RENCANA USAHA

PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

PT PLN (PERSERO)
2011
20
11 - 2020
2020

PLTA Koto Panjang, Sumatra

Electricity for a better life

MEI{TERIENERGIDAN$UMBERDAYAMINERAL
R E P U B L I KI N D O N E S ! A
KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
N O M O R: 3 3 1 4 R / Z L / M E M / 2 O L L
TENTANG
PENGESAHAN RENCANA USAHA.PENYEDIAAN

TENAGA L1STRIK
pr pLN (PERSERO)
TAHUN2oli S.b. 2o2o

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA,
Membaca
: Surat
Direktur
pT
p_LN
Utama
-oe'"embe,
(persero)
Nomor
ianggal_

o-20
99q?ql1q1lq$y!/,?94
2orr,
Nomor
o4o32/101/DTRUT'1?9]]
D;;;*u"i
*dnEE4
2oir,'"i",
Nomoro4Lo2/ Dryur/2oTT-R
t"s;;";8-pt Desember
2o1r
,ro1i penlJsahan
perihal permbhonin
-a-----E-pLN
r\vr
2oII

- 2o2O;

.

nu-frir s

(persero)

r

Menimbang : a. bahwa sehrrlnnqg._q."?gan
telah terjadi. pelgb_ahan yang
signifikan

p?da sektor d""gi .!Girii,'il#r.a
RUprL Tdhun
2O1Os.d. 2019 sebagaimanE-b";;;'^ili;.;;f
aitetaptan-aaUm
- Keputusan
"s

Menteri Egglgi- aan uml-&
i,iorri5.*id i o
20/ M'ry.p.olg tanggaia
+/
iii,'
p.rrr
disesuaikan
..1.,-rf'fo
-b
dengan perkembangan"Situ""i
t..kiii^vr

b. bahwa berdasarkan pertimb.angan sebagaimana
dimaksud
dalam huruf a dan' sesuai kEtentuan" pasai -spemerintah--Ntmor
Peraturan
10
"v"i"[gl
?"ii"lig
Penyediaan dan pemanfaatan Tenag"i"tu"--r^gs"9
uJtiit*"u"g""i*i".
telah dua kari diubarr teralihi"i
-t-006, a.rrg"r, peraturan
Pemerintah -Nomor 26 fahu''
-aln
-fii"#;-bivi"
menetapkan
ilrru
Keputusan

Menterionergi

na'ifi1,ftr
penggse.han Renc?na
usat a--eenyed.iaan Tenasa
Listrik-pT elNr perslrol-i"i.,rn
tentans

2of i .la.-zoZo;

Mengingat

:

1. Vndang-undl5rg
zoog tentanry
._Nomor g0 Tahun
KetenaEalistrikin (r,emEaian
Negara RI Tahun 2oog wo*o?
13S,Talmbahant emUaian rv.g"r? ni N;;;; 5oS2);
2. Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 19g9 .
tentansr
dan pemanialtan {;"ag-" ii"t.if, "ir,";t##
lgnvediaan
NegaraRI-Tahun 19g9 Nomor z4,Tamiahan Lembaran

Nes?{qRtrNomor3s94)sebagaim;"4;J;i;

arr" r."ri-airb;i,
terakhir dengan peraturan Femerlnl"r, irio*o
r 26 Tahun
Negara RI rahun-- iooo Nomor s6
?ooq
.(Lembaran
Tambahan Lembaran lVegaraRI fvomoi+OZ-S);
3. Keputusan presiden Nomor s9/p rahun 2orr tanggal
18
Oktober 2OIl;
4. Peraturan Me$91i Energi dan sumber Daya Minerar Nomor
18 Tahun 2oLo tentz.ng_organis""T'-d"r, Tata Keria
"sum6ei- D;y"Kementerian, Er?ryi
Mir"rlj* (e^"iit"
^{*"
NegaraRI Tahun 2d'10Nomor Sd2it
5- Keulfrrs.an

-2
5. [gpltgqqt] {Iglteri Energi dan sumber Dava Mineral Nomor
o.v"
*',b zooa' t"
/ 20o8 fangs3113_
_N
722?^\ l?IUmum
/ Me\4
Kencana
Ketenagalistiikan Nasional;
",
"1;s
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

KEPUTUSANMENTERI ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
TENTANG PENGESAHAN RENCANC U-S-NHA PENYEDiAAN
TENAGALISTRIK PT PLN (PERSEROIrNH_UNi-ibN S.b. 'b'0._'

KESATU

Tenaga Listrik pr
\{e3sgrahkan Rencana usaha p^eny_ediaan
(ne_rsero)
Tahun
2orr
s.d,.
2otio
tercantum
fl,,n
oaram
Lampran- yang. merupakan
""tj"e.imana
bagiantidak terpisahkan
r
dari Keputusan nAdnteiiini.

KEDUA

PT. .PLN (Persero) meny?Fpaikan raporan perkembansan
^listrik
pelg.ksqn?an
usahh penyi:aiaan tenaga
J;-;;;;t";;
pg.ti"p 3 (tiga).butan tcepladaMenteri E;.rgi A;" s-"*b.iij"y;
Mineral c.q. Direktur Jenderar Ketenagalist?ikan.

KETIGA

Pjtg"tl
{itetapkannya^ Keputusan Menteri ini, Keputusan
-Jufinaya fr{ineiat
-t.irtl"g Nomdr 20;6
Vg$".fi-_pnergi dan Sumber
tanggal
pengesahan
8
icjrcj
f/20/ME\4/2o10^
Rencana
usaha ^p^enye"d'iaan
tenaga r,i"tril.--pr pLN (persero)
Tahun2010s.d.

2019dicabutaa"?inv"tar."" tia"r. u"ii"r.i,]'",

KEEMPAT

Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

,

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Desember 2OIL
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA.
trd.
JERO WACIK

Tembusan:
^1. Menteri Dalam Negeri
2. Menteri Nesara peiencanaan pembangul?n Nasionar/Kepala.Bapp.enas
3. sekretaris Jenderet;_L(";;nierian Bnergi dan.
sumber Dava Mrnerar
4. InspekturJenderar,'

t

Kementlrian

J ff;#;
fi#i riiir,"..r
ktur .rend'eiaf ai il iiir.'rne-"LrgT
fi
*",.
d
#;
E
san
sumber Daya
il^llt Bl'e
"
":lJi'dll.,,
Para

6.
Gubernur di seluruh Indonesia
7 . l?tq Bup_atilWalikotadi seluruh Indoesia
B . Drrektur Utama PT pLN (persero)
Salinansesuaidenganaslinya

PT PLN (PERSERO)

KEPUTUSANDIREKSTPT PLN (PERSERO)

NOMOR:1483 .K//D|R/2011

TENTANG
RENCANA USAHA PENYEDIAANTENAGA LISTRIK(RUPTL)
PT PLN (PERSERO)TAHUN 2011 -2020

PT PLN(PERSERO)
DTREKST
Menimbang

Mengingat

bahwa MenteriEnergi dan Sumber Daya Mineraltelah mengesahkan
Nasional(RUKN) pada tanggal 13
RencanaUmum Ketenagalistrikan
November2008;

:a

.4

.

b.

untukmenyediakan
rencanaPemerintah
bahwadalamrangkamendukung
tenaga listrik bagi masyarakatIndonesiasesuai RUKN sebagaimana
telahmembuat
dimaksuddalamhurufa di atas,maka PT PLN (Persero)
rencana pengembanganketenagalistrikanyang terpadu dengan
di
memperhatikanaspirasi masyarakatdelam sektor ketenagalistrikan
seluruhlndonesiayang dituangkandalam RencanaUsaha Penyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN(Persero)Tahun2011-2020;

c.

bahwa RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrik(RUPTL)PT PLN
(Persero)
sebagaimana
dimaksuddalamhurufb di atas,
Tahun2011-2020
perluditetapkan
denganKeputusanDireksiPT PLN(Persero).

Rl Nomor19 Tahun2003 tentangBadanUsahaMilik
Undang-Undang
Negara;
Terbatas;
Rl Nomor40 Tahun2007tentangPerseroan
2 . Undang-Undang
Rl Nomor30 Tahun2009tentangKetenagalistrikan;
3 . Undang-Undang
dan
Rl Nomor10 Tahun1989tentangPenyediaan
4 . PeraturanPemerintah
telahdiubahdenganPeraturan
TenagaListriksebagaimana
Pemanfaatan
Rl Nomor
Pemerintah
Rl Nomor 3 Tahun2005dan Peraturan
Pemerintah
26 Tahun2006;
Bentuk
Rl Nomor23Tahun1994tentangPengalihan
Peraturan
Pemerintah
5.
Perseroan
(Perum)
Perusahaan
Negara
Menjadi
Listrik
Perusahaan
Umum
(Persero);
6.
PeraturanPemerintahRl Nomor 45 Tahun 2005 tentang pendirian,
BadanUsahaMilikNegara;
Pengawasan
dan Pembubaran
Pengurusan,
7.
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
|;
istrikanNasiona
tentang RencanaUmum Ketenagal
2682.K21IMEM/2008
8.
AnggaranDasarPTPLN(Persero);
9.
KeputusanMenteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEPjis KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha Milik Negara
58/MBU/2008
dan KeputusanMenteriNegaraBadan Usaha
Nomor KEP-25AMBU|2O09
tentang Pemberhentiandan
Milik Negara Nomor KEP-2'2A/MBUI2A11
Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT
PerusahaanListrikNegara;
tentang
DireksiPT PLN (Persero)Nomor001,1(030/DlR/1994
1 0 . Keputusan
PemberlakuanPeraturan Sehubungan Pengalihan Bentuk Hukum
Perusahaan;
tentang
1 1 KeputusanDireksiPT PLN (Persero)Nomor 304.}</DlR/2009
Keputusandi LingkunganPT PLN
BatasanKewenanganPengambilan
DireksiPT PLN
(Persero)senbagaimana
telahdiubahdenganKeputusan
(Persero)
1;
Nomor1387.l(DlRl2O1
t.

12. KeputusanDireksi PT PLN (Persero)Nomor 017.K1D1N2010
tentang
Organisasidan Tata Kerja PT PLN (Persero)sebagaimanatelah diubah
denganKeputusan
DireksiPT PLN(Persero)Nomor055.K1DlR/2010.
Memperhatikan

SuratDirekturUtamaPT PLN (Persero)Nomor OO761!4O2|D|RUT/2011
tanggal
14 November2011,Perihal: MekanismePelaporandan Pertanggungjawaban
KepalaSatuan/Sekretaris
Perusahaan/Kepala
Divisi di LingkunganPT PLN
(Persero).
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

KEPUTUSAN
DIREKSIPT PLN (PERSERO)TENTANG RENCANAUSAHA
PENYEDTAAN
TENAGAL|STR|K(RUPTL)pT pLN (PERSERO)
TAHUN20112020.

PERTAMA

RencanaUsahaPenyediaan
TenagaListrik(RUPTL)PT PLN (Persero)
Tahun
2011-2020adalah sebagaimanatercantumdalam LampiranKeputusandan
merupakan
bagianyangtidakterpisahkan
dariKeputusan
ini.

KEDUA

RUPTL PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020 sebagaimanatercantum dalam
Lampiran Keputusan ini digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan
Rencana Jangka Panjang Perusahaan(RJPP) dan penetapanRencana Kerja
dan AnggaranPerusahaan(RKAP)PT PLN (Persero).

KETIGA

RUPTL PT PLN (Persero)Tahun 2011-2020sebagaimana dimaksud dalam
DiktumPERTAMA, akan ditinjauulang setiaptahun sesuaiperkembanganyang
terjadi.

Keputusan
ini mulaiberlakuterhitung
sejaktanggalditetapkan.

Ditetapkandi Jakarta
padatanggal,20 Desernber 2011
DIREKTUR UTAMA,

KATA PENGANTAR
Rencana Usaha PenyediaanTenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2011-2020 ini
disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
PemanfaatanTenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan PemerintahNomor 26 Tahun 2006, yang menyebutkan
bahwa badan usaha yang memilikiwilayah usaha wajib membuat Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum
Ketenagalistrikan
Nasional(RUKN).
RUPTL ini memperhatikanketentuan-ketentuan
dalam Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682.K21lMEMl2008 tentang
Rencana Umum Ketenagalistrikan
Nasional2008 - 2027 dan draft Rencana
Umum KetenagalistrikanNasional 2O1O- 2029 yang telah disusun oleh
Kementerian
EnergidanSumberDayaMineral.
Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikangambaran mengenai
RencanaUsaha PenyediaanTenaga Listrikoleh PT PLN (Persero)di seluruh
lndonesiauntuk kurunwaktu 2011 - 2020 yang akan digunakansebagaiacuan
dalam penyusunanrencanaperusahaanjangka panjangdan sebagaipedoman
dalam penyusunanprogramkerjatahunan.
Sejalan dengan perkembangandan perubahankondisi industri kelistrikandl
Indonesia, RUPTL ini akan diperbaharul secara berkala agar rencana
pengembangansistemkelistrikanmenjadilebihrelevan.
Akhirnya kami mengucapkanterima kasih dan penghargaanatas kontribusi
semua pihaksehinggaRUPTLini dapatdiselesaikan.

Jakarta. Desember2011
DIREKTUR
UTAMA

,4u1h4/
ruuJ
eervruo.l
RUPTL2011-2020

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................ii
SINGKATAN DAN KOSAKATA ...............................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Landasan Hukum ................................................................................................... 3
1.3 Visi dan Misi Perusahaan ...................................................................................... 3
1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL ............................................................ 4
1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya ...................................... 5
1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha ...................................................................... 8
1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat ....................................................... 8
1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur ...................................................... 9
1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali .............................................................. 10
1.7 Sistematika Dokumen RUPTL ............................................................................. 10
BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA ......................................12
2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
Kebutuhan Tenaga Listrik ........................................................................................... 12
2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit.............................................. 13
2.3 Kebijakan PengembaNgan Transmisi ................................................................. 17
2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi ................................................................... 19
2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan ...................................................... 20
2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan .................................... 21
BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI ...............................................................23
3.1 Penjualan Tenaga Listrik ..................................................................................... 23
ii

RUPTL 2011- 2020

3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan............................................................................. 26
3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur .................. 27
3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali .............................................................. 28
3.3 Kondisi Sistem Transmisi .................................................................................... 29
3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur ...... 29
3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali ............................................................. 31
3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali ..... 32
3.4 Kondisi Sistem Distribusi ..................................................................................... 33
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi ................................................................. 33
3.4.2 Keandalan Pasokan ......................................................................... 33
3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak ..................................................................... 33
3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek ........................................ 34
3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ……………………………………………………………………………35
3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali ............................................. 39
BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER............................................................. 41
4.1 Batubara .............................................................................................................. 41
4.2 Gas Alam ............................................................................................................. 43
4.2.1 LNG dan Mini-LNG .......................................................................... 46
4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas) ..................................................... 47
4.3 Panas Bumi ......................................................................................................... 48
4.4 Tenaga Air ........................................................................................................... 49
4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya ................................................................. 50
4.6 Nuklir.................................................................................................................... 50

RUPTL 2011- 2020

iii

BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 .........................52
5.1 Kriteria Perencanaan ........................................................................................... 52
5.1.1 Perencanaan Pembangkit ................................................................ 52
5.1.2 Perencanaan Transmisi ................................................................... 54
5.1.3 Perencanaan Distribusi .................................................................... 55
5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik............................................ 57
5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi ..................................................................... 58
5.2.2 Pertumbuhan Penduduk................................................................... 59
5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020 ............................................... 60
5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit ................................................................ 64
5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit .................................................. 64
5.4.2 Program

Percepatan

Pembangkit

Berbahan

bakar

Batubara

(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009) ........................................... 65
5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 ...................................... 67
5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan
PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. ........................................... 69
5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang ............ 69
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) .............. 69
5.4.7 Penambahan

Kapasitas

Pembangkit

Pada

Wilayah

Operasi

Indonesia Barat dan Indonesia Timur ......................................................... 70
5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali ............................. 74
5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta .................................................................. 79
5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar ....................................... 82
5.5.1 Sasaran Fuel Mix.............................................................................. 82
5.5.2 Sistem Jawa-Bali .............................................................................. 86
5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat ..................................................... 87

iv

RUPTL 2011- 2020

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur.................................................... 89
5.6 Analisis Sensitivitas ............................................................................................. 91
5.7 Proyeksi Emisi CO2............................................................................................. 93
5.7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) ........................................... 93
5.7.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 ............................................. 97
5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism) ............................................... 101
5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk...................................... 102
5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Barat…………… ....................................................................................... 103
5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Timur…… .................................................................................................. 105
5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali ................. 106
5.10 Pengembangan Sistem Distribusi .................................................................... 109
5.9.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur ................ 109
5.9.2 Sistem Jawa-Bali ........................................................................... 110
5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan ............................... …………………………111
5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan…………………………………. 112
5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar ................................................................. 114
BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI.............................................................. 117
6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia .......................................................... 117
6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Jawa-Bali .......................................................... 118
6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ........................................................................................................................ 120
6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP .................................................. 122
6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN .................................... 122
6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan ................................. 123
RUPTL 2011- 2020

v

6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan ........................................................... 123
6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan ............................................................... 123
6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL ........................ 126
BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 ...................................................... 127
7.1 Identifikasi Risiko ............................................................................................... 127
7.2 Pemetaan Risiko ................................................................................................ 128
7.3 Program Mitigasi Risiko ..................................................................................... 130
BAB VIII KESIMPULAN ........................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 132 

vi

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR BAB I
Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL ........................................................... 7
Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) ....................................... 10
GAMBAR BAB V
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 .... 62
Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020........... 63
Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan
RUKN ................................................................................................................. 63
Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 85
Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 90
Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Jawa Bali Skenario Baseline .............................................................................. 94
Gambar 5. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali
Skenario Baseline .............................................................................................. 95
Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem
Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline ......................................................... 96
Gambar 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera
Skenario Baseline .............................................................................................. 97
Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) ........ 98
Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali ........ 99
Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat .................................................................................................. 99

RUPTL 2011- 2020

vii

Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 100
GAMBAR BAB VI
Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak
Termasuk IPP) .................................................................................................. 118
Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali ........ 119
Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat ................................................................................................................. 120
Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Timur… ............................................................................................ 121
Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ............ 122

viii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR TABEL

TABEL BAB I
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL .......................... 7
TABEL BAB III
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) ............................................... 23
Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit]................................. 24
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) .............................................. 25
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010 ......... 26
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 ............................................................ 27
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) tahun 2010 .................................................................... 28
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 .. 29
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA) ............................................................................... 30
Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (kms) ................................................................................ 30
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000) ..... 31
Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali ..................... 31
Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT) .................. 32
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%) ........................................................... 33
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN...................................................................... 33
Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012 ....... 35
Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun
2015 ................................................................................................................... 37

TABEL BAB IV
Tabel 4. 1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali ......... 59
Tabel 4. 2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali .. 59

RUPTL 2011- 2020

ix

Tabel 4. 3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power
Development....................................................................................................... 60
Tabel 4. 4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan .................. 60

TABEL BAB V
Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ..................................................... 59
Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ........................................ 59
Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) ............................................................. 60
Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan ... 60
Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan ............. 61
Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio
Elektrifikasi .......................................................................................................... 62
Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar .............................................................. 65
Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW ......................... 66
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 .............................. 68
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 ................................. 69
Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) ............. 70
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) ... 72
Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) .. 72
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) ............................ 74
Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 .................................... 76
Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 ........................... 79
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur .................................................................................................. 80
Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali ....................................................... 81
Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar .. 83
Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis
Bahan Bakar (%) ................................................................................................ 83
Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 84
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia ................................................ 85
Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali .................................... 87
Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat ........... 88
x

RUPTL 2011- 2020

Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 89
Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur ......... 90
Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas ................ 91
Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar
............................................................................................................................ 92
Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) . 95
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) . 96
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM
dan VCM .......................................................................................................... 101
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia ..................................... 102
Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia ................ 103
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat 105
Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi
Indonesia Barat ................................................................................................ 105
Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali ...................... 107
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia ................................... 109
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 109
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur 109
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali.......................... 110
Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014............. 111
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia
2011-2014 (Juta Rp) ........................................................................................ 112
Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil .............. 114
Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil ................... 114
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115
Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115

RUPTL 2011- 2020

xi

TABEL BAB VI
Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) . 117
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali..................... 118
Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Barat................................................................................................. 120
Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 121
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP ................. 122
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2010-2015 ........ 124
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Milyar Rp) ................................................ 126  

xii

RUPTL 2011- 2020

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A. WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

134

A1.

137

A2.

SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA
A1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

138

A1.2.

Neraca Daya

140

A1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

145

A1.4.

Neraca Energi

147

A1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

150

A1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

173

A1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

191

A1.8.

Analisis Aliran Daya

201

A1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

212

A1.10.

Program Listrik Perdesaan

224

A1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

236

PENJELASAN LAMPIRAN A1

239

SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT

252

A2.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

253

A2.2.

Neraca Daya

255

A2.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

258

A2.4.

Neraca Energi

260

A2.5.

Capacity Balance Gardu Induk

263

A2.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

266

A2.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

270

A2.8.

Analisis Aliran Daya

272

A2.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

276

A2.10.

Program Listrik Perdesaan

278

A2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

280

PENJELASAN LAMPIRAN A2

RUPTL 2011- 2020

282

xiii

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

290

A3.

PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

292

A4.

PROVINSI SUMATERA UTARA

304

A5.

PROVINSI RIAU

315

A6.

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

326

A7.

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

334

A8.

PROVINSI SUMATERA BARAT

340

A9.

PROVINSI JAMBI

350

A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN

358

A11. PROVINSI BENGKULU

367

A12. PROVINSI LAMPUNG

373

A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT

381

A14. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT

390

A14.1.

Sistem Isolated Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

391

A14.2.

Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara

401

A14.3.

Sistem Isolated Provinsi Riau

403

A14.4.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau

411

A14.5.

Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

420

A14.6.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat

423

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

432

B1. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH
DAN TIMUR (KALSELTENGTIM)

xiv

435

B1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

436

B1.2. Neraca Daya

438

B1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

441

B1.4. Neraca Energi

443

B1.5. Capacity Balance Gardu Induk

446

B1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

454

B1.7. Peta Pengembangan Penyaluran

461
RUPTL 2011- 2020

B1.8. Analisis Aliran Daya

464

B1.9.

Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

471

B1.10.

Program Listrik Perdesaan

476

B1.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

481

PENJELASAN LAMPIRAN B1

483

B2. SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA, SULAWESI TENGAH
DAN GORONTALO (SULUTTENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI
SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI
BARAT (SULSELRABAR)
494
B2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

496

B2.2. Neraca Daya

499

B2.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala

504

B2.4. Neraca Energi

506

B2.5. Capacity Balance Gardu Induk

511

B2.6. Rencana Pengembangan Penyaluran

525

B2.7. Peta Pengembangan Penyaluran

535

B2.8. Analisis Aliran Daya

542

B2.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi

549

B2.10.

Program Listrik Perdesaan

551

B2.11.

Proyeksi Kebutuhan Investasi

553

PENJELASAN LAMPIRAN B2

556

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR

571

B3.

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

572

B4.

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

582

B5.

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

591

B6.

PROVINSI SULAWESI UTARA

601

B7.

PROVINSI SULAWESI TENGAH

611

B8.

PROVINSI GORONTALO

619

B9.

PROVINSI SULAWESI SELATAN

626

B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA

634

B11. PROVINSI SULAWESI BARAT

642

RUPTL 2011- 2020

xv

B12. PROVINSI MALUKU

648

B13. PROVINSI MALUKU UTARA

656

B14. PROVINSI PAPUA

662

B15. PROVINSI PAPUA BARAT

671

B16. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

677

B17. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

687

B18. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI
INDONESIA TIMUR
695
B18.1.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan

696

B18.2.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah

699

B18.3.

Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur

707

B18.4.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara

723

B18.5.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah

728

B18.6.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan

741

B18.7.

Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara

743

B18.8.

Sistem Isolated Provinsi Maluku

749

B18.9.

Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara

757

B18.10. Sistem Isolated Provinsi Papua

763

B18.11. Sistem Isolated Provinsi Papua Barat

771

B18.12. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB

775

B18.13. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT

783

LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI

795

C1.

797

xvi

SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI
C1.1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

798

C1.2.

Neraca Daya

805

C1.3.

Proyek-Proyek IPP Terkendala

817

C1.4.

Neraca Energi

819

C1.5.

Capacity Balance Gardu Induk

822

C1.6.

Rencana Pengembangan Penyaluran

850

C1.7.

Peta Pengembangan Penyaluran

882

C1.8.

Analisis Aliran Daya

894
RUPTL 2011- 2020

2020 1023 xvii . PROVINSI BALI 1017 LAMPIRAN D. PROVINSI JAWA TENGAH 997 C6. PROVINSI JAWA TIMUR 1009 C8. PROVINSI JAWA BARAT 986 C5. ANALISIS RISIKO RUPTL 2011.11. PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA 968 C3. Program Listrik Pedesaan 923 C1.C1. PROVINSI BANTEN 979 C4.9.10. Proyeksi Kebutuhan Investasi 930 PENJELASAN LAMPIRAN C1 938 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI JAWA BALI 966 C2. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 921 C1. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 1005 C7.

merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan inherent moisture saja Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan dan persyaratan untuk menjamin keamanan. dinyatakan dalam MVA Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan. MW atau MVA tergantung kepada konteksnya Atau peak load / peak demand. adalah nilai tertinggi dari langgam beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW Biaya Pokok Penyediaan British Thermal Unit Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh gardu induk tersebut. yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi yang berbeda tegangan. Tax. umumnya pelanggan industri dan komersial Carbon Capture and Storage Clean Coal Technology Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme Pembangunan Bersih Commercial Operating Date Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate Daerah Aliran Sungai Domestic Market Obligation Earning Before Interest.2020 . merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan total moisture Gas Rumah Kaca High Speed Diesel Oil High Voltage Direct Current Interbus Transformer. Depreciation and Amortization Emission Reduction Purchase Agreement Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli oleh PLN Floating Storage and Regasification Unit Gross As Received.SINGKATAN DAN KOSAKATA ADB : ASEAN Power Grid : Aturan Distribusi : Aturan Jaringan : Beban : Beban puncak : BPP BTU Capacity balance : : : Captive power : CCS CCT CDM : : : COD Daya mampu Daya terpasang DAS DMO EBITDA ERPA Excess power : : : : : : : : FSRU GAR : : GRK HSD HVDC IBT : : : : IGCC : xviii Air Dried Basis. seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV Integrated Gasification Combined Cycle RUPTL 2011. keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Sering disebut sebagai demand. persyaratan dan standar untuk menjamin keamanan. keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan. merupakan besaran kebutuhan tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh.

2020 Independent Power Producer Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik bertegangan 20 kV Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik bertengangan 220 V kilometer-route. satuan yang biasa digunakan untuk mengukur kalori gas Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Million Metric Standard Cubic Foot. prakiraan pemakaian energi listrik di masa depan Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak. menyatakan panjang jalur saluran transmisi kilometer-sirkuit.IPP JTM : : JTR : kmr kms Life Extension : : : LNG LOLP : : Load factor : MFO MMBTU : : Mothballed MP3EI : : MMSCF : MMSCFD Neraca daya : : Non Coincident Peak Load Peaking Prakiraan beban : : : Reserve margin : Rasio elektrifikasi : SFC Tingkat cadangan : : Ultra super critical : WKP : RUPTL 2011. dinyatakan dalam % Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan jumlah keseluruhan rumah tangga Specific Fuel Consumption Reserve margin) adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak. merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW puncak Marine Fuel Oil Million Metric BTU. Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan diatas titik kritis air Wilayah Kerja Pertambangan xix . suatu indeks keandalan sistem pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas pembangkit Faktor beban. satuan yang biasa digunakan untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu Million Metric Standard Cubic Foot per Day Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban puncak dan kapasitas pembangkit Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa melihat waktu terjadinya beban puncak Pembangkit pemikul beban puncak Demand forecast. menyatakan panjang konduktor saluran transmisi Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya mendekati akhir Liquified Natural Gas Loss of Load Probability.

Dengan demikian rencana pengembangan sistem yang diperlukan PLN harus berjangka cukup panjang.2020 1 .1 LATAR BELAKANG PT PLN (Persero) selanjutnya disebut PLN sebagai sebuah perusahaan listrik merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang lead time-nya relatif panjang. dalam arti PLN tidak sembarang melakukan proyek kelistrikan tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik. Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang juga didorong oleh keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi yang efisien.000 MW1 mulai dari rencana awal hingga beroperasi. agar dapat mengakomodasi lead time yang panjang dari proyek-proyek kelistrikan. Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang dapat menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan.BAB I PENDAHULUAN 1. sehingga PLN secara alamiah perlu mempunyai sebuah rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang. atau RUPTL. Untuk mencapai hal tersebut PLN telah menyusun sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang disebut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. yaitu 10 tahun. Hal ini penting dilakukan karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya dalam jangka panjang. 1 Misalnya PLTU Indramayu unit 4 dengan ukuran unit 1. RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi PLN sepuluh tahun mendatang yang optimal. diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara kelas 1. dokumen perencanaan ini juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan. Didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL.000 MW RUPTL 2011. disusun untuk mencapai tujuan tertentu serta berdasarkan pada kriteria perencanaan dan kebijakan tertentu. Sebagai contoh.

baik proyek PLN maupun proyek listrik swasta atau independent power producer (IPP).2020 . sedangkan proyek pembangkit akan terbagi menjadi proyek milik PLN dan proyek milik swasta yang akan menjual listriknya ke PLN. dan mengalihkan sebanyak mungkin pembangkit berbahanbakar minyak ke pembangkit berbahanbakar non-minyak. 2 RUPTL 2011. maka RUPTL 2011-2020 ini juga membuat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi. RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat bagi setiap provinsi untuk melihat apa yang telah direncanakan oleh PLN pada daerahnya. RUPTL akan selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perubahan beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan sistem kelistrikan. sehingga selalu dapat memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan pegangan dalam implementasinya. beberapa pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara. Pada dasarnya semua proyek transmisi dan distribusi akan dilaksanakan oleh PLN.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan juga pemerintah kabupaten/kota) wajib membuat Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD. Beberapa ruas transmisi yang dedicated dengan suatu pembangkit IPP dapat dibangun oleh pengembang listrik swasta.Penyusunan RUPTL tahun 2011-2020 ini sebagai amanat Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 dan didorong oleh timbulnya kebutuhan untuk memperbaharui RUPTL 2010-2019 setelah memperhatikan adanya keterlambatan banyak proyek pembangkit tenaga listrik terutama pembangkit listrik tenaga panas bumi. Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan sistem kelistrikan yang akan dilakukan oleh PLN sendiri dan proyek-proyek pembangkit yang akan ditawarkan kepada sektor swasta sebagai IPP. Hal-hal tersebut telah membuat PLN merasa perlu untuk memutakhirkan RUPTL yang ada. Namun demikian proses optimisasi perencanaan tetap dilakukan per sistem tenaga listrik apabila telah ada jaringan interkoneksi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. Selanjutnya sejalan dengan UU No. utamanya prakiraan kebutuhan tenaga listrik dan progres pembangunan proyek kelistrikan. Hal lain yang mendorong disusunnya RUPTL 2011-2020 ini adalah semakin menguatnya keinginan PLN untuk melayani kebutuhan tenaga listrik pada banyak daerah di Indonesia yang telah lama menderita kekurangan pasokan.

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan 2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006.” Selain visi tersebut. bebas subsidi.3 VISI DAN MISI PERUSAHAAN Pada Anggaran Dasar PLN tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan lapangan usaha PLN adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip perseroan terbatas. (3) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682 K/21/MEM/2008 tanggal 13 November 2008 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional.2020 3 . berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan (2) RUPTL digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga listrik bagi Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum. Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas. saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi perusahaan kelas dunia. Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani. dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber energi setempat dan sumber energi terbarukan. 1.2 LANDASAN HUKUM 1. ramah lingkungan dan dicintai pelanggan. khususnya Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2): (1) RUPTL disusun Nasional. menguntungkan. maka visi PLN adalah sebagai berikut: “Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh-kembang. RUPTL 2011.RUPTL ini disusun melalui optimasi pengembangan sistem pembangkit dan transmisi. 1.

• Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP). dicerminkan oleh pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 1% persen terhadap total produksi energi listrik pada tahun 2020. RUPTL 2011. maka PLN akan: • Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait.2020 . 2 4 Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin. dan juga energi terbarukan lain seperti tenaga air. peningkatan efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap perencanaan yang meliputi: • Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa daerah. anggota perusahaan. • Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. dan pemegang saham. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan 1.4 TUJUAN DAN SASARAN PENYUSUNAN RUPTL Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan acuan pengembangan sarana kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan lebih baik. sehingga dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan. berorientasi pada kepuasan pelanggan. • Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap tahun dengan tingkat keandalan2 yang diinginkan secara least-cost. Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik. • Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. • Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan utamanya panas bumi sesuai dengan program pemerintah.Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan mengacu kepada visi tersebut.

Penyusunan ini dilakukan oleh Unitunit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing dengan memperhatikan kondisi kelistrikan yang ada. kebijakan perlindungan lingkungan. RUPTL 2011. rencana transmisi dan gardu induk (GI). • Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam RUPTL perioda sebelumnya dalam Forum Perencanaan. rencana pembangkitan. asumsi pertumbuhan ekonomi dan prakiraan kebutuhan tenaga listrik. kebijakan tingkat cadangan (reserve margin).5 PROSES PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNGJAWABNYA Penyusunan RUPTL 2011-2020 ini dibuat dengan proses sebagai berikut: • RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2010-2029 digunakan sebagai pedoman dan rujukan. 1. kebijakan pemanfaatan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik. • PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai penjabaran dari RUKN dan kebijakan Pemerintah lainnya. Perencanaan transmisi dibuat oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh PLN Wilayah yang mengelola transmisi. • Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin membaik. perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/ Wilayah. selanjutnya disusun prakiraan beban (demand forecast). yaitu sebuah forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat untuk membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun prakiraan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik.2020 5 . seperti pengembangan panas bumi yang semakin besar. rencana distribusi dan rencana kelistrikan yang isolated. Demand forecast. dan mencapai rasio elektrifikasi minimum 60% pada setiap provinsi di akhir tahun 2011.• Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang perencanaan ketenagalistrikan. • Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar utamanya pertumbuhan ekonomi. • Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi sebesar 8-9%.

1. dan populasi untuk membentuk model yang fit.ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi listrik. Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1. capacity balance dan rencana gardu induk. 3 COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan secara komersial. demand forecast pada semua wilayah kerja PLN telah disahkan oleh General Manager Unit Bisnis Distribusi/Wilayah.2020 . serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). serta kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan tenaga listrik jangka pendek. • Untuk mempertegas akuntabilitas. 6 RUPTL 2011. dimaksudkan untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast. estimasi pasokan gas alam dan LNG. daya tersambung. • Konsolidasi produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis PLN dan pengurusan untuk memperoleh pengesahan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sehingga draft RUPTL menjadi RUPTL resmi dilakukan oleh PLN Kantor Pusat.• Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan metoda regresi . pertumbuhan ekonomi. rencana transmisi dan rencana pembangkit sistem isolated yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. Pada workshop perencanaan juga dilakukan verifikasi jadwal COD3 proyek-proyek pembangkit PLN dan IPP. jumlah pelanggan. • Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi referensi untuk pembuatan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) lima tahunan.

− Rencana pengembangan pembangkit (neraca Asumsi dasar dan kebijakan. PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/ Wilayah membahas dan menyepakati asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan demand forecast di setiap wilayah. Tabel 1. PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan pembangkit pada sistem interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah. E*) P 4 Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan terdistribusi pada daerah-daerah/locality. RUPTL 2011.− Konsolidasi dan check konsistensi RUPTL RUKN rencana pengembangan sistem. Workshop Perencanaan − Rencana pengembangan transmisi dan distribusi.2020 7 . Berbekal hasil kerja pada workshop demand forecast tersebut.1. 1 Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL Kegiatan Pokok Kebijakan umum dan asumsi P3B Kitlur Wilayah Kit Distr Pusat U U U U U E E P Demand forecasting E Perencanaan Pembangkitan S S S Perencanaan Transmisi E E E S P. neraca energi dan kebutuhan bahan bakar). namun belum dibuat secara spasial4. dilanjutkan dengan menyusun demand forecast secara agregat. yang harus diselesaikan dalam waktu dua bulan. Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel 1. Pada saat yang sama. setiap unit PLN Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan membuat capacity balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau gardu induk baru. proyeksi kebutuhan tenaga listrik daya. Workshop − Demand forecast per Wilayah dan Demand Forecast per Provinsi Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL Pada workshop demand forecast.

U: Pengguna (User). Badan Usaha Swasta atau Koperasi. Indonesia Timur dan Jawa-Bali. Badan Usaha Milik Daerah. P: Pembinaan (Parenting). S: Pendukung (Supporting).6 RUANG LINGKUP DAN WILAYAH USAHA Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai Surat Keputusan No. Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini: 1. yaitu tidak termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional Batam dan PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan walaupun keduanya merupakan anak perusahaan PLN.6. Surat keputusan tersebut menetapkan Wilayah Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik Negara lainnya.Perencanaan Distribusi Perencanaan GI E E Perencanaan Pembangkitan Isolated E E P E E P E E P Konsolidasi E Keterangan: E: Pelaksana (Executor).2020 . yaitu Indonesia Barat. Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga wilayah operasi.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan provinsi Kalimantan Barat.*) untuk Sistem Besar 1. 634-12/20/600. Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana pengembangan sistem per provinsi. Ruang Lingkup RUPTL 2011-2020 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri ESDM tersebut. 8 RUPTL 2011.3/2011 tanggal 30 September 2011. maka RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan sistem pada tiga wilayah operasi tersebut.

Kalimantan Barat Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat.2020 9 . 1. PLN Wilayah Sumatera Selatan – Jambi – Bengkulu.6. Pembangkit tenaga listrik di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan. sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero). PLN Wilayah Sumatera Barat. dan Nusa Tenggara. Bangka. Sulawesi. kecuali beberapa pembangkit skala kecil di sistem-sistem kecil isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. Belitung. yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan. yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Batam. Nias. Sulawesi Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi UtaraTengah-Gorontalo dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat. kepulauan Maluku dan Maluku Utara. PLN Wilayah Lampung. sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero). PLN Wilayah Sumatera Utara. Papua.Sumatera Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau. Kalimantan Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia Timur dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah Kalimantan Timur. RUPTL 2011. PLN Wilayah Riau dan Kepri.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali provinsi Kalimantan Barat. Khusus untuk pulau Tarakan merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN. Nusa Tenggara Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur. Pulau Batam sendiri merupakan wilayah usaha anak perusahaan PLN. PLN Wilayah Bangka – Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera. dilayani oleh PLN Wilayah Aceh.

serta beberapa listrik swasta. PLN Pembangkitan Indramayu dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali. Selain itu terdapat anak perusahaan PLN di bidang pembangkitan.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. PLN Pembangkitan Muara Tawar.6. yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali. PLN Pembangkitan Cilegon. Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1. yaitu PLN Pembangkitan Tanjung Jati. Bab I menjelaskan latar belakang.Maluku dan Maluku Utara serta Papua Wilayah usaha PLN di provinsi Maluku dan provinsi Maluku Utara dilayani oleh PLN Wilayah Maluku & Maluku Utara. landasan hukum.2020 . tujuan dan sasaran. Gambar 1. 1. Bab II menjelaskan kebijakan umum 10 RUPTL 2011. dan provinsi Papua dan provinsi Papua Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua. PLN Distribusi Jawa Timur dan PLN Distribusi Bali. Di wilayah ini tedapat juga unit operasi pembangkitan. dan sistematika dokumen.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali Wilayah usaha PLN di Jawa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi Jawa Barat & Banten. visi dan misi perusahaan. PLN Pembangkitan Lontar.2. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) 1. PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang. PLN Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta.

Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam lampiran – lampiran yang menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem kelistrikan dan setiap provinsi. Bab VI menjelaskan kebutuhan investasi. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah mitigasinya. meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan. prakiraan kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit. Bab VIII memberikan kesimpulan. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini. Bab V menjelaskan rencana penyediaan tenaga listrik. serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar.2020 11 . asumsi dasar. RUPTL 2011. Bab IV menjelaskan ketersediaan energi primer.pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan sistem. transmisi dan distribusi.

maka penjualan akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit yang ada. Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh Indonesia secara terus menerus. RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik dalam RUKN 2008-2027 yang diperbaharui dengan draft RUKN 2010-2029 yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2010. sekaligus untuk memperoleh revenue yang diperlukan untuk debt repayment dan pembayaran kepada listrik swasta.2020 ini dibuat dengan memperhatikan kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan penjualan. baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bab II ini menjelaskan kebijakan dimaksud.8 KEBIJAKAN PELAYANAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK MELAYANI PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan PLN yang juga dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram pada tanggal 27 Juli 2010. Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas karena proyek-proyek pembangkit belum sepenuhnya selesai. Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas pembangkit dan transmisi diharapkan telah selesai5 dan reserve margin telah mencukupi. 1. RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi secara signifikan dengan menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup 5 12 Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2. proyek pembangkit PLN dan IPP lainnya RUPTL 2011. PLN telah dan akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan menyewa pembangkit. transmisi dan distribusi. PLN diminta mempertahankan bebas pemadaman listrik. Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani kebutuhan tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2011 .2020 . pengembangan pembangkit.

RUPTL 2011. dan biaya energy not served6. biaya bahan bakar. Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi. Kebijakan ini diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman. disamping karena implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi efektif.tinggi setiap tahun. dan pada beberapa wilayah tertentu diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik. Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah belum diperhitungkannya dampak program demand side management (DSM) dan program energy efficiency dalam membuat prakiraan demand. Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan yang diinginkan.9 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan beban yang direncanakan. dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat. termasuk membuat rasio elektrifikasi semua provinsi minimal 60% pada akhir tahun 2011 dan melayani semua daftar tunggu pada akhir tahun 2011. biaya operasi dan pemeliharaan. Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve margin)7. Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan cukup tinggi sehingga diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan ekonomi sebagaimana direncanakan dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). terutama energi terbarukan. 1.2020 13 . Pembangkit sewa dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana 6 Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati konsumen akibat padam listrik 7 LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV. Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost). dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang wajar dalam industri tenaga listrik.

Mitigasi tersebut misalnya pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan. 14 RUPTL 2011. terutama proyek IPP. pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh lebih cepat9.pengembangan kapasitas jangka panjang. prinsip regional balance¸ topologi 8 Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa menjalani proses optimisasi keekonomian. sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan. memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat dilakukan power exchange. Namun demikian perencanaan pembangkit panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan supply – demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan. Namun demikian. seringkali mengalami keterlambatan. yaitu hingga 80%. PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana reserve margin yang sangat besar. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan dan Sumatera. serta status kesiapan pengembangannya. pengembangan panas bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria least cost sehingga mereka diperlakukan sebagai fixed plant8. 9 PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya dengan metoda regresi berdasar data historis. Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik. dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan berikutnya. kedekatan dengan pusat beban. PLN akan memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari tahun ke tahun. namun dalam jangka pendek diperhitungkan untuk mengatasi kondisi krisis.2020 . Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi. maka PLN akan mengimbanginya dengan mitigasi tertentu. Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional namun telah lama menderita kekurangan pasokan tenaga listrik. Pemilihan lokasi kandidat pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi primer setempat atau kemudahan pasokan energi primer. yaitu Sumatra dan Kalimantan.

Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan. tegangan rendah. pemukiman. lingkungan dan sosial11.000 MW dengan teknologi ultra super critical13 untuk memperoleh efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah. Jenis CCT lainnya. dinyatakan dalam % per menit. Pertimbangan 10 Pembebanan lebih. atau LNG. atau MW per menit. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar. dan kendala-kendala teknis. Namun pembangkit beban puncak tetap mengutamakan pembangkit non-BBM.jaringan transmisi yang dikehendaki. Penggunaan ukuran unit sebesar ini juga dimaksudkan untuk memperoleh manfaat dari economies of scale dan didorong oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk membangun pusat pembangkit skala besar di pulau Jawa. hutan lindung. 12 Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah outputnya. 13 PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang secara komersial. 11 RUPTL 2011. PLTU atau PLTGB dapat dikembangkan oleh PLN atau swasta. stabilitas tidak baik. mini LNG. seperti pumped storage.2020 15 . yaitu PLTU batubara. maka PLTGU sebagai pembangkit medium (pemikul beban menengah) menjadi tidak dapat direncanakan. yaitu Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC) diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024. Untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali. Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik tenaga gasifikasi batubara) skala kecil merupakan program untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem isolated skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup dekat. dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan capacity factor yang relatif rendah. Pembangkit berbahan bakar minyak hanya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak. Antara lain kondisi tanah. kendala pada sistem transmisi10. PLTA peaking dengan reservoir atau pembangkit berbahan bakar compressed natual gas (CNG). walaupun untuk fungsi tersebut PLTU batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang mempunyai ramping rate12 tinggi seperti PLTG. bathymetry. PLN telah merencanakan PLTU batubara kelas 1. arus hubung singkat terlalu tinggi. Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan apabila terdapat kepastian pasokan gas.

Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU mulut tambang skala besar di Sumatra Selatan dan menyalurkan sebagian besar energi listriknya ke pulau Jawa melalui transmisi arus searah tegangan tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)14. Situasi yang sama juga terjadi di sistem Sumatera.000 MW. sepanjang hal tersebut layak secara teknis dan ekonomis. Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL disesuaikan dengan kemampuan pendanaan PLN. Regional balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang berada di region tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain melalui saluran transmisi interkoneksi. Dengan prinsip ini. Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan: − PLTU batubara: Direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah mendapat indikasi pendanaan dari lender. sehingga di wilayah ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP yang sebagian energinya akan ditransfer ke Sumbagut. kebutuhan transmisi interkoneksi antar region akan minimal. panas bumi dan gas) lebih banyak tersedia di Sumbagsel. Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam mengembangkan pembangkit di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat beban melalui transmisi. Dengan demikian sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai independent power producer (IPP). − PLTA dan pumped storage diupayakan menjadi proyek PLN. 14 Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera – Jawa ini adalah kebutuhan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah terpenuhi dengan cukup. cukup besar untuk Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan memenuhi prinsip regional balance. dimana sumber daya energi (batubara.lainnya adalah ukuran sistem Jawa Bali telah mengakomodasi unit pembangkit kelas 1.2020 . PLN tidak dapat secara sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. untuk sementara dimasukkan dalam kelompok proyek PLN. Untuk proyek-proyek yang jadwalnya masih cukup lama dan belum ditetapkan kepemilikannya. atau ditugaskan oleh pemerintah sebagai proyek PLN. 16 RUPTL 2011. Mengingat kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar.

RUPTL 2011. Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. − PLTGU gas direncanakan sebagai proyek PLN apabila telah ada indikasi pendanaan (dan ada kepastian pasokan gas). pengembangan PLTP pada umumnya didorong untuk dikembangkan oleh swasta dengan proses pemenangan WKP dilakukan melalui tender oleh Pemda sebagai total project15. atau Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total project dan PLN membeli listriknya. Beberapa WKP PLTP di Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya sebagai proyek PLN. 16 Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant. Sedangkan potensi panas bumi yang WKPnya dimiliki oleh Pertamina berdasar regulasi terdahulu. termasuk pembebasan lahan dan perizinan ROW. kecuali beberapa transmisi terkait dengan IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan oleh pengembang IPP. dan PLN mengoperasikan serta membayar sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan ditransfer menjadi milik PLN. Pertamina dan PLN dapat bekerja sama mengembangkan PLTP16. 17 Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta. Pengembangan transmisi pada dasarnya dikembangkan oleh PLN.− PLTG direncanakan sebagai proyek PLN.2020 17 . Namun demikian. − PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi. terbuka opsi proyek transmisi untuk dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu misalnya build lease transfer (BLT)17. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan 15 Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik) dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya membeli listrik dengan PPA. 1.10 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSMISI Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya keseimbangan antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandalan tertentu. PLTGU gas juga direncanakan sebagai proyek PLN jika proyek tersebut merupakan pengembangan dari PLTG milik PLN (proyek add-on).

yaitu 500 kV DC dan 250 kV DC18. biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah dan 18 Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan nasional. Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem isolated yang masih dilayani PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis. biaya pembebasan tanah. melalui laut dan berkapasitas besar memerlukan teknologi transmisi daya arus searah (HVDC). misalnya 500 kV DC (India. Pemilihan tegangan HVDC disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut) yang banyak digunakan di dunia. Sebagai dampak dari kebijakan tersebut dalam RUPTL ini direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC pada tahap awal di koridor barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat diperlukan di koridor timur Sumatera. Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya pembangunan fasilitas sistem transmisi tegangan tinggi. 250 kV DC (Jepang. Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N – 1 akan dilaksanakan reconductoring dan uprating. Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer energi listrik dari wilayah yang mempunyai sumber energi primer tinggi ke wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas. Swedia). yaitu mulai tahun 2018.2020 . Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh. Kanada). 18 RUPTL 2011.keterbatasan kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam hal mengurus perizinan dan pembebasan lahan. teknologi HVDC tidak mempunyai standar tegangan. Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC adalah mengadopsi tegangan yang banyak digunakan di negara lain. maka sistem Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan interkoneksi utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang sangat luas. Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar subsistem dengan pola operasi terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan. Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan dengan mempertimbangkan pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan.

Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit per GITET dengan pola operasi terpisah dengan 2 unit per sub-sistem. kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Kegiatan berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan dan perbaikan sarana pelayanan. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS. dengan memenuhi standar SNI. penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah. namun dalam situasi khusus seperti pasokan untuk konsumen besar dan daerah padat beban dapat digunakan unit size hingga 100 MVA. RUPTL 2011. Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai berikut: a.harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit pengelola sistem transmisi. perbaikan SAIDI dan SAIFI.2020 19 . 1. dan 1 fasa per tipe per propinsi untuk GITET jenis konvensional. kabel laut) dan perlengkapannya (pemutus. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas sampai dengan 60 MVA. pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan aspek keekonomian jangka panjang. d. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi. c. dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik. penggunaan tiang. jenis saluran (saluran udara. e. kabel bawah tanah. b. yaitu: perbaikan tegangan pelayanan. SPLN atau standar internasional yang berlaku.11 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan pada 4 hal. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan.

kabel bawah tanah). jenis saluran (saluran udara. daerah terpencil dan daerah perbatasan. • Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut belum berlistrik. 1. • Dimungkinkan pemasangan Load Break Switch untuk menunjang perbaikan keandalan jaringan tegangan menengah dan tiang 14 meter serta konduktor 240 mm2 untuk mengantisipasi kebutuhan pengembangan sistem.2020 . ditentukan oleh manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik.12 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melistriki masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari APBN. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat Jendral Ketenagalistrikan (DJK) dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi 80% dan desa berlistrik 98. dengan tetap memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku. termasuk penggunaan tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar. 20 RUPTL 2011. dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah. sistem jaringan (radial. perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak). besi atau kayu). • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar yang pendanaannya dari APLN.Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton.9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen ESDM 2010-2014 adalah: • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek GI Baru atau Extension Trafo GI yang pendanaannya diperoleh dari APBN. • Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar dan pembangkit mikro / mini tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari APBN. dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi tersebut belum disediakan dari APLN. • Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTSurya & hybrid PLTBayu yang sistemnya terhubung dengan grid PLN. loop atau spindle).

Papua Barat. PLN juga mendorong penelitian dan pengembangan EBT lain seperti thermal solar power. daerah tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi di provinsi Papua. dan NTT. Namun kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek PLTA tanpa menganut prinsip demand driven19 demi mencapai suatu tujuan khusus tertentu. pembangkit tenaga air skala besar. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem berkapasitas 50 MW20 untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi Pegunungan Tengah yang sama sekali belum memiliki listrik. pulau-pulau terdepan yang 19 Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit. menengah dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa PLTS (tenaga surya). walaupun hal ini hanya dilakukan secara sangat terbatas dan selektif. Proyek ini diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut untuk pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua – Maluku. dan fuel cell. Kedua jenis energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap. PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan centralized PV secara besar-besaran untuk melistriki banyak komunitas terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal. Khusus mengenai PLTS. NTB. walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain. OTEC (ocean thermal energy conversion).2020 21 . PLTB (tenaga angin). RUPTL 2011. biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). biomassa.• Melaksanakan program listrik murah dengan target masyarakat nelayan. 1. arus laut.13 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. PLN mempunyai kebijakan untuk memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air. 20 Dapat dikembangkan menjadi 100 MW. Dari kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan panas bumi yang sangat besar. 5 tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional.

22 RUPTL 2011. terutama di wilayah Indonesia Timur.2020 . namun lebih didorong oleh semangat PLN untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terpencil untuk memperoleh akses ke tenaga listrik lebih cepat.berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya. Pemanfaatan EBT seperti ini tidak selalu berbasis keekonomian.

38 9.69 16.33 7.11 145.91 10.22 11. sehingga 21 Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2005.30 8.8% per tahun sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.77 10.62 100.92 4.BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI 3.31%.48 119.1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan penjualan di Jawa Bali relatif lebih rendah daripada pertumbuhan di Sumatera.77 104.38 10.13 4.24 4. yaitu rata-rata 9.42 10.32 3.47 Pada Tabel 3.27 8.40 4.08 7.92 13.11 113.61 14.39 5.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6.15 2.Bali Growth (%) Sumatera Growth (%) Kalimantan Growth (%) Sulawesi Growth (%) Indonesia Bagian Timur Growth (%) 2010 Rata-rata 6.7 Growth (%) Jawa .04 95.96 2.81 1. Pertumbuhan penjualan yang rendah di Jawa Bali pada tahun 2006 disebabkan oleh adanya pengendalian penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit pada tahun tersebut21.1.44 17.92 11.63 8.28 7.87 7.66 89.7 10.9 9.64 10. RUPTL 2011.0 8.62 19.21 7.08 7.68 1.59 7.39 3. Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi.61 1. Tabel 3.62 6. Sulawesi dan Indonesia bagian timur.63 133.67 9.66 5.59% per tahun.63 3. Kalimantan.31 8.64 3.22 4.59 5.65 5.97 127.2% per tahun.93 4.81 12. Selanjutnya pada tahun 2008 mulai terjadi krisis finansial global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik tahun 2009 hanya tumbuh 3.56 10.33 9.59 8.57 3.6 5. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5.15 9. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) Wilayah 2006 2007 2008 2009 Indonesia 111.2020 23 .

Kalimantan.2 37.770. yaitu Maluku.5 juta per tahun.687.2 juta atau bertambah rata-rata 1.2 menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan dalam lima tahun terakhir. 3.3 47.1 1. Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya.621.6 juta menjadi 42.182.8 Industri 46. dan Nusa Tenggara.052.954. sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan dibatasi.879.562.108.508.di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi dengan sewa pembangkit sepanjang tahun 2010.5 34.897. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor rumah tangga.7 1.2020 .7% per tahun.128.7% per tahun.4 988. Sulawesi dan Indonesia Timur diperkirakan masih berpotensi untuk meningkat lebih tinggi karena daftar tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang masih rendah.835.4 Rumah Tangga Komersial Total 24 RUPTL 2011. sektor publik rata-rata 55 ribu pelanggan per tahun. Tabel 3.585. Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 8.6 38.3 39.6 46. Sedangkan pertumbuhan di Jawa pulih kembali dari dampak krisis keuangan global mulai tahun 2010.2 1.4 35.5 1. Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik yang cukup parah hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan.2 46.3 1. dan terakhir sektor industri rata-rata 550 pelanggan per tahun.164. diikuti sektor bisnis dengan rata-rata 61 ribu pelanggan per tahun. Tabel 3.1 36.4 1. Pertumbuhan di Sumatera.1 35.6 48.877.1.65 juta tiap tahunnya.0% per tahun.8 1. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit] Jenis Pelanggan 2006 2007 2008 2009 2010 32. Papua.1 1.1 Jumlah Pelanggan Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2006 – 2010 mengalami peningkatan dari 35. sedangkan penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun.7 42. Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 8.633.0 39.147.6 Publik 928. yaitu rata-rata 1. dan pada tahun 2010 diatasi dengan sewa pembangkit. sementara penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 2.

3 68. Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah Jawa-Bali.1 Kalimantan 54. yaitu dari 59.1.1 54. Perkembangan rasio elektrifikasi secara nasional dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.8 35. Rasio elektrifikasi naik cukup tajam pada tahun 2010 karena adanya pembangkit sewa dan berjalannya program ’GRASSS’22 yang diadakan dalam beberapa tahap.9 66. Kalimantan. 22 GRASSS: Gerakan sehari sejuta sambungan RUPTL 2011.4 62. dengan rincian sebagai berikut: • Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan paling tinggi.8 71.2 56.3.3.2 Rasio Elektrifikasi Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dibagi dengan jumlah rumah tangga yang ada.8 60.2 53.3 65. • Jawa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1.6 31.3 Sulawesi 53.5 53.51% pada tahun 2010.3% per tahun.9% per tahun.5 Jawa-Bali 63.9 67. • Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun 2009 karena teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa pembangkit sewa.2 60. yaitu sekitar 2.7 *)Termasuk pelanggan non PLN Pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak merata pada masing-masing daerah.2020 25 . dan program GRASSS pada tahun 2010.4 Sumatra 57.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) Wilayah 2006 2007 2008 2009 2010*) Indonesia 59.6 54. • Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya tertinggi setelah Sumatera.8 62. yaitu sekitar 1. Tabel 3.6 30.7% per tahun.7 54.1 62.0 69.0 67. Sumatera.0 60. Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.0% pada tahun 2006 menjadi 66.9 55.7 Indonesia Bag Timur 30.6 30.

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak tumbuh relatif rendah.126 22.906 23.840 20. 3. yaitu hanya 1.236 22.5 Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem kelistrikan di luar Jawa Bali tidak dapat disajikan seperti diatas karena sistem kelistrikan di luar Jawa Bali masih terdiri dari beberapa subsistem yang beban puncaknya non coincident.1% per tahun.835 21.3 5.251 16.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN Pada tahun 2010 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia adalah 30.309 16.396 16.301 17. dengan load factor cenderung meningkat. Perbaikan load factor terjadi karena adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan pelanggan baru23. 3. 23 Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010 26 RUPTL 2011.9 5.756 Beban Puncak Netto MW 15. yaitu rata-rata 6. Tabel 3.7 77. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010 Deskripsi Satuan 2006 2007 2008 2009 2010 Kapasitas Pembangkit MW 22. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.954 20.1).2 Faktor Beban % 75 76 78.296 22. hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi.7 79.6 5.8% (lihat tabel 3.784 17.908 MW yang terdiri dari 23. yaitu rata-rata 4.892 21.3 Pertumbuhan Beban Puncak Pertumbuhan beban puncak sistem Jawa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.596 18.2020 .100 Pertumbuhan % 3.960 15.369 16.206 Daya Mampu Beban Puncak Bruto MW MW 17.1.4.206 MW di sistem Jawa-Bali dan 7.702 MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur.6 0.211 18.• Indonesia bagian timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan yang paling rendah.12%.

910 792 18 7.2. Tabel 3.330 1 1.114 60 118 6.543 - - 985 878 1.5. Walaupun kapasitas terpasang pembangkit adalah 7. Riau 247 124 Bengkulu 17 - - - 236 - 253 - 253 Sumatera Selatan 43 230 - 285 - - 558 268 825 Jambi 43 62 - - - - 105 - 105 Bangka Belitung 89 - - - - - 89 - 89 Lampung 96 21 - 200 122 - 439 - 439 Kalimantan Barat 217 34 - - 0 - 251 - 251 Kalimantan Selatan 134 21 - 130 30 - 315 - 315 Kalimantan Tengah - - - - - 78 Kalimantan Timur 247 40 60 - - - 347 Sulawesi Utara 114 - - - 54 60 228 58 - - - 1 - 59 Sulawesi Tengah 113 - - - 6 - Sulawesi Selatan 103 149 - Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timu TOTAL 24 PLTD Kapasitas Kapasitas Kapasitas Total Total Total PLN IPP PLN+IPP 78 - 78 45 392 3 231 119 31 150 - 400 255 655 - 8 - 8 - 76 - 76 105 - 59 123 - 25 8 - - - 75 - - - 105 - - - - - 105 - 76 - - - - - 76 - 76 119 - - - - 121 - 121 1 2 42 - - - 2 - 44 - 44 139 - - - 1 - 140 - 140 117 2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistemsistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada saat ini adalah 7.702 Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang. kemampuan netto dari pembangkit tersebut lebih rendah dari angka tersebut karena banyak PLTD (1600 MW) yang telah berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating24.702 MW dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.2020 27 . Kapasitas pembangkit tersebut sudah termasuk IPP dengan kapasitas 792 MW.3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 PLN PROVINSI NAD Sumatera Utara PLTG PLTGU MW MW MW PLTU PLTA/M MW MW PLTP MW MW MW 205 - - - 2 - 207 53 411 818 490 140 - 1.702 MW.912 MW - 2102 492 38 - - 200 254 - 492 - Riau 90 43 - - 114 - 247 - - - - - - 124 124 207 190 Sumatera Barat Kep. RUPTL 2011.

9 Jumlah 43 112. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur (MW) tahun 2010 No PLN Wilayah Kapasitas (MW) 1 Babel 2 Kalbar 3 Kalselteng 4 Kaltim 5 Kitsumbagsel 250 6 Kitsumbagut 108 7 Maluku 8 NAD 122 9 NTB 147 10 NTT 58.5 34 289 1833. Dengan terus meningkatnya beban puncak sistem Jawa Bali dan tambahan pembangkit baru yang hanya 300 MW karena terlambatnya proyek FTP-1. maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 1. Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut. Jika beban puncak dibandingkan dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila menerapkan kriteria cadangan 35%.800 MW pada tahun 2010.000 MW. hampir seluruh unit usaha PLN telah melakukan sewa pembangkit.35 78 90.4 3.5 85 138. Tabel 3.2 Wilayah Operasi Jawa Bali Kapasitas pembangkit baru yang masuk ke sistem Jawa-Bali pada tahun 2010 adalah PLTU Labuan unit 2 (300 MW). Kapasitas pembangkit sewa yang ada di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun 2010 mencapai 1. reserve margin pada akhir tahun 2010 menipis menjadi hanya 24%.85 11 Papua 12 Riau dan Kepri 13 S2JB 14 Sulselrabar 15 Suluttenggo 107 16 Sumbar 11.Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur mencapai 6.833 MW. Reserve margin yang rendah tersebut berlanjut ke awal tahun 2011 dan dan pada saat yang sama terjadi kondisi luar biasa pada 28 RUPTL 2011.2020 .3 158.2.

05 9.206 100 3.9 3.645 MVA meningkat menjadi 11.4 2.18 2.3 575 1.692 150 858 3. Rincian kapasitas pembangkit sistem Jawa-Bali berdasarkan jenis pembangkit dan pengelolaannya dapat dilihat pada Tabel 3.065 MVA pada tahun 2010. Sedangkan pulau lainnya.5 1 4. Kalimantan dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi.136 9. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010 No. Jenis Pembangkit IP PJB PLN Jumlah IPP MW 1 PLTA 2 PLTU Batubara 1.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera.2 4. Maluku.3 500 2. Cirata (1000 MW) dan Jatiluhur (150 MW) mempunyai DMA (Duga Muka Air) yang jauh lebih rendah dari perkiraan tahun paling kering. sehingga telah terjadi beberapa kali defisit pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di Jawa Bali. dan Papua belum memiliki saluran transmisi.2 1 500 PLTGU BBG/BBM BBM 4 1.103 1.7. dimana kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2006 sekitar 7.536 10.518 252 1. 25 Seluruh PLTA besar di DAS Citarum.045 4.4 800 BBG/BBM BBM 3 150 2.17 39.984 8. yaitu Saguling (700 MW).496 640 740 PLTG BBG/BBM BBM 40 62 806 320 5 PLTD 76 6 PLTP 360 Jumlah 8.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI 3.pengoperasian PLTA di Jawa Barat25.5 76 0.5 4.3. Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 9.92 % 1. yaitu Nusa Tenggara Timur.587 1.035 23.7% per tahun dalam periode 2006 – 2010.1 1. Tabel 3. RUPTL 2011.2020 29 .507 19.961 6.283 3.

Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk
di sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MVA)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275/150 kV

160

160

160

160

160

4.419

4.474

4.804

5.17

5.92

360

360

360

350

335

1.094

1.174

1.174

1.383

1.453

70/20 kV

157

157

157

153

187

150/20 kV

923

1.045

1.074

1.064

1.064

70/20 kV

532

546

606

546

560

275/150 kV

160

160

160

160

160

150/20 kV

6.436

6.693

7.052

7.597

9.823

70/20 kV

1.049

1.063

1.018

1.138

1.082

150/20 kV
70/20 kV
Kalimantan
150/20 kV

Sulawesi

Sub-Total

Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (kms)
Region

2006

2007

2008

2009

2010

Sumatra
275 kV

-

781

781

1.011

1.011

150 kV

8.521

7.739

8.423

8.221

8.224

310

334

334

334

331

1.264

1.305

1.429

1.429

1.567

123

123

123

123

123

70 kV
Kalimantan
150 kV
70 kV
Sulawesi

1.769

1.839

1.957

1.957

2304

70 kV

505

505

505

519

832

275 kV

-

781

781

1.011

1.011

10.884

11.509

11.657

12.253

150 kV

Sub-Total

150 kV
70 kV
Total

30

11.554
938

962

962

976

1.287

12.492

12.627

13.252

13.594

14551

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat ratarata 3,9% per tahun dalam kurun waktu 2006-2010, dimana panjang saluran
transmisi pada tahun 2006 sekitar 12.492 kms meningkat menjadi 14.551 kms
pada tahun 2010.

3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali
Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem Jawa
Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000)
Level Tegangan

Unit

2006

2007

2008

2009

2010

150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

27,08

28,44

70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

Jumlah

MVA

28,18

28,87

28,90

29,82

31,19

B.Puncak

MW

15,95

16,26

16,31

17,21

18,10

Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali
Unit
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

500 kV

kms

5,05

5,05

5,09

5,11

5,05

150 kV

kms

11,27

11,61

11,85

11,97

12,37

70 kV

kms

3,66

3,58

3,61

3,61

3,61

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak
bertambah, bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi
150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas
pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan
trafo GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu
5 tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.

RUPTL 2011- 2020

31

Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)
Satuan
Level Tegangan

(x1.000)

2006

2007

2008

2009

2010

Kit.Sistem 500 kV

MW

12,97

12,97

12,97

12,97

12,97

Trf. 500/150 kV

MVA

17,00

17,00

17,00

17,50

19,5

Kit. Sistem 150 kV

MW

8,89

8,99

9,01

10,11

10,41

Trf. 150/70 kV

MVA

3,58

3,58

3,58

3,82

3,82

Kit. Sistem 70 kV

MW

0,27

0,27

0,27

0,27

0,27

Trf. 150/20 kV

MVA

25,30

26,07

26,15

26,33

28,44

Trf. 70/20 kV

MVA

2,88

2,80

2,75

2,74

2,75

3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali
Pada beberapa tahun terakhir terdapat bottleneck sistem transmisi yang
memasok sistem Jakarta dan pulau Bali yang berdampak pada kenaikan biaya
operasi dari pembangkit BBM.
Beban listrik sistem Jakarta pada tahun 2010 adalah 7.250 MW dan dilayani
oleh pembangkit di Muara Karang dan Tanjung Priok yang terhubung ke sistem
jaringan tegangan tinggi 150 kV. Sistem 150 kV Jakarta ini juga dipasok oleh
sistem transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV melalui interbus transformer
(IBT) 500/150 kV di GITET Bekasi, Cawang, Gandul, Depok dan Kembangan.
Pembebanan trafo IBT di GITET-GITET tersebut telah melebihi 80%.
Untuk mengatasi pembebanan IBT yang tinggi telah dilakukan penambahan
IBT di GITET Bekasi-3 (November 2010) dan Gandul-3, Cibatu-4, dan
tambahan spare IBT 500/150 kV 166 MVA untuk GITET, Cibatu, Kembangan,
Depok, Balaraja dan Cawang. Penambahan IBT di Bekasi dan Gandul
dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian BBM di Muarakarang dan Priok.
Pulau Bali pada beberapa tahun terakhir mengalami defisit daya. Beban puncak
tahun 2010 adalah 549 MW, dilayani oleh pembangkit BBM dengan daya
mampu 380 MW dan kabel laut Jawa – Bali yang menyalurkan daya 180 MW.
Untuk mengatasi kekurangan daya jangka pendek, telah dilakukan sewa
pembangkit pada tahun 2010 sebesar 126 MW sehingga kondisi kelistrikan
pulau Bali mulai membaik, namun masih belum memenuhi keandalan yang
seharusnya.
Untuk mengurangi konsumsi BBM di pulau Bali, saat ini sedang dibangun
kabel laut sirkit 3,4 Jawa – Bali yang akan beroperasi pada bulan Mei 2012.

32

RUPTL 2011- 2020

3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI
Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi
pada lima tahun terakhir.
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi
Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2006 cenderung menurun ke
tingkat 7,64% pada tahun 2010 sejalan dengan usaha-usaha menekan susut
jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%)
2006

2007

2008

2009

2010

9,18

8,84

8,29

7,93

7,09

Susut Distribusi

3.4.2 Keandalan Pasokan
Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan
indikator SAIDI dan SAIFI26 jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat
pada Tabel 3.14.
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN
2006

2007

2008

2009

2010

SAIDI (jam/pelanggan/tahun)

27,01

28,94

80,90

16,70

7,00

SAIFI (kali/pelanggan/tahun)

13,85

12,77

13,33

10,78

6,85

Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat
pada Lampiran A, B dan C yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK
Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi
daerah-daerah yang kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit
berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta melistriki daerah
yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan
dan terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

26

SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average
Interruption Frequency Index

RUPTL 2011- 2020

33

3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek
3.5.1.1

Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat

Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi
Indonesia Barat dan Timur pada dasarnya disebabkan olehh keterlambatan
penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP.
Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan
pasokan dan menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien serta
menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya
tertinggal.
Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut
meliputi sewa pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi
listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan
Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU
batubara PerPres 71/2006, membangun saluran transmisi, mengamankan
kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS centralized
dan solar home system secara terbatas.
Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli
semua potensi excess power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup
untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu menambahnya dengan
menyewa pembangkit.
Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai
berikut: (i) memenuhi kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan
bersifat sementara sebelum pembangkit utama non-BBM beroperasi; (ii)
menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien dengan PLTD yang
mempunyai sfc (specific fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio
elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak
tersedia sumber daya EBT lainnya.
Sewa pembangkit tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG
(gas engine), PLTGB dan PLTU yang dapat tersedia dalam waktu relatif
singkat.
Tambahan sewa PLTD dan PLTGB/PLTMG yang dilakukan PLN pada tahun
2010 berjumlah 1.396 MW yang terdiri atas 837 MW di Indonesia Barat dan
559 MW di Indonesia Timur. Selanjutnya pada tahun 2011 akan dilakukan
tambahan sewa PLTD/PLTGB/PLTMG sebesar 932 MW. Pada tahun 2012 di
34

RUPTL 2011- 2020

Indonesia Barat akan dilakukan penambahan sewa sebesar 578 MW,
sedangkan di Indonesia Timur akan ada pengurangan sewa sebesar 211 MW
dengan rincian diberikan pada tabel 3.15.

Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012
No

3.5.1.2

Lokasi Sewa PLTD

Kapasitas (MW)
2011

2012

1

Indonesia Barat

688

578

2

Indonesia Timur

264

- 211

Wilayah Operasi Jawa Bali

Upaya yang dilakukan PLN di Jawa Bali meliputi memenuhi pertumbuhan
demand, mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan keandalan.

3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur
Hal – hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur meliputi antara lain:
3.5.2.1

Pembangkitan

Mempercepat pembangunan proyek percepatan PLTU batubara 10.000 MW
tahap 1, termasuk tambahan proyek PLTU Riau 2x110 MW27 dan PLTU
Muara Jawa/Teluk Balikpapan di Kaltim 2x110 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti
PLTA Asahan 3 – 174 MW, PLTA Peusangan 86 MW, PLTU Sumut Baru
2x200 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG Bangkanai 4x70 MW
(tahun pertama baseload dan tahun berikutnya berubah menjadi peaking),
PLTU Takalar 2x100 MW, PLTG Sulsel Baru 2x50 MW, Makassar (peaking)

27

Terjadi perbedaan antara kapasitas pembangkit terkontrak dan kapasitas sesuai PerPres No.
71/2006 jo PerPres 59/2009, yaitu PLTU Riau/Tenayan, PLTU Maluku dan PLTU Kaltim /Muara
Jawa/Teluk Balikpapan. Perbedaan kapasitas tersebut memerlukan endorsement dari
Kementerian ESDM.
RUPTL 2011- 2020

35

1x50 MW dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW, PLTU Lombok APBN
1x25 MW dan PLTU Atambua 4x6 MW serta banyak PLTU batubara skala
kecil dan PLTGB tersebar di luar Jawa Bali.

Melaksanakan program sewa PLTU di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
dengan kapasitas total antara 1.750 MW dan 2.160 MW sebagai upaya
mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek-proyek IPP dan proyekproyek PLTP baik yang dibangun oleh PLN maupun oleh IPP. Proyek PLTU
sewa ini diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013.

Mempercepat pengadaan gas untuk memasok PLTGU Belawan 2x400 MW
dan tambahan PLTG task force 100 MW tahun 201228.

Mempercepat penyelesaian kontrak gas PLTGU Sengkang 180 MW.

Mempercapat pengadaan gas untuk kawasan Indonesia Timur, antara lain
untuk PLTG Semberah 2x20 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG
Kaltim sewa 100 MW, PLTG Sulsel 2x50 MW, PLTG Makassar (peaking)
1x50 MW, dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW.

Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik IPP, antara lain PLTA
Poso 195 MW, PLTU Jeneponto 2x100 MW, PLTU Takalar 2x100 MW,
PLTU Kalbar 2x25 MW, PLTU Kaltim 2x100 MW, PLTU Kalsel 2x100 MW,
PLTG Senipah 80 MW, PLTU Sulut 2x25 MW, PLTU Sumbawa 2x10 MW,
PLTU Sumsel-5 2x150 MW, PLTU Sumsel-6 2x300 MW, dan PLTU
Sumsel-7 2x150 MW.

Mempercepat pembangunan beberapa proyek PLTP dengan total kapasitas
minimal 1.025 MW untuk dapat beroperasi sampai dengan tahun 2015.
Proyek-proyek PLTP tersebut diberikan pada tabel 3.16.

28

Opsi pasokan gas ke Belawan adalah regasifikasi di Arun berikut pipa gas ke Belawan, atau
FSRU di Belawan dengan sumber LNG dari BP Tangguh.
36

RUPTL 2011- 2020

Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun 2015
No.

NAMA PEMBANGKIT

1

Ulumbu #1,2,3 & 4

2

Tulehu #1 & 2

3

Ulumbu #5 & 6

4

Lahendong 4

KAP. (MW)

DEVELOPER

NTT

4 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Maluku

2 X 10

PLN – TOTAL PROJECT

NTT

2 X 2,5

PLN - TOTAL PROJECT

Sulut

1 X 20

PLN (HULU) – PGE (HILIR)

5

Ulubelu #1 & 2

Lampung

2 X 55

PLN (HULU) – PGE (HILIR)

6

Hululais #1 & 2

Sumsel

2 X 55

PLN (HULU) – PGE (HILIR)
PLN (HULU) – PGE (HILIR)

7

Sungai Penuh #1 & 2

8

Lumut Balai #1 & 2

9

Ulubelu #3

Jambi

2 X 55

Sumsel

2 X 55

PGE

Lampung

1 X 55

PGE
PGE

10

Lahendon #5 & 6

Sulut

2 X 20

11

Karaha Bodas #1

Jabar

1 X 30

PGE

12

Kamojang #5

Jabar

1 X 60

PGE

13

Sarulla #1

Sumut

1 X 110

KONS. MEDCO

14

Dieng #2

Jateng

1 X 55

GEODIPA EN.

15

Patuha #1

Jabar

1 X 60

GEODIPA EN.

16

Wayang Windu #3

Jabar

1 X 120

STAR ENERGY

17

Tangkuban Perahu 2 #1

Jabar

1 X 30

WSS

Jumlah

LOKASI

1025

Mempercepat pengadaan pembangkit untuk dapat menyerap gas Jambi
Merang sebesar 65 bbtud. Proyek pembangkit tersebut adalah: 1) PLTG
Payo Selincah 2x50 MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012
akan menyerap gas sebesar 25 bbtud. 2) PLTG sewa di Rengat 20 MW
yang akan masuk ke sistem 20 kV akan menyerap gas sebesar 4 bbtud.
3) PLTG Duri 100 MW dengan rencana COD tahun 2012 akan menyerap
gas sebesar 24 bbtud. 4) Relokasi PLTG ex Jawa 3x20MW dengan
rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 12
bbtud.

Merencanakan beberapa kebutuhan pembangkit peaker untuk dapat
menyerap potensi gas yang ada, yaitu: 1) PLTG Belawan 400 MW untuk
dapat menyerap gas yang berasal dari FSRU LNG Belawan atau
regasifikasi LNG di Arun. 2) PLTMG Sei Gelam 90 MW untuk menyerap
CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. 3) PLTG/PLTMG Sangeti 80100 MW untuk menyerap gas Sangeti sebesar 6 bbtud, perlu dibangun
fasilitas CNG. 4) PLTG/PLTMG Jaka Baring 50-60 MW untuk menyerap
CNG Jaka Baring sebesar 3 bbtud. 5) Untuk dapat menyerap gas
Jabung sebesar 20-30 bbtud PLN akan membangun PLTG dengan total
kapasitas

500 MW

yang

berdasarkan

kebutuhan

sistem

akan

ditempatkan di Riau 200 MW, Jambi 100 MW dan Lampung 200 MW.
RUPTL 2011- 2020

37

Untuk itu diperlukan fasilitas mini LNG. 6) PLTG Bangkanai 280 MW
untuk menyerap gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas
CNG di dekat lokasi PLTG, PLTMG Bintuni untuk menyerap gas
Tangguh 2 bbtud.
3.5.2.2

Transmisi dan Gardu Induk

Mempercepat pembangunan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275 kV
di jalur barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau – Bangko - Muara Bungo –
Kiliranjao).

Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao – Payakumbuh –
Padang Sidempuan dan Payakumbuh - Garuda Sakti.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok –
Galang dan IBT 275/150 kV di Galang.

Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu – Binjai
dan IBT 275/150 kV di Binjai yang harus dapat beroperasi seiring dengan
beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada pertengahan tahun 2012.

Melaksanakan pembangunan transmisi 275 kV jalur timur Sumatera dari
Betung – Aur Duri – Rengat – Garuda Sakti.

Mempercepat interkoneksi Kalbar-Serawak melalui transmisi 275 kV yang
diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2014, untuk memenuhi kebutuhan
sistem Kalbar dan menurunkan BPP.

Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut. Tujuan
interkoneksi ini disamping untuk memenuhi kebutuhan sistem Bintan juga
sekaligus akan menurunkan BPP di sistem Bintan.

Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng Kaltim dan sistem interkoneksi 150 kV Sulut – Gorontalo termasuk
pemasangan reaktor di Gorontalo.

Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso – Palu,
transmisi 70 kV sistem Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem
Jayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel bawah tanah 150 kV
Tanjung Bunga – Bontoala.

38

RUPTL 2011- 2020

Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Tanjung – Buntok –
Muarateweh dan Muarateweh – Bangkanai.

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali
Hal – hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem Jawa-Bali meliputi
antara lain:

Penguatan pasokan Jakarta terdiri dari beberapa program:
-

Mempercepat penyelesaian penambahan IBT 500/150kV 500 MVA di 2
lokasi, yaitu IBT-4 Bekasi 1x500MVA, IBT-2 Depok 1x500MVA.

-

Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu:
Durikosambi 2x500MVA (2013) dan Muaratawar 2x500MVA (2013).

-

Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung Jati - Tx
Ungaran, SUTET Suralaya Baru – Balaraja, SUTET Balaraja –
Kembangan (2013), dan Kembangan – Durikosambi (2013).

-

Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar – Cibinong – Bekasi – Cawang.

-

Menyediakan cadangan IBT 500/150kV 166 MVA di 3 lokasi GITET
yaitu Durikosambi, Bekasi, Muaratawar dan Gandul.

Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:
-

Penambahan IBT 500/150kV di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon
1x500MVA, IBT-3 Pedan 1x500 MVA, IBT-3 Krian 1x500MVA, IBT-3
Ungaran 1x500MVA, IBT-3 Mandirancan 1x500MVA, IBT-2 Ngimbang
1x500MVA, IBT-2 Tasikmalaya 1x500MVA dan IBT-2 Grati 1x500MVA.

-

Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung
1x500 MVA (2012), Tanjung Jati 2x500 MVA (2012), Rawalo/Kesugihan
1x500MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya
Selatan 2x500 MVA (2012).

-

Pengadaan spare IBT 166 MVA di 4 lokasi GITET, yaitu Mandirancan,
Pedan, Krian, Kediri dan Grati.

-

Mempercepat penyelesaian SUTET Grati – Surabaya Selatan (2012).

RUPTL 2011- 2020

39

Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu:
-

29

SUTT terkait dengan pembangkit PLTU IPP Cirebon 1x660 MW29, yaitu
SUTT Sunyaragi - PLTU Cirebon - Brebes – Kebasen.

Pembangunan kabel laut 150 kV Jawa Bali sirkit 3&4 (Mei 2012).
Pembangunan Jawa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal
(2015).
Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130 MW +
2x125 MW (2014).

COD PLTU Cirebon adalah November 2011 berdasar laporan progres konstruksi.

40

RUPTL 2011- 2020

BAB IV
KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER

4.1 BATUBARA
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya
batubara Indonesia adalah 104,8 milyar ton yang tersebar terutama di
Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton), namun cadangan
batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton,
Sumatera 11,2 milyar ton).
Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan
kandungan panas kurang dari 5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas
medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit (12%) yang
berkualitas tinggi (6100–7100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)30.
Walaupun cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat
produksi batubara sangat tinggi, yaitu mencapai 320 juta ton pada tahun 2010.
Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke China, India,
Jepang, Korea Selatan dan Taiwan (265 juta ton) dan ke beberapa negara lain,
dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan domestik (60 juta
ton). Produksi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan meningkat
sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya
pasar batubara internasional. Jika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton,
maka seluruh cadangan batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton akan habis
dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak dilakukan eksplorasi baru. Untuk
menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat, Pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang
mewajibkan produsen batubara untuk menjual sebagian produksinya ke
pemakai dalam negeri.
Persoalan yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah aspek security of
supply dan aspek kualitas. Keamanan pasokan batubara sangat ditentukan

30

Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah
menggunakan standar GAR (gross as received). Perbedaan antara adb dan GAR dapat
dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai
GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.

RUPTL 2011- 2020

41

oleh kebijakan pemerintah mengenai DMO dan batasan harga dalam negeri,
khususnya untuk kelistrikan, disamping kesiapan infrastruktur seperti
pengembangan tambang batubara itu sendiri, jalan, jembatan, dermaga dan
sarana transportasi yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah dunia
hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan
harga batubara di pasar dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah. Pada saat yang sama harga batubara Indonesia telah menembus
angka US$ 100 per ton (6322 kcal/kg GAR), dan harga tinggi ini telah
mendorong produsen batubara untuk lebih banyak mengekspor batubaranya ke
pasar dunia, terutama ke China dan India. Masalah kesiapan infrastruktur
memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara
yang tersedia di tambang dapat sampai ke pusat-pusat pembangkit yang
tersebar di Indonesia.
Dalam RUPTL tahun 2011-2020 ini terdapat rencana pengembangan beberapa
PLTU mulut tambang di Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang yang
digunakan di sini adalah PLTU batubara yang berada di dekat tambang
batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi skala besar
yang memungkinkan batubara diangkut ke pasar secara besar-besaran,
sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada dasarnya menjadi tidak
tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut
tambang tidak ditetapkan berdasar HBA, melainkan berdasar formula cost plus
margin yang di lock-in sepanjang umur pembangkit dengan eskalasi tertentu.
PLN juga menghadapi persoalan dalam memperoleh pasokan batubara yang
sesuai dengan spesifikasi boiler PLTU. PLN tengah mengevaluasi beberapa
pilihan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara. Saat ini teknologi yang
dipilih adalah dengan coal dryer dan coal blending. PLN akan segera
mengadopsi teknologi coal dryer. Selain itu PLN mempunyai program untuk
membangun sebuah coal blending facility.
PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga
batubara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.
Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi karbon dioksida yang
menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel
dan bahan kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap
lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik
berbahanbakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang
ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi
perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa.
42

RUPTL 2011- 2020

Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC
(integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage)
belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang
secara teknis dan komersial.

4.2

GAS ALAM

Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang
terbesar dalam skala dunia, namun cadangan gas alam di Indonesia cukup
besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di kepulauan
Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur
(21,49 Tscf) serta Tangguh di Irian Jaya yang diperkirakan setara dengan
cadangan di Natuna.
Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga
listrik di Indonesia tidak tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan
pasokan gas di hampir seluruh pembangkit berbahanbakar gas di Indonesia.
Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN terus mengalami penurunan dan
ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir ini31. Disamping cadangan gas
lapangan terus mengalami depletion, PLN juga menghadapi kesulitan dalam
memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar. Sumber-sumber
gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka
panjang dengan pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya
memperoleh pasokan gas dari sumber-sumber tersebut.

31

Misalnya Belawan, Teluk Lembu, Muara Karang, Priok, Muara Tawar, Tambak Lorok,
Pesanggaran/ Gilimanuk di Bali dan pembangkit lainnya.

RUPTL 2011- 2020

43

Tabel 4.1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali
No
1

2

Pembangkit
Muara Karang dan Priok

Muara Tawar

3

Cilegon

4

Tambaklorok

5

Gresik

6

Grati

Pemasok
PHE ONWJ (GSA)
PHE ONWJ (Excess capacity)
PGN ‐ Priok (GSA‐IP)
FSRU PT NR (proses GSA)
Jumlah
PERTAMINA ‐ P Tengah (GSA)
PGN (GSA)
MEDCO Lapangan Singa
MEDCO SCS
Ex kontrak PLN Jambi Merang*)
PGN ‐ Tambahan, Firm (GSA)
Tambahan dari Conoco Philip
Tambahan dari Petrochina
Jumlah
CNOOC (GSA)
PGN (GSA)
Jumlah
Petronas (Approval GSA)
SPP (GSA‐IP)
Jumlah
Kodeco (GSA)*
Hess (GSA)
KEI (GSA)
MKS (GSA)
WNE (GSA)
Petronas‐Bukit Tua (potensi‐PJB)
AEI
Jumlah
Santos Oyong (GSA‐IP)
Santos Wortel (GSA‐IP)
Parna Raya (Potensi‐IP)
Jumlah

2011
     100.0
       20.0
       30.0
         ‐
     150.0
       25.0
       59.0

2012
     100.0
       20.0
       30.0
     260.0
     410.0
       25.0
       59.0

2013
     100.0
       20.0

2014
     100.0
       20.0

2015
     100.0

2016
     100.0

2017

     175.0
     295.0
       25.0
       59.0

     175.0
     295.0
       25.0
       59.0

     175.0
     275.0
       25.0
       59.0

     140.0
     240.0

     140.0
     140.0

2018

2019

2020

     140.0       140.0       140.0
     140.0       140.0       140.0

       20.0        20.0        20.0
         34.8          31.1          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0
       20.0        20.0        20.0
       30.0
      158.8       185.1       139.0         99.0         99.0         15.0         15.0         15.0            ‐
           ‐
       80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0          80.0          80.0
       30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0          30.0          30.0
     110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0      110.0       110.0       110.0
      106.0       116.0       116.0       116.0       116.0       116.0
       50.0        50.0        50.0        50.0        50.0        50.0          50.0          50.0
         ‐
         ‐
       50.0        50.0      156.0      166.0      166.0      166.0       166.0       166.0
     123.0      123.0      123.0
         50.0          68.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0
     130.0      130.0      130.0        60.0        60.0        60.0        60.0          60.0          60.0
       11.0        11.0        11.0
       20.0        20.0        20.0        17.0        12.0        12.0        12.0          12.0          12.0
       25.0        54.0        62.0        47.0
          8.0
     192.0      352.0      334.0      225.0      181.0      184.0      169.0      122.0       122.0       122.0
       57.5        50.0        40.0        40.0        40.0
          7.5        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        20.0          20.0          20.0
       40.0        40.0        40.0        40.0        40.0          40.0          40.0
       65.0        80.0        70.0      110.0      110.0        70.0        70.0        60.0         60.0         60.0

Tabel 4.2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali
No
Pembangkit
1 Aceh Timur
2 Belawan

3
4
5
6
7

Teluk Lembu
PLTG sewa Bentu
PLTG sewa Melibur
PLTG sewa Jabung
Sungai Gelam

8 Sengeti (CNG)
9 Simpang Tuan
10 Payo Selincah
11
12
13
14
15

Jakabaring (CNG)
Indralaya
Talang Duku
Borang
Keramasan

16
17
18
19
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Duri
Rengat
Tanjung Batu
Semberah
Tarakan
Nunukan
CBM Sangata
PLTG Kolonedale
Sengkang
ANTAM + Indonesia
Luwuk
Indonesia Tersebar
KTI Tersebar

Pemasok
Medco Blok A
Kambuna
FSRU LNG Tangguh
Anggor (Potensi)
Kalila
Kalila Bentu (Potensi)
Kondur (Potensi)
Petro China (Potensi)
EMP Sungai Gelam
PEP ‐ TAC Sungai Gelam
PT Arthindo Utama
Perusda Jambi
Energasindo
Jambi Merang
PDPDE Sumsel
Medco E&P Indonesia
PGN
Medco E&P Indonesia
Medco E&P Indonesia
Pertamina EP
Jambi Merang
Jambi Merang
TAC Semco
TAC Semco
Lap Bangkudulis (Potensi)
Medco (Potensi)
VICO
Job PTM‐Medco Tiaka (Potensi)
EEES
EEES Kera (Potensi LNG)
Job PTM‐Medco Senoro (Potensi)
Pertamina EP Matindok (Potensi)
Bontang (Potensi)
Jumlah

2011
2012
2013
2014
        ‐
        ‐
      13.0       13.0
      25.3       13.0         5.0         ‐
        ‐
        ‐
        ‐
    105.0
      40.0
        5.0         9.0       30.0       30.0
        3.0         3.0         3.0
        0.6         0.6         0.6
      30.0       30.0       30.0
        ‐
        2.0         2.0         2.0
        ‐
        2.5         2.5         2.5
        5.6         5.6         5.6
        3.0         3.0
      18.0       18.0       18.0       18.0
        4.0       25.0       25.0       25.0
        ‐
        3.0         3.0         3.0
      19.3       24.0         ‐
        ‐
        8.0         8.0         8.0         8.0
      15.0       15.0       15.0         ‐
      22.0       22.0       22.0         ‐
      15.0       15.0       15.0       15.0
        ‐
      10.0       10.0       14.0
        ‐
        4.0         4.0         4.0
        7.0         7.0         7.0         7.0
        ‐
        5.0         5.0         5.0
      18.0       18.0       18.0
        2.5         2.5         2.5
        0.5         0.5         0.5         0.5
        2.0         2.0
        ‐
      15.0       15.0       15.0
      70.0
        5.0

2015
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0
        0.6
      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
      15.0
      14.0
        4.0
        7.0
        5.0
      18.0
        2.5
        0.5
        2.0
      15.0
      70.0
        5.0

2016
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0

2017
      13.0
        ‐
    105.0
      40.0
      30.0
        3.0

      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐
      18.0
        2.5

      30.0
        2.0
        2.5
        5.6
        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐
      18.0
        2.5

        2.0
      15.0
      70.0
        5.0
      20.0
      41.5       41.5       41.5       41.5
   139.1    257.7    306.2    488.2    488.2    480.1

        2.0
      15.0
      70.0
        5.0
      20.0
      41.5
   480.1

2018
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

2019
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

2020
      13.0
        ‐
    155.0
      40.0
      30.0

        2.0         ‐
        ‐
        ‐

        ‐
        ‐

        3.0
      18.0
      25.0
        3.0
        ‐
        8.0
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐

        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐

        ‐
      25.0
        3.0
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
        ‐
      14.0
        4.0
        ‐
        ‐

        2.5         2.5
        2.0         2.0         2.0
      15.0       15.0       15.0
        5.0
      20.0
      41.5
   401.0

        5.0
      20.0       20.0
      41.5       41.5
   370.0    316.5

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk
pembangkit PLN di Jawa Bali dan di luar Jawa Bali.
Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, pasokan gas ke pembangkit
PLN pada umumnya akan menurun atau berkurang. Selain itu pengembangan
infrastruktur penyaluran gas dari sumur-sumur baru ke pembangkit PLN sangat
terbatas. Di lain pihak pembangkit PLN, khususnya PLTGU yang berada di
pusat beban, harus tetap dijalankan (must-run) karena peranannya tidak dapat
44

RUPTL 2011- 2020

digantikan oleh pembangkit di tempat lain. Selama ini pembangkit must run
tersebut terpaksa dioperasikan dengan BBM karena kekurangan pasokan gas.
Situasi tersebut mengharuskan PLN untuk memperoleh pasokan gas dalam
bentuk LNG walaupun pada harga yang relatif tinggi untuk digunakan pada
pembangkit tersebut. Pada saat ini telah direncanakan LNG floating storage &
regasification unit (FSRU) di 3 lokasi, yaitu Belawan untuk memasok PLTGU
Belawan32, Jakarta untuk memasok PLTGU Muara Karang dan Priok, serta
Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk memasok kebutuhan gas di pulau Jawa
secara umum33. Pasokan LNG ke FSRU tersebut akan berasal dari Bontang,
Tangguh atau impor.
PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dimanapun tersedia, karena
tersedianya gas dapat dengan cepat dan mudah diubah menjadi listrik34 untuk
memenuhi kebutuhan listrik setempat, terutama di daerah yang telah lama
menderita kekurangan listrik. PLN akan membeli gas pada semua volume,
termasuk gas dari sumber-sumber yang sangat kecil, gas flare dan gas
marginal.
Selain itu apabila dalam suatu sistem kelistrikan telah tersedia pembangkit
baseload yang cukup, PLN bermaksud untuk sedapat mungkin menyimpan gas
lapangan (gas pipa) dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan
memakainya untuk pembangkit peaking. Dengan cara ini PLN dapat
meningkatkan nilai dari gas karena menggantikan BBM pada pembangkit
peaking.
Dalam hal PLN memperoleh alokasi gas dalam bentuk LNG, seperti dari
Bontang, Donggi-Senoro, Tangguh atau Sengkang, PLN bermaksud akan
mendistribusikannya ke sejumlah pembangkit peaking tersebar dengan
teknologi mini-LNG. Hal ini telah diprogramkan oleh PLN untuk wilayah operasi
Indonesia Timur.
Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah
tidak tersedianya pipa transmisi gas alam ataupun fasilitas pendukung dari
sumber-sumbernya ke pusat pembangkit. PLN menyambut baik rencana

32

Pemerintah telah mengkaji opsi FSRU Belawan digantikan dengan memanfaatkan fasilitas
LNG plant di Arun.
33

Dikaitkan dengan rencana pembangunan pipa gas “Trans Jawa” di sepanjang pulau Jawa.

34

Membangun pembangkit berbahan bakar gas dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

RUPTL 2011- 2020

45

pembangunan pipa gas Trans-Jawa oleh Pertagas karena hal itu akan
mengintegrasikan sumber-sumber gas di Jawa dan sangat membantu
fleksibilitas operasi pasokan gas ke pusat-pusat pembangkit PLN di pulau
Jawa.
Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan
untuk memikul beban medium (mid-merit). Namun pada beberapa kontrak
pasokan gas terdapat ketentuan pemakaian gas yang membuat pembangkit
gas dioperasikan untuk mengisi beban dasar. Kesulitan dalam memperoleh
pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan
batubara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga
beberapa PLTU batubara di masa depan juga berperan sebagai pemikul beban
menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-60%).
PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit
beban puncak dengan beralih ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan
dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1 LNG dan Mini-LNG
PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan
pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan
Sumatera. Sedangkan di Indonesia Timur dan Barat PLN merencanakan
pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak. Mengingat harga gas
dari mini-LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya dipakai untuk pembangkit
peaking, bukan untuk pembangkit beban dasar.
Beberapa daerah di Indonesia Barat yang direncanakan memanfaatkan LNG:

46

Belawan: PLN mengambil LNG sebanyak yang diperlukan untuk
pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run, dan PLN tidak
memakai LNG untuk pembangkit baseload karena pertimbangan
keekonoman. LNG dari BP Tangguh akan dipakai sebagai berikut:
PLTGU Belawan dgn CF <50% memerlukan LNG 60 bbtud dan PLTG
peaker (400+50+90 MW) memerlukan LNG 25 bbtud. Apabila terdapat
keterlambatan proyek PLTU batubara seperti PLTU Pangkalan Susu,
maka Belawan dapat memakai LNG lebih banyak, yaitu hingga total 140
mmscfd.

Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari
lapangan Jabung dengan jangka waktu sampai dengan 7 tahun. PLN
RUPTL 2011- 2020

menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk
memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel
sebesar 500 MW pada tahun 2014. Sementara fasilitas LNG belum
terbangun, gas akan dialirkan ke PLTGU Muara Tawar dengan metode
swap.
Pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah:

Senoro, Bontang, Sengkang, Salawati, Simenggaris: PLN akan
mengambil gas dari sumber tersebut dalam bentuk LNG untuk
digunakan di pembangkit peaking 50 MW di Bontang, 50 MW di
Balikpapan, 50 MW di Samarinda, 150 MW di Sulawesi Selatan, 25 MW
di Minahasa dan 60 MW di Lombok, sepanjang layak secara
keekonomian.

Pemanfaatan LNG untuk sistem Jawa Bali mempertimbangkan harga LNG
yang relatif tinggi, sehingga LNG hanya dipakai untuk pembangkit beban
puncak dan pembangkit must-run. Pembangkit must-run dimaksud adalah
PLTGU/PLTG Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang peranannya belum
dapat digantikan oleh pembangkit yang lain. PLTGU Muara Karang dan Priok
dijalankan untuk menghabiskan pasokan gas pipa yang ada, dan
kekurangannya dipenuhi dengan LNG. Sedangkan kebutuhan gas/LNG untuk
Muara Tawar dihitung berdasar peran pembangkit ini di sistem, yaitu
dioperasikan sebagai peaker untuk mendukung tegangan sistem 500 kV di
subsistem Jakarta. Namun karena perioda beban puncak Jakarta sangat
panjang, yaitu dari jam 9 pagi sampai dengan jam 10 malam, maka kebutuhan
gasnya cukup besar dan diharapkan dapat dipenuhi dengan LNG.

4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)
Teknologi CNG untuk memenuhi kebutuhan gas suatu pembangkit merupakan
teknologi yang relatif baru dan untuk itu perlu dikaji kelayakan baik teknis dan
ekonomis terlebih dahulu. Namun PLN telah memetakan potensi pemanfaatan
CNG untuk Indonesia Barat dan Timur. CNG akan diarahkan untuk
memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif kecil maupun
sumur gas marginal. Saat ini sudah disepakati pembangunan CNG storage oleh
pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan dimanfaatkan untuk
PLTG Peaking Jaka Baring (40 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada
akhir tahun 2012.

RUPTL 2011- 2020

47

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Barat adalah:

CNG Sungai Gelam dengan kapasitas sebesar 4,5
digunakan untuk pembangkit peaking.

bbtud akan

Gas Jambi Merang sebesar 85 bbtud akan dialokasikan untuk
pembangkit PLTGU Duri (IPP) 2x45 MW, PLTG Payoselincah 100 MW,
PLTG sewa 20 MW di Rengat dan pembangkit di Duri dengan kapasitas
sekitar 160 MW.

Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah PLTG Bangkanai,
Kalimantan Tengah.

4.2.3 Coal Bed Methane (CBM)
PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional, yaitu CBM (coal
bed methane). Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas
konvensional, terutama di South Sumatera Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin.
PLN pada saat ini tengah melakukan studi bersama Exxon-Mobil mengenai
pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia.
Disamping itu, saat ini sedang dilakukan proses negosiasi dengan VICO untuk
rencana pasokan gas dari lapangan CBM di Kalimantan Selatan.
4.3 PANAS BUMI
Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas
bumi di Indonesia yang menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya
adalah laporan studi oleh WestJEC pada tahun 2007 Master Plan Study for
Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan
tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah
9.000 MW, tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal 12.000 MW.
Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek
PLTP, terutama di Sumatera, Jawa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa
Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah kepada PLN untuk
mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi
terbarukan sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM
No. 15/201035 saja terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP untuk beroperasi

35

Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track

program phase 2 (FTP2).
48

RUPTL 2011- 2020

pada tahun 2014. Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan
seperti yang diharapkan karena berbagai masalah. PLN berharap masalahmasalah yang menghambat pengembangan panas bumi tersebut dapat segera
diatasi.

4.4 TENAGA AIR
Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS)
pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro
power inventory study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan
Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun
2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut36 adalah
26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek
yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru
(16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air
diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak
begitu sulit hingga sangat sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini
merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

NAMA
Peusangan 1‐2
Jambo Papeun‐3
Kluet‐1
Meulaboh‐5
Peusangan‐4
Kluet‐3
Sibubung‐1
Seunangan‐3
Teunom‐1
Woyla‐2
Ramasan‐1
Teripa‐4
Teunom‐3
Tampur‐1
Teunom‐2
Padang Guci‐2
Warsamson
Jatigede
Upper Cisokan‐PS
Matenggeng
Merangin‐2
Merangin‐5
Maung
Kalikonto‐2
Karangkates Ext.
Grindulu‐PS‐3
K. Konto‐PS

TIPE PROVINSI
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
RES
RES
RES
ROR
RES
RES
PST
PST
ROR
RES
RES
RES
PST
PST

Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Aceh
Bengkulu
Irian Jaya
Jabar
Jabar
Jabar
Jambi
Jambi
Jateng
Jatim
Jatim
Jatim
Jatim

KAP. 
(MW)
86
25
41
43
31
24
32
31
24
242
119
185
102
330
230
21
49
175
1000
887
350
24
360
62
100
1000
1000

COD
2015
2019
2019
2019
2019
2021
2021
2021
2023
2024
2024
2024
2024
2025
2026
2020
2019
2014
2015
2020
2016
2024
2028
2016
2018
2021
2027

PLN/
   NO
NAMA
IPP
PLN
28 Pinoh
PLN
29 Kelai‐2
PLN
30 Besai‐2
PLN
31 Semung‐3
PLN
32 Isal‐2
PLN
33 Tina
PLN
34 Tala
PLN
35 Wai Rantjang
PLN
36 Bakaru (2nd)
PLN
37 Poko
PLN
38 Masuni
PLN
39 Mong
PLN
40 Batu
PLN
41 Poso‐2
PLN
42 Poso‐1
PLN
43 Lariang‐6
PLN
44 Konaweha‐3
PLN
45 Lasolo‐4
PLN
46 Watunohu‐1
PLN
47 Tamboli
PLN
48 Sawangan
PLN
49 Poigar‐3
PLN
50 Masang‐2
PLN
51 Sinamar‐2
PLN
52 Sinamar‐1
PLN
53 Anai‐1
PLN

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
RES
ROR
ROR
RES
RES
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR

Kalbar
Kaltim
Lampung
Lampung
Maluku
Maluku
Maluku
NTT
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sulteng
Sultra
Sultra
Sulut
Sulut
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

KAP. 
(MW)
198
168
44
21
60
12
54
11
126
233
400
256
271
133
204
209
24
100
57
26
16
14
40
26
37
19

COD
2020
2020
2020
2020
2019
2020
2021
2020
2016
2020
2023
2024
2027
2011
2011
2024
2026
2026
2020
2020
2014
2018
2020
2020
2020

PLN/
   NO
NAMA
IPP
PLN
54 Batang Hari‐4
PLN
55 Kuantan‐2
PLN
56 Endikat‐2
PLN
57 Asahan 3
PLN
58 Asahan 4‐5
PLN
59 Simanggo‐2
PLN
60 Kumbih‐3
PLN
61 Sibundong‐4
PLN
62 Bila‐2
PLN
63 Raisan‐1
PLN
64 Toru‐2 (Tapanuli Utara)
PLN
65 Ordi‐5
PLN
66 Ordi‐3
PLN
67 Siria
PLN
68 Lake Toba
PLN
69 Toru‐3 (Tapanuli Utara)
PLN
70 Lawe Mamas
PLN
71 Simpang Aur
PLN
72 Rajamandala
PLN
73 Cibareno‐1
PLN
74 Mala‐2
PLN
75 Malea
PLN
76 Bonto Batu
PLN
77 Karama‐1
PLN
78 Gumanti‐1
PLN
79 Wampu

TIPE PROVINSI
RES
RES
ROR
ROR
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
PST
RES
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
ROR
RES
ROR
ROR

Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Aceh
Bengkulu
Jabar
Jabar
Maluku
Sulsel
Sulsel
Sulsel
Sumbar
Sumut

KAP. 
(MW)
216
272
22
174
60
59
42
32
42
26
34
27
18
17
400
228
50
29
58
18
30
182
100
800
16
84

COD
2027
2028
2019
2015
2017
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2020
2020
2020
2026
2016
2014
2014
2020
2020
2017
2017
2022
2020
2016

PLN/
IPP
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
PLN
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP
IPP

36

Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), sosial
(resettlement), luas reservoir.

RUPTL 2011- 2020

49

COD yang dimaksud pada tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan
namun dapat diubah sesuai kebutuhan.
PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air
tersebut sebagai proyek PLN.

4.5 ENERGI BARU DAN TERBARUKAN LAINNYA
Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi
matahari dan energi kelautan. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi
terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan

No

Energi Baru dan
Terbarukan

Sumber Daya

Kapasitas Terpasang

Rasio
(%)

1

2

3

4 = 3/2

1

Mini/Mikrohidro

2

Biomass

500 MWe

86,1 MWe

17,22

49.810 Mwe

445,0 MWe

0,89

2

3

Tenaga Surya

4,80 kWh/m /hari

12,1 MWe

-

4

Tenaga Angin

9.290 MWe

1,1 MWe

0,01

5

Kelautan

240 GWe

1,1 MWe

0,01

Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6 NUKLIR
Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini
terjadi karena dalam proses optimisasi pemilihan kandidat pembangkit, ternyata
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersaing dengan jenis
pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra
supercritical.
Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya
kapital dan biaya O&M yang terkait dengan spent fuel disposal, dan biaya
decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi bersama antara
PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya
pembangunan PLTN sebesar $ 1.700/kW (EPC saja) atau $ 2.300/kW (setelah
memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut
kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2009),

50

RUPTL 2011- 2020

biaya pengelolaan spent fuel dan biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas. namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik. Apalagi dengan terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 yang sangat buruk dimana ribuan penduduk yang semula bermukim di dekat PLTN tersebut harus diungsikan ke daerah yang aman. Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi keekonomian PLTN mengingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan uranium dalam jumlah sedikit.500 hingga US$ 5. program pembangunan PLTN hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah. namun tetap saja kenaikan harga uranium dunia ini perlu terus dipantau.biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 3.2020 51 . telah membuat PLTN menjadi salah satu opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC. Dengan adanya berbagai aspek yang multi dimensional tersebut. budaya dan lingkungan. dan semakin nyatanya ancaman emisi karbon terhadap perubahan iklim global. Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan keekonomian dan keenergian. Harga uranium yang pada tahun 2006 adalah sekitar US$ 30/lb.500 /kW. penerimaan sosial. Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga energi primer lainnya seperti batubara dan gas alam. RUPTL 2011. telah menyebabkan eskalasi penentangan terhadap pengembangan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. keselamatan. saat ini telah mencapai US$ 130/lb. Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan program tenaga nuklir pada banyak negara di dunia.

1. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih kecil dari 0.1 Sistem Interkoneksi Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode perencanaan. Apabila dinyatakan dengan daya terpasang. biaya bahan bakar. 52 RUPTL 2011. Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve margin tertentu yang nilainya tergantung pada tingkat ketersediaan (availability) setiap unit pembangkit.1.274%. Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat ditetapkan sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih 37 Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF (equivalent availability factor) yang berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi. dan memenuhi kriteria keandalan tertentu.274% adalah setara dengan reserve margin > 25-30% dengan basis daya mampu netto.1 Perencanaan Pembangkit 5. maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%38.BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 5. Simulasi dan optimisasi dilakukan dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning). kriteria LOLP < 0. Pada sistem Jawa Bali.1 KRITERIA PERENCANAAN 5. 38 Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.1.274%. biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya energy not served. dan jenis unit37. Konfigurasi termurah diperoleh melalui proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya kapital.2020 . jumlah unit. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. ukuran unit. Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP) lebih kecil dari 0.

2020 53 .sedikit. simulasi produksi dilakukan dengan menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasinya diperkirakan tidak pasti. dan proyek IPP yang telah mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA). perencanaan dibuat dengan kriteria N-2. direncanakan akan dihapuskan (retired) atau dibuat sebagai pembangkit stand by yang tidak dioperasikan tetapi tetap dipelihara (mothballed). dan pembangkit sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air non-reservoir). 39 Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi pendanaannya.1. dalam proses optimisasi diperlakukan sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan proyek tersebut. Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar diutamakan berupa pembangkit berbahan bakar batubara.1.2 Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum interkoneksi (isolated) tidak menggunakan metoda probabilistik maupun optimisasi keekonomian. Definisi cadangan disini adalah selisih antara daya mampu total pembangkit yang ada dan beban puncak. yaitu cadangan minimum harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua. Pada metoda ini. 5. Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan memperhitungkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan yang telah committed39. derating yang prosentasenya lebih besar. dan tidak memperhitungkan semua pembangkit sewa serta excess power. RUPTL 2011. Selain itu beberapa pembangkit berbahanbakar minyak yang sudah tua. baik proyek PLN maupun IPP. tidak efisien dan dapat digantikan perannya dengan PLTU batubara. Pembangkit energi terbarukan. dan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding Jawa Bali. namun menggunakan metoda determinisitik. khususnya panasbumi dan tenaga air. Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang.

Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan apabila terjadi gangguan hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka tidak menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator dan kelompok generator lainnya. baik statis maupun dinamis.1. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut. RUPTL ini mencantumkan biaya investasi (capex) yang diperlukan untuk itu. efisiensi. sehingga kontinuitas penyaluran tenaga listrik terjaga. maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu menyalurkan keseluruhan arus beban. baik karena mengalami gangguan maupun dalam pemeliharaan.1. Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas pembangkitan dan kebutuhan beban.3 Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Existing Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis selama umur tekno-ekonomisnya (life-time). 54 RUPTL 2011. kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Kemudian. meningkatkan keandalan sistem. Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan trafo mencapai 70%-80%. pada akhir umurnya sebuah pembangkit masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan melakukan rehabilitasi/refurbishment pada komponen-komponen tertentu.1. menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus dipelihara dan dilakukan penggantian parts yang aus.2 Perencanaan Transmisi Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1. Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit transmisi padam. disamping untuk mengatasi bottleneck. 5. Sebuah unit pembangkit dapat menjalani mid-life refurbishment untuk mempertahankan kapasitas. Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu pembangkit memerlukan kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life extension dan membangun pembangkit baru. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo.5.2020 . dan memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu. Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan lahan.

peralatan proteksi & kontrol. RUPTL 2011. • Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem kelistrikan secara menyeluruh dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan biaya pokok penyediaan.3 Perencanaan Distribusi Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: • Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (JTM dan JTR) untuk menjaga agar tegangan pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987. • Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal. Penerapan GI minimalis hanya dilakukan pada daerah yang sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting.Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang baik di ujung jaringan tegangan menengah.2020 55 . • Konfigurasi JTM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang lebih andal seperti spindle. tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi atau T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang lengkap/sempurna. Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan kontinuitas pasokan kepada pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan upaya: • Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain yang minimal dipasok oleh 2 Gardu Induk dan 15 feeder. Tujuan pembangunan GI minimalis ini adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat dari timing normal kebutuhan GI. 5. Pada RUPTL 2011-2020 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis. pada sistem yang selama ini masih dioperasikan dengan PLTD. supply AC/DC & battery dikemas dalam kontainer. yaitu sebuah GI dengan spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau bahkan tanpa busbar. sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2 sumber. GI minimalis juga dapat diterapkan untuk memasok lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang dan mengalami drop tegangan yang besar.1.

dan susut teknis wajar. – Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/JTM. – Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu antara lain: – Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR). jaringan tegangan rendah/JTR. automatic voltage regulator/AVR dsb).2020 . Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana pendistribusian tenaga listrik yang cukup. – Distribusi beban (tersebar merata. 56 RUPTL 2011. efisien. dikoordinasikan dengan reclosing relay penyulang di GI. Penyambungan pembangkit tersebut harus memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code). – Luas area yang dilayani. terkonsentrasi. Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua kegiatan. Memonitor pengoperasian recloser atau AVS. andal. dan kualitas – Menurunkan susut teknis jaringan – Rehabilitasi jaringan tua. yaitu penyambungan pelanggan dan perkuatan distribusi dengan perincian sebagai berikut: – Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik – Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability) pelayanan tenaga listrik pada pelanggan (power quality). maka pembangkit energi terbarukan sampai dengan 10 MW dapat tersambung langsung ke jaringan distribusi. • Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada daerah yang sangat padat beban dan potensi pendapatan tinggi. Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti dimaksud dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009. gardu distribusi/GD. dan menyempurnakan metode pemeliharaan-periodiknya.• Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM. berkualitas. – Jatuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan. – Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan. dsb).

PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Umum wajib menyediakan tenaga listrik secara terusmenerus. Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik saat ini maupun di masa yang akan datang agar PLN dapat memenuhi kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut. khususnya pada daerah-daerah yang telah menjadi wilayah usaha PLN. Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat. Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik PLN adalah pengalihan dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri RUPTL 2011. Hal ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia. lemari es dan lainnya. disamping input-input barang dan jasa lainnya. sehingga rasio elektrifikasi akan mencapai 94% pada tahun 2020.6 juta per tahun. dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang baik.5. Proses tersebut memerlukan tenaga listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya. program elektrifikasi dan pengalihan captive power ke jaringan PLN. Sebagai upaya PLN untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam wilayah usahanya. yaitu rata-rata 2. Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan barang-barang / peralatan listrik seperti radio. Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses meningkatkan output barang dan jasa. PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang besar.2 ASUMSI DALAM PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. TV. Faktor kedua adalah program elektrifikasi.2020 57 . Penambahan pelanggan baru tersebut tidak hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga mencakup mereka yang berada di luar wilayah usaha. yaitu pertumbuhan ekonomi. AC. Sebagai langkah awal PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga 10 tahun ke depan.

daya tersambung.18% per tahun. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar. 58 RUPTL 2011.berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN. 5. Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan listrik ke depan dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar (korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik. Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / bisnis. jadi tidak berlaku umum. yaitu pertumbuhan ekonomi dan populasi. atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 5. Penyambungan pelanggan baru tergantung dari ketersediaan pendanaan. jumlah pelanggan. maka captive power ini dengan berbagai pertimbangannya akan beralih menjadi pelanggan PLN.1.2020 . pertumbuhan ekonomi.5% – 6. maka digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. dan uji statistik. dan populasi untuk membentuk persamaan yang fit. Bilamana kemampuan PLN untuk melayani di daerah tersebut telah meningkat. Faktor ketiga ini sangat bergantung kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem kelistrikan dan skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power.1 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang dinyatakan dalam produk domestik bruto (PDB) dengan harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata 5. Aplikasi ini dilengkapi juga dengan fasilitas melihat tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti parameter tingkat korelasi. terutama pelanggan industri dan bisnis.2. Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah model prakiraan beban yang disebut “Simple-E”.32% seperti diperlihatkan pada Tabel 5. sementara harga jual listrik PLN relatif lebih murah. Faktor lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka melayani kebutuhan pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang cukup dan andal. Captive power ini timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan di suatu daerah. Model ini merupakan metode regresi yang menggunakan data historis dari penjualan energi listrik.

3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk Jawa-Bali.85 1. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia PDB 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 PDB (Triliun Rp) 1. Perekonomian Indonesia kembali pulih pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6. Memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi tersebut diatas.32 6. Pada Tabel 5.66 1.2 6.08 2.7 6. RUPTL 2011.08 Sumber: Statistik Indonesia. Tabel 5. BPS Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4.50 6.7 8.2 8.39 1.2020 59 .2. Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga tahun 2020 PLN menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh Bappenas dan Badan Pusat Statistik dalam buku ”Proyeksi Penduduk Indonesia 20002025” [1] edisi tahun 2008.1 disebabkan oleh imbas krisis financial global yang terjadi pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009.3 7.9% per tahun.50 1.22 Growth PDB (%) 4.78 5.1 6. luar Jawa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.7 6.06 4.9 6.2 8.5%) sebagaimana terlihat pada tabel 5.9 6.2 8.4 6.9 6.9 6.05 5.1%.4 juta KK berdasar sensus penduduk tahun 2010.6 juta orang dan jumlah rumah tangga 61.2 8. maka RUPTL ini mengadopsi asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang digunakan dalam RPJMN 2011-2014 dan Draft RUKN 2010 – 2029 untuk periode diatas 2014 sebesar 6.5 7.2 7.17 2.3 7.Tabel 5.2 6. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Wilayah 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Indonesia 6.7 6.2 Pertumbuhan Penduduk Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237.0 7.90 3.5 8.9 6.2 8.57 1. Pemerintah memandang pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2011-2014.2.9 Jawa Bali 6.7 Luar Jawa Bali 7.2 5.7 6.96 2.67 5.44 1.7 6.31 4.75 1. selanjutnya oleh PLN angka tersebut dijabarkan menjadi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.50 6.83 4.8 8.

6 44.4 47.768 2019 6. 4 Pertumbuhan Ekonomi.78 1.792 2012 6. Tabel 5.8 30.84 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan Beban Puncak Periode 2010 – 2020 60 Tahun Pertumbuhan Sales Jumlah Beban Puncak (non-coincident) MW 25.81 1.856 2014 7.2.53 2013 1.6 38.361 2016 6.053 MW atau tumbuh ratarata sebesar 8.22 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025” [1] 5.2 162.87 1.7 51.496 2018 6.09 0.301 2020 6.1 35.5 177.67 1.9 227.31 2019 0.Bali Luar Jawa Bali 2011 1.Tabel 5.18 0.2020 Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun 2020 akan menjadi 328. kebutuhan tenaga listrik selanjutnya diproyeksikan dan hasilnya diberikan pada Tabel 5.345 2013 7.444 2017 6.4 27.42 2016 1.14% per tahun.88 0. Sedangkan beban puncak non coincident pada tahun 2020 akan menjadi 55.177 TWh 2010 Ekonomi % 6.9 305. atau tumbuh rata-rata 8.00 0.63 1.90 1.26 2020 0.5% per tahun.3 PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK 2011 .9 284.9 328.39 2017 1. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) Tahun Indonesia Jawa .15 0.3 55.053 RUPTL 2011.3 TWh.06 0.2020 .12 0.35 2018 0.56 2012 1.9 246.75 1.456 2015 6.2 193.96 0.46 2015 1.2 41.9 264.92 0.7 2011 6.4 32.4 210.71 1.1 145.5.92 1.49 2014 1.03 0.

5. pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi diperlihatkan pada Tabel 5.7 2016 255.3 2019 262.4% pada tahun 2020.0 61.0 94.5 56.2020 61 . rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015 diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN (0.8 juta dan akan bertambah menjadi 69. RUPTL 2011.4 87.4 2013 246. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk.9 48.9 2018 260.0 45. Juta Juta % 2011 241.8 85. Pertumbuhan Pelanggan dan Rasio Elektrifikasi Periode 2011 – 2020 Tahun Penduduk Pelanggan Rasio Elek.5.7 2020 264. Proyeksi jumlah penduduk.3 58.9% pada tahun 2011 menjadi 94.9 2015 252.2 92.7 64.7 53.7 92.4 79. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi dari 71.7 juta per tahun.8 71.2 74. Tabel 5.1 2014 249.Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2011 adalah sebesar 45.4 Rasio Elek RUKN % 83.0 juta pada tahun 2020 atau bertambah rata-rata 2.2 Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam RUKN tahun 2008-2027.9 2012 243.1 90.9 69.9 50.6 66.8 77.5 2017 258.3%) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.1 82.

Indonesia Barat 2.7 TWh atau tumbuh rata-rata 10.0 177.5 72.7 79.6 8.5 88.0 90. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik.5 22.4 16.0 10.3 74.6 Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 2011–2020 ditunjukkan pada Tabel 5.8 15.Indonesia Barat 3.5 74.2 13.4 211.Jawa-Bali .9 81.Rasio Elektrifikasi .4 39.2% per tahun.1 7.6 76.0 % 71.Indonesia .4 67.Indonesia Barat 2011 2012 2014 2016 2018 2020 TWh 162.5 85.1 81.Jawa-Bali .8% 125 TWh 241 TWh JB : 7.0 8.5 18.8 135.3 TWh pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 10.9 72.9 246.1 26.4 6.Energy Demand .8 65.3 241.2 TWh pada tahun 2011 menjadi 241.7 81.4 91.4 75. atau tumbuh rata-rata 7.6 328.2 TWh pada tahun 2020.1 158.1 9.6 10.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 62 RUPTL 2011.5 10.Jawa-Bali .5 8.8% Gambar 5.5 9.8% per tahun.2 31.9 9.1.1 76.5 7.0 9.0 TWh pada tahun 2011 menjadi 55.Indonesia Timur .8 7.2020 .4 97.Indonesia . Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi Unit 1.4 8.2 7.8 9.Pertumbuhan .2 94.7 85.Tabel 5.3 88.4 14. 24 TWh 55 TWh 2011 2020 IB : 10.8% per tahun. Pada periode 2011-2020 kebutuhan listrik sistem Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 125.1 26.3 284.1 12.1 TWh menjadi 31. Untuk Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari 13.8 86.1 24.2 9.6 dan Gambar 5.Indonesia . Wilayah Indonesia Barat tumbuh dari 24.7 55.2 8.4 125.7 32.3 % 11.6 46.3 93.2% 31 13 TWh TWh IT : 10.4 15.9 210.2 184.Indonesia Timur .Indonesia Timur .

0  300.000 150. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi pelanggan industri adalah cukup kecil.000 350.000 Publik Bisnis 50. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem Jawa Bali kelompok pelanggan industri mempunyai porsi yang sangat besar.0  400.000 40.000 Industri 150.000 250.000 Industri Publik Bisnis 30.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020 Proyeksi penjualan pada RUPTL 2011-2020 sedikit lebih tinggi daripada draft RUKN 20102029.0  ‐ 2010 2011 2012 2013 RUPTL 2014 2015 RUKN 08‐27 2016 2017 2018 2019 2020 RUKN 10‐29 Gambar 5.0  200.3.000 Residensial 0 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 60.000 Industri 100.000 Indonesia Timur 25. yaitu 40% dari total penjualan. 450.Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada Gambar 5.000 30. 300.000 10.000 200.0  350.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN RUPTL 2011.000 200. namun lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.0  50.000 Residensial 50. yaitu 59% untuk Indonesia Timur dan 60% untuk Indonesia Barat. Pelanggan residensial masih mendominasi penjualan hingga tahun 2020.0  250.000 Publik Bisnis 100.000 20.0  150.000 50.000 300.000 Indonesia Jawa‐Bali 250.000 35.000 Indonesia Barat 20.2020 63 .0  100. yaitu masing-masing hanya 10% dan 17%.000 0 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 5.000 Residensial 5.000 Residensial 10.000 Industri Publik Bisnis 15.2.

Selain itu terdapat beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110 MW.1.5.000 MW. 300 MW dan 400 MW.4.000 MW per unit didasarkan pada pertimbangan efisiensi41 dan kesesuaian dengan ukuran sistem tenaga listrik Jawa-Bali yang beban puncaknya sudah akan melampaui 25. 50 MW dan 100 MW dengan PLTG pemikul beban puncak 25-30 MW dan 50 MW.000 MW juga disertakan sebagai kandidat dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan.7. Untuk sistem Kalimantan dan Sulawesi. Untuk sistem Sumatera misalnya. 64 RUPTL 2011.000 MW dan supercritical 600 MW. kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk rencana pengembangan adalah PLTU batubara ultra supercritical kelas 1. 40 41 Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai efisiensi jauh lebih tinggi daripada teknologi subcritical.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit 5. 5.1.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit di Indonesia Barat dan Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas sistem. kandidat PLTU batubara adalah 25 MW.4. Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih kecil. kandidat PLTU batubara adalah 100 MW. Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5.4. PLTG pemikul beban puncak 100 MW. 200 MW. PLTG BBM pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW40. serta PLTA. PLTN jenis pressurised water reactor kelas 1.2 Sistem Jawa-Bali Pada sistem Jawa-Bali. PLTGU LNG/gas alam 750 MW.4 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT 5.2020 . Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem Jawa-Bali sebesar 1.

070 kcal/l MFO *) USD 0.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan Presiden No.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia.200 kcal/kg Gas alam USD 6/MMBTU 252.370 kcal/l Uap Panas Bumi Uranium (tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan karena diperlakukan sebagai fixed plant) USD 120/lb *) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel 5.000 kcal/Mscf HSD *) USD 0.100 kcal/kg Batubara – Lignite USD 50/Ton 4. Berdasar penugasan tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan (Perpres No.Tabel 5.000 MW”. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar Jenis Energi Primer Harga Nilai Kalor Batubara – Sub Bituminous USD 80/Ton 5. RUPTL 2011. 71/2006 jo Perpres No.000 kcal/Mscf LNG USD 10/MMBTU 252.59/2009) bakar Batubara Dengan Peraturan Presiden No.8.78/Liter 9.2020 65 . Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak kurang lebih 10.200 kcal/kg Batubara – Lignite di Mulut Tambang USD 35/Ton 4.4. 59 tahun 2009.62/Liter 9. Program ini dikenal sebagai “Proyek Percepatan Pembangkit 10.

sedangkan pembangkit lain yang semula dijadwalkan selesai 66 RUPTL 2011.71/2006 jo Perpres No.Tabel 5.59/2009) Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi PLTU 2 di Banten (Labuan) 2x315 2009-2010 3x330 2011 1x625 2011 3x315 2011-2012 3x350 2012-2013 2x315 2011 1x600 2014 2x315 2012 1x660 2012 2x300 2013 PLTU di NAD (Meulaboh) 2x110 2012 PLTU 2 di Sumut (Pangkalan Susu) 2x220 2012 PLTU 1 di Riau (Bengkalis) 2x10 2012 PLTU Tenayan di Riau 2x110 PLTU di Kepri (Tanjung Balai) PLTU di Jabar Utara (Indramayu) PLTU 1 di Banten (Suralaya Unit 8) PLTU 3 di Banten (Lontar) PLTU di Jabar Selatan (Pelabuhan Ratu) PLTU 1 di Jateng (Rembang) PLTU 2 di Jateng (PLTU Adipala) PLTU 1 di Jatim (Pacitan) PLTU 2 di Jatim (Paiton Unit 9) PLTU 3 di Jatim (Tanjung Awar-awar) PLTU 4 di Babel (Belitung) PLTU 3 di Babel (Air Anyer) PLTU 2 di Riau (Selat Panjang) PLTU 2 di Kalbar (Pantai Kura-Kura) PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) Kapasitas (MW) Tahun Operasi 2x112 2012-2013 2x100 2012 2x50 2012 2x100 2013-2014 2x60 2012-2013 2x65 2011 2x25 2011 2x25 2012-2013 2x7 2012 2x10 2012 2x7 Batal 2x15 2012-2013 PLTU di Sultra (Kendari) 2x10 2011-2012 2014 PLTU di Sulsel (Barru) 2x50 2012 2x7 2011 PLTU 2 di NTB (Lombok) 2x25 2012 2x16.000 MW (Peraturan Presiden No.2020 .5 2012 PLTU 1 di NTT (Ende) 2x7 2012 2x30 2010-2011 PLTU 2 di NTT (Kupang) 2x15 2012 2x5 Batal PLTU 1 di NTB (Bima) 2x10 2012 2x27.5 2012-2013 PLTU 1 Sulut 2x25 2014 2x112 2012-2013 PLTU 2 di Kalteng 2x7 Batal Nama Pembangkit PLTU di Sumbar (Teluk Sirih) PLTU di Lampung (Tarahan Baru) PLTU 1 di Kalbar (Parit Baru) PLTU di Kaltim (Kariangau) PLTU 1 di Kalteng (Pulang Pisau) PLTU di Kalsel (Asam-Asam) PLTU 2 di Sulut (Amurang) PLTU di Gorontalo PLTU di Maluku Utara (Tidore) PLTU 2 di Papua (Jayapura) PLTU 1 di Papua (Timika) PLTU di Maluku (Ambon) Sampai dengan Desember 2010 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah selesai dan beroperasi komersial adalah hanya PLTU Labuan Unit 1 dan unit 2 (2x300 MW). 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.

4. PLTU Masohi.967 MW.dalam tahun 2010 ternyata mundur ke tahun 2011 sebesar 4. 02/2010 jo No. dan selanjutnya pada 2014 akan beroperasi PLTU Adipala (660 MW).522 MW. Dalam perjalanannya proyek-proyek yang termasuk dalam program tersebut banyak mengalami keterlambatan dan beberapa telah diusulkan kepada Kementerian ESDM untuk dibatalkan karena masalah-masalah seperti kekurangan pasokan gas dan ketidaksiapan pengembangan panas bumi. PLTU Bali Timur. sedangkan proyek-proyek di luar Jawa Bali akan mengalami keterlambatan lebih dari itu. PLTG 100 MW dan PLTA 1. Proyek-proyek pembangkit PerPres 71 di Jawa Bali mengalami keterlambatan rata-rata 1 tahun. dan Tanjung Awar-awar 1 (350 MW).391 MW. PLTU Moutong. Paiton baru (660 MW). PLTP 3. PLTGU 860 MW.165 MW. Lontar 1-2 (2x315 MW) dan Rembang unit 1-2 (2x315 MW). Pelabuhan Ratu 1-2 (2x350 MW). PLTU Bangka.2020 67 .204 MW. PLTU Tarahan. PLTP Salak. Indramayu Unit 1-2-3 (3x330 MW). 5. PLTP Darajat.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. PLTU Asam-Asam. Sedangkan pada tahun 2013 akan beroperasi PLTU Pelabuhan Ratu 3 (350 MW) dan Tanjung Awar-awar 2 (350 MW). Selain itu juga terdapat proyek yang diusulkan untuk dikeluarkan dari FTP2 karena akan didanai dengan APBN yaitu PLTU Sampit. Proyek-proyek yang diusulkan untuk dibatalkan adalah PLTGU Muara Tawar add-on Blok 3-4. Untuk Indonesia Barat dan Timur proyek pembangkit yang akan mulai beroperasi 2011 adalah PLTU Tanjung Balai Karimun. PLTU Kotabaru. PLTGU Senoro. dengan kapasitas total 9. PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking). PLTU 2 Sulut. RUPTL 2011. Pada tahun 2012 dijadwalkan proyek-proyek sebanyak 1. 15/2010 mencakup PLTU batubara 3. yaitu Suralaya Unit 8 (625 MW). dan PLTU Kendari.365 MW berikut akan beroperasi: Pacitan 1-2 (2x315MW). Keterlambatan tersebut terutama disebabkan oleh financing yang terlambat dan permasalahan konstruksi. PLTU Waingapu. Lontar Unit 3 (315 MW). sedangkan sebagian besar akan beroperasi tahun 2012-2013.

992 Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 Pemilik Satuan PLTA PLTG PLTGB PLTP PLTU Jumlah PLN MW 1.753 MW dengan kapasitas total 9.025 9. PLTP Bonjol dan PLTP Mataloko.753 280 64 4.870 3.2020 .Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang berubah status dan jadwal yaitu PLTGU Bangkanai (IPP) menjadi PLTG Bangkanai (PLN). Tabel 5. Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 42 Kebutuhan investasi sekitar US$ 9 milyar jika biaya pengembangan US$ 2.235 Jumlah MW 1.530 1. PLN juga mengusulkan tambahan beberapa proyek pembangkit EBT seperti PLTA dan PLTP yang baru saja memperoleh penetapan WKP oleh Kementerian ESDM berikut transmisi terkaitnya. PLTP Wai Ratai.804 3. beberapa PLTU kecil menjadi PLTGB dan hampir semua PLTP terlambat. Sedangkan proyek PLTP yang diusulkan sebesar 885 MW antara lain PLTP Gunung Endut. PLTA Hasang dan PLTA Peusangan-4. PLTP Sipoholon Ria-Ria. PLTP Simbolon Samosir.500/kW. PLTA Malea. PLTA Semangka. Proyek PLTA yang diusulkan sebesar 516 MW antara lain PLTA Rajamandala.247 MW hingga tahun 2020.870 MW.235 MW sebagai proyek IPP.992 MW untuk jangka waktu sampai dengan tahun 2019.992 MW tersebut terdiri atas 3. PLTA Bonto Batu. PLTA Wampu.221 6. PLTP 4. PLTP Suoh Sekincau. Pengembangan panas bumi sebanyak itu selama 10 tahun ke depan merupakan suatu rencana pengembangan yang relatif sangat besar untuk PLTP dengan jumlah investasi yang sangat tinggi42.757 MW sebagai proyek PLN dan 6. PLTG 280 MW. PLTP Gunung Ciremai.269 280 64 340 1. Selain mengusulkan pembatalan beberapa proyek. Pengembangan ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL 2011-2020 ini yang mencapai 6.9 dengan komposisi PLTU batubara 3.025 MW.757 IPP MW 484 0 0 4. PLTGB 64 MW dan PLTA 1.9 akan menjadi 66%. Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 9. Usulan perubahan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 yang telah disampaikan PLN diberikan pada Tabel 5. 68 RUPTL 2011. PLTP Danau Ranau.

PLN telah mengusulkan agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan berdasarkan harga pasar. dan sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2.d.tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN dalam membuat pinjaman baru.510 MW akan dikembangkan oleh IPP dan 800 MW oleh PLN. 6 sebagai proyek KPS. 13/2010.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan PerPres No. 5. Pada saat ini terdapat 7 proyek yang terdapat dalam buku KPS 2011 seperti dalam tabel 5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 No Nama Proyek Kapasitas Provinsi Status Keterangan 1 PLTU Jateng 2x1000 MW Jateng Sudah Tender Sudah PPA 2 PLTU Jambi 2x400 MW Jambi Prioritas Solicited karena ada dalam RUPTL 2010-2019 3 PLTU Sumsel-9 2x600 MW Sumsel Potensial Solicited 4 PLTU Sumsel-10 600 MW Sumsel Potensial Solicited 5 PLTU Kaltim 2x100 MW Kaltim Potensial Solicited 6 PLTU Sulut 2x55 MW Sulut Potensial Solicited 7 PLTA Karama 450 MW Sulbar Prioritas Unsolicited Usulan Pemprov Sulbar PLN mengusulkan proyek nomor 1 s.4. 5. 67/2005 jo PerPres No.2020 69 .4.310 MW PLTU batubara mulut tambang di Sumatera sampai dengan tahun 2020. Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit – pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (interkoneksi). RUPTL 2011. melainkan berdasarkan biaya produksi batubara plus margin. 5. dan harga tersebut berlaku sepanjang umur PPA (locked-in). yang terdiri dari 6. Memperhatikan lokasi PLTU mulut tambang yang berada di dekat sumber batubara yang tidak mempunyai akses untuk mentransportasi batubara keluar dari sumber batubara tersebut dalam volume yang besar.11.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang Dalam RUPTL 2011-2020 terdapat rencana pembangunan 7.10.

404 20 750 75 17 2 294 450 6 1 3. yaitu: (1) Sistem Sumatra. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 24.718 1.164 4.944 4.610 750 75 17 2 294 450 6 1 5.774 24 444 222 4 8 1 4.034 1.015 450 195 135 780 4.440 164 1 6 3 31.570 235 140 41 7 242 20 2. disusul oleh PLTA sebesar 6.992 1.7%.290 480 22 5 362 14 4.132 33 234 8 81 4.521 245 90 45 16 1.9%. Untuk energi terbarukan.5 GW atau 43.971 55 116 1.036 752 2.463 425 1.887 194 123 1.829 1.719 855 44 70 2 3.4.102 924 150 16 10 6 1.3 GW atau 5.505 102 60 180 102 204 8 32 688 1.780 898 20 480 22 5 279 14 1.270 83 2.6 GW atau 63.289 1.4 GW atau 56.782 2.030 33 30 49 4.008 1.372 2.112 63 743 405 1 17 20 12 0 5.495 460 206 378 837 79 23.283 1.274 4. yaitu mencapai 35.357 1.522 220 750 630 18 2 950 10 4.172 3.882 Total 19.181 1.573 6.263 4.040 7 1.582 343 1 246 5.254 250 83 30 22 3 558 1.690 4.345 Tabel 5. 70 RUPTL 2011.656 1.477 4.945 2.353 16.247 3.11 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: – Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode 2011 – 2020) untuk seluruh Indonesia adalah 55.2020 .7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Indonesia Barat dan Indonesia Timur Pada Wilayah Operasi Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari 5 sistem interkoneksi. – Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 31. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PS PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 3.106 1.590 2.6 GW per tahun.675 937 1 40 3 4.1% dari tambahan kapasitas keseluruhan.1%.073 115 296 1.090 140 41 51 312 22 5.2 GW atau 11.972 415 750 630 18 2 135 950 10 4.093 194 501 2.8 GW atau pertambahan kapasitas rata-rata mencapai 5.019 1.803 3.440 243 1 6 3 55.Tabel 5.785 957 85 6 581 22 1 6.110 1.110 20 85 5 541 19 1 1. – PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun.426 13 790 41 49 4 27 1 5 2 2.971 2.8%.877 3.040 7 7. sementara PLTGU gas dengan kapasitas 3.947 258 790 41 139 49 43 1 5 2 4.917 2. (2) Sistem Kalimantan Barat.832 426 30 22 4 804 1.2% dari kapasitas total.537 5.141 63 873 509 1 38 220 32 0 6.698 24 594 222 20 18 6 1 5.1 GW atau 11.436 2.992 35. 5. yang terbesar adalah panas bumi sebesar 6.583 5.029 130 104 22 200 20 1.

Sumbawa. Rengat. (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5) Sistem Sulawesi Selatan.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Barat yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8.4%). Meulaboh. Ternate. Bau-Bau.6%).3 GW (52. yaitu Bangka.372 MW dan juga PLTA sebesar 2.6 GW (47. Sorong. Kupang. Bima.908 MW. Ketapang. Ambon.12 dan Tabel 5.5. Sungai Penuh. Belitung. Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 3. Sintang. Pangkalan Bun. Sampit. 5.2020 71 .4.916 MW di Indonesia Barat dan 7.(3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur.1 Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15. Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam skala relatif kecil. Dari tabel 5. Tanjung Pinang dan Palu. Pengembangan pembangkit di Indonesia barat dan Timur untuk PLTP diproyeksikan cukup besar.13. termasuk committed dan ongoing projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5. Kendari.6%). Gorontalo. Sedangkan pada tabel 5. Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil khususnya Indonesia bagian timur yang besar bebannya belum cukup tinggi untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil.2 GW (41. Luwuk. dan terdapat beberapa sistem isolated dengan beban puncak di atas 10 MW. Lombok.781 MW di Indonesia Timur. Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan. Takengon. lebih kecil dibandingkan pembangkit yang dibangun oleh PLN. Bontang.13 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 4. Tanjung Balai Karimun.6 GW (58. Saat ini perusahaan yang RUPTL 2011. Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 7. yaitu Jayapura. Kolaka.4%). Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated yang cukup besar dengan beban puncak di atas 50 MW. yaitu 3.

180 493 1.065 194 235 1. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 74 222 0 296 804 55 380 12 1.195 4.330 660 20 39 23 12 2.577 55 116 580 34 2.917 246 2.082 8.619 55 116 602 95 39 2.144 930 56 986 600 612 40 1.225 4.251 1.115 250 250 313 222 0 535 818 55 130 424 28 1. Tabel 5.556 1.957 253 180 140 112 525 58 3.267 1. Apabila proyek tersebut layak secara teknis.2020 .202 455 180 1.085 2.806 2.012 851 84 8. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTD PLTM PLTA PLTGB PLTB PLTS PLTH Total 72 2011 2012 165 24 - 2013 2014 4 8 343 8 25 1 17 20 1 0 202 413 871 25 200 60 - 344 450 33 30 15 60 - 7 10 6 17 200 4 - 180 80 41 8 27 2015 2016 561 13 70 41 49 4 16 1 5 2 761 222 15 120 41 7 32 5 2017 2018 30 22 3 59 7 5 139 13 268 20 50 22 5 230 11 441 203 1 312 606 598 25 417 30 132 18 215 55 110 50 - - 1 190 - - 40 5 60 20 83 - 75 - 2019 2020 282 20 75 17 2 294 Total 30 18 2 7 1 691 57 45 200 30 - - 1 117 16 679 2 454 341 3 274 160 - 48 481 396 45 347 190 24 11 18 6 1 250 543 8 85 1 34 220 4 0 895 404 180 530 33 71 8 42 1.643 772 220 200 3 1.309 132 1 6 3 7.623 1. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.334 4.099 105 15.525 748 220 570 32 45 8 1.078 166 1.159 38 70 41 89 4 32 1 5 2 1.455 1.mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).440 639 45 120 41 12 32 7 895 132 101 30 22 4 249 7 544 275 75 75 6 139 16 1 586 378 70 50 22 5 230 11 766 282 65 75 17 2 294 1 736 200 30 30 18 2 117 7 404 - 2.245 202 925 194 123 785 74 1 6 3 4.084 1.362 205 570 8 783 688 220 20 12 940 250 437 687 50 10 365 6 431 30 30 49 3 112 522 6 528 522 220 200 3 945 239 239 14 130 44 16 204 42 22 95 5 164 543 220 32 45 840 642 440 39 23 1.673 650 612 10 405 6 1.000 947 690 6 1.721 550 116 2.252 400 405 83 888 425 690 1.367 130 66 166 247 21 7. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.683 430 405 30 132 3 1.781 RUPTL 2011.416 Tabel 5.

5.2 Neraca Daya Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat pada Lampiran A dan Lampiran B. pembangunan PLTG peaking di Kaltim dan Sulsel. – PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun 2016. – Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera.4. Sulawesi. sangat strategis untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara. – Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi.5. 5. – PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC. – PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat dioperasikan sebagai pembangkit peaking. – PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. – Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan pembangkit kecil tersebar di wilayah operasi Indonesia Timur. – PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan tujuh Kabupaten Baru di Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum dilayani listrik PLN.5.2020 73 .4. RUPTL 2011. Maluku dan Papua yang menjadi andalan pasokan listrik setempat. – Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada.3 Proyek – Proyek Strategis Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat meliputi antara lain: – Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang mengalami kekurangan pasokan tenaga listrik dan untuk mengurangi pemakaian BBM.

979 2017 3 813 3 873 1.6 GW atau 70. yaitu mencapai 22.860 270 600 815 855 165 60 150 9 4 68 18 47 18 819 819 128 398 2.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali 5. – PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun.2 GW atau pertambahan kapasitas ratarata mencapai 3.211 2.050 2015 660 2016 660 150 3.947 3.195 594 9 4. disusul oleh PLTG 1 GW atau 3.535 2.6%.130 1.800 3.440 6 18.495 2.655 1.167 1.2020 .8%.2 GW per tahun.092 3.283 12.875 150 100 65 13.9% dan PLTA/PLTM/PS sebesar 2.7 GW atau 42.565 2.780 743 4 4.200 815 400 2. termasuk PLTM skala kecil tersebar sebesar 118 MW dan PLTGB 6 MW.837 950 100 374 2.040 37 2020 Total 600 1.147 RUPTL 2011. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW) Tahun PLN PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total PLN+IPP PLTU PLTP PLTGU PLTG PLTM PLTA PS PLTGB Total 74 2011 2012 2013 3.102 1.860 270 37 4.440 6 32.040 4.687 950 309 2.000 1.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit Pada Tabel 5.415 855 183 4.8 GW atau 8.965 444 743 2014 1.5.050 60 68 1.100 380 1. Tabel 5.000 165 750 400 18 950 3.4% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Untuk energi terbarukan seperti panas bumi sebesar 2. Partisipasi swasta direncanakan sebesar 13.9 GW atau 9.000 750 750 400 450 950 400 210 3.527 1.4.520 325 2.0%.050 2018 1.708 660 815 1.1%.520 325 62 1.9 GW atau 8.000 600 - 2019 62 1. – Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 18.660 385 3.4.037 1.070 2.798 3.685 22.320 385 257 3 2.462 10. sementara PLTGU gas menempati urutan kedua dengan kapasitas 2.178 1.5 GW atau 57.845 3.6.965 3.040 150 18 3 1.875 2. Tabel 5.415 600 855 750 450 2.1%.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut: – Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan (periode 20112020) untuk Jawa-Bali adalah 32.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang dibutuhkan dalam kurun waktu 2011-2020 di sistem Jawa-Bali.

Untuk meningkatkan reserve margin mendekati kriteria keandalan yang dikehendaki. RUPTL 2011. Jadwal dan kebutuhan masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada 5. Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2013).2020 75 . Selain itu masih ada rencana Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 yang beroperasi pada 2013 yaitu PLTP Patuha 60 MW (IPP). dalam RUPTL ini direncanakan tambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa-Bali pada tahun 2016-2017 sebesar 2x660 MW.456 MW (57.71/2006 dan sisanya sebesar 1.2 Neraca Daya Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem Jawa Bali sampai dengan tahun 2020 berjumlah 32.352 MW.567 MW (42. atau rata-rata sekitar 3. Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 25% karena mundurnya Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 antara lain PLTU Indramayu 1x1000 MW.4%).5.6%) dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13. Dalam jangka menengah (2014 – 2016) tambahan pembangkit yang berupa proyek PLN berjumlah 2.16. Kapasitas tersebut akan dipenuhi oleh 2 unit PLTU IPP kelas 600 MW dan ekspansi PLTU Lontar 1x660 MW. dimana tambahan sebesar 1.782 MW.737 MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No. Tambahan kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk PLTU Tanjung Jati A yang akan dikembangkan oleh PT TJPC atau ekspansi pembangkit eksisting PLN atau ekspansi IPP atau pembangunan PLTU baru. diperlukan tambahan pembangkit sebesar 3x600 MW pada tahun 2015. Upper Cisokan Pumped Storage 4x250 MW. Untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek transmisi HVDC Sumatera-Jawa yang sangat panjang (700 km) dan pembangkitnya di Sumatera Selatan. Jumlah tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN berjumlah 18.023 MW (tidak termasuk PLTM tersebar 118 MW dan PLTGB 6 MW).625 MW adalah proyek IPP.040 MW adalah Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2.100 MW merupakan Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2.200 MW per tahun.4. sedangkan proyek IPP berjumlah 6. yang terdiri dari pembangkit PLN berjumlah 8. dimana 1. tambahan pembangkit dari proyek-proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan (proyek ongoing) berjumlah 10.6.317 MW. PLTU Madura 2x200 MW dan proyek-proyek panas bumi.

994 79.482 -589 3.962 3.9 192.606 -476 3. 76 RUPTL 2011.606 0 3.100 3.947 3.787 8.000 600 600 150 400 400 100 37 62 110 1.283 146.845 3.845 4.529 31 41 Catatan: .925 20.625 184.635 171.4 153.200 600 1.6 25.110 27.925 - - - - - KAPASITAS Kapasitas Terpasang PLN Retired/Mothballed IPP PROYEK-PROYEK PLN On-going dan Committed Project Muara Karang Rep Blok 2 Muara Tawar Blok 5 Priok Extension (Blok 3) Suralaya #8 Labuan Teluk Naga/Lontar Pelabuhan Ratu Indramayu Rembang Pacitan Paiton Baru Tj.763 197.499 53.838 60 60 1.974 225.0 222.9 38.1 23.100 - - - - - 150 660 815 810 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA - 660 3.7 31.1 165.000 660 600 660 325 - 660 160 110 595 220 440 415 165 380 1.000 1.925 20.474 815 4.305 241.092 2.801 211.007 17.764 34 30 31 39 43 41 39 39 - - 60 - - 810 4.000 MW % 750 1.531 16.000 1.Tanda panah mengindikasikan pergeseran jadwal operasi dari rencana semula (RUPTL 2010-2019) ke jadwal baru (RUPTL 2011-2020).415 2.190 375 10 47 2.606 0 3.407 17.721 78.023 1.531 16.925 20.822 79.315 41.037 1.655 165 165 3.7 27.265 32.8 22.697 79.531 16.2020 .102 1.037 1. Awar-awar Cilacap Baru / Adipala Tanjung Jati B #3-4 Sub Total On-going & Committed Rencana PLTGU Tuban/Cepu Indramayu #4 (FTP2) & #5 Lontar Exp #4 PLTU Bekasi PLTG Peaker Semarang PLTG LNG Karangkates #4-5 Kesamben (Jatim) Kalikonto-2 (Jatim) Jatigede (Jabar) Upper Cisokan PS Matenggeng PS Grindulu PS Sub Total Rencana Total PLN IPP On-going dan Committed Project Cikarang Listrindo Cirebon Paiton #3 Celukan Bawang Sub Total On-going & Committed Rencana Banten Madura (2x200 MW) FTP2 Sumsel-8 MT Sumsel-9 MT (PPP) Sumsel-10 MT (PPP) *) PLTU Jawa Tengah (PPP) PLTU Jawa-1 PLTU Jawa-2 PLTU Jawa-3 PLTP FTP2 PLTP Non FTP2 Rajamandala (FTP2) Sub Total Rencana Total IPP Total Tambahan TOTAL KAPASITAS SISTEM RESERVE MARGIN MW PLTGU PLTGU PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU 210 234 743 625 315 630 700 350 990 630 630 660 700 660 660 3.262 45.672 135.747 79.0 178.606 0 3.800 1.200 1.065 78.106 79.531 16.774 79.928 158.742 MW MW 21.040 450 4.407 7.429 47.092 2.770 79.217 10.664 660 4.925 21.606 0 3.353 36.130 3.531 16.023 1.606 0 3.925 20.8 36.8 270.531 16.000 1.050 PLTGU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTG PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA 750 1.925 20.8 33.550 7.082 -400 3.7 29.925 20.844 50.606 0 3.769 8.925 20.050 150 810 870 870 - 380 380 - 1.5 20.800 450 500 3.415 855 855 2. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020 PROYEK Kebutuhan Pertumbuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % GWh % MW 125.Tabel 5.415 1.134 7.0 253.163 33.404 79.102 1.531 16.925 20.531 16.167 1.091 31.4 142.130 4.664 PLTGU PLTU PLTU PLTU 660 815 660 400 1.0 237.531 8.9 207.848 7.089 7.240 6.606 0 3.

2020.500 MW yang akan menggunakan bahan bakar gas alam yaitu PLTGU Tuban/Cepu 1.937 MW dan IPP sebesar 5. Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di Jawa-Bali terlihat dengan jelas pada tabel 4.14 dimana PLN tidak lagi merencanakan pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak. Disamping PLTG peaker tersebut direncanakan tiga buah PLTA Pump Storage sebagai pemikul beban puncak. Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan pembangkit Muara Tawar eksisting (total 1. Berdasarkan hasil kajian peran pembangkit Muaratawar di sistem Jawa Bali tahun 2012 .565 MW. Neraca daya sistem Jawa-Bali pada tabel 5. kecuali beberapa pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan menggunakan bahan bakar minyak atau LNG jika tersedia. maka direncanakan PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) yang lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan akan terhubung ke GITET Muara Tawar. Mengingat pasokan gas ke Muara Tawar yang semakin menurun dan ketidakpastian pasokan LNG.040 MW. Sumsel-9 dan Sumsel-10 yang merupakan PLTU Mulut Tambang di Sumatera Selatan. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Mulut Tambang tersebut PLN sedang membangun transmisi 500 kV HVDC interkoneksi Sumatera – Jawa.500 MW. RUPTL 2011. Matenggeng di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah sebesar 900 MW dan Grindulu di Jawa Timur sebesar 1. proyek PLTGU Muara Tawar Add-on 2-3-4 sudah tidak diperlukan lagi.14 mencantumkan PLTU Sumsel-8. Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering Muara Karang dan Priok dan Muara Tawar Blok 5) direncanakan PLTGU dengan kapasitas 1. yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 6.700 MW) dan PLTGU Blok-5 (234 MW) cukup untuk tetap menjaga tegangan di subsistem Jakarta. yaitu Upper Cisokan di Jawa Barat dengan kapasitas 1.000 MW.502 MW. maka telah dikaji kembali kelayakan dari proyek PLTGU Muara Tawar Add-on Blok 2-3-4.Dalam jangka panjang (2017–2020) jumlah penambahan kapasitas pembangkit adalah 12.2020 77 . Memperhatikan peran pembangkit Muara Tawar yang penting untuk menjaga tegangan sistem 500 kV di Jakarta dan memperhatikan pula ketidakpastian pasoka gas ke Muara Tawar.

dan berlokasi relatif dekat dengan pusat beban industri di sebelah timur Jakarta.16. 13/2010. antara lain berfungsi sebagai pembangkit beban puncak. 5.6.4 Regional Balance Sistem Jawa Bali Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara Jawa Bagian Barat.2020 .4.3 Proyek-proyek Strategis Beberapa proyek strategis pada sistem Jawa-Bali ini adalah sebagai berikut: - PLTU IPP Jawa Tengah (2x1. Jawa Tengah dan Jawa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5.000 MW). 67/2005 jo PerPres No. Proyek ini hanya dilaksanakan setelah kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan cadangan yang cukup banyak. - PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya berada dekat pusat beban Jakarta dan berfungsi untuk menjaga tegangan di Jakarta serta mengurangi pemakaian BBM/LNG di Muara Karang. - PLTU Indramayu (2x1. Proyek ini sangat strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Jawa dengan memanfaatkan cadangan low rank coal di Sumatra Selatan. Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2016 dan 2017.6. sebagai spinning reserve (cadangan putar).5. - PLTA Pompa Upper Cisokan (1. memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban dasar dan memperbaiki load factor sistem.000 MW. Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala besar di pulau Jawa. pengatur frekuensi. maka pengembangan proyek pembangkit baru sebaiknya berlokasi di Jawa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance. 78 RUPTL 2011. Proyek ini sangat strategis karena dapat meminimalkan biaya operasi sistem serta memberikan banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik. - PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC Sumatera – Jawa dengan kapasitas 3.000 MW). Priok dan Muara Tawar.4. Proyek ini sangat strategis karena dibutuhkan sistem pada tahun 2017. serta merupakan proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) dengan PerPres No.040 MW).

risiko tsunami dan gempa bumi yang lebih tinggi. Karawang. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010 Regional Balance Jawa Bagian Barat Jawa Tengah Jawa Timur dan Bali Kapasitas Terpasang (MW) 12.9 Partisipasi Listrik Swasta Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10 tahun mendatang sangat besar.102 Tambahan Kapasitas (MW) 300 - - Total (MW) 12. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit baru tidak mempertimbangkan regional balance.611 2. Lokasi PLTU batubara skala besar di pantai selatan pulau Jawa belum merupakan pilihan prioritas. yaitu mencapai sekitar 33% dari total kapasitas terpasang. Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem Jawa Bali dapat dilihat pada Lampiran C1. Indramayu.675 7. Pada kedua tabel tersebut.17. Pemalang.2.675 7. diperlukan konstruksi breakwater yang relatif mahal.Tabel 5.102 Beban Puncak (MW) 11.2020 79 . karena pertimbangan kesulitan transportasi batubara pada musim-musim gelombang tinggi. Batang). Pada saat ini region Jawa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum mengalami kendala penyaluran listrik ke arah barat karena adanya transmisi 500 kV jalur selatan.318 7. Pekalongan.890 4.16 dan Tabel 5.129 3. Penerapan regional balance dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari keperluan untuk membangun transmisi 500 kV pada jalur baru dari timur ke arah barat pulau Jawa.5 Reserve (%) Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di Jawa bagian barat sebelah timur (seputar Bekasi. Cirebon) atau Jawa Tengah sebelah barat (seputar Tegal. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 5.1 64. 5. maka pada masa yang akan datang diperkirakan akan muncul kendala penyaluran.4.0 27. yang dimaksud dengan proyek on going adalah proyek IPP yang telah memiliki PPA dan secara resmi telah mendapat RUPTL 2011.429 3.

2 PLTU PLTU Proyek Rencana PLTA Wampu 2014 2015 PLTM Biak II Simpang Aur (FTP2) 45 23 PLTA PLTA PLTM Biak III Semangka 56 2016 PLTM Ibu PLTA Hasang 40 2017 PLTM Kotaraya PLTA Peusangan-4 83 2018 PLTM Mampueno/Sakita 2 x 8 2 x 50 2 x 45 2015 PLTM Pakasalo 2016 PLTM Rea 2016 PLTM Wae Lega .pendanaan (financial closure). Tabel 5. Di dalam kategori rencana juga terdapat proyek IPP yang belum ada pemiliknya namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini sebagai kebutuhan sistem.2020 .2 PLTA Malea #1. Proyek IPP yang statusnya belum mempunyai PPA ini akan diadakan oleh PLN melalui proses tender kompetitif.Manggarai 2013 PLTM Wolodaesa 2012-2013 PLTM Ngaoli 2012 PLTM Wai Nibe 2013 PLTM Batubota 2012 PLTM Bintang Bano 2012 PLTM Bunta 2013 PLTM Lambangan 2011-2017 PLTM Mala-2 PLTA Sawangan PLTA Bontobatu (Buttu batu 1) #1. Op. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi Proyek On Going PLTA Poso Energy PLTM Goal PLTM Kokok Putih PLTM Wawopada PLTU Simpang Belimbing #1. Cycle .2 PLTB Waingapu PLTG Aceh PLTG Sengkang.2 PLTU Ketapang PLTU Banjarsari PLTU Sumsel .Unit 2 PLTG Senipah PLTGB Putussibau (FTP2) PLTGB Tanjung Batu (FTP2) PLTGB Belitung .Unit 3 1 x 120 PLTGU Duri 80 2014-2017 PLTP Sarulla I (FTP2) 2012 PLTP Ulubelu #3.Borong 2 x 4 2 x 4 2014 PLTP Lumut Balai (FTP2) PLTGU Gunung Megang.2 PLTGB Melak PLTGB Kotabangun PLTGB Selayar (FTP 2) PLTGB Tual PLTGB Tobelo (FTP2) PLTGB Larantuka 1 x 1 3 x 22 1 x 60 2 x 40 2 x 4 2 x 4 1 x 5 1 x 6 1 x 3 2012 PLTM Rhee 2 x 4 2 x 4 2012-2013 PLTM Walesi Blok II 2013 PLTM Sita .2 (Keban Agung) PLTU Pangkalan Bun 3 x 65 2 x 1 1 x 4 1 x 4 2 x 114 2 x 7 2 x 114 2 x 113 2 x 6 Nama Pembangkit PLTM PLTM Tersebar Sumut 2012 PLTM Hek 2012 PLTM Praikalala I 2012 PLTM Umbuwangu I 2013 PLTM Wae Roa 2011 PLTM Lewa 2012 PLTM Lokomboro III 2014 PLTM Praikalala II 2015 PLTM Kukusan 2011 PLTM Segara Anak 2013 PLTM Umbuwangu II 2013 PLTM Waekelosawa Molotabu 2 x 6 2 x 100 2 x 10 2013 PLTM Maidang Tanah Grogot 2 x 6 2013 PLTM Bambalo III PLTM Biak I PLTU Gorontalo Energi PLTU Jeneponto Bosowa #1. Sedangkan proyek IPP dalam kategori ‘rencana’ meliputi mereka yang telah mempunyai PPA namun belum financial closure. ST Cycle 1 x 90 1 x 30 PLTGU Sengkang-ST-CC .4 (FTP2) 2012 PLTP 2013 PLTP Kapasitas (MW) 154 1 x 3 1 x 1 1 x 1 1 x 0 2 x 1 Tahun Operasi 2013-2015 2011 2011 2011 2011 2011-2012 2 x 1 3 x 1 2011-2013 1 x 0 1 x 6 2012 1 x 1 2 x 0 3 x 1 2011-2012 2012 2012 2012-2013 2012-2014 1 x 2 1 x 2 2013 1 x 1 1 x 1 2013 1 x 1 1 x 1 1 x 2 2 x 1 1 x 6 1 x 2 1 x 1 1 x 2 4 x 1 1 x 3 2 x 4 2 x 1 2 x 2 1 x 6 1 x 4 5 x 1 2 x 1 4 x 55 3 x 110 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013-2017 2013-2017 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014-2015 2014-2015 2014-2015 2015 Lho Pria Laot 2 x 55 1 x 7 Muara Laboh (FTP2) 2 x 110 2017 2017 RUPTL 2011. Ada juga proyek yang baru mendapat HOA sudah dimasukkan dalam kategori ‘rencana’.

2 PLTP Lahendong V (FTP-2) PLTP Sokoria (FTP2) PLTP Ulumbu PLTP Oka Larantuka PLTP Lahendong VI (FTP-2) PLTP Atadei (FTP2) PLTP Jailolo (FTP2) PLTP Sokoria PLTP Hu'u (FTP2) PLTP Lainea #1.Kema 2 x 5 110 2019 PLTU Sumbawa Baru I (FTP2) 2019 PLTU Mamuju (FTP2) #1.Nama Pembangkit PLTP Rajabasa (FTP2) PLTP Sarulla II (FTP2) PLTP Seulawah (FTP2) PLTP Sorik Marapi (FTP2) PLTP Rantau Dedap (FTP2) PLTP Suoh Sekincau PLTP G.1 (FTP2) 2018-2019 PLTU Kaltim .2 (FTP2) 1 x 20 165 2019 PLTU Makbusun / Sorong 2019 PLTU Merauke-Gudang Arang 110 2019 PLTU Sulut I .2020 2015 2017 81 . 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi Proyek On Going Nama Pembangkit Kapasitas (MW) Tahun Operasi PLTP Tangkuban Perahu 2 2 x 30 2015-2016 PLTG Cikarang Listrindo 1 x 150 2011 PLTP Patuha 1 x 60 2 x 60 2013 2015 PLTU Cirebon 1 x 660 2011 PLTP Bedugul 1 x 10 2015 1 x 130 + 2 x 125 2014 PLTP Kamojang 1 x 30 1 x 60 2015 2016 1 x 815 2012 PLTP Candi Umbul Telomoyo 1 x 55 2019 PLTP Wayang Windu 1 x 110 1 x 110 PLTU Celukan Bawang PLTU Paiton 3 Proyek Dalam Rencana RUPTL 2011.4 PLTU PLTU 2 x 25 2 x 10 2014-2015 2014-2015 2 x 25 2 x 100 2015 2014-2015 2015 2 x 10 1 x 7 2015-2016 1 x 50 2 x 100 2017 2016 2017-2018 2017-2018 2020 2014 2015 2015 2015 2015-2016 2 x 150 2 x 150 2 x 300 PLTU PLTU 2014-2015 2 x 15 2 x 7 2 x 30 PLTU 2013 2014-2015 2 x 7 2 x 25 2017 2014 2014 2014-2015 2 x 15 2 x 7 2 x 55 2 x 100 2018-2019 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2 x 7 2 x 100 2 x 100 2 x 20 1 x 1 2 x 4 1 x 7 2014 2 x 7 2 x 7 2 x 110 2 x 55 1 x 55 1 x 55 Tahun Operasi 2 x 300 2 x 400 2015-2016 2015-2016 2016-2017 2016-2017 2018-2019 2 x 25 2 x 7 2019-2020 2 x 7 2 x 7 2013-2014 2 x 15 2 x 28 2014 2013 2014 2014 2 x 25 2 x 10 2014 2014 Tabel 5.2 2019 PLTU Luwuk (FTP2) 2020 PLTU Merauke-Ekspansi 2013 PLTU Embalut (Ekspansi) 1 x 5 2 x 5 1 x 20 1 x 5 1 x 5 2014 PLTU Kaltim (PPP) 2015 PLTU Sulut (PPP) 2015 PLTU Kalteng .2 PLTP Songa Wayaua (FTP2) PLTP Hu'u (Ekspansi) PLTS Waingapu PLTU Sarolangun PLTU IPP Kemitraan PLTU Muko Muko PLTU Nias PLTU Nias (FTP2) Kapasitas (MW) 2 x 110 Tahun Operasi 2017 PLTU Lombok 1 x 110 1 x 55 2017 PLTU Maruni / Andai 2017 PLTU Nabire-Kalibobo 240 Kapasitas (MW) 2 x 25 Nama Pembangkit 2018 PLTU Nunukan (FTP2) 2018-2019 PLTU Kalsel . Talang PLTP Bonjol PLTP Danau Ranau PLTP Jaboi (FTP2) PLTP Simbolon Samosir PLTP Sipoholon Ria-ria PLTP Wai Ratai PLTP Jailolo (Ekspansi) PLTP Tamboli #1.2 2013 PLTU Bau-Bau #1.2 2019 PLTU Sulsel-2 (Takalar Punaga) #1.2 PLTU Simpang Belimbing #3.5 2017 PLTU Sumsel .1 2 x 3 1 x 20 2015-2016 PLTU Toboali 2015-2017 PLTU Pontianak . Karimun 2 x 7 2014 PLTU Selat Panjang Baru #1.7 Riau Mulut Tambang Sumsel .6.3 1 x 5 2 x 5 3 x 5 1 x 20 2 x 10 1 x 5 2016 PLTU Tanjung Pinang 2 (FTP2) 2016-2017 PLTU Tembilahan 2016-2020 PLTU Bangka (FTP2) 2017 PLTU Sumsel .2 2013 PLTU Melak (FTP2) PLTU Biak (FTP2) Jayapura-Skouw 2014 PLTU Kaltim (MT) 2014 PLTU Kendari Baru I (FTP2) #1.2 Tanjung Pinang 1 (TLB) 2 x 114 2 x 15 2014 PLTU Kolaka (FTP2) #1.2 TB. Mulut Tambang 2012 PLTU Jambi (KPS) 2 x 6 2 x 7 2011 PLTU Pontianak .

5.Kapasitas Tahun (MW) Operasi Kapasitas Tahun (MW) Operasi PLTU Madura 2 x 200 2015 PLTP Gn Lawu 2 x 55 2019-2020 PLTU Jawa-1 1 x 660 2015 PLTP Karaha Bodas 1 x 30 2 x 55 2015 2016 PLTU Jawa-2 1 x 600 2015 PLTP Guci 1 x 55 2018 1 x 55 2019 PLTU Jawa-3 2 x 660 2016-2017 PLTP Ijen 2 x 55 2019 PLTU Jawa Tengah 2 x 1000 2016-2017 PLTP Wilis/Ngebel 2 x 55 2018 1 x 55 2019 PLTU Banten 1 x 660 2016 PLTP Gn Ceremai 2 x 55 2019-2020 5 x 600 2016-2018 PLTP Gn Endut 1 x 55 2019 1 x 47 2014 PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018 PLTP Baturaden 2 x 110 2018-2019 PLTP Arjuno Welirang 2 x 55 2019-2020 Nama Pembangkit PLTU Sumatera Mulut Tambang 43 PLTA Rajamandala PLTP Cibuni PLTP Dieng 10 2016 1 x 55 2015 1 x 60 2 x 55 2016 2018-2019 1 x 55 2018 PLTP Ungaran 1 x 30 2 x 55 2019 2019-2020 PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018 PLTP Tangkuban Perahu 1 2 x 55 2018 Nama Pembangkit 1 x 55 2016 2 x 110 2017-2018 PLTP Tampomas 1 x 45 2018 PLTP Cisolok-Sukarame 1 x 50 2 x 55 2017 2018-2019 PLTP Iyang Argopuro 5. 82 RUPTL 2011.1 Sasaran Fuel Mix 5. Konsumsi batubara terus meningkat.5 PROYEKSI NERACA ENERGI DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR 5. namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan gas yang depleted dari sumbernya.1 Fuel Mix 1999-2008 Tabel 5.5. dan karena infrastrukturnya belum tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.2020 .1. 43 PLTU Sumatra mulut tambang diperhitungkan sebagai IPP di sistem Jawa Bali karena sebagian besar produksinya akan ditransfer ke Jawa dengan menggunakan transmisi HVDC.19 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN (Persero) dalam sepuluh tahun terakhir.

90 2006 9. Dalam RUPTL ini komposisi fuel mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada Tabel 5.70 237 11.41 2000 5.02 229 13.Tabel 5.9 2020 0. Dalam tahun 2008 komposisi produksi kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM 36%. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Tahun BBM GAS Batubara juta kl bcf juta ton 1999 4.92 2010 9. Tabel 5.61 184 15. gas alam 17%.41 2005 9.2 17.4 Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada Tabel 5.26 2004 8.2020 83 .8 12.8 5.0 4.06 2003 7. panas bumi 3% dan tenaga air 9%.09 2007 10.41 266 21.40 222 14.96 Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terakhir ini adalah fuel-mix yang terjebak pada pemakaian minyak yang terlalu banyak44.47 2008 11.69 171 21. RUPTL 2011-2020 merencanakan proyek pembangkit seperti dijelaskan pada Bab 5.8 64.00 193 14. batubara 35%. RUPTL 2011.91 143 16.20.32 283 23.00 2009 9.3 6.98 158 19.6 50. Target fuel mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari pembangkit 44 Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun masih tetap tinggi sampai sekarang.51 176 15.19. namun produksi listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik termasuk pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN.2 16. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis Bahan Bakar (%) Tahun BBM Batubara Gas Tenaga air Panas Bumi 2011 21.03 2002 7.14 2001 5.32 182 21.

691 46. Hal ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi konsumsi BBM.088 31.4.879 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2.791 13.817 15. panas bumi dan PLTGU gas.385 556 44 56 51 65 85 65 3 Gas 32.017 42.704 19.118 35.749 193.650 202.578 6. disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit energi terbarukan.068 20.429 2 63 9.149 11.043 134. Pembangkit yang akan dibangun antara lain adalah proyek percepatan 10. Disamping itu konversi pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN terus mengupayakan tambahan kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa kendala.606 6 63 733 23. sementara pembangkit berbahan bakar minyak direncanakan semakin jauh berkurang.657 25.891 6 63 721 19.078 279.814 258.658 4.524 163.549 2.204 12.349 20.084 207.541 5 Batubara 93.197 4 63 8. kecuali pada sistem kelistrikan yang terlalu kecil dan terpencil.302 322. Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4.939 238.261 2.005 371. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD 29.828 345.049 110.21 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang punggung sistem pembangkitan Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun mendatang.846 17.964 7 63 317 46. Tabel 5.387 4 63 9.374 6 7 8 9 10 Surya/Hybrid Biomass Impor Geothermal TOTA L - 2013 Pada Tabel 5.392 238.2020 .841 16.465 2. Jawa. selanjutnya dilakukan simulasi produksi energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.828 220.311 178.3 dan konfigurasi pembangkit pada butir 4.331 2.628 6 63 737 29. dan akan diganti dengan PLTU batubara skala kecil.3.346 8.037 4. 84 RUPTL 2011.970 14.033 185.441 43. Pembangunan dan sewa PLTD berbahan bakar BBM sangat dibatasi hanya untuk mengatasi krisis penyediaan tenaga listrik jangka pendek.405 299.635 4 LNG 7. dan hasilnya diperlihatkan pada Tabel 5.000 MW yang akan menurunkan konsumsi BBM secara signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik. Jakarta dan Grati. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (GWh) No.292 17.874 29. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak dikembangkan di Sumatera.807 2.428 2 MFO 10.113 10.868 221.316 2.432 Hydro 11.331 30.992 28.394 30.150 5 63 709 11.578 151.002 43.429 21.363 12. Opsi LNG juga akan dikembangkan untuk PLTGU yang berada di Belawan.158 46.897 6 63 738 36.listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara.21 dan Gambar 5.038 7 63 314 42.

8 589.3 577.794.8 3 Gas (bcf) 329.7 49 85 .0 49 125.7 1.000 350. dan direncanakan menurun menjadi 5% pada 2013 dan <1% pada 2020. sedangkan LNG mulai tahun 2012 sebesar 4% dan meningkat menjadi 9% pada 2020%.8 2.1 37.1 170.9 90.7 49 2015 2016 2017 2018 2019 2020 633.Pada tahun 2011 konsumsi BBM masih sebesar 21%.000 2011 Impor 2012 Biomass 2013 Surya/Hybrid 2014 HSD  2015 MFO  2016 LNG Gas 2017 Batubara 2018 2019 Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.954.2 545.21 diperlukan bahan bakar dengan volume yang diperlihatkan pada Tabel 5.2020 41.7 59. dimana kontribusinya sebesar 5% pada 2011 dan akan meningkat menjadi 12% pada 2020.3 2 MFO ( x 10^3 kl ) 1.6 49 109. Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 5.000 50.7 550. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia No.604.8 358.0 49 88.190.1 197. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 1 HSD ( x 10^3 kl ) 7.6 47.2 263.442.7 211.3 49 73.000 150.3 159.131. Sementara itu kontribusi batubara akan meningkat dari 50% pada tahun 2011 menjadi 64% pada tahun 2020.000 100.4 122.4 365.464.9 39.5 595.8 633.2 4 LNG (bcf) 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) RUPTL 2011.788.6 1.22.000 200.8 39.000 GWh 250.754.274.8 120.000 300.7 240.7 248.4 277.263.610.2 49 101.8 337.002.3 4.3 49 82. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Total Indonesia (GWh) Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi dalam penyediaan listrik yang semakin besar secara signifikan.1 227.6 49 116.0 59. akan menurun menjadi 8% pada tahun 2020. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun 2011 adalah 17%.3 344.254.3 341.737. 400.5 44.3 35.9 49 96.691.7 34. Tabel 5.

2 Sistem Jawa-Bali Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun 2011-2020 berdasarkan jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.028 5.470 24.904 144.568 165.029 178.000 100. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh) 86 RUPTL 2011.747 14.2020 .466 7.504 253.978 192.822 30.416 2018 120 16.23 dan Gambar 5.322 2019 139 19.606 7.5.721 8.926 122.000 250. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTA L 2011 13.549 8.065 8.684 24.509 2012 4.532 142.000 2011 HSD  2012 MFO  2013 2014 LNG 2015 Gas 2016 Batubara 2017 Geothermal 2018 2019 2020 Hydro Gambar 5.742 9.163 184. yaitu mengurangi pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan gas.722 2020 140 22.303 7.097 6.474 222.365 5.080 7. Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai diversifikasi energi.143 15. kebutuhan batubara meningkat 2.697 9.000 50.582 9.695 5.522 173.273 2015 216 31.107 6.188 25.000 GWh 200.724 5.085 84.400 2017 114 25.404 28.273 2014 1.856 16 33.140 153.412 207.271 2013 1.786 8.655 157.770 16.092 5.292 7.995 300.128 2016 232 31.218 4. sedangkan kebutuhan BBM menurun drastis karena digantikan oleh LNG/CNG.418 109.774 11.554 237.746 133. Tabel 5.823 34.615 25. Dalam kurun waktu 2011-2020.117 166.000 150. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali (GWh) No.981 35.422 94.106 22.169 270.4 kali dan kebutuhan gas alam meningkat 2 kali lipat.5.5.

8 81.161. atau meningkat hampir 4 kali lipat.1 87.5. Panas bumi mengalami peningkatan secara signifikan dari 8.5 262.5 2012 1.0 199.494. maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 51% batubara. Tabel 5.7 3.6 64.5.8 247.4 84.827. RUPTL 2011.0 123.2 44.4 141.3 129. 1 2 3 4 5 6 FUEL TYPE HSD ( x 10^3 kl ) MFO ( x 10^3 kl ) Gas (bcf) LNG (bcf) Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 2011 3.410. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali No.0 5. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG) mengalami peningkatan sejak tahun 2011 menjadi hampir 2 kali lipat pada tahun 2020. dan Kalimantan Barat diperlihatkan pada Lampiran B.2 2019 39.1 212.Pada Tabel 5. Sedangkan pangsa tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem Jawa Bali sudah sulit untuk dikembangkan.055. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatra.701.8 2015 61.2 2013 561.224. Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat dilihat pada Tabel 5. Namun demikian porsi gas alam menurun dari 18% pada 2011 menjadi hanya 8% pada 2020.4 59. 2% minyak dan 21% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5. 15% gas alam.8 2016 65.8 2018 34.3 2014 516.24.1 263.5 74. 12% tenaga air.712.3 187.2020 87 .1 93.8 241.6 49.8 159.4 307.896.6 80.2 69. Hal ini terjadi karena pasokan gas pipa untuk pembangkit semakin menurun sehingga LNG menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pembangkit walaupun harganya mencapai lebih dari 2 kali lipat dari gas pipa. yaitu 68% dari seluruh produksi pada tahun 2020. Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai tahun 2020.169 GWh pada tahun 2020.8 36.1 49.595.3 240.0 2017 32. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana pengembangan pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar. sedangkan LNG meningkat dari 5% pada 2012 menjadi 9% pada 2020).3 Wilayah Operasi Indonesia Barat Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik.25 dan Gambar 5.376.23 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya.1 2020 39.5 57.1 79.1 204.532 GWh pada tahun 2011 menjadi 30.563.8 260.

4 304.575 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh) Kebutuhan bahan bakar di Luar Jawa dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.476 29.458 2.788 4.392 63 64 31.293 4.26 yang terus menurun sesungguhnya masih jauh di bawah kebutuhan.226.6 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Biomass Impor Geothermal TOTA L 2011 10.6 273.407 2012 7.8 49.8 49.8 4 LNG (bcf) 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 4.9 37.205 63 737 10.030 32.9 37.1 49.114 6.5 37.493 7.586 4.000 60. pasokan gas 88 RUPTL 2011.200 64.7 49.6 49.533 3.4 49.502 4.3 0.000 30.854.531 3.324 17.1 2 MFO ( x 10^3 kl ) 685.000 50.0 49.773 49.000 10.317 20.4 67.346 5.713 2.377 63 63 28.1 Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 5.8 11.6 49. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh) No.691 58.2 49.4 39.394 4.1 10.1 12.273 20.5 78.8 14.144.Tabel 5.232 16.1 37.859 63 317 13.811 63 738 11.459 2018 898 35 5.499 5.4 44.3 46.350 5.033 6.932 4.1 15.000 2011 2012 Impor 2013 Biomass HSD  MFO  LNG 2016 Gas 2017 Batubara Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.6 43. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD ( x 10^3 kl ) 2.5 924.569 2017 822 21 6.112 63 314 11.0 5.8 37.353 54.745 2014 940 177 7.1 76.049 2015 913 3 7.977.415 10.1 9.819.281 38.765 42.096 7.26.1 82.854 5.8 227.269 24.368 2019 982 55 4.107 2016 834 16 7.876.2 247.441 7.1 3 Gas (bcf) 52.225.1 6.7 77.635.2020 .6 225.717 2013 3. Sebagai contoh.923.869.095 7.0 665.1 12. hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN. Tabel 5.389 17.5 46.1 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 274.865 46.821 63 721 6.9 248.000 GWh 40.8 4.307.1 18.000 20.445 63 733 6.8 84.7 258.362 2020 996 35 4.2 8.7 49.333.148 7.713 1.9 51.1 19.254 63 709 2.1 2013 11.689 63 801 35. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat No.820 4.087 2014 2015 2018 2019 70.

323 6 1.351 1.116 1.041 1.633 33.6. atau sekitar 5 kali lipat untuk 10 tahun mendatang.469 5 629 21.216 4 446 16. maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 58% batubara.831 5.242 30 4. 15% gas alam.307 30 4.071 23.234 2 438 14. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 4.801 25.569 378 4.820 2.916 2.236 3.360 2.090 18. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Indonesia Timur (GWh) No.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga listrik.503 7 2.874 891 14.399 41 3.016 1.659 6 2.928 902 15.818 2. Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik. Maluku & Papua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran A.923 1.409 1. 4% minyak dan 7% panas bumi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.977 2013 2.964 1. Idealnya gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat pembangkit.199 2014 1. Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Kalimantan. 15% tenaga air.483 2.788 2.158 27. Sulawesi.042 721 11.980 2018 1.606 6 1.349 21.380 30 3.421 41 4.498 30 4.283 2020 1.984 156 4.676 694 7.033 2.740 2012 5.414 2016 1.2 juta ton akan meningkat tajam menjadi 20 juta ton pada tahun 2020.292 89 . 5.2020 2011 5.27 dan Gambar 5.395 30.829 6 2.653 2017 1.345 4 458 19. Tabel 5.153 5.166 4.319 3.071 839 13.untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena depletion.5.295 2015 1.636 36.007 17.522 2019 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 FUEL TYPE HSD MFO Gas LNG Batubara Hydro Surya/Hybrid Geothermal TOTA L RUPTL 2011.748 3.345 7 2.

7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh) Kebutuhan bahan bakar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan pada Table 5.7 30.0 23.038.2 23.000 35.961.3 22.8 10.3 30. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur No.000 20.3 33.3 8.1 21.5 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.0 12.2020 .2 19.6 788.105.794.539.298.5 8.000 10.4 3.1 21.5 24.7 521.2 juta ton pada tahun 2020.3 juta ton akan meningkat tajam menjadi 12.40.0 273.2 3.989.3 21. 90 RUPTL 2011.6 6.0 113.2 1.7 318.8 3.0 7.000 15.345.000 30.5 301.310.28 Tabel 5.9 4.000 GWh 25.1 269. atau sekitar tujuh kali lipat untuk 10 tahun mendatang.834.000 5.2 323. FUEL TYPE 2011 2012 1 HSD ( x 10^3 kl ) 1.165.5 33.8 288.3 1.2 3.6 9.2 13.7 30.3 2 MFO ( x 10^3 kl ) 612.2 276. Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 1.1 3.1 2.5 356.8 5 6 Batubara (10^3 ton) Biomass (10^3 ton) 4.4 4 LNG (bcf) - - 3.163.7 30.000 2011 2012 Surya/Hybrid 2013 2014 2015 HSD  MFO  LNG 2016 Gas 2017 2018 Batubara 2019 Geothermal 2020 Hydro Gambar 5.7 3 Gas (bcf) 13.4 9.

dan lain-lain. karena sistem ini merupakan sistem terbesar di Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di wilayahwilayah lainnya. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas diberikan pada Tabel 5. maka dalam RUPTL ini telah dilakukan analisis sensitivitas.5. Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 cases di luar base case45 untuk sistem Jawa Bali.2020 91 . RUPTL 2011. Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada. analisis sensitivitas dalam RUPTL ini hanya dibuat untuk perubahan harga bahan bakar. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi di sektor ketenagalistrikan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan kapasitas. Hal ini dilakukan karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling volatile dan dapat berubah secara cepat dan lebar. sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih terbatas. misalnya harga bahan bakar. transmisi dan distribusi yang pasti. Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis risiko pada Bab 7. Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa variabel ketidakpastian yang di luar kendali PLN. harga EPC proyek. proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik. Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana pengembangan sistem kelistrikan.30. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas Harga Case Base Case Crude Oil US$/barel 95 Coal US$/ton 80 Gas US$/mmbtu 6 LNG US$/mmbtu 10 Case 1 130 80 6 10 Case 2 95 80 6 10 Case 3 95 100 6 10 Case 4 95 80 7 10 45 Base case adalah case yang diadopsi dalam RUPTL 2011 – 2020 ini.6 ANALISIS SENSITIVITAS RUPTL 2011–2020 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem kelistrikan dengan skenario tunggal. karena diperlukan adanya rencana program pengembangan kapasitas pembangkit. Tabel 5.

yaitu hanya 1% dari fuel mix pada tahun 2020.750 6.800 1.400 33.000 3. Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak menjadi US$130 tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis. dan hanya sedikit menaikkan nilai objective function biaya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4. dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas.800 PLTGU MW 6.800 24. Sementara penurunan harga batubara dari $80 menjadi $50 pada Case 2 akan menambah kapasitas PLTU batubara dari 24.350 33.800 28.550 100 100 96 113 103 Objective Function Juta USD % 3 Base Case Harga bahan bakar Crude Oil 2 Satuan Penambahan Kapasitas PLTU MW 24.800 MW (base case) menjadi 28. Case 3 untuk melihat pengaruh kenaikan harga batubara. Hal ini dapat dimengerti karena porsi pemakaian BBM memang sangat kecil.800 1.000 PLTG MW 1. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif terhadap penurunan harga batubara. kapasitas dan jadwal).600 600 MW 33.350 33. dengan demikian RUPTL ini tidak sensitif terhadap perubahan harga minyak.Tabel 5. maka kapasitas PLTU batubara hanya akan menurun dari 24.542 65.090 55.800 29.600 1.30.400 Jumlah Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap rencana pengembangan sistem. Namun banyaknya PLTU batubara akan menyebabkan pembangkit yang seharusnya memikul beban dasar menjadi beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian daripadanya akan mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.000 15.338 59.063 58.800 MW (Case 2). Sebaliknya jika harga batubara naik dari $80 menjadi $100 (Case 3). 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar No 1 Case Study Batubara Case 1 Case 2 Case 3 Case 4 USD/barrel 95 130 95 95 95 USD/ton 80 80 50 100 80 Gas USD/mmbtu 6 6 6 6 7 LNG USD/mmbtu 10 10 10 10 10 58. Case 2 untuk melihat dampak penurunan harga batubara. dengan mengambil alih pembangkit berbahan bakar gas (PLTGU).400 33.800 MW (base case) 92 RUPTL 2011.2020 .800 16.750 3.

2 mengenai kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit dan butir 5. RUPTL ini tidak mengabaikan aspek emisi CO2.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensitif terhadap kenaikan harga gas. Penggunaan teknologi boiler supercritical di pulau Jawa juga membuktikan bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi emisi CO2 dari pembangkitan tenaga listrik. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6. Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan dikonversi menjadi emisi CO2 (dalam ton CO2) dengan menggunakan faktor pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC46. Namun demikian.800 MW. dan peranan pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara. Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana combined cycle plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit lainnya. sebagaimana dapat dilihat pada butir 2.7 PROYEKSI EMISI CO2 Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2011-2020. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah.800 MW dan peranannya digantikan dengan pembangkit berbahan bakar gas.2020 93 . belum memperhitungkan biaya emisi CO2 sebagai salah satu variabel biaya. Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4).7.1 Baseline Emisi CO2 (Murni Least Cost) Pengembangan pembangkitan yang semata-mata berdasarkan prinsip leastcost tanpa mempertimbangkan intervensi kebijakan pemerintah seperti pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan 46 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). maka combined cycle tidak dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $80. 5. RUPTL 2011. 5.menjadi 16. maka kapasitas pembangkit batubara akan naik tajam dari 24. 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories.800 MW (base case) menjadi 29.

000  200.31 menunjukkan komposisi bauran energi (energy mix) pada tahun 2010.000  225.0  ‐ ‐ 2010 COAL 2012 OIL GAS 2014 GEOTHERMAL 2016 2018 HYDRO 2020 NUCLEAR EMISI Gambar 5.2020 .0  150.1.0  20.000  25.000 MW dengan produksi mencapai 72. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 236 juta ton CO2.000  125. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Jawa Bali Skenario Baseline Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Jawa Bali akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 27.1 Sistem Jawa Bali Gambar 5.rencana pengembangan pembangkit yang sangat didominasi oleh PLTU batubara.000  175. sehingga tidak terjadi penambahan kapasitas PLTP secara signifikan (hanya PLTP existing dan committed projects). 94 RUPTL 2011. Tabel 5.0  70.0  60. Dapat dilihat pada tabel tersebut bahwa energi terbarukan khususnya panas bumi tidak kompetitif melawan pembangkit fosil.8% dari total produksi pada tahun 2020.0  40.0  10.0  75.000  50. MW million tCO2 250.000  100.0  50. Rencana pengembangan ini selanjutnya disebut sebagai baseline. 5.8 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan oleh skenario baseline untuk sistem Jawa Bali.7. 2016 dan tahun 2020.0  30.

893 12. PLTGU gas alam sebesar 800 MW.0  200.5 Hydro GWh 7.965 322.0  60.0  80.0  140. USD 14.10 menunjukkan jumlah emisi CO2 yang akan dihasilkan dalam skenario baseline untuk sistem Sumatera.452 72.8 GWh 206 4 20 0.728 151.1.0  180.110 8.000 MW.8 Nuclear GWh 0 0 0 0 Total Production GWh 129.0  ‐ 2009 2010 2011 2012 Batubara 2013 Gas 2014 LNG 2015 HSD 2016 2017 2018 2019 MFO Gambar 5.867 100 Objective Function Mill.475 227.575 Juta tCO2 220.0  120.7.8 Geothermal GWh 6.0  20.0  40.110 2.262 3. 9 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali Skenario Baseline 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) Unit 2010 2016 2020 Coal GWh Oil Portion (%) 84.0  160.2020 95 .0  100.Tabel 5. Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Sumatera akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar 2.2 Sistem Sumatera Gambar 5.929 235.087 59.1 Gas GWh 30.813 8.023 20.029 67.641 8. PLTGU LNG 400 MW dan IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) sebesar 400 MW pada tahun RUPTL 2011.430 62.616 46.

8 Coal Gasification GWh  ‐     ‐          2.000 15.2 Oil GWh       3.642             15           103              0.2 Gas GWh       5.32 menunjukkan komposisi bauran energi pada tahun 2010.0 2.2020 .731     19.0 Geothermal GWh  ‐          4.588            10.000 25.161            13.031 Construction  Cost 96 RUPTL 2011.0% untuk gasifikasi batubara dan hanya 0. 13.283     45.8% untuk gas.8 juta ton CO2. 10. Tabel 5. 2016 dan tahun 2020.000 35.588       4. Tabel 5.925       6.0 - 0. MWe Million tCO2 12. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28.2020.000 20.0 8.1 Hydro GWh       3. 9.0 2010 2012 2014 2016 2018 2020 COAL GAS LNG MFO HSD GEO IGPP HYD PUMP Emission Gambar 5. sehingga dalam baseline ini hanya tercantum proyek-proyek PLTP yang telah committed. 6.735              6. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO2 Sistem Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline Produksi listrik tahun 2020 berdasarkan energi primer dalam skenario baseline sistem Sumatera adalah 60.0 10.026     27.1% untuk panas bumi. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) Unit 2010 2016 2020 Portion (%) Coal GWh       5.0 Million  USD           513           713       1.729       4.2% untuk bahan bakar minyak.207            60.231          100.0 6.000 10.437              9.6 Total Production GWh     18.382       3.0 30. PLTP tidak kompetitif secara ekonomis.608       4.363     32.2% untuk batubara.6% untuk tenaga air.0 4.000 5. Capacity of Facilities.

7. 5. 11 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera Skenario Baseline 5. 245 juta ton (89%) berasal dari pembakaran batubara.7. Dengan adanya intervensi kebijakan pemerintah mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sedikit berbeda dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO2.2. khususnya panas bumi.12 memperlihatkan emisi CO2 yang akan dihasilkan apabila produksi listrik Indonesia dilakukan dengan fuel mix seperti pada Gambar 5. Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan menggunakan energi terbarukan. RUPTL 2011. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No.1 Emisi CO2 Indonesia Gambar 5.4.Juta tCO2 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2010 2011 2012 2013 2014 Batubara  Gas 2015 LNG 2016 MFO 2017 2018 2019 HSD Gambar 5.2 Emisi CO2 Sesuai RUPTL 2011-2020 Pemerintah telah menetapkan Perpres No.2020 97 .12 dapat dilihat bahwa emisi CO2 se-Indonesia akan meningkat dari 141 juta ton pada 2011 menjadi 276 juta ton pada tahun 2020. Dari Gambar 5. Dari 276 juta ton emisi tersebut. 15 tahun 2010 mengenai Program Percepatan Pembangkit Tahap 2.

Emisi naik dari 110 juta ton pada 2011 menjadi 205 juta ton pada 2020. akan meningkat menjadi 0.13.7. 47 Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh] 98 RUPTL 2011.Juta tCO2 300 275 250 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 2015 2016 2017 2018 2019 HSD MFO LNG Gas Batubara  2020 Gambar 5. atau naik hampir 2 kali lipat. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) Average grid emission factor47 untuk Indonesia pada tahun 2011 adalah 0.8 kgCO2/kWh pada 2013-2014 dan selanjutnya akan menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan PLTA sehingga average grid emission factor pada tahun 2020 menjadi 0.2. panas bumi dan penggunaan teknologi supercritical. Perbaikan faktor emisi ini dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam. 5. Grid emission factor membaik dari 0.745 kgCO2/kWh.763 kgCO2/kWh.756 kgCO2/kWh pada 2020.2020 .778 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0.2 Emisi CO2 Sistem Jawa-Bali Proyeksi emisi CO2 dari sistem Jawa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.

14. Emisi naik dari 21 juta ton menjadi 45 juta ton.7.2.749 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0.704 kgCO2/kWh pada 2020.2020 99 . 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat RUPTL 2011.Juta tCO2 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 2011 2012 2013 2014 Biomass HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5.3 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan pada gambar 5. atau naik sekitar 2 kali lipat. Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air. Grid emission factor meningkat dari 0. Juta tCO2 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5. 13 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali 5.856 kgCO2/kWh pada 2013 dan berangsur-angsur menurun menjadi 0.

Grid emission factor meningkat dari 0.4 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan pada Gambar 5. yaitu peluang bagi Negara Non Annex I untuk mendapatkan kredit dari upaya pengurangan emisi GRK melalui mekanisme CDM (Clean Development Mechanism) yang akan berlaku dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sesuai dengan masa berlakunya Protokol Kyoto dan kesepakatan yang akan dicapai oleh para pihak untuk pasca tahun 2012. transmisi.7.641 kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0. gardu induk dan distribusi).8 kali lipat. Juta tCO2 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 Biomass 2014 HSD 2015 MFO 2016 LNG 2017 2018 Gas 2019 2020 Batubara  Gambar 5.2020 . dan dengan komitmen nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Faktor emisi yang membaik ini disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.15.5 juta ton pada 2020.2.784 kgCO2/kWh pada 2014 dengan masuknya PLTU skala kecil di 70 lokasi. Emisi naik dari 9. atau naik 2.4 juta ton pada 2011 menjadi 26.8 PROYEK CDM (CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM) Sesuai Misi PLN ”menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan”. PLN akan menggunakan peluang yang diberikan oleh Protokol Kyoto (PK).731 kgCO2/kWh pada 2020. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur 5. dan berangsur-angsur menurun menjadi 0. 100 RUPTL 2011.5. PLN akan melakukan upaya pengurangan emisi GRK dari semua kegiatan ketenagalistrikan (pembangkit.

dan hasilnya hingga saat ini PLN telah menandatangani 5 ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements).Implementasi CDM akan diterapkan untuk semua kegiatan di lingkungan PLN yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi proyek CDM di sisi pembangkitan.663 4 PLTA Genyem (20 MW) Papua CDM PDD Development 50.780 2 PLTP Lahendong II (20 MW) Tomohon. Sulawesi Utara CDM Registered 66.020 RUPTL 2011. Tabel 5. Gorontalo. Daftar proyek PLN yang dikembangkan melalui mekanisme CDM dan VCM dapat dilihat pada Tabel 5. Sulawesi Utara CDM PDD Development 50.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM dan VCM No Nama Proyek Lokasi Emission Reduction Mechanism Status Saat Ini Annual Project Emission Reduction (tCO2e/year) 1 PLTP Kamojang IV (60 MW) Jawa Barat CDM Registered 402. Kebijakan pengembangan proyek CDM di unit-unit PLN termasuk penjualan CER-nya dilakukan secara terpusat. transmisi/gardu induk dan distribusi. Minahasa.749 6 PLTMG Bontang (14 MW) Kalimantan Timur CDM Under validation 21.2 MW).5 MW) Kalimantan Barat.33. Mongango (1.000 5 PLTM Lobong (1. Merasap (1. Selain itu PLN juga mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM (Voluntary Carbon Mechanism). dan Sulawesi Utara CDM PDD Development 8.596 8 PLTA Lau Renun (82 MW) Sumatra Utara VCS Validation completed 229. Minahasa.282 7 PLTA Sipansihaporas (50 MW) Sumatra Utara VCS Validation completed 159.2020 101 . Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan pentingnya CDM dan melakukan assessment beberapa potensi proyek CDM.713 3 PLTP Lahendong III (20 MW) Tomohon.6 MW).048 9 PLTA Musi (210 MW) Bengkulu VCS Validation completed 847. dimana saat ini sudah ada 3 proyek yang telah selesai proses validasinya sesuai VCS (Voluntary Carbon Standard). sedangkan Anak Perusahaan dapat mengelola dan mengembangkan proyek CDM sendiri dengan melakukan koordinasi dengan PLN Pusat.

192 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.967 7. 275 kV.873 972 1.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia Satuan kms TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500 kV AC 82 172 374 12 459 738 538 170 40 40 2. Pembangunan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien.573 2. Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun expansion.016 36.012 1.554 MVA untuk pengembangan gardu induk serta 49. Tabel 5. Disamping itu juga sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.822 10.951 3.565 4.541 2.206 1 - 334 - - - 3.532 110 - 130 - - 5.35. 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat.172 774 1.254 370 1. Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk mentransfer tenaga listrik dari pembangkit mulut tambang di Sumbagsel dan Riau ke Sumbagut.5. Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di sekitar konverter transmisi HVDC di Sumatera sebagai feeder pemasok listrik dari pembangkit mulut tambang. pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan menggunakan jalur transmisi 150 kV atau 70 kV.333 3.211 1.282 168 1.056 49.162 150 kV 70 kV TOTAL 102 RUPTL 2011.805 5.360 250 kV DC - - - - - 462 - - - - 462 3.729 8.813 3.083 2.173 1.625 500 kV DC - - - - - 1.34 dan Tabel 5.717 5.2020 . Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 114.754 7. Khusus untuk pasokan ke sistem Jakarta.812 6. menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik.9 PENGEMBANGAN SISTEM PENYALURAN DAN GARDU INDUK Pada periode 2011-2020 pengembangan sistem penyaluran masih berupa pengembangan sistem dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem JawaBali serta tegangan 500 kV.100 - - - - 1. Sedangkan pengembangan transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan sebagai transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru.100 275 kV - 642 2.

2020 103 . Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu induk dan transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel ke sistem interkoneksi (dedieselisasi). RUPTL 2011.181 14. Sumbagsel dan Kalbar. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain: – Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur barat dan jalur timur.720 15.37.000 275/150 kV 1.680 8.000 2020 Total 500/275 kV - - - - - 1.460 9.200 4. yaitu di sistem Sumbar-Riau.554 5.000 5.000 33.000 500/150 kV 8.130 6. 150 kV dan 70 kV) serta 21.500 1. antara lain rencana pembangunan sirkit kedua dan reconductoring beberapa ruas transmisi di sistem Sumbagut dan Sumbagsel.Tabel 5.000 - - - - 3.886 70/20 kV TOTAL 715 640 410 260 270 180 150 210 290 230 3. Pengembangan juga banyak dilakukan untuk memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2020 akan banyak mengubah topologi jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi 275 kV dan 500 kV di Sumatera.000 - - - 3.600 4.150 kms pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.620 8.250 - 500 500 - 250 10.390 6.000 270 5.470 4.060 114.293 10.340 4.920 4.000 1.500 3.000 4. Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan terlaksana pada tahun 2012.580 59.090 2.830 5. 275 kV.670 6.660 1.355 20.000 2.450 MVA untuk pengembangan gardu induk (500 kV.746 11.9.220 4.860 250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600 150/70 kV 60 60 123 - 60 60 - - - - 363 150/20 kV 9.490 500 kV DC - - - - - 3.140 5. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 29.020 15.36 dan Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2. Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga terdapat di beberapa sistem.500 500 1.

Pada saat off peak di Sumatera (siang hari) PLN mengirim tenaga listrik ke Malaysia yang pada saat yang sama sedang meningkatkan keandalan sistem Sumatera. 50 Pemilihan level tegangan ±250 kV HVDC bipolar ini masih terbuka kemungkinan untuk diubah ke 500 kV HVDC monopolar. – Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga. Interkoneksi Sumatera – Malaysia direncanakan beroperasi 2017 dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari tukar menukar tenaga listrik antara Sumatera dan Malaysia pada jam-jam tertentu. Selain itu terbuka kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat terlambat. 104 RUPTL 2011. Setelah tahun 2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli 48 Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih banyak menggunakan pembangkit BBM. Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan ASEAN Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN Power Grid yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Perpres No. 49 Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN Batam. Interkoneksi Kalbar – Serawak direncanakan beroperasi 2014 dimaksudkan untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN khususnya pada waktu beban puncak sampai dengan tahun 2019 untuk menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak.2020 . 1. 2. – Interkoneksi Batam – Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga listrik dari Batam48 dengan mempertimbangkan rencana pengembangan pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian Bintan49. 77/2008. meliputi interkoneksi Sumatera-Malaysia (HVDC ± 250 kV)50 dan Kalimantan Barat-Sarawak (275 kV HVAC).– Proyek transmisi 500 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara jalur timur. Pada saat peak load di Sumatera (malam hari) PLN menerima tenaga listrik dari Malaysia yang pada saat yang sama sedang dalam kondisi off peak. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya dengan perluasan wilayah usaha PLN Batam.

643 4.350 840 810 870 810 570 750 11. Pada tahun 2013 sistem Sulawesi Tengah.310 70 kV TOTAL - 310 - 240 - - - - - - 550 694 2.000 29. 150 kV dan 70 kV. sementara di wilayah Sulselrabar sedang dibangun transmisi 275 kV dari PLTA Poso ke Palopo.450 TOTAL 5.250 - 500 500 - 250 10.000 - - 3.499 1. Tabel 5.2020 105 .tenaga listrik selama waktu beban puncak karena semua pembangunan pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai.878 250 kV DC 150 kV - - - - - 462 - - - - 462 694 1.750 2.000 500/150 kV - - - - - - - - - - - 500 kV DC - - - - - 3. Evakuasi daya dari rencana PLTU sewa di Balikpapan dan Asam-Asam akan menyebabkan kondisi bottleneck di beberapa ruas transmisi di sistem Kalsel RUPTL 2011.500 250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600 150/70 kV - - - - - - - - - - - 150/20 kV 960 2.000 275/150 kV 1.990 3.743 790 667 382 740 21.000 - 5.340 600 1.513 3.410 2. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat Satuan kms TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500 kV AC - - - - - - - 150 - - 150 500 kV DC - - - - - 800 - - - - 800 275 kV - 160 2.370 3. Di wilayah Maluku.150 Tabel 5.172 774 1. Papua dan Nusa Tenggara sedang dilaksanakan pembangunan transmisi 70 kV dan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU batubara di wilayah tersebut.9.090 5.113 6.010 7.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Pengembangan sistem transmisi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur meliputi pembangunan transmisi dan gardu induk 275 kV.000 - 2.170 1. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 500/275 kV - - - - - 1.000 1. sistem Sulawesi Tenggara dan sistem Sulawesi Selatan akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 275 kV dan 150 kV.318 2.000 - - - - 3.000 2.440 1.371 790 387 382 740 14.490 3.486 1.880 70/20 kV 30 260 30 60 - 30 - 30 30 - 470 1.532 110 - 130 - - 4.018 2.200 3.

795 1.247 1.477 3. Rencana pengembangan interkoneksi tegangan tinggi antar pulau di area Indonesia Timur meliputi interkoneksi pulau Laut – Kalsel .144 380 170 13.161 2. Wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 150 kV pada tahun 2012.837 2.434 Tabel 5.interkoneksi pulau Seram – Ambon dan interkoneksi Sultra – pulau Muna – pulau Buton. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Satuan kms TRANSMISI 2011 275 kV 150 kV 70 kV TOTAL 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total 482 482 1. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur Satuan MVA TRAFO 2011 275/150 kV 2012 270 2013 150/70 kV 60 60 123 870 760 940 TOTAL 2015 2016 2017 2018 2019 2020 90 150/20 kV 70/20 kV 2014 Total 430 950 60 60 450 540 363 630 480 730 320 6.453 1.188 MVA untuk pengembangan gardu induk (275 kV.188 5. Tabel 5.573 1. namun implementasi rencana interkoneksi tersebut tergantung pada kelayakan dari hasil studi dasar laut.379 334 680 1.39.9.670 245 260 300 140 270 120 120 90 80 170 1. 106 RUPTL 2011.752 494 168 834 370 866 1 1. Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Timur antara lain: – Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Kalselteng – Kaltim – Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Sulut – Gorontalo.515 2.581 2.38 dan Tabel 5.207 3.2020 .683 3. 150 kV dan 70 kV) serta 16.dan Kaltim.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali Pada Tabel 5.350 1.618 495 680 1. Untuk mengatasi kondisi tersebut direncanakan reconductoring pada ruas-ruas tersebut.175 1.434 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.41 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas penyaluran dan gardu induk di sistem Jawa-Bali.40 dan Tabel 5.090 780 720 750 570 810 490 9.144 380 170 16. Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 9.

2020).591 2.40 RUPTL 2011.336 30 30 90 180 60 1.031 1.000 MW.500 3.052 1.916 7.090 6. bahkan di sistem 70 kV di Jawa Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait dengan proyek percepatan pembangkit 10.630 3. Jawa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke pusat beban di Bali (2015). Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 5.710 1. Transmisi tersebut dimaksudkan untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Suralaya Baru dan PLTU Adipala (tahun 2011.520 6.41 merupakan perkuatan grid yang tersebar di Jawa.830 5. PLTU Jawa Tengah Infrastruktur dan PLTU Indramayu (2016/2017. PLTU Paiton Expansion dan PLTU IPP Tanjung Jati Expansion (2011.970 3.640 5. 2017).980 4.475 kms.016 9. Rencana pada Tabel 5.000 5.950 657 1. selebihnya diperhitungkan sebagai pengembangan sistem transmisi Sumatra. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali Satuan MVA TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 500/150 kV 8.900 2.40 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2020 akan dibangun transmisi 500 kV AC sepanjang 2. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali Satuan kms TRANSMISI 500 kV AC 2011 2012 2013 2014 2015 82 172 374 12 459 1.000 2.000 4.232 500 kV DC 150 kV 738 2017 2018 2019 2020 490 20 40 40 2.850 9. Selain itu dibangun juga transmisi 500 kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan Jakarta seperti Balaraja-Kembangan dan Kembangan-Durikosambi-Muara Karang. Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5.560 3.570 75.960 Dari Tabel 5. di sini hanya diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead line yang berada di pulau Jawa.000 33. Matenggeng dan Grindulu (2019/2020.220 4. PLTGU baru (2019/2020) dan pumped storage Upper Cisokan (2016).990 2.578 Tabel 5.40 adalah transmisi HVDC interkonesi Sumatra – Jawa.500 1.674 Total 538 300 70 kV TOTAL 2016 210 2.562 1.593 - 110 1.2012).510 41.660 1.490 7.500 500 1.660 6. Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi.509 1.500 4.916 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV TOTAL Total - 440 120 80 60 17.Tabel 5.850 3. 2014).300 3.475 174 342 210 106 8.528 712 362 250 146 11.593 300 100 1. utamanya seputar Jabotabek.2020 107 .

Incomer (Tasik . Dengan adanya transfer energi dari sistem Jawa melalui kabel laut Jawa-Bali #1-4 sebesar 300 MW (mempertimbangkan N-1). Beberapa proyek transmisi strategis di Jawa-Bali antara lain: – Kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 tahun 2012. – Pembangunan SUTET 500 kV Paiton – New Kapal termasuk overhead line 500 kV / submarine cable 500 kV menyeberangi selat Bali (Jawa Bali Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali.23 triliun selama 20 bulan operasi (Mei 2012Desember 2013) hingga beroperasinya Jawa-Bali Crossing 150 kV.Jawa berikut GITET Xbogor .hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok konsumen besar dan saluran distribusi khusus. 108 RUPTL 2011. maka penghematan biaya bahan bakar yang diperoleh masih jauh lebih besar.2020 .Depok dan Cilegon – Cibinong) untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di Sumatra Selatan ke sistem Jawa Bali tahun 2016. – SUTET Durikosambi – Muara Karang. Pembangunan kabel laut Jawa-Bali sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat menekan pemakaian BBM di Bali dalam jangka pendek. Apabila dibandingkan dengan biaya investasi (EPC cost) sebesar Rp 410 miliar. – Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3. – Proyek transmisi SUTET 500 kV tx Ungaran-Pemalang-MandirancanIndramayu tahun 2014.000 MW Sumatra . Pembangunan JBC ini berpotensi menghasilkan saving sebesar USD 617 juta (NPV) selama 20 tahun bila dibandingkan dengan membangun pembangkit di Bali. akan diperoleh penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp 2. – GITET Cawang Baru dan GITET Muara Karang. Program pemasangan trafotrafo 150/70 kV dan 70/20 kV pada tabel tersebut juga hanya merupakan relokasi trafo-trafo dari Jawa Barat ke Jawa Timur. Tahap pertama pada tahun 2013 beroperasi 150 kV dan tahap kedua pada tahun 2015 beroperasi 500 kV.

4 651.707.5 juta pelanggan.2020 109 .3 3.066.404.152.364.6 2.5 6.7 27.716.368. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia hingga tahun 2020 adalah sebesar 208.563.7 6.9 555.0 593.2 25.1 4.8 5. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 6.6 6.3 6.3 6.4 3.1 2.2 2.128.721.164.1 542.2 25.0 kms jaringan tegangan menengah.10 PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI Rencana pengembangan sistem distribusi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.3 7.429.460. 225.780.9 3.6 3.2 ribu plgn 3.488.573.172.896.298.414.6 2.626.0 669.9 21.965.1 23.593.2 4.2 7.398. 69.3 juta pelanggan.066.418.4 18.404.227.4 1.708.8 1.739.4 kms jaringan tegangan menengah.666.721.5 7.10.2 18.1 24.7 20.267.7 6.1 3.750.5 1.543.4 18.4 225.683.638.920.5.1 5.0 7.4 Jaringan TR kms 17.1 21.334.739.850.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Jaringan TM kms 18.9 2.159.7 37. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia Barat hingga tahun 2020 adalah sebesar 62. 65.0 3.3 23.8 2.038.216.42.250.4 2.3 5.332.088.2 6.232.44.554.3 1. 14.593.0 Jaringan TR kms 6.688.980.5 21.5 69.454.592.8 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.784.4 2.9 26.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat dapat dilihat pada Tabel 5.8 24.841. Tabel 5.6 539. 8.494.7 2.296.454.9 4.622.1 6.7 kms jaringan tegangan rendah.655.0 1.982.431.497.1 Tambahan Pelanggan Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur dapat dilihat pada Tabel 5.980.0 6.077.644.0 6.431.590.8 1.7 661.607. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Barat Jaringan TM kms 5.8 ribu plgn 1.642.1 20.4 Trafo Distribusi MVA 3.7 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.524.2 6.4 kms jaringan tegangan rendah. Tabel 5.7 572.4 2.2 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.9 19.6 Tambahan Pelanggan 5.6 7. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 27.7 Trafo Distribusi MVA 1.4 1.759.5 21. Tabel 5.43.435.539.005.080.332.389. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur RUPTL 2011.5 62.865. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 5.3 juta pelanggan.8 1.749.425.9 208.2 22.0 kms jaringan tegangan menengah.135.813.607.666.956.5 kms jaringan tegangan rendah. 37.9 14. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 adalah sebesar 74.099.6 573.

5.099.7 415.520.5 10.189.4 763.671.0 9.8 1.045.Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV • Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV • Bali – Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan meliputi keekonomian.1 814.3 6.744. dan lain sebagainya.190.7 7. lingkungan.406.6 5.8 1.9 6.803.564.851.4 9.9 859.7 1.735.850.583.4 1.188.577.4 1.371.908.7 6.673.031.2 7.286.3 7.271.528.0 917.9 463. Haruku-Saparua KL 20 kV • Pulau Ternate – Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV • Lombok .432. yaitu: • Pulau Laut (Kotabaru) . enjiniring dan studi dasar laut (seabed study) meliputi: route.Seram dengan kabel laut 70 kV.8 6.5 1.5 7.8 9. • Bitung – Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV • Ambon – Haruku .4 885.0 7.6 8.974.2 1.445.4 757.2 7.6 1.9 384. direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut 20 kV atau 70 kV.2 1.9 7.161.2 10.7 90.3 Trafo Distribusi MVA 1.2 70.620.851. struktur dasar laut.8 1.4 Tambahan Pelanggan 110 RUPTL 2011.4 5.45.4 10.2 74.8 8.216.221.528.029.2020 .7 1.581.636. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 7.2 1.1 Tambahan Pelanggan ribu plgn Interkoneksi Antarpulau Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan daratan pulau besar dan sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM.072.7 7.2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Indonesia Timur Jaringan TM kms 5.7 6.012.8 409.9 748.0 1.4 396.8 11.5 8.Pulau Nunukan – Sebatik dengan kabel laut 20 kV • Kendari .9 519.343.8 5.Pulau Muna .721.840.712.Batulicin dengan kabel laut 20 kV • Kaltim .8 7.296.6 1.200.577.790.Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150 kV.7 6.922.2 375.943.1 7.8 441.4 8.4 1.843.506.145. Tabel 5. peletakan kabel.119.1 5.303.0 14.7 481.1 8.9 7.047.7 1.2 65.668.7 ribu plgn 1.8 15.202.10.5 787.475.9 5.222.2 7.688.761.644.752.1 6.1 1.667.784.0 Jaringan TR kms 4.7 8.2 989.2 Sistem Jawa-Bali Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik dapat diproyeksikan seperti pada Tabel 5.137.780.9 1.762.5 Trafo Distribusi MVA 693.4 Jawa-Bali Jaringan TM kms Jaringan TR kms 7.7 1.752.036.5 5.797.

682.495.915 1. serta Papua & Papua Barat. jaringan tegangan rendah 90.0 7.847 382.369.620 MVA dan jumlah pelanggan 15.Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2011 sampai dengan 2020 untuk sistem Jawa Bali diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah sebanyak 70.078 83. kecuali untuk 4 Satker Lisdes merupakan gabungan dua provinsi seperti: Satker Lisdes Riau & Riau Kepulauan.4 27.424 427. yaitu untuk rasio elektrifikasi dari 67. • Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.4 kms. Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas.11 PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh 28 Satuan Kerja Listrik Desa / Satker Lisdes.1 1. Jawa Tengah & Yogyakarta. Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik.498.850.507.3 kms.47.1 233.881.9% di tahun 2014.843.615.623 438.4 386.5 juta.2020 111 .7 27.3 5.466 - 2014 Total 7.9 7.3 377. dimana untuk 24 Satker Lisdes tersebut berada pada masing-masing provinsi. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 Tahun JTM JTR Kms kms Trafo MVA Unit Jml Pelanggan Listrik Murah dan Hemat (RTS) 2011 8. juga bertujuan untuk: • Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan • Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan • Mendorong pedesaan • Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya. Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat.488 20.1 373.8 7. produktivitas ekonomi.2% tahun 2010 menjadi sebesar 80% di tahun 2014.198.326.46 dan Tabel 5.330.092 RUPTL 2011.403. dan untuk rasio desa berlistrik 94. sosial dan budaya masyarakat Tabel 5.833 83. Rekap program listrik perdesaan 2011-2014 dan investasinya dapat dilihat pada Tabel 5.864 - 2012 4.092 2013 7.6 4. kapasitas trafo distribusi 14.466 248.585.6% tahun 2010 menjadi sebesar 98.4 5. dengan mengacu pada sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah/RPJM tahun 2010-2014.0 3. 5.9 5.

894.818.657.603.783.092 RTS (rumah tangga sasaran).260.055.746.7 - 2014 2.8 - 3.0 13.6 2013 2.070.4.279.6 5. Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar. PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau masyarakat untuk melistriki kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke grid atau sistem kelistrikan PLN.839.500. 112 RUPTL 2011.8 - 2012 1. PLN siap untuk memanfaatkan biofuel apabila tersedia.722.7 - Total 7.223.Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sebanyak 83.4 22.4 651.105.231.559.2020 .799.116.053.205.762.056.661.2 1. Biomassa: PLN tidak bermaksud untuk membangun sendiri pembangkit listrik tenaga biomassa karena PLN tidak mempunyai kendali atas pasokan biomassanya.9 286.082.2 2.068.500.236.0 668.849.229.12 PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA telah dibahas dalam pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.0 - 2.128.6 905.2 444.4 1.3 3.799.9 635.194. Tabel 5. PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas.0 3. Biofuel: tergantung kepada kesiapan pasar biofuel. Karena itu PLN mendorong swasta untuk mengembangkannya dan PLN akan membeli listriknya.332.713.5 - 3.697. PLN baru akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek penelitian dan pengembangan.7 385.059. namun mengingat teknologi dan keekonomiannya masih belum diketahui.7 286.282.0 22.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 (Juta Rp) Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Listrik murah dan Hemat (RTS) Total 2011 1. Butir ini hanya membahas pengembangan EBT skala kecil. maka pengembangannya akan terbatas di daerah yang memiliki potensi.

NTT dan Papua dengan terlebih daulu dibuat kajian kelayakannya. yaitu NTB. Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera ‘super hemat energi’ (SEHEN) bukan merupakan program pengembangan kapasitas sistem kelistrikan. Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih bersifat sementara dan hanya diterapkan secara terbatas di propinsi-propinsi yang rasio elektrifikasinya masih rendah. • SHS (panel surya + lampu LED denga batere di dalamnya) skala kecil tersebar.Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi baru yang dapat diterapkan pada sistem kelistrikan isolated skala kecil. dan menurunkan BPP pada daerah tertentu yang ongkos angkut BBM sangat mahal. seperti daerah sekitar puncak pegunungan Jayawijaya Papua. Pembangunan PLTS Terpusat (Komunal).48.49.2020 113 . Solar Home System (SHS) dan Lentera Super Hemat Energi (SEHEN) Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan sulitnya menjangkau daerah terpencil. PLN merencanakan untuk membangun PLTS sebagai berikut: • PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan kapasitas diberikan pada tabel 5. Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya ditunjukkan pada Tabel 5. Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil secepatnya.000 set. RUPTL 2011. Program SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS terpusat/komunal (centralized PV)”.48 dan Tabel 5. Jumlah SHS yang akan dipasang adalah sekitar 377. mencegah penambahan penggunaan BBM kalau seandainya dilayani dengan diesel. namun terbatas di provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum akan mendapatkan listrik konvensional.

237 7 TOTAL 5.796 . 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil TAHUN No Pembangkit EBT 1 PLTMH 55 89 475 302 110 463 487 514 540 564 3.969 *) Rencana PLTS sd 2014 adalah program 1.137 1.600 2 PLT Surya 10 150 250 300 350 350 375 375 400 400 2.960 3 PLT Bayu - - 30 30 45 45 60 60 75 75 420 4 PLT Biomass 40 83 88 88 88 100 100 113 113 125 935 5 PLT Kelautan - - 12 - - 30 30 30 30 30 162 6 PLT Bio-Fuel PLT GasBatubara - 25 38 38 35 20 18 18 20 23 233 12 64 162 86 44 14 44 28 12 20 486 - - - - - - - - - - 117 410 1.022 1. Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil No Pembangkit EBT Satuan 1 PLTMH MW 2 PLT Surya 3 TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 TOTAL 23 37 198 126 46 193 203 214 225 235 1500 MWp*) 2 30 50 60 70 70 75 75 80 80 592 PLT Bayu MW 0 0 10 10 15 15 20 20 25 25 140 4 PLT Biomass MW 16 33 35 35 35 40 40 45 45 50 374 5 PLT Kelautan MW 0 0 2 0 0 5 5 5 5 5 27 6 PLT Bio-Fuel MW**) - 10 15 15 14 8 7 7 8 9 93 7 PLT GasBatubara MW 6 32 81 43 22 7 22 14 6 10 243 MW 47 142 391 289 202 338 372 380 394 414 TOTAL 2.190 1.Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan kajian kelayakan proyek.13 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 PROYEK PLTU SKALA KECIL TERSEBAR Program PLTU batubara skala kecil tersebar semula direncanakan oleh PLN di 71 lokasi untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik yang terjadi di wilayah tersebut dan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dengan 114 RUPTL 2011. sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi **) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel Tabel 5.000 pulau.114 1.054 843 672 1.2020 TOTAL 8.

FTP‐2 ‐IPP 1 PLTU Ketapang Kalbar 2 PLTU Nias Sumut 3 PLTU Tanjung Pinang Riau b.Indonesia Barat a. diutamakan sewa pembangkit dengan bahan bakar yang murah.50 dan 5.menggantikan pembangkit BBM terdiri dari Indonesia Barat 16 lokasi dan Indonesia Timur 35 lokasi. Jika ada penyewaan di masa mendatang.Indonesia Timur a.2020 115 . 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan Indonesia Timur RUPTL 2011.FTP‐2 ‐PLN 17 PLTU Bau Bau Sulsel 18 PLTU Kotabaru Kalsel 19 PLTU Sumbawa Barat NTB Kapasitas  (MW) COD  Estimasi 2 x 10 3 x 7 2 x 15 2013 2014 2014 2 x 3 2 x 7 2 x 7 2 x 7 3 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2013 2012 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2 x 10 2 x 4 2 x 7 2013 2014 2014 2 x 10 2 x 7 2 x 7 2014 2013 2013 No Nama Proyek II.Reguler ‐PLN 27 PLTU Alor NTT 28 PLTU Ampana Sulut 29 PLTU Berau Kaltim 30 PLTU Buntok Kaltim 31 PLTU Kendari Sulsel 32 PLTU Kuala Kurun Kalsel 33 PLTU Kuala Pambuang Kalsel 34 PLTU Malinau Kaltim 35 PLTU Raha Sulsel 36 PLTU Rote NTT 37 PLTU Sofifi Maluku 38 PLTU Talaud Sulut 39 PLTU Tj Selor Kaltim 40 PLTU Toli‐Toli Sulteng 41 PLTU Wangi Wangi Sultra ‐IPP 42 PLTU Andai (Manokwari) Papua 43 PLTU Sorong Papua 44 PLTU Sumbawa Baru I NTB 45 PLTU Tawaeli Ekspansi Sulut Kapasitas  (MW) COD  Estimasi 2 x 7 2 x 10 2 x 10 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2 x 7 2014 2014 2015 2013 2014 2014 2014 2 x 3 2 x 3 2 x 7 2 x 7 1 x 10 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 3 2 x 7 3 x 15 2 x 3 2012 2013 2012 2013 2013 2013 2013 2012 2013 2012 2013 2013 2012 2014 2013 2 x 7 2 x 15 2 x 10 2 x 15 2014 2014 2014 2014 Tabel 5. Tabel 5.Indonesia Timur (lanjutan) ‐IPP 20 PLTU Biak Papua 21 PLTU Kolaka Sulsel 22 PLTU Luwuk Sulteng 23 PLTU Melak Kaltim 24 PLTU Merauke Papua 25 PLTU Nabire Papua 26 PLTU Nunukan Kaltim b. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur No Nama Proyek I. Dalam perkembangannya.51 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana pengembangan pembangkit PLTU batubara skala kecil dan PLTGB lokasi di Indonesia Barat dan Indonesia Timur. beberapa lokasi dibatalkan atau diubah ke PLTGB. Tabel 5.Reguler ‐PLN 4 PLTU Ipuh Bengkulu 5 PLTU Mentok Babel 6 PLTU Natuna Riau 7 PLTU Sanggau Kalbar 8 PLTU Sintang Kalbar 9 PLTU Tanjung Uban Riau 10 PLTU Tapak Tuan NAD 11 PLTU Tebo Jambi 12 PLTU Tembilahan Riau 13 PLTU Tj Jabung Jambi ‐IPP 14 PLTU Baturaja Jambi 15 PLTU Muko Muko Jambi 16 PLTU Toboali Babel II.

2020 .51 masih dapat berubah sesuai hasil survei dan studi. 116 RUPTL 2011.50 dan 5. PLN tengah melakukan survei lokasi dan studi kelayakan.5 2 x 3 2 2 PLN PLN PLN PLN PLN PLN 2013 2013 2013 2013 2013 2013 Catatan: PLTU Manokwari = PLTU Andai Pada saat RUPTL ini disusun.No Nama Proyek Indonesia Barat ‐FTP‐2 1 PLTGB Putusibau Kalbar 2 PLTGB Rokan Hilir Riau 3 PLTGB Sabang NAD ‐Reguler 4 PLTGB Bengkalis Riau 5 PLTGB Dabo Singkep Riau 6 PLTGB Mentawai Sumbar 7 PLTGB Nanga Pingoh Kalbar 8 PLTGB Selat Panjang Riau 9 PLTGB Sinabang NAD 10 PLTGB Singkil NAD 11 PLTGB Tanjung Batu Sumsel 12 PLTGB Tanjung Pandan Babel No Nama Proyek Indonesia Timur ‐FTP‐2 13 PLTGB Larantuka NTT 14 PLTGB Selayar Sulteng 15 PLTGB Tahuna Sulut 16 PLTGB Tobelo Maluku 17 PLTGB Tual Maluku 18 PLTGB Timika ‐Reguler 19 PLTGB Bunyu Kaltim 20 PLTGB Buru Maluku 21 PLTGB Kota Bangun Kaltim 22 PLTGB Langgur Maluku 23 PLTGB Muara Wahau Kaltim 24 PLTGB Tana Tidung Kaltim TOTAL KAPASITAS Kapasitas  (MW) Pemilik COD  Estimasi 2 x 4 2 x 4 2 x 4 IPP IPP PLN 2012 2012 2013 6 2 x 3 2 x 3 2 x 3 6 2 x 3 2 x 3 2 x 4 5 PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN IPP IPP 2015 2013 2013 2013 2012 2013 2013 2013 2014 Kapasitas  (MW) Pemilik COD  Estimasi 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 2 x 4 IPP IPP IPP IPP IPP IPP 2013 2012 2013 2014 2013 2014 2 2 x 3 2. sehingga rincian proyek pada Tabel 5.

