Sumsel5
BayungLincir/PLTUSumsel
5
Betung
Sigli
Rengat
AurDuri
MuaraEnim
Rengat
Sigli
Border
PulauRupatUtara
P.RupatSelatan
SumateraLandingPoint
PLTU J bi
PLTUJambi
MuaraEnim
MuaraEnim
MuaraEnim
Ketapang

Ke
PLTAAsahanIII(FTP2)
PLTPSorikMarapi(FTP2)
PLTAHasang
PLTPSimbolonSamosir
2PiIncomer(TarutungPorsea)
Binjai
j
Payakumbuh
Galang
Binjai
Simangkok
PLTPSarulla(FTP2)
New Garuda Sakti
NewGarudaSakti
Payakumbuh
LumutBalai
AurDuri
MuaraEnim
Gumawang
Sungai Lilin/PLTU Sumsel7
SungaiLilin/PLTUSumsel
7
SungaiLilin/PLTUSumsel7
Lhokseumawe
NewGarudaSakti
Rengat
Betung
Cirenti (PLTU Riau MT)
Cirenti(PLTURiauMT)
UleeKareng
PulauRupat
PulauRupatSelatan
SumatraLandingPoint
NewGarudaSakti
A D i
AurDuri
PLTUMTHVDCA
PLTUMTHVDCB
perbatasanSumsel/Lampung
perbatasanSumsel/Lampung

Tegangan

Conductor

kms

Biaya
(MUSD)

COD

150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275 kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275 kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275kV
275 kV
275kV
275kV
250kVDC
250kVDC
250kVDC
250kVDC
500 kV
500kV
500kV
500kV
500kVDC
500kVDC

2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
4 cct,1Hawk
2 cct,2Zebra
,
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
cct 2 Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,4Zebra
2 cct,4Zebra
2 cct,2Zebra
2 cct,2Zebra
cct 2 Zebra
2 cct,2Zebra
2 CableMIwithIRC
2 cct,2xCardinal548m
2 CableMIwithIRC
2 cct,2xCardinal548m
2 cct,4Zebra
t 4Z b
2 cct4Zebra
2 cct4Zebra
2 cct4Falcon
2 cct4Falcon

22
46
60
50
8
160
282
318
160
194
138
300
600
50
120
70
290
124
120
322
440
420
350
110
130
52
60
10
340
150
400
100
200
600

1.68
2.55
3.32
2.77
0.44
36.01
63.47
71.57
36.01
43.67
31.06
67.52
135.05
11.25
27.01
15.76
65.27
27 91
27.91
27.01
72.47
143.61
137.08
78.78
24 76
24.76
29.26
51.00
2.60
9.80
14.90
48 96
48.96
133.37
33.35
67.20
201.60

2016
2017
2017
2018
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2016
2018
2016
2016
2016
2016
2018
2016
2016
2016
2016

Pengembangan Gardu Induk Sumatra


No. Propinsi

181

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

Sigli
BandaAceh
Meulaboh
PLTUMeulabohExtLB
Jantho
PantonLabu
Takengon
BireunExtLB
Sabulussalam
Kutacane/Kotacane
BlangPidie
PLTUMeulabohExtLB
TapakTuan
Lhokseumawe
UleeKareng
Samalanga
KruengRaya
BandaAcehExtLB
TualangCut
BlangKjeren
Langsa
Sigli
CotTrueng
Takengon
Idi
BandaAceh
Bireuen
Jantho
Meulaboh
TualangCut
LamPisang
KruengRayaExtLB
Pantonlabu
CotTrueng
Samalanga
TualangCut
Bireun
Subulussalam
PangkalPinang
SungaiLiat

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru

30
60
2x30
2LB
30
30
60
2LB
30
30
30
2LB
30
60
120
30
60
2LB
30
30
30
60
30
2LB
30
60
30
30
30
30
120
2LB
30
30
30
30
30
30
60
30

1.40
2.12
4.03
1.24
2.64
2.64
3 36
3.36
1.24
2.64
2.64
3.88
1.24
2.64
2 12
2.12
4.03
2.64
4.03
1.24
1.40
2.64
1 40
1.40
2.12
2.64
1.24
1.40
2.12
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
4.95
1.24
1.40
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
1.40
4.00
2.62

2011
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2011
2011

Keterangan
Uprating10MVAExBandaAceh
Uprating30MVA
1x30MVAdidanaiAPBN,1x30MVAdidanaiAPLN
T/LkeMeulaboh
1x30MVA
1x30MVA
2x30 MVA
2x30MVA
keTakengon
1x30MVA
1x30MVA
4L/B(2T/LkeMeulabohdan2T/LkeT.Tuan)
T/LkeBlangPidie
1x30MVA
2x60+2LB
1x30MVA
2x30MVA
keKruengRaya
1x30MVA
Uprating10MVA
1x30MVA
keBlangKjeren
Uprating30MVA

2x60
KearahLampPisang

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 1)


No. Propinsi

182

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi

NamaGarduInduk
AirAnyir
Dukong
Manggar
Suge
Kelapa
Koba
Sungai Liat
SungaiLiat
Mentok
Toboali
Dukong
PangkalPinang
Koba
Manggar
Air Anyir
AirAnyir
Dukong
Manna
PulauBaai
PekalonganExtLB
Pekalongan
Manna
Pekalongan Ext LB
PekalonganExtLB
Mukomuko
Argamakmur
PulauBaaiExtLB
PulauBaai
Bintuhan
MannaExtLB
Muko muko Ext LB
MukomukoExtLB
PayoselincahExtLB
SungaiPenuh
BangkoExtLB
Aurduri
Payoselincah
Bangko
Muaro Bulian
MuaroBulian
MuaraSabak
MuaroBungo
Sarolangun
MuaraBulianExtLB
SungaiPenuh

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

150/20kV
70/20kV
70/20kV
70/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
150/20 kV
150/20kV
70/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension

30
30
20
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
120
2LB
30
30
2 LB
2LB
30
30
2LB
60
30
2LB
2 LB
2LB
4LB
30
2LB
60
60
60
60
30
60
30
2LB
30

2.62
2.20
2.38
2.20
2.62
2.62
1 39
1.39
2.62
2.62
1.26
1.39
1.39
1.26
1 39
1.39
1.26
2.64
4.03
1.24
1.40
1.40
1 24
1.24
2.64
3.88
1.24
2.12
2.64
1.24
1 24
1.24
2.49
2.64
1.24
2.12
2.12
2.12
2 12
2.12
2.64
2.12
2.64
1.24
1.40

2011
2012
2012
2012
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2018
2018
2018
2019
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2015
2015
2015
2017
2017
2017
2020
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2014
2014
2014

Keterangan

1x30MVA
2x60MVA
T/LPuloBaai

T/LHululais
T/L
Hululais
1x30MVA
1x30MVA
T/LkeArgamakmur
1x30MVA
T/LkeBinTuhan
T/L ke Argamakmur
T/LkeArgamakmur
untukPLTGPayoSelincah&PLTGSungaiGelam12MW
1x30MVA
T/LkeSungaipenuh

1x30MVA
T/LkeGIPLTGSeiGelamCNG,bayeksIBT275/150kV
1x30MVA
T/LKeSarolangun

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 2)

183

No. Propinsi

NamaGarduInduk

81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

PLTPSungaiPenuhExtLB
SungaiPenuhExtLB
PLTAMeranginExtLB
SarolangunExtLB
Payoselincah
KualaTungkal
Muara Sabak Ext LB
MuaraSabakExtLB
Aurduri
MuaroBungo
Bangko
MuaraSabak
Sarolangun
Payoselincah
Air Raja
AirRaja
SriBintan
Kijang
TanjungUban
PulauNgenang
TanjungUban
Seputihbanyak
Sribawono Ext LB
SribawonoExtLB
MenggalaExtLB
Kotabumi
Ulubelu
Kalianda
Adijaya
BukitKemuning
Natar
Pagelaran
NewTarahan
Dipasena
Sukarame
Metro
Sribawono
Kota Agung
KotaAgung
PagelaranExtLB
Liwa
BukitKemuningExtLB
Tegineneng
SeputihBanyak

Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Kep.Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension

2LB
2LB
4LB
2LB
60
30
2 LB
2LB
60
60
30
30
30
60
60
30
60
2x30
10
60
30
2 LB
2LB
2LB
60
30
30
30
60
60
60
30
90
30
60
60
30
2LB
30
2LB
60
30

1.24
1.24
1.83
1.24
2.12
2.64
1 24
1.24
2.12
2.12
1.40
1.40
1.40
2.12
3 34
3.34
2.62
3.34
3.34
1.90
2.12
3.88
1 24
1.24
1.24
2.12
3.88
1.40
1.40
2.12
2 12
2.12
2.12
1.40
4.72
1.40
2.12
2.12
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
2.12
1.40

2015
2015
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2018
2019
2019
2020
2020
2013
2013
2013
2013
2013
2015
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014

Keterangan
UntukPLTPSungaiPenuh
T/LkePLTPSungaiPenuh
untukPLTPMerangin2Pi
T/LMuaraRupit
1x30MVA
T/LKualaTungkal
T/L
Kuala Tungkal

UpRate30ke60

1x30MVAdidanaiAPBN,1x30MVAdidanaiAPLN

1x30MVA
T/LSeputihBanyak
T/L
Seputih Banyak
T/LSeputihBanyak
Uprating20MVA
1x20MVA

Uprating20MVA
1x20MVA
Uprating20MVA
Uprating20MVA
1x30 MVA
1x30MVA
T/LKotaAgung
1x30MVA
T/LLiwa
Uprating20MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 3)

184

No. Propinsi

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160

Kotabumi
Ketapang
KaliandaExtLB
GedongTataan
PagelaranExtLB
Mesuji
Gumawang Ext LB
GumawangExtLB
TelukRatai
NewTarahan
Adijaya
Dipasena
MesujiExtLB
Sutami
Pakuan Ratu
PakuanRatu
Menggala
JatiAgung
NatarExtLB
KaliandaExtLB
Langkapura
BesaiExtLB
Tegineneng
Mesuji
Bengkunat
LiwaExtLB
PakuanRatu
JatiAgung
Sukarame
Ketapang
TelukRataiExtLB
Kotabumi
Sribawono
Bangkinang
BaganBatu
Duri
Koto Panjang
KotoPanjang
GarudaSakti
TelukKuantanExtLB
TelukLembu
Dumai
PasirPutih

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru

60
30
2LB
60
2LB
30
2 LB
2LB
30
60
30
120
2LB
30
30
60
30
2LB
2LB
60
2LB
60
30
30
2LB
30
30
60
30
2LB
60
60
30
30
60
20
80
1LB
60
60
60

2,12
2,64
1,24
5,28
1,24
2,64
1 24
1,24
2,64
2,12
1,40
5,28
1,24
1,40
2 64
2,64
2,12
2,64
3,11
1,24
4,03
1,24
2 12
2,12
1,40
2,64
1,24
1,40
1,40
2,12
1 40
1,40
1,24
2,12
2,12
1,40
1,40
2,12
2 12
2,12
3,27
0,62
2,12
2,12
6,52

2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2020
2020
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Keterangan
Uprating20MVA
1x30MVA
T/LKetapang
2x30MVA
T/LGedonTataan
1x30MVA
T/L Mesuji
T/LMesuji
1x30MVA

1x30MVA
T/LMesuji
1x30 MVA
1x30MVA
Uprating20MVA
1x30MVA
T/LkeJatiAgung
T/LPLTPRajaBasa
1x60MVA
T/LPLTPSuohSekincau
Uprating 20 MVA
Uprating20MVA
1x30MVA
T/LkeBengkunat

T/LkePLTPWaiRatai
Uprating30MVA

T/LkeKiliranjao
Uprating30MVA
2x30MVA+4LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 4)

185

No. Propinsi

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200

GarudaSaktiExtLB
PasirPangaraian
BangkinangExtLB
Rengat
TelukKuantanExtLB
KITTenayan
KID Dumai
KIDDumai
DumaiExtLB
BaganSiapiapi
DumaiExtLB
PangkalanKerinci
NewGarudaSakti
GI/GISKotaPekanbaru
Teluk Lembu Ext LB
TelukLembuExtLB
TelukLembuExtLB
PasirPutihExtLB
Perawang
TenayanExtLB
Tembilahan
RengatExtLB
Siak Sri Indra Pura
SiakSriIndraPura
TenayanExtLB
Kandis
LipatKain
BangkinangExtLB
PasirPutih
Bangkinang
Teluk Kuantan
TelukKuantan
Duri
KITTenayan
Tembilahan
KIDDumai
BaganBatu
Bungus
Indarung Ext LB
IndarungExtLB
Kambang
PadangLuar
PIP
PauhLimo
SimpangEmpat

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension

2LB
30
2LB
2x30
2LB
30
30
2LB
30
2LB
30
2x60
60
2 LB
2LB
2LB
2LB
30
2LB
30
2LB
30
2LB
30
30
2LB
120
60
30
60
30
30
30
30
30
2 LB
2LB
30
60
30
60
30

1.24
2.64
1.24
5.28
1.24
2.64
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
3.88
6.73
5.28
3 11
3.11
1.24
1.24
2.64
1.24
2.64
1.24
2 64
2.64
1.24
2.64
2.64
1.24
4.24
2.12
1 40
1.40
2.12
1.40
1.40
1.40
1.40
3.88
1 24
1.24
2.64
2.12
1.39
2.12
1.40

2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2017
2017
2019
2019
2020
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

Keterangan
T/LkePasirPutih
1x30MVA
T/LkePasirPangaraian
1x30MVAdidanaiAPBN,1x30MVAdidanaiAPLN
T/LkeRengat
GIPembangkit1x30MVA
1x30 MVA
1x30MVA
T/LkeKIDDumai
1x30MVA
T/LkeBaganSiapiapi
1x30MVA
1x60 MVA didanai APBN, 1x60 MVA didanai APLN

1x60MVA
T/LkeGI/GISKotaPekanbaru
T/L
ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/LkePasirPutih
T/LkeTelukLembu
1x30MVA
T/LkePerawang
1x30MVA
T/LkeTembilahan
1x30 MVA
1x30MVA
T/LkeSiakSriIndraPura
1x30MVA
1x30MVA
T/LkeLipatKain
2x60MVA

OnGoing
keBungus
ke
Bungus
1x30MVA
Uprating20MVA
Menggantitraforusak
Uprating30MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 5)

186

No. Propinsi

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240

PadangPanjang
Solok
Payakumbuh
KiliranjaoExtLB
ManinjauExtLB
PadangLuarExtLB
Payakumbuh Ext LB
PayakumbuhExtLB
BatusangkarExtLB
SingkarakExtLB
Salak
KiliranjaoExtLB
SungaiRumbai
Maninjau
Kiliranjao
Payakumbuh
GI/GISKotaPadang
SungaiRumbaiExtLB
Bungus
Kambang
SimpangEmpat
Solok
PIPExtLB
LubukAlung
SungaiRumbai
Pariaman
PIP
GISKotaPadang
Padang Luar
PadangLuar
Batusangkar
Baturaja
LubukLinggau
LahatExtLB
PagarAlamExtLB
BukitSiguntang
Tanjung ApiApi
TanjungApiApi
Lahat
PagarAlam
GungungMegang
SimpangTiga
Prabumulih

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension

30
60
30
1LB
1LB
2LB
1 LB
1LB
1LB
1LB
30
2LB
30
30
30
30
120
2LB
30
30
60
30
2LB
30
30
30
60
60
30
30
60
60
1LB
1LB
30
60
30
30
60
60
60

1.40
2.12
1.40
0.62
0.62
1.24
0 62
0.62
0.62
0.62
1.40
1.24
2.64
1.40
1 40
1.40
1.40
10.09
1.24
1.40
1.40
2.12
1 40
1.40
1.24
1.40
1.40
1.40
2.12
2.12
1 40
1.40
1.40
2.12
2.12
0.62
0.62
1.27
5 28
5.28
1.40
1.40
2.12
2.12
2.12

2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2016
2016
2016
2017
2017
2017
2017
2017
2018
2018
2018
2019
2020
2020
2020
2020
2011
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012

Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel

Keterangan
Uprating20MVA
2ndsirkitkeTelukKuantan
2ndsirkitkePadangLuar
2ndsirkitkeManinjau&Payakumbuh
2nd sirkit ke Padang Luar
2ndsirkitkePadangLuar
T/LkearahSingkarak
T/LkearahBatusangkar
T/LkeSungaiRumbai
1x30MVA

2x60MVA
T/LkePLTPMuaraLabuh

T/LkeGI/GISKotaPadang

Uprating30MVA
Uprating20MVA
T/L2ndSirkitPagarAlam
T/L2ndSirkitPagarAlam
Uprating15MVA
2x30 MVA
2x30MVA
Uprating10MVA
Uprating10MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 6)

187

No. Propinsi

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

241
242
243
244
245
246
247
248
249
250
251
252
253
254
255
256
257
258
259
260
261
262
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273
274
275
276
277
278
279
280

Baturaja
PagarAlamExtLB
GunungMegangExtLB
TalangKelapa
BukitSiguntang
Bungaran
Bungaran
Kenten
Gandus
Sekayu
BetungExtLB
Jakabaring
Baturaja
Keramasan
KayuAgungExtLB
GumawangExtLB
BukitAsam
MarianaExtLB
BukitSiguntang
KayuAgung
Gumawang
TebingTinggi
LubukLinggauExtLB
KeramasanExtLB
LahatExtLB
SungaiLilin
BetungExtLB
Lubuk Linggau
LubukLinggau
Muaradua
BaturajaExtLB
LahatExtLB
Mariana
Martapura
GumawangExtLB
Muara Rupit
MuaraRupit
Keramasan
SungaiLilin
Kenten
TalangKelapa
BukitAsam

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
70/20kV
70/20 kV
70/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension

60
2LB
1LB
60
30
30
30
120
120
30
2LB
60
60
60
2LB
2LB
60
2LB
30
30
30
30
2LB
2LB
2LB
30
2LB
60
30
2LB
4LB
30
30
2LB
30
60
30
60
60
60

2.12
1.24
0.62
2.12
1.27
1.27
1 27
1.27
4.03
4.03
2.64
1.24
4.03
2.12
2 12
2.12
1.24
1.24
2.12
1.24
1.27
2.64
1 40
1.40
2.64
1.24
1.24
1.24
2.64
1.24
2 12
2.12
2.64
1.24
2.49
1.40
2.64
1.24
2 64
2.64
2.12
1.40
4.03
2.12
2.12

2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2017
2017
2018
2018
2018

Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel

Keterangan
T/LkeManna
UntukSTGunungMegang

Uprating15MVA
Uprating 10 MVA
Uprating10MVA
2x60MVA
2x60MVA
1x30MVA
T/LKeSekayu
1x60MVA

T/LGumawang
T/LKayuAgung
T/LkeKayuAgung
Uprating15MVA
1x30MVA
1x30MVA
T/LarahTebingTinggi
UntukPLTGUKeramasan
UntukPLTPLumutBalai
1x30MVA
T/LkeSungaiLilin
1x30MVA
T/LkeMuaradua
UntukPLTUBanjarSari&UntukPLTUKebanAgung
1x30MVA
T/LkeMartapura
1x30 MVA
1x30MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 7)

188

No. Propinsi

NamaGarduInduk

281
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306
307
308
309
310
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320

PagarAlam
Betung
KayuAgung
MuaraDuaExtLB
Sekayu
TebingTinggi
Gandus
SimpangTiga
RantauPrapat
GunungPara
TanjungMorawa
Tele
GunungTua
Binjai
PadangSidempuan
Denai
TebingTinggi
Kisaran
PematangSiantar
GunungTua
Sei Rotan
SeiRotan
Glugur
RantauPrapat
Brastagi
Sidikalang
Porsea
Tarutung
Sibolga
Perbaungan
Namurambe
AekKanopan
Galang
LabuhanBilik
Lamhotma
Lamhotma
LamhotmaExtLB
BelawanExtLB
NamurambeExtLB
DenaiExtLB
Labuhan

Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension

30
30
30
2LB
30
30
60
60
60
30
60
30
30
60
30
60
60
60
60
10
60
60
60
60
30
20
30
60
60
60
30
0
60
30
30
1LB
1LB
2LB
2LB
30

1.40
1.40
1.40
1.24
1.40
1.40
2 12
2.12
2.12
2.12
1.40
2.12
1.40
1.40
2 12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
2.12
0.66
2 12
2.12
2.12
2.12
2.12
1.40
1.15
1.40
2 12
2.12
2.12
2.12
1.40
2.49
3.36
1.40
1 40
1.40
0.62
0.62
1.24
1.24
1.40

2018
2019
2019
2020
2020
2020
2020
2020
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012

Keterangan
Uprating15MVA

UntukDoublePidanT/LPLTPD.Ranau

Uprating30MVA
Uprating10MVA
Uprating10MVA
Uprating10MVA

Uprating30MVA

Uprating30MVA
Uprating20MVA

2LBarahNamurambedan2LBarahT.Marowa
1x60MVA
Uprating20ke30MVA
Tambah trafo 30 MVA
Tambahtrafo30MVA
KearahBelawan
KearahLamhotma
KearahGalang
KearahGalang

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 8)

189

No. Propinsi

NamaGarduInduk

321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
334
335
336
337
338
339
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
350
351
352
353
354
355
356
357

Parlilitan/DolokSanggul
KualaNamu
TanjungMarowaExtLB
Panyabungan
PadangSidempuanExtLB
SidikalangExtLB
Brastagi/Berastagi Ext LB
Brastagi/BerastagiExtLB
PayaPasir
Salak
SidikalangExtLB
NegeriDolok
GalangExtLB
Pangururan
Tele Ext LB
TeleExtLB
RantauPrapatExtLB
PangkalanBrandanExtLB
PangkalanSusuExtLB
TanjungPura
GunungSitoli
TelukDalam
Kota Pinang
KotaPinang
KIMExtLB
GISListrikextLB
MabarExtLB
GlugurExtLB
BrastagiExtLB
SimangkokExtLB
Tanjung Pura
TanjungPura
TitiKuning
GISListrik
PayaGeli
PanyabunganExtLB
TarutungExtLB
RantauprapatExtLB
Tebing Tinggi Ext LB
TebingTinggiExtLB
TebingTinggiExtLB
BelawanExtLB

Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
70/20kV
70/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV

Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension

10
60
2LB
60
2LB
2LB
2 LB
2LB
60
60
2LB
60
2LB
30
2 LB
2LB
2LB
2LB
2LB
30
30
30
30
1LB
1LB
1LB
1LB
2LB
2LB
30
60
60
60
2LB
2LB
2TB
2 TB
2TB
2TB
2TB

1.90
4.03
1.24
4.03
1.24
1.24
1 24
1.24
2.12
2.12
1.24
2.12
1.24
2.64
1 24
1.24
1.24
1.24
1.24
2.64
2.20
2.20
1 40
1.40
1.55
1.55
1.55
1.55
1.24
1.24
1 40
1.40
2.12
2.12
2.12
1.24
1.24
1.24
1 24
1.24
1.24
1.24

2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2017
2017
2017
2018
2018
2019
2020
2020
2020
2020

Keterangan
1x10MVA
2x30MVA
T/LkeKualaNamu
2x30MVA
T/LKePanyabungan
keSabulussalam
ke Kutacane
keKutacane

keSalak
KearahNegeriDolok
1x30MVA
ke Pangururan
kePangururan
T/LKeLabuhanBilik
T/LkePLTUPangkalanSusu
KearahPangkalanBrandan
1x30MVA
1x30MVA
1x30MVA
KearahGISListrik
KearahKIM
KearahGlugur
KearahMabar
T/LkePLTAWampu
KearahPLTAAsahanIII

1x60MVA
KePLTPSorikMerapi
KePLTPPusukBukit
UntukIBT500/150kV
Untuk IBT 500/150 kV
UntukIBT500/150kV
UntukIBT275/150kV
UntukIBT275/150kV

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 9)

190

No. Propinsi

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension
Extension

Kap

Jumlah

COD

358
359
360
361
362
363
364
365
366
367
368
369
370
371
372
373
374
375
376
377
378
379
380
381
382
383
384
385
386
387
388
389
390
391
392
393
394
395
396

Binjai
PangkalanSusu
Bangko
MuaraBungo
NewGarudaSakti
Kiliranjao
Payakumbuh
Lahat
LubukLinggau
Galang
Sarulla
PadangSidempuan
AurDuri
Lahat
LumutBalai
Betung
Gumawang
Sigli
PLTUMeulaboh
Lhokseumawe
Rengat
RiauMulutTambang
MuaraEnim
BayungLincir/PLTUSumsel5
SungaiLilin/PLTUSumsel7
PangkalanSusu
Bangko
Ulee Kareng
UleeKareng
Aurduri
LubukLinggau
NewGarudaSaktiHVDCStationConverter
HVDCSwitchingStation
PLTUJambi500kV
KetapangSwitchingStation
Muara Enim 500 kV
MuaraEnim500kV
MuaraEnim500kV
Aurduri500kV
NewGarudaSakti500kV
Rengat500kV

275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150 kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150 kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150 kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
275/150 kV
275/150kV
275/150kV
275/150kV
250kVDC
250kVDC
500kV
500kVDC
500 kV DC
500kVDC
500/275kV
500/275kV
500/275kV
500/275kV

Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru

1000
0
250
250
500
250
250
1000
250
1000
500
500
500
0
500
500
500
250
250
250
250

0
0
0
250
500
500
0
250
600
0
0
0
3000
1000
500
1000
500

31.83
9.11
21.08
20.08
24.28
19.66
20 17
20.17
35.50
20.32
35.13
24.00
21.88
25.98
2 97
2.97
24.28
24.00
21.03
25.98
20.08
20.08
20 08
20.08
8
12.21
12.08
12.08
21.03
17.92
21 03
21.03
2.81
7.45
19.95
16.68
9.82
1.47
324 00
324.00
54.31
25.77
36.22
25.77

2011
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2017
2018
2018
2020
2016
2016
2018
2016
2016
2016
2018
2018
2018

Sumut
Sumut
Jambi
Jambi
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
NAD
NAD
NAD
Riau
Riau
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumut
Jambi
NAD
Jambi
Sumsel
Riau
Riau
Jambi
Lampung
Sumsel
Sumsel
Jambi
Riau
Riau

Keterangan
2x500MVA
2x250MVA
1x250MVA
2x250MVA
1x250MVA
1
x 250 MVA
1x250MVA
2x500MVA
1x250MVA
2x250MVA
2x250MVA
UntukPLTUPangkalanSusuII2x250MVA
Untuk
PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA
2LBarahLumutBalaidan2LBarahMuaraEnim
2x250MVA
2x250MVA
1x250MVA
2x250MVA
2x250MVA
2x250 MVA
2x250MVA
2x250MVA
2x500MVA
UntukMengantisipasiPLTUHululais
1x125MVA
2x250MVA
Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin
UntukMengantisipasiPLTPMerangin
2x250MVA
2x250MVA
HVDCkePeninsula
HVDCkePeninsula
1x500MVA
2x500MVA
2x500 MVA
2x500MVA
Untuk500kVAurduri
2x500MVA
2x500MVA

LAM
MPIRAN A1.7

PET
TA PENGE
EMBANGA
AN PENY
YALURAN
SISTEM INTERKONEKSI SUM
MATRA

191

Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera

192
Eksisting 70 kV
Eksisting 150 kV
Eksisting 275 kV (Operasi 150 kV)
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV AC
Rencana 250 kV DC
Rencana 500 kV AC
Rencana 500 kV DC

Sistem Nangroe Aceh Darussalam (NAD)

193

Sistem Sumatera Utara

194

Sistem Riau

195

Sistem Sumatera Barat

196

Sistem Jambi

197

Sistem Bengkulu

198

Sistem Sumatera Selatan

199

Sistem Lampung

200

LAM
MPIRAN A1.8

ANALISIS ALIRA
AN DAYA
A
SIS
STEM INT
TERKONEKSI SUMA
ATRA

201

240.12 MW

83 MW

PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA


TAHUN 2011

SUB SISTEM
NAD
SUB SISTEM
BENGKULU

LANGSA

85.9 MW

211 MW

PKLNG
172.4 MW
121 MW
194.3
MW

PBDAN

202

SUB SISTEM
JAMBI

1.158,78 MW

1.209,78 MW

MBNGO

168.4 MW

LLGAU

INALUM

LLGAU

SUB SISTEM
SUMUT

BNGKO

0 MW

177
MW

SUB SISTEM
SUMSEL
BTRJA

222.4 MW
160 MW

SMKOK

148.8 MW
PLTA
ASAHAN 1
2 X 90 MW

160 MW
KTPNG

BKMNG &
BUMPU

172.2 MW

PYBUH

SUB SISTEM
RIAU

KTPJG

BBATU

KLJAO

SUB SISTEM
LAMPUNG

SUB SISTEM
SUMBAR
397
MW

275 kV
150 kV

196
MW

359
MW

458.77 402.28
MW
MW

568.68
568
68
MW

599.7 MW

875 MW

PLTA ASAHAN 1
2 X 90 MW

160 MW

PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA


TAHUN 2012

LLGAU

56 MW

56 MW

BNGKO

8.6 MW

47.2 MW

64.8 MW

SUB SISTEM
BENGKULU

MBNGO

38.5 MW

28.8 MW

SUB SISTEM
BANGKO

KLJAO

67.5MW

SMKOK

160 MW

LAHAT

67.5 MW

SUB SISTEM
JAMBI

SUB SISTEM
SUMUT

SUB SISTEM
SUMBAR & RIAU SEL
PYBUH

SUB SISTEM
SUMSEL &
BENGKULU SEL

177.8 MW 97.88 MW

- MW

47.1 MW

164.9 MW

188.9 MW

1049 MW 1273 MW

626 MW 464 MW

199 MW

PBDAN

80.2 MW

203

KTPNG

BTRJA
82.4 MW

723 MW
151 MW

BKMNG &
BUMPU

SUB SISTEM
LAMPUNG

LNGSA
360 MW

525 MW

150 kV

200 MW

SUB SISTEM
RIAU

275 kV

PSUSU

KTPJG

BBAT
TU

858 MW

BNJAI

460 MW

SUB SISTEM
NAD

705 MW

273 MW

373 MW

PLTU Pangkalan Susu


1 X 220 MW

PLTA ASAHAN 1
2 X 90 MW

PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA


TAHUN 2013

PLTP SARULLA

160 MW

SUB SISTEM
JAMBI

PYBUH

SMKOK

25.3 MW
W

134 MW

SUB SISTEM
SUMBAR & RIAU SEL

GLANG

152 MW
W

138.6 MW

SUB SISTEM
SUMUT
18.2 MW

SUB SISTEM
BANGKO

KLJAO

174.6 MW

15.3 MW

53.5 MW
W

25.4 MW
W

SUB SISTEM
BENGKULU

MBNGO

134.8 MW

138.6 MW
W

BNGKO

134.8 MW

W
36 MW

LLGAU

156.9 MW

156.8 MW
W

LAHAT

PYBUH

SUB SISTEM
SUMSEL &
BENGKULU SEL

160 MW

129.6 MW

- MW

53.4 MW

277.9 MW 261.6 MW

552 MW

522 MW

966 MW 1400 MW

286 MW

PBDAN

160.6 MW

204

KTPNG

BTRJA &
MRDUA

199.2 MW

792 MW

95.6 MW

KTPJG

PSUSU

SUB SISTEM
LAMPUNG

LNGSA
537 MW

SUB SISTEM
NAD
PLTU
Pangkalan Susu
2 x 220 MW

717 3 MW 792 MW
717.3

150 kV

304 MW

BKMNG

SUB SISTEM
RIAU

697 MW

275 kV

304 MW

BB
BATU

705 MW

BNJAI

259 MW

451 MW

MNGLA
M

400 MW

BKMNG

BBATU
U

104.9 MW

293.5 MW

267.9 MW

232.8 MW

229 MW

69.4 MW

11.8 MW

93 MW

GLANG

233.4 MW

205
21.8 MW

10 MW

100.4 MW

17.2 MW

46.6 MW

44.1 MW

34.3 MW

430.6 MW

160 MW

100 MW

100 MW

720 MW

BBATU

266 MW

BKMNG MNGLA

300 MW

51.8 MW

67.2 MW

439 MW

280 MW

182.7 MW

73.8 MW

361 MW

202.2
2 MW

39.2 MW

6 MW

199.2
2 MW

GLA
ANG

206
2.1 MW

47.9 MW

118.9 MW

48.9 MW

83.7 MW

18.6 MW

6 MW

14.6 MW

156 MW

300 MW

159.4 MW

190 MW

600 MW

402 MW

BKMNG MNGLA

540 MW
W

65.8 MW

194.6 MW

317.3 MW

139.2 MW

8.1 MW

240 MW

240 MW

4.9 MW

284.6 MW

144.7 MW

191.4 MW
W

55.1 MW
W

GLANG
G

207
38.9 MW

160.9 MW

146.3 MW

128.7 MW

40.1 MW

6.8 MW

W
62.1 MW

136.6 MW

160 MW

300 MW

160 MW

190 MW

600 MW

458.9 MW

BKMNG MNGLA

1.6 MW

198.4 MW

500 MW

178.3 MW

111.4 MW

8 MW
30.8

240 MW

240 MW

147.6 MW

28 MW

445.4 MW

22
22.2 MW

228.6 M
MW

90.6 MW
W

GLANG

208
30.2 MW

178.4 MW
W

MW
127.7 M

29 MW

38.3 MW

45.2 MW
W

64.5 MW
W

178.3 MW
W

160 MW

290 MW

170 MW

160 MW

720 MW

540 MW

BKMNG MNGLA

55.1 MW

260.6 MW

540 MW

654 M
MW

275.9 M
MW

330 MW

211 MW

380 MW

260 MW
W

200 MW
W

1.3 MW

60.3 MW

445 MW

39
93.4 MW

MW
585.2 M

400 MW

397.8 MW

125.3 MW

GLAN
NG

209
53 MW

240 MW

W
200 MW

138.7 MW
W

13.6 MW

239 MW

10 MW

294 MW

140 MW

180 MW

160 MW

80 MW

200 MW

800 MW

W
511.4 MW

BKMNG MNGLA

105 MW

361.5 MW

500 MW

1126 MW

145 MW
W

344 MW

231 MW

718 MW

240 MW
W

240 MW
W

35 MW

1.6 MW

299.6 MW

718 MW

443 MW

22.3 MW

420 MW
4

453.9 MW
4

GLAN
NG

210
26.1 MW

196.6 MW
W

267.3 MW
W

209 MW

14.5 MW
W

194 MW

39.9 MW
W

11.8 MW
W

160 MW

150 MW

160 MW

80 MW

170 MW
W

760 MW

515 MW

BKMNG MNGLA

126.4 MW

375 MW

52
20 MW

135
5 MW

1151
1 MW

299 MW

758 MW

270 M
MW

270 M
MW

29.3 MW

59.7 MW

450 MW

424.6 MW

758 MW

445.4 MW

42.7 MW

470.7 MW

GLANG

211
40.6 MW
W

266.3 M
MW

186.7 MW

214.5
5 MW

10.7 MW
W

261 M
MW

64.3 M
MW

66.6 MW
W

160 MW

200 MW

160 MW
W

160 MW

LA
AMPIRAN
N A1.9

KEBUTUH
HAN FISIK
K PENGEM
MBANGAN
N DISTRIB
BUSI
SIS
STEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATERA

212

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Regional Sumatera
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
6.569
4.562
4.661
5.011
5.031
5.403
5.548
5.951
6.291
6.590
55.618

JTR
kms
6.711
4.285
4.509
4.869
4.982
5.271
5.273
5.608
5.788
5.955
53.251

Trafo
MVA
1.470
766
819
836
872
900
941
978
1.041
1.072
9.694

Pelanggan
1.091.206
594.512
605.242
619.356
537.293
498.951
493.516
506.895
522.635
540.399
6.010.005

213

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Regional Sumatera
Juta USD
Tahun

JTM

2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

148,8
106,0
06,0
111,4
123,4
126,0
140,8
145,3
161,7
174,5
188,3
1.426,3

JTR
100,1
64,0
6
,0
69,1
76,8
79,8
88,4
87,1
98,3
104,2
108,5
876,4

Trafo
50,9
36,2
36,
37,0
38,4
37,1
34,2
35,8
38,0
41,1
43,9
392,7

Pelanggan
39,0
42,3
,3
54,8
63,1
32,7
34,6
36,3
38,2
39,1
39,0
419,1

Total
338,9
248,6
8,6
272,3
301,8
275,5
298,0
304,5
336,2
359,0
379,7
3.114,5

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Aceh
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
878
937
1.000
1.068
1.140
1.216
1.298
1.385
1.478
1.578
11.979

JTR
kms
994
1.061
1.132
1.208
1.290
1.377
1.469
1.568
1.673
1.786
13.558

Trafo
MVA
53
56
60
64
69
73
78
83
89
95
720

Pelanggan
42.227
39.193
40.171
41.179
34.291
30.598
31.418
33.447
34.369
35.332
362.225

214

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Aceh
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
21,9
23,4
3,
24,9
26,6
28,4
30,3
32,4
34,5
36,9
39,3
298,6

JTR
13,3
14,2
,
15,2
16,2
17,3
18,4
19,7
21,0
22,4
23,9
181,5

Trafo
4,5
4,8
,8
5,2
5,5
5,9
6,3
6,7
7,1
7,6
8,1
61,7

Pelanggan
3,0
2,7
,
2,8
2,9
2,4
2,1
2,2
2,3
2,4
2,5
25,3

Total
42,7
45,1
5,
48,1
51,2
53,9
57,2
60,9
65,0
69,3
73,8
567,2

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Sumatera Utara
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
1.376
1.461
1.438
1.538
1.538
1.718
1.903
2.076
2.291
2.467
17.805

JTR
kms
1.092
918
996
1.078
1.158
1.218
1.260
1.339
1.378
1.414
11.850

Trafo
MVA
146
153
166
180
193
220
240
263
287
314
2.160

Pelanggan
125.011
120.266
118.720
116.353
102.587
113.957
118.215
122.640
127.238
132.016
1.197.004

215

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Sumut
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
26,5
28,1
8,
27,7
29,6
29,6
33,1
36,6
40,0
44,1
47,5
342,7

JTR
12,9
10,9
0,9
11,8
12,7
13,7
14,4
14,9
15,8
16,3
16,7
140,2

Trafo
1,2
1,3
,3
1,4
1,5
1,6
1,8
2,0
2,2
2,4
2,6
18,1

Pelanggan
8,7
8,4
8,
8,3
8,1
7,2
8,0
8,3
8,6
8,9
9,2
83,7

Total
49,4
48,7
8,
49,1
52,0
52,1
57,3
61,8
66,6
71,7
76,1
584,6

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Sumatera Barat
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
262
295
314
315
321
331
339
342
351
372
3.242

JTR
kms
308
347
370
371
378
391
400
404
414
439
3.823

Trafo
MVA
38
43
46
46
47
48
49
50
51
54
471

Pelanggan
32.205
34.715
35.286
35.420
36.075
37.323
38.203
38.633
39.670
42.004
369.534

