RENCANA USAHA

PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

PT PLN (PERSERO)
2011
20
11 - 2020
2020

PLTA Koto Panjang, Sumatra

Electricity for a better life

MEI{TERIENERGIDAN$UMBERDAYAMINERAL
R E P U B L I KI N D O N E S ! A
KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
N O M O R: 3 3 1 4 R / Z L / M E M / 2 O L L
TENTANG
PENGESAHAN RENCANA USAHA.PENYEDIAAN

TENAGA L1STRIK
pr pLN (PERSERO)
TAHUN2oli S.b. 2o2o

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA,
Membaca
: Surat
Direktur
pT
p_LN
Utama
-oe'"embe,
(persero)
Nomor
ianggal_

o-20
99q?ql1q1lq$y!/,?94
2orr,
Nomor
o4o32/101/DTRUT'1?9]]
D;;;*u"i
*dnEE4
2oir,'"i",
Nomoro4Lo2/ Dryur/2oTT-R
t"s;;";8-pt Desember
2o1r
,ro1i penlJsahan
perihal permbhonin
-a-----E-pLN
r\vr
2oII

- 2o2O;

.

nu-frir s

(persero)

r

Menimbang : a. bahwa sehrrlnnqg._q."?gan
telah terjadi. pelgb_ahan yang
signifikan

p?da sektor d""gi .!Girii,'il#r.a
RUprL Tdhun
2O1Os.d. 2019 sebagaimanE-b";;;'^ili;.;;f
aitetaptan-aaUm
- Keputusan
"s

Menteri Egglgi- aan uml-&
i,iorri5.*id i o
20/ M'ry.p.olg tanggaia
+/
iii,'
p.rrr
disesuaikan
..1.,-rf'fo
-b
dengan perkembangan"Situ""i
t..kiii^vr

b. bahwa berdasarkan pertimb.angan sebagaimana
dimaksud
dalam huruf a dan' sesuai kEtentuan" pasai -spemerintah--Ntmor
Peraturan
10
"v"i"[gl
?"ii"lig
Penyediaan dan pemanfaatan Tenag"i"tu"--r^gs"9
uJtiit*"u"g""i*i".
telah dua kari diubarr teralihi"i
-t-006, a.rrg"r, peraturan
Pemerintah -Nomor 26 fahu''
-aln
-fii"#;-bivi"
menetapkan
ilrru
Keputusan

Menterionergi

na'ifi1,ftr
penggse.han Renc?na
usat a--eenyed.iaan Tenasa
Listrik-pT elNr perslrol-i"i.,rn
tentans

2of i .la.-zoZo;

Mengingat

:

1. Vndang-undl5rg
zoog tentanry
._Nomor g0 Tahun
KetenaEalistrikin (r,emEaian
Negara RI Tahun 2oog wo*o?
13S,Talmbahant emUaian rv.g"r? ni N;;;; 5oS2);
2. Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 19g9 .
tentansr
dan pemanialtan {;"ag-" ii"t.if, "ir,";t##
lgnvediaan
NegaraRI-Tahun 19g9 Nomor z4,Tamiahan Lembaran

Nes?{qRtrNomor3s94)sebagaim;"4;J;i;

arr" r."ri-airb;i,
terakhir dengan peraturan Femerlnl"r, irio*o
r 26 Tahun
Negara RI rahun-- iooo Nomor s6
?ooq
.(Lembaran
Tambahan Lembaran lVegaraRI fvomoi+OZ-S);
3. Keputusan presiden Nomor s9/p rahun 2orr tanggal
18
Oktober 2OIl;
4. Peraturan Me$91i Energi dan sumber Daya Minerar Nomor
18 Tahun 2oLo tentz.ng_organis""T'-d"r, Tata Keria
"sum6ei- D;y"Kementerian, Er?ryi
Mir"rlj* (e^"iit"
^{*"
NegaraRI Tahun 2d'10Nomor Sd2it
5- Keulfrrs.an

-2
5. [gpltgqqt] {Iglteri Energi dan sumber Dava Mineral Nomor
o.v"
*',b zooa' t"
/ 20o8 fangs3113_
_N
722?^\ l?IUmum
/ Me\4
Kencana
Ketenagalistiikan Nasional;
",
"1;s
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

KEPUTUSANMENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
TENTANG PENGESAHAN RENCANC U-S-NHA PENYEDiAAN
TENAGALISTRIK PT PLN (PERSEROIrNH_UNi-ibN S.b. 'b'0._'

KESATU

Tenaga Listrik pr
\{e3sgrahkan Rencana usaha p^eny_ediaan
(ne_rsero)
Tahun
2orr
s.d,.
2otio
tercantum
fl,,n
oaram
Lampran- yang. merupakan
""tj"e.imana
bagiantidak terpisahkan
r
dari Keputusan nAdnteiiini.

KEDUA

PT. .PLN (Persero) meny?Fpaikan raporan perkembansan
^listrik
pelg.ksqn?an
usahh penyi:aiaan tenaga
J;-;;;;t";;
pg.ti"p 3 (tiga).butan tcepladaMenteri E;.rgi A;" s-"*b.iij"y;
Mineral c.q. Direktur Jenderar Ketenagalist?ikan.

KETIGA

Pjtg"tl
{itetapkannya^ Keputusan Menteri ini, Keputusan
-Jufinaya fr{ineiat
-t.irtl"g Nomdr 20;6
Vg$".fi-_pnergi dan Sumber
tanggal
pengesahan
8
icjrcj
f/20/ME\4/2o10^
Rencana
usaha ^p^enye"d'iaan
tenaga r,i"tril.--pr pLN (persero)
Tahun2010s.d.

2019dicabutaa"?inv"tar."" tia"r. u"ii"r.i,]'",

KEEMPAT

Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

,

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Desember 2OIL
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA.
trd.
JERO WACIK

Tembusan:
^1. Menteri Dalam Negeri
2. Menteri Nesara peiencanaan pembangul?n Nasionar/Kepala.Bapp.enas
3. sekretaris Jenderet;_L(";;nierian Bnergi dan.
sumber Dava Mrnerar
4. InspekturJenderar,'

t

Kementlrian

J ff;#;
fi#i riiir,"..r
ktur .rend'eiaf ai il iiir.'rne-"LrgT
fi
*",.
d
#;
E
san
sumber Daya
il^llt Bl'e
"
":lJi'dll.,,
Para

6.
Gubernur di seluruh Indonesia
7 . l?tq Bup_atilWalikotadi seluruh Indoesia
B . Drrektur Utama PT pLN (persero)
Salinansesuaidenganaslinya

PT PLN (PERSERO)

KEPUTUSANDIREKSTPT PLN (PERSERO)

NOMOR:1483 .K//D|R/2011

TENTANG
RENCANA USAHA PENYEDIAANTENAGA LISTRIK(RUPTL)
PT PLN (PERSERO)TAHUN 2011 -2020

PT PLN(PERSERO)
DTREKST
Menimbang

Mengingat

bahwa MenteriEnergi dan Sumber Daya Mineraltelah mengesahkan
Nasional(RUKN) pada tanggal 13
RencanaUmum Ketenagalistrikan
November2008;

:a

.4

.

b.

untukmenyediakan
rencanaPemerintah
bahwadalamrangkamendukung
tenaga listrik bagi masyarakatIndonesiasesuai RUKN sebagaimana
telahmembuat
dimaksuddalamhurufa di atas,maka PT PLN (Persero)
rencana pengembanganketenagalistrikanyang terpadu dengan
di
memperhatikanaspirasi masyarakatdelam sektor ketenagalistrikan
seluruhlndonesiayang dituangkandalam RencanaUsaha Penyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN(Persero)Tahun2011-2020;

c.

bahwa RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrik(RUPTL)PT PLN
(Persero)
sebagaimana
dimaksuddalamhurufb di atas,
Tahun2011-2020
perluditetapkan
denganKeputusanDireksiPT PLN(Persero).

Rl Nomor19 Tahun2003 tentangBadanUsahaMilik
Undang-Undang
Negara;
Terbatas;
Rl Nomor40 Tahun2007tentangPerseroan
2 . Undang-Undang
Rl Nomor30 Tahun2009tentangKetenagalistrikan;
3 . Undang-Undang
dan
Rl Nomor10 Tahun1989tentangPenyediaan
4 . PeraturanPemerintah
telahdiubahdenganPeraturan
TenagaListriksebagaimana
Pemanfaatan
Rl Nomor
Pemerintah
Rl Nomor 3 Tahun2005dan Peraturan
Pemerintah
26 Tahun2006;
Bentuk
Rl Nomor23Tahun1994tentangPengalihan
Peraturan
Pemerintah
5.
Perseroan
(Perum)
Perusahaan
Negara
Menjadi
Listrik
Perusahaan
Umum
(Persero);
6.
PeraturanPemerintahRl Nomor 45 Tahun 2005 tentang pendirian,
BadanUsahaMilikNegara;
Pengawasan
dan Pembubaran
Pengurusan,
7.
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
|;
istrikanNasiona
tentang RencanaUmum Ketenagal
2682.K21IMEM/2008
8.
AnggaranDasarPTPLN(Persero);
9.
KeputusanMenteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEPjis KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha Milik Negara
58/MBU/2008
dan KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha
Nomor KEP-25AMBU|2O09
tentang Pemberhentiandan
Milik Negara Nomor KEP-2'2A/MBUI2A11
Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT
PerusahaanListrikNegara;
tentang
DireksiPT PLN (Persero)Nomor001,1(030/DlR/1994
1 0 . Keputusan
PemberlakuanPeraturan Sehubungan Pengalihan Bentuk Hukum
Perusahaan;
tentang
1 1 KeputusanDireksiPT PLN (Persero)Nomor 304.}</DlR/2009
Keputusandi LingkunganPT PLN
BatasanKewenanganPengambilan
DireksiPT PLN
(Persero)senbagaimana
telahdiubahdenganKeputusan
(Persero)
1;
Nomor1387.l(DlRl2O1
t.

12. KeputusanDireksi PT PLN (Persero)Nomor 017.K1D1N2010
tentang
Organisasidan Tata Kerja PT PLN (Persero)sebagaimanatelah diubah
denganKeputusan
DireksiPT PLN(Persero)Nomor055.K1DlR/2010.
Memperhatikan

SuratDirekturUtamaPT PLN (Persero)Nomor OO761!4O2|D|RUT/2011
tanggal
14 November2011,Perihal: MekanismePelaporandan Pertanggungjawaban
KepalaSatuan/Sekretaris
Perusahaan/Kepala
Divisi di LingkunganPT PLN
(Persero).
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

KEPUTUSAN
DIREKSIPT PLN (PERSERO)TENTANG RENCANAUSAHA
PENYEDTAAN
TENAGAL|STR|K(RUPTL)pT pLN (PERSERO)
TAHUN20112020.

PERTAMA

RencanaUsahaPenyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN (Persero)
Tahun
2011-2020adalah sebagaimanatercantumdalam LampiranKeputusandan
merupakan
bagianyangtidakterpisahkan
dariKeputusan
ini.

KEDUA

RUPTL PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020 sebagaimanatercantum dalam
Lampiran Keputusan ini digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan
Rencana Jangka Panjang Perusahaan(RJPP) dan penetapanRencana Kerja
dan AnggaranPerusahaan(RKAP)PT PLN (Persero).

KETIGA

RUPTL PT PLN (Persero)Tahun 2011-2020sebagaimana dimaksud dalam
DiktumPERTAMA, akan ditinjauulang setiaptahun sesuaiperkembanganyang
terjadi.

Keputusan
ini mulaiberlakuterhitung
sejaktanggalditetapkan.

Ditetapkandi Jakarta
padatanggal,20 Desernber 2011
DIREKTUR UTAMA,

KATA PENGANTAR
Rencana Usaha PenyediaanTenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2011-2020 ini
disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
PemanfaatanTenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan PemerintahNomor 26 Tahun 2006, yang menyebutkan
bahwa badan usaha yang memilikiwilayah usaha wajib membuat Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum
Ketenagalistrikan
Nasional(RUKN).
RUPTL ini memperhatikanketentuan-ketentuan
dalam Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682.K21lMEMl2008 tentang
Rencana Umum Ketenagalistrikan
Nasional2008 - 2027 dan draft Rencana
Umum KetenagalistrikanNasional 2O1O- 2029 yang telah disusun oleh
Kementerian
EnergidanSumberDayaMineral.
Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikangambaran mengenai
RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrikoleh PT PLN (Persero)di seluruh
lndonesiauntuk kurunwaktu 2011 - 2020 yang akan digunakansebagaiacuan
dalam penyusunanrencanaperusahaanjangka panjangdan sebagaipedoman
dalam penyusunanprogramkerjatahunan.
Sejalan dengan perkembangandan perubahankondisi industri kelistrikandl
Indonesia, RUPTL ini akan diperbaharul secara berkala agar rencana
pengembangansistemkelistrikanmenjadilebihrelevan.
Akhirnya kami mengucapkanterima kasih dan penghargaanatas kontribusi
semua pihaksehinggaRUPTLini dapatdiselesaikan.

Jakarta. Desember2011
DIREKTUR
UTAMA

,4u1h4/
ruuJ
eervruo.l
RUPTL2011-2020

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................ii
SINGKATAN DAN KOSAKATA ...............................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Landasan Hukum ................................................................................................... 3
1.3 Visi dan Misi Perusahaan ...................................................................................... 3
1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL ............................................................ 4
1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya ...................................... 5
1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha ...................................................................... 8
1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat ....................................................... 8
1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur ...................................................... 9
1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali .............................................................. 10
1.7 Sistematika Dokumen RUPTL ............................................................................. 10
BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA ......................................12
2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
Kebutuhan Tenaga Listrik ........................................................................................... 12
2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit.............................................. 13
2.3 Kebijakan PengembaNgan Transmisi ................................................................. 17
2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi ................................................................... 19
2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan ...................................................... 20
2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan .................................... 21
BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI ...............................................................23
3.1 Penjualan Tenaga Listrik ..................................................................................... 23
ii

RUPTL 2011- 2020

3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan............................................................................. 26
3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur .................. 27
3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali .............................................................. 28
3.3 Kondisi Sistem Transmisi .................................................................................... 29
3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur ...... 29
3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali ............................................................. 31
3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali ..... 32
3.4 Kondisi Sistem Distribusi ..................................................................................... 33
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi ................................................................. 33
3.4.2 Keandalan Pasokan ......................................................................... 33
3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak ..................................................................... 33
3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek ........................................ 34
3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ……………………………………………………………………………35
3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali ............................................. 39
BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER............................................................. 41
4.1 Batubara .............................................................................................................. 41
4.2 Gas Alam ............................................................................................................. 43
4.2.1 LNG dan Mini-LNG .......................................................................... 46
4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas) ..................................................... 47
4.3 Panas Bumi ......................................................................................................... 48
4.4 Tenaga Air ........................................................................................................... 49
4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya ................................................................. 50
4.6 Nuklir.................................................................................................................... 50

RUPTL 2011- 2020

iii

BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 .........................52
5.1 Kriteria Perencanaan ........................................................................................... 52
5.1.1 Perencanaan Pembangkit ................................................................ 52
5.1.2 Perencanaan Transmisi ................................................................... 54
5.1.3 Perencanaan Distribusi .................................................................... 55
5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik............................................ 57
5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi ..................................................................... 58
5.2.2 Pertumbuhan Penduduk................................................................... 59
5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020 ............................................... 60
5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit ................................................................ 64
5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit .................................................. 64
5.4.2 Program

Percepatan

Pembangkit

Berbahan

bakar

Batubara

(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009) ........................................... 65
5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 ...................................... 67
5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan
PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. ........................................... 69
5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang ............ 69
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) .............. 69
5.4.7 Penambahan

Kapasitas

Pembangkit

Pada

Wilayah

Operasi

Indonesia Barat dan Indonesia Timur ......................................................... 70
5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali ............................. 74
5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta .................................................................. 79
5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar ....................................... 82
5.5.1 Sasaran Fuel Mix.............................................................................. 82
5.5.2 Sistem Jawa-Bali .............................................................................. 86
5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat ..................................................... 87

iv

RUPTL 2011- 2020

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur.................................................... 89
5.6 Analisis Sensitivitas ............................................................................................. 91
5.7 Proyeksi Emisi CO2............................................................................................. 93
5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) ........................................... 93
5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 ............................................. 97
5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism) ............................................... 101
5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk...................................... 102
5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Barat…………… ....................................................................................... 103
5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Timur…… .................................................................................................. 105
5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali ................. 106
5.10 Pengembangan Sistem Distribusi .................................................................... 109
5.9.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur ................ 109
5.9.2 Sistem Jawa-Bali ........................................................................... 110
5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan ............................... …………………………111
5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan…………………………………. 112
5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar ................................................................. 114
BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI.............................................................. 117
6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia .......................................................... 117
6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali .......................................................... 118
6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ........................................................................................................................ 120
6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP .................................................. 122
6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN .................................... 122
6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan ................................. 123
RUPTL 2011- 2020

v

6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan ........................................................... 123
6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan ............................................................... 123
6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL ........................ 126
BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 ...................................................... 127
7.1 Identifikasi Risiko ............................................................................................... 127
7.2 Pemetaan Risiko ................................................................................................ 128
7.3 Program Mitigasi Risiko ..................................................................................... 130
BAB VIII KESIMPULAN ........................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 132 

vi

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR BAB I
Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL ........................................................... 7
Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) ....................................... 10
GAMBAR BAB V
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 .... 62
Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020........... 63
Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan
RUKN ................................................................................................................. 63
Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 85
Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 90
Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Jawa Bali Skenario Baseline .............................................................................. 94
Gambar 5. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali
Skenario Baseline .............................................................................................. 95
Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline ......................................................... 96
Gambar 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera
Skenario Baseline .............................................................................................. 97
Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) ........ 98
Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali ........ 99
Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat .................................................................................................. 99

RUPTL 2011- 2020

vii

Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 100
GAMBAR BAB VI
Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak
Termasuk IPP) .................................................................................................. 118
Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali ........ 119
Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat ................................................................................................................. 120
Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Timur… ............................................................................................ 121
Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ............ 122

viii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR TABEL

TABEL BAB I
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL .......................... 7
TABEL BAB III
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) ............................................... 23
Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit]................................. 24
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) .............................................. 25
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010 ......... 26
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 ............................................................ 27
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) tahun 2010 .................................................................... 28
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 .. 29
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA) ............................................................................... 30
Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (kms) ................................................................................ 30
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000) ..... 31
Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali ..................... 31
Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT) .................. 32
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%) ........................................................... 33
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN...................................................................... 33
Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012 ....... 35
Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun
2015 ................................................................................................................... 37

TABEL BAB IV
Tabel 4. 1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali ......... 59
Tabel 4. 2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali .. 59

RUPTL 2011- 2020

ix

Tabel 4. 3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power
Development....................................................................................................... 60
Tabel 4. 4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan .................. 60

TABEL BAB V
Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ..................................................... 59
Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ........................................ 59
Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) ............................................................. 60
Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan ... 60
Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan ............. 61
Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio
Elektrifikasi .......................................................................................................... 62
Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar .............................................................. 65
Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW ......................... 66
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 .............................. 68
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 ................................. 69
Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) ............. 70
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) ... 72
Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) .. 72
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) ............................ 74
Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 .................................... 76
Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 ........................... 79
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur .................................................................................................. 80
Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali ....................................................... 81
Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar .. 83
Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis
Bahan Bakar (%) ................................................................................................ 83
Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 84
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia ................................................ 85
Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali .................................... 87
Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat ........... 88
x

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 89
Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur ......... 90
Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas ................ 91
Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar
............................................................................................................................ 92
Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) . 95
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) . 96
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM
dan VCM .......................................................................................................... 101
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia ..................................... 102
Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia ................ 103
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat 105
Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi
Indonesia Barat ................................................................................................ 105
Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia ................................... 109
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 109
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur 109
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali.......................... 110
Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014............. 111
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia
2011-2014 (Juta Rp) ........................................................................................ 112
Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil .............. 114
Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil ................... 114
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115
Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115

RUPTL 2011- 2020

xi

TABEL BAB VI
Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) . 117
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali..................... 118
Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Barat................................................................................................. 120
Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 121
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ................. 122
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2010-2015 ........ 124
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Milyar Rp) ................................................ 126  

xii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A. WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

134

A1.

137

A2.

SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA
A1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

138

A1.2.

Neraca Daya

140

A1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

145

A1.4.

Neraca Energi

147

A1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

150

A1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

173

A1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

191

A1.8.

Analisis Aliran Daya

201

A1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

212

A1.10.

Program Listrik Perdesaan

224

A1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

236

PENJELASAN LAMPIRAN A1

239

SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT

252

A2.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

253

A2.2.

Neraca Daya

255

A2.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

258

A2.4.

Neraca Energi

260

A2.5.

Capacity Balance Gardu Induk

263

A2.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

266

A2.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

270

A2.8.

Analisis Aliran Daya

272

A2.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

276

A2.10.

Program Listrik Perdesaan

278

A2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

280

PENJELASAN LAMPIRAN A2

RUPTL 2011- 2020

282

xiii

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

290

A3.

PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

292

A4.

PROVINSI SUMATERA UTARA

304

A5.

PROVINSI RIAU

315

A6.

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

326

A7.

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

334

A8.

PROVINSI SUMATERA BARAT

340

A9.

PROVINSI JAMBI

350

A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN

358

A11. PROVINSI BENGKULU

367

A12. PROVINSI LAMPUNG

373

A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT

381

A14. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

390

A14.1.

Sistem Isolated Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

391

A14.2.

Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara

401

A14.3.

Sistem Isolated Provinsi Riau

403

A14.4.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau

411

A14.5.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

420

A14.6.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat

423

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

432

B1. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH
DAN TIMUR (KALSELTENGTIM)

xiv

435

B1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

436

B1.2. Neraca Daya

438

B1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

441

B1.4. Neraca Energi

443

B1.5. Capacity Balance Gardu Induk

446

B1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

454

B1.7. Peta Pengembangan Penyaluran

461
RUPTL 2011- 2020

B1.8. Analisis Aliran Daya

464

B1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

471

B1.10.

Program Listrik Perdesaan

476

B1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

481

PENJELASAN LAMPIRAN B1

483

B2. SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA, SULAWESI TENGAH
DAN GORONTALO (SULUTTENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI
SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI
BARAT (SULSELRABAR)
494
B2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

496

B2.2. Neraca Daya

499

B2.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

504

B2.4. Neraca Energi

506

B2.5. Capacity Balance Gardu Induk

511

B2.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

525

B2.7. Peta Pengembangan Penyaluran

535

B2.8. Analisis Aliran Daya

542

B2.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

549

B2.10.

Program Listrik Perdesaan

551

B2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

553

PENJELASAN LAMPIRAN B2

556

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

571

B3.

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

572

B4.

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

582

B5.

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

591

B6.

PROVINSI SULAWESI UTARA

601

B7.

PROVINSI SULAWESI TENGAH

611

B8.

PROVINSI GORONTALO

619

B9.

PROVINSI SULAWESI SELATAN

626

B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA

634

B11. PROVINSI SULAWESI BARAT

642

RUPTL 2011- 2020

xv

B12. PROVINSI MALUKU

648

B13. PROVINSI MALUKU UTARA

656

B14. PROVINSI PAPUA

662

B15. PROVINSI PAPUA BARAT

671

B16. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

677

B17. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

687

B18. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI
INDONESIA TIMUR
695
B18.1.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan

696

B18.2.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah

699

B18.3.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur

707

B18.4.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara

723

B18.5.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah

728

B18.6.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan

741

B18.7.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara

743

B18.8.

Sistem Isolated Provinsi Maluku

749

B18.9.

Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara

757

B18.10. Sistem Isolated Provinsi Papua

763

B18.11. Sistem Isolated Provinsi Papua Barat

771

B18.12. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB

775

B18.13. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT

783

LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI

795

C1.

797

xvi

SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI
C1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

798

C1.2.

Neraca Daya

805

C1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

817

C1.4.

Neraca Energi

819

C1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

822

C1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

850

C1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

882

C1.8.

Analisis Aliran Daya

894
RUPTL 2011- 2020

PROVINSI JAWA TENGAH 997 C6. PROVINSI BANTEN 979 C4. PROVINSI BALI 1017 LAMPIRAN D. PROVINSI JAWA TIMUR 1009 C8.11. PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA 968 C3. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 921 C1.C1.10. Proyeksi Kebutuhan Investasi 930 PENJELASAN LAMPIRAN C1 938 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI JAWA BALI 966 C2. Program Listrik Pedesaan 923 C1. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 1005 C7. PROVINSI JAWA BARAT 986 C5.9. ANALISIS RISIKO RUPTL 2011.2020 1023 xvii .

yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi yang berbeda tegangan. persyaratan dan standar untuk menjamin keamanan. Tax. seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV Integrated Gasification Combined Cycle RUPTL 2011.SINGKATAN DAN KOSAKATA ADB : ASEAN Power Grid : Aturan Distribusi : Aturan Jaringan : Beban : Beban puncak : BPP BTU Capacity balance : : : Captive power : CCS CCT CDM : : : COD Daya mampu Daya terpasang DAS DMO EBITDA ERPA Excess power : : : : : : : : FSRU GAR : : GRK HSD HVDC IBT : : : : IGCC : xviii Air Dried Basis. keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan.2020 . merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan total moisture Gas Rumah Kaca High Speed Diesel Oil High Voltage Direct Current Interbus Transformer. merupakan besaran kebutuhan tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh. adalah nilai tertinggi dari langgam beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW Biaya Pokok Penyediaan British Thermal Unit Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh gardu induk tersebut. merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan inherent moisture saja Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan dan persyaratan untuk menjamin keamanan. keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Sering disebut sebagai demand. dinyatakan dalam MVA Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan. umumnya pelanggan industri dan komersial Carbon Capture and Storage Clean Coal Technology Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme Pembangunan Bersih Commercial Operating Date Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate Daerah Aliran Sungai Domestic Market Obligation Earning Before Interest. Depreciation and Amortization Emission Reduction Purchase Agreement Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli oleh PLN Floating Storage and Regasification Unit Gross As Received. MW atau MVA tergantung kepada konteksnya Atau peak load / peak demand.

menyatakan panjang konduktor saluran transmisi Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya mendekati akhir Liquified Natural Gas Loss of Load Probability. prakiraan pemakaian energi listrik di masa depan Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak. menyatakan panjang jalur saluran transmisi kilometer-sirkuit.2020 Independent Power Producer Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik bertegangan 20 kV Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik bertengangan 220 V kilometer-route. satuan yang biasa digunakan untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu Million Metric Standard Cubic Foot per Day Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban puncak dan kapasitas pembangkit Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa melihat waktu terjadinya beban puncak Pembangkit pemikul beban puncak Demand forecast.IPP JTM : : JTR : kmr kms Life Extension : : : LNG LOLP : : Load factor : MFO MMBTU : : Mothballed MP3EI : : MMSCF : MMSCFD Neraca daya : : Non Coincident Peak Load Peaking Prakiraan beban : : : Reserve margin : Rasio elektrifikasi : SFC Tingkat cadangan : : Ultra super critical : WKP : RUPTL 2011. satuan yang biasa digunakan untuk mengukur kalori gas Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Million Metric Standard Cubic Foot. merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW puncak Marine Fuel Oil Million Metric BTU. suatu indeks keandalan sistem pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas pembangkit Faktor beban. Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan diatas titik kritis air Wilayah Kerja Pertambangan xix . dinyatakan dalam % Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan jumlah keseluruhan rumah tangga Specific Fuel Consumption Reserve margin) adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak.

Didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL. atau RUPTL. Dengan demikian rencana pengembangan sistem yang diperlukan PLN harus berjangka cukup panjang.1 LATAR BELAKANG PT PLN (Persero) selanjutnya disebut PLN sebagai sebuah perusahaan listrik merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang lead time-nya relatif panjang. diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara kelas 1. Hal ini penting dilakukan karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya dalam jangka panjang. Sebagai contoh.000 MW RUPTL 2011.000 MW1 mulai dari rencana awal hingga beroperasi. 1 Misalnya PLTU Indramayu unit 4 dengan ukuran unit 1.BAB I PENDAHULUAN 1. dalam arti PLN tidak sembarang melakukan proyek kelistrikan tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik. sehingga PLN secara alamiah perlu mempunyai sebuah rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang. Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang dapat menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan. agar dapat mengakomodasi lead time yang panjang dari proyek-proyek kelistrikan. disusun untuk mencapai tujuan tertentu serta berdasarkan pada kriteria perencanaan dan kebijakan tertentu. Untuk mencapai hal tersebut PLN telah menyusun sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang disebut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi PLN sepuluh tahun mendatang yang optimal. yaitu 10 tahun.2020 1 . dokumen perencanaan ini juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan. Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang juga didorong oleh keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi yang efisien.

Namun demikian proses optimisasi perencanaan tetap dilakukan per sistem tenaga listrik apabila telah ada jaringan interkoneksi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. Selanjutnya sejalan dengan UU No. utamanya prakiraan kebutuhan tenaga listrik dan progres pembangunan proyek kelistrikan. RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat bagi setiap provinsi untuk melihat apa yang telah direncanakan oleh PLN pada daerahnya. RUPTL akan selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perubahan beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan sistem kelistrikan. baik proyek PLN maupun proyek listrik swasta atau independent power producer (IPP). beberapa pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara. sehingga selalu dapat memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan pegangan dalam implementasinya. 2 RUPTL 2011. Hal-hal tersebut telah membuat PLN merasa perlu untuk memutakhirkan RUPTL yang ada.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan juga pemerintah kabupaten/kota) wajib membuat Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD. maka RUPTL 2011-2020 ini juga membuat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi.Penyusunan RUPTL tahun 2011-2020 ini sebagai amanat Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 dan didorong oleh timbulnya kebutuhan untuk memperbaharui RUPTL 2010-2019 setelah memperhatikan adanya keterlambatan banyak proyek pembangkit tenaga listrik terutama pembangkit listrik tenaga panas bumi. Beberapa ruas transmisi yang dedicated dengan suatu pembangkit IPP dapat dibangun oleh pengembang listrik swasta.2020 . dan mengalihkan sebanyak mungkin pembangkit berbahanbakar minyak ke pembangkit berbahanbakar non-minyak. Pada dasarnya semua proyek transmisi dan distribusi akan dilaksanakan oleh PLN. Hal lain yang mendorong disusunnya RUPTL 2011-2020 ini adalah semakin menguatnya keinginan PLN untuk melayani kebutuhan tenaga listrik pada banyak daerah di Indonesia yang telah lama menderita kekurangan pasokan. Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan sistem kelistrikan yang akan dilakukan oleh PLN sendiri dan proyek-proyek pembangkit yang akan ditawarkan kepada sektor swasta sebagai IPP. sedangkan proyek pembangkit akan terbagi menjadi proyek milik PLN dan proyek milik swasta yang akan menjual listriknya ke PLN.

RUPTL ini disusun melalui optimasi pengembangan sistem pembangkit dan transmisi. 1. dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber energi setempat dan sumber energi terbarukan. 1.3 VISI DAN MISI PERUSAHAAN Pada Anggaran Dasar PLN tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan lapangan usaha PLN adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip perseroan terbatas. menguntungkan. maka visi PLN adalah sebagai berikut: “Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh-kembang. khususnya Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2): (1) RUPTL disusun Nasional. RUPTL 2011. (3) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682 K/21/MEM/2008 tanggal 13 November 2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006. Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan 2. Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani.2 LANDASAN HUKUM 1. ramah lingkungan dan dicintai pelanggan. saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi perusahaan kelas dunia. bebas subsidi. berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan (2) RUPTL digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga listrik bagi Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum.2020 3 .” Selain visi tersebut.

• Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap tahun dengan tingkat keandalan2 yang diinginkan secara least-cost. berorientasi pada kepuasan pelanggan.4 TUJUAN DAN SASARAN PENYUSUNAN RUPTL Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan acuan pengembangan sarana kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan lebih baik.Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan mengacu kepada visi tersebut. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan 1. • Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan utamanya panas bumi sesuai dengan program pemerintah.2020 . RUPTL 2011. sehingga dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan. • Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. dan pemegang saham. • Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. maka PLN akan: • Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait. Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik. dan juga energi terbarukan lain seperti tenaga air. peningkatan efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap perencanaan yang meliputi: • Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa daerah. dicerminkan oleh pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 1% persen terhadap total produksi energi listrik pada tahun 2020. • Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP). anggota perusahaan. 2 4 Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin.

perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/ Wilayah. kebijakan pemanfaatan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik. yaitu sebuah forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat untuk membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun prakiraan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik.5 PROSES PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNGJAWABNYA Penyusunan RUPTL 2011-2020 ini dibuat dengan proses sebagai berikut: • RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2010-2029 digunakan sebagai pedoman dan rujukan.2020 5 . • Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam RUPTL perioda sebelumnya dalam Forum Perencanaan. asumsi pertumbuhan ekonomi dan prakiraan kebutuhan tenaga listrik. dan mencapai rasio elektrifikasi minimum 60% pada setiap provinsi di akhir tahun 2011. • Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar utamanya pertumbuhan ekonomi. Penyusunan ini dilakukan oleh Unitunit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing dengan memperhatikan kondisi kelistrikan yang ada. Perencanaan transmisi dibuat oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh PLN Wilayah yang mengelola transmisi. rencana transmisi dan gardu induk (GI). rencana pembangkitan. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. • PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai penjabaran dari RUKN dan kebijakan Pemerintah lainnya. kebijakan perlindungan lingkungan. Demand forecast. rencana distribusi dan rencana kelistrikan yang isolated.• Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN. khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang perencanaan ketenagalistrikan. 1. selanjutnya disusun prakiraan beban (demand forecast). kebijakan tingkat cadangan (reserve margin). • Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi sebesar 8-9%. • Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin membaik. RUPTL 2011. seperti pengembangan panas bumi yang semakin besar.

2020 .• Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan metoda regresi . capacity balance dan rencana gardu induk. • Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun. dan populasi untuk membentuk model yang fit. • Untuk mempertegas akuntabilitas. • Konsolidasi produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis PLN dan pengurusan untuk memperoleh pengesahan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sehingga draft RUPTL menjadi RUPTL resmi dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1. serta kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan tenaga listrik jangka pendek. 3 COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan secara komersial. serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). demand forecast pada semua wilayah kerja PLN telah disahkan oleh General Manager Unit Bisnis Distribusi/Wilayah. dimaksudkan untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast. Pada workshop perencanaan juga dilakukan verifikasi jadwal COD3 proyek-proyek pembangkit PLN dan IPP.ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi listrik. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi referensi untuk pembuatan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) lima tahunan. 6 RUPTL 2011.1. estimasi pasokan gas alam dan LNG. pertumbuhan ekonomi. rencana transmisi dan rencana pembangkit sistem isolated yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. jumlah pelanggan. daya tersambung.

proyeksi kebutuhan tenaga listrik daya. Tabel 1. PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/ Wilayah membahas dan menyepakati asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan demand forecast di setiap wilayah. E*) P 4 Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan terdistribusi pada daerah-daerah/locality. Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel 1. − Rencana pengembangan pembangkit (neraca Asumsi dasar dan kebijakan. Berbekal hasil kerja pada workshop demand forecast tersebut. neraca energi dan kebutuhan bahan bakar). setiap unit PLN Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan membuat capacity balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau gardu induk baru. 1 Proses Penyusunan RUPTL Pada workshop demand forecast. Workshop − Demand forecast per Wilayah dan Demand Forecast per Provinsi Gambar 1. namun belum dibuat secara spasial4. Pada saat yang sama.1. yang harus diselesaikan dalam waktu dua bulan. dilanjutkan dengan menyusun demand forecast secara agregat.2020 7 .− Konsolidasi dan check konsistensi RUPTL RUKN rencana pengembangan sistem. PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan pembangkit pada sistem interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah. Workshop Perencanaan − Rencana pengembangan transmisi dan distribusi. RUPTL 2011. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL Kegiatan Pokok Kebijakan umum dan asumsi P3B Kitlur Wilayah Kit Distr Pusat U U U U U E E P Demand forecasting E Perencanaan Pembangkitan S S S Perencanaan Transmisi E E E S P.

P: Pembinaan (Parenting). S: Pendukung (Supporting).Perencanaan Distribusi Perencanaan GI E E Perencanaan Pembangkitan Isolated E E P E E P E E P Konsolidasi E Keterangan: E: Pelaksana (Executor).6. Badan Usaha Swasta atau Koperasi. Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga wilayah operasi. 8 RUPTL 2011.2020 .*) untuk Sistem Besar 1. Surat keputusan tersebut menetapkan Wilayah Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik Negara lainnya. Badan Usaha Milik Daerah. Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana pengembangan sistem per provinsi. 634-12/20/600.3/2011 tanggal 30 September 2011. yaitu tidak termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional Batam dan PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan walaupun keduanya merupakan anak perusahaan PLN.6 RUANG LINGKUP DAN WILAYAH USAHA Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai Surat Keputusan No. maka RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan sistem pada tiga wilayah operasi tersebut. Ruang Lingkup RUPTL 2011-2020 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri ESDM tersebut. Indonesia Timur dan Jawa-Bali. yaitu Indonesia Barat. U: Pengguna (User). Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini: 1.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan provinsi Kalimantan Barat.

Nias. Papua.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali provinsi Kalimantan Barat. sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero). PLN Wilayah Sumatera Barat. Sulawesi. Khusus untuk pulau Tarakan merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN. Bangka. Kalimantan Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia Timur dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah Kalimantan Timur.2020 9 . kepulauan Maluku dan Maluku Utara. sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero). PLN Wilayah Sumatera Utara. kecuali beberapa pembangkit skala kecil di sistem-sistem kecil isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan.Sumatera Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau. Sulawesi Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi UtaraTengah-Gorontalo dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat. dilayani oleh PLN Wilayah Aceh. Kalimantan Barat Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat. Pulau Batam sendiri merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN.6. Belitung. PLN Wilayah Lampung. PLN Wilayah Riau dan Kepri. Nusa Tenggara Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur. 1. PLN Wilayah Sumatera Selatan – Jambi – Bengkulu. dan Nusa Tenggara. Pembangkit tenaga listrik di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan. PLN Wilayah Bangka – Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera. RUPTL 2011. yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Batam.

PLN Pembangkitan Muara Tawar. dan provinsi Papua dan provinsi Papua Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua. serta beberapa listrik swasta. PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang. Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1. Di wilayah ini tedapat juga unit operasi pembangkitan. Gambar 1.Maluku dan Maluku Utara serta Papua Wilayah usaha PLN di provinsi Maluku dan provinsi Maluku Utara dilayani oleh PLN Wilayah Maluku & Maluku Utara.2020 . Bab I menjelaskan latar belakang. yaitu PLN Pembangkitan Tanjung Jati.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali Wilayah usaha PLN di Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat & Banten. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) 1. tujuan dan sasaran. Selain itu terdapat anak perusahaan PLN di bidang pembangkitan.2. PLN Pembangkitan Cilegon. 1. dan sistematika dokumen. visi dan misi perusahaan. PLN Distribusi Jawa Timur dan PLN Distribusi Bali. yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali.6. PLN Pembangkitan Lontar. PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta. landasan hukum. PLN Pembangkitan Indramayu dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali. Bab II menjelaskan kebijakan umum 10 RUPTL 2011.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut.

RUPTL 2011. meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah mitigasinya. Bab VI menjelaskan kebutuhan investasi. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini. transmisi dan distribusi. prakiraan kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit. Bab IV menjelaskan ketersediaan energi primer. Bab V menjelaskan rencana penyediaan tenaga listrik. serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar.2020 11 . asumsi dasar. Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam lampiran – lampiran yang menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem kelistrikan dan setiap provinsi.pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan sistem. Bab VIII memberikan kesimpulan.

Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh Indonesia secara terus menerus. sekaligus untuk memperoleh revenue yang diperlukan untuk debt repayment dan pembayaran kepada listrik swasta. baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas pembangkit dan transmisi diharapkan telah selesai5 dan reserve margin telah mencukupi.BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2011 .2020 .8 KEBIJAKAN PELAYANAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK MELAYANI PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan PLN yang juga dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram pada tanggal 27 Juli 2010. PLN telah dan akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan menyewa pembangkit. proyek pembangkit PLN dan IPP lainnya RUPTL 2011. Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas karena proyek-proyek pembangkit belum sepenuhnya selesai. RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi secara signifikan dengan menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup 5 12 Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2. PLN diminta mempertahankan bebas pemadaman listrik. transmisi dan distribusi. Bab II ini menjelaskan kebijakan dimaksud. 1. RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik dalam RUKN 2008-2027 yang diperbaharui dengan draft RUKN 2010-2029 yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2010. maka penjualan akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit yang ada. Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani kebutuhan tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. pengembangan pembangkit.2020 ini dibuat dengan memperhatikan kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan penjualan.

Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi. Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost). Kebijakan ini diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman. termasuk membuat rasio elektrifikasi semua provinsi minimal 60% pada akhir tahun 2011 dan melayani semua daftar tunggu pada akhir tahun 2011. biaya operasi dan pemeliharaan. 1. dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat. disamping karena implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi efektif. terutama energi terbarukan. dan biaya energy not served6.tinggi setiap tahun. biaya bahan bakar. Pembangkit sewa dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana 6 Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati konsumen akibat padam listrik 7 LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV. Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan cukup tinggi sehingga diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan ekonomi sebagaimana direncanakan dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan. Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve margin)7. dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang wajar dalam industri tenaga listrik. dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah belum diperhitungkannya dampak program demand side management (DSM) dan program energy efficiency dalam membuat prakiraan demand.9 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang direncanakan. RUPTL 2011.2020 13 .

Pemilihan lokasi kandidat pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi primer setempat atau kemudahan pasokan energi primer. terutama proyek IPP. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan dan Sumatera. prinsip regional balance¸ topologi 8 Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa menjalani proses optimisasi keekonomian. Mitigasi tersebut misalnya pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan. 9 PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya dengan metoda regresi berdasar data historis. Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional namun telah lama menderita kekurangan pasokan tenaga listrik. 14 RUPTL 2011. PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana reserve margin yang sangat besar. dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan berikutnya.pengembangan kapasitas jangka panjang. Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik.2020 . pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh lebih cepat9. Namun demikian perencanaan pembangkit panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan supply – demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan. maka PLN akan mengimbanginya dengan mitigasi tertentu. namun dalam jangka pendek diperhitungkan untuk mengatasi kondisi krisis. kedekatan dengan pusat beban. Namun demikian. memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat dilakukan power exchange. serta status kesiapan pengembangannya. sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan. pengembangan panas bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria least cost sehingga mereka diperlakukan sebagai fixed plant8. PLN akan memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari tahun ke tahun. Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi. yaitu Sumatra dan Kalimantan. seringkali mengalami keterlambatan. yaitu hingga 80%.

13 PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang secara komersial. mini LNG. Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan. pemukiman. Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan apabila terdapat kepastian pasokan gas. 12 Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah outputnya. stabilitas tidak baik.2020 15 . PLN telah merencanakan PLTU batubara kelas 1. hutan lindung. PLTU atau PLTGB dapat dikembangkan oleh PLN atau swasta. Antara lain kondisi tanah. dinyatakan dalam % per menit. Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik tenaga gasifikasi batubara) skala kecil merupakan program untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem isolated skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup dekat. yaitu Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC) diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024. kendala pada sistem transmisi10. Namun pembangkit beban puncak tetap mengutamakan pembangkit non-BBM. Untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali. atau MW per menit. maka PLTGU sebagai pembangkit medium (pemikul beban menengah) menjadi tidak dapat direncanakan. bathymetry. seperti pumped storage. PLTA peaking dengan reservoir atau pembangkit berbahan bakar compressed natual gas (CNG). lingkungan dan sosial11. yaitu PLTU batubara. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar. walaupun untuk fungsi tersebut PLTU batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang mempunyai ramping rate12 tinggi seperti PLTG. dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan capacity factor yang relatif rendah. arus hubung singkat terlalu tinggi. Penggunaan ukuran unit sebesar ini juga dimaksudkan untuk memperoleh manfaat dari economies of scale dan didorong oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk membangun pusat pembangkit skala besar di pulau Jawa.000 MW dengan teknologi ultra super critical13 untuk memperoleh efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah.jaringan transmisi yang dikehendaki. dan kendala-kendala teknis. Pembangkit berbahan bakar minyak hanya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak. Jenis CCT lainnya. atau LNG. Pertimbangan 10 Pembebanan lebih. 11 RUPTL 2011. tegangan rendah.

Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU mulut tambang skala besar di Sumatra Selatan dan menyalurkan sebagian besar energi listriknya ke pulau Jawa melalui transmisi arus searah tegangan tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)14. cukup besar untuk Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan memenuhi prinsip regional balance. Dengan demikian sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai independent power producer (IPP). Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan: − PLTU batubara: Direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah mendapat indikasi pendanaan dari lender. sepanjang hal tersebut layak secara teknis dan ekonomis. sehingga di wilayah ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP yang sebagian energinya akan ditransfer ke Sumbagut. atau ditugaskan oleh pemerintah sebagai proyek PLN. Mengingat kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar.000 MW. Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL disesuaikan dengan kemampuan pendanaan PLN.2020 . Dengan prinsip ini. dimana sumber daya energi (batubara. panas bumi dan gas) lebih banyak tersedia di Sumbagsel. − PLTA dan pumped storage diupayakan menjadi proyek PLN. kebutuhan transmisi interkoneksi antar region akan minimal. Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam mengembangkan pembangkit di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat beban melalui transmisi. 14 Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera – Jawa ini adalah kebutuhan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah terpenuhi dengan cukup.lainnya adalah ukuran sistem Jawa Bali telah mengakomodasi unit pembangkit kelas 1. Untuk proyek-proyek yang jadwalnya masih cukup lama dan belum ditetapkan kepemilikannya. Regional balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang berada di region tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain melalui saluran transmisi interkoneksi. Situasi yang sama juga terjadi di sistem Sumatera. PLN tidak dapat secara sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. untuk sementara dimasukkan dalam kelompok proyek PLN. 16 RUPTL 2011.

16 Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant. termasuk pembebasan lahan dan perizinan ROW.− PLTG direncanakan sebagai proyek PLN. Namun demikian. pengembangan PLTP pada umumnya didorong untuk dikembangkan oleh swasta dengan proses pemenangan WKP dilakukan melalui tender oleh Pemda sebagai total project15. kecuali beberapa transmisi terkait dengan IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan oleh pengembang IPP. 17 Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta. 1. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Beberapa WKP PLTP di Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya sebagai proyek PLN. dan PLN mengoperasikan serta membayar sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan ditransfer menjadi milik PLN. Sedangkan potensi panas bumi yang WKPnya dimiliki oleh Pertamina berdasar regulasi terdahulu. atau Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total project dan PLN membeli listriknya. Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran. − PLTGU gas direncanakan sebagai proyek PLN apabila telah ada indikasi pendanaan (dan ada kepastian pasokan gas). Pengembangan transmisi pada dasarnya dikembangkan oleh PLN. PLTGU gas juga direncanakan sebagai proyek PLN jika proyek tersebut merupakan pengembangan dari PLTG milik PLN (proyek add-on).2020 17 .10 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSMISI Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandalan tertentu. terbuka opsi proyek transmisi untuk dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu misalnya build lease transfer (BLT)17. Pertamina dan PLN dapat bekerja sama mengembangkan PLTP16. RUPTL 2011. − PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan 15 Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik) dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya membeli listrik dengan PPA.

Swedia). 18 RUPTL 2011. Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar subsistem dengan pola operasi terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan. Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan dengan mempertimbangkan pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan.2020 . Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer energi listrik dari wilayah yang mempunyai sumber energi primer tinggi ke wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas. Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N – 1 akan dilaksanakan reconductoring dan uprating. misalnya 500 kV DC (India. Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem isolated yang masih dilayani PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis. biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah dan 18 Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan nasional. Pemilihan tegangan HVDC disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut) yang banyak digunakan di dunia. maka sistem Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan interkoneksi utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang sangat luas. biaya pembebasan tanah. yaitu mulai tahun 2018. 250 kV DC (Jepang. Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya pembangunan fasilitas sistem transmisi tegangan tinggi. Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC adalah mengadopsi tegangan yang banyak digunakan di negara lain. yaitu 500 kV DC dan 250 kV DC18.keterbatasan kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam hal mengurus perizinan dan pembebasan lahan. teknologi HVDC tidak mempunyai standar tegangan. Kanada). Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh. Sebagai dampak dari kebijakan tersebut dalam RUPTL ini direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC pada tahap awal di koridor barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat diperlukan di koridor timur Sumatera. melalui laut dan berkapasitas besar memerlukan teknologi transmisi daya arus searah (HVDC).

harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit pengelola sistem transmisi. Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit per GITET dengan pola operasi terpisah dengan 2 unit per sub-sistem. RUPTL 2011. SPLN atau standar internasional yang berlaku. penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah. Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai berikut: a. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS. dengan memenuhi standar SNI. yaitu: perbaikan tegangan pelayanan. dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik. d. 1.11 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan pada 4 hal. perbaikan SAIDI dan SAIFI.2020 19 . kabel laut) dan perlengkapannya (pemutus. Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi. namun dalam situasi khusus seperti pasokan untuk konsumen besar dan daerah padat beban dapat digunakan unit size hingga 100 MVA. e. b. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan. c. kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. jenis saluran (saluran udara. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. dan 1 fasa per tipe per propinsi untuk GITET jenis konvensional. penggunaan tiang. pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan aspek keekonomian jangka panjang. Kegiatan berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan dan perbaikan sarana pelayanan. kabel bawah tanah. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas sampai dengan 60 MVA.

perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak). • Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut belum berlistrik. • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar dan pembangkit mikro / mini tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari APBN.9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen ESDM 2010-2014 adalah: • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek GI Baru atau Extension Trafo GI yang pendanaannya diperoleh dari APBN. kabel bawah tanah). 1.12 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melistriki masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari APBN. ditentukan oleh manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik. besi atau kayu).Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton. dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah. • Dimungkinkan pemasangan Load Break Switch untuk menunjang perbaikan keandalan jaringan tegangan menengah dan tiang 14 meter serta konduktor 240 mm2 untuk mengantisipasi kebutuhan pengembangan sistem. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat Jendral Ketenagalistrikan (DJK) dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi 80% dan desa berlistrik 98. jenis saluran (saluran udara. • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar yang pendanaannya dari APLN.2020 . loop atau spindle). dengan tetap memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku. termasuk penggunaan tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar. • Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTSurya & hybrid PLTBayu yang sistemnya terhubung dengan grid PLN. daerah terpencil dan daerah perbatasan. 20 RUPTL 2011. dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi tersebut belum disediakan dari APLN. sistem jaringan (radial.

PLN juga mendorong penelitian dan pengembangan EBT lain seperti thermal solar power. menengah dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa PLTS (tenaga surya). pulau-pulau terdepan yang 19 Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit. PLTB (tenaga angin). 5 tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional. OTEC (ocean thermal energy conversion). daerah tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi di provinsi Papua. 1. biomassa. Khusus mengenai PLTS. RUPTL 2011. pembangkit tenaga air skala besar. PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan centralized PV secara besar-besaran untuk melistriki banyak komunitas terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal. PLN mempunyai kebijakan untuk memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air. NTB. walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain. Namun kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek PLTA tanpa menganut prinsip demand driven19 demi mencapai suatu tujuan khusus tertentu. biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). Proyek ini diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut untuk pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua – Maluku.13 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. dan fuel cell.• Melaksanakan program listrik murah dengan target masyarakat nelayan. Dari kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan panas bumi yang sangat besar. 20 Dapat dikembangkan menjadi 100 MW. walaupun hal ini hanya dilakukan secara sangat terbatas dan selektif. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem berkapasitas 50 MW20 untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi Pegunungan Tengah yang sama sekali belum memiliki listrik. dan NTT. arus laut.2020 21 . Kedua jenis energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap. Papua Barat.

berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya. 22 RUPTL 2011. namun lebih didorong oleh semangat PLN untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terpencil untuk memperoleh akses ke tenaga listrik lebih cepat. terutama di wilayah Indonesia Timur. Pemanfaatan EBT seperti ini tidak selalu berbasis keekonomian.2020 .

59% per tahun.0 8. Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi.68 1.44 17.28 7. yaitu rata-rata 9.2% per tahun.63 133.7 Growth (%) Jawa .77 10.39 3.64 10.48 119.08 7.21 7.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6.61 1. Kalimantan.27 8.BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI 3.91 10.1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan penjualan di Jawa Bali relatif lebih rendah daripada pertumbuhan di Sumatera.Bali Growth (%) Sumatera Growth (%) Kalimantan Growth (%) Sulawesi Growth (%) Indonesia Bagian Timur Growth (%) 2010 Rata-rata 6.57 3.11 145. Pertumbuhan penjualan yang rendah di Jawa Bali pada tahun 2006 disebabkan oleh adanya pengendalian penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit pada tahun tersebut21.92 4.93 4.92 13.63 8.81 1.38 9.22 4.62 100.33 9.77 104.56 10.59 7.2020 23 .62 19.63 3.81 12.97 127.11 113.40 4.30 8. sehingga 21 Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2005.7 10. Tabel 3.22 11.13 4.47 Pada Tabel 3.87 7.61 14.9 9.65 5.04 95.38 10. Selanjutnya pada tahun 2008 mulai terjadi krisis finansial global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik tahun 2009 hanya tumbuh 3.59 5.15 2.24 4. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) Wilayah 2006 2007 2008 2009 Indonesia 111. RUPTL 2011. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5.6 5.69 16.8% per tahun sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.33 7.66 89.42 10.67 9.1.96 2.59 8.08 7. Sulawesi dan Indonesia bagian timur.15 9.66 5.64 3.31 8.31%.32 3.39 5.92 11.62 6.

770. yaitu Maluku.1 Jumlah Pelanggan Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2006 – 2010 mengalami peningkatan dari 35. dan terakhir sektor industri rata-rata 550 pelanggan per tahun. sektor publik rata-rata 55 ribu pelanggan per tahun.4 Rumah Tangga Komersial Total 24 RUPTL 2011. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor rumah tangga.585.0% per tahun.3 39.182. Sulawesi dan Indonesia Timur diperkirakan masih berpotensi untuk meningkat lebih tinggi karena daftar tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang masih rendah.835.4 1.5 1. Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 8.1 1.5 34.2 1.164.6 Publik 928.8 1.5 juta per tahun. Sedangkan pertumbuhan di Jawa pulih kembali dari dampak krisis keuangan global mulai tahun 2010.1.7% per tahun. Tabel 3. diikuti sektor bisnis dengan rata-rata 61 ribu pelanggan per tahun.508. Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 8.6 48. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit] Jenis Pelanggan 2006 2007 2008 2009 2010 32.1 35.65 juta tiap tahunnya.7% per tahun. Kalimantan. dan Nusa Tenggara.147.108. sedangkan penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun.4 988.879.633.2020 .687. yaitu rata-rata 1.3 1.6 46.3 47. dan pada tahun 2010 diatasi dengan sewa pembangkit.2 37. Pertumbuhan di Sumatera.128. sementara penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 2.877.0 39. Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya.7 42.562.2 46.di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi dengan sewa pembangkit sepanjang tahun 2010.8 Industri 46.954. Tabel 3. Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik yang cukup parah hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan. sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan dibatasi.2 juta atau bertambah rata-rata 1.1 1. Papua.6 juta menjadi 42.2 menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan dalam lima tahun terakhir.7 1.052.6 38.621. 3.4 35.1 36.897.

0 67. 22 GRASSS: Gerakan sehari sejuta sambungan RUPTL 2011.9 66.1.2 60.7 54. Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali.51% pada tahun 2010.3 68. yaitu sekitar 2.3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) Wilayah 2006 2007 2008 2009 2010*) Indonesia 59.5 53.7 Indonesia Bag Timur 30.3.8 71.8 62.8 35. Sumatera. dan program GRASSS pada tahun 2010.6 31.2 Rasio Elektrifikasi Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dibagi dengan jumlah rumah tangga yang ada.0 60.6 30. yaitu sekitar 1. • Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya tertinggi setelah Sumatera.1 62.8 60.0% pada tahun 2006 menjadi 66. yaitu dari 59. • Jawa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1.9% per tahun.1 54.5 Jawa-Bali 63.3 65.2 56.2 53.4 Sumatra 57.6 30.1 Kalimantan 54. dengan rincian sebagai berikut: • Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan paling tinggi.6 54.9 67. Perkembangan rasio elektrifikasi secara nasional dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. • Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun 2009 karena teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa pembangkit sewa.3% per tahun.0 69.4 62.3 Sulawesi 53. Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.7 *)Termasuk pelanggan non PLN Pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak merata pada masing-masing daerah.7% per tahun.9 55. Kalimantan.2020 25 . Tabel 3. Rasio elektrifikasi naik cukup tajam pada tahun 2010 karena adanya pembangkit sewa dan berjalannya program ’GRASSS’22 yang diadakan dalam beberapa tahap.

dengan load factor cenderung meningkat.6 5.100 Pertumbuhan % 3.296 22.211 18.840 20.596 18.2 Faktor Beban % 75 76 78.3 5. 23 Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010 26 RUPTL 2011.369 16.7 79.4.5 Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem kelistrikan di luar Jawa Bali tidak dapat disajikan seperti diatas karena sistem kelistrikan di luar Jawa Bali masih terdiri dari beberapa subsistem yang beban puncaknya non coincident.396 16.835 21.206 MW di sistem Jawa-Bali dan 7.9 5.309 16.236 22.2020 .960 15. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010 Deskripsi Satuan 2006 2007 2008 2009 2010 Kapasitas Pembangkit MW 22.908 MW yang terdiri dari 23.954 20. 3.6 0.1).892 21.12%. Tabel 3.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN Pada tahun 2010 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia adalah 30.206 Daya Mampu Beban Puncak Bruto MW MW 17. Perbaikan load factor terjadi karena adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan pelanggan baru23.784 17.1. yaitu rata-rata 6.3 Pertumbuhan Beban Puncak Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.• Indonesia bagian timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan yang paling rendah. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak tumbuh relatif rendah.756 Beban Puncak Netto MW 15.7 77. yaitu rata-rata 4. yaitu hanya 1.702 MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur.1% per tahun.126 22. hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi.251 16. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.906 23.301 17.8% (lihat tabel 3. 3.

3. RUPTL 2011.2.702 MW.702 MW dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 PLN PROVINSI NAD Sumatera Utara PLTG PLTGU MW MW MW PLTU PLTA/M MW MW PLTP MW MW MW 205 - - - 2 - 207 53 411 818 490 140 - 1. kemampuan netto dari pembangkit tersebut lebih rendah dari angka tersebut karena banyak PLTD (1600 MW) yang telah berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating24.2020 27 .702 Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang.114 60 118 6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistemsistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada saat ini adalah 7. Kapasitas pembangkit tersebut sudah termasuk IPP dengan kapasitas 792 MW. Tabel 3.5. Walaupun kapasitas terpasang pembangkit adalah 7.912 MW - 2102 492 38 - - 200 254 - 492 - Riau 90 43 - - 114 - 247 - - - - - - 124 124 207 190 Sumatera Barat Kep.330 1 1. Riau 247 124 Bengkulu 17 - - - 236 - 253 - 253 Sumatera Selatan 43 230 - 285 - - 558 268 825 Jambi 43 62 - - - - 105 - 105 Bangka Belitung 89 - - - - - 89 - 89 Lampung 96 21 - 200 122 - 439 - 439 Kalimantan Barat 217 34 - - 0 - 251 - 251 Kalimantan Selatan 134 21 - 130 30 - 315 - 315 Kalimantan Tengah - - - - - 78 Kalimantan Timur 247 40 60 - - - 347 Sulawesi Utara 114 - - - 54 60 228 58 - - - 1 - 59 Sulawesi Tengah 113 - - - 6 - Sulawesi Selatan 103 149 - Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timu TOTAL 24 PLTD Kapasitas Kapasitas Kapasitas Total Total Total PLN IPP PLN+IPP 78 - 78 45 392 3 231 119 31 150 - 400 255 655 - 8 - 8 - 76 - 76 105 - 59 123 - 25 8 - - - 75 - - - 105 - - - - - 105 - 76 - - - - - 76 - 76 119 - - - - 121 - 121 1 2 42 - - - 2 - 44 - 44 139 - - - 1 - 140 - 140 117 2.543 - - 985 878 1.910 792 18 7.

Jika beban puncak dibandingkan dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila menerapkan kriteria cadangan 35%. Reserve margin yang rendah tersebut berlanjut ke awal tahun 2011 dan dan pada saat yang sama terjadi kondisi luar biasa pada 28 RUPTL 2011. maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 1. Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut.35 78 90.2 Wilayah Operasi Jawa Bali Kapasitas pembangkit baru yang masuk ke sistem Jawa-Bali pada tahun 2010 adalah PLTU Labuan unit 2 (300 MW). Tabel 3.800 MW pada tahun 2010.5 85 138.2020 .9 Jumlah 43 112. hampir seluruh unit usaha PLN telah melakukan sewa pembangkit. Dengan terus meningkatnya beban puncak sistem Jawa Bali dan tambahan pembangkit baru yang hanya 300 MW karena terlambatnya proyek FTP-1.5 34 289 1833. Kapasitas pembangkit sewa yang ada di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun 2010 mencapai 1. reserve margin pada akhir tahun 2010 menipis menjadi hanya 24%.3 158.2. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) tahun 2010 No PLN Wilayah Kapasitas (MW) 1 Babel 2 Kalbar 3 Kalselteng 4 Kaltim 5 Kitsumbagsel 250 6 Kitsumbagut 108 7 Maluku 8 NAD 122 9 NTB 147 10 NTT 58.4 3.833 MW.85 11 Papua 12 Riau dan Kepri 13 S2JB 14 Sulselrabar 15 Suluttenggo 107 16 Sumbar 11.Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur mencapai 6.000 MW.

692 150 858 3.17 39.9 3.3.065 MVA pada tahun 2010.3 575 1.2 1 500 PLTGU BBG/BBM BBM 4 1. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 No.2020 29 .3 500 2.4 2.5 4. Cirata (1000 MW) dan Jatiluhur (150 MW) mempunyai DMA (Duga Muka Air) yang jauh lebih rendah dari perkiraan tahun paling kering.536 10.518 252 1. Maluku.645 MVA meningkat menjadi 11.7% per tahun dalam periode 2006 – 2010.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera. dan Papua belum memiliki saluran transmisi. Jenis Pembangkit IP PJB PLN Jumlah IPP MW 1 PLTA 2 PLTU Batubara 1.5 1 4.035 23.587 1. 25 Seluruh PLTA besar di DAS Citarum. sehingga telah terjadi beberapa kali defisit pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di Jawa Bali.206 100 3.pengoperasian PLTA di Jawa Barat25.05 9.961 6. yaitu Nusa Tenggara Timur. Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 9. Rincian kapasitas pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit dan pengelolaannya dapat dilihat pada Tabel 3.5 76 0.92 % 1. Sedangkan pulau lainnya.1 1.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI 3.4 800 BBG/BBM BBM 3 150 2. Tabel 3.496 640 740 PLTG BBG/BBM BBM 40 62 806 320 5 PLTD 76 6 PLTP 360 Jumlah 8.18 2.045 4.507 19.2 4. RUPTL 2011.7.136 9.103 1. yaitu Saguling (700 MW). dimana kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2006 sekitar 7. Kalimantan dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi.984 8.283 3.

Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk
di sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MVA)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275/150 kV

160

160

160

160

160

4.419

4.474

4.804

5.17

5.92

360

360

360

350

335

1.094

1.174

1.174

1.383

1.453

70/20 kV

157

157

157

153

187

150/20 kV

923

1.045

1.074

1.064

1.064

70/20 kV

532

546

606

546

560

275/150 kV

160

160

160

160

160

150/20 kV

6.436

6.693

7.052

7.597

9.823

70/20 kV

1.049

1.063

1.018

1.138

1.082

150/20 kV
70/20 kV
Kalimantan
150/20 kV

Sulawesi

Sub-Total

Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (kms)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275 kV

-

781

781

1.011

1.011

150 kV

8.521

7.739

8.423

8.221

8.224

310

334

334

334

331

1.264

1.305

1.429

1.429

1.567

123

123

123

123

123

70 kV
Kalimantan
150 kV
70 kV
Sulawesi

1.769

1.839

1.957

1.957

2304

70 kV

505

505

505

519

832

275 kV

-

781

781

1.011

1.011

10.884

11.509

11.657

12.253

150 kV

Sub-Total

150 kV
70 kV
Total

30

11.554
938

962

962

976

1.287

12.492

12.627

13.252

13.594

14551

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat ratarata 3,9% per tahun dalam kurun waktu 2006-2010, dimana panjang saluran
transmisi pada tahun 2006 sekitar 12.492 kms meningkat menjadi 14.551 kms
pada tahun 2010.

3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali
Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem Jawa
Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000)
Level Tegangan

Unit

2006

2007

2008

2009

2010

150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

27,08

28,44

70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

Jumlah

MVA

28,18

28,87

28,90

29,82

31,19

B.Puncak

MW

15,95

16,26

16,31

17,21

18,10

Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali
Unit
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

500 kV

kms

5,05

5,05

5,09

5,11

5,05

150 kV

kms

11,27

11,61

11,85

11,97

12,37

70 kV

kms

3,66

3,58

3,61

3,61

3,61

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak
bertambah, bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi
150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas
pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan
trafo GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu
5 tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.

RUPTL 2011- 2020

31

Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)
Satuan
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

Kit.Sistem 500 kV

MW

12,97

12,97

12,97

12,97

12,97

Trf. 500/150 kV

MVA

17,00

17,00

17,00

17,50

19,5

Kit. Sistem 150 kV

MW

8,89

8,99

9,01

10,11

10,41

Trf. 150/70 kV

MVA

3,58

3,58

3,58

3,82

3,82

Kit. Sistem 70 kV

MW

0,27

0,27

0,27

0,27

0,27

Trf. 150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

26,33

28,44

Trf. 70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali
Pada beberapa tahun terakhir terdapat bottleneck sistem transmisi yang
memasok sistem Jakarta dan pulau Bali yang berdampak pada kenaikan biaya
operasi dari pembangkit BBM.
Beban listrik sistem Jakarta pada tahun 2010 adalah 7.250 MW dan dilayani
oleh pembangkit di Muara Karang dan Tanjung Priok yang terhubung ke sistem
jaringan tegangan tinggi 150 kV. Sistem 150 kV Jakarta ini juga dipasok oleh
sistem transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV melalui interbus transformer
(IBT) 500/150 kV di GITET Bekasi, Cawang, Gandul, Depok dan Kembangan.
Pembebanan trafo IBT di GITET-GITET tersebut telah melebihi 80%.
Untuk mengatasi pembebanan IBT yang tinggi telah dilakukan penambahan
IBT di GITET Bekasi-3 (November 2010) dan Gandul-3, Cibatu-4, dan
tambahan spare IBT 500/150 kV 166 MVA untuk GITET, Cibatu, Kembangan,
Depok, Balaraja dan Cawang. Penambahan IBT di Bekasi dan Gandul
dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian BBM di Muarakarang dan Priok.
Pulau Bali pada beberapa tahun terakhir mengalami defisit daya. Beban puncak
tahun 2010 adalah 549 MW, dilayani oleh pembangkit BBM dengan daya
mampu 380 MW dan kabel laut Jawa – Bali yang menyalurkan daya 180 MW.
Untuk mengatasi kekurangan daya jangka pendek, telah dilakukan sewa
pembangkit pada tahun 2010 sebesar 126 MW sehingga kondisi kelistrikan
pulau Bali mulai membaik, namun masih belum memenuhi keandalan yang
seharusnya.
Untuk mengurangi konsumsi BBM di pulau Bali, saat ini sedang dibangun
kabel laut sirkit 3,4 Jawa – Bali yang akan beroperasi pada bulan Mei 2012.

32

RUPTL 2011- 2020

3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI
Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi
pada lima tahun terakhir.
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi
Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2006 cenderung menurun ke
tingkat 7,64% pada tahun 2010 sejalan dengan usaha-usaha menekan susut
jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%)
2006

2007

2008

2009

2010

9,18

8,84

8,29

7,93

7,09

Susut Distribusi

3.4.2 Keandalan Pasokan
Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan
indikator SAIDI dan SAIFI26 jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat
pada Tabel 3.14.
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN
2006

2007

2008

2009

2010

SAIDI (jam/pelanggan/tahun)

27,01

28,94

80,90

16,70

7,00

SAIFI (kali/pelanggan/tahun)

13,85

12,77

13,33

10,78

6,85

Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat
pada Lampiran A, B dan C yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK
Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi
daerah-daerah yang kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit
berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta melistriki daerah
yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan
dan terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

26

SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average
Interruption Frequency Index

RUPTL 2011- 2020

33

3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek
3.5.1.1

Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat

Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi
Indonesia Barat dan Timur pada dasarnya disebabkan olehh keterlambatan
penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP.
Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan
pasokan dan menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien serta
menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya
tertinggal.
Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut
meliputi sewa pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi
listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan
Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU
batubara PerPres 71/2006, membangun saluran transmisi, mengamankan
kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS centralized
dan solar home system secara terbatas.
Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli
semua potensi excess power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup
untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu menambahnya dengan
menyewa pembangkit.
Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai
berikut: (i) memenuhi kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan
bersifat sementara sebelum pembangkit utama non-BBM beroperasi; (ii)
menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien dengan PLTD yang
mempunyai sfc (specific fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio
elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak
tersedia sumber daya EBT lainnya.
Sewa pembangkit tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG
(gas engine), PLTGB dan PLTU yang dapat tersedia dalam waktu relatif
singkat.
Tambahan sewa PLTD dan PLTGB/PLTMG yang dilakukan PLN pada tahun
2010 berjumlah 1.396 MW yang terdiri atas 837 MW di Indonesia Barat dan
559 MW di Indonesia Timur. Selanjutnya pada tahun 2011 akan dilakukan
tambahan sewa PLTD/PLTGB/PLTMG sebesar 932 MW. Pada tahun 2012 di
34

RUPTL 2011- 2020

Indonesia Barat akan dilakukan penambahan sewa sebesar 578 MW,
sedangkan di Indonesia Timur akan ada pengurangan sewa sebesar 211 MW
dengan rincian diberikan pada tabel 3.15.

Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012
No

3.5.1.2

Lokasi Sewa PLTD

Kapasitas (MW)
2011

2012

1

Indonesia Barat

688

578

2

Indonesia Timur

264

- 211

Wilayah Operasi Jawa Bali

Upaya yang dilakukan PLN di Jawa Bali meliputi memenuhi pertumbuhan
demand, mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan keandalan.

3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur
Hal – hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur meliputi antara lain:
3.5.2.1

Pembangkitan

Mempercepat pembangunan proyek percepatan PLTU batubara 10.000 MW
tahap 1, termasuk tambahan proyek PLTU Riau 2x110 MW27 dan PLTU
Muara Jawa/Teluk Balikpapan di Kaltim 2x110 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti
PLTA Asahan 3 – 174 MW, PLTA Peusangan 86 MW, PLTU Sumut Baru
2x200 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG Bangkanai 4x70 MW
(tahun pertama baseload dan tahun berikutnya berubah menjadi peaking),
PLTU Takalar 2x100 MW, PLTG Sulsel Baru 2x50 MW, Makassar (peaking)

27

Terjadi perbedaan antara kapasitas pembangkit terkontrak dan kapasitas sesuai PerPres No.
71/2006 jo PerPres 59/2009, yaitu PLTU Riau/Tenayan, PLTU Maluku dan PLTU Kaltim /Muara
Jawa/Teluk Balikpapan. Perbedaan kapasitas tersebut memerlukan endorsement dari
Kementerian ESDM.
RUPTL 2011- 2020

35

1x50 MW dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW, PLTU Lombok APBN
1x25 MW dan PLTU Atambua 4x6 MW serta banyak PLTU batubara skala
kecil dan PLTGB tersebar di luar Jawa Bali.

Melaksanakan program sewa PLTU di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
dengan kapasitas total antara 1.750 MW dan 2.160 MW sebagai upaya
mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek-proyek IPP dan proyekproyek PLTP baik yang dibangun oleh PLN maupun oleh IPP. Proyek PLTU
sewa ini diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013.

Mempercepat pengadaan gas untuk memasok PLTGU Belawan 2x400 MW
dan tambahan PLTG task force 100 MW tahun 201228.

Mempercepat penyelesaian kontrak gas PLTGU Sengkang 180 MW.

Mempercapat pengadaan gas untuk kawasan Indonesia Timur, antara lain
untuk PLTG Semberah 2x20 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG
Kaltim sewa 100 MW, PLTG Sulsel 2x50 MW, PLTG Makassar (peaking)
1x50 MW, dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik IPP, antara lain PLTA
Poso 195 MW, PLTU Jeneponto 2x100 MW, PLTU Takalar 2x100 MW,
PLTU Kalbar 2x25 MW, PLTU Kaltim 2x100 MW, PLTU Kalsel 2x100 MW,
PLTG Senipah 80 MW, PLTU Sulut 2x25 MW, PLTU Sumbawa 2x10 MW,
PLTU Sumsel-5 2x150 MW, PLTU Sumsel-6 2x300 MW, dan PLTU
Sumsel-7 2x150 MW.

Mempercepat pembangunan beberapa proyek PLTP dengan total kapasitas
minimal 1.025 MW untuk dapat beroperasi sampai dengan tahun 2015.
Proyek-proyek PLTP tersebut diberikan pada tabel 3.16.

28

Opsi pasokan gas ke Belawan adalah regasifikasi di Arun berikut pipa gas ke Belawan, atau
FSRU di Belawan dengan sumber LNG dari BP Tangguh.
36

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun 2015
No.

NAMA PEMBANGKIT

1

Ulumbu #1,2,3 & 4

2

Tulehu #1 & 2

3

Ulumbu #5 & 6

4

Lahendong 4

KAP. (MW)

DEVELOPER

NTT

4 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Maluku

2 X 10

PLN – TOTAL PROJECT

NTT

2 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Sulut

1 X 20

PLN (HULU) – PGE (HILIR)

5

Ulubelu #1 & 2

Lampung

2 X 55

PLN (HULU) – PGE (HILIR)

6

Hululais #1 & 2

Sumsel

2 X 55

PLN (HULU) – PGE (HILIR)
PLN (HULU) – PGE (HILIR)

7

Sungai Penuh #1 & 2

8

Lumut Balai #1 & 2

9

Ulubelu #3

Jambi

2 X 55

Sumsel

2 X 55

PGE

Lampung

1 X 55

PGE
PGE

10

Lahendon #5 & 6

Sulut

2 X 20

11

Karaha Bodas #1

Jabar

1 X 30

PGE

12

Kamojang #5

Jabar

1 X 60

PGE

13

Sarulla #1

Sumut

1 X 110

KONS. MEDCO

14

Dieng #2

Jateng

1 X 55

GEODIPA EN.

15

Patuha #1

Jabar

1 X 60

GEODIPA EN.

16

Wayang Windu #3

Jabar

1 X 120

STAR ENERGY

17

Tangkuban Perahu 2 #1

Jabar

1 X 30

WSS

Jumlah

LOKASI

1025

Mempercepat pengadaan pembangkit untuk dapat menyerap gas Jambi
Merang sebesar 65 bbtud. Proyek pembangkit tersebut adalah: 1) PLTG
Payo Selincah 2x50 MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012
akan menyerap gas sebesar 25 bbtud. 2) PLTG sewa di Rengat 20 MW
yang akan masuk ke sistem 20 kV akan menyerap gas sebesar 4 bbtud.
3) PLTG Duri 100 MW dengan rencana COD tahun 2012 akan menyerap
gas sebesar 24 bbtud. 4) Relokasi PLTG ex Jawa 3x20MW dengan
rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 12
bbtud.

Merencanakan beberapa kebutuhan pembangkit peaker untuk dapat
menyerap potensi gas yang ada, yaitu: 1) PLTG Belawan 400 MW untuk
dapat menyerap gas yang berasal dari FSRU LNG Belawan atau
regasifikasi LNG di Arun. 2) PLTMG Sei Gelam 90 MW untuk menyerap
CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. 3) PLTG/PLTMG Sangeti 80100 MW untuk menyerap gas Sangeti sebesar 6 bbtud, perlu dibangun
fasilitas CNG. 4) PLTG/PLTMG Jaka Baring 50-60 MW untuk menyerap
CNG Jaka Baring sebesar 3 bbtud. 5) Untuk dapat menyerap gas
Jabung sebesar 20-30 bbtud PLN akan membangun PLTG dengan total
kapasitas

500 MW

yang

berdasarkan

kebutuhan

sistem

akan

ditempatkan di Riau 200 MW, Jambi 100 MW dan Lampung 200 MW.
RUPTL 2011- 2020

37

Untuk itu diperlukan fasilitas mini LNG. 6) PLTG Bangkanai 280 MW
untuk menyerap gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas
CNG di dekat lokasi PLTG, PLTMG Bintuni untuk menyerap gas
Tangguh 2 bbtud.
3.5.2.2

Transmisi dan Gardu Induk

Mempercepat pembangunan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275 kV
di jalur barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau – Bangko - Muara Bungo –
Kiliranjao).

Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao – Payakumbuh –
Padang Sidempuan dan Payakumbuh - Garuda Sakti.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok –
Galang dan IBT 275/150 kV di Galang.

Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu – Binjai
dan IBT 275/150 kV di Binjai yang harus dapat beroperasi seiring dengan
beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada pertengahan tahun 2012.

Melaksanakan pembangunan transmisi 275 kV jalur timur Sumatera dari
Betung – Aur Duri – Rengat – Garuda Sakti.

Mempercepat interkoneksi Kalbar-Serawak melalui transmisi 275 kV yang
diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2014, untuk memenuhi kebutuhan
sistem Kalbar dan menurunkan BPP.

Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut. Tujuan
interkoneksi ini disamping untuk memenuhi kebutuhan sistem Bintan juga
sekaligus akan menurunkan BPP di sistem Bintan.

Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng Kaltim dan sistem interkoneksi 150 kV Sulut – Gorontalo termasuk
pemasangan reaktor di Gorontalo.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso – Palu,
transmisi 70 kV sistem Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem
Jayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel bawah tanah 150 kV
Tanjung Bunga – Bontoala.

38

RUPTL 2011- 2020

Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Tanjung – Buntok –
Muarateweh dan Muarateweh – Bangkanai.

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali
Hal – hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi
antara lain:

Penguatan pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program:
-

Mempercepat penyelesaian penambahan IBT 500/150kV 500 MVA di 2
lokasi, yaitu IBT-4 Bekasi 1x500MVA, IBT-2 Depok 1x500MVA.

-

Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu:
Durikosambi 2x500MVA (2013) dan Muaratawar 2x500MVA (2013).

-

Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung Jati - Tx
Ungaran, SUTET Suralaya Baru – Balaraja, SUTET Balaraja –
Kembangan (2013), dan Kembangan – Durikosambi (2013).

-

Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar – Cibinong – Bekasi – Cawang.

-

Menyediakan cadangan IBT 500/150kV 166 MVA di 3 lokasi GITET
yaitu Durikosambi, Bekasi, Muaratawar dan Gandul.

Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:
-

Penambahan IBT 500/150kV di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon
1x500MVA, IBT-3 Pedan 1x500 MVA, IBT-3 Krian 1x500MVA, IBT-3
Ungaran 1x500MVA, IBT-3 Mandirancan 1x500MVA, IBT-2 Ngimbang
1x500MVA, IBT-2 Tasikmalaya 1x500MVA dan IBT-2 Grati 1x500MVA.

-

Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung
1x500 MVA (2012), Tanjung Jati 2x500 MVA (2012), Rawalo/Kesugihan
1x500MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya
Selatan 2x500 MVA (2012).

-

Pengadaan spare IBT 166 MVA di 4 lokasi GITET, yaitu Mandirancan,
Pedan, Krian, Kediri dan Grati.

-

Mempercepat penyelesaian SUTET Grati – Surabaya Selatan (2012).

RUPTL 2011- 2020

39

Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu:
-

29

SUTT terkait dengan pembangkit PLTU IPP Cirebon 1x660 MW29, yaitu
SUTT Sunyaragi - PLTU Cirebon - Brebes – Kebasen.

Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3&4 (Mei 2012).
Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal
(2015).
Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130 MW +
2x125 MW (2014).

COD PLTU Cirebon adalah November 2011 berdasar laporan progres konstruksi.

40

RUPTL 2011- 2020

BAB IV
KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER

4.1 BATUBARA
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya
batubara Indonesia adalah 104,8 milyar ton yang tersebar terutama di
Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton), namun cadangan
batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton,
Sumatera 11,2 milyar ton).
Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan
kandungan panas kurang dari 5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas
medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit (12%) yang
berkualitas tinggi (6100–7100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)30.
Walaupun cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat
produksi batubara sangat tinggi, yaitu mencapai 320 juta ton pada tahun 2010.
Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke China, India,
Jepang, Korea Selatan dan Taiwan (265 juta ton) dan ke beberapa negara lain,
dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan domestik (60 juta
ton). Produksi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan meningkat
sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya
pasar batubara internasional. Jika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton,
maka seluruh cadangan batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton akan habis
dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak dilakukan eksplorasi baru. Untuk
menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat, Pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang
mewajibkan produsen batubara untuk menjual sebagian produksinya ke
pemakai dalam negeri.
Persoalan yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah aspek security of
supply dan aspek kualitas. Keamanan pasokan batubara sangat ditentukan

30

Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah
menggunakan standar GAR (gross as received). Perbedaan antara adb dan GAR dapat
dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai
GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.

RUPTL 2011- 2020

41

oleh kebijakan pemerintah mengenai DMO dan batasan harga dalam negeri,
khususnya untuk kelistrikan, disamping kesiapan infrastruktur seperti
pengembangan tambang batubara itu sendiri, jalan, jembatan, dermaga dan
sarana transportasi yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah dunia
hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan
harga batubara di pasar dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah. Pada saat yang sama harga batubara Indonesia telah menembus
angka US$ 100 per ton (6322 kcal/kg GAR), dan harga tinggi ini telah
mendorong produsen batubara untuk lebih banyak mengekspor batubaranya ke
pasar dunia, terutama ke China dan India. Masalah kesiapan infrastruktur
memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara
yang tersedia di tambang dapat sampai ke pusat-pusat pembangkit yang
tersebar di Indonesia.
Dalam RUPTL tahun 2011-2020 ini terdapat rencana pengembangan beberapa
PLTU mulut tambang di Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang yang
digunakan di sini adalah PLTU batubara yang berada di dekat tambang
batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi skala besar
yang memungkinkan batubara diangkut ke pasar secara besar-besaran,
sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada dasarnya menjadi tidak
tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut
tambang tidak ditetapkan berdasar HBA, melainkan berdasar formula cost plus
margin yang di lock-in sepanjang umur pembangkit dengan eskalasi tertentu.
PLN juga menghadapi persoalan dalam memperoleh pasokan batubara yang
sesuai dengan spesifikasi boiler PLTU. PLN tengah mengevaluasi beberapa
pilihan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara. Saat ini teknologi yang
dipilih adalah dengan coal dryer dan coal blending. PLN akan segera
mengadopsi teknologi coal dryer. Selain itu PLN mempunyai program untuk
membangun sebuah coal blending facility.
PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga
batubara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.
Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi karbon dioksida yang
menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel
dan bahan kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap
lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik
berbahanbakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang
ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi
perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa.
42

RUPTL 2011- 2020

Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC
(integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage)
belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang
secara teknis dan komersial.

4.2

GAS ALAM

Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang
terbesar dalam skala dunia, namun cadangan gas alam di Indonesia cukup
besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di kepulauan
Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur
(21,49 Tscf) serta Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan
cadangan di Natuna.
Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga
listrik di Indonesia tidak tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan
pasokan gas di hampir seluruh pembangkit berbahanbakar gas di Indonesia.
Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN terus mengalami penurunan dan
ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir ini31. Disamping cadangan gas
lapangan terus mengalami depletion, PLN juga menghadapi kesulitan dalam
memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar. Sumber-sumber
gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka
panjang dengan pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya
memperoleh pasokan gas dari sumber-sumber tersebut.

31

Misalnya Belawan, Teluk Lembu, Muara Karang, Priok, Muara Tawar, Tambak Lorok,
Pesanggaran/ Gilimanuk di Bali dan pembangkit lainnya.

RUPTL 2011- 2020

43

Tabel 4.1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali
No
1

2

Pembangkit
Muara Karang dan Priok

Muara Tawar

3

Cilegon

4

Tambaklorok

5

Gresik

6

Grati

Pemasok
PHE ONWJ (GSA)
PHE ONWJ (Excess capacity)
PGN ‐ Priok (GSA‐IP)
FSRU PT NR (proses GSA)
Jumlah
PERTAMINA ‐ P Tengah (GSA)
PGN (GSA)
MEDCO Lapangan Singa
MEDCO SCS
Ex kontrak PLN Jambi Merang*)
PGN ‐ Tambahan, Firm (GSA)
Tambahan dari Conoco Philip
Tambahan dari Petrochina
Jumlah
CNOOC (GSA)
PGN (GSA)
Jumlah
Petronas (Approval GSA)
SPP (GSA‐IP)
Jumlah
Kodeco (GSA)*
Hess (GSA)
KEI (GSA)
MKS (GSA)
WNE (GSA)
Petronas‐Bukit Tua (potensi‐PJB)
AEI
Jumlah
Santos Oyong (GSA‐IP)
Santos Wortel (GSA‐IP)
Parna Raya (Potensi‐IP)
Jumlah

2011
     100.0
       20.0
       30.0
         ‐
     150.0
       25.0
       59.0

2012
     100.0
       20.0
       30.0
     260.0
     410.0
       25.0
       59.0

2013
     100.0
       20.0

2014
     100.0
       20.0

2015
     100.0

2016
     100.0

2017

     175.0
     295.0
       25.0
       59.0

     175.0
     295.0
       25.0
       59.0

     175.0
     275.0
       25.0
       59.0

     140.0
     240.0

     140.0
     140.0

2018

2019

2020

     140.0       140.0       140.0
     140.0       140.0       140.0

       20.0        20.0        20.0
         34.8          31.1          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0
       20.0        20.0        20.0
       30.0
      158.8       185.1       139.0         99.0         99.0         15.0         15.0         15.0            ‐
           ‐
       80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0          80.0          80.0
       30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0          30.0          30.0
     110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0       110.0       110.0
      106.0       116.0       116.0       116.0       116.0       116.0
       50.0        50.0        50.0        50.0        50.0        50.0          50.0          50.0
         ‐
         ‐
       50.0        50.0      156.0      166.0      166.0      166.0       166.0       166.0
     123.0      123.0      123.0
         50.0          68.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0
     130.0      130.0      130.0        60.0        60.0        60.0        60.0          60.0          60.0
       11.0        11.0        11.0
       20.0        20.0        20.0        17.0        12.0        12.0        12.0          12.0          12.0
       25.0        54.0        62.0        47.0
          8.0
     192.0      352.0      334.0      225.0      181.0      184.0      169.0      122.0       122.0       122.0
       57.5        50.0        40.0        40.0        40.0
          7.5        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        20.0          20.0          20.0
       40.0        40.0        40.0        40.0        40.0          40.0          40.0
       65.0        80.0        70.0      110.0      110.0        70.0        70.0        60.0         60.0         60.0

Tabel 4.2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali
No
Pembangkit
1 Aceh Timur
2 Belawan

3
4
5
6
7

Teluk Lembu
PLTG sewa Bentu
PLTG sewa Melibur
PLTG sewa Jabung
Sungai Gelam

8 Sengeti (CNG)
9 Simpang Tuan
10 Payo Selincah
11
12
13
14
15

Jakabaring (CNG)
Indralaya
Talang Duku
Borang
Keramasan

16
17
18
19
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Duri
Rengat
Tanjung Batu
Semberah
Tarakan
Nunukan
CBM Sangata
PLTG Kolonedale
Sengkang
ANTAM + Indonesia
Luwuk
Indonesia Tersebar
KTI Tersebar

Pemasok
Medco Blok A
Kambuna
FSRU LNG Tangguh
Anggor (Potensi)
Kalila
Kalila Bentu (Potensi)
Kondur (Potensi)
Petro China (Potensi)
EMP Sungai Gelam
PEP ‐ TAC Sungai Gelam
PT Arthindo Utama
Perusda Jambi
Energasindo
Jambi Merang
PDPDE Sumsel
Medco E&P Indonesia
PGN
Medco E&P Indonesia
Medco E&P Indonesia
Pertamina EP
Jambi Merang
Jambi Merang
TAC Semco
TAC Semco
Lap Bangkudulis (Potensi)
Medco (Potensi)
VICO
Job PTM‐Medco Tiaka (Potensi)
EEES
EEES Kera (Potensi LNG)
Job PTM‐Medco Senoro (Potensi)
Pertamina EP Matindok (Potensi)
Bontang (Potensi)
Jumlah

2011
2012
2013
2014
        ‐
        ‐
      13.0       13.0
      25.3       13.0         5.0         ‐
        ‐
        ‐
        ‐
    105.0
      40.0
        5.0         9.0       30.0       30.0
        3.0         3.0         3.0
        0.6         0.6         0.6
      30.0       30.0       30.0
        ‐
        2.0         2.0         2.0
        ‐
        2.5         2.5         2.5
        5.6         5.6         5.6
        3.0         3.0
      18.0       18.0       18.0       18.0
        4.0       25.0       25.0       25.0
        ‐
        3.0         3.0         3.0
      19.3       24.0         ‐
        ‐
        8.0         8.0         8.0         8.0
      15.0       15.0       15.0         ‐
      22.0       22.0       22.0         ‐
      15.0       15.0       15.0       15.0
        ‐
      10.0       10.0       14.0
        ‐
        4.0         4.0         4.0
        7.0         7.0         7.0         7.0
        ‐
        5.0         5.0         5.0
      18.0       18.0       18.0
        2.5         2.5         2.5
        0.5         0.5         0.5         0.5
        2.0         2.0
        ‐
      15.0       15.0       15.0
      70.0
        5.0

2015
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0
        0.6
      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
      15.0
      14.0
        4.0
        7.0
        5.0
      18.0
        2.5
        0.5
        2.0
      15.0
      70.0
        5.0

2016
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0

2017
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0

      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐
      18.0
        2.5

      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐
      18.0
        2.5

        2.0
      15.0
      70.0
        5.0
      20.0
      41.5       41.5       41.5       41.5
   139.1    257.7    306.2    488.2    488.2    480.1

        2.0
      15.0
      70.0
        5.0
      20.0
      41.5
   480.1

2018
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

2019
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

2020
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

        2.0         ‐
        ‐
        ‐

        ‐
        ‐

        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐

        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐

        ‐
      25.0
        3.0
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐

        2.5         2.5
        2.0         2.0         2.0
      15.0       15.0       15.0
        5.0
      20.0
      41.5
   401.0

        5.0
      20.0       20.0
      41.5       41.5
   370.0    316.5

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk
pembangkit PLN di Jawa Bali dan di luar Jawa Bali.
Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, pasokan gas ke pembangkit
PLN pada umumnya akan menurun atau berkurang. Selain itu pengembangan
infrastruktur penyaluran gas dari sumur-sumur baru ke pembangkit PLN sangat
terbatas. Di lain pihak pembangkit PLN, khususnya PLTGU yang berada di
pusat beban, harus tetap dijalankan (must-run) karena peranannya tidak dapat
44

RUPTL 2011- 2020

digantikan oleh pembangkit di tempat lain. Selama ini pembangkit must run
tersebut terpaksa dioperasikan dengan BBM karena kekurangan pasokan gas.
Situasi tersebut mengharuskan PLN untuk memperoleh pasokan gas dalam
bentuk LNG walaupun pada harga yang relatif tinggi untuk digunakan pada
pembangkit tersebut. Pada saat ini telah direncanakan LNG floating storage &
regasification unit (FSRU) di 3 lokasi, yaitu Belawan untuk memasok PLTGU
Belawan32, Jakarta untuk memasok PLTGU Muara Karang dan Priok, serta
Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk memasok kebutuhan gas di pulau Jawa
secara umum33. Pasokan LNG ke FSRU tersebut akan berasal dari Bontang,
Tangguh atau impor.
PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dimanapun tersedia, karena
tersedianya gas dapat dengan cepat dan mudah diubah menjadi listrik34 untuk
memenuhi kebutuhan listrik setempat, terutama di daerah yang telah lama
menderita kekurangan listrik. PLN akan membeli gas pada semua volume,
termasuk gas dari sumber-sumber yang sangat kecil, gas flare dan gas
marginal.
Selain itu apabila dalam suatu sistem kelistrikan telah tersedia pembangkit
baseload yang cukup, PLN bermaksud untuk sedapat mungkin menyimpan gas
lapangan (gas pipa) dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan
memakainya untuk pembangkit peaking. Dengan cara ini PLN dapat
meningkatkan nilai dari gas karena menggantikan BBM pada pembangkit
peaking.
Dalam hal PLN memperoleh alokasi gas dalam bentuk LNG, seperti dari
Bontang, Donggi-Senoro, Tangguh atau Sengkang, PLN bermaksud akan
mendistribusikannya ke sejumlah pembangkit peaking tersebar dengan
teknologi mini-LNG. Hal ini telah diprogramkan oleh PLN untuk wilayah operasi
Indonesia Timur.
Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah
tidak tersedianya pipa transmisi gas alam ataupun fasilitas pendukung dari
sumber-sumbernya ke pusat pembangkit. PLN menyambut baik rencana

32

Pemerintah telah mengkaji opsi FSRU Belawan digantikan dengan memanfaatkan fasilitas
LNG plant di Arun.
33

Dikaitkan dengan rencana pembangunan pipa gas “Trans Jawa” di sepanjang pulau Jawa.

34

Membangun pembangkit berbahan bakar gas dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

RUPTL 2011- 2020

45

pembangunan pipa gas Trans-Jawa oleh Pertagas karena hal itu akan
mengintegrasikan sumber-sumber gas di Jawa dan sangat membantu
fleksibilitas operasi pasokan gas ke pusat-pusat pembangkit PLN di pulau
Jawa.
Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan
untuk memikul beban medium (mid-merit). Namun pada beberapa kontrak
pasokan gas terdapat ketentuan pemakaian gas yang membuat pembangkit
gas dioperasikan untuk mengisi beban dasar. Kesulitan dalam memperoleh
pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan
batubara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga
beberapa PLTU batubara di masa depan juga berperan sebagai pemikul beban
menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-60%).
PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit
beban puncak dengan beralih ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan
dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1 LNG dan Mini-LNG
PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan
pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan
Sumatera. Sedangkan di Indonesia Timur dan Barat PLN merencanakan
pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak. Mengingat harga gas
dari mini-LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya dipakai untuk pembangkit
peaking, bukan untuk pembangkit beban dasar.
Beberapa daerah di Indonesia Barat yang direncanakan memanfaatkan LNG:

46

Belawan: PLN mengambil LNG sebanyak yang diperlukan untuk
pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run, dan PLN tidak
memakai LNG untuk pembangkit baseload karena pertimbangan
keekonoman. LNG dari BP Tangguh akan dipakai sebagai berikut:
PLTGU Belawan dgn CF <50% memerlukan LNG 60 bbtud dan PLTG
peaker (400+50+90 MW) memerlukan LNG 25 bbtud. Apabila terdapat
keterlambatan proyek PLTU batubara seperti PLTU Pangkalan Susu,
maka Belawan dapat memakai LNG lebih banyak, yaitu hingga total 140
mmscfd.

Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari
lapangan Jabung dengan jangka waktu sampai dengan 7 tahun. PLN
RUPTL 2011- 2020

menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk
memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel
sebesar 500 MW pada tahun 2014. Sementara fasilitas LNG belum
terbangun, gas akan dialirkan ke PLTGU Muara Tawar dengan metode
swap.
Pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah:

Senoro, Bontang, Sengkang, Salawati, Simenggaris: PLN akan
mengambil gas dari sumber tersebut dalam bentuk LNG untuk
digunakan di pembangkit peaking 50 MW di Bontang, 50 MW di
Balikpapan, 50 MW di Samarinda, 150 MW di Sulawesi Selatan, 25 MW
di Minahasa dan 60 MW di Lombok, sepanjang layak secara
keekonomian.

Pemanfaatan LNG untuk sistem Jawa Bali mempertimbangkan harga LNG
yang relatif tinggi, sehingga LNG hanya dipakai untuk pembangkit beban
puncak dan pembangkit must-run. Pembangkit must-run dimaksud adalah
PLTGU/PLTG Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang peranannya belum
dapat digantikan oleh pembangkit yang lain. PLTGU Muara Karang dan Priok
dijalankan untuk menghabiskan pasokan gas pipa yang ada, dan
kekurangannya dipenuhi dengan LNG. Sedangkan kebutuhan gas/LNG untuk
Muara Tawar dihitung berdasar peran pembangkit ini di sistem, yaitu
dioperasikan sebagai peaker untuk mendukung tegangan sistem 500 kV di
subsistem Jakarta. Namun karena perioda beban puncak Jakarta sangat
panjang, yaitu dari jam 9 pagi sampai dengan jam 10 malam, maka kebutuhan
gasnya cukup besar dan diharapkan dapat dipenuhi dengan LNG.

4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)
Teknologi CNG untuk memenuhi kebutuhan gas suatu pembangkit merupakan
teknologi yang relatif baru dan untuk itu perlu dikaji kelayakan baik teknis dan
ekonomis terlebih dahulu. Namun PLN telah memetakan potensi pemanfaatan
CNG untuk Indonesia Barat dan Timur. CNG akan diarahkan untuk
memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif kecil maupun
sumur gas marginal. Saat ini sudah disepakati pembangunan CNG storage oleh
pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan dimanfaatkan untuk
PLTG Peaking Jaka Baring (40 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada
akhir tahun 2012.

RUPTL 2011- 2020

47

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Barat adalah:

CNG Sungai Gelam dengan kapasitas sebesar 4,5
digunakan untuk pembangkit peaking.

bbtud akan

Gas Jambi Merang sebesar 85 bbtud akan dialokasikan untuk
pembangkit PLTGU Duri (IPP) 2x45 MW, PLTG Payoselincah 100 MW,
PLTG sewa 20 MW di Rengat dan pembangkit di Duri dengan kapasitas
sekitar 160 MW.

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah PLTG Bangkanai,
Kalimantan Tengah.

4.2.3 Coal Bed Methane (CBM)
PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional, yaitu CBM (coal
bed methane). Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas
konvensional, terutama di South Sumatera Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin.
PLN pada saat ini tengah melakukan studi bersama Exxon-Mobil mengenai
pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia.
Disamping itu, saat ini sedang dilakukan proses negosiasi dengan VICO untuk
rencana pasokan gas dari lapangan CBM di Kalimantan Selatan.
4.3 PANAS BUMI
Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas
bumi di Indonesia yang menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya
adalah laporan studi oleh WestJEC pada tahun 2007 Master Plan Study for
Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan
tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah
9.000 MW, tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal 12.000 MW.
Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek
PLTP, terutama di Sumatera, Jawa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa
Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah kepada PLN untuk
mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi
terbarukan sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM
No. 15/201035 saja terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP untuk beroperasi

35

Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track

program phase 2 (FTP2).
48

RUPTL 2011- 2020

pada tahun 2014. Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan
seperti yang diharapkan karena berbagai masalah. PLN berharap masalahmasalah yang menghambat pengembangan panas bumi tersebut dapat segera
diatasi.

4.4 TENAGA AIR
Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS)
pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro
power inventory study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan
Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun
2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut36 adalah
26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek
yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru
(16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air
diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak
begitu sulit hingga sangat sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini
merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

NAMA
Peusangan 1‐2
Jambo Papeun‐3
Kluet‐1
Meulaboh‐5
Peusangan‐4
Kluet‐3
Sibubung‐1
Seunangan‐3
Teunom‐1
Woyla‐2
Ramasan‐1
Teripa‐4
Teunom‐3
Tampur‐1
Teunom‐2
Padang Guci‐2
Warsamson
Jatigede
Upper Cisokan‐PS
Matenggeng
Merangin‐2
Merangin‐5
Maung
Kalikonto‐2
Karangkates Ext.
Grindulu‐PS‐3
K. Konto‐PS

TIPE PROVINSI
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
RES
RES
RES
ROR
RES
RES
PST
PST
ROR
RES
RES
RES
PST
PST

Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Bengkulu
Irian Jaya
Jabar
Jabar
Jabar
Jambi
Jambi
Jateng
Jatim
Jatim
Jatim
Jatim

KAP. 
(MW)
86
25
41
43
31
24
32
31
24
242
119
185
102
330
230
21
49
175
1000
887
350
24
360
62
100
1000
1000

COD
2015
2019
2019
2019
2019
2021
2021
2021
2023
2024
2024
2024
2024
2025
2026
2020
2019
2014
2015
2020
2016
2024
2028
2016
2018
2021
2027

PLN/
   NO
NAMA
IPP
PLN
28 Pinoh
PLN
29 Kelai‐2
PLN
30 Besai‐2
PLN
31 Semung‐3
PLN
32 Isal‐2
PLN
33 Tina
PLN
34 Tala
PLN
35 Wai Rantjang
PLN
36 Bakaru (2nd)
PLN
37 Poko
PLN
38 Masuni
PLN
39 Mong
PLN
40 Batu
PLN
41 Poso‐2
PLN
42 Poso‐1
PLN
43 Lariang‐6
PLN
44 Konaweha‐3
PLN
45 Lasolo‐4
PLN
46 Watunohu‐1
PLN
47 Tamboli
PLN
48 Sawangan
PLN
49 Poigar‐3
PLN
50 Masang‐2
PLN
51 Sinamar‐2
PLN
52 Sinamar‐1
PLN
53 Anai‐1
PLN

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR

Kalbar
Kaltim
Lampung
Lampung
Maluku
Maluku
Maluku
NTT
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sultra
Sultra
Sulut
Sulut
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

KAP. 
(MW)
198
168
44
21
60
12
54
11
126
233
400
256
271
133
204
209
24
100
57
26
16
14
40
26
37
19

COD
2020
2020
2020
2020
2019
2020
2021
2020
2016
2020
2023
2024
2027
2011
2011
2024
2026
2026
2020
2020
2014
2018
2020
2020
2020

PLN/
   NO
NAMA
IPP
PLN
54 Batang Hari‐4
PLN
55 Kuantan‐2
PLN
56 Endikat‐2
PLN
57 Asahan 3
PLN
58 Asahan 4‐5
PLN
59 Simanggo‐2
PLN
60 Kumbih‐3
PLN
61 Sibundong‐4
PLN
62 Bila‐2
PLN
63 Raisan‐1
PLN
64 Toru‐2 (Tapanuli Utara)
PLN
65 Ordi‐5
PLN
66 Ordi‐3
PLN
67 Siria
PLN
68 Lake Toba
PLN
69 Toru‐3 (Tapanuli Utara)
PLN
70 Lawe Mamas
PLN
71 Simpang Aur
PLN
72 Rajamandala
PLN
73 Cibareno‐1
PLN
74 Mala‐2
PLN
75 Malea
PLN
76 Bonto Batu
PLN
77 Karama‐1
PLN
78 Gumanti‐1
PLN
79 Wampu

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
PST
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
ROR
ROR

Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Aceh
Bengkulu
Jabar
Jabar
Maluku
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sumbar
Sumut

KAP. 
(MW)
216
272
22
174
60
59
42
32
42
26
34
27
18
17
400
228
50
29
58
18
30
182
100
800
16
84

COD
2027
2028
2019
2015
2017
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2020
2020
2020
2026
2016
2014
2014
2020
2020
2017
2017
2022
2020
2016

PLN/
IPP
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP

36

Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), sosial
(resettlement), luas reservoir.

RUPTL 2011- 2020

49

COD yang dimaksud pada tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan
namun dapat diubah sesuai kebutuhan.
PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air
tersebut sebagai proyek PLN.

4.5 ENERGI BARU DAN TERBARUKAN LAINNYA
Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi
matahari dan energi kelautan. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi
terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan

No

Energi Baru dan
Terbarukan

Sumber Daya

Kapasitas Terpasang

Rasio
(%)

1

2

3

4 = 3/2

1

Mini/Mikrohidro

2

Biomass

500 MWe

86,1 MWe

17,22

49.810 Mwe

445,0 MWe

0,89

2

3

Tenaga Surya

4,80 kWh/m /hari

12,1 MWe

-

4

Tenaga Angin

9.290 MWe

1,1 MWe

0,01

5

Kelautan

240 GWe

1,1 MWe

0,01

Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6 NUKLIR
Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini
terjadi karena dalam proses optimisasi pemilihan kandidat pembangkit, ternyata
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersaing dengan jenis
pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra
supercritical.
Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya
kapital dan biaya O&M yang terkait dengan spent fuel disposal, dan biaya
decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi bersama antara
PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya
pembangunan PLTN sebesar $ 1.700/kW (EPC saja) atau $ 2.300/kW (setelah
memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut
kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2009),

50

RUPTL 2011- 2020

budaya dan lingkungan. penerimaan sosial. Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan keekonomian dan keenergian.500 /kW. Harga uranium yang pada tahun 2006 adalah sekitar US$ 30/lb. Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga energi primer lainnya seperti batubara dan gas alam.500 hingga US$ 5. program pembangunan PLTN hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah. RUPTL 2011.2020 51 . Apalagi dengan terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 yang sangat buruk dimana ribuan penduduk yang semula bermukim di dekat PLTN tersebut harus diungsikan ke daerah yang aman. keselamatan. Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi keekonomian PLTN mengingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan uranium dalam jumlah sedikit. namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik. namun tetap saja kenaikan harga uranium dunia ini perlu terus dipantau. dan semakin nyatanya ancaman emisi karbon terhadap perubahan iklim global. Dengan adanya berbagai aspek yang multi dimensional tersebut. telah menyebabkan eskalasi penentangan terhadap pengembangan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. saat ini telah mencapai US$ 130/lb. telah membuat PLTN menjadi salah satu opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC.biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 3. biaya pengelolaan spent fuel dan biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas. Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan program tenaga nuklir pada banyak negara di dunia.

dan jenis unit37. 38 Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.1 Sistem Interkoneksi Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode perencanaan.274% adalah setara dengan reserve margin > 25-30% dengan basis daya mampu netto.274%. biaya bahan bakar. 52 RUPTL 2011.1. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih kecil dari 0. Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve margin tertentu yang nilainya tergantung pada tingkat ketersediaan (availability) setiap unit pembangkit.1 Perencanaan Pembangkit 5. jumlah unit.1. Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat ditetapkan sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih 37 Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF (equivalent availability factor) yang berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi. biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya energy not served. kriteria LOLP < 0. Simulasi dan optimisasi dilakukan dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning).1. ukuran unit. Apabila dinyatakan dengan daya terpasang.BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 5.274%.1 KRITERIA PERENCANAAN 5. Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP) lebih kecil dari 0. Konfigurasi termurah diperoleh melalui proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya kapital. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. dan memenuhi kriteria keandalan tertentu. maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%38.2020 . Pada sistem Jawa Bali.

namun menggunakan metoda determinisitik. derating yang prosentasenya lebih besar.sedikit.2 Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum interkoneksi (isolated) tidak menggunakan metoda probabilistik maupun optimisasi keekonomian. baik proyek PLN maupun IPP. Definisi cadangan disini adalah selisih antara daya mampu total pembangkit yang ada dan beban puncak. khususnya panasbumi dan tenaga air. Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan memperhitungkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan yang telah committed39. 39 Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi pendanaannya. dalam proses optimisasi diperlakukan sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan proyek tersebut. simulasi produksi dilakukan dengan menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasinya diperkirakan tidak pasti. yaitu cadangan minimum harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua. Selain itu beberapa pembangkit berbahanbakar minyak yang sudah tua. dan tidak memperhitungkan semua pembangkit sewa serta excess power. tidak efisien dan dapat digantikan perannya dengan PLTU batubara. Pembangkit energi terbarukan. Pada metoda ini.2020 53 . RUPTL 2011. dan pembangkit sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air non-reservoir). 5. direncanakan akan dihapuskan (retired) atau dibuat sebagai pembangkit stand by yang tidak dioperasikan tetapi tetap dipelihara (mothballed). dan proyek IPP yang telah mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA). perencanaan dibuat dengan kriteria N-2.1. dan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding Jawa Bali. Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar diutamakan berupa pembangkit berbahan bakar batubara. Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang.1.

3 Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Existing Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis selama umur tekno-ekonomisnya (life-time). Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. 54 RUPTL 2011. disamping untuk mengatasi bottleneck.1. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut.5. Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan trafo mencapai 70%-80%. RUPTL ini mencantumkan biaya investasi (capex) yang diperlukan untuk itu. pada akhir umurnya sebuah pembangkit masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan melakukan rehabilitasi/refurbishment pada komponen-komponen tertentu. dan memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu.2020 . meningkatkan keandalan sistem. Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas pembangkitan dan kebutuhan beban. menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus dipelihara dan dilakukan penggantian parts yang aus.1. Kemudian. Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu pembangkit memerlukan kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life extension dan membangun pembangkit baru.2 Perencanaan Transmisi Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1. Sebuah unit pembangkit dapat menjalani mid-life refurbishment untuk mempertahankan kapasitas. baik karena mengalami gangguan maupun dalam pemeliharaan. 5. Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan apabila terjadi gangguan hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka tidak menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator dan kelompok generator lainnya. Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit transmisi padam. baik statis maupun dinamis. sehingga kontinuitas penyaluran tenaga listrik terjaga. kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu menyalurkan keseluruhan arus beban. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan.1. efisiensi.

