P. 1
RUPTL 2011-2020

RUPTL 2011-2020

|Views: 5,165|Likes:
Dipublikasikan oleh Pasopati Made

More info:

Published by: Pasopati Made on Mar 12, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

RENCANA USAHA RENCANA USAHA

PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO)
20 2011 11 - - 20 2020 20
PLTA Koto Panjang, Sumatra
Electricity for a better life
MENTERI
Membaca
Menimbang
Mengingat
:
MEI{TERI ENERGI DAN $UMBER DAYA MINERAL
REPUBLI K I NDONES! A
KEPUTUSAN
MENTERI
ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR : 3314 R/ ZL/ MEM/ 2OLL
TENTANG
PENGESAHAN
RENCANA
USAHA.PENYEDIAAN
TENAGA
L1STRIK
pr pLN
(PERSERO)
TAHUN
2oli S.b. 2o2o
ENERGI
DAN SUMBER
DAYA MINERAL
REPUBLIK
INDONESIA,
: Surat
Direktur
Utama
pT
_
p_LN
(persero)
Nomor
99q?ql1q1lq$y!/,?94
ianggal
o
-oe' "embe,
2orr, Nomor
o4o32/101/DTRUT' 1?9]]
*dnEE4
-20
D;;;*u"i
-
2oir,' "i",
Nomor
o4Lo2/
,ro1i
Dryur/2oTT-R
t"s;;";8
Desember
2o1r
perihal permbhonin
penlJsahan
nu-fri
-pt
pLN
(persero)
2oI I
-
2o2O;
.
- a- - - - - E- -
r \ v r r s r
: a. bahwa
sehrrlnnqg._q."?gan
telah terjadi. pelgb_ahan
yang
signifikan
p?da sektor
d""gi
.!Girii,'il#r.a
RUprL Tdhun
2O1O s.d. 2019 sebagaimanE
aitetaptan-aaUm
Keputusan
M e n te ri E
g glgi
-
a an
"s
uml-&
-b";;;'^ili;.;;f
-
i,i o rri5.* id i o
+/
20
/
M'ry.p.olg
tanggai-
a
..1.,-rf'fo
iii,' p.rrr
disesuaikan
dengan perkembangan"Situ""i
t..kiii^vr
-b
b. bahwa berdasarkan
pertimb.angan
sebagaimana
dimaksud
dalam huruf
a dan' sesuai kEtentuan"
pasai
-s-
"v"i"[gl
Peraturan
pemerintah--Ntmor
10 i"tu"--r^gs"9
?"ii"lig
Penyediaan
dan
pemanfaatan
Tenag"
uJtiit- *"u"g""i*i".
telah
dua kari diubarr
-
teralihi"i
a.rrg"r,
peraturan
Pemerintah
-Nomor
26 fahu''
-t-006,
ilrru menetapkan
Keputusan
Menteri
onergi
-aln -fii"#;-bivi"
na'ifi1,ftr
tentans
penggse.han
Renc?na
usat a--eenyed.iaan
Tenasa
Listrik-pT
elNr perslrol-i"i.,rn
2of i .la.-zoZo;
1.
Vndang-undl5rg
._Nomor
g0
Tahun
zoog tentanry
KetenaEalistrikin
(r,emEaian
Negara
RI Tahun
2oog wo*o?
13S, Talmbahan
t emUaian
rv.g"r? ni N;;;; 5oS2);
2. Peraturan
pemerintah
Nomor 10 Tahun
19g9
.
tentansr
lgnvediaan
dan
pemanialtan
{;"ag-"
ii"t.if,
"ir,";t##
Negara
RI-Tahun
19g9 Nomor
z4,Tamiahan
Lembaran
Nes?{q
Rtr- Nomor
3s94) sebagaim;"4
;J;i; arr" r."ri-airb;i,
terakhir
dengan
peraturan
Femerlnl"r,
irio*o r 26 Tahun
?ooq .(Lembaran
Negara RI rahun--
iooo Nomor
s6
Tambahan
Lembaran
lVegara RI fvomoi+OZ-S);
3. Keputusan
presiden
Nomor
s9/p rahun
2orr tanggal 18
Oktober 2OIl;
4. Peraturan
Me$91i Energi dan sumber Daya Minerar Nomor
18 Tahun
2oLo tentz.ng_
organis""T'-d"r,
Tata Keria
Kementerian,
Er?ryi
^{*"
"sum6ei-
D;y"- Mir"rlj* (e^"iit"
Negara RI Tahun
2d'10 Nomor Sd2it
5- Keul f r r s. an -
- 2
Menetapkan
KESATU
KEDUA
KETIGA
KEEMPAT
5.
[gpltgqqt] {Iglteri
Energi dan sumber Dava Mineral Nomor
722? ^\ l?I /
Me\4
/
20 o 8 fan gs31 1 3_
_N
o.v" *',b
",
z o o a' t"
"1;s
Kencana Umum Ketenagalistiikan
Nasional;
MEMUTUSKAN:
KEPUTUSAN
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TENTANG
PENGESAHAN
RENCANC
-
U-S-NHA PENYEDiAAN
TENAGA LISTRIK PT PLN (PERSEROI
rNH_UNi-ibN
S.b. 'b'0._'
\{e3sgrahkan
Rencana
usaha
p^eny_ediaan
Tenaga Listrik
pr
fl,,n
(ne_rsero)
Tahun 2orr s.d,. 2otio
""tj"e.imana
tercantum
oaram Lampran- yang.
merupakan
bagian- tidak terpisahkan
dari Keputusan
nAdnteii ini.
r
PT.
.PLN
(Persero)
meny?Fpaikan
raporan perkembansan
pelg.ksqn?an
usahh penyi:aiaan
tenaga
^listrik
J;-;;;;t";;
pg.ti"p
3 (tiga).
butan tceplada Menteri E;.rgi A;" s-"*b.iij"y;
Mineral c. q. Direktur Jenderar Ketenagalist?ikan.
Pjtg"tl {itetapkannya^
Keputusan
Menteri ini, Keputusan
Vg$".fi-_pnergi
dan Sumber naya fr{ineiat Nomdr 20;6
f/20/ME\4/2o10^
tanggal 8
-Jufi
icjrcj
-t.irtl"g
pengesahan
Rencana
usaha
^p^enye"d'iaan
tenaga r,i"tril.--pr
pLN
(persero)
Tahun 2010 s.d. 2019 dicabut aa"?inv"tar.""
tia"r. u"ii"r.i,]'",
Keputusan
Menteri ini mulai berlaku pada
tanggal ditetapkan.
Ditetapkan
di Jakarta
,
pada
tanggal 30 Desember
2OIL
MENTERI
ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK
INDONESIA.
t r d.
JERO WACIK
Tembusan:
^1.
Menteri
Dalam Negeri
2. Menteri Nesara
peiencanaan
pembangul?n
Nasionar/Kepala.Bapp.enas
3. sekretaris
Jenderet;_L(";;nierian
Bnergi dan sumber Dava Mrnerar
4 . In s
pektur
Jenderar,'
Kementlrian
e-"LrgT J
.
ff;#; fi#i riiir,"..r
t
il^llt Bl'e
ktur .r e n d'e iaf a i il iiir.'rn
san
fi
"
*",. d #; E
":lJi'dll.,,
sum b e r D aya
Para Gubernur
di seluruh Indonesia
l?tq
Bup_atilWalikota
di seluruh Indoesia
Drrektur Utama PT
pLN
(persero)
6.
7.
B.
Sal i nan sesuai dengan asl i nya
PT PLN (PERSERO)
KEPUTUSAN DIREKST PT PLN (PERSERO)
NOMOR :1483 .K//D|R/2011
TENTANG
RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (RUPTL)
PT PLN (PERSERO) TAHUN 2011
-2020
Meni mbang : a
Mengi ngat
b.
DTREKST PT PLN (PERSERO)
bahwa Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengesahkan
Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) pada tanggal 13
November 2008;
bahwa dalam rangka mendukung rencana Pemerintah untuk menyediakan
tenaga listrik bagi masyarakat Indonesia sesuai RUKN sebagaimana
dimaksud dalam huruf a di atas, maka PT PLN (Persero) telah membuat
rencana pengembangan ketenagalistrikan yang terpadu dengan
memperhatikan aspirasi masyarakat delam sektor ketenagalistrikan di
seluruh lndonesia yang dituangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020;
bahwa Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN
(Persero) Tahun 2011-2020 sebagaimana dimaksud dalam huruf b di atas,
perlu ditetapkan dengan Keputusan Direksi PT PLN (Persero).
Undang-Undang Rl Nomor 19 Tahun 2003 t ent ang Badan Usaha Mi l i k
Negara;
Undang-Undang Rl Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;
Undang-Undang Rl Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan;
Peraturan Pemerintah Rl Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Rl Nomor 3 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Rl Nomor
26 Tahun 2006;
Peraturan Pemerintah Rl Nomor23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk
Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara Menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero);
Peraturan Pemerintah Rl Nomor 45 Tahun 2005 tentang pendirian,
Pengurusan, Pengawasan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Negara;
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
2682.K 21 IMEM/2008 tenta n g Rencana U m u m Ketenagal istrikan Nasiona |
;
Anggaran DasarPT PLN (Persero);
Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP-
58/MBU/2008
jis
Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
Nomor KEP-25AMBU|2O09 dan Keputusan Menteri Negara Badan Usaha
Milik Negara Nomor KEP-2'2A/MBUI2A11 tentang Pemberhentian dan
Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT
Perusahaan Listrik Negara;
Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 001,1(030/DlR/1994 tentang
Pemberlakuan Peraturan Sehubungan Pengalihan Bentuk Hukum
Perusahaan;
Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 304.}</DlR/2009 tentang
Batasan Kewenangan Pengambilan Keputusan di Lingkungan PT PLN
(Persero) senbagaimana telah diubah dengan Keputusan Direksi PT PLN
(Persero) Nomor 1 387. l(DlRl2O1 1;
c.
. 4
. t .
2.
3.
4.
6.
7.
8.
9.
10.
5.
11
4) Kanr f t t r c. an
Memperhatikan
Menetapkan
PERTAMA
KEDUA
KETIGA
12. Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 017.K1D1N2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja PT PLN (Persero) sebagaimana telah diubah
dengan Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 055.K1DlR/2010.
Surat Direktur Utama PT PLN (Persero) Nomor OO761!4O2|D|RUT/2011 tanggal
14 November 2011, Perihal : Mekanisme Pelaporan dan Pertanggungjawaban
Kepala Satuan/Sekretaris Perusahaan/Kepala Divisi di Lingkungan PT PLN
(Persero).
MEMUTUSKAN:
KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) TENTANG RENCANA USAHA
PENYEDTAAN TENAGA L|STR|K (RUPTL)
pT pLN
(PERSERO) TAHUN 2011
-
2020.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun
2011-2020 adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
RUPTL PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020 sebagai mana tercantum dal am
Lampi ran Keputusan i ni di gunakan sebagai pedoman dal am penyusunan
Rencana Jangka Panj ang Perusahaan (RJPP) dan penetapan Rencana Kerj a
dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PT PLN (Persero).
RUPTL PT PLN (Persero) Tahun 2011-2020 sebagai mana di maksud dal am
Di ktum PERTAMA, akan di ti nj au ul ang seti ap tahun sesuai perkembangan yang
terj adi .
Keputusan ini mulai berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
padat anggal
, 20
Desernber 2011
DIREKTUR UTAMA,
L
KATA PENGANTAR
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2011-2020 ini
disusun untuk memenuhi amanat ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006, yang menyebutkan
bahwa badan usaha yang memiliki wilayah usaha wajib membuat Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berdasarkan Rencana Umum
Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).
RUPTL ini memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682.K21lMEMl2008 tentang
Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2008
-
2027 dan draft Rencana
Umum Ketenagalistrikan Nasional 2O1O
-
2029 yang telah disusun oleh
Kement eri an Energi dan Sumber Daya Mi neral .
Penyusunan RUPTL ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) di seluruh
lndonesia untuk kurun waktu 2011
-
2020 yang akan digunakan sebagai acuan
dalam penyusunan rencana perusahaan jangka panjang dan sebagai pedoman
dalam penyusunan program kerja tahunan.
Sejalan dengan perkembangan dan perubahan kondisi industri kelistrikan dl
Indonesia, RUPTL ini akan diperbaharul secara berkala agar rencana
pengembangan sistem kelistrikan menjadi lebih relevan.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kontribusi
semua pihak sehingga RUPTL ini dapat diselesaikan.
Jakarta. Desember 2011
DIREKTUR UTAMA
,4u1h4/
ruuJ eervruo.l
RUPTL 2011- 2020


ii RUPTL 2011- 2020


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
SINGKATAN DAN KOSAKATA ...............................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Landasan Hukum ................................................................................................... 3
1.3 Visi dan Misi Perusahaan ...................................................................................... 3
1.4 Tujuan dan Sasaran Penyusunan RUPTL ............................................................ 4
1.5 Proses Penyusunan RUPTL dan Penanggungjawabnya ...................................... 5
1.6 Ruang Lingkup dan Wilayah Usaha ...................................................................... 8
1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat ....................................................... 8
1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur ...................................................... 9
1.6.3 Wilayah Operasi J awa-Bali .............................................................. 10
1.7 Sistematika Dokumen RUPTL ............................................................................. 10
BAB II KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA ......................................12
2.1 Kebijakan Pelayanan Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Melayani Pertumbuhan
Kebutuhan Tenaga Listrik ........................................................................................... 12
2.2 Kebijakan Pengembangan Kapasitas Pembangkit .............................................. 13
2.3 Kebijakan PengembaNgan Transmisi ................................................................. 17
2.4 Kebijakan Pengembangan Distribusi ................................................................... 19
2.5 Kebijakan Pengembangan Listrik Perdesaan ...................................................... 20
2.6 Kebijakan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan .................................... 21
BAB III KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI ...............................................................23
3.1 Penjualan Tenaga Listrik ..................................................................................... 23


RUPTL 2011- 2020 iii


3.2 Kondisi Sistem Pembangkitan ............................................................................. 26
3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur .................. 27
3.2.2 Wilayah Operasi J awa Bali .............................................................. 28
3.3 Kondisi Sistem Transmisi .................................................................................... 29
3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur ...... 29
3.3.2 Sistem Transmisi J awa Bali ............................................................. 31
3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok J akarta dan Pulau Bali ..... 32
3.4 Kondisi Sistem Distribusi ..................................................................................... 33
3.4.1 Susut J aringan Distribusi ................................................................. 33
3.4.2 Keandalan Pasokan ......................................................................... 33
3.5 Masalah-Masalah yang Mendesak ..................................................................... 33
3.5.1 Upaya Penanggulangan J angka Pendek ........................................ 34
3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ……………………………………………………………………………35
3.5.3 Masalah Mendesak Sistem J awa Bali ............................................. 39
BAB IV KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER ............................................................. 41
4.1 Batubara .............................................................................................................. 41
4.2 Gas Alam ............................................................................................................. 43
4.2.1 LNG dan Mini-LNG .......................................................................... 46
4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas) ..................................................... 47
4.3 Panas Bumi ......................................................................................................... 48
4.4 Tenaga Air ........................................................................................................... 49
4.5 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya ................................................................. 50
4.6 Nuklir .................................................................................................................... 50



iv RUPTL 2011- 2020


BAB V RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020 .........................52
5.1 Kriteria Perencanaan ........................................................................................... 52
5.1.1 Perencanaan Pembangkit ................................................................ 52
5.1.2 Perencanaan Transmisi ................................................................... 54
5.1.3 Perencanaan Distribusi .................................................................... 55
5.2 Asumsi dalam Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik ............................................ 57
5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi ..................................................................... 58
5.2.2 Pertumbuhan Penduduk ................................................................... 59
5.3 Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 2011 - 2020 ............................................... 60
5.4 Rencana Pengembangan Pembangkit ................................................................ 64
5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit .................................................. 64
5.4.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan bakar Batubara
(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009) ........................................... 65
5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 ...................................... 67
5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan
PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010. ........................................... 69
5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang ............ 69
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia) .............. 69
5.4.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat dan Indonesia Timur ......................................................... 70
5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem J awa Bali ............................. 74
5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta .................................................................. 79
5.5 Proyeksi Neraca Energi dan Kebutuhan Bahan Bakar ....................................... 82
5.5.1 Sasaran Fuel Mix .............................................................................. 82
5.5.2 Sistem J awa-Bali .............................................................................. 86
5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat ..................................................... 87


RUPTL 2011- 2020 v


5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur .................................................... 89
5.6 Analisis Sensitivitas ............................................................................................. 91
5.7 Proyeksi Emisi CO2 ............................................................................................. 93
5.7.1 Baseline Emisi CO
2
(Murni Least Cost) ........................................... 93
5.7.2 Emisi CO
2
Sesuai RUPTL 2011-2020 ............................................. 97
5.8 Proyek CDM (Clean Development Mechanism) ............................................... 101
5.9 Pengembangan Sistem Penyaluran dan Gardu Induk ...................................... 102
5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Barat…………… ....................................................................................... 103
5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Timur…… .................................................................................................. 105
5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem J awa-Bali ................. 106
5.10 Pengembangan Sistem Distribusi .................................................................... 109
5.9.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur ................ 109
5.9.2 Sistem J awa-Bali ........................................................................... 110
5.11 Pengembangan Listrik Perdesaan ............................... …………………………111
5.12 Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan…………………………………. 112
5.13 Proyek PLTU Skala Kecil Tersebar ................................................................. 114
BAB VI KEBUTUHAN DANA INVESTASI .............................................................. 117
6.1 Proyeksi Kebutuhan Investasi Indonesia .......................................................... 117
6.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi J awa-Bali .......................................................... 118
6.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur ........................................................................................................................ 120
6.4 Kebutuhan Investasi Kelistrikan PLN dan IPP .................................................. 122
6.5 Sumber Pendanaan dan Kemampuan Keuangan PLN .................................... 122
6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan ................................. 123


vi RUPTL 2011- 2020


6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan ........................................................... 123
6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan ............................................................... 123
6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL ........................ 126
BAB VII ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020 ...................................................... 127
7.1 Identifikasi Risiko ............................................................................................... 127
7.2 Pemetaan Risiko ................................................................................................ 128
7.3 Program Mitigasi Risiko ..................................................................................... 130
BAB VIII KESIMPULAN ........................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 132 




















RUPTL 2011- 2020 vii


DAFTAR GAMBAR

GAMBAR BAB I
Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL ........................................................... 7
Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero) ....................................... 10
GAMBAR BAB V
Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020 .... 62
Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020........... 63
Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan
RUKN ................................................................................................................. 63
Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 85
Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 90
Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan J umlah Emisi CO
2
Sistem
J awa Bali Skenario Baseline .............................................................................. 94
Gambar 5. 9 Emisi CO
2
per J enis Bahan Bakar Pada Sistem J awa Bali
Skenario Baseline .............................................................................................. 95
Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan J umlah Emisi CO
2
Sistem
Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline ......................................................... 96
Gambar 5. 11 Emisi CO
2
per J enis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera
Skenario Baseline .............................................................................................. 97
Gambar 5. 12 Emisi CO2 per J enis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia) ........ 98
Gambar 5. 13 Emisi CO
2
per J enis Bahan Bakar pada Sistem J awa Bali ........ 99
Gambar 5. 14 Emisi CO2 per J enis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat .................................................................................................. 99


viii RUPTL 2011- 2020


Gambar 5. 15 Emisi CO2 per J enis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 100
GAMBAR BAB VI
Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak
Termasuk IPP) .................................................................................................. 118
Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem J awa – Bali ........ 119
Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat ................................................................................................................. 120
Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Timur… ............................................................................................ 121
Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN +IPP ............ 122





















RUPTL 2011- 2020 ix


DAFTAR TABEL

TABEL BAB I
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung J awab Penyusunan RUPTL .......................... 7
TABEL BAB III
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh) ............................................... 23
Tabel 3. 2 Perkembangan J umlah Pelanggan [Ribu Unit] ................................. 24
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%) .............................................. 25
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem J awa Bali 2006 – 2010 ......... 26
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MW) Tahun 2010 ............................................................ 27
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) tahun 2010 .................................................................... 28
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem J awa-Bali Tahun 2010 .. 29
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (MVA) ............................................................................... 30
Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
dan Indonesia Timur (kms) ................................................................................ 30
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem J awa-Bali (x1.000) ..... 31
Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem J awa Bali ..................... 31
Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT) .................. 32
Tabel 3. 13 Rugi J aringan Distribusi (%) ........................................................... 33
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN ...................................................................... 33
Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012 ....... 35
Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun
2015 ................................................................................................................... 37

TABEL BAB IV
Tabel 4. 1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di J awa Bali ......... 59
Tabel 4. 2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar J awa Bali .. 59


x RUPTL 2011- 2020


Tabel 4. 3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power
Development ....................................................................................................... 60
Tabel 4. 4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan .................. 60

TABEL BAB V
Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ..................................................... 59
Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ........................................ 59
Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%) ............................................................. 60
Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan ... 60
Tabel 5. 5 Proyeksi J umlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan ............. 61
Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio
Elektrifikasi .......................................................................................................... 62
Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar .............................................................. 65
Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW ......................... 66
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 .............................. 68
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011 ................................. 69
Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW) ............. 70
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW) ... 72
Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW) .. 72
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem J awa-Bali (MW) ............................ 74
Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem J awa-Bali 2011-2020 .................................... 76
Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem J awa Bali Tahun 2010 ........................... 79
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur .................................................................................................. 80
Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di J awa Bali ....................................................... 81
Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan J enis Bahan Bakar .. 83
Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan J enis
Bahan Bakar (%) ................................................................................................ 83
Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 84
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia ................................................ 85
Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 86
Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem J awa-Bali .................................... 87
Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 88
Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat ........... 88


RUPTL 2011- 2020 xi


Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan J enis Bahan Bakar
............................................................................................................................ 89
Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur ......... 90
Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas ................ 91
Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensitivitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar
............................................................................................................................ 92
Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem J awa Bali Pada Skenario Baseline (GWh) . 95
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh) . 96
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM
dan VCM .......................................................................................................... 101
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia ..................................... 102
Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia ................ 103
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat 105
Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi
Indonesia Barat ................................................................................................ 105
Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
.......................................................................................................................... 106
Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem J awa-Bali ...................... 107
Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem J awa-Bali ...................... 107
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia ................................... 109
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat 109
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur 109
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem J awa-Bali .......................... 110
Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014 ............. 111
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia
2011-2014 (J uta Rp) ........................................................................................ 112
Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil .............. 114
Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil ................... 114
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115
Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan
Indonesia Timur ............................................................................................... 115




xii RUPTL 2011- 2020


TABEL BAB VI
Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP) . 117
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem J awa – Bali ..................... 118
Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi
Indonesia Barat ................................................................................................. 120
Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia
Timur ................................................................................................................. 121
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN +IPP ................. 122
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2010-2015 ........ 124
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Milyar Rp) ................................................ 126  


RUPTL 2011- 2020 xiii



DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A. WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 134

A1. SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA 137
A1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 138
A1.2. Neraca Daya 140
A1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala 145
A1.4. Neraca Energi 147
A1.5. Capacity Balance Gardu Induk 150
A1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran 173
A1.7. Peta Pengembangan Penyaluran 191
A1.8. Analisis Aliran Daya 201
A1.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 212
A1.10. Program Listrik Perdesaan 224
A1.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi 236
PENJELASAN LAMPIRAN A1 239

A2. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN BARAT 252
A2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 253
A2.2. Neraca Daya 255
A2.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala 258
A2.4. Neraca Energi 260
A2.5. Capacity Balance Gardu Induk 263
A2.6. Rencana Pengembangan Penyaluran 266
A2.7. Peta Pengembangan Penyaluran 270
A2.8. Analisis Aliran Daya 272
A2.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 276
A2.10. Program Listrik Perdesaan 278
A2.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi 280
PENJELASAN LAMPIRAN A2 282



xiv RUPTL 2011- 2020




RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 290
A3. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM 292
A4. PROVINSI SUMATERA UTARA 304
A5. PROVINSI RIAU 315
A6. PROVINSI KEPULAUAN RIAU 326
A7. PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 334
A8. PROVINSI SUMATERA BARAT 340
A9. PROVINSI JAMBI 350
A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN 358
A11. PROVINSI BENGKULU 367
A12. PROVINSI LAMPUNG 373
A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT 381
A14. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT 390
A14.1. Sistem Isolated Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 391
A14.2. Sistem Isolated Provinsi Sumatera Utara 401
A14.3. Sistem Isolated Provinsi Riau 403
A14.4. Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Riau 411
A14.5. Sistem Isolated Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 420
A14.6. Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Barat 423

LAMPIRAN B. WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR 432

B1. SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN SELATAN, TENGAH
DAN TIMUR (KALSELTENGTIM) 435
B1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 436
B1.2. Neraca Daya 438
B1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala 441
B1.4. Neraca Energi 443
B1.5. Capacity Balance Gardu Induk 446
B1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran 454
B1.7. Peta Pengembangan Penyaluran 461


RUPTL 2011- 2020 xv


B1.8. Analisis Aliran Daya 464
B1.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 471
B1.10. Program Listrik Perdesaan 476
B1.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi 481
PENJELASAN LAMPIRAN B1 483


B2. SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA, SULAWESI TENGAH
DAN GORONTALO (SULUTTENGGO) DAN SISTEM INTERKONEKSI
SULAWESI SELATAN, SULAWESI TENGGARA DAN SULAWESI
BARAT (SULSELRABAR) 494
B2.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 496
B2.2. Neraca Daya 499
B2.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala 504
B2.4. Neraca Energi 506
B2.5. Capacity Balance Gardu Induk 511
B2.6. Rencana Pengembangan Penyaluran 525
B2.7. Peta Pengembangan Penyaluran 535
B2.8. Analisis Aliran Daya 542
B2.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 549
B2.10. Program Listrik Perdesaan 551
B2.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi 553
PENJELASAN LAMPIRAN B2 556

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI INDONESIA TIMUR 571
B3. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN 572
B4. PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 582
B5. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR 591
B6. PROVINSI SULAWESI UTARA 601
B7. PROVINSI SULAWESI TENGAH 611
B8. PROVINSI GORONTALO 619
B9. PROVINSI SULAWESI SELATAN 626
B10. PROVINSI SULAWESI TENGGARA 634
B11. PROVINSI SULAWESI BARAT 642


xvi RUPTL 2011- 2020


B12. PROVINSI MALUKU 648
B13. PROVINSI MALUKU UTARA 656
B14. PROVINSI PAPUA 662
B15. PROVINSI PAPUA BARAT 671
B16. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) 677
B17. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) 687

B18. NERACA DAYA SISTEM-SISTEM ISOLATED WILAYAH OPERASI
INDONESIA TIMUR 695
B18.1. Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Selatan 696
B18.2. Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Tengah 699
B18.3. Sistem Isolated Provinsi Kalimantan Timur 707
B18.4. Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Utara 723
B18.5. Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tengah 728
B18.6. Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Selatan 741
B18.7. Sistem Isolated Provinsi Sulawesi Tenggara 743
B18.8. Sistem Isolated Provinsi Maluku 749
B18.9. Sistem Isolated Provinsi Maluku Utara 757
B18.10. Sistem Isolated Provinsi Papua 763
B18.11. Sistem Isolated Provinsi Papua Barat 771
B18.12. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTB 775
B18.13. Neraca Daya Sistem Isolated Provinsi NTT 783


LAMPIRAN C. WILAYAH OPERASI JAWA BALI 795

C1. SISTEM INTERKONEKSI JAWA BALI 797
C1.1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 798
C1.2. Neraca Daya 805
C1.3. Proyek-Proyek IPP Terkendala 817
C1.4. Neraca Energi 819
C1.5. Capacity Balance Gardu Induk 822
C1.6. Rencana Pengembangan Penyaluran 850
C1.7. Peta Pengembangan Penyaluran 882
C1.8. Analisis Aliran Daya 894


RUPTL 2011- 2020 xvii


C1.9. Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi 921
C1.10. Program Listrik Pedesaan 923
C1.11. Proyeksi Kebutuhan Investasi 930
PENJELASAN LAMPIRAN C1 938

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI
WILAYAH OPERASI JAWA BALI 966
C2. PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA 968
C3. PROVINSI BANTEN 979
C4. PROVINSI JAWA BARAT 986
C5. PROVINSI JAWA TENGAH 997
C6. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 1005
C7. PROVINSI JAWA TIMUR 1009
C8. PROVINSI BALI 1017

LAMPIRAN D. ANALISIS RISIKO 1023




















xviii RUPTL 2011- 2020




SINGKATAN DAN KOSAKATA

ADB
: Air Dried Basis, merupakan nilai kalori batubara yang
memperhitungkan inherent moisture saja
ASEAN Power Grid
: Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN
Aturan Distribusi

: Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan
dan persyaratan untuk menjamin keamanan, keandalan serta
pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien
dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik
Aturan J aringan : Aturan J aringan merupakan seperangkat peraturan, persyaratan
dan standar untuk menjamin keamanan, keandalan serta
pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang
efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik
Beban : Sering disebut sebagai demand, merupakan besaran kebutuhan
tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh, MW atau MVA
tergantung kepada konteksnya
Beban puncak : Atau peak load / peak demand, adalah nilai tertinggi dari langgam
beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW
BPP : Biaya Pokok Penyediaan
BTU : British Thermal Unit
Capacity balance : Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah
gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh
gardu induk tersebut, dinyatakan dalam MVA
Captive power : Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan, umumnya
pelanggan industri dan komersial
CCS : Carbon Capture and Storage
CCT : Clean Coal Technology
CDM : Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme
Pembangunan Bersih
COD : Commercial Operating Date
Daya mampu : Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW
Daya terpasang : Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate
DAS : Daerah Aliran Sungai
DMO : Domestic Market Obligation
EBITDA : Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization
ERPA : Emission Reduction Purchase Agreement
Excess power : Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli
oleh PLN
FSRU : Floating Storage and Regasification Unit
GAR : Gross As Received, merupakan nilai kalori batubara yang
memperhitungkan total moisture
GRK : Gas Rumah Kaca
HSD : High Speed Diesel Oil
HVDC : High Voltage Direct Current
IBT : Interbus Transformer, yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi
yang berbeda tegangan, seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV
IGCC : Integrated Gasification Combined Cycle


RUPTL 2011- 2020 xix


IPP : Independent Power Producer
J TM : J aringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik
bertegangan 20 kV
J TR : J aringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik
bertengangan 220 V
kmr : kilometer-route, menyatakan panjang jalur saluran transmisi
kms : kilometer-sirkuit, menyatakan panjang konduktor saluran transmisi
Life Extension : Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya
mendekati akhir
LNG : Liquified Natural Gas
LOLP : Loss of Load Probability, suatu indeks keandalan sistem
pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas
pembangkit
Load factor : Faktor beban, merupakan rasio antara MW rata-rata dan MW
puncak
MFO : Marine Fuel Oil
MMBTU : Million Metric BTU, satuan yang biasa digunakan untuk mengukur
kalori gas
Mothballed : Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara
MP3EI : Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia
MMSCF : Million Metric Standard Cubic Foot, satuan yang biasa digunakan
untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu
MMSCFD : Million Metric Standard Cubic Foot per Day
Neraca daya : Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban
puncak dan kapasitas pembangkit
Non Coincident Peak
Load
: J umlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa
melihat waktu terjadinya beban puncak
Peaking : Pembangkit pemikul beban puncak
Prakiraan beban : Demand forecast, prakiraan pemakaian energi listrik di masa
depan
Reserve margin : Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak, dinyatakan
dalam %
Rasio elektrifikasi : Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan
jumlah keseluruhan rumah tangga
SFC : Specific Fuel Consumption
Tingkat cadangan : Reserve margin) adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh
perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak.

Ultra super critical : Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan
diatas titik kritis air
WKP : Wilayah Kerja Pertambangan







RUPTL 2011- 2020 1


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
PT PLN (Persero) selanjutnya disebut PLN sebagai sebuah perusahaan listrik
merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek kelistrikan yang lead time-nya
relatif panjang, sehingga PLN secara alamiah perlu mempunyai sebuah
rencana pengembangan sistem kelistrikan yang berjangka panjang. Sebagai
contoh, diperlukan waktu 9 tahun untuk mewujudkan sebuah PLTU batubara
kelas 1.000 MW
1
mulai dari rencana awal hingga beroperasi. Dengan demikian
rencana pengembangan sistem yang diperlukan PLN harus berjangka cukup
panjang, yaitu 10 tahun, agar dapat mengakomodasi lead time yang panjang
dari proyek-proyek kelistrikan.
Perlunya PLN mempunyai rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka
panjang juga didorong oleh keinginan PLN untuk mempunyai rencana investasi
yang efisien, dalam arti PLN tidak sembarang melakukan proyek kelistrikan
tanpa didasarkan pada perencanaan yang baik. Hal ini penting dilakukan
karena keputusan investasi di industri kelistrikan akan dituntut manfaatnya
dalam jangka panjang. Untuk mencapai hal tersebut PLN telah menyusun
sebuah dokumen perencanaan sepuluh tahunan ke depan yang disebut
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, atau RUPTL.
RUPTL merupakan sebuah pedoman pengembangan sistem kelistrikan bagi
PLN sepuluh tahun mendatang yang optimal, disusun untuk mencapai tujuan
tertentu serta berdasarkan pada kriteria perencanaan dan kebijakan tertentu.
Dengan demikian pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan di luar RUPTL yang
dapat menurunkan efisiensi investasi perusahaan dapat dihindarkan.
Didorong oleh kebutuhan internal PLN sendiri untuk mempunyai RUPTL,
dokumen perencanaan ini juga dibuat oleh PLN untuk memenuhi peraturan dan
perundangan yang ada di sekor ketenagalistrikan.

1
Misalnya PLTU Indramayu unit 4 dengan ukuran unit 1.000 MW


2 RUPTL 2011- 2020


Penyusunan RUPTL tahun 2011-2020 ini sebagai amanat Pasal 5 ayat (1) dan
ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 dan didorong oleh
timbulnya kebutuhan untuk memperbaharui RUPTL 2010-2019 setelah
memperhatikan adanya keterlambatan banyak proyek pembangkit tenaga listrik
terutama pembangkit listrik tenaga panas bumi, beberapa pembangkit listrik
tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap batubara, baik proyek PLN
maupun proyek listrik swasta atau independent power producer (IPP). Hal lain
yang mendorong disusunnya RUPTL 2011-2020 ini adalah semakin
menguatnya keinginan PLN untuk melayani kebutuhan tenaga listrik pada
banyak daerah di Indonesia yang telah lama menderita kekurangan pasokan,
dan mengalihkan sebanyak mungkin pembangkit berbahanbakar minyak ke
pembangkit berbahanbakar non-minyak. Hal-hal tersebut telah membuat PLN
merasa perlu untuk memutakhirkan RUPTL yang ada.
Selanjutnya sejalan dengan UU No.30/2009 dimana pemerintah provinsi (dan
juga pemerintah kabupaten/kota) wajib membuat Rencana Umum
Ketenagalistrikan Daerah atau RUKD, maka RUPTL 2011-2020 ini juga
membuat perencanaan sistem kelistrikan per provinsi. Namun demikian proses
optimisasi perencanaan tetap dilakukan per sistem tenaga listrik apabila telah
ada jaringan interkoneksi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.
RUPTL per provinsi tersebut akan bermanfaat bagi setiap provinsi untuk
melihat apa yang telah direncanakan oleh PLN pada daerahnya.
Dalam RUPTL ini diindikasikan proyek-proyek pengembangan sistem
kelistrikan yang akan dilakukan oleh PLN sendiri dan proyek-proyek
pembangkit yang akan ditawarkan kepada sektor swasta sebagai IPP. Pada
dasarnya semua proyek transmisi dan distribusi akan dilaksanakan oleh PLN,
sedangkan proyek pembangkit akan terbagi menjadi proyek milik PLN dan
proyek milik swasta yang akan menjual listriknya ke PLN. Beberapa ruas
transmisi yang dedicated dengan suatu pembangkit IPP dapat dibangun oleh
pengembang listrik swasta.
RUPTL akan selalu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perubahan
beberapa parameter kunci yang menjadi dasar penyusunan rencana
pengembangan sistem kelistrikan, utamanya prakiraan kebutuhan tenaga listrik
dan progres pembangunan proyek kelistrikan, sehingga selalu dapat
memberikan rencana pengembangan sistem yang mutakhir dan dapat dijadikan
pegangan dalam implementasinya.


RUPTL 2011- 2020 3


RUPTL ini disusun melalui optimasi pengembangan sistem pembangkit dan
transmisi, dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumber energi setempat
dan sumber energi terbarukan.
1.2 LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah dua kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006, khususnya Pasal 5
ayat (1) dan ayat (2):
(1) RUPTL disusun berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan
Nasional.
(2) RUPTL digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga
listrik bagi Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan
Umum.
(3) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2682
K/21/MEM/2008 tanggal 13 November 2008 tentang Rencana Umum
Ketenagalistrikan Nasional.

1.3 VISI DAN MISI PERUSAHAAN
Pada Anggaran Dasar PLN tahun 2008 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan dan
lapangan usaha PLN adalah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga
listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta
memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang
ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan
prinsip-prinsip perseroan terbatas.
Berkenaan dengan tujuan dan lapangan usaha PLN tersebut di atas, maka visi
PLN adalah sebagai berikut: “Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang
Bertumbuh-kembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi
Insani.”
Selain visi tersebut, saat ini PLN tengah bercita-cita untuk berubah menjadi
perusahaan kelas dunia, bebas subsidi, menguntungkan, ramah lingkungan
dan dicintai pelanggan.


4 RUPTL 2011- 2020


Untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan
tenaga listrik dan mengacu kepada visi tersebut, maka PLN akan:
• Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi
pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.
• Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
• Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan

1.4 TUJUAN DAN SASARAN PENYUSUNAN RUPTL
Pada dasarnya tujuan penyusunan RUPTL adalah memberikan pedoman dan
acuan pengembangan sarana kelistrikan PLN dalam memenuhi kebutuhan
tenaga listrik di wilayah usahanya secara lebih efisien dan lebih baik, sehingga
dapat dihindari ketidak-efisienan perusahaan sejak tahap perencanaan.
Sasaran RUPTL yang ingin dicapai sepuluh tahun ke depan secara nasional
adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik, peningkatan
efisiensi dan kinerja sistem kelistrikan sejak dari tahap perencanaan yang
meliputi:
• Mengatasi kekurangan pasokan tenaga listrik yang terjadi di beberapa
daerah.
• Tercapainya pemenuhan kebutuhan kapasitas dan energi listrik setiap
tahun dengan tingkat keandalan
2
yang diinginkan secara least-cost.
• Tercapainya bauran bahan bakar (fuel-mix) yang lebih baik untuk
menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP), dicerminkan oleh
pengurangan penggunaan bahan bakar minyak hingga kontribusi produksi
pembangkit berbahan bakar minyak menjadi 1% persen terhadap total
produksi energi listrik pada tahun 2020.
• Tercapainya pemanfaatan energi baru dan terbarukan utamanya panas
bumi sesuai dengan program pemerintah, dan juga energi terbarukan lain
seperti tenaga air.

2
Tingkat keandalan dicerminkan oleh tersedianya cadangan atau reserve margin.


RUPTL 2011- 2020 5


• Tercapainya rasio elektrifikasi yang digariskan oleh RUKN, dan mencapai
rasio elektrifikasi minimum 60% pada setiap provinsi di akhir tahun 2011.
• Tercapainya keandalan dan kualitas listrik yang makin membaik.
• Tercapainya angka rugi jaringan transmisi dan distribusi sebesar 8-9%.

1.5 PROSES PENYUSUNAN RUPTL DAN PENANGGUNGJAWABNYA
Penyusunan RUPTL 2011-2020 ini dibuat dengan proses sebagai berikut:
• RUKN 2008-2027 dan draft RUKN 2010-2029 digunakan sebagai pedoman
dan rujukan, khususnya mengenai kebijakan Pemerintah tentang
perencanaan ketenagalistrikan, kebijakan pemanfaatan energi primer untuk
pembangkit tenaga listrik, kebijakan perlindungan lingkungan, kebijakan
tingkat cadangan (reserve margin), asumsi pertumbuhan ekonomi dan
prakiraan kebutuhan tenaga listrik.
• PLN Kantor Pusat menetapkan kebijakan dan asumsi dasar sebagai
penjabaran dari RUKN dan kebijakan Pemerintah lainnya, seperti
pengembangan panas bumi yang semakin besar.
• Dilakukan evaluasi terhadap asumsi dasar tersebut dan realisasinya dalam
RUPTL perioda sebelumnya dalam Forum Perencanaan, yaitu sebuah
forum pertemuan antara Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN Kantor Pusat untuk
membahas dan menyepakati parameter kunci untuk menyusun prakiraan
pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik.
• Dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar utamanya pertumbuhan
ekonomi, selanjutnya disusun prakiraan beban (demand forecast), rencana
pembangkitan, rencana transmisi dan gardu induk (GI), rencana distribusi
dan rencana kelistrikan yang isolated. Penyusunan ini dilakukan oleh Unit-
unit Bisnis dan PLN Kantor Pusat sesuai tanggung-jawab masing-masing
dengan memperhatikan kondisi kelistrikan yang ada. Demand forecast,
perencanaan GI dan perencanaan distribusi dibuat oleh PLN Distribusi/
Wilayah. Perencanaan transmisi dibuat oleh PLN Penyaluran dan Pusat
Pengatur Beban (PLN P3B) atau oleh PLN Wilayah yang mengelola
transmisi. Rencana pembangkitan pada sistem-sistem besar dilakukan oleh
PLN Kantor Pusat.


6 RUPTL 2011- 2020


• Penyusunan demand forecast oleh PLN Wilayah/Distribusi dibuat dengan
metoda regresi - ekonometrik menggunakan data historis penjualan energi
listrik, daya tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan
populasi untuk membentuk model yang fit.
• Untuk mempertegas akuntabilitas, demand forecast pada semua wilayah
kerja PLN telah disahkan oleh General Manager Unit Bisnis
Distribusi/Wilayah.
• Workshop perencanaan yang melibatkan Unit-Unit Bisnis PLN dan PLN
Kantor Pusat dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun, dimaksudkan
untuk memverifikasi dan menyepakati demand forecast, capacity balance
dan rencana gardu induk, rencana transmisi dan rencana pembangkit
sistem isolated yang dihasilkan oleh Unit-unit Bisnis PLN. Pada workshop
perencanaan juga dilakukan verifikasi jadwal COD
3
proyek-proyek
pembangkit PLN dan IPP, estimasi pasokan gas alam dan LNG, serta
kebutuhan dan pogram pembangkit sewa untuk mengatasi kekurangan
tenaga listrik jangka pendek.
• Konsolidasi produk perencanaan sistem dari masing-masing Unit Bisnis
PLN dan pengurusan untuk memperoleh pengesahan oleh Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral sehingga draft RUPTL menjadi RUPTL resmi
dilakukan oleh PLN Kantor Pusat. RUPTL ini selanjutnya akan menjadi
referensi untuk pembuatan Rencana J angka Panjang Perusahaan (RJ PP)
lima tahunan, serta menjadi pedoman keputusan investasi tahunan PLN
dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Proses penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Gambar 1.1.

3
COD atau commercial operation date adalah tanggal beroperasinya sebuah proyek kelistrikan
secara komersial.


RUPTL 2011- 2020 7



Gambar 1. 1 Proses Penyusunan RUPTL
Pada workshop demand forecast, PLN Kantor Pusat dan PLN Distribusi/
Wilayah membahas dan menyepakati asumsi-asumsi dasar untuk pembuatan
demand forecast di setiap wilayah, dilanjutkan dengan menyusun demand
forecast secara agregat, namun belum dibuat secara spasial
4
. Berbekal hasil
kerja pada workshop demand forecast tersebut, setiap unit PLN
Distribusi/Wilayah kembali ke tempat masing-masing dan membuat capacity
balance atau penjabaran demand forecast secara spasial untuk memperkirakan
kenaikan pembebanan setiap gardu induk dan sinyal penambahan trafo atau
gardu induk baru, yang harus diselesaikan dalam waktu dua bulan.
Pada saat yang sama, PLN Kantor Pusat membuat rencana pengembangan
pembangkit pada sistem interkoneksi dan perencanaan transmisi tegangan
tinggi bersama dengan PLN P3B/Wilayah.
Pembagian tanggung jawab penyusunan RUPTL ditunjukkan pada Tabel 1.1.
Tabel 1. 1 Pembagian Tanggung J awab Penyusunan RUPTL
Kegiatan Pokok P3B Kitlur Wilayah Kit Distr Pusat
Kebijakan umum
dan asumsi
U U U U U E
Demand forecasting E E P
Perencanaan Pembangkitan S S S S P, E*)
Perencanaan Transmisi E E E P

4
Demand forecast spasial menunjukkan bagaimana pertumbuhan demand kelistrikan
terdistribusi pada daerah-daerah/locality.
Workshop
Perencanaan
RUPTL
RUKN
Asumsi dasar dan
kebijakan, proyeksi
kebutuhan tenaga listrik
− Rencana pengembangan pembangkit (neraca
daya, neraca energi dan kebutuhan bahan
bakar).
− Rencana pengembangan transmisi dan
distribusi.
− Konsolidasi dan check konsistensi
rencana pengembangan sistem.
Workshop
Demand Forecast
− Demand forecast per Wilayah dan
per Provinsi


8 RUPTL 2011- 2020


Perencanaan Distribusi E E P
Perencanaan GI E E E E P
Perencanaan Pembangkitan
Isolated
E E P
Konsolidasi E



1.6 RUANG LINGKUP DAN WILAYAH USAHA
Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN telah ditetapkan oleh Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral sesuai Surat Keputusan No. 634-12/20/600.3/2011
tanggal 30 September 2011. Surat keputusan tersebut menetapkan Wilayah
Usaha PLN yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali yang
ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Wilayah Usaha bagi Badan Usaha Milik
Negara lainnya, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Swasta atau
Koperasi.
Ruang Lingkup RUPTL 2011-2020 ini mencakup seluruh Wilayah Usaha PLN
yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri ESDM tersebut, yaitu tidak
termasuk wilayah usaha PT Pelayanan Listrik Nasional Batam dan PT
Pelayanan Listrik Nasional Tarakan walaupun keduanya merupakan anak
perusahaan PLN.
Sejalan dengan organisasi PLN dimana wilayah usaha PLN dibagi menjadi tiga
wilayah operasi, yaitu Indonesia Barat, Indonesia Timur dan J awa-Bali, maka
RUPTL ini akan menjelaskan rencana pengembangan sistem pada tiga wilayah
operasi tersebut. Selain itu RUPTL ini juga menampilkan rencana
pengembangan sistem per provinsi.
Berikut adalah penjelasan mengenai Wilayah Usaha PLN saat ini:

1.6.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat
Wilayah operasi Indonesia Barat terdiri dari Sumatra dan provinsi Kalimantan
Barat.

Keterangan:
E: Pelaksana (Executor); P: Pembinaan (Parenting); U: Pengguna (User); S: Pendukung
(Supporting),*) untuk Sistem Besar


RUPTL 2011- 2020 9


Sumatera
Pulau Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Riau, Bangka,
Belitung, Nias, dilayani oleh PLN Wilayah Aceh, PLN Wilayah Sumatera Utara,
PLN Wilayah Sumatera Barat, PLN Wilayah Riau dan Kepri, PLN Wilayah
Sumatera Selatan – J ambi – Bengkulu, PLN Wilayah Lampung, PLN Wilayah
Bangka – Belitung dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera.
Pembangkit tenaga listrik di pulau Sumatera pada dasarnya dikelola oleh PLN
Pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan PLN Pembangkitan Sumatera
Bagian Selatan, kecuali beberapa pembangkit skala kecil di sistem-sistem kecil
isolated yang dikelola oleh PLN Wilayah. Pulau Batam sendiri merupakan
wilayah usaha anak perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional
Batam, sehingga tidak tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero).
Kalimantan Barat
Provinsi Kalimantan Barat dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Barat.

1.6.2 Wilayah Operasi Indonesia Timur
Wilayah operasi Indonesia Timur terdiri dari Kalimantan kecuali provinsi
Kalimantan Barat, Sulawesi, kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Papua, dan
Nusa Tenggara. Khusus untuk pulau Tarakan merupakan wilayah usaha anak
perusahaan PLN, yaitu PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan, sehingga tidak
tercakup dalam RUPTL PT PLN (Persero).

Kalimantan
Wilayah usaha PLN di Kalimantan yang merupakan wilayah operasi Indonesia
Timur dilayani oleh PLN Wilayah Kalimantan Selatan Tengah dan PLN Wilayah
Kalimantan Timur.
Sulawesi
Wilayah usaha PLN di Sulawesi dilayani oleh PLN Wilayah Sulawesi Utara-
Tengah-Gorontalo dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara-Barat.
Nusa Tenggara
Pelayanan kelistrikan di kepulauan Nusa Tenggara dilaksanakan oleh PLN
Wilayah Nusa Tenggara Barat dan PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur.


10 RUPTL 2011- 2020


Maluku dan Maluku Utara serta Papua
Wilayah usaha PLN di provinsi Maluku dan provinsi Maluku Utara dilayani oleh
PLN Wilayah Maluku & Maluku Utara, dan provinsi Papua dan provinsi Papua
Barat dilayani oleh PLN Wilayah Papua.

1.6.3 Wilayah Operasi Jawa-Bali
Wilayah usaha PLN di J awa dan Bali dilayani oleh PLN Distribusi J awa Barat &
Banten, PLN Distribusi J akarta Raya & Tangerang, PLN Distribusi J awa
Tengah & DI Yogyakarta, PLN Distribusi J awa Timur dan PLN Distribusi Bali. Di
wilayah ini tedapat juga unit operasi pembangkitan, yaitu PLN Pembangkitan
Tanjung J ati, PLN Pembangkitan Muara Tawar, PLN Pembangkitan Cilegon,
PLN Pembangkitan Lontar, PLN Pembangkitan Indramayu dan PLN Penyaluran
dan Pusat Pengatur Beban J awa Bali. Selain itu terdapat anak perusahaan PLN
di bidang pembangkitan, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan J awa
Bali, serta beberapa listrik swasta.
Peta wilayah usaha PLN diperlihatkan pada Gambar 1.2.

Gambar 1. 2 Peta Wilayah Usaha PT PLN (Persero)
1.7 SISTEMATIKA DOKUMEN RUPTL
Dokumen RUPTL ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bab I
menjelaskan latar belakang, landasan hukum, visi dan misi perusahaan, tujuan
dan sasaran, dan sistematika dokumen. Bab II menjelaskan kebijakan umum


RUPTL 2011- 2020 11


pengembangan sarana yang meliputi kebijakan-kebijakan pengembangan
sistem. Bab III menjelaskan kondisi kelistrikan saat ini, Bab IV menjelaskan
ketersediaan energi primer. Bab V menjelaskan rencana penyediaan tenaga
listrik, meliputi kriteria dan kebijakan perencanaan, asumsi dasar, prakiraan
kebutuhan listrik dan rencana pengembangan pembangkit, transmisi dan
distribusi, serta neraca energi dan kebutuhan bahan bakar. Bab VI menjelaskan
kebutuhan investasi. Bab VII menjelaskan analisis risiko dan langkah
mitigasinya. Bab VIII memberikan kesimpulan.
Selanjutnya rencana pengembangan sistem yang rinci diberikan dalam
lampiran – lampiran yang menjelaskan rencana kelistrikan setiap sistem
kelistrikan dan setiap provinsi.




















12 RUPTL 2011- 2020


BAB II
KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN SARANA

Pengembangan sarana kelistrikan dalam RUPTL 2011 - 2020 ini dibuat dengan
memperhatikan kebijakan perusahaan dalam merencanakan pertumbuhan
penjualan, pengembangan pembangkit, transmisi dan distribusi. Bab II ini
menjelaskan kebijakan dimaksud.
1.8 KEBIJAKAN PELAYANAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK
MELAYANI PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia pada pertemuan dengan
PLN yang juga dihadiri oleh anggota Kabinet Indonesia Bersatu di Mataram
pada tanggal 27 J uli 2010, PLN diminta mempertahankan bebas pemadaman
listrik. Konsekuensi dari arahan tersebut adalah PLN harus menyediakan
tenaga listrik dalam jumlah yang cukup kepada masyarakat di seluruh
Indonesia secara terus menerus, baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang, Dengan demikian PLN pada dasarnya bermaksud melayani
kebutuhan tenaga listrik masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam jangka pendek dimana kapasitas pembangkit PLN masih terbatas
karena proyek-proyek pembangkit belum sepenuhnya selesai, PLN telah dan
akan memenuhi permintaan tenaga listrik dengan menyewa pembangkit.
Pada tahun-tahun berikutnya dimana penambahan kapasitas pembangkit dan
transmisi diharapkan telah selesai
5
dan reserve margin telah mencukupi, maka
penjualan akan dipacu untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit yang
ada, sekaligus untuk memperoleh revenue yang diperlukan untuk debt
repayment dan pembayaran kepada listrik swasta.
RUPTL ini disusun dengan berdasar pada proyeksi kebutuhan tenaga listrik
dalam RUKN 2008-2027 yang diperbaharui dengan draft RUKN 2010-2029
yang telah disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada
tahun 2010.
RUPTL ini juga disusun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi secara signifikan
dengan menyambung konsumen residensial baru dalam jumlah yang cukup

5
Proyek-proyek percepatan pembangkit tahap 1 dan 2, proyek pembangkit PLN dan IPP
lainnya


RUPTL 2011- 2020 13


tinggi setiap tahun, termasuk membuat rasio elektrifikasi semua provinsi
minimal 60% pada akhir tahun 2011 dan melayani semua daftar tunggu pada
akhir tahun 2011.
Kebijakan lain yang dianut dalam RUPTL 2011-2020 ini adalah belum
diperhitungkannya dampak program demand side management (DSM) dan
program energy efficiency dalam membuat prakiraan demand. Kebijakan ini
diambil untuk memperoleh perencanaan pembangkitan yang lebih aman,
disamping karena implementasi kedua program tersebut memerlukan waktu
yang cukup lama untuk menjadi efektif.
Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam RUPTL ini telah direncanakan
cukup tinggi sehingga diperkirakan akan cukup untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi pada setiap koridor pertumbuhan ekonomi sebagaimana direncanakan
dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI).