216

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Sumbar
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
7,4
8,3
8,9
9,0
9,2
9,5
9,7
9,9
10,2
10,6
92,7

JTR
6,5
7,3
,3
7,8
7,9
8,1
8,3
8,6
8,8
9,1
9,4
81,9

Trafo
5,4
6,0
6,4
6,5
6,7
6,9
7,0
7,2
7,4
7,7
67,2

Pelanggan
2,5
2,8
,8
3,0
3,0
3,1
3,2
3,3
3,4
3,5
3,6
31,3

Total
21,8
24,4
,
26,0
26,5
27,1
27,8
28,6
29,3
30,2
31,4
273,1

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Riau
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
1.340
534
565
541
584
599
602
609
629
591
6.595

JTR
kms
1.546
616
652
624
673
692
694
703
725
682
7.610

Trafo
MVA
785
271
287
275
296
304
306
309
319
300
3.454

Pelanggan
216.003
57.399
60.743
58.151
62.700
64.408
64.649
65.476
67.548
63.549
780.626

217

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Riau
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
31,5
12,6
,6
13,3
12,7
13,7
14,1
14,2
14,3
14,8
13,9
155,2

JTR
26,4
10,5
0,5
11,2
10,7
11,5
11,8
11,9
12,0
12,4
11,7
130,1

Trafo
7,1
2,5
,5
2,6
2,5
2,7
2,8
2,8
2,8
2,9
2,7
31,2

Pelanggan
6,2
6,7
6,
10,2
11,5
4,6
4,8
4,9
5,1
4,3
2,3
60,5

Total
71,3
32,2
3
,
37,2
37,4
32,6
33,5
33,7
34,3
34,4
30,6
377,0

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Kepulauan Riau
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
293
105
130
184
203
217
209
200
173
163
1.876

JTR
kms
338
121
150
212
234
250
241
231
200
188
2.164

Trafo
MVA
107
61
76
82
87
91
94
96
101
105
900

Pelanggan
23.272
13.335
13.837
14.842
15.700
16.566
16.964
17.487
18.287
19.113
169.404

218

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Kepulauan Riau
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
6,9
2,5
,5
3,1
4,3
4,8
5,1
4,9
4,7
4,1
3,8
44,1

JTR
5,8
2,1
,
2,6
3,6
4,0
4,3
4,1
3,9
3,4
3,2
37,0

Trafo
1,0
0,6
0,7
0,7
0,8
0,8
0,8
0,9
0,9
1,0
8,1

Pelanggan
1,4
0,5
0,6
0,8
0,9
1,0
1,0
0,9
0,8
0,8
8,7

Total
15,0
5,6
6,9
9,5
10,5
11,2
10,8
10,4
9,2
8,7
97,9

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Jambi
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
558
222
226
234
240
245
253
264
275
282
2.800

JTR
kms
515
205
210
220
227
230
238
253
263
264
2.626

Trafo
MVA
49
20
20
21
22
23
24
25
26
27
257

Pelanggan
84.765
33.693
36.589
37.591
29.433
30.565
31.424
33.567
34.516
37.725
389.868

219

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Jambi
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
13,1
5,7
5,
6,4
7,2
8,1
9,1
10,3
11,8
13,4
15,4
100,5

JTR
9,8
3,8
4,4
5,0
5,7
6,5
5,0
7,7
8,7
7,4
64,1

Trafo
0,5
0,2
0,
0,2
0,2
0,3
0,3
0,4
0,3
0,4
0,6
3,4

Pelanggan
4,3
1,1
,
3,9
5,6
1,7
1,8
2,0
2,1
2,3
2,5
27,3

Total
27,7
10,9
0,9
14,9
18,0
15,8
17,8
17,7
21,9
24,8
25,9
195,4

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Sumatera Selatan
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
716
394
414
438
462
488
516
544
574
606
5.152

JTR
kms
721
396
421
447
475
504
535
567
602
638
5.306

Trafo
MVA
100
44
54
50
62
58
71
67
82
88
675

Pelanggan
233.427
102.644
116.372
116.204
88.735
83.599
73.059
69.997
70.865
76.896
1.031.799

220

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Sumatera Selatan
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
18,3
11,0
,0
12,8
14,8
17,3
20,0
23,3
27,0
31,4
36,4
212,3

JTR
11,0
6,7
6,
7,8
9,1
10,6
12,4
14,5
16,9
19,7
23,0
131,9

Trafo
1,2
0,6
0,8
0,8
1,1
1,1
1,0
1,2
2,1
2,5
12,3

Pelanggan
6,2
6,4
6,
12,5
16,9
4,7
5,1
5,4
5,8
6,2
6,7
76,0

Total
36,7
24,7
,
33,9
41,7
33,7
38,7
44,2
50,9
59,5
68,6
432,6

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Bengkulu
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
290
191
176
271
133
306
141
227
194
188
2.115

JTR
kms
316
208
191
295
144
333
153
247
211
204
2.301

Trafo
MVA
20
13
12
18
8
16
12
15
13
13
140

Pelanggan
40.147
26.366
24.262
34.442
11.963
19.182
14.146
16.836
17.100
16.816
221.260

221

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Bengkulu
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
7,4
5,3
5,4
9,2
4,9
12,6
6,4
11,3
10,6
11,3
84,3

JTR
4,8
3,5
3,5
6,0
3,2
8,2
4,2
7,4
6,9
7,4
55,1

Trafo
0,2
0,2
0,
0,2
0,3
0,1
0,3
0,3
0,4
0,3
0,4
2,6

Pelanggan
0,2
0,1
0,
0,1
0,2
0,2
0,2
0,2
0,3
0,3
0,3
2,1

Total
12,6
9,1
9,
9,3
15,6
8,5
21,3
11,0
19,3
18,1
19,3
144,2

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Lampung
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
428
281
269
277
260
169
174
179
184
189
2.409

JTR
kms
403
264
254
261
244
159
164
168
173
178
2.268

Trafo
MVA
144
94
88
87
72
54
55
56
57
59
765

Pelanggan
236.225
155.182
148.793
153.230
143.322
93.527
96.093
98.721
101.417
104.182
1.330.692

222

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Lampung
Juta USD
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
10,3
71
7,1
7,2
7,8
7,6
5,2
5,6
6,1
6,5
7,1
70,5

JTR
5,4
37
3,7
3,8
4,1
4,0
2,7
3,0
3,2
3,4
3,7
37,0

Trafo
28,6
19 7
19,7
19,2
20,0
17,5
13,6
14,6
15,7
16,9
18,2
184,1

Pelanggan
4,6
13 0
13,0
12,7
13,5
7,1
7,7
8,3
9,0
9,7
10,4
96,0

Total
49,0
43 6
43,6
42,9
45,3
36,3
29,3
31,5
33,9
36,5
39,3
387,6

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Bangka Belitung
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
428
143
128
146
152
113
114
123
142
156
1.645

JTR
kms
477
149
133
152
159
117
119
128
148
162
1.744

Trafo
MVA
29
11
10
13
17
12
13
14
16
17
151

Pelanggan
57.924
11.719
10.468
11.944
12.486
9.226
9.345
10.091
11.624
12.766
157.594

223

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Bangka Belitung
Juta USD
Tahun
2011
0
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
5,6
1,9
,9
1,8
2,2
2,4
1,8
1,9
2,2
2,6
3,0
25,3

JTR
4,1
1,3
,3
1,2
1,5
1,6
1,2
1,3
1,5
1,8
2,1
17,7

Trafo
1,1
0,4
0,
0,3
0,4
0,4
0,3
0,2
0,2
0,2
0,2
3,7

Pelanggan
2,0
0,6
0,6
0,6
0,7
0,7
0,7
0,7
0,8
0,8
8,1

Total
12,8
4,3
,3
4,0
4,6
5,0
4,0
4,2
4,6
5,4
6,0
54,8

LA
AMPIRAN
N A1.10

P
PROGRAM
M LISTRIK
K PERDES
SAAN
SIS
STEM INT
TERKONE
EKSI SUMATERA

224

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanRegionalSumatera
K b h Fi ik J i
Li ik P d
R i
lS
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
3.344,0
1 810 2
1.810,2
3.657,2
3.539,5

JTR
kms
3.280,9
1 531 0
1.531,0
3.260,8
3.207,4

MVA
139,9
44 4
44,4
89,8
89,1

12.351,0 11.280,1

363,1

Trafo
Unit
2.263
758
1.426
1.440

Listrik murah

Jml Pelanggan

dan Hemat (RTS)

89 727
89.727
122.274
125.131

8 515
8.515

5.887,9 337.132,4

225

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanRegionalSumatera(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

Pembangkit

Pelanggan

Total

602.819,7
309.601,9
893 240 2
893.240,2
953.237,8

291.317,9
146.424,4
378 469 5
378.469,5
406.867,9

158.190,5
69.034,1
218 991 7
218.991,7
231.746,3

2.601,8
-

29 401 0
29.401,0
32.186,6

1.148.370,6
590.994,6
1 520 102 5
1.520.102,5
1.624.038,6

2.758.899,7

1.223.079,7

677.962,7

2.601,8

61.587,7

4.883.506,3

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiNAD
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i i NAD
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
411,0
58 0
58,0
164,1
162,0

JTR
kms
669,9
151 5
151,5
209,0
221,0

MVA
12,0
44
4,4
7,7
6,5

795,1 1.251,4

30,6

Trafo
Unit
266
71
114
108

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

10.018
10
018
5.227
5.518

1 620
1.620

559,0 20.763,0

226

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiNAD(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

30.254,5
11.553,6
50 575 4
50.575,4
57.039,7

32.325,1
16.933,5
36 497 2
36.497,2
42.330,8

9.827,5
6.625,1
16 376 6
16.376,6
17.476,7

149.423,2

128.086,7

50.305,8

Pembangkit

Pelanggan

Total
141.707,0
103.449,2
103
449 2
116.847,2

362.003,4

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiSumateraUtara
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i iS
U
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
350,0
110 0
110,0
440,0
422,0

JTR
kms
201,0
86 1
86,1
200,3
210,1

MVA
4,7
20
2,0
4,6
6,0

1.322,0 697,5

17,3

Trafo
Unit
157
60
155
201

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

3.614
3
614
11.042
10.590

2 530
2.530

573,9 25.246,0

227

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiSumateraUtara(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

37.343,4
23.938,0
103 883 2
103.883,2
109.661,8

18.746,3
10.003,8
22 297 1
22.297,1
25.317,3

8.090,2
4.472,9
18 055 1
18.055,1
18.360,6

274.826,4

76.364,4

48.978,8

Pembangkit

Pelanggan

Total
94.179,9
38.414,7
144 235 4
144.235,4
153.339,6

430.169,7

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiSumateraBarat
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i iS
B
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
315,0
132 0
132,0
301,0
273,0

JTR
kms
255,0
145 0
145,0
307,1
295,1

MVA
7,3
20
2,0
7,5
7,5

1.021,0 1.002,2

24,2

Trafo
Unit
166
41
80
80

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

11.419
11
419
9.480
12.000

1 620
1.620

367,0 32.899,0

228

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiSumateraBarat(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

61.027,1
30.518,5
93 044 3
93.044,3
97.560,9

23.629,5
17.332,1
38 420 5
38.420,5
41.415,9

10.297,1
4.472,8
13 778 1
13.778,1
16.348,2

282.150,8

120.798,0

44.896,3

Pembangkit

Pelanggan

Total
94.953,8
52.323,4
145 243 0
145.243,0
155.325,0

447.845,2

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiRiau
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i i Ri
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
310,0
198 0
198,0
170,0
170,0

JTR
kms
389,0
213 9
213,9
190,0
180,0

MVA
28,0
60
6,0
7,7
7,9

848,0 972,9

49,6

Trafo
Unit
380
90
97
100

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

8.855
8
855
13.755
14.205

667,0 36.815

229

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiRiau(utaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

59.940,8
41.747,8
47 998 8
47.998,8
51.653,8

40.381,7
22.265,4
24 352 8
24.352,8
24.460,3

35.912,0
11.020,3
18 183 0
18.183,0
20.062,5

201.341,1

111.460,1

85.177,8

Pembangkit

Pelanggan

Total
136.234,5
75.033,5
90 534 5
90.534,5
96.176,5

397.979,0

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiRiauKepulauan
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i i Ri K
l
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
280 0
280,0

JTR
kms

Trafo
MVA

Jml Pelanggan

Unit

239 3
239,3

60
6,0

280,0 239,3

6,0

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

90

13 125
13.125

425

90,0 13.125,0

230

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiRiauKepulauan(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

63.439,5

26.442,1

11.164,7

63.439,5

26.442,1

11.164,7

Pembangkit

Pelanggan

Total
101.046,3
-

101.046,3

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiJambi
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i i J bi
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
366,0
121 4
121,4
471,0
436,1

JTR
kms
319,0
127 2
127,2
535,0
572,1

MVA
23,5
53
5,3
26,0
25,0

1.394,5 1.553,3

79,7

Trafo

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

360
76
379
360

8.450
8
450
18.400
16.400

80

1.175,0 43.250

231

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiJambi(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

75.023,2
24.595,7
109 329 6
109.329,6
114.396,1

32.965,2
11.181,1
49 157 8
49.157,8
57.148,8

28.398,8
8.721,9
60 990 9
60.990,9
64.089,1

323.344,7

150.452,8

162.200,7

Pembangkit

Pelanggan

Total

10.686,7
10
686 7
10.477,6

136.387,3
44.498,7
230 165 0
230.165,0
246.111,6

21.164,4

657.162,6

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiSumateraSelatan
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i iS
S l
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
480,0
238 0
238,0
750,0
750,0

JTR
kms
323,0
148 0
148,0
611,0
560,0

MVA
29,5
68
6,8
12,0
11,3

2.218,0 1.642,0

59,5

Trafo
Unit
459
135
240
225

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

16.236
16
236
39.000
42.000

625

1.059,0 97.236,0

232

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiSumateraSelatan(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

86.311,9
49.581,8
133 530 0
133.530,0
146.890,0

34.437,6
18.747,3
74 410 0
74.410,0
74.960,0

32.265,5
11.641,5
28 740 0
28.740,0
29.640,0

416.313,7

202.554,9

102.287,1

Pembangkit

Pelanggan

Total
153.015,0
79.970,6
236 680 0
236.680,0
251.490,0

721.155,7

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiBengkulu
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i iB k l
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
450,0
340 9
340,9
769,0
776,0

JTR
kms
344,0
150 0
150,0
668,0
674,0

MVA
11,0
41
4,1
9,1
9,2

2.335,9 1.836,0

33,3

Trafo
Unit
149
71
180
184

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

4 500
4.500

470

584,0 4.500,0

233

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiBengkulu(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

102.399,7
47.072,3
188 731 8
188.731,8
199.972,1

34.523,0
15.717,4
63 360 6
63.360,6
67.117,3

13.847,7
8.523,5
25 586 2
25.586,2
27.310,9

538.175,9

180.718,4

75.268,3

Pembangkit

Pelanggan

Total
150.724,9
71.313,3
277 678 7
277.678,7
294.400,4

794.117,2

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiLampung
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i iL
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
370,0
150 0
150,0
227,1
205,4

JTR
kms
633,0
215 0
215,0
310,5
280,0

MVA
17,0
42
4,2
6,4
4,1

952,5 1.438,5

31,7

Trafo
Unit
230
62
76
52

Listrik murah

Jml Pelanggan

dan Hemat (RTS)

10.580
10
580
20.000
20.000

1 040
1.040

420,0 50.580,0

234

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiLampung(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

99.150,2
34.655,4
80 342 6
80.342,6
87.039,7

45.265,7
28.288,2
44 592 9
44.592,9
48.258,6

13.283,5
8.110,8
22 138 0
22.138,0
17.907,8

301.187,9

166.405,3

61.440,1

Pembangkit

Pelanggan

Total

16.163,7
16
163 7
19.396,5

157.699,4
71.054,4
163 237 2
163.237,2
172.602,5

35.560,2

564.593,5

P ki
PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiBangkaBelitung
K b h Fi ik J i
Li ik P d
P i i B k B li
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
292,0
182 0
182,0
365,0
345,0

JTR
kms
147,0
55 0
55,0
230,0
215,0

MVA
7,0
38
3,8
9,1
11,6

1.184,0 647,0

31,4

Trafo

Jml Pelanggan

Unit

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

96
62
105
130

2.930
2
930
5.370
4.418

105

393,0 12.718,0

235

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiBangkaBelitung(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

Pembangkit

51.368,9
45.938,8
85 804 5
85.804,5
89.023,8

29.043,7
5.955,7
25 380 7
25.380,7
25.859,0

6.268,2
5.445,2
15 143 8
15.143,8
20.550,5

2.601,8

272.136,0

86.239,1

47.407,6

2.601,8

Pelanggan

Total

2.550,6
2
550 6
2.312,5

83.468,7
57.339,7
128 879 5
128.879,5
137.745,8

4.863,1

407.433,7

LA
AMPIRA
AN A1.11

PROYEKS
SI KEBUT
TUHAN KE
EBUTUHA
AN INVES
STASI
SIS
STEM INT
TERKONE
EKSI SUMA
ATERA

236

Proyeksi
y
Kebutuhan Investasi Pembangkit,
g , Transmisi & Distribusi
[Fixed Asset Addition]
Sumatra
(Juta US$)

Tahun

237

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
T t l
Total

Investasi
Pembangkit T/L dan GI
480
135
1,515
411
1,691
1,205
2 025
2,025
582
3,210
826
2,252
900
2,687
97
1,332
264
2,792
54
1,445
76
19 428
19,428
4 549
4,549

Distribusi
281
299
359
398
297
321
344
374
395
402
3 469
3,469

Total
895
2,225
3,254
3 004
3,004
4,333
3,473
3,128
1,969
3,241
1,923
27 446
27,446

PENJELASAN LAMPIRAN A
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

238

PENJELASAN LAMPIRAN A1
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

A1.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 10,4% per
tahun antara tahun 2011 dan 2020, yaitu meningkat dari 23.414 GWh pada tahun
2011 menjadi 56.806 GWh pada tahun 2020. Sekitar 43% dari produksi tersebut
adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut)
dan selebihnya nya untuk Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel).
Faktor beban diperkirakan antara 65.4% sampai 67.0%.
Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2011 adalah 4.269 MW dan akan
tumbuh rata-rata 10.2% per tahun, sehingga menjadi 9.641 MW pada tahun 2020.
Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 2011 2020 ditunjukkan pada
Lampiran A1.1.
A1.2 Neraca Daya
Sistem interkoneksi masih lemah
Walaupun telah dibangun transmisi 150 kV Baganbatu Rantauprapat yang
menghubungkan sistem Sumbagut dan Sumbagselteng, namun kedua sistem
tersebut pada dasarnya secara elektris masih terpisah. Kedua sistem ini belum
dapat dioperasikan sebagai satu sistem interkoneksi karena terkendala oleh
masalah stabilitas, yaitu adanya osilasi inter-area pada frekuensi rendah dengan
damping sangat rendah antara kelompok generator di Sumbagut dan kelompok
generator di Sumbagselteng.
Interkoneksi kedua sistem melalui transmisi 275 kV Payakumbuh
Padangsidempuan pada tahun 2014 diharapkan akan dapat mewujudkan sistem
interkoneksi Sumatera 1 . Dengan beroperasinya interkoneksi Sumatera, maka
sistem Sumbagsel yang memiliki sumber energi primer yang banyak dan murah
akan dapat memasok sebagian kebutuhan sistem Sumbagut, walaupun besarnya
daya yang dapat ditransfer akan dibatasi oleh limit stabilitas sistem interkoneksi.

Untuk memastikan hal tersebut diperlukan studi small signal stability.

239

Rencana reserve margin tinggi


Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin
yang tinggi, yaitu mencapai 78% pada tahun 2017 apabila semua proyek
pembangkit berjalan dan selesai tepat waktu. Apabila keadaan tersebut benarbenar terjadi maka sistem Sumatera akan mengalami over supply. Namun melihat
pengalaman PLN selama ini, tingkat keberhasilan proyek IPP sangat rendah, yaitu
hanya sekitar 16%. Bahkan proyek pembangkit PLN juga mengalami
keterlambatan, termasuk proyek PLN dalam program percepatan tahap 1. Lebih
dari itu, dalam RUPTL 2011-2020 ini direncanakan banyak sekali pembangkit
panas bumi (PLTP) yang mencapai 2.495 MW, termasuk PLTP yang masih
green field bahkan WKP-nya belum ditender. Proyek PLTP yang diperkirakan
dapat selesai pada tahun 2014 adalah PLTP yang WKP-nya telah dimiliki oleh
Pertamina.
Dari perjelasan diatas dapat dimengerti bahwa perencanaan reserve margin yang
tinggi hingga 78% dimaksudkan semata-mata untuk memberikan kepastian yang
lebih tinggi kepada masyarakat Sumatera (yang telah lama menderita kekurangan
listrik) bahwa listrik akan tersedia cukup di Sumatera.
Penamaan proyek PLTU IPP
Proyek-proyek IPP yang belum financial closing, kecuali PLTP, tidak disebut nama
lokasinya secara spesifik, namun hanya disebutkan kawasan daerah dimana
proyek tersebut berada. Hal ini dimaksudkan agar PLN dapat menawarkan proyek
IPP kepada pengembang melalui tender kompetitif. Status beberapa IPP saat ini
dalam RUPTL 2011 2020 adalah sebagai berikut: PLTU Sumbar 1 adalah PLTU
Kambang; PLTU Sumsel 2 adalah PLTU Keban Agung; PLTU Sumsel 5 adalah
PLTU Bayung Lencir; PLTU Sumsel 6 adalah PLTU Mulut Tambang Pendopo;
PLTU Sumsel 7 adalah PLTU Sungai Lilin; PLTU Riau Mulut Tambang adalah
PLTU Cirenti.
Proyek-proyek strategis
1.

Proyek PLTU Percepatan Tahap I ( PLTU Meulaboh, PLTU Pangkalan Susu,


PLTU Sumbar Pesisir, PLTU Tarahan) dan PLTA Asahan III, merupakan
proyek yang sangat strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat
mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini terjadi juga sekaligus akan
mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit yang eksisting.

240

2.

PLTU Mulut Tambang (IPP) skala besar yang listriknya juga akan disalurkan
ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui
transmisi 500 kV HVDC harus dapat diselesaikan selaras dengan
penyelesaian proyek interkoneksi Jawa-Sumatera 500 kV HVDC.

3.

PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem


Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP.

4.

Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan


bakar gas yang ada.

Pengembangan PLTP
Terkait dengan kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal, PLN akan
membangun sisi hilir pada lokasi-lokasi sebagai berikut: PLTP Ulubelu #1,2
(2x55 MW), PLTP HuluLais #1,2 (2x55 MW), PLTP Sungai Penuh #1,2 (2x55 MW).
Khusus untuk PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sumber dana sudah tersedia dari JBIC
dimana Loan Agreement sudah ditandatangani pada tahun 2005. Proyek-proyek
PLTP lainnya akan dikembangkan oleh IPP dengan total kapasitas 2.165 MW
sampai dengan tahun 2020, namun sampai dengan saat ini eksplorasi yang
dilakukan pihak swasta terhadap proyek-proyek PLTP tersebut belum tuntas,
sehingga hal ini menjadi sangat rawan terhadap ketersediaan reserve margin di
sistem Sumatera seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Pembangkit baru dalam program percepatan tahap II

PLTU Pangkalan Susu#3,4 2x200 MW

PLTA Asahan III 174 MW

PLTP Hulu Lais #1,2 2x55 MW dan PLTP Sungai Penuh 2x55 MW

PLTP-PLTP yang akan dikembangkan oleh swasta/ IPP yaitu PLTP Ulubelu
3,4 (2x55 MW), PLTP Seulawah 55 MW, PLTP Lumut Balai 4x55 MW,
PLTP Sarulla I 6x55 MW, PLTP Sarulla II 2x55 MW, PLTP Rajabasa 4x55
MW, PLTP Muara Laboh 4x55 MW, PLTP Rantau Dedap 4x55 MW dan
PLTP Sorik Marapi 240 MW.

Potensi pembangkit hidro


Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru
500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang
mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).
241

Apabila proyek tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan
kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited
tersebut akan diproses lebih lanjut.
Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.2
A1.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala
Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A1.3
A1.4 Neraca Energi
Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi, maka produksi energi
per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.4
Produksi energi pada Lampiran B1.4 dialokasikan per unit pembangkit
berdasarkan merit order dengan menggunakan model simulasi produksi dengan
asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut:
Harga bahan bakar HSD = USD 0,78 /liter, MFO=USD 0,62 /liter, gas alam
= USD 6 /mmbtu, dan batubara = USD 80/ton.
Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada.
Ketersediaan batubara tidak terbatas.
Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek
PLTP dan PLTA pada neraca daya.
Lampiran B1.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer
tersebut adalah sebagai berikut:
a.

Peranan Minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2010 masih tinggi, yaitu
sekitar 6.525 GWh, akan sangat berkurang menjadi sekitar nol pada tahun
2014. Hal ini terjadi karena PLTU Belawan 1 4 tidak dioperasikan lagi dan
PLTGU Belawan, PLTG Task Force, PLTG Paya Pasir di Sumatera Utara
dioperasikan dengan LNG

b.

Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014, yaitu sekitar 4.324
GWh dan cenderung konstan berdasarkan sumber paskokan LNG yang telah
teridentifikasi.

c.

Peranan pembangkit gas yang semula 4.946 GWh pada tahun 2010 akan
naik menjadi 7.932 GWh pada tahun 2014, dan secara bertahap akan
menurun kembali menjadi 4.575 GWh pada tahun 2020. Hal ini karena

242

pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari


kontrak yang ada.
d.

Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. Pada tahun 2010


hanya 4.346 GWh akan naik 6 kali lipat menjadi 26.714 GWh pada tahun
2020.

e.

Peranan pembangkit hidro pada tahun 2010 semula 4.538 GWh dan akan
semakin besar dengan masuknya PLTA semakin besar dengan masuknya
PLTA Asahan 3, PLTA Peusangan 1-2 pada tahun dan PLTA Merangin pada
tahun 2016 serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017.
Peranan hydro pada tahun 2020 akan mencapai 7.050 GWh.

f.

Kontribusi pembangkit geothermal akan meningkat luar biasa besar pada


tahun 2020 dengan produksi 13.200 GWh, atau 23% dari produksi total. Hal
ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP, yang pada tahun
2009 hanya 10 MW akan menjadi 2.495 MW pada tahun 2020. Banyaknya
kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor
pembangkit beban dasar lainnya, yaitu PLTU batubara, menjadi rendah jika
semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai
jadwal. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian
implementasinya masih rendah 2 akan membuat situasi yang cukup rawan
bagi Sumatera apabila pengembangan PLTP yang direncanakan tidak
terlaksana sesuai jadwal mengingat ketidakpastian pelaksanaan beberapa
pembangkit IPP juga tinggi.

Kebutuhan Bahan Bakar


Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2011 sampai dengan
tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A1.4.
Kebutuhan bahan bakar HSD pada tahun 2011 sebesar 2,2 juta liter dan semakin
turun menjadi 27 ribu liter pada tahun 2014. Sedangkan MFO sudah tidak
diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya operasi PLTU Belawan 14 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara.
Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami
depletion, namun sejalan dengan rencana akan dibangunnya LNG floating
terminal maka PLTGU akan dijalankan dengan LNG.
2

Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan drilling.

243

Volume pemakaian batubara meningkat dari tahun ke tahun, yaitu naik dari 4,0
juta ton pada tahun 2011 menjadi 16.4 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 6
kali lipat.
A1.5 Capacity Balance Gardu Induk
Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan
memasukkan GI existing dan GI ongoing project. Selanjutnya dari Capacity
Balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing masing GI. GI yang telah
berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan trafo.
Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan
dan de-dieselisasi serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru.
Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan, selanjutnya disusun kembali
capacity balance yang baru setelah mempertimbangkan penambahan GI baru
tersebut.
Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI, dimana hasil
pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan
sistem penyaluran.
Dengan kriteria keandalan dan asumsi di atas, kebutuhan pembangunan Gardu
Induk Baru dan pengembangan trafo GI eksisting sampai tahun 2020 sebesar
28.400 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1.5.
A1.6 Rencana Pengembangan Penyaluran
Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi
pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi proyek berikut:

Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU


percepatan, PLTA, PLTU IPP dan PLTP IPP.

Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait dengan proyek pembangkit


PLTU percepatan dan PLTA IPP Asahan 1.

Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem


Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk
mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan
fleksibilitas operasi.

Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung


transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya
244

dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber energi primer ke
demand di Sumatera bagian utara.

Pembangunan transmisi dan kabel laut 250 kV HVDC Sumatera Peninsular


Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan
memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem
tersebut.

Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera diberikan pada


Lampiran A1.6.
A1.7 Peta Pengembangan Penyaluran
Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran
A1.7.
A1.8 Analisis Aliran Daya
Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh
pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya, meliputi sistem 275 kV, 150
kV dan 70 kV. Namun pada RUPTL 2011-2020 ini hanya ditunjukkan hasil analisa
aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja.
Prakiraan aliran daya di sistem 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai
tahun 2011 sampai dengan 2020, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Analisa aliran daya tahun 2011
Aliran Daya tahun 2011, transfer daya terlihat menuju Sumatera Bagian
Tengah (Sumbagteng), baik dari Sumatera Bagian Utara maupun Sumatera
Bagian Selatan, hal ini disebabkan tidak adanya pembangkit baru di sistem
Sumbagteng. Transfer Daya dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)
terbatas pada kisaran transfer 224 MW dikarenakan masalah limit stabilitas
transfer daya menggunakan sistem 150 kV di titik interkoneksi
Sumbagselteng (Lubuk Linggau Bangko).
Dari simulasi aliran daya terlihat, kekurangan pembangkitan pada tahun 2010
ini berada di sub sistem Riau, dimana sub sistem ini menerima daya dari sub
sistem Sumatera Barat sebesar 172 MW.
Profil tegangan sistem masih berada dalam kriteria operasi yang bervariasi
antara 90%-105%. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara
lain PLTU Tarahan #1 (100 MW), PLTG Duri (40 MW), PLTU Simpang
Belimbing #1,2 (227 MW) dan PLTG/PLTMG sewa total 182 MW.
245

2. Analisa aliran daya tahun 2012


Pada tahun ini akan dioperasikan sistem tegangan 275 kV pada transmisi
275 kV Lahat Lubuk Linggau Bangko Muara Bungo Kiliranjao, yang
sebelumnya dioperasikan pada tegangan 150 kV. Tambahan transmisi 275
kV baru adalah Pangkalan Susu Binjai.
Transfer dari sub sistem Sumatera Barat ke sub Sistem Riau berkurang
hingga menjadi 80 MW seiring dengan beroperasinya beberapa pembangkit
di Riau.
Tegangan sistem 275 kV cukup baik, yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (285
kV) dan terendah di GI Binjai (278 kV). Tambahan pembangkit baru di sistem
Sumatera antara lain PLTU Meulaboh FTP 1 (2x110 MW), PLTU Pangkalan
Susu #1 (220 MW), PLTU Sumbar Pesisir #1 (112 MW), PLTU Tarahan #2
(100 MW), PLTP Ulubelu #2 (1x55 MW), PLTG Peaker total 160 MW, PLTG
Gunung Megang ST (30 MW) dll.
3. Analisa aliran daya tahun 2013
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV Payakumbuh Kiliranjao dan Binjai Galang Simangkok.
Transfer ke sub sistem Riau menjadi 160 MW, dan PLTU Riau FTP1 #1 telah
beroperasi 100 MW.
Tegangan sistem 275 kV cukup baik, yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (282
kV) dan terendah di GI Binjai (275 kV). Tambahan pembangkit baru di sistem
Sumatera antara lain PLTGU Keramasan (86 MW), PLTU Pangkalan Susu
FTP1 #2 (1x220 MW), PLTU Sumbar Pesisir FTP1 #2 (112 MW), PLTP
Ulubelu-FTP2 #1 (1x55 MW), PLTU Riau FTP1 #1 (100 MW), PLTG Belawan
(400 MW), PLTG Sengeti (60 MW) dan PLTU Sewa (840 MW).
4. Analisa aliran daya tahun 2014
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV Payakumbuh New Garuda Sakti, Payakumbuh Padang
Sidempuan Sarulla Simangkok dan Lahat Gumawang.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 110
246

MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Riau menjadi 230 MW
dan transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 230 MW.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Riau FTP1
#2 (100 MW), PLTU Simpang Belimbing Ekspansi (227 MW), PLTU
Banjarsari (230 MW), PLTP Lumut Balai-FTP2 #3,4 (2x55 MW), PLTP
Sarulla-FTP2 (110 MW), PLTA Lawe Mamas (45 MW) dan PLTG peaking
total 500 MW.
5. Analisa aliran daya tahun 2015
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV Muara Enim - Betung Sungai Lilin (Sumsel-7) - Bayung Lincir
(Sumsel-5) Aur Duri Rengat New Garuda Sakti seiring dengan tambahan
pembangkit PLTU mulut tambang Sumsel-5 150 MW, Sumsel-7 150 MW,
Keban Agung 225 MW.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng ke,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 216
MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 305
MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV sub Sistem Jambi
(Aur Duri) ke sub sistem Riau (Rengat) sebesar 202 MW.
Pada tahap awal pembangunan segmen transmisi 275 kV Aur Duri Rengat
ini dibangun dengan konstruksi 500 kV, yang kemudian mulai akan
dioperasikan dengan sistem 500 kV setelah beroperasinya PLTU di Jambi
sampai dengan 800 MW mulai tahun 2018.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Pangkalan
Susu FTP2 #3,4 (2x200 MW), PLTU Meulaboh #3 (200 MW), PLTP Hululais
FTP2 (110 MW), PLTP Sungai Penuh FTP2 (110 MW), PLTU Keban Agung
(2x112,5 MW), PLTU Sumsel-5 #1 (150 MW), PLTU Sumsel-7 #1 (150 MW),
PLTP Ulubelu #3,4 (110 MW), PLTP Lumut Balai (110 MW) dan PLTP
Sarulla (220 MW).
6. Analisa aliran daya tahun 2016
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV sub sistem NAD mulai Sigli Lhokseumawe dan pengoperasian
transmisi 275 kV Meulaboh Sigli yang sebelumnya dioperasikan dengan
tegangan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU Meulaboh #3,4 (400
247

MW).Selain itu juga diperlukan pembangunan transmisi 275 kV PLTU Cirenti


Rengat untuk mengevakuasi daya PLTU Cirenti.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan seiring dengan
mulai beroperasinya pembangkit mulut tambang dan panas bumi di sistem
Sumbagselteng. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung
sebesar 420 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub
sistem Riau sebesar 211 MW.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA
Peusangan (88 MW), PLTA Asahan III (174 MW), PLTA Merangin (175 MW),
PLTU Sumsel-6 #1 (300 MW), PLTU Riau MT #1 (300 MW), PLTU Sumsel-5
#2 (150 MW), PLTU Sumsel-7 #2 (150 MW).
7. Analisa aliran daya tahun 2017
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV sub sistem NAD mulai Sigli Ulee Kareng untuk memasok kota
Banda Aceh dan sekitarnya.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 225
MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 261
MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau
sebesar 226 MW.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Merangin
#2 (175 MW), PLTA Simonggo-2 (86 MW), PLTA Masang-2 (55 MW), PLTU
Sumsel-6 #2 (300 MW), PLTU Riau MT #2 (300 MW), PLTP Rajabasa FTP2
(220 MW), PLTP Muara Laboh FTP2 (220 MW) dan PLTP Sarulla II FTP2
(110 MW).
8. Analisa aliran daya tahun 2018
Pada tahun ini transmisi 500 kV dari PLTU Jambi Aur Duri New Garuda
Sakti sudah beroperasi, seiring dengan beroperasinya PLTU Jambi unit #1 (1
x 400 MW)
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan sebesar 540
MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 400
248

MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau


sebesar 660 MW.
Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS Jambi #1 (1x400
MW), PLTU Sumsel-1 #1 (400 MW), PLTP Rantau Dedap FTP2 (110 MW),
PLTP Sorik Marapi FTP2 (240 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).
9. Analisa aliran daya tahun 2019
Arah aliran daya masih dari selatan ke utara, dengan transfer daya sebesar
360 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan,
transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat New
Garuda Sakti sebesar 1100 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui
transmisi 275 kV Muara Enim Gumawang sebesar 440 MW.
Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS #2 (1x400 MW),
PLTU Sumsel-1 #2 (400 MW) dan PLTP Rantau Dedap FTP2 #2 (110 MW)
dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).
10. Analisa aliran daya tahun 2020
Arah aliran daya dari selatan ke utara, dengan transfer daya sebesar 490
MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh Padang Sidempuan, transfer
daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat New Garuda
Sakti sebesar 1150 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui
transmisi 275 kV Muara Enim Gumawang sebesar 450 MW.
Tambahan pembangkit baru antara lain PLTG Peaker (200 MW) dan PLTP
tersebar (695 MW)

A1.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi


Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk,

Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan

Perbaikan SAIDI dan SAIFI

Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua

Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan

Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1.9.

249

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Regional Sumatera
JTM
kms
6,569
4,562
4,661
5,011
5,031
5,403
5,548
5,951
6,291
6,590
55,618

Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTR
kms
6,711
4,285
4,509
4,869
4,982
5,271
5,273
5,608
5,788
5,955
53,251

Trafo
MVA
1,470
766
819
836
872
900
941
978
1,041
1,072
9,694

Pelanggan
1,091,206
594,512
605,242
619,356
537,293
498,951
493,516
506,895
522,635
540,399
6,010,005

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Regional Sumatera
Juta USD
Tahun

JTM

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

148.8
106.0
111.4
123.4
126.0
140.8
145.3
161.7
174.5
188.3
1,426.3

JTR
100.1
64.0
69.1
76.8
79.8
88.4
87.1
98.3
104.2
108.5
876.4

Trafo
50.9
36.2
37.0
38.4
37.1
34.2
35.8
38.0
41.1
43.9
392.7

Pelanggan
39.0
42.3
54.8
63.1
32.7
34.6
36.3
38.2
39.1
39.0
419.1

Total
338.9
248.6
272.3
301.8
275.5
298.0
304.5
336.2
359.0
379.7
3,114.5

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2011-2020


dapat dijelaskan sebagai berikut :

Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM


61.600 kms, JTR 65.510 kms, Kapasitas gardu distribusi 14.054 MVA untuk
menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 6,0 juta.

Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang


pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar
USD 3.469 juta USD (JTM USD 1.564 juta, JTR USD 1.076 juta, gardu
USD 410 juta, dan sambungan pelanggan 419 juta USD) dan diperkirakan
setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 350 juta.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari


67,1 % tahun 2010, menjadi 73,3 % di tahun 2014 untuk regional sumatera

A1.10 Program Listrik Perdesaan

250

PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanRegionalSumatera
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
3.344,0
1.810,2
3.657,2
3.539,5

JTR
kms
3.280,9
1.531,0
3.260,8
3.207,4

12.351,0 11.280,1

Trafo
MVA
Unit
139,9
2.263
44,4
758
89,8
1.426
89,1
1.440

363,1

5.887,9

Jml Pelanggan

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

89.727
122.274
125.131

8.515

337.132,4

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanRegionalSumatera(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
602.819,7
309.601,9
893.240,2
953.237,8

JTR

Trafo

Pembangkit

Pelanggan
29.401,0
32.186,6

291.317,9
146.424,4
378.469,5
406.867,9

158.190,5
69.034,1
218.991,7
231.746,3

2.601,8
-

2.758.899,7 1.223.079,7

677.962,7

2.601,8

Total
1.148.370,6
590.994,6
1.520.102,5
1.624.038,6

61.587,7 4.883.506,3

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional
Sumatera tahun 2011-2014 dapat dijelaskan sebagai berikut :

Selama kurun waktu tahun 2010-2014 direncanakan membangun JTM


12.351 kms, JTR 11.280 kms, Kapasitas gardu distribusi 363 MVA.

Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang


kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 4,88 triliun (JTM Rp 2,8
triliun, JTR Rp 1,22 triliun, gardu Rp 0,7 triliun, pembnagkit dan pelanggan
Rp 2,6 triliun

A1.11 Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 4.11, halaman 96.
A1.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi
Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem
Sumatera diberikan pada Lampiran A1.12.

251

LA
AMPIRAN
N A2

SISTEM
M INTERKO
ONEKSI KALIMANTAN
K
BAR
RAT

252

LAM
MPIRAN A2.1

PROY
YEKSI KEB
BUTUHAN
N TENAG
GA LISTRIK
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

253

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Sistem Kalimantan Barat

Sistem

254

Wil Kalbar
Sistem Khatulistiwa
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak

Satuan 2011

GWh
%
MW

1.121
69
186

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.379
74
211

1.749
77
259

2.021
68
339

2.201
69
362

2.544
74
394

2.707
68
457

2.879
68
486

3.060
68
516

3.304
69
548

LA
AMPIRAN
N A2.2

NERACA
A DAYA
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

255

MW

Grafik Neraca Daya Sistem Kalbar


900

Pembangkit Terpasang PLN

54%

Pembangkit Sewa

PLTG PLN

PLTGB Sewa

800

PLTU PLN

51%

PLTU FTP2

700

47% PLTA PLN

53%

PLTU IPP
Power Purchase (Sesco)
PLTA PLN

600

g
Reserve Margin
Beban Puncak

45%

256

500

43%

46%
Power Purchase (Sesco)
PLTU IPP

57%
400
300

45%

37%
PLTU (FTP2)

200

PLTU (FTP2)
Kapasitas Terpasang

100
-

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun
256

Neraca Daya Sistem Kalbar


Kebutuhan dan Pasokan

257

Kebutuhan
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Daya Terpasang
PLN
PLTG-HSD PLN (Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Raya & Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Wie & Sudirman)
Interkoneksi sistem-sistem isolated
S
Sewa
Retired & Moultbolled (PLN)
Tambahan Kapasitas
PLN
On-going dan Committed Project
Pantai Kura-Kura (FTP1)
Parit Baru (FTP1)
Rencana
Parit Baru - Loan China (FTP2)
Nanga Pinoh
Kalbar - 1
Kalbar - 2
IPP
Rencana
Pontianak - 2
Pontianak - 3

Satuan 2011
GWh
%
MW

MW
MW
MW
MW
MW

2012

2013

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1,121
69
186

1,379
74
211

1,749
77
259

2,021
68
339

2,201
69
362

2,544
74
394

2,707
68
457

2,879
68
486

3,060
68
516

3,304
69
548

270

290

253

117

42

50

75

61

61

69

34
100
19
117
6

34
100
19
137
-

34
100
19
12
88
-

47
70
153

42
-

50
-

75
-

61
-

61
-

69
-

PLTU
PLTU

55
100

PLTU

50

50

PLTA
PLTU

50

49
50

49

PLTU

PLTU
PLTU

50

50

25

25

50

Power Purchase dengan SESCo (Peaking) 275 KV


Power Purchase dengan
g SESCo ((Baseload)) 275 KV
Jumlah Pasokan
Reserve Margin

2014

120
50

-50

MW

270

290

408

492

517

575

699

734

759

842

45

37

57

45

43

46

53

51

47

54

LAM
MPIRAN A2.3
A

PRO
OYEK-PR
ROYEK IPP TERKENDALA
SISTEM KALIMAN
K
NTAN BAR
RAT

258

A2.3
3 Proyek-proye
ek IPP yg terke
endala
Dalam perenccanaan pemban
ngkit IPP, ada beberapa
b
proye
ek pembangkit IPP yang
Perjanjian Pem
mbelian Tenag
ga Listrik (PPTL
L) nya mengala
ami kendala. Ka
ategori
PPTL terkend
dala adalah,
Kateg
gori 1, tahap op
perasi adalah ta
ahap dimana IP
PP sudah menccapai
COD.
Kateg
gori 2, tahap pe
embangunan/ko
onstruksi diman
na IPP sudah mencapai
m
Finan
ncial Closing (F
FC) tapi belum mencapai
m
COD
D.
Kateg
gori 3, Tahap pendanaan
p
IPP yang sudah memiliki
m
PPTL, tetapi
t
belum
m mencapai Fin
nancial Closing
(FC).
Pembangkit IP
PP yang terken
ndala di sistem Kalimantan Ba
arat adalah,
- PLT
TU Ketapang 2xx7 MW masuk dalam kategori 2
- PLT
TU Pontianak 2x25
2
MW masu
uk dalam kategori 2
Saat ini penye
elesaian IPP terkendala tersebut sedang dip
proses oleh Kom
mite
Direktur untukk IPP dan Kerja
asama Kemitraa
an.

259

LA
AMPIRAN
N A2.4

NERACA ENERGI
E
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

260

Proyeksi Neraca Energi


Sistem Kalbar
(GWh)

261

JENIS
Batubara
Gas
LNG
HSD
MFO
SESCO
Hydro
y
Total

2011
-

2012
-

2013
824

2014
1.228

2015
1.471

2016
1.788

2017
1.793

2018
1.797

2019
2.377

2020
2.641

117
1.004
1.121

257
1.121
1.379

171
753
1.749

12
72
709
2.021

6
3
721
2.201

7
16
733
2.544

7
21
737
150
2.707

10
35
738
300
2.879

14
55
314
300
3.060

10
35
317
300
3.304

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer


Sistem Kalbar
FUEL TYPE

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

262

HSD ( x 1000 kL )

42

89

114

MFO ( x 1000 kL )

254

279

171

18

14

LNG (GBTU)

Batubara (kTON)

565

701

868

GAS (GBTU)
-

1.102

1.137

1.178

1.610

1.832

LA
AMPIRAN
N A2.5

CA
APACITY
Y BALANC
CE GARDU
U INDUK
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

263

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
No.

264

10

11

12

13

14

15

16

TEG.

CAPACITY

(KV)

MVA

NAMA GI

GI SIANTAN

GI SEI RAYA

GI. PARIT BARU

GI. MEMPAWAH

GI.SINGKAWANG

GI. KOTA BARU

GI PLTU KURA-KURA

GI SAMBAS

GI SANGGAU

GI TAYAN

GI BENGKAYANG

GI NGABANG

GI SEKADAU

GI SINTANG

GI NANGA PINOH

GI KETAPANG

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

20

30

60

60

30

30

30

30

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

30

30

30

60

20

60

2014
Add Trf
MVA

25,67

29,33

34,04

40,13

50,34%

57,50%

66,75%

39,34%

38,01

35,75

74,54%

23,37%

120

60

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

2016
Peak Add Trf
MW
MVA

2017
Peak Add Trf
MW
MVA

2018
Peak Add Trf
MW
MVA

2019
Peak Add Trf
MW
MVA

48,04

51,82

53,64

56,15

61,82

47,10%

50,81%

52,59%

55,05%

60,61%

30

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
67,13
65,82%

39,00

40,90

46,01

50,10

52,62

52,69

69,12

69,40

25,49%

26,73%

30,07%

32,75%

34,39%

34,44%

45,17%

45,36%

15,18

15,60

17,34

15,86

17,33

15,66

22,55

59,54%

61,17%

67,98%

62,19%

67,98%

61,40%

44,22%

16,78

17,55

15,00

21,85

65,79%

68,84%

58,84%

42,84%

30

30

32,68

33,06

35,31

64,08%

64,83%

69,24%

23,66

30,63

33,75

29,04

31,51

33,89

46,40%

60,06%

66,17%

56,94%

61,79%

66,45%

14,62

15,30

16,34

15,85

19,33

57,35%
,

60,01%
,

64,09%
,

62,16%
,

37,90%
,

30

20,12

21,85

28,72

33,74

32,69

39,45%
,

42,85%
,

56,32%
,

66,17%
,

64,09%
,

14,41

16,93

15,79

17,07

13,31

13,87

15,29

15,81

17,44

24,96

56,50%

66,39%

61,91%

66,96%

52,19%

54,40%

59,97%

62,01%

68,40%

48,95%

11,71

12,14

12,83

13,88

14,88

15,34

16,50

17,73

14,06

15,29

45,94%

47,60%

50,33%

54,44%

58,37%

60,17%

64,70%

69,54%

55,13%

59,98%

12,02

12,83

16,02

15,18

15,80

17,16

23,63

47,13%

50,33%

62,81%

59,53%

61,96%

67,29%

46,33%

30

30

Peak
MW

17,04

15,63

19,59

66,82%

61,31%

38,41%

30

30

17,22

21,74

33,76%

42,63%

21,48

23,55

25,80

28,02

42,12%

46,17%

50,60%

54,95%

6,54

7,29

8,04

8,54

9,45

10,46

11,58

12,70

25,66%

28,57%

31,55%

33,48%

37,08%

41,04%

45,41%

49,79%

6,48

7,15

7,82

8,21

9,01

9,88

10,82

11,75

25,41%

28,03%

30,65%

32,22%

35,33%

38,73%

42,44%

46,09%

9,07

10,01

10,94

11,50

12,61

13,83

15,15

16,45

35,57%

39,24%

42,91%

45,10%

49,46%

54,22%

59,42%

64,53%

6,66

10,28

7,66

8,40

9,20

10,09

10,95

26,12%

40,33%

30,03%

32,93%

36,09%

39,56%

42,96%

18,36

20,27

21,51

23,82

26,36

32,17

31,99

35,99%

39,74%

42,18%

46,70%

51,69%

63,08%

62,72%

9,43

10,34

11,34

9,43

13,49

55,48%

60,84%

66,70%

55,45%

79,38%

28,53

30,98

33,62

33,15

55,95%
,

60,74%
,

65,92%
,

65,01%
,

30

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
TEG.
No.

CAPACITY

NAMA GI
MVA

(KV)
17

GI SANDAI

150/20

30

30

18

GI KOTA BARU 2

150/20

30

30

19

20

GI SUKADANA

GI PUTUSIBAU

150/20

150/20

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

Peak
MW

2014
Add Trf
MVA

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

30

2016
Peak Add Trf
MW
MVA
3,36

2017
Peak Add Trf
MW
MVA
3,68

2018
Peak Add Trf
MW
MVA
4,04

2019
Peak Add Trf
MW
MVA
4,42

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
7,80

13,17%

14,44%

15,83%

17,35%

30,60%

8,76

9,42

10,12

10,88

11,59

34,35%
,

36,93%
,

39,70%
,

42,67%
,

45,43%
,

8,76

9,70

10,73

11,88

13,02

34,35%

38,03%

42,10%

46,58%

51,08%

14,77

30

57,92%
Penambahan Trafo (MVA)
Total Beban Gardu Induk
Beban Pembangkit Siantan
Beban Pembangkit Sei Ra
Raya
a
Total Beban Gardu Induk & PLTD
Total Beban Sistem
Diversity Factor

710

120

90

30

30

30

30

30

30

136,39

154,61

185,27

248,05

270,73

311,91

370,39

406,81

442,94

494,54

20,00
20 00
20,00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

176,39

194,61

225,27

288,05

310,73

351,91

410,39

446,81

482,94

534,54

173,34

192,33

224,27

287,01

309,73

378,08

410,28

445,11

482,82

533,53

1,02

1,01

1,00

1,00

1,00

0,93

1,00

1,00

1,00

1,00

265

LAM
MPIRAN A2.6

RENCA
ANA PEN
NGEMBAN
NGAN PEN
NYALURA
AN
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

266

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI


Kalimantan Barat
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

275 kV

180

180

150 kV

112

310

596

280

180

860

300

2.638

112

310

776

280

180

860

300

2.818

TOTAL

267

(MVA)
Tegangan
275/150 kV

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

250

250

150/20 kV

60

150

90

210

30

150

90

30

60

60

930

TOTAL

60

150

340

210

30

150

90

30

60

60

1.180

Rencana Pengembangan Transmisi


Kalimantan Barat

268

N
No.

P
Propinsi
i i

D i
Dari

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

ParitBaru
SeiRaya
PLTUSingkawang(Perpres)/Kura2
Singkawang
Siantan
Singkawang
Bengkayang
Ngabang
PLTUParitBaru(IPP)
Tayan
Sanggau
Sintang
Sintang
Sukadana
Sandai
NangaPinoh
Ketapang
Sintang
Bengkayang

K
Ke
KotaBaru
KotaBaru
Incomer2pi(SingkawangMempawah)
Sambas
Tayan
Bengkayang
Ngabang
Tayan
ParitBaru
Sanggau
Sekadau
Sekadau
NangaPinoh
Sandai
Tayan
KotaBaru2
Sukadana
Putusibau
Perbatasan

T
Tegangan
150kV
150kV
150kV
150kV
150 kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
150kV
275kV

C d t
Conductor
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
cct 2 Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,1Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Hawk
2 cct,2Zebra

k
kms

Biaya
(MUSD)

COD

40
32
40
126
184
120
180
110
6
180
100
180
180
180
300
180
200
300
180

2,22
1,77
2,22
6,98
10 19
10,19
6,65
9,97
6,09
0,33
9,97
5,54
9,97
9,97
13,74
22,90
9,97
15,27
22,90
28,36

2011
2011
2011
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2016
2016
2016
2016
2017
2020
2013

Rencana Pengembangan Gardu Induk


Kalimantan Barat
No. Propinsi

269

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
K lb
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

NamaGarduInduk

Tegangan

Baru/
Extension

Kap

Jumlah

COD

KotaBaru
ParitBaruExtLB
Parit
Baru Ext LB
SeiRayaExtLB
PLTUSingkawang(Perpres)/Kura2
SeiRaya
Sambas
SingkawangExtLB
Tayan
Tayan Ext LB
TayanExtLB
SeiRayaExtLB
Bengkayang
Ngabang
Sanggau
Sekadau
Sintang
Si t
Siantan
Mempawah
Singkawang
NagaPinoh
SintangExtLB
Sukadana
Sandai
Sanggau
KotaBaru2
Ketapang
ParitBaru
Sambas
Siantan
Putusibau
Kota Baru
KotaBaru
Bengkayang

150/20kV
150/20kV
150/20
kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20kV
150/20 kV
150/20kV
275/150kV

Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
E t i
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru

30
2LB
2
LB
2LB
30
120
30
2LB
30
2 LB
2LB
2LB
30
30
30
30
60
60
30
30
30
1LB
30
30
30
30
60
30
30
60
30
30
250

2,62
1,24
1
24
1,24
1,37
3,81
2,42
1,24
2,42
1 24
1,24
1,24
2,62
2,62
2,62
2,62
4,00
1 39
1,39
1,39
1,39
2,62
0,62
2,62
2,62
1 39
1,39
2,62
4,00
1,39
1,39
1,39
2,62
1 39
1,39
25,98

2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2020
2020
2013

Keterangan

L
LAMPIRA
AN A2.7

PE
ETA PENG
GEMBANG
GAN PENY
YALURAN
N
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

270

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
KALIMANTAN
- 2020
your computer,
and then open theBARAT
file again. If2011
the red x still
appears, you

PLTMPANCAREKSAJINGAN(IPP);
2x400KW(2012)
ARUK
PLTU2KALBARTJ.GUNDUL
(PLN);
2 x 27,5 MW (2013)
2x27,5MW(2013)
PLTUPERPRESTAHAPII2X
50MW(2014)LOANCHINA

GI. SAMBAS
Thn 2013

PLTMMERASAPBENGKAYANG(PLN);
2x750KW(2010)

BIAWAK
SERIKIN
JAGOI BABANG

KUCHING

GI MAMBONG (MATANG)

GI. SINGKAWANG
Thn 2009

GI. NGABANG
Thn 2013
55 km

GI. PARIT BARU

GI SANGGAU
Thn 2014

GI. SIANTAN
GI. TAYAN
GI
GI. SEI RAYA Thn 2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011

PLTGB (IPP)8MW(2012)
GI. PUTUSIBAU
Thn 2020

BADAU

ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2013

GI. PLTU KURA-KURA


Thn
2011
GI. MEMPAWAH

PLTU1KALBARPARITBARU(PLN);2x50
MW(2013)
PLTUPARITBERKAT(IPP);2x25MW
(2014);
(2014);

BATU KAYA

TEBEDU

PLTUSINTANG(PLN);3X7MW(2012)

GI. SINTANG
Thn 2014

GI. SEKADAU
Thn 2014
PLTUSANGGAU(PLN);2X
7MW(2012)

PLTGB NANGAPINOH (PLN);6(2013)


PLTGBNANGAPINOH
(PLN); 6 (2013)
PLTANANGAPINOH(PLN)98MW201718
GI. NANGA PINOH
Thn 2016

PLTUTAYAN(IPP);2X25
MW(2015)
GI. K0TA
BARU2 2017
GI. SUKADANA
Thn 2017
GI. SANDAI
Thn 2017

PLTUKETAPANG(PLN);
2X10MW(2013)

GI. KETAPANG
GI
Thn 2017

PLTUKETAPANG(IPP);2X7 MW(2012)

KETERANGAN :
Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

PLTU Rencana
PLTMH Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

LA
AMPIRAN
N A2.8

ANAL
LISIS ALIR
RAN DAYA
A
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

272

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012

273

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015

274

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018

275

L
LAMPIRA
AN A2.9

KEBUTUHA
AN FISIK PENGEM
MBANGAN
N DISTRIB
BUSI
SISTEM KALIMANT
S
K
TAN BAR
RAT

276

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI


Provinsi Kalimantan Barat
Tahun

277

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
138
120
109
115
122
138
146
155
164
174
1.381

JTR
kms
394
343
312
329
347
394
418
442
469
497
3.944

Trafo
MVA
51
53
46
43
50
53
56
59
62
66
540

Pelanggan
44.189
40.543
36.973
38.980
41.105
46.655
49.419
52.353
55.467
58.773
464.457

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Kalimantan Barat
Juta USD
Tahun
2011
2012
0
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
10,2
17,2
,
18,4
18,2
10,3
17,8
19,2
19,1
11,3
18,7
160,7

JTR
7,5
10,9
0,9
11,8
13,7
7,6
11,7
12,9
15,0
9,1
13,2
113,4

Trafo
4,9
4,5
,5
4,2
4,3
5,5
5,3
5,8
6,6
7,6
7,6
56,3

Pelanggan
2,6
2,4
,
2,3
2,5
2,8
3,4
3,7
4,1
4,6
5,1
33,6

Total
25,2
35,0
36,7
38,8
26,3
38,1
41,7
44,9
32,7
44,6
364,0

LAM
MPIRAN A2.10
A

PR
ROGRAM LISTRIK PERDESA
AAN
SISTEM KALIMANT
S
K
TAN BAR
RAT

278

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat


PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiKalimantanBarat
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
348,0
182 5
182,5
511,0
468,0

JTR
kms

Trafo
MVA

Jml Pelanggan

Unit

221,0
167 6
167,6
590,3
645,0

10,0
23
2,3
2,3
2,4

1.509,5 1.623,9

17,0

Listrik murah
dan Hemat (RTS)

197
62
47
47

5.725
5
725
4.125
4.525

875

353 14.375

279

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiKalimantanBarat(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM

JTR

Trafo

Pembangkit

82.108,8
46.875,3
159 909 4
159.909,4
156.909,5

54.416,8
23.395,5
91 808 3
91.808,3
108.375,4

7.966,8
6.120,8
7 099 4
7.099,4
8.796,1

22.500,0

445.802,9

277.996,0

29.983,1

22.500,0

Pelanggan

Total
166.992,4
76.391,5
258 817 0
258.817,0
274.081,0

776.281,9

L
LAMPIRA
AN A2.11

PROYEK
KSI KEBUT
TUHAN IN
NVESTASI
SISTE
EM KALIM
MANTAN BARAT
B

280

Proyeksi
y
Kebutuhan Investasi Pembangkit,
g , Transmisi & Distribusi
[Fixed Asset Addition]
Kalimantan Barat
(Juta US$)

Tahun

281

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Total

Investasi
Pembangkit T/L dan GI
0
13
82
14
322
98
75
37
163
1
75
69
149
21
74
1
119
1
119
27
1.178
283

Distribusi
25
35
37
39
26
38
42
45
33
45
364

Total
38
132
457
151
191
182
211
120
153
191
1.825

PENJELASAN LAMPIRAN A2.


SISTEM KALIMANTAN BARAT
A2.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Kalimantan Barat (Khatulistiwa) merupakan salah satu sistem besar di
pulau Kalimantan selain Sistem Kaltim (Mahakam) dan Sistem Kalimantan Selatan
& Tengah (Barito). Saat ini sistem Kalimantan Barat belum terinterkoneksi dengan
sistem Kalimantan Selatan dan Tengah.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik tahun 2011-2020, diperkirakan produksi energi
listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 12.7% per tahun, yaitu meningkat
dari 1.121 GWh pada tahun 2011 menjadi 3.304 GWh pada tahun 2020.
Faktor beban diperkirakan antara 67.6% sampai 76.9%
Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2011 sebesar 186 MW akan meingkat
menjadi 548 MW pada tahun 2020 dengan tersambungnya beberapa sistem
isolated yaitu sistem Singkawang, Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga
Pinoh, Ngabang dan Ketapang. Sistem-sistem kecil lainnya masih beroperasi
isolated.
Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 2011 2020 diberikan
pada Lampiran A2.1.
A2.2 Neraca Daya
Sistem interkoneksi
Sistem interkoneksi Kalimantan Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki
potensi pertumbuhan tinggi, yaitu tumbuh rata-rata 12,6% per tahun sampai
dengan tahun 2020. Saat ini, di Kalimantan Barat terdapat sewa PLTD lebih dari
100 MW. Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 270 MW (termasuk
sewa), dimana semua pembangkit di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga
biaya operasi sangat tinggi.
Tambahan pembangkit pada sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap
rencana, kecuali PLTU Percepatan Tahap 1, yaitu PLTU Parit Baru (2x50 MW) dan
PLTU Kura-kura (2x25 MW) yang direncanakan beroperasi tahun 2013.
Penandatangan kontrak untuk kedua PLTU ini sudah dilaksanakan pada tahun
2009.
282

Pada tahun 2014 dan 2015 sistem Kalimantan Barat akan melakukan pembelian
listrik dari Serawak sebesar 50 MW pada LWBP dan 120 MW pada WBP untuk
menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. Dalam jangka panjang (setelah
tahun ke-5) dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari Serawak adalah
hanya selama WBP, hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang
berbahan bakar mahal
Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan
mencapai 57% pada tahun 2013. Namun hal ini masih dapat diterima dengan
pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbaga
sebab, interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasi
power pada WBP.
PLTU Batubara
Dengan adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang, maka direncanakan
PLTU batubara 3x7 MW di Sintang untuk beroperasi pada tahun 2012. Selain itu
PLTU IPP juga akan dilaksanakan di Ketapang sebesar 2x10 MW.
PLTU Pantai Kura-kura FTP1 (2x27,5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2x50)
diharapkan beroperasi pada tahun 2013. PLTU batubara (ex Loan China 2x50
MW) di Parit Baru juga diharapkan beroperasi pada tahun 2014.
Untuk memenuhi kebutuhan demand jangka panjang di Kalbar, maka
direncanakan pembangunan PLTU Kalbar-1 sebesar 2x50 MW dan PLTU Kalbar-2
(2x50 MW). PLTU IPP Pontianak-2 diperkirakan akan mundur dalam waktu yang
lama, sedangkan PLTU IPP Pontianak 3 diharapkan dapat beroperasi pada tahun
2015.
Interkoneksi Kalbar - Sarawak
Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan BPP dengan
menggantikan pembangkit BBM, meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan
mengantisipasi keterlambatan pembangunan proyek PLTU. Proyek ini diperkirakan
akan selesai pada tahun 2014. Pola operasi 5 tahun pertama adalah impor 50 MW
flat pada LWBP dan maksimum 180 MW (on top dari beban dasar) pada WBP.
Tidak ada ketentuan take or pay yang berbasis daya. Setelah 5 tahun akan
berubah menjadi power exchange.
Proyek-proyek strategis:

283

Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai KuraKura) merupakan proyek strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat
mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini sudah terjadi, juga sekaligus
akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting.

PLTU Parit Baru Loan China (FTP2) 2x50MW dan PLTU Pontianak-3
diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem
Kalbar.

Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.2.


A2.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala
Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A2.3.
A2.4 Neraca Energi
Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan
pengembangan pembangkit, produksi energi per jenis energi primer di sistem
Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.4.
Rencana pembangunan beberapa PLTU di Kalbar merupakan salah satu usaha
mengurangi biaya operasi pembangkitan mengingat pembangkit di Kalbar 100%
berbahan bakar minyak, HSD dan MFO. Adanya sumber batubara di Kabupaten
Sintang juga membuka peluang pembangunan PLTU batubara di daerah tersebut.
Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.

Peranan MFO yang pada tahun 2010 masih cukup tinggi di Kalbar. Produksi
dengan menggunakan BBM adalah sebesar 650 GWh dan produksi dengan
BBM dari pembangkit sewa sebesar 718 GWh (termasuk sistem isolated).
Pada tahun 2011 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru
berbahan bakar selain BBM, maka produksi dengan BBM untuk sistem
interkoneksi akan mencapa 1.121 GWh.

b.

Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU, maka diharapkan


penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar
dapat dikurangi.

c.

Peranan sumber energi lain selain BBM dan batubara juga direncanakan.
Sumber energi tersebut adalah Air. Potensi air di daerah Nanga Pinoh
memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut untuk

284

memenuhi kebutuhan listrik. PLTA Nanga Pinoh direncanakan dapat


beroperasi sebesar 98 MW pada tahun 2017/2018.
d.

Peranan HSD hingga tahun 2020 tetap penting, mengingat beberapa sistem
kecil terisolasi dan tidak terhubung ke Grid sistem khatulistiwa masih
menggunakan PLTD sebagai pembangkit.

Kebutuhan Bahan Bakar


Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011
hingga tahun 2020. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem
interkoneksi sebesar 296 juta liter dan pada tahun 2020 sebesar 12 juta liter.
Volume pemakaian batubara meningkat dari 0,57 juta ton pada tahun 2013
menjadi 1,83 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 4 kali lipat.
Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2011 sampai dengan tahun
2020 dapat dilihat pada Lampiran A2.4.
A2.5 Capacity Balance Gardu Induk
Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020
dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang
sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru
dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan Barat sampai
dengan tahun 2020 sebesar 1.240 MVA.
Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada
Lampiran A2.5.
A2.6 Rencana Pengembangan Penyaluran
Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar
sampai dengan tahun 2020 adalah sepanjang 2.818 kms, meliputi,
Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit
PLTU percepatan, PLTU IPP dan PLTA.
Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem
Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk
mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan
fleksibilitas operasi.
Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar - Sarawak untuk
mendapatkan benefit ekonomi dari energy exchange pada saat terjadi

285

perbedaan marginal cost antara kedua sistem. Interkoneksi ini juga


bermanfaat sebagai contingency apabila konstruksi pembangkit baru
terlambat.
Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan
pada Lampiran A2.6.
A2.7 Peta Pengembangan Penyaluran
Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2.7.
A2.8 Analisis Aliran Daya
Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan
seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Pada RUPTL 20112020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012, 2015 dan 2019.
Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tahun 2012
Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru. Tegangan sistem
tertinggi di GI Singkawang (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang
(148,5 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih
memenuhi kriteria N-1.
Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 s.d 2012 adalah transmisi 150 kV
SambasSingkawang, transmisi 150 kV SingkawangBengkayang dan
transmisi 150 kV SiantanTayan.
2. Tahun 2015
PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 2x27,5 MW, PLTU Parit Baru (FTP1) 2x50
MW, PLTU Parit Baru Loan China (FTP2) , PLTU Pontianak-3 50 MW
sudah beroperasi pada tahun 2013 s.d 2015. Sistem Kalbar juga telah
terinterkoneksi dengan sitem Sarawak. Tegangan sistem tertinggi di GI
PLTU Kura-Kura (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (142 kV).
Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria
N-1.
Tambahan transmisi baru dari tahun 2013 s.d 2015 adalah transmisi 275 kV
Bengkayang Border (Sarawak), transmisi 150 kV Bengkayang Nabang
Tayan Sanggau Sintang.
3. Tahun 2018
PLTU Kalbar-1 2x50 MW, PLTA Nanga Pinoh 89 MW beroperasi pada
tahun 2016-2018. Pola operasi interkoneksi dengan Sarawak masing tetap
sama, yaitu 50 MW di LWBP dan 120 MW di WBP. Tegangan sistem
286

tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (153 kV) dan tegangan terendah di GI


Nanga Pinoh (143 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV
masih memenuhi kriteria N-1.
Tambahan transmisi baru dari tahun 2016 s.d 2019 ada tiga ruas transmisi
yaitu SUTT 150 kV TayanSandai, SUTT 150 kV SandaiSukadana, SUTT
150 kV SukadanaKetapang.
A2.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk,

Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan

Perbaikan SAIDI dan SAIFI

Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua

Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan

Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran
A2.9.
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Kalimantan Barat
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
138
120
109
115
122
138
146
155
164
174
1,381

JTR
kms
394
343
312
329
347
394
418
442
469
497
3,944

287

Trafo
MVA
51
53
46
43
50
53
56
59
62
66
540

Pelanggan
44,189
40,543
36,973
38,980
41,105
46,655
49,419
52,353
55,467
58,773
464,457

PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI


Provinsi Kalimantan Barat
Juta USD
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM

JTR

10.2
17.2
18.4
18.2
10.3
17.8
19.2
19.1
11.3
18.7
160.7

Trafo

7.5
10.9
11.8
13.7
7.6
11.7
12.9
15.0
9.1
13.2
113.4

Pelanggan

4.9
4.5
4.2
4.3
5.5
5.3
5.8
6.6
7.6
7.6
56.3

Total

2.6
2.4
2.3
2.5
2.8
3.4
3.7
4.1
4.6
5.1
33.6

25.2
35.0
36.7
38.8
26.3
38.1
41.7
44.9
32.7
44.6
364.0

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 20112020 dapat dijelaskan sebagai berikut :

Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM


1.381 kms, JTR 3.944 kms, kapasitas gardu distribusi 540 MVA untuk
menunjang penyambungan sejumlah 464 ribu pelanggan.

Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang


pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar
USD 364 juta (JTM USD 161 juta, JTR USD 113 juta, gardu distribusi USD
56 juta dan sambungan pelanggan USD 34 juta) dan diperkirakan setiap
tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 36 juta.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari


58,3 % tahun 2010, menjadi 66,5 % di tahun 2014 untuk regional
Kalimantan Barat.

A2.10 Program Listrik Perdesaan

PerkiraanKebutuhanFisikJaringanListrikPerdesaanPropinsiKalimantanBarat
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
kms
348,0
182,5
511,0
468,0

JTR
kms

Trafo
MVA

Unit

Jml Pelanggan

dan Hemat (RTS)

221,0
167,6
590,3
645,0

10,0
2,3
2,3
2,4

197
62
47
47

5.725
4.125
4.525

1.509,5 1.623,9

17,0

353

14.375

288

Listrik murah

875

PerkiraanBiayaListrikPerdesaanPropinsiKalimantanBarat(jutaRp)
Tahun

2011
2012
2013
2014
Total

JTM
82.108,8
46.875,3
159.909,4
156.909,5

JTR

Trafo

Pembangkit

54.416,8
23.395,5
91.808,3
108.375,4

7.966,8
6.120,8
7.099,4
8.796,1

22.500,0

445.802,9 277.996,0

29.983,1

22.500,0

Pelanggan

Total
166.992,4
76.391,5
258.817,0
274.081,0

776.281,9

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional
Kalimantan Barat tahun 2011-2014 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM


1.510 kms, JTR 1.624 kms, Kapasitas gardu distribusi 17 MVA.

Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang


kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 776,3 milyar (dengan rincian
JTM Rp 445,8 milyar, JTR Rp 278,0 milyar, gardu distribusi Rp 30,0 milyar,
pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 22,5 milyar).

A2.11 Program Energi Baru dan Terbarukan


Lihat Bab 4.11, halaman 96.
A2.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi
Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem
Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.12.

289

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN

PER PROVINSI

WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

290

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH


OPERASI INDONESIA BARAT

A3.

PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

A4.

PROVINSI SUMATERA UTARA

A5.

PROVINSI RIAU

A6.

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

A7.

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

A8.

PROVINSI SUMATERA BARAT

A9.

PROVINSI JAMBI

A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN


A11. PROVINSI BENGKULU
A12. PROVINSI LAMPUNG
A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT

291

LAMPIRAN A.3
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

A3.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI


Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan
sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. Sekitar 71% dari sistem
kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sisanya 29%
dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar. Saat ini daerah yang sudah dipasok
sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
melalui 7 gardu induk yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang, Langsa, Aceh Timur,
Lhokseumawe, Bireuen, Pidie dan Pidie Jaya, Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan
posisi pembangkit semua berada di Sumut. Peta sistem kelistrikan Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam ditunjukkan pada Gambar A3.1.
Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok
oleh PLTD berbahan bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV.

Gambar A3.1 Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

292

Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan
pemadaman karena jumlah kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai
cadangan daya yang cukup. Pemadaman dalam skala besar bisa terjadi apabila ada
gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit
pembangkit berkapasitas besar. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa
genset sebesar 150 MW di 4 lokasi.
Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan
Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Aceh
Tenggara, Gayo Lues, Kota Sabang dan Simeulu terdapat genset sewa dengan
kapasitas total 53 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut.
Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah 390
MVA. Rincian kapasitas GI dan pembangkit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3.1 dan Tabel A3.2.
Tabel A3.1 Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2010
Nama

No

Gardu Induk

Kapasitas Trafo (MVA) Peak Load


#1

#2

#3

1 Banda Aceh
a. Lambaro

30

30

30

10

30

30

b. Juli Bireun

30

30

4 Langsa
a. Alur Dua

30

b. Tualang Cut

10

c. Alur Bate, Idi

30

Jumlah

10

85,9

KIT-PLTD // 20 KV= 57.9 MW

28,4

KIT-PLTD // 20 KV= 20 MW

81,2

KIT-PLTD // 20 KV= 70 MW

44,2

KIT-PLTD // 20 KV= 15 MW

20

3 Lhokseumawe
a. Bayu

Keterangan

60

2 Sigli
a. Tijue

(MW)

10

390

239,7

293

Tabel A3.2. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2010

No

Nama Pembangkit

A Sistem Interkoneksi 150 KV


1 Banda Aceh

Bahan
Bakar

Pemilik

PLTD

HSD

PLN

22

86

Swasta
PLN

45
14

81

Swasta

70

PLN

Swasta

20

PLN

Swasta

15

Genset Sewa
2 Lhokseumawe

PLTD

HSD

Genset Sewa
3 Sigli

PLTD

HSD

Genset Sewa
4 Langsa

Daya
Beban
Mampu Puncak
(MW)
(MW)

Jenis

PLTD

HSD

Genset Sewa
Total A

28
44

194

240

13

13

B Sistem Isolated
1 Takengon
2 Sabang
3 Kutacane

PLTD

HSD

PLN

PLTD

HSD

PLN

PLN

14

PLTD, PLTM HSD, Air

4 Blangkejeren

PLTD

HSD

PLN

5 Meulaboh

PLTD

HSD

PLN

46

23

6 Calang

PLTD

HSD

PLN

6 Sinabang

PLTD

HSD

PLN

7 Blang Pidie

PLTD

HSD

PLN

16

8 Tapaktuan
9 Subulussalam
10 Isolated Kepulauan
Total B

PLTD
PLTD
PLTD

HSD
HSD
HSD

PLN
PLN
PLN

7
19
2
282

4
12
1
172

Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang telah
mencapai sekitar 325 MW sebagian besar dipasok dari pembangkit-pembangkit yang
berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan Brandan Langsa
Idie hingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 230 MW dan sistem
isolated tersebar rata-rata 85 MW.
Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih tinggi,
yaitu Rp 2.238/kWh karena masih dioperasikannya banyak PLTD, baik di sistem
interkoneksi maupun sistem isolated.

294

A3.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI PROVINSI NANGGROE


ACEH DARUSSALAM
Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun
terakhir. Hal tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi
pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi AcehNias pada tahun 2006 s/d 2010. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah
penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal
penting dalam pemulihan ekonomi Aceh. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan
ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik.
Penjualan pada tahun 2010 tumbuh hinggga 16,9% dan tahun 2011 diperkirakan
akan tumbuh sekitar 13,8%. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari
272 MW pada tahun 2009 menjadi 299 MW pada tahun 2010.
Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 16,4%
per tahun, dimana penjualan pada tahun 2006 sebesar 839 GWh telah meningkat
menjadi 1.492 GWh pada tahun 2010.
Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 961 GWh (64%),
kemudian sektor bisnis sebesar 268 GWh (18%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.3.
Tabel A3.3. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2010
No
1
2
3
4

Kelompok
Tarif
Rumah Tangga
Komersil
Publik
Industri
Jumlah

Energi Jual
(GWh)
960,7
267,6
219,5
44,1
1.491,9

Porsi
(%)
64,4
17,9
14,7
3,0
100,0

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan mempertimbangkan


kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio
elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020 diberikan
pada Tabel A3.4.

295

Tabel A3.4. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
1.698
1.936
2.206
2.508
2.842
3.208
3.609
4.044
4.515
5.024
12,9%

Produksi
(Gwh)
1.855
2.111
2.402
2.727
3.084
3.476
3.904
4.368
4.869
5.409
11,7%

Beban Puncak
(MW)
308
349
394
444
499
559
623
692
766
845
11,0%

Pelanggan
1.029.254
1.068.448
1.108.619
1.149.798
1.184.089
1.214.687
1.246.105
1.279.552
1.313.920
1.349.252
3,2%

A3.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan
pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi dengan memperhatikan
potensi energi primer setempat sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersedia cukup besar,
yaitu panas bumi 589 MW, tenaga air 1.482 MW dan cadangan batubara 1,7 miliar
ton. Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.2. Disamping itu di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga terdapat cadangan gas, namun sudah
dieksploitasi dan saat ini sudah jauh berkurang.