3 Perencanaan Distribusi Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: • Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk menjaga agar tegangan pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987.1.Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah. Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan kontinuitas pasokan kepada pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan upaya: • Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain yang minimal dipasok oleh 2 Gardu Induk dan 15 feeder.2020 55 . RUPTL 2011. Tujuan pembangunan GI minimalis ini adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat dari timing normal kebutuhan GI. GI minimalis juga dapat diterapkan untuk memasok lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang dan mengalami drop tegangan yang besar. Penerapan GI minimalis hanya dilakukan pada daerah yang sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting. pada sistem yang selama ini masih dioperasikan dengan PLTD. • Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang lebih andal seperti spindle. 5. yaitu sebuah GI dengan spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau bahkan tanpa busbar. Pada RUPTL 2011-2020 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis. • Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem kelistrikan secara menyeluruh dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan biaya pokok penyediaan. peralatan proteksi & kontrol. • Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal. tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi atau T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang lengkap/sempurna. sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2 sumber. supply AC/DC & battery dikemas dalam kontainer.

• Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM. dan kualitas – Menurunkan susut teknis jaringan – Rehabilitasi jaringan tua. berkualitas.2020 . Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua kegiatan. – Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu antara lain: – Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR). – Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM. dikoordinasikan dengan reclosing relay penyulang di GI. – Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan. • Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada daerah yang sangat padat beban dan potensi pendapatan tinggi. gardu distribusi/GD. Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana pendistribusian tenaga listrik yang cukup. Memonitor pengoperasian recloser atau AVS. dan susut teknis wajar. andal. – Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan. efisien. dsb). jaringan tegangan rendah/JTR. – Luas area yang dilayani. – Distribusi beban (tersebar merata. dan menyempurnakan metode pemeliharaan-periodiknya. automatic voltage regulator/AVR dsb). terkonsentrasi. Penyambungan pembangkit tersebut harus memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code). 56 RUPTL 2011. yaitu penyambungan pelanggan dan perkuatan distribusi dengan perincian sebagai berikut: – Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik – Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability) pelayanan tenaga listrik pada pelanggan (power quality). Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti dimaksud dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009. maka pembangkit energi terbarukan sampai dengan 10 MW dapat tersambung langsung ke jaringan distribusi.

sehingga rasio elektrifikasi akan mencapai 94% pada tahun 2020.5. Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik PLN adalah pengalihan dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri RUPTL 2011. AC. Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat. lemari es dan lainnya. Proses tersebut memerlukan tenaga listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya. Sebagai langkah awal PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga 10 tahun ke depan.6 juta per tahun. program elektrifikasi dan pengalihan captive power ke jaringan PLN. Penambahan pelanggan baru tersebut tidak hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga mencakup mereka yang berada di luar wilayah usaha. khususnya pada daerah-daerah yang telah menjadi wilayah usaha PLN. disamping input-input barang dan jasa lainnya. yaitu rata-rata 2.2020 57 . yaitu pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik saat ini maupun di masa yang akan datang agar PLN dapat memenuhi kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut.2 ASUMSI DALAM PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Hal ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia. Sebagai upaya PLN untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam wilayah usahanya. dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang baik. Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama. TV. PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang besar. Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses meningkatkan output barang dan jasa. Faktor kedua adalah program elektrifikasi. PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Umum wajib menyediakan tenaga listrik secara terusmenerus. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan barang-barang / peralatan listrik seperti radio.

Faktor lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka melayani kebutuhan pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang cukup dan andal. 5.2020 . Model ini merupakan metode regresi yang menggunakan data historis dari penjualan energi listrik.1. jumlah pelanggan. jadi tidak berlaku umum.5% – 6. terutama pelanggan industri dan bisnis. maka captive power ini dengan berbagai pertimbangannya akan beralih menjadi pelanggan PLN. atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 5. Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan listrik ke depan dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar (korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik. Aplikasi ini dilengkapi juga dengan fasilitas melihat tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti parameter tingkat korelasi. maka digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. Bilamana kemampuan PLN untuk melayani di daerah tersebut telah meningkat.18% per tahun. dan uji statistik. 58 RUPTL 2011.1 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang dinyatakan dalam produk domestik bruto (PDB) dengan harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata 5.32% seperti diperlihatkan pada Tabel 5. Penyambungan pelanggan baru tergantung dari ketersediaan pendanaan. dan populasi untuk membentuk persamaan yang fit.berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN. yaitu pertumbuhan ekonomi dan populasi. pertumbuhan ekonomi.2. daya tersambung. sementara harga jual listrik PLN relatif lebih murah. Faktor ketiga ini sangat bergantung kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem kelistrikan dan skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar. Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah model prakiraan beban yang disebut “Simple-E”. Captive power ini timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan di suatu daerah. Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / bisnis.

maka RUPTL ini mengadopsi asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang digunakan dalam RPJMN 2011-2014 dan Draft RUKN 2010 – 2029 untuk periode diatas 2014 sebesar 6.66 1. selanjutnya oleh PLN angka tersebut dijabarkan menjadi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.08 Sumber: Statistik Indonesia. Memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi tersebut diatas.75 1. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Wilayah 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Indonesia 6.7 6.50 6.2 5. Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga tahun 2020 PLN menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh Bappenas dan Badan Pusat Statistik dalam buku ”Proyeksi Penduduk Indonesia 20002025” [1] edisi tahun 2008.7 8.2 8.2 8.1%.1 6.9 6.44 1.78 5.83 4.85 1.2 7.7 6.17 2.9 6.50 1.2 8.9 6.3 7.7 6.5%) sebagaimana terlihat pada tabel 5.2 8. BPS Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4. luar Jawa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.67 5.3 7.8 8.7 6.08 2. RUPTL 2011.5 7. Tabel 5.57 1. Pada Tabel 5.9 6.06 4.9 Jawa Bali 6. Perekonomian Indonesia kembali pulih pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6.9 6. Pemerintah memandang pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2011-2014.31 4.2020 59 .Tabel 5.9% per tahun.2 8.4 juta KK berdasar sensus penduduk tahun 2010.7 Luar Jawa Bali 7.0 7.2 6.6 juta orang dan jumlah rumah tangga 61.2 6.90 3.2.05 5.96 2.1 disebabkan oleh imbas krisis financial global yang terjadi pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009.2 Pertumbuhan Penduduk Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237.50 6.4 6.2.39 1.5 8.7 6. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia PDB 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 PDB (Triliun Rp) 1.3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali.32 6.22 Growth PDB (%) 4.

792 2012 6.856 2014 7.00 0.053 RUPTL 2011. 4 Pertumbuhan Ekonomi.63 1.81 1.2 41.3 PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK 2011 .2.87 1.06 0. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun 2020 akan menjadi 328.9 246.345 2013 7.4 47.768 2019 6.53 2013 1.496 2018 6.39 2017 1.1 35.3 TWh.4 210.75 1.3 55.88 0.7 2011 6.71 1.92 0.6 44.9 305.444 2017 6.2020 .2 193.1 145.26 2020 0.9 227.9 328.2 162.301 2020 6.96 0.35 2018 0. kebutuhan tenaga listrik selanjutnya diproyeksikan dan hasilnya diberikan pada Tabel 5. Tabel 5. Sedangkan beban puncak non coincident pada tahun 2020 akan menjadi 55.31 2019 0.Bali Luar Jawa Bali 2011 1.6 38.90 1.9 264.2020 Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5.5% per tahun.67 1.56 2012 1.18 0.09 0.053 MW atau tumbuh ratarata sebesar 8.12 0.46 2015 1.78 1.456 2015 6.5 177.49 2014 1.5.03 0.9 284.Tabel 5.92 1.22 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025” [1] 5.15 0.4 32.84 1.4 27.177 TWh 2010 Ekonomi % 6.7 51.8 30.361 2016 6. atau tumbuh rata-rata 8.42 2016 1. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) Tahun Indonesia Jawa . Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan Beban Puncak Periode 2010 – 2020 60 Tahun Pertumbuhan Sales Jumlah Beban Puncak (non-coincident) MW 25.14% per tahun.

7 92.3 58.8 juta dan akan bertambah menjadi 69.1 82.5 2017 258. rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015 diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN (0. Pertumbuhan Pelanggan dan Rasio Elektrifikasi Periode 2011 – 2020 Tahun Penduduk Pelanggan Rasio Elek.8 85.2 74.4 2013 246.9 69.7 2020 264. RUPTL 2011.8 77.1 90.7 53.5.7 2016 255. pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi diperlihatkan pada Tabel 5.6 66.7 64.9 2018 260. Tabel 5.0 45. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi dari 71.9 48.9 2012 243.9 2015 252.0 juta pada tahun 2020 atau bertambah rata-rata 2.5 56.0 61. Proyeksi jumlah penduduk.9% pada tahun 2011 menjadi 94.3%) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5. Juta Juta % 2011 241.0 94.5.9 50.4 79.2 92.3 2019 262.4 87.2020 61 .Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2011 adalah sebesar 45. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk.7 juta per tahun.4% pada tahun 2020.4 Rasio Elek RUKN % 83.2 Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam RUKN tahun 2008-2027.8 71.1 2014 249.

0 8.5 10.0 10.1.1 26.5 8.2 TWh pada tahun 2011 menjadi 241.3 88.8 135.7 85.2020 .4 97.Jawa-Bali .8% per tahun.7 55. Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi Unit 1.6 10.9 9.Pertumbuhan .4 14.0 % 71.6 8.Indonesia .5 88.2 94.3 TWh pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 10.3 74.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 62 RUPTL 2011.2 13.1 TWh menjadi 31.8% Gambar 5.Energy Demand .Indonesia Barat 2.Indonesia Timur .3 % 11.4 91.9 72.2 7. 24 TWh 55 TWh 2011 2020 IB : 10.2 9.8% 125 TWh 241 TWh JB : 7.4 67.3 284.9 210.2% per tahun.9 81.5 74.6 46.0 90.1 81.5 18.7 TWh atau tumbuh rata-rata 10.3 93.0 TWh pada tahun 2011 menjadi 55.4 211.5 22.6 Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 2011–2020 ditunjukkan pada Tabel 5.0 9.Indonesia Barat 3.4 39.8% per tahun.7 32. Pada periode 2011-2020 kebutuhan listrik sistem Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 125.8 7.8 9.4 125.Indonesia Timur .1 24.2 8.2 31.Rasio Elektrifikasi .9 246.5 9.Jawa-Bali .4 75. atau tumbuh rata-rata 7.3 241.5 72.2% 31 13 TWh TWh IT : 10.Jawa-Bali .1 76.Indonesia .6 76.7 79.7 81.8 15. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik.1 12.1 7.1 158.4 6.Indonesia Timur .Indonesia Barat 2011 2012 2014 2016 2018 2020 TWh 162. Untuk Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari 13.Tabel 5.6 328.0 177. Wilayah Indonesia Barat tumbuh dari 24.1 26.2 TWh pada tahun 2020.Indonesia .4 15.5 85.8 65.1 9.8 86.4 16.2 184.4 8.6 dan Gambar 5.5 7.

namun lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.000 Indonesia Timur 25.0  400.000 300.000 Industri 100.000 Industri Publik Bisnis 15.2020 63 .3.0  250.0  200. Pelanggan residensial masih mendominasi penjualan hingga tahun 2020.0  50.000 200. 300.Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada Gambar 5.000 0 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 5.2.000 Residensial 50. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi pelanggan industri adalah cukup kecil.000 50.000 Publik Bisnis 100.000 Industri 150.000 250.000 Indonesia Jawa‐Bali 250. yaitu masing-masing hanya 10% dan 17%.000 Publik Bisnis 50.000 Industri Publik Bisnis 30.000 200.000 35.0  100.000 30. yaitu 40% dari total penjualan.0  150.000 Indonesia Barat 20.000 150.000 40.000 350.0  300.000 Residensial 10. yaitu 59% untuk Indonesia Timur dan 60% untuk Indonesia Barat.000 Residensial 0 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 60.000 Residensial 5.000 20.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020 Proyeksi penjualan pada RUPTL 2011-2020 sedikit lebih tinggi daripada draft RUKN 20102029.0  350.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN RUPTL 2011.0  ‐ 2010 2011 2012 2013 RUPTL 2014 2015 RUKN 08‐27 2016 2017 2018 2019 2020 RUKN 10‐29 Gambar 5. 450.000 10. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem Jawa Bali kelompok pelanggan industri mempunyai porsi yang sangat besar.

2020 . Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih kecil.4 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT 5. Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5. Selain itu terdapat beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110 MW.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit 5. serta PLTA. PLTG BBM pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW40. kandidat PLTU batubara adalah 25 MW.1. kandidat PLTU batubara adalah 100 MW. 50 MW dan 100 MW dengan PLTG pemikul beban puncak 25-30 MW dan 50 MW.4.000 MW per unit didasarkan pada pertimbangan efisiensi41 dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban puncaknya sudah akan melampaui 25.5.4. 64 RUPTL 2011. 300 MW dan 400 MW.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit di Indonesia Barat dan Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas sistem. 5. Untuk sistem Sumatera misalnya.000 MW.1. kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah PLTU batubara ultra supercritical kelas 1.7. Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali sebesar 1. PLTGU LNG/gas alam 750 MW.000 MW juga disertakan sebagai kandidat dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan. 40 41 Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai efisiensi jauh lebih tinggi daripada teknologi subcritical. PLTN jenis pressurised water reactor kelas 1.000 MW dan supercritical 600 MW. 200 MW. PLTG pemikul beban puncak 100 MW.2 Sistem Jawa-Bali Pada sistem Jawa-Bali.4. Untuk sistem Kalimantan dan Sulawesi.

59 tahun 2009. RUPTL 2011.4.000 MW”.100 kcal/kg Batubara – Lignite USD 50/Ton 4.370 kcal/l Uap Panas Bumi Uranium (tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan karena diperlakukan sebagai fixed plant) USD 120/lb *) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel 5.000 kcal/Mscf HSD *) USD 0.8.59/2009) bakar Batubara Dengan Peraturan Presiden No.200 kcal/kg Batubara – Lignite di Mulut Tambang USD 35/Ton 4.2020 65 .070 kcal/l MFO *) USD 0.78/Liter 9.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Program ini dikenal sebagai “Proyek Percepatan Pembangkit 10. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar Jenis Energi Primer Harga Nilai Kalor Batubara – Sub Bituminous USD 80/Ton 5.Tabel 5.62/Liter 9.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan (Perpres No.000 kcal/Mscf LNG USD 10/MMBTU 252. 71/2006 jo Perpres No.200 kcal/kg Gas alam USD 6/MMBTU 252.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan Presiden No. Berdasar penugasan tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5. Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak kurang lebih 10.

2020 .5 2012 PLTU 1 di NTT (Ende) 2x7 2012 2x30 2010-2011 PLTU 2 di NTT (Kupang) 2x15 2012 2x5 Batal PLTU 1 di NTB (Bima) 2x10 2012 2x27. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW (Peraturan Presiden No. sedangkan pembangkit lain yang semula dijadwalkan selesai 66 RUPTL 2011.71/2006 jo Perpres No.59/2009) Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi PLTU 2 di Banten (Labuan) 2x315 2009-2010 3x330 2011 1x625 2011 3x315 2011-2012 3x350 2012-2013 2x315 2011 1x600 2014 2x315 2012 1x660 2012 2x300 2013 PLTU di NAD (Meulaboh) 2x110 2012 PLTU 2 di Sumut (Pangkalan Susu) 2x220 2012 PLTU 1 di Riau (Bengkalis) 2x10 2012 PLTU Tenayan di Riau 2x110 PLTU di Kepri (Tanjung Balai) PLTU di Jabar Utara (Indramayu) PLTU 1 di Banten (Suralaya Unit 8) PLTU 3 di Banten (Lontar) PLTU di Jabar Selatan (Pelabuhan Ratu) PLTU 1 di Jateng (Rembang) PLTU 2 di Jateng (PLTU Adipala) PLTU 1 di Jatim (Pacitan) PLTU 2 di Jatim (Paiton Unit 9) PLTU 3 di Jatim (Tanjung Awar-awar) PLTU 4 di Babel (Belitung) PLTU 3 di Babel (Air Anyer) PLTU 2 di Riau (Selat Panjang) PLTU 2 di Kalbar (Pantai Kura-Kura) PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) Kapasitas (MW) Tahun Operasi 2x112 2012-2013 2x100 2012 2x50 2012 2x100 2013-2014 2x60 2012-2013 2x65 2011 2x25 2011 2x25 2012-2013 2x7 2012 2x10 2012 2x7 Batal 2x15 2012-2013 PLTU di Sultra (Kendari) 2x10 2011-2012 2014 PLTU di Sulsel (Barru) 2x50 2012 2x7 2011 PLTU 2 di NTB (Lombok) 2x25 2012 2x16.Tabel 5.5 2012-2013 PLTU 1 Sulut 2x25 2014 2x112 2012-2013 PLTU 2 di Kalteng 2x7 Batal Nama Pembangkit PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) PLTU di Lampung (Tarahan Baru) PLTU 1 di Kalbar (Parit Baru) PLTU di Kaltim (Kariangau) PLTU 1 di Kalteng (Pulang Pisau) PLTU di Kalsel (Asam-Asam) PLTU 2 di Sulut (Amurang) PLTU di Gorontalo PLTU di Maluku Utara (Tidore) PLTU 2 di Papua (Jayapura) PLTU 1 di Papua (Timika) PLTU di Maluku (Ambon) Sampai dengan Desember 2010 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah selesai dan beroperasi komersial adalah hanya PLTU Labuan Unit 1 dan unit 2 (2x300 MW).

PLTGU 860 MW.4. PLTU Bali Timur. dan Tanjung Awar-awar 1 (350 MW). yaitu Suralaya Unit 8 (625 MW). Dalam perjalanannya proyek-proyek yang termasuk dalam program tersebut banyak mengalami keterlambatan dan beberapa telah diusulkan kepada Kementerian ESDM untuk dibatalkan karena masalah-masalah seperti kekurangan pasokan gas dan ketidaksiapan pengembangan panas bumi. 5. Untuk Indonesia Barat dan Timur proyek pembangkit yang akan mulai beroperasi 2011 adalah PLTU Tanjung Balai Karimun. PLTU Asam-Asam. Lontar 1-2 (2x315 MW) dan Rembang unit 1-2 (2x315 MW). PLTU Tarahan. Indramayu Unit 1-2-3 (3x330 MW). Sedangkan pada tahun 2013 akan beroperasi PLTU Pelabuhan Ratu 3 (350 MW) dan Tanjung Awar-awar 2 (350 MW). PLTP Darajat. sedangkan proyek-proyek di luar Jawa Bali akan mengalami keterlambatan lebih dari itu.391 MW. PLTP 3. Keterlambatan tersebut terutama disebabkan oleh financing yang terlambat dan permasalahan konstruksi. PLTU Bangka. PLTP Salak.522 MW. PLTGU Senoro. PLTU Waingapu.204 MW. RUPTL 2011. Pelabuhan Ratu 1-2 (2x350 MW).165 MW. 02/2010 jo No. Proyek-proyek yang diusulkan untuk dibatalkan adalah PLTGU Muara Tawar add-on Blok 3-4. 15/2010 mencakup PLTU batubara 3. dan selanjutnya pada 2014 akan beroperasi PLTU Adipala (660 MW). PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking). dan PLTU Kendari. PLTG 100 MW dan PLTA 1. PLTU Kotabaru. PLTU Masohi. Selain itu juga terdapat proyek yang diusulkan untuk dikeluarkan dari FTP2 karena akan didanai dengan APBN yaitu PLTU Sampit.967 MW. dengan kapasitas total 9. Pada tahun 2012 dijadwalkan proyek-proyek sebanyak 1.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. Lontar Unit 3 (315 MW).dalam tahun 2010 ternyata mundur ke tahun 2011 sebesar 4.365 MW berikut akan beroperasi: Pacitan 1-2 (2x315MW). PLTU 2 Sulut. PLTU Moutong. Proyek-proyek pembangkit PerPres 71 di Jawa Bali mengalami keterlambatan rata-rata 1 tahun. Paiton baru (660 MW).2020 67 . sedangkan sebagian besar akan beroperasi tahun 2012-2013.

Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 42 Kebutuhan investasi sekitar US$ 9 milyar jika biaya pengembangan US$ 2. PLTP Simbolon Samosir.804 3.757 IPP MW 484 0 0 4.235 MW sebagai proyek IPP.Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang berubah status dan jadwal yaitu PLTGU Bangkanai (IPP) menjadi PLTG Bangkanai (PLN).530 1. Sedangkan proyek PLTP yang diusulkan sebesar 885 MW antara lain PLTP Gunung Endut. Pengembangan panas bumi sebanyak itu selama 10 tahun ke depan merupakan suatu rencana pengembangan yang relatif sangat besar untuk PLTP dengan jumlah investasi yang sangat tinggi42. Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 9. PLTA Wampu.025 MW. Tabel 5.992 Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5. PLTP Gunung Ciremai.870 MW. Selain mengusulkan pembatalan beberapa proyek.753 280 64 4. PLTP 4. PLTP Wai Ratai. PLTP Suoh Sekincau.992 MW untuk jangka waktu sampai dengan tahun 2019.870 3. PLTGB 64 MW dan PLTA 1.269 280 64 340 1. PLTP Bonjol dan PLTP Mataloko. beberapa PLTU kecil menjadi PLTGB dan hampir semua PLTP terlambat. Usulan perubahan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 yang telah disampaikan PLN diberikan pada Tabel 5.757 MW sebagai proyek PLN dan 6.992 MW tersebut terdiri atas 3. Pengembangan ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL 2011-2020 ini yang mencapai 6.9 dengan komposisi PLTU batubara 3.500/kW.247 MW hingga tahun 2020. PLTA Bonto Batu. 68 RUPTL 2011.9 akan menjadi 66%. PLTA Hasang dan PLTA Peusangan-4.221 6. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 Pemilik Satuan PLTA PLTG PLTGB PLTP PLTU Jumlah PLN MW 1. PLN juga mengusulkan tambahan beberapa proyek pembangkit EBT seperti PLTA dan PLTP yang baru saja memperoleh penetapan WKP oleh Kementerian ESDM berikut transmisi terkaitnya.025 9. PLTA Malea. PLTP Sipoholon Ria-Ria. PLTP Danau Ranau. PLTA Semangka. Proyek PLTA yang diusulkan sebesar 516 MW antara lain PLTA Rajamandala.2020 .235 Jumlah MW 1.753 MW dengan kapasitas total 9. PLTG 280 MW.

5. RUPTL 2011.4. 5.4. 67/2005 jo PerPres No. Pada saat ini terdapat 7 proyek yang terdapat dalam buku KPS 2011 seperti dalam tabel 5.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang Dalam RUPTL 2011-2020 terdapat rencana pembangunan 7.tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN dalam membuat pinjaman baru. Tabel 5. yang terdiri dari 6.310 MW PLTU batubara mulut tambang di Sumatera sampai dengan tahun 2020. dan sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2. Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit – pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (interkoneksi). 5. melainkan berdasarkan biaya produksi batubara plus margin.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia ditunjukkan pada Tabel 5. 13/2010. dan harga tersebut berlaku sepanjang umur PPA (locked-in).510 MW akan dikembangkan oleh IPP dan 800 MW oleh PLN.4. PLN telah mengusulkan agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan berdasarkan harga pasar.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan PerPres No. 6 sebagai proyek KPS. Memperhatikan lokasi PLTU mulut tambang yang berada di dekat sumber batubara yang tidak mempunyai akses untuk mentransportasi batubara keluar dari sumber batubara tersebut dalam volume yang besar. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 No Nama Proyek Kapasitas Provinsi Status Keterangan 1 PLTU Jateng 2x1000 MW Jateng Sudah Tender Sudah PPA 2 PLTU Jambi 2x400 MW Jambi Prioritas Solicited karena ada dalam RUPTL 2010-2019 3 PLTU Sumsel-9 2x600 MW Sumsel Potensial Solicited 4 PLTU Sumsel-10 600 MW Sumsel Potensial Solicited 5 PLTU Kaltim 2x100 MW Kaltim Potensial Solicited 6 PLTU Sulut 2x55 MW Sulut Potensial Solicited 7 PLTA Karama 450 MW Sulbar Prioritas Unsolicited Usulan Pemprov Sulbar PLN mengusulkan proyek nomor 1 s.11.2020 69 .10.d.

112 63 743 405 1 17 20 12 0 5.719 855 44 70 2 3.573 6.283 1.4. Untuk energi terbarukan.345 Tabel 5.1 GW atau 11.698 24 594 222 20 18 6 1 5.656 1.785 957 85 6 581 22 1 6. yang terbesar adalah panas bumi sebesar 6.570 235 140 41 7 242 20 2.992 35.141 63 873 509 1 38 220 32 0 6.2% dari kapasitas total.882 Total 19.132 33 234 8 81 4.1%.495 460 206 378 837 79 23.372 2.521 245 90 45 16 1. – Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 31.780 898 20 480 22 5 279 14 1.036 752 2.357 1.263 4.436 2.440 164 1 6 3 31.247 3.5 GW atau 43.4 GW atau 56.172 3.505 102 60 180 102 204 8 32 688 1.972 415 750 630 18 2 135 950 10 4.832 426 30 22 4 804 1.8%.7%.782 2.944 4.1% dari tambahan kapasitas keseluruhan.102 924 150 16 10 6 1.164 4.019 1.9%.106 1.829 1.971 55 116 1.971 2.090 140 41 51 312 22 5.463 425 1.040 7 7.274 4.718 1.582 343 1 246 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 3. – PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun.034 1.353 16.945 2.404 20 750 75 17 2 294 450 6 1 3.522 220 750 630 18 2 950 10 4.477 4.040 7 1.675 937 1 40 3 4.073 115 296 1.015 450 195 135 780 4.6 GW per tahun. 5.583 5.774 24 444 222 4 8 1 4.270 83 2.290 480 22 5 362 14 4.590 2.Tabel 5.877 3. (2) Sistem Kalimantan Barat.093 194 501 2. yaitu: (1) Sistem Sumatra.947 258 790 41 139 49 43 1 5 2 4.008 1. disusul oleh PLTA sebesar 6.254 250 83 30 22 3 558 1.289 1. yaitu mencapai 35. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 24.426 13 790 41 49 4 27 1 5 2 2.11 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: – Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode 2011 – 2020) untuk seluruh Indonesia adalah 55.690 4.803 3.6 GW atau 63.110 20 85 5 541 19 1 1.917 2.110 1.992 1.610 750 75 17 2 294 450 6 1 5.2020 .181 1.537 5.030 33 30 49 4.8 GW atau pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 5.440 243 1 6 3 55.2 GW atau 11. 70 RUPTL 2011.887 194 123 1.029 130 104 22 200 20 1. sementara PLTGU gas dengan kapasitas 3.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Indonesia Barat dan Indonesia Timur Pada Wilayah Operasi Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari 5 sistem interkoneksi.3 GW atau 5.

1 Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15.5. Luwuk.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Barat yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8.916 MW di Indonesia Barat dan 7.781 MW di Indonesia Timur.372 MW dan juga PLTA sebesar 2. Kendari. Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 7. Belitung. Sumbawa. 5.2020 71 . Dari tabel 5.13 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 4. Bontang.4. Ketapang. Pengembangan pembangkit di Indonesia barat dan Timur untuk PLTP diproyeksikan cukup besar. Ternate. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan. Sungai Penuh. Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil khususnya Indonesia bagian timur yang besar bebannya belum cukup tinggi untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil.3 GW (52. Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated yang cukup besar dengan beban puncak di atas 50 MW.(3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur. Rengat. Bau-Bau. Ambon.4%). Sedangkan pada tabel 5.4%). dan terdapat beberapa sistem isolated dengan beban puncak di atas 10 MW.12 dan Tabel 5. yaitu Bangka.13.6%).6%).908 MW. Pangkalan Bun.6 GW (58. Sintang. termasuk committed dan ongoing projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5. Tanjung Balai Karimun. Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam skala relatif kecil. (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5) Sistem Sulawesi Selatan. Lombok. Kolaka. Meulaboh. Saat ini perusahaan yang RUPTL 2011. Gorontalo.6 GW (47. lebih kecil dibandingkan pembangkit yang dibangun oleh PLN. Tanjung Pinang dan Palu. Takengon.2 GW (41. Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 3. Bima. Kupang. yaitu 3. Sampit. Sorong. yaitu Jayapura.

455 1.084 1.619 55 116 602 95 39 2.806 2.085 2.078 166 1.440 639 45 120 41 12 32 7 895 132 101 30 22 4 249 7 544 275 75 75 6 139 16 1 586 378 70 50 22 5 230 11 766 282 65 75 17 2 294 1 736 200 30 30 18 2 117 7 404 - 2.781 RUPTL 2011.416 Tabel 5.556 1.683 430 405 30 132 3 1. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.000 947 690 6 1.309 132 1 6 3 7.2020 .917 246 2. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 72 2011 2012 165 24 - 2013 2014 4 8 343 8 25 1 17 20 1 0 202 413 871 25 200 60 - 344 450 33 30 15 60 - 7 10 6 17 200 4 - 180 80 41 8 27 2015 2016 561 13 70 41 49 4 16 1 5 2 761 222 15 120 41 7 32 5 2017 2018 30 22 3 59 7 5 139 13 268 20 50 22 5 230 11 441 203 1 312 606 598 25 417 30 132 18 215 55 110 50 - - 1 190 - - 40 5 60 20 83 - 75 - 2019 2020 282 20 75 17 2 294 Total 30 18 2 7 1 691 57 45 200 30 - - 1 117 16 679 2 454 341 3 274 160 - 48 481 396 45 347 190 24 11 18 6 1 250 543 8 85 1 34 220 4 0 895 404 180 530 33 71 8 42 1.251 1.525 748 220 570 32 45 8 1.252 400 405 83 888 425 690 1.721 550 116 2.202 455 180 1.195 4.577 55 116 580 34 2. Tabel 5.957 253 180 140 112 525 58 3.267 1.643 772 220 200 3 1.115 250 250 313 222 0 535 818 55 130 424 28 1.mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).159 38 70 41 89 4 32 1 5 2 1.330 660 20 39 23 12 2.099 105 15. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.225 4. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 74 222 0 296 804 55 380 12 1.245 202 925 194 123 785 74 1 6 3 4. Apabila proyek tersebut layak secara teknis.673 650 612 10 405 6 1.144 930 56 986 600 612 40 1.367 130 66 166 247 21 7.065 194 235 1.012 851 84 8.082 8.362 205 570 8 783 688 220 20 12 940 250 437 687 50 10 365 6 431 30 30 49 3 112 522 6 528 522 220 200 3 945 239 239 14 130 44 16 204 42 22 95 5 164 543 220 32 45 840 642 440 39 23 1.334 4.180 493 1.623 1.

5. – Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada.5. – PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2016. – Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan pembangkit kecil tersebar di wilayah operasi Indonesia Timur.3 Proyek – Proyek Strategis Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat meliputi antara lain: – Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang mengalami kekurangan pasokan tenaga listrik dan untuk mengurangi pemakaian BBM. 5. pembangunan PLTG peaking di Kaltim dan Sulsel. Sulawesi.4. – Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi. – PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP.5.2 Neraca Daya Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat pada Lampiran A dan Lampiran B. sangat strategis untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara. – PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC.4. – Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera. RUPTL 2011.2020 73 . – PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat dioperasikan sebagai pembangkit peaking. Maluku dan Papua yang menjadi andalan pasokan listrik setempat. – PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan tujuh Kabupaten Baru di Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum dilayani listrik PLN.

147 RUPTL 2011.200 815 400 2.440 6 32.845 3.965 3.102 1.6 GW atau 70. Tabel 5.860 270 37 4.979 2017 3 813 3 873 1.440 6 18.000 600 - 2019 62 1.2 GW atau pertambahan kapasitas ratarata mencapai 3. Tabel 5.050 2015 660 2016 660 150 3.7 GW atau 42. – PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun.040 37 2020 Total 600 1.965 444 743 2014 1.415 855 183 4.040 150 18 3 1.130 1.9% dan PLTA/PLTM/PS sebesar 2.5 GW atau 57.837 950 100 374 2.6.000 165 750 400 18 950 3. – Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 18. disusul oleh PLTG 1 GW atau 3.000 750 750 400 450 950 400 210 3.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit Pada Tabel 5.050 2018 1.527 1.000 1.070 2.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali 5.167 1. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 13. termasuk PLTM skala kecil tersebar sebesar 118 MW dan PLTGB 6 MW.655 1.195 594 9 4. sementara PLTGU gas menempati urutan kedua dengan kapasitas 2.535 2.0%.2020 .1%.462 10.1%.9 GW atau 8.6%.4. yaitu mencapai 22.565 2.660 385 3.875 150 100 65 13.800 3.092 3.100 380 1.8%.780 743 4 4.495 2.520 325 62 1.9 GW atau 9.860 270 600 815 855 165 60 150 9 4 68 18 47 18 819 819 128 398 2.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang dibutuhkan dalam kurun waktu 2011-2020 di sistem Jawa-Bali.687 950 309 2. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total 74 2011 2012 2013 3.520 325 2.8 GW atau 8.947 3.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: – Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan (periode 20112020) untuk Jawa-Bali adalah 32.415 600 855 750 450 2. Untuk energi terbarukan seperti panas bumi sebesar 2.875 2.708 660 815 1.4% dari tambahan kapasitas keseluruhan.040 4.283 12.5.178 1.037 1.798 3.4.050 60 68 1.320 385 257 3 2.211 2.685 22.2 GW per tahun.

dimana tambahan sebesar 1.71/2006 dan sisanya sebesar 1. Untuk meningkatkan reserve margin mendekati kriteria keandalan yang dikehendaki.4. diperlukan tambahan pembangkit sebesar 3x600 MW pada tahun 2015.737 MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No.040 MW adalah Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2.2 Neraca Daya Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa Bali sampai dengan tahun 2020 berjumlah 32.100 MW merupakan Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2. Kapasitas tersebut akan dipenuhi oleh 2 unit PLTU IPP kelas 600 MW dan ekspansi PLTU Lontar 1x660 MW. yang terdiri dari pembangkit PLN berjumlah 8.352 MW. Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 25% karena mundurnya Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 antara lain PLTU Indramayu 1x1000 MW. sedangkan proyek IPP berjumlah 6. RUPTL 2011.317 MW.6. Dalam jangka menengah (2014 – 2016) tambahan pembangkit yang berupa proyek PLN berjumlah 2.782 MW. PLTU Madura 2x200 MW dan proyek-proyek panas bumi. atau rata-rata sekitar 3.567 MW (42. Untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek transmisi HVDC Sumatera-Jawa yang sangat panjang (700 km) dan pembangkitnya di Sumatera Selatan. Upper Cisokan Pumped Storage 4x250 MW. Jumlah tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN berjumlah 18.4%).5. Tambahan kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk PLTU Tanjung Jati A yang akan dikembangkan oleh PT TJPC atau ekspansi pembangkit eksisting PLN atau ekspansi IPP atau pembangunan PLTU baru. Jadwal dan kebutuhan masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada 5.6%) dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13.023 MW (tidak termasuk PLTM tersebar 118 MW dan PLTGB 6 MW).456 MW (57.16.625 MW adalah proyek IPP. dalam RUPTL ini direncanakan tambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa-Bali pada tahun 2016-2017 sebesar 2x660 MW.2020 75 . Selain itu masih ada rencana Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 yang beroperasi pada 2013 yaitu PLTP Patuha 60 MW (IPP). tambahan pembangkit dari proyek-proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan (proyek ongoing) berjumlah 10. Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2013).200 MW per tahun. dimana 1.

606 0 3.844 50.925 20.474 815 4.415 1.606 0 3.407 17.9 192.050 PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTG PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA 750 1. Awar-awar Cilacap Baru / Adipala Tanjung Jati B #3-4 Sub Total On-going & Committed Rencana PLTGU Tuban/Cepu Indramayu #4 (FTP2) & #5 Lontar Exp #4 PLTU Bekasi PLTG Peaker Semarang PLTG LNG Karangkates #4-5 Kesamben (Jatim) Kalikonto-2 (Jatim) Jatigede (Jabar) Upper Cisokan PS Matenggeng PS Grindulu PS Sub Total Rencana Total PLN IPP On-going dan Committed Project Cikarang Listrindo Cirebon Paiton #3 Celukan Bawang Sub Total On-going & Committed Rencana Banten Madura (2x200 MW) FTP2 Sumsel-8 MT Sumsel-9 MT (PPP) Sumsel-10 MT (PPP) *) PLTU Jawa Tengah (PPP) PLTU Jawa-1 PLTU Jawa-2 PLTU Jawa-3 PLTP FTP2 PLTP Non FTP2 Rajamandala (FTP2) Sub Total Rencana Total IPP Total Tambahan TOTAL KAPASITAS SISTEM RESERVE MARGIN MW PLTGU PLTGU PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU 210 234 743 625 315 630 700 350 990 630 630 660 700 660 660 3.925 21.625 184.0 222.635 171.925 20.6 25.092 2.Tabel 5.774 79.023 1.606 -476 3.050 150 810 870 870 - 380 380 - 1.764 34 30 31 39 43 41 39 39 - - 60 - - 810 4.672 135.8 270.994 79.9 207.262 45.4 153.606 0 3.787 8.845 4.770 79.925 20.742 MW MW 21.531 16.531 16.962 3.8 36.023 1.040 450 4.747 79.606 0 3.240 6.531 16.037 1.0 253.190 375 10 47 2.763 197.217 10.315 41.353 36.1 165.7 31.925 20.102 1.801 211.800 1.134 7.000 1.531 8.8 22.531 16.482 -589 3.925 - - - - - KAPASITAS Kapasitas Terpasang PLN Retired/Mothballed IPP PROYEK-PROYEK PLN On-going dan Committed Project Muara Karang Rep Blok 2 Muara Tawar Blok 5 Priok Extension (Blok 3) Suralaya #8 Labuan Teluk Naga/Lontar Pelabuhan Ratu Indramayu Rembang Pacitan Paiton Baru Tj.606 0 3.925 20.7 29.100 3.499 53.7 27.415 2.100 - - - - - 150 660 815 810 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA - 660 3.655 165 165 3.800 450 500 3.092 2.531 16.974 225.110 27.102 1.531 16.664 660 4.531 16.925 20.947 3.5 20.200 600 1. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 PROYEK Kebutuhan Pertumbuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % GWh % MW 125.082 -400 3.167 1.163 33.9 38.091 31.8 33.822 79.721 78.606 0 3.429 47.415 855 855 2.928 158.065 78.531 16.4 142.106 79.925 20.529 31 41 Catatan: .2020 .769 8.265 32.130 3.0 237.305 241.007 17.664 PLTGU PLTU PLTU PLTU 660 815 660 400 1.697 79.848 7.283 146.000 MW % 750 1.000 660 600 660 325 - 660 160 110 595 220 440 415 165 380 1. 76 RUPTL 2011.200 1.407 7.606 0 3.845 3.000 600 600 150 400 400 100 37 62 110 1.130 4.550 7.000 1.037 1.000 1.089 7.838 60 60 1.925 20.1 23.404 79.0 178.Tanda panah mengindikasikan pergeseran jadwal operasi dari rencana semula (RUPTL 2010-2019) ke jadwal baru (RUPTL 2011-2020).

RUPTL 2011. proyek PLTGU Muara Tawar Add-on 2-3-4 sudah tidak diperlukan lagi.000 MW. Sumsel-9 dan Sumsel-10 yang merupakan PLTU Mulut Tambang di Sumatera Selatan. yaitu Upper Cisokan di Jawa Barat dengan kapasitas 1.2020 77 .14 dimana PLN tidak lagi merencanakan pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak. Neraca daya sistem Jawa-Bali pada tabel 5. Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di Jawa-Bali terlihat dengan jelas pada tabel 4.937 MW dan IPP sebesar 5.040 MW.502 MW. maka direncanakan PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) yang lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan akan terhubung ke GITET Muara Tawar. kecuali beberapa pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan menggunakan bahan bakar minyak atau LNG jika tersedia.565 MW.14 mencantumkan PLTU Sumsel-8. Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering Muara Karang dan Priok dan Muara Tawar Blok 5) direncanakan PLTGU dengan kapasitas 1.700 MW) dan PLTGU Blok-5 (234 MW) cukup untuk tetap menjaga tegangan di subsistem Jakarta. maka telah dikaji kembali kelayakan dari proyek PLTGU Muara Tawar Add-on Blok 2-3-4. Disamping PLTG peaker tersebut direncanakan tiga buah PLTA Pump Storage sebagai pemikul beban puncak. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Mulut Tambang tersebut PLN sedang membangun transmisi 500 kV HVDC interkoneksi Sumatera – Jawa.Dalam jangka panjang (2017–2020) jumlah penambahan kapasitas pembangkit adalah 12. Berdasarkan hasil kajian peran pembangkit Muaratawar di sistem Jawa Bali tahun 2012 . Mengingat pasokan gas ke Muara Tawar yang semakin menurun dan ketidakpastian pasokan LNG. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan pembangkit Muara Tawar eksisting (total 1.500 MW. Memperhatikan peran pembangkit Muara Tawar yang penting untuk menjaga tegangan sistem 500 kV di Jakarta dan memperhatikan pula ketidakpastian pasoka gas ke Muara Tawar.2020.500 MW yang akan menggunakan bahan bakar gas alam yaitu PLTGU Tuban/Cepu 1. Matenggeng di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah sebesar 900 MW dan Grindulu di Jawa Timur sebesar 1. yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 6.

6.000 MW). Proyek ini sangat strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Jawa dengan memanfaatkan cadangan low rank coal di Sumatra Selatan.2020 . Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala besar di pulau Jawa. serta merupakan proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) dengan PerPres No.6. Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2017. memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban dasar dan memperbaiki load factor sistem.000 MW).4. Proyek ini sangat strategis karena dapat meminimalkan biaya operasi sistem serta memberikan banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik. sebagai spinning reserve (cadangan putar). - PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan berfungsi untuk menjaga tegangan di Jakarta serta mengurangi pemakaian BBM/LNG di Muara Karang.040 MW). 78 RUPTL 2011.3 Proyek-proyek Strategis Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut: - PLTU IPP Jawa Tengah (2x1.000 MW.5. dan berlokasi relatif dekat dengan pusat beban industri di sebelah timur Jakarta. Proyek ini hanya dilaksanakan setelah kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan cadangan yang cukup banyak.4. - PLTA Pompa Upper Cisokan (1. maka pengembangan proyek pembangkit baru sebaiknya berlokasi di Jawa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance. pengatur frekuensi. - PLTU Indramayu (2x1. Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2016 dan 2017. antara lain berfungsi sebagai pembangkit beban puncak.4 Regional Balance Sistem Jawa Bali Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa Bagian Barat. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. Priok dan Muara Tawar.16. Jawa Tengah dan Jawa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5. 5. - PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC Sumatera – Jawa dengan kapasitas 3.

102 Tambahan Kapasitas (MW) 300 - - Total (MW) 12. Pemalang. Karawang.16 dan Tabel 5.102 Beban Puncak (MW) 11. maka pada masa yang akan datang diperkirakan akan muncul kendala penyaluran. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 5.2020 79 .2. Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali dapat dilihat pada Lampiran C1. Pada saat ini region Jawa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum mengalami kendala penyaluran listrik ke arah barat karena adanya transmisi 500 kV jalur selatan.429 3. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 Regional Balance Jawa Bagian Barat Jawa Tengah Jawa Timur dan Bali Kapasitas Terpasang (MW) 12.5 Reserve (%) Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di Jawa bagian barat sebelah timur (seputar Bekasi.890 4.Tabel 5. risiko tsunami dan gempa bumi yang lebih tinggi.4. yang dimaksud dengan proyek on going adalah proyek IPP yang telah memiliki PPA dan secara resmi telah mendapat RUPTL 2011.0 27. Batang).129 3. Pekalongan. 5. Pada kedua tabel tersebut.318 7. Indramayu. Lokasi PLTU batubara skala besar di pantai selatan pulau Jawa belum merupakan pilihan prioritas. Penerapan regional balance dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari keperluan untuk membangun transmisi 500 kV pada jalur baru dari timur ke arah barat pulau Jawa. yaitu mencapai sekitar 33% dari total kapasitas terpasang.9 Partisipasi Listrik Swasta Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10 tahun mendatang sangat besar. Cirebon) atau Jawa Tengah sebelah barat (seputar Tegal.675 7.17. karena pertimbangan kesulitan transportasi batubara pada musim-musim gelombang tinggi.675 7. diperlukan konstruksi breakwater yang relatif mahal.1 64. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit baru tidak mempertimbangkan regional balance.611 2.

17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi Proyek On Going PLTA Poso Energy PLTM Goal PLTM Kokok Putih PLTM Wawopada PLTU Simpang Belimbing #1.Unit 3 1 x 120 PLTGU Duri 80 2014-2017 PLTP Sarulla I (FTP2) 2012 PLTP Ulubelu #3. Cycle .4 (FTP2) 2012 PLTP 2013 PLTP Kapasitas (MW) 154 1 x 3 1 x 1 1 x 1 1 x 0 2 x 1 Tahun Operasi 2013-2015 2011 2011 2011 2011 2011-2012 2 x 1 3 x 1 2011-2013 1 x 0 1 x 6 2012 1 x 1 2 x 0 3 x 1 2011-2012 2012 2012 2012-2013 2012-2014 1 x 2 1 x 2 2013 1 x 1 1 x 1 2013 1 x 1 1 x 1 1 x 2 2 x 1 1 x 6 1 x 2 1 x 1 1 x 2 4 x 1 1 x 3 2 x 4 2 x 1 2 x 2 1 x 6 1 x 4 5 x 1 2 x 1 4 x 55 3 x 110 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013-2017 2013-2017 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014-2015 2014-2015 2014-2015 2015 Lho Pria Laot 2 x 55 1 x 7 Muara Laboh (FTP2) 2 x 110 2017 2017 RUPTL 2011. ST Cycle 1 x 90 1 x 30 PLTGU Sengkang-ST-CC . Op.2020 .Borong 2 x 4 2 x 4 2014 PLTP Lumut Balai (FTP2) PLTGU Gunung Megang.Manggarai 2013 PLTM Wolodaesa 2012-2013 PLTM Ngaoli 2012 PLTM Wai Nibe 2013 PLTM Batubota 2012 PLTM Bintang Bano 2012 PLTM Bunta 2013 PLTM Lambangan 2011-2017 PLTM Mala-2 PLTA Sawangan PLTA Bontobatu (Buttu batu 1) #1.2 PLTU PLTU Proyek Rencana PLTA Wampu 2014 2015 PLTM Biak II Simpang Aur (FTP2) 45 23 PLTA PLTA PLTM Biak III Semangka 56 2016 PLTM Ibu PLTA Hasang 40 2017 PLTM Kotaraya PLTA Peusangan-4 83 2018 PLTM Mampueno/Sakita 2 x 8 2 x 50 2 x 45 2015 PLTM Pakasalo 2016 PLTM Rea 2016 PLTM Wae Lega . Tabel 5. Di dalam kategori rencana juga terdapat proyek IPP yang belum ada pemiliknya namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini sebagai kebutuhan sistem. Ada juga proyek yang baru mendapat HOA sudah dimasukkan dalam kategori ‘rencana’.2 (Keban Agung) PLTU Pangkalan Bun 3 x 65 2 x 1 1 x 4 1 x 4 2 x 114 2 x 7 2 x 114 2 x 113 2 x 6 Nama Pembangkit PLTM PLTM Tersebar Sumut 2012 PLTM Hek 2012 PLTM Praikalala I 2012 PLTM Umbuwangu I 2013 PLTM Wae Roa 2011 PLTM Lewa 2012 PLTM Lokomboro III 2014 PLTM Praikalala II 2015 PLTM Kukusan 2011 PLTM Segara Anak 2013 PLTM Umbuwangu II 2013 PLTM Waekelosawa Molotabu 2 x 6 2 x 100 2 x 10 2013 PLTM Maidang Tanah Grogot 2 x 6 2013 PLTM Bambalo III PLTM Biak I PLTU Gorontalo Energi PLTU Jeneponto Bosowa #1.2 PLTU Ketapang PLTU Banjarsari PLTU Sumsel .2 PLTA Malea #1.pendanaan (financial closure).2 PLTGB Melak PLTGB Kotabangun PLTGB Selayar (FTP 2) PLTGB Tual PLTGB Tobelo (FTP2) PLTGB Larantuka 1 x 1 3 x 22 1 x 60 2 x 40 2 x 4 2 x 4 1 x 5 1 x 6 1 x 3 2012 PLTM Rhee 2 x 4 2 x 4 2012-2013 PLTM Walesi Blok II 2013 PLTM Sita . Sedangkan proyek IPP dalam kategori ‘rencana’ meliputi mereka yang telah mempunyai PPA namun belum financial closure.2 PLTB Waingapu PLTG Aceh PLTG Sengkang. Proyek IPP yang statusnya belum mempunyai PPA ini akan diadakan oleh PLN melalui proses tender kompetitif.Unit 2 PLTG Senipah PLTGB Putussibau (FTP2) PLTGB Tanjung Batu (FTP2) PLTGB Belitung .

2 PLTU Simpang Belimbing #3.1 (FTP2) 2018-2019 PLTU Kaltim .4 PLTU PLTU 2 x 25 2 x 10 2014-2015 2014-2015 2 x 25 2 x 100 2015 2014-2015 2015 2 x 10 1 x 7 2015-2016 1 x 50 2 x 100 2017 2016 2017-2018 2017-2018 2020 2014 2015 2015 2015 2015-2016 2 x 150 2 x 150 2 x 300 PLTU PLTU 2014-2015 2 x 15 2 x 7 2 x 30 PLTU 2013 2014-2015 2 x 7 2 x 25 2017 2014 2014 2014-2015 2 x 15 2 x 7 2 x 55 2 x 100 2018-2019 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2 x 7 2 x 100 2 x 100 2 x 20 1 x 1 2 x 4 1 x 7 2014 2 x 7 2 x 7 2 x 110 2 x 55 1 x 55 1 x 55 Tahun Operasi 2 x 300 2 x 400 2015-2016 2015-2016 2016-2017 2016-2017 2018-2019 2 x 25 2 x 7 2019-2020 2 x 7 2 x 7 2013-2014 2 x 15 2 x 28 2014 2013 2014 2014 2 x 25 2 x 10 2014 2014 Tabel 5. Talang PLTP Bonjol PLTP Danau Ranau PLTP Jaboi (FTP2) PLTP Simbolon Samosir PLTP Sipoholon Ria-ria PLTP Wai Ratai PLTP Jailolo (Ekspansi) PLTP Tamboli #1.2 (FTP2) 1 x 20 165 2019 PLTU Makbusun / Sorong 2019 PLTU Merauke-Gudang Arang 110 2019 PLTU Sulut I .Nama Pembangkit PLTP Rajabasa (FTP2) PLTP Sarulla II (FTP2) PLTP Seulawah (FTP2) PLTP Sorik Marapi (FTP2) PLTP Rantau Dedap (FTP2) PLTP Suoh Sekincau PLTP G.2 2013 PLTU Bau-Bau #1.Kema 2 x 5 110 2019 PLTU Sumbawa Baru I (FTP2) 2019 PLTU Mamuju (FTP2) #1.1 2 x 3 1 x 20 2015-2016 PLTU Toboali 2015-2017 PLTU Pontianak .2020 2015 2017 81 .2 2013 PLTU Melak (FTP2) PLTU Biak (FTP2) Jayapura-Skouw 2014 PLTU Kaltim (MT) 2014 PLTU Kendari Baru I (FTP2) #1.2 2019 PLTU Luwuk (FTP2) 2020 PLTU Merauke-Ekspansi 2013 PLTU Embalut (Ekspansi) 1 x 5 2 x 5 1 x 20 1 x 5 1 x 5 2014 PLTU Kaltim (PPP) 2015 PLTU Sulut (PPP) 2015 PLTU Kalteng .2 2019 PLTU Sulsel-2 (Takalar Punaga) #1.3 1 x 5 2 x 5 3 x 5 1 x 20 2 x 10 1 x 5 2016 PLTU Tanjung Pinang 2 (FTP2) 2016-2017 PLTU Tembilahan 2016-2020 PLTU Bangka (FTP2) 2017 PLTU Sumsel .2 TB. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi Proyek On Going Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi PLTP Tangkuban Perahu 2 2 x 30 2015-2016 PLTG Cikarang Listrindo 1 x 150 2011 PLTP Patuha 1 x 60 2 x 60 2013 2015 PLTU Cirebon 1 x 660 2011 PLTP Bedugul 1 x 10 2015 1 x 130 + 2 x 125 2014 PLTP Kamojang 1 x 30 1 x 60 2015 2016 1 x 815 2012 PLTP Candi Umbul Telomoyo 1 x 55 2019 PLTP Wayang Windu 1 x 110 1 x 110 PLTU Celukan Bawang PLTU Paiton 3 Proyek Dalam Rencana RUPTL 2011.6.5 2017 PLTU Sumsel .2 PLTP Lahendong V (FTP-2) PLTP Sokoria (FTP2) PLTP Ulumbu PLTP Oka Larantuka PLTP Lahendong VI (FTP-2) PLTP Atadei (FTP2) PLTP Jailolo (FTP2) PLTP Sokoria PLTP Hu'u (FTP2) PLTP Lainea #1. Karimun 2 x 7 2014 PLTU Selat Panjang Baru #1.2 PLTP Songa Wayaua (FTP2) PLTP Hu'u (Ekspansi) PLTS Waingapu PLTU Sarolangun PLTU IPP Kemitraan PLTU Muko Muko PLTU Nias PLTU Nias (FTP2) Kapasitas (MW) 2 x 110 Tahun Operasi 2017 PLTU Lombok 1 x 110 1 x 55 2017 PLTU Maruni / Andai 2017 PLTU Nabire-Kalibobo 240 Kapasitas (MW) 2 x 25 Nama Pembangkit 2018 PLTU Nunukan (FTP2) 2018-2019 PLTU Kalsel . Mulut Tambang 2012 PLTU Jambi (KPS) 2 x 6 2 x 7 2011 PLTU Pontianak .7 Riau Mulut Tambang Sumsel .2 Tanjung Pinang 1 (TLB) 2 x 114 2 x 15 2014 PLTU Kolaka (FTP2) #1.

19 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN (Persero) dalam sepuluh tahun terakhir.5.2020 . 82 RUPTL 2011.Kapasitas Tahun (MW) Operasi Kapasitas Tahun (MW) Operasi PLTU Madura 2 x 200 2015 PLTP Gn Lawu 2 x 55 2019-2020 PLTU Jawa-1 1 x 660 2015 PLTP Karaha Bodas 1 x 30 2 x 55 2015 2016 PLTU Jawa-2 1 x 600 2015 PLTP Guci 1 x 55 2018 1 x 55 2019 PLTU Jawa-3 2 x 660 2016-2017 PLTP Ijen 2 x 55 2019 PLTU Jawa Tengah 2 x 1000 2016-2017 PLTP Wilis/Ngebel 2 x 55 2018 1 x 55 2019 PLTU Banten 1 x 660 2016 PLTP Gn Ceremai 2 x 55 2019-2020 5 x 600 2016-2018 PLTP Gn Endut 1 x 55 2019 1 x 47 2014 PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018 PLTP Baturaden 2 x 110 2018-2019 PLTP Arjuno Welirang 2 x 55 2019-2020 Nama Pembangkit PLTU Sumatera Mulut Tambang 43 PLTA Rajamandala PLTP Cibuni PLTP Dieng 10 2016 1 x 55 2015 1 x 60 2 x 55 2016 2018-2019 1 x 55 2018 PLTP Ungaran 1 x 30 2 x 55 2019 2019-2020 PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018 PLTP Tangkuban Perahu 1 2 x 55 2018 Nama Pembangkit 1 x 55 2016 2 x 110 2017-2018 PLTP Tampomas 1 x 45 2018 PLTP Cisolok-Sukarame 1 x 50 2 x 55 2017 2018-2019 PLTP Iyang Argopuro 5.5 PROYEKSI NERACA ENERGI DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR 5. namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan gas yang depleted dari sumbernya. Konsumsi batubara terus meningkat.1 Sasaran Fuel Mix 5.1.1 Fuel Mix 1999-2008 Tabel 5.5. 43 PLTU Sumatra mulut tambang diperhitungkan sebagai IPP di sistem Jawa Bali karena sebagian besar produksinya akan ditransfer ke Jawa dengan menggunakan transmisi HVDC. dan karena infrastrukturnya belum tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.

Dalam tahun 2008 komposisi produksi kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM 36%. Target fuel mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari pembangkit 44 Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun masih tetap tinggi sampai sekarang.90 2006 9.8 12.00 2009 9.70 237 11. Dalam RUPTL ini komposisi fuel mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada Tabel 5. RUPTL 2011.96 Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terakhir ini adalah fuel-mix yang terjebak pada pemakaian minyak yang terlalu banyak44.26 2004 8.6 50. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Tahun BBM GAS Batubara juta kl bcf juta ton 1999 4. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis Bahan Bakar (%) Tahun BBM Batubara Gas Tenaga air Panas Bumi 2011 21.20.32 283 23.09 2007 10.51 176 15.41 2000 5. batubara 35%.8 64.03 2002 7.40 222 14. gas alam 17%.Tabel 5.02 229 13.47 2008 11.06 2003 7.00 193 14.98 158 19.61 184 15. RUPTL 2011-2020 merencanakan proyek pembangkit seperti dijelaskan pada Bab 5.14 2001 5.2 17.41 2005 9.41 266 21. Tabel 5. panas bumi 3% dan tenaga air 9%.3 6.2 16. namun produksi listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik termasuk pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN.32 182 21.19.4 Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada Tabel 5.92 2010 9.91 143 16.9 2020 0.69 171 21.2020 83 .0 4.8 5.

selanjutnya dilakukan simulasi produksi energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP. Pembangunan dan sewa PLTD berbahan bakar BBM sangat dibatasi hanya untuk mengatasi krisis penyediaan tenaga listrik jangka pendek.691 46.084 207.828 345.3 dan konfigurasi pembangkit pada butir 4.578 6.628 6 63 737 29.791 13.21 dan Gambar 5.606 6 63 733 23.346 8.043 134. kecuali pada sistem kelistrikan yang terlalu kecil dan terpencil.658 4.828 220. Tabel 5.868 221.578 151. Disamping itu konversi pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN terus mengupayakan tambahan kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa kendala. Jawa.2020 .387 4 63 9.541 5 Batubara 93.331 30.814 258.017 42.21 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang punggung sistem pembangkitan Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun mendatang.394 30.261 2. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak dikembangkan di Sumatera.038 7 63 314 42.002 43.033 185.088 31.316 2. 84 RUPTL 2011.listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara.385 556 44 56 51 65 85 65 3 Gas 32.749 193.4.817 15. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD 29. panas bumi dan PLTGU gas. Pembangkit yang akan dibangun antara lain adalah proyek percepatan 10.891 6 63 721 19.363 12.657 25. Opsi LNG juga akan dikembangkan untuk PLTGU yang berada di Belawan.068 20. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.311 178.524 163.392 238.841 16.432 Hydro 11.549 2. Hal ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi konsumsi BBM.197 4 63 8.846 17.964 7 63 317 46.374 6 7 8 9 10 Surya/Hybrid Biomass Impor Geothermal TOTA L - 2013 Pada Tabel 5.465 2. Jakarta dan Grati.302 322.897 6 63 738 36.939 238.349 20. disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit energi terbarukan.204 12.874 29. dan akan diganti dengan PLTU batubara skala kecil.118 35.000 MW yang akan menurunkan konsumsi BBM secara signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik.049 110.429 21. Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4.650 202.879 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2.005 371.429 2 63 9.807 2.331 2.078 279. sementara pembangkit berbahan bakar minyak direncanakan semakin jauh berkurang.149 11. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (GWh) No.441 43.037 4.635 4 LNG 7.3.405 299.970 14.158 46. dan hasilnya diperlihatkan pada Tabel 5.292 17.428 2 MFO 10.150 5 63 709 11.113 10.992 28.704 19.

22.0 49 125.000 GWh 250.190.2 545.000 200.3 49 82.0 59.1 170.1 37.2 263.8 358.2 49 101. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun 2011 adalah 17%.21 diperlukan bahan bakar dengan volume yang diperlihatkan pada Tabel 5.7 59.3 344.788.610.263.8 120. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (GWh) Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi dalam penyediaan listrik yang semakin besar secara signifikan.2020 41.6 47.000 150.000 2011 Impor 2012 Biomass 2013 Surya/Hybrid 2014 HSD  2015 MFO  2016 LNG Gas 2017 Batubara 2018 2019 Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.254.8 589.737.5 595.8 633.442.3 4. dimana kontribusinya sebesar 5% pada 2011 dan akan meningkat menjadi 12% pada 2020.4 277.0 49 88.7 240.6 49 109.7 49 2015 2016 2017 2018 2019 2020 633.1 227.6 1. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia No.6 49 116.464.002.691.4 122. Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 5.3 2 MFO ( x 10^3 kl ) 1.7 211.2 4 LNG (bcf) 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) RUPTL 2011.7 34.3 49 73.000 300.9 39.794.9 49 96.7 49 85 . Tabel 5.3 341.604. 400.7 248.9 90. Sementara itu kontribusi batubara akan meningkat dari 50% pada tahun 2011 menjadi 64% pada tahun 2020.000 100.000 50. sedangkan LNG mulai tahun 2012 sebesar 4% dan meningkat menjadi 9% pada 2020%.7 550.3 577.3 159. akan menurun menjadi 8% pada tahun 2020. dan direncanakan menurun menjadi 5% pada 2013 dan <1% pada 2020.8 3 Gas (bcf) 329.000 350.754.8 337.1 197.4 365.131.5 44.274.8 2.954. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 1 HSD ( x 10^3 kl ) 7.3 35.7 1.Pada tahun 2011 konsumsi BBM masih sebesar 21%.8 39.

786 8. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh) No.747 14.742 9.509 2012 4.774 11.422 94. Tabel 5.4 kali dan kebutuhan gas alam meningkat 2 kali lipat.271 2013 1.000 250.000 150.746 133.065 8.029 178.273 2015 216 31.404 28.2 Sistem Jawa-Bali Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun 2011-2020 berdasarkan jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.418 109.721 8.722 2020 140 22.365 5.080 7.470 24.5.273 2014 1.028 5.615 25.770 16.695 5.000 2011 HSD  2012 MFO  2013 2014 LNG 2015 Gas 2016 Batubara 2017 Geothermal 2018 2019 2020 Hydro Gambar 5.522 173.823 34. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTA L 2011 13.655 157.926 122.218 4. sedangkan kebutuhan BBM menurun drastis karena digantikan oleh LNG/CNG.107 6.000 100.000 50.412 207.5.143 15. yaitu mengurangi pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan gas. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh) 86 RUPTL 2011.106 22.504 253.995 300.085 84.322 2019 139 19.856 16 33.981 35.092 5. Dalam kurun waktu 2011-2020.822 30.606 7.292 7.163 184.097 6.117 166.474 222.400 2017 114 25.416 2018 120 16.532 142.978 192.140 153.23 dan Gambar 5.128 2016 232 31.684 24.724 5.554 237.000 GWh 200.568 165.582 9.169 270. kebutuhan batubara meningkat 2.549 8. Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai diversifikasi energi.697 9.188 25.5.466 7.2020 .904 144.303 7.

Hal ini terjadi karena pasokan gas pipa untuk pembangkit semakin menurun sehingga LNG menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pembangkit walaupun harganya mencapai lebih dari 2 kali lipat dari gas pipa.1 93.8 36.3 129. Tabel 5.161.2020 87 . Namun demikian porsi gas alam menurun dari 18% pada 2011 menjadi hanya 8% pada 2020. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali No. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatra.1 87.8 81.410.8 2018 34.3 187.6 49.0 123.224. sedangkan LNG meningkat dari 5% pada 2012 menjadi 9% pada 2020).6 64.4 307.5 57.896.25 dan Gambar 5.5 74. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG) mengalami peningkatan sejak tahun 2011 menjadi hampir 2 kali lipat pada tahun 2020. Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat dilihat pada Tabel 5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik.5.8 241.5.2 2013 561. dan Kalimantan Barat diperlihatkan pada Lampiran B. Panas bumi mengalami peningkatan secara signifikan dari 8.24.0 5.1 204.1 263.563.1 79.2 44. maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 51% batubara. yaitu 68% dari seluruh produksi pada tahun 2020.8 2016 65.376.5 2012 1.2 69.169 GWh pada tahun 2020.6 80.0 199.4 141. Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai tahun 2020.4 84.1 212.8 159. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10^3 kl ) MFO ( x 10^3 kl ) Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 2011 3.5 262. 2% minyak dan 21% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.Pada Tabel 5.827.8 247.712.8 260.701. 12% tenaga air. 15% gas alam. atau meningkat hampir 4 kali lipat.7 3.1 49. Sedangkan pangsa tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem Jawa Bali sudah sulit untuk dikembangkan. RUPTL 2011.3 240.8 2015 61.2 2019 39.595.494. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana pengembangan pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.23 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya.1 2020 39.4 59.0 2017 32.055.3 2014 516.532 GWh pada tahun 2011 menjadi 30.

689 63 801 35.317 20.7 77.923.389 17.1 Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 5.148 7.1 3 Gas (bcf) 52.107 2016 834 16 7.819.6 273. Tabel 5.3 46.1 10. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh) No.4 67.533 3.4 304.254 63 709 2.350 5.821 63 721 6.765 42.713 1.502 4.4 39.6 225.9 248.26.030 32.324 17.2020 .6 49.8 11.8 49.1 12.225.000 10.8 49.441 7. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD ( x 10^3 kl ) 2.000 20.407 2012 7.26 yang terus menurun sesungguhnya masih jauh di bawah kebutuhan.713 2.586 4.1 19.1 2 MFO ( x 10^3 kl ) 685.9 37.Tabel 5.9 37.1 9.394 4.4 49.788 4. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh) Kebutuhan bahan bakar di Luar Jawa dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.232 16.854 5. hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN.5 37.493 7. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat No.000 2011 2012 Impor 2013 Biomass HSD  MFO  LNG 2016 Gas 2017 Batubara Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.353 54. pasokan gas 88 RUPTL 2011.876.4 44.415 10.6 43.499 5.144.362 2020 996 35 4.717 2013 3.458 2.445 63 733 6.269 24.459 2018 898 35 5.531 3.000 50.096 7.5 46.293 4.8 4.6 1.635.865 46. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Biomass Impor Geothermal TOTA L 2011 10.226.569 2017 822 21 6.200 64.000 30.087 2014 2015 2018 2019 70.1 6.7 49.0 49.869.1 49.392 63 64 31.3 0.8 14.6 49.205 63 737 10.1 15.346 5.691 58.0 5.1 18.2 8.049 2015 913 3 7.773 49.8 84.8 37.1 76.000 GWh 40.7 258.5 924.377 63 63 28.1 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 274.1 12.8 227.095 7.1 2013 11.8 4 LNG (bcf) 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 4.745 2014 940 177 7.7 49.2 49.1 37.820 4.854.811 63 738 11.859 63 317 13.033 6.575 5.368 2019 982 55 4.1 82.307. Sebagai contoh.5 78.932 4.000 60.0 665.9 51.281 38.476 29.114 6.333.273 20.2 247.977.112 63 314 11.

980 2018 1.283 2020 1. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Kalimantan.874 891 14. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTA L RUPTL 2011.409 1.498 30 4. 4% minyak dan 7% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.923 1.307 30 4. 15% gas alam.090 18. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Indonesia Timur (GWh) No.116 1. 15% tenaga air.041 1.007 17. Idealnya gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat pembangkit.27 dan Gambar 5. Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.242 30 4.6.676 694 7.522 2019 1.2 juta ton akan meningkat tajam menjadi 20 juta ton pada tahun 2020.916 2.199 2014 1.984 156 4.569 378 4.633 33.380 30 3.748 3.503 7 2.216 4 446 16.801 25.964 1.653 2017 1.2020 2011 5. Tabel 5.016 1.071 23.469 5 629 21.295 2015 1.740 2012 5.483 2. 5.234 2 438 14.166 4.5.399 41 3.158 27.659 6 2. maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 58% batubara. Sulawesi. atau sekitar 5 kali lipat untuk 10 tahun mendatang.829 6 2.042 721 11.606 6 1.414 2016 1.033 2.236 3.820 2.untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena depletion.323 6 1.153 5.345 4 458 19.292 89 .071 839 13.928 902 15.349 21.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik.831 5.319 3. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 4.977 2013 2.421 41 4.818 2.351 1.636 36.395 30.345 7 2.788 2. Maluku & Papua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran A.360 2.

0 7.298.834.3 1.000 30.6 9.7 3 Gas (bcf) 13.5 356.0 273.3 21.3 22.2 3.345.2 23.2 juta ton pada tahun 2020.1 21.1 269.5 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.0 12.0 23.3 juta ton akan meningkat tajam menjadi 12.000 10.5 8.2020 .3 2 MFO ( x 10^3 kl ) 612.8 288.5 24.000 5.038.2 276.6 6.5 301.7 30. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD ( x 10^3 kl ) 1.794.163.5 33.7 521. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh) Kebutuhan bahan bakar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.4 4 LNG (bcf) - - 3.40.105.1 21. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 1.2 19.2 13.000 15.3 8.989.310.7 30.8 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 4.000 20.4 9.28 Tabel 5.7 30.2 1. atau sekitar tujuh kali lipat untuk 10 tahun mendatang.7 318.165.000 GWh 25.961.8 3.3 30.9 4.6 788.000 2011 2012 Surya/Hybrid 2013 2014 2015 HSD  MFO  LNG 2016 Gas 2017 2018 Batubara 2019 Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.3 33.539.1 3.1 2.0 113. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur No.4 3.2 323. 90 RUPTL 2011.000 35.2 3.8 10.

Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 cases di luar base case45 untuk sistem Jawa Bali. sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih terbatas. dan lain-lain. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas Harga Case Base Case Crude Oil US$/barel 95 Coal US$/ton 80 Gas US$/mmbtu 6 LNG US$/mmbtu 10 Case 1 130 80 6 10 Case 2 95 80 6 10 Case 3 95 100 6 10 Case 4 95 80 7 10 45 Base case adalah case yang diadopsi dalam RUPTL 2011 – 2020 ini.30.2020 91 . analisis sensitivitas dalam RUPTL ini hanya dibuat untuk perubahan harga bahan bakar. karena diperlukan adanya rencana program pengembangan kapasitas pembangkit. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi di sektor ketenagalistrikan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan kapasitas.5. maka dalam RUPTL ini telah dilakukan analisis sensitivitas. transmisi dan distribusi yang pasti.6 ANALISIS SENSITIVITAS RUPTL 2011–2020 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem kelistrikan dengan skenario tunggal. Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana pengembangan sistem kelistrikan. Hal ini dilakukan karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling volatile dan dapat berubah secara cepat dan lebar. karena sistem ini merupakan sistem terbesar di Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di wilayahwilayah lainnya. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas diberikan pada Tabel 5. RUPTL 2011. proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik. Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis risiko pada Bab 7. Tabel 5. harga EPC proyek. Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa variabel ketidakpastian yang di luar kendali PLN. misalnya harga bahan bakar. Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada.

800 24.750 3.800 16. dengan mengambil alih pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU).000 3. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar No 1 Case Study Batubara Case 1 Case 2 Case 3 Case 4 USD/barrel 95 130 95 95 95 USD/ton 80 80 50 100 80 Gas USD/mmbtu 6 6 6 6 7 LNG USD/mmbtu 10 10 10 10 10 58.750 6.090 55. Sebaliknya jika harga batubara naik dari $80 menjadi $100 (Case 3). dengan demikian RUPTL ini tidak sensitif terhadap perubahan harga minyak.800 PLTGU MW 6. Hal ini dapat dimengerti karena porsi pemakaian BBM memang sangat kecil.800 MW (base case) 92 RUPTL 2011.600 600 MW 33.800 28.400 33.542 65.550 100 100 96 113 103 Objective Function Juta USD % 3 Base Case Harga bahan bakar Crude Oil 2 Satuan Penambahan Kapasitas PLTU MW 24. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif terhadap penurunan harga batubara. maka kapasitas PLTU batubara hanya akan menurun dari 24.2020 . Sementara penurunan harga batubara dari $80 menjadi $50 pada Case 2 akan menambah kapasitas PLTU batubara dari 24. Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak menjadi US$130 tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis.000 15.Tabel 5.800 1. Case 2 untuk melihat dampak penurunan harga batubara.350 33.800 1.338 59.800 MW (base case) menjadi 28. kapasitas dan jadwal).400 33.800 29. Namun banyaknya PLTU batubara akan menyebabkan pembangkit yang seharusnya memikul beban dasar menjadi beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian daripadanya akan mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.600 1.400 Jumlah Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap rencana pengembangan sistem. dan hanya sedikit menaikkan nilai objective function biaya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4. Case 3 untuk melihat pengaruh kenaikan harga batubara. dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas.800 MW (Case 2).30.000 PLTG MW 1.350 33.063 58. yaitu hanya 1% dari fuel mix pada tahun 2020.

RUPTL ini tidak mengabaikan aspek emisi CO2. maka combined cycle tidak dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $80. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah. Namun demikian.800 MW (base case) menjadi 29.7. dan peranan pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensitif terhadap kenaikan harga gas. Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan dikonversi menjadi emisi CO2 (dalam ton CO2) dengan menggunakan faktor pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC46.800 MW dan peranannya digantikan dengan pembangkit berbahan bakar gas.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) Pengembangan pembangkitan yang semata-mata berdasarkan prinsip leastcost tanpa mempertimbangkan intervensi kebijakan pemerintah seperti pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan 46 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change).800 MW. Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana combined cycle plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit lainnya. belum memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai salah satu variabel biaya.menjadi 16. RUPTL 2011.7 PROYEKSI EMISI CO2 Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2011-2020. 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. sebagaimana dapat dilihat pada butir 2. Penggunaan teknologi boiler supercritical di pulau Jawa juga membuktikan bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi emisi CO2 dari pembangkitan tenaga listrik.2020 93 .2 mengenai kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit dan butir 5. Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4). maka kapasitas pembangkit batubara akan naik tajam dari 24. 5. 5.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6.

0  20.000  25.000  175.2020 .1.7. 2016 dan tahun 2020.8% dari total produksi pada tahun 2020.0  70. sehingga tidak terjadi penambahan kapasitas PLTP secara signifikan (hanya PLTP existing dan committed projects).000  225.8 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan oleh skenario baseline untuk sistem Jawa Bali.0  10. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 236 juta ton CO2.0  50.0  ‐ ‐ 2010 COAL 2012 OIL GAS 2014 GEOTHERMAL 2016 2018 HYDRO 2020 NUCLEAR EMISI Gambar 5.000 MW dengan produksi mencapai 72.31 menunjukkan komposisi bauran energi (energy mix) pada tahun 2010.rencana pengembangan pembangkit yang sangat didominasi oleh PLTU batubara.1 Sistem Jawa Bali Gambar 5.000  50. Rencana pengembangan ini selanjutnya disebut sebagai baseline. Dapat dilihat pada tabel tersebut bahwa energi terbarukan khususnya panas bumi tidak kompetitif melawan pembangkit fosil.0  150. Tabel 5.000  125. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Jawa Bali Skenario Baseline Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Jawa Bali akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 27.000  200. MW million tCO2 250.0  75.000  100. 94 RUPTL 2011.0  30.0  40. 5.0  60.

023 20.1.0  ‐ 2009 2010 2011 2012 Batubara 2013 Gas 2014 LNG 2015 HSD 2016 2017 2018 2019 MFO Gambar 5.0  40.0  160.1 Gas GWh 30.7.0  180.5 Hydro GWh 7.110 2.0  140.430 62.8 Nuclear GWh 0 0 0 0 Total Production GWh 129.0  120.929 235.8 GWh 206 4 20 0.616 46.029 67. USD 14. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali Skenario Baseline 5.8 Geothermal GWh 6.641 8.867 100 Objective Function Mill.813 8.2 Sistem Sumatera Gambar 5.728 151.087 59. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) Unit 2010 2016 2020 Coal GWh Oil Portion (%) 84. Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Sumatera akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 2.262 3.2020 95 . PLTGU LNG 400 MW dan IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) sebesar 400 MW pada tahun RUPTL 2011.10 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan dalam skenario baseline untuk sistem Sumatera.452 72.893 12.0  80.110 8. PLTGU gas alam sebesar 800 MW.0  100.000 MW.0  200.575 Juta tCO2 220.475 227.965 322.0  20.Tabel 5.0  60.

000 10.0 4. 13. 6.2% untuk bahan bakar minyak.000 20.32 menunjukkan komposisi bauran energi pada tahun 2010.0 6.642             15           103              0.0 2010 2012 2014 2016 2018 2020 COAL GAS LNG MFO HSD GEO IGPP HYD PUMP Emission Gambar 5.161            13.588            10.437              9.1% untuk panas bumi.0 Million  USD           513           713       1. 9. Tabel 5.363     32.231          100. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline Produksi listrik tahun 2020 berdasarkan energi primer dalam skenario baseline sistem Sumatera adalah 60.735              6.0 - 0.1 Hydro GWh       3.026     27. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28.925       6.000 5.207            60.6 Total Production GWh     18.8 Coal Gasification GWh  ‐     ‐          2. MWe Million tCO2 12.8% untuk gas. PLTP tidak kompetitif secara ekonomis.000 35. 2016 dan tahun 2020.0 10. Capacity of Facilities.2 Oil GWh       3.0 8.2% untuk batubara.729       4. Tabel 5.382       3. sehingga dalam baseline ini hanya tercantum proyek-proyek PLTP yang telah committed.0 Geothermal GWh  ‐          4.2020.283     45. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) Unit 2010 2016 2020 Portion (%) Coal GWh       5.6% untuk tenaga air. 10.2020 .000 25.031 Construction  Cost 96 RUPTL 2011.0% untuk gasifikasi batubara dan hanya 0.000 15.8 juta ton CO2.0 2.0 30.608       4.2 Gas GWh       5.731     19.588       4.

Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan menggunakan energi terbarukan. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera Skenario Baseline 5.1 Emisi CO2 Indonesia Gambar 5. Dari 276 juta ton emisi tersebut. Dengan adanya intervensi kebijakan pemerintah mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sedikit berbeda dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO2.2.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 Pemerintah telah menetapkan Perpres No. RUPTL 2011. 15 tahun 2010 mengenai Program Percepatan Pembangkit Tahap 2. 245 juta ton (89%) berasal dari pembakaran batubara. Dari Gambar 5.12 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia akan meningkat dari 141 juta ton pada 2011 menjadi 276 juta ton pada tahun 2020. khususnya panas bumi. 5. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No.7.Juta tCO2 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2010 2011 2012 2013 2014 Batubara  Gas 2015 LNG 2016 MFO 2017 2018 2019 HSD Gambar 5.12 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi listrik Indonesia dilakukan dengan fuel mix seperti pada Gambar 5.2020 97 .4.7.

745 kgCO2/kWh.Juta tCO2 300 275 250 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 2015 2016 2017 2018 2019 HSD MFO LNG Gas Batubara  2020 Gambar 5.8 kgCO2/kWh pada 2013-2014 dan selanjutnya akan menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan PLTA sehingga average grid emission factor pada tahun 2020 menjadi 0.2020 .778 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0.2 Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.7. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) Average grid emission factor47 untuk Indonesia pada tahun 2011 adalah 0.756 kgCO2/kWh pada 2020. 47 Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh] 98 RUPTL 2011. 5. atau naik hampir 2 kali lipat.763 kgCO2/kWh.2. Grid emission factor membaik dari 0. panas bumi dan penggunaan teknologi supercritical. akan meningkat menjadi 0. Emisi naik dari 110 juta ton pada 2011 menjadi 205 juta ton pada 2020. Perbaikan faktor emisi ini dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam.13.

14. Juta tCO2 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5.2.7. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat RUPTL 2011.856 kgCO2/kWh pada 2013 dan berangsur-angsur menurun menjadi 0.704 kgCO2/kWh pada 2020. Emisi naik dari 21 juta ton menjadi 45 juta ton.749 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0.Juta tCO2 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 2014 Biomass HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali 5.2020 99 . Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air. atau naik sekitar 2 kali lipat.3 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan pada gambar 5. Grid emission factor meningkat dari 0.

784 kgCO2/kWh pada 2014 dengan masuknya PLTU skala kecil di 70 lokasi. atau naik 2. gardu induk dan distribusi).5.8 PROYEK CDM (CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM) Sesuai Misi PLN ”menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan”.8 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0. dan berangsur-angsur menurun menjadi 0.2. transmisi.15. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur 5. Emisi naik dari 9.731 kgCO2/kWh pada 2020.5 juta ton pada 2020. yaitu peluang bagi Negara Non Annex I untuk mendapatkan kredit dari upaya pengurangan emisi GRK melalui mekanisme CDM (Clean Development Mechanism) yang akan berlaku dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sesuai dengan masa berlakunya Protokol Kyoto dan kesepakatan yang akan dicapai oleh para pihak untuk pasca tahun 2012.4 juta ton pada 2011 menjadi 26.7.641 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0. PLN akan menggunakan peluang yang diberikan oleh Protokol Kyoto (PK). Juta tCO2 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5.2020 . dan dengan komitmen nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air. PLN akan melakukan upaya pengurangan emisi GRK dari semua kegiatan ketenagalistrikan (pembangkit. 100 RUPTL 2011.4 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan pada Gambar 5.

000 5 PLTM Lobong (1. Selain itu PLN juga mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM (Voluntary Carbon Mechanism).713 3 PLTP Lahendong III (20 MW) Tomohon. Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan pentingnya CDM dan melakukan assessment beberapa potensi proyek CDM. transmisi/gardu induk dan distribusi.Implementasi CDM akan diterapkan untuk semua kegiatan di lingkungan PLN yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi proyek CDM di sisi pembangkitan. Minahasa.5 MW) Kalimantan Barat.749 6 PLTMG Bontang (14 MW) Kalimantan Timur CDM Under validation 21.2 MW). Mongango (1.282 7 PLTA Sipansihaporas (50 MW) Sumatra Utara VCS Validation completed 159.2020 101 .048 9 PLTA Musi (210 MW) Bengkulu VCS Validation completed 847. dan hasilnya hingga saat ini PLN telah menandatangani 5 ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements). Tabel 5. Merasap (1.596 8 PLTA Lau Renun (82 MW) Sumatra Utara VCS Validation completed 229.780 2 PLTP Lahendong II (20 MW) Tomohon. sedangkan Anak Perusahaan dapat mengelola dan mengembangkan proyek CDM sendiri dengan melakukan koordinasi dengan PLN Pusat.020 RUPTL 2011. Minahasa.6 MW).33. dan Sulawesi Utara CDM PDD Development 8. Daftar proyek PLN yang dikembangkan melalui mekanisme CDM dan VCM dapat dilihat pada Tabel 5. Sulawesi Utara CDM Registered 66.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM dan VCM No Nama Proyek Lokasi Emission Reduction Mechanism Status Saat Ini Annual Project Emission Reduction (tCO2e/year) 1 PLTP Kamojang IV (60 MW) Jawa Barat CDM Registered 402. dimana saat ini sudah ada 3 proyek yang telah selesai proses validasinya sesuai VCS (Voluntary Carbon Standard).663 4 PLTA Genyem (20 MW) Papua CDM PDD Development 50. Sulawesi Utara CDM PDD Development 50. Gorontalo. Kebijakan pengembangan proyek CDM di unit-unit PLN termasuk penjualan CER-nya dilakukan secara terpusat.

211 1.172 774 1.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia Satuan kms TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500 kV AC 82 172 374 12 459 738 538 170 40 40 2.573 2.34 dan Tabel 5.532 110 - 130 - - 5.873 972 1.812 6.9 PENGEMBANGAN SISTEM PENYALURAN DAN GARDU INDUK Pada periode 2011-2020 pengembangan sistem penyaluran masih berupa pengembangan sistem dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem JawaBali serta tegangan 500 kV.951 3.729 8.541 2.805 5.282 168 1. Khusus untuk pasokan ke sistem Jakarta.162 150 kV 70 kV TOTAL 102 RUPTL 2011. Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun expansion.173 1.083 2. Pembangunan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien.813 3.056 49.625 500 kV DC - - - - - 1. Sedangkan pengembangan transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan sebagai transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru. Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk mentransfer tenaga listrik dari pembangkit mulut tambang di Sumbagsel dan Riau ke Sumbagut. Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di sekitar konverter transmisi HVDC di Sumatera sebagai feeder pemasok listrik dari pembangkit mulut tambang.206 1 - 334 - - - 3.254 370 1.192 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5. menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik. 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat.754 7. Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 114. Tabel 5. 275 kV.822 10.016 36.35.967 7. pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan menggunakan jalur transmisi 150 kV atau 70 kV.333 3. Disamping itu juga sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.2020 .554 MVA untuk pengembangan gardu induk serta 49.360 250 kV DC - - - - - 462 - - - - 462 3.565 4.012 1.100 275 kV - 642 2.5.717 5.100 - - - - 1.

000 - - - - 3.220 4.920 4. yaitu di sistem Sumbar-Riau.670 6.500 500 1.830 5.000 2.181 14.090 2.580 59.000 2020 Total 500/275 kV - - - - - 1.500 1.250 - 500 500 - 250 10. 150 kV dan 70 kV) serta 21.355 20.620 8.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2020 akan banyak mengubah topologi jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi 275 kV dan 500 kV di Sumatera.37.000 275/150 kV 1.340 4.470 4.000 33. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu induk dan transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel ke sistem interkoneksi (dedieselisasi).000 1.460 9.Tabel 5.020 15. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 29.000 270 5. Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan terlaksana pada tahun 2012.680 8.140 5.390 6.130 6.2020 103 . Sumbagsel dan Kalbar.600 4.9.660 1.000 5.500 3.554 5. Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga terdapat di beberapa sistem.450 MVA untuk pengembangan gardu induk (500 kV. Pengembangan juga banyak dilakukan untuk memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo.060 114.150 kms pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.860 250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600 150/70 kV 60 60 123 - 60 60 - - - - 363 150/20 kV 9.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain: – Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur barat dan jalur timur.000 500/150 kV 8.36 dan Tabel 5.000 4.720 15.490 500 kV DC - - - - - 3. antara lain rencana pembangunan sirkit kedua dan reconductoring beberapa ruas transmisi di sistem Sumbagut dan Sumbagsel.000 - - - 3.293 10. RUPTL 2011.200 4.746 11. 275 kV.886 70/20 kV TOTAL 715 640 410 260 270 180 150 210 290 230 3.

2.– Proyek transmisi 500 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur timur. – Interkoneksi Batam – Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga listrik dari Batam48 dengan mempertimbangkan rencana pengembangan pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian Bintan49. – Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga. 1. 104 RUPTL 2011. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya dengan perluasan wilayah usaha PLN Batam. Interkoneksi Kalbar – Serawak direncanakan beroperasi 2014 dimaksudkan untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN khususnya pada waktu beban puncak sampai dengan tahun 2019 untuk menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak. Pada saat peak load di Sumatera (malam hari) PLN menerima tenaga listrik dari Malaysia yang pada saat yang sama sedang dalam kondisi off peak. meliputi interkoneksi Sumatera-Malaysia (HVDC ± 250 kV)50 dan Kalimantan Barat-Sarawak (275 kV HVAC). Selain itu terbuka kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat terlambat. Setelah tahun 2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli 48 Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih banyak menggunakan pembangkit BBM. Pada saat off peak di Sumatera (siang hari) PLN mengirim tenaga listrik ke Malaysia yang pada saat yang sama sedang meningkatkan keandalan sistem Sumatera. 49 Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN Batam. 50 Pemilihan level tegangan ±250 kV HVDC bipolar ini masih terbuka kemungkinan untuk diubah ke 500 kV HVDC monopolar. 77/2008.2020 . Interkoneksi Sumatera – Malaysia direncanakan beroperasi 2017 dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari tukar menukar tenaga listrik antara Sumatera dan Malaysia pada jam-jam tertentu. Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan ASEAN Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN Power Grid yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Perpres No.

090 5.113 6.500 250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600 150/70 kV - - - - - - - - - - - 150/20 kV 960 2.513 3.486 1.450 TOTAL 5.318 2.000 275/150 kV 1.000 - 5. Evakuasi daya dari rencana PLTU sewa di Balikpapan dan Asam-Asam akan menyebabkan kondisi bottleneck di beberapa ruas transmisi di sistem Kalsel RUPTL 2011.2020 105 .000 - 2. Pada tahun 2013 sistem Sulawesi Tengah. Papua dan Nusa Tenggara sedang dilaksanakan pembangunan transmisi 70 kV dan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU batubara di wilayah tersebut.750 2.643 4. sistem Sulawesi Tenggara dan sistem Sulawesi Selatan akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 275 kV dan 150 kV.018 2.000 29.743 790 667 382 740 21.532 110 - 130 - - 4.310 70 kV TOTAL - 310 - 240 - - - - - - 550 694 2.000 - - - - 3.878 250 kV DC 150 kV - - - - - 462 - - - - 462 694 1.340 600 1.150 Tabel 5.490 3.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Pengembangan sistem transmisi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur meliputi pembangunan transmisi dan gardu induk 275 kV.350 840 810 870 810 570 750 11.499 1. Di wilayah Maluku.000 1.371 790 387 382 740 14.990 3. sementara di wilayah Sulselrabar sedang dibangun transmisi 275 kV dari PLTA Poso ke Palopo. Tabel 5.tenaga listrik selama waktu beban puncak karena semua pembangunan pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai.000 - - 3.172 774 1. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500/275 kV - - - - - 1.440 1.250 - 500 500 - 250 10.010 7. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat Satuan kms TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500 kV AC - - - - - - - 150 - - 150 500 kV DC - - - - - 800 - - - - 800 275 kV - 160 2.370 3.000 2.000 500/150 kV - - - - - - - - - - - 500 kV DC - - - - - 3.880 70/20 kV 30 260 30 60 - 30 - 30 30 - 470 1.410 2. 150 kV dan 70 kV.170 1.9.200 3.

477 3.434 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.350 1. Rencana pengembangan interkoneksi tegangan tinggi antar pulau di area Indonesia Timur meliputi interkoneksi pulau Laut – Kalsel .3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali Pada Tabel 5.434 Tabel 5.144 380 170 13.573 1. 150 kV dan 70 kV) serta 16.39.188 5.453 1.38 dan Tabel 5.752 494 168 834 370 866 1 1.interkoneksi pulau Seram – Ambon dan interkoneksi Sultra – pulau Muna – pulau Buton.515 2.618 495 680 1. 106 RUPTL 2011. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Satuan kms TRANSMISI 2011 275 kV 150 kV 70 kV TOTAL 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 482 482 1.9. namun implementasi rencana interkoneksi tersebut tergantung pada kelayakan dari hasil studi dasar laut.090 780 720 750 570 810 490 9.161 2.581 2. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Timur antara lain: – Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Kalselteng – Kaltim – Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Sulut – Gorontalo. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Satuan MVA TRAFO 2011 275/150 kV 2012 270 2013 150/70 kV 60 60 123 870 760 940 TOTAL 2015 2016 2017 2018 2019 2020 90 150/20 kV 70/20 kV 2014 Total 430 950 60 60 450 540 363 630 480 730 320 6. Wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 150 kV pada tahun 2012.795 1.837 2.247 1. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 9.144 380 170 16.683 3.40 dan Tabel 5.41 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di sistem Jawa-Bali.dan Kaltim.2020 .188 MVA untuk pengembangan gardu induk (275 kV.175 1.207 3. Untuk mengatasi kondisi tersebut direncanakan reconductoring pada ruas-ruas tersebut. Tabel 5.379 334 680 1.670 245 260 300 140 270 120 120 90 80 170 1.

Selain itu dibangun juga transmisi 500 kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan Jakarta seperti Balaraja-Kembangan dan Kembangan-Durikosambi-Muara Karang.630 3.40 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2020 akan dibangun transmisi 500 kV AC sepanjang 2.000 5.950 657 1.510 41. PLTGU baru (2019/2020) dan pumped storage Upper Cisokan (2016).591 2.090 6.593 - 110 1.475 174 342 210 106 8.660 1.2012). di sini hanya diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead line yang berada di pulau Jawa.850 9. 2017).336 30 30 90 180 60 1.520 6. bahkan di sistem 70 kV di Jawa Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait dengan proyek percepatan pembangkit 10.674 Total 538 300 70 kV TOTAL 2016 210 2. Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali Satuan kms TRANSMISI 500 kV AC 2011 2012 2013 2014 2015 82 172 374 12 459 1.40 adalah transmisi HVDC interkonesi Sumatra – Jawa.578 Tabel 5. 2020).232 500 kV DC 150 kV 738 2017 2018 2019 2020 490 20 40 40 2.475 kms.052 1. 2014).500 1.000 4. PLTU Jawa Tengah Infrastruktur dan PLTU Indramayu (2016/2017.980 4.000 33.41 merupakan perkuatan grid yang tersebar di Jawa.300 3.916 7.490 7.570 75.593 300 100 1.850 3.990 2.710 1.640 5.2020 107 .916 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL Total - 440 120 80 60 17. Rencana pada Tabel 5.562 1. selebihnya diperhitungkan sebagai pengembangan sistem transmisi Sumatra.970 3.560 3. Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke pusat beban di Bali (2015).830 5.509 1. PLTU Paiton Expansion dan PLTU IPP Tanjung Jati Expansion (2011.000 MW. Transmisi tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Suralaya Baru dan PLTU Adipala (tahun 2011.000 2.220 4. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 500/150 kV 8. Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5.500 4.900 2.016 9.40 RUPTL 2011.500 500 1. utamanya seputar Jabotabek.Tabel 5.528 712 362 250 146 11.031 1. Matenggeng dan Grindulu (2019/2020. Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 5.660 6.500 3.960 Dari Tabel 5.

hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok konsumen besar dan saluran distribusi khusus.Incomer (Tasik .2020 . Dengan adanya transfer energi dari sistem Jawa melalui kabel laut Jawa-Bali #1-4 sebesar 300 MW (mempertimbangkan N-1). Pembangunan JBC ini berpotensi menghasilkan saving sebesar USD 617 juta (NPV) selama 20 tahun bila dibandingkan dengan membangun pembangkit di Bali.Jawa berikut GITET Xbogor . Apabila dibandingkan dengan biaya investasi (EPC cost) sebesar Rp 410 miliar. – GITET Cawang Baru dan GITET Muara Karang. Tahap pertama pada tahun 2013 beroperasi 150 kV dan tahap kedua pada tahun 2015 beroperasi 500 kV.000 MW Sumatra . maka penghematan biaya bahan bakar yang diperoleh masih jauh lebih besar. – SUTET Durikosambi – Muara Karang. Program pemasangan trafotrafo 150/70 kV dan 70/20 kV pada tabel tersebut juga hanya merupakan relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur. Beberapa proyek transmisi strategis di Jawa-Bali antara lain: – Kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 tahun 2012. – Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3.Depok dan Cilegon – Cibinong) untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di Sumatra Selatan ke sistem Jawa Bali tahun 2016. – Proyek transmisi SUTET 500 kV tx Ungaran-Pemalang-MandirancanIndramayu tahun 2014. Pembangunan kabel laut Jawa-Bali sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat menekan pemakaian BBM di Bali dalam jangka pendek. – Pembangunan SUTET 500 kV Paiton – New Kapal termasuk overhead line 500 kV / submarine cable 500 kV menyeberangi selat Bali (Jawa Bali Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali.23 triliun selama 20 bulan operasi (Mei 2012Desember 2013) hingga beroperasinya Jawa-Bali Crossing 150 kV. 108 RUPTL 2011. akan diperoleh penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp 2.

626.9 14. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 27.750.364.431.9 555.0 kms jaringan tegangan menengah.593. 65. Tabel 5. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 adalah sebesar 74.10 PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI Rencana pengembangan sistem distribusi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.227. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia Barat hingga tahun 2020 adalah sebesar 62.6 2.298.42.296.622.8 2.4 1.850.088.7 20.965.8 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.524.573.128.9 208.099. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 6.267.543.865.780. Tabel 5.431.1 6.607.7 2.9 19. 14.077.3 juta pelanggan.5.7 572.4 3.896.404.5 62.2 25.250.2 4.4 225.135.980.4 2.0 1.066.666.5 21.8 1.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Jaringan TM kms 18.2 7.1 3.005.539.5 69.0 kms jaringan tegangan menengah.721.644.6 573.454.813.2 ribu plgn 3.4 651.066. 8.7 37. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Barat Jaringan TM kms 5.7 6.4 18.1 20.9 26.8 5.216.4 1.982.749.368.332.8 1.435.232.593.2 2. 37.708.8 ribu plgn 1.6 6.688.841.2 6.8 1.2 6.0 669.460.494. 225.592.683.5 21.5 7.554.334.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat dapat dilihat pada Tabel 5.0 3.0 Jaringan TR kms 6.497.5 1.332.1 23.2 25.6 Tambahan Pelanggan 5.159.43.638.721.7 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.3 1.6 7.44.488.0 6.10.666.607.414.4 kms jaringan tegangan menengah.7 27.2 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.980. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 5.0 593.739.3 6.5 6.4 Trafo Distribusi MVA 3.563.1 4.4 kms jaringan tegangan rendah.4 Jaringan TR kms 17.418.956.2 22.4 2.1 Tambahan Pelanggan Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur dapat dilihat pada Tabel 5.5 kms jaringan tegangan rendah.3 6.152.172.759.454.7 Trafo Distribusi MVA 1.1 5.739.389.6 3.3 23.707.9 3.1 2.1 542.398.1 24.7 661.1 21.784.4 18.642.2 18.920.0 7.4 2.404. Tabel 5.655.3 5. 69.3 juta pelanggan.0 6.080.7 6.164.590. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur RUPTL 2011.3 3.7 kms jaringan tegangan rendah.6 539.9 4.9 21.5 juta pelanggan.425.8 24.429.2020 109 .9 2.3 7. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia hingga tahun 2020 adalah sebesar 208.716.038.6 2.

4 Jawa-Bali Jaringan TM kms Jaringan TR kms 7. direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut 20 kV atau 70 kV.780.9 5.506.8 11.188.4 8.7 90.0 9.8 1.2 1.2 74.671.Batulicin dengan kabel laut 20 kV • Kaltim .5 7.221.2020 . Haruku-Saparua KL 20 kV • Pulau Ternate – Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV • Lombok .2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Timur Jaringan TM kms 5.6 1.5 1.Seram dengan kabel laut 70 kV.8 441.9 6.2 7.974.072.7 7.4 Tambahan Pelanggan 110 RUPTL 2011.8 7. enjiniring dan studi dasar laut (seabed study) meliputi: route.036.752.0 Jaringan TR kms 4.8 1.371.577.583.4 10.Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150 kV. Tabel 5.161.475.5 10.851. 5.445.908.0 14.577.851.6 5.922.520.3 6.7 6.4 5.840.636.406.432.7 1.620.200.7 481.5 8.721.303.8 409.1 5.8 1.045.688.012.9 7.762.790.7 1.5 5.286. • Bitung – Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV • Ambon – Haruku .1 814.843.137.2 70.8 9.45.1 8.202.7 1.9 519.189. peletakan kabel.9 1.8 5.673.7 7.7 8.0 917.2 1. dan lain sebagainya.4 1.216.1 6.564.296.528.4 757.4 1. struktur dasar laut.099.803.581.943.0 1.7 ribu plgn 1.10.644.9 859.6 1.668.271.528.1 1. yaitu: • Pulau Laut (Kotabaru) .343.222.2 989.2 65.712.744.752.7 6.2 375.7 415.8 8.667.2 Sistem Jawa-Bali Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik dapat diproyeksikan seperti pada Tabel 5.190.5 Trafo Distribusi MVA 693.9 463.0 7.4 763.761.9 7. lingkungan.8 15.3 Trafo Distribusi MVA 1.7 1.2 7.4 1.Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV • Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV • Bali – Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan meliputi keekonomian.735.2 7.9 748.145.4 885.2 1.850.119.Pulau Muna .047.2 10.8 6.Pulau Nunukan – Sebatik dengan kabel laut 20 kV • Kendari .1 7.6 8.4 9.9 384.3 7.7 6. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 7.797.031.5 787.029.1 Tambahan Pelanggan ribu plgn Interkoneksi Antarpulau Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan daratan pulau besar dan sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM.784.4 396.

9 5.47. serta Papua & Papua Barat.864 - 2012 4. kecuali untuk 4 Satker Lisdes merupakan gabungan dua provinsi seperti: Satker Lisdes Riau & Riau Kepulauan.850.3 377.4 5.4 386. Jawa Tengah & Yogyakarta.4 kms.2% tahun 2010 menjadi sebesar 80% di tahun 2014.46 dan Tabel 5.Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2011 sampai dengan 2020 untuk sistem Jawa Bali diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah sebanyak 70.3 5.0 3.11 PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh 28 Satuan Kerja Listrik Desa / Satker Lisdes. produktivitas ekonomi. sosial dan budaya masyarakat Tabel 5. juga bertujuan untuk: • Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan • Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan • Mendorong pedesaan • Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya.682.092 RUPTL 2011.8 7. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 Tahun JTM JTR Kms kms Trafo MVA Unit Jml Pelanggan Listrik Murah dan Hemat (RTS) 2011 8.620 MVA dan jumlah pelanggan 15.198.833 83.326.623 438. Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik.0 7. Rekap program listrik perdesaan 2011-2014 dan investasinya dapat dilihat pada Tabel 5.5 juta.7 27.4 27.369. dimana untuk 24 Satker Lisdes tersebut berada pada masing-masing provinsi. dengan mengacu pada sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah/RPJM tahun 2010-2014.507.6% tahun 2010 menjadi sebesar 98.9% di tahun 2014.881.498.3 kms.2020 111 .466 248.092 2013 7.495.330. • Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.466 - 2014 Total 7. Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas.9 7.078 83. dan untuk rasio desa berlistrik 94.424 427.1 233. Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat. yaitu untuk rasio elektrifikasi dari 67.1 373.488 20. 5. jaringan tegangan rendah 90.403.585.915 1.843. kapasitas trafo distribusi 14.1 1.6 4.615.847 382.

070.236.849.3 3.657.9 286. Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar.8 - 3.053.7 286. Tabel 5.2 1.116.818.4. Biomassa: PLN tidak bermaksud untuk membangun sendiri pembangkit listrik tenaga biomassa karena PLN tidak mempunyai kendali atas pasokan biomassanya.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 (Juta Rp) Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Listrik murah dan Hemat (RTS) Total 2011 1.105. Karena itu PLN mendorong swasta untuk mengembangkannya dan PLN akan membeli listriknya.799.839.282. Butir ini hanya membahas pengembangan EBT skala kecil.229.231. Biofuel: tergantung kepada kesiapan pasar biofuel.0 668. maka pengembangannya akan terbatas di daerah yang memiliki potensi.762. 112 RUPTL 2011.Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sebanyak 83.661.205.128.8 - 2012 1.6 5.799.0 3.2 2.500. PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas.059.223.713.500.7 - Total 7.722.9 635.092 RTS (rumah tangga sasaran). PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau masyarakat untuk melistriki kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke grid atau sistem kelistrikan PLN.7 385.6 2013 2.7 - 2014 2.783.559.2020 .12 PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA telah dibahas dalam pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.697.056.194.082.260.894. PLN baru akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek penelitian dan pengembangan.746.0 22.2 444.5 - 3. PLN siap untuk memanfaatkan biofuel apabila tersedia.0 - 2.6 905.055.4 651. namun mengingat teknologi dan keekonomiannya masih belum diketahui.279.4 22.068.4 1.0 13.332.603.

namun terbatas di provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum akan mendapatkan listrik konvensional. mencegah penambahan penggunaan BBM kalau seandainya dilayani dengan diesel. Pembangunan PLTS Terpusat (Komunal). RUPTL 2011. Program SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS terpusat/komunal (centralized PV)”. PLN merencanakan untuk membangun PLTS sebagai berikut: • PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan kapasitas diberikan pada tabel 5.49. dan menurunkan BPP pada daerah tertentu yang ongkos angkut BBM sangat mahal. Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih bersifat sementara dan hanya diterapkan secara terbatas di propinsi-propinsi yang rasio elektrifikasinya masih rendah. Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil secepatnya.2020 113 .48.Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi baru yang dapat diterapkan pada sistem kelistrikan isolated skala kecil.48 dan Tabel 5.000 set. Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera ‘super hemat energi’ (SEHEN) bukan merupakan program pengembangan kapasitas sistem kelistrikan. yaitu NTB. seperti daerah sekitar puncak pegunungan Jayawijaya Papua. Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya ditunjukkan pada Tabel 5. Solar Home System (SHS) dan Lentera Super Hemat Energi (SEHEN) Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan sulitnya menjangkau daerah terpencil. Jumlah SHS yang akan dipasang adalah sekitar 377. NTT dan Papua dengan terlebih daulu dibuat kajian kelayakannya. • SHS (panel surya + lampu LED denga batere di dalamnya) skala kecil tersebar.

796 . Tabel 5.13 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 PROYEK PLTU SKALA KECIL TERSEBAR Program PLTU batubara skala kecil tersebar semula direncanakan oleh PLN di 71 lokasi untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik yang terjadi di wilayah tersebut dan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dengan 114 RUPTL 2011.114 1.054 843 672 1.022 1.960 3 PLT Bayu - - 30 30 45 45 60 60 75 75 420 4 PLT Biomass 40 83 88 88 88 100 100 113 113 125 935 5 PLT Kelautan - - 12 - - 30 30 30 30 30 162 6 PLT Bio-Fuel PLT GasBatubara - 25 38 38 35 20 18 18 20 23 233 12 64 162 86 44 14 44 28 12 20 486 - - - - - - - - - - 117 410 1. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil No Pembangkit EBT Satuan 1 PLTMH MW 2 PLT Surya 3 TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 TOTAL 23 37 198 126 46 193 203 214 225 235 1500 MWp*) 2 30 50 60 70 70 75 75 80 80 592 PLT Bayu MW 0 0 10 10 15 15 20 20 25 25 140 4 PLT Biomass MW 16 33 35 35 35 40 40 45 45 50 374 5 PLT Kelautan MW 0 0 2 0 0 5 5 5 5 5 27 6 PLT Bio-Fuel MW**) - 10 15 15 14 8 7 7 8 9 93 7 PLT GasBatubara MW 6 32 81 43 22 7 22 14 6 10 243 MW 47 142 391 289 202 338 372 380 394 414 TOTAL 2. sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi **) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel Tabel 5.600 2 PLT Surya 10 150 250 300 350 350 375 375 400 400 2. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil TAHUN No Pembangkit EBT 1 PLTMH 55 89 475 302 110 463 487 514 540 564 3.969 *) Rencana PLTS sd 2014 adalah program 1.2020 TOTAL 8.137 1.Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan proyek.000 pulau.190 1.237 7 TOTAL 5.

50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur No Nama Proyek I.menggantikan pembangkit BBM terdiri dari Indonesia Barat 16 lokasi dan Indonesia Timur 35 lokasi.FTP‐2 ‐PLN 17 PLTU Bau Bau Sulsel 18 PLTU Kotabaru Kalsel 19 PLTU Sumbawa Barat NTB Kapasitas  (MW) COD  Estimasi 2 x 10 3 x 7 2 x 15 2013 2014 2014 2 x 3 2 x 7 2 x 7 2 x 7 3 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2013 2012 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2 x 10 2 x 4 2 x 7 2013 2014 2014 2 x 10 2 x 7 2 x 7 2014 2013 2013 No Nama Proyek II. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan Indonesia Timur RUPTL 2011. Dalam perkembangannya.2020 115 .Indonesia Timur (lanjutan) ‐IPP 20 PLTU Biak Papua 21 PLTU Kolaka Sulsel 22 PLTU Luwuk Sulteng 23 PLTU Melak Kaltim 24 PLTU Merauke Papua 25 PLTU Nabire Papua 26 PLTU Nunukan Kaltim b. Tabel 5. diutamakan sewa pembangkit dengan bahan bakar yang murah. beberapa lokasi dibatalkan atau diubah ke PLTGB.Reguler ‐PLN 4 PLTU Ipuh Bengkulu 5 PLTU Mentok Babel 6 PLTU Natuna Riau 7 PLTU Sanggau Kalbar 8 PLTU Sintang Kalbar 9 PLTU Tanjung Uban Riau 10 PLTU Tapak Tuan NAD 11 PLTU Tebo Jambi 12 PLTU Tembilahan Riau 13 PLTU Tj Jabung Jambi ‐IPP 14 PLTU Baturaja Jambi 15 PLTU Muko Muko Jambi 16 PLTU Toboali Babel II.50 dan 5.51 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana pengembangan pembangkit PLTU batubara skala kecil dan PLTGB lokasi di Indonesia Barat dan Indonesia Timur.FTP‐2 ‐IPP 1 PLTU Ketapang Kalbar 2 PLTU Nias Sumut 3 PLTU Tanjung Pinang Riau b.Indonesia Timur a.Indonesia Barat a. Tabel 5. Jika ada penyewaan di masa mendatang.Reguler ‐PLN 27 PLTU Alor NTT 28 PLTU Ampana Sulut 29 PLTU Berau Kaltim 30 PLTU Buntok Kaltim 31 PLTU Kendari Sulsel 32 PLTU Kuala Kurun Kalsel 33 PLTU Kuala Pambuang Kalsel 34 PLTU Malinau Kaltim 35 PLTU Raha Sulsel 36 PLTU Rote NTT 37 PLTU Sofifi Maluku 38 PLTU Talaud Sulut 39 PLTU Tj Selor Kaltim 40 PLTU Toli‐Toli Sulteng 41 PLTU Wangi Wangi Sultra ‐IPP 42 PLTU Andai (Manokwari) Papua 43 PLTU Sorong Papua 44 PLTU Sumbawa Baru I NTB 45 PLTU Tawaeli Ekspansi Sulut Kapasitas  (MW) COD  Estimasi 2 x 7 2 x 10 2 x 10 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2015 2013 2014 2014 2014 2 x 3 2 x 3 2 x 7 2 x 7 1 x 10 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 7 3 x 15 2 x 3 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2013 2012 2013 2012 2013 2013 2012 2014 2013 2 x 7 2 x 15 2 x 10 2 x 15 2014 2014 2014 2014 Tabel 5.