1.9 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAPASITAS PEMBANGKIT
Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik diarahkan untuk memenuhi
pertumbuhan beban yang direncanakan, dan pada beberapa wilayah tertentu
diutamakan untuk memenuhi kekurangan pasokan tenaga listrik.
Pengembangan kapasitas pembangkit juga dimaksudkan untuk meningkatkan
keandalan pasokan yang diinginkan, dengan mengutamakan pemanfaatan
sumber energi setempat, terutama energi terbarukan.
Pengembangan kapasitas pembangkit tenaga listrik sejauh mungkin dilakukan
secara optimal dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost),
dengan tetap memenuhi tingkat keandalan yang wajar dalam industri tenaga
listrik. Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan net present
value semua biaya penyediaan listrik yang terdiri dari biaya investasi, biaya
bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan, dan biaya energy not served
6
.
Tingkat keandalan sistem pembangkitan diukur dengan kriteria Loss of Load
Probability (LOLP) dan daya cadangan (reserve margin)
7
. Pembangkit sewa
dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat rencana

6
Biaya energy not served adalah nilai penalti ekonomi yang dikenakan pada objective function
untuk setiap kWh yang tidak dapat dinikmati konsumen akibat padam listrik
7
LOLP dan reserve margin akan dijelaskan pada Bab IV.


14 RUPTL 2011- 2020


pengembangan kapasitas jangka panjang, namun dalam jangka pendek
diperhitungkan untuk mengatasi kondisi krisis.
Namun demikian, sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk lebih banyak
mengembangkan dan memanfaatkan energi terbarukan, pengembangan panas
bumi dan tenaga air tidak mengikuti kriteria least cost sehingga mereka
diperlakukan sebagai fixed plant
8
. Namun demikian perencanaan pembangkit
panas bumi dan tenaga air tetap memperhatikan keseimbangan supply –
demand dan besar cadangan yang tidak berlebihan, serta status kesiapan
pengembangannya.
Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional
namun telah lama menderita kekurangan pasokan tenaga listrik, yaitu Sumatra
dan Kalimantan, PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana
reserve margin yang sangat besar, yaitu hingga 80%. Kebijakan ini diambil
dengan pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan
dan Sumatera, terutama proyek IPP, seringkali mengalami keterlambatan,
pembangkit existing telah mengalami derating yang cukup besar dan adanya
keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang banyak di Sumatera dan
Kalimantan akan memicu tumbuhnya demand listrik yang jauh lebih cepat
9
.
Untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan pada sistem kelistrikan
tertentu yang reserve marginnya direncanakan sangat tinggi, PLN akan
memonitor progres implementasi proyek pembangkit dari tahun ke tahun.
Apabila progres fisik proyek pembangkit berjalan baik, maka PLN akan
mengimbanginya dengan mitigasi tertentu. Mitigasi tersebut misalnya
pemasaran agresif untuk menyeimbangkan penjualan dengan pasokan,
memastikan interkoneksi dengan sistem kelistrikan lain sehingga dapat
dilakukan power exchange, dan menunda jadwal proyek-proyek pembangkitan
berikutnya.
Pemilihan lokasi kandidat pembangkit dilakukan dengan mempertimbangkan
ketersediaan sumber energi primer setempat atau kemudahan pasokan energi
primer, kedekatan dengan pusat beban, prinsip regional balance¸ topologi

8
Fixed plant adalah kandidat pembangkit yang langsung dijadwalkan pada tahun tertentu tanpa
menjalani proses optimisasi keekonomian.
9
PLN meyakini bahwa demand listrik di daerah yang telah lama mengalami pemadaman
merupakan demand yang tertekan (suppressed demand) dan tidak dapat diproyeksi hanya
dengan metoda regresi berdasar data historis.


RUPTL 2011- 2020 15


jaringan transmisi yang dikehendaki, kendala pada sistem transmisi
10
, dan
kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosial
11
.
Pembangkit berbahan bakar minyak hanya direncanakan untuk memenuhi
kebutuhan pembangkit beban puncak. Namun pembangkit beban puncak tetap
mengutamakan pembangkit non-BBM, seperti pumped storage, PLTA peaking
dengan reservoir atau pembangkit berbahan bakar compressed natual gas
(CNG), mini LNG, atau LNG.
Proyek PLTGU berbahan bakar gas lapangan (gas pipa) hanya direncanakan
apabila terdapat kepastian pasokan gas.
Dalam hal tidak tersedia pasokan gas lapangan, maka PLTGU sebagai
pembangkit medium (pemikul beban menengah) menjadi tidak dapat
direncanakan. Konsekuensinya sebagian pembangkit beban dasar, yaitu PLTU
batubara, dapat dioperasikan sebagai pemikul beban menengah dengan
capacity factor yang relatif rendah, walaupun untuk fungsi tersebut PLTU
batubara perlu dibantu oleh pembangkit jenis lain yang mempunyai ramping
rate
12
tinggi seperti PLTG.
Pengembangan PLTU batubara skala kecil dan PLTGB (pembangkit listrik
tenaga gasifikasi batubara) skala kecil merupakan program untuk
menggantikan pembangkit listrik berbahan-bakar BBM pada sistem isolated
skala kecil yang belum dapat dilayani melalui grid extension dalam waktu cukup
dekat. PLTU atau PLTGB dapat dikembangkan oleh PLN atau swasta.
Untuk sistem kelistrikan J awa-Bali, PLN telah merencanakan PLTU batubara
kelas 1.000 MW dengan teknologi ultra super critical
13
untuk memperoleh
efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah. Penggunaan ukuran
unit sebesar ini juga dimaksudkan untuk memperoleh manfaat dari economies
of scale dan didorong oleh semakin sulitnya memperoleh lahan untuk
membangun pusat pembangkit skala besar di pulau J awa. Pertimbangan

10
Pembebanan lebih, tegangan rendah, arus hubung singkat terlalu tinggi, stabilitas tidak baik.
11
Antara lain kondisi tanah, bathymetry, hutan lindung, pemukiman.
12
Ramping rate adalah kemampuan pembangkit dalam mengubah outputnya, dinyatakan
dalam % per menit, atau MW per menit.
13
PLTU ultra super critical merupakan jenis clean coal technology (CCT) yang telah matang
secara komersial. J enis CCT lainnya, yaitu Integrated Gassification Combined Cycle (IGCC)
diperkirakan baru akan matang secara komersial setelah tahun 2024.


16 RUPTL 2011- 2020


lainnya adalah ukuran sistem J awa Bali telah cukup besar untuk
mengakomodasi unit pembangkit kelas 1.000 MW.
Secara umum pemilihan lokasi pembangkit diupayakan memenuhi prinsip
regional balance. Regional balance adalah situasi dimana kebutuhan listrik
suatu region dipenuhi sebagian besar oleh pembangkit yang berada di region
tersebut dan tidak banyak tergantung pada pasokan daya dari region lain
melalui saluran transmisi interkoneksi. Dengan prinsip ini, kebutuhan transmisi
interkoneksi antar region akan minimal.
Namun demikian kebijakan regional balance ini tidak membatasi PLN dalam
mengembangkan pembangkit di suatu lokasi dan mengirim energinya ke pusat
beban melalui transmisi, sepanjang hal tersebut layak secara teknis dan
ekonomis. Hal ini tercermin dari adanya rencana untuk mengembangkan PLTU
mulut tambang skala besar di Sumatra Selatan dan menyalurkan sebagian
besar energi listriknya ke pulau J awa melalui transmisi arus searah tegangan
tinggi (high voltage direct current transmission atau HVDC)
14
. Situasi yang
sama juga terjadi di sistem Sumatera, dimana sumber daya energi (batubara,
panas bumi dan gas) lebih banyak tersedia di Sumbagsel, sehingga di wilayah
ini banyak direncanakan PLTU batubara dan PLTP yang sebagian energinya
akan ditransfer ke Sumbagut.
Kepemilikan proyek-proyek pembangkitan yang direncanakan dalam RUPTL
disesuaikan dengan kemampuan pendanaan PLN. Mengingat kebutuhan
investasi sektor ketenagalistrikan yang sangat besar, PLN tidak dapat secara
sendirian membangun seluruh kebutuhan pembangkit baru. Dengan demikian
sebagian proyek pembangkit akan dilakukan oleh listrik swasta sebagai
independent power producer (IPP).
Berikut ini kebijakan PLN dalam mengalokasikan ownership proyek kelistrikan:
− PLTU batubara: Direncanakan sebagai proyek PLN apabila PLN telah
mendapat indikasi pendanaan dari lender, atau ditugaskan oleh pemerintah
sebagai proyek PLN. Untuk proyek-proyek yang jadwalnya masih cukup
lama dan belum ditetapkan kepemilikannya, untuk sementara dimasukkan
dalam kelompok proyek PLN.
− PLTA dan pumped storage diupayakan menjadi proyek PLN.

14
Persyaratan untuk melaksanakan proyek interkoneksi Sumatera – J awa ini adalah kebutuhan
listrik di seluruh wilayah Sumatera telah terpenuhi dengan cukup.


RUPTL 2011- 2020 17


− PLTG direncanakan sebagai proyek PLN.
− PLTGU gas direncanakan sebagai proyek PLN apabila telah ada indikasi
pendanaan (dan ada kepastian pasokan gas). PLTGU gas juga
direncanakan sebagai proyek PLN jika proyek tersebut merupakan
pengembangan dari PLTG milik PLN (proyek add-on).
− PLTP: Sesuai dengan peraturan dan perundangan di sektor panas bumi,
pengembangan PLTP pada umumnya didorong untuk dikembangkan oleh
swasta dengan proses pemenangan WKP dilakukan melalui tender oleh
Pemda sebagai total project
15
. Sedangkan potensi panas bumi yang WKP-
nya dimiliki oleh Pertamina berdasar regulasi terdahulu, Pertamina dan PLN
dapat bekerja sama mengembangkan PLTP
16
. Beberapa WKP PLTP di
Indonesia Timur yang dimiliki PLN akan dikembangkan sepenuhnya sebagai
proyek PLN.

1.10 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSMISI
Pengembangan saluran transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya
keseimbangan antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya
pada distribusi di sisi hilir secara efisien dengan kriteria keandalan tertentu.
Disamping itu pengembangan saluran transmisi juga dimaksudkan sebagai
usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan
dan fleksibilitas operasi.
Pengembangan transmisi pada dasarnya dikembangkan oleh PLN, kecuali
beberapa transmisi terkait dengan IPP yang sesuai kontrak PPA dilaksanakan
oleh pengembang IPP. Namun demikian, terbuka opsi proyek transmisi untuk
dapat dilaksanakan oleh swasta dengan skema bisnis tertentu misalnya build
lease transfer (BLT)
17
. Opsi tersebut dibuka atas dasar pertimbangan

15
Total project PLTP adalah proyek dimana sisi hulu (uap) dan hilir (pembangkit listrik)
dikerjakan oleh pengembang dan PLN hanya membeli listrik dengan PPA.
16
Yaitu Pertamina mengembangkan sisi hulu dan PLN membangun power plant, atau
Pertamina mengembangkan PLTP sebagai total project dan PLN membeli listriknya.
17
Skema BLT (build lease transfer) adalah transmisi dibangun dan didanai oleh swasta,
termasuk pembebasan lahan dan perizinan ROW, dan PLN mengoperasikan serta membayar
sewa sesuai tarif yang disepakati dan setelah periode waktu tertentu aset transmisi akan
ditransfer menjadi milik PLN.


18 RUPTL 2011- 2020


keterbatasan kemampuan pendanaan investasi PLN dan pertimbangan
perusahaan swasta dapat lebih fleksibel dalam hal mengurus perizinan dan
pembebasan lahan.
Sejalan dengan kebijakan pengembangan pembangkitan untuk mentransfer
energi listrik dari wilayah yang mempunyai sumber energi primer tinggi ke
wilayah lain yang mempunyai sumber energi primer terbatas, maka sistem
Sumatera yang pada saat ini tengah berkembang pesat memerlukan jaringan
interkoneksi utama (backbone) yang kuat mengingat jarak geografis yang
sangat luas. Sebagai dampak dari kebijakan tersebut dalam RUPTL ini
direncanakan pembangunan jaringan interkoneksi dengan tegangan 275 kV AC
pada tahap awal di koridor barat Sumatera dan tegangan 500 kV AC pada saat
diperlukan di koridor timur Sumatera, yaitu mulai tahun 2018.
Pembangunan interkoneksi point-to-point jarak jauh, melalui laut dan
berkapasitas besar memerlukan teknologi transmisi daya arus searah (HVDC).
Kebijakan PLN dalam memilih tegangan transmisi HVDC adalah mengadopsi
tegangan yang banyak digunakan di negara lain, yaitu 500 kV DC dan 250 kV
DC
18
.
Kebijakan utama lainnya adalah pembangunan sistem transmisi dilaksanakan
dengan mempertimbangkan pertumbuhan beban hingga 10 tahun ke depan.
Pada jaringan yang memasok ibukota negara direncanakan looping antar sub-
sistem dengan pola operasi terpisah untuk meningkatkan keandalan pasokan.
Pada saluran transmisi yang tidak memenuhi kriteria keandalan N – 1 akan
dilaksanakan reconductoring dan uprating.
Perluasan jaringan transmisi dari grid yang telah ada untuk menjangkau sistem
isolated yang masih dilayani PLTD BBM (grid extension) dilaksanakan dengan
mempertimbangkan aspek ekonomi dan teknis.
Penentuan lokasi GI dilakukan dengan mempertimbangkan keekonomian biaya
pembangunan fasilitas sistem transmisi tegangan tinggi, biaya pembebasan
tanah, biaya pembangunan fasilitas sistem distribusi tegangan menengah dan

18
Berbeda dengan teknologi HVAC yang mempunyai standar tegangan internasional dan
nasional, teknologi HVDC tidak mempunyai standar tegangan. Pemilihan tegangan HVDC
disesuaikan dengan kapasitas daya yang akan disalurkan dan kelas kabel (kabel laut) yang
banyak digunakan di dunia, misalnya 500 kV DC (India, Kanada), 250 kV DC (J epang, Swedia).


RUPTL 2011- 2020 19


harus disepakati bersama oleh unit pengelola sistem distribusi dan unit
pengelola sistem transmisi.
Pemilihan teknologi seperti jenis menara transmisi, penggunaan tiang, jenis
saluran (saluran udara, kabel bawah tanah, kabel laut) dan perlengkapannya
(pemutus, pengukuran dan proteksi) mempertimbangkan aspek keekonomian
jangka panjang, dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik,
dengan memenuhi standar SNI, SPLN atau standar internasional yang berlaku.
Kebijakan lebih rinci mengenai pengembangan transmisi adalah sebagai
berikut:
a. J umlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh
ketersediaan lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang
dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat
mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI
terdekat yang ada tidak dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena
keterbatasan tersebut.
b. Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan
yang baik di ujung jaringan tegangan menengah.
c. Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas
sampai dengan 60 MVA, namun dalam situasi khusus seperti pasokan untuk
konsumen besar dan daerah padat beban dapat digunakan unit size hingga
100 MVA.
d. Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit
per GITET dengan pola operasi terpisah dengan 2 unit per sub-sistem.
e. Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS, dan 1
fasa per tipe per propinsi untuk GITET jenis konvensional.

1.11 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DISTRIBUSI
Fokus pengembangan dan investasi sistem distribusi secara umum diarahkan
pada 4 hal, yaitu: perbaikan tegangan pelayanan, perbaikan SAIDI dan SAIFI,
penurunan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua. Kegiatan
berikutnya adalah investasi perluasan jaringan untuk melayani pertumbuhan
dan perbaikan sarana pelayanan.



20 RUPTL 2011- 2020


Pemilihan teknologi seperti jenis tiang (beton, besi atau kayu), jenis saluran
(saluran udara, kabel bawah tanah), sistem jaringan (radial, loop atau spindle),
perlengkapan (menggunakan recloser atau tidak), termasuk penggunaan
tegangan 70 kV sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar, ditentukan oleh
manajemen unit melalui analisis dan pertimbangan keekonomian jangka
panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik, dengan tetap
memenuhi standard SNI atau SPLN yang berlaku.

1.12 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN
Pembangunan listrik perdesaan merupakan penugasan Pemerintah kepada
PLN untuk melistriki masyarakat perdesaan yang pendanaannya diperoleh dari
APBN, dan diutamakan pada provinsi dengan rasio elektrifikasi yang masih
rendah. Kebijakan yang diambil oleh Direktorat J endral Ketenagalistrikan (DJ K)
dan PLN dalam pembangunan listrik desa untuk menunjang rasio elektrifikasi
80% dan desa berlistrik 98,9% di tahun 2014 sesuai Rencana Pembangunan
J angka Menengah (RPJ M) Departemen ESDM 2010-2014 adalah:
• Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi
daya dari proyek GI Baru atau Extension Trafo GI yang pendanaannya
diperoleh dari APBN.
• Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi
daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar dan pembangkit mikro / mini
tenaga air yang pendanaannya diperoleh dari APBN.
• Pembangunan jalur keluar jaringan distribusi untuk mendukung evakuasi
daya dari proyek PLTU skala kecil tersebar yang pendanaannya dari
APLN, dengan catatan jalur keluar jaringan distribusi tersebut belum
disediakan dari APLN.
• Melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusun tersebut
belum berlistrik, daerah terpencil dan daerah perbatasan.
• Dimungkinkan pemasangan Load Break Switch untuk menunjang
perbaikan keandalan jaringan tegangan menengah dan tiang 14 meter
serta konduktor 240 mm2 untuk mengantisipasi kebutuhan
pengembangan sistem.
• Dimungkinkan pengadaan hybrid PLTSurya & hybrid PLTBayu yang
sistemnya terhubung dengan grid PLN.


RUPTL 2011- 2020 21


• Melaksanakan program listrik murah dengan target masyarakat nelayan,
daerah tertinggal dan akselerasi rasio elektrifikasi di provinsi Papua,
Papua Barat, NTB, dan NTT.

1.13 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan energi baru dan
terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. 5
tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional, PLN mempunyai kebijakan
untuk memprioritaskan pengembangan panas bumi dan tenaga air. Kedua jenis
energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap,
walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya
rencana pembangkit yang lain.
Namun kebijakan ini tidak membatasi PLN untuk merencanakan sebuah proyek
PLTA tanpa menganut prinsip demand driven
19
demi mencapai suatu tujuan
khusus tertentu, walaupun hal ini hanya dilakukan secara sangat terbatas dan
selektif. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA Baliem
berkapasitas 50 MW
20
untuk melistriki 7 kabupaten baru di dataran tinggi
Pegunungan Tengah yang sama sekali belum memiliki listrik. Proyek ini
diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut untuk
pengolahan sumber daya alam sejalan dengan tujuan MP3EI di koridor Papua
– Maluku.
Dari kebijakan tersebut PLN dalam RUPTL ini merencanakan pengembangan
panas bumi yang sangat besar, pembangkit tenaga air skala besar, menengah
dan kecil serta EBT skala kecil tersebar berupa PLTS (tenaga surya), PLTB
(tenaga angin), biomassa, biofuel dan gasifikasi batubara (energi baru). PLN
juga mendorong penelitian dan pengembangan EBT lain seperti thermal solar
power, arus laut, OTEC (ocean thermal energy conversion), dan fuel cell.
Khusus mengenai PLTS, PLN mempunyai kebijakan untuk mengembangkan
centralized PV secara besar-besaran untuk melistriki banyak komunitas
terpencil yang jauh dari grid pada daerah tertinggal, pulau-pulau terdepan yang

19
Demand driven adalah sebuah pendekatan perencanaan yang mensyaratkan adanya
jaminan demand listrik yang cukup untuk menjustifikasi kelayakan sebuah proyek pembangkit.
20
Dapat dikembangkan menjadi 100 MW.


22 RUPTL 2011- 2020


berbatasan dengan negara tetangga dan pulau-pulau terluar lainnya, terutama
di wilayah Indonesia Timur. Pemanfaatan EBT seperti ini tidak selalu berbasis
keekonomian, namun lebih didorong oleh semangat PLN untuk memberikan
kesempatan kepada masyarakat terpencil untuk memperoleh akses ke tenaga
listrik lebih cepat.


RUPTL 2011- 2020 23



BAB III
KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI
3.1 PENJUALAN TENAGA LISTRIK
Penjualan tenaga listrik pada lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6,8% per
tahun sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3. 1 Penjualan Tenaga Listrik PLN (TWh)
Wilayah 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
Indonesia 111,48 119,97 127,63 133,11 145,66
Growth (%) 5,08 7,62 6,38 9,42 10,66 6,6
J awa - Bali 89,04 95,62 100,77 104,11 113,40
Growth (%) 4,28 7,39 5,39 3,31 8,92 5,9
Sumatera 13,61 14,69 16,44 17,62 19,67
Growth (%) 9,33 7,92 11,87 7,22 11,63 9,59
Kalimantan 3,64 3,92 4,24 4,65 5,13
Growth (%) 4,59 7,63 8,15 9,56 10.32 8,0
Sulawesi 3,57 3,93 4,22 4,59 5,08
Growth (%) 7,64 10,21 7,30 8,77 10,68 8,7
Indonesia Bagian Timur 1,61 1,81 1,96 2,15 2,38
Growth (%) 10,81 12,27 8,33 9,91 10,7 10,47
Pada Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan penjualan di J awa Bali relatif
lebih rendah daripada pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan
Indonesia bagian timur.
Pertumbuhan penjualan yang rendah di J awa Bali pada tahun 2006 disebabkan
oleh adanya pengendalian penjualan akibat keterbatasan kapasitas pembangkit
pada tahun tersebut
21
. Selanjutnya pada tahun 2008 mulai terjadi krisis finansial
global hingga akhir tahun 2009 yang menyebabkan penjualan tenaga listrik
tahun 2009 hanya tumbuh 3,31%.
Penjualan tenaga listrik di Sumatera tumbuh jauh lebih tinggi, yaitu rata-rata
9,59% per tahun. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan
kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata-rata 5,2% per tahun, sehingga

21
Tidak ada tambahan pembangkit baru pada tahun 2005.


24 RUPTL 2011- 2020


di banyak daerah terjadi krisis daya yang kronis hingga tahun 2009 dan diatasi
dengan sewa pembangkit sepanjang tahun 2010.
Penjualan tenaga listrik di Kalimantan tumbuh rata-rata 8,0% per tahun,
sedangkan penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 1% per tahun,
sehingga di banyak daerah terjadi krisis daya dan penjualan dibatasi.
Penjualan tenaga listrik di Sulawesi tumbuh rata-rata 8,7% per tahun,
sementara penambahan kapasitas pembangkit rata-rata hanya 2,7% per tahun.
Hal ini telah mengakibatkan krisis penyediaan tenaga listrik yang cukup parah
hingga tahun 2009 khususnya di Sulawesi Selatan, dan pada tahun 2010
diatasi dengan sewa pembangkit.
Hal yang sama terjadi di daerah Indonesia Timur lainnya, yaitu Maluku, Papua,
dan Nusa Tenggara.
Pertumbuhan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur
diperkirakan masih berpotensi untuk meningkat lebih tinggi karena daftar
tunggu yang tinggi akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang
masih rendah. Sedangkan pertumbuhan di J awa pulih kembali dari dampak
krisis keuangan global mulai tahun 2010.

3.1.1 Jumlah Pelanggan
Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2006 – 2010 mengalami peningkatan
dari 35,6 juta menjadi 42,2 juta atau bertambah rata-rata 1,65 juta tiap
tahunnya. Penambahan pelanggan terbesar masih terjadi pada sektor rumah
tangga, yaitu rata-rata 1,5 juta per tahun, diikuti sektor bisnis dengan rata-rata
61 ribu pelanggan per tahun, sektor publik rata-rata 55 ribu pelanggan per
tahun, dan terakhir sektor industri rata-rata 550 pelanggan per tahun. Tabel 3.2
menunjukkan perkembangan jumlah pelanggan PLN menurut sektor pelanggan
dalam lima tahun terakhir.
Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Pelanggan [Ribu Unit]
J enis Pelanggan 2006 2007 2008 2009 2010
Rumah Tangga 32,954.5 34,508.1 35,835.1 36,897.0 39,108.5
Komersial 1,633.1 1,585.1 1,687.3 1,770.4 1,877.6
Publik 928.4 988.8 1,052.2 1,164.7 1,147.8
Industri 46.2 46.6 46.3 47.6 48.4
Total 35,562.2 37,128.6 38,621.3 39,879.7 42,182.4




RUPTL 2011- 2020 25




3.1.2 Rasio Elektrifikasi
Rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik
dibagi dengan jumlah rumah tangga yang ada. Perkembangan rasio elektrifikasi
secara nasional dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, yaitu dari 59,0% pada
tahun 2006 menjadi 66,51% pada tahun 2010.
Pada periode tersebut kenaikan rasio elektrifikasi pada wilayah-wilayah J awa-Bali,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya diperlihatkan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Perkembangan Rasio Elektrifikasi (%)
Wilayah 2006 2007 2008 2009 2010*)
Indonesia 59,0 60,8 62,3 65,0 67,5
J awa-Bali 63,9 66,3 68,0 69,8 71,4
Sumatra 57,2 56,8 60,2 60,9 67,1
Kalimantan 54,7 54,5 53,9 55,1 62,3
Sulawesi 53,2 53,6 54,1 54,4 62,7
Indonesia Bag Timur 30,6 30,6 30,6 31,8 35,7
*)Termasuk pelanggan non PLN
Pada tabel tersebut terlihat bahwa terjadi pertumbuhan rasio elektrifikasi yang tidak
merata pada masing-masing daerah, dengan rincian sebagai berikut:
• Sumatera: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan paling tinggi, yaitu sekitar
2,3% per tahun.
• Sulawesi: pertumbuhan rasio elektrifikasinya tertinggi setelah Sumatera, yaitu
sekitar 1,9% per tahun. Rasio elektrifikasi naik cukup tajam pada tahun 2010
karena adanya pembangkit sewa dan berjalannya program ’GRASSS’
22
yang
diadakan dalam beberapa tahap.
• J awa Bali: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan sekitar 1,7% per tahun.
• Kalimantan: rasio elektrifikasi mengalami kenaikan cukup signifikan mulai tahun
2009 karena teratasinya masalah pembangkitan dengan adanya beberapa
pembangkit sewa, dan program GRASSS pada tahun 2010.

22
GRASSS: Gerakan sehari sejuta sambungan


26 RUPTL 2011- 2020


• Indonesia bagian timur: rasio elektrifikasi mengalami pertumbuhan yang
paling rendah, yaitu hanya 1,1% per tahun. Hal ini disebabkan oleh
keterbatasan kemampuan pembangkit dan situasi geografis yang tersebar.
3.1.3 Pertumbuhan Beban Puncak
Pertumbuhan beban puncak sistem J awa Bali dalam 5 tahun terakhir dapat
dilihat pada Tabel 3.4. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa beban puncak
tumbuh relatif rendah, yaitu rata-rata 4,12%, dengan load factor cenderung
meningkat, hal ini dicerminkan juga oleh pertumbuhan energi yang relatif tinggi,
yaitu rata-rata 6,8% (lihat tabel 3.1). Perbaikan load factor terjadi karena
adanya kebijakan pembatasan penggunaan daya pada saat beban puncak
pada konsumen besar dan penerapan tarif multiguna untuk mengendalikan
pelanggan baru
23
.
Tabel 3. 4 Pertumbuhan Beban Puncak Sistem Jawa Bali 2006 – 2010
Deskripsi Satuan 2006 2007 2008 2009 2010
Kapasitas Pembangkit MW 22.126 22.236 22.296 22.906 23.206
Daya Mampu
Beban Puncak Bruto
MW
MW
17.960
15.954
20.309
16.840
20.369
16.892
21.784
17.835
21.596
18.756
Beban Puncak Netto MW 15.396 16.251 16.301 17.211 18.100
Pertumbuhan % 3,9 5,6 0,3 5,6 5,2
Faktor Beban % 75 76 78,7 77,7 79,5
Informasi mengenai pertumbuhan beban puncak 5 tahun terakhir untuk sistem
kelistrikan di luar J awa Bali tidak dapat disajikan seperti diatas karena sistem
kelistrikan di luar J awa Bali masih terdiri dari beberapa subsistem yang beban
puncaknya non coincident.

3.2 KONDISI SISTEM PEMBANGKITAN
Pada tahun 2010 kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia
adalah 30.908 MW yang terdiri dari 23.206 MW di sistem J awa-Bali dan
7.702 MW di sistem-sistem kelistrikan Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur.


23
Kebijakan pembatasan beban puncak ditiadakan dengan berlakunya TDL 2010


RUPTL 2011- 2020 27


3.2.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN dan IPP yang tersebar di sistem-
sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada saat ini adalah 7.702 MW
dengan perincian ditunjukkan pada Tabel 3.5. Kapasitas pembangkit tersebut
sudah termasuk IPP dengan kapasitas 792 MW. Walaupun kapasitas terpasang
pembangkit adalah 7.702 MW, kemampuan netto dari pembangkit tersebut
lebih rendah dari angka tersebut karena banyak PLTD (1600 MW) yang telah
berusia lebih dari 10 tahun dan mengalami derating
24
.
Tabel 3.5 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MW) Tahun 2010
PLTD PLTG PLTGU PLTU PLTA/M PLTP
MW MW MW MW MW MW MW MW MW
NAD 205 - - - 2 - 207 - 207
Sumatera Utara 53 411 818 490 140 - 1,912 190 2102
Sumatera Barat 38 - - 200 254 - 492 - 492
Riau 90 43 - - 114 - 247 - 247
Kep. Riau 124 - - - - - 124 124
Bengkulu 17 - - - 236 - 253 - 253
Sumatera Selatan 43 230 - 285 - - 558 268 825
J ambi 43 62 - - - - 105 - 105
Bangka Belitung 89 - - - - - 89 - 89
Lampung 96 21 - 200 122 - 439 - 439
Kalimantan Barat 217 34 - - 0 - 251 - 251
Kalimantan Selatan 134 21 - 130 30 - 315 - 315
Kalimantan Tengah 78 - - - - - 78 - 78
Kalimantan Timur 247 40 60 - - - 347 45 392
Sulawesi Utara 114 - - - 54 60 228 3 231
Gorontalo 58 - - - 1 - 59 - 59
Sulawesi Tengah 113 - - - 6 - 119 31 150
Sulawesi Selatan 103 123 - 25 149 - 400 255 655
Sulawesi Barat 8 - - - - - 8 - 8
Sulawesi Tenggara 75 - - - 1 - 76 - 76
Maluku 105 - - - - - 105 - 105
Maluku Utara 76 - - - - - 76 - 76
Papua 119 - - - 2 - 121 - 121
Papua Barat 42 - - - 2 - 44 - 44
Nusa Tenggara Bara 139 - - - 1 - 140 - 140
Nusa Tenggara Timu 117 - - - 1 - 118 - 18
TOTAL 2,543 985 878 1,330 1,114 60 6,910 792 7,702
PROVINSI
PLN
Kapasitas
Total
PLN
Kapasitas
Total
IPP
Kapasitas
Total
PLN+IPP


24
Daya mampu pembangkit diperkirakan sekitar 75% dari kapasitas terpasang.


28 RUPTL 2011- 2020


Beban puncak sistem kelistrikan Indonesia Barat dan Indonesia Timur
mencapai 6.800 MW pada tahun 2010. J ika beban puncak dibandingkan
dengan daya mampu pembangkit pada saat ini dan apabila menerapkan kriteria
cadangan 35%, maka diperkirakan terjadi kekurangan sekitar 1.000 MW.
Untuk menanggulangi kekurangan pembangkit tersebut, hampir seluruh unit
usaha PLN telah melakukan sewa pembangkit. Kapasitas pembangkit sewa
yang ada di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur pada tahun
2010 mencapai 1.833 MW.
Tabel 3. 6 Daftar Sewa Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
(MW) tahun 2010
No PLN Wilayah
Kapasitas
(MW)
1 Babel 43
2 Kalbar 112.5
3 Kalselteng 85
4 Kaltim 138.35
5 Kitsumbagsel 250
6 Kitsumbagut 108
7 Maluku 78
8 NAD 122
9 NTB 147
10 NTT 58.85
11 Papua 90.3
12 Riau dan Kepri 158.5
13 S2J B 34
14 Sulselrabar 289
15 Suluttenggo 107
16 Sumbar 11.9
1833.4 J umlah


3.2.2 Wilayah Operasi Jawa Bali
Kapasitas pembangkit baru yang masuk ke sistem J awa-Bali pada tahun 2010
adalah PLTU Labuan unit 2 (300 MW). Dengan terus meningkatnya beban
puncak sistem J awa Bali dan tambahan pembangkit baru yang hanya 300 MW
karena terlambatnya proyek FTP-1, reserve margin pada akhir tahun 2010
menipis menjadi hanya 24%. Reserve margin yang rendah tersebut berlanjut ke
awal tahun 2011 dan dan pada saat yang sama terjadi kondisi luar biasa pada


RUPTL 2011- 2020 29


pengoperasian PLTA di J awa Barat
25
, sehingga telah terjadi beberapa kali
defisit pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di J awa Bali.
Rincian kapasitas pembangkit sistem J awa-Bali berdasarkan jenis pembangkit
dan pengelolaannya dapat dilihat pada Tabel 3.7.
Tabel 3. 7 Kapasitas Terpasang Pembangkit Sistem Jawa-Bali Tahun 2010
No. IP PJB PLN IPP
MW %
1 1.103 1.283 150 2.536 10.9
2
Batubara 3.4 800 1.92 3.05 9.17 39.5
BBG/BBM 1 1 4.3
BBM 500 500 2.2
3
BBG/BBM 1.18 2.587 740 4.507 19.4
BBM 1.496 640 2.136 9.2
4
BBG/BBM 40 62 150 252 1.1
BBM 806 320 858 1.984 8.5
5 76 76 0.3
6 360 575 1.045 4.5
8.961 6.692 3.518 4.035 23.206 100
PLTG
PLTD
PLTP
J umlah
Jenis Pembangkit Jumlah

PLTA
PLTU
PLTGU


3.3 KONDISI SISTEM TRANSMISI
3.3.1 Sistem Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur
Sistem penyaluran di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Timur dalam kurun
waktu 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti
terutama di sistem Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan selesainya
beberapa proyek transmisi. Sedangkan pulau lainnya, yaitu Nusa Tenggara
Timur, Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi.
Pembangunan gardu induk meningkat rata-rata 9,7% per tahun dalam periode
2006 – 2010, dimana kapasitas terpasang gardu induk pada tahun 2006 sekitar
7.645 MVA meningkat menjadi 11.065 MVA pada tahun 2010.


25
Seluruh PLTA besar di DAS Citarum, yaitu Saguling (700 MW), Cirata (1000 MW) dan J atiluhur
(150 MW) mempunyai DMA (Duga Muka Air) yang jauh lebih rendah dari perkiraan tahun paling kering.


30 RUPTL 2011- 2020


Pada Tabel 3.8 diperlihatkan perkembangan kapasitas trafo pada gardu induk
di sistem Indonesia Barat dan Indonesia Timur selama 5 tahun terakhir.
Tabel 3. 8 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (MVA)
2006 2007 2008 2009 2010
275/150 kV 160 160 160 160 160
150/20 kV 4.419 4.474 4.804 5.17 5.92
70/20 kV 360 360 360 350 335
150/20 kV 1.094 1.174 1.174 1.383 1.453
70/20 kV 157 157 157 153 187
150/20 kV 923 1.045 1.074 1.064 1.064
70/20 kV 532 546 606 546 560
275/150 kV 160 160 160 160 160
150/20 kV 6.436 6.693 7.052 7.597 9.823
70/20 kV 1.049 1.063 1.018 1.138 1.082
Region
Sumatra
Kalimantan
Sulawesi
Sub-Total


Tabel 3. 9 Perkembangan Saluran Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat dan
Indonesia Timur (kms)
2006 2007 2008 2009 2010
275 kV - 781 781 1.011 1.011
150 kV 8.521 7.739 8.423 8.221 8.224
70 kV 310 334 334 334 331
150 kV 1.264 1.305 1.429 1.429 1.567
70 kV 123 123 123 123 123
150 kV 1.769 1.839 1.957 1.957 2304
70 kV 505 505 505 519 832
275 kV - 781 781 1.011 1.011
150 kV 11.554 10.884 11.509 11.657 12.253
70 kV 938 962 962 976 1.287
Total 12.492 12.627 13.252 13.594 14551
Region
Sumatra
Kalimantan
Sulawesi
Sub-Total



RUPTL 2011- 2020 31


Tabel 3.9 menunjukkan bahwa pembangunan sarana transmisi meningkat rata-
rata 3,9% per tahun dalam kurun waktu 2006-2010, dimana panjang saluran
transmisi pada tahun 2006 sekitar 12.492 kms meningkat menjadi 14.551 kms
pada tahun 2010.

3.3.2 Sistem Transmisi Jawa Bali
Perkembangan kapasitas trafo gardu induk dan sarana penyaluran sistem J awa
Bali untuk 5 tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11.
Tabel 3. 10 Perkembangan Kapasitas Trafo GI Sistem Jawa-Bali (x1.000)
Level Tegangan Unit 2006 2007 2008 2009 2010
150/20 kV MVA 25,30 26,07 26,15 27,08 28,44
70/20 kV MVA 2,88 2,80 2,75 2,74 2,75
J umlah MVA 28,18 28,87 28,90 29,82 31,19
B.Puncak MW 15,95 16,26 16,31 17,21 18,10

Tabel 3. 11 Perkembangan Saluran Transmisi Sistem Jawa Bali
Level Tegangan
Unit
(x1.000) 2006 2007

2008

2009

2010
500 kV kms 5,05 5,05 5,09 5,11 5,05
150 kV kms 11,27 11,61 11,85 11,97 12,37
70 kV kms 3,66 3,58 3,61 3,61 3,61
Dari Tabel 3.11 dapat dilihat bahwa panjang saluran transmisi 70 kV tidak
bertambah, bahkan sedikit berkurang karena ditingkatkan (uprated) menjadi
150 kV guna meningkatkan kapasitas, keandalan dan perbaikan kualitas
pelayanan ke konsumen.
Keseimbangan kapasitas pembangkit dengan kapasitas trafo interbus (IBT) dan
trafo GI per sistem tegangan 500 kV, 150 kV dan 70 kV dalam kurun waktu
5 tahun terakhir diperlihatkan oleh Tabel 3.12.







32 RUPTL 2011- 2020


Tabel 3.12 Kapasitas Pembangkit dan Interbus Transformer (IBT)
Level Tegangan
Satuan
(x1.000) 2006 2007 2008 2009

2010
Kit.Sistem 500 kV MW 12,97 12,97 12,97 12,97 12,97
Trf. 500/150 kV MVA 17,00 17,00 17,00 17,50 19,5
Kit. Sistem 150 kV MW 8,89 8,99 9,01 10,11 10,41
Trf. 150/70 kV MVA 3,58 3,58 3,58 3,82 3,82
Kit. Sistem 70 kV MW 0,27 0,27 0,27 0,27 0,27
Trf. 150/20 kV MVA 25,30 26,07 26,15 26,33 28,44
Trf. 70/20 kV MVA 2,88 2,80 2,75 2,74 2,75

3.3.3 Penguatan Sistem Transmisi Pemasok Jakarta dan Pulau Bali
Pada beberapa tahun terakhir terdapat bottleneck sistem transmisi yang
memasok sistem J akarta dan pulau Bali yang berdampak pada kenaikan biaya
operasi dari pembangkit BBM.
Beban listrik sistem J akarta pada tahun 2010 adalah 7.250 MW dan dilayani
oleh pembangkit di Muara Karang dan Tanjung Priok yang terhubung ke sistem
jaringan tegangan tinggi 150 kV. Sistem 150 kV J akarta ini juga dipasok oleh
sistem transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV melalui interbus transformer
(IBT) 500/150 kV di GITET Bekasi, Cawang, Gandul, Depok dan Kembangan.
Pembebanan trafo IBT di GITET-GITET tersebut telah melebihi 80%.
Untuk mengatasi pembebanan IBT yang tinggi telah dilakukan penambahan
IBT di GITET Bekasi-3 (November 2010) dan Gandul-3, Cibatu-4, dan
tambahan spare IBT 500/150 kV 166 MVA untuk GITET, Cibatu, Kembangan,
Depok, Balaraja dan Cawang. Penambahan IBT di Bekasi dan Gandul
dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian BBM di Muarakarang dan Priok.
Pulau Bali pada beberapa tahun terakhir mengalami defisit daya. Beban puncak
tahun 2010 adalah 549 MW, dilayani oleh pembangkit BBM dengan daya
mampu 380 MW dan kabel laut J awa – Bali yang menyalurkan daya 180 MW.
Untuk mengatasi kekurangan daya jangka pendek, telah dilakukan sewa
pembangkit pada tahun 2010 sebesar 126 MW sehingga kondisi kelistrikan
pulau Bali mulai membaik, namun masih belum memenuhi keandalan yang
seharusnya.
Untuk mengurangi konsumsi BBM di pulau Bali, saat ini sedang dibangun
kabel laut sirkit 3,4 J awa – Bali yang akan beroperasi pada bulan Mei 2012.



RUPTL 2011- 2020 33


3.4 KONDISI SISTEM DISTRIBUSI
Berikut ini diberikan perbaikan susut jaringan dan keandalan sistem distribusi
pada lima tahun terakhir.
3.4.1 Susut Jaringan Distribusi
Realisasi rugi jaringan distribusi PLN mulai tahun 2006 cenderung menurun ke
tingkat 7,64% pada tahun 2010 sejalan dengan usaha-usaha menekan susut
jaringan seperti terlihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3. 13 Rugi Jaringan Distribusi (%)
2006 2007 2008 2009 2010
Susut Distribusi 9,18 8,84 8,29 7,93 7,09

3.4.2 Keandalan Pasokan
Realisasi keandalan pasokan listrik kepada konsumen yang diukur dengan
indikator SAIDI dan SAIFI
26
jaringan PLN pada lima tahun terakhir dapat dilihat
pada Tabel 3.14.
Tabel 3. 14 SAIDI dan SAIFI PLN
2006 2007 2008 2009 2010
SAIDI (jam/pelanggan/tahun)
27,01 28,94 80,90 16,70 7,00
SAIFI (kali/pelanggan/tahun) 13,85 12,77 13,33 10,78 6,85
Gambaran mengenai kondisi kelistrikan saat ini yang lebih detail dapat dilihat
pada Lampiran A, B dan C yang menampilkan kondisi kelistrikan per provinsi.

3.5 MASALAH-MASALAH YANG MENDESAK
Masalah mendesak yang saat ini dihadapi PLN antara lain upaya memenuhi
daerah-daerah yang kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit
berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non minyak serta melistriki daerah
yang belum mendapatkan pasokan listrik, termasuk daerah-daerah perbatasan
dan terpencil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

26
SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index, SAIFI adalah System Average
Interruption Frequency Index


34 RUPTL 2011- 2020



3.5.1 Upaya Penanggulangan Jangka Pendek
3.5.1.1 Wilayah Operasi Indonesia Timur dan Indonesia Barat
Kondisi kekurangan pasokan penyediaan tenaga listrik di wilayah operasi
Indonesia Barat dan Timur pada dasarnya disebabkan olehh keterlambatan
penyelesaian proyek pembangkit tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP.
Kondisi jangka pendek yang perlu diatasi adalah memenuhi kekurangan
pasokan dan menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien serta
menaikkan rasio elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya
tertinggal.
Tindakan yang telah dilakukan oleh PLN untuk menanggulangi hal tersebut
meliputi sewa pembangkit, pembelian PLTG crash program, pembelian energi
listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan
Pemda setempat, pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU
batubara PerPres 71/2006, membangun saluran transmisi, mengamankan
kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS centralized
dan solar home system secara terbatas.
Untuk membantu mengatasi permasalahan pasokan listrik, PLN telah membeli
semua potensi excess power yang ada, namun jumlahnya masih belum cukup
untuk memenuhi kebutuhan, sehingga PLN perlu menambahnya dengan
menyewa pembangkit.
Sewa pembangkit tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai
berikut: (i) memenuhi kekurangan pasokan listrik dalam waktu cepat dan
bersifat sementara sebelum pembangkit utama non-BBM beroperasi; (ii)
menggantikan pembangkit BBM existing yang tidak efisien dengan PLTD yang
mempunyai sfc (specific fuel consumption) lebih baik; (iii) menaikkan rasio
elektrifikasi secara cepat pada daerah yang elektrifikasinya tertinggal dan tidak
tersedia sumber daya EBT lainnya.
Sewa pembangkit tersebut meliputi sewa PLTD MFO/HSD, PLTG gas, PLTMG
(gas engine), PLTGB dan PLTU yang dapat tersedia dalam waktu relatif
singkat.
Tambahan sewa PLTD dan PLTGB/PLTMG yang dilakukan PLN pada tahun
2010 berjumlah 1.396 MW yang terdiri atas 837 MW di Indonesia Barat dan
559 MW di Indonesia Timur. Selanjutnya pada tahun 2011 akan dilakukan
tambahan sewa PLTD/PLTGB/PLTMG sebesar 932 MW. Pada tahun 2012 di


RUPTL 2011- 2020 35


Indonesia Barat akan dilakukan penambahan sewa sebesar 578 MW,
sedangkan di Indonesia Timur akan ada pengurangan sewa sebesar 211 MW
dengan rincian diberikan pada tabel 3.15.

Tabel 3. 15 Rencana Sewa PLTD/PLTGB/PLTMG tahun 2011 dan 2012
No Lokasi Sewa PLTD
Kapasitas (MW)
2011 2012
1 Indonesia Barat 688 578
2 Indonesia Timur 264 - 211

3.5.1.2 Wilayah Operasi J awa Bali
Upaya yang dilakukan PLN di J awa Bali meliputi memenuhi pertumbuhan
demand, mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan keandalan.

3.5.2 Masalah Mendesak Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur
Hal – hal yang mendesak pada wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia
Timur meliputi antara lain:
3.5.2.1 Pembangkitan
• Mempercepat pembangunan proyek percepatan PLTU batubara 10.000 MW
tahap 1, termasuk tambahan proyek PLTU Riau 2x110 MW
27
dan PLTU
Muara J awa/Teluk Balikpapan di Kaltim 2x110 MW.
• Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik PLN lainnya, seperti
PLTA Asahan 3 – 174 MW, PLTA Peusangan 86 MW, PLTU Sumut Baru
2x200 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG Bangkanai 4x70 MW
(tahun pertama baseload dan tahun berikutnya berubah menjadi peaking),
PLTU Takalar 2x100 MW, PLTG Sulsel Baru 2x50 MW, Makassar (peaking)

27
Terjadi perbedaan antara kapasitas pembangkit terkontrak dan kapasitas sesuai PerPres No.
71/2006 jo PerPres 59/2009, yaitu PLTU Riau/Tenayan, PLTU Maluku dan PLTU Kaltim /Muara
J awa/Teluk Balikpapan. Perbedaan kapasitas tersebut memerlukan endorsement dari
Kementerian ESDM.


36 RUPTL 2011- 2020


1x50 MW dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW, PLTU Lombok APBN
1x25 MW dan PLTU Atambua 4x6 MW serta banyak PLTU batubara skala
kecil dan PLTGB tersebar di luar J awa Bali.
• Melaksanakan program sewa PLTU di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
dengan kapasitas total antara 1.750 MW dan 2.160 MW sebagai upaya
mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek-proyek IPP dan proyek-
proyek PLTP baik yang dibangun oleh PLN maupun oleh IPP. Proyek PLTU
sewa ini diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013.
• Mempercepat pengadaan gas untuk memasok PLTGU Belawan 2x400 MW
dan tambahan PLTG task force 100 MW tahun 2012
28
.
• Mempercepat penyelesaian kontrak gas PLTGU Sengkang 180 MW.
• Mempercapat pengadaan gas untuk kawasan Indonesia Timur, antara lain
untuk PLTG Semberah 2x20 MW, PLTG Kaltim (peaking) 2x50 MW, PLTG
Kaltim sewa 100 MW, PLTG Sulsel 2x50 MW, PLTG Makassar (peaking)
1x50 MW, dan PLTG Minahasa (peaking) 1x25 MW.
• Mempercepat pembangunan proyek pembangkit milik IPP, antara lain PLTA
Poso 195 MW, PLTU J eneponto 2x100 MW, PLTU Takalar 2x100 MW,
PLTU Kalbar 2x25 MW, PLTU Kaltim 2x100 MW, PLTU Kalsel 2x100 MW,
PLTG Senipah 80 MW, PLTU Sulut 2x25 MW, PLTU Sumbawa 2x10 MW,
PLTU Sumsel-5 2x150 MW, PLTU Sumsel-6 2x300 MW, dan PLTU
Sumsel-7 2x150 MW.
• Mempercepat pembangunan beberapa proyek PLTP dengan total kapasitas
minimal 1.025 MW untuk dapat beroperasi sampai dengan tahun 2015.
Proyek-proyek PLTP tersebut diberikan pada tabel 3.16.








28
Opsi pasokan gas ke Belawan adalah regasifikasi di Arun berikut pipa gas ke Belawan, atau
FSRU di Belawan dengan sumber LNG dari BP Tangguh.


RUPTL 2011- 2020 37


Tabel 3. 16 Daftar PLTP yang diupayakan beroperasi sampai dengan tahun 2015
No. NAMA PEMBANGKIT LOKASI KAP. (MW) DEVELOPER
1 Ulumbu #1,2,3 & 4 NTT 4 X 2,5 PLN - TOTAL PROJ ECT
2 Tulehu #1 & 2 Maluku 2 X 10 PLN – TOTAL PROJ ECT
3 Ulumbu #5 & 6 NTT 2 X 2,5 PLN - TOTAL PROJ ECT
4 Lahendong 4 Sulut 1 X 20 PLN (HULU) – PGE (HILIR)
5 Ulubelu #1 & 2 Lampung 2 X 55 PLN (HULU) – PGE (HILIR)
6 Hululais #1 & 2 Sumsel 2 X 55 PLN (HULU) – PGE (HILIR)
7 Sungai Penuh #1 & 2 J ambi 2 X 55 PLN (HULU) – PGE (HILIR)
8 Lumut Balai #1 & 2 Sumsel 2 X 55 PGE
9 Ulubelu #3 Lampung 1 X 55 PGE
10 Lahendon #5 & 6 Sulut 2 X 20 PGE
11 Karaha Bodas #1 J abar 1 X 30 PGE
12 Kamojang #5 J abar 1 X 60 PGE
13 Sarulla #1 Sumut 1 X 110 KONS. MEDCO
14 Dieng #2 J ateng 1 X 55 GEODIPA EN.
15 Patuha #1 J abar 1 X 60 GEODIPA EN.
16 Wayang Windu #3 J abar 1 X 120 STAR ENERGY
17 Tangkuban Perahu 2 #1 J abar 1 X 30 WSS
J umlah 1025


• Mempercepat pengadaan pembangkit untuk dapat menyerap gas J ambi
Merang sebesar 65 bbtud. Proyek pembangkit tersebut adalah: 1) PLTG
Payo Selincah 2x50 MW dengan rencana COD tahun 2011 dan 2012
akan menyerap gas sebesar 25 bbtud. 2) PLTG sewa di Rengat 20 MW
yang akan masuk ke sistem 20 kV akan menyerap gas sebesar 4 bbtud.
3) PLTG Duri 100 MW dengan rencana COD tahun 2012 akan menyerap
gas sebesar 24 bbtud. 4) Relokasi PLTG ex J awa 3x20MW dengan
rencana COD tahun 2011 dan 2012 akan menyerap gas sebesar 12
bbtud.
• Merencanakan beberapa kebutuhan pembangkit peaker untuk dapat
menyerap potensi gas yang ada, yaitu: 1) PLTG Belawan 400 MW untuk
dapat menyerap gas yang berasal dari FSRU LNG Belawan atau
regasifikasi LNG di Arun. 2) PLTMG Sei Gelam 90 MW untuk menyerap
CNG Sei Gelam sebesar 4,5 bbtud. 3) PLTG/PLTMG Sangeti 80-
100 MW untuk menyerap gas Sangeti sebesar 6 bbtud, perlu dibangun
fasilitas CNG. 4) PLTG/PLTMG J aka Baring 50-60 MW untuk menyerap
CNG J aka Baring sebesar 3 bbtud. 5) Untuk dapat menyerap gas
J abung sebesar 20-30 bbtud PLN akan membangun PLTG dengan total
kapasitas 500 MW yang berdasarkan kebutuhan sistem akan
ditempatkan di Riau 200 MW, J ambi 100 MW dan Lampung 200 MW.


38 RUPTL 2011- 2020


Untuk itu diperlukan fasilitas mini LNG. 6) PLTG Bangkanai 280 MW
untuk menyerap gas Bangkanai 20 bbtud dengan membangun fasilitas
CNG di dekat lokasi PLTG, PLTMG Bintuni untuk menyerap gas
Tangguh 2 bbtud.

3.5.2.2 Transmisi dan Gardu Induk
• Mempercepat pembangunan IBT 275/150 kV pada sistem transmisi 275 kV
di jalur barat Sumatera (Lahat - Lubuk Linggau – Bangko - Muara Bungo –
Kiliranjao).
• Mempercepat pembangunan transmisi 275 kV Kiliranjao – Payakumbuh –
Padang Sidempuan dan Payakumbuh - Garuda Sakti.
• Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 275 kV Simangkok –
Galang dan IBT 275/150 kV di Galang.
• Mempercepat konstruksi transmisi 275 kV PLTU Pangkalan Susu – Binjai
dan IBT 275/150 kV di Binjai yang harus dapat beroperasi seiring dengan
beroperasinya PLTU Pangkalan Susu pada pertengahan tahun 2012.
• Melaksanakan pembangunan transmisi 275 kV jalur timur Sumatera dari
Betung – Aur Duri – Rengat – Garuda Sakti.
• Mempercepat interkoneksi Kalbar-Serawak melalui transmisi 275 kV yang
diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2014, untuk memenuhi kebutuhan
sistem Kalbar dan menurunkan BPP.
• Mempercepat interkoneksi 150 kV Batam-Bintan melalui kabel laut. Tujuan
interkoneksi ini disamping untuk memenuhi kebutuhan sistem Bintan juga
sekaligus akan menurunkan BPP di sistem Bintan.
• Mempercepat penyelesaian konstruksi interkoneksi 150 kV Kalselteng -
Kaltim dan sistem interkoneksi 150 kV Sulut – Gorontalo termasuk
pemasangan reaktor di Gorontalo.
• Mempercepat penyelesaian konstruksi transmisi 150 kV PLTA Poso – Palu,
transmisi 70 kV sistem Ambon, sistem Ende, sistem Kupang dan sistem
J ayapura, serta mempercepat penyelesaian kabel bawah tanah 150 kV
Tanjung Bunga – Bontoala.