725.5 5.477.9 4.464.535. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 2. maka disadari adanya tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana tersebut.3 2.1 2019 2.461.605.028.003.166.238.313.269.186.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah.114.3 1.187.8 920.7 1.8 1.2 505.5 2.395.3 1.352.253.0 1.1 Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut.017.1 1.556.6 7.6 2.261.7 2.7 6.1 79. AFD) untuk mendanai proyekproyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatra – Jawa dengan skema two step loan.6 26.502.4 1.1 2.063.605.2 717.219.3 4.389.5 2.781.7 2.3 3.1 604.162.998.6 60.106.1 12.2 1.4 2.6 2.961.3 1.0 2.235.5 72.2 2. Akhirakhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan multilateral (IBRD.0 2.1 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI INDONESIA Untuk membangun sarana pembangkitan.395.2 2017 1.468.9 Juta US$ Total 21. namun setelah tahun 2006 peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan sebaliknya pendanaan dengan obligasi terus meningkat.0 34.166.7 480. baik obligasi lokal maupun global.3 1.2 7.477.5 3.693.0 2.5 1.199.5 2.3 884.2020 117 .2 4.035.5 372.5 1.4 113.467.892.320.033.9 2.4 2.310. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik swasta/IPP.8 2020 2.741.531.7 175.978.1 dan Gambar 6.034.650.168.0 13.7 2012 2.7 7.6 1.4 1.114.0 405.3 2.225.740.461.7 1.854.477.3 4.1 2014 2. RUPTL 2011.076.8 3.812.375.4 2015 2.6 1.8 4.073.BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI 6.0 1.385.337.3 2.026.3 4.909.5 4.278.1 959.494.264.9 2.496.4 1.0 14.7 2013 2.414.1 4.3 282.7 42.1.853.3 1.3 1.0 2.576.072.8 688.7 2018 2.172.701.031.4 288.5 1.907.9 2.5 2016 1.6 32.683.928.960.939.8 1.9 1.261.1 2.8 1.3 1.5 2.117.6 3.870.683.3 331.5 1.522.722. Proyek percepatan pembangkit 10.854.2 2. ADB) dan bilaterial (JICA.5 1.0 13.2 1.629.7 3.5 4.055.8 387. transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana diuraikan pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar US$ 60.6 5.269.5 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.0 75.5 6.5 2.984.539.1 1.253.539.7 1.1 7.8 1. Tabel 6.075. Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan).181.320.602.3 1.5 10.172.4 3.9 814.

9 600.109.4 1.374.4 25.7 18.2 739.581.319.000.000.5 710.3 55.744.252.7 549.942.388.1 532.5 881.Juta USD 8.513.4 2.4 1.7 42.1 804. Kebutuhan investasi tersebut juga telah memperhitungkan biaya rehabilitasi/life extention pembangkit.567.1 2.7 2.529.338.0  6.1 8.2 964.0 2.739.0 1. Tabel 6.795.2 dan Gambar 6.8 1.1 738.247.7 4.5 6.6 796.0 1.000.4 329.8 377.588.1 645.000.9 254.9 1.8 1.5 19.364.6 1.967.340.000.8 2.708.9 2013 1.397.246.2 812.7 600.191.5 2014 1.5 738.384.4 3. Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 18.682.0  7.517.6 84.679.164.4 148.000.8 13.0  1.3 2.5 2018 1.785.605.2 Juta US$ Total 12.3 466. transmisi dan distribusi oleh PLN sampai dengan tahun 2020 di sistem Jawa Bali membutuhkan dana investasi sebesar US$ 33.7 1.4 6.8 2016 912.2 1.128.5 2.446.521.0 1.3 145.528.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.093.8 miliar per tahun.2020 .3 2.3 miliar atau sekitar US$ 1.932.7 772.0  4.1 3.955.4 1.364.3 683.993.000.3 2.1 551.305.0  Pembangkit 3.1 556.138.131.2 532.1 1.1 1.2 1.4 3.3 683.6 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.801.7 1.5 622.7 4.005.2 452.594.5 5.0  Total Investasi 5.975.9 1.5 1.1 574.1 154.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI Pengembangan pembangkitan.445.3 33.000.349.1 796.115.9 739.6 2015 1.1 2012 1.909.8 958.3 796.1 1.1 7.2 1.274.2.0 1.921.8 1.4 202.9 1.8 370.8 549.0 50.260.0 108.5 511.8 1.7 228.8 1.9 768.9 2017 1.0 635.985.5 3.381.5 1.243.3 47.468.8 768.929.496.932.057.0 RUPTL 2011.2 296.9 2.856.0 2020 1.6 2019 1.6 574.671.5 1.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) 6.360.8 3. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total 118 Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 1.1 1.1 710.826.8 600.1 2.3 1.0 812. Porsi investasi pembangkit PLN setelah 2016 meningkat karena proyek pembangkit di atas tahun 2018 masih diasumsikan sebagai proyek PLN serta memperhitungkan disbursement investasi pembangkit yang beroperasi setelah tahun 2020.0  Transmisi Distribusi 2.

dan PLN pada saat ini tengah mengkaji kemampuannya dalam membuat pinjaman baru. sedangkan PLTU Indramayu 2x1. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. dan hal ini akan dijelaskan pada butir 5.5. Proyek percepatan pembangkit Perpres No. Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan pendanaannya ke lender multilateral.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN.2020 119 . obligasi.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah. APBN.9 miliar. RUPTL 2011. Proyek penyaluran pada tahun 2011-2012 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan pembangkit.4 miliar dan US$ 6. Namun proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi sumber pendanaan yang pasti.000 MW senilai US$ 3.5000 4500 4000 Juta USD 3500 Total Investasi 3000 2500 Pembangkit 2000 1500 Penyaluran 1000 Distribusi 500 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Tahun Gambar 6. kredit ekspor dan sumber lainnya. pinjaman luar negeri (two step loan). Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN. Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 8.

002.8 85.4 447. tidak termasuk proyek IPP.7 miliar per tahun dan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 10 miliar atau rata-rata US$ 1 miliar.4 418.1 801.443.3 475.0 152.1 262.8 2017 186.681.677.3 520.0 9.3 1.3 2.500.0  250.7 188.4 1.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.780.9 2012 908.3 376.4 1.5 1.8 190.8 258.1 2.6 332.1 57.500.1 3.102.9 2020 364.2 2013 1.000.9 436.5 34.3 876.302.454. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat 120 RUPTL 2011. Tabel 6.0  1.1 1.457.9 11.0 3. dengan disbursement tahunan seperti pada Tabel 6.0  2.8 634.000.2 3.2 19.3 578.8 418.7 536.250.0  Distribusi 500.5 111.5 334.0  Total Investasi 2.080.309.0 1.0  750.0  2.9 737.8 387.0 4.9 560.926.4 490.9 16.0 2018 405.528.6.1 323.7 232.1 1.274.1 366. sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 2011-2020 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah sebesar US$ 16.2 302.0  1.4 385.1 397.4 306.8 560.6 2.4.9 717.6 104.8 2014 843.3 2.750.2020 .7 191.7 69.2 116.9 48.9 629.517.1 596.219.3 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT DAN INDONESIA TIMUR Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit.6 671.2 792.2 Juta USD 3.3 312.5 1.0 447.000.2 205.007.3 359.4 339.603.6 1.2 631.0  2.1 1.2 Juta US$ Total 5.2 602.4 395.4 806.2 1.8 334.1 18.2 1.490.2 359.250.120.7 323.446.833.3 7.2 427.455.3 dan Tabel 6.8 996.4 409.1 975.1 1.750.0 2.8 16.4 306.6 2016 257.4 941.4 263.067.7 2015 674.9 213.833.585.0 380.625.5 758.9 959.0 2019 573.9 miliar atau rata-rata US$ 1.4 611.0 872.3 773.4 1.890.1 395.2 2.4 436.086.0  Pembangkit 1. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 610.0  Transmisi 1.6 427.006.8 1.4 153.2 385.8 102.0 8.

0 1.5 165.0  Distribusi 300.1 102.2 2018 392. Sedangkan disbursement proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi sistem-sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat.2 2015 266.8 1.7 2013 623.8 347.200.0 480.121.6 242.9 33.2 251.5 90.3 269.800.950.8 66. Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 20122013 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No.7 6.6 121.3 65.2 290.7 493.9 79.1 31.0 447.9 1.4 346.8 242.229. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 8.4 2.6 866.8 Juta USD 1.8 250.3 1.7 0.0 334. RUPTL 2011.8 356.6 358. Sulawesi dan Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.793.695.517.665.4 147.6 192.6 2019 170.0  Pembangkit 900.7 210.4 235.7 2014 480.9 1.5 181.9 385.8 113.3 1.71/2006.0  Total  Investasi 1.7 239.8 2012 574.8 344.7 251.1 460.213.2 458.6 315.0 760.2020 121 .1 446. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 372.511.4 10.0  1.5 432.2 268.445. di samping pengembangan transmisi 150 kV di Sumatra.360.9 176.7 892.5 996.5 553.7 5.1 13.5 395.4 569.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.006.7 242.5 5.0 503.7 216.7 269.7 250.2 121.8 592.7 244.0 1.696. terutama di sistem Sumatra.5 65.1 404.4 4.4 522.1 2016 353.060.0 813.8 543.3 600. Proyek transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh pengembangan transmisi 275 kV untuk interkoneksi seluruh Sumatra.3 315.8 2020 5.0  Transmisi 600.9 28.6 30.5 miliar.695.6 707.5 2017 456.0 5.3 267.9 584.5 938.9 miliar.6 216.4 4.3 563.9 139.0 699.8 565.4 Juta US$ Total 3.3 10.3 42.1 0.0 129.7 152.7 577.5 2.500.4 334.0 290.2 243.6 27. sedangkan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 5.3 346.8 244.3 645.0 267.6 5.4 1.9 119.6 198.Tabel 6.7 918.

5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN PLN Butir 6.1 604.474.026.8 6.277.842.655.034.3 282.0 59. PLN + IPP Item Pembangkit Penyaluran Distribusi Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total Fc Lc Total 2011 3.000.6 4.172.172.784.4 KEBUTUHAN INVESTASI KELISTRIKAN PLN DAN IPP Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan Indonesia secara keseluruhan.253.0 5.657.170.367.720.9 2.048.4 3.523.5 5.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan dalam RUPTL ini akan dipenuhi.0 12.461.1 2020 2.3 1.269.475.087.350.0 2.3 3.8 8.6 miliar per tahun.5 1.056.8 986. 6.389.307.650.253.2 505.813.860.2 1.6 2019 3. adalah US$ 96.7 Juta USD 14.6 2.1 7.783.955.369.138.701.0  Total Investasi 12.0  ‐ 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Gambar 6.0 3.371.2 miliar selama tahun 2011-2020.951.9 6.098.789.4 1.313.7 1.1 10.146.0 1.4 2017 4.6 9.0 4.539.9 1.0 96.7 Juta US$ Total 46.748. 122 RUPTL 2011.8 1.605.057.4 1.0  4.8 1.4 1.3 3.0 14.477.3 72.088.6.161.320.539.5.2 717.643.135.4 1.3 1.161.8 3.5 4.261.089.461.0 1.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap tahunnya membutuhkan dana investasi yang sangat besar.0  6.5 9.000.5 2.397. PLN + IPP Tabel 6.7 7.307.432.269.9 2.0 8.2 7.674.477.1 1.7 1.320.5 2.633.2 2.1 2016 5.166.278.000.4 405.338.2 1.204.0 4.7 288. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia.395.3 8.0 75.2 8.3 9.918.199.106.000.0  Transmisi Distribusi 2.4 113.414. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada Tabel 6.5 2.1 79.485.000.306.5 4.8 688.713.036.5 372.3 9.384.535.5 1.077.726.5 6.2 6.4 4.646.166.7 2014 7.089.6 3. dan juga menjelaskan dampak dari rencana investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).6 2.8 1.8 387.9 2.3 13.2 2. termasuk listrik swasta/IPP.6 2013 6.0 1.3 7.907.275.7 12.8 2018 4. yaitu rata-rata hampir US$ 9.3 1.0 13.815.194.066.757. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia.7 10.000.7 42.9 3.5 1.2 2012 4.531.3 1.7 2.2 1.395.375.599.384.725.000.5 6.5 1.2 5.0 67.261.457.476.347.1 1.3 3.3 331.7 2.0  Pembangkit 8.8 3.6 1.928.0 13.5 3.7 11.7 37.3 1.0  10.7 20.261.605.8 1. Tabel 6.7 175.2020 .888.7 480.8 2015 6.

Hal ini bertujuan untuk 51 Hanya mencakup base cost.2020 123 . pinjaman komersial perbankan lainnya serta hibah luar negeri. tidak termasuk financing cost. (iv) Marjin PSO53 8% pada tahun 2011-2015. sedangkan dana pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA.850/US$ tahun 2012.000/US$ sampai dengan 2015.5 miliar51 sampai dengan tahun 2020 akan dipenuhi dari berbagai sumber pendanaan. Rp 8. (iii) Kurs Rp 8.5. Selanjutnya pada bagian ini akan diberikan gambaran mengenai biaya pokok penyediaan listrik.2 Asumsi Proyeksi Keuangan Kemampuan PLN untuk melakukan pinjaman sangat ditentukan oleh indikator indikator keuangan perusahaan. yaitu APBN sebagai penyertaan modal pemerintah (ekuiti). dan Rp 880/kWh pada tahun 2014-2015.6.900/US$ tahun 2013.800/US$ tahun 2011. 52 Yang diukur dari pendapatan operasi terhadap kewajiban hutang yang jatuh tempo dan pembayaran bunga 53 Marjin terhadap biaya pokok penyediaan RUPTL 2011.5. pinjaman baru. Rasio tersebut digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman PLN dengan para lender dan bond holder. Asumsi dasar makro ekonomi dan asumsi korporasi yang digunakan dalam membuat proyeksi keuangan ini adalah sebagai berikut: (i) Tingkat bunga pinjaman baru 3-6% untuk pinjaman dalam nominasi valuta asing (US$) dan 912% untuk pinjaman dalam mata uang Rupiah. Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap. proyeksi EBITDA dan EBITDA margin.950/US$ tahun 2014 dan Rp 9. 6. Rp 8. Rp 881/kWh pada tahun 2013. (ii) Terjadi kenaikan tarif listrik sebesar 10% pada tahun 2012 dan 10% lagi pada tahun 2013. dan dana internal. sub-loan agreement). pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi. dan debt-equity ratio (rasio hutang terhadap aset). 6.3 Hasil Proyeksi Keuangan a. meningkat menjadi rata-rata Rp 802/kWh pada tahun 2012. obligasi nasional maupun internasional. misalnya rasio hutang52. Harga Listrik dan Subsidi (PSO. public service obligation) Harga rata-rata listrik pada tahun 2011 adalah Rp 729/kWh.5. Rp 8.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 60.

187 1.97 40.07 47. T Tarif Rata-rata (Rp/KWh) 2013 2014*) 2015*) 36.98 729 BPP (Rp/KWh) Laba/Rugi Bersih Rp.061 994 990 1.64 54. Selain itu laba bersih juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan internal perusahaan untuk berinvestasi sehingga dapat mengurangi kebutuhan dana eksternal (pinjaman). sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal (seluruh investasi didanai dengan hutang).97 7. Peningkatan laba tahun 2011 akan digunakan oleh PLN untuk membayar deviden kepada pemerintah dan memperkuat pendanaan internal (anggaran PLN atau APLN) untuk pembiayaan proyek-proyek kelistrikan seperti proyek pembangkit.43 802 881 880 880 1. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN) Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah karena sebelum tahun 2009 PLN tidak memperoleh marjin PSO.2020 . Pendanaan APBN diperkirakan akan mencapai sekitar Rp 10 trilyun/tahun. Pada tahun-tahun selanjutnya kenaikan tarif dilakukan untuk dapat mengurangi subsidi pemerintah54 seperti diperlihatkan pada tabel 6.6.000 MW tahap 1 (fast track 1) adalah sekitar 30%. Kenaikan TDL ini akan menghasilkan pendanaan internal yang sangat dibutuhkan untuk pembiayaan investasi.86 12. Rasio hutang terhadap aset PLN sebelum program percepatan pembangkit 10.014 14.23 14. Tabel 6.80 14. namun kemudian meningkat menjadi 53% pada tahun 2010 akibat seluruh pendaanaan proyek fast track 1 berasal dari pinjaman komersial dan obligasi. b. proyek transmisi dan fasilitas trafo distribusi untuk melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dan peningkatan keandalan pasokan listrik.mengurangi jumlah subsidi pemerintah dan meningkatkan laba bersih perusahaan. maka PLN harus mencari pinjaman komersial dan concessional untuk menutupi kekurangan kebutuhan investasi. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2011-2015 Tahun 2011 2012 Subsidi T Rp 87.10 *) Tidak ada kenaikan tarif hanya adjustment sebesar setengah dari inflasi dalam negeri. 54 Untuk menutupi selisih antara tarif dan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) 124 RUPTL 2011.

APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba operasi yang sangat terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata.2020 125 . . Dana internal untuk investasi diperkirakan akan meningkat dari 32% dari kebutuhan total investasi pada tahun 2011 menjadi sekitar 36% pada tahun 2015.Peningkatan dana dari APBN. baik dari tarif maupun marjin PSO. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi dan (iii) pinjaman.Peningkatan tarif PLN dan marjin PSO akan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik. RUPTL 2011. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat ditingkatkan jika revenue PLN meningkat. maka peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah.Peningkatan pendapatan PLN baik dari peningkatan tarif maupun peningkatan marjin PSO. c. Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas. APLN hanya didapat dari selisih antara marjin PSO + depresiasi aset dan pembayaran cicilan pokok. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena dibatasi oleh covenant pinjaman yang disyaratkan oleh lender dan bond holder. Hal ini menjadi semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat. maka harus dilakukan perbaikan sebagai berikut: .7 menunjukkan komposisi sumber dana investasi untuk mencukupi kebutuhan rencana investasi 5 tahun ke depan. Tabel 6.

Namun demikian RUPTL 2011-2020 tetap disusun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan melayani pertumbuhan demand listrik yang diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup.5 miliar per tahun.5 6.4 76. Jika nilai kebutuhan investasi dalam RUPTL adalah diluar kemampuan PLN selaku korporasi.0 26. 55 Marjin PSO 8% akan menghasilkan ROA sebesar 1-3%.5 28.0 29.0 28. maka PLN akan tidak melaksanakan beberapa proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL dan melaporkan situasi ini kepada Pemerintah.7 3.8 0.2 66. dan kekurangan pendanaan (funding gap) ini akan dilaporkan ke Pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang diperlukan untuk melaksanakan seluruh proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL yang akan dilaksanakan oleh PLN.6 9 .0 20. sedangkan benchmarking dengan utility yang regulated di negara lain pada umumnya ROA berkisar 8%.6 12.5 9. maka PLN akan melakukan investasi sesuai batas kemampuannya. dan tanpa diberikan margin yang cukup55 untuk membuat PLN mampu menggalang dana investasi yang lebih besar.1 63. pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang akan dilaksanakan oleh PLN sesuai RUPTL 2011-2020 mencapai US$ 61 miliar atau rata-rata US$ 60.4 38.7 2.6 23.1 9 . 7 Sumber Dana Investasi (Trilyun Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 APBN Internal Fund Pinjaman (committed) Pinjaman baru Total Kebutuhan Dana 9.- Peningkatan pinjaman murah (SLA) dimana pemerintah sebagai penjamin pinjaman.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL Seperti ditunjukkan pada butir 6.9 3.8 10.4 27. Tabel 6. yaitu subsidi hanya diberikan untuk menutup biaya operasi. Penyediaan dana investasi sebesar US$ 60.1.0 28.1 61.6 62. 126 RUPTL 2011. Jika pendanaan yang diperoleh ternyata masih tidak mencukupi untuk melaksanakan program-program RUPTL secara penuh.3 9 .2020 .5 miliar per tahun adalah diluar kemampuan PLN apabila model ekonomi kelistrikan tetap seperti yang terjadi pada saat ini. terus-menerus dan memenuhi syarat mutu dan keandalan.5.

transmisi dan distribusi. keselamatan ketenagalistrikan. pengembangan pembangkit. baik oleh PLN maupun oleh swasta. kesalahan desain. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP. Bagian kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. Analisis risiko mencakup identifikasi risiko. Bagian ketiga menjelaskan berbagai program mitigasi risiko yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko tersebut. RUPTL 2011. Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemetaan risiko dominan yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. uraian analisis risiko pada bab ini akan dilakukan berdasarkan issue-issue utama RUPTL. serta proyeksi pasokan energi primer dan kebutuhan investasi. termasuk PLTP Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN. performance instalasi. pemetaan risiko. pendanaan.BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 Analisis risiko RUPTL 2011-2020 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi kerawanan atau kelemahan yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang yang dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL. yaitu proyeksi kebutuhan/permintaan tenaga listrik. Risiko pengembangan ketenagalistrikan 1.1 IDENTIFIKASI RISIKO Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi aspek sebagai berikut: A. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan. Bab ini terdiri dari tiga bagian. keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek. Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri. pembangunan. dampak lingkungan dan sosial. 7. dan rekomendasi program mitigasi untuk risiko-risiko tersebut.2020 127 . cost over-run. 2.

3. kesembilan risiko tersebut memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta berikut. juga limbah. 2. kerusakan peralatan/fasilitas operasi. meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran penerimaan subsidi. berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi karena pengaruhnya pada kesehatan. Risiko Operasional 1. Risiko ketersediaan dan harga energi primer Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan batubara. seperti kekurangan/kelangkaan energi primer.2020 . Risiko Keuangan 1. Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. gas) dan risiko harga energi primer. kehilangan peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia perusahaan. C. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan metoda kualitatif berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa lalu. Risiko regulasi.l. risiko akibat kesalahan manusia 2. Risiko bencana. polusi dan kebisingan 4. 7. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi 1. Risiko likuiditas. sabotase) 3. Risiko lingkungan. risiko kepastian subsidi dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan D. risiko pencairan dana pinjaman untuk investasi dan risiko likuiditas aset. baik bencana alam maupun bencana akibat manusia (a. Risiko produksi/operasi.2 PEMETAAN RISIKO Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi. Risiko permintaan listrik Kesalahan dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di dalamnya risiko pertumbuhan ekonomi). 128 RUPTL 2011. dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu. Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi. meliputi risiko tarif listrik. B.

Risiko produksi/operasi 8. yaitu risiko dengan tingkat probabilitas kejadian tinggi dan dampaknya juga tinggi. Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan proyek-proyek PLN. keterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas.Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan dan dampak pada kelancaran operasional perusahaan. Dampak 5 1 2 6 4 4 3 9 8 7 3 5 2 10 1 1 2 3 4 5 Probabilitas Gambar 7. - Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko. Risiko likuiditas 7. Risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi 6. Risiko lingkungan dan sosial 10. yaitu risiko dengan probabilitas kejadian yang tinggi tetapi dampak yang RUPTL 2011. Risiko ketersediaan dan harga energi primer 5. yaitu: - Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko.2020 129 . 1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL Keterangan: 1. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik 4. termasuk PLTP 3. Risiko regulasi Berdasarkan pemetaan risiko di atas. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN 2. Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah ketersediaan dan harga energi primer. yaitu risiko dengan probabilitas kejadian rendah tetapi bila terjadi menimbulkan dampak yang tinggi. Risiko bencana 9. risiko permintaan tenaga listrik serta risiko bencana. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP. risiko dapat dikelompokkan dalam empat area berdasarkan tingkat probabilitas dan dampaknya. - Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko.

6. pokok-pokok program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi risiko diuraikan sebagai berikut. 3. 5. yaitu daerah dengan probabilitas rendah dan dampak yang ditimbulkannya juga rendah. 2. Namun demikian. 130 RUPTL 2011. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah risiko produksi/operasi. Mitigasi risiko pembangunan PLN Mitigasi risiko pembangunan IPP Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik Mitigasi risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer Mitigasi risiko likuiditas Mitigasi risiko produksi/operasi Mitigasi risiko bencana Mitigasi risiko lingkungan Mitigasi risiko regulasi Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. 7. - Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko.3 PROGRAM MITIGASI RISIKO Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena metoda dan sarana mitigasi terus berkembang.ditimbulkannya rendah.2020 . 8. 7. risiko regulasi dan risiko lingkungan. Termasuk ke dalam area ini adalah risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi. 1. 9. 4. 10.

467 MW.9% per tahun dan bergerak dari realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun 2010.053 MW.263 kms. 36.3 TWh. Kebutuhan investasi pembangkit. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut.47% selama 10 tahun mendatang. 10.647 MW.194 MVA yang terdiri atas 59.360 kms transmisi 275 kV AC.490 MVA trafo interbus IBT 500/150 kV.180 MW dan IPP sebesar 23. 3. IBT 333 MVA IBT 150/70 kV. tegangan rendah 225. penyaluran dan distribusi selama periode 2011 – 2020 untuk memenuhi kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara keseluruhan adalah sebesar US$ 96.6 milyar yang terdiri dari investasi pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 68. investasi penyaluran sebesar US$ 14. antara lain kenaikan tarif listrik. peningkatan ekuitas dari pemerintah (APBN) dan PLN mendapat marjin PSO. diantaranya yang akan dibangun oleh PLN sebesar 31.490 kms SUTT 70 kV.404 kms dan kapasitas trafo distribusi 37. 5.675 kms SUTET 500 kV AC.680 MVA IBT 275/150 kV. apabila asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi keuangan dipenuhi.BAB VIII KESIMPULAN Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun mendatang rata-rata 6. Untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik untuk periode 2011-2020 diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah 208. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar 114.176 kms SUTT 150 kV. proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 328.100 kms transmisi 500 kV HVDC. 3. Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN dapat mempunyai kemampuan untuk membiayai proyek-proyek kelistrikan sebagaimana direncanakan dalam RUPTL.2020 sebesar 54.431 MVA. 1. dengan pembiayaan yang bersumber dari dana internal dan eksternal. 3. diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk periode 2011 .2 milyar.607 kms. RUPTL 2011.000 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC. Beban puncak pada tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai 55. diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 49. atau mengalami pertumbuhan ratarata 8. 462 kms transmisi 250 kV HVDC.9 milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13. yang terdiri atas 2.5 milyar.355 MVA 70/20 kV dan 33. Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini.736 MVA trafo 150/20 kV.2020 131 .

Mataram. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik 3. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir. Batubara dan Gas 7. Keputusan Menteri ESDM No. AHU-46951. BPS. Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of Understanding on the ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian Mengenai Jaringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN) 6. Bappenas.DAFTAR PUSTAKA 1. UN Population Fund. Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait 8. 59/2009 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara 5. 4/2010 tentang Penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan 2. Undang-undang No. 634-12/20/600. 2008 11. 71/2006 jo No. 2005 132 RUPTL 2011. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Peraturan Presiden No.Tahun 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan 9.3/2011 tentang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 10.AH. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025. 2/2010 jo No. Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden No. 2011 12. Peraturan Menteri ESDM No. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 – 2027. 15/2010 tentang Daftar Proyekproyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan.01. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional 4.02. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2010 – 2029. 27 Juli 2011 13.2020 . Peraturan Pemerintah No. Peraturan Presiden No.

Statistik 2008.2020 133 . Website Kementerian ESDM. 2009 16. 2010 31. PT PLN (Persero). BPS. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia. 27. Pemerintah Daerah RUPTL 2011. DEN. Berita Resmi Statistik. Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010 mengenai Sumber Daya dan Cadangan Batubara. PT PLN (Persero). Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. 2006 23. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006. Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. 2011 30.14. 2010 17. Statistik 2007. Direktorat Perencanaan dan Teknologi. 2008 19. 2009 20. PT PLN (Persero). 2011 26. PT PLN (Persero). 2010 21. Nippon Koei. WestJec. Statistik 2010. PT PLN (Persero). Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2011 – 2015. 2007 29. BPS. 2008 25. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero). Statistik 2009. PT PLN (Persero). PT PLN (Persero). Draft Energy Outlook 2008. Draft Kebijakan Energi Nasional. 2011 22. 2008 18. Februari 2008 24. 2008 dan update dari website BPS 15. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 – 2019. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 – 2018. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 – 2005. 2010 28. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam Mendukung Ketahanan Energi. Pengkajian Energi UI.

LAMPIRA AN A AYAH OP PERASI WILA INDO ONESIA BARAT B Lampiran A ini menjelaskan rencana r pe engemban ngan ssistem kellistrikan di Wilayah Operasi O In ndonesia Barat B 134 .

Analissis Aliran Daya a A1.2 2.9 9.5 5. Renccana Pengemba angan Penyalu uran A2.8 8.8 8. Progrram Listrik Perd desaan A2. Neracca Energi A2. Capa acity Balance Gardu G Induk A1. Proye eksi Kebutuhan n Investasi PEN NJELASAN LA AMPIRAN A1 A2. Capa acity Balance Gardu G Induk A2.3 3.7 7.6 6. Neracca Daya A1.9 9.1 10. Proye ek-Proyek IPP Terkendala A2. Proye ek-Proyek IPP Terkendala A1.6 6. Peta Pengembanga an Penyaluran A1.1 12.LAM MPIRAN A. Neracca Daya A2.1 11.1 1. Kebu utuhan Fisik Pengembangan Distribusi D A2. SISTEM INTERKON NEKSI KALIMA ANTAN BARA AT A2. Progrram Listrik Perd desaan A1. Proye eksi Kebutuhan n Investasi PEN NJELASAN LA AMPIRAN A2 135 . Proye eksi Kebutuhan n Tenaga Listrikk A1.1 1. Peta Pengembanga an Penyaluran A2. Progrram Energi Barru dan Terbarukan A1.5 5.3 3.4 4. Kebu utuhan Fisik Pengembangan Distribusi D A1. Neracca Energi A1.4 4. Analissis Aliran Daya a A2. Progrram Energi Barru dan Terbarukan A2.1 10.1 11.2 2. SISTEM INTERKON NEKSI SUMAT TERA A1.7 7. Renccana Pengemba angan Penyalu uran A1.1 12. Proye eksi Kebutuhan n Tenaga Listrikk A2. WILAYAH W OPE ERASI INDONE ESIA BARAT A1.

PROVIN NSI RIAU A6.1.5. PROVIN NSI LAMPUNG G A13. A14. 136 .6. PROVIN NSI SUMATER RA UTARA A5. A14. PROVIN NSI SUMATER RA SELATAN A11.RENCA ANA PENGEM MBANGAN SIS STEM KELISTR RIKAN PER PR ROVINSI WILA AYAH OPER RASI INDONES SIA BARAT A3. A14. A14. PROVIN NSI BENGKUL LU A12. PROVIN NSI SUMATER RA BARAT A9. PROVIN NSI NANGGRO OE ACEH DAR RUSSALAM A4. A14. PROVIN NSI KEPULAU UAN RIAU A7. NERAC CA DAYA SIST TEM-SISTEM IS SOLATED WILAYA AH OPERASI INDONESIA BARAT B Sistem Isolated Provin nsi Nanggroe Aceh A Darussala am Sistem Isolated Provin nsi Sumatera Utara U Sistem Isolated Provin nsi Riau Sistem Isolated Provin nsi Kepulauan Riau R Sistem Isolated Provin nsi Kepulauan Bangka B Belitun ng Sistem Isolated Provin nsi Kalimantan Barat A14. PROVIN NSI JAMBI A10.4.2. PROVIN NSI KALIMANTAN BARAT A14.3. PROVIN NSI KEPULAU UAN BANGKA BELITUNG A8.

LA AMPIRAN A1 SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 137 .

LA AMPIRAN N A1.1 PROYE EKSI KEBU UTUHAN TENAGA A LISTRIK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 138 .

0 66.169 48.559 28.193 8.197 34.380 40.7 66.034 52.54 9.169 48.91 9.794 39.377 Susut T & D % 9.59 9.46 9.70 9.336 37.446 28.00 5 00 5.00 22.034 52.953 25.9 67.475 25.814 36.190 31.00 5 00 5.821 5.656 44.00 6 00 6.3 66.579 8.80 9.641 Energi Siap Salur TT PS Pembangkit Energi Dibangkitkan Load Factor Beban Puncak Sistem GWh % GWh .656 44.415 5.00 6 00 6.00 6 00 6.50 9.197 34.6 66.00 5 00 5.3 65.00 5 00 5.475 25.336 37.0 MW 4.874 9.304 31.264 5 00 5.4 65.304 31.248 22.269 4.043 33.380 40.446 28.35 22.00 5 00 5.509 47.990 43.264 % 65.42 9.952 6.065 7.516 7.4 65.64 9.00 6 00 6.4 65.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi Sumatera KETERANGAN 139 SATUAN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Energi Jual GWh 20.

2 A NE ERACA DA AYA SISTEM INTE ERKONEK KSI SUMATERA 140 .LAMPIRAN A1.

000 PLTU PLN (FTP2) 27% PLTU PLN 4 000 4.000 Beban Puncak 56% PLTU IPP 50% 8 000 8.Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera MW Reserve Margin 18.000 PLTG PLN 75% PLTA IPP PLTA PLN 78% PLTGU IPP 16.000 PLTG PLN PLTA IPP 74% PLTP IPP PLTU & PLTG Sewa 64% Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN 141 10.000 Kapasitas Terpasang 2.000 PLTA PLN PLTU IPP PLTU FTP2 73% PLTU PLN 12.000 PLTGU PLN PLTP IPP 79% PLTP PLN 14.000 - 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Tahun .000 37% 6.

952 35.776 67 8.Neraca Daya Sistem Sumatera [1/3] No Pasokan dan kebutuhan No.819 847 8 760 263 942 - 3.983 66 7.441 847 8 915 620 942 109 3.175 662 942 249 4.520 3.883 847 8 1.2 Duri 1 (Ex Relokasi Jawa) Keramasan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW % 23.2 (FTP1) Pangkalan Susu #1.414 65 4.266 2.266 2.696 66 6.821 29.2 (FTP1) Sumbar Pesisir #1.245 67 8.819 847 8 760 263 942 - 3.806 67 9.009 847 8 890 263 942 60 3.551 3.269 26.219 65 5.065 42.009 847 8 890 263 942 60 3.579 47.742 847 8 1.819 847 8 760 263 942 - 3.266 2.2 (FTP1) Ulubelu #1.113 65 5. 1 2 142 3 Kebutuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Tingkat pertumbuhan Pasokan Kapasitas Terpasang PLN PLTA PLTMH PLTU PLTG PLTGU PLTD Swasta Sewa IPP PLTA PLTMH PLTU PLTG PLTGU PLTMG PLTP Retired & Mothballed (PLN) Tambahan Kapasitas PLN On-going Project Tarahan (FTP1) Meulaboh #1.193 51.175 662 942 109 4.415 32.874 56.396 66 7.396 2.059 65 4.456 3.266 2.862 3.641 MW MW MW MW MW MW MW MW 4.822 3.516 39.819 847 8 760 263 942 - MW MW MW MW MW MW MW MW MW MW 533 447 180 16 80 150 12 10 - 633 447 180 16 80 150 12 10 117 633 447 180 16 80 150 12 10 300 95 447 180 16 80 150 12 10 586 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 60 447 180 16 80 150 12 10 130 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 - 447 180 16 80 150 12 10 - PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTG PLTGU 100 40 100 220 220 112 55 20 220 112 55 86 .949 847 8 890 263 942 - 3.

4 (FTP2) .2 Ekspansi Gunung Megang.1. 143 Rencana Sungai Gelam (CNG/Peaker) Jaka Baring (CNG/Peaker) Duri Sengeti (CNG/Peaker) Belawan Lhokseumawe Aceh Timur Pembangkit Peaker *) Batanghari Peusangan 1-2 Asahan III (FTP2) Merangin Simonggo-2 Masang-2 Riau (Amandemen FTP1) Pangkalan Susu #3.6 Dumai Sumbagut IPP On-going Project Simpang Belimbing #1. Mulut Tambang Hululais (FTP2) Sungai Penuh (FTP2) SEWA Sungai Gelam Borang B Borang Talang Duku (sewa beli) Payo Selincah (sewa beli) Tarahan #5. ST Cycle Satuan 2011 PLTG/MG PLTG/MG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP 90 50 100 20 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 60 400 120 70 500 200 30 88 174 175 110 175 86 55 110 400 200 200 400 110 110 PLTMG PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU 12 30 30 60 50 PLTU 227 PLTGU 2012 -12 -30 -30 30 30 50 240 240 360 30 -30 30 400 . Meulaboh #3.4 Sumsel .Neraca Daya Sistem Sumatera [2/3] No Pasokan dan kebutuhan No.

Talang Danau Ranau Bonjol Kepahiyang Wampu Simpang Aur (FTP2) Semangka Hasang Peusangan .448 56 32 8.470 75 16.005 79 17. Pasokan dan kebutuhan 144 ` 4 5 Rencana Duri Aceh Sumsel .311 24 6. Mulut Tambang Riau Mulut Tambang Jambi KPS Sumut .2 Lumut Balai (FTP2) Sarulla I (FTP2) Ulubelu #3.11.198 73 13.913 50 39 10.2 (Keban Agung) Sumsel .557 79 14.7 Sumsel .612 37 83 8. Mulut Tambang Banjarsari Sumsel .4 (FTP2) Seulawah (FTP2) Sarulla II (FTP2) Rajabasa (FTP2) Muara Laboh (FTP2) Sorik Marapi (FTP2) *) Rantau Dedap (FTP2) Suoh Sekincau Wai Ratai Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria G.050 75 Ket: *) Mengingat pengembang belum melakukan eksplorasi sehingga tingkat ketidak pastian besarnya kapasitas masih cukup tinggi.Neraca Daya Sistem Sumatera [3/3] No.6. .4 PLTM Tersebar Sumut Jumlah Pasokan Reserve Margin Satuan 2011 PLTGU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTP PLTA PLTA PLTA PLTA PLTA PLTM MW % 2012 2013 100 44 22 2014 2015 2016 2017 150 150 300 300 300 300 2018 2019 400 400 2020 227 230 225 150 150 225 110 110 110 220 110 55 110 220 220 240 110 110 *) 110 110 55 110 55 20 110 165 220 45 23 56 40 83 5. maka perhitungan reserve margin didasarkan pada kapasitas PLTP Sorik Marapi sebesar 2x55 MW.665 64 12.5 Sumsel .

3 A PROY YEK-PRO OYEK IPP TERKEND DALA SIST TEM INTER RKONEKS SI SUMAT TERA 145 .LAM MPIRAN A1.

5 MW W masuk dalam m kategori 3. dan merekka dimasukkan dalam 3 ka ategori PPTL te erkendala seba agai berkut : Kategori 1: tahap operrasi. PLTU Te embilahan 2x5. ndanaan. PLTP Sib bayak 2x5.5 MW W masuk dalam m kategori 1 PLTU MT T Banjarsari 2xx100 MW masu uk dalam kategori 3 PLTU Ku uala Tanjung 2xx100 MW masu uk dalam kateg gori 3 PLTU MT T Keban Agung g 2x112. b Kategori 2: tahap kon nstruksi. Saat ini penyelesaian p IPP terkendala tersebut sedan ng diproses ole eh Komite Direktur D untuk IPP dan Kerjasa ama Kemitraan n.5 masuk dalam m kategori 3.A1. 146 . yaitu proyek IPP sudah s mencapai Financial Closing (FC) tapi konstruksinya bemasalah h sehingga tida ak kunjung mencapai COD D.3 Pro oyek-proyek IP PP yg terkenda ala Dalam program p IPP te erdapat bebera apa proyek yang pelaksanaa an kontralk PPTL/PPA-n nya mengalami kendala. yaitu u proyek IPP sudah memiliki Kategori 3: tahap pen ng mencapai Fin nancial Closing g (FC). yaitu proyyek IPP sudah mencapai COD namun bermasalah.5 MW masuk dalam kategori 3 PLTP Sa arulla 330 MW masuk dalam kategori k 3. PLTU Re engat 2x5. PPTL tettapi tiak kunjun Pembangkit IPP yang terkendala di sistem Sumatera a adalah.

LAMPIRAN A1.4 A NE ERACA EN NERGI SIS STEM INTERKONEKSI SUMA ATERA 147 .

030 HSD 8.679 6.865 10.502 6.076 321 - - - - - - - 63 64 801 2.414 14.270 9.389 7.575 LNG - - - 4.517 40.200 Hydro 3.398 3.444 27.040 7.Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sumatera (GWh) 148 JENIS 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Batubara 6.276 13.773 11.788 7.671 15.216 5.022 5.707 2.518 7.850 23.843 44.003 47.714 Gas 5.353 11.932 7.586 5.809 19.114 7.805 51.957 34.415 7.476 5.324 4.293 4.232 4.035 7.718 5.466 6.765 6.120 37.567 Geothermal .622 30.989 56.269 4.317 4.820 4.690 4.967 26.303 5.273 4.295 1.691 13.314 100 100 100 - - - - MFO 1.417 16.424 15.050 Total 24.

006 8.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Interkoneksi Sumatera 149 FUEL TYPE 2011 2012 HSD ( x 1000 kL ) 2.007 6.139 9.363 10.795 16.484 556 MFO ( x 1000 kL ) 379 317 94 53 77 77 GAS (GBTU) LNG (GBTU) Batubara (kTON) 2013 - - - 4.241 1.746 2014 27 - 2015 2016 27 - 27 - 2017 2018 2019 2020 - - - - - - - - 84 83 78 68 51 47 44 34 34 34 34 34 36 41 9.255 14.761 12.425 .152 9.

5 A CAPA ACITY BA ALANCE GARDU G IN NDUK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATRA 150 .LAM MPIRAN A1.

9 72% 39% 30 21.8 51% 46.8 58% 122. Trafo MVA Gardu Induk TEG JML MVA 150/20 Total 1x30 30 30 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) SISTEM ACEH 1 GI ALUE DUA/ LANGSA PLTD SEWA 2 GI TUALANG CUT 42% 150/20 3x10 Total 3 GI ALUE BATEE/ IDI 150/20 1x30 151 GI LHOKSEUMAWE 150/20 5 GI BIREUEN 30 Total 60 30 150/20 150/20 2x30 Total GI SIGLI 60 150/20 1x10 10 150/20 Total 1x20 20 30 PLTD SEWA 7 GI BANDA ACEH I / LAMBAROE 150/20 2x30 60 1x60 60 Total 120 PLTD SEWA 8 ULEE KARENG 150/20 Total 2x60 9 LAM PISANG 150/20 Total 2x60 18.6 70% 78.1 38% 60 50 88.8 66% 103.5 42% 23.4 55% 61.9 57% 64% 43% 48% 53% 59% 66% 72% 102.8 62% 20 30 30.0 51.6 73.7 47.2 25.4 43% 47% 50% 36% UP 30-10 19.4 67% 73.0 58.4 68% 19.5 38% 21.2 29% 20 35% 30 20 30 UP 60-30 78.7 50% 28.9 46% 51.4 60% 68.9 23.3 68% 124.1 59.8 64.0 43.2 27.5 46% 25.0 61% 51.8 67.8 57% 65% 74% 16.2 51% 87.0 55% 62% 68% 75% 62% 69% 60% 17.8 72% 44.0 31% 30 36% 23.5 53.8 47% 40 47.5 UP 60-10 50 48.8 38.6 65% 16.4 30 28.0 120 30% 45 44% 30 30 .1 39% 42% 47.5 19.0 UP 30-10 20 UP 30-10 31.6 54.Capacity Balance GI N Nanggroe A Aceh hD Darussalam l (NAD) 2011 Kapasitas No.7 25.1 32.0 38.1 46% 60 30 30 PLTD SEWA 6 10 20 30 150/20 PLTD SEWA 51% 30 30 2x30 18.2 10 30 30 Total 4 15.4 34.0 43% 50 106.9 57% 55% 62% 52% 58% 64% 72% 63% 34.8 45% 40 42.9 73.0 UP 60-30 33.3 42.7 56% 31.5 65% 15.6 51% 56.6 27.1 79.9 49% 31.4 22.1 38.0 41.8 70% 50 49% 55 54% 61 60% 65 64% 70 69% 30 120 29% 35 34% 50 49% 30 40.2 57% 117.

7 16.5 19.0 28% 33% 38% 43% 48% 57% 69% 98 9.8 63% 66% 69% 71% 49% 51% 53% 55% 11.4 7.1 32.5 19.1 10 1 40% 10.0 13.4 1x30 9.6 34.8 38% 10.7 39.6 7.4 30 25% 2x30 60 30 21.7 13.4 53% 30 30 21.1 63% 17.1 40.1 17.9 24.5 10 5 41% 10.3 60% 16.5 24.1 6.1 17. Trafo MVA Gardu Induk 10 GI TAKENGON TEG JML 150/20 2x30 MVA 2012 2013 12 GI MEULABOH 19.1 7.3 21.2 33.1 27.7 14.5 76% 32.1 41% 30 .4 45% 47% 49% 51% 54% 56% 58% 60% 13.3 14.7 22.8 19.5 58% 63% 69% 38% 13.Capacity Balance GI NAD (lanjutan (l j 1) 2011 Kapasitas No.6 13.5 21.4 41.8 70% 18.2 11 2 44% 11.5 1x30 8.9 12.0 12.9 36.0 67% 17.6 53% 37% 15 GI PANTONLABU 2016 150/20 Total 14 GI JANTHO 60 39% T t l Total 13 GI KUTA CANE 2015 (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Total 11 GI SUBULUSSALAM 2014 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo 150/20 Total 94 9.2 41% 42% 44% 46% 48% 50% 51% 14.0 35.6 6.8 60 53% 1x30 2019 2020 21.8 150/20 Total 1x30 150/20 2x30 152 150/20 150/20 Total 26.8 18.7 16.4 14.4 37% 30 6.0 54% 62% 73% 42% 47% 53% 63% 69% 150/20 30 10.1 13.0 35.8 8.6 23.5 43% 47% 53% 58% 63% 69% 38% 41% 16.2 24.4 57% 15.1 26% 27% 28% 29% 30% 31% 32% 14.6 73% 19.9 7.3 Total 17 GI BLANG PIDIE 150/20 Total 1 30 1x30 18 GI TAPAK TUAN 150/20 1x30 Total 19 GI COT TRUENG 2018 30 150/20 Total 16 GI KRUENG RAYA 2017 20.4 25.1 32% 30 30 30 30 12.6 11 6 45% 12.8 15.0 12 0 47% 2x30 14.3 26.7 29.7 15.9 10 9 43% 11.3 37.

06 1 04 1.07 1 07 1.07 1 07 1.9 5.07 1 06 1.6 5.02 153 .5 44% TOTAL PEAK GI 227 298 409 461 526 581 640 701 782 850 TOTAL PEAK SISTEM 212 278 381 431 489 549 612 681 755 833 DIVERSITY FACTOR 1 07 1.3 20.8 Total 46% 30 4. 20 Trafo MVA Gardu Induk GI BLANG KJEREN TEG JML 150/20 1x30 MVA Peak Add 2012 Peak Add 2013 Peak GI SAMALANGA 150/20 2014 Peak Add 2015 Peak Add 2016 Peak Add 2017 Peak Add 2018 Peak Add 2019 Peak 2020 Add Peak Add Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Trafo (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 4.1 19% 20% 21% 22% 23% 24% 13.Capacity Balance GI A h (lanjutan Aceh (l j 2) 2011 Kapasitas No.4 15.6 53% 59% 65% 72% 40% 30 22.0 16.6 Total 21 Add 30 18% 1x30 11.4 5.1 5.07 1 07 1.8 6.03 1 04 1.04 1 02 1.04 1 03 1.6 18.07 1 07 1.

68 40 29% 21.17 25% 19.73 64% 40.25 23% 25.03 65% 133.87 41% 44.49 34% 18.16 52% 84.22 70% 113.72 58% 62.50 32% 17.93 19% 20.12 79% 42.05 53% 75.85 42% UAI 60 UP 30 UAI ADD 60 ADD 60 GI 60 .65 74% 120.70 83% 135.84 53% 108.53 36% 19.43 83% 33.0 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 150/20 31.83 41% 22.66 69% 150.49 59% 64.55 60% 99.42 22% 23.97 56% 90.78 94% 50.00 71% 114.77 64% 60.99 65% 70.28 26% 13.22 42% 16.07 43% 23.36 88% 143.5 * 60 * 60 60.08 62% 35.14 49% 53.61 69% 75.71 70% 37.72 63% 61.56 21% 22.86 65% 105.80 43% 46.88 54% 58.49 57% 92.0 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 60 Total 60 150/20 150/20 150/20 Total 87.22 24% 26.85 81% UP & ADD 14.93 40% 43.47 62% 101.47 79% 127.85 45% 39.83 62% 42.Capacity Balance GI Sumut No.86 69% 112.08 88% 47.15 66% 107.65 99% 76.73 20% 21.27 70% 113.19 66% 107.5 150/20 20 Total 20 150/20 60 Total 60 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) ADD 60 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 95.21 73% 118.13 38% 41.65 39% 20.40 46% 45.94 78% 126.53 83% GI BARU 45.23 25% 27.75 70% 38.85 74% 40.43 62% 101.5 60 Total 91.48 75% 99. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 2 3 154 4 5 6 7 8 9 SISTEM SUMUT GLUGUR GIS LISTRIK TITI KUNING PAYA PASIR MABAR KIM LABUHAN LAMHOTMA DENAI 150/20 150/20 60 60 Total 120.25 75% 40.80 44% 47.32 23% 24.48 94% 86.24 90% 97.55 74% 80.41 56% 61.86 46% 50.03 78% 42.67 60% 65.47 50% 81.65 53% 57.06 59% 95.70 74% 19.29 50% 54.64 66% 141.93 47% 51.68 66% 35.16 74% 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 92.62 49% 80.43 60% 65.

13 51% 69.97 45% 61.21 44% 47.81 56% 91.86 64% 104.04 73% 119.79 81% 29.53 48% 58.34 51% 54.44 48% 65.95 54% 57.57 60% 82.5 30 Total 61.60 55% 37.20 52% 85.30 41% 44.09 33% 35.61 55% 54.82 60% 47.69 51% 55.88 78% 128.08 34% 37.93 47% 13.37 58% 25.71 68% 112.91 39% 42.80 65% 104.06 42% 45.47 75% 61.57 46% 24.05 46% 74.65 37% 39.76 58% 31.26 67% 146.07 55% 29.40 52% 56.14 77% 89.42 39% 41.84 37% UAI 60 UAI 60 UAI 60 ADD 60 40.68 42% 57.54 62% 30. BRANDAN 15 PERBAUNGAN 16 T.91 41% 44.78 41% 44.26 64% 97.00 76% 123.13 43% 46.18 40% 65.38 61% 98.48 52% 28.47 47% 49.18 57% 77.38 49% 53.78 90% 48.42 55% 88.11 39% 51.98 41% 22.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 1) No.94 46% 49.12 13% 35.95 49% 80.82 44% UAI 60 GI 60 .04 54% 73.14 49% 20.28 84% 137.90 35% 37.22 64% 98.26 58% 93.98 49% 26.46 43% 70.84 44% 47.74 59% 32.51 59% 83.5 150/20 150/20 150/20 Total 60 60 60 180 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 30 30 Total 60 150/20 150/20 31.31 36% 50.00 91. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA SISTEM SUMUT 10 NAMURAMBE 11 SEI ROTAN 12 PAYA GELI 155 13 BINJAI 14 P.47 45% 48.5 150/20 60 Total 60 150/20 150/20 60 60 Total 120 150/20 150/20 60 60 Total 120 45.80 39% 41.59 72% 117.76 49% 57.18 36% 39.29 43% 46.24 44% 23.5 Total 91.06 46% 43. MORAWA 17 TEBING TINGGI 18 KUALA TANJUNG 150/20 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 60 Total 60 150/20 150/20 60 31.86 72% 157.18 37% 61.80 37% 39.70 57% 84.53 68% 110.83 60% ADD UAI 60 37.30 49% 44.37 31% 34.53 47% 50.98 48% 60.84 49% 52.

98 47% 59.89 55% 44.89 74% 20.05 59% 79.22 83% 22.31 38% 17.58 49% 13.14 38% UP 45.36 47% 51.91 63% 35.40 65% 87.61 10% 2.32 66% 3.92 33% 14.85 66% 17.63 28. PRAPAT 24 KOTA PINANG 25 BRASTAGI 26 SIDIKALANG 27 TELE 150/20 150/20 30 60 Total 90 150/20 10 Total 10 150/20 150/20 150/20 Total 60 31.53 37% 16.5 30.34 34% 14.52 52% 41.77 35% 15.78 99% 12.60 67% 72.47 58% 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) UP 20 11.81 49% 21.41 45% 74.0 ADD 30 UP 40 UAI 30 ADD 30 .40 58% 47.44 72% 13.18 12% 11.0 122 150/20 20 Total 20 150/20 150/20 150/20 Total 30 0 31.5 150/20 30 Total 30 150/20 150/20 30 20 Total 50 150/20 20 Total 20 150/20 10 Total 10 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 71.37 60% 79.17 83% 37.28 50% 26.02 79% 21.21 36% 15.12 31% 13.21 52% 13.82 11% 2.51 32% 13.98 54% 72.74 30% 51.09 57% 76.88 69% 56.84 65% 88.60 56% 61.89 65% 52.93 52% 69.10 59% 31.85 51% 2.85 47% 25.85 62% 83.05 63% 16.87 54% 14.32 9% UP 30.12 40% 17.34 53% 57.67 14% UP 30 UAI UP 20 2.69 51% 68.06 62% 49.16 68% 12.72 71% 18.5 45% UAI 48.72 63% 68.29 60% 16.98 42% 18.51 10% 2.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 2) No.28 49% 39.82 47% 20.06 60% 64.88 44% 19.82 61% 66.71 11% 2.03 68% 92.50 44% 23.67 37% 16.56 49% 16.94 12% 3.79 53% 28.26 50% 54.81 99% 17.70 69% 65.5 61.56 57% 15.65 42% 15.58 58% 62.42 78% 16.05 12% 3.43 56% 76.26 93% 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) UAI 60 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 77.81 63% 83.41 9% 2.05 73% 59.40 56% 30.94 55% 73. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA SISTEM SUMUT 19 PEMATANG SIANTAR 20 GUNUNG PARA 21 KISARAN 156 22 AEK KANOPAN 23 R.

65 41% 36.70 45% 1.34 54% 14.34 43% 18.47 85% 14.93 35% 31.71 30% 24.89 44% 27.21 40% 21. SIDIMPUAN 157 32 GUNUNG TUA 33 TANJUNG PURA 34 PANYABUNGAN 35 PARLILITAN 150/20 Total 20 20 150/20 150/20 Total 10 10 20 150/20 150/20 Total 30 10 40 150/20 150/20 Total 30 31.31 36% 29.82 47% 16.29 51% 17.37 7% 3.36 36% 15.69 48% 8.5 62 150/20 10 Total 10 150/20 150/20 Total 30 0 30 150/20 150/20 Total 30 30 60 150/20 10 Total 10 150/20 36 SALAK (Untuk menyerap energi PLTM) Total 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 14.30 54% 15.86 35% 12.11 47% 42.59 47% 8.12 50% 23.49 35% 28.51 50% 27.51 7% 3.24 6% 3.08 38% 17.29 27% 9.82 37% 16.53 18% 1.29 38% 16.84 47% 25.91 44% 15.38 43% 38.56 18% 1.76 29% 10.10 30% 16.50 18% ADD 10 30 60 60 .66 19% 1.43 33% 30 UP 20 37.46 76% 20.28 44% 23.85 26% 1.06 37% 20.12 6% 3.98 35% 19.30 33% 11.0 67% 18.25 30% 10.59 19% 1.68 34% 27.65 7% 3.15 80% 28.20 45% 40.43 37% 33.72 20% 1.28 41% 17.81 52% 18.80 7% 3. Gardu Induk Trafo MVA MVA 28 PORSEA 29 TARUTUNG 30 SIBOLGA 31 P.42 31% 25.30 48% 16.79 49% 17.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 3) Kapasitas No.97 33% 17.15 32% 25.48 43% 20 14.46 37% 13.62 19% 1.01 31% 16.83 82% 22.78 39% 17.00 6% 3.16 37% 9.80 42% 18.19 71% 19.06 83% 14.69 20% 1.00 39% 34.42 42% 22.91 33% 26.51 34% 60 29.36 45% 15.91 35% 30 15.76 21% 3.95 8% 36.76 32% 11.

79 125% 66.0 34.5 1.0 34.172 172 78 44.16 8% 2.6 1.012 1.19 4% 2.012 1.46 5% 55.34 9% 2.0 11.39 5% 2.333 333 78 44.89 19% 10.711 1.404 404 78 44.08 8% 2.1 1.0 11.63 10% 8.0 34.32 5% 2.011 1.0 11.563.50 6% 2.48 24% 13.217 217 78 44.1 1.825 825 78 44.0 11.Capacity Balance GI S Sumut (l j (lanjutan 4) Kapasitas No.0 11.317 1.33 18% 9.83 135% 71.25 9% 2.399 150/20 150/20 .7 1.0 34.271 1.0 11.48 21% 11.03 28% 11.011 1.78 23% 12.0 34.PT Grouth Sumatera .386 1.0 34.795 1.31 108% 57.0 34.43 10% 2.58 140% 1.012 1.730 730 78 44.478 478 78 44.017 COD 2012 TOTAL PEAK GI Peak Load Big Customer (I4) .014 1. Gardu Induk Trafo MVA MVA 150/20 37 NEGERI DOLOK (Untuk menyerap energi PLTM) Total 60 150/20 150/20 Total 30 30 60 150/20 30 Total 30 150/20 60 Total 60 38 KUALA NAMU 39 PANGURURAN 158 40 LABUHAN BILIK 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 60 2.194.011 1.30 116% 61.159 1.012 1.24 130% 68.479.06 4% 2.00 4% 2.25 112% 59.0 1.400.11 22% 11.325.001 1.272 272 78 44.23 26% 14.0 11.558 558 78 44.8 17% 9.48 121% 63.642 642 78 44.PT Gunung Gahapi TOTAL PEAK GI umum TOTAL PEAK SISTEM INT DIVERSITY FACTOR 2 399 2.624 1.0 11.53 10% 2.0 34.00 8% 2.25 4% 2.094.0 11.463 1.5 1.652.139.0 34.0 1.4 1.200 1.0 34.746.3 1.4 1.255.12 4% 2.540 1.

3 24.1 46.3 LUBUK ALUNG BUNGUS (NEW) PARIAMAN (NEW) KAMBANG (NEW) 150 150/20 20 150/20 30 Total 50 150/20 150/20 150/20 / 30 30 30 30 30 8.5 11.5 14.4 19.6 41% 44% 49% 55% 62% 70% 39% 44% 49% 54% UP 30-60 30 INDARUNG Total 5 28.1 52.2 35.1 57% 63% 70% 51% 56% 62% 67% 74% 40.0 82.7 1 18.0 25.8 20.4 40.0 55% 30 32.0 15.2 1 13.4 62.8 17.3 54.3 34% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 69% 38% 42% 11 11.9 23.0 82.0 82.7 42.0 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 18.6 26.1 43.5 71.0 22.9 20.3 21.2 32.8 52.Capacity Balance GI S b Sumbar No.2 57.1 1 16.9 45% 48% 53% 59% 66% 74% 41% 45% 50% 55% 30 30 21.4 12.8 49.8 47.3 11.1 29.2 34.6 40.3 36.0 57% 63% 69% 76% 51% 56% 61% 67% 73% 82.3 42.0 82.3 15.3 10.8 75.8 66% 52% 39.7 44.0 82.3 23.8 9.1 12.5 1 1 15.7 67% 44% 50.6 1 12.2 60 .0 82.2 50.7 17. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2020 Add Peak Trafo Load (MVA) (MW) Add Trafo (MVA) CABANG PADANG 1 2 159 3 4 PIP PAUH LIMO SIMPANG HARU 150/20 20 150/20 30 Total 50 150/20 60 150/20 30 Total 90 150/20 42 150/20 42 Total 84 6 7 8 29.3 38.5 19.0 82.8 38.3 64.5 52.5 48% 53% 59% 51% 56% 62% 68% 42% 58.8 27.7 14.9 68.4 4 27.8 36.0 82.4 43% 45% 50% 55% 61% 69% 76% 52% 57% 62% 10.0 82.

1 22.1 84% 91% 53% 61% 69% 39% 44% 50% 56% 63% CABANG SOLOK 16 SOLOK 17 SALAK 18 KILIRAN JAO 150/20 20 150/20 20 Total 40 150/20 150/20 / 20 UP 20-60 40 30 30 20 150/20 10 Total 30 30 30 .5 66% 73% 40% 10.0 12.0 63.4 17.4 23.3 16.4 52% 57% 62% 68% 49% 22.5 18.8 52.9 24.3 34.5 68.0 36.3 75.2 52.6 20.5 69.5 23.1 19.8 65% 33% 37% 41% 45% 51% 57% 62% 69% 57% 22.4/20 20 (NEW) 15 GI PADANG PANJANG 150/20 10 30 30 60 5.3 47.4 39.4 32.0 42.6 15.7 32.7 11.9 58.1 13.2 22.3 40.2 14.3 20.6 22.3 62.6 25.3 24.6 57.8 15.9 65% 29% 30.6 32% 36% 40% 45% 50% 55% 61% 66% 30 30 Add Add Trafo (MVA) 60 CABANG BUKITTINGGI 11 MANINJAU 12 PADANG LUAR 150/20 20 160 150/20 20 150/20 30 Total 50 30 UP 20-60 40 NEW 13 SIMPANG EMPAT 150/20 30 14 BATANG AGAM 0.6 30.1 43.8 31.1 31.0 48.8 32.4 57.6 77% 81% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 68% 74% 21.7 16.1 44.9 18.2 27.5 60% 63% 70% 31% 35% 39% 43% 48% 52% 58% 27.7 25.0 91% 47% 52% 57% 63% 70% 56% 61% 67% 73% 13.1 13.7 26.4 17.2 13.8 25.Capacity Balance GI S b (lanjutan Sumbar (l j 1) No.9 13.5 29.9 18.7 90% 47% 52% 58% 64% 71% 39% 43% 47% 52% 11.6 15.3 33.7 20.8 52.7 39.5 28.1 28.2 10.2 35.5 36.0 44% 49% 54% 59% 65% 71% 120 16.3 28.9 47.0 21. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 9 GI/GIS KOTA PADANG 10 GI SUNGAI PENUH (NEW) (NEW) 150/20 150/20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2020 Peak Trafo Load (MVA) (MW) 52.0 26.6 9.5 20.

8 486.9 TOTAL PEAK SISTEM 402.5 16.3 79% 50% 55% 61% 67% 50% 55% 60% 65% 71% 13.5 20.MEDAN (NEW) 150/20 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 30 30 Add 2020 Peak Trafo Load (MVA) (MW) 12.03 1.6 14.7 515.0 724.1 31.0 25.Capacity Balance GI S b (lanjutan Sumbar (l j 2) No.1 810.4 10.03 1.4 878.8 578.8 853.4 629.3 447.03 1.1 50% 55% 61% 68% 75% 41% 45% 49% Add Trafo (MVA) CABANG PAYAKUMBUH 20.0 23.3 1.4 11.0 34.1 15.8 686.03 1.8 45.7 49.1 53% 37% 41% 45% 50% 55% 61% 66% 72% 39% TOTAL PEAK GI 414.1 38.03 1.0 25.4 561. Kapasitas Trafo MVA Gardu Induk MVA 19 GI S.4 9.3 434.4 786.5 666.1 21.5 12.5 611.03 20 PAYAKUMBUH 21 BATUSANGKAR 161 DIVERSITY FACTOR 150/20 150/20 30 30 30 30 30 .1 41.03 1.5 17.8 472.03 1.5 28.3 19.9 54.03 1.6 14.RUMBAI/GNG.0 15.03 1.9 18.0 746.9 530.

15 15.69 19.17 70.97 25.58 86.75 18.69 67% 70% 42% 50% 55% 60% 66% 46.21 14.90 81% 59% 13.61 43% 44% 48% 51% 55% 59% 64% 32.25 56% 57% 53% 55% 61% 66% 71% 76% 42% 22.47 34.36 52% 46% 34% 31% 32% 34% 36% 80.30 34.00 Total 7 (MVA) Peak Load (MW) 15.72 54.81 55% 81% 150/19 150/20 Total 30 30 60 10 10 41.92 76% 3 GARUDA SAKTI 150/20 150/20 150/20 Total 50 50 60 160 TELUK LEMBU 150/20 150/20 Total 60 60 120 162 PLTD Sewa 5 DURI DUMAI 150/20 150/20 Total BAGAN BATU 9 TELUK KUANTAN PASIR PUTIH (MVA) 2015 2016 2018 2017 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) 15.87 64.Capacity Balance GI Ri Riau No.54 32.53 37.07 35.68 126.14 26.17 46.00 PLTD Sewa 6 30 Trf Baru 109.61 63% 66% 64% 68% 38% 42% 47% 70% 78% 83.01 55% 30 GI Baru 120 GI Baru 120 Trf baru 20 Uprating 30 Trf baru .30 47.97 77.55 54.22 15.39 24.40 64.38 45.11 41.18 59.45 100.34 92.17 150/20 150/20 Total 150/20 10 30 40 0 20 UpRating 47% 150/20 Alih bbn KID Alih Bbn GIS Kota Alih bbn Perawang 150/20 60 Up Rating 14.16 44.44 47.53 60 Trf Baru 57.99 21.04 46% 50% 54% 58% 63% 69% 12.95 88.06 97.63 Alih bbn Kit Tenayan 45% 30 30 60 28.06 55.15 53% 59% 61% 59% 63% 71% 56% 62% 69% 78% 34.64 39.55 51.19 84.55 15.57 52% 8 20 Trf Baru 2014 Add Trafo 30.64 71% 10 NEW GARUDA SAKTI (MVA) Peak Load (MW) 46% 74.13 33.24 70.80 51.90 75% 71% 60% 30 UpRating 36.93 91.93 53.17 60 Trf Baru 113.96 13.13 59.89 18.37 17.79 59.25 38.93 16.35 66% 54% 58% 63% 69% 78% 112. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 2 KOTO PANJANG BANGKINANG 150/20 20 Total 20 150/20 30 2011 Add Peak Trafo (MVA) Load (MW) 14.48 21.21 80% 4 2012 Peak Load (MW) 14.63 14.48 54.04 61.42 44.48 52.51 41.23 44.04 19.46 13.30 50.21 83.87 25.00 60 GI Baru 0 0 Alih Bbn Kandis 14.51 18.08 51% 52% 56% 59% 62% 66% 71% 36.71 73% 74% 60 Trf Baru 30 Up Rating 90.52 16.94 45% 46% 50% 54% 58% 62% 68% 56% 74% Alih bbn Pasir Putih 80.23 35.09 45% 55% 57% 58% 60% 63% 50.06 16.26 64.62 57.51 Alih bbn Bangkinang 2013 Add Trafo 40.04 43.58 86% 46% 38.82 30.22 33.07 15.82 44% 11 PASIR PANGARAYAN Add Trafo 14.77 54.55 73.

47 53% 10.00 64% 60 852.16 7 3.67 38% 40% 43% 45% 48% 51% 10.18 30.53 49% 30 627.32 44% 30 GI Baru 24.39 48% 13 TEMBILAHAN 150/20 Total 2014 Add Trafo Load (MW) 60 GI Baru Peak Load (MW) 2016 2015 Add Trafo (MVA) 2017 2018 2019 2020 Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) Trafo (MVA) 22.32 52% 180 675.56 14 47 14.00 50 432.95 1.25 17.75 431. 723.80 55% 58% 62% 1.10 40.06 45% 47% 9. 9 381.52 12. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 12 RENGAT 150/20 Total 2011 2012 Peak Add Peak Load (MW) Trafo (MVA) Load (MW) 2013 Add Trafo (MVA) 0 0 Peak (MVA) 24.81 45% 573.77 15.02 16 GI SIAK SRI INDRA PURA 150/20 0 17 KIT TENAYAN 150/20 0 18 PERAWANG 150/20 0 19 KID DUMAI 150/20 0 20 GI KANDIS 150/20 0 10 57 10.01 8 9.59 36% 20.73 12.07 16.00 1.00 60 GI Baru 210 22.13 45% 47% 51% 54% 58% 62% 67% 14.01 28.00 39% 30 GI Baru 12.50 779.57 21 GI LIPAT KAIN 150/20 0 8. 1.67 1.18 13.50 18.95 849.96 23.31 10.12 576.63 19.38 74% 12 06 12.88 56% 41% 33% 17.90 11.00 30.40 56% 30 GI Baru 13.98 1.59 10.68 1.20 22 GI/GIS KOTA PEKANBARU 22.69 14.30 62% 30 GI Baru 30 GI Baru 18.00 GI Baru 41% 45% 15.2 14.08 9.8 530.74 25.69 40% 22.25 58% 64% 69% 74% 40% 9.2 44% TOTAL PEAK GI TOTAL PEAK SISTEM DIVERSITY FACTOR 382.51 12.82 1.65 1.50 49% 11.68 623.58 13.20 163 10.83 16.49 1.65 29.03 43% 14 BAGAN SIAPI-API 150/20 0 30 GI Baru 9.98 10.84 27.61 38% 39% 43% 46% 49% 53% 58% 15 PANGKALAN KERINCI 150/20 0 30 GI Baru 9.75 59% 0 782.41 61% 77% 48% 11.16 45% 49% 30.92 11.00 26.92 14.67 85.26 6 3.30 56% 110 726.43 9.51 50% 44% 57% 10.81 68% 11 38 11.59 34.53 12.61 13.Capacity Balance GI Ri (lanjutan) Riau (l j ) No.42 13.52 35.35 11.29 1.22 1.52 31.16 485.58 67 .53 49% 54% 59% 65% 30.49 40% 12 75 12.83 24.00 200 486.52 0 0 30 GI Baru 30 Trf baru 22.01 38 .11 38% 30 Trf baru 11.00 32.00 3 .00 Trf Baru 52% 60% 69% 79% 13.46 150/20 0 37% 14.75 13 51 13. 9 672.81 20.35 54% 15.00 30 .75 15.36 1.42 42% 45% 1.26 576.00 270 532.23 530.

58 46% 14.32 32% 13.64 90% 29.81 52% 19.80 42% 12.58 51% 60 60 .64 49% 15. Gardu Induk Kapasitas Trafo MVA MVA 1 BUKITSIGUNTANG PTM 2012 2 TALANG RATU PTM di 2013/2014 164 3 SEDUDUK PUTIH PTM 2012 4 SUNGAI JUARO 5 BOOM BARU 70 kV 70/12 70/20 15 15 Total 30 70/12 70/12 70/20 70/20 Total 10 5 10 10 30 70/12 70/20 Total 15 30 45 70/12 70/20 Total 15 20 35 70/12 70/20 Total 15 30 45 2011 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 70/12 70/12 70/20 70/20 Total 5 5 15 10 35 7 SUNGAI KEDUKAN Trafo II 15 MVA (Step up : Pertamina) 70/12 70/20 Total 10 15 25 8 KERAMASAN Sudah realisasi trafo 60 MVA 70/12 70/12 150/20 Total 15 10 60 25 PTM DI 2012 2013 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2014 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2015 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2016 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2017 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2018 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) 2019 Add Peak Trafo Load (MW) (MVA) 2020 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) Uprate 15-30 MVA 70/20 Uprate trafo 15-30 MVA SKI P3B Tambah 30 MVA 70/20 28.66 96% 32.20 56% 20.69 59% 18.69 38% 26.88 74% 40.44 112% 28.06 51% 14.13 63% 11.18 47% 15 Uprate 15-30 32.58 100% 16.38 85% 19.65 54% 24.27 42% 29.28 74% 15 21.74 53% 45.88 70% 10.73 63% Relokasi Trafo d 30.15 52% 34.69 33% 21.16 62% 22.75 46% 13.06 59% 21.12 64% 34.87 57% 64.22 58% 22.26 87% 25.75 53% 16.32 30% 12.67 85% 36.21 iK 79% 6 BUNGARAN PTM 2012/2013 2012 Peak Add Load Trafo (MW) (MVA) uprate trafo III 15-30 uprate trafo IV10-30 33.06 44% 16.07 74% 17.53 49% 30 18.57 49% 40.47 49% 81.11 61% 33.75 52% 22.10 54% 16.78 65% 27.72 45% 37.15 58% 17.54 65% 17.49 35% 14.22 59% 15.10 57% 37.86 60% 49.39 29% 8.63 72% 57.50 68% 75.Capacity Balance GI S2JB No.56 53% 88.97 35% 10.38 56% 36.24 65% 23.57 58% 95.68 56% 17.30 98% 13.38 59% 24.66 42% 11.05 62% 40.86 53% 44.11 49% 31.56 68% 44.53 108% 7.53 49% 53.16 89% 51.84 65% 20.90 89% 24.76 48% 35 20.94 64% 69.55 36% 25.44 69% 24.76 84% 45.59 85% 31.

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
1)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

165

9 TALANG KELAPA

150/20

60
60

49,06
96%

10 BORANG
(Beban ditarik ke
PLTMG Sako)

150/20
150/20
Total

15
30
45

SKI P3BS

11 MARIANA

150/20
150/20

2x16
32

12 SIMPANG TIGA

150/20
150/20
Total

30
60
60

150/20
150/20
Total

15
30
30

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20
150/20
Total

30
30
60

150/20
150/20
Total

10
20
30

150/20
150/20
Total

10
15
25

13 PRABUMULIH

14 BUKIT ASAM

15 BATURAJA

16 LAHAT

17 PAGAR ALAM

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
UAI P3BS
40,73
60
40%

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)
60

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

106,74
60%

116,46
65%

45,64
36%

54,64
43%

75,33
59%

81,24
64%

89,15
70%

97,27
54%

18,92
49%

20,14
53%

21,34
56%

22,72
59%

24,07
63%

62,41
28,27
54%

68,31
29,97
57%

74,39
31,63
60%

81,42
33,55
64%

88,67
35,43
67%

12,12
32%

13,22
35%

14,86
39%

16,37
43%

18,04
47%

34,80
16,86
62%

39,05
20,34
75%

45,10
22,61
83%

51,10
24,72
91%

57,90
27,05
51%

49,43
97%

53,96
53%

60,46
59%

44,09
43%

50,13
49%

53,47
52%

58,15
57%

62,96
62%

68,60
67%

74,27
49%

26,20
69%

28,87
32%

32,73
37%

36,41
41%

40,51
45%

42,87
48%

46,07
52%

49,26
55%

52,93
59%

56,60
63%

64,43
63%

69,99
69%

116,37
57%

122,70
60%

60

60

30
30

78,27
51%

60

85,85
56%

94,18
62%

98,29
64%

104,16
68%

109,82
54%

60

72,05
47%

60

92,39
60%

90,87
51%

85,13
48%

89,87
59%

94,43
62%

99,76
65%

104,88
69%

18,32
43%

20,04
47%

21,68
51%

28,99
57%

30,54
60%

Uprate 30->60
60,23
79%

30

Uprate
p
30-60
77,74
76%

30

18,88
74%

Uprate 10->30 MVA
20,63
20
49%

16,07
38%

12,10
28%

14,36
34%

15,35
36%

16,87
40%

19,19
90%

Uprate 10-30
20,85
55%

23,31
61%

21,34
56%

23,56
62%

24,52
64%

25,98
68%

20

Uprate 15-30
27,36 15
54%

60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
2)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

18 LUBUKLINGGAU

150/20

150/20
150/20

2x30
60

150/20
150/20

2x30
60

21 GUNUNG MEGANG

150/20

30

1 GI Kenten

150/20
150/20

60
60
120

20 GUMAWANG

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Add
Peak
Trafo
Load
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

30
20
50

19 BETUNG

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

Uprate 20->60
49,60
40
65%

166

54,85
72%

56,37
74%

61,55
48%

24,79
49%

27,63
54%

21,91
43%

20,22
40%

28,32
56%

30,90
61%

34,72
68%

38,27
50%

Relokasi 30 MVA ex Baturaja
30,90
60
34,72
40%
45%

28,32
111%

3 JAKABARING / KEDUKAN EXT 150/20

60

69,59
55%

74,35
58%

67,72
53%

73,26
57%

79,74
63%

23,72
47%

25,54
50%

28,19
55%

30,84
60%

34,01
44%

42,17
55%

39,80
52%

42,37
55%

44,89
59%

47,79
62%

50,62
66%

38,27
50%

42,17
55%

34,22
45%

33,04
43%

33,95
44%

35,56
46%

37,11
49%

46,27
45%

52,42
51%

59,39
58%

64,02
63%

70,07
69%

76,31
50%

83,52
55%

90,96
59%

12,59
25%

13,85
27%

15,23
30%

16,75
33%

18,43
36%

20,27
40%

22,30
44%

24,53
48%

12,69
50%

13,81
54%

15,01
59%

16,32
64%

17,63
69%

19,04
37%

18,38
36%

19,66
39%

21,04
41%

22,51
44%

24,09
47%

25,77
51%

27,58
54%

16,54
65%

17,36
34%

18,23
36%

19,14
38%

20,10
39%

10,52
41%

11,26
44%

12,04
47%

12,89
51%

13,79
54%

13,05
51%

13,97
55%

14,94
59%

15,99
63%

30

60

86,19
68%

30

37,19
49%

60
4 KAYU AGUNG

150/20

30

5 TANJUNG API-API

150/20
150/20
Total

30
30
60
0%

6 SUNGAI LILIN

150/20

30

7 MUARA DUA

150/20

30

8 MUARA RUPIT

150/20

30

16,05
31%

17,17
34%

15,00
59%

dari GI Betung

15,75
62%
dari GI Baturaja
9,83
39%

30

30

20,56
40%

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
3)
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

9 SEKAYU

150/20

30

10 TEBING TINGGI

150/20

30

11 GIS Kota I

150/20

60
60
120

12 Martapura

150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

150/20

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
10,5
41%
12,7
50%

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
11,2
44%
13,5
53%

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,0
47%
14,3
56%
0,0%

-

167

MVA

1.082

TOTAL PEAK GI

MW

694,23

85

745,91

1.532

Persentase pembebanan
PEAK SISTEM INT. SUMSEL
Diversity Factor

%
MW

75,48
627,00
1,11

57,28
697,15
1,07

450

1.907
818,47
50,49
767,43
1,07

375

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
13,7
54%

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
14,7 58%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
15,7
30
31%

15,1
59%
55,9
54,8%

16,1
63%
60,8
59,6%

17,0
67%
66,5
65,2%

18,0
35%
72,4
47,3%

14,7
49%
14,0
55%
2.447 240

15,6
52%
15,9
62%
2.642 195

16,6
55%
17,5
69%
2.702

17,6
59%
19,1
30
38%
2.942 240

2.147

904,08

1008,61

1071,46

1144,86

1228,64

1325,28

1422,62

50,96
843,40
1,07

55,27
930,54
1,08

57,12
998
1,07

55
1.070
1,07

55
1.147
1,07

58
1.238
1,07

57
1.335
1,07

-

30

Total Kap. Terpasang GI

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)
12,8
50%

masuk di 2016
13,8
46%
10,0
39%
60
2.207
60

30
-

13 Pendopo

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)
9,8
38%

2.087

180

60

30
60

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
4)
No.

Kapasitas
Trafo MVA

Gardu Induk

MVA
1 SUKAMERINDU

2 PEKALONGAN

168

3 TES

70/20
70/20
70/20

15
30
30

Total

75

70/20
70/20
150/20
Total

5
10
30
15

70/20

5
15

150/20

30

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

74,87
98%

28,81
38%

19,95
,
78%

23,27
,
91%

24,40
,
48%

4,12
32%

4,33
34%

3,92
31%

-

150/20

3 Sukamerindu 2 / Pulau Baai

150/20
150/20
Total

60
60
120

150/20

30

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

33,39
44%

24,65
32%

26,09
34%

29,69
39%

31,42
41%

33,82
44%

36,40
48%

27,93
,
55%

28,69
,
56%

29,17
,
57%

32,45
,
64%

32,99
,
65%

34,24
,
67%

35,54
,
70%

4,54
36%

4,77
37%

5,01
39%

5,26
41%

5,52
43%

5,80
45%

6,09
48%

21,52
42%

22,97
45%

24,52
48%

17,56
34%

18,67
37%

19,85
39%

21,12
41%

14,01
55%

14,71
58%

15,45
61%

81,61
53%

87,34
57%

93,49
61%

13,60
53%

14,56
57%

15,58
61%

9,29
36%

10,00
39%

10,77
42%

0%

18,90
74%

20,17
40%

150/20

30

0%

0%

0%

0%

12,10
47%

12,71
50%

13,35
52%

54,24
53%

61,66
60%

65,51
64%

69,20
68%

77,26
50%

0%

0%

10,92
43%

11,53
45%

12,88
50%

30

0%

5 GI BinTuhan

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

mundur ke 2012

2 Muko-Muko
Ditarik dari argamakmur

g
4 GI ArgaMakmur

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

71,10
93%

USULAN GI BARU 150/20 KV
1 MANNA / MASSAT

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

60

GI Bin Tuhan Masuk
8,62
34%

30

Total Kap. Terpasang GI
Total Kap.Terpasang Pembangkit

MVA
MW

120
-

TOTAL PEAK GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM BENGKULU
Diversity Factor

MW
%
MW

94,97
94
97
93,11
85,92
1,11

-

150
121,16
121
16
95,03
108,67
1,11

30

330
131,94
131
94
47,04
117,18
1,13

180

330
149,04
149
04
53,14
132,61
1,12

-

360
169,63
169
63
55,43
152,87
1,11

30

360
178,22
178
22
58,24
161,16
1,11

-

450
188,45
188
45
49,27
170,91
1,10

90

450
197,83
197
83
51,72
180,04
1,10

-

450
210,32
210
32
54,99
191,35
1,10

-

450
223,67
223
67
58,48
203,05
1,10

-

Capacity Balance GI
S2JB (lanjutan
(l j
5))
No.

Gardu Induk

Kapasitas
Trafo MVA
MVA

1 JAMBI (AUR DURI)

2012
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

Total

30
30
30
60

150/20
150/20
Total

60
60
120

3 MUARA BUNGO

150/20

30
30
60

45,75
90%

4 BANGKO

150/20

30

27,22
107%

UAI P3BS
30,48
60
40%

5 GI. MUARA BULIAN

150/20

30

19,41
76%

UAI P3BS
22,87
60
30%

USULAN GI BARU 150/20 KV
1 GI SABAK

150/20

30

2 PAYO SELINCAH

150/20
150/20

2011
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

169

3 GI KUALA TUNGKAL

150/20

150/20

30

30

2014
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

2015
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2016
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2017
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2018
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

2019
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

45,67
90%

UAI P3BS
51,74
60
51%

46,92
46%

54,10
53%

58,17
57%

62,84
62%

67,51
66%

76,54
75%

UAI P3BS
86,57
60
57%

95,78
63%

104,66
68%

111,85
73%

120,17
79%

128,42
63%

55,96
55%

58,75
58%

62,04
61%

65,12
64%

69,15
45%

27,56
36%

29,10
38%

30,95
40%

32,68
43%

34,99
46%

37,46
37%

27,88
36%

29,21
38%

30,76
40%

32,22
42%

34,10
45%

36,10
47%

11,33
44%

11,65
46%

12,04
47%

12,38
49%

12,86
50%

13,36
26%

13,88
54%

14,21
56%

14,47
57%

14,89
58%

0

0

0

15,31
60 03
60,03

51,22
100%

0%

2 GI SAROLANGUN

2013
Peak
Add
Load
Trafo
(MW)
(MVA)

49,25
48%

0%

33,29
44%

24,82
32%
dimundur ke 2013
10,28
40%

0,00
0%

0%

0%

0

0

0

660

-

660

-

77,04
50%

30

37,81
49%
30

13,74
27%

-

15,32
60%

15,60
31%

30

15,90
62 36
62,36

16,52
64 78
64,78
1.020

720

870

930

260,3

295,1

312,6

333,0

352,8

393,3

420,9

452,1

%

84,15
194,29
1,10

52,91
220,76
1,10

48,62
236,58
1,10

52,61
269,67
1,09

55,72
285,45
1,10

59,4
304
1,10

57,65
322,34
1,09

53,18
359,50
1,09

53,24
383,51
1,10

52,14
413,90
1,09

3.167
1.490,8
1
490 8
1.368,9
1,09

3.227
1.582,7
1
582 7
1.462,6
1,08

3.617
1.686,1
1
686 1
1.563,3
1,08

3.962
1.820
1
820
1.687
1,08

4.082
1.956
1
956
1.813
1,08

-

60

39,55
39%

242,9

3.077
1.348,2
1
348 2
1.245,7
1,08

30

73,42
48%

300

2.867
1.210,7
1
210 7
1.121,2
1,08

660

166,50
65%

214,6

2.222
1.109,9
1
109 9
1.026,6
1,08

90

149,80
73%

MW

1.502
1.003,8
1
003 8
907,2
1,11

630

60

85,33
56%

MVA

MVA
MW
MW

240

0

138,70
68%

79,48
52%

TOTAL PEAK GI

PLN WS2JB
Kapasitas terpasang GI
PEAK GI WS2JB
PEAK SISTEM S2JB
DIVERSITY FACTOR

540

dimundur ke 2014
13,63
53%

60

60

Total Kap terpasang GI
Persentase Pembebanan
PEAK SISTEM JAMBI
Diversity Factor

-

60

73,27
48%

2020
Peak
Add
Load
Trafo
(MW) (MVA)

4.412
2.098,4
2
098 4
1.952
1,07

Capacity Balance GI
Lampung
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

1

TARAHAN
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

2

TELUK BETUNG
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

3

NATAR
Terpasang
B b P
Beban
Puncak
k
Pembebanan Trafo

170

4

SUTAMI
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

5

KALIANDA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

6

GI TEGINENENG

Peak

2014
Add

Peak

2015
Add

Peak

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(2x30)

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

35,51

41,88

43,30

41,04

41,37

41,09

40,41

39,27

37,65

35,43

%

69,6%

82,1%

84,91%

80,5%

81,1%

80,6%

79,2%

77,0%

73,8%

69,5%

150/20
MW

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(1x60)

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

(1x60)

%
150/20
MW

72,91

86,18

86,40

89,32

77,38

81,37

67,07

70,26

73,56

76,86

71,5%

84,5%

84,7%

87,6%

75,9%

79,8%

65,8%

68,9%

72,1%

75,4%

60

60

120

120

120

120

120

120

120

120

120

(2x30)

51,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

MW

40 78
40,78

49 06
49,06

%

80,0%

48,1%

150/20
MW

60

60

60

60

52 87
52,87

56 86
56,86

49 79
49,79

39 91
39,91

39 74
39,74

40 87
40,87

42 26
42,26

43 74
43,74

51,8%

55,7%

48,8%

39,1%

39,0%

40,1%

41,4%

42,9%

60

60

60

90

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

76,5

MW

28,71

34,06

36,53

39,10

41,49

43,66

%

56,3%

66,8%

71,6%

76,7%

81,4%

57,1%

150/20
MW

(2x30)

90
30

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

45,86

48,08

50,36

52,65

59,9%

62,8%

65,8%

68,8%

30

30

60

60

60

60

60

60

60

60

60

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

22 19
22,19

26 67
26,67

%

87,0%

52,3%
70

28 73
28,73

30 89
30,89

22 15
22,15

23 38
23,38

29 09
29,09

30 57
30,57

32 09
32,09

33 61
33,61

56,3%

60,6%

43,4%

45,8%

57,0%

59,9%

62,9%

65,9%

70

110

150

150

150

(2x20)

59,5

59,5

59,5

93,5

93,5

93,5

93,5

127,5

127,5

127,5

(1x30)

45,49

54,79

59,08

63,56

40

67,71

71,49

75,31

79,16

40

83,13

87,12

76,5%

92,1%

99,3%

68,0%

*2)

72,4%

76,5%

80,5%

62,1%

*2)

65,2%

68,3%

GI ADIJAYA

70

30

MW
%

70

110

110

110

Total

30

30

60

60

60

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

51,0

51,0

51,0

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

28,16

34,37

%

110,4%

67,4%

GI MENGGALA

Total

50

50

30

50

37,23

40,21

42,98

73,0%

78,8%

56,2%

50

50

50

30

45,50

48,05

50,62

53,27

55,92

59,5%

62,8%

66,2%

69,6%

73,1%

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

42,5

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

37,89

28,49

31,50

34,66

37,58

39,88

40

42,54

45,23

48,00

50,78

89,2%

67,0%

74,1%

81,5%

88,4%

52,1%

*2)

55,6%

59,1%

62,7%

66,4%

GI SRIBAWONO

%
150/20

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

120

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

102,0

Beban Puncak

MW

(1x30)

BUKIT KEMUNING

%

33,13

41,30

45,07

40

49,00

49,66

52,80

55,96

59,15

62,45

65,75

30

77,9%

97,2%

58,9%

*2)

64,1%

64,9%

69,0%

73,2%

77,3%

81,6%

64,5%

*3)

Total

30

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

76,5

Beban Puncak

MW

32,73

40,65

%

128,3%

53,1%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

MW

Pembebanan Trafo
10

2013
Add

Total

Pembebanan Trafo
9

Peak

Terpasang

Pembebanan Trafo
8

2012
Add

Beban Puncak
Pembebanan Trafo
7

150/20
MW

Peak

30

90

90
60

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

48,86

40,98

43,99

46,26

49,00

51,76

54,62

57,48

63,9%

53,6%

57,5%

60,5%

64,1%

67,7%

71,4%

75,1%

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
1)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

11

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

80

120

120

120

120

120

120

180

68,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

153,0

Beban Puncak

MW

51,95

40

68,20

71,13

73,61

40

80,14

69,09

73,93

78,81

83,85

88,90

%

76,4%

*2)

100,3%

104,6%

72,2%

*2)

78,6%

67,7%

72,5%

77,3%

82,2%

58,1%

Total

50

Terpasang

MW

(1x20)

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban Puncak

MW

(1x30)

44,92

44,95

40

48,25

41,01

38,67

40,72

42,79

44,88

47,04

49,20

105,7%

58,8%

*2)

63,1%

53,6%

50,6%

53,2%

55,9%

58,7%

61,5%

64,3%

PAGELARAN

GI METRO

%

50

90

90

90

90

90

90

90

90

90

Total

50

50

50

90

90

90

90

90

90

90

90

Terpasang

MW

(1x30)

42,5

42,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

Beban P
Puncak
ncak

MW

(1 20)
(1x20)

171

GI NEW TARAHAN

GI SUKARAME

%
150/20
MW

30

28 81
28,81

32 07
32,07

33 56
33,56

40

35 13
35,13

36 58
36,58

37 90
37,90

39 23
39,23

40 58
40,58

41 97
41,97

43 36
43,36

67,8%

75,4%

43,9%

*2)

45,9%

47,8%

49,5%

51,3%

53,0%

54,9%

56,7%

30

60

25,5

51,0

MW

19,73

23,39

%

77,4%

45,9%

(1x30)

60
30

60

120

51,0

51,0

102,0

25,63

36,67

42,49

50,2%

71,9%

41,7%

60

120

120

102,0

102,0

102,0

102,0

102,0

47,70

53,07

58,59

120

64,37

120

70,29

120

46,8%

52,0%

57,4%

63,1%

68,9%

150/20

30

30

30

60

60

60

60

60

60

120

120

Terpasang

MW

(1x30)

25,5

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

102,0

102,0

Beban Puncak

MW

21 19
21,19

25 14
25,14

33 82
33,82

40 39
40,39

44 16
44,16

43 53
43,53

34 51
34,51

38 20
38,20

42 36
42,36

%

83,1%

98,6%

66,3%

79,2%

86,6%

85,4%

67,7%

74,9%

41,5%

GI BLAMBANGAN UMPU

30

MW

(1x30)

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

6,74

8,37

9,12

9,91

10,63

11,30

11,97

12,64

13,34

14,04

%

26,4%

32,8%

35,8%

38,9%

41,7%

44,3%

46,9%

49,6%

52,3%

55,0%

GI LIWA

30

30

30

30

60

60

60

60

60

60

60

25,5

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

,
19,17

23,47
,

25,45
,

27,53
,

%

75,2%

92,0%

99,8%

54,0%

150/20
MW

30

30

30

29,45
,

31,20
,

32,96
,

34,74
,

36,58
,

38,43
,

57,7%

61,2%

64,6%

68,1%

71,7%

75,3%

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

MW

10,69

11,36

11,96

12,57

13,18

13,81

14,45

%

41,9%

44,5%

46,9%

49,3%

51,7%

54,2%

56,7%

150/20

30

30

30

30

30

30

30

30

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

18,29

19,43

20,58

21,74

11,82

12,44

71,7%

76,2%

80,7%

85,2%

46,4%

48,8%

MW

Beban Puncak

MW

17,03

%

66,8%

GI ULU BELU

30

30

30

Terpasang
Pembebanan Trafo

30

25,5

Beban Puncak

Pembebanan Trafo

30

30

MW

Terpasang

30

25,5

Terpasang

Beban Puncak

30

46 99
46,99
46,1%

150/20

GI KOTA AGUNG

30

60

Terpasang

150/20

30

30

Beban Puncak

GI SEPUTIH BANYAK

150/20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

17,0

Terpasang

MW

Beban Puncak

MW

8,49

9,11

9,76

10,36

10,91

11,47

12,03

12,61

13,19

%

49,9%

53,6%

57,4%

61,0%

64,2%

67,5%

70,8%

74,2%

77,6%

Pembebanan Trafo

Add

Load
(MW)

80

Pembebanan Trafo

20

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

19

2015
Add

80

Pembebanan Trafo

18

Peak

68,0

Pembebanan Trafo

17

2014
Add

40

Terpasang

16

Peak

(2x20)

Beban Puncak

15

2013
Add

MW

Pembebanan Trafo
14

Peak

Total

Pembebanan Trafo
13

2012
Add

Terpasang

KOTABUMI

Pembebanan Trafo
12

Peak

60

Capacity Balance GI
L
Lampung
(l j
(lanjutan
2)
Kapasitas
No.

Gardu Induk

Trafo

2011

MVA
MVA

21

2016
Add

Peak

2017
Add

Peak

2018
Add

Peak

2019
Add

Peak

2020
Add

Peak

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

Load

Trafo

doad

Trafo

Load

Trafo

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

(MW)

(MVA)

60

2 x 30

60

60

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

23,30

24,55

25,82

27,09

28,41

29,73

%

45,7%

48,1%

50,6%

53,1%

55,7%

58,3%

GI TELUK RATAI

150/20

60

30

30

30

30

30

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

25,5

Beban Puncak

MW

12,91

13,58

14,25

14,94

15,64

16,35

%

50,6%

53,2%

55,9%

58,6%

61,3%

64,1%

150/20

GI KETAPANG

30

30

30

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

13,72

15,95

18,04

20,11

21,98

53,8%

62,5%

70,8%

78,9%

43,1%

30

30

30

30

60

60
51,0

172

GI MESUJI

%
150/20

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

16,84

18,04

19,24

20,46

21,71

%

66,1%

70,7%

75,5%

80,2%

42,6%

GI JATI AGUNG

150/20

51,0
30

23,05
45,2%

30

22,97
45,0%

30

30

30

60

60

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

17,11

18,80

20,63

22,31

%

67,1%

73,7%

80,9%

43,7%

GI LANGKAPURA

150/20

30

30

23,90
46,9%

60

60

60

60

Terpasang

MW

51,0

51,0

51,0

51,0

Beban Puncak

MW

35,69

37,44

39,25

41,06

%

70,0%

73,4%

77,0%

80,5%

30

30

60

GI PAKUAN RATU

150/20

60

60

30

Terpasang

MW

25,5

25,5

25,5

51,0

Beban Puncak

MW

17,82

19,03

20,26

21,52

69,9%

74,6%

79,4%

42,2%

GI BENGKUNAT
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo
GI DIPASENA
Terpasang
Beban Puncak
Pembebanan Trafo

%
150/20
MW

30

60
51,0
30

22,79
44,7%

30

30

25,5

25,5

MW

11,12

11,70

%

43,6%

45,9%

70/20
MW

90

90
76,5

3 x 30

90

90

90

90

90

90

90

90

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

76,5

MW

55,95

56,79

57,67

58,48

52,00

52,00

52,00

52,00

52,00

%

73,1%

74,2%

75,4%

76,4%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

68,0%

60

60

60

51,0

51,0

51,0

51,0

51,0

MW

7,22

7,97

8,73

9,51

10,29

%

14,2%

15,6%

17,1%

18,6%

20,2%
1.204

150/20
MW

60

60

1x60

60

PEAK GI

MW

570

727

782

845

921

975

1.037

1.092

1.149

PEAK SYSTEM

MW

569

693

749

809

864

914

965

1.016

1.068

1.121

1,08

1,07

1,07

DIVERSITY FACTOR

Add

Load
(MW)

60

Terpasang

28

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
28

2015
Add

60

Pembebanan Trafo
27

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
26

2014
Add

60

Pembebanan Trafo
25

Peak

51,0

Pembebanan Trafo
24

2013
Add

51,0

Pembebanan Trafo
23

Peak

MW

Pembebanan Trafo
22

2012
Add

Terpasang

GI GEDONG TATAAN

150/20

Peak

1,00

1,05

1,04

1,04

1,07

1,07

1,07

LAM
MPIRAN A1.6

RENCAN
NA PENGE
EMBANGA
AN PENY
YALURAN
N
SIST
TEM INTE
ERKONEK
KSI SUMA
ATRA

173

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Sumatra
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

174

500 kV AC

-

-

-

-

-

-

-

150

-

-

150

500 kV DC

-

-

-

-

-

800

-

-

-

-

800

275 kV

-

160

1,992

774

1,532

110

-

130

-

-

4,698

250 kV DC

-

-

-

-

-

462

-

-

-

-

462

582

1,455

3,784

2,039

1,486

531

590

387

382

440

11,676

-

310

-

240

-

-

-

-

-

-

550

582

1,925

5,776

3,053

3,018

1,903

590

667

382

440

18,336

150 kV
70 kV
TOTAL

(MVA)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

500/275 kV

-

-

-

-

-

1,000

-

2,000

-

500 kV DC

-

-

-

-

-

3,000

-

-

-

-

3,000

275/150 kV

1,000

-

4,500

2,000

1,250

-

500

500

-

250

10,000

250 kV DC

-

-

-

-

-

600

-

-

-

-

600

150/20 kV

900

2,600

1,980

1,140

810

660

780

780

510

690

10,850

70/20 kV

30

260

30

60

-

30

-

30

30

-

470

1,930

2,860

6,510

3,200

2,060

5,290

1,280

3,310

540

940

27,920

TOTAL

3,000

Pengembangan Penyaluran Sumatra

175

No.

Propinsi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu

Dari
Dari 
Jantho
Sigli
Meulaboh
Panton Labu
Bireun
Sidikalang
Brastagi/Berastagi
PLTU Meulaboh
Blang Pidie
Ulee Kareng
Samalanga
Krueng Raya
Takengon
Cot Trueng
PLTA Peusangan‐2
PLTA Peusangan‐1
PLTP Seulawah
Takengon
Banda Aceh
Air Anyir
Air Anyir
Suge
Dukong
Pangkal Pinang
Pangkal Pinang
Kelapa
Koba
Air Anyir/Sungai Liat
Air Anyir/Sungai Liat
Pagar Alam
Pekalongan

Ke
Ke 
Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh)
PLTU Meulaboh
PLTU Meulaboh
Incomer (Idi ‐ Lhokseumawe)
g
Takengon
Sabulussalam
Kutacane
Blang Pidie
Tapak Tuan
Banda Aceh
Incomer (Bireun Sigli)
Incomer (Bireun ‐ Sigli)
Ulee Kareng
Blang Kjeren
Incomer (Bireun ‐ Lhokseumawe)
Takengon
PLTA Peusangan‐2
2 Pi Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh)
PLTA Peusangan‐4
Lam Pisang
Pangkal Pinang
Sungai Liat
Dukong
Manggar
Kelapa
Koba
Mentok
Toboali
PLTU Bangka Baru III
PLTU Bangka Baru III
Manna
Pulo Baai

Tegangan
Tegangan 
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor
Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
,
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
cct 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
4 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk

kms
kms 

Biaya
(M USD)

COD

1
333
60
2
126
111.2
290
190
130
40
4
60
174
6
22
14
32
20
30
44
112
50
140
120
120
140
120
100
96
90

0.06
74.95
3.32
0.11
9.62
6.16
16.07
10.53
7.20
9.00
0 22
0.22
4.58
9.64
0.33
1.68
1.07
3.55
1.11
2.29
2.44
6.20
2.77
7.76
6.65
6.65
7.76
6.65
5.54
5.32
6.87

2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2011
2011
2012
2012
2014
2014
2016
2016
2018
2012
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 1)

176

No.

Propinsi

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60

Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Dari 
PLTA Simpang Aur 1
PLTA Simpang Aur 1
Pekalongan
Pulau Baai
Kambang
Manna
Muko‐muko/Bantal/Ipoh
PLTP Kepahiyang
Bangko
PLTA Merangin
PLTG CNG Sei Gelam
PLTG CNG Sei Gelam
Sabak
PLTG CNG Sengeti
Muara Bulian
PLTP Sungai Penuh
Sabak
Tanjung Kasam
Tanjung Kasam
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Sri Bintan
Air Raja
Bukit Kemuning (uprate)
PLTU Tarahan (FTP1)
Seputih Banyak
Ulubelu
Menggala
Sutami (uprate)
Baturaja (uprate)

Ke 
Incomer 1 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai)
PLTA Simpang Aur 2
PLTP Hululais
Arga Makmur
Muko‐muko/Bantal/Ipoh
Bintuhan
Arga Makmur
Incomer 2 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai)
PLTA Merangin
Sungai Penuh
Aur Duri
Aur Duri
Inc 1 Phi ( Payo Selincah ‐ Aur Duri )
Aur Duri
Sarolangun
Sungai Penuh
Kuala Tungkal
Tanjung Sauh
Tanjung Sauh
Pulau Ngenang
Tanjung Taluk
Tanjung Uban
Sri Bintan
Air Raja
Kijang
Kotabumi (uprate)
Incomer 2 Phi (New Tarahan ‐ Kalianda)
Dipasena
Incomer 1 Phi (Batutegi ‐ Pagelaran)
Seputih Banyak
Natar (uprate)
Bukit Kemuning (uprate)

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
4 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 340 mm2  
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 3 x 300 mm2
cct 3 x 300 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 3 x 300 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, ACCC 310 mm2

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

20
12
120
180
220
140
360
80
136
110
60
121.6
26
130
84
108.8
6
10
12
60
60
70
40
67.6
1
120
40
120
60.4
96

1.53
0.66
9.16
13.74
16.79
7.76
27.48
6.11
30.61
24.76
3.32
3.64
1.44
7.20
4.65
6.03
2 42
2.42
1.11
4.84
3.32
3.32
3.88
2.22
9.04
0.23
9.16
3.05
27.01
8.08
12.84

2015
2015
2015
2015
2015
2017
2020
2020
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2015
2018
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2011
2011
2012
2012
2013
2013
2013

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 2)

177

No.

Propinsi

61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Dari 
Pagelaran
Bukit Kemuning
PLTP Ulubelu #3,4
Pagelaran
Gedon Tataan
Kalianda
Gumawang
Mesuji
PLTA Semangka
Natar
Pakuan Ratu
Pakuan Ratu
Langkapura
Kalianda
Besai
Liwa
Teluk Ratai
PLTG Duri
PLTG Duri
Teluk Kuantan
Bangkinang
Pasir Putih
Tenayan / PLTU Riau
Dumai
Dumai
Pasir Putih
PLTU Sewa Dumai
Duri (up rate)
Garuda Sakti (up rate)
Rengat
New Garuda Sakti
Tenayan / PLTU Riau

Ke 
Kota Agung
Liwa
Ulubelu
Gedong Tataan
Teluk Ratai
Ketapang
Mesuji
Dipasena
Kota Agung
Jatiagung
Inc 1 Phi (Menggala ‐ Gumawang)
Inc 1 Phi (Menggala 
Gumawang)
Inc 2 Phi (Natar ‐ Teluk Betung)
PLTP Rajabasa
PLTP Suoh sekincau
Bengkunat
PLTP Wai Ratai
Incomer 2 Phi (G Sakti Duri)
Incomer 2 Phi (G.Sakti ‐ Duri)
Rengat
Pasir Pangarayan
Garuda Sakti
Pasir Putih
KID Dumai
Bagan Siapi api
Pangkalan Kerinci
Dumai
Dumai (up rate)
Duri (up rate)
Pangkalan Kerinci
Incomer ( G.Sakti ‐ Duri)
Perawang

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 Hawk
4 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

80
80
20
60
60
90
160
152
60
16
1
2
40
38
120
40
22
194
220
55
35
56
228
134
14
118
230
220
12
50

4.43
4.43
1.11
4.58
3.32
20.26
12.21
11.60
3.32
35.52
0.23
0.11
3.05
2.11
6.65
2.22
1 68
1.68
14.81
12.19
12.38
7.88
3.10
12.63
10.23
1.07
15.79
30.77
16.79
1.61
2.77

2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2019
2011
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 3)

178

No.

Propinsi

91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel

Dari 
Teluk Lembu
Tenayan / PLTU Riau
Rengat
Pasir Putih
Kandis
Bangkinang
Indarung
Bungus
Kiliranjao
Maninjau
Padang Luar
Padang Luar
Singkarak
PLTU Sumbar Pessel
Kiliranjao
PIP/S Haru/Pauh Limo
Sungai Rumbai
Simpang Empat
Simpang Empat
Solok
Payakumbuh
PLTU Simpang Belimbing
Lahat
PLTU Simpang Belimbing
Tanjung Api‐Api
Kenten 
Betung
Bukit Asam (uprate)
Jakabaring
Gandus
Mariana
Kayu Agung

Ke 
GIS Kota Pekan Baru
Siak Sri Indra Pura
Tembilahan
Teluk Lembu
Incomer ( New G.Sakti ‐ Duri)
Lipat Kain
Bungus
Kambang
Teluk Kuantan
Padang Luar
Payakumbuh
Batusangkar
2 pi Incomer (Bungus‐Kambang)
Sungai Rumbai
GI/GIS Kota Padang
PLTP Muara Labuh
Masang 2
Masang‐2
PLTP Gunung Talang
PLTP Bonjol
Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam)
Pagar Alam
Lahat
Incomer 1 Pi (T. Kelapa‐Borang)/Kenten 
Inc 2 Phi ( Talang Kelapa ‐ Borang )
Sekayu
Baturaja (uprate)
Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Mariana)
Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Talang Kelapa)
Kayu Agung
Gumawang

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
2nd cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 1 Hawk
4 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
cct 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 2nd cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, CU 1000 mm2
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

14
100
120
40
10
70
35
180
52
42
32
25
20
70
16
160
30
20
104
120
94.6
120
40
1
70
78
1
20
60
90

31.08
5.54
6.65
3.05
2.68
3.88
2.67
13.74
1.69
1.36
1.04
0.81
0.76
5.34
0.89
12.21
1 66
1.66
1.11
7.94
10.86
5.24
10.86
3.62
0.09
3.88
10.44
0.09
44.40
13.50
20.26

2014
2014
2014
2015
2015
2015
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2016
2017
2017
2019
2019
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2014

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 4)

179

No.

Propinsi

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150

Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut

Dari 
Sungai Lilin
Betung
Lubuk Linggau
Sumsel‐11, MT
Lahat
Muara Dua
Lahat
Gumawang
Sarolangun
PLTP Rantau Dedap
Muara Dua
Muara Dua
Galang
Galang
Rantau prapat
Lamhotma
Dolok Sanggul/Parlilitan
Tanjung Morawa
Tanjung Morawa
Padang Sidempuan
Sei Rotan (uprate)
Galang
Sidikalang
Tele
Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2)
PLTU Sewa Sumbagut
Tanjung Pura
PLTA Wampu
Teluk Dalam
PLTU Nias
Mabar
GIS Listrik

Ke 
Betung
Talang Kelapa
Tebing Tinggi
Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam)
PLTU Banjar Sari
Baturaja
PLTU Keban Agung
Martapura
Muara Rupit
PLTP Lumut Balai
PLTP Danau Ranau
PLTP Danau Ranau
Namurambe
Tanjung Morawa
Labuhan Bilik
Belawan
Incomer 1 Phi (Tele‐Tarutung)
Kuala Namu
Kuala Namu
Panyabungan
Tebing Tinggi (uprate)
Negeri Dolok
Salak
Pangururan
Pangkalan Brandan
Tebing Tinggi
Incomer (P.Brandan‐Binjai)
Brastagi
Gunung Sitoli
Gunung Sitoli
Glugur
KIM

Tegangan 
g g
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
70 kV
70 kV
150 kV
150 kV

Conductor 
2 cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 x 330 mm2
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 1 Hawk
1 2nd cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, ACCC 310 mm2
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
1 cct, CU 1000 mm2
1 cct, CU 1000 mm2

kms 

Biaya
(M USD)
(M
USD)

COD

120
55.2
150
120
40
92
70
120
80
40
90
80
20
130
6.2
76
34
140
108
66
60
26
22
30
30
80
220
20
10
10

6.65
8.43
8.31
10.86
3.62
7.02
15.76
6.65
4.43
3.05
6.87
18.01
4.50
7.20
0.28
4.21
2 60
2.60
7.76
14.45
3.66
3.32
1.44
4.95
2.29
1.66
4.43
12.19
1.11
22.20
22.20

2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2016
2017
2018
2019
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2015
2015

Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 5)

180

No.