2020 .50 dan 5.No Nama Proyek Indonesia Barat ‐FTP‐2 1 PLTGB Putusibau Kalbar 2 PLTGB Rokan Hilir Riau 3 PLTGB Sabang NAD ‐Reguler 4 PLTGB Bengkalis Riau 5 PLTGB Dabo Singkep Riau 6 PLTGB Mentawai Sumbar 7 PLTGB Nanga Pingoh Kalbar 8 PLTGB Selat Panjang Riau 9 PLTGB Sinabang NAD 10 PLTGB Singkil NAD 11 PLTGB Tanjung Batu Sumsel 12 PLTGB Tanjung Pandan Babel No Nama Proyek Indonesia Timur ‐FTP‐2 13 PLTGB Larantuka NTT 14 PLTGB Selayar Sulteng 15 PLTGB Tahuna Sulut 16 PLTGB Tobelo Maluku 17 PLTGB Tual Maluku 18 PLTGB Timika ‐Reguler 19 PLTGB Bunyu Kaltim 20 PLTGB Buru Maluku 21 PLTGB Kota Bangun Kaltim 22 PLTGB Langgur Maluku 23 PLTGB Muara Wahau Kaltim 24 PLTGB Tana Tidung Kaltim TOTAL KAPASITAS Kapasitas  (MW) Pemilik COD  Estimasi 2 x 4 2 x 4 2 x 4 IPP IPP PLN 2012 2012 2013 6 2 x 3 2 x 3 2 x 3 6 2 x 3 2 x 3 2 x 4 5 PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN IPP IPP 2015 2013 2013 2013 2012 2013 2013 2013 2014 Kapasitas  (MW) Pemilik COD  Estimasi 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 IPP IPP IPP IPP IPP IPP 2013 2012 2013 2014 2013 2014 2 2 x 3 2. 116 RUPTL 2011.51 masih dapat berubah sesuai hasil survei dan studi. sehingga rincian proyek pada Tabel 5. PLN tengah melakukan survei lokasi dan studi kelayakan.5 2 x 3 2 2 PLN PLN PLN PLN PLN PLN 2013 2013 2013 2013 2013 2013 Catatan: PLTU Manokwari = PLTU Andai Pada saat RUPTL ini disusun.

transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana diuraikan pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar US$ 60.998.3 4.2 2.477.253.031.5 6.722.199.854.494.5 372.9 4.1 2019 2.026.162.892.235.0 2.2 505.6 2.6 7.4 1.477.5 2.467.7 2.117.166. AFD) untuk mendanai proyekproyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatra – Jawa dengan skema two step loan.1 2014 2.8 1.389.6 32.395.3 1.4 1.7 2018 2.7 42.2 4.172.5 1.5 1.2 7.4 1.035.556.5 2.114.4 2015 2.385.9 2.395.961.1 4.781.186.4 113.812. baik obligasi lokal maupun global.168.1 dan Gambar 6.3 1.1.5 1.576.261. maka disadari adanya tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana tersebut.7 1.854.7 7.6 5.605.3 884.017.5 2.034.8 688.8 1.7 2.3 2.0 1.740.253.9 Juta US$ Total 21.6 3.7 6.238.2020 117 .650.461.264.5 2.960.602.3 1.2 2017 1.320.063.6 26.7 175.5 5. RUPTL 2011.461.313.3 1.7 1.2 2.310.2 717.3 2.3 1.0 2.1 1.5 72.477.5 4.337.6 2.5 1.073.3 331.0 2.468.5 4.003.187.0 14.1 2.701.531. Proyek percepatan pembangkit 10.2 1.414.320.3 1.496.464.7 2013 2.0 1.375.9 2.225.939.1 Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut.693.683. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik swasta/IPP.219.725.3 282.1 12.4 3.114.1 1.8 920.5 10.907.028.4 288.1 2.106. Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan).0 75.1 604.683.522. namun setelah tahun 2006 peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan sebaliknya pendanaan dengan obligasi terus meningkat.278.269.269.261.8 1.7 1.741.978.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah.5 2.172.9 814. Tabel 6.3 4.9 1.8 1.8 2020 2. Akhirakhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan multilateral (IBRD.181.0 13.0 13.352.7 480.909.3 3.2 1.539.3 1.6 1.8 3.984.9 2.8 4.1 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI INDONESIA Untuk membangun sarana pembangkitan.075.8 387.605.0 405.7 2012 2.3 4.4 2.6 60.166.033.1 79.4 2.535.629.5 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.870.3 1.0 2.0 34.6 1.072. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 2.5 1.5 3. ADB) dan bilaterial (JICA.539.502.055.7 3.076.928.853.BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI 6.5 2016 1.1 7.1 959.3 2.

0 1.3 683.9 1. Tabel 6.000.1 7.3 796.7 2.0  6.6 2019 1. Porsi investasi pembangkit PLN setelah 2016 meningkat karena proyek pembangkit di atas tahun 2018 masih diasumsikan sebagai proyek PLN serta memperhitungkan disbursement investasi pembangkit yang beroperasi setelah tahun 2020.397.4 3.164.0  Transmisi Distribusi 2.5 622.1 2.993.4 202.468.3 55.1 154.3 miliar atau sekitar US$ 1.274.128.496.9 768.8 miliar per tahun.3 683. Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 18.2020 .6 1.1 1.7 42.349.360.1 8.9 600.000.0  Pembangkit 3.2 Juta US$ Total 12.744.2 dan Gambar 6.682.5 2018 1.319.1 645.8 3.5 881.985.909.3 1.679.3 47.942.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.1 2.247.1 556.131.1 2012 1.2 739.5 738.0 2020 1.8 768.739.1 796.0 2.388.4 1.967.000.057.8 1.708.5 2.8 13.4 2.8 549.3 2.7 549.2 964.3 145.8 1.138.588.1 551.5 710.801.2 1.8 600.0 635.605. Kebutuhan investasi tersebut juga telah memperhitungkan biaya rehabilitasi/life extention pembangkit.246.1 3.5 5.4 25.9 2017 1.7 1.4 1.381.2 812.340.921.0 1.5 1.4 1.4 148.243.1 1.5 1.7 4.5 6.9 254.260.000.1 738.445.384.093.374. transmisi dan distribusi oleh PLN sampai dengan tahun 2020 di sistem Jawa Bali membutuhkan dana investasi sebesar US$ 33.005.1 1.8 1.364.517.000.5 3.5 2014 1.2 1.8 377.1 1.795.528.Juta USD 8.8 370.000.3 33.000.0  Total Investasi 5.7 600.2 452.826.785.2.4 6.8 1.4 3.8 958.9 1.0  7.252.2 296.0 1.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) 6.5 511.109.594.7 18.513.2 1.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI Pengembangan pembangkitan.9 2.2 532.3 466.0 812.1 710.975.955.9 1.9 739.3 2.0 108.6 2015 1.7 228.5 19.7 1.521.6 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.9 2013 1.338. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total 118 Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 1.529.0  4.5 1.581.932.1 574.305.856.8 2.0 RUPTL 2011.567.1 804.8 1.671.191.7 772.6 796.364.446.0  1.7 4.932.4 329.0 1.929.115.0 50.000.1 532.6 84.3 2.6 574.8 2016 912.

9 miliar. Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan pendanaannya ke lender multilateral.2020 119 .5000 4500 4000 Juta USD 3500 Total Investasi 3000 2500 Pembangkit 2000 1500 Penyaluran 1000 Distribusi 500 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Tahun Gambar 6. Proyek penyaluran pada tahun 2011-2012 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan pembangkit. Namun proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi sumber pendanaan yang pasti. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. APBN.000 MW senilai US$ 3. dan PLN pada saat ini tengah mengkaji kemampuannya dalam membuat pinjaman baru. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN. Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. pinjaman luar negeri (two step loan).71/2006 didanai dengan pinjamanan luar negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah.5. sedangkan PLTU Indramayu 2x1.4 miliar dan US$ 6. RUPTL 2011. Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 8. obligasi. dan hal ini akan dijelaskan pada butir 5. Proyek percepatan pembangkit Perpres No. kredit ekspor dan sumber lainnya.

528.4 941.0  1. tidak termasuk proyek IPP.490.8 16.5 111.9 213.5 758.0 872.500.6 2016 257.9 717.8 560.302.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.7 536.120.7 69.9 16.446.2 116.677.6 1.7 2015 674.4 436.1 395.2 602.455. sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 2011-2020 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah sebesar US$ 16.2 427.2 1.9 629.2 Juta USD 3.780.1 366.0  1.6 332.3 7.1 2.2020 .0  750.000.3 773.7 miliar per tahun dan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 10 miliar atau rata-rata US$ 1 miliar.0 447.625.250.0 4.219.9 11.2 631.4 153.1 1.3 876.6 2.0 2.9 miliar atau rata-rata US$ 1.0  2. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat 120 RUPTL 2011.4 418.0  250.1 57.6 427.8 258.833.2 1.4 447.000.7 188.585.8 387.5 1.500.002.2 302.0 152.8 634.9 959.9 560.4 306.4 306.0 380.750. dengan disbursement tahunan seperti pada Tabel 6.067.2 Juta US$ Total 5.1 801.1 18. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 610.517.1 1.7 323.0  Distribusi 500.309.603.4.3 2.8 996.8 2017 186.4 409.4 395.8 2014 843.0 8.750.0 9.7 232.5 34.5 1.0 1.0 3.3 578.4 1.3 359.3 376.000.2 205.4 339.3 312.8 334.1 3.0  2.6.2 3.9 2012 908.102.443.250.2 2013 1.926.0  2.1 1.8 190.9 436.080.3 520.0 2019 573.454.1 397.2 792.007.2 385.890.1 262.6 104.4 611.0 2018 405.3 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit.3 dan Tabel 6.9 737.8 418.086.9 48.3 2.1 975.274. Tabel 6.681.4 490.2 19.006.8 102.8 85.4 1.3 1.1 596.2 359.0  Pembangkit 1.0  Transmisi 1.1 323.4 385.0  Total Investasi 2.8 1.7 191.9 2020 364.1 1.3 475.4 806.457.5 334.2 2.4 1.4 263.6 671.833.

2 290.3 346.0 813.0 129.229.7 242.3 10.4 4.0 267.060.0  Total  Investasi 1.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.4 334.1 31.7 2014 480.5 165.1 404.2 243.5 938.4 1.7 244.5 432.9 139.7 918.9 119.7 5.0 447.2 121.2020 121 .695.4 346.7 6.8 543.0 1.1 446.7 251.7 577.1 0.0 503.2 2015 266.8 242. RUPTL 2011.3 1.7 269.Tabel 6.5 65.2 2018 392.6 2019 170.7 239.665.6 707.500.0 334.2 251.8 1.7 210.1 13.5 miliar.8 344.8 Juta USD 1.8 2020 5.511.213.4 10.0 1.2 268.006.3 1.0  Pembangkit 900.7 2013 623.7 892.8 250.8 347.6 242.5 2.4 2.9 385.950.3 42.5 181. terutama di sistem Sumatra.3 269.6 216.7 152.3 65.3 600.7 0.9 33.6 5.3 267.3 315.793.0 699.71/2006.6 198.695.0 760.8 356.121.5 90.3 645.5 2017 456.517.9 1.7 493.9 584.8 113.360.6 121.6 358.0  1.7 216.6 866.5 5.8 2012 574.2 458.4 569.4 4.9 28.4 235.4 Juta US$ Total 3. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 8.7 250.1 102.6 315.1 2016 353.445.9 miliar.6 27.3 563.8 66.6 30.9 1.5 553. sedangkan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 5.9 79. Sedangkan disbursement proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi sistem-sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat.9 176. Sulawesi dan Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.6 192.696. Proyek transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh pengembangan transmisi 275 kV untuk interkoneksi seluruh Sumatra.0  Transmisi 600. Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 20122013 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 372.0 290.800. di samping pengembangan transmisi 150 kV di Sumatra.1 460.5 395.0  Distribusi 300.0 5.8 244.8 565.200.4 147.4 522.0 480.8 592.5 996.

8 3.0 4.7 10.278.5.194.7 20.784.2 6.9 3.172.748.0  Pembangkit 8.277.253. termasuk listrik swasta/IPP.6.6 9.5 1.135.1 2020 2.000.306.000.5 372.087.3 331.3 3.815.170.0 13.955.146.7 480. yaitu rata-rata hampir US$ 9.657.605.7 288.6 2.0  Total Investasi 12.726.6 4. adalah US$ 96.3 1.907.269.9 2.3 1.461.261.320.701.320.4 2017 4.6 miliar per tahun.5 6.338.2 2.1 79.3 1.0 13.8 1.650.056.8 387.860.3 3.5 5.261.8 6.161.347.7 7.7 2.2020 .2 miliar selama tahun 2011-2020.166.8 3.3 1.643.6 2019 3.313.000.000.2 717.034.5 3.6 2.8 1.0  10.414.253.2 2.000.7 11.0 3.2 7.7 175.2 8.655.474.384.6 3.783.7 12.307.720.3 13.475.036.0 8.9 2.4 405.3 282.261.8 688.8 1.199.6 2013 6. PLN + IPP Tabel 6.0 2.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan dalam RUPTL ini akan dipenuhi.633. 122 RUPTL 2011.7 Juta US$ Total 46.757.7 2014 7.3 3.389.000.4 1.3 7.1 1.5 4.2 2012 4.477.0 4.375.5 2.539.4 4.0 96. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia.077.275.0 12.098.166.066.3 72.5 1.369.1 2016 5.0 59.674.4 1.048. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada Tabel 6.0 14.395.1 1.7 Juta USD 14.7 37.918.535.057.0 1. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia.485.539.161.5 2.4 1.000.1 7.461.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.813.0  4.307.026.0  Transmisi Distribusi 2.457.7 2.5 1.9 6.7 42.0 1.725.397.7 1.842.204.4 113.269.646.089.0 5.7 1.0  6.928.3 1.0 67. dan juga menjelaskan dampak dari rencana investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero). Tabel 6. 6.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap tahunnya membutuhkan dana investasi yang sangat besar.5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN PLN Butir 6.350.4 KEBUTUHAN INVESTASI KELISTRIKAN PLN DAN IPP Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan Indonesia secara keseluruhan. PLN + IPP Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 3.476.8 1.2 1.1 604.3 8.4 3.0 1.395.599.367.9 2.8 2015 6.888.605.2 1.172.138.4 1.0 75.384.2 505.371.5 2.089.789.531.9 1.5 4.5 9.2 5.713.6 1.3 9.088.477.951.5 1.432.8 8.523.106.8 2018 4.2 1.1 10.3 9.8 986.5 6.

dan Rp 880/kWh pada tahun 2014-2015.000/US$ sampai dengan 2015. obligasi nasional maupun internasional. 52 Yang diukur dari pendapatan operasi terhadap kewajiban hutang yang jatuh tempo dan pembayaran bunga 53 Marjin terhadap biaya pokok penyediaan RUPTL 2011.2020 123 .850/US$ tahun 2012. meningkat menjadi rata-rata Rp 802/kWh pada tahun 2012.5. tidak termasuk financing cost. Rp 8.950/US$ tahun 2014 dan Rp 9.2 Asumsi Proyeksi Keuangan Kemampuan PLN untuk melakukan pinjaman sangat ditentukan oleh indikator indikator keuangan perusahaan.800/US$ tahun 2011. pinjaman komersial perbankan lainnya serta hibah luar negeri.3 Hasil Proyeksi Keuangan a.5. pinjaman baru. sedangkan dana pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA.5. Rp 8. Rp 8. Rasio tersebut digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman PLN dengan para lender dan bond holder. Hal ini bertujuan untuk 51 Hanya mencakup base cost. public service obligation) Harga rata-rata listrik pada tahun 2011 adalah Rp 729/kWh.5 miliar51 sampai dengan tahun 2020 akan dipenuhi dari berbagai sumber pendanaan. yaitu APBN sebagai penyertaan modal pemerintah (ekuiti). misalnya rasio hutang52. dan dana internal. dan debt-equity ratio (rasio hutang terhadap aset). sub-loan agreement). (iv) Marjin PSO53 8% pada tahun 2011-2015. (ii) Terjadi kenaikan tarif listrik sebesar 10% pada tahun 2012 dan 10% lagi pada tahun 2013. proyeksi EBITDA dan EBITDA margin. Harga Listrik dan Subsidi (PSO. (iii) Kurs Rp 8.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 60. Rp 881/kWh pada tahun 2013.6. pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi.900/US$ tahun 2013. 6. 6. Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap. Selanjutnya pada bagian ini akan diberikan gambaran mengenai biaya pokok penyediaan listrik. Asumsi dasar makro ekonomi dan asumsi korporasi yang digunakan dalam membuat proyeksi keuangan ini adalah sebagai berikut: (i) Tingkat bunga pinjaman baru 3-6% untuk pinjaman dalam nominasi valuta asing (US$) dan 912% untuk pinjaman dalam mata uang Rupiah.

54 Untuk menutupi selisih antara tarif dan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) 124 RUPTL 2011.061 994 990 1. sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal (seluruh investasi didanai dengan hutang).80 14. b.014 14.187 1.43 802 881 880 880 1. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2011-2015 Tahun 2011 2012 Subsidi T Rp 87.2020 . maka PLN harus mencari pinjaman komersial dan concessional untuk menutupi kekurangan kebutuhan investasi.23 14. Pendanaan APBN diperkirakan akan mencapai sekitar Rp 10 trilyun/tahun.86 12.6.97 7.10 *) Tidak ada kenaikan tarif hanya adjustment sebesar setengah dari inflasi dalam negeri. proyek transmisi dan fasilitas trafo distribusi untuk melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dan peningkatan keandalan pasokan listrik.64 54.000 MW tahap 1 (fast track 1) adalah sekitar 30%.98 729 BPP (Rp/KWh) Laba/Rugi Bersih Rp. Selain itu laba bersih juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan internal perusahaan untuk berinvestasi sehingga dapat mengurangi kebutuhan dana eksternal (pinjaman). T Tarif Rata-rata (Rp/KWh) 2013 2014*) 2015*) 36. Peningkatan laba tahun 2011 akan digunakan oleh PLN untuk membayar deviden kepada pemerintah dan memperkuat pendanaan internal (anggaran PLN atau APLN) untuk pembiayaan proyek-proyek kelistrikan seperti proyek pembangkit. Pada tahun-tahun selanjutnya kenaikan tarif dilakukan untuk dapat mengurangi subsidi pemerintah54 seperti diperlihatkan pada tabel 6.97 40. namun kemudian meningkat menjadi 53% pada tahun 2010 akibat seluruh pendaanaan proyek fast track 1 berasal dari pinjaman komersial dan obligasi. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN) Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah karena sebelum tahun 2009 PLN tidak memperoleh marjin PSO.07 47.mengurangi jumlah subsidi pemerintah dan meningkatkan laba bersih perusahaan. Kenaikan TDL ini akan menghasilkan pendanaan internal yang sangat dibutuhkan untuk pembiayaan investasi. Rasio hutang terhadap aset PLN sebelum program percepatan pembangkit 10. Tabel 6.

Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas. maka peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah.Peningkatan tarif PLN dan marjin PSO akan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik. . c.Peningkatan pendapatan PLN baik dari peningkatan tarif maupun peningkatan marjin PSO. Tabel 6. PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena dibatasi oleh covenant pinjaman yang disyaratkan oleh lender dan bond holder. baik dari tarif maupun marjin PSO.2020 125 . RUPTL 2011. maka harus dilakukan perbaikan sebagai berikut: . APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba operasi yang sangat terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi dan (iii) pinjaman. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat ditingkatkan jika revenue PLN meningkat. Dana internal untuk investasi diperkirakan akan meningkat dari 32% dari kebutuhan total investasi pada tahun 2011 menjadi sekitar 36% pada tahun 2015. APLN hanya didapat dari selisih antara marjin PSO + depresiasi aset dan pembayaran cicilan pokok. Hal ini menjadi semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat.Peningkatan dana dari APBN.7 menunjukkan komposisi sumber dana investasi untuk mencukupi kebutuhan rencana investasi 5 tahun ke depan.

5 28.2020 .4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL Seperti ditunjukkan pada butir 6.5 9.0 20.6 12. Tabel 6.5. Jika pendanaan yang diperoleh ternyata masih tidak mencukupi untuk melaksanakan program-program RUPTL secara penuh. dan tanpa diberikan margin yang cukup55 untuk membuat PLN mampu menggalang dana investasi yang lebih besar.8 10.7 2.5 miliar per tahun adalah diluar kemampuan PLN apabila model ekonomi kelistrikan tetap seperti yang terjadi pada saat ini.6 62.0 28.4 76. sedangkan benchmarking dengan utility yang regulated di negara lain pada umumnya ROA berkisar 8%.8 0. 126 RUPTL 2011. pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang akan dilaksanakan oleh PLN sesuai RUPTL 2011-2020 mencapai US$ 61 miliar atau rata-rata US$ 60.4 38.5 6. yaitu subsidi hanya diberikan untuk menutup biaya operasi. maka PLN akan tidak melaksanakan beberapa proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL dan melaporkan situasi ini kepada Pemerintah.6 23. Penyediaan dana investasi sebesar US$ 60.1 61.0 26.0 28. terus-menerus dan memenuhi syarat mutu dan keandalan. Jika nilai kebutuhan investasi dalam RUPTL adalah diluar kemampuan PLN selaku korporasi.- Peningkatan pinjaman murah (SLA) dimana pemerintah sebagai penjamin pinjaman. maka PLN akan melakukan investasi sesuai batas kemampuannya.6 9 .3 9 . dan kekurangan pendanaan (funding gap) ini akan dilaporkan ke Pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang diperlukan untuk melaksanakan seluruh proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL yang akan dilaksanakan oleh PLN.1.5 miliar per tahun. 7 Sumber Dana Investasi (Trilyun Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 APBN Internal Fund Pinjaman (committed) Pinjaman baru Total Kebutuhan Dana 9.4 27.1 63.0 29.2 66.1 9 . 55 Marjin PSO 8% akan menghasilkan ROA sebesar 1-3%.7 3. Namun demikian RUPTL 2011-2020 tetap disusun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan melayani pertumbuhan demand listrik yang diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup.9 3.

1 IDENTIFIKASI RISIKO Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi aspek sebagai berikut: A.2020 127 . Analisis risiko mencakup identifikasi risiko. transmisi dan distribusi. keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek. baik oleh PLN maupun oleh swasta. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan. Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemetaan risiko dominan yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. uraian analisis risiko pada bab ini akan dilakukan berdasarkan issue-issue utama RUPTL. pembangunan. 2. kesalahan desain. pendanaan. pemetaan risiko. Bagian kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. dan rekomendasi program mitigasi untuk risiko-risiko tersebut. performance instalasi. pengembangan pembangkit. Bagian ketiga menjelaskan berbagai program mitigasi risiko yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko tersebut. serta proyeksi pasokan energi primer dan kebutuhan investasi. keselamatan ketenagalistrikan. dampak lingkungan dan sosial. Bab ini terdiri dari tiga bagian. Risiko pengembangan ketenagalistrikan 1. RUPTL 2011. yaitu proyeksi kebutuhan/permintaan tenaga listrik. termasuk PLTP Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN.BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 Analisis risiko RUPTL 2011-2020 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi kerawanan atau kelemahan yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang yang dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL. 7. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP. cost over-run. Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri.

2.3. juga limbah. meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran penerimaan subsidi. Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi. B. Risiko Keuangan 1. Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. sabotase) 3. Risiko bencana. Risiko produksi/operasi. risiko akibat kesalahan manusia 2. kerusakan peralatan/fasilitas operasi.2020 . polusi dan kebisingan 4. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan metoda kualitatif berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa lalu. gas) dan risiko harga energi primer. Risiko Operasional 1. kesembilan risiko tersebut memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta berikut. kehilangan peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia perusahaan. berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi karena pengaruhnya pada kesehatan. Risiko permintaan listrik Kesalahan dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di dalamnya risiko pertumbuhan ekonomi).l. Risiko ketersediaan dan harga energi primer Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan batubara. risiko kepastian subsidi dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan D. risiko pencairan dana pinjaman untuk investasi dan risiko likuiditas aset. Risiko lingkungan. Risiko likuiditas.2 PEMETAAN RISIKO Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi 1. dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu. Risiko regulasi. 128 RUPTL 2011. seperti kekurangan/kelangkaan energi primer. meliputi risiko tarif listrik. C. baik bencana alam maupun bencana akibat manusia (a. 7.

Risiko lingkungan dan sosial 10. risiko dapat dikelompokkan dalam empat area berdasarkan tingkat probabilitas dan dampaknya. - Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko. - Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko. Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan proyek-proyek PLN. yaitu risiko dengan probabilitas kejadian rendah tetapi bila terjadi menimbulkan dampak yang tinggi. Dampak 5 1 2 6 4 4 3 9 8 7 3 5 2 10 1 1 2 3 4 5 Probabilitas Gambar 7. 1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL Keterangan: 1. termasuk PLTP 3. risiko permintaan tenaga listrik serta risiko bencana.Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan dan dampak pada kelancaran operasional perusahaan. Risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi 6. Risiko ketersediaan dan harga energi primer 5. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik 4. yaitu risiko dengan tingkat probabilitas kejadian tinggi dan dampaknya juga tinggi. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP. Risiko regulasi Berdasarkan pemetaan risiko di atas. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN 2. Risiko produksi/operasi 8. Risiko bencana 9. Risiko likuiditas 7. Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah ketersediaan dan harga energi primer. yaitu: - Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko. yaitu risiko dengan probabilitas kejadian yang tinggi tetapi dampak yang RUPTL 2011. keterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas.2020 129 .

risiko regulasi dan risiko lingkungan. 8. 7. 5.ditimbulkannya rendah. 1. 7. 3. Namun demikian. Mitigasi risiko pembangunan PLN Mitigasi risiko pembangunan IPP Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik Mitigasi risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer Mitigasi risiko likuiditas Mitigasi risiko produksi/operasi Mitigasi risiko bencana Mitigasi risiko lingkungan Mitigasi risiko regulasi Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. 10. 6. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah risiko produksi/operasi. 9. pokok-pokok program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi risiko diuraikan sebagai berikut.3 PROGRAM MITIGASI RISIKO Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena metoda dan sarana mitigasi terus berkembang.2020 . 130 RUPTL 2011. yaitu daerah dengan probabilitas rendah dan dampak yang ditimbulkannya juga rendah. 4. - Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko. 2. Termasuk ke dalam area ini adalah risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi.

2020 131 . 3. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut. tegangan rendah 225.490 MVA trafo interbus IBT 500/150 kV.404 kms dan kapasitas trafo distribusi 37. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar 114.2020 sebesar 54.647 MW. Kebutuhan investasi pembangkit.2 milyar. 5. 10. diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 49.5 milyar.3 TWh.6 milyar yang terdiri dari investasi pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 68. IBT 333 MVA IBT 150/70 kV. 3.000 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC.100 kms transmisi 500 kV HVDC.467 MW. 462 kms transmisi 250 kV HVDC.607 kms.053 MW.47% selama 10 tahun mendatang. diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk periode 2011 . Beban puncak pada tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai 55. Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN dapat mempunyai kemampuan untuk membiayai proyek-proyek kelistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL.9 milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13. proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 328. 36. investasi penyaluran sebesar US$ 14.263 kms. apabila asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan dipenuhi. Untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik untuk periode 2011-2020 diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah 208. antara lain kenaikan tarif listrik.BAB VIII KESIMPULAN Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun mendatang rata-rata 6. yang terdiri atas 2.194 MVA yang terdiri atas 59. RUPTL 2011.355 MVA 70/20 kV dan 33. atau mengalami pertumbuhan ratarata 8. peningkatan ekuitas dari pemerintah (APBN) dan PLN mendapat marjin PSO. dengan pembiayaan yang bersumber dari dana internal dan eksternal. Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini.490 kms SUTT 70 kV. diantaranya yang akan dibangun oleh PLN sebesar 31. 1.675 kms SUTET 500 kV AC.176 kms SUTT 150 kV.9% per tahun dan bergerak dari realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun 2010. penyaluran dan distribusi selama periode 2011 – 2020 untuk memenuhi kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara keseluruhan adalah sebesar US$ 96.180 MW dan IPP sebesar 23. 3.360 kms transmisi 275 kV AC.736 MVA trafo 150/20 kV.680 MVA IBT 275/150 kV.431 MVA.

Peraturan Menteri ESDM No. Mataram. Batubara dan Gas 7. UN Population Fund. Peraturan Presiden No.02. 2005 132 RUPTL 2011. Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. AHU-46951. Peraturan Pemerintah No. 634-12/20/600. 2008 11. Bappenas.3/2011 tentang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 10. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional 4. 2011 12. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2010 – 2029.2020 . 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik 3. 2/2010 jo No. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025. Peraturan Presiden No. BPS. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. 4/2010 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan.AH.01.DAFTAR PUSTAKA 1. 15/2010 tentang Daftar Proyekproyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan 2. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir. Peraturan Presiden No. Keputusan Menteri ESDM No. 27 Juli 2011 13. 59/2009 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara 5. Peraturan Presiden No. Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait 8. Undang-undang No. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of Understanding on the ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN) 6. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 – 2027. 71/2006 jo No.Tahun 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan 9.

PT PLN (Persero). 2008 dan update dari website BPS 15. Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia. PT PLN (Persero). PT PLN (Persero). Draft Kebijakan Energi Nasional. 2010 31. Website Kementerian ESDM. 2010 28. PT PLN (Persero). Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010 mengenai Sumber Daya dan Cadangan Batubara. 2010 17.14. DEN. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam Mendukung Ketahanan Energi. 27. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006. 2008 19. Direktorat Perencanaan dan Teknologi. PT PLN (Persero). 2010 21. Statistik 2010. 2009 20. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 – 2005. Nippon Koei. Draft Energy Outlook 2008. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 – 2018. BPS. PT PLN (Persero). 2006 23.2020 133 . Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 – 2019. 2009 16. Pemerintah Daerah RUPTL 2011. 2011 22. Berita Resmi Statistik. Statistik 2008. Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2011 – 2015. 2011 30. 2011 26. PT PLN (Persero). Statistik 2009. 2008 25. BPS. WestJec. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero). 2007 29. Statistik 2007. Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Februari 2008 24. Pengkajian Energi UI. 2008 18.

LAMPIRA AN A AYAH OP PERASI WILA INDO ONESIA BARAT B Lampiran A ini menjelaskan rencana r pe engemban ngan ssistem kellistrikan di Wilayah Operasi O In ndonesia Barat B 134 .

Progrram Listrik Perd desaan A2. Kebu utuhan Fisik Pengembangan Distribusi D A1.9 9.1 12. Neracca Daya A2. Neracca Daya A1.3 3.4 4.1 10.2 2. Renccana Pengemba angan Penyalu uran A1. SISTEM INTERKON NEKSI SUMAT TERA A1.9 9.4 4. WILAYAH W OPE ERASI INDONE ESIA BARAT A1.3 3.1 1. Neracca Energi A2. Kebu utuhan Fisik Pengembangan Distribusi D A2. Proye eksi Kebutuhan n Tenaga Listrikk A2.8 8. Analissis Aliran Daya a A2. Proye eksi Kebutuhan n Investasi PEN NJELASAN LA AMPIRAN A1 A2. Proye ek-Proyek IPP Terkendala A2. Proye eksi Kebutuhan n Tenaga Listrikk A1. Proye eksi Kebutuhan n Investasi PEN NJELASAN LA AMPIRAN A2 135 .5 5. Progrram Energi Barru dan Terbarukan A2. Renccana Pengemba angan Penyalu uran A2. Proye ek-Proyek IPP Terkendala A1.1 1.7 7. SISTEM INTERKON NEKSI KALIMA ANTAN BARA AT A2.1 11. Progrram Energi Barru dan Terbarukan A1. Neracca Energi A1. Analissis Aliran Daya a A1.6 6.1 10. Peta Pengembanga an Penyaluran A2.2 2. Capa acity Balance Gardu G Induk A1.1 12.1 11. Progrram Listrik Perd desaan A1.7 7. Capa acity Balance Gardu G Induk A2.6 6.5 5.LAM MPIRAN A. Peta Pengembanga an Penyaluran A1.8 8.

5.4. PROVIN NSI BENGKUL LU A12.2. PROVIN NSI JAMBI A10. A14. PROVIN NSI KEPULAU UAN RIAU A7.1. A14.RENCA ANA PENGEM MBANGAN SIS STEM KELISTR RIKAN PER PR ROVINSI WILA AYAH OPER RASI INDONES SIA BARAT A3. PROVIN NSI RIAU A6. A14. A14. A14. PROVIN NSI SUMATER RA UTARA A5. 136 . PROVIN NSI SUMATER RA BARAT A9. PROVIN NSI LAMPUNG G A13.3. PROVIN NSI SUMATER RA SELATAN A11. PROVIN NSI NANGGRO OE ACEH DAR RUSSALAM A4. PROVIN NSI KALIMANTAN BARAT A14. PROVIN NSI KEPULAU UAN BANGKA BELITUNG A8.6. NERAC CA DAYA SIST TEM-SISTEM IS SOLATED WILAYA AH OPERASI INDONESIA BARAT B Sistem Isolated Provin nsi Nanggroe Aceh A Darussala am Sistem Isolated Provin nsi Sumatera Utara U Sistem Isolated Provin nsi Riau Sistem Isolated Provin nsi Kepulauan Riau R Sistem Isolated Provin nsi Kepulauan Bangka B Belitun ng Sistem Isolated Provin nsi Kalimantan Barat A14.

LA AMPIRAN A1 SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 137 .

LA AMPIRAN N A1.1 PROYE EKSI KEBU UTUHAN TENAGA A LISTRIK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 138 .

00 5 00 5.50 9.00 6 00 6.46 9.641 Energi Siap Salur TT PS Pembangkit Energi Dibangkitkan Load Factor Beban Puncak Sistem GWh % GWh .656 44.034 52.80 9.821 5.990 43.034 52.874 9.304 31.475 25.4 65.264 % 65.00 6 00 6.59 9.197 34.4 65.559 28.0 MW 4.00 5 00 5.065 7.6 66.794 39.4 65.169 48.00 6 00 6.269 4.509 47.91 9.304 31.516 7.193 8.00 6 00 6.336 37.380 40.415 5.35 22.264 5 00 5.814 36.7 66.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi Sumatera KETERANGAN 139 SATUAN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Energi Jual GWh 20.70 9.380 40.475 25.953 25.64 9.3 65.00 5 00 5.656 44.377 Susut T & D % 9.54 9.00 22.336 37.42 9.00 5 00 5.00 5 00 5.043 33.190 31.248 22.446 28.3 66.0 66.952 6.169 48.579 8.9 67.446 28.197 34.

LAMPIRAN A1.2 A NE ERACA DA AYA SISTEM INTE ERKONEK KSI SUMATERA 140 .

Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera MW Reserve Margin 18.000 Beban Puncak 56% PLTU IPP 50% 8 000 8.000 PLTG PLN 75% PLTA IPP PLTA PLN 78% PLTGU IPP 16.000 PLTG PLN PLTA IPP 74% PLTP IPP PLTU & PLTG Sewa 64% Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN 141 10.000 37% 6.000 PLTU PLN (FTP2) 27% PLTU PLN 4 000 4.000 PLTGU PLN PLTP IPP 79% PLTP PLN 14.000 Kapasitas Terpasang 2.000 - 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Tahun .000 PLTA PLN PLTU IPP PLTU FTP2 73% PLTU PLN 12.

516 39.776 67 8.Neraca Daya Sistem Sumatera [1/3] No Pasokan dan kebutuhan No.441 847 8 915 620 942 109 3.266 2.520 3.819 847 8 760 263 942 - MW MW MW MW MW MW MW MW MW MW 533 447 180 16 80 150 12 10 - 633 447 180 16 80 150 12 10 117 633 447 180 16 80 150 12 10 300 95 447 180 16 80 150 12 10 586 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 60 447 180 16 80 150 12 10 130 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 - PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTG PLTGU 100 40 100 220 220 112 55 20 220 112 55 86 .2 (FTP1) Ulubelu #1.009 847 8 890 263 942 60 3.415 32.219 65 5.819 847 8 760 263 942 - 3.983 66 7.396 66 7.414 65 4.822 3.2 (FTP1) Pangkalan Susu #1.113 65 5.883 847 8 1.874 56.742 847 8 1.2 (FTP1) Sumbar Pesisir #1.641 MW MW MW MW MW MW MW MW 4.819 847 8 760 263 942 - 3.806 67 9.396 2.456 3.696 66 6. 1 2 142 3 Kebutuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Tingkat pertumbuhan Pasokan Kapasitas Terpasang PLN PLTA PLTMH PLTU PLTG PLTGU PLTD Swasta Sewa IPP PLTA PLTMH PLTU PLTG PLTGU PLTMG PLTP Retired & Mothballed (PLN) Tambahan Kapasitas PLN On-going Project Tarahan (FTP1) Meulaboh #1.952 35.065 42.266 2.059 65 4.193 51.821 29.266 2.009 847 8 890 263 942 60 3.819 847 8 760 263 942 - 3.579 47.269 26.245 67 8.2 Duri 1 (Ex Relokasi Jawa) Keramasan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW % 23.266 2.862 3.551 3.949 847 8 890 263 942 - 3.175 662 942 109 4.175 662 942 249 4.

2 Ekspansi Gunung Megang.6 Dumai Sumbagut IPP On-going Project Simpang Belimbing #1.1. ST Cycle Satuan 2011 PLTG/MG PLTG/MG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP 90 50 100 20 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 60 400 120 70 500 200 30 88 174 175 110 175 86 55 110 400 200 200 400 110 110 PLTMG PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU 12 30 30 60 50 PLTU 227 PLTGU 2012 -12 -30 -30 30 30 50 240 240 360 30 -30 30 400 .4 Sumsel . 143 Rencana Sungai Gelam (CNG/Peaker) Jaka Baring (CNG/Peaker) Duri Sengeti (CNG/Peaker) Belawan Lhokseumawe Aceh Timur Pembangkit Peaker *) Batanghari Peusangan 1-2 Asahan III (FTP2) Merangin Simonggo-2 Masang-2 Riau (Amandemen FTP1) Pangkalan Susu #3.4 (FTP2) . Meulaboh #3.Neraca Daya Sistem Sumatera [2/3] No Pasokan dan kebutuhan No. Mulut Tambang Hululais (FTP2) Sungai Penuh (FTP2) SEWA Sungai Gelam Borang B Borang Talang Duku (sewa beli) Payo Selincah (sewa beli) Tarahan #5.

.311 24 6.050 75 Ket: *) Mengingat pengembang belum melakukan eksplorasi sehingga tingkat ketidak pastian besarnya kapasitas masih cukup tinggi.5 Sumsel .Neraca Daya Sistem Sumatera [3/3] No.470 75 16.913 50 39 10.6. maka perhitungan reserve margin didasarkan pada kapasitas PLTP Sorik Marapi sebesar 2x55 MW. Mulut Tambang Banjarsari Sumsel .665 64 12. Pasokan dan kebutuhan 144 ` 4 5 Rencana Duri Aceh Sumsel .11.557 79 14. Mulut Tambang Riau Mulut Tambang Jambi KPS Sumut .7 Sumsel .005 79 17.4 PLTM Tersebar Sumut Jumlah Pasokan Reserve Margin Satuan 2011 PLTGU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTM MW % 2012 2013 100 44 22 2014 2015 2016 2017 150 150 300 300 300 300 2018 2019 400 400 2020 227 230 225 150 150 225 110 110 110 220 110 55 110 220 220 240 110 110 *) 110 110 55 110 55 20 110 165 220 45 23 56 40 83 5.198 73 13.612 37 83 8.448 56 32 8.4 (FTP2) Seulawah (FTP2) Sarulla II (FTP2) Rajabasa (FTP2) Muara Laboh (FTP2) Sorik Marapi (FTP2) *) Rantau Dedap (FTP2) Suoh Sekincau Wai Ratai Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria G.2 (Keban Agung) Sumsel .2 Lumut Balai (FTP2) Sarulla I (FTP2) Ulubelu #3. Talang Danau Ranau Bonjol Kepahiyang Wampu Simpang Aur (FTP2) Semangka Hasang Peusangan .

LAM MPIRAN A1.3 A PROY YEK-PRO OYEK IPP TERKEND DALA SIST TEM INTER RKONEKS SI SUMAT TERA 145 .

yaitu proyyek IPP sudah mencapai COD namun bermasalah.5 MW W masuk dalam m kategori 1 PLTU MT T Banjarsari 2xx100 MW masu uk dalam kategori 3 PLTU Ku uala Tanjung 2xx100 MW masu uk dalam kateg gori 3 PLTU MT T Keban Agung g 2x112.A1. yaitu u proyek IPP sudah memiliki Kategori 3: tahap pen ng mencapai Fin nancial Closing g (FC). dan merekka dimasukkan dalam 3 ka ategori PPTL te erkendala seba agai berkut : Kategori 1: tahap operrasi. PLTU Re engat 2x5. PLTP Sib bayak 2x5. PLTU Te embilahan 2x5.5 masuk dalam m kategori 3. PPTL tettapi tiak kunjun Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Sumatera a adalah. Saat ini penyelesaian p IPP terkendala tersebut sedan ng diproses ole eh Komite Direktur D untuk IPP dan Kerjasa ama Kemitraan n. ndanaan. yaitu proyek IPP sudah s mencapai Financial Closing (FC) tapi konstruksinya bemasalah h sehingga tida ak kunjung mencapai COD D. b Kategori 2: tahap kon nstruksi.5 MW W masuk dalam m kategori 3.3 Pro oyek-proyek IP PP yg terkenda ala Dalam program p IPP te erdapat bebera apa proyek yang pelaksanaa an kontralk PPTL/PPA-n nya mengalami kendala.5 MW masuk dalam kategori 3 PLTP Sa arulla 330 MW masuk dalam kategori k 3. 146 .

4 A NE ERACA EN NERGI SIS STEM INTERKONEKSI SUMA ATERA 147 .LAMPIRAN A1.

389 7.114 7.030 HSD 8.765 6.575 LNG - - - 4.967 26.276 13.865 10.324 4.417 16.040 7.843 44.679 6.820 4.050 Total 24.424 15.414 14.232 4.076 321 - - - - - - - 63 64 801 2.690 4.567 Geothermal .398 3.216 5.957 34.415 7.714 Gas 5.809 19.517 40.303 5.269 4.035 7.293 4.932 7.476 5.691 13.788 7.586 5.314 100 100 100 - - - - MFO 1.850 23.200 Hydro 3.317 4.003 47.466 6.022 5.518 7.671 15.773 11.718 5.805 51.707 2.353 11.622 30.989 56.270 9.295 1.502 6.Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sumatera (GWh) 148 JENIS 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Batubara 6.273 4.120 37.444 27.

484 556 MFO ( x 1000 kL ) 379 317 94 53 77 77 GAS (GBTU) LNG (GBTU) Batubara (kTON) 2013 - - - 4.241 1.139 9.152 9.761 12.746 2014 27 - 2015 2016 27 - 27 - 2017 2018 2019 2020 - - - - - - - - 84 83 78 68 51 47 44 34 34 34 34 34 36 41 9.007 6.795 16.255 14.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Interkoneksi Sumatera 149 FUEL TYPE 2011 2012 HSD ( x 1000 kL ) 2.006 8.363 10.425 .

LAM MPIRAN A1.5 A CAPA ACITY BA ALANCE GARDU G IN NDUK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATRA 150 .

6 65% 16.0 41.1 79.2 57% 117.8 57% 65% 74% 16.1 59.1 32.3 42.8 58% 122. Trafo MVA Gardu Induk TEG JML MVA 150/20 Total 1x30 30 30 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) SISTEM ACEH 1 GI ALUE DUA/ LANGSA PLTD SEWA 2 GI TUALANG CUT 42% 150/20 3x10 Total 3 GI ALUE BATEE/ IDI 150/20 1x30 151 GI LHOKSEUMAWE 150/20 5 GI BIREUEN 30 Total 60 30 150/20 150/20 2x30 Total GI SIGLI 60 150/20 1x10 10 150/20 Total 1x20 20 30 PLTD SEWA 7 GI BANDA ACEH I / LAMBAROE 150/20 2x30 60 1x60 60 Total 120 PLTD SEWA 8 ULEE KARENG 150/20 Total 2x60 9 LAM PISANG 150/20 Total 2x60 18.0 61% 51.8 62% 20 30 30.Capacity Balance GI N Nanggroe A Aceh hD Darussalam l (NAD) 2011 Kapasitas No.8 51% 46.3 68% 124.8 64.8 70% 50 49% 55 54% 61 60% 65 64% 70 69% 30 120 29% 35 34% 50 49% 30 40.2 51% 87.7 25.8 38.5 65% 15.9 46% 51.2 25.0 58.1 39% 42% 47.6 51% 56.2 27.0 51.7 50% 28.5 UP 60-10 50 48.2 10 30 30 Total 4 15.0 UP 60-30 33.4 30 28.8 45% 40 42.4 68% 19.1 46% 60 30 30 PLTD SEWA 6 10 20 30 150/20 PLTD SEWA 51% 30 30 2x30 18.9 57% 55% 62% 52% 58% 64% 72% 63% 34.9 72% 39% 30 21.9 57% 64% 43% 48% 53% 59% 66% 72% 102.0 120 30% 45 44% 30 30 .9 73.5 19.4 60% 68.4 55% 61.9 23.9 49% 31.0 UP 30-10 20 UP 30-10 31.6 73.0 31% 30 36% 23.4 43% 47% 50% 36% UP 30-10 19.0 38.8 72% 44.5 38% 21.6 54.7 47.8 47% 40 47.4 67% 73.1 38.1 38% 60 50 88.0 43% 50 106.5 42% 23.2 29% 20 35% 30 20 30 UP 60-30 78.8 67.6 70% 78.5 46% 25.5 53.4 34.8 66% 103.0 55% 62% 68% 75% 62% 69% 60% 17.6 27.0 43.4 22.7 56% 31.

4 57% 15.6 23.2 41% 42% 44% 46% 48% 50% 51% 14.5 76% 32.1 41% 30 .5 19.3 14.5 1x30 8.1 17.5 21.1 32.8 15.1 10 1 40% 10.1 32% 30 30 30 30 12.0 35.5 43% 47% 53% 58% 63% 69% 38% 41% 16.7 39.8 18.6 6.4 1x30 9.6 11 6 45% 12.1 26% 27% 28% 29% 30% 31% 32% 14.4 53% 30 30 21.9 36.7 15.9 12.1 27.9 7.8 38% 10.8 8.0 12.7 16.0 13.9 10 9 43% 11.6 53% 37% 15 GI PANTONLABU 2016 150/20 Total 14 GI JANTHO 60 39% T t l Total 13 GI KUTA CANE 2015 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Total 11 GI SUBULUSSALAM 2014 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo 150/20 Total 94 9.1 63% 17.4 37% 30 6.2 33.5 10 5 41% 10.1 6.7 14.4 14.4 25.0 28% 33% 38% 43% 48% 57% 69% 98 9.3 Total 17 GI BLANG PIDIE 150/20 Total 1 30 1x30 18 GI TAPAK TUAN 150/20 1x30 Total 19 GI COT TRUENG 2018 30 150/20 Total 16 GI KRUENG RAYA 2017 20.6 34.1 13.6 7.2 24.5 58% 63% 69% 38% 13.6 13.7 22.0 35.5 19.0 67% 17.3 21.1 17.4 45% 47% 49% 51% 54% 56% 58% 60% 13.6 73% 19.8 60 53% 1x30 2019 2020 21.7 29.2 11 2 44% 11.0 12 0 47% 2x30 14.8 19.0 54% 62% 73% 42% 47% 53% 63% 69% 150/20 30 10.3 60% 16.9 24. Trafo MVA Gardu Induk 10 GI TAKENGON TEG JML 150/20 2x30 MVA 2012 2013 12 GI MEULABOH 19.1 40.8 70% 18.3 37.5 24.4 41.3 26.8 63% 66% 69% 71% 49% 51% 53% 55% 11.Capacity Balance GI NAD (lanjutan (l j 1) 2011 Kapasitas No.4 30 25% 2x30 60 30 21.7 16.4 7.1 7.7 13.8 150/20 Total 1x30 150/20 2x30 152 150/20 150/20 Total 26.

0 16.Capacity Balance GI A h (lanjutan Aceh (l j 2) 2011 Kapasitas No.3 20.06 1 04 1.6 Total 21 Add 30 18% 1x30 11.6 18.07 1 07 1.4 5.1 5.8 6.04 1 03 1.9 5.03 1 04 1.07 1 07 1.5 44% TOTAL PEAK GI 227 298 409 461 526 581 640 701 782 850 TOTAL PEAK SISTEM 212 278 381 431 489 549 612 681 755 833 DIVERSITY FACTOR 1 07 1.1 19% 20% 21% 22% 23% 24% 13.02 153 .07 1 06 1.6 53% 59% 65% 72% 40% 30 22.8 Total 46% 30 4.07 1 07 1.6 5. 20 Trafo MVA Gardu Induk GI BLANG KJEREN TEG JML 150/20 1x30 MVA Peak Add 2012 Peak Add 2013 Peak GI SAMALANGA 150/20 2014 Peak Add 2015 Peak Add 2016 Peak Add 2017 Peak Add 2018 Peak Add 2019 Peak 2020 Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 4.07 1 07 1.4 15.04 1 02 1.

12 79% 42.53 83% GI BARU 45.15 66% 107.49 59% 64.14 49% 53.85 74% 40.67 60% 65.5 60 Total 91.99 65% 70.94 78% 126.87 41% 44.13 38% 41.42 22% 23.55 74% 80.48 75% 99.29 50% 54.19 66% 107.17 25% 19.27 70% 113.0 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 60 Total 60 150/20 150/20 150/20 Total 87.23 25% 27.49 34% 18.64 66% 141.36 88% 143.68 40 29% 21.85 45% 39.50 32% 17.25 75% 40.47 50% 81.28 26% 13.56 21% 22.40 46% 45.80 43% 46.08 88% 47.77 64% 60.43 60% 65. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 2 3 154 4 5 6 7 8 9 SISTEM SUMUT GLUGUR GIS LISTRIK TITI KUNING PAYA PASIR MABAR KIM LABUHAN LAMHOTMA DENAI 150/20 150/20 60 60 Total 120.83 41% 22.16 74% 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 92.65 74% 120.93 19% 20.47 79% 127.22 70% 113.49 57% 92.41 56% 61.0 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 150/20 31.68 66% 35.73 20% 21.55 60% 99.48 94% 86.80 44% 47.16 52% 84.65 99% 76.97 56% 90.75 70% 38.72 58% 62.03 65% 133.86 65% 105.65 53% 57.24 90% 97.85 81% UP & ADD 14.22 24% 26.66 69% 150.85 42% UAI 60 UP 30 UAI ADD 60 ADD 60 GI 60 .84 53% 108.83 62% 42.25 23% 25.07 43% 23.Capacity Balance GI Sumut No.88 54% 58.32 23% 24.86 46% 50.43 62% 101.22 42% 16.5 150/20 20 Total 20 150/20 60 Total 60 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) ADD 60 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 95.61 69% 75.73 64% 40.62 49% 80.72 63% 61.70 74% 19.43 83% 33.5 * 60 * 60 60.21 73% 118.93 47% 51.08 62% 35.06 59% 95.71 70% 37.86 69% 112.00 71% 114.65 39% 20.93 40% 43.70 83% 135.03 78% 42.05 53% 75.78 94% 50.47 62% 101.53 36% 19.

06 42% 45.46 43% 70.69 51% 55.20 52% 85.00 91.59 72% 117.82 44% UAI 60 GI 60 .78 90% 48.37 58% 25.95 49% 80.28 84% 137.22 64% 98.53 48% 58. MORAWA 17 TEBING TINGGI 18 KUALA TANJUNG 150/20 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 60 Total 60 150/20 150/20 60 31.26 58% 93.40 52% 56.42 55% 88.21 44% 47.06 46% 43.68 42% 57.91 41% 44.74 59% 32.79 81% 29.18 40% 65.98 49% 26.51 59% 83. BRANDAN 15 PERBAUNGAN 16 T.82 60% 47.84 49% 52.38 61% 98.04 54% 73.57 46% 24.80 65% 104.09 33% 35.26 64% 97.93 47% 13.84 44% 47.00 76% 123.98 41% 22.54 62% 30.47 47% 49.71 68% 112.86 64% 104.26 67% 146.86 72% 157.95 54% 57.83 60% ADD UAI 60 37.30 49% 44.88 78% 128.14 77% 89.42 39% 41.80 39% 41.14 49% 20.47 75% 61.11 39% 51.84 37% UAI 60 UAI 60 UAI 60 ADD 60 40.18 57% 77.07 55% 29.13 51% 69.70 57% 84.30 41% 44.34 51% 54.12 13% 35.5 30 Total 61.47 45% 48.90 35% 37.04 73% 119. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA SISTEM SUMUT 10 NAMURAMBE 11 SEI ROTAN 12 PAYA GELI 155 13 BINJAI 14 P.37 31% 34.08 34% 37.18 37% 61.91 39% 42.78 41% 44.29 43% 46.60 55% 37.53 47% 50.13 43% 46.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 1) No.61 55% 54.5 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 30 30 Total 60 150/20 150/20 31.5 Total 91.81 56% 91.38 49% 53.65 37% 39.97 45% 61.53 68% 110.76 49% 57.44 48% 65.48 52% 28.94 46% 49.98 48% 60.80 37% 39.18 36% 39.31 36% 50.5 150/20 60 Total 60 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 60 60 Total 120 45.57 60% 82.76 58% 31.05 46% 74.24 44% 23.

17 83% 37.88 69% 56.94 55% 73.58 58% 62.06 62% 49.32 66% 3.12 40% 17.72 63% 68.03 68% 92.43 56% 76.5 61.40 58% 47.88 44% 19.42 78% 16.85 62% 83.56 49% 16.32 9% UP 30.82 61% 66.21 36% 15.06 60% 64.28 50% 26.44 72% 13. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA SISTEM SUMUT 19 PEMATANG SIANTAR 20 GUNUNG PARA 21 KISARAN 156 22 AEK KANOPAN 23 R.05 73% 59.10 59% 31.93 52% 69.56 57% 15.40 56% 30.65 42% 15.51 10% 2.63 28.84 65% 88.61 10% 2.60 67% 72.36 47% 51.87 54% 14.29 60% 16.81 49% 21.98 47% 59.0 122 150/20 20 Total 20 150/20 150/20 150/20 Total 30 0 31.34 53% 57.89 55% 44.72 71% 18.22 83% 22.81 99% 17.05 12% 3.41 9% 2.85 66% 17.28 49% 39.52 52% 41.67 14% UP 30 UAI UP 20 2.0 ADD 30 UP 40 UAI 30 ADD 30 .51 32% 13.5 150/20 30 Total 30 150/20 150/20 30 20 Total 50 150/20 20 Total 20 150/20 10 Total 10 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 71.05 59% 79.50 44% 23.69 51% 68.14 38% UP 45.31 38% 17.78 99% 12.58 49% 13.12 31% 13.09 57% 76.74 30% 51.85 47% 25.05 63% 16.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 2) No.79 53% 28.16 68% 12.37 60% 79.70 69% 65.98 42% 18.82 11% 2.82 47% 20.85 51% 2.98 54% 72.47 58% 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) UP 20 11.41 45% 74. PRAPAT 24 KOTA PINANG 25 BRASTAGI 26 SIDIKALANG 27 TELE 150/20 150/20 30 60 Total 90 150/20 10 Total 10 150/20 150/20 150/20 Total 60 31.34 34% 14.5 45% UAI 48.92 33% 14.18 12% 11.40 65% 87.71 11% 2.94 12% 3.26 93% 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) UAI 60 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 77.81 63% 83.60 56% 61.26 50% 54.67 37% 16.89 74% 20.21 52% 13.02 79% 21.89 65% 52.91 63% 35.5 30.77 35% 15.53 37% 16.

31 36% 29.20 45% 40.78 39% 17.80 7% 3.69 20% 1.66 19% 1.19 71% 19.42 42% 22.42 31% 25.10 30% 16.56 18% 1. Gardu Induk Trafo MVA MVA 28 PORSEA 29 TARUTUNG 30 SIBOLGA 31 P.30 54% 15.65 41% 36.29 38% 16.06 83% 14.51 34% 60 29.48 43% 20 14.85 26% 1.00 39% 34.89 44% 27.38 43% 38.00 6% 3.34 54% 14.50 18% ADD 10 30 60 60 .36 45% 15.12 50% 23.53 18% 1.82 47% 16.34 43% 18.01 31% 16.28 41% 17.81 52% 18.82 37% 16.91 35% 30 15. SIDIMPUAN 157 32 GUNUNG TUA 33 TANJUNG PURA 34 PANYABUNGAN 35 PARLILITAN 150/20 Total 20 20 150/20 150/20 Total 10 10 20 150/20 150/20 Total 30 10 40 150/20 150/20 Total 30 31.43 33% 30 UP 20 37.5 62 150/20 10 Total 10 150/20 150/20 Total 30 0 30 150/20 150/20 Total 30 30 60 150/20 10 Total 10 150/20 36 SALAK (Untuk menyerap energi PLTM) Total 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 14.95 8% 36.08 38% 17.83 82% 22.24 6% 3.76 29% 10.21 40% 21.59 19% 1.62 19% 1.84 47% 25.37 7% 3.0 67% 18.91 44% 15.25 30% 10.80 42% 18.69 48% 8.72 20% 1.36 36% 15.30 48% 16.98 35% 19.46 76% 20.51 7% 3.29 27% 9.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 3) Kapasitas No.28 44% 23.12 6% 3.70 45% 1.49 35% 28.51 50% 27.65 7% 3.46 37% 13.11 47% 42.15 32% 25.91 33% 26.86 35% 12.93 35% 31.76 32% 11.30 33% 11.79 49% 17.76 21% 3.06 37% 20.43 37% 33.71 30% 24.97 33% 17.15 80% 28.29 51% 17.47 85% 14.68 34% 27.16 37% 9.59 47% 8.

23 26% 14.825 825 78 44.4 1.PT Grouth Sumatera .8 17% 9.159 1.79 125% 66.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 4) Kapasitas No. Gardu Induk Trafo MVA MVA 150/20 37 NEGERI DOLOK (Untuk menyerap energi PLTM) Total 60 150/20 150/20 Total 30 30 60 150/20 30 Total 30 150/20 60 Total 60 38 KUALA NAMU 39 PANGURURAN 158 40 LABUHAN BILIK 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 60 2.540 1.194.563.0 11.558 558 78 44.5 1.0 11.478 478 78 44.317 1.30 116% 61.63 10% 8.172 172 78 44.012 1.48 121% 63.012 1.094.014 1.479.33 18% 9.1 1.0 34.272 272 78 44.43 10% 2.255.624 1.011 1.78 23% 12.642 642 78 44.652.0 11.4 1.25 112% 59.795 1.0 11.0 11.730 730 78 44.12 4% 2.PT Gunung Gahapi TOTAL PEAK GI umum TOTAL PEAK SISTEM INT DIVERSITY FACTOR 2 399 2.46 5% 55.0 11.404 404 78 44.3 1.50 6% 2.217 217 78 44.34 9% 2.001 1.48 24% 13.39 5% 2.0 34.1 1.011 1.0 11.386 1.31 108% 57.6 1.0 34.271 1.89 19% 10.139.0 34.011 1.0 34.58 140% 1.0 34.5 1.0 1.711 1.0 1.7 1.0 11.399 150/20 150/20 .25 4% 2.200 1.746.463 1.400.83 135% 71.16 8% 2.00 8% 2.012 1.0 34.0 11.012 1.0 34.017 COD 2012 TOTAL PEAK GI Peak Load Big Customer (I4) .00 4% 2.25 9% 2.06 4% 2.03 28% 11.333 333 78 44.48 21% 11.11 22% 11.0 34.32 5% 2.24 130% 68.0 34.53 10% 2.08 8% 2.19 4% 2.325.

8 27.6 40.1 12.9 45% 48% 53% 59% 66% 74% 41% 45% 50% 55% 30 30 21.0 82.6 26.0 82.3 15.3 24.0 82.7 14.8 75.1 43.3 64.0 82.3 38.0 55% 30 32.8 38.3 42.0 57% 63% 69% 76% 51% 56% 61% 67% 73% 82.7 1 18.8 9.0 82.9 20.5 11.5 48% 53% 59% 51% 56% 62% 68% 42% 58.1 57% 63% 70% 51% 56% 62% 67% 74% 40.4 62.2 34.0 22.1 46.0 25.8 17.3 54.0 82.6 41% 44% 49% 55% 62% 70% 39% 44% 49% 54% UP 30-60 30 INDARUNG Total 5 28.2 50.8 20.9 23.7 67% 44% 50.5 19.3 11.3 LUBUK ALUNG BUNGUS (NEW) PARIAMAN (NEW) KAMBANG (NEW) 150 150/20 20 150/20 30 Total 50 150/20 150/20 150/20 / 30 30 30 30 30 8.7 44.2 32.3 36.4 40.6 1 12.3 34% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 69% 38% 42% 11 11.2 60 .2 35.2 1 13.1 52.5 1 1 15.4 12.7 42.5 52.0 82.3 10.Capacity Balance GI S b Sumbar No.0 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 18.4 4 27.1 1 16.8 47. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2020 Add Peak Trafo Load (MVA) (MW) Add Trafo (MVA) CABANG PADANG 1 2 159 3 4 PIP PAUH LIMO SIMPANG HARU 150/20 20 150/20 30 Total 50 150/20 60 150/20 30 Total 90 150/20 42 150/20 42 Total 84 6 7 8 29.9 68.2 57.3 21.5 14.8 66% 52% 39.8 36.3 23.4 43% 45% 50% 55% 61% 69% 76% 52% 57% 62% 10.0 82.7 17.4 19.0 15.8 49.0 82.1 29.5 71.8 52.

3 28.9 58.9 47.0 26.7 26.6 57.7 90% 47% 52% 58% 64% 71% 39% 43% 47% 52% 11.8 32.2 13.0 44% 49% 54% 59% 65% 71% 120 16.1 13.8 52.5 69.2 14.5 68.3 24.8 15.4 57.8 25.2 22.6 15.0 63.2 27.5 20.6 9.6 25.3 33.0 21.8 65% 33% 37% 41% 45% 51% 57% 62% 69% 57% 22.3 20.6 20.5 36.3 16.5 18.7 32.3 47.5 29.2 35.3 62.1 84% 91% 53% 61% 69% 39% 44% 50% 56% 63% CABANG SOLOK 16 SOLOK 17 SALAK 18 KILIRAN JAO 150/20 20 150/20 20 Total 40 150/20 150/20 / 20 UP 20-60 40 30 30 20 150/20 10 Total 30 30 30 .1 22.6 32% 36% 40% 45% 50% 55% 61% 66% 30 30 Add Add Trafo (MVA) 60 CABANG BUKITTINGGI 11 MANINJAU 12 PADANG LUAR 150/20 20 160 150/20 20 150/20 30 Total 50 30 UP 20-60 40 NEW 13 SIMPANG EMPAT 150/20 30 14 BATANG AGAM 0.3 75.4 17.4 39.8 31.1 13.5 60% 63% 70% 31% 35% 39% 43% 48% 52% 58% 27.2 52.6 22.0 91% 47% 52% 57% 63% 70% 56% 61% 67% 73% 13.8 52.Capacity Balance GI S b (lanjutan Sumbar (l j 1) No.9 65% 29% 30.6 30.4/20 20 (NEW) 15 GI PADANG PANJANG 150/20 10 30 30 60 5.9 24.1 28.6 77% 81% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 68% 74% 21.5 23.3 34. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 9 GI/GIS KOTA PADANG 10 GI SUNGAI PENUH (NEW) (NEW) 150/20 150/20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2020 Peak Trafo Load (MVA) (MW) 52.4 23.1 31.1 19.4 17.4 52% 57% 62% 68% 49% 22.5 66% 73% 40% 10.0 36.5 28.6 15.7 39.2 10.1 44.0 48.7 25.1 43.7 16.3 40.7 20.4 32.7 11.0 12.9 18.9 13.9 18.0 42.

9 TOTAL PEAK SISTEM 402.8 686. Kapasitas Trafo MVA Gardu Induk MVA 19 GI S.1 38.03 1.7 49.4 11.03 1.5 12.03 1.0 15.3 19.0 23.5 20.3 434.5 611.4 9.5 666.1 21.9 18.0 724.4 561.03 1.4 10.1 810.5 16.03 1.MEDAN (NEW) 150/20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 30 30 Add 2020 Peak Trafo Load (MVA) (MW) 12.8 853.0 25.0 34.5 28.8 486.3 1.8 472.3 447.1 31.03 1.9 530.8 45.1 53% 37% 41% 45% 50% 55% 61% 66% 72% 39% TOTAL PEAK GI 414.Capacity Balance GI S b (lanjutan Sumbar (l j 2) No.1 15.0 25.8 578.0 746.7 515.4 629.03 20 PAYAKUMBUH 21 BATUSANGKAR 161 DIVERSITY FACTOR 150/20 150/20 30 30 30 30 30 .1 50% 55% 61% 68% 75% 41% 45% 49% Add Trafo (MVA) CABANG PAYAKUMBUH 20.4 878.6 14.5 17.4 786.1 41.03 1.3 79% 50% 55% 61% 67% 50% 55% 60% 65% 71% 13.6 14.9 54.03 1.03 1.RUMBAI/GNG.

04 19.48 52. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 2 KOTO PANJANG BANGKINANG 150/20 20 Total 20 150/20 30 2011 Add Peak Trafo (MVA) Load (MW) 14.30 34.93 16.37 17.53 60 Trf Baru 57.53 37.58 86% 46% 38.16 44.07 15.06 97.55 51.40 64.63 Alih bbn Kit Tenayan 45% 30 30 60 28.55 73.15 15.04 61.93 53.80 51.87 25.00 60 GI Baru 0 0 Alih Bbn Kandis 14.26 64.62 57.97 77.89 18.57 52% 8 20 Trf Baru 2014 Add Trafo 30.42 44.94 45% 46% 50% 54% 58% 62% 68% 56% 74% Alih bbn Pasir Putih 80.82 44% 11 PASIR PANGARAYAN Add Trafo 14.47 34.30 47.54 32.34 92.23 35.81 55% 81% 150/19 150/20 Total 30 30 60 10 10 41.22 33.21 14.17 60 Trf Baru 113.15 53% 59% 61% 59% 63% 71% 56% 62% 69% 78% 34.52 16.61 63% 66% 64% 68% 38% 42% 47% 70% 78% 83.79 59.17 150/20 150/20 Total 150/20 10 30 40 0 20 UpRating 47% 150/20 Alih bbn KID Alih Bbn GIS Kota Alih bbn Perawang 150/20 60 Up Rating 14.13 59.25 56% 57% 53% 55% 61% 66% 71% 76% 42% 22.97 25.04 43.48 54.48 21.51 Alih bbn Bangkinang 2013 Add Trafo 40.Capacity Balance GI Ri Riau No.35 66% 54% 58% 63% 69% 78% 112.90 75% 71% 60% 30 UpRating 36.24 70.13 33.77 54.00 PLTD Sewa 6 30 Trf Baru 109.92 76% 3 GARUDA SAKTI 150/20 150/20 150/20 Total 50 50 60 160 TELUK LEMBU 150/20 150/20 Total 60 60 120 162 PLTD Sewa 5 DURI DUMAI 150/20 150/20 Total BAGAN BATU 9 TELUK KUANTAN PASIR PUTIH (MVA) 2015 2016 2018 2017 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) 15.17 70.71 73% 74% 60 Trf Baru 30 Up Rating 90.09 45% 55% 57% 58% 60% 63% 50.61 43% 44% 48% 51% 55% 59% 64% 32.64 71% 10 NEW GARUDA SAKTI (MVA) Peak Load (MW) 46% 74.21 80% 4 2012 Peak Load (MW) 14.93 91.82 30.22 15.21 83.68 126.06 16.63 14.06 55.23 44.00 Total 7 (MVA) Peak Load (MW) 15.95 88.25 38.75 18.38 45.36 52% 46% 34% 31% 32% 34% 36% 80.64 39.72 54.99 21.14 26.04 46% 50% 54% 58% 63% 69% 12.90 81% 59% 13.96 13.30 50.01 55% 30 GI Baru 120 GI Baru 120 Trf baru 20 Uprating 30 Trf baru .17 46.45 100.69 19.44 47.19 84.55 15.39 24.69 67% 70% 42% 50% 55% 60% 66% 46.58 86.51 18.11 41.51 41.87 64.07 35.18 59.08 51% 52% 56% 59% 62% 66% 71% 36.55 54.46 13.

16 45% 49% 30.50 49% 11.77 15.69 40% 22.67 85. 9 381.58 13.00 30 .59 34.61 38% 39% 43% 46% 49% 53% 58% 15 PANGKALAN KERINCI 150/20 0 30 GI Baru 9.00 39% 30 GI Baru 12.Capacity Balance GI Ri (lanjutan) Riau (l j ) No.30 62% 30 GI Baru 30 GI Baru 18.32 52% 180 675.12 576.00 270 532.53 49% 54% 59% 65% 30.18 13.81 68% 11 38 11.25 58% 64% 69% 74% 40% 9.90 11.31 10.16 485.46 150/20 0 37% 14.98 1.52 31.10 40. 9 672.42 42% 45% 1.52 35.49 40% 12 75 12.95 849.40 56% 30 GI Baru 13.26 6 3.25 17.8 530.00 30.88 56% 41% 33% 17.07 16.61 13.75 59% 0 782.2 14.92 14. 1.50 18.00 64% 60 852.58 67 .59 36% 20.00 Trf Baru 52% 60% 69% 79% 13.65 29.26 576.47 53% 10.35 11.74 25.80 55% 58% 62% 1.65 1.56 14 47 14.83 24.00 GI Baru 41% 45% 15.95 1. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 12 RENGAT 150/20 Total 2011 2012 Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2013 Add Trafo (MVA) 0 0 Peak (MVA) 24.39 48% 13 TEMBILAHAN 150/20 Total 2014 Add Trafo Load (MW) 60 GI Baru Peak Load (MW) 2016 2015 Add Trafo (MVA) 2017 2018 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) 22.67 1.49 1.00 3 .29 1.32 44% 30 GI Baru 24.59 10.11 38% 30 Trf baru 11.75 15.75 431.08 9.2 44% TOTAL PEAK GI TOTAL PEAK SISTEM DIVERSITY FACTOR 382.52 0 0 30 GI Baru 30 Trf baru 22.20 163 10.68 623.63 19.00 200 486.52 12.98 10.67 38% 40% 43% 45% 48% 51% 10.00 26.81 20.51 12.01 28.92 11.75 13 51 13.18 30.30 56% 110 726.51 50% 44% 57% 10.22 1.38 74% 12 06 12.73 12.00 50 432.01 8 9.50 779.03 43% 14 BAGAN SIAPI-API 150/20 0 30 GI Baru 9.81 45% 573.00 1.41 61% 77% 48% 11.43 9.20 22 GI/GIS KOTA PEKANBARU 22.84 27.68 1.23 530.69 14.96 23.01 38 .57 21 GI LIPAT KAIN 150/20 0 8.00 60 GI Baru 210 22.83 16.13 45% 47% 51% 54% 58% 62% 67% 14.42 13.35 54% 15.02 16 GI SIAK SRI INDRA PURA 150/20 0 17 KIT TENAYAN 150/20 0 18 PERAWANG 150/20 0 19 KID DUMAI 150/20 0 20 GI KANDIS 150/20 0 10 57 10.00 32.53 49% 30 627.16 7 3. 723.36 1.82 1.53 12.06 45% 47% 9.

49 35% 14.81 52% 19.05 62% 40.38 59% 24.30 98% 13.94 64% 69.24 65% 23.58 100% 16.56 68% 44.76 84% 45.44 112% 28.16 62% 22.39 29% 8.66 42% 11.15 58% 17.22 59% 15.97 35% 10.55 36% 25.66 96% 32.44 69% 24.75 46% 13.20 56% 20.32 32% 13.87 57% 64.27 42% 29.22 58% 22.68 56% 17.58 51% 60 60 .86 60% 49.75 53% 16.64 90% 29.84 65% 20.65 54% 24.06 59% 21.47 49% 81.11 61% 33.76 48% 35 20.06 51% 14.10 54% 16.53 108% 7.72 45% 37.63 72% 57.58 46% 14.75 52% 22.90 89% 24.80 42% 12.57 58% 95.57 49% 40.88 74% 40.73 63% Relokasi Trafo d 30.53 49% 53.69 38% 26.86 53% 44.28 74% 15 21.50 68% 75.53 49% 30 18.88 70% 10.11 49% 31.59 85% 31.38 56% 36.15 52% 34.16 89% 51.78 65% 27.07 74% 17.38 85% 19.56 53% 88.06 44% 16.64 49% 15.Capacity Balance GI S2JB No.69 33% 21.18 47% 15 Uprate 15-30 32. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 BUKITSIGUNTANG PTM 2012 2 TALANG RATU PTM di 2013/2014 164 3 SEDUDUK PUTIH PTM 2012 4 SUNGAI JUARO 5 BOOM BARU 70 kV 70/12 70/20 15 15 Total 30 70/12 70/12 70/20 70/20 Total 10 5 10 10 30 70/12 70/20 Total 15 30 45 70/12 70/20 Total 15 20 35 70/12 70/20 Total 15 30 45 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 70/12 70/12 70/20 70/20 Total 5 5 15 10 35 7 SUNGAI KEDUKAN Trafo II 15 MVA (Step up : Pertamina) 70/12 70/20 Total 10 15 25 8 KERAMASAN Sudah realisasi trafo 60 MVA 70/12 70/12 150/20 Total 15 10 60 25 PTM DI 2012 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Add Peak Trafo Load (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) Uprate 15-30 MVA 70/20 Uprate trafo 15-30 MVA SKI P3B Tambah 30 MVA 70/20 28.67 85% 36.10 57% 37.69 59% 18.54 65% 17.21 iK 79% 6 BUNGARAN PTM 2012/2013 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) uprate trafo III 15-30 uprate trafo IV10-30 33.12 64% 34.13 63% 11.26 87% 25.74 53% 45.32 30% 12.

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
1)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

165

9 TALANG KELAPA

150/20

60
60

49,06
96%

10 BORANG
(Beban ditarik ke
PLTMG Sako)

150/20
150/20
Total

15
30
45

SKI P3BS

11 MARIANA

150/20
150/20

2x16
32

12 SIMPANG TIGA

150/20
150/20
Total

30
60
60

150/20
150/20
Total

15
30
30

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20
150/20
Total

30
30
60

150/20
150/20
Total

10
20
30

150/20
150/20
Total

10
15
25

13 PRABUMULIH

14 BUKIT ASAM

15 BATURAJA

16 LAHAT

17 PAGAR ALAM

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
UAI P3BS
40,73
60
40%

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)
60

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

106,74
60%

116,46
65%

45,64
36%

54,64
43%

75,33
59%

81,24
64%

89,15
70%

97,27
54%

18,92
49%

20,14
53%

21,34
56%

22,72
59%

24,07
63%

62,41
28,27
54%

68,31
29,97
57%

74,39
31,63
60%

81,42
33,55
64%

88,67
35,43
67%

12,12
32%

13,22
35%

14,86
39%

16,37
43%

18,04
47%

34,80
16,86
62%

39,05
20,34
75%

45,10
22,61
83%

51,10
24,72
91%

57,90
27,05
51%

49,43
97%

53,96
53%

60,46
59%

44,09
43%

50,13
49%

53,47
52%

58,15
57%

62,96
62%

68,60
67%

74,27
49%

26,20
69%

28,87
32%

32,73
37%

36,41
41%

40,51
45%

42,87
48%

46,07
52%

49,26
55%

52,93
59%

56,60
63%

64,43
63%

69,99
69%

116,37
57%

122,70
60%

60

60

30
30

78,27
51%

60

85,85
56%

94,18
62%

98,29
64%

104,16
68%

109,82
54%

60

72,05
47%

60

92,39
60%

90,87
51%

85,13
48%

89,87
59%

94,43
62%

99,76
65%

104,88
69%

18,32
43%

20,04
47%

21,68
51%

28,99
57%

30,54
60%

Uprate 30->60
60,23
79%

30

Uprate
p
30-60
77,74
76%

30

18,88
74%

Uprate 10->30 MVA
20,63
20
49%

16,07
38%

12,10
28%

14,36
34%

15,35
36%

16,87
40%

19,19
90%

Uprate 10-30
20,85
55%

23,31
61%

21,34
56%

23,56
62%

24,52
64%

25,98
68%

20

Uprate 15-30
27,36 15
54%

60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
2)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

18 LUBUKLINGGAU

150/20

150/20
150/20

2x30
60

150/20
150/20

2x30
60

21 GUNUNG MEGANG

150/20

30

1 GI Kenten

150/20
150/20

60
60
120

20 GUMAWANG

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

30
20
50

19 BETUNG

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

Uprate 20->60
49,60
40
65%

166

54,85
72%

56,37
74%

61,55
48%

24,79
49%

27,63
54%

21,91
43%

20,22
40%

28,32
56%

30,90
61%

34,72
68%

38,27
50%

Relokasi 30 MVA ex Baturaja
30,90
60
34,72
40%
45%

28,32
111%

3 JAKABARING / KEDUKAN EXT 150/20

60

69,59
55%

74,35
58%

67,72
53%

73,26
57%

79,74
63%

23,72
47%

25,54
50%

28,19
55%

30,84
60%

34,01
44%

42,17
55%

39,80
52%

42,37
55%

44,89
59%

47,79
62%

50,62
66%

38,27
50%

42,17
55%

34,22
45%

33,04
43%

33,95
44%

35,56
46%

37,11
49%

46,27
45%

52,42
51%

59,39
58%

64,02
63%

70,07
69%

76,31
50%

83,52
55%

90,96
59%

12,59
25%

13,85
27%

15,23
30%

16,75
33%

18,43
36%

20,27
40%

22,30
44%

24,53
48%

12,69
50%

13,81
54%

15,01
59%

16,32
64%

17,63
69%

19,04
37%

18,38
36%

19,66
39%

21,04
41%

22,51
44%

24,09
47%

25,77
51%

27,58
54%

16,54
65%

17,36
34%

18,23
36%

19,14
38%

20,10
39%

10,52
41%

11,26
44%

12,04
47%

12,89
51%

13,79
54%

13,05
51%

13,97
55%

14,94
59%

15,99
63%

30

60

86,19
68%

30

37,19
49%

60
4 KAYU AGUNG

150/20

30

5 TANJUNG API-API

150/20
150/20
Total

30
30
60
0%

6 SUNGAI LILIN

150/20

30

7 MUARA DUA

150/20

30

8 MUARA RUPIT

150/20

30

16,05
31%

17,17
34%

15,00
59%

dari GI Betung

15,75
62%
dari GI Baturaja
9,83
39%

30

30

20,56
40%

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
3)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

9 SEKAYU

150/20

30

10 TEBING TINGGI

150/20

30

11 GIS Kota I

150/20

60
60
120

12 Martapura

150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

150/20

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
10,5
41%
12,7
50%

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
11,2
44%
13,5
53%

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,0
47%
14,3
56%
0,0%

-

167

MVA

1.082

TOTAL PEAK GI

MW

694,23

85

745,91

1.532

Persentase pembebanan
PEAK SISTEM INT. SUMSEL
Diversity Factor

%
MW

75,48
627,00
1,11

57,28
697,15
1,07

450

1.907
818,47
50,49
767,43
1,07

375

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
13,7
54%

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
14,7 58%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
15,7
30
31%

15,1
59%
55,9
54,8%

16,1
63%
60,8
59,6%

17,0
67%
66,5
65,2%

18,0
35%
72,4
47,3%

14,7
49%
14,0
55%
2.447 240

15,6
52%
15,9
62%
2.642 195

16,6
55%
17,5
69%
2.702

17,6
59%
19,1
30
38%
2.942 240

2.147

904,08

1008,61

1071,46

1144,86

1228,64

1325,28

1422,62

50,96
843,40
1,07

55,27
930,54
1,08

57,12
998
1,07

55
1.070
1,07

55
1.147
1,07

58
1.238
1,07

57
1.335
1,07

-

30

Total Kap. Terpasang GI

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,8
50%

masuk di 2016
13,8
46%
10,0
39%
60
2.207
60

30
-

13 Pendopo

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
9,8
38%

2.087

180

60

30
60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
4)
No.

Kapasitas
Trafo MVA

Gardu Induk

MVA
1 SUKAMERINDU

2 PEKALONGAN

168

3 TES

70/20
70/20
70/20

15
30
30

Total

75

70/20
70/20
150/20
Total

5
10
30
15

70/20

5
15

150/20

30

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

74,87
98%

28,81
38%

19,95
,
78%

23,27
,
91%

24,40
,
48%

4,12
32%

4,33
34%

3,92
31%

-

150/20

3 Sukamerindu 2 / Pulau Baai

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20

30

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

33,39
44%

24,65
32%

26,09
34%

29,69
39%

31,42
41%

33,82
44%

36,40
48%

27,93
,
55%

28,69
,
56%

29,17
,
57%

32,45
,
64%

32,99
,
65%

34,24
,
67%

35,54
,
70%

4,54
36%

4,77
37%

5,01
39%

5,26
41%

5,52
43%

5,80
45%

6,09
48%

21,52
42%

22,97
45%

24,52
48%

17,56
34%

18,67
37%

19,85
39%

21,12
41%

14,01
55%

14,71
58%

15,45
61%

81,61
53%

87,34
57%

93,49
61%

13,60
53%

14,56
57%

15,58
61%

9,29
36%

10,00
39%

10,77
42%

0%

18,90
74%

20,17
40%

150/20

30

0%

0%

0%

0%

12,10
47%

12,71
50%

13,35
52%

54,24
53%

61,66
60%

65,51
64%

69,20
68%

77,26
50%

0%

0%

10,92
43%

11,53
45%

12,88
50%

30

0%

5 GI BinTuhan

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

mundur ke 2012

2 Muko-Muko
Ditarik dari argamakmur

g
4 GI ArgaMakmur

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

71,10
93%

USULAN GI BARU 150/20 KV
1 MANNA / MASSAT

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

60

GI Bin Tuhan Masuk
8,62
34%

30

Total Kap. Terpasang GI
Total Kap.Terpasang Pembangkit

MVA
MW

120
-

TOTAL PEAK GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM BENGKULU
Diversity Factor

MW
%
MW

94,97
94
97
93,11
85,92
1,11

-

150
121,16
121
16
95,03
108,67
1,11

30

330
131,94
131
94
47,04
117,18
1,13

180

330
149,04
149
04
53,14
132,61
1,12

-

360
169,63
169
63
55,43
152,87
1,11

30

360
178,22
178
22
58,24
161,16
1,11

-

450
188,45
188
45
49,27
170,91
1,10

90

450
197,83
197
83
51,72
180,04
1,10

-

450
210,32
210
32
54,99
191,35
1,10

-

450
223,67
223
67
58,48
203,05
1,10

-

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
5))
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

1 JAMBI (AUR DURI)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

Total

30
30
30
60

150/20
150/20
Total

60
60
120

3 MUARA BUNGO

150/20

30
30
60

45,75
90%

4 BANGKO

150/20

30

27,22
107%

UAI P3BS
30,48
60
40%

5 GI. MUARA BULIAN

150/20

30

19,41
76%

UAI P3BS
22,87
60
30%

USULAN GI BARU 150/20 KV
1 GI SABAK

150/20

30

2 PAYO SELINCAH

150/20
150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

169

3 GI KUALA TUNGKAL

150/20

150/20

30

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

45,67
90%

UAI P3BS
51,74
60
51%

46,92
46%

54,10
53%

58,17
57%

62,84
62%

67,51
66%

76,54
75%

UAI P3BS
86,57
60
57%

95,78
63%

104,66
68%

111,85
73%

120,17
79%

128,42
63%

55,96
55%

58,75
58%

62,04
61%

65,12
64%

69,15
45%

27,56
36%

29,10
38%

30,95
40%

32,68
43%

34,99
46%

37,46
37%

27,88
36%

29,21
38%

30,76
40%

32,22
42%

34,10
45%

36,10
47%

11,33
44%

11,65
46%

12,04
47%

12,38
49%

12,86
50%

13,36
26%

13,88
54%

14,21
56%

14,47
57%

14,89
58%

0

0

0

15,31
60 03
60,03

51,22
100%

0%

2 GI SAROLANGUN

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

49,25
48%

0%

33,29
44%

24,82
32%
dimundur ke 2013
10,28
40%

0,00
0%

0%

0%

0

0

0

660

-

660

-

77,04
50%

30

37,81
49%
30

13,74
27%

-

15,32
60%

15,60
31%

30

15,90
62 36
62,36

16,52
64 78
64,78
1.020

720

870

930

260,3

295,1

312,6

333,0

352,8

393,3

420,9

452,1

%

84,15
194,29
1,10

52,91
220,76
1,10

48,62
236,58
1,10

52,61
269,67
1,09

55,72
285,45
1,10

59,4
304
1,10

57,65
322,34
1,09

53,18
359,50
1,09

53,24
383,51
1,10

52,14
413,90
1,09

3.167
1.490,8
1
490 8
1.368,9
1,09

3.227
1.582,7
1
582 7
1.462,6
1,08

3.617
1.686,1
1
686 1
1.563,3
1,08

3.962
1.820
1
820
1.687
1,08

4.082
1.956
1
956
1.813
1,08

-

60

39,55
39%

242,9

3.077
1.348,2
1
348 2
1.245,7
1,08

30

73,42
48%

300

2.867
1.210,7
1
210 7
1.121,2
1,08

660

166,50
65%

214,6

2.222
1.109,9
1
109 9
1.026,6
1,08

90

149,80
73%

MW

1.502
1.003,8
1
003 8
907,2
1,11

630

60

85,33
56%

MVA

MVA
MW
MW

240

0

138,70
68%

79,48
52%

TOTAL PEAK GI

PLN WS2JB
Kapasitas terpasang GI
PEAK GI WS2JB
PEAK SISTEM S2JB
DIVERSITY FACTOR

540

dimundur ke 2014
13,63
53%

60

60

Total Kap terpasang GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM JAMBI
Diversity Factor

-

60

73,27
48%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

4.412
2.098,4
2
098 4
1.952
1,07

Capacity Balance GI
Lampung
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

1

TARAHAN
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

2

TELUK BETUNG
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

3

NATAR
Terpasang
B b P
Beban
Puncak
k
Pembebanan Trafo

170

4

SUTAMI
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

5

KALIANDA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

6

GI TEGINENENG

Peak

2014
Add

Peak

2015
Add

Peak

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(2x30)

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

35,51

41,88

43,30

41,04

41,37

41,09

40,41

39,27

37,65

35,43

%

69,6%

82,1%

84,91%

80,5%

81,1%

80,6%

79,2%

77,0%

73,8%

69,5%

150/20
MW

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(1x60)

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

(1x60)

%
150/20
MW

72,91

86,18

86,40

89,32

77,38

81,37

67,07

70,26

73,56

76,86

71,5%

84,5%

84,7%

87,6%

75,9%

79,8%

65,8%

68,9%

72,1%

75,4%

60

60

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(2x30)

51,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

40 78
40,78

49 06
49,06

%

80,0%

48,1%

150/20
MW

60

60

60

60

52 87
52,87

56 86
56,86

49 79
49,79

39 91
39,91

39 74
39,74

40 87
40,87

42 26
42,26

43 74
43,74

51,8%

55,7%

48,8%

39,1%

39,0%

40,1%

41,4%

42,9%

60

60

60

90

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

76,5

MW

28,71

34,06

36,53

39,10

41,49

43,66

%

56,3%

66,8%

71,6%

76,7%

81,4%

57,1%

150/20
MW

(2x30)

90
30

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

45,86

48,08

50,36

52,65

59,9%

62,8%

65,8%

68,8%

30

30

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

22 19
22,19

26 67
26,67

%

87,0%

52,3%
70

28 73
28,73

30 89
30,89

22 15
22,15

23 38
23,38

29 09
29,09

30 57
30,57

32 09
32,09

33 61
33,61

56,3%

60,6%

43,4%

45,8%

57,0%

59,9%

62,9%

65,9%

70

110

150

150

150

(2x20)

59,5

59,5

59,5

93,5

93,5

93,5

93,5

127,5

127,5

127,5

(1x30)

45,49

54,79

59,08

63,56

40

67,71

71,49

75,31

79,16

40

83,13

87,12

76,5%

92,1%

99,3%

68,0%

*2)

72,4%

76,5%

80,5%

62,1%

*2)

65,2%

68,3%

GI ADIJAYA

70

30

MW
%

70

110

110

110

Total

30

30

60

60

60

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

28,16

34,37

%

110,4%

67,4%

GI MENGGALA

Total

50

50

30

50

37,23

40,21

42,98

73,0%

78,8%

56,2%

50

50

50

30

45,50

48,05

50,62

53,27

55,92

59,5%

62,8%

66,2%

69,6%

73,1%

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

42,5

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

37,89

28,49

31,50

34,66

37,58

39,88

40

42,54

45,23

48,00

50,78

89,2%

67,0%

74,1%

81,5%

88,4%

52,1%

*2)

55,6%

59,1%

62,7%

66,4%

GI SRIBAWONO

%
150/20

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

120

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

102,0

Beban Puncak

MW

(1x30)

BUKIT KEMUNING

%

33,13

41,30

45,07

40

49,00

49,66

52,80

55,96

59,15

62,45

65,75

30

77,9%

97,2%

58,9%

*2)

64,1%

64,9%

69,0%

73,2%

77,3%

81,6%

64,5%

*3)

Total

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

76,5

Beban Puncak

MW

32,73

40,65

%

128,3%

53,1%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

MW

Pembebanan Trafo
10

2013
Add

Total

Pembebanan Trafo
9

Peak

Terpasang

Pembebanan Trafo
8

2012
Add

Beban Puncak
Pembebanan Trafo
7

150/20
MW

Peak

30

90

90
60

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

48,86

40,98

43,99

46,26

49,00

51,76

54,62

57,48

63,9%

53,6%

57,5%

60,5%

64,1%

67,7%

71,4%

75,1%

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
1)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

11

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

80

120

120

120

120

120

120

180

68,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

153,0

Beban Puncak

MW

51,95

40

68,20

71,13

73,61

40

80,14

69,09

73,93

78,81

83,85

88,90

%

76,4%

*2)

100,3%

104,6%

72,2%

*2)

78,6%

67,7%

72,5%

77,3%

82,2%

58,1%

Total

50

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

44,92

44,95

40

48,25

41,01

38,67

40,72

42,79

44,88

47,04

49,20

105,7%

58,8%

*2)

63,1%

53,6%

50,6%

53,2%

55,9%

58,7%

61,5%

64,3%

PAGELARAN

GI METRO

%

50

90

90

90

90

90

90

90

90

90

Total

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban P
Puncak
ncak

MW

(1 20)
(1x20)

171

GI NEW TARAHAN

GI SUKARAME

%
150/20
MW

30

28 81
28,81

32 07
32,07

33 56
33,56

40

35 13
35,13

36 58
36,58

37 90
37,90

39 23
39,23

40 58
40,58

41 97
41,97

43 36
43,36

67,8%

75,4%

43,9%

*2)

45,9%

47,8%

49,5%

51,3%

53,0%

54,9%

56,7%

30

60

25,5

51,0

MW

19,73

23,39

%

77,4%

45,9%

(1x30)

60
30

60

120

51,0

51,0

102,0

25,63

36,67

42,49

50,2%

71,9%

41,7%

60

120

120

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

47,70

53,07

58,59

120

64,37

120

70,29

120

46,8%

52,0%

57,4%

63,1%

68,9%

150/20

30

30

30

60

60

60

60

60

60

120

120

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

102,0

102,0

Beban Puncak

MW

21 19
21,19

25 14
25,14

33 82
33,82

40 39
40,39

44 16
44,16

43 53
43,53

34 51
34,51

38 20
38,20

42 36
42,36

%

83,1%

98,6%

66,3%

79,2%

86,6%

85,4%

67,7%

74,9%

41,5%

GI BLAMBANGAN UMPU

30

MW

(1x30)

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

6,74

8,37

9,12

9,91

10,63

11,30

11,97

12,64

13,34

14,04

%

26,4%

32,8%

35,8%

38,9%

41,7%

44,3%

46,9%

49,6%

52,3%

55,0%

GI LIWA

30

30

30

30

60

60

60

60

60

60

60

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

,
19,17

23,47
,

25,45
,

27,53
,

%

75,2%

92,0%

99,8%

54,0%

150/20
MW

30

30

30

29,45
,

31,20
,

32,96
,

34,74
,

36,58
,

38,43
,

57,7%

61,2%

64,6%

68,1%

71,7%

75,3%

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

10,69

11,36

11,96

12,57

13,18

13,81

14,45

%

41,9%

44,5%

46,9%

49,3%

51,7%

54,2%

56,7%

150/20

30

30

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

18,29

19,43

20,58

21,74

11,82

12,44

71,7%

76,2%

80,7%

85,2%

46,4%

48,8%

MW

Beban Puncak

MW

17,03

%

66,8%

GI ULU BELU

30

30

30

Terpasang
Pembebanan Trafo

30

25,5

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

30

30

MW

Terpasang

30

25,5

Terpasang

Beban Puncak

30

46 99
46,99
46,1%

150/20

GI KOTA AGUNG

30

60

Terpasang

150/20

30

30

Beban Puncak

GI SEPUTIH BANYAK

150/20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

8,49

9,11

9,76

10,36

10,91

11,47

12,03

12,61

13,19

%

49,9%

53,6%

57,4%

61,0%

64,2%

67,5%

70,8%

74,2%

77,6%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

80

Pembebanan Trafo

20

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

19

2015
Add

80

Pembebanan Trafo

18

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

17

2014
Add

40

Terpasang

16

Peak

(2x20)

Beban Puncak

15

2013
Add

MW

Pembebanan Trafo
14

Peak

Total

Pembebanan Trafo
13

2012
Add

Terpasang

KOTABUMI

Pembebanan Trafo
12

Peak

60

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
2)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

21

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

2 x 30

60

60

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

23,30

24,55

25,82

27,09

28,41

29,73

%

45,7%

48,1%

50,6%

53,1%

55,7%

58,3%

GI TELUK RATAI

150/20

60

30

30

30

30

30

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

Beban Puncak

MW

12,91

13,58

14,25

14,94

15,64

16,35

%

50,6%

53,2%

55,9%

58,6%

61,3%

64,1%

150/20

GI KETAPANG

30

30

30

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

13,72

15,95

18,04

20,11

21,98

53,8%

62,5%

70,8%

78,9%

43,1%

30

30

30

30

60

60
51,0

172

GI MESUJI

%
150/20

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

16,84

18,04

19,24

20,46

21,71

%

66,1%

70,7%

75,5%

80,2%

42,6%

GI JATI AGUNG

150/20

51,0
30

23,05
45,2%

30

22,97
45,0%

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

17,11

18,80

20,63

22,31

%

67,1%

73,7%

80,9%

43,7%

GI LANGKAPURA

150/20

30

30

23,90
46,9%

60

60

60

60

Terpasang

MW

51,0

51,0

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

35,69

37,44

39,25

41,06

%

70,0%

73,4%

77,0%

80,5%

30

30

60

GI PAKUAN RATU

150/20

60

60

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

17,82

19,03

20,26

21,52

69,9%

74,6%

79,4%

42,2%

GI BENGKUNAT
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

%
150/20
MW

30

60
51,0
30

22,79
44,7%

30

30

25,5

25,5

MW

11,12

11,70

%

43,6%

45,9%

70/20
MW

90

90
76,5

3 x 30

90

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

MW

55,95

56,79

57,67

58,48

52,00

52,00

52,00

52,00

52,00

%

73,1%

74,2%

75,4%

76,4%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

60

60

60

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

7,22

7,97

8,73

9,51

10,29

%

14,2%

15,6%

17,1%

18,6%

20,2%
1.204

150/20
MW

60

60

1x60

60

PEAK GI

MW

570

727

782

845

921

975

1.037

1.092

1.149

PEAK SYSTEM

MW

569

693

749

809

864

914

965

1.016

1.068

1.121

1,08

1,07

1,07

DIVERSITY FACTOR

Add

Load
(MW)

60

Terpasang

28

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
28

2015
Add

60

Pembebanan Trafo
27

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
26

2014
Add

60

Pembebanan Trafo
25

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
24

2013
Add

51,0

Pembebanan Trafo
23

Peak

MW

Pembebanan Trafo
22

2012
Add

Terpasang

GI GEDONG TATAAN

150/20

Peak

1,00

1,05

1,04

1,04

1,07

1,07

1,07

LAM
MPIRAN A1.6

RENCAN
NA PENGE
EMBANGA
AN PENY
YALURAN
N
SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATRA

173

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Sumatra
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

174

500 kV AC

-

-

-

-

-

-

-

150

-

-

150

500 kV DC

-

-

-

-

-

800

-

-

-

-

800

275 kV

-

160

1,992

774

1,532

110

-

130

-

-

4,698

250 kV DC

-

-

-

-

-

462

-

-

-

-

462

582

1,455

3,784

2,039

1,486

531

590

387

382

440

11,676

-

310

-

240

-

-

-

-

-

-

550

582

1,925

5,776

3,053

3,018

1,903

590

667

382

440

18,336

150 kV
70 kV
TOTAL

(MVA)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500/275 kV

-

-

-

-

-

1,000

-

2,000

-

500 kV DC

-

-

-

-

-

3,000

-

-

-

-

3,000

275/150 kV

1,000

-

4,500

2,000

1,250

-

500

500

-

250

10,000

250 kV DC

-

-

-

-

-

600

-

-

-

-

600

150/20 kV

900

2,600

1,980

1,140

810

660

780

780

510

690

10,850

70/20 kV

30

260

30

60

-

30

-

30

30

-

470

1,930

2,860

6,510

3,200

2,060

5,290

1,280

3,310

540

940

27,920

TOTAL

3,000

Pengembangan Penyaluran Sumatra

175

No.

Propinsi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu

Dari
Dari 
Jantho
Sigli
Meulaboh
Panton Labu
Bireun
Sidikalang
Brastagi/Berastagi
PLTU Meulaboh
Blang Pidie
Ulee Kareng
Samalanga
Krueng Raya
Takengon
Cot Trueng
PLTA Peusangan‐2
PLTA Peusangan‐1
PLTP Seulawah
Takengon
Banda Aceh
Air Anyir
Air Anyir
Suge
Dukong
Pangkal Pinang
Pangkal Pinang
Kelapa
Koba
Air Anyir/Sungai Liat
Air Anyir/Sungai Liat
Pagar Alam
Pekalongan

Ke
Ke 
Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh)
PLTU Meulaboh
PLTU Meulaboh
Incomer (Idi ‐ Lhokseumawe)
g
Takengon
Sabulussalam
Kutacane
Blang Pidie
Tapak Tuan
Banda Aceh
Incomer (Bireun Sigli)
Incomer (Bireun ‐ Sigli)
Ulee Kareng
Blang Kjeren
Incomer (Bireun ‐ Lhokseumawe)
Takengon
PLTA Peusangan‐2
2 Pi Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh)
PLTA Peusangan‐4
Lam Pisang
Pangkal Pinang
Sungai Liat
Dukong
Manggar
Kelapa
Koba
Mentok
Toboali
PLTU Bangka Baru III
PLTU Bangka Baru III
Manna
Pulo Baai

Tegangan
Tegangan 
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor
Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
,
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
cct 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
4 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk

kms
kms 

Biaya
(M USD)

COD

1
333
60
2
126
111.2
290
190
130
40
4
60
174
6
22
14
32
20
30
44
112
50
140
120
120
140
120
100
96
90

0.06
74.95
3.32
0.11
9.62
6.16
16.07
10.53
7.20
9.00
0 22
0.22
4.58
9.64
0.33
1.68
1.07
3.55
1.11
2.29
2.44
6.20
2.77
7.76
6.65
6.65
7.76
6.65
5.54
5.32
6.87

2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2011
2011
2012
2012
2014
2014
2016
2016
2018
2012
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 1)

176

No.

Propinsi

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60

Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Dari 
PLTA Simpang Aur 1
PLTA Simpang Aur 1
Pekalongan
Pulau Baai
Kambang
Manna
Muko‐muko/Bantal/Ipoh
PLTP Kepahiyang
Bangko
PLTA Merangin
PLTG CNG Sei Gelam
PLTG CNG Sei Gelam
Sabak
PLTG CNG Sengeti
Muara Bulian
PLTP Sungai Penuh
Sabak
Tanjung Kasam
Tanjung Kasam
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Sri Bintan
Air Raja
Bukit Kemuning (uprate)
PLTU Tarahan (FTP1)
Seputih Banyak
Ulubelu
Menggala
Sutami (uprate)
Baturaja (uprate)

Ke 
Incomer 1 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai)
PLTA Simpang Aur 2
PLTP Hululais
Arga Makmur
Muko‐muko/Bantal/Ipoh
Bintuhan
Arga Makmur
Incomer 2 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai)
PLTA Merangin
Sungai Penuh
Aur Duri
Aur Duri
Inc 1 Phi ( Payo Selincah ‐ Aur Duri )
Aur Duri
Sarolangun
Sungai Penuh
Kuala Tungkal
Tanjung Sauh
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Sri Bintan
Air Raja
Kijang
Kotabumi (uprate)
Incomer 2 Phi (New Tarahan ‐ Kalianda)
Dipasena
Incomer 1 Phi (Batutegi ‐ Pagelaran)
Seputih Banyak
Natar (uprate)
Bukit Kemuning (uprate)

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
4 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 340 mm2  
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 3 x 300 mm2
cct 3 x 300 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 3 x 300 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, ACCC 310 mm2

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

20
12
120
180
220
140
360
80
136
110
60
121.6
26
130
84
108.8
6
10
12
60
60
70
40
67.6
1
120
40
120
60.4
96

1.53
0.66
9.16
13.74
16.79
7.76
27.48
6.11
30.61
24.76
3.32
3.64
1.44
7.20
4.65
6.03
2 42
2.42
1.11
4.84
3.32
3.32
3.88
2.22
9.04
0.23
9.16
3.05
27.01
8.08
12.84

2015
2015
2015
2015
2015
2017
2020
2020
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2015
2018
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2011
2011
2012
2012
2013
2013
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 2)

177

No.

Propinsi

61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Dari 
Pagelaran
Bukit Kemuning
PLTP Ulubelu #3,4
Pagelaran
Gedon Tataan
Kalianda
Gumawang
Mesuji
PLTA Semangka
Natar
Pakuan Ratu
Pakuan Ratu
Langkapura
Kalianda
Besai
Liwa
Teluk Ratai
PLTG Duri
PLTG Duri
Teluk Kuantan
Bangkinang
Pasir Putih
Tenayan / PLTU Riau
Dumai
Dumai
Pasir Putih
PLTU Sewa Dumai
Duri (up rate)
Garuda Sakti (up rate)
Rengat
New Garuda Sakti
Tenayan / PLTU Riau

Ke 
Kota Agung
Liwa
Ulubelu
Gedong Tataan
Teluk Ratai
Ketapang
Mesuji
Dipasena
Kota Agung
Jatiagung
Inc 1 Phi (Menggala ‐ Gumawang)
Inc 1 Phi (Menggala 
Gumawang)
Inc 2 Phi (Natar ‐ Teluk Betung)
PLTP Rajabasa
PLTP Suoh sekincau
Bengkunat
PLTP Wai Ratai
Incomer 2 Phi (G Sakti Duri)
Incomer 2 Phi (G.Sakti ‐ Duri)
Rengat
Pasir Pangarayan
Garuda Sakti
Pasir Putih
KID Dumai
Bagan Siapi api
Pangkalan Kerinci
Dumai
Dumai (up rate)
Duri (up rate)
Pangkalan Kerinci
Incomer ( G.Sakti ‐ Duri)
Perawang

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 Hawk
4 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

80
80
20
60
60
90
160
152
60
16
1
2
40
38
120
40
22
194
220
55
35
56
228
134
14
118
230
220
12
50

4.43
4.43
1.11
4.58
3.32
20.26
12.21
11.60
3.32
35.52
0.23
0.11
3.05
2.11
6.65
2.22
1 68
1.68
14.81
12.19
12.38
7.88
3.10
12.63
10.23
1.07
15.79
30.77
16.79
1.61
2.77

2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2019
2011
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 3)

178

No.

Propinsi

91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel

Dari 
Teluk Lembu
Tenayan / PLTU Riau
Rengat
Pasir Putih
Kandis
Bangkinang
Indarung
Bungus
Kiliranjao
Maninjau
Padang Luar
Padang Luar
Singkarak
PLTU Sumbar Pessel
Kiliranjao
PIP/S Haru/Pauh Limo
Sungai Rumbai
Simpang Empat
Simpang Empat
Solok
Payakumbuh
PLTU Simpang Belimbing
Lahat
PLTU Simpang Belimbing
Tanjung Api‐Api
Kenten 
Betung
Bukit Asam (uprate)
Jakabaring
Gandus
Mariana
Kayu Agung

Ke 
GIS Kota Pekan Baru
Siak Sri Indra Pura
Tembilahan
Teluk Lembu
Incomer ( New G.Sakti ‐ Duri)
Lipat Kain
Bungus
Kambang
Teluk Kuantan
Padang Luar
Payakumbuh
Batusangkar
2 pi Incomer (Bungus‐Kambang)
Sungai Rumbai
GI/GIS Kota Padang
PLTP Muara Labuh
Masang 2
Masang‐2
PLTP Gunung Talang
PLTP Bonjol
Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam)
Pagar Alam
Lahat
Incomer 1 Pi (T. Kelapa‐Borang)/Kenten 
Inc 2 Phi ( Talang Kelapa ‐ Borang )
Sekayu
Baturaja (uprate)
Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Mariana)
Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Talang Kelapa)
Kayu Agung
Gumawang

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
4 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
cct 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 2nd cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

14
100
120
40
10
70
35
180
52
42
32
25
20
70
16
160
30
20
104
120
94.6
120
40
1
70
78
1
20
60
90

31.08
5.54
6.65
3.05
2.68
3.88
2.67
13.74
1.69
1.36
1.04
0.81
0.76
5.34
0.89
12.21
1 66
1.66
1.11
7.94
10.86
5.24
10.86
3.62
0.09
3.88
10.44
0.09
44.40
13.50
20.26

2014
2014
2014
2015
2015
2015
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2016
2017
2017
2019
2019
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 4)

179

No.

Propinsi

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150

Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut

Dari 
Sungai Lilin
Betung
Lubuk Linggau
Sumsel‐11, MT
Lahat
Muara Dua
Lahat
Gumawang
Sarolangun
PLTP Rantau Dedap
Muara Dua
Muara Dua
Galang
Galang
Rantau prapat
Lamhotma
Dolok Sanggul/Parlilitan
Tanjung Morawa
Tanjung Morawa
Padang Sidempuan
Sei Rotan (uprate)
Galang
Sidikalang
Tele
Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2)
PLTU Sewa Sumbagut
Tanjung Pura
PLTA Wampu
Teluk Dalam
PLTU Nias
Mabar
GIS Listrik

Ke 
Betung
Talang Kelapa
Tebing Tinggi
Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam)
PLTU Banjar Sari
Baturaja
PLTU Keban Agung
Martapura
Muara Rupit
PLTP Lumut Balai
PLTP Danau Ranau
PLTP Danau Ranau
Namurambe
Tanjung Morawa
Labuhan Bilik
Belawan
Incomer 1 Phi (Tele‐Tarutung)
Kuala Namu
Kuala Namu
Panyabungan
Tebing Tinggi (uprate)
Negeri Dolok
Salak
Pangururan
Pangkalan Brandan
Tebing Tinggi
Incomer (P.Brandan‐Binjai)
Brastagi
Gunung Sitoli
Gunung Sitoli
Glugur
KIM

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
1 cct, CU 1000 mm2
1 cct, CU 1000 mm2

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

120
55.2
150
120
40
92
70
120
80
40
90
80
20
130
6.2
76
34
140
108
66
60
26
22
30
30
80
220
20
10
10

6.65
8.43
8.31
10.86
3.62
7.02
15.76
6.65
4.43
3.05
6.87
18.01
4.50
7.20
0.28
4.21
2 60
2.60
7.76
14.45
3.66
3.32
1.44
4.95
2.29
1.66
4.43
12.19
1.11
22.20
22.20

2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2016
2017
2018
2019
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2015
2015

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 5)

180

No.