296

Gambar A3.2. Peta Sumber Energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Pengembangan Pembangkit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2020 diperlukan
pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya sebesar 1.102
MW dan pada sistem isolated dengan daya sebesar 65 MW dengan rincian diberikan
pada Tabel A3.5.

297

Tabel A3.5. Rencana Pengembangan Pembangkit


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Proyek
Meulaboh #1,2 (FTP1)
Tapaktuan
Aceh
Aie Tajun / Sinabang
Lhokseumawe
Sabang (FTP2)
Singkil
Meulaboh
Takengon
Aceh Timur
Meulaboh #3,4
Peusangan 1-2
Lho Pria Laot
Seulawah (FTP2)
Peusangan-4
Jaboi (FTP2)
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTU
PLTG
PLTGB
PLTG
PLTGB
PLTGB
PLTM
PLTM
PLTG
PLTU
PLTA
PLTP
PLTP
PLTA
PLTP

PLN
PLN
Swasta
PLN
PLN
PLN
PLN
Swasta
Swasta
PLN
PLN
PLN
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta

Kapasitas
(MW)
220
14
66
6
120
8
8
10
1.5
70
400
88
7
55
83
10
1167

COD
2012
2012
2012-13
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2015-16
2016
2017
2017
2018
2019

Pembangunan PLTP Seulawah 55 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan


WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan WKP PLTP Jaboi di Sabang 10 MW sudah dilelang oleh Pemko
Sabang.
Mengingat daya pembangkit pada sistem interkoneksi Sumut Aceh belum
seimbang dengan demand yang ada, maka beroperasinya PLTA Peusangan 88 MW,
PLTG Lhokseumawe 120 MW, PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW, dan PLTP
Seulawah Agam 55 MW sangat penting untuk memperbaiki sistem kelistrikan Aceh.
Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini, sampai dengan beroperasinya PLTU
Nagan 2x100 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah
subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV, sebagai berikut: Banda Aceh 45 MW, Sigli 20
MW, Lhokseumawe 70 MW, Langsa 15 MW, Calang 4 MW, Sabang 2 MW, Meulaboh
15 MW, Kuta Fajar 2,5 MW, Kutacane 6 MW, Blang Keujeuren 2 MW, Takengon 4
MW, Rimo 7 MW, Blang Pidie 4 MW dan Sinabang 3 MW.
Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok
penyediaan listrik di sistem kecil isolated akan dibangun PLTU skala kecil di Tapak
Tuan 2x7 MW, PLTGB di Sinabang 6 MW, Singkil 8 MW, dan Sabang 8 MW.

298

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk
Pembangunan GI baru untuk mengevakuasi energi listrik dari pembangkit skala besar
dan dari hasil perkiraan pertumbuhan dan capacity balance per gardu induk, maka
kebutuhan penambahan kapasitas trafo GI di PLN Wilayah Aceh tahun 2011 s/d 2020
untuk pembangunan GI baru adalah sebesar 690 MVA dan extension GI sebesar 660
MVA. Disamping itu juga akan dibangun GI 275 kV di Aceh dengan total kapasitas
1.250 MVA sampai dengan tahun 2020.
Tabel A3.6. Pengembangan GI Baru
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Nama Gardu Induk


Jantho
Meulaboh
Panton Labu
Blang Pidie
Kutacane
Sabulussalam
Takengon
Tapak Tuan
Blang Kjeren
Krueng Raya
Samalanga
Ulee Kareng
Cot Trueng
Lam Pisang
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

299

Kapasitas
(MVA)
30
60
30
30
30
30
60
30
30
60
30
120
30
120
690

COD
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2018

Tabel A3.7. Pengembangan Extension GI Baru


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Nama Gardu Induk


Banda Aceh
Sigli
Lhokseumawe
Langsa
Tualang Cut
Banda Aceh
Idi
Sigli
Bireuen
Jantho
Meulaboh
Tualang Cut
Cot Trueng
Panton Labu
Samalanga
Bireun
Subulussalam
Tualang Cut
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
30
60
30
30
60
30
60
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
660

COD
2011
2011
2013
2014
2014
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020

Tabel A3.8. Pengembangan GI 275 kV


No

Nama Gardu Induk

Tegangan

Baru/
Kapasitas
Biaya
COD
Extension (MVA) (juta US$)

1 Lhokseumawe
2 PLTU Meulaboh

275/150 kV

Baru

250

20.08

2015

275/150 kV

Baru

250

20.08

2015

3 Sigli
4 Ulee Kareng

275/150 kV

Baru

250

25.98

2015

275/150 kV

Baru

500

21.03

2018

1250

87.2

Jumlah

Pengembangan Transmisi
Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2020 adalah 1.645 kms
(150 kV) dan 452 kms (275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 263,2 juta seperti
yang ditampilkan dalam Tabel A3.9 dan Tabel A3.10.

300

Tabel A3.9. Pembangunan Transmisi 150 kV


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Dari
Jantho
Meulaboh
Panton Labu
Sigli
Bireun
Blang Pidie
Brastagi/Berastagi
PLTU Meulaboh
Sidikalang
Krueng Raya
Samalanga
Takengon
Ulee Kareng
Cot Trueng
PLTA Peusangan-1
PLTA Peusangan-2
PLTP Seulawah
Banda Aceh
Takengon
Jumlah

Ke

Konduktor

Tegangan

Inc. (Sigli-Banda Aceh)


PLTU Meulaboh
Inc. (Idi-Lhokseumawe)
PLTU Meulaboh
Takengon
Tapak Tuan
Kutacane
Blang Pidie
Sabulussalam
Ulee Kareng
Inc. (Bireun-Sigli)
Blang Kjeren
Banda Aceh
Inc. (Bireun-Lhokseumawe)
PLTA Peusangan-2
Takengon
2 Pi Inc. (Sigli-Banda Aceh)
Lam Pisang
PLTA Peusangan-4

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
4
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
2 Zebra
2 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
2 Zebra
1 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
1 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
1
60
2
333
126
130
290
190
111.2
60
4
174
40
6
14
22
32
30
20
1645

0.1
3.3
0.1
75.0
9.6
7.2
16.1
10.5
6.2
4.6
0.2
9.6
9.0
0.3
1.1
1.7
3.5
2.3
1.1
161.5

COD
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2017
2018
2018

Tabel A3.10. Pembangunan Transmisi 275 kV


No
1 Sigli
2 Sigli
Jumlah

Dari

Ke

Tegangan

Lhokseumawe
Ulee Kareng

275 kV
275 kV

Konduktor
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
322
72.5
130
29.3
452
101.7

COD
2015
2018

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tersebut di point 2.2 di atas, diperlukan tambahan
pelanggan baru 362 ribu pelanggan atau rata-rata 36.200 pelanggan setiap tahunnya.
Selaras dengan penambahan pelanggan, diperlukan pembangunan JTM 11.979 kms,
JTR sekitar 13.558 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 720.3 MVA,
seperti ditampilkan dalam Tabel A3.11.

301

Tabel A3.11. Rincian Pengembangan Distribusi


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
878
937
1.000
1.068
1.140
1.216
1.298
1.385
1.478
1.578
11.979

JTR
kms
994
1.061
1.132
1.208
1.290
1.377
1.469
1.568
1.673
1.786
13.558

Trafo
MVA
53
56
60
64
69
73
78
83
89
95
720

Pelanggan
42.227
39.193
40.171
41.179
34.291
30.598
31.418
33.447
34.369
35.332
362.225

A3.4. PENGEMBANGAN PULAU WEH SABANG


Sabang merupakan merupakan kawasan istimewa karena berada pada jalur lalu
lintas pelayaran dan penerbangan internasional, sehingga menjadi salah satu pintu
gerbang kegiatan ekonomi Indonesia. Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam telah
menetapkannya sebagai kawasan industri yang akan menjadi pusat kemajuan
ekonomi Aceh. Untuk memajukan Sabang, telah dibentuk BPKS (Badan
Pengusahaan Kawasan Sabang) dengan harapan dapat menjadi fasilitator dalam
pengembangan ekonomi baik skala provinsi, nasional, regional dan international.
Disamping itu pulau yang eksotis ini juga akan dikembangkan menjadi kawasan
wisata bahari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Untuk mempercepat pengembangan Sabang, penyediaan tenaga yang memadai dan
handal sangatlah diperlukan. Sistem kelistrikan saat ini dipasok dari PLTD dan
genset sewa dengan daya mampu 4,2 MW dan beban puncak 2,8 MW.
Potensi energi panas bumi di Sabang diperkirakan sebesar 70 MW, namun yang
akan dikembangkan oleh Pemko Sabang saat ini sebesar 2 x 5 MW yang diharapkan
dapat beroperasi pada tahun 2013 dan 2017. Dalam rangka mendukung
pengembangan kawasan Sabang oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam, PLN
mendorong pembangunan PLTP Jaboi 7 MW oleh IPP dan siap untuk membeli
dengan harga yang wajar. Disamping itu untuk menjaga kemungkinan kemunduran
beroperasinya PLTP Jaboi, PLN juga akan PLTGB 8 MW pada tahun 2013.

302

A3.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam
Tabel A3.12.
Tabel A3.12. Rangkuman
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
1,698
1,936
2,206
2,508
2,842
3,208
3,609
4,044
4,515
5,024
31,591

Produksi
Energi
(Gwh)
1,855
2,111
2,402
2,727
3,084
3,476
3,904
4,368
4,869
5,409
34,205

Beban
Puncak
(MW)
308
349
394
444
499
559
623
692
766
845
5,478

Pembangkit
(MW)

303

0
278
176
70
200
288
62
83
10
0
1,167

GI
(MVA)
90
120
240
300
930
60
30
650
90
90
2,600

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
0
396
847
278
328
36
32
180
0
0
2,097

46
494
240
127
462
455
217
251
101
78
2,472

LAMPIRAN A.4
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA UTARA

A4.1. KONDISI SAAT INI


Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem
transmisi 150 kV (tidak termasuk Pulau Nias / Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Pulau
Tello dan Pulau Sembilan yang beroperasi secara isolated). Saat ini beban puncak
sekitar 1.339 MW dan dipasok oleh Sektor Pembangkitan Belawan, Sektor
Pembangkitan Medan, Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan
Labuhan Angin. Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum
untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan beban puncak.
Disamping pusat-pusat pembangkit di atas, ada beberapa PLTMH yang memasok
listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW.
Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari
tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban, maka pada
saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir. Untuk menanggulangi
pemadaman yang berkepanjangan, PLN Wilayah Sumatera Utara melakukan
demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban, yaitu
membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru.
Jumlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2.146 MVA.
Peta kelistrikan sistem Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4.1.

304

ke
GI Langsa
(NAD)

PLTU P.Susu #1,2 (FTP1)


2 x 220 MW 2012/2013
PLTU P. Susu #3,4
ACSR 2 x 430 mm2 2 x 200 MW 2015
80 km - 2011

ACSR 2 x 430 mm2


11 km 2013

ACSR 1 x 240 mm2


15 km 2013

T. Pura

PLTG Paya Pasir


90 MW (Total)

11
4

to
GI Kutacane
(NAD)

Binjai 13
2

11
12

ACSR 1 x 240 mm
178 km - 2013

ACSR 1 x 240 mm2


40 km 2014

Galang

ACSR 1 x 240 mm2


33 km - 2013

Negeri
Dolok

PLTM Tersebar
Karai1(2x5)
Karai7(2x3,2)
Karai12(2x3,7)
Karai13(2x4,2)

G.Para

PLTP Sibayak
10 MW

ACSR 1 x 240 mm2


55,6 km - 2013

Pematang
Siantar

Namurambe

Sei Rotan
Kuala Namu

Titi
Kuning

ACSR 2 x 430 mm2


40 km 2012

Denai

ACSR 2 x 240 mm2


17 km 2013

T.Morawa
2

ACSR 2 x 430 mm

Galang 10 km 2012

PLTD Titi Kuning


6 x 4,14 MW

Kisaran

ACSR 4 x 282 mm
200 km - 2020

Sidikalang
Pangururan

Porsea

ACSR 1 x 240 mm2


13 km - 2013 ACSR 1 x 240 mm2
30 km - 2017

PLTA Simonggo 2
86 MW 2017

P
ACSR 1x 240 mm
2 km - 2019

ACSR 1 x 240 mm2


25 km - 2018

PLTP Simbolon Samosir


2 x 55 MW 2019

ACSR 2 x 430 mm2


97 km - 2013

ACSR 1 x 240 mm2


65 km 2012

Rantau
Prapat
Kota
Pinang

Tarutung
P

PLTP Sipoholon
Ria-Ria
Sarulla
55 MW 2019
ACSR 2 x 430 mm2
69 km - 2013 PLTP Sarulla 1 (FTP2)
330 MW 2014/2015
PLTP Sarulla 2 (FTP2)
110 MW 2017

Sibolga
Labuhan
Angin

Aek
Kanopan

PLTA Asahan III (FTP2)


174 MW 2016

ACSR 2 x 240 mm2


11 km - 2016
Asahan III

ACSR 1 x 240 mm2


7 km - 2013

Labuhan
Bilik

PLTA Hasang
40 MW 2017
Dolok Sanggul/
Parlilitan

PLTA Asahan I
180 MW 2010

Asahan I

Simangkok

Tele

Salak

PLTMH tersebar
Parlilitan (3x2,5), Hutaraja(2x2,5),
Pakkat(2x5), TaraBintang(2x5),
Simonggo(3x3), Rahu1(2x4),
Rahu2(2x2,5)

Perbaungan
GIS Listrik

ACSR 2 x 430 mm2


159 km - 2013

ACSR 1 x 240 mm2


30 km - 2013

PLTMH tersebar
LaeOrdi1(2x2,5),LaeOrdi
2(2x5),LaeKombih2(2x4) 2

CU 1000
KIM
10 km 2015

Paya Geli

Kualatanjung

Renun

to
GI Sabussalam
(NAD)

Brastagi

PLTA Renun
2 x 41 MW

Lamhotma

Glugur

Binjai

PLTU Sewa
Kuala Tanjung
3x120 MW 2013
ACSR 2 x 240 mm2
15 km - 2013

Tebing
Tinggi

15

A
2

Paya Pasir

Mabar

PLTU Belawan
4 x 65 MW

ACSR 2 x 240 mm2


6,2 km 2012

Labuhan
G

PLTG Glugur
19,85 MW & 12,85 MW

5 6

Perbaungan
10 7
3
9
1
14
16

ACSR 2 x 430 mm2


80 km - 2013

PLTG BELAWAN
400 MW 2013

GU
U

P. Brandan

PLTA Wampu
45 MW 2014

Belawan G

PLTGU Belawan
395,3 MW & 422,5 MW

U
A

PLTU Labuhan Angin


2 x 115 MW

ke
GI Bagan Batu
(Riau)

Gunung
Tua

PLTA Sipan
17 MW & 33 MW

Padang
Sidempuan
ACSR 1 x 240 mm2
70 km 2013

ACSR 2 x 430 mm2


300 km - 2014

Panyabungan
Edit
September 2011

Rencana 275 kV HVDC U


Rencana 500 kV HVDC

PLTU

PLTD

PLTG

PLTA

PLTGU P

PLTP

Kit Eksisting
Kit Rencana

GU

ke
GI Payakumbuh
(Sumatera Barat)

AC

PERENCANAAN SISTEM
BIDANG PERENCANAAN

PETA JARINGAN
PROPINSI SUMATERA UTARA
Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

PLTP Sorik Merapi


(FTP2) 240 MW 2018

S
23 R 1
km x 2
- 2 40
01 mm
7

PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

GI Rencana
GI Eksisting
GI 275/150
kV Renc

Gambar A4.1. Peta Kelistrikan Sumatera Utara

Penjualan tenaga listrik PLN di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan


yang sejalan dengan pertumbuhan ekonominya. Namun pasokan tenaga listrik
(pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu (derating capacity) karena umur
pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit baru yang
relatif kecil. Secara lebih rinci, kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4.1.

305

Tabel A4.1. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2010


No.

Pembangkit

A Sektor Pembangkitan Belawan


1 PLTU Belawan
PLTU Belawan
2 PLTGU Belawan
PLTGU Belawan
PLTGU Belawan
PLTGU Belawan
PLTGU Belawan
PLTGU Belawan
3 PLTG Belawan TTF
B Sektor Pembangkitan Medan
1 PLTG Glugur
PLTG Glugur
PLTG Glugur TTF
2 PLTG Paya Pasir
PLTG Paya Pasir
PLTG Paya Pasir
PLTG Paya Pasir TTF
PLTG Paya Pasir TTF
3 PLTD Titi Kuning
4 PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta)
5 PLTD Sewa Belawan (AKE)
C Sektor Pembangkitan Pandan
1 PLTMH Batang Gadis
2 PLTMH Tonduhan
3 PLTMH Kombih I
4 PLTMH Kombih II
5 PLTMH Boho
6 PLTMH Aek Raisan
7 PLTMH Aek Silang
8 PLTMH Aek Sibundong
9 PLTA Sipansihaporas
10 PLTA Lau Renun
D Sektor Pembangkitan Labuhan Angin
1 PLTU Labuhan Angin
E IPP
1 PLTP Sibayak
2 PLTA Asahan I
3 PLTMH Parlilitan
4 PLTMH Silau II
F Excess Power
1 PT Growt Sum.#1
2 PT Growt Sum.#2
3 PT Growt Asia
TOTA L

Unit

Tahun
Operasi

1,2
3,4
GT 1.1
GT 1.2
ST 1.0
GT 2.1
GT 2.2
ST 2.0
-

1984
1989
1993
1988
1995
1995
1994
1994
-

1
2
3
1,2
3,4
5
6
7
1-6
-

1975
1967
2008
1976
1978
1983
2008
1976
2008
2008

1,2
1,2
1,2
1,2
1
1,2
1
1
1,2
1,2

1994
1987/88
1987/88
1987/88
1989
1987/89
1988
1987
2003/04
2005/06

1,2

2008

1,2
-

2008
2010
2010
2010

2009
2010
2011

306

Kapasitas
Terpasang
(MW)
1.183
130
130
118
129
149
130
130
163
105
300
20
13
12
29
40
21
22
34
25
20
65
139,5
0,9
0,4
1,5
1,5
0,2
1,5
0,8
0,8
50,0
82,0
230
230
206
11
180
8
8
25
6
9
10
2.084

Daya
Mampu
(MW)
1.033
90
105
105
115
120
130
130
133
105
213
0
0
11
0
33
17
18
34
18
18
65
136,3
0,8
0,4
1,2
1,1
0,2
1,3
0,7
0,7
50,0
80,0
210
210
205
10
180
8
8
25
6
9
10
1.822

Sedangkan kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung


Sitoli,Teluk Dalam (Pulau Nias), Pulau Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau
Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4.2.
Tabel A4.2. Pembangkit Sistem Isolated per 2010
No

Daya
Terpasang
Mampu
(kW)
(kW)

Lokasi PLTD

1 Gunung Sitoli
- PLTD PLN
- PLTD Sewa
- PLTD Sewa
Total PLTD Gunung Sitoli
2 Teluk Dalam
- PLTD PLN
- PLTD Sewa
Total PLTD Teluk Dalam
3 Pulau Tello
- PLTD PLN
Total PLTD Pulau Tello
Total PLTD Cabang Nias

12.178
5.920
6.500
24.598

4.650
4.700
4.650
14.000

3.380
5.225
8.605

1.850
4.070
5.920

700
700
33.903

400
400
20.320

Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari
seluruh demand di provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi.
Dengan adanya pembangunan KIM 3 (Kawasan Industri Medan tahap tiga)
diperlukan penambahan GI baru untuk mengurangi beban lebih pada beberapa GI,
misalnya GI Titi Kuning, GIS Listrik dan GI KIM.
Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang
tegangannya terlalu rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang (sampai
200 km dari gardu induk). Situasi ini telah diketahui oleh PLN dan direncanakan
penanggulangannya dalam RUPTL ini.

A4.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020
diberikan pada Tabel A4.3.

307

Tabel A4.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Sales
(Gwh)
7.257
7.921
8.642
9.421
10.258
11.210
12.250
13.388
14.631
15.991
9,2%

Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Produksi
(Gwh)
7.998
8.721
9.487
10.320
11.212
12.226
13.331
14.537
15.853
17.289
8,8%

Beban Puncak
(MW)
1.363
1.484
1.612
1.750
1.899
2.068
2.251
2.451
2.669
2.907
8,9%

Pelanggan
2.676.942
2.797.208
2.915.928
3.032.281
3.134.869
3.248.825
3.367.041
3.489.681
3.616.919
3.748.935
3,9%

A4.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi, GI dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik
cukup besar dalam bentuk tenaga air dan panas bumi. Namun provinsi ini tidak
mempunyai potensi batubara sedangkan sumber gas alam telah mengalami
penurunan.Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.4 dan Tabel A4.5.
Tabel A4.4. Daftar Potensi PLTA > 10 MW
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Perkiraan
Kapasitas
Pengembang
COD
(MW)
Asahan 3
2015
PLN
174
Wampu
2016
IPP
84
Asahan 4-5
2017
PLN
60
Simanggo-2
2018
PLN
59
Bila-2
2019
PLN
42
Kumbih-3
2019
PLN
42
Sibundong-4
2019
PLN
32
Lake Toba
2020
PLN
400
Ordi-3
2020
PLN
18
Ordi-5
2020
PLN
27
Raisan-1
2020
PLN
26
Siria
2020
PLN
17
Toru-2 (Tapanuli Utara)
2020
PLN
34
Toru-3 (Tapanuli Utara)
2026
PLN
228
Nama

308

Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru
500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang mengajukan
proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS). Apabila proyek
tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem
kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses
lebih lanjut.
Tabel A4.5. Daftar Potensi PLTM < 10 MW
NO
I
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

NAMA PEMBANGKIT
IPP
Parluasan
Huta Raja
Pakkat 1
Lau Gunung
Lae Ordi
Lae Kombih 3
Batang Toru
Karai 1
Karai 7
Karai 12
Karai 13
Lae Ordi 2
Tara Bintang
Raisan Huta Dolok
Raisan Naga Timbul
Sei Wampu 1
Rahu 1
Rahu 2
Sidikalang 1

DAYA
(MW)
4,2
5,0
10,0
10,0
10,0
8,0
7,5
10,0
6,7
6,0
8,3
10,0
10,0
7,0
7,0
9,0
9,2
5,0
8,6

LOKASI
Tobasa
Humbahas
Humbahas
Dairi
Pakpak Barat
Pakpak Barat
Taput
Simalungun
Simalungun
Simalungun
Simalungun
Pakpak Barat
Humbahas
Tapteng
Tapteng
Langkat
Humbahas
Humbahas
Dairi

COD
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014

NO
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
II
1
2
3
4
5

NAMA PEMBANGKIT

DAYA
(MW)
8,6
7,4
6,0
7,0
9,0
10,0
7,0
3,0
10,0
10,0
78,0

Sidikalang 1
Sidikalang 2
Simbelin 1
Simonggo
Sei Wampu 2
Lae Kombih 4
Aek Sisiran
Aek Rambe
Batang Toru 3
Batang Toru 4
Total IPP
EXCESS POWER
PT.Evergreen Paper Int
2,0
PTPN III Sei Mangkei
3,5
PT Nubika Jaya
15,0
PT Victorindo Alam Lestari
8,0
PLTU Nias
31,0
Total Excess Power
59,5
Total
137,5

LOKASI

COD

Dairi
Dairi
Dairi
Humbahas
Langkat
Pakpak Barat
Humbahas
Humbahas
Taput
Taput

2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015

Deli Serdang
Simalungun
Labuhan Batu
Padang Lawas
Gunung Sitoli

2012
2012
2012
2012
2014

Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia
oleh WestJEC/Direktorat Jendral Minerbapabum tahun 2007, potensi panas bumi yang
terdapat di Provinsi Sumatera Utara adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.6.
Tabel A4.6 Daftar Potensi Panas Bumi
Lokasi Panas Bumi

Keterangan

Potensi
(MW)

Sarulla & Sibual Buali


Sibayak/Lau Debuk-Debuk
Sorik Merapi
Sipaholon
G. Sinabung
Pusuk Bukit
Simbolon

Existing / Expansion
Existing / Expansion
High Possibility
Low Possibility
Tidak cukup data
Tidak cukup data
Tidak cukup data

660
160
500
50
-

309

Dibatasi Oleh
Taman Nasional Demand
(MW)
(MW)
630
630
40
40
100
100
50
50
-

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2020 diperlukan
pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4.7.
Tabel A4.7. Pengembangan Pembangkit
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Proyek
Pangkalan Susu #1,2 (FTP1)
Belawan
Sumbagut
PLTM Tersebar Sumut
Wampu
Nias
Sarulla I (FTP2)
Nias (FTP2)
Pangkalan Susu #3,4 (FTP2)
Asahan III (FTP2)
Hasang
Sarulla II (FTP2)
Simonggo-2
Sorik Marapi (FTP2)
Simbolon Samosir
Sipoholon Ria-Ria
Pembangkit Peaker
Sumut-2
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTG
PLTU
PLTM
PLTA
PLTGB
PLTP
PLTU
PLTU
PLTA
PLTA
PLTP
PLTA
PLTP
PLTP
PLTP
PLTG
PLTU

PLN
PLN
Sewa
Swasta
Swasta
PLN
Swasta
Swasta
PLN
PLN
Swasta
Swasta
PLN
Swasta
Swasta
Swasta
PLN
Sewa

Kapasitas
(MW)
440
400
360
154
45
8
330
21
400
174
38
110
86
240
110
55
200
225
3396

COD
2012-13
2013
2013
2013-15
2014
2014
2014-15
2014-15
2015
2016
2017
2017
2017
2018
2019
2019
2020
2020

Pengembangan Transmisi
Di Sumatera dalam waktu dekat akan terwujud transmisi 275 kV sebagai tulang
punggung sistem interkoneksi Sumatera 1 . Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan
energi listrik antar provinsi di Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit
utama seperti PLTU batubara, PLTP dan PLTA skala besar, untuk ditransmisikan ke
pusat-pusat beban. Selain itu direncanakan pula pengembangan transmisi 150 kV
yang merupakan jaringan regional untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan
yang lebih terbatas.
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 2.262 kms
guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan, yaitu
untuk mengatasi bottleneck penyaluran daya, mengevakuasi daya dari pusat
1

Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem
kelistrikan Sumatera pada koridor timur. Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera
Utara setelah tahun 2020.

310

pembangkit, mendapatkan tegangan pelayanan yang baik dengan membatasi panjang


JTM, menurunkan losses transmisi dan distribusi, serta meningkatkan keandalan
sistem tenaga listrik.
Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4.8 dan
Tabel A4.9.
Tabel A4.8. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Dari

Ke

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
2 cct, 2 Zebra
80
18.0
2 cct, 2 Zebra
20
4.5
1 2nd cct, 2 Hawk
6.2
0.3
2 cct, 1 Hawk
76
4.2
2 cct, 1 Hawk
130
7.2
2 cct, 1 Hawk
66
3.7
2 cct, 1 Hawk
140
7.8
2 cct, 2 Zebra
22
5.0
2 cct, 2 Hawk
30
2.3
2 cct, AC3 310 mm2
108
14.4
2 cct, 1 Hawk
60
3.3
2 cct, 2 Hawk
34
2.6
2 cct, 1 Hawk
30
1.7
2 cct, 1 Hawk
26
1.4
2 cct, 1 Hawk
80
4.4
2 cct, 1 Hawk
20
1.1
2 cct, 1 Hawk
220
12.2
1 cct, CU 1000 mm2
10
22.2
1 cct, CU 1000 mm2
10
22.2
2 cct, 2 Hawk
22
1.7
2 cct, 1 Hawk
46
2.5
2 cct, 1 Hawk
60
3.3
2 cct, 1 Hawk
50
2.8
4 cct, 1 Hawk
8
0.4
1354
149.2

Tegangan

Galang
Namurambe
Galang
Tanjung Morawa
Lamhotma
Belawan
Dolok Sanggul/Parlilitan
Incomer 1 Pi (Tele-Tarutung)
Rantau prapat
Labuhan Bilik
Galang
Negeri Dolok
Padang Sidempuan
Panyabungan
Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2) Pangkalan Brandan
PLTU Sewa Sumbagut
Tebing Tinggi
Sei Rotan (uprate)
Tebing Tinggi (uprate)
Sidikalang
Salak
Tanjung Morawa
Kuala Namu
Tanjung Pura
Inc. (P.Brandan-Binjai)
Tele
Pangururan
PLTA Wampu
Brastagi
PLTU Nias
Gunung Sitoli
Teluk Dalam
Gunung Sitoli
GIS Listrik
KIM
Mabar
Glugur
Simangkok
PLTA Asahan III(FTP 2)
Panyabungan
PLTP Sorik Marapi (FTP 2)
Porsea
PLTA Hasang
Tarutung
PLTP Simbolon Samosir
PLTP Sipoholon Ria-Ria
2 Pi Inc. (Tarutung-Porsea)
Jumlah

Konduktor

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

COD
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2015
2015
2016
2017
2017
2018
2019

Tabel A4.9. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV


No
1
2
3
4
5

Dari
Pangkalan Susu
Galang
Padang Sidempuan
PLTP Sarulla (FTP 2)
Simangkok
Jumlah

Ke
Binjai
Binjai
PLTP Sarulla (FTP 2)
Simangkok
Galang

Konduktor

Tegangan
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV

2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

2 Zebra
2 Zebra
2 Zebra
2 Zebra
2 Zebra

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
160
36.0
160
36.0
138
31.1
194
43.7
318
71.6
970
218.3

COD
2012
2013
2013
2013
2013

Pembangunan Gardu Induk


Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani
pertumbuhan beban, meningkatkan keandalan pasokan, memperbaiki mutu
tegangan, mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun
kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu
311

jauh dari konsumen. Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.10
berikut.
Tabel A4.10. Rencana Pembangunan GI Baru s/d Tahun 2020
No

Nama Gardu Induk

Tegangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Galang
Labuhan Bilik
Parlilitan/Dolok Sanggul
Kuala Namu
Negeri Dolok
Pangururan
Panyabungan
Salak
Tanjung Pura
Gunung Sitoli
Teluk Dalam
Jumlah

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
70/20 kV

Kapasitas
(MVA)
0
60
10
60
60
30
60
60
30
30
30
430

COD
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014

Selain itu diperlukan juga extension banyak GI existing dengan menambah unit trafo
hingga tambahan kapasitas seluruhnya mencapai 1.470 MVA seperti terlihat pada
Tabel A4.11.
Tabel A4.11. Rencana Extension GI s/d Tahun 2020
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Nama Gardu Induk


Binjai
Denai
Gunung Para
Gunung Tua
Padang Sidempuan
Rantau Prapat
Tanjung Morawa
Tele
Aek Kanopan
Brastagi
Glugur
Gunung Tua
Kisaran
Labuhan
Lamhotma
Namurambe

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
60
30
30
30
60
60
30
30
60
60
10
60
30
60
60

COD

No

2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Nama Gardu Induk


Pematang Siantar
Perbaungan
Porsea
Rantau Prapat
Sei Rotan
Sibolga
Sidikalang
Tarutung
Tebing Tinggi
Paya Pasir
Kota Pinang
GIS Listrik
Tanjung Pura
Titi Kuning
Paya Geli
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
60
20
60
60
60
30
30
60
60
30
60
30
60
60
1470

COD
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2014
2017
2017
2017
2018

Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan


pada Tabel A4.12.

312

Tabel A4.12. Rencana Pembangunan GI 275 kV s/d Tahun 2020


No

Nama Gardu Induk

1 Binjai
2 Pangkalan Susu
3 Galang
4 Padang Sidempuan
5 Sarulla
6 Pangkalan Susu

Tegangan

Baru/
Kapasitas
Biaya
COD
Extension (MVA) (juta US$)

275/150 kV

Baru

1000

31.83

2011

275/150 kV
275/150 kV

Baru
Baru

0
1000

9.11
35.13

2012
2013

275/150 kV

Baru

500

21.88

2013

275/150 kV

Baru

500

24.00

2013

250

21.03

2015

3250

143.0

275/150 kV Extension

Jumlah

Pengembangan Distribusi
Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2020 adalah sekitar 1,2 juta
pelanggan atau rata-rata 120.000 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan
penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 17.800 kms, JTR
sekitar 11.850 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.160 MVA,
seperti ditampilkan dalam Tabel A4.13.
Tabel A4.13. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
1.376
1.461
1.438
1.538
1.538
1.718
1.903
2.076
2.291
2.467
17.805

JTR
kms
1.092
918
996
1.078
1.158
1.218
1.260
1.339
1.378
1.414
11.850

Trafo
MVA
146
153
166
180
193
220
240
263
287
314
2.160

Pelanggan

125.011
120.266
118.720
116.353
102.587
113.957
118.215
122.640
127.238
132.016
1.197.004

A4.4. SISTEM ISOLATED NIAS DAN TELUK DALAM


Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai kondisi
sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera,
(ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, (iii) Rawan gempa dan rawan
313

longsor, (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit dijangkau, (v)
Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan.
Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias, terdiri dari Ranting Gunung
Sitoli dan Ranting Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello. Pasokan
listrik untuk sistem kelistrikan dipasok dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk
Dalam. Jumlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu, daya tersambung 35 MVA dengan
penjualan mencapai 52 GWh. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya
terpasang 28.904 kW, daya mampu 12.960 kW, beban puncak 9.858 kW, dan
mengingat kondisi pembangkitan sudah tua, maka telah diambil langkah-langkah
sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan pembangunan PLTU 3x7 MW
(IPP) dan PLTGB 8 MW (PLN).
A4.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan
tahun 2020 adalah seperti Tabel A4.14 berikut:
Tabel A4.14. Rangkuman
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
7,257
7,921
8,642
9,421
10,258
11,210
12,250
13,388
14,631
15,991
110,968

Produksi
Energi
(Gwh)
7,998
8,721
9,487
10,320
11,212
12,226
13,331
14,537
15,853
17,289
120,974

Beban
Puncak
(MW)
1,363
1,484
1,612
1,750
1,899
2,068
2,251
2,451
2,669
2,907
20,453

Pembangkit
(MW)

314

0
220
1,063
209
666
174
236
240
165
425
3,398

GI
(MVA)
1,360
880
2,360
90
250
0
150
60
0
0
5,150

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
0
472
1,326
320
20
22
106
50
8
0
2,324

96
457
1,072
507
1,231
320
504
315
469
496
5,468

LAMPIRAN A.5
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI RIAU

A5.1. KONDISI SAAT INI


Sistem Interkoneksi
Pada sistem kelistrikan di Provinsi Riau terdapat 8 gardu induk (GI) 150 kV, yaitu
Koto Panjang, Bangkinang, Garuda Sakti, Teluk Lembu, Duri, Dumai, Bagan Batu
dan Taluk Kuantan. Sebagian GI tersebut sudah mengalami overload dan perlu
segera dimitigasi.
Sistem kelistrikan Riau dipasok dari grid Sumatera sebesar 379 MW. Kapasitas
pembangkit PLN di Riau yang tersambung ke grid sebesar 267 MW, dimana 43% dari
kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang, dengan demikian untuk memenuhi
kebutuhan Riau masih diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera
Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara.
Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit, dimana 30%
(711 MW) berupa PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan
kapasitas. Dengan demikian sistem Riau ikut mengalami defisit daya.
Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5.1.

315

Gambar A5.1. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau

Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV


ditunjukkan pada Tabel A5.1.
Tabel A5.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No.
1
2
3
4
5
6
7

Nama Pembangkit
PLTA Koto Panjang
PLTG Teluk Lembu
PLTD Teluk Lembu
PLTD Dumai/Bg Besar
PLTG Riau Power
PLTD Sewa Teluk Lembu
PLTD Sewa Dumai

Jenis

B. Bakar

Pemilik

PLTA
PLTG
PLTD
PLTD
PLTG
PLTD
PLTD

Air
Gas/HSD
HSD
HSD
Gas
HSD
HSD

PLN
PLN
PLN
PLN
PT Riau- Power
Sewa
Sewa

Kapasitas
Terpasang (MW)
114
43
8
12
20
40
30
267

Jumlah

Sistem Isolated
Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir,
Kabupaten Bengkalis dan Meranti. Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh
PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan daya mampu 44 MW.
316

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan, sehingga PLN


menyewa pembangkit diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek.
Daftar pembangkit pada sistem isolated diberikan pada Tabel A5.2.
Tabel A5.2. Pembangkit Isolated per 2010

UNIT
MESIN PLN
1. Cab. Pekanbaru
2. Cab. Dumai
3. Cab. Rengat
JUMLAH
MESIN PEMDA
1. Cab. Pekanbaru
2. Cab. Dumai
3. Cab. Rengat
JUMLAH
MESIN SEWA
1. Cab. Pekanbaru
2. Cab. Dumai
3. Cab. Rengat
JUMLAH

Daya
Jumlah
Terpasang Mampu
(unit)
(MW)
(MW)

Beban
Puncak
(MW)

42
80
115

7,6
37,0
38,6

4,6
21,6
18,1

4,6
16,1
17,0

237

83.2

44.3

37.7

7
23
13

2,5
32,0
7,3

1,5
13,0
4,2

1,8
12,5
4,6

33

41,8

18,7

18.9

3
2
2

1,2
2,4
2,0

1,1
2,0
0

1,2
2,1
2,0

10

5,6

3,1

5,3

Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh


menurunnya daya mampu pembangkit, meningkatnya konsusmsi listrik oleh
pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan baru) dan kebutuhan sistem
isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual
beli (kontrak).

A5.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6,6-8,7% pada tahun 2006-2010 (tidak
termasuk migas) dan kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa
yang akan datang. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian
Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk
menanamkan modalnya di Riau. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila
ada dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau.

317

Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat, ditandai oleh


adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten
yang telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), seperti Kawasan
Industri Khusus Dumai, Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura, Kawasan Kuala
Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru.
Dari realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020 dapat
dilihat pada Tabel A5.3.
Tabel A5.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
2.663
3.013
3.401
3.722
4.046
4.386
4.726
5.082
5.479
5.968
11,4%

Produksi
(Gwh)
2.900
3.274
3.687
4.028
4.368
4.726
5.090
5.472
5.897
6.422
10,7%

Beban Puncak
(MW)
470
530
595
649
703
759
816
876
942
1.024
10,3%

Pelanggan
801.630
859.028
919.772
977.923
1.040.623
1.105.031
1.169.680
1.235.156
1.302.704
1.366.253
9,2%

Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi, pertumbuhan listrik di


Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi, karena seiring dengan
perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana
pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai, Buton, Kuala Enok dan
Tenayan-Pekanbaru.