RUPTL 2011- 2020 39


• Mempercepat pembangunan transmisi 150 kV Tanjung – Buntok –
Muarateweh dan Muarateweh – Bangkanai.

3.5.3 Masalah Mendesak Sistem Jawa Bali
Hal – hal yang mendesak untuk diselesaikan pada sistem J awa-Bali meliputi
antara lain:
• Penguatan pasokan J akarta terdiri dari beberapa program:
- Mempercepat penyelesaian penambahan IBT 500/150kV 500 MVA di 2
lokasi, yaitu IBT-4 Bekasi 1x500MVA, IBT-2 Depok 1x500MVA.
- Mempercepat pembangunan GITET baru/IBT baru di 2 lokasi, yaitu:
Durikosambi 2x500MVA (2013) dan Muaratawar 2x500MVA (2013).
- Membangun ruas SUTET baru, yaitu SUTET Tanjung J ati - Tx
Ungaran, SUTET Suralaya Baru – Balaraja, SUTET Balaraja –
Kembangan (2013), dan Kembangan – Durikosambi (2013).
- Rekonfigurasi SUTET Muara Tawar – Cibinong – Bekasi – Cawang.
- Menyediakan cadangan IBT 500/150kV 166 MVA di 3 lokasi GITET
yaitu Durikosambi, Bekasi, Muaratawar dan Gandul.
• Penguatan pasokan lainnya terdiri dari beberapa program, yaitu:
- Penambahan IBT 500/150kV di 8 lokasi, yaitu: IBT-3 Cilegon
1x500MVA, IBT-3 Pedan 1x500 MVA, IBT-3 Krian 1x500MVA, IBT-3
Ungaran 1x500MVA, IBT-3 Mandirancan 1x500MVA, IBT-2 Ngimbang
1x500MVA, IBT-2 Tasikmalaya 1x500MVA dan IBT-2 Grati 1x500MVA.
- Membangun 4 GITET baru di 4 lokasi (3.000 MVA), yaitu Ujung Berung
1x500 MVA (2012), Tanjung J ati 2x500 MVA (2012), Rawalo/Kesugihan
1x500MVA (2014) serta mempercepat pengoperasian GITET Surabaya
Selatan 2x500 MVA (2012).
- Pengadaan spare IBT 166 MVA di 4 lokasi GITET, yaitu Mandirancan,
Pedan, Krian, Kediri dan Grati.
- Mempercepat penyelesaian SUTET Grati – Surabaya Selatan (2012).


40 RUPTL 2011- 2020


- SUTT terkait dengan pembangkit PLTU IPP Cirebon 1x660 MW
29
, yaitu
SUTT Sunyaragi - PLTU Cirebon - Brebes – Kebasen.
• Penguatan pasokan subsistem Bali terdiri dari beberapa program yaitu:
- Pembangunan kabel laut 150 kV J awa Bali sirkit 3&4 (Mei 2012).
- Pembangunan J awa Bali Crossing 500 kV dari PLTU Paiton ke Kapal
(2015).
- Mempercepat konstruksi PLTU IPP Celukan Bawang 1x130 MW +
2x125 MW (2014).





















29
COD PLTU Cirebon adalah November 2011 berdasar laporan progres konstruksi.


RUPTL 2011- 2020 41


BAB IV
KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER

4.1 BATUBARA
Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada tahun 2010, sumber daya
batubara Indonesia adalah 104,8 milyar ton yang tersebar terutama di
Kalimantan (51.9 milyar ton) dan Sumatera (52,5 milyar ton), namun cadangan
batubara dilaporkan hanya 21,1 milyar ton (Kalimantan 9,9 milyar ton,
Sumatera 11,2 milyar ton).
Sekitar 22% dari batubara Indonesia berkualitas rendah (low rank) dengan
kandungan panas kurang dari 5100 kkal/kg, sebagian besar (66%) berkualitas
medium (antara 5100 dan 6100 kkal/kg) dan hanya sedikit (12%) yang
berkualitas tinggi (6100–7100 kkal/kg). Angka ini dalam adb (ash dried basis)
30
.
Walaupun cadangan batubara Indonesia tidak terlalu besar, namun tingkat
produksi batubara sangat tinggi, yaitu mencapai 320 juta ton pada tahun 2010.
Sebagian besar dari produksi batubara tersebut diekspor ke China, India,
J epang, Korea Selatan dan Taiwan (265 juta ton) dan ke beberapa negara lain,
dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk keperluan domestik (60 juta
ton). Produksi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan meningkat
sejalan dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan semakin menariknya
pasar batubara internasional. J ika tingkat produksi tahunan adalah 400 juta ton,
maka seluruh cadangan batubara Indonesia yang 21,1 milyar ton akan habis
dalam waktu sekitar 50 tahun apabila tidak dilakukan eksplorasi baru. Untuk
menjamin pasokan kebutuhan domestik yang terus meningkat, Pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang
mewajibkan produsen batubara untuk menjual sebagian produksinya ke
pemakai dalam negeri.
Persoalan yang dihadapi PLN mengenai batubara adalah aspek security of
supply dan aspek kualitas. Keamanan pasokan batubara sangat ditentukan

30
Angka calorific value yang sering dipakai oleh PLN dalam rangka desain PLTU adalah
menggunakan standar GAR (gross as received). Perbedaan antara adb dan GAR dapat
dihitung sesuai dengan nilai TM (total moisture), namun secara rata-rata dapat dikatakan nilai
GAR sekitar 1000 s.d 1300 lebih kecil dari adb.


42 RUPTL 2011- 2020


oleh kebijakan pemerintah mengenai DMO dan batasan harga dalam negeri,
khususnya untuk kelistrikan, disamping kesiapan infrastruktur seperti
pengembangan tambang batubara itu sendiri, jalan, jembatan, dermaga dan
sarana transportasi yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah dunia
hingga US$140/barel pada semester 1 tahun 2008 telah mendorong kenaikan
harga batubara di pasar dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
sejarah. Pada saat yang sama harga batubara Indonesia telah menembus
angka US$ 100 per ton (6322 kcal/kg GAR), dan harga tinggi ini telah
mendorong produsen batubara untuk lebih banyak mengekspor batubaranya ke
pasar dunia, terutama ke China dan India. Masalah kesiapan infrastruktur
memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar batubara
yang tersedia di tambang dapat sampai ke pusat-pusat pembangkit yang
tersebar di Indonesia.
Dalam RUPTL tahun 2011-2020 ini terdapat rencana pengembangan beberapa
PLTU mulut tambang di Sumatera. Definisi PLTU mulut tambang yang
digunakan di sini adalah PLTU batubara yang berada di dekat tambang
batubara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi skala besar
yang memungkinkan batubara diangkut ke pasar secara besar-besaran,
sehingga batubara low rank di tambang tersebut pada dasarnya menjadi tidak
tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batubara untuk PLTU mulut
tambang tidak ditetapkan berdasar HBA, melainkan berdasar formula cost plus
margin yang di lock-in sepanjang umur pembangkit dengan eskalasi tertentu.
PLN juga menghadapi persoalan dalam memperoleh pasokan batubara yang
sesuai dengan spesifikasi boiler PLTU. PLN tengah mengevaluasi beberapa
pilihan teknologi untuk meningkatkan kualitas batubara. Saat ini teknologi yang
dipilih adalah dengan coal dryer dan coal blending. PLN akan segera
mengadopsi teknologi coal dryer. Selain itu PLN mempunyai program untuk
membangun sebuah coal blending facility.
PLTU batubara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga
batubara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.
Namun pembakaran batubara menghasilkan emisi karbon dioksida yang
menimbulkan efek pemanasan global, disamping menghasilkan polusi partikel
dan bahan kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap
lingkungan lokal. Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik
berbahanbakar batubara memperhatikan dampak lingkungan yang
ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi
perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau J awa.


RUPTL 2011- 2020 43


Teknologi batubara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC
(integrated gassification combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage)
belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang
secara teknis dan komersial.

4.2 GAS ALAM
Walaupun Indonesia bukan merupakan pemilik cadangan gas alam yang
terbesar dalam skala dunia, namun cadangan gas alam di Indonesia cukup
besar, yaitu diperkirakan 164,99 Tscf yang tersebar terutama di kepulauan
Natuna (53,06 Tscf), Sumatera Selatan (26,68 Tscf), dan Kalimantan Timur
(21,49 Tscf) serta Tangguh di Irian J aya yang diperkirakan setara dengan
cadangan di Natuna.
Namun pada kenyataannya kebutuhan gas alam untuk pembangkitan tenaga
listrik di Indonesia tidak tercukupi. PLN menghadapi persoalan kecukupan
pasokan gas di hampir seluruh pembangkit berbahanbakar gas di Indonesia.
Pasokan gas ke pusat pembangkit PLN terus mengalami penurunan dan
ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir ini
31
. Disamping cadangan gas
lapangan terus mengalami depletion, PLN juga menghadapi kesulitan dalam
memperoleh akses ke sumber-sumber gas alam yang besar. Sumber-sumber
gas yang besar tersebut pada umumnya telah terikat dengan kontrak jangka
panjang dengan pembeli luar negeri. Namun demikian PLN terus berupaya
memperoleh pasokan gas dari sumber-sumber tersebut.








31
Misalnya Belawan, Teluk Lembu, Muara Karang, Priok, Muara Tawar, Tambak Lorok,
Pesanggaran/ Gilimanuk di Bali dan pembangkit lainnya.


44 RUPTL 2011- 2020


Tabel 4.1 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di Jawa Bali
No Pembangkit Pemasok 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
PHE ONWJ (GSA) 100.0     100.0     100.0     100.0     100.0     100.0    
PHE ONWJ (Excess capacity) 20.0        20.0        20.0        20.0       
PGN ‐ Priok (GSA‐IP) 30.0        30.0       
FSRU PT NR (proses GSA) ‐          260.0     175.0     175.0     175.0     140.0     140.0     140.0     140.0       140.0      
Jumlah 150.0     410.0     295.0     295.0     275.0     240.0     140.0     140.0     140.0       140.0      
PERTAMINA ‐ P Tengah (GSA) 25.0        25.0        25.0       25.0       25.0      
PGN (GSA) 59.0       59.0       59.0       59.0       59.0      
MEDCO Lapangan Singa
MEDCO SCS 20.0       20.0       20.0      
Ex kontrak PLN Jambi Merang*) 34.8          31.1          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0          15.0         
PGN ‐ Tambahan, Firm (GSA)
Tambahan dari Conoco Philip 20.0       20.0       20.0      
Tambahan dari Petrochina 30.0      
Jumlah 158.8       185.1       139.0       99.0         99.0         15.0         15.0         15.0         ‐            ‐           
CNOOC (GSA) 80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0        80.0          80.0         
PGN (GSA) 30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0          30.0         
Jumlah 110.0     110.0     110.0     110.0     110.0     110.0     110.0     110.0     110.0       110.0      
Petronas (Approval GSA) 106.0       116.0       116.0       116.0       116.0       116.0      
SPP (GSA‐IP) 50.0        50.0        50.0        50.0        50.0        50.0        50.0          50.0         
Jumlah ‐          ‐          50.0       50.0       156.0     166.0     166.0     166.0     166.0       166.0      
Kodeco (GSA)* 123.0     123.0     123.0    
Hess (GSA) 50.0          68.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0          50.0         
KEI (GSA) 130.0     130.0     130.0     60.0        60.0        60.0        60.0        60.0          60.0         
MKS (GSA) 11.0        11.0        11.0       
WNE (GSA) 20.0        20.0        20.0        17.0        12.0        12.0        12.0        12.0          12.0         
Petronas‐Bukit Tua (potensi‐PJB) 25.0        54.0        62.0        47.0       
AEI 8.0         
Jumlah 192.0     352.0     334.0     225.0     181.0     184.0     169.0     122.0     122.0       122.0      
Santos Oyong (GSA‐IP) 57.5        50.0        40.0        40.0        40.0       
Santos Wortel (GSA‐IP) 7.5          30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        30.0        20.0        20.0          20.0         
Parna Raya (Potensi‐IP) 40.0        40.0        40.0        40.0        40.0        40.0          40.0         
Jumlah 65.0       80.0       70.0       110.0     110.0     70.0       70.0       60.0       60.0         60.0        
4 Tambaklorok
5 Gresik
6 Grati
1 Muara Karang dan Priok
2 Muara Tawar
3 Cilegon

Tabel 4.2 Perkiraan Pasokan Gas untuk Pembangkit PLN di luar Jawa Bali
No Pembangkit Pemasok 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 Aceh Timur Medco Blok A ‐         ‐         13.0       13.0       13.0       13.0       13.0       13.0       13.0       13.0      
2 Belawan Kambuna 25.3       13.0       5.0         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
FSRU LNG Tangguh ‐         ‐         ‐         105.0     105.0     105.0     105.0     155.0     155.0     155.0    
Anggor (Potensi) 40.0       40.0       40.0       40.0       40.0       40.0       40.0      
3 Teluk Lembu Kalila 5.0         9.0         30.0       30.0       30.0       30.0       30.0       30.0       30.0       30.0      
4 PLTG sewa Bentu Kalila Bentu (Potensi) 3.0         3.0         3.0         3.0         3.0         3.0        
5 PLTG sewa Melibur Kondur (Potensi) 0.6         0.6         0.6         0.6        
6 PLTG sewa Jabung Petro China (Potensi) 30.0       30.0       30.0       30.0       30.0       30.0      
7 Sungai Gelam EMP Sungai Gelam ‐         2.0         2.0         2.0         2.0         2.0         2.0         2.0         ‐         ‐        
PEP ‐ TAC Sungai Gelam ‐         2.5         2.5         2.5         2.5         2.5         2.5         ‐         ‐         ‐        
8 Sengeti (CNG) PT Arthindo Utama 5.6         5.6         5.6         5.6         5.6         5.6        
9 Simpang Tuan Perusda Jambi 3.0         3.0         3.0         3.0         3.0         3.0        
10 Payo Selincah Energasindo 18.0       18.0       18.0       18.0       18.0       18.0       18.0       18.0       ‐         ‐        
Jambi Merang 4.0         25.0       25.0       25.0       25.0       25.0       25.0       25.0       25.0       ‐        
11 Jakabaring (CNG) PDPDE Sumsel ‐         3.0         3.0         3.0         3.0         3.0         3.0         3.0         3.0         ‐        
12 Indralaya Medco E&P Indonesia 19.3       24.0       ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
13 Talang Duku PGN 8.0         8.0         8.0         8.0         8.0         8.0         8.0         8.0         ‐         ‐        
14 Borang Medco E&P Indonesia 15.0       15.0       15.0       ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
15 Keramasan Medco E&P Indonesia 22.0       22.0       22.0       ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
Pertamina EP 15.0       15.0       15.0       15.0       15.0       ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
16 Duri Jambi Merang ‐         10.0       10.0       14.0       14.0       14.0       14.0       14.0       14.0       ‐        
17 Rengat Jambi Merang ‐         4.0         4.0         4.0         4.0         4.0         4.0         4.0         4.0         ‐        
18 Tanjung Batu TAC Semco 7.0         7.0         7.0         7.0         7.0         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
19 Semberah TAC Semco ‐         5.0         5.0         5.0         5.0         ‐         ‐         ‐         ‐         ‐        
18 Tarakan Lap Bangkudulis (Potensi) 18.0       18.0       18.0       18.0       18.0       18.0      
19 Nunukan Medco (Potensi) 2.5         2.5         2.5         2.5         2.5         2.5         2.5         2.5        
20 CBM Sangata VICO 0.5         0.5         0.5         0.5         0.5        
21 PLTG Kolonedale Job PTM‐Medco Tiaka (Potensi) 2.0         2.0         2.0         2.0         2.0         2.0         2.0         2.0        
22 Sengkang EEES ‐         15.0       15.0       15.0       15.0       15.0       15.0       15.0       15.0       15.0      
23 ANTAM + Indonesia EEES Kera (Potensi LNG) 70.0       70.0       70.0       70.0      
24 Luwuk Job PTM‐Medco Senoro (Potensi) 5.0         5.0         5.0         5.0         5.0         5.0        
25 Indonesia Tersebar Pertamina EP Matindok (Potensi) 20.0       20.0       20.0       20.0       20.0      
26 KTI Tersebar Bontang (Potensi) 41.5       41.5       41.5       41.5       41.5       41.5       41.5       41.5      
Jumlah 139.1    257.7    306.2    488.2    488.2    480.1    480.1    401.0    370.0    316.5   

Pada Tabel 4.1 dan 4.2 diberikan perkiraan pasokan gas yang tersedia untuk
pembangkit PLN di J awa Bali dan di luar J awa Bali.
Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, pasokan gas ke pembangkit
PLN pada umumnya akan menurun atau berkurang. Selain itu pengembangan
infrastruktur penyaluran gas dari sumur-sumur baru ke pembangkit PLN sangat
terbatas. Di lain pihak pembangkit PLN, khususnya PLTGU yang berada di
pusat beban, harus tetap dijalankan (must-run) karena peranannya tidak dapat


RUPTL 2011- 2020 45


digantikan oleh pembangkit di tempat lain. Selama ini pembangkit must run
tersebut terpaksa dioperasikan dengan BBM karena kekurangan pasokan gas.
Situasi tersebut mengharuskan PLN untuk memperoleh pasokan gas dalam
bentuk LNG walaupun pada harga yang relatif tinggi untuk digunakan pada
pembangkit tersebut. Pada saat ini telah direncanakan LNG floating storage &
regasification unit (FSRU) di 3 lokasi, yaitu Belawan untuk memasok PLTGU
Belawan
32
, J akarta untuk memasok PLTGU Muara Karang dan Priok, serta
J awa Tengah atau J awa Timur untuk memasok kebutuhan gas di pulau J awa
secara umum
33
. Pasokan LNG ke FSRU tersebut akan berasal dari Bontang,
Tangguh atau impor.
PLN terus berupaya memperoleh pasokan gas dimanapun tersedia, karena
tersedianya gas dapat dengan cepat dan mudah diubah menjadi listrik
34
untuk
memenuhi kebutuhan listrik setempat, terutama di daerah yang telah lama
menderita kekurangan listrik. PLN akan membeli gas pada semua volume,
termasuk gas dari sumber-sumber yang sangat kecil, gas flare dan gas
marginal.
Selain itu apabila dalam suatu sistem kelistrikan telah tersedia pembangkit
baseload yang cukup, PLN bermaksud untuk sedapat mungkin menyimpan gas
lapangan (gas pipa) dalam bentuk compressed natural gas (CNG) dan
memakainya untuk pembangkit peaking. Dengan cara ini PLN dapat
meningkatkan nilai dari gas karena menggantikan BBM pada pembangkit
peaking.
Dalam hal PLN memperoleh alokasi gas dalam bentuk LNG, seperti dari
Bontang, Donggi-Senoro, Tangguh atau Sengkang, PLN bermaksud akan
mendistribusikannya ke sejumlah pembangkit peaking tersebar dengan
teknologi mini-LNG. Hal ini telah diprogramkan oleh PLN untuk wilayah operasi
Indonesia Timur.
Kendala lain dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik PLN adalah
tidak tersedianya pipa transmisi gas alam ataupun fasilitas pendukung dari
sumber-sumbernya ke pusat pembangkit. PLN menyambut baik rencana

32
Pemerintah telah mengkaji opsi FSRU Belawan digantikan dengan memanfaatkan fasilitas
LNG plant di Arun.
33
Dikaitkan dengan rencana pembangunan pipa gas “Trans J awa” di sepanjang pulau J awa.
34
Membangun pembangkit berbahan bakar gas dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.


46 RUPTL 2011- 2020


pembangunan pipa gas Trans-J awa oleh Pertagas karena hal itu akan
mengintegrasikan sumber-sumber gas di J awa dan sangat membantu
fleksibilitas operasi pasokan gas ke pusat-pusat pembangkit PLN di pulau
J awa.
Pada dasarnya pembangkit-pembangkit berbahan bakar gas alam dioperasikan
untuk memikul beban medium (mid-merit). Namun pada beberapa kontrak
pasokan gas terdapat ketentuan pemakaian gas yang membuat pembangkit
gas dioperasikan untuk mengisi beban dasar. Kesulitan dalam memperoleh
pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan telah mendorong pemanfaatan
batubara yang lebih banyak untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga
beberapa PLTU batubara di masa depan juga berperan sebagai pemikul beban
menengah dengan faktor kapasitas yang relatif rendah (50-60%).
PLN berupaya mengurangi pemakaian BBM yang dipakai pada pembangkit
beban puncak dengan beralih ke CNG atau LNG/ mini-LNG. Hal ini akan
dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

4.2.1 LNG dan Mini-LNG
PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan
pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan J awa-Bali dan
Sumatera. Sedangkan di Indonesia Timur dan Barat PLN merencanakan
pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak. Mengingat harga gas
dari mini-LNG sangat tinggi, maka gas ini hanya dipakai untuk pembangkit
peaking, bukan untuk pembangkit beban dasar.
Beberapa daerah di Indonesia Barat yang direncanakan memanfaatkan LNG:
• Belawan: PLN mengambil LNG sebanyak yang diperlukan untuk
pembangkit beban puncak dan pembangkit must-run, dan PLN tidak
memakai LNG untuk pembangkit baseload karena pertimbangan
keekonoman. LNG dari BP Tangguh akan dipakai sebagai berikut:
PLTGU Belawan dgn CF <50% memerlukan LNG 60 bbtud dan PLTG
peaker (400+50+90 MW) memerlukan LNG 25 bbtud. Apabila terdapat
keterlambatan proyek PLTU batubara seperti PLTU Pangkalan Susu,
maka Belawan dapat memakai LNG lebih banyak, yaitu hingga total 140
mmscfd.
• Gas Jabung (Jambi): Terdapat potensi gas sebesar 20-30 bbtud dari
lapangan J abung dengan jangka waktu sampai dengan 7 tahun. PLN


RUPTL 2011- 2020 47


menginginkan gas tersebut dapat dikonversi menjadi mini LNG untuk
memenuhi kebutuhan pembangkit beban puncak tersebar di Sumbagsel
sebesar 500 MW pada tahun 2014. Sementara fasilitas LNG belum
terbangun, gas akan dialirkan ke PLTGU Muara Tawar dengan metode
swap.
Pemanfaatan LNG/mini-LNG di Indonesia Timur adalah:
• Senoro, Bontang, Sengkang, Salawati, Simenggaris: PLN akan
mengambil gas dari sumber tersebut dalam bentuk LNG untuk
digunakan di pembangkit peaking 50 MW di Bontang, 50 MW di
Balikpapan, 50 MW di Samarinda, 150 MW di Sulawesi Selatan, 25 MW
di Minahasa dan 60 MW di Lombok, sepanjang layak secara
keekonomian.
Pemanfaatan LNG untuk sistem J awa Bali mempertimbangkan harga LNG
yang relatif tinggi, sehingga LNG hanya dipakai untuk pembangkit beban
puncak dan pembangkit must-run. Pembangkit must-run dimaksud adalah
PLTGU/PLTG Muara Karang, Priok dan Muara Tawar yang peranannya belum
dapat digantikan oleh pembangkit yang lain. PLTGU Muara Karang dan Priok
dijalankan untuk menghabiskan pasokan gas pipa yang ada, dan
kekurangannya dipenuhi dengan LNG. Sedangkan kebutuhan gas/LNG untuk
Muara Tawar dihitung berdasar peran pembangkit ini di sistem, yaitu
dioperasikan sebagai peaker untuk mendukung tegangan sistem 500 kV di
subsistem J akarta. Namun karena perioda beban puncak J akarta sangat
panjang, yaitu dari jam 9 pagi sampai dengan jam 10 malam, maka kebutuhan
gasnya cukup besar dan diharapkan dapat dipenuhi dengan LNG.

4.2.2 CNG (Compressed Natural Gas)
Teknologi CNG untuk memenuhi kebutuhan gas suatu pembangkit merupakan
teknologi yang relatif baru dan untuk itu perlu dikaji kelayakan baik teknis dan
ekonomis terlebih dahulu. Namun PLN telah memetakan potensi pemanfaatan
CNG untuk Indonesia Barat dan Timur. CNG akan diarahkan untuk
memanfaatkan potensi sumur-sumur gas dengan kapasitas relatif kecil maupun
sumur gas marginal. Saat ini sudah disepakati pembangunan CNG storage oleh
pemasok gas di Sumatera Selatan yang gasnya akan dimanfaatkan untuk
PLTG Peaking J aka Baring (40 MW), yang diharapkan mulai beroperasi pada
akhir tahun 2012.


48 RUPTL 2011- 2020


Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Barat adalah:
• CNG Sungai Gelam dengan kapasitas sebesar 4,5 bbtud akan
digunakan untuk pembangkit peaking.
• Gas Jambi Merang sebesar 85 bbtud akan dialokasikan untuk
pembangkit PLTGU Duri (IPP) 2x45 MW, PLTG Payoselincah 100 MW,
PLTG sewa 20 MW di Rengat dan pembangkit di Duri dengan kapasitas
sekitar 160 MW.
Potensi pemanfaatan CNG di Indonesia Timur adalah PLTG Bangkanai,
Kalimantan Tengah.

4.2.3 Coal Bed Methane (CBM)
PLN berkeinginan untuk memanfaatkan gas non-konvensional, yaitu CBM (coal
bed methane). Reserve gas CBM diperkirakan lebih besar daripada reserve gas
konvensional, terutama di South Sumatera Basin (183 Tcf) dan Kutai Basin.
PLN pada saat ini tengah melakukan studi bersama Exxon-Mobil mengenai
pengembangan CBM di Kalimantan Selatan untuk kelistrikan di Indonesia.
Disamping itu, saat ini sedang dilakukan proses negosiasi dengan VICO untuk
rencana pasokan gas dari lapangan CBM di Kalimantan Selatan.
4.3 PANAS BUMI
Terdapat beberapa laporan studi mengenai resource dan reserve tenaga panas
bumi di Indonesia yang menyajikan angka-angka yang berbeda. Salah satunya
adalah laporan studi oleh WestJ EC pada tahun 2007 Master Plan Study for
Geothermal Power Development in the Republic of Indonesia. Menurut laporan
tersebut, potensi panas bumi Indonesia yang dapat dieksploitasi adalah
9.000 MW, tersebar di 50 lapangan, dengan potensi minimal 12.000 MW.
Dalam RUPTL ini terdapat rencana untuk mengembangkan banyak proyek
PLTP, terutama di Sumatera, J awa dan beberapa di Sulawesi Utara dan Nusa
Tenggara dan Maluku. Dalam penugasan Pemerintah kepada PLN untuk
mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan energi
terbarukan sesuai Peraturan Presiden No. 4/2010 dan Peraturan Menteri ESDM
No. 15/2010
35
saja terdapat hampir 4000 MW proyek PLTP untuk beroperasi

35
Dikenal sebagai program percepatan pembangunan pembangkit tahap 2, atau fast track
program phase 2 (FTP2).


RUPTL 2011- 2020 49


pada tahun 2014. Pada kenyataannya proyek PLTP tersebut tidak berjalan
seperti yang diharapkan karena berbagai masalah. PLN berharap masalah-
masalah yang menghambat pengembangan panas bumi tersebut dapat segera
diatasi.

4.4 TENAGA AIR
Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS)
pada tahun 1983 adalah 75.000 MW, dan angka ini diulang kembali pada Hydro
power inventory study pada tahun 1993. Namun pada laporan Master Plan
Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun
2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut
36
adalah
26.321 MW, yang terdiri dari proyek yang sudah beroperasi (4.338 MW), proyek
yang sudah direncanakan dan sedang konstruksi (5.956 MW) dan potensi baru
(16.027 MW). Dalam laporan studi tahun 2011 tersebut, potensi tenaga air
diklasifikasikan dalam 4 kelompok sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari tidak
begitu sulit hingga sangat sulit. Berdasarkan hal tersebut studi ini
merekomendasikan daftar kandidat proyek PLTA seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Kandidat Proyek PLTA Berdasarkan Masterplan Of Hydro Power Development
NO NAMA TIPE PROVINSI
KAP. 
(MW)
COD
PLN/
IPP
   NO NAMA TIPE PROVINSI
KAP. 
(MW)
COD
PLN/
IPP
   NO NAMA TIPE PROVINSI
KAP. 
(MW)
COD
PLN/
IPP
1 Peusangan 1‐2 ROR Aceh 86 2015 PLN 28 Pinoh RES Kalbar 198 2020 PLN 54 Batang Hari‐4 RES Sumbar 216 2027 PLN
2 Jambo Papeun‐3 ROR Aceh 25 2019 PLN 29 Kelai‐2 RES Kaltim 168 2020 PLN 55 Kuantan‐2 RES Sumbar 272 2028 PLN
3 Kluet‐1 ROR Aceh 41 2019 PLN 30 Besai‐2 ROR Lampung 44 2020 PLN 56 Endikat‐2 ROR Sumsel 22 2019 PLN
4 Meulaboh‐5 ROR Aceh 43 2019 PLN 31 Semung‐3 ROR Lampung 21 2020 PLN 57 Asahan 3 ROR Sumut 174 2015 PLN
5 Peusangan‐4 ROR Aceh 31 2019 PLN 32 Isal‐2 RES Maluku 60 2019 PLN 58 Asahan 4‐5 RES Sumut 60 2017 PLN
6 Kluet‐3 ROR Aceh 24 2021 PLN 33 Tina ROR Maluku 12 2020 PLN 59 Simanggo‐2 ROR Sumut 59 2018 PLN
7 Sibubung‐1 ROR Aceh 32 2021 PLN 34 Tala RES Maluku 54 2021 PLN 60 Kumbih‐3 ROR Sumut 42 2019 PLN
8 Seunangan‐3 ROR Aceh 31 2021 PLN 35 Wai Rantjang ROR NTT 11 2020 PLN 61 Sibundong‐4 ROR Sumut 32 2019 PLN
9 Teunom‐1 RES Aceh 24 2023 PLN 36 Bakaru (2nd) ROR Sulsel 126 2016 PLN 62 Bila‐2 ROR Sumut 42 2019 PLN
10 Woyla‐2 RES Aceh 242 2024 PLN 37 Poko RES Sulsel 233 2020 PLN 63 Raisan‐1 ROR Sumut 26 2020 PLN
11 Ramasan‐1 RES Aceh 119 2024 PLN 38 Masuni RES Sulsel 400 2023 PLN 64 Toru‐2 (Tapanuli Utara) ROR Sumut 34 2020 PLN
12 Teripa‐4 RES Aceh 185 2024 PLN 39 Mong RES Sulsel 256 2024 PLN 65 Ordi‐5 ROR Sumut 27 2020 PLN
13 Teunom‐3 RES Aceh 102 2024 PLN 40 Batu RES Sulsel 271 2027 PLN 66 Ordi‐3 ROR Sumut 18 2020 PLN
14 Tampur‐1 RES Aceh 330 2025 PLN 41 Poso‐2 ROR Sulteng 133 2011 PLN 67 Siria ROR Sumut 17 2020 PLN
15 Teunom‐2 RES Aceh 230 2026 PLN 42 Poso‐1 ROR Sulteng 204 2011 PLN 68 Lake Toba PST Sumut 400 2020 PLN
16 Padang Guci‐2 ROR Bengkulu 21 2020 PLN 43 Lariang‐6 RES Sulteng 209 2024 PLN 69 Toru‐3 (Tapanuli Utara) RES Sumut 228 2026 PLN
17 Warsamson RES Irian Jaya 49 2019 PLN 44 Konaweha‐3 RES Sulteng 24 2026 PLN 70 Lawe Mamas ROR Aceh 50 2016 IPP
18 Jatigede RES Jabar 175 2014 PLN 45 Lasolo‐4 RES Sulteng 100 2026 PLN 71 Simpang Aur ROR Bengkulu 29 2014 IPP
19 Upper Cisokan‐PS PST Jabar 1000 2015 PLN 46 Watunohu‐1 ROR Sultra 57 2020 PLN 72 Rajamandala ROR Jabar 58 2014 IPP
20 Matenggeng PST Jabar 887 2020 PLN 47 Tamboli ROR Sultra 26 2020 PLN 73 Cibareno‐1 ROR Jabar 18 2020 IPP
21 Merangin‐2 ROR Jambi 350 2016 PLN 48 Sawangan ROR Sulut 16 2014 PLN 74 Mala‐2 ROR Maluku 30 2020 IPP
22 Merangin‐5 RES Jambi 24 2024 PLN 49 Poigar‐3 ROR Sulut 14 PLN 75 Malea ROR Sulsel 182 2017 IPP
23 Maung RES Jateng 360 2028 PLN 50 Masang‐2 ROR Sumbar 40 2018 PLN 76 Bonto Batu ROR Sulsel 100 2017 IPP
24 Kalikonto‐2 Jatim 62 2016 PLN 51 Sinamar‐2 ROR Sumbar 26 2020 PLN 77 Karama‐1 RES Sulsel 800 2022 IPP
25 Karangkates Ext. RES Jatim 100 2018 PLN 52 Sinamar‐1 ROR Sumbar 37 2020 PLN 78 Gumanti‐1 ROR Sumbar 16 2020 IPP
26 Grindulu‐PS‐3 PST Jatim 1000 2021 PLN 53 Anai‐1 ROR Sumbar 19 2020 PLN 79 Wampu ROR Sumut 84 2016 IPP
27 K. Konto‐PS PST Jatim 1000 2027 PLN


36
Screening yang melihat kesulitan dari aspek status kehutanan (nature forest reserve), sosial
(resettlement), luas reservoir.



50 RUPTL 2011- 2020


COD yang dimaksud pada tabel 4.3 adalah COD tercepat menurut master plan
namun dapat diubah sesuai kebutuhan.
PLN bermaksud akan mengembangkan sebagian besar dari potensi tenaga air
tersebut sebagai proyek PLN.

4.5 ENERGI BARU DAN TERBARUKAN LAINNYA
Bentuk EBT lainnya yang tersedia di Indonesia adalah biomasa, energi
matahari dan energi kelautan. Besarnya potensi dan pemanfaatan energi
terbarukan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Potensi dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan
No

Energi Baru dan
Terbarukan
Sumber Daya Kapasitas Terpasang
Rasio
(%)
1 2 3 4 =3/2
1 Mini/Mikrohidro 500 MWe 86,1 MWe 17,22
2 Biomass 49.810 Mwe 445,0 MWe 0,89
3 Tenaga Surya 4,80 kWh/m
2
/hari 12,1 MWe -
4 Tenaga Angin 9.290 MWe 1,1 MWe 0,01
5 Kelautan 240 GWe 1,1 MWe 0,01
Sumber: Draft KEN 2010-2050

4.6 NUKLIR
Dalam RUPTL ini belum terdapat program pengembangan tenaga nuklir. Hal ini
terjadi karena dalam proses optimisasi pemilihan kandidat pembangkit, ternyata
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dapat bersaing dengan jenis
pembangkit baseload lainnya, yaitu PLTU batubara kelas 1.000 MW ultra
supercritical.
Kesulitan terbesar dalam merencanakan PLTN adalah tidak jelasnya biaya
kapital dan biaya O&M yang terkait dengan spent fuel disposal, dan biaya
decommisioning. Untuk biaya kapital misalnya, sebuah studi bersama antara
PLN dan sebuah perusahaan listrik dari luar negeri mengindikasikan biaya
pembangunan PLTN sebesar $ 1.700/kW (EPC saja) atau $ 2.300/kW (setelah
memperhitungkan biaya bunga pinjaman selama konstruksi). Angka tersebut
kini dipandang terlalu rendah, karena menurut laporan mutakhir (tahun 2009),


RUPTL 2011- 2020 51


biaya pembangunan PLTN pada beberapa negara telah mencapai US$ 3.500
hingga US$ 5.500 /kW.
Selain itu harga uranium dunia juga terus naik sejalan dengan kebangkitan
program tenaga nuklir pada banyak negara di dunia. Harga uranium yang pada
tahun 2006 adalah sekitar US$ 30/lb, saat ini telah mencapai US$ 130/lb.
Kenaikan harga uranium ini sebetulnya tidak banyak mempengaruhi
keekonomian PLTN mengingat beroperasinya PLTN hanya memerlukan
uranium dalam jumlah sedikit, namun tetap saja kenaikan harga uranium dunia
ini perlu terus dipantau.
Dengan semakin mahalnya harga BBM yang juga diikuti oleh kenaikan harga
energi primer lainnya seperti batubara dan gas alam, dan semakin nyatanya
ancaman emisi karbon terhadap perubahan iklim global, telah membuat PLTN
menjadi salah satu opsi sumber energi yang sangat menarik untuk ikut
memenuhi kebutuhan listrik Indonesia apabila biaya EPC, biaya pengelolaan
spent fuel dan biaya decomisioning telah menjadi semakin jelas.
Disadari bahwa pengambilan keputusan untuk membangun PLTN tidak
semata-mata didasarkan pada pertimbangan keekonomian dan keenergian,
namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik, keselamatan, penerimaan
sosial, budaya dan lingkungan. Apalagi dengan terjadinya kecelakaan PLTN
Fukushima Daichi pada bulan Maret 2011 yang sangat buruk dimana ribuan
penduduk yang semula bermukim di dekat PLTN tersebut harus diungsikan ke
daerah yang aman, telah menyebabkan eskalasi penentangan terhadap
pengembangan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. Dengan adanya
berbagai aspek yang multi dimensional tersebut, program pembangunan PLTN
hanya dapat diputuskan oleh Pemerintah.


52 RUPTL 2011- 2020


BAB V
RENCANA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK 2011 – 2020

5.1 KRITERIA PERENCANAAN
5.1.1 Perencanaan Pembangkit
5.1.1.1 Sistem Interkoneksi
Perencanaan sistem pembangkit bertujuan untuk mendapatkan konfigurasi
pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan
listrik termurah (least cost) dalam suatu kurun waktu periode perencanaan, dan
memenuhi kriteria keandalan tertentu. Konfigurasi termurah diperoleh melalui
proses optimasi suatu objective function yang mencakup NPV dari biaya
kapital, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya energy
not served. Selain itu diperhitungkan juga nilai sisa (salvage value) dari
pembangkit yang terpilih pada tahun akhir perioda studi. Simulasi dan
optimisasi dilakukan dengan menggunakan model yang disebut WASP (Wien
Automatic System Planning).
Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP)
lebih kecil dari 0.274%. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya
beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih
kecil dari 0.274%.
Perhitungan kapasitas pembangkit dengan kriteria LOLP menghasilkan reserve
margin tertentu yang nilainya tergantung pada tingkat ketersediaan (availability)
setiap unit pembangkit, jumlah unit, ukuran unit, dan jenis unit
37
.
Pada sistem J awa Bali, kriteria LOLP <0.274% adalah setara dengan reserve
margin >25-30% dengan basis daya mampu netto. Apabila dinyatakan dengan
daya terpasang, maka reserve margin yang dibutuhkan adalah sekitar 35%
38
.
Sedangkan untuk sistem-sistem di wilayah operasi Indonesia Timur dan Barat
ditetapkan sekitar 40% dengan mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih

37
Unit tenaga air yang outputnya sangat dipengaruhi oleh variasi musim mempunyai nilai EAF
(equivalent availability factor) yang berdampak besar pada LOLP dan ketercukupan energi.
38
Dengan asumsi derating pembangkit sekitar 5%.


RUPTL 2011- 2020 53


sedikit, derating yang prosentasenya lebih besar, dan pertumbuhan yang lebih
tinggi dibanding J awa Bali.
Pembangkit energi terbarukan, khususnya panasbumi dan tenaga air, dalam
proses optimisasi diperlakukan sebagai fixed system (dipaksa/ditetapkan
masuk sistem) pada tahun-tahun yang sesuai dengan kesiapan proyek
tersebut.
Rencana pengembangan kapasitas pembangkitan dibuat dengan
memperhitungkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan yang telah
committed
39
, baik proyek PLN maupun IPP, dan tidak memperhitungkan semua
pembangkit sewa serta excess power. Selain itu beberapa pembangkit
berbahanbakar minyak yang sudah tua, tidak efisien dan dapat digantikan
perannya dengan PLTU batubara, direncanakan akan dihapuskan (retired) atau
dibuat sebagai pembangkit stand by yang tidak dioperasikan tetapi tetap
dipelihara (mothballed).
Selanjutnya penambahan kapasitas pembangkit pemikul beban dasar
diutamakan berupa pembangkit berbahan bakar batubara, dan pembangkit
sumber energi terbarukan (panas bumi dan tenaga air non-reservoir).
Untuk kepentingan perhitungan proyeksi BPP jangka panjang, simulasi
produksi dilakukan dengan menggunakan neraca daya yang telah dimodifikasi
dengan mengeluarkan proyek-proyek pembangkit yang realisasinya
diperkirakan tidak pasti.
5.1.1.2 Sistem Kecil Tidak Interkoneksi / Isolated
Perencanaan pembangkitan pada sistem-sistem yang masih kecil dan belum
interkoneksi (isolated) tidak menggunakan metoda probabilistik maupun
optimisasi keekonomian, namun menggunakan metoda determinisitik. Pada
metoda ini, perencanaan dibuat dengan kriteria N-2, yaitu cadangan minimum
harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1 unit terbesar kedua.
Definisi cadangan disini adalah selisih antara daya mampu total pembangkit
yang ada dan beban puncak.

39
Yang dimaksud dengan proyek committed adalah proyek PLN yang telah jelas alokasi
pendanaannya, dan proyek IPP yang telah mempunyai Power Purchase Agreement (PPA) atau
paling tidak telah ada Head of Agreement (HOA).


54 RUPTL 2011- 2020


5.1.1.3 Life Extension dan Rehabilitasi Pembangkit Existing
Suatu pembangkit tenaga listrik didesain untuk beroperasi secara ekonomis
selama umur tekno-ekonomisnya (life-time). Sebuah unit pembangkit dapat
menjalani mid-life refurbishment untuk mempertahankan kapasitas, efisiensi,
menjaga kesiapan dan keandalan mesin yang sesuai sifatnya harus dipelihara
dan dilakukan penggantian parts yang aus. Kemudian, pada akhir umurnya
sebuah pembangkit masih dapat diperpanjang umurnya (life extension) dengan
melakukan rehabilitasi/refurbishment pada komponen-komponen tertentu.
RUPTL ini mencantumkan biaya investasi (capex) yang diperlukan untuk itu.
Keputusan untuk melakukan life-extension atau menutup/menghentikan suatu
pembangkit memerlukan kajian yang mencari solusi optimal antara opsi life
extension dan membangun pembangkit baru.

5.1.2 Perencanaan Transmisi
Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan N-1,
baik statis maupun dinamis. Kriteria N-1 statis mensyaratkan apabila suatu sirkit
transmisi padam, baik karena mengalami gangguan maupun dalam
pemeliharaan, maka sirkit-sirkit transmisi yang tersisa harus mampu
menyalurkan keseluruhan arus beban, sehingga kontinuitas penyaluran tenaga
listrik terjaga. Kriteria N-1 dinamis mensyaratkan apabila terjadi gangguan
hubung singkat 3 fasa yang diikuti oleh hilangnya satu sirkit transmisi maka
tidak menyebabkan kehilangan ikatan sinkron antara suatu kelompok generator
dan kelompok generator lainnya.
Penambahan kapasitas transmisi direncanakan untuk memperoleh
keseimbangan antara kapasitas pembangkitan dan kebutuhan beban,
disamping untuk mengatasi bottleneck, meningkatkan keandalan sistem, dan
memenuhi kriteria mutu tegangan tertentu.
Kriteria yang pada umumnya diterapkan dalam RUPTL ini adalah kebutuhan
penambahan kapasitas trafo di suatu GI ditentukan pada saat pembebanan
trafo mencapai 70%-80%.
J umlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh ketersediaan
lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang keluar yang dapat ditampung
oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut suatu GI dapat mempunyai 3 atau
lebih unit trafo. Sebuah GI baru diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak
dapat menampung pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut.


RUPTL 2011- 2020 55


Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan yang
baik di ujung jaringan tegangan menengah.
Pada RUPTL 2011-2020 ini juga direncanakan pembangunan GI minimalis,
yaitu sebuah GI dengan spesifikasi yang paling minimal (single busbar atau
bahkan tanpa busbar; peralatan proteksi & kontrol, supply AC/DC & battery
dikemas dalam kontainer; tanpa operator) dan konfigurasi GI taping (single pi
atau T) namun dapat terus dikembangkan hingga menjadi sebuah GI yang
lengkap/sempurna. Penerapan GI minimalis hanya dilakukan pada daerah yang
sudah dilalui transmisi 150 kV eksisting. Tujuan pembangunan GI minimalis ini
adalah untuk dapat mengambil alih beban sistem isolated secara lebih cepat
dari timing normal kebutuhan GI, pada sistem yang selama ini masih
dioperasikan dengan PLTD. GI minimalis juga dapat diterapkan untuk memasok
lokasi yang sebelumya dipasok dari jaringan 20 kV yang sangat panjang dan
mengalami drop tegangan yang besar.

5.1.3 Perencanaan Distribusi
Perencanaan sistem distribusi dibuat dengan memperhatikan kriteria sebagai
berikut:
• Membatasi panjang maksimum saluran distribusi (J TM dan J TR) untuk
menjaga agar tegangan pelayanan sesuai standar SPLN 72:1987.
• Konfigurasi J TM untuk kota-kota besar dapat berupa topologi jaringan yang
lebih andal seperti spindle, sementara konfigurasi untuk kawasan luar kota
minimal berupa saluran radial yang dapat dipasok dari 2 sumber.
• Mengendalikan susut teknis jaringan distribusi pada tingkat yang optimal.
• Program listrik desa dilaksanakan dalam kerangka perencanaan sistem
kelistrikan secara menyeluruh dan tidak memperburuk kinerja jaringan dan
biaya pokok penyediaan.
Selain itu perencanaan sistem distribusi juga diarahkan untuk meningkatkan
kontinuitas pasokan kepada pelanggan (menekan SAIDI dan SAIFI) dengan
upaya:
• Membangun SCADA Distribusi untuk ibukota propinsi dan kota-kota lain
yang minimal dipasok oleh 2 Gardu Induk dan 15 feeder,


56 RUPTL 2011- 2020


• Mengoptimalkan pemanfaatan recloser atau AVS yang terpasang di SUTM,
dikoordinasikan dengan reclosing relay penyulang di GI. Memonitor
pengoperasian recloser atau AVS, dan menyempurnakan metode
pemeliharaan-periodiknya.
• Dimungkinkan menggunakan DAS (Distribution Automation System) pada
daerah yang sangat padat beban dan potensi pendapatan tinggi.
Sasaran perencanaan sistem distribusi adalah menyediakan sarana
pendistribusian tenaga listrik yang cukup, andal, berkualitas, efisien, dan susut
teknis wajar.
Perencanaan kebutuhan fisik jaringan distribusi dikelompokkan dalam dua
kegiatan, yaitu penyambungan pelanggan dan perkuatan distribusi dengan
perincian sebagai berikut:
– Perluasan sistem distribusi untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan
energi listrik
– Mempertahankan/meningkatkan keandalan (reliability) dan kualitas
pelayanan tenaga listrik pada pelanggan (power quality).
– Menurunkan susut teknis jaringan
– Rehabilitasi jaringan tua.
– Pengembangan dan perbaikan sarana pelayanan
Kebutuhan fisik yang diperlukan untuk perluasan sistem distribusi dalam rangka
mengantisipasi pertumbuhan beban puncak sebagai akibat pertumbuhan
penjualan energi merupakan fungsi dari beberapa variabel yaitu antara lain:
– Beban puncak di sisi tegangan menengah (TM) dan tegangan rendah (TR),
– Luas area yang dilayani,
– Distribusi beban (tersebar merata, terkonsentrasi, dsb),
– J atuh tegangan maksimum yang diperbolehkan pada jaringan,
– Ukuran penampang konduktor yang dipergunakan,
– Fasilitas sistem distribusi terpasang (jaringan tegangan menengah/J TM,
gardu distribusi/GD, jaringan tegangan rendah/J TR, automatic voltage
regulator/AVR dsb).
Dengan didorongnya pengembangan energi terbarukan oleh pemerintah seperti
dimaksud dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2009, maka
pembangkit energi terbarukan sampai dengan 10 MW dapat tersambung
langsung ke jaringan distribusi. Penyambungan pembangkit tersebut harus
memenuhi ketentuan Aturan Distribusi (Distribution Code).


RUPTL 2011- 2020 57



5.2 ASUMSI DALAM PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Merujuk pada Pasal 28 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009
tentang Ketenagalistrikan, PLN selaku Pemegang Ijin Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik untuk Umum wajib menyediakan tenaga listrik secara terus-
menerus, dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu dan keandalan yang
baik. Dengan demikian PLN harus mampu melayani kebutuhan tenaga listrik
saat ini maupun di masa yang akan datang agar PLN dapat memenuhi
kewajiban yang diminta oleh Undang-Undang tersebut. Sebagai langkah awal
PLN harus dapat memperkirakan kebutuhan tenaga listrik paling tidak hingga
10 tahun ke depan.
Kebutuhan tenaga listrik pada suatu daerah didorong oleh tiga faktor utama,
yaitu pertumbuhan ekonomi, program elektrifikasi dan pengalihan captive power
ke jaringan PLN.
Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian yang sederhana adalah proses
meningkatkan output barang dan jasa. Proses tersebut memerlukan tenaga
listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya, disamping input-input
barang dan jasa lainnya. Disamping itu hasil dari pertumbuhan ekonomi adalah
peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong peningkatan permintaan
barang-barang / peralatan listrik seperti radio, TV, AC, lemari es dan lainnya.
Akibatnya permintaan tenaga listrik akan meningkat.
Faktor kedua adalah program elektrifikasi. Sebagai upaya PLN untuk
mendukung program pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi maka
PLN perlu melistriki semua masyarakat yang ada dalam wilayah usahanya. Hal
ini secara langsung akan menjaga eksistensi wilayah usaha PLN dan sekaligus
meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, khususnya pada daerah-daerah
yang telah menjadi wilayah usaha PLN.
PLN dalam RUPTL ini berencana untuk menambah pelanggan baru yang
besar, yaitu rata-rata 2,6 juta per tahun, sehingga rasio elektrifikasi akan
mencapai 94% pada tahun 2020. Penambahan pelanggan baru tersebut tidak
hanya mencakup mereka yang berada di wilayah usaha PLN saat ini tetapi juga
mencakup mereka yang berada di luar wilayah usaha.
Faktor ketiga yang menjadi pendorong pertumbuhan permintaan tenaga listrik
PLN adalah pengalihan dari captive power (penggunaan pembangkit sendiri


58 RUPTL 2011- 2020


berbahan bakar minyak) menjadi pelanggan PLN. Captive power ini timbul
sebagai akibat dari ketidakmampuan PLN memenuhi permintaan pelanggan di
suatu daerah, terutama pelanggan industri dan bisnis. Bilamana kemampuan
PLN untuk melayani di daerah tersebut telah meningkat, maka captive power ini
dengan berbagai pertimbangannya akan beralih menjadi pelanggan PLN.
Pengalihan captive power ke PLN juga didorong oleh tingginya harga BBM
untuk membangkitkan tenaga listrik milik konsumen industri / bisnis, sementara
harga jual listrik PLN relatif lebih murah. Faktor ketiga ini sangat bergantung
kepada kemampuan pasokan PLN di suatu daerah/sistem kelistrikan dan
skema bisnis jual beli listrik PLN dengan captive power, jadi tidak berlaku
umum.
Faktor lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kebutuhan listrik adalah
kemampuan finansial perusahaan untuk melakukan investasi dalam rangka
melayani kebutuhan pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan pasokan
listrik yang cukup dan andal. Penyambungan pelanggan baru tergantung dari
ketersediaan pendanaan.
Penyusunan prakiraan kebutuhan listrik dibuat dengan menggunakan sebuah
model prakiraan beban yang disebut “Simple-E”. Model ini merupakan metode
regresi yang menggunakan data historis dari penjualan energi listrik, daya
tersambung, jumlah pelanggan, pertumbuhan ekonomi, dan populasi untuk
membentuk persamaan yang fit. Kemudian untuk memproyeksikan kebutuhan
listrik ke depan dipilih variabel bebas yang mempunyai pengaruh besar
(korelasi yang kuat) terhadap permintaan listrik, yaitu pertumbuhan ekonomi
dan populasi. Dalam hal terdapat daftar tunggu yang cukup besar, maka
digunakan juga daya tersambung sebagai variabel. Aplikasi ini dilengkapi juga
dengan fasilitas melihat tingkat ketelitian dari model yang dibentuk seperti
parameter tingkat korelasi, dan uji statistik.

5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 11 tahun terakhir yang
dinyatakan dalam produk domestik bruto (PDB) dengan harga konstan tahun
2000 mengalami kenaikan rata-rata 5,18% per tahun, atau lebih rendah
dibandingkan pertumbuhan 4 tahun terakhir yang mencapai 5,5% – 6,32%
seperti diperlihatkan pada Tabel 5.1.




RUPTL 2011- 2020 59


Tabel 5. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
PDB 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
PDB (Triliun Rp) 1.39 1.44 1.50 1.57 1.66 1.75 1.85 1.96 2.08 2.17 2.22
Growth PDB (%) 4,90 3,83 4,31 4,78 5,05 5,67 5,50 6,32 6,06 4,50 6,08
Sumber: Statistik Indonesia, BPS

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang relatif rendah (4,5%) sebagaimana
terlihat pada tabel 5.1 disebabkan oleh imbas krisis financial global yang terjadi
pada tahun 2008 dan berlanjut ke 2009. Perekonomian Indonesia kembali pulih
pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6,1%. Pemerintah memandang
pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik sebagaimana dituangkan dalam
Rencana Pembangunan J angka Menengah Nasional (RPJ MN) 2011-2014.
Memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi tersebut diatas, maka RUPTL
ini mengadopsi asumsi pertumbuhan ekonomi nasional yang digunakan dalam
RPJ MN 2011-2014 dan Draft RUKN 2010 – 2029 untuk periode diatas 2014
sebesar 6,9% per tahun, selanjutnya oleh PLN angka tersebut dijabarkan
menjadi seperti diperlihatkan pada Tabel 5.2.