Propinsi

151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184

Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Sumbar
Sumut
Sumut
Sumut
Sumut
Riau
Sumbar
Sumsel
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Sumsel
NAD
Riau
Jambi
Sumsel
Riau
NAD
Riau
Riau
Riau
Riau
J bi
Jambi
Sumsel
Sumsel
Sumsel
Lampung

Dari 
Simangkok
Panyabungan
Porsea
Tarutung
PLTP Sipoholon Ria‐Ria
Pangkalan Susu
g
Kiliranjao
Simangkok
Galang
PLTP Sarulla (FTP 2)
Padang Sidempuan
Payakumbuh
Padang Sidempuan
Lahat
Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5
Lahat
Muara Enim
Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5
Bayung Lincir/PLTU Sumsel
5
Betung
Sigli
Rengat
Aur Duri
Muara Enim
Rengat
Sigli
Border
Pulau Rupat Utara
P. Rupat Selatan 
Sumatera Landing Point
PLTU J bi
PLTU Jambi
Muara Enim
Muara Enim
Muara Enim
Ketapang

Ke 
PLTA Asahan III(FTP 2)
PLTP Sorik Marapi (FTP 2)
PLTA Hasang
PLTP Simbolon Samosir
2 Pi Incomer (Tarutung‐Porsea)
Binjai
j
Payakumbuh
Galang
Binjai
Simangkok
PLTP Sarulla (FTP 2)
New Garuda Sakti
New Garuda Sakti
Payakumbuh
Lumut Balai
Aur Duri
Muara Enim
Gumawang
Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7
Sungai Lilin/PLTU Sumsel
7
Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7
Lhokseumawe
New Garuda Sakti
Rengat
Betung
Cirenti (PLTU Riau MT)
Cirenti (PLTU Riau MT)
Ulee Kareng
Pulau Rupat
Pulau Rupat Selatan
Sumatra Landing Point
New Garuda Sakti
A D i
Aur Duri
PLTU MT HVDC A
PLTU MT HVDC B
perbatasan Sumsel/Lampung
perbatasan Sumsel/Lampung

Tegangan 

Conductor 

kms 

Biaya
(M USD)

COD

150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
275 kV
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
250 kV DC
500 kV
500 kV
500 kV
500 kV
500 kV DC
500 kV DC

2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
4 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Zebra
,
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 4 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
cct 2 Zebra
2 cct, 2 Zebra
2 Cable MI with IRC
2 cct, 2xCardinal 548 m
2 Cable MI with IRC
2 cct, 2xCardinal 548 m
2 cct, 4 Zebra
t 4Z b
2 cct 4 Zebra
2 cct 4 Zebra
2 cct 4 Falcon
2 cct 4 Falcon

22
46
60
50
8
160
282
318
160
194
138
300
600
50
120
70
290
124
120
322
440
420
350
110
130
52
60
10
340
150
400
100
200
600

1.68
2.55
3.32
2.77
0.44
36.01
63.47
71.57
36.01
43.67
31.06
67.52
135.05
11.25
27.01
15.76
65.27
27 91
27.91
27.01
72.47
143.61
137.08
78.78
24 76
24.76
29.26
51.00
2.60
9.80
14.90
48 96
48.96
133.37
33.35
67.20
201.60

2016
2017
2017
2018
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2016
2018
2016
2016
2016
2016
2018
2016
2016
2016
2016

Pengembangan Gardu Induk Sumatra
No.  Propinsi

181

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
NAD
Babel
Babel

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

Sigli
Banda Aceh
Meulaboh
PLTU Meulaboh Ext LB
Jantho
Panton Labu
Takengon
Bireun Ext LB
Sabulussalam
Kutacane/Kotacane
Blang Pidie
PLTU Meulaboh Ext LB
Tapak Tuan
Lhokseumawe
Ulee Kareng
Samalanga
Krueng Raya
Banda Aceh Ext LB
Tualang Cut
Blang Kjeren
Langsa
Sigli
Cot Trueng
Takengon
Idi
Banda Aceh
Bireuen
Jantho
Meulaboh
Tualang Cut
Lam Pisang
Krueng Raya Ext LB
Panton labu
Cot Trueng
Samalanga
Tualang Cut
Bireun
Subulussalam
Pangkal Pinang
Sungai Liat

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru

30
60
2x30
2 LB
30
30
60
2 LB
30
30
30
2 LB
30
60
120
30
60
2 LB
30
30
30
60
30
2 LB
30
60
30
30
30
30
120
2 LB
30
30
30
30
30
30
60
30

1.40
2.12
4.03
1.24
2.64
2.64
3 36
3.36
1.24
2.64
2.64
3.88
1.24
2.64
2 12
2.12
4.03
2.64
4.03
1.24
1.40
2.64
1 40
1.40
2.12
2.64
1.24
1.40
2.12
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
4.95
1.24
1.40
1.40
1 40
1.40
1.40
1.40
1.40
4.00
2.62

2011
2011
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2020
2020
2020
2011
2011

Keterangan
Uprating 10 MVA Ex Banda Aceh
Uprating 30 MVA
1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
T/L ke Meulaboh
1x30 MVA 
1x30 MVA 
2x30 MVA
2x30 MVA 
ke Takengon
1x30 MVA 
1x30 MVA 
4 L/B (2 T/L ke Meulaboh dan 2 T/L ke T.Tuan)
T/L ke Blang Pidie
1x30 MVA 
2x60 + 2 LB
1x30 MVA 
2x30 MVA
ke Krueng Raya
1x30 MVA 
Uprating 10 MVA
1x30 MVA 
ke Blang Kjeren
Uprating 30 MVA

2x60
Ke arah Lamp Pisang

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 1)
No.  Propinsi

182

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Babel
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi

Nama Gardu Induk 
Air Anyir
Dukong
Manggar
Suge
Kelapa
Koba
Sungai Liat
Sungai Liat
Mentok
Toboali
Dukong
Pangkal Pinang
Koba
Manggar
Air Anyir
Air Anyir
Dukong
Manna
Pulau Baai
Pekalongan Ext LB
Pekalongan
Manna
Pekalongan Ext LB
Pekalongan Ext LB
Muko‐muko
Argamakmur
Pulau Baai Ext LB
Pulau Baai
Bintuhan
Manna Ext LB
Muko muko Ext LB
Muko‐muko Ext LB
Payoselincah Ext LB
Sungai Penuh
Bangko Ext LB
Aurduri
Payoselincah
Bangko
Muaro Bulian
Muaro Bulian
Muara Sabak
Muaro Bungo
Sarolangun
Muara Bulian Ext LB
Sungai Penuh

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

150/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension

30
30
20
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
120
2 LB
30
30
2 LB
2 LB
30
30
2 LB
60
30
2 LB
2 LB
2 LB
4 LB
30
2 LB
60
60
60
60
30
60
30
2 LB
30

2.62
2.20
2.38
2.20
2.62
2.62
1 39
1.39
2.62
2.62
1.26
1.39
1.39
1.26
1 39
1.39
1.26
2.64
4.03
1.24
1.40
1.40
1 24
1.24
2.64
3.88
1.24
2.12
2.64
1.24
1 24
1.24
2.49
2.64
1.24
2.12
2.12
2.12
2 12
2.12
2.64
2.12
2.64
1.24
1.40

2011
2012
2012
2012
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2018
2018
2018
2019
2019
2012
2013
2013
2013
2013
2014
2015
2015
2015
2017
2017
2017
2020
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2014
2014
2014

Keterangan

1x30 MVA 
2x60 MVA
T/L Pulo Baai

T/L Hululais
T/L
Hululais
1x30 MVA 
1x30 MVA 
T/L ke Argamakmur
1x30 MVA 
T/L ke Bin Tuhan
T/L ke Argamakmur
T/L ke Argamakmur
untuk PLTG Payo Selincah & PLTG Sungai Gelam 12MW
1x30 MVA 
T/L ke Sungai penuh

1x30 MVA 
T/L ke GI PLTG Sei Gelam CNG, bay eks IBT 275/150 kV
1x30 MVA 
T/L Ke Sarolangun

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 2)

183

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

PLTP Sungai Penuh Ext LB
Sungai Penuh Ext LB
PLTA Merangin Ext LB
Sarolangun Ext LB
Payoselincah
Kuala Tungkal
Muara Sabak Ext LB
Muara Sabak Ext LB
Aurduri
Muaro Bungo
Bangko
Muara Sabak
Sarolangun
Payoselincah
Air Raja
Air Raja
Sri Bintan 
Kijang
Tanjung Uban
Pulau Ngenang
Tanjung Uban
Seputih banyak
Sribawono Ext LB
Sribawono Ext LB
Menggala  Ext LB
Kotabumi
Ulubelu
Kalianda
Adijaya
Bukit Kemuning
Natar
Pagelaran
New Tarahan
Dipasena
Sukarame
Metro
Sribawono
Kota Agung
Kota Agung
Pagelaran  Ext LB
Liwa
Bukit Kemuning  Ext LB
Tegineneng
Seputih Banyak

Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Jambi
Kep Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Kep. Riau
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
70/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension

2 LB
2 LB
4 LB
2 LB
60
30
2 LB
2 LB
60
60
30
30
30
60
60
30
60
2x30
10
60
30
2 LB
2 LB
2 LB
60
30
30
30
60
60
60
30
90
30
60
60
30
2 LB
30
2 LB
60
30

1.24
1.24
1.83
1.24
2.12
2.64
1 24
1.24
2.12
2.12
1.40
1.40
1.40
2.12
3 34
3.34
2.62
3.34
3.34
1.90
2.12
3.88
1 24
1.24
1.24
2.12
3.88
1.40
1.40
2.12
2 12
2.12
2.12
1.40
4.72
1.40
2.12
2.12
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
2.12
1.40

2015
2015
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2018
2019
2019
2020
2020
2013
2013
2013
2013
2013
2015
2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014

Keterangan
Untuk PLTP Sungai Penuh
T/L ke PLTP Sungai Penuh
untuk PLTP Merangin 2 Pi
T/L Muara Rupit
1x30 MVA 
T/L Kuala Tungkal
T/L
Kuala Tungkal

Up Rate 30 ke 60

1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN

1x30 MVA 
T/L Seputih Banyak
T/L
Seputih Banyak
T/L Seputih Banyak
Uprating 20 MVA
1x20 MVA 

Uprating 20 MVA
1x20 MVA 
Uprating 20 MVA
Uprating 20 MVA
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L Kota Agung
1x30 MVA 
T/L Liwa
Uprating 20 MVA

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 3)

184

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160

Kotabumi
Ketapang
Kalianda  Ext LB
Gedong Tataan
Pagelaran  Ext LB
Mesuji
Gumawang Ext LB
Gumawang  Ext LB
Teluk Ratai
New Tarahan
Adijaya
Dipasena
Mesuji  Ext LB
Sutami
Pakuan Ratu
Pakuan Ratu
Menggala
Jati Agung
Natar Ext LB
Kalianda  Ext LB
Langkapura
Besai  Ext LB
Tegineneng
Mesuji
Bengkunat
Liwa Ext LB
Pakuan Ratu
Jati Agung
Sukarame
Ketapang
Teluk Ratai Ext LB
Kotabumi
Sribawono
Bangkinang
Bagan Batu
Duri
Koto Panjang
Koto Panjang
Garuda Sakti
Teluk Kuantan Ext LB
Teluk Lembu
Dumai
Pasir Putih

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru

60
30
2 LB
60
2 LB
30
2 LB
2 LB
30
60
30
120
2 LB
30
30
60
30
2 LB
2 LB
60
2 LB
60
30
30
2 LB
30
30
60
30
2 LB
60
60
30
30
60
20
80
1 LB
60
60
60

2,12
2,64
1,24
5,28
1,24
2,64
1 24
1,24
2,64
2,12
1,40
5,28
1,24
1,40
2 64
2,64
2,12
2,64
3,11
1,24
4,03
1,24
2 12
2,12
1,40
2,64
1,24
1,40
1,40
2,12
1 40
1,40
1,24
2,12
2,12
1,40
1,40
2,12
2 12
2,12
3,27
0,62
2,12
2,12
6,52

2014
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2018
2018
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2019
2020
2020
2011
2011
2012
2012
2012
2012
2012
2012
2013

Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Lampung
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau

Keterangan
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L Ketapang
2x30 MVA
T/L Gedon Tataan
1x30 MVA 
T/L Mesuji
T/L Mesuji
1x30 MVA 

1x30 MVA 
T/L Mesuji
1x30 MVA
1x30 MVA 
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Jati Agung
T/L PLTP Raja Basa
1x60 MVA
T/L PLTP Suoh Sekincau
Uprating 20 MVA
Uprating 20 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Bengkunat

T/L ke PLTP Wai Ratai
Uprating 30 MVA

T/L ke Kiliranjao
Uprating 30 MVA
2x30 MVA + 4 LB

Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 4)

185

No.  Propinsi

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 
Extension

Kap

Jumlah 

COD 

161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200

Garuda Sakti Ext LB
Pasir Pangaraian
Bangkinang Ext LB
Rengat
Teluk Kuantan Ext LB
KIT Tenayan
KID Dumai
KID Dumai
Dumai Ext LB
Bagan Siapiapi
Dumai Ext LB
Pangkalan Kerinci
New Garuda Sakti
GI/GIS Kota Pekanbaru
Teluk Lembu Ext LB
Teluk Lembu Ext LB
Teluk Lembu Ext LB
Pasir Putih Ext LB
Perawang
Tenayan Ext LB
Tembilahan
Rengat Ext LB
Siak Sri Indra Pura
Siak Sri Indra Pura
Tenayan Ext LB
Kandis
Lipat Kain
Bangkinang Ext LB
Pasir Putih
Bangkinang
Teluk Kuantan
Teluk Kuantan
Duri
KIT Tenayan
Tembilahan
KID Dumai
Bagan Batu
Bungus
Indarung Ext LB
Indarung Ext LB
Kambang
Padang Luar
PIP
Pauh Limo
Simpang Empat

150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV

Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Extension
Extension

2 LB
30
2 LB
2x30
2 LB
30
30
2 LB
30
2 LB
30
2x60
60
2 LB
2 LB
2 LB
2 LB
30
2 LB
30
2 LB
30
2 LB
30
30
2 LB
120
60
30
60
30
30
30
30
30
2 LB
2 LB
30
60
30
60
30

1.24
2.64
1.24
5.28
1.24
2.64
2 64
2.64
1.24
2.64
1.24
3.88
6.73
5.28
3 11
3.11
1.24
1.24
2.64
1.24
2.64
1.24
2 64
2.64
1.24
2.64
2.64
1.24
4.24
2.12
1 40
1.40
2.12
1.40
1.40
1.40
1.40
3.88
1 24
1.24
2.64
2.12
1.39
2.12
1.40

2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2015
2015
2016
2016
2017
2017
2017
2019
2019
2020
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2012

Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Riau
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar
Sumbar

Keterangan
T/L ke Pasir Putih
1x30 MVA 
T/L ke Pasir Pangaraian
1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
T/L ke Rengat
GI Pembangkit 1x30 MVA
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L ke KID Dumai
1x30 MVA 
T/L ke Bagan Siapiapi
1x30 MVA 
1x60 MVA didanai APBN, 1x60 MVA didanai APLN

1x60 MVA
T/L ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/L
ke GI/GIS Kota Pekanbaru
T/L ke Pasir Putih
T/L ke Teluk Lembu
1x30 MVA 
T/L ke Perawang
1x30 MVA 
T/L ke Tembilahan
1x30 MVA
1x30 MVA 
T/L ke Siak Sri Indra Pura
1x30 MVA 
1x30 MVA 
T/L ke Lipat Kain
2x60 MVA

On Going
ke Bungus
ke
Bungus
1x30 MVA 
Uprating 20 MVA
Mengganti trafo rusak
Uprating 30 MVA

62 1.40 10.12 0.12 2.12 2.62 0.40 0.28 1.40 1.12 1 40 1.12 2.12 1 40 1.64 1.12 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2016 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumbar Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Keterangan Uprating 20 MVA 2nd sirkit ke Teluk Kuantan 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Maninjau&Payakumbuh 2nd sirkit ke Padang Luar 2nd sirkit ke Padang Luar T/L ke arah Singkarak T/L ke arah Batusangkar T/L ke Sungai Rumbai 1x30 MVA  2x60 MVA T/L ke PLTP Muara Labuh T/L ke GI/GIS Kota Padang Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA T/L 2nd Sirkit Pagar Alam T/L 2nd Sirkit Pagar Alam Uprating 15 MVA 2x30 MVA 2x30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA .40 1.24 2.62 1.40 2.12 2.27 5 28 5.12 1.40 2.40 1.40 1.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 Padang Panjang Solok Payakumbuh Kiliranjao Ext LB Maninjau Ext LB Padang Luar Ext LB Payakumbuh Ext LB Payakumbuh Ext LB Batusangkar Ext LB Singkarak Ext LB Salak Kiliranjao Ext LB Sungai Rumbai Maninjau Kiliranjao Payakumbuh GI/GIS Kota Padang Sungai Rumbai Ext LB Bungus Kambang Simpang Empat Solok PIP Ext LB Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman PIP GIS Kota Padang Padang Luar Padang Luar Batusangkar Baturaja Lubuk Linggau Lahat Ext LB Pagar Alam Ext LB Bukit Siguntang Tanjung Api‐Api Tanjung Api‐Api Lahat Pagar Alam Gungung Megang Simpang Tiga Prabumulih 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 30 60 30 1 LB 1 LB 2 LB 1 LB 1 LB 1 LB 1 LB 30 2 LB 30 30 30 30 120 2 LB 30 30 60 30 2 LB 30 30 30 60 60 30 30 60 60 1 LB 1 LB 30 60 30 30 60 60 60 1.40 1.40 1.24 1.40 2.40 2.24 0 62 0.62 1.62 0.40 1.40 2.62 0.24 1.40 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 5) 186 No.62 0.09 1.40 1 40 1.

24 1.24 1.27 4.64 1.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 Baturaja Pagar Alam Ext LB Gunung Megang Ext LB Talang Kelapa Bukit Siguntang Bungaran Bungaran Kenten Gandus Sekayu Betung Ext LB Jakabaring Baturaja Keramasan Kayu Agung Ext LB Gumawang Ext LB Bukit Asam Mariana Ext LB Bukit Siguntang Kayu Agung Gumawang Tebing Tinggi Lubuk Linggau Ext LB Keramasan Ext LB Lahat Ext LB Sungai Lilin Betung Ext LB Lubuk Linggau Lubuk Linggau Muara dua Baturaja Ext LB Lahat Ext LB Mariana Martapura Gumawang Ext LB Muara Rupit Muara Rupit Keramasan Sungai Lilin Kenten Talang Kelapa Bukit Asam 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Baru Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Extension Baru Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Extension 60 2 LB 1 LB 60 30 30 30 120 120 30 2 LB 60 60 60 2 LB 2 LB 60 2 LB 30 30 30 30 2 LB 2 LB 2 LB 30 2 LB 60 30 2 LB 4 LB 30 30 2 LB 30 60 30 60 60 60 2.12 1.03 2.64 1 40 1.03 4.12 2 12 2.40 2.24 0.64 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 6) 187 No.12 1.03 2.64 1.12 2.24 1.24 2 12 2.27 1.49 1.64 2.12 1.24 1.24 2.12 2.12 1.24 4.64 1.24 2 64 2.64 1.27 1 27 1.40 4.27 2.03 2.12 1.24 2.24 2.62 2.12 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2018 2018 2018 Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Keterangan T/L ke Manna Untuk ST Gunung Megang Uprating 15 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA 2x60 MVA 2x60 MVA 1x30 MVA  T/L Ke Sekayu 1x60 MVA T/L Gumawang T/L Kayu Agung T/L ke Kayu Agung Uprating 15 MVA 1x30 MVA  1x30 MVA  T/L arah Tebing Tinggi Untuk PLTGU Keramasan Untuk PLTP Lumut Balai 1x30 MVA  T/L ke Sungai Lilin 1x30 MVA  T/L ke Muara dua Untuk PLTU Banjar Sari & Untuk PLTU Keban Agung 1x30 MVA  T/L ke Martapura 1x30 MVA 1x30 MVA  .40 2.

12 2.12 2.12 0.12 2.36 1.40 2 12 2.24 1.12 2.66 2 12 2.40 2 12 2.62 1.40 1.12 2.Marowa 1x60 MVA Uprating 20 ke 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Tambah trafo 30 MVA Ke arah Belawan Ke arah Lamhotma Ke arah Galang Ke arah Galang .12 1.12 2.40 1.40 1.12 1.12 2.40 2.40 1.15 1.40 0.49 3.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 7) 188 No.12 2.24 1.40 2.12 2.40 1.12 2.12 2.12 2.40 1 40 1.40 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020 2020 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Keterangan Uprating 15 MVA Untuk Double Pi dan T/L PLTP D.40 2 12 2.40 1.  Propinsi Nama Gardu Induk  281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 Pagar Alam Betung Kayu Agung Muara Dua Ext LB Sekayu Tebing Tinggi Gandus Simpang Tiga Rantau Prapat Gunung Para Tanjung Morawa Tele Gunung Tua Binjai Padang Sidempuan Denai Tebing Tinggi Kisaran Pematang Siantar Gunung Tua Sei Rotan Sei Rotan Glugur Rantau Prapat Brastagi Sidikalang Porsea Tarutung Sibolga Perbaungan Namurambe Aek Kanopan  Galang Labuhan Bilik Lamhotma Lamhotma Lamhotma Ext LB Belawan Ext LB Namurambe Ext LB Denai Ext LB Labuhan Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Baru Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 30 30 2 LB 30 30 60 60 60 30 60 30 30 60 30 60 60 60 60 10 60 60 60 60 30 20 30 60 60 60 30 0 60 30 30 1 LB 1 LB 2 LB 2 LB 30 1.24 1.62 0.12 1.Ranau Uprating 30 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 10 MVA Uprating 30 MVA Uprating 30 MVA Uprating 20 MVA 2 LB arah Namurambe dan 2 LB arah T.12 1.

24 1.24 2.12 2.12 2.03 1.24 1.20 2.24 1.24 4.20 1 40 1.55 1.24 1.55 1.24 2.12 1.24 1.24 1.40 1.40 2.24 2.24 2.24 1 40 1.12 1.24 1 24 1.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 8) 189 No.24 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 Keterangan 1x10 MVA  2x30 MVA T/L ke Kuala Namu 2x30 MVA T/L Ke Panyabungan ke Sabulussalam ke Kutacane ke Kutacane ke Salak Ke arah Negeri Dolok 1x30 MVA  ke Pangururan ke Pangururan T/L Ke Labuhan Bilik T/L ke PLTU Pangkalan Susu Ke arah Pangkalan Brandan 1x30 MVA  1x30 MVA  1x30 MVA  Ke arah GIS Listrik Ke arah KIM Ke arah Glugur Ke arah Mabar T/L ke PLTA Wampu Ke arah PLTA Asahan III 1x60 MVA Ke PLTP Sorik Merapi Ke PLTP Pusuk Bukit Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 500/150 kV Untuk IBT 275/150 kV Untuk IBT 275/150 kV .03 1.24 1.24 1 24 1.90 4.24 1.64 1 24 1.55 1.12 1.12 2.24 1.55 1.64 2.  Propinsi Nama Gardu Induk  321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Tanjung Marowa Ext LB Panyabungan Padang Sidempuan Ext LB Sidikalang Ext LB Brastagi/Berastagi Ext LB Brastagi/Berastagi Ext LB Paya Pasir Salak Sidikalang Ext LB Negeri Dolok Galang Ext LB Pangururan Tele Ext LB Tele Ext LB Rantau Prapat Ext LB Pangkalan Brandan Ext LB Pangkalan Susu Ext LB Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Kota Pinang Kota Pinang KIM Ext LB GIS Listrik ext LB Mabar Ext LB Glugur Ext LB Brastagi Ext LB Simangkok Ext LB Tanjung Pura Tanjung Pura Titi Kuning GIS Listrik Paya Geli Panyabungan Ext LB Tarutung Ext LB Rantauprapat Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Tebing Tinggi Ext LB Belawan Ext LB Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Sumut Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Baru Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Baru Extension Baru Extension Baru Extension Extension Extension Extension Baru Baru Baru Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 10 60 2 LB 60 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 60 60 2 LB 60 2 LB 30 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 2 LB 30 30 30 30 1 LB 1 LB 1 LB 1 LB 2 LB 2 LB 30 60 60 60 2 LB 2 LB 2 TB 2 TB 2 TB 2 TB 2 TB 1.

03 25.77 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2018 2018 2020 2016 2016 2018 2016 2016 2016 2018 2018 2018 Sumut Sumut Jambi Jambi Riau Sumbar Sumbar Sumsel Sumsel Sumut Sumut Sumut Jambi Sumsel Sumsel Sumsel Sumsel NAD NAD NAD Riau Riau Sumsel Sumsel Sumsel Sumut Jambi NAD Jambi Sumsel Riau Riau Jambi Lampung Sumsel Sumsel Jambi Riau Riau Keterangan 2x500 MVA 2 x 250 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 1 x 250 MVA 1 x 250 MVA 1 x 250 MVA 2 x 500 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA 2 LB arah Lumut Balai dan 2 LB arah Muara Enim 2x250 MVA 2x250 MVA 1 x 250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x250 MVA 2x500 MVA Untuk Mengantisipasi PLTU Hululais 1 x 125 MVA 2x250 MVA Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin 2x250 MVA 2x250 MVA HVDC ke Peninsula HVDC ke Peninsula 1x500 MVA 2x500 MVA 2x500 MVA 2x500 MVA Untuk 500kV Aurduri 2x500 MVA 2x500 MVA .32 35.13 24.08                 8 12.08 20.00 21.11 21.21 12.17 35.66 20 17 20.92 21 03 21.08 24.22 25.08 20 08 20.08 12.50 20.31 25.00 21.68 9.82 1.81 7.47 324 00 324.03 17.00 54.97 24.28 19.08 21.95 16.88 25.45 19.03 2.Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 9) 190 No.98 2 97 2.83 9.08 20.28 24.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan  Baru/ Extension  Extension Kap Jumlah  COD  358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 Binjai Pangkalan Susu Bangko Muara Bungo New Garuda Sakti Kiliranjao Payakumbuh Lahat Lubuk Linggau Galang Sarulla Padang Sidempuan Aur Duri Lahat Lumut Balai Betung Gumawang Sigli PLTU Meulaboh Lhokseumawe Rengat Riau Mulut Tambang Muara Enim Bayung Lincir/PLTU Sumsel ‐ 5 Sungai Lilin/PLTU Sumsel ‐ 7 Pangkalan Susu Bangko Ulee Kareng Ulee Kareng Aurduri Lubuk Linggau New Garuda Sakti HVDC Station Converter HVDC Switching Station PLTU Jambi 500 kV Ketapang Switching Station Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Aurduri 500kV New Garuda Sakti 500 kV Rengat 500 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 275/150 kV 250 kV DC 250 kV DC 500 kV 500 kV DC 500 kV DC 500 kV DC 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV 500/275 kV Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Extension Extension Baru Extension Extension Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru Baru 1000 0 250 250 500 250 250 1000 250 1000 500 500 500 0 500 500 500 250 250 250 250                  ‐ 0 0 0 250 500 500 0 250 600 0 0 0 3000 1000 500 1000 500 31.77 36.98 20.

LAM MPIRAN A1.7 PET TA PENGE EMBANGA AN PENY YALURAN SISTEM INTERKONEKSI SUM MATRA 191 .

Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera 192 Eksisting 70 kV Eksisting 150 kV Eksisting 275 kV (Operasi 150 kV) Rencana 150 kV Rencana 275 kV AC Rencana 250 kV DC Rencana 500 kV AC Rencana 500 kV DC .

Sistem Nangroe Aceh Darussalam (NAD) 193 .

Sistem Sumatera Utara 194 .

Sistem Riau 195 .

Sistem Sumatera Barat 196 .

Sistem Jambi 197 .

Sistem Bengkulu 198 .

Sistem Sumatera Selatan 199 .

Sistem Lampung 200 .

8 ANALISIS ALIRA AN DAYA A SIS STEM INT TERKONEKSI SUMA ATRA 201 .LAM MPIRAN A1.

4 MW 160 MW SMKOK 148.78 MW MBNGO 168.68 568 68 MW 599.158.4 MW 121 MW 194.7 MW 875 MW .240.3 MW PBDAN 202 SUB SISTEM JAMBI 1.12 MW 83 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA TAHUN 2011 SUB SISTEM NAD SUB SISTEM BENGKULU LANGSA 85.77 402.2 MW PYBUH SUB SISTEM RIAU KTPJG BBATU KLJAO SUB SISTEM LAMPUNG SUB SISTEM SUMBAR 397 MW 275 kV 150 kV 196 MW 359 MW 458.209.8 MW PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 160 MW KTPNG BKMNG & BUMPU 172.78 MW 1.4 MW LLGAU INALUM LLGAU SUB SISTEM SUMUT BNGKO 0 MW 177 MW SUB SISTEM SUMSEL BTRJA 222.9 MW 211 MW PKLNG 172.28 MW MW 568.

8 MW SUB SISTEM BENGKULU MBNGO 38.9 MW 188.8 MW SUB SISTEM BANGKO KLJAO 67.5 MW SUB SISTEM JAMBI SUB SISTEM SUMUT SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL PYBUH SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL 177.1 MW 164.5MW SMKOK 160 MW LAHAT 67.4 MW 723 MW 151 MW BKMNG & BUMPU SUB SISTEM LAMPUNG LNGSA 360 MW 525 MW 150 kV 200 MW SUB SISTEM RIAU 275 kV PSUSU KTPJG BBAT TU 858 MW BNJAI 460 MW SUB SISTEM NAD 705 MW 273 MW 373 MW PLTU Pangkalan Susu 1 X 220 MW .2 MW 203 KTPNG BTRJA 82.8 MW 97.9 MW 1049 MW 1273 MW 626 MW 464 MW 199 MW PBDAN 80.2 MW 64.6 MW 47.MW 47.5 MW 28.PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW 160 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA TAHUN 2012 LLGAU 56 MW 56 MW BNGKO 8.88 MW .

3 MW W 134 MW SUB SISTEM SUMBAR & RIAU SEL GLANG 152 MW W 138.2 MW SUB SISTEM BANGKO KLJAO 174.4 MW 277.8 MW W 36 MW LLGAU 156.MW 53.8 MW 138.6 MW 552 MW 522 MW 966 MW 1400 MW 286 MW PBDAN 160.6 MW 204 KTPNG BTRJA & MRDUA 199.8 MW W LAHAT PYBUH SUB SISTEM SUMSEL & BENGKULU SEL 160 MW 129.PLTA ASAHAN 1 2 X 90 MW PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA TAHUN 2013 PLTP SARULLA 160 MW SUB SISTEM JAMBI PYBUH SMKOK 25.9 MW 261.4 MW W SUB SISTEM BENGKULU MBNGO 134.2 MW 792 MW 95.3 MW 53.6 MW .3 150 kV 304 MW BKMNG SUB SISTEM RIAU 697 MW 275 kV 304 MW BB BATU 705 MW BNJAI 259 MW 451 MW .6 MW 15.9 MW 156.6 MW KTPJG PSUSU SUB SISTEM LAMPUNG LNGSA 537 MW SUB SISTEM NAD PLTU Pangkalan Susu 2 x 220 MW 717 3 MW 792 MW 717.6 MW W BNGKO 134.5 MW W 25.6 MW SUB SISTEM SUMUT 18.

9 MW 232.1 MW 34.4 MW 205 21.8 MW 10 MW 100.4 MW 11.8 MW 229 MW 69.4 MW 17.2 MW 46.MNGLA M 400 MW BKMNG BBATU U 104.6 MW 44.9 MW 293.5 MW 267.3 MW 430.8 MW 93 MW GLANG 233.6 MW 160 MW 100 MW 100 MW .

4 MW .8 MW 361 MW 202.720 MW BBATU 266 MW BKMNG MNGLA 300 MW 51.1 MW 47.2 2 MW GLA ANG 206 2.6 MW 156 MW 300 MW 159.2 MW 6 MW 199.9 MW 48.9 MW 118.6 MW 6 MW 14.7 MW 73.8 MW 67.2 MW 439 MW 280 MW 182.2 2 MW 39.7 MW 18.9 MW 83.

8 MW 194.4 MW W 55.9 MW 146.6 MW 160 MW 300 MW 160 MW .7 MW 40.1 MW 136.3 MW 139.3 MW 128.7 MW 191.1 MW 240 MW 240 MW 4.9 MW 284.9 MW 160.8 MW W 62.6 MW 317.1 MW 6.190 MW 600 MW 402 MW BKMNG MNGLA 540 MW W 65.6 MW 144.2 MW 8.1 MW W GLANG G 207 38.

6 MW 28 MW 445.6 MW 198.2 MW W 64.2 MW 228.4 MW 500 MW 178.4 MW 22 22.3 MW W 160 MW 290 MW 170 MW .6 M MW 90.4 MW 8 MW 30.5 MW W 178.4 MW W MW 127.9 MW BKMNG MNGLA 1.190 MW 600 MW 458.3 MW 111.3 MW 45.8 240 MW 240 MW 147.2 MW 178.6 MW W GLANG 208 30.7 M 29 MW 38.

160 MW 720 MW 540 MW BKMNG MNGLA 55.6 MW 540 MW 654 M MW 275.3 MW GLAN NG 209 53 MW 240 MW W 200 MW 138.9 M MW 330 MW 211 MW 380 MW 260 MW W 200 MW W 1.2 M 400 MW 397.7 MW W 13.1 MW 260.4 MW MW 585.3 MW 445 MW 39 93.6 MW 239 MW 10 MW 294 MW 140 MW 180 MW 160 MW 80 MW .8 MW 125.3 MW 60.

6 MW W 267.9 MW W 11.5 MW W 194 MW 39.3 MW W 209 MW 14.9 MW 4 GLAN NG 210 26.200 MW 800 MW W 511.4 MW BKMNG MNGLA 105 MW 361.1 MW 196.6 MW 299.5 MW 500 MW 1126 MW 145 MW W 344 MW 231 MW 718 MW 240 MW W 240 MW W 35 MW 1.6 MW 718 MW 443 MW 22.3 MW 420 MW 4 453.8 MW W 160 MW 150 MW 160 MW 80 MW .

7 MW W 261 M MW 64.7 MW 214.5 5 MW 10.3 M MW 66.4 MW 42.4 MW 375 MW 52 20 MW 135 5 MW 1151 1 MW 299 MW 758 MW 270 M MW 270 M MW 29.6 MW 758 MW 445.170 MW W 760 MW 515 MW BKMNG MNGLA 126.3 MW 59.7 MW 450 MW 424.3 M MW 186.7 MW 470.7 MW GLANG 211 40.6 MW W 266.6 MW W 160 MW 200 MW 160 MW W 160 MW .

LA AMPIRAN N A1.9 KEBUTUH HAN FISIK K PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SIS STEM INTE ERKONEK KSI SUMA ATERA 212 .

8 275.242 619.0 304.8 38.7 174.3 1.273 5.1 98.1 32.403 5.1 64.072 9.5 876.2 359.4 37.4 123.509 4.9 248.426.0 140.3 .562 4.3 38.8 79.982 5.0 06.4 87.618 JTR kms 6.590 55.0 38.3 161.0 41.291 6.031 5.8 145.6 272.470 766 819 836 872 900 941 978 1.7 Pelanggan 39.0 419.6 8.3 301.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 6.694 Pelanggan 1.1 39.251 Trafo MVA 1.011 5. 37.2 108.2 39.041 1.9 392.951 493.114.285 4.2 35.5 .5 298.091.356 537.711 4.005 213 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Juta USD Tahun JTM 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 148.1 34.3 104.399 6.7 3.1 Total 338.512 605.3 54.4 Trafo 50.5 188.9 36.0 111.5 336.0 69.895 522.7 34.548 5.869 4.516 506.206 594.010.293 498.569 4.955 53.8 63.951 6.0 379.0 42.788 5.661 5.0 6 .6 36.4 126.608 5.8 106.1 76.3 JTR 100.2 36.271 5.8 88.635 540.1 43.

4 2.0 69.6 JTR 13.227 39.1 5.4 2.332 362.9 57.4 3.7 Pelanggan 3.673 1.2 60.5 25.1 2.2 17.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.9 39.8 2.786 13.979 JTR kms 994 1.3 73.5 5.3 18.2 53.140 1.061 1.2 .2 16.3 Total 42.225 214 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Aceh Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 21.4 34.3 14.4 23.377 1.9 2.568 1.8 567.3 2. 48.5 Trafo 4. 15.2 5.385 1.7 21.290 1.132 1.598 31.5 4.068 1.0 2.7 7.9 65.4 19.469 1.6 28.1 61. 24.8 .1 51.6 8.9 26.9 181.216 1.5 36.478 1.2 2.578 11.7 45.3 298.9 6.298 1.2 .9 23.171 41.447 34.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Aceh Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1.193 40.369 35.8 5. 2.208 1.7 .0 22.418 33.291 30.3 6.000 1.3 32.179 34.1 7.4 30.

6 33.2 8.8 66.5 1.3 61.0 8.339 1.9 11.8 2.266 118.0 52.1 36.7 JTR 12.903 2.2 2.3 16.7 8.260 1.538 1.4 8.640 127.720 116.092 918 996 1.6 29. 49. 27.2 1.1 584.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.438 1.0 44.9 10.467 17.4 48.7 Total 49.7 14.8 12.3 8.004 215 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumut Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 26.461 1.7 13.291 2.7 8.6 8.016 1.718 1.3 .1 52.1 Pelanggan 8.7 140.011 120.587 113.353 102.6 71.4 14.076 2.1 7.160 Pelanggan 125.1 47.5 28.0 2.9 0.5 342.6 1.6 18.414 11.7 76.2 Trafo 1.9 9.158 1.805 JTR kms 1.078 1.376 1.8 16.3 8.238 132.6 .7 29.4 2.6 40.378 1.3 1.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.538 1.9 15. 8.218 1.215 122.1 57.1 8.197.2 83.4 1.957 118.

9 9.203 38.0 26.4 8.1 3.3 .9 7.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.6 31.323 38.3 8.5 7.0 3.4 7.5 27.7 6.0 6.1 9.5 6.5 9.075 37.7 67.6 8.0 7.8 28.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32.2 10.7 9.534 216 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumbar Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7.2 31.8 7.6 92.670 42.8 24.2 9.0 3.4 6.4 81.4 .3 Total 21.2 7.5 3.5 2.715 35.4 3.286 35.633 39.1 .1 8.4 6.0 9.3 7.004 369.8 3.4 273.6 29.1 27.205 34.2 3.2 Pelanggan 2.3 3.8 .9 Trafo 5.9 10.8 9.9 8.7 JTR 6. 26.420 36.3 30.3 8.

8 2.5 33.3 60.548 63.5 11. 37.476 67.7 6.3 2.3 12.2 10.8 4.1 4.7 130.2 6.4 11.6 13.2 JTR 26.7 11.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Riau Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.4 32.2 37.6 .5 2.151 62.0 .9 2.1 Trafo 7.7 13.2 14.3 14.8 2.6 33.399 60.5 .3 34.2 3 .5 12.6 4.1 2.9 155.2 11.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.5 0.7 34. 10.5 2.595 JTR kms 1.4 30.626 217 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Riau Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 31.4 10.743 58.454 Pelanggan 216.3 32.8 11.0 12.2 Pelanggan 6.5 11.003 57.700 64.649 65.8 2.7 2.1 14.6 2.8 13.408 64.5 4.9 5.9 12.549 780.7 31.610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3.5 Total 71.7 14.340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6.6 377.

876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2.6 6.1 4.8 10.6 3.404 218 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kepulauan Riau Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 6.1 3.6 4.113 169.9 1.164 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.0 8.0 5.8 0. 2.0 1.837 14.1 .5 3.0 4.8 0.8 44.9 .4 9.9 0.5 11.8 5.0 0.700 16.1 3.9 2.335 13.2 8.5 10.5 0.8 0.9 1.8 2.8 0.4 3.4 0.9 4.9 9.7 97.1 Pelanggan 1.272 13.566 16.9 0.7 0.8 8.6 0.7 4.2 10.6 0.3 4.0 0.842 15.7 Total 15.1 JTR 5.9 3.0 Trafo 1.964 17.8 0.3 4.1 4.287 19.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.7 0.487 18.2 37.5 .

2 0.565 31.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.1 10.9 5.4 .3 0.8 17.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Jambi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.2 8.7 21.7 1.5 0.9 195.2 0.3 0.4 15.424 33.868 219 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Jambi Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 13.591 29.3 11.6 3.589 37.725 389.9 18.765 33.4 0.3 Total 27.5 JTR 9.8 4.2 0.693 36.1 5.0 5.433 30.567 34.4 7.1 .0 15.516 37.4 100.3 2.0 7.800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2.8 25. 0.1 Trafo 0.1 2. 6.7 7.4 0.5 27. 3.8 3.8 17.8 13.9 24.9 14.5 5.3 0.4 64.7 6.8 2.4 5.9 0.7 8.7 10.3 1.1 9.7 5.4 Pelanggan 4.6 1.0 2.

1 5.4 6.2 6.0 131.1 10.997 70.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5.5 12.2 2.0 Total 36.5 68.3 Pelanggan 6.8 1.8 17.8 0.7 23.865 76.599 73.2 6.6 .644 116.5 16.6 432.8 6.3 20.799 220 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Sumatera Selatan Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 18.7 6.306 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.8 14.1 2.6 12.3 JTR 11.4 36.3 27.7 38.204 88.9 19.7 76. 12.4 14.896 1.372 116.7 24.0 6.059 69.6 0.0 1.031.1 1.0 12.735 83.7 44.9 59.5 16.0 31.4 5.3 11.8 9.2 50.4 212.7 5. 33.9 Trafo 1.7 33.0 .9 4.2 0.1 1. 7.427 102.0 23.9 41.7 .

3 11. 0.4 9. 9.2 0. 0.4 2.2 0.0 3.6 8.3 84.1 Total 12.3 0.2 7.182 14.963 19.2 0.5 3.366 24.1 19.6 9.3 18.836 17.3 0.5 21.6 6.3 10.0 19.1 9.9 7.147 26.2 0.6 Pelanggan 0.2 0.115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2.1 Trafo 0.8 3.442 11.4 6.1 0.2 0.2 8.3 5.100 16.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Bengkulu Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.2 0.3 0.3 0.2 .1 0.5 6.146 16.4 5.4 55.3 2.4 0.260 221 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Bengkulu Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 7.2 4.816 221.301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40.3 JTR 4.2 4.9 12.3 0.3 0.1 0.262 34.3 15.6 11.3 144.2 0.4 11.

225 155.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.6 42.2 7.7 19.527 96.4 37 3.721 101.2 184.5 33.793 153.322 93.5 JTR 5.230 143.3 387.6 6.1 Pelanggan 4.6 13 0 13.5 7.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.6 5.0 43 6 43.1 6.1 7.5 13.8 7.2 5.0 Total 49.7 3.4 3.1 70.330.7 10.9 36.7 16.7 13.7 8.5 7.7 3.5 39.6 .1 7.2 20.3 9.4 96.417 104.0 9.1 4.182 1.3 29.8 4.0 17.0 12.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Lampung Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.9 45.0 2.0 Trafo 28.692 222 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Lampung Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10.6 19 7 19.7 37.6 14.182 148.3 31.6 15.3 36.2 3.093 98.9 18.3 71 7.0 3.

8 1.944 12.8 0.594 223 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Bangka Belitung Juta USD Tahun 2011 0 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 5.2 1.719 10.6 0.345 10.8 2.5 1.1 17.0 0.0 4.6 0.8 8.3 .9 1.2 2.6 5.2 4.7 0.3 1.091 11.3 0.1 0.4 0.3 .3 4.7 0.9 2.2 3.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57.6 0.1 1.2 1.7 Trafo 1.4 0.4 1.8 2.6 1.2 2.226 9.486 9.0 54.2 0.0 25.9 .PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Bangka Belitung Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1.4 6.624 12.6 1.1 Total 12.2 0.3 JTR 4.468 11.7 0.924 11.766 157.6 5.7 0.7 Pelanggan 2.8 .6 3.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.3 0.8 4.0 4.0 4.3 1.4 0.2 0.5 1. 0.

10 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SIS STEM INT TERKONE EKSI SUMATERA 224 .LA AMPIRAN N A1.

131 8 515 8.237.746.587.819.4 MVA 139.727 122.2 3.426 1.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera K b h Fi ik J i Li ik P d R i lS Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 3.6      2.344.0 3.079.5 69.4 89.207.132.9 44 4 44.531.810.1        363.8       61.260.424.8 - 29 401 0 29.440 Listrik murah Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 89 727 89.0 1 810 2 1.7 309.240.867.657.601.1 218 991 7 218.758.6 1.7      677.190.0 32.624.9 893 240 2 893.7     1.5 406.274 125.351.469.883.280.370.1     12.539.887.601.3 .401.4 225 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total 602.7     4.9 1 531 0 1.8 89.148.7          2.991.520.3 2.8 291.280.034.038.1 Trafo Unit 2.223.317.102.186.0       11.2 953.515       5.9 146.8 3.899.994.9 158.962.5 1.6 1 520 102 5 1.5 JTR kms 3.9         337.4 378 469 5 378.601.2 3.506.7 231.6 590.263 758 1.

476.251.0 44 4.4 .2                 ‐                ‐        362.625.018 10 018 5.003.847.1 16.8 9.518 1 620 1.0 164.6 Trafo Unit 266 71 114 108 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 10.254.0 MVA 12.6 17.5 209.2 42.0 103.5 11.0 226 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi NAD (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 30.827.497.4 7.7 32.763.227 5.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi NAD K b h Fi ik J i Li ik P d P i i NAD Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 411.933.449.325.7         149.7 6.086.376.0           20.8 Pembangkit Pelanggan Total 141.039.553.2        128.4          30.5 36 497 2 36.9 151 5 151.2 103 449 2 116.423.707.0 58 0 58.575.5           795.0 221.0 JTR kms 669.1 16 376 6 16.1 162.4 57.620           559.6 50 575 4 50.7        50.1         1.5 6.305.330.

0 110 0 110.0 JTR kms 201.4        48.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS U Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 350.360.9 38.0 86 1 86.826.746.472.169.179.4 23.414.3 210.1 200.339.297.0 103 883 2 103.0        1.2 4.883.3 8.8 Pembangkit Pelanggan Total 94.6 6.530           573.3 Trafo Unit 157 60 155 201 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 3.8 22 297 1 22.661.042 10.938.364.1 18.9           25.317.5          17.0 440.7 20 2.0 422.614 3 614 11.8 18.003.7 .590 2 530 2.4 153.6                 ‐                ‐        430.3 10.090.0 227 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 37.4          76.343.9 18 055 1 18.7 144 235 4 144.2 109.246.322.1 MVA 4.055.235.978.6         274.0 4.0             697.1 25.

5 93 044 3 93.243.1 4.1 38 420 5 38.1 30.845.348.0           32.8 52.480 12.2 .0 132 0 132.044.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS B Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 315.896.0 7.8 13 778 1 13.1 295.899.0         1.0 301.9 10.953.472.0 155.3 Pembangkit Pelanggan Total 94.0 145 0 145.1 16.419 11 419 9.0 228 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 61.0 JTR kms 255.9 23.3 97.2          24.4 145 243 0 145.5 7.150.2 Trafo Unit 166 41 80 80 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 11.5        1.560.297.518.778.798.0        44.325.415.027.002.000 1 620 1.332.1 MVA 7.620           367.0                 ‐                ‐        447.0 273.5 41.629.420.323.0 307.3 20 2.8        120.2         282.5 17.021.

460.747.0 7.341.3 18 183 0 18.8 24.183.5 96.1        111.0 .0 170.352.0 20.0 213 9 213.0 MVA 28.234.0 11.7 7.8 47 998 8 47.033.5 75.062.0 60 6.0            972.176.6 Trafo Unit 380 90 97 100 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 8.0 198 0 198.979.0 170.912.855 8 855 13.0 180.9          49.8 40.020.4 24 352 8 24.815 229 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau (uta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 59.0              36.5                 ‐                ‐        397.5 90 534 5 90.9 190.653.0 JTR kms 389.8 Pembangkit Pelanggan Total 136.8 51.1        85.177.534.381.5         201.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau  K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 310.998.8 41.940.7 22.460.265.9                848.755 14.205           667.3 35.

7            63.439.164.3            6.1        11.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri K l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 280 0 280.164.0           280.0 230 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 63.046.0 JTR kms Trafo MVA Jml Pelanggan Unit 239 3 239.3 60 6.442.5          26.5 26.0           13.439.0 Listrik murah dan Hemat (RTS) 90 13 125 13.7 Pembangkit Pelanggan Total 101.1 11.3 .046.3 -                 ‐                ‐        101.442.0             239.125.125 425             90.

452.8 28.1 32.1 MVA 23.8 8.164.7 Pembangkit                 ‐ Pelanggan Total 10.9 60 990 9 60.7        150.7 Trafo Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 360 76 379 360 8.3 26.6 .7 109 329 6 109.394.0 121 4 121.498.400 80       1.165.8 57.721.0 572.1 JTR kms 319.148.6 114.0            1.553.0 25.387.157.344.1 49 157 8 49.4 471.1         323.5         1.181.0 436.3 44.0 246.162.175.396.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Jambi K b h Fi ik J i Li ik P d P i i J bi Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 366.2 11.8      162.450 8 450 18.990.6 136.2 535.089.0 127 2 127.329.3          79.965.023.686.2 24.7 10 686 7 10.595.398.111.477.4        657.0              43.5 53 5.200.6      21.250 231 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Jambi (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 75.9 64.400 16.7 230 165 0 230.

0 232 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 86.0 750.970.554.5 11.0 JTR kms 323.437.218.9      102.0           97.0 750.0 11.0 238 0 238.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan K b h Fi ik J i Li ik P d P i iS S l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 480.960.0         1.8 133 530 0 133.0 146.0 MVA 29.8 12.490.640.6 236 680 0 236.7        202.740.3 74 410 0 74.000 42.236.5 68 6.0                 ‐                ‐        721.287.0 34.236 16 236 39.3        2.1 Pembangkit Pelanggan Total 153.155.581.530.0 32.059.6 18.410.015.000 625       1.311.0 611.0         416.5 28 740 0 28.680.5 Trafo Unit 459 135 240 225 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 16.313.0 74.747.0 29.9 49.0 560.890.7 .0 148 0 148.641.0 79.0          59.265.642.0 251.

523.717.0             4.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu K b h Fi ik J i Li ik P d P i iB k l Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 450.3 277 678 7 277.0 MVA 11.9         1.2 .1 34.523.724.7 8.2 27.678.3 Trafo Unit 149 71 180 184 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 4 500 4.072.0 340 9 340.9        180.7 294.500 470           584.335.836.399.0 JTR kms 344.3 Pembangkit Pelanggan Total 150.1 9.268.4                 ‐                ‐        794.8 199.9 769.400.586.6 67.9 71.0 776.1 9.0          33.4        75.0 233 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 102.310.3 13.5 25 586 2 25.7 47.972.117.0 674.3 188 731 8 188.718.0 41 4.0 150 0 150.9         538.117.4 63 360 6 63.500.2        2.847.313.0 15.360.731.175.0 668.

655.2 44 592 9 44.265.8 22 138 0 22.237.2 34.0 42 4.2 172.5 8.138.5         1.4 JTR kms 633.7 28.5 280.4 80 342 6 80.8         301.0 234 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Lampung (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo 99.699.4 163 237 2 163.9        166.0           50.907.602.396.5       35.7 Trafo Unit 230 62 76 52 Listrik murah Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 10.039.283.440.040           420.288.438.000 1 040 1.000 20.5          31.5 .187.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Lampung K b h Fi ik J i Li ik P d P i iL Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 370.0 MVA 17.405.258.7 16 163 7 19.7 45.560.0 310.054.3        61.6 87.593.4 71.163.2 6.9 48.592.6 13.1           952.0 227.2        564.0 17.0 215 0 215.342.580 10 580 20.4 4.110.5 157.150.1 205.1 Pembangkit                 ‐ Pelanggan Total 16.0 150 0 150.580.

8         272.312.550.468.8 29.1        407.1        47.5 2.2 15 143 8 15.407.239.955.8 85 804 5 85.370 4.0 55 0 55.023.7 25.804.863.6 2 550 6 2.0 6.0          86.7 .184.043.8 Pelanggan Total 2.0 365.1 11.5 83.718.445.0 235 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit 51.938.0           12.0          31.879.7 5.6          2.7 128 879 5 128.5 89.143.8 9.0 182 0 182.859.0 215.5 137.7 25 380 7 25.368.0 345.0 38 3.2 5.601.745.0             647.339.0 JTR kms 147.8         4.4 Trafo Jml Pelanggan Unit Listrik murah dan Hemat (RTS) 96 62 105 130 2.418 105           393.P ki Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung K b h Fi ik J i Li ik P d P i i B k B li Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 292.0 MVA 7.601.6        1.8 20.7 57.550.0 230.9 45.433.380.930 2 930 5.268.136.

LA AMPIRA AN A1.11 PROYEKS SI KEBUT TUHAN KE EBUTUHA AN INVES STASI SIS STEM INT TERKONE EKSI SUMA ATERA 236 .

792 54 1. g .004 4.128 1.473 3.252 900 2.446 .225 3.254 3 004 3.515 411 1.Proyeksi y Kebutuhan Investasi Pembangkit. Transmisi & Distribusi [Fixed Asset Addition] Sumatra (Juta US$) Tahun 237 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 T t l Total Investasi Pembangkit T/L dan GI 480 135 1.469 Total 895 2.333 3.205 2 025 2.025 582 3.332 264 2.687 97 1.428 4 549 4.691 1.241 1.549 Distribusi 281 299 359 398 297 321 344 374 395 402 3 469 3.210 826 2.445 76 19 428 19.969 3.923 27 446 27.

PENJELASAN LAMPIRAN A WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 238 .

806 GWh pada tahun 2020. walaupun besarnya daya yang dapat ditransfer akan dibatasi oleh limit stabilitas sistem interkoneksi. Interkoneksi kedua sistem melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padangsidempuan pada tahun 2014 diharapkan akan dapat mewujudkan sistem interkoneksi Sumatera 1 . Kedua sistem ini belum dapat dioperasikan sebagai satu sistem interkoneksi karena terkendala oleh masalah stabilitas. sehingga menjadi 9. Dengan beroperasinya interkoneksi Sumatera.269 MW dan akan tumbuh rata-rata 10.641 MW pada tahun 2020.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi masih lemah Walaupun telah dibangun transmisi 150 kV Baganbatu – Rantauprapat yang menghubungkan sistem Sumbagut dan Sumbagselteng.PENJELASAN LAMPIRAN A1 SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA A1.1.0%. A1. Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2011 adalah 4.414 GWh pada tahun 2011 menjadi 56. namun kedua sistem tersebut pada dasarnya secara elektris masih terpisah. yaitu adanya osilasi inter-area pada frekuensi rendah dengan damping sangat rendah antara kelompok generator di Sumbagut dan kelompok generator di Sumbagselteng.4% per tahun antara tahun 2011 dan 2020. yaitu meningkat dari 23. Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 2011 – 2020 ditunjukkan pada Lampiran A1. 1 Untuk memastikan hal tersebut diperlukan studi small signal stability.2% per tahun.4% sampai 67. maka sistem Sumbagsel yang memiliki sumber energi primer yang banyak dan murah akan dapat memasok sebagian kebutuhan sistem Sumbagut. Faktor beban diperkirakan antara 65. 239 .1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 10. Sekitar 43% dari produksi tersebut adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut) dan selebihnya nya untuk Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel).

tingkat keberhasilan proyek IPP sangat rendah. PLTU Pangkalan Susu. dalam RUPTL 2011-2020 ini direncanakan banyak sekali pembangkit panas bumi (PLTP) yang mencapai 2. PLTU Sumsel 5 adalah PLTU Bayung Lencir. Proyek PLTP yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2014 adalah PLTP yang WKP-nya telah dimiliki oleh Pertamina.495 MW. PLTU Sumsel 7 adalah PLTU Sungai Lilin. Status beberapa IPP saat ini dalam RUPTL 2011 – 2020 adalah sebagai berikut: PLTU Sumbar 1 adalah PLTU Kambang. PLTU Tarahan) dan PLTA Asahan III. yaitu hanya sekitar 16%. namun hanya disebutkan kawasan daerah dimana proyek tersebut berada. Proyek-proyek strategis 1. Bahkan proyek pembangkit PLN juga mengalami keterlambatan. PLTU Sumsel 2 adalah PLTU Keban Agung. Namun melihat pengalaman PLN selama ini. merupakan proyek yang sangat strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini terjadi juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit yang eksisting. yaitu mencapai 78% pada tahun 2017 apabila semua proyek pembangkit berjalan dan selesai tepat waktu. Apabila keadaan tersebut benarbenar terjadi maka sistem Sumatera akan mengalami over supply. kecuali PLTP. Hal ini dimaksudkan agar PLN dapat menawarkan proyek IPP kepada pengembang melalui tender kompetitif. 240 .Rencana reserve margin tinggi Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin yang tinggi. PLTU Sumbar Pesisir. termasuk PLTP yang masih green field bahkan WKP-nya belum ditender. Dari perjelasan diatas dapat dimengerti bahwa perencanaan reserve margin yang tinggi hingga 78% dimaksudkan semata-mata untuk memberikan kepastian yang lebih tinggi kepada masyarakat Sumatera (yang telah lama menderita kekurangan listrik) bahwa listrik akan tersedia cukup di Sumatera. tidak disebut nama lokasinya secara spesifik. PLTU Riau Mulut Tambang adalah PLTU Cirenti. Penamaan proyek PLTU IPP Proyek-proyek IPP yang belum financial closing. Lebih dari itu. termasuk proyek PLN dalam program percepatan tahap 1. Proyek PLTU Percepatan Tahap I ( PLTU Meulaboh. PLTU Sumsel 6 adalah PLTU Mulut Tambang Pendopo.

PLTP Rajabasa 4x55 MW. PLTA Merangin 350 MW di Provinsi Jambi akan memenuhi kebutuhan sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP. sehingga hal ini menjadi sangat rawan terhadap ketersediaan reserve margin di sistem Sumatera seperti telah dijelaskan sebelumnya. PLTP Muara Laboh 4x55 MW. PLN akan membangun sisi hilir pada lokasi-lokasi sebagai berikut: PLTP Ulubelu #1.165 MW sampai dengan tahun 2020. 241 .4 (2x55 MW). Potensi pembangkit hidro Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan.2. Proyek-proyek PLTP lainnya akan dikembangkan oleh IPP dengan total kapasitas 2. PLTP Sarulla I 6x55 MW. PLTP HuluLais #1. Pembangkit baru dalam program percepatan tahap II – PLTU Pangkalan Susu#3. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS). 4. PLTP Rantau Dedap 4x55 MW dan PLTP Sorik Marapi 240 MW. PLTU Mulut Tambang (IPP) skala besar yang listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke Jawa melalui transmisi 500 kV HVDC harus dapat diselesaikan selaras dengan penyelesaian proyek interkoneksi Jawa-Sumatera 500 kV HVDC. Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan bakar gas yang ada.2 (2x55 MW). 3. Pengembangan PLTP Terkait dengan kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal.2 2x55 MW dan PLTP Sungai Penuh 2x55 MW – PLTP-PLTP yang akan dikembangkan oleh swasta/ IPP yaitu PLTP Ulubelu 3. namun sampai dengan saat ini eksplorasi yang dilakukan pihak swasta terhadap proyek-proyek PLTP tersebut belum tuntas. PLTP Lumut Balai 4x55 MW. PLTP Sarulla II 2x55 MW. PLTP Sungai Penuh #1.2 (2x55 MW).2 (2x55 MW). Khusus untuk PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sumber dana sudah tersedia dari JBIC dimana Loan Agreement sudah ditandatangani pada tahun 2005. PLTP Seulawah 55 MW.4 2x200 MW – PLTA Asahan III 174 MW – PLTP Hulu Lais #1.

525 GWh. akan sangat berkurang menjadi sekitar nol pada tahun 2014.575 GWh pada tahun 2020.Apabila proyek tersebut layak secara teknis. MFO=USD 0. Hal ini karena 242 . maka produksi energi per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. yaitu sekitar 6. Hal ini terjadi karena PLTU Belawan 1 – 4 tidak dioperasikan lagi dan PLTGU Belawan. Peranan pembangkit gas yang semula 4.4 dialokasikan per unit pembangkit berdasarkan merit order dengan menggunakan model simulasi produksi dengan asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut: − Harga bahan bakar HSD = USD 0. Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014. yaitu sekitar 4. − Ketersediaan batubara tidak terbatas. PLTG Paya Pasir di Sumatera Utara dioperasikan dengan LNG b.78 /liter. PLTG Task Force. c.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut adalah sebagai berikut: a.946 GWh pada tahun 2010 akan naik menjadi 7. Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. Peranan Minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2010 masih tinggi.62 /liter. dan batubara = USD 80/ton.2 A1.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A1.932 GWh pada tahun 2014. Lampiran B1. − Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada.3 A1.4 Neraca Energi Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera. − Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya. dan secara bertahap akan menurun kembali menjadi 4. gas alam = USD 6 /mmbtu.324 GWh dan cenderung konstan berdasarkan sumber paskokan LNG yang telah teridentifikasi.4 Produksi energi pada Lampiran B1. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.

4. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A1. yang pada tahun 2009 hanya 10 MW akan menjadi 2.714 GWh pada tahun 2020. Peranan hydro pada tahun 2020 akan mencapai 7. Kebutuhan bahan bakar HSD pada tahun 2011 sebesar 2. yaitu PLTU batubara. Kontribusi pembangkit geothermal akan meningkat luar biasa besar pada tahun 2020 dengan produksi 13. 2 Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan drilling.2 juta liter dan semakin turun menjadi 27 ribu liter pada tahun 2014. Pada tahun 2010 hanya 4. Sedangkan MFO sudah tidak diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya operasi PLTU Belawan 14 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara. f. Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. Peranan pembangkit hidro pada tahun 2010 semula 4. e.346 GWh akan naik 6 kali lipat menjadi 26.050 GWh.200 GWh. PLTA Peusangan 1-2 pada tahun dan PLTA Merangin pada tahun 2016 serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP.pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari kontrak yang ada. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian implementasinya masih rendah 2 akan membuat situasi yang cukup rawan bagi Sumatera apabila pengembangan PLTP yang direncanakan tidak terlaksana sesuai jadwal mengingat ketidakpastian pelaksanaan beberapa pembangkit IPP juga tinggi. Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami depletion. 243 . Banyaknya kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor pembangkit beban dasar lainnya. d.538 GWh dan akan semakin besar dengan masuknya PLTA semakin besar dengan masuknya PLTA Asahan 3.495 MW pada tahun 2020. namun sejalan dengan rencana akan dibangunnya LNG floating terminal maka PLTGU akan dijalankan dengan LNG. menjadi rendah jika semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai jadwal. atau 23% dari produksi total.

0 juta ton pada tahun 2011 menjadi 16.5. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI. • Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya 244 . Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan dan de-dieselisasi serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru. dimana hasil pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan sistem penyaluran.4 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 6 kali lipat. • Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan dan PLTA IPP Asahan 1. A1. kebutuhan pembangunan Gardu Induk Baru dan pengembangan trafo GI eksisting sampai tahun 2020 sebesar 28. GI yang telah berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan trafo.Volume pemakaian batubara meningkat dari tahun ke tahun. selanjutnya disusun kembali capacity balance yang baru setelah mempertimbangkan penambahan GI baru tersebut.5 Capacity Balance Gardu Induk Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan memasukkan GI existing dan GI ongoing project.400 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1. Dengan kriteria keandalan dan asumsi di atas. A1. PLTU IPP dan PLTP IPP. yaitu naik dari 4. • Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi proyek berikut: • Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan. PLTA. Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan. Selanjutnya dari Capacity Balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing masing GI.

8 Analisis Aliran Daya Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. PLTU Simpang Belimbing #1. 245 . hal ini disebabkan tidak adanya pembangkit baru di sistem Sumbagteng. kekurangan pembangkitan pada tahun 2010 ini berada di sub sistem Riau. Transfer Daya dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terbatas pada kisaran transfer 224 MW dikarenakan masalah limit stabilitas transfer daya menggunakan sistem 150 kV di titik interkoneksi Sumbagselteng (Lubuk Linggau – Bangko).6. • Pembangunan transmisi dan kabel laut ±250 kV HVDC Sumatera – Peninsular Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem tersebut. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Tarahan #1 (100 MW). Dari simulasi aliran daya terlihat. A1.2 (227 MW) dan PLTG/PLTMG sewa total 182 MW.dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber energi primer ke demand di Sumatera bagian utara. Profil tegangan sistem masih berada dalam kriteria operasi yang bervariasi antara 90%-105%. Analisa aliran daya tahun 2011 Aliran Daya tahun 2011. meliputi sistem 275 kV. dengan penjelasan sebagai berikut : 1. 150 kV dan 70 kV. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1. A1. baik dari Sumatera Bagian Utara maupun Sumatera Bagian Selatan.7. transfer daya terlihat menuju Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng). PLTG Duri (40 MW). Prakiraan aliran daya di sistem 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai tahun 2011 sampai dengan 2020. Namun pada RUPTL 2011-2020 ini hanya ditunjukkan hasil analisa aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja.7 Peta Pengembangan Penyaluran Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran A1. dimana sub sistem ini menerima daya dari sub sistem Sumatera Barat sebesar 172 MW.

melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 110 246 . Tegangan sistem 275 kV cukup baik. yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (282 kV) dan terendah di GI Binjai (275 kV). PLTG Gunung Megang ST (30 MW) dll. Analisa aliran daya tahun 2014 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (285 kV) dan terendah di GI Binjai (278 kV). PLTU Pangkalan Susu – FTP1 #2 (1x220 MW). PLTU Sumbar Pesisir #1 (112 MW). Payakumbuh – Padang Sidempuan – Sarulla – Simangkok dan Lahat – Gumawang. PLTU Sumbar Pesisir FTP1 #2 (112 MW). 3. Tegangan sistem 275 kV cukup baik.2. PLTP Ulubelu #2 (1x55 MW). 4. dan PLTU Riau FTP1 #1 telah beroperasi 100 MW. PLTU Riau FTP1 #1 (100 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng. Analisa aliran daya tahun 2012 Pada tahun ini akan dioperasikan sistem tegangan 275 kV pada transmisi 275 kV Lahat – Lubuk Linggau – Bangko – Muara Bungo – Kiliranjao. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTGU Keramasan (86 MW). PLTU Tarahan #2 (100 MW). PLTP Ulubelu-FTP2 #1 (1x55 MW). Analisa aliran daya tahun 2013 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. Tambahan transmisi 275 kV baru adalah Pangkalan Susu – Binjai. yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh – New Garuda Sakti. Transfer dari sub sistem Sumatera Barat ke sub Sistem Riau berkurang hingga menjadi 80 MW seiring dengan beroperasinya beberapa pembangkit di Riau. yaitu transmisi 275 kV Payakumbuh – Kiliranjao dan Binjai – Galang – Simangkok. PLTG Sengeti (60 MW) dan PLTU Sewa (840 MW). yang sebelumnya dioperasikan pada tegangan 150 kV. PLTU Pangkalan Susu #1 (220 MW). PLTG Peaker total 160 MW. Transfer ke sub sistem Riau menjadi 160 MW. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Meulaboh FTP 1 (2x110 MW). PLTG Belawan (400 MW).

PLTU Meulaboh #3 (200 MW). Keban Agung 225 MW. yang kemudian mulai akan dioperasikan dengan sistem 500 kV setelah beroperasinya PLTU di Jambi sampai dengan 800 MW mulai tahun 2018.4 (2x55 MW).4 (2x200 MW).5 MW). PLTP Sarulla-FTP2 (110 MW).4 (110 MW). PLTU Banjarsari (230 MW). Pada tahap awal pembangunan segmen transmisi 275 kV Aur Duri – Rengat ini dibangun dengan konstruksi 500 kV. PLTU Sumsel-5 #1 (150 MW). 5. PLTA Lawe Mamas (45 MW) dan PLTG peaking total 500 MW. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng ke.Bayung Lincir (Sumsel-5) Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti seiring dengan tambahan pembangkit PLTU mulut tambang Sumsel-5 150 MW. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 216 MW. Analisa aliran daya tahun 2016 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru.4 (400 247 . Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Pangkalan Susu FTP2 #3. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Riau menjadi 230 MW dan transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 230 MW. PLTP Lumut Balai-FTP2 #3. Analisa aliran daya tahun 2015 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. PLTP Sungai Penuh FTP2 (110 MW).Betung – Sungai Lilin (Sumsel-7) . Sumsel-7 150 MW. PLTP Ulubelu #3. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Riau FTP1 #2 (100 MW). yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Lhokseumawe dan pengoperasian transmisi 275 kV Meulaboh – Sigli yang sebelumnya dioperasikan dengan tegangan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU Meulaboh #3. PLTU Simpang Belimbing Ekspansi (227 MW). PLTU Keban Agung (2x112. PLTP Hululais FTP2 (110 MW).MW. 6. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 305 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV sub Sistem Jambi (Aur Duri) ke sub sistem Riau (Rengat) sebesar 202 MW. yaitu transmisi 275 kV Muara Enim . PLTU Sumsel-7 #1 (150 MW). PLTP Lumut Balai (110 MW) dan PLTP Sarulla (220 MW).

PLTA Merangin (175 MW). seiring dengan beroperasinya PLTU Jambi unit #1 (1 x 400 MW) Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. PLTU Sumsel-5 #2 (150 MW). PLTU Riau MT #2 (300 MW). Analisa aliran daya tahun 2017 Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 225 MW. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 540 MW. PLTA Asahan III (174 MW). Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Merangin #2 (175 MW).Selain itu juga diperlukan pembangunan transmisi 275 kV PLTU Cirenti – Rengat untuk mengevakuasi daya PLTU Cirenti. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 420 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 211 MW. PLTP Rajabasa FTP2 (220 MW). Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 261 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 226 MW. PLTU Sumsel-7 #2 (150 MW). PLTA Masang-2 (55 MW). PLTP Muara Laboh FTP2 (220 MW) dan PLTP Sarulla II FTP2 (110 MW). PLTU Sumsel-6 #2 (300 MW). 8. melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan seiring dengan mulai beroperasinya pembangkit mulut tambang dan panas bumi di sistem Sumbagselteng. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Peusangan (88 MW).MW). 7. PLTU Sumsel-6 #1 (300 MW). Analisa aliran daya tahun 2018 Pada tahun ini transmisi 500 kV dari PLTU Jambi – Aur Duri – New Garuda Sakti sudah beroperasi. yaitu transmisi 275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Ulee Kareng untuk memasok kota Banda Aceh dan sekitarnya. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 400 248 . PLTU Riau MT #1 (300 MW). PLTA Simonggo-2 (86 MW).

transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda Sakti sebesar 1150 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 450 MW. transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda Sakti sebesar 1100 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 440 MW. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS Jambi #1 (1x400 MW).9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. 10. 9.MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau sebesar 660 MW. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU Jambi KPS #2 (1x400 MW). PLTU Sumsel-1 #1 (400 MW). PLTP Rantau Dedap FTP2 (110 MW). dengan transfer daya sebesar 490 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan. • Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan • Perbaikan SAIDI dan SAIFI • Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua • Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1. PLTP Sorik Marapi FTP2 (240 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW). Analisa aliran daya tahun 2019 Arah aliran daya masih dari selatan ke utara. PLTU Sumsel-1 #2 (400 MW) dan PLTP Rantau Dedap FTP2 #2 (110 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW). dengan transfer daya sebesar 360 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan. Tambahan pembangkit baru antara lain PLTG Peaker (200 MW) dan PLTP tersebar (695 MW) A1.9. 249 . Analisa aliran daya tahun 2020 Arah aliran daya dari selatan ke utara.

8 106.516 506.293 498.10 Program Listrik Perdesaan 250 .4 126.6 36.8 275.3 1.694 Pelanggan 1.1 % tahun 2010.2 108.206 594.0 419.7 3.072 9.600 kms. JTR 65.955 53.054 MVA untuk menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 6.3 54.8 145.005 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera Juta USD Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 148.3 JTR 100.2 37.399 6. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.569 4. JTR USD 1.010.251 Trafo MVA 1.426. menjadi 73.0 140.356 537.869 4.6 272.982 5.1 Total 338.470 766 819 836 872 900 941 978 1.510 kms.951 493.114.3 161.0 111.8 63.403 5. • Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 67. dan sambungan pelanggan 419 juta USD) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 350 juta.2 359.618 Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTR kms 6.8 79.0 38.5 298.7 Pelanggan 39.PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Regional Sumatera JTM kms 6. Kapasitas gardu distribusi 14.635 540.5 876.509 4.3 % di tahun 2014 untuk regional sumatera A1. untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 3.2 39.4 Trafo 50.1 32.469 juta USD (JTM USD 1.4 123.1 76.0 42.271 5.661 5.8 88.4 87.1 34.562 4.011 5.4 37.0 69.0 41.3 104.5 336.091.564 juta.2 35.291 6.1 98.3 301.273 5.0 379.1 43.608 5.1 39.512 605.041 1.7 174.895 522.5 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 61.031 5.8 38.5 188.951 6.0 304.285 4.9 36.0 juta.9 392.788 5.711 4.242 619.7 34.9 248.1 64.3 38.076 juta.590 55.548 5. gardu USD 410 juta.

601. JTR 11.5 JTR kms 3.6 triliun A1.351.8 1.4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 602.991.186.351 kms.887.424.7 309.7      677.038.819.883.9 2. pembnagkit dan pelanggan Rp 2.867. JTR Rp 1.370.274 125.132.190. untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 4.5 1.1 218. Kapasitas gardu distribusi 363 MVA.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 3.4 758 89.8 Total 1.758.746.12.962.3 2.9 Jml Pelanggan Listrik murah dan Hemat (RTS) 89.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.0 1.207.11.9 146.8 JTR Trafo Pembangkit Pelanggan 29.6 590. halaman 96.7 triliun.9 1.531.601.88 triliun (JTM Rp 2.624.5 69.240.223.2 3.0 3.237.034.0       11.469.9 893.079.587.520.657. 251 .401.1 1.440        363.0 32.280. gardu Rp 0.280.9 158.994.1 Trafo MVA Unit 139.4 378.7         2.2 953.280 kms.506.2 3.102. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.8 3.727 122.515        337.7      4.8 -     2.601.131 8. transmisi dan gardu induk sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.810.426 89.317.22 triliun.263 44.6       61.5 406.3 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Sumatera tahun 2011-2014 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2010-2014 direncanakan membangun JTM 12.148.7      1.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4.899. A1.7 231.539.4     12.6 291.6 1.260.8 triliun.1       5.344.

LA AMPIRAN N A2 SISTEM M INTERKO ONEKSI KALIMANTAN K BAR RAT 252 .

LAM
MPIRAN A2.1

PROY
YEKSI KEB
BUTUHAN
N TENAG
GA LISTRIK
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

253

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Kalimantan Barat

Sistem

254

Wil Kalbar
Sistem Khatulistiwa
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak

Satuan 2011

GWh
%
MW

1.121
69
186

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.379
74
211

1.749
77
259

2.021
68
339

2.201
69
362

2.544
74
394

2.707
68
457

2.879
68
486

3.060
68
516

3.304
69
548

LA
AMPIRAN
N A2.2

NERACA
A DAYA
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

255

MW

Grafik Neraca Daya Sistem Kalbar
900

Pembangkit Terpasang PLN

54%

Pembangkit Sewa

PLTG PLN

PLTGB Sewa

800

PLTU PLN

51%

PLTU FTP2

700

47% PLTA PLN

53%

PLTU IPP
Power Purchase (Sesco)
PLTA PLN

600

g
Reserve Margin
Beban Puncak

45%

256

500

43%

46%
Power Purchase (Sesco)
PLTU IPP

57%
400
300

45%

37%
PLTU (FTP2)

200

PLTU (FTP2)
Kapasitas Terpasang

100
-

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Tahun
256

Neraca Daya Sistem Kalbar
Kebutuhan dan Pasokan

257

Kebutuhan
Produksi
Faktor Beban
Beban Puncak
Pasokan
Kapasitas Daya Terpasang
PLN
PLTG-HSD PLN (Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Raya & Siantan)
PLTD-MFO PLN (Sei Wie & Sudirman)
Interkoneksi sistem-sistem isolated
S
Sewa
Retired & Moultbolled (PLN)
Tambahan Kapasitas
PLN
On-going dan Committed Project
Pantai Kura-Kura (FTP1)
Parit Baru (FTP1)
Rencana
Parit Baru - Loan China (FTP2)
Nanga Pinoh
Kalbar - 1
Kalbar - 2
IPP
Rencana
Pontianak - 2
Pontianak - 3

Satuan 2011
GWh
%
MW

MW
MW
MW
MW
MW

2012

2013

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1,121
69
186

1,379
74
211

1,749
77
259

2,021
68
339

2,201
69
362

2,544
74
394

2,707
68
457

2,879
68
486

3,060
68
516

3,304
69
548

270

290

253

117

42

50

75

61

61

69

34
100
19
117
6

34
100
19
137
-

34
100
19
12
88
-

47
70
153

42
-

50
-

75
-

61
-

61
-

69
-

PLTU
PLTU

55
100

PLTU

50

50

PLTA
PLTU

50

49
50

49

PLTU

PLTU
PLTU

50

50

25

25

50

Power Purchase dengan SESCo (Peaking) 275 KV
Power Purchase dengan
g SESCo ((Baseload)) 275 KV
Jumlah Pasokan
Reserve Margin

2014

120
50

-50

MW

270

290

408

492

517

575

699

734

759

842

%

45

37

57

45

43

46

53

51

47

54

LAM
MPIRAN A2.3
A

PRO
OYEK-PR
ROYEK IPP TERKENDALA
SISTEM KALIMAN
K
NTAN BAR
RAT

258

A2.3
3 Proyek-proye
ek IPP yg terke
endala
Dalam perenccanaan pemban
ngkit IPP, ada beberapa
b
proye
ek pembangkit IPP yang
Perjanjian Pem
mbelian Tenag
ga Listrik (PPTL
L) nya mengala
ami kendala. Ka
ategori
PPTL terkend
dala adalah,
Kateg
gori 1, tahap op
perasi adalah ta
ahap dimana IP
PP sudah menccapai
COD.
Kateg
gori 2, tahap pe
embangunan/ko
onstruksi diman
na IPP sudah mencapai
m
Finan
ncial Closing (F
FC) tapi belum mencapai
m
COD
D.
Kateg
gori 3, Tahap pendanaan
p
IPP yang sudah memiliki
m
PPTL, tetapi
t
belum
m mencapai Fin
nancial Closing
(FC).
Pembangkit IP
PP yang terken
ndala di sistem Kalimantan Ba
arat adalah,
- PLT
TU Ketapang 2xx7 MW masuk dalam kategori 2
- PLT
TU Pontianak 2x25
2
MW masu
uk dalam kategori 2
Saat ini penye
elesaian IPP terkendala tersebut sedang dip
proses oleh Kom
mite
Direktur untukk IPP dan Kerja
asama Kemitraa
an.

259

LA
AMPIRAN
N A2.4

NERACA ENERGI
E
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

260

Proyeksi Neraca Energi
Sistem Kalbar
(GWh)

261

JENIS
Batubara
Gas
LNG
HSD
MFO
SESCO
Hydro
y
Total

2011
-

2012
-

2013
824

2014
1.228

2015
1.471

2016
1.788

2017
1.793

2018
1.797

2019
2.377

2020
2.641

117
1.004
1.121

257
1.121
1.379

171
753
1.749

12
72
709
2.021

6
3
721
2.201

7
16
733
2.544

7
21
737
150
2.707

10
35
738
300
2.879

14
55
314
300
3.060

10
35
317
300
3.304

Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
Sistem Kalbar
FUEL TYPE

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

262

HSD ( x 1000 kL )

42

89

114

4

0

1

1

3

7

3

MFO ( x 1000 kL )

254

279

171

18

1

4

5

9

14

9

LNG (GBTU)

-

-

-

-

-

Batubara (kTON)

-

-

565

701

868

GAS (GBTU)
-

-

-

-

-

1.102

1.137

1.178

1.610

1.832

LA
AMPIRAN
N A2.5

CA
APACITY
Y BALANC
CE GARDU
U INDUK
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

263

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
No.

1

2

3

4

5

6

264

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

TEG.

CAPACITY

(KV)

MVA

NAMA GI

GI SIANTAN

GI SEI RAYA

GI. PARIT BARU

GI. MEMPAWAH

GI.SINGKAWANG

GI. KOTA BARU

GI PLTU KURA-KURA

GI SAMBAS

GI SANGGAU

GI TAYAN

GI BENGKAYANG

GI NGABANG

GI SEKADAU

GI SINTANG

GI NANGA PINOH

GI KETAPANG

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

150/20

2

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

1

2

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

20

30

60

60

30

30

30

30

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

30

30

30

60

20

60

2014
Add Trf
MVA

25,67

29,33

34,04

40,13

50,34%

57,50%

66,75%

39,34%

38,01

35,75

74,54%

23,37%

120

60

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

2016
Peak Add Trf
MW
MVA

2017
Peak Add Trf
MW
MVA

2018
Peak Add Trf
MW
MVA

2019
Peak Add Trf
MW
MVA

48,04

51,82

53,64

56,15

61,82

47,10%

50,81%

52,59%

55,05%

60,61%

30

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
67,13
65,82%

39,00

40,90

46,01

50,10

52,62

52,69

69,12

69,40

25,49%

26,73%

30,07%

32,75%

34,39%

34,44%

45,17%

45,36%

15,18

15,60

17,34

15,86

17,33

15,66

22,55

59,54%

61,17%

67,98%

62,19%

67,98%

61,40%

44,22%

16,78

17,55

15,00

21,85

65,79%

68,84%

58,84%

42,84%

30

30

32,68

33,06

35,31

64,08%

64,83%

69,24%

23,66

30,63

33,75

29,04

31,51

33,89

46,40%

60,06%

66,17%

56,94%

61,79%

66,45%

14,62

15,30

16,34

15,85

19,33

57,35%
,

60,01%
,

64,09%
,

62,16%
,

37,90%
,

30

20,12

21,85

28,72

33,74

32,69

39,45%
,

42,85%
,

56,32%
,

66,17%
,

64,09%
,

14,41

16,93

15,79

17,07

13,31

13,87

15,29

15,81

17,44

24,96

56,50%

66,39%

61,91%

66,96%

52,19%

54,40%

59,97%

62,01%

68,40%

48,95%

11,71

12,14

12,83

13,88

14,88

15,34

16,50

17,73

14,06

15,29

45,94%

47,60%

50,33%

54,44%

58,37%

60,17%

64,70%

69,54%

55,13%

59,98%

12,02

12,83

16,02

15,18

15,80

17,16

23,63

47,13%

50,33%

62,81%

59,53%

61,96%

67,29%

46,33%

30

30

Peak
MW

17,04

15,63

19,59

66,82%

61,31%

38,41%

30

30

17,22

21,74

33,76%

42,63%

21,48

23,55

25,80

28,02

42,12%

46,17%

50,60%

54,95%

6,54

7,29

8,04

8,54

9,45

10,46

11,58

12,70

25,66%

28,57%

31,55%

33,48%

37,08%

41,04%

45,41%

49,79%

6,48

7,15

7,82

8,21

9,01

9,88

10,82

11,75

25,41%

28,03%

30,65%

32,22%

35,33%

38,73%

42,44%

46,09%

9,07

10,01

10,94

11,50

12,61

13,83

15,15

16,45

35,57%

39,24%

42,91%

45,10%

49,46%

54,22%

59,42%

64,53%

6,66

10,28

7,66

8,40

9,20

10,09

10,95

26,12%

40,33%

30,03%

32,93%

36,09%

39,56%

42,96%

18,36

20,27

21,51

23,82

26,36

32,17

31,99

35,99%

39,74%

42,18%

46,70%

51,69%

63,08%

62,72%

9,43

10,34

11,34

9,43

13,49

55,48%

60,84%

66,70%

55,45%

79,38%

28,53

30,98

33,62

33,15

55,95%
,

60,74%
,

65,92%
,

65,01%
,

30

Capacity
p
y Balance Sistem Kalimantan Barat
TEG.
No.

CAPACITY

NAMA GI
MVA

(KV)
17

GI SANDAI

150/20

1

30

30

18

GI KOTA BARU 2

150/20

1

30

30

19

20

GI SUKADANA

GI PUTUSIBAU

150/20

150/20

1

1

30

30

2011
Peak Add Trf
MW
MVA

2012
Peak Add Trf
MW
MVA

2013
Peak Add Trf
MW
MVA

Peak
MW

2014
Add Trf
MVA

2015
Peak Add Trf
MW
MVA

30

2016
Peak Add Trf
MW
MVA
3,36

2017
Peak Add Trf
MW
MVA
3,68

2018
Peak Add Trf
MW
MVA
4,04

2019
Peak Add Trf
MW
MVA
4,42

2020
Peak Add Trf
MW
MVA
7,80

13,17%

14,44%

15,83%

17,35%

30,60%

8,76

9,42

10,12

10,88

11,59

34,35%
,

36,93%
,

39,70%
,

42,67%
,

45,43%
,

8,76

9,70

10,73

11,88

13,02

34,35%

38,03%

42,10%

46,58%

51,08%

14,77

30

57,92%
Penambahan Trafo (MVA)
Total Beban Gardu Induk
Beban Pembangkit Siantan
Beban Pembangkit Sei Ra
Raya
a
Total Beban Gardu Induk & PLTD
Total Beban Sistem
Diversity Factor

710

-

120

-

90

30

30

30

30

30

30

136,39

154,61

185,27

248,05

270,73

311,91

370,39

406,81

442,94

494,54

20,00
20 00
20,00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

20,00
20,00
20
00

176,39

194,61

225,27

288,05

310,73

351,91

410,39

446,81

482,94

534,54

173,34

192,33

224,27

287,01

309,73

378,08

410,28

445,11

482,82

533,53

1,02

1,01

1,00

1,00

1,00

0,93

1,00

1,00

1,00

1,00

265

LAM
MPIRAN A2.6

RENCA
ANA PEN
NGEMBAN
NGAN PEN
NYALURA
AN
SISTEM KALIMAN
NTAN BA
ARAT

266

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Kalimantan Barat
(kms)
Tegangan

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

275 kV

-

-

180

-

-

-

-

-

-

-

180

150 kV

112

310

596

280

-

180

860

-

-

300

2.638

112

310

776

280

-

180

860

-

-

300

2.818

TOTAL

267

(MVA)
Tegangan
275/150 kV

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

-

-

250

-

-

-

-

-

-

-

250

150/20 kV

60

150

90

210

30

150

90

30

60

60

930

TOTAL

60

150

340

210

30

150

90

30

60

60

1.180

Rencana Pengembangan Transmisi
Kalimantan Barat

268

N
No.

P
Propinsi
i i

D i
Dari 

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

Parit Baru
Sei Raya
PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2
Singkawang
Siantan
Singkawang
Bengkayang
Ngabang
PLTU Parit Baru (IPP)
Tayan
Sanggau
Sintang
Sintang
Sukadana
Sandai
Nanga Pinoh
Ketapang
Sintang
Bengkayang

K
Ke 
Kota Baru
Kota Baru
Incomer 2 pi (Singkawang‐Mempawah)
Sambas
Tayan
Bengkayang
Ngabang
Tayan
Parit Baru
Sanggau
Sekadau
Sekadau
Nanga Pinoh
Sandai
Tayan
Kota Baru 2
Sukadana
Putusibau
Perbatasan

T
Tegangan 
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
150 kV
275 kV

C d t
Conductor 
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
cct 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 1 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Hawk
2 cct, 2 Zebra

k
kms 

Biaya
(M USD)

COD

40
32
40
126
184
120
180
110
6
180
100
180
180
180
300
180
200
300
180

2,22
1,77
2,22
6,98
10 19
10,19
6,65
9,97
6,09
0,33
9,97
5,54
9,97
9,97
13,74
22,90
9,97
15,27
22,90
28,36

2011
2011
2011
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2016
2016
2016
2016
2017
2020
2013

Rencana Pengembangan Gardu Induk
Kalimantan Barat
No.  Propinsi

269

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
K lb
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar
Kalbar

Nama Gardu Induk 

Tegangan 

Baru/
Extension 

Kap

Jumlah 

COD 

Kota Baru 
Parit Baru Ext LB
Parit
Baru Ext LB
Sei Raya Ext LB
PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2
Sei Raya
Sambas
Singkawang Ext LB
Tayan 
Tayan Ext LB
Tayan Ext LB
Sei Raya Ext LB
Bengkayang 
Ngabang 
Sanggau 
Sekadau 
Sintang 
Si t
Siantan
Mempawah
Singkawang
Naga Pinoh 
Sintang Ext LB
Sukadana 
Sandai 
Sanggau
Kota Baru 2
Ketapang 
Parit Baru
Sambas
Siantan
Putusibau 
Kota Baru
Kota Baru
Bengkayang 

150/20 kV
150/20 kV
150/20
kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
150/20 kV
275/150 kV

Baru
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Baru
Extension
Extension
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
E t i
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Baru
Baru
Extension
Extension
Extension
Baru
Extension
Baru

30
2 LB
2
LB
2 LB
30
120
30
2 LB
30
2 LB
2 LB
2 LB
30
30
30
30
60
60
30
30
30
1 LB
30
30
30
30
60
30
30
60
30
30
250

2,62
1,24
1
24
1,24
1,37
3,81
2,42
1,24
2,42
1 24
1,24
1,24
2,62
2,62
2,62
2,62
4,00
1 39
1,39
1,39
1,39
2,62
0,62
2,62
2,62
1 39
1,39
2,62
4,00
1,39
1,39
1,39
2,62
1 39
1,39
25,98

2011
2011
2011
2011
2012
2012
2012
2013
2013
2013
2013
2013
2014
2014
2014
2014
2014
2015
2016
2016
2016
2016
2016
2016
2017
2017
2018
2019
2020
2020
2013

Keterangan

L
LAMPIRA
AN A2.7

PE
ETA PENG
GEMBANG
GAN PENY
YALURAN
N
SISTEM
M KALIMA
ANTAN BA
ARAT

270

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
RENCANA
PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
KALIMANTAN
- 2020
your computer,
and then open theBARAT
file again. If2011
the red x still
appears, you

PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP); 
2 x 400 KW (2012)
ARUK
PLTU 2 KALBAR  TJ. GUNDUL
(PLN); 
2 x 27,5 MW (2013)
2 x 27,5 MW (2013)
PLTU PERPRES TAHAP II  2 X 
50 MW (2014) LOAN CHINA

GI. SAMBAS
Thn 2013

PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN); 
2 x 750 KW (2010)

BIAWAK
SERIKIN
JAGOI BABANG

KUCHING

GI MAMBONG (MATANG)

GI. SINGKAWANG
Thn 2009

GI. NGABANG
Thn 2013
55 km

GI. PARIT BARU

GI SANGGAU
Thn 2014

GI. SIANTAN
GI. TAYAN
GI
GI. SEI RAYA Thn 2013
GI. KOTA BARU
Thn 2011

PLTGB (IPP) 8 MW  (2012)
GI. PUTUSIBAU
Thn 2020

BADAU

ENTIKONG
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn 2013

GI. PLTU KURA-KURA
Thn
2011
GI. MEMPAWAH

PLTU 1 KALBAR ‐PARIT BARU (PLN); 2 x 50 
MW (2013)
PLTU  PARIT BERKAT (IPP); 2 x 25 MW  
(2014);
(2014); 

BATU KAYA

TEBEDU

PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW (2012)

GI. SINTANG
Thn 2014

GI. SEKADAU
Thn 2014
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X 
7 MW (2012)

PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)
PLTGB NANGAPINOH 
(PLN); 6 (2013)
PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18
GI. NANGA PINOH
Thn 2016

PLTU TAYAN (IPP); 2 X 25 
MW (2015)
GI. K0TA
BARU2 2017
GI. SUKADANA
Thn 2017
GI. SANDAI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (PLN) ; 
2 X 10 MW (2013)

GI. KETAPANG
GI
Thn 2017

PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X 7 MW (2012)

KETERANGAN :
Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana

PLTU Rencana
PLTMH Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana

GI.GI
KUALA
KURUN
Kuala
Kurun

LA
AMPIRAN
N A2.8

ANAL
LISIS ALIR
RAN DAYA
A
SISTEM KALIMAN
NTAN BAR
RAT

272

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012

273

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015 274 .

Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018 275 .

9 KEBUTUHA AN FISIK PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SISTEM KALIMANT S K TAN BAR RAT 276 .L LAMPIRA AN A2.

0 9.0 36.4 18.8 13.6 11.7 12.1 33.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.5 5.6 Total 25.3 5.6 5.2 113.467 58.773 464.8 19.457 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Juta USD Tahun 2011 2012 0 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM 10.6 2.7 44.5 10.9 4. 2.9 32.419 52.1 41.2 4.9 15.2 .4 3. 18.3 17.655 49.1 13.4 Trafo 4.6 364.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.5 2.6 7.8 6.9 11.973 38.5 .7 160.4 .PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Tahun 277 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.7 4.1 11.8 3.3 18.980 41.543 36.6 7.3 Pelanggan 2.7 7.2 10.0 .7 JTR 7.8 26.6 56.105 46.3 38.2 19.3 2.1 4.3 5.353 55.9 0.2 17.189 40.2 35.5 4.7 44.7 38.

LAM MPIRAN A2.10 A PR ROGRAM LISTRIK PERDESA AAN SISTEM KALIMANT S K TAN BAR RAT 278 .

817.0         445.5 258 817 0 258.125 4.966.1 22.3 2.8 6.395.983.3 2.281.375 279 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit 82.875.0 Listrik murah dan Hemat (RTS) 197 62 47 47 5.509.1       22.796.9          17.8 46.4 156.909.5 54.6 590.808.0        29.099.120.4 7.0 274.623.3 108.0 468.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348.725 5 725 4.525 875              353              14.0 23 2.0 167 6 167.5 91 808 3 91.4 8.4 76.909.081.802.0 10.108.0 JTR kms Trafo MVA Jml Pelanggan Unit 221.5         1.3 645.0                ‐        776.8 7 099 4 7.0 182 5 182.8 23.500.416.4            1.3 159 909 4 159.996.992.375.391.9 .5 511.500.0 Pelanggan Total 166.9        277.

L LAMPIRA AN A2.11 PROYEK KSI KEBUT TUHAN IN NVESTASI SISTE EM KALIM MANTAN BARAT B 280 .

Transmisi & Distribusi [Fixed Asset Addition] Kalimantan Barat (Juta US$) Tahun 281 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total Investasi Pembangkit T/L dan GI 0 13 82 14 322 98 75 37 163 1 75 69 149 21 74 1 119 1 119 27 1.Proyeksi y Kebutuhan Investasi Pembangkit.825 .178 283 Distribusi 25 35 37 39 26 38 42 45 33 45 364 Total 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1. g .

Sambas. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran A2. A2. kecuali PLTU Percepatan Tahap 1.6% per tahun sampai dengan tahun 2020. di Kalimantan Barat terdapat sewa PLTD lebih dari 100 MW. SISTEM KALIMANTAN BARAT A2. Nanga Pinoh.304 GWh pada tahun 2020. Untuk memenuhi kebutuhan listrik tahun 2011-2020. dimana semua pembangkit di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga biaya operasi sangat tinggi.9% Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2011 sebesar 186 MW akan meingkat menjadi 548 MW pada tahun 2020 dengan tersambungnya beberapa sistem isolated yaitu sistem Singkawang.6% sampai 76.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi Sistem interkoneksi Kalimantan Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.1.121 GWh pada tahun 2011 menjadi 3. Sistem-sistem kecil lainnya masih beroperasi isolated. Tambahan pembangkit pada sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap rencana. 282 .7% per tahun. yaitu PLTU Parit Baru (2x50 MW) dan PLTU Kura-kura (2x25 MW) yang direncanakan beroperasi tahun 2013.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Kalimantan Barat (Khatulistiwa) merupakan salah satu sistem besar di pulau Kalimantan selain Sistem Kaltim (Mahakam) dan Sistem Kalimantan Selatan & Tengah (Barito). Sintang. Sekadau. Penandatangan kontrak untuk kedua PLTU ini sudah dilaksanakan pada tahun 2009. Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 270 MW (termasuk sewa). diperkirakan produksi energi listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 12. Faktor beban diperkirakan antara 67. Saat ini sistem Kalimantan Barat belum terinterkoneksi dengan sistem Kalimantan Selatan dan Tengah. yaitu meningkat dari 1. Sanggau. Saat ini.PENJELASAN LAMPIRAN A2. yaitu tumbuh rata-rata 12. Ngabang dan Ketapang.

maka direncanakan pembangunan PLTU Kalbar-1 sebesar 2x50 MW dan PLTU Kalbar-2 (2x50 MW). Untuk memenuhi kebutuhan demand jangka panjang di Kalbar. Tidak ada ketentuan take or pay yang berbasis daya.5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2x50) diharapkan beroperasi pada tahun 2013.Sarawak Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan BPP dengan menggantikan pembangkit BBM. maka direncanakan PLTU batubara 3x7 MW di Sintang untuk beroperasi pada tahun 2012. Selain itu PLTU IPP juga akan dilaksanakan di Ketapang sebesar 2x10 MW. interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasi power pada WBP. hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang berbahan bakar mahal Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan mencapai 57% pada tahun 2013. Interkoneksi Kalbar . Dalam jangka panjang (setelah tahun ke-5) dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari Serawak adalah hanya selama WBP. PLTU Batubara Dengan adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang.Pada tahun 2014 dan 2015 sistem Kalimantan Barat akan melakukan pembelian listrik dari Serawak sebesar 50 MW pada LWBP dan 120 MW pada WBP untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan mengantisipasi keterlambatan pembangunan proyek PLTU. sedangkan PLTU IPP Pontianak 3 diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2015. Setelah 5 tahun akan berubah menjadi power exchange. PLTU batubara (ex Loan China 2x50 MW) di Parit Baru juga diharapkan beroperasi pada tahun 2014. PLTU IPP Pontianak-2 diperkirakan akan mundur dalam waktu yang lama. Pola operasi 5 tahun pertama adalah impor 50 MW flat pada LWBP dan maksimum 180 MW (on top dari beban dasar) pada WBP. Proyek-proyek strategis: 283 . Namun hal ini masih dapat diterima dengan pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbaga sebab. Proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2014. PLTU Pantai Kura-kura FTP1 (2x27.

Potensi air di daerah Nanga Pinoh memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut untuk 284 .4. Pada tahun 2011 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru berbahan bakar selain BBM. maka produksi dengan BBM untuk sistem interkoneksi akan mencapa 1. HSD dan MFO. juga sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. produksi energi per jenis energi primer di sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2. c.121 GWh. b. maka diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar dapat dikurangi.4 Neraca Energi Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan pengembangan pembangkit. Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A2. A2.− Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai KuraKura) merupakan proyek strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini sudah terjadi. Rencana pembangunan beberapa PLTU di Kalbar merupakan salah satu usaha mengurangi biaya operasi pembangkitan mengingat pembangkit di Kalbar 100% berbahan bakar minyak. Peranan sumber energi lain selain BBM dan batubara juga direncanakan.3. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU. A2. Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Produksi dengan menggunakan BBM adalah sebesar 650 GWh dan produksi dengan BBM dari pembangkit sewa sebesar 718 GWh (termasuk sistem isolated). Sumber energi tersebut adalah Air. Adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang juga membuka peluang pembangunan PLTU batubara di daerah tersebut. − PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) 2x50MW dan PLTU Pontianak-3 diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem Kalbar.2. Peranan MFO yang pada tahun 2010 masih cukup tinggi di Kalbar.

818 kms. PLTA Nanga Pinoh direncanakan dapat beroperasi sebesar 98 MW pada tahun 2017/2018. – Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar sampai dengan tahun 2020 adalah sepanjang 2. Peranan HSD hingga tahun 2020 tetap penting.4. A2. – Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar .240 MVA. d. Volume pemakaian batubara meningkat dari 0. mengingat beberapa sistem kecil terisolasi dan tidak terhubung ke Grid sistem khatulistiwa masih menggunakan PLTD sebagai pembangkit. A2.Sarawak untuk mendapatkan benefit ekonomi dari energy exchange pada saat terjadi 285 . perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada Lampiran A2. PLTU IPP dan PLTA. – Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan.5. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan Barat sampai dengan tahun 2020 sebesar 1. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem interkoneksi sebesar 296 juta liter dan pada tahun 2020 sebesar 12 juta liter. meliputi.memenuhi kebutuhan listrik. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A2.57 juta ton pada tahun 2013 menjadi 1.83 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 4 kali lipat.

Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2. PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) . yaitu 50 MW di LWBP dan 120 MW di WBP. Tahun 2012 Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru.d 2015 adalah transmisi 275 kV Bengkayang – Border (Sarawak). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Tegangan sistem tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (142 kV). Pola operasi interkoneksi dengan Sarawak masing tetap sama. A2.perbedaan marginal cost antara kedua sistem. 2.7 Peta Pengembangan Penyaluran Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2. Interkoneksi ini juga bermanfaat sebagai contingency apabila konstruksi pembangkit baru terlambat.5 kV). Tambahan transmisi baru dari tahun 2013 s. Tahun 2018 PLTU Kalbar-1 2x50 MW.d 2012 adalah transmisi 150 kV Sambas–Singkawang. PLTU Pontianak-3 50 MW sudah beroperasi pada tahun 2013 s.6. PLTU Parit Baru (FTP1) 2x50 MW. Tahun 2015 PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 2x27. transmisi 150 kV Bengkayang – Nabang – Tayan – Sanggau – Sintang. 2015 dan 2019. transmisi 150 kV Singkawang–Bengkayang dan transmisi 150 kV Siantan–Tayan. Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 s.d 2015.8 Analisis Aliran Daya Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. A2. Pada RUPTL 20112020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012.7. PLTA Nanga Pinoh 89 MW beroperasi pada tahun 2016-2018. Sistem Kalbar juga telah terinterkoneksi dengan sitem Sarawak. 3. Tegangan sistem tertinggi di GI Singkawang (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (148. Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut : 1.5 MW. Tegangan sistem 286 .

Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria N-1.tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (153 kV) dan tegangan terendah di GI Nanga Pinoh (143 kV). Tambahan transmisi baru dari tahun 2016 s. A2.980 41.944 287 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.353 55.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1.105 46.d 2019 ada tiga ruas transmisi yaitu SUTT 150 kV Tayan–Sandai. SUTT 150 kV Sandai–Sukadana.419 52. SUTT 150 kV Sukadana–Ketapang.9.973 38.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3.655 49.773 464.457 .543 36.189 40.467 58. • Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan • Perbaikan SAIDI dan SAIFI • Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua • Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran A2.

JTR USD 113 juta.1 13.8 26.509.6 5.0 2.3 2.3 5.944 kms.1 4.6 56.9 11.6 11.3 5.7 38. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.7 160. JTR 3.7 Trafo 7.6 7.0 36.3 645.4 3. gardu distribusi USD 56 juta dan sambungan pelanggan USD 34 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 36 juta.375 288 Listrik murah 875 .7 7.2 35.3 38.1 41.2 10. untuk menunjang pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar USD 364 juta (JTM USD 161 juta.0 468.5 10.4 Pelanggan 4.4 197 62 47 47 5.6 7.0              353             14.2 18.5 5.7 12.6 25.381 kms.8 13.6 364.2 4.9          17.6 2.7 44.1 33.0 10.3 2.0 182.3 17.8 6.6 590.7 4.525            1.2 19.0 9.PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI Provinsi Kalimantan Barat Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM JTR 10.2 113.1 11.7 44.4 2.2 17.10 Program Listrik Perdesaan Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM kms 348.5 511. kapasitas gardu distribusi 540 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 464 ribu pelanggan.8 3.3 2.0 JTR kms Trafo MVA Unit Jml Pelanggan dan Hemat (RTS) 221.725 4.5 2.125 4.623.0 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 20112020 dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 1.4 18.5 4.9 32.8 19. menjadi 66.5 % di tahun 2014 untuk regional Kalimantan Barat.0 167.9 15.9 4.3 % tahun 2010.3 18.3 Total 2. A2.5         1. • Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 58.

281.4 156.081.416.983.099.500. dapat dijelaskan sebagai berikut : • Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 1.966.802.8 23. gardu distribusi Rp 30.375.1       22. untuk menunjang kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 776.120.992.395. A2.5 JTR Trafo Pembangkit 54.5 milyar).8 milyar. A2.510 kms. pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 22.909.4 76.9         277. • Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut.0                 ‐         776.1 22.4 7.808.996.391.9 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Barat tahun 2011-2014 diatas.8 46.5 91. 289 .875.909. transmisi dan gardu induk sistem Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.500.4 8.0        29.3 108.0 milyar.11.8 7.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.0 274. Kapasitas gardu distribusi 17 MVA.0         445.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4.8 6.0 Pelanggan Total 166. JTR 1.796. JTR Rp 278.0 milyar.817.108.3 milyar (dengan rincian JTM Rp 445.624 kms.5 258.3 159.Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM 82. halaman 96.12.

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 290 .

PROVINSI SUMATERA SELATAN A11. PROVINSI SUMATERA UTARA A5. PROVINSI KEPULAUAN RIAU A7. PROVINSI RIAU A6. PROVINSI JAMBI A10. PROVINSI LAMPUNG A13. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM A4.RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT A3. PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG A8. PROVINSI SUMATERA BARAT A9. PROVINSI KALIMANTAN BARAT 291 . PROVINSI BENGKULU A12.

Lhokseumawe. Banda Aceh dan Aceh Besar. Pidie dan Pidie Jaya. Gambar A3. dengan posisi pembangkit semua berada di Sumut.LAMPIRAN A.1.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM A3. Sekitar 71% dari sistem kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sisanya 29% dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. Bireuen. Peta sistem kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ditunjukkan pada Gambar A3. Saat ini daerah yang sudah dipasok sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui 7 gardu induk yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang. Aceh Timur. Langsa. Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok oleh PLTD berbahan bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV.1 Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 292 .

2. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa genset sebesar 150 MW di 4 lokasi. Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah 390 MVA.9 MW 28.9 KIT-PLTD // 20 KV= 57. Aceh Singkil. Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya. Lambaro 30 30 30 10 30 30 b.7 293 . Aceh Selatan. Kota Sabang dan Simeulu terdapat genset sewa dengan kapasitas total 53 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut. Juli Bireun 30 30 4 Langsa a. Aceh Barat Daya. Gayo Lues.2 KIT-PLTD // 20 KV= 15 MW 20 3 Lhokseumawe a.1 dan Tabel A3. Pemadaman dalam skala besar bisa terjadi apabila ada gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit pembangkit berkapasitas besar. Tijue (MW) 10 390 239. Aceh Tenggara.1 Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2010 Nama No Gardu Induk Kapasitas Trafo (MVA) Peak Load #1 #2 #3 1 Banda Aceh a. Rincian kapasitas GI dan pembangkit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3. Alur Dua 30 b. Alur Bate.Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan pemadaman karena jumlah kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai cadangan daya yang cukup. Idi 30 Jumlah 10 85.2 KIT-PLTD // 20 KV= 70 MW 44. Aceh Barat. Tualang Cut 10 c. Tabel A3.4 KIT-PLTD // 20 KV= 20 MW 81. Nagan Raya. Bayu Keterangan 60 2 Sigli a. Kota Subulussalam.

2.238/kWh karena masih dioperasikannya banyak PLTD. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2010 No Nama Pembangkit A Sistem Interkoneksi 150 KV 1 Banda Aceh Bahan Bakar Pemilik PLTD HSD PLN 22 86 Swasta PLN 45 14 81 Swasta 70 PLN 8 Swasta 20 PLN 0 Swasta 15 Genset Sewa 2 Lhokseumawe PLTD HSD Genset Sewa 3 Sigli PLTD HSD Genset Sewa 4 Langsa Daya Beban Mampu Puncak (MW) (MW) Jenis PLTD HSD Genset Sewa Total A 28 44 194 240 13 13 B Sistem Isolated 1 Takengon 2 Sabang 3 Kutacane PLTD HSD PLN PLTD HSD PLN 7 4 PLN 14 9 PLTD. Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih tinggi.Tabel A3. PLTM HSD. baik di sistem interkoneksi maupun sistem isolated. Air 4 Blangkejeren PLTD HSD PLN 5 3 5 Meulaboh PLTD HSD PLN 46 23 6 Calang PLTD HSD PLN 6 5 6 Sinabang PLTD HSD PLN 7 4 7 Blang Pidie PLTD HSD PLN 16 9 8 Tapaktuan 9 Subulussalam 10 Isolated Kepulauan Total B PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD PLN PLN PLN 7 19 2 282 4 12 1 172 Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang telah mencapai sekitar 325 MW sebagian besar dipasok dari pembangkit-pembangkit yang berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan Brandan – Langsa – Idie – hingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 230 MW dan sistem isolated tersebar rata-rata 85 MW. 294 . yaitu Rp 2.

0 Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.2.9 Porsi (%) 64.4.9 14.491. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal penting dalam pemulihan ekonomi Aceh. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2010 No 1 2 3 4 Kelompok Tarif Rumah Tangga Komersil Publik Industri Jumlah Energi Jual (GWh) 960.9% dan tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh sekitar 13.0 100. 295 . dimana penjualan pada tahun 2006 sebesar 839 GWh telah meningkat menjadi 1.8%. Penjualan pada tahun 2010 tumbuh hinggga 16.492 GWh pada tahun 2010.5 44. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari 272 MW pada tahun 2009 menjadi 299 MW pada tahun 2010. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.A3. Tabel A3.4 17. Hal tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi AcehNias pada tahun 2006 s/d 2010.3.7 3.6 219.1 1.3. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 16. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada Tabel A3.7 267.4% per tahun. Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 961 GWh (64%). kemudian sektor bisnis sebesar 268 GWh (18%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.

920 1.024 12.409 11.552 1.508 2.111 2.044 4.313. Disamping itu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga terdapat cadangan gas. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersedia cukup besar.254 1.2% A3.0% Pelanggan 1.Tabel A3.402 2.4.149.184.029.7 miliar ton.2.349.279.904 4.208 3. transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut.798 1. tenaga air 1.727 3.698 1. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan pembangunan sarana pembangkit.855 2.3.7% Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 11.482 MW dan cadangan batubara 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.9% Produksi (Gwh) 1.252 3.068.609 4.936 2.448 1.476 3. yaitu panas bumi 589 MW.619 1.687 1.842 3. Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.368 4. 296 .108.515 5.206 2.105 1.214.246.089 1.869 5. namun sudah dieksploitasi dan saat ini sudah jauh berkurang.084 3.

Gambar A3.102 MW dan pada sistem isolated dengan daya sebesar 65 MW dengan rincian diberikan pada Tabel A3.2. 297 .5. Peta Sumber Energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pengembangan Pembangkit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2020 diperlukan pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya sebesar 1.

Langsa 15 MW. Takengon 4 MW. PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW. Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok penyediaan listrik di sistem kecil isolated akan dibangun PLTU skala kecil di Tapak Tuan 2x7 MW. Blang Pidie 4 MW dan Sinabang 3 MW.5. Kutacane 6 MW. Rencana Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Proyek Meulaboh #1. Meulaboh 15 MW. PLTGB di Sinabang 6 MW. Rimo 7 MW.2 (FTP1) Tapaktuan Aceh Aie Tajun / Sinabang Lhokseumawe Sabang (FTP2) Singkil Meulaboh Takengon Aceh Timur Meulaboh #3. maka beroperasinya PLTA Peusangan 88 MW. Sigli 20 MW. PLTG Lhokseumawe 120 MW. Sabang 2 MW. Calang 4 MW. sebagai berikut: Banda Aceh 45 MW.5 70 400 88 7 55 83 10 1167 COD 2012 2012 2012-13 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2015-16 2016 2017 2017 2018 2019 Pembangunan PLTP Seulawah 55 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan WKP PLTP Jaboi di Sabang 10 MW sudah dilelang oleh Pemko Sabang. Mengingat daya pembangkit pada sistem interkoneksi Sumut – Aceh belum seimbang dengan demand yang ada. Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini.5 MW. sampai dengan beroperasinya PLTU Nagan 2x100 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV. Kuta Fajar 2.4 Peusangan 1-2 Lho Pria Laot Seulawah (FTP2) Peusangan-4 Jaboi (FTP2) Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTG PLTGB PLTG PLTGB PLTGB PLTM PLTM PLTG PLTU PLTA PLTP PLTP PLTA PLTP PLN PLN Swasta PLN PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 220 14 66 6 120 8 8 10 1. dan PLTP Seulawah Agam 55 MW sangat penting untuk memperbaiki sistem kelistrikan Aceh. Blang Keujeuren 2 MW.Tabel A3. dan Sabang 8 MW. Singkil 8 MW. 298 . Lhokseumawe 70 MW.

Disamping itu juga akan dibangun GI 275 kV di Aceh dengan total kapasitas 1.6. maka kebutuhan penambahan kapasitas trafo GI di PLN Wilayah Aceh tahun 2011 s/d 2020 untuk pembangunan GI baru adalah sebesar 690 MVA dan extension GI sebesar 660 MVA.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Pembangunan GI baru untuk mengevakuasi energi listrik dari pembangkit skala besar dan dari hasil perkiraan pertumbuhan dan capacity balance per gardu induk. Pengembangan GI Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Jantho Meulaboh Panton Labu Blang Pidie Kutacane Sabulussalam Takengon Tapak Tuan Blang Kjeren Krueng Raya Samalanga Ulee Kareng Cot Trueng Lam Pisang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 299 Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 30 30 60 30 30 60 30 120 30 120 690 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2018 . Tabel A3.250 MVA sampai dengan tahun 2020.

98 2015 275/150 kV Baru 500 21.9 dan Tabel A3.08 2015 275/150 kV Baru 250 20.08 2015 3 Sigli 4 Ulee Kareng 275/150 kV Baru 250 25.7.Tabel A3.2 Jumlah Pengembangan Transmisi Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2020 adalah 1.8. Pengembangan GI 275 kV No Nama Gardu Induk Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 1 Lhokseumawe 2 PLTU Meulaboh 275/150 kV Baru 250 20.2 juta seperti yang ditampilkan dalam Tabel A3. 300 .645 kms (150 kV) dan 452 kms (275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 263.10.03 2018 1250 87. Pengembangan Extension GI Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Banda Aceh Sigli Lhokseumawe Langsa Tualang Cut Banda Aceh Idi Sigli Bireuen Jantho Meulaboh Tualang Cut Cot Trueng Panton Labu Samalanga Bireun Subulussalam Tualang Cut Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 60 30 60 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 660 COD 2011 2011 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2018 2019 2019 2019 2020 2020 2020 Tabel A3.

301 . 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 322 72. cct.3 452 101. cct.1 75. diperlukan tambahan pelanggan baru 362 ribu pelanggan atau rata-rata 36. cct.2 9.2 4. (Sigli-Banda Aceh) PLTU Meulaboh Inc. cct.5 130 29.5 6. seperti ditampilkan dalam Tabel A3. Selaras dengan penambahan pelanggan.5 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2016 2016 2017 2018 2018 Tabel A3.7 3. cct.3 0.200 pelanggan setiap tahunnya. cct.3 MVA.1 1. cct.1 161. diperlukan pembangunan JTM 11. cct.2 di atas. (Sigli-Banda Aceh) Lam Pisang PLTA Peusangan-4 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 cct.Tabel A3.9.11.1 3. cct. cct. cct. cct.0 9. (Bireun-Sigli) Blang Kjeren Banda Aceh Inc. JTR sekitar 13.6 0. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Zebra 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 1 60 2 333 126 130 290 190 111.5 2.3 1.6 9.3 1.10.7 COD 2015 2018 Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tersebut di point 2. cct.2 60 4 174 40 6 14 22 32 30 20 1645 0.558 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 720.1 10. cct. cct. 2 Zebra 2 cct.2 16.6 7. (Bireun-Lhokseumawe) PLTA Peusangan-2 Takengon 2 Pi Inc. (Idi-Lhokseumawe) PLTU Meulaboh Takengon Tapak Tuan Kutacane Blang Pidie Sabulussalam Ulee Kareng Inc. cct. Pembangunan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Jantho Meulaboh Panton Labu Sigli Bireun Blang Pidie Brastagi/Berastagi PLTU Meulaboh Sidikalang Krueng Raya Samalanga Takengon Ulee Kareng Cot Trueng PLTA Peusangan-1 PLTA Peusangan-2 PLTP Seulawah Banda Aceh Takengon Jumlah Ke Konduktor Tegangan Inc.0 0.979 kms. cct. Pembangunan Transmisi 275 kV No 1 Sigli 2 Sigli Jumlah Dari Ke Tegangan Lhokseumawe Ulee Kareng 275 kV 275 kV Konduktor 2 cct. cct.