A5.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit pada
sistem isolated dan sistem interkoneksi 150 kV serta pengembangan jaringan
transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik
berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan, antara lain Seng, Segat di
318

kabupaten Pelalawan, Bento dan Baru di Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila
yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk Lembu.
Disamping itu terdapat potensi batubarayang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu
dan Kuantan Singingi dengan cadangan 1,55 juta metrik ton2.
Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan
Singingi. Menurut pra studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di
Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air
yang cukup besar, yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170 MW. Namun perlu
dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan
dapat mempengaruhi potensi debit air.
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan
mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem
isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV yang memasok sistem Riau.
Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas sekitar
1.732 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5.4.
Tabel A5.4. Pengembangan Pembangkit
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Proyek
Duri 1 (Relokasi)
Duri
Duri
Rengat
Selat Panjang
Bengkalis (FTP1)
Dumai
IPP Kemitraan
Tembilahan
Riau (Amandemen FTP1)
Pembangkit Peaker
Selat Panjang Baru #1,2
Bengkalis PLTGB
Riau Mulut Tambang
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTG
PLTG
PLTGU
PLTG
PLTGB
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTG
PLTU
PLTGB
PLTU

PLN
PLN
Swasta
PLN
PLN
PLN
Sewa
Swasta
PLN
PLN
PLN
Swasta
PLN
Swasta

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau

319

Kapasitas
COD
(MW)
60
2011-12
100
2012
100
2012
20
2012
6
2012
20
2013
240
2013
14
2013
14
2013
220
2013-14
200
2014
14
2014
24
2015/17/19
600
2016-17
1632

PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan


salah satu proyek percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 yang saat ini sedang
tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. PLTG Duri dengan
kapasitas total 160 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya mengurangi
kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan Jambi
Merang. Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan
dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG). PLTU Riau Mulut Tambang
2x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun
2016 2017. Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang
mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik, termasuk gas skala kecil,
seperti di Melibur Kabupaten Meranti, Selat Kabupaten Inhil, Bentu Kabupaten
Kampar, Tembilahan Kabupaten Inhil, Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa Minyak
Kabupaten Siak Sri Indrapura.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem
interkoneksi 150 kV, hingga tahun 2020 diperlukan pengembangan 14 GI 150 kV
baru dengan kapasitas total 600 MVA dan extension GI dengan tambahan kapasitas
730 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5.5 dan Tabel A5.6.
Tabel A5.5. Pembangunan GI 150 kV Baru
No

Nama Gardu Induk

Tegangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Bagan Siapiapi
KID Dumai
KIT Tenayan
Pangkalan Kerinci
Pasir Pangaraian
Pasir Putih
Rengat
GI/GIS Kota Pekanbaru
New Garuda Sakti
Perawang
Siak Sri Indra Pura
Tembilahan
Kandis
Lipat Kain
Jumlah

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

320

Kapasitas
(MVA)
30
30
30
30
30
60
60
60
120
30
30
30
30
30
600

COD
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015

Tabel A5.6. Extension GI 150 kV


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Nama Gardu Induk


Bagan Batu
Bangkinang
Dumai
Duri
Garuda Sakti
Koto Panjang
Teluk Lembu
Bangkinang
Pasir Putih
Duri
KIT Tenayan
Teluk Kuantan
KID Dumai
Tembilahan
Bagan Batu
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
30
60
60
80
20
60
60
120
60
30
30
30
30
30
730

COD
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2016
2016
2017
2017
2017
2019
2019
2020

Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi


275 kV dan 500 kV3, serta konverter transmisi HVDC 250 kVDC yang merupakan
bagian dari link interkoneksi Sumatera Malaysia seperti pada Tabel A5.7.
Tabel A5.7. Pembangunan GI 275kV, 500 kV dan HVDC 250 kV
No

Nama Gardu Induk

Tegangan

1 New Garuda Sakti


2 Rengat

275/150 kV

3 Riau Mulut Tambang


4 HVDC Switching Station
5 New G. Sakti HVDC St.Converter
6 New Garuda Sakti 500 kV
7 Rengat 500 kV

Baru/
Kapasitas
Biaya
COD
Extension (MVA) (juta US$)
Baru

500

24.28

2013

275/150 kV

Baru

250

20.08

2015

275/150 kV

Baru

8.14

2015

250 kV DC
250 kV DC
500/275 kV

Baru
Baru
Baru

0
600
1000

16.68
19.95
36.22

2016
2016
2018

500 kV

Baru

500

25.77

2018

2850

151.1

Jumlah

Pengembangan Transmisi
Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2020 adalah sepanjang 1.942
kms (150 kV) dan 1.312 kms (275 kV, 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana
UD$ 510,8 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A5.8 dan Tabel A5.9.

GITET 500 kV di New Garuda Sakti dan Rengat merupakan bagian dari transmisi interkoneksi 500
kV yang merupakan tulang punggung kelistrikan Pulau Sumatera koridor timur.

321

Tabel A5.8. Pembangunan SUTT 150 kV


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Dari
PLTG Duri
Bangkinang
Dumai
Dumai
Duri (up rate)
Garuda Sakti (up rate)
Pasir Putih
Pasir Putih
PLTU Sewa Dumai
Teluk Kuantan
Tenayan / PLTU Riau
New Garuda Sakti
Rengat
Rengat
Teluk Lembu
Tenayan / PLTU Riau
Tenayan / PLTU Riau
Bangkinang
Kandis
Pasir Putih
Jumlah

Ke

Konduktor

Tegangan

Inc. 2 Pi (G.Sakti-Duri)
Pasir Pangaraian
Bagan Siapi api
KID Dumai
Dumai (up rate)
Duri (up rate)
Garuda Sakti
Pangkalan Kerinci
Dumai
Rengat
Pasir Putih
Inc. ( G.Sakti-Duri)
Pangkalan Kerinci
Tembilahan
GIS Kota Pekan Baru
Perawang
Siak Sri Indra Pura
Lipat Kain
Inc. ( New G.Sakti-Duri)
Teluk Lembu

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
4
2
2
2
2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

2 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
AC3 310 mm2
AC3 310 mm2
2 Zebra
2 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
2 Zebra
AC3 310 mm2
2 Hawk
1 Hawk
CU 1000 mm2
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
AC3 310 mm2
2 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
22
1.7
220
12.2
228
12.6
56
3.1
118
15.8
230
30.8
55
12.4
134
10.2
14
1.1
194
14.8
35
7.9
12
1.6
220
16.8
120
6.6
14
31.1
50
2.8
100
5.5
70
3.9
10
2.7
40
3.1
1942
196.6

COD
2011
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015

Tabel A5.10. Pembanguan Transmisi 275 kV, 500 kV dan HVDC 250 kV
No

Dari

1
2
3
4
5
6
7

Payakumbuh
Rengat
Border
P. Rupat Selatan
Pulau Rupat Utara
Rengat
Sumatera Landing Point
Jumlah

Ke
New Garuda Sakti
New Garuda Sakti
Pulau Rupat
Sumatra Landing Point
Pulau Rupat Selatan
Cirenti (PLTU Riau MT)
New Garuda Sakti

275 kV
275 kV
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
275 kV
250 kV DC

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
cct, 2 Zebra
300
67,5
cct, 4 Zebra
440
143,6
Cable MI with IRC
52
51,0
Cable MI with IRC
10
9,8
cct, 2 Cardinal
60
2,6
cct, 2 Zebra
110
24,8
cct, 2 Cardinal
340
14,9
1312
314,2
Konduktor

Tegangan
2
2
2
2
2
2
2

COD
2013
2015
2016
2016
2016
2016
2016

Transmisi Aur Duri Rengat New Garuda Sakti akan dibangun dengan desain
tegangan 500 kV karena pada jangka panjang akan merupakan bagian dari sistem
transmisi 500 kV, namun dalam jangka menengah akan dioperasikan sementara
dengan tegangan 275 kV.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
baru sekitar 780 ribu pelanggan sampai dengan 2020. PLN berencana untuk
menyambung hingga 216.000 sambungan pada tahun 2011 untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60%, dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 64 ribu
pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan

322

pembangunan JTM 6.595 kms, JTR sekitar 7.610 kms dan tambahan kapasitas trafo
distribusi sekitar 3.454 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A5.10.
Tabel A5.10. Pengembangan Distribusi
Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
1.340
534
565
541
584
599
602
609
629
591
6.595

JTR
kms
1.546
616
652
624
673
692
694
703
725
682
7.610

Trafo
MVA
785
271
287
275
296
304
306
309
319
300
3.454

Pelanggan

216.003
57.399
60.743
58.151
62.700
64.408
64.649
65.476
67.548
63.549
780.626

A5.4. SISTEM KELISTRIKAN PULAU RUPAT


Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang
istimewa karena kedekatannya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia. Pulau ini
sangat indah dan berpotensi menjadi tujuan wisata yang akan sangat diminati. Pulau
ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai yang telah dirancang
sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau
Sumatera. Jalur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. Peta
Pulau Rupat ditampilkan pada Gambar A5.2.

323

Gambar A5.2. Peta Pulau Rupat

Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas
terpasang 3.600 kW namun daya mampunya hanya 1.195 kW dengan beban puncak
841 kW. Sistem distribusi listrik berupa JTM sepanjang 69 kms, JTR 92 kms, gardu
distribusi 36 unit, 878 kVA. Rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Rupat
adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut.
Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera
dan Malaysia.

A5.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi hingga tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5.11.

324

Tabel A5.11. Rangkuman


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
2,663
3,013
3,401
3,722
4,046
4,386
4,726
5,082
5,479
5,968
42,486

Produksi
Energi
(Gwh)
2,900
3,274
3,687
4,028
4,368
4,726
5,090
5,472
5,897
6,422
45,864

Beban
Puncak
(MW)
470
530
595
649
703
759
816
876
942
1,024
7,363

Pembangkit
(MW)

325

40
246
398
324
12
300
306
0
6
0
1,632

GI
(MVA)
60
280
770
270
310
780
120
1,500
60
30
4,180

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
22
0
1,584
516
560
572
0
0
0
0
3,254

76
211
535
414
234
570
435
96
44
32
2,646

LAMPIRAN A.6
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (tanpa BATAM)

A6.1. KONDISI SAAT INI


Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena
berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah timur dan juga berbatasan
dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah Asia Tenggara. Provinsi Kepulauan
Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi
Republik Indonesia dimasa depan. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di
Kepulauan Riau (Batam, Bintan, dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot
project pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan
Pemerintah Singapura.
Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang, Batam, Kabupaten Bintan,
Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari
2.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk, dengan
95% dari wilayahnya merupakan lautan.

326

Gambar A6.1. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama


yang erat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia
usaha. KEK ini nantinya merupakan simpul-simpul dari pusat kegiatan ekonomi
unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang berdaya saing internasional.
Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup dan andal
terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang
yang melayani 3 daerah administrasi, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Kotamadya
Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan. Sistem Tanjung Pinang dipasok dari
PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang 43 MW dan
untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan
20 kV.
Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit
kecil tersebar dengan kapasitas total 90,7 MW dan daya mampu 65,9 MW seperti
terlihat pada Tabel A6.1.
327

Tabel A6.1. Pembangkit Isolated per 2010


Daya
Terpasang
(MW)

Daya
Mampu
(MW)

Beban
Puncak
(MW)

136

80,9

55,3

53,4

Pemda

0,8

0,6

0,7

Sewa

9,0

10,0

11,4

Total

144

90,7

65,9

65,5

Pemilik
PLN

Jumlah
(Unit)

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah
berlangsung beberapa tahun terakhir. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya
disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya mampu mesin pembangkit, baik karena
gangguan mesin pembangkit maupun usia, meningkatnya pertumbuhan pemakaian
tenaga listrik alami. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem
isolated dilakukan dengan sewa pembangkit.

A6.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7,53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas)
dan diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Target
pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan
memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di
Kepulauan Riau. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat,
ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa
Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.
Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2011-2020
Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020
seperti pada Tabel A6.2.

328

Tabel A6.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
543
601
671
766
871
975
1.049
1.119
1.185
1.249
11,0%

Produksi
(Gwh)
582
642
715
816
925
1.034
1.111
1.185
1.255
1.323
10,6%

Beban Puncak
(MW)
101
112
125
142
161
181
194
208
220
232
10,0%

Pelanggan
139.930
153.266
167.103
181.945
197.645
214.211
231.175
248.663
266.950
286.062
9,4%

A6.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, di West Natuna Basin terdapat potensi
gas alam sebesar 51,46 TCF. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat
cadangan gas yang sangat besar, yaitu 222 TCF dan 500 juta barel minyak.
Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil.
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan
mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem
isolated. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.3.

329

Tabel A6.3. Pengembangan Pembangkit


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Proyek
TB. Karimun #1,2 (FTP1)
Tanjung Batu (FTP2)
Dabo Singkep
Natuna
Tanjung Uban
Tanjung Pinang 1 (TLB)
TB. Karimun (Terkendala)
TB. Karimun #3,4
Tanjung Batu Baru
Tanjung Pinang 2 (FTP2)
Tanjung Pinang 3
TB. Karimun-2
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTGB
PLTGB
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU

PLN
Swasta
PLN
PLN
PLN
Swasta
Swasta
PLN
PLN
Swasta
PLN
PLN

Kapasitas
(MW)
14
8
9
14
14
30
14
14
14
30
30
20
211

COD
2011
2012
2012/18
2013
2013-14
2014
2014
2014-15
2015
2015
2019-20
2019-20

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi
di Pulau Ngenang seperti diperlihatkan pada Tabel A6.4.
Tabel A6.4. Pengembangan GI 150 kV Baru
No
1
2
3
4
5

Nama Gardu Induk


Air Raja
Kijang
Sri Bintan
Tanjung Uban
Pulau Ngenang
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
60
30
60
10
220

COD
2013
2013
2013
2013
2013

Selain itu diperlukan juga extension GI dengan menambah unit trafo 150/20 kV
kapasitas 60 MVA pada tahun 2015 di GI Tanjung Uban.
Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 150 kV, diperlukan pengembangan transmisi 150
kV sepanjang 258 kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21,1 juta seperti
ditampilkan dalam Tabel A6.5.

330

Tabel A6.5. Pembangunan SUTT 150 kV


No
1
2
3
4
5
6
7

Dari
Air Raja
Pulau Ngenang
Sri Bintan
Tanjung Kasam
Tanjung Sauh
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Jumlah

Ke

Konduktor

Tegangan

Kijang
Tanjung Taluk
Air Raja
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Uban
Sri Bintan

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

2
2
2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

1 Hawk
3 x 300 mm2
1 Hawk
3 x 300 mm2
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
40
2,2
12
4,8
70
3,9
6
2,4
10
1,1
60
3,3
60
3,3
258
21,1

COD
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013

Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup


banyak seperti pada tabel A6.3, sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan
sistem Batam melalui kabel laut 150 kV. Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk
menggantikan peran PLTD di sistem Bintan, baik peak maupun baseload, dengan
transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah. Interkoneksi ini juga
dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi
dengan sistem kelistrikan yang jauh lebih besar.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
baru sekitar 169 ribu pelanggan sampai dengan 2020 atau rata-rata 16.940
pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut,
diperlukan pembangunan JTM 1,875 kms, JTR sekitar 2.164 kms dan tambahan
kapasitas trafo distribusi sekitar 900 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A6.6
berikut.
Tabel A6.6. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
293
105
130
184
203
217
209
200
173
163
1.876

JTR
kms
338
121
150
212
234
250
241
231
200
188
2.164

331

Trafo
MVA
107
61
76
82
87
91
94
96
101
105
900

Pelanggan

23.272
13.335
13.837
14.842
15.700
16.566
16.964
17.487
18.287
19.113
169.404

A6.4. SISTEM KELISTRIKAN NATUNA


Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan
Laut Cina Selatan seperti terlihat pada Gambar A6.2.

Gambar A6.2. Peta Pulau Natuna

Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea dan
Taiwan. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang
sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir A6.3.
Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3.080 kW,
daya mampu 2.845 kW dan beban puncak 2.355 kW. Sistem distribusi berupa SUTM
sepanjang 57,4 kms dengan jumlah gardu 29 unit dan kapasitas terpasang 2.450 kVA.
Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna berupa penambahan
PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013.

A6.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel
A6.7.

332

Tabel A6.7. Rangkuman


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
543
601
671
766
871
975
1.049
1.119
1.185
1.249
9.028

Produksi
Energi
(Gwh)
582
642
715
816
925
1.034
1.111
1.185
1.255
1.323
9.588

Beban
Puncak
(MW)
101
112
125
142
161
181
194
208
220
232
1.676

Pembangkit
(MW)

333

14
14
21
58
51
0
0
3
25
25
211

GI
(MVA)
0
0
220
0
60
0
0
0
0
0
280

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
0
0
258
0
0
0
0
0
0
0
258

44
21
87
126
114
11
11
14
58
57
544

LAMPIRAN A.7
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

A7.1. KONDISI SAAT INI


Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan
menjadi dua sistem kelistrikan yang terpisah yaitu:
1. Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP,
yaitu: PLTD Merawang, PLTD Mentok, PLTD Koba, PLTD Toboali, dan PLTU
Listrindo (Biomassa). Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui
jaringan distribusi 20 kV.
2. Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa, yaitu:
PLTD Pilang, PLTD Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP). Pembangkitpembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV.
Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan
pada Gambar A7.1.

Gambar A7.1. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. Babel Saat Ini

334

Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh
dari pembangkit dengan bahan bakar HSD. Total kapasitas terpasang adalah 144,6
MW dengan daya mampu sebesar 99,8 MW, termasuk pembangkit rental dan IPP
dengan daya mampu sebesar 46,25 MW. Tabel A7.1 memperlihatkan komposisi
sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung.
Tabel A7.1. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2010

A7.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Provinsi Kep. Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi
Sumatera Selatan. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana
prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan,
antara lain pada tahun 2010 adalah Visit Archi Babel dan Babel Benderang. Salah
satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik, sehingga
sangat diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang
bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban, menggantikan mesin-mesin yang

335

sudah tua, meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan


efisiensi penyaluran tenaga listrik.
Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung
pada tahun 20112020 dapat dilihat pada Tabel A7.2.
Tabel A7.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
625
708
805
907
986
1.086
1.210
1.367
1.566
1.820
15,7%

Produksi
(Gwh)
747
839
953
1.071
1.163
1.277
1.421
1.605
1.839
2.137
16,2%

Beban Puncak
(MW)
130
146
165
186
201
221
246
277
318
369
16,2%

Pelanggan
208.736
237.149
266.399
289.726
295.881
302.124
308.458
314.888
321.417
328.051
8,6%

A7.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Pengembangan sarana di Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pengembangan sarana pembangkit,
transmisi, gardu induk dan distribusi.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat
terbatas. Oleh sebab itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di
Babel harus didatangkan dari luar wilayah berupa batubara, gas dan BBM.
Pengembangan Pembangkit
Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di
Bangka Belitung sampai dengan tahun 2020 adalah seperti ditampilkan pada
Tabel A7.3. berikut.

336

Tabel A7.3. Pengembangan Pembangkit


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Proyek
Air Anyer (FTP1)
Belitung Baru (FTP1)
Belitung-2 / Tanjung Pandan
Belitung-3
Mentok
Toboali
Bangka (FTP2)
Bangka IV (Peaker)
Belitung-4
Belitung (Peaker)
Bangka-3
Bangka-5
Belitung-5
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTU
PLTGB
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTG
PLTU
PLTG
PLTU
PLTU
PLTU

PLN
PLN
Swasta
PLN
PLN
Swasta
Swasta
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN

Kapasitas
(MW)
60
33
5
17
14
14
60
40
34
20
60
30
17
404

COD
2011
2012-13
2013
2014
2014
2014
2015-16
2015/18
2015/19
2017-18
2018-19
2020
2020

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV di 10
lokasi seperti diperlihatkan pada Tabel A7.4.
Tabel A7.4. Pembangunan GI 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Gardu Induk


Air Anyir
Pangkal Pinang
Sungai Liat
Dukong
Manggar
Suge
Kelapa
Koba
Mentok
Toboali
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
60
30
30
20
30
30
30
30
30
320

COD
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2014
2014
2016
2016

Selain itu diperlukan juga extension GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV
dan 70/20 kV hingga total tambahan kapasitas mencapai 210 MVA tersebar
dibeberapa GI.

337

Tabel A7.5. Pembangunan Extension GI 150 kV


No
1
2
3
4
5
6
7

Nama Gardu Induk


Sungai Liat
Dukong
Koba
Manggar
Pangkal Pinang
Air Anyir
Dukong
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
30
30
30
30
30
30
210

COD
2015
2016
2018
2018
2018
2019
2019

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV, diperlukan pengembangan
transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 946 kms dengan kebutuhan dana sekitar 52,4
M USD seperti ditampilkan pada Tabel A7.6.
Tabel A7.6. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Dari
Air Anyir
Air Anyir
Dukong
Suge
Pangkal Pinang
Pangkal Pinang
Kelapa
Koba
Air Anyir/Sungai Liat
Jumlah

Ke

Tegangan

Pangkal Pinang
Sungai Liat
Manggar
Dukong
Kelapa
Koba
Mentok
Toboali
PLTU Bangka Baru III

150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Konduktor
2
2
2
2
2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
44
2,4
112
6,2
140
7,8
50
2,8
120
6,6
120
6,6
140
7,8
120
6,6
100
5,5
946
52,4

COD
2011
2011
2012
2012
2014
2014
2016
2016
2018

Peta jaringan 150 kV di Bangka dan jaringan 70 kV di Belitung diperlihatkan pada


Gambar A7.2 dan Gambar A7.3.

338

Gambar A7.2. Peta Jaringan Sistem Bangka

Gambar A7.3. Peta Jaringan Sistem Belitung

339

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
baru sekitar 158 ribu pelanggan sampai dengan 2020, dimana untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60% pada tahun 2011 akan disambung 58.000 pelanggan. Selanjutnya
akan disambung rata-rata 13.000 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan
pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 1.645 kms, JTR sepanjang 1.744
kms, Gardu Distribus 151 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A7.7 berikut.
Tabel A7.7. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
428
143
128
146
152
113
114
123
142
156
1.645

JTR
kms
477
149
133
152
159
117
119
128
148
162
1.744

Trafo
MVA
29
11
10
13
17
12
13
14
16
17
151

Pelanggan
57.924
11.719
10.468
11.944
12.486
9.226
9.345
10.091
11.624
12.766
157.594

A7.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7.8.
Tabel A7.8. Rangkuman
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
625
708
805
907
986
1.086
1.210
1.367
1.566
1.820
11.080

Produksi
Energi
(Gwh)
747
839
953
1.071
1.163
1.277
1.421
1.605
1.839
2.137
13.051

Beban
Puncak
(MW)
130
146
165
186
201
221
246
277
318
369
2.258

Pembangkit
(MW)

340

60
17
22
45
67
30
10
60
47
47
404

GI
(MVA)
120
80
0
60
30
90
0
90
60
0
530

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
156
190
0
240
0
260
0
100
0
0
946

136
74
62
135
79
78
9
82
114
112
881

LAMPIRAN A.8
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA BARAT

A8.1. KONDISI SAAT INI


Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (diluar kepulauan Mentawai)
berasal dari sistem interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (Jambi-SumbarRiau) melalui 14 gardu induk dengan kapasitas total 565 MVA dan beban puncak
sebesar 348 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.1.
SUMATERA
UTARA

New
Garuda
Sakti

ke
GI Padang Sidempuan
(Sumatera Utara)

Ke
GI New Garuda Sakti
(Riau)

Koto
Panjang

PLTA Batang Agam


3 x 3,5 MW

A
A

Simpang
Empat

ACSR 1 x 240 mm
52 km 2020

Maninjau

Payakumbuh
A

Padang
Luar

ACSR 1 x 240 mm2


25 km, 2nd cct 2012

Lubuk Alung
PIP

PLTG Pauh Limo


3 x 21,35 MW

Kiliranjao

Solok

Simpang
Haru

PLTU Ombilin
2 x 100 MW

ACSR 1 x 240 mm2


10 km 2019

Indarung

ACSR 1 x 240 mm2


52 km, 2 nd cct - 2012

Salak

Pauh Limo

GI/GIS Kota

ke
GI Teluk Kuantan
(Riau)

Ombilin

ACSR 2 x 240 mm2


8 km 2016

ACSR 2 x 430 mm2


141 km - 2013

Batusangkar

Padang
Singkarak Panjang

Pariaman

RIAU

ACSR 1 x 240 mm2


32 km, 2nd cct 2012
ACSR 1 x 240 mm2
42 km, 2nd cct 2012

PLTA Singkarak
4 x 43,75 MW

ke
GI Koto Panjang
(Riau)

PLTP Bonjol
165 MW 2019

ACSR 1 x 240 mm
15 km 2017

PLTA Maninjau
4 x 17 MW

ACSR 2 x 430 mm2


150 km - 2013

ACSR 2 x 430 mm2


300 km - 2013

PLTA Masang 2
55 MW 2017

ACSR 1 x 240 mm2


35 km 2013

P
2

ACSR 2 x 240 mm
17,5 km 2011

Sungai Rumbai

PLTP G.Talang
20 MW 2019

Bungus

ACSR 2 x 430 mm2


117 km
(Operasi 150 kV)

ACSR 2 x 240 mm2


5 km - 2012

ACSR 2 x 240 mm2


80 km - 2017

PLTU Sumbar Pesisir


#1,2 (FTP1)
2 x 112 MW 2012/2013

ACSR 2 x 240 mm2


90 km - 2011

ke
GI Muara Bungo
(Jambi)

P
PLTP Muara Labuh
2 x 110 MW 2017

Kambang

JAMBI
PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA

Rencana 275 kV HVDC U


Rencana 500 kV HVDC

PLTU

PLTD

GI Rencana

PLTG

PLTA

PLTGU P

PLTP

GI Eksisting
GI 275/150
kV Renc

Kit Eksisting
Kit Rencana

Sungai
Penuh

PERENCANAAN SISTEM
BIDANG PERENCANAAN

PETA JARINGAN
PROPINSI SUMATERA BARAT
Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
Rencana 500 kV

ACSR 2 x 240 mm2


110 km - 2015

Edit
September 2011

GU

ke
GI Bangko
(JAMBI)

ke
GI Muko-muko
(Bengkulu)

BENGKULU

Gambar A8.1. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat

Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar


sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8.1.

341

Tabel A8.1. Kapasitas Pembangkit di Sistem Interkoneksi Per 2010


No Nama Pembangkit
1
2
3
4
5

Ombilin
Pauh Limo
Maninjau
Singkarak
Batang Agam

Jenis

Bahan
Bakar

PLTU
PLTG
PLTA
PLTA
PLTA

Batubara
HSD
Air
Air
Air

Pemilik
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
Total

Kapasitas
Terpasang (MW)
200
64
68
131
11
474

Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 348 MW, maka Provinsi
Sumbar pada saat musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan
dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi Riau sebesar 150 MW. Namun pada
musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan kapasitas,
Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar
100 MW.
Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang,
sebagian Balai Selasa, sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk
sistem-sistem isolated sendiri dengan beban puncak total sebesar 4,2 MW. Hal
tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat rendah akibat
jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir
Selatan (260 km).
Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai, saat ini mempunyai beban puncak
2,1 MW yang dipasok dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit
dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2,9 MW.
Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi
paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut
mengingat jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah
tersebut. Pembangkit isolated di Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8.2.

342

Tabel A8.2. Pembangkit di Sistem Isolated per 2010


No Nama Pembangkit
Kepulauan Mentawai
1 Sikabaluan
2 Sikakap
3 Sipora
4 Seay Baru
5 Saumangayak
6 Simalakopa
7 Simalepet
8 Tua Pejat
Pesisir Selatan
1 Lakuak
2 Balai Selasa
3 Indra Pura
4 Tapan
5 Lunang
6 Salido Kecil
Solok Selatan
1 Pinang Awan

Jenis

Bahan
Bakar

Pemilik

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

HSD
HSD
HSD
HSD
HSD
HSD
HSD
HSD

PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTMH

HSD
HSD
HSD
HSD
HSD
Air

PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
Swasta

Air

PLN

PLTM
Total Isolated

Kapasitas
Terpasang (MW)
2,8
0,1
0,4
0,1
0,1
0,2
0,0
0,2
1,6
7,3
1,9
0,6
1,3
0,9
2,2
0,3
0,4
0,4
10,5

A8.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 5 tahun
terakhir adalah 6,8% per tahun. Indikator penjualan energi listrik yang merefleksikan
permintaan tenaga listrik masyarakat meningkat dari 1.741 GWh pada tahun 2006
menjadi 2.187 GWh di tahun 2010. Konsumsi tenaga listrik diserap oleh sektor rumah
tangga (45%), sektor industri (34%), sektor komersil (13%) dan sektor publik (8%).
Dari realisasi penjualan tenaga listrik pada enam tahun terakhir dan
mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk
dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik
2011 2020 seperti pada Tabel A8.3.

343

Tabel A8.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
2.253
2.470
2.725
3.014
3.330
3.678
4.057
4.468
4.913
5.387
9,7%

Produksi
(Gwh)
2.418
2.647
2.915
3.219
3.551
3.916
4.318
4.754
5.226
5.728
9,6%

Beban Puncak
(MW)
389
425
468
516
568
625
689
757
831
910
9,4%

Pelanggan
876.242
910.957
946.243
981.663
1.017.739
1.055.062
1.093.265
1.131.897
1.171.568
1.213.571
3,7%

A8.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara, panas bumi
dan tenaga air. Menurut informasi dari Bapeda Sumatera Barat, potensi batubara
tersebar di Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan,
Kabupaten Solok, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan.
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, potensi panas bumi di Sumatera Barat
adalah sekitar 908 MW dan berada di Muaralabuh Kabupaten Solok Selatan dan di
Talang - Kabupaten Solok.
Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti
terlihat pada Tabel A8.4.

344

Tabel A8.4. Potensi Tenaga Air


No

Lokasi

DAS

Type

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Pasaman
Sangir-2
Sangir-3
Sinamar-2
Masang-2
Tuik
Lanajan-2
Lubuk-2
Asik
Lubuk-4U
Sumpur-1U
Kampar KN-1
Kampar KN-2
Kapur-1
Mahat-10
Mahat-2U
Sumpur-K1
Palangki-1
Palangki-2
Sibakur
Sibayang
Sukam
Kuantan-1
Batanghari-2

Bt. Pasaman
Bt. Sangir
Bt. Sangir
Bt. Sinamar
Bt. Masang
Bt. Tuik
Bt. Lengayang
Bt. Rokan
Bt. Asik
Bt. Lubuk
Bt.Sumpur
Bt. Kampar Kanan
Bt. Kampar Kanan
Bt. Kapur
Bt. Mahat
Bt. Mahat
Bt. Sumpur
Bt. Palangki
Bt. Palangki
Bt. Sibakur
Bt.Sibayang
Bt. Sukam
Bt. Kuantan
Batanghari

ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RSV
ROR
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
RSV
ROR
RSV

Kapasitas
(MW)
21,2
2,2
7,8
13,1
14,5
3,9
3,1
4,6
1,7
4,8
2,7
29,4
8,6
10,6
12,6
2,2
8,1
11,8
17,9
5,5
15,0
19,4
3,4
22,2

Kabupaten/
Kecamatan
Pasaman
Solok
Solok
Tanah Datar
Agam
Pessel
Pessel
Pasaman
Pasaman
Pasaman
Pasaman
50 Kota
50 Kota
50 Kota
50 Kota
50 Kota
S. Sijunjung
S. Sijunjung
S. Sijunjung
S. Sijunjung
Agam
S. Sijunjung
S. Sijunjung
Slk Selatan

No

Lokasi

DAS

Type

25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47

Batanghari-3
Batanghari-5
Batanghari-6
Batanghari-7
Fatimah
Sikarbau
Balangir
Landai-1
Sumani
Guntung
Sungai Putih
Kerambil
Muaro Sako
Induring
Palangai-3
Kambang-1
Kapas-1
Landai-2
Sumpur-K2
Lawas-1D
Gumanti-1
Sikiah-1
Sikiah-2

Batanghari
Batanghari
Batanghari
Batanghari
Fatimah
Sikarbau
Balangir
Bt. Langir
Bt. Sumani
Bt. Guntung
Bt. Lumpo
Bt. Bayang Janiah
Bt. Muaro Sako
Bt. Jalamu
Bt. Palangai
Bt. Kambang
Bt. Tumpatih
Bt. Air Haji
Bt. Sumpur
Bt. Lawas
Bt. Gumanti
Bt.Gumanti
Bt Sikiah

RSV
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RSV
ROR
RSV
RSV

Kapasitas
(MW)
34,8
6,7
10,1
6,9
0,8
0,7
0,4
6,8
0,6
0,6
1,7
1,6
2,4
2,2
4,1
5,5
8,1
7,1
4,2
11,2
5,9
30,4
18,0

Kabupaten/
Kecamatan
Slk Selatan
Slk Selatan
Slk Selatan
Dhamasraya
Pasbar
Pasbar
Slk Selatan
Pessel
Solok
Agam
Pessel
Pessel
Pessel
Pessel
Pessel
Pessel
Pessel
Pessel
Tanah Datar
S. Sijunjung
Solok
Solok
Solok

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2020 direncanakan
pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan
transfer energi dengan sistem interkoneksi Sumatera. Untuk Kepulauan Mentawai
direncanakan pembangkit 9,2 MW, yaitu PLTS 0,2 MW (2011), PLTGB 6 MW (2013)
dan PLTGB 3 MW (2020). Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera
Barat ditampilkan pada Tabel A8.5 dan Tabel A8.6.
Tabel A8.5. Pengembangan Pembangkit di Sistem Interkoneksi
No
1
2
3
4
5

Proyek
Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1)
Masang-2
Muara Laboh (FTP2)
Bonjol
G. Talang
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTA
PLTP
PLTP
PLTP

PLN
PLN
Swasta
Swasta
Swasta

Kapasitas
(MW)
224
55
220
165
20
684

COD
2012-13
2017
2017
2019
2019

Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk
mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada
Tabel A8.6.

345

Tabel A8.6. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Nama Proyek
Manggani
Gumanti
Gumanti
Sinamar
Sinamar
Lubuk Gadang
Gunung Tujuh
Gunung Tujuh
Tarusan
Bayang
Bayang
Muara Sako
Sumpur
Kambahan
Fatimah
Sikarban
Guntung
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM
PLTM

Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta

Kapasitas
(MW)
1,1
5,0
5,0
5,0
5,0
4,0
4,0
4,0
3,0
3,0
3,0
2,5
2,0
1,5
1,4
1,4
0,6
51,6

COD
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2020 berupa
2 buah GI 275 kV dan 4 buah GI 150 kV yang diperlihatkan pada Tabel A8.7 dan
Tabel A8.8.
Tabel A8.7. Pengembangan GI 275 kV Baru
No

Nama Gardu Induk

1 Kiliranjao
2 Payakumbuh

Tegangan

Baru/
Kapasitas
Biaya
COD
Extension (MVA) (juta US$)

275/150 kV

Baru

250

19.66

2013

275/150 kV

Baru

250

20.17

2013

500

39.8

Jumlah

Tabel A8.8. Pengembangan GI 150 kV Baru


No
1
2
3
4

Nama Gardu Induk


Bungus
Kambang
Sungai Rumbai
GI/GIS Kota Padang
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

346

Kapasitas
(MVA)
30
30
30
120
210

COD
2011
2011
2013
2016

Selain itu juga direncanakan pengembangan GI existing dengan menambah unit trafo
150/20 kV dengan tambahan kapasitas total 840 MVA sebagaimana diperlihatkan
pada Tabel A8.9.
Tabel A8.9. Pengembangan Extension GI 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Nama Gardu Induk


Padang Luar
Padang Panjang
Pauh Limo
Payakumbuh
PIP
Simpang Empat
Solok
Salak
Maninjau
Kiliranjao
Payakumbuh
Bungus
Kambang
Simpang Empat
Solok
Lubuk Alung
Sungai Rumbai
Pariaman
Batusangkar
GIS Kota Padang
Padang Luar
PIP
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
30
60
30
30
30
60
30
30
30
30
30
30
60
30
30
30
30
30
60
30
60
840

COD
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2014
2016
2016
2017
2017
2017
2017
2018
2018
2019
2020
2020
2020
2020

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV, diperlukan juga pengembangan
transmisi 275 kV sepanjang 882 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 786 kms dengan
kebutuhan dana investasi USD 249,7 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A8.10 dan
Tabel A8.11.
Tabel A8.10. Pembangunan Transmisi 275 kV Baru
No

Dari

1 Kiliranjao
2 Padang Sidempuan
Jumlah

Ke
Payakumbuh
Payakumbuh

Tegangan
275 kV
275 kV

347

Konduktor
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
282
63,5
600
135,0
882
198,5

COD
2013
2013

Tabel A8.11. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Dari

Ke

Bungus
Indarung
Kiliranjao
Maninjau
Padang Luar
PLTU Sumbar Pessel
Singkarak
Kiliranjao
PIP/S Haru/Pauh Limo
Simpang Empat
Sungai Rumbai
Payakumbuh
Solok
Jumlah

Konduktor

Tegangan

Kambang
Bungus
Teluk Kuantan
Padang Luar
Payakumbuh
2 pi Inc. (Bungus-Kambang)
Batusangkar
Sungai Rumbai
GI/GIS Kota Padang
Masang-2
PLTP Muara Labuh
PLTP Bonjol
PLTP Gunung Talang

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

2
2
1
1
1
4
1
2
2
2
2
2
2

cct, 2 Hawk
cct, 2 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
cct, 2 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
cct, 2 Hawk
cct, 2 Hawk
cct, 1 Hawk
cct, 2 Hawk
cct, 2 Hawk
cct, 1 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
180
13,7
35
2,7
52
1,7
42
1,4
32
1,0
20
0,8
25
0,8
70
5,3
16
0,9
30
1,7
160
12,2
104
7,9
20
1,1
786
51,2

COD
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2016
2017
2017
2019
2019

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diproyeksikan akan terjadi
penambahan pelanggan baru sekitar 369 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2020,
atau rata-rata 36.900 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan
tersebut, diperlukan pembangunan JTM 3.242 kms, JTR sekitar 3.823 kms dan
tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 471 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel
A8.12.
Tabel A8.12. Pengembangan Sistem Distribusi
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
262
295
314
315
321
331
339
342
351
372
3.242

JTR
kms
308
347
370
371
378
391
400
404
414
439
3.823

Trafo
MVA
38
43
46
46
47
48
49
50
51
54
471

Pelanggan
32.205
34.715
35.286
35.420
36.075
37.323
38.203
38.633
39.670
42.004
369.534

A8.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2020 diberikan pada
Tabel A8.13.
348

Tabel A8.13. Rangkuman


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
2,253
2,470
2,725
3,014
3,330
3,678
4,057
4,468
4,913
5,387
36,295

Produksi
Energi
(Gwh)
2,418
2,647
2,915
3,219
3,551
3,916
4,318
4,754
5,226
5,728
38,692

Beban
Puncak
(MW)
389
425
468
516
568
625
689
757
831
910
6,176

Pembangkit
(MW)
0
112
118
0
0
0
275
0
185
3
693

349

GI
(MVA)
60
300
560
30
0
180
150
60
30
180
1,550

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
215
171
952
0
0
16
190
0
124
0
1,668

47
203
438
28
27
42
617
33
460
42
1,936

LAMPIRAN A.9
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI JAMBI

A9.1. KONDISI SAAT INI


Jumlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi Jambi (interkoneksi
dan isolated) saat ini sebesar 207 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi
Sumbagselteng melalui saluran transmisi 150 KV dengan 5 GI, yaitu GI Aur Duri
(2x30 MVA), GI Payo Selincah (2x60MVA), GI Muara Bulian (30 MVA), GI Muara
Bungo (2x30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA). Peta jaringan distribusi Provinsi Jambi
seperti ditunjukkan pada Gambar A9.1.