Tabel 5. 2 Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Wilayah 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Indonesia 6,2 6,5 7,2 7,4 6,9 6,9 6,9 6,9 6,9 6,9
J awa Bali 6,1 6,3 7,0 7,2 6,7 6,7 6,7 6,7 6,7 6,7
Luar J awa Bali 7,3 7,7 8,5 8,8 8,2 8,2 8,2 8,2 8,2 8,2

5.2.2 Pertumbuhan Penduduk
J umlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237,6 juta orang dan
jumlah rumah tangga 61,4 juta KK berdasar sensus penduduk tahun 2010.
Sedangkan untuk memperkirakan jumlah penduduk hingga tahun 2020 PLN
menggunakan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh Bappenas
dan Badan Pusat Statistik dalam buku ”Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-
2025” [1] edisi tahun 2008.
Pada Tabel 5.3 dapat dilihat perkiraan pertumbuhan penduduk untuk J awa-Bali,
luar J awa-Bali dan Indonesia sepuluh tahun mendatang.


60 RUPTL 2011- 2020


Tabel 5. 3 Pertumbuhan Penduduk (%)
Tahun Indonesia J awa - Bali
Luar J awa
Bali

2011 1,18 0,92 1,56
2012 1,15 0,90 1,53
2013 1,12 0,87 1,49
2014 1,09 0,84 1,46
2015 1,06 0,81 1,42
2016 1,03 0,78 1,39
2017 1,00 0,75 1,35
2018 0,96 0,71 1,31
2019 0,92 0,67 1,26
2020 0,88 0,63 1,22
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025” [1]

5.3 PRAKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK 2011 - 2020
Menunjuk asumsi-asumsi pada butir 5.2, kebutuhan tenaga listrik selanjutnya
diproyeksikan dan hasilnya diberikan pada Tabel 5.5. Dari tabel tersebut dapat
dilihat bahwa kebutuhan energi listrik pada tahun 2020 akan menjadi
328,3 TWh, atau tumbuh rata-rata 8,5% per tahun. Sedangkan beban puncak
non coincident pada tahun 2020 akan menjadi 55.053 MW atau tumbuh rata-
rata sebesar 8,14% per tahun.

Tabel 5. 4 Pertumbuhan Ekonomi, Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik dan
Beban Puncak Periode 2010 – 2020

Tahun Pertumbuhan Sales J umlah Beban
Ekonomi TWh
Puncak
(non-coincident)
% MW
2010 6,1 145,7 25.177
2011 6,2 162,4 27.792
2012 6,5 177,8 30.345
2013 7,2 193,4 32.856
2014 7,4 210,1 35.456
2015 6,9 227,6 38.361
2016 6,9 246,2 41.444
2017 6,9 264,6 44.496
2018 6,9 284,4 47.768
2019 6,9 305,7 51.301
2020 6,9 328,3 55.053


RUPTL 2011- 2020 61


Proyeksi jumlah pelanggan pada tahun 2011 adalah sebesar 45,8 juta dan akan
bertambah menjadi 69,0 juta pada tahun 2020 atau bertambah rata-rata 2,7 juta
per tahun. Penambahan pelanggan tersebut akan meningkatkan rasio
elektrifikasi dari 71,9% pada tahun 2011 menjadi 94,4% pada tahun 2020.
Proyeksi jumlah penduduk, pertumbuhan pelanggan dan rasio elektrifikasi
diperlihatkan pada Tabel 5.5.

Tabel 5. 5 Proyeksi Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Pelanggan dan
Rasio Elektrifikasi Periode 2011 – 2020

Tahun Penduduk Pelanggan Rasio Elek.
Rasio
Elek
RUKN
J uta J uta %
%
2011 241.0 45.8 71.9
2012 243.9 48.2 74.4
2013 246.9 50.8 77.1
2014 249.7 53.4 79.9
83.2
2015 252.5 56.1 82.7
2016 255.3 58.8 85.5
2017 258.0 61.4 87.9
2018 260.7 64.1 90.3
2019 262.6 66.7 92.7
92.2
2020 264.9 69.0 94.4


Dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah dalam
RUKN tahun 2008-2027, rasio elektrifikasi dalam RUPTL ini pada tahun 2015
diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi daripada RUKN (0,3%) sebagaimana
dapat dilihat pada Tabel 5.5.









62 RUPTL 2011- 2020


Tabel 5. 6 Prakiraan Kebutuhan Listrik, Angka Pertumbuhan dan Rasio Elektrifikasi

Unit

2011

2012

2014

2016

2018

2020
1.Energy Demand
- Indonesia
- Jawa-Bali
- Indonesia Timur
- Indonesia Barat

2.Pertumbuhan
- Indonesia
- Jawa-Bali
- Indonesia Timur
- Indonesia Barat

3.Rasio Elektrifikasi
- Indonesia
- Jawa-Bali
- Indonesia Timur
- Indonesia Barat

TWh





%





%

162,4
125,2
13,1
24,0


11,5
10,4
16,4
14,5


71,9
72,8
65,5
74,3

177,8
135,8
15,1
26,9


9,5
8,4
15,1
12,0


74,4
75,4
67,6
76,7

210,1
158,5
18,7
32,9


8,6
8,0
10,6
10,4


79,9
81,5
72,1
81,5

246,2
184,5
22,4
39,3


8,2
7,9
9,2
9,1


85,5
88,1
76,7
85,0

284,4
211,1
26,6
46,6


7,5
7,0
9,2
8,8


90,3
93,7
81,3
88,2


328,3
241,2
31,7
55,3


7,4
6,8
9,1
9,0


94,4
97,8
86,4
91,6

Proyeksi prakiraan kebutuhan listrik periode 2011–2020 ditunjukkan pada Tabel
5.6 dan Gambar 5.1. Pada periode 2011-2020 kebutuhan listrik sistem J awa
Bali diperkirakan akan meningkat dari 125,2 TWh pada tahun 2011 menjadi
241,2 TWh pada tahun 2020, atau tumbuh rata-rata 7,8% per tahun. Untuk
Indonesia Timur pada periode yang sama kebutuhan listrik akan meningkat dari
13,1 TWh menjadi 31,7 TWh atau tumbuh rata-rata 10,8% per tahun. Wilayah
Indonesia Barat tumbuh dari 24,0 TWh pada tahun 2011 menjadi 55,3 TWh
pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 10,2% per tahun.
IB : 10,2%
24
TWh
55
TWh
IT : 10,8%
13
TWh
31
TWh
JB : 7,8%
125
TWh
241
TWh
2011 2020

Gambar 5.1 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011 dan 2020


RUPTL 2011- 2020 63


Proyeksi penjualan tenaga listrik per kelompok pelanggan dapat dilihat pada
Gambar 5.2. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada sistem J awa Bali
kelompok pelanggan industri mempunyai porsi yang sangat besar, yaitu 40%
dari total penjualan. Sedangkan di Indonesia Timur dan Indonesia Barat porsi
pelanggan industri adalah cukup kecil, yaitu masing-masing hanya 10% dan
17%. Pelanggan residensial masih mendominasi penjualan hingga tahun 2020,
yaitu 59% untuk Indonesia Timur dan 60% untuk Indonesia Barat.
Residensial
Bisnis
Publik
Industri
0
50,000
100,000
150,000
200,000
250,000
300,000
350,000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Indonesia
Residensial
Bisnis
Publik
Industri
0
50,000
100,000
150,000
200,000
250,000
300,000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Jawa‐Bali
Residensial
Bisnis
Publik
Industri
0
5,000
10,000
15,000
20,000
25,000
30,000
35,000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Indonesia Timur
Residensial
Bisnis
Publik
Industri
0
10,000
20,000
30,000
40,000
50,000
60,000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Indonesia Barat

Gambar 5.2 Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN Tahun 2011-2020
Proyeksi penjualan pada RUPTL 2011-2020 sedikit lebih tinggi daripada draft RUKN 2010-
2029, namun lebih rendah daripada RUKN 2008-2027 seperti terlihat pada Gambar 5.3.

50.0
100.0
150.0
200.0
250.0
300.0
350.0
400.0
450.0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
RUPTL RUKN 08‐27 RUKN 10‐29

Gambar 5.3 Perbandingan Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik RUPTL dan RUKN


64 RUPTL 2011- 2020


5.4 RENCANA PENGEMBANGAN PEMBANGKIT
5.4.1 Kategorisasi Kandidat Pembangkit
5.4.1.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Kandidat pembangkit yang digunakan pada simulasi penambahan pembangkit
di Indonesia Barat dan Timur cukup bervariasi tergantung kepada kapasitas
sistem. Untuk sistem Sumatera misalnya, kandidat PLTU batubara adalah
100 MW, 200 MW, 300 MW dan 400 MW. PLTG pemikul beban puncak 100
MW. Untuk sistem Kalimantan dan Sulawesi, kandidat PLTU batubara adalah
25 MW, 50 MW dan 100 MW dengan PLTG pemikul beban puncak 25-30 MW
dan 50 MW. Sistem lainnya menggunakan kandidat pembangkit yang lebih
kecil.
5.4.1.2 Sistem J awa-Bali
Pada sistem J awa-Bali, kandidat pembangkit yang dipertimbangkan untuk
rencana pengembangan adalah PLTU batubara ultra supercritical kelas 1.000
MW dan supercritical 600 MW, PLTGU LNG/gas alam 750 MW, PLTG BBM
pemikul beban puncak 200 MW dan PLTA Pumped Storage 250 MW
40
. Selain
itu terdapat beberapa PLTP kelas 55 MW dan 110 MW, serta PLTA. PLTN jenis
pressurised water reactor kelas 1.000 MW juga disertakan sebagai kandidat
dalam model optimisasi perencanaan pembangkitan.
Pemilihan ukuran unit PLTU batubara untuk sistem J awa-Bali sebesar
1.000 MW per unit didasarkan pada pertimbangan efisiensi
41
dan kesesuaian
dengan ukuran sistem tenaga listrik J awa-Bali yang beban puncaknya sudah
akan melampaui 25.000 MW.
Asumsi harga bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 5.7.







40
Mengacu pada desain PLTA Pumped Storage Upper Cisokan
41
Mengambil benefit dari economies of scale dan menggunakan teknologi boiler supercritical yang mempunyai
efisiensi jauh lebih tinggi daripada teknologi subcritical.


RUPTL 2011- 2020 65



Tabel 5. 7 Asumsi Harga Bahan Bakar
J enis Energi Primer Harga Nilai Kalor
Batubara – Sub Bituminous USD 80/Ton 5.100 kcal/kg
Batubara – Lignite USD 50/Ton 4.200 kcal/kg
Batubara – Lignite di Mulut Tambang USD 35/Ton 4.200 kcal/kg
Gas alam USD 6/MMBTU 252.000 kcal/Mscf
LNG USD 10/MMBTU 252.000 kcal/Mscf
HSD *) USD 0,78/Liter 9.070 kcal/l
MFO *) USD 0,62/Liter 9.370 kcal/l
Uap Panas Bumi
(tidak mempengaruhi hasil simulasi perencanaan
karena diperlakukan sebagai fixed plant)
Uranium USD 120/lb

*) Harga tersebut adalah untuk harga crude oil US$95/barrel

5.4.2 Program Percepatan Pembangkit Berbahan bakar Batubara
(Perpres No. 71/2006 jo Perpres No.59/2009)
Dengan Peraturan Presiden No.71 tahun 2006 yang direvisi dengan Peraturan
Presiden No. 59 tahun 2009, Pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero)
untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebanyak
kurang lebih 10.000 MW untuk memperbaiki fuel mix dan sekaligus juga
memenuhi kebutuhan demand listrik di seluruh Indonesia. Program ini dikenal
sebagai “Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW”. Berdasar penugasan
tersebut PLN pada saat ini tengah membangun sejumlah proyek pembangkit
dengan kapasitas dan perkiraan tahun operasi diperlihatkan pada Tabel 5.8.











66 RUPTL 2011- 2020



Tabel 5. 8 Daftar Proyek Percepatan Pembangkit 10.000 MW
(Peraturan Presiden No.71/2006 jo Perpres No.59/2009)
Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Tahun
Operasi

Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Tahun
Operasi
PLTU 2 di Banten (Labuan) 2x315 2009-2010
PLTU di Sumbar
(Teluk Sirih)
2x112 2012-2013
PLTU di J abar Utara
(Indramayu)
3x330 2011
PLTU di Lampung
(Tarahan Baru)
2x100 2012
PLTU 1 di Banten
(Suralaya Unit 8)
1x625 2011
PLTU 1 di Kalbar
(Parit Baru)
2x50 2012
PLTU 3 di Banten (Lontar) 3x315 2011-2012
PLTU di Kaltim
(Kariangau)
2x100 2013-2014
PLTU di J abar Selatan
(Pelabuhan Ratu)
3x350 2012-2013
PLTU 1 di Kalteng
(Pulang Pisau)
2x60 2012-2013
PLTU 1 di J ateng
(Rembang)
2x315 2011
PLTU di Kalsel
(Asam-Asam)
2x65 2011
PLTU 2 di J ateng (PLTU
Adipala)
1x600 2014
PLTU 2 di Sulut
(Amurang)
2x25 2011
PLTU 1 di J atim (Pacitan) 2x315 2012

PLTU di Gorontalo 2x25 2012-2013
PLTU 2 di J atim (Paiton
Unit 9)
1x660 2012
PLTU di Maluku Utara
(Tidore)
2x7 2012
PLTU 3 di J atim
(Tanjung Awar-awar)
2x300 2013
PLTU 2 di Papua
(J ayapura)
2x10 2012
PLTU di NAD (Meulaboh) 2x110 2012
PLTU 1 di Papua
(Timika)
2x7 Batal
PLTU 2 di Sumut
(Pangkalan Susu)
2x220 2012
PLTU di Maluku
(Ambon)
2x15 2012-2013
PLTU 1 di Riau (Bengkalis) 2x10 2012

PLTU di Sultra (Kendari) 2x10 2011-2012
PLTU Tenayan di Riau 2x110 2014

PLTU di Sulsel (Barru) 2x50 2012
PLTU di Kepri (Tanjung
Balai)
2x7 2011
PLTU 2 di NTB
(Lombok)
2x25 2012
PLTU 4 di Babel (Belitung) 2x16.5 2012

PLTU 1 di NTT (Ende) 2x7 2012
PLTU 3 di Babel (Air
Anyer)
2x30 2010-2011
PLTU 2 di NTT
(Kupang)
2x15 2012
PLTU 2 di Riau (Selat
Panjang)
2x5 Batal

PLTU 1 di NTB (Bima) 2x10 2012
PLTU 2 di Kalbar (Pantai
Kura-Kura)
2x27,5 2012-2013

PLTU 1 Sulut 2x25 2014
PLTU di Sumbar
(Teluk Sirih)
2x112 2012-2013

PLTU 2 di Kalteng 2x7 Batal

Sampai dengan Desember 2010 pembangunan Proyek PerPres 71 yang telah
selesai dan beroperasi komersial adalah hanya PLTU Labuan Unit 1 dan unit 2
(2x300 MW), sedangkan pembangkit lain yang semula dijadwalkan selesai


RUPTL 2011- 2020 67


dalam tahun 2010 ternyata mundur ke tahun 2011 sebesar 4.165 MW, yaitu
Suralaya Unit 8 (625 MW), Indramayu Unit 1-2-3 (3x330 MW), Lontar 1-2
(2x315 MW) dan Rembang unit 1-2 (2x315 MW).
Pada tahun 2012 dijadwalkan proyek-proyek sebanyak 1.365 MW berikut akan
beroperasi: Pacitan 1-2 (2x315MW), Paiton baru (660 MW), Lontar Unit 3 (315
MW), Pelabuhan Ratu 1-2 (2x350 MW), dan Tanjung Awar-awar 1 (350 MW).
Sedangkan pada tahun 2013 akan beroperasi PLTU Pelabuhan Ratu 3 (350
MW) dan Tanjung Awar-awar 2 (350 MW), dan selanjutnya pada 2014 akan
beroperasi PLTU Adipala (660 MW).
Proyek-proyek pembangkit PerPres 71 di J awa Bali mengalami keterlambatan
rata-rata 1 tahun, sedangkan proyek-proyek di luar J awa Bali akan mengalami
keterlambatan lebih dari itu. Keterlambatan tersebut terutama disebabkan oleh
financing yang terlambat dan permasalahan konstruksi.
Untuk Indonesia Barat dan Timur proyek pembangkit yang akan mulai
beroperasi 2011 adalah PLTU Tanjung Balai Karimun, PLTU Tarahan, PLTU
Bangka, PLTU Asam-Asam, PLTU 2 Sulut, dan PLTU Kendari, sedangkan
sebagian besar akan beroperasi tahun 2012-2013.

5.4.3 Program Percepatan Pembangkit Tahap 2
Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 (FTP2) yang ditetapkan dengan
Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No. 02/2010 jo No. 15/2010 mencakup PLTU batubara
3.391 MW, PLTP 3.967 MW, PLTGU 860 MW, PLTG 100 MW dan PLTA 1.204
MW, dengan kapasitas total 9.522 MW.
Dalam perjalanannya proyek-proyek yang termasuk dalam program tersebut
banyak mengalami keterlambatan dan beberapa telah diusulkan kepada
Kementerian ESDM untuk dibatalkan karena masalah-masalah seperti
kekurangan pasokan gas dan ketidaksiapan pengembangan panas bumi.
Proyek-proyek yang diusulkan untuk dibatalkan adalah PLTGU Muara Tawar
add-on Blok 3-4, PLTU Bali Timur, PLTP Darajat, PLTP Salak, PLTGU Senoro,
PLTU Masohi, PLTU Waingapu, PLTU Moutong. Selain itu juga terdapat proyek
yang diusulkan untuk dikeluarkan dari FTP2 karena akan didanai dengan APBN
yaitu PLTU Sampit, PLTU Kotabaru, PLTU Tidore dan PLTG Kaltim (peaking).


68 RUPTL 2011- 2020


Di samping itu juga terdapat beberapa proyek yang berubah status dan jadwal
yaitu PLTGU Bangkanai (IPP) menjadi PLTG Bangkanai (PLN), beberapa
PLTU kecil menjadi PLTGB dan hampir semua PLTP terlambat.
Selain mengusulkan pembatalan beberapa proyek, PLN juga mengusulkan
tambahan beberapa proyek pembangkit EBT seperti PLTA dan PLTP yang baru
saja memperoleh penetapan WKP oleh Kementerian ESDM berikut transmisi
terkaitnya. Proyek PLTA yang diusulkan sebesar 516 MW antara lain PLTA
Rajamandala, PLTA Bonto Batu, PLTA Malea, PLTA Wampu, PLTA Semangka,
PLTA Hasang dan PLTA Peusangan-4. Sedangkan proyek PLTP yang
diusulkan sebesar 885 MW antara lain PLTP Gunung Endut, PLTP Gunung
Ciremai, PLTP Suoh Sekincau, PLTP Wai Ratai, PLTP Danau Ranau, PLTP
Simbolon Samosir, PLTP Sipoholon Ria-Ria, PLTP Bonjol dan PLTP Mataloko.
Usulan perubahan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2010 yang telah
disampaikan PLN diberikan pada Tabel 5.9 dengan komposisi PLTU batubara
3.025 MW, PLTP 4.870 MW, PLTG 280 MW, PLTGB 64 MW dan PLTA 1.753
MW dengan kapasitas total 9.992 MW untuk jangka waktu sampai dengan
tahun 2019.
Tabel 5. 9 Rekap Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2
Pemilik Satuan PLTA PLTG PLTGB PLTP PLTU J umlah
PLN MW 1,269 280 64 340 1,804 3,757
IPP MW 484 0 0 4,530 1,221 6,235
J umlah MW 1,753 280 64 4,870 3,025 9,992

Porsi pembangkit EBT (PLTP dan PLTA) dalam FTP2 sesuai Tabel 5.9 akan
menjadi 66%. Pengembangan panas bumi sebanyak itu selama 10 tahun ke
depan merupakan suatu rencana pengembangan yang relatif sangat besar
untuk PLTP dengan jumlah investasi yang sangat tinggi
42
. Pengembangan ini
merupakan bagian dari rencana yang lebih besar lagi dalam RUPTL 2011-2020
ini yang mencapai 6.247 MW hingga tahun 2020.
Program Percepatan Pembangkit Tahap 2 sebesar 9.992 MW tersebut terdiri
atas 3.757 MW sebagai proyek PLN dan 6.235 MW sebagai proyek IPP.
Namun demikian alokasi proyek Program Percepatan Pembangkit Tahap 2

42
Kebutuhan investasi sekitar US$ 9 milyar jika biaya pengembangan US$ 2.500/kW.


RUPTL 2011- 2020 69


tersebut masih akan tergantung pada hasil kajian kemampuan keuangan PLN
dalam membuat pinjaman baru.

5.4.4 Program Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) berdasarkan
PerPres No. 67/2005 jo PerPres No. 13/2010.
Pada saat ini terdapat 7 proyek yang terdapat dalam buku KPS 2011 seperti
dalam tabel 5.10.
Tabel 5. 10 Proyek yang terdapat dalam Buku KPS 2011
No Nama Proyek Kapasitas Provinsi Status Keterangan
1 PLTU J ateng 2x1000 MW J ateng Sudah Tender Sudah PPA
2 PLTU J ambi 2x400 MW J ambi Prioritas
Solicited karena ada dalam
RUPTL 2010-2019
3 PLTU Sumsel-9 2x600 MW Sumsel Potensial Solicited
4 PLTU Sumsel-10 600 MW Sumsel Potensial Solicited
5 PLTU Kaltim 2x100 MW Kaltim Potensial Solicited
6 PLTU Sulut 2x55 MW Sulut Potensial Solicited
7 PLTA Karama 450 MW Sulbar Prioritas
Unsolicited Usulan Pemprov
Sulbar
PLN mengusulkan proyek nomor 1 s.d. 6 sebagai proyek KPS.

5.4.5 Rencana Pengembangan PLTU Batubara Mulut Tambang
Dalam RUPTL 2011-2020 terdapat rencana pembangunan 7.310 MW PLTU
batubara mulut tambang di Sumatera sampai dengan tahun 2020, yang terdiri
dari 6.510 MW akan dikembangkan oleh IPP dan 800 MW oleh PLN.
Memperhatikan lokasi PLTU mulut tambang yang berada di dekat sumber
batubara yang tidak mempunyai akses untuk mentransportasi batubara keluar
dari sumber batubara tersebut dalam volume yang besar, PLN telah
mengusulkan agar harga batubara untuk PLTU mulut tambang tidak ditetapkan
berdasarkan harga pasar, melainkan berdasarkan biaya produksi batubara plus
margin, dan harga tersebut berlaku sepanjang umur PPA (locked-in).
5.4.6 Rencana Penambahan Kapasitas (Gabungan Indonesia)
Rencana penambahan kapasitas pembangkit gabungan seluruh Indonesia
ditunjukkan pada Tabel 5.11. Kapasitas tersebut hanya meliputi pembangkit –
pembangkit yang direncanakan untuk sistem-sistem besar (interkoneksi), dan
sudah mencakup Program Percepatan Pembangkit Tahap 1 dan 2.


70 RUPTL 2011- 2020


Tabel 5. 11 Kebutuhan Tambahan Pembangkit Total Indonesia (MW)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
PLN
PLTU 3,774 4,112 2,971 1,426 1,570 250 1,110 898 1,404 1,522 19,036
PLTP 24 63 55 13 235 83 20 20 20 220 752
PLTGU 444 743 116 - - - - - 750 750 2,803
PLTG 222 405 1,030 790 140 30 85 480 75 630 3,887
PLTD - 1 33 41 41 22 - 22 17 18 194
PLTM 4 17 30 49 7 3 5 5 2 2 123
PLTA 8 20 - 4 242 558 541 279 294 - 1,945
PS - - - - - 1,040 - - 450 950 2,440
PLTGB - 12 49 27 20 7 19 14 6 10 164
PLTB - - - 1 - - - - - - 1
PLTS 1 0 - 5 - - - - - - 6
PLTH - - - 2 - - 1 - 1 - 3
Total 4,477 5,372 4,283 2,357 2,254 1,992 1,780 1,718 3,019 4,102 31,353
IPP -
PLTU 924 1,029 102 1,521 2,719 4,582 3,675 1,110 425 450 16,537
PLTP - - 60 245 855 343 937 1,270 1,590 195 5,495
PLTGU 150 130 180 - - - - - - - 460
PLTG - 104 102 - - - - - - - 206
PLTD - - - - - - - - - - -
PLTM 16 22 204 90 44 1 1 - - - 378
PLTA 10 200 8 45 70 246 40 83 - 135 837
PS - - - - - - - - - - -
PLTGB 6 20 32 16 2 - 3 - - - 79
PLTB - - - - - - - - - - -
PLTS - - - - - - - - - - -
PLTH - - - - - - - - - - -
Total 1,106 1,505 688 1,917 3,690 5,172 4,656 2,463 2,015 780 23,992
PLN+IPP -
PLTU 4,698 5,141 3,073 2,947 4,289 4,832 4,785 2,008 1,829 1,972 35,573
PLTP 24 63 115 258 1,090 426 957 1,290 1,610 415 6,247
PLTGU 594 873 296 - - - - - 750 750 3,263
PLTG 222 509 1,132 790 140 30 85 480 75 630 4,093
PLTD - 1 33 41 41 22 - 22 17 18 194
PLTM 20 38 234 139 51 4 6 5 2 2 501
PLTA 18 220 8 49 312 804 581 362 294 135 2,782
PS - - - - - 1,040 - - 450 950 2,440
PLTGB 6 32 81 43 22 7 22 14 6 10 243
PLTB - - - 1 - - - - - - 1
PLTS 1 0 - 5 - - - - - - 6
PLTH - - - 2 - - 1 - 1 - 3
Total 5,583 6,877 4,971 4,274 5,944 7,164 6,436 4,181 5,034 4,882 55,345


Tabel 5.11 menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
– Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun mendatang (periode
2011 – 2020) untuk seluruh Indonesia adalah 55,8 GW atau pertambahan
kapasitas rata-rata mencapai 5,6 GW per tahun.
– Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 31,4 GW atau
56,1% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Partisipasi swasta
direncanakan sebesar 24,5 GW atau 43,9%.
– PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun,
yaitu mencapai 35,6 GW atau 63,7%, sementara PLTGU gas dengan
kapasitas 3,3 GW atau 5,8%. Untuk energi terbarukan, yang terbesar
adalah panas bumi sebesar 6,2 GW atau 11,2% dari kapasitas total, disusul
oleh PLTA sebesar 6,1 GW atau 11,1%.
5.4.7 Penambahan Kapasitas Pembangkit Pada Wilayah Operasi
Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Sistem PLN di wilayah operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur terdiri dari
5 sistem interkoneksi, yaitu: (1) Sistem Sumatra, (2) Sistem Kalimantan Barat,


RUPTL 2011- 2020 71


(3) Sistem Kalimatan Selatan-Tengah-Timur, (4) Sistem Sulawesi Utara dan (5)
Sistem Sulawesi Selatan.
Di luar sistem interkoneksi tersebut pada saat ini terdapat 4 sistem isolated
yang cukup besar dengan beban puncak di atas 50 MW, yaitu Bangka,
Lombok, Tanjung Pinang dan Palu, dan terdapat beberapa sistem isolated
dengan beban puncak di atas 10 MW, yaitu J ayapura, Sorong, Ambon, Ternate,
Kupang, Sumbawa, Bima, Luwuk, Gorontalo, Kendari, Kolaka, Bau-Bau,
Bontang, Sampit, Pangkalan Bun, Sintang, Ketapang, Belitung, Rengat,
Tanjung Balai Karimun, Sungai Penuh, Takengon, Meulaboh.
5.4.5.1 Garis besar Penambahan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia
Barat dan Indonesia Timur
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020
diperlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15.916 MW di Indonesia
Barat dan 7.781 MW di Indonesia Timur, termasuk committed dan ongoing
projects seperti ditunjukkan pada Tabel 5.12 dan Tabel 5.13.
Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa pengembangan pembangkit hingga tahun
2020 di Indonesia Barat yang dilakukan oleh PLN adalah sebanyak 8,3 GW
(52,4%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek IPP sebanyak 7,6 GW
(47,6%). Sedangkan pada tabel 5.13 dapat dilihat bahwa pengembangan
pembangkit hingga tahun 2020 di Indonesia Timur yang dilakukan oleh PLN
adalah sebanyak 4,6 GW (58,6%). Selebihnya akan dibangun sebagai proyek
IPP sebanyak 3,2 GW (41,4%), lebih kecil dibandingkan pembangkit yang
dibangun oleh PLN.
Beberapa PLTD masih direncanakan untuk dibangun di daerah terpencil
khususnya Indonesia bagian timur yang besar bebannya belum cukup tinggi
untuk dipasok oleh PLTU batubara skala kecil.
Pengembangan pembangkit di Indonesia barat dan Timur untuk PLTP
diproyeksikan cukup besar, yaitu 3.372 MW dan juga PLTA sebesar 2.908 MW.
Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan energi
terbarukan.
Energi terbarukan lainnya yang juga direncanakan akan dikembangkan dalam
RUPTL 2011-2020 ini adalah PLT Bayu dan PLT Surya (photovoltaic) dalam
skala relatif kecil.
Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang
Toru 500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang


72 RUPTL 2011- 2020


mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).
Apabila proyek tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan
kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited
tersebut akan diproses lebih lanjut.
Tabel 5. 12 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Barat (MW)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
PLN
PLTU 74 804 1,577 205 688 250 50 30 522 522 4,721
PLTP - 55 55 - 220 - - - - 220 550
PLTGU - - 116 - - - - - - - 116
PLTG 222 380 580 570 20 - 10 30 - 200 2,012
PLTD - - - - - - - - - - -
PLTM - - - - - - - - - - -
PLTA 0 - - - - 437 365 49 - - 851
PLTGB - 12 34 8 12 - 6 3 6 3 84
Total 296 1,251 2,362 783 940 687 431 112 528 945 8,334
IPP -
PLTU 239 14 42 543 642 930 600 400 425 250 4,085
PLTP - - - 220 440 - 612 405 690 - 2,367
PLTGU - 130 - - - - - - - - 130
PLTG - 44 22 - - - - - - - 66
PLTD - - - - - - - - - - -
PLTM - - 95 32 39 - - - - - 166
PLTA - - - 45 23 56 40 83 - - 247
PLTGB - 16 5 - - - - - - - 21
Total 239 204 164 840 1,144 986 1,252 888 1,115 250 7,082
PLN+IPP -
PLTU 313 818 1,619 748 1,330 1,180 650 430 947 772 8,806
PLTP - 55 55 220 660 - 612 405 690 220 2,917
PLTGU - 130 116 - - - - - - - 246
PLTG 222 424 602 570 20 - 10 30 - 200 2,078
PLTD - - - - - - - - - - -
PLTM - - 95 32 39 - - - - - 166
PLTA 0 - - 45 23 493 405 132 - - 1,099
PLTGB - 28 39 8 12 - 6 3 6 3 105
Total 535 1,455 2,525 1,623 2,084 1,673 1,683 1,000 1,643 1,195 15,416

Tabel 5. 13 Kebutuhan Pembangkit Wilayah Operasi Indonesia Timur (MW)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
PLN
PLTU 165 343 344 561 222 60 268 282 2,245
PLTP 24 8 13 15 83 20 20 20 202
PLTGU - - - - - - - - - - -
PLTG 25 450 70 120 30 75 50 75 30 925
PLTD - 1 33 41 41 22 - 22 17 18 194
PLTM 4 17 30 49 7 3 5 5 2 2 123
PLTA 8 20 4 32 59 139 230 294 785
PLTGB 15 16 5 7 13 11 7 74
PLTB 1 1
PLTS 1 0 5 6
PLTH 2 1 1 3
Total 202 413 871 761 441 203 312 606 691 57 4,556
IPP -
PLTU 25 200 60 598 417 132 215 110 200 1,957
PLTP 25 30 18 55 50 45 30 253
PLTGU 180 180
PLTG 60 80 140
PLTD - - - - - - - - - - -
PLTM 7 17 41 40 5 1 1 112
PLTA 10 200 8 190 117 525
PLTGB 6 4 27 16 2 3 58
PLTB - - - - - - - - - -
PLTS - - - - - - - - - -
PLTH - - - - - - - - - - -
Total 48 481 396 679 454 341 274 160 45 347 3,225
PLN+IPP -
PLTU 190 543 404 1,159 639 132 275 378 282 200 4,202
PLTP 24 8 - 38 45 101 75 70 65 30 455
PLTGU - - 180 - - - - - - - 180
PLTG - 85 530 70 120 30 75 50 75 30 1,065
PLTD - 1 33 41 41 22 - 22 17 18 194
PLTM 11 34 71 89 12 4 6 5 2 2 235
PLTA 18 220 8 4 32 249 139 230 294 117 1,309
PLTGB 6 4 42 32 7 7 16 11 - 7 132
PLTB - - - 1 - - - - - - 1
PLTS 1 0 - 5 - - - - - - 6
PLTH - - - 2 - - 1 - 1 - 3
Total 250 895 1,267 1,440 895 544 586 766 736 404 7,781



RUPTL 2011- 2020 73


5.4.5.2 Neraca Daya
Neraca daya kelima sistem interkoneksi dan sistem-sistem isolated dapat dilihat
pada Lampiran A dan Lampiran B.
5.4.5.3 Proyek – Proyek Strategis
Beberapa proyek kelistrikan strategis di Indonesia Timur dan Indonesia Barat
meliputi antara lain:
– Proyek pembangkit PerPres 71 mengingat banyaknya daerah yang
mengalami kekurangan pasokan tenaga listrik dan untuk mengurangi
pemakaian BBM.
– Proyek-proyek pembangkit IPP yang telah berstatus PPA dan konstruksi.
– Proyek-proyek pembangkit panas bumi dan atau tenaga air di Sumatera,
Sulawesi, Maluku dan Papua yang menjadi andalan pasokan listrik setempat.
– PLTG Bangkanai 280 MW yang dilengkapi CNG storage untuk dapat
dioperasikan sebagai pembangkit peaking, pembangunan PLTG peaking di
Kaltim dan Sulsel.
– PLTA Baliem 50 MW di Wamena untuk melistriki Kabupaten Wamena dan
tujuh Kabupaten Baru di Pegunungan Puncak Papua yang selama ini belum
dilayani listrik PLN.
– Mini LNG/CNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit peaking dan
pembangkit kecil tersebar di wilayah operasi Indonesia Timur.
– PLTA Asahan unit 3 sebesar 174 MW direncanakan beroperasi pada tahun
2016, sangat strategis untuk memperbaiki fuel mix di Sumatera Utara,
– PLTA Merangin 350 MW di Provinsi J ambi akan memenuhi kebutuhan
sistem Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP.
– PLTU batubara mulut tambang di Sumatera Selatan skala besar yang
listriknya juga akan disalurkan ke sistem interkoneksi Sumatera disamping
ditransfer ke J awa melalui transmisi 500 kV HVDC.
– Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan
bakar gas yang ada.


74 RUPTL 2011- 2020


5.4.8 Penambahan Kapasitas Pada Sistem Jawa Bali
5.4.6.1 Garis Besar Penambahan Pembangkit
Pada Tabel 5.14 diperlihatkan jumlah kapasitas dan jenis pembangkit yang
dibutuhkan dalam kurun waktu 2011-2020 di sistem J awa-Bali.
Tabel 5.14 menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
– Tambahan kapasitas pembangkit selama 10 tahun ke depan (periode 2011-
2020) untuk J awa-Bali adalah 32,2 GW atau pertambahan kapasitas rata-
rata mencapai 3,2 GW per tahun, termasuk PLTM skala kecil tersebar
sebesar 118 MW dan PLTGB 6 MW.
– Dari kapasitas tersebut PLN akan membangun sebanyak 18,5 GW atau
57,4% dari tambahan kapasitas keseluruhan. Partisipasi swasta
direncanakan sebesar 13,7 GW atau 42,6%.
– PLTU batubara akan mendominasi jenis pembangkit yang akan dibangun,
yaitu mencapai 22,6 GW atau 70,1%, sementara PLTGU gas menempati
urutan kedua dengan kapasitas 2,8 GW atau 8,8%. Untuk energi
terbarukan seperti panas bumi sebesar 2,9 GW atau 8,9% dan
PLTA/PLTM/PS sebesar 2.9 GW atau 9,1%, disusul oleh PLTG 1 GW atau
3.0%.
Tabel 5. 14 Kebutuhan Pembangkit Sistem Jawa-Bali (MW)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
PLN
PLTU 3,535 2,965 1,050 660 660 1,000 600 600 1,000 12,070
PLTP -
PLTGU 444 743 - - 750 750 2,687
PLTG 150 400 400 950
PLTM -
PLTA 210 62 37 309
PS 1,040 450 950 2,440
PLTGB 3 3 6
Total 3,979 3,708 1,050 813 873 1,102 1,037 1,000 1,800 3,100 18,462
IPP -
PLTU 660 815 380 1,660 3,520 2,860 600 10,495
PLTP 60 385 325 270 815 855 165 2,875
PLTGU 150 150
PLTG -
PLTM 9 4 68 18 100
PLTA 47 18 65
PS -
PLTGB -
Total 819 819 128 398 2,092 3,845 3,130 1,415 855 183 13,685
PLN+IPP -
PLTU 4,195 3,780 1,050 1,040 2,320 3,520 3,860 1,200 600 1,000 22,565
PLTP - - 60 - 385 325 270 815 855 165 2,875
PLTGU 594 743 - - - - - - 750 750 2,837
PLTG - - - 150 - - - 400 - 400 950
PLTM 9 4 68 18 - - - - - - 100
PLTA - - - - 257 62 37 - - 18 374
PS - - - - - 1,040 - - 450 950 2,440
PLTGB - - - 3 3 - - - - - 6
Total 4,798 4,527 1,178 1,211 2,965 4,947 4,167 2,415 2,655 3,283 32,147




RUPTL 2011- 2020 75


5.4.6.2 Neraca Daya
Rencana penambahan kapasitas pembangkit di sistem J awa Bali sampai
dengan tahun 2020 berjumlah 32.023 MW (tidak termasuk PLTM tersebar 118
MW dan PLTGB 6 MW), atau rata-rata sekitar 3.200 MW per tahun. J umlah
tersebut terdiri dari tambahan pembangkit PLN berjumlah 18.456 MW (57,6%)
dan tambahan pembangkit IPP sebesar 13.567 MW (42,4%). J adwal dan
kebutuhan masing-masing jenis pembangkit dapat dilihat pada 5.16.
Dalam jangka pendek (sampai dengan tahun 2013), tambahan pembangkit dari
proyek-proyek yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan (proyek on-
going) berjumlah 10.352 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN berjumlah
8.737 MW dimana sebagian besar adalah proyek Perpres No.71/2006 dan
sisanya sebesar 1.625 MW adalah proyek IPP. Selain itu masih ada rencana
Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 yang beroperasi pada 2013 yaitu
PLTP Patuha 60 MW (IPP).
Dalam jangka menengah (2014 – 2016) tambahan pembangkit yang berupa
proyek PLN berjumlah 2.782 MW, dimana tambahan sebesar 1.040 MW adalah
Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2, sedangkan proyek IPP berjumlah
6.317 MW, dimana 1.100 MW merupakan Proyek Percepatan Pembangkit
Tahap 2. Pada tahun 2015 reserve margin akan turun menjadi 25% karena
mundurnya Proyek Percepatan Pembangkit Tahap 2 antara lain PLTU
Indramayu 1x1000 MW, Upper Cisokan Pumped Storage 4x250 MW, PLTU
Madura 2x200 MW dan proyek-proyek panas bumi.
Untuk meningkatkan reserve margin mendekati kriteria keandalan yang
dikehendaki, diperlukan tambahan pembangkit sebesar 3x600 MW pada tahun
2015. Kapasitas tersebut akan dipenuhi oleh 2 unit PLTU IPP kelas 600 MW
dan ekspansi PLTU Lontar 1x660 MW.
Untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian proyek transmisi HVDC
Sumatera-J awa yang sangat panjang (700 km) dan pembangkitnya di
Sumatera Selatan, dalam RUPTL ini direncanakan tambahan kapasitas
pembangkit di sistem J awa-Bali pada tahun 2016-2017 sebesar 2x660 MW.
Tambahan kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk PLTU Tanjung J ati A
yang akan dikembangkan oleh PT TJ PC atau ekspansi pembangkit eksisting
PLN atau ekspansi IPP atau pembangunan PLTU baru.




76 RUPTL 2011- 2020


Tabel 5. 15 Neraca Daya Sistem Jawa-Bali 2011-2020

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan GWh 125,217 135,769 146,787 158,531 171,089 184,550 197,407 211,134 225,848 241,240
Pertumbuhan % 10.4 8.4 8.1 8.0 7.9 7.9 7.0 7.0 7.0 6.8
Produksi GWh 142,065 153,721 165,697 178,774 192,747 207,770 222,106 237,404 253,822 270,994
Faktor Beban % 78.5 78.8 79.1 79.6 79.7 79.7 79.7 79.8 79.8 79.9
Beban Puncak Bruto MW 20,672 22,283 23,928 25,635 27,625 29,763 31,801 33,974 36,305 38,742
KAPASITAS
Kapasitas Terpasang MW 21,407 21,007 20,531 20,531 20,531 20,531 20,531 20,531 20,531 20,531
PLN MW 17,482 17,082 16,606 16,606 16,606 16,606 16,606 16,606 16,606 16,606
Retired/Mothballed -589 -400 -476 0 0 0 0 0 0 0
IPP MW 3,925 3,925 3,925 3,925 3,925 3,925 3,925 3,925 3,925 3,925
PROYEK-PROYEK
PLN
On-going dan Committed Project
Muara Karang Rep Blok 2 PLTGU 210
Muara Tawar Blok 5 PLTGU 234
Priok Extension (Blok 3) PLTGU 743
Suralaya #8 PLTU 625
Labuan PLTU
Teluk Naga/Lontar PLTU 315 630
Pelabuhan Ratu PLTU 700 350
Indramayu PLTU 990
Rembang PLTU 630
Pacitan PLTU 630
Paiton Baru PLTU 660
Tj. Awar-awar PLTU 700
Cilacap Baru / Adipala PLTU 660
Tanjung J ati B #3-4 PLTU 660 660
Sub Total On-going & Committed 3,664 4,023 1,050 660 - - - - - -
Rencana
PLTGU Tuban/Cepu PLTGU 750 750
Indramayu #4 (FTP2) & #5 PLTU 1,000 1,000
Lontar Exp #4 PLTU 660
PLTU Bekasi PLTU 600 600
PLTG Peaker Semarang PLTG 150
PLTG LNG PLTG 400 400
Karangkates #4-5 PLTA 100
Kesamben (J atim) PLTA 37
Kalikonto-2 (J atim) PLTA 62
J atigede (J abar) PLTA 110
Upper Cisokan PS PLTA 1,040
Matenggeng PS PLTA 450 450
Grindulu PS PLTA 500
Sub Total Rencana - - - 150 870 1,102 1,037 1,000 1,800 3,100
Total PLN 3,664 4,023 1,050 810 870 1,102 1,037 1,000 1,800 3,100
IPP
On-going dan Committed Project
Cikarang Listrindo PLTGU 150
Cirebon PLTU 660
Paiton #3 PLTU 815
Celukan Bawang PLTU 380
Sub Total On-going & Committed 810 815 - 380 - - - - - -
Rencana
Banten PLTU 660
Madura (2x200 MW) FTP2 PLTU 400
Sumsel-8 MT PLTU 1,200
Sumsel-9 MT (PPP) PLTU 1,200
Sumsel-10 MT (PPP) PLTU 600
PLTU J awa Tengah (PPP) PLTU 1,000 1,000
PLTU J awa-1 PLTU 660
PLTU J awa-2 PLTU 600
PLTU J awa-3 PLTU 660 660
PLTP FTP2 PLTP - - 60 - 375 325 160 595 440 -
PLTP Non FTP2 PLTP - - - - 10 - 110 220 415 165
Rajamandala (FTP2) PLTA 47
Sub Total Rencana - - 60 - 2,092 3,845 3,130 1,415 855 165
Total IPP 810 815 60 380 2,092 3,845 3,130 1,415 855 165
Total Tambahan 4,474 4,838 1,110 1,190 2,962 4,947 4,167 2,415 2,655 3,265
TOTAL KAPASITAS SISTEM MW 27,091 31,529 32,163 33,353 36,315 41,262 45,429 47,844 50,499 53,764
RESERVE MARGIN % 31 41 34 30 31 39 43 41 39 39
PROYEK

Catatan:
- Tanda panah mengindikasikan pergeseran jadwal operasi dari rencana semula (RUPTL 2010-2019) ke jadwal
baru (RUPTL 2011-2020).
*)


RUPTL 2011- 2020 77


Dalam jangka panjang (2017–2020) jumlah penambahan kapasitas pembangkit
adalah 12.502 MW, yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 6.937 MW dan
IPP sebesar 5.565 MW.
Arah kebijakan PLN dalam rencana pengembangan pembangkit di J awa-Bali
terlihat dengan jelas pada tabel 4.14 dimana PLN tidak lagi merencanakan
pembangunan pembangkit berbahan bakar minyak, kecuali beberapa
pembangkit beban puncak (peaker) berupa PLTG baru yang masih akan
menggunakan bahan bakar minyak atau LNG jika tersedia. Disamping PLTG
peaker tersebut direncanakan tiga buah PLTA Pump Storage sebagai pemikul
beban puncak, yaitu Upper Cisokan di J awa Barat dengan kapasitas 1.040 MW,
Matenggeng di perbatasan J awa Barat dengan J awa Tengah sebesar 900 MW
dan Grindulu di J awa Timur sebesar 1.000 MW.
Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit beban menengah (selain repowering
Muara Karang dan Priok dan Muara Tawar Blok 5) direncanakan PLTGU
dengan kapasitas 1.500 MW yang akan menggunakan bahan bakar gas alam
yaitu PLTGU Tuban/Cepu 1.500 MW.
Mengingat pasokan gas ke Muara Tawar yang semakin menurun dan
ketidakpastian pasokan LNG, maka telah dikaji kembali kelayakan dari proyek
PLTGU Muara Tawar Add-on Blok 2-3-4. Berdasarkan hasil kajian peran
pembangkit Muaratawar di sistem J awa Bali tahun 2012 - 2020, proyek PLTGU
Muara Tawar Add-on 2-3-4 sudah tidak diperlukan lagi. Hasil kajian
menunjukkan bahwa dengan pembangkit Muara Tawar eksisting (total 1.700
MW) dan PLTGU Blok-5 (234 MW) cukup untuk tetap menjaga tegangan di
subsistem J akarta.
Memperhatikan peran pembangkit Muara Tawar yang penting untuk menjaga
tegangan sistem 500 kV di J akarta dan memperhatikan pula ketidakpastian
pasoka gas ke Muara Tawar, maka direncanakan PLTU Bekasi 2x600 MW
(2018/2019) yang lokasinya berada dekat pusat beban J akarta dan akan
terhubung ke GITET Muara Tawar.
Neraca daya sistem J awa-Bali pada tabel 5.14 mencantumkan PLTU Sumsel-8,
Sumsel-9 dan Sumsel-10 yang merupakan PLTU Mulut Tambang di Sumatera
Selatan. Untuk menyalurkan tenaga listrik dari PLTU Mulut Tambang tersebut
PLN sedang membangun transmisi 500 kV HVDC interkoneksi Sumatera –
J awa.



78 RUPTL 2011- 2020


5.4.6.3 Proyek-proyek Strategis
Beberapa proyek strategis pada sistem J awa-Bali ini adalah sebagai berikut:
- PLTU IPP J awa Tengah (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis
karena dibutuhkan sistem pada tahun 2016 dan 2017, serta merupakan
proyek kelistrikan pertama yang menggunakan skema Kerjasama
Pemerintah dan Swasta (KPS) dengan PerPres No. 67/2005 jo PerPres
No. 13/2010.
- PLTU Indramayu (2x1.000 MW). Proyek ini sangat strategis karena
dibutuhkan sistem pada tahun 2017, dan berlokasi relatif dekat dengan
pusat beban industri di sebelah timur J akarta.
- PLTA Pompa Upper Cisokan (1.040 MW). Proyek ini sangat strategis
karena dapat meminimalkan biaya operasi sistem serta memberikan
banyak benefit dalam operasi sistem tenaga listrik, antara lain berfungsi
sebagai pembangkit beban puncak, pengatur frekuensi, sebagai spinning
reserve (cadangan putar), memperbaiki faktor utilitas pembangkit beban
dasar dan memperbaiki load factor sistem.
- PLTU mulut tambang Sumatera Selatan dan transmisi 500kV HVDC
Sumatera – J awa dengan kapasitas 3.000 MW. Proyek ini sangat
strategis karena merupakan solusi yang ekonomis dalam memenuhi
kebutuhan tenaga listrik di J awa dengan memanfaatkan cadangan low
rank coal di Sumatra Selatan. Proyek ini hanya dilaksanakan setelah
kebutuhan listrik Sumatera tercukupi sepenuhnya dengan cadangan
yang cukup banyak. Pilihan proyek ini juga didorong oleh semakin
sulitnya mendapatkan lokasi untuk membangun PLTU batubara skala
besar di pulau J awa.
- PLTU Bekasi 2x600 MW (2018/2019) sangat strategis karena lokasinya
berada dekat pusat beban J akarta dan berfungsi untuk menjaga
tegangan di J akarta serta mengurangi pemakaian BBM/LNG di Muara
Karang, Priok dan Muara Tawar.

5.4.6.4 Regional Balance Sistem J awa Bali
Apabila dilihat reserve margin per region yang sangat berbeda antara J awa
Bagian Barat, J awa Tengah dan J awa Timur & Bali sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 5.16, maka pengembangan proyek pembangkit baru sebaiknya
berlokasi di J awa Bagian Barat agar dapat diperoleh regional balance.



RUPTL 2011- 2020 79


Tabel 5. 16 Regional Balance Sistem Jawa Bali Tahun 2010
Regional Balance
J awa Bagian
Barat
J awa Tengah
J awa Timur dan
Bali
Kapasitas Terpasang (MW) 12.129 3.675 7.102
Tambahan Kapasitas (MW) 300 - -
Total (MW) 12.429 3.675 7.102
Beban Puncak (MW) 11.611 2.890 4.318
Reserve (%) 7,0 27.1 64.5

Lokasi pembangkit yang diinginkan adalah di J awa bagian barat sebelah timur
(seputar Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon) atau J awa Tengah sebelah
barat (seputar Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang).
Pada saat ini region J awa Timur mempunyai kelebihan pasokan dan belum
mengalami kendala penyaluran listrik ke arah barat karena adanya transmisi
500 kV jalur selatan. Namun apabila penentuan lokasi pembangkit baru tidak
mempertimbangkan regional balance, maka pada masa yang akan datang
diperkirakan akan muncul kendala penyaluran. Penerapan regional balance
dalam menentukan lokasi pembangkit dapat menghindari keperluan untuk
membangun transmisi 500 kV pada jalur baru dari timur ke arah barat pulau
J awa.
Lokasi PLTU batubara skala besar di pantai selatan pulau J awa belum
merupakan pilihan prioritas, karena pertimbangan kesulitan transportasi
batubara pada musim-musim gelombang tinggi, diperlukan konstruksi
breakwater yang relatif mahal, risiko tsunami dan gempa bumi yang lebih tinggi.
Neraca daya dan rincian pengembangan pembangkitan di sistem J awa Bali
dapat dilihat pada Lampiran C1.2.