302 . Disamping itu untuk menjaga kemungkinan kemunduran beroperasinya PLTP Jaboi. Untuk memajukan Sabang. penyediaan tenaga yang memadai dan handal sangatlah diperlukan.132 1.478 1. telah dibentuk BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang) dengan harapan dapat menjadi fasilitator dalam pengembangan ekonomi baik skala provinsi. Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam telah menetapkannya sebagai kawasan industri yang akan menjadi pusat kemajuan ekonomi Aceh. Dalam rangka mendukung pengembangan kawasan Sabang oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam. nasional. PLN mendorong pembangunan PLTP Jaboi 7 MW oleh IPP dan siap untuk membeli dengan harga yang wajar. Potensi energi panas bumi di Sabang diperkirakan sebesar 70 MW.578 11.2 MW dan beban puncak 2.216 1.Tabel A3.225 A3.332 362.171 41.291 30.061 1. PLN juga akan PLTGB 8 MW pada tahun 2013. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 878 937 1.447 34.11.4.673 1.193 40. regional dan international.298 1.786 13.290 1.000 1. Sistem kelistrikan saat ini dipasok dari PLTD dan genset sewa dengan daya mampu 4.598 31.418 33. Disamping itu pulau yang eksotis ini juga akan dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. namun yang akan dikembangkan oleh Pemko Sabang saat ini sebesar 2 x 5 MW yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013 dan 2017.369 35.469 1.227 39.558 Trafo MVA 53 56 60 64 69 73 78 83 89 95 720 Pelanggan 42.208 1.979 JTR kms 994 1.8 MW.140 1. PENGEMBANGAN PULAU WEH – SABANG Sabang merupakan merupakan kawasan istimewa karena berada pada jalur lalu lintas pelayaran dan penerbangan internasional. Untuk mempercepat pengembangan Sabang.068 1.377 1.568 1. sehingga menjadi salah satu pintu gerbang kegiatan ekonomi Indonesia.385 1.179 34.

044 4.A3.591 Produksi Energi (Gwh) 1.402 2. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.855 2.842 3.205 Beban Puncak (MW) 308 349 394 444 499 559 623 692 766 845 5.472 .12.515 5.024 31.12.111 2.476 3.508 2.5.869 5.167 GI (MVA) 90 120 240 300 930 60 30 650 90 90 2.698 1.478 Pembangkit (MW) 303 0 278 176 70 200 288 62 83 10 0 1.206 2.600 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 396 847 278 328 36 32 180 0 0 2. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A3.097 46 494 240 127 462 455 217 251 101 78 2. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.936 2.208 3.609 4. Tabel A3.368 4.409 34.727 3.904 4.084 3.

Teluk Dalam. Sektor Pembangkitan Medan. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem transmisi 150 kV (tidak termasuk Pulau Nias / Gunung Sitoli. Untuk menanggulangi pemadaman yang berkepanjangan. Peta kelistrikan sistem Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4. Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan Labuhan Angin.339 MW dan dipasok oleh Sektor Pembangkitan Belawan. PLN Wilayah Sumatera Utara melakukan demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban.LAMPIRAN A. Pulau Tello dan Pulau Sembilan yang beroperasi secara isolated). ada beberapa PLTMH yang memasok listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW.1. Saat ini beban puncak sekitar 1. Jumlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2. yaitu membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru. 304 .1. maka pada saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir. Disamping pusat-pusat pembangkit di atas.146 MVA. Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan beban puncak.4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA UTARA A4. Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban.

14 MW Kisaran ACSR 4 x 282 mm 200 km .2016 Asahan III A ACSR 1 x 240 mm2 7 km .5) Perbaungan GIS Listrik D ACSR 2 x 430 mm2 159 km . Simonggo(3x3).2020 Sidikalang Pangururan 2 Porsea ACSR 1 x 240 mm2 13 km . Susu #3.Lae‐Ordi‐ 2(2x5).Para A PLTP Sibayak 10 MW ACSR 1 x 240 mm2 55.2013 U Tebing Tinggi 15 A 2 Paya Pasir Mabar PLTU Belawan 4 x 65 MW ACSR 2 x 240 mm2 6. Rahu‐2(2x2. Brandan PLTA Wampu 45 MW – 2014 Belawan G PLTGU Belawan 395. Pakkat(2x5).2013 PLTMH tersebar Lae‐Ordi‐1(2x2.2 km ‐ 2012 Labuhan G PLTG Glugur 19. Pura PLTG Paya Pasir 90 MW (Total) 11 4 to GI Kutacane (NAD) Binjai 13 2 11 12 ACSR 1 x 240 mm 178 km . Rahu‐1(2x4).5).1.2017 A A PLTA Simonggo – 2 86 MW – 2017 P ACSR 1x 240 mm 2 km .5 MW U A PLTU Labuhan Angin 2 x 115 MW ke GI Bagan Batu (Riau) Gunung Tua PLTA Sipan 17 MW & 33 MW Padang Sidempuan ACSR 1 x 240 mm2 70 km – 2013 ACSR 2 x 430 mm2 300 km .2019 ACSR 1 x 240 mm2 25 km .2013 ACSR 1 x 240 mm2 40 km ‐ 2014 Galang P ACSR 1 x 240 mm2 33 km .2013 ACSR 1 x 240 mm2 30 km .6 km .2 40 01 mm 7 2 PT PLN (Persero) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA GI Rencana GI Eksisting GI 275/150 kV Renc Gambar A4.Morawa 2 ACSR 2 x 430 mm Galang 10 km ‐ 2012 PLTD Titi Kuning 6 x 4.85 MW 5 6 Perbaungan 10 7 3 9 1 14 16 8 ACSR 2 x 430 mm2 80 km .2014 Panyabungan Edit September 2011 Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G PLTU D PLTD PLTG A PLTA PLTGU P PLTP Kit Eksisting Kit Rencana GU P ke GI Payakumbuh (Sumatera Barat) AC PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA UTARA Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV PLTP Sorik Merapi (FTP2) 240 MW – 2018 S 23 R 1 km x 2 .Lae‐Kombih2(2x4) 2 CU 1000 KIM 10 km ‐ 2015 Paya Geli Kualatanjung D Renun to GI Sabussalam (NAD) A Brastagi PLTA Renun 2 x 41 MW G Lamhotma Glugur Binjai PLTU Sewa Kuala Tanjung 3x120 MW – 2013 ACSR 2 x 240 mm2 15 km .Susu #1.U ke GI Langsa (NAD) PLTU P.2013 Negeri Dolok PLTM Tersebar Karai‐1(2x5) Karai‐7(2x3.2011 ACSR 2 x 430 mm2 11 km ‐ 2013 ACSR 1 x 240 mm2 15 km ‐ 2013 T. Hutaraja(2x2. TaraBintang(2x5).2 (FTP1) 2 x 220 MW – 2012/2013 PLTU P.2018 PLTP Simbolon Samosir 2 x 55 MW – 2019 2 ACSR 2 x 430 mm2 97 km . kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4. 305 .5).3 MW & 422.2013 PLTP Sarulla 1 (FTP2) 330 MW – 2014/2015 PLTP Sarulla 2 (FTP2) 110 MW – 2017 Sibolga Labuhan Angin Aek Kanopan PLTA Asahan III (FTP2) 174 MW ‐ 2016 A A P ACSR 2 x 240 mm2 11 km .2013 Labuhan Bilik A PLTA Hasang 40 MW ‐ 2017 Dolok Sanggul/ Parlilitan PLTA Asahan I 180 MW ‐ 2010 Asahan I Simangkok Tele Salak PLTMH tersebar Parlilitan (3x2.2013 PLTG BELAWAN 400 MW – 2013 GU U P.1.5).2013 ACSR 1 x 240 mm2 65 km – 2012 Rantau Prapat Kota Pinang Tarutung P PLTP Sipoholon Ria-Ria Sarulla 55 MW – 2019 ACSR 2 x 430 mm2 69 km .4 ACSR 2 x 430 mm2 2 x 200 MW – 2015 80 km . Secara lebih rinci.2) G.2) Karai‐12(2x3.85 MW & 12.7) Karai‐13(2x4. Peta Kelistrikan Sumatera Utara Penjualan tenaga listrik PLN di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonominya.2013 Pematang Siantar Namurambe Sei Rotan Kuala Namu Titi Kuning ACSR 2 x 430 mm2 40 km ‐ 2012 Denai ACSR 2 x 240 mm2 17 km – 2013 T. Namun pasokan tenaga listrik (pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu (derating capacity) karena umur pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit baru yang relatif kecil.2013 ACSR 1 x 240 mm2 30 km .

1 GT 1.0 210 210 205 10 180 8 8 25 6 9 10 1.2 ST 2.8 0.5 0.9 0.2 - 2008 2010 2010 2010 - 2009 2010 2011 306 Kapasitas Terpasang (MW) 1.2 1994 1987/88 1987/88 1987/88 1989 1987/89 1988 1987 2003/04 2005/06 1.7 0.7 50.2 1.4 GT 1.Tabel A4.2 1.1 0.1 GT 2.0 - 1984 1989 1993 1988 1995 1995 1994 1994 - 1 2 3 1.3 0.2 1.#1 2 PT Growt Sum.5 0.0 GT 2.2 1.8 50.2 1.5 1.183 130 130 118 129 149 130 130 163 105 300 20 13 12 29 40 21 22 34 25 20 65 139.2 1 1.4 1.2 3.2 1.0 230 230 206 11 180 8 8 25 6 9 10 2.0 82.2 ST 1.1.3 0.2 1 1 1.4 5 6 7 1-6 - 1975 1967 2008 1976 1978 1983 2008 1976 2008 2008 1.033 90 105 105 115 120 130 130 133 105 213 0 0 11 0 33 17 18 34 18 18 65 136.4 1. Pembangkit A Sektor Pembangkitan Belawan 1 PLTU Belawan PLTU Belawan 2 PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan PLTGU Belawan 3 PLTG Belawan TTF B Sektor Pembangkitan Medan 1 PLTG Glugur PLTG Glugur PLTG Glugur TTF 2 PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir PLTG Paya Pasir TTF PLTG Paya Pasir TTF 3 PLTD Titi Kuning 4 PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta) 5 PLTD Sewa Belawan (AKE) C Sektor Pembangkitan Pandan 1 PLTMH Batang Gadis 2 PLTMH Tonduhan 3 PLTMH Kombih I 4 PLTMH Kombih II 5 PLTMH Boho 6 PLTMH Aek Raisan 7 PLTMH Aek Silang 8 PLTMH Aek Sibundong 9 PLTA Sipansihaporas 10 PLTA Lau Renun D Sektor Pembangkitan Labuhan Angin 1 PLTU Labuhan Angin E IPP 1 PLTP Sibayak 2 PLTA Asahan I 3 PLTMH Parlilitan 4 PLTMH Silau II F Excess Power 1 PT Growt Sum.2 2008 1.#2 3 PT Growt Asia TOTA L Unit Tahun Operasi 1.8 0. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2010 No.0 80.084 Daya Mampu (MW) 1.5 0.2 1.2 3.822 .

Situasi ini telah diketahui oleh PLN dan direncanakan penanggulangannya dalam RUPTL ini.2.605 1.PLTD Sewa .700 4.000 3.598 4. Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang tegangannya terlalu rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang (sampai 200 km dari gardu induk).320 Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari seluruh demand di provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi.3.903 400 400 20.2.070 5.650 4. GIS Listrik dan GI KIM. Pulau Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4. A4.Sedangkan kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung Sitoli.PLTD PLN .850 4. Tabel A4.920 6.PLTD PLN Total PLTD Pulau Tello Total PLTD Cabang Nias 12.PLTD PLN .2.Teluk Dalam (Pulau Nias).380 5.650 14. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada Tabel A4. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.PLTD Sewa Total PLTD Gunung Sitoli 2 Teluk Dalam . Pembangkit Sistem Isolated per 2010 No Daya Terpasang Mampu (kW) (kW) Lokasi PLTD 1 Gunung Sitoli .178 5. Dengan adanya pembangunan KIM 3 (Kawasan Industri Medan tahap tiga) diperlukan penambahan GI baru untuk mengurangi beban lebih pada beberapa GI.PLTD Sewa Total PLTD Teluk Dalam 3 Pulau Tello . 307 .920 700 700 33.225 8.500 24. misalnya GI Titi Kuning.

4 dan Tabel A4.331 14. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik cukup besar dalam bentuk tenaga air dan panas bumi.248.998 8.919 3.935 3.367.489.4.032.853 17.281 3.388 14.681 3.258 11. Tabel A4. Daftar Potensi PLTA > 10 MW No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Perkiraan Kapasitas Pengembang COD (MW) Asahan 3 2015 PLN 174 Wampu 2016 IPP 84 Asahan 4-5 2017 PLN 60 Simanggo-2 2018 PLN 59 Bila-2 2019 PLN 42 Kumbih-3 2019 PLN 42 Sibundong-4 2019 PLN 32 Lake Toba 2020 PLN 400 Ordi-3 2020 PLN 18 Ordi-5 2020 PLN 27 Raisan-1 2020 PLN 26 Siria 2020 PLN 17 Toru-2 (Tapanuli Utara) 2020 PLN 34 Toru-3 (Tapanuli Utara) 2026 PLN 228 Nama 308 .899 2.320 11.363 1.9% A4.289 8. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.041 3.721 9.642 9.748.907 8.869 3.134.991 9.3.484 1.750 1.068 2.928 3.421 10.3.251 2. transmisi.537 15.797.210 12.487 10.9% Pelanggan 2.Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.669 2.631 15.250 13.257 7.616.921 8.676.226 13.208 2.Tabel A4. Namun provinsi ini tidak mempunyai potensi batubara sedangkan sumber gas alam telah mengalami penurunan. GI dan distribusi sebagai berikut. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sales (Gwh) 7.915.5.451 2.8% Beban Puncak (MW) 1.212 12.2% Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Produksi (Gwh) 7.612 1.942 2.825 3.

0 Sidikalang 1 Sidikalang 2 Simbelin 1 Simonggo Sei Wampu 2 Lae Kombih 4 Aek Sisiran Aek Rambe Batang Toru 3 Batang Toru 4 Total IPP EXCESS POWER PT.6 7.0 9. Sinabung Pusuk Bukit Simbolon Existing / Expansion Existing / Expansion High Possibility Low Possibility Tidak cukup data Tidak cukup data Tidak cukup data 660 160 500 50 - 309 Dibatasi Oleh Taman Nasional Demand (MW) (MW) 630 630 40 40 100 100 50 50 - .0 7. maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses lebih lanjut.2 5.0 8.3 10.0 78.0 7.0 10.0 10. Tabel A4.0 8.5 Total 137.5 10.0 10.7 6.6.0 7. Apabila proyek tersebut layak secara teknis.0 9.Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan.0 10.0 8.6 LOKASI Tobasa Humbahas Humbahas Dairi Pakpak Barat Pakpak Barat Taput Simalungun Simalungun Simalungun Simalungun Pakpak Barat Humbahas Tapteng Tapteng Langkat Humbahas Humbahas Dairi COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 NO 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 II 1 2 3 4 5 NAMA PEMBANGKIT DAYA (MW) 8.2 5. potensi panas bumi yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.0 9. Tabel A4.5.5 PT Nubika Jaya 15.0 3.0 Total Excess Power 59.4 6.0 10.Evergreen Paper Int 2. Daftar Potensi PLTM < 10 MW NO I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 NAMA PEMBANGKIT IPP Parluasan Huta Raja Pakkat 1 Lau Gunung Lae Ordi Lae Kombih 3 Batang Toru Karai 1 Karai 7 Karai 12 Karai 13 Lae Ordi 2 Tara Bintang Raisan Huta Dolok Raisan Naga Timbul Sei Wampu 1 Rahu 1 Rahu 2 Sidikalang 1 DAYA (MW) 4. Saat ini perusahaan yang mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).0 PLTU Nias 31. keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.0 10.6 Daftar Potensi Panas Bumi Lokasi Panas Bumi Keterangan Potensi (MW) Sarulla & Sibual Buali Sibayak/Lau Debuk-Debuk Sorik Merapi Sipaholon G.0 7.5 LOKASI COD Dairi Dairi Dairi Humbahas Langkat Pakpak Barat Humbahas Humbahas Taput Taput 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015 Deli Serdang Simalungun Labuhan Batu Padang Lawas Gunung Sitoli 2012 2012 2012 2012 2014 Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia oleh WestJEC/Direktorat Jendral Minerbapabum tahun 2007.0 PTPN III Sei Mangkei 3.0 6.0 10.0 PT Victorindo Alam Lestari 8.0 7.

mengevakuasi daya dari pusat 1 Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sumatera pada koridor timur.262 kms guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan. Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan energi listrik antar provinsi di Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit utama seperti PLTU batubara. 310 . Selain itu direncanakan pula pengembangan transmisi 150 kV yang merupakan jaringan regional untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan yang lebih terbatas. PLTP dan PLTA skala besar.Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2020 diperlukan pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4. yaitu untuk mengatasi bottleneck penyaluran daya. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Proyek Pangkalan Susu #1.2 (FTP1) Belawan Sumbagut PLTM Tersebar Sumut Wampu Nias Sarulla I (FTP2) Nias (FTP2) Pangkalan Susu #3. Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 2.7. Tabel A4.4 (FTP2) Asahan III (FTP2) Hasang Sarulla II (FTP2) Simonggo-2 Sorik Marapi (FTP2) Simbolon Samosir Sipoholon Ria-Ria Pembangkit Peaker Sumut-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTG PLTU PLTM PLTA PLTGB PLTP PLTU PLTU PLTA PLTA PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLTG PLTU PLN PLN Sewa Swasta Swasta PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN Swasta Swasta Swasta PLN Sewa Kapasitas (MW) 440 400 360 154 45 8 330 21 400 174 38 110 86 240 110 55 200 225 3396 COD 2012-13 2013 2013 2013-15 2014 2014 2014-15 2014-15 2015 2016 2017 2017 2017 2018 2019 2019 2020 2020 Pengembangan Transmisi Di Sumatera dalam waktu dekat akan terwujud transmisi 275 kV sebagai tulang punggung sistem interkoneksi Sumatera 1 . Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera Utara setelah tahun 2020.7. untuk ditransmisikan ke pusat-pusat beban.

2 Hawk 6.3 2 cct.3 2 cct.6 2 cct. Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4. meningkatkan keandalan pasokan.2 1 cct.7 2 cct. cct. 1 Hawk 80 4. 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 160 36. mendapatkan tegangan pelayanan yang baik dengan membatasi panjang JTM.7 318 71. 1 Hawk 60 3. 1 Hawk 130 7. 2 Zebra 80 18. 2 Hawk 30 2. menurunkan losses transmisi dan distribusi.1 2 cct.9. mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu 311 .2 Tegangan Galang Namurambe Galang Tanjung Morawa Lamhotma Belawan Dolok Sanggul/Parlilitan Incomer 1 Pi (Tele-Tarutung) Rantau prapat Labuhan Bilik Galang Negeri Dolok Padang Sidempuan Panyabungan Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2) Pangkalan Brandan PLTU Sewa Sumbagut Tebing Tinggi Sei Rotan (uprate) Tebing Tinggi (uprate) Sidikalang Salak Tanjung Morawa Kuala Namu Tanjung Pura Inc.2 2 cct. Tabel A4.8 4 cct. cct. 1 Hawk 8 0. 1 Hawk 140 7.8. 1 Hawk 30 1. cct.0 138 31.4 2 cct.pembangkit.3 2 cct. serta meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik.3 2 cct. AC3 310 mm2 108 14.0 160 36.Brandan-Binjai) Tele Pangururan PLTA Wampu Brastagi PLTU Nias Gunung Sitoli Teluk Dalam Gunung Sitoli GIS Listrik KIM Mabar Glugur Simangkok PLTA Asahan III(FTP 2) Panyabungan PLTP Sorik Marapi (FTP 2) Porsea PLTA Hasang Tarutung PLTP Simbolon Samosir PLTP Sipoholon Ria-Ria 2 Pi Inc.0 2 cct.2 2 cct. 1 Hawk 46 2. CU 1000 mm2 10 22.4 2 cct. 2 Hawk 34 2.8 2 cct.5 1 2nd cct. 1 Hawk 20 1.1 194 43. 1 Hawk 66 3. memperbaiki mutu tegangan. 1 Hawk 50 2. 2 Zebra 20 4.4 2 cct.7 2 cct. (Tarutung-Porsea) Jumlah Konduktor 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV COD 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2017 2018 2019 Tabel A4. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV No 1 2 3 4 5 Dari Pangkalan Susu Galang Padang Sidempuan PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Jumlah Ke Binjai Binjai PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok Galang Konduktor Tegangan 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 275 kV 2 2 2 2 2 cct.2 1 cct.0 2 cct. 1 Hawk 26 1.4 1354 149. (P. 2 Zebra 22 5. CU 1000 mm2 10 22. 1 Hawk 60 3.7 2 cct. 2 Hawk 22 1.3 COD 2012 2013 2013 2013 2013 Pembangunan Gardu Induk Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani pertumbuhan beban.8 dan Tabel A4.2 2 cct.5 2 cct.9. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Ke Panjang Biaya (kms) (juta US$) 2 cct. cct. 1 Hawk 220 12. 1 Hawk 76 4.2 0.6 970 218.

Rencana Pembangunan GI Baru s/d Tahun 2020 No Nama Gardu Induk Tegangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Galang Labuhan Bilik Parlilitan/Dolok Sanggul Kuala Namu Negeri Dolok Pangururan Panyabungan Salak Tanjung Pura Gunung Sitoli Teluk Dalam Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 0 60 10 60 60 30 60 60 30 30 30 430 COD 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 Selain itu diperlukan juga extension banyak GI existing dengan menambah unit trafo hingga tambahan kapasitas seluruhnya mencapai 1. 312 .11. Rencana Extension GI s/d Tahun 2020 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Binjai Denai Gunung Para Gunung Tua Padang Sidempuan Rantau Prapat Tanjung Morawa Tele Aek Kanopan Brastagi Glugur Gunung Tua Kisaran Labuhan Lamhotma Namurambe Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 30 30 60 60 30 30 60 60 10 60 30 60 60 COD No 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Pematang Siantar Perbaungan Porsea Rantau Prapat Sei Rotan Sibolga Sidikalang Tarutung Tebing Tinggi Paya Pasir Kota Pinang GIS Listrik Tanjung Pura Titi Kuning Paya Geli Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 20 60 60 60 30 30 60 60 30 60 30 60 60 1470 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2017 2017 2018 Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan pada Tabel A4.10.470 MVA seperti terlihat pada Tabel A4. Tabel A4.11. Tabel A4.12. Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.jauh dari konsumen.10 berikut.

4.016 1.850 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.718 1.238 132.0 275/150 kV Extension Jumlah Pengembangan Distribusi Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2020 adalah sekitar 1.092 918 996 1. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.078 1.587 113.160 MVA.438 1. (iii) Rawan gempa dan rawan 313 . (ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota.12.376 1.Tabel A4.13 2012 2013 275/150 kV Baru 500 21.538 1.266 118.076 2. Rencana Pembangunan GI 275 kV s/d Tahun 2020 No Nama Gardu Induk 1 Binjai 2 Pangkalan Susu 3 Galang 4 Padang Sidempuan 5 Sarulla 6 Pangkalan Susu Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 1000 31. Tabel A4. diperlukan pembangunan JTM 17.197.215 122.83 2011 275/150 kV 275/150 kV Baru Baru 0 1000 9.353 102. seperti ditampilkan dalam Tabel A4.218 1.414 11.88 2013 275/150 kV Baru 500 24.640 127.011 120.004 A4.538 1.260 1.957 118.467 17.158 1.00 2013 250 21.850 Trafo MVA 146 153 166 180 193 220 240 263 287 314 2.291 2.11 35.160 Pelanggan 125. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.13.903 2.805 JTR kms 1.13. SISTEM ISOLATED NIAS DAN TELUK DALAM Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai kondisi sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera.800 kms.461 1.720 116. JTR sekitar 11.339 1.2 juta pelanggan atau rata-rata 120.03 2015 3250 143.378 1.000 pelanggan setiap tahunnya.

Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias.226 13.453 Pembangkit (MW) 314 0 220 1.289 120.991 110.484 1.063 209 666 174 236 240 165 425 3.998 8.631 15. terdiri dari Ranting Gunung Sitoli dan Ranting Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello.150 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 472 1.921 8.899 2.231 320 504 315 469 496 5.longsor.612 1. A4.251 2.250 13.853 17.14 berikut: Tabel A4.14.257 7. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 7.258 11. daya tersambung 35 MVA dengan penjualan mencapai 52 GWh.537 15.326 320 20 22 106 50 8 0 2.750 1. beban puncak 9. daya mampu 12.320 11.669 2.072 507 1. maka telah diambil langkah-langkah sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan pembangunan PLTU 3x7 MW (IPP) dan PLTGB 8 MW (PLN).068 2. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya terpasang 28.904 kW. (v) Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan.210 12.212 12.642 9.331 14.858 kW. Pasokan listrik untuk sistem kelistrikan dipasok dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk Dalam. dan mengingat kondisi pembangkitan sudah tua.363 1.421 10.360 880 2.388 14.907 20.487 10.360 90 250 0 150 60 0 0 5.721 9. (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit dijangkau.398 GI (MVA) 1.974 Beban Puncak (MW) 1.960 kW.468 .5. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Jumlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu.968 Produksi Energi (Gwh) 7. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan tahun 2020 adalah seperti Tabel A4.451 2.324 96 457 1.

Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5. yaitu Koto Panjang.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI RIAU A5. 315 .1. Teluk Lembu. dimana 30% (711 MW) berupa PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan kapasitas. Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit. Dumai. Dengan demikian sistem Riau ikut mengalami defisit daya.1. Bangkinang. Sebagian GI tersebut sudah mengalami overload dan perlu segera dimitigasi. Duri. Bagan Batu dan Taluk Kuantan. dimana 43% dari kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang. Sistem kelistrikan Riau dipasok dari grid Sumatera sebesar 379 MW. Kapasitas pembangkit PLN di Riau yang tersambung ke grid sebesar 267 MW. Garuda Sakti.LAMPIRAN A. dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan Riau masih diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara. KONDISI SAAT INI Sistem Interkoneksi Pada sistem kelistrikan di Provinsi Riau terdapat 8 gardu induk (GI) 150 kV.

1 2 3 4 5 6 7 Nama Pembangkit PLTA Koto Panjang PLTG Teluk Lembu PLTD Teluk Lembu PLTD Dumai/Bg Besar PLTG Riau Power PLTD Sewa Teluk Lembu PLTD Sewa Dumai Jenis B. Tabel A5. Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan daya mampu 44 MW.Power Sewa Sewa Kapasitas Terpasang (MW) 114 43 8 12 20 40 30 267 Jumlah Sistem Isolated Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV ditunjukkan pada Tabel A5.1. Indragiri Hilir. Kabupaten Bengkalis dan Meranti.1.1.Gambar A5. Bakar Pemilik PLTA PLTG PLTD PLTD PLTG PLTD PLTD Air Gas/HSD HSD HSD Gas HSD HSD PLN PLN PLN PLN PT Riau. Kapasitas Pembangkit per 2010 No. 316 .

Dumai 3. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila ada dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau.3 Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh menurunnya daya mampu pembangkit.5 32.1 5.7 7 23 13 2. Dumai 3. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6.0 4. Cab. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Riau.1 17. Pekanbaru 2. meningkatnya konsusmsi listrik oleh pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan baru) dan kebutuhan sistem isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual beli (kontrak).7 18.5 13. Cab.0 10 5.6 21. sehingga PLN menyewa pembangkit diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek. Rengat JUMLAH MESIN PEMDA 1.2 2.2 1.3 1. Rengat JUMLAH Daya Jumlah Terpasang Mampu (unit) (MW) (MW) Beban Puncak (MW) 42 80 115 7.1 2. 317 .9 3 2 2 1.1 2. Daftar pembangkit pada sistem isolated diberikan pada Tabel A5. Cab.2.0 7.0 1.6 16.6-8.6 18. Cab.4 2.0 237 83.7% pada tahun 2006-2010 (tidak termasuk migas) dan kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang.Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan.3 37. Pembangkit Isolated per 2010 UNIT MESIN PLN 1.2 2.2 44.2.0 0 1.2.1 4. Pekanbaru 2. A5.8 18. Tabel A5. Cab.6 33 41. Cab. Cab.6 37. Dumai 3. Rengat JUMLAH MESIN SEWA 1.8 12. Cab.6 3. Pekanbaru 2.0 38.6 4.5 4. Cab.

401 3. karena seiring dengan perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai.090 5.4% Produksi (Gwh) 2.156 1.082 5.623 1.897 6.772 977.235.680 1.726 5.923 1. Kawasan Kuala Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru. seperti Kawasan Industri Khusus Dumai.3% Pelanggan 801.028 919. pertumbuhan listrik di Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi.386 4.274 3. ditandai oleh adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten yang telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).687 4. Kuala Enok dan Tenayan-Pekanbaru.900 3. Segat di 318 .472 5. Tabel A5.968 11. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A5. Buton.663 3.726 5.013 3.040.2% Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi.366.479 5.028 4.422 10.Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat.024 10.3.046 4. antara lain Seng.169.105. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.3.368 4. Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura. Dari realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit pada sistem isolated dan sistem interkoneksi 150 kV serta pengembangan jaringan transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan.302. A5.722 4. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.7% Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.3.630 859.253 9.704 1.031 1.

Tabel A5.4.732 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5. Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi.55 juta metrik ton2.4. Menurut pra studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air yang cukup besar. Namun perlu dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan dapat mempengaruhi potensi debit air. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV yang memasok sistem Riau.2 Bengkalis PLTGB Riau Mulut Tambang Jumlah Jenis Pemilik PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTGB PLTU PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Sewa Swasta PLN PLN PLN Swasta PLN Swasta Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau 319 Kapasitas COD (MW) 60 2011-12 100 2012 100 2012 20 2012 6 2012 20 2013 240 2013 14 2013 14 2013 220 2013-14 200 2014 14 2014 24 2015/17/19 600 2016-17 1632 . Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 Proyek Duri 1 (Relokasi) Duri Duri Rengat Selat Panjang Bengkalis (FTP1) Dumai IPP Kemitraan Tembilahan Riau (Amandemen FTP1) Pembangkit Peaker Selat Panjang Baru #1.kabupaten Pelalawan. Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas sekitar 1. Disamping itu terdapat potensi batubarayang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi dengan cadangan 1. yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170 MW. Bento dan Baru di Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk Lembu.

Bentu Kabupaten Kampar. PLTU Riau Mulut Tambang 2x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun 2016 – 2017. Tabel A5. Pembangunan GI 150 kV Baru No Nama Gardu Induk Tegangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bagan Siapiapi KID Dumai KIT Tenayan Pangkalan Kerinci Pasir Pangaraian Pasir Putih Rengat GI/GIS Kota Pekanbaru New Garuda Sakti Perawang Siak Sri Indra Pura Tembilahan Kandis Lipat Kain Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 320 Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 60 60 60 120 30 30 30 30 30 600 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 .000 MW tahap 1 yang saat ini sedang tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013.6. Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Tembilahan Kabupaten Inhil. Selat Kabupaten Inhil.5 dan Tabel A5. seperti di Melibur Kabupaten Meranti. Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa Minyak Kabupaten Siak Sri Indrapura. termasuk gas skala kecil.5.PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan salah satu proyek percepatan pembangkit 10. PLTG Duri dengan kapasitas total 160 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya mengurangi kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan Jambi Merang. Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG). Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem interkoneksi 150 kV. hingga tahun 2020 diperlukan pengembangan 14 GI 150 kV baru dengan kapasitas total 600 MVA dan extension GI dengan tambahan kapasitas 730 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5.

68 19.14 2015 250 kV DC 250 kV DC 500/275 kV Baru Baru Baru 0 600 1000 16.95 36.Converter 6 New Garuda Sakti 500 kV 7 Rengat 500 kV Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) Baru 500 24.312 kms (275 kV.942 kms (150 kV) dan 1.28 2013 275/150 kV Baru 250 20. Tabel A5. Pembangunan GI 275kV.7.7.22 2016 2016 2018 500 kV Baru 500 25.1 Jumlah Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2020 adalah sepanjang 1.77 2018 2850 151. Sakti HVDC St.Tabel A5.9. Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Gardu Induk Bagan Batu Bangkinang Dumai Duri Garuda Sakti Koto Panjang Teluk Lembu Bangkinang Pasir Putih Duri KIT Tenayan Teluk Kuantan KID Dumai Tembilahan Bagan Batu Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 60 60 80 20 60 60 120 60 30 30 30 30 30 730 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2016 2016 2017 2017 2017 2019 2019 2020 Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi 275 kV dan 500 kV3.8 dan Tabel A5. 3 GITET 500 kV di New Garuda Sakti dan Rengat merupakan bagian dari transmisi interkoneksi 500 kV yang merupakan tulang punggung kelistrikan Pulau Sumatera koridor timur. 500 kV dan HVDC ±250 kV No Nama Gardu Induk Tegangan 1 New Garuda Sakti 2 Rengat 275/150 kV 3 Riau Mulut Tambang 4 HVDC Switching Station 5 New G. serta konverter transmisi HVDC ±250 kVDC yang merupakan bagian dari link interkoneksi Sumatera – Malaysia seperti pada Tabel A5.08 2015 275/150 kV Baru 0 8. 321 .8 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A5. 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana UD$ 510.6.

Sakti-Duri) Teluk Lembu 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.8 cct. 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk AC3 310 mm2 AC3 310 mm2 2 Zebra 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Zebra AC3 310 mm2 2 Hawk 1 Hawk CU 1000 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk AC3 310 mm2 2 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 22 1.7 220 12.2 Konduktor Tegangan 2 2 2 2 2 2 2 COD 2013 2015 2016 2016 2016 2016 2016 Transmisi Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti akan dibangun dengan desain tegangan 500 kV karena pada jangka panjang akan merupakan bagian dari sistem transmisi 500 kV.Sakti-Duri) Pangkalan Kerinci Tembilahan GIS Kota Pekan Baru Perawang Siak Sri Indra Pura Lipat Kain Inc. cct.2 228 12. cct. 2 Cardinal 60 2. 2 Zebra 300 67.9 10 2. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 780 ribu pelanggan sampai dengan 2020. 500 kV dan HVDC ± 250 kV No Dari 1 2 3 4 5 6 7 Payakumbuh Rengat Border P.6 220 16. cct. cct.1 50 2.10.8 120 6.4 134 10. cct.9 1312 314. diperlukan 322 . cct. cct. cct.7 40 3.8 230 30.8 55 12. 2 Zebra 110 24. cct.6 cct.8 cct.5 cct.2 14 1. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut. Pembanguan Transmisi 275 kV. cct. 2 Cardinal 340 14. cct.5 70 3.1 118 15. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.0 Cable MI with IRC 10 9. ( New G.8 35 7. cct.6 Cable MI with IRC 52 51. ( G.6 COD 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 Tabel A5. 2 Pi (G. 4 Zebra 440 143. cct. cct. dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 64 ribu pelanggan per tahun. namun dalam jangka menengah akan dioperasikan sementara dengan tegangan 275 kV.Tabel A5. cct.000 sambungan pada tahun 2011 untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%. cct. PLN berencana untuk menyambung hingga 216.1 1942 196.8 100 5.8.6 56 3. Pembangunan SUTT 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dari PLTG Duri Bangkinang Dumai Dumai Duri (up rate) Garuda Sakti (up rate) Pasir Putih Pasir Putih PLTU Sewa Dumai Teluk Kuantan Tenayan / PLTU Riau New Garuda Sakti Rengat Rengat Teluk Lembu Tenayan / PLTU Riau Tenayan / PLTU Riau Bangkinang Kandis Pasir Putih Jumlah Ke Konduktor Tegangan Inc. Rupat Selatan Pulau Rupat Utara Rengat Sumatera Landing Point Jumlah Ke New Garuda Sakti New Garuda Sakti Pulau Rupat Sumatra Landing Point Pulau Rupat Selatan Cirenti (PLTU Riau MT) New Garuda Sakti 275 kV 275 kV 250 kV DC 250 kV DC 250 kV DC 275 kV 250 kV DC Panjang Biaya (kms) (juta US$) cct. cct. cct.9 12 1. cct.6 14 31.1 194 14.Sakti-Duri) Pasir Pangaraian Bagan Siapi api KID Dumai Dumai (up rate) Duri (up rate) Garuda Sakti Pangkalan Kerinci Dumai Rengat Pasir Putih Inc.

340 534 565 541 584 599 602 609 629 591 6. Pulau ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai yang telah dirancang sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau Sumatera. Tabel A5.700 64.454 Pelanggan 216. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 1.548 63.546 616 652 624 673 692 694 703 725 682 7.595 JTR kms 1. SISTEM KELISTRIKAN PULAU RUPAT Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang istimewa karena kedekatannya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia. Peta Pulau Rupat ditampilkan pada Gambar A5.151 62.4.649 65.408 64.399 60.595 kms.pembangunan JTM 6.476 67.2.610 Trafo MVA 785 271 287 275 296 304 306 309 319 300 3. 323 . Jalur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. JTR sekitar 7.10.454 MVA.549 780. Pulau ini sangat indah dan berpotensi menjadi tujuan wisata yang akan sangat diminati.003 57.626 A5.10.743 58. seperti ditampilkan dalam Tabel A5.610 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 3.

RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. A5.5.195 kW dengan beban puncak 841 kW. Rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Rupat adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut.2. gardu distribusi 36 unit.11. 878 kVA. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi hingga tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5. JTR 92 kms. Sistem distribusi listrik berupa JTM sepanjang 69 kms.Gambar A5. Peta Pulau Rupat Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 3.600 kW namun daya mampunya hanya 1. Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera dan Malaysia. 324 .

584 516 560 572 0 0 0 0 3.479 5.254 76 211 535 414 234 570 435 96 44 32 2.401 3.082 5.11.368 4.472 5.726 5.900 3.090 5.422 45.Tabel A5.274 3.180 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 22 0 1.897 6.726 5.386 4.722 4.013 3. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.486 Produksi Energi (Gwh) 2.646 .968 42.663 3.687 4.500 60 30 4.046 4.024 7.028 4.864 Beban Puncak (MW) 470 530 595 649 703 759 816 876 942 1.363 Pembangkit (MW) 325 40 246 398 324 12 300 306 0 6 0 1.632 GI (MVA) 60 280 770 270 310 780 120 1.

dengan 95% dari wilayahnya merupakan lautan. Batam.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk.6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (tanpa BATAM) A6. Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang. Bintan. Kabupaten Bintan.LAMPIRAN A.1. Kabupaten Karimun. Provinsi Kepulauan Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi Republik Indonesia dimasa depan. 326 . dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot project pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan Pemerintah Singapura. Kabupaten Natuna. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di Kepulauan Riau (Batam. KONDISI SAAT INI Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah timur dan juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah Asia Tenggara. dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari 2.

yaitu Provinsi Kepulauan Riau. Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang yang melayani 3 daerah administrasi. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama yang erat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia usaha. 327 .Gambar A6.1.7 MW dan daya mampu 65. Sistem Tanjung Pinang dipasok dari PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang 43 MW dan untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan 20 kV.9 MW seperti terlihat pada Tabel A6. Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup dan andal terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. KEK ini nantinya merupakan simpul-simpul dari pusat kegiatan ekonomi unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang berdaya saing internasional.1. Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit kecil tersebar dengan kapasitas total 90. Kotamadya Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan.

0 10.9 65.2.5 Pemilik PLN Jumlah (Unit) Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah berlangsung beberapa tahun terakhir.53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas) dan diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2011-2020 Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. baik karena gangguan mesin pembangkit maupun usia. 328 . Pembangkit Isolated per 2010 Daya Terpasang (MW) Daya Mampu (MW) Beban Puncak (MW) 136 80.2. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A6.0 11. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem isolated dilakukan dengan sewa pembangkit.7 Sewa 3 9. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya mampu mesin pembangkit.9 55. ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat.7 65. meningkatnya pertumbuhan pemakaian tenaga listrik alami.4 Total 144 90. A6.Tabel A6.3 53.6 0.8 0. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7.1. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di Kepulauan Riau.4 Pemda 5 0.

Pengembangan Sarana Kelistrikan Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.185 1. yaitu 222 TCF dan 500 juta barel minyak. Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem isolated.645 214.945 197.249 11. di West Natuna Basin terdapat potensi gas alam sebesar 51.930 153.049 1.663 266.Tabel A6.4% A6.211 231.0% Produksi (Gwh) 582 642 715 816 925 1. transmisi dan distribusi sebagai berikut.3.3.2. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM. 329 .255 1. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat cadangan gas yang sangat besar.0% Pelanggan 139.119 1.46 TCF.034 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.323 10.6% Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 10.062 9. Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil.185 1.111 1.266 167. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.950 286.175 248.103 181.

3.5. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Proyek TB.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A6. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Air Raja Kijang Sri Bintan Tanjung Uban Pulau Ngenang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 30 60 10 220 COD 2013 2013 2013 2013 2013 Selain itu diperlukan juga extension GI dengan menambah unit trafo 150/20 kV kapasitas 60 MVA pada tahun 2015 di GI Tanjung Uban. Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV. Karimun #3.2 (FTP1) Tanjung Batu (FTP2) Dabo Singkep Natuna Tanjung Uban Tanjung Pinang 1 (TLB) TB. Karimun (Terkendala) TB. 330 . Karimun-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTGB PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN Swasta PLN PLN Kapasitas (MW) 14 8 9 14 14 30 14 14 14 30 30 20 211 COD 2011 2012 2012/18 2013 2013-14 2014 2014 2014-15 2015 2015 2019-20 2019-20 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi di Pulau Ngenang seperti diperlihatkan pada Tabel A6.4. Karimun #1.4 Tanjung Batu Baru Tanjung Pinang 2 (FTP2) Tanjung Pinang 3 TB.4.Tabel A6. diperlukan pengembangan transmisi 150 kV sepanjang 258 kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21. Tabel A6.

875 kms. diperlukan pembangunan JTM 1.964 17.5. dengan transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah.404 .4 10 1. Interkoneksi ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan yang jauh lebih besar.9 6 2.876 JTR kms 338 121 150 212 234 250 241 231 200 188 2. cct. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 293 105 130 184 203 217 209 200 173 163 1.Tabel A6.6 berikut. seperti ditampilkan dalam Tabel A6.6. Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk menggantikan peran PLTD di sistem Bintan.113 169.837 14.487 18.272 13.1 60 3.164 331 Trafo MVA 107 61 76 82 87 91 94 96 101 105 900 Pelanggan 23.3.842 15.8 70 3.3 258 21. cct. Pembangunan SUTT 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Air Raja Pulau Ngenang Sri Bintan Tanjung Kasam Tanjung Sauh Tanjung Taluk Tanjung Uban Jumlah Ke Konduktor Tegangan Kijang Tanjung Taluk Air Raja Tanjung Sauh Pulau Ngenang Tanjung Uban Sri Bintan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 cct.566 16.3 60 3. Tabel A6.287 19. cct. cct.164 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 900 MVA. sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan sistem Batam melalui kabel laut 150 kV. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 169 ribu pelanggan sampai dengan 2020 atau rata-rata 16.700 16. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut. baik peak maupun baseload. JTR sekitar 2. cct.2 12 4.335 13. cct. 1 Hawk 3 x 300 mm2 1 Hawk 3 x 300 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 40 2.1 COD 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup banyak seperti pada tabel A6.940 pelanggan setiap tahunnya.

450 kVA.2. Sistem distribusi berupa SUTM sepanjang 57. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A6. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir A6. SISTEM KELISTRIKAN NATUNA Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan Laut Cina Selatan seperti terlihat pada Gambar A6. Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3.845 kW dan beban puncak 2. Jepang. Korea dan Taiwan.080 kW. daya mampu 2.355 kW. Gambar A6. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. 332 . Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna berupa penambahan PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. A6.2.4.5.3.7. Peta Pulau Natuna Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong.A6.4 kms dengan jumlah gardu 29 unit dan kapasitas terpasang 2.

Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 543 601 671 766 871 975 1.7.249 9.049 1.255 1.588 Beban Puncak (MW) 101 112 125 142 161 181 194 208 220 232 1.119 1.028 Produksi Energi (Gwh) 582 642 715 816 925 1.034 1.111 1.323 9.185 1.Tabel A6.185 1.676 Pembangkit (MW) 333 14 14 21 58 51 0 0 3 25 25 211 GI (MVA) 0 0 220 0 60 0 0 0 0 0 280 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 0 258 0 0 0 0 0 0 0 258 44 21 87 126 114 11 11 14 58 57 544 .

1. PLTD Mentok. Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan menjadi dua sistem kelistrikan yang terpisah yaitu: 1. yaitu: PLTD Pilang. Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa. PLTD Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP).LAMPIRAN A. Pembangkitpembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV.1. PLTD Koba. Babel Saat Ini 334 . 2. yaitu: PLTD Merawang. dan PLTU Listrindo (Biomassa). PLTD Toboali. Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan pada Gambar A7. Gambar A7.1.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG A7.

Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. sehingga sangat diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan.1.6 MW dengan daya mampu sebesar 99. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Provinsi Kep.1 memperlihatkan komposisi sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2010 A7. Tabel A7. Total kapasitas terpasang adalah 144. antara lain pada tahun 2010 adalah Visit Archi Babel dan Babel Benderang. menggantikan mesin-mesin yang 335 .Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh dari pembangkit dengan bahan bakar HSD.2.25 MW.8 MW. termasuk pembangkit rental dan IPP dengan daya mampu sebesar 46. Tabel A7. Salah satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik.

277 1.2. Tabel A7. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. berikut.888 321.726 295.881 302.399 289.417 328.421 1.2% Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 16.210 1. Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.736 237.2% Pelanggan 208.3.124 308. gas dan BBM.839 2. Bangka Belitung dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.137 16.071 1. Pengembangan Pembangkit Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Bangka Belitung sampai dengan tahun 2020 adalah seperti ditampilkan pada Tabel A7.149 266. gardu induk dan distribusi.2. maka proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung pada tahun 2011–2020 dapat dilihat pada Tabel A7.sudah tua.458 314. meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga listrik. 336 .3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Pengembangan sarana di Provinsi Kep. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1. diperlukan pengembangan sarana pembangkit.086 1.566 1.605 1. transmisi.7% Produksi (Gwh) 747 839 953 1. Oleh sebab itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di Babel harus didatangkan dari luar wilayah berupa batubara.051 8.163 1.367 1. Potensi Sumber Energi Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat terbatas.820 15.6% A7.

Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Proyek Air Anyer (FTP1) Belitung Baru (FTP1) Belitung-2 / Tanjung Pandan Belitung-3 Mentok Toboali Bangka (FTP2) Bangka IV (Peaker) Belitung-4 Belitung (Peaker) Bangka-3 Bangka-5 Belitung-5 Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLN PLN Swasta PLN PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN Kapasitas (MW) 60 33 5 17 14 14 60 40 34 20 60 30 17 404 COD 2011 2012-13 2013 2014 2014 2014 2015-16 2015/18 2015/19 2017-18 2018-19 2020 2020 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV di 10 lokasi seperti diperlihatkan pada Tabel A7.3.4.Tabel A7. Pembangunan GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Gardu Induk Air Anyir Pangkal Pinang Sungai Liat Dukong Manggar Suge Kelapa Koba Mentok Toboali Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 30 20 30 30 30 30 30 320 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2014 2014 2016 2016 Selain itu diperlukan juga extension GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dan 70/20 kV hingga total tambahan kapasitas mencapai 210 MVA tersebar dibeberapa GI.4. 337 . Tabel A7.

cct. diperlukan pengembangan transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 946 kms dengan kebutuhan dana sekitar 52.4 M USD seperti ditampilkan pada Tabel A7.6 100 5.8 50 2. cct. cct.6 140 7.2 dan Gambar A7. Pembangunan Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Gardu Induk Sungai Liat Dukong Koba Manggar Pangkal Pinang Air Anyir Dukong Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 210 COD 2015 2016 2018 2018 2018 2019 2019 Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV. cct. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 44 2.8 120 6. cct.3.6 120 6. Tabel A7.Tabel A7. 338 .4 112 6. cct.2 140 7. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dari Air Anyir Air Anyir Dukong Suge Pangkal Pinang Pangkal Pinang Kelapa Koba Air Anyir/Sungai Liat Jumlah Ke Tegangan Pangkal Pinang Sungai Liat Manggar Dukong Kelapa Koba Mentok Toboali PLTU Bangka Baru III 150 kV 150 kV 70 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.5 946 52. cct.5.8 120 6.6.4 COD 2011 2011 2012 2012 2014 2014 2016 2016 2018 Peta jaringan 150 kV di Bangka dan jaringan 70 kV di Belitung diperlihatkan pada Gambar A7.6. cct.

Gambar A7. Peta Jaringan Sistem Bangka Gambar A7.2.3. Peta Jaringan Sistem Belitung 339 .

7.839 2.137 13.7 berikut.080 Produksi Energi (Gwh) 747 839 953 1. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 143 128 146 152 113 114 123 142 156 1. Gardu Distribusí 151 MVA.8.744 Trafo MVA 29 11 10 13 17 12 13 14 16 17 151 Pelanggan 57. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 625 708 805 907 986 1.924 11. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.4. Selanjutnya akan disambung rata-rata 13.820 11.091 11. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7.766 157.944 12.744 kms.226 9.421 1.645 kms.624 12.163 1.Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. JTR sepanjang 1.566 1. seperti ditampilkan dalam Tabel A7.210 1. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. diperlukan pembangunan JTM 1.258 Pembangkit (MW) 340 60 17 22 45 67 30 10 60 47 47 404 GI (MVA) 120 80 0 60 30 90 0 90 60 0 530 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 156 190 0 240 0 260 0 100 0 0 946 136 74 62 135 79 78 9 82 114 112 881 .000 pelanggan per tahun.8.594 A7. Tabel A7. Tabel A7.468 11.345 10. diperlukan tambahan pelanggan baru sekitar 158 ribu pelanggan sampai dengan 2020.719 10.277 1.086 1.000 pelanggan.645 JTR kms 477 149 133 152 159 117 119 128 148 162 1.605 1.486 9.367 1.051 Beban Puncak (MW) 130 146 165 186 201 221 246 277 318 369 2.071 1. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% pada tahun 2011 akan disambung 58.

5 MW A A Simpang Empat 2 P ACSR 1 x 240 mm 52 km – 2020 Maninjau Payakumbuh A Padang Luar A ACSR 1 x 240 mm2 25 km. SUMATERA UTARA New Garuda Sakti ke GI Padang Sidempuan (Sumatera Utara) Ke GI New Garuda Sakti (Riau) Koto Panjang PLTA Batang Agam 3 x 3. 2nd cct – 2012 A Lubuk Alung PIP PLTG Pauh Limo 3 x 21.1. 341 .2012 ACSR 2 x 240 mm2 80 km . 2 nd cct .8 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA BARAT A8.2011 ke GI Muara Bungo (Jambi) P PLTP Muara Labuh 2 x 110 MW – 2017 Kambang JAMBI PT PLN (Persero) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN SUMATERA Rencana 275 kV HVDC U Rencana 500 kV HVDC G PLTU D PLTD GI Rencana PLTG A PLTA PLTGU P PLTP GI Eksisting GI 275/150 kV Renc Kit Eksisting Kit Rencana Sungai Penuh PERENCANAAN SISTEM BIDANG PERENCANAAN PETA JARINGAN PROPINSI SUMATERA BARAT Existing 70 kV Existing 150 kV Rencana 150 kV Rencana 275 kV Rencana 500 kV ACSR 2 x 240 mm2 110 km .2013 ACSR 2 x 430 mm2 300 km . 2nd cct – 2012 PLTA Singkarak 4 x 43.2013 PLTA Masang – 2 55 MW – 2017 ACSR 1 x 240 mm2 35 km – 2013 P 2 ACSR 2 x 240 mm 17.1.35 MW Kiliranjao Solok Simpang Haru PLTU Ombilin 2 x 100 MW ACSR 1 x 240 mm2 10 km – 2019 Indarung ACSR 1 x 240 mm2 52 km.LAMPIRAN A.2017 U PLTU Sumbar Pesisir #1.Talang 20 MW – 2019 Bungus ACSR 2 x 430 mm2 117 km (Operasi 150 kV) ACSR 2 x 240 mm2 5 km .5 km – 2011 Sungai Rumbai PLTP G.2013 Batusangkar Padang Singkarak Panjang Pariaman RIAU 2 ACSR 1 x 240 mm2 32 km.2012 Salak Pauh Limo GI/GIS Kota ke GI Teluk Kuantan (Riau) Ombilin U G ACSR 2 x 240 mm2 8 km – 2016 ACSR 2 x 430 mm2 141 km .75 MW ke GI Koto Panjang (Riau) PLTP Bonjol 165 MW – 2019 ACSR 1 x 240 mm 15 km – 2017 PLTA Maninjau 4 x 17 MW ACSR 2 x 430 mm2 150 km .1. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8.2015 Edit September 2011 GU ke GI Bangko (JAMBI) ke GI Muko-muko (Bengkulu) BENGKULU   Gambar A8.2 (FTP1) 2 x 112 MW – 2012/2013 ACSR 2 x 240 mm2 90 km . KONDISI SAAT INI Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (diluar kepulauan Mentawai) berasal dari sistem interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (Jambi-SumbarRiau) melalui 14 gardu induk dengan kapasitas total 565 MVA dan beban puncak sebesar 348 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.1. 2nd cct – 2012 ACSR 1 x 240 mm2 42 km.

saat ini mempunyai beban puncak 2.Tabel A8.1. Kapasitas Pembangkit di Sistem Interkoneksi Per 2010 No Nama Pembangkit 1 2 3 4 5 Ombilin Pauh Limo Maninjau Singkarak Batang Agam Jenis Bahan Bakar PLTU PLTG PLTA PLTA PLTA Batubara HSD Air Air Air Pemilik PLN PLN PLN PLN PLN Total Kapasitas Terpasang (MW) 200 64 68 131 11 474 Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 348 MW.1 MW yang dipasok dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2.9 MW. Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai. Hal tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat rendah akibat jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir Selatan (±260 km). 342 .2 MW. maka Provinsi Sumbar pada saat musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi Riau sebesar ± 150 MW. Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar 100 MW.2. Pembangkit isolated di Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8. sebagian Balai Selasa. Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang. Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut mengingat jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah tersebut. sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk sistem-sistem isolated sendiri dengan beban puncak total sebesar 4. Namun pada musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan kapasitas.

2.4 0. sektor komersil (13%) dan sektor publik (8%).3 0.8 0.2 0. sektor industri (34%). Dari realisasi penjualan tenaga listrik pada enam tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.1 0. Indikator penjualan energi listrik yang merefleksikan permintaan tenaga listrik masyarakat meningkat dari 1. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 5 tahun terakhir adalah 6.6 7.3 1.9 2.2 0.4 10. Konsumsi tenaga listrik diserap oleh sektor rumah tangga (45%). pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A8.1 0.1 0.187 GWh di tahun 2010.5 A8.Tabel A8. Pembangkit di Sistem Isolated per 2010 No Nama Pembangkit Kepulauan Mentawai 1 Sikabaluan 2 Sikakap 3 Sipora 4 Seay Baru 5 Saumangayak 6 Simalakopa 7 Simalepet 8 Tua Pejat Pesisir Selatan 1 Lakuak 2 Balai Selasa 3 Indra Pura 4 Tapan 5 Lunang 6 Salido Kecil Solok Selatan 1 Pinang Awan Jenis Bahan Bakar Pemilik PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTMH HSD HSD HSD HSD HSD Air PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Air PLN PLTM Total Isolated Kapasitas Terpasang (MW) 2.6 1.3.8% per tahun.3 0.741 GWh pada tahun 2006 menjadi 2.4 0.2 1. 343 .2.0 0.9 0.

3.470 2.330 3.243 981.4% Pelanggan 876.6% Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 9.551 3.725 3. Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti terlihat pada Tabel A8. Kabupaten Solok.913 5. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.219 3. 344 . Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan.957 946.057 4.Tabel A8.253 2.7% Produksi (Gwh) 2.897 1.678 4.915 3.Kabupaten Solok. Menurut informasi dari Kementerian ESDM.318 4.171.242 910. transmisi dan distribusi sebagai berikut.568 1.017. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.418 2.062 1.093.916 4.213.663 1.055.739 1.265 1. Kabupaten Sijunjung.131.647 2.754 5.226 5. potensi batubara tersebar di Kota Sawahlunto.468 4. Kabupaten Pesisir Selatan. Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara.014 3. panas bumi dan tenaga air. potensi panas bumi di Sumatera Barat adalah sekitar 908 MW dan berada di Muaralabuh – Kabupaten Solok Selatan dan di Talang .4.7% A8.571 3.728 9. Menurut informasi dari Bapeda Sumatera Barat.3.387 9.

Sukam Bt.8 0. Rokan Bt.6 1. Langir Bt. Tumpatih Bt. Lubuk Bt. Gumanti Bt. Kampar Kanan Bt.0 Kabupaten/ Kecamatan Slk Selatan Slk Selatan Slk Selatan Dhamasraya Pasbar Pasbar Slk Selatan Pessel Solok Agam Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Pessel Tanah Datar S.6 10.9 5.1 11.4 22. Sibakur Bt.7 10.1 4.Tabel A8.5 8. Mahat Bt. Sumpur Bt.2 5.Sumpur Bt. 345 . Potensi Tenaga Air No Lokasi DAS Type 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Pasaman Sangir-2 Sangir-3 Sinamar-2 Masang-2 Tuik Lanajan-2 Lubuk-2 Asik Lubuk-4U Sumpur-1U Kampar KN-1 Kampar KN-2 Kapur-1 Mahat-10 Mahat-2U Sumpur-K1 Palangki-1 Palangki-2 Sibakur Sibayang Sukam Kuantan-1 Batanghari-2 Bt. Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel A8.6 12.Sibayang Bt. Kambang Bt. Tabel A8. Bayang Janiah Bt.2 11.5 dan Tabel A8.6 2.Gumanti Bt Sikiah RSV ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV Kapasitas (MW) 34.1 4. Lawas Bt.2 (FTP1) Masang-2 Muara Laboh (FTP2) Bonjol G. Sangir Bt. Sangir Bt.4 18. Sumani Bt.6 0.2 MW (2011). Pengembangan Pembangkit di Sistem Interkoneksi No 1 2 3 4 5 Proyek Sumbar Pesisir #1. Palangki Bt.8 13. Guntung Bt.5 3.4 6. Kuantan Batanghari ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR ROR RSV ROR RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV RSV ROR RSV Kapasitas (MW) 21.0 19.8 17. Lumpo Bt. Lengayang Bt. Sijunjung Agam S.1 14.4 2.7 0.5 15.8 2.9 3.6.4 8. Untuk Kepulauan Mentawai direncanakan pembangkit 9. Sijunjung Slk Selatan No Lokasi DAS Type 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Batanghari-3 Batanghari-5 Batanghari-6 Batanghari-7 Fatimah Sikarbau Balangir Landai-1 Sumani Guntung Sungai Putih Kerambil Muaro Sako Induring Palangai-3 Kambang-1 Kapas-1 Landai-2 Sumpur-K2 Lawas-1D Gumanti-1 Sikiah-1 Sikiah-2 Batanghari Batanghari Batanghari Batanghari Fatimah Sikarbau Balangir Bt. Sumpur Bt.8 6. Palangai Bt.7 1. Sijunjung Solok Solok Solok Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2020 direncanakan pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan transfer energi dengan sistem interkoneksi Sumatera.2 7. Sijunjung S.2 2.4. Sinamar Bt.1 7.9 30. Kapur Bt. Mahat Bt. Asik Bt.8 0.6.7 29. Tuik Bt. PLTGB 6 MW (2013) dan PLTGB 3 MW (2020).6 1. Pasaman Bt. Muaro Sako Bt.7 4.1 6. Kampar Kanan Bt. yaitu PLTS 0.9 0. Palangki Bt.4 3. Air Haji Bt. Talang Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTA PLTP PLTP PLTP PLN PLN Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 224 55 220 165 20 684 COD 2012-13 2017 2017 2019 2019 Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada Tabel A8.1 5.2 MW.2 4.6 2. Sijunjung S. Sijunjung S.5. Jalamu Bt. Sijunjung S. Masang Bt.2 Kabupaten/ Kecamatan Pasaman Solok Solok Tanah Datar Agam Pessel Pessel Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota 50 Kota S.2 8.

4 1.8 Jumlah Tabel A8.0 3.5 2.17 2013 500 39.66 2013 275/150 kV Baru 250 20.0 5.0 5.0 5.0 3. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Proyek Manggani Gumanti Gumanti Sinamar Sinamar Lubuk Gadang Gunung Tujuh Gunung Tujuh Tarusan Bayang Bayang Muara Sako Sumpur Kambahan Fatimah Sikarban Guntung Jumlah Jenis Pemilik PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM PLTM Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 1. Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 Nama Gardu Induk Bungus Kambang Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 346 Kapasitas (MVA) 30 30 30 120 210 COD 2011 2011 2013 2016 .6 COD 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2020 berupa 2 buah GI 275 kV dan 4 buah GI 150 kV yang diperlihatkan pada Tabel A8.6 51.Tabel A8.1 5.0 3. Pengembangan GI 275 kV Baru No Nama Gardu Induk 1 Kiliranjao 2 Payakumbuh Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 250 19.6.8.7 dan Tabel A8. Tabel A8.0 4.0 2.5 1.7.0 4.0 4.8.0 1.4 0.

0 882 198. diperlukan juga pengembangan transmisi 275 kV sepanjang 882 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 786 kms dengan kebutuhan dana investasi USD 249.9.10 dan Tabel A8. 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 282 63.5 600 135.9.11. Pembangunan Transmisi 275 kV Baru No Dari 1 Kiliranjao 2 Padang Sidempuan Jumlah Ke Payakumbuh Payakumbuh Tegangan 275 kV 275 kV 347 Konduktor 2 cct. 2 Zebra 2 cct. Pengembangan Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Gardu Induk Padang Luar Padang Panjang Pauh Limo Payakumbuh PIP Simpang Empat Solok Salak Maninjau Kiliranjao Payakumbuh Bungus Kambang Simpang Empat Solok Lubuk Alung Sungai Rumbai Pariaman Batusangkar GIS Kota Padang Padang Luar PIP Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 30 30 60 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 30 60 30 60 840 COD 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2020 2020 2020 2020 Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV. Tabel A8.7 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A8.5 COD 2013 2013 .10.Selain itu juga direncanakan pengembangan GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV dengan tambahan kapasitas total 840 MVA sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A8. Tabel A8.

2 COD 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2016 2017 2017 2019 2019 Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut. atau rata-rata 36. 1 Hawk 2nd cct.7 52 1. 1 Hawk cct.242 kms. seperti ditampilkan dalam Tabel A8. Tabel A8. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 262 295 314 315 321 331 339 342 351 372 3. diproyeksikan akan terjadi penambahan pelanggan baru sekitar 369 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2020.670 42.7 35 2. 1 Hawk cct.12.823 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 471 MVA.534 A8.286 35. 2 Hawk 2nd cct.323 38.4 32 1. JTR sekitar 3.205 34.715 35.9 20 1.633 39.203 38. 2 Hawk 2nd cct.900 pelanggan per tahun.0 20 0. diperlukan pembangunan JTM 3.3 16 0.242 JTR kms 308 347 370 371 378 391 400 404 414 439 3.1 786 51.420 36. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dari Ke Bungus Indarung Kiliranjao Maninjau Padang Luar PLTU Sumbar Pessel Singkarak Kiliranjao PIP/S Haru/Pauh Limo Simpang Empat Sungai Rumbai Payakumbuh Solok Jumlah Konduktor Tegangan Kambang Bungus Teluk Kuantan Padang Luar Payakumbuh 2 pi Inc.Tabel A8.8 70 5. (Bungus-Kambang) Batusangkar Sungai Rumbai GI/GIS Kota Padang Masang-2 PLTP Muara Labuh PLTP Bonjol PLTP Gunung Talang 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 1 1 1 4 1 2 2 2 2 2 2 cct.9 30 1. 2 Hawk cct. 2 Hawk cct. 2 Hawk cct.7 42 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A8.075 37.11.12. 1 Hawk cct.823 Trafo MVA 38 43 46 46 47 48 49 50 51 54 471 Pelanggan 32. 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 180 13.8 25 0.004 369. 2 Hawk cct.7 160 12.4.13. 1 Hawk 2nd cct. 348 .2 104 7. 2 Hawk cct.

318 4.295 Produksi Energi (Gwh) 2.725 3.754 5.387 36.915 3.668 47 203 438 28 27 42 617 33 460 42 1.916 4.219 3.014 3.936 .550 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 215 171 952 0 0 16 190 0 124 0 1.647 2.692 Beban Puncak (MW) 389 425 468 516 568 625 689 757 831 910 6.057 4.468 4.253 2.226 5.13.678 4.418 2.728 38. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.330 3.551 3.176 Pembangkit (MW) 0 112 118 0 0 0 275 0 185 3 693 349 GI (MVA) 60 300 560 30 0 180 150 60 30 180 1.Tabel A8.470 2.913 5.

GI Muara Bungo (2x30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA).LAMPIRAN A. Peta jaringan distribusi Provinsi Jambi seperti ditunjukkan pada Gambar A9. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi Kapasitas pembangkit di Provinsi Jambi adalah sekitar 222.1.9 MW seperti ditunjukkan pada Tabel A9.1.9 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI JAMBI A9. 350 . KONDISI SAAT INI Jumlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi Jambi (interkoneksi dan isolated) saat ini sebesar 207 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui saluran transmisi 150 KV dengan 5 GI.1. GI Muara Bulian (30 MVA). GI Payo Selincah (2x60MVA). Gambar A9. yaitu GI Aur Duri (2x30 MVA).1.

873 2.482 9.453 1. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. Tabel A9.143 2. konsumen publik (7%) dan konsumen industri (7%).8% Pelanggan 522.016 2. konsumen komersil (24%).151 721.3% Produksi (Gwh) 1.289 2.891 2. Kapasitas Pembangkit per 2010 No 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit Jenis Bahan Bakar Pemilik PLTD Payo Selincah PLTD Gas Alam+HSD PLN PLTG Payo Selincah PLTG Gas Alam Sewa PLTG Batang Hari PLTG Gas Alam PLN PLTG Eks Sunyarangi PLTG Gas Alam Sewa PLTD lokasi tersebar Jumlah PLTD HSD PLN Kapasitas (MW) 31 100 62 18 12 223 A9.316 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.658 827.561 630.588 1.448 2. 351 .629 8.574 755.159 1.2. transmisi dan distribusi sebagai berikut.382 6.000 2. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.303 2.8% Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 8.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana pembangkit.640 1. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A9.144 2.141 789. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Kebutuhan listrik diserap oleh konsumen rumah tangga (62%).2.1.277 1.2.749 1.Tabel A9.783 1.7% A9.444 1.586 690.152 659.972 592.280 555.

Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 di Jambi direncanakan akan dipenuhi dengan mengembangkan pembangkit di Jambi dan di daerah lain pada sistem interkoneksi Sumatera. 352 . potensi batubara yang layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5. Tabel A5. Potensi gas terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung dan Kabupaten Muaro Jambi dan potensi tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air Batu).3.712 MW seperti ditampilkan pada Tabel A9. Adapun pembangkit yang direncanakan berada di Provinsi Jambi mempunyai kapasitas total 1. gas dan tenaga air.4 dan Tabel A9. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi Jambi.1 Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Proyek Sarolangun Sungai Gelam Payo Selincah Sungai Gelam (CNG/Peaker) Sengeti (CNG/Peaker) Batanghari Kuala Tungkal Tebo Pembangkit Peaker Sungai Penuh (FTP2) Merangin Jambi (KPS) Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTMG PLTG PLTG PLTG PLTGU PLTU PLTU PLTG PLTP PLTA PLTU Swasta Sewa Sewa Beli PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 12 12 100 90 80 30 14 14 100 110 350 800 1712 COD 2011 2011 2011-12 2012 2012-13 2013 2013 2013 2014 2015 2016-17 2018-19 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension GI existing seperti pada Tabel A9.Potensi Sumber Energi Sumber energi yang tersedia di Provinsi Jambi terdiri dari batubara.5.715 kkal/kg yang tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten Kerinci.3.

6.5. Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV No Nama Gardu Induk 1 Bangko 2 Muara Bungo Tegangan Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 250 21.98 2014 275/150 kV Extension 500 17.81 2018 500/275 kV Baru 500 25. Pengembangan GI 150 kV No 1 2 3 4 Nama Gardu Induk Sungai Penuh Muara Sabak Sarolangun Kuala Tungkal Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 120 COD 2012 2013 2014 2018 Tabel A9.08 2013 275/150 kV Baru 250 20.4. Tabel A9.6. Pengembangan Extension GI 150/20 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Aurduri Bangko Muaro Bulian Payoselincah Muaro Bungo Sungai Penuh Payoselincah Aurduri Muaro Bungo Bangko Muara Sabak Payoselincah Sarolangun Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 60 60 60 60 30 60 60 60 30 30 60 30 660 COD 2012 2012 2012 2012 2013 2014 2017 2018 2018 2019 2019 2020 2020 Berkaitan dengan pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV Sumatera. akan dibangun 3 buah GI 275 kV yaitu GI Bangko.Tabel A9.92 2017 5 Aurduri 6 Aurduri 500kV 7 PLTU Jambi 500 kV 275/150 kV Extension 0 2. GI Muara Bungo dan GI Aur Duri. seperti pada Tabel A9.08 2013 3 Aur Duri 4 Bangko 275/150 kV Baru 500 25.77 2018 500 kV Baru 0 9.82 2018 2000 123.5 Jumlah 353 .

Pembanguan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 Dari Bangko PLTA Merangin PLTG CNG Sei Gelam PLTG CNG Sengeti Muara Sabak Muara Bulian PLTP Sungai Penuh Muara Sabak Jumlah Ke Tegangan PLTA Merangin Sungai Penuh Aur Duri Aur Duri Inc.2 84 4.7 108. 2 Zebra 2 cct. cct. cct. cct. cct.0 420 137.4 121.1 150 49. 4 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 120 27. 275 KV dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.2. cct.1 Peta sistem kelistrikan Provinsi Jambi diperlihatkan pada Gambar A9.6 130 7.6 110 24. 4 Zebra 2 cct. cct. 2 Zebra 2 Zebra 1 Hawk 1 Hawk 2 x 340 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk COD 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2015 2018 Tabel A9.8 6. diperlukan pengembangan transmisi 150 KV.Pengembangan Transmisi Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera.6 3.7.8. Tabel A9. cct.8. Pembanguan Transmisi 275 dan 500 kV No Dari 1 Bayung Lincir 2 Aur Duri 3 PLTU Jambi Jumlah Ke Aur Duri Rengat Aur Duri Tegangan 275 kV 275 kV 500 kV Konduktor 2 cct.7 Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 cct. 354 COD 2014 2015 2018 .7 dan Tabel A9.3 26 1.8 60 3. 1 Pi (Payo Selincah-Aur Duri) Sarolangun Sungai Penuh Kuala Tungkal 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Panjang Biaya (kms) (juta US$) 136 30.0 690 213.0 776 81.

2. diperlukan pembangunan JTM 2.900 pelanggan per tahun. seperti ditampilkan dalam Tabel A9.2013 2 A C S 75 R 4 km x 2 . Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.626 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 257 MVA. Khusus untuk tahun 2011 akan disambung sekitar 85 ribu pelanggan untuk mencapai rasio elektrifikasi 60%. JTR sekitar 2. Peta Jaringan Provinsi Jambi Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan pelanggan baru sebanyak 390 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020.2 82 01 mm 8 2 m m 0 4 43 1 x 20 2 R km CS 0 A 6 Gambar A9.ACSR 1 x 240 mm2 30 km . Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 38. 355 .800 kms.9.

SISTEM ISOLATED Provinsi Jambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak.626 Trafo MVA 49 20 20 21 22 23 24 25 26 27 257 Pelanggan 84.10. yaitu PLTD Pelabuhan Dagang.55 PLN No Nama Pembangkit 6 Sarolangun 7 Tanjung Jabung Power Total PLTD 3.00 PLN PLTMG 7.567 34. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9. PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala Tungkal. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.591 29.85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi di Kabupaten Tanjung Jabung kapasitas terpasang 7.15 PLN 2 Sungai Lokan PLTD 0.5.589 37.9.565 31.82 PLN 3 Mendahara Tengah PLTD 0.43 PLN 4 Kuala Tungkal PLTD 4.868 A9.516 37.725 389. PLTD Sungai Lokan.765 33.11.91 PLN 5 Batang Asai PLTD 0.20 Swasta 20. PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun dengan total kapasitas terpasang 12.Tabel A9. 356 .800 JTR kms 515 205 210 220 227 230 238 253 263 264 2. Pengembangan Sistem Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 558 222 226 234 240 245 253 264 275 282 2.2 MW.4.424 33.433 30.693 36. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2010 Jenis Kapasitas (MW) Pemilik 1 Pelabuhan Dagang PLTD 3. Tabel A9.05 A9.

316 1.118 Produksi Energi (Gwh) 1.749 1.Tabel A9.144 2.629 19.507 Beban Puncak (MW) 203 227 256 281 315 334 355 377 402 426 3.588 1.277 1.651 .891 2.783 1.000 2.444 1.873 2.453 1.448 2.482 18.712 GI (MVA) 0 270 590 560 0 0 560 650 60 90 2.159 1.640 1.780 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 246 208 250 504 0 0 259 0 0 1.016 2.289 2. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1.303 2.11.143 2.178 Pembangkit (MW) 357 74 160 118 100 110 175 175 400 400 0 1.466 55 134 188 133 336 282 302 643 548 29 2.

10 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SUMATERA SELATAN A10.LAMPIRAN A.2012 AC SR 2 nd 2 0 mm 2 x 24 15 ACSR km – 20 35 GU 2 01 Gambar A10.1. 2 cc U G SR 17 2 x 5k 4 m 30 m -2 01 m 2 5 AC G 2x 60 km 330 mm 2 .1. 358 . Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan Pembangkit yang memasok Provinsi Sumsel diberikan pada Tabel A10. t. Untuk sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dan dipasok dari pembangkit yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV.1.

359 . pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.Tabel A10. terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV dan 13 GI 150/20 kV.2 PLTG Borang PLTG Talang Duku PLTG Sewa Beli Tl.8 12.6 1.0 PLTG Truck Mounted #1.2 PLTGU Indralaya ST # 1.0 40.7 1.2.0 260.3.0 20.0 40. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI SUMATERA SELATAN Konsumsi energi listrik di Sumsel diserap oleh konsumen rumah tangga (60%).1 PLTG Indralaya GT # 1.0 60. industri (14%) dan publik (8%) Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 seperti pada Tabel A10.0 40.0 6. A10.4 PLN (Isolated) PLTD Makarti Jaya PLTD Sungsang PLTD Air Saleh PLTD Simpang Sender PLTD Teluk Agung IPP PLTMG Sako Kenten PLTMG Musi II PLTMG Prabumulih Total Kapasitas (MW) 30.2.2 14.0 100. komersil (18%). Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI dengan total kapasitas trafo 932 MVA.5 43.0 64.0 879.0 60.9 0.2 PLTG Keramasan #1.9 50.1 1.1 25. dengan 4 trafo IBT 150/70 kV yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas 400 MVA.2 Kapasitas (MW) 829. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010 No A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama PLN (Interkoneksi) PLTU Keramasan #1.2.0 No 13 14 B 15 16 17 18 19 C 20 21 22 Nama PLTMG Rental Borang PLTU Bukit Asam # 1.4 1.8 12.1.4 PLTG Indralaya GT # 1.2.3.0 19.4 Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV.2 PLTD Sungai Juaro #1. Duku PLTG Sewa Beli Borang PLTG Keramasan AKE #1.0 25.

911 MW 64.089 3.361 ton Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Belum dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Telah dimanfaatkan Sebagian dimanfaatkan Belum dimanfaatkan : Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov.081 7.276.884.676.758 5.900 1.3% Pelanggan 1.279.157 5.1 Milyar Ton 183.845 4.07 ribu BBL 434.01 kWh Produksi 27.344 1.85 x 10 MW 16.108.1% A10.070 1.8% Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1. gas bumi.6 MMSTB 24179.813. minyak bumi.3. Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara.576 6. sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A10. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.913 1.027. panas bumi dan gas metan batubara (CBM).238 1.743.696 9.610.599 7.664 1.395.3.Tabel A10.626 8. Sumatera Selatan 2008 360 .460 3.196 4.5 BSCF 47. Tabel A10.885 1.954.797 1.335 9.513 7.24 GWh 235.160 5.00 TCF 1.027 6.054 6.385.589 6.933.728 kW 53.781 4.1% Produksi (Gwh) 3.176.034.3.200 Ha 9. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 3.188 10.383 3.147 1. Potensi Sumber Energi Sumber Daya Minyak Bumi (Oil) Gas Bumi Batubara Coal Bed Methane Panas Bumi (Geothermal) Gambut Potensi Air (Mini/Mikro Hidro) Energi Surya Biomassa Biogas Sumber Potensi 757.2.648 5.64 ribu MMBTU 9. transmisi dan distribusi sebagai berikut.529 1.273 4.969 1.822 2. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.

Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020.29 MW Telanai Banding Agung Gambar A10.795 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A10.2.4. 361 . diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 3.P_57 18 P_55 3 P_56 4 17 5 7 10 12 15 13 01-074-27 6 11 16 8 P_59 PLTU 2 x 113 MW Simpang Belimbing 9 PLTU 2 x 135 MW Keban Agung 19 2 20 14 01-074-15 01-074-141 P_53 PLTP 4 x 55 MW Lumut Balai 01-074-07 01-074-02 PLTM 2 x 2.

MT Lumut Balai (FTP2) Sumsel-2 (Keban Agung) Sumsel-5 Sumsel-7 Sumsel-6. ST Cycle Jaka Baring (CNG/Peaker) Baturaja Keramasan Banjarsari Sumsel-11. Mulut Tambang Sumsel-8. Listrik dari ketiga PLTU tersebut dimaksudkan akan disalurkan ke Pulau Jawa melalui transmisi HVDC 500 kV Jawa-Sumatera.000 MW merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low rank di Sumatera Selatan. Mulut Tambang Sumsel-9.Tabel A10. 362 . Mulut Tambang Sumsel-10. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Proyek Borang Simpang Belimbing #1. panas bumi dan gas.5. Mulut Tambang Rantau Dedap (FTP2) Danau Ranau Sumsel-1. Mulut Tambang Jumlah Jenis Pemilik PLTMG PLTU PLTG PLTG PLTGU PLTG PLTU PLTGU PLTU PLTU PLTP PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTP PLTP PLTU Sewa Swasta Sewa Beli Sewa Swasta PLN Swasta PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLN Kapasitas (MW) 30 227 60 60 30 50 20 86 230 227 220 225 300 300 600 1200 1200 600 220 110 800 6795 COD 2011 2011 2011 2011-12 2012 2012 2013 2013 2014 2014 2014-15 2015 2015-16 2015-16 2016-17 2016 2017 2018 2018-19 2019 2019-20 Pengembangan PLTU Sumsel-8. PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan kapasitas total 3. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Provinsi Sumsel memerlukan pembangunan GI 150 kV baru di 11 lokasi dengan kapasitas sebesar 570 MVA seperti pada Tabel A10.4.2 Talang Duku Borang Gunung Megang. Rencana ini dilakukan dengan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan Sumatera pada umumnya melalui pengembangan banyak pembangkit batubara.

Pengembangan GI 150 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Gardu Induk Tegangan Tanjung Api-Api Gandus Jakabaring Kenten Sekayu Kayu Agung Sungai Lilin Tebing Tinggi Muara dua Martapura Muara Rupit Jumlah 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 120 60 120 30 30 30 30 30 30 30 570 COD 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2016 2017 Selain itu juga diperlukan pengembangan GI existing kapasitas total trafo 1.470 MVA sampai tahun 2020 seperti pada Tabel A10. Pengembangan Extension GI 70 kV dan 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Baturaja Bukit Siguntang Lubuk Linggau Baturaja Bukit Siguntang Bungaran Gungung Megang Lahat Pagar Alam Prabumulih Simpang Tiga Talang Kelapa Baturaja Bukit Asam Bukit Siguntang Keramasan Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 60 30 60 60 30 30 60 60 60 60 60 30 60 COD No 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Gardu Induk Gumawang Lubuk Linggau Mariana Keramasan Sungai Lilin Bukit Asam Kenten Pagar Alam Talang Kelapa Betung Kayu Agung Gandus Sekayu Simpang Tiga Tebing Tinggi Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 30 60 30 60 60 30 60 30 30 60 30 60 30 1470 COD 2014 2014 2015 2017 2017 2018 2018 2018 2018 2019 2019 2020 2020 2020 2020 Sebagai bagian dari rencana pengembangan kelistrikan Sumatera dan nasional.6.5. 363 . Tabel A10.Tabel A10.6.7. GI 500 kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10. di Provinsi Sumatera Selatan terdapat proyek-proyek pengembangan GI 275 kV.

Asam) Betung PLTU Keban Agung Baturaja Martapura Muara Rupit PLTP Lumut Balai PLTP Danau Ranau 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 364 Panjang Biaya (kms) (juta US$) 2 cct. Asam) Inc.9 1672 204.50 20.9. 1 Hawk 70 3.Kelapa-Borang )/Kenten Sekayu Baturaja (uprate) Inc.3 2 cct.1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A10. 2 Zebra 70 15.31 7.2 8. 2 x 330 mm2 120 10.4 2 cct.1 Pi (T. AC3 310 mm2 78 10. 2 Hawk 55.08 12.6 5.0 2 cct. Kelapa-Borang ) Pagar Alam Lahat Inc.4 2 cct. 2 x 330 mm2 40 3.7 Muara Enim 500 kV Muara Enim 500 kV Lubuk Linggau Jumlah Baru/ Kapasitas Biaya COD Extension (MVA) (juta US$) 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Extension 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 275/150 kV Baru 500 kV DC Baru 500/275 kV Baru 275/150 kV Extension 1000 250 500 500 0 500 0 0 0 3000 1000 250 7000 35. 2 Pi (Keramasan-Mariana) Talang Kelapa Gumawang PLTU Banjar Sari Tebing Tinggi Kayu Agung Inc. 1 Hawk 150 8. 2 x 330 mm2 120 10. 1 Hawk 120 6. Kelapa) Inc. 2 Zebra 90 20. Pengembangan GI 275 kV.4 2 cct.5 Muara Enim Sungai Lilin/PLTU Sumsel . 1 Hawk 94. 2 x 330 mm2 40 3. 1 Pi (Prabumulih-Bk.6 2 cct.03 2.1 2 cct.1 1 2nd cct.45 550.6 2 cct.9 2 cct. dan Tabel A10.4 2 cct. 500 kV dan 500 kV HVDC No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Gardu Induk Tegangan Lahat Lubuk Linggau Betung Gumawang Lahat Lumut Balai Bayung Lincir/PLTU Sumsel .Tabel A10.32 24.3 2 cct.876 kms sampai dengan tahun 2020 dengan kebutuhan dana sekitar USD 498. 1 Pi (Prabumulih-Bk. 2 Hawk 92 7.1 2 2nd cct. 2 Hawk 90 6.8 2 cct.8.9 2 cct. 2 Zebra 60 13. 1 Hawk 80 4. 2 x 330 mm2 120 10.8. 2 x 330 mm2 1 0.97 24.2 2 cct. CU 1000 mm2 20 44.9 2 cct.28 12. 500 kV dan 500 kV DC sepanjang 2.00 21.5 2 cct. 2 x 330 mm2 1 0.6 2 cct.2 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2016 2020 Pengembangan Transmisi Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV.9 Konduktor COD 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2016 2017 2018 2019 . 275 kV. 2 Hawk 40 3. Tabel A10.7. 2 Pi (Keramasan-T. Pembanguan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Dari PLTU Simpang Belimbing Kenten Lahat PLTU Simpang Belimbing Tanjung Api-Api Betung Bukit Asam (uprate) Gandus Jakabaring Betung Kayu Agung Lahat Lubuk Linggau Mariana Sumsel-11.08 324.21 12.9 2 cct.6 2 cct. 1 Hawk 120 6.00 54. 2 Pi (T. MT Sungai Lilin Lahat Muara Dua Gumawang Sarolangun PLTP Rantau Dedap Muara Dua Jumlah Ke Tegangan Inc.

599 73.031.997 70.896 1. 2 Zebra cct.10. 2 Zebra cct.152 JTR kms 721 396 421 447 475 504 535 567 602 638 5.644 116.10.8 200 67. Sumsel-9 dan Sumsel-10 ke GI 500 kV Muara Enim.865 76.427 102.400 pelanggan.9 terdapat pula ruas transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang Sumsel-8.9 350 78. Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. 2 Zebra cct.059 69.306 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 675 MVA.8 290 65.799 .03 juta pelanggan.3 124 27. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 233. 500 kV dan 500 kV DC No 1 2 3 4 5 6 7 Dari Betung Lahat Lahat Muara Enim Bayung Lincir Muara Enim Muara Enim Jumlah Ke Tegangan Konduktor Sungai Lilin 275 kV Lumut Balai 275 kV Muara Enim 275 kV Gumawang 275 kV Sungai Lilin 275 kV Betung 275 kV perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC 2 2 2 2 2 2 2 cct.0 50 11.700 pelanggan per tahun.2 1204 293.9. diperlukan tambahan sebesar 1. 2 Zebra cct 4 Falcon Panjang Biaya (kms) (juta US$) 120 27.3 70 15.2 COD 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2016 Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 716 394 414 438 462 488 516 544 574 606 5. 2 Zebra cct.8 dan tabel A10.152kms. Tabel A10. Pembanguan Transmisi 275 kV.Tabel A10. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung ratarata 88. JTR sekitar 5.204 88.735 83.372 116. seperti ditampilkan dalam Tabel A10. Panjang dan rute transmisi 500 kV tersebut akan ditentukan kemudian sesuai hasil lelang ketiga PLTU mulut tambang tersebut. Selaras dengan penambahan pelanggan. diperlukan pembangunan JTM 5. 2 Zebra cct.306 365 Trafo MVA 100 44 54 50 62 58 71 67 82 88 675 Pelanggan 233.

460 3.781 4.178 1.157 5.790 1.253 1.11.648 5.238 1.696 54.589 6.11.576 6.040 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 120 256 169 1.795 GI (MVA) 150 510 1.063 Beban Puncak (MW) 630 698 769 845 931 998 1.273 4.030 120 210 60 430 9. Tabel A10.758 5.961 .4.876 372 124 301 1.513 7.188 50.289 512 320 80 40 90 0 2. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A10.147 1.012 Produksi Energi (Gwh) 3. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.845 4.073 604 6.196 4.661 Pembangkit (MW) 366 347 110 106 567 635 600 300 110 620 400 3.383 3.027 6.680 60 4.089 3.054 6. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 3.160 5.305 445 306 1.081 7.070 1.599 7.A10.335 9.

terdiri dari 92 MW beban puncak interkoneksi dan 21 MW beban puncak sistem isolated. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan PLTMH.1.1.1. 367 .1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI Sistem kelistrikan di Provinsi Bengkulu saat ini mempunyai beban puncak sekitar 113 MW.LAMPIRAN A. Gambar A11. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11. Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui transmisi 150 kV dan 70 kV.11 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI BENGKULU A11.

Tabel A11.Tabel A11. Selain 368 .6 Jumlah 255.722 311.106 1.835 6. transmisi dan distribusi sebagai berikut.8% Pelanggan 284.3. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010 No.793 381.8 1. sumber energi yang tersedia di Bengkulu untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi dengan perkiraan potensi mencapai 400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP.034 1.7% A11.2.2.919 449.351 369. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.9% Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 7.180 8.938 415.1.2% Produksi (Gwh) 564 638 716 796 849 908 978 1.6 8. Potensi Sumber Energi Menurut informasi dari Kementerian ESDM.072 9. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.6 17. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A11.6 A11. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.2.019 465.084 431. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.001 1.756 400.0 17. 1 2 3 4 5 Nama Pembangkit PLTA Musi PLTA Tes PLTD Isolated PLTD Isolated PLTM Isolated Bahan Bakar Pemilik Air Air HSD HSD Air PLN PLN PLN Sewa PLN Kapasitas Terpasang (MW) 210. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI BENGKULU Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.088 335.

Gambar A11.3. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 Proyek Ipuh Muko Muko Hululais (FTP2) Simpang Aur (FTP2) Kepahiyang Jumlah Jenis Pemilik PLTU PLTU PLTP PLTA PLTP PLN Swasta PLN Swasta PLN 369 Kapasitas (MW) 6 8 110 23 220 367 COD 2013 2013 2015 2015 2020 .itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton.3. Gambar A11. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 367 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A11.2. Tabel A11.2 memperlihatkan sebaran dan jumlah potensi energi tersebut. Peta Potensi Energi Primer Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020.

3 90 6.4. Pengembangan GI Existing 150 kV dan 70 kV No Nama Gardu Induk 1 Manna 2 Pekalongan 3 Pulau Baai Jumlah Kapasitas (MVA) 150/20 kV 30 150/20 kV 30 150/20 kV 60 120 Tegangan COD 2013 2013 2017 Pengembangan Transmisi Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit. 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 96 5. cct. Baai) PLTA Simpang Aur 2 Arga Makmur Bintuhan Arga Makmur Inc.6.7 180 13.4 COD 2012 2013 2015 2015 2015 2015 2015 2017 2020 2020 . dibutuhkan juga pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1. Rincian kegiatan terdapat pada Tabel A11.5 12 0. Tabel A11. Baai) 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 370 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 cct.8 120 9. cct. cct.5 80 6. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV No 1 2 3 4 5 Nama Gardu Induk Manna Pulau Baai Argamakmur Muko-muko Bintuhan Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 120 30 30 30 240 COD 2012 2013 2015 2015 2017 Tabel A11. Pembangunan Transmisi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dari Pagar Alam Pekalongan Kambang Pekalongan PLTA Simpang Aur 1 PLTA Simpang Aur 1 Pulau Baai Manna Muko-muko/Bantal/Ipoh PLTP Kepahiyang Jumlah Ke Konduktor Tegangan Manna Pulo Baai Muko-muko/Bantal/Ipoh PLTP Hululais Inc.5. Total penambahan kapasitas trafo GI mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti pada Tabel A11.9 220 16.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan Gardu Induk Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2020 yaitu 5 penambahan GI baru dan 3 pengembangan GI existing. cct.6. cct. 1 Pi (Pekalongan-P. cct.4 dan Tabel A11. cct. cct.1 1318 95.7 140 7.318 kms dengan biaya sebesar US$ 95. 2 Pi (Pekalongan-P.8 360 27.2 20 1.4 juta. cct.5. Tabel A11.

963 19.182 14. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.147 26.100 pelanggan per tahun. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A11.147 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 20.115 JTR kms 316 208 191 295 144 333 153 247 211 204 2. dengan kebutuhan pertambahan JTM sebanyak 2.301 Trafo MVA 20 13 12 18 8 16 12 15 13 13 140 Pelanggan 40.146 16.301 kms dan penambahan kapasitas gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada Tabel A11. Tabel A11.262 34.8.Pengembangan Distribusi Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 221 ribu sambungan untuk kurun waktu 2011-2020.260 A11. dimana untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% di tahun 2011 akan disambung 40.442 11.366 24.7.836 17.7. JTR sepanjang 2.4. 371 .100 16.115 kms. Rincian Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 290 191 176 271 133 306 141 227 194 188 2.816 221.

867 Produksi Energi (Gwh) 564 638 716 796 849 908 978 1.318 13 17 56 17 269 21 25 19 18 406 862 .180 8.8.072 7. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 498 565 635 709 759 814 880 934 1.Tabel A11.768 Beban Puncak (MW) 107 120 133 146 154 162 172 181 192 204 1.571 Pembangkit (MW) 372 0 0 14 0 133 0 0 0 0 220 367 GI (MVA) 0 30 180 0 60 0 90 0 0 0 360 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 0 96 90 0 552 0 140 0 0 440 1.001 1.034 1.106 1.

Gambar A12. Liwa dan Ulubelu di Kabupaten Lampung Barat. KONDISI SAAT INI Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi Sumatera seperti ditunjukkan pada Gambar A12.5 MW) yang pada umumnya merupakan PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan.1.2.12 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI LAMPUNG A12. Pugung Tampak dan Bengkunat di Lampung Barat. 373 .1. Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi. Peta kelistrikan Provinsi Lampung diperlihatkan pada Gambar A12.1. Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji.LAMPIRAN A. meliputi sistem tersebar yang kecil (< 0. Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah sebagai berikut : Kota Agung di Kabupaten Tanggamus.

Kapasitas Pembangkit per 2010 No 1 2 3 4 5 6 Daya Pembangkit Terpasang (MW) PLTA Besai #1.U Gambar A12. Tabel A12.2 90 PLTA Batutegi #1.607 GWh.2.Peta Kelistrikan Provinsi Lampung Beban puncak Lampung pada tahun 2010 adalah 482 MW dengan produksi energi 2.4 15 PLTD Teluk Betung #7.4 200 PLTD Tarahan #2.8. Pembangkit yang berada di Provinsi Lampun ditunjukkan pada Tabel A12.1.2 .1.10 14 PLTD Tegineneng #1.2 30 PLTU Tarahan #3.3 28 Jumlah 377 374 Daya Mampu (MW) 89 28 200 12 11 20 361 .

7% A12.416 5.679 4. transmisi dan distribusi sebagai berikut.124 6. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A12.206 1.388 1. yaitu mencapai 11.361 4. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya provinsi Lampung dalam lima tahun terakhir sangat tinggi.325 3.811 3. PENGEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.264. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi.2% Pelanggan 1. Potensi Sumber Energi Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung.260 2.578. karena pada tahun 2010 baru mencapai 60%. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.102 10.368.491 9.181 1.491 2. Selain itu juga terdapat potensi biomassa dan batubara.747 5.2.874.673 8.052 4.353 2.989 4.163.731.094 8.A12.274. Tabel A12.637 3.968.6% Produksi (Gwh) 3.754 6.3.1%.733 1.064.2. 375 .411 1. Pertumbuhan ini masih berpotensi untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi.075 5.411 5.2.106 3.3 dan Tabel A12. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 2.6% Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.429.762 6.746 5. diperlukan pembangunan sarana pembangkit.074 2.077 5.4.428 4. potensi sumber energi utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel A12.041 1.

4.8 38.60 1.1 3.5.3.6 5. Potensi Tenaga Air No. I 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Mesuji Tulang bawang Besai / Umpu Giham Pukau Giham Aringik Tangkas Campang Limau Sinar Mulia Way Abung Way Umpu II Seputih / Sekampung 1 Bumiayu Kapasitas (MW) 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Area Potency (Mwe) Reserve (Mwe) Speculative Hipothetic Possible Probable Proven Regency Way Umpu Way Kanan Danau Ranau Lampung Barat Purunan Lampung Barat Gn.2 35.00 80. Potensi Panas Bumi No. Belirang Lampung selatan Total Potency = 2.00 1.00 600.5 40.8 23. Sekincau Lampung Barat Bacingot Lampung Barat Suoh Antata Lampung Barat Pajar Bulan Lampung Barat Natar Lampung selatan Ulu Belu Tanggamus Lempasing Lampung selatan Way Ratai Lampung selatan Kalianda Lampung selatan Pmt.8 3.7 11. III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Lokasi Semangka Semangka Atas I Semangka Atas II Semangka Atas III Semangka Bawah I Semangka Bawah II Semung I Semung II Semung III Manula I Manula II Simpang Lunik I Simpang Lunik II Simpang Lunik III Kapasitas (MW) 26.00 600.50 16.855 Mwe 100 25 225 100 25 225 225 925 185 100 163 156 194 40 838 222 130 300 380 40 1.Tabel A12.7 8.00 978.2 28.4 23.301 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada Tabel A12.4 6.072 37 37 110 110 Tabel A12.9 Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020. diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 1. 376 .20 No.00 39.

6.4 (FTP2) Semangka Rajabasa (FTP2) Suoh Sekincau Wai Ratai Jumlah PLTU PLTP PLTU PLTG PLTP PLTA PLTP PLTP PLTP PLN PLN Sewa PLN Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Kapasitas (MW) 200 110 240 200 110 56 220 110 55 1301 COD 2012 2012-13 2013 2014 2015 2016 2017 2018-19 2019 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan GI Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan 14 buah gardu induk baru dan pengembangan GI existing sampai dengan tahun 2020 seperti diperlihatkan pada Tabel A12. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Proyek Jenis Pemilik Tarahan (FTP1) Ulubelu #1. Rencana GI Baru 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Gardu Induk Seputih banyak Dipasena Ulubelu Kota Agung Liwa Dipasena Gedong Tataan Ketapang Mesuji Teluk Ratai Jati Agung Pakuan Ratu Langkapura Bengkunat Jumlah Tegangan 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 377 Kapasitas (MVA) 30 90 30 30 30 120 60 30 30 30 30 30 60 30 630 COD 2011 2012 2012 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2019 .7.Tabel A12.6 Pembangkit Peaker Ulubelu #3.5. Tabel A12.6 dan Tabel A12.2 Tarahan #5.

1 96 12.8.1 120 6. cct.0 1 0. 1 Pi (Batutegi-Pagelaran) Bukit Kemuning (uprate) Seputih Banyak Natar (uprate) Tegineneng (uprate) Liwa Kota Agung Teluk Ratai Mesuji Ketapang Dipasena Gedong Tataan Ulubelu Jatiagung Inc.2 60 3.5 1 0. cct.3 152 11.4 Natar Pakuan Ratu PLTA Semangka Kalianda Langkapura Besai Liwa Teluk Ratai Jumlah Ke Konduktor Tegangan Kotabumi (uprate) Inc.4 80 4.3 40 3.0 80 4.6 COD 2011 2011 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2016 2017 2017 2018 2019 2019 Di provinsi ini melintas transmisi 500 kV HVDC Sumatera-Jawa dengan switching station dan landing point kabel laut 500 kV HVDC akan berada di Ketapang.0 30 4.3 160 12. cct. cct.6 60 4. cct. cct. cct.Tabel A12.8 Pengembangan Transmisi 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Dari Bukit Kemuning (uprate) PLTU Tarahan (FTP1) Seputih Banyak Ulubelu Baturaja (uprate) Menggala Sutami (uprate) Pagelaran (uprate) Bukit Kemuning Pagelaran Gedon Tataan Gumawang Kalianda Mesuji Pagelaran PLTP Ulubelu #3. cct.124 kms diperlihatkan pada Tabel A12. cct. cct. 1 Pi (Menggala-Gumawang) Kota Agung PLTP Rajabasa Inc. cct. 2 Pi (Natar-Teluk Betung) PLTP Suoh sekincau Bengkunat PLTP Wai Ratai 150 kV 150 kV 70 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.1 38 2. cct.2 120 9.4 60 3. 378 .1 16 35. cct.6 20 1. cct. cct.7.2 40 3. cct.8 120 27.0 30 4. cct. Tabel A12.2 90 20. cct.2 1524 184. cct. Rencana Pengembangan GI Existing No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Gardu Induk Kotabumi Adijaya Bukit Kemuning Kalianda Natar New Tarahan Pagelaran Metro Sribawono Sukarame Kotabumi Seputih banyak Tegineneng Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 60 30 60 30 60 30 60 60 60 30 60 30 60 COD No 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Gardu Induk Adijaya New Tarahan Menggala Sutami Mesuji Tegineneng Jati Agung Ketapang Pakuan Ratu Sukarame Kotabumi Sribawono Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 30 60 60 30 30 60 30 30 30 60 60 60 1170 COD 2015 2015 2016 2016 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2020 2020 Pengembangan Transmisi Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2020 sepanjang 2.6 40 2. cct. cct.1 2 0. cct. AC3 310 mm2 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk AC3 310 mm2 2 Zebra AC3 310 mm2 AC3 310 mm2 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Zebra 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk CU 1000 mm2 2 Zebra 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk Panjang Biaya (kms) (juta US$) 68 9. cct. 2 Pi (New Tarahan-Kalianda) Dipasena Inc.

182 1.093 98.409 JTR kms 403 264 254 261 244 159 164 168 173 178 2.721 101.4. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. penambahan pelanggan baru sampai dengan 2020 adalah 1.268 Trafo MVA 144 94 88 87 72 54 55 56 57 59 765 Pelanggan 236.9.182 148. Tabel A12. diperlukan pembangunan JTM 2.527 96.10. JTR sekitar 2.330. seperti ditampilkan dalam Tabel A12.692 A12. dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 236. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut.225 155.409 kms. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A12.793 153.230 143.600 pelanggan per tahun. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 428 281 269 277 260 169 174 179 184 189 2.322 93.225 pelanggan dan pada tahuntahun selanjutnya akan disambung rata-rata 121.331 ribu pelanggan.417 104.Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.268 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 766 MVA.9. 379 .

Tabel A12.507 Pembangkit (MW) 380 0 255 295 200 110 56 220 55 110 0 1.102 45.361 4.10.106 3.301 GI (MVA) 90 390 150 210 360 150 60 90 180 120 1.094 8.052 4. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 2.075 5.637 3.709 Beban Puncak (MW) 569 660 717 776 837 887 938 989 1.124 67 443 184 168 380 367 524 173 321 44 2.762 6.411 5.325 3.491 48.384 Produksi Energi (Gwh) 3.800 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 69 160 276 160 542 677 42 38 160 0 2.041 1.679 4.811 3.124 6.989 4.746 5.747 5.077 5.754 6.671 .416 5.428 4.

478 GWh.7 15 1.13 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO) DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT A13.3 13 57.9 3 52. Ngabang.4 19 66.9 21 1.5 22 1.3 22 1. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Total Produksi GWh % 1003 67. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga Singkawang.0 63 4. Sekadau.8 4 58.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini.3 12 51.1.1 19 1. Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 283 MW dengan produksi 1. KONDISI SAAT INI Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV dan beberapa sistem isolated.1.4 61 4. Tabel A13. Sanggau.0 381 Beban Faktor Puncak (MW) Beban (%) 175 65. Ketapang.3 13 54. Nanga Pinoh.LAMPIRAN A.4 4 54. Bengkayang. Sintang.0 32 31. Putussibau.4 88 5.5 109 7. Tabel A13.4 4 53.3 55 3. Sukadana dan sistem tersebar.5 283 59.9 1478 100. Sistem isolated terdiri atas sistem Sambas.9 4 63.6 .

1% per tahun. 382 .2. Penjualan tenaga listrik diserap oleh konsumen rumah tangga & sosial (61%). PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata 9. konsumen komersil (28%). konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%). Pertumbuhan ekonomi selama 2006-2010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5.2. Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit berbahan bakar minyak. Untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal. yaitu rata-rata 9.1% per tahun.3. dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58. Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi. Kecukupan dan keandalan pasokan masih relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan pembangkitan tidak memadai.3%. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat dilihat pada Tabel A13. Kapasitas pembangkit adalah 385 MW dengan daya mampu 339 MW seperti diperlihatkan pada Tabel A13.Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi.2% per tahun.2. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2010 Sistem Interkoneksi Bengkayang Sambas Ngabang Sanggau Sekadau Sintang Putusibau Nangapinoh Ketapang Tersebar Total Daya Terpasang (MW) 236 6 15 7 14 5 16 6 6 24 50 385 Daya Mampu (MW) 212 5 15 5 14 4 14 5 5 22 37 339 A13. Tabel A13. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang.

313 2.559 1. Pada saat ini potensi yang dapat dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW. Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului dengan survey dan studi yang mendalam.869 2.723 2.594 1.516 779. Sanggau.695 928. A13.394 2. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek lingkungan.536 738.514 1. Nanga Pinoh.9% Pelanggan 622.042.476 8. Nanga Pinoh dan Putusibau. berupa batubara dengan kandungan kalori yang tinggi. Potensi batubara terdapat di daerah Sintang.406 1. namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala infrastruktur transportasi.276 875. Sintang.047 983. 383 .205 2. gambut dan batubara.954 2.204 3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN Potensi Sumber Energi Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated) Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Sales (Gwh) 1.7% per tahun.599 2.954 3. Sedangkan sistem-sistem isolated kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.510 2.3. Sintang.019 662.820 3.287 6.Tabel A13. dan sejalan dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada sistem-sistem isolated (Sistem Sambas. Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada tahun 2020 menjadi 548 MW atau tumbuh rata-rata 12.9% Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 8. Sumber batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU/PLTGB di Sanggau.130 2.562 699.1% Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 186 MW.060 9. Sekadau.713 1.0% Produksi (Gwh) 1.779 1. Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten Mempawah.030 2.621 826.3.

Adanya rencana impor baseload sebesar 50 MW adalah untuk mengurangi ketidakpastian penyediaan pembangkit baseload di sistem Kalimantan Barat.5 dan Tabel A13. Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Proyek Riam Badau Ketapang (IPP) Putussibau (FTP2) Sanggau Sintang Ketapang (FTP2) Nanga pinoh Pantai Kura-Kura (FTP1) Parit Baru (FTP1) Parit Baru-Loan China (FTP2) Pontianak-3 Kalbar-1 Nanga pinoh Kalbar-2 Pontianak-2 Jumlah Jenis Pemilik PLTM PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTA PLTU PLTU PLN Swasta Swasta PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Swasta PLN PLN PLN Swasta Kapasitas (MW) 0.6. PLN bermaksud mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga 180 MW.Pengembangan Pembangkit Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13. Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM untuk pembangkit beban puncak.2 14 8 14 21 20 6 55 100 100 50 100 98 100 50 736 COD 2011 2012 2012 2012-13 2012-13 2013 2013 2013 2013 2014-15 2015 2016-17 2017-18 2019-20 2019-20 Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat. Rencana pembangunan GI diberikan pada Tabel A13.4.4. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI) Pengembangan GI Di Provinsi Kalimantan Barat akan dibangun 15 buah GI 150 kV baru dan pengembangan trafo GI existing sebesar 930 MVA. Tabel A13. Selain itu akan dibangun pula GI 275 kV sebagai simpul interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Serawak. PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi 275 kV antar negara yang berkapasitas lebih dari 200 MW. 384 .

5. 385 . Pengembangan/Extension GI 150 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Gardu Induk Sei Raya Mempawah Siantan Singkawang Sanggau Parit Baru Sambas Siantan Kota Baru Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Kapasitas (MVA) 120 30 60 30 30 30 30 60 30 420 COD 2012 2014 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pengembangan Transmisi Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat adalah seperti terlihat pada Tabel A13.6. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Gardu Induk Kota Baru PLTU Kura-Kura Sambas Bengkayang Ngabang Tayan Sanggau Sekadau Sintang Kota Baru 2 Nanga Pinoh Sandai Sukadana Ketapang Putusibau Bengkayang Jumlah Tegangan 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 275/150 kV Kapasitas (MVA) 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 30 30 60 30 250 760 COD 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013 Tabel A13.Tabel A13.7.

0 180 10. cct. 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 1 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Hawk 2 Zebra Panjang Biaya (kms) (juta US$) 40 2. cct. cct. cct.0 110 6. cct. cct. cct. cct. cct. cct. Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13. cct.3 300 22. cct.9 180 10.7.8 126 7.2 120 6. PLN berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke perbatasan negara dan trafo IBT berkapasitas 250 MVA. 386 .0 180 10.Tabel A13.2 40 2.0 300 22. cct. cct.2 32 1.0 180 13. cct.7 200 15. cct. cct.1.4 2818 195.6 100 5.0 180 10.0 COD 2011 2011 2011 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2016 2016 2016 2016 2017 2020 2013 Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut. 2 pi (Singkawang-Mempawah) Kota Baru Sambas Ngabang Tayan Parit Baru Tayan Bengkayang Sekadau Sekadau Sanggau Kota Baru 2 Tayan Nanga Pinoh Sandai Sukadana Putusibau Perbatasan 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 275 kV Konduktor 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 cct.3 184 10.5 180 10. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 275 kV No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Dari Parit Baru PLTU Kura-Kura Sei Raya Singkawang Bengkayang Ngabang PLTU Parit Baru (IPP) Siantan Singkawang Sanggau Sintang Tayan Nanga Pinoh Sandai Sintang Sukadana Ketapang Sintang Bengkayang Jumlah Ke Tegangan Kota Baru Inc.9 180 28. cct.1 6 0.

K0TA BARU22017 GI. you … KALIMANTAN . 3 X 7 MW 2012) ( GI. SEKADAU Thn 2014 PLTU SANGGAU (PLN).2020 PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP). 2 x 400 KW (2012) ARUK PLTU 2 KALBAR TJ. 2 x 750 KW (2010) BIAWAK GI.GUNDUL (PLN).944 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi 540 MVA sampai dengan tahun 2020 seperti ditampilkan dalam Tabel A13. 387 . or the image may have been corrupted. Your computer may not have enough RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN memory to open the image. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat Pengembangan Distribusi Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. NGABANG Thn2013 55 km GI. KETAPANG Thn 2017 PLTU KETAPANG (IPP) . SINGKAWANG Thn 2009 GI. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut diperlukan pembangunan JTM 1. PARIT BARU PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN).5 MW (2013) PLTU PERPRES TAHAP II 2 X 50 MW (2014) LOAN CHINA SERIKIN JAGOI BABANG BATU KAYA GI.2 X 25 MW (2015) PLTGB (IPP) 8 MW (2012) GI. 2 X7 MW (2012) KETERANGAN : Gardu Induk 275 kV Rencana Transmisi 275 kV Rencana Transmisi 150 kV Eksisting Transmisi 150 kV Rencana Gardu Induk 150 kV Eksisting Gardu Induk 150 kV Rencana PLTU Rencana PLTMH Rencana Listrik Perbatasan Eksisting Listrik Perbatasan Rencana Gambar A13. SAMBAS Thn2013 GI SANGGAU Thn 2014 PLTU SINTANG (PLN). 2 x 27. 2 x 25 MW (2014). SIANTAN GI.400 sambungan per tahun. KOTA BARU Thn 2011 PLTU TAYAN (IPP).The image cannot be displayed. 2 x 50 MW (2013) PLTU PARIT BERKAT (IPP). TAYAN GI. SEI RAYA Thn2013 GI. 2 X 7 MW (2012) PLTGB NANGAPINOH (PLN). and then open theBARAT file again. JTR sekitar 3.8. SUKADANA Thn 2017 GI.GI KUALA KURUN Kuala Kurun GI. PLTU KURA-KURA Thn 2011 GI. SANDAI Thn 2017 PLTU KETAPANG (PLN) .1. NANGA PINOH Thn 2016 GI. PUTUSIBAU Thn 2020 BADAU ENTIKONG GI & GITET. Restart your computer. 2 X 10 MW (2013) GI. diperlukan tambahan pelanggan sebanyak 46. If 2011 the red x still appears.380 kms. 6 (2013) PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18 GI. SINTANG Thn 2014 GI. BENGKAYANG Thn 2013 GI. KUCHING GI MAMBONG (MATANG) TEBEDU GI. MEMPAWAH PLTU 1 KALBAR‐PARIT BARU (PLN).

Berikutnya akan dilakukan pembelian listrik dari Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya.189 40.944 Trafo MVA 51 53 46 43 50 53 56 59 62 66 540 Pelanggan 44.980 41.655 49. yaitu Entikong sebesar 150 kVA dan Seluas sebesar 100 kVA.467 58. sementara kondisi kelistrikan di wilayah Sarawak lebih baik.381 JTR kms 394 343 312 329 347 394 418 442 469 497 3. 388 .4. ELEKTRIFIKASI DAERAH PERBATASAN ANTAR NEGARA Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak masih belum tercukupi.105 46. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem isolated di daerah perbatasan. Pengembangan Distribusi Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah JTM kms 138 120 109 115 122 138 146 155 164 174 1. Peta kelistrikan di daerah perbatasan diberikan pada Gambar A13.Tabel A13.419 52.973 38.773 464.353 55.457 A13.8.543 36. Hal ini menimbulkan terjadinya kesenjangan pada daerah perbatasan. yaitu di Sajingan dan Badau.2.

825 .394 2.2.818 38 132 457 151 191 182 211 120 153 191 1.476 24.030 2.180 Transmisi Investasi (kms) (juta US$) 112 126 780 460 0 840 200 0 0 300 2.954 3.204 3.510 2.406 1.424 Pembangkit (MW) 389 0 43 195 50 100 50 99 49 75 75 736 GI (MVA) 60 150 340 210 30 150 90 30 60 60 1. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan A13. Tabel A13. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A13.820 3.Gambar A13.656 Produksi Energi (Gwh) 1.599 2.723 2.130 2.779 1.713 1.635 Beban Puncak (MW) 289 322 353 384 416 451 488 528 572 619 4.954 2.060 21.869 2.5.313 2.559 1.205 2.594 1.9. Rangkuman Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Energy Sales (Gwh) 1. RINGKASAN Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.9.

LAM MPIRAN A14 NERACA DAYA SIISTEM-S SISTEM IS SOLATED WILAYA AH OPER RASI INDONESIA BARAT 390 .

LAMP PIRAN A14.1 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI AC CEH 391 .