Gambar A9.1. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi

Kapasitas pembangkit di Provinsi Jambi adalah sekitar 222,9 MW seperti ditunjukkan


pada Tabel A9.1.

350

Tabel A9.1. Kapasitas Pembangkit per 2010


No

1
2
3
4
5

Nama Pembangkit

Jenis

Bahan Bakar

Pemilik

PLTD Payo Selincah

PLTD

Gas Alam+HSD

PLN

PLTG Payo Selincah

PLTG

Gas Alam

Sewa

PLTG Batang Hari

PLTG

Gas Alam

PLN

PLTG Eks Sunyarangi

PLTG

Gas Alam

Sewa

PLTD lokasi tersebar


Jumlah

PLTD

HSD

PLN

Kapasitas
(MW)

31
100
62
18
12
223

A9.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Kebutuhan listrik diserap oleh konsumen rumah tangga (62%), konsumen komersil
(24%), konsumen publik (7%) dan konsumen industri (7%).
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020 dapat
dilihat pada Tabel A9.2.
Tabel A9.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
1.159
1.316
1.453
1.640
1.749
1.873
2.000
2.144
2.303
2.482
9,3%

Produksi
(Gwh)
1.277
1.444
1.588
1.783
1.891
2.016
2.143
2.289
2.448
2.629
8,8%

Beban Puncak
(MW)
203
227
256
281
315
334
355
377
402
426
8,8%

Pelanggan
522.280
555.972
592.561
630.152
659.586
690.151
721.574
755.141
789.658
827.382
6,7%

A9.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.

351

Potensi Sumber Energi


Sumber energi yang tersedia di Provinsi Jambi terdiri dari batubara, gas dan tenaga
air. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi Jambi, potensi batubara yang
layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5.715 kkal/kg yang
tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten Kerinci. Potensi gas
terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung dan Kabupaten Muaro Jambi dan potensi
tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air
Batu).
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 di Jambi direncanakan akan
dipenuhi dengan mengembangkan pembangkit di Jambi dan di daerah lain pada
sistem interkoneksi Sumatera. Adapun pembangkit yang direncanakan berada di
Provinsi Jambi mempunyai kapasitas total 1.712 MW seperti ditampilkan pada Tabel
A9.3.
Tabel A5.3.1 Pengembangan Pembangkit
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Proyek
Sarolangun
Sungai Gelam
Payo Selincah
Sungai Gelam (CNG/Peaker)
Sengeti (CNG/Peaker)
Batanghari
Kuala Tungkal
Tebo
Pembangkit Peaker
Sungai Penuh (FTP2)
Merangin
Jambi (KPS)
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTMG
PLTG
PLTG
PLTG
PLTGU
PLTU
PLTU
PLTG
PLTP
PLTA
PLTU

Swasta
Sewa
Sewa Beli
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
Swasta

Kapasitas
(MW)
12
12
100
90
80
30
14
14
100
110
350
800
1712

COD
2011
2011
2011-12
2012
2012-13
2013
2013
2013
2014
2015
2016-17
2018-19

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension
GI existing seperti pada Tabel A9.4 dan Tabel A9.5.

352

Tabel A9.4. Pengembangan GI 150 kV


No
1
2
3
4

Nama Gardu Induk


Sungai Penuh
Muara Sabak
Sarolangun
Kuala Tungkal
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
30
30
30
120

COD
2012
2013
2014
2018

Tabel A9.5. Pengembangan Extension GI 150/20 kV


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama Gardu Induk


Aurduri
Bangko
Muaro Bulian
Payoselincah
Muaro Bungo
Sungai Penuh
Payoselincah
Aurduri
Muaro Bungo
Bangko
Muara Sabak
Payoselincah
Sarolangun
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
60
60
60
60
30
60
60
60
30
30
60
30
660

COD
2012
2012
2012
2012
2013
2014
2017
2018
2018
2019
2019
2020
2020

Berkaitan dengan pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV Sumatera, akan


dibangun 3 buah GI 275 kV yaitu GI Bangko, GI Muara Bungo dan GI Aur Duri, seperti
pada Tabel A9.6.
Tabel A9.6. Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV
No

Nama Gardu Induk

1 Bangko
2 Muara Bungo

Tegangan

Baru/
Kapasitas
Biaya
COD
Extension (MVA) (juta US$)

275/150 kV

Baru

250

21,08

2013

275/150 kV

Baru

250

20,08

2013

3 Aur Duri
4 Bangko

275/150 kV

Baru

500

25,98

2014

275/150 kV Extension

500

17,92

2017

5 Aurduri
6 Aurduri 500kV
7 PLTU Jambi 500 kV

275/150 kV Extension

2,81

2018

500/275 kV

Baru

500

25,77

2018

500 kV

Baru

9,82

2018

2000

123,5

Jumlah

353

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera, diperlukan pengembangan
transmisi 150 KV, 275 KV dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.7 dan
Tabel A9.8.
Tabel A9.7. Pembanguan Transmisi 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Dari
Bangko
PLTA Merangin
PLTG CNG Sei Gelam
PLTG CNG Sengeti
Muara Sabak
Muara Bulian
PLTP Sungai Penuh
Muara Sabak
Jumlah

Ke

Tegangan

PLTA Merangin
Sungai Penuh
Aur Duri
Aur Duri
Inc. 1 Pi (Payo Selincah-Aur Duri)
Sarolangun
Sungai Penuh
Kuala Tungkal

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
136
30.6
110
24.8
60
3.3
26
1.4
121.6
3.6
130
7.2
84
4.7
108.8
6.0
776
81.7

Konduktor
2
2
2
2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

2 Zebra
2 Zebra
1 Hawk
1 Hawk
2 x 340 mm2
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk

COD
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2015
2018

Tabel A9.8. Pembanguan Transmisi 275 dan 500 kV


No

Dari

1 Bayung Lincir
2 Aur Duri
3 PLTU Jambi
Jumlah

Ke
Aur Duri
Rengat
Aur Duri

Tegangan
275 kV
275 kV
500 kV

Konduktor
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 4 Zebra

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
120
27,0
420
137,1
150
49,0
690
213,1

Peta sistem kelistrikan Provinsi Jambi diperlihatkan pada Gambar A9.2.

354

COD
2014
2015
2018

ACSR 1 x 240 mm2


30 km - 2013

A
C
S
75 R 4
km x
2
- 2 82
01 mm
8

m
m
0 4
43 1
x 20
2 R km
CS 0
A 6

Gambar A9.2. Peta Jaringan Provinsi Jambi

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan
pelanggan baru sebanyak 390 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020. Khusus
untuk tahun 2011 akan disambung sekitar 85 ribu pelanggan untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60%. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 38.900
pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan
pembangunan JTM 2.800 kms, JTR sekitar 2.626 kms dan tambahan kapasitas trafo
distribusi sekitar 257 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A9.9.

355

Tabel A9.9. Pengembangan Sistem Distribusi


Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
558
222
226
234
240
245
253
264
275
282
2.800

JTR
kms
515
205
210
220
227
230
238
253
263
264
2.626

Trafo
MVA
49
20
20
21
22
23
24
25
26
27
257

Pelanggan

84.765
33.693
36.589
37.591
29.433
30.565
31.424
33.567
34.516
37.725
389.868

A9.4. SISTEM ISOLATED


Provinsi Jambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak, yaitu PLTD
Pelabuhan Dagang, PLTD Sungai Lokan, PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala
Tungkal, PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun dengan total kapasitas terpasang
12,85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi di Kabupaten
Tanjung Jabung kapasitas terpasang 7,2 MW.
Tabel A9.10. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2010
Jenis

Kapasitas
(MW)

Pemilik

1 Pelabuhan Dagang

PLTD

3,15

PLN

2 Sungai Lokan

PLTD

0,82

PLN

3 Mendahara Tengah

PLTD

0,43

PLN

4 Kuala Tungkal

PLTD

4,91

PLN

5 Batang Asai

PLTD

0,55

PLN

No

Nama Pembangkit

6 Sarolangun
7 Tanjung Jabung Power
Total

PLTD

3,00

PLN

PLTMG

7,20

Swasta

20,05

A9.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9.11.

356

Tabel A9.11. Rangkuman


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
1,159
1,316
1,453
1,640
1,749
1,873
2,000
2,144
2,303
2,482
18,118

Produksi
Energi
(Gwh)
1,277
1,444
1,588
1,783
1,891
2,016
2,143
2,289
2,448
2,629
19,507

Beban
Puncak
(MW)
203
227
256
281
315
334
355
377
402
426
3,178

Pembangkit
(MW)

357

74
160
118
100
110
175
175
400
400
0
1,712

GI
(MVA)
0
270
590
560
0
0
560
650
60
90
2,780

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
0
246
208
250
504
0
0
259
0
0
1,466

55
134
188
133
336
282
302
643
548
29
2,651

LAMPIRAN A.10
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA SELATAN

A10.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI


Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dan
dipasok dari pembangkit yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV. Untuk
sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD.

t, 2
cc

U
G

SR
17 2 x
5k
4
m 30 m
-2
01 m 2
5

AC

2x
60 km 330 mm 2
- 2012

AC SR

nd

0 mm
2 x 24 15
ACSR km 20
35

GU

2
01

Gambar A10.1. Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan

Pembangkit yang memasok Provinsi Sumsel diberikan pada Tabel A10.1.

358

Tabel A10.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010


No
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama
PLN (Interkoneksi)
PLTU Keramasan #1,2
PLTG Keramasan #1,2,3,4
PLTG Indralaya GT # 1.1
PLTG Indralaya GT # 1.2
PLTGU Indralaya ST # 1.0
PLTG Truck Mounted #1,2
PLTD Sungai Juaro #1,2
PLTG Borang
PLTG Talang Duku
PLTG Sewa Beli Tl. Duku
PLTG Sewa Beli Borang
PLTG Keramasan AKE #1,2

Kapasitas
(MW)
829,1
25,0
64,9
50,0
40,0
40,0
40,0
25,2
14,0
20,0
60,0
60,0
100,0

No
13
14
B
15
16
17
18
19
C
20
21
22

Nama
PLTMG Rental Borang
PLTU Bukit Asam # 1,2,3,4
PLN (Isolated)
PLTD Makarti Jaya
PLTD Sungsang
PLTD Air Saleh
PLTD Simpang Sender
PLTD Teluk Agung
IPP
PLTMG Sako Kenten
PLTMG Musi II
PLTMG Prabumulih
Total

Kapasitas
(MW)
30,0
260,0
6,6
1,4
1,7
1,1
1,9
0,5
43,8
12,0
19,8
12,0
879,4

Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV, dengan
4 trafo IBT 150/70 kV yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas
400 MVA. Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI
dengan total kapasitas trafo 932 MVA, terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV dan 13 GI
150/20 kV.
A10.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI SUMATERA SELATAN
Konsumsi energi listrik di Sumsel diserap oleh konsumen rumah tangga (60%),
komersil (18%), industri (14%) dan publik (8%)
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020
seperti pada Tabel A10.2.

359

Tabel A10.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
3.089
3.460
3.845
4.273
4.758
5.157
5.589
6.054
6.599
7.188
10,1%

Produksi
(Gwh)
3.383
3.781
4.196
4.648
5.160
5.576
6.027
6.513
7.081
7.696
9,8%

Beban Puncak
(MW)
630
698
769
845
931
998
1.070
1.147
1.238
1.335
9,3%

Pelanggan
1.176.885
1.279.529
1.395.900
1.610.969
1.676.664
1.743.913
1.813.797
1.884.344
1.954.822
2.027.626
8,1%

A10.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara, gas bumi,
minyak bumi, panas bumi dan gas metan batubara (CBM), sebagaimana
diperlihatkan pada Tabel A10.3.
Tabel A10.3. Potensi Sumber Energi
Sumber Daya
Minyak Bumi (Oil)
Gas Bumi
Batubara
Coal Bed Methane
Panas Bumi (Geothermal)
Gambut
Potensi Air (Mini/Mikro Hidro)
Energi Surya
Biomassa
Biogas
Sumber

Potensi
757,6 MMSTB
24179,5 BSCF
47,1 Milyar Ton
183,00 TCF
1.911 MW
64.200 Ha
9.385,728 kW
53,85 x 10 MW
16.034,24 GWh
235,01 kWh

Produksi
27.933,07 ribu BBL
434.108,64 ribu MMBTU
9.276.361 ton
Belum dimanfaatkan
Belum dimanfaatkan
Belum dimanfaatkan
Sebagian dimanfaatkan
Telah dimanfaatkan
Sebagian dimanfaatkan
Belum dimanfaatkan

: Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov. Sumatera Selatan 2008

360

P_57
18

P_55
3

P_56
4

17

5
7

10

12

15

13

01-074-27

11

16
8

P_59

PLTU 2 x 113 MW
Simpang Belimbing
9

PLTU 2 x 135 MW
Keban Agung

19
2

20
14

01-074-15
01-074-141

P_53
PLTP 4 x 55 MW
Lumut Balai

01-074-07
01-074-02
PLTM 2 x 2,29 MW
Telanai Banding Agung

Gambar A10.2. Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan
kapasitas pembangkit sekitar 3.795 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada
Tabel A10.4.

361

Tabel A10.4. Pengembangan Pembangkit


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Proyek
Borang
Simpang Belimbing #1,2
Talang Duku
Borang
Gunung Megang, ST Cycle
Jaka Baring (CNG/Peaker)
Baturaja
Keramasan
Banjarsari
Sumsel-11, MT
Lumut Balai (FTP2)
Sumsel-2 (Keban Agung)
Sumsel-5
Sumsel-7
Sumsel-6, Mulut Tambang
Sumsel-8, Mulut Tambang
Sumsel-9, Mulut Tambang
Sumsel-10, Mulut Tambang
Rantau Dedap (FTP2)
Danau Ranau
Sumsel-1, Mulut Tambang
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTMG
PLTU
PLTG
PLTG
PLTGU
PLTG
PLTU
PLTGU
PLTU
PLTU
PLTP
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTP
PLTP
PLTU

Sewa
Swasta
Sewa Beli
Sewa
Swasta
PLN
Swasta
PLN
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
PLN

Kapasitas
(MW)
30
227
60
60
30
50
20
86
230
227
220
225
300
300
600
1200
1200
600
220
110
800
6795

COD
2011
2011
2011
2011-12
2012
2012
2013
2013
2014
2014
2014-15
2015
2015-16
2015-16
2016-17
2016
2017
2018
2018-19
2019
2019-20

Pengembangan PLTU Sumsel-8, PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan


kapasitas total 3.000 MW merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan
memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low rank di Sumatera Selatan. Listrik
dari ketiga PLTU tersebut dimaksudkan akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui
transmisi HVDC 500 kV Jawa-Sumatera. Rencana ini dilakukan dengan terlebih
dahulu memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan
Sumatera pada umumnya melalui pengembangan banyak pembangkit batubara,
panas bumi dan gas.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan Gardu Induk
Provinsi Sumsel memerlukan pembangunan GI 150 kV baru di 11 lokasi dengan
kapasitas sebesar 570 MVA seperti pada Tabel A10.5.

362

Tabel A10.5. Pengembangan GI 150 kV Baru


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Nama Gardu Induk

Tegangan

Tanjung Api-Api
Gandus
Jakabaring
Kenten
Sekayu
Kayu Agung
Sungai Lilin
Tebing Tinggi
Muara dua
Martapura
Muara Rupit
Jumlah

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
120
60
120
30
30
30
30
30
30
30
570

COD
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2015
2016
2017

Selain itu juga diperlukan pengembangan GI existing kapasitas total trafo 1.470 MVA
sampai tahun 2020 seperti pada Tabel A10.6.
Tabel A10.6. Pengembangan Extension GI 70 kV dan 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Nama Gardu Induk


Baturaja
Bukit Siguntang
Lubuk Linggau
Baturaja
Bukit Siguntang
Bungaran
Gungung Megang
Lahat
Pagar Alam
Prabumulih
Simpang Tiga
Talang Kelapa
Baturaja
Bukit Asam
Bukit Siguntang
Keramasan

Tegangan
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
30
60
60
30
60
60
30
30
60
60
60
60
60
30
60

COD

No

2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Nama Gardu Induk


Gumawang
Lubuk Linggau
Mariana
Keramasan
Sungai Lilin
Bukit Asam
Kenten
Pagar Alam
Talang Kelapa
Betung
Kayu Agung
Gandus
Sekayu
Simpang Tiga
Tebing Tinggi
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
60
30
60
30
60
60
30
60
30
30
60
30
60
30
1470

COD
2014
2014
2015
2017
2017
2018
2018
2018
2018
2019
2019
2020
2020
2020
2020

Sebagai bagian dari rencana pengembangan kelistrikan Sumatera dan nasional, di


Provinsi Sumatera Selatan terdapat proyek-proyek pengembangan GI 275 kV, GI 500
kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10.7.

363

Tabel A10.7. Pengembangan GI 275 kV, 500 kV dan 500 kV HVDC


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama Gardu Induk

Tegangan

Lahat
Lubuk Linggau
Betung
Gumawang
Lahat
Lumut Balai
Bayung Lincir/PLTU Sumsel - 5
Muara Enim
Sungai Lilin/PLTU Sumsel - 7
Muara Enim 500 kV
Muara Enim 500 kV
Lubuk Linggau
Jumlah

Baru/
Kapasitas
Biaya
COD
Extension (MVA) (juta US$)

275/150 kV
Baru
275/150 kV
Baru
275/150 kV
Baru
275/150 kV
Baru
275/150 kV Extension
275/150 kV
Baru
275/150 kV
Baru
275/150 kV
Baru
275/150 kV
Baru
500 kV DC
Baru
500/275 kV
Baru
275/150 kV Extension

1000
250
500
500
0
500
0
0
0
3000
1000
250
7000

35,50
20,32
24,00
21,03
2,97
24,28
12,08
12,21
12,08
324,00
54,31
7,45
550,2

2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2016
2016
2020

Pengembangan Transmisi
Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV, 275 kV,
500 kV dan 500 kV DC sepanjang 2.876 kms sampai dengan tahun 2020 dengan
kebutuhan dana sekitar USD 498,1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A10.8. dan
Tabel A10.9.
Tabel A10.8. Pembanguan Transmisi 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Dari
PLTU Simpang Belimbing
Kenten
Lahat
PLTU Simpang Belimbing
Tanjung Api-Api
Betung
Bukit Asam (uprate)
Gandus
Jakabaring
Betung
Kayu Agung
Lahat
Lubuk Linggau
Mariana
Sumsel-11, MT
Sungai Lilin
Lahat
Muara Dua
Gumawang
Sarolangun
PLTP Rantau Dedap
Muara Dua
Jumlah

Ke

Tegangan

Inc. 1 Pi (Prabumulih-Bk. Asam)


Inc. 2 Pi (T. Kelapa-Borang )
Pagar Alam
Lahat
Inc.1 Pi (T.Kelapa-Borang )/Kenten
Sekayu
Baturaja (uprate)
Inc. 2 Pi (Keramasan-T. Kelapa)
Inc. 2 Pi (Keramasan-Mariana)
Talang Kelapa
Gumawang
PLTU Banjar Sari
Tebing Tinggi
Kayu Agung
Inc. 1 Pi (Prabumulih-Bk. Asam)
Betung
PLTU Keban Agung
Baturaja
Martapura
Muara Rupit
PLTP Lumut Balai
PLTP Danau Ranau

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

364

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
2 cct, 2 x 330 mm2
120
10.9
2 cct, 2 x 330 mm2
1
0.1
2 2nd cct, 1 Hawk
94.6
5.2
2 cct, 2 x 330 mm2
120
10.9
2 cct, 2 x 330 mm2
40
3.6
2 cct, 1 Hawk
70
3.9
2 cct, AC3 310 mm2
78
10.4
2 cct, CU 1000 mm2
20
44.4
2 cct, 2 x 330 mm2
1
0.1
1 2nd cct, 2 Hawk
55.2
8.4
2 cct, 2 Zebra
90
20.3
2 cct, 2 x 330 mm2
40
3.6
2 cct, 1 Hawk
150
8.3
2 cct, 2 Zebra
60
13.5
2 cct, 2 x 330 mm2
120
10.9
2 cct, 1 Hawk
120
6.6
2 cct, 2 Zebra
70
15.8
2 cct, 2 Hawk
92
7.0
2 cct, 1 Hawk
120
6.6
2 cct, 1 Hawk
80
4.4
2 cct, 2 Hawk
40
3.1
2 cct, 2 Hawk
90
6.9
1672
204.9
Konduktor

COD
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2016
2017
2018
2019

Tabel A10.9. Pembanguan Transmisi 275 kV, 500 kV dan 500 kV DC


No
1
2
3
4
5
6
7

Dari
Betung
Lahat
Lahat
Muara Enim
Bayung Lincir
Muara Enim
Muara Enim
Jumlah

Ke

Tegangan

Konduktor

Sungai Lilin
275 kV
Lumut Balai
275 kV
Muara Enim
275 kV
Gumawang
275 kV
Sungai Lilin
275 kV
Betung
275 kV
perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC

2
2
2
2
2
2
2

cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
cct 4 Falcon

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
120
27,0
50
11,3
70
15,8
290
65,3
124
27,9
350
78,8
200
67,2
1204
293,2

COD
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2016

Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10.8 dan tabel A10.9
terdapat pula ruas transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang
Sumsel-8, Sumsel-9 dan Sumsel-10 ke GI 500 kV Muara Enim. Panjang dan rute
transmisi 500 kV tersebut akan ditentukan kemudian sesuai hasil lelang ketiga PLTU
mulut tambang tersebut.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan sebesar 1,03
juta pelanggan, dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan
disambung 233.400 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung ratarata 88.700 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan,
diperlukan pembangunan JTM 5.152kms, JTR sekitar 5.306 kms dan tambahan
kapasitas trafo distribusi sekitar 675 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A10.10.
Tabel A10.10. Rincian Pengembangan Distribusi
Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
716
394
414
438
462
488
516
544
574
606
5.152

JTR
kms
721
396
421
447
475
504
535
567
602
638
5.306

365

Trafo
MVA
100
44
54
50
62
58
71
67
82
88
675

Pelanggan

233.427
102.644
116.372
116.204
88.735
83.599
73.059
69.997
70.865
76.896
1.031.799

A10.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A10.11.
Tabel A10.11. Rangkuman
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
3,089
3,460
3,845
4,273
4,758
5,157
5,589
6,054
6,599
7,188
50,012

Produksi
Energi
(Gwh)
3,383
3,781
4,196
4,648
5,160
5,576
6,027
6,513
7,081
7,696
54,063

Beban
Puncak
(MW)
630
698
769
845
931
998
1,070
1,147
1,238
1,335
9,661

Pembangkit
(MW)

366

347
110
106
567
635
600
300
110
620
400
3,795

GI
(MVA)
150
510
1,790
1,680
60
4,030
120
210
60
430
9,040

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
120
256
169
1,289
512
320
80
40
90
0
2,876

372
124
301
1,253
1,178
1,305
445
306
1,073
604
6,961

LAMPIRAN A.11
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI BENGKULU

A11.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI


Sistem kelistrikan di Provinsi Bengkulu saat ini mempunyai beban puncak sekitar 113
MW, terdiri dari 92 MW beban puncak interkoneksi dan 21 MW beban puncak sistem
isolated. Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui
transmisi 150 kV dan 70 kV. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan
PLTMH. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11.1.

Gambar A11.1. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu

Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11.1.

367

Tabel A11.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010

No.
1
2
3
4
5

Nama Pembangkit
PLTA Musi
PLTA Tes
PLTD Isolated
PLTD Isolated
PLTM Isolated

Bahan
Bakar

Pemilik

Air
Air
HSD
HSD
Air

PLN
PLN
PLN
Sewa
PLN

Kapasitas
Terpasang (MW)
210,0
17,6
17,6
8,8
1,6

Jumlah

255,6

A11.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI BENGKULU


Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020 dapat
dilihat pada Tabel A11.2.
Tabel A11.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
498
565
635
709
759
814
880
934
1.001
1.072
9,2%

Produksi
(Gwh)
564
638
716
796
849
908
978
1.034
1.106
1.180
8,9%

Beban Puncak
(MW)
107
120
133
146
154
162
172
181
192
204
7,8%

Pelanggan
284.722
311.088
335.351
369.793
381.756
400.938
415.084
431.919
449.019
465.835
6,7%

A11.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, sumber energi yang tersedia di Bengkulu
untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi
dengan perkiraan potensi mencapai 400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP. Selain
368

itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton. Gambar A11.2 memperlihatkan
sebaran dan jumlah potensi energi tersebut.

Gambar A11.2. Peta Potensi Energi Primer

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan
kapasitas pembangkit sebesar 367 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti
ditampilkan pada Tabel A11.3.
Tabel A11.3. Pengembangan Pembangkit
No
1
2
3
4
5

Proyek
Ipuh
Muko Muko
Hululais (FTP2)
Simpang Aur (FTP2)
Kepahiyang
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTU
PLTU
PLTP
PLTA
PLTP

PLN
Swasta
PLN
Swasta
PLN

369

Kapasitas
(MW)
6
8
110
23
220
367

COD
2013
2013
2015
2015
2020

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)


Pengembangan Gardu Induk
Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2020 yaitu 5
penambahan GI baru dan 3 pengembangan GI existing. Total penambahan kapasitas
trafo GI mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti pada Tabel A11.4 dan
Tabel A11.5.
Tabel A11.4. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV
No
1
2
3
4
5

Nama Gardu Induk


Manna
Pulau Baai
Argamakmur
Muko-muko
Bintuhan
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
120
30
30
30
240

COD
2012
2013
2015
2015
2017

Tabel A11.5. Pengembangan GI Existing 150 kV dan 70 kV


No

Nama Gardu Induk

1 Manna
2 Pekalongan
3 Pulau Baai
Jumlah

Kapasitas
(MVA)
150/20 kV
30
150/20 kV
30
150/20 kV
60
120
Tegangan

COD
2013
2013
2017

Pengembangan Transmisi
Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit, dibutuhkan juga
pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1.318 kms dengan biaya sebesar
US$ 95,4 juta. Rincian kegiatan terdapat pada Tabel A11.6.
Tabel A11.6. Pembangunan Transmisi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Dari
Pagar Alam
Pekalongan
Kambang
Pekalongan
PLTA Simpang Aur 1
PLTA Simpang Aur 1
Pulau Baai
Manna
Muko-muko/Bantal/Ipoh
PLTP Kepahiyang
Jumlah

Ke

Konduktor

Tegangan

Manna
Pulo Baai
Muko-muko/Bantal/Ipoh
PLTP Hululais
Inc. 1 Pi (Pekalongan-P. Baai)
PLTA Simpang Aur 2
Arga Makmur
Bintuhan
Arga Makmur
Inc. 2 Pi (Pekalongan-P. Baai)

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

370

2
2
2
2
2
2
2
2
2
4

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

1 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
2 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
96
5,3
90
6,9
220
16,8
120
9,2
20
1,5
12
0,7
180
13,7
140
7,8
360
27,5
80
6,1
1318
95,4

COD
2012
2013
2015
2015
2015
2015
2015
2017
2020
2020

Pengembangan Distribusi
Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 221 ribu sambungan untuk kurun
waktu 2011-2020, dimana untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% di
tahun 2011 akan disambung 40.147 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan
disambung rata-rata 20.100 pelanggan per tahun, dengan kebutuhan pertambahan
JTM sebanyak 2.115 kms, JTR sepanjang 2.301 kms dan penambahan kapasitas
gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada Tabel A11.7.
Tabel A11.7. Rincian Pengembangan Distribusi
Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
290
191
176
271
133
306
141
227
194
188
2.115

JTR
kms
316
208
191
295
144
333
153
247
211
204
2.301

Trafo
MVA
20
13
12
18
8
16
12
15
13
13
140

Pelanggan

40.147
26.366
24.262
34.442
11.963
19.182
14.146
16.836
17.100
16.816
221.260

A11.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A11.8.

371

Tabel A11.8. Rangkuman

Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
498
565
635
709
759
814
880
934
1.001
1.072
7.867

Produksi
Energi
(Gwh)
564
638
716
796
849
908
978
1.034
1.106
1.180
8.768

Beban
Puncak
(MW)
107
120
133
146
154
162
172
181
192
204
1.571

Pembangkit
(MW)

372

0
0
14
0
133
0
0
0
0
220
367

GI
(MVA)
0
30
180
0
60
0
90
0
0
0
360

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
0
96
90
0
552
0
140
0
0
440
1.318

13
17
56
17
269
21
25
19
18
406
862

LAMPIRAN A.12
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI
PROVINSI LAMPUNG

A12.1. KONDISI SAAT INI


Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi
Sumatera seperti ditunjukkan pada Gambar A12.1.

Gambar A12.1. Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated

Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi,


meliputi sistem tersebar yang kecil (< 0,5 MW) yang pada umumnya merupakan
PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi
yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan, Pugung Tampak dan
Bengkunat di Lampung Barat.
Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah
sebagai berikut : Kota Agung di Kabupaten Tanggamus, Liwa dan Ulubelu di
Kabupaten Lampung Barat, Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan
Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji. Peta kelistrikan Provinsi Lampung
diperlihatkan pada Gambar A12.2.
373

Gambar A12.2 .Peta Kelistrikan Provinsi Lampung

Beban puncak Lampung pada tahun 2010 adalah 482 MW dengan produksi energi
2.607 GWh.
Pembangkit yang berada di Provinsi Lampun ditunjukkan pada Tabel A12.1.
Tabel A12.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No
1
2
3
4
5
6

Daya
Pembangkit
Terpasang
(MW)
PLTA Besai #1,2
90
PLTA Batutegi #1,2
30
PLTU Tarahan #3,4
200
PLTD Tarahan #2,4
15
PLTD Teluk Betung #7,8,10
14
PLTD Tegineneng #1,2,3
28
Jumlah
377

374

Daya
Mampu
(MW)
89
28
200
12
11
20
361

A12.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya provinsi Lampung dalam lima tahun
terakhir sangat tinggi, yaitu mencapai 11,1%. Pertumbuhan ini masih berpotensi
untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi, karena pada tahun 2010 baru mencapai
60%.
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020 dapat
dilihat pada Tabel A12.2.
Tabel A12.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
2.811
3.325
3.679
4.052
4.428
4.747
5.075
5.411
5.754
6.102
10,6%

Produksi
(Gwh)
3.106
3.637
3.989
4.361
4.746
5.077
5.416
5.762
6.124
6.491
9,6%

Beban Puncak
(MW)
569
660
717
776
837
887
938
989
1.041
1.094
8,2%

Pelanggan
1.274.206
1.429.388
1.578.181
1.731.411
1.874.733
1.968.260
2.064.353
2.163.074
2.264.491
2.368.673
8,7%

A12.3. PENGEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN


Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung,
potensi sumber energi utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan
tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel A12.3 dan Tabel A12.4. Selain itu juga
terdapat potensi biomassa dan batubara.

375

Tabel A12.3. Potensi Panas Bumi


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Area

Potency (Mwe)
Reserve (Mwe)
Speculative Hipothetic Possible Probable Proven

Regency

Way Umpu
Way Kanan
Danau Ranau Lampung Barat
Purunan
Lampung Barat
Gn. Sekincau
Lampung Barat
Bacingot
Lampung Barat
Suoh Antata
Lampung Barat
Pajar Bulan
Lampung Barat
Natar
Lampung selatan
Ulu Belu
Tanggamus
Lempasing
Lampung selatan
Way Ratai
Lampung selatan
Kalianda
Lampung selatan
Pmt. Belirang
Lampung selatan
Total Potency = 2,855 Mwe

100
25
225
100
25
225
225
925

185
100
163
156
194
40
838

222
130
300
380
40
1,072

37
37

110
110

Tabel A12.4. Potensi Tenaga Air

No.
I
1
2
3
4
5
6
7
8

Lokasi
Mesuji Tulang bawang
Besai / Umpu
Giham Pukau
Giham Aringik
Tangkas
Campang Limau
Sinar Mulia
Way Abung
Way Umpu

II Seputih / Sekampung
1 Bumiayu

Kapasitas
(MW)
7.50
16.00
80.00
1.60
1.00
978.00
600.00
600.00

39.20

No.
III
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Lokasi
Semangka
Semangka Atas I
Semangka Atas II
Semangka Atas III
Semangka Bawah I
Semangka Bawah II
Semung I
Semung II
Semung III
Manula I
Manula II
Simpang Lunik I
Simpang Lunik II
Simpang Lunik III

Kapasitas
(MW)
26.8
23.2
28.2
35.5
40.4
23.8
38.7
11.6
5.7
8.4
6.1
3.8
3.9

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan
kapasitas pembangkit sekitar 1.301 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada
Tabel A12.5.

376

Tabel A12.5. Pengembangan Pembangkit


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Proyek

Jenis

Pemilik

Tarahan (FTP1)
Ulubelu #1,2
Tarahan #5,6
Pembangkit Peaker
Ulubelu #3,4 (FTP2)
Semangka
Rajabasa (FTP2)
Suoh Sekincau
Wai Ratai
Jumlah

PLTU
PLTP
PLTU
PLTG
PLTP
PLTA
PLTP
PLTP
PLTP

PLN
PLN
Sewa
PLN
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta
Swasta

Kapasitas
(MW)
200
110
240
200
110
56
220
110
55
1301

COD
2012
2012-13
2013
2014
2015
2016
2017
2018-19
2019

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk


Pengembangan GI
Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan 14 buah gardu induk baru dan
pengembangan GI existing sampai dengan tahun 2020 seperti diperlihatkan pada
Tabel A12.6 dan Tabel A12.7.
Tabel A12.6. Rencana GI Baru 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Nama Gardu Induk


Seputih banyak
Dipasena
Ulubelu
Kota Agung
Liwa
Dipasena
Gedong Tataan
Ketapang
Mesuji
Teluk Ratai
Jati Agung
Pakuan Ratu
Langkapura
Bengkunat
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

377

Kapasitas
(MVA)
30
90
30
30
30
120
60
30
30
30
30
30
60
30
630

COD
2011
2012
2012
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2019

Tabel A12.7. Rencana Pengembangan GI Existing


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama Gardu Induk


Kotabumi
Adijaya
Bukit Kemuning
Kalianda
Natar
New Tarahan
Pagelaran
Metro
Sribawono
Sukarame
Kotabumi
Seputih banyak
Tegineneng

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
60
30
60
30
60
30
60
60
60
30
60
30
60

COD

No

2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2014
2014

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Nama Gardu Induk


Adijaya
New Tarahan
Menggala
Sutami
Mesuji
Tegineneng
Jati Agung
Ketapang
Pakuan Ratu
Sukarame
Kotabumi
Sribawono
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
30
60
60
30
30
60
30
30
30
60
60
60
1170

COD
2015
2015
2016
2016
2018
2018
2019
2019
2019
2019
2020
2020

Pengembangan Transmisi
Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2020 sepanjang
2.124 kms diperlihatkan pada Tabel A12.8.
Tabel A12.8 Pengembangan Transmisi 150 kV
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Dari
Bukit Kemuning (uprate)
PLTU Tarahan (FTP1)
Seputih Banyak
Ulubelu
Baturaja (uprate)
Menggala
Sutami (uprate)
Pagelaran (uprate)
Bukit Kemuning
Pagelaran
Gedon Tataan
Gumawang
Kalianda
Mesuji
Pagelaran
PLTP Ulubelu #3,4
Natar
Pakuan Ratu
PLTA Semangka
Kalianda
Langkapura
Besai
Liwa
Teluk Ratai
Jumlah

Ke

Konduktor

Tegangan

Kotabumi (uprate)
Inc. 2 Pi (New Tarahan-Kalianda)
Dipasena
Inc. 1 Pi (Batutegi-Pagelaran)
Bukit Kemuning (uprate)
Seputih Banyak
Natar (uprate)
Tegineneng (uprate)
Liwa
Kota Agung
Teluk Ratai
Mesuji
Ketapang
Dipasena
Gedong Tataan
Ulubelu
Jatiagung
Inc. 1 Pi (Menggala-Gumawang)
Kota Agung
PLTP Rajabasa
Inc. 2 Pi (Natar-Teluk Betung)
PLTP Suoh sekincau
Bengkunat
PLTP Wai Ratai

150 kV
150 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

AC3 310 mm2


2 Zebra
1 Hawk
2 Hawk
AC3 310 mm2
2 Zebra
AC3 310 mm2
AC3 310 mm2
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
2 Zebra
2 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
CU 1000 mm2
2 Zebra
1 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
1 Hawk

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
68
9.0
1
0.2
120
9.2
40
3.1
96
12.8
120
27.0
30
4.0
30
4.0
80
4.4
80
4.4
60
3.3
160
12.2
90
20.3
152
11.6
60
4.6
20
1.1
16
35.5
1
0.2
60
3.3
40
3.1
2
0.1
38
2.1
120
6.6
40
2.2
1524
184.6

COD
2011
2011
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2019

Di provinsi ini melintas transmisi 500 kV HVDC Sumatera-Jawa dengan switching


station dan landing point kabel laut 500 kV HVDC akan berada di Ketapang.

378

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, penambahan pelanggan baru
sampai dengan 2020 adalah 1.331 ribu pelanggan, dimana untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 236.225 pelanggan dan pada tahuntahun selanjutnya akan disambung rata-rata 121.600 pelanggan per tahun. Selaras
dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan JTM 2.409 kms,
JTR sekitar 2.268 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 766 MVA,
seperti ditampilkan dalam Tabel A12.9.
Tabel A12.9. Pengembangan Distribusi
Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
428
281
269
277
260
169
174
179
184
189
2.409

JTR
kms
403
264
254
261
244
159
164
168
173
178
2.268

Trafo
MVA
144
94
88
87
72
54
55
56
57
59
765

Pelanggan

236.225
155.182
148.793
153.230
143.322
93.527
96.093
98.721
101.417
104.182
1.330.692

A12.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A12.10.