Propinsi

151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184

Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumbar
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Riau
Sumbar
Sumsel
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
NAD
Riau
Jambi
Sumsel
Riau
NAD
Riau
Riau
Riau
Riau
J bi
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Lampung

Dari 
Simangkok
Panyabungan
Porsea
Tarutung
PLTP Sipoholon Ria‐Ria
Pangkalan Susu
g
Kiliranjao
Simangkok
Galang
PLTP Sarulla (FTP 2)
Padang Sidempuan
Payakumbuh
Padang Sidempuan
Lahat
Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5
Lahat
Muara Enim
Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5
Bayung Lincir/PLTU Sumsel
5
Betung
Sigli
Rengat
Aur Duri
Muara Enim
Rengat
Sigli
Border
Pulau Rupat Utara
P. Rupat Selatan 
Sumatera Landing Point
PLTU J bi
PLTU Jambi
Muara Enim
Muara Enim
Muara Enim
Ketapang

Ke 
PLTA Asahan III(FTP 2)
PLTP Sorik Marapi (FTP 2)
PLTA Hasang
PLTP Simbolon Samosir
2 Pi Incomer (Tarutung‐Porsea)
Binjai
j
Payakumbuh
Galang
Binjai
Simangkok
PLTP Sarulla (FTP 2)
New Garuda Sakti
New Garuda Sakti
Payakumbuh
Lumut Balai
Aur Duri
Muara Enim
Gumawang
Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7
Sungai Lilin/PLTU Sumsel
7
Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7
Lhokseumawe
New Garuda Sakti
Rengat
Betung
Cirenti (PLTU Riau MT)
Cirenti (PLTU Riau MT)
Ulee Kareng
Pulau Rupat
Pulau Rupat Selatan
Sumatra Landing Point
New Garuda Sakti
A D i
Aur Duri
PLTU MT HVDC A
PLTU MT HVDC B
perbatasan Sumsel/Lampung
perbatasan Sumsel/Lampung

Tegangan 

Conductor 

kms 

Biaya
(M USD)

COD

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
500 kV
500 kV
500 kV
500 kV
500 kV DC
500 kV DC

2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
4 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
,
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 Cable MI with IRC
2 cct, 2xCardinal 548 m
2 Cable MI with IRC
2 cct, 2xCardinal 548 m
2 cct, 4 Zebra
t 4Z b
2 cct 4 Zebra
2 cct 4 Zebra
2 cct 4 Falcon
2 cct 4 Falcon

22
46
60
50
8
160
282
318
160
194
138
300
600
50
120
70
290
124
120
322
440
420
350
110
130
52
60
10
340
150
400
100
200
600

1.68
2.55
3.32
2.77
0.44
36.01
63.47
71.57
36.01
43.67
31.06
67.52
135.05
11.25
27.01
15.76
65.27
27 91
27.91
27.01
72.47
143.61
137.08
78.78
24 76
24.76
29.26
51.00
2.60
9.80
14.90
48 96
48.96
133.37
33.35
67.20
201.60

2016
2017
2017
2018
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2016
2018
2016
2016
2016
2016
2018
2016
2016
2016
2016

Pengembangan Gardu Induk Sumatra
No.  Propinsi

181

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

Sigli
Banda Aceh
Meulaboh
PLTU Meulaboh Ext LB
Jantho
Panton Labu
Takengon
Bireun Ext LB
Sabulussalam
Kutacane/Kotacane
Blang Pidie
PLTU Meulaboh Ext LB
Tapak Tuan
Lhokseumawe
Ulee Kareng
Samalanga
Krueng Raya
Banda Aceh Ext LB
Tualang Cut
Blang Kjeren
Langsa
Sigli
Cot Trueng
Takengon
Idi
Banda Aceh
Bireuen
Jantho
Meulaboh
Tualang Cut
Lam Pisang
Krueng Raya Ext LB
Panton labu
Cot Trueng
Samalanga
Tualang Cut
Bireun
Subulussalam
Pangkal Pinang
Sungai Liat

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru

30
60
2x30
2 LB
30
30
60
2 LB
30
30
30
2 LB
30
60
120
30
60
2 LB
30
30
30
60
30
2 LB
30
60
30
30
30
30
120
2 LB
30
30
30
30
30
30
60
30

1.40
2.12
4.03
1.24
2.64
2.64
3 36
3.36
1.24
2.64
2.64
3.88
1.24
2.64
2 12
2.12
4.03
2.64
4.03
1.24
1.40
2.64
1 40
1.40
2.12
2.64
1.24
1.40
2.12
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
4.95
1.24
1.40
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
1.40
4.00
2.62

2011
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2011
2011

Keterangan
Uprating 10 MVA Ex Banda Aceh
Uprating 30 MVA
1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
T/L ke Meulaboh
1x30 MVA 
1x30 MVA 
2x30 MVA
2x30 MVA 
ke Takengon
1x30 MVA 
1x30 MVA 
4 L/B (2 T/L ke Meulaboh dan 2 T/L ke T.Tuan)
T/L ke Blang Pidie
1x30 MVA 
2x60 + 2 LB
1x30 MVA 
2x30 MVA
ke Krueng Raya
1x30 MVA 
Uprating 10 MVA
1x30 MVA 
ke Blang Kjeren
Uprating 30 MVA

2x60
Ke arah Lamp Pisang

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 1)
No.  Propinsi

182

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi

Nama Gardu Induk 
Air Anyir
Dukong
Manggar
Suge
Kelapa
Koba
Sungai Liat
Sungai Liat
Mentok
Toboali
Dukong
Pangkal Pinang
Koba
Manggar
Air Anyir
Air Anyir
Dukong
Manna
Pulau Baai
Pekalongan Ext LB
Pekalongan
Manna
Pekalongan Ext LB
Pekalongan Ext LB
Muko‐muko
Argamakmur
Pulau Baai Ext LB
Pulau Baai
Bintuhan
Manna Ext LB
Muko muko Ext LB
Muko‐muko Ext LB
Payoselincah Ext LB
Sungai Penuh
Bangko Ext LB
Aurduri
Payoselincah
Bangko
Muaro Bulian
Muaro Bulian
Muara Sabak
Muaro Bungo
Sarolangun
Muara Bulian Ext LB
Sungai Penuh

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

150/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension

30
30
20
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
120
2 LB
30
30
2 LB
2 LB
30
30
2 LB
60
30
2 LB
2 LB
2 LB
4 LB
30
2 LB
60
60
60
60
30
60
30
2 LB
30

2.62
2.20
2.38
2.20
2.62
2.62
1 39
1.39
2.62
2.62
1.26
1.39
1.39
1.26
1 39
1.39
1.26
2.64
4.03
1.24
1.40
1.40
1 24
1.24
2.64
3.88
1.24
2.12
2.64
1.24
1 24
1.24
2.49
2.64
1.24
2.12
2.12
2.12
2 12
2.12
2.64
2.12
2.64
1.24
1.40

2011
2012
2012
2012
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2018
2018
2018
2019
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2015
2015
2015
2017
2017
2017
2020
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2014
2014
2014

Keterangan

1x30 MVA 
2x60 MVA
T/L Pulo Baai

T/L Hululais
T/L
Hululais
1x30 MVA 
1x30 MVA 
T/L ke Argamakmur
1x30 MVA 
T/L ke Bin Tuhan
T/L ke Argamakmur
T/L ke Argamakmur
untuk PLTG Payo Selincah & PLTG Sungai Gelam 12MW
1x30 MVA 
T/L ke Sungai penuh

1x30 MVA 
T/L ke GI PLTG Sei Gelam CNG, bay eks IBT 275/150 kV
1x30 MVA 
T/L Ke Sarolangun

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 2)

183

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

PLTP Sungai Penuh Ext LB
Sungai Penuh Ext LB
PLTA Merangin Ext LB
Sarolangun Ext LB
Payoselincah
Kuala Tungkal
Muara Sabak Ext LB
Muara Sabak Ext LB
Aurduri
Muaro Bungo
Bangko
Muara Sabak
Sarolangun
Payoselincah
Air Raja
Air Raja
Sri Bintan 
Kijang
Tanjung Uban
Pulau Ngenang
Tanjung Uban
Seputih banyak
Sribawono Ext LB
Sribawono Ext LB
Menggala  Ext LB
Kotabumi
Ulubelu
Kalianda
Adijaya
Bukit Kemuning
Natar
Pagelaran
New Tarahan
Dipasena
Sukarame
Metro
Sribawono
Kota Agung
Kota Agung
Pagelaran  Ext LB
Liwa
Bukit Kemuning  Ext LB
Tegineneng
Seputih Banyak

Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension

2 LB
2 LB
4 LB
2 LB
60
30
2 LB
2 LB
60
60
30
30
30
60
60
30
60
2x30
10
60
30
2 LB
2 LB
2 LB
60
30
30
30
60
60
60
30
90
30
60
60
30
2 LB
30
2 LB
60
30

1.24
1.24
1.83
1.24
2.12
2.64
1 24
1.24
2.12
2.12
1.40
1.40
1.40
2.12
3 34
3.34
2.62
3.34
3.34
1.90
2.12
3.88
1 24
1.24
1.24
2.12
3.88
1.40
1.40
2.12
2 12
2.12
2.12
1.40
4.72
1.40
2.12
2.12
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
2.12
1.40

2015
2015
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2018
2019
2019
2020
2020
2013
2013
2013
2013
2013
2015
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014

Keterangan
Untuk PLTP Sungai Penuh
T/L ke PLTP Sungai Penuh
untuk PLTP Merangin 2 Pi
T/L Muara Rupit
1x30 MVA 
T/L Kuala Tungkal
T/L
Kuala Tungkal

Up Rate 30 ke 60

1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN

1x30 MVA 
T/L Seputih Banyak
T/L
Seputih Banyak
T/L Seputih Banyak
Uprating 20 MVA
1x20 MVA 

Uprating 20 MVA
1x20 MVA 
Uprating 20 MVA
Uprating 20 MVA
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L Kota Agung
1x30 MVA 
T/L Liwa
Uprating 20 MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 3)

184

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160

Kotabumi
Ketapang
Kalianda  Ext LB
Gedong Tataan
Pagelaran  Ext LB
Mesuji
Gumawang Ext LB
Gumawang  Ext LB
Teluk Ratai
New Tarahan
Adijaya
Dipasena
Mesuji  Ext LB
Sutami
Pakuan Ratu
Pakuan Ratu
Menggala
Jati Agung
Natar Ext LB
Kalianda  Ext LB
Langkapura
Besai  Ext LB
Tegineneng
Mesuji
Bengkunat
Liwa Ext LB
Pakuan Ratu
Jati Agung
Sukarame
Ketapang
Teluk Ratai Ext LB
Kotabumi
Sribawono
Bangkinang
Bagan Batu
Duri
Koto Panjang
Koto Panjang
Garuda Sakti
Teluk Kuantan Ext LB
Teluk Lembu
Dumai
Pasir Putih

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru

60
30
2 LB
60
2 LB
30
2 LB
2 LB
30
60
30
120
2 LB
30
30
60
30
2 LB
2 LB
60
2 LB
60
30
30
2 LB
30
30
60
30
2 LB
60
60
30
30
60
20
80
1 LB
60
60
60

2,12
2,64
1,24
5,28
1,24
2,64
1 24
1,24
2,64
2,12
1,40
5,28
1,24
1,40
2 64
2,64
2,12
2,64
3,11
1,24
4,03
1,24
2 12
2,12
1,40
2,64
1,24
1,40
1,40
2,12
1 40
1,40
1,24
2,12
2,12
1,40
1,40
2,12
2 12
2,12
3,27
0,62
2,12
2,12
6,52

2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2020
2020
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Keterangan
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L Ketapang
2x30 MVA
T/L Gedon Tataan
1x30 MVA 
T/L Mesuji
T/L Mesuji
1x30 MVA 

1x30 MVA 
T/L Mesuji
1x30 MVA
1x30 MVA 
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Jati Agung
T/L PLTP Raja Basa
1x60 MVA
T/L PLTP Suoh Sekincau
Uprating 20 MVA
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Bengkunat

T/L ke PLTP Wai Ratai
Uprating 30 MVA

T/L ke Kiliranjao
Uprating 30 MVA
2x30 MVA + 4 LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 4)

185

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200

Garuda Sakti Ext LB
Pasir Pangaraian
Bangkinang Ext LB
Rengat
Teluk Kuantan Ext LB
KIT Tenayan
KID Dumai
KID Dumai
Dumai Ext LB
Bagan Siapiapi
Dumai Ext LB
Pangkalan Kerinci
New Garuda Sakti
GI/GIS Kota Pekanbaru
Teluk Lembu Ext LB
Teluk Lembu Ext LB
Teluk Lembu Ext LB
Pasir Putih Ext LB
Perawang
Tenayan Ext LB
Tembilahan
Rengat Ext LB
Siak Sri Indra Pura
Siak Sri Indra Pura
Tenayan Ext LB
Kandis
Lipat Kain
Bangkinang Ext LB
Pasir Putih
Bangkinang
Teluk Kuantan
Teluk Kuantan
Duri
KIT Tenayan
Tembilahan
KID Dumai
Bagan Batu
Bungus
Indarung Ext LB
Indarung Ext LB
Kambang
Padang Luar
PIP
Pauh Limo
Simpang Empat

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension

2 LB
30
2 LB
2x30
2 LB
30
30
2 LB
30
2 LB
30
2x60
60
2 LB
2 LB
2 LB
2 LB
30
2 LB
30
2 LB
30
2 LB
30
30
2 LB
120
60
30
60
30
30
30
30
30
2 LB
2 LB
30
60
30
60
30

1.24
2.64
1.24
5.28
1.24
2.64
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
3.88
6.73
5.28
3 11
3.11
1.24
1.24
2.64
1.24
2.64
1.24
2 64
2.64
1.24
2.64
2.64
1.24
4.24
2.12
1 40
1.40
2.12
1.40
1.40
1.40
1.40
3.88
1 24
1.24
2.64
2.12
1.39
2.12
1.40

2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2017
2017
2019
2019
2020
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

Keterangan
T/L ke Pasir Putih
1x30 MVA 
T/L ke Pasir Pangaraian
1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
T/L ke Rengat
GI Pembangkit 1x30 MVA
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L ke KID Dumai
1x30 MVA 
T/L ke Bagan Siapiapi
1x30 MVA 
1x60 MVA didanai APBN, 1x60 MVA didanai APLN

1x60 MVA
T/L ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/L
ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/L ke Pasir Putih
T/L ke Teluk Lembu
1x30 MVA 
T/L ke Perawang
1x30 MVA 
T/L ke Tembilahan
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Siak Sri Indra Pura
1x30 MVA 
1x30 MVA 
T/L ke Lipat Kain
2x60 MVA

On Going
ke Bungus
ke
Bungus
1x30 MVA 
Uprating 20 MVA
Mengganti trafo rusak
Uprating 30 MVA

24 2.40 1.24 0 62 0.64 1.24 1.12 1 40 1.28 1.40 10.40 2.62 0.12 2.62 0.40 1.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 Padang Panjang Solok Payakumbuh Kiliranjao Ext LB Maninjau Ext LB Padang Luar Ext LB Payakumbuh Ext LB Payakumbuh Ext LB Batusangkar Ext LB Singkarak Ext LB Salak Kiliranjao Ext LB Sungai Rumbai Maninjau Kiliranjao Payakumbuh GI/GIS Kota Padang Sungai Rumbai Ext LB Bungus Kambang Simpang Empat Solok PIP Ext LB Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman PIP GIS Kota Padang Padang Luar Padang Luar Batusangkar Baturaja Lubuk Linggau Lahat Ext LB Pagar Alam Ext LB Bukit Siguntang Tanjung Api‐Api Tanjung Api‐Api Lahat Pagar Alam Gungung Megang Simpang Tiga Prabumulih 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 30 60 30 1 LB 1 LB 2 LB 1 LB 1 LB 1 LB 1 LB 30 2 LB 30 30 30 30 120 2 LB 30 30 60 30 2 LB 30 30 30 60 60 30 30 60 60 1 LB 1 LB 30 60 30 30 60 60 60 1.40 2.40 1.62 0.12 1 40 1.12 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2016 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Keterangan Uprating 20 MVA 2nd sirkit ke Teluk Kuantan 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Maninjau&Payakumbuh 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Padang Luar T/L ke arah Singkarak T/L ke arah Batusangkar T/L ke Sungai Rumbai 1x30 MVA  2x60 MVA T/L ke PLTP Muara Labuh T/L ke GI/GIS Kota Padang Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA T/L 2nd Sirkit Pagar Alam T/L 2nd Sirkit Pagar Alam Uprating 15 MVA 2x30 MVA 2x30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA .40 1.09 1.24 1.62 1.12 2.40 1.62 1.27 5 28 5.12 2.40 2.12 0.40 1 40 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 5) 186 No.40 0.62 1.62 0.12 2.40 2.12 1.40 1.40 2.40 1.40 1.

27 4.12 1.12 1.12 2.40 2.12 2.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 6) 187 No.24 2.24 2 12 2.24 2 64 2.03 4.27 1.24 4.03 2.64 1 40 1.24 1.03 2.40 4.24 0.24 1.64 1.12 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2018 2018 2018 Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Keterangan T/L ke Manna Untuk ST Gunung Megang Uprating 15 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA 2x60 MVA 2x60 MVA 1x30 MVA  T/L Ke Sekayu 1x60 MVA T/L Gumawang T/L Kayu Agung T/L ke Kayu Agung Uprating 15 MVA 1x30 MVA  1x30 MVA  T/L arah Tebing Tinggi Untuk PLTGU Keramasan Untuk PLTP Lumut Balai 1x30 MVA  T/L ke Sungai Lilin 1x30 MVA  T/L ke Muara dua Untuk PLTU Banjar Sari & Untuk PLTU Keban Agung 1x30 MVA  T/L ke Martapura 1x30 MVA 1x30 MVA  .  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 Baturaja Pagar Alam Ext LB Gunung Megang Ext LB Talang Kelapa Bukit Siguntang Bungaran Bungaran Kenten Gandus Sekayu Betung Ext LB Jakabaring Baturaja Keramasan Kayu Agung Ext LB Gumawang Ext LB Bukit Asam Mariana Ext LB Bukit Siguntang Kayu Agung Gumawang Tebing Tinggi Lubuk Linggau Ext LB Keramasan Ext LB Lahat Ext LB Sungai Lilin Betung Ext LB Lubuk Linggau Lubuk Linggau Muara dua Baturaja Ext LB Lahat Ext LB Mariana Martapura Gumawang Ext LB Muara Rupit Muara Rupit Keramasan Sungai Lilin Kenten Talang Kelapa Bukit Asam 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Baru Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 60 2 LB 1 LB 60 30 30 30 120 120 30 2 LB 60 60 60 2 LB 2 LB 60 2 LB 30 30 30 30 2 LB 2 LB 2 LB 30 2 LB 60 30 2 LB 4 LB 30 30 2 LB 30 60 30 60 60 60 2.62 2.64 1.12 1.27 2.12 1.12 2 12 2.64 1.24 2.64 1.24 2.12 1.64 1.40 2.27 1 27 1.03 2.49 1.24 1.64 2.24 1.

24 1.66 2 12 2.40 1.12 2.12 2.24 1.12 2.36 1.12 2.12 1.40 2 12 2.12 2.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 7) 188 No.40 2.24 1.12 2.Marowa 1x60 MVA Uprating 20 ke 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Ke arah Belawan Ke arah Lamhotma Ke arah Galang Ke arah Galang .12 2.12 2.40 0.40 2 12 2.12 2.12 1.40 2 12 2.40 1.12 2.12 0.40 1 40 1.62 1.40 1.49 3.12 2.  Propinsi Nama Gardu Induk  281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 Pagar Alam Betung Kayu Agung Muara Dua Ext LB Sekayu Tebing Tinggi Gandus Simpang Tiga Rantau Prapat Gunung Para Tanjung Morawa Tele Gunung Tua Binjai Padang Sidempuan Denai Tebing Tinggi Kisaran Pematang Siantar Gunung Tua Sei Rotan Sei Rotan Glugur Rantau Prapat Brastagi Sidikalang Porsea Tarutung Sibolga Perbaungan Namurambe Aek Kanopan  Galang Labuhan Bilik Lamhotma Lamhotma Lamhotma Ext LB Belawan Ext LB Namurambe Ext LB Denai Ext LB Labuhan Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 30 30 2 LB 30 30 60 60 60 30 60 30 30 60 30 60 60 60 60 10 60 60 60 60 30 20 30 60 60 60 30 0 60 30 30 1 LB 1 LB 2 LB 2 LB 30 1.12 1.40 1.12 1.15 1.62 0.40 1.40 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Keterangan Uprating 15 MVA Untuk Double Pi dan T/L PLTP D.12 2.40 1.Ranau Uprating 30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 30 MVA Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA 2 LB arah Namurambe dan 2 LB arah T.40 2.

64 1 24 1.24 1.24 1.64 2.12 2.55 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 8) 189 No.55 1.55 1.24 2.03 1.12 2.40 1.12 2.24 2.55 1.24 1.24 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 Keterangan 1x10 MVA  2x30 MVA T/L ke Kuala Namu 2x30 MVA T/L Ke Panyabungan ke Sabulussalam ke Kutacane ke Kutacane ke Salak Ke arah Negeri Dolok 1x30 MVA  ke Pangururan ke Pangururan T/L Ke Labuhan Bilik T/L ke PLTU Pangkalan Susu Ke arah Pangkalan Brandan 1x30 MVA  1x30 MVA  1x30 MVA  Ke arah GIS Listrik Ke arah KIM Ke arah Glugur Ke arah Mabar T/L ke PLTA Wampu Ke arah PLTA Asahan III 1x60 MVA Ke PLTP Sorik Merapi Ke PLTP Pusuk Bukit Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 275/150 kV Untuk IBT 275/150 kV .03 1.40 2.24 1.24 2.12 1.24 1 24 1.24 1.24 1.24 4.  Propinsi Nama Gardu Induk  321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Tanjung Marowa Ext LB Panyabungan Padang Sidempuan Ext LB Sidikalang Ext LB Brastagi/Berastagi Ext LB Brastagi/Berastagi Ext LB Paya Pasir Salak Sidikalang Ext LB Negeri Dolok Galang Ext LB Pangururan Tele Ext LB Tele Ext LB Rantau Prapat Ext LB Pangkalan Brandan Ext LB Pangkalan Susu Ext LB Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Kota Pinang Kota Pinang KIM Ext LB GIS Listrik ext LB Mabar Ext LB Glugur Ext LB Brastagi Ext LB Simangkok Ext LB Tanjung Pura Tanjung Pura Titi Kuning GIS Listrik Paya Geli Panyabungan Ext LB Tarutung Ext LB Rantauprapat Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Belawan Ext LB Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Baru Baru Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 10 60 2 LB 60 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 60 60 2 LB 60 2 LB 30 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 30 30 30 30 1 LB 1 LB 1 LB 1 LB 2 LB 2 LB 30 60 60 60 2 LB 2 LB 2 TB 2 TB 2 TB 2 TB 2 TB 1.12 1.24 1.90 4.24 1.24 1 24 1.24 2.20 2.24 1 40 1.20 1 40 1.24 1.12 1.

08 20.08                 8 12.13 24.08 24.31 25.17 35.28 19.08 12.03 17.00 21.50 20.32 35.68 9.97 24.95 16.92 21 03 21.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 Binjai Pangkalan Susu Bangko Muara Bungo New Garuda Sakti Kiliranjao Payakumbuh Lahat Lubuk Linggau Galang Sarulla Padang Sidempuan Aur Duri Lahat Lumut Balai Betung Gumawang Sigli PLTU Meulaboh Lhokseumawe Rengat Riau Mulut Tambang Muara Enim Bayung Lincir/PLTU Sumsel ‐ 5 Sungai Lilin/PLTU Sumsel ‐ 7 Pangkalan Susu Bangko Ulee Kareng Ulee Kareng Aurduri Lubuk Linggau New Garuda Sakti HVDC Station Converter HVDC Switching Station PLTU Jambi 500 kV Ketapang Switching Station Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Aurduri 500kV New Garuda Sakti 500 kV Rengat 500 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 250 kV DC 250 kV DC 500 kV 500 kV DC 500 kV DC 500 kV DC 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Extension Baru Extension Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru 1000 0 250 250 500 250 250 1000 250 1000 500 500 500 0 500 500 500 250 250 250 250                  ‐ 0 0 0 250 500 500 0 250 600 0 0 0 3000 1000 500 1000 500 31.82 1.66 20 17 20.28 24.11 21.03 25.21 12.81 7.88 25.98 20.22 25.03 2.77 36.08 21.45 19.08 20 08 20.00 21.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 9) 190 No.00 54.77 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2018 2018 2020 2016 2016 2018 2016 2016 2016 2018 2018 2018 Sumut Sumut Jambi Jambi Riau Sumbar Sumbar Sumsel Sumsel Sumut Sumut Sumut Jambi Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel NAD NAD NAD Riau Riau Sumsel Sumsel Sumsel Sumut Jambi NAD Jambi Sumsel Riau Riau Jambi Lampung Sumsel Sumsel Jambi Riau Riau Keterangan 2x500 MVA 2 x 250 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 1 x 250 MVA 1 x 250 MVA 1 x 250 MVA 2 x 500 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA 2 LB arah Lumut Balai dan 2 LB arah Muara Enim 2x250 MVA 2x250 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x500 MVA Untuk Mengantisipasi PLTU Hululais 1 x 125 MVA 2x250 MVA Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin 2x250 MVA 2x250 MVA HVDC ke Peninsula HVDC ke Peninsula 1x500 MVA 2x500 MVA 2x500 MVA 2x500 MVA Untuk 500kV Aurduri 2x500 MVA 2x500 MVA .98 2 97 2.83 9.08 20.47 324 00 324.

LAM MPIRAN A1.7 PET TA PENGE EMBANGA AN PENY YALURAN SISTEM INTERKONEKSI SUM MATRA 191 .

Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera 192 Eksisting 70 kV Eksisting 150 kV Eksisting 275 kV (Operasi 150 kV) Rencana 150 kV Rencana 275 kV AC Rencana 250 kV DC Rencana 500 kV AC Rencana 500 kV DC .

Sistem Nangroe Aceh Darussalam (NAD) 193 .

Sistem Sumatera Utara 194 .

Sistem Riau 195 .

Sistem Sumatera Barat 196 .

Sistem Jambi 197 .

Sistem Bengkulu 198 .

Sistem Sumatera Selatan 199 .

Sistem Lampung 200 .

LAM MPIRAN A1.8 ANALISIS ALIRA AN DAYA A SIS STEM INT TERKONEKSI SUMA ATRA 201 .

78 MW MBNGO 168.240.78 MW 1.4 MW 160 MW SMKOK 148.2 MW PYBUH SUB SISTEM RIAU KTPJG BBATU KLJAO SUB SISTEM LAMPUNG SUB SISTEM SUMBAR 397 MW 275 kV 150 kV 196 MW 359 MW 458.8 MW PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 160 MW KTPNG BKMNG & BUMPU 172.9 MW 211 MW PKLNG 172.77 402.4 MW LLGAU INALUM LLGAU SUB SISTEM SUMUT BNGKO 0 MW 177 MW SUB SISTEM SUMSEL BTRJA 222.158.28 MW MW 568.3 MW PBDAN 202 SUB SISTEM JAMBI 1.12 MW 83 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA TAHUN 2011 SUB SISTEM NAD SUB SISTEM BENGKULU LANGSA 85.209.68 568 68 MW 599.4 MW 121 MW 194.7 MW 875 MW .

8 MW SUB SISTEM BANGKO KLJAO 67.5 MW SUB SISTEM JAMBI SUB SISTEM SUMUT SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL PYBUH SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL 177.6 MW 47.5MW SMKOK 160 MW LAHAT 67.9 MW 1049 MW 1273 MW 626 MW 464 MW 199 MW PBDAN 80.5 MW 28.9 MW 188.2 MW 64.88 MW .PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 160 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA TAHUN 2012 LLGAU 56 MW 56 MW BNGKO 8.8 MW 97.MW 47.4 MW 723 MW 151 MW BKMNG & BUMPU SUB SISTEM LAMPUNG LNGSA 360 MW 525 MW 150 kV 200 MW SUB SISTEM RIAU 275 kV PSUSU KTPJG BBAT TU 858 MW BNJAI 460 MW SUB SISTEM NAD 705 MW 273 MW 373 MW PLTU Pangkalan Susu 1 X 220 MW .2 MW 203 KTPNG BTRJA 82.1 MW 164.8 MW SUB SISTEM BENGKULU MBNGO 38.

4 MW 277.6 MW 552 MW 522 MW 966 MW 1400 MW 286 MW PBDAN 160.6 MW KTPJG PSUSU SUB SISTEM LAMPUNG LNGSA 537 MW SUB SISTEM NAD PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 717 3 MW 792 MW 717.4 MW W SUB SISTEM BENGKULU MBNGO 134.9 MW 261.5 MW W 25.6 MW .3 MW W 134 MW SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL GLANG 152 MW W 138.6 MW 204 KTPNG BTRJA & MRDUA 199.6 MW W BNGKO 134.8 MW W 36 MW LLGAU 156.6 MW SUB SISTEM SUMUT 18.3 MW 53.MW 53.8 MW W LAHAT PYBUH SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL 160 MW 129.2 MW 792 MW 95.PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA TAHUN 2013 PLTP SARULLA 160 MW SUB SISTEM JAMBI PYBUH SMKOK 25.8 MW 138.6 MW 15.2 MW SUB SISTEM BANGKO KLJAO 174.3 150 kV 304 MW BKMNG SUB SISTEM RIAU 697 MW 275 kV 304 MW BB BATU 705 MW BNJAI 259 MW 451 MW .9 MW 156.

MNGLA M 400 MW BKMNG BBATU U 104.3 MW 430.8 MW 93 MW GLANG 233.9 MW 293.5 MW 267.6 MW 160 MW 100 MW 100 MW .9 MW 232.4 MW 11.4 MW 205 21.8 MW 10 MW 100.8 MW 229 MW 69.6 MW 44.4 MW 17.1 MW 34.2 MW 46.

6 MW 6 MW 14.2 MW 6 MW 199.9 MW 83.4 MW .9 MW 118.2 2 MW GLA ANG 206 2.7 MW 18.2 2 MW 39.2 MW 439 MW 280 MW 182.6 MW 156 MW 300 MW 159.9 MW 48.720 MW BBATU 266 MW BKMNG MNGLA 300 MW 51.7 MW 73.1 MW 47.8 MW 67.8 MW 361 MW 202.

7 MW 191.3 MW 128.8 MW 194.1 MW 6.3 MW 139.6 MW 317.190 MW 600 MW 402 MW BKMNG MNGLA 540 MW W 65.1 MW W GLANG G 207 38.2 MW 8.7 MW 40.9 MW 146.1 MW 136.6 MW 144.9 MW 160.1 MW 240 MW 240 MW 4.6 MW 160 MW 300 MW 160 MW .8 MW W 62.9 MW 284.4 MW W 55.

6 MW 28 MW 445.4 MW 8 MW 30.6 M MW 90.5 MW W 178.3 MW 111.3 MW 45.190 MW 600 MW 458.6 MW W GLANG 208 30.9 MW BKMNG MNGLA 1.4 MW 22 22.8 240 MW 240 MW 147.2 MW 178.4 MW 500 MW 178.7 M 29 MW 38.2 MW 228.4 MW W MW 127.2 MW W 64.6 MW 198.3 MW W 160 MW 290 MW 170 MW .

2 M 400 MW 397.8 MW 125.6 MW 540 MW 654 M MW 275.3 MW 445 MW 39 93.1 MW 260.7 MW W 13.160 MW 720 MW 540 MW BKMNG MNGLA 55.4 MW MW 585.3 MW GLAN NG 209 53 MW 240 MW W 200 MW 138.9 M MW 330 MW 211 MW 380 MW 260 MW W 200 MW W 1.6 MW 239 MW 10 MW 294 MW 140 MW 180 MW 160 MW 80 MW .3 MW 60.

5 MW W 194 MW 39.1 MW 196.200 MW 800 MW W 511.6 MW W 267.8 MW W 160 MW 150 MW 160 MW 80 MW .3 MW 420 MW 4 453.3 MW W 209 MW 14.6 MW 718 MW 443 MW 22.6 MW 299.4 MW BKMNG MNGLA 105 MW 361.9 MW 4 GLAN NG 210 26.5 MW 500 MW 1126 MW 145 MW W 344 MW 231 MW 718 MW 240 MW W 240 MW W 35 MW 1.9 MW W 11.

7 MW W 261 M MW 64.3 M MW 186.170 MW W 760 MW 515 MW BKMNG MNGLA 126.6 MW 758 MW 445.4 MW 375 MW 52 20 MW 135 5 MW 1151 1 MW 299 MW 758 MW 270 M MW 270 M MW 29.3 MW 59.7 MW 450 MW 424.7 MW 470.4 MW 42.3 M MW 66.6 MW W 266.7 MW 214.6 MW W 160 MW 200 MW 160 MW W 160 MW .7 MW GLANG 211 40.5 5 MW 10.

LA AMPIRAN N A1.9 KEBUTUH HAN FISIK K PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SIS STEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 212 .

010.011 5.0 42.3 54.8 38.3 1.356 537.2 359.8 275.608 5.3 301.5 .114.206 594.1 98.694 Pelanggan 1.403 5.0 379.3 104.5 298.9 392.512 605.1 32.2 108.618 JTR kms 6.0 6 .041 1.8 79.0 69.0 06.982 5.242 619.4 Trafo 50.955 53.5 336.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 6. 37.293 498.661 5.8 145.3 JTR 100.8 88.2 36.2 35.0 111.788 5.426.7 Pelanggan 39.0 140.4 87.8 106.4 126.1 Total 338.869 4.4 123.470 766 819 836 872 900 941 978 1.635 540.4 37.285 4.3 38.1 34.273 5.091.951 6.951 493.1 64.2 39.072 9.1 43.5 876.271 5.7 34.0 304.590 55.569 4.399 6.291 6.516 506.3 161.3 .031 5.7 3.1 39.0 419.6 272.7 174.5 188.6 36.8 63.548 5.895 522.9 36.1 76.509 4.005 213 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Juta USD Tahun JTM 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 148.6 8.0 38.711 4.562 4.0 41.251 Trafo MVA 1.9 248.

9 23.7 .068 1.2 60.469 1.3 6.061 1.673 1.2 . 24.227 39.4 34.3 32.598 31.132 1.4 19.7 45.418 33.3 Total 42.4 3.298 1.578 11.1 51.568 1.8 567.6 28.6 8.225 214 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Aceh Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 21.2 .478 1.2 16.5 4.9 2.9 6.3 73. 15.0 69.1 5.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.6 JTR 13.1 2.332 362.2 5.9 181.7 21.3 18.4 30.171 41. 2.3 298.216 1.9 39.2 2.290 1.193 40.4 2.377 1.8 . 48.447 34.8 2.7 7.7 Pelanggan 3.9 26.9 57.5 Trafo 4.786 13.3 2.3 14.2 17.2 53.1 7.4 2.1 61.369 35.0 2.208 1.5 5.179 34.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Aceh Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1.8 5.9 65.140 1.000 1.4 23.5 36.385 1.979 JTR kms 994 1.291 30.5 25.0 22.

7 140.0 8.6 33.6 1.957 118.4 1.078 1.467 17.6 29.291 2.7 13.8 66. 49.3 1.4 2.8 2.438 1.1 Pelanggan 8.2 1.0 2.7 8.353 102.197.092 918 996 1.1 36.3 8.3 8.1 57.0 52.6 .0 44.7 14.3 61.8 12.414 11.461 1.004 215 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumut Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 26.160 Pelanggan 125.1 52.5 1. 27.1 7.903 2.7 76.6 8.4 14.076 2.3 16.5 342.376 1.260 1.215 122.9 10.9 0.3 .6 71.2 2.2 Trafo 1.1 47.9 9.1 8.7 JTR 12.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.6 40.720 116.2 8.4 48.7 29. 8.538 1.5 28.238 132.7 Total 49.640 127.587 113.7 8.011 120.158 1.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.2 83.1 584.016 1.6 18.266 118.8 16.378 1.538 1.9 11.339 1.718 1.805 JTR kms 1.4 8.9 15.218 1.

5 27.6 8.0 9.7 JTR 6.9 Trafo 5.203 38.534 216 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumbar Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7.8 9.4 7.6 31.4 8.2 Pelanggan 2.6 29.0 7.9 7.7 6.0 3.8 24.3 7.075 37.9 10.5 6.323 38.1 8.5 2.3 8.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3.1 27.0 3.420 36.0 6.9 8.3 3.8 .4 .8 28.004 369.1 3.5 9.4 6.3 30. 26.4 6.205 34.286 35.2 3.2 7.4 273.8 7.2 9.4 3.8 3.670 42.6 92.2 31.5 3.5 7.0 26.7 9.1 .823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32.3 .9 9.2 10.3 8.715 35.3 Total 21.1 9.633 39.7 67.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.4 81.

548 63.626 217 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Riau Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 31.2 10.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Riau Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.3 14.743 58.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.3 32.5 .8 2.9 2.9 12.6 377.8 2.595 JTR kms 1.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.151 62.9 155.5 33.8 11.5 4.8 13.549 780.7 13.0 12.2 6.5 Total 71.5 0.7 130.6 13.3 60.8 2.5 2.7 14.9 5.1 2.7 34.8 4.610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.4 11.454 Pelanggan 216.399 60.649 65.7 2.4 10.6 4.6 2.7 31.2 3 .6 . 10.7 11.2 37.5 2.5 12.2 JTR 26.2 11.3 12.6 33.476 67.0 .003 57.2 14.7 6.4 30.5 11.5 11. 37.700 64.1 4.2 Pelanggan 6.408 64.3 2.1 Trafo 7.1 14.3 34.4 32.

8 0.8 10.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.6 0.5 0.964 17.404 218 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kepulauan Riau Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 6.9 0.9 3.287 19.5 11.566 16.6 0.6 3.487 18.8 0.5 .876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2.4 3.8 5.8 8.0 0.1 Pelanggan 1.1 3.837 14.0 0.9 2.8 2.7 4.3 4.5 10.0 1.9 1.1 4.0 Trafo 1.9 0.842 15.9 4.1 4.9 .7 97.8 0.7 0.9 1.164 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.5 3.8 44.2 8.1 JTR 5.700 16.9 9.4 9. 2.3 4.1 .113 169.6 6.8 0.2 10.7 Total 15.4 0.0 8.7 0.335 13.272 13.6 4.2 37.1 3.8 0.0 5.0 4.

2 0.3 1.8 4.1 10.1 Trafo 0.567 34.8 25.1 .4 7.7 8.8 17.424 33.3 11.9 18.7 7.4 5.5 JTR 9.0 5.9 0.5 0.765 33.2 0.6 1.7 5.3 0.1 5.0 15.3 0.9 24.4 0.7 10. 3.868 219 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Jambi Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 13.8 13.4 64.8 17. 0.693 36.4 Pelanggan 4.2 0.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.2 8.4 15.7 21.4 0.433 30. 6.589 37.9 14.3 0.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Jambi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.1 2.725 389.5 5.591 29.8 2.4 100.565 31.0 7.7 1.3 Total 27.3 2.5 27.7 6.6 3.4 .0 2.9 5.516 37.1 9.8 3.9 195.

9 19.3 20.997 70.2 6.0 31. 12.1 1. 7.4 36.031.7 38.735 83.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.7 .644 116.8 6.8 1.0 6.8 17.7 5.1 5.3 Pelanggan 6.1 10.8 9.0 .0 131.7 44. 33.372 116.3 JTR 11.5 68.5 16.3 27.896 1.7 24.6 432.0 1.4 14.9 4.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.0 Total 36.799 220 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Selatan Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 18.2 0.2 50.599 73.1 1.8 14.5 12.059 69.427 102.7 23.6 12.7 33.9 Trafo 1.0 23.5 16.4 212.865 76.7 6.6 .1 2.2 6.4 5.306 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.0 12.4 6.204 88.7 76.3 11.9 59.2 2.9 41.8 0.6 0.

147 26.3 84.3 11.115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.0 3.3 0.3 0.3 15.2 0.3 JTR 4.3 0.2 0.2 4.4 5.2 0.6 8.9 7.2 4.4 6.2 7.816 221.4 55.4 9. 0.3 18.1 0.442 11.1 0.6 Pelanggan 0.5 6.4 11.1 Total 12.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Bengkulu Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.1 9.3 2.2 0.2 .9 12.3 0.963 19.260 221 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Bengkulu Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7.100 16.2 0.6 9.3 144. 9.1 19.1 Trafo 0.301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40.4 0.2 8.262 34.836 17.3 10.6 6.3 5.0 19.2 0.2 0.6 11.4 2.3 0.146 16.5 21.8 3.2 0.182 14.366 24. 0.1 0.5 3.3 0.

5 JTR 5.7 3.793 153.7 16.322 93.182 148.692 222 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Lampung Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10.1 7.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.0 9.3 31.1 7.2 3.0 3.7 8.230 143.9 18.4 37 3.6 .PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Lampung Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.2 184.7 19.5 33.8 4.1 6.0 2.225 155.8 7.6 15.5 13.5 7.330.7 10.7 3.417 104.6 19 7 19.3 387.0 12.4 3.0 43 6 43.3 29.3 9.3 36.6 13 0 13.1 4.6 14.0 17.9 45.5 7.1 70.5 39.2 5.182 1.3 71 7.527 96.6 5.2 7.1 Pelanggan 4.0 Total 49.6 6.9 36.4 96.0 Trafo 28.7 13.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.093 98.2 20.721 101.7 37.6 42.

7 0.6 1.8 8.4 1.0 0.2 2.6 0.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.2 3.624 12.3 1.1 1.2 2.8 4.091 11.7 0.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.6 0.4 0.468 11.3 1.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Bangka Belitung Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.594 223 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Bangka Belitung Juta USD Tahun 2011 0 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 5.2 1. 0.9 2.1 17.8 2.2 0.924 11.3 .486 9.6 0.3 0.5 1.345 10.4 0.7 Pelanggan 2.3 4.8 1.944 12.1 Total 12.7 Trafo 1.8 0.0 4.2 1.9 1.6 5.8 .6 3.3 0.8 2.226 9.4 0.2 0.7 0.1 0.7 0.0 25.6 1.2 4.9 .0 4.3 .4 6.3 JTR 4.0 4.6 5.0 54.5 1.719 10.2 0.766 157.

10 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SIS STEM INT TERKONE EKSI SUMATERA 224 .LA AMPIRAN N A1.

887.810.2 3.7 309.8 89.8 - 29 401 0 29.9 893 240 2 893.819.6 1 520 102 5 1.8       61.4 225 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 602.0 3.1 218 991 7 218.034.962.9 146.1        363.5 69.4 MVA 139.6 590.7      677.190.746.601.6      2.0       11.531.515       5.5 406.440 Listrik murah Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 89 727 89.263 758 1.317.5 1.344.601.274 125.506.2 3.8 291.539.223.426 1.9 1 531 0 1.237.1 Trafo Unit 2.280.186.038.899.7     4.469.657.207.260.370.7     1.8 3.351.9 158.148.132.758.5 JTR kms 3.102.2 953.9         337.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera K b h Fi ik J i Li ik P d R i lS Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 3.3 2.424.883.624.3 .867.6 1.4 378 469 5 378.601.7          2.280.4 89.240.994.1     12.9 44 4 44.131 8 515 8.401.0 1 810 2 1.7 231.991.0 32.079.520.587.727 122.

553.1 16.620           559.2 103 449 2 116.423.0 164.5 36 497 2 36.847.5 6.254.575.4 57.018 10 018 5.4 .497.4 7.4          30.0 226 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi NAD (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 30.449.5           795.086.9 151 5 151.0 103.518 1 620 1.7        50.003.0 JTR kms 669.6 17.325.2 42.5 11.476.1         1.227 5.039.1 162.1 16 376 6 16.933.827.763.7 32.707.2        128.0 MVA 12.8 9.8 Pembangkit Pelanggan Total 141.0 44 4.5 209.376.7 6.305.7         149.2                 ‐                ‐        362.6 Trafo Unit 266 71 114 108 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 10.0 221.6 50 575 4 50.251.0           20.330.0 58 0 58.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi NAD K b h Fi ik J i Li ik P d P i i NAD Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 411.625.

297.179.0 4.7 .2 4.0 440.169.3 Trafo Unit 157 60 155 201 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 3.1 200.322.6                 ‐                ‐        430.8 18.661.414.3 210.7 20 2.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS U Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 350.9           25.0 227 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 37.090.5          17.978.9 38.003.317.6         274.339.3 8.0 110 0 110.6 6.472.364.235.4        48.746.938.0 JTR kms 201.4          76.1 18.883.7 144 235 4 144.826.3 10.590 2 530 2.2 109.360.0 422.343.4 153.9 18 055 1 18.0             697.0        1.042 10.1 25.4 23.614 3 614 11.246.8 22 297 1 22.530           573.8 Pembangkit Pelanggan Total 94.1 MVA 4.055.0 103 883 2 103.0 86 1 86.

620           367.000 1 620 1.1 295.2 Trafo Unit 166 41 80 80 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 11.5 93 044 3 93.2 .518.9 23.2         282.560.0 7.150.0 145 0 145.5 7.899.0 JTR kms 255.0                 ‐                ‐        447.3 20 2.0 228 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 61.1 4.0 301.0 273.0         1.0 155.420.0        44.348.953.419 11 419 9.5        1.798.9 10.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS B Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 315.1 16.0           32.845.0 132 0 132.332.2          24.021.044.8        120.0 307.3 97.4 145 243 0 145.8 52.480 12.027.243.297.323.1 MVA 7.415.896.002.1 30.5 41.629.325.778.1 38 420 5 38.3 Pembangkit Pelanggan Total 94.472.5 17.8 13 778 1 13.

8 24.460.5 75.234.062.912.0 .033.9 190.4 24 352 8 24.5 90 534 5 90.460.8 47 998 8 47.205           667.0 20.979.183.998.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau  K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 310.9                848.1        85.0 198 0 198.5 96.0 170.653.3 35.747.755 14.8 41.0              36.1        111.020.855 8 855 13.0 180.6 Trafo Unit 380 90 97 100 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 8.0 JTR kms 389.341.940.5                 ‐                ‐        397.8 40.534.0 7.265.5         201.8 Pembangkit Pelanggan Total 136.352.177.9          49.8 51.0 MVA 28.0 213 9 213.0 60 6.0 11.3 18 183 0 18.0 170.381.7 22.176.0            972.7 7.815 229 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau (uta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 59.

0             239.0 230 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 63.7 Pembangkit Pelanggan Total 101.3 -                 ‐                ‐        101.125 425             90.3            6.439.1 11.442.3 .3 60 6.0           280.0           13.164.439.1        11.046.5 26.0 Listrik murah dan Hemat (RTS) 90 13 125 13.442.0 JTR kms Trafo MVA Jml Pelanggan Unit 239 3 239.5          26.046.125.164.7            63.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri K l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 280 0 280.

165.5 53 5.0 572.175.2 11.477.0 436.394.1 32.7 Trafo Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 360 76 379 360 8.1 MVA 23.387.686.0              43.396.8      162.721.595.329.0 127 2 127.2 24.3 44.0 25.6 136.8 57.450 8 450 18.398.023.5         1.965.2 535.6      21.400 16.553.200.157.111.7 10 686 7 10.4 471.400 80       1.162.148.0 121 4 121.6 114.7 230 165 0 230.164.4        657.990.1 49 157 8 49.7        150.3 26.7 Pembangkit                 ‐ Pelanggan Total 10.8 28.452.0            1.181.9 64.250 231 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Jambi (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 75.089.344.8 8.7 109 329 6 109.6 .P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Jambi K b h Fi ik J i Li ik P d P i i J bi Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 366.1 JTR kms 319.3          79.9 60 990 9 60.1         323.0 246.498.

7        202.0 JTR kms 323.000 42.155.0 29.6 236 680 0 236.0         1.8 133 530 0 133.0 560.5 11.313.0 32.0 232 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 86.530.581.000 625       1.0 611.740.0          59.236 16 236 39.437.059.311.5 28 740 0 28.641.960.890.9      102.015.218.5 68 6.265.236.642.287.410.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS S l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 480.1 Pembangkit Pelanggan Total 153.490.0 146.747.0 251.680.0 79.0           97.0         416.3 74 410 0 74.5 Trafo Unit 459 135 240 225 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 16.0 750.0 148 0 148.554.0 34.9 49.0                 ‐                ‐        721.970.0 11.640.0 238 0 238.0 74.3        2.0 750.0 MVA 29.6 18.8 12.7 .

500.717.3 188 731 8 188.117.0          33.3 Pembangkit Pelanggan Total 150.6 67.972.0 15.175.731.3 277 678 7 277.0 674.400.500 470           584.9         538.7 47.9         1.4        75.724.072.836.3 13.313.0 41 4.9 769.586.1 34.9        180.0 MVA 11.2 .7 8.117.8 199.0 233 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 102.7 294.399.678.268.0 150 0 150.718.1 9.0 668.4                 ‐                ‐        794.0             4.9 71.335.0 JTR kms 344.523.1 9.5 25 586 2 25.0 776.310.360.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu K b h Fi ik J i Li ik P d P i iB k l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 450.2        2.2 27.4 63 360 6 63.847.3 Trafo Unit 149 71 180 184 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 4 500 4.0 340 9 340.523.

110.5 157.237.6 13.4 80 342 6 80.0 227.405.592.7 16 163 7 19.0 42 4.0           50.2 6.5         1.2 44 592 9 44.054.163.000 1 040 1.288.560.7 Trafo Unit 230 62 76 52 Listrik murah Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 10.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Lampung K b h Fi ik J i Li ik P d P i iL Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 370.1 205.9 48.438.602.265.8 22 138 0 22.0 310.2 172.580.4 163 237 2 163.4 JTR kms 633.040           420.5          31.593.4 71.5 280.000 20.1           952.2        564.138.699.258.283.4 4.8         301.5 .907.396.7 45.0 215 0 215.440.9        166.1 Pembangkit                 ‐ Pelanggan Total 16.655.0 234 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Lampung (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 99.7 28.5       35.2 34.039.5 8.187.342.150.0 150 0 150.0 MVA 17.0 17.6 87.3        61.580 10 580 20.

339.0 6.8 29.0 MVA 7.268.859.955.0 JTR kms 147.0 365.0          86.312.5 89.804.380.1        47.1        407.184.8         4.2 15 143 8 15.143.7 .938.7 57.5 2.7 128 879 5 128.601.0             647.433.0 345.023.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung K b h Fi ik J i Li ik P d P i i B k B li Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 292.2 5.5 137.863.0          31.0 182 0 182.407.7 5.370 4.0 230.4 Trafo Jml Pelanggan Unit Listrik murah dan Hemat (RTS) 96 62 105 130 2.0 55 0 55.8 20.8 9.930 2 930 5.6        1.239.0 235 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit 51.5 83.550.445.718.8 85 804 5 85.1 11.136.6 2 550 6 2.879.9 45.418 105           393.601.368.8 Pelanggan Total 2.468.745.0 38 3.7 25 380 7 25.7 25.6          2.0           12.550.043.0 215.8         272.

11 PROYEKS SI KEBUT TUHAN KE EBUTUHA AN INVES STASI SIS STEM INT TERKONE EKSI SUMA ATERA 236 .LA AMPIRA AN A1.

446 .252 900 2.241 1.792 54 1.332 264 2.515 411 1.473 3.691 1.923 27 446 27.004 4.025 582 3.225 3.333 3.210 826 2.254 3 004 3. g .969 3.205 2 025 2.428 4 549 4.469 Total 895 2.Proyeksi y Kebutuhan Investasi Pembangkit.687 97 1.128 1.445 76 19 428 19. Transmisi & Distribusi [Fixed Asset Addition] Sumatra (Juta US$) Tahun 237 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 T t l Total Investasi Pembangkit T/L dan GI 480 135 1.549 Distribusi 281 299 359 398 297 321 344 374 395 402 3 469 3.

PENJELASAN LAMPIRAN A WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 238 .

yaitu meningkat dari 23. Sekitar 43% dari produksi tersebut adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut) dan selebihnya nya untuk Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel). Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 2011 – 2020 ditunjukkan pada Lampiran A1.0%. Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2011 adalah 4.414 GWh pada tahun 2011 menjadi 56. Faktor beban diperkirakan antara 65.1.2% per tahun.806 GWh pada tahun 2020. Dengan beroperasinya interkoneksi Sumatera.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi masih lemah Walaupun telah dibangun transmisi 150 kV Baganbatu – Rantauprapat yang menghubungkan sistem Sumbagut dan Sumbagselteng.PENJELASAN LAMPIRAN A1 SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA A1. Interkoneksi kedua sistem melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padangsidempuan pada tahun 2014 diharapkan akan dapat mewujudkan sistem interkoneksi Sumatera 1 .4% per tahun antara tahun 2011 dan 2020.269 MW dan akan tumbuh rata-rata 10. namun kedua sistem tersebut pada dasarnya secara elektris masih terpisah. Kedua sistem ini belum dapat dioperasikan sebagai satu sistem interkoneksi karena terkendala oleh masalah stabilitas. yaitu adanya osilasi inter-area pada frekuensi rendah dengan damping sangat rendah antara kelompok generator di Sumbagut dan kelompok generator di Sumbagselteng. maka sistem Sumbagsel yang memiliki sumber energi primer yang banyak dan murah akan dapat memasok sebagian kebutuhan sistem Sumbagut. walaupun besarnya daya yang dapat ditransfer akan dibatasi oleh limit stabilitas sistem interkoneksi.641 MW pada tahun 2020. 1 Untuk memastikan hal tersebut diperlukan studi small signal stability. sehingga menjadi 9. 239 .1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 10.4% sampai 67. A1.

kecuali PLTP. yaitu mencapai 78% pada tahun 2017 apabila semua proyek pembangkit berjalan dan selesai tepat waktu. tingkat keberhasilan proyek IPP sangat rendah. termasuk PLTP yang masih green field bahkan WKP-nya belum ditender. Proyek-proyek strategis 1. Hal ini dimaksudkan agar PLN dapat menawarkan proyek IPP kepada pengembang melalui tender kompetitif. PLTU Sumsel 2 adalah PLTU Keban Agung. merupakan proyek yang sangat strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini terjadi juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit yang eksisting. namun hanya disebutkan kawasan daerah dimana proyek tersebut berada. PLTU Sumsel 5 adalah PLTU Bayung Lencir. PLTU Tarahan) dan PLTA Asahan III. Proyek PLTU Percepatan Tahap I ( PLTU Meulaboh. Status beberapa IPP saat ini dalam RUPTL 2011 – 2020 adalah sebagai berikut: PLTU Sumbar 1 adalah PLTU Kambang. Proyek PLTP yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2014 adalah PLTP yang WKP-nya telah dimiliki oleh Pertamina. Lebih dari itu. Namun melihat pengalaman PLN selama ini. PLTU Pangkalan Susu. dalam RUPTL 2011-2020 ini direncanakan banyak sekali pembangkit panas bumi (PLTP) yang mencapai 2. PLTU Sumsel 6 adalah PLTU Mulut Tambang Pendopo. yaitu hanya sekitar 16%. termasuk proyek PLN dalam program percepatan tahap 1. Dari perjelasan diatas dapat dimengerti bahwa perencanaan reserve margin yang tinggi hingga 78% dimaksudkan semata-mata untuk memberikan kepastian yang lebih tinggi kepada masyarakat Sumatera (yang telah lama menderita kekurangan listrik) bahwa listrik akan tersedia cukup di Sumatera. PLTU Riau Mulut Tambang adalah PLTU Cirenti. PLTU Sumbar Pesisir. 240 .495 MW. tidak disebut nama lokasinya secara spesifik. Penamaan proyek PLTU IPP Proyek-proyek IPP yang belum financial closing. Bahkan proyek pembangkit PLN juga mengalami keterlambatan. Apabila keadaan tersebut benarbenar terjadi maka sistem Sumatera akan mengalami over supply. PLTU Sumsel 7 adalah PLTU Sungai Lilin.Rencana reserve margin tinggi Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin yang tinggi.

sehingga hal ini menjadi sangat rawan terhadap ketersediaan reserve margin di sistem Sumatera seperti telah dijelaskan sebelumnya.2 (2x55 MW). PLTP Sarulla I 6x55 MW.165 MW sampai dengan tahun 2020. PLTP Rantau Dedap 4x55 MW dan PLTP Sorik Marapi 240 MW. PLTP Muara Laboh 4x55 MW. PLTP Seulawah 55 MW. PLTP Sarulla II 2x55 MW. Potensi pembangkit hidro Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Proyek-proyek PLTP lainnya akan dikembangkan oleh IPP dengan total kapasitas 2.4 2x200 MW – PLTA Asahan III 174 MW – PLTP Hulu Lais #1. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).2 2x55 MW dan PLTP Sungai Penuh 2x55 MW – PLTP-PLTP yang akan dikembangkan oleh swasta/ IPP yaitu PLTP Ulubelu 3.4 (2x55 MW). Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada. PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. PLTU Mulut Tambang (IPP) skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC harus dapat diselesaikan selaras dengan penyelesaian proyek interkoneksi Jawa-Sumatera 500 kV HVDC. PLTP Lumut Balai 4x55 MW.2 (2x55 MW). 3. PLTP Rajabasa 4x55 MW.2 (2x55 MW). 241 . 4. PLTP Sungai Penuh #1. PLTP HuluLais #1. Khusus untuk PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sumber dana sudah tersedia dari JBIC dimana Loan Agreement sudah ditandatangani pada tahun 2005. PLN akan membangun sisi hilir pada lokasi-lokasi sebagai berikut: PLTP Ulubelu #1. Pengembangan PLTP Terkait dengan kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal. namun sampai dengan saat ini eksplorasi yang dilakukan pihak swasta terhadap proyek-proyek PLTP tersebut belum tuntas.2. Pembangkit baru dalam program percepatan tahap II – PLTU Pangkalan Susu#3.

525 GWh.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut adalah sebagai berikut: a. maka produksi energi per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A1. Peranan Minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2010 masih tinggi. c. yaitu sekitar 6.62 /liter. − Ketersediaan batubara tidak terbatas.78 /liter.3 A1. Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. Hal ini karena 242 . − Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada. dan batubara = USD 80/ton. PLTG Paya Pasir di Sumatera Utara dioperasikan dengan LNG b.4 Produksi energi pada Lampiran B1. yaitu sekitar 4. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.4 dialokasikan per unit pembangkit berdasarkan merit order dengan menggunakan model simulasi produksi dengan asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut: − Harga bahan bakar HSD = USD 0. MFO=USD 0. PLTG Task Force. Lampiran B1. Peranan pembangkit gas yang semula 4.4 Neraca Energi Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi. akan sangat berkurang menjadi sekitar nol pada tahun 2014. gas alam = USD 6 /mmbtu. Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014.2 A1.Apabila proyek tersebut layak secara teknis. dan secara bertahap akan menurun kembali menjadi 4. − Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya.932 GWh pada tahun 2014.946 GWh pada tahun 2010 akan naik menjadi 7.575 GWh pada tahun 2020. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera. Hal ini terjadi karena PLTU Belawan 1 – 4 tidak dioperasikan lagi dan PLTGU Belawan.324 GWh dan cenderung konstan berdasarkan sumber paskokan LNG yang telah teridentifikasi.

495 MW pada tahun 2020.pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari kontrak yang ada. Peranan hydro pada tahun 2020 akan mencapai 7. Kebutuhan bahan bakar HSD pada tahun 2011 sebesar 2. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A1.200 GWh.050 GWh. e. Peranan pembangkit hidro pada tahun 2010 semula 4.2 juta liter dan semakin turun menjadi 27 ribu liter pada tahun 2014. f. Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. menjadi rendah jika semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai jadwal. d.538 GWh dan akan semakin besar dengan masuknya PLTA semakin besar dengan masuknya PLTA Asahan 3. Banyaknya kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor pembangkit beban dasar lainnya.714 GWh pada tahun 2020. Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami depletion. Kontribusi pembangkit geothermal akan meningkat luar biasa besar pada tahun 2020 dengan produksi 13. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP. 243 . Sedangkan MFO sudah tidak diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya operasi PLTU Belawan 14 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara. Pada tahun 2010 hanya 4. yaitu PLTU batubara. 2 Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan drilling. PLTA Peusangan 1-2 pada tahun dan PLTA Merangin pada tahun 2016 serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017. yang pada tahun 2009 hanya 10 MW akan menjadi 2.346 GWh akan naik 6 kali lipat menjadi 26. atau 23% dari produksi total. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian implementasinya masih rendah 2 akan membuat situasi yang cukup rawan bagi Sumatera apabila pengembangan PLTP yang direncanakan tidak terlaksana sesuai jadwal mengingat ketidakpastian pelaksanaan beberapa pembangkit IPP juga tinggi.4. namun sejalan dengan rencana akan dibangunnya LNG floating terminal maka PLTGU akan dijalankan dengan LNG.

400 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1. dimana hasil pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan sistem penyaluran. Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan. Selanjutnya dari Capacity Balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing masing GI.Volume pemakaian batubara meningkat dari tahun ke tahun.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi proyek berikut: • Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan. A1. Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI. PLTU IPP dan PLTP IPP.5. yaitu naik dari 4. kebutuhan pembangunan Gardu Induk Baru dan pengembangan trafo GI eksisting sampai tahun 2020 sebesar 28. • Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan dan PLTA IPP Asahan 1. Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan dan de-dieselisasi serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru. Dengan kriteria keandalan dan asumsi di atas. selanjutnya disusun kembali capacity balance yang baru setelah mempertimbangkan penambahan GI baru tersebut. GI yang telah berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan trafo.0 juta ton pada tahun 2011 menjadi 16. • Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya 244 . • Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. PLTA. A1.5 Capacity Balance Gardu Induk Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan memasukkan GI existing dan GI ongoing project.4 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 6 kali lipat. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.

meliputi sistem 275 kV.8 Analisis Aliran Daya Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. 150 kV dan 70 kV. Profil tegangan sistem masih berada dalam kriteria operasi yang bervariasi antara 90%-105%. 245 . Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Tarahan #1 (100 MW). baik dari Sumatera Bagian Utara maupun Sumatera Bagian Selatan.7 Peta Pengembangan Penyaluran Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran A1. A1. dengan penjelasan sebagai berikut : 1. dimana sub sistem ini menerima daya dari sub sistem Sumatera Barat sebesar 172 MW.6. transfer daya terlihat menuju Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng). Dari simulasi aliran daya terlihat. A1. Prakiraan aliran daya di sistem 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai tahun 2011 sampai dengan 2020.2 (227 MW) dan PLTG/PLTMG sewa total 182 MW. PLTG Duri (40 MW). Namun pada RUPTL 2011-2020 ini hanya ditunjukkan hasil analisa aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja. hal ini disebabkan tidak adanya pembangkit baru di sistem Sumbagteng. Transfer Daya dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terbatas pada kisaran transfer 224 MW dikarenakan masalah limit stabilitas transfer daya menggunakan sistem 150 kV di titik interkoneksi Sumbagselteng (Lubuk Linggau – Bangko). Analisa aliran daya tahun 2011 Aliran Daya tahun 2011. PLTU Simpang Belimbing #1. • Pembangunan transmisi dan kabel laut ±250 kV HVDC Sumatera – Peninsular Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem tersebut. kekurangan pembangkitan pada tahun 2010 ini berada di sub sistem Riau.dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber energi primer ke demand di Sumatera bagian utara. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.7.

PLTU Pangkalan Susu #1 (220 MW). yang sebelumnya dioperasikan pada tegangan 150 kV. Tegangan sistem 275 kV cukup baik. yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh – New Garuda Sakti. PLTU Tarahan #2 (100 MW). melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 110 246 . yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (282 kV) dan terendah di GI Binjai (275 kV). Tegangan sistem 275 kV cukup baik. yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (285 kV) dan terendah di GI Binjai (278 kV). Analisa aliran daya tahun 2013 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. Transfer dari sub sistem Sumatera Barat ke sub Sistem Riau berkurang hingga menjadi 80 MW seiring dengan beroperasinya beberapa pembangkit di Riau. PLTG Belawan (400 MW).2. Tambahan transmisi 275 kV baru adalah Pangkalan Susu – Binjai. PLTP Ulubelu #2 (1x55 MW). Payakumbuh – Padang Sidempuan – Sarulla – Simangkok dan Lahat – Gumawang. PLTG Peaker total 160 MW. PLTU Sumbar Pesisir #1 (112 MW). PLTU Sumbar Pesisir FTP1 #2 (112 MW). PLTP Ulubelu-FTP2 #1 (1x55 MW). PLTU Riau FTP1 #1 (100 MW). yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh – Kiliranjao dan Binjai – Galang – Simangkok. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTGU Keramasan (86 MW). PLTG Gunung Megang ST (30 MW) dll. dan PLTU Riau FTP1 #1 telah beroperasi 100 MW. 4. Transfer ke sub sistem Riau menjadi 160 MW. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Meulaboh FTP 1 (2x110 MW). Analisa aliran daya tahun 2014 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. PLTU Pangkalan Susu – FTP1 #2 (1x220 MW). 3. Analisa aliran daya tahun 2012 Pada tahun ini akan dioperasikan sistem tegangan 275 kV pada transmisi 275 kV Lahat – Lubuk Linggau – Bangko – Muara Bungo – Kiliranjao. PLTG Sengeti (60 MW) dan PLTU Sewa (840 MW).

5. yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Lhokseumawe dan pengoperasian transmisi 275 kV Meulaboh – Sigli yang sebelumnya dioperasikan dengan tegangan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU Meulaboh #3. PLTU Banjarsari (230 MW).4 (400 247 .4 (2x200 MW).4 (110 MW). PLTU Meulaboh #3 (200 MW). PLTU Keban Agung (2x112. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Riau menjadi 230 MW dan transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 230 MW. PLTP Lumut Balai-FTP2 #3.Bayung Lincir (Sumsel-5) Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti seiring dengan tambahan pembangkit PLTU mulut tambang Sumsel-5 150 MW. Keban Agung 225 MW. Analisa aliran daya tahun 2015 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 216 MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 305 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV sub Sistem Jambi (Aur Duri) ke sub sistem Riau (Rengat) sebesar 202 MW. PLTU Sumsel-5 #1 (150 MW). yang kemudian mulai akan dioperasikan dengan sistem 500 kV setelah beroperasinya PLTU di Jambi sampai dengan 800 MW mulai tahun 2018. PLTP Ulubelu #3. 6. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng ke. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Riau FTP1 #2 (100 MW). PLTP Lumut Balai (110 MW) dan PLTP Sarulla (220 MW). yaitu transmisi 275 kV Muara Enim .MW. Sumsel-7 150 MW.Betung – Sungai Lilin (Sumsel-7) .4 (2x55 MW). PLTU Sumsel-7 #1 (150 MW).5 MW). PLTP Sungai Penuh FTP2 (110 MW). PLTU Simpang Belimbing Ekspansi (227 MW). PLTP Sarulla-FTP2 (110 MW). PLTP Hululais FTP2 (110 MW). PLTA Lawe Mamas (45 MW) dan PLTG peaking total 500 MW. Analisa aliran daya tahun 2016 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. Pada tahap awal pembangunan segmen transmisi 275 kV Aur Duri – Rengat ini dibangun dengan konstruksi 500 kV. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Pangkalan Susu FTP2 #3.

PLTU Sumsel-6 #2 (300 MW). yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Ulee Kareng untuk memasok kota Banda Aceh dan sekitarnya. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 261 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 226 MW. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. PLTU Sumsel-5 #2 (150 MW). PLTA Asahan III (174 MW). Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 420 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 211 MW. PLTU Riau MT #2 (300 MW). PLTU Riau MT #1 (300 MW). melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 540 MW. PLTA Masang-2 (55 MW). PLTU Sumsel-7 #2 (150 MW). PLTA Simonggo-2 (86 MW).MW). melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 225 MW. PLTP Rajabasa FTP2 (220 MW). seiring dengan beroperasinya PLTU Jambi unit #1 (1 x 400 MW) Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut.Selain itu juga diperlukan pembangunan transmisi 275 kV PLTU Cirenti – Rengat untuk mengevakuasi daya PLTU Cirenti. Analisa aliran daya tahun 2017 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. PLTA Merangin (175 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 400 248 . 8. PLTP Muara Laboh FTP2 (220 MW) dan PLTP Sarulla II FTP2 (110 MW). PLTU Sumsel-6 #1 (300 MW). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Peusangan (88 MW). 7. Analisa aliran daya tahun 2018 Pada tahun ini transmisi 500 kV dari PLTU Jambi – Aur Duri – New Garuda Sakti sudah beroperasi. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan seiring dengan mulai beroperasinya pembangkit mulut tambang dan panas bumi di sistem Sumbagselteng. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Merangin #2 (175 MW).

249 . PLTP Rantau Dedap FTP2 (110 MW). Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS Jambi #1 (1x400 MW). • Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan • Perbaikan SAIDI dan SAIFI • Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua • Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1.9. PLTU Sumsel-1 #1 (400 MW). Analisa aliran daya tahun 2020 Arah aliran daya dari selatan ke utara. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS #2 (1x400 MW). Tambahan pembangkit baru antara lain PLTG Peaker (200 MW) dan PLTP tersebar (695 MW) A1. transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda Sakti sebesar 1150 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 450 MW. 9. PLTP Sorik Marapi FTP2 (240 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW). transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda Sakti sebesar 1100 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 440 MW. dengan transfer daya sebesar 360 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. PLTU Sumsel-1 #2 (400 MW) dan PLTP Rantau Dedap FTP2 #2 (110 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW). 10. Analisa aliran daya tahun 2019 Arah aliran daya masih dari selatan ke utara. dengan transfer daya sebesar 490 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan.MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 660 MW.

8 106.293 498.955 53.291 6.9 392.3 54.9 248.548 5.005 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Juta USD Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 148.1 Total 338. untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 3.0 111.114.242 619.8 145.509 4.251 Trafo MVA 1.7 34.2 37.2 359.0 140.8 275.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera JTM kms 6.3 38.618 Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTR kms 6.031 5.041 1.8 79.635 540.711 4.469 juta USD (JTM USD 1.7 3.091.869 4.951 493.7 174. Kapasitas gardu distribusi 14.010.4 126.271 5. JTR USD 1.510 kms.3 301.3 1.3 104.3 JTR 100.951 6.788 5.8 38.6 36.3 % di tahun 2014 untuk regional sumatera A1.8 63.9 36.661 5.356 537.4 Trafo 50.516 506.0 419.076 juta.10 Program Listrik Perdesaan 250 .273 5. • Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 67.054 MVA untuk menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 6.6 272.206 594.1 98.608 5.600 kms.590 55. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.0 379. JTR 65.0 304.2 39.1 % tahun 2010.1 32.285 4.7 Pelanggan 39.1 34.4 87.982 5.0 juta.5 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 61. dan sambungan pelanggan 419 juta USD) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 350 juta. menjadi 73.564 juta.562 4.5 188.5 336.1 43.0 41. gardu USD 410 juta.0 42.426.072 9.1 39.694 Pelanggan 1.403 5.4 37.4 123.3 161.8 88.011 5.5 876.2 108.1 64.399 6.512 605.2 35.0 69.895 522.470 766 819 836 872 900 941 978 1.5 298.569 4.0 38.1 76.

5 69.8 Total 1.601.034.237.8 3.12.4 758 89.8 1.810.962.8 -     2.7 231.601. transmisi dan gardu induk sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.148.0 1.657.7      1.186.515        337.8 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan 29.601.9 158.867.280 kms.746.520.6 590.280.1       5.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.6 1.2 953.994.6       61.539.274 125.263 44.344.190.1 Trafo MVA Unit 139.9 2.2 3. 251 .587.22 triliun.102.5 406.9 893.11.370.223.240. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.7      4. JTR 11.317.88 triliun (JTM Rp 2.0       11.6 triliun A1.440        363.4 378.3 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Sumatera tahun 2011-2014 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2010-2014 direncanakan membangun JTM 12.5 1.079.7 309.5 JTR kms 3.3 2.131 8.351.7      677.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 3. A1.7         2. gardu Rp 0.038.506.401.6 291.9 1.531.351 kms.8 triliun.0 3.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4.883.4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 602.2 3.0 32.469.1 218.4     12.424. JTR Rp 1.426 89.727 122.9 146. halaman 96.1 1.207.280.9 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 89. untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 4. pembnagkit dan pelanggan Rp 2.991.132.758.887.819. Kapasitas gardu distribusi 363 MVA.7 triliun.899.624.260.

LA AMPIRAN N A2 SISTEM M INTERKO ONEKSI KALIMANTAN K BAR RAT 252 .

LAM
MPIRAN A2.1

PROY
YEKSI KEB
BUTUHAN
N TENAG
GA LISTRIK
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

253

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Kalimantan Barat

Sistem

254

Wil Kalbar
Sistem Khatulistiwa
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak

Satuan 2011

GWh
%
MW

1.121
69
186

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.379
74
211

1.749
77
259

2.021
68
339

2.201
69
362

2.544
74
394

2.707
68
457

2.879
68
486

3.060
68
516

3.304
69
548

LA
AMPIRAN
N A2.2

NERACA
A DAYA
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

255

MW

Grafik Neraca Daya Sistem Kalbar
900

Pembangkit Terpasang PLN

54%

Pembangkit Sewa

PLTG PLN

PLTGB Sewa

800

PLTU PLN

51%

PLTU FTP2

700

47% PLTA PLN

53%

PLTU IPP
Power Purchase (Sesco)
PLTA PLN

600

g
Reserve Margin
Beban Puncak

45%

256

500

43%

46%
Power Purchase (Sesco)
PLTU IPP

57%
400
300

45%

37%
PLTU (FTP2)

200

PLTU (FTP2)
Kapasitas Terpasang

100
-

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun
256

Neraca Daya Sistem Kalbar
Kebutuhan dan Pasokan

257

Kebutuhan
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Daya Terpasang
PLN
PLTG-HSD PLN (Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Raya & Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Wie & Sudirman)
Interkoneksi sistem-sistem isolated
S
Sewa
Retired & Moultbolled (PLN)
Tambahan Kapasitas
PLN
On-going dan Committed Project
Pantai Kura-Kura (FTP1)
Parit Baru (FTP1)
Rencana
Parit Baru - Loan China (FTP2)
Nanga Pinoh
Kalbar - 1
Kalbar - 2
IPP
Rencana
Pontianak - 2
Pontianak - 3

Satuan 2011
GWh
%
MW

MW
MW
MW
MW
MW

2012

2013

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1,121
69
186

1,379
74
211

1,749
77
259

2,021
68
339

2,201
69
362

2,544
74
394

2,707
68
457

2,879
68
486

3,060
68
516

3,304
69
548

270

290

253

117

42

50

75

61

61

69

34
100
19
117
6

34
100
19
137
-

34
100
19
12
88
-

47
70
153

42
-

50
-

75
-

61
-

61
-

69
-

PLTU
PLTU

55
100

PLTU

50

50

PLTA
PLTU

50

49
50

49

PLTU

PLTU
PLTU

50

50

25

25

50

Power Purchase dengan SESCo (Peaking) 275 KV
Power Purchase dengan
g SESCo ((Baseload)) 275 KV
Jumlah Pasokan
Reserve Margin

2014

120
50

-50

MW

270

290

408

492

517

575

699

734

759

842

%

45

37

57

45

43

46

53

51

47

54

LAM
MPIRAN A2.3
A

PRO
OYEK-PR
ROYEK IPP TERKENDALA
SISTEM KALIMAN
K
NTAN BAR
RAT

258

A2.3
3 Proyek-proye
ek IPP yg terke
endala
Dalam perenccanaan pemban
ngkit IPP, ada beberapa
b
proye
ek pembangkit IPP yang
Perjanjian Pem
mbelian Tenag
ga Listrik (PPTL
L) nya mengala
ami kendala. Ka
ategori
PPTL terkend
dala adalah,
Kateg
gori 1, tahap op
perasi adalah ta
ahap dimana IP
PP sudah menccapai
COD.
Kateg
gori 2, tahap pe
embangunan/ko
onstruksi diman
na IPP sudah mencapai
m
Finan
ncial Closing (F
FC) tapi belum mencapai
m
COD
D.
Kateg
gori 3, Tahap pendanaan
p
IPP yang sudah memiliki
m
PPTL, tetapi
t
belum
m mencapai Fin
nancial Closing
(FC).
Pembangkit IP
PP yang terken
ndala di sistem Kalimantan Ba
arat adalah,
- PLT
TU Ketapang 2xx7 MW masuk dalam kategori 2
- PLT
TU Pontianak 2x25
2
MW masu
uk dalam kategori 2
Saat ini penye
elesaian IPP terkendala tersebut sedang dip
proses oleh Kom
mite
Direktur untukk IPP dan Kerja
asama Kemitraa
an.

259

LA
AMPIRAN
N A2.4

NERACA ENERGI
E
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

260

Proyeksi Neraca Energi
Sistem Kalbar
(GWh)

261

JENIS
Batubara
Gas
LNG
HSD
MFO
SESCO
Hydro
y
Total

2011
-

2012
-

2013
824

2014
1.228

2015
1.471

2016
1.788

2017
1.793

2018
1.797

2019
2.377

2020
2.641

117
1.004
1.121

257
1.121
1.379

171
753
1.749

12
72
709
2.021

6
3
721
2.201

7
16
733
2.544

7
21
737
150
2.707

10
35
738
300
2.879

14
55
314
300
3.060

10
35
317
300
3.304

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
Sistem Kalbar
FUEL TYPE

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

262

HSD ( x 1000 kL )

42

89

114

4

0

1

1

3

7

3

MFO ( x 1000 kL )

254

279

171

18

1

4

5

9

14

9

LNG (GBTU)

-

-

-

-

-

Batubara (kTON)

-

-

565

701

868

GAS (GBTU)
-

-

-

-

-

1.102

1.137

1.178

1.610

1.832

LA
AMPIRAN
N A2.5

CA
APACITY
Y BALANC
CE GARDU
U INDUK
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

263

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
No.

1

2

3

4

5

6

264

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

TEG.

CAPACITY

(KV)

MVA

NAMA GI

GI SIANTAN

GI SEI RAYA

GI. PARIT BARU

GI. MEMPAWAH

GI.SINGKAWANG

GI. KOTA BARU

GI PLTU KURA-KURA

GI SAMBAS

GI SANGGAU

GI TAYAN

GI BENGKAYANG

GI NGABANG

GI SEKADAU

GI SINTANG

GI NANGA PINOH

GI KETAPANG

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

2

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

1

2

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

20

30

60

60

30

30

30

30

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

30

30

30

60

20

60

2014
Add Trf
MVA

25,67

29,33

34,04

40,13

50,34%

57,50%

66,75%

39,34%

38,01

35,75

74,54%

23,37%

120

60

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

2016
Peak Add Trf
MW
MVA

2017
Peak Add Trf
MW
MVA

2018
Peak Add Trf
MW
MVA

2019
Peak Add Trf
MW
MVA

48,04

51,82

53,64

56,15

61,82

47,10%

50,81%

52,59%

55,05%

60,61%

30

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
67,13
65,82%

39,00

40,90

46,01

50,10

52,62

52,69

69,12

69,40

25,49%

26,73%

30,07%

32,75%

34,39%

34,44%

45,17%

45,36%

15,18

15,60

17,34

15,86

17,33

15,66

22,55

59,54%

61,17%

67,98%

62,19%

67,98%

61,40%

44,22%

16,78

17,55

15,00

21,85

65,79%

68,84%

58,84%

42,84%

30

30

32,68

33,06

35,31

64,08%

64,83%

69,24%

23,66

30,63

33,75

29,04

31,51

33,89

46,40%

60,06%

66,17%

56,94%

61,79%

66,45%

14,62

15,30

16,34

15,85

19,33

57,35%
,

60,01%
,

64,09%
,

62,16%
,

37,90%
,

30

20,12

21,85

28,72

33,74

32,69

39,45%
,

42,85%
,

56,32%
,

66,17%
,

64,09%
,

14,41

16,93

15,79

17,07

13,31

13,87

15,29

15,81

17,44

24,96

56,50%

66,39%

61,91%

66,96%

52,19%

54,40%

59,97%

62,01%

68,40%

48,95%

11,71

12,14

12,83

13,88

14,88

15,34

16,50

17,73

14,06

15,29

45,94%

47,60%

50,33%

54,44%

58,37%

60,17%

64,70%

69,54%

55,13%

59,98%

12,02

12,83

16,02

15,18

15,80

17,16

23,63

47,13%

50,33%

62,81%

59,53%

61,96%

67,29%

46,33%

30

30

Peak
MW

17,04

15,63

19,59

66,82%

61,31%

38,41%

30

30

17,22

21,74

33,76%

42,63%

21,48

23,55

25,80

28,02

42,12%

46,17%

50,60%

54,95%

6,54

7,29

8,04

8,54

9,45

10,46

11,58

12,70

25,66%

28,57%

31,55%

33,48%

37,08%

41,04%

45,41%

49,79%

6,48

7,15

7,82

8,21

9,01

9,88

10,82

11,75

25,41%

28,03%

30,65%

32,22%

35,33%

38,73%

42,44%

46,09%

9,07

10,01

10,94

11,50

12,61

13,83

15,15

16,45

35,57%

39,24%

42,91%

45,10%

49,46%

54,22%

59,42%

64,53%

6,66

10,28

7,66

8,40

9,20

10,09

10,95

26,12%

40,33%

30,03%

32,93%

36,09%

39,56%

42,96%

18,36

20,27

21,51

23,82

26,36

32,17

31,99

35,99%

39,74%

42,18%

46,70%

51,69%

63,08%

62,72%

9,43

10,34

11,34

9,43

13,49

55,48%

60,84%

66,70%

55,45%

79,38%

28,53

30,98

33,62

33,15

55,95%
,

60,74%
,

65,92%
,

65,01%
,

30

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
TEG.
No.

CAPACITY

NAMA GI
MVA

(KV)
17

GI SANDAI

150/20

1

30

30

18

GI KOTA BARU 2

150/20

1

30

30

19

20

GI SUKADANA

GI PUTUSIBAU

150/20

150/20

1

1

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

Peak
MW

2014
Add Trf
MVA

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

30

2016
Peak Add Trf
MW
MVA
3,36

2017
Peak Add Trf
MW
MVA
3,68

2018
Peak Add Trf
MW
MVA
4,04

2019
Peak Add Trf
MW
MVA
4,42

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
7,80

13,17%

14,44%

15,83%

17,35%

30,60%

8,76

9,42

10,12

10,88

11,59

34,35%
,

36,93%
,

39,70%
,

42,67%
,

45,43%
,

8,76

9,70

10,73

11,88

13,02

34,35%

38,03%

42,10%

46,58%

51,08%

14,77

30

57,92%
Penambahan Trafo (MVA)
Total Beban Gardu Induk
Beban Pembangkit Siantan
Beban Pembangkit Sei Ra
Raya
a
Total Beban Gardu Induk & PLTD
Total Beban Sistem
Diversity Factor

710

-

120

-

90

30

30

30

30

30

30

136,39

154,61

185,27

248,05

270,73

311,91

370,39

406,81

442,94

494,54

20,00
20 00
20,00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

176,39

194,61

225,27

288,05

310,73

351,91

410,39

446,81

482,94

534,54

173,34

192,33

224,27

287,01

309,73

378,08

410,28

445,11

482,82

533,53

1,02

1,01

1,00

1,00

1,00

0,93

1,00

1,00

1,00

1,00

265

LAM
MPIRAN A2.6

RENCA
ANA PEN
NGEMBAN
NGAN PEN
NYALURA
AN
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

266

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Kalimantan Barat
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

275 kV

-

-

180

-

-

-

-

-

-

-

180

150 kV

112

310

596

280

-

180

860

-

-

300

2.638

112

310

776

280

-

180

860

-

-

300

2.818

TOTAL

267

(MVA)
Tegangan
275/150 kV

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

-

-

250

-

-

-

-

-

-

-

250

150/20 kV

60

150

90

210

30

150

90

30

60

60

930

TOTAL

60

150

340

210

30

150

90

30

60

60

1.180

Rencana Pengembangan Transmisi
Kalimantan Barat

268

N
No.

P
Propinsi
i i

D i
Dari 

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

Parit Baru
Sei Raya
PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2
Singkawang
Siantan
Singkawang
Bengkayang
Ngabang
PLTU Parit Baru (IPP)
Tayan
Sanggau
Sintang
Sintang
Sukadana
Sandai
Nanga Pinoh
Ketapang
Sintang
Bengkayang

K
Ke 
Kota Baru
Kota Baru
Incomer 2 pi (Singkawang‐Mempawah)
Sambas
Tayan
Bengkayang
Ngabang
Tayan
Parit Baru
Sanggau
Sekadau
Sekadau
Nanga Pinoh
Sandai
Tayan
Kota Baru 2
Sukadana
Putusibau
Perbatasan

T
Tegangan 
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV

C d t
Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra

k
kms 

Biaya
(M USD)

COD

40
32
40
126
184
120
180
110
6
180
100
180
180
180
300
180
200
300
180

2,22
1,77
2,22
6,98
10 19
10,19
6,65
9,97
6,09
0,33
9,97
5,54
9,97
9,97
13,74
22,90
9,97
15,27
22,90
28,36

2011
2011
2011
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2016
2016
2016
2016
2017
2020
2013

Rencana Pengembangan Gardu Induk
Kalimantan Barat
No.  Propinsi

269

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
K lb
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 

Kap

Jumlah 

COD 

Kota Baru 
Parit Baru Ext LB
Parit
Baru Ext LB
Sei Raya Ext LB
PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2
Sei Raya
Sambas
Singkawang Ext LB
Tayan 
Tayan Ext LB
Tayan Ext LB
Sei Raya Ext LB
Bengkayang 
Ngabang 
Sanggau 
Sekadau 
Sintang 
Si t
Siantan
Mempawah
Singkawang
Naga Pinoh 
Sintang Ext LB
Sukadana 
Sandai 
Sanggau
Kota Baru 2
Ketapang 
Parit Baru
Sambas
Siantan
Putusibau 
Kota Baru
Kota Baru
Bengkayang 

150/20 kV
150/20 kV
150/20
kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
275/150 kV

Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
E t i
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru

30
2 LB
2
LB
2 LB
30
120
30
2 LB
30
2 LB
2 LB
2 LB
30
30
30
30
60
60
30
30
30
1 LB
30
30
30
30
60
30
30
60
30
30
250

2,62
1,24
1
24
1,24
1,37
3,81
2,42
1,24
2,42
1 24
1,24
1,24
2,62
2,62
2,62
2,62
4,00
1 39
1,39
1,39
1,39
2,62
0,62
2,62
2,62
1 39
1,39
2,62
4,00
1,39
1,39
1,39
2,62
1 39
1,39
25,98

2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2020
2020
2013

Keterangan

L
LAMPIRA
AN A2.7

PE
ETA PENG
GEMBANG
GAN PENY
YALURAN
N
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

270

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
KALIMANTAN
- 2020
your computer,
and then open theBARAT
file again. If2011
the red x still
appears, you

PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP); 
2 x 400 KW (2012)
ARUK
PLTU 2 KALBAR  TJ. GUNDUL
(PLN); 
2 x 27,5 MW (2013)
2 x 27,5 MW (2013)
PLTU PERPRES TAHAP II  2 X 
50 MW (2014) LOAN CHINA

GI. SAMBAS
Thn 2013

PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN); 
2 x 750 KW (2010)

BIAWAK
SERIKIN
JAGOI BABANG

KUCHING

GI MAMBONG (MATANG)

GI. SINGKAWANG
Thn 2009

GI. NGABANG
Thn 2013
55 km

GI. PARIT BARU

GI SANGGAU
Thn 2014

GI. SIANTAN
GI. TAYAN
GI
GI. SEI RAYA Thn 2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011

PLTGB (IPP) 8 MW  (2012)
GI. PUTUSIBAU
Thn 2020

BADAU

ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2013

GI. PLTU KURA-KURA
Thn
2011
GI. MEMPAWAH

PLTU 1 KALBAR ‐PARIT BARU (PLN); 2 x 50 
MW (2013)
PLTU  PARIT BERKAT (IPP); 2 x 25 MW  
(2014);
(2014); 

BATU KAYA

TEBEDU

PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW (2012)

GI. SINTANG
Thn 2014

GI. SEKADAU
Thn 2014
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X 
7 MW (2012)

PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)
PLTGB NANGAPINOH 
(PLN); 6 (2013)
PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18
GI. NANGA PINOH
Thn 2016

PLTU TAYAN (IPP); 2 X 25 
MW (2015)
GI. K0TA
BARU2 2017
GI. SUKADANA
Thn 2017
GI. SANDAI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (PLN) ; 
2 X 10 MW (2013)

GI. KETAPANG
GI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X 7 MW (2012)

KETERANGAN :
Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

PLTU Rencana
PLTMH Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

LA
AMPIRAN
N A2.8

ANAL
LISIS ALIR
RAN DAYA
A
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

272

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012

273

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015 274 .

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018 275 .

9 KEBUTUHA AN FISIK PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SISTEM KALIMANT S K TAN BAR RAT 276 .L LAMPIRA AN A2.

1 13.973 38.419 52.0 36.2 .6 Total 25.9 32.4 .4 18.8 3.9 0.5 4.8 26.6 7.5 .9 4.543 36.5 2.353 55.1 41.4 3.7 160.6 11.4 Trafo 4.1 4.0 9.1 11.3 2.980 41.7 44.7 38.6 7.9 15.2 35. 18.7 44.2 17. 2.3 17.105 46.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.2 4.6 364.2 10.3 18.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Tahun 277 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.5 5.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.655 49.3 5.7 12.7 JTR 7.467 58.8 6.8 13.189 40.6 2.3 5.6 5.9 11.7 4.8 19.2 113.6 56.773 464.5 10.7 7.0 .2 19.1 33.3 Pelanggan 2.457 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10.3 38.

10 A PR ROGRAM LISTRIK PERDESA AAN SISTEM KALIMANT S K TAN BAR RAT 278 .LAM MPIRAN A2.

3 2.3 645.8 46.500.996.1       22.509.125 4.0 274.281.4 156.0 10.4 7.8 23.9        277.3 159 909 4 159.120.5         1.909.4 8.909.0 JTR kms Trafo MVA Jml Pelanggan Unit 221.525 875              353              14.0 468.796.375.0 167 6 167.5 258 817 0 258.5 511.081.416.0         445.623.4 76.992.0                ‐        776.5 91 808 3 91.9 .0        29.725 5 725 4.099.875.500.108.0 Pelanggan Total 166.5 54.375 279 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit 82.4            1.802.391.395.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348.0 Listrik murah dan Hemat (RTS) 197 62 47 47 5.8 7 099 4 7.3 2.817.9          17.983.1 22.3 108.966.0 182 5 182.8 6.808.0 23 2.6 590.

L LAMPIRA AN A2.11 PROYEK KSI KEBUT TUHAN IN NVESTASI SISTE EM KALIM MANTAN BARAT B 280 .

825 . g .178 283 Distribusi 25 35 37 39 26 38 42 45 33 45 364 Total 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1. Transmisi & Distribusi [Fixed Asset Addition] Kalimantan Barat (Juta US$) Tahun 281 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit T/L dan GI 0 13 82 14 322 98 75 37 163 1 75 69 149 21 74 1 119 1 119 27 1.Proyeksi y Kebutuhan Investasi Pembangkit.

Saat ini. A2.6% per tahun sampai dengan tahun 2020. Sistem-sistem kecil lainnya masih beroperasi isolated. Sintang. Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 270 MW (termasuk sewa).9% Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2011 sebesar 186 MW akan meingkat menjadi 548 MW pada tahun 2020 dengan tersambungnya beberapa sistem isolated yaitu sistem Singkawang. diperkirakan produksi energi listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 12.304 GWh pada tahun 2020.121 GWh pada tahun 2011 menjadi 3. Sanggau. Sekadau. Tambahan pembangkit pada sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap rencana.1. Sambas. yaitu PLTU Parit Baru (2x50 MW) dan PLTU Kura-kura (2x25 MW) yang direncanakan beroperasi tahun 2013. yaitu tumbuh rata-rata 12.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi Sistem interkoneksi Kalimantan Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.7% per tahun. SISTEM KALIMANTAN BARAT A2. Saat ini sistem Kalimantan Barat belum terinterkoneksi dengan sistem Kalimantan Selatan dan Tengah.PENJELASAN LAMPIRAN A2.6% sampai 76. Faktor beban diperkirakan antara 67. Ngabang dan Ketapang. Nanga Pinoh. 282 . Untuk memenuhi kebutuhan listrik tahun 2011-2020. dimana semua pembangkit di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga biaya operasi sangat tinggi. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran A2. di Kalimantan Barat terdapat sewa PLTD lebih dari 100 MW. kecuali PLTU Percepatan Tahap 1. Penandatangan kontrak untuk kedua PLTU ini sudah dilaksanakan pada tahun 2009.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Kalimantan Barat (Khatulistiwa) merupakan salah satu sistem besar di pulau Kalimantan selain Sistem Kaltim (Mahakam) dan Sistem Kalimantan Selatan & Tengah (Barito). yaitu meningkat dari 1.

Selain itu PLTU IPP juga akan dilaksanakan di Ketapang sebesar 2x10 MW. Proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2014. Namun hal ini masih dapat diterima dengan pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbaga sebab. Tidak ada ketentuan take or pay yang berbasis daya. interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasi power pada WBP. PLTU IPP Pontianak-2 diperkirakan akan mundur dalam waktu yang lama. Pola operasi 5 tahun pertama adalah impor 50 MW flat pada LWBP dan maksimum 180 MW (on top dari beban dasar) pada WBP. Dalam jangka panjang (setelah tahun ke-5) dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari Serawak adalah hanya selama WBP. Interkoneksi Kalbar . Proyek-proyek strategis: 283 . hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang berbahan bakar mahal Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan mencapai 57% pada tahun 2013. Setelah 5 tahun akan berubah menjadi power exchange.Pada tahun 2014 dan 2015 sistem Kalimantan Barat akan melakukan pembelian listrik dari Serawak sebesar 50 MW pada LWBP dan 120 MW pada WBP untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak.5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2x50) diharapkan beroperasi pada tahun 2013. sedangkan PLTU IPP Pontianak 3 diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2015. PLTU Batubara Dengan adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang. Untuk memenuhi kebutuhan demand jangka panjang di Kalbar. PLTU Pantai Kura-kura FTP1 (2x27. maka direncanakan pembangunan PLTU Kalbar-1 sebesar 2x50 MW dan PLTU Kalbar-2 (2x50 MW). PLTU batubara (ex Loan China 2x50 MW) di Parit Baru juga diharapkan beroperasi pada tahun 2014. meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan mengantisipasi keterlambatan pembangunan proyek PLTU.Sarawak Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan BPP dengan menggantikan pembangkit BBM. maka direncanakan PLTU batubara 3x7 MW di Sintang untuk beroperasi pada tahun 2012.

maka produksi dengan BBM untuk sistem interkoneksi akan mencapa 1. HSD dan MFO. b.2. Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.− Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai KuraKura) merupakan proyek strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini sudah terjadi.4. maka diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar dapat dikurangi. Peranan sumber energi lain selain BBM dan batubara juga direncanakan. Peranan MFO yang pada tahun 2010 masih cukup tinggi di Kalbar. Pada tahun 2011 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru berbahan bakar selain BBM. A2. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU. Produksi dengan menggunakan BBM adalah sebesar 650 GWh dan produksi dengan BBM dari pembangkit sewa sebesar 718 GWh (termasuk sistem isolated). Sumber energi tersebut adalah Air. − PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) 2x50MW dan PLTU Pontianak-3 diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem Kalbar. A2. Rencana pembangunan beberapa PLTU di Kalbar merupakan salah satu usaha mengurangi biaya operasi pembangkitan mengingat pembangkit di Kalbar 100% berbahan bakar minyak. produksi energi per jenis energi primer di sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2. Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A2. juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting.4 Neraca Energi Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan pengembangan pembangkit. c.121 GWh. Adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang juga membuka peluang pembangunan PLTU batubara di daerah tersebut. Potensi air di daerah Nanga Pinoh memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut untuk 284 .3.

meliputi.4.Sarawak untuk mendapatkan benefit ekonomi dari energy exchange pada saat terjadi 285 .5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan Barat sampai dengan tahun 2020 sebesar 1. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A2. – Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar . PLTA Nanga Pinoh direncanakan dapat beroperasi sebesar 98 MW pada tahun 2017/2018.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar sampai dengan tahun 2020 adalah sepanjang 2. PLTU IPP dan PLTA. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem interkoneksi sebesar 296 juta liter dan pada tahun 2020 sebesar 12 juta liter. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.240 MVA.5. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada Lampiran A2. Volume pemakaian batubara meningkat dari 0.83 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 4 kali lipat. Peranan HSD hingga tahun 2020 tetap penting. A2.818 kms. A2.57 juta ton pada tahun 2013 menjadi 1. mengingat beberapa sistem kecil terisolasi dan tidak terhubung ke Grid sistem khatulistiwa masih menggunakan PLTD sebagai pembangkit. – Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan. – Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. d.memenuhi kebutuhan listrik.

5 kV). Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2. transmisi 150 kV Singkawang–Bengkayang dan transmisi 150 kV Siantan–Tayan. Tambahan transmisi baru dari tahun 2013 s. PLTU Parit Baru (FTP1) 2x50 MW. A2. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Pada RUPTL 20112020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012.d 2015 adalah transmisi 275 kV Bengkayang – Border (Sarawak). Tahun 2015 PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 2x27. A2. yaitu 50 MW di LWBP dan 120 MW di WBP.5 MW. 3.7 Peta Pengembangan Penyaluran Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2. Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut : 1.7. Interkoneksi ini juga bermanfaat sebagai contingency apabila konstruksi pembangkit baru terlambat. Tahun 2018 PLTU Kalbar-1 2x50 MW. Tegangan sistem tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (142 kV). transmisi 150 kV Bengkayang – Nabang – Tayan – Sanggau – Sintang. Pola operasi interkoneksi dengan Sarawak masing tetap sama. PLTA Nanga Pinoh 89 MW beroperasi pada tahun 2016-2018. Tegangan sistem 286 . 2015 dan 2019. Tahun 2012 Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru. PLTU Pontianak-3 50 MW sudah beroperasi pada tahun 2013 s.perbedaan marginal cost antara kedua sistem.8 Analisis Aliran Daya Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya.d 2012 adalah transmisi 150 kV Sambas–Singkawang. Sistem Kalbar juga telah terinterkoneksi dengan sitem Sarawak. PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) .6. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 s.d 2015. Tegangan sistem tertinggi di GI Singkawang (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (148. 2. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1.

419 52.543 36. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1.353 55. SUTT 150 kV Sukadana–Ketapang.467 58.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.105 46.773 464. • Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan • Perbaikan SAIDI dan SAIFI • Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua • Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran A2.189 40.tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (153 kV) dan tegangan terendah di GI Nanga Pinoh (143 kV).973 38.d 2019 ada tiga ruas transmisi yaitu SUTT 150 kV Tayan–Sandai. SUTT 150 kV Sandai–Sukadana.944 287 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44. PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.980 41. Tambahan transmisi baru dari tahun 2016 s. A2.9.457 .655 49.

3 Total 2.9 15.3 17.6 56.7 38.3 2.4 18.5 10.2 35.5 % di tahun 2014 untuk regional Kalimantan Barat.725 4.7 4.5 5. gardu distribusi USD 56 juta dan sambungan pelanggan USD 34 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 36 juta.2 4.0 36.8 19.10 Program Listrik Perdesaan Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348.3 2.8 26.125 4.2 18.7 44.1 11.7 Trafo 7.623.3 38.PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM JTR 10.0 9.0 10.5 4.3 5.3 645.525            1.6 364.375 288 Listrik murah 875 .0 2.7 160.1 41.7 12.6 25. untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 364 juta (JTM USD 161 juta. JTR 3.3 % tahun 2010.2 19.0 167.3 5.3 2.0 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 20112020 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 1.509.381 kms.6 2.9 11.7 44.4 Pelanggan 4. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.4 197 62 47 47 5.9 32.1 4.6 11.6 590.2 17.8 13.3 18.0 JTR kms Trafo MVA Unit Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 221. JTR USD 113 juta.2 113. menjadi 66.0 468.9 4.4 2.6 7.8 3. A2. • Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 58.1 13.4 3.0              353             14.5 511.9          17.8 6.1 33.944 kms.2 10.6 5.6 7.0 182.5 2.5         1. kapasitas gardu distribusi 540 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 464 ribu pelanggan.7 7.

624 kms.108.5 91.0         445.5 258. JTR Rp 278.4 76.983.9         277.8 milyar. gardu distribusi Rp 30.992.8 7.8 6.11.3 108.1       22.375.8 23.416. transmisi dan gardu induk sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.0 milyar.0 milyar.500.510 kms.0                 ‐         776. 289 .5 JTR Trafo Pembangkit 54.099.996. halaman 96.875.500.9 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Barat tahun 2011-2014 diatas.909.802.281. pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 22.081.391.395.4 7.0 Pelanggan Total 166.4 8.8 46.1 22.808. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.0 274.120.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit. Kapasitas gardu distribusi 17 MVA.3 milyar (dengan rincian JTM Rp 445.817.12.5 milyar).3 159. JTR 1.4 156. untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 776.0        29.966.Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 82. A2. A2.909.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4. dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 1.796.

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 290 .

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG A8. PROVINSI SUMATERA UTARA A5. PROVINSI LAMPUNG A13. PROVINSI KEPULAUAN RIAU A7.RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT A3. PROVINSI BENGKULU A12. PROVINSI RIAU A6. PROVINSI SUMATERA BARAT A9. PROVINSI JAMBI A10. PROVINSI KALIMANTAN BARAT 291 . PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM A4. PROVINSI SUMATERA SELATAN A11.

Banda Aceh dan Aceh Besar.1 Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 292 . Bireuen. Lhokseumawe. Langsa. Pidie dan Pidie Jaya. dengan posisi pembangkit semua berada di Sumut.LAMPIRAN A. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV.1. Gambar A3.1. Aceh Timur. Saat ini daerah yang sudah dipasok sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui 7 gardu induk yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang. Peta sistem kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ditunjukkan pada Gambar A3. Sekitar 71% dari sistem kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sisanya 29% dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM A3. Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok oleh PLTD berbahan bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV.

2 KIT-PLTD // 20 KV= 15 MW 20 3 Lhokseumawe a.7 293 . Aceh Selatan. Aceh Singkil. Alur Bate. Kota Sabang dan Simeulu terdapat genset sewa dengan kapasitas total 53 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut. Tualang Cut 10 c. Aceh Barat Daya.9 KIT-PLTD // 20 KV= 57. Kota Subulussalam. Juli Bireun 30 30 4 Langsa a.2 KIT-PLTD // 20 KV= 70 MW 44. Rincian kapasitas GI dan pembangkit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3. Aceh Tenggara. Bayu Keterangan 60 2 Sigli a. Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya. Idi 30 Jumlah 10 85.1 Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2010 Nama No Gardu Induk Kapasitas Trafo (MVA) Peak Load #1 #2 #3 1 Banda Aceh a. Lambaro 30 30 30 10 30 30 b.1 dan Tabel A3. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa genset sebesar 150 MW di 4 lokasi. Tijue (MW) 10 390 239.9 MW 28.Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan pemadaman karena jumlah kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai cadangan daya yang cukup. Gayo Lues.4 KIT-PLTD // 20 KV= 20 MW 81. Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah 390 MVA. Pemadaman dalam skala besar bisa terjadi apabila ada gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit pembangkit berkapasitas besar. Alur Dua 30 b. Nagan Raya. Tabel A3. Aceh Barat.2.

Air 4 Blangkejeren PLTD HSD PLN 5 3 5 Meulaboh PLTD HSD PLN 46 23 6 Calang PLTD HSD PLN 6 5 6 Sinabang PLTD HSD PLN 7 4 7 Blang Pidie PLTD HSD PLN 16 9 8 Tapaktuan 9 Subulussalam 10 Isolated Kepulauan Total B PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD PLN PLN PLN 7 19 2 282 4 12 1 172 Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang telah mencapai sekitar 325 MW sebagian besar dipasok dari pembangkit-pembangkit yang berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan Brandan – Langsa – Idie – hingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 230 MW dan sistem isolated tersebar rata-rata 85 MW. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2010 No Nama Pembangkit A Sistem Interkoneksi 150 KV 1 Banda Aceh Bahan Bakar Pemilik PLTD HSD PLN 22 86 Swasta PLN 45 14 81 Swasta 70 PLN 8 Swasta 20 PLN 0 Swasta 15 Genset Sewa 2 Lhokseumawe PLTD HSD Genset Sewa 3 Sigli PLTD HSD Genset Sewa 4 Langsa Daya Beban Mampu Puncak (MW) (MW) Jenis PLTD HSD Genset Sewa Total A 28 44 194 240 13 13 B Sistem Isolated 1 Takengon 2 Sabang 3 Kutacane PLTD HSD PLN PLTD HSD PLN 7 4 PLN 14 9 PLTD. Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih tinggi.238/kWh karena masih dioperasikannya banyak PLTD. PLTM HSD. 294 . baik di sistem interkoneksi maupun sistem isolated.2.Tabel A3. yaitu Rp 2.

9% dan tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh sekitar 13.3. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.3.A3. Penjualan pada tahun 2010 tumbuh hinggga 16. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.2. Hal tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi AcehNias pada tahun 2006 s/d 2010. Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 16. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2010 No 1 2 3 4 Kelompok Tarif Rumah Tangga Komersil Publik Industri Jumlah Energi Jual (GWh) 960.9 14.7 267. Tabel A3.4.492 GWh pada tahun 2010.1 1.491. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada Tabel A3. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari 272 MW pada tahun 2009 menjadi 299 MW pada tahun 2010. dimana penjualan pada tahun 2006 sebesar 839 GWh telah meningkat menjadi 1.0 100. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal penting dalam pemulihan ekonomi Aceh. Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 961 GWh (64%).7 3.4 17.5 44.6 219. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik.9 Porsi (%) 64. 295 . kemudian sektor bisnis sebesar 268 GWh (18%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.4% per tahun.8%.0 Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.

619 1.068. 296 .024 12.448 1.402 2.313. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.246.349. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan pembangunan sarana pembangkit.9% Produksi (Gwh) 1.798 1.252 3.855 2.105 1.0% Pelanggan 1.920 1.904 4.727 3.2% A3.206 2.029. Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.869 5.698 1.084 3.842 3.3.184.515 5.508 2.214.936 2.044 4. Disamping itu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga terdapat cadangan gas.111 2.089 1.4. namun sudah dieksploitasi dan saat ini sudah jauh berkurang.2.149. transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.208 3.552 1.368 4.476 3.108. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersedia cukup besar.Tabel A3.482 MW dan cadangan batubara 1.279.7 miliar ton. yaitu panas bumi 589 MW.687 1.409 11.254 1. tenaga air 1.609 4.7% Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 11.

2. 297 .5.102 MW dan pada sistem isolated dengan daya sebesar 65 MW dengan rincian diberikan pada Tabel A3.Gambar A3. Peta Sumber Energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pengembangan Pembangkit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2020 diperlukan pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya sebesar 1.

Blang Pidie 4 MW dan Sinabang 3 MW.4 Peusangan 1-2 Lho Pria Laot Seulawah (FTP2) Peusangan-4 Jaboi (FTP2) Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTG PLTGB PLTG PLTGB PLTGB PLTM PLTM PLTG PLTU PLTA PLTP PLTP PLTA PLTP PLN PLN Swasta PLN PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 220 14 66 6 120 8 8 10 1.5 70 400 88 7 55 83 10 1167 COD 2012 2012 2012-13 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2015-16 2016 2017 2017 2018 2019 Pembangunan PLTP Seulawah 55 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan WKP PLTP Jaboi di Sabang 10 MW sudah dilelang oleh Pemko Sabang. Blang Keujeuren 2 MW. Kutacane 6 MW. Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini. Calang 4 MW. Kuta Fajar 2. Mengingat daya pembangkit pada sistem interkoneksi Sumut – Aceh belum seimbang dengan demand yang ada. Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok penyediaan listrik di sistem kecil isolated akan dibangun PLTU skala kecil di Tapak Tuan 2x7 MW. PLTGB di Sinabang 6 MW. Langsa 15 MW. Sigli 20 MW.2 (FTP1) Tapaktuan Aceh Aie Tajun / Sinabang Lhokseumawe Sabang (FTP2) Singkil Meulaboh Takengon Aceh Timur Meulaboh #3. dan Sabang 8 MW. Sabang 2 MW. sebagai berikut: Banda Aceh 45 MW. Singkil 8 MW. PLTG Lhokseumawe 120 MW. sampai dengan beroperasinya PLTU Nagan 2x100 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV. maka beroperasinya PLTA Peusangan 88 MW. Rimo 7 MW. dan PLTP Seulawah Agam 55 MW sangat penting untuk memperbaiki sistem kelistrikan Aceh. Takengon 4 MW. Rencana Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Proyek Meulaboh #1.Tabel A3.5 MW. Meulaboh 15 MW. Lhokseumawe 70 MW.5. 298 . PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW.