4 1.7 18.0 4.4 1.5 7.7 0.7 18.5 7.5 4.1 4 1 4.5 3.0 4.9 0.0 1.9 0.0 Load Faktor 20.4 1.6 0 4 0.9 0.68 6.87 1 PLTD 0.44 1 PLTD 1.9 0.7 0.71 PLTD Aneuk Loat 392 Marcedes MTU 0.1 41 4.7 28.4 3.4 1.2 66.1 25.0 66.0 S Surplus/Defisit l /D fi i MW 7 10 .0 4.71 3.9 0.71 3.3 27.4 7.9 65.4 41 4.00 PLTD 2.71 3.68 3.4 1.4 1.4 28.4 0.4 1.4 0.3 Tambahan Pembangkit PLN Sabang (FTP2) 2 PLTGB 8 IPP Lho Pria Laot PLTP Jaboi (FTP2) PLTP Jumlah Kapasitas MW 6.7 0.30 PLTD 1 3 1.6 66.7 0.Neraca Daya Sistem Sabang Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan Produksi Energi GWh Beban Puncak MW 3.7 11.4 2 3 2.2 0.2 4.4 1.4 1.3 13 1.2 0.2 0.9 0.0 4.4 5.4 0.1 41 4.36 2 PLTD 0.4 6.4 1.9 0.1 0.9 0.9 0.5 6 3 6.0 Operasi 1.7 4.5 0 6 0.7 28.71 3.1 1 9 1.4 0.9 23.0 4.7 11.92 1 PLTD 0.1 41 4.4 0.9 5.9 0.5 Pemeliharaan 1.4 0.6 30.2 0.4 4.2 16 0 16.2 0.4 1.9 Caterpillar 1.2 26.8 4.5 29.5 3.71 3.2 65.1 4 1 4.18 1 PLTD 0.0 4.0 24.7 0.0 4.4 PLTD Sewa Sewa Diesel 2.7 6 5 6.5 3.2 Marcedes MTU 0.4 5.9 0.9 0.4 5.9 0.9 0.9 0.8 21.7 11.4 0.7 Caterpillar 0.7 0.2 % 64.8 67.7 0.71 3.3 2 1 2.71 3.7 6.9 Caterpillar 0.0 2.7 0.7 Pasokan Kapasitas Terpasang MW Derating Kapasitas Pembangkit PLN 7 4 7.4 2.7 66.4 4.2 0.4 1.7 0.5 65.7 11.1 41 4.7 3.4 1.9 0.0 Genset BPKS 1 30 1.7 0.9 0.9 1 7 1.1 5.3 16 2 16.0 4.7 Cadangan MW 2.4 66.2 0.2 0.0 1.7 0.5 7.1 41 4.4 74 7.4 5.9 0.2 0.

2 2 PLTD 9.2 Pembangkit PLN 22.99 3 PLTD 3.23 1 PLTD 0.1 Load Faktor Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 Pasokan Kapasitas Terpasang PLTD Suak 0. 0.0 Beban Puncak MW 8.Neraca Daya Sistem Blangpidie Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 42.5 0.67 2 PLTD 1.9 6.39 2 PLTD 4.3 Merrless 0.00 MW Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 2017 2018 2019 2020 .0 1.0 Jumlah Kapasitas MW 22.2 Relokasi dari Lampung 4.8 393 SWD 6 FG MTU 0.0 PLTD 2.1 22.72 1 PLTD 0.9 Pemeliharaan 4.5 Sewa Sewa Diesel Surplus/Defisit 2.95 1 PLTD 1.9 .3 Derating Capacity 1.0 Cummins 0.0 MAK 2.2 1.4 6 5 6.7 0.45 1 PLTD 0. Caterpillar 0.3 1.8 45.0 3.7 MW 23. 1 PLTD 0.2 56.8 4.92 .3 23.7 9.9 .1 Cadangan MW 6.5 6 2 6.1 % 56.5 4.1 22.4 2.0 9.2 0.7 Caterpillar p 0.5 Operasi 2.0 2.5 Caterpillar 0.

7 19.0 Operasi 1.7 0.73 PLTD Tapaktuan MTU 12V 4000 2 PLTD 2.1 1 7 1.2 2.4 0.Neraca Daya Sistem Tapaktuan Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 Produksi Energi GWh 31.0 SWD 6FG 0.6 9.7 2.8 60 2 60.0 9.0 2 PLTU Jumlah Kapasitas MW Cadangan MW 14.5 S Surplus/Defisit l /D fi i MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .1 7.5 1.2 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan L dF Load Faktor k Rencana masuk grid 150 kV thn 2013 Pasokan Kapasitas Terpasang MW Derating Kapasitas Pembangkit PLN 10.1 32.7 SWD 9F 1.0 Sewa Sewa Diesel Tambahan Kapasitas PLN Tapaktuan 7.0 394 1.0 1.5 PLTD 4.5 Beban Puncak MW 5.2 MTU 12V 2000 0.73 5.1 8.1 2 PLTD 2.7 5 5 5.2 % 59 8 59.9 6.0 2.7 2 PLTD 1.4 6.1 Pemeliharaan 1.7 1 PLTD 0.6 0.

0 Operasi 0.7 14. GLA Pemeliharaan 1.9 0.0 Tambahan Pembangkit PLN Singkil 3.0 9. GSS PLTBayu PT.9 1.7 Derating Capacity 2.0 1.2 Pasokan Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Kapasitas Terpasang MW 14.2 PLTD Sewa PLTD 9. 4.9 12. p f Surplus/Defisit MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .9 Beli Energi / IPP PLTU PT.9 0.5 12.8 % 53.0 1.3 53.0 1.8 Load Faktor 60.0 2 PLTGB 6.4 10 1 1 PLTU PLTB 1.0 PLTD Kuta Fajar PLTD 1.6 .8 Cadangan MW 1.5 395 PLTD Singkil PLTD 0.8 Beban Puncak MW 11.2 1.9 Pembangkit PLN 12.Neraca Daya Sistem Subulussalam Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 55.8 PLTD Rimo PLTD .5 23.1 . 9.0 Jumlah Kapasitas MW 14.

2.0 2.3 10.0 2.85 2 PLTD 1.7 1.5 PLTM Sepakat Turbin WKC PLTD Sewa Rental genset HSD Suplai dari 20 kV Sistem Sumut Tambahan Pembangkit IPP Lawe Mamas 30 3 PLTA 50 Jumlah Kapasitas MW 13.7 0.62 14.75 2 PLTD 1.4 Surplus/Defisit MW Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2019 2020 .0 Operasi 0.0 1.9 0.0 SWD 8FG 0.8 Pemeliharaan 2.6 55.96 1 PLTD 2.5 0.85 3 PLTD 396 SWD 6TM 1.6 0.6 .5 PLTD 5.2 Beban Puncak MW 10.Neraca Daya Sistem Kutacane Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kebutuhan Produksi Energi GWh 49.6 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity 0.6 .0 5.6 Cummins 0.9 0.7 Pembangkit PLN 13.8 Load Faktor 52. PLTD Kuning MTU .8 2.5 1.10 2.1 Cadangan MW 2.0 1.64 1 PLTD 0.6 14. 0.4 MW 14.7 0.8 % 54.3 14.

9 15.6 Derating Capacity MW 0.8 16.1 5. dari PLTD L.8 0.0 2.0 1.3 43.0 0.8 0.4 4.0 2.8 0.6 Beban Puncak MW 3. Bata 0. 3. 3.0 1.6 0.6 % 43.1 PLTD Rema MW 3.8 1.3 43.9 4.7 17.2 J l h Kapasitas Jumlah K it MW 6 7 6.1 5.6 0.8 1.2 4.6 5.6 0.Neraca Daya Sistem Blangkejeran Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Kebutuhan Produksi Energi GWh 14.4 Load Faktor Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV Pasokan Kapasitas Terpasang MW 5. 3.9 1.6 Pembangkit PLN MW 5.0 Cadangan MW 1.0 PLTD 1.6 . PLTD 2.6 .6 .0 1.0 7 0 7.4 43.4 PLTM PLTM 0.8 0.7 2 Beli Energi Rerebe Putri Betung Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 0.0 Sewa 397 Rental genset HSD 2.5 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2019 2020 .7 7 0 7.0 7 0 7.6 5.3 0.8 1.8 1.1 5.0 Tambahan Pembangkit PLN Rel.8 0.6 5.6 .

0 7.4 21.5 Kapasitas Terpasang MW 24.0 Derating Capacity MW 2.9 % 36.0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .1 PLTD Janarata PLTD 0.1 9.4 2.3 0.5 3 PLTMH 1.5 6.2 2.3 PLTD Jagong Jeget PLTD 0.0 7.8 2.0 18.6 Load Faktor Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Pembangkit PLN 398 PLTD Ayangan PLTD 9.Neraca Daya Sistem Takengon Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 57.6 21.1 23.3 60.4 0.4 PLTMH 0.4 Beban Puncak MW 18.0 0.5 Tambahan Pembangkit PLN Peusangan 43 2 PLTA 88.0 24.5 Jumlah Kapasitas MW 23.4 0 9 0.3 36.4 1.6 0.6 PLTMH Angkup PLTD Sewa PLTD Suplai dari 20 kV GI Bireun 6.1 Cadangan MW 4.9 0 0 0.8 IPP/Beli Energi KERPAP Pemeliharaan Operasi S Surplus/Defisit l /D fi it MW 1.2 4.

4 0.0 3.7 63.6 Caterpillar 0.5 10.5 2.7 28.9 Beban Puncak MW 3.36 1 PLTD 0.5 MTU 0.0 5.6 0.5 Pembangkit PLN 6.87 1 PLTD 0.4 0.16 2.5 0.16 2.5 10.6 0.5 0.5 0.1 1.8 5.0 7.4 0.0 5.3 .16 2.33 6.87 Wartsilla 1.1 1.5 0.7 2.9 1.53 4.0 5.3 6.7 2.1 4.6 0.6 0.6 0.48 1 PLTD 0.0 24.5 10.33 4.1 4.87 0.3 4.6 0.4 0.7 3.1 1.5 3.5 0.08 2 PLTD 2.1 1.5 4.53 4.0 2.5 10.6 0.2 4.9 1.5 10.5 0.4 0.53 4.5 Cadangan MW 1.5 0.5 0.6 0.0 3.1 1.6 0.4 19.4 26.7 0.6 0.0 3.Neraca Daya Sistem Sinabang Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan Produksi Energi GWh 18.6 0.53 4.6 0.7 63.8 63.0 5.16 PLTD 2.1 4.9 4.87 0.1 4.6 0.5 10.1 1.1 4.58 1 PLTD 0.9 63.53 4.6 0.6 0.7 21.16 2.0 PLTD Sewa S Rental genset HSD Tambahan Pembangkit PLN Aie Tajun 3 2 PLTGB 60 6.8 63.1 1.16 2.2 25.0 3.0 5.7 63.5 0.4 0.87 0.53 Load Faktor Pasokan Kapasitas Terpasang PLTD Lasikin 399 MTU 0.1 4.8 63.1 1.4 MTU 0.1 1.5 0.7 MW 7.87 0.16 2.9 23.87 0.5 0.3 2.3 3.2 % 63.16 2.1 3.5 1.0 Jumlah Kapasitas MW 6.4 0.5 20.1 1.53 4.6 0.5 0.1 1.1 4.4 0.0 3.5 0.9 2.87 0.7 0.0 3.5 0.1 0.16 2.0 5.87 0.6 0.8 63.6 Caterpillar 0.0 5.0 Derating Capacity 0.87 0.53 4.1 4.16 2.0 3.6 0.1 1.7 63.4 0.7 1.0 5.5 0.0 5.58 1 PLTD 0.87 0.0 Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 0.5 10.5 0.5 27.3 10.

3 Teunom PLTD 1.1 Derating MW 5.0 Media Group PLTU 8.1 Cadangan MW 6.1 400 Seunebok PLTD 19.1 Surplus/Defisit MW 9.2 Lamno PLTD 2.9 Kapasitas Terpasang MW 50.5 Alue Bilie PLTD Jeuram PLTD 1.0 Load Faktor Rencana tahun 2012 masuk Grid 150 kV Pasokan Pembangkit PLN 45.Neraca Daya Sistem Meulaboh Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Kebutuhan Produksi Energi GWh 124 Beban Puncak MW 29.4 % 47.8 Sewa PLTD 16.0 Tambahan Pembangkit PLN Nagan PLTU 220 Jumlah Kapasitas MW 45.7 Pemeliharaan 3.2 Calang PLTD 1.0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera 2017 2018 2019 2020 .6 Operasi 3.

2 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI SUMATE S ERA UTA ARA 401 .LAMP PIRAN A14.

0 4.5 1.4 4.0 1.6 43.5 1.0 1.3 77.0 11.4 4.6 15.0 5.53 PLTD Teluk Dalam Cummins 1.5 9.5 86.0 11.1 4.8 92.0 97.1 5.1 24.3 14.8 43.5 7.8 0.0 2.01 Deutz MWM 1.8 0.6 15.1 0.1 0.6 15.0 0.0 7.0 4.01 MTU 1.0 4.4 4.0 1.9 25.5 1.1 .6 7.7 18.1 43.1 0.0 1.1 2.6 23.4 4.0 1.6 7.1 0.10 Daihatsu 0.4 4.1 0.0 4.1 2.8 0.2 37.4 4.1 0.56 Deutz KHD 1.6 7.6 1 1 1 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 1.1 2.0 11.7 24.5 PLTD PLTD 5.6 7.0 5.6 1.0 30.0 1.8 0.6 7.0 4.0 4.1 7.5 1.0 1.5 8.0 3.5 1.6 PLTGB PLTU MW MW MW 8.0 3.5 1.0 4.75 Daihatsu 0.5 1.6 23.8 0.0 3.6 1.0 7.4 72.1 2.6 1.0 37.0 7.0 8.2 61.8 0.5 44.0 2.0 1.0 37.0 7.0 11.0 4.0 43.1 2.8 0.6 15.5 7.6 7.6 1.7 42.6 7.8 43.0 4.0 1.4 4.6 1.1 2.0 4.4 81.5 1.1 0.1 2.5 1.1 0.0 1.0 16.9 19.0 43.6 15.0 4.0 2.1 2.6 15.8 42.0 4.0 3.1 0.0 2.4 4.6 15.5 7.5 1.0 4.0 4.5 37.0 8.22 Cummins 1.2 37.0 4.6 1.4 4.6 1.1 2.1 0.3 68.6 7.6 1.1 37.5 1.5 43.6 1.0 4.4 4.6 15.1 2.0 24.2 20.3 21.6 7.53 PLTD Sewa Gunung Sitoli Teluk Dalam Tambahan Pembangkit PLN Nias IPP Nias (FTP2) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit (N-1) Unit 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 54.0 2.1 42.6 7.4 4.4 MW MW 23.8 17.6 1.6 7.Neraca Daya Sistem Nias 402 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Kapasitas Pembangkit PLN PLTD Gunung Sitoli Deutz 0.5 1.2 24.6 2 2 4 3 PLTD PLTD PLTD PLTD 1.5 1.0 8.0 1.6 1.1 14.5 1.4 24.1 6.1 0.0 1.8 0.5 22.6 1.6 23.8 0.0 1.3 65.0 3.0 5.0 7.5 3.0 58.8 0.0 1.6 1.6 1.8 0.1 2.

3 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI RIAU R 403 .LAMP PIRAN A14.

D Sewa Sewa Diesel Sewa PLTU (Pemda) Sewa MFO Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 25.8 1.1 10.00 3.79 1 PLTD 0.6 2019 2020 .30 M VA Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 5.59 6.8 28.0 0.0 3.5 77.0 404 0.8 MW MW 0.Neraca Daya Sistem Siak Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN MTU M.2 5.2 32.79 0.17 0.2 3.8 0.9 4.18 0. Tahun 2014.0 6.8 3.2 3.00 3 2 1 PLTD PLTU PLTD 4.00 3.9 77.7 3.8 2.79 0.8 3.20 0.6 78.0 Tambahan Pembangkit MTU (Pemda) 0.60 0.5 0.60 1 PLTD 0.62 1.0 3.1 10.6 2014 2015 2016 2017 2018 35.2 Disupplai dari grid 150 kV SIS.1 4.8 78.79 0.2 1.3 0.0 0.

03 1.3 92.2 06 0.0 6.5 10.4 70.1 101.6 MW MW 18.6 3.8 1.Neraca Daya Sistem Bengkalis 405 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Deutz Deutz Yamar Sewa Pembangkit Sewa Genset MFO Sewa Mesin 1 (HSD) Sewa Mesin 2 (HSD) Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 110.96 6.20 0.56 0.44 0.1 139.5 3.47 0.9 18.5 5.72 2.4 69.2 10.9 24.2 14.9 6.8 150.8 69.5 11.0 15 1.5 10.6 GWh % MW 72.0 16.7 1.60 2 1 2 PLTD PLTD PLTD 1.0 26.9 21.5 6.18 1.4 69.0 1 3 6 PLTD 6.8 69.12 10.72 2.3 28.0 15 1.0 MW MW MW 20.5 7.18 0.0 12.19 1.8 1.5 11.6 11.4 6.0 1.51 0.0 119.0 8.72 1.6 -0.0 11.9 44.0 6.5 10.2 10.0 16.05 10.98 16.0 15 1.5 10.1 15.0 6.7 82.2 13.40 0.98 1.6 .0 15 1.5 10.19 0.9 38.5 5.0 38.2 06 0.2 0.0 15 1.20 1.9 19.6 129.0 70.5 69.7 44.9 22.0 1.0 11.0 15 1.5 70.0 11.5 2.5 10.5 28.0 11.0 11.0 12 1.7 1.01 1.5 0.0 32.2 2.72 2.7 70.0 12 1.0 2 2 PLTU PLTGB Tambahan Pembangkit PLN Bengkalis (FTP1) 10 Bengkalis PLTGB 3 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 2020 164.8 32.6 70.0 11.

3 84.6 9.1 1.6 17.3 67.4 14.0 7.4 2.4 1.0 17 0 10.3 66.3 1.5 4.1 67.0 4.0 1.3 35.2 60.0 4.2 1.2 1.0 7.1 66.5 1.0 1.3 32.4 2.6 4.8 10.3 1.5 66.5 8.2 32.9 11.0 1.0 1.3 17.1 4.7 4.0 1.0 17 0 10.2 66.3 67.4 1.9 67.2 1.0 7.9 4.2 13.9 22 2.4 1.0 1.9 67.0 4.3 17.4 1.2 2 2 PLTD PLTD 1.3 1.2 11 2 10.5 1.0 7.4 1.1 MW MW 4.0 0.2 1.7 4.2 10.4 32.2 1.1 1.2 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 47.5 15.0 7.4 1.0 3.1 1.0 2.0 7.5 17.7 11.4 66.0 7.4 17.4 32.0 1.1 1.4 98.8 18.1 53.8 35.1 12.0 3.0 .4 30.6 1.6 107.0 17 0 10.2 35.3 90.0 17 0 10.5 17.8 11.2 78.4 2.2 9.7 17.2 11 2 10.Neraca Daya Sistem Selat Panjang 406 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN BWSC Deutz Sewa Pembangkit Sewa Genset MFO Sewa Mesin (HSD) Tambahan Pembangkit PLN Selat Panjang Sewa PLTG Project IPP Selat Panjang Baru #1.7 16.3 71.1 1.9 4.4 1.6 30.0 17 0 10.3 67.2 1.4 1.5 2 1 3 3 PLTD PLTD 6 6 6 6 6 6 3 3 PLTGB 6 3 3 PLTG 10 2 PLTU MW MW MW 3 14 14.4 1.8 4.0 17 0 10.6 1.0 17 0 10.

2 0.8 11.0 2.8 1.2 55.0 2.9 55.Neraca Daya Sistem Bagan Siapiapi 407 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN Deutz BA 12M 816 Deutz KHD BV 8M Mitsubishi Pembangkit Sewa Sewa HSD Sewa Mesin Pemda PLTGB Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 31.0 2.81 0.83 0.2 0.40 0.5 1.1 11 1 1.0 2019 2020 .5 1 3 2 PLTD PLTD PLTGB 2.8 2.79 0.2 0.2 MW MW 2.8 1.0 11 0 1.2 0.41 0.6 1.38 2.39 0.43 0.6 1.2 2.9 11.8 1.0 0.2 2.8 1.8 1.8 1.6 2 1 1 PLTD PLTD PLTD 0. Tahun 2014.0 11 0 1.6 8.3 6.5 7.4 5.42 0.4 5.30 M VA Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW MW MW 11.0 2.3 55.0 2.0 2014 2015 2016 2017 2018 Disupplai dari grid 150 kV SIS.3 39.4 5.4 35.3 0.6 2.

0 11.0 20.0 2.0 5.2 10.5 2018 2019 2020 .9 34 3.2 0.9 29.00 1.5 63.0 Tambahan Pembangkit PLN Rengat 10 2 PLTG IPP IPP Kemitraan 2 PLTU 7.Tahun 2013 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 18.0 15.2 0.Neraca Daya Sistem Rengat 408 Pasokan/Kebutuhan K b t h Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN PLTD Air Molek PLTD Danau Raja Pembangkit Pemda MTU 12V 2000G 62 MTU 16V 2000G 62 Project Sewa Sewa Diesel1 Sewa Diesel2 Sewa Diesel3 Unit 2011 GWh % MW 84.64 0 64 2 4 PLTD PLTD 1.00 2 2 5 PLTD PLTD PLTD 2.4 2.0 Disuplai dari Grid 150 kV SIS.2 1.3 2.00 2.0 5.6 1.0 14.0 0.3 MW MW 8.3 63.3 3.1 17.0 2.3 26 2.2 1.4 2012 2013 2014 2015 2016 2017 95.00 1.63 0.0 1.

8 15.5 0.80 Sewa genset (MFO) Tambahan Pembangkit PLN Tembilahan Unit 2011 2012 2013 2014 GWh % MW 61.51 1.34 Deutz KHD BV 8M 1.79 7.9 26.50 1.6 59.17 1.6 13.89 3 1 2 4 PLTD PLTD PLTD PLTD 0.0 86.9 8.18 1.79 1.9 1.2 2.67 0.6 1.19 1.0 0.50 0.0 8.0 PLTU 2015 2016 2017 2018 14.54 0.00 Sewa Mesin3 (HSD) 0.79 1.00 Di pasok dari grid 150 kV.5 0.8 69.2 7.4 MW MW 7.7 1.3 78.0 6.40 Relokasi Ex Tlk Kuantan PLTD 0.5 1 1 PLTD PLTD PLTD 3.2 1.46 4 PLTD 1.8 6.7 1.6 59.0 1.9 16.60 Pembangkit Pemda Komatsu 0.0 1.48 1.26 Pembangkit Sewa Sewa Mesin2 (HSD) 3.5 0.59 7.71 0.6 1.5 15.1 59.58 0.0 1.49 1.69 7.0 0.79 1.80 0.0 6.6 2 PLTD 0.5 2.2 0.2 0.0 3. Tahun 2015 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 16.2 7.8 6.76 0.3 2019 2020 .27 Yanmar 0.5 11.Neraca Daya Sistem Tembilahan 409 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN SWD 0.4 59.79 1.6 1.5 0.18 1.20 Yanmar 0.8 25.

8 1.79 2020 11.6 0.0 3.6 0.1 1.2 50.0 MW MW 2.2 2.79 2018 9.8 1.79 2014 7.60 0. Tahun 2013 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW 2017 9.6 0.9 2013 6.7 1.1 50.Neraca Daya Sistem Kuala Enok Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Mitsubishi S6U Catterpilar Sewa Sewa Diesel Unit GWh % MW MW MW 2011 5.6 0.0 0.6 1.4 1.0 1.8 50.2 0.7 51.6 0.83 0.6 0.5 1.77 0.9 2.9 51.79 2019 10.77 0.9 1.6 1.2 1.6 51.3 1.2 1.4 1.36 2 1 PLTD PLTD 0.77 2012 5.6 1.77 0.77 0.6 0.8 50.6 0.79 2015 7.77 0.77 0.77 0.6 0.6 0.77 0.6 1.6 0.8 1.6 0.79 2016 8.77 410 0.6 0.79 .8 0.3 2.0 3.2 1.5 1.81 1 2 PLTD 2.6 50.2 50.5 50.0 2.79 Tambahan Pembangkit PLN Di pasok dari grid 150 kV.

4 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PR ROVINSI KEPULA AUAN RIA AU 411 .LAMP PIRAN A14.

Neraca Daya Sistem Bintan Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas 412 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 GWh % MW 286.2 8.9 10.9 1.9 72.8 114.7 886.8 1.4 15 15 7 30 30 68 45 68 30 10 40 10 125 46 134 46 10 174 52 10 174 43 10 10 184 42 194 41 209 42 234 50 .9 1.9 121.010.3 78.6 137.0 27.0 Tambahan T b h Pembangkit P b kit SEWA Sewa PLTU PT Cap.9 78.7 Pembangkit PLN PLTD Tanjung Pinang PLTD Tanjung Uban Pembangkit Sewa Tanjung Uban PLTD PLTD PLTD 27.0 52.6 40.9 MW MW 40.3 69.2 318.6 40.6 69.2 78.2 8.4 91.8 76.1 69.9 749.2 8.6 156.9 10.7 582.3 47.9 10.1 78.0 27.5 948.7 524.Tur PLTU 30 PLN Tanjung Uban Tanjung Pinang 3 PLTU PLTU IPP Tanjung Pinang 1 (TLB) Tanjung Pinang 2 (FTP2) PLTU PLTU Suplai dari Batam (Peaking) Suplai dari Batam (Base) MW MW Jumlah Kapasitas Reserve Margin MW % 7 2019 2020 1.9 1.6 146.4 819.1 129.4 74.8 85.077.

6 68.8 8.0 16.9 . 11.0 1.3 78.7 69.0 1.9 .4 284.2 78.9 PLTD PLTD PLTD PLTD 8.2 363. 11.9 76.2 57.2 38.8 98.5 MW MW 38.6 520.3 69.2 22 . 11.8 9.5 413.2 318.2 78.0 30 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi S Surplus/Defisit l /D fi it MW MW MW MW MW 61.0 PLN PLTU Tanjug Pinang III PLTU IPP Tanjung Pinang I (TLB) Tanjung Pinang II (FTP2) PLTU PLTU 30.6 63.Neraca Daya Tanjung Pinang Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas p Terpasang p g Derating kapasitas Pembangkit PLN Manufacture MAK 8M MAK 6M Allen Mitshubishi 413 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 257.0 1.7 16.5 Tambahan Pembangkit SEWA Sewa PLTU PT CTI PLTU 30.0 15.0 77.9 47.4 76.1 69.8 8.0 15.5 90.9 38.8 72.9 .6 52.6 680.2 623.0 30.4 467.0 30.3 61.0 -2.0 9.2 1.2 42.0 33 3.8 74.7 7.2 571.4 83.

2 4.1 2020 100.92 2. 0.02 0.0 2.8 71.8 8.9 .2 1 0.Neraca Daya Tanjung Uban 414 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN Manufacture MWM Perkins Deutz Volvo Pembangkit Sewa Sewa Genset Bl Energi PT BIIE MFO Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Project PLN PLTU Tanjung Uban Unit 2011 2012 2013 GWh % MW 29.2 .0 2.6 80.0 Size Jlh unit 0.0 2.11 0.3 2.3 2.5 14.1 11.8 76.8 9.2 .94 2.0 2.6 2019 91.3 1 1.0 2.3 1 PLTD 1.11 0.94 0.7 78.9 10.5 1.0 1.3 14.1 79.2 1 0.5 70.4 5.8 33.88 0.0 2.5 38.8 74.5 1.5 6.1 1.9 9.7 70.0 Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam Kapasitas Efektif Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW 9.0 2.1 1.4 7.1 2018 81.1 2017 71.0 2.86 2.11 0.1 13.02 0.0 2016 62.9 79.0 2.02 0.0 2 1 2 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 7.0 2015 53.2 MW 2.8 77.12 0.0 2 PLTU 2014 45. 0.

3 29.8 7.2 13.0 81.2 1.0 10.Neraca Daya Sistem Tanjung Balai Karimun 415 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN MAK 8M 453B Allen # # Pembangkit Sewa Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Sewa Mesin (HSD) Tambahan Pembangkit PLN TB.9 51.2 IPP TB.8 7.2 1.0 7.2 40.2 1.0 3.0 71.0 3.6 246.2 13.0 24.9 75.8 7.2 13.2 1.0 10.2 13 2 4.3 44.2 13 2 4.2 13.0 10.8 7.0 MW MW 13.0 3.0 7.0 10.0 7.0 9.8 7.2 128.0 7.0 7.7 77.0 10.1 226.0 2.0 10.0 7.4 82.0 7.0 14.5 37. Karimun (Terkendala) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 117.2 1.0 14.2 1.6 182.0 17.2 13 2 4.2 13 2 4.4 69.2 13. Karimun #3.0 1.8 71.9 19.2 13.9 26.2 13 2 4.2 13 2 4.2 1.1 34.8 7.0 3.0 7.8 # # # 1 1 1 PLTD PLTD PLTD 2 4 3 2 4 5 2 4 5 PLTU PLTU PLTU 14 7 7 # 2 2 1 10 10 # 2 PLTU 61.0 10.2 13 2 4.2 4 1 PLTD PLTD 7.4 TB.8 7.0 3.4 51.2 13 2 4.8 22.8 .7 80.0 3.8 7.2 13.0 281.0 7.0 9.9 142.2 13.0 11. Karimun .0 10.0 3.8 34.4 80.2 13.0 17.8 7.8 204.0 7.0 6.2 264.4 51.7 31.4 20.2 1.2 1.0 7.0 10.2 51.2 13 2 4.0 3.9 70.2 13 2 4.2 (FTP1) TB. Karimun #1.2 1.0 3.4 81.0 MW MW MW 14 32.3 34.0 10.7 161.

0 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 GWh % MW 30.1 6.4 1.05 Sewa Sewa Diesel 2.1 1.8 11.6 22.3 57.9 12.9 57.4 1.30 Deutz BA 12M 1.5 64.1 10.1 7.1 7.0 16.0 8.0 2.0 47.0 8.1 22.1 1.8 59.8 65.7 71.7 8.1 1.3 2.80 2 2 PLTD PLTD 5.80 0.3 0.1 1.7 23.0 8.2 22.65 0.1 6.0 1.1 7.5 Sewa Diesel 1 Tambahan Pembangkit PLN Tanjung Batu Baru 7.7 6.0 2.0 IPP Tanjung Batu (FTP2) 4.0 5.0 62.3 7.0 2.0 8.1 4.1 7.80 0.3 11.1 8.1 0.1 0.9 36.1 7.5 55.4 1.3 14.0 1.0 2 PLTU 2 PLTGB MW MW MW 2016 2017 2018 2019 2020 52.8 67.1 3.4 64.6 22.0 8.57 2 1 PLTD PLTD 0.80 0.1 3.65 0.0 2.Neraca Daya Sistem Tanjung Batu 416 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Komatsu 0.3 .0 7.4 8.0 1.57 1.28 0.57 1.2 65.1 0.0 1.1 7.1 1.1 0.1 8.28 0.1 62.65 0.8 11.28 0.65 0.4 55.28 0.2 9.4 1.57 1.0 8.57 1.6 MW MW 1.8 22.0 1.65 0.3 33.80 0.4 41.1 2.28 0.0 1.5 10.8 66.3 1.

0 3.9 65.0 43.7 1.0 29.5 10.6 2.7 1.7 1.2 06 0.90 0.7 1.7 1.0 2.6 41.2 06 0.9 .7 26.6 1.1 38.78 2.6 60.2 06 0.90 0.2 06 0.8 1.1 4.78 2.78 2.4 7.3 5.6 2.8 1.90 0.93 0.4 0.6 1.2 5.9 66.1 3.6 0.6 0.1 67.90 0.76 0.6 4.4 6.8 1.4 23.4 0.5 4.8 1.7 7.0 PLTGB MW MW MW 6.2 66.76 0.90 0.78 PLTD PLTD 0.4 0.76 PLTD PLTD 2.4 0.7 6.6 56.3 10.7 1.4 0.8 7.78 2.0 10.6 0.2 06 0.2 06 0.76 0.90 0.78 2.78 2.8 1.7 1.2 06 0.78 2.76 0.8 1.7 1.2 7.4 4.76 0.4 0.8 1.0 6.7 62.2 06 0.Neraca Daya Sistem Dabo Singkep 417 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating kapasitas Pembangkit PLN MAK MTU Pembangkit Sewa Sewa Genset Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Dabo Singk ep Kapasitas Efektif Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 19.0 3.4 7.2 06 0.74 2.6 2.8 12.78 2.76 0.1 7.4 32.4 0.90 0.2 06 0.78 0.8 1.7 67.90 0.6 7.4 MW 2.7 57.8 35.4 0.7 1.0 3.4 0.9 55.4 0.1 21.9 5.8 1.8 1.7 1.76 0.76 0.0 10.90 0.

1 7.20 0.2 15.3 5.7 75.14 1.1 4.3 15.00 0.6 7.0 0.1 6.1 7.20 0.6 7.20 0.6 1.7 0.0 0.00 0.16 2 1 1.0 0.14 1.7 75.0 1.06 1.9 74.00 0.4 0.6 0.00 0.20 0.6 2.0 1.0 3.0 0.9 71.9 74.3 4.1 7.7 .6 32.0 26.14 1.14 1.1 19.9 7.1 8.06 1.9 0.6 11.14 1.6 3.20 0.14 1.3 66.14 1.00 0.6 7.00 0.6 7.06 1.8 6.0 15.06 1.6 7.8 64.20 0.2 4.4 3.0 0.0 0.20 0.6 2.4 21.6 7.6 3.6 7.0 35.06 1.8 6.14 1.20 0.0 0.0 0.0 5.00 0.9 4.0 2 PLTU Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 MW MW MW MW MW 14.6 15.06 1.14 1.7 0.9 0.20 0.0 69.0 8.06 1.00 0.6 1.6 3.1 7.06 1.7 39.3 37.7 24.06 1.4 76.00 0.20 0.1 5.Neraca Daya Sistem Ranai 418 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Daihatsu Komatshu Project Sewa SEWA Perusda SEWA MFO Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 17.1 7.5 5.8 22.00 0.8 15.60 0.4 65.8 6.1 7.1 MW MW 1.6 0.3 29.6 15.1 7.6 7.9 15.06 1.8 3 1 2 PLTD PLTD Tambahan Pembangkit PLN Natuna 7.6 2.14 1.

9 19.52 0.8 0.20 1.4 2.3 65.3 1.6 71.Neraca Daya Sistem Belakang Padang Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating Capacity Pembangkit PLN Deutz 0.20 1.3 21.20 1.52 1.5 2.32 1.20 1.0 Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW MW MW MW MW 3.0 2.2 56.2 0.0 2.10 MWM 0.20 1.2 12.98 Tambahan Pembangkit PLN Relokasi PLTD 2.3 71.20 1.15 0.4 14.20 1.7 70.9 10.5 3.1 20.08 0.22 Yanmar 0.20 1.1 11.5 1 1 2 Disuplai dari Grid 20 kV Kabel Laut Batam .3 58.20 1.20 1.5 MW MW 1.20 PLTD PLTD PLTD 0.7 61.1 2.7 17.8 2.3 55.60 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 419 GWh % MW 9.52 1.20 1.20 1.20 1.6 0.5 16.0 68.8 3.6 3.20 1.9 71.20 1.2 0.

LAMP PIRAN A14.5 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI BANGKA B A BELITU UNG 420 .

4 5.0 3.Neraca Daya Sistem Bangka 421 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Beban Puncak Load Faktor Pasokan Kapasitas Terpasang Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 GWh MW % 560.2 85.9 151.1 5.0 113.0 26.0 3.0 26.0 1.1 86.2 86.0 26.0 2.0 26.3 109.9 65.1 0.8 629.8 5.7 276.2 17.0 3.0 4.5 IPP Bangka (FTP2) T b li Toboali PLTU PLTU Jumlah Kapasitas MW Reserve Margin % 2017 2018 2019 2020 957.2 238.2 17.7 66.7 5.1 1.7 5.7 123.1 66.2 17.8 99.1 0.0 3.1 0.065.1 0.1 0.203.0 3.8 24.2 86.0 24.5 5.2 86.1 0.0 1.3 Bangka .4 139.0 65.1 0.0 2.2 17.8 208.1 1.0 97.0 26.8 714.1 2.0 2.602.2 39.0 40.3 66.9 3.0 5.0 3.1 0.1 1.1 0.1 2.2 65.0 2.0 2.0 26.0 Sewa PLTD Sewa PLTD HSD tersebar 1 Sewa PLTD HSD tersebar 2 Sewa PLTD HSD tersebar 3 Bangka (Sewa) MW PLTD PLTD PLTD PLTU 45 17 16 12 45 17 16 12 75 17 16 12 30 PLTD PLTD PLTD PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU 2.3 5.1 1.5 Tambahan Pembangkit PLN Relokasi Mesin Miirless dari Pulau Baai Relokasi Mesin Batam ke Toboali Relokasi Mesin Batam ke Mentok Bangka IV (Peaker) Ai A Air Anyer (FTP1) Mentok Bangka .7 0.0 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 5 2.2 65.7 0.0 38.3 0.8 803.0 2.8 66.9 5.0 PLN Merawang Mentok Koba *) Toboali Dari Sistem Isolated Miirless (Relokasi dari Sukamerindu) MW PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 39.9 4.5 20 20 20 60 14 30 30 30 30 30 239 58 269 62 14 153 57 153 40 181 46 195 40 269 46 319 53 349 47 399 44 .0 4.0 2.0 2.9 871.2 17.2 86.8 165.9 3.9 MW 85.0 24.0 2.2 17.0 2.3 66.9 24.6 184.0 1.2 86.1 5.2 65.379.9 4.3 0.

0 401.0 6.0 3.6 50.1 534.8 209.7 79.5 13.0 3.4 65.4 66.0 459.0 9.0 3.0 9.7 32.0 6.3 55.4 Belitung Peaker PLTU PLTU PLTU PLTG 17 17 17 17 17 17 10 10 98 59 108 56 125 57 142 54 IPP Belitung .0 9.0 16.0 9.1 422 Pasokan Kapasitas Terpasang PLN Pilang Manggar IPP Biomass Sewa MW MW PLTD PLTD 43.4 66.0 9.0 3.0 9.0 27.0 6.5 3.0 9.Neraca Daya Sistem Belitung Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Beban Puncak Load Faktor Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh MW % 186.2 92.0 16.0 PLTU PLTD 7 20 7 20 7 11 7 7 7 7 7 7 7 Tambahan Kapasitas PLN B lit Belitung B Baru (FTP1) Belitung .0 36.3 65.0 3.0 3.4 66.4 65.0 16.8 267.2 Jumlah Kapasitas Reserve Margin PLTGB MW % 5 44 34 53 44 65 57 71 53 88 75 88 59 .0 16.2 66.5 16.0 16.0 6.8 36.0 6.8 46.2 61.9 290.0 3.0 6.3 65.0 6.0 9.3 69.3 66.0 3.0 16.3 Belitung .0 6.9 319.0 355.8 238.0 3.4 65.0 6.2 41.0 16.0 9.

LAMP PIRAN A14.6 A NERA ACA DAY YA SISTE EM ISOLA ATED PRO OVINSI KA ALIMANTAN BAR RAT 423 .

2 33.0 0.0 4.4 5.0 3.7 17.1 21.Neraca Daya Sistem Ketapang 424 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ 1.7 24.1 0.0 0.0 7.2 240.0 7.0 7.0 58.8 64.8 55.9 64.8 226.1 5.0 3.0 10.2 37.0 14.5 64.3 45.9 64.8 64.5 MW MW 24.0 64.3 42.0 7.0 11.8 256.0 3.7 0.0 2.0 175.2 24.7 17.2 27.1 17.1 17.0 0.0 10.2 WARTSILA I 2.1 17.6 6.4 200.2 187.0 2.1 0.2 35.6 6.0 2.7 55.6 6.0 38.0 0.3 40.0 .2 31.1 17.0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Interkoneksi dengan Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 14.1 58.0 PLTU PLTU PLTD PLTGB MW MW MW 20.0 Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Ketapang (FTP2) Sewa/IPP Ketapang (IPP) Relokasi Sewa Diesel Sewa Sukadana Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2 2 2 Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 118.5 -3.7 14.0 38.7 64.0 0.0 2.0 38.6 6.0 2.4 5.0 0.0 2.0 151.6 212.0 PLTD PLTD 7.0 0.0 3.4 5.7 14.0 2.0 4.1 0.1 0.8 3.4 5.0 10.0 7.0 PLTD PLTD PLTD 2.0 45.0 38.1 134.0 7.2 3.1 0.0 10.7 64.4 5.0 3.6 6.6 6.1 10.4 5.0 9.6 64.0 28.8 1.1 0.8 RUSTON I 3.1 64.

2 26.10 0.8 66.5 1.2 19.6 145.70 PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 113.6 66.8 18.3 0.0 2.0 1.2 20.2 12.34 SWD.52 DEUTZ MWM 0.00 MTU II 0.7 2.2 66.0 4.2 18.5 1.3 0.9 128.7 2.0 4.2 25.50 . SWD. II 0.4 66.40 2.3 MW MW 15.5 1.00 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 0.34 .5 0.0 4.7 0.2 MW .9 66.0 2.5 1.7 0.50 MTU ( TRAILER ) 0.5 0.2 15.0 .0 2.MWM KHD 1. 0.5 1.10 0.0 66.40 DEUTZ. MITSUBISHI 1.5 1.2 23.0 4.0 5.0 2.MWM KHD 1.0 PLTD 2. II 0.60 DEUTZ.0 91.4 .4 81.00 0. 0.3 0.5 0.0 MW MW 16.4 .00 0.8 106.0 4.70 MTU III 0.0 .5 0.2 14.Neraca Daya Sistem Sambas 425 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD. 0.0 6.40 15. III 0.0 2.7 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 6.6 1.0 GWh % MW 71.5 1.7 0.6 1.8 66. 0.6 120.0 4.2 22.2 137.1 154.50 DEUTZ.5 66.3 0.7 PLTD PLTD 5.00 2.0 2.5 1.6 66.9 66. I 0.

9 1.0 6.9 5.6 11 1.4 .6 0.9 54.4 23.9 1.7 54.8 54.0 3.6 1.6 1.6 0.6 MERCEDES (MTU) 1.0 2.9 2020 44.1 55 5.0 PLTGB 60 6.Neraca Daya Sistem Ngabang 426 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN MERCEDES (MTU) 0.2 PLTD PLTD PLTD 0.9 2016 35.4 2017 2018 37.9 39.7 1.0 MW MW MW 12.6 53.6 2.9 -6 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 12.3 54.2 8.1 0.6 2014 30.1 7.8 4.1 PLTD 3.0 6.3 8.9 5.6 6.0 54.1 49 4.1 11 Sewa Sewa Diesel Tambahan Pembangkit PLN Sewa PLTGB Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 2011 2012 GWh % MW 20.8 53.6 53.0 6.6 11 1.5 2015 32.6 54.9 MITSUBISHI 1.1 54.5 2013 26.0 MW MW 6.2 7.0 6.7 1.4 9.0 6.3 2019 42.2 6.

8 1.0 23.0 0.4 24.0 126.2 0.5 MW 2.2 1.4 8.3 14.0 0.4 67.4 0.2 67.2 1.8 67.0 1.5 20.0 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 1.2 1.8 0.0 0.0 16.2 PLTD PLTD 6.3 8.4 0.5 14.0 67.8 1.5 16.4 134.2 1.0 0.8 1.7 118.0 7.5 18.0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 18.Neraca Daya Sistem Sanggau 427 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD BBI SWD BBI DEUTZ MWM M TU MITSUBISHI MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Unit 1.8 24.2 0.2 1.2 110.0 .2 1.0 1.4 8.4 2.6 84.0 16.0 MW MW 16.2 7.4 25.2 1.0 PLTU PLTD 2.0 16.0 16.7 67.2 Tambahan Pembangkit PLN Sanggau Sewa Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 1 1 1 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 74.2 0.2 1.0 6.7 161.4 22.1 67.5 21.9 67.8 1.8 0.7 143.2 0.2 0.2 7.4 27.3 2.0 2.2 0.0 0.8 67.0 2.8 0.4 MW MW 14.0 1.7 67.0 0.2 1.5 67.0 16.5 12.2 1.2 152.2 1.2 1.0 7.4 95.0 16.8 0.4 0.0 2.

3 0.4 21.5 1.0 0 Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 33.5 7.0 0 0 0.0 PLTU PLTGB 30 3.0 0 0 0.3 16.9 64.5 15 1.2 1.5 15 1.5 00 0.0 0.3 1.3 Tambahan Pembangkit PLN Sintang 3 Sewa PLTGB Sewa Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 1 1 1 1 1 1 1 1 7 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 71.0 0 0 0.2 1.0 0 0 0.5 27.0 21.5 1.0 21.4 24.0 24.0 60 6.0 0 0 0.6 64.5 15 1.0 0.3 34 3.5 1.1 1.0 8.5 64.8 1.5 10 0 10.0 -3 3.5 7.2 145.5 15 1.2 1.5 1.9 0.3 20.4 64.9 8.5 1.Neraca Daya Sistem Sintang 428 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN SWD BBI SWD BBI DEUTZ DEUTZ DEUTZ M TU MITSUBISHI MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Unit 0.0 1.1 1.3 0.9 64.9 64.5 1.3 64.0 PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD PLTD 0.0 0.5 1.5 99 9.4 128.4 22.0 00 0.0 0.0 21.9 2.0 0.5 1.2 1.3 1.0 24.3 1.9 15 9 0.2 12.4 MW 14.5 15.0 1.0 21.3 18.8 64.1 64.5 1.8 136.5 25.0 0.5 1.9 15 9 0.1 1.0 7.5 92 9.9 24.0 MW MW 18.3 14.3 105.6 64.0 32.3 1.8 113.0 0.4 MW MW 15.8 154.7 81.1 120.4 91.5 1.2 .3 PLTD 60 6.5 1.5 1.1 1.

5 08 0.5 08 0.0 00 0.7 MW 8.5 0.5 0.5 08 0.5 0.5 08 0.8 0.8 0.0 3.0 1.0 11.3 0. Khatulistiwa 8.1 23 2.8 0.6 5.3 0.7 6.8 0.3 0.3 0.0 45.8 6.3 13 1.1 53.8 0.5 MW MW 63 6.3 0.0 PLTD 2.6 48.Neraca Daya Sistem Nanga Pinoh 429 Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM DEUTZ MWM DEUTZ MWM MITSUBISHI PLTD Sewa Sewa Diesel Sewa Diesel Unit 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 25.3 53.1 32.3 0.0 3 1 PLTD PLTD 3.2 51.3 13 1.5 0.1 63 6.5 3.0 00 0.0 9.6 54.6 Interkoneksi Grid 150 kV Sist.8 7.8 0.0 2.0 1.3 0.0 8.1 9.4 53.3 0.8 0.3 13 1.4 11.5 42.5 0.5 0.5 0.3 10.3 0.6 53.5 0.1 33 3.0 2.8 54.1 10.7 54.9 8.9 40.5 0.8 1.5 54.5 0.0 00 0.5 0.8 0.0 1.0 MW MW 8.8 37.3 28.5 54.0 0.1 00 0.1 33 3.3 13 1.5 1.5 1.5 08 0.0 2.3 13 1.0 53.5 0.2 10.0 Tambahan Pembangkit PLN Nanga pinoh Sewa Relokasi Sewa Diesel Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit 2011 PLTGB 6.0 00 0.0 1.8 0.8 1 1 1 1 PLTD PLTD PLTD PLTD 0.3 0.5 08 0.5 2.9 54.2 -6 11.0 1.0 .5 0.

6 45.1 2.0 0.0 3.4 M TU 07 0.7 1.7 7.Neraca Daya Sistem Sekadau Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM 0.0 0.0 0.0 0.3 45.0 0.7 3.6 0.0 00 0.7 0.0 00 0.0 0.9 00 0.4 07 0.7 45.4 4 4 1.3 45.7 1.5 0.8 12.0 1.6 2.7 0.4 4 4 1.0 MW MW 4.1 8.0 0 0 00 0.0 4.1 1.7 PLTD Sewa Sewa Diesel Unit 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 430 GWh % MW 5.4 07 0.9 8.6 0.1 MW MW 4.7 1.6 45.2 4.0 .0 0.6 45.4 2.0 0.7 PLTD 3.5 2.0 3.0 0.1 3.7 11.1 4.0 0.0 Tambahan Pembangkit Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit MW Interkoneksi Grid 150 kV Sistem Khatulistiwa 29 2.2 9.9 45.5 10.5 0.0 0.2 45.4 07 0.0 00 0.9 1.8 44.6 0.0 0.5 6.7 1.5 M TU 0.6 3.0 PLTD PLTD PLTD 0.2 2.4 9.7 0.0 0.0 0.3 45.7 1.0 0.5 0.4 4 4 1.3 2.0 0.0 0.1 4.

9 1.6 1.2 5.0 09 0.4 0.9 10 1.0 PLTD PLTD PLTD 0.0 09 0.1 3.9 1.6 26.7 48.6 1.2 5.9 7.6 1.9 10 1.5 14.0 09 0.6 1.2 59.9 1.2 7.2 39.9 1.8 37.9 59.4 0.2 45.4 0.2 .4 8.2 4.1 3.5 11.0 dengan sistem khatulisti wa 02 0.2 7.7 42.6 1.5 59.9 1.9 6.2 9.1 59.2 8.0 0.00 Sewa Putussibau 431 Tambahan Pembangkit PLN Riam Badau IPP Putussibau (FTP2) Jumlah Kapasitas Cadangan Pemeliharaan Operasi Surplus/Defisit Unit 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 23.9 5.9 11.3 59.0 4.5 0.90 M TU 1 00 1.9 10 1.4 0.0 0.9 1.0 0.5 0.1 3.9 1.6 1.6 59.0 0.0 09 0.0 09 0.0 Interkon eksi Grid 150 kV 1.0 09 0.0 0.0 09 0.9 0.1 3.4 0.0 0.0 0.9 1.0 1.9 10 1.1 6.1 8.9 14.6 1.0 4.0 09 0.0 14.5 0.Neraca Daya Sistem Putussibau Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Faktor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang Derating capacity Pembangkit PLN DEUTZ MWM 0.9 0.4 0.0 09 0.2 30.2 8.9 2.0 11.1 59.9 1.4 0.9 2.9 10 1.1 3.9 10 1.1 0.50 M TU 0.4 0.0 11.0 1.5 59.5 11.2 6.5 0.0 0.2 9.8 59.9 10 1.6 1.5 0.4 0.9 1.5 0.5 0.5 0.8 35.9 10 1.2 6.0 1.0 59.9 MW MW 6.9 10 1.1 6.1 6.3 51.6 1.0 PLTD PLTMH PLTGB MW MW MW 4.5 0.0 4.0 1.0 0.9 1.

LAMPIRA AN B AYAH OP PERASI WILA INDO ONESIA TIMUR Lampiran B ini menjelaskan rencana r pe engemban ngan ssistem kelistrikan di Wilayah Operasi O In ndonesia Timur T 432 .

Capacity Balance e Gardu Induk B1 1. SULAW WESI TENGGA ARA DAN SUL LAWESI BARA AT (S SULSELRABAR R) B2 2.2.8. Pro ogram Energi Baru B dan Terba arukan B1 1.1. Analisis Aliran Da aya B2 2. SULAW WESI TENGAH H DA AN GORONTA ALO (SULUTTE ENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI SU ULAWESI SEL LATAN. Capacity Balance e Gardu Induk B2 2.10. Pro ogram Energi Baru B dan Terba arukan B2 2. Kebutuhan Fisik Pengembangan P n Distribusi B2 2. Petta Pengembangan Penyaluran B2 2. Pro oyeksi Kebutuh han Tenaga Listrik B1 1.11.10. Pro oyeksi Kebutuh han Investasi PE ENJELASAN LAMPIRAN L B1 B2 2. Kebutuhan Fisik Pengembangan P n Distribusi B1 1.1.4.6.3. Pro oyeksi Kebutuh han Tenaga Listrik B2 2. Analisis Aliran Da aya B1 1.2. Pro oyek-Proyek IP PP Terkendala B2 2.7. Neraca Energi B2 2.11. Petta Pengembangan Penyaluran B1 1. Pro oyek-Proyek IP PP Terkendala B1 1. SISTEM INT TERKONEKSI KALIMANTAN N SELATAN. Rencana Pengem mbangan Penya aluran B1 1.7.9. Neraca Daya B2 2. Pro oyeksi Kebutuh han Investasi PE ENJELASAN LAMPIRAN L B2 2 433 . Rencana Pengem mbangan Penya aluran B2 2. WILAYAH OP PERASI INDON NESIA TIMUR B1 1. SISTEM INT TERKONEKSI SULAWESI UT TARA.5. Neraca Daya B1 1.5. Pro ogram Listrik Perdesaan B2 2. Pro ogram Listrik Perdesaan B1 1. TENGAH DAN TIMUR R (KALSELTE ENGTIM) B1 1.3.LA AMPIRAN B.8. Neraca Energi B1 1.4.9.12.6.12.

B18. B18. B18. B18. B11.6.3. PROVINSI MALUKU M UTA ARA PROVINSI PAPUA P B14. B18.7.5. B18. B4. B18. B18. PROVINSI SULAWESI S SE ELATAN B9.2.4.8. B18.13.9. PROVINSI PAPUA P BARA AT B15. B18. B18. PROVINSI KALIMANTAN K N TENGAH PROVINSI KALIMANTAN K N TIMUR B5. PROVINSI NUSA N TENGG GARA BARAT (NTB) ( B16. B18. PROVINSI SULAWESI S UT TARA B6.12. PROVINSI SULAWESI S TE ENGAH PROVINSI GORONTALO G B8. B7.10. B13.1. PROVINSI SULAWESI S BA ARAT PROVINSI MALUKU M B12.NERACA DAYA D SISTEM--SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI O INDO ONESIA TIMUR Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Sela atan Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Teng gah Sistem Isola ated Provinsi Kalimantan Timu ur Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Utara Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Tengah Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Selatan Sistem Isola ated Provinsi Sulawesi Tenggara Sistem Isola ated Provinsi Maluku M Sistem Isola ated Provinsi Maluku M Utara Sistem Isola ated Provinsi Papua Sistem Isola ated Provinsi Papua Barat Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT TB Neraca Dayya Sistem Isolatted Provinsi NT TT RENCANA A PENGEMBAN NGAN SISTEM M KELISTRIKA AN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI IND DONESIA TIMU UR PROVINSI KALIMANTAN K N SELATAN B3. PROVINSI NUSA N TENGG GARA TIMUR (N NTT) B17. B18.11. PROVINSI SULAWESI S TE ENGGARA B10. B18. 434 .

LA AMPIRAN N B1 SISTE EM INTER RKONEKS SI KALSEL LTENGTIM M 435 .

L LAMPIRA AN B1.1 PRO OYEKSI KE EBUTUHA AN TENAG GA LISTR RIK SIST TEM INTER RKONEKSI KALSE ELTENGT TIM 436 .

346 8.460 9.463 70 1.432 69 1.381 71 868 5.282 69 544 3.499 70 737 4.870 69 1.139 69 1.787 69 460 3.715 69 1.246 69 371 2.122 67 362 2.879 Load Factor (%) 68 Beban Puncak (MW) 650 4.584 10.371 69 723 4.744 69 785 5.719 11.148 69 852 5.864 .919 70 799 5.021 69 666 4.767 68 964 6.980 67 504 3.720 68 795 5.434 68 575 3.233 8.119 7.530 70 1.118 69 680 4.P Proyeksi k iK Kebutuhan b t h T Tenaga Li Listrik t ik Sistem Si t Kalseltengtim K l lt ti SISTEM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 437 4 Wil KALSELTENG Sistem Barito Energi Produksi (GWh Load Factor (%) Beban Puncak (MW) 2.686 69 610 4.663 70 1.746 69 623 4.475 67 424 2.571 69 922 INTERKONEKSI KALSELTENG & KALTIM Energi Produksi (GWh 3.757 70 288 2.892 71 942 Wil KALTIM Sistem Mahakam Energi Produksi (GWh L dF Load Factor t (%) Beban Puncak (MW) 1.

2 N NERACA D DAYA SISTE EM INTERKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 438 .LA AMPIRAN N B1.

000 63% PLTU PLN 69% PLTU IPP PLTG PLN 75% PLTU Sewa 2.500 PLTG PLN PLTG IPP 61% PLTG IPP PLTA PLN 3.500 70% Pembangkit IPP  & Sewa Pembangkit Terpasang  PLN Beban Puncak 2.000 70% PLTA PLN PLTGU IPP 71% 76% PLTU PLN 1.MW Grafik Neraca Daya Sistem Kalseltengtim Reserve Margin 3.000 500 PLTU IPP 36% Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa Pembangkit Terpasang PLN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 439 439 .500 33% 1.

460 2018 3 191 3.9 1.191 11.1 650 2 738 479 259 85 174 - PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU 2012 842 4.916 8.530 69.1 Kaltim (PPP) Jumlah Pasokan (Terpasang) Reserve Margin (Terpasang) Unit GWh GWh % MW MW MW MW MW MW 2011 1 798 1.056 33 1.191 8.232 5.697 76 1.681 69 2.6 1.715 68.4 1.2 1.806 63 3.798 3.006 61 .719 2020 3 191 3.5 1.463 70.663 69.870 69.8 795 6 752 493 259 85 174 - 2015 2 666 2. 1 2 3 4 5 440 • • Kebutuhan dan Pasokan Kebutuhan Keb t han Produksi Faktor Beban Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang PLN SWASTA IPP Sewa & Excess Power Retired & Mothballed PLTG PLTD Tambahan Kapasitas SEWA Rencana PLTG Bontang (Gas Storage) PLTU Sewa Asam Asam (3x50 MW) PLTU Sewa Kariangau (2x120 MW) PLN On Going Project Pulang Pisau (FTP1) Asam Asam (FTP1) Kaltim Peaking (APBN) Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) Sampit (APBN) Rencana Kaltim (Peaking) Kalsel (Peaking) Bangkanai (FTP2) Kelai (Kaltim) Kusan IPP On Going Mahakam (Senipah) Pangkalan Bun Rencana Kalsel .432 68.Neraca Daya Sistem Kalseltengtim No.767 68.556 75 2.291 70 2.666 7.139 69.346 3 355 270 85 85 - 2017 3 191 3.1 (FTP2) Embalut (Ekspansi) Kaltim .439 6.191 9.8 1.191 10. tidak diperhitungkan dalam reserve i 2.911 71 *) Kemungkinan bisa masuk lebih awal 1 unit tahun 2013 **) Kemungkinan tidak jalan.233 3 355 270 85 85 90 90 2016 2 916 2.3 964 3 621 390 231 85 146 102 20 82 100 100 100 100 50 55 *)) 200 200 882 36 1.720 67.091 70 2.864 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 355 270 85 85 - 150 240 60 60 130 100 220 50 50 50 140 70 70 75 75 65 82 14 PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU MW % 2014 2 439 2.879 68.584 2019 3 191 3.2 (FTP2) Kaltim ((MT)) Kalteng .0 1.119 3 445 360 85 85 30 30 100 PLTG PLTG PLTG PLTA PLTA PLTG PLTU 2013 2 232 2.

L LAMPIRA AN B1.3 P PROYEK-PROYEK K IPP TERKENDALA A SIS STEM INTE ERKONEK KSI KALS SELTENG GTIM 441 .

• Ka ategori 3. tahap p pendanaan dimana IPP sudah memiliki PPTL namun tidak kunjung mencapai financial closin ng (FC).B1. • Ka ategori 2. Pembangkitt IPP yang terke endala di sistem m Kalseltengtim m adalah. • PL LTU Embalut 2xx22. tahap p konstruksi dim mana IPP suda ah mencapai fin nancial clo osing tapi tidak kunjung konstrruksi.3 Proyek-proy yek IPP Yang Terkendala T gelolaan proyekk IPP terdapatt beberapa pro oyek pembangkkit IPP Dalam peng yang Perjan njian Pembelian n Tenaga Listrrik (PPTL) nya mengalami ke endala.5 MW masuk dalam kateg gori 1 • PL LTU Tanah Gro ogot 2x7 MW masuk m dalam ka ategori 2 • PL LTU Pangkalan Bun 2x5. IPP dengan PPTL terkenda ala dikategorikkan dalam 3 kategori. 442 .5 MW W masuk dalam m kategori 2 • PL LTA MT Kaltim 2x27.5 MW ma asuk dalam kattegori 3 Saat ini pen nyelesaian IPP terkendala terssebut sedang diproses d oleh Komite K Direktur unttuk IPP dan Kerjasama K Kem mitraan dan sebagian dianta aranya sudah dalam m tahap penyelesaian akhir. yaitu: • Ka ategori 1: tah hap operasi yaitu y tahap dimana d IPP sudah beroperasi namun n bermasalah.

4 NE ERACA ENERGI SISTE EM INTER RKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 443 .LA AMPIRAN N B1.

442 1 442 1.445 1 442 1.658 1 444 1.219 7.Proyeksi Neraca Energi Sistem Kalseltengtim (GWh) 444 4 Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Batubara 1.686 Gas 185 333 1 309 1.547 2.365 3.314 5.065 5.770 8.442 1 448 1.448 LNG - 156 155 156 155 156 156 234 310 311 HSD 778 705 247 238 234 230 235 227 229 238 MFO 998 734 456 5 - - - - - - Geot.884 6.309 1 628 1.444 1 445 1. - - - - - - - - - - Hydro 106 106 106 106 106 300 300 540 780 780 .628 1 658 1.172 4.599 7.

872 3 5 12 13 13 14 13 13 13 13 2 2 1 1 1 1 1 2 3 Gas bcf LNG - 2020 445 4 HSD 10^3 kl 271 233 52 19 19 15 18 14 15 18 MFO 10^3 kl 242 198 124 10 7 4 6 3 3 6 Geot.054 1.594 2.012 4.928 5.648 4.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Kalseltengtim Jenis Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Batubara 10^3 ton 1.259 3. - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - .546 4.171 3.319 5.

5 C CAPACITY Y BALAN NCE GARD DU INDUK K SISTEM INTE ERKONEK KSI KALS SELTENGT TIM 446 .L LAMPIRA AN B1.

7 70% 40.9 59% 35.2 41% 60 60.2 50% 27.3 33% 35% 26.3 40% 14.0 49% uprating dari  6 MVA 30.9 50% 18.1 54% 31.3 42% 9.5 50% 24.5 42% 60.1 52% 29.0 49.5 36% 22.4 32% 15.4 65% 28.6 46% 17.1 56% 11.0 52% uprating 10 MVA 30.3 48% 17.8 46% 54.7 54% 11.6 24.2 42% 8.3 45% 16.9 68% 31.1 53% 19.1 61% 40.7 51% 59.0 43.0 45% 9.9 41% 58.0 2 6 15.0 60.7 70% 41.7 55% 60 40 20 60.0 42% 10.2 49% 27.0 22.5 28% 2 2 1 30 20 20 6 10 20 30 66 12 15 20 47 uprating beban dipindah ke GI Trisakti 150 30.6 49% 29.5 66% 57.00        ‐ 22 8.0 10 21.6 77% 45.1 64% 75.0 10 10 6.7 65% 2 1.0 61% 37.3 59% 36.6 59% 69.2 38% 28.3 45% 1 60 28.2 39% 15.6 64% 39.8 55% 46.xls]GI CEMPAKA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 5 6 7 8 Jml 1 2011 Kap [MVA] Total  Total Kap [MVA] 60 60 Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2012 Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2013 2014 Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Load Load [MVA] [MW] [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2015 Peak Peak  Load [MW] 2016 Add Add  Trafo [MVA] Peak Peak  Load [MW] Add Add  Trafo [MVA] 2017 2018 2019 2020 Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 31.xls]GI [ l] TEG (KV) 150/20 GI CEMPAKA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI BANJARMASIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI TRISAKTI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 70/20 GI TRISAKTI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI MANTUIL   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SEBERANG BARITO   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SELAT   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 447 4 [perGI.2 61% 12.6 51% 21.0 44.0 50% 21.9 55% 1 2.7 42% 20. 1 2 3 4 NAMA [perGI.0 .0    12.1 51% 10.4 42% 14.0 69% 24.1 61% 34.5 46% 22.4 23% 11.6 I  54% 63.2 37% 26.1 38% 18.9 50% 10.3 54% 33.0 1 1 6 10.7 64% 1 1.8 58% 50.0 20 30 35.6 51% 19.6 59% 12.4 36% 16.8 55% 14.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY No.4 58% 33.0 65% 38.3 62% 53.5 51% 19.5 34% 17.8 55% 64.1 45% 26.0 24% 12.9 74% 37.

0 35% 20.00 13 48% 14.5 40% 11.2 39% 22.0 20 30.2 44% 47% 27.0 .3 56% 25.0 65% 37.3 60% 17.5 53% 30.1 59% 16.7 38% koordinnasi dg pikitring change amuntai oo d as dg p t g c a ge a u ta 30.44 20 38% 22.66 11 43% 13.2 52% 30.8 66% 28.77 30.6 51% 29.2 37% 14.6 38% 22.5 60% 35.2 53% 16.4 57% 22.xls]GI GI TAPPING PULANG PISAU 150/20   ‐ Beban Puncak ( MW ) 2 1 1 2 1 1 1 30 30 30 10 30 30 10 2011 Total  Peak  Kap Load [MVA] [MW] Add  Trafo [MVA] 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Peak  Add  Peak  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Add  Add Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] 2018 2019 2020 Peak  Peak  Peak  Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 60 15.4 41% 24.7 41% 16.8 42% 24.3 53% 16.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY No.3 65% 38.7 68% 41.7 37% 30.6 40% 3.6 54% 17.6 45% 3.9 55% 32.5 50% 43.6 46% 17.0 30 30.7 25.0 53% 20.3 28% 36.4 64% 19.99 15 59% 17.3 45% 26.9 63% 37.3 54% 30.6 46% Uprating dari 30 MVA 60.0 20.1 56% 32.0 30 30 10 Uprating d 30.7 35% 13.9 57% 33.7 41% 4.3 23% 60 30 60.7 52% 5.2 47% 28.6 60% 35. 9 10 11 12 448 4 13 14 15 16 TEG (KV) Jml Kap [MVA] GI PALANGKARAYA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 2 30 GI BARIKIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 G JU G GI TANJUNG   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 50/ 0 GI AMUNTAI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI ASAM‐ASAM   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI PELAIHARI   ‐ Beban Puncak ( MW ) Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI RANTAU/BINUANG   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 NAMA [perGI.00 40.3 57% 12.4 49% 12.7 66% 25.2 56% 32.0 66% 6.0 21.0 45% 4.5 50% 4.6 49% 19.3 59% 5.4 68% 20.7 47% 14.6 62% 6.3 35% 15.0 56% 5.44 17 64% 18.3 46% 12.99 14 55% 15.6 65% 18.11 24 45% 12.0 23.4 68% 19.7 47% 14.22 22 41% 24.11 11 41% 11.9 63% 18.2 69% 29.0 61% 23.88 18 35% 30 0 30.4 60% 35.8 0 77 0.

4 61% 18.1 45% 00.1 34% 9.0 0% 0.2 41% 24.4 58% 16.4 40% 23.3 45% 24.3 53% 16.1 33% 19.1 60% 18.77 19 37% 10.5 48% 42.0 30 30.3 43% 25.5 34% 20.0 0% 9.0 30 30.0 0% 16.4 64% 37. NAMA [perGI.5 49% 29.8 55% 15.0 21.6 51% 14.4 36% 30 30.2 60% 17.xls]GI 17 GI BATULICIN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI KAYU TANGI   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI SAMPIT   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI KASONGAN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI PANGKALAN BUN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI BUNTOK/AMPAH   ‐ Beban Puncak ( MW ) Beban Puncak ( MW ) 150/20 GI MUARA TEWEH   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 18 19 20 449 4 21 22 23 24 GI PALANGKARAYA II [New] 150/20   ‐ Beban Puncak ( MW ) 2011 Total  Peak  Total Peak Kap Jml Kap Load [MVA] [MVA] [MW] 1 1 1 1 1 1 1 1 30 30 30 30 30 30 30 60 Add  Add Trafo [MVA] 2012 2013 2014 2015 2016 Peak  Add  Peak Add Peak  Peak Peak Add  Peak  Add Peak  Peak Add  Add Peak  Peak Add  Add Add Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] 2017 2018 2019 2020 Peak  Peak Peak Peak  Peak Peak  Peak Peak  Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 30 0.0 38.88 17 66% 19.0 21.88 21 40% 30 15.8 36% 0.7 70% 41.6 36% 10.4 68% 19.7 46% 26.9 48% 14.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY TEG (KV) No.1 59% 35.8 40% 12.1 43% p g uprating dari 30 MVA 60.8 70% 21.11 16 60% 17.2 52% 11.66 14 54% 0.0 0% 14.7 66% 19.3 49% 28.2 41% 24.6 58% 60 60.8 44% 12.0 45.00 0% 00.3 38% 10.2 53% 0.8 70% 20.2 37% 22.7 54% 16.3 43% 26.2 53% 21.3 54% 32.3 46% 14.3 39% 23.8 44% 13.00 0% 00.00 0% 10.8 40% 11.4 38% 30 30.7 53% 31.4 42% .3 57% 16.0 0% 18.0 0% 0.4 40% 34.0 0% 0.0 21.9 63% 18.0 0% 18.4 36% 0.4 51% 29.0 0% 0.11 12 45% 13.00 0% 12.11 13 49% 14.4 38% 30.0 30 30 0 30.2 47% 27.4 40% 0.2 37% 22.

9 48% 14.0 448.0 537.2 61% 36.8 1 06 1.5 0.92 0.4 40% 22.3 1 04 1.0 30% 8.9 443.7 30.0 869.0 374.5 660.8 48% 28. NAMA [perGI.0 0% 6.6 556.6 1 01 1.1 45% 302.7 32% 0% 0% 8.9 28% 17.6 608.8 25% 7.04 60.7 0.6 371.6 58% 17.Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah CAPACITY TEG (KV) Jml 25 GI KUALA KURUN   ‐ Beban Puncak ( MW ) 150/20 1 26 GI KANDANGAN   ‐ Beban Puncak ( MW ) / 150/20 No.0 739.4 27% 8.0 739.0 0% 0.6 1 01 1.BESAR GI UMUM    Beban Puncak GI DIVERSITY FACTOR DIVERSITY FACTOR 150/20 70/20 1 1 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Add  Peak  Peak  Peak  Peak  Kap Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Add Trafo Kap Load Trafo Load Trafo Load Load Trafo Load Trafo Load Trafo Load Load Load Load [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MVA] [MW] [MW] [MW] [MW] 30 30 60 30 30 0.7 36% 20.0 0.0 578.0 302.0 801.03 180.03 150.0 33% 19.5 44% 25.6 327.0 22% 6.01 30 60 30 90.6 0 92 0.6 38% 21.5 507.6 0.0 0.0 847.9 0.0 0% 0.0 63% 0% 0% 14.9 1 03 1.5 0.3 23% 6.6 0.8 1 03 1.0 448.6 32% 10.2 43% 24.0 0% 0.0 716.8 44% 12.0 52% 30.03 90.0 869.1 32% 23.2 53% 15.0 537.6 54% 17.5 56% 33.04 1 04 1.xls]GI 450 4 27 GI BANDARA   ‐ Beban Puncak ( MW ) 28 GI KOTABARU   ‐ Beban Puncak ( MW ) TOTAL BEBAN GI GI KONSUMEN .7 40% 11.0 630.7 779.0 578.4 1 03 1.06 30.03 .3 41% 23.3 1 03 1.6 120.01 0.0         180 0.0 801.6 0.0 682.1 67% 0% 0% 14.0 37% 10.0 682.0 374.6 630.

9 121.0 12.1 27% 20 Add Transf (MVA) .9 15.0 20.0 21.5 77.0 112.7 60.7 66.2 40.0 97.9 79.8 38. GI Karang Joang/Giri Rejo 1993 451 4 4. 150/20 GI Sei Keledang/Harapan Baru 1993 150/20 1 30 1 30 1 30 1 30 60 60 BEBAN LEWAT PLTD 5 GI Karang Asem/Tengkawang 1996 150/20 1 30 1 30 1 60 120 BEBAN LEWAT PLTD 6 GI Tanjung Batu/Embalut 1996 150/20 1 30 1 30 1 30 60 84.5 76.5 77.0 18% 20% 24% 28% 32% 35% 39% 42% 46% 50% 13.4 31% 41% 35% 42% 48% 52% 57% 62% 68% 74% 24.5 77.4 64. GI Gn Malang / Industri 1992 150/20 1 60 1 20 1 30 110 60 57.2 19.0 45% 51% 53% 63% 72% 78% 49% 57% 65% 74% 35.8 23.5 30. GI Batakan/Manggar Sari 1992 150/20 2 20 1 30 1 60 130 BEBAN LEWAT PLTD 3.7 63.6 60 60 60 98.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.5 40. Substation No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Transf (MVA) (MVA) (MW) (MVA) 2013 Add Peak Transf (MW) (MVA) 2014 Add Peak Transf (MW) (MVA) Add 2015 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2016 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2017 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2018 Peak Transf (MW) (MVA) Add 2019 Peak Transf (MW) (MVA) 2020 Add Peak Transf (MW) (MVA) (MW) SISTEM MAHAKAM uprating 30 MVA 1.2 26.8 84.0 77.6 55.5 90.5 28.3 47.1 86.6 126.6 35.6 66% 75% 44% 52% 59% 64% 71% 77% 56% 61% - - - BEBAN LEWAT PLTD 2.9 41.0 28.7 69.7 42.6 72.5 117.2 30.4 48.5 77.3 104.2 83.0 127.9 66.5 77.4 55.7 27.9 33.7 11.4 19.3 27.8 24.2 17.8 22.7 52% 51% 60% 70% 78% 79% 75% 72% 65% 52% - - - - - - - - - - 9.7 16.0 40.8 33.8 31% 36% 42% 48% 53% 58% 63% 69% 75% BEBAN LEWAT PLTD 7 GI Palaran/Bukuan 1996 150/20 30 12.5 71% 60% 61% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 36.7 26.5 77.9 83.

1 31.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.7 44.2 48.1 40.0 57.1 41.6 71% 60% 72% 51% 11.8 34.4 57% 62% 71% 78% 43% 47% 51% 56% 32.0 150/20 452 4 10 GI Kuaro / Tanah Grogot 2011 150/20 11 GI Bontang 2011 37% 30 14.5 48.0 14.8 38.3 15.7 60% 69% 75% 55% 60% 65% 71% Rencana Tambahan GI 9 GI Sambutan 2010 10.6 58.0 28.4 21.2 19.9 19.5 21.8 23.9 18.4 45.4 30 30 30 60 30 30 122.3 93.2 47% 54% 59% 64% 71% 77% 84% 22.7 150/20 14 GI New Industri / Balikpapan 2013 150/20 40% 30 47% 12 GI Sangatta 2012 25.4 42% 55% 77% 50% 66% 58% 75% 15.4 71.5 150/20 13 GI Petung 2011 10. Substation No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Transf 2013 Add Peak Transf 2014 Add Peak Transf Add 2015 Peak Transf 2016 Add Peak Transf Add 2017 Peak Transf 2018 Add Peak Transf Add 2019 Peak Transf 2020 Add Peak Transf Add Transf (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Tenggarong / Bukit Biru 2007 150/20 1 30 30 16.7 68.4 54% 59% 67% 74% 40% 44% 48% 53% 11.8 19.1 23.8 30.9 21.6 37.2 42% 30 30 60 60 30 23.7 60% 68% 40% 13.4 29.3 44% 48% 55% 60% 66% 72% 40% 19.4 27.2 59% 30 .8 26.9 16.1 17.4 16.3 17.7 150/20 30 53% 30 73% 14.2 19.5 54.4 41.8 13.3 43% 60 80.2 18.2 25.2 49% 32% 30 25.5 29.2 21.5 53.

2 13.1 22.0 43.04 1.6 (MW) Add Transf 2020 12 0 12.3 756.1 354.04 1.4 64% TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 286.6 36.9 37.8 40.3 634.5 526.00 1.00 1.04 1.9 33.04 1.00 1.04 1.4 602.04 DIVERSITY FACTOR 453 4 SISTEM BERAU 17 GI Berau / Tj Redep 2013 18 20.0 935.9 (MVA) Add Transf 2017 (MVA) 150/20 (MW) 2016 11 0 11.4 897.04 1.8 TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 275.3 825.4 150/20 (MW) Add Transf 16 9 16.6 15.7 150/20 GI Bulungan / Tj Selor 30 77% 30 27.04 1.9 41% 45% 49% 54% 59% TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 30.9 857.9 GI New Samarinda (MVA) Peak 15 5 15.1 12.00 150/20 30 24.1 720.3 14.1 508.7 33.7 52% 57% 62% 68% 74% 81% 30 (MW) (MVA) 30 (MW) 15.5 30 (MW) Add Transf 14 2 14.6 448.2 29.Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur CAPACITY No.04 1.9 37.6 578.3 48.9 33.3 48.5 44.3 TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 30.9 22% 24% 26% 29% 31% 34% 37% 41% 28.0 20% (MVA) 2015 (MW) GI Kariangau 2012 17 Peak Transf GI PLTG Sembera S b 2012 Add 2012 (MVA) .0 (MVA) Peak 18 4 18.8 37% 56% 42% 34.7 32.1 40.0 30 (MVA) Peak 2019 (MW) 78% (MW) Add Transf 2018 60 20.1 368.00 1.1 24.1 10.1 657.1 30.00 1.2 46% (MVA) Peak 13 1 13.4 693.1 40.2 430.9 1.4 46% 50% 55% 60% 11. Substation No Unit 2011 Total Peak Size (MVA) (MVA) 15 16 (MW) 150/20 (MVA) 2013 Add Peak Transf 2014 Add Peak Transf Add Peak Transf Peak 2018 21 9 21.6 788.8 Add Transf 20 1 20.3 DIVERSITY FACTOR 1.04 1.5 44.1 22.9 42% 38% 2011 10.

LA AMPIRAN N B1.6 RENCA ANA PENGEMBAN NGAN PEN NYALURA AN SISTE EM INTER RKONEKS SI KALSEL LTENGTIM M 454 .

5 510 5235. Tengah dan Timur (kms) T Tegangan T/L 500 kV 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 J l h Jumlah - - - - - - - - - - - T/L 275 kV T/L 150 kV 328 1859 878 T/L 70 kV Jumlah 1046 240 138 236.5 510 0 0 5315.5 455 4 (MVA) Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 500/275 kV - - - - - - - - - - - 275/150 kV - - - - - - - - - - - 270 60 450 180 60 270 60 30 30 570 210 360 150/70 kV 150/20 kV 140 70/20 kV Jumlah 140 270 120 120 330 30 240 30 2060 120 120 330 30 240 30 2300 .Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Kalimantan Selatan.5 80 328 1859 958 80 1046 240 138 236.

ACCC 460 mm2 180 30.88 2012 Planned APBN Kalteng Kalselteng Sampit Pangkalan Bun 150 kV 2cct.37 2014 Propose APBN .P raya) 150 kV 2cct.25 2012 on going APBN Kalteng Kalselteng Tanjung Buntok 150 kV 2cct.25 2012 Planned Unall Kalsel Kalselteng Up rating Asam-Asam Pelaihari-Cempaka-Mantuil 150 kV 2cct.98 2013 Planned APBN Kalteng Kalselteng PLTU P.06 2017 Planned Unall Kalteng Kalselteng Palangkaraya Sampit 150 kV 2 cct.18 2014 Planned Unall Kalteng Kalselteng Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2cct. ACSR 1x240 mm2 66 5. ACCC 460 mm2 6 4. ACSR 2 x 240 mm2 2 0. ACSR 2x240 mm2 284 34. ACSR 2 x 240 mm2 94 8. ACSR 1 x 240 mm2 138 12. 240 mm22 100 12 26 12.87 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct.Rencana Pengembangan Penyaluran Kalimantan Selatan. ACSR 2x240 mm2 212.50 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng Landing point P.26 2013 Pl Planned d APLN Kalteng Kalselteng Muara Teweh Buntok 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 346 30.79 2012 on going APBN Kalteng Kalselteng Kasongan Incomer phi (Sampit .62 2013 Planned APBN K lt Kalteng K l lt Kalselteng PLTGU B Bangkanai k i M Muara T Tewehh 150 kV 2 t ACSR 22x240 2cct. ACSR 2x240 mm2 248 30.83 2012 on going ADB Kalsel Kalselteng Rantau Incomer 2 phi (Barikin . ACSR 2x240 mm2 240 29.74 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng PLTU Asam-asam (Perpres) Mantuil 150 kV 2cct. Raya -Selat) 150 kV 4cct.26 2014 Planned IPP Kalsel Kalselteng Barikin Kayutangi 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 344 30.98 2011 Operasi APLN Kalsel Kalselteng Asam-asam Batu licin 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 4 0.P raya) 150 kV 2cct. Laut Kotabaru 70 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 220 26. ACSR 2x240 mm2 100 12.00 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng Batu Licin Landing point P. ACCC 460 mm2 74 6.28 2016 Planned Unall Kalsel Kalselteng Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2cct.59 2013 Planned Unall Kalsel Kalselteng PLTU Kalsel Baru-1(FTP 2) Tanjung 150 kV 2cct.43 2014 Planned Unall Kalsel Kalselteng PLTA Kusan Single phi (Cempaka .41 2012 on going APBN Kalsel Kalselteng Tanjung Perbatasan 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 2 0.Pisau Incomer 2 phi (P. ACSR 1x240 mm2 42 3.Cempaka) 150 kV 4cct.5 26. Tengah dan Timur Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber 456 4 Kalsel Kalselteng Barikin Amuntai 150 kV 2 cct.Rantau) 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 220 26. ACSR 2x240 mm2 260 31. Laut 70 kV 2cct.36 2013 on going APLN Kalteng Kalselteng Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat . ACSR 2x 240 mm2 2 0.

Joang 150 kV 2 cct. ACSR 2 x 240 mm2 93 11. ACSR 2x240 mm2 16 1.60 2012 Plan APLN Kaltim Kaltim PLTU Kaltim 2 (FTP-2) Bontang 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2 310 38.60 2015 Planned Unall Kaltim Kaltim Karang Joang Kuaro 150 kV 2cct.Rencana Pengembangan Penyaluran K li Kalimantan t S Selatan. ACSR 2x240 mm2 120 9. ACSR 2x240 mm2 90 11. ACSR 2 x 240 mm2 6 0.88 2018 Plan Unall Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim New Samarinda PLTU Kaltim (PPP) Bontang Sambutan Incomer 2 pi (Senipah-Palaran/Bukuan) Sangatta 150 kV 150 kV 150 kV Kaltim Kaltim Berau Tanjung Selor 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 14 1. ACSR 2xZebra 16 1.72 2012 plan APBN Kaltim Kaltim PLTG Senipah incomer Manggar Sari .04 2018 Plan Unall 14. ACSR 2x240 mm2 8 0. ACSR 2x240 mm2 8 0.35 2014 Plan Unall Kaltim Kaltim Tenggarong gg g Kota Bangun g 150 kV 2cct.29 2014 Plan APLN Kaltim Kaltim Harapan Baru Bukuan 150 kV Up rating mejadi Twin Hawk 24 5. ACSR 2x240 mm2 30 3.07 2012 Plan APBN Kaltim Kaltim GI Sembera incomer Sambutan .Bontang 150 kV 2cct. ACSR 2x240 mm2 180 22.Kuaro) 150 kV 4cct.24 2018 Plan Unall 31. Joang 150 kV 2cct. ACSR 1x240 mm2 160 Kaltim Kaltim PLTA Kelai Sangatta 150 kV 2cct.40 2012 on going ADB Kaltim Kaltim Bontang Sambutan 150 kV 2cct.70 2013 Plan IPP Kaltim Kaltim PLTG Senipah Bukuan/Palaran 150 kV 2 cct.04 2012 Plan IPP Kaltim Kaltim Petung Incomer 2 phi (Karjo .01 2012 on going ADB Kaltim Kaltim Kuaro Perbatasan 150 kV 2cct. ACSR 12x 240 mm2 196 17. ACSR 2x 240 mm3 120 10.49 2012 Plan APLN Kaltim Kaltim Up rating Teluk Balikpapan K.. ACSR 1x240 mm2 110 8.K.68 2014 Planned APBN Kalteng Kalselteng Kasongan Kuala Kurun 150 kV 2cct. ACSR 1 x 240 mm2 40 3.98 2017 Plan IPP 2cct. l t T Tengah h dan d Timur Ti Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Biaya MUSD COD Status Sumber 457 4 Kalteng Kalselteng Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2cct.Kuaro) 150 kV 2cct.90 2014 Plan APBN 2cct. ACSR 2x240 mm2 260 60 .96 2017 Plan Unall 2cct. ACSR 2x240 mm2 90 11.56 2014 Planned APBN Kalteng Kalselteng PLTU Kalteng 1 Kasongan 150 kV 2cct.44 2014 Planned Unall Kalteng Kalselteng PLTU Sampit Sampit 150 kV 2cct. ACSR 2x 240 mm2 240 7.74 2012 Plan APBN Kaltim Kaltim PLTU Teluk Balikpapan Incomer 2 phi (Karjo .

10 2.35 1.10 2.62 1.62 1.23 2.10 2.10 1.10 1.39 1.68 2.39 1.39 2.23 2.23 1.23 1.23 1.23 1.62 1.26 2.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.23 2.10 1.23 1. Tengah dan Timur Propinsi 458 4 Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Kalsel Nama Gardu Induk Amuntai (GI baru ) Barikin Ext LB Kayu Tangi (GI baru ) Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam-asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam-asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Kotabaru Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Kotabaru Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (NEW LINE) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Mantuil p g) Trisakti ((Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension New New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension 30 2 LB 30 2 LB 3 CB 2 CB 2 LB 2 LB 30 2 LB 2 LB 60 30 30 2 LB 2 LB 30 60 30 2 LB 2 LB 2 LB 60 30 60 60 30 60 30 30 30 2.23 2.23 1.23 1.23 1.62 1.62 1.39 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 Operasi Operasi Operasi Operasi On Going On Going Operasi Operasi On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Planned Proposed Proposed p Proposed Proposed Planned Planned APBN APBN APBN APLN APLN APLN APLN APLN APBN APLN Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall IBRD Unall IBRD IBRD IBRD IBRD Unall Unall .39 1.

23 2.39 1.23 .62 5.75 1.62 0.23 1.10 3.62 1. Tengah dan Timur Propinsi 459 4 Kalsel Kalsel Kalsel Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kalteng Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Nama Gardu Induk Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTGU) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Kuala Kurun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU ) Puruk Cahu Bukuan/Palaran Ext LB Sambutan Bukuan/Palaran g Joang/Giri g Rejo j Ext LB Karang Kuaro / Tanah Grogot Petung Sambutan Ext LB Bontang Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension Extension Extension New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Ekst Relocating Extension New (4 LB) New Extension New 30 2 LB 30 30 4LB 30 2 LB 30 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 60 2 LB 30 30 2 LB 2 LB 30 2 LB 30 20 2 LB 30 30 2 LB 30 1.23 2.62 1.62 1.39 2.62 1.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan.23 1.23 1.39 2. 3.23 2.62 2017 2017 2017 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2014 2015 2015 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 Planned Planned Proposed On Going On Going On Going On Going Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Planned Proposed Proposed Planned Planned Proposed Planned Operasi Plan On Going g On Going Plan On Going On Going Unall Unall IBRD APBN APBN APBN APBN APBN APLN APBN APBN APBN APLN Unall Unall Unall IBRD IBRD Unall APLN IBRD APLN APBN APLN APLN APLN APBN APBN APBN .62 2.23 2.52 1.24 2.23 1 39 1.23 2.34 1.23 2.62 1.85 1.

Balikpapan Tenggarong / Bukit Biru Kariangau / Teluk Balikpapan Kota Bangun Berau / Tj Redep Bulungan / Tj Selor New Industri Berau / Tj Redep Sambutan Kuaro / Tanah Grogot Bontang New Industri N New S Samarinda i d Sangatta Sambutan Ext LB Petung New Samarinda Sambutan New Industri Sei Kleidang / Harapan Baru Tenggarong / Bukit Biru Tegangan Baru/Extension 150/20 kV New (4 LB .10 1.39 1.10 1.10 1.39 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 Plan Plan Plan On Going Plan Plan Proposed On Going Plan Plan Plan Plan Plan Proposed Plan Plan Plan Plan Plan Pl Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan Plan APBN Unall Unall APBN Unall Unall Unall APLN Unall Unall APBN Unall Unall IBRD Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall Unall .39 1.23 1.39 2.23 2.2x30) 150/20 kV Uprating 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV New 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV N New 150/20 kV New 150/20 kV Ekstension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension 150/20 kV Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber 60 60 60 60 30 30 2 LB 30 30 30 30 30 30 30 30 60 30 30 60 30 30 2 LB 30 30 60 60 60 30 4.39 1.39 1.10 .39 2.62 1 39 1.39 2.39 1.57 2.10 2.62 2. Tengah dan Timur Propinsi 460 4 Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim K lti Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Kaltim Nama Gardu Induk GI PLTG Sambera Industri/Gunung Malang Sei Kleidang / Harapan Baru Tengkawang/Karang Asem Sambutan Bontang Bontang Ext LB Kariangau / Tel.62 2.39 1.75 2.Rencana Pengembangan Gardu Induk Kalimantan Selatan. 2.62 2.62 1.62 1.10 2 62 2.10 2.10 2.

L LAMPIRA AN B1.7 PE ETA PENG GEMBANG GAN PENY YALURAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI KALSE ELTENGT TIM 461 .

5 MW (2017) Kayutangi D Seberan g Barito 2010 D Amuntai U Selat ACSR 2X240 mm2 142 km (2012) ACSR 2X240 mm2 130 km (2012) PLTU KALSEL [IPP] 2X100 MW (2015/16) Palangkaraya ACSR 2X240 mm2 174 km (2012) Buntok D ACSR 2X240 mm2 60 km (2015) Kasongan 2016 ke GI Kuaro ( KALTIM) 2012 PLTU BUNTOK 2X7 MW (2013) ACSR 2X240 mm2 172 km (2015) PLTU KALTENG-1 2X100 MW (2020) 2013 ACSR 2X429 mm2 40 km (2013) ACSR 1X240 mm2 98 km (2014) Kuala Kurun U ACSR 1X240 mm2G 47 km (2014) Trisakti A Ulin Mantuil PLTU ASAM ASAM #1 & 2 (2X65 MW) A PLTA RIAM KANAN 3X10 MW Cempaka ACSR 2X240 mm2 Pelaihari 124 km (2012) U Kotabaru Batu Licin 2011 D ACSR 1X240 mm2 40 kkm (2013) PLTU ASAM ASAM 2X65 MW (2011) U PLTU Sewa 3X50 MW (2013) .Peta Kelistrikan Sistem Kalselteng 2013 2015 PLTG BANGKANAI 140 MW (2013) 70 MW (2014). 70 MW (2015) Puruk Cahu D Muara Teweh D D ACSR 2X240 mm2 110 km (2013) PLTU KUALA KURUN 2X3 MW (2013) U U 2011 2012 ACSR 1X240 mm2 172 km (2013) PLTU CENKO 2X7 MW (2011) Sampit D U U Pangkalan Bun D PLTU SAMPIT 2X25 MW (2014) 2012 New Palangkaraya D D PLTU PULANG PISAU 2X60 MW (2012) Tanjung 2010 U ACSR 2X240 mm2 21 km (2011) Barikin ACSR 2X240 mm2 120 km (2014) Ranatu PLTA KUSAN 2X32.

Selor PLTU Tj.2013 SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGAH . Redep 2x7 MW – 2012 U 2010 Sangata PT PLN (Persero) / / / / / / / / / / / / PLTU Kaltim-2 (IPP) 2x100 MW – 2015/16 Bontang KALIMANTAN BARAT2015 U G Sewa 2012100PLTG MW – 2012 G PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI KALIMANTAN TIMUR GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Juli 2011 U PLTU Embalut (Ekspansi) 1x50 MW – 2014 PLTU Kaltim (MT) 2x27. Selor 2x7 MW – 2012 U 2011 SARAWAK (MALAYSIA) Tj.5 MW – 2014 U Karangjoang G KALIMANTAN TENGAH 2012 PLTU Kaltim (PPP) 2x100 MW – 2017 Manggarsari U Industri Petung Kuaro ke GI Tanjung (Kalsel) 2012 KALIMANTAN SELATAN PLTG Senipah 2x41 MW – 2013 PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP1 2 100 MW – 2014 2x100 PLTU Sewa 2x120 MW . Redep PLTU Tj.Peta Kelistrikan Sistem Kaltim SABAH (MALAYSIA) BRUNEI DARUSSALAM 2013 Tj.

L LAMPIRA AN B1.8 ANAL LISIS ALIR RAN DAY YA SISTE EM iNTER RKONEKS SI KALSELTENGTIM 464 .

3 36.5 TANJUNG 19.1 PLTA RIAM KANAN 30 MW 31.2 9.0 MW 5.0 149.0 ASAM ASAM 14.6 65.0 BUNTOK 11.94 21.0 27.8 U NAMA GI MW MVAR KV SC LEVEL PLTU ASAM ASAM 4X65 MW Beban Sistem : Losses : Flow dalam MW/MVAR 504.0 9.3 6794.6 CEMPAKA 70 150.0 155.6 MW #### 154.6 4318.8 A 9.0 6917.1 BARIKIN 32.5 18.0 2149.4 155.7 3625.0 5254.0 12.5 1491.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2013 PLTU PULPIS 2X60 MW 18.3 5079.6 41.7 154.7 0.1 5250.7 65.9 14.6 3030.8 6.5 151.8 KAYUTANGI 22.4 PALANGKA 50.0 10.4 PLTU SAMPIT 2X25 MW PLTU PULPIS 3.1 1.9 SEBAR 15.2 9.9 4.0 149.7 152.4 15.0 U PLTU BUNTOK 2X7 MW .0 73.9 151.6 25.9 4817.4 CEMPAKA PELAIHARI 50.0 36.0 15.6 11 0 11.0 ULIN 40.3 1.37 38.3 4707.4 4.2 54.0 4421.6 3307.0 15.7 AMUNTAI 0.8 27.7 1.8 155.4 7.8 7.4 25.8 18.8 465 TRISAKTI 150 16.0 4.1 1.4 13.3 2.6 RANTAU 20.0 20.8 6.3 6420.8 -5.0 1.6 1.6 152.0 61.0 7.3 14.4 MANTUIL 15.1 G 13 2 13.2 155.7 33.0 M TEWEH 8.4 6485.0 PULPIS 13.18 3.0 5209.8 5.1 2333.7 7.6 9.0 9.0 10.1 6.8 BATULICIN 4.5 150.0 6.1 6650.2 6.5 7.8 71.4 149.1 13.4 19.1 2285.5 151.1 154.5 150.3 15.0 3670.2 14.0 KASONGAN 154.0 U SAMPIT 1.4 TRISAKTI 70 12.1 24.0 10.0 13.6 3.3 13.2 5992.2 D 33.3 8024.2 3.5 U SELAT 12.9 67.8 153.3 3.1 4.0 PLTG 128 0 B A NGKA NA I 140 M W 128.0 42 5.4 A 50.0 + + 47.5 -9.0 15.

4 4.4 150.0 45.2 TRISAKTI 145.8 32.1 PALANGKA KASONGAN 46.5 25.2 40.6 70.3 MW 9.4 6.5 ASAM ASAM 18.5 20.2 M TEWEH 36.8 140 145.1 9.3 9.9 22.8 113.6 U BATULICIN 14.2 8.0 20.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2015 PLTU PULPIS 2X60 MW PLTU SAMPIT 2x25 MW U SELAT 13.0 15.5 44.7 13 2.6 6.9 7.6 66.4 9.4 K KURUN 3.4 22.8 31.3 24.4 6.6 147.0 MW 10.0 12.6 1.8 22.5 146.0 150.2 20.2 6.8 ULIN M 29.1 PELAIHARI 17.2 GU PLTGU BANGKANAI 280 MW 15.5 146.4 18.9 U PLTU ASAM ASAM 4X65 MW KET : NAMA GI MW MVAR KV Beban Sistem : Losses : Flow dalam MW/MVAR 623.9 0.2 158 68.4 CEMPAKA 146.2 6.9 3.0 16.6 41.4 11.9 9.6 151.8 11.0 PULPIS 5.9 U PLTU KALSELTENG 100 MW 58.7 31.0 52.2 3.8 145.1 TRANSFER KE KALTIM BARIKIN A 12.1 6.8 25.1 46 26.5 15.2 22.8 19.4 PLTU BUNTOK 2X7 MW 153.5 14.8 SAMPIT 23.1 AMUNTAI 147.7 155.9 64.4 132.3 PLTA RIAM KANAN 30 MW MANTUIL 153.3 35.7 5.2 1.4 `12.1 4.1 10.2 66.5 TANJUNG 19.0 1.0 87.2 15.2 .4 153.6 12.2 15.1 U ` SEBAR 8.6 9.7 KAYUTANGI 19.1 11.0 6 .0 21.2 BUNTOK 7.8 150.0 148.7 10.6 148.8 22.8 60.6 9.0 U RANTAU TRISAKTI 466 4 14.6 13.4 24.8 CEMPAKA 38.4 PBUN 21.4 151.5 151.6 3.1 14.6 155.6 129.4 2.2 13 29.

6 34.8 7.0 MANTUIL U AMUNTAI 144.8 9.0 MW Beban Sistem : 942.4 66.6 ULIN M TRISAKTI 148.8 24.6 7.7 26 52.5 PLTU BUNTOK 2X7 MW 25 KANDAGAN 17.8 34.3 154.9 8.7 19.9 19.4 144.2 0.4 6.6 48.9 15.8 11.2 ASAM ASAM 32.9 60.6 13.8 145.4 150.2 149.9 29.6 107.0 MW 2.6 20. 962.8 14.4 A 23.0 0.7 50.3 12.6 8.4 40.6 12.6 CEMPAKA 12.0 63.6 U 14.4 36 2 36.2 153.2 155.2 23.1 147.12% Flow dalam MW/MVAR 14.4 46.2 14.2 BANGKANAI 40.2 SAMPIT 42.6 60.1 144.1 10.8 152.8 SEBAR 19.6 144.2 8.1 64.4 6.6 24.6 TANJUNG 38.4 CEMPAKA PELAIHARI 24.8 31.5 18.7 31.4 152.8 PLTU CENKO 2X7 MW K KURUN 16.6 5.6 19.4 149.2 41.4 TRANSFER KE KALTIM BARIKIN 26.0 MW Losses : 20.4 74.8 52.3 153.4 04 0.0 3.2 60.8 GU 6.6 5.6 0.6 1.2 25.2 13.6 PLTU BUNTOK 2X100 MW 12 2 12.4 12.2 8.2 5.2 U 7.Analisa Aliran Daya Kalimantan Selatan dan Tengah Tahun 2020 PLTU PULPIS 2X60 MW PLTU SAMPIT 2x25 MW PLTU PULPIS 1X100 MW U SELAT 24.1 28.8 66.2 PRK CAHU 10.1 60.1 BATULICIN 29.4 RANTAU 75.4 116 59.6 3.4 .1 TRISAKTI 144.7 64.4 KAYUTANGI 144.2 U PLTU ASAM ASAM 4X65 MW KET : NAMA GI MW MVAR KV Daya Pembangkit .4 PLTGU BANGKANAI 280 MW 0.0 154.8 8.0 467 4 24.4 16.7 76.6 24.3 148.4 8.6 146.6 38.3 33.0 4.9 10.7 23.5 68.2 15.0 7.4 PLTA KUSAN 65 MW 46.2 BUNTOK 21.4 PBUN 31.3 8.7 7.8 63.0 PALANGKA KASONGAN 37.4 PLTA RIAM KANAN 30 MW BANDARA 36.2 13.0 PULPIS 19.4 M TEWEH 2.8 154.1 11.8 6.7 PLTU KALSETENG 2X100 MW 1.7 26.3 4.6 A 144.1 5.8 116.0 51.

5 MW INDUSTRI 71.2 144.4 MW 9.0 22 G 20 6.9 D BUKUAN 30.9 U MW 142.9 MW MW 21.0 142.3 6.4 LOSS 1.0 HARAPAN BARU MW 36.0 25.8 G D SAMBUTAN MW 21.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2011 40.3 40.1 143.2 MW MW MW MW 138.9 6 11.0 40.3 139.1 143.0 MW PLTU CFK U 144.8 15.2 142.6 34.0 468 4 MW 58.2 5.0 15.6 KARANG JOANG 20.0 EMBALUT 9.9 53.3 MW 30.5 MW 61.4 MW TENGKAWANG 54.0 21.4 112.8 BUKIT BIRU 15.7 140.4 147.7 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 270.3 64.6 26.2 3.8 LOAD 268.2 MW MW 77.4 MW 31.0 13.7 MANGGAR SARI 29.9 .2 3.7 D G D D 20.

0 MW NEW INDUSTRI 41.0 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 479.2 MW SAMBUTAN 11.0 151.0 24.0 MW 28.4 MW 16.3 69.9 140.0 G 60.3 148.5 150 3 150.0 4.4 MW 74.6 U 30.5 8.6 6.8 MW 13.0 15.6 217.0 13.3 151 4 151.4 BONTANG MW 32.2 MW PLTG SENIPAH 60.5 152.8 PLTU CFK U 42.0 4.8 21.0 G 109.0 BUKIT BIRU 21.1 KALSEL -33.5 16.2 MW 33.6 149.2 MW 59.0 MW 18.8 11.0 U MW KARIANGAU 29.0 MW MW EMBALUT 43.2 150.6 140.0 LOSS 3.5 G 8.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2015 107.3 MW KUARO 19.1 LOAD 508.8 9.4 INDUSTRI 68.9 4.0 60.8 MW MW 15.9 MW 33.5 149.6 7.1 45.9 G 34.2 149.0 MW 150.7 147 5 147.4 KARANG JOANG 52.4 KALSEL 51.0 193.8 PLTU MT 13.1 HARAPAN BARU MW 51.1 MW 6.5 MW MANGGAR SARI 151.8 MW 469 4 5.3 148 3 148.0 MW 151.0 153.0 33.9 20.0 MW PENAJAM 19.6 18.3 U SEMBERA 150.3 149.6 69.6 60.0 MW 12.3 .0 MW 2.2 BUKUAN 91.8 16.8 149.4 MW TENGKAWANG 88.

7 35.9 PLTU MT 13.1 145 1 145.8 105.8 146.1 142.3 143.7 U SEMBERA MW 84.1 KALSEL 65.7 MW KUARO 36.8 MW 53.7 144.3 PENAJAM 35.9 147 5 147.3 9.1 PLTU CFK U 152.0 MW 150.4 HARAPAN BARU MW 81.7 6.2 17.0 26.0 MW 470 4 145.6 MW MW 20.6 26.2 MW 64 146.6 G 66.5 40 6 40.6 U INDUSTRI 86.2 381.0 90.5 MW 36 0 36.0 149.9 140.8 MW PLTG SENIPAH 143.2 U MW U MW 50.0 40.2 MW 40.0 13.0 -4.0 142.5 U MW KARANG JOANG KARIANGAU 56.8 86.4 MW SAMBUTAN 21.0 144.0 MW 11.6 141.Analisa Aliran Daya Kalimantan Timur Tahun 2020 KELAI 150.6 MW 54.3 13 4 13.3 34.7 MW MANGGAR SARI MW 50.2 143 5 143.0 BUKIT BIRU 34.9 65.8 143.2 MW NEW INDUSTRI 80.1 LOAD 898.6 G 80.1 139 6 139.9 143.2 INFRASTRUKTUR BUKUAN 178.3 MW 63.6 11.6 .7 156.3 6.2 MW 46.4 29.1 15.2 MW TENGKAWANG 79.5 G 53.5 416.5 84.0 23.2 38.7 160.9 BONTANG MW 60.0 142.0 MW 145.0 G 207.6 MW NEW SMARINDA 144.0 MW 20.3 LOSS 20.2 141.1 90 0 90.0 MW KALSEL 104.4 202.0 MW MW EMBALUT 20.8 MW 160.3 MW 42.9 219.9 11.1 Keterangan : GI MW MVAR kV MW MVAR GEN 982.8 143.8 41.0 MW 34.1 12 1.0 MW 160.1 4.0 SANGATTA MW A 38.

9 KEBUTU UHAN FIS SIK PENG GEMBANG GAN DISTRIBUSI SIST TEM INTE ERKONEK KSI KALSELTENGT TIM 471 .L LAMPIRA AN B1.

783 4.161.4 52.3 196.202 159 81.2 177.4 146.114 2020 7.0 6.623 2014 5.1 82.4 159.727 204 120.914 4.138 204 130.166 Tahun Pelanggan 109.169 46.229 2011-2020 54.5 77.209 4. Kalteng & Kaltim JTM JTR Trafo 2011 kms 4.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalsel.037 2.788 .2 67.6 176.584 5.022 1.8 16.0 88.5 829.054 2019 6 987 6.4 145.4 71.239 472 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi P Propinsi i i Kalsel.987 5 204 5.7 17.2 64.0 0 241 121.3 215.330 191 113.973 3.7 74.5 53.5 55.6 5.4 5.655 MVA 142 2012 3.679 2016 4.6 155.3 6.0 91.2 79.040 6.5 JTR 63. 88 2015 4.1 13.545 4. K l l Kalteng K lt & Kaltim K lti Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 34. 96 6.8 13.0 16.5 6.4 146.098 kms 2.997 181 109.6 17.9 3.6 72.628 234 134.3 11.8 58.204 221 129 114 129.0 1609.5 14.8 126.7 112.650 2018 6.780 5.4 2011-2020 578.9 6.3 4.6 110.400 2013 4.1 101.0 5.1 Trafo Pelanggan Total 10.9 14.0 43.3 .117 244 111.4 5.296 5.7 55.0 65.389 2017 5.

Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalimantan Selatan JTM JTR Trafo 2011 kms 1.7 1.3 40 5 40.2 3.4 37.2 48.4 34.400 2018 2.3 57.7 38.369 828 51 33.465 982 50 32.6 5.4 107.0 1.206 533 373.0 2.417 804 44 34 814 34.1 30.536 1.787 964 51 37.254 kms 865 MVA 45 2012 1.008 1.6 3.2 36 3.4 14.9 2.4 24 9 24.2 12.4 3.7 4.5 41.256 1.395 68 44.1 2.806 2020 2.0 2.5 9.066 2019 2.071 2013 1.4 43.850 1.3 10.786 473 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Selatan Juta USD Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2011-2020 JTM JTR Trafo Pelanggan Total 9.9 23.7 315.5 480.2 51.533 10.060 Tahun Pelanggan 30.272 63 42.7 3.3 24.2 38.6 46.6 3.2 13.7 21.6 18.3 70.2 35.1 27.0 63.6 1.5 16 1.0 4.805 2017 2.814 2015 1.4 8.8 1.159 59 41.1 10 4 10.7 1.3 4.277 2016 1.2 11.591 880 47 36.622 2011-2020 18.5 37.5 .413 2014 1 417 1.7 8.057 55 39.

706 230 226.1 4.3 19.6 26.8 2.0 54.431 11.8 5.9 1.5 18.287 2019 1 371 1.3 26.010 2013 740 391 17 15.7 0 7 0.332 2020 2011-2020 1.3 7.7 0.8 0.8 0.371 600 25 21 332 21.7 19.3 5.9 4.6 1.0 49 4.0 4.085 499 22 19.1 2011-2020 68.5 1.1 1 1 1.5 209.4 1.4 4.7 308.6 13.219 547 24 20.1 1.2 3.2 23.450 2016 966 455 20 18.0 36.540 659 27 22.2 1.5 20.5 10.2 20 2 18.6 13.595 2015 860 415 19 17.547 5.2 32.8 0.813 474 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Tengah Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 14.3 1.8 6.7 1.341 Tahun Pelanggan 59.294 MVA 43 2012 792 464 15 15.208 kms 1.348 2017 1.0 0.6 16.4 20.5 36.5 13 5 12.9 0.0 .293 2018 1.2 29.782 2014 766 380 18 16.8 23.1 21.0 14.0 1.7 0.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi Kalimantan Tengah JTM JTR Trafo 2011 kms 2.

577 110 53.7 874.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Propinsi p Kalimantan Timur JTM JTR Trafo 2011 kms 636 kms 495 MVA 54 2012 1.1 37.2 100.1 3.2 29 3 29.5 94.765 Tahun Pelanggan 18.2 3.220 2.1 53.020 122 58 701 58.8 6 8 12.9 3.976 2020 3.7 5.7 3.7 82 1 82.734 3 020 3.8 9.389 3.9 65 9 99.4 21.429 2014 3.843 138 76.7 1 7 3.260 561.1 65.176 2011-2020 24.8 41 8 41.7 37.574 138 67.8 83.898 176 62 429 62.7 13.113 4.5 108.6 .080 3.3 31.701 2019 3.332 2.957 2018 2 734 2.319 2013 2 474 2.125 1.452 2.1 1.1 90.6 10.5 57.756 94 34.0 8.236 2017 2.7 2.6 75.1 29 1 41.6 52.0 83 8.3 8.2 30.2 30.3 331.1 120.9 6.332 133 64.641 475 4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi Propinsi Kalimantan Timur Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 10.9 35.774 115 54.474 3 898 3.658 2.2 42.953 2016 2.5 3.2 29.0 10.8 28 2 28.0 1.379 2015 2.0 39.0 27.7 27 2.855 180 70.089 30.1 51.8 2011-2020 418.8 46.8 2.

L LAMPIRA AN B1.10 0 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SISTE EM INTER RKONEKSI KALSEL LTENGTIM M 476 .

875 2013 774 360 30 373 18.961 196.557 272.918 69.353 26.456 2.451        159.824        233.590 .357 50.148          2.214           99      1. Kaltim (Juta Rp) Tahun JTM JTR Trafo Total Listrik murah & hemat (RTS) 2011 175.822 - Total        782.620 60.198 359.590 2013 239.145 67.609        1.304      75.Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel.190 - 2014 755 351 29 364 17.398 - 2012 133.053 33.472 - 2014 234.990 350. Kalteng. Kalteng.142 36.588            740 477 4 Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel. Kaltim   Tahun JTM kms Trafo JTR kms MVA Unit Jumlah Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS) 2011 655 313 24 370 29.770 2012 424 190 17 197 9.706    1.753 - Total 740        2.179.688 48.

0 8.672.9 32 601 9                      ‐        312.0 .693.8               286              33.716.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Listrik m urah Jm l Pelanggan dan Hem at (RTS) Unit 186.824 150                            150 478 4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Total 47.2 207 362 2               72.075               676.6 5.0 143.4 17.249 184.561.038.489.956.5           207. 38.029.009.8 87.7 58 7.051.8 60 7.3 131 15.8 312 716 8 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 525.036.907.2 60. 86.417.169.7 96.4 .102.362.2 .2 60.6 .8 7.0           19.601.752.7 72 752 7            32.000 117.3 .9 84.1            394.2 94.837.8 54.9 61.459.0 37 4. 11.3 4.7 4. 27.4 10.8 17.0 7.500 188.0 3.

484.807.924.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 272.0 12.624.156.346.7 173.8 215 8.4 47.586            1.000 367.9         36.5 .5 104.6 109.100.6           326.5 18.5 10.503.384 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 175                           175 479 4 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah (juta Rp) Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Tengah  (juta Rp) Tahun 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR Trafo Pembangkit Total 72.559.6             79.6 78.0 5.1 220 8.9 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 612.7 27.8           618.802.0 111.5 100 4.3 209.710.833.2                        ‐          530.125.0 138 10.635.959.164.0 95.439.0 7.1 26.5 203.1              126.344.9 11.798 358.3 25.2 168.000 167.305.867.4 101.623.4 12.1 41.4              673             31.3 40.

1 Pembangkit Total Listrik m urah dan Hem at (RTS) 76.2 96.295.1 9.375 2013 218.3           248.6 94 2.977.5 101 4.6 72.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur Tahun JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 2011 197.330.143 2014 Total 212.0          336.0 59.6 2013 2014 Total 74.0 9.272.092               767.192.584.708.1 63.8 8.5 10.9 14.1         42.4             50.8 53.0 12.6 6.380 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 415                           415 Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Provinsi Kalimantan Timur (juta Rp) 480 4 Tahun JTM JTR Trafo 2011 55.938.5 .452.579.5 99.301.059.7 10.591.7           201.532.0 54.6 2012 47.025.452.3 91 2.9 34.770 2012 139.7 14.7 11.3 12.420.890.4                1.2                33.4 1.906.0 7.295.5              346             10.000.084.1 60 1.

12 PROYEKSII KEBUTU UHAN INV VESTASI SIST TEM INTER RKONEKS SI KALSE ELTENGTIIM 481 .LAM MPIRAN B1.

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit.8 748.44 177.73 110. 5426.62 1.8 Total 3068.6 2012 72.38 126.06 155.3 346.9 9.9 2014 788.0 2018 148.9 2017 399.3 .16 145.4 17.3 2020 284.0 1.8 411.39 215.9 61.6 604. Transmisi & Distribusi (j t USD) (juta (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 482 4 2011 244.08 196.1 2015 356.4 2016 150.4 1087.609.6 447.1 45.5 2013 484.01 146.2 2019 140.6 157.6 248.0 31.3 121.7 *) Distribusi : Nilai investasi untuk total wilayah Kalselteng dan Kaltim .1 56.4 312.3 386.4 500.4 533.37 159.00 176.2 796.

Sangatta. Kalimantahn Tengah dan Kalimantan Timur (Kalseltengtim) termasuk wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan sangat 483 . Sistem interkoneksi Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode tahun 2011-2020.3% per tahun termasuk adanya pengalihan dari isolated masuk ke sistem.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Saat ini ada dua sistem besar kelistrikan di Kalimantan yang masuk wilayah operasi Indonesia Timur.122 GWh pada tahun 2011 naik menjadi 5.571 GWh pada tahun 2020. yaitu dari 2. Puruk Cahu dan Kuala Kurun.2 Neraca Daya Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan. Sistem Barito dan Sistem Mahakam direncanakan akan terhubung menjadi satu sistem Kalseltengtim pada akhir tahun 2012 dengan selesainya pembangunan transmisi 150 kV Tanjung (Kalsel) – Kuaro – Karangjoang (Kaltim).892 GWh pada tahun 2020 dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 67% sampai 71% Beban puncak sistem interkoneksi Barito naik dari 362 MW pada tahun 2011 menjadi 942 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Pangkalan Bun. Buntok. yaitu sistem Mahakam di Kalimantan Timur dan sistem Barito di Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah. yaitu 1.0% per tahun. produksi listrik pada sistem Mahakam meningkat rata-rata 13. dengan faktor beban diperkirakan berkisar antara 69% sampai 69. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran B1. Muara Teweh.7% Beban puncak sistem interkoneksi Mahakam diperkirakan naik dari 288 MW pada tahun 2011 menjadi 922 MW pada tahun 2020 setelah interkoneksi dengan sistem Bontang. Sampit. Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Selatan. Sistem interkoneksi Kalimantan Selatan & Kalimantan Tengah (Sistem Barito) Untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam tahun 2011-2020.PENJELASAN LAMPIRAN B1 SISTEM INTERKONEKSI KALSELTENGTIM B1.757 GWh pada tahun 2011 menjadi 5. B1. Petung dan Tanah Grogot. produksi listrik pada sistem Barito meningkat rata-rata 12.