5.4.9 Partisipasi Listrik Swasta
Partisipasi swasta dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia hingga 10
tahun mendatang sangat besar, yaitu mencapai sekitar 33% dari total kapasitas
terpasang. Proyek-proyek IPP dimaksud ditunjukkan pada Tabel 5.16 dan
Tabel 5.17.
Pada kedua tabel tersebut, yang dimaksud dengan proyek on going adalah
proyek IPP yang telah memiliki PPA dan secara resmi telah mendapat


80 RUPTL 2011- 2020


pendanaan (financial closure). Sedangkan proyek IPP dalam kategori ‘rencana’
meliputi mereka yang telah mempunyai PPA namun belum financial closure.
Ada juga proyek yang baru mendapat HOA sudah dimasukkan dalam kategori
‘rencana’.
Di dalam kategori rencana juga terdapat proyek IPP yang belum ada pemiliknya
namun telah diidentifikasi dalam RUPTL ini sebagai kebutuhan sistem. Proyek
IPP yang statusnya belum mempunyai PPA ini akan diadakan oleh PLN melalui
proses tender kompetitif.
Tabel 5. 17 Daftar Proyek IPP di Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Tahun
Operasi
Tahun
Operasi
Proyek On Going PLTM PLTM Tersebar Sumut 154 2013-2015
PLTA Poso Energy 3 x 65 2012 PLTM Hek 1 x 3 2011
PLTM Goal 2 x 1 2012 PLTM Praikalala I 1 x 1 2011
PLTM Kokok Putih 1 x 4 2012 PLTM Umbuwangu I 1 x 1 2011
PLTM Wawopada 1 x 4 2013 PLTM Wae Roa 1 x 0 2011
PLTU Simpang Belimbing #1,2 2 x 114 2011 PLTM Lewa 2 x 1 2011-2012
PLTU Ketapang 2 x 7 2012 PLTM Lokomboro III 2 x 1 2011-2012
PLTU Banjarsari 2 x 114 2014 PLTM Praikalala II 3 x 1 2011-2013
PLTU Sumsel - 2 (Keban Agung) 2 x 113 2015 PLTM Kukusan 1 x 0 2012
PLTU Pangkalan Bun 2 x 6 2011 PLTM Segara Anak 1 x 6 2012
PLTU Gorontalo Energi 2 x 6 2013 PLTM Umbuwangu II 1 x 1 2012
PLTU J eneponto Bosowa #1,2 2 x 100 2013 PLTM Waekelosawa 2 x 0 2012-2013
PLTU Molotabu 2 x 10 2013 PLTM Maidang 3 x 1 2012-2014
PLTU Tanah Grogot 2 x 6 2013 PLTM Bambalo III 1 x 2 2013
Proyek Rencana PLTM Biak I 1 x 2 2013
PLTA Wampu 45 2014 PLTM Biak II 1 x 1 2013
PLTA Simpang Aur (FTP2) 23 2015 PLTM Biak III 1 x 1 2013
PLTA Semangka 56 2016 PLTM Ibu 1 x 1 2013
PLTA Hasang 40 2017 PLTM Kotaraya 1 x 1 2013
PLTA Peusangan-4 83 2018 PLTM Mampueno/Sakita 1 x 2 2013
PLTA Sawangan 2 x 8 2015 PLTM Pakasalo 2 x 1 2013
PLTA Bontobatu (Buttu batu 1) #1,2 2 x 50 2016 PLTM Rea 1 x 6 2013
PLTA Malea #1,2 2 x 45 2016 PLTM Wae Lega - Manggarai 1 x 2 2013
PLTB Waingapu 1 x 1 2013 PLTM Wolodaesa 1 x 1 2013
PLTG Aceh 3 x 22 2012-2013 PLTM Ngaoli 1 x 2 2013-2017
PLTG Sengkang, Op. Cycle - Unit 2 1 x 60 2012 PLTM Wai Nibe 4 x 1 2013-2017
PLTG Senipah 2 x 40 2013 PLTM Batubota 1 x 3 2014
PLTGB Putussibau (FTP2) 2 x 4 2012 PLTM Bintang Bano 2 x 4 2014
PLTGB Tanjung Batu (FTP2) 2 x 4 2012 PLTM Bunta 2 x 1 2014
PLTGB Belitung - 2 1 x 5 2013 PLTM Lambangan 2 x 2 2014
PLTGB Melak 1 x 6 2011-2017 PLTM Mala-2 1 x 6 2014
PLTGB Kotabangun 1 x 3 2012 PLTM Rhee 1 x 4 2014
PLTGB Selayar (FTP 2) 2 x 4 2012-2013 PLTM Walesi Blok II 5 x 1 2014
PLTGB Tual 2 x 4 2013 PLTM Sita - Borong 2 x 1 2014-2015
PLTGB Tobelo (FTP2) 2 x 4 2014 PLTP Lumut Balai (FTP2) 4 x 55 2014-2015
PLTGB Larantuka 2 x 4 2014-2017 PLTP Sarulla I (FTP2) 3 x 110 2014-2015
PLTGU Duri 1 x 90 2012 PLTP Ulubelu #3,4 (FTP2) 2 x 55 2015
PLTGU Gunung Megang, ST Cycle 1 x 30 2012 PLTP Lho Pria Laot 1 x 7 2017
PLTGU Sengkang-ST-CC - Unit 3 1 x 120 2013 PLTP Muara Laboh (FTP2) 2 x 110 2017
Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)



RUPTL 2011- 2020 81


Tahun
Operasi
Tahun
Operasi
PLTP Rajabasa (FTP2) 2 x 110 2017 PLTU Lombok 2 x 25 2014
PLTP Sarulla II (FTP2) 1 x 110 2017 PLTU Maruni / Andai 2 x 7 2014
PLTP Seulawah (FTP2) 1 x 55 2017 PLTU Nabire-Kalibobo 2 x 7 2014
PLTP Sorik Marapi (FTP2) 240 2018 PLTU Nunukan (FTP2) 2 x 7 2014
PLTP Rantau Dedap (FTP2) 2 x 110 2018-2019 PLTU Kalsel - 1 (FTP2) 2 x 100 2014-2015
PLTP Suoh Sekincau 2 x 55 2018-2019 PLTU Kaltim - 2 (FTP2) 2 x 100 2014-2015
PLTP G. Talang 1 x 20 2019 PLTU Makbusun / Sorong 2 x 15 2014-2015
PLTP Bonjol 165 2019 PLTU Merauke-Gudang Arang 2 x 7 2014-2015
PLTP Danau Ranau 110 2019 PLTU Sulut I - Kema 2 x 25 2014-2015
PLTP J aboi (FTP2) 2 x 5 2019 PLTU Sumbawa Baru I (FTP2) 2 x 10 2014-2015
PLTP Simbolon Samosir 110 2019 PLTU Mamuju (FTP2) #1,2 2 x 25 2015
PLTP Sipoholon Ria-ria 1 x 55 2019 PLTU Sulsel-2 (Takalar Punaga) #1,2 2 x 100 2015
PLTP Wai Ratai 1 x 55 2019 PLTU Luwuk (FTP2) 2 x 10 2015-2016
PLTP J ailolo (Ekspansi) 1 x 5 2020 PLTU Merauke-Ekspansi 1 x 7 2016
PLTP Tamboli #1,2 2 x 5 2013 PLTU Embalut (Ekspansi) 1 x 50 2017
PLTP Lahendong V (FTP-2) 1 x 20 2014 PLTU Kaltim (PPP) 2 x 100 2017-2018
PLTP Sokoria (FTP2) 1 x 5 2015 PLTU Sulut (PPP) 2 x 55 2017-2018
PLTP Ulumbu 1 x 5 2015 PLTU Kalteng - 1 2 x 100 2020
PLTP Oka Larantuka 2 x 3 2015-2016 PLTU Toboali 2 x 7 2014
PLTP Lahendong VI (FTP-2) 1 x 20 2015-2017 PLTU Pontianak - 3 2 x 25 2015
PLTP Atadei (FTP2) 1 x 5 2016 PLTU Tanjung Pinang 2 (FTP2) 2 x 15 2015
PLTP J ailolo (FTP2) 2 x 5 2016-2017 PLTU Tembilahan 2 x 7 2015
PLTP Sokoria 3 x 5 2016-2020 PLTU Bangka (FTP2) 2 x 30 2015-2016
PLTP Hu'u (FTP2) 1 x 20 2017 PLTU Sumsel - 5 2 x 150 2015-2016
PLTP Lainea #1,2 2 x 10 2017 PLTU Sumsel - 7 2 x 150 2015-2016
PLTP Songa Wayaua (FTP2) 1 x 5 2017 PLTU Riau Mulut Tambang 2 x 300 2016-2017
PLTP Hu'u (Ekspansi) 2 x 20 2018-2019 PLTU Sumsel - 6, Mulut Tambang 2 x 300 2016-2017
PLTS Waingapu 1 x 1 2012 PLTU J ambi (KPS) 2 x 400 2018-2019
PLTU Sarolangun 2 x 6 2011 PLTU Pontianak - 2 2 x 25 2019-2020
PLTU IPP Kemitraan 2 x 7 2013 PLTU Bau-Bau #1,2 2 x 7 2013
PLTU Muko Muko 2 x 4 2013 PLTU Melak (FTP2) 2 x 7 2013-2014
PLTU Nias 1 x 7 2013 PLTU Biak (FTP2) 2 x 7 2014
PLTU Nias (FTP2) 2 x 7 2014 PLTU J ayapura-Skouw 2 x 15 2014
PLTU Selat Panjang Baru #1,2 2 x 7 2014 PLTU Kaltim (MT) 2 x 28 2014
PLTU Simpang Belimbing #3,4 2 x 114 2014 PLTU Kendari Baru I (FTP2) #1,2 2 x 25 2014
PLTU Tanjung Pinang 1 (TLB) 2 x 15 2014 PLTU Kolaka (FTP2) #1,2 2 x 10 2014
PLTU TB. Karimun 2 x 7 2014
Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)


Tabel 5. 18 Daftar Proyek IPP di Jawa Bali
Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Tahun
Operasi

Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Tahun
Operasi
Proyek On Going PLTP Tangkuban Perahu 2 2 x 30 2015-2016
PLTG Cikarang Listrindo 1 x 150 2011 PLTP Patuha
1 x 60
2 x 60
2013
2015
PLTU Cirebon 1 x 660 2011 PLTP Bedugul 1 x 10 2015
PLTU Celukan Bawang
1 x 130 +
2 x 125
2014

PLTP Kamojang
1 x 30
1 x 60
2015
2016
PLTU Paiton 3 1 x 815 2012
PLTP Candi Umbul -
Telomoyo
1 x 55 2019
Proyek Dalam Rencana

PLTP Wayang Windu
1 x 110
1 x 110
2015
2017



82 RUPTL 2011- 2020


Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Tahun
Operasi

Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Tahun
Operasi
PLTU Madura 2 x 200 2015 PLTP Gn Lawu 2 x 55 2019-2020
PLTU J awa-1 1 x 660 2015 PLTP Karaha Bodas
1 x 30
2 x 55
2015
2016
PLTU J awa-2 1 x 600 2015 PLTP Guci
1 x 55
1 x 55
2018
2019
PLTU J awa-3 2 x 660 2016-2017 PLTP Ijen 2 x 55 2019
PLTU J awa Tengah 2 x 1000 2016-2017

PLTP Wilis/Ngebel
2 x 55
1 x 55
2018
2019
PLTU Banten 1 x 660 2016

PLTP Gn Ceremai 2 x 55 2019-2020
PLTU Sumatera Mulut
Tambang
43

5 x 600 2016-2018

PLTP Gn Endut 1 x 55 2019
PLTA Rajamandala 1 x 47 2014

PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018
PLTP Cibuni 10 2016

PLTP Baturaden 2 x 110 2018-2019
PLTP Dieng
1 x 55
1 x 60
2 x 55
2015
2016
2018-2019

PLTP Arjuno Welirang 2 x 55 2019-2020
PLTP Ungaran
1 x 55
1 x 30
2 x 55
2018
2019
2019-2020

PLTP Iyang Argopuro
1 x 55
2 x 110
2016
2017-2018
PLTP Rawa Dano 1 x 110 2018

PLTP Tampomas 1 x 45 2018
PLTP Tangkuban Perahu 1 2 x 55 2018
PLTP Cisolok-Sukarame 1 x 50
2 x 55
2017
2018-2019

5.5 PROYEKSI NERACA ENERGI DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR
5.5.1 Sasaran Fuel Mix
5.5.1.1 Fuel Mix 1999-2008
Tabel 5.19 menunjukkan pemakaian energi primer utama oleh PT PLN
(Persero) dalam sepuluh tahun terakhir. Konsumsi batubara terus meningkat,
namun pemakaian gas alam cenderung terus menurun akibat pasokan gas
yang depleted dari sumbernya, dan karena infrastrukturnya belum tersedia
cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.




43
PLTU Sumatra mulut tambang diperhitungkan sebagai IPP di sistem J awa Bali karena
sebagian besar produksinya akan ditransfer ke J awa dengan menggunakan transmisi HVDC.


RUPTL 2011- 2020 83


Tabel 5. 19 Pemakaian Energi Primer PLN Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Tahun BBM GAS Batubara
juta kl bcf juta ton
1999 4,70 237 11,41
2000 5,02 229 13,14
2001 5,40 222 14,03
2002 7,00 193 14,06
2003 7,61 184 15,26
2004 8,51 176 15,41
2005 9,91 143 16,90
2006 9,98 158 19,09
2007 10,69 171 21,47
2008
2009
2010
11,32
9,41
9,32
182
266
283
21,00
21,92
23,96

Sumber inefisiensi PLN yang utama beberapa tahun terakhir ini adalah fuel-mix
yang terjebak pada pemakaian minyak yang terlalu banyak
44
, namun produksi
listrik tetap harus dilakukan agar kebutuhan tenaga listrik termasuk
pertumbuhannya dapat dipenuhi oleh PLN. Dalam tahun 2008 komposisi
produksi kWh berdasarkan bahan bakar adalah BBM 36%, batubara 35%, gas
alam 17%, panas bumi 3% dan tenaga air 9%. Dalam RUPTL ini komposisi fuel
mix tersebut akan diperbaiki dengan target yang diperlihatkan pada pada Tabel
5.20.

Tabel 5. 20 Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan Jenis Bahan
Bakar (%)
Tahun BBM Batubara Gas Tenaga air Panas Bumi
2011 21,6 50,2 17,3 6,0 4,9
2020 0,8 64,2 16,8 5,8 12,4
Untuk mewujudkan sasaran fuel mix pada Tabel 5.19, RUPTL 2011-2020
merencanakan proyek pembangkit seperti dijelaskan pada Bab 5. Target fuel
mix tersebut juga akan dicapai dengan pembelian tenaga listrik dari pembangkit

44
Dan harga minyak melonjak sangat tinggi pada tahun 2008 dan kemudian menurun namun
masih tetap tinggi sampai sekarang.


84 RUPTL 2011- 2020


listrik swasta (IPP) yang mengembangkan PLTU batubara, panas bumi dan
PLTGU gas. Pembangkit yang akan dibangun antara lain adalah proyek
percepatan 10.000 MW yang akan menurunkan konsumsi BBM secara
signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi tenaga listrik.
Disamping itu konversi pemakaian BBM ke gas maupun penambahan kapasitas
pembangkit berbahan bakar gas membuat PLN terus mengupayakan tambahan
kontrak-kontrak gas alam yang baru walaupun langkah ini menemui beberapa
kendala. Pengembangan pembangkit panas bumi juga akan lebih banyak
dikembangkan di Sumatera, J awa, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.
Pembangunan dan sewa PLTD berbahan bakar BBM sangat dibatasi hanya
untuk mengatasi krisis penyediaan tenaga listrik jangka pendek, dan akan
diganti dengan PLTU batubara skala kecil, kecuali pada sistem kelistrikan yang
terlalu kecil dan terpencil. Opsi LNG juga akan dikembangkan untuk PLTGU
yang berada di Belawan, J akarta dan Grati.
Berdasarkan prakiraan demand seperti dijelaskan pada butir 4.3 dan
konfigurasi pembangkit pada butir 4.4, selanjutnya dilakukan simulasi produksi
energi seluruh sistem pembangkitan PLN dan IPP, dan hasilnya diperlihatkan
pada Tabel 5.21 dan Gambar 5.3.

Tabel 5. 21 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Total Indonesia (GWh)
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD 29,846 17,346 8,658 4,331 2,549 2,465 2,316 2,261 2,428 2,635
2 MFO 10,037 4,807 2,385 556 44 56 51 65 85 65
3 Gas 32,017 42,691 46,158 46,002 43,441 43,118 35,657 25,992 28,331 30,879
4 LNG - 7,578 6,113 10,970 14,817 15,068 20,874 29,394 30,088 31,541
5 Batubara 93,049 110,043 134,578 151,524 163,311 178,749 193,084 207,868 221,392 238,432
6 Hydro 11,149 11,204 12,363 12,791 13,841 16,292 17,704 19,349 20,429 21,429
7 Surya/Hybri d 2 4 4 5 6 6 6 6 7 7
8 Bi omass 63 63 63 63 63 63 63 63 63 63
9 Impor - - - 709 721 733 737 738 314 317
10 Geothermal 9,033 8,650 9,828 11,939 19,814 23,078 29,405 36,302 42,828 46,005
T O T A L 185,197 202,387 220,150 238,891 258,606 279,628 299,897 322,038 345,964 371,374


Pada Tabel 5.21 dapat dilihat bahwa pembangkit batubara akan menjadi tulang
punggung sistem pembangkitan Indonesia pada kurun waktu sepuluh tahun
mendatang, disusul oleh gas alam dan kemudian pembangkit energi
terbarukan, sementara pembangkit berbahan bakar minyak direncanakan
semakin jauh berkurang. Hal ini mencerminkan usaha PLN untuk mengurangi
konsumsi BBM.


RUPTL 2011- 2020 85


Pada tahun 2011 konsumsi BBM masih sebesar 21%, dan direncanakan
menurun menjadi 5% pada 2013 dan <1% pada 2020. Sementara itu kontribusi
batubara akan meningkat dari 50% pada tahun 2011 menjadi 64% pada tahun
2020. Sedangkan porsi gas alam yang pada tahun 2011 adalah 17%, akan
menurun menjadi 8% pada tahun 2020, sedangkan LNG mulai tahun 2012
sebesar 4% dan meningkat menjadi 9% pada 2020%.
-
50,000
100,000
150,000
200,000
250,000
300,000
350,000
400,000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
G
W
h
Impor Biomass Surya/Hybrid HSD  MFO  LNG Gas Batubara Geothermal Hydro

Gambar 5. 4 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Total Indonesia (GWh)

Hal lain yang dapat dilihat adalah adanya peningkatan tenaga panas bumi
dalam penyediaan listrik yang semakin besar secara signifikan, dimana
kontribusinya sebesar 5% pada 2011 dan akan meningkat menjadi 12% pada
2020.
Untuk memproduksi energi listrik pada Tabel 5.21 diperlukan bahan bakar
dengan volume yang diperlihatkan pada Tabel 5.22.
Tabel 5. 22 Kebutuhan Bahan Bakar Indonesia
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD ( x 10^ 3 kl ) 7,464.3 4,610.8 2,274.6 1,131.8 633.5 595.2 545.7 550.8 589.3 633.0
2 MFO ( x 10^ 3 kl ) 1,604.7 1,190.3 577.3 159.7 34.1 37.3 35.9 39.5 44.8 39.8
3 Gas (bcf) 329.8 337.8 358.4 365.3 344.3 341.4 277.1 197.7 211.1 227.2
4 LNG (bcf) - 59.6 47.9 90.8 120.4 122.1 170.7 240.7 248.2 263.7
5 Batubara (10^ 3 ton) 41,794.7 59,254.3 73,788.3 82,954.0 88,754.9 96,002.2 101,442.6 109,263.6 116,691.0 125,737.7
6 Bi omass (10^ 3 ton) 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49



86 RUPTL 2011- 2020


5.5.2 Sistem Jawa-Bali
Rencana penyediaan energi dan kebutuhan bahan bakar untuk periode tahun
2011-2020 berdasarkan jenis bahan bakarnya diberikan pada Tabel 5.23 dan
Gambar 5.5.
Dalam kurun waktu 2011-2020, kebutuhan batubara meningkat 2,4 kali dan
kebutuhan gas alam meningkat 2 kali lipat, sedangkan kebutuhan BBM
menurun drastis karena digantikan oleh LNG/CNG.
Hal ini mencerminkan bahwa perencanaan dalam RUPTL ini telah sejalan
dengan kebijakan pemerintah mengenai diversifikasi energi, yaitu mengurangi
pemakaian bbm dan mengoptimalkan pemakaian batubara dan gas.

Tabel 5. 23 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Sistem Jawa-Bali (GWh)
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD 13,218 4,856 1,981 1,823 216 232 114 120 139 140
2 MFO 4,615 16 - - - - - - - -
3 Gas 25,085 33,292 35,092 34,028 31,582 31,742 25,143 16,684 19,470 22,188
4 LNG - 7,422 5,418 5,926 9,746 9,904 15,655 24,117 24,522 25,163
5 Batubara 84,107 94,724 109,365 122,695 133,097 144,080 157,303 166,606 173,466 184,786
6 Hydro 6,509 5,271 5,273 5,273 6,128 7,400 7,416 7,322 7,722 8,549
7 Surya/Hybri d
8 Geothermal 8,532 8,140 8,568 9,029 11,978 14,412 16,474 22,554 28,504 30,169
T O T A L 142,065 153,721 165,697 178,774 192,747 207,770 222,106 237,404 253,822 270,995

-
50,000
100,000
150,000
200,000
250,000
300,000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
G
W
h
HSD  MFO  LNG Gas Batubara Geothermal Hydro

Gambar 5. 5 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Sistem Jawa-Bali (GWh)


RUPTL 2011- 2020 87


Pada Tabel 5.23 terlihat bahwa batubara mendominasi energi primer lainnya,
yaitu 68% dari seluruh produksi pada tahun 2020. Panas bumi mengalami
peningkatan secara signifikan dari 8.532 GWh pada tahun 2011 menjadi 30.169
GWh pada tahun 2020, atau meningkat hampir 4 kali lipat. Sedangkan pangsa
tenaga air relatif tidak berubah karena potensi tenaga air di sistem J awa Bali
sudah sulit untuk dikembangkan. Produksi listrik dari gas alam (termasuk LNG)
mengalami peningkatan sejak tahun 2011 menjadi hampir 2 kali lipat pada
tahun 2020. Namun demikian porsi gas alam menurun dari 18% pada 2011
menjadi hanya 8% pada 2020, sedangkan LNG meningkat dari 5% pada 2012
menjadi 9% pada 2020). Hal ini terjadi karena pasokan gas pipa untuk
pembangkit semakin menurun sehingga LNG menjadi alternatif untuk
memenuhi kebutuhan pembangkit walaupun harganya mencapai lebih dari 2
kali lipat dari gas pipa.
Proyeksi kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit milik PLN dan IPP dapat
dilihat pada Tabel 5.24. Volume kebutuhan batubara terus meningkat sampai
tahun 2020. Hal ini merupakan konsekuensi dari rencana pengembangan
pembangkit yang mengandalkan PLTU batubara sebagai pemikul beban dasar.

Tabel 5. 24 Kebutuhan Bahan Bakar Sistem Jawa-Bali
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD ( x 10^3 kl ) 3,055.4 1,376.7 561.5 516.8 61.3 65.8 32.3 34.0 39.4 39.8
2 MFO ( x 10^3 kl ) 307.1 3.8 - - - - - - - -
3 Gas (bcf) 263.8 247.4 262.2 260.1 240.6 241.8 187.3 123.0 141.1 159.1
4 LNG (bcf) - 59.6 44.5 49.6 80.2 81.5 129.1 199.4 204.1 212.1
5 Batubara (10^3 ton) 36,224.5 49,410.2 57,494.3 64,563.8 69,896.8 74,827.0 79,701.8 84,161.2 87,712.1 93,595.0
6 Biomass (10^3 ton)


5.5.3 Wilayah Operasi Indonesia Barat
Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga
listrik, maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Barat
diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 51% batubara, 15% gas alam,
12% tenaga air, 2% minyak dan 21% panas bumi seperti diperlihatkan pada
Tabel 5.25 dan Gambar 5.5.
Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Sumatra, dan
Kalimantan Barat diperlihatkan pada Lampiran B.





88 RUPTL 2011- 2020


Tabel 5. 25 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD 10,713 7,458 3,713 940 913 834 822 898 982 996
2 MFO 2,499 2,441 1,148 177 3 16 21 35 55 35
3 Gas 5,114 7,415 7,389 7,932 7,788 7,502 6,586 5,293 4,820 4,575
4 LNG - - - 4,324 4,232 4,273 4,317 4,269 4,476 5,030
5 Batubara 6,533 10,531 17,394 17,346 16,854 20,350 20,033 24,096 29,095 32,493
6 Hydro 3,407 3,717 4,745 5,049 5,107 5,569 6,459 7,368 7,362 7,377
7 Surya/Hybri d
8 Bi omass 63 63 63 63 63 63 63 63 63 63
9 Impor - - - 709 721 733 737 738 314 317
10 Geothermal 63 64 801 2,281 6,765 6,865 10,773 11,353 11,691 13,200
T O T A L 28,392 31,689 35,254 38,821 42,445 46,205 49,811 54,112 58,859 64,087

-
10,000
20,000
30,000
40,000
50,000
60,000
70,000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
G
W
h
Impor Biomass HSD  MFO  LNG Gas Batubara Geothermal Hydro

Gambar 5. 6 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Barat (GWh)

Kebutuhan bahan bakar di Luar J awa dari tahun 2011 sampai dengan tahun
2020 diberikan pada Table 5.26.

Tabel 5. 26 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Barat
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD ( x 10^ 3 kl ) 2,869.6 1,923.5 924.7 258.9 248.8 227.6 225.2 247.6 273.1 274.9
2 MFO ( x 10^ 3 kl ) 685.0 665.4 304.3 46.3 0.8 4.0 5.2 8.8 14.1 9.1
3 Gas (bcf) 52.7 77.1 76.8 84.1 82.5 78.4 67.9 51.5 46.6 43.8
4 LNG (bcf) - - - 37.9 37.1 37.5 37.8 37.4 39.4 44.8
5 Batubara (10^ 3 ton) 4,225.1 6,854.6 11,333.0 11,226.7 10,819.7 12,876.8 12,635.2 15,307.6 18,144.8 19,977.4
6 Bi omass (10^ 3 ton) 49.1 49.1 49.1 49.1 49.1 49.1 49.1 49.1 49.1 49.1

Kebutuhan gas alam tersebut pada Tabel 5.26 yang terus menurun
sesungguhnya masih jauh di bawah kebutuhan, hal ini disebabkan oleh adanya
keterbatasan pasokan gas ke pembangkit PLN. Sebagai contoh, pasokan gas


RUPTL 2011- 2020 89


untuk PLTGU Belawan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun karena
depletion. Idealnya gas harus terjamin sepanjang umur ekonomis pusat
pembangkit.
Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan
tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.
Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 4,2 juta ton akan meningkat tajam
menjadi 20 juta ton pada tahun 2020, atau sekitar 5 kali lipat untuk 10 tahun
mendatang.

5.5.4 Wilayah Operasi Indonesia Timur
Selaras dengan kebijakan penurunan pemakaian BBM dalam sektor tenaga
listrik, maka komposisi produksi listrik per jenis energi primer di Indonesia Timur
diproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 58% batubara, 15% gas alam,
15% tenaga air, 4% minyak dan 7% panas bumi seperti diperlihatkan pada
Tabel 5.27 dan Gambar 5.6.
Proyeksi produksi energi dan kebutuhan bahan bakar untuk Kalimantan,
Sulawesi, Maluku & Papua dan NTB & NTT diperlihatkan pada Lampiran A.

Tabel 5. 27 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Indonesia Timur (GWh)
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD 5,916 5,033 2,964 1,569 1,421 1,399 1,380 1,242 1,307 1,498
2 MFO 2,923 2,351 1,236 378 41 41 30 30 30 30
3 Gas 1,818 1,984 3,676 4,042 4,071 3,874 3,928 4,016 4,041 4,116
4 LNG - 156 694 721 839 891 902 1,007 1,090 1,349
5 Batubara 2,409 4,788 7,820 11,483 13,360 14,319 15,748 17,166 18,831 21,153
6 Hydro 1,234 2,216 2,345 2,469 2,606 3,323 3,829 4,659 5,345 5,503
7 Surya/Hybri d 2 4 4 5 6 6 6 6 7 7
8 Geothermal 438 446 458 629 1,071 1,801 2,158 2,395 2,633 2,636
T O T A L 14,740 16,977 19,199 21,295 23,414 25,653 27,980 30,522 33,283 36,292



90 RUPTL 2011- 2020


-
5,000
10,000
15,000
20,000
25,000
30,000
35,000
40,000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
G
W
h
Surya/Hybrid HSD  MFO  LNG Gas Batubara Geothermal Hydro

Gambar 5. 7 Komposisi Produksi Energi Listrik Berdasarkan Jenis Bahan Bakar
Wilayah Operasi Indonesia Timur (GWh)

Kebutuhan bahan bakar dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2020 diberikan
pada Table 5.28

Tabel 5. 28 Kebutuhan Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur
No. FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 HSD ( x 10^ 3 kl ) 1,539.2 1,310.6 788.5 356.2 323.5 301.8 288.1 269.2 276.7 318.3
2 MFO ( x 10^ 3 kl ) 612.7 521.0 273.0 113.5 33.3 33.3 30.7 30.7 30.7 30.7
3 Gas (bcf) 13.2 13.2 19.3 21.1 21.1 21.3 22.0 23.2 23.5 24.4
4 LNG (bcf) - - 3.4 3.2 3.1 3.2 3.8 3.9 4.6 6.8
5 Batubara (10^ 3 ton) 1,345.1 2,989.5 4,961.0 7,163.5 8,038.3 8,298.4 9,105.6 9,794.8 10,834.0 12,165.3
6 Bi omass (10^ 3 ton)

Kebutuhan akan batubara terus meningkat selaras dengan proyeksi kebutuhan
tenaga listrik dan merupakan bahan bakar yang dominan dalam produksi listrik.
Kebutuhan batubara pada tahun 2011 sekitar 1,3 juta ton akan meningkat tajam
menjadi 12,2 juta ton pada tahun 2020, atau sekitar tujuh kali lipat untuk 10
tahun mendatang.



RUPTL 2011- 2020 91


5.6 ANALISIS SENSITIVITAS
RUPTL 2011–2020 ini disusun sebagai rencana pengembangan sistem
kelistrikan dengan skenario tunggal, karena diperlukan adanya rencana
program pengembangan kapasitas pembangkit, transmisi dan distribusi yang
pasti. Rencana yang pasti ini dilatarbelakangi oleh sifat dari komitmen investasi
di sektor ketenagalistrikan yang memerlukan adanya kepastian jadwal dan
kapasitas.
Namun disadari bahwa penyusunan RUPTL dipengaruhi oleh beberapa
variabel ketidakpastian yang di luar kendali PLN, misalnya harga bahan bakar,
harga EPC proyek, proyeksi penjualan/permintaan tenaga listrik, dan lain-lain.
Untuk memahami pengaruh perubahan variabel tersebut terhadap rencana
pengembangan sistem kelistrikan, maka dalam RUPTL ini telah dilakukan
analisis sensitivitas.
Dari beberapa variabel ketidakpastian yang ada, analisis sensitivitas dalam
RUPTL ini hanya dibuat untuk perubahan harga bahan bakar. Hal ini dilakukan
karena harga bahan bakar merupakan variabel yang paling volatile dan dapat
berubah secara cepat dan lebar, sedangkan pergerakan harga EPC relatif lebih
terbatas. Adapun penyimpangan dari proyeksi penjualan/permintaan tenaga
listrik akan dikaji tersendiri dalam analisis risiko pada Bab 7.
Analisis sensitivitas dilakukan dengan membuat 4 cases di luar base case
45

untuk sistem J awa Bali, karena sistem ini merupakan sistem terbesar di
Indonesia dan analisis yang diperoleh dapat menggambarkan situasi di wilayah-
wilayah lainnya. Perubahan harga bahan bakar dalam analisis sensitivitas
diberikan pada Tabel 5.30.

Tabel 5. 29 Variasi Harga Bahan Bakar Dalam Analisis Sensitivitas
Case
Harga
Crude Oil
US$/barel
Coal
US$/ton
Gas
US$/mmbtu
LNG
US$/mmbtu
Base Case 95 80 6 10
Case 1 130 80 6 10
Case 2 95 80 6 10
Case 3 95 100 6 10
Case 4 95 80 7 10


45
Base case adalah case yang diadopsi dalam RUPTL 2011 – 2020 ini.


92 RUPTL 2011- 2020


Tabel 5. 30 Hasil Analisis Sensiti vitas Terhadap Perubahan Harga Bahan Bakar
No Case Study Satuan
Base
Case
Case 1 Case 2 Case 3 Case 4
1 Harga bahan bakar
Crude Oil USD/barrel 95 130 95 95 95
Batubara USD/ton 80 80 50 100 80
Gas USD/mmbtu 6 6 6 6 7
LNG USD/mmbtu 10 10 10 10 10
2 Objective Function J uta USD 58.063 58.090 55.542 65.338 59.550
% 100 100 96 113 103
3 Penambahan Kapasitas
PLTU MW 24.800 24.800 28.800 16.800 29.800
PLTGU MW 6.750 6.750 3.000 15.000 3.000
PLTG MW 1.800 1.800 1.600 1.600 600
J umlah MW 33.350 33.350 33.400 33.400 33.400

Case 1 dimaksudkan untuk memahami dampak kenaikan harga minyak mentah
terhadap rencana pengembangan sistem, Case 2 untuk melihat dampak
penurunan harga batubara, Case 3 untuk melihat pengaruh kenaikan harga
batubara, dan Case 4 untuk memahami dampak kenaikan harga gas.
Hasil simulasi pada Case 1 menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak
menjadi US$130 tidak mengubah konfigurasi pembangkit (jenis, kapasitas dan
jadwal), dan hanya sedikit menaikkan nilai objective function biaya
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.30. Hal ini dapat dimengerti karena
porsi pemakaian BBM memang sangat kecil, yaitu hanya 1% dari fuel mix pada
tahun 2020, dengan demikian RUPTL ini tidak sensitif terhadap perubahan
harga minyak.
Sementara penurunan harga batubara dari $80 menjadi $50 pada Case 2 akan
menambah kapasitas PLTU batubara dari 24.800 MW (base case) menjadi
28.800 MW (Case 2), dengan mengambil alih pembangkit berbahan bakar gas
(PLTGU). Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL ini sangat sensitif terhadap
penurunan harga batubara. Namun banyaknya PLTU batubara akan
menyebabkan pembangkit yang seharusnya memikul beban dasar menjadi
beroperasi dengan CF yang rendah karena sebagian daripadanya akan
mengambil peran combined cycle sebagai pemikul beban medium.
Sebaliknya jika harga batubara naik dari $80 menjadi $100 (Case 3), maka
kapasitas PLTU batubara hanya akan menurun dari 24.800 MW (base case)


RUPTL 2011- 2020 93


menjadi 16.800 MW dan peranannya digantikan dengan pembangkit berbahan
bakar gas.
Apabila harga gas naik sedikit dari $6 menjadi $7 (Case 4), maka kapasitas
pembangkit batubara akan naik tajam dari 24.800 MW (base case) menjadi
29.800 MW. Hal ini menunjukkan bahwa RUPTL sangat sensitif terhadap
kenaikan harga gas. Harga gas sebesar $6 merupakan harga tertinggi dimana
combined cycle plants masih dapat bersaing dengan kandidat pembangkit
lainnya. Apabila harga gas lebih tinggi dari $6, maka combined cycle tidak
dapat bersaing secara ekonomi dengan PLTU pada harga batubara $80, dan
peranan pembangkit medium unit akan diambil oleh PLTU batubara.

5.7 PROYEKSI EMISI CO2
Proses perencanaan sistem pada RUPTL 2011-2020, sebagaimana dapat
dilihat pada butir 2.2 mengenai kebijakan pengembangan kapasitas pembangkit
dan butir 5.1 mengenai kriteria perencanaan pembangkit, belum
memperhitungkan biaya emisi CO
2
sebagai salah satu variabel biaya. Namun
demikian, RUPTL ini tidak mengabaikan aspek emisi CO
2
. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya kandidat PLTP dan PLTA yang ditetapkan masuk dalam
sistem kelistrikan walaupun mereka bukan merupakan solusi biaya terendah.
Penggunaan teknologi boiler supercritical di pulau J awa juga membuktikan
bahwa PLN peduli dengan upaya mengurangi emisi CO
2
dari pembangkitan
tenaga listrik.
Banyaknya emisi dihitung dari jumlah bahan bakar yang digunakan dan
dikonversi menjadi emisi CO
2
(dalam ton CO
2
) dengan menggunakan faktor
pengali (emission factor) yang diterbitkan oleh IPCC
46
.

5.7.1 Baseline Emisi CO
2
(Murni Least Cost)
Pengembangan pembangkitan yang semata-mata berdasarkan prinsip least-
cost tanpa mempertimbangkan intervensi kebijakan pemerintah seperti
pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya akan menghasilkan

46
IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2006 IPCC Guidelines for National
Greenhouse Gas Inventories.


94 RUPTL 2011- 2020


rencana pengembangan pembangkit yang sangat didominasi oleh PLTU
batubara. Rencana pengembangan ini selanjutnya disebut sebagai baseline.
5.7.1.1 Sistem J awa Bali
Gambar 5.8 menunjukkan jumlah emisi CO
2
yang akan dihasilkan oleh skenario
baseline untuk sistem J awa Bali.









Gambar 5. 8 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO
2
Sistem Jawa Bali
Skenario Baseline
Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem J awa Bali
akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar
27.000 MW dengan produksi mencapai 72,8% dari total produksi pada tahun
2020. Emisi CO
2
yang dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai
236 juta ton CO
2
.
Tabel 5.31 menunjukkan komposisi bauran energi (energy mix) pada tahun
2010, 2016 dan tahun 2020. Dapat dilihat pada tabel tersebut bahwa energi
terbarukan khususnya panas bumi tidak kompetitif melawan pembangkit fosil,
sehingga tidak terjadi penambahan kapasitas PLTP secara signifikan (hanya
PLTP existing dan committed projects).







25.0 
50.0 
75.0 
100.0 
125.0 
150.0 
175.0 
200.0 
225.0 
250.0 

10,000 
20,000 
30,000 
40,000 
50,000 
60,000 
70,000 
2010 2012 2014 2016 2018 2020
MW million tCO2
COAL OIL GAS GEOTHERMAL HYDRO NUCLEAR EMISI


RUPTL 2011- 2020 95




Tabel 5. 31 Bauran Energi Sistem Jawa Bali Pada Skenario Baseline (GWh)
Uni t 2010 2016 2020 Porti on
(%)
Coal GWh 84,728 151,929 235,452 72.8
Oil GWh 206 4 20 0.1
Gas GWh 30,087 59,029 67,023 20.8
Geothermal GWh 6,641 8,110 8,110 2.5
Hydro GWh 7,813 8,893 12,262 3.8
Nuclear GWh 0 0 0 0
Total
Production
GWh 129,475 227,965 322,867 100
Objective
Function
Mill.
USD
14,616 46,430 62,575


20.0 
40.0 
60.0 
80.0 
100.0 
120.0 
140.0 
160.0 
180.0 
200.0 
220.0 
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Juta tCO2
Batubara Gas LNG HSD MFO

Gambar 5. 9 Emisi CO
2
per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Jawa Bali Skenario Baseline

5.7.1.2 Sistem Sumatera
Gambar 5.10 menunjukkan jumlah emisi CO
2
yang akan dihasilkan dalam
skenario baseline untuk sistem Sumatera.
Pengembangan pembangkit dengan skenario baseline untuk sistem Sumatera
akan menghasilkan penambahan PLTU batubara konvensional sebesar
2.000 MW, PLTGU gas alam sebesar 800 MW, PLTGU LNG 400 MW dan
IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) sebesar 400 MW pada tahun


96 RUPTL 2011- 2020


2020. PLTP tidak kompetitif secara ekonomis, sehingga dalam baseline ini
hanya tercantum proyek-proyek PLTP yang telah committed. Emisi CO
2
yang
dihasilkan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28,8 juta ton CO
2
.
Tabel 5.32 menunjukkan komposisi bauran energi pada tahun 2010, 2016 dan
tahun 2020.
-
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
12,000
2010 2012 2014 2016 2018 2020
Capacity of
Facilities, MWe
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
Million tCO2
COAL GAS LNG MFO HSD
GEO IGPP HYD PUMP Emission

Gambar 5. 10 Proyeksi Komposisi Pembangkit dan Jumlah Emisi CO
2
Sistem
Interkoneksi Sumatera Skenario Baseline

Produksi listrik tahun 2020 berdasarkan energi primer dalam skenario baseline
sistem Sumatera adalah 60,2% untuk batubara, 13,6% untuk tenaga air, 10,1%
untuk panas bumi, 9,8% untuk gas, 6,0% untuk gasifikasi batubara dan hanya
0,2% untuk bahan bakar minyak.
Tabel 5. 32 Bauran Energi Sistem Sumatera Pada Skenario Baseline (GWh)
Unit 2010 2016 2020 Portion (%)
Coal GWh 5.731       19.026     27.207     60,2           
Oil GWh 3.642       15             103           0,2             
Gas GWh 5.382       3.729       4.437       9,8             
Coal Gasification GWh  ‐     ‐    2.735       6,0             
Geothermal GWh  ‐    4.588       4.588       10,1           
Hydro GWh 3.608       4.925       6.161       13,6           
Total Production GWh 18.363     32.283     45.231     100,0         
Construction 
Cost
Million 
USD
513           713           1.031      



RUPTL 2011- 2020 97



0
5
10
15
20
25
30
35
40
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Juta tCO2
Batubara  Gas LNG MFO HSD

Gambar 5. 11 Emisi CO
2
per Jenis Bahan Bakar Pada Sistem Sumatera Skenario Baseline

5.7.2 Emisi CO
2
Sesuai RUPTL 2011-2020
Pemerintah telah menetapkan Perpres No. 4 tahun 2010 dan Permen ESDM
No. 15 tahun 2010 mengenai Program Percepatan Pembangkit Tahap 2.
Program tersebut didominasi oleh pembangkit dengan menggunakan energi
terbarukan, khususnya panas bumi. Dengan adanya intervensi kebijakan
pemerintah mengenai pengembangan PLTP dan energi terbarukan lainnya
akan menghasilkan rencana pengembangan pembangkit yang sedikit berbeda
dibandingkan dengan baseline serta dapat menurunkan emisi CO
2
.
5.7.2.1 Emisi CO
2
Indonesia
Gambar 5.12 memperlihatkan emisi CO
2
yang akan dihasilkan apabila produksi
listrik Indonesia dilakukan dengan fuel mix seperti pada Gambar 5.4. Dari
Gambar 5.12 dapat dilihat bahwa emisi CO
2
se-Indonesia akan meningkat dari
141 juta ton pada 2011 menjadi 276 juta ton pada tahun 2020. Dari 276 juta ton
emisi tersebut, 245 juta ton (89%) berasal dari pembakaran batubara.



98 RUPTL 2011- 2020


0
25
50
75
100
125
150
175
200
225
250
275
300
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta tCO2
Biomass HSD MFO LNG Gas Batubara 

Gambar 5. 12 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar (Gabungan Indonesia)

Average grid emission factor
47
untuk Indonesia pada tahun 2011 adalah
0,763 kgCO2/kWh, akan meningkat menjadi 0,8 kgCO2/kWh pada 2013-2014
dan selanjutnya akan menurun karena beroperasinya proyek-proyek PLTP dan
PLTA sehingga average grid emission factor pada tahun 2020 menjadi 0,745
kgCO2/kWh.
5.7.2.2 Emisi CO
2
Sistem J awa-Bali
Proyeksi emisi CO
2
dari sistem J awa Bali diperlihatkan pada Gambar 5.13.
Emisi naik dari 110 juta ton pada 2011 menjadi 205 juta ton pada 2020, atau
naik hampir 2 kali lipat. Grid emission factor membaik dari 0,778 kgCO2/kWh
pada 2011 menjadi 0,756 kgCO2/kWh pada 2020. Perbaikan faktor emisi ini
dicapai dari peningkatan pemakaian gas alam, panas bumi dan penggunaan
teknologi supercritical.

47
Grid emission factor didefinisikan sebagai jumlah CO2 [kg] per produksi listrik [kWh]


RUPTL 2011- 2020 99


0
25
50
75
100
125
150
175
200
225
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta tCO2
Biomass HSD MFO LNG Gas Batubara 

Gambar 5. 13 Emisi CO
2
per Jenis Bahan Bakar pada Sistem Jawa Bali
5.7.2.3 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Barat
Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Barat diperlihatkan
pada gambar 5.14. Emisi naik dari 21 juta ton menjadi 45 juta ton, atau naik
sekitar 2 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0,749 kgCO2/kWh pada
2011 menjadi 0,856 kgCO2/kWh pada 2013 dan berangsur-angsur menurun
menjadi 0,704 kgCO2/kWh pada 2020. Faktor emisi yang membaik ini
disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta tCO2
Biomass HSD MFO LNG Gas Batubara 

Gambar 5. 14 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar pada Wilayah Operasi Indonesia Barat


100 RUPTL 2011- 2020


5.7.2.4 Emisi CO2 Wilayah Operasi Indonesia Timur
Proyeksi emisi CO2 dari pembangkitan listrik di Indonesia Timur diperlihatkan
pada Gambar 5.15. Emisi naik dari 9,4 juta ton pada 2011 menjadi 26,5 juta ton
pada 2020, atau naik 2,8 kali lipat. Grid emission factor meningkat dari 0,641
kgCO2/kWh pada 2011 menjadi 0,784 kgCO2/kWh pada 2014 dengan
masuknya PLTU skala kecil di 70 lokasi, dan berangsur-angsur menurun
menjadi 0,731 kgCO2/kWh pada 2020. Faktor emisi yang membaik ini
disebabkan oleh kontribusi positif dari pemanfaatan panas bumi dan tenaga air.
0
5
10
15
20
25
30
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta tCO2
Biomass HSD MFO LNG Gas Batubara 

Gambar 5. 15 Emisi CO2 per Jenis Bahan Bakar Wilayah Operasi Indonesia Timur

5.8 PROYEK CDM (CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM)
Sesuai Misi PLN ”menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan”,
dan dengan komitmen nasional tentang pengurangan emisi Gas Rumah Kaca
(GRK), PLN akan melakukan upaya pengurangan emisi GRK dari semua
kegiatan ketenagalistrikan (pembangkit, transmisi, gardu induk dan distribusi).
PLN akan menggunakan peluang yang diberikan oleh Protokol Kyoto (PK),
yaitu peluang bagi Negara Non Annex I untuk mendapatkan kredit dari upaya
pengurangan emisi GRK melalui mekanisme CDM (Clean Development
Mechanism) yang akan berlaku dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012
sesuai dengan masa berlakunya Protokol Kyoto dan kesepakatan yang akan
dicapai oleh para pihak untuk pasca tahun 2012.


RUPTL 2011- 2020 101


Implementasi CDM akan diterapkan untuk semua kegiatan di lingkungan PLN
yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi proyek CDM di sisi
pembangkitan, transmisi/gardu induk dan distribusi.
Kebijakan pengembangan proyek CDM di unit-unit PLN termasuk penjualan
CER-nya dilakukan secara terpusat, sedangkan Anak Perusahaan dapat
mengelola dan mengembangkan proyek CDM sendiri dengan melakukan
koordinasi dengan PLN Pusat.
Sejak tahun 2002 PLN sudah menyadari akan pentingnya CDM dan melakukan
assessment beberapa potensi proyek CDM, dan hasilnya hingga saat ini PLN
telah menandatangani 5 ERPA (Emission Reduction Purchase Agreements).
Selain itu PLN juga mengembangkan proyek melalui mekanisme VCM
(Voluntary Carbon Mechanism), dimana saat ini sudah ada 3 proyek yang telah
selesai proses validasinya sesuai VCS (Voluntary Carbon Standard). Daftar
proyek PLN yang dikembangkan melalui mekanisme CDM dan VCM dapat
dilihat pada Tabel 5.33.
Tabel 5.33 Daftar Proyek PLN yang Dikembangkan melalui Mekanisme CDM dan VCM
No Nama Proyek Lokasi Emission
Reduction
Mechanism
Status Saat
Ini
Annual Project
Emission
Reduction
(tCO2e/year)
1 PLTP Kamojang IV (60 MW) J awa Barat CDM Registered 402,780
2 PLTP Lahendong II (20 MW) Tomohon, Minahasa,
Sulawesi Utara
CDM Registered 66,713
3 PLTP Lahendong III (20 MW) Tomohon, Minahasa,
Sulawesi Utara
CDM PDD
Development
50,663
4 PLTA Genyem (20 MW) Papua CDM PDD
Development
50,000
5 PLTM Lobong (1,6 MW),
Mongango (1,2 MW),
Merasap (1,5 MW)
Kalimantan Barat,
Gorontalo, dan
Sulawesi Utara
CDM PDD
Development
8,749
6 PLTMG Bontang (14 MW) Kalimantan Timur CDM Under
validation
21,282
7 PLTA Sipansihaporas (50
MW)
Sumatra Utara VCS Validation
completed
159,596
8 PLTA Lau Renun (82 MW) Sumatra Utara VCS Validation
completed
229,048
9 PLTA Musi (210 MW) Bengkulu VCS Validation
completed
847,020


102 RUPTL 2011- 2020



5.9 PENGEMBANGAN SISTEM PENYALURAN DAN GARDU INDUK
Pada periode 2011-2020 pengembangan sistem penyaluran masih berupa
pengembangan sistem dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem J awa-
Bali serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia
Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan saluran transmisi secara umum
diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di
sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Disamping itu juga
sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan
pelayanan.
Pengembangan transmisi 500 kV di J awa pada umumnya dimaksudkan untuk
mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun expansion,
menjaga kriteria security N-1 baik statik maupun dinamik. Khusus untuk
pasokan ke sistem J akarta, pembangunan sistem 500 kV dilakukan dengan
menggunakan jalur transmisi 150 kV atau 70 kV. Sedangkan pengembangan
transmisi 150 kV dimaksudkan untuk menjaga kriteria security N-1 dan sebagai
transmisi terkait untuk gardu induk 150 kV baru.
Pengembangan transmisi 500 kV di Sumatera dimaksudkan untuk mentransfer
tenaga listrik dari pembangkit mulut tambang di Sumbagsel dan Riau ke
Sumbagut. Selain itu transmisi 500 kV juga dikembangkan di sekitar konverter
transmisi HVDC di Sumatera sebagai feeder pemasok listrik dari pembangkit
mulut tambang.
Rencana pengembangan sistem penyaluran di Indonesia hingga tahun 2020
diproyeksikan sebesar 114.554 MVA untuk pengembangan gardu induk serta
49.192 kms pengembangan jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel
5.34 dan Tabel 5.35.
Tabel 5.34 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Indonesia
Satuan kms
TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500 kV AC 82 172 374 12 459 738 538 170 40 40 2,625
500 kV DC - - - - - 1,100 - - - - 1,100
275 kV - 642 2,172 774 1,532 110 - 130 - - 5,360
250 kV DC - - - - - 462 - - - - 462
150 kV 3,717 5,754 7,812 6,813 3,573 2,541 2,211 1,873 972 1,016 36,282
70 kV 168 1,254 370 1,206 1 - 334 - - - 3,333
TOTAL 3,967 7,822 10,729 8,805 5,565 4,951 3,083 2,173 1,012 1,056 49,162



RUPTL 2011- 2020 103



Tabel 5.35 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Indonesia
Satuan MVA
TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500/275 kV - - - - - 1,000 - 2,000 - - 3,000
500/150 kV 8,660 1,830 5,000 2,000 4,000 5,500 3,500 500 1,500 1,000 33,490
500 kV DC - - - - - 3,000 - - - - 3,000
275/150 kV 1,000 270 5,090 2,000 1,250 - 500 500 - 250 10,860
250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600
150/70 kV 60 60 123 - 60 60 - - - - 363
150/20 kV 9,746 11,220 4,670 6,200 4,140 5,340 4,470 4,920 4,600 4,580 59,886
70/20 kV 715 640 410 260 270 180 150 210 290 230 3,355
TOTAL 20,181 14,020 15,293 10,460 9,720 15,680 8,620 8,130 6,390 6,060 114,554


5.9.1 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Barat
Rencana pengembangan sistem transmisi dalam RUPTL 2011-2020 akan
banyak mengubah topologi jaringan dengan terwujudnya sistem interkoneksi
275 kV dan 500 kV di Sumatera. Pengembangan juga banyak dilakukan untuk
memenuhi pertumbuhan demand dalam bentuk penambahan kapasitas trafo.
Pengembangan untuk meningkatkan keandalan dan debottlenecking yang juga
terdapat di beberapa sistem, antara lain rencana pembangunan sirkit kedua
dan reconductoring beberapa ruas transmisi di sistem Sumbagut dan
Sumbagsel.
Rencana interkoneksi dengan tegangan 275 kV di Sumatera diprogramkan
terlaksana pada tahun 2012. Selain itu terdapat pembangunan beberapa gardu
induk dan transmisi 150 kV untuk mengambil alih beban dari pembangkit diesel
ke sistem interkoneksi (dedieselisasi), yaitu di sistem Sumbar-Riau, Sumbagsel
dan Kalbar.
Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Barat
hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 29.450 MVA untuk pengembangan
gardu induk (500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 21.150 kms
pengembangan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.36 dan Tabel 5.37.
Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Barat antara lain:
– Proyek transmisi 275 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan
Sumatera Bagian Utara jalur barat dan jalur timur.


104 RUPTL 2011- 2020


– Proyek transmisi 500 kV untuk interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan
Sumatera Bagian Utara jalur timur.
– Interkoneksi Batam – Bintan dengan kabel laut 150 kV dimaksudkan untuk
memenuhi sebagian kebutuhan tenaga listrik pulau Bintan dengan tenaga
listrik dari Batam
48
dengan mempertimbangkan rencana pengembangan
pembangkit di Batam yang akan mencukupi kebutuhan Batam dan sebagian
Bintan
49
. Adanya interkoneksi 150 kV tersebut tidak ada hubungannya
dengan perluasan wilayah usaha PLN Batam.
– Rencana pengembangan transmisi juga mencakup program interkoneksi
dengan sistem tenaga listrik dari negara tetangga, meliputi interkoneksi
Sumatera-Malaysia (HVDC ±250 kV)
50
dan Kalimantan Barat-Sarawak (275
kV HVAC). Tujuan interkoneksi tersebut antara lain untuk mewujudkan
ASEAN Power Grid sebagaimana dimaksud dalam MOU on the ASEAN
Power Grid yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Perpres
No. 77/2008.
1. Interkoneksi Sumatera – Malaysia direncanakan beroperasi 2017
dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari tukar menukar
tenaga listrik antara Sumatera dan Malaysia pada jam-jam tertentu. Pada
saat peak load di Sumatera (malam hari) PLN menerima tenaga listrik
dari Malaysia yang pada saat yang sama sedang dalam kondisi off peak.
Pada saat off peak di Sumatera (siang hari) PLN mengirim tenaga listrik
ke Malaysia yang pada saat yang sama sedang meningkatkan keandalan
sistem Sumatera.
2. Interkoneksi Kalbar – Serawak direncanakan beroperasi 2014
dimaksudkan untuk memfasilitasi pembelian tenaga listrik oleh PLN
khususnya pada waktu beban puncak sampai dengan tahun 2019 untuk
menghilangkan pemakaian BBM selama beban puncak. Selain itu terbuka
kemungkinan bagi PLN untuk juga membeli listrik di luar waktu beban
puncak dalam hal penyelesaian PLTU batubara di Kalimantan Barat
terlambat. Setelah tahun 2019 diperkirakan PLN hanya akan membeli

48
Biaya produksi listrik di Batam lebih rendah dari pada biaya produksi di Bintan yang masih
banyak menggunakan pembangkit BBM.
49
Kecukupan pembangkit di Batam sampai dengan tahun 2020 telah dikonfirmasi ke PLN
Batam.
50
Pemilihan level tegangan ±250 kV HVDC bipolar ini masih terbuka kemungkinan untuk
diubah ke 500 kV HVDC monopolar.