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Pembangunan GI baru untuk mengevakuasi energi listrik dari pembangkit skala besar dan dari hasil perkiraan pertumbuhan dan capacity balance per gardu induk.250 MVA sampai dengan tahun 2020. Tabel A3. Disamping itu juga akan dibangun GI 275 kV di Aceh dengan total kapasitas 1.6. maka kebutuhan penambahan kapasitas trafo GI di PLN Wilayah Aceh tahun 2011 s/d 2020 untuk pembangunan GI baru adalah sebesar 690 MVA dan extension GI sebesar 660 MVA. Pengembangan GI Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Jantho Meulaboh Panton Labu Blang Pidie Kutacane Sabulussalam Takengon Tapak Tuan Blang Kjeren Krueng Raya Samalanga Ulee Kareng Cot Trueng Lam Pisang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 299 Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 30 30 60 30 30 60 30 120 30 120 690 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2018 .

8.03 2018 1250 87.10. 300 .08 2015 3 Sigli 4 Ulee Kareng 275/150 kV Baru 250 25.2 juta seperti yang ditampilkan dalam Tabel A3.7.98 2015 275/150 kV Baru 500 21.08 2015 275/150 kV Baru 250 20.645 kms (150 kV) dan 452 kms (275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 263.2 Jumlah Pengembangan Transmisi Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2020 adalah 1. Pengembangan Extension GI Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Banda Aceh Sigli Lhokseumawe Langsa Tualang Cut Banda Aceh Idi Sigli Bireuen Jantho Meulaboh Tualang Cut Cot Trueng Panton Labu Samalanga Bireun Subulussalam Tualang Cut Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 60 30 60 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 660 COD 2011 2011 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2018 2019 2019 2019 2020 2020 2020 Tabel A3.9 dan Tabel A3.Tabel A3. Pengembangan GI 275 kV No Nama Gardu Induk Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 1 Lhokseumawe 2 PLTU Meulaboh 275/150 kV Baru 250 20.

Selaras dengan penambahan pelanggan.0 9.0 0.2 60 4 174 40 6 14 22 32 30 20 1645 0. cct.5 2.6 9. diperlukan tambahan pelanggan baru 362 ribu pelanggan atau rata-rata 36. (Sigli-Banda Aceh) PLTU Meulaboh Inc.3 452 101. cct. cct. diperlukan pembangunan JTM 11.7 3. cct. cct. cct.3 1. cct.5 6. 2 Zebra 2 cct.1 1.2 16.10.2 4.9. cct. cct. cct. cct.200 pelanggan setiap tahunnya.1 161.6 0. 301 .Tabel A3.6 7. (Idi-Lhokseumawe) PLTU Meulaboh Takengon Tapak Tuan Kutacane Blang Pidie Sabulussalam Ulee Kareng Inc. Pembangunan Transmisi 275 kV No 1 Sigli 2 Sigli Jumlah Dari Ke Tegangan Lhokseumawe Ulee Kareng 275 kV 275 kV Konduktor 2 cct. (Bireun-Sigli) Blang Kjeren Banda Aceh Inc.1 75.2 9.5 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2016 2016 2017 2018 2018 Tabel A3.3 MVA.5 130 29. cct. JTR sekitar 13.558 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 720. (Bireun-Lhokseumawe) PLTA Peusangan-2 Takengon 2 Pi Inc. cct. cct. 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 322 72.2 di atas. cct.979 kms.3 1. (Sigli-Banda Aceh) Lam Pisang PLTA Peusangan-4 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 cct.3 0. cct. Pembangunan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Jantho Meulaboh Panton Labu Sigli Bireun Blang Pidie Brastagi/Berastagi PLTU Meulaboh Sidikalang Krueng Raya Samalanga Takengon Ulee Kareng Cot Trueng PLTA Peusangan-1 PLTA Peusangan-2 PLTP Seulawah Banda Aceh Takengon Jumlah Ke Konduktor Tegangan Inc.7 COD 2015 2018 Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tersebut di point 2. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Zebra 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 1 60 2 333 126 130 290 190 111. cct.1 10.11. seperti ditampilkan dalam Tabel A3. cct.1 3.

786 13.171 41.469 1. nasional. namun yang akan dikembangkan oleh Pemko Sabang saat ini sebesar 2 x 5 MW yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013 dan 2017.4. 302 . Sistem kelistrikan saat ini dipasok dari PLTD dan genset sewa dengan daya mampu 4. Untuk memajukan Sabang.290 1. Potensi energi panas bumi di Sabang diperkirakan sebesar 70 MW.227 39.447 34. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1. regional dan international.179 34.140 1.578 11.298 1.568 1.000 1.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.061 1.208 1.2 MW dan beban puncak 2.418 33. Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam telah menetapkannya sebagai kawasan industri yang akan menjadi pusat kemajuan ekonomi Aceh.216 1. PENGEMBANGAN PULAU WEH – SABANG Sabang merupakan merupakan kawasan istimewa karena berada pada jalur lalu lintas pelayaran dan penerbangan internasional. PLN juga akan PLTGB 8 MW pada tahun 2013.225 A3. Disamping itu pulau yang eksotis ini juga akan dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Disamping itu untuk menjaga kemungkinan kemunduran beroperasinya PLTP Jaboi. sehingga menjadi salah satu pintu gerbang kegiatan ekonomi Indonesia.598 31.068 1.193 40.11.979 JTR kms 994 1.132 1.291 30. PLN mendorong pembangunan PLTP Jaboi 7 MW oleh IPP dan siap untuk membeli dengan harga yang wajar. Dalam rangka mendukung pengembangan kawasan Sabang oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam. telah dibentuk BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang) dengan harapan dapat menjadi fasilitator dalam pengembangan ekonomi baik skala provinsi.478 1.8 MW.377 1.385 1.Tabel A3.369 35. penyediaan tenaga yang memadai dan handal sangatlah diperlukan. Untuk mempercepat pengembangan Sabang.332 362.673 1.

5.205 Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 5. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.472 .515 5.600 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 396 847 278 328 36 32 180 0 0 2.508 2.044 4.869 5.855 2.368 4.904 4. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A3.A3.206 2.402 2.084 3.097 46 494 240 127 462 455 217 251 101 78 2.936 2.12.476 3.698 1.111 2.727 3.167 GI (MVA) 90 120 240 300 930 60 30 650 90 90 2.478 Pembangkit (MW) 303 0 278 176 70 200 288 62 83 10 0 1.409 34.208 3.591 Produksi Energi (Gwh) 1.12. Tabel A3.842 3.609 4. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.024 31.

146 MVA. Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan Labuhan Angin. PLN Wilayah Sumatera Utara melakukan demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban. Pulau Tello dan Pulau Sembilan yang beroperasi secara isolated). ada beberapa PLTMH yang memasok listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW. Jumlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2. Saat ini beban puncak sekitar 1. Teluk Dalam. yaitu membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru. Disamping pusat-pusat pembangkit di atas. 304 .1. Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban.4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA UTARA A4. maka pada saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir.1. Untuk menanggulangi pemadaman yang berkepanjangan. Peta kelistrikan sistem Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4. Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan beban puncak. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem transmisi 150 kV (tidak termasuk Pulau Nias / Gunung Sitoli. Sektor Pembangkitan Medan.339 MW dan dipasok oleh Sektor Pembangkitan Belawan.LAMPIRAN A.

Morawa 2 ACSR 2 x 430 mm Galang 10 km ‐ 2012 PLTD Titi Kuning 6 x 4.5). Namun pasokan tenaga listrik (pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu (derating capacity) karena umur pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit baru yang relatif kecil.2013 PLTG BELAWAN 400 MW – 2013 GU U P. Pura PLTG Paya Pasir 90 MW (Total) 11 4 to GI Kutacane (NAD) Binjai 13 2 11 12 ACSR 1 x 240 mm 178 km .85 MW & 12.2) G.4 ACSR 2 x 430 mm2 2 x 200 MW – 2015 80 km .2011 ACSR 2 x 430 mm2 11 km ‐ 2013 ACSR 1 x 240 mm2 15 km ‐ 2013 T.2013 PLTP Sarulla 1 (FTP2) 330 MW – 2014/2015 PLTP Sarulla 2 (FTP2) 110 MW – 2017 Sibolga Labuhan Angin Aek Kanopan PLTA Asahan III (FTP2) 174 MW ‐ 2016 A A P ACSR 2 x 240 mm2 11 km . TaraBintang(2x5).Susu #1. Simonggo(3x3). Rahu‐1(2x4). Secara lebih rinci.U ke GI Langsa (NAD) PLTU P.2013 ACSR 1 x 240 mm2 30 km .85 MW 5 6 Perbaungan 10 7 3 9 1 14 16 8 ACSR 2 x 430 mm2 80 km .2013 Pematang Siantar Namurambe Sei Rotan Kuala Namu Titi Kuning ACSR 2 x 430 mm2 40 km ‐ 2012 Denai ACSR 2 x 240 mm2 17 km – 2013 T.2013 Negeri Dolok PLTM Tersebar Karai‐1(2x5) Karai‐7(2x3.2 (FTP1) 2 x 220 MW – 2012/2013 PLTU P.5).2020 Sidikalang Pangururan 2 Porsea ACSR 1 x 240 mm2 13 km .2013 ACSR 1 x 240 mm2 30 km .2) Karai‐12(2x3.6 km .5).2013 Labuhan Bilik A PLTA Hasang 40 MW ‐ 2017 Dolok Sanggul/ Parlilitan PLTA Asahan I 180 MW ‐ 2010 Asahan I Simangkok Tele Salak PLTMH tersebar Parlilitan (3x2.Lae‐Kombih2(2x4) 2 CU 1000 KIM 10 km ‐ 2015 Paya Geli Kualatanjung D Renun to GI Sabussalam (NAD) A Brastagi PLTA Renun 2 x 41 MW G Lamhotma Glugur Binjai PLTU Sewa Kuala Tanjung 3x120 MW – 2013 ACSR 2 x 240 mm2 15 km . Pakkat(2x5).2014 Panyabungan Edit September 2011 Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G PLTU D PLTD PLTG A PLTA PLTGU P PLTP Kit Eksisting Kit Rencana GU P ke GI Payakumbuh (Sumatera Barat) AC PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA UTARA Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV PLTP Sorik Merapi (FTP2) 240 MW – 2018 S 23 R 1 km x 2 .2 40 01 mm 7 2 PT PLN (Persero) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc Gambar A4. Hutaraja(2x2. Susu #3.2 km ‐ 2012 Labuhan G PLTG Glugur 19.Lae‐Ordi‐ 2(2x5).14 MW Kisaran ACSR 4 x 282 mm 200 km .5 MW U A PLTU Labuhan Angin 2 x 115 MW ke GI Bagan Batu (Riau) Gunung Tua PLTA Sipan 17 MW & 33 MW Padang Sidempuan ACSR 1 x 240 mm2 70 km – 2013 ACSR 2 x 430 mm2 300 km .2019 ACSR 1 x 240 mm2 25 km .2013 ACSR 1 x 240 mm2 40 km ‐ 2014 Galang P ACSR 1 x 240 mm2 33 km .2017 A A PLTA Simonggo – 2 86 MW – 2017 P ACSR 1x 240 mm 2 km . Brandan PLTA Wampu 45 MW – 2014 Belawan G PLTGU Belawan 395.2016 Asahan III A ACSR 1 x 240 mm2 7 km .1.3 MW & 422.5) Perbaungan GIS Listrik D ACSR 2 x 430 mm2 159 km . Rahu‐2(2x2.1.2013 ACSR 1 x 240 mm2 65 km – 2012 Rantau Prapat Kota Pinang Tarutung P PLTP Sipoholon Ria-Ria Sarulla 55 MW – 2019 ACSR 2 x 430 mm2 69 km . Peta Kelistrikan Sumatera Utara Penjualan tenaga listrik PLN di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonominya.7) Karai‐13(2x4.2013 U Tebing Tinggi 15 A 2 Paya Pasir Mabar PLTU Belawan 4 x 65 MW ACSR 2 x 240 mm2 6.Para A PLTP Sibayak 10 MW ACSR 1 x 240 mm2 55. kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4.2018 PLTP Simbolon Samosir 2 x 55 MW – 2019 2 ACSR 2 x 430 mm2 97 km . 305 .2013 PLTMH tersebar Lae‐Ordi‐1(2x2.

5 0.2 1.8 50.084 Daya Mampu (MW) 1.2 ST 2.4 1.4 5 6 7 1-6 - 1975 1967 2008 1976 1978 1983 2008 1976 2008 2008 1.3 0.2 ST 1.0 80.#1 2 PT Growt Sum.822 .0 82.2 3.2 1.2 1.9 0.1 GT 1.7 50.0 210 210 205 10 180 8 8 25 6 9 10 1.2 1.2 - 2008 2010 2010 2010 - 2009 2010 2011 306 Kapasitas Terpasang (MW) 1.5 1.2 1.#2 3 PT Growt Asia TOTA L Unit Tahun Operasi 1.2 1.Tabel A4.8 0.5 0.0 230 230 206 11 180 8 8 25 6 9 10 2.1 GT 2.0 - 1984 1989 1993 1988 1995 1995 1994 1994 - 1 2 3 1.0 GT 2.8 0.2 1.183 130 130 118 129 149 130 130 163 105 300 20 13 12 29 40 21 22 34 25 20 65 139. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2010 No.3 0.2 1 1 1.2 2008 1.2 3.2 1994 1987/88 1987/88 1987/88 1989 1987/89 1988 1987 2003/04 2005/06 1.4 1.033 90 105 105 115 120 130 130 133 105 213 0 0 11 0 33 17 18 34 18 18 65 136.1 0.2 1 1.5 0.1.7 0. Pembangkit A Sektor Pembangkitan Belawan 1 PLTU Belawan PLTU Belawan 2 PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan 3 PLTG Belawan TTF B Sektor Pembangkitan Medan 1 PLTG Glugur PLTG Glugur PLTG Glugur TTF 2 PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir TTF PLTG Paya Pasir TTF 3 PLTD Titi Kuning 4 PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta) 5 PLTD Sewa Belawan (AKE) C Sektor Pembangkitan Pandan 1 PLTMH Batang Gadis 2 PLTMH Tonduhan 3 PLTMH Kombih I 4 PLTMH Kombih II 5 PLTMH Boho 6 PLTMH Aek Raisan 7 PLTMH Aek Silang 8 PLTMH Aek Sibundong 9 PLTA Sipansihaporas 10 PLTA Lau Renun D Sektor Pembangkitan Labuhan Angin 1 PLTU Labuhan Angin E IPP 1 PLTP Sibayak 2 PLTA Asahan I 3 PLTMH Parlilitan 4 PLTMH Silau II F Excess Power 1 PT Growt Sum.4 GT 1.

PLTD PLN . GIS Listrik dan GI KIM.920 700 700 33.PLTD PLN . Tabel A4.PLTD Sewa . misalnya GI Titi Kuning.Sedangkan kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung Sitoli.380 5. Pembangkit Sistem Isolated per 2010 No Daya Terpasang Mampu (kW) (kW) Lokasi PLTD 1 Gunung Sitoli .920 6. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.2.850 4.225 8.903 400 400 20.650 14.320 Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari seluruh demand di provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi.070 5.605 1.000 3. Pulau Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4. Situasi ini telah diketahui oleh PLN dan direncanakan penanggulangannya dalam RUPTL ini.2.2. 307 . Dengan adanya pembangunan KIM 3 (Kawasan Industri Medan tahap tiga) diperlukan penambahan GI baru untuk mengurangi beban lebih pada beberapa GI.500 24.3.Teluk Dalam (Pulau Nias). Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang tegangannya terlalu rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang (sampai 200 km dari gardu induk).598 4. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.PLTD PLN Total PLTD Pulau Tello Total PLTD Cabang Nias 12.178 5.650 4. A4. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada Tabel A4.700 4.PLTD Sewa Total PLTD Gunung Sitoli 2 Teluk Dalam .PLTD Sewa Total PLTD Teluk Dalam 3 Pulau Tello .

921 8.899 2.631 15.935 3.484 1.942 2.257 7. Daftar Potensi PLTA > 10 MW No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Perkiraan Kapasitas Pengembang COD (MW) Asahan 3 2015 PLN 174 Wampu 2016 IPP 84 Asahan 4-5 2017 PLN 60 Simanggo-2 2018 PLN 59 Bila-2 2019 PLN 42 Kumbih-3 2019 PLN 42 Sibundong-4 2019 PLN 32 Lake Toba 2020 PLN 400 Ordi-3 2020 PLN 18 Ordi-5 2020 PLN 27 Raisan-1 2020 PLN 26 Siria 2020 PLN 17 Toru-2 (Tapanuli Utara) 2020 PLN 34 Toru-3 (Tapanuli Utara) 2026 PLN 228 Nama 308 .869 3.721 9.915.9% A4.825 3.367.041 3.928 3.750 1. transmisi. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik cukup besar dalam bentuk tenaga air dan panas bumi.226 13.9% Pelanggan 2.212 12.489.3.250 13.068 2.748.331 14.3.642 9.998 8.991 9.208 2.388 14.612 1.451 2.907 8.2% Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Produksi (Gwh) 7.919 3.537 15.251 2. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.134.669 2.681 3.032.853 17.281 3. Namun provinsi ini tidak mempunyai potensi batubara sedangkan sumber gas alam telah mengalami penurunan.4 dan Tabel A4.797.Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.258 11. GI dan distribusi sebagai berikut.8% Beban Puncak (MW) 1.363 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sales (Gwh) 7.4.5.248.421 10.Tabel A4.676.320 11.616.210 12. Tabel A4.289 8.487 10.

Apabila proyek tersebut layak secara teknis.0 8.7 6.5 PT Nubika Jaya 15.Evergreen Paper Int 2. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.5.6 Daftar Potensi Panas Bumi Lokasi Panas Bumi Keterangan Potensi (MW) Sarulla & Sibual Buali Sibayak/Lau Debuk-Debuk Sorik Merapi Sipaholon G.0 7.0 7.0 9.4 6.0 10.0 10.0 10.2 5.2 5. potensi panas bumi yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.5 10.0 10.0 7.3 10.6 LOKASI Tobasa Humbahas Humbahas Dairi Pakpak Barat Pakpak Barat Taput Simalungun Simalungun Simalungun Simalungun Pakpak Barat Humbahas Tapteng Tapteng Langkat Humbahas Humbahas Dairi COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 NO 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 II 1 2 3 4 5 NAMA PEMBANGKIT DAYA (MW) 8.0 3. Sinabung Pusuk Bukit Simbolon Existing / Expansion Existing / Expansion High Possibility Low Possibility Tidak cukup data Tidak cukup data Tidak cukup data 660 160 500 50 - 309 Dibatasi Oleh Taman Nasional Demand (MW) (MW) 630 630 40 40 100 100 50 50 - . Tabel A4.0 8.0 8.5 Total 137. Tabel A4.0 6.6 7.0 PT Victorindo Alam Lestari 8.0 10.0 Sidikalang 1 Sidikalang 2 Simbelin 1 Simonggo Sei Wampu 2 Lae Kombih 4 Aek Sisiran Aek Rambe Batang Toru 3 Batang Toru 4 Total IPP EXCESS POWER PT. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).0 Total Excess Power 59.0 10.0 7.0 PTPN III Sei Mangkei 3.6. Daftar Potensi PLTM < 10 MW NO I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 NAMA PEMBANGKIT IPP Parluasan Huta Raja Pakkat 1 Lau Gunung Lae Ordi Lae Kombih 3 Batang Toru Karai 1 Karai 7 Karai 12 Karai 13 Lae Ordi 2 Tara Bintang Raisan Huta Dolok Raisan Naga Timbul Sei Wampu 1 Rahu 1 Rahu 2 Sidikalang 1 DAYA (MW) 4.0 10.0 7.Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.5 LOKASI COD Dairi Dairi Dairi Humbahas Langkat Pakpak Barat Humbahas Humbahas Taput Taput 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 Deli Serdang Simalungun Labuhan Batu Padang Lawas Gunung Sitoli 2012 2012 2012 2012 2014 Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia oleh WestJEC/Direktorat Jendral Minerbapabum tahun 2007.0 9.0 9.0 78.0 PLTU Nias 31.

untuk ditransmisikan ke pusat-pusat beban. Tabel A4. Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera Utara setelah tahun 2020.7.2 (FTP1) Belawan Sumbagut PLTM Tersebar Sumut Wampu Nias Sarulla I (FTP2) Nias (FTP2) Pangkalan Susu #3. Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan energi listrik antar provinsi di Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit utama seperti PLTU batubara. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Proyek Pangkalan Susu #1.262 kms guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan. Selain itu direncanakan pula pengembangan transmisi 150 kV yang merupakan jaringan regional untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan yang lebih terbatas. yaitu untuk mengatasi bottleneck penyaluran daya. PLTP dan PLTA skala besar. Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 2. 310 .7.Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2020 diperlukan pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4. mengevakuasi daya dari pusat 1 Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sumatera pada koridor timur.4 (FTP2) Asahan III (FTP2) Hasang Sarulla II (FTP2) Simonggo-2 Sorik Marapi (FTP2) Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria Pembangkit Peaker Sumut-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTG PLTU PLTM PLTA PLTGB PLTP PLTU PLTU PLTA PLTA PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLTG PLTU PLN PLN Sewa Swasta Swasta PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN Swasta Swasta Swasta PLN Sewa Kapasitas (MW) 440 400 360 154 45 8 330 21 400 174 38 110 86 240 110 55 200 225 3396 COD 2012-13 2013 2013 2013-15 2014 2014 2014-15 2014-15 2015 2016 2017 2017 2017 2018 2019 2019 2020 2020 Pengembangan Transmisi Di Sumatera dalam waktu dekat akan terwujud transmisi 275 kV sebagai tulang punggung sistem interkoneksi Sumatera 1 .

3 2 cct. Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4. cct.4 2 cct.2 1 cct.4 2 cct. 2 Zebra 22 5.0 138 31.7 2 cct.1 2 cct. 2 Hawk 34 2. 1 Hawk 66 3.Brandan-Binjai) Tele Pangururan PLTA Wampu Brastagi PLTU Nias Gunung Sitoli Teluk Dalam Gunung Sitoli GIS Listrik KIM Mabar Glugur Simangkok PLTA Asahan III(FTP 2) Panyabungan PLTP Sorik Marapi (FTP 2) Porsea PLTA Hasang Tarutung PLTP Simbolon Samosir PLTP Sipoholon Ria-Ria 2 Pi Inc.8. 1 Hawk 80 4. (P.5 1 2nd cct. memperbaiki mutu tegangan. serta meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik.7 2 cct. meningkatkan keandalan pasokan. Tabel A4. 2 Hawk 22 1. 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 160 36.9. 1 Hawk 26 1.3 2 cct.2 1 cct.8 dan Tabel A4.8 4 cct. mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu 311 .2 2 cct. 2 Zebra 80 18. 1 Hawk 60 3.8 2 cct. CU 1000 mm2 10 22.4 1354 149.2 2 cct. 1 Hawk 130 7. mendapatkan tegangan pelayanan yang baik dengan membatasi panjang JTM. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV No 1 2 3 4 5 Dari Pangkalan Susu Galang Padang Sidempuan PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Jumlah Ke Binjai Binjai PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Galang Konduktor Tegangan 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 2 2 2 2 2 cct. 1 Hawk 76 4. 1 Hawk 220 12. 2 Zebra 20 4.3 2 cct. 1 Hawk 60 3. cct. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Ke Panjang Biaya (kms) (juta US$) 2 cct.6 2 cct.1 194 43.3 2 cct.5 2 cct.2 Tegangan Galang Namurambe Galang Tanjung Morawa Lamhotma Belawan Dolok Sanggul/Parlilitan Incomer 1 Pi (Tele-Tarutung) Rantau prapat Labuhan Bilik Galang Negeri Dolok Padang Sidempuan Panyabungan Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2) Pangkalan Brandan PLTU Sewa Sumbagut Tebing Tinggi Sei Rotan (uprate) Tebing Tinggi (uprate) Sidikalang Salak Tanjung Morawa Kuala Namu Tanjung Pura Inc. 1 Hawk 20 1.0 160 36. (Tarutung-Porsea) Jumlah Konduktor 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV COD 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2017 2018 2019 Tabel A4.4 2 cct.6 970 218. 1 Hawk 8 0. 1 Hawk 46 2. CU 1000 mm2 10 22. 1 Hawk 30 1.3 COD 2012 2013 2013 2013 2013 Pembangunan Gardu Induk Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani pertumbuhan beban. 1 Hawk 50 2.0 2 cct.2 0. 2 Hawk 30 2. AC3 310 mm2 108 14.pembangkit. cct.9.7 318 71.0 2 cct. cct. menurunkan losses transmisi dan distribusi. 1 Hawk 140 7. 2 Hawk 6.2 2 cct.7 2 cct.

Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.10.10 berikut.11.12.11.470 MVA seperti terlihat pada Tabel A4. 312 . Tabel A4. Rencana Extension GI s/d Tahun 2020 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Binjai Denai Gunung Para Gunung Tua Padang Sidempuan Rantau Prapat Tanjung Morawa Tele Aek Kanopan Brastagi Glugur Gunung Tua Kisaran Labuhan Lamhotma Namurambe Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 30 30 60 60 30 30 60 60 10 60 30 60 60 COD No 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Pematang Siantar Perbaungan Porsea Rantau Prapat Sei Rotan Sibolga Sidikalang Tarutung Tebing Tinggi Paya Pasir Kota Pinang GIS Listrik Tanjung Pura Titi Kuning Paya Geli Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 20 60 60 60 30 30 60 60 30 60 30 60 60 1470 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2017 2017 2018 Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan pada Tabel A4. Rencana Pembangunan GI Baru s/d Tahun 2020 No Nama Gardu Induk Tegangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Galang Labuhan Bilik Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Negeri Dolok Pangururan Panyabungan Salak Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 0 60 10 60 60 30 60 60 30 30 30 430 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 Selain itu diperlukan juga extension banyak GI existing dengan menambah unit trafo hingga tambahan kapasitas seluruhnya mencapai 1.jauh dari konsumen. Tabel A4.

260 1.83 2011 275/150 kV 275/150 kV Baru Baru 0 1000 9.800 kms.00 2013 250 21.414 11.339 1.016 1.718 1.13.158 1.291 2.004 A4.092 918 996 1.13 2012 2013 275/150 kV Baru 500 21.805 JTR kms 1.160 MVA. Rencana Pembangunan GI 275 kV s/d Tahun 2020 No Nama Gardu Induk 1 Binjai 2 Pangkalan Susu 3 Galang 4 Padang Sidempuan 5 Sarulla 6 Pangkalan Susu Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 1000 31.13.Tabel A4.4.640 127.078 1.215 122. seperti ditampilkan dalam Tabel A4.197.160 Pelanggan 125.266 118.538 1.438 1.218 1.353 102. (iii) Rawan gempa dan rawan 313 .850 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.000 pelanggan setiap tahunnya.2 juta pelanggan atau rata-rata 120.587 113.903 2.957 118.238 132. Tabel A4.011 120.88 2013 275/150 kV Baru 500 24.461 1.0 275/150 kV Extension Jumlah Pengembangan Distribusi Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2020 adalah sekitar 1.03 2015 3250 143.538 1. SISTEM ISOLATED NIAS DAN TELUK DALAM Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai kondisi sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera.376 1. diperlukan pembangunan JTM 17.720 116.467 17.378 1.11 35. JTR sekitar 11.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.12. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.076 2. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1. (ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota.

257 7. dan mengingat kondisi pembangkitan sudah tua.468 .612 1.974 Beban Puncak (MW) 1.421 10. Jumlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu.484 1. Pasokan listrik untuk sistem kelistrikan dipasok dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk Dalam. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan tahun 2020 adalah seperti Tabel A4.360 90 250 0 150 60 0 0 5.750 1.250 13. Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias.669 2.907 20.642 9.631 15. maka telah diambil langkah-langkah sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan pembangunan PLTU 3x7 MW (IPP) dan PLTGB 8 MW (PLN).363 1.063 209 666 174 236 240 165 425 3.324 96 457 1.226 13.721 9. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.398 GI (MVA) 1.068 2. A4.5.899 2.072 507 1.921 8.360 880 2.998 8.231 320 504 315 469 496 5.150 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 472 1.326 320 20 22 106 50 8 0 2.14. daya tersambung 35 MVA dengan penjualan mencapai 52 GWh.904 kW.487 10.453 Pembangkit (MW) 314 0 220 1. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya terpasang 28.968 Produksi Energi (Gwh) 7. daya mampu 12.210 12.451 2.14 berikut: Tabel A4.251 2.212 12.960 kW.991 110.331 14.858 kW.289 120. beban puncak 9.320 11. terdiri dari Ranting Gunung Sitoli dan Ranting Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello. (v) Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan. (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit dijangkau.537 15.longsor.258 11.853 17. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 7.388 14.

Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5. Sebagian GI tersebut sudah mengalami overload dan perlu segera dimitigasi. KONDISI SAAT INI Sistem Interkoneksi Pada sistem kelistrikan di Provinsi Riau terdapat 8 gardu induk (GI) 150 kV. Teluk Lembu.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI RIAU A5. Garuda Sakti. dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan Riau masih diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara. dimana 30% (711 MW) berupa PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan kapasitas. Duri. Dengan demikian sistem Riau ikut mengalami defisit daya. Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit. Bangkinang.1. yaitu Koto Panjang. Kapasitas pembangkit PLN di Riau yang tersambung ke grid sebesar 267 MW. Bagan Batu dan Taluk Kuantan. 315 . Dumai.1. dimana 43% dari kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang.LAMPIRAN A. Sistem kelistrikan Riau dipasok dari grid Sumatera sebesar 379 MW.

Kapasitas Pembangkit per 2010 No.Power Sewa Sewa Kapasitas Terpasang (MW) 114 43 8 12 20 40 30 267 Jumlah Sistem Isolated Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu.Gambar A5. 316 . Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan daya mampu 44 MW. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Pembangkit PLTA Koto Panjang PLTG Teluk Lembu PLTD Teluk Lembu PLTD Dumai/Bg Besar PLTG Riau Power PLTD Sewa Teluk Lembu PLTD Sewa Dumai Jenis B. Tabel A5. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV ditunjukkan pada Tabel A5.1. Kabupaten Bengkalis dan Meranti. Bakar Pemilik PLTA PLTG PLTD PLTD PLTG PLTD PLTD Air Gas/HSD HSD HSD Gas HSD HSD PLN PLN PLN PLN PT Riau. Indragiri Hilir.1.1.

2.Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan.2 44. Pekanbaru 2. Cab. Cab.6 37. Tabel A5.8 12.2 2. Daftar pembangkit pada sistem isolated diberikan pada Tabel A5.0 4. Cab.6 18.2. meningkatnya konsusmsi listrik oleh pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan baru) dan kebutuhan sistem isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual beli (kontrak). Cab.0 1.1 2.7 7 23 13 2.7% pada tahun 2006-2010 (tidak termasuk migas) dan kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. A5.3 Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh menurunnya daya mampu pembangkit. Cab.6 16.0 7.6 21.5 32.5 13.0 10 5. Cab.6 3. Pekanbaru 2.0 38.1 4. Pembangkit Isolated per 2010 UNIT MESIN PLN 1. Rengat JUMLAH Daya Jumlah Terpasang Mampu (unit) (MW) (MW) Beban Puncak (MW) 42 80 115 7. Dumai 3. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila ada dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau. Dumai 3. Pekanbaru 2. Dumai 3.0 0 1.8 18. Cab. Rengat JUMLAH MESIN SEWA 1.4 2.1 2. sehingga PLN menyewa pembangkit diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6.1 5. Cab.2 2.3 37. Cab.6 33 41. Rengat JUMLAH MESIN PEMDA 1.9 3 2 2 1.3 1.6-8. 317 .2 1.6 4.2.0 237 83. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Riau.5 4.7 18.1 17.

028 919.7% Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.704 1.090 5. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan.726 5. Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura.253 9. seperti Kawasan Industri Khusus Dumai.3% Pelanggan 801.422 10. Segat di 318 .479 5.663 3.623 1.105. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A5. Buton.401 3.630 859. antara lain Seng.897 6. A5. karena seiring dengan perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.274 3.680 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.923 1.040.169.3.2% Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi.082 5.028 4.302. pertumbuhan listrik di Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi.013 3.687 4.046 4.900 3.366.031 1.968 11.4% Produksi (Gwh) 2. Dari realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.024 10.156 1.3.3.386 4.368 4. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit pada sistem isolated dan sistem interkoneksi 150 kV serta pengembangan jaringan transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan. Kuala Enok dan Tenayan-Pekanbaru. Kawasan Kuala Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru. Tabel A5.726 5.Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat.722 4. ditandai oleh adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten yang telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).472 5.235.772 977.

2 Bengkalis PLTGB Riau Mulut Tambang Jumlah Jenis Pemilik PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTGB PLTU PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Sewa Swasta PLN PLN PLN Swasta PLN Swasta Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau 319 Kapasitas COD (MW) 60 2011-12 100 2012 100 2012 20 2012 6 2012 20 2013 240 2013 14 2013 14 2013 220 2013-14 200 2014 14 2014 24 2015/17/19 600 2016-17 1632 . Bento dan Baru di Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk Lembu.4. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 Proyek Duri 1 (Relokasi) Duri Duri Rengat Selat Panjang Bengkalis (FTP1) Dumai IPP Kemitraan Tembilahan Riau (Amandemen FTP1) Pembangkit Peaker Selat Panjang Baru #1. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV yang memasok sistem Riau. Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi. yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170 MW. Tabel A5. Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas sekitar 1. Namun perlu dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan dapat mempengaruhi potensi debit air. Menurut pra studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air yang cukup besar.732 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5.4.55 juta metrik ton2.kabupaten Pelalawan. Disamping itu terdapat potensi batubarayang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi dengan cadangan 1.

seperti di Melibur Kabupaten Meranti. Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG). Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik.5 dan Tabel A5. Tabel A5. Selat Kabupaten Inhil.6.PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan salah satu proyek percepatan pembangkit 10. termasuk gas skala kecil. Bentu Kabupaten Kampar. Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa Minyak Kabupaten Siak Sri Indrapura. PLTU Riau Mulut Tambang 2x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun 2016 – 2017. hingga tahun 2020 diperlukan pengembangan 14 GI 150 kV baru dengan kapasitas total 600 MVA dan extension GI dengan tambahan kapasitas 730 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem interkoneksi 150 kV.5. Tembilahan Kabupaten Inhil. PLTG Duri dengan kapasitas total 160 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya mengurangi kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan Jambi Merang. Pembangunan GI 150 kV Baru No Nama Gardu Induk Tegangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bagan Siapiapi KID Dumai KIT Tenayan Pangkalan Kerinci Pasir Pangaraian Pasir Putih Rengat GI/GIS Kota Pekanbaru New Garuda Sakti Perawang Siak Sri Indra Pura Tembilahan Kandis Lipat Kain Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 320 Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 60 60 60 120 30 30 30 30 30 600 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 .000 MW tahap 1 yang saat ini sedang tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013.

312 kms (275 kV.6.14 2015 250 kV DC 250 kV DC 500/275 kV Baru Baru Baru 0 600 1000 16.77 2018 2850 151.28 2013 275/150 kV Baru 250 20. Pembangunan GI 275kV.7.8 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A5.7.Tabel A5.08 2015 275/150 kV Baru 0 8. 3 GITET 500 kV di New Garuda Sakti dan Rengat merupakan bagian dari transmisi interkoneksi 500 kV yang merupakan tulang punggung kelistrikan Pulau Sumatera koridor timur. Tabel A5.68 19. serta konverter transmisi HVDC ±250 kVDC yang merupakan bagian dari link interkoneksi Sumatera – Malaysia seperti pada Tabel A5. 321 . 500 kV dan HVDC ±250 kV No Nama Gardu Induk Tegangan 1 New Garuda Sakti 2 Rengat 275/150 kV 3 Riau Mulut Tambang 4 HVDC Switching Station 5 New G. 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana UD$ 510.8 dan Tabel A5.95 36.9.1 Jumlah Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2020 adalah sepanjang 1. Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Gardu Induk Bagan Batu Bangkinang Dumai Duri Garuda Sakti Koto Panjang Teluk Lembu Bangkinang Pasir Putih Duri KIT Tenayan Teluk Kuantan KID Dumai Tembilahan Bagan Batu Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 60 60 80 20 60 60 120 60 30 30 30 30 30 730 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2016 2016 2017 2017 2017 2019 2019 2020 Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi 275 kV dan 500 kV3. Sakti HVDC St.Converter 6 New Garuda Sakti 500 kV 7 Rengat 500 kV Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) Baru 500 24.22 2016 2016 2018 500 kV Baru 500 25.942 kms (150 kV) dan 1.

1 118 15.2 14 1. namun dalam jangka menengah akan dioperasikan sementara dengan tegangan 275 kV.6 14 31. ( G. cct. cct.9 12 1. ( New G.8. cct.10. cct. cct.4 134 10.8 cct. 4 Zebra 440 143.8 230 30. Rupat Selatan Pulau Rupat Utara Rengat Sumatera Landing Point Jumlah Ke New Garuda Sakti New Garuda Sakti Pulau Rupat Sumatra Landing Point Pulau Rupat Selatan Cirenti (PLTU Riau MT) New Garuda Sakti 275 kV 275 kV 250 kV DC 250 kV DC 250 kV DC 275 kV 250 kV DC Panjang Biaya (kms) (juta US$) cct.1 50 2.Tabel A5. Pembanguan Transmisi 275 kV.7 40 3. Pembangunan SUTT 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dari PLTG Duri Bangkinang Dumai Dumai Duri (up rate) Garuda Sakti (up rate) Pasir Putih Pasir Putih PLTU Sewa Dumai Teluk Kuantan Tenayan / PLTU Riau New Garuda Sakti Rengat Rengat Teluk Lembu Tenayan / PLTU Riau Tenayan / PLTU Riau Bangkinang Kandis Pasir Putih Jumlah Ke Konduktor Tegangan Inc.Sakti-Duri) Pangkalan Kerinci Tembilahan GIS Kota Pekan Baru Perawang Siak Sri Indra Pura Lipat Kain Inc. 2 Zebra 110 24. 500 kV dan HVDC ± 250 kV No Dari 1 2 3 4 5 6 7 Payakumbuh Rengat Border P. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.9 10 2. cct.1 1942 196. cct.0 Cable MI with IRC 10 9. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.6 56 3. cct. cct.000 sambungan pada tahun 2011 untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%. cct. cct. 2 Cardinal 60 2.8 cct.5 70 3.2 Konduktor Tegangan 2 2 2 2 2 2 2 COD 2013 2015 2016 2016 2016 2016 2016 Transmisi Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti akan dibangun dengan desain tegangan 500 kV karena pada jangka panjang akan merupakan bagian dari sistem transmisi 500 kV.Sakti-Duri) Pasir Pangaraian Bagan Siapi api KID Dumai Dumai (up rate) Duri (up rate) Garuda Sakti Pangkalan Kerinci Dumai Rengat Pasir Putih Inc. diperlukan 322 .8 100 5. cct.2 228 12.6 220 16. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 780 ribu pelanggan sampai dengan 2020. 2 Cardinal 340 14. cct. 2 Zebra 300 67.6 Cable MI with IRC 52 51. cct. cct. PLN berencana untuk menyambung hingga 216.Sakti-Duri) Teluk Lembu 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 cct. cct.8 35 7. cct. cct. 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk AC3 310 mm2 AC3 310 mm2 2 Zebra 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Zebra AC3 310 mm2 2 Hawk 1 Hawk CU 1000 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk AC3 310 mm2 2 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 22 1.8 55 12.5 cct. dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 64 ribu pelanggan per tahun. cct.6 cct.7 220 12.9 1312 314.6 COD 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 Tabel A5. 2 Pi (G.1 194 14.8 120 6.

454 Pelanggan 216.10.626 A5. Jalur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. JTR sekitar 7.151 62. 323 .454 MVA.pembangunan JTM 6. Peta Pulau Rupat ditampilkan pada Gambar A5.549 780. seperti ditampilkan dalam Tabel A5.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.4. SISTEM KELISTRIKAN PULAU RUPAT Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang istimewa karena kedekatannya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia.743 58. Pulau ini sangat indah dan berpotensi menjadi tujuan wisata yang akan sangat diminati. Tabel A5.595 kms.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.595 JTR kms 1.003 57.10.548 63.649 65.476 67.399 60.700 64.610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.610 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 3.408 64. Pulau ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai yang telah dirancang sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau Sumatera.2. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.

Rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Rupat adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut. 324 . Sistem distribusi listrik berupa JTM sepanjang 69 kms. gardu distribusi 36 unit.11.Gambar A5. Peta Pulau Rupat Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 3. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera dan Malaysia.2.600 kW namun daya mampunya hanya 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi hingga tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5. 878 kVA.195 kW dengan beban puncak 841 kW.5. JTR 92 kms. A5.

024 7. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.472 5.013 3.479 5.968 42.082 5.687 4.090 5.726 5.500 60 30 4.726 5.401 3.Tabel A5.632 GI (MVA) 60 280 770 270 310 780 120 1.646 .046 4.180 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 22 0 1.386 4.274 3.368 4.900 3.897 6.028 4.584 516 560 572 0 0 0 0 3.663 3.864 Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.254 76 211 535 414 234 570 435 96 44 32 2.486 Produksi Energi (Gwh) 2.363 Pembangkit (MW) 325 40 246 398 324 12 300 306 0 6 0 1.422 45.722 4.11.

Bintan. Kabupaten Bintan.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk. 326 . Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang. Kabupaten Karimun.LAMPIRAN A. dengan 95% dari wilayahnya merupakan lautan. dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot project pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan Pemerintah Singapura.1. dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari 2. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di Kepulauan Riau (Batam. Batam.6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (tanpa BATAM) A6. Kabupaten Natuna. KONDISI SAAT INI Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah timur dan juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah Asia Tenggara. Provinsi Kepulauan Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi Republik Indonesia dimasa depan.

327 . Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup dan andal terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Sistem Tanjung Pinang dipasok dari PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang 43 MW dan untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan 20 kV.1.1.7 MW dan daya mampu 65. Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit kecil tersebar dengan kapasitas total 90.9 MW seperti terlihat pada Tabel A6. Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang yang melayani 3 daerah administrasi.Gambar A6. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama yang erat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia usaha. Kotamadya Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan. KEK ini nantinya merupakan simpul-simpul dari pusat kegiatan ekonomi unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang berdaya saing internasional. yaitu Provinsi Kepulauan Riau.

0 11. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.6 0. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7.9 55.7 65. Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2011-2020 Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. 328 .9 65.8 0.7 Sewa 3 9.2.0 10. A6.1. Pembangkit Isolated per 2010 Daya Terpasang (MW) Daya Mampu (MW) Beban Puncak (MW) 136 80. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem isolated dilakukan dengan sewa pembangkit.Tabel A6. baik karena gangguan mesin pembangkit maupun usia. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Kepulauan Riau.4 Pemda 5 0.5 Pemilik PLN Jumlah (Unit) Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah berlangsung beberapa tahun terakhir. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya mampu mesin pembangkit. meningkatnya pertumbuhan pemakaian tenaga listrik alami. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A6.4 Total 144 90.53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas) dan diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.3 53.2.

transmisi dan distribusi sebagai berikut.930 153.266 167. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat cadangan gas yang sangat besar.111 1.175 248.2.255 1.249 11.945 197. Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil.950 286.645 214.0% Pelanggan 139. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.211 231. di West Natuna Basin terdapat potensi gas alam sebesar 51.185 1. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.3.034 1.6% Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 10.323 10.119 1.0% Produksi (Gwh) 582 642 715 816 925 1.46 TCF.Tabel A6.3.049 1.103 181.663 266.062 9.185 1. Pengembangan Sarana Kelistrikan Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM. 329 . Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem isolated.4% A6. yaitu 222 TCF dan 500 juta barel minyak.

Tabel A6. Karimun #3.4 Tanjung Batu Baru Tanjung Pinang 2 (FTP2) Tanjung Pinang 3 TB.4. Karimun (Terkendala) TB.5.4. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Proyek TB. diperlukan pengembangan transmisi 150 kV sepanjang 258 kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21. 330 . Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Air Raja Kijang Sri Bintan Tanjung Uban Pulau Ngenang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 60 10 220 COD 2013 2013 2013 2013 2013 Selain itu diperlukan juga extension GI dengan menambah unit trafo 150/20 kV kapasitas 60 MVA pada tahun 2015 di GI Tanjung Uban.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A6.3.Tabel A6. Karimun-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTGB PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta PLN PLN Kapasitas (MW) 14 8 9 14 14 30 14 14 14 30 30 20 211 COD 2011 2012 2012/18 2013 2013-14 2014 2014 2014-15 2015 2015 2019-20 2019-20 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi di Pulau Ngenang seperti diperlihatkan pada Tabel A6.2 (FTP1) Tanjung Batu (FTP2) Dabo Singkep Natuna Tanjung Uban Tanjung Pinang 1 (TLB) TB. Karimun #1.

487 18.566 16.837 14.875 kms. cct.Tabel A6.113 169.335 13.1 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup banyak seperti pada tabel A6. Tabel A6.940 pelanggan setiap tahunnya. cct.272 13. sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan sistem Batam melalui kabel laut 150 kV. baik peak maupun baseload.3 60 3.700 16. cct.876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2.964 17. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 169 ribu pelanggan sampai dengan 2020 atau rata-rata 16.287 19.3.3 258 21. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.8 70 3. Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk menggantikan peran PLTD di sistem Bintan.6 berikut. Interkoneksi ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan yang jauh lebih besar.9 6 2.164 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 900 MVA. JTR sekitar 2. diperlukan pembangunan JTM 1. cct.2 12 4.6. seperti ditampilkan dalam Tabel A6. dengan transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah.1 60 3. Pembangunan SUTT 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Air Raja Pulau Ngenang Sri Bintan Tanjung Kasam Tanjung Sauh Tanjung Taluk Tanjung Uban Jumlah Ke Konduktor Tegangan Kijang Tanjung Taluk Air Raja Tanjung Sauh Pulau Ngenang Tanjung Uban Sri Bintan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 cct. cct.842 15. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.164 331 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.5.4 10 1.404 . Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. cct. 1 Hawk 3 x 300 mm2 1 Hawk 3 x 300 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 40 2.

Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3. Peta Pulau Natuna Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong.355 kW. Korea dan Taiwan.7.450 kVA. 332 . Kabupaten ini terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir A6.A6.5. Gambar A6.4 kms dengan jumlah gardu 29 unit dan kapasitas terpasang 2.2.2. Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna berupa penambahan PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. Jepang. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A6. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. A6. SISTEM KELISTRIKAN NATUNA Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan Laut Cina Selatan seperti terlihat pada Gambar A6.3. daya mampu 2.4.845 kW dan beban puncak 2.080 kW. Sistem distribusi berupa SUTM sepanjang 57.

676 Pembangkit (MW) 333 14 14 21 58 51 0 0 3 25 25 211 GI (MVA) 0 0 220 0 60 0 0 0 0 0 280 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 0 258 0 0 0 0 0 0 0 258 44 21 87 126 114 11 11 14 58 57 544 .185 1.028 Produksi Energi (Gwh) 582 642 715 816 925 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.049 1.249 9.119 1.255 1.Tabel A6.588 Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 1.034 1.111 1.7.185 1.323 9.

Gambar A7. Pembangkitpembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV. yaitu: PLTD Pilang. Babel Saat Ini 334 . yaitu: PLTD Merawang. Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV. PLTD Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP). PLTD Koba.1. dan PLTU Listrindo (Biomassa). PLTD Mentok. PLTD Toboali. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan menjadi dua sistem kelistrikan yang terpisah yaitu: 1. Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan pada Gambar A7.1.1. Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa. Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP.LAMPIRAN A.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG A7. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. 2.

termasuk pembangkit rental dan IPP dengan daya mampu sebesar 46.6 MW dengan daya mampu sebesar 99. Tabel A7. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2010 A7. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan. Salah satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik. Total kapasitas terpasang adalah 144.1 memperlihatkan komposisi sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung.2. Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Provinsi Kep. sehingga sangat diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban. Tabel A7.Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh dari pembangkit dengan bahan bakar HSD.25 MW. antara lain pada tahun 2010 adalah Visit Archi Babel dan Babel Benderang. menggantikan mesin-mesin yang 335 .8 MW.1.

2% Pelanggan 208. Tabel A7. meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga listrik.6% A7.839 2. gardu induk dan distribusi. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Pengembangan sarana di Provinsi Kep.726 295. Oleh sebab itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di Babel harus didatangkan dari luar wilayah berupa batubara.367 1.2.888 321.458 314.566 1.881 302.417 328.051 8.210 1.3.820 15.277 1.137 16.7% Produksi (Gwh) 747 839 953 1. transmisi.124 308. berikut.071 1.149 266. Potensi Sumber Energi Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat terbatas.086 1.421 1. maka proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung pada tahun 2011–2020 dapat dilihat pada Tabel A7. Pengembangan Pembangkit Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Bangka Belitung sampai dengan tahun 2020 adalah seperti ditampilkan pada Tabel A7.sudah tua. 336 . Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. diperlukan pengembangan sarana pembangkit. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1. Bangka Belitung dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.399 289.2% Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 16.736 237.163 1.605 1. gas dan BBM.3.

3. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Proyek Air Anyer (FTP1) Belitung Baru (FTP1) Belitung-2 / Tanjung Pandan Belitung-3 Mentok Toboali Bangka (FTP2) Bangka IV (Peaker) Belitung-4 Belitung (Peaker) Bangka-3 Bangka-5 Belitung-5 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLN PLN Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN Kapasitas (MW) 60 33 5 17 14 14 60 40 34 20 60 30 17 404 COD 2011 2012-13 2013 2014 2014 2014 2015-16 2015/18 2015/19 2017-18 2018-19 2020 2020 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV di 10 lokasi seperti diperlihatkan pada Tabel A7. 337 . Pembangunan GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Gardu Induk Air Anyir Pangkal Pinang Sungai Liat Dukong Manggar Suge Kelapa Koba Mentok Toboali Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 20 30 30 30 30 30 320 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2014 2014 2016 2016 Selain itu diperlukan juga extension GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dan 70/20 kV hingga total tambahan kapasitas mencapai 210 MVA tersebar dibeberapa GI.4. Tabel A7.4.Tabel A7.

5 946 52.6. cct.4 COD 2011 2011 2012 2012 2014 2014 2016 2016 2018 Peta jaringan 150 kV di Bangka dan jaringan 70 kV di Belitung diperlihatkan pada Gambar A7. cct. cct.8 120 6. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dari Air Anyir Air Anyir Dukong Suge Pangkal Pinang Pangkal Pinang Kelapa Koba Air Anyir/Sungai Liat Jumlah Ke Tegangan Pangkal Pinang Sungai Liat Manggar Dukong Kelapa Koba Mentok Toboali PLTU Bangka Baru III 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.6 120 6.5.6 140 7.4 112 6.2 140 7. 338 . Tabel A7.Tabel A7.3. cct. Pembangunan Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Gardu Induk Sungai Liat Dukong Koba Manggar Pangkal Pinang Air Anyir Dukong Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 210 COD 2015 2016 2018 2018 2018 2019 2019 Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV. cct. diperlukan pengembangan transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 946 kms dengan kebutuhan dana sekitar 52. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 44 2. cct.2 dan Gambar A7.8 120 6. cct. cct.6 100 5.8 50 2.4 M USD seperti ditampilkan pada Tabel A7.6.

Peta Jaringan Sistem Bangka Gambar A7.Gambar A7.2.3. Peta Jaringan Sistem Belitung 339 .

8.226 9.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.4.566 1.277 1.820 11.051 Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 2.944 12. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% pada tahun 2011 akan disambung 58.Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.924 11. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1.645 kms.421 1. Tabel A7.210 1. Gardu Distribusí 151 MVA.080 Produksi Energi (Gwh) 747 839 953 1.258 Pembangkit (MW) 340 60 17 22 45 67 30 10 60 47 47 404 GI (MVA) 120 80 0 60 30 90 0 90 60 0 530 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 156 190 0 240 0 260 0 100 0 0 946 136 74 62 135 79 78 9 82 114 112 881 .605 1.8.624 12.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.000 pelanggan.7.744 kms.367 1. Tabel A7.766 157.345 10. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.163 1.086 1. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.091 11.719 10.839 2. JTR sepanjang 1. diperlukan pembangunan JTM 1. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 158 ribu pelanggan sampai dengan 2020.137 13.468 11.000 pelanggan per tahun.071 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7. Selanjutnya akan disambung rata-rata 13.486 9.7 berikut.594 A7. seperti ditampilkan dalam Tabel A7.

LAMPIRAN A.2012 ACSR 2 x 240 mm2 80 km .1.8 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA BARAT A8.Talang 20 MW – 2019 Bungus ACSR 2 x 430 mm2 117 km (Operasi 150 kV) ACSR 2 x 240 mm2 5 km . 2nd cct – 2012 ACSR 1 x 240 mm2 42 km.2012 Salak Pauh Limo GI/GIS Kota ke GI Teluk Kuantan (Riau) Ombilin U G ACSR 2 x 240 mm2 8 km – 2016 ACSR 2 x 430 mm2 141 km .1.2015 Edit September 2011 GU ke GI Bangko (JAMBI) ke GI Muko-muko (Bengkulu) BENGKULU   Gambar A8. SUMATERA UTARA New Garuda Sakti ke GI Padang Sidempuan (Sumatera Utara) Ke GI New Garuda Sakti (Riau) Koto Panjang PLTA Batang Agam 3 x 3.2011 ke GI Muara Bungo (Jambi) P PLTP Muara Labuh 2 x 110 MW – 2017 Kambang JAMBI PT PLN (Persero) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G PLTU D PLTD GI Rencana PLTG A PLTA PLTGU P PLTP GI Eksisting GI 275/150 kV Renc Kit Eksisting Kit Rencana Sungai Penuh PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA BARAT Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV ACSR 2 x 240 mm2 110 km . 341 .35 MW Kiliranjao Solok Simpang Haru PLTU Ombilin 2 x 100 MW ACSR 1 x 240 mm2 10 km – 2019 Indarung ACSR 1 x 240 mm2 52 km.2 (FTP1) 2 x 112 MW – 2012/2013 ACSR 2 x 240 mm2 90 km .1. 2nd cct – 2012 A Lubuk Alung PIP PLTG Pauh Limo 3 x 21. 2 nd cct . KONDISI SAAT INI Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (diluar kepulauan Mentawai) berasal dari sistem interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (Jambi-SumbarRiau) melalui 14 gardu induk dengan kapasitas total 565 MVA dan beban puncak sebesar 348 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.2017 U PLTU Sumbar Pesisir #1.5 km – 2011 Sungai Rumbai PLTP G. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8. 2nd cct – 2012 PLTA Singkarak 4 x 43.2013 Batusangkar Padang Singkarak Panjang Pariaman RIAU 2 ACSR 1 x 240 mm2 32 km.2013 PLTA Masang – 2 55 MW – 2017 ACSR 1 x 240 mm2 35 km – 2013 P 2 ACSR 2 x 240 mm 17.1.2013 ACSR 2 x 430 mm2 300 km .5 MW A A Simpang Empat 2 P ACSR 1 x 240 mm 52 km – 2020 Maninjau Payakumbuh A Padang Luar A ACSR 1 x 240 mm2 25 km.75 MW ke GI Koto Panjang (Riau) PLTP Bonjol 165 MW – 2019 ACSR 1 x 240 mm 15 km – 2017 PLTA Maninjau 4 x 17 MW ACSR 2 x 430 mm2 150 km .

2 MW. sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk sistem-sistem isolated sendiri dengan beban puncak total sebesar 4.1 MW yang dipasok dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2.Tabel A8. maka Provinsi Sumbar pada saat musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi Riau sebesar ± 150 MW.9 MW. Pembangkit isolated di Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8. Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai. saat ini mempunyai beban puncak 2. Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar 100 MW. Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut mengingat jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah tersebut. Kapasitas Pembangkit di Sistem Interkoneksi Per 2010 No Nama Pembangkit 1 2 3 4 5 Ombilin Pauh Limo Maninjau Singkarak Batang Agam Jenis Bahan Bakar PLTU PLTG PLTA PLTA PLTA Batubara HSD Air Air Air Pemilik PLN PLN PLN PLN PLN Total Kapasitas Terpasang (MW) 200 64 68 131 11 474 Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 348 MW.1. Namun pada musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan kapasitas. 342 . Hal tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat rendah akibat jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir Selatan (±260 km). sebagian Balai Selasa.2. Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang.

2 1.0 0.1 0.3 0. Dari realisasi penjualan tenaga listrik pada enam tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.187 GWh di tahun 2010.1 0.8% per tahun.4 0. Pembangkit di Sistem Isolated per 2010 No Nama Pembangkit Kepulauan Mentawai 1 Sikabaluan 2 Sikakap 3 Sipora 4 Seay Baru 5 Saumangayak 6 Simalakopa 7 Simalepet 8 Tua Pejat Pesisir Selatan 1 Lakuak 2 Balai Selasa 3 Indra Pura 4 Tapan 5 Lunang 6 Salido Kecil Solok Selatan 1 Pinang Awan Jenis Bahan Bakar Pemilik PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTMH HSD HSD HSD HSD HSD Air PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Air PLN PLTM Total Isolated Kapasitas Terpasang (MW) 2.3 0.3.8 0.6 7.4 0.Tabel A8. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.2.4 10. sektor industri (34%).741 GWh pada tahun 2006 menjadi 2.1 0.3 1.6 1.2 0. Indikator penjualan energi listrik yang merefleksikan permintaan tenaga listrik masyarakat meningkat dari 1.2 0. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A8. sektor komersil (13%) dan sektor publik (8%).2.9 2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 5 tahun terakhir adalah 6. 343 . Konsumsi tenaga listrik diserap oleh sektor rumah tangga (45%).5 A8.9 0.

213.Tabel A8. potensi batubara tersebar di Kota Sawahlunto. Menurut informasi dari Kementerian ESDM.6% Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 9.915 3.057 4. 344 . Kabupaten Pesisir Selatan. potensi panas bumi di Sumatera Barat adalah sekitar 908 MW dan berada di Muaralabuh – Kabupaten Solok Selatan dan di Talang .551 3.568 1. Menurut informasi dari Bapeda Sumatera Barat.330 3.131. Kabupaten Solok.219 3.470 2.571 3.387 9. transmisi dan distribusi sebagai berikut. Kabupaten Sijunjung.7% A8.754 5.253 2.418 2.318 4.017. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.171.3.647 2.468 4.242 910.7% Produksi (Gwh) 2.725 3.055.663 1.739 1.913 5.226 5.728 9.265 1.897 1.062 1.093. Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti terlihat pada Tabel A8.243 981.Kabupaten Solok.957 946.916 4.3.4. Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan. panas bumi dan tenaga air.678 4.4% Pelanggan 876.014 3.

8 0.2 MW (2011).5 3.8 13. PLTGB 6 MW (2013) dan PLTGB 3 MW (2020). Sangir Bt. Sumpur Bt.1 5. Sijunjung S.4 2. Tuik Bt. Langir Bt.9 5.4 3. Pengembangan Pembangkit di Sistem Interkoneksi No 1 2 3 4 5 Proyek Sumbar Pesisir #1. Lumpo Bt. Lengayang Bt.1 11. Sijunjung S.1 4. Guntung Bt.6 2.1 6. Bayang Janiah Bt. Kuantan Batanghari ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV ROR RSV Kapasitas (MW) 21. Masang Bt.4. Sijunjung Agam S.Tabel A8.2 4. Air Haji Bt.Gumanti Bt Sikiah RSV ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV Kapasitas (MW) 34. Mahat Bt.1 14. Lawas Bt.8 0.1 7. Sumpur Bt. Muaro Sako Bt. Sinamar Bt.5 dan Tabel A8.5.2 MW. Untuk Kepulauan Mentawai direncanakan pembangkit 9. Sukam Bt.7 1. Mahat Bt. yaitu PLTS 0.2 (FTP1) Masang-2 Muara Laboh (FTP2) Bonjol G.8 2.2 5. Kambang Bt. Palangki Bt. Kampar Kanan Bt. Tabel A8. Sijunjung S. Pasaman Bt. Talang Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTA PLTP PLTP PLTP PLN PLN Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 224 55 220 165 20 684 COD 2012-13 2017 2017 2019 2019 Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada Tabel A8.8 6.6 0.4 22.7 10. Sumani Bt. Lubuk Bt.2 11.5 15.8 17. Rokan Bt. Palangai Bt.7 4.9 3. Kampar Kanan Bt. Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel A8. Sangir Bt.2 8.4 18.7 29.9 0.2 2.6 1. Potensi Tenaga Air No Lokasi DAS Type 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Pasaman Sangir-2 Sangir-3 Sinamar-2 Masang-2 Tuik Lanajan-2 Lubuk-2 Asik Lubuk-4U Sumpur-1U Kampar KN-1 Kampar KN-2 Kapur-1 Mahat-10 Mahat-2U Sumpur-K1 Palangki-1 Palangki-2 Sibakur Sibayang Sukam Kuantan-1 Batanghari-2 Bt.2 Kabupaten/ Kecamatan Pasaman Solok Solok Tanah Datar Agam Pessel Pessel Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota S.9 30. Jalamu Bt. Gumanti Bt.Sibayang Bt.6 2. Tumpatih Bt.1 4.0 Kabupaten/ Kecamatan Slk Selatan Slk Selatan Slk Selatan Dhamasraya Pasbar Pasbar Slk Selatan Pessel Solok Agam Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Tanah Datar S. Sibakur Bt. Sijunjung S. 345 .6 1.4 8. Sijunjung Slk Selatan No Lokasi DAS Type 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Batanghari-3 Batanghari-5 Batanghari-6 Batanghari-7 Fatimah Sikarbau Balangir Landai-1 Sumani Guntung Sungai Putih Kerambil Muaro Sako Induring Palangai-3 Kambang-1 Kapas-1 Landai-2 Sumpur-K2 Lawas-1D Gumanti-1 Sikiah-1 Sikiah-2 Batanghari Batanghari Batanghari Batanghari Fatimah Sikarbau Balangir Bt.0 19. Asik Bt.6 10.6 12.4 6.7 0.Sumpur Bt.6.5 8.6. Sijunjung Solok Solok Solok Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2020 direncanakan pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan transfer energi dengan sistem interkoneksi Sumatera. Kapur Bt. Palangki Bt.2 7.

8.0 3.5 1.7.6.0 2. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Proyek Manggani Gumanti Gumanti Sinamar Sinamar Lubuk Gadang Gunung Tujuh Gunung Tujuh Tarusan Bayang Bayang Muara Sako Sumpur Kambahan Fatimah Sikarban Guntung Jumlah Jenis Pemilik PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 1.6 51.Tabel A8.0 5.4 1.0 3.0 4.0 5.5 2. Pengembangan GI 275 kV Baru No Nama Gardu Induk 1 Kiliranjao 2 Payakumbuh Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 250 19.66 2013 275/150 kV Baru 250 20.4 0. Tabel A8.0 1.17 2013 500 39. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 Nama Gardu Induk Bungus Kambang Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 346 Kapasitas (MVA) 30 30 30 120 210 COD 2011 2011 2013 2016 .6 COD 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2020 berupa 2 buah GI 275 kV dan 4 buah GI 150 kV yang diperlihatkan pada Tabel A8.0 4.7 dan Tabel A8.0 4.1 5.0 5.8.0 3.8 Jumlah Tabel A8.

5 COD 2013 2013 .Selain itu juga direncanakan pengembangan GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dengan tambahan kapasitas total 840 MVA sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A8. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 282 63.5 600 135.11.10 dan Tabel A8. Tabel A8.9. diperlukan juga pengembangan transmisi 275 kV sepanjang 882 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 786 kms dengan kebutuhan dana investasi USD 249.7 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A8.0 882 198.9. Tabel A8. Pengembangan Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Gardu Induk Padang Luar Padang Panjang Pauh Limo Payakumbuh PIP Simpang Empat Solok Salak Maninjau Kiliranjao Payakumbuh Bungus Kambang Simpang Empat Solok Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman Batusangkar GIS Kota Padang Padang Luar PIP Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 30 60 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 30 60 30 60 840 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV. Pembangunan Transmisi 275 kV Baru No Dari 1 Kiliranjao 2 Padang Sidempuan Jumlah Ke Payakumbuh Payakumbuh Tegangan 275 kV 275 kV 347 Konduktor 2 cct.10.

4 32 1.3 16 0.242 kms. 1 Hawk cct.4.715 35.9 20 1. seperti ditampilkan dalam Tabel A8.823 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 471 MVA.205 34.2 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2016 2017 2017 2019 2019 Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.633 39.7 52 1.004 369.420 36.7 35 2. Tabel A8.9 30 1.900 pelanggan per tahun. diperlukan pembangunan JTM 3.12. 2 Hawk 2nd cct. 1 Hawk 2nd cct. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. 2 Hawk cct. 2 Hawk cct.534 A8. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3.12. (Bungus-Kambang) Batusangkar Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Masang-2 PLTP Muara Labuh PLTP Bonjol PLTP Gunung Talang 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 1 1 1 4 1 2 2 2 2 2 2 cct.323 38.075 37. 1 Hawk cct.2 104 7.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3. 1 Hawk 2nd cct. 1 Hawk cct.8 70 5.0 20 0.11. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut. 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 180 13. 2 Hawk cct. JTR sekitar 3.203 38. atau rata-rata 36.1 786 51.13.7 42 1. 2 Hawk 2nd cct. 2 Hawk cct.286 35. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dari Ke Bungus Indarung Kiliranjao Maninjau Padang Luar PLTU Sumbar Pessel Singkarak Kiliranjao PIP/S Haru/Pauh Limo Simpang Empat Sungai Rumbai Payakumbuh Solok Jumlah Konduktor Tegangan Kambang Bungus Teluk Kuantan Padang Luar Payakumbuh 2 pi Inc. 348 .8 25 0.Tabel A8.670 42.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32. diproyeksikan akan terjadi penambahan pelanggan baru sekitar 369 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2020. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A8. 2 Hawk cct.7 160 12.

014 3.057 4. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.468 4.330 3.678 4.418 2.219 3.913 5.551 3.647 2.916 4.915 3.470 2.668 47 203 438 28 27 42 617 33 460 42 1.Tabel A8.936 .226 5.253 2.318 4.550 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 215 171 952 0 0 16 190 0 124 0 1.387 36.176 Pembangkit (MW) 0 112 118 0 0 0 275 0 185 3 693 349 GI (MVA) 60 300 560 30 0 180 150 60 30 180 1.725 3.692 Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 6.13.295 Produksi Energi (Gwh) 2.754 5.728 38.

GI Payo Selincah (2x60MVA). KONDISI SAAT INI Jumlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi Jambi (interkoneksi dan isolated) saat ini sebesar 207 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui saluran transmisi 150 KV dengan 5 GI.9 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI JAMBI A9.1. Peta jaringan distribusi Provinsi Jambi seperti ditunjukkan pada Gambar A9. yaitu GI Aur Duri (2x30 MVA).9 MW seperti ditunjukkan pada Tabel A9.1. Gambar A9. GI Muara Bulian (30 MVA).LAMPIRAN A.1.1. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi Kapasitas pembangkit di Provinsi Jambi adalah sekitar 222. 350 . GI Muara Bungo (2x30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA).

448 2.1.382 6.2. transmisi dan distribusi sebagai berikut.000 2.8% Pelanggan 522.2. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A9. konsumen komersil (24%).144 2.316 1.289 2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Kebutuhan listrik diserap oleh konsumen rumah tangga (62%).3.143 2.141 789.749 1.658 827.152 659.453 1.586 690.8% Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 8.444 1.2.303 2. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.482 9.873 2.Tabel A9. Tabel A9.277 1.783 1.280 555. Kapasitas Pembangkit per 2010 No 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit Jenis Bahan Bakar Pemilik PLTD Payo Selincah PLTD Gas Alam+HSD PLN PLTG Payo Selincah PLTG Gas Alam Sewa PLTG Batang Hari PLTG Gas Alam PLN PLTG Eks Sunyarangi PLTG Gas Alam Sewa PLTD lokasi tersebar Jumlah PLTD HSD PLN Kapasitas (MW) 31 100 62 18 12 223 A9.891 2.629 8. konsumen publik (7%) dan konsumen industri (7%).159 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.3% Produksi (Gwh) 1. 351 .016 2.151 721.972 592.574 755. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.588 1.7% A9.561 630.640 1.

potensi batubara yang layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5.712 MW seperti ditampilkan pada Tabel A9.715 kkal/kg yang tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten Kerinci.1 Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Proyek Sarolangun Sungai Gelam Payo Selincah Sungai Gelam (CNG/Peaker) Sengeti (CNG/Peaker) Batanghari Kuala Tungkal Tebo Pembangkit Peaker Sungai Penuh (FTP2) Merangin Jambi (KPS) Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTU PLTU PLTG PLTP PLTA PLTU Swasta Sewa Sewa Beli PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 12 12 100 90 80 30 14 14 100 110 350 800 1712 COD 2011 2011 2011-12 2012 2012-13 2013 2013 2013 2014 2015 2016-17 2018-19 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension GI existing seperti pada Tabel A9. Tabel A5. 352 .3. gas dan tenaga air. Potensi gas terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung dan Kabupaten Muaro Jambi dan potensi tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air Batu). Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 di Jambi direncanakan akan dipenuhi dengan mengembangkan pembangkit di Jambi dan di daerah lain pada sistem interkoneksi Sumatera. Adapun pembangkit yang direncanakan berada di Provinsi Jambi mempunyai kapasitas total 1. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi Jambi.4 dan Tabel A9.Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Provinsi Jambi terdiri dari batubara.5.3.

92 2017 5 Aurduri 6 Aurduri 500kV 7 PLTU Jambi 500 kV 275/150 kV Extension 0 2.Tabel A9.98 2014 275/150 kV Extension 500 17. GI Muara Bungo dan GI Aur Duri.08 2013 275/150 kV Baru 250 20.08 2013 3 Aur Duri 4 Bangko 275/150 kV Baru 500 25.6.81 2018 500/275 kV Baru 500 25.77 2018 500 kV Baru 0 9.5 Jumlah 353 . Pengembangan Extension GI 150/20 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Aurduri Bangko Muaro Bulian Payoselincah Muaro Bungo Sungai Penuh Payoselincah Aurduri Muaro Bungo Bangko Muara Sabak Payoselincah Sarolangun Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 60 60 60 30 60 60 60 30 30 60 30 660 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2018 2018 2019 2019 2020 2020 Berkaitan dengan pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV Sumatera. Tabel A9.4. Pengembangan GI 150 kV No 1 2 3 4 Nama Gardu Induk Sungai Penuh Muara Sabak Sarolangun Kuala Tungkal Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 120 COD 2012 2013 2014 2018 Tabel A9.82 2018 2000 123. akan dibangun 3 buah GI 275 kV yaitu GI Bangko.6. Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV No Nama Gardu Induk 1 Bangko 2 Muara Bungo Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 250 21. seperti pada Tabel A9.5.

cct.8 6.0 776 81. cct. cct.2.6 110 24.8 60 3. cct.7. cct.1 150 49.7 Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 cct. 1 Pi (Payo Selincah-Aur Duri) Sarolangun Sungai Penuh Kuala Tungkal 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Panjang Biaya (kms) (juta US$) 136 30. cct. cct. 4 Zebra 2 cct.7 dan Tabel A9.6 130 7. Pembanguan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 Dari Bangko PLTA Merangin PLTG CNG Sei Gelam PLTG CNG Sengeti Muara Sabak Muara Bulian PLTP Sungai Penuh Muara Sabak Jumlah Ke Tegangan PLTA Merangin Sungai Penuh Aur Duri Aur Duri Inc. Pembanguan Transmisi 275 dan 500 kV No Dari 1 Bayung Lincir 2 Aur Duri 3 PLTU Jambi Jumlah Ke Aur Duri Rengat Aur Duri Tegangan 275 kV 275 kV 500 kV Konduktor 2 cct.8.2 84 4.0 420 137.4 121. diperlukan pengembangan transmisi 150 KV. Tabel A9.1 Peta sistem kelistrikan Provinsi Jambi diperlihatkan pada Gambar A9. 2 Zebra 2 cct. 2 Zebra 2 Zebra 1 Hawk 1 Hawk 2 x 340 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk COD 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2015 2018 Tabel A9.6 3.3 26 1.8. 354 COD 2014 2015 2018 . 275 KV dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera.7 108.0 690 213. 4 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 120 27.

Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 38. 355 .ACSR 1 x 240 mm2 30 km . diperlukan pembangunan JTM 2.800 kms.9.2013 2 A C S 75 R 4 km x 2 .626 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 257 MVA.2 82 01 mm 8 2 m m 0 4 43 1 x 20 2 R km CS 0 A 6 Gambar A9. Peta Jaringan Provinsi Jambi Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan pelanggan baru sebanyak 390 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020.2. seperti ditampilkan dalam Tabel A9. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut. Khusus untuk tahun 2011 akan disambung sekitar 85 ribu pelanggan untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%. JTR sekitar 2.900 pelanggan per tahun.

765 33.85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi di Kabupaten Tanjung Jabung kapasitas terpasang 7.693 36. Tabel A9. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2010 Jenis Kapasitas (MW) Pemilik 1 Pelabuhan Dagang PLTD 3. PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala Tungkal.591 29.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.10. yaitu PLTD Pelabuhan Dagang.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.Tabel A9.05 A9. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.91 PLN 5 Batang Asai PLTD 0.424 33. PLTD Sungai Lokan. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9.589 37.2 MW.11.5.55 PLN No Nama Pembangkit 6 Sarolangun 7 Tanjung Jabung Power Total PLTD 3.9. PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun dengan total kapasitas terpasang 12.433 30.00 PLN PLTMG 7. SISTEM ISOLATED Provinsi Jambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak.567 34. 356 . Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.4.43 PLN 4 Kuala Tungkal PLTD 4.82 PLN 3 Mendahara Tengah PLTD 0.516 37.565 31.20 Swasta 20.868 A9.15 PLN 2 Sungai Lokan PLTD 0.725 389.

629 19.891 2.000 2.783 1.Tabel A9.712 GI (MVA) 0 270 590 560 0 0 560 650 60 90 2.144 2.143 2.640 1.277 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.11.448 2.453 1.016 2.178 Pembangkit (MW) 357 74 160 118 100 110 175 175 400 400 0 1.466 55 134 188 133 336 282 302 643 548 29 2.651 .749 1.316 1.780 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 246 208 250 504 0 0 259 0 0 1.444 1.873 2.482 18.588 1.507 Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 3.159 1.289 2.303 2.118 Produksi Energi (Gwh) 1.

1. Untuk sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD.1.10 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA SELATAN A10. Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan Pembangkit yang memasok Provinsi Sumsel diberikan pada Tabel A10.1. 358 . t.2012 AC SR 2 nd 2 0 mm 2 x 24 15 ACSR km – 20 35 GU 2 01 Gambar A10. 2 cc U G SR 17 2 x 5k 4 m 30 m -2 01 m 2 5 AC G 2x 60 km 330 mm 2 . KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dan dipasok dari pembangkit yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV.LAMPIRAN A.

5 43.0 100.0 40.3.0 19.9 50. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010 No A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama PLN (Interkoneksi) PLTU Keramasan #1.2.2 PLTGU Indralaya ST # 1.4 PLN (Isolated) PLTD Makarti Jaya PLTD Sungsang PLTD Air Saleh PLTD Simpang Sender PLTD Teluk Agung IPP PLTMG Sako Kenten PLTMG Musi II PLTMG Prabumulih Total Kapasitas (MW) 30. industri (14%) dan publik (8%) Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.2 PLTG Keramasan #1.2 14.0 64.4 Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV. A10. Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI dengan total kapasitas trafo 932 MVA.0 40.6 1.Tabel A10.1. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A10.2.1 PLTG Indralaya GT # 1.0 20.1 25.0 40. komersil (18%).2 Kapasitas (MW) 829.0 60.2 PLTG Borang PLTG Talang Duku PLTG Sewa Beli Tl.4 1.9 0.7 1. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI SUMATERA SELATAN Konsumsi energi listrik di Sumsel diserap oleh konsumen rumah tangga (60%).2.0 PLTG Truck Mounted #1.0 6.3. dengan 4 trafo IBT 150/70 kV yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas 400 MVA. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.0 260.0 60.1 1.4 PLTG Indralaya GT # 1. terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV dan 13 GI 150/20 kV. Duku PLTG Sewa Beli Borang PLTG Keramasan AKE #1.2.2 PLTD Sungai Juaro #1.0 No 13 14 B 15 16 17 18 19 C 20 21 22 Nama PLTMG Rental Borang PLTU Bukit Asam # 1.0 25. 359 .8 12.8 12.0 879.

845 4.3.147 1.3.529 1.1% Produksi (Gwh) 3.157 5.933.696 9. sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A10.589 6.01 kWh Produksi 27.070 1.027 6.676.054 6.513 7.626 8.273 4.781 4.913 1.5 BSCF 47.276.383 3. gas bumi.344 1.969 1.460 3.108.00 TCF 1.361 ton Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Telah dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Belum dimanfaatkan : Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov.6 MMSTB 24179. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 3.238 1.Tabel A10.196 4.200 Ha 9.576 6.176.081 7.034.385.335 9.160 5.85 x 10 MW 16.900 1. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara.822 2.648 5.599 7. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.911 MW 64.797 1.089 3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.1% A10.64 ribu MMBTU 9. Sumatera Selatan 2008 360 .188 10.758 5.3% Pelanggan 1. panas bumi dan gas metan batubara (CBM).279. minyak bumi.728 kW 53.610.884.885 1. Tabel A10. transmisi dan distribusi sebagai berikut.8% Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1.07 ribu BBL 434.664 1.813.2.3.24 GWh 235.027.954.1 Milyar Ton 183.743.395. Potensi Sumber Energi Sumber Daya Minyak Bumi (Oil) Gas Bumi Batubara Coal Bed Methane Panas Bumi (Geothermal) Gambut Potensi Air (Mini/Mikro Hidro) Energi Surya Biomassa Biogas Sumber Potensi 757.

P_57 18 P_55 3 P_56 4 17 5 7 10 12 15 13 01-074-27 6 11 16 8 P_59 PLTU 2 x 113 MW Simpang Belimbing 9 PLTU 2 x 135 MW Keban Agung 19 2 20 14 01-074-15 01-074-141 P_53 PLTP 4 x 55 MW Lumut Balai 01-074-07 01-074-02 PLTM 2 x 2.4. 361 .2.29 MW Telanai Banding Agung Gambar A10.795 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A10. Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 3.

2 Talang Duku Borang Gunung Megang. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Proyek Borang Simpang Belimbing #1. ST Cycle Jaka Baring (CNG/Peaker) Baturaja Keramasan Banjarsari Sumsel-11. Mulut Tambang Jumlah Jenis Pemilik PLTMG PLTU PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTU PLTGU PLTU PLTU PLTP PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTU Sewa Swasta Sewa Beli Sewa Swasta PLN Swasta PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLN Kapasitas (MW) 30 227 60 60 30 50 20 86 230 227 220 225 300 300 600 1200 1200 600 220 110 800 6795 COD 2011 2011 2011 2011-12 2012 2012 2013 2013 2014 2014 2014-15 2015 2015-16 2015-16 2016-17 2016 2017 2018 2018-19 2019 2019-20 Pengembangan PLTU Sumsel-8. PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan kapasitas total 3. Mulut Tambang Rantau Dedap (FTP2) Danau Ranau Sumsel-1. MT Lumut Balai (FTP2) Sumsel-2 (Keban Agung) Sumsel-5 Sumsel-7 Sumsel-6. Mulut Tambang Sumsel-9. Mulut Tambang Sumsel-10.4. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Provinsi Sumsel memerlukan pembangunan GI 150 kV baru di 11 lokasi dengan kapasitas sebesar 570 MVA seperti pada Tabel A10. Mulut Tambang Sumsel-8. Listrik dari ketiga PLTU tersebut dimaksudkan akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui transmisi HVDC 500 kV Jawa-Sumatera.000 MW merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low rank di Sumatera Selatan. Rencana ini dilakukan dengan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan Sumatera pada umumnya melalui pengembangan banyak pembangkit batubara. 362 . panas bumi dan gas.Tabel A10.5.

470 MVA sampai tahun 2020 seperti pada Tabel A10.7. Tabel A10. 363 . Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Gardu Induk Tegangan Tanjung Api-Api Gandus Jakabaring Kenten Sekayu Kayu Agung Sungai Lilin Tebing Tinggi Muara dua Martapura Muara Rupit Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 120 60 120 30 30 30 30 30 30 30 570 COD 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2016 2017 Selain itu juga diperlukan pengembangan GI existing kapasitas total trafo 1. GI 500 kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10.6. di Provinsi Sumatera Selatan terdapat proyek-proyek pengembangan GI 275 kV. Pengembangan Extension GI 70 kV dan 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Baturaja Bukit Siguntang Lubuk Linggau Baturaja Bukit Siguntang Bungaran Gungung Megang Lahat Pagar Alam Prabumulih Simpang Tiga Talang Kelapa Baturaja Bukit Asam Bukit Siguntang Keramasan Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 60 30 60 60 30 30 60 60 60 60 60 30 60 COD No 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Gumawang Lubuk Linggau Mariana Keramasan Sungai Lilin Bukit Asam Kenten Pagar Alam Talang Kelapa Betung Kayu Agung Gandus Sekayu Simpang Tiga Tebing Tinggi Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 60 30 60 60 30 60 30 30 60 30 60 30 1470 COD 2014 2014 2015 2017 2017 2018 2018 2018 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020 Sebagai bagian dari rencana pengembangan kelistrikan Sumatera dan nasional.5.Tabel A10.6.

4 2 cct. Kelapa-Borang ) Pagar Alam Lahat Inc. 2 Zebra 60 13.2 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2020 Pengembangan Transmisi Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV.03 2. 2 x 330 mm2 120 10. 2 Hawk 90 6. 1 Hawk 80 4. Asam) Inc. 2 Hawk 55.0 2 cct.Tabel A10. 275 kV. Pengembangan GI 275 kV.28 12.45 550.6 5.5 Muara Enim Sungai Lilin/PLTU Sumsel . 2 x 330 mm2 1 0. 1 Hawk 120 6.50 20.1 1 2nd cct.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A10. MT Sungai Lilin Lahat Muara Dua Gumawang Sarolangun PLTP Rantau Dedap Muara Dua Jumlah Ke Tegangan Inc. 2 Hawk 40 3. Pembanguan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Dari PLTU Simpang Belimbing Kenten Lahat PLTU Simpang Belimbing Tanjung Api-Api Betung Bukit Asam (uprate) Gandus Jakabaring Betung Kayu Agung Lahat Lubuk Linggau Mariana Sumsel-11.9 2 cct. 500 kV dan 500 kV HVDC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Gardu Induk Tegangan Lahat Lubuk Linggau Betung Gumawang Lahat Lumut Balai Bayung Lincir/PLTU Sumsel . 2 x 330 mm2 1 0. AC3 310 mm2 78 10. dan Tabel A10.9 1672 204.4 2 cct.31 7. Kelapa) Inc.6 2 cct.3 2 cct.08 324. CU 1000 mm2 20 44.2 8. Tabel A10. 2 Pi (Keramasan-T.9 Konduktor COD 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2018 2019 .7. 1 Hawk 150 8.876 kms sampai dengan tahun 2020 dengan kebutuhan dana sekitar USD 498.4 2 cct. 1 Pi (Prabumulih-Bk.21 12.1 2 2nd cct. 1 Hawk 70 3.9 2 cct. 2 x 330 mm2 120 10.97 24. 2 Pi (Keramasan-Mariana) Talang Kelapa Gumawang PLTU Banjar Sari Tebing Tinggi Kayu Agung Inc.8 2 cct.00 21. Asam) Betung PLTU Keban Agung Baturaja Martapura Muara Rupit PLTP Lumut Balai PLTP Danau Ranau 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 364 Panjang Biaya (kms) (juta US$) 2 cct. 2 Hawk 92 7. 2 x 330 mm2 40 3.2 2 cct. 1 Hawk 120 6.5 2 cct.6 2 cct.3 2 cct.9 2 cct.00 54.1 2 cct. 2 Zebra 70 15. 2 Pi (T.4 2 cct.32 24. 1 Hawk 94.9. 2 x 330 mm2 120 10.Kelapa-Borang )/Kenten Sekayu Baturaja (uprate) Inc.6 2 cct.6 2 cct. 1 Pi (Prabumulih-Bk.1 Pi (T. 2 Zebra 90 20.7 Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Lubuk Linggau Jumlah Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Extension 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 500 kV DC Baru 500/275 kV Baru 275/150 kV Extension 1000 250 500 500 0 500 0 0 0 3000 1000 250 7000 35. 2 x 330 mm2 40 3.08 12.8.9 2 cct.8. 500 kV dan 500 kV DC sepanjang 2.

700 pelanggan per tahun. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.Tabel A10.735 83.8 200 67.427 102. Tabel A10. 500 kV dan 500 kV DC No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Betung Lahat Lahat Muara Enim Bayung Lincir Muara Enim Muara Enim Jumlah Ke Tegangan Konduktor Sungai Lilin 275 kV Lumut Balai 275 kV Muara Enim 275 kV Gumawang 275 kV Sungai Lilin 275 kV Betung 275 kV perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC 2 2 2 2 2 2 2 cct.03 juta pelanggan. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 233.8 dan tabel A10.599 73.997 70.372 116. diperlukan tambahan sebesar 1. Pembanguan Transmisi 275 kV.10. seperti ditampilkan dalam Tabel A10. Selaras dengan penambahan pelanggan.10.031. Panjang dan rute transmisi 500 kV tersebut akan ditentukan kemudian sesuai hasil lelang ketiga PLTU mulut tambang tersebut. 2 Zebra cct. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.3 124 27.9.2 COD 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2016 Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10.865 76. JTR sekitar 5.152kms.3 70 15.204 88.400 pelanggan. 2 Zebra cct. diperlukan pembangunan JTM 5. Sumsel-9 dan Sumsel-10 ke GI 500 kV Muara Enim.059 69.9 terdapat pula ruas transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang Sumsel-8. 2 Zebra cct 4 Falcon Panjang Biaya (kms) (juta US$) 120 27.799 . 2 Zebra cct.2 1204 293.644 116.0 50 11.306 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 675 MVA.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung ratarata 88. 2 Zebra cct.9 350 78.896 1.8 290 65. 2 Zebra cct.306 365 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.

648 5. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A10.696 54.178 1.196 4.289 512 320 80 40 90 0 2.383 3. Tabel A10.073 604 6.460 3.599 7.335 9.781 4.160 5.238 1.147 1.795 GI (MVA) 150 510 1.961 .790 1.A10.054 6.11.661 Pembangkit (MW) 366 347 110 106 567 635 600 300 110 620 400 3.680 60 4.11.081 7.070 1.513 7.188 50.758 5.157 5.253 1.305 445 306 1.876 372 124 301 1.063 Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 3.040 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 120 256 169 1.845 4.089 3.030 120 210 60 430 9. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.589 6.027 6.576 6.012 Produksi Energi (Gwh) 3.273 4.4.

367 .1.1. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11.LAMPIRAN A. Gambar A11. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11. Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui transmisi 150 kV dan 70 kV. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Bengkulu saat ini mempunyai beban puncak sekitar 113 MW. terdiri dari 92 MW beban puncak interkoneksi dan 21 MW beban puncak sistem isolated. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan PLTMH.11 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI BENGKULU A11.1.1.

2.2.2% Produksi (Gwh) 564 638 716 796 849 908 978 1.034 1. Selain 368 . maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A11.8 1. Tabel A11. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI BENGKULU Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM.6 8.106 1.351 369. 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit PLTA Musi PLTA Tes PLTD Isolated PLTD Isolated PLTM Isolated Bahan Bakar Pemilik Air Air HSD HSD Air PLN PLN PLN Sewa PLN Kapasitas Terpasang (MW) 210.088 335. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik. sumber energi yang tersedia di Bengkulu untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi dengan perkiraan potensi mencapai 400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.793 381.919 449.8% Pelanggan 284.9% Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 7.3.180 8. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.2.Tabel A11.084 431.7% A11.6 17.835 6. diperlukan pembangunan sarana pembangkit. transmisi dan distribusi sebagai berikut.6 A11.072 9.722 311. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010 No.6 Jumlah 255.756 400.0 17.938 415.1.019 465.001 1.

2.2 memperlihatkan sebaran dan jumlah potensi energi tersebut. Peta Potensi Energi Primer Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020.itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton. Tabel A11. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 367 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A11. Gambar A11.3. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 Proyek Ipuh Muko Muko Hululais (FTP2) Simpang Aur (FTP2) Kepahiyang Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTP PLTA PLTP PLN Swasta PLN Swasta PLN 369 Kapasitas (MW) 6 8 110 23 220 367 COD 2013 2013 2015 2015 2020 . Gambar A11.3.

1 1318 95. cct. Baai) 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 370 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 cct. cct. cct.4.8 120 9.4 dan Tabel A11.7 180 13. cct.5. Pembangunan Transmisi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dari Pagar Alam Pekalongan Kambang Pekalongan PLTA Simpang Aur 1 PLTA Simpang Aur 1 Pulau Baai Manna Muko-muko/Bantal/Ipoh PLTP Kepahiyang Jumlah Ke Konduktor Tegangan Manna Pulo Baai Muko-muko/Bantal/Ipoh PLTP Hululais Inc. Total penambahan kapasitas trafo GI mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti pada Tabel A11. cct.5 80 6.5.3 90 6.318 kms dengan biaya sebesar US$ 95. cct. 2 Pi (Pekalongan-P.4 COD 2012 2013 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2020 2020 . Baai) PLTA Simpang Aur 2 Arga Makmur Bintuhan Arga Makmur Inc. Rincian kegiatan terdapat pada Tabel A11.6.5 12 0. 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 96 5. cct. dibutuhkan juga pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Manna Pulau Baai Argamakmur Muko-muko Bintuhan Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 120 30 30 30 240 COD 2012 2013 2015 2015 2017 Tabel A11.4 juta. Tabel A11.2 20 1.8 360 27. cct. cct.9 220 16.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2020 yaitu 5 penambahan GI baru dan 3 pengembangan GI existing.7 140 7.6. 1 Pi (Pekalongan-P. Pengembangan GI Existing 150 kV dan 70 kV No Nama Gardu Induk 1 Manna 2 Pekalongan 3 Pulau Baai Jumlah Kapasitas (MVA) 150/20 kV 30 150/20 kV 30 150/20 kV 60 120 Tegangan COD 2013 2013 2017 Pengembangan Transmisi Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit. Tabel A11.

7.100 pelanggan per tahun.836 17.147 26.182 14. Tabel A11.262 34. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 20.301 kms dan penambahan kapasitas gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada Tabel A11.816 221.147 pelanggan. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A11.301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. 371 .115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.115 kms. dengan kebutuhan pertambahan JTM sebanyak 2.963 19. JTR sepanjang 2.7.442 11. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.260 A11.Pengembangan Distribusi Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 221 ribu sambungan untuk kurun waktu 2011-2020.100 16.4.8.366 24. dimana untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% di tahun 2011 akan disambung 40.146 16.

8.106 1.034 1.Tabel A11.867 Produksi Energi (Gwh) 564 638 716 796 849 908 978 1.001 1.318 13 17 56 17 269 21 25 19 18 406 862 .072 7.571 Pembangkit (MW) 372 0 0 14 0 133 0 0 0 0 220 367 GI (MVA) 0 30 180 0 60 0 90 0 0 0 360 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 96 90 0 552 0 140 0 0 440 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.768 Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 1.180 8.

Pugung Tampak dan Bengkunat di Lampung Barat. 373 . Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi. Gambar A12.LAMPIRAN A.1. Liwa dan Ulubelu di Kabupaten Lampung Barat.5 MW) yang pada umumnya merupakan PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan. KONDISI SAAT INI Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi Sumatera seperti ditunjukkan pada Gambar A12.12 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI LAMPUNG A12.1.2. Peta kelistrikan Provinsi Lampung diperlihatkan pada Gambar A12. Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah sebagai berikut : Kota Agung di Kabupaten Tanggamus. meliputi sistem tersebar yang kecil (< 0. Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji.1.

1. Kapasitas Pembangkit per 2010 No 1 2 3 4 5 6 Daya Pembangkit Terpasang (MW) PLTA Besai #1. Tabel A12.1.4 200 PLTD Tarahan #2.2 90 PLTA Batutegi #1.2.4 15 PLTD Teluk Betung #7.607 GWh.Peta Kelistrikan Provinsi Lampung Beban puncak Lampung pada tahun 2010 adalah 482 MW dengan produksi energi 2. Pembangkit yang berada di Provinsi Lampun ditunjukkan pada Tabel A12.3 28 Jumlah 377 374 Daya Mampu (MW) 89 28 200 12 11 20 361 .2 30 PLTU Tarahan #3.U Gambar A12.10 14 PLTD Tegineneng #1.8.2 .

411 5.2.968.989 4.4.811 3.428 4.206 1.2. potensi sumber energi utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel A12.6% Produksi (Gwh) 3.260 2. 375 . yaitu mencapai 11.491 9.679 4.106 3.754 6.163.325 3. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.075 5.041 1.353 2. transmisi dan distribusi sebagai berikut.578.733 1.747 5. karena pada tahun 2010 baru mencapai 60%.7% A12.874.411 1.A12. Selain itu juga terdapat potensi biomassa dan batubara.102 10. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.731.673 8.361 4.429.274.052 4.074 2. Potensi Sumber Energi Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung.637 3. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A12.1%. PENGEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.3.077 5. Tabel A12. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya provinsi Lampung dalam lima tahun terakhir sangat tinggi.124 6.2% Pelanggan 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.368.416 5.6% Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.264.746 5.388 1.3 dan Tabel A12.491 2.762 6. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.2. Pertumbuhan ini masih berpotensi untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi.064.094 8.181 1.

072 37 37 110 110 Tabel A12.2 28.7 11. Belirang Lampung selatan Total Potency = 2.4 6.00 80.301 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A12. Potensi Panas Bumi No.20 No. Sekincau Lampung Barat Bacingot Lampung Barat Suoh Antata Lampung Barat Pajar Bulan Lampung Barat Natar Lampung selatan Ulu Belu Tanggamus Lempasing Lampung selatan Way Ratai Lampung selatan Kalianda Lampung selatan Pmt.50 16.00 978.00 600.9 Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020.00 39.2 35.00 600.6 5.4. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 1.60 1.855 Mwe 100 25 225 100 25 225 225 925 185 100 163 156 194 40 838 222 130 300 380 40 1. III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Lokasi Semangka Semangka Atas I Semangka Atas II Semangka Atas III Semangka Bawah I Semangka Bawah II Semung I Semung II Semung III Manula I Manula II Simpang Lunik I Simpang Lunik II Simpang Lunik III Kapasitas (MW) 26. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Area Potency (Mwe) Reserve (Mwe) Speculative Hipothetic Possible Probable Proven Regency Way Umpu Way Kanan Danau Ranau Lampung Barat Purunan Lampung Barat Gn.7 8.5.8 38.00 1.3.5 40.4 23. Potensi Tenaga Air No. I 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Mesuji Tulang bawang Besai / Umpu Giham Pukau Giham Aringik Tangkas Campang Limau Sinar Mulia Way Abung Way Umpu II Seputih / Sekampung 1 Bumiayu Kapasitas (MW) 7.8 3.8 23.1 3. 376 .Tabel A12.

2 Tarahan #5.4 (FTP2) Semangka Rajabasa (FTP2) Suoh Sekincau Wai Ratai Jumlah PLTU PLTP PLTU PLTG PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLN PLN Sewa PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 200 110 240 200 110 56 220 110 55 1301 COD 2012 2012-13 2013 2014 2015 2016 2017 2018-19 2019 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan GI Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan 14 buah gardu induk baru dan pengembangan GI existing sampai dengan tahun 2020 seperti diperlihatkan pada Tabel A12. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Proyek Jenis Pemilik Tarahan (FTP1) Ulubelu #1.6.Tabel A12. Rencana GI Baru 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Seputih banyak Dipasena Ulubelu Kota Agung Liwa Dipasena Gedong Tataan Ketapang Mesuji Teluk Ratai Jati Agung Pakuan Ratu Langkapura Bengkunat Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 377 Kapasitas (MVA) 30 90 30 30 30 120 60 30 30 30 30 30 60 30 630 COD 2011 2012 2012 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2019 .7.6 dan Tabel A12.6 Pembangkit Peaker Ulubelu #3.5. Tabel A12.

cct.1 120 6. cct. Rencana Pengembangan GI Existing No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Kotabumi Adijaya Bukit Kemuning Kalianda Natar New Tarahan Pagelaran Metro Sribawono Sukarame Kotabumi Seputih banyak Tegineneng Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 60 30 60 60 60 30 60 30 60 COD No 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Gardu Induk Adijaya New Tarahan Menggala Sutami Mesuji Tegineneng Jati Agung Ketapang Pakuan Ratu Sukarame Kotabumi Sribawono Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 60 30 30 60 30 30 30 60 60 60 1170 COD 2015 2015 2016 2016 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2020 2020 Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2020 sepanjang 2.7. cct.3 40 3.6 20 1.2 120 9.8.0 1 0.124 kms diperlihatkan pada Tabel A12.0 80 4.1 2 0. 2 Pi (Natar-Teluk Betung) PLTP Suoh sekincau Bengkunat PLTP Wai Ratai 150 kV 150 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct. cct.8 120 27. cct. cct. cct.4 60 3. cct.1 38 2. 1 Pi (Batutegi-Pagelaran) Bukit Kemuning (uprate) Seputih Banyak Natar (uprate) Tegineneng (uprate) Liwa Kota Agung Teluk Ratai Mesuji Ketapang Dipasena Gedong Tataan Ulubelu Jatiagung Inc. cct.4 80 4.2 40 3.2 1524 184. cct. cct.4 Natar Pakuan Ratu PLTA Semangka Kalianda Langkapura Besai Liwa Teluk Ratai Jumlah Ke Konduktor Tegangan Kotabumi (uprate) Inc.2 60 3.2 90 20. cct. 2 Pi (New Tarahan-Kalianda) Dipasena Inc. AC3 310 mm2 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk AC3 310 mm2 2 Zebra AC3 310 mm2 AC3 310 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Zebra 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk CU 1000 mm2 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 68 9.3 160 12.0 30 4. cct. cct. cct. cct. cct.Tabel A12. 1 Pi (Menggala-Gumawang) Kota Agung PLTP Rajabasa Inc.1 96 12.3 152 11.5 1 0. cct. 378 . cct.6 60 4.8 Pengembangan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Bukit Kemuning (uprate) PLTU Tarahan (FTP1) Seputih Banyak Ulubelu Baturaja (uprate) Menggala Sutami (uprate) Pagelaran (uprate) Bukit Kemuning Pagelaran Gedon Tataan Gumawang Kalianda Mesuji Pagelaran PLTP Ulubelu #3.0 30 4. cct.6 COD 2011 2011 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2017 2017 2018 2019 2019 Di provinsi ini melintas transmisi 500 kV HVDC Sumatera-Jawa dengan switching station dan landing point kabel laut 500 kV HVDC akan berada di Ketapang.6 40 2. cct.1 16 35. cct. Tabel A12. cct.

417 104.093 98.230 143.600 pelanggan per tahun.692 A12. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.225 155.9.225 pelanggan dan pada tahuntahun selanjutnya akan disambung rata-rata 121.409 kms.793 153.182 148. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 236.10. seperti ditampilkan dalam Tabel A12.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2. Tabel A12. penambahan pelanggan baru sampai dengan 2020 adalah 1.4.331 ribu pelanggan.182 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A12. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. 379 .330.527 96. diperlukan pembangunan JTM 2.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.322 93. JTR sekitar 2.268 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 766 MVA. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.721 101.9.

102 45.491 48.124 67 443 184 168 380 367 524 173 321 44 2.428 4.746 5.671 .075 5.679 4.637 3.094 8.077 5.106 3.754 6.Tabel A12.361 4.041 1.325 3.124 6.052 4.10.384 Produksi Energi (Gwh) 3.411 5.989 4.800 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 69 160 276 160 542 677 42 38 160 0 2.709 Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.416 5.762 6.747 5.811 3.301 GI (MVA) 90 390 150 210 360 150 60 90 180 120 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.507 Pembangkit (MW) 380 0 255 295 200 110 56 220 55 110 0 1.

1.1 19 1.1.4 19 66. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Total Produksi GWh % 1003 67. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga Singkawang.9 3 52.9 21 1.8 4 58.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat.6 .3 13 54. Sintang.4 4 54.5 22 1.4 88 5.0 381 Beban Faktor Puncak (MW) Beban (%) 175 65.3 55 3.0 32 31.9 4 63.9 1478 100.5 109 7. Sanggau. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini. Putussibau. Tabel A13.4 4 53.3 22 1.7 15 1.4 61 4. Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 283 MW dengan produksi 1.0 63 4.13 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO) DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT A13. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV dan beberapa sistem isolated.5 283 59.LAMPIRAN A. Nanga Pinoh. Sekadau.3 13 57. Tabel A13. Bengkayang. Ngabang. Ketapang.478 GWh. Sukadana dan sistem tersebar.3 12 51. Sistem isolated terdiri atas sistem Sambas.

2. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit berbahan bakar minyak. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata 9. Tabel A13. Pertumbuhan ekonomi selama 2006-2010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5.2. Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58. Untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal. konsumen komersil (28%). Kecukupan dan keandalan pasokan masih relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan pembangkitan tidak memadai. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2010 Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Total Daya Terpasang (MW) 236 6 15 7 14 5 16 6 6 24 50 385 Daya Mampu (MW) 212 5 15 5 14 4 14 5 5 22 37 339 A13.2. Kapasitas pembangkit adalah 385 MW dengan daya mampu 339 MW seperti diperlihatkan pada Tabel A13. konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%). Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga. 382 .3%.1% per tahun.Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A13. Penjualan tenaga listrik diserap oleh konsumen rumah tangga & sosial (61%).1% per tahun.2% per tahun.3. yaitu rata-rata 9.

Sintang. namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala infrastruktur transportasi. gambut dan batubara. Sumber batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU/PLTGB di Sanggau.204 3.536 738. Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada tahun 2020 menjadi 548 MW atau tumbuh rata-rata 12.060 9.869 2.476 8. Sintang.713 1.205 2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.516 779.510 2. Sekadau.695 928. Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului dengan survey dan studi yang mendalam.9% Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 8.723 2.019 662.9% Pelanggan 622.954 2.042.130 2.394 2. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air.594 1. Sanggau. A13.030 2. Nanga Pinoh dan Putusibau. berupa batubara dengan kandungan kalori yang tinggi. Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten Mempawah.287 6.7% per tahun.0% Produksi (Gwh) 1.047 983.621 826.562 699. Sedangkan sistem-sistem isolated kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.954 3. dan sejalan dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada sistem-sistem isolated (Sistem Sambas.406 1. 383 .313 2.559 1. Potensi batubara terdapat di daerah Sintang.599 2.514 1. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek lingkungan. Pada saat ini potensi yang dapat dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW.1% Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 186 MW.820 3. Nanga Pinoh.276 875.3.779 1.3.Tabel A13.

Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Proyek Riam Badau Ketapang (IPP) Putussibau (FTP2) Sanggau Sintang Ketapang (FTP2) Nanga pinoh Pantai Kura-Kura (FTP1) Parit Baru (FTP1) Parit Baru-Loan China (FTP2) Pontianak-3 Kalbar-1 Nanga pinoh Kalbar-2 Pontianak-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTM PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTA PLTU PLTU PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 0. 384 .2 14 8 14 21 20 6 55 100 100 50 100 98 100 50 736 COD 2011 2012 2012 2012-13 2012-13 2013 2013 2013 2013 2014-15 2015 2016-17 2017-18 2019-20 2019-20 Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat.6.5 dan Tabel A13. Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM untuk pembangkit beban puncak. Adanya rencana impor baseload sebesar 50 MW adalah untuk mengurangi ketidakpastian penyediaan pembangkit baseload di sistem Kalimantan Barat. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Di Provinsi Kalimantan Barat akan dibangun 15 buah GI 150 kV baru dan pengembangan trafo GI existing sebesar 930 MVA.Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13. Rencana pembangunan GI diberikan pada Tabel A13. PLN bermaksud mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga 180 MW.4. Tabel A13. PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi 275 kV antar negara yang berkapasitas lebih dari 200 MW.4. Selain itu akan dibangun pula GI 275 kV sebagai simpul interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Serawak.

6.7. Pengembangan/Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Gardu Induk Sei Raya Mempawah Siantan Singkawang Sanggau Parit Baru Sambas Siantan Kota Baru Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 120 30 60 30 30 30 30 60 30 420 COD 2012 2014 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pengembangan Transmisi Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat adalah seperti terlihat pada Tabel A13. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Kota Baru PLTU Kura-Kura Sambas Bengkayang Ngabang Tayan Sanggau Sekadau Sintang Kota Baru 2 Nanga Pinoh Sandai Sukadana Ketapang Putusibau Bengkayang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 60 30 250 760 COD 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013 Tabel A13.5. 385 .Tabel A13.

3 300 22.0 180 10.0 180 13. cct. cct. cct.Tabel A13. cct. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 275 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Parit Baru PLTU Kura-Kura Sei Raya Singkawang Bengkayang Ngabang PLTU Parit Baru (IPP) Siantan Singkawang Sanggau Sintang Tayan Nanga Pinoh Sandai Sintang Sukadana Ketapang Sintang Bengkayang Jumlah Ke Tegangan Kota Baru Inc. cct. 2 pi (Singkawang-Mempawah) Kota Baru Sambas Ngabang Tayan Parit Baru Tayan Bengkayang Sekadau Sekadau Sanggau Kota Baru 2 Tayan Nanga Pinoh Sandai Sukadana Putusibau Perbatasan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 275 kV Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.9 180 28. cct.0 COD 2011 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013 Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut.1. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 40 2.4 2818 195. cct.0 110 6. cct.1 6 0. PLN berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke perbatasan negara dan trafo IBT berkapasitas 250 MVA.7 200 15. cct. cct. cct.0 180 10.6 100 5.5 180 10.0 180 10. cct.2 120 6.3 184 10.8 126 7. Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13.9 180 10.0 300 22.2 32 1. cct. cct. cct.2 40 2.7. 386 . cct. cct. cct.

2 X 10 MW (2013) GI. or the image may have been corrupted.GUNDUL (PLN). and then open theBARAT file again. SAMBAS Thn2013 GI SANGGAU Thn 2014 PLTU SINTANG (PLN). Your computer may not have enough RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN memory to open the image. NANGA PINOH Thn 2016 GI. SUKADANA Thn 2017 GI. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. SEKADAU Thn 2014 PLTU SANGGAU (PLN). Restart your computer. 2 x 25 MW (2014). 2 x 27.GI KUALA KURUN Kuala Kurun GI. BENGKAYANG Thn 2013 GI. 3 X 7 MW 2012) ( GI. SINTANG Thn 2014 GI. you … KALIMANTAN . KOTA BARU Thn 2011 PLTU TAYAN (IPP). SIANTAN GI. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut diperlukan pembangunan JTM 1. KUCHING GI MAMBONG (MATANG) TEBEDU GI. diperlukan tambahan pelanggan sebanyak 46.5 MW (2013) PLTU PERPRES TAHAP II 2 X 50 MW (2014) LOAN CHINA SERIKIN JAGOI BABANG BATU KAYA GI. SEI RAYA Thn2013 GI. 387 . 2 X7 MW (2012) KETERANGAN : Gardu Induk 275 kV Rencana Transmisi 275 kV Rencana Transmisi 150 kV Eksisting Transmisi 150 kV Rencana Gardu Induk 150 kV Eksisting Gardu Induk 150 kV Rencana PLTU Rencana PLTMH Rencana Listrik Perbatasan Eksisting Listrik Perbatasan Rencana Gambar A13.8. 2 x 750 KW (2010) BIAWAK GI. K0TA BARU22017 GI. 2 X 7 MW (2012) PLTGB NANGAPINOH (PLN). SINGKAWANG Thn 2009 GI. 6 (2013) PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18 GI. 2 x 400 KW (2012) ARUK PLTU 2 KALBAR TJ.1.2 X 25 MW (2015) PLTGB (IPP) 8 MW (2012) GI. KETAPANG Thn 2017 PLTU KETAPANG (IPP) . PUTUSIBAU Thn 2020 BADAU ENTIKONG GI & GITET.944 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi 540 MVA sampai dengan tahun 2020 seperti ditampilkan dalam Tabel A13. If 2011 the red x still appears. 2 x 50 MW (2013) PLTU PARIT BERKAT (IPP). MEMPAWAH PLTU 1 KALBAR‐PARIT BARU (PLN).The image cannot be displayed. NGABANG Thn2013 55 km GI.380 kms. JTR sekitar 3. PARIT BARU PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN).2020 PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP). PLTU KURA-KURA Thn 2011 GI.400 sambungan per tahun. TAYAN GI. SANDAI Thn 2017 PLTU KETAPANG (PLN) .

yaitu Entikong sebesar 150 kVA dan Seluas sebesar 100 kVA.353 55.189 40. Peta kelistrikan di daerah perbatasan diberikan pada Gambar A13.8.105 46.Tabel A13. yaitu di Sajingan dan Badau.2.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.655 49.419 52. 388 .980 41. ELEKTRIFIKASI DAERAH PERBATASAN ANTAR NEGARA Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak masih belum tercukupi.467 58. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.773 464. sementara kondisi kelistrikan di wilayah Sarawak lebih baik. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem isolated di daerah perbatasan. Hal ini menimbulkan terjadinya kesenjangan pada daerah perbatasan.457 A13. Berikutnya akan dilakukan pembelian listrik dari Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya.973 38.4.543 36.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.