379

Tabel A12.10. Rangkuman


Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
2,811
3,325
3,679
4,052
4,428
4,747
5,075
5,411
5,754
6,102
45,384

Produksi
Energi
(Gwh)
3,106
3,637
3,989
4,361
4,746
5,077
5,416
5,762
6,124
6,491
48,709

Beban
Puncak
(MW)
569
660
717
776
837
887
938
989
1,041
1,094
8,507

Pembangkit
(MW)

380

0
255
295
200
110
56
220
55
110
0
1,301

GI
(MVA)
90
390
150
210
360
150
60
90
180
120
1,800

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
69
160
276
160
542
677
42
38
160
0
2,124

67
443
184
168
380
367
524
173
321
44
2,671

LAMPIRAN A.13
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO)
DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

A13.1. KONDISI SAAT INI


Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV
dan beberapa sistem isolated. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga
Singkawang. Sistem isolated terdiri atas sistem Sambas, Bengkayang, Ngabang,
Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Putussibau, Ketapang, Sukadana dan
sistem tersebar.
Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 283
MW dengan produksi 1.478 GWh. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar
dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini. Tabel
A13.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat.
Tabel A13.1. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat
Sistem
Interkoneksi
Bengkayang
Sambas
Ngabang
Sanggau
Sekadau
Sintang
Putusibau
Nangapinoh
Ketapang
Tersebar
Total

Produksi
GWh
%
1003
67,9
21
1,4
61
4,1
19
1,3
55
3,7
15
1,0
63
4,3
22
1,5
22
1,5
109
7,4
88
5,9
1478
100,0

381

Beban
Faktor
Puncak (MW) Beban (%)
175
65,4
4
53,3
13
54,4
4
54,3
12
51,9
3
52,3
13
57,8
4
58,9
4
63,4
19
66,0
32
31,5
283
59,6

Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi, yaitu rata-rata 9,1% per tahun.
Penjualan tenaga listrik diserap oleh konsumen rumah tangga & sosial (61%),
konsumen komersil (28%), konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%).
Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari
pembangkit berbahan bakar minyak. Kecukupan dan keandalan pasokan masih
relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan
pembangkitan tidak memadai.
Kapasitas pembangkit adalah 385 MW dengan daya mampu 339 MW seperti
diperlihatkan pada Tabel A13.2.
Tabel A13.2. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2010
Sistem
Interkoneksi
Bengkayang
Sambas
Ngabang
Sanggau
Sekadau
Sintang
Putusibau
Nangapinoh
Ketapang
Tersebar
Total

Daya
Terpasang
(MW)
236
6
15
7
14
5
16
6
6
24
50
385

Daya
Mampu
(MW)
212
5
15
5
14
4
14
5
5
22
37
339

A13.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK


Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata
9,1% per tahun, dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga.
Pertumbuhan ekonomi selama 2006-2010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5.2% per tahun.
Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58.3%. Untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi
dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal.
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 2020 dapat
dilihat pada Tabel A13.3.

382

Tabel A13.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated)
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Growth

Sales
(Gwh)
1.406
1.559
1.713
1.869
2.030
2.205
2.394
2.599
2.820
3.060
9,0%

Produksi
(Gwh)
1.594
1.779
1.954
2.130
2.313
2.510
2.723
2.954
3.204
3.476
8,9%

Beban Puncak
(MW)
289
322
353
384
416
451
488
528
572
619
8,9%

Pelanggan
622.019
662.562
699.536
738.516
779.621
826.276
875.695
928.047
983.514
1.042.287
6,1%

Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 186 MW, dan sejalan
dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada
sistem-sistem isolated (Sistem Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh,
Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada tahun 2020 menjadi
548 MW atau tumbuh rata-rata 12,7% per tahun. Sedangkan sistem-sistem isolated
kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.

A13.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN

Potensi Sumber Energi


Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air, gambut dan
batubara.
Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului
dengan survey dan studi yang mendalam. Pada saat ini potensi yang dapat
dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW.
Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten
Mempawah. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek
lingkungan.
Potensi batubara terdapat di daerah Sintang, berupa batubara dengan kandungan
kalori yang tinggi, namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala
infrastruktur transportasi. Sumber batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar
untuk PLTU/PLTGB di Sanggau, Sintang, Nanga Pinoh dan Putusibau.
383

Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan
mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem
isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13.4.
Tabel A13.4. Pengembangan Pembangkit
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Proyek
Riam Badau
Ketapang (IPP)
Putussibau (FTP2)
Sanggau
Sintang
Ketapang (FTP2)
Nanga pinoh
Pantai Kura-Kura (FTP1)
Parit Baru (FTP1)
Parit Baru-Loan China (FTP2)
Pontianak-3
Kalbar-1
Nanga pinoh
Kalbar-2
Pontianak-2
Jumlah

Jenis

Pemilik

PLTM
PLTU
PLTGB
PLTU
PLTU
PLTU
PLTGB
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTA
PLTU
PLTU

PLN
Swasta
Swasta
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
Swasta
PLN
PLN
PLN
Swasta

Kapasitas
(MW)
0.2
14
8
14
21
20
6
55
100
100
50
100
98
100
50
736

COD
2011
2012
2012
2012-13
2012-13
2013
2013
2013
2013
2014-15
2015
2016-17
2017-18
2019-20
2019-20

Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat,
PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi
275 kV antar negara yang berkapasitas lebih dari 200 MW. PLN bermaksud
mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga 180
MW. Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM
untuk pembangkit beban puncak. Adanya rencana impor baseload sebesar 50 MW
adalah untuk mengurangi ketidakpastian penyediaan pembangkit baseload di sistem
Kalimantan Barat.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Di Provinsi Kalimantan Barat akan dibangun 15 buah GI 150 kV baru dan
pengembangan trafo GI existing sebesar 930 MVA. Selain itu akan dibangun pula GI
275 kV sebagai simpul interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Serawak. Rencana
pembangunan GI diberikan pada Tabel A13.5 dan Tabel A13.6.
384

Tabel A13.5. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Nama Gardu Induk


Kota Baru
PLTU Kura-Kura
Sambas
Bengkayang
Ngabang
Tayan
Sanggau
Sekadau
Sintang
Kota Baru 2
Nanga Pinoh
Sandai
Sukadana
Ketapang
Putusibau
Bengkayang
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
275/150 kV

Kapasitas
(MVA)
30
30
30
30
30
30
30
30
60
30
30
30
30
60
30
250
760

COD
2011
2011
2012
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2016
2016
2016
2016
2017
2020
2013

Tabel A13.6. Pengembangan/Extension GI 150 kV


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nama Gardu Induk


Sei Raya
Mempawah
Siantan
Singkawang
Sanggau
Parit Baru
Sambas
Siantan
Kota Baru
Jumlah

Tegangan
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Kapasitas
(MVA)
120
30
60
30
30
30
30
60
30
420

COD
2012
2014
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020

Pengembangan Transmisi
Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat
adalah seperti terlihat pada Tabel A13.7.

385

Tabel A13.7. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 275 kV


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Dari
Parit Baru
PLTU Kura-Kura
Sei Raya
Singkawang
Bengkayang
Ngabang
PLTU Parit Baru (IPP)
Siantan
Singkawang
Sanggau
Sintang
Tayan
Nanga Pinoh
Sandai
Sintang
Sukadana
Ketapang
Sintang
Bengkayang
Jumlah

Ke

Tegangan

Kota Baru
Inc. 2 pi (Singkawang-Mempawah)
Kota Baru
Sambas
Ngabang
Tayan
Parit Baru
Tayan
Bengkayang
Sekadau
Sekadau
Sanggau
Kota Baru 2
Tayan
Nanga Pinoh
Sandai
Sukadana
Putusibau
Perbatasan

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV

Konduktor
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,
cct,

1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
1 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
2 Hawk
2 Zebra

Panjang
Biaya
(kms) (juta US$)
40
2,2
40
2,2
32
1,8
126
7,0
180
10,0
110
6,1
6
0,3
184
10,2
120
6,6
100
5,5
180
10,0
180
10,0
180
10,0
300
22,9
180
10,0
180
13,7
200
15,3
300
22,9
180
28,4
2818
195,0

COD
2011
2011
2011
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2016
2016
2016
2016
2017
2020
2013

Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut, PLN
berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke
perbatasan negara dan trafo IBT berkapasitas 250 MVA.
Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13.1.

386

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
your computer,
and then open theBARAT
file again. If 2011
the red x still
appears, you

KALIMANTAN
- 2020

PLTM PANCAREKSAJINGAN (IPP);


2 x 400 KW (2012)
ARUK
PLTU 2 KALBAR TJ.GUNDUL
(PLN);
2 x 27,5 MW (2013)
PLTU PERPRES TAHAP II 2 X
50 MW (2014) LOAN CHINA

SERIKIN
JAGOI BABANG

BATU KAYA

GI. NGABANG
Thn2013
55 km
GI. SIANTAN

GI. TAYAN
GI. SEI RAYA Thn2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011
PLTU TAYAN (IPP);2 X 25
MW (2015)

PLTGB (IPP) 8 MW (2012)


GI. PUTUSIBAU
Thn 2020

BADAU

ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2013

GI. PLTU KURA-KURA


Thn
2011
GI. MEMPAWAH

PLTU 1 KALBARPARIT BARU (PLN); 2 x 50


MW (2013)
PLTU PARIT BERKAT (IPP); 2 x 25 MW
(2014);

KUCHING

GI MAMBONG (MATANG)
TEBEDU

GI. SINGKAWANG
Thn 2009

GI. PARIT BARU

PLTM MERASAPBENGKAYANG (PLN);


2 x 750 KW (2010)

BIAWAK

GI. SAMBAS
Thn2013

GI SANGGAU
Thn 2014

PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW 2012)


(

GI. SINTANG
Thn 2014

GI. SEKADAU
Thn 2014
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X
7 MW (2012)

PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)


PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 201718
GI. NANGA PINOH
Thn 2016

GI. K0TA
BARU22017
GI. SUKADANA
Thn 2017
GI. SANDAI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (PLN) ;


2 X 10 MW (2013)

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

GI. KETAPANG
Thn 2017

PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X7 MW (2012)

KETERANGAN :
Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

PLTU Rencana
PLTMH Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana

Gambar A13.1. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
sebanyak 46.400 sambungan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan
tersebut diperlukan pembangunan JTM 1.380 kms, JTR sekitar 3.944 kms dan
tambahan kapasitas trafo distribusi 540 MVA sampai dengan tahun 2020 seperti
ditampilkan dalam Tabel A13.8.

387

Tabel A13.8. Pengembangan Distribusi


Tahun

2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

JTM
kms
138
120
109
115
122
138
146
155
164
174
1.381

JTR
kms
394
343
312
329
347
394
418
442
469
497
3.944

Trafo
MVA
51
53
46
43
50
53
56
59
62
66
540

Pelanggan

44.189
40.543
36.973
38.980
41.105
46.655
49.419
52.353
55.467
58.773
464.457

A13.4. ELEKTRIFIKASI DAERAH PERBATASAN ANTAR NEGARA


Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan
Barat dan Sarawak masih belum tercukupi, sementara kondisi kelistrikan di wilayah
Sarawak lebih baik. Hal ini menimbulkan terjadinya kesenjangan pada daerah
perbatasan. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem
isolated di daerah perbatasan, yaitu di Sajingan dan Badau. Berikutnya akan
dilakukan pembelian listrik dari Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya, yaitu
Entikong sebesar 150 kVA dan Seluas sebesar 100 kVA. Peta kelistrikan di daerah
perbatasan diberikan pada Gambar A13.2.

388

Gambar A13.2. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan

A13.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A13.9.
Tabel A13.9. Rangkuman
Tahun
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Jumlah

Energy
Sales
(Gwh)
1,406
1,559
1,713
1,869
2,030
2,205
2,394
2,599
2,820
3,060
21,656

Produksi
Energi
(Gwh)
1,594
1,779
1,954
2,130
2,313
2,510
2,723
2,954
3,204
3,476
24,635

Beban
Puncak
(MW)
289
322
353
384
416
451
488
528
572
619
4,424

Pembangkit
(MW)

389

0
43
195
50
100
50
99
49
75
75
736

GI
(MVA)
60
150
340
210
30
150
90
30
60
60
1,180

Transmisi Investasi
(kms) (juta US$)
112
126
780
460
0
840
200
0
0
300
2,818

38
132
457
151
191
182
211
120
153
191
1,825

LAM
MPIRAN A14

NERACA DAYA SIISTEM-S


SISTEM IS
SOLATED
WILAYA
AH OPER
RASI INDONESIA BARAT

390

LAMP
PIRAN A14.1
A

NERA
ACA DAY
YA SISTE
EM ISOLA
ATED
PRO
OVINSI AC
CEH

391

Neraca Daya Sistem Sabang


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

Beban Puncak

MW

3.7

3.8

4.0

4.2

4.4

4.5

4.7

4.9

5.1

5.2

64.9

65.2

65.5

65.7

66.0

66.2

66.4

66.6

66.8

67.0

Load Faktor

20.8

21.9

23.0

24.1

25.2

26.3

27.4

28.5

29.6

30.7

Pasokan
Kapasitas Terpasang

MW

Derating Kapasitas
Pembangkit PLN

7 4
7.4

74
7.4

41
4.1

41
4.1

41
4.1

4 1
4.1

41
4.1

41
4.1

4 1
4.1

41
4.1

0.7

0.7

0.4

0.4

0.4

0.4

0.4

0.4

0.4

0.4

6.68

6.68

3.71

3.71

3.71

3.71

3.71

3.71

3.71

3.71

PLTD Aneuk Loat

392

Marcedes MTU

0.18

PLTD

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

Marcedes MTU

0.36

PLTD

0.7

0.7

0.7

0.7

0.7

0.7

0.7

0.7

0.7

0.7

Caterpillar

0.87

PLTD

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

Caterpillar

0.92

PLTD

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

0.9

Caterpillar

1.44

PLTD

1.4

1.4

1.4

1.4

1.4

1.4

1.4

1.4

1.4

1.4

PLTD Sewa
Sewa Diesel

2.00

PLTD

2.0

2.0

Genset BPKS

1 30
1.30

PLTD

1 3
1.3

13
1.3

Tambahan Pembangkit
PLN
Sabang (FTP2)

2 PLTGB

IPP
Lho Pria Laot

PLTP

Jaboi (FTP2)

PLTP

Jumlah Kapasitas

MW

6.7

6.7

11.7

11.7

11.7

11.7

18.7

18.7

28.7

28.7

Cadangan

MW

2.4

2.4

5.4

5.4

5.4

5.4

7.5

7.5

7.5

7.5

Pemeliharaan

1.4

1.4

4.0

4.0

4.0

4.0

4.0

4.0

4.0

4.0

Operasi

1.0

1.0

1.4

1.4

1.4

1.4

3.5

3.5

3.5

3.5

0 6
0.6

0 4
0.4

2 3
2.3

2 1
2.1

1 9
1.9

1 7
1.7

6 5
6.5

6 3
6.3

16 2
16.2

16 0
16.0

S
Surplus/Defisit
l /D fi i

MW

7
10

Neraca Daya Sistem Blangpidie


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

42,8

45,0

Beban Puncak

MW

8,7

9,1

56,2

56,7

MW

23,3

23,3

Derating Capacity

1,2

1,2

Pembangkit PLN

22,1

22,1

Load Faktor

Rencana masuk grid 150 kV thn 2013

Pasokan
Kapasitas Terpasang

PLTD Suak
0,67

PLTD

1,3

1,3

Merrless

0,95

PLTD

1,0

1,0

MAK

2,39

PLTD

4,8

4,8

393

SWD 6 FG

MTU

0,99

PLTD

3,0

3,0

Cummins

0,72

PLTD

0,7

0,7

Caterpillar
p

0,92
,

PLTD

0,9
,

0,9
,

Caterpillar

0,45

PLTD

0,5

0,5

Caterpillar

0,23

PLTD

0,2

0,2

PLTD

9,0

9,0

PLTD

2,0

2,0

Jumlah Kapasitas

MW

22,1

22,1

Cadangan

MW

6,9

6,9

Pemeliharaan

4,5

4,5

Operasi

2,4

2,4

6 5
6,5

6 2
6,2

Relokasi dari Lampung 4,5


Sewa
Sewa Diesel

Surplus/Defisit

2,00

MW

Rencana masuk grid 150 kV thn 2013

2017

2018

2019

2020

Neraca Daya Sistem Tapaktuan


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

Produksi Energi

GWh

31,1

32,5

Beban Puncak

MW

5,9

6,2

59 8
59,8

60 2
60,2

2013

2014

2015

2016

Kebutuhan

L dF
Load
Faktor
k

Rencana masuk grid 150 kV thn 2013

Pasokan
Kapasitas Terpasang

MW

Derating Kapasitas
Pembangkit PLN

10,4

6,4

0,6

0,6

9,73

5,73

PLTD Tapaktuan
MTU 12V 4000

PLTD

2,0

2,0

SWD 6FG

0,7

PLTD

0,7

0,7

SWD 9F

1,1

PLTD

2,2

2,2

MTU 12V 2000

0,7

PLTD

1,5

1,5

PLTD

4,0

394

1,0

Sewa
Sewa Diesel
Tambahan Kapasitas
PLN
Tapaktuan

7,0

PLTU

Jumlah Kapasitas

MW

Cadangan

MW

14,0
9,7

19,7

2,1

8,1

Pemeliharaan

1,1

7,0

Operasi

1,0

1,1

1 7
1,7

5 5
5,5

S
Surplus/Defisit
l /D fi i

MW

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2017

2018

2019

2020

Neraca Daya Sistem Subulussalam


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

55,8

Beban Puncak

MW

11,9

12,8

53,3

53,8

Load Faktor

60,2

Pasokan

Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV

Kapasitas Terpasang

MW

14,7

14,7

Derating Capacity

2,2

1,9

Pembangkit PLN

12,5

12,8

PLTD Rimo

PLTD

,
4,5

395

PLTD Singkil

PLTD

0,0

PLTD Kuta Fajar

PLTD

1,2

PLTD Sewa

PLTD

9,0

Tambahan Pembangkit
PLN
Singkil

3,0

PLTGB

6,0

1,4
10

1
1

PLTU
PLTB

1,0
1,0

9,0

Jumlah Kapasitas

MW

14,5

23,8

Cadangan

MW

1,9

1,9

Beli Energi / IPP


PLTU PT. GSS
PLTBayu PT. GLA

Pemeliharaan

1,0

1,0

Operasi

0,9

0,9

0,6
,

9,1
,

p
f
Surplus/Defisit

MW

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2017

2018

2019

2020

Neraca Daya Sistem Kutacane


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

49,2

Beban Puncak

MW

10,3

10,8

54,6

55,4

MW

14,3

14,8

Load Faktor

52,6
Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV

Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity

0,7

0,7

Pembangkit PLN

13,62

14,10

2,6
,

2,6
,

PLTD Kuning
MTU

,
0,85

PLTD

396

SWD 6TM

1,96

PLTD

2,0

2,0

SWD 8FG

0,64

PLTD

0,6

0,6

Cummins

0,85

PLTD

1,7

1,7

0,75

PLTD

1,5

1,5

PLTD

5,0

5,0

1,0

1,5

PLTM Sepakat
Turbin WKC
PLTD Sewa
Rental genset HSD
Suplai dari 20 kV Sistem Sumut
Tambahan Pembangkit
IPP
Lawe Mamas

30

PLTA

50

Jumlah Kapasitas

MW

13,6

14,1

Cadangan

MW

2,8

2,8

Pemeliharaan

2,0

2,0

Operasi

0,9

0,9

0,5

0,4

Surplus/Defisit

MW

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2019

2020

Neraca Daya Sistem Blangkejeran


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

14,9

15,8

16,7

17,6

Beban Puncak

MW

3,9

4,2

4,4

4,6

43,3

43,3

43,4

43,4

Load Faktor

Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV

Pasokan
Kapasitas Terpasang

MW

5,6

5,6

5,6

5,6

Derating Capacity

MW

0,6

0,6

0,6

0,6

Pembangkit PLN

MW

5,1

5,1

5,1

5,1

PLTD Rema

MW

3,6
,

3,6
,

3,6
,

3,6
,

PLTD

2,0

2,0

PLTD

1,4

PLTM
PLTM

0,2

J l h Kapasitas
Jumlah
K
it

MW

6 7
6,7

7 0
7,0

7 0
7,0

7 0
7,0

Cadangan

MW

1,8

1,8

1,8

1,8

1,0

1,0

1,0

1,0

Sewa

397

Rental genset HSD

2,0

2,0

Tambahan Pembangkit
PLN
Rel. dari PLTD L. Bata

0,7

Beli Energi
Rerebe
Putri Betung

Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW

0,3

0,8

0,8

0,8

0,8

0,9

1,0

0,8

0,5

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2019

2020

Neraca Daya Sistem Takengon


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

57,3

60,4

Beban Puncak

MW

18,0

18,9

36,3

36,5

Kapasitas Terpasang

MW

24,0

24,0

Derating Capacity

MW

2,4

2,4

21,6

21,6

Load Faktor

Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV

Pasokan

Pembangkit PLN

398

PLTD Ayangan

PLTD

9,1

9,1

PLTD Janarata

PLTD

0,3

0,3

PLTD Jagong Jeget

PLTD

0,4

0,4

PLTMH

0,6

0,6

PLTMH Angkup
PLTD Sewa

PLTD

Suplai dari 20 kV GI Bireun

6,0
7,5

6,0
7,5

Tambahan Pembangkit
PLN
Peusangan

43

PLTA

88,0

0,5

PLTMH

1,5

Jumlah Kapasitas

MW

23,1

23,1

Cadangan

MW

4,2

4,2

2,8

2,8

IPP/Beli Energi
KERPAP

Pemeliharaan
Operasi
S
Surplus/Defisit
l /D fi it

MW

1,4

1,4

0 9
0,9

0 0
0,0

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2017

2018

2019

2020

Neraca Daya Sistem Sinabang


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

18,4

19,5

20,7

21,9

23,0

24,2

25,4

26,5

27,7

28,9

Beban Puncak

MW

3,3

3,5

3,7

3,9

4,1

4,3

4,5

4,8

5,0

5,2

63,9

63,8

63,8

63,8

63,8

63,7

63,7

63,7

63,7

63,7

MW

7,0

7,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

Derating Capacity

0,7

0,7

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

Pembangkit PLN

6,33

6,33

4,53

4,53

4,53

4,53

4,53

4,53

4,53

4,53

Load Faktor
Pasokan
Kapasitas Terpasang

PLTD Lasikin

399

MTU

0,36

PLTD

0,4

0,4

0,4

0,4

0,4

0,4

0,4

0,4

0,4

0,4

MTU

0,48

PLTD

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

MTU

0,58

PLTD

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

Caterpillar

0,58

PLTD

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

0,6

Caterpillar

0,87

PLTD

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

Wartsilla

1,08

PLTD

2,16

2,16

2,16

2,16

2,16

2,16

2,16

2,16

2,16

2,16

PLTD

2,0

2,0

PLTD Sewa
S
Rental genset HSD
Tambahan Pembangkit
PLN
Aie Tajun

PLTGB

60
6,0

Jumlah Kapasitas

MW

6,3

6,3

10,5

10,5

10,5

10,5

10,5

10,5

10,5

10,5

Cadangan

MW

1,9

2,2

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

1,1

1,1

3,0

3,0

3,0

3,0

3,0

3,0

3,0

3,0

Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW

0,9

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

0,7

2,7

2,5

2,3

2,1

1,9

1,7

1,5

1,3

Neraca Daya Sistem Meulaboh


Pasokan/Kebutuhan

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

Kebutuhan
Produksi Energi

GWh

124

Beban Puncak

MW

29,4

47,9

Kapasitas Terpasang

MW

50,1

Derating

MW

5,0

Load Faktor

Rencana tahun 2012 masuk Grid 150 kV

Pasokan

Pembangkit PLN

45,1

400

Seunebok

PLTD

19,2

Calang

PLTD

1,2

Lamno

PLTD

2,3

Teunom

PLTD

1,5

Alue Bilie

PLTD

Jeuram

PLTD

1,8

Sewa

PLTD

16,0

Media Group

PLTU

8,0

Tambahan Pembangkit
PLN
Nagan

PLTU

220

Jumlah Kapasitas

MW

45,1

Cadangan

MW

6,7

Pemeliharaan

3,6

Operasi

3,1

Surplus/Defisit

MW

9,0

Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera

2017

2018

2019

2020

LAMP
PIRAN A14.2
A

NERA
ACA DAY
YA SISTE
EM ISOLA
ATED
PRO
OVINSI SUMATE
S
ERA UTA
ARA

401

Neraca Daya Sistem Nias

402

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Kapasitas
Pembangkit PLN
PLTD Gunung Sitoli
Deutz
0,56
Deutz KHD
1,22
Cummins
1,01
Deutz MWM
1,53
PLTD Teluk Dalam
Cummins
1,01
MTU
1,10
Daihatsu
0,75
Daihatsu
0,53
PLTD Sewa
Gunung Sitoli
Teluk Dalam
Tambahan Pembangkit
PLN
Nias
IPP
Nias (FTP2)
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit (N-1)

Unit

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

54,5
44,3
14,0

58,0
43,6
15,2

61,5
43,0
16,3

65,1
42,8
17,3

68,8
42,7
18,4

72,7
42,9
19,3

77,1
43,2
20,4

81,8
43,3
21,5

86,8
43,5
22,8

92,0
43,7
24,0

97,6
43,9
25,4

MW
MW

23,6
7,6

23,6
7,6

23,6
7,6

23,6
7,6

15,6
7,6

15,6
7,6

15,6
7,6

15,6
7,6

15,6
7,6

15,6
7,6

15,6
7,6

2
2
4
3

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1,1
2,4
4,0
4,6

1
1
1
1

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

1,0
1,1
0,8
0,5

PLTD
PLTD

5,0
3,0

5,0
3,0

5,0
3,0

5,0
3,0

7,0
37,0
8,5
7,0
1,5
9,2

37,0
8,5
7,0
1,5
8,1

37,0
11,0
7,0
4,0
4,5

37,0
11,0
7,0
4,0
3,2

37,0
11,0
7,0
4,0
2,0

37,0
11,0
7,0
4,0
0,6

PLTGB
PLTU
MW
MW

MW

8,0

24,0
2,6
1,5
1,1
7,4

24,0
2,6
1,5
1,1
6,2

24,0
2,6
1,5
1,1
5,1

24,0
2,6
1,5
1,1
4,1

14,0
30,0
8,5
7,0
1,5
3,1

LAMP
PIRAN A14.3
A

NERA
ACA DAY
YA SISTE
EM ISOLA
ATED
PRO
OVINSI RIAU
R

403

Neraca Daya Sistem Siak


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
MTU M.D
Sewa
Sewa Diesel
Sewa PLTU (Pemda)
Sewa MFO

Unit

2011

2012

2013

GWh
%
MW

25,5
77,7
3,8

28,9
77,9
4,2

32,6
78,1
4,8

MW
MW

0,79
0,17

0,79
0,18

0,79
0,20

0,60

0,59

6,0
3,0

6,0
3,0

404

0,79

PLTD

0,62

1,00
3,00
3,00

3
2
1

PLTD
PLTU
PLTD

4,0

Tambahan Pembangkit
MTU (Pemda)
0,60

PLTD

0,6

2014

2015

2016

2017

2018

35,8
78,2
5,2

Disupplai dari grid 150 kV SIS, Tahun 2014,30 M VA

Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW
MW

MW

5,2
1,3
0,8
0,5
0,1

10,2
3,8
3,0
0,8
2,1

10,2
3,8
3,0
0,8
1,6

2019

2020

Neraca Daya Sistem Bengkalis

405

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
Deutz
Deutz
Yamar
Sewa Pembangkit
Sewa Genset MFO
Sewa Mesin 1 (HSD)
Sewa Mesin 2 (HSD)

Unit

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

110,4
69,9
18,0

119,8
69,9
19,6

129,4
69,9
21,1

139,5
69,9
22,8

150,8
69,9
24,6

GWh
%
MW

72,4
70,5
11,7

82,0
70,2
13,3

92,6
70,1
15,1

101,5
70,0
16,6

MW
MW

18,72
1,98

16,72
2,05

10,72
2,12

10,72
2,18

1,20
0,56
0,60

2
1
2

PLTD
PLTD
PLTD

1,51
0,20
1,03

1,47
0,19
1,01

1,44
0,19
0,98

1,40
0,18
0,96

6,0
1,0
1,0

1
3
6

PLTD

6,0
8,0

6,0

6,0

6,0

2
2

PLTU
PLTGB

Tambahan Pembangkit
PLN
Bengkalis (FTP1)
10
Bengkalis PLTGB
3
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

2011

2020
164,7
70,0
26,9

6,0

MW
MW

MW

20,0
12,0
16,7
1,8
1,2
06
0,6
3,2

14,7
1,8
1,2
06
0,6
-0,5

28,6
11,2
10,0
12
1,2
2,3

28,5
11,2
10,0
12
1,2
0,8

32,0
11,5
10,0
15
1,5
2,5

6,0
32,0
11,5
10,0
15
1,5
0,9

38,0
11,5
10,0
15
1,5
5,4

6,0
38,0
11,5
10,0
15
1,5
3,7

44,0
11,5
10,0
15
1,5
7,9

44,0
11,5
10,0
15
1,5
5,6

Neraca Daya Sistem Selat Panjang

406

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
BWSC
Deutz
Sewa Pembangkit
Sewa Genset MFO
Sewa Mesin (HSD)
Tambahan Pembangkit
PLN
Selat Panjang
Sewa
PLTG
Project IPP
Selat Panjang Baru #1,2
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

47,2
66,5
8,1

53,5
66,6
9,2

60,4
66,8
10,3

66,1
66,9
11,3

71,9
67,1
12,2

78,1
67,2
13,3

84,3
67,4
14,3

90,9
67,5
15,4

98,3
67,7
16,6

107,3
67,8
18,1

MW
MW

4,4
1,5

4,4
1,6

4,4
1,7

4,4
1,7

4,4
1,8

4,4
1,9

4,4
1,9

4,4
2,0

4,4
2,1

4,4
2,1

1,2
1,5

1,1
1,5

1,1
1,4

1,1
1,4

1,1
1,3

1,0
1,3

1,0
1,3

35,3
17,0
17
0
10,0
7,0
1,8

35,3
17,0
17
0
10,0
7,0
0,2

1,0
1,2

2
2

PLTD
PLTD

1,3
1,6

1,2
1,6

1,2
1,5

2
1

3
3

PLTD
PLTD

6
6

6
6

6
6

PLTGB

PLTG

10

PLTU
MW
MW

MW

14
14,9
22
2,2
1,2
1,0
4,6

30,8
11,2
11
2
10,0
1,2
10,4

30,7
11,2
11
2
10,0
1,2
9,2

32,7
17,0
17
0
10,0
7,0
4,4

32,6
17,0
17
0
10,0
7,0
3,4

32,5
17,0
17
0
10,0
7,0
2,3

32,5
17,0
17
0
10,0
7,0
1,2

35,4
17,0
17
0
10,0
7,0
3,0

Neraca Daya Sistem Bagan Siapiapi

407

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating kapasitas
Pembangkit PLN
Deutz BA 12M 816
Deutz KHD BV 8M
Mitsubishi
Pembangkit Sewa
Sewa HSD
Sewa Mesin Pemda
PLTGB

Unit

2011

2012

2013

GWh
%
MW

31,2
55,3
6,4

35,3
55,5
7,3

39,9
55,6
8,2

MW
MW

2,8
1,2

2,8
1,2

2,8
1,3

0,5
1,2
0,6

2
1
1

PLTD
PLTD
PLTD

0,43
0,83
0,40

0,42
0,81
0,39

0,41
0,79
0,38

2,0
0,8
2,5

1
3
2

PLTD
PLTD
PLTGB

2,0
2,4
5,0

2,0
2,4
5,0

2,0
2,4
5,0

2014

2015

2016

2017

2018

Disupplai dari grid 150 kV SIS, Tahun 2014,30 M VA

Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW
MW
MW
MW
MW

11,1
11
1
1,8
1,2
0,6
2,8

11,0
11
0
1,8
1,2
0,6
1,9

11,0
11
0
1,8
1,2
0,6
1,0

2019

2020

Neraca Daya Sistem Rengat

408

Pasokan/Kebutuhan
K b t h
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
PLTD Air Molek
PLTD Danau Raja
Pembangkit Pemda
MTU 12V 2000G 62
MTU 16V 2000G 62
Project Sewa
Sewa Diesel1
Sewa Diesel2
Sewa Diesel3

Unit

2011

GWh
%
MW

84,3
63,0
15,3

MW
MW

8,9
34
3,4

2012

2013

2014

2015

2016

2017

95,5
63,1
17,3

3,4
2,2
0,63
0,64
0
64

2
4

PLTD
PLTD

1,3
26
2,6

1,00
1,00
1,00

2
2
5

PLTD
PLTD
PLTD

2,0
2,0
5,0

Tambahan Pembangkit
PLN
Rengat
10

PLTG

IPP
IPP Kemitraan

PLTU

7,00

2,0
2,0
5,0

20,0
14,0
Disuplai dari Grid 150 kV SIS- Tahun 2013

Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW
MW

MW

18,3
2,2
1,2
1,0
0,9

29,0
11,2
10,0
1,2
0,5

2018

2019

2020

Neraca Daya Sistem Tembilahan

409

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
SWD
0,34
Deutz KHD BV 8M
1,20
Yanmar
0,27
Yanmar
0,60
Pembangkit Pemda
Komatsu
0,40
Relokasi Ex Tlk Kuantan
PLTD
0,26
Pembangkit Sewa
Sewa Mesin2 (HSD)
3,00
Sewa Mesin3 (HSD)
0,80
Sewa genset (MFO)
Tambahan Pembangkit
PLN
Tembilahan

Unit

2011

2012

2013

2014

GWh
%
MW

61,4
59,5
11,8

69,6
59,6
13,3

78,6
59,8
15,0

86,1
59,9
16,4

MW
MW

7,79
1,59

7,79
1,69

7,79
1,79

7,79
1,89

3
1
2
4

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

0,51
1,80
0,19
1,58

0,50
1,76
0,18
1,54

0,49
1,71
0,18
1,50

0,48
1,67
0,17
1,46

PLTD

1,6

1,6

1,6

1,6

PLTD

0,5

0,5

0,5

0,5

1
1

PLTD
PLTD
PLTD

3,0
0,8
6,0

3,0
0,8
6,0

6,0

6,0

PLTU

2015

2016

2017

2018

14,00
Di pasok dari grid 150 kV, Tahun 2015

Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW
MW

MW

16,0
1,7
1,2
0,5
2,5

15,9
1,7
1,2
0,5
0,9

26,0
8,2
7,0
1,2
2,8

25,9
8,2
7,0
1,2
1,3

2019

2020

Neraca Daya Sistem Kuala Enok


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
Mitsubishi S6U
Catterpilar
Sewa
Sewa Diesel

Unit
GWh
%
MW
MW
MW

2011
5,1
50,2
1,2
1,6
0,77

2012
5,8
50,4
1,3
1,6
0,77

410

0,60
0,36

2
1

PLTD
PLTD

0,83
0,2

0,81

PLTD

2,0

3,0

MW
MW

2,8
0,6
0,6
0,0
1,0

3,8
1,6
1,0
0,6
0,9

2013
6,6
50,5
1,5
1,6
0,77
0,79

2014
7,2
50,6
1,6
1,6
0,77
0,79

2015
7,8
50,7
1,8
1,6
0,77
0,79

2016
8,5
50,8
1,9
1,6
0,77
0,79

Tambahan Pembangkit
PLN
Di pasok dari grid 150 kV, Tahun 2013
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW

2017
9,2
50,9
2,1
1,6
0,77
0,79

2018
9,9
51,0
2,2
1,6
0,77
0,79

2019
10,7
51,2
2,4
1,6
0,77
0,79

2020
11,6
51,3
2,6
1,6
0,77
0,79

LAMP
PIRAN A14.4
A

NERA
ACA DAY
YA SISTE
EM ISOLA
ATED
PR
ROVINSI KEPULA
AUAN RIA
AU

411

Neraca Daya Sistem Bintan


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating kapasitas

412

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

GWh
%
MW

286,6
69,3
47,2

318,3
69,0
52,7

524,1
69,8
85,7

582,9
72,4
91,9

749,4
74,8
114,4

819,8
76,9
121,7

886,1
78,1
129,5

948,9
78,6
137,9

MW
MW

40,9
10,6

40,9
10,6

40,9
10,7

Pembangkit PLN
PLTD Tanjung Pinang
PLTD Tanjung Uban
Pembangkit Sewa Tanjung Uban

PLTD
PLTD
PLTD

27,9
1,2
8,0

27,9
1,2
8,0

27,9
1,2
8,0

Tambahan
T
b h Pembangkit
P b
kit
SEWA
Sewa PLTU PT Cap.Tur

PLTU

30

PLN
Tanjung Uban
Tanjung Pinang 3

PLTU
PLTU

IPP
Tanjung Pinang 1 (TLB)
Tanjung Pinang 2 (FTP2)

PLTU
PLTU

Suplai dari Batam (Peaking)


Suplai dari Batam (Base)

MW
MW

Jumlah Kapasitas
Reserve Margin

MW
%

2019

2020

1.010,3
78,6
146,8

1.077,2
78,6
156,4

15

15

30
30

68
45

68
30

10
40

10

125
46

134
46

10
174
52

10
174
43

10

10

184
42

194
41

209
42

234
50

Neraca Daya Tanjung Pinang


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas
p
Terpasang
p
g
Derating kapasitas
Pembangkit PLN
Manufacture
MAK 8M
MAK 6M
Allen
Mitshubishi

413

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

257,1
69,2
42,4

284,6
68,9
47,2

318,3
69,6
52,2

363,8
72,2
57,5

413,8
74,6
63,4

467,4
76,7
69,6

520,0
77,9
76,2

571,3
78,4
83,2

623,2
78,5
90,6

680,2
78,8
98,5

MW
MW

38,9
,
11,2

38,9
,
11,9

38,9
,
11,9

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

8,2
1,8
8,0
9,8

8,0
1,7
7,8
9,5

Tambahan Pembangkit
SEWA
Sewa PLTU PT CTI

PLTU

30,0

PLN
PLTU Tanjug Pinang III

PLTU

IPP
Tanjung Pinang I (TLB)
Tanjung Pinang II (FTP2)

PLTU
PLTU

30,0

30,0

30,0
30

Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam


Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
S
Surplus/Defisit
l /D fi it

MW
MW
MW
MW
MW

61,7
16,0
15,0
1,0
33
3,3

61,0
16,0
15,0
1,0
-2,2
22

Neraca Daya Tanjung Uban

414

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating kapasitas
Pembangkit PLN
Manufacture
MWM
Perkins
Deutz
Volvo
Pembangkit Sewa
Sewa Genset
Bl Energi PT BIIE MFO
Sewa Mesin (HSD)
Sewa Mesin (HSD)
Project PLN
PLTU Tanjung Uban