Selanjutnya setelah tahun 2016. serta sewa dan excess power 174 MW.tinggi. Rencana reserve margin yg sangat tinggi hingga 76% pada tahun 2013 didasarkan pada keinginan PLN yang sangat kuat untuk memastikan kebutuhan listrik di provinsi Kaltim. yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12.374 MW. maka dilakukan sewa PLTU batubara di Kalsel 3x50 MW dan di Kaltim 2x120 MW serta sewa PLTG peaking di Bontang Kaltim 100 MW dengan mengakomodir reserve margin sampai sekitar 76%. Pembangkit-pembangkit tersebut dijadwalkan beroperasi secara bertahap mulai tahun 2012 sampai 2015. berikut PLTG 560 MW. 484 . PLTG gas 100 MW dan PLTA 215 MW. bahkan mungkin berlebihan. maka sebagian besar pembangkit yang akan dibangun berupa PLTU batubara dengan total kapasitas 1. Sebagaimana diketahui bahwa tingkat keberhasilan proyek pembangkit di Kalimantan masih rendah dan sebagai antisipasi terhadap kondisi tersebut.934 MW. Beberapa pembangkit di sistem ini masih menggunakan BBM sehingga biaya operasinya tinggi. Mengingat Kalimantan mempunyai cadangan batubara yang melimpah. Kalteng akan tercukupi. mengingat ketiga Propinsi di Kalimantan ini merupakan sumber energi primer nasional yang sangat besar baik batubara maupun gas alam. direncanakan membangun PLTG peaking berbahan bakar gas alam lengkap dengan gas storage (CNG/LNG storage) yaitu PLTG Kaltim peaking 2x50 MW dan PLTG Bangkanai 4x70 MW. direncanakan akan ada penambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 715 MW yang terdiri dari PLTU batubara 400 MW. dimana saat ini dalam tahap proses pengadaan dan sebagian sudah konstruksi. Untuk mengurangi penggunaan BBM pada waktu beban puncak. Pada periode 2011 sampai dengan 2016. namun sudah lama menderita kekurangan pasokan listrik. Secara geografis. di sistem Kalseltengtim akan ada penambahan pembangkit baru baik milik PLN maupun IPP termasuk sewa PLTU dan PLTG sekitar 1. neraca daya masing-masing sistem Kalselteng dan sistem Kaltim telah memenuhi kriteria regional balance sehingga ketergantungan daya antar sub sistem relatif rendah. Pada saat ini kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP adalah 564 MW.6% per tahun sampai dengan tahun 2020. Kalsel.

2. B1.Selain itu. . − Penyediaan gas untuk PLTG Sambera 2 x 20 MW dan untuk PLTD Cogindo 40 MW yang saat ini masih dioperasikan dengan bahan bakar MFO. perlu penanganan khusus untuk aspek lingkungan sehubungan adanya satu jenis spesies langka (kera berhidung merah) yang diperkirakan hidup dikawasan hutan sekitar lokasi proyek.PLTU Pulang Pisau 2x60 MW karena permasalahan kondisi tanah pondasi. sewa PLTU batubara dan PLTG gas tersebut juga dimaksudkan untuk secepatnya dapat mengurangi penggunaan BBM di sistem Kalseltengtim. kaca dan sebagainya. maka PLN akan mengimbanginya dengan pemasaran listrik yang agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan. industri keramik. Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada tahun 2013 sampai 2017. PLN akan memonitor progres proyek dari tahun ke tahun. Adapun proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : − PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan (Perpres 1) 2 x 100 MW. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mendorong pertumbuhan industri padat energi di Kalimantan seperti industri baja. dan menunda jadwal proyek pembangkit berikutnya. Sedangkan proyek-proyek yang diperkirakan mundur dari jadwal : . − PLTU Asam-Asam (Perpres 1) 2x65 MW. − PLTG Bangkanai 4x70 MW.3 485 . untuk memenuhi kebutuhan beban pada tahun 2013 sebelum PLTU IPP beroperasi.PLTA Kusan.3 Proyek-proyek IPP Yang Terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B1. karena proyek ini dapat menurunkan biaya operasi dan mencukupi kebutuhan listrik di Sistem Mahakam Kalimantan Timur. kemudian pada tahun-tahun berikutnya digunakan sebagai pembangkit peaking untuk mengurangi penggunaan BBM. − Tambahan pasokan gas ke PLTGU Tanjung Batu untuk menurunkan biaya operasi sistem Kalimantan Timur. Apabila progres fisik proyek berjalan baik sesuai rencana. Neraca Daya Sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1.

Dengan beroperasinya PLTU. Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO sebesar 513 juta liter dan pada tahun 2020 menjadi 24 juta liter. Selain itu.B1. PLTG Kaltim peaking 2x50 MW serta PLTA Kusan 65 MW dan PLTA Kelai 150 MW. Demikian halnya dengan PLTG Sambera 40 MW dan PLTG Senipah 2x41 MW diharapkan akan semakin memperkecil penggunaan BBM.776 GWh atau 49% dari produksi total sistem Kalseltengtim.4. c.6 kali lipat. Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1. Kebutuhan energi primer di sistem Kalseltengtim dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B1.4 Neraca Energi Rencana pembangunan beberapa PLTU batubara dan PLTG peaking di sistem Kalseltengtim merupakan salah satu upaya menurunkan biaya operasi mengingat sebagian besar pembangkit di Kalseltengtim masih berbahan bakar minyak. peranan pembangkit berbahan bakar HSD dan MFO akan menurun dimana hingga tahun 2020 produksi pembangkit berbahan bakar minyak sebesar 238 GWh atau 2 % dari produksi total sistem Kalseltengtim. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU batubara.87 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 5. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011 hingga tahun 2020. Volume pemakaian batubara meningkat dari 1. b.4. rencana pengembangan PLTG Bangkanai 4x70 MW. PLTG gas dan PLTA. 486 . Peranan MFO dan HSD pada tahun 2011 untuk sistem Kalseltengtim masih cukup tinggi dimana konsumsi MFO dan HSD adalah sebesar 1. d. diharapkan dapat menurunkan peran BBM khususnya pada waktu beban puncak. diharapkan penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan ini dapat dikurangi.05 juta ton pada tahun 2011 menjadi 5.

6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik dan sekaligus untuk mengurangi penggunaan BBM pada sistem kelistrikan yang sebelumnya masih isolated. 487 . Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 akan mencapai 2. direncanakan pembangunan sistem SCADA (supervisory control and data acquisition) termasuk media komunikasi dan prasarananya di Kalimantan Selatan. ƒ Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Kalseltengtim dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran.B1.315 kms. proyek pembangkit IPP. PLTG peaking dan PLTA serta untuk menggantikan PLTD.5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%. Kebutuhan pembangunan transmisi 150 kV dan 70 kV baru dan up rating untuk sistem Kalseltengtim sampai dengan tahun 2020 sekitar 5.330 MVA Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalseltengtim seperti pada Lampiran B1. Untuk keperluan pengendalian operasional sistem interkoneksi 150 kV dan 70 kV Kalseltengtim khususnya pada subsistem Kalselteng dalam rangka menjaga tingkat mutu dan keandalan sistem penyaluran. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1. meliputi : ƒ Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit percepatan tahap I dan tahap II.6.5. transmisi 150 kV Tanjung – Kuaro – Karangjoang untuk menghubungkan sistem Kalselteng dan Kaltim serta transmisi 150 kV PLTGU Tanjung – Buntok – Muara Teweh – Bangkanai. ƒ Sedangkan proyek transmisi 150 kV yang perlu segera beroperasi pada tahun 2012 adalah. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi. B1.

PLTU Kaltim – 2 (FTP-2) dan PLTU Embalut Ekspansi 50 MW. Tahun 2011 Tambahan transmisi baru dari tahun 2010 s. dan sistem Mahakam Kalimantan Timur menerima transfer energi dari sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 33 MW. PLTG (FTP2) – Sambutan (2012).8 Analisis Aliran Daya Sistem Kalimantan Timur (Sistem Mahakam) Analisa aliran daya pada sistem Mahakam dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Uprating Harapan Baru – Bukuan (2013). Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Bontang ke GI Sambera sebesar 107 MW. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar Tanjung Batu ke GI Tengkawang sebesar 77 MW. Pembebanan trasmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1. PLTG Senipah – PLTU MT Kaltim(2014). Prakiraan aliran daya sistem Mahakam dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pada RUPTL 20112020 ini. 2015 dan 2017. Karang Joang . PLTG Senipah 2x41 MW. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Manggarsari (148 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139 kV). Sedangkan PLTU Kaltim MT 2x15 MW diperkirakan akan mundur.d 2011 adalah : Bukuan – Sambutan. PLTU MT Kaltim-Bukuan (2014). Pembebanan trasmisi masih di bawah 50 % sehingga masih memenuhi keandalan N-1. Tahun 2015 Dari tahun 2011 hingga tahun 2015. hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012. dan Berau – Tanjung Selor (2015). 2. ada beberapa tambahan pembangkit yaitu PLTG Kaltim 50 MW.B1. 488 .7 Peta Pengembangan Penyaluran Cukup jelas. Tambahan ruas transmisi pada tahun 2011-2015 adalah : PLTG Senipah – incomer single pi Manggarsari (2012) – Karangjoang. B1. Teluk Balikpapan Incomer 2 phi Karang Joang – Kuaro (2012). PLTU Teluk Balikpapan 2 x 100 MW.Kuaro (2012). Penajam Incomer 1 phi Karang Joang – Kuaro.

Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi di GI Kelai (156 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Industri (139. Kasongan. Tegangan terendah terjadi pada GI Kayu Tangi sebesar 489 . dan adanya penambahan pembangkit baru di sistem Barito yaitu PLTU Asam–Asam (FTP-1) 2x65 MW. Total beban interkoneksi sistem Barito sebesar : 504 MW. PLTG Kaltim 50 MW peaking (2018). Pada RUPTL 2011-2020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012. PLTU Pulang Pisau 2x60 MW dan PLTG Bangkanai 140 MW. Prakiraan aliran daya sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem barito) dapat dijelaskan sebagai berikut : 1.Sambutan(2017) dan PLTA Kelai – Sangatta (2018) Bontang. Tahun 2020 Pada tahun 2020. Tahun 2013 Pada tahun 2013 sistem isolated Sampit. Pembebanan trasmisi masih dibawah 50% sehingga masih memenuhi keandalan N-1. 2015 dan 2017. Tambahan ruas transmisi 150 kV pada tahun 2016-2020 adalah : New Samarinda .Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan tertinggi terjadi di GI Bontang (153 kV) sedangkan tegangan terendah di GI Manggarsari (147 kV) 3. Aliran daya dari pusat pembangkit terbesar di Kelai dan Bontang ke GI Sambera sebesar 202 MW. dan sistem Mahakam Kalimantan Timur mengirimkan transfer energi ke sistem Barito Kalimantan Selatan sebesar 65 MW. Profile tegangan pada sistem interkoneksi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih memenuhi standar.6 kV) Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah ( Sistem Barito) Analisa aliran daya pada sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Sistem Barito) dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Batulicin dan Buntok telah terhubung dengan sistem Barito. PLTU Kaltim Infrastruktur 200 MW (PPP book) dan PLTA Kelai 2x75 MW telah beroperasi. Pada tahun 2013 ini diperkirakan telah terjadi interkoneksi sistem Barito dengan sistem Mahakam (Kalimantan Timur).

6 kV. Kuala Kurun dan Pangkalan Bun. Sedangkan perluasan/penambahan jaringan transmisi untuk menghubungkan sistem isolated ke sistem interkoneksi meliputi sub sistem Puruk Cahu. PLTU Sampit 2x25 MW. ƒ Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan ƒ Perbaikan SAIDI dan SAIFI 490 . Profil tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Trisakti sebesar 144.9 kV.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk.149.1 kV dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 154. sedangkan tegangan tertinggi terjadi pada GI Sampit dengan tegangan sebesar 155. Losses yang terjadi pada kondisi ini sebesar : 5. ƒ Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan baru.4 MW. Tahun 2015 Penambahan pembangkit baru masuk sistem Barito terdiri dari PLTG Bangkanai extension sebesar 2x70 MW.6 MW (1.1 %) Aliran daya dari Kalsel ke Kalteng sebesar 50. 2. Total beban sistem Barito sebesar 942 MW dan Losses 20 MW (2. dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 1 100 MW.6 kV. Perluasan transmisi meliputi segmen Kuala Kurun – Kasongan dan PLTA Kusan – Kadongan.7 %).8 MW. pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance.1 dan tertinggi pada GI Muara Teweh sebesar 155. B1.2%).4 MW dengan pembebanan masing-masing wilayah dalam kondisi regional balance.8 kV. Total beban sistem Barito sebesar 623 MW dengan Losses 10. sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 24. 3. Aliran daya dari Kalteng ke Kalsel sebesar 0. PLTU Kalteng-1 2x100 MW dan PLTU Kalsel (FTP-2) unit 2 (100 MW) ke sistem Barito. sedangkan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur sebesar 0. Tahun 2020 Hingga tahun ini terjadi penambahan pembangkit PLTA Kusan sebesar 65 MW. Tegangan sistem masih dalam batas normal dengan tegangan terendah terjadi pada GI Kayutangi sebesar 145.2 MW.3 MW (1.

609.3 6.3 196.584 5.0 5.5 10.296 4.727 5.229 1.2 67.0 6.4 2011-2020 578.5 6.054 129.239 81.209 6.400 111.2 177.2 64.169 46.3 4.4 159.4 63.0 91.0 16.389 113. Kalteng dan Kaltim 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 JTM kms 4.4 145.783 4.8 58.987 7. Kalteng dan Kaltim Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 34.3 215.9.1 101.545 6.5 829.6 17.166 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 Propinsi Kalsel.7 55.4 5.679 109.117 6.0 88.9 3.6 72.6 155.3 11.7 17.5 14.4 5. Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi 2011-2020 Propinsi Kalsel.6 176.6 110.4 71.0 65.5 55.037 2.1 146.9 14.973 5.202 5.3 Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Selatan.022 Tahun Pelanggan 109.4 146.1 82.9 6. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur seperti pada Lampiran B1.780 JTR kms 2.7 112.0 43.655 4.914 4.8 13.204 5.650 120.ƒ Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Selatan.161.997 4.1 13.5 77.4 52.5 53.114 134. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : 491 .8 16.040 4.7 74.2 79.330 4.098 3.623 121.788 130.138 3.6 5.0 1.8 126.628 Trafo MVA 142 159 244 241 204 181 191 204 221 234 2011-2020 54.

tahun 2011 tidak semua daftar tunggu bisa disambung karena keterbatasan kemampuan pasokan.609        1.16 juta pelanggan.169 kms. JTR dan gardu distribusi yang akan dibangun. JTR 46.304      75. Akibatnya tambahan pelanggan baru pada tahun 2012 tidak sebanyak yang akan disambung pada tahun 2011. Sebaliknya dengan di Kaltim.037 kms.10 Program Listrik Perdesaan Prakiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Kalsel.770 2012 424 190 17 197 9.ƒ Pada tahun 2012 terjadi penurunan jumlah pelanggan yang akan disambung disebabkan sebagian besar daftar tunggu calon pelanggan di Kalselteng diselesaikan di tahun 2011 sehingga pada tahun 2012 calon pelanggan sudah berkurang.753 - Total 740        2.190 - 2014 755 351 29 364 17. Kalteng dan Kaltim 2011-2014 Tahun JTM kms JTR kms Trafo MVA Unit Jumlah Pelanggan Listrik murah & hemat (RTS) 2011 655 313 24 370 29. gardu distribusi dengan kapasitas 2.214           99      1. JTR US$ 829 juta. Kebutuhan anggaran per tahun diperkirakan sebesar US$ 160 juta.588            740 492 .875 2013 774 360 30 373 18. B1. ƒ Perkiraan biaya total untuk pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan sekitar US$ 1.609 juta dengan rincian JTM US$ 578 juta. tidak selamanya mengalami peningkatan volume/kapasitas yang sama atau lebih tinggi. ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 54.022 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1. dan sambungan pelanggan US$ 55 juta. ƒ Rencana JTM. tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dilapangan. gardu distribusi US$ 146 juta.

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.961 196. Kalteng dan Kaltim 2011-2014 Tahun JTM JTR Trafo Total Listrik murah & hemat (RTS) 2011 175. dapat dijelaskan sebagai berikut : ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun JTM 2.706    1.59 milyar.557 272. menjadi 75.357 50.6% di tahun 2020 untuk regional Kalimantan Selatan.918 69. transmisi dan gardu induk sistem Kalseltengtim diberikan pada Lampiran B1. dan sambungan pelanggan Rp 2.688 48.12. 493 .451        159. gardu distribusi Rp 160 milyar.6.398 - 2012 133.214 kms. JTR 1. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tahun 20112014 diatas.3 s/d.7% di tahun 2014 dan 92.053 33.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit.990 350.822 - Total        782.142 36. ƒ Perkiraan total biaya selama kurun waktu tersebut untuk kegiatan listrik perdesaan sebesar Rp 1.353 26. B1.824        233.179.Prakiraan Biaya Jaringan Listrik Perdesaan (Rp Juta) Regional Kalsel.609 kms.590 2013 239.590 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional Kalimantan Selatan. B1.148          2. JTR Rp 233 milyar.472 - 2014 234.620 60.198 359. 4. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 64% tahun 2010.145 67.456 2.18 triliun dengan rincian JTM Rp 782 miliar.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Cukup jelas sebagaimana diuraikan dalam sub Bab 4. gardu distribusi dengan kapasitas 99 MVA.

L LAMPIRA AN B2 SISTEM INTERK KONEKSII SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERK KONEKSII SULSEL LRABAR 494 .

Proyeksi Ke ebutuhan Inv vestasi B2.3.9. Peta Penge embangan Pe enyaluran B2. ASAN LAMPIIRAN B2 PENJELA 495 .6. Rencana Pengembanga P an Penyalura an B2. Analisis Aliran Daya B2.8.10. Proyeksi Ke ebutuhan Tenaga Listrik Neraca Day ya B2. stribusi Kebutuhan Fisik Pengembangan Dis B2. SISTE EM INTERKO ONEKSI SUL LAWESI UTA ARA.7. SULA AWESI TENGGAR RA DAN SUL LAWESI BARAT (SULSE ELRABAR) B2.2. Proyek-Pro oyek IPP Terk kendala B2. aan Program Listrik Perdesa B2.11. SULAW WESI TENGAH DAN GORONTALO (SUL LUTTENGGO O) DAN SIST TEM INTERKONEKSI SULA AWESI SELA ATAN. Neraca Ene ergi B2.1.5.L LAMPIRA AN B2 B2.4.12. Capacity Ba alance Gardu u Induk B2. nergi Baru da an Terbaruka an Program En B2.

1 PROYE EKSI KEBU UTUHAN TENAGA A LISTRIK SISTEM INTERK KONEKSII SULUTTENGGO DAN SISTEM INTERK KONEKSII SULSEL LRABAR 496 .LA AMPIRA AN B2.

2 64.6 75.6 40.9 61.5 245 8 245.2 91.Beban Puncak ( MW ) 1.7 34.337.9 60.0 57.6 1.5 1.786.Produksi ( GWh ) .9 60.2 151.2 42.Produksi ( GWh ) .070.0 56.557.6 56.5 123.0 40.Load Factor (%) .2 Sistem Tolitoli-Moutong .Load Factor (%) .1 25.9 566 6 566.8 60.7 40.1 1.650.Produksi ( GWh ) .1 405 5 405.135.7 137.8 60.4 57.7 Sistem Sulut-Gtalo-Tolitoli .4 289 1 289.3 2.7 1.6 41.4 61.1 59.6 440 5 440.1 1.302.6 .045.Produksi ( GWh ) .8 63.5 2.3 65.Beban Puncak ( MW ) 257.5 111.Load Factor (%) .135.144.7 324.7 87.7 373 3 373.7 59.5 274.8 1.3 3.423.7 2.3 40.5 1.6 Sistem Interkoneksi Sulteng .2 352.0 62.4 57.0 478 7 478.5 31.4 55.6 440 5 440.5 2.6 62. 2 497 3 4 5 Sistem 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Sistem Sulut .8 2.374.0 1.2 1.Load Factor (%) .2 61.3 301.Beban Puncak ( MW ) 1.0 82.5 2.0 266 5 266.0 74.302.3 3.5 23.0 253.1 102.0 478 7 478.4 289 1 289.3 45.2 61.3 61.8 61.8 61.6 40.7 2.0 1.3 436.3 21.8 61.9 61.7 56.2 59.423.394.0 266 5 266.1 405 5 405.8 61.786.8 1.799.9 100.7 Sistem Gorontalo .557.337.555.5 245 8 245.254.Beban Puncak ( MW ) 66.2 40.9 211.7 471.2 57.809.8 61.0 40.Beban B b P Puncakk ( MW ) 1.2 60.6 63.8 94.984.6 321.8 64.1 56.9 373.0 56.4 229.4 1.4 194.2 59.070.8 383.1 59.505.3 418.3 61.9 40.1 62.7 81.799.0 56.0 346.4 403.2 51.5 1.4 278.Load Factor (%) .6 41.4 65.6 2.9 1.177.1 298.0 165.3 344 0 344.3 2.3 344 0 344.Proyeksi y Kebutuhan Tenaga g Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Suluttenggo No 1.7 373 3 373.6 511.2 60.4 520 3 520.952.2 19.Produksi ( GWh ) .5 2.952.555.3 28.9 566 6 566.5 69.1 1.9 38.4 520 3 520.

5 967.0        427.4 63.9    1.2        475.2           29.063.3 54.619.885.476.0 63.6 55.3 5.8          63.1 1.2 63.6           70.420.127         1.7 55.135.6          63.6     6.5 1.9    7.604.387.5    5.7 62.1 59.918.166.6 1.639        1.5 61.3 59.0            728 Beban Puncak ((MW)) 498 Sistem Sulsel (Prop Sulsel) Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Sistem Sulsel (Prop Sulbar) Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Sistem Sultra Energi g Produksi ((GWh)) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) Interkoneksi SULSELRABAR Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) Beban Puncak (MW) 2015 2016    6.6 Energi Produksi (GWh) Load Factor (%) 63.928.9          63.0         152.6 63.9 62.8 .7    4.9 2017 2018 2019 2020    9.1 300.2           833           929     3.6    5.4 53.1    8.2 128 718.015.141.8 55.6 10.8 55.7 109 594.3 63.4          35.212.9 1.4 8.119.525.3          63.279.8     6.102.3 59.7          63.1 62.5 118 653.100.1         698.9          78.4          63.358        1.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Interkoneksi di Wilayah Sulselrabar SISTEM 2011 2012 2013 2014    4.3 6.3 58.0 139 793.3        885.017.913.2 63.4    7.4        1.404.3           63.021        1.7 152 7.6          63.777.9          63.7         345.6        528.2        798.7    5.6 5.6        259.5           63.2 541.3 6.984.6    1.950.9 75 409.491        1.5 57.0    9.4          43.456.8    1.845.6 1.0          50.4 62.4        970.2 8.3 59.500.722.541.5    8.6     1.847.865.391.9        222.2 64 355.1 63.1 63.237        1.346.7 63.6    7.7          87.778.0 100 4.9 56.1        384.8    1.820.4          97.7    5.651.1 Wil.5 1.1 59.1          63.3 62.626.4        108.0 55. SULSELRABAR Sistem Sulsel (Prop Sulsel & Sulbar)     4.3 63.3 59.7    1.1    9.6 9.799    4.691.3 93 492.0 53.7 61.6 86 449.5 55.2 56.229.7 55.113.1 1.8 1.8        310.275.227.1        183.7 63.092.1 726.0 63.

LA AMPIRAN N B2.2 NERACA DAYA D SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSEL LRABAR 499 .

MW Grafik Neraca Daya Sistem Sulut-Gorontalo 900 Reserve Margin PLTG PLN PLTG60% PLN PLTA/MPLN 800 68% PLTP PLN PLTG PLN PLTP IPP 58% PLTU IPP 700 64% PLTU PLN PLTU Sewa 600 47% PembangkitIPP &Sewa 64% 57% PembangkitTerpasangPLN 500 Beban Puncak 500 PLTP PLN 69% PLTP IPP 65% PLTU IPP 57% 400 300 PLTU PLN PLTD Sewa 200 PLTU Sewa Pembangkit Terpasang 100 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 500 .

136 60 405 2.555 61 289 1.071 62 567 MW MW 314 168 318 172 271 172 209 174 169 166 169 166 149 146 149 146 149 146 149 146 MW MW 3 111 3 111 3 64 - 20 PLTU PLTM PLTU PLTU PLTP 3 - - 3 - 40 3 - - 20 3 3 3 - - - - - - 50 1 50 25 25 20 PLTU PLTU PLTP PLTP PLTA PLTG PLTG 50 45 40 40 16 25 PLTU PLTU 25 25 25 20 25 PLTP PLTP PLTU PLTU MW % - 3 - 25 20 20 110 12 *) 385 57 439 65 487 69 565 64 586 57 666 64 696 58 806 68 831 60 831 47 .337 61 441 2. 2x6 MW (Terkendala) Jumlah Pasokan (Terpasang) Reserve Margin (Terpasang) Unit GWh % MW 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 1.423 61 267 1.952 60 373 2.786 59 344 1.Neraca Daya Sistem Sulut Sulut-Gorontalo Gorontalo Pasokan/Kebutuhan Kebutuhan Produksi Energi Load Factor Beban Puncak Pasokan Kapasitas Terpasang PLN SWASTA IPP SEWA Retired & Mothballed PLTD 501 1 Tambahan Pasokan SEWA Rencana PLTU Sewa Amurang (2x25) PLN On-Going Project Mini Hydro 20 kV Sulut II (FTP1) Gorontalo ((FTP1)) Lahendong IV Rencana Sulut I (FTP1) Tolitoli (3x15 MW) Kotamobagu I (FTP2) Kotamobagu II (FTP2) Sawangan Minahasa GT (Peaking) Gorontalo GT (Peaking) IPP On-Going Project Molotabu (2x10 MW) Sulut I (Kema) Rencana Lahendong V (FTP2) Lahendong VI (FTP2) Sulut (PPP) Gorontalo.303 61 246 1.558 61 479 2.800 61 520 3.

000 PLTG PLN  PLTGU IPP  53% 61% PLTM (PLN+IPP)  PLTA PLN  2.500 PLTA IPP  PLTU PLN   PLTGU IPP PLTU IPP  63% PLTU Sewa 2.MW Grafik Neraca Daya Sistem Sulsel Reserve Margin 3.000 PLTU PLN 11% PLTU IPP 500 Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa Pembangkit g Terpasang p g 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 .500 PLTA IPP 56% 1.000 Pembangkit IPP & Sewa Pembangkit Terpasang PLN 502 Beban Puncak 70% 62% 52% 49% PLTA PLN PLTG PLN 61% PLTGU IPP 1.

1 2 3 Kebutuhan dan Pasokan 503 Kebutuhan Produksi Faktor Beban Beban Puncak Bruto Pasokan Kapasitas Daya Terpasang PLN IPP Sewa Mesin Retired & Mothballed Tambahan Kapasitas SEWA Rencana PLTU Sewa Barru 2x(120-150) PLN On-going Project Sulsel .Barru (FTP1) Mini hydro 20 kV Rencana Sulsel Baru Makassar (Peaking) Takalar (FTP2) S l l-B Sulsel Barru (Ek (Ekspansi) i) Sulsel-2 Bakaru II PLTA Poko IPP On-going Project Sengkang Sengkang Poso (Transfer ke Selatan) Mini hydro 20 kV Sulsel-1 / Jeneponto Bosowa Rencana Bonto Batu (Buttu Batu 1) Malea Mamuju (FTP2) Sulsel-3 (Takalar) Mini hydro 20 kV 4 5 Jumlah Pasokan Reserve Margin Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 GWh % MW 4.648 61 1.358 8.0 728 4.304 56 1.021 6.828 62 2.2 1.Neraca Daya Sistem Sulsel No.846 63.268 52 2.2 1.136 63.605 63.102 63.0 200 (60) 180 7.639 9.018 63 2.127 6.491 9.5 100 90 806 11 3 11 1.799 MW MW MW MW 786 254 257 275 81 786 254 257 275 - 530 213 197 120 41 401 146 135 120 67 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 281 146 135 - 100 50 100 100 150 100 150 126 PLTU PLTU PLTM 240 100 8 PLTG PLTG PLTU PLTU PLTU PLTA PLTA PLTG PLTGU PLTA PLTM PLTU 100 50 117 60 10 PLTA PLTA PLTU PLTU PLTM MW % 130 5.018 63.237 7.525 63.985 63.761 53 .1 1.1 929 5.018 49 2.2 1.644 61 2.577 70 100 50 100 1.4 1.4 1.652 63.230 63.275 63.1 833 5.3 1.

3 PROY YEK-PROY YEK IPP YANG Y TER RKENDAL LA SIST TEM INTERKONEK KSI SULUT TTENGGO O DAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULSE ELRABAR R 504 .L LAMPIRA AN B2.

K Beberapa pro oyek kategori 2 sudah dalam tahap konstruksi da an diharapkan tah hun 2012/2013 sudah beroperasi.B2. tahap p operasi adalah tahap dima ana IPP suda ah men ncapai COD.3 Proyek--Proyek IPP Ya ang Terkendalla Dalam perenccanaan pemban ngkit IPP. • Kate egori 2. Kateg gori PPTL terke endala adalah. 505 . ada beberapa proyyek pembangkkit IPP yang Perrjanjian Pembe elian Tenaga Listrik L (PPTL) nya mengalam mi kendala. Tahap p pendanaan IP PP yang sudah memiliki PPTL L. teta api belum menccapai Financial Closing (FC). • Kate egori 1.5 MW masukk dalam katego ori 1 • PLT TA Poso 3x65 MW M masuk dala am kategori 2 • PLT TU Jeneponto 2x100 2 MW massuk dalam kate egori 2 • PLT TA Manippi 1x10 MW masuk dalam d kategori 2 • PLT TU Gorontalo 2x6 MW masuk dalam kategorri 2 • PLT TU Molotabu 2xx10 MW masukk dalam katego ori 2 Saat ini penyyelesaian IPP terkendala tersebut sedang g diproses oleh Komite Direktu ur untuk IPP da an Kerjasama Kemitraan.. tahap pembangunan/konstruksi dim mana IPP suda ah men ncapai Financia al Closing (FC) tapi belum me encapai COD. • PLT TU Tawaeli 2x13. Kate egori 3. • Pembangkit IP PP yang terkendala di sistem Sulawesi S adala ah.

LA AMPIRAN N B2.4 N NERACA E ENERGI SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULUTTENGGO O DAN N SISTEM INTE ERKONEK KSI SULS SELRABAR 506 .

393 5.605 5.652 6.073 401 93 - - - - - - Geot.114 1.Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulut .985 .200 2.747 1.514 1.198 2.891 2.934 2.197 2.275 9.136 2.555 1.189 1.846 7.071 507 Proyeksi Neraca Energi Sistem Sulselrabar Jenis 2011 Batubara 133 Gas 2012 (GWh) 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 684 1.521 1.423 1.272 Jumlah 4.563 1.558 2.886 2.860 3.068 1.525 8.018 4.373 117 0 1.194 2.136 5.954 4.207 2.187 2.205 1.337 2.136 398 695 78 1.164 414 1.230 6.201 1.272 2.157 408 902 78 0 1.106 116 0 1.518 2.201 LNG - - 238 226 213 223 235 239 239 398 HSD 259 120 29 14 - - - - - - MFO 1.196 2.164 414 1. - - - - - - - - - - Hydro 591 1.528 3.209 1.303 1. H d Hydro 99 Jumlah 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 (GWh) 2020 295 157 430 322 378 154 139 430 322 578 39 84 103 430 322 866 38 7 514 322 823 39 0 644 385 564 39 0 1.102 9.556 1.800 3.164 416 1.Gorontalo Jenis 2011 Batubara Gas LNG HSD MFO Geot.628 2.

Proyeksi Neraca Energi Sistem Interkoneksi Sulut-Gorontalo dan Sistem Sulselrabar (GWh) 508 Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Batubara 232 1.499 6.164 1.511 1.201 LNG - - 277 264 252 262 313 317 355 515 HSD 554 274 113 20 0 0 0 0 0 MFO 1.833 11.856 5.320 6.451 3.198 2.678 1.399 8.164 1.063 1.424 4.646 2.514 1.164 1.194 2.518 2.688 7.136 1.586 1.207 2. 430 430 430 514 Hydro 913 1.300 2.212 505 93 Geot.187 2.197 2.028 6.971 2.691 - 2018 - 2019 2020 - - - - - 644 1.056 .531 1.196 2.801 3.200 2.487 Gas 1.687 2.902 13.953 1.527 Jumlah 5.157 1.863 10.222 4.982 9.120 8.

Geot - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - 509 Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulselrabar Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 88 454 bcf 13 13 Gas LNG - 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 698 1.Gorontalo G t l Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 79 303 465 700 664 456 561 714 800 999 - - - - - - - - - - - - Gas bcf LNG 2013 2014 2015 2016 0 0 0 0 4 0 0 HSD 10^3 kl 168 88 48 MFO 10^3 kl 40 35 26 2017 2018 1 - 2019 2020 1 1 1 0 0 0 - - - - - - - Geot.297 2.261 1.861 3.713 1.575 2.335 17 17 17 17 17 17 17 17 3 3 3 3 3 3 3 5 - 2020 HSD 10^3 kl 72 33 10 4 - - - - - - MFO 10^3 kl 387 273 102 24 - - - - - - Geot Geot.863 2. - - - - - - - - - - Hydro - - - - - - - - - - .P Proyeksi k iK Kebutuhan b t h E Energii P Primer i Si Sistem t S Sulut l t .

376 2.662 4.163 1. Geot - - - Hydro - - - 2020 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - .334 13 17 17 17 17 17 17 17 17 3 3 3 3 4 4 4 6 0 0 - 0 0 0 - - 510 HSD 10^3 kl 240 121 57 8 MFO 10^3 kl 427 308 128 24 Geot.289 3.858 3.960 2.319 2.Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Sistem Sulut – Gorontalo dan Sistem Sulselrabar Jenis Satuan 2011 2012 Batubara 10^3 ton 167 bcf 13 Gas LNG 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 756 1.

5 CA APACITY BALANC CE GARDU U INDUK SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULUT TTENGGO O DAN N SIST TEM INTE ERKONEK KSI SULSE ELRABAR R 511 .LAM MPIRAN B2.

8 26.5 27.9 35.relok 30 MVA dr Bontoala) 40 2014 .9 17.9 35.8 14.1 49.3 32.5 23. (2012 .3 30 10.6 34.2 69% 53% 20 Daya 2015 .1 35.6 29.1 30.3 20.8 28.5 27.5 38.2 30 12.0 30.0 32.3 95% 64% -20 22% 24% 27% 30% 33% 36% 39% 36% 23.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.1 44.beban GI Daya sebagian diambil GI Daya Baru & GI Maros 2019-sebagian GI KIMA 32.5 42% 46% 51% 55% 60% 64% 35% 60 38.3 15.20 MVA . No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size Add Peak Trans (MVA) (MVA) 2013 2012 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans 2020 Add Peak Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 1 Pangkep 70/20 1 20 150/20 1 30 st 30 30 2.9 35.6 19.5 25.9 46% Maros 2011 70/20 1 10 150/20 1 30 Add Trans 10 Jalur Tengah g ((APLN 2012)) 10 8.6 33% -10 40% 27% (2011 .4 66% 38% 30 (APLN 2018) 21.7 31% 35% 40% 45% 51% 58% 65% .9 35.9 59% 64% 65% 70% 70% 70% 70% 70% 2013 . (APLN 2011) 16.4 21.7 19.4 32.8 33.relok 10 MVA .9 47% 52% 58% 63% 70% 38% 20 MVA stand by-dibatasi trafo bay 4 Daya Baru 2013 150/20 1 60 - (APLN 2012) - 21.3 38.2 37% Mandai 512 70/20 1 5 - 70/20 1 2.9 35.relok dr Bontoala) 23.3 23.4 60 42% 5 (APLN 2018) 60 46.5 - 1996 : ex Pnkng 1 20 20 2005 : ex Pnkng 1 20 20 40 3.7 39.4 21.beban GI Daya sebagian diambil GI Maros 2005 : ex Pnk 70/20 2 20 40 (2012 .beban GI Mandai sebagian diambil GI KIMA 30.4 35.ke Nii Tanasa) 60 23.

8 75.0 87.relok 30 MVA . No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans (MVA) (MVA) 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans 2016 Add Peak Trans 2017 Add Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 6 KIMA Makassar 2015 150/20 1 60 - (APLN 2014) 7.3 12.beban GI Panakukang sebagian diambil 60 60 (APLN 2012) 60.4 60 49.20 kV disuplai PLTD Sewatama Tello 8 (APLN 2016) 42.7 30.2 62.8 115.5 60 86.relok 30 MVA .relok 20 MVA ke Borongloe) 70 52 61 67 75 83 91 100 109 118 129 118.8 69.4 86.4 78.relok 30 MVA .d 2010 .ke Majene) 9 Bontoala (2012 .0 15.9 88% 51% (APLN 2016) 60 2020-beban GI 57.relok 20 MVA ke Mandai) 1995 70/20 2 20 40 (2012 .3 75.8 66% 73% 54% 60 (APLN 2017) 90.relok 30 MVA .8 69% 62% -30 68% 75% 69% -30 76% 76% 76% 76% (2013 .8 96.8 115.2 56% 61% 63% 68% 59% -30 64% 68% 68% (2017 .5 108.8 99.6 82.0 58.ke Sinjai) .5 16% 24% 31% 39% 60% 2015 .6 59% 65% 53% 60 70 kV masih dipertahankan 10 Panakukang 1995 2005 70/20 2 20 70/20 1 20 2 30 150/20 2018 .5 60 59% 67.1 60 81.ke Palopo) Tallo Lama 2015 .Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.relok 30 MVA ke Daya) 70/20 1 30 30 (2012 .5 74.2 128.ke Makale) (2018 .8 51.beban GI Tallo Lama sebagian diambil GI KIMA 1995 150/20 2 30 60 60 (APLN 2011) 44.3 53% 57% 56% (2011.6 63.6 60 47% 60.0 54.7 60 15% 8.0 59% 60 (APLN 2015) 70.2 87.8 115.9 64.7 60 115.3 87.KIMA ambil sebagian beban Mandai & Tallo Lama 7 Tello 1992 30/20 1 20 - 2004 150/20 1 30 30 30 513 s.6 58% 63% GIS Bontoala-II 2011 150/20 1 60 (APLN 2014) - 51.8 19.2 105.4 69.5 42% -30 48% 53% 58% 63% 68% 49% 2020-sebagian 60 81.

Beban G 150/20 1 30 30 30 514 13 28.7 53% 47% Borongloe 2006 70/20 1 10 70/20 1 20 st 2023 .4 43% 55% 60 Ambil sebagian beban Panakukang .6 62.0 30.4 51.2 35.8 56.9 94% 54% 59% 64% 70% 43% 30 46% 50% 53% 57% 23.2 33.6 46.3 38.8 38% 42% 46% 51% 55% 60% 65% 70% 45% 60 .ke .2 32.3 60 45.2 59.Ta 12 Tanjung Bunga 2006 2020 .6 41% 45% 50% 55% 60% 65% 70% 45% -16 49% Tallasa 1996 150/20 1 16 16 2000 150/20 1 20 20 36 (APLN 2018) 19.2 37% 44% 49% 54% 61% 67% 74% 49% 60 68..6 60 21% (APLN 2019) 21.8 25..7 33.9 30 35% (2019 .Tello .1 25.5 28.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.9 18.3 45.3 56.4 41.3 37.7 27.8 42.6 57.1 21..7 33.relok 20 MVA dr Bontoala) 20 (APLN 2015) 15.4 36.9 49.8 23.3 20. 15 Sungguminasa 1998 150/20 1 30 30 30 (APLN 2019) 25. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size (MVA) Add Peak Trans (MVA) 2013 2012 Add Peak Trans Add 2014 Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans 2017 Add Peak Trans Add 2018 Peak Trans 2019 Add Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Makassar Branch 11 Panakukang Baru / Antang 2018 150/20 (APLN 2017) 1 60 10.2 42.6 31.7 53. .Beban G 20 20 14 (APLN 2017) (2012 .6 29.1 33% 60 29.3 39.relok 16 MVA .

8 11.0 30.1 34% 39% 43% 47% 52% 57% 61% 66% 72% 47% 6.Pare Branch 1.5 33.3 8.2 10.4 17. Pare-pare 150/20 1 16 16 16 2.relok 16 M .6 10.3 14.7 6.0 28.4 65% 75% 45% 30 (APBN 2019) 27.8 9.0 34% 39% 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 31% 30 Barru 150/20 2 5 10 10 30 515 Pinrang Branch 1 Bakaru 150/20 1 20 20 20 2 (APLN 2019) 30 Pinrang 1 5 st diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 150/20 1 16 16 150/20 1 20 20 36 (APBN 2012) 19.2 30 15. SUBSTATION No 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MVA)(MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Pare .6 20.1 13.4 11.9 41.9 23.0 26.0 38.1 30 50% 54% 59% 64% 69% 75% 66% -16 2019.5 13.7 7.4 22.0 18.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.6 12.2 24.5 9.6 7.2 79% 23% 25% 27% 29% 32% 34% 37% 39% 42% 5.2 12.2 36.9 45.0 10.0 25.0 8.8 30.7 8. (APLN 2019) 13.

relok 20 MVA .3 16.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.9 15.3 45% 52% 57% 62% 68% 73% 31% 8.ke . (APBN 2012) 11 6 11.3 34% 36% 38% Mamuju 2009 150/20 1 20 20 20 (APBN 2013) 30 Watampone Branch 1. SUBSTATION No Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans (MVA)(MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Mamuju Branch 1 Polmas 2000 diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 150/20 1 20 20 20 2 150/20 1 20 13.7 8.2 51% 58% 64% 28% 30% 33% 35% 37% 40% 43% 15 8 15.8 22.2 46.2 16..7 43.4 39% 30 27.0 Majene 2000 3 (APBN 2012) (2017 -30 MVA -relok dari Tallo Lama) 30 14.8 25.7 24 2 24.8 14.4 71% 81% 36% 30 39% 42% 45% 49% 52% 56% 60% 7. Soppeng 1995 150/20 1 20 20 diusulkan ke PIKITRING untuk ditambahkan 2000 150/20 1 20 20 150/20 1 -20 -20 2008.6 13 3 13..9 17.0 18.5 17.3 15.4 39.3 20.98 38.3 22 7 22.9 21 3 21.3 14 5 14.5 19 9 19.2 30.1 36.3 23.5 12.8 12.9 19.6 11.8 15.6 9.84 30 37.3 46% 51% 56% 61% 67% 73% 55% -20 20 56% 56% (2018 .2 37% 40% 43% 47% 50% 53% 57% 20 20 516 12.8 11.8 17 2 17.2 18 5 18.8 13.5 68% 78% 34% 30 Bone / Watampone Sebagian beban GI Bone diam 1995 150/20 1 20 20 2000 150/20 1 20 20 40 (APBN 2017) 23.7 10.1 33.) .1 unit ke 20 2.4 13.9 9.9 10.

2 55% 59% (APBN 2018) 150/20 1 30 - 19.dr Tanjun 15.6 29.2 22.1 41% 43% Jeneponto 2006 150/20 1 20 20 20 2019 -relok 30 MVA .4 Kajuara 2019 5 20.7 47% 41% 45% 49% 53% 57% 61% 65% 70% 14.6 51% .Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.6 30 39% 3 30 30 27.9 27.2 25.6 30 39% 2 Sinjai 2007 150/20 1 20 20 20 2018 -30 MVA .4 30 41% 4 24.5 16.6 30 (APBN 2019) 24.0 29.1 22.6 77% 48% 30 Sengkang 1999 2002 (rusak th.5 27.3 20.6 19.1 32.3 23.2 25.9 37% 30 30 34.3 20.6 21.8 22.1 22 9 22.2 15.0 27 1 27.9 32.9 25 0 25. Bulukumba 2006 150/20 1 20 20 20 (APBN 2017) 16 6 16. Sidrap 1995 150/20 1 20 20 20 (APBN 2017) 17.4 31.0 30 (APBN 2017) 30 Bulukumba Branch 1.2 19.0 45% 50% 54% 59% 64% 69% 46% 49% 53% 19.9 34.5 48% 53% 58% 64% 69% 75% 51% 30 37.8 18.0 30.2 21 1 21.9 28.3 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 47% Siwa / Keera 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 13.2 150/20 1 16 150/20 1 30 - 1 20 20 2008-dari sopeng - 517 20 17.2 31 4 31.6 51% 56% 61% 66% 71% 38% 41% 44% 19 2 19.7 29.4 33 6 33.0 24.6 36 0 36.3 21.1 29 2 29.1 20.3 40.1 17.relok dr Panakukang 16.4 30 41% 6 22.5 24.7 29.0 25. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak 2019 Add Trans Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Watampone Branch 3.2 45% 50% 55% 60% 65% 70% 47% 18.6 27.

Palopo 2006 (2013-sebagian beban diambil GI Siwa) 150/20 2 20 40 (2011 -Relok 30 MVA -dari Tello) 40 26.0 25.0 32% 34% 37% 39% Enrekang (SY PLTA B.8 18.7 45% 30 (APBN 2019) 31.relok dr Panakukang) 11.1 14.0 15.6 16.8 42% 30 (APBN 2019) 30 .7 47% 51% 56% 61% 66% 71% 39% Malili 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) 10.2 13.9 13.4 10.3 11.7 60 52% 43% 47% 52% 56% 61% 66% 71% 49% -20 2020 -relok 20 M 2.2 12.1 37% 41% 26% 29% 31% 33% 35% 8.5 29% 4 Wotu 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) 9.5 67% 77% 34% 30 beban Makale sebagian diambil Enrekang 15.4 45.3 30 36% 5 30 10.7 9.1 14.7 28. Makale 2006 150/20 1 20 20 20 518 8 3.4 39.4 15.4 13.2 19.3 14. No SUBSTATION 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans Add 2015 Peak Trans Add 2016 Peak Trans 2017 Add Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans Add 2020 Peak Trans Add Trans ((MVA)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) ((MW)) ((MVA)) Palopo Branch 1.8 40% 44% 48% 52% 56% 61% 66% 11.30 MVA .1 8.9 33.8 17.2 12. (2013 .1 13.1 30.2 11.2 15.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.1 14.6 36.5 16.3 42.Batu) 2016 150/20 1 30 - (APBN 2015) - 7.

0 6.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.7 2011/12 .3 44% 48% 52% 57% 62% 67% Unaha 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) (APBN 2013) 19.Mandonga 70/20 1 30 30 2013 .0 44.0 Lasusua 2013 3 (APBN 2018) 13.2 42% 5.7 24. Kolaka 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 12.9 52.6 13.1 7..21 30 519 20% 16.9 19.8 21% 31% 53% 30.7 61.6 28.0 17.5 7.0 30 ((APBN 2018)) 60. Kendari150)) 54.7 8.70/20 .2 30 48% 2 150/20 1 30 - 5.9 40.3 9.20 kV disuplai PLTD (77 MW) 5 15.5 26.4 18.0 50. No SUBSTATION 2011 2012 Unit Total Peak Add Size Trans Peak Add 2013 Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans 2016 Add Peak Trans Add 2017 Peak Trans Add 2018 Peak Trans Add 2019 Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Kendari Branch 1.3 2013/14 .8 12.6 30 77% Kendari 2011-Mandon 21.20 kV disuplai PLTD (30 MW) 30 (APBN 2014) 37.5 17.operasi p GI lain di Sistem Kendari ((Unaaha.0 30.9 18% 42% 46% 49% 53% 58% 63% 68% 37% 30 20.6 6.5 51% 55% 60% 65% 70% 38% 30 21.2 47.0 60 (APBN 2019) 60 .7 16.1 56.2 (APBN 2012) - 4 14.6 50.6 14.0 41% 30 2011 .9 31.1 22% 24% 26% 28% 30% 33% 36% 22.30 MVA .6 11.8 58% 63% 68% 74% 48% 40% Kendari-150 kv 2013 150/20 1 30 30 (APBN 2012) 35.5 34.

9 39% 42% 45% 49% 53% 57% 62% 18.5 13.6 30.574 1.0 32.460 1.6 63% 69% 74% 40% 14.02 1.10 MVA .3 53 5.0 41% 45% 51% 42% 46% 50% 54% 59% 70 7.baru (SY PLTU Nii Tanasa) 2011-PLTU N 70/20 1 10 10 2011 .697 1.3 53 5.0 21. No SUBSTATION Unit 2011 Total Peak Size 2012 Add Peak Trans 2013 Add Peak Trans 2014 Add Peak Trans 2015 Add Peak Trans 2016 Add Peak Trans 2017 Add Peak Trans 2018 Add Peak Trans 2019 Add Peak Trans 2020 Add Peak Trans Add Trans (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) Kendari Branch 6 Nii Tanasa 2011 .6 23.relok dari Maros 70 kV 2011-relok dr M 70/20 1 10 10 (APBN 2014) 9.3 53 5.3 90 32.0 39.02 .6 43% 47% 51% 56% 61% Raha 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 9.7 20 57% 7 10.3 53 5.7 15.0 32.Capacity Balance GI Sistem Sulselrabar CAPACITY Exist' 2009 No.5 12.3 53 5.9 20.4 25.0 39.275 150 1.0 32.7 11.0 39.8 12.02 1.0 32.0 39.02 1.0 32.0 20 53 5.0 36% 8 20 Bau-Bau 520 2013 150/20 1 30 - (APBN 2012) - 17.7 11.0 10 Semen Bosowa 150/20 TOTAL PEAK KONSUMEN BESAR (MW) 76 TOTAL PEAK LOAD 1 (MW) 389 330 454 250 504 180 555 - 614 120 671 90 733 120 797 180 865 180 938 150 TOTAL PEAK LOAD 2 (MW) 211 210 244 - 289 210 315 30 345 - 375 30 405 30 437 150 470 60 505 180 TOTAL PEAK LOAD 3 (MW) 64 50 71 - 122 180 131 30 141 80 153 30 166 - 180 - 196 60 214 60 TOTAL SYSTEM PEAK LOAD (MW) 740 590 846 250 992 570 1.056 1.0 32.0 32.3 53 5.02 1.02 1.0 70 7.10 MVA .177 200 1.3 53 5.3 53 5.02 1.9 10.0 39.153 1.0 39.5 14.0 39.078 60 1.352 1.6 13.0 32.7 16.733 390 SCENARIO NORMAL (MW) ANNUAL DIVERSITY FACTOR 849 76 76 76 76 76 76 76 76 76 727 831 970 1.02 1.3 30 9.380 150 1.3 53 5.0 32.0 70 7.02 1. 2 3 Tonasa III & IV 150/20 3 32 150/30/20 1 20 2 45 Barawaja 95 39.0 17.249 1.4 27.6 20.02 1.0 39.607 300 1.3 20 kV di disuplai l i PLTD & PLTM (7 MW) 30 (APBN 2015) 30 Big Consumer 1.0 39.4 18.490 330 1.

Capacity p y Balance GI Sistem Sulutenggo gg Kapasitas Trafo No.20 10 00 22.Beban Puncak ( MW ) 2 GI Sawangan 60 70/20 1 10 .95 66% 72% 78% 84% 52.36 46.55 24 24 24.32 42.72 88% 23% 25% 28% 31% 34% 37% 41% 45% 49% 5. Jumlah Unit Total Add Peak Sistem Size Trafo 2012 2013 2014 2015 Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo 2016 Peak 2017 2018 2019 2020 Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 1 GI Ranomut 70/20 3 20 .79 14.27 10.58 62% 76% 80% 85% 45% 48% 51% 54% 57% 61% .00 57.00 21.09 25 96 25.04 8.71 12.57 11.89 11.84 40% 24.98 10.24 10.24 11.36 51% 56% 61% 67% 74% 81% 81% 81% (Relokasi dari GI Teling 10 MVA) - 8.63 10.78 521 8.00 36% .61 10.74 15.39 22.79 29 33 29.76 20.Beban Puncak ( MW ) 3 GI Bitung 60 70/20 1 20 44.45 41.20 39% 43% 47% 51% 55% 28.20 12.14 36.62 14.33 41% 43% 44% 46% 47% 49% 51% 32.97 23 55 23.62 12.94 7.79 Beban dialihkan ke GI Kema serta antisipasi GI Kema terlambat ( Catatan : PLTU Amurang 2 x 25 MW dan PLTP Lahendong IV 20 MW dan - 16.87 22 87 39% 0 Beban dr GI Teling 70 kV 0 18.00 22.36 46.00 9.99 30. GARDU INDUK 2011 Teg.96 26 86 26.90 20 20 - 17.12 30.33 95% 6 GI Teling 150 kV (GIS) 150/20 1 0 .73 20.93 9.62 9.18 46.Beban Puncak ( MW ) 5 GI Teling 10 10 70/20 1 10 10 1 20 20 1 20 20 .78 11.25 30.60 8.09 26.15 46.00 9.34 10.51 10.83 38.58 13.73 94% 49% 51% 53% 54% 57% 59% 62% 64% 67% 20 20 Sebagian Beban dialihkan ke GI Paniki (Beban Ranomuut 8 28.40 30.05 9.17 78% 46% 10 10 .Beban Puncak ( MW ) 7 GI Tomohon .Beban Puncak ( MW ) Sebagian beban dialihkan ke GI Paniki - 31.02 18.18 7.Beban Sewa Genset (MW) 4 GI Tonsealama 70/20 1 10 .00 67% 77% 88% 50% 12.64 26.16 24.07 15.Beban Puncak ( MW ) 50 - Mengantisipasi COD GIS Teling terlambat up grade trafo dari 10 MVA menjadi 20 MVA - 45 33 45.00 9.38 56% 64% 72% 81% 61% 68% 18.86 27 79 27.67 34.24 25 09 25.47 17.Beban Puncak ( MW ) 70/20 2 10 22 20 10.

34 291.6 267.02 60.0 1.71 6.51 35.00 4.30 35% 41% 45% 50% 55% 60% 67% 74% 82% 85% 11.02 408.Beban Puncak ( MW ) 9 GI Lopana 20 150/20 1 20 .35 80% 20 20 150/20 15.Beban Puncak ( MW ) 16 GI Paniki 1 0 .38 33% 37% 40% 45% 49% 54% 59% 65% 17.0 1.56 30.26 12.62 40% 43% 46% 50% 54% 58% 13 23 20.19 20. Teg Sistem Jumlah Unit Total Add Size 2011 Peak Trafo 2012 Add Peak Trafo Add 2013 Peak Trafo Add 2014 Peak Trafo 2015 Add Peak Trafo 2016 Add Peak Trafo 2017 Add Peak Trafo 2018 Add Peak Trafo 2019 Add Peak Trafo Add 2020 Peak Trafo Add Trafo (MVA) (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Kawangkoan 150/20 1 20 .00 0.13 12.0 0.54 422.93 25 37 25.46 59% 65% 71% 78% 86% 38% 42% 46% 50% 60% 10.95 50% 5.00 10.35 37% 0.60 8.51 5.47 30.79 34.Beban Pembangkit Kota (MW) 12 GI Likupang 13.99 110.Beban Puncak ( MW ) 1 0 0.00 4.39 320.68 56% 61% 67% 10.00 51% 42.11 11.58 27.99 7.70 25.88 24.85 86% 0 0 150/20 16.38 19.52 17 10 17.36 6.00 45% 42.72 22 93 22.19 10.02 445.06 0.83 20 72 20.85 30.82 21.65 11.43 31.48 225.62 12.0 0.46 9.00 23.00 247.90 6.00 19.48 30.99 70.04 0.74 34.94 30.00 48% 54% 60% 38.57 30.03 0.46 245.00 90.28 30.01 4.02 30.90 43.07 31 05 31.44 227.0 1.Beban Puncak ( MW ) 13 GI Kema - 1 0 .75 20 20 150/20 - 20 20 .00 25.78 28% 30% 18. GARDU INDUK Teg.76 375.00 52.0 1.47 292.0 1.24 11.00 61.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas Trafo No.01 40.92 50% 55% 61% 67% 74% 38.86 31.00 5.74 351.24 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% 53% 59% 64% 0.47 30.22 72% 20 .69 8.00 26.18 3.Beban Puncak ( MW ) - - 20 70/20 1 20 522 .41 30.05 32 30 32.31 13.00 3.63 462.12 17 GI Molibagu 0 150/20 .0 268.71 385.37 28 07 28.89 0 0 TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 1.0 0.15 5.30 10.Beban Puncak ( MW ) 14 GI Lolak 1 0 .75 0% 0% 0% 24% 25% 27% 29% 31% 33% 36% TOTAL BEBAN GARDU INDUK 222.00 3.26 4.90 TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM 209.00 10.51 4.23 20 00 15 52 15.82 5.08 80% 45% 50% 55% 61% 68% 76% 61% 72% 0.25 5.36 9.19 12.Beban B b P Puncak k ( MW ) 10 GI Tasik Ria 70/20 1 20 1 20 .37 3.57 3.0 1.50 20.51 21.0 .89 16.78 32% 33% 35% 38% 40% 42% 45% 47% 50% 0 0 0 150/20 20.Beban Puncak ( MW ) 17.81 23.00 30.00 0 150/20 18.00 22.25 56% 6.54 14.91 7.Beban Puncak ( MW ) 11 GI Otam 20 0 28.00 5.23 28.00 10.0 1.04 120.03 344.10 18 83 18.97 23.44 61% 68% 77% 86% 27.05 38.00 13.00 0.35 30.Beban Puncak ( MW ) 15 GI Bintauna 1 0 .00 21.31 6.79 4.28 6.60 317.99 28.

38 30 00 33% (catatan : Sebagian Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Transmisi) 22.Beban Puncak ( MW ) 523 3 GI Silae 70/20 2 0 150/20 1 0 150/20 1 0 .88 6.Beban Puncak ( MW ) 4 GI Poso 25.00 24.86 9.9 18 61 18.50 18.Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas Trafo No.96 27% 54% 60% 66% 72% 80% 44% 48% 53% 0.00 57.71 13 98 13.50 6.00 15 38 30.00 5.4 50% 55% 61% 67% 74% 52.68 0 0 .00 0.08 80% 60% 66% 73% 80% 7.00 0.00 35.00 15.00 0.00 5.50 11 55 11.10 47.37 57% 62% 16 9 16.38 30.00 2.17 29% 20.00 33.05 30.0 6.2 30.5 30.08 30.98 47% 52% 57% 63% 69% 76% 0. Jumlah Unit Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Sistem Unit Size Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 1 GI Talise 70/20 1 30 30 1 10 10 .0 32% 35% 39% 0.55 12 71 12.00 15.46 0 0 0.00 5.43 40.57 29.00 0.50 7.00 8.00 36.00 0.00 Pembangkit Silae PLTD Silae 2 GI Parigi ((catatan : Sebagian g Beban 20 kV PLTD Silae dialihkan ke Transmisi)) 0.66 7.Beban Puncak ( MW ) 6 GI Ampana 29.23 10.18 80% 0 0 .00 53.00 30% 20.12 30.05 6.60 50.47 37% 40% 44% 48.74 24% 54% 60% 66% 72% 80% 22% 24% 26% 0.03 33% .55 10 50 10.00 26.00 0.32 0 0 150/20 8 68 8.44 70% 20 20 .62 43.00 5.32 8.00 0.00 0.97 21. GARDU INDUK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Teg.Beban Puncak ( MW ) 32.00 0.08 44.00 0.49 30.15 19.44 80% 0 0 .Beban Puncak ( MW ) 7 GI Kolonedale 39.15 30.67 150/20 1 0 1 0 9 55 9.Beban Puncak ( MW ) 5 GI Tentena 29.61 20 47 20.00 5.34 58.Beban Puncak ( MW ) 40 70/20 1 20 .23 16.00 0.00 59% 64% 71% 0.

00 20.00 0.50 6.07 120.12 30.Beban Puncak ( MW ) 1 0 0 20 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 30 0 0 0 20 0 0 0 30 0 dari Sebagian GI Talise 0.Beban Puncak ( MW ) 12 GI Siboa 150/20 1 .86 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% 10.13 39% 43% 47% 52% 57% 63% 69% 7.21 0.00 33.5 155.66 7.00 0.24 13.3 66.7 65% 77% 60% 66% 73% 80% 59% 64% 71% 0.88 0.00 11.12 11.16 30.46 28% 30% 33% 37% 40% 44% 49% 5.0 232.32 8.43 0.8 189.00 30.00 40.07 14.00 20.00 16.82 30.6 198.5 171.05 30.00 48.05 8.5 245.Beban Puncak ( MW ) 13 GI Luwuk 150/20 1 .05 6.00 0.1 126.80 30.0 0.86 18% 20% 22% 24% 27% 29% 32% 15.36 9.81 17.0 1.0 1.0 1. Jumlah Unit Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Sistem Unit Size Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo Trafo (MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) 8 GI Palu Baru 150/20 1 0 .6 210.00 21.50 6.50 18.49 30.6 283.66 7.0 1.05 8.8 333.08 44.00 5.00 0.05 6.05 50.39 19.37 15.97 21.0 1.8 140.Beban Puncak ( MW ) 9 GI Leok 0 150/20 1 .50 6.00 0.04 0.60 30.00 0.08 53.15 19.66 70.Beban Puncak ( MW ) 14 GI Moilong 0 150/20 .00 17.66 7.86 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48% TOTAL BEBAN KONSUMEN BESAR TOTAL BEBAN GARDU INDUK TOTAL BEBAN PUNCAK SISTEM DIVERSITY FACTOR PENAMBAHAN TRANSFORMATOR 34.00 0.96 24.00 0.00 36.27 0.32 8.20 10.00 30.00 13.08 50.00 5.5 308.05 90.00 0.3 302.00 0.00 0.05 8.9 0.3 58.32 8.0 26.00 0.57 54% 60% 66% 72% 80% 44% 48% 5.0 1.47 0.00 0.2 180.0 1.5 103. GARDU INDUK 2011 2012 2013 2014 2015 2017 2016 2018 2019 2020 Teg.00 5.13 12.00 8.7 270.06 0.Beban Puncak ( MW ) 10 GI Toli-Toli Toli Toli 150/20 1 .3 256.05 6.00 0.0 .Capacity Balance GI Sistem Sulutenggo Kapasitas K it Trafo No.00 5.Beban Puncak ( MW ) 524 11 GI Moutong 150/20 1 .0 0.6 218.

LAM MPIRAN B2.6 RENCA ANA PENG GEMBANGAN PEN NYALURA AN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTTENGGO O DAN SISTEM INTER RKONEKS SI SULSE ELRABAR 525 .

8 MVA Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah 270 90 360 60 400 63 490 183 150/20 kV 60 610 70/20 kV 80 30 30 750 760 673 500/275 kV 275/150 kV 150/70 kV Jumlah 590 590 150 390 140 420 30 60 20 20 180 450 160 440 460 460 290 3940 20 290 310 4773 .8 1032 1431 T/L 70 kV 526 Jumlah 482 1451 254 112 308 524 380 170 1 1451 6110 8 6110.8 488 1417 24 62 14 1030.Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Sulawesi Kms Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah - - - - - - - - - - - T/L 500 kV T/L 275 kV T/L 150 kV 482 1006 8 1006.8 101 255 112 308 524 380 170 6693.

ACSR 1 x 240 mm2 96 8.87 2012 Planned APBN Sulteng Wotu 275 kV 2 cct.14 2014 Planned Unall Sulteng Moutong Incomer Single phi (Toli2 (Toli2-Siboa) Siboa) 150 kV 2 cct cct.07 2017 Planned Unall Sulteng Bunta Luwuk 150 kV 2 cct.42 2012 Planned IPP Gorontalo PLTU Gorontalo (Perpres) 150 kV 4 cct.22 2012 On Going IPP TIP 24 (Talise-Parigi) 70 kV 2 cct.87 2013 Planned Unall Tentena (PLTA Poso) Sulteng PLTU Tawaeli Expansion Sulteng PLTMG Cendana Pura Luwuk 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 260 23. ACSR 1 x 240 mm2 20 1.91 2019 Planned Unall Sulteng Kolonedale Incomer single phi Poso-Ampana 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 80 7.02 2014 Planned Unall Gorontalo New PLTG (Marisa) Marisa 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 190 16. ACSR 1 x 240 mm2 180 16.25 2013 On Going APBN Incomer double phi Buroko-Isimu 527 Gorontalo PLTU TLG (Molotabu) (IPP) Botupingge 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 30 2. Zebra. ACSR 2 x 240 mm2 36 4.22 2014 Planned Unall Sulteng Toli-toli Siboa 150 kV 2 cct.45 2012 Commited APBN Sulteng Palu Baru Talise 70 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 220 19 58 19.54 2011 On Going APBN .Pengembangan Transmisi Sulawesi Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan Gorontalo Isimu Botupingge 150 kV 2 cct.60 2019 Planned Unall Sulteng Ampana Bunta 150 kV 2 cct.18 2012 Commited APLN Sulteng Palu Baru Silae 150 kV 2 cct.78 2017 Planned Unall Sulteng PLTA Poso (Tentena) Poso 150 kV 2 cct.13 2020 Planned Unall Sulut PLTU Sulut II (Pepres) Lopana 150 kV 2 cct.58 2011 On Going APBN Gorontalo Isimu Buroko APBN 150 kV 2 cct.12 2012 Commited APLN Sulteng Poso Palu Baru 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 220 19. 430 mm 272 61. ACSR 1 x 240 mm2 248 22.41 2011 On Going APLN Sulut Lopana Teling (GIS) 150 kV 2 cct.67 2014 Planned IPP Gorontalo Marisa Moutong 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 14 1. ACSR 1 x 240 mm2 50 4. ACSR 1 x 240 mm2 238 21. ACSR 1 x 240 mm2 14 0. ACSR 1 x 240 mm2 90 8.76 2011 Selesai Gorontalo PLTU Gorontalo Energi (IPP) Botupingge 150 kV 2 cct.01 2011 On Going IPP Gorontalo Isimu Marisa 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 76 6. ACSR 1 x 240 mm2 30 1. ACSR 1 x 240 mm2 164 14. ACSR 1 x 240 mm2 180 16. ACSR 1 x 240 mm2 16 1.58 2015 Planned Unall Sulteng Poso Ampana 150 kV 2 cct.02 2013 Planned Unall Sulteng Toli-toli Leok 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 170 15. ACSR 1 x 240 mm2 216 19.

ACSR 1 x 240 mm2 10 0. ACSR 1 x 240 mm2 32 5. 2xHawk. 2xZebra. ACSR 1 x 240 mm2 32 2.75 2014 Planned Unall Sulut PLTG Minahasa Likupang 150 kV 2 cct.36 2012 Planned Unall Sulut PLTP Lahendong V & VI Kawangkoan 150 kV 2 cct. UGC. ACSR 1 x 240 mm2 16 1 42 1.06 2013 Planned APBN PLTU Takalar Punaga Tanjung Bunga 150 kV 2 cct. Hawk.Barru Incomer 2 phi (barru-pare) 150 kV 4 cct. 430 mm 2 cct. 2xZebra.85 2015 Planned Unall Sulut PLTA Sawangan Sawangan 70 kV 2 cct.70 2013 Planned APLN Sulut Otam Molibagu 150 kV 2 cct.06 2015 Planned Unall Sulut PLTU Sulut I (IPP) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.42 2012 Commited APBN Sulut Ranomut Baru (Paniki) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.8 0.Ags 2011 operasi 150 kV 2 cct.27 2012 On Going IPP 150 kV 12 1. 2x430 mm 82 2 80 0.Ags g 2011 operasi p 150 kV 2 cct. 2x430 mm 130 12. 240 mm 140 17.61 2011 Sdh operasi APBN Sulsel Maros ((New)) Sungguminasa gg .43 2011 On Going APBN Sulsel Tallo Lama (Uprating Cond) Tello (Uprating Cond) 150 kV 2 cct.88 88 2014 2014 Planned Pl Planned d APBN IPP Sulsel S l l Sulsel .Pengembangan Transmisi Sulawesi Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan Sulut Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki) 150 kV 2 cct cct.09 2014 Planned Unall Sulut PLTP Kotamobagu Otam 150 kV 2 cct.34 2012 Commited APBN 528 Sulut Bintauna Tapping (Lolak .Ags 2011 operasi 150 kV 2 cct.17 2013 Planned APBN Sulsel Siwa/Keera Palopo 150 kV 2 cct. 2xZebra. Zebra. 2xZebra 2xZebra. 400 mm 9 2. 2x430 mm 260 25. 57 275 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2 4 0. 2xZebra. 1 phi (Maros-Sungguminasa) 150 kV 150 kV 2 cct. 2xZebra. 240 mm 2 cct.18 2012 On Going APBN Sulsel Sulsel PLTU Bosowa Jeneponto TIP 58 TIP. 2x430 mm Sulsel 2 cct. 240 mm 4. 2xZebra. 2xHawk. ACSR 1 x 240 mm2 60 5. ACSR 1 x 240 mm2 20 1.20 7. 2x430 mm 80 7.78 2018 Planned IPP Sulsel Sidrap Maros (New) . XLPE.90 2013 Planned Unall Sulut Likupang Bitung 70 kV 1 cct.Buroko) 150 kV 2 cct. TACSR 14 0. ACSR 1 x 240 mm2 1 0. 2x430 mm 10. 2x430 mm 210 47.78 2011 On Going APBN Sulsel Wotu PLTU Bosowa Jeneponto Palopo TIP. ACSR 1 x 240 mm2 132 11. 2xHawk.18 2012 On Going APBN Sengkang Siwa/Keera (New) 150 kV 150 kV 2 cct cct. 12 1 18 1. ACSR 1 x 240 mm2 1 0.81 2011 Sdh operasi APBN Sulsel PLTU Perpres .07 2013 Planned APBN Sulsel Tallo Lama (loop) Bontoala (loop) 150 kV 2 cct.88 2011 Sdh operasi p APBN Sulsel Sengkang Sidrap .75 2013 Planned APBN Sulsel Wotu Daya Baru Malili (New) Inc. 240 mm 180 22.

Kabel Laut 10 10.89 2011 O Going On G i APBN Sultra 290 35. 2xHawk. 400 mm 2 cct. 240 mm 2 0.(New) Sulsel S lt Sultra Conductor Sultra PLTA Watunohu 1 Lasusua (New) 150 kV 2 cct cct. 240 mm 232 28.67 2016 Planned IPP 150 kV 40 4.45 2014 Planned IPP Sulbar Pasangkayu Mamuju 150 kV 2 cct.81 2018 Planned Unall Sulbar Pasangkayu Silae 150 kV 2 cct.39 2013 Planned APBN Sultra PLTU Kolaka (FTP2) Kolaka 150 kV 2 cct. 2 phi (Sidrap-Maros) 150 kV 4 cct.78 2013 Planned IPP Sultra Unahaa (New) Kendari (New) 150 kV 2 cct. 240 mm 80 9. Hawk. 240 mm 6 0. Hawk. Hawk. UGC. 2xHawk 2xHawk. 2xHawk.Nii T Tanasa Malili (New) M d Mandonga/Kendari /K d i Lasusua (New) 70 kV 150 kV 2 cct.18 2016 Planned IPP 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2 400 49. 240 mm 170 15. 240 mm 10 0. Hawk.58 2014 Planned APBN Sultra Kendari (new) Raha (new) .Kabel Laut 150 kV 2 cct. 1 phi (SInjai-Bone) 150 kV 2 cct.81 2016 Planned Unall Propinsi Dari Ke Tegangan Sulsel Sulsel KIMA Makassar (New) SY PLTA Bbatu/Enrekang Inc.68 2014 Planned APBN Sultra PLTU Kendari (FTP2) Inc.91 2017 Planned Unall 150 kV 2 cct. 1 phi (Pangkep-Tello) Inc.49 2013 Planned APBN Sultra Kendari (new) Raha (new) 150 kV 2 cct. 2xHawk. 2 phi (Kendari-Raha) 150 kV 2 cct.60 2019 Planned Unall . 240 mm 50 4. 2 phi (Makale-Sidrap) 150 kV 150 kV Sulsel PLTA Malea Makale Sulsel Sulsel PLTA Bakaru II Panakukang baru/Antang Enrekang Inc. 240 mm 80 9 81 9. 2xZebra. ACSR 2x240 mm2 90 11.61 2015 Planned APBN 2 0. 2xHawk. 2xHawk. 240 mm 150 18. 2x430 mm 20 1.05 2018 Planned Unall Sulbar PLTA Poko Bakaru 150 kV 2 cct. 430 mm 30 2. 2x430 mm 24 2. 240 mm 24 1 89 1. 240 mm 20 1. 2xHawk.89 2014 Planned IPP Sultra Raha (new) Bau-Bau (New) 150 kV 2 cct. 240 mm 110 13.56 2013 Planned APBN Sultra Lasusua (New) Kolaka (New) 150 kV 2 cct.53 2019 Planned Unall PLTU Sewa barru Inc.13 2014 Planned APBN Sultra PLTA Konawe Unahaa (New) 150 kV 2 cct. Hawk. 240 mm 2 cct. Zebra. 1 phi (Maros-Sungguminasa) Sulsel Kajuara .04 2014 Planned APBN Sulbar PLTU Mamuju (FTP2) Mamuju 150 kV 2 cct. XLPE. 240 mm 220 19.78 2019 Planned Unall PLTU P Perpres .36 2018 Planned Unall Inc. Hawk.Pengembangan Transmisi Sulawesi 529 kms Juta US$ COD Status Sumber Pendanaan 2 cct. 240 mm 40 3.45 2013 Planned APBN Sultra Kolaka (New) Unahaa (New) 150 kV 2 cct. Hawk. 2xZebra. Hawk. t O Ostrich t i h (ex-P3B ( P3B JB) 2 cct.

39 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Jeneponto 150/20 kV Extension 30 1.62 Gorontalo Suluttenggo Marisa 150/20 kV New 30 2.00 2012 Relok APLN Sulsel Sulselrabar Siwa/Keera .39 2011 On going APLN Extension 30 1.62 Gorontalo Suluttenggo Buroko 150/20 kV New 20 Gorontalo Suluttenggo Botupingge 150/20 kV Extension Gorontalo Suluttenggo Isimu 150/20 kV Extension Sulbar Sulselrabar Polmas 150/20 kV Sulbar Sulselrabar Majene 150/20 kV 530 Sulbar Sulselrabar Pasangkayu 150/20 kV New 20 2.62 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Sengkang.39 2011 On going APLN APBN P Propinsi i i Wilayah Gorontalo Suluttenggo Botupingge Gorontalo Suluttenggo PLTU Gorontalo 150/20 kV New 20 3.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber 150/20 kV New 30 2.39 2012 On g going g APLN Sulsel Sulselrabar Palopo IBT 275/150 kV New 180 14.39 2011 On going APLN/APBN Sulsel Sulselrabar Sinjai 150/20 kV Extension 30 1.00 2011 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Tallasa 150/20 kV Extension 60 2.90 2013 Planned Unall Extension 30 1.39 2012 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Bontoala 150/20 kV Extension 60 2.39 2012 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Makale 150/20 kV Extension 30 1.39 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Daya 70/20 kV Extension 30 0.38 2014 Operasi Sulbar Sulselrabar Mamuju 150/20 kV Extension 30 1.00 2011 Relok APBN Sulsel Sulselrabar Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.(GI Baru)+2 LB 150/20 kV New 30 2.47 2011 On going APBN 30 1. Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1. ).90 2013 Planned Unall 30 1.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Borongloe 70/20 kV Extension 20 0.23 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Tallo Lama ((loop p Btoala).62 2011 On going APLN 2011 On going APBN 2011 On going APBN 2011 On going APBN 4.24 Gorontalo Suluttenggo Isimu 150/20 kV New 30 2.45 2012 Planned IPP .39 2014 On going APLN Sulsel Sulselrabar Mandai 70/20 kV Extension 20 0.10 2011 On going APBN Sulsel Sulselrabar Pare-pare p 150/20 kV Extension 30 0.39 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Barru 150/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.23 2012 On going APBN Sulsel Sulselrabar Pangkep 150/20 kV Extension 30 1.00 2011 On g going g APLN Sulsel Sulselrabar Bulukumba 150/20 kV Extension 30 1.23 2012 On g going g APBN Sulsel Sulselrabar Bontoala (loop T.Lama).

85 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga.23 2016 Proposed PLTA Malea Sulsel Sulselrabar Sidrap.10 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar KIMA Makassar .34 2015 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Bontoala 150/20 kV Extension 60 2. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.10 2018 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tello 150/20 kV Extension 60 2.22 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Wotu .(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 60 3 34 3.39 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bulukumba 150/20 kV Extension 30 1.23 2012 On going APBN Sulselrabar Pinrang 150/20 kV Extension 30 1.62 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Malili .10 2015 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Sidrap 150/20 kV Extension 30 1.23 2014 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Daya Baru .34 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tello 150/20 kV Extension 60 2.(GI baru) + 2 LB 150/20 kV New 60 3.39 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Maros 150/20 kV Extension 60 2.10 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Wotu IBT 275/150 kV New 90 7.10 2016 P Proposed d IBRD Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga 150/20 kV Extension 60 2.62 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Makale.10 2014 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2.10 2018 Planned Unall .23 2017 Proposed PLTA Bakaru-II Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.39 2017 Planned Unall Proposed PLTA Poko P Propinsi i i Wilayah Sulsel Sulselrabar Sulsel Sulsel Nama Gardu Induk Sulsel Sulselrabar Bakaru.10 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Borongloe 70/20 kV Extension 30 1.62 2012 On going APBN Sulselrabar Siwa. Ext 4 LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.47 2018 Sulsel Sulselrabar Pangkep 150/20 kV Extension 60 2. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.26 2016 Proposed IBRD Sulsel Sulselrabar Sungguminasa 150/20 kV Extension 60 2.10 2013 Planned APBN Sulsel Sulselrabar Panakkukang 150/20 kV Extension 60 2.39 2013 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Soppeng 150/20 kV Extension 30 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1. Ext 2 LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.10 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Pinrang 150/20 kV Extension 30 1.39 2016 Planned Unall Sulsel Sulselrabar SY PLTA Bontobatu/Enrekang 150/20 kV New 30 2.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi 531 Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber Palopo + Ext 2 LB 150/20 kV Extension 30 2.39 2015 Planned Unall S l l Sulsel S l l b Sulselrabar P Panakkukang kk k 150/20 kV E t Extension i 60 2 10 2.39 2017 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Sinjai 150/20 kV Extension 30 1.

10 Nama Gard Gardu Ind Induk k Stat s Status S mber Sumber 2018 Planned Unall 2018 Planned Unall 532 Sulsel Sulselrabar Panakukang baru/Antang .10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Bone 150/20 kV Extension 30 1.62 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Kajuara 150/20 kV Extension 30 1.10 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Soppeng 150/20 kV Extension 30 1.62 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Moutong 150/20 kV New 30 2.90 2013 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV Extension 30 1.(GI baru) 150/20 kV New 60 2.GIS II .62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV New 30 2 62 2.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Kajuara .Pengembangan Gardu Induk Sulawesi P i i Propinsi Wila ah Wilayah Sulsel Sulselrabar Sulsel Sulselrabar Tegangan Bar /E tension Baru/Extension Kap Juta US$ COD Tallo Lama 150/20 kV Extension 60 2.90 2013 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Leok 150/20 kV New 20 3.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tallasa 150/20 kV Extension 60 2.10 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Maros 150/20 kV Extension 60 2.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Sidrap 150/20 kV Extension 30 1.10 Bontala .GI New + 2 LB 150/20 kV New 30 2.62 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Siboa (PLTU) 150/20 kV New 30 2.24 2014 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Toli-Toli 150/20 kV New 30 2.39 2018 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Daya Baru 150/20 kV Extension 60 2 10 2.00 2019 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Panakukang baru/Antang 150/20 kV Extension 60 2.34 2018 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Pare-Pare 150/20 kV Extension 30 1.39 2019 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Malili 150/20 kV Extension 20 0.39 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Siwa/Keera 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Silae 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Commited APLN & APBN Sulteng Suluttenggo Silae 150/20 kV New 30 2.86 2012 Planned IPP Sulteng Suluttenggo Poso 150/20 kV New 30 2.39 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Jeneponto 150/20 kV Extension 20 0.(GI baru 150/20 kV New 60 3.39 2020 Planned Unall Commited APBN Sulteng Suluttenggo PLTA Poso 150/20 kV New 10 2.98 2012 Sulteng Suluttenggo Tentena IBT 275/150 kV New 90 4.10 2020 Planned Unall Sulsel Sulselrabar Tanjung Bunga 150/20 kV Extension 60 2.62 2014 Planned Unall .00 2020 Relok Unall Sulsel Sulselrabar Wotu 150/20 kV Extension 30 1.

51 2020 Planned Unall 533 Sultra Sulselrabar Kendari 70/20 kV Extension 30 1.90 2018 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Kolonedale 150/20 kV New 20 3.(GI Baru 150 kV) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.5 MVA 150/70 kV New 63 0.90 2019 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Tentena 150/20 kV Extension 30 1.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Propinsi Wilayah Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Juta US$ COD Status Sumber Unall Sulteng Suluttenggo Luwuk 150/20 kV New 30 2.(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.38 2016 Proposed Sulteng Suluttenggo Poso 150/20 kV Extension 30 1 86 1.00 2011 Relok APLN Sultra Sulselrabar Kolaka .(GI Baru) + 2 LB 150/20 kV New 30 2.90 2020 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Parigi 70/20 kV Extension 20 1.47 2013 Planned Unall Sultra Sulselrabar Kendari .62 2014 Planned Sulteng Suluttenggo Moilong 150/20 kV New 20 3.85 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Unaaha 150/20 kV Extension 30 1.62 2013 Planned Unall Sultra Sultra Sulselrabar Sulselrabar Bau-Bau Kolaka 150/20 kV 150/20 kV New Extension 30 30 2.39 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Kendari Ext 4 LB Kendari.62 2012 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Kendari .24 2014 Planned Unall APBN Sulteng Suluttenggo Talise 70/20 kV Extension 30 1.38 2017 Proposed IBRD Sulteng Suluttenggo Palu Baru 150/20 kV Extension 30 1.47 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Unahaa .(GI Baru) + 4 LB 150/20 kV New 30 3.90 2018 Planned Unall Sulteng Suluttenggo Luwuk 150/20 kV Extension 30 1.62 2012 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Lasusua . 150/20 kV Extension 4 LB 2 47 2.86 2016 Proposed IBRD Sulteng Suluttenggo Ampana 150/20 kV New 20 2.2 LB 150/20 kV New 30 2.62 1.00 2013 Relok APBN Sultra Sulselrabar Raha .IBT 2x31.26 2011 Proposed APBN Sultra Sulselrabar Nii Tanasa 70/20 kV Extension 10 0.39 2014 2014 Planned Planned Unall Unall .85 2013 Planned APBN Sultra Sulselrabar Kolaka.(GI Baru) .24 2019 Planned Unall g Sulteng Suluttenggo gg Silae 150/20 kV Extension 30 1. Ext 4 LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.

38 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Otam 150/20 kV Extension 30 1.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.39 2016 Proposed IBRD 2.62 2012 Proposed APLN & APBN Sulut Suluttenggo Bintauna (Tap) 150/20 kV New 10 2.90 2018 Planned Unall Sulut Suluttenggo Paniki 150/20 kV Extension 30 1.63 2013 On g going g Unall Sulut Suluttenggo Molibagu 150/20 kV New 20 2.62 2012 Commited APBN S l t Sulut S l tt Suluttenggo P iki Paniki 150/20 kV N New 30 2 62 2.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Teling 150/20 kV Extension 30 1.90 2020 Planned Unall .39 2014 Planned Unall Bau-Bau 150/20 kV Extension 30 1.90 2019 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.38 201 2017 Pl Planned d U ll Unall Sulut Suluttenggo Otam 150/20 kV Extension 30 1.63 2015 Planned Unall S l Sulut S l Suluttenggo T li Teling 70/20 0/20 kV E Extension i 20 1 38 1.90 2013 Planned Unall Sulut gg Tomohon Suluttenggo 70/20 kV Extension 30 1.00 2018 Relok Unall Sulut Suluttenggo Teling (GIS) 150/20 kV New 30 4.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV Extension 30 1.10 2016 Proposed IBRD 2.27 2013 Planned Unall Sulut Suluttenggo Kawangkoan 150/20 kV Extension 30 1.00 2011 On going APLN Sulut Suluttenggo Teling (GIS) 150/20 kV New 30 2.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Teling 150/20 kV Extension 30 1.62 2011 On going APLN Status Sumber 534 Sulut Suluttenggo Tomohon (IBT) 150/70 kV Extension 60 2.Pengembangan Gardu Induk Sulawesi Tegangan Baru/Extension Kap Juta J t US$ COD Raha 150/20 kV Extension 30 1.90 2014 Planned Unall Sulut Suluttenggo Sawangan 70/20 kV Extension 30 1.62 2011 Proposed APBN/APLN Sulut Suluttenggo Kema/Tanjung Merah 150/20 kV New 30 2.62 2012 C Commited it d APBN Sulut Suluttenggo Teling (IBT) 150/70 kV Extension 60 2.90 2013 Planned Unall Sulut Suluttenggo Paniki 150/20 kV Extension 30 1.10 2017 Planned Unall Propinsi Wilayah Nama Gardu Induk Sultra Sulselrabar Sultra Sulselrabar Sultra Sulselrabar Kendari 150/20 kV Extension 60 Sultra Sulselrabar Unahaa 150/20 kV Extension 60 Sultra Sulselrabar Nii Tanasa 70/20 kV Extension 20 0.

LA AMPIRAN N B2.7 PETA A PENGE EMBANGA AN PENYA ALURAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTTENGGO O DAN SISTEM INTER RKONEKS SI SULSE ELRABAR 535 .

Provinsi Sulawesi Utara PT PLN (Persero) (P ) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI UTARA / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTG Minahasa 3x25 MW .2011 Otam ACSR 1x240 mm2 40 km .2013 2 P P Lopana PLTU Sulut II (FTP1) 2x25 MW – 2011 U Tomohon P PLTU Sulut I (FTP1) 2x25 MW .2014/2015 U ACSR 2x240 mm2 18 km .2011 ke GI Isimu (Gorontalo) U PLTP Lahendong IV 1x20 MW .2014 U Lolak Bintauna ACSR 1x240 mm2 40 km .2012 Paniki Teling Edit Juli 2011 ACSR 1x240 mm2 Bitung D Ranomut 30 km .2012/2017/2019 PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Likupang G 2 PLTA Sawangan 2x8 MW – 2015 ACSR 1x240 mm 8 km .2013 Buroko Tonsealama PLTU Sulut I (Kema) 2x25 MW .2011 ACSR 1x240 mm2 16 km .2015 P PLTP Kotamobagu I&II 2x40 MW – 2016 GORONTALO ACSR 1x240 mm2 64 km .2017/2018 PLTP Lahendong I.2011 PLTP Lahendong V & VI 2x20 MW – 2014/2015 .2014 Molibagu PLTU Sulut (PPP) 2x55 MW .2012 Tasik Ria Kema A U Sawangan ACSR 1x240 mm 48 km .2012 PLTU Sewa 2x25 MW .II&III 3x20 MW Kawangkoan ACSR 1x240 mm2 10 km .

2011 Marisa G Moutong PLTG Gorontalo 1x25 MW – 2017 PT PLN (Persero) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI GORONTALO / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Desember 2010 Buroko ACSR 1x240 mm2 27 km .2012 U ACSR 1x240 mm2 15 km .2014 ACSR 1x240 mm2 110 km .Provinsi Gorontalo PLTU Gorontalo (FTP1) 2x25 MW – 2012/2013 SULAWESI TENGAH ACSR 1x240 mm2 76 km .2014 U PLTU GE 2x6 MW – 2013 PLTU TLG 2x10 MW – 2013 SULAWESI UTARA .2013 Isimu ke GI Moutong (Sulteng) ACSR 1x240 mm2 105 km .2011 U ke GI Buroko (Sulut) ACSR 1x240 mm2 8 km .2012 Botupingge ACSR 1x240 mm2 8 km .

2012 ACSR 1x240 mm2 90 km – 2019 Ampana ACSR 1x240 mm2 85 km – 2020 2 SULAWESI BARAT SULAWESI UTARA PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW .2015 GORONTALO U P Bunta PLTU Ampana 2x3 MW–2013/14 Talise ACSR 1x240 mm2 ACSR 1x240 mm2 15 km .2012 25 km .2013 ACSR 1x240 mm2 110 km .2014 Palu Baru U ACSR CS 1x240 mm2 119 km .2013 PLTMG Luwuk 2x10 MW–2012/13 Tentena PT PLN (Persero) K l Kolonedale d l PLTA Poso 65 MW – 2011 PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW–2015/16 Luwuk ACSR 1x240 mm2 72 km .2014 KALIMANTAN TIMUR Leok Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km – 2014 U ACSR 1x240 mm2 108 km .2018 Silae ke g y GI Pasangkayu (Sulbar) ke GI Marisa (Gorontalo) / / / / / / / / ke GI Wotu (Sulsel) SULAWESI TENGGARA PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Ek i ti Kit Rencana Edit Juli 2011 .2014 ACSR 1x240 mm2 70 km – 2014 Moutong Siboa PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW .Provinsi Sulawesi Tengah PLTU Tolitoli 3x15 MW .2019 ACSR 1x240 mm 80 km .2012 Poso ACSR 1x240 mm2 124 km – 2017 U Toili G A SULAWESI SELATAN ACSR 1x240 mm2 90 km k .

2010 Tonasa Tallasa U Pangkep Maros Bosowa Tello D Sungguminasa Sinjai PLTU Takalar Punaga IPP 2x100 MW – 2014/2015 PLTU Bosowa 2x100 MW – 2013 PLTU Jeneponto eks Spanyol (Takalar-FTP II) 2x100 MW – 2014/2015 Kajuara ACSR 2x430 mm2 40 km .2011 Pinrang D ACSR 1x430 mm2 70 km .2013 A A Enrekang ACSR 2x430 mm2 150 km .2011 Bontoala Daya Baru Tello G PLTG Sulsel Baru (Peaking) Panakukang 2x50 MW-2012 Tanjung Sungguminasa Bunga PLTG Makassar (Peaking) ke ke 1x50 MW-2013 PLTU GI Tallasa 1x50 MW-2015 Takalar PLTA Bonto B t Batu B t 2x50 MW – 2016 ACSR 1x430 mm2 120 km .2013 PLTA Bakaru II 2x63 MW – 2019 ke A PLTA Poso ACSR 1x430 mm2 15 km .2012 Wotu ACSR 1x240 mm2 145 km .2012 Bulukumba SULAWESI TENGGARA A M U / / / / / / / / Tallasa Bulukumba U U Jeneponto / / / / PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI SELATAN GI 500 kV Existing / Rencana U / U PLTU Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana G / G PLTG Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana P / P PLTP Existing / Rencana A / A PLTGU Existing / GI 70 kV Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GU GU Rencana / GI 500/275/150 kV Existing / RencanaGB / GB PLTGB Existing / M / M GI 275/150 kV Existing g / Rencana Rencana D / D GI 150/70 kV Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana Kit Eksisting T/L 70 kV Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana Kit Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana Edit Juli 2011 T/L 500 kV Existing / Rencana .2013 Sengkang Sidrap GU PLTU Sewa 2x100 MW-2013 PLTGU Sengkang 180 MW – 2013 Soppeng U U PLTM Tangka/Manipi 10 MW – 2011 Barru 2 ACSR 2x430 mm 130 km .2016 (Sulbar) ke GI Lasusua (Sultra) Palopo Makale ke GI Polman (Sulbar) BakaruA ACSR 1x430 mm2 90 km .2013 Malili PLTA Malea 2x45 MW – 2016 Maros Bosowa Mandai Kima ACSR 2x430 mm2 Tallo Daya Lama 40 km .2016 Pare Keera/ Siwa ACSR 2x430 mm2 65 km .2011 SULAWESI TENGAH ACSR 1x430 mm2 136 km .2012 ACSR 1x240 mm2 41 km .2010 G PLTBG Selayar 2x4 MW – 2012/2013 Bone PT PLN (Persero) Jeneponto U PLTG Sengkang 60 MW – 2012 G PLTU Sulsel-Barru (FTP1) 2x50 MW .Provinsi Sulawesi Selatan ke GI Barru Pangkep ke GI Tentena/ PLTA Poso (Sulteng) ke GI Sidrap SULAWESI BARAT Tonasa ACSR 2x430 mm2 130 km .

2015 SULAWESI SELATAN U Mamuju PT PLN (Persero) PERENCANAAN SISTEM PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI BARAT PLTA Poko 117 MW – 2020 A Polmas Majene ke GI Pinrang (Sulsel) / / / / / / / / / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing g / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing g / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Mei 2011 .Provinsi Sulawesi Barat ke GI Silae (Sulteng) ACSR 2x240 mm2 45 km .2018 PLTU Mamuju (FTP2) 2x25 MW .2014 Pasangkayu SULAWESI TENGAH ACSR 2x240 mm2 200 km .

Provinsi Sulawesi Tenggara .

8 ANA ALISIS AL LIRAN DAY YA SIS STEM INTE ERKONEK KSI SULU UTTENGG GO DA AN SIS STEM INTE ERKONEK KSI SULS SELRABA AR 542 .L LAMPIRA AN B2.

9 66.7 0.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2013) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .1 MW 310.2 BINTAUNA 1.4 3.5 O LOPANA 8.GORONTALO 2013 Capasitor : Pembangkit Beban Susut 1.2 1.7 147.5 67.3 O 314.9 66.5 147.8 150.6 146.5 9.3 150.3 A 5.0 1.5 45 MW % 150 kV 70 kV 30 kV RANOMUUT 20.0 18 MW 4 MW LOLAK 4.0 7.4 19.6 147.9 15 MW 7 21 MW 27 543 44 U MW ANGGREK 7.0 3.9 31 MW MW OTAM 27.0 15 MARISA 6.2 66.4 9.1 D 24 MW .6 66.2 147.8 12.7 148.8 SAWANGAN 26 MW 12.9 6.7 3.7 44 MW U 36 MW U ISIMU 21.0 31 8 MW LEOK 4.0 66.9 9.3 MW PANIKI 23.7 31 MW D 8 15 MW MW TOMOHON 14.1 G 18 MW A 5 MW 46 MW P 72 MW A 7 MW KEMA 21.2 D 8 MW MW 26 MW KAWANGKN 15.2 1.6 3.3 145.6 147.7 2.5 BITUNG 8.8 3.7 7 MW 15 MW TNSEALMA 6.5 MW 1 MW BUROKO 2.0 TELING 61 MW 44.1 65.2 147.4 147.5 3.9 12 MW TASIKRIA 6.1 20 MW LIKUPANG 5.4 7 MW BTPNGGE 22.1 144.8 MW 3.3 10.1 MW 145.0 10.

5 12.1 46 MW LEOK 55.8 35 MW % 150 kV 70 kV 30 kV LIKUPANG 6.22 150.88 11 149.8 11.0 1.9 8.1 544 U 35 MW 24 U MW BUROKO 3.8 MW 366.0 149.4 MW BINTAUNA 1.3 38 3.4 A 6.2 LOLAK 5.5 11.5 3.GORONTALO 2015 Capasitor : Pembangkit Beban Susut 369.8 MW 1.2 12 MW 7 ISIMU 24.2 148.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2015) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .3 LOPANA 9.0 MW 3.1 148.4 U TOLI-TOLI 11.4 14.3 D 4 MW MW 9 MW 59 MW TNSEALMA 7.1 11 9 11.6 147.9 66.6 BITUNG 9.0 PANIKI 28.7 OTAM 31.5 65.4 66.2 2.1 MARISA 7.0 4.8 SAWANGAN 34 MW 16 MW TOMOHON 17.6 32 3 MW 17 MOUTONG 8.8 G 15 MW MW .1 0.4 66.0 150.3 3.0 2.8 36 MW U 62 MW U SIBOA 9.0 2.7 P P P A 7 MW 72 MW 36 MW U 20 65.3 3 MW 23 MW 41 MW 12 MW 2 MW TASIKRIA 8.4 148.4 4.0 65.9 6 MW 11 6 MW 12 12 MW ANGGREK 9.4 145.4 147.7 RANOMUUT 23.1 5.2 MW 145.8 149.1 7.9 149.2 4.2 10.8 23.9 D 9 MW A 5 MW 13 MW 70 MW KEMA 25.3 KAWANGKN 17.7 149.9 34 3.3 BTPNGGE 26.6 147.6 66.1 149.0 4.6 TELING 74 MW 53.99 25 145.4 D 0 MW 8 MW MW 19 MW 11 MW 14.

2 101 MW 144.0 19.2 21.2 12.3 6.4 4.7 LOPANA 11.3 143.8 MW 29 MW 31 MW 22.0 144.0 U 545 75 MW 24 U MW BUROKO 4.7 52 38 MW 39 MOUTONG 13.8 89 MW LEOK 8.8 5.0 MW BINTAUNA 2.9 4.0 SAWANGAN 34 MW 24 MW TOMOHON 28.1 7.7 17.3 5.2 BITUNG 14.8 144.7 TELING 7 MW 85.2 38.8 145.4 U TOLI-TOLI 17.9 6.6 ISIMU 36.2 BTPNGGE 39.1 54 MW RANOMUUT 34.1 144.4 65.150 kV Isimu .3 LOLAK 7.5 143.2 9.2 20.3 % 150 kV 70 kV 30 kV LIKUPANG 9.9 64.7 MW 555.0 G 15 MW A 10.4 MW 13.88 11 146.8 17 MW 29 MW 82 MW 12 MW 3 MW TASIKRIA 13.1 3.1 16.2 G 47 MW OTAM 44.4 9 MW 26 MW 9 24 MW ANGGREK 13.4 MW 96 MW KAWANGKN 21.3 MW Pembangkit Beban Susut 2.Sistem Interkoneksi Sulut – Gorontalo (2020) SISTEM INTERKONEKSI MINAHASA .150 kV - 20 Mvar 20 Mvar 568.1 1.2 141.1 44 MW U 105 MW U SIBOA 14.2 3.7 144.7 D 0 MW .5 61.5 147.6 6.0 15.6 A 23 MW 67 MW 74 MW KEMA 43.3 PANIKI 46.4 145.9 148.5 D 4 22 MW MW 24 MW TNSEALMA 9.5 P P P A 7 MW 72 MW 36 MW U 144 MW 62.3 146.1 6.3 2.5 63.4 146.9 63.9 64.4 145.4 12 MW 4 MARISA 11.GORONTALO 2020 Capasitor : Teling .3 145.5 6.

8 144.6 16 WOTU G TALLASA 25.1 11.9 MW Susut Transmisi :              37.0 14.1         60         10 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3     33.5 BAKARU 7.2 BONTOALA 67.4 PLTU NII TANASA     14.5 PALOPO 25.2 MAROS5 ‐ JT 20.4 8.3 150.7 1.5 8.4 DAYA BARU   169.4 2013 NII TANASA 147.4 17 4 110 6 110.8 21.0 53 5.7 2 X 50 MW 4.2 2011 51.5 27.3 147.2 149.2 6.0 144.0 150.0 15.8 4.8 BONE 30.0 8.2 PANGKEP     21.8        2.4 MAKALE SIDRAP 2011 22.3 10.6 2013 KENDARI 47.3 P LTU Nii Tanasa         12 Pembangkit : Distribusi :       1.7 145.2 PARE2     16.8 TELLO 54.8 14.3 8.3 Sulteng : g         32 PLTU Tawaeli     20.5 7.8 2013 UNAAHA 19.8 8.3 70 kV 148 5 148.0 PLTD SUPPA POLMAS 15.7 4 X 10 MW G        4.6 2013 KEERA/SIWA SENGKANG PLTGU SENGKANG 135 MW 148.6 144.4 23.5 143.7 8 4.5 144.7 32.2 2x100 MW ke Sistem G 152.2 MW Flow dalam MW/MVAR 2013 RAHA 9.8 69.8 BOSOWA PANAKUKANG 78.5 2011 G 57.8 9.5 13.0 23.078.6        7.0 90 G         10 2011 (Uprating) TL.1 13.4        8.1 10.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ POSO ‐ PALU ‐ 2013 Eksisting 150 kV 2009 Rencana 150 kV 2015 Eksisting 2015 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG TELLO G MAJENE         73 Reaktor : ‐120       43 Palopo ‐ 275 kV ‐120 Capacitor :         20 PLTU BARRU 9. Tengah 70.3 148.4 PLTM Bili      120 PLTG Skg1 g            6 PLTG Skg2 PLTGU Skg      135 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka PLTG ‐ GE Tello              ‐ PLTM Rtballa PLTD Suppa PLTU Sulsel‐1 2.3 3.4 7.5 SOPPENG 145. LAMA MAMUJU 10.6 PLTU BOSOWA  JENEPONTO BULUKUMBA 20.4 8.1 151.8 70 kV 17.2 13.0 2012 2013 LASUSUA MALILI 10.0 150.7 17.3 PLTU Bau         80              ‐         60 PLTU Bsowa         60 PLTG Tello1 Sultra      180     33.4 144.6 180 MW 17.6 22.3 145.5       '2012 149.5 6.8 G 4.1 G KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) PLTA Bakaru 5.2 149.0 144 0 144.0 G PLTA BAKARU 2X63 MW   146.3 3.0 19.2 152.3 5.0 145 3 145.116.8     20.1 8.1 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW 147.3 SINJAI 21.3% 3.1 2013 KOLAKA 12. BUNGA 37.6 149.0         14 PLTA Poso      180 PLTU Kolaka     33.0 G PLTU KENDARI PLTU KOLAKA 2 X 25 MW 2 X 10 MW BAU‐BAU 17.3 150.6 (275 kV) 2012 2013      1.5 144 4 144.0 546 2011 TN.0 73 7.3 32.0 149.6   17.4 147.3 2011 144.4 SG.0 6.0 150.5 148.0 10.5 12.8 PINRANG 25.2 21.2   133.6 BARRU New 148.0 PLTU Kdri(2x25)         20 PLTU Tawaeli Ex     25.9 3.8 PLTGU SENGKANG PLTA POSO Sul.4     24.2 MW       1.5 3.1 145.MINASA 32.9 G 9.5 Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV .

2 PARE2 20 4 20.0 144.5 PANGKEP KIMA MKS       7.5 70 kV ke Ps.7         20 G PLTU MAMUJU G 2011 2X25 MW POLMAS 17.7 19.2 4.MINASA 16.0 2013 NII TANASA 146.6 PLTGU SENORO PALOPO 30.5 ‐51 2 X 50 MW 4.1 30.6% 2013 UNAAHA 149.6 547 2x120 MW 2010 TN.0 144.8 149.0 143.6 5. BUNGA 46.1 6.8 PLTU KOLAKA 2013 BAU‐BAU 20.9 146.0 12.7 SINJAI 25.6        7.3 145.1 7.9     23.3 4 X 10 MW G     10.3        3.3 5.0 G PLTA BAKARU 2X63 MW     16.2     10.4 143.6 SOPPENG 17.0 8.4 PLTM Bili PLTGU Skg PLTD Suppa PLTG ‐ GE Tello Sultra :      110 PLTG Skg1            6 PLTG Skg2      120 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka              ‐ PLTM Rtballa 25 2.0 154.0 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW & 2X10 MW 2 X 10 MW Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV 150.3 26.338.8 34.8 26.4 PLTU NII TANASA PLTU NII TANASA        5.0 2010 144.4 3x65 MW PLTA POSO 154.2   25.2        5.8 12.0 9.1 PLTU BOSOWA 2X100 MW ke Sistem G (275 kV) 62. Tengah (Poso) 11.9 PLTU PUNAGA     23.2 MAROS5 ‐ JT 27.8 PLTU JNPONTO 2X100 MW Sul.0 BAKARU 8.4 69.7 MW       1.1 15.8        7.5 BONE 36.6 TALLASA 30.0 8.7 17.8 MAMUJU 12.7 54 5. LAMA TELLO 64 4 64.5 10.6 10.2 7.0 25.7 2 X 100 MW     16.8 PLTU KENDARI 2 X 25 MW 10.0 Flow dalam MW/MVAR       1.9   119.3 8.4 TL.0 4.8 SG.0 149.1 144.3 MW              35.303.2 143.9 SENGKANG 20.1 DAYA BARU   177.6 2013 KENDARI 54.2 149.5 12.6 150.0 65.6     42.6 22.6   148.0         12 PLTA Poso PLTU Kolaka         22 PLTGU Senoro PLTU Bau            ‐ 1         20 Pembangkit :         20 Distribusi :      165 Susut Transmisi :   200.6 32.4 BONTOALA 82.7 2.7 77 144.4 177.4 149.7 13.8 144.8 15.5 150 0 150.3         10 G 63 8 63.3 11.8 G .6 7.4 ((275 kV)) 150 2 150.7 39.4 180 MW 2013 G Sul.4 PINRANG BARRU 70 kV 151.5 G KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) Sulselbar : PLTA Bakaru 6.8 2015 MAKALE SIDRAP 2010 27. Kayu  ‐ Silae ‐ Palu 149.3 RAHA 4.6 PLTGU SENGKANG 135 MW 148.9 10.3 148. Tengah (Luwuk) WOTU G 145.4 38.4     22.8 146.4 2013 KOLAKA 14.0 PLTU Kdri(2x25)         36 PLTU Tawaeli Ex   140.9 26.3 153.1 4.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ (+ POSO ‐ PALU ‐ LUWUK) ‐ 2015 Eksisting 150 kV Rencana 150 kV 2010 2015 Eksisting 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG PEAKING G MAJENE 2015       80 Reaktor Reaktor ::         50 Palopo ‐ 275 kV Capacitor : Capacitor : 5 ‐51 PLTU BARRU PLTU BARRU 11.8 G PLTU PUNAGA TAKALAR   122.7 2013 KEERA/SIWA ke Sistem G 150.7 3.1 149.8 MALILI 13.5 145.4 2013 LASUSUA JENEPONTO BULUKUMBA 24.1 BOSOWA PANAKUKANG 96.9 Sulteng :         34 PLTU Nii Tanasa         24 PLTU Tawaeli     60.8 25 8 144.5         50 PLTU Sulsel‐1         50 PLTU Bsowa         50 PLTG Tello1            6 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3              ‐ PLTU Mamuju      140 PLTU Jnponto     23.2 2013 G PLTGU SENGKANG 11.5 11.9 144.7 9.4 145.3 MW 22.4 147.0 5.4 10.9 13.

6 18.9     89.6 19.0 PLTU PUNAGA            6 PLTG Tello2            2 PLTG Tello3     40.9 21.9        3.0 ke Sistem Sul.2 2013 3x65 MW G PLTGU SENGKANG 6.3 BONE 38.0 47.7 G Sulteng : 2013 KOLAKA 8.1 153.6 145.3 G (275 kV) (Poso) 5.4 180 MW MALILI PLTU JNPONTO 2X100 MW Sul.6 5.1 149.9 35.7 SENGKANG        7.3 136.4   203.7 138.2 137.3 150.7 14.0 144.5 70 kV  ‐ Silae ‐ Palu PARE2     14.8 2013 NII TANASA 143.8 KAJUARA 24.2 148. Tengah (275 kV) 19.7 SG.3 24.1 12.6 G BAKARU 13.9 20.6 2013 KENDARI Sulselbar : PLTA Bakaru PLTM Bili PLTGU Skg PLTD Suppa PLTG ‐ GE Tello         45 PLTG Skg1            4 PLTG Skg2      120 PLTU cc Skg              ‐ PLTM Tangka              ‐ PLTM Rtballa 37 3.6 4.7         20 MAMUJU 18.6     31.8     15.5 137.3 15.6 23.9 WOTU G 141.0 12.1 141.0 140.4 2013 G 81 8.SISTEM SULSELBAR ‐ LASUSUA ‐ KOLAKA ‐ KENDARI ‐ RAHA ‐ BAU‐BAU ‐ (+ POSO ‐ PALU ‐ LUWUK) ‐ 2020 Eksisting 150 kV Rencana 150 kV 2010 2020 Eksisting 2020 50 Pangkep‐70 kV 20 Daya ‐ 70 kV 10 Tello ‐ 70 kV PLTG PEAKING G MAJENE       80 Reaktor :         50 Palopo ‐ 275 kV Capacitor : ‐63 PLTU BARRU 16.6 12.3 146.4 33.2 TALLASA 2 X 100 MW PLTGU SENORO PALOPO 29 7 29.6 SINJAI 29.7 13.0 Sultra :       80 G              ‐ PLTU KENDARI 2 X 25 MW         34 PLTU Nii Tanasa         24 PLTU Tawaeli   110.0 23.0 46.8 DAYA BARU   150.5 G PLTU BAU‐BAU 2X7 MW & 2X10 MW 149.6 14.8 2 X 10 MW Keterangan : NAMA GI MW MVAR KV .7 82.4 16.9 2013 UNAAHA 34.6 TL.7 PLTA KONAWE G PLTU KOLAKA PLTA LALINDU 2013 BAU‐BAU 30.3 137. Tengah 68.1 137.4 PLTA B.0 PLTG Tello4     40.6 2015 SIDRAP 2010 40.6   246.Batu         80 PLTU Mamuju         50 PLTU Bsowa         50 PLTG Tello1      140 PLTU Jnponto     40.2 148.27 PLTA poko         50 PLTU Sulsel‐1 PLTA Malea   195.2 PNK BARU 56.4 PLTA BAKARU BLOK I DAN II PLTA POKO 149.1% 6.4 138.0 149.5 KIMA MKS     30.5 MW              62.6 9.1 22 MAKALE 15.0 14.0 PLTA         40         74 PLTG Palu         20 Pembangkit :         20 Distribusi :       1.0 PLTA B. LAMA 87.8 136.7 PLTU BOSOWA 2X100 MW ke Sistem G 149.2 PLTA MALEA 2X45 MW 2X45 MW 548 G 2010 TN.933.4 145.8 30.6 BONTOALA 128.0 PLTU Kolaka              ‐ PLTU Bau         22 PLTGU Senoro     40.2 14.4 138.3 ‐63 2 X 50 MW 6.9 16.7 ENREKANG 10. BUNGA 59.0 22 6 22.2     12.4 MW      165 Susut Transmisi :   200.6 152.0 PLTG Tello5     70.0 7.MINASA 57.8 PLTA POSO 154.0 136.8 141.2 71.2 5.3 53.2 2x120 MW 2X50 MW 45.2 G 150.7 BOSOWA 32.3 (Luwuk) 140 0 140.9 PINRANG 45.6 18.6 35.0 146.5 G PLTU MAMUJU G         10 2011 2X25 MW POLMAS 25.4 BARRU 70 kV ke Ps.7 145.0 12.3 20.8 138.0 PLTU Kdri(2x25)         36 PLTU Tawaeli Ex         12 PLTA Poso   140.2 MAROS5 ‐ JT 49.1 PLTU NII TANASA PLTU NII TANASA     15.6 PANAKUKANG 115.6 36.6 PANGKEP     38.9 3.0 BULUKUMBA 34.2 TELLO 86.5 68.1 6.9 MW       1.9 PLTGU SENGKANG 135 MW 147.1 141.8 SOPPENG 24.7   160.7 10.8 2013 KEERA/SIWA 150.995.8 2013 LASUSUA     23.1 18.1 KOMPOSISI PEMBANGKITAN  ( MW ) PLTA Bakaru II 9.6 8.2 10.2 136.9 G PLTU PUNAGA TAKALAR        5.7     66.3 4 X 10 MW G JENEPONTO 143. Kayu 147.BATU   47.0 Flow dalam MW/MVAR RAHA 15.6 10.0 45.

9 KEBUTUHA AN FISIK PENGEM MBANGAN N DISTRIB BUSI SISTE EM INTERKONEKSI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKSI SULSEL LRABAR 549 .LAM MPIRAN B2.

3 6.9 10.669 613 222.805 2014 1.6 55.6 18.749 1.5 22 7 22.1 9.5 8.989 2018 1.Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi Regional Sulawesi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.0 94 9.0 7.5 62.276 Tahun Pelanggan 228.4 7.9 70.094 kms 1.8 14.796.7 5.0 17 3 17.831 1 520 1.1 17.9 7.437 523 194.143 1.6 12.0 8.2 8.9 JTR 9.857 4.095 13.5 80.277 454 173.196 419 162.5 9.2 26.006 1.498 2017 1.5 40.3 19.497 1.1 517.372 493 185.5 8.8 Trafo 23.9 85.7 6.0 11.145 12.717 550 Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi R i Regional l Sulawesi S l i Tahun JTM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 13.880 2015 1.5 206.0 8.7 50.6 17.034 2019 1 831 1.7 24.6 10.1 58 5 58.6 91 9.778 2013 830 1.1 15.520 560 204 542 204.2 Total 53.940 2016 1.9 43.4 10.542 2020 2011-2020 2.016 402 144.156 1.297 1.119 401 152.4 35.4 6.9 21.1 22.6 Pelanggan 7.6 .2 16.351 MVA 549 2012 657 900 338 126.4 19.7 46.4 9.2 2011-2020 144.634 1.