510 2.060 21. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan A13.954 2.406 1. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.130 2.313 2.180 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 112 126 780 460 0 840 200 0 0 300 2.476 24. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Tabel A13.5.713 1.954 3.205 2.394 2.818 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1.9.2.9.656 Produksi Energi (Gwh) 1.594 1.599 2.Gambar A13.635 Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 4.559 1.820 3.779 1.204 3. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A13.825 .723 2.424 Pembangkit (MW) 389 0 43 195 50 100 50 99 49 75 75 736 GI (MVA) 60 150 340 210 30 150 90 30 60 60 1.869 2.030 2.

LAM MPIRAN A14 NERACA DAYA SIISTEM-S SISTEM IS SOLATED WILAYA AH OPER RASI INDONESIA BARAT 390 .

LAMP PIRAN A14.1 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI AC CEH 391 .

0 2.71 3.5 7.7 3.7 11.92 1 PLTD 0.4 1.9 0.00 PLTD 2.7 Pasokan Kapasitas Terpasang MW Derating Kapasitas Pembangkit PLN 7 4 7.2 0.71 PLTD Aneuk Loat 392 Marcedes MTU 0.7 11.9 0.5 3.7 0.9 0.4 0.8 21.2 16 0 16.7 4.5 0 6 0.4 1.2 4.9 0.4 6.4 4.7 0.9 1 7 1.7 11.4 1.1 41 4.2 0.2 0.9 65.6 0 4 0.6 66.5 3.2 0.2 Marcedes MTU 0.4 0.4 0.4 1.7 18.0 Genset BPKS 1 30 1.4 1.6 30.68 3.9 0.4 41 4.4 2 3 2.3 13 1.3 Tambahan Pembangkit PLN Sabang (FTP2) 2 PLTGB 8 IPP Lho Pria Laot PLTP Jaboi (FTP2) PLTP Jumlah Kapasitas MW 6.4 5.9 0.7 0.0 Operasi 1.Neraca Daya Sistem Sabang Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan Produksi Energi GWh Beban Puncak MW 3.7 6.4 0.2 0.7 0.4 4.71 3.0 4.5 65.1 1 9 1.3 16 2 16.71 3.7 11.0 1.0 24.0 66.71 3.7 18.87 1 PLTD 0.4 1.9 0.7 Cadangan MW 2.9 0.1 25.9 Caterpillar 1.9 0.2 0.9 0.2 0.7 66.7 28.8 67.4 1.5 Pemeliharaan 1.2 26.7 0.5 29.18 1 PLTD 0.0 4.2 0.5 7.0 4.0 1.9 0.7 6 5 6.0 4.0 S Surplus/Defisit l /D fi i MW 7 10 .1 41 4.4 7.30 PLTD 1 3 1.5 6 3 6.71 3.0 Load Faktor 20.7 0.1 41 4.68 6.1 41 4.9 0.7 Caterpillar 0.0 4.4 66.4 1.4 74 7.4 0.3 27.7 0.9 5.2 66.4 0.7 0.9 0.5 7.4 5.2 0.0 4.1 41 4.9 0.44 1 PLTD 1.4 PLTD Sewa Sewa Diesel 2.4 1.7 0.0 4.4 1.7 0.2 65.4 2.4 3.4 28.1 4 1 4.9 0.4 1.3 2 1 2.1 5.4 5.9 0.71 3.2 % 64.1 0.9 Caterpillar 0.7 28.4 5.1 4 1 4.8 4.4 0.71 3.9 23.7 0.4 1.36 2 PLTD 0.0 4.4 1.9 0.9 0.5 3.5 4.

3 23.0 2.7 Caterpillar p 0.95 1 PLTD 1.1 % 56.9 Pemeliharaan 4.8 4.92 .2 2 PLTD 9.5 Operasi 2.3 Derating Capacity 1.39 2 PLTD 4.3 Merrless 0.67 2 PLTD 1.4 6 5 6.1 Load Faktor Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 Pasokan Kapasitas Terpasang PLTD Suak 0.0 Cummins 0.0 1.9 .5 Sewa Sewa Diesel Surplus/Defisit 2.3 1.5 0.72 1 PLTD 0.0 9.99 3 PLTD 3.7 MW 23.5 4.9 .8 45.8 393 SWD 6 FG MTU 0.2 1.5 Caterpillar 0.0 MAK 2.45 1 PLTD 0.2 Pembangkit PLN 22.5 6 2 6.9 6.2 Relokasi dari Lampung 4.1 22. 0. Caterpillar 0.0 PLTD 2.1 22.23 1 PLTD 0.4 2.0 Jumlah Kapasitas MW 22.00 MW Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 2017 2018 2019 2020 .0 Beban Puncak MW 8.7 9.2 0.Neraca Daya Sistem Blangpidie Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 42.2 56.7 0.0 3.1 Cadangan MW 6. 1 PLTD 0.

2 MTU 12V 2000 0.5 PLTD 4.0 Sewa Sewa Diesel Tambahan Kapasitas PLN Tapaktuan 7.5 1.0 394 1.7 SWD 9F 1.7 2 PLTD 1.Neraca Daya Sistem Tapaktuan Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 Produksi Energi GWh 31.5 Beban Puncak MW 5.5 S Surplus/Defisit l /D fi i MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .73 PLTD Tapaktuan MTU 12V 4000 2 PLTD 2.73 5.7 0.7 2.0 2.2 % 59 8 59.1 2 PLTD 2.0 SWD 6FG 0.4 0.0 2 PLTU Jumlah Kapasitas MW Cadangan MW 14.4 6.7 1 PLTD 0.1 7.0 Operasi 1.1 Pemeliharaan 1.1 8.0 9.0 1.7 5 5 5.2 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan L dF Load Faktor k Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 Pasokan Kapasitas Terpasang MW Derating Kapasitas Pembangkit PLN 10.9 6.8 60 2 60.1 1 7 1.6 9.2 2.7 19.1 32.6 0.

2 PLTD Sewa PLTD 9.5 395 PLTD Singkil PLTD 0.3 53.9 12.8 Cadangan MW 1.0 1.0 1.9 Pembangkit PLN 12.9 0. GSS PLTBayu PT.9 1.0 PLTD Kuta Fajar PLTD 1.0 9.5 23.8 Load Faktor 60. 4.0 2 PLTGB 6. 9.9 Beli Energi / IPP PLTU PT.8 % 53.8 Beban Puncak MW 11. GLA Pemeliharaan 1.0 Jumlah Kapasitas MW 14.2 Pasokan Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Kapasitas Terpasang MW 14. p f Surplus/Defisit MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .Neraca Daya Sistem Subulussalam Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 55.7 14.0 1.1 .4 10 1 1 PLTU PLTB 1.2 1.9 0.6 .8 PLTD Rimo PLTD .0 Tambahan Pembangkit PLN Singkil 3.0 Operasi 0.5 12.7 Derating Capacity 2.

2.8 % 54.62 14.5 1. PLTD Kuning MTU .2 Beban Puncak MW 10.5 PLTD 5.6 Cummins 0.0 2.3 14.6 55.8 Load Faktor 52.5 0.0 SWD 8FG 0.75 2 PLTD 1.Neraca Daya Sistem Kutacane Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kebutuhan Produksi Energi GWh 49.7 0.5 PLTM Sepakat Turbin WKC PLTD Sewa Rental genset HSD Suplai dari 20 kV Sistem Sumut Tambahan Pembangkit IPP Lawe Mamas 30 3 PLTA 50 Jumlah Kapasitas MW 13.0 2.9 0.0 1.0 Operasi 0.1 Cadangan MW 2. 0.0 5.7 Pembangkit PLN 13.6 .6 0.6 .0 1.8 Pemeliharaan 2.7 1.3 10.6 14.7 0.4 Surplus/Defisit MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2019 2020 .6 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity 0.9 0.85 2 PLTD 1.10 2.96 1 PLTD 2.4 MW 14.8 2.85 3 PLTD 396 SWD 6TM 1.64 1 PLTD 0.

0 2.6 .7 7 0 7.6 .6 .0 1.0 1.4 Load Faktor Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV Pasokan Kapasitas Terpasang MW 5.0 7 0 7.8 1.8 1.2 J l h Kapasitas Jumlah K it MW 6 7 6.8 0.6 % 43.0 0.6 Pembangkit PLN MW 5.1 5. 3.4 43.3 0.0 2.3 43. Bata 0.8 1.6 Derating Capacity MW 0.0 Tambahan Pembangkit PLN Rel.8 16.9 1.0 7 0 7.5 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2019 2020 .1 5.Neraca Daya Sistem Blangkejeran Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kebutuhan Produksi Energi GWh 14.1 5.0 1.0 Sewa 397 Rental genset HSD 2.8 0.4 PLTM PLTM 0.8 1.6 Beban Puncak MW 3.3 43.6 5. PLTD 2.6 0.8 0.9 15.0 PLTD 1. dari PLTD L. 3.6 5.8 0.9 4.7 2 Beli Energi Rerebe Putri Betung Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 0.4 4.6 0. 3.0 Cadangan MW 1.6 5.6 .1 PLTD Rema MW 3.7 17.6 0.2 4.8 0.

4 1.6 PLTMH Angkup PLTD Sewa PLTD Suplai dari 20 kV GI Bireun 6.8 2.0 Derating Capacity MW 2.1 23.1 PLTD Janarata PLTD 0.9 0 0 0.8 IPP/Beli Energi KERPAP Pemeliharaan Operasi S Surplus/Defisit l /D fi it MW 1.Neraca Daya Sistem Takengon Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 57.2 4.6 0.4 21.5 Kapasitas Terpasang MW 24.0 24.0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .5 Tambahan Pembangkit PLN Peusangan 43 2 PLTA 88.1 9.4 0 9 0.0 18.3 0.1 Cadangan MW 4.3 60.4 PLTMH 0.5 3 PLTMH 1.6 21.9 % 36.5 Jumlah Kapasitas MW 23.3 36.0 7.3 PLTD Jagong Jeget PLTD 0.4 0.4 Beban Puncak MW 18.5 6.0 0.2 2.6 Load Faktor Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Pembangkit PLN 398 PLTD Ayangan PLTD 9.0 7.4 2.

5 3.0 3.9 1.5 10.0 3.33 4.6 0.7 63.7 1.5 10.6 0.1 0.7 21.0 3.16 2.4 0.8 63.16 2.5 0.0 5.87 0.6 0.08 2 PLTD 2.1 4.4 26.5 0.2 25.6 0.6 0.1 1.53 4.53 4.3 3.5 20.53 4.16 PLTD 2.7 63.87 0.0 5.3 10.36 1 PLTD 0.6 0.8 63.7 0.4 0.5 10.0 5.6 0.6 0.6 0.6 0.4 0.0 3.6 0.7 2.0 5.5 10.87 Wartsilla 1.4 0.87 0.5 MTU 0.1 4.0 Jumlah Kapasitas MW 6.87 0.5 0.5 0.4 MTU 0.1 1.1 1.5 Cadangan MW 1.16 2.1 4.0 PLTD Sewa S Rental genset HSD Tambahan Pembangkit PLN Aie Tajun 3 2 PLTGB 60 6.1 4.1 1.53 4.7 0.87 0.7 28.1 1.0 Derating Capacity 0.4 0.16 2.5 0.53 Load Faktor Pasokan Kapasitas Terpasang PLTD Lasikin 399 MTU 0.9 1.0 2.6 0.6 Caterpillar 0.7 63.Neraca Daya Sistem Sinabang Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan Produksi Energi GWh 18.5 27.1 4.16 2.6 0.6 Caterpillar 0.5 0.7 2.3 .0 3.1 1.1 4.4 19.1 1.0 5.1 1.5 0.7 3.9 Beban Puncak MW 3.1 1.5 0.9 2.0 24.0 Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 0.6 0.1 4.6 0.4 0.1 1.5 2.5 0.8 5.3 6.8 63.5 10.4 0.53 4.9 23.5 Pembangkit PLN 6.5 4.6 0.0 5.3 4.5 0.16 2.5 0.4 0.5 0.6 0.48 1 PLTD 0.0 3.16 2.0 7.58 1 PLTD 0.1 3.0 5.9 4.87 0.0 5.0 5.5 10.53 4.87 1 PLTD 0.0 3.5 10.9 63.5 0.8 63.87 0.2 4.1 1.5 0.16 2.1 1.7 MW 7.58 1 PLTD 0.87 0.2 % 63.87 0.5 1.3 2.5 0.16 2.7 63.6 0.1 4.53 4.33 6.5 0.4 0.

0 Tambahan Pembangkit PLN Nagan PLTU 220 Jumlah Kapasitas MW 45.0 Load Faktor Rencana tahun 2012 masuk Grid 150 kV Pasokan Pembangkit PLN 45.8 Sewa PLTD 16.3 Teunom PLTD 1.2 Calang PLTD 1.1 Cadangan MW 6.9 Kapasitas Terpasang MW 50.Neraca Daya Sistem Meulaboh Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 124 Beban Puncak MW 29.0 Media Group PLTU 8.0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .4 % 47.6 Operasi 3.1 Surplus/Defisit MW 9.7 Pemeliharaan 3.2 Lamno PLTD 2.1 Derating MW 5.1 400 Seunebok PLTD 19.5 Alue Bilie PLTD Jeuram PLTD 1.

2 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI SUMATE S ERA UTA ARA 401 .LAMP PIRAN A14.

0 58.0 4.6 7.01 MTU 1.8 0.5 1.8 0.5 1.8 0.4 4.5 1.5 1.0 1.6 7.7 18.0 5.3 77.4 4.0 43.0 8.5 1.2 24.0 4.4 4.6 15.1 0.0 37.0 4.3 21.5 1.6 15.8 0.5 9.5 PLTD PLTD 5.0 11.4 4.75 Daihatsu 0.4 24.1 0.5 1.22 Cummins 1.1 2.0 1.6 1.6 23.0 5.1 0.4 4.0 11.5 7.0 1.0 4.0 8.0 1.2 37.4 4.1 14.5 44.0 97.1 0.3 65.6 7.0 1.5 1.6 1.0 37.0 5.1 0.8 42.5 7.9 25.5 1.6 1.5 1.8 92.5 1.1 0.5 37.0 1.0 16.6 1.1 2.0 2.1 2.0 7.6 7.5 7.6 1.0 3.0 0.6 7.8 0.9 19.6 1.1 37.4 4.2 61.0 7.0 2.Neraca Daya Sistem Nias 402 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Kapasitas Pembangkit PLN PLTD Gunung Sitoli Deutz 0.0 7.1 42.7 42.5 3.8 17.0 4.6 1.6 15.1 2.0 30.6 PLTGB PLTU MW MW MW 8.0 3.0 11.0 4.0 4.3 14.4 4.8 0.0 1.0 4.1 0.56 Deutz KHD 1.6 1.1 0.0 3.53 PLTD Sewa Gunung Sitoli Teluk Dalam Tambahan Pembangkit PLN Nias IPP Nias (FTP2) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit (N-1) Unit 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 54.6 15.0 4.1 43.0 4.0 4.6 15.6 23.1 0.0 1.6 1.1 6.8 0.2 37.6 15.53 PLTD Teluk Dalam Cummins 1.5 1.6 1.0 7.4 72.0 8.0 2.4 4.8 43.6 1.0 1.0 2.6 7.01 Deutz MWM 1.10 Daihatsu 0.0 2.0 4.8 43.6 7.8 0.5 86.1 2.1 4.0 4.4 4.4 4.6 7.0 4.0 1.0 4.1 5.6 7.0 1.2 20.0 4.6 23.1 2.6 1 1 1 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 1.4 MW MW 23.0 1.7 24.6 2 2 4 3 PLTD PLTD PLTD PLTD 1.8 0.1 24.6 1.1 .0 24.6 15.5 8.4 81.6 7.6 1.6 15.1 2.0 43.0 3.1 2.0 1.5 22.8 0.0 7.5 1.8 0.1 2.0 1.1 0.5 1.3 68.1 2.6 1.0 11.1 2.5 43.6 7.1 7.1 0.0 3.6 43.

3 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI RIAU R 403 .LAMP PIRAN A14.

8 28.30 M VA Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 5.8 2.2 3.0 0.6 2019 2020 .5 77.0 0.8 MW MW 0.00 3 2 1 PLTD PLTU PLTD 4.00 3.8 1.0 6.8 0.17 0.59 6.7 3.00 3.D Sewa Sewa Diesel Sewa PLTU (Pemda) Sewa MFO Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 25.1 4.8 3.6 2014 2015 2016 2017 2018 35.3 0.8 3.60 0.9 77.6 78.18 0.2 3.0 3.1 10.2 1.2 5.79 0.79 0.2 32.2 Disupplai dari grid 150 kV SIS.79 1 PLTD 0.60 1 PLTD 0.20 0.0 404 0. Tahun 2014.0 3.1 10.9 4.5 0.79 0.0 Tambahan Pembangkit MTU (Pemda) 0.Neraca Daya Sistem Siak Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN MTU M.62 1.8 78.

6 .72 2.5 5.0 6.0 2 2 PLTU PLTGB Tambahan Pembangkit PLN Bengkalis (FTP1) 10 Bengkalis PLTGB 3 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 2020 164.4 6.5 10.5 10.0 11.56 0.0 11.20 0.1 101.5 10.0 38.6 11.0 32.5 2.7 1.0 1 3 6 PLTD 6.8 69.9 6.5 70.7 44.4 70.0 12 1.3 92.8 1.0 6.5 5.0 MW MW MW 20.2 06 0.5 69.0 1.7 70.2 2.6 GWh % MW 72.7 82.20 1.2 0.5 10.0 6.0 11.2 10.5 6.6 129.Neraca Daya Sistem Bengkalis 405 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Deutz Deutz Yamar Sewa Pembangkit Sewa Genset MFO Sewa Mesin 1 (HSD) Sewa Mesin 2 (HSD) Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 110.01 1.4 69.5 3.40 0.5 10.0 12.7 1.0 15 1.03 1.9 21.2 10.6 MW MW 18.5 11.0 15 1.4 69.9 24.19 0.9 18.72 2.0 16.3 28.19 1.72 2.8 150.8 69.0 15 1.1 15.0 12 1.2 14.2 13.0 11.47 0.05 10.5 28.60 2 1 2 PLTD PLTD PLTD 1.9 44.5 11.0 11.0 11.9 22.18 0.9 19.72 1.0 15 1.0 26.5 0.8 32.96 6.0 15 1.2 06 0.5 7.98 1.0 70.98 16.6 70.6 -0.8 1.0 8.0 119.51 0.5 10.0 15 1.18 1.1 139.0 16.9 38.44 0.6 3.12 10.0 1.

4 66.0 1.2 2 2 PLTD PLTD 1.0 17 0 10.2 60.0 17 0 10.0 0.4 32.Neraca Daya Sistem Selat Panjang 406 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN BWSC Deutz Sewa Pembangkit Sewa Genset MFO Sewa Mesin (HSD) Tambahan Pembangkit PLN Selat Panjang Sewa PLTG Project IPP Selat Panjang Baru #1.8 35.0 17 0 10.2 10.1 1.0 17 0 10.6 107.6 1.4 1.1 12.0 3.9 67.2 11 2 10.1 1.5 8.2 1.3 17.3 67.2 9.7 11.5 15.9 11.0 1.2 66.5 66.4 1.4 17.3 35.4 30.4 1.4 1.9 4.5 1.3 67.8 4.6 9.6 4.3 1.9 67.0 17 0 10.2 1.0 2.4 1.2 1.0 17 0 10.5 4.1 1.0 .1 4.3 67.2 1.0 7.2 35.0 7.4 14.4 2.2 1.5 1.1 66.1 53.7 4.0 1.1 67.0 7.1 MW MW 4.8 11.6 30.4 2.3 32.7 16.3 71.0 1.3 1.2 78.0 4.4 2.6 1.2 32.3 66.9 22 2.0 1.8 18.0 3.0 7.3 90.0 4.4 1.4 32.1 1.0 4.0 17 0 10.8 10.2 1.9 4.5 2 1 3 3 PLTD PLTD 6 6 6 6 6 6 3 3 PLTGB 6 3 3 PLTG 10 2 PLTU MW MW MW 3 14 14.3 17.5 17.4 1.0 1.1 1.6 17.0 7.4 1.4 1.3 84.0 7.7 17.7 4.3 1.2 11 2 10.5 17.4 98.2 13.0 1.0 7.2 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 47.

30 M VA Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW MW MW 11.8 1.0 0.43 0.8 2.9 11.8 1. Tahun 2014.0 2.0 2.5 1.3 39.2 MW MW 2.4 5.2 2.5 7.79 0.5 1 3 2 PLTD PLTD PLTGB 2.9 55.81 0.0 2.8 1.6 1.41 0.40 0.2 0.83 0.2 0.6 1.6 2.42 0.6 2 1 1 PLTD PLTD PLTD 0.0 2.8 1.2 0.6 8.3 0.39 0.Neraca Daya Sistem Bagan Siapiapi 407 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN Deutz BA 12M 816 Deutz KHD BV 8M Mitsubishi Pembangkit Sewa Sewa HSD Sewa Mesin Pemda PLTGB Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 31.8 11.0 11 0 1.1 11 1 1.3 55.0 2019 2020 .38 2.4 35.8 1.0 11 0 1.2 0.4 5.2 2.0 2.3 6.8 1.0 2014 2015 2016 2017 2018 Disupplai dari grid 150 kV SIS.4 5.2 55.

5 2018 2019 2020 .64 0 64 2 4 PLTD PLTD 1.1 17.0 2.5 63.2 0.3 26 2.0 2.9 34 3.0 5.00 2.3 63.Neraca Daya Sistem Rengat 408 Pasokan/Kebutuhan K b t h Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN PLTD Air Molek PLTD Danau Raja Pembangkit Pemda MTU 12V 2000G 62 MTU 16V 2000G 62 Project Sewa Sewa Diesel1 Sewa Diesel2 Sewa Diesel3 Unit 2011 GWh % MW 84.Tahun 2013 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 18.4 2012 2013 2014 2015 2016 2017 95.6 1.3 MW MW 8.0 14.0 15.00 1.4 2.3 2.2 1.0 20.00 1.0 1.0 11.0 Disuplai dari Grid 150 kV SIS.0 5.2 0.0 Tambahan Pembangkit PLN Rengat 10 2 PLTG IPP IPP Kemitraan 2 PLTU 7.3 3.0 0.2 10.00 2 2 5 PLTD PLTD PLTD 2.9 29.63 0.2 1.

34 Deutz KHD BV 8M 1.6 1.20 Yanmar 0.58 0.5 0.9 8.69 7.79 1.9 26.0 0.0 1.9 16.2 7.51 1.2 0.0 0.2 0.0 1.18 1.4 59.27 Yanmar 0.7 1.26 Pembangkit Sewa Sewa Mesin2 (HSD) 3.8 69.89 3 1 2 4 PLTD PLTD PLTD PLTD 0.46 4 PLTD 1.4 MW MW 7.2 7.8 6.50 1.1 59.54 0.0 1.50 0.0 PLTU 2015 2016 2017 2018 14.00 Di pasok dari grid 150 kV.76 0.3 78.49 1.71 0.00 Sewa Mesin3 (HSD) 0.79 1.80 Sewa genset (MFO) Tambahan Pembangkit PLN Tembilahan Unit 2011 2012 2013 2014 GWh % MW 61.5 2.5 11.2 1.17 1.Neraca Daya Sistem Tembilahan 409 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN SWD 0. Tahun 2015 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 16.0 6.9 1.6 13.3 2019 2020 .79 1.19 1.48 1.79 7.18 1.0 8.59 7.0 3.5 0.6 59.6 2 PLTD 0.5 15.5 0.80 0.5 0.7 1.2 2.40 Relokasi Ex Tlk Kuantan PLTD 0.60 Pembangkit Pemda Komatsu 0.8 6.6 59.0 6.5 1 1 PLTD PLTD PLTD 3.6 1.79 1.0 86.8 25.8 15.67 0.6 1.

79 2014 7.3 2.6 0.6 1.79 2019 10.6 0.83 0.6 0.60 0.9 2013 6.77 0.77 0.1 50.79 2015 7.8 0.5 1.79 2020 11.81 1 2 PLTD 2.36 2 1 PLTD PLTD 0.0 2.2 50.6 0.6 0.4 1.2 1.6 51.77 0.7 51.6 0.0 1.6 0.8 1.79 .77 0.9 2.6 1.6 1.0 3.6 0.6 0.5 50.5 1.6 0. Tahun 2013 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 2017 9.7 1.77 0.6 0.2 2.77 410 0.77 2012 5.6 0.0 MW MW 2.2 0.79 2018 9.77 0.1 1.79 2016 8.Neraca Daya Sistem Kuala Enok Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Mitsubishi S6U Catterpilar Sewa Sewa Diesel Unit GWh % MW MW MW 2011 5.79 Tambahan Pembangkit PLN Di pasok dari grid 150 kV.8 1.6 0.9 1.6 1.4 1.0 0.6 50.77 0.9 51.8 50.0 3.2 50.8 1.2 1.8 50.3 1.77 0.2 1.

4 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PR ROVINSI KEPULA AUAN RIA AU 411 .LAMP PIRAN A14.

9 1.0 Tambahan T b h Pembangkit P b kit SEWA Sewa PLTU PT Cap.1 129.1 78.4 819.9 72.4 15 15 7 30 30 68 45 68 30 10 40 10 125 46 134 46 10 174 52 10 174 43 10 10 184 42 194 41 209 42 234 50 .3 69.9 MW MW 40.9 10.9 78.6 156.2 318.6 146.9 1.2 8.7 524.0 27.2 8.9 10.9 749.Tur PLTU 30 PLN Tanjung Uban Tanjung Pinang 3 PLTU PLTU IPP Tanjung Pinang 1 (TLB) Tanjung Pinang 2 (FTP2) PLTU PLTU Suplai dari Batam (Peaking) Suplai dari Batam (Base) MW MW Jumlah Kapasitas Reserve Margin MW % 7 2019 2020 1.1 69.7 886.010.9 10.3 78.8 76.4 74.2 8.7 Pembangkit PLN PLTD Tanjung Pinang PLTD Tanjung Uban Pembangkit Sewa Tanjung Uban PLTD PLTD PLTD 27.8 85.2 78.4 91.9 121.6 40.6 40.6 69.077.8 1.9 1.Neraca Daya Sistem Bintan Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas 412 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 GWh % MW 286.8 114.0 52.7 582.5 948.3 47.0 27.6 137.

8 8.0 -2.4 467. 11.7 7.4 284.2 38.1 69.0 1.0 1.9 PLTD PLTD PLTD PLTD 8.8 8.2 78.3 78.0 77.Neraca Daya Tanjung Pinang Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas p Terpasang p g Derating kapasitas Pembangkit PLN Manufacture MAK 8M MAK 6M Allen Mitshubishi 413 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 257.9 47.6 520.0 15.9 .8 98.0 30.7 69.2 57.0 PLN PLTU Tanjug Pinang III PLTU IPP Tanjung Pinang I (TLB) Tanjung Pinang II (FTP2) PLTU PLTU 30.2 623.6 680.0 16.9 76.5 Tambahan Pembangkit SEWA Sewa PLTU PT CTI PLTU 30.8 74. 11.0 9.2 22 .2 318.0 1.2 571.8 9.2 363.9 .5 MW MW 38.3 69.2 42.0 15.2 78.8 72.2 1.4 76. 11.0 30.0 30 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi S Surplus/Defisit l /D fi it MW MW MW MW MW 61.0 33 3.6 52.5 90.9 38.7 16.3 61.4 83.6 68.5 413.9 .6 63.

9 9.0 2.02 0.12 0.6 2019 91.94 0.0 2.1 2020 100.86 2.9 79.2 1 0.2 4.3 1 PLTD 1.9 . 0.1 79.5 1.0 2.0 2.3 1 1.3 2.02 0.11 0.4 5.5 6.1 2017 71.8 33.92 2.4 7.8 74.8 8.8 77.0 1.1 11.5 1.9 10.0 2.5 70. 0.6 80.0 Size Jlh unit 0.5 38.3 2.7 70.0 2 PLTU 2014 45.88 0.0 2.8 71.2 MW 2.1 1.8 76.Neraca Daya Tanjung Uban 414 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN Manufacture MWM Perkins Deutz Volvo Pembangkit Sewa Sewa Genset Bl Energi PT BIIE MFO Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Project PLN PLTU Tanjung Uban Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 29.0 2.8 9.94 2.11 0.1 2018 81.0 2015 53.02 0.5 14.0 2016 62.2 .3 14.0 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam Kapasitas Efektif Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 9.2 .1 13.0 2.1 1.7 78.2 1 0.11 0.0 2 1 2 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 7.0 2.

2 264.1 34.0 6.0 10.0 7.8 7.2 1.8 7.8 7.2 IPP TB.2 1.0 7.2 13.0 9.2 13 2 4.9 19.3 29.4 69.8 7.5 37.0 24. Karimun #3.8 7.0 10.8 22.4 82.0 7.0 7.0 MW MW 13.2 13.Neraca Daya Sistem Tanjung Balai Karimun 415 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN MAK 8M 453B Allen # # Pembangkit Sewa Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Tambahan Pembangkit PLN TB.0 7.7 161.4 TB.0 10.0 3.0 10.8 7.9 51.2 40.0 81.2 13 2 4.0 2.2 13 2 4.2 13.7 77.8 71.9 75.0 17.2 1.0 10.0 10.9 70.0 281.2 1.2 4 1 PLTD PLTD 7.8 # # # 1 1 1 PLTD PLTD PLTD 2 4 3 2 4 5 2 4 5 PLTU PLTU PLTU 14 7 7 # 2 2 1 10 10 # 2 PLTU 61.3 44.2 1.0 3.4 20.0 7. Karimun #1.0 3.8 34.2 (FTP1) TB.2 1.7 31.2 13.0 71.0 3.2 13 2 4.1 226.8 7.0 3.4 81.2 13 2 4.2 1.2 13 2 4.2 13 2 4.8 .0 14.2 1.6 246.0 3.2 13 2 4.0 7.2 13 2 4.0 14.0 MW MW MW 14 32.0 10.2 128. Karimun (Terkendala) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 117.2 13 2 4.2 51.2 1.0 7.0 3.9 142.4 51.0 10. Karimun .2 13.7 80.2 13.4 80.6 182.0 9.0 10.8 7.2 13.8 7.2 13.0 11.2 1.0 17.0 7.9 26.0 3.0 10.3 34.8 204.0 3.0 1.0 7.2 13.0 7.4 51.

1 10.1 4.0 47.0 8.65 0.0 2.57 2 1 PLTD PLTD 0.28 0.1 1.57 1.7 23.5 64.4 8.1 7.8 67.Neraca Daya Sistem Tanjung Batu 416 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Komatsu 0.3 7.7 71.4 1.1 1.0 8.1 0.65 0.0 8.57 1.1 0.0 7.4 1.1 0.1 3.1 1.1 3.05 Sewa Sewa Diesel 2.6 MW MW 1.8 66.8 11.3 1.2 65.0 1.1 2.1 6.0 IPP Tanjung Batu (FTP2) 4.8 11.7 6.1 7.0 1.5 Sewa Diesel 1 Tambahan Pembangkit PLN Tanjung Batu Baru 7.9 57.3 33.0 2.0 1.3 2.80 0.80 0.1 6.80 2 2 PLTD PLTD 5.0 8.80 0.1 7.2 22.28 0.1 8.1 8.6 22.80 0.4 41.4 64.57 1.3 .28 0.65 0.1 22.3 11.0 2.1 7.5 55.0 2 PLTU 2 PLTGB MW MW MW 2016 2017 2018 2019 2020 52.0 1.0 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 GWh % MW 30.0 8.9 36.5 10.8 22.8 59.3 14.0 5.30 Deutz BA 12M 1.3 57.57 1.1 62.1 0.8 65.2 9.4 1.6 22.0 8.3 0.0 16.4 1.65 0.28 0.0 1.0 1.1 1.1 7.0 62.28 0.0 2.1 7.1 1.65 0.9 12.4 55.7 8.

76 0.90 0.0 43.4 23.4 4.90 0.2 06 0.76 0.76 0.8 1.8 1.4 7.7 1.8 7.7 1.2 06 0.3 10.90 0.7 1.7 26.7 1.6 56.1 38.76 0.90 0.78 2.2 7.4 0.7 1.6 0.4 0.4 0.1 3.3 5.76 0.5 10.1 7.78 2.2 06 0.90 0.9 65.2 06 0.4 0.6 2.78 2.8 12.0 29.6 0.8 1.6 7.6 1.78 2.78 PLTD PLTD 0.0 2.4 0.2 06 0.78 2.0 3.6 41.8 1.8 1.2 5.2 06 0.7 1.8 1.6 4.78 2.76 PLTD PLTD 2.4 MW 2.7 1.0 3.90 0.7 1.0 6.7 57.4 6.90 0.2 06 0.9 66.6 2.4 0.8 35.4 0.2 06 0.78 2.4 7.76 0.90 0.4 32.7 6.0 3.78 2.8 1.6 1.76 0.8 1.1 21.90 0.9 55.9 5.76 0.6 2.74 2.1 67.0 PLTGB MW MW MW 6.8 1.4 0.0 10.2 06 0.9 .Neraca Daya Sistem Dabo Singkep 417 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN MAK MTU Pembangkit Sewa Sewa Genset Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Dabo Singk ep Kapasitas Efektif Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 19.7 1.7 7.2 66.6 60.7 67.0 10.7 62.1 4.6 0.93 0.5 4.7 1.4 0.8 1.2 06 0.4 0.78 0.

4 3.0 26.0 5.3 29.8 15.6 0.16 2 1 1.00 0.8 3 1 2 PLTD PLTD Tambahan Pembangkit PLN Natuna 7.9 0.20 0.6 32.0 1.00 0.1 7.6 3.0 2 PLTU Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 MW MW MW MW MW 14.14 1.1 7.2 4.0 0.8 6.8 6.0 35.06 1.2 15.6 15.14 1.1 4.7 75.9 74.14 1.7 39.7 0.6 1.5 5.00 0.14 1.9 0.0 0.6 7.1 8.14 1.06 1.6 0.6 15.3 4.14 1.0 8.3 37.6 7.6 7.1 6.3 15.6 7.8 64.7 0.6 7.6 2.06 1.1 7.6 2.7 .1 5.00 0.14 1.06 1.06 1.4 76.20 0.00 0.3 5.00 0.6 7.0 0.6 3.8 6.1 7.14 1.0 15.20 0.06 1.9 4.1 7.7 75.00 0.0 3.06 1.8 22.4 0.0 0.0 1.20 0.4 21.0 0.00 0.14 1.3 66.Neraca Daya Sistem Ranai 418 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Daihatsu Komatshu Project Sewa SEWA Perusda SEWA MFO Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 17.9 74.9 7.4 65.6 2.0 0.06 1.6 7.06 1.20 0.6 7.9 71.6 11.1 7.7 24.20 0.0 69.20 0.9 15.0 0.06 1.6 3.1 19.0 0.20 0.1 7.6 1.00 0.00 0.20 0.1 MW MW 1.60 0.14 1.20 0.

52 1.8 3.3 21.20 1.1 11.5 1 1 2 Disuplai dari Grid 20 kV Kabel Laut Batam .6 71.10 MWM 0.20 1.20 1.4 2.20 1.7 70.7 61.3 71.5 16.9 10.3 65.2 56.1 2.6 3.0 68.9 71.5 3.20 1.20 1.20 1.5 2.20 1.98 Tambahan Pembangkit PLN Relokasi PLTD 2.2 0.5 MW MW 1.3 58.20 PLTD PLTD PLTD 0.0 2.2 0.8 2.08 0.Neraca Daya Sistem Belakang Padang Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Deutz 0.32 1.4 14.20 1.6 0.20 1.9 19.20 1.0 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW MW MW 3.20 1.3 1.20 1.60 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 419 GWh % MW 9.0 2.8 0.7 17.2 12.52 1.22 Yanmar 0.1 20.52 0.3 55.20 1.20 1.15 0.

5 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI BANGKA B A BELITU UNG 420 .LAMP PIRAN A14.

0 2.2 17.5 IPP Bangka (FTP2) T b li Toboali PLTU PLTU Jumlah Kapasitas MW Reserve Margin % 2017 2018 2019 2020 957.0 24.0 2.0 113.0 2.0 26.1 1.0 26.0 97.0 26.0 3.2 65.0 3.203.0 3.2 17.0 2.9 151.1 5.9 65.3 Bangka .2 86.065.9 4.3 66.379.7 0.4 139.3 66.8 803.3 0.2 86.1 0.1 66.8 208.0 2.9 3.2 17.1 1.6 184.0 5.9 5.1 0.0 3.2 86.1 2.Neraca Daya Sistem Bangka 421 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Beban Puncak Load Faktor Pasokan Kapasitas Terpasang Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 GWh MW % 560.2 65.2 85.2 17.0 1.8 66.7 123.2 86.0 2.0 2.8 24.2 238.8 165.7 276.7 5.7 66.4 5.1 1.1 5.0 38.2 39.9 3.1 2.0 26.0 3.1 0.8 714.5 Tambahan Pembangkit PLN Relokasi Mesin Miirless dari Pulau Baai Relokasi Mesin Batam ke Toboali Relokasi Mesin Batam ke Mentok Bangka IV (Peaker) Ai A Air Anyer (FTP1) Mentok Bangka .1 0.0 Sewa PLTD Sewa PLTD HSD tersebar 1 Sewa PLTD HSD tersebar 2 Sewa PLTD HSD tersebar 3 Bangka (Sewa) MW PLTD PLTD PLTD PLTU 45 17 16 12 45 17 16 12 75 17 16 12 30 PLTD PLTD PLTD PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU 2.0 1.5 20 20 20 60 14 30 30 30 30 30 239 58 269 62 14 153 57 153 40 181 46 195 40 269 46 319 53 349 47 399 44 .0 26.0 2.3 0.0 3.1 0.0 40.0 PLN Merawang Mentok Koba *) Toboali Dari Sistem Isolated Miirless (Relokasi dari Sukamerindu) MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 39.9 24.2 17.9 MW 85.1 86.1 1.1 0.0 4.8 5.3 109.2 65.0 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 5 2.5 5.2 86.0 4.1 0.0 65.2 17.7 5.9 4.1 0.602.0 26.0 24.9 871.8 99.0 2.8 629.0 1.0 2.3 5.1 0.7 0.

0 6.3 65.0 9.0 6.7 79.2 61.5 13.0 3.0 16.0 9.0 9.0 6.0 3.0 9.0 16.4 65.0 6.9 290.4 66.0 16.3 65.0 16.2 Jumlah Kapasitas Reserve Margin PLTGB MW % 5 44 34 53 44 65 57 71 53 88 75 88 59 .3 Belitung .0 16.4 66.0 9.0 9.0 36.6 50.0 3.8 267.2 41.3 55.0 459.4 Belitung Peaker PLTU PLTU PLTU PLTG 17 17 17 17 17 17 10 10 98 59 108 56 125 57 142 54 IPP Belitung .0 9.0 3.7 32.1 422 Pasokan Kapasitas Terpasang PLN Pilang Manggar IPP Biomass Sewa MW MW PLTD PLTD 43.0 6.0 PLTU PLTD 7 20 7 20 7 11 7 7 7 7 7 7 7 Tambahan Kapasitas PLN B lit Belitung B Baru (FTP1) Belitung .0 3.0 6.0 3.2 92.4 65.5 3.0 16.0 6.4 66.0 355.8 46.2 66.8 36.0 3.8 238.3 69.9 319.0 27.0 16.1 534.4 65.0 9.5 16.0 401.0 9.0 3.0 6.8 209.0 3.Neraca Daya Sistem Belitung Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Beban Puncak Load Faktor Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh MW % 186.0 6.3 66.

LAMP PIRAN A14.6 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI KA ALIMANTAN BAR RAT 423 .

0 2.0 2.0 0.0 2.8 3.Neraca Daya Sistem Ketapang 424 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ 1.7 17.0 0.7 17.0 28.0 3.6 6.0 3.0 10.0 2.2 187.0 7.8 1.1 134.7 64.7 64.0 9.0 0.8 256.2 31.1 21.7 0.2 35.2 27.0 151.0 PLTU PLTU PLTD PLTGB MW MW MW 20.6 64.0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Interkoneksi dengan Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 14.3 40.0 7.0 58.3 45.2 37.2 33.2 24.7 14.0 14.8 64.0 3.8 55.0 0.7 14.0 0.0 3.0 45.1 0.5 64.0 38.0 PLTD PLTD PLTD 2.1 0.7 55.6 6.0 2.4 200.1 0.9 64.0 10.4 5.4 5.0 4.0 175.2 WARTSILA I 2.0 2.1 17.4 5.2 3.0 38.8 226.0 .0 7.4 5.1 58.0 38.0 7.8 RUSTON I 3.6 6.0 0.5 -3.1 5.0 10.0 38.0 7.0 7.3 42.1 64.1 0.0 11.1 17.2 240.0 2.6 6.1 0.0 10.0 Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Ketapang (FTP2) Sewa/IPP Ketapang (IPP) Relokasi Sewa Diesel Sewa Sukadana Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2 2 2 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 118.4 5.0 4.9 64.1 17.0 3.5 MW MW 24.1 0.1 17.6 6.6 212.0 PLTD PLTD 7.6 6.0 0.0 64.1 10.7 24.8 64.4 5.

5 0.34 .00 MTU II 0.7 0.9 66.10 0.4 .7 2.2 22. III 0.2 14. I 0. 0.7 2.0 91. MITSUBISHI 1.9 66.0 4.50 .5 1.0 2.1 154.3 0.0 66.2 12.3 0.0 2.5 1.00 2.7 PLTD PLTD 5.7 0.7 0.8 18.6 145.2 20.8 66.4 81.3 0.0 1.6 120.MWM KHD 1.0 2.5 66.50 DEUTZ.0 MW MW 16.3 0.34 SWD. 0.6 66.2 23.3 MW MW 15.4 66.0 4.40 2.70 PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 113.2 18.0 4.2 25.0 .0 2.0 4.40 15.9 128.60 DEUTZ.10 0.4 .6 1.2 66.5 1.5 1.0 4.0 6.8 106.5 1.52 DEUTZ MWM 0.7 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 6.5 1.5 0. SWD.8 66.00 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 0.50 MTU ( TRAILER ) 0.00 0.0 PLTD 2. 0.0 2.5 0.0 GWh % MW 71.Neraca Daya Sistem Sambas 425 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD. II 0.5 0.2 26.0 5.6 1. II 0.2 137.40 DEUTZ.0 2.5 1.MWM KHD 1.6 66.2 15.0 .00 0.0 4.5 1.70 MTU III 0.2 19.2 MW . 0.

4 23.0 2.9 MITSUBISHI 1.6 0.9 5.6 0.8 54.1 54.5 2013 26.1 11 Sewa Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Sewa PLTGB Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 2011 2012 GWh % MW 20.9 5.2 8.0 6.0 6.6 11 1.0 MW MW 6.8 4.6 53.4 .3 54.6 11 1.2 6.0 54.0 6.3 2019 42.6 2014 30.6 54.9 39.9 54.8 53.6 2.6 53.7 1.9 2020 44.6 6.6 1.0 PLTGB 60 6.2 7.0 6.5 2015 32.1 55 5.1 7.0 3.3 8.6 1.9 2016 35.2 PLTD PLTD PLTD 0.9 -6 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 12.4 9.Neraca Daya Sistem Ngabang 426 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN MERCEDES (MTU) 0.7 1.4 2017 2018 37.1 PLTD 3.1 49 4.6 MERCEDES (MTU) 1.9 1.0 MW MW MW 12.0 6.7 54.9 1.1 0.

4 25.2 0.2 1.0 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 1.5 16.0 7.4 67.2 0.2 1.0 16.5 21.0 0.0 0.0 16.2 1.0 126.2 1.0 0.0 1.2 PLTD PLTD 6.0 0.4 134.0 2.7 161.2 1.8 1.7 143.2 0.4 27.3 8.8 1.4 MW MW 14.0 6.3 14.0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 18.4 95.5 18.2 1.0 67.0 2.8 0.6 84.0 16.4 0.4 8.7 118.8 67.0 1.4 24.4 22.2 1.4 8.2 1.2 7.9 67.2 0.3 2.5 MW 2.2 1.0 7.5 14.8 0.8 1.8 67.5 20.5 12.2 1.0 0.8 0.0 0.0 PLTU PLTD 2.0 2.0 16.2 Tambahan Pembangkit PLN Sanggau Sewa Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 1 1 1 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 74.2 152.2 0.2 7.7 67.0 MW MW 16.2 0.8 24.2 67.2 1.1 67.7 67.0 1.5 67.Neraca Daya Sistem Sanggau 427 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD BBI SWD BBI DEUTZ MWM M TU MITSUBISHI MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Unit 1.4 0.0 16.8 0.2 1.8 1.0 .4 0.0 23.2 110.0 16.4 2.

5 99 9.1 64.3 0.5 15 1.0 -3 3.5 7.9 64.5 15 1.4 128.0 21.5 7.5 27.5 15 1.0 0.0 MW MW 18.4 21.3 1.3 PLTD 60 6.5 1.5 1.9 2.1 120.0 00 0.3 14.0 PLTU PLTGB 30 3.0 32.6 64.5 64.3 1.0 0.0 1.5 1.4 91.1 1.Neraca Daya Sistem Sintang 428 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD BBI SWD BBI DEUTZ DEUTZ DEUTZ M TU MITSUBISHI MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Unit 0.9 8.3 1.3 34 3.3 20.0 0.5 00 0.9 15 9 0.0 0.2 1.8 113.3 1.0 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 0.9 64.4 24.0 60 6.0 0 0 0.0 0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 33.8 136.5 15.0 0 0 0.1 1.0 8.2 12.2 .5 1.3 Tambahan Pembangkit PLN Sintang 3 Sewa PLTGB Sewa Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 1 1 1 1 1 1 1 1 7 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 71.9 24.5 1.4 MW MW 15.5 1.8 154.0 24.0 7.9 64.6 64.5 1.4 22.2 1.3 64.0 0.3 18.5 1.5 1.0 21.5 1.4 MW 14.5 92 9.0 0 0 0.5 1.2 1.1 1.0 1.0 21.3 105.5 25.0 0 0 0.3 0.2 145.5 10 0 10.8 1.0 24.9 15 9 0.8 64.0 0 0 0.0 0.0 21.9 0.5 1.0 0.2 1.3 16.7 81.4 64.5 15 1.5 1.1 1.

0 00 0.8 0.0 1.5 0.3 28.5 1.4 53.1 9.0 PLTD 2.5 08 0.5 0.3 0.6 5.7 6.9 40.3 13 1.5 2.3 13 1.8 0.6 53.5 0.3 53.8 1.5 0.8 1 1 1 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 0.5 0.3 0.5 54.5 08 0.3 0.1 10.8 37.5 08 0.8 7.5 MW MW 63 6.5 42.Neraca Daya Sistem Nanga Pinoh 429 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM DEUTZ MWM DEUTZ MWM MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 25.5 0.8 0.5 08 0.1 53.5 1.8 6.5 08 0.2 51.6 54.0 9.3 10.0 2.8 0.1 33 3.6 48.0 .0 2.1 63 6.5 0.3 0.5 3.8 54.2 10.5 0.9 54.0 3.5 0.4 11.9 8.0 00 0.6 Interkoneksi Grid 150 kV Sist.7 MW 8.3 0.1 33 3.3 0.0 8.2 -6 11.0 Tambahan Pembangkit PLN Nanga pinoh Sewa Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 PLTGB 6.0 1.0 53.0 3 1 PLTD PLTD 3.3 13 1.8 0.5 0.3 0.5 08 0.3 13 1.3 0.0 00 0.0 1.8 0.5 0. Khatulistiwa 8.0 00 0.8 0.5 0.0 1.5 0.3 0.1 23 2.8 0.8 0.3 0.0 11.1 00 0.7 54.0 2.5 54.1 32.0 45.0 0.0 1.3 13 1.0 MW MW 8.

7 1.1 4.2 2.4 M TU 07 0.0 4.7 0.0 0.1 3.5 6.3 2.9 8.7 1.8 44.3 45.0 0.7 7.7 45.0 0.1 4.0 0.9 1.7 1.4 4 4 1.0 Tambahan Pembangkit Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 29 2.7 1.0 0.4 2.6 45.4 07 0.0 00 0.5 0.6 2.2 9.7 11.5 10.0 0.0 1.6 45.1 2.0 00 0.0 0.6 45.2 4.4 9.1 8.Neraca Daya Sistem Sekadau Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM 0.7 3.0 00 0.0 3.8 12.6 0.0 PLTD PLTD PLTD 0.7 PLTD 3.4 4 4 1.0 0.7 0.0 0.9 00 0.0 0 0 00 0.4 4 4 1.4 07 0.6 3.3 45.0 0.0 3.0 .0 0.0 0.0 0.5 0.0 0.9 45.0 MW MW 4.3 45.1 1.5 2.5 0.7 PLTD Sewa Sewa Diesel Unit 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 430 GWh % MW 5.7 0.0 0.0 0.1 MW MW 4.4 07 0.6 0.0 0.6 0.2 45.7 1.5 M TU 0.

6 1.3 59.0 14.2 6.0 59.5 0.0 1.9 10 1.2 .1 6.50 M TU 0.3 51.2 8.4 0.Neraca Daya Sistem Putussibau Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM 0.4 0.0 0.5 0.0 09 0.6 1.4 0.6 1.8 35.6 1.9 6.2 39.1 59.4 0.1 3.0 0.9 7.1 3.1 6.5 0.0 4.4 0.9 1.6 1.9 59.1 6.0 0.9 1.0 09 0.7 42.0 1.9 11.5 0.5 0.2 9.2 30.9 10 1.4 0.0 09 0.9 2.0 0.9 10 1.6 1.9 1.9 10 1.9 14.9 1.7 48.9 5.4 0.1 3.9 1.2 7.2 59.6 1.9 2.1 8.5 11.0 1.0 11.0 4.5 11.0 09 0.9 1.0 PLTD PLTD PLTD 0.1 59.6 26.2 4.0 0.2 45.0 09 0.9 0.4 0.6 1.2 8.90 M TU 1 00 1.6 1.5 14.5 0.4 0.9 1.5 59.0 09 0.0 09 0.1 3.00 Sewa Putussibau 431 Tambahan Pembangkit PLN Riam Badau IPP Putussibau (FTP2) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 23.9 10 1.5 0.0 PLTD PLTMH PLTGB MW MW MW 4.0 4.0 Interkon eksi Grid 150 kV 1.9 10 1.9 1.8 37.6 59.2 5.9 10 1.2 9.5 59.5 0.0 dengan sistem khatulisti wa 02 0.9 1.5 0.9 1.0 0.0 1.2 6.0 0.2 5.2 7.0 0.8 59.9 MW MW 6.9 10 1.9 0.0 09 0.0 11.1 3.1 0.9 1.9 10 1.0 09 0.0 0.4 8.

LAMPIRA AN B AYAH OP PERASI WILA INDO ONESIA TIMUR Lampiran B ini menjelaskan rencana r pe engemban ngan ssistem kelistrikan di Wilayah Operasi O In ndonesia Timur T 432 .

SISTEM INT TERKONEKSI SULAWESI UT TARA.3.8. Rencana Pengem mbangan Penya aluran B1 1.2. Petta Pengembangan Penyaluran B1 1.9.LA AMPIRAN B. Kebutuhan Fisik Pengembangan P n Distribusi B2 2.1.7. Pro oyeksi Kebutuh han Tenaga Listrik B1 1. Pro ogram Energi Baru B dan Terba arukan B1 1. Analisis Aliran Da aya B2 2.10.3. Analisis Aliran Da aya B1 1. Neraca Daya B1 1. Pro ogram Energi Baru B dan Terba arukan B2 2.12. Pro oyeksi Kebutuh han Investasi PE ENJELASAN LAMPIRAN L B2 2 433 .4.4. Pro oyeksi Kebutuh han Investasi PE ENJELASAN LAMPIRAN L B1 B2 2.9.8. Capacity Balance e Gardu Induk B2 2. Petta Pengembangan Penyaluran B2 2. Pro ogram Listrik Perdesaan B2 2.5.6. Pro oyek-Proyek IP PP Terkendala B2 2.7. SULAW WESI TENGAH H DA AN GORONTA ALO (SULUTTE ENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI SU ULAWESI SEL LATAN.6. Neraca Energi B2 2. SULAW WESI TENGGA ARA DAN SUL LAWESI BARA AT (S SULSELRABAR R) B2 2.11.10. SISTEM INT TERKONEKSI KALIMANTAN N SELATAN.5. Kebutuhan Fisik Pengembangan P n Distribusi B1 1. Neraca Daya B2 2.11.12.2. Neraca Energi B1 1. WILAYAH OP PERASI INDON NESIA TIMUR B1 1. Pro oyek-Proyek IP PP Terkendala B1 1. Pro oyeksi Kebutuh han Tenaga Listrik B2 2. Capacity Balance e Gardu Induk B1 1. Pro ogram Listrik Perdesaan B1 1. Rencana Pengem mbangan Penya aluran B2 2. TENGAH DAN TIMUR R (KALSELTE ENGTIM) B1 1.1.

13. B18.NERACA DAYA D SISTEM--SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI O INDO ONESIA TIMUR Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Sela atan Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Teng gah Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Timu ur Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Utara Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Tengah Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Selatan Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Tenggara Sistem Isola ated Provinsi Maluku M Sistem Isola ated Provinsi Maluku M Utara Sistem Isola ated Provinsi Papua Sistem Isola ated Provinsi Papua Barat Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT TB Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT TT RENCANA A PENGEMBAN NGAN SISTEM M KELISTRIKA AN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI IND DONESIA TIMU UR PROVINSI KALIMANTAN K N SELATAN B3. PROVINSI PAPUA P BARA AT B15. B18. PROVINSI NUSA N TENGG GARA BARAT (NTB) ( B16. 434 . B18.12. PROVINSI SULAWESI S TE ENGAH PROVINSI GORONTALO G B8. B18. PROVINSI MALUKU M UTA ARA PROVINSI PAPUA P B14. B4. B18. PROVINSI KALIMANTAN K N TENGAH PROVINSI KALIMANTAN K N TIMUR B5.5. B13.8.4. B7. PROVINSI SULAWESI S UT TARA B6.11.10. B18.9.6. B18. B18. PROVINSI SULAWESI S SE ELATAN B9. PROVINSI SULAWESI S TE ENGGARA B10. PROVINSI NUSA N TENGG GARA TIMUR (N NTT) B17. B18. B11.3. B18. PROVINSI SULAWESI S BA ARAT PROVINSI MALUKU M B12.2. B18. B18. B18.7.1. B18.

LA AMPIRAN N B1 SISTE EM INTER RKONEKS SI KALSEL LTENGTIM M 435 .

L LAMPIRA AN B1.1 PRO OYEKSI KE EBUTUHA AN TENAG GA LISTR RIK SIST TEM INTER RKONEKSI KALSE ELTENGT TIM 436 .

980 67 504 3.744 69 785 5.715 69 1.892 71 942 Wil KALTIM Sistem Mahakam Energi Produksi (GWh L dF Load Factor t (%) Beban Puncak (MW) 1.021 69 666 4.371 69 723 4.746 69 623 4.148 69 852 5.P Proyeksi k iK Kebutuhan b t h T Tenaga Li Listrik t ik Sistem Si t Kalseltengtim K l lt ti SISTEM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 437 4 Wil KALSELTENG Sistem Barito Energi Produksi (GWh Load Factor (%) Beban Puncak (MW) 2.499 70 737 4.870 69 1.434 68 575 3.282 69 544 3.663 70 1.530 70 1.686 69 610 4.463 70 1.119 7.246 69 371 2.432 69 1.118 69 680 4.720 68 795 5.346 8.460 9.233 8.787 69 460 3.475 67 424 2.767 68 964 6.919 70 799 5.757 70 288 2.864 .584 10.381 71 868 5.122 67 362 2.879 Load Factor (%) 68 Beban Puncak (MW) 650 4.571 69 922 INTERKONEKSI KALSELTENG & KALTIM Energi Produksi (GWh 3.719 11.139 69 1.

2 N NERACA D DAYA SISTE EM INTERKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 438 .LA AMPIRAN N B1.

000 500 PLTU IPP 36% Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa Pembangkit Terpasang PLN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 439 439 .000 63% PLTU PLN 69% PLTU IPP PLTG PLN 75% PLTU Sewa 2.MW Grafik Neraca Daya Sistem Kalseltengtim Reserve Margin 3.000 70% PLTA PLN PLTGU IPP 71% 76% PLTU PLN 1.500 PLTG PLN PLTG IPP 61% PLTG IPP PLTA PLN 3.500 70% Pembangkit IPP  & Sewa Pembangkit Terpasang  PLN Beban Puncak 2.500 33% 1.

864 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 150 240 60 60 130 100 220 50 50 50 140 70 70 75 75 65 82 14 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU MW % 2014 2 439 2.191 10.8 795 6 752 493 259 85 174 - 2015 2 666 2.715 68.1 (FTP2) Embalut (Ekspansi) Kaltim .432 68.439 6.006 61 .663 69.191 9.5 1.460 2018 3 191 3.911 71 *) Kemungkinan bisa masuk lebih awal 1 unit tahun 2013 **) Kemungkinan tidak jalan.719 2020 3 191 3.191 11.232 5.0 1.870 69.8 1.191 8.056 33 1.4 1.916 8.2 1.Neraca Daya Sistem Kalseltengtim No.666 7.697 76 1.3 964 3 621 390 231 85 146 102 20 82 100 100 100 100 50 55 *)) 200 200 882 36 1.6 1.091 70 2.806 63 3.584 2019 3 191 3.1 Kaltim (PPP) Jumlah Pasokan (Terpasang) Reserve Margin (Terpasang) Unit GWh GWh % MW MW MW MW MW MW 2011 1 798 1.720 67.530 69. tidak diperhitungkan dalam reserve i 2.233 3 355 270 85 85 90 90 2016 2 916 2.119 3 445 360 85 85 30 30 100 PLTG PLTG PLTG PLTA PLTA PLTG PLTU 2013 2 232 2.291 70 2.767 68.463 70.1 650 2 738 479 259 85 174 - PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU 2012 842 4.2 (FTP2) Kaltim ((MT)) Kalteng .139 69.556 75 2. 1 2 3 4 5 440 • • Kebutuhan dan Pasokan Kebutuhan Keb t han Produksi Faktor Beban Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang PLN SWASTA IPP Sewa & Excess Power Retired & Mothballed PLTG PLTD Tambahan Kapasitas SEWA Rencana PLTG Bontang (Gas Storage) PLTU Sewa Asam Asam (3x50 MW) PLTU Sewa Kariangau (2x120 MW) PLN On Going Project Pulang Pisau (FTP1) Asam Asam (FTP1) Kaltim Peaking (APBN) Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) Sampit (APBN) Rencana Kaltim (Peaking) Kalsel (Peaking) Bangkanai (FTP2) Kelai (Kaltim) Kusan IPP On Going Mahakam (Senipah) Pangkalan Bun Rencana Kalsel .346 3 355 270 85 85 - 2017 3 191 3.9 1.798 3.681 69 2.879 68.

3 P PROYEK-PROYEK K IPP TERKENDALA A SIS STEM INTE ERKONEK KSI KALS SELTENG GTIM 441 .L LAMPIRA AN B1.

tahap p pendanaan dimana IPP sudah memiliki PPTL namun tidak kunjung mencapai financial closin ng (FC). • PL LTU Embalut 2xx22.5 MW W masuk dalam m kategori 2 • PL LTA MT Kaltim 2x27. 442 . • Ka ategori 3. tahap p konstruksi dim mana IPP suda ah mencapai fin nancial clo osing tapi tidak kunjung konstrruksi.5 MW ma asuk dalam kattegori 3 Saat ini pen nyelesaian IPP terkendala terssebut sedang diproses d oleh Komite K Direktur unttuk IPP dan Kerjasama K Kem mitraan dan sebagian dianta aranya sudah dalam m tahap penyelesaian akhir. Pembangkitt IPP yang terke endala di sistem m Kalseltengtim m adalah.3 Proyek-proy yek IPP Yang Terkendala T gelolaan proyekk IPP terdapatt beberapa pro oyek pembangkkit IPP Dalam peng yang Perjan njian Pembelian n Tenaga Listrrik (PPTL) nya mengalami ke endala.5 MW masuk dalam kateg gori 1 • PL LTU Tanah Gro ogot 2x7 MW masuk m dalam ka ategori 2 • PL LTU Pangkalan Bun 2x5.B1. IPP dengan PPTL terkenda ala dikategorikkan dalam 3 kategori. yaitu: • Ka ategori 1: tah hap operasi yaitu y tahap dimana d IPP sudah beroperasi namun n bermasalah. • Ka ategori 2.

LA AMPIRAN N B1.4 NE ERACA ENERGI SISTE EM INTER RKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 443 .

365 3.442 1 442 1.445 1 442 1.309 1 628 1.599 7.172 4.065 5.770 8.884 6.442 1 448 1.628 1 658 1.219 7.448 LNG - 156 155 156 155 156 156 234 310 311 HSD 778 705 247 238 234 230 235 227 229 238 MFO 998 734 456 5 - - - - - - Geot.686 Gas 185 333 1 309 1.444 1 445 1.658 1 444 1.Proyeksi Neraca Energi Sistem Kalseltengtim (GWh) 444 4 Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Batubara 1. - - - - - - - - - - Hydro 106 106 106 106 106 300 300 540 780 780 .547 2.314 5.

012 4.872 3 5 12 13 13 14 13 13 13 13 2 2 1 1 1 1 1 2 3 Gas bcf LNG - 2020 445 4 HSD 10^3 kl 271 233 52 19 19 15 18 14 15 18 MFO 10^3 kl 242 198 124 10 7 4 6 3 3 6 Geot.054 1.594 2.259 3.546 4.171 3. - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - .319 5.648 4.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Kalseltengtim Jenis Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Batubara 10^3 ton 1.928 5.

L LAMPIRA AN B1.5 C CAPACITY Y BALAN NCE GARD DU INDUK K SISTEM INTE ERKONEK KSI KALS SELTENGT TIM 446 .

00        ‐ 22 8.2 37% 26.3 62% 53.1 51% 10.7 70% 40.5 36% 22.0 49.0 10 10 6.xls]GI [ l] TEG (KV) 150/20 GI CEMPAKA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI BANJARMASIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI TRISAKTI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI TRISAKTI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI MANTUIL   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SEBERANG BARITO   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SELAT   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 447 4 [perGI.6 51% 19.5 66% 57.2 41% 60 60.3 48% 17.7 51% 59.4 65% 28.6 64% 39.6 77% 45.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY No.1 45% 26.0 2 6 15.0 24% 12.7 64% 1 1.7 70% 41.8 58% 50.6 I  54% 63.9 50% 10.0 45% 9.4 42% 14.0 22.3 40% 14.7 42% 20.2 49% 27.6 49% 29.6 51% 21.2 42% 8.0 60.9 68% 31.3 45% 16.5 42% 60.0 20 30 35.7 55% 60 40 20 60.7 54% 11.1 53% 19.9 59% 35.3 59% 36.9 55% 1 2.5 51% 19. 1 2 3 4 NAMA [perGI.6 46% 17.1 64% 75.3 54% 33.5 50% 24.0 43.6 24.0 .9 74% 37.0 69% 24.1 61% 40.0 52% uprating 10 MVA 30.4 32% 15.0 42% 10.8 46% 54.5 46% 22.9 50% 18.8 55% 14.8 55% 46.6 59% 69.1 38% 18.6 59% 12.9 41% 58.0    12.4 58% 33.0 65% 38.0 49% uprating dari  6 MVA 30.xls]GI CEMPAKA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 5 6 7 8 Jml 1 2011 Kap [MVA] Total  Total Kap [MVA] 60 60 Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2012 Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2013 2014 Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Load Load [MVA] [MW] [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2015 Peak Peak  Load [MW] 2016 Add Add  Trafo [MVA] Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2017 2018 2019 2020 Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 31.0 50% 21.0 10 21.2 38% 28.4 23% 11.5 28% 2 2 1 30 20 20 6 10 20 30 66 12 15 20 47 uprating beban dipindah ke GI Trisakti 150 30.2 61% 12.1 54% 31.1 56% 11.7 65% 2 1.0 44.3 42% 9.8 55% 64.0 1 1 6 10.3 33% 35% 26.5 34% 17.2 39% 15.1 61% 34.4 36% 16.3 45% 1 60 28.1 52% 29.2 50% 27.0 61% 37.

00 40.3 59% 5.4 68% 20.0 35% 20.22 22 41% 24.7 68% 41.7 66% 25.3 28% 36.0 45% 4.6 49% 19.0 65% 37.4 41% 24.0 53% 20.4 49% 12.5 60% 35.0 61% 23.88 18 35% 30 0 30.xls]GI GI TAPPING PULANG PISAU 150/20   ‐ Beban Puncak ( MW ) 2 1 1 2 1 1 1 30 30 30 10 30 30 10 2011 Total  Peak  Kap Load [MVA] [MW] Add  Trafo [MVA] 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Peak  Add  Peak  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Add  Add Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] 2018 2019 2020 Peak  Peak  Peak  Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 60 15.3 46% 12.0 20.8 66% 28.6 45% 3.2 69% 29.0 56% 5.99 15 59% 17.1 56% 32.3 53% 16.2 56% 32.6 38% 22.77 30.3 56% 25.99 14 55% 15.7 25.7 37% 30.5 53% 30.2 37% 14.2 47% 28.1 59% 16.4 57% 22.0 23.3 45% 26.44 17 64% 18.11 11 41% 11.5 40% 11.9 63% 18.4 68% 19. 9 10 11 12 448 4 13 14 15 16 TEG (KV) Jml Kap [MVA] GI PALANGKARAYA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 2 30 GI BARIKIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 G JU G GI TANJUNG   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 50/ 0 GI AMUNTAI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI ASAM‐ASAM   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI PELAIHARI   ‐ Beban Puncak ( MW ) Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI RANTAU/BINUANG   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 NAMA [perGI.0 30 30 10 Uprating d 30.0 66% 6.5 50% 43.6 60% 35.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY No.7 38% koordinnasi dg pikitring change amuntai oo d as dg p t g c a ge a u ta 30.7 47% 14.0 21.00 13 48% 14.7 41% 4.6 40% 3.2 52% 30.4 60% 35.9 55% 32.7 35% 13.0 .0 30 30.7 52% 5.44 20 38% 22.4 64% 19.0 20 30.9 57% 33.2 53% 16.11 24 45% 12.6 51% 29.3 54% 30.9 63% 37.3 57% 12.5 50% 4.6 46% 17.8 42% 24.8 0 77 0.3 35% 15.2 39% 22.7 47% 14.6 62% 6.3 65% 38.2 44% 47% 27.3 60% 17.6 65% 18.7 41% 16.6 46% Uprating dari 30 MVA 60.66 11 43% 13.3 23% 60 30 60.6 54% 17.

2 37% 22.4 40% 23.4 42% .Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY TEG (KV) No.3 57% 16.7 66% 19.8 40% 11.8 44% 13.0 21.2 52% 11.8 40% 12.6 58% 60 60.1 43% p g uprating dari 30 MVA 60.0 0% 0.4 40% 0.3 38% 10.0 38.0 0% 16.2 53% 21.2 41% 24.9 63% 18.4 38% 30 30.6 51% 14.3 39% 23.7 54% 16.0 0% 18.0 0% 9.3 43% 25.7 46% 26.4 40% 34.88 21 40% 30 15.0 21.2 53% 0.1 60% 18.xls]GI 17 GI BATULICIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI KAYU TANGI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SAMPIT   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI KASONGAN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI PANGKALAN BUN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI BUNTOK/AMPAH   ‐ Beban Puncak ( MW ) Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI MUARA TEWEH   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 18 19 20 449 4 21 22 23 24 GI PALANGKARAYA II [New] 150/20   ‐ Beban Puncak ( MW ) 2011 Total  Peak  Total Peak Kap Jml Kap Load [MVA] [MVA] [MW] 1 1 1 1 1 1 1 1 30 30 30 30 30 30 30 60 Add  Add Trafo [MVA] 2012 2013 2014 2015 2016 Peak  Add  Peak Add Peak  Peak Peak Add  Peak  Add Peak  Peak Add  Add Peak  Peak Add  Add Add Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] 2017 2018 2019 2020 Peak  Peak Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 30 0.0 21.11 12 45% 13.1 45% 00.66 14 54% 0.2 37% 22.2 41% 24. NAMA [perGI.3 53% 16.3 54% 32.1 34% 9.4 68% 19.3 49% 28.2 60% 17.0 0% 0.7 70% 41.8 70% 20.3 43% 26.3 46% 14.4 51% 29.8 70% 21.4 38% 30.2 47% 27.5 48% 42.8 36% 0.5 49% 29.0 30 30 0 30.11 13 49% 14.4 36% 0.1 33% 19.00 0% 10.7 53% 31.6 36% 10.0 0% 0.0 0% 14.4 58% 16.0 30 30.3 45% 24.0 30 30.4 61% 18.00 0% 00.4 64% 37.8 44% 12.5 34% 20.11 16 60% 17.00 0% 00.0 0% 0.88 17 66% 19.1 59% 35.9 48% 14.77 19 37% 10.8 55% 15.4 36% 30 30.00 0% 12.0 0% 18.0 45.

0 716.0 739.0 37% 10.5 56% 33.4 27% 8.2 61% 36.5 0.01 0.06 30.0 33% 19.BESAR GI UMUM    Beban Puncak GI DIVERSITY FACTOR DIVERSITY FACTOR 150/20 70/20 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Peak  Peak  Peak  Kap Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Kap Load Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 30 30 60 30 30 0.04 1 04 1.9 443.03 .6 630.0 448.0 448.9 1 03 1.0 682.6 608.5 660.0 22% 6.6 120.5 44% 25.0 0.0 0.4 40% 22.0 801.6 1 01 1.6 54% 17.0 52% 30.7 779.3 1 04 1.7 32% 0% 0% 8.3 23% 6.0 578.7 36% 20.0 847.03 150.6 58% 17.5 507.6 0.6 0 92 0.6 38% 21.0 739.0 374.0 801. NAMA [perGI.9 0.6 32% 10.0 869.2 53% 15.3 41% 23.6 371.0         180 0.01 30 60 30 90.0 0% 0.6 0.0 537.8 25% 7.92 0.8 44% 12.5 0.0 30% 8.0 302.0 682.0 869.0 0% 0.9 28% 17.1 67% 0% 0% 14.9 48% 14.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY TEG (KV) Jml 25 GI KUALA KURUN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 1 26 GI KANDANGAN   ‐ Beban Puncak ( MW ) / 150/20 No.3 1 03 1.03 90.0 374.xls]GI 450 4 27 GI BANDARA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 28 GI KOTABARU   ‐ Beban Puncak ( MW ) TOTAL BEBAN GI GI KONSUMEN .6 327.8 1 06 1.0 630.6 0.04 60.8 1 03 1.7 0.0 0% 0.0 0% 6.6 556.2 43% 24.7 30.1 32% 23.6 1 01 1.0 63% 0% 0% 14.0 537.8 48% 28.4 1 03 1.1 45% 302.0 578.03 180.7 40% 11.

3 27.7 52% 51% 60% 70% 78% 79% 75% 72% 65% 52% - - - - - - - - - - 9.6 35.2 40. GI Batakan/Manggar Sari 1992 150/20 2 20 1 30 1 60 130 BEBAN LEWAT PLTD 3.8 33.0 40.8 23.6 126.0 77.0 21.5 77.0 28.9 121.7 63.8 38.6 66% 75% 44% 52% 59% 64% 71% 77% 56% 61% - - - BEBAN LEWAT PLTD 2.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.8 84.3 104.7 42.8 22.6 60 60 60 98.7 66.7 11.7 26.8 31% 36% 42% 48% 53% 58% 63% 69% 75% BEBAN LEWAT PLTD 7 GI Palaran/Bukuan 1996 150/20 30 12.7 69.9 33.9 15.7 60.0 12. GI Gn Malang / Industri 1992 150/20 1 60 1 20 1 30 110 60 57. Substation No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Transf (MVA) (MVA) (MW) (MVA) 2013 Add Peak Transf (MW) (MVA) 2014 Add Peak Transf (MW) (MVA) Add 2015 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2016 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2017 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2018 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2019 Peak Transf (MW) (MVA) 2020 Add Peak Transf (MW) (MVA) (MW) SISTEM MAHAKAM uprating 30 MVA 1.5 30.9 79.5 76.9 41.4 31% 41% 35% 42% 48% 52% 57% 62% 68% 74% 24. GI Karang Joang/Giri Rejo 1993 451 4 4.1 27% 20 Add Transf (MVA) .4 55.0 20.9 83.5 71% 60% 61% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 36.6 72.5 28.5 90.5 77.5 77.5 77.0 127.5 117.7 16.1 86.0 97.3 47.2 19.7 27.2 26.4 64.8 24.0 45% 51% 53% 63% 72% 78% 49% 57% 65% 74% 35.5 40.9 66.2 17.5 77.4 48.2 30. 150/20 GI Sei Keledang/Harapan Baru 1993 150/20 1 30 1 30 1 30 1 30 60 60 BEBAN LEWAT PLTD 5 GI Karang Asem/Tengkawang 1996 150/20 1 30 1 30 1 60 120 BEBAN LEWAT PLTD 6 GI Tanjung Batu/Embalut 1996 150/20 1 30 1 30 1 30 60 84.6 55.5 77.0 112.2 83.0 18% 20% 24% 28% 32% 35% 39% 42% 46% 50% 13.4 19.

4 29.0 14.7 150/20 14 GI New Industri / Balikpapan 2013 150/20 40% 30 47% 12 GI Sangatta 2012 25.2 25.8 19.1 23.5 48.4 57% 62% 71% 78% 43% 47% 51% 56% 32.2 59% 30 .4 27.3 93.2 18.8 23.8 38.1 31.0 150/20 452 4 10 GI Kuaro / Tanah Grogot 2011 150/20 11 GI Bontang 2011 37% 30 14.6 71% 60% 72% 51% 11.3 17.5 53.2 21.7 150/20 30 53% 30 73% 14.5 21.7 44.4 41.1 40.2 19.8 30.6 37.9 21.4 71.3 44% 48% 55% 60% 66% 72% 40% 19.5 150/20 13 GI Petung 2011 10.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.8 26.7 60% 69% 75% 55% 60% 65% 71% Rencana Tambahan GI 9 GI Sambutan 2010 10.2 48.0 57.9 16.1 41.4 30 30 30 60 30 30 122.0 28.5 54.2 47% 54% 59% 64% 71% 77% 84% 22.6 58.8 34.4 54% 59% 67% 74% 40% 44% 48% 53% 11.3 43% 60 80.4 16. Substation No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Transf 2013 Add Peak Transf 2014 Add Peak Transf Add 2015 Peak Transf 2016 Add Peak Transf Add 2017 Peak Transf 2018 Add Peak Transf Add 2019 Peak Transf 2020 Add Peak Transf Add Transf (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Tenggarong / Bukit Biru 2007 150/20 1 30 30 16.7 60% 68% 40% 13.5 29.7 68.4 45.8 13.9 18.9 19.3 15.2 49% 32% 30 25.4 42% 55% 77% 50% 66% 58% 75% 15.4 21.2 19.1 17.2 42% 30 30 60 60 30 23.

2 13.9 GI New Samarinda (MVA) Peak 15 5 15.2 430.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.04 DIVERSITY FACTOR 453 4 SISTEM BERAU 17 GI Berau / Tj Redep 2013 18 20.3 TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 30.8 37% 56% 42% 34.04 1.1 40.5 44.6 15.9 22% 24% 26% 29% 31% 34% 37% 41% 28.1 24.1 40.04 1.8 TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 275.6 (MW) Add Transf 2020 12 0 12.1 30.5 30 (MW) Add Transf 14 2 14.00 1. Substation No Unit 2011 Total Peak Size (MVA) (MVA) 15 16 (MW) 150/20 (MVA) 2013 Add Peak Transf 2014 Add Peak Transf Add Peak Transf Peak 2018 21 9 21.1 22.04 1.04 1.3 634.1 10.4 897.2 46% (MVA) Peak 13 1 13.3 756.8 40.5 44.0 30 (MVA) Peak 2019 (MW) 78% (MW) Add Transf 2018 60 20.7 33.00 1.1 22.1 720.04 1.3 DIVERSITY FACTOR 1.3 14.9 (MVA) Add Transf 2017 (MVA) 150/20 (MW) 2016 11 0 11.0 935.04 1.1 657.8 Add Transf 20 1 20.4 64% TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 286.1 508.9 1.00 1.9 41% 45% 49% 54% 59% TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 30.7 52% 57% 62% 68% 74% 81% 30 (MW) (MVA) 30 (MW) 15.3 825.9 42% 38% 2011 10.7 32.2 29.9 37.04 1.4 602.0 (MVA) Peak 18 4 18.3 48.9 33.00 150/20 30 24.1 368.6 578.3 48.4 46% 50% 55% 60% 11.9 857.04 1.00 1.9 37.4 693.5 526.9 33.6 448.6 36.4 150/20 (MW) Add Transf 16 9 16.04 1.00 1.6 788.1 354.0 20% (MVA) 2015 (MW) GI Kariangau 2012 17 Peak Transf GI PLTG Sembera S b 2012 Add 2012 (MVA) .0 43.7 150/20 GI Bulungan / Tj Selor 30 77% 30 27.1 12.

LA AMPIRAN N B1.6 RENCA ANA PENGEMBAN NGAN PEN NYALURA AN SISTE EM INTER RKONEKS SI KALSEL LTENGTIM M 454 .

5 510 5235. Tengah dan Timur (kms) T Tegangan T/L 500 kV 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 J l h Jumlah - - - - - - - - - - - T/L 275 kV T/L 150 kV 328 1859 878 T/L 70 kV Jumlah 1046 240 138 236.Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Kalimantan Selatan.5 510 0 0 5315.5 80 328 1859 958 80 1046 240 138 236.5 455 4 (MVA) Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 500/275 kV - - - - - - - - - - - 275/150 kV - - - - - - - - - - - 270 60 450 180 60 270 60 30 30 570 210 360 150/70 kV 150/20 kV 140 70/20 kV Jumlah 140 270 120 120 330 30 240 30 2060 120 120 330 30 240 30 2300 .

74 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng PLTU Asam-asam (Perpres) Mantuil 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 138 12.36 2013 on going APLN Kalteng Kalselteng Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat . ACSR 2x240 mm2 220 26.18 2014 Planned Unall Kalteng Kalselteng Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2cct.41 2012 on going APBN Kalsel Kalselteng Tanjung Perbatasan 150 kV 2cct.59 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng PLTU Kalsel Baru-1(FTP 2) Tanjung 150 kV 2cct.26 2013 Pl Planned d APLN Kalteng Kalselteng Muara Teweh Buntok 150 kV 2cct.26 2014 Planned IPP Kalsel Kalselteng Barikin Kayutangi 150 kV 2cct. Laut Kotabaru 70 kV 2cct.5 26.Pisau Incomer 2 phi (P.37 2014 Propose APBN . ACSR 2 x 240 mm2 94 8.06 2017 Planned Unall Kalteng Kalselteng Palangkaraya Sampit 150 kV 2 cct.25 2012 on going APBN Kalteng Kalselteng Tanjung Buntok 150 kV 2cct.P raya) 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 284 34.83 2012 on going ADB Kalsel Kalselteng Rantau Incomer 2 phi (Barikin . ACSR 2x240 mm2 346 30.Cempaka) 150 kV 4cct.25 2012 Planned Unall Kalsel Kalselteng Up rating Asam-Asam Pelaihari-Cempaka-Mantuil 150 kV 2cct.43 2014 Planned Unall Kalsel Kalselteng PLTA Kusan Single phi (Cempaka . Tengah dan Timur Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber 456 4 Kalsel Kalselteng Barikin Amuntai 150 kV 2 cct. ACSR 2x 240 mm2 2 0.98 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng Asam-asam Batu licin 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 220 26. ACCC 460 mm2 6 4.88 2012 Planned APBN Kalteng Kalselteng Sampit Pangkalan Bun 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 2 0. ACSR 1x240 mm2 42 3.50 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng Landing point P.62 2013 Planned APBN K lt Kalteng K l lt Kalselteng PLTGU B Bangkanai k i M Muara T Tewehh 150 kV 2 t ACSR 22x240 2cct.P raya) 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 248 30.79 2012 on going APBN Kalteng Kalselteng Kasongan Incomer phi (Sampit . ACCC 460 mm2 180 30.00 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng Batu Licin Landing point P. ACSR 1x240 mm2 66 5. ACSR 1 x 240 mm2 344 30. ACSR 2x240 mm2 240 29. Laut 70 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 4 0. 240 mm22 100 12 26 12.98 2013 Planned APBN Kalteng Kalselteng PLTU P. ACSR 1 x 240 mm2 2 0.Rencana Pengembangan Penyaluran Kalimantan Selatan.Rantau) 150 kV 2cct. Raya -Selat) 150 kV 4cct. ACCC 460 mm2 74 6. ACSR 2x240 mm2 100 12.28 2016 Planned Unall Kalsel Kalselteng Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 212. ACSR 2x240 mm2 260 31.87 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct.

07 2012 Plan APBN Kaltim Kaltim GI Sembera incomer Sambutan .K. ACSR 2x 240 mm3 120 10. ACSR 2x240 mm2 14 1. ACSR 2x240 mm2 16 1.90 2014 Plan APBN 2cct.74 2012 Plan APBN Kaltim Kaltim PLTU Teluk Balikpapan Incomer 2 phi (Karjo .24 2018 Plan Unall 31.Joang 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2 180 22. ACSR 2x240 mm2 120 9. ACSR 2 x 240 mm2 93 11.88 2018 Plan Unall Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim New Samarinda PLTU Kaltim (PPP) Bontang Sambutan Incomer 2 pi (Senipah-Palaran/Bukuan) Sangatta 150 kV 150 kV 150 kV Kaltim Kaltim Berau Tanjung Selor 150 kV 2cct.68 2014 Planned APBN Kalteng Kalselteng Kasongan Kuala Kurun 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 260 60 . l t T Tengah h dan d Timur Ti Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Biaya MUSD COD Status Sumber 457 4 Kalteng Kalselteng Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2cct. ACSR 1x240 mm2 160 Kaltim Kaltim PLTA Kelai Sangatta 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 310 38.40 2012 on going ADB Kaltim Kaltim Bontang Sambutan 150 kV 2cct.60 2015 Planned Unall Kaltim Kaltim Karang Joang Kuaro 150 kV 2cct. ACSR 12x 240 mm2 196 17.35 2014 Plan Unall Kaltim Kaltim Tenggarong gg g Kota Bangun g 150 kV 2cct.Bontang 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 40 3.Kuaro) 150 kV 4cct. ACSR 2x240 mm2 90 11.70 2013 Plan IPP Kaltim Kaltim PLTG Senipah Bukuan/Palaran 150 kV 2 cct.01 2012 on going ADB Kaltim Kaltim Kuaro Perbatasan 150 kV 2cct.56 2014 Planned APBN Kalteng Kalselteng PLTU Kalteng 1 Kasongan 150 kV 2cct.Rencana Pengembangan Penyaluran K li Kalimantan t S Selatan.29 2014 Plan APLN Kaltim Kaltim Harapan Baru Bukuan 150 kV Up rating mejadi Twin Hawk 24 5. ACSR 2x240 mm2 8 0. ACSR 2x 240 mm2 240 7.72 2012 plan APBN Kaltim Kaltim PLTG Senipah incomer Manggar Sari .04 2018 Plan Unall 14.. ACSR 2xZebra 16 1. ACSR 2x240 mm2 8 0.96 2017 Plan Unall 2cct.98 2017 Plan IPP 2cct.44 2014 Planned Unall Kalteng Kalselteng PLTU Sampit Sampit 150 kV 2cct.Kuaro) 150 kV 2cct. Joang 150 kV 2cct. ACSR 2 x 240 mm2 6 0.49 2012 Plan APLN Kaltim Kaltim Up rating Teluk Balikpapan K. ACSR 1x240 mm2 110 8. ACSR 2x240 mm2 90 11.60 2012 Plan APLN Kaltim Kaltim PLTU Kaltim 2 (FTP-2) Bontang 150 kV 2 cct.04 2012 Plan IPP Kaltim Kaltim Petung Incomer 2 phi (Karjo . ACSR 2x240 mm2 30 3.

68 2.10 2.62 1.62 1.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.23 1.23 1.62 1.62 1.39 1.23 2.23 1.10 1.10 2.23 2.23 1.23 1.23 2.62 1.23 1.10 1.10 2. Tengah dan Timur Propinsi 458 4 Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Nama Gardu Induk Amuntai (GI baru ) Barikin Ext LB Kayu Tangi (GI baru ) Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam-asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam-asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Kotabaru Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Kotabaru Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (NEW LINE) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Mantuil p g) Trisakti ((Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension New New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 2 LB 30 2 LB 3 CB 2 CB 2 LB 2 LB 30 2 LB 2 LB 60 30 30 2 LB 2 LB 30 60 30 2 LB 2 LB 2 LB 60 30 60 60 30 60 30 30 30 2.23 1.26 2.39 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 Operasi Operasi Operasi Operasi On Going On Going Operasi Operasi On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Planned Proposed Proposed p Proposed Proposed Planned Planned APBN APBN APBN APLN APLN APLN APLN APLN APBN APLN Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall IBRD Unall IBRD IBRD IBRD IBRD Unall Unall .23 2.39 1.23 1.10 1.39 1.35 1.39 2.

24 2.52 1. 3.39 1.23 1.23 2.39 2.23 2.23 1 39 1.62 5.75 1.23 2.23 1.62 1.62 1.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.62 1.23 2.62 1.62 1. Tengah dan Timur Propinsi 459 4 Kalsel Kalsel Kalsel Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Nama Gardu Induk Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTGU) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Kuala Kurun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU ) Puruk Cahu Bukuan/Palaran Ext LB Sambutan Bukuan/Palaran g Joang/Giri g Rejo j Ext LB Karang Kuaro / Tanah Grogot Petung Sambutan Ext LB Bontang Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Ekst Relocating Extension New (4 LB) New Extension New 30 2 LB 30 30 4LB 30 2 LB 30 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 60 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 2 LB 30 20 2 LB 30 30 2 LB 30 1.39 2.85 1.23 2.62 2017 2017 2017 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2014 2015 2015 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 Planned Planned Proposed On Going On Going On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Planned Planned Proposed Planned Operasi Plan On Going g On Going Plan On Going On Going Unall Unall IBRD APBN APBN APBN APBN APBN APLN APBN APBN APBN APLN Unall Unall Unall IBRD IBRD Unall APLN IBRD APLN APBN APLN APLN APLN APBN APBN APBN .23 .23 1.23 2.34 1.10 3.62 0.62 2.

39 1. 2.39 1.39 2.39 1.39 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 Plan Plan Plan On Going Plan Plan Proposed On Going Plan Plan Plan Plan Plan Proposed Plan Plan Plan Plan Plan Pl Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan APBN Unall Unall APBN Unall Unall Unall APLN Unall Unall APBN Unall Unall IBRD Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall .23 2.23 1.57 2.62 1 39 1.10 1.62 2. Tengah dan Timur Propinsi 460 4 Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim K lti Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Nama Gardu Induk GI PLTG Sambera Industri/Gunung Malang Sei Kleidang / Harapan Baru Tengkawang/Karang Asem Sambutan Bontang Bontang Ext LB Kariangau / Tel.62 2.39 1.10 2.62 2.39 1.39 1.10 .62 1.10 2 62 2.39 2.39 2.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.10 2.62 1. Balikpapan Tenggarong / Bukit Biru Kariangau / Teluk Balikpapan Kota Bangun Berau / Tj Redep Bulungan / Tj Selor New Industri Berau / Tj Redep Sambutan Kuaro / Tanah Grogot Bontang New Industri N New S Samarinda i d Sangatta Sambutan Ext LB Petung New Samarinda Sambutan New Industri Sei Kleidang / Harapan Baru Tenggarong / Bukit Biru Tegangan Baru/Extension 150/20 kV New (4 LB .75 2.2x30) 150/20 kV Uprating 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV N New 150/20 kV New 150/20 kV Ekstension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 60 60 60 60 30 30 2 LB 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 60 30 30 2 LB 30 30 60 60 60 30 4.10 2.10 1.10 1.

L LAMPIRA AN B1.7 PE ETA PENG GEMBANG GAN PENY YALURAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI KALSE ELTENGT TIM 461 .

Peta Kelistrikan Sistem Kalselteng 2013 2015 PLTG BANGKANAI 140 MW (2013) 70 MW (2014). 70 MW (2015) Puruk Cahu D Muara Teweh D D ACSR 2X240 mm2 110 km (2013) PLTU KUALA KURUN 2X3 MW (2013) U U 2011 2012 ACSR 1X240 mm2 172 km (2013) PLTU CENKO 2X7 MW (2011) Sampit D U U Pangkalan Bun D PLTU SAMPIT 2X25 MW (2014) 2012 New Palangkaraya D D PLTU PULANG PISAU 2X60 MW (2012) Tanjung 2010 U ACSR 2X240 mm2 21 km (2011) Barikin ACSR 2X240 mm2 120 km (2014) Ranatu PLTA KUSAN 2X32.5 MW (2017) Kayutangi D Seberan g Barito 2010 D Amuntai U Selat ACSR 2X240 mm2 142 km (2012) ACSR 2X240 mm2 130 km (2012) PLTU KALSEL [IPP] 2X100 MW (2015/16) Palangkaraya ACSR 2X240 mm2 174 km (2012) Buntok D ACSR 2X240 mm2 60 km (2015) Kasongan 2016 ke GI Kuaro ( KALTIM) 2012 PLTU BUNTOK 2X7 MW (2013) ACSR 2X240 mm2 172 km (2015) PLTU KALTENG-1 2X100 MW (2020) 2013 ACSR 2X429 mm2 40 km (2013) ACSR 1X240 mm2 98 km (2014) Kuala Kurun U ACSR 1X240 mm2G 47 km (2014) Trisakti A Ulin Mantuil PLTU ASAM ASAM #1 & 2 (2X65 MW) A PLTA RIAM KANAN 3X10 MW Cempaka ACSR 2X240 mm2 Pelaihari 124 km (2012) U Kotabaru Batu Licin 2011 D ACSR 1X240 mm2 40 kkm (2013) PLTU ASAM ASAM 2X65 MW (2011) U PLTU Sewa 3X50 MW (2013) .

Redep 2x7 MW – 2012 U 2010 Sangata PT PLN (Persero) / / / / / / / / / / / / PLTU Kaltim-2 (IPP) 2x100 MW – 2015/16 Bontang KALIMANTAN BARAT2015 U G Sewa 2012100PLTG MW – 2012 G PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI KALIMANTAN TIMUR GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Juli 2011 U PLTU Embalut (Ekspansi) 1x50 MW – 2014 PLTU Kaltim (MT) 2x27. Selor 2x7 MW – 2012 U 2011 SARAWAK (MALAYSIA) Tj. Redep PLTU Tj.Peta Kelistrikan Sistem Kaltim SABAH (MALAYSIA) BRUNEI DARUSSALAM 2013 Tj.2013 SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGAH .5 MW – 2014 U Karangjoang G KALIMANTAN TENGAH 2012 PLTU Kaltim (PPP) 2x100 MW – 2017 Manggarsari U Industri Petung Kuaro ke GI Tanjung (Kalsel) 2012 KALIMANTAN SELATAN PLTG Senipah 2x41 MW – 2013 PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP1 2 100 MW – 2014 2x100 PLTU Sewa 2x120 MW . Selor PLTU Tj.

8 ANAL LISIS ALIR RAN DAY YA SISTE EM iNTER RKONEKS SI KALSELTENGTIM 464 .L LAMPIRA AN B1.

9 14.8 BATULICIN 4.0 ULIN 40.6 3030.0 12.94 21.2 9.0 6917.7 AMUNTAI 0.0 1.3 4707.0 MW 5.0 M TEWEH 8.0 5254.8 155.6 65.0 U PLTU BUNTOK 2X7 MW .8 71.0 2149.3 15.0 15.5 150.3 6794.0 149.4 MANTUIL 15.0 3670.0 KASONGAN 154.7 7.8 6.8 465 TRISAKTI 150 16.4 CEMPAKA PELAIHARI 50.6 9.8 U NAMA GI MW MVAR KV SC LEVEL PLTU ASAM ASAM 4X65 MW Beban Sistem : Losses : Flow dalam MW/MVAR 504.3 8024.9 67.0 4421.18 3.3 2.6 3307.0 5209.1 4.6 25.9 4.0 10.0 10.1 PLTA RIAM KANAN 30 MW 31.0 27.0 + + 47.5 151.1 24.4 4.8 KAYUTANGI 22.0 10.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2013 PLTU PULPIS 2X60 MW 18.4 149.1 6.6 4318.3 13.1 BARIKIN 32.0 149.7 0.5 U SELAT 12.8 A 9.7 1.7 152.6 41.5 -9.8 6.4 PALANGKA 50.0 4.3 3.5 151.4 15.0 20.2 54.5 150.0 155.2 6.8 153.6 3.7 154.5 TANJUNG 19.0 BUNTOK 11.6 MW #### 154.0 73.4 7.0 9.6 CEMPAKA 70 150.5 1491.1 6650.2 D 33.4 13.8 5.0 61.4 TRISAKTI 70 12.6 RANTAU 20.8 18.2 155.9 151.2 3.3 14.3 1.1 1.1 154.1 5250.9 SEBAR 15.1 2285.2 14.0 6.0 7.8 -5.0 13.3 36.6 1.6 152.1 13.4 A 50.0 U SAMPIT 1.8 27.0 15.5 7.0 PLTG 128 0 B A NGKA NA I 140 M W 128.0 15.1 G 13 2 13.1 2333.6 11 0 11.2 5992.8 7.7 33.0 ASAM ASAM 14.4 25.4 155.4 PLTU SAMPIT 2X25 MW PLTU PULPIS 3.9 4817.7 3625.1 1.3 6420.7 65.4 6485.4 19.0 42 5.5 18.2 9.37 38.0 9.0 PULPIS 13.3 5079.0 36.

9 7.4 `12.9 22.0 6 .8 60.2 6.8 SAMPIT 23.9 U PLTU ASAM ASAM 4X65 MW KET : NAMA GI MW MVAR KV Beban Sistem : Losses : Flow dalam MW/MVAR 623.0 52.4 CEMPAKA 146.5 151.1 10.2 3.0 U RANTAU TRISAKTI 466 4 14.4 151.8 25.6 129.4 2.2 13 29.9 U PLTU KALSELTENG 100 MW 58.3 PLTA RIAM KANAN 30 MW MANTUIL 153.3 35.2 15.7 31.2 1.9 3.8 145.2 20.3 24.7 10.4 6.4 153.0 16.0 12.6 155.6 147.4 PBUN 21.8 31.0 20.4 6.6 9.2 22.2 6.8 CEMPAKA 38.4 150.6 66.4 4.1 AMUNTAI 147.4 132.1 9.7 KAYUTANGI 19.4 24.8 22.2 BUNTOK 7.4 9.6 70.2 8.6 41.5 20.2 M TEWEH 36.5 15.9 0.2 15.8 150.4 11.6 U BATULICIN 14.8 ULIN M 29.7 13 2.5 25.1 11.3 9.2 158 68.2 66.6 3.0 PULPIS 5.1 U ` SEBAR 8.5 TANJUNG 19.2 TRISAKTI 145.7 155.9 64.0 1.0 45.8 32.5 146.8 11.1 46 26.1 PALANGKA KASONGAN 46.0 15.5 146.8 19.0 150.5 ASAM ASAM 18.8 140 145.2 GU PLTGU BANGKANAI 280 MW 15.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2015 PLTU PULPIS 2X60 MW PLTU SAMPIT 2x25 MW U SELAT 13.6 148.1 6.8 22.6 12.8 113.7 5.4 PLTU BUNTOK 2X7 MW 153.5 14.6 13.2 40.0 87.5 44.9 9.0 148.6 6.1 TRANSFER KE KALTIM BARIKIN A 12.6 1.6 9.1 PELAIHARI 17.0 21.6 151.1 4.3 MW 9.4 22.4 K KURUN 3.1 14.2 .4 18.0 MW 10.

6 8.2 41.4 A 23.4 8.8 145.2 8.4 46.4 PLTA KUSAN 65 MW 46.2 0.0 PULPIS 19.6 20.9 60.2 155.4 74.4 KAYUTANGI 144.0 7.4 6.4 116 59.12% Flow dalam MW/MVAR 14.2 23.6 5.8 9.7 26.6 U 14.7 19.5 PLTU BUNTOK 2X7 MW 25 KANDAGAN 17.4 TRANSFER KE KALTIM BARIKIN 26.1 60.4 RANTAU 75.3 8.7 26 52.2 60.8 SEBAR 19.8 6.0 154.5 68.6 48.0 51.4 36 2 36.1 144.4 .4 144.8 63.4 40.7 31.8 8.6 12.6 19.7 PLTU KALSETENG 2X100 MW 1.4 M TEWEH 2.2 BUNTOK 21.6 24.0 MW 2.2 149.1 28.2 5.4 PBUN 31.2 ASAM ASAM 32.4 04 0.4 PLTA RIAM KANAN 30 MW BANDARA 36.2 153.1 10.8 PLTU CENKO 2X7 MW K KURUN 16.1 64.8 116.9 29.7 50.8 154.8 152.6 60.4 149.0 3.1 TRISAKTI 144.9 10.8 11.9 15.6 146.6 A 144.6 34.8 34.6 38.4 16.2 15.1 5.6 13.2 13.7 76.5 18.6 24.6 ULIN M TRISAKTI 148.6 0.1 11.7 7.2 U 7.9 19.4 6.1 147.8 24.2 13.0 MANTUIL U AMUNTAI 144.3 4.4 150.4 12.9 8.6 PLTU BUNTOK 2X100 MW 12 2 12.4 PLTGU BANGKANAI 280 MW 0. 962.4 CEMPAKA PELAIHARI 24.8 52.4 66.3 154.3 33.0 0.3 153.7 64.6 TANJUNG 38.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2020 PLTU PULPIS 2X60 MW PLTU SAMPIT 2x25 MW PLTU PULPIS 1X100 MW U SELAT 24.1 BATULICIN 29.0 63.8 14.2 SAMPIT 42.7 23.2 U PLTU ASAM ASAM 4X65 MW KET : NAMA GI MW MVAR KV Daya Pembangkit .3 12.6 7.6 1.0 PALANGKA KASONGAN 37.0 4.0 MW Losses : 20.8 66.6 CEMPAKA 12.2 8.2 PRK CAHU 10.6 144.6 107.8 GU 6.2 BANGKANAI 40.4 152.6 5.3 148.0 MW Beban Sistem : 942.2 25.8 7.0 467 4 24.8 31.6 3.2 14.

9 .0 468 4 MW 58.4 MW 9.2 3.0 22 G 20 6.8 BUKIT BIRU 15.2 3.2 MW MW 77.0 MW PLTU CFK U 144.0 13.7 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 270.5 MW 61.4 MW 31.9 6 11.8 15.4 MW TENGKAWANG 54.9 U MW 142.4 147.7 MANGGAR SARI 29.0 21.7 140.9 53.3 64.8 G D SAMBUTAN MW 21.7 D G D D 20.2 142.3 MW 30.1 143.3 6.3 139.3 40.0 HARAPAN BARU MW 36.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2011 40.4 LOSS 1.2 5.0 142.6 34.4 112.9 D BUKUAN 30.6 KARANG JOANG 20.2 144.0 EMBALUT 9.0 40.0 25.1 143.9 MW MW 21.2 MW MW MW MW 138.5 MW INDUSTRI 71.8 LOAD 268.0 15.6 26.

3 .3 148 3 148.1 HARAPAN BARU MW 51.2 MW 33.0 33.8 MW 13.5 152.4 KALSEL 51.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2015 107.4 MW 74.0 MW 2.0 153.3 69.8 16.8 PLTU MT 13.7 147 5 147.0 MW 18.8 149.0 G 109.3 U SEMBERA 150.0 24.3 149.9 140.8 MW 469 4 5.5 G 8.4 INDUSTRI 68.6 18.0 15.2 MW 59.3 148.0 LOSS 3.8 9.0 MW 150.6 217.6 69.6 60.4 BONTANG MW 32.0 MW 151.0 BUKIT BIRU 21.0 4.5 8.1 KALSEL -33.6 U 30.8 21.9 G 34.0 MW 28.6 7.9 MW 33.2 BUKUAN 91.0 U MW KARIANGAU 29.2 150.0 MW NEW INDUSTRI 41.0 MW 12.0 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 479.8 MW MW 15.3 MW KUARO 19.6 149.2 149.5 16.0 60.0 G 60.8 11.9 4.4 KARANG JOANG 52.1 45.0 193.1 MW 6.3 151 4 151.0 13.6 140.6 6.4 MW TENGKAWANG 88.8 PLTU CFK U 42.1 LOAD 508.5 150 3 150.4 MW 16.2 MW SAMBUTAN 11.0 151.5 MW MANGGAR SARI 151.0 MW PENAJAM 19.0 4.9 20.0 MW MW EMBALUT 43.5 149.2 MW PLTG SENIPAH 60.

6 26.8 143.9 PLTU MT 13.7 U SEMBERA MW 84.1 145 1 145.5 U MW KARANG JOANG KARIANGAU 56.0 MW 470 4 145.2 MW TENGKAWANG 79.4 MW SAMBUTAN 21.9 BONTANG MW 60.1 12 1.6 MW 54.7 MW MANGGAR SARI MW 50.9 143.0 MW 20.3 143.0 MW 160.3 MW 42.1 KALSEL 65.0 142.2 381.8 105.0 13.3 PENAJAM 35.1 139 6 139.9 65.5 416.5 40 6 40.1 PLTU CFK U 152.3 34.2 MW 40.8 41.0 G 207.2 U MW U MW 50.9 219.7 MW KUARO 36.3 9.0 23.8 146.2 MW 46.6 G 66.6 11.5 84.6 .6 141.4 202.3 13 4 13.9 140.4 29.7 156.0 142.7 6.0 90.2 17.8 143.1 90 0 90.8 86.1 15.6 MW MW 20.0 MW 150.1 4.0 40.7 160.5 MW 36 0 36.6 U INDUSTRI 86.3 6.1 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 982.9 147 5 147.8 MW PLTG SENIPAH 143.0 MW 11.0 149.3 MW 63.0 26.6 MW NEW SMARINDA 144.0 MW KALSEL 104.2 INFRASTRUKTUR BUKUAN 178.2 MW NEW INDUSTRI 80.7 35.0 144.6 G 80.8 MW 53.1 LOAD 898.2 143 5 143.8 MW 160.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2020 KELAI 150.0 SANGATTA MW A 38.9 11.2 38.1 142.0 BUKIT BIRU 34.2 141.0 MW 145.3 LOSS 20.4 HARAPAN BARU MW 81.0 MW MW EMBALUT 20.0 MW 34.5 G 53.0 -4.7 144.2 MW 64 146.

L LAMPIRA AN B1.9 KEBUTU UHAN FIS SIK PENG GEMBANG GAN DISTRIBUSI SIST TEM INTE ERKONEK KSI KALSELTENGT TIM 471 .

7 112.2 64.169 46.3 196.997 181 109.117 244 111.987 5 204 5.4 145.3 6.780 5.6 72.650 2018 6.0 65.655 MVA 142 2012 3.5 JTR 63.161.6 176.204 221 129 114 129.166 Tahun Pelanggan 109.9 14.2 177.3 4.0 88.973 3.4 159.098 kms 2.679 2016 4.8 16.239 472 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi P Propinsi i i Kalsel.4 146.9 6.6 5.4 5.6 17.1 13.040 6.8 58.5 77.400 2013 4.0 5.1 Trafo Pelanggan Total 10.0 6.202 159 81.584 5.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalsel.6 110.0 0 241 121. 88 2015 4.5 55.914 4.8 13.5 829.4 2011-2020 578.2 67.209 4. K l l Kalteng K lt & Kaltim K lti Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 34.3 11.8 126.5 6.037 2.7 74. 96 6.4 71.7 55.6 155.229 2011-2020 54.3 215.623 2014 5.1 101.628 234 134. Kalteng & Kaltim JTM JTR Trafo 2011 kms 4.788 .727 204 120.330 191 113.296 5.0 16.4 52.4 5.3 .0 91.4 146.054 2019 6 987 6.5 53.9 3.545 4.7 17.783 4.0 1609.1 82.138 204 130.0 43.022 1.2 79.5 14.389 2017 5.114 2020 7.

369 828 51 33.5 41.536 1.465 982 50 32.6 5.1 2.7 3.400 2018 2.6 3.6 1.9 23.2 48.0 1.057 55 39.3 24.4 3.3 57.5 480.0 2.254 kms 865 MVA 45 2012 1.413 2014 1 417 1.0 4.3 10.1 27.9 2.7 38.395 68 44.008 1.1 30.4 43.6 46.5 .Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalimantan Selatan JTM JTR Trafo 2011 kms 1.805 2017 2.4 107.1 10 4 10.814 2015 1.060 Tahun Pelanggan 30.7 8.4 34.4 8.3 70.2 38.786 473 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Selatan Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM JTR Trafo Pelanggan Total 9.2 11.5 9.8 1.7 21.159 59 41.6 3.3 40 5 40.2 13.2 3.071 2013 1.256 1.2 35.7 315.4 24 9 24.066 2019 2.0 2.7 1.277 2016 1.0 63.591 880 47 36.6 18.3 4.206 533 373.533 10.7 1.850 1.5 16 1.5 37.7 4.622 2011-2020 18.2 36 3.2 51.4 37.806 2020 2.787 964 51 37.272 63 42.417 804 44 34 814 34.2 12.4 14.

5 36.7 19.2 32.0 14.7 0.431 11.0 49 4.3 5.5 20.208 kms 1.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalimantan Tengah JTM JTR Trafo 2011 kms 2.5 13 5 12.5 18.547 5.8 23.8 5.0 0.4 20.8 0.1 21.332 2020 2011-2020 1.1 2011-2020 68.5 209.0 .6 16.782 2014 766 380 18 16.287 2019 1 371 1.595 2015 860 415 19 17.085 499 22 19.6 13.0 4.813 474 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Tengah Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 14.341 Tahun Pelanggan 59.1 1 1 1.3 19.8 2.7 0.0 1.0 36.540 659 27 22.2 20 2 18.293 2018 1.4 1.294 MVA 43 2012 792 464 15 15.010 2013 740 391 17 15.1 4.706 230 226.8 0.8 0.7 308.371 600 25 21 332 21.7 0 7 0.219 547 24 20.2 23.9 1.5 10.8 6.450 2016 966 455 20 18.3 1.9 4.4 4.6 26.1 1.5 1.6 13.348 2017 1.2 1.2 3.7 1.2 29.3 26.9 0.0 54.6 1.3 7.

898 176 62 429 62.7 874.2 30.236 2017 2.1 29 1 41.3 31.2 100.474 3 898 3.765 Tahun Pelanggan 18.9 35.8 2.332 133 64.319 2013 2 474 2.1 37.5 108.9 3.0 8.774 115 54.260 561.1 65.2 3.080 3.9 65 9 99.1 53.220 2.0 1.1 90.113 4.5 94.701 2019 3.734 3 020 3.976 2020 3.176 2011-2020 24.6 52.5 3.4 21.574 138 67.7 3.332 2.2 29.020 122 58 701 58.0 83 8.7 27 2.3 8.843 138 76.6 75.089 30.8 2011-2020 418.957 2018 2 734 2.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi p Kalimantan Timur JTM JTR Trafo 2011 kms 636 kms 495 MVA 54 2012 1.641 475 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Timur Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 10.7 37.429 2014 3.658 2.5 57.9 6.1 1.6 .953 2016 2.1 120.6 10.756 94 34.8 6 8 12.2 42.8 41 8 41.125 1.7 13.1 51.8 83.7 5.379 2015 2.7 2.0 27.2 30.2 29 3 29.7 1 7 3.389 3.8 28 2 28.8 9.7 82 1 82.3 331.0 39.855 180 70.0 10.1 3.577 110 53.8 46.452 2.