RUPTL 2011- 2020 105


tenaga listrik selama waktu beban puncak karena semua pembangunan
pembangkit beban dasar (PLTU) akan selesai.
Tabel 5. 36 Kebutuhan Fasilitas Transmisi Wilayah Operasi Indonesia Barat
Satuan kms
TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500 kV AC - - - - - - - 150 - - 150
500 kV DC - - - - - 800 - - - - 800
275 kV - 160 2,172 774 1,532 110 - 130 - - 4,878
250 kV DC - - - - - 462 - - - - 462
150 kV 694 1,643 4,318 2,499 1,486 1,371 790 387 382 740 14,310
70 kV - 310 - 240 - - - - - - 550
TOTAL 694 2,113 6,490 3,513 3,018 2,743 790 667 382 740 21,150

Tabel 5. 37 Kebutuhan Fasilitas Trafo dan Gardu Induk Wilayah Operasi Indonesia Barat
Satuan MVA
TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500/275 kV - - - - - 1,000 - 2,000 - - 3,000
500/150 kV - - - - - - - - - - -
500 kV DC - - - - - 3,000 - - - - 3,000
275/150 kV 1,000 - 5,000 2,000 1,250 - 500 500 - 250 10,500
250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600
150/70 kV - - - - - - - - - - -
150/20 kV 960 2,750 2,170 1,350 840 810 870 810 570 750 11,880
70/20 kV 30 260 30 60 - 30 - 30 30 - 470
TOTAL 1,990 3,010 7,200 3,410 2,090 5,440 1,370 3,340 600 1,000 29,450


5.9.2 Pengembangan Sistem Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia
Timur
Pengembangan sistem transmisi untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
meliputi pembangunan transmisi dan gardu induk 275 kV, 150 kV dan 70 kV. Di
wilayah Maluku, Papua dan Nusa Tenggara sedang dilaksanakan
pembangunan transmisi 70 kV dan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU
batubara di wilayah tersebut, sementara di wilayah Sulselrabar sedang
dibangun transmisi 275 kV dari PLTA Poso ke Palopo. Pada tahun 2013 sistem
Sulawesi Tengah, sistem Sulawesi Tenggara dan sistem Sulawesi Selatan
akan terinterkoneksi melalui jaringan transmisi 275 kV dan 150 kV.
Evakuasi daya dari rencana PLTU sewa di Balikpapan dan Asam-Asam akan
menyebabkan kondisi bottleneck di beberapa ruas transmisi di sistem Kalsel


106 RUPTL 2011- 2020


dan Kaltim. Untuk mengatasi kondisi tersebut direncanakan reconductoring
pada ruas-ruas tersebut.
Rencana pengembangan interkoneksi tegangan tinggi antar pulau di area
Indonesia Timur meliputi interkoneksi pulau Laut – Kalsel ,interkoneksi pulau
Seram – Ambon dan interkoneksi Sultra – pulau Muna – pulau Buton, namun
implementasi rencana interkoneksi tersebut tergantung pada kelayakan dari
hasil studi dasar laut.
Wilayah Kalimantan Selatan-Tengah dan Timur akan terinterkoneksi melalui
jaringan transmisi 150 kV pada tahun 2012.
Rencana pengembangan sistem penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
hingga tahun 2020 diproyeksikan sebesar 9.188 MVA untuk pengembangan
gardu induk (275 kV, 150 kV dan 70 kV) serta 16.434 kms pengembangan
jaringan transmisi dengan perincian pada Tabel 5.38 dan Tabel 5.39.
Beberapa proyek transmisi strategis di Indonesia Timur antara lain:
– Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Kalselteng – Kaltim
– Proyek transmisi 150 kV interkoneksi sistem Sulut – Gorontalo.

Tabel 5. 38 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
Satuan kms
TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
275 kV 482 482
150 kV 1,515 2,161 2,837 2,752 494 680 1,247 1,144 380 170 13,379
70 kV 168 834 370 866 1 334 2,573
TOTAL 1,683 3,477 3,207 3,618 495 680 1,581 1,144 380 170 16,434

Tabel 5. 39 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Wilayah Operasi Indonesia Timur
Satuan MVA
TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
275/150 kV 270 90 430
150/70 kV 60 60 123 60 60 363
150/20 kV 870 760 940 950 450 540 630 480 730 320 6,670
70/20 kV 245 260 300 140 270 120 120 90 80 170 1,795
TOTAL 1,175 1,350 1,453 1,090 780 720 750 570 810 490 9,188


5.9.3 Pengembangan Sistem Penyaluran Sistem Jawa-Bali
Pada Tabel 5.40 dan Tabel 5.41 diperlihatkan kebutuhan fisik fasilitas
penyaluran dan gardu induk di sistem J awa-Bali.


RUPTL 2011- 2020 107



Tabel 5. 40 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali
Satuan kms
TRANSMISI 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500 kV AC 82 172 374 12 459 738 538 20 40 40 2,475
500 kV DC 300 300
150 kV 1,509 1,950 657 1,562 1,593 490 174 342 210 106 8,593
70 kV - 110 100 210
TOTAL 1,591 2,232 1,031 1,674 2,052 1,528 712 362 250 146 11,578

Tabel 5. 41 Kebutuhan Fasilitas Penyaluran Sistem Jawa-Bali
Satuan MVA
TRAFO 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500/150 kV 8,660 1,830 5,000 2,000 4,000 5,500 3,500 500 1,500 1,000 33,490
150/70 kV -
150/20 kV 7,916 7,710 1,560 3,900 2,850 3,990 2,970 3,630 3,300 3,510 41,336
70/20 kV 440 120 80 60 30 30 90 180 60 1,090
TOTAL 17,016 9,660 6,640 5,960 6,850 9,520 6,500 4,220 4,980 4,570 75,916

Dari Tabel 5.40 terlihat bahwa sampai dengan tahun 2020 akan dibangun
transmisi 500 kV AC sepanjang 2.475 kms. Transmisi tersebut dimaksudkan
untuk mengimbangi program percepatan pembangkit PLTU Suralaya Baru dan
PLTU Adipala (tahun 2011, 2014), PLTU Paiton Expansion dan PLTU IPP
Tanjung J ati Expansion (2011,2012), PLTU J awa Tengah Infrastruktur dan
PLTU Indramayu (2016/2017, 2017), J awa-Bali Crossing dari Paiton hingga ke
pusat beban di Bali (2015), PLTGU baru (2019/2020) dan pumped storage
Upper Cisokan (2016), Matenggeng dan Grindulu (2019/2020, 2020). Selain itu
dibangun juga transmisi 500 kV yang berkaitan dengan perkuatan pasokan
J akarta seperti Balaraja-Kembangan dan Kembangan-Durikosambi-Muara
Karang.
Trafo interbus 500/150 kV yang direncanakan pada tabel 5.41 merupakan
perkuatan grid yang tersebar di J awa, utamanya seputar J abotabek.
Transmisi 500 kV DC pada Tabel 5.40 adalah transmisi HVDC interkonesi
Sumatra – J awa, di sini hanya diperhitungkan bagian kabel laut dan overhead
line yang berada di pulau J awa, selebihnya diperhitungkan sebagai
pengembangan sistem transmisi Sumatra.
Sistem transmisi 70 kV pada dasarnya sudah tidak dikembangkan lagi, bahkan
di sistem 70 kV di J awa Barat banyak yang ditingkatkan menjadi 150 kV terkait
dengan proyek percepatan pembangkit 10.000 MW. Rencana pada Tabel 5.40


108 RUPTL 2011- 2020


hanya menunjukkan proyek reconducturing SUTT 70 kV yang memasok
konsumen besar dan saluran distribusi khusus. Program pemasangan trafo-
trafo 150/70 kV dan 70/20 kV pada tabel tersebut juga hanya merupakan
relokasi trafo-trafo dari J awa Barat ke J awa Timur.
Beberapa proyek transmisi strategis di J awa-Bali antara lain:
– Kabel laut J awa-Bali sirkit 3 dan 4 tahun 2012.
Pembangunan kabel laut J awa-Bali sirkit 3-4 dimaksudkan untuk dapat
menekan pemakaian BBM di Bali dalam jangka pendek. Dengan adanya
transfer energi dari sistem J awa melalui kabel laut J awa-Bali #1-4 sebesar
300 MW (mempertimbangkan N-1), akan diperoleh penghematan biaya
bahan bakar sebesar Rp 2,23 triliun selama 20 bulan operasi (Mei 2012-
Desember 2013) hingga beroperasinya J awa-Bali Crossing 150 kV. Apabila
dibandingkan dengan biaya investasi (EPC cost) sebesar Rp 410 miliar,
maka penghematan biaya bahan bakar yang diperoleh masih jauh lebih
besar.
– SUTET Durikosambi – Muara Karang.
– GITET Cawang Baru dan GITET Muara Karang.
– Pembangunan SUTET 500 kV Paiton – New Kapal termasuk overhead line
500 kV / submarine cable 500 kV menyeberangi selat Bali (Jawa Bali
Crossing) sebagai solusi jangka panjang pasokan listrik ke pulau Bali. Tahap
pertama pada tahun 2013 beroperasi 150 kV dan tahap kedua pada tahun
2015 beroperasi 500 kV. Pembangunan J BC ini berpotensi menghasilkan
saving sebesar USD 617 juta (NPV) selama 20 tahun bila dibandingkan
dengan membangun pembangkit di Bali.
– Proyek transmisi SUTET 500 kV tx Ungaran-Pemalang-Mandirancan-
Indramayu tahun 2014.
– Pembangunan transmisi 500 kV HVDC bipole 3,000 MW Sumatra - J awa
berikut GITET Xbogor - Incomer (Tasik - Depok dan Cilegon – Cibinong)
untuk menyalurkan listrik dari PLTU mulut tambang di Sumatra Selatan ke
sistem J awa Bali tahun 2016.



RUPTL 2011- 2020 109


5.10 PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI
Rencana pengembangan sistem distribusi di Indonesia dapat dilihat pada Tabel
5.42. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia hingga tahun 2020 adalah
sebesar 208.607,4 kms jaringan tegangan menengah, 225.404,4 kms jaringan
tegangan rendah, 37.431,2 MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi.
Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk mempertahankan keandalan serta
untuk menampung tambahan sekitar 27,3 juta pelanggan.
Tabel 5.42 Kebutuhan Fasilitas Distribusi di Indonesia
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah
Indonesia
J aringan TM kms 18,425.4 18,573.2 18,066.9 19,716.4 18,435.1 20,332.9 21,750.3 23,088.1 24,497.2 25,721.9 208,607.4
J aringan TR kms 17,666.1 21,080.5 21,666.1 23,554.7 20,683.5 21,688.2 22,759.8 24,172.2 25,488.9 26,644.4 225,404.4
Trafo Distribusi MVA 3,227.4 3,721.1 3,841.1 4,038.6 3,267.0 3,590.3 3,707.9 3,965.9 4,066.2 4,005.7 37,431.2
Tambahan Pelanggan ribu plgn 3,813.4 2,460.4 2,622.6 2,739.8 2,739.9 2,749.6 2,626.2 2,655.4 2,638.7 2,250.7 27,296.6


5.10.1 Wilayah Operasi Indonesia Barat dan Indonesia Timur
Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia
Barat dapat dilihat pada Tabel 5.43. Kebutuhan fisik sistem distribusi Indonesia
Barat hingga tahun 2020 adalah sebesar 62.980,0 kms jaringan tegangan
menengah, 69.454,7 kms jaringan tegangan rendah, 14.593,8 MVA tambahan
kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan untuk
mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar 6,5 juta
pelanggan.
Tabel 5. 43 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Barat
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah
Indonesia Barat
J aringan TM kms 5,642.8 5,592.1 6,429.6 6,982.3 5,563.1 5,956.7 6,334.3 6,708.2 6,920.2 6,850.5 62,980.0
J aringan TR kms 6,398.7 6,128.0 7,152.3 7,780.3 6,159.0 6,543.5 6,896.5 7,332.6 7,539.2 7,524.5 69,454.7
Trafo Distribusi MVA 1,414.4 1,389.8 1,865.1 2,077.8 1,232.3 1,298.4 1,364.8 1,418.0 1,368.5 1,164.9 14,593.8
Tambahan Pelanggan ribu plgn 1,135.4 651.7 661.0 669.7 572.1 542.6 539.9 555.6 573.0 593.0 6,494.1

Rencana pengembangan sistem distribusi untuk Wilayah Operasi Indonesia
Timur dapat dilihat pada Tabel 5.44. Kebutuhan fisik sistem distribusi Wilayah
Operasi Indonesia Timur hingga tahun 2020 adalah sebesar 74.784,0 kms
jaringan tegangan menengah, 65.099,5 kms jaringan tegangan rendah, 8.216,7
MVA tambahan kebutuhan trafo distribusi. Kebutuhan fisik tersebut diperlukan
untuk mempertahankan keandalan serta untuk menampung tambahan sekitar
5,3 juta pelanggan.
Tabel 5. 44 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Wilayah Operasi Indonesia Timur


110 RUPTL 2011- 2020


2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah
Indonesia Timur
J aringan TM kms 5,047.6 5,790.7 6,161.3 7,012.3 6,671.8 7,072.7 7,851.1 8,667.8 9,668.5 10,840.2 74,784.0
J aringan TR kms 4,045.9 6,189.7 6,761.2 7,744.5 5,943.1 5,922.7 6,343.1 6,803.2 7,371.9 7,974.2 65,099.5
Trafo Distribusi MVA 693.4 885.5 787.4 757.9 748.4 763.1 814.9 859.0 917.2 989.7 8,216.7
Tambahan Pelanggan ribu plgn 1,406.2 375.9 384.4 396.7 415.8 409.8 441.9 463.7 481.9 519.8 5,296.1

Interkoneksi Antarpulau
Untuk mengembangkan sistem kelistrikan di pulau-pulau yang dekat dengan
daratan pulau besar dan sekaligus untuk menurunkan penggunaan BBM,
direncanakan interkoneksi antar pulau melalui kabel laut 20 kV atau 70 kV,
yaitu:
• Pulau Laut (Kotabaru) - Batulicin dengan kabel laut 20 kV
• Kaltim - Pulau Nunukan – Sebatik dengan kabel laut 20 kV
• Kendari - Pulau Muna - Pulau Buton (Bau-bau) dengan kabel laut 150
kV.
• Bitung – Pulau Lembeh (Sulut) dengan kabel laut / SUTM 20 kV
• Ambon – Haruku - Seram dengan kabel laut 70 kV, Haruku-Saparua KL
20 kV
• Pulau Ternate – Pulau Tidore dengan kabel laut 20 kV
• Lombok - Pulau 3 Gili dengan kabel laut 20 kV
• Kepulauan Seribu dengan kabel laut 20 kV
• Bali – Nusa Penida dengan kabel laut 20 kV
Pelaksanaan interkoneksi kabel laut tersebut akan didahului dengan kajian
kelayakan meliputi keekonomian, enjiniring dan studi dasar laut (seabed study)
meliputi: route, peletakan kabel, lingkungan, struktur dasar laut, dan lain
sebagainya.

5.10.2 Sistem Jawa-Bali
Perencanaan kebutuhan fisik untuk mengantisipasi pertumbuhan penjualan
energi listrik dapat diproyeksikan seperti pada Tabel 5.45.
Tabel 5. 45 Kebutuhan Fasilitas Distribusi Sistem Jawa-Bali
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah
Jawa-Bali -
J aringan TM kms 7,735.0 7,190.4 5,475.9 5,721.8 6,200.2 7,303.5 7,564.9 7,712.1 7,908.4 8,031.2 70,843.4
J aringan TR kms 7,221.5 8,762.7 7,752.6 8,029.8 8,581.4 9,222.0 9,520.2 10,036.4 10,577.8 11,145.7 90,850.3
Trafo Distribusi MVA 1,119.6 1,445.8 1,188.6 1,202.9 1,286.4 1,528.7 1,528.2 1,688.8 1,780.5 1,851.0 14,620.7
Tambahan Pelanggan ribu plgn 1,271.7 1,432.7 1,577.2 1,673.4 1,752.0 1,797.2 1,644.4 1,636.1 1,583.8 1,137.8 15,506.4



RUPTL 2011- 2020 111


Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dari tahun 2011 sampai dengan 2020
untuk sistem J awa Bali diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah
sebanyak 70.843,4 kms, jaringan tegangan rendah 90.850,3 kms, kapasitas
trafo distribusi 14.620 MVA dan jumlah pelanggan 15,5 juta.
5.11 PENGEMBANGAN LISTRIK PERDESAAN
Untuk saat ini pembangunan listrik desa di seluruh Indonesia dilaksanakan oleh
28 Satuan Kerja Listrik Desa / Satker Lisdes, dimana untuk 24 Satker Lisdes
tersebut berada pada masing-masing provinsi, kecuali untuk 4 Satker Lisdes
merupakan gabungan dua provinsi seperti: Satker Lisdes Riau & Riau
Kepulauan, J awa Tengah & Yogyakarta, Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat,
serta Papua & Papua Barat.
Sasaran kuantitatif pembangunan listrik desa adalah bertujuan meningkatkan
rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik, dengan mengacu pada sasaran
Rencana Pembangunan J angka Menengah/RPJ M tahun 2010-2014, yaitu
untuk rasio elektrifikasi dari 67,2% tahun 2010 menjadi sebesar 80% di tahun
2014, dan untuk rasio desa berlistrik 94,6% tahun 2010 menjadi sebesar
98,9% di tahun 2014. Rekap program listrik perdesaan 2011-2014 dan
investasinya dapat dilihat pada Tabel 5.46 dan Tabel 5.47.
Tujuan pembangunan listrik desa seperti yang disebutkan diatas, juga bertujuan
untuk:
• Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan
• Meningkatkan kualitas bidang pendidikan dan kesehatan
• Mendorong produktivitas ekonomi, sosial dan budaya masyarakat
pedesaan
• Memudahkan dan mempercepat masyarakat pedesaan memperoleh
informasi dari media elektronik serta media komunikasi lainnya.
• Meningkatkan keamanan dan ketertiban yang selanjutnya diharapkan juga
akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Tabel 5. 46 Rekap Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014
Tahun
JTM JTR Trafo
Jml
Pelanggan
Listrik Murah
Kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 8.198,0 7.615,1 373,3 5.847 382.864 -
2012 4.495,6 4.881,1 233,0 3.466 248.833 83.092
2013 7.585,9 7.507,4 386,4 5.623 438.466 -
2014 7.403,4 7.326,7 377,1 5.488 427.915 -
Total 27.682,8 27.330,3 1.369,9 20.424 1.498.078 83.092


112 RUPTL 2011- 2020


Catatan: Pada tahun 2012 ada program listrik Murah dan Hemat untuk
masyarakat daerah tertinggal dan nelayan sebanyak 83.092 RTS (rumah
tangga sasaran).
Tabel 5.47 Rekap Kebutuhan Investasi Program Listrik Perdesaan Indonesia 2011-2014
(Juta Rp)
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Total
Listrik
murah
dan Hemat
(RTS)
2011 1.762.282,6 905.657,2 444.332,0 22.500,0 3.223.783,8 -
2012 1.205.603,0 668.894,7 385.697,0 - 2.260.194,7 286.799,6
2013 2.105.722,4 1.082.279,4 651.229,8 - 3.839.231,7 -
2014 2.055.053,2 1.056.236,9 635.559,5 - 3.746.849,7 -
Total 7.128.661,3 3.713.068,2 2.116.818,4 22.500,0 13.070.059,9 286.799,6

5.12 PENGEMBANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
Energi baru dan terbarukan (EBT) skala besar seperti panas bumi dan PLTA
telah dibahas dalam pengembangan kapasitas pembangkit pada butir 5.4. Butir
ini hanya membahas pengembangan EBT skala kecil.
PLTMH: PLN mendorong pengembangan PLTMH terutama oleh swasta atau
masyarakat untuk melistriki kebutuhan setempat dan juga untuk disalurkan ke
grid atau sistem kelistrikan PLN.
PLTB: Karena potensi energi angin di Indonesia sangat terbatas, maka
pengembangannya akan terbatas di daerah yang memiliki potensi.
Biomassa: PLN tidak bermaksud untuk membangun sendiri pembangkit listrik
tenaga biomassa karena PLN tidak mempunyai kendali atas pasokan
biomassanya. Karena itu PLN mendorong swasta untuk mengembangkannya
dan PLN akan membeli listriknya.
Energi kelautan: walaupun potensi energi kelautan diduga sangat besar, namun
mengingat teknologi dan keekonomiannya masih belum diketahui, PLN baru
akan melakukan uji coba skala kecil sebagai proyek penelitian dan
pengembangan.
Biofuel: tergantung kepada kesiapan pasar biofuel, PLN siap untuk
memanfaatkan biofuel apabila tersedia.


RUPTL 2011- 2020 113


Gasifikasi batubara (PLTGB): PLN memandang jenis energi ini sebagai energi
baru yang dapat diterapkan pada sistem kelistrikan isolated skala kecil.
Rencana pengembangan pembangkit EBT skala kecil dan perkiraan biayanya
ditunjukkan pada Tabel 5.48 dan Tabel 5.49.

Pembangunan PLTS Terpusat (Komunal), Solar Home System (SHS) dan
Lentera Super Hemat Energi (SEHEN)
Mempertimbangkan sebaran penduduk pada geografi yang sangat luas dan
sulitnya menjangkau daerah terpencil, PLN merencanakan untuk membangun
PLTS sebagai berikut:
• PLTS terpusat/komunal (mode operasi mandiri & hybrid) dengan
kapasitas diberikan pada tabel 5.48.
• SHS (panel surya +lampu LED denga batere di dalamnya) skala kecil
tersebar, namun terbatas di provinsi-provinsi yang RE nya masih sangat
rendah dan di daerah yang dalam waktu 5 tahun belum akan
mendapatkan listrik konvensional. J umlah SHS yang akan dipasang
adalah sekitar 377.000 set.
Pengembangan PLTS tersebut dimaksudkan untuk melistriki daerah terpencil
secepatnya, mencegah penambahan penggunaan BBM kalau seandainya
dilayani dengan diesel, dan menurunkan BPP pada daerah tertentu yang
ongkos angkut BBM sangat mahal, seperti daerah sekitar puncak pegunungan
J ayawijaya Papua.
Program elektrifikasi dengan SHS atau lentera ‘super hemat energi’ (SEHEN)
bukan merupakan program pengembangan kapasitas sistem kelistrikan.
Dengan demikian program elektrifikasi dengan SEHEN lebih bersifat sementara
dan hanya diterapkan secara terbatas di propinsi-propinsi yang rasio
elektrifikasinya masih rendah, yaitu NTB, NTT dan Papua dengan terlebih daulu
dibuat kajian kelayakannya. Program SEHEN juga dapat diganti dengan PLTS
terpusat/komunal (centralized PV)”.


114 RUPTL 2011- 2020


Pembangunan PLTS dan pemasangan SHS tersebut akan didahului dengan
kajian kelayakan proyek.

Tabel 5. 48 Rencana Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil
No
Pembangkit -
EBT
Satuan
TAHUN
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 TOTAL
1 PLTMH MW 23 37 198 126 46 193 203 214 225 235 1500
2 PLT Surya MWp*) 2 30 50 60 70 70 75 75 80 80 592
3 PLT Bayu MW 0 0 10 10 15 15 20 20 25 25 140
4 PLT Biomass MW 16 33 35 35 35 40 40 45 45 50 374
5 PLT Kelautan MW 0 0 2 0 0 5 5 5 5 5 27
6 PLT Bio-Fuel MW**) - 10 15 15 14 8 7 7 8 9 93
7
PLT Gas-
Batubara MW 6 32

81

43

22

7

22

14

6

10 243

TOTAL MW 47 142 391 289 202 338 372 380 394 414 2,969
*) Rencana PLTS sd 2014 adalah program 1.000 pulau, sedangkan tahun selanjutnya masih indikasi
**) Kapasitas ekuivalen dari pembangkitan eksisting yang beroperasi dengan bahan bakar biofuel

Tabel 5. 49 Biaya Pengembangan Pembangkit EBT Skala Kecil
No
Pembangkit -
EBT
TAHUN
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 TOTAL
1 PLTMH

55

89

475

302

110

463

487

514

540

564

3,600
2 PLT Surya

10

150

250

300

350

350

375

375

400

400

2,960
3 PLT Bayu

-

-

30

30

45

45

60

60

75

75 420
4 PLT Biomass

40

83

88

88

88

100

100

113

113

125 935
5 PLT Kelautan

-

-

12

-

-

30

30

30

30

30 162
6 PLT Bio-Fuel

-

25

38

38

35

20

18

18

20

23 233
7
PLT Gas-
Batubara

12

64

162

86

44

14

44

28

12

20 486


-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-
TOTAL

117

410

1,054

843

672

1,022

1,114

1,137

1,190

1,237

8,796

5.13 PROYEK PLTU SKALA KECIL TERSEBAR
Program PLTU batubara skala kecil tersebar semula direncanakan oleh PLN di
71 lokasi untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik yang terjadi di wilayah
tersebut dan untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dengan


RUPTL 2011- 2020 115


menggantikan pembangkit BBM terdiri dari Indonesia Barat 16 lokasi dan
Indonesia Timur 35 lokasi.
J ika ada penyewaan di masa mendatang, diutamakan sewa pembangkit
dengan bahan bakar yang murah.
Dalam perkembangannya, beberapa lokasi dibatalkan atau diubah ke PLTGB.
Tabel 5.50 dan 5.51 menunjukkan lokasi dan kapasitas rencana
pengembangan pembangkit PLTU batubara skala kecil dan PLTGB lokasi di
Indonesia Barat dan Indonesia Timur.
Tabel 5. 50 Proyek Pembangkit PLTU Skala Kecil di Indonesia Barat dan Indonesia Timur
No Nama Proyek
Kapasitas 
(MW)
COD 
Estimasi
No Nama Proyek
Kapasitas 
(MW)
COD 
Estimasi
20 PLTU Biak Papua 2 x 7 2014
1 PLTU Ketapang Kalbar 2 x 10 2013 21 PLTU Kolaka Sulsel 2 x 10 2014
2 PLTU Nias Sumut 3 x 7 2014 22 PLTU Luwuk Sulteng 2 x 10 2015
3 PLTU Tanjung Pinang Riau 2 x 15 2014 23 PLTU Melak Kaltim 2 x 7 2013
24 PLTU Merauke Papua 2 x 7 2014
25 PLTU Nabire Papua 2 x 7 2014
4 PLTU Ipuh Bengkulu 2 x 3 2014 26 PLTU Nunukan Kaltim 2 x 7 2014
5 PLTU Mentok Babel 2 x 7 2014
6 PLTU Natuna Riau 2 x 7 2013
7 PLTU Sanggau Kalbar 2 x 7 2012 27 PLTU Alor NTT 2 x 3 2012
8 PLTU Sintang Kalbar 3 x 7 2012 28 PLTU Ampana Sulut 2 x 3 2013
9 PLTU Tanjung Uban Riau 2 x 7 2013 29 PLTU Berau Kaltim 2 x 7 2012
10 PLTU Tapak Tuan NAD 2 x 7 2012 30 PLTU Buntok Kaltim 2 x 7 2013
11 PLTU Tebo Jambi 2 x 7 2013 31 PLTU Kendari Sulsel 1 x 10 2013
12 PLTU Tembilahan Riau 2 x 7 2013 32 PLTU Kuala Kurun Kalsel 2 x 3 2013
13 PLTU Tj Jabung Jambi 2 x 7 2013 33 PLTU Kuala Pambuang Kalsel 2 x 3 2013
34 PLTU Malinau Kaltim 2 x 3 2012
14 PLTU Baturaja Jambi 2 x 10 2013 35 PLTU Raha Sulsel 2 x 3 2013
15 PLTU Muko Muko Jambi 2 x 4 2014 36 PLTU Rote NTT 2 x 3 2012
16 PLTU Toboali Babel 2 x 7 2014 37 PLTU Sofifi Maluku 2 x 3 2013
38 PLTU Talaud Sulut 2 x 3 2013
39 PLTU Tj Selor Kaltim 2 x 7 2012
40 PLTU Toli‐Toli Sulteng 3 x 15 2014
17 PLTU Bau Bau Sulsel 2 x 10 2014 41 PLTU Wangi Wangi Sultra 2 x 3 2013
18 PLTU Kotabaru Kalsel 2 x 7 2013
19 PLTU Sumbawa Barat NTB 2 x 7 2013 42 PLTU Andai (Manokwari) Papua 2 x 7 2014
43 PLTU Sorong Papua 2 x 15 2014
44 PLTU Sumbawa Baru I NTB 2 x 10 2014
45 PLTU Tawaeli Ekspansi Sulut 2 x 15 2014
b.Reguler
‐PLN
‐IPP
II.Indonesia Timur (lanjutan)
‐IPP
‐IPP
b.Reguler
‐PLN
I.Indonesia Barat
a.FTP‐2
‐IPP
II.Indonesia Timur
a.FTP‐2
‐PLN

Tabel 5. 51 Proyek Pembangkit PLTGB Tersebar di Indonesia Barat dan Indonesia Timur


116 RUPTL 2011- 2020


No Nama Proyek
Kapasitas 
(MW)
Pemilik
COD 
Estimasi
1 PLTGB Putusibau Kalbar 2 x 4 IPP 2012
2 PLTGB Rokan Hilir Riau 2 x 4 IPP 2012
3 PLTGB Sabang NAD 2 x 4 PLN 2013
4 PLTGB Bengkalis Riau 6 PLN 2015
5 PLTGB Dabo Singkep Riau 2 x 3 PLN 2013
6 PLTGB Mentawai Sumbar 2 x 3 PLN 2013
7 PLTGB Nanga Pingoh Kalbar 2 x 3 PLN 2013
8 PLTGB Selat Panjang Riau 6 PLN 2012
9 PLTGB Sinabang NAD 2 x 3 PLN 2013
10 PLTGB Singkil NAD 2 x 3 PLN 2013
11 PLTGB Tanjung Batu Sumsel 2 x 4 IPP 2013
12 PLTGB Tanjung Pandan Babel 5 IPP 2014
‐Reguler
Indonesia Barat
‐FTP‐2

No Nama Proyek
Kapasitas 
(MW)
Pemilik
COD 
Estimasi
13 PLTGB Larantuka NTT 2 x 4 IPP 2013
14 PLTGB Selayar Sulteng 2 x 4 IPP 2012
15 PLTGB Tahuna Sulut 2 x 4 IPP 2013
16 PLTGB Tobelo Maluku 2 x 4 IPP 2014
17 PLTGB Tual Maluku 2 x 4 IPP 2013
18 PLTGB Timika 2 x 4 IPP 2014
19 PLTGB Bunyu Kaltim 2 PLN 2013
20 PLTGB Buru Maluku 2 x 3 PLN 2013
21 PLTGB Kota Bangun Kaltim 2,5 PLN 2013
22 PLTGB Langgur Maluku 2 x 3 PLN 2013
23 PLTGB Muara Wahau Kaltim 2 PLN 2013
24 PLTGB Tana Tidung Kaltim 2 PLN 2013
TOTAL KAPASITAS
‐Reguler
Indonesia Timur
‐FTP‐2

Catatan: PLTU Manokwari = PLTU Andai
Pada saat RUPTL ini disusun, PLN tengah melakukan survei lokasi dan studi
kelayakan, sehingga rincian proyek pada Tabel 5.50 dan 5.51 masih dapat
berubah sesuai hasil survei dan studi.


RUPTL 2011- 2020 117


BAB VI
KEBUTUHAN DANA INVESTASI

6.1 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI INDONESIA
Untuk membangun sarana pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik
sebagaimana diuraikan pada Bab 5 diperlukan dana investasi sebesar
US$ 60,5 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada
Tabel 6.1 dan Gambar 6.1. Dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek
PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik swasta/IPP.

Tabel 6. 1 Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)
J uta US$
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
Fc 2,235.3 2,576.3 2,854.5 2,683.9 2,055.7 1,522.9 1,781.1 2,072.7 2,063.8 2,114.3 21,960.5
Lc 1,028.8 1,117.6 1,181.3 1,186.5 1,017.7 814.7 959.9 1,003.3 920.6 884.2 10,114.6
Total 3,264.1 3,693.9 4,035.8 3,870.3 3,073.4 2,337.6 2,741.1 3,076.0 2,984.4 2,998.5 32,075.1
Fc 2,725.8 2,026.2 1,313.8 1,535.5 2,106.3 1,199.7 604.4 405.0 288.7 72.7 12,278.0
Lc 688.4 505.2 387.3 372.3 282.9 175.4 113.2 75.7 42.3 7.1 2,650.0
Total 3,414.2 2,531.4 1,701.2 1,907.8 2,389.3 1,375.1 717.6 480.7 331.0 79.8 14,928.0
Fc - - - - - - - - - - -
Lc 1,261.5 1,269.5 1,172.1 1,253.3 1,166.8 1,320.5 1,395.0 1,477.4 1,539.3 1,605.5 13,461.0
Total 1,261.5 1,269.5 1,172.1 1,253.3 1,166.8 1,320.5 1,395.0 1,477.4 1,539.3 1,605.5 13,461.0
Fc 4,961.1 4,602.5 4,168.3 4,219.3 4,162.0 2,722.6 2,385.5 2,477.7 2,352.5 2,187.0 34,238.6
Lc 2,978.6 2,892.2 2,740.7 2,812.1 2,467.5 2,310.6 2,468.2 2,556.5 2,502.3 2,496.9 26,225.6
Total 7,939.7 7,494.7 6,909.1 7,031.4 6,629.5 5,033.2 4,853.7 5,034.1 4,854.8 4,683.9 60,464.1
Di stri busi
Total
Item
Pembangki t
Penyal uran


Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, maka disadari adanya
tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana tersebut.
Selama ini sumber pembiayaan proyek-proyek PLN banyak diperoleh dari
penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan), namun setelah tahun 2006
peranan pinjaman semacam ini mulai berkurang dan sebaliknya pendanaan
dengan obligasi terus meningkat, baik obligasi lokal maupun global. Proyek
percepatan pembangkit 10.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam
negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah. Akhir-
akhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan
multilateral (IBRD, ADB) dan bilaterial (J ICA, AFD) untuk mendanai proyek-
proyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan
transmisi HVDC Sumatra – J awa dengan skema two step loan.


118 RUPTL 2011- 2020


Total Investasi
Pembangkit
Transmisi
Distribusi

1,000.0 
2,000.0 
3,000.0 
4,000.0 
5,000.0 
6,000.0 
7,000.0 
8,000.0 
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta USD

Gambar 6.1 Proyeksi Kebutuhan Dana Investasi PLN Indonesia (Tidak Termasuk IPP)

6.2 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI JAWA-BALI
Pengembangan pembangkitan, transmisi dan distribusi oleh PLN sampai
dengan tahun 2020 di sistem J awa Bali membutuhkan dana investasi sebesar
US$ 33,6 miliar dengan disbursement tahunan sebagaimana diperlihatkan pada
Tabel 6.2 dan Gambar 6.2.
Kebutuhan investasi untuk proyek pembangkitan sampai tahun 2020 adalah
sebesar US$ 18,3 miliar atau sekitar US$ 1,8 miliar per tahun. Porsi investasi
pembangkit PLN setelah 2016 meningkat karena proyek pembangkit di atas
tahun 2018 masih diasumsikan sebagai proyek PLN serta memperhitungkan
disbursement investasi pembangkit yang beroperasi setelah tahun 2020.
Kebutuhan investasi tersebut juga telah memperhitungkan biaya rehabilitasi/life
extention pembangkit.
Tabel 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi untuk Sistem Jawa – Bali
J uta US$
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
Fc 1,252.6 1,093.5 1,128.1 1,360.1 1,115.1 912.2 1,138.7 1,274.0 1,319.5 1,744.7 12,338.5
Lc 574.0 511.7 551.2 645.0 556.0 452.1 600.7 635.9 622.8 772.3 5,921.7
Total 1,826.5 1,605.2 1,679.3 2,005.1 1,671.1 1,364.3 1,739.4 1,909.9 1,942.4 2,517.0 18,260.1
Fc 1,993.8 964.3 466.0 804.1 1,381.4 796.6 329.3 254.7 202.4 50.7 7,243.3
Lc 370.3 145.0 108.1 154.8 148.4 84.5 47.8 42.2 25.7 4.3 1,131.1
Total 2,364.1 1,109.3 574.2 958.8 1,529.8 881.1 377.2 296.9 228.1 55.0 8,374.4
Fc - - - - - - - - - - -
Lc 738.5 683.3 532.1 549.7 600.9 710.5 739.9 768.8 796.6 812.2 6,932.5
Total 738.5 683.3 532.1 549.7 600.9 710.5 739.9 768.8 796.6 812.2 6,932.5
Fc 3,246.4 2,057.8 1,594.1 2,164.2 2,496.5 1,708.8 1,468.0 1,528.8 1,521.9 1,795.4 19,581.8
Lc 1,682.7 1,340.1 1,191.4 1,349.4 1,305.4 1,247.1 1,388.5 1,446.8 1,445.1 1,588.8 13,985.3
Total 4,929.1 3,397.9 2,785.5 3,513.6 3,801.8 2,955.9 2,856.5 2,975.6 2,967.0 3,384.2 33,567.0
Item
Pembangkit
Penyaluran
Distribusi
Total



RUPTL 2011- 2020 119


Total Investasi
Pembangkit
Penyaluran
Distribusi
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
5000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
J
u
t
a

U
S
D
Tahun

Gambar 6. 2 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Sistem Jawa – Bali

Pembiayaan proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber. Proyek
percepatan pembangkit Perpres No.71/2006 didanai dengan pinjamanan luar
negeri (Cina) yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah. Proyek
pumped storage Upper Cisokan senilai US$800 juta telah diusulkan
pendanaannya ke lender multilateral, sedangkan PLTU Indramayu 2x1.000 MW
senilai US$ 3.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. Namun
proyek-proyek pembangkitan selebihnya pada saat ini belum mendapat indikasi
sumber pendanaan yang pasti, dan PLN pada saat ini tengah mengkaji
kemampuannya dalam membuat pinjaman baru, dan hal ini akan dijelaskan
pada butir 5.5.
Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing
sebesar US$ 8,4 miliar dan US$ 6,9 miliar. Proyek penyaluran pada tahun
2011-2012 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan
pembangkit. Proyek tersebut menurut rencana akan didanai dari APLN,
obligasi, APBN, pinjaman luar negeri (two step loan), kredit ekspor dan sumber
lainnya. Proyek distribusi akan didanai sepenuhnya dari APLN.




120 RUPTL 2011- 2020


6.3 PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI WILAYAH OPERASI INDONESIA
BARAT DAN INDONESIA TIMUR
Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit, sistem penyaluran dan distribusi
dalam kurun waktu 2011-2020 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat adalah
sebesar US$ 16,9 miliar atau rata-rata US$ 1,7 miliar per tahun dan untuk
Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 10 miliar atau rata-rata
US$ 1 miliar, tidak termasuk proyek IPP, dengan disbursement tahunan seperti
pada Tabel 6.3 dan Tabel 6.4.

Tabel 6. 3 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat
J uta US$
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
Fc 610.1 908.1 1,102.8 843.3 674.6 257.0 186.2 405.7 573.7 364.5 5,926.1
Lc 262.0 366.8 387.5 376.1 332.2 152.4 116.2 191.1 232.4 111.3 2,528.0
Total 872.1 1,274.9 1,490.3 1,219.4 1,006.8 409.4 302.4 596.8 806.1 475.8 8,454.1
Fc 397.2 717.8 578.9 611.8 634.8 263.9 153.5 85.2 57.9 16.3 3,517.2
Lc 205.2 258.1 213.2 190.1 102.9 48.3 34.7 19.6 11.7 2.1 1,086.0
Total 602.4 975.8 792.1 801.9 737.7 312.2 188.2 104.8 69.6 18.4 4,603.2
Fc - - - - - - - - - - -
Lc 306.4 334.5 395.4 436.4 323.1 359.3 385.4 418.4 427.2 447.0 3,833.0
Total 306.4 334.5 395.4 436.4 323.1 359.3 385.4 418.4 427.2 447.0 3,833.0
Fc 1,007.3 1,625.9 1,681.8 1,455.1 1,309.5 520.9 339.7 490.9 631.6 380.8 9,443.3
Lc 773.6 959.3 996.0 1,002.6 758.2 560.0 536.3 629.1 671.3 560.4 7,446.9
Total 1,780.9 2,585.2 2,677.8 2,457.7 2,067.6 1,080.8 876.0 1,120.0 1,302.9 941.2 16,890.2
Item
Pembangki t
Penyal uran
Di stri busi
Total

Total Investasi
Pembangkit
Transmisi
Distribusi

250.0 
500.0 
750.0 
1,000.0 
1,250.0 
1,500.0 
1,750.0 
2,000.0 
2,250.0 
2,500.0 
2,750.0 
3,000.0 
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta USD

Gambar 6. 3 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat






RUPTL 2011- 2020 121



Tabel 6. 4 Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur
J uta US$
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
Fc 372.6 574.7 623.6 480.5 266.0 353.7 456.2 392.9 170.5 5.1 3,696.0
Lc 192.8 239.0 242.6 165.3 129.5 210.3 243.0 176.4 65.4 0.6 1,665.0
Total 565.4 813.8 866.2 645.9 395.5 563.9 699.2 569.3 235.9 5.7 5,360.9
Fc 334.8 344.1 268.8 119.6 90.1 139.3 121.6 65.1 28.4 5.7 1,517.5
Lc 113.0 102.1 66.0 27.4 31.6 42.5 30.7 13.9 4.9 0.7 432.9
Total 447.7 446.2 334.8 147.0 121.7 181.8 152.3 79.0 33.3 6.4 1,950.4
Fc - - - - - - - - - - -
Lc 216.6 251.7 244.7 267.3 242.8 250.7 269.7 290.2 315.6 346.3 2,695.5
Total 216.6 251.7 244.7 267.3 242.8 250.7 269.7 290.2 315.6 346.3 2,695.5
Fc 707.4 918.8 892.5 600.1 356.1 493.0 577.8 458.0 198.9 10.8 5,213.4
Lc 522.3 592.8 553.3 460.0 404.0 503.5 543.4 480.5 385.9 347.6 4,793.4
Total 1,229.8 1,511.7 1,445.7 1,060.2 760.1 996.5 1,121.2 938.6 584.8 358.4 10,006.8
Item
Pembangkit
Penyaluran
Distribusi
Total

Total 
Investasi
Pembangkit
Transmisi
Distribusi

300.0 
600.0 
900.0 
1,200.0 
1,500.0 
1,800.0 
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta USD

Gambar 6. 4 Total Kebutuhan Dana Investasi PLN untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur

Kebutuhan investasi Wilayah Operasi Indonesia Barat untuk proyek
pembangkitan sampai tahun 2020 adalah sebesar US$ 8,5 miliar, sedangkan
untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur adalah sebesar US$ 5,9 miliar.
Disbursement proyek pembangkitan mencapai puncaknya pada tahun 2012-
2013 yang merupakan proyek percepatan pembangkit Perpres No.71/2006.
Sedangkan disbursement proyek pembangkitan pada tahun berikutnya terus
menurun karena proyek-proyek IPP akan semakin mendominasi sistem-sistem
Indonesia Timur dan Indonesia Barat, terutama di sistem Sumatra. Proyek
transmisi di Indonesia Timur dan Indonesia Barat didominasi oleh
pengembangan transmisi 275 kV untuk interkoneksi seluruh Sumatra, di
samping pengembangan transmisi 150 kV di Sumatra, Sulawesi dan
Kalimantan serta beberapa wilayah lain seperti NTT dan NTB.


122 RUPTL 2011- 2020


6.4 KEBUTUHAN INVESTASI KELISTRIKAN PLN DAN IPP
Total dana investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem kelistrikan
Indonesia secara keseluruhan, termasuk listrik swasta/IPP, adalah US$ 96,2
miliar selama tahun 2011-2020. Disbursement dana tersebut diperlihatkan pada
Tabel 6.5.
Tabel 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP
J uta US$
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
Fc 3,088.0 4,135.8 6,036.2 7,098.0 6,369.7 5,077.6 4,918.9 4,384.6 3,367.2 2,384.8 46,860.7
Lc 1,397.5 1,951.9 2,748.2 3,048.7 2,720.3 2,261.3 2,275.2 2,089.8 1,475.6 986.5 20,955.0
Total 4,485.5 6,087.7 8,784.4 10,146.7 9,089.9 7,338.9 7,194.1 6,474.4 4,842.7 3,371.3 67,815.7
Fc 2,725.8 2,026.2 1,313.8 1,535.5 2,106.3 1,199.7 604.4 405.0 288.7 72.7 12,278.0
Lc 688.4 505.2 387.3 372.3 282.9 175.4 113.2 75.7 42.3 7.1 2,650.0
Total 3,414.2 2,531.4 1,701.2 1,907.8 2,389.3 1,375.1 717.6 480.7 331.0 79.8 14,928.0
Fc - - - - - - - - - - -
Lc 1,261.5 1,269.5 1,172.1 1,253.3 1,166.8 1,320.5 1,395.0 1,477.4 1,539.3 1,605.5 13,461.0
Total 1,261.5 1,269.5 1,172.1 1,253.3 1,166.8 1,320.5 1,395.0 1,477.4 1,539.3 1,605.5 13,461.0
Fc 5,813.8 6,161.9 7,350.0 8,633.5 8,476.0 6,277.3 5,523.3 4,789.6 3,655.8 2,457.5 59,138.7
Lc 3,347.3 3,726.6 4,307.7 4,674.3 4,170.0 3,757.1 3,783.5 3,643.0 3,057.2 2,599.2 37,066.0
Total 9,161.2 9,888.6 11,657.7 13,307.8 12,646.1 10,034.4 9,306.8 8,432.6 6,713.1 5,056.7 96,204.7
Total
Item
Pembangki t
Penyal uran
Di stri busi

Total Investasi
Pembangkit
Transmisi
Distribusi

2,000.0 
4,000.0 
6,000.0 
8,000.0 
10,000.0 
12,000.0 
14,000.0 
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Juta USD

Gambar 6. 5 Total Kebutuhan Dana Investasi Indonesia, PLN + IPP

Tabel 6.5 menunjukkan bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia setiap
tahunnya membutuhkan dana investasi yang sangat besar, yaitu rata-rata
hampir US$ 9,6 miliar per tahun.
6.5 SUMBER PENDANAAN DAN KEMAMPUAN KEUANGAN PLN
Butir 6.5 ini menjelaskan bagaimana kebutuhan investasi yang diindikasikan
dalam RUPTL ini akan dipenuhi, dan juga menjelaskan dampak dari rencana
investasi ini terhadap keuangan PT PLN (Persero).


RUPTL 2011- 2020 123


6.5.1 Rencana Investasi dan Sumber Pendanaan
Kebutuhan investasi PLN sebesar US$ 60,5 miliar
51
sampai dengan tahun 2020
akan dipenuhi dari berbagai sumber pendanaan, yaitu APBN sebagai
penyertaan modal pemerintah (ekuiti), pinjaman baru, dan dana internal.
Sumber dana internal berasal dari laba usaha dan penyusutan aktiva tetap,
sedangkan dana pinjaman dapat berupa pinjaman luar negeri (SLA, sub-loan
agreement), pinjaman pemerintah melalui rekening dana investasi, obligasi
nasional maupun internasional, pinjaman komersial perbankan lainnya serta
hibah luar negeri.
6.5.2 Asumsi Proyeksi Keuangan
Kemampuan PLN untuk melakukan pinjaman sangat ditentukan oleh indikator -
indikator keuangan perusahaan, misalnya rasio hutang
52
, proyeksi EBITDA dan
EBITDA margin, dan debt-equity ratio (rasio hutang terhadap aset). Rasio
tersebut digunakan sebagai covenant dalam perjanjian pinjaman PLN dengan
para lender dan bond holder. Selanjutnya pada bagian ini akan diberikan
gambaran mengenai biaya pokok penyediaan listrik.
Asumsi dasar makro ekonomi dan asumsi korporasi yang digunakan dalam
membuat proyeksi keuangan ini adalah sebagai berikut: (i) Tingkat bunga
pinjaman baru 3-6% untuk pinjaman dalam nominasi valuta asing (US$) dan 9-
12% untuk pinjaman dalam mata uang Rupiah, (ii) Terjadi kenaikan tarif listrik
sebesar 10% pada tahun 2012 dan 10% lagi pada tahun 2013, (iii) Kurs Rp
8.800/US$ tahun 2011, Rp 8.850/US$ tahun 2012, Rp 8.900/US$ tahun 2013,
Rp 8.950/US$ tahun 2014 dan Rp 9.000/US$ sampai dengan 2015, (iv) Marjin
PSO
53
8% pada tahun 2011-2015.

6.5.3 Hasil Proyeksi Keuangan
a. Harga Listrik dan Subsidi (PSO, public service obligation)
Harga rata-rata listrik pada tahun 2011 adalah Rp 729/kWh, meningkat
menjadi rata-rata Rp 802/kWh pada tahun 2012, Rp 881/kWh pada tahun
2013, dan Rp 880/kWh pada tahun 2014-2015. Hal ini bertujuan untuk

51
Hanya mencakup base cost, tidak termasuk financing cost.
52
Yang diukur dari pendapatan operasi terhadap kewajiban hutang yang jatuh tempo dan
pembayaran bunga
53
Marjin terhadap biaya pokok penyediaan


124 RUPTL 2011- 2020


mengurangi jumlah subsidi pemerintah dan meningkatkan laba bersih
perusahaan. Peningkatan laba tahun 2011 akan digunakan oleh PLN untuk
membayar deviden kepada pemerintah dan memperkuat pendanaan
internal (anggaran PLN atau APLN) untuk pembiayaan proyek-proyek
kelistrikan seperti proyek pembangkit, proyek transmisi dan fasilitas trafo
distribusi untuk melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dan
peningkatan keandalan pasokan listrik.
Pada tahun-tahun selanjutnya kenaikan tarif dilakukan untuk dapat
mengurangi subsidi pemerintah
54
seperti diperlihatkan pada tabel 6.6. Selain
itu laba bersih juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan pendanaan
internal perusahaan untuk berinvestasi sehingga dapat mengurangi
kebutuhan dana eksternal (pinjaman).
Tabel 6. 6 Proyeksi Kebutuhan Subsidi dan Laba/Rugi PLN 2011-2015
Tahun 2011 2012 2013 2014*) 2015*)
Subsidi T Rp 87,64 54,98 36,97 40,07 47,43
Tarif Rata-rata (Rp/KWh)
729 802 881 880
880
BPP (Rp/KWh)
1.187 1.061 994 990
1.014
Laba/Rugi Bersih Rp. T 14,97 7,86 12,80 14,23 14,10
*) Tidak ada kenaikan tarif hanya adjustment sebesar setengah dari inflasi dalam negeri.
Kenaikan TDL ini akan menghasilkan pendanaan internal yang sangat
dibutuhkan untuk pembiayaan investasi. Pendanaan APBN diperkirakan
akan mencapai sekitar Rp 10 trilyun/tahun, maka PLN harus mencari
pinjaman komersial dan concessional untuk menutupi kekurangan
kebutuhan investasi.
b. Kemampuan Pendanaan Sendiri (APLN)
Kemampuan pendanaan internal PLN sesungguhnya sangat rendah
karena sebelum tahun 2009 PLN tidak memperoleh marjin PSO,
sehingga tidak ada investasi PLN yang didanai dari pendanaan internal
(seluruh investasi didanai dengan hutang). Rasio hutang terhadap aset
PLN sebelum program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 (fast
track 1) adalah sekitar 30%, namun kemudian meningkat menjadi 53%
pada tahun 2010 akibat seluruh pendaanaan proyek fast track 1 berasal
dari pinjaman komersial dan obligasi.

54
Untuk menutupi selisih antara tarif dan Biaya Pokok Penyediaan (BPP)


RUPTL 2011- 2020 125


Peningkatan tarif PLN dan marjin PSO akan sangat diperlukan untuk
meningkatkan kemampuan PLN dalam melakukan investasi untuk
memenuhi kebutuhan pertumbuhan listrik. Dana internal untuk investasi
diperkirakan akan meningkat dari 32% dari kebutuhan total investasi
pada tahun 2011 menjadi sekitar 36% pada tahun 2015.
c. Komposisi Sumber Pendanaan untuk Investasi
Sumber pendanaan investasi PLN berasal dari 3 sumber: (i) ekuitas
pemerintah dari APBN (ii) dana internal yang berasal dari laba operasi
dan (iii) pinjaman.
APLN (dana internal perusahaan) berasal dari laba operasi yang sangat
terbatas karena BPP lebih tinggi dari tarif rata-rata. APLN hanya didapat
dari selisih antara marjin PSO +depresiasi aset dan pembayaran cicilan
pokok.
PLN hanya dapat meminjam dalam jumlah yang sangat terbatas karena
dibatasi oleh covenant pinjaman yang disyaratkan oleh lender dan bond
holder. Kapasitas PLN dalam membuat pinjaman-baru dapat
ditingkatkan jika revenue PLN meningkat, baik dari tarif maupun marjin
PSO.
Dengan melihat kemampuan pendanaan internal PLN dan kemampuan
meminjam PLN yang sangat terbatas seperti dijelaskan di atas, maka
peran APBN setiap tahun menjadi sangat penting untuk memenuhi
pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang diperlukan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh Pemerintah. Hal ini menjadi
semakin penting karena secara politis sangat sulit menaikkan tarif ke
tingkat yang lebih tinggi daripada BPP dalam waktu dekat.
Tabel 6.7 menunjukkan komposisi sumber dana investasi untuk
mencukupi kebutuhan rencana investasi 5 tahun ke depan.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga
kemampuan PLN dalam melayani pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik
guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh
Pemerintah, maka harus dilakukan perbaikan sebagai berikut:
- Peningkatan pendapatan PLN baik dari peningkatan tarif maupun
peningkatan marjin PSO.
- Peningkatan dana dari APBN.


126 RUPTL 2011- 2020


- Peningkatan pinjaman murah (SLA) dimana pemerintah sebagai
penjamin pinjaman.
Tabel 6. 7 Sumber Dana Investasi (Trilyun Rp)
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015
APBN 9,0 9 ,0 9 ,0 9,0 9 ,0
Internal Fund 20,5 28,4 29,8 26,7 28,7
Pinjaman (committed) 28,9 38,8 10,6 3,4 2,6
Pinjaman baru 3,6 0,4 12,1 27,2 23,1
Total Kebutuhan Dana 62,1 76,6 61,5 66,3 63,5

6.5.4 Kendala Pendanaan Dalam Pelaksanaan RUPTL
Seperti ditunjukkan pada butir 6.1, pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang
akan dilaksanakan oleh PLN sesuai RUPTL 2011-2020 mencapai US$ 61 miliar
atau rata-rata US$ 60,5 miliar per tahun. Penyediaan dana investasi sebesar
US$ 60,5 miliar per tahun adalah diluar kemampuan PLN apabila model
ekonomi kelistrikan tetap seperti yang terjadi pada saat ini, yaitu subsidi hanya
diberikan untuk menutup biaya operasi, dan tanpa diberikan margin yang
cukup
55
untuk membuat PLN mampu menggalang dana investasi yang lebih
besar.
Namun demikian RUPTL 2011-2020 tetap disusun untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi nasional dengan melayani pertumbuhan demand listrik
yang diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup, terus-menerus dan
memenuhi syarat mutu dan keandalan.
J ika nilai kebutuhan investasi dalam RUPTL adalah diluar kemampuan PLN
selaku korporasi, maka PLN akan melakukan investasi sesuai batas
kemampuannya, dan kekurangan pendanaan (funding gap) ini akan dilaporkan
ke Pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang diperlukan
untuk melaksanakan seluruh proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL yang
akan dilaksanakan oleh PLN.
J ika pendanaan yang diperoleh ternyata masih tidak mencukupi untuk
melaksanakan program-program RUPTL secara penuh, maka PLN akan tidak
melaksanakan beberapa proyek-proyek kelistrikan dalam RUPTL dan
melaporkan situasi ini kepada Pemerintah.