10 P PROGRAM M LISTRIK K PERDES SAAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULUTT TENGGO DAN SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSELRABAR 551 .LA AMPIRA AN B2.

678.9 4 284 9       4.361.322.107.969 4 969           273.3 4 361 3       370.0 1.423 3 423 .6 1.021 53.539 273 539 Listrik m urah dan Hem at (RTS) 3.5 931.8 1.0 1.8 1.314.080.1 83.423                       3.0 1.4 1.284.292.8 1.5 85.287 50.8 69.Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sulawesi Tahun 552 2011 2012 2013 2014 Total JTM JTR kms kms Trafo MVA Jm l Pelanggan Unit 1.797.0 772.2 370 2          4.055.0 89.741.325.0 1.346.6            4.081.8 106.7 104.

12 PR ROYEKSI KEBUTU UHAN INVESTASI SISTE EM INTER RKONEKS SI S SULUTTE NGGO DAN N SISTE EM INTER RKONEKS SI SULSELR S RABAR 553 .LA AMPIRAN N B2.

00 42.45 24.75 3.3 100.8 487.Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulutenggo (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 554 2011 79.88 2015 205.55 2020 56 20.92 72.94 17.34 193 0 193.21 2019 166.90 27.6 248.00 127.2 356.22 463 34 463.24 19.12 18.76 Total 1953 22 1953.52 .82 2018 327.31 2013 179.50 24.6 167.1 236.49 21.4 537.06 17.71 2014 372.0 2609 52 2609.61 20.94 16.5 154.50 7.45 2017 41.2 230.37 22.11 97.61 2012 393.13 15.3 89.22 2016 131.54 40.

0 226.0 .50 11.00 41.13 576.90 87.4 631.2 2016 322.14 4284.3 2019 582.80 19.30 187.83 37.8 2020 172.7 568.5 2013 391.8 2014 453.4 2015 396.35 32.9 2017 93.44 29.42 29.48 62.36 46.8 140.78 26.0 2012 515.51 28.04 26.1 384.5 507.60 7.0 144.50 8.74 332.9 Total 3375.1 433.90 76.0 642.50 30.4 604.65 86.3 2018 392.01 35.Proyeksi Kebutuhan Investasi Sistem Interkoneksi Sulselrabar (Juta US$) Tahun Investasi Pembangkit TL dan GI Distribusi Total 555 2011 53.

SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI BARAT (SULSELRABAR) B2. maka beban puncak sistem Sulut – Gorontalo diperkirakan akan meningkat dari 246 MW pada tahun 2011 menjadi 567 MW pada tahun 2020. pada tahun 2014 akan dibangun transmisi 150 kV Palu – Pasangkayu dan selanjutnya interkoneksi sistem Sulteng dengan sistem Sulselrabar melalui Pasangkayu akan dibangun setelah memenuhi kelayakan. 556 . direncanakan pada akhir tahun 2012 akan terhubung dan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso di Sulawesi Tengah melalui transmisi 275 kV Poso-Palopo milik IPP seiring dengan beroperasinya PLTA Poso.2 SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA-GORONTALO. Untuk melayani beban di Propinsi Sulawesi Barat yang berdekatan dengan Sulteng yaitu daerah Pasangkayu. Dengan pertumbuhan rata-rata 11. Beban puncak sistem Sulut pada akhir tahun 2011 diperkirakan sekitar 194 MW dan sistem Gorontalo sebesar 51 MW. Sistem Sulawesi Selatan. Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulteng (selama ini disebut sistem Palu) melayani beban kota Palu dan kota Parigi dengan beban puncak pada akhir 2011 diperkirakan akan mencapai sekitar 75 MW. SULAWESI TENGAH DAN SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI SELATAN. Selanjutnya pada tahun 2013 sistem Sulselbar direncanakan interkoneksi dengan sistem Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui GI Wotu 275/150 kV membentuk sistem Sulselrabar.4% per tahun sampai tahun 2020. namun pada tahun 2012 kedua sistem tersebut akan terinterkoneksi.PENJELASAN LAMPIRAN B.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Sulawesi Utara – Gorontalo Saat ini sistem Sulawesi Utara (Sulut) masih terpisah dengan sistem Gorontalo. Pada tahun 2012 sistem Sulteng direncanakan mendapatkan pasokan daya dari PLTA Poso melalui gardu induk Poso sehingga beban puncak sistem Sulteng pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 192 MW. Barat dan Tenggara (Sulselrabar) Saat ini sistem Sulawesi Selatan yang juga memasok sebagian Sulawesi Barat (disebut sistem Sulselbar).

PLTA 16 MW dan PLTG peaking 100 MW. Proyeksi kebutuhan beban sistem Sulut–Gorontalo. B2. sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar tahun 2011 – 2020 diberikan pada Lampiran B2. terdapat beberapa proyek pembangkit lain yang diperkirakan akan mundur dari jadwal semula yaitu : 557 . yaitu rata-rata 12.2% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated. Oleh karena itu. banyak pembangkit baru yang akan dibangun selama kurun waktu 2011-2020 yaitu mencapai 681 MW. juga sebagai antisipasi terhadap kemungkinan tertundanya penyelesaian beberapa proyek yang ada agar tidak terjadi krisis listrik dikemudian hari serta untuk menurunkan biaya operasi. Dengan pertumbuhan rata-rata 11. Namun demikian. maka beban puncak sistem Sulselrabar diperkirakan akan meningkat dari 728 MW ditahun 2011 menjadi 1. terdiri dari PLTU 425 MW (termasuk PLTU sewa 50 MW).9% per tahun sampai tahun 2020.Gaorontalo yaitu mencapai 69% pada tahun 2013. Kondisi sistem Sulut pada tahun 2011 diperkirakan masih cukup rawan karena tanpa cadangan yang memadahi. Banyaknya proyek pembangkit tersebut selain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan beban. Untuk mengimbangi pertumbuhan beban yang tinggi tersebut. secara teoritis tersedia reserve margin yang cukup tinggi pada sistem Sulut . PLTP 140 MW. walaupun proyek percepatan tahap I yaitu PLTU II Sulut 2x25 MW yang berlokasi di Amurang akan beroperasi.1.Beban puncak pada akhir tahun 2011 untuk sistem Sulselbar diperkirakan 728 MW dan sistem Sultra 64 MW.950 MW pada tahun 2020. Proyek pembangkit berikutnya yang diperkirakan dapat selesai pada tahun 2011 adalah PLTP Lahendong IV 1x20MW yang dibangun oleh PLN dan uap panas bumi disediakan oleh Pertamina Geothermal Energy dengan pendanaan dari Loan ADB 1982 – INO.2 Neraca Daya Sistem Sulawesi Utara – Gorontalo (Sulut-Gorontalo) Sistem Sulut-Gorontalo memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi.

ƒ Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : − PLTU percepatan tahap I. akan mundur ke tahun 2013 dan untuk tahap awal diperkirakan masih akan menggunakan BBM sebelum gas LNG tersedia. merupakan proyek yang strategis karena selain proyek ini akan memasok permintaan tenaga 558 .PLTP Lahendong V dan VI (2x20 MW) IPP. ƒ PLTU IPP Sulut I di Kema (2x25 MW) mundur menjadi tahun 2014/2015. rencana operasi diperkirakan mundur ke tahun 2014/15.PLTP Kotamubagu I dan II masing-masing 40 MW mundur ke tahun 2016 sehubungan sumber panas bumi berada di daerah hutan cagar alam Gunung Ambang.ƒ PLTU Gorontalo 2x25 MW di Gorontalo mengalami keterlambatan dan diperkirakan baru akan beroperasi pada tahun 2012/2013 ƒ PLTG Minahasa 1x25MW sebagai pembangkit peaking yang didanai APLN. maka saat ini tengah diproses sewa PLTU batubara 2x25 MW di Sulut dan dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2013. ƒ PLTU Tolitoli 3x15 MW untuk menggantikan PLTU skala kecil di Tolitoli. Buol dan Moutong. ƒ PLTU Sulut (PPP) kapasitas 2x55 MW yang telah diusulkan masuk dalam PPP Book Bappenas 2011. menggunakan pendanaan dari pinjaman luar negeri. dijadwalkan beroperasi 2014 bersamaan interkoneksi sistem Tolitoli dengan sistem Sulut-Gorontalo melalui Moutong. yaitu PLTU Sulut II 2x25MW. ƒ PLTA Sawangan 2x8 MW memanfaatkan DAS Tondano. ƒ Proyek pembangkit program percepatan tahap II : . akan dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi tahun 2015. Proyek baru yang akan dibangun dan dijadwalkan beroperasi mulai 2014 yaitu: ƒ PLTU I Sulut 2x25 MW (Proyek percepatan tahap I) dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2014 untuk memperkuat sistem Sulut-Gorontalo sehubungan proyek PLTU IPP Minahasa 2x55 MW tidak berlanjut. . Sehubungan masih tingginya tingkat ketidakpastian penyelesaian proyek-proyek tersebut dan untuk mengatisipasi keterlambatan proyek agar tidak terjadi krisis daya dikemudian hari. direncanakan beroperasi tahun 2018.

Tenggara (Sulselrabar) Sistem Sulsel-Barat (sistem Sulselbar) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi yaitu rata-rata tumbuh 11. juga sekaligus untuk mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. terdiri dari PLTA 130 MW. Beberapa pembangkit yang akan dibangun dalam waktu dekat antara lain: ƒ Ekspansi PLTU IPP Tawaeli dengan kapasitas 2x15 MW. ƒ PLTU Palu 2x15 MW dibangun oleh PLN dan dijadwalkan beroperasi 2015. Dalam waktu dekat.3% per tahun sampai dengan tahun 2020 termasuk penambahan dari sistem isolated.Barat . Pasokan listrik di sistem Palu saat ini didominasi oleh PLTU IPP dan untuk beban puncak masih mengandalkan PLTD. sedangkan pembangkit IPP dan sewa mencapai 544 MW. Sistem Sulawesi Selatan . sistem Sulselbar masih dalam kondisi cukup rawan karena beroperasi tanpa cadangan yang memadahi dan sebagian besar dipasok dari pembangkit IPP dan sewa. Sebagaimana diketahui bahwa porsi pembangkit PLN hanya 262 MW. Sampai dengan tahun 2012. maka selama kurun waktu 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan total kapasitas mencapai 280 MW. sistem Sulteng dalam kondisi tanpa cadangan dan belum mampu melayani seluruh kebutuhan calon pelanggan baru dan penambahan daya pelanggan eksisting. PLTU 60 MW. Masa kontrak sewa pembangkit 559 . − Proyek PLTP Lahendong IV 1x20MW. diharapkan PLTA Poso IPP akan beroperasi pada tahun 2012 bersamaan dengan selesainya transmisi 150 kV Poso-Palu sehingga kebutuhan beban di Sulteng akan dapat tercukupi.2% per tahun sampai dengan tahun 2020. PLTG peaking 50 MW dan PLTP 65 MW. Untuk mengimbangi kondisi tersebut. − PLTU I Sulut (Perpres tahap I) 2x25 MW − PLTU IPP Sulut I (Kema) 2x25MW Sistem Sulawesi Tengah (Sulteng) Sistem Sulawesi Tengah memiliki potensi pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu diproyeksikan tumbuh rata-rata 12. dijadwalkan dapat beroperasi pada tahun 2014. Pada tahun 2011.listrik pada tahun 2011.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan beban yang cukup tinggi dan sekaligus sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya proyek tidak bisa selesai tepat waktu. − PLTA Poso 3x65 MW: progres pekerjaan proyek ini di lapangan sudah mencapai 80% dan diperkirakan dapat beroperasi tahun 2012. Tambahan pembangkit baru yang dapat terealisasi pada tahun 2011 diperkirakan hanya PLTMH PLN 8 MW dan PLTMH IPP 20 MW yang terhubung ke 20 kV. akan mundur dari tahun 2014 menjadi tahun 2014/2015. 560 . diharapkan tahun 2012 sudah beroperasi.480 MW terdiri dari PLTU 1. PLTA/M 594 MW.490 MW (termasuk PLTU sewa). PLTGU 180 MW dan PLTG peaking 200 MW. ƒ Pembangkit program percepatan tahap II PLTU Takalar FTP-2 (2x100 MW). dilakukan sewa PLTU 2x120 MW yang ditempatkan bersebelahan dengan PLTU Barru di Sulsel dan dijadwalkan dapat beroperasi pada 2013. ƒ Tambahan pembangkit baru yang merupakan proyek IPP diperkirakan dapat selesai 2012-2013. ƒ Proyek-proyek strategis yang perlu direalisasikan tepat waktu adalah : 1 Sistem Sulsel mempunyai cukup banyak PLTA dan kemampuan produksi PLTA sangat dipengaruhi oleh variasi kondisi musim. Proyek-proyek yang diperkirakan akan mengalami keterlambatan antara lain: ƒ Proyek percepatan tahap I yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50 MW. Reserve margin yang tinggi juga dimaksudkan untuk mengantisipasi penurunan kemampuan PLTA pada musim kering1.akan diakhiri setelah proyek pembangkit baru selesai dan mampu menggantikan peran pembangkit sewa. akan dibangun pembangkit baru dalam jumlah cukup besar termasuk sewa PLTU dengan memberikan toleransi reserve margin yang cukup tinggi yaitu 70%. semula dijadwalkan beroperasi pada tahun 2010 namun mundur menjadi tahun 2012. ƒ Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan proyek-proyek IPP dan PLN. yaitu sebagai berikut : − PLTG/U Sengkang IPP 2x60 MW: mundur dari tahun 2010 menjadi 2012. Selama periode 2011-2020 akan dibangun pembangkit baru dengan kapasitas total mencapai 2. − PLTU Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: progress proyek mencapai 80%.

− PLTG/U Sengkang IPP extension 2x60MW. B2. − PLTU Sulsel-3 (Takalar) IPP 2x100 MW. − PLTU IPP Sulsel-1 Jeneponto 2x100 MW: proyek ini sangat penting untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik jangka pendek dan menengah khususnya pada periode 2012-2014. yaitu PLTU Sulsel Barru 2x50MW.3 Proyek-Proyek IPP Yang Terkendala Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran B2.− PLTU percepatan tahap I. proyek ini akan dapat mengatasi kekurangan pasokan daya terutama untuk tahun 2012.3.2 B2. digunakan software ProSym yang pada prinsipnya menggunakan kaidah merit order. − PLTA Poso IPP 2x65 MW untuk sistem Sulselbar. Neraca Daya sistem Sulut – Gorontalo dan sistem Sulselrabar sebagaimana diperlihatkan pada lampiran B2. Saat ini tengah dilakukan studi kelayakan pada lokasi tersebut dan bila hasil studi menyatakan layak dibangun PLTA. 561 .4 Neraca Energi Produksi Energi Energi yang diproduksi pembangkit pada suatu sistem kelistrikan selaras dengan pertumbuhan demand dan keberagaman jenis pembangkit yang akan dibangun. dijadwalkan beroperasi tahun 2014/2015. Untuk menghitung alokasi produksi per unit pembangkit agar diperoleh nilai bauran energi yang paling ekonomis dan optimal. maka rencana PLTA tersebut akan dimasukkan dalam neraca daya pada RUPTL periode berikutnya sesuai kebutuhan sistem untuk menggantikan rencana pembangkit berbahan bakar fosil yang mempunyai peran sejenis dan belum ada komitmen untuk pembangunannya. karena dapat mengatasi kekurangan pasokan daya dan sekaligus akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting. Sebagaimana diketahui bahwa potensi tenaga air di Sulawesi terutama di Wilayah Sulselrabar sangat besar dan salah satu lokasi yang diindikasikan adalah di DAS sungai Karama.

yaitu peran MFO dan HSD pada tahun 2011 masih besar masing-masing 1.4. Bakaru II. e.716 GWh pada tahun 2020. c.521 GWh dan 259 GWh. Malea. Mulai tahun 2015 peran keduanya akan habis dan digantikan dengan gas LNG sehubungan masuknya PLTG peaking dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. yaitu dari rencana 272 GWh pada tahun 2011 akan naik menjadi 6. Hal ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTU batubara yang pada tahun 2010 hanya 27 MW akan menjadi 1.955 MW pada tahun 2020. Peranan pembangkit batubara akan menjadi dominan. Hal ini karena adanya penambahan kapasitas pembangkit pada PLTG Sengkang dan pembangkit peaking berbahan bakar LNG. sehubungan masuknya PLTG peaking dengan bahan bakar gas LNG dan beroperasinya PLTU batubara serta berakhirnya kontrak PLTD sewa. Mulai tahun 2014/2015 peran MFO dan HSD akan habis digantikan dengan gas LNG. Penggunaan HSD untuk jangka panjang tidak menjadi nol karena HSD masih tetap dibutuhkan oleh pembangkit kecil pada sistem isolated. Konawe dan Watunohu. Poso. Bonto Batu.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Peranan pembangkit gas meningkat pada sistem interkoneksi di Sulawesi dari 1. dengan asumsi : − Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada. d.487 GWh pada tahun 2020 untuk sistem interkoneksi besar di Sulawesi. − Ketersediaan batubara tidak terbatas.514 GWh pada tahun 2011 menjadi 2. yaitu dengan masuknya beberapa proyek PLTA berikut: Bakaru II. Hal yang sama juga terjadi pada sistem interkoneksi Sulselbar. Bonto Batu dan 562 .Hasil perhitungan simulasi produksi energi per jenis energi primer di sistem Sulawesi sebagaimana diberikan pada Lampiran B2. − Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek PLTP dan PLTA pada neraca daya. b. Lampiran B2. Peranan pembangkit hidro semakin meningkat khususnya di Sulawesi Selatan. Peranan MFO dan HSD di sistem interkoneksi Sulut-Gorontalo pada tahun 2011 masih tinggi yaitu masing-masing 157 GWh dan 295 GWh.

Gas Senoro akan diambil PLN dalam bentuk LNG untuk bahan bakar pembangkit peaking di Sulsel dan Sulut.4 bcf dan akan menjadi 6 bcf pada tahun 2020.17 juta ton pada tahun 2011 menjadi 4. Pemakaian gas oleh PLN hanya untuk pembangkit peaking sehubungan pembatalan proyek PLTGU di Senoro akibat alokasi gas Senoro kepada PLN hanya 20 mmscfd. sedangkan PLTA lainnya merupakan pembangkit beban menengah/dasar. Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.5.773 MVA. 563 .5 Capacity Balance Gardu Induk Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020 dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang sudah melebihi 70%.4. B2. Sedangkan volume pemakaian batubara meningkat dari 0. dan diasumsikan pasokan gas tetap ada hingga tahun 2020. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Sulawesi sampai dengan tahun 2020 sebesar 4. Pemakaian LNG di Sulawesi akan dimulai pada tahun 2013 sebesar 3. Pemakaian gas di Sulawesi oleh pembangkit IPP yaitu PLTGU Sengkang. f.Poko merupakan pembangkit beban puncak.164 GWh pada tahun 2020. Peranan panas bumi akan meningkat khususnya di Sulawesi Utara dengan akan beroperasinya PLTP Lahendong IV dan V serta PLTP Kotamobagu dari 430 GWh tahun 2011 menjadi 1. Kebutuhan Bahan Bakar Kebutuhan energi primer di sistem Sulawesi dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran B2. Pembangunan PLTGU Donggi-Senoro menjadi tidak optimal karena lokasinya sangat jauh dari pusat beban.33 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 26 kali lipat. Sama halnya dengan pemakaian MFO dari 427 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015. Kebutuhan HSD akan turun tajam dari 240 juta liter pada tahun 2011 menjadi nol pada tahun 2015.

3 MW. SUTT 150 kV Lopana – Teling. PLTU IPP.8 Analisis Aliran Daya Analisa Aliran Daya Sistem Minahasa –Gorontalo Analisa aliran daya pada sistem interkoneksi Minahasa-Gorontalo dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit. B2.0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (144.8 MW dengan jumlah pasokan sebesar 314. Total beban sistem sebesar 310. sistem Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk mengatasi bottleneck penyaluran. system Sulteng dan sistem Sulselrabar dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi. GI serta transmisi eksisting dan yang akan dibangun baru.B2. yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut II – Lopana. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150.1 MW. 564 . B2. Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 hingga 2013 ada tujuh ruas transmisi. • Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU percepatan.7 Peta Pengembangan Penyaluran Cukup jelas seperti terlihat pada Lampiran B2. • Pengembangan transmisi 150 kV di lokasi tersebar di sistem Sulut–Gorontalo. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Bitung (67.5 kV). PLTA IPP dan PLTP IPP. Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2. Berdasarkan hasil simulasi aliran daya susut sistem sebesar 3. GI Paniki dan GI Ranomuut (87 MW) dan ke Gorontalo yaitu GI Isimu dan GI Botupingge (36 MW). Tahun 2013 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo yaitu dari kelompok pembangkit (PLTP dan PLTU Sulut II) ke utara yaitu GI Teling. perbaikan tegangan pelayanan dan fleksibilitas operasi.6.7. Analisa load flow dilakukan beberapa tahun yaitu tahun 2012.6 Rencana Pengembangan Penyaluran Rencana pengembangan penyaluran sistem Sulut – Gorontalo. 2015 dan tahun 2019 dengan hasil sebagai berikut : a.4 kV).1 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65.

4 MW dengan jumlah pasokan sebesar 568. PLTU Sulut I (Kema) #1 dan PLTA Sawangan 2 unit.2 kV) dan tegangan terendah di GI Botupingge (141. c. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (66. SUTT 150 kV Buroko – Isimu (GI Anggrek incomer). PLTU Tolitoli.0 kV) dan tegangan terendah di GI Kema (145. 565 . PLTU 1 Sulut di Buroko. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTG Gorontalo #1. Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 3. Pada tahun ini sub sistem Tolitoli telah interkoneksi dengan sistem.8 MW. #2. Berdasarkan hasil simulasi load flow susut sistem sebesar 13.5 kV). SUTT 150 kV Isimu – Botupingge dan SUTT 150 kV Isimu – Marisa. yaitu SUTT 150 kV PLTU Sulut (PPP) ke Kema/Tanjung Merah. dan PLTG Minahasa #1. Pada tahun 2016 hingga 2020 ada penambahan transmisi baru.2 kV). PLTG Minahasa #2.2 kV) dan terendah di GI Likupang (61.9 kV) dan terendah di GI Ranomuut (65. Sedangkan pembangkit baru yang akan beroperasi yaitu PLTP Lahendong #5 dan #6. SUTT 150 kV GI Otam – PLTP Kotamobagu. Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Anggrek (150.7 kV). SUTT 150 kV Paniki – Kema. Total beban sistem sebesar 366 MW dengan jumlah pasokan sebesar 369.7 MW. Tahun 2015 Aliran daya mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masing-masing sebesar 133 MW ke Manado dan 62 MW ke Gorontalo.3 MW. dimana penambahan ruas transmisi ada beberapa ruas yaitu SUTT 150 kV Moutong – Marisa. Sedangkan pembangkit baru yang dijadwalkan akan beroperasi yaitu PLTU Sulut II #1 dan #2.9 kV). PLTU Anggrek #2.SUTT 150 kV Teling – Paniki. Untuk mempertahankan level tegangan pada batas normal dibutuhkan tambahan kapasitor 20 MVar yang terpasang di GI Isimu sehingga total kapasitor sebesar 40 Mvar. sedangkan untuk sistem 70 kV tertinggi di GI Tomohon (65. #3 . Tegangan sistem 150 kV tertinggi di GI Otam (148. SUTT 150 kV PLTU Kema – GI Kema dan GI Kawangkoan – PLTP #5 dan #6. dan PLTU Sulut (PPP) #1. Tahun 2020 Aliran daya masih mengarah ke pusat kota Manado dan Gorontalo masingmasing sebesar 150 MW ke Manado dan 105 MW ke Gorontalo. PLTU Sulut I (kema) #2.8 MW. Total beban sistem sebesar 555. b.

dengan 566 . PLTU Bosowa 2 x 100 MW (2012). dengan susut transmisi sebesar 37. Pembangkit yang beroperasi adalah PLTA Bakaru 2 x 63 MW. TL 150 kV Sengkang – Sidrap (2011). PLTD Suppa 60 MW dan PLTA Poso 3 x 65 MW. PLTA Bakaru dan PLTA Poso sehingga ada daya sekitar 370 MW yang mengalir dari utara ke selatan propinsi Sulawesi Selatan. Analisa load flow dilakukan untuk tahun 2012. b. Uprating TL 150 kV Tello – Tallo Lama. TL 150 kV jalur tengah Sidrap – Maros (New S/S) – Sungguminasa (2011). PLTU Sulsel Perpres 1 di Barru 2x50 MW (2012). a.2 MW. meliputi sistem 150 kV dan 70 kV. PLTGU Sengkang 3 x 60 MW. tegangan sistem masih dalam batas normal. TL 150 kV Sengkang – Siwa/Keera (2011). PLTGU Sengkang 2 x 60 MW. Underground 150 kV Bontoala – Tallo Lama. melalui transmisi 150 kV. TL 150 kV PLTU Takalar – Tanjung Bunga. Total beban sistem sebesar 833 MW dan pembangkit beroperasi sebesar 870. ekspansi 2 dan 3 (2011/12).2 MW (3. Pada kondisi tersebut. masih dipasok dari pembangkit yang posisinya berada di bagian utara Propinsi Sulawesi Selatan yaitu dari PLTGU/G Sengkang. Tahun 2015 Pada tahun ini sistem Sulselbar sudah terinterkoneksi dengan sistem Sultra melalui transmisi 150 kV.3 %). 2015 dan 2019. Tahun 2013 Sebagian besar kebutuhan energi listrik di pusat beban kota Makassar dan sekitarnya. Tambahan transmisi baru pada tahun 2011 – 2013 adalah. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2011 – 2013 adalah. PLTGU Sengkang 135 MW. PLTA Poso 3 x 65 MW (145 MW Transfer ke Selatan – 2012).4 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143.Analisa Aliran Daya Sistem Sulawesi Selatan Analisa aliran daya pada sistem Sulsel dilakukan dengan memperhatikan seluruh pembangkit eksisting dan penambahan pembangkit baru sesuai neraca daya 2011–2020. Aliran daya sistem Sulselbar masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya. TL 275 kV PLTA Poso – Palopo. Tegangan tertinggi terjadi di GI Wotu 152.7 kV.

5 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1. dengan susut transmisi sebesar 62.995. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal. Total beban sistem sebesar 1. Tambahan transmisi baru pada tahun 2013 – 2015 adalah TL 150 kV Wotu – Malili – Kolaka – Unaaha – Kendari (2014).9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk. PLTG Makassar 100 MW (2020).3 MW dan susut transmisi sebesar 35.8. PLTP Lainea 20 MW (2017) .7 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 149.9 MW. dengan transfer daya sebesar 62 MW. Tegangan sistem masih dalam batas-batas normal. ƒ Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan ƒ Perbaikan SAIDI dan SAIFI 567 . Gambaran yang lebih rinci untuk kondisi pada tahun-tahun tertentu hasil simulasi aliran daya untuk sistem besar di Sulawesi diberikan pada Lampiran B2. c. PLTA Konewa 2 x 25 MW (2016). PLTA Malea 2 x 45 MW (2016).3 kV (sistem Sulsel bagian Selatan) dan GI Raha 145. PLTA Bakaru-II 2 x 63 MW (2019).3 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 136. Tambahan pembangkit baru pada tahun 2016 – 2020 adalah.1 %).7 kV dan tegangan terendah di GI Bontoala 143. Sedangkan sistem Sultra mendapat pasokan daya dari PLTA Poso. B2. PLTU Sulsel-3 (Takalar) 2x100 MW (2014/15).9 kV (sistem Sultra).3 MW (2.162.PLTU Sulsel 3 2 x 150 MW (2018/19).transfer daya sebesar 368 MW.2015 adalah. tegangan tertinggi di GI Wotu 154.4 kV (sistem Sultra). Tambahan pembangkit baru pada tahun 2013 .4 MW (3. PLTU Takalar (eks loan Spanyol) FTP2 2x100 MW (2014/15) dan PLTU Mamuju FTP2 2x25 MW (2014).933. tegangan tertinggi di GI Wotu 154.127 MW dengan jumlah pasokan sebesar 1. Total beban sistem sebesar 1.6 %). Tahun 2020 Aliran daya masih dari utara ke pusat beban kota Makassar dan sekitarnya sebesar 600 MW. PLTA Bontobatu 2 x 50 MW (2016).

034 2019 1. Proyeksi Kebutuhan Fisik Distribusi 2011-2020 se Sulawesi JTM JTR Trafo 2011 kms 1.143 1.857 4.989 2018 1.ƒ Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua ƒ Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan ƒ Menurunkan suut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan distribusi yang sudah tua dan tidak layak dioperasikan ƒ Proyeksi kebutuhan distribusi diberikan pada Lampiran B2.016 402 144.9.542 2020 2011-2020 2.156 1.372 493 185.006 1.276 Tahun 568 Pelanggan 228.880 2015 1.805 2014 1.094 kms 1.196 419 162.145 12.277 454 173.497 1.717 .796.940 2016 1.437 523 194.831 1.498 2017 1.095 13.749 1.297 1.634 1.520 560 204.778 2013 830 1.119 401 152.669 613 222.351 MVA 549 2012 657 900 338 126.

ƒ Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut untuk menunjang pengembangan sistem distribusi.145 kms.9 8.285 kms.9 24.7 2015 12.9 2014 11.6 juta (JTM US$ 145 juta.Proyeksi Kebutuhan Investasi Distribusi 2011-2020 se Sulawesi Juta USD Tahun JTM JTR Trafo Pelanggan Total 2011 13.2 8.3 15.8 juta.2 juta) dan diperkirakan setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar US$ 52 juta.8 % di tahun 2014 untuk regional Sulawesi.6 6.6 62.5 19.7 9.8 206.6 80.2 10.1 5. menjadi 69.0 43.3 9.3 % tahun 2009.1 58.2 MVA. ƒ Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60.6 Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya distribusi regional Sulawesi tahun 2011-2020 dapat dijelaskan sebagai berikut : ƒ Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun JTM 13.9 2020 22.4 40. dan sambungan pelanggan US$ 80.4 22.5 2013 10.7 2016 14.1 7.8 8.7 35.361 kms.1 2011-2020 144. 569 .6 7. Kapasitas gardu distribusi 4749 MVA untuk menunjang penyambungan sejumlah 1.5 46.1 9.5 70.2 9. membutuhkan biaya sebesar US$ 517.4 6.4 23.6 55.9 85.4 7.6 2017 16. B2.1 2018 17.6 7.5 17. JTR US$ 85.0 21.8% di tahun 2014 untuk regional Sulawesi .0 6.7 53.10 Program Listrik Pedesaan Program listrik pedesaan pemerintah yang tertuang dalam RPJM 2010-2014 adalah meningkatkan ratio elektrifikasi Indonesia pada tahun 2014 menjadi 80%.0 50.857 kms. kapasitas gardu distribusi 370.5 10.9 17.3% (tahun 2010) menjadi 69. gardu US$ 206.9 26.5 8.2 517.5 2019 19.4 2012 8.0 9.6 juta. JTR 4.0 18.2 9. Untuk menunjang program tersebut di pulau Sulawesi direncanakan membangun JTM 4. JTR 12.8 juta pelanggan. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari 60.

Proyeksi Kebutuhan Investasi Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit. transmisi dan gardu induk sistem Sulawesi diberikan pada Lampiran B2.12.10 B2.3 s/d 4.11 Program Energi Baru dan Terbarukan Lihat Bab 4.Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi untuk listrik pedesaan diberikan pada Lampiran B2.6 B2.12. 570 .

PROVINSI SULAWESI UTARA LAMPIRAN B7. PROVINSI SULAWESI SELATAN LAMPIRAN B10. PROVINSI SULAWESI TENGAH LAMPIRAN B8. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LAMPIRAN B4. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) 571 . PROVINSI KALIMANTAN TENGAH LAMPIRAN B5.RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR LAMPIRAN B3. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR LAMPIRAN B6. PROVINSI SULAWESI BARAT LAMPIRAN B12. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) LAMPIRAN B17. PROVINSI SULAWESI TENGGARA LAMPIRAN B11. PROVINSI PAPUA LAMPIRAN B15. PROVINSI GORONTALO LAMPIRAN B9. PROVINSI MALUKU LAMPIRAN B13. PROVINSI MALUKU UTARA LAMPIRAN B14. PROVINSI PAPUA BARAT LAMPIRAN B16.

Jumlah pelanggan pada waktu yang sama adalah sekitar 757 ribu pelanggan. Situasi sistem kelistrikan di provinsi ini pada dasarnya masih terbatas dan tanpa cadangan. sedangkan sistem–sistem isolated tersebar antara lain sistem Pagatan.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan sebagian besar dipasok dari sistem Barito.LAMPIRAN B. sehingga rasio elektrifikasi sekitar 73. Kotabaru serta Unit Listrik Desa (ULD)1 dipasok dari PLTD setempat. Gambar B3. Konfigurasi saat ini dan rencana pengembangan sistem kelistrikan interkoneksi di Kalimantan Selatan dapat dilihat pada gambar B3. jaringan dan pelanggan PLN . 572 .1 Peta pengembangan sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan 1 ULD adalah unit satuan pelayanan PLN yang dikelola oleh badan usaha di daerah terpencil yang mengelola pembangkit.1.3 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN B3.4%. Total daya terpasang adalah sekitar 423 MW dengan daya mampu 311 MW dan beban puncak 292 MW pada kwartal ketiga tahun 2011.

Sistem Interkoneksi Barito Sistem Barito merupakan sistem interkoneksi dengan jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV. untuk sementara penambahan pelanggan baru dilaksanakan dengan cara selektif. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kondisi kekurangan pasokan tersebut adalah menyewa PLTD minyak jangka pendek dengan total daya 128 MW. - Sistem Kotabaru juga merupakan sistem isolated dengan pasokan listrik dari PLTD. dan menambah daya melalui pembelian tenaga listrik excess power dari industri yang mempunyai cadangan daya.7 MW. dan beberapa diantaranya yang relatif besar adalah: - Sistem Pagatan/Batulicin. melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Tanah Bumbu dan sebagian kabupaten Pulau Laut. dipasok dari beberapa jenis pembangkit meliputi PLTA. 573 . Daya mampu sistem Barito saat ini sekitar 280 MW dengan beban puncak 265 MW. Pusat beban sistem Barito berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan porsi sekitar 80% dari seluruh beban sistem Barito. - ULD merupakan sistem kelistrikan yang tersebar di daerah terpencil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa setempat dan bebannya masih rendah. Akibat kondisi kelistrikan yang terbatas ini. Sistem Pagatan direncanakan akan diinterkoneksikan dengan sistem Barito menggunakan transmisi 150 kV. Sistem Barito akan dapat melayani kebutuhan masyarakat setelah PLTU Kalsel di Asam-Asam beroperasi. merupakan sistem yang terhubung dengan jaringan tegangan menengah 20 kV. Kondisi kelistrikan di sistem Pagatan ini juga mengalami keterbatasan daya pembangkit dan untuk memenuhi kebutuhan dilakukan sewa PLTD minyak serta membeli excess power. Jumlah ULD adalah sebanyak 20 unit dengan daya terpasang 6. Sistem Kotabaru terletak di pulau Laut yang terpisah dari daratan pulau Kalimantan. mengingat daya yang ada masih sangat terbatas. Sistem Barito merupakan pemasok utama kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. PLTD minyak dan PLTG minyak. Sistem Isolated Pagatan Di Kalimantan Selatan masih banyak terdapat sistem-sistem kecil isolated tersebar. Kondisi sistem kelistrikan Barito saat ini masih belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. terhubung melalui jaringan 20 kV dan melayani kebutuhan pelanggan di kabupaten Pulau Laut. PLTU.

2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Kalimantan Selatan memiliki sumber daya energi yang cukup banyak dengan tersedianya cadangan batubara dan gas methane yang cukup besar.2 Kab HST Kab HSU Kab Tabalong Kab Balangan Kab Barito Kuala Kab Tanah Laut 2.3 Isolated 3.1 Sistem Kelistrikan Provinsi Kalimantan Selatan per Oktober 2011 Sistem Kabupaten Daya Terpasang [ MW ] Daya Mampu [ MW ] Beban Puncak [ MW ] Keterangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kab Banjar Kab Tapin Kab HSS 1.5 280. kondisi tanahnya juga cocok ditanami kelapa sawit. 574 .1 Isolated 4.7 311. Sistem Batulicin TOTAL B3.6 265.7 4.4 10.7 4. Eksploitasi sumber daya alam berupa batubara dan mulai berkembangnya perkebunan kelapa sawit telah membuat ekonomi Kalimantan Selatan tumbuh dinamis dan prospektif. proyeksi kebutuhan listrik 2011–2020 diberikan pada tabel B3.1 15.3 292.2.5 Kab Tanah Bumbu 17. Sistem Kotabaru Kab Kotabaru 11.6 14.1.3 8. ULD (20 Lokasi Tersebar) Tersebar 6. Di beberapa kawasan. pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang. Sistem Barito 387. Berdasarkan realisasi pengusahaan lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional. Tabel B3.Daya terpasang dan beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat pada tabel B3.3 Isolated 422. Kondisi demikian akan berpengaruh kepada pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan.

Sampai saat ini batubara Kalsel telah dipakai sebagai bahan bakar di berbagai PLTU di Indonesia termasuk di PLTU Asam-Asam.083.7 1.1 9.7 2.055 877.7 3.829 806.450.3% 9.2 2. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber energi primer yang banyak.732.5 3. meliputi batubara.2 2.3% B3.604 1.470.032 4.5 2.4% Jumlah Pelanggan 740.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana kelistrikan yang meliputi pembangkit.057.238.454.702.7 Produksi (GWh) 1.889. 575 .8 3.2 1.7 2.7 2.3% Beban Puncak (MW) 331 366 390 423 459 499 542 589 641 697 9.8 miliar ton. gas methan batubara (coal bed methana /CBM) dan tenaga air.5 4. transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat dan sebaran penduduknya sebagai berikut.538 995.4 2.800.0 3. tenaga air dan energi surya.891.958.1 1.9 2.038.2 2.225. sementara produksinya rata-rata mencapai 12 juta ton per tahun.646.156.241 841.3. Potensi batubaranya sangat besar dengan berbagai tingkat kalori sebagaimana dapat dilihat pada table B3.131.259.137 954.410 1.9 2.426.774. Potensi energi primer yang potensial untuk dikembangkan khususnya bagi desadesa tertinggal yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN adalah batubara.758 772.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 1.Tabel B3.066. Deposit batubara diperkirakan lebih dari 1.586.332 915.

Umumnya DAS tersebut berhulu di pegunungan Meratus dan bermuara di laut Jawa dan selat Makassar.517.95   44.6 MW Total 99. antara lain DAS Barito.793.249. PLTA dan PLTG peaking.5 menampilkan perincian pengembangan pembangkit dimaksud.36  > 7100  17. dan Sampanahan.620. Tabel B3. Tabel B3. Kintap.62   0.87   0.867.86 MW 5 PLTMH Sampanahan Kotabaru 0. Badan Geologi KESDM.95   1. sehingga head-nya relatif kecil.19   33.00   600.101.13   301. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTU batubara. 576 .4 Potensi energi air di Kalimantan Selatan NO NAMA BENDUNGAN KABUPATEN KAPASITAS 1 PLTA Kusan Tanah Bumbu 65 MW 2 PLTMH Riam Kiwa Banjar 10 MW 3 PLTMH Muara Kendihin Hulu Sungai Selatan 0.99   971.6 MW 4 PLTMH Kiram Atas Banjar 0. Riam Kanan.64   478.46   7.12   109.4.00   12. Batulicin.48   3. Amandit.01  6100 ‐ 7100  336.62   0.84  Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi. Balangan.86   536.526.81   334. 2006 Sumber Tenaga Air/Hidro Kalimantan Selatan merupakan daerah yang mempunyai sumber daya tenaga air.6 MW 6 PLTMH Gendang Timburu Kotabaru 0.14   5.6 MW Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi.09   9. Tapin.00   29. Riam Kiwa.287.33  5100 ‐ 6100  4. Propinsi Kalimantan Selatan Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik periode 2011-2020 direncanakan tambahan 6 proyek pembangkit listrik berkapasitas 609 MW.3 Potensi Batubara Kalimantan Selatan No. Secara rinci potensi tenaga air dapat dilihat pada tabel B3. Keberadaan DAS tersebut kurang berpotensi untuk dijadikan PLTA run-off-river karena topografinya landai. Kualitas Kelas Kriteria (Kal/gr. adb) 1 Kalori Rendah <5100 2 Kalori Sedang 3 Kalori Tinggi 4 Kalori Sangat Tinggi Sumberdaya ( Juta Ton) Tereka Tertunjuk Terukur Cadangan (Juta Ton) Jumlah  370.36   2. Batang Alai.38   1.Tabel B3.

Rencana pengembangan sistem interkoneksi 70 kV untuk menghubungkan grid Barito dengan sistem Kotabaru di pulau Laut.5 Rencana Pengembangan Pembangkit di Kalsel No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Asam Asam (FTP1) PLN PLTU 2x65 2011 On Going 2 Kotabaru (APBN) PLN PLTU 2x7 2013 On Going 3 Kusan PLN PLTA 65 2017 Rencana 4 Kalsel (Peaking) PLN PLTG 50 2019 Rencana 5 Asam Asam Sewa XPLTU 3x50 2013 Rencana 6 Kalsel-1 (FTP2) Swasta PLTU 2x100 2015/16 Rencana Total Kapasitas 609 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban kelistrikan di sistem interkoneksi Kalimantan Selatan relatif besar dan jaringan tegangan tinggi akan menjangkau beban yang secara geografis semakin jauh. Selama periode 2011-2020 direncanakan akan dibangun saluran transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 1.Tabel B3. 577 . Selain itu pembangunan sistem transmisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan daya hantar listrik mengingat adanya rencana pembangunan PLTU dalam satu kawasan di Asam-Asam. dimana saat ini dalam tahap studi kelayakan dan studi dasar laut. sehingga pengembangan sistem dilakukan dengan menggunakan tegangan 150 kV. Adanya potensi tenaga air di DAS Kusan yang lokasinya jauh dari pusat beban memerlukan transmisi 150 kV untuk menyalurkan energinya.725 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 212 juta seperti ditampilkan dalam tabel B3.6.

Rencana pembangunan gardu induk baru pada tabel B3. 2xHAWK          248            30.0 2013 8 Batu Licin Perbatasan Incomer 2 phi Barikin ‐  Cempaka Pelaihari‐Cempaka‐ Mantuil  Landing point P.6 2013 10 Tanjung 11 PLTU Kalsel 1 (FTP 2) Barikin  150 kV 150 kV 2 cct.2 2012 7 Up rating Asam‐Asam 150 kV 2cct.Tabel B3.5 2013 9 Landing point P. akan mencapai 24 buah dengan kapasitas total 750 MVA.7. 1xHAWK               6              4.3 2016 13 Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2 cct. 2xHAWK          100            12.9 2011 2 Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct. 1xHAWK             74              6. 1xZEBRA          180            30. Laut Kotabaru 70 kV 2 cct.0 2011 4 Asam‐asam Batu licin 150 kV 2 cct.4 2012 5 Tanjung  150 kV 2 cct. 2xHAWK          220            27.1 2017 Kayutangi Single phi Cempaka ‐  Rantau Jumlah       1.813          223.3          240            29.7 2011 3 PLTU Asam‐Asam (FTP1) Mantuil 150 kV 2 cct. Pengembangan Gardu Induk Jumlah GI yang direncanakan akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya. Khusus di Pulau Laut. 2xHAWK          213            26. 2xHAWK 2 cct. 2xHAWK               2              0. Laut 70 kV 2 cct.4 2014 2014 12 PLTA Kusan 150 kV 2 cct. 1xHAWK             42              3. 1xHAWK             66              5. 2xHAWK          284            34.8 2012 6 Rantau  150 kV 4cct. Biaya investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 55 juta dengan rincian terdapat pada tabel B3. 1xHAWK          138            12. direncanakan pengembangan GI 70/20 kV dan saat ini masih dalam tahap kajian.7 tersebut dapat dibangun secara minimalis untuk mengakomodasi beban yang masih relatif kecil untuk mempercepat pembangunan dan menekan biaya investasi.2 Catatan: Tingkat tegangan kabel laut yang menginterkoneksi Pulau Laut dan Kalimantan sedang dalam kajian.6 Rencana pembangunan Transmisi 150 kV No 1 Dari Barikin  Ke Amuntai Tegangan Konduktor Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD) COD 150 kV 2 cct. 578 .

23             1.23             1.23             2.8.23             2.39             1.42 Tegangan Baru/Extension 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150/70 kV 70 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 70/20 kV 150/20 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Extension COD 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 2015 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas.23             1.10             2.39             1.62             1.10             1. direncanakan juga pembangunan jaringan distribusi 20 kV.23             1.62             1. 579 .10             1.10             2.39 Jumlah            750            55.39             1.23             1.206 kms JTR dan 533 MVA trafo distribusi dengan rincian ditunjukkan dalam tabel B3.26             2.16             1.000 pelanggan per tahun selama 10 tahun.62             1.23             2.10             1. Proyeksi tersebut dimaksudkan untuk menambah rata-rata 37.Tabel B3.23             1.10             0.39             1.35             1.23             1. 10.39             2.533 kms JTM.62             1.10             2.7 Pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Gardu Induk Amuntai (GI baru ) Barikin Ext LB Kayu Tangi (GI baru )  Seberang Barito Ext LB Asam asam Diameter 3 CB Asam asam Diameter 2 CB Asam‐asam Ext LB Mantuil Ext LB Batu licin (GI Baru) Asam‐asam Ext LB Tanjung Ext LB (Perbatasan) Batulicin (IBT) Batulicin Kota Baru (GI baru )  Tanjung Tanjung Ext LB Tanjung Ext LB (PLTU IPP) Banjarmasin Cempaka Rantau (Rekonfigurasi) Rantau (NEW LINE) Kayutangi Trisakti Batulicin Trisakti IBT Mantuil Trisakti (Uprating) Barikin Amuntai Rantau Kayutangi Asam asam Rantau Ext LB (Kusan) Pelaihari Daya  (MVA)              30 2 LB              30 2 LB 3 CB 2 CB 2 LB 2 LB              30 2 LB 2 LB              60 2 LB              30              30 2 LB 2 LB              30              60 2 LB 2 LB 2 LB              60              30              60              60              30              60              30              30              30              30 2 LB              30 Anggaran  (juta USD)             2.23             1.94             3. Proyeksi kebutuhan jaringan distribusi sampai tahun 2020 termasuk untuk listrik pedesaan adalah 18.23             2.39             1.

805 Tahun Pelanggan 30.066 2019 2. Selain itu PLN secara sangat terbatas juga berencana memasang PLTS komunal.277 2016 1.Tabel B3.850 1.5 Rangkuman Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.806 2020 2. PLN juga mendorong pengembangan PLTMH oleh swasta untuk memanfaatkan potensi tenaga air.256 1.8 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 1. B3.272 63 42. Untuk melayani masyarakat sekaligus sebagai upaya meningkatkan ratio elektrifikasi di Kalimantan Selatan.4 Sistem Kelistrikan Isolated Kalimantan Selatan dengan wilayah daratan yang sangat luas mempunyai banyak kelompok penduduk yang tersebar jauh dan terisolasi.254 kms 865 MVA 45 2012 1.071 2013 1.591 880 47 36.369 828 51 33.060 B3.400 2018 2.206 533 373.465 982 50 32.057 55 39. 580 . beberapa sistem isolated diupayakan secara bertahap masuk ke dalam sistem interkoneksi Barito melalui grid extension. daerah isolated dibangun PLTU batubara skala kecil seperti Pulau Laut.536 1.787 964 51 37.008 1. Untuk yang belum terjangkau grid.9.814 2015 1.786 2017 2.413 2014 1.417 804 44 34. Sistem kelistrikannya dipasok dengan PLTD dan dikelola oleh Unit Listrik Desa.533 10.395 68 44. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 di Provinsi Kalimantan Selatan diberikan pada tabel B3.159 59 41.622 2011-2020 18.

Tabel B3.259 2.131 Jumlah 697 65 50 609 581 750 - 57.157 542 2018 2.9 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun 2011 2012 Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Beban Produksi Pembangkit GI Transmisi Anggaran Puncak (GWh) (MW) (MVA) (kms) (juta USD) (MW) 280.703 3.0 - 88.386.454 1.225 390 164 210 260 121.057 366 30 534 Sales (GWh) 2013 1.0 1.958 3.587 2.801 331 130 60 328 111.451 589 2019 2.426 423 100 60 340 225.6 2014 1.9 120 213 181.067 2.3 - 70.813 1.3 .3 90 138 61.4 1.1 1.890 499 2017 2.0 100 180 - 189.6 2015 2.732 2.647 459 2016 2.471 3.775 641 2020 3.239 4.892 2.

4 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH B4. GI Selat memasok beban di kabupaten Kuala Kapuas dan sekitarnya. 11 ribu pelanggan publik dan 104 pelanggan industri. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dan rencana pengembangan sistemnya diperlihatkan pada gambar B4.1 Kondisi Saat Ini Sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Tengah dipasok dari sistem interkoneksi Barito dengan transmisi 150 kV dari Kalimantan Selatan melalui beberapa GI di Kalteng yaitu GI Selat. Sedangkan daya mampu pembangkit sekitar 147 MW dengan rincian 54. Jumlah pelanggan Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2010 adalah sekitar 284 ribu pelanggan dengan rincian 249 ribu pelanggan rumah tangga. dengan daya mampu pembangkitan rata-rata dalam kondisi pas-pasan. Sistem kelistrikan di daerah lainnya masih merupakan sistem isolated tersebar.56 MW di sistem isolated tersebar. GI Pulang Pisau dan GI Palangkaraya. 23 ribu pelanggan bisnis. dimana 66 MW diantaranya masuk dalam sistem Barito. Beban puncak total non coincident se Kalimantan Tengah pada tahun 2011 adalah sekitar 140 MW.4 MW di sistem Barito dan 81. GI Pulang Pisau memasok beban di kabupaten Pulang Pisau dan GI Palangkaraya memasok beban kota Palangkaraya dan kabupaten Katingan.LAMPIRAN B. 582 .1.

2.2 1.1 3. Sistem Kuala Kurun Kab Gunung Mas 5. Sistem Barito 58. Sistem Buntok Kab Barito Selatan 16.1. hal itu akan berpengaruh pada kebutuhan listrik di Kalimantan Tengah. 583 .7 25.8 2. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.4 Isolated 6. Sistem Kuala Pambuang Kab Seruyan 7.5 MW Kota Palangka Raya Kab Kapuas 1.5 2.3 Isolated 8.5 9.9 Isolated 14.0 11.0 Daya Mampu sistem Barito adalah 335 MW dengan beban Puncak sebesar 331.0 12.9 1. Sistem Sukamara Kab Sukamara 3.3 3. Mengingat rasio elektrifikasi di Kalimantan Tengah masih cukup rendah (sekitar 55%) termasuk pelanggan listrik non PLN.6 1.7 Isolated 10.2 Isolated 9. Sistem Sampit Kab Kotawaringin Timur 52.1 23.1.7 6.Gambar B4.4 Isolated 5. Sistem Muara Teweh Kab Barito Utara 6. Eksploitasi batubara telah membuat ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh dinamis dan prospektif.8 Isolated 3.1 B4.8 18.4 7.4 Kab Katingan/Kasongan Kab Barito Timur / Tamiyang Layang 2.3 Kab Pulang Pisau 54.6 140. UL D (57 Lokasi tersebar) Tersebar Total 195.1 2. Peta sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah Sedangkan rincian data pembangkit dan beban puncak sistem kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat pada tabel B4.7 2. Tabel B4.1 Sistem Kelistrikan Provinsi Kalimantan Tengah per Oktober 2011 Sistem Kalimantan Tengah Daya Terpasang [ MW ] Daya Mampu [ MW ] Beban Puncak [ MW ] Keterangan 66.7 Isolated 4.7 1.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Kalimantan Tengah memiliki sumber energi yang cukup banyak dengan tersimpannya cadangan batubara dan gas methan batubara (CBM) dalam jumlah yang cukup besar. Memperhatikan realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya termasuk dengan memperhitungkan daftar tunggu yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.3 Isolated 7.8 20. Sistem Puruk Cahu Kab Murung Raya 4.6 Isolated 147. proyeksi kebutuhan listrik Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2011–2020 diberikan pada tabel B4. Sistem Nanga Bulik Kab Lamandau 2.2 5. Sistem Pangkalan Bun Kab Kotawaringin Barat 39. maka pertumbuhan kebutuhan listrik di masa mendatang diperkirakan akan tinggi.

1 1.1 9.1 966.839 466.000 kkal per kg dan juga ditemukan batubara dengan kandungan kalori di atas 8.253.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Prov Kalimantan Tengah Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 741.7 1.0 252.0 1.152 390. Potensi Energi Primer Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya energi yang besar. Batubara Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai potensi batubara yang cukup banyak dan kabupaten Barito Utara merupakan kabupaten yang paling banyak memiliki cadangan batubara.0% B4.751. Batubara ditemukan di daerah 584 .2% Beban Puncak (MW) 127.545 445.Biliton memperkirakan terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori di atas 7.3 173. selain pembangkit batubara juga dapat dikembangkan mikrohidro dan biomassa.0% Produksi (GWh) 843.914.5 1.8 1.496.000 kkal per kg di kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara.8 11. Survey yang telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi.Tabel B4.8 187. yaitu utamanya batubara.7 1.603.0 152.0 201.197 426.148.371 374.5 924.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana kelistrikan meliputi pembangkit.889 6. baik pemerintah maupun perusahaan asing seperti PT BHP .9 1.8 817.637.8 234.3 1.458 509.369.1 1.8% Jumlah Pelanggan 343.126 487. transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut. Selain itu khusus untuk perdesaan yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN.135.3 294.361 358.236. Potensi energi yang potensial untuk dikembangkan di Kalimantan Tengah adalah batubara.9 1.1 1.346. dan beberapa gas alam.043.748 408.0 1.4 216.052.468.1 1.2 1.1 888.3 272.8 11.

Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan beban sampai dengan tahun 2020 termasuk memenuhi daftar tunggu.613           48.9             ‐              ‐     483.6           44. Bakanon. Muara Teweh dan Kasongan.Muara Bakah. Jenis pembangkit yang akan dibangun adalah PLTU batubara di beberapa lokasi dan PLTG gas di Bangkanai sebagai pembangkit peaking dengan menggunakan gas storage CNG (compress natural gas).1     194.6     449.1  3 Kalori Tinggi 6100 ‐ 7100     122. Sumber Tenaga Air Kalimantan Tengah memiliki potensi tenaga air yang berkaitan dengan DAS Barito dan Katingan di daerah Puruk Cahu.4 berikut menampilkan perincian pengembangan pembangkit di Kalimantan Tengah. direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 693 MW. Sungai Lahei. 2006 Gas Alam Potensi gas alam di Kalimantan Tengah terdapat di Bangkanai di dekat Muara Teweh. dan memerlukan studi lebih lanjut untuk dapat dikembangkan.5                 ‐  4 Kalori Sangat  Tinggi > 7100              ‐     247. Sungai Montalat.0     324.7     974. Kualitas (Kal/gr.8             4.6             ‐        77.4         5.1        44.9                 ‐  2 Kalori Sedang 5100 ‐ 6100              ‐     296. 585 .3 Potensi Batubara Kalimantan Tengah Sumberdaya ( Juta Ton) Kriteria No. Sungai Maruwai dan sekitarnya.7             ‐        72.0     1.4     354.8         5. walaupun diperkirakan akan turun secara bertahap menjadi 16 mmscfd mulai tahun ke 16.6  Jumlah Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi.5      122. Status potensi tersebut dalam tahap identifikasi oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Tengah.7     262. Tabel B4. dan berdasarkan hasil penelitian daerah ini memiliki potensi gas yang akan dieksploitasi sebesar 20 mmscfd selama 20 tahun. adb) Hipotetik Tereka Tertunjuk Terukur Jumlah Cadangan (Juta Ton) 1 Kalori Rendah <5100              ‐     483. Potensi batubara di Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Table B4.3 Tabel B4.

1 Swasta PLTU 2x100 2020 Rencana Total Kapasitas 693 Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Seiring dengan rencana pembangunan PLTU batubara dan PLTG di Bangkanai serta untuk menyambung sistem isolated masuk ke grid Barito. #2 (FTP2) PLN PLTG 2x70 2013 Rencana 3 Buntok PLN PLTU 2x7 2013 On Going 4 Kuala Pambuang PLN PLTU 2x3 2013 Rencana 5 Kuala Kurun PLN PLTU 2x3 2013 Rencana 6 Bangkanai #3 (FTP2) PLN PLTG 1x70 2014 Rencana 7 Sampit (FTP2) PLN PLTU 2x25 2014 On Going 8 Bangkanai #4 (FTP2) PLN PLTG 1x70 2015 Rencana 9 Kuala Pambuang Ekspansi PLN PLTU 3 2017 Rencana 10 Pangkalan Bun (Cenko) Swasta PLTU 2x7 2011 Operasi 11 Kalteng . direncanakan akan dibangun transmisi 150 kV untuk menyalurkan energi listrik dari pembangkit tersebut ke pusat beban. Rencana pengembangan sistem transmisi di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sesuai dengan peta yang diperlihatkan pada gambar B4. Pembangunan transmisi juga dimaksudkan untuk dapat melistriki lebih banyak penduduk Kalimantan Tengah sekaligus untuk mengambil-alih PLTD minyak masuk ke grid Kalselteng 150 kV dalam rangka menurunkan biaya pokok produksi. Selama tahun 2011-2020 transmisi 150 kV yang akan dibangun sekitar 1.1.4 Rencana Pengembangan Pembangkit No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Pulang Pisau (FTP1) PLN PLTU 2x60 2012 On Going 2 Bangkanai #1. Selain itu letak sumber gas alam Bangkanai juga berada di ujung sebelah timur laut Provinsi Kalimantan Tengah dan jauh dari pusat beban.Tabel B4.5. Sebagaimana diketahui bahwa sebaran penduduk Kalimantan Tengah sangat berjauhan. 586 .968 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 202 juta seperti ditampilkan dalam tabel B4. sehingga transmisi 150 kV yang akan dibangun menjadi sangat panjang.

 1xHAWK           120            10. 2xHAWK           100            12. 1xHAWK           344            30. 1xHAWK             40               3. 2xHAWK             94               8.Pisau Incomer 2 phi (P.4 2014 11 PLTU Sampit Sampit 150 kV 2 cct. 2xHAWK           240            29.6 2014 12 PLTU Kalteng‐1 Kasongan 150 kV 2 cct.4 2015 Jumlah        1.7 2014 13 Kasongan  Kuala Kurun 150 kV 2 cct. termasuk trafo untuk perluasan. Gardu induk yang akan dibangun pada tahun 2011-2020 tersebar di 8 lokasi dengan daya 330 MVA.4 2013 8 Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat ‐ P raya) 150 kV 2 cct. Raya ‐Selat) 150 kV 4 cct.2 2014 9 Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2 cct. 2xHAWK           220            27.4 2014 10 Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2 cct.3 2013 Muara Teweh Buntok 150 kV 2 cct. Pengembangan grid tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan pasokan dan menurunkan biaya pokok produksi. 1xHAWK                4               0.5 Rencana pembangunan transmisi 150 kV 2 cct. 2xHAWK                2               0. 2xHAWK           196            17.Tabel B4.6 2013 Muara Teweh 150 kV 2 cct. dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 39 juta seperti ditunjukkan pada tabel B4.8 No Dari 1 Palangkaraya 2 Kasongan  3 Tanjung  4 5 6 Ke Tegangan Konduktor Sampit 150 kV Incomer phi (Sampit ‐ P raya) 150 kV Buntok Sampit PLTGU Bangkanai COD Pengembangan Gardu Induk Di luar sistem Barito terdapat banyak sistem isolated relatif kecil dan berlokasi saling berjauhan yang dipasok PLTD minyak. 587 . 2xHAWK Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD)           346            30.2 2012 150 kV 2 cct.9 2013 Pangkalan Bun 150 kV 2 cct.968          202. 1xHAWK                2               0.0 2013 7 PLTU  P. Pengembangan gardu induk ini dimaksudkan untuk mendukung interkoneksi sistem isolated tersebut dengan sistem Barito yang selanjutnya disebut sistem Kalselteng dengan transmisi 150 kV.8 2012 2 cct.6. 2xHAWK           260            31.

23 2011 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2015 2015 Jumlah                330            39.706 kms JTR dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 230 MVA. 588 .39              1.7.10              3. seperti ditunjukkan pada tabel B4.24              2. 5.23              2.23              2.547 kms JTM.23              1. secara rinci ditampilkan pada tabel B4.62              1.62              1. Jaringan distribusi yang akan dikembangkan selama periode 2011-2020 termasuk untuk melistriki perdesaan adalah 11.8.62              1.62              5.6 Rencana pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Gardu Induk Kasongan Kasongan Sampit (GI Baru) Palangkaraya Ext LB Pangkalan Bun (GI Baru) Sampit Ext LB Buntok (GI Baru) Muara Teweh (GI Baru) Buntok Ext LB Muara Teweh Ext LB (PLTG) Sampit Palangkaraya (GI Baru) Palangkaraya New Ext LB Kuala Kurun (GI Baru) Puruk Cahu (GI Baru) Pangkalan Bun (GI Baru) Muara Teweh Ext LB Sampit Ext LB (PLTU ) Tegangan Baru/Extension Kapasitas  (MVA) Anggaran  (juta USD) COD 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New New New Extension New Extension New New Extension Extension Extension New Extension New New Extension Extension Extension                  30 4LB                  30 2 LB                  30 2 LB                  30                  30 2 LB 2 LB                  30                  60 2 LB                  30                  30                  30 2 LB 2 LB              2. maka perlu disambung 60.Tabel B4.23              1.62              1. dilakukan juga rencana pengembangan jaringan distribusi termasuk listrik perdesaan. Untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% pada akhir tahun 2011.000 ribu pelanggan baru selama 2011.23              2.62              2. Pada periode berikutnya akan disambung sekitar 18.23              2.04 Pengembangan Distribusi Seiring dengan rencana pengembangan sistem transmisi dan gardu induk di atas.62              2.500 pelanggan setiap tahunnya.34              1.

293 2018 1.782 2014 766 380 18 16.4 Sistem Kelistrikan Barito dan Sistem-Sistem Isolated Sistem Barito Permasalahan ketidakcukupan pasokan pembangkit di sistem Barito sudah berlangsung cukup lama dan PLN pada saat ini tengah berupaya membangun PLTU batubara yang diprogramkan dalam proyek percepatan pembangunan pembangkit 10. misalnya PLTU Kuala Pambuang.332 2020 2011-2020 1.431 11. dan beberapa PLTU lain yang ditunjukkan pada tabel B4.341 Tahun Pelanggan 59. Progres pembangunan PLTU tersebut lebih lambat daripada yang direncanakan. yaitu PLTU Pulang Pisau.371 600 25 21.706 230 226.7 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 2. sehingga dilakukan sewa PLTD jangka pendek.547 5.Tabel B4.5. kecuali sistem isolated yang berlokasi sangat jauh dari grid dimana direncanakan PLTU skala kecil.287 2019 1.219 547 24 20.540 659 27 22.208 kms 1.294 MVA 43 2012 792 464 15 15.348 2017 1. 589 .595 2015 860 415 19 17.085 499 22 19.450 2016 966 455 20 18.000 MW tahap 1 (FTP1). Sistem Isolated Sistem kelistrikan yang kecil pada daerah terpencil yang pada saat ini dipasok oleh PLTD minyak pada dasarnya akan diambil oleh jaringan intekoneksi Kalimantan dengan grid extension.813 B4.010 2013 740 391 17 15.

369 1.5 316.751 1.5 23.968 80.469 1. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan dana investasi sampai dengan tahun 2020 sebagaimana diperlihatkan pada tabel B4.044 1.9 .148 1. Tabel B4.2 32.1 89.135 1.497 1.6 33.1 1.8.236 1.603 1.1 29.638 Jumlah 844 924 1.3 441.297.347 1.053 1.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.B4.4 192.253 1.8 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Sales (GWh) Produksi (GWh) 742 817 888 966 1.915 Beban Puncak (MW) 127 152 174 187 201 217 234 252 272 294 Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Pembangkit (MW) 14 286 120 70 GI (MVA) 30 30 120 120 30 3 200 693 590 330 Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 348 928 452 240 1.1 60.

daya mampu sekitar 274 MW dengan beban puncak 243 MW sesuai tabel B5. Kapasitas terpasang keseluruhan sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2010 sekitar 495 MW dengan daya mampu sekitar 401 MW dan beban puncak 340 MW. Peta kelistrikan Provinsi Kalimantan Timur ditunjukkan pada Gambar B5. Kotabangun.1. sehingga biaya pokok produksi masih relatif tinggi. yaitu Kabupaten Berau. Sistem kelistrikan yang paling berkembang di Provinsi Kalimantan Timur adalah sistem Mahakam. Kota Bontang. Khusus untuk kota Bontang dan Petung. Sedangkan untuk sistem Mahakam pada tahun yang sama.5 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR B5. daya mampu sekitar 280 MW dan beban puncak 261 MW. Kapasitas tersebut termasuk pembangkit sewa untuk memenuhi kebutuhan beban yang terus meningkat. Sedangkan di beberapa daerah lain yang berpenduduk relatif sedikit. utamanya bila ada salah satu pembangkit yang mengalami gangguan. Melak. yaitu sebuah sistem interkoneksi tegangan tinggi 150 kV yang melayani kota Samarinda. Kemampuan daya di sistem kelistrikan ini masih mengalami keterbatasan akibat dalam beberapa tahun terakhir hampir tidak ada penambahan pembangkit baru.1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan di Kalimantan Timur secara keseluruhan masih didominasi oleh pembangkit-pembangkit berbahan bakar minyak.1. Bulungan. Kalimantan Timur saat ini tidak lagi mengalami defisit daya sepanjang tidak menambah pelanggan besar baru. sistem kelistrikannya masih sangat kecil dan dilayani dengan jaringan tegangan rendah 220 volt yang tersambung langsung dari PLTD setempat.LAMPIRAN B. Akibatnya pada waktu-waktu tertentu masih terjadi pemadaman secara terbatas. Sangatta. Balikpapan dan Tenggarong. PLTGU dan PLTG dengan daya terpasang pada Oktober 2011 mencapai 405 MW. Malinau. Petung. selain PLTD HSD juga sebagian telah dipasok menggunakan PLTMG berbahan bakar gas alam. PLTD. Sistem kelistrikan di beberapa wilayah di Kabupaten lain. Sistem Mahakam dipasok dari beberapa jenis pembangkit yaitu PLTU. Nunukan. sedangkan beban yang ada tumbuh dengan cepat. 591 . dan Tanah Grogot masih dilayani dengan sistem jaringan tegangan menengah 20 kV dan dipasok dari PLTD HSD.

4 5.01 6.96 5.05 4.3 592 DAERAH PELAYANAN Samarinda.6 8 1.7 10.2 4.1 Peta kelistrikan di Provinsi Kaltim Tabel B5.1 Kondisi kelistrikan per Sistem per akhir tahun 2010 No SISTEM Daya (MW) Mampu Beban Puncak 1 Mahakam 274 243 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Petung Tanah Grogot Kotabangun Melak Bontang Sangatta Berau Bulungan Nunukan Malinau 11.7 15. Samboja dan  Muara Jawa Penajam.9 15. dan Petung Tanah Grogot dan Kuaro Kotabangun Melak Bontang Sangatta Tanjung Redeb Tanjung Selor Nunukan Malinau .13 5.05 2.2 7.7 3.4 0.2 8.Gambar B5.89 5.  Tenggarong. Balikpapan.1 26 11.

03%. yaitu hanya rata-rata 3. Mengacu pada realisasi penjualan tenaga listrik PLN selama lima tahun terakhir termasuk adanya daftar tunggu calon pelanggan yang cukup besar.9% per tahun). pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kaltim selama 2006–2010 relatif rendah. Akibatnya daftar tunggu terutama konsumen industri dan bisnis menumpuk. dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor bisnis (10. Dalam beberapa tahun terakhir.32% per tahun. B5. 2 Tidak termasuk Tarakan 593 . Adanya daftar tunggu ini membuat tambahan beban yang akan datang diperkirakan akan naik sangat tinggi setelah PLTU batubara baru beroperasi.2% per tahun).3% per tahun. kondisi sistem kelistrikan di Kaltim tidak mampu mengimbangi pertumbuhan beban listrik yang begitu tinggi karena banyak proyek PLTU batubara yang semula akan dibangun oleh investor swasta ternyata banyak yang tidak terwujud. sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi non migas cukup tinggi sebesar 8. Daftar tunggu konsumen besar di Kalimantan Timur direncanakan dapat dilayani setelah pembangkit-pembangkit baru skala cukup besar beroperasi. termasuk masyarakat yang dilistriki secara swadaya oleh perusahaan swasta dan pengguna PLTS. yaitu rata-rata 8.2. proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 ditunjukkan pada tabel B5.Rasio elektrifikasi di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2010 adalah 67%.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Kalimantan Timur Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Timur2 selama 5 tahun terakhir tumbuh cukup tinggi. sedangkan terendah adalah pada sektor industri yang tumbuh negatif (-2.

543.172.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) Produksi (GWh) Beban Puncak (MW) Jumlah Pelanggan 2.8 714.1 499.0% B5.131.710.7 536.2 4.9 1.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan beban yang tinggi di Provinsi Kalimantan Timur.7 975.8 596.Cadangan minyak bumi di Kalimantan Timur sebesar 985 MMSTB dan produksinya mencapai 57 MMSTB per tahun. . dengan mempertimbangkan ketersediaan potensi energi primer setempat.398.610.1 5. sumber energi yang ada meliputi : .937.2% 11.4 451.045.919 4. transmisi dan distribusi.4 533.1 1.729 11.Tabel B5.8 3.357.7 856.876 4.2% 11.731 3.6 2. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Kalimantan Timur.396.1 4.2 628.923 2.287. Kalimantan Timur merupakan lumbung energi primer.605 2. direncanakan akan dibangun pembangkit. sebagai daerah penghasil batubara dan migas dalam jumlah besar.183.Cadangan batubara mencapai 25 milyar ton dengan tingkat produksi mencapai 120 juta ton per tahun.367.775. . Potensi Energi Primer Sumber energi primer di Kalimantan Timur tersedia dalam jumlah besar.042. .018.7% 8.812.553 5.7 666.9 1.659.8 910.7 796.684 4.107.2 851.2 3.4 5.8 6.1 402.Potensi gas metan batubara (CBM) sebesar 108 TSCF.352 3.2 783.6 743.577 5. 594 .165.820.3 933.Cadangan gas bumi mencapai 46 TSCF dengan produksi 2 TSCF per tahun.299.707.8 4.1 2.

Tanjung Selor sekitar 300 km dari Sangatta.5 100 2x120 6 5 3 2x41 2x7 4 2x27. Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020.3 Rencana Pengembangan Pembangkit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 PROYEK Sebatik Tanjung Selor Malinau Tanjung Redeb Kaltim (FTP 2) Melak Muara Jawa/Teluk Balikpapan (FTP1) Sangatta Sangatta Tanjung Redeb (Ekspansi) Sangatta (Peaking) Malinau Ekspansi Tana Tidung (Peaking) Nunukan Melak Berau Kelai #1&2 Kaltim (Peaking) Nunukan Ekspansi Berau Benuo Taka Arena Maju Bersama Bontang Kariangau Melak Lati (Ekspansi) Kotabangun Mahakam (Senipah) Tanah Grogot (Terkendala) Tana Tidung Kaltim (MT) Nunukan Embalut (Ekspansi) Tana Tidung Kaltim-2 (FTP2) Kaltim (PPP) PEMILIK JENIS MW COD STATUS PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Sewa Sewa Sewa Sewa Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta PLTS PLTU PLTU PLTU PLTG PLTU PLTU PLTU PLTU PLTU PLTMG PLTU PLTD PLTMG PLTMG PLTMG PLTA PLTG PLTMG PLTMG PLTMG PLTD XPLTG XPLTU PLTGB PLTU PLTGB PLTG PLTU PLTGB PLTU PLTU PLTU PLTGB PLTU PLTU 0. Tabel B5.Potensi tenaga air yang cukup besar.3 berikut.661 595 . antara lain 1.661 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada tabel B5.500 MW di Kayan.3 2x7 2x3 2x7 2x50 2x7 2x110 2x7 7 14 2x5 2x3 2x1 2x3 3x3 10 2x75 50 2x3 5 2x3. yang perlu distudi lebih lanjut. Kutai Kartanegara sekitar 214 km dari Tenggarong.2 3x7. direncanakan tambahan pembangkit baru dengan kapasitas total sekitar 1. dan 205 MW di Tabang..5 2x7 50 2 2x100 2x100 2011 2012 2012 2012 2013 2013/14 2014 2014 2017 2015 2015/20 2015/18 2016/19 2016 2016/18/20 2016 2018/19 2018 2018 2019 2011/12 2011/12/13 2012 2013 2011 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2015 2015/16 2017 On Going On Going Rencana On Going On Going Rencana On Going Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana On Going On Going Rencana Rencana On Going Rencana On Going On Going Rencana Rencana Rencana Rencana Rencana On Going On Going Rencana Total Kapasitas 1.

 ACSR 2x240 mm2           310 2cct.6              3.535 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 175.7              0.2            31. Sampai dengan tahun 2020.Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Beban sistem kelistrikan Kalimantan Timur sudah cukup besar tetapi masih banyak daerah yang belum terjangkau oleh sistem Mahakam. ACSR 2x240 mm2 2cct. ACSR 2x240 mm2             14 2 cct.9 2014 2014 2014 2017 2017 2018 2018 2018 Tegangan Kuaro Perbatasan Sambutan incomer Sambutan ‐ Bontang Incomer 1 pi (Manggar Sari‐Industri) Incomer 2 phi (Karjo ‐ Kuaro) Incomer 2 phi (Karjo ‐ Kuaro) K.7 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 2 cct. ACSR 2x240 mm2                8 2cct. Tabel B5. direncanakan pengembangan jaringan transmisi 150 kV sepanjang 1.4            22. Rencana pengembangan GI baru untuk menggantikan PLTD adalah GI Kuaro/Tanah Grogot. Joang Bontang Bukuan/Palaran Bukuan Kota Bangun Sambutan Incomer 2 pi (Senipah‐Bukuan) Sangata Tanjung Selor Sangata Konduktor Jumlah           120             24           110             16                8             90           160           260    1.3 juta seperti ditampilkan dalam tabel B5.7            11. direncanakan akan dibangun GI 150 kV di 12 lokasi tersebar termasuk perluasannya dengan kapasitas total 1.4.0          175. Sebagai upaya untuk menurunkan penggunaan BBM dan pengembangan kelistrikan. GI Bontang dan GI Sangatta. Rencana Pengembangan Transmisi di Kaltim No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Dari 112342001 112342002 112342003 112342004 112342005 112342006 112342007 112342008 112342009 112342010 112342011 112342012 112342013 112342014 112342015 112342016 112342017 Karang Joang Kuaro Bontang  GI Sembera  PLTG Senipah Petung PLTU Teluk Balikpapan Up rating Teluk Balikpapan PLTU Kaltim 2 (FTP‐2) PLTG Senipah Harapan Baru Tenggarong New Samarinda PLTU Kaltim (PPP) Bontang  Berau PLTA Kelai Ke 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV 150 kV Panjang  (kms) 2cct.3              5.0              0.0            11. ACSR 1x240 mm2 2cct. di daerah-daerah terpencil yang masih menggunakan PLTD secara bertahap akan diupayakan untuk dibangun jaringan transmisi 150 kV dan diinterkoneksikan dengan sistem Mahakam.0            14.5              1. ACSR 2x240 mm2 Up rating ke Twin Hawk 2cct.0              1.5.190 MVA seperti pada tabel B5. 596 . ACSR 2x240 mm2 2cct. ACSR 2 x 240 mm2             93  2cct. ACSR 2x240 mm2           180  2cct. ACSR 1x240 mm2 2cct. ACSR 2xZebra             16 2 cct. ACSR 2x240 mm2 2cct.3              9. Sedangkan rencana pengembangan GI baru terkait dengan proyek pembangkit adalah GI PLTG Sembera dan GI Kariangau. GI Petung.8              2.3 COD   Pengembangan Gardu Induk Seiring dengan pembangunan transmisi 150 kV untuk memenuhi pertumbuhan beban.1              1.535. ACSR 2x240 mm2              9. ACSR 2x240 mm2             90 2cct. ACSR 2 x 240 mm2                6 4cct. ACSR 2x240 mm2             30 Anggaran  (juta USD)            38.4.0            11.

10        2.39        2.62        2.39        2.62        0.57        2.39        1.39        2.62        1.75        1.62        4.23        1.23        3.23        2. Pengembangan GI lainnya merupakan pengembangan dari rencana GI baru.85        1.39        1.39        1.10        1. Balikpapan Tenggarong / Bukit Biru Kota Bangun Kariangau / Teluk Balikpapan Berau / Tj Redep Bulungan / Tj Selor New Industri Berau / Tj Redep Sambutan Kuaro / Tanah Grogot Bontang New Industri New Samarinda Sangatta Sambutan Ext LB Petung New Samarinda Sambutan New Industri Sei Kleidang / Harapan Baru Tenggarong / Bukit Biru Tegangan Baru/Extension 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV Extension New Ekst Relocating Extension New (4 LB) New Extension New New (4 LB ‐ 2x30) Uprating Extension Extension Extension Extension Extension New Extension New Extension New New New Extension Extension Extension Extension Extension New New Ekstension Extension Extension Extension Extension Extension Extension Jumlah Daya  (MVA) 2 LB       30       20 2 LB         30         30 2 LB         30         60         60         60         60         30         30 2 LB         30         30         30         30         30         30         30         30         60         30         30         60         30         30 2 LB         30         30         60         60         60         30 Anggaran  (juta USD)        1.27 597 COD 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2013 2014 2014 2015 2015 2015 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019 2020 .Rencana GI baru untuk mengantisipasi GI yang sudah tidak dapat dikembangkan lagi adalah GI New Industri dan GI New Samarinda.23        2.5 Pengembangan GI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Gardu Induk Bukuan/Palaran Ext LB Sambutan Bukuan/Palaran Karang Joang/Giri Rejo Ext LB Kuaro / Tanah Grogot Petung Sambutan Ext LB Bontang GI PLTG Sambera Industri/Gunung Malang Sei Kleidang / Harapan Baru Tengkawang/Karang Asem Sambutan Bontang Bontang Ext LB Kariangau / Tel.10        1.10        2.52        1.10        1.39        1.39        1.62        1.190           70.62        2.23        2.10        2.62        2.10        2.75        1.39        2.62        1.39         1.10        2. Tabel B5.

GI Bontang U G ACSR 2X240 mm 2 90 km (2012) PLTU Tanjungselor 2x7 MW (2014/15) GI Kotabangun ACSR 1X240 mm 2 50 km (2018) U GI Tenggarong PLTU CFK 2x25 MW GI Semberah G U GU PLTGU Batakan 2x25 MW Samarinda GI Tengkawang ACSR 1X240 mm 2 60 km (2018) PLTG Sewa 100 MW (2012) PLTU Embalut (Exp) 1x50 MW (2014) U PLTU Kaltim-2 FTP2 2x100 MW (2016/17) GI Harapan Baru GI Sambutan GI Palaran/Bukuan ACSR 2X240 mm 2 30 km (2013) PLTU Tanjungredep 2x7 MW (2012/13) U U U ACSR 2X240 mm 2 30 km (2013) G GI Karang Joang ACSR 2X240 mm 2 155 km (2012) GI Petung ACSR 2X240 mm 2 40 km (2012) PLTU Kaltim (PPP) 2x100 MW (2017/18) PLTU Kaltim (MT) 2x27.200 sambungan per tahun. JTR sekitar 30.260 MVA. untuk mendukung rencana penambahan pelanggan baru rata-rata 56. Jaringan distrubusi yang akan dibangun meliputi JTM sepanjang 24.089 kms.125 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 1.2 Peta rencana pengembangan sistem interkoneksi Kaltim Pengembangan Distribusi Rencana pengembangan jaringan distribusi termasuk listrik perdesaan selama kurun waktu 2011-2020 sebagaimana ditunjukkan pada tabel B5.6.5 MW (2014) PLTG Mahakam/Senipah 2x40 MW (2013) GI Manggarsari GI Industri U Balikpapan U PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP-1 2x100 MW (2013/14) PLTU Sewa Kariangau 2x120 MW (2013) GI Kuaro ACSR 2X240 mm 2 93 km (2012) Gambar B5. 598 .

734 3. Rencana pengembangan kelistrikan di Kabupatan Tana Tidung dimasukkan dalam kelompok sistem isolated tersebar karena beban puncak masih di bawah 1 MW.4 Sistem Kelistrikan Isolated Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Tana Tidung merupakan kabupaten baru dan mulai resmi beraktivitas pada tahun 2007 dengan luas wilayah 4. Pemerintah Daerah atau Satuan Kerja Listrik Perdesaan berencana akan membangun PLTMH dan pengelolaannya diserahkan ke penduduk setempat.236 2017 2. Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 636 kms 495 MVA 54 2012 1.577 110 53.113 4.452 2. 599 .953 2016 2.220 2.756 94 34.976 2020 3.898 176 62.6.379 2015 2.641 B5.574 138 67.389 3. Untuk daerah-daerah yang memiliki potensi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).855 180 70.125 1.957 2018 2.332 2.765 Tahun Pelanggan 18.319 2013 2.089 30.774 115 54.828 km2 dengan jumlah penduduk 28 ribu jiwa.332 133 64.260 561.176 2011-2020 24.020 122 58.658 2.080 3.429 2014 3.474 3.701 2019 3. Selanjutnya akan dilakukan studi untuk membangun jaringan distribusi 20 kV dari Tana Tidung ke Malinau setelah PLTU 2 x 3 MW beroperasi.843 138 76.Tabel B5. Sistem Kelistrikan Daerah Terpencil Sistem kelistrikan skala sangat kecil di daerah terpencil yang sangat jauh dari pusat beban saat ini direncanakan untuk dipasok dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui kerja sama dengan Pemerintah Daerah.

Wilayah Indonesia di daerah perbatasan sebagian besar masih belum berlistrik.820 3.535 33.812 1.710 629 360 60 144 664.045 4.Sistem Kelistrikan Daerah Perbatasan Ada dua kabupaten di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Sabah.7 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Produksi Beban Pembangkit (GWh) Puncak (MW) (MW) GI (MVA) Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 2011 2. PLN tengah berupaya untuk mendapatkan pasokan gas alam. B5.0 2019 5.0 2020 5.4 2015 3. untuk pembangkit listrik setempat untuk menggantikan penggunaan BBM.3 2018 4.396 2. Selain itu PLN berencana akan melakukan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Satuan Kerja Listrik Perdesaan untuk mambangun PLTMH dan PLTS. termasuk gas skala kecil.132 2.8 2013 2.367 402 17 50 2012 2.300 3.6 .288 1.108 8 30 - 114.659 451 145 210 717 242. Malaysia yaitu Nunukan dan Malinau.357 934 137 30 620 297.173 537 463 240 30 263.3 2.019 81 240 - 113.2 1.4 2017 4.9 2016 4.190 Jumlah 600 - 1.7 Tabel B5.183 5.775 5. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah sebagaimana terdapat dalam tabel B5.707 4.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik.166 715 124 90 - 284.661 1.629.543 784 120 30 - 227. Untuk melistriki daerah perbatasan tersebut.611 6.399 4.938 856 207 210 24 389.2 2014 3. PLN akan membangun PLTMG dengan memanfaatkan gas yang terdapat di Sembakung/ Sebaung di daratan Kaltim dan listriknya akan disalurkan ke Nunukan dan Sebatik melalui jaringan kabel laut 20 kV.

Otam dan Lolak. Teling. Kapasitas terpasang seluruh GI adalah 290 MVA. yaitu GI Ranomuut. Sawangan. Likupang.6 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SULAWESI UTARA B6.LAMPIRAN B. Kawangkoan.1 berikut adalah rincian pembangkit eksisting dan peta sistem kelistrikan dimaksud termasuk rencana pengembangannya ditunjukkan pada gambar B6. Tasikria. Bitung. PLTP dan PLTD yang disalurkan melalui sistem transmisi 70 kV dan 150 kV dengan 12 gardu induk (GI). Gambar B6.1 Peta kelistrikan di Provinsi Sulawesi Utara 601 . yakni PLTA. Lopana. Sistem kelistrikan ini dipasok oleh beberapa jenis pembangkit.1.1 Kondisi Kelistrikan Sulawesi Utara Saat Ini Kelistrikan Daratan Sistem kelistrikan di Provinsi Sulawesi Utara daratan pada akhir tahun 2010 mempunyai beban puncak sekitar 167 MW. Tomohon. Tonsea Lama. Tabel B6.

40 2.38 13.13 241.Tabel B6.60 1. Sistem di pulau-pulau yang relative besar adalah sistem Sangihe dengan beban puncak sekitar 5.00 5 PLTD Lopana PLN HSD 10.00 9 PLTM Poigar I PLN Hydro 2.08 Total Sistem Kelistrikan Pulau-Pulau Di Provinsi Sulawesi Utara terdapat beberapa pulau yang berlokasi dekat dengan daratan Sulut maupun sejumlah besar pulau-pulau yang tersebar hingga ke perbatasan Filipina.65 12 PLTD Sewa Minahasa Sewa HSD 35.40 10 PLTM Lobong PLN Hydro 1.00 15 PLTD Molibagu PLN HSD 2.00 17. 602 . Kapasitas Pembangkit di Sulut Daratan No Pembangkit Pemilik Bahan Bakar Daya (MW) Terpasang Mampu 1 PLTA Tonsealama PLN Hydro 14.00 2 PLTA Tanggari I PLN Hydro 18.73 1. seperti Miangas di kabupaten Talaud.65 202.00 9.30 3 PLTA Tanggari II PLN Hydro 19.52 28. Marore di kabupaten Sangihe. Selain itu masih terdapat cukup banyak sistem-sistem sangat kecil yang langsung terhubung ke beban menggunakan jaringan 220 volt dan lokasinya tersebar.00 14 PLTM Mobuya IPP Hydro 3.00 4 PLTD Bitung PLN HSD 56.00 6 PLTP Lahendong I PLN Geothermal 20.00 8 PLTP Lahendong III PLN Geothermal 20.00 20.00 11.00 20. Daftar pembangkit di pulau-pulau tersebar dengan beban relative besar sebagaimana diperlihatkan pada tabel B6.00 7 PLTP Lahendong II PLN Geothermal 20.00 16.00 3.82 MW. Kelistrikan di seluruh pulau tersebut dipasok dari PLTD dan 1 PLTM di pulau Sangihe.60 11 PLTD Kotamobagu PLN HSD 8.2.00 13 PLTD Sewa Kotamobagu Sewa HSD 11. serta pulau-pulau kecil lainnya.00 35. menggunakan jaringan tegangan menengah 20 kV.1.00 20.02 4.

143 1.204 30.Tabel B6.615 0 840 900 915 0 2. proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada tabel B6.962 0 1.000 80 2. Dengan demikian ekonomi Sulawesi Utara diharapkan akan tumbuh lebih cepat terutama pada sektor industri pariwisata dan perhotelan.022 1.400 615 650 2.055 1.260 1.500 3.665 1.850 900 850 2.450 1.320 1.174 21.420 1. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikai dimasa yang akan datang.800 4.962 B6.510 1. Berdasarkan realisasi penjualan tenaga listrik PLN dalam lima tahun terakhir termasuk memperhitungkan adanya daftar tunggu calon pelanggan baru yang cukup besar dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional. Sulawesi Utara kini sedang giat menyiapkan infrastruktur untuk pengembangan industri pengolahan hasil laut dan pelabuhan internasional serta menjadikan Sulawesi Utara sebagai daerah tujuan wisata internasional.540 Mampu 3. 603 .2 Kapasitas Pembangkit Pulau-Pulau Tersebar No Pembangkit Pemilik Bahan  Bakar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 PLTD Tahuna PLTD Peta PLTD Lesabe PLTD Tamako PLTM Ulupeliang PLTB Malamenggu PLTD Sewa (Peta) PLTD Ondong PLTD Lirung PLTD Tagulandang PLTD Beo PLTD Melongnguane PLTD Mangaran PLTD Essang PLTD Tersebar Cab Manado PLTD Tersebar Cab Tahuna Jumlah PLN PLN PLN PLN PLN PLN Sewa PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN HSD HSD HSD HSD Hydro Bayu HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD HSD Daya (MW) Terpasang 5.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Setelah kegiatan berskala internasional “World Ocean Conference” sukses dilaksanakan pada tahun 2009. Hal tersebut akan berdampak langsung kepada peningkatan kebutuhan energi listrik.760 2.3.770 1.140 1.

3 dan 4 dan berpeluang untuk dikembangkan adalah potensi sebagaimana terdapat pada table B6.4% Beban Puncak (MW) 209.3 1.356 479.934.5% Jumlah Pelanggan 420.064 449. transmisi dan distribusi di Provinsi Sulawesi Utara dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat sebagai berikut. Tompaso dan Kotamobagu (gunung Ambang). 10/2010 dan PP No.2 1.705.5 1.5 2. Perubahan 604 .068.288 543.4 1.536 495.6 2.287.2 9.7% 9.765.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sulawesi Utara Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 973.4 1.1 1.226.0 344.3 2.4 227. yang dieksploitasi baru sebesar 78 MW yaitu di Lahendong unit 1.3 291.8 2.413. Dari potensi panas bumi tersebut.3 Produksi (GWh) 1.8 375.267.540 464.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana pembangkit.325.556.5 1. Namun demikian dengan terbitnya PP No.0 445.058.7 1.Tabel B6.7 1.3 1.610. termasuk potensi tenaga air.873.342.4.842 563.470.1 8.6 2.7 1.120.4 247. 28/2011.120.0 268.552.6 317.107 511.975 435.0 408. PLN bersama instansi terkait berencana mengusulkan kepada Menteri Kehutanan untuk pengalihan status sebagian cagar alam gunung Ambang menjadi Taman Wisata Alam.4 1.3% B6.291 3. Potensi Energi Primer Sulawesi Utara memiliki potensi sumber energi terbarukan yang cukup besar berupa panas bumi hingga 700 MW yang tersebar di Lahendong.037 527.172. dimana sebagian besar potensi tersebut berada di kawasan cagar alam Kotamobagu (Gunung Ambang). Kendala yang dihadapi untuk mengembangkan potensi panas bumi dan tenaga air tersebut adalah masalah status lahan. 2.2 1.

2 Sistem Minahasa 1.0 Sistem Minahasa On Going 22 Lahendong VI Tompaso 20.3 Sistem Minahasa 0. 1994 Potensi panas bumi: Distamben Prov Sulut.50 FS Tahun 2008 13 Milangodaa II Milangodaa II/ Bolaang Uki 0.3 Sistem Minahasa 0. Karakteristik tenaga angin yang cenderung tidak kontinu dan radiasi matahari yang efektifitasnnya cukup rendah memerlukan penerapan sistem pembangkit baik photo voltaic maupun tenaga bayu dengan desain khusus.0 3 Woran Woran/Tombasian 0. pengembangan pembangkit di pulau-pulau ke depan diprioritaskan menggunakan sistem hibrid (interkoneksi dengan PLTD eksisting).3 Sistem Tahuna 1.2 Sistem Tahuna 0.0 Sistem Minahasa Pra FS Jumlah Potensi Panas Bumi 440 Potensi tenaga air: Studi potensi hidro oleh PLN PI Sarana Fisik dan Fasilitas Penunjang.7 Sistem Minahasa 5. Tabel B6.2 Sistem Minahasa 1. Beberapa lokasi yang dapat dikembangkan potensinya menjadi PLTA adalah Poigar II (30 MW).50 SSI 11 Tangangah Tengangah/ Bolaang Uki 1.5 Sistem Minahasa 4.00 SSI 6 Lobong II Bilalang IV/ Passi 0.6 Sistem Minahasa 0. Poigar III (20 MW). 2006 605 .9 Sistem Minahasa 5.8 Sistem Minahasa 2.05 SSI Jarak Kit ke Sistem Status Jumlah Potensi Air 59.55 SSI 8 Kinali Otam /Pasi 1.00 SSI 5 Molobog Molobog / Kotabuan 0.00 FS Tahun 2008 14 Pilolahunga Mamalia/ Bolaang Uki 0.6 Sistem Minahasa 1.status lahan ini akan membuka peluang bagi PLN untuk mengembangkan potensi energi terbarukan di lokasi tersebut.50 SSI 16 Belengan Belengan /Manganitu 1.0 Sistem Minahasa Sistem Minahasa Jarak Kit ke Sistem Status 1 Poigar II 2 Poigar III Wulurmahatus /Modoinding 20.00 SSI 9 Bilalang Bilalang I/ Pasi 0.6 Sistem Minahasa 1.00 SSI 7 Apado Bilalang IV/ Passi 0.7 Potensi Panas Bumi No Nama Proyek Lokasi Potensi (MW) Interkoneksi dengan Sistem 21 Lahendong V Tompaso 20.4 Potensi Energi Terbarukan Air dan Panas Bumi Potensi Tenaga Air No Nama Proyek Interkoneksi ke Sistem Lokasi Potensi (MW) Wulurmahatus /Modoinding 30.10 SSI 4 Morea Morea / Belang 0.20 SSI 12 Milangodaa I Milangodaa I/ Bolaang Uki 0. Poigar IV (14 MW).50 SSI 15 Ulupeliang II Ulung Peliang/ Tamako 0.40 SSI 10 Salongo Salongo / Bolaang Uki 0.7 Sistem Minahasa 4.0 Sistem Minahasa On Going 23 Gunung Ambang Kotamobagu 400. Sumber energi terbarukan yang tersedia di pulau-pulau berupa tenaga angin dan radiasi matahari.

7 Selain daftar rencana tersebut diatas. Tabel B6.5 2014 Rencana 8 Kotamobagu I (FTP 2) PLN PLTP 2x20 2016 Rencana 9 Kotamobagu II (FTP 2) PLN PLTP 2x20 2016 Rencana 10 Sawangan PLN PLTA 2x8 2015 Rencana 11 Amurang Sewa XPLTU 2x25 2013 Rencana 12 Tahuna (FTP 2) Swasta PLTGB 8 2013 Rencana 13 Lahendong V (FTP 2) Swasta PLTP 20 2014 Rencana 14 Sulut I . PLTU batubara. sampai dengan tahun 2020 jaringan transmisi 150 kV dan 70 kV yang 606 . juga diberikan peluang pengembangan pembangkit skala kecil lainnya yang berbasis energi terbarukan seperti PLTMH. Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk Pengembangan Transmisi Kondisi beban sistem kelistrikan Sulut sudah cukup besar dan untuk menjangkau daerah yang semakin jauh. Berdasarkan proyeksi beban dan kondisi geografis di Sulawesi Utara. PLTS jenis terkonsentrasi /komunal serta PLT biomas.6 2014 Rencana 7 Duminanga PLN PLTM 1x0. Jenis pembangkit yang akan dibangun meliputi PLTP. Tabel B6.5 Pengembangan Pembangkit di Sulawesi Utara No PROYEK PEMILIK JENIS MW COD STATUS 1 Lahendong IV PLN PLTP 20 2011 On Going 2 Sulut II (FTP 1) / Amurang PLN PLTU 2x25 2011/12 On Going 3 Minahasa GT (Peaking) PLN PLTG 3x25 2012/17/19 Rencana 4 Talaud PLN PLTU 2x3 2013/14 Rencana 5 Sulut I (FTP 1) PLN PLTU 2x25 2014 Rencana 6 Lelipang/Belengan PLN PLTM 2x0. PLTMH.Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 direncanakan tambahan 16 unit pembangkit baru dengan kapasitas total 559 MW. PLTA. direncanakan pengembangan transmisi menggunakan tegangan 150 kV dan 70 kV.Kema Swasta PLTU 2x25 2014/15 On Going 15 Lahendong VI (FTP 2) Swasta PLTP 20 2015 Rencana 16 Tahuna Swasta PLTGB 3 2017 Rencana 17 Sulut (PPP) Swasta PLTU 2x55 2018 Rencana Total Kapasitas 559. serta PLTG peaking.5 berikut menampilkan rincian rencana pengembangan pembangkit di Provinsi Sulawesi Utara.

Dana investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 44 juta sebagaimana ditunjukkan pada tabel B6.1 4 5 6 7 8 9 10 11 2012 2012 2013 2014 2014 2014 Pengembangan Gardu Induk (GI) Sejalan dengan rencana pengembangan transmisi.5 2011 3 Teling (GIS) Ranomut Baru (Paniki)  Ranomut Baru (Paniki)  Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct. pada masa yang akan datang akan menerapkan GI jenis gas insulated switchgear (GIS) seperti yang sedang dibangun di Teling Baru.3 2012 2012 Bintauna Likupang Tapping (Lolak ‐ Buroko) Bitung 150 kV 2 cct. 607 . ACSR 1 x 240 mm2                1               0.8 12 70 kV 2 cct. gardu induk yang akan dibangun sampai dengan tahun 2020 termasuk perluasannya adalah GI 150 kV tersebar di 17 lokasi dan GI 70 kV di 2 lokasi dengan kapasitas trafo total sekitar 620 MVA. ACSR 1 x 240 mm2             32               5. ACSR 1 x 240 mm2             16               1.7 PLTP Kotamobagu (FTP2) PLTA Sawangan Otam Sawangan 150 kV 2 cct.7. ACSR 1 x 240 mm2             32               2.1 70 kV 1 cct. ACSR 1 x 240 mm2             20               1.7 Pembangunan Transmisi 150 kVdan 70 kV No Dari Ke Tegangan Konduktor Panjang  Anggaran  (kms) (juta USD) COD 1 PLTU Sulut II (FTP1) Lopana 150 kV 2 cct. ACSR 1 x 240 mm2             32               5.4 150 kV 2 cct.8.1 2015 2015 13 PLTU Sulut I (IPP) Tanjung Merah (Kema) 150 kV 2 cct.4 2011 2 Lopana Teling (GIS) 150 kV 2 cct.7 PLTP Lahendong V & VI (FTP2) Otam Kawangkoan Molibagu 150 kV 2 cct. Sedangkan untuk GI yang masih jauh di luar kota Manado akan menggunakan tipe outdoor karena secara ekonomi masih lebih menguntungkan dari pada tipe GIS. ACSR 1 x 240 mm2                1               0. Khusus kota Manado dimana harga tanah untuk membangun GI telah semakin mahal dan sulit didapat.8 2018 Jumlah           463            48. ACSR 1 x 240 mm2                1               0. ACSR 1 x 240 mm2           132            11. ACSR 1 x 240 mm2             96               8. ACSR 2 x 240 mm2             36               4. Tabel B6.4 70 kV 1 cct. ACSR 1 x 240 mm2             60               5.1 150 kV 2 cct.akan dibangun sepanjang 463 kms dengan kebutuhan dana investasi sekitar US$ 48 juta seperti ditampilkan pada tabel B6. ACSR 1 x 240 mm2                4               0.7 PLTG Minahasa Bitung  Likupang Likupang 150 kV 2 cct.

Tabel B6.9.62                 1. dimana dalam implementasinya akan didahului dengan studi kelayakan dan studi dasar laut.90                 1.90 2011 2011 2011 2012 2012 2012 2012 2013 2013 2013 2014 2014 2014 2014 2015 2017 2018 2019 2019 2019 Jumlah           620               43.90                 1. Pengembangan jaringan distribusi tersebut belum termasuk adanya rencana interkoneksi dari daratan Sulawesi Utara dengan pulau kecil yang berdekatan.00                 2.38                 1.400 sambungan setiap tahun.62                 2. 608 .76 Pengembangan Distribusi Pengembangan distribusi di Provinsi Sulawesi Utara dimaksudkan untuk memenuhi rencana tambahan pelanggan baru sekitar 154 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020 atau rata-rata 15.62                 2.394 kms JTM.90                 1.62                 2.90                 1.90                 1.27                 1.90                 1.015 kms JTR dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 389 MVA.62                 2. secara rinci ditampilkan pada tabel B6. Jaringan distribusi yang akan dikembangkan selama periode 2011-2020 termasuk untuk melistriki perdesaan adalah 1.8 Pengembangan Gardu Induk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Gardu Induk Teling (GIS) Teling (GIS) Tomohon (IBT) Kema / Tanjung Merah Paniki Teling (IBT) Bintauna (Tap) Kawangkoan Paniki Tomohon Otam Teling Kema / Tanjung Merah Molibagu Sawangan Teling Otam Paniki Kema / Tanjung Merah Teling Tegangan Baru/Extension Daya  (MVA) Anggaran  (juta USD) COD 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/70 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 70/20 kV 70/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV 150/20 kV New New Extension New New Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension New Extension Extension Extension Extension Extension Extension             30             30             60             30             30             60             10             30             30             30             30             30             30             20             30             20             30             30             30             30                 4.62                 2. 2.90                 2.63                 1.63                 1.90                 1.

kecuali untuk pulau Sangihe. dan Siau.9 Rincian Pengembangan Distribusi JTM JTR Trafo 2011 kms 144 kms 209 MVA 42 2012 124 179 33 14.015 389 154.816 2015 133 193 37 15. kecukupan dan keandalan pasokan listrik PLN yang telah ada disana perlu ditingkatkan dengan melaksanakan pembangunan pusat listrik tenaga surya (PLTS) dengan sistem hybrid.10.476 2014 130 188 36 14.180 2016 137 198 38 15.394 2. 609 .325 B6. Jarak antar pulau cukup jauh dan transportasi laut yang digunakan masih sebatas kapal motor berkapasitas kecil. B6.554 2020 2011-2020 171 247 47 19. Di Kabupaten Talaud terdapat empat pulau terdepan dari wilayah NKRI.5 Ringkasan Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik. Marore.929 2018 143 206 41 16. yakni pulau Miangas. Sebagian besar mata pencaharian dari penduduk di kepulauan tersebut adalah nelayan tradisional dan hanya mengandalkan hasil laut. Akses untuk mendapatkan energi primer dari luar sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca terutama gelombang laut. Marampit dan pulau Karatung.251 2019 145 210 42 16.089 2013 127 184 35 14. pembangunan fasilitas kelistrikan dan kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti pada tabel B6.Tabel B6. Talaud. sebagian pulau memiliki gunung berapi.641 Tahun Pelanggan 12.449 1. Mengingat letaknya yang sangat strategis bagi NKRI.4 Sistem Kelistrikan di Kepulauan Gugusan kepulauan di Sulawesi Utara merupakan bagian dari Sabuk Wallacea.571 2017 140 202 39 15.

3 27.556 445.0 90 2020 2.3 559.0 20 2018 1.068 1.4 50.9 2014 1.0 30 33 136.343 247.765 317.6 61.873 2.0 80.8 28.3 98.121 375.059 2.120 209.10 Rangkuman Proyeksi Kebutuhan Tahun Sales (GWh) Pembangunan Fasilitas Kelistrikan Produksi Beban Pembangkit (GWh) Puncak (MW) (MW) GI (MVA) Transmisi Anggaran (kms) (juta USD) 2011 973 1.8 20 101.173 1.0 25.0 30 2019 2.0 61.611 291.6 2016 1.1 Jumlah 120.3 26.0 110 165 228.705 1.226 227.Tabel B6.287 1.4 45.0 111.325 408.0 120 132 103.1 .9 2013 1.414 1.2 2012 1.0 610 - 620 463 870.267 2.935 344.1 10.0 130 112 86.0 2017 1.471 268.552 1.0 90 1 28.6 2015 1.

kota Palu juga dipasok dari PLTD Silae dan PLTD Sewa di Palu melalui jaringan 20 kV dengan total beban puncak tahun 2010 sekitar 63 MW.1. Sistem Interkoneksi 70 kV Palu-Parigi Sistem kelistrikan kota Palu dan sekitarnya dilayani oleh sistem interkoneksi Palu-Parigi 70 kV melalui GI Talise dan GI Parigi. Pada umumnya sistem-sistem tersebut dipasok dari pembangkit jenis PLTD dan sebagian PLTMH. dipasok dari pembangkit PLTU IPP Tawaeli dan PLTD Parigi. selain mendapatkan pasokan listrik dari PLTD juga dipasok dari PLTU batubara.2019 A ACSR 1x240 mm2 90 km – 2019 Ampana ACSR 1x240 mm2 85 km – 2020 ACSR 1x240 mm2 80 km .LAMPIRAN B. Sistem Kelistrikan di Sulawesi Tengah 611 U G P A GU GB M D / / / / / / / / U G P A GU GB M D PLTU Existing / Rencana PLTG Existing / Rencana PLTP Existing / Rencana PLTA Existing / Rencana PLTGU Existing / Rencana PLTGB Existing / Rencana PLTM Existing / Rencana PLTD Existing / Rencana Kit Eksisting Kit Rencana Edit Juli 2011 . Selain itu. Khusus sistem Palu.2012 SULAWESI BARAT SULAWESI UTARA PLTP Marana/Masaingi (FTP2) 1x20 MW .2012 Poso ACSR 1x240 mm2 124 km – 2017 U Toili G ACSR 1x240 mm2 90 km .2014 KALIMANTAN TIMUR Leok Tolitoli ACSR 1x240 mm2 60 km – 2014 U ACSR 1x240 mm2 108 km . Gambar sistem interkoneksi Palu-Parigi eksisting dan rencana pengembangannya sebagaimana terlihat pada gambar B7.2014 ACSR 1x240 mm2 70 km – 2014 ke GI Marisa (Gorontalo) Moutong Siboa PLTU PJPP #3 & 4 2x15 MW .2012 U ACSR 1x240 mm2 119 km .2018 P Silae ke GI Pasangkayu (Sulbar) GORONTALO / / / / GI 500 kV Existing / Rencana GI 275 kV Existing / Rencana GI 150 kV Existing / Rencana GI 70 kV Existing / Rencana GI 500/275 kV Existing / Rencana GI 500/275/150 kV Existing / Rencana GI 275/150 kV Existing / Rencana GI 150/70 kV Existing / Rencana T/L 70 kV Existing / Rencana T/L 150 kV Existing / Rencana T/L 275 kV Existing / Rencana T/L 500 kV Existing / Rencana Gambar B7.2013 PLTMG Luwuk 2x10 MW–2012/13 Tentena PETA JARINGAN PROPINSI SULAWESI TENGAH / / / / / / / / ke GI Wotu (Sulsel) SULAWESI TENGGARA PERENCANAAN SISTEM PT PLN (Persero) Kolonedale PLTA Poso 65 MW – 2011 SULAWESI SELATAN PLTU Luwuk (FTP 2) 2x10 MW–2015/16 Luwuk ACSR 1x240 mm2 72 km .2015 U ACSR 1x240 mm2 25 km .2014 Palu Baru Bunta PLTU Ampana 2x3 MW–2013/14 Talise ACSR 1x240 mm2 15 km . PLTU Tolitoli 3x15 MW .1 Kondisi Kelistrikan Saat Ini Sistem kelistrikan yang melayani pelanggan di Provinsi Sulawesi Tengah terdiri dari sistem interkoneksi 70 kV Palu-Parigi dan sistem isolated 20 kV dengan lokasi tersebar.2013 ACSR 1x240 mm2 110 km .1.7 RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI PROVINSI SULAWESI TENGAH B7.

7 74.0 7.0 4 PLTU Tawaeli 30.9 5.6 PLTD Sewa/ PLTM PLN PEMDA                    4.1 612              5.2                    3.7              2.0 *) Beban puncak 2010 sekitar 58 MW Tabel B7.5 No Jenis Pembangkit Total Daya  Mampu  (MW) 24.0                    3.8              5. Rincian kapasitas pembangkit dan baban puncak sistem kelistrikan isolated di Sulawesi Tengah pada tahun 2010 sebagaimana terdapat pada tabel B7.1 2.0 25.1              6.7              4.0            13.0 22.6                    2.0              1.5 103.6 3 PLTD Sewa 27.5          102.3                    2.6              4.0              3. Selain itu masih terdapat sistem isolated kecil tersebar lainnya.6 PLTM IPP Total (MW)              0.0            20. dengan beban masing-masing sistem sudah diatas 5 MW.7            11. Tabel B7.7            12.9              2.4              3.0 13.2                    2.2.4 Beban  Puncak  (MW) * 58.4 1.7 3.1 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Palu-Parigi (dalam MW) 1 PLTD Silae Daya  Terpasang  (MW) 41.2 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Kecil Tersebar (per Sistem) No Sistem Kelistrikan PLTD PLN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Poso Tentena Kolonedale Bungku Tolitoli Leok Moutong‐KRaya‐Palasa Bangkir Luwuk ‐ Moilong Ampana Bunta Banggai Sulteng Tersebar 4.1 2.2              9.5 8.6                    4.2 1.1 . sistem Poso dan sistem Luwuk dipasok dari PLTM dan PLTD. yang semuanya dipasok dari PLTD PLN dan PLTD sewa serta di beberapa lokasi dibantu PLTD oleh Pemkab setempat.2 2 PLTD Parigi 5.0 2.5                 28.0 9.5 2.8              1.Sistem Isolated Di Sulawesi Tengah terdapat sistem kelistrikan yang terhubung dengan jaringan 20 kV seperti sistem Tolitoli.2 2.8                    5.1 dan B7.5              6.5 Jumlah 62.8              1.3              5.8              2.

4 805.1 591.7 237.2 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik di Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah sebagai salah satu penghasil utama komoditi coklat mempunyai potensi ekonomi yang baik.200 471.307 443.1 1.503.0 894.981 390. Tabel B7.6 993.336.928 416.3 1.3 214.678 501. Seiring dengan tingginya potensi ekonomi tersebut.5 10.2 145. gas alam dan panas bumi. Pengembangan tenaga air pada skala tersebut akan dapat memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik di Sulawesi Tengah dan bahkan masih 613 .4 1.010. Selain itu adanya potensi gas alam di Luwuk yang akan dikelola secara komesial akan memberikan dampak positip terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah.3 288.3 1.3 176.6 1.6 194.3 160.3 Pengembangan Sarana Kelistrikan Rencana pembangunan sarana pembangkit.4 744.0% Produksi (GWh) 594.404 602.3.5% B7.1 1.0 823. transmisi dan distribusi di Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat termasuk pola sebaran penduduknya sebagai berikut.3 1. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang. Potensi Energi Primer Potensi energi primer yang tersedia di Sulawesi Tengah sangat besar dan berpeluang besar untuk dikembangkan.963 6.1 313.844 533.722 567. diperkirakan kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Sulawesi Tengah juga akan terus meningkat.377 366.5 1.0 261.9% Beban Puncak (MW) 129.241.8 656.375.4 910.3 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Growth Penjualan (GWh) 523.7 11.5 727.120.101.4% Jumlah Pelanggan 344. terutama tenaga air.221.B7. Potensi tenaga air yang besar adalah DAS Poso yang dapat dikembangkan menjadi PLTA skala besar hingga 580 MW. Memperhatikan data penjualan tenaga listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan dengan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional.3 10.1 671. maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan pada tabel B7.

PLTA akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun. di Sulawesi Tengah juga terdapat potensi tenaga panas bumi yang cukup besar dan tersebar di Donggala dan Poso hingga sejumlah lebih dari 500 MW. Selanjutnya PLN berencana memanfaatkan gas Donggi-Senoro dalam bentuk LNG untuk digunakan pada pembangkit beban puncak di Sulawesi dan kawasan timur Indonesia. Volume gas ini tidak cukup untuk mengoperasikan PLTGU 240 MW. Rencana Pengembangan Pembangkit Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020. Namun terdapat tantangan dalam pengembangan PLTMH karena jarak antara lokasi PLTMH dan pusat beban sangat jauh. Masih menurut Energy Outlook tersebut. Moutong. Tentena. dengan kapasitas total sekitar 64 MW. maka pengembangan PLTA Poso selain untuk melayani kebutuhan 3 PLTGU Senoro ini juga masuk dalam proyek FTP2. Tomata. Palu. TatabaBulagi. semula direncanakan PLN akan mendapat alokasi pasokan gas 60 mmscfd sehingga PLN telah merencanakan pembangunan PLTGU 240 MW di Senoro3. sehingga masih memerlukan studi lebih lanjut. Mempertimbangkan potensi energi terbarukan dan potensi beban yang ada di Sulawesi Tengah. Sebanyak 280 MW atau 55% dari total tambahan kapasitas pembangkit akan dibangun oleh PLN dan sisanya sebesar 337 MW atau 45% direncanakan dibangun oleh swasta. dengan status resource masih speculative serta reserve possible. Khusus pasokan gas dari lapangan Donggi dan Senoro. direncanakan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 617 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada tabel B7. Sedangkan pemanfaata