10 0 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SISTE EM INTER RKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 476 .L LAMPIRA AN B1.

304      75. Kalteng.822 - Total        782.609        1.145 67.214           99      1.472 - 2014 234. Kaltim   Tahun JTM kms Trafo JTR kms MVA Unit Jumlah Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS) 2011 655 313 24 370 29.190 - 2014 755 351 29 364 17.688 48.398 - 2012 133.961 196.706    1.451        159. Kaltim (Juta Rp) Tahun JTM JTR Trafo Total Listrik murah & hemat (RTS) 2011 175.142 36.148          2. Kalteng.918 69.179.590 2013 239.590 .588            740 477 4 Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel.456 2.875 2013 774 360 30 373 18.770 2012 424 190 17 197 9.353 26.Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel.198 359.357 50.990 350.620 60.753 - Total 740        2.557 272.824        233.053 33.

9 84.693.8 60 7.716.7 96.0 . 86.0 143.489.075               676.0 8.036.824 150                            150 478 4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Total 47.9 32 601 9                      ‐        312.601.029.5           207.2 94.8 7.3 .459.8               286              33.8 17.561.2 60.2 207 362 2               72.051. 11.6 .956.0 3.7 4.0 7. 27.7 58 7.752.362.500 188.169.2 .102.038.4 17.9 61.837.907.4 10.3 4.0           19.000 117.672.6 5.0 37 4.009.7 72 752 7            32.2 60.417.4 . 38.8 312 716 8 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 525.1            394.8 87.8 54.249 184.3 131 15.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Listrik m urah Jm l Pelanggan dan Hem at (RTS) Unit 186.

0 12.1              126.710.8 215 8.0 7.807.000 167.0 138 10.9         36.924.484.7 173.5 .0 5.586            1.867.4              673             31.6 109.503.305.4 101.5 10.8           618.4 47.798 358.6 78.5 104.9 11.5 203.833.959.000 367.384 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 175                           175 479 4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah (juta Rp) Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Total 72.164.1 220 8.346.156.7 27.802.3 209.559.125.1 41.0 111.624.9 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 612.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 272.6             79.5 100 4.100.2                        ‐          530.5 18.1 26.4 12.623.344.3 40.6           326.635.3 25.439.0 95.2 168.

0 12.6 2013 2014 Total 74.584.025.1 Pembangkit Total Listrik m urah dan Hem at (RTS) 76.4 1.5              346             10.906.0 9.6 72.4                1.452.1         42.5 99.059.1 9.6 94 2.579.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur Tahun JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 2011 197.092               767.295.0 59.0 54.3 91 2.5 10.000.1 60 1.452.9 14.890.272.7           201.7 11.0 7.084.6 6.7 10.770 2012 139.532.1 63.5 .420.0          336.295.2 96.2                33.9 34.8 53.5 101 4.708.3           248.375 2013 218.4             50.6 2012 47.380 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 415                           415 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur (juta Rp) 480 4 Tahun JTM JTR Trafo 2011 55.330.143 2014 Total 212.938.7 14.192.8 8.977.3 12.591.301.

12 PROYEKSII KEBUTU UHAN INV VESTASI SIST TEM INTER RKONEKS SI KALSE ELTENGTIIM 481 .LAM MPIRAN B1.

08 196. Transmisi & Distribusi (j t USD) (juta (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 482 4 2011 244.4 500.44 177.7 *) Distribusi : Nilai investasi untuk total wilayah Kalselteng dan Kaltim .37 159.01 146.16 145.2 2019 140.3 2020 284.3 386.6 2012 72.6 447.9 61.8 411.5 2013 484.3 .3 346.0 31.0 1.4 533.39 215.62 1.609.4 2016 150.0 2018 148.1 2015 356.1 45.9 2017 399.8 Total 3068. 5426.4 312.2 796.38 126.4 1087.06 155.6 248.73 110.6 604.9 9.00 176.3 121.9 2014 788.1 56.Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit.4 17.8 748.6 157.

571 GWh pada tahun 2020. yaitu dari 2. Buntok.757 GWh pada tahun 2011 menjadi 5. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Selatan. Sampit. produksi listrik pada sistem Mahakam meningkat rata-rata 13.0% per tahun. Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah (Sistem Barito) Untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam tahun 2011-2020.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Saat ini ada dua sistem besar kelistrikan di Kalimantan yang masuk wilayah operasi Indonesia Timur.122 GWh pada tahun 2011 naik menjadi 5. Sistem Barito dan Sistem Mahakam direncanakan akan terhubung menjadi satu sistem Kalseltengtim pada akhir tahun 2012 dengan selesainya pembangunan transmisi 150 kV Tanjung (Kalsel) – Kuaro – Karangjoang (Kaltim). Sangatta. Kalimantahn Tengah dan Kalimantan Timur (Kalseltengtim) termasuk wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan sangat 483 . produksi listrik pada sistem Barito meningkat rata-rata 12.PENJELASAN LAMPIRAN B1 SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM B1. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran B1. Puruk Cahu dan Kuala Kurun.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan. Muara Teweh.3% per tahun termasuk adanya pengalihan dari isolated masuk ke sistem.7% Beban puncak sistem interkoneksi Mahakam diperkirakan naik dari 288 MW pada tahun 2011 menjadi 922 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Bontang. yaitu 1. yaitu sistem Mahakam di Kalimantan Timur dan sistem Barito di Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah. Petung dan Tanah Grogot. Sistem interkoneksi Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode tahun 2011-2020.892 GWh pada tahun 2020 dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 67% sampai 71% Beban puncak sistem interkoneksi Barito naik dari 362 MW pada tahun 2011 menjadi 942 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Pangkalan Bun. B1. dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 69% sampai 69.

6% per tahun sampai dengan tahun 2020. maka sebagian besar pembangkit yang akan dibangun berupa PLTU batubara dengan total kapasitas 1.tinggi. Pembangkit-pembangkit tersebut dijadwalkan beroperasi secara bertahap mulai tahun 2012 sampai 2015.374 MW. serta sewa dan excess power 174 MW. Kalsel. di sistem Kalseltengtim akan ada penambahan pembangkit baru baik milik PLN maupun IPP termasuk sewa PLTU dan PLTG sekitar 1. Secara geografis. Untuk mengurangi penggunaan BBM pada waktu beban puncak. Kalteng akan tercukupi. PLTG gas 100 MW dan PLTA 215 MW. mengingat ketiga Propinsi di Kalimantan ini merupakan sumber energi primer nasional yang sangat besar baik batubara maupun gas alam. 484 . Mengingat Kalimantan mempunyai cadangan batubara yang melimpah. direncanakan membangun PLTG peaking berbahan bakar gas alam lengkap dengan gas storage (CNG/LNG storage) yaitu PLTG Kaltim peaking 2x50 MW dan PLTG Bangkanai 4x70 MW. Pada periode 2011 sampai dengan 2016. bahkan mungkin berlebihan. namun sudah lama menderita kekurangan pasokan listrik. Beberapa pembangkit di sistem ini masih menggunakan BBM sehingga biaya operasinya tinggi. Pada saat ini kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP adalah 564 MW. Selanjutnya setelah tahun 2016. Sebagaimana diketahui bahwa tingkat keberhasilan proyek pembangkit di Kalimantan masih rendah dan sebagai antisipasi terhadap kondisi tersebut. dimana saat ini dalam tahap proses pengadaan dan sebagian sudah konstruksi.934 MW. direncanakan akan ada penambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 715 MW yang terdiri dari PLTU batubara 400 MW. Rencana reserve margin yg sangat tinggi hingga 76% pada tahun 2013 didasarkan pada keinginan PLN yang sangat kuat untuk memastikan kebutuhan listrik di provinsi Kaltim. yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12. berikut PLTG 560 MW. neraca daya masing-masing sistem Kalselteng dan sistem Kaltim telah memenuhi kriteria regional balance sehingga ketergantungan daya antar sub sistem relatif rendah. maka dilakukan sewa PLTU batubara di Kalsel 3x50 MW dan di Kaltim 2x120 MW serta sewa PLTG peaking di Bontang Kaltim 100 MW dengan mengakomodir reserve margin sampai sekitar 76%.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah mendorong pertumbuhan industri padat energi di Kalimantan seperti industri baja. kaca dan sebagainya. Apabila progres fisik proyek berjalan baik sesuai rencana. maka PLN akan mengimbanginya dengan pemasaran listrik yang agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan. sewa PLTU batubara dan PLTG gas tersebut juga dimaksudkan untuk secepatnya dapat mengurangi penggunaan BBM di sistem Kalseltengtim.Selain itu. Sedangkan proyek-proyek yang diperkirakan mundur dari jadwal : .2. kemudian pada tahun-tahun berikutnya digunakan sebagai pembangkit peaking untuk mengurangi penggunaan BBM. B1. . perlu penanganan khusus untuk aspek lingkungan sehubungan adanya satu jenis spesies langka (kera berhidung merah) yang diperkirakan hidup dikawasan hutan sekitar lokasi proyek. karena proyek ini dapat menurunkan biaya operasi dan mencukupi kebutuhan listrik di Sistem Mahakam Kalimantan Timur.3 Proyek-proyek IPP Yang Terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B1. untuk memenuhi kebutuhan beban pada tahun 2013 sebelum PLTU IPP beroperasi. PLN akan memonitor progres proyek dari tahun ke tahun.3 485 . − Tambahan pasokan gas ke PLTGU Tanjung Batu untuk menurunkan biaya operasi sistem Kalimantan Timur. industri keramik. Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada tahun 2013 sampai 2017. − PLTU Asam-Asam (Perpres 1) 2x65 MW. − Penyediaan gas untuk PLTG Sambera 2 x 20 MW dan untuk PLTD Cogindo 40 MW yang saat ini masih dioperasikan dengan bahan bakar MFO.PLTU Pulang Pisau 2x60 MW karena permasalahan kondisi tanah pondasi. Adapun proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : − PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan (Perpres 1) 2 x 100 MW. dan menunda jadwal proyek pembangkit berikutnya. Neraca Daya Sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1. − PLTG Bangkanai 4x70 MW.PLTA Kusan.

Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO sebesar 513 juta liter dan pada tahun 2020 menjadi 24 juta liter. Kebutuhan energi primer di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1. Demikian halnya dengan PLTG Sambera 40 MW dan PLTG Senipah 2x41 MW diharapkan akan semakin memperkecil penggunaan BBM.4 Neraca Energi Rencana pembangunan beberapa PLTU batubara dan PLTG peaking di sistem Kalseltengtim merupakan salah satu upaya menurunkan biaya operasi mengingat sebagian besar pembangkit di Kalseltengtim masih berbahan bakar minyak. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020.05 juta ton pada tahun 2011 menjadi 5. diharapkan dapat menurunkan peran BBM khususnya pada waktu beban puncak. diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan ini dapat dikurangi. d. b. Peranan MFO dan HSD pada tahun 2011 untuk sistem Kalseltengtim masih cukup tinggi dimana konsumsi MFO dan HSD adalah sebesar 1.4. PLTG Kaltim peaking 2x50 MW serta PLTA Kusan 65 MW dan PLTA Kelai 150 MW. Selain itu. Volume pemakaian batubara meningkat dari 1.6 kali lipat. peranan pembangkit berbahan bakar HSD dan MFO akan menurun dimana hingga tahun 2020 produksi pembangkit berbahan bakar minyak sebesar 238 GWh atau 2 % dari produksi total sistem Kalseltengtim. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1.87 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 5. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU batubara. Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Dengan beroperasinya PLTU. 486 . c.B1. rencana pengembangan PLTG Bangkanai 4x70 MW. PLTG gas dan PLTA.4.776 GWh atau 49% dari produksi total sistem Kalseltengtim.

ƒ Sedangkan proyek transmisi 150 kV yang perlu segera beroperasi pada tahun 2012 adalah. 487 .330 MVA Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalseltengtim seperti pada Lampiran B1.5.5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 akan mencapai 2. proyek pembangkit IPP. Kebutuhan pembangunan transmisi 150 kV dan 70 kV baru dan up rating untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 sekitar 5.315 kms.6.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik dan sekaligus untuk mengurangi penggunaan BBM pada sistem kelistrikan yang sebelumnya masih isolated. PLTG peaking dan PLTA serta untuk menggantikan PLTD. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1. meliputi : ƒ Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit percepatan tahap I dan tahap II. transmisi 150 kV Tanjung – Kuaro – Karangjoang untuk menghubungkan sistem Kalselteng dan Kaltim serta transmisi 150 kV PLTGU Tanjung – Buntok – Muara Teweh – Bangkanai. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Untuk keperluan pengendalian operasional sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Kalseltengtim khususnya pada subsistem Kalselteng dalam rangka menjaga tingkat mutu dan keandalan sistem penyaluran. direncanakan pembangunan sistem SCADA (supervisory control and data acquisition) termasuk media komunikasi dan prasarananya di Kalimantan Selatan. B1.B1. ƒ Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran.

Karang Joang .d 2011 adalah : Bukuan – Sambutan. 488 . dan Berau – Tanjung Selor (2015). Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Bontang ke GI Sambera sebesar 107 MW. Prakiraan aliran daya sistem Mahakam dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Penajam Incomer 1 phi Karang Joang – Kuaro. PLTU Teluk Balikpapan 2 x 100 MW. Sedangkan PLTU Kaltim MT 2x15 MW diperkirakan akan mundur. ada beberapa tambahan pembangkit yaitu PLTG Kaltim 50 MW. PLTG (FTP2) – Sambutan (2012). dan sistem Mahakam Kalimantan Timur menerima transfer energi dari sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 33 MW. hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012. Pembebanan trasmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1.8 Analisis Aliran Daya Sistem Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Analisa aliran daya pada sistem Mahakam dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya.Kuaro (2012). PLTU Kaltim – 2 (FTP-2) dan PLTU Embalut Ekspansi 50 MW. Pada RUPTL 20112020 ini. Tahun 2011 Tambahan transmisi baru dari tahun 2010 s. PLTU MT Kaltim-Bukuan (2014).B1. B1. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar Tanjung Batu ke GI Tengkawang sebesar 77 MW. Teluk Balikpapan Incomer 2 phi Karang Joang – Kuaro (2012). 2015 dan 2017. PLTG Senipah 2x41 MW. Tambahan ruas transmisi pada tahun 2011-2015 adalah : PLTG Senipah – incomer single pi Manggarsari (2012) – Karangjoang. Tahun 2015 Dari tahun 2011 hingga tahun 2015. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Manggarsari (148 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139 kV). 2.7 Peta Pengembangan Penyaluran Cukup jelas. PLTG Senipah – PLTU MT Kaltim(2014). Pembebanan trasmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1. Uprating Harapan Baru – Bukuan (2013).

Tahun 2013 Pada tahun 2013 sistem isolated Sampit. PLTU Pulang Pisau 2x60 MW dan PLTG Bangkanai 140 MW.6 kV) Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah ( Sistem Barito) Analisa aliran daya pada sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem Barito) dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Pembebanan trasmisi masih dibawah 50% sehingga masih memenuhi keandalan N-1. Tegangan terendah terjadi pada GI Kayu Tangi sebesar 489 . Pada RUPTL 2011-2020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012. Kasongan. PLTG Kaltim 50 MW peaking (2018). 2015 dan 2017. Prakiraan aliran daya sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem barito) dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Kelai (156 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139. Profile tegangan pada sistem interkoneksi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih memenuhi standar. PLTU Kaltim Infrastruktur 200 MW (PPP book) dan PLTA Kelai 2x75 MW telah beroperasi. Pada tahun 2013 ini diperkirakan telah terjadi interkoneksi sistem Barito dengan sistem Mahakam (Kalimantan Timur). Total beban interkoneksi sistem Barito sebesar : 504 MW. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Kelai dan Bontang ke GI Sambera sebesar 202 MW. Tahun 2020 Pada tahun 2020. Batulicin dan Buntok telah terhubung dengan sistem Barito. dan sistem Mahakam Kalimantan Timur mengirimkan transfer energi ke sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 65 MW.Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi terjadi di GI Bontang (153 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Manggarsari (147 kV) 3. Tambahan ruas transmisi 150 kV pada tahun 2016-2020 adalah : New Samarinda .Sambutan(2017) dan PLTA Kelai – Sangatta (2018) Bontang. dan adanya penambahan pembangkit baru di sistem Barito yaitu PLTU Asam–Asam (FTP-1) 2x65 MW.

3 MW (1.9 kV. Kuala Kurun dan Pangkalan Bun. sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 0. ƒ Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan baru.2 MW. sedangkan tegangan tertinggi terjadi pada GI Sampit dengan tegangan sebesar 155. Sedangkan perluasan/penambahan jaringan transmisi untuk menghubungkan sistem isolated ke sistem interkoneksi meliputi sub sistem Puruk Cahu. Losses yang terjadi pada kondisi ini sebesar : 5. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Kayutangi sebesar 145. PLTU Kalteng-1 2x100 MW dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 2 (100 MW) ke sistem Barito.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 24. 3.4 MW dengan pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance.6 kV.8 MW. Tahun 2020 Hingga tahun ini terjadi penambahan pembangkit PLTA Kusan sebesar 65 MW.1 dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 155. pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance. Total beban sistem Barito sebesar 623 MW dengan Losses 10. Tahun 2015 Penambahan pembangkit baru masuk sistem Barito terdiri dari PLTG Bangkanai extension sebesar 2x70 MW. PLTU Sampit 2x25 MW.1 kV dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 154.6 kV.4 MW. B1. Profil tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Trisakti sebesar 144. dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 1 100 MW.149. Total beban sistem Barito sebesar 942 MW dan Losses 20 MW (2. 2. ƒ Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan ƒ Perbaikan SAIDI dan SAIFI 490 .6 MW (1. Aliran daya dari Kalteng ke Kalsel sebesar 0.7 %). Perluasan transmisi meliputi segmen Kuala Kurun – Kasongan dan PLTA Kusan – Kadongan.2%).1 %) Aliran daya dari Kalsel ke Kalteng sebesar 50.8 kV.

6 17.5 53.022 Tahun Pelanggan 109.4 2011-2020 578.2 64.1 82.169 46.9.987 7.0 91.296 4.4 145.3 6.9 6.4 159.229 1. Kalteng dan Kaltim 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 JTM kms 4.0 6. Kalteng dan Kaltim Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 34.7 55.8 13.037 2.6 110.4 5.9 14.1 146.5 55.0 88.914 4.114 134.623 121.7 74.2 177.5 77.3 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Selatan.4 71.4 63.389 113.9 3.3 4.997 4.6 176.1 101.400 111.117 6.628 Trafo MVA 142 159 244 241 204 181 191 204 221 234 2011-2020 54.6 5.0 5.5 6.8 16.098 3.054 129. Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi 2011-2020 Propinsi Kalsel. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur seperti pada Lampiran B1.3 196.4 52.8 58.040 4.161.727 5.780 JTR kms 2.4 5.7 112.788 130.2 67.0 43.330 4.2 79.0 16.0 1.5 14.545 6.204 5.239 81.3 215.4 146.5 10.209 6.3 11.6 72.5 829.655 4.138 3.6 155.679 109.202 5.609.783 4.166 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 Propinsi Kalsel.1 13.973 5.650 120.8 126.0 65. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : 491 .584 5.7 17.ƒ Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Selatan.

Kalteng dan Kaltim 2011-2014 Tahun JTM kms JTR kms Trafo MVA Unit Jumlah Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS) 2011 655 313 24 370 29. JTR dan gardu distribusi yang akan dibangun. JTR 46.169 kms.770 2012 424 190 17 197 9. Kebutuhan anggaran per tahun diperkirakan sebesar US$ 160 juta.753 - Total 740        2.ƒ Pada tahun 2012 terjadi penurunan jumlah pelanggan yang akan disambung disebabkan sebagian besar daftar tunggu calon pelanggan di Kalselteng diselesaikan di tahun 2011 sehingga pada tahun 2012 calon pelanggan sudah berkurang.214           99      1. ƒ Rencana JTM. ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 54.609 juta dengan rincian JTM US$ 578 juta.875 2013 774 360 30 373 18.10 Program Listrik Perdesaan Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel. ƒ Perkiraan biaya total untuk pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan sekitar US$ 1.16 juta pelanggan. gardu distribusi US$ 146 juta.190 - 2014 755 351 29 364 17. tahun 2011 tidak semua daftar tunggu bisa disambung karena keterbatasan kemampuan pasokan. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dilapangan. gardu distribusi dengan kapasitas 2. JTR US$ 829 juta. tidak selamanya mengalami peningkatan volume/kapasitas yang sama atau lebih tinggi.304      75. dan sambungan pelanggan US$ 55 juta.037 kms.588            740 492 . Akibatnya tambahan pelanggan baru pada tahun 2012 tidak sebanyak yang akan disambung pada tahun 2011. B1.022 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1.609        1. Sebaliknya dengan di Kaltim.

18 triliun dengan rincian JTM Rp 782 miliar. 4. B1.353 26.824        233.148          2. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.822 - Total        782.451        159.990 350. gardu distribusi dengan kapasitas 99 MVA.620 60. dan sambungan pelanggan Rp 2. transmisi dan gardu induk sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1.Prakiraan Biaya Jaringan Listrik Perdesaan (Rp Juta) Regional Kalsel.179.590 2013 239.214 kms.198 359. ƒ Perkiraan total biaya selama kurun waktu tersebut untuk kegiatan listrik perdesaan sebesar Rp 1.3 s/d.12. gardu distribusi Rp 160 milyar.961 196.145 67.918 69. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 64% tahun 2010.357 50.472 - 2014 234.706    1.6% di tahun 2020 untuk regional Kalimantan Selatan.7% di tahun 2014 dan 92. JTR Rp 233 milyar.590 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Selatan.053 33. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 20112014 diatas.142 36. 493 .59 milyar. menjadi 75.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.609 kms. dapat dijelaskan sebagai berikut : ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 2.456 2. B1.398 - 2012 133. JTR 1.688 48.6.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Cukup jelas sebagaimana diuraikan dalam sub Bab 4.557 272. Kalteng dan Kaltim 2011-2014 Tahun JTM JTR Trafo Total Listrik murah & hemat (RTS) 2011 175.

L LAMPIRA AN B2 SISTEM INTERK KONEKSII SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERK KONEKSII SULSEL LRABAR 494 .

Proyeksi Ke ebutuhan Inv vestasi B2. Proyeksi Ke ebutuhan Tenaga Listrik Neraca Day ya B2.12. Peta Penge embangan Pe enyaluran B2.7. Rencana Pengembanga P an Penyalura an B2.5. SULAW WESI TENGAH DAN GORONTALO (SUL LUTTENGGO O) DAN SIST TEM INTERKONEKSI SULA AWESI SELA ATAN.6. stribusi Kebutuhan Fisik Pengembangan Dis B2.1.9. SISTE EM INTERKO ONEKSI SUL LAWESI UTA ARA. Analisis Aliran Daya B2.3.8.4.L LAMPIRA AN B2 B2.11. Capacity Ba alance Gardu u Induk B2.2. SULA AWESI TENGGAR RA DAN SUL LAWESI BARAT (SULSE ELRABAR) B2. aan Program Listrik Perdesa B2. Neraca Ene ergi B2. Proyek-Pro oyek IPP Terk kendala B2.10. ASAN LAMPIIRAN B2 PENJELA 495 . nergi Baru da an Terbaruka an Program En B2.

LA AMPIRA AN B2.1 PROYE EKSI KEBU UTUHAN TENAGA A LISTRIK SISTEM INTERK KONEKSII SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERK KONEKSII SULSEL LRABAR 496 .

7 Sistem Sulut-Gtalo-Tolitoli .2 151.3 45.302.135.0 1.8 383.650.9 100.1 405 5 405.7 373 3 373.5 69.9 566 6 566.8 1.6 56.8 63.1 56.8 60.786.2 42.3 61.Produksi ( GWh ) .302.8 60.557.1 59.505.4 520 3 520.7 137.6 41.799.1 1.Beban Puncak ( MW ) 1.6 440 5 440.6 75.8 61.2 61.0 56.7 87.Produksi ( GWh ) .135.0 346.Load Factor (%) .Proyeksi y Kebutuhan Tenaga g Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Suluttenggo No 1.177.3 301.Beban Puncak ( MW ) 1.3 3.0 266 5 266.0 266 5 266.6 1.3 436.Load Factor (%) .8 64.8 61.3 21.070.9 373.5 245 8 245.4 57.0 74.1 298.2 352.7 471.1 25.6 40.7 2.7 59.2 57.8 94.7 1.7 Sistem Gorontalo .555.4 1.254.5 2.1 59.5 1.809.2 60.144.Beban Puncak ( MW ) 257.9 38.9 1.8 61.Produksi ( GWh ) .2 19.6 440 5 440.Load Factor (%) .4 194.5 2.984.3 2.9 61.799.5 23.7 324.9 566 6 566.337.5 123.9 40.Produksi ( GWh ) .5 1.4 289 1 289.5 2.Load Factor (%) .7 81.3 61.4 57.2 61.0 57.6 Sistem Interkoneksi Sulteng .4 61.0 40.5 111.7 2.070.8 1.9 61.374.Beban B b P Puncakk ( MW ) 1.6 40.9 60.2 64.0 165.6 .8 61.4 229.045.6 63.3 40.2 91.4 278.6 321.4 520 3 520.423.5 245 8 245.8 61.5 2.2 40.394.5 1.0 253.7 373 3 373.3 28.4 289 1 289.7 34.2 59.Beban Puncak ( MW ) 66.2 1.7 56.0 62.2 Sistem Tolitoli-Moutong .0 478 7 478.4 403.Load Factor (%) .3 2.8 2.3 344 0 344.2 59.0 40.3 344 0 344. 2 497 3 4 5 Sistem 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Sistem Sulut .6 2.9 211.1 62.5 31.1 405 5 405.1 1.0 1.555.952.337.2 60.0 56.2 51.3 418.0 56.Produksi ( GWh ) .9 60.7 40.3 3.952.6 511.6 62.1 102.1 1.4 55.5 274.557.786.3 65.4 65.0 82.6 41.0 478 7 478.423.

9    7.3 59.6 Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) 63.847.639        1.6 1.1        384.346.275.9 2017 2018 2019 2020    9.8          63.4 62.4          43.2           29.541.8     6.799    4.1    8.2 8.391.2 63.6 86 449.500.7 63.127         1.8 55.063.358        1.1 63.4    7.6          63.1 63.3 59.8    1.7 152 7.885.7    5.7 63.7         345.1 62.4          97.6    7.5 55.9    1.7    1.3 54.3           63.4 8.1         698.3 59.0 100 4.227.4          35.1 726.6        259.1 Wil.017.913.1 59.6        528.476.404.6 55.7 61.5 61.918.5 1.7 62.6 1.626.3          63.8 1.984.2 63.4          63.5 57.0        427.1 1.5 967.7          87.1        183.2 56.119.1 1.3 62.0         152.2 541.6     6.2           833           929     3.1          63.0 63.5 1.8 55.7 109 594.491        1.387.3 5.021        1.2 64 355.6          63.015.651.3 93 492.3 63.0 63.141.0            728 Beban Puncak ((MW)) 498 Sistem Sulsel (Prop Sulsel) Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Sistem Sulsel (Prop Sulbar) Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Sistem Sultra Energi g Produksi ((GWh)) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Interkoneksi SULSELRABAR Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) 2015 2016    6.092.6     1.604.0 53.691.7    4.3        885.3 63.279.7          63.2        475.0    9.8    1.4        970.229.5           63.4 53.2 128 718.0 139 793.3 6.9          78.3 6.212.0          50.3 58.5 118 653.9          63.9 75 409.865. SULSELRABAR Sistem Sulsel (Prop Sulsel & Sulbar)     4.0 55.4 63.102.525.166.2        798.722.778.950.9 62.9 1.100.420.777.7    5.928.1 59.6    1.8 .1 300.619.4        1.9        222.456.6           70.7 55.9 56.5    5.6    5.6 5.6 63.5    8.8        310.820.113.845.1    9.7 55.4        108.6 9.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Sulselrabar SISTEM 2011 2012 2013 2014    4.6 10.135.9          63.237        1.3 59.

2 NERACA DAYA D SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSEL LRABAR 499 .LA AMPIRAN N B2.

MW Grafik Neraca Daya Sistem Sulut-Gorontalo 900 Reserve Margin PLTG PLN PLTG60% PLN PLTA/MPLN 800 68% PLTP PLN PLTG PLN PLTP IPP 58% PLTU IPP 700 64% PLTU PLN PLTU Sewa 600 47% PembangkitIPP &Sewa 64% 57% PembangkitTerpasangPLN 500 Beban Puncak 500 PLTP PLN 69% PLTP IPP 65% PLTU IPP 57% 400 300 PLTU PLN PLTD Sewa 200 PLTU Sewa Pembangkit Terpasang 100 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 500 .

136 60 405 2.558 61 479 2.337 61 441 2.555 61 289 1.952 60 373 2.423 61 267 1.786 59 344 1.071 62 567 MW MW 314 168 318 172 271 172 209 174 169 166 169 166 149 146 149 146 149 146 149 146 MW MW 3 111 3 111 3 64 - 20 PLTU PLTM PLTU PLTU PLTP 3 - - 3 - 40 3 - - 20 3 3 3 - - - - - - 50 1 50 25 25 20 PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA PLTG PLTG 50 45 40 40 16 25 PLTU PLTU 25 25 25 20 25 PLTP PLTP PLTU PLTU MW % - 3 - 25 20 20 110 12 *) 385 57 439 65 487 69 565 64 586 57 666 64 696 58 806 68 831 60 831 47 .303 61 246 1.Neraca Daya Sistem Sulut Sulut-Gorontalo Gorontalo Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Factor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang PLN SWASTA IPP SEWA Retired & Mothballed PLTD 501 1 Tambahan Pasokan SEWA Rencana PLTU Sewa Amurang (2x25) PLN On-Going Project Mini Hydro 20 kV Sulut II (FTP1) Gorontalo ((FTP1)) Lahendong IV Rencana Sulut I (FTP1) Tolitoli (3x15 MW) Kotamobagu I (FTP2) Kotamobagu II (FTP2) Sawangan Minahasa GT (Peaking) Gorontalo GT (Peaking) IPP On-Going Project Molotabu (2x10 MW) Sulut I (Kema) Rencana Lahendong V (FTP2) Lahendong VI (FTP2) Sulut (PPP) Gorontalo. 2x6 MW (Terkendala) Jumlah Pasokan (Terpasang) Reserve Margin (Terpasang) Unit GWh % MW 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 1.800 61 520 3.

500 PLTA IPP  PLTU PLN   PLTGU IPP PLTU IPP  63% PLTU Sewa 2.000 Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN 502 Beban Puncak 70% 62% 52% 49% PLTA PLN PLTG PLN 61% PLTGU IPP 1.MW Grafik Neraca Daya Sistem Sulsel Reserve Margin 3.000 PLTU PLN 11% PLTU IPP 500 Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa Pembangkit g Terpasang p g 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 .000 PLTG PLN  PLTGU IPP  53% 61% PLTM (PLN+IPP)  PLTA PLN  2.500 PLTA IPP 56% 1.

237 7.358 8.639 9.018 49 2.985 63.577 70 100 50 100 1.136 63.1 1.799 MW MW MW MW 786 254 257 275 81 786 254 257 275 - 530 213 197 120 41 401 146 135 120 67 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 100 50 100 100 150 100 150 126 PLTU PLTU PLTM 240 100 8 PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU PLTA PLTA PLTG PLTGU PLTA PLTM PLTU 100 50 117 60 10 PLTA PLTA PLTU PLTU PLTM MW % 130 5.2 1.304 56 1.2 1.018 63.644 61 2.0 200 (60) 180 7.127 6.846 63.525 63.605 63.491 9.5 100 90 806 11 3 11 1.652 63.018 63 2.102 63.648 61 1.Barru (FTP1) Mini hydro 20 kV Rencana Sulsel Baru Makassar (Peaking) Takalar (FTP2) S l l-B Sulsel Barru (Ek (Ekspansi) i) Sulsel-2 Bakaru II PLTA Poko IPP On-going Project Sengkang Sengkang Poso (Transfer ke Selatan) Mini hydro 20 kV Sulsel-1 / Jeneponto Bosowa Rencana Bonto Batu (Buttu Batu 1) Malea Mamuju (FTP2) Sulsel-3 (Takalar) Mini hydro 20 kV 4 5 Jumlah Pasokan Reserve Margin Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 4.4 1.230 63.275 63.3 1.2 1.021 6.Neraca Daya Sistem Sulsel No.1 833 5.1 929 5.761 53 . 1 2 3 Kebutuhan dan Pasokan 503 Kebutuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Pasokan Kapasitas Daya Terpasang PLN IPP Sewa Mesin Retired & Mothballed Tambahan Kapasitas SEWA Rencana PLTU Sewa Barru 2x(120-150) PLN On-going Project Sulsel .828 62 2.0 728 4.4 1.268 52 2.

L LAMPIRA AN B2.3 PROY YEK-PROY YEK IPP YANG Y TER RKENDAL LA SIST TEM INTERKONEK KSI SULUT TTENGGO O DAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULSE ELRABAR R 504 .

Kateg gori PPTL terke endala adalah.B2. Kate egori 3. tahap p operasi adalah tahap dima ana IPP suda ah men ncapai COD..5 MW masukk dalam katego ori 1 • PLT TA Poso 3x65 MW M masuk dala am kategori 2 • PLT TU Jeneponto 2x100 2 MW massuk dalam kate egori 2 • PLT TA Manippi 1x10 MW masuk dalam d kategori 2 • PLT TU Gorontalo 2x6 MW masuk dalam kategorri 2 • PLT TU Molotabu 2xx10 MW masukk dalam katego ori 2 Saat ini penyyelesaian IPP terkendala tersebut sedang g diproses oleh Komite Direktu ur untuk IPP da an Kerjasama Kemitraan. ada beberapa proyyek pembangkkit IPP yang Perrjanjian Pembe elian Tenaga Listrik L (PPTL) nya mengalam mi kendala. • PLT TU Tawaeli 2x13. teta api belum menccapai Financial Closing (FC). tahap pembangunan/konstruksi dim mana IPP suda ah men ncapai Financia al Closing (FC) tapi belum me encapai COD. 505 . Tahap p pendanaan IP PP yang sudah memiliki PPTL L. • Kate egori 2. K Beberapa pro oyek kategori 2 sudah dalam tahap konstruksi da an diharapkan tah hun 2012/2013 sudah beroperasi. • Kate egori 1.3 Proyek--Proyek IPP Ya ang Terkendalla Dalam perenccanaan pemban ngkit IPP. • Pembangkit IP PP yang terkendala di sistem Sulawesi S adala ah.

LA AMPIRAN N B2.4 N NERACA E ENERGI SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULUTTENGGO O DAN N SISTEM INTE ERKONEK KSI SULS SELRABAR 506 .

200 2.187 2.209 1.800 3.275 9.747 1.393 5.272 Jumlah 4.136 2.558 2.189 1.555 1.Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulut .563 1.196 2.Gorontalo Jenis 2011 Batubara Gas LNG HSD MFO Geot.628 2.136 398 695 78 1.605 5.136 5.114 1.164 414 1.514 1.846 7.337 2.528 3.018 4.207 2.652 6.198 2.521 1.423 1.071 507 Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulselrabar Jenis 2011 Batubara 133 Gas 2012 (GWh) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 684 1. H d Hydro 99 Jumlah 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 (GWh) 2020 295 157 430 322 378 154 139 430 322 578 39 84 103 430 322 866 38 7 514 322 823 39 0 644 385 564 39 0 1.272 2.157 408 902 78 0 1.201 1.891 2.164 416 1.205 1.073 401 93 - - - - - - Geot.860 3.164 414 1.106 116 0 1.985 .194 2.102 9.303 1.201 LNG - - 238 226 213 223 235 239 239 398 HSD 259 120 29 14 - - - - - - MFO 1.954 4.525 8.934 2.197 2.230 6.373 117 0 1.556 1. - - - - - - - - - - Hydro 591 1.886 2.068 1.518 2.

320 6.212 505 93 Geot.120 8.687 2.511 1.063 1.136 1.028 6. 430 430 430 514 Hydro 913 1.424 4.514 1.902 13.863 10.200 2.646 2.691 - 2018 - 2019 2020 - - - - - 644 1.499 6.531 1.Proyeksi Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sulut-Gorontalo dan Sistem Sulselrabar (GWh) 508 Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Batubara 232 1.164 1.164 1.953 1.187 2.157 1.688 7.056 .222 4.197 2.856 5.207 2.399 8.586 1.164 1.487 Gas 1.201 LNG - - 277 264 252 262 313 317 355 515 HSD 554 274 113 20 0 0 0 0 0 MFO 1.801 3.451 3.198 2.971 2.518 2.300 2.196 2.527 Jumlah 5.678 1.194 2.833 11.982 9.

861 3. Geot - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - 509 Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulselrabar Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 88 454 bcf 13 13 Gas LNG - 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 698 1.863 2. - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - .335 17 17 17 17 17 17 17 17 3 3 3 3 3 3 3 5 - 2020 HSD 10^3 kl 72 33 10 4 - - - - - - MFO 10^3 kl 387 273 102 24 - - - - - - Geot Geot.P Proyeksi k iK Kebutuhan b t h E Energii P Primer i Si Sistem t S Sulut l t .575 2.713 1.261 1.Gorontalo G t l Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 79 303 465 700 664 456 561 714 800 999 - - - - - - - - - - - - Gas bcf LNG 2013 2014 2015 2016 0 0 0 0 4 0 0 HSD 10^3 kl 168 88 48 MFO 10^3 kl 40 35 26 2017 2018 1 - 2019 2020 1 1 1 0 0 0 - - - - - - - Geot.297 2.

662 4. Geot - - - Hydro - - - 2020 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - .334 13 17 17 17 17 17 17 17 17 3 3 3 3 4 4 4 6 0 0 - 0 0 0 - - 510 HSD 10^3 kl 240 121 57 8 MFO 10^3 kl 427 308 128 24 Geot.960 2.376 2.163 1.858 3.289 3.319 2.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulut – Gorontalo dan Sistem Sulselrabar Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 167 bcf 13 Gas LNG 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 756 1.

5 CA APACITY BALANC CE GARDU U INDUK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULUT TTENGGO O DAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULSE ELRABAR R 511 .LAM MPIRAN B2.

4 60 42% 5 (APLN 2018) 60 46.8 14.5 27.9 35.9 35.2 37% Mandai 512 70/20 1 5 - 70/20 1 2. (2012 .9 47% 52% 58% 63% 70% 38% 20 MVA stand by-dibatasi trafo bay 4 Daya Baru 2013 150/20 1 60 - (APLN 2012) - 21.3 32.6 19.3 38.relok 10 MVA .3 23.6 33% -10 40% 27% (2011 .relok dr Bontoala) 23.1 30.8 28.9 46% Maros 2011 70/20 1 10 150/20 1 30 Add Trans 10 Jalur Tengah g ((APLN 2012)) 10 8.ke Nii Tanasa) 60 23.4 35.0 32.2 30 12.9 35.beban GI Daya sebagian diambil GI Daya Baru & GI Maros 2019-sebagian GI KIMA 32.4 32.9 35.5 38. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size Add Peak Trans (MVA) (MVA) 2013 2012 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans 2020 Add Peak Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 1 Pangkep 70/20 1 20 150/20 1 30 st 30 30 2.3 20.8 33.beban GI Daya sebagian diambil GI Maros 2005 : ex Pnk 70/20 2 20 40 (2012 .3 95% 64% -20 22% 24% 27% 30% 33% 36% 39% 36% 23.2 69% 53% 20 Daya 2015 .5 - 1996 : ex Pnkng 1 20 20 2005 : ex Pnkng 1 20 20 40 3. (APLN 2011) 16.5 27.20 MVA .beban GI Mandai sebagian diambil GI KIMA 30.7 39.7 31% 35% 40% 45% 51% 58% 65% .8 26.relok 30 MVA dr Bontoala) 40 2014 .7 19.6 34.1 35.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.5 25.3 30 10.6 29.1 49.9 35.4 21.9 59% 64% 65% 70% 70% 70% 70% 70% 2013 .1 44.5 23.9 17.0 30.4 66% 38% 30 (APLN 2018) 21.4 21.3 15.5 42% 46% 51% 55% 60% 64% 35% 60 38.

20 kV disuplai PLTD Sewatama Tello 8 (APLN 2016) 42.8 51.5 108.relok 30 MVA .6 60 47% 60.8 69% 62% -30 68% 75% 69% -30 76% 76% 76% 76% (2013 .relok 30 MVA .relok 30 MVA .8 69.4 86.3 12.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.8 66% 73% 54% 60 (APLN 2017) 90. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans (MVA) (MVA) 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans 2016 Add Peak Trans 2017 Add Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 6 KIMA Makassar 2015 150/20 1 60 - (APLN 2014) 7.3 53% 57% 56% (2011.relok 20 MVA ke Mandai) 1995 70/20 2 20 40 (2012 .relok 30 MVA ke Daya) 70/20 1 30 30 (2012 .6 82.6 58% 63% GIS Bontoala-II 2011 150/20 1 60 (APLN 2014) - 51.8 19.ke Majene) 9 Bontoala (2012 .7 30.6 59% 65% 53% 60 70 kV masih dipertahankan 10 Panakukang 1995 2005 70/20 2 20 70/20 1 20 2 30 150/20 2018 .3 87.beban GI Panakukang sebagian diambil 60 60 (APLN 2012) 60.2 62.0 59% 60 (APLN 2015) 70.d 2010 .1 60 81.relok 30 MVA .5 74.ke Makale) (2018 .ke Palopo) Tallo Lama 2015 .2 87.5 16% 24% 31% 39% 60% 2015 .5 60 86.beban GI Tallo Lama sebagian diambil GI KIMA 1995 150/20 2 30 60 60 (APLN 2011) 44.9 88% 51% (APLN 2016) 60 2020-beban GI 57.ke Sinjai) .8 115.2 56% 61% 63% 68% 59% -30 64% 68% 68% (2017 .0 54.9 64.5 60 59% 67.KIMA ambil sebagian beban Mandai & Tallo Lama 7 Tello 1992 30/20 1 20 - 2004 150/20 1 30 30 30 513 s.8 99.0 15.relok 20 MVA ke Borongloe) 70 52 61 67 75 83 91 100 109 118 129 118.0 87.7 60 115.6 63.3 75.7 60 15% 8.4 60 49.2 128.8 115.8 75.5 42% -30 48% 53% 58% 63% 68% 49% 2020-sebagian 60 81.8 96.4 78.2 105.0 58.8 115.4 69.

8 23. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size (MVA) Add Peak Trans (MVA) 2013 2012 Add Peak Trans Add 2014 Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans 2017 Add Peak Trans Add 2018 Peak Trans 2019 Add Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 11 Panakukang Baru / Antang 2018 150/20 (APLN 2017) 1 60 10.7 27.8 56.2 33.4 51.8 42.2 37% 44% 49% 54% 61% 67% 74% 49% 60 68.3 38.6 29.Ta 12 Tanjung Bunga 2006 2020 .2 42.2 32.7 53.ke .6 62.5 28..6 31.3 20.3 60 45.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.3 39.8 38% 42% 46% 51% 55% 60% 65% 70% 45% 60 .6 41% 45% 50% 55% 60% 65% 70% 45% -16 49% Tallasa 1996 150/20 1 16 16 2000 150/20 1 20 20 36 (APLN 2018) 19.9 94% 54% 59% 64% 70% 43% 30 46% 50% 53% 57% 23.Tello .6 60 21% (APLN 2019) 21.3 37.Beban G 20 20 14 (APLN 2017) (2012 ..7 33..8 25.relok 20 MVA dr Bontoala) 20 (APLN 2015) 15.7 53% 47% Borongloe 2006 70/20 1 10 70/20 1 20 st 2023 .4 43% 55% 60 Ambil sebagian beban Panakukang .relok 16 MVA .1 21. 15 Sungguminasa 1998 150/20 1 30 30 30 (APLN 2019) 25.3 45.0 30.4 36.7 33.1 33% 60 29. .6 46.4 41.9 49.Beban G 150/20 1 30 30 30 514 13 28.9 18.9 30 35% (2019 .3 56.1 25.2 35.2 59.6 57.

0 25.4 17.3 8.5 9.5 33.0 18.6 10.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.2 12.4 65% 75% 45% 30 (APBN 2019) 27.Pare Branch 1.2 10.4 22.0 30.7 8.1 34% 39% 43% 47% 52% 57% 61% 66% 72% 47% 6.8 9.9 45.6 12.8 30.9 41.0 26.0 28.0 8.7 6.2 30 15. (APLN 2019) 13.0 34% 39% 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 31% 30 Barru 150/20 2 5 10 10 30 515 Pinrang Branch 1 Bakaru 150/20 1 20 20 20 2 (APLN 2019) 30 Pinrang 1 5 st diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 150/20 1 16 16 150/20 1 20 20 36 (APBN 2012) 19.1 30 50% 54% 59% 64% 69% 75% 66% -16 2019.9 23.1 13.0 38.7 7.3 14.2 36. SUBSTATION No 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MVA)(MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Pare .4 11.0 10.relok 16 M .2 79% 23% 25% 27% 29% 32% 34% 37% 39% 42% 5. Pare-pare 150/20 1 16 16 16 2.2 24.6 7.8 11.5 13.6 20.

2 51% 58% 64% 28% 30% 33% 35% 37% 40% 43% 15 8 15.8 17 2 17.3 46% 51% 56% 61% 67% 73% 55% -20 20 56% 56% (2018 .2 16.8 12.3 23.4 13.6 9.8 11.6 13 3 13.8 14.84 30 37.5 12. SUBSTATION No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MVA)(MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Mamuju Branch 1 Polmas 2000 diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 150/20 1 20 20 20 2 150/20 1 20 13.8 15.7 8.3 22 7 22.7 10.relok 20 MVA .8 13..9 19.5 17.5 19 9 19.7 43.ke .9 21 3 21.3 15.4 39% 30 27.8 22.1 36.2 18 5 18.5 68% 78% 34% 30 Bone / Watampone Sebagian beban GI Bone diam 1995 150/20 1 20 20 2000 150/20 1 20 20 40 (APBN 2017) 23.) . (APBN 2012) 11 6 11.2 46.4 39.4 71% 81% 36% 30 39% 42% 45% 49% 52% 56% 60% 7.0 Majene 2000 3 (APBN 2012) (2017 -30 MVA -relok dari Tallo Lama) 30 14..3 14 5 14.3 45% 52% 57% 62% 68% 73% 31% 8.2 37% 40% 43% 47% 50% 53% 57% 20 20 516 12.98 38.1 33. Soppeng 1995 150/20 1 20 20 diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 2000 150/20 1 20 20 150/20 1 -20 -20 2008.7 24 2 24.9 17.2 30.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.3 16.1 unit ke 20 2.3 20.9 10.3 34% 36% 38% Mamuju 2009 150/20 1 20 20 20 (APBN 2013) 30 Watampone Branch 1.6 11.8 25.9 15.0 18.9 9.

6 77% 48% 30 Sengkang 1999 2002 (rusak th.9 32.0 27 1 27.relok dr Panakukang 16.0 45% 50% 54% 59% 64% 69% 46% 49% 53% 19.4 Kajuara 2019 5 20.6 30 39% 2 Sinjai 2007 150/20 1 20 20 20 2018 -30 MVA .4 31.9 34.0 24.3 40.1 41% 43% Jeneponto 2006 150/20 1 20 20 20 2019 -relok 30 MVA .4 33 6 33.2 22.7 29.4 30 41% 4 24.3 20.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.7 47% 41% 45% 49% 53% 57% 61% 65% 70% 14.6 29.0 25.6 30 39% 3 30 30 27.6 36 0 36.1 20.3 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 47% Siwa / Keera 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 13.6 51% . Bulukumba 2006 150/20 1 20 20 20 (APBN 2017) 16 6 16.6 27.1 22.2 55% 59% (APBN 2018) 150/20 1 30 - 19.9 27.2 45% 50% 55% 60% 65% 70% 47% 18.1 29 2 29. Sidrap 1995 150/20 1 20 20 20 (APBN 2017) 17. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak 2019 Add Trans Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Watampone Branch 3.5 27.0 30.7 29.2 25.9 37% 30 30 34.2 21 1 21.4 30 41% 6 22.9 25 0 25.0 29.3 20.0 30 (APBN 2017) 30 Bulukumba Branch 1.5 16.5 24.1 22 9 22.2 150/20 1 16 150/20 1 30 - 1 20 20 2008-dari sopeng - 517 20 17.1 32.2 15.3 23.9 28.2 31 4 31.6 30 (APBN 2019) 24.8 18.6 21.2 19.8 22.3 21.dr Tanjun 15.6 19.6 51% 56% 61% 66% 71% 38% 41% 44% 19 2 19.1 17.2 25.5 48% 53% 58% 64% 69% 75% 51% 30 37.

30 MVA .9 33.7 28.3 11.2 11.1 8.1 14.1 37% 41% 26% 29% 31% 33% 35% 8.8 17.1 30.2 12.4 10.4 13.9 13.0 15.1 14.2 12.7 60 52% 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 49% -20 2020 -relok 20 M 2.2 13.1 13.7 47% 51% 56% 61% 66% 71% 39% Malili 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) 10.5 29% 4 Wotu 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) 9.1 14.8 42% 30 (APBN 2019) 30 .0 25.6 36.6 16.2 15.7 45% 30 (APBN 2019) 31.8 18.0 32% 34% 37% 39% Enrekang (SY PLTA B.4 45.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.5 16.8 40% 44% 48% 52% 56% 61% 66% 11. (2013 .5 67% 77% 34% 30 beban Makale sebagian diambil Enrekang 15.4 39.Batu) 2016 150/20 1 30 - (APBN 2015) - 7.3 42.3 30 36% 5 30 10. Makale 2006 150/20 1 20 20 20 518 8 3.relok dr Panakukang) 11. Palopo 2006 (2013-sebagian beban diambil GI Siwa) 150/20 2 20 40 (2011 -Relok 30 MVA -dari Tello) 40 26.3 14. No SUBSTATION 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans 2017 Add Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans ((MVA)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) Palopo Branch 1.4 15.7 9.2 19.

0 44.8 58% 63% 68% 74% 48% 40% Kendari-150 kv 2013 150/20 1 30 30 (APBN 2012) 35.5 34.9 18% 42% 46% 49% 53% 58% 63% 68% 37% 30 20.8 12.7 8.5 7.6 28.6 11.3 2013/14 .0 17. No SUBSTATION 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans 2016 Add Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Kendari Branch 1.6 50.5 26.70/20 .1 56.0 6.9 31.8 21% 31% 53% 30.3 44% 48% 52% 57% 62% 67% Unaha 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) (APBN 2013) 19.operasi p GI lain di Sistem Kendari ((Unaaha.7 61.0 41% 30 2011 .3 9.0 50.7 16.5 17.20 kV disuplai PLTD (30 MW) 30 (APBN 2014) 37.6 13.30 MVA . Kendari150)) 54.20 kV disuplai PLTD (77 MW) 5 15.6 14.0 Lasusua 2013 3 (APBN 2018) 13.6 6.9 52.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.Mandonga 70/20 1 30 30 2013 .1 22% 24% 26% 28% 30% 33% 36% 22.5 51% 55% 60% 65% 70% 38% 30 21. Kolaka 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 12.6 30 77% Kendari 2011-Mandon 21.9 19.2 42% 5.2 30 48% 2 150/20 1 30 - 5.9 40.0 30 ((APBN 2018)) 60..0 60 (APBN 2019) 60 .7 24.7 2011/12 .2 (APBN 2012) - 4 14.0 30.2 47.21 30 519 20% 16.1 7.4 18.

02 1.4 25.0 32.02 1.352 1.3 53 5.7 11.0 32.3 53 5.02 1.10 MVA .0 39.4 27.460 1.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.02 1.02 1. 2 3 Tonasa III & IV 150/20 3 32 150/30/20 1 20 2 45 Barawaja 95 39.7 16.6 63% 69% 74% 40% 14.02 1.697 1.0 32.5 14.0 39.02 1.3 53 5.0 70 7.3 20 kV di disuplai l i PLTD & PLTM (7 MW) 30 (APBN 2015) 30 Big Consumer 1.relok dari Maros 70 kV 2011-relok dr M 70/20 1 10 10 (APBN 2014) 9.9 39% 42% 45% 49% 53% 57% 62% 18.0 32.574 1.7 11.275 150 1.9 10.0 17.0 39.0 21.6 30.490 330 1.0 36% 8 20 Bau-Bau 520 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 17.0 39.3 53 5.02 .0 39.078 60 1.3 90 32.0 32.3 30 9.02 1.0 70 7.0 32.733 390 SCENARIO NORMAL (MW) ANNUAL DIVERSITY FACTOR 849 76 76 76 76 76 76 76 76 76 727 831 970 1.8 12.4 18.7 20 57% 7 10.0 41% 45% 51% 42% 46% 50% 54% 59% 70 7.6 20.3 53 5.5 13.6 43% 47% 51% 56% 61% Raha 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 9.6 23. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans 2016 Add Peak Trans 2017 Add Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Kendari Branch 6 Nii Tanasa 2011 .0 32.0 20 53 5.153 1.0 39.7 15.3 53 5.baru (SY PLTU Nii Tanasa) 2011-PLTU N 70/20 1 10 10 2011 .607 300 1.0 32.0 32.5 12.3 53 5.02 1.0 39.0 39.3 53 5.0 10 Semen Bosowa 150/20 TOTAL PEAK KONSUMEN BESAR (MW) 76 TOTAL PEAK LOAD 1 (MW) 389 330 454 250 504 180 555 - 614 120 671 90 733 120 797 180 865 180 938 150 TOTAL PEAK LOAD 2 (MW) 211 210 244 - 289 210 315 30 345 - 375 30 405 30 437 150 470 60 505 180 TOTAL PEAK LOAD 3 (MW) 64 50 71 - 122 180 131 30 141 80 153 30 166 - 180 - 196 60 214 60 TOTAL SYSTEM PEAK LOAD (MW) 740 590 846 250 992 570 1.6 13.3 53 5.177 200 1.10 MVA .9 20.0 39.249 1.056 1.380 150 1.

62 12.09 25 96 25.00 9.76 20.72 88% 23% 25% 28% 31% 34% 37% 41% 45% 49% 5.24 11.00 57.79 14.20 39% 43% 47% 51% 55% 28.15 46.99 30.61 10.36 46.20 10 00 22.09 26.00 22.33 95% 6 GI Teling 150 kV (GIS) 150/20 1 0 .94 7.62 14.36 51% 56% 61% 67% 74% 81% 81% 81% (Relokasi dari GI Teling 10 MVA) - 8.33 41% 43% 44% 46% 47% 49% 51% 32.73 94% 49% 51% 53% 54% 57% 59% 62% 64% 67% 20 20 Sebagian Beban dialihkan ke GI Paniki (Beban Ranomuut 8 28.58 13.Beban Puncak ( MW ) 70/20 2 10 22 20 10.02 18.97 23 55 23.63 10.Beban Puncak ( MW ) Sebagian beban dialihkan ke GI Paniki - 31.Beban Puncak ( MW ) 50 - Mengantisipasi COD GIS Teling terlambat up grade trafo dari 10 MVA menjadi 20 MVA - 45 33 45.45 41.39 22.74 15.32 42.55 24 24 24.Beban Puncak ( MW ) 3 GI Bitung 60 70/20 1 20 44.24 25 09 25.40 30.34 10.00 9.18 46.38 56% 64% 72% 81% 61% 68% 18.58 62% 76% 80% 85% 45% 48% 51% 54% 57% 61% .00 21.57 11.90 20 20 - 17.Capacity p y Balance GI Sistem Sulutenggo gg Kapasitas Trafo No.84 40% 24.00 36% .24 10.20 12.87 22 87 39% 0 Beban dr GI Teling 70 kV 0 18.89 11.Beban Sewa Genset (MW) 4 GI Tonsealama 70/20 1 10 .16 24.60 8.93 9. Jumlah Unit Total Add Peak Sistem Size Trafo 2012 2013 2014 2015 Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo 2016 Peak 2017 2018 2019 2020 Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 1 GI Ranomut 70/20 3 20 .95 66% 72% 78% 84% 52.83 38.14 36.64 26.67 34.Beban Puncak ( MW ) 7 GI Tomohon .27 10.17 78% 46% 10 10 .12 30.25 30.00 9.36 46.98 10.62 9.Beban Puncak ( MW ) 5 GI Teling 10 10 70/20 1 10 10 1 20 20 1 20 20 .79 29 33 29.78 521 8.04 8.05 9.51 10. GARDU INDUK 2011 Teg.78 11.Beban Puncak ( MW ) 2 GI Sawangan 60 70/20 1 10 .71 12.73 20.86 27 79 27.47 17.96 26 86 26.18 7.79 Beban dialihkan ke GI Kema serta antisipasi GI Kema terlambat ( Catatan : PLTU Amurang 2 x 25 MW dan PLTP Lahendong IV 20 MW dan - 16.07 15.00 67% 77% 88% 50% 12.

0 1.0 1.37 3. Teg Sistem Jumlah Unit Total Add Size 2011 Peak Trafo 2012 Add Peak Trafo Add 2013 Peak Trafo Add 2014 Peak Trafo 2015 Add Peak Trafo 2016 Add Peak Trafo 2017 Add Peak Trafo 2018 Add Peak Trafo 2019 Add Peak Trafo Add 2020 Peak Trafo Add Trafo (MVA) (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Kawangkoan 150/20 1 20 .88 24.51 35.Beban B b P Puncak k ( MW ) 10 GI Tasik Ria 70/20 1 20 1 20 .6 267.99 110.00 22.35 37% 0.56 30.81 23.71 6.58 27.54 14.10 18 83 18.74 34.0 1.00 5.90 6.35 80% 20 20 150/20 15.25 56% 6.47 292.95 50% 5.Beban Pembangkit Kota (MW) 12 GI Likupang 13.79 4.24 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% 53% 59% 64% 0.38 33% 37% 40% 45% 49% 54% 59% 65% 17.Beban Puncak ( MW ) 13 GI Kema - 1 0 .12 17 GI Molibagu 0 150/20 .26 12.00 10.35 30.07 31 05 31.90 43.00 5.Beban Puncak ( MW ) 1 0 0.71 385.Beban Puncak ( MW ) - - 20 70/20 1 20 522 .51 4.70 25.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas Trafo No.0 0.76 375.25 5.00 90.75 0% 0% 0% 24% 25% 27% 29% 31% 33% 36% TOTAL BEBAN GARDU INDUK 222.85 30.46 245.94 30.68 56% 61% 67% 10.24 11.01 40.00 30.91 7.43 31.11 11.30 35% 41% 45% 50% 55% 60% 67% 74% 82% 85% 11.Beban Puncak ( MW ) 16 GI Paniki 1 0 .03 344.86 31.62 12.00 247.01 4.0 0.31 6.26 4.06 0.83 20 72 20.18 3.0 . GARDU INDUK Teg.46 9.54 422.72 22 93 22.0 1.08 80% 45% 50% 55% 61% 68% 76% 61% 72% 0.00 4.89 0 0 TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 1.37 28 07 28.0 0.51 21.00 26.82 21.47 30.00 3.79 34.22 72% 20 .00 48% 54% 60% 38.51 5.02 60.28 6.02 445.99 7.89 16.82 5.00 0.41 30.00 25.69 8.38 19.02 30.00 0.28 30.78 28% 30% 18.00 51% 42.30 10.00 10.50 20.00 45% 42.Beban Puncak ( MW ) 11 GI Otam 20 0 28.57 30.19 20.00 61.00 0 150/20 18.00 4.99 28.Beban Puncak ( MW ) 9 GI Lopana 20 150/20 1 20 .15 5.03 0.36 6.97 23.23 28.34 291.Beban Puncak ( MW ) 17.04 0.0 1.44 227.04 120.00 19.05 38.75 20 20 150/20 - 20 20 .63 462.52 17 10 17.19 12.13 12.46 59% 65% 71% 78% 86% 38% 42% 46% 50% 60% 10.90 TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM 209.57 3.05 32 30 32.62 40% 43% 46% 50% 54% 58% 13 23 20.48 225.74 351.00 3.92 50% 55% 61% 67% 74% 38.78 32% 33% 35% 38% 40% 42% 45% 47% 50% 0 0 0 150/20 20.60 317.00 52.48 30.85 86% 0 0 150/20 16.39 320.65 11.44 61% 68% 77% 86% 27.19 10.Beban Puncak ( MW ) 14 GI Lolak 1 0 .00 10.36 9.00 21.00 23.0 1.0 1.60 8.31 13.02 408.47 30.00 13.0 268.Beban Puncak ( MW ) 15 GI Bintauna 1 0 .23 20 00 15 52 15.93 25 37 25.99 70.

08 80% 60% 66% 73% 80% 7.Beban Puncak ( MW ) 523 3 GI Silae 70/20 2 0 150/20 1 0 150/20 1 0 .46 0 0 0.32 0 0 150/20 8 68 8.00 0.74 24% 54% 60% 66% 72% 80% 22% 24% 26% 0.00 0.Beban Puncak ( MW ) 7 GI Kolonedale 39.88 6.00 5.Beban Puncak ( MW ) 6 GI Ampana 29.34 58.00 5.00 26.44 80% 0 0 .00 53.68 0 0 .55 12 71 12. GARDU INDUK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Teg.00 0.05 6.00 0.00 5.00 36.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas Trafo No.60 50.00 30% 20.00 Pembangkit Silae PLTD Silae 2 GI Parigi ((catatan : Sebagian g Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Transmisi)) 0.0 32% 35% 39% 0.43 40.98 47% 52% 57% 63% 69% 76% 0.55 10 50 10.61 20 47 20.96 27% 54% 60% 66% 72% 80% 44% 48% 53% 0.23 10.00 5.00 15 38 30.00 8.50 6.00 33.12 30.47 37% 40% 44% 48.38 30.5 30.23 16.18 80% 0 0 .37 57% 62% 16 9 16.00 0.03 33% .Beban Puncak ( MW ) 5 GI Tentena 29.00 0.00 2.00 57. Jumlah Unit Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Sistem Unit Size Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 1 GI Talise 70/20 1 30 30 1 10 10 .2 30.00 59% 64% 71% 0.66 7.05 30.Beban Puncak ( MW ) 32.97 21.15 19.00 15.00 0.08 44.15 30.67 150/20 1 0 1 0 9 55 9.10 47.00 0.00 0.38 30 00 33% (catatan : Sebagian Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Transmisi) 22.00 15.50 11 55 11.00 35.0 6.50 18.00 5.Beban Puncak ( MW ) 4 GI Poso 25.08 30.44 70% 20 20 .62 43.Beban Puncak ( MW ) 40 70/20 1 20 .86 9.57 29.00 24.9 18 61 18.32 8.49 30.17 29% 20.00 0.71 13 98 13.00 0.50 7.4 50% 55% 61% 67% 74% 52.

00 20.2 180.32 8. GARDU INDUK 2011 2012 2013 2014 2015 2017 2016 2018 2019 2020 Teg.05 8.66 7.05 90.00 40.00 30.0 . Jumlah Unit Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Sistem Unit Size Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Palu Baru 150/20 1 0 .3 302.66 70.86 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR TOTAL BEBAN GARDU INDUK TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 34.5 308.82 30.00 0.00 0.13 39% 43% 47% 52% 57% 63% 69% 7.0 0.00 0.08 53.Beban Puncak ( MW ) 9 GI Leok 0 150/20 1 .0 1.6 218.7 270.07 14.00 13.Beban Puncak ( MW ) 12 GI Siboa 150/20 1 .Beban Puncak ( MW ) 13 GI Luwuk 150/20 1 .7 65% 77% 60% 66% 73% 80% 59% 64% 71% 0.05 8.97 21.50 18.00 11.00 0.50 6.00 5.49 30.32 8.00 5.Beban Puncak ( MW ) 14 GI Moilong 0 150/20 .6 198.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas K it Trafo No.32 8.00 0.00 20.00 30.5 155.Beban Puncak ( MW ) 10 GI Toli-Toli Toli Toli 150/20 1 .0 1.0 0.00 0.04 0.0 1.1 126.27 0.8 333.86 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% 10.Beban Puncak ( MW ) 524 11 GI Moutong 150/20 1 .39 19.00 0.47 0.0 1.06 0.8 140.50 6.66 7.88 0.13 12.86 18% 20% 22% 24% 27% 29% 32% 15.0 232.00 5.12 30.05 6.00 21.0 26.80 30.16 30.00 16.08 44.Beban Puncak ( MW ) 1 0 0 20 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 20 0 0 0 30 0 dari Sebagian GI Talise 0.46 28% 30% 33% 37% 40% 44% 49% 5.00 5.37 15.08 50.66 7.6 283.57 54% 60% 66% 72% 80% 44% 48% 5.5 245.00 33.6 210.50 6.5 171.81 17.0 1.3 58.5 103.0 1.9 0.96 24.00 36.05 50.8 189.3 66.00 0.00 0.00 0.00 0.07 120.05 8.0 1.36 9.05 30.12 11.05 6.21 0.00 17.60 30.00 0.15 19.20 10.3 256.00 0.24 13.00 48.43 0.00 8.00 0.05 6.

LAM MPIRAN B2.6 RENCA ANA PENG GEMBANGAN PEN NYALURA AN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTTENGGO O DAN SISTEM INTER RKONEKS SI SULSE ELRABAR 525 .

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Sulawesi Kms Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah - - - - - - - - - - - T/L 500 kV T/L 275 kV T/L 150 kV 482 1006 8 1006.8 488 1417 24 62 14 1030.8 101 255 112 308 524 380 170 6693.8 1032 1431 T/L 70 kV 526 Jumlah 482 1451 254 112 308 524 380 170 1 1451 6110 8 6110.8 MVA Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 270 90 360 60 400 63 490 183 150/20 kV 60 610 70/20 kV 80 30 30 750 760 673 500/275 kV 275/150 kV 150/70 kV Jumlah 590 590 150 390 140 420 30 60 20 20 180 450 160 440 460 460 290 3940 20 290 310 4773 .

45 2012 Commited APBN Sulteng Palu Baru Talise 70 kV 2 cct.02 2014 Planned Unall Gorontalo New PLTG (Marisa) Marisa 150 kV 2 cct.58 2015 Planned Unall Sulteng Poso Ampana 150 kV 2 cct.12 2012 Commited APLN Sulteng Poso Palu Baru 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 16 1.25 2013 On Going APBN Incomer double phi Buroko-Isimu 527 Gorontalo PLTU TLG (Molotabu) (IPP) Botupingge 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 90 8.02 2013 Planned Unall Sulteng Toli-toli Leok 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 180 16. ACSR 1 x 240 mm2 30 2.67 2014 Planned IPP Gorontalo Marisa Moutong 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 80 7.87 2013 Planned Unall Tentena (PLTA Poso) Sulteng PLTU Tawaeli Expansion Sulteng PLTMG Cendana Pura Luwuk 150 kV 2 cct. 430 mm 272 61.07 2017 Planned Unall Sulteng Bunta Luwuk 150 kV 2 cct.14 2014 Planned Unall Sulteng Moutong Incomer Single phi (Toli2 (Toli2-Siboa) Siboa) 150 kV 2 cct cct.13 2020 Planned Unall Sulut PLTU Sulut II (Pepres) Lopana 150 kV 2 cct.76 2011 Selesai Gorontalo PLTU Gorontalo Energi (IPP) Botupingge 150 kV 2 cct.Pengembangan Transmisi Sulawesi Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan Gorontalo Isimu Botupingge 150 kV 2 cct.01 2011 On Going IPP Gorontalo Isimu Marisa 150 kV 2 cct.91 2019 Planned Unall Sulteng Kolonedale Incomer single phi Poso-Ampana 150 kV 2 cct.18 2012 Commited APLN Sulteng Palu Baru Silae 150 kV 2 cct.22 2012 On Going IPP TIP 24 (Talise-Parigi) 70 kV 2 cct.87 2012 Planned APBN Sulteng Wotu 275 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 96 8. ACSR 1 x 240 mm2 220 19. ACSR 1 x 240 mm2 238 21. ACSR 1 x 240 mm2 216 19. ACSR 1 x 240 mm2 76 6.42 2012 Planned IPP Gorontalo PLTU Gorontalo (Perpres) 150 kV 4 cct.41 2011 On Going APLN Sulut Lopana Teling (GIS) 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 14 1. ACSR 1 x 240 mm2 190 16. ACSR 1 x 240 mm2 260 23. ACSR 1 x 240 mm2 170 15.60 2019 Planned Unall Sulteng Ampana Bunta 150 kV 2 cct.78 2017 Planned Unall Sulteng PLTA Poso (Tentena) Poso 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 14 0.54 2011 On Going APBN . ACSR 1 x 240 mm2 20 1. ACSR 1 x 240 mm2 180 16.58 2011 On Going APBN Gorontalo Isimu Buroko APBN 150 kV 2 cct.22 2014 Planned Unall Sulteng Toli-toli Siboa 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 220 19 58 19. ACSR 1 x 240 mm2 50 4. ACSR 2 x 240 mm2 36 4. ACSR 1 x 240 mm2 248 22. ACSR 1 x 240 mm2 30 1. Zebra. ACSR 1 x 240 mm2 164 14.

81 2011 Sdh operasi APBN Sulsel PLTU Perpres .Pengembangan Transmisi Sulawesi Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan Sulut Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki) 150 kV 2 cct cct. 240 mm 2 cct.20 7. 2xZebra. UGC. 57 275 kV 2 cct.18 2012 On Going APBN Sengkang Siwa/Keera (New) 150 kV 150 kV 2 cct cct.Barru Incomer 2 phi (barru-pare) 150 kV 4 cct. ACSR 1 x 240 mm2 32 2. 2xHawk. 240 mm 180 22.36 2012 Planned Unall Sulut PLTP Lahendong V & VI Kawangkoan 150 kV 2 cct.8 0. ACSR 1 x 240 mm2 1 0. ACSR 1 x 240 mm2 60 5. 2x430 mm 10. 1 phi (Maros-Sungguminasa) 150 kV 150 kV 2 cct.17 2013 Planned APBN Sulsel Siwa/Keera Palopo 150 kV 2 cct. 2x430 mm 260 25. 240 mm 140 17. 2xHawk. ACSR 1 x 240 mm2 4 0. ACSR 1 x 240 mm2 10 0. ACSR 1 x 240 mm2 1 0. ACSR 1 x 240 mm2 16 1 42 1.18 2012 On Going APBN Sulsel Sulsel PLTU Bosowa Jeneponto TIP 58 TIP.42 2012 Commited APBN Sulut Ranomut Baru (Paniki) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.27 2012 On Going IPP 150 kV 12 1.75 2014 Planned Unall Sulut PLTG Minahasa Likupang 150 kV 2 cct. Zebra.34 2012 Commited APBN 528 Sulut Bintauna Tapping (Lolak .Ags g 2011 operasi p 150 kV 2 cct. 2xZebra. TACSR 14 0. 2xZebra. 2x430 mm 82 2 80 0.61 2011 Sdh operasi APBN Sulsel Maros ((New)) Sungguminasa gg . 2x430 mm 130 12. Hawk. XLPE. 2x430 mm 80 7.07 2013 Planned APBN Sulsel Tallo Lama (loop) Bontoala (loop) 150 kV 2 cct. 240 mm 4.Ags 2011 operasi 150 kV 2 cct. 2xZebra.75 2013 Planned APBN Sulsel Wotu Daya Baru Malili (New) Inc.06 2013 Planned APBN PLTU Takalar Punaga Tanjung Bunga 150 kV 2 cct.85 2015 Planned Unall Sulut PLTA Sawangan Sawangan 70 kV 2 cct. 2xZebra 2xZebra. 2x430 mm 210 47. 430 mm 2 cct. 12 1 18 1.88 2011 Sdh operasi p APBN Sulsel Sengkang Sidrap . 400 mm 9 2.09 2014 Planned Unall Sulut PLTP Kotamobagu Otam 150 kV 2 cct.88 88 2014 2014 Planned Pl Planned d APBN IPP Sulsel S l l Sulsel .70 2013 Planned APLN Sulut Otam Molibagu 150 kV 2 cct. 2x430 mm Sulsel 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 20 1.06 2015 Planned Unall Sulut PLTU Sulut I (IPP) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct. 2xZebra.43 2011 On Going APBN Sulsel Tallo Lama (Uprating Cond) Tello (Uprating Cond) 150 kV 2 cct.Ags 2011 operasi 150 kV 2 cct. 2xHawk.Buroko) 150 kV 2 cct.78 2018 Planned IPP Sulsel Sidrap Maros (New) .90 2013 Planned Unall Sulut Likupang Bitung 70 kV 1 cct.78 2011 On Going APBN Sulsel Wotu PLTU Bosowa Jeneponto Palopo TIP. 2xZebra. ACSR 1 x 240 mm2 132 11. ACSR 1 x 240 mm2 32 5.

Kabel Laut 150 kV 2 cct.60 2019 Planned Unall . 240 mm 80 9 81 9.78 2013 Planned IPP Sultra Unahaa (New) Kendari (New) 150 kV 2 cct. 240 mm 232 28. 2 phi (Sidrap-Maros) 150 kV 4 cct. 240 mm 220 19.04 2014 Planned APBN Sulbar PLTU Mamuju (FTP2) Mamuju 150 kV 2 cct.58 2014 Planned APBN Sultra Kendari (new) Raha (new) . Hawk. Zebra. 430 mm 30 2. 2xZebra. 240 mm 170 15. 1 phi (Maros-Sungguminasa) Sulsel Kajuara .91 2017 Planned Unall 150 kV 2 cct. Hawk. 240 mm 80 9.Pengembangan Transmisi Sulawesi 529 kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan 2 cct. UGC.13 2014 Planned APBN Sultra PLTA Konawe Unahaa (New) 150 kV 2 cct. 1 phi (SInjai-Bone) 150 kV 2 cct. 240 mm 50 4.61 2015 Planned APBN 2 0. 1 phi (Pangkep-Tello) Inc. XLPE. 240 mm 24 1 89 1. 240 mm 10 0. 2 phi (Kendari-Raha) 150 kV 2 cct. 240 mm 150 18. 2xHawk. 2xHawk. 2xZebra. Kabel Laut 10 10. 2x430 mm 20 1.81 2018 Planned Unall Sulbar Pasangkayu Silae 150 kV 2 cct. Hawk.81 2016 Planned Unall Propinsi Dari Ke Tegangan Sulsel Sulsel KIMA Makassar (New) SY PLTA Bbatu/Enrekang Inc. Hawk. 2xHawk. 240 mm 40 3.45 2014 Planned IPP Sulbar Pasangkayu Mamuju 150 kV 2 cct.Nii T Tanasa Malili (New) M d Mandonga/Kendari /K d i Lasusua (New) 70 kV 150 kV 2 cct. 2 phi (Makale-Sidrap) 150 kV 150 kV Sulsel PLTA Malea Makale Sulsel Sulsel PLTA Bakaru II Panakukang baru/Antang Enrekang Inc.67 2016 Planned IPP 150 kV 40 4. 400 mm 2 cct. Hawk.78 2019 Planned Unall PLTU P Perpres .39 2013 Planned APBN Sultra PLTU Kolaka (FTP2) Kolaka 150 kV 2 cct.45 2013 Planned APBN Sultra Kolaka (New) Unahaa (New) 150 kV 2 cct.53 2019 Planned Unall PLTU Sewa barru Inc.05 2018 Planned Unall Sulbar PLTA Poko Bakaru 150 kV 2 cct. t O Ostrich t i h (ex-P3B ( P3B JB) 2 cct. 2xHawk. 240 mm 2 0.56 2013 Planned APBN Sultra Lasusua (New) Kolaka (New) 150 kV 2 cct. 2x430 mm 24 2. ACSR 2x240 mm2 400 49. Hawk. Hawk. 240 mm 20 1.68 2014 Planned APBN Sultra PLTU Kendari (FTP2) Inc. 2xHawk.18 2016 Planned IPP 150 kV 2 cct. Hawk. 240 mm 2 cct.36 2018 Planned Unall Inc. 2xHawk 2xHawk.49 2013 Planned APBN Sultra Kendari (new) Raha (new) 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2 90 11.(New) Sulsel S lt Sultra Conductor Sultra PLTA Watunohu 1 Lasusua (New) 150 kV 2 cct cct.89 2014 Planned IPP Sultra Raha (new) Bau-Bau (New) 150 kV 2 cct. 240 mm 110 13. 240 mm 6 0. 2xHawk.89 2011 O Going On G i APBN Sultra 290 35.

39 2014 On going APLN Sulsel Sulselrabar Mandai 70/20 kV Extension 20 0.00 2012 Relok APLN Sulsel Sulselrabar Siwa/Keera .00 2011 On g going g APLN Sulsel Sulselrabar Bulukumba 150/20 kV Extension 30 1.39 2012 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.23 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Tallo Lama ((loop p Btoala).39 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Daya 70/20 kV Extension 30 0.62 Gorontalo Suluttenggo Marisa 150/20 kV New 30 2.39 2012 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Makale 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Sengkang.38 2014 Operasi Sulbar Sulselrabar Mamuju 150/20 kV Extension 30 1.39 2011 On going APLN/APBN Sulsel Sulselrabar Sinjai 150/20 kV Extension 30 1.47 2011 On going APBN 30 1.00 2011 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Tallasa 150/20 kV Extension 60 2.39 2012 On g going g APLN Sulsel Sulselrabar Palopo IBT 275/150 kV New 180 14. ).39 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Barru 150/20 kV Extension 30 1. Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.Lama).90 2013 Planned Unall Extension 30 1.39 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Jeneponto 150/20 kV Extension 30 1.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Bontoala 150/20 kV Extension 60 2.62 2011 On going APLN 2011 On going APBN 2011 On going APBN 2011 On going APBN 4.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Pare-pare p 150/20 kV Extension 30 0.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber 150/20 kV New 30 2.(GI Baru)+2 LB 150/20 kV New 30 2.00 2011 Relok APBN Sulsel Sulselrabar Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.39 2011 On going APLN Extension 30 1.90 2013 Planned Unall 30 1.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Borongloe 70/20 kV Extension 20 0.23 2012 On g going g APBN Sulsel Sulselrabar Bontoala (loop T.39 2011 On going APLN APBN P Propinsi i i Wilayah Gorontalo Suluttenggo Botupingge Gorontalo Suluttenggo PLTU Gorontalo 150/20 kV New 20 3.23 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Pangkep 150/20 kV Extension 30 1.62 Gorontalo Suluttenggo Buroko 150/20 kV New 20 Gorontalo Suluttenggo Botupingge 150/20 kV Extension Gorontalo Suluttenggo Isimu 150/20 kV Extension Sulbar Sulselrabar Polmas 150/20 kV Sulbar Sulselrabar Majene 150/20 kV 530 Sulbar Sulselrabar Pasangkayu 150/20 kV New 20 2.24 Gorontalo Suluttenggo Isimu 150/20 kV New 30 2.45 2012 Planned IPP .

62 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Malili .23 2016 Proposed PLTA Malea Sulsel Sulselrabar Sidrap.10 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Borongloe 70/20 kV Extension 30 1.47 2018 Sulsel Sulselrabar Pangkep 150/20 kV Extension 60 2.85 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga.10 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Panakkukang 150/20 kV Extension 60 2.34 2015 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Bontoala 150/20 kV Extension 60 2.10 2016 P Proposed d IBRD Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga 150/20 kV Extension 60 2.23 2012 On going APBN Sulselrabar Pinrang 150/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.39 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Soppeng 150/20 kV Extension 30 1.10 2018 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tello 150/20 kV Extension 60 2.10 2015 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Sidrap 150/20 kV Extension 30 1.39 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Maros 150/20 kV Extension 60 2.23 2017 Proposed PLTA Bakaru-II Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.10 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Wotu IBT 275/150 kV New 90 7.39 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bulukumba 150/20 kV Extension 30 1. Ext 4 LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 30 2. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.(GI baru) + 2 LB 150/20 kV New 60 3.39 2017 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Sinjai 150/20 kV Extension 30 1.39 2015 Planned Unall S l l Sulsel S l l b Sulselrabar P Panakkukang kk k 150/20 kV E t Extension i 60 2 10 2.23 2014 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Daya Baru .10 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Pinrang 150/20 kV Extension 30 1.39 2017 Planned Unall Proposed PLTA Poko P Propinsi i i Wilayah Sulsel Sulselrabar Sulsel Sulsel Nama Gardu Induk Sulsel Sulselrabar Bakaru.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 60 3 34 3.62 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Makale.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi 531 Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber Palopo + Ext 2 LB 150/20 kV Extension 30 2.34 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tello 150/20 kV Extension 60 2.26 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Sungguminasa 150/20 kV Extension 60 2.10 2018 Planned Unall .10 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar KIMA Makassar .22 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Wotu .62 2012 On going APBN Sulselrabar Siwa. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.10 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2.39 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar SY PLTA Bontobatu/Enrekang 150/20 kV New 30 2.

62 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Siboa (PLTU) 150/20 kV New 30 2.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tallasa 150/20 kV Extension 60 2.90 2013 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV Extension 30 1.62 2014 Planned Unall .62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Silae 150/20 kV Extension 30 1.62 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Moutong 150/20 kV New 30 2.(GI baru) 150/20 kV New 60 2.10 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Soppeng 150/20 kV Extension 30 1.86 2012 Planned IPP Sulteng Suluttenggo Poso 150/20 kV New 30 2.GI New + 2 LB 150/20 kV New 30 2.39 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Jeneponto 150/20 kV Extension 20 0.98 2012 Sulteng Suluttenggo Tentena IBT 275/150 kV New 90 4.62 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Kajuara 150/20 kV Extension 30 1.39 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Siwa/Keera 150/20 kV Extension 30 1.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Maros 150/20 kV Extension 60 2.34 2018 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Pare-Pare 150/20 kV Extension 30 1.24 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Toli-Toli 150/20 kV New 30 2.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Kajuara .62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Silae 150/20 kV New 30 2.(GI baru 150/20 kV New 60 3.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi P i i Propinsi Wila ah Wilayah Sulsel Sulselrabar Sulsel Sulselrabar Tegangan Bar /E tension Baru/Extension Kap Juta US$ COD Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Sidrap 150/20 kV Extension 30 1.GIS II .62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV New 30 2 62 2.00 2019 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Panakukang baru/Antang 150/20 kV Extension 60 2.10 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga 150/20 kV Extension 60 2.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Malili 150/20 kV Extension 20 0.10 Bontala .10 Nama Gard Gardu Ind Induk k Stat s Status S mber Sumber 2018 Planned Unall 2018 Planned Unall 532 Sulsel Sulselrabar Panakukang baru/Antang .00 2020 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Wotu 150/20 kV Extension 30 1.39 2020 Planned Unall Commited APBN Sulteng Suluttenggo PLTA Poso 150/20 kV New 10 2.39 2018 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Daya Baru 150/20 kV Extension 60 2 10 2.90 2013 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Leok 150/20 kV New 20 3.

39 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Kendari Ext 4 LB Kendari.00 2011 Relok APLN Sultra Sulselrabar Kolaka .Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Propinsi Wilayah Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber Unall Sulteng Suluttenggo Luwuk 150/20 kV New 30 2.00 2013 Relok APBN Sultra Sulselrabar Raha .51 2020 Planned Unall 533 Sultra Sulselrabar Kendari 70/20 kV Extension 30 1.24 2014 Planned Unall APBN Sulteng Suluttenggo Talise 70/20 kV Extension 30 1.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.86 2016 Proposed IBRD Sulteng Suluttenggo Ampana 150/20 kV New 20 2.39 2014 2014 Planned Planned Unall Unall .(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.62 1.85 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Kolaka.5 MVA 150/70 kV New 63 0.90 2018 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Luwuk 150/20 kV Extension 30 1.85 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Unaaha 150/20 kV Extension 30 1.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.90 2020 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Parigi 70/20 kV Extension 20 1.2 LB 150/20 kV New 30 2.24 2019 Planned Unall g Sulteng Suluttenggo gg Silae 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Kendari .47 2013 Planned Unall Sultra Sulselrabar Kendari .38 2016 Proposed Sulteng Suluttenggo Poso 150/20 kV Extension 30 1 86 1.90 2018 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Kolonedale 150/20 kV New 20 3.90 2019 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Tentena 150/20 kV Extension 30 1. Ext 4 LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.(GI Baru 150 kV) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.47 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Unahaa . 150/20 kV Extension 4 LB 2 47 2.62 2012 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Lasusua .62 2013 Planned Unall Sultra Sultra Sulselrabar Sulselrabar Bau-Bau Kolaka 150/20 kV 150/20 kV New Extension 30 30 2.62 2014 Planned Sulteng Suluttenggo Moilong 150/20 kV New 20 3.38 2017 Proposed IBRD Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV Extension 30 1.26 2011 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Nii Tanasa 70/20 kV Extension 10 0.(GI Baru) .IBT 2x31.

Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Tegangan Baru/Extension Kap Juta J t US$ COD Raha 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Teling 150/20 kV Extension 30 1.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.62 2011 On going APLN Status Sumber 534 Sulut Suluttenggo Tomohon (IBT) 150/70 kV Extension 60 2.90 2013 Planned Unall Sulut Suluttenggo Paniki 150/20 kV Extension 30 1.63 2013 On g going g Unall Sulut Suluttenggo Molibagu 150/20 kV New 20 2.38 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Otam 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Commited APBN S l t Sulut S l tt Suluttenggo P iki Paniki 150/20 kV N New 30 2 62 2.90 2018 Planned Unall Sulut Suluttenggo Paniki 150/20 kV Extension 30 1.27 2013 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kawangkoan 150/20 kV Extension 30 1.10 2017 Planned Unall Propinsi Wilayah Nama Gardu Induk Sultra Sulselrabar Sultra Sulselrabar Sultra Sulselrabar Kendari 150/20 kV Extension 60 Sultra Sulselrabar Unahaa 150/20 kV Extension 60 Sultra Sulselrabar Nii Tanasa 70/20 kV Extension 20 0.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Teling 150/20 kV Extension 30 1.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.38 201 2017 Pl Planned d U ll Unall Sulut Suluttenggo Otam 150/20 kV Extension 30 1.90 2013 Planned Unall Sulut gg Tomohon Suluttenggo 70/20 kV Extension 30 1.10 2016 Proposed IBRD 2.62 2012 Proposed APLN & APBN Sulut Suluttenggo Bintauna (Tap) 150/20 kV New 10 2.90 2020 Planned Unall .39 2016 Proposed IBRD 2.62 2011 Proposed APBN/APLN Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV New 30 2.00 2011 On going APLN Sulut Suluttenggo Teling (GIS) 150/20 kV New 30 2.62 2012 C Commited it d APBN Sulut Suluttenggo Teling (IBT) 150/70 kV Extension 60 2.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Sawangan 70/20 kV Extension 30 1.00 2018 Relok Unall Sulut Suluttenggo Teling (GIS) 150/20 kV New 30 4.63 2015 Planned Unall S l Sulut S l Suluttenggo T li Teling 70/20 0/20 kV E Extension i 20 1 38 1.39 2014 Planned Unall Bau-Bau 150/20 kV Extension 30 1.

7 PETA A PENGE EMBANGA AN PENYA ALURAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTTENGGO O DAN SISTEM INTER RKONEKS SI SULSE ELRABAR 535 .LA AMPIRAN N B2.

2012/2017/2019 PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Likupang G 2 PLTA Sawangan 2x8 MW – 2015 ACSR 1x240 mm 8 km .2012 PLTU Sewa 2x25 MW .2017/2018 PLTP Lahendong I.2014/2015 U ACSR 2x240 mm2 18 km .2012 Paniki Teling Edit Juli 2011 ACSR 1x240 mm2 Bitung D Ranomut 30 km .2011 ke GI Isimu (Gorontalo) U PLTP Lahendong IV 1x20 MW .2012 Tasik Ria Kema A U Sawangan ACSR 1x240 mm 48 km .II&III 3x20 MW Kawangkoan ACSR 1x240 mm2 10 km .2013 2 P P Lopana PLTU Sulut II (FTP1) 2x25 MW – 2011 U Tomohon P PLTU Sulut I (FTP1) 2x25 MW .2014 Molibagu PLTU Sulut (PPP) 2x55 MW .2011 ACSR 1x240 mm2 16 km .2011 PLTP Lahendong V & VI 2x20 MW – 2014/2015 .2013 Buroko Tonsealama PLTU Sulut I (Kema) 2x25 MW .2015 P PLTP Kotamobagu I&II 2x40 MW – 2016 GORONTALO ACSR 1x240 mm2 64 km .Provinsi Sulawesi Utara PT PLN (Persero) (P ) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI UTARA / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTG Minahasa 3x25 MW .2014 U Lolak Bintauna ACSR 1x240 mm2 40 km .2011 Otam ACSR 1x240 mm2 40 km .

2012 Botupingge ACSR 1x240 mm2 8 km .2013 Isimu ke GI Moutong (Sulteng) ACSR 1x240 mm2 105 km .2014 U PLTU GE 2x6 MW – 2013 PLTU TLG 2x10 MW – 2013 SULAWESI UTARA .2011 U ke GI Buroko (Sulut) ACSR 1x240 mm2 8 km .2014 ACSR 1x240 mm2 110 km .2012 U ACSR 1x240 mm2 15 km .Provinsi Gorontalo PLTU Gorontalo (FTP1) 2x25 MW – 2012/2013 SULAWESI TENGAH ACSR 1x240 mm2 76 km .2011 Marisa G Moutong PLTG Gorontalo 1x25 MW – 2017 PT PLN (Persero) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI GORONTALO / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Desember 2010 Buroko ACSR 1x240 mm2 27 km .

2012 ACSR 1x240 mm2 90 km – 2019 Ampana ACSR 1x240 mm2 85 km – 2020 2 SULAWESI BARAT SULAWESI UTARA PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW .2013 PLTMG Luwuk 2x10 MW–2012/13 Tentena PT PLN (Persero) K l Kolonedale d l PLTA Poso 65 MW – 2011 PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW–2015/16 Luwuk ACSR 1x240 mm2 72 km .2012 25 km .2019 ACSR 1x240 mm 80 km .2018 Silae ke g y GI Pasangkayu (Sulbar) ke GI Marisa (Gorontalo) / / / / / / / / ke GI Wotu (Sulsel) SULAWESI TENGGARA PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Ek i ti Kit Rencana Edit Juli 2011 .2014 Palu Baru U ACSR CS 1x240 mm2 119 km .2014 ACSR 1x240 mm2 70 km – 2014 Moutong Siboa PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW .2013 ACSR 1x240 mm2 110 km .2015 GORONTALO U P Bunta PLTU Ampana 2x3 MW–2013/14 Talise ACSR 1x240 mm2 ACSR 1x240 mm2 15 km .2014 KALIMANTAN TIMUR Leok Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km – 2014 U ACSR 1x240 mm2 108 km .2012 Poso ACSR 1x240 mm2 124 km – 2017 U Toili G A SULAWESI SELATAN ACSR 1x240 mm2 90 km k .Provinsi Sulawesi Tengah PLTU Tolitoli 3x15 MW .

2013 Malili PLTA Malea 2x45 MW – 2016 Maros Bosowa Mandai Kima ACSR 2x430 mm2 Tallo Daya Lama 40 km .2011 SULAWESI TENGAH ACSR 1x430 mm2 136 km .2012 ACSR 1x240 mm2 41 km .2013 Sengkang Sidrap GU PLTU Sewa 2x100 MW-2013 PLTGU Sengkang 180 MW – 2013 Soppeng U U PLTM Tangka/Manipi 10 MW – 2011 Barru 2 ACSR 2x430 mm 130 km .Provinsi Sulawesi Selatan ke GI Barru Pangkep ke GI Tentena/ PLTA Poso (Sulteng) ke GI Sidrap SULAWESI BARAT Tonasa ACSR 2x430 mm2 130 km .2010 Tonasa Tallasa U Pangkep Maros Bosowa Tello D Sungguminasa Sinjai PLTU Takalar Punaga IPP 2x100 MW – 2014/2015 PLTU Bosowa 2x100 MW – 2013 PLTU Jeneponto eks Spanyol (Takalar-FTP II) 2x100 MW – 2014/2015 Kajuara ACSR 2x430 mm2 40 km .2012 Bulukumba SULAWESI TENGGARA A M U / / / / / / / / Tallasa Bulukumba U U Jeneponto / / / / PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI SELATAN GI 500 kV Existing / Rencana U / U PLTU Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana G / G PLTG Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana P / P PLTP Existing / Rencana A / A PLTGU Existing / GI 70 kV Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GU GU Rencana / GI 500/275/150 kV Existing / RencanaGB / GB PLTGB Existing / M / M GI 275/150 kV Existing g / Rencana Rencana D / D GI 150/70 kV Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana Kit Eksisting T/L 70 kV Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana Kit Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana Edit Juli 2011 T/L 500 kV Existing / Rencana .2012 Wotu ACSR 1x240 mm2 145 km .2013 PLTA Bakaru II 2x63 MW – 2019 ke A PLTA Poso ACSR 1x430 mm2 15 km .2011 Bontoala Daya Baru Tello G PLTG Sulsel Baru (Peaking) Panakukang 2x50 MW-2012 Tanjung Sungguminasa Bunga PLTG Makassar (Peaking) ke ke 1x50 MW-2013 PLTU GI Tallasa 1x50 MW-2015 Takalar PLTA Bonto B t Batu B t 2x50 MW – 2016 ACSR 1x430 mm2 120 km .2016 Pare Keera/ Siwa ACSR 2x430 mm2 65 km .2011 Pinrang D ACSR 1x430 mm2 70 km .2016 (Sulbar) ke GI Lasusua (Sultra) Palopo Makale ke GI Polman (Sulbar) BakaruA ACSR 1x430 mm2 90 km .2013 A A Enrekang ACSR 2x430 mm2 150 km .2010 G PLTBG Selayar 2x4 MW – 2012/2013 Bone PT PLN (Persero) Jeneponto U PLTG Sengkang 60 MW – 2012 G PLTU Sulsel-Barru (FTP1) 2x50 MW .

2018 PLTU Mamuju (FTP2) 2x25 MW .2015 SULAWESI SELATAN U Mamuju PT PLN (Persero) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI BARAT PLTA Poko 117 MW – 2020 A Polmas Majene ke GI Pinrang (Sulsel) / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing g / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing g / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Mei 2011 .Provinsi Sulawesi Barat ke GI Silae (Sulteng) ACSR 2x240 mm2 45 km .2014 Pasangkayu SULAWESI TENGAH ACSR 2x240 mm2 200 km .

Provinsi Sulawesi Tenggara .

L LAMPIRA AN B2.8 ANA ALISIS AL LIRAN DAY YA SIS STEM INTE ERKONEK KSI SULU UTTENGG GO DA AN SIS STEM INTE ERKONEK KSI SULS SELRABA AR 542 .

5 O LOPANA 8.3 MW PANIKI 23.8 MW 3.4 147.8 SAWANGAN 26 MW 12.3 10.1 D 24 MW .5 67.4 3.9 15 MW 7 21 MW 27 543 44 U MW ANGGREK 7.GORONTALO 2013 Capasitor : Pembangkit Beban Susut 1.9 6.2 147.2 66.1 144.0 15 MARISA 6.7 0.1 MW 310.4 7 MW BTPNGGE 22.7 148.8 150.5 BITUNG 8.5 147.3 A 5.3 145.7 31 MW D 8 15 MW MW TOMOHON 14.9 31 MW MW OTAM 27.0 3.0 10.2 D 8 MW MW 26 MW KAWANGKN 15.5 3.6 147.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2013) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .1 G 18 MW A 5 MW 46 MW P 72 MW A 7 MW KEMA 21.1 65.7 44 MW U 36 MW U ISIMU 21.6 146.0 31 8 MW LEOK 4.9 9.7 147.3 150.4 19.6 66.3 O 314.8 12.5 9.5 MW 1 MW BUROKO 2.2 BINTAUNA 1.0 66.9 66.4 9.0 TELING 61 MW 44.0 7.7 3.6 3.1 20 MW LIKUPANG 5.0 1.2 147.1 MW 145.0 18 MW 4 MW LOLAK 4.8 3.9 12 MW TASIKRIA 6.5 45 MW % 150 kV 70 kV 30 kV RANOMUUT 20.9 66.2 1.7 2.7 7 MW 15 MW TNSEALMA 6.6 147.2 1.

2 10.8 MW 1.1 0.2 MW 145.5 11.0 MW 3.3 3.4 A 6.9 6 MW 11 6 MW 12 12 MW ANGGREK 9.3 BTPNGGE 26.8 23.4 U TOLI-TOLI 11.2 12 MW 7 ISIMU 24.0 2.6 32 3 MW 17 MOUTONG 8.0 150.1 7.4 66.8 149.8 35 MW % 150 kV 70 kV 30 kV LIKUPANG 6.2 4.4 148.4 14.4 D 0 MW 8 MW MW 19 MW 11 MW 14.9 8.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2015) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .6 66.6 BITUNG 9.1 5.3 KAWANGKN 17.8 11.0 65.1 149.1 544 U 35 MW 24 U MW BUROKO 3.3 LOPANA 9.6 147.0 4.9 149.88 11 149.0 4.1 46 MW LEOK 55.2 148.4 4.99 25 145.7 P P P A 7 MW 72 MW 36 MW U 20 65.9 D 9 MW A 5 MW 13 MW 70 MW KEMA 25.7 RANOMUUT 23.2 2.22 150.1 MARISA 7.6 147.0 1.4 147.0 2.3 38 3.8 MW 366.5 65.0 PANIKI 28.1 148.7 149.2 LOLAK 5.GORONTALO 2015 Capasitor : Pembangkit Beban Susut 369.5 3.5 12.3 3 MW 23 MW 41 MW 12 MW 2 MW TASIKRIA 8.4 145.9 66.1 11 9 11.3 D 4 MW MW 9 MW 59 MW TNSEALMA 7.8 G 15 MW MW .0 149.8 SAWANGAN 34 MW 16 MW TOMOHON 17.9 34 3.7 OTAM 31.6 TELING 74 MW 53.8 36 MW U 62 MW U SIBOA 9.4 MW BINTAUNA 1.4 66.

3 6.0 U 545 75 MW 24 U MW BUROKO 4.7 TELING 7 MW 85.1 6.1 7.8 5.5 147.2 12.150 kV - 20 Mvar 20 Mvar 568.4 MW 96 MW KAWANGKN 21.8 145.8 144.1 1.6 6.150 kV Isimu .2 21.5 143.0 SAWANGAN 34 MW 24 MW TOMOHON 28.9 148.1 144.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2020) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .4 145.8 17 MW 29 MW 82 MW 12 MW 3 MW TASIKRIA 13.0 144.2 3.2 101 MW 144.9 63.2 G 47 MW OTAM 44.2 BTPNGGE 39.0 MW BINTAUNA 2.2 38.2 BITUNG 14.3 146.2 141.4 145.4 MW 13.3 PANIKI 46.GORONTALO 2020 Capasitor : Teling .3 MW Pembangkit Beban Susut 2.5 63.2 20.1 16.6 A 23 MW 67 MW 74 MW KEMA 43.0 19.3 145.7 144.4 4.8 MW 29 MW 31 MW 22.3 5.0 G 15 MW A 10.0 15.1 44 MW U 105 MW U SIBOA 14.5 P P P A 7 MW 72 MW 36 MW U 144 MW 62.3 % 150 kV 70 kV 30 kV LIKUPANG 9.7 D 0 MW .6 ISIMU 36.5 61.3 143.4 65.1 3.2 9.7 17.5 D 4 22 MW MW 24 MW TNSEALMA 9.3 2.4 146.5 6.4 9 MW 26 MW 9 24 MW ANGGREK 13.8 89 MW LEOK 8.9 6.9 64.4 U TOLI-TOLI 17.7 LOPANA 11.7 MW 555.9 64.88 11 146.3 LOLAK 7.7 52 38 MW 39 MOUTONG 13.1 54 MW RANOMUUT 34.9 4.4 12 MW 4 MARISA 11.

0 PLTD SUPPA POLMAS 15.5 Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV .3% 3.8     20.1 145.1 G KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) PLTA Bakaru 5.4 23.2 2x100 MW ke Sistem G 152.2 MW       1.8 BOSOWA PANAKUKANG 78.5 8.1         60         10 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3     33.6 PLTU BOSOWA  JENEPONTO BULUKUMBA 20.0 G PLTA BAKARU 2X63 MW   146.6 22. Tengah 70.0 PLTU Kdri(2x25)         20 PLTU Tawaeli Ex     25.9 G 9.3 3.0 73 7.4 PLTM Bili      120 PLTG Skg1 g            6 PLTG Skg2 PLTGU Skg      135 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka PLTG ‐ GE Tello              ‐ PLTM Rtballa PLTD Suppa PLTU Sulsel‐1 2.0 144.1 151.1 10.0 90 G         10 2011 (Uprating) TL.5 7.6        7.0 53 5.6 BARRU New 148.2 BONTOALA 67.5 PALOPO 25.3 150.1 11.4 144.7 2 X 50 MW 4.3 32.4 147.8 PLTGU SENGKANG PLTA POSO Sul.4 8.8 TELLO 54.8 G 4.5 12.1 2013 KOLAKA 12.2 6.3 5.5 27.0 G PLTU KENDARI PLTU KOLAKA 2 X 25 MW 2 X 10 MW BAU‐BAU 17.0 149.3 147.5 144.0 23.0 145 3 145.078.6 2013 KENDARI 47.6 2013 KEERA/SIWA SENGKANG PLTGU SENGKANG 135 MW 148.5 144 4 144.5 SOPPENG 145.MINASA 32.4        8.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ POSO ‐ PALU ‐ 2013 Eksisting 150 kV 2009 Rencana 150 kV 2015 Eksisting 2015 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG TELLO G MAJENE         73 Reaktor : ‐120       43 Palopo ‐ 275 kV ‐120 Capacitor :         20 PLTU BARRU 9.7 1.2 MW Flow dalam MW/MVAR 2013 RAHA 9.0 19. BUNGA 37.8 69.4 MAKALE SIDRAP 2011 22.4 17 4 110 6 110.3 Sulteng : g         32 PLTU Tawaeli     20.8 9.6 149.5 6.8 2013 UNAAHA 19.2 21.7 8 4.5 148.5 3.6   17.0 150.0 10. LAMA MAMUJU 10.3 P LTU Nii Tanasa         12 Pembangkit : Distribusi :       1.5       '2012 149.7 17.3 150.8        2.0 150.0         14 PLTA Poso      180 PLTU Kolaka     33.6 16 WOTU G TALLASA 25.8 70 kV 17.7 32.8 21.9 MW Susut Transmisi :              37.0 14.6 180 MW 17.6 144.5 143.0 144 0 144.1 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW 147.0 150.8 144.8 8.4 DAYA BARU   169.8 BONE 30.4 PLTU NII TANASA     14.2 149.0 6.2 PARE2     16.3 3.0 8.4 8.3 8.7 145.1 13.2 149.3 10.3 70 kV 148 5 148.3 2011 144.8 PINRANG 25.4 SG.5 BAKARU 7.6 (275 kV) 2012 2013      1.3 PLTU Bau         80              ‐         60 PLTU Bsowa         60 PLTG Tello1 Sultra      180     33.0 15.5 13.4     24.7 4 X 10 MW G        4.8 4.2 MAROS5 ‐ JT 20.4 2013 NII TANASA 147.3 SINJAI 21.3 145.116.2 13.0 2012 2013 LASUSUA MALILI 10.2 2011 51.4 7.0 546 2011 TN.8 14.2 152.9 3.5 2011 G 57.3 148.2   133.2 PANGKEP     21.1 8.

6 547 2x120 MW 2010 TN.4 2013 KOLAKA 14.8 G .3 MW              35.4 ((275 kV)) 150 2 150.7 17.3        3.3 11. BUNGA 46.7 13.2 2013 G PLTGU SENGKANG 11.2 143. LAMA TELLO 64 4 64.1 144.6% 2013 UNAAHA 149.9 146.0 2013 NII TANASA 146.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ (+ POSO ‐ PALU ‐ LUWUK) ‐ 2015 Eksisting 150 kV Rencana 150 kV 2010 2015 Eksisting 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG PEAKING G MAJENE 2015       80 Reaktor Reaktor ::         50 Palopo ‐ 275 kV Capacitor : Capacitor : 5 ‐51 PLTU BARRU PLTU BARRU 11.9 10.6 PLTGU SENORO PALOPO 30.9 26.338.4 BONTOALA 82.3 26.0 2010 144.6 32.5 ‐51 2 X 50 MW 4.9 PLTU PUNAGA     23.9 Sulteng :         34 PLTU Nii Tanasa         24 PLTU Tawaeli     60.1 6.7 77 144.4 2013 LASUSUA JENEPONTO BULUKUMBA 24.4 38.0 144.4 177.7 19.5 145.6 TALLASA 30.7         20 G PLTU MAMUJU G 2011 2X25 MW POLMAS 17.4 180 MW 2013 G Sul.6   148.7 54 5.8 12.4 PLTU NII TANASA PLTU NII TANASA        5.0 PLTU Kdri(2x25)         36 PLTU Tawaeli Ex   140.6 150.9     23.7 SINJAI 25.2        5.8 149.8 SG.8 G PLTU PUNAGA TAKALAR   122.4 PINRANG BARRU 70 kV 151.8 15.5 PANGKEP KIMA MKS       7.1 PLTU BOSOWA 2X100 MW ke Sistem G (275 kV) 62.7 39.3 5.7 3.6 22.4 3x65 MW PLTA POSO 154.2   25.7 2013 KEERA/SIWA ke Sistem G 150.8 144.8 34.6 7.8 146.5 12.3 MW 22.8 MAMUJU 12.5 10.2 7.0 8.2 PARE2 20 4 20.1 7. Tengah (Luwuk) WOTU G 145.0 149.1 149.4 PLTM Bili PLTGU Skg PLTD Suppa PLTG ‐ GE Tello Sultra :      110 PLTG Skg1            6 PLTG Skg2      120 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka              ‐ PLTM Rtballa 25 2.1 4.1 DAYA BARU   177.0 8.303.6 SOPPENG 17.6 10.3 4 X 10 MW G     10.0 25.0 4.0 BAKARU 8.0 Flow dalam MW/MVAR       1.1 BOSOWA PANAKUKANG 96.0         12 PLTA Poso PLTU Kolaka         22 PLTGU Senoro PLTU Bau            ‐ 1         20 Pembangkit :         20 Distribusi :      165 Susut Transmisi :   200.3 8.6 PLTGU SENGKANG 135 MW 148.2     10.6        7.5 150 0 150.3 148.4 143.8 25 8 144.9   119.0 65.2 149.8 26.5 G KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) Sulselbar : PLTA Bakaru 6.0 154.2 4.6 5.9 SENGKANG 20.8 PLTU JNPONTO 2X100 MW Sul.7 2.8 PLTU KOLAKA 2013 BAU‐BAU 20.6     42.4 10.4 TL.0 5.5 70 kV ke Ps.4 145.8        7.9 144.1 15.2 MAROS5 ‐ JT 27.3         10 G 63 8 63. Kayu  ‐ Silae ‐ Palu 149.7 MW       1.4 147.6 2013 KENDARI 54.0 144.0 143.4 149.3 145.9 13.8 PLTU KENDARI 2 X 25 MW 10.MINASA 16.3 RAHA 4.4     22.0 9.0 12.7 9.4 69. Tengah (Poso) 11.1 30.8 MALILI 13.5 BONE 36.0 G PLTA BAKARU 2X63 MW     16.5 11.5         50 PLTU Sulsel‐1         50 PLTU Bsowa         50 PLTG Tello1            6 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3              ‐ PLTU Mamuju      140 PLTU Jnponto     23.3 153.0 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW & 2X10 MW 2 X 10 MW Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV 150.8 2015 MAKALE SIDRAP 2010 27.7 2 X 100 MW     16.