55
Marjin PSO 8% akan menghasilkan ROA sebesar 1-3%, sedangkan benchmarking dengan
utility yang regulated di negara lain pada umumnya ROA berkisar 8%.


RUPTL 2011- 2020 127



BAB VII
ANALISIS RISIKO RUPTL 2011-2020

Analisis risiko RUPTL 2011-2020 ini dibuat untuk mengidentifikasi potensi
kerawanan atau kelemahan yang dapat terjadi sebagai akibat adanya exposure
atas peristiwa tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang yang
dapat berpengaruh kepada implementasi RUPTL.
Analisis risiko mencakup identifikasi risiko, pemetaan risiko, dan rekomendasi
program mitigasi untuk risiko-risiko tersebut. Bab ini terdiri dari tiga bagian.
Bagian pertama menjelaskan hasil identifikasi dan pemetaan risiko dominan
yang dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan implementasi RUPTL. Bagian
kedua menjelaskan hasil pemetaan risiko. Bagian ketiga menjelaskan berbagai
program mitigasi risiko yang perlu dijalankan dalam rangka mengelola risiko
tersebut.
Sejalan dengan struktur RUPTL itu sendiri, uraian analisis risiko pada bab ini
akan dilakukan berdasarkan issue-issue utama RUPTL, yaitu proyeksi
kebutuhan/permintaan tenaga listrik, pengembangan pembangkit, transmisi dan
distribusi, serta proyeksi pasokan energi primer dan kebutuhan investasi, baik
oleh PLN maupun oleh swasta.

7.1 IDENTIFIKASI RISIKO
Risiko yang diidentifikasi dapat mempengaruhi implementasi RUPTL meliputi
aspek sebagai berikut:
A. Risiko pengembangan ketenagalistrikan
1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN
Berupa risiko-risiko perijinan dan persetujuan, pendanaan,
pembangunan, keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek, cost
over-run, kesalahan desain, keselamatan ketenagalistrikan,
performance instalasi, dampak lingkungan dan sosial.
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP, termasuk PLTP
Sama seperti pada risiko keterlambatan proyek-proyek PLN.


128 RUPTL 2011- 2020


3. Risiko permintaan listrik
Kesalahan dalam memprediksi permintaan tenaga listrik (termasuk di
dalamnya risiko pertumbuhan ekonomi).
B. Risiko Keuangan
1. Risiko likuiditas, meliputi risiko likuiditas kas yaitu kelancaran
penerimaan subsidi, risiko pencairan dana pinjaman untuk investasi dan
risiko likuiditas aset.
C. Risiko Operasional
1. Risiko produksi/operasi, seperti kekurangan/kelangkaan energi
primer, kerusakan peralatan/fasilitas operasi, kehilangan
peralatan/fasilitas operasi/kebocoran informasi rahasia
perusahaan, risiko akibat kesalahan manusia
2. Risiko bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat
manusia (a.l. sabotase)
3. Risiko lingkungan, berupa tuntutan masyarakat terhadap transmisi
karena pengaruhnya pada kesehatan, juga limbah, polusi dan
kebisingan
4. Risiko regulasi, meliputi risiko tarif listrik, risiko kepastian subsidi
dan risiko perubahan tatanan sektor ketenagalistrikan
D. Risiko Energi Primer dan Panas Bumi
1. Risiko ketersediaan dan harga energi primer
Meliputi risiko ketersediaan energi primer (utamanya pasokan
batubara, gas) dan risiko harga energi primer.
2. Risiko ketidakpastian pengembangan panas bumi.
Identifikasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

7.2 PEMETAAN RISIKO
Berdasarkan tingkat probabilitas dan dampak bila risiko tersebut terjadi,
kesembilan risiko tersebut memiliki karakteristik seperti ditunjukkan dalam peta
berikut. Penetapan probabilitas dan dampak dilakukan dengan metoda kualitatif
berdasarkan pengalaman PLN dalam menjalankan program sejenis di masa
lalu, dan pengalaman PLN menangani risiko tersebut di masa lalu.


RUPTL 2011- 2020 129


Penetapan dampak risiko didasarkan atas dampak pada arus kas perusahaan
dan dampak pada kelancaran operasional perusahaan.
Dampak
5
4
3
2
1
1 2 3 4 5
Probabilitas
Gambar 7. 1 Pemetaan Risiko Implementasi RUPTL
Keterangan:
1. Risiko keterlambatan proyek-proyek PLN
2. Risiko keterlambatan proyek-proyek IPP,
termasuk PLTP
3. Risiko prakiraan permintaan tenaga listrik
4. Risiko ketersediaan dan harga energi
primer
5. Risiko merencanakan reserve
margin terlalu tinggi
6. Risiko likuiditas
7. Risiko produksi/operasi
8. Risiko bencana
9. Risiko lingkungan dan sosial
10. Risiko regulasi

Berdasarkan pemetaan risiko di atas, risiko dapat dikelompokkan dalam empat
area berdasarkan tingkat probabilitas dan dampaknya, yaitu:
- Risiko pada Area I berada di sisi kanan atas pada peta risiko, yaitu risiko
dengan tingkat probabilitas kejadian tinggi dan dampaknya juga tinggi.
Risiko yang masuk ke dalam kategori ini adalah risiko keterlambatan
proyek-proyek PLN, keterlambatan proyek-proyek IPP dan risiko likuiditas.
- Risiko pada Area II berada di sisi kiri atas pada peta risiko, yaitu risiko
dengan probabilitas kejadian rendah tetapi bila terjadi menimbulkan
dampak yang tinggi. Risiko yang masuk ke dalam area ini adalah
ketersediaan dan harga energi primer, risiko permintaan tenaga listrik serta
risiko bencana.
- Risiko pada Area III berada di daerah kanan bawah pada peta risiko, yaitu
risiko dengan probabilitas kejadian yang tinggi tetapi dampak yang
1
2
3
4
5
6
7
9
8
10


130 RUPTL 2011- 2020


ditimbulkannya rendah. Risiko yang termasuk dalam area ini adalah risiko
produksi/operasi.
- Risiko pada Area IV berada di daerah kiri bawah peta risiko, yaitu daerah
dengan probabilitas rendah dan dampak yang ditimbulkannya juga rendah.
Termasuk ke dalam area ini adalah risiko merencanakan reserve margin
terlalu tinggi, risiko regulasi dan risiko lingkungan.
-
7.3 PROGRAM MITIGASI RISIKO
Pada dasarnya mitigasi risiko akan dilakukan secara dinamis oleh karena
metoda dan sarana mitigasi terus berkembang. Namun demikian, pokok-pokok
program mitigasi sebagai acuan penyiapan kebijakan mitigasi risiko diuraikan
sebagai berikut.
1. Mitigasi risiko pembangunan PLN
2. Mitigasi risiko pembangunan IPP
3. Mitigasi risiko prakiraan permintaan listrik
4. Mitigasi risiko merencanakan reserve margin terlalu tinggi
5. Mitigasi risiko harga dan ketersediaan energi primer
6. Mitigasi risiko likuiditas
7. Mitigasi risiko produksi/operasi
8. Mitigasi risiko bencana
9. Mitigasi risiko lingkungan
10. Mitigasi risiko regulasi
Program mitigasi risiko selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.


RUPTL 2011- 2020 131


BAB VIII
KESIMPULAN
Dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sepuluh tahun
mendatang rata-rata 6,9% per tahun dan bergerak dari realisasi kebutuhan
tenaga listrik tahun 2010, proyeksi penjualan tenaga listrik pada tahun 2020
diperkirakan akan mencapai 328,3 TWh, atau mengalami pertumbuhan rata-
rata 8,47% selama 10 tahun mendatang. Beban puncak pada tahun 2020
diproyeksikan akan mencapai 55.053 MW. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga
listrik tersebut, diprogramkan pembangunan pembangkit listrik baru untuk
periode 2011 - 2020 sebesar 54.647 MW, diantaranya yang akan dibangun oleh
PLN sebesar 31.180 MW dan IPP sebesar 23.467 MW.
Sejalan dengan pengembangan pembangkit ini, diperlukan pengembangan
transmisi sepanjang 49.263 kms, yang terdiri atas 2.675 kms SUTET 500 kV
AC, 1.100 kms transmisi 500 kV HVDC, 462 kms transmisi 250 kV HVDC,
5.360 kms transmisi 275 kV AC, 36.176 kms SUTT 150 kV, 3.490 kms SUTT 70
kV. Penambahan trafo yang diperlukan adalah sebesar 114.194 MVA yang
terdiri atas 59.736 MVA trafo 150/20 kV, 3.355 MVA 70/20 kV dan 33.490 MVA
trafo interbus IBT 500/150 kV, 10.680 MVA IBT 275/150 kV, IBT 333 MVA IBT
150/70 kV, 3.000 MVA IBT 500/275 kV dan 600 MVA 250 kV DC. Untuk
mengantisipasi pertumbuhan penjualan energi listrik untuk periode 2011-2020
diperlukan tambahan jaringan tegangan menengah 208.607 kms, tegangan
rendah 225.404 kms dan kapasitas trafo distribusi 37.431 MVA.
Kebutuhan investasi pembangkit, penyaluran dan distribusi selama periode
2011 – 2020 untuk memenuhi kebutuhan sarana kelistrikan di Indonesia secara
keseluruhan adalah sebesar US$ 96,6 milyar yang terdiri dari investasi
pembangkit (termasuk IPP) sebesar US$ 68,2 milyar, investasi penyaluran
sebesar US$ 14,9 milyar dan investasi distribusi sebesar US$ 13,5 milyar.
Simulasi proyeksi keuangan PLN menunjukkan bahwa PLN dapat mempunyai
kemampuan untuk membiayai proyek-proyek kelistrikan sebagaimana
direncanakan dalam RUPTL, dengan pembiayaan yang bersumber dari dana
internal dan eksternal, apabila asumsi-asumsi yang digunakan dalam proyeksi
keuangan dipenuhi, antara lain kenaikan tarif listrik, peningkatan ekuitas dari
pemerintah (APBN) dan PLN mendapat marjin PSO.



132 RUPTL 2011- 2020



DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-undang No. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
2. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik
3. Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional
4. Peraturan Presiden No. 71/2006 jo No. 59/2009 tentang Penugasan kepada
PT PLN (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit
Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara
5. Peraturan Presiden No. 77/2008 tentang Pengesahan Memorandum of
Understanding on the ASEAN Power Grid (Memorandum Saling Pengertian
Mengenai J aringan Transmisi Tenaga Listrik ASEAN)
6. Peraturan Presiden No. 4/2010 tentang Penugasan kepada PT PLN
(Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga
Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas
7. Peraturan Menteri ESDM No. 2/2010 jo No. 15/2010 tentang Daftar Proyek-
proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang
Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Serta Transmisi
Terkait
8. Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-46951.AH.01.02.Tahun
2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan
9. Keputusan Menteri ESDM No. 634-12/20/600.3/2011 tentang Izin Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero)
10. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008 – 2027,
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2008
11. Draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2010 – 2029,
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2011
12. Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Gerakan
Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir, Mataram, 27 J uli 2011
13. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000 – 2025, Bappenas, BPS, UN
Population Fund, 2005


RUPTL 2011- 2020 133


14. Pendapatan Nasional Indonesia 2001 – 2005, BPS, 2008 dan update dari
website BPS
15. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2009 – 2018,
PT PLN (Persero), 2009
16. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010 – 2019,
PT PLN (Persero), 2010
17. Draft Energy Outlook 2008, Pusdatin Departemen Energi Dan Sumber
Daya Mineral, 2008
18. Statistik 2007, PT PLN (Persero), 2008
19. Statistik 2008, PT PLN (Persero), 2009
20. Statistik 2009, PT PLN (Persero), 2010
21. Statistik 2010, PT PLN (Persero), 2011
22. Indonesia Energy Outlook & Statistics 2006, Pengkajian Energi UI, 2006
23. Berita Resmi Statistik, BPS, Februari 2008
24. Proyeksi Keuangan 2008-2015 PT PLN (Persero), Direktorat Perencanaan
dan Teknologi, 2008
25. Draft Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2011 – 2015, PT PLN
(Persero), 2011
26. Slide Presentasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM Tahun 2010
mengenai Sumber Daya dan Cadangan Batubara.
27. Slide Presentasi dari Ditjen Migas berjudul Peranan Migas dalam
Mendukung Ketahanan Energi, 2010
28. Master Plan Study for Geothermal Power Development in the Republic of
Indonesia, WestJec, 2007
29. Draft Report of Master Plan Study for Hydro Power Development in
Indonesia, Nippon Koei, 2011
30. Draft Kebijakan Energi Nasional, DEN, 2010
31. Website Kementerian ESDM, Pemerintah Daerah



s
L
a
m
p
i
r
a
n

s
i
s
t
e
m

k
e
l
L
W
I
L
A
I
N
D
O
A

i
n
i

m
e
n
l
i
s
t
r
i
k
a
n

d
i
A
M
P
I
R
A
A
Y
A
H

O
P
O
N
E
S
I
A

B
j
e
l
a
s
k
a
n

r

W
i
l
a
y
a
h

O
1
3
4
A
N

A
P
E
R
A
S
I

B
A
R
A
T
r
e
n
c
a
n
a

p
e
O
p
e
r
a
s
i

I
n
e
n
g
e
m
b
a
n
n
d
o
n
e
s
i
a

B
n
g
a
n

B
a
r
a
t
L
A
M
A
1
.

A
1
.
1
A
1
.
2
A
1
.
3
A
1
.
4
A
1
.
5
A
1
.
6
A
1
.
7
A
1
.
8
A
1
.
9
A
1
.
1
A
1
.
1
A
1
.
1
P
E
N
A
2
.

A
2
.
1
A
2
.
2
A
2
.
3
A
2
.
4
A
2
.
5
A
2
.
6
A
2
.
7
A
2
.
8
A
2
.
9
A
2
.
1
A
2
.
1
A
2
.
1
P
E
NM
P
I
R
A
N


A
.



W
S
I
S
T
1
.

P
r
o
y
e
2
.

N
e
r
a
c
3
.

P
r
o
y
e
4
.

N
e
r
a
c
5
.

C
a
p
a
6
.

R
e
n
c
7
.

P
e
t
a

8
.

A
n
a
l
i
s
9
.

K
e
b
u
1
0
.

P
r
o
g
r
1
1
.

P
r
o
g
r
1
2
.

P
r
o
y
e
N
J
E
L
A
S
A
N

L
A
S
I
S
T
1
.

P
r
o
y
e
2
.

N
e
r
a
c
3
.

P
r
o
y
e
4
.

N
e
r
a
c
5
.

C
a
p
a
6
.

R
e
n
c
7
.

P
e
t
a

8
.

A
n
a
l
i
s
9
.

K
e
b
u
1
0
.

P
r
o
g
r
1
1
.

P
r
o
g
r
1
2
.

P
r
o
y
e
N
J
E
L
A
S
A
N

L
AW
I
L
A
Y
A
H

O
P
E
E
M
I
N
T
E
R
K
O
N
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
a
n
c
a

D
a
y
a


e
k
-
P
r
o
y
e
k

I
P
P

c
a

E
n
e
r
g
i


a
c
i
t
y

B
a
l
a
n
c
e

G
c
a
n
a

P
e
n
g
e
m
b
a
P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
s
i
s

A
l
i
r
a
n

D
a
y
a
u
t
u
h
a
n

F
i
s
i
k

P
e
r
a
m

L
i
s
t
r
i
k

P
e
r
d
r
a
m

E
n
e
r
g
i

B
a
r
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
a
n
A
M
P
I
R
A
N

A
1
E
M

I
N
T
E
R
K
O
N
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
a
n
c
a

D
a
y
a


e
k
-
P
r
o
y
e
k

I
P
P

c
a

E
n
e
r
g
i


a
c
i
t
y

B
a
l
a
n
c
e

G
c
a
n
a

P
e
n
g
e
m
b
a
P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
s
i
s

A
l
i
r
a
n

D
a
y
a
u
t
u
h
a
n

F
i
s
i
k

P
e
r
a
m

L
i
s
t
r
i
k

P
e
r
d
r
a
m

E
n
e
r
g
i

B
a
r
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
a
n
A
M
P
I
R
A
N

A
2
E
R
A
S
I
I
N
D
O
N
E
N
E
K
S
I

S
U
M
A
T
n

T
e
n
a
g
a

L
i
s
t
r
i
k
T
e
r
k
e
n
d
a
l
a


G
a
r
d
u

I
n
d
u
k




a
n
g
a
n

P
e
n
y
a
l
u
a
n

P
e
n
y
a
l
u
r
a
n


a


n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

D
d
e
s
a
a
n


r
u

d
a
n

T
e
r
b
a
r
u
n

I
n
v
e
s
t
a
s
i


N
E
K
S
I

K
A
L
I
M
A
n

T
e
n
a
g
a

L
i
s
t
r
i
k
T
e
r
k
e
n
d
a
l
a


G
a
r
d
u

I
n
d
u
k


a
n
g
a
n

P
e
n
y
a
l
u
a
n

P
e
n
y
a
l
u
r
a
n


a




n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

D
d
e
s
a
a
n


r
u

d
a
n

T
e
r
b
a
r
u
n

I
n
v
e
s
t
a
s
i


1
3
5
E
S
I
A

B
A
R
A
T
T
E
R
A

k


u
r
a
n




D
i
s
t
r
i
b
u
s
i


k
a
n
A
N
T
A
N

B
A
R
A
k


u
r
a
n


D
i
s
t
r
i
b
u
s
i


k
a
n


A
T
R
E
N
C
A
O
P
E
R
A
3
.

A
4
.

A
5
.

A
6
.

A
7
.

A
8
.

A
9
.

A
1
0
.

A
1
1
.

A
1
2
.

A
1
3
.

A
1
4
.

A
1
4
.
1
.
A
1
4
.
2
.
A
1
4
.
3
.
A
1
4
.
4
.
A
1
4
.
5
.
A
1
4
.
6
.
A
N
A

P
E
N
G
E
M
R
A
S
I

I
N
D
O
N
E
S
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
P
R
O
V
I
N
N
E
R
A
C
W
I
L
A
Y
A

S
i
s
t
e
m


S
i
s
t
e
m


S
i
s
t
e
m


S
i
s
t
e
m


S
i
s
t
e
m


S
i
s
t
e
m

M
B
A
N
G
A
N

S
I
S
S
I
A

B
A
R
A
T
N
S
I

N
A
N
G
G
R
O
N
S
I

S
U
M
A
T
E
R
N
S
I

R
I
A
U

N
S
I

K
E
P
U
L
A
U
N
S
I

K
E
P
U
L
A
U
N
S
I

S
U
M
A
T
E
R
N
S
I

J
A
M
B
I


N
S
I

S
U
M
A
T
E
R
N
S
I

B
E
N
G
K
U
L
N
S
I

L
A
M
P
U
N
G
N
S
I

K
A
L
I
M
A
N
C
A

D
A
Y
A

S
I
S
T
A
H

O
P
E
R
A
S
I

I
s
o
l
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
I
s
o
l
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
I
s
o
l
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
I
s
o
l
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
I
s
o
l
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
I
s
o
l
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
S
T
E
M

K
E
L
I
S
T
R
O
E

A
C
E
H
D
A
R
R
A

U
T
A
R
A
U
A
N

R
I
A
U
U
A
N

B
A
N
G
K
A

R
A

B
A
R
A
T
R
A

S
E
L
A
T
A
N
L
U


G


T
A
N

B
A
R
A
T
T
E
M
-
S
I
S
T
E
M

I
S
I
N
D
O
N
E
S
I
A

B
n
s
i

N
a
n
g
g
r
o
e

A
n
s
i

S
u
m
a
t
e
r
a

U
n
s
i

R
i
a
u

n
s
i

K
e
p
u
l
a
u
a
n

R
n
s
i

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
n
s
i

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

1
3
6
R
I
K
A
N

P
E
R

P
R
R
U
S
S
A
L
A
M
B
E
L
I
T
U
N
G
S
O
L
A
T
E
D

B
A
R
A
T
A
c
e
h

D
a
r
u
s
s
a
l
a
U
t
a
r
a

R
i
a
u

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
B
a
r
a
t

R
O
V
I
N
S
I

W
I
L
A
a
m
n
g

A
Y
A
H

S
I
S
T
L
A
T
E
M
I
N
T
E
A
M
P
I
R
A
E
R
K
O
N
E
K
1
3
7
N

A
1
K
S
I

S
U
M
AA
T
E
R
A
P
R
O
Y
E
S
I
S
T
L
A
E
K
S
I

K
E
B
U
T
E
M
I
N
T
E
A
M
P
I
R
A
N
U
T
U
H
A
N

E
R
K
O
N
E
K
1
3
8
N

A
1
.
1
T
E
N
A
G
A
K
S
I

S
U
M
A
A

L
I
S
T
R
I
K
A
T
E
R
A
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Interkoneksi Sumatera
KETERANGAN SATUAN 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Energi Jual GWh 20.248 22.953 25.559 28.190 31.043 33.814 36.794 39.990 43.509 47.377
Susut T & D % 9,91 9,80 9,70 9,64 9,59 9,54 9,50 9,46 9,42 9,35
Energi Siap Salur TT GWh 22.475 25.446 28.304 31.197 34.336 37.380 40.656 44.169 48.034 52.264
PS Pembangkit % 500 500 600 600 600 600 500 500 500 500
1
3
9
PS Pembangkit % 5,00 5,00 6,00 6,00 6,00 6,00 5,00 5,00 5,00 5,00
Energi Dibangkitkan GWh 22.475 25.446 28.304 31.197 34.336 37.380 40.656 44.169 48.034 52.264
Load Factor % 65,4 65,4 65,3 65,4 65,7 66,0 66,3 66,6 66,9 67,0
Beban Puncak Sistem MW 4.269 4.821 5.415 5.952 6.516 7.065 7.579 8.193 8.874 9.641
S
I
S
T
L
A
M
N
E
E
M

I
N
T
E
P
I
R
A
N

A
E
R
A
C
A

D
A
E
R
K
O
N
E
K
1
4
0A
1
.
2
A
Y
A

K
S
I

S
U
M
A
T
E
R
A
Grafik Neraca Daya Sistem Sumatera
78%
75%
16.000
18.000
M
W
Reserve Margin
PLTGPLN
PLTAIPP
PLTAPLN
PLTGU IPP
PLTG PLN
73%
79%
74%
12.000
14.000
16.000
PLTGU PLN
PLTPIPP
PLTPPLN
PLTU IPP
PLTU FTP2
PLTU PLN
PLTP IPP
PLTA PLN
PLTG PLN
PLTA IPP
56%
50%
64%
8 000
10.000
12.000
PLTU &PLTGSewa
Pembangkit IPP& Sewa
Pembangkit Terpasang PLN
Beban Puncak
PLTU IPP
PLTP IPP
1
4
1
27%
37%
4 000
6.000
8.000
PLTU PLN (FTP2)
PLTU PLN
2.000
4.000
Kapasitas Terpasang
-
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Tahun
No Pasokan dan kebutuhan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Sumatera [1/3]
No. Pasokan dan kebutuhan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 Kebutuhan
Produksi GWh 23.414 26.059 29.113 32.219 35.696 39.396 42.983 47.245 51.776 56.806
Faktor Beban % 65 65 65 65 66 66 66 67 67 67
Beban Puncak Bruto MW 4.269 4.821 5.415 5.952 6.516 7.065 7.579 8.193 8.874 9.641
Tingkat pertumbuhan %
2 Pasokan
Kapasi tas Terpasang MW 4.862 4.822 4.520 3.551 3.456 3.396 3.266 3.266 3.266 3.266
PLN MW 3.883 3.742 3.441 3.009 3.009 2.949 2.819 2.819 2.819 2.819
PLTA MW 847 847 847 847 847 847 847 847 847 847
PLTMH MW 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
PLTU MW 1.175 1.175 915 890 890 890 760 760 760 760
PLTG MW 662 662 620 263 263 263 263 263 263 263 PLTG MW 662 662 620 263 263 263 263 263 263 263
PLTGU MW 942 942 942 942 942 942 942 942 942 942
PLTD MW 249 109 109 60 60 - - - - -
Swasta
Sewa MW 533 633 633 95 - - - - - -
IPP MW 447 447 447 447 447 447 447 447 447 447
PLTA MW 180 180 180 180 180 180 180 180 180 180
1
4
2
PLTMH MW 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16
PLTU MW - - - - - - - - - -
PLTG MW 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80
PLTGU MW 150 150 150 150 150 150 150 150 150 150
PLTMG MW 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
PLTP MW 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Reti red & Mothbal l ed (PLN) MW - 117 300 586 - 60 130 - - - Reti red & Mothbal l ed (PLN) MW - 117 300 586 - 60 130 - - -
3 Tambahan Kapasi tas
PLN
On-goi ng Proj ect
Tarahan (FTP1) PLTU 100 100
Meulaboh #1,2 (FTP1) PLTU 220
Pangkalan Susu #1,2 (FTP1) PLTU 220 220
Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1) PLTU 112 112
Ulubelu #1,2 PLTP 55 55
Duri 1 (Ex Relokasi J awa) PLTG 40 20
Keramasan PLTGU 86
No Pasokan dan kebutuhan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Sumatera [2/3]
No. Pasokan dan kebutuhan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Rencana
Sungai Gelam (CNG/Peaker) PLTG/MG 90
J aka Baring (CNG/Peaker) PLTG/MG 50
Duri PLTG 100
Sengeti (CNG/Peaker) PLTG 20 60
Belawan PLTG 400
Lhokseumawe PLTG 120
Aceh Timur PLTG 70
Pembangkit Peaker *) PLTG 500 200
Batanghari PLTGU 30
Peusangan 1-2 PLTA 88
Asahan III (FTP2) PLTA 174 Asahan III (FTP2) PLTA 174
Merangin PLTA 175 175
Simonggo-2 PLTA 86
Masang-2 PLTA 55
Riau (Amandemen FTP1) PLTU 110 110
Pangkalan Susu #3,4 (FTP2) PLTU 400
Meulaboh #3,4 PLTU 200 200
1
4
3
,
Sumsel - 1, Mulut Tambang PLTU 400 400
Hululais (FTP2) PLTP 110
Sungai Penuh (FTP2) PLTP 110
SEWA
Sungai Gelam PLTMG 12 -12
Borang PLTMG 30 -30
B PLTG 30 30 30 30 Borang PLTG 30 30 -30 -30
Talang Duku (sewa beli) PLTG 60
Payo Selincah (sewa beli) PLTG 50 50
Tarahan #5,6 PLTU 240
Dumai PLTU 240
Sumbagut PLTU 360
IPP IPP
On-goi ng Proj ect
Simpang Belimbing #1,2 PLTU 227
Ekspansi
Gunung Megang, ST Cycle PLTGU 30
No. Pasokan dan kebutuhan Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Sumatera [3/3]
Rencana
Duri PLTGU 100
Aceh PLTG 44 22
Sumsel - 11, Mulut Tambang PLTU 227
Banjarsari PLTU 230
Sumsel - 2 (Keban Agung) PLTU 225
Sumsel - 5 PLTU 150 150 Sumsel 5 PLTU 150 150
Sumsel - 7 PLTU 150 150
Sumsel - 6, Mulut Tambang PLTU 300 300
Riau Mulut Tambang PLTU 300 300
J ambi KPS PLTU 400 400
Sumut - 2 PLTU 225
Lumut Balai (FTP2) PLTP 110 110
Sarulla I (FTP2) PLTP 110 220 Sarulla I (FTP2) PLTP 110 220
Ulubelu #3,4 (FTP2) PLTP 110
Seulawah (FTP2) PLTP 55
Sarulla II (FTP2) PLTP 110
Rajabasa (FTP2) PLTP 220
Muara Laboh (FTP2) PLTP 220
Sorik Marapi (FTP2) *) PLTP 240 *)
1
4
4
Rantau Dedap (FTP2) PLTP 110 110
Suoh Sekincau PLTP 110 110
Wai Ratai PLTP 55
Simbolon Samosir PLTP 110
` Sipoholon Ria-Ria PLTP 55
G. Talang PLTP 20
Danau Ranau PLTP 110
Bonjol PLTP 165
Kepahiyang PLTP 220
Wampu PLTA 45
Simpang Aur (FTP2) PLTA 23
Semangka PLTA 56
Hasang PLTA 40
Peusangan - 4 PLTA 83 Peusangan - 4 PLTA 83
PLTM Tersebar Sumut PLTM 83 32 39
4 Juml ah Pasokan MW 5,311 6,612 8,448 8,913 10,665 12,198 13,557 14,470 16,005 17,050
5 Reserve Margi n % 24 37 56 50 64 73 79 75 79 75
Ket: *) Mengingat pengembang belum melakukan eksplorasi sehingga tingkat ketidak pastian besarnya kapasitas masih
cukup tinggi, maka perhitungan reserve margin didasarkan pada kapasitas PLTP Sorik Marapi sebesar 2x55 MW.
P
R
O
Y
S
I
S
T
L
A
M
Y
E
K
-
P
R
O
T
E
M

I
N
T
E
R
M
P
I
R
A
N

A
O
Y
E
K

I
P
P

R
K
O
N
E
K
S
1
4
5
A
1
.
3
T
E
R
K
E
N
D
S
I

S
U
M
A
T
D
A
L
A
T
E
R
A
A
1
.
3
P
r
o
D
a
l
a
m
p
k
o
n
t
r
a
l
k
d
i
m
a
s
u
k
K
a
t
e
g
o
r
i
n
a
m
u
n
b
K
a
t
e
g
o
r
i
F
i
n
a
n
c
i
a
k
u
n
j
u
n
g
K
a
t
e
g
o
r
i
P
P
T
L
t
e
t
P
e
m
b
a
n
P
L
T
P
S
i
b
P
L
T
U
M
T
P
L
T
U
K
u
P
L
T
U
M
T
P
L
T
P
S
a
P
L
T
U
R
e
P
L
T
U
T
e
S
a
a
t
i
n
i
p
K
o
m
i
t
e
Do
y
e
k
-
p
r
o
y
e
k

I
P
p
r
o
g
r
a
m
I
P
P
t
e
P
P
T
L
/
P
P
A
-
n
k
a
n
d
a
l
a
m
3
k
a
1
:
t
a
h
a
p
o
p
e
r
b
e
r
m
a
s
a
l
a
h
;
2
:
t
a
h
a
p
k
o
n
l
C
l
o
s
i
n
g
(
F
C
)
m
e
n
c
a
p
a
i
C
O
D
3
:
t
a
h
a
p
p
e
n
t
a
p
i
t
i
a
k
k
u
n
j
u
n
g
k
i
t
I
P
P
y
a
n
g
t
b
a
y
a
k
2
x
5
,
5
M
W
T
B
a
n
j
a
r
s
a
r
i
2
x
u
a
l
a
T
a
n
j
u
n
g
2
x
T
K
e
b
a
n
A
g
u
n
g
a
r
u
l
l
a
3
3
0
M
W
e
n
g
a
t
2
x
5
,
5
M
W
e
m
b
i
l
a
h
a
n
2
x
5
,
p
e
n
y
e
l
e
s
a
i
a
n
I
D
i
r
e
k
t
u
r
u
n
t
u
k
I
P
P

y
g

t
e
r
k
e
n
d
a
e
r
d
a
p
a
t
b
e
b
e
r
a
n
y
a
m
e
n
g
a
l
a
a
t
e
g
o
r
i
P
P
T
L
t
e
r
a
s
i
,
y
a
i
t
u
p
r
o
y
n
s
t
r
u
k
s
i
,
y
a
i
t
u
t
a
p
i
k
o
n
s
t
r
u
k
s
i
D
;
n
d
a
n
a
a
n
,
y
a
i
t
u
n
g
m
e
n
c
a
p
a
i
F
i
n
e
r
k
e
n
d
a
l
a
d
i
s
i
W
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
x
1
0
0
M
W
m
a
s
u
x
1
0
0
M
W
m
a
s
u
g
2
x
1
1
2
,
5
M
W
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
k
W
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
5
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
P
P
t
e
r
k
e
n
d
a
l
a
P
P
d
a
n
K
e
r
j
a
s
a
1
4
6
a
l
a


a
p
a
p
r
o
y
e
k
y
a
m
i
k
e
n
d
a
l
a
,
e
r
k
e
n
d
a
l
a
s
e
b
a
y
e
k
I
P
P
s
u
d
a
h
p
r
o
y
e
k
I
P
P
s
n
y
a
b
e
m
a
s
a
l
a
h
u
p
r
o
y
e
k
I
P
P
n
a
n
c
i
a
l
C
l
o
s
i
n
g
s
t
e
m
S
u
m
a
t
e
r
a
m
k
a
t
e
g
o
r
i
1
u
k
d
a
l
a
m
k
a
t
e
g
u
k
d
a
l
a
m
k
a
t
e
g
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
k
a
t
e
g
o
r
i
3
.
m
k
a
t
e
g
o
r
i
3
.
m
k
a
t
e
g
o
r
i
3
.
t
e
r
s
e
b
u
t
s
e
d
a
n
a
m
a
K
e
m
i
t
r
a
a
n
n
g
p
e
l
a
k
s
a
n
a
a
d
a
n
m
e
r
e
k
a
g
a
i
b
e
r
k
u
t
:
m
e
n
c
a
p
a
i
C
O
s
u
d
a
h
m
e
n
c
a
p
h
s
e
h
i
n
g
g
a
t
i
d
a
s
u
d
a
h
m
e
m
i
l
i
g
(
F
C
)
.
a
a
d
a
l
a
h
,
o
r
i
3
g
o
r
i
3
k
a
t
e
g
o
r
i
3
n
g
d
i
p
r
o
s
e
s
o
l
e
n
.
a
n
k
a
D a
i
a
k
k
i
e
h
S
I
S
L
A
M
N
E
S
T
E
M

I
N
T
P
I
R
A
N

A
E
R
A
C
A

E
N
E
R
K
O
N
E
1
4
7
A
1
.
4
N
E
R
G
I
K
S
I

S
U
M
AA
T
E
R
A
Neraca Energi
SistemInterkoneksi Sumatera
(GWh)
JENIS 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Batubara 6.270 9.671 15.414 14.276 13.417 16.424 15.809 19.850 23.967 26.714
Gas 5.114 7.415 7.389 7.932 7.788 7.502 6.586 5.293 4.820 4.575
LNG - - - 4.324 4.232 4.273 4.317 4.269 4.476 5.030
HSD 8.303 5.707 2.314 100 100 100 - - - -
1
4
8
MFO 1.295 1.076 321 - - - - - - -
Geothermal 63 64 801 2.466 6.765 6.865 10.773 11.353 11.691 13.200
Hydro 3.398 3.690 4.718 5.022 5.216 5.679 6.518 7.040 7.035 7.050
Total 24.444 27.622 30.957 34.120 37.517 40.843 44.003 47.805 51.989 56.567
Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
SistemInterkoneksi Sumatera
FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Sistem Interkoneksi Sumatera
HSD ( x 1000 kL ) 2.241 1.484 556 27 27 27 - - - -
MFO ( x 1000 kL ) 379 317 94 - - - - - - -
GAS (GBTU) 53 77 77 84 83 78 68 51 47 44
1
4
9
LNG (GBTU) - - - 34 34 34 34 34 36 41
Batubara (kTON) 4.007 6.152 9.746 9.006 8.363 10.139 9.761 12.255 14.795 16.425
C
A
P
A
S
I
S
T
L
A
M
A
C
I
T
Y