Unit

2011

2012

2013

GWh
%
MW

29,5
70,2
4,8

33,7
70,4
5,5

38,8
71,5
6,2

MW

2,02
0,92

2,02
0,94

2,02
0,94

0,12
0,11
0,88

0,11
0,11
0,86

2,0
2,0
2,0
2,0

2,0
2,0
2,0
2,0

Size Jlh unit


0,2
1
0,3
1
1,2
1
0,3
1

PLTD

1,0
2,0
1,0
2,0

2
1
2
1

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

7,0

PLTU

2014
45,8
74,4
7,0

2015
53,8
76,8
8,0

2016
62,7
78,9
9,1

2017
71,9
79,9
10,3

14,0

Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam


Kapasitas Efektif
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW
MW

MW

9,1
1,5
1,2
,
0,3
2,8

9,1
1,5
1,2
,
0,3
2,1

2018
81,6
80,1
11,6

2019
91,1
79,1
13,1

2020
100,8
77,5
14,9

Neraca Daya Sistem Tanjung Balai Karimun

415

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating kapasitas
Pembangkit PLN
MAK 8M 453B
Allen

#
#

Pembangkit Sewa
Sewa Mesin (HSD)
Sewa Mesin (HSD)
Sewa Mesin (HSD)
Tambahan Pembangkit
PLN
TB. Karimun #1,2 (FTP1)
TB. Karimun #3,4
TB. Karimun - 2
IPP
TB. Karimun (Terkendala)
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

117,4
69,9
19,2

128,9
70,4
20,9

142,8
71,8
22,7

161,9
75,0
24,6

182,7
77,9
26,8

204,7
80,3
29,1

226,0
81,7
31,6

246,4
82,3
34,2

264,4
81,5
37,0

281,4
80,2
40,0

MW
MW

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

13,2
13
2
4,2

4
1

PLTD
PLTD

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

7,2
1,8

#
#
#

1
1
1

PLTD
PLTD
PLTD

2
4
3

2
4
5

2
4
5

PLTU
PLTU
PLTU

14
7

2
2
1

10

10

PLTU

61,0
17,0
10,0
7,0
7,0

71,0
17,0
10,0
7,0
14,0

MW
MW

MW

14
32,0
10,0
7,0
3,0
2,8

34,0
10,0
7,0
3,0
3,1

34,0
10,0
7,0
3,0
1,3

44,0
10,0
7,0
3,0
9,4

51,0
10,0
7,0
3,0
14,2

51,0
10,0
7,0
3,0
11,9

51,0
10,0
7,0
3,0
9,4

51,0
10,0
7,0
3,0
6,8

Neraca Daya Sistem Tanjung Batu

416

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
Komatsu
0,30
Deutz BA 12M
1,05
Sewa
Sewa Diesel
2,5
Sewa Diesel
1
Tambahan Pembangkit
PLN
Tanjung Batu Baru
7,0
IPP
Tanjung Batu (FTP2) 4,0
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

GWh
%
MW

30,5
55,1
6,3

33,4
55,7
6,9

36,9
57,0
7,4

41,8
59,7
8,0

47,0
62,1
8,6

MW
MW

1,65
0,57

1,65
0,57

1,65
0,57

1,65
0,57

1,65
0,57

2
1

PLTD
PLTD

0,28
0,80

0,28
0,80

0,28
0,80

0,28
0,80

0,28
0,80

2
2

PLTD
PLTD

5,0
2,0

5,0
2,0

2,0

2,0

PLTU

PLTGB
MW
MW

MW

2016

2017

2018

2019

2020

52,5
64,2
9,3

57,8
65,5
10,1

62,8
66,1
10,8

67,2
65,8
11,7

71,4
64,9
12,6

22,0
8,1
7,0
1,1
4,6

22,0
8,1
7,0
1,1
3,8

22,0
8,1
7,0
1,1
3,1

22,0
8,1
7,0
1,1
2,2

22,0
8,1
7,0
1,1
1,3

14,0

8,1
1,4
1,1
0,3
0,4

8,0
16,1
1,4
1,1
0,3
7,8

11,1
1,4
1,1
0,3
2,3

11,1
1,4
1,1
0,3
1,7

23,1
8,1
7,0
1,1
6,3

Neraca Daya Sistem Dabo Singkep

417

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating kapasitas
Pembangkit PLN
MAK
MTU
Pembangkit Sewa
Sewa Genset
Sewa Diesel
Tambahan Pembangkit
PLN
Dabo Singk ep
Kapasitas Efektif
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

19,9
55,4
4,1

21,6
56,1
4,4

23,7
57,5
4,7

26,6
60,3
5,0

29,7
62,9
5,4

32,9
65,2
5,8

35,9
66,7
6,1

38,7
67,4
6,6

41,1
67,2
7,0

43,2
66,4
7,4

MW

2,4
0,74

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

2,4
0,78

PLTD
PLTD

0,93
0,78

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

0,90
0,76

PLTD
PLTD

2,0
3,0

2,0
3,0

3,0

10,7
1,8
1,2
06
0,6
2,5

10,7
1,8
1,2
06
0,6
2,0

PLTGB
MW
MW

MW

6,0
6,7
1,8
1,2
06
0,6
0,8

12,7
1,8
1,2
06
0,6
7,1

3,0
10,7
1,8
1,2
06
0,6
4,8

7,7
1,8
1,2
06
0,6
1,4

7,7
1,8
1,2
06
0,6
1,1

7,7
1,8
1,2
06
0,6
0,7

7,7
1,8
1,2
06
0,6
0,3

10,7
1,8
1,2
06
0,6
2,9

Neraca Daya Sistem Ranai

418

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
Daihatsu
Komatshu
Project Sewa
SEWA Perusda
SEWA MFO

Unit

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

17,8
64,6
3,1

19,4
65,0
3,4

21,3
66,4
3,7

24,0
69,3
4,0

26,9
71,9
4,3

29,9
74,2
4,6

32,7
75,5
5,0

35,4
76,0
5,3

37,7
75,3
5,7

39,9
74,1
6,1

MW
MW

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,20
0,06

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,00
0,14

1,8
6,0

1,8
6,0

1,8
6,0

15,1
7,6
7,0
0,6
3,6

15,1
7,6
7,0
0,6
3,3

15,1
7,6
7,0
0,6
2,9

15,1
7,6
7,0
0,6
2,6

15,1
7,6
7,0
0,6
2,2

15,1
7,6
7,0
0,6
1,8

15,1
7,6
7,0
0,6
1,4

0,60
0,16

2
1

1,8
3

1
2

PLTD
PLTD

Tambahan Pembangkit
PLN
Natuna
7,0

PLTU

Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

2011

MW
MW
MW
MW
MW

14,0
8,9
0,7
0,6
0,1
5,1

8,9
0,7
0,6
0,1
4,8

22,9
7,6
7,0
0,6
11,7

Neraca Daya Sistem Belakang Padang


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating Capacity
Pembangkit PLN
Deutz
0,10
MWM
0,22
Yanmar
0,60

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

419

GWh
%
MW

9,3
55,3
1,9

10,2
56,5
2,1

11,3
58,4
2,2

12,7
61,8
2,4

14,3
65,0
2,5

16,0
68,0
2,7

17,7
70,1
2,9

19,3
71,5
3,1

20,6
71,8
3,3

21,9
71,6
3,5

MW
MW

1,52
0,32

1,52
1,52

1,20
1,20

1,20
1,20

1,20
1,20

1,20
1,20

1,20
1,20

1,20
1,20

1,20
1,20

1,20
1,20

PLTD
PLTD
PLTD

0,08
0,15
0,98

Tambahan Pembangkit
PLN
Relokasi

PLTD

2,0

Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW
MW
MW
MW
MW

3,2
0,8
0,6
0,2
0,5

1
1
2

Disuplai dari Grid 20 kV Kabel Laut Batam

LAMP
PIRAN A14.5
A

NERA
ACA DAY
YA SISTE
EM ISOLA
ATED
PRO
OVINSI BANGKA
B
A BELITU
UNG

420

Neraca Daya Sistem Bangka

421

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Beban Puncak
Load Faktor
Pasokan
Kapasitas Terpasang

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

GWh
MW
%

560,0
97,2
65,8

629,3
109,2
65,8

714,7
123,9
65,8

803,4
139,2
65,9

871,9
151,0
65,9

MW

85,2

85,0

113,8

99,0

PLN
Merawang
Mentok
Koba *)
Toboali
Dari Sistem Isolated
Miirless (Relokasi dari Sukamerindu)

MW
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

39,9
24,0
4,0
2,9
3,7
0,3
5,0

40,0
24,0
4,0
2,9
3,7
0,4
5,0

38,8
24,0
2,1
2,9
4,3
0,5
5,0

Sewa PLTD
Sewa PLTD HSD tersebar 1
Sewa PLTD HSD tersebar 2
Sewa PLTD HSD tersebar 3
Bangka (Sewa)

MW
PLTD
PLTD
PLTD
PLTU

45
17
16
12

45
17
16
12

75
17
16
12
30

PLTD
PLTD
PLTD
PLTG
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU

2,5

Tambahan Pembangkit
PLN
Relokasi Mesin Miirless dari Pulau Baai
Relokasi Mesin Batam ke Toboali
Relokasi Mesin Batam ke Mentok
Bangka IV (Peaker)
Ai A
Air
Anyer (FTP1)
Mentok
Bangka - 3
Bangka - 5
IPP
Bangka (FTP2)
T b li
Toboali

PLTU
PLTU

Jumlah Kapasitas

MW

Reserve Margin

2017

2018

2019

2020

957,8
165,8
66,0

1.065,6
184,3
66,0

1.203,8
208,1
66,0

1.379,2
238,3
66,1

1.602,7
276,7
66,1

86,2

86,2

86,2

86,2

86,2

86,2

39,0
24,0
2,1
2,9
4,3
0,7
5,0

26,2
17,0
2,1
0,0
3,1
0,7
5,0

26,2
17,0
2,1
0,0
3,1
0,8
5,0

26,2
17,0
2,1
0,0
3,1
0,9
5,0

26,2
17,0
2,1
0,0
3,1
1,0
5,0

26,2
17,0
2,1
0,0
3,1
1,1
5,0

26,2
17,0
2,1
0,0
3,1
1,1
5,0

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

5
2,5
20

20

20

60
14
30

30
30

30

30

239
58

269
62

14
153
57

153
40

181
46

195
40

269
46

319
53

349
47

399
44

Neraca Daya Sistem Belitung


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Beban Puncak
Load Faktor

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
MW
%

186,7
32,4
65,8

209,8
36,4
65,8

238,2
41,3
65,8

267,8
46,4
65,9

290,6
50,3
65,9

319,3
55,3
66,0

355,2
61,4
66,0

401,3
69,4
66,0

459,7
79,4
66,1

534,2
92,2
66,1

422

Pasokan
Kapasitas Terpasang
PLN
Pilang
Manggar
IPP
Biomass
Sewa

MW
MW
PLTD
PLTD

43,5
16,5
13,5
3,0

36,0
9,0
6,0
3,0

27,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

16,0
9,0
6,0
3,0

PLTU
PLTD

7
20

7
20

7
11

Tambahan Kapasitas
PLN
B lit
Belitung
B
Baru (FTP1)
Belitung - 3
Belitung - 4
Belitung Peaker

PLTU
PLTU
PLTU
PLTG

17

17
17

17
17

17

10

10

98
59

108
56

125
57

142
54

IPP
Belitung - 2
Jumlah Kapasitas
Reserve Margin

PLTGB
MW
%

5
44
34

53
44

65
57

71
53

88
75

88
59

LAMP
PIRAN A14.6
A

NERA
ACA DAY
YA SISTE
EM ISOLA
ATED
PRO
OVINSI KA
ALIMANTAN BAR
RAT

423

Neraca Daya Sistem Ketapang

424

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
DEUTZ
1,2
WARTSILA I
2,8
RUSTON I
3,0
Sewa
Sewa Diesel
Sewa Diesel
Tambahan Pembangkit
PLN
Ketapang (FTP2)
Sewa/IPP
Ketapang (IPP)
Relokasi Sewa Diesel
Sewa Sukadana
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

2
2
2

Unit

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

118,6
64,1
21,1

134,7
64,2
24,0

151,9
64,2
27,0

175,7
64,2
31,2

187,8
64,2
33,4

200,1
64,2
35,6

212,9
64,2
37,8

226,5
64,3
40,2

240,8
64,3
42,8

256,0
64,3
45,5

MW
MW

24,1
0,7

24,1
0,7

17,1
0,7

17,1
0,7

14,1
0,7

14,1
0,7

0,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

PLTD
PLTD
PLTD

2,4
5,6
6,0

2,4
5,6
6,0

2,4
5,6
6,0

2,4
5,6
6,0

2,4
5,6
6,0

2,4
5,6
6,0

PLTD
PLTD

7,0
3,0

7,0
3,0

3,0

3,0

PLTU
PLTU
PLTD
PLTGB
MW
MW

MW

20,0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

Interkoneksi dengan Grid 150 kV


Sistem Khatulistiwa

14,0
4,0
28,1
5,8
3,0
2,8
1,2

3,0
45,1
10,0
7,0
3,0
11,1

58,1
17,0
10,0
7,0
14,0

58,1
17,0
10,0
7,0
9,8

55,1
17,0
10,0
7,0
4,7

55,1
17,0
10,0
7,0
2,5

-3,0
38,0

38,0

38,0

38,0

Neraca Daya Sistem Sambas

425

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
SWD. I
0,34
SWD. II
0,34
,
SWD. III
0,40
DEUTZ. II
0,52
DEUTZ MWM
0,50
MTU ( TRAILER ) 0,60
DEUTZ.MWM KHD 1,50
DEUTZ.MWM KHD 1,50
,
MITSUBISHI
1,00
MTU II
0,70
MTU III
0,70
PLTD Sewa
Sewa Diesel
Sewa Diesel
Tambahan Pembangkit
PLN
Relokasi Sewa Diesel
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

113,5
66,2
19,6

120,9
66,2
20,9

128,8
66,2
22,2

137,0
66,2
23,6

145,6
66,2
25,1

154,9
66,2
26,7

Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa


6,0
6,0
4,0
4,0
4,0

4,0

4,0

4,0

GWh
%
MW

71,6
66,2
12,4

81,4
66,2
14,0

91,8
66,2
15,8

106,2
66,2
18,3

MW
MW

15,10
0,40

15,10
0,40

2,00
0,00

2,00
0,00

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

0,3
0,3
0,4
,
0,5
0,5
0,6
1,5
1,5
1,0
,
0,7
0,7

0,3
0,3
0,4
,
0,5
0,5
0,6
1,5
1,5
1,0
,
0,7
0,7

PLTD
PLTD

5,0
2,0

5,0
2,0

2,0

2,0

PLTD

2,0

2,0

MW
MW

16,7
2,5
1,5
1,0
1,8

18,7
2,5
1,5
1,0
2,2

MW

Neraca Daya Sistem Ngabang

426

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
MERCEDES (MTU) 0,9
MITSUBISHI
1,6
MERCEDES (MTU) 1,1
11
Sewa
Sewa Diesel
Tambahan Pembangkit
PLN
Sewa PLTGB
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

1
1
1

2011

2012

GWh
%
MW

20,8
53,8
4,4

23,6
53,9
5,0

MW
MW

6,6
0,2

6,6
0,2

PLTD
PLTD
PLTD

0,9
1,6
11
1,1

0,9
1,6
11
1,1

PLTD

3,0

3,0

PLTGB

60
6,0

MW
MW

MW

12,6
2,7
1,6
1,1
55
5,5

2013
26,6
53,9
5,6

2014
30,7
54,0
6,5

2015
32,9
54,0
6,9

2016
35,0
54,1
7,4

2017

2018

37,3
54,2
7,9

-6
Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa
12,6
6,0
6,0
6,0
6,0
2,7
1,6
1,1
49
4,9

39,6
54,2
8,3

2019
42,1
54,3
8,9

2020
44,8
54,4
9,4

Neraca Daya Sistem Sanggau

427

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
SWD BBI
SWD BBI
DEUTZ MWM
M TU
MITSUBISHI
MITSUBISHI
PLTD Sewa
Sewa Diesel
Sewa Diesel

Unit

1,2
1,2
0,8
0,8
1,2
1,2

Tambahan Pembangkit
PLN
Sanggau
Sewa
Relokasi Sewa Diesel
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

1
1
1
1
1
1

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

74,7
67,5
12,6

84,9
67,5
14,4

95,8
67,5
16,2

110,8
67,5
18,7

118,5
67,5
20,0

126,2
67,5
21,4

134,4
67,4
22,7

143,0
67,4
24,2

152,1
67,4
25,7

161,7
67,4
27,4

MW
MW

14,4
0,3

14,4
0,3

8,4
0,3

2,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

1,2
1,2
0,8
0,8
1,2
1,2

1,2
1,2
0,8
0,8
1,2
1,2

1,2
1,2
0,8
0,8
1,2
1,2

PLTD
PLTD

6,0
2,0

6,0
2,0

2,0

7,0

7,0

23,4
8,2
7,0
1,2
0,8

24,4
8,2
7,0
1,2
0,0

Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa


18,0
16,0
16,0
16,0
16,0

16,0

16,0

PLTU
PLTD

2,0

MW
MW

16,4
2,2
1,2
1,0
1,5

MW

2,0

Neraca Daya Sistem Sintang

428

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
SWD BBI
SWD BBI
DEUTZ
DEUTZ
DEUTZ
M TU
MITSUBISHI
MITSUBISHI
PLTD Sewa
Sewa Diesel

Unit

0,5
1,2
1,5
15
1,5
1,5
1,1
1,3
1,3

Tambahan Pembangkit
PLN
Sintang
3
Sewa
PLTGB Sewa
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

1
1
1
1
1
1
1
1

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

71,4
64,2
12,7

81,1
64,3
14,4

91,5
64,3
16,3

105,9
64,3
18,8

113,3
64,3
20,1

120,8
64,4
21,4

128,6
64,4
22,8

136,9
64,4
24,2

145,6
64,5
25,8

154,9
64,5
27,4

MW
MW

15,9
15
9
0,5

15,9
15
9
0,5

99
9,9
0,5

00
0,0
0,0

00
0,0
0,0

0,0
0
0
0,0

0,0
0
0
0,0

0,0
0
0
0,0

0,0
0
0
0,0

0,0
0
0
0,0

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

0,5
1,2
1,5
15
1,5
1,5
1,1
1,3
1,3

0,5
1,2
1,5
15
1,5
1,5
1,1
1,3
1,3

0,5
1,2
1,5
15
1,5
1,5
1,1
1,3
1,3

PLTD

60
6,0

60
6,0

21,0

21,0

PLTU
PLTGB

30
3,0

MW
MW

18,9
2,8
1,5
1,3
34
3,4

MW

14,0

7,0

32,9
8,5
7,0
1,5
10 0
10,0

-3
3,0
0
Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa
33,9
24,0
24,0
24,0
21,0
21,0
8,5
7,0
1,5
92
9,2

Neraca Daya Sistem Nanga Pinoh

429

Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
DEUTZ MWM
DEUTZ MWM
DEUTZ MWM
MITSUBISHI
PLTD Sewa
Sewa Diesel
Sewa Diesel

Unit

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

25,1
53,6
5,3

28,6
53,7
6,1

32,3
53,8
6,8

37,4
53,8
7,9

40,0
53,9
8,5

42,7
54,0
9,0

45,5
54,1
9,6

48,5
54,2
10,2

51,6
54,3
10,8

54,9
54,4
11,5

MW
MW

63
6,3
0,1

63
6,3
0,1

33
3,3
0,1

33
3,3
0,1

23
2,3
0,1

00
0,0

00
0,0

00
0,0

00
0,0

00
0,0

0,5
0,5
0,5
08
0,8

0,5
0,5
0,5
08
0,8

1
1
1
1

PLTD
PLTD
PLTD
PLTD

0,5
0,5
0,5
08
0,8

0,5
0,5
0,5
08
0,8

0,5
0,5
0,5
08
0,8

0,5
0,5
0,5
08
0,8

1,0
1,0

3
1

PLTD
PLTD

3,0
1,0

3,0
1,0

1,0

1,0

Tambahan Pembangkit
PLN
Nanga pinoh
Sewa
Relokasi Sewa Diesel
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

2011

PLTGB

6,0

PLTD

2,0

MW
MW

8,3
13
1,3
0,8
0,5
1,7

MW

8,3
13
1,3
0,8
0,5
1,0

11,3
13
1,3
0,8
0,5
3,2

-6

11,3
13
1,3
0,8
0,5
2,1

10,3
13
1,3
0,8
0,5
0,6

Interkoneksi Grid 150 kV Sist. Khatulistiwa


8,0
8,0
2,0
2,0

2,0

Neraca Daya Sistem Sekadau


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
DEUTZ MWM
0,5
M TU
0,4
M TU
07
0,7
PLTD Sewa
Sewa Diesel

Unit

1
1
1

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

430

GWh
%
MW

5,8
44,9
1,5

6,6
45,0
1,7

7,6
45,1
1,9

8,2
45,1
2,1

8,7
45,2
2,2

9,3
45,3
2,4

9,9
45,4
2,5

10,6
45,5
2,7

11,3
45,6
2,8

12,3
45,6
3,1

MW
MW

4,6
0,1

4,6
0,1

4,6
0,1

3,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

0,0
0,0

PLTD
PLTD
PLTD

0,5
0,4
07
0,7

0,5
0,4
07
0,7

0,5
0,4
07
0,7

PLTD

3,0

3,0

3,0

MW
MW

4,4
4
4
1,7
1,0
0,7
1,2

4,4
4
4
1,7
1,0
0,7
1,0

4,4
4
4
1,7
1,0
0,7
0,7

3,0

Tambahan Pembangkit
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

MW

Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa


29
2,9
00
0,0
00
0,0
00
0,0
0,0
0
0

00
0,0

00
0,0

Neraca Daya Sistem Putussibau


Pasokan/Kebutuhan
Kebutuhan
Produksi Energi
Load Faktor
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
Derating capacity
Pembangkit PLN
DEUTZ MWM
0,50
M TU
0,90
M TU
1 00
1,00
Sewa
Putussibau

431

Tambahan Pembangkit
PLN
Riam Badau
IPP
Putussibau (FTP2)
Jumlah Kapasitas
Cadangan
Pemeliharaan
Operasi
Surplus/Defisit

Unit

1
1
1

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

GWh
%
MW

23,6
59,2
4,6

26,8
59,2
5,2

30,3
59,2
5,8

35,0
59,2
6,8

37,5
59,2
7,2

39,9
59,2
7,7

42,5
59,2
8,2

45,2
59,2
8,7

48,1
59,2
9,3

51,1
59,2
9,9

MW
MW

6,4
0,1

6,4
0,1

6,4
0,1

6,4
0,1

3,4
0,1

3,4
0,1

3,4
0,1

3,4
0,1

3,4
0,1

0,0
0,0

PLTD
PLTD
PLTD

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

0,5
0,9
10
1,0

PLTD

PLTMH
PLTGB
MW
MW

MW

4,0

4,0

4,0

4,0

1,0

1,0

1,0

1,0

Interkon
eksi Grid
150 kV
1,0 dengan
sistem
khatulisti
wa

02
0,2

6,6
1,9
1,0
09
0,9
0,1

8,0
14,6
1,9
1,0
09
0,9
7,5

14,6
1,9
1,0
09
0,9
6,9

14,6
1,9
1,0
09
0,9
5,9

11,6
1,9
1,0
09
0,9
2,5

11,6
1,9
1,0
09
0,9
2,0

11,6
1,9
1,0
09
0,9
1,5

11,6
1,9
1,0
09
0,9
1,0

11,6
1,9
1,0
09
0,9
0,4

8,2

LAMPIRA
AN B
AYAH OP
PERASI
WILA
INDO
ONESIA TIMUR

Lampiran B ini menjelaskan rencana


r
pe
engemban
ngan
ssistem kelistrikan di Wilayah Operasi
O
In
ndonesia Timur
T

432

LA
AMPIRAN B. WILAYAH OP
PERASI INDON
NESIA TIMUR
B1
1. SISTEM INT
TERKONEKSI KALIMANTAN
N SELATAN, TENGAH
DAN TIMUR
R (KALSELTE
ENGTIM)
B1
1.1.
Pro
oyeksi Kebutuh
han Tenaga Listrik
B1
1.2.
Neraca Daya
B1
1.3.
Pro
oyek-Proyek IP
PP Terkendala
B1
1.4.
Neraca Energi
B1
1.5.
Capacity Balance
e Gardu Induk
B1
1.6.
Rencana Pengem
mbangan Penya
aluran
B1
1.7.
Petta Pengembangan Penyaluran
B1
1.8.
Analisis Aliran Da
aya
B1
1.9.
Kebutuhan Fisik Pengembangan
P
n Distribusi
B1
1.10.
Pro
ogram Listrik Perdesaan
B1
1.11.
Pro
ogram Energi Baru
B
dan Terba
arukan
B1
1.12.
Pro
oyeksi Kebutuh
han Investasi
PE
ENJELASAN LAMPIRAN
L
B1
B2
2. SISTEM INT
TERKONEKSI SULAWESI UT
TARA, SULAW
WESI TENGAH
H
DA
AN GORONTA
ALO (SULUTTE
ENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI
SU
ULAWESI SEL
LATAN, SULAW
WESI TENGGA
ARA DAN SUL
LAWESI BARA
AT
(S
SULSELRABAR
R)
B2
2.1.
Pro
oyeksi Kebutuh
han Tenaga Listrik
B2
2.2.
Neraca Daya
B2
2.3.
Pro
oyek-Proyek IP
PP Terkendala
B2
2.4.
Neraca Energi
B2
2.5.
Capacity Balance
e Gardu Induk
B2
2.6.
Rencana Pengem
mbangan Penya
aluran
B2
2.7.
Petta Pengembangan Penyaluran
B2
2.8.
Analisis Aliran Da
aya
B2
2.9.
Kebutuhan Fisik Pengembangan
P
n Distribusi
B2
2.10.
Pro
ogram Listrik Perdesaan
B2
2.11.
Pro
ogram Energi Baru
B
dan Terba
arukan
B2
2.12.
Pro
oyeksi Kebutuh
han Investasi
PE
ENJELASAN LAMPIRAN
L
B2
2

433

NERACA DAYA
D
SISTEM--SISTEM ISOLATED
WILAYAH OPERASI
O
INDO
ONESIA TIMUR
Sistem Isola
ated Provinsi Kalimantan Sela
atan
Sistem Isola
ated Provinsi Kalimantan Teng
gah
Sistem Isola
ated Provinsi Kalimantan Timu
ur
Sistem Isola
ated Provinsi Sulawesi Utara
Sistem Isola
ated Provinsi Sulawesi Tengah
Sistem Isola
ated Provinsi Sulawesi Selatan
Sistem Isola
ated Provinsi Sulawesi Tenggara
Sistem Isola
ated Provinsi Maluku
M
Sistem Isola
ated Provinsi Maluku
M
Utara
Sistem Isola
ated Provinsi Papua
Sistem Isola
ated Provinsi Papua Barat
Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT
TB
Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT
TT

RENCANA
A PENGEMBAN
NGAN SISTEM
M KELISTRIKA
AN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI IND
DONESIA TIMU
UR
PROVINSI KALIMANTAN
K
N SELATAN
B3.
B4.
PROVINSI KALIMANTAN
K
N TENGAH
PROVINSI KALIMANTAN
K
N TIMUR
B5.
PROVINSI SULAWESI
S
UT
TARA
B6.
B7.
PROVINSI SULAWESI
S
TE
ENGAH
PROVINSI GORONTALO
G
B8.
PROVINSI SULAWESI
S
SE
ELATAN
B9.
PROVINSI SULAWESI
S
TE
ENGGARA
B10.
B11.
PROVINSI SULAWESI
S
BA
ARAT
PROVINSI MALUKU
M
B12.
B13.
PROVINSI MALUKU
M
UTA
ARA
PROVINSI PAPUA
P
B14.
PROVINSI PAPUA
P
BARA
AT
B15.
PROVINSI NUSA
N
TENGG
GARA BARAT (NTB)
(
B16.
PROVINSI NUSA
N
TENGG
GARA TIMUR (N
NTT)
B17.
B18.
B18.1.
B18.2.
B18.3.
B18.4.
B18.5.
B18.6.
B18.7.
B18.8.
B18.9.
B18.10.
B18.11.
B18.12.
B18.13.

434

LA
AMPIRAN
N B1

SISTE
EM INTER
RKONEKS
SI KALSEL
LTENGTIM
M

435

L
LAMPIRA
AN B1.1

PRO
OYEKSI KE
EBUTUHA
AN TENAG
GA LISTR
RIK
SIST
TEM INTER
RKONEKSI KALSE
ELTENGT
TIM

436

P
Proyeksi
k iK
Kebutuhan
b t h T
Tenaga Li
Listrik
t ik Sistem
Si t
Kalseltengtim
K l lt
ti
SISTEM

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

437
4

Wil KALSELTENG
Sistem Barito
Energi Produksi (GWh
Load Factor (%)
Beban Puncak (MW)

2,122
67
362

2,475
67
424

2,980
67
504

3,434
68
575

3,746
69
623

4,118
69
680

4,499
70
737

4,919
70
799

5,381
71
868

5,892
71
942

Wil KALTIM
Sistem Mahakam
Energi Produksi (GWh
L dF
Load
Factor
t (%)
Beban Puncak (MW)

1,757
70
288

2,246
69
371

2,787
69
460

3,282
69
544

3,686
69
610

4,021
69
666

4,371
69
723

4,744
69
785

5,148
69
852

5,571
69
922

INTERKONEKSI
KALSELTENG & KALTIM
Energi Produksi (GWh
3,879
Load Factor (%)
68
Beban Puncak (MW)
650

4,720
68
795

5,767
68
964

6,715
69
1,119

7,432
69
1,233

8,139
69
1,346

8,870
69
1,460

9,663
70
1,584

10,530
70
1,719

11,463
70
1,864

LA
AMPIRAN
N B1.2

N
NERACA
D
DAYA
SISTE
EM INTERKONEKSI KALSEL
LTENGTIM
M

438

MW

Grafik Neraca Daya Sistem Kalseltengtim


ReserveMargin

3,500

PLTGPLN

PLTG IPP
61%

PLTGIPP
PLTAPLN

3,000

63%

PLTUPLN

69%

PLTUIPP

PLTG PLN

75%

PLTUSewa

2,500

70%

PembangkitIPP &Sewa
PembangkitTerpasang PLN
BebanPuncak

2,000

70%

PLTA PLN
PLTGU IPP

71%
76%

PLTU PLN

1,500
33%
1,000

500

PLTU IPP

36%

Pembangkit IPP & Sewa

PLTU Sewa

Pembangkit Terpasang PLN


2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

439
439

Neraca Daya Sistem Kalseltengtim


No.
1

4
5

440

Kebutuhan dan Pasokan


Kebutuhan
Keb
t han
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Terpasang
PLN
SWASTA
IPP
Sewa & Excess Power
Retired & Mothballed
PLTG
PLTD
Tambahan Kapasitas
SEWA
Rencana
PLTG Bontang (Gas Storage)
PLTU Sewa Asam Asam (3x50 MW)
PLTU Sewa Kariangau (2x120 MW)
PLN
On Going Project
Pulang Pisau (FTP1)
Asam Asam (FTP1)
Kaltim Peaking (APBN)
Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1)
Sampit (APBN)
Rencana
Kaltim (Peaking)
Kalsel (Peaking)
Bangkanai (FTP2)
Kelai (Kaltim)
Kusan
IPP
On Going
Mahakam (Senipah)
Pangkalan Bun
Rencana
Kalsel - 1 (FTP2)
Embalut (Ekspansi)
Kaltim - 2 (FTP2)
Kaltim ((MT))
Kalteng - 1
Kaltim (PPP)
Jumlah Pasokan (Terpasang)
Reserve Margin (Terpasang)

Unit
GWh
GWh
%
MW
MW

MW
MW
MW
MW

2011
1 798
1.798
3.879
68,1
650
2
738
479
259
85
174
-

PLTG
PLTU
PLTU

PLTU
PLTU
PLTG
PLTU
PLTU

2012
842
4.720
67,8
795
6
752
493
259
85
174
-

2015
2 666
2.666
7.432
68,8
1.233
3
355
270
85
85
90
90

2016
2 916
2.916
8.139
69,0
1.346
3
355
270
85
85
-

2017
3 191
3.191
8.870
69,4
1.460

2018
3 191
3.191
9.663
69,6
1.584

2019
3 191
3.191
10.530
69,9
1.719

2020
3 191
3.191
11.463
70,2
1.864

355
270
85
85
-

355
270
85
85
-

355
270
85
85
-

355
270
85
85
-

150
240

60

60

130
100
220
50
50
50
140

70

70
75

75

65

82
14

PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
PLTU
MW
%

2014
2 439
2.439
6.715
68,5
1.119
3
445
360
85
85
30
30

100

PLTG
PLTG
PLTG
PLTA
PLTA

PLTG
PLTU

2013
2 232
2.232
5.767
68,3
964
3
621
390
231
85
146
102
20
82

100

100

100

100

50
55 *))
200
200
882
36

1.056
33

1.697
76

1.911
71

*) Kemungkinan bisa masuk lebih awal 1 unit tahun 2013


**) Kemungkinan tidak jalan, tidak diperhitungkan dalam reserve
i

2.091
70

2.291
70

2.556
75

2.681
69

2.806
63

3.006
61

L
LAMPIRA
AN B1.3

P
PROYEK-PROYEK
K IPP TERKENDALA
A
SIS
STEM INTE
ERKONEK
KSI KALS
SELTENG
GTIM

441

B1.3

Proyek-proy
yek IPP Yang Terkendala
T

gelolaan proyekk IPP terdapatt beberapa pro


oyek pembangkkit IPP
Dalam peng
yang Perjan
njian Pembelian
n Tenaga Listrrik (PPTL) nya mengalami ke
endala.
IPP dengan PPTL terkenda
ala dikategorikkan dalam 3 kategori, yaitu:
Ka
ategori 1: tah
hap operasi yaitu
y
tahap dimana
d
IPP sudah
beroperasi namun
n bermasalah.
Ka
ategori 2, tahap
p konstruksi dim
mana IPP suda
ah mencapai fin
nancial
clo
osing tapi tidak kunjung konstrruksi.
Ka
ategori 3, tahap
p pendanaan dimana IPP sudah memiliki PPTL
namun tidak kunjung mencapai financial closin
ng (FC).
Pembangkitt IPP yang terke
endala di sistem
m Kalseltengtim
m adalah,
PL
LTU Embalut 2xx22,5 MW masuk dalam kateg
gori 1
PL
LTU Tanah Gro
ogot 2x7 MW masuk
m
dalam ka
ategori 2
PL
LTU Pangkalan Bun 2x5,5 MW
W masuk dalam
m kategori 2
PL
LTA MT Kaltim 2x27,5 MW ma
asuk dalam kattegori 3
Saat ini pen
nyelesaian IPP terkendala terssebut sedang diproses
d
oleh Komite
K
Direktur unttuk IPP dan Kerjasama
K
Kem
mitraan dan sebagian dianta
aranya
sudah dalam
m tahap penyelesaian akhir.

442

LA
AMPIRAN
N B1.4

NE
ERACA ENERGI
SISTE
EM INTER
RKONEKSI KALSEL
LTENGTIM
M

443

Proyeksi Neraca Energi


Sistem Kalseltengtim
(GWh)

444
4

Jenis

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Batubara

1.547

2.365

3.172

4.314

5.065

5.884

6.599

7.219

7.770

8.686

Gas

185

333

1 309
1.309

1 628
1.628

1 658
1.658

1 444
1.444

1 445
1.445

1 442
1.442

1 442
1.442

1 448
1.448

LNG

156

155

156

155

156

156

234

310

311

HSD

778

705

247

238

234

230

235

227

229

238

MFO

998

734

456

Geot.

Hydro

106

106

106

106

106

300

300

540

780

780

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer


Sistem Kalseltengtim

Jenis

Satuan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Batubara

10^3 ton

1.054

1.594

2.259

3.171

3.648

4.012

4.546

4.928

5.319

5.872

12

13

13

14

13

13

13

13

Gas

bcf

LNG

2020

445
4

HSD

10^3 kl

271

233

52

19

19

15

18

14

15

18

MFO

10^3 kl

242

198

124

10

Geot.

Hydro

L
LAMPIRA
AN B1.5

C
CAPACITY
Y BALAN
NCE GARD
DU INDUK
K
SISTEM INTE
ERKONEK
KSI KALS
SELTENGT
TIM

446

Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah


CAPACITY
No.

NAMA[perGI.xls]GI
[
l]

TEG
(KV)

150/20

GICEMPAKA
BebanPuncak(MW)

70/20

GIBANJARMASIN
BebanPuncak(MW)

70/20

GITRISAKTI
BebanPuncak(MW)

70/20

GITRISAKTI
BebanPuncak(MW)

150/20

GIMANTUIL
BebanPuncak(MW)

150/20

GISEBERANGBARITO
BebanPuncak(MW)

150/20

GISELAT
BebanPuncak(MW)

150/20

447
4

[perGI.xls]GICEMPAKA
BebanPuncak(MW)

Jml

2011

Kap
[MVA]

Total
Total
Kap
[MVA]

60

60

Peak
Peak
Load
[MW]

Add
Add
Trafo
[MVA]

2012
Peak
Peak
Load
[MW]

Add
Add
Trafo
[MVA]

2013

2014

Peak
Peak
Peak
Peak
AddTrafo
Load
Load
[MVA]
[MW]
[MW]

Add
Add
Trafo
[MVA]

2015
Peak
Peak
Load
[MW]

2016

Add
Add
Trafo
[MVA]

Peak
Peak
Load
[MW]

Add
Add
Trafo
[MVA]

2017

2018

2019

2020

Peak
Peak
Peak
Peak
Peak
Peak
Peak
Peak
AddTrafo
AddTrafo
AddTrafo
AddTrafo
Load
Load
Load
Load
[MVA]
[MVA]
[MVA]
[MVA]
[MW]
[MW]
[MW]
[MW]

31.4
58%

33.1
61%

34.6
64%

39.9
74%

37.7
70%

41.6
77%

45.5
42%

60.0

49.8
46%

54.7
51%

59.9
55%

1
2.0

10
10
6.0 12.00

22

8.2
42%

8.3
42%

9.0
45%

9.9
50%

10.1
51%

10.7
54%

11.1
56%

11.6
59%

12.2
61%

12.7
64%

1
1.0
1
1

6
10.0
20
30

35.3
59%

36.1
61%

40.0
49%

upratingdari6MVA
30.0 44.8
55%

46.8
58%

50.3
62%

53.5
66%

57.0
52%

uprating10MVA
30.0
60.8
55%

64.7
65%

2
1.0
2

6
15.0
10

21.0
50%

21.6
51%

21.2
50%

27.4
65%

28.9
68%

31.3
45%

60

28.1
52%

29.3
54%

33.0
61%

37.7
70%

40.2
37%

26.2
49%

27.6
51%

19.5
36%

22.4
42%

14.3
40%

14.2
39%