8 2 X 10 MW Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV .4 145.1 149.6 35.6 2015 SIDRAP 2010 40.7 BOSOWA 32.2 PNK BARU 56.0 23.0 12.0 Flow dalam MW/MVAR RAHA 15.8 SOPPENG 24.9 G PLTU PUNAGA TAKALAR        5.4 PLTA BAKARU BLOK I DAN II PLTA POKO 149.6 5.1 18.3 4 X 10 MW G JENEPONTO 143.6 TL.4 180 MW MALILI PLTU JNPONTO 2X100 MW Sul.2 MAROS5 ‐ JT 49.9 PLTGU SENGKANG 135 MW 147.6 2013 KENDARI Sulselbar : PLTA Bakaru PLTM Bili PLTGU Skg PLTD Suppa PLTG ‐ GE Tello         45 PLTG Skg1            4 PLTG Skg2      120 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka              ‐ PLTM Rtballa 37 3.995.0 136.6 23.0 BULUKUMBA 34.4 138.5 70 kV  ‐ Silae ‐ Palu PARE2     14.4 33.0 PLTU Kolaka              ‐ PLTU Bau         22 PLTGU Senoro     40.7 G Sulteng : 2013 KOLAKA 8.7   160.9 21.7 10.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ (+ POSO ‐ PALU ‐ LUWUK) ‐ 2020 Eksisting 150 kV Rencana 150 kV 2010 2020 Eksisting 2020 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG PEAKING G MAJENE       80 Reaktor :         50 Palopo ‐ 275 kV Capacitor : ‐63 PLTU BARRU 16.8 PLTA POSO 154.8 KAJUARA 24.6     31.6 SINJAI 29.0 14.3 15.2 10.0 PLTA         40         74 PLTG Palu         20 Pembangkit :         20 Distribusi :       1.2 G 150.5 137.0 22 6 22.8 30.2 2013 3x65 MW G PLTGU SENGKANG 6.6 145.0 12.0 PLTA B.2 5.6 4.5 68.1 KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) PLTA Bakaru II 9. Tengah (275 kV) 19.8 2013 NII TANASA 143.7         20 MAMUJU 18.4 MW      165 Susut Transmisi :   200.1 12.3 53.6 8.7 SG.0 PLTG Tello5     70.9 20.8 136.0 ke Sistem Sul.8 138.6   246.0 45.3 20.1 141.8     15.3 137.3 ‐63 2 X 50 MW 6.4 16.2 2x120 MW 2X50 MW 45.0 146.2 71.9 16.6 152.6 36.1 22 MAKALE 15.1 141. Kayu 147.1% 6.7 13.7 ENREKANG 10.8 2013 LASUSUA     23.3 150.2 TELLO 86.5 G PLTU MAMUJU G         10 2011 2X25 MW POLMAS 25.6 9.1 137.8 2013 KEERA/SIWA 150.Batu         80 PLTU Mamuju         50 PLTU Bsowa         50 PLTG Tello1      140 PLTU Jnponto     40.0 Sultra :       80 G              ‐ PLTU KENDARI 2 X 25 MW         34 PLTU Nii Tanasa         24 PLTU Tawaeli   110.6 PANGKEP     38.1 6.3 BONE 38.4 BARRU 70 kV ke Ps.0 149.6 18.3 (Luwuk) 140 0 140.9 35.2 PLTA MALEA 2X45 MW 2X45 MW 548 G 2010 TN.7 SENGKANG        7.0 46.8 141.9 MW       1.933.2 137.27 PLTA poko         50 PLTU Sulsel‐1 PLTA Malea   195.7 14.9 2013 UNAAHA 34. BUNGA 59.3 146.6 12.7 PLTU BOSOWA 2X100 MW ke Sistem G 149.7 82.0 47.9     89.4   203.5 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW & 2X10 MW 149.4 138.BATU   47.2 14.3 G (275 kV) (Poso) 5.0 7.4 PLTA B.7     66.9 WOTU G 141.0 PLTU PUNAGA            6 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3     40.6 PANAKUKANG 115.6 G BAKARU 13.7 138.5 KIMA MKS     30.4 2013 G 81 8.2 148.2     12.9 PINRANG 45. LAMA 87.1 153.0 144.9 3.7 145.6 BONTOALA 128.3 24.2 148.1 PLTU NII TANASA PLTU NII TANASA     15.MINASA 57.6 10.6 18.2 136. Tengah 68.7 PLTA KONAWE G PLTU KOLAKA PLTA LALINDU 2013 BAU‐BAU 30.3 136.8 DAYA BARU   150.6 14.9        3.5 MW              62.0 140.0 PLTG Tello4     40.0 PLTU Kdri(2x25)         36 PLTU Tawaeli Ex         12 PLTA Poso   140.6 19.2 TALLASA 2 X 100 MW PLTGU SENORO PALOPO 29 7 29.

LAM MPIRAN B2.9 KEBUTUHA AN FISIK PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SISTE EM INTERKONEKSI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKSI SULSEL LRABAR 549 .

857 4.4 9.7 24.542 2020 2011-2020 2.196 419 162.0 17 3 17.0 8.1 9.0 94 9.7 6.034 2019 1 831 1.4 10.9 43.669 613 222.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Regional Sulawesi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.145 12.9 7.2 16.6 12.4 7.2 8.520 560 204 542 204.0 8.156 1.1 517.796.5 206.016 402 144.0 11.1 22.119 401 152.940 2016 1.989 2018 1.8 14.5 40.351 MVA 549 2012 657 900 338 126.2 26.717 550 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi R i Regional l Sulawesi S l i Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 13.6 18.9 70.7 46.7 5.095 13.277 454 173.9 JTR 9.805 2014 1.297 1.5 22 7 22.5 80.094 kms 1.0 7.9 21.4 6.143 1.006 1.2 Total 53.1 17.6 .6 10.5 9.6 91 9.5 8.4 35.497 1.6 17.7 50.9 10.5 8.276 Tahun Pelanggan 228.3 19.778 2013 830 1.9 85.1 58 5 58.8 Trafo 23.6 55.749 1.372 493 185.4 19.1 15.6 Pelanggan 7.437 523 194.880 2015 1.5 62.3 6.634 1.831 1 520 1.2 2011-2020 144.498 2017 1.

10 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSELRABAR 551 .LA AMPIRA AN B2.

5 85.8 1.7 104.741.0 1.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi Tahun 552 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 1.797.287 50.055.0 1.080.107.1 83.0 1.3 4 361 3       370.292.969 4 969           273.8 1.284.0 1.6 1.314.8 1.5 931.322.021 53.081.423 3 423 .423                       3.6            4.0 89.8 106.678.361.2 370 2          4.346.325.8 69.4 1.0 772.9 4 284 9       4.539 273 539 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 3.

LA AMPIRAN N B2.12 PR ROYEKSI KEBUTU UHAN INVESTASI SISTE EM INTER RKONEKS SI S SULUTTE NGGO DAN N SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSELR S RABAR 553 .

6 248.75 3.61 2012 393.4 537.2 230.50 24.94 16.45 24.2 356.52 .82 2018 327.37 22.00 127.50 7.06 17.92 72.90 27.31 2013 179.00 42.22 2016 131.88 2015 205.49 21.94 17.1 236.55 2020 56 20.8 487.5 154.6 167.21 2019 166.Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulutenggo (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 554 2011 79.0 2609 52 2609.12 18.3 100.71 2014 372.11 97.34 193 0 193.45 2017 41.76 Total 1953 22 1953.13 15.54 40.3 89.61 20.22 463 34 463.24 19.

35 32.0 144.48 62.1 384.8 2014 453.60 7.80 19.2 2016 322.1 433.44 29.50 30.83 37.4 604.8 140.36 46.0 642.5 507.90 76.0 226.0 2012 515.5 2013 391.7 568.4 631.9 2017 93.42 29.8 2020 172.9 Total 3375.3 2019 582.01 35.90 87.78 26.04 26.50 11.51 28.30 187.3 2018 392.50 8.00 41.65 86.0 .4 2015 396.14 4284.Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulselrabar (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 555 2011 53.13 576.74 332.

556 .4% per tahun sampai tahun 2020.PENJELASAN LAMPIRAN B. Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulteng (selama ini disebut sistem Palu) melayani beban kota Palu dan kota Parigi dengan beban puncak pada akhir 2011 diperkirakan akan mencapai sekitar 75 MW. Sistem Sulawesi Selatan. Untuk melayani beban di Propinsi Sulawesi Barat yang berdekatan dengan Sulteng yaitu daerah Pasangkayu. pada tahun 2014 akan dibangun transmisi 150 kV Palu – Pasangkayu dan selanjutnya interkoneksi sistem Sulteng dengan sistem Sulselrabar melalui Pasangkayu akan dibangun setelah memenuhi kelayakan. SULAWESI TENGAH DAN SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI SELATAN. Dengan pertumbuhan rata-rata 11. SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI BARAT (SULSELRABAR) B2.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Sulawesi Utara – Gorontalo Saat ini sistem Sulawesi Utara (Sulut) masih terpisah dengan sistem Gorontalo. Selanjutnya pada tahun 2013 sistem Sulselbar direncanakan interkoneksi dengan sistem Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui GI Wotu 275/150 kV membentuk sistem Sulselrabar. Pada tahun 2012 sistem Sulteng direncanakan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso melalui gardu induk Poso sehingga beban puncak sistem Sulteng pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 192 MW. Beban puncak sistem Sulut pada akhir tahun 2011 diperkirakan sekitar 194 MW dan sistem Gorontalo sebesar 51 MW. Barat dan Tenggara (Sulselrabar) Saat ini sistem Sulawesi Selatan yang juga memasok sebagian Sulawesi Barat (disebut sistem Sulselbar). maka beban puncak sistem Sulut – Gorontalo diperkirakan akan meningkat dari 246 MW pada tahun 2011 menjadi 567 MW pada tahun 2020.2 SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA-GORONTALO. direncanakan pada akhir tahun 2012 akan terhubung dan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso di Sulawesi Tengah melalui transmisi 275 kV Poso-Palopo milik IPP seiring dengan beroperasinya PLTA Poso. namun pada tahun 2012 kedua sistem tersebut akan terinterkoneksi.

PLTA 16 MW dan PLTG peaking 100 MW. juga sebagai antisipasi terhadap kemungkinan tertundanya penyelesaian beberapa proyek yang ada agar tidak terjadi krisis listrik dikemudian hari serta untuk menurunkan biaya operasi.9% per tahun sampai tahun 2020.2 Neraca Daya Sistem Sulawesi Utara – Gorontalo (Sulut-Gorontalo) Sistem Sulut-Gorontalo memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi. Proyeksi kebutuhan beban sistem Sulut–Gorontalo. Untuk mengimbangi pertumbuhan beban yang tinggi tersebut.Gaorontalo yaitu mencapai 69% pada tahun 2013. Namun demikian. maka beban puncak sistem Sulselrabar diperkirakan akan meningkat dari 728 MW ditahun 2011 menjadi 1. Proyek pembangkit berikutnya yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2011 adalah PLTP Lahendong IV 1x20MW yang dibangun oleh PLN dan uap panas bumi disediakan oleh Pertamina Geothermal Energy dengan pendanaan dari Loan ADB 1982 – INO. Banyaknya proyek pembangkit tersebut selain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban. walaupun proyek percepatan tahap I yaitu PLTU II Sulut 2x25 MW yang berlokasi di Amurang akan beroperasi. Kondisi sistem Sulut pada tahun 2011 diperkirakan masih cukup rawan karena tanpa cadangan yang memadahi. yaitu rata-rata 12. secara teoritis tersedia reserve margin yang cukup tinggi pada sistem Sulut .Beban puncak pada akhir tahun 2011 untuk sistem Sulselbar diperkirakan 728 MW dan sistem Sultra 64 MW. banyak pembangkit baru yang akan dibangun selama kurun waktu 2011-2020 yaitu mencapai 681 MW.1.2% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated. Dengan pertumbuhan rata-rata 11.950 MW pada tahun 2020. sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran B2. terdiri dari PLTU 425 MW (termasuk PLTU sewa 50 MW). B2. PLTP 140 MW. terdapat beberapa proyek pembangkit lain yang diperkirakan akan mundur dari jadwal semula yaitu : 557 . Oleh karena itu.

dijadwalkan beroperasi 2014 bersamaan interkoneksi sistem Tolitoli dengan sistem Sulut-Gorontalo melalui Moutong. Sehubungan masih tingginya tingkat ketidakpastian penyelesaian proyek-proyek tersebut dan untuk mengatisipasi keterlambatan proyek agar tidak terjadi krisis daya dikemudian hari. ƒ PLTU IPP Sulut I di Kema (2x25 MW) mundur menjadi tahun 2014/2015. menggunakan pendanaan dari pinjaman luar negeri. ƒ PLTU Tolitoli 3x15 MW untuk menggantikan PLTU skala kecil di Tolitoli.PLTP Lahendong V dan VI (2x20 MW) IPP. akan dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi tahun 2015.ƒ PLTU Gorontalo 2x25 MW di Gorontalo mengalami keterlambatan dan diperkirakan baru akan beroperasi pada tahun 2012/2013 ƒ PLTG Minahasa 1x25MW sebagai pembangkit peaking yang didanai APLN. ƒ Proyek pembangkit program percepatan tahap II : . akan mundur ke tahun 2013 dan untuk tahap awal diperkirakan masih akan menggunakan BBM sebelum gas LNG tersedia. . direncanakan beroperasi tahun 2018. ƒ PLTU Sulut (PPP) kapasitas 2x55 MW yang telah diusulkan masuk dalam PPP Book Bappenas 2011.PLTP Kotamubagu I dan II masing-masing 40 MW mundur ke tahun 2016 sehubungan sumber panas bumi berada di daerah hutan cagar alam Gunung Ambang. ƒ Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : − PLTU percepatan tahap I. ƒ PLTA Sawangan 2x8 MW memanfaatkan DAS Tondano. rencana operasi diperkirakan mundur ke tahun 2014/15. Buol dan Moutong. Proyek baru yang akan dibangun dan dijadwalkan beroperasi mulai 2014 yaitu: ƒ PLTU I Sulut 2x25 MW (Proyek percepatan tahap I) dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2014 untuk memperkuat sistem Sulut-Gorontalo sehubungan proyek PLTU IPP Minahasa 2x55 MW tidak berlanjut. merupakan proyek yang strategis karena selain proyek ini akan memasok permintaan tenaga 558 . maka saat ini tengah diproses sewa PLTU batubara 2x25 MW di Sulut dan dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2013. yaitu PLTU Sulut II 2x25MW.

Pasokan listrik di sistem Palu saat ini didominasi oleh PLTU IPP dan untuk beban puncak masih mengandalkan PLTD. sistem Sulselbar masih dalam kondisi cukup rawan karena beroperasi tanpa cadangan yang memadahi dan sebagian besar dipasok dari pembangkit IPP dan sewa. ƒ PLTU Palu 2x15 MW dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2015. dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2014.2% per tahun sampai dengan tahun 2020. terdiri dari PLTA 130 MW. sedangkan pembangkit IPP dan sewa mencapai 544 MW. − PLTU I Sulut (Perpres tahap I) 2x25 MW − PLTU IPP Sulut I (Kema) 2x25MW Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulawesi Tengah memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12. PLTU 60 MW.3% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated. PLTG peaking 50 MW dan PLTP 65 MW. Pada tahun 2011. − Proyek PLTP Lahendong IV 1x20MW. Masa kontrak sewa pembangkit 559 . Sampai dengan tahun 2012. Dalam waktu dekat. Beberapa pembangkit yang akan dibangun dalam waktu dekat antara lain: ƒ Ekspansi PLTU IPP Tawaeli dengan kapasitas 2x15 MW. Sistem Sulawesi Selatan . Untuk mengimbangi kondisi tersebut. diharapkan PLTA Poso IPP akan beroperasi pada tahun 2012 bersamaan dengan selesainya transmisi 150 kV Poso-Palu sehingga kebutuhan beban di Sulteng akan dapat tercukupi.Barat . sistem Sulteng dalam kondisi tanpa cadangan dan belum mampu melayani seluruh kebutuhan calon pelanggan baru dan penambahan daya pelanggan eksisting.listrik pada tahun 2011. Sebagaimana diketahui bahwa porsi pembangkit PLN hanya 262 MW.Tenggara (Sulselrabar) Sistem Sulsel-Barat (sistem Sulselbar) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi yaitu rata-rata tumbuh 11. juga sekaligus untuk mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. maka selama kurun waktu 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan total kapasitas mencapai 280 MW.

Tambahan pembangkit baru yang dapat terealisasi pada tahun 2011 diperkirakan hanya PLTMH PLN 8 MW dan PLTMH IPP 20 MW yang terhubung ke 20 kV. PLTA/M 594 MW.480 MW terdiri dari PLTU 1.akan diakhiri setelah proyek pembangkit baru selesai dan mampu menggantikan peran pembangkit sewa. − PLTA Poso 3x65 MW: progres pekerjaan proyek ini di lapangan sudah mencapai 80% dan diperkirakan dapat beroperasi tahun 2012. akan mundur dari tahun 2014 menjadi tahun 2014/2015. semula dijadwalkan beroperasi pada tahun 2010 namun mundur menjadi tahun 2012. 560 . ƒ Pembangkit program percepatan tahap II PLTU Takalar FTP-2 (2x100 MW). Proyek-proyek yang diperkirakan akan mengalami keterlambatan antara lain: ƒ Proyek percepatan tahap I yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50 MW. − PLTU Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: progress proyek mencapai 80%. ƒ Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : 1 Sistem Sulsel mempunyai cukup banyak PLTA dan kemampuan produksi PLTA sangat dipengaruhi oleh variasi kondisi musim. dilakukan sewa PLTU 2x120 MW yang ditempatkan bersebelahan dengan PLTU Barru di Sulsel dan dijadwalkan dapat beroperasi pada 2013. yaitu sebagai berikut : − PLTG/U Sengkang IPP 2x60 MW: mundur dari tahun 2010 menjadi 2012. Selama periode 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan kapasitas total mencapai 2. Dalam rangka memenuhi kebutuhan beban yang cukup tinggi dan sekaligus sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya proyek tidak bisa selesai tepat waktu. PLTGU 180 MW dan PLTG peaking 200 MW. diharapkan tahun 2012 sudah beroperasi. akan dibangun pembangkit baru dalam jumlah cukup besar termasuk sewa PLTU dengan memberikan toleransi reserve margin yang cukup tinggi yaitu 70%. ƒ Tambahan pembangkit baru yang merupakan proyek IPP diperkirakan dapat selesai 2012-2013. Reserve margin yang tinggi juga dimaksudkan untuk mengantisipasi penurunan kemampuan PLTA pada musim kering1.490 MW (termasuk PLTU sewa). ƒ Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan proyek-proyek IPP dan PLN.

maka rencana PLTA tersebut akan dimasukkan dalam neraca daya pada RUPTL periode berikutnya sesuai kebutuhan sistem untuk menggantikan rencana pembangkit berbahan bakar fosil yang mempunyai peran sejenis dan belum ada komitmen untuk pembangunannya.− PLTU percepatan tahap I. dijadwalkan beroperasi tahun 2014/2015. − PLTA Poso IPP 2x65 MW untuk sistem Sulselbar. digunakan software ProSym yang pada prinsipnya menggunakan kaidah merit order. 561 . − PLTG/U Sengkang IPP extension 2x60MW. karena dapat mengatasi kekurangan pasokan daya dan sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50MW. − PLTU Sulsel-3 (Takalar) IPP 2x100 MW. B2. Untuk menghitung alokasi produksi per unit pembangkit agar diperoleh nilai bauran energi yang paling ekonomis dan optimal.3. Neraca Daya sistem Sulut – Gorontalo dan sistem Sulselrabar sebagaimana diperlihatkan pada lampiran B2.3 Proyek-Proyek IPP Yang Terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B2. − PLTU IPP Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: proyek ini sangat penting untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik jangka pendek dan menengah khususnya pada periode 2012-2014. Sebagaimana diketahui bahwa potensi tenaga air di Sulawesi terutama di Wilayah Sulselrabar sangat besar dan salah satu lokasi yang diindikasikan adalah di DAS sungai Karama.2 B2. Saat ini tengah dilakukan studi kelayakan pada lokasi tersebut dan bila hasil studi menyatakan layak dibangun PLTA. proyek ini akan dapat mengatasi kekurangan pasokan daya terutama untuk tahun 2012.4 Neraca Energi Produksi Energi Energi yang diproduksi pembangkit pada suatu sistem kelistrikan selaras dengan pertumbuhan demand dan keberagaman jenis pembangkit yang akan dibangun.

yaitu dengan masuknya beberapa proyek PLTA berikut: Bakaru II.514 GWh pada tahun 2011 menjadi 2.521 GWh dan 259 GWh.955 MW pada tahun 2020. Mulai tahun 2015 peran keduanya akan habis dan digantikan dengan gas LNG sehubungan masuknya PLTG peaking dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. Penggunaan HSD untuk jangka panjang tidak menjadi nol karena HSD masih tetap dibutuhkan oleh pembangkit kecil pada sistem isolated. Peranan pembangkit gas meningkat pada sistem interkoneksi di Sulawesi dari 1. Lampiran B2. − Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya. Peranan pembangkit hidro semakin meningkat khususnya di Sulawesi Selatan. Bakaru II. b. Bonto Batu.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Hal ini karena adanya penambahan kapasitas pembangkit pada PLTG Sengkang dan pembangkit peaking berbahan bakar LNG. yaitu peran MFO dan HSD pada tahun 2011 masih besar masing-masing 1. e. c. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTU batubara yang pada tahun 2010 hanya 27 MW akan menjadi 1. Poso. yaitu dari rencana 272 GWh pada tahun 2011 akan naik menjadi 6.Hasil perhitungan simulasi produksi energi per jenis energi primer di sistem Sulawesi sebagaimana diberikan pada Lampiran B2. d. dengan asumsi : − Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada.4. Konawe dan Watunohu.716 GWh pada tahun 2020. Peranan pembangkit batubara akan menjadi dominan. − Ketersediaan batubara tidak terbatas.487 GWh pada tahun 2020 untuk sistem interkoneksi besar di Sulawesi. Malea. Hal yang sama juga terjadi pada sistem interkoneksi Sulselbar. Peranan MFO dan HSD di sistem interkoneksi Sulut-Gorontalo pada tahun 2011 masih tinggi yaitu masing-masing 157 GWh dan 295 GWh. Mulai tahun 2014/2015 peran MFO dan HSD akan habis digantikan dengan gas LNG. sehubungan masuknya PLTG peaking dengan bahan bakar gas LNG dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. Bonto Batu dan 562 .

dan diasumsikan pasokan gas tetap ada hingga tahun 2020. Sama halnya dengan pemakaian MFO dari 427 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015. 563 . Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sulawesi dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B2.164 GWh pada tahun 2020.5. f. Peranan panas bumi akan meningkat khususnya di Sulawesi Utara dengan akan beroperasinya PLTP Lahendong IV dan V serta PLTP Kotamobagu dari 430 GWh tahun 2011 menjadi 1. Pembangunan PLTGU Donggi-Senoro menjadi tidak optimal karena lokasinya sangat jauh dari pusat beban.17 juta ton pada tahun 2011 menjadi 4. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Sulawesi sampai dengan tahun 2020 sebesar 4.Poko merupakan pembangkit beban puncak.4.5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Pemakaian gas oleh PLN hanya untuk pembangkit peaking sehubungan pembatalan proyek PLTGU di Senoro akibat alokasi gas Senoro kepada PLN hanya 20 mmscfd. Pemakaian gas di Sulawesi oleh pembangkit IPP yaitu PLTGU Sengkang. Sedangkan volume pemakaian batubara meningkat dari 0. B2. Kebutuhan HSD akan turun tajam dari 240 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015.4 bcf dan akan menjadi 6 bcf pada tahun 2020. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.773 MVA.33 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 26 kali lipat. sedangkan PLTA lainnya merupakan pembangkit beban menengah/dasar. Gas Senoro akan diambil PLN dalam bentuk LNG untuk bahan bakar pembangkit peaking di Sulsel dan Sulut. Pemakaian LNG di Sulawesi akan dimulai pada tahun 2013 sebesar 3.

8 MW dengan jumlah pasokan sebesar 314. GI serta transmisi eksisting dan yang akan dibangun baru. GI Paniki dan GI Ranomuut (87 MW) dan ke Gorontalo yaitu GI Isimu dan GI Botupingge (36 MW). • Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Sulut–Gorontalo. 2015 dan tahun 2019 dengan hasil sebagai berikut : a. sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. B2.6. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Bitung (67. Total beban sistem sebesar 310. Tahun 2013 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo yaitu dari kelompok pembangkit (PLTP dan PLTU Sulut II) ke utara yaitu GI Teling. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. 564 .4 kV). SUTT 150 kV Lopana – Teling. Analisa load flow dilakukan beberapa tahun yaitu tahun 2012.5 kV).7.B2. PLTA IPP dan PLTP IPP.1 MW. PLTU IPP.7 Peta Pengembangan Penyaluran Cukup jelas seperti terlihat pada Lampiran B2. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150. Berdasarkan hasil simulasi aliran daya susut sistem sebesar 3. B2.8 Analisis Aliran Daya Analisa Aliran Daya Sistem Minahasa –Gorontalo Analisa aliran daya pada sistem interkoneksi Minahasa-Gorontalo dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 hingga 2013 ada tujuh ruas transmisi.3 MW. yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut II – Lopana. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2. • Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan.0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (144. system Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi.1 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran sistem Sulut – Gorontalo.

PLTU Sulut I (kema) #2. PLTU Tolitoli.2 kV) dan tegangan terendah di GI Botupingge (141.9 kV). Tahun 2015 Aliran daya mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masing-masing sebesar 133 MW ke Manado dan 62 MW ke Gorontalo. Pada tahun ini sub sistem Tolitoli telah interkoneksi dengan sistem. SUTT 150 kV GI Otam – PLTP Kotamobagu. dan PLTU Sulut (PPP) #1. Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 3. Sedangkan pembangkit baru yang dijadwalkan akan beroperasi yaitu PLTU Sulut II #1 dan #2. SUTT 150 kV Paniki – Kema. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTG Gorontalo #1. Untuk mempertahankan level tegangan pada batas normal dibutuhkan tambahan kapasitor 20 MVar yang terpasang di GI Isimu sehingga total kapasitor sebesar 40 Mvar.3 MW. Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 13. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150. b. yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut (PPP) ke Kema/Tanjung Merah.9 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65.2 kV). #2. 565 . Tahun 2020 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masingmasing sebesar 150 MW ke Manado dan 105 MW ke Gorontalo.7 MW. SUTT 150 kV Buroko – Isimu (GI Anggrek incomer). #3 . SUTT 150 kV Isimu – Botupingge dan SUTT 150 kV Isimu – Marisa. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (65. dan PLTG Minahasa #1. Total beban sistem sebesar 366 MW dengan jumlah pasokan sebesar 369. PLTU Anggrek #2. PLTU Sulut I (Kema) #1 dan PLTA Sawangan 2 unit.0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (145.2 kV) dan terendah di GI Likupang (61.8 MW. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (66.8 MW. c.5 kV). dimana penambahan ruas transmisi ada beberapa ruas yaitu SUTT 150 kV Moutong – Marisa. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Otam (148.SUTT 150 kV Teling – Paniki. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTP Lahendong #5 dan #6. Pada tahun 2016 hingga 2020 ada penambahan transmisi baru. PLTG Minahasa #2. Total beban sistem sebesar 555. SUTT 150 kV PLTU Kema – GI Kema dan GI Kawangkoan – PLTP #5 dan #6.4 MW dengan jumlah pasokan sebesar 568. PLTU 1 Sulut di Buroko.7 kV).

dengan susut transmisi sebesar 37. PLTGU Sengkang 135 MW. 2015 dan 2019. PLTD Suppa 60 MW dan PLTA Poso 3 x 65 MW. Pembangkit yang beroperasi adalah PLTA Bakaru 2 x 63 MW.Analisa Aliran Daya Sistem Sulawesi Selatan Analisa aliran daya pada sistem Sulsel dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit eksisting dan penambahan pembangkit baru sesuai neraca daya 2011–2020. Aliran daya sistem Sulselbar masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya. PLTA Bakaru dan PLTA Poso sehingga ada daya sekitar 370 MW yang mengalir dari utara ke selatan propinsi Sulawesi Selatan. PLTGU Sengkang 3 x 60 MW.4 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143. Underground 150 kV Bontoala – Tallo Lama. Analisa load flow dilakukan untuk tahun 2012. Tahun 2015 Pada tahun ini sistem Sulselbar sudah terinterkoneksi dengan sistem Sultra melalui transmisi 150 kV. TL 150 kV jalur tengah Sidrap – Maros (New S/S) – Sungguminasa (2011). Tegangan tertinggi terjadi di GI Wotu 152. Pada kondisi tersebut. Tahun 2013 Sebagian besar kebutuhan energi listrik di pusat beban kota Makassar dan sekitarnya. PLTGU Sengkang 2 x 60 MW.7 kV. Uprating TL 150 kV Tello – Tallo Lama.2 MW (3. TL 275 kV PLTA Poso – Palopo. dengan 566 . Tambahan pembangkit baru pada tahun 2011 – 2013 adalah. melalui transmisi 150 kV. TL 150 kV Sengkang – Sidrap (2011). TL 150 kV Sengkang – Siwa/Keera (2011).3 %). PLTU Sulsel Perpres 1 di Barru 2x50 MW (2012). PLTU Bosowa 2 x 100 MW (2012). ekspansi 2 dan 3 (2011/12). a. b. PLTA Poso 3 x 65 MW (145 MW Transfer ke Selatan – 2012). Total beban sistem sebesar 833 MW dan pembangkit beroperasi sebesar 870.2 MW. tegangan sistem masih dalam batas normal. Tambahan transmisi baru pada tahun 2011 – 2013 adalah. masih dipasok dari pembangkit yang posisinya berada di bagian utara Propinsi Sulawesi Selatan yaitu dari PLTGU/G Sengkang. meliputi sistem 150 kV dan 70 kV. TL 150 kV PLTU Takalar – Tanjung Bunga.

PLTP Lainea 20 MW (2017) .3 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 145.127 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1. tegangan tertinggi di GI Wotu 154. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2016 – 2020 adalah.7 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 149. c. Sedangkan sistem Sultra mendapat pasokan daya dari PLTA Poso. tegangan tertinggi di GI Wotu 154. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal.162. Total beban sistem sebesar 1. ƒ Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan ƒ Perbaikan SAIDI dan SAIFI 567 .4 kV (sistem Sultra).3 MW dan susut transmisi sebesar 35.2015 adalah. PLTA Konewa 2 x 25 MW (2016).9 MW.3 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 136.1 %). PLTA Malea 2 x 45 MW (2016). Tahun 2020 Aliran daya masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya sebesar 600 MW. PLTA Bontobatu 2 x 50 MW (2016).4 MW (3.933.5 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1.8. Total beban sistem sebesar 1. PLTA Bakaru-II 2 x 63 MW (2019).7 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143.995. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2013 .PLTU Sulsel 3 2 x 150 MW (2018/19). PLTU Takalar (eks loan Spanyol) FTP2 2x100 MW (2014/15) dan PLTU Mamuju FTP2 2x25 MW (2014). Tambahan transmisi baru pada tahun 2013 – 2015 adalah TL 150 kV Wotu – Malili – Kolaka – Unaaha – Kendari (2014). Gambaran yang lebih rinci untuk kondisi pada tahun-tahun tertentu hasil simulasi aliran daya untuk sistem besar di Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.6 %). B2. dengan susut transmisi sebesar 62. PLTG Makassar 100 MW (2020).9 kV (sistem Sultra).3 MW (2.transfer daya sebesar 368 MW. dengan transfer daya sebesar 62 MW. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. PLTU Sulsel-3 (Takalar) 2x100 MW (2014/15).

277 454 173.749 1.437 523 194.297 1.276 Tahun 568 Pelanggan 228.498 2017 1.145 12.ƒ Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua ƒ Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan ƒ Menurunkan suut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan distribusi yang sudah tua dan tidak layak dioperasikan ƒ Proyeksi kebutuhan distribusi diberikan pada Lampiran B2.669 613 222.880 2015 1.497 1.805 2014 1.372 493 185.634 1.989 2018 1.940 2016 1. Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi 2011-2020 se Sulawesi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.857 4.717 .034 2019 1.196 419 162.095 13.831 1.351 MVA 549 2012 657 900 338 126.094 kms 1.016 402 144.156 1.542 2020 2011-2020 2.119 401 152.9.006 1.520 560 204.796.778 2013 830 1.143 1.

1 5.1 58.361 kms.7 2015 12.6 7.0 9.0 6.857 kms.4 2012 8.1 2011-2020 144.8 % di tahun 2014 untuk regional Sulawesi.6 7.7 9. menjadi 69.0 50. JTR US$ 85.3% (tahun 2010) menjadi 69.9 2020 22.4 7.0 18.6 6.9 8. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60. JTR 4.1 2018 17.3 15.8 206.9 85. Kapasitas gardu distribusi 4749 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1.3 % tahun 2009.10 Program Listrik Pedesaan Program listrik pedesaan pemerintah yang tertuang dalam RPJM 2010-2014 adalah meningkatkan ratio elektrifikasi Indonesia pada tahun 2014 menjadi 80%.2 9.4 22.3 9. gardu US$ 206.5 10.8 juta.6 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya distribusi regional Sulawesi tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 13.4 23. B2. Untuk menunjang program tersebut di pulau Sulawesi direncanakan membangun JTM 4. ƒ Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60.1 9.5 46.8% di tahun 2014 untuk regional Sulawesi . dan sambungan pelanggan US$ 80. kapasitas gardu distribusi 370.9 17.5 17.4 40.4 6.2 517.145 kms.7 35.7 53.2 10.2 8. membutuhkan biaya sebesar US$ 517.1 7.5 2013 10.0 21.5 8.8 juta pelanggan.6 2017 16. 569 .285 kms.5 19.9 2014 11.6 juta.2 MVA. JTR 12.9 24. ƒ Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut untuk menunjang pengembangan sistem distribusi.2 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar US$ 52 juta.6 80.0 43.Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 se Sulawesi Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 13.5 70.7 2016 14.6 62.8 8.9 26.2 9.6 55.5 2019 19.6 juta (JTM US$ 145 juta.

3 s/d 4. transmisi dan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.12. 570 .10 B2.12.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4.6 B2.Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi untuk listrik pedesaan diberikan pada Lampiran B2. Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR LAMPIRAN B6. PROVINSI SULAWESI BARAT LAMPIRAN B12. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) LAMPIRAN B17. PROVINSI KALIMANTAN TENGAH LAMPIRAN B5.RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR LAMPIRAN B3. PROVINSI MALUKU UTARA LAMPIRAN B14. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) 571 . PROVINSI PAPUA BARAT LAMPIRAN B16. PROVINSI SULAWESI SELATAN LAMPIRAN B10. PROVINSI GORONTALO LAMPIRAN B9. PROVINSI PAPUA LAMPIRAN B15. PROVINSI MALUKU LAMPIRAN B13. PROVINSI SULAWESI TENGAH LAMPIRAN B8. PROVINSI SULAWESI UTARA LAMPIRAN B7. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LAMPIRAN B4. PROVINSI SULAWESI TENGGARA LAMPIRAN B11.

1 Peta pengembangan sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan 1 ULD adalah unit satuan pelayanan PLN yang dikelola oleh badan usaha di daerah terpencil yang mengelola pembangkit. Gambar B3. sehingga rasio elektrifikasi sekitar 73. Kotabaru serta Unit Listrik Desa (ULD)1 dipasok dari PLTD setempat.4%. Total daya terpasang adalah sekitar 423 MW dengan daya mampu 311 MW dan beban puncak 292 MW pada kwartal ketiga tahun 2011.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN B3. 572 . Jumlah pelanggan pada waktu yang sama adalah sekitar 757 ribu pelanggan.1. jaringan dan pelanggan PLN . sedangkan sistem–sistem isolated tersebar antara lain sistem Pagatan. Konfigurasi saat ini dan rencana pengembangan sistem kelistrikan interkoneksi di Kalimantan Selatan dapat dilihat pada gambar B3.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar dipasok dari sistem Barito.LAMPIRAN B. Situasi sistem kelistrikan di provinsi ini pada dasarnya masih terbatas dan tanpa cadangan.

Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kondisi kekurangan pasokan tersebut adalah menyewa PLTD minyak jangka pendek dengan total daya 128 MW. dipasok dari beberapa jenis pembangkit meliputi PLTA. terhubung melalui jaringan 20 kV dan melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Pulau Laut. Sistem Kotabaru terletak di pulau Laut yang terpisah dari daratan pulau Kalimantan. dan menambah daya melalui pembelian tenaga listrik excess power dari industri yang mempunyai cadangan daya.Sistem Interkoneksi Barito Sistem Barito merupakan sistem interkoneksi dengan jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV. - ULD merupakan sistem kelistrikan yang tersebar di daerah terpencil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa setempat dan bebannya masih rendah. Jumlah ULD adalah sebanyak 20 unit dengan daya terpasang 6. Sistem Barito merupakan pemasok utama kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Akibat kondisi kelistrikan yang terbatas ini.7 MW. melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Tanah Bumbu dan sebagian kabupaten Pulau Laut. untuk sementara penambahan pelanggan baru dilaksanakan dengan cara selektif. Kondisi sistem kelistrikan Barito saat ini masih belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. - Sistem Kotabaru juga merupakan sistem isolated dengan pasokan listrik dari PLTD. PLTD minyak dan PLTG minyak. Sistem Isolated Pagatan Di Kalimantan Selatan masih banyak terdapat sistem-sistem kecil isolated tersebar. merupakan sistem yang terhubung dengan jaringan tegangan menengah 20 kV. mengingat daya yang ada masih sangat terbatas. dan beberapa diantaranya yang relatif besar adalah: - Sistem Pagatan/Batulicin. Sistem Barito akan dapat melayani kebutuhan masyarakat setelah PLTU Kalsel di Asam-Asam beroperasi. 573 . Sistem Pagatan direncanakan akan diinterkoneksikan dengan sistem Barito menggunakan transmisi 150 kV. PLTU. Pusat beban sistem Barito berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan porsi sekitar 80% dari seluruh beban sistem Barito. Kondisi kelistrikan di sistem Pagatan ini juga mengalami keterbatasan daya pembangkit dan untuk memenuhi kebutuhan dilakukan sewa PLTD minyak serta membeli excess power. Daya mampu sistem Barito saat ini sekitar 280 MW dengan beban puncak 265 MW.

2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Kalimantan Selatan memiliki sumber daya energi yang cukup banyak dengan tersedianya cadangan batubara dan gas methane yang cukup besar.5 Kab Tanah Bumbu 17.5 280.2 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong Kab Balangan Kab Barito Kuala Kab Tanah Laut 2. kondisi tanahnya juga cocok ditanami kelapa sawit.3 8.7 311.3 Isolated 3. ULD (20 Lokasi Tersebar) Tersebar 6. Kondisi demikian akan berpengaruh kepada pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan.6 265.4 10.1 15. Eksploitasi sumber daya alam berupa batubara dan mulai berkembangnya perkebunan kelapa sawit telah membuat ekonomi Kalimantan Selatan tumbuh dinamis dan prospektif. Tabel B3.3 292. Berdasarkan realisasi pengusahaan lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.1 Sistem Kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan per Oktober 2011 Sistem Kabupaten Daya Terpasang [ MW ] Daya Mampu [ MW ] Beban Puncak [ MW ] Keterangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kab Banjar Kab Tapin Kab HSS 1. 574 .Daya terpasang dan beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat pada tabel B3. Di beberapa kawasan. Sistem Barito 387. Sistem Batulicin TOTAL B3.7 4.7 4.3 Isolated 422.6 14.2. proyeksi kebutuhan listrik 2011–2020 diberikan pada tabel B3.1. Sistem Kotabaru Kab Kotabaru 11. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.1 Isolated 4.

575 .2 2.2 1.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 1.958. tenaga air dan energi surya.9 2. sementara produksinya rata-rata mencapai 12 juta ton per tahun.7 Produksi (GWh) 1.732.1 1. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber energi primer yang banyak.538 995.7 2.604 1.891. Sampai saat ini batubara Kalsel telah dipakai sebagai bahan bakar di berbagai PLTU di Indonesia termasuk di PLTU Asam-Asam.4% Jumlah Pelanggan 740.1 9.800.156.9 2.454.586.238.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana kelistrikan yang meliputi pembangkit.889.3% Beban Puncak (MW) 331 366 390 423 459 499 542 589 641 697 9.450.241 841.7 2.0 3.083.410 1.2 2.066.702.3.5 4.3% 9.774.8 3. Deposit batubara diperkirakan lebih dari 1.038.5 2. transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat dan sebaran penduduknya sebagai berikut. gas methan batubara (coal bed methana /CBM) dan tenaga air.4 2.2 2.5 3. meliputi batubara.Tabel B3.055 877.470.7 1. Potensi batubaranya sangat besar dengan berbagai tingkat kalori sebagaimana dapat dilihat pada table B3.3% B3.057.259.7 3.758 772.646.426.332 915.829 806.225. Potensi energi primer yang potensial untuk dikembangkan khususnya bagi desadesa tertinggal yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN adalah batubara.131.7 2.137 954.032 4.8 miliar ton.

62   0. 2006 Sumber Tenaga Air/Hidro Kalimantan Selatan merupakan daerah yang mempunyai sumber daya tenaga air.09   9.620.46   7.517. Tabel B3.12   109.867.36   2.00   29.249.793. Balangan.6 MW Total 99.4 Potensi energi air di Kalimantan Selatan NO NAMA BENDUNGAN KABUPATEN KAPASITAS 1 PLTA Kusan Tanah Bumbu 65 MW 2 PLTMH Riam Kiwa Banjar 10 MW 3 PLTMH Muara Kendihin Hulu Sungai Selatan 0. adb) 1 Kalori Rendah <5100 2 Kalori Sedang 3 Kalori Tinggi 4 Kalori Sangat Tinggi Sumberdaya ( Juta Ton) Tereka Tertunjuk Terukur Cadangan (Juta Ton) Jumlah  370. Propinsi Kalimantan Selatan Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode 2011-2020 direncanakan tambahan 6 proyek pembangkit listrik berkapasitas 609 MW.6 MW Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi. dan Sampanahan.6 MW 4 PLTMH Kiram Atas Banjar 0.6 MW 6 PLTMH Gendang Timburu Kotabaru 0.84  Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi. Kualitas Kelas Kriteria (Kal/gr.00   12.95   1. Kintap.81   334.86   536.4. Batulicin. antara lain DAS Barito.Tabel B3.36  > 7100  17.14   5.3 Potensi Batubara Kalimantan Selatan No. Tapin. Amandit.287.13   301.95   44.33  5100 ‐ 6100  4.86 MW 5 PLTMH Sampanahan Kotabaru 0. sehingga head-nya relatif kecil. Keberadaan DAS tersebut kurang berpotensi untuk dijadikan PLTA run-off-river karena topografinya landai.5 menampilkan perincian pengembangan pembangkit dimaksud.00   600. PLTA dan PLTG peaking.87   0.64   478.101. Tabel B3.48   3. Batang Alai. Riam Kiwa.62   0.19   33. Umumnya DAS tersebut berhulu di pegunungan Meratus dan bermuara di laut Jawa dan selat Makassar. Badan Geologi KESDM. Riam Kanan.01  6100 ‐ 7100  336. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTU batubara.526.38   1. Secara rinci potensi tenaga air dapat dilihat pada tabel B3. 576 .99   971.

725 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 212 juta seperti ditampilkan dalam tabel B3. Rencana pengembangan sistem interkoneksi 70 kV untuk menghubungkan grid Barito dengan sistem Kotabaru di pulau Laut.Tabel B3. Adanya potensi tenaga air di DAS Kusan yang lokasinya jauh dari pusat beban memerlukan transmisi 150 kV untuk menyalurkan energinya. 577 . dimana saat ini dalam tahap studi kelayakan dan studi dasar laut. Selama periode 2011-2020 direncanakan akan dibangun saluran transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 1.6.5 Rencana Pengembangan Pembangkit di Kalsel No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Asam Asam (FTP1) PLN PLTU 2x65 2011 On Going 2 Kotabaru (APBN) PLN PLTU 2x7 2013 On Going 3 Kusan PLN PLTA 65 2017 Rencana 4 Kalsel (Peaking) PLN PLTG 50 2019 Rencana 5 Asam Asam Sewa XPLTU 3x50 2013 Rencana 6 Kalsel-1 (FTP2) Swasta PLTU 2x100 2015/16 Rencana Total Kapasitas 609 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban kelistrikan di sistem interkoneksi Kalimantan Selatan relatif besar dan jaringan tegangan tinggi akan menjangkau beban yang secara geografis semakin jauh. sehingga pengembangan sistem dilakukan dengan menggunakan tegangan 150 kV. Selain itu pembangunan sistem transmisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan daya hantar listrik mengingat adanya rencana pembangunan PLTU dalam satu kawasan di Asam-Asam.

2 Catatan: Tingkat tegangan kabel laut yang menginterkoneksi Pulau Laut dan Kalimantan sedang dalam kajian. 1xHAWK               6              4.2 2012 7 Up rating Asam‐Asam 150 kV 2cct. direncanakan pengembangan GI 70/20 kV dan saat ini masih dalam tahap kajian. 2xHAWK          220            27. 2xHAWK          213            26. 2xHAWK 2 cct.4 2014 2014 12 PLTA Kusan 150 kV 2 cct. 1xHAWK             42              3. 1xHAWK             74              6. 2xHAWK          284            34.7.0 2011 4 Asam‐asam Batu licin 150 kV 2 cct.813          223. 578 .1 2017 Kayutangi Single phi Cempaka ‐  Rantau Jumlah       1.6 Rencana pembangunan Transmisi 150 kV No 1 Dari Barikin  Ke Amuntai Tegangan Konduktor Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD) COD 150 kV 2 cct.7 tersebut dapat dibangun secara minimalis untuk mengakomodasi beban yang masih relatif kecil untuk mempercepat pembangunan dan menekan biaya investasi. Rencana pembangunan gardu induk baru pada tabel B3. 2xHAWK               2              0. 1xZEBRA          180            30. 2xHAWK          100            12.3          240            29.3 2016 13 Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2 cct. 1xHAWK          138            12. Biaya investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 55 juta dengan rincian terdapat pada tabel B3. Laut Kotabaru 70 kV 2 cct.4 2012 5 Tanjung  150 kV 2 cct. Khusus di Pulau Laut.0 2013 8 Batu Licin Perbatasan Incomer 2 phi Barikin ‐  Cempaka Pelaihari‐Cempaka‐ Mantuil  Landing point P. Pengembangan Gardu Induk Jumlah GI yang direncanakan akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya.9 2011 2 Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct.5 2013 9 Landing point P.8 2012 6 Rantau  150 kV 4cct. Laut 70 kV 2 cct. akan mencapai 24 buah dengan kapasitas total 750 MVA.6 2013 10 Tanjung 11 PLTU Kalsel 1 (FTP 2) Barikin  150 kV 150 kV 2 cct.7 2011 3 PLTU Asam‐Asam (FTP1) Mantuil 150 kV 2 cct. 1xHAWK             66              5.Tabel B3. 2xHAWK          248            30.

Proyeksi tersebut dimaksudkan untuk menambah rata-rata 37.23             2.Tabel B3.10             2.23             1.39             1.39             1.7 Pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Gardu Induk Amuntai (GI baru ) Barikin Ext LB Kayu Tangi (GI baru )  Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam‐asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam‐asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Batulicin Kota Baru (GI baru )  Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (NEW LINE) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Mantuil Trisakti (Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari Daya  (MVA)              30 2 LB              30 2 LB 3 CB 2 CB 2 LB 2 LB              30 2 LB 2 LB              60 2 LB              30              30 2 LB 2 LB              30              60 2 LB 2 LB 2 LB              60              30              60              60              30              60              30              30              30              30 2 LB              30 Anggaran  (juta USD)             2.62             1.10             2.533 kms JTM.10             1.10             0.23             1. 579 .94             3.62             1.23             1.23             1.62             1.39             2.26             2.39             1. Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi sampai tahun 2020 termasuk untuk listrik pedesaan adalah 18.23             1. direncanakan juga pembangunan jaringan distribusi 20 kV.000 pelanggan per tahun selama 10 tahun.10             1.10             1.23             1.10             2.23             1.23             2.23             2.16             1.42 Tegangan Baru/Extension 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150/70 kV 70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension COD 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas. 10.39             1.35             1.8.39             1.23             1.23             2.62             1.39 Jumlah            750            55.206 kms JTR dan 533 MVA trafo distribusi dengan rincian ditunjukkan dalam tabel B3.

256 1. 580 .591 880 47 36.071 2013 1.622 2011-2020 18.5 Rangkuman Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.536 1. Untuk yang belum terjangkau grid.8 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.850 1. Untuk melayani masyarakat sekaligus sebagai upaya meningkatkan ratio elektrifikasi di Kalimantan Selatan.277 2016 1.9.814 2015 1.400 2018 2.057 55 39.008 1.159 59 41. daerah isolated dibangun PLTU batubara skala kecil seperti Pulau Laut.413 2014 1.272 63 42.254 kms 865 MVA 45 2012 1.Tabel B3.787 964 51 37.369 828 51 33.206 533 373.465 982 50 32.786 2017 2.533 10.805 Tahun Pelanggan 30. Selain itu PLN secara sangat terbatas juga berencana memasang PLTS komunal. PLN juga mendorong pengembangan PLTMH oleh swasta untuk memanfaatkan potensi tenaga air. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 di Provinsi Kalimantan Selatan diberikan pada tabel B3.806 2020 2. Sistem kelistrikannya dipasok dengan PLTD dan dikelola oleh Unit Listrik Desa.066 2019 2.395 68 44. B3. beberapa sistem isolated diupayakan secara bertahap masuk ke dalam sistem interkoneksi Barito melalui grid extension.060 B3.4 Sistem Kelistrikan Isolated Kalimantan Selatan dengan wilayah daratan yang sangat luas mempunyai banyak kelompok penduduk yang tersebar jauh dan terisolasi.417 804 44 34.

057 366 30 534 Sales (GWh) 2013 1.0 100 180 - 189.451 589 2019 2.Tabel B3.3 .647 459 2016 2.9 120 213 181.454 1.225 390 164 210 260 121.259 2.3 - 70.703 3.1 1.892 2.9 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun 2011 2012 Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Beban Produksi Pembangkit GI Transmisi Anggaran Puncak (GWh) (MW) (MVA) (kms) (juta USD) (MW) 280.386.813 1.890 499 2017 2.6 2015 2.3 90 138 61.426 423 100 60 340 225.471 3.587 2.067 2.0 - 88.239 4.4 1.775 641 2020 3.157 542 2018 2.0 1.131 Jumlah 697 65 50 609 581 750 - 57.801 331 130 60 328 111.732 2.958 3.6 2014 1.

4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH B4. Sistem kelistrikan di daerah lainnya masih merupakan sistem isolated tersebar. Beban puncak total non coincident se Kalimantan Tengah pada tahun 2011 adalah sekitar 140 MW. Jumlah pelanggan Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2010 adalah sekitar 284 ribu pelanggan dengan rincian 249 ribu pelanggan rumah tangga.1. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dan rencana pengembangan sistemnya diperlihatkan pada gambar B4.4 MW di sistem Barito dan 81.LAMPIRAN B. Sedangkan daya mampu pembangkit sekitar 147 MW dengan rincian 54.56 MW di sistem isolated tersebar. dimana 66 MW diantaranya masuk dalam sistem Barito. GI Selat memasok beban di kabupaten Kuala Kapuas dan sekitarnya.1 Kondisi Saat Ini Sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Tengah dipasok dari sistem interkoneksi Barito dengan transmisi 150 kV dari Kalimantan Selatan melalui beberapa GI di Kalteng yaitu GI Selat. 23 ribu pelanggan bisnis. 11 ribu pelanggan publik dan 104 pelanggan industri. dengan daya mampu pembangkitan rata-rata dalam kondisi pas-pasan. 582 . GI Pulang Pisau dan GI Palangkaraya. GI Pulang Pisau memasok beban di kabupaten Pulang Pisau dan GI Palangkaraya memasok beban kota Palangkaraya dan kabupaten Katingan.

Mengingat rasio elektrifikasi di Kalimantan Tengah masih cukup rendah (sekitar 55%) termasuk pelanggan listrik non PLN. UL D (57 Lokasi tersebar) Tersebar Total 195. Sistem Muara Teweh Kab Barito Utara 6.7 2.5 9.8 Isolated 3. 583 .1.2 5. Sistem Buntok Kab Barito Selatan 16. Sistem Kuala Pambuang Kab Seruyan 7.3 Isolated 7.4 Isolated 6.9 Isolated 14.1. Sistem Barito 58.7 Isolated 10. Eksploitasi batubara telah membuat ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh dinamis dan prospektif. Sistem Puruk Cahu Kab Murung Raya 4.0 11. proyeksi kebutuhan listrik Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2011–2020 diberikan pada tabel B4.2 1.7 6.8 20. Sistem Nanga Bulik Kab Lamandau 2. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang. Memperhatikan realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya termasuk dengan memperhitungkan daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.9 1. hal itu akan berpengaruh pada kebutuhan listrik di Kalimantan Tengah.4 Kab Katingan/Kasongan Kab Barito Timur / Tamiyang Layang 2. maka pertumbuhan kebutuhan listrik di masa mendatang diperkirakan akan tinggi.7 25.2.3 Kab Pulang Pisau 54.6 1.1 Sistem Kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah per Oktober 2011 Sistem Kalimantan Tengah Daya Terpasang [ MW ] Daya Mampu [ MW ] Beban Puncak [ MW ] Keterangan 66.3 Isolated 8.4 Isolated 5.1 B4. Sistem Sukamara Kab Sukamara 3.Gambar B4.4 7.6 Isolated 147.5 2.1 3. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah Sedangkan rincian data pembangkit dan beban puncak sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat pada tabel B4.7 1.8 18.0 12.0 Daya Mampu sistem Barito adalah 335 MW dengan beban Puncak sebesar 331.8 2.2 Isolated 9.5 MW Kota Palangka Raya Kab Kapuas 1.1 2.3 3. Sistem Kuala Kurun Kab Gunung Mas 5. Sistem Sampit Kab Kotawaringin Timur 52.6 140. Sistem Pangkalan Bun Kab Kotawaringin Barat 39.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Kalimantan Tengah memiliki sumber energi yang cukup banyak dengan tersimpannya cadangan batubara dan gas methan batubara (CBM) dalam jumlah yang cukup besar.1 23.7 Isolated 4. Tabel B4.

0 1.839 466.0 1.9 1.0 201.637.2% Beban Puncak (MW) 127.346.7 1. Batubara Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai potensi batubara yang cukup banyak dan kabupaten Barito Utara merupakan kabupaten yang paling banyak memiliki cadangan batubara.4 216.Biliton memperkirakan terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori di atas 7.3 1. Survey yang telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi. Batubara ditemukan di daerah 584 .1 1.8 11.0% B4.545 445.3 173.468.8 11.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana kelistrikan meliputi pembangkit.135.7 1.1 9.5 1.1 888.0 252.3 294.000 kkal per kg dan juga ditemukan batubara dengan kandungan kalori di atas 8.126 487.371 374.9 1.000 kkal per kg di kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara.1 1.197 426.8 234. Potensi energi yang potensial untuk dikembangkan di Kalimantan Tengah adalah batubara.603.3 272. selain pembangkit batubara juga dapat dikembangkan mikrohidro dan biomassa.253.8% Jumlah Pelanggan 343. Selain itu khusus untuk perdesaan yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN.1 1.1 1.8 817.748 408.Tabel B4.361 358.5 924.8 1.914. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya energi yang besar. dan beberapa gas alam.0% Produksi (GWh) 843. baik pemerintah maupun perusahaan asing seperti PT BHP .1 966.8 187.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Prov Kalimantan Tengah Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 741.2 1.889 6.0 152.458 509.369.152 390. yaitu utamanya batubara.496.052.043.148.751. transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.236.

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan beban sampai dengan tahun 2020 termasuk memenuhi daftar tunggu. Sungai Lahei. Status potensi tersebut dalam tahap identifikasi oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Tengah. 585 . Kualitas (Kal/gr. Bakanon.7     974.1        44.0     1. dan memerlukan studi lebih lanjut untuk dapat dikembangkan.7             ‐        72.4     354.3 Potensi Batubara Kalimantan Tengah Sumberdaya ( Juta Ton) Kriteria No.7     262.5                 ‐  4 Kalori Sangat  Tinggi > 7100              ‐     247.Muara Bakah.8             4.6             ‐        77. Sungai Montalat.4 berikut menampilkan perincian pengembangan pembangkit di Kalimantan Tengah. Sungai Maruwai dan sekitarnya.613           48. direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 693 MW.4         5.1     194.1  3 Kalori Tinggi 6100 ‐ 7100     122.9             ‐              ‐     483. Tabel B4.0     324.6  Jumlah Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi. 2006 Gas Alam Potensi gas alam di Kalimantan Tengah terdapat di Bangkanai di dekat Muara Teweh. Jenis pembangkit yang akan dibangun adalah PLTU batubara di beberapa lokasi dan PLTG gas di Bangkanai sebagai pembangkit peaking dengan menggunakan gas storage CNG (compress natural gas). Sumber Tenaga Air Kalimantan Tengah memiliki potensi tenaga air yang berkaitan dengan DAS Barito dan Katingan di daerah Puruk Cahu.8         5.9                 ‐  2 Kalori Sedang 5100 ‐ 6100              ‐     296. adb) Hipotetik Tereka Tertunjuk Terukur Jumlah Cadangan (Juta Ton) 1 Kalori Rendah <5100              ‐     483.6     449. Potensi batubara di Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Table B4. dan berdasarkan hasil penelitian daerah ini memiliki potensi gas yang akan dieksploitasi sebesar 20 mmscfd selama 20 tahun.3 Tabel B4.6           44. walaupun diperkirakan akan turun secara bertahap menjadi 16 mmscfd mulai tahun ke 16.5      122. Muara Teweh dan Kasongan.

#2 (FTP2) PLN PLTG 2x70 2013 Rencana 3 Buntok PLN PLTU 2x7 2013 On Going 4 Kuala Pambuang PLN PLTU 2x3 2013 Rencana 5 Kuala Kurun PLN PLTU 2x3 2013 Rencana 6 Bangkanai #3 (FTP2) PLN PLTG 1x70 2014 Rencana 7 Sampit (FTP2) PLN PLTU 2x25 2014 On Going 8 Bangkanai #4 (FTP2) PLN PLTG 1x70 2015 Rencana 9 Kuala Pambuang Ekspansi PLN PLTU 3 2017 Rencana 10 Pangkalan Bun (Cenko) Swasta PLTU 2x7 2011 Operasi 11 Kalteng .1. Sebagaimana diketahui bahwa sebaran penduduk Kalimantan Tengah sangat berjauhan.5. Pembangunan transmisi juga dimaksudkan untuk dapat melistriki lebih banyak penduduk Kalimantan Tengah sekaligus untuk mengambil-alih PLTD minyak masuk ke grid Kalselteng 150 kV dalam rangka menurunkan biaya pokok produksi.968 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 202 juta seperti ditampilkan dalam tabel B4.Tabel B4. Rencana pengembangan sistem transmisi di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sesuai dengan peta yang diperlihatkan pada gambar B4.4 Rencana Pengembangan Pembangkit No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Pulang Pisau (FTP1) PLN PLTU 2x60 2012 On Going 2 Bangkanai #1. Selama tahun 2011-2020 transmisi 150 kV yang akan dibangun sekitar 1. 586 .1 Swasta PLTU 2x100 2020 Rencana Total Kapasitas 693 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Seiring dengan rencana pembangunan PLTU batubara dan PLTG di Bangkanai serta untuk menyambung sistem isolated masuk ke grid Barito. Selain itu letak sumber gas alam Bangkanai juga berada di ujung sebelah timur laut Provinsi Kalimantan Tengah dan jauh dari pusat beban. direncanakan akan dibangun transmisi 150 kV untuk menyalurkan energi listrik dari pembangkit tersebut ke pusat beban. sehingga transmisi 150 kV yang akan dibangun menjadi sangat panjang.

 2xHAWK           260            31.5 Rencana pembangunan transmisi 150 kV 2 cct.6 2013 Muara Teweh 150 kV 2 cct.Tabel B4.6 2014 12 PLTU Kalteng‐1 Kasongan 150 kV 2 cct. Gardu induk yang akan dibangun pada tahun 2011-2020 tersebar di 8 lokasi dengan daya 330 MVA. dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 39 juta seperti ditunjukkan pada tabel B4. 1xHAWK             40               3.9 2013 Pangkalan Bun 150 kV 2 cct. Pengembangan gardu induk ini dimaksudkan untuk mendukung interkoneksi sistem isolated tersebut dengan sistem Barito yang selanjutnya disebut sistem Kalselteng dengan transmisi 150 kV.3 2013 Muara Teweh Buntok 150 kV 2 cct.2 2012 150 kV 2 cct.Pisau Incomer 2 phi (P. Pengembangan grid tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan dan menurunkan biaya pokok produksi. 2xHAWK             94               8. 1xHAWK           344            30.4 2014 11 PLTU Sampit Sampit 150 kV 2 cct. 1xHAWK           120            10.0 2013 7 PLTU  P. 2xHAWK           240            29.4 2014 10 Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2 cct. 2xHAWK           196            17. 2xHAWK Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD)           346            30. termasuk trafo untuk perluasan.6. 1xHAWK                2               0.8 No Dari 1 Palangkaraya 2 Kasongan  3 Tanjung  4 5 6 Ke Tegangan Konduktor Sampit 150 kV Incomer phi (Sampit ‐ P raya) 150 kV Buntok Sampit PLTGU Bangkanai COD Pengembangan Gardu Induk Di luar sistem Barito terdapat banyak sistem isolated relatif kecil dan berlokasi saling berjauhan yang dipasok PLTD minyak.4 2015 Jumlah        1.968          202. 1xHAWK                4               0.2 2014 9 Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2 cct. 2xHAWK           100            12. Raya ‐Selat) 150 kV 4 cct.4 2013 8 Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat ‐ P raya) 150 kV 2 cct.7 2014 13 Kasongan  Kuala Kurun 150 kV 2 cct. 2xHAWK                2               0. 2xHAWK           220            27.8 2012 2 cct. 587 .

23              2. seperti ditunjukkan pada tabel B4.62              2.24              2.8. Pada periode berikutnya akan disambung sekitar 18. Untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% pada akhir tahun 2011.34              1.23              2.23              2. dilakukan juga rencana pengembangan jaringan distribusi termasuk listrik perdesaan.23              2. secara rinci ditampilkan pada tabel B4. Jaringan distribusi yang akan dikembangkan selama periode 2011-2020 termasuk untuk melistriki perdesaan adalah 11.04 Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas. 5.7.23              1.6 Rencana pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTG) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Kuala Kurun (GI Baru) Puruk Cahu (GI Baru) Pangkalan Bun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU ) Tegangan Baru/Extension Kapasitas  (MVA) Anggaran  (juta USD) COD 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension New New Extension Extension Extension                  30 4LB                  30 2 LB                  30 2 LB                  30                  30 2 LB 2 LB                  30                  60 2 LB                  30                  30                  30 2 LB 2 LB              2.000 ribu pelanggan baru selama 2011.62              1.62              2.62              5.547 kms JTM.62              1. maka perlu disambung 60.23 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 Jumlah                330            39.62              1.Tabel B4.62              1.500 pelanggan setiap tahunnya.39              1.10              3.23              1. 588 .706 kms JTR dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 230 MVA.

Sistem Isolated Sistem kelistrikan yang kecil pada daerah terpencil yang pada saat ini dipasok oleh PLTD minyak pada dasarnya akan diambil oleh jaringan intekoneksi Kalimantan dengan grid extension. Progres pembangunan PLTU tersebut lebih lambat daripada yang direncanakan.010 2013 740 391 17 15.085 499 22 19.7 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 2.547 5.332 2020 2011-2020 1.208 kms 1.Tabel B4.341 Tahun Pelanggan 59.706 230 226. sehingga dilakukan sewa PLTD jangka pendek.219 547 24 20.813 B4.348 2017 1.595 2015 860 415 19 17. kecuali sistem isolated yang berlokasi sangat jauh dari grid dimana direncanakan PLTU skala kecil.782 2014 766 380 18 16.287 2019 1.000 MW tahap 1 (FTP1).371 600 25 21.540 659 27 22. yaitu PLTU Pulang Pisau.294 MVA 43 2012 792 464 15 15. dan beberapa PLTU lain yang ditunjukkan pada tabel B4.5.450 2016 966 455 20 18.4 Sistem Kelistrikan Barito dan Sistem-Sistem Isolated Sistem Barito Permasalahan ketidakcukupan pasokan pembangkit di sistem Barito sudah berlangsung cukup lama dan PLN pada saat ini tengah berupaya membangun PLTU batubara yang diprogramkan dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit 10. misalnya PLTU Kuala Pambuang. 589 .293 2018 1.431 11.

6 33.968 80.347 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan dana investasi sampai dengan tahun 2020 sebagaimana diperlihatkan pada tabel B4.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.B4.1 1.9 .369 1.253 1.469 1.497 1.1 29.135 1.297.5 23.8.603 1.148 1.1 89.2 32.1 60.638 Jumlah 844 924 1.915 Beban Puncak (MW) 127 152 174 187 201 217 234 252 272 294 Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Pembangkit (MW) 14 286 120 70 GI (MVA) 30 30 120 120 30 3 200 693 590 330 Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 348 928 452 240 1.4 192.236 1. Tabel B4.053 1.751 1.3 441.8 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Sales (GWh) Produksi (GWh) 742 817 888 966 1.044 1.5 316.

yaitu Kabupaten Berau.1. 591 . Akibatnya pada waktu-waktu tertentu masih terjadi pemadaman secara terbatas. daya mampu sekitar 274 MW dengan beban puncak 243 MW sesuai tabel B5. Kapasitas tersebut termasuk pembangkit sewa untuk memenuhi kebutuhan beban yang terus meningkat. daya mampu sekitar 280 MW dan beban puncak 261 MW.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR B5.LAMPIRAN B. Kapasitas terpasang keseluruhan sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2010 sekitar 495 MW dengan daya mampu sekitar 401 MW dan beban puncak 340 MW. Peta kelistrikan Provinsi Kalimantan Timur ditunjukkan pada Gambar B5. PLTD. PLTGU dan PLTG dengan daya terpasang pada Oktober 2011 mencapai 405 MW. Balikpapan dan Tenggarong. Melak. selain PLTD HSD juga sebagian telah dipasok menggunakan PLTMG berbahan bakar gas alam. Kemampuan daya di sistem kelistrikan ini masih mengalami keterbatasan akibat dalam beberapa tahun terakhir hampir tidak ada penambahan pembangkit baru. Sistem kelistrikan yang paling berkembang di Provinsi Kalimantan Timur adalah sistem Mahakam. Kota Bontang.1. sehingga biaya pokok produksi masih relatif tinggi. sistem kelistrikannya masih sangat kecil dan dilayani dengan jaringan tegangan rendah 220 volt yang tersambung langsung dari PLTD setempat. Sistem kelistrikan di beberapa wilayah di Kabupaten lain. Kotabangun. Kalimantan Timur saat ini tidak lagi mengalami defisit daya sepanjang tidak menambah pelanggan besar baru. Petung. Malinau. utamanya bila ada salah satu pembangkit yang mengalami gangguan. Sedangkan untuk sistem Mahakam pada tahun yang sama. Sangatta. dan Tanah Grogot masih dilayani dengan sistem jaringan tegangan menengah 20 kV dan dipasok dari PLTD HSD.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan di Kalimantan Timur secara keseluruhan masih didominasi oleh pembangkit-pembangkit berbahan bakar minyak. Sedangkan di beberapa daerah lain yang berpenduduk relatif sedikit. Sistem Mahakam dipasok dari beberapa jenis pembangkit yaitu PLTU. Khusus untuk kota Bontang dan Petung. yaitu sebuah sistem interkoneksi tegangan tinggi 150 kV yang melayani kota Samarinda. sedangkan beban yang ada tumbuh dengan cepat. Bulungan. Nunukan.

13 5.05 2.3 592 DAERAH PELAYANAN Samarinda.2 8. Samboja dan  Muara Jawa Penajam. Balikpapan.9 15.  Tenggarong.89 5.7 15.01 6.4 0.96 5.2 7.4 5. dan Petung Tanah Grogot dan Kuaro Kotabangun Melak Bontang Sangatta Tanjung Redeb Tanjung Selor Nunukan Malinau .1 Kondisi kelistrikan per Sistem per akhir tahun 2010 No SISTEM Daya (MW) Mampu Beban Puncak 1 Mahakam 274 243 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Petung Tanah Grogot Kotabangun Melak Bontang Sangatta Berau Bulungan Nunukan Malinau 11.7 3.Gambar B5.05 4.7 10.1 26 11.2 4.1 Peta kelistrikan di Provinsi Kaltim Tabel B5.6 8 1.

2% per tahun). sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi non migas cukup tinggi sebesar 8.Rasio elektrifikasi di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2010 adalah 67%. proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 ditunjukkan pada tabel B5. sedangkan terendah adalah pada sektor industri yang tumbuh negatif (-2.3% per tahun.32% per tahun. Dalam beberapa tahun terakhir. kondisi sistem kelistrikan di Kaltim tidak mampu mengimbangi pertumbuhan beban listrik yang begitu tinggi karena banyak proyek PLTU batubara yang semula akan dibangun oleh investor swasta ternyata banyak yang tidak terwujud. Adanya daftar tunggu ini membuat tambahan beban yang akan datang diperkirakan akan naik sangat tinggi setelah PLTU batubara baru beroperasi. dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional. Mengacu pada realisasi penjualan tenaga listrik PLN selama lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu calon pelanggan yang cukup besar. yaitu rata-rata 8. termasuk masyarakat yang dilistriki secara swadaya oleh perusahaan swasta dan pengguna PLTS. Pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor bisnis (10. B5. Akibatnya daftar tunggu terutama konsumen industri dan bisnis menumpuk. 2 Tidak termasuk Tarakan 593 .2. Daftar tunggu konsumen besar di Kalimantan Timur direncanakan dapat dilayani setelah pembangkit-pembangkit baru skala cukup besar beroperasi.9% per tahun). yaitu hanya rata-rata 3.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Kalimantan Timur Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Timur2 selama 5 tahun terakhir tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kaltim selama 2006–2010 relatif rendah. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.03%.

172.4 533.2 628.659.610.707.6 2. 594 .357.1 1.8 4.2% 11.577 5. Kalimantan Timur merupakan lumbung energi primer.Cadangan gas bumi mencapai 46 TSCF dengan produksi 2 TSCF per tahun.731 3.710.2 4. .820.9 1.042.9 1.7 536.7 856.7 796.8 6.0% B5.Tabel B5.605 2.396.1 499.4 5.7% 8.1 4.553 5. .8 596.8 910.045.2 851. dengan mempertimbangkan ketersediaan potensi energi primer setempat.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) Produksi (GWh) Beban Puncak (MW) Jumlah Pelanggan 2.684 4. .352 3.6 743.1 5.2 783.1 2. direncanakan akan dibangun pembangkit.937.Potensi gas metan batubara (CBM) sebesar 108 TSCF.812.4 451.1 402.543. sebagai daerah penghasil batubara dan migas dalam jumlah besar.775.Cadangan batubara mencapai 25 milyar ton dengan tingkat produksi mencapai 120 juta ton per tahun.299.7 975.8 3. Potensi Energi Primer Sumber energi primer di Kalimantan Timur tersedia dalam jumlah besar.107.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan beban yang tinggi di Provinsi Kalimantan Timur.919 4.2% 11.131.923 2.165. transmisi dan distribusi.183.876 4.8 714.287.2 3.7 666.398. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Kalimantan Timur.Cadangan minyak bumi di Kalimantan Timur sebesar 985 MMSTB dan produksinya mencapai 57 MMSTB per tahun.018.729 11. sumber energi yang ada meliputi : .367.3 933.

antara lain 1.Potensi tenaga air yang cukup besar. dan 205 MW di Tabang.. yang perlu distudi lebih lanjut. Tabel B5. Tanjung Selor sekitar 300 km dari Sangatta. direncanakan tambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 1. Kutai Kartanegara sekitar 214 km dari Tenggarong. Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020.5 2x7 50 2 2x100 2x100 2011 2012 2012 2012 2013 2013/14 2014 2014 2017 2015 2015/20 2015/18 2016/19 2016 2016/18/20 2016 2018/19 2018 2018 2019 2011/12 2011/12/13 2012 2013 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015/16 2017 On Going On Going Rencana On Going On Going Rencana On Going Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana On Going On Going Rencana Rencana On Going Rencana On Going On Going Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana On Going On Going Rencana Total Kapasitas 1.661 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada tabel B5.3 Rencana Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 PROYEK Sebatik Tanjung Selor Malinau Tanjung Redeb Kaltim (FTP 2) Melak Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) Sangatta Sangatta Tanjung Redeb (Ekspansi) Sangatta (Peaking) Malinau Ekspansi Tana Tidung (Peaking) Nunukan Melak Berau Kelai #1&2 Kaltim (Peaking) Nunukan Ekspansi Berau Benuo Taka Arena Maju Bersama Bontang Kariangau Melak Lati (Ekspansi) Kotabangun Mahakam (Senipah) Tanah Grogot (Terkendala) Tana Tidung Kaltim (MT) Nunukan Embalut (Ekspansi) Tana Tidung Kaltim-2 (FTP2) Kaltim (PPP) PEMILIK JENIS MW COD STATUS PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Sewa Sewa Sewa Sewa Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLTS PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTMG PLTU PLTD PLTMG PLTMG PLTMG PLTA PLTG PLTMG PLTMG PLTMG PLTD XPLTG XPLTU PLTGB PLTU PLTGB PLTG PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU 0.3 berikut.2 3x7.500 MW di Kayan.661 595 .5 100 2x120 6 5 3 2x41 2x7 4 2x27.3 2x7 2x3 2x7 2x50 2x7 2x110 2x7 7 14 2x5 2x3 2x1 2x3 3x3 10 2x75 50 2x3 5 2x3.

596 .0              1. Sedangkan rencana pengembangan GI baru terkait dengan proyek pembangkit adalah GI PLTG Sembera dan GI Kariangau. ACSR 2xZebra             16 2 cct. GI Bontang dan GI Sangatta. ACSR 2x240 mm2 2cct. ACSR 2x240 mm2           310 2cct.5. ACSR 2x240 mm2              9.190 MVA seperti pada tabel B5.4.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban sistem kelistrikan Kalimantan Timur sudah cukup besar tetapi masih banyak daerah yang belum terjangkau oleh sistem Mahakam. Tabel B5. ACSR 2x240 mm2             90 2cct.3 COD   Pengembangan Gardu Induk Seiring dengan pembangunan transmisi 150 kV untuk memenuhi pertumbuhan beban.3              9.4            22. di daerah-daerah terpencil yang masih menggunakan PLTD secara bertahap akan diupayakan untuk dibangun jaringan transmisi 150 kV dan diinterkoneksikan dengan sistem Mahakam. ACSR 2 x 240 mm2             93  2cct. ACSR 2x240 mm2             30 Anggaran  (juta USD)            38. direncanakan pengembangan jaringan transmisi 150 kV sepanjang 1.5              1. Sebagai upaya untuk menurunkan penggunaan BBM dan pengembangan kelistrikan. ACSR 2x240 mm2 Up rating ke Twin Hawk 2cct.3 juta seperti ditampilkan dalam tabel B5. ACSR 2x240 mm2             14 2 cct.9 2014 2014 2014 2017 2017 2018 2018 2018 Tegangan Kuaro Perbatasan Sambutan incomer Sambutan ‐ Bontang Incomer 1 pi (Manggar Sari‐Industri) Incomer 2 phi (Karjo ‐ Kuaro) Incomer 2 phi (Karjo ‐ Kuaro) K.4. ACSR 2x240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm2                6 4cct. ACSR 1x240 mm2 2cct.0            14.8              2.2            31. ACSR 2x240 mm2           180  2cct.0            11. GI Petung. ACSR 2x240 mm2                8 2cct.7 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct. direncanakan akan dibangun GI 150 kV di 12 lokasi tersebar termasuk perluasannya dengan kapasitas total 1.0          175.535. Rencana pengembangan GI baru untuk menggantikan PLTD adalah GI Kuaro/Tanah Grogot.0            11. Rencana Pengembangan Transmisi di Kaltim No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Dari 112342001 112342002 112342003 112342004 112342005 112342006 112342007 112342008 112342009 112342010 112342011 112342012 112342013 112342014 112342015 112342016 112342017 Karang Joang Kuaro Bontang  GI Sembera  PLTG Senipah Petung PLTU Teluk Balikpapan Up rating Teluk Balikpapan PLTU Kaltim 2 (FTP‐2) PLTG Senipah Harapan Baru Tenggarong New Samarinda PLTU Kaltim (PPP) Bontang  Berau PLTA Kelai Ke 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Panjang  (kms) 2cct.6              3. Sampai dengan tahun 2020.7            11.1              1. ACSR 1x240 mm2 2cct.535 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 175.3              5. ACSR 2x240 mm2 2cct.7              0. Joang Bontang Bukuan/Palaran Bukuan Kota Bangun Sambutan Incomer 2 pi (Senipah‐Bukuan) Sangata Tanjung Selor Sangata Konduktor Jumlah           120             24           110             16                8             90           160           260    1.0              0.

62        0.39        1.23        1.62        2.23        2.52        1.10        1.23        2.75        1.62        1.39        1.Rencana GI baru untuk mengantisipasi GI yang sudah tidak dapat dikembangkan lagi adalah GI New Industri dan GI New Samarinda.10        2. Tabel B5.62        4.57        2.10        2.62        2.75        1. Pengembangan GI lainnya merupakan pengembangan dari rencana GI baru.10        2.23        3.27 597 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 .10        2.39        2.5 Pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Gardu Induk Bukuan/Palaran Ext LB Sambutan Bukuan/Palaran Karang Joang/Giri Rejo Ext LB Kuaro / Tanah Grogot Petung Sambutan Ext LB Bontang GI PLTG Sambera Industri/Gunung Malang Sei Kleidang / Harapan Baru Tengkawang/Karang Asem Sambutan Bontang Bontang Ext LB Kariangau / Tel.39        1.85        1.39        2.39        2.62        2.62        1.62        1.39         1.190           70.10        2.10        1.23        2.39        1.10        1. Balikpapan Tenggarong / Bukit Biru Kota Bangun Kariangau / Teluk Balikpapan Berau / Tj Redep Bulungan / Tj Selor New Industri Berau / Tj Redep Sambutan Kuaro / Tanah Grogot Bontang New Industri New Samarinda Sangatta Sambutan Ext LB Petung New Samarinda Sambutan New Industri Sei Kleidang / Harapan Baru Tenggarong / Bukit Biru Tegangan Baru/Extension 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension New Ekst Relocating Extension New (4 LB) New Extension New New (4 LB ‐ 2x30) Uprating Extension Extension Extension Extension Extension New Extension New Extension New New New Extension Extension Extension Extension Extension New New Ekstension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Jumlah Daya  (MVA) 2 LB       30       20 2 LB         30         30 2 LB         30         60         60         60         60         30         30 2 LB         30         30         30         30         30         30         30         30         60         30         30         60         30         30 2 LB         30         30         60         60         60         30 Anggaran  (juta USD)        1.39        2.39        1.

260 MVA.089 kms.200 sambungan per tahun. 598 . untuk mendukung rencana penambahan pelanggan baru rata-rata 56.GI Bontang U G ACSR 2X240 mm 2 90 km (2012) PLTU Tanjungselor 2x7 MW (2014/15) GI Kotabangun ACSR 1X240 mm 2 50 km (2018) U GI Tenggarong PLTU CFK 2x25 MW GI Semberah G U GU PLTGU Batakan 2x25 MW Samarinda GI Tengkawang ACSR 1X240 mm 2 60 km (2018) PLTG Sewa 100 MW (2012) PLTU Embalut (Exp) 1x50 MW (2014) U PLTU Kaltim-2 FTP2 2x100 MW (2016/17) GI Harapan Baru GI Sambutan GI Palaran/Bukuan ACSR 2X240 mm 2 30 km (2013) PLTU Tanjungredep 2x7 MW (2012/13) U U U ACSR 2X240 mm 2 30 km (2013) G GI Karang Joang ACSR 2X240 mm 2 155 km (2012) GI Petung ACSR 2X240 mm 2 40 km (2012) PLTU Kaltim (PPP) 2x100 MW (2017/18) PLTU Kaltim (MT) 2x27. JTR sekitar 30.125 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 1.5 MW (2014) PLTG Mahakam/Senipah 2x40 MW (2013) GI Manggarsari GI Industri U Balikpapan U PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP-1 2x100 MW (2013/14) PLTU Sewa Kariangau 2x120 MW (2013) GI Kuaro ACSR 2X240 mm 2 93 km (2012) Gambar B5. Jaringan distrubusi yang akan dibangun meliputi JTM sepanjang 24.6.2 Peta rencana pengembangan sistem interkoneksi Kaltim Pengembangan Distribusi Rencana pengembangan jaringan distribusi termasuk listrik perdesaan selama kurun waktu 2011-2020 sebagaimana ditunjukkan pada tabel B5.

843 138 76.429 2014 3.976 2020 3.332 2.Tabel B5.4 Sistem Kelistrikan Isolated Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Tana Tidung merupakan kabupaten baru dan mulai resmi beraktivitas pada tahun 2007 dengan luas wilayah 4.898 176 62.701 2019 3.089 30.452 2.641 B5.734 3. Pemerintah Daerah atau Satuan Kerja Listrik Perdesaan berencana akan membangun PLTMH dan pengelolaannya diserahkan ke penduduk setempat.236 2017 2.828 km2 dengan jumlah penduduk 28 ribu jiwa.113 4.332 133 64.957 2018 2.319 2013 2.577 110 53.658 2.953 2016 2.220 2. 599 .765 Tahun Pelanggan 18.474 3.379 2015 2. Rencana pengembangan kelistrikan di Kabupatan Tana Tidung dimasukkan dalam kelompok sistem isolated tersebar karena beban puncak masih di bawah 1 MW.774 115 54.756 94 34.020 122 58.6.260 561.080 3. Sistem Kelistrikan Daerah Terpencil Sistem kelistrikan skala sangat kecil di daerah terpencil yang sangat jauh dari pusat beban saat ini direncanakan untuk dipasok dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui kerja sama dengan Pemerintah Daerah.855 180 70. Selanjutnya akan dilakukan studi untuk membangun jaringan distribusi 20 kV dari Tana Tidung ke Malinau setelah PLTU 2 x 3 MW beroperasi.389 3.176 2011-2020 24. Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 636 kms 495 MVA 54 2012 1. Untuk daerah-daerah yang memiliki potensi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).574 138 67.125 1.

3 2018 4.543 784 120 30 - 227.288 1. untuk pembangkit listrik setempat untuk menggantikan penggunaan BBM.8 2013 2.707 4.4 2015 3.2 2014 3.710 629 360 60 144 664.7 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Produksi Beban Pembangkit (GWh) Puncak (MW) (MW) GI (MVA) Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 2011 2. PLN akan membangun PLTMG dengan memanfaatkan gas yang terdapat di Sembakung/ Sebaung di daratan Kaltim dan listriknya akan disalurkan ke Nunukan dan Sebatik melalui jaringan kabel laut 20 kV.938 856 207 210 24 389.399 4.300 3.108 8 30 - 114.183 5.3 2.0 2019 5.166 715 124 90 - 284.535 33.0 2020 5. Untuk melistriki daerah perbatasan tersebut.661 1.019 81 240 - 113. Wilayah Indonesia di daerah perbatasan sebagian besar masih belum berlistrik.132 2. Selain itu PLN berencana akan melakukan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Satuan Kerja Listrik Perdesaan untuk mambangun PLTMH dan PLTS. termasuk gas skala kecil. B5.611 6.Sistem Kelistrikan Daerah Perbatasan Ada dua kabupaten di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Sabah.4 2017 4.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.659 451 145 210 717 242.045 4.9 2016 4.820 3. Malaysia yaitu Nunukan dan Malinau.357 934 137 30 620 297. PLN tengah berupaya untuk mendapatkan pasokan gas alam.775 5.2 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah sebagaimana terdapat dalam tabel B5.6 .396 2.812 1.367 402 17 50 2012 2.629.173 537 463 240 30 263.190 Jumlah 600 - 1.7 Tabel B5.

Gambar B6. yakni PLTA. Tasikria. Sawangan. Otam dan Lolak. Kawangkoan.1. Teling. Tomohon. Bitung. Likupang.1 Peta kelistrikan di Provinsi Sulawesi Utara 601 .6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SULAWESI UTARA B6. Tabel B6. Tonsea Lama. PLTP dan PLTD yang disalurkan melalui sistem transmisi 70 kV dan 150 kV dengan 12 gardu induk (GI).1 berikut adalah rincian pembangkit eksisting dan peta sistem kelistrikan dimaksud termasuk rencana pengembangannya ditunjukkan pada gambar B6. Lopana. Sistem kelistrikan ini dipasok oleh beberapa jenis pembangkit. Kapasitas terpasang seluruh GI adalah 290 MVA.1 Kondisi Kelistrikan Sulawesi Utara Saat Ini Kelistrikan Daratan Sistem kelistrikan di Provinsi Sulawesi Utara daratan pada akhir tahun 2010 mempunyai beban puncak sekitar 167 MW.LAMPIRAN B. yaitu GI Ranomuut.

65 12 PLTD Sewa Minahasa Sewa HSD 35.00 14 PLTM Mobuya IPP Hydro 3.Tabel B6.00 13 PLTD Sewa Kotamobagu Sewa HSD 11. Daftar pembangkit di pulau-pulau tersebar dengan beban relative besar sebagaimana diperlihatkan pada tabel B6.00 5 PLTD Lopana PLN HSD 10.00 20. menggunakan jaringan tegangan menengah 20 kV.40 2.38 13.00 11.02 4.08 Total Sistem Kelistrikan Pulau-Pulau Di Provinsi Sulawesi Utara terdapat beberapa pulau yang berlokasi dekat dengan daratan Sulut maupun sejumlah besar pulau-pulau yang tersebar hingga ke perbatasan Filipina.00 6 PLTP Lahendong I PLN Geothermal 20.30 3 PLTA Tanggari II PLN Hydro 19.60 1.00 16.52 28.00 4 PLTD Bitung PLN HSD 56.00 7 PLTP Lahendong II PLN Geothermal 20.82 MW.00 20.00 15 PLTD Molibagu PLN HSD 2.2.00 2 PLTA Tanggari I PLN Hydro 18.13 241.00 3.1.65 202.00 35.00 17. serta pulau-pulau kecil lainnya.00 20. Selain itu masih terdapat cukup banyak sistem-sistem sangat kecil yang langsung terhubung ke beban menggunakan jaringan 220 volt dan lokasinya tersebar. seperti Miangas di kabupaten Talaud. Kelistrikan di seluruh pulau tersebut dipasok dari PLTD dan 1 PLTM di pulau Sangihe.73 1.00 9 PLTM Poigar I PLN Hydro 2. Kapasitas Pembangkit di Sulut Daratan No Pembangkit Pemilik Bahan Bakar Daya (MW) Terpasang Mampu 1 PLTA Tonsealama PLN Hydro 14. Marore di kabupaten Sangihe.00 8 PLTP Lahendong III PLN Geothermal 20.40 10 PLTM Lobong PLN Hydro 1. 602 . Sistem di pulau-pulau yang relative besar adalah sistem Sangihe dengan beban puncak sekitar 5.60 11 PLTD Kotamobagu PLN HSD 8.00 9.

Berdasarkan realisasi penjualan tenaga listrik PLN dalam lima tahun terakhir termasuk memperhitungkan adanya daftar tunggu calon pelanggan baru yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.204 30. Hal tersebut akan berdampak langsung kepada peningkatan kebutuhan energi listrik.2 Kapasitas Pembangkit Pulau-Pulau Tersebar No Pembangkit Pemilik Bahan  Bakar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 PLTD Tahuna PLTD Peta PLTD Lesabe PLTD Tamako PLTM Ulupeliang PLTB Malamenggu PLTD Sewa (Peta) PLTD Ondong PLTD Lirung PLTD Tagulandang PLTD Beo PLTD Melongnguane PLTD Mangaran PLTD Essang PLTD Tersebar Cab Manado PLTD Tersebar Cab Tahuna Jumlah PLN PLN PLN PLN PLN PLN Sewa PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN HSD HSD HSD HSD Hydro Bayu HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD Daya (MW) Terpasang 5.Tabel B6. Sulawesi Utara kini sedang giat menyiapkan infrastruktur untuk pengembangan industri pengolahan hasil laut dan pelabuhan internasional serta menjadikan Sulawesi Utara sebagai daerah tujuan wisata internasional.850 900 850 2.174 21.022 1.055 1.962 B6.800 4.540 Mampu 3. 603 .2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Setelah kegiatan berskala internasional “World Ocean Conference” sukses dilaksanakan pada tahun 2009. Dengan demikian ekonomi Sulawesi Utara diharapkan akan tumbuh lebih cepat terutama pada sektor industri pariwisata dan perhotelan.615 0 840 900 915 0 2. proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada tabel B6.500 3.143 1.760 2.420 1.770 1.140 1.400 615 650 2.000 80 2.665 1. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.510 1.3.450 1.962 0 1.320 1.260 1.

5 1.7 1.Tabel B6.540 464. transmisi dan distribusi di Provinsi Sulawesi Utara dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.0 408. 10/2010 dan PP No.0 445.0 344.413.4 1.058.288 543.873.6 2.5 1.3 2.342.287.3 Produksi (GWh) 1.1 1. 28/2011.4 1.4 227.4 1.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana pembangkit.6 2.226.7 1.765.3% B6. 2.470. Tompaso dan Kotamobagu (gunung Ambang). Kendala yang dihadapi untuk mengembangkan potensi panas bumi dan tenaga air tersebut adalah masalah status lahan.291 3.556.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sulawesi Utara Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 973.2 1.6 317.934. Namun demikian dengan terbitnya PP No.172.8 2.610.5% Jumlah Pelanggan 420.552.068.267.842 563.107 511. PLN bersama instansi terkait berencana mengusulkan kepada Menteri Kehutanan untuk pengalihan status sebagian cagar alam gunung Ambang menjadi Taman Wisata Alam. 3 dan 4 dan berpeluang untuk dikembangkan adalah potensi sebagaimana terdapat pada table B6.3 1. termasuk potensi tenaga air.0 268. dimana sebagian besar potensi tersebut berada di kawasan cagar alam Kotamobagu (Gunung Ambang).4.7 1.8 375.120. Perubahan 604 . Dari potensi panas bumi tersebut. yang dieksploitasi baru sebesar 78 MW yaitu di Lahendong unit 1.7% 9.037 527.4 247.120.5 2. Potensi Energi Primer Sulawesi Utara memiliki potensi sumber energi terbarukan yang cukup besar berupa panas bumi hingga 700 MW yang tersebar di Lahendong.356 479.325.705.975 435.4% Beban Puncak (MW) 209.3 1.2 9.3 291.536 495.064 449.2 1.1 8.

pengembangan pembangkit di pulau-pulau ke depan diprioritaskan menggunakan sistem hibrid (interkoneksi dengan PLTD eksisting). Sumber energi terbarukan yang tersedia di pulau-pulau berupa tenaga angin dan radiasi matahari.status lahan ini akan membuka peluang bagi PLN untuk mengembangkan potensi energi terbarukan di lokasi tersebut.40 SSI 10 Salongo Salongo / Bolaang Uki 0. Poigar III (20 MW). Karakteristik tenaga angin yang cenderung tidak kontinu dan radiasi matahari yang efektifitasnnya cukup rendah memerlukan penerapan sistem pembangkit baik photo voltaic maupun tenaga bayu dengan desain khusus.50 SSI 11 Tangangah Tengangah/ Bolaang Uki 1.20 SSI 12 Milangodaa I Milangodaa I/ Bolaang Uki 0.6 Sistem Minahasa 0.50 SSI 15 Ulupeliang II Ulung Peliang/ Tamako 0.0 Sistem Minahasa On Going 22 Lahendong VI Tompaso 20.3 Sistem Minahasa 0. 2006 605 .0 Sistem Minahasa On Going 23 Gunung Ambang Kotamobagu 400.00 SSI 9 Bilalang Bilalang I/ Pasi 0.2 Sistem Minahasa 1.0 Sistem Minahasa Sistem Minahasa Jarak Kit ke Sistem Status 1 Poigar II 2 Poigar III Wulurmahatus /Modoinding 20.5 Sistem Minahasa 4.9 Sistem Minahasa 5. Poigar IV (14 MW).2 Sistem Tahuna 0.8 Sistem Minahasa 2.00 SSI 6 Lobong II Bilalang IV/ Passi 0.00 SSI 7 Apado Bilalang IV/ Passi 0.00 SSI 5 Molobog Molobog / Kotabuan 0. 1994 Potensi panas bumi: Distamben Prov Sulut.50 FS Tahun 2008 13 Milangodaa II Milangodaa II/ Bolaang Uki 0.6 Sistem Minahasa 1.7 Sistem Minahasa 5.2 Sistem Minahasa 1.4 Potensi Energi Terbarukan Air dan Panas Bumi Potensi Tenaga Air No Nama Proyek Interkoneksi ke Sistem Lokasi Potensi (MW) Wulurmahatus /Modoinding 30.3 Sistem Tahuna 1.55 SSI 8 Kinali Otam /Pasi 1.10 SSI 4 Morea Morea / Belang 0.00 FS Tahun 2008 14 Pilolahunga Mamalia/ Bolaang Uki 0.50 SSI 16 Belengan Belengan /Manganitu 1.0 Sistem Minahasa Pra FS Jumlah Potensi Panas Bumi 440 Potensi tenaga air: Studi potensi hidro oleh PLN PI Sarana Fisik dan Fasilitas Penunjang.7 Potensi Panas Bumi No Nama Proyek Lokasi Potensi (MW) Interkoneksi dengan Sistem 21 Lahendong V Tompaso 20.6 Sistem Minahasa 1. Beberapa lokasi yang dapat dikembangkan potensinya menjadi PLTA adalah Poigar II (30 MW).7 Sistem Minahasa 4.05 SSI Jarak Kit ke Sistem Status Jumlah Potensi Air 59.0 3 Woran Woran/Tombasian 0. Tabel B6.3 Sistem Minahasa 0.

Tabel B6. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Kondisi beban sistem kelistrikan Sulut sudah cukup besar dan untuk menjangkau daerah yang semakin jauh. Berdasarkan proyeksi beban dan kondisi geografis di Sulawesi Utara. direncanakan pengembangan transmisi menggunakan tegangan 150 kV dan 70 kV. sampai dengan tahun 2020 jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV yang 606 .6 2014 Rencana 7 Duminanga PLN PLTM 1x0.Kema Swasta PLTU 2x25 2014/15 On Going 15 Lahendong VI (FTP 2) Swasta PLTP 20 2015 Rencana 16 Tahuna Swasta PLTGB 3 2017 Rencana 17 Sulut (PPP) Swasta PLTU 2x55 2018 Rencana Total Kapasitas 559. PLTU batubara.Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 direncanakan tambahan 16 unit pembangkit baru dengan kapasitas total 559 MW. PLTMH.5 2014 Rencana 8 Kotamobagu I (FTP 2) PLN PLTP 2x20 2016 Rencana 9 Kotamobagu II (FTP 2) PLN PLTP 2x20 2016 Rencana 10 Sawangan PLN PLTA 2x8 2015 Rencana 11 Amurang Sewa XPLTU 2x25 2013 Rencana 12 Tahuna (FTP 2) Swasta PLTGB 8 2013 Rencana 13 Lahendong V (FTP 2) Swasta PLTP 20 2014 Rencana 14 Sulut I . Tabel B6. PLTS jenis terkonsentrasi /komunal serta PLT biomas.5 berikut menampilkan rincian rencana pengembangan pembangkit di Provinsi Sulawesi Utara. juga diberikan peluang pengembangan pembangkit skala kecil lainnya yang berbasis energi terbarukan seperti PLTMH.7 Selain daftar rencana tersebut diatas. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTP. serta PLTG peaking. PLTA.5 Pengembangan Pembangkit di Sulawesi Utara No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Lahendong IV PLN PLTP 20 2011 On Going 2 Sulut II (FTP 1) / Amurang PLN PLTU 2x25 2011/12 On Going 3 Minahasa GT (Peaking) PLN PLTG 3x25 2012/17/19 Rencana 4 Talaud PLN PLTU 2x3 2013/14 Rencana 5 Sulut I (FTP 1) PLN PLTU 2x25 2014 Rencana 6 Lelipang/Belengan PLN PLTM 2x0.

 ACSR 1 x 240 mm2           132            11. pada masa yang akan datang akan menerapkan GI jenis gas insulated switchgear (GIS) seperti yang sedang dibangun di Teling Baru. ACSR 1 x 240 mm2             60               5.8 2018 Jumlah           463            48.7 PLTP Kotamobagu (FTP2) PLTA Sawangan Otam Sawangan 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2                1               0. ACSR 1 x 240 mm2                1               0.1 70 kV 1 cct.4 2011 2 Lopana Teling (GIS) 150 kV 2 cct.1 2015 2015 13 PLTU Sulut I (IPP) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.1 150 kV 2 cct. Sedangkan untuk GI yang masih jauh di luar kota Manado akan menggunakan tipe outdoor karena secara ekonomi masih lebih menguntungkan dari pada tipe GIS. ACSR 1 x 240 mm2             16               1. ACSR 1 x 240 mm2             20               1.8.5 2011 3 Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki)  Ranomut Baru (Paniki)  Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.akan dibangun sepanjang 463 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 48 juta seperti ditampilkan pada tabel B6.4 150 kV 2 cct.8 12 70 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2                4               0. gardu induk yang akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya adalah GI 150 kV tersebar di 17 lokasi dan GI 70 kV di 2 lokasi dengan kapasitas trafo total sekitar 620 MVA.1 4 5 6 7 8 9 10 11 2012 2012 2013 2014 2014 2014 Pengembangan Gardu Induk (GI) Sejalan dengan rencana pengembangan transmisi. Tabel B6. 607 .7 PLTP Lahendong V & VI (FTP2) Otam Kawangkoan Molibagu 150 kV 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2             36               4. ACSR 1 x 240 mm2             32               2.7 PLTG Minahasa Bitung  Likupang Likupang 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2                1               0.3 2012 2012 Bintauna Likupang Tapping (Lolak ‐ Buroko) Bitung 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2             32               5. Khusus kota Manado dimana harga tanah untuk membangun GI telah semakin mahal dan sulit didapat. ACSR 1 x 240 mm2             32               5.4 70 kV 1 cct. ACSR 1 x 240 mm2             96               8. Dana investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 44 juta sebagaimana ditunjukkan pada tabel B6.7.7 Pembangunan Transmisi 150 kVdan 70 kV No Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD) COD 1 PLTU Sulut II (FTP1) Lopana 150 kV 2 cct.

90                 1.90                 1. secara rinci ditampilkan pada tabel B6.62                 2. 2.90                 1.90                 1.62                 2.90                 1.00                 2.76 Pengembangan Distribusi Pengembangan distribusi di Provinsi Sulawesi Utara dimaksudkan untuk memenuhi rencana tambahan pelanggan baru sekitar 154 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020 atau rata-rata 15. Jaringan distribusi yang akan dikembangkan selama periode 2011-2020 termasuk untuk melistriki perdesaan adalah 1.27                 1.63                 1.400 sambungan setiap tahun.62                 1.Tabel B6.394 kms JTM.015 kms JTR dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 389 MVA.9.90                 1.63                 1.62                 2.90                 1. 608 .90 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2017 2018 2019 2019 2019 Jumlah           620               43. dimana dalam implementasinya akan didahului dengan studi kelayakan dan studi dasar laut.8 Pengembangan Gardu Induk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Gardu Induk Teling (GIS) Teling (GIS) Tomohon (IBT) Kema / Tanjung Merah Paniki Teling (IBT) Bintauna (Tap) Kawangkoan Paniki Tomohon Otam Teling Kema / Tanjung Merah Molibagu Sawangan Teling Otam Paniki Kema / Tanjung Merah Teling Tegangan Baru/Extension Daya  (MVA) Anggaran  (juta USD) COD 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New New Extension New New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension             30             30             60             30             30             60             10             30             30             30             30             30             30             20             30             20             30             30             30             30                 4. Pengembangan jaringan distribusi tersebut belum termasuk adanya rencana interkoneksi dari daratan Sulawesi Utara dengan pulau kecil yang berdekatan.90                 2.62                 2.62                 2.38                 1.

kecukupan dan keandalan pasokan listrik PLN yang telah ada disana perlu ditingkatkan dengan melaksanakan pembangunan pusat listrik tenaga surya (PLTS) dengan sistem hybrid.Tabel B6.449 1. kecuali untuk pulau Sangihe. Marore.571 2017 140 202 39 15. Mengingat letaknya yang sangat strategis bagi NKRI. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti pada tabel B6. Marampit dan pulau Karatung.476 2014 130 188 36 14.015 389 154.4 Sistem Kelistrikan di Kepulauan Gugusan kepulauan di Sulawesi Utara merupakan bagian dari Sabuk Wallacea.251 2019 145 210 42 16.180 2016 137 198 38 15.10. Di Kabupaten Talaud terdapat empat pulau terdepan dari wilayah NKRI.554 2020 2011-2020 171 247 47 19.641 Tahun Pelanggan 12. Talaud.816 2015 133 193 37 15. B6. sebagian pulau memiliki gunung berapi. yakni pulau Miangas.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.9 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 144 kms 209 MVA 42 2012 124 179 33 14. Sebagian besar mata pencaharian dari penduduk di kepulauan tersebut adalah nelayan tradisional dan hanya mengandalkan hasil laut. dan Siau.394 2. 609 .325 B6. Akses untuk mendapatkan energi primer dari luar sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca terutama gelombang laut.089 2013 127 184 35 14.929 2018 143 206 41 16. Jarak antar pulau cukup jauh dan transportasi laut yang digunakan masih sebatas kapal motor berkapasitas kecil.

3 26.6 2015 1.6 61.0 2017 1.059 2.0 20 2018 1.8 28.4 50.0 90 2020 2.9 2014 1.0 110 165 228.173 1.1 Jumlah 120.2 2012 1.873 2.8 20 101.287 1.10 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Produksi Beban Pembangkit (GWh) Puncak (MW) (MW) GI (MVA) Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 2011 973 1.068 1.765 317.935 344.121 375.0 25.267 2.0 111.0 30 2019 2.1 .0 30 33 136.0 120 132 103.3 98.4 45.9 2013 1.0 130 112 86.414 1.6 2016 1.611 291.552 1.343 247.0 80.556 445.226 227.3 559.1 10.471 268.705 1.120 209.Tabel B6.0 90 1 28.0 610 - 620 463 870.325 408.0 61.3 27.

2015 U ACSR 1x240 mm2 25 km .2013 ACSR 1x240 mm2 110 km . Selain itu. Khusus sistem Palu. Gambar sistem interkoneksi Palu-Parigi eksisting dan rencana pengembangannya sebagaimana terlihat pada gambar B7. dipasok dari pembangkit PLTU IPP Tawaeli dan PLTD Parigi.2013 PLTMG Luwuk 2x10 MW–2012/13 Tentena PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH / / / / / / / / ke GI Wotu (Sulsel) SULAWESI TENGGARA PERENCANAAN SISTEM PT PLN (Persero) Kolonedale PLTA Poso 65 MW – 2011 SULAWESI SELATAN PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW–2015/16 Luwuk ACSR 1x240 mm2 72 km .1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan yang melayani pelanggan di Provinsi Sulawesi Tengah terdiri dari sistem interkoneksi 70 kV Palu-Parigi dan sistem isolated 20 kV dengan lokasi tersebar. Pada umumnya sistem-sistem tersebut dipasok dari pembangkit jenis PLTD dan sebagian PLTMH.2014 ACSR 1x240 mm2 70 km – 2014 ke GI Marisa (Gorontalo) Moutong Siboa PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW .2014 KALIMANTAN TIMUR Leok Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km – 2014 U ACSR 1x240 mm2 108 km .1. kota Palu juga dipasok dari PLTD Silae dan PLTD Sewa di Palu melalui jaringan 20 kV dengan total beban puncak tahun 2010 sekitar 63 MW.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SULAWESI TENGAH B7.1. PLTU Tolitoli 3x15 MW .2014 Palu Baru Bunta PLTU Ampana 2x3 MW–2013/14 Talise ACSR 1x240 mm2 15 km . Sistem Interkoneksi 70 kV Palu-Parigi Sistem kelistrikan kota Palu dan sekitarnya dilayani oleh sistem interkoneksi Palu-Parigi 70 kV melalui GI Talise dan GI Parigi.2012 U ACSR 1x240 mm2 119 km .2012 Poso ACSR 1x240 mm2 124 km – 2017 U Toili G ACSR 1x240 mm2 90 km . selain mendapatkan pasokan listrik dari PLTD juga dipasok dari PLTU batubara.2019 A ACSR 1x240 mm2 90 km – 2019 Ampana ACSR 1x240 mm2 85 km – 2020 ACSR 1x240 mm2 80 km .LAMPIRAN B. Sistem Kelistrikan di Sulawesi Tengah 611 U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Juli 2011 .2018 P Silae ke GI Pasangkayu (Sulbar) GORONTALO / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana Gambar B7.2012 SULAWESI BARAT SULAWESI UTARA PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW .

6 PLTM IPP Total (MW)              0.5 8.1 .1 612              5.0 9.6 3 PLTD Sewa 27.1 2.5 No Jenis Pembangkit Total Daya  Mampu  (MW) 24.1 dan B7.Sistem Isolated Di Sulawesi Tengah terdapat sistem kelistrikan yang terhubung dengan jaringan 20 kV seperti sistem Tolitoli.0              3.2                    2. sistem Poso dan sistem Luwuk dipasok dari PLTM dan PLTD.9 5.3                    2.0 25.4              3.5 2.7            11.8              5.0 4 PLTU Tawaeli 30.2 2 PLTD Parigi 5.0            20.1              6.9              2. Tabel B7.7 3.2.5 103.7              4. dengan beban masing-masing sistem sudah diatas 5 MW.0 22.8              1.0                    3.8              2. Rincian kapasitas pembangkit dan baban puncak sistem kelistrikan isolated di Sulawesi Tengah pada tahun 2010 sebagaimana terdapat pada tabel B7.0 *) Beban puncak 2010 sekitar 58 MW Tabel B7.8              1.8                    5.5                 28.0              1.2 2.2 1.6                    2.4 1.7 74.6 PLTD Sewa/ PLTM PLN PEMDA                    4.5              6. Selain itu masih terdapat sistem isolated kecil tersebar lainnya.0 7.5 Jumlah 62.4 Beban  Puncak  (MW) * 58.1 2.2 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Kecil Tersebar (per Sistem) No Sistem Kelistrikan PLTD PLN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Poso Tentena Kolonedale Bungku Tolitoli Leok Moutong‐KRaya‐Palasa Bangkir Luwuk ‐ Moilong Ampana Bunta Banggai Sulteng Tersebar 4.0            13.6                    4.0 2.5          102.7              2.7            12.2                    3.3              5.1 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Palu-Parigi (dalam MW) 1 PLTD Silae Daya  Terpasang  (MW) 41. yang semuanya dipasok dari PLTD PLN dan PLTD sewa serta di beberapa lokasi dibantu PLTD oleh Pemkab setempat.0 13.6              4.2              9.

Selain itu adanya potensi gas alam di Luwuk yang akan dikelola secara komesial akan memberikan dampak positip terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah.3 1.4 1.0% Produksi (GWh) 594.9% Beban Puncak (MW) 129.377 366.404 602.3 288.4 744.4% Jumlah Pelanggan 344.200 471.981 390.678 501.5 727.1 313. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. transmisi dan distribusi di Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat termasuk pola sebaran penduduknya sebagai berikut.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 523.5 1.722 567.844 533.3 176.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah sebagai salah satu penghasil utama komoditi coklat mempunyai potensi ekonomi yang baik.B7.120.0 894.241. diperkirakan kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Sulawesi Tengah juga akan terus meningkat. Pengembangan tenaga air pada skala tersebut akan dapat memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik di Sulawesi Tengah dan bahkan masih 613 .010.1 591.375.3 1.6 194.1 1.928 416.8 656.6 993.963 6.307 443.2 145.5% B7.4 910.3 10.3 1.4 805. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada tabel B7. terutama tenaga air.7 237.6 1.1 1.336. Potensi tenaga air yang besar adalah DAS Poso yang dapat dikembangkan menjadi PLTA skala besar hingga 580 MW. Tabel B7. gas alam dan panas bumi.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana pembangkit.503. Potensi Energi Primer Potensi energi primer yang tersedia di Sulawesi Tengah sangat besar dan berpeluang besar untuk dikembangkan.5 10.1 671.3 160.3.0 261.101.7 11.221. Seiring dengan tingginya potensi ekonomi tersebut.0 823. Memperhatikan data penjualan tenaga listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.3 214.

dengan kapasitas total sekitar 64 MW. Luwuk. sehingga masih memerlukan studi lebih lanjut. Namun terdapat tantangan dalam pengembangan PLTMH karena jarak antara lokasi PLTMH dan pusat beban sangat jauh. TatabaBulagi. Mempertimbangkan potensi energi terbarukan dan potensi beban yang ada di Sulawesi Tengah. Tomata. direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 617 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada tabel B7. Sedangkan pemanfaatan gas alam untuk pembangkitan tenaga listrik tergantung pada kebijakan pemerintah. Selanjutnya PLN berencana memanfaatkan gas Donggi-Senoro dalam bentuk LNG untuk digunakan pada pembangkit beban puncak di Sulawesi dan kawasan timur Indonesia.berlebih untuk dikirim ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Tentena. Masih menurut Energy Outlook tersebut.4. Khusus pasokan gas dari lapangan Donggi dan Senoro. Bunta. Rencana Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020. PLTA akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun. semula direncanakan PLN akan mendapat alokasi pasokan gas 60 mmscfd sehingga PLN telah merencanakan pembangunan PLTGU 240 MW di Senoro3. sehingga PLN telah mengusulkan kepada Pemerintah untuk membatalkan rencana proyek PLTGU Senoro. yaitu 352 MW atau 68