B
A
T
E
M

I
N
T
E
M
P
I
R
A
N

A
A
L
A
N
C
E

G
E
R
K
O
N
E
K
1
5
0
A
1
.
5
G
A
R
D
U

I
N
K
S
I

S
U
M
A
N
D
U
K

A
T
R
A
Capacity Balance GI
N A h D l (NAD)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
SISTEM ACEH
TEG JML MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Trafo MVA
2018 2019 2020 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2011
No. Gardu Induk
Kapasitas
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
1 GI ALUE DUA/ LANGSA
150/20 1x30 30
Total 30 15,0 18,2 18,5 19,9 30 21,9 23,7 25,6 27,4 30 30,1 32,1
PLTD SEWA 42% 10 51% 10 72% 39% 43% 47% 50% 36% 39% 42%
2 GI TUALANG CUT 150/20 3x10 30 UP 30-10 UP 30-10 UP 30-10
Total 30 19,4 22,2 25,2 27,8 20 31,4 34,8 38,3 42,0 20 47,0 51,0 20
57% 65% 74% 55% 62% 68% 75% 62% 69% 60%
3 GI ALUE BATEE/ IDI 150/20 1x30 30
Total 30 16,6 16,5 15,8 17,4 19,5 30 21,5 23,5 25,7 28,7 31,0
65% 65% 62% 68% 38% 42% 46% 50% 56% 61%
4 GI LHOKSEUMAWE 150/20 2x30 30
150/20 30
Total 60 40,8 42,8 47,1 60 51,8 46,9 51,6 56,4 61,4 68,4 73,8
PLTD SEWA 30 45% 40 47% 40 46% 51% 46% 51% 55% 60% 67% 72%
1
5
1
5 GI BIREUEN 150/20 2x30 30
150/20 30 UP 60-30
Total 60 33,1 38,0 44,0 41,7 47,5 53,0 30 58,8 64,9 73,1 79,9 30
PLTD SEWA 31% 30 36% 30 57% 55% 62% 52% 58% 64% 72% 63%
6 GI SIGLI 150/20 1x10 10
150/20 1x20 20 UP 60-10
Total 30 23,4 30 28,2 34,0 38,0 43,5 50 48,6 54,1 59,8 67,6 73,9
PLTD SEWA 29% 20 35% 20 57% 64% 43% 48% 53% 59% 66% 72%
7 GI BANDA ACEH I / LAMBAROE 150/20 2x30 60 UP 60-30
1x60 60
Total 120 78,1 60 88,0 106,6 78,2 87,9 30 102,2 117,8 103,8 122,3 124,8
PLTD SEWA 38% 50 43% 50 70% 51% 49% 57% 66% 58% 68% 70%
8 ULEE KARENG 150/20 2x60 31,0 120 45 50 55 61 65 70
Total 30% 44% 49% 54% 60% 64% 69%
9 LAM PISANG 150/20 2x60 30 120 35 50
Total 29% 34% 49%
Capacity Balance GI
NAD (l j 1) NAD (lanjutan 1)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
10 GI TAKENGON 150/20 2x30 19,8 60 20,7 21,7 22,6 23,5 24,4 25,3 26,2
TEG JML MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Trafo MVA
2018 2019 2020 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2011
No. Gardu Induk
Kapasitas
Total 39% 41% 42% 44% 46% 48% 50% 51%
11 GI SUBULUSSALAM 150/20
150/20 1x30 13,6 30 14,4 15,3 16,1 17,0 17,8 18,6 19,5 30
Total 53% 57% 60% 63% 67% 70% 73% 76%
12 GI MEULABOH 150/20 2x30 26,8 60 32,2 33,6 34,9 36,3 37,7 30 39,1 40,4 41,8
T t l 53% 63% 66% 69% 71% 49% 51% 53% 55% Total 53% 63% 66% 69% 71% 49% 51% 53% 55%
13 GI KUTA CANE 150/20 1x30 11,4 30 12,0 12,6 13,1 13,7 14,3 14,8 15,4
Total 45% 47% 49% 51% 54% 56% 58% 60%
14 GI JANTHO 150/20
Total 1x30 9,5 30 13,7 15,8 18,5 21,2 30 24,1 27,1 32,0 35,0
37% 54% 62% 73% 42% 47% 53% 63% 69%
1
5
2
37% 54% 62% 73% 42% 47% 53% 63% 69%
15 GI PANTONLABU 150/20
Total 1x30 8,1 30 10,9 12,0 13,4 14,7 16,1 17,5 19,5 30 21,1
32% 43% 47% 53% 58% 63% 69% 38% 41%
16 GI KRUENG RAYA 150/20 2x30 14,3 60 16,8 19,3 21,9 24,7 29,0 35,0
Total 28% 33% 38% 43% 48% 57% 69%
17 GI BLANG PIDIE 150/20 1 30 9 4 30 9 8 10 1 10 5 10 9 11 2 11 6 12 0 17 GI BLANG PIDIE 150/20 1x30 9,4 30 9,8 10,1 10,5 10,9 11,2 11,6 12,0
Total 37% 38% 40% 41% 43% 44% 45% 47%
18 GI TAPAK TUAN 150/20 1x30 6,4 30 6,6 6,9 7,1 7,4 7,6 7,8 8,1
Total 25% 26% 27% 28% 29% 30% 31% 32%
19 GI COT TRUENG 150/20 2x30 13,4 30 14,7 16,1 17,5 19,5 30 21,1
Total 53% 58% 63% 69% 38% 41% Total 53% 58% 63% 69% 38% 41%
Capacity Balance GI
A h (l j 2)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
20 GI BLANG KJEREN 150/20 1x30 4,6 30 4,9 5,1 5,4 5,6 5,8 6,1
TEG JML MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Trafo MVA
2018 2019 2020 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2011
No. Gardu Induk
Kapasitas
Aceh (lanjutan 2)
Total 18% 19% 20% 21% 22% 23% 24%
21 GI SAMALANGA 150/20 1x30 11,8 30 13,4 15,0 16,6 18,3 20,6 30 22,5
Total 46% 53% 59% 65% 72% 40% 44%
TOTAL PEAK GI 227 298 409 461 526 581 640 701 782 850
TOTAL PEAK SISTEM 212 278 381 431 489 549 612 681 755 833
DIVERSITY FACTOR 1 07 1 07 1 07 1 07 1 07 1 06 1 04 1 03 1 04 1 02 DIVERSITY FACTOR 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07 1,06 1,04 1,03 1,04 1,02
1
5
3
Capacity Balance GI
SSumut
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
SISTEM SUMUT
1 GLUGUR 150/20 60
150/20 60
MVA
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Trafo MVA Peak
Load
2015 2016 2017 2018 2019 2020
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014
ADD
Total 120,0 92,24 97,77 60 95,43 101,15 107,22 113,65 120,47 127,70 135,36 143,48
90% 64% 62% 66% 70% 74% 79% 83% 88% 94%
2 GIS LISTRIK 150/20 60
150/20 60
ADD
Total 120 60,49 64,72 61,67 65,99 70,61 75,55 80,84 60 86,49 92,55 99,03
59% 63% 60% 65% 69% 74% 53% 57% 60% 65%
3 TITI KUNING 150/20 60
150/20 60
150/20 60 GI 150/20 60 GI
Total 180 108,00 114,48 99,86 105,86 112,21 118,94 126,08 60 133,64 141,66 150,16
71% 75% 65% 69% 73% 78% 62% 66% 69% 74%
4 PAYA PASIR 150/20 60
ADD
Total 60 35,75 38,25 40,93 60 43,80 46,86 50,14 53,65 57,41 61,43 65,73
70% 75% 40% 43% 46% 49% 53% 56% 60% 64%
5 MABAR 150/20 87.5 *
150/20 60 *
1
5
4
150/20 60 GI BARU
Total 60,0 40,03 42,43 33,68 35,71 37,85 40,12 42,53 45,08 47,78 50,65
78% 83% 66% 70% 74% 79% 83% 88% 94% 99%
6 KIM 150/20 60
150/20 60
150/20 60
Total 180 76,47 81,05 75,62 80,16 84,97 90,06 95,47 101,19 107,27 113,70
50% 53% 49% 52% 56% 59% 62% 66% 70% 74%
7 LABUHAN 150/20 31,5
150/20 60
UP
Total 91,5 19,17 19,93 30 20,73 21,56 22,42 23,32 24,25 25,22 26,23 27,28
25% 19% UAI 20% 21% 22% 23% 23% 24% 25% 26%
8 LAMHOTMA 150/20 20
UP & ADD
Total 20 13,85 14,68 40 21,22 16,50 17,49 18,53 19,65 20,83 22,07 23,40
81% 29% 42% 32% 34% 36% 39% 41% 43% 46%
9 DENAI 150/20 60
UAI
Total 60 42,85 60 45,85 39,13 41,87 44,80 47,93 51,29 54,88 58,72 62,83
42% 45% 38% 41% 44% 47% 50% 54% 58% 62%
Capacity Balance GI
S (l j 1) Sumut (lanjutan 1)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
SISTEM SUMUT
10 NAMURAMBE 150/20 60
ADD
MVA
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Trafo MVA Peak
Load
2015 2016 2017 2018 2019 2020
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014
UAI
Total 60 45,78 48,53 60 37,65 39,91 42,30 44,84 47,53 50,38 53,40 56,61
90% 48% 37% 39% 41% 44% 47% 49% 52% 55%
11 SEI ROTAN 150/20 60
150/20 31,5
UAI
Total 91,5 58,47 61,98 60 54,68 57,97 61,44 65,13 69,04 73,18 77,57 82,22
75% 48% 42% 45% 48% 51% 54% 57% 60% 64%
12 PAYA GELI 150/20 60 60,00
150/20 60
150/20 60 GI
Total 180 91,83 98,26 97,86 104,71 112,04 119,88 128,28 137,26 60 146,86 157,14
60% 64% 64% 68% 73% 78% 84% 67% 72% 77%
13 BINJAI 150/20 60
150/20 60
UAI
Total 120 84,60 60 89,51 83,42 88,26 93,38 98,80 104,53 110,59 117,00 123,79
55% 59% 55% 58% 61% 65% 68% 72% 76% 81%
14 P. BRANDAN 150/20 30
150/20 30
1
5
5
Total 60 29,37 25,14 20,98 22,24 23,57 24,98 26,48 28,07 29,76 31,54
58% 49% 41% 44% 46% 49% 52% 55% 58% 62%
15 PERBAUNGAN 150/20 31,5
150/20 30
ADD
Total 61,5 30,74 32,37 60 34,09 35,90 37,80 39,80 41,91 44,13 46,47 48,93
59% 31% 33% 35% 37% 39% 41% 43% 45% 47%
16 T. MORAWA 150/20 60
UAI
Total 60 37,84 60 40,11 13,12 35,08 37,18 39,42 41,78 44,29 46,94 49,76
37% 39% 13% 34% 36% 39% 41% 43% 46% 49%
17 TEBING TINGGI 150/20 60
150/20 60
UAI
Total 120 51,69 55,31 60 57,18 61,18 65,46 70,05 74,95 80,20 85,81 91,82
51% 36% 37% 40% 43% 46% 49% 52% 56% 60%
18 KUALA TANJUNG 150/20 60
150/20 60 150/20 60
Total 120 50,30 44,82 47,06 43,06 45,21 47,47 49,84 52,34 54,95 57,70
49% 44% 46% 42% 44% 47% 49% 51% 54% 57%
Capacity Balance GI
S (l j 2)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
SISTEM SUMUT
19 PEMATANG SIANTAR 150/20 30
150/20 60
MVA
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Trafo MVA Peak
Load
2015 2016 2017 2018 2019 2020
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014
Sumut (lanjutan 2)
UAI
Total 90 71,26 74,47 60 77,82 66,93 69,94 73,09 76,37 79,81 83,40 87,16
93% 58% 61% 52% 55% 57% 60% 63% 65% 68%
20 GUNUNG PARA 150/20 10
UP
Total 10 11,41 20 11,98 12,58 13,21 13,87 14,56 15,29 16,05 16,85 17,70
45% 47% 49% 52% 54% 57% 60% 63% 66% 69%
21 KISARAN 150/20 60
150/20 31,5
150/20 30,0 UP
Total 122 59,58 62,56 30,0 65,69 68,98 72,43 76,05 79,85 83,84 88,03 92,44
58% 49% 51% 54% 56% 59% 62% 65% 68% 72%
22 AEK KANOPAN 150/20 20
ADD
Total 20 16,78 12,74 30 13,12 13,51 13,92 14,34 14,77 15,21 15,67 16,14
99% 30% 31% 32% 33% 34% 35% 36% 37% 38%
23 R. PRAPAT 150/20 30
150/20 0
1
5
6
150/20 31,5 UP UP
Total 61,5 51,32 30 45,63 28,5 48,36 51,26 54,34 57,60 61,06 64,72 68,60 72,72
66% UAI 45% UAI 47% 50% 53% 56% 60% 63% 67% 71%
24 KOTA PINANG 150/20 30
ADD
Total 30 18,89 20,02 21,22 22,50 30 23,85 25,28 26,79 28,40 30,10 31,91
74% 79% 83% 44% 47% 50% 53% 56% 59% 63%
25 BRASTAGI 150/20 30
150/20 20
UP
Total 50 35,17 37,28 40 39,52 41,89 44,40 47,06 49,89 52,88 56,05 59,42
83% 49% 52% 55% 58% 62% 65% 69% 73% 78%
26 SIDIKALANG 150/20 20
UAI
Total 20 16,81 17,65 30 15,53 16,31 17,12 17,98 18,88 19,82 20,81 21,85
99% 42% 37% 38% 40% 42% 44% 47% 49% 51%
27 TELE 150/20 10
UP
Total 10 3,67 20 2,32 2,41 2,51 2,61 2,71 2,82 2,94 3,05 3,18
14% 9% 9% 10% 10% 11% 11% 12% 12% 12%
Capacity Balance GI
S (l j 3)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
28 PORSEA 150/20 20
Total 20 14.06 14.48 20 14.91 15.36 15.82 16.30 16.79 17.29 17.81 18.34
83% 43% 44% 45% 47% 48% 49% 51% 52% 54%
2012 2013 2014
No. Gardu Induk
Kapasi tas 2011
Trafo MVA
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
Sumut (lanjutan 3)
83% 43% 44% 45% 47% 48% 49% 51% 52% 54%
29 TARUTUNG 150/20 10
150/20 10
Total 20 14.47 14.91 30 15.36 15.82 16.29 16.78 17.28 17.80 18.34 18.89
85% 35% 36% 37% 38% 39% 41% 42% 43% 44%
30 SIBOLGA 150/20 30
150/20 10
Total 40 27.15 28.51 60 29.93 31.43 33.00 34.65 36.38 38.20 40.11 42.12
80% 34% 35% 37% 39% 41% 43% 45% 47% 50% 80% 34% 35% 37% 39% 41% 43% 45% 47% 50%
31 P. SIDIMPUAN 150/20 30
150/20 31.5
Total 62 36.59 30 37.69 23.71 24.42 25.15 25.91 26.68 27.49 28.31 29.16
47% 48% 30% 31% 32% 33% 34% 35% 36% 37%
32 GUNUNG TUA 150/20 10
UP ADD
Total 10 8.43 20 8.85 10 9.29 9.76 10.25 10.76 11.30 11.86 12.46 13.08
1
5
7
33% 26% 27% 29% 30% 32% 33% 35% 37% 38%
33 TANJUNG PURA 150/20 30
150/20 0
Total 30 17.0 18.19 19.46 20.83 22.28 30 23.84 25.51 27.30
67% 71% 76% 82% 44% 47% 50% 54%
34 PANYABUNGAN 150/20 30
150/20 30
Total 60 15.10 16.01 16.97 17.98 19.06 20.21 21.42 22.70
30% 31% 33% 35% 37% 40% 42% 45% 30% 31% 33% 35% 37% 40% 42% 45%
35 PARLILITAN 150/20 10
Total 10 1.50 1.53 1.56 1.59 1.62 1.66 1.69 1.72 1.76
18% 18% 18% 19% 19% 19% 20% 20% 21%
36 SALAK 150/20 60
(Untuk menyerap energi PLTM)
Total 60 3.00 3.12 3.24 3.37 3.51 3.65 3.80 3.95
6% 6% 6% 7% 7% 7% 7% 8% 6% 6% 6% 7% 7% 7% 7% 8%
Capacity Balance GI
S (l j 4) Sumut (lanjutan 4)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
37 NEGERI DOLOK 150/20 60
(Untuk menyerap energi PLTM)
2012 2013 2014
No. Gardu Induk
Kapasi tas 2011
Trafo MVA
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
(Untuk menyerap energi PLTM)
Total 60 2.00 2.06 2.12 2.19 2.25 2.32 2.39 2.46
4% 4% 4% 4% 4% 5% 5% 5%
38 KUALA NAMU 150/20 30
150/20 30
Total 60 55.31 57.25 59.30 61.48 63.79 66.24 68.83 71.58
108% 112% 116% 121% 125% 130% 135% 140%
39 PANGURURAN 150/20 30
1
5
8
Total 30 1.50 2.00 2.08 2.16 2.25 2.34 2.43 2.53 2.63
6% 8% 8% 8% 9% 9% 10% 10% 10%
40 LABUHAN BILIK 150/20 60
COD 2012
Total 60 8.8 9.33 9.89 10.48 11.11 11.78 12.48 13.23 14.03
17% 18% 19% 21% 22% 23% 24% 26% 28%
TOTAL PEAK GI 2 399 1 172 1 217 1 272 1 333 1 404 1 478 1 558 1 642 1 730 1 825 TOTAL PEAK GI 2,399 1,172 1,217 1,272 1,333 1,404 1,478 1,558 1,642 1,730 1,825
Peak Load Big Customer (I4) 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78
- PT Grouth Sumatera 150/20 44.0 44.0 44.0 44.0 44.0 44.0 44.0 44.0 44.0 44.0
- PT Gunung Gahapi 150/20 34.0 34.0 34.0 34.0 34.0 34.0 34.0 34.0 34.0 34.0
TOTAL PEAK GI umum
1,094.3 1,139.1 1,194.0 1,255.1 1,325.7 1,400.4 1,479.6 1,563.5 1,652.4 1,746.5
TOTAL PEAK SISTEM INT 1,159 1,200 1,271 1,317 1,386 1,463 1,540 1,624 1,711 1,795
DIVERSITY FACTOR 1.012 1.014 1.001 1.012 1.012 1.011 1.012 1.011 1.011 1.017
Capacity Balance GI
S b
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
CABANG PADANG
1 PIP 150/20 20
MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
2017 2018 2019 2020
Peak
Load
Trafo MVA
Peak
Load
Add
Trafo
2016
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014 2015
Sumbar
150/20 30
Total 50 28,3 29,7 30 32,8 36,4 40,2 34,8 38,3 42,1 46,2 50,5 60
67% 44% 48% 53% 59% 51% 56% 62% 68% 42%
2 PAUH LIMO 150/20 60
150/20 30 UP 30-60
Total 90 50,5 52,8 30 58,3 64,5 71,1 52,2 57,4 62,9 68,8 75,1
66% 52% 57% 63% 70% 51% 56% 62% 67% 74% 66% 52% 57% 63% 70% 51% 56% 62% 67% 74%
3 SIMPANG HARU 150/20 42
150/20 42
Total 84 39,0 40,7 44,8 49,3 54,3 36,6 40,1 43,8 47,8 52,0
55% 57% 63% 69% 76% 51% 56% 61% 67% 73%
1
5
9
4 INDARUNG
Total 150 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0 82,0
64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64% 64%
5 LUBUK ALUNG 150/20 20
150/20 30
Total 50 18,4 19,3 21,3 23,6 26,1 29,2 32,2 35,3 30 38,7 42,4
43% 45% 50% 55% 61% 69% 76% 52% 57% 62% 43% 45% 50% 55% 61% 69% 76% 52% 57% 62%
6 BUNGUS
(NEW)
150/20 30 10,5 11,1 12,5 14,0 15,7 17,9 20,0 30 22,3 24,8 27,6
41% 44% 49% 55% 62% 70% 39% 44% 49% 54%
7 PARIAMAN
(NEW)
150/20 30 8,8 9,3 10,3 11,4 12,7 14,3 15,8 17,5 19,3 30 21,2
34% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 69% 38% 42%
KAMBANG
(NEW)
/ 11 1 1 1 1 1 1 4 8 KAMBANG
(NEW)
150/20 30 11,6 12,2 13,5 15,1 16,7 18,8 20,9 30 23,0 25,4 27,9
45% 48% 53% 59% 66% 74% 41% 45% 50% 55%
Capacity Balance GI
S b (l j 1)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
9 GI/GIS KOTA PADANG
(NEW)
150/20 120 52,9 58,0 63,5 69,3 75,4 60
52% 57% 62% 68% 49%
MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
2017 2018 2019 2020
Peak
Load
Trafo MVA
Peak
Load
Add
Trafo
2016
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014 2015
Sumbar (lanjutan 1)
10 GI SUNGAI PENUH
(NEW)
150/20 30 16,9 18,6 20,5 30 22,6 25,2 27,6 30,3 33,0 36,0
66% 73% 40% 44% 49% 54% 59% 65% 71%
CABANG BUKITTINGGI
11 MANINJAU 150/20 20 10,2 10,7 11,9 13,2 30 14,7 16,5 18,3 20,2 22,3 24,5
60% 63% 70% 31% 35% 39% 43% 48% 52% 58%
12 PADANG LUAR 150/20 20
150/20 30 UP 20-60
Total 50 27,8 25,3 40 28,1 31,3 34,7 39,1 43,3 47,8 52,6 57,8 30
65% 33% 37% 41% 45% 51% 57% 62% 69% 57%
NEW
13 SIMPANG EMPAT 150/20 30 22,9 24,0 30 26,5 29,4 32,5 36,3 40,1 60 44,0 48,2 52,7
90% 47% 52% 58% 64% 71% 39% 43% 47% 52%
1
6
0
14 BATANG AGAM 0.4/20 20
15 GI PADANG PANJANG
(NEW)
150/20 10 5,6 9,9 30 11,0 12,2 13,6 15,3 16,9 18,7 20,6 22,6
65% 29% 32% 36% 40% 45% 50% 55% 61% 66%
CABANG SOLOK
16 SOLOK 150/20 20 16 SOLOK 150/20 20
150/20 20 UP 20-60
Total 40 30,8 32,2 40 35,4 39,0 42,9 47,8 52,4 30 57,3 62,5 68,0
91% 47% 52% 57% 63% 70% 56% 61% 67% 73%
17 SALAK 150/20 20 13,1 13,8 15,4 30 17,1 19,0 21,4 23,7 26,1 28,8 31,6
77% 81% 36% 40% 45% 50% 56% 62% 68% 74%
/ 18 KILIRAN JAO 150/20 20
150/20 10
Total 30 21,5 23,1 13,6 15,4 17,5 20,1 30 22,7 25,5 28,7 32,1
84% 91% 53% 61% 69% 39% 44% 50% 56% 63%
Capacity Balance GI
S b (l j 2)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
19 GI S.RUMBAI/GNG.MEDAN
(NEW)
150/20 30 12,6 14,0 15,5 17,3 19,1 21,0 30 23,0 25,1
50% 55% 61% 68% 75% 41% 45% 49%
MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
2017 2018 2019 2020
Peak
Load
Trafo MVA
Peak
Load
Add
Trafo
2016
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014 2015
Sumbar (lanjutan 2)
CABANG PAYAKUMBUH
20 PAYAKUMBUH 150/20 30 20,0 25,5 30 28,1 31,0 34,1 38,1 30 41,8 45,7 49,9 54,3
79% 50% 55% 61% 67% 50% 55% 60% 65% 71%
21 BATUSANGKAR 150/20 30 13,4 9,4 10,4 11,5 12,6 14,1 15,5 16,9 18,5 20,1 30
53% 37% 41% 45% 50% 55% 61% 66% 72% 39%
TOTAL PEAK GI 414,3 447,8 486,9 530,8 578,4 629,8 686,0 746,1 810,4 878,9
TOTAL PEAK SISTEM 402,3 434,8 472,7 515,4 561,5 611,5 666,0 724,4 786,8 853,3
DIVERSITY FACTOR 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03
1
6
1
Capacity Balance GI
Ri
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
1 KOTO PANJANG 150/20 20
Total 20 14,55 15,58 20 15,68 14,64 15,06 16,37 17,51 18,69 19,99 21,61
86% 46% Trf Baru 46% 43% 44% 48% 51% 55% 59% 64%
MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add Trafo
Peak
Load
Add Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add Trafo
Trafo MVA
2016 2017 2018 2019 2020 2011 2012 2013 2014 2015
No. Gardu Induk
Kapasitas
Riau
2 BANGKINANG 150/20 30 38,92 30 32,13 33,54 32,47 34,64 39,04 60 43,30 47,93 53,18 59,61
76% Trf Baru 63% 66% 64% 68% 38% Trf Baru 42% 47% 70% 78%
3 GARUDA SAKTI 150/20 50
150/20 50
150/20 60
Total 160 109,21 126,51 30 90,17 83,55 73,77 54,30 50,48 52,48 54,62 57,36
80% Alih bbn 78% Up Rating 56% Alih bbn 52% 46% Alih bbn 34% 31% 32% 34% 36%
Bangkinang Pasir Putih Perawang
4 TELUK LEMBU 150/20 60 4 TELUK LEMBU 150/20 60
150/20 60
Total 120 74,57 112,71 60 113,53 80,63 80,19 84,58 86,95 88,34 92,06 97,09
73% 74% Trf Baru 74% Alih bbn 45% Alih Bbn 45% 55% 57% 58% 60% 63%
Kit Tenayan GIS Kota
PLTD Sewa 40,00
5 DURI 150/20 30
150/20 30
Total 60 28,04 61,81 60 57,72 54,38 45,90 50,55 54,79 60 59,26 64,24 70,35
55% 81% Trf Baru 75% 71% 60% Alih Bbn 66% 54% Up Rating 58% 63% 69%
PLTD Sewa 30,00 Kandis
1
6
2
6 DUMAI 150/19 30
30
Total 60 41,16 44,90 30 36,30 34,07 35,25 38,51 41,42 44,44 47,80 51,94
81% 59% UpRating 47% Alih bbn 45% 46% 50% 54% 58% 62% 68%
KID
7 BAGAN BATU 150/20 10
Total 10 13,17 20 14,23 14,46 13,63 14,15 15,52 16,75 18,04 19,48 21,25 30
52% UpRating 56% 57% 53% 55% 61% 66% 71% 76% 42% Trf baru
8 TELUK KUANTAN 150/20 10
150/20 30 150/20 30
Total 40 22,39 24,87 25,97 25,14 26,82 30,22 33,53 20 37,11 41,17 46,15
53% 59% 61% 59% 63% 71% 56% Uprating 62% 69% 78%
9 PASIR PUTIH 150/20 0 36,00 60 34,23 35,87 64,97 120 77,21 83,93 91,45 100,69
71% GI Baru 67% 70% 42% Trf baru 50% 55% 60% 66%
10 NEW GARUDA SAKTI 150/20 0 44,82 120 46,55 51,06 55,13 59,40 64,17 70,04
44% GI Baru 46% 50% 54% 58% 63% 69%
11 PASIR PANGARAYAN 150/20 0 14,01 30 12,96 13,21 14,22 15,07 15,93 16,89 18,08
55% GI Baru 51% 52% 56% 59% 62% 66% 71%
Capacity Balance GI
Ri (l j )
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
12 RENGAT 150/20 0
Total 0 24,39 60 22,96 23,74 25,84 27,65 29,52 31,59 34,13
48% GI Baru 45% 47% 51% 54% 58% 62% 67%
MVA
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add Trafo
Peak
Load
Add Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add Trafo
Trafo MVA
2016 2017 2018 2019 2020 2011 2012 2013 2014 2015
No. Gardu Induk
Kapasitas
Riau (lanjutan)
13 TEMBILAHAN 150/20 0
Total 0 30 14,83 16,25 17,50 18,81 20,25 30 22,03
GI Baru 58% 64% 69% 74% 40% Trf baru 43%
14 BAGAN SIAPI-API 150/20 0 30 9,61 9,98 10,92 11,73 12,58 13,52 14,67
GI Baru 38% 39% 43% 46% 49% 53% 58%
15 PANGKALAN KERINCI 150/20 0 30 9,43 9,59 10,31 10,90 11,51 12,18 13,02
GI Baru 37% 38% 40% 43% 45% 48% 51%
1,18
16 GI SIAK SRI INDRA PURA 150/20 0 30,00 10,35 11,52 12,61 13,77 15,07 16,65
GI Baru 41% 45% 49% 54% 59% 65%
1,20
17 KIT TENAYAN 150/20 0 10,00 30 12,50 15,63 19,53 24,41 30,00 30,52 35,10 40,36
39% GI Baru 49% 61% 77% 48% Trf Baru 60% 69% 79%
18 PERAWANG 150/20 0 11,32 30 11,53 12,42 13,16 13,92 14,75 15,80
44% GI Baru 45% 49% 52% 55% 58% 62%
1,2
19 KID DUMAI 150/20 0 14,40 30 13,69 14,35 15,88 17,30 18,81 20,49 30 22,56
56% GI Baru 54% 56% 62% 68% 74% 40% Trf baru 44%
20 GI KANDIS 150/20 0 10 57 30 11 38 12 06 12 75 13 51 14 47
1
6
3
20 GI KANDIS 150/20 0 10,57 30 11,38 12,06 12,75 13,51 14,47
41% GI Baru 45% 47% 50% 53% 57%
21 GI LIPAT KAIN 150/20 0 8,46 30 9,08 9,59 10,11 10,69 11,42
33% GI Baru 36% 38% 40% 42% 45%
1,20
22 GI/GIS KOTA PEKANBARU 150/20 0 22,2 60 22,83 24,81 26,53 28,32 30,30 32,75
44% GI Baru 45% 49% 52% 56% 59% 64%
TOTAL PEAK GI 382,01 50 432,75 200 486,16 270 532,23 210 573,26 30 627,26 180 675,58 110 726,16 0 782,50 60 852,01 30
TOTAL PEAK SISTEM 381,49 431,00 485,67 530,82 576,12 623,68 672,29 723,22 779,98 849,95 TOTAL PEAK SISTEM 38 , 9 3 ,00 85,67 530,8 576, 6 3,68 67 , 9 7 3, 779,98 8 9,95
DIVERSITY FACTOR 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,01 1,00 1,00 1,00 1,00
Capacity Balance GI
S2J B
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
1 BUKITSIGUNTANG 70/12 15 Uprate 15-30 MVA 70/20 Uprate trafo 15-30 MVA
PTM 2012 70/20 15 Tambah 30 MVA 70/20
No. Gardu Induk
Kapasitas 2013 2014 2011 2012 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
SKI P3B
Add
Trafo
Peak
Load
S2J B
PTM 2012 70/20 15 Tambah 30 MVA 70/20
Total 30 28,28 15 31,53 30 36,18 15 40,74 45,86 49,12 34,72 37,57 40,86 44,22
74% 49% 47% 53% 60% 64% 45% 49% 53% 58%
2 TALANG RATU 70/12 10
PTM di 2013/2014 70/12 5
70/20 10
70/20 10
Total 30 21,59 18,88 22,26 25,58 16,54 17,88 10,66 11,75 13,06 14,38
85% 74% 87% 100% 65% 70% 42% 46% 51% 56%
SKI P3B
3 SEDUDUK PUTIH 70/12 15 Uprate 15-30
PTM 2012 70/20 30
Total 45 32,67 36,66 32,38 19,75 22,38 24,13 11,32 12,32 13,49 14,69
85% 96% 85% 52% 59% 63% 30% 32% 35% 38%
4 SUNGAI JUARO 70/12 15
70/20 20
Total 35 26,64 29,30 13,58 14,64 15,75 16,10 16,68 17,15 17,69 18,11
90% 98% 46% 49% 53% 54% 56% 58% 59% 61%
1
6
4
5 BOOM BARU 70 kV 70/12 15
70/20 30
Total 45 30,21 33,90 24,84 20,65 24,78 27,53 7,39 8,97 10,80 12,69
79% 89% 65% 54% 65% 108% 29% 35% 42% 33%
6 BUNGARAN 70/12 5
PTM 2012/2013 70/12 5 uprate trafo III 15-30
70/20 15 uprate trafo IV10-30
70/20 10
Relokasi Trafo
d i K
Total 35 33,44 28,76 35 21,55 25,27 29,11 31,15 34,10 37,05 40,56 44,07
112% 48% 36% 42% 49% 52% 57% 62% 68% 74%
7 SUNGAI KEDUKAN 70/12 10
- Trafo II 15 MVA 70/20 15
(Step up : Pertamina) Total 25 20,22 15,06 16,53 17,81 19,20 20,06 21,16 22,24 23,44 24,63
59% 44% 49% 52% 56% 59% 62% 65% 69% 72%
8 KERAMASAN 70/12 15
Sudah realisasi trafo 60 MVA 70/12 10
150/20 60
Total 25 53,76 45,16 51,58 60 57,87 64,94 69,50 75,47 60 81,56 88,57 95,73
84% 89% 51% 57% 64% 68% 49% 53% 58% 63%
PTM DI 2012
Capacity Balance GI
S2J B (l j 1)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
9 TALANG KELAPA 150/20 60 49,06 40,73 60 45,64 54,64 75,33 81,24 89,15 97,27 60 106,74 116,46
60 96% 40% 36% 43% 59% 64% 70% 54% 60% 65%
No. Gardu Induk
Kapasitas 2013 2014 2011 2012 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
Peak
Load
UAI P3BS
S2J B (lanjutan 1)
10 BORANG 150/20 15
(Beban ditarik ke 150/20 30
PLTMG Sako) Total 45 12,12 13,22 14,86 16,37 18,04 18,92 20,14 21,34 22,72 24,07
32% 35% 39% 43% 47% 49% 53% 56% 59% 63%
11 MARIANA 150/20 2x16 34,80 39,05 45,10 51,10 57,90 30 62,41 68,31 74,39 81,42 88,67
SKI P3BS
150/20 32 16,86 20,34 22,61 24,72 27,05 30 28,27 29,97 31,63 33,55 35,43
62% 75% 83% 91% 51% 54% 57% 60% 64% 67%
12 SIMPANG TIGA 150/20 30
150/20 60
Total 60 49,43 53,96 60 60,46 44,09 50,13 53,47 58,15 62,96 68,60 74,27 60
97% 53% 59% 43% 49% 52% 57% 62% 67% 49%
13 PRABUMULIH 150/20 15
150/20 30
1
6
5
Total 30 26,20 28,87 60 32,73 36,41 40,51 42,87 46,07 49,26 52,93 56,60
69% 32% 37% 41% 45% 48% 52% 55% 59% 63%
14 BUKIT ASAM 150/20 60
150/20 60
Total 120 64,43 69,99 78,27 60 85,85 94,18 98,29 104,16 109,82 60 116,37 122,70
63% 69% 51% 56% 62% 64% 68% 54% 57% 60%
15 BATURAJA 150/20 30 Uprate 30->60
150/20 30 Uprate 30-60 p
Total 60 60,23 30 77,74 30 72,05 60 92,39 90,87 85,13 89,87 94,43 99,76 104,88
79% 76% 47% 60% 51% 48% 59% 62% 65% 69%
16 LAHAT 150/20 10
150/20 20 Uprate 10->30 MVA
Total 30 18,88 20,63 20 16,07 12,10 14,36 15,35 16,87 18,32 20,04 21,68
74% 49% 38% 28% 34% 36% 40% 43% 47% 51%
17 PAGAR ALAM 150/20 10 17 PAGAR ALAM 150/20 10
150/20 15 Uprate 10-30
Total 25 19,19 20,85 20 23,31 21,34 23,56 24,52 25,98 27,36 15 28,99 30,54
90% 55% 61% 56% 62% 64% 68% 54% 57% 60%
Uprate 15-30
Capacity Balance GI
S2J B (l j 2)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
18 LUBUKLINGGAU 150/20 30
Uprate 20->60
No. Gardu Induk
Kapasitas 2013 2014 2011 2012 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
Peak
Load
S2J B (lanjutan 2)
20 49,60 40 54,85 56,37 61,55 60 69,59 74,35 67,72 73,26 79,74 86,19
50 65% 72% 74% 48% 55% 58% 53% 57% 63% 68%
19 BETUNG 150/20 2x30
150/20 60 24,79 27,63 21,91 20,22 23,72 25,54 28,19 30,84 34,01 30 37,19
49% 54% 43% 40% 47% 50% 55% 60% 44% 49%
20 GUMAWANG 150/20 2x30
150/20 60 28,32 30,90 34,72 38,27 30 42,17 39,80 42,37 44,89 47,79 50,62
56% 61% 68% 50% 55% 52% 55% 59% 62% 66%
Relokasi 30 MVA ex Baturaja
21 GUNUNG MEGANG 150/20 30 28,32 30,90 60 34,72 38,27 42,17 34,22 33,04 33,95 35,56 37,11
111% 40% 45% 50% 55% 45% 43% 44% 46% 49%
1 GI Kenten 150/20 60
150/20 60 46,27 52,42 59,39 64,02 70,07 76,31 60 83,52 90,96
120 45% 51% 58% 63% 69% 50% 55% 59%
1
6
6
3 JAKABARING / KEDUKAN EXT 150/20 12,59 13,85 15,23 16,75 18,43 20,27 22,30 24,53
25% 27% 30% 33% 36% 40% 44% 48%
60
4 KAYU AGUNG 150/20 30 12,69 13,81 15,01 16,32 17,63 19,04 30 20,56
50% 54% 59% 64% 69% 37% 40%
5 TANJUNG API-API 150/20 30
150/20 30
Total 60 16,05 17,17 18,38 19,66 21,04 22,51 24,09 25,77 27,58
0% 31% 34% 36% 39% 41% 44% 47% 51% 54%
6 SUNGAI LILIN 150/20 30 15,00 15,75 16,54 17,36 30 18,23 19,14 20,10
59% 62% 65% 34% 36% 38% 39%
dari GI Baturaja
7 MUARA DUA 150/20 30 9,83 10,52 11,26 12,04 12,89 13,79
39% 41% 44% 47% 51% 54%
8 MUARA RUPIT 150/20 30 13,05 13,97 14,94 15,99
51% 55% 59% 63% 51% 55% 59% 63%
dari GI Betung
Capacity Balance GI
S2J B (l j 3)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
9 SEKAYU 150/20 30 9,8 10,5 11,2 12,0 12,8 13,7 14,7 - 15,7 30
38% 41% 44% 47% 50% 54% 58% 31%
No. Gardu Induk
Kapasitas 2013 2014 2011 2012 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
Peak
Load
S2J B (lanjutan 3)
10 TEBING TINGGI 150/20 30 12,7 13,5 14,3 15,1 16,1 17,0 18,0 30
50% 53% 56% 59% 63% 67% 35%
11 GIS Kota I 150/20 60 55,9 60,8 66,5 72,4 60
60 0,0% 54,8% 59,6% 65,2% 47,3%
120
masuk di 2016
12 Martapura 150/20 30 13,8 14,7 15,6 16,6 17,6
- - - 46% 49% 52% 55% 59%
13 Pendopo 150/20 30 10,0 14,0 15,9 17,5 19,1 30
39% 55% 62% 69% 38%
Total Kap. Terpasang GI MVA 1.082 85 1.532 450 1.907 375 2.087 180 2.147 60 2.207 60 2.447 240 2.642 195 2.702 60 2.942 240
TOTAL PEAK GI MW 694,23 745,91 818,47 904,08 1008,61 1071,46 1144,86 1228,64 1325,28 1422,62
Persentase pembebanan % 75,48 57,28 50,49 50,96 55,27 57,12 55 55 58 57
PEAK SISTEM INT. SUMSEL MW 627,00 697,15 767,43 843,40 930,54 998 1.070 1.147 1.238 1.335
Diversity Factor 1,11 1,07 1,07 1,07 1,08 1,07 1,07 1,07 1,07 1,07
1
6
7
Capacity Balance GI
S2J B (l j 4)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
1 SUKAMERINDU 70/20 15
70/20 30
No. Gardu Induk
Kapasitas 2013 2014 2011 2012 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
Peak
Load
S2J B (lanjutan 4)
70/20 30
Total 75 71,10 74,87 28,81 33,39 24,65 26,09 29,69 31,42 33,82 36,40
93% 98% 38% 44% 32% 34% 39% 41% 44% 48%
2 PEKALONGAN 70/20 5
70/20 10
150/20 30
Total 15 19,95 23,27 24,40 30 27,93 28,69 29,17 32,45 32,99 34,24 35,54 , , , , , , , , , ,
78% 91% 48% 55% 56% 57% 64% 65% 67% 70%
3 TES 70/20 5 3,92 - 4,12 4,33 4,54 4,77 5,01 5,26 5,52 5,80 6,09
15 31% 32% 34% 36% 37% 39% 41% 43% 45% 48%
USULAN GI BARU 150/20 KV mundur ke 2012
1 MANNA / MASSAT 150/20 30 18,90 20,17 30 21,52 22,97 24,52 17,56 18,67 19,85 21,12
0% 74% 40% 42% 45% 48% 34% 37% 39% 41%
1
6
8
2 Muko-Muko 150/20 30 12,10 12,71 13,35 14,01 14,71 15,45
Ditarik dari argamakmur 0% 0% 0% 0% 47% 50% 52% 55% 58% 61%
3 Sukamerindu 2 / Pulau Baai 150/20 60
150/20 60
Total 120 54,24 61,66 65,51 69,20 77,26 60 81,61 87,34 93,49
53% 60% 64% 68% 50% 53% 57% 61%
4 GI ArgaMakmur 150/20 30 10,92 11,53 12,88 13,60 14,56 15,58 g
0% 0% 0% 43% 45% 50% 53% 57% 61%
GI Bin Tuhan Masuk
5 GI BinTuhan 150/20 30 8,62 9,29 10,00 10,77
34% 36% 39% 42%
Total Kap. Terpasang GI MVA 120 - 150 30 330 180 330 - 360 30 360 - 450 90 450 - 450 - 450 -
Total Kap.Terpasang Pembangkit MW - - - - - - - - - -
94 97 121 16 131 94 149 04 169 63 178 22 188 45 197 83 210 32 223 67 TOTAL PEAK GI MW 94,97 121,16 131,94 149,04 169,63 178,22 188,45 197,83 210,32 223,67
Persentase Pembebanan % 93,11 95,03 47,04 53,14 55,43 58,24 49,27 51,72 54,99 58,48
PEAK SISTEM BENGKULU MW 85,92 108,67 117,18 132,61 152,87 161,16 170,91 180,04 191,35 203,05
Diversity Factor 1,11 1,11 1,13 1,12 1,11 1,11 1,10 1,10 1,10 1,10
Capacity Balance GI
S2J B (l j )
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
1 JAMBI (AUR DURI) 150/20 30
150/20 30
No. Gardu Induk
Kapasitas 2013 2014 2011 2012 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
MVA
Add
Trafo
Peak
Load
S2J B (lanjutan 5)
30
Total 60 45,67 51,74 60 46,92 54,10 58,17 62,84 67,51 73,27 60 79,48 85,33
90% 51% 46% 53% 57% 62% 66% 48% 52% 56%
2 PAYO SELINCAH 150/20 60
150/20 60
Total 120 76,54 86,57 60 95,78 104,66 111,85 120,17 128,42 60 138,70 149,80 166,50 60
75% 57% 63% 68% 73% 79% 63% 68% 73% 65%
3 MUARA BUNGO 150/20 30 45,75 51,22 49,25 60 55,96 58,75 62,04 65,12 69,15 60 73,42 77,04
UAI P3BS
UAI P3BS
30 90% 100% 48% 55% 58% 61% 64% 45% 48% 50%
60
4 BANGKO 150/20 30 27,22 30,48 60 33,29 27,56 29,10 30,95 32,68 34,99 37,46 30 39,55
107% 40% 44% 36% 38% 40% 43% 46% 37% 39%
5 GI. MUARA BULIAN 150/20 30 19,41 22,87 60 24,82 27,88 29,21 30,76 32,22 34,10 36,10 37,81
76% 30% 32% 36% 38% 40% 42% 45% 47% 49%
dimundur ke 2013
UAI P3BS
UAI P3BS
USULAN GI BARU 150/20 KV
1
6
9
dimundur ke 2013
1 GI SABAK 150/20 30 10,28 11,33 11,65 12,04 12,38 12,86 13,36 30 13,74 -
0% 0% 40% 44% 46% 47% 49% 50% 26% 27%
dimundur ke 2014
2 GI SAROLANGUN 150/20 30 0,00 13,63 13,88 14,21 14,47 14,89 15,32 15,60 30
0% 0% 0% 53% 54% 56% 57% 58% 60% 31%
3 GI KUALA TUNGKAL 150/20 30 0 0 0 0 0 0 0 15,31 15,90 16,52
60 03 62 36 64 78
USULAN GI BARU 150/20 KV
60,03 62,36 64,78
Total Kap terpasang GI MVA 300 - 540 240 630 90 660 30 660 - 660 - 720 870 930 1.020
TOTAL PEAK GI MW 214,6 242,9 260,3 295,1 312,6 333,0 352,8 393,3 420,9 452,1
Persentase Pembebanan % 84,15 52,91 48,62 52,61 55,72 59,4 57,65 53,18 53,24 52,14
PEAK SISTEM JAMBI 194,29 220,76 236,58 269,67 285,45 304 322,34 359,50 383,51 413,90
Diversity Factor 1,10 1,10 1,10 1,09 1,10 1,10 1,09 1,09 1,10 1,09
Kapasitas terpasang GI MVA 1.502 2.222 2.867 3.077 3.167 3.227 3.617 3.962 4.082 4.412
PEAK GI WS2JB MW 1 003 8 1 109 9 1 210 7 1 348 2 1 490 8 1 582 7 1 686 1 1 820 1 956 2 098 4
PLN WS2JB
PEAK GI WS2JB MW 1.003,8 1.109,9 1.210,7 1.348,2 1.490,8 1.582,7 1.686,1 1.820 1.956 2.098,4
PEAK SISTEM S2JB MW 907,2 1.026,6 1.121,2 1.245,7 1.368,9 1.462,6 - 1.563,3 1.687 1.813 1.952
DIVERSITY FACTOR 1,11 1,08 1,08 1,08 1,09 1,08 1,08 1,08 1,08 1,07
Capacity Balance GI
LLampung
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
1 TARAHAN 150/20 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60
Terpasang MW (2x30) 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
doad
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
MVA
Beban Puncak MW 35,51 41,88 43,30 41,04 41,37 41,09 40,41 39,27 37,65 35,43
Pembebanan Trafo % 69,6% 82,1% 84,91% 80,5% 81,1% 80,6% 79,2% 77,0% 73,8% 69,5%
2 TELUK BETUNG 150/20 120 120 120 120 120 120 120 120 120 120 120
Terpasang MW (1x60) 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0
Beban Puncak MW (1x60) 72,91 86,18 86,40 89,32 77,38 81,37 67,07 70,26 73,56 76,86
Pembebanan Trafo % 71,5% 84,5% 84,7% 87,6% 75,9% 79,8% 65,8% 68,9% 72,1% 75,4%
3 NATAR 150/20 60 60 120 120 120 120 120 120 120 120 120
Terpasang MW (2x30) 51,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0
B b P k MW 40 78 4906 60 52 87 56 86 49 79 39 91 39 74 40 87 42 26 43 74 Beban Puncak MW 40,78 49,06 60 52,87 56,86 49,79 39,91 39,74 40,87 42,26 43,74
Pembebanan Trafo % 80,0% 48,1% 51,8% 55,7% 48,8% 39,1% 39,0% 40,1% 41,4% 42,9%
4 SUTAMI 150/20 60 60 60 60 60 60 90 90 90 90 90
Terpasang MW (2x30) 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban Puncak MW 28,71 34,06 36,53 39,10 41,49 43,66 30 45,86 48,08 50,36 52,65
Pembebanan Trafo % 56,3% 66,8% 71,6% 76,7% 81,4% 57,1% 59,9% 62,8% 65,8% 68,8%
5 KALIANDA 150/20 30 30 60 60 60 60 60 60 60 60 60
Terpasang MW (1x30) 25,5 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0
Beban Puncak MW 22 19 2667 30 28 73 30 89 22 15 23 38 29 09 30 57 32 09 33 61
1
7
0
Beban Puncak MW 22,19 26,67 30 28,73 30,89 22,15 23,38 29,09 30,57 32,09 33,61
Pembebanan Trafo % 87,0% 52,3% 56,3% 60,6% 43,4% 45,8% 57,0% 59,9% 62,9% 65,9%
6 GI TEGINENENG Total 70 70 70 70 110 110 110 110 150 150 150
Terpasang MW (2x20) 59,5 59,5 59,5 93,5 93,5 93,5 93,5 127,5 127,5 127,5
Beban Puncak MW (1x30) 45,49 54,79 59,08 63,56 40 67,71 71,49 75,31 79,16 40 83,13 87,12
Pembebanan Trafo % 76,5% 92,1% 99,3% 68,0% *2) 72,4% 76,5% 80,5% 62,1% *2) 65,2% 68,3%
7 GI ADIJ AYA Total 30 30 60 60 60 90 90 90 90 90 90
Terpasang MW (1x30) 25,5 51,0 51,0 51,0 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban Puncak MW 28,16 34,37 30 37,23 40,21 42,98 30 45,50 48,05 50,62 53,27 55,92 Beban Puncak MW 28,16 34,37 30 37,23 40,21 42,98 30 45,50 48,05 50,62 53,27 55,92
Pembebanan Trafo % 110,4% 67,4% 73,0% 78,8% 56,2% 59,5% 62,8% 66,2% 69,6% 73,1%
8 GI MENGGALA Total 50 50 50 50 50 50 90 90 90 90 90
Terpasang MW (1x20) 42,5 42,5 42,5 42,5 42,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban Puncak MW (1x30) 37,89 28,49 31,50 34,66 37,58 39,88 40 42,54 45,23 48,00 50,78
Pembebanan Trafo % 89,2% 67,0% 74,1% 81,5% 88,4% 52,1% *2) 55,6% 59,1% 62,7% 66,4%
9 GI SRIBAWONO 150/20 50 50 50 90 90 90 90 90 90 90 120
Terpasang MW (1x20) 42,5 42,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 102,0
Beban Puncak MW (1x30) 33,13 41,30 45,07 40 49,00 49,66 52,80 55,96 59,15 62,45 65,75 30
Pembebanan Trafo % 77,9% 97,2% 58,9% *2) 64,1% 64,9% 69,0% 73,2% 77,3% 81,6% 64,5% *3)
10 BUKIT KEMUNING Total 30 30 90 90 90 90 90 90 90 90 90
Terpasang MW (1x30) 25,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban Puncak MW 32,73 40,65 60 48,86 40,98 43,99 46,26 49,00 51,76 54,62 57,48
Pembebanan Trafo % 128,3% 53,1% 63,9% 53,6% 57,5% 60,5% 64,1% 67,7% 71,4% 75,1%
Capacity Balance GI
L (l j 1)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
11 KOTABUMI Total 40 80 80 80 120 120 120 120 120 120 180
Terpasang MW (2x20) 68,0 68,0 68,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 153,0
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
doad
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
MVA
Lampung (lanjutan 1)
Beban Puncak MW 51,95 40 68,20 71,13 73,61 40 80,14 69,09 73,93 78,81 83,85 88,90 60
Pembebanan Trafo % 76,4% *2) 100,3% 104,6% 72,2% *2) 78,6% 67,7% 72,5% 77,3% 82,2% 58,1%
12 PAGELARAN Total 50 50 90 90 90 90 90 90 90 90 90
Terpasang MW (1x20) 42,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban Puncak MW (1x30) 44,92 44,95 40 48,25 41,01 38,67 40,72 42,79 44,88 47,04 49,20
Pembebanan Trafo % 105,7% 58,8% *2) 63,1% 53,6% 50,6% 53,2% 55,9% 58,7% 61,5% 64,3%
13 GI METRO Total 50 50 50 90 90 90 90 90 90 90 90
Terpasang MW (1x30) 42,5 42,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban P ncak MW (1 20) 2881 32 07 3356 40 3513 36 58 37 90 3923 40 58 4197 43 36 Beban Puncak MW (1x20) 28,81 32,07 33,56 40 35,13 36,58 37,90 39,23 40,58 41,97 43,36
Pembebanan Trafo % 67,8% 75,4% 43,9% *2) 45,9% 47,8% 49,5% 51,3% 53,0% 54,9% 56,7%
14 GI NEW TARAHAN 150/20 30 30 60 60 60 120 120 120 120 120 120
Terpasang MW (1x30) 25,5 51,0 51,0 51,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0 102,0
Beban Puncak MW 19,73 23,39 30 25,63 36,67 42,49 60 47,70 53,07 58,59 64,37 70,29
Pembebanan Trafo % 77,4% 45,9% 50,2% 71,9% 41,7% 46,8% 52,0% 57,4% 63,1% 68,9%
15 GI SUKARAME 150/20 30 30 30 60 60 60 60 60 60 120 120
Terpasang MW (1x30) 25,5 25,5 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 102,0 102,0
Beban Puncak MW 21 19 2514 33 82 30 40 39 4416 43 53 34 51 3820 42 36 60 4699
1
7
1
Beban Puncak MW 21,19 25,14 33,82 30 40,39 44,16 43,53 34,51 38,20 42,36 60 46,99
Pembebanan Trafo % 83,1% 98,6% 66,3% 79,2% 86,6% 85,4% 67,7% 74,9% 41,5% 46,1%
16 GI BLAMBANGAN UMPU 150/20 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Terpasang MW (1x30) 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5
Beban Puncak MW 6,74 8,37 9,12 9,91 10,63 11,30 11,97 12,64 13,34 14,04
Pembebanan Trafo % 26,4% 32,8% 35,8% 38,9% 41,7% 44,3% 46,9% 49,6% 52,3% 55,0%
17 GI SEPUTIH BANYAK 150/20 30 30 30 30 60 60 60 60 60 60 60
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0
Beban Puncak MW 19,17 23,47 25,45 27,53 30 29,45 31,20 32,96 34,74 36,58 38,43 , , , , 30 , , , , , ,
Pembebanan Trafo % 75,2% 92,0% 99,8% 54,0% 57,7% 61,2% 64,6% 68,1% 71,7% 75,3%
18 GI KOTA AGUNG 150/20 30 30 30 30 30 30 30 30
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5
Beban Puncak MW 10,69 11,36 11,96 12,57 13,18 13,81 14,45
Pembebanan Trafo % 41,9% 44,5% 46,9% 49,3% 51,7% 54,2% 56,7%
19 GI LIWA 150/20 30 30 30 30 30 30 30 30
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5
Beban Puncak MW 17,03 18,29 19,43 20,58 21,74 11,82 12,44
Pembebanan Trafo % 66,8% 71,7% 76,2% 80,7% 85,2% 46,4% 48,8%
20 GI ULU BELU 150/20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
Terpasang MW 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0
Beban Puncak MW 8,49 9,11 9,76 10,36 10,91 11,47 12,03 12,61 13,19
Pembebanan Trafo % 49,9% 53,6% 57,4% 61,0% 64,2% 67,5% 70,8% 74,2% 77,6%
Capacity Balance GI
L (l j 2)
(MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
21 GI GEDONG TATAAN 150/20 60 60 2 x 30 60 60 60 60 60
Terpasang MW 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0
No. Gardu Induk
Kapasitas 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Trafo MVA Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
Peak
doad
Add
Trafo
Peak
Load
Add
Trafo
MVA
Lampung (lanjutan 2)
Beban Puncak MW 23,30 24,55 25,82 27,09 28,41 29,73
Pembebanan Trafo % 45,7% 48,1% 50,6% 53,1% 55,7% 58,3%
22 GI TELUK RATAI 150/20 30 30 30 30 30 30 30
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5 25,5
Beban Puncak MW 12,91 13,58 14,25 14,94 15,64 16,35
Pembebanan Trafo % 50,6% 53,2% 55,9% 58,6% 61,3% 64,1%
23 GI KETAPANG 150/20 30 30 30 30 30 60 60
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 25,5 51,0 51,0
Beban Puncak MW 13,72 15,95 18,04 20,11 21,98 30 23,05
Pembebanan Trafo % 53,8% 62,5% 70,8% 78,9% 43,1% 45,2%
24 GI MESUJ I 150/20 30 30 30 30 30 60 60
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 25,5 51,0 51,0
Beban Puncak MW 16,84 18,04 19,24 20,46 21,71 30 22,97
Pembebanan Trafo % 66,1% 70,7% 75,5% 80,2% 42,6% 45,0%
25 GI J ATI AGUNG 150/20 30 30 30 30 60 60
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 51,0 51,0
Beban Puncak MW 17,11 18,80 20,63 22,31 30 23,90
Pembebanan Trafo % 67,1% 73,7% 80,9% 43,7% 46,9%
1
7
2
26 GI LANGKAPURA 150/20 60 60 60 60 60
Terpasang MW 51,0 51,0 51,0 51,0
Beban Puncak MW 35,69 37,44 39,25 41,06
Pembebanan Trafo % 70,0% 73,4% 77,0% 80,5%
27 GI PAKUAN RATU 150/20 60 30 30 30 60 60
Terpasang MW 25,5 25,5 25,5 51,0 51,0
Beban Puncak MW 17,82 19,03 20,26 21,52 30 22,79
Pembebanan Trafo % 69,9% 74,6% 79,4% 42,2% 44,7%
28 GI BENGKUNAT 150/20 30 30 30 28 GI BENGKUNAT 150/20 30 30 30
Terpasang MW 25,5 25,5
Beban Puncak MW 11,12 11,70
Pembebanan Trafo % 43,6% 45,9%
28 GI DIPASENA 70/20 90 90 3 x 30 90 90 90 90 90 90 90 90
Terpasang MW 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5 76,5
Beban Puncak MW 55,95 56,79 57,67 58,48 52,00 52,00 52,00 52,00 52,00
Pembebanan Trafo % 73,1% 74,2% 75,4% 76,4% 68,0% 68,0% 68,0% 68,0% 68,0%
GI DIPASENA 150/20 60 60 1x60 60 60 60 60
Terpasang MW 51,0 51,0 51,0 51,0 51,0
Beban Puncak MW 7,22 7,97 8,73 9,51 10,29
Pembebanan Trafo % 14,2% 15,6% 17,1% 18,6% 20,2%
PEAK GI MW 570 727 782 845 921 975 1.037 1.092 1.149 1.204
PEAK SYSTEM MW 569 693 749 809 864 914 965 1.016 1.068 1.121
DIVERSITY FACTOR 1,00 1,05 1,04 1,04 1,07 1,07 1,07 1,08 1,07 1,07
R
E
N
C
A
N
S
I
S
T
L
A
M
N
A

P
E
N
G
E
T
E
M

I
N
T
E
M
P
I
R
A
N

E
M
B
A
N
G
A
E
R
K
O
N
E
K
1
7
3
A
1
.
6
A
N

P
E
N
Y
K
S
I

S
U
M
A
Y
A
L
U
R
A
N
A
T
R
A
N
Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Sumatra
(kms)
Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500 kV AC - - - - - - - 150 - - 150
500 kV DC - - - - - 800 - - - - 800
275 kV - 160 1,992 774 1,532 110 - 130 - - 4,698
250 kV DC 462 462 250 kV DC - - - - - 462 - - - - 462
150 kV 582 1,455 3,784 2,039 1,486 531 590 387 382 440 11,676
70 kV - 310 - 240 - - - - - - 550
TOTAL 582 1,925 5,776 3,053 3,018 1,903 590 667 382 440 18,336
1
7
4
Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
500/275 kV - - - - - 1,000 - 2,000 - 3,000
(MVA)
500 kV DC - - - - - 3,000 - - - - 3,000
275/150 kV 1,000 - 4,500 2,000 1,250 - 500 500 - 250 10,000
250 kV DC - - - - - 600 - - - - 600
150/20 kV 900 2,600 1,980 1,140 810 660 780 780 510 690 10,850
70/20 kV 30 260 30 60 - 30 - 30 30 - 470
TOTAL 1,930 2,860 6,510 3,200 2,060 5,290 1,280 3,310 540 940 27,920
No. Propinsi Dari Ke Tegangan Conductor kms
Biaya
COD
Pengembangan Penyaluran Sumatra
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
(M USD)
COD
1 NAD Jantho Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 1 0.06 2012
2 NAD Sigli PLTU Meulaboh 150 kV 2 cct, 2 Zebra 333 74.95 2012
3 NAD Meulaboh PLTU Meulaboh 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2012
4 NAD Panton Labu Incomer (Idi ‐ Lhokseumawe) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 0.11 2012
5 NAD Bireun Takengon 150 kV 2 cct, 2 Hawk 126 9.62 2013 g ,
6 NAD Sidikalang Sabulussalam 150 kV 2 cct, 1 Hawk 111.2 6.16 2013
7 NAD Brastagi/Berastagi Kutacane 150 kV 2 cct, 1 Hawk 290 16.07 2013
8 NAD PLTU Meulaboh Blang Pidie 150 kV 2 cct, 1 Hawk 190 10.53 2013
9 NAD Blang Pidie Tapak Tuan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 7.20 2013
10 NAD Ulee Kareng Banda Aceh 150 kV 2 cct, 2 Zebra 40 9.00 2014
11 NAD Samalanga Incomer (Bireun Sigli) 150 kV 2 cct 1 Hawk 4 0 22 2014 11 NAD Samalanga Incomer (Bireun ‐ Sigli) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 4 0.22 2014
12 NAD Krueng Raya Ulee Kareng 150 kV 2 cct, 2 Hawk 60 4.58 2014
13 NAD Takengon Blang Kjeren 150 kV 2 cct, 1 Hawk 174 9.64 2014
14 NAD Cot Trueng Incomer (Bireun ‐ Lhokseumawe) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 6 0.33 2015
15 NAD PLTA Peusangan‐2 Takengon 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.68 2016
16 NAD PLTA Peusangan‐1 PLTA Peusangan‐2 150 kV 2 cct, 2 Hawk 14 1.07 2016
1
7
5
17 NAD PLTP Seulawah 2 Pi Incomer (Sigli ‐ Banda Aceh) 150 kV 4 cct, 1 Hawk 32 3.55 2017
18 NAD Takengon PLTA Peusangan‐4 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.11 2018
19 NAD Banda Aceh Lam Pisang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 30 2.29 2018
20 Babel Air Anyir Pangkal Pinang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 44 2.44 2011
21 Babel Air Anyir Sungai Liat 150 kV 2 cct, 1 Hawk 112 6.20 2011
22 Babel Suge Dukong 70 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2.77 2012
23 Babel Dukong Manggar 70 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7.76 2012
24 Babel Pangkal Pinang Kelapa 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2014
25 Babel Pangkal Pinang Koba 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2014
26 Babel Kelapa Mentok 150 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7.76 2016
27 Babel Koba Toboali 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2016
28 Babel Air Anyir/Sungai Liat PLTUBangka Baru III 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5.54 2018 28 Babel Air Anyir/Sungai Liat PLTU Bangka Baru III 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5.54 2018
29 Bengkulu Pagar Alam Manna 150 kV 2 cct, 1 Hawk 96 5.32 2012
30 Bengkulu Pekalongan Pulo Baai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 90 6.87 2013
Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 1)
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
Biaya
(M USD)
COD g g
(M USD)
31 Bengkulu PLTA Simpang Aur 1 Incomer 1 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 20 1.53 2015
32 Bengkulu PLTA Simpang Aur 1 PLTA Simpang Aur 2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 12 0.66 2015
33 Bengkulu Pekalongan PLTP Hululais 150 kV 2 cct, 2 Hawk 120 9.16 2015
34 Bengkulu Pulau Baai Arga Makmur 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 13.74 2015
35 Bengkulu Kambang Muko‐muko/Bantal/Ipoh 150 kV 2 cct, 2 Hawk 220 16.79 2015
36 Bengkulu Manna Bintuhan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7.76 2017
37 Bengkulu Muko‐muko/Bantal/Ipoh Arga Makmur 150 kV 2 cct, 2 Hawk 360 27.48 2020
38 Bengkulu PLTP Kepahiyang Incomer 2 Phi (Pekalongan‐Pulau Baai) 150 kV 4 cct, 2 Hawk 80 6.11 2020
39 Jambi Bangko PLTA Merangin 150 kV 2 cct, 2 Zebra 136 30.61 2012
40 Jambi PLTA Merangin Sungai Penuh 150 kV 2 cct, 2 Zebra 110 24.76 2012
41 Jambi PLTGCNGSei Gelam Aur Duri 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2013
1
7
6
41 Jambi PLTG CNG Sei Gelam Aur Duri 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2013
42 Jambi Sabak Inc 1 Phi ( Payo Selincah ‐ Aur Duri ) 150 kV 2 cct, 2 x 340 mm2   121.6 3.64 2013
43 Jambi PLTG CNG Sengeti Aur Duri 150 kV 2 cct, 1 Hawk 26 1.44 2013
44 Jambi Muara Bulian Sarolangun 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 7.20 2014
45 Jambi PLTP Sungai Penuh Sungai Penuh 150 kV 2 cct, 1 Hawk 84 4.65 2015
46 Jambi Sabak Kuala Tungkal 150 kV 2 cct, 1 Hawk 108.8 6.03 2018
47 Kep Riau Tanjung Kasam Tanjung Sauh 150 kV 2 cct 3 x 300 mm2 6 2 42 2013 47 Kep. Riau Tanjung Kasam Tanjung Sauh 150 kV 2 cct, 3 x 300 mm2 6 2.42 2013
48 Kep. Riau Tanjung Sauh Pulau Ngenang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 10 1.11 2013
49 Kep. Riau Pulau Ngenang Tanjung Taluk 150 kV 2 cct, 3 x 300 mm2 12 4.84 2013
50 Kep. Riau Tanjung Taluk Tanjung Uban 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2013
51 Kep. Riau Tanjung Uban Sri Bintan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2013
52 Kep. Riau Sri Bintan Air Raja 150 kV 2 cct, 1 Hawk 70 3.88 2013
53 Kep. Riau Air Raja Kijang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2.22 2013
54 Lampung Bukit Kemuning (uprate) Kotabumi (uprate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 67.6 9.04 2011
55 Lampung PLTU Tarahan (FTP1) Incomer 2 Phi (New Tarahan ‐ Kalianda) 150 kV 2 cct, 2 Zebra 1 0.23 2011
56 Lampung Seputih Banyak Dipasena 70 kV 2 cct, 1 Hawk 120 9.16 2012
57 Lampung Ulubelu Incomer 1 Phi (Batutegi ‐ Pagelaran) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.05 2012
58 Lampung Menggala Seputih Banyak 150 kV 2 cct, 2 Zebra 120 27.01 2013
59 Lampung Sutami (uprate) Natar (uprate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 60.4 8.08 2013
60 Lampung Baturaja (uprate) Bukit Kemuning (uprate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 96 12.84 2013
Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 2)
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
Biaya
(M USD)
COD g g
(M USD)
61 Lampung Pagelaran Kota Agung 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.43 2014
62 Lampung Bukit Kemuning Liwa 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.43 2014
63 Lampung PLTP Ulubelu #3,4 Ulubelu 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.11 2015
64 Lampung Pagelaran Gedong Tataan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 60 4.58 2015
65 Lampung Gedon Tataan Teluk Ratai 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2015
66 Lampung Kalianda Ketapang 150 kV 2 cct, 2 Zebra 90 20.26 2015
67 Lampung Gumawang Mesuji 150 kV 2 cct, 2 Hawk 160 12.21 2015
68 Lampung Mesuji Dipasena 150 kV 2 cct, 2 Hawk 152 11.60 2015
69 Lampung PLTA Semangka Kota Agung 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2016
70 Lampung Natar Jatiagung 150 kV 2 cct, CU 1000 mm2 16 35.52 2016
71 Lampung Pakuan Ratu Inc 1 Phi (Menggala ‐ Gumawang) 150 kV 2 cct, 2 Zebra 1 0.23 2016
1
7
7
71 Lampung Pakuan Ratu Inc 1 Phi (Menggala   Gumawang) 150 kV 2 cct, 2 Zebra 1 0.23 2016
72 Lampung Langkapura Inc 2 Phi (Natar ‐ Teluk Betung) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 0.11 2017
73 Lampung Kalianda PLTP Rajabasa 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.05 2017
74 Lampung Besai PLTP Suoh sekincau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 38 2.11 2018
75 Lampung Liwa Bengkunat 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2019
76 Lampung Teluk Ratai PLTP Wai Ratai 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2.22 2019
77 Riau PLTGDuri Incomer 2 Phi (G Sakti Duri) 150 kV 2 cct 2 Hawk 22 1 68 2011 77 Riau PLTG Duri Incomer 2 Phi (G.Sakti ‐ Duri) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.68 2011
78 Riau Teluk Kuantan Rengat 150 kV 2 cct, 2 Hawk 194 14.81 2013
79 Riau Bangkinang Pasir Pangarayan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 220 12.19 2013
80 Riau Pasir Putih Garuda Sakti 150 kV 2 cct, 2 Zebra 55 12.38 2013
81 Riau Tenayan / PLTU Riau Pasir Putih 150 kV 2 cct, 2 Zebra 35 7.88 2013
82 Riau Dumai KID Dumai 150 kV 2 cct, 1 Hawk 56 3.10 2013
83 Riau Dumai Bagan Siapi api 150 kV 2 cct, 1 Hawk 228 12.63 2013
84 Riau Pasir Putih Pangkalan Kerinci 150 kV 2 cct, 2 Hawk 134 10.23 2013
85 Riau PLTU Sewa Dumai Dumai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 14 1.07 2013
86 Riau Duri (up rate) Dumai (up rate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 118 15.79 2013
87 Riau Garuda Sakti (up rate) Duri (up rate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 230 30.77 2013
88 Riau Rengat Pangkalan Kerinci 150 kV 2 cct, 2 Hawk 220 16.79 2014
89 Riau New Garuda Sakti Incomer ( G.Sakti ‐ Duri) 150 kV 4 cct, ACCC 310 mm2 12 1.61 2014
90 Riau Tenayan / PLTU Riau Perawang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2.77 2014
Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 3)
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
Biaya
(M USD)
COD g g
(M USD)
91 Riau Teluk Lembu GIS Kota Pekan Baru 150 kV 2 cct, CU 1000 mm2 14 31.08 2014
92 Riau Tenayan / PLTU Riau Siak Sri Indra Pura 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5.54 2014
93 Riau Rengat Tembilahan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2014
94 Riau Pasir Putih Teluk Lembu 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.05 2015
95 Riau Kandis Incomer ( New G.Sakti ‐ Duri) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 10 2.68 2015
96 Riau Bangkinang Lipat Kain 150 kV 2 cct, 1 Hawk 70 3.88 2015
97 Sumbar Indarung Bungus 150 kV 2 cct, 2 Hawk 35 2.67 2011
98 Sumbar Bungus Kambang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 13.74 2011
99 Sumbar Kiliranjao Teluk Kuantan 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 52 1.69 2012
100 Sumbar Maninjau Padang Luar 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 42 1.36 2012
101 Sumbar Padang Luar Payakumbuh 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 32 1.04 2012
1
7
8
101 Sumbar Padang Luar Payakumbuh 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 32 1.04 2012
102 Sumbar Singkarak Batusangkar 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 25 0.81 2012
103 Sumbar PLTU Sumbar Pessel 2 pi Incomer (Bungus‐Kambang) 150 kV 4 cct, 2 Hawk 20 0.76 2012
104 Sumbar Kiliranjao Sungai Rumbai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 70 5.34 2013
105 Sumbar PIP/S Haru/Pauh Limo GI/GIS Kota Padang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 16 0.89 2016
106 Sumbar Sungai Rumbai PLTP Muara Labuh 150 kV 2 cct, 2 Hawk 160 12.21 2017
107 Sumbar Simpang Empat Masang 2 150 kV 2 cct 1 Hawk 30 1 66 2017 107 Sumbar Simpang Empat Masang‐2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 30 1.66 2017
108 Sumbar Solok PLTP Gunung Talang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.11 2019
109 Sumbar Payakumbuh PLTP Bonjol 150 kV 2 cct, 2 Hawk 104 7.94 2019
110 Sumsel PLTU Simpang Belimbing Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.86 2011
111 Sumsel Lahat Pagar Alam 150 kV 2 2nd cct, 1 Hawk 94.6 5.24 2012
112 Sumsel PLTU Simpang Belimbing Lahat 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.86 2012
113 Sumsel Tanjung Api‐Api Incomer 1 Pi (T. Kelapa‐Borang)/Kenten  150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 40 3.62 2012
114 Sumsel Kenten  Inc 2 Phi ( Talang Kelapa ‐ Borang ) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 1 0.09 2012
115 Sumsel Betung Sekayu 150 kV 2 cct, 1 Hawk 70 3.88 2013
116 Sumsel Bukit Asam (uprate) Baturaja (uprate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 78 10.44 2013
117 Sumsel Jakabaring Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Mariana) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 1 0.09 2013
118 Sumsel Gandus Inc 2 Phi (Keramasan ‐ Talang Kelapa) 150 kV 2 cct, CU 1000 mm2 20 44.40 2013
119 Sumsel Mariana Kayu Agung 150 kV 2 cct, 2 Zebra 60 13.50 2014
120 Sumsel Kayu Agung Gumawang 150 kV 2 cct, 2 Zebra 90 20.26 2014
Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 4)
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
Biaya
(M USD)
COD g g
(M USD)
121 Sumsel Sungai Lilin Betung 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2014
122 Sumsel Betung Talang Kelapa 150 kV 1 2nd cct, 2 Hawk 55.2 8.43 2014
123 Sumsel Lubuk Linggau Tebing Tinggi 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 8.31 2014
124 Sumsel Sumsel‐11, MT Incomer 1 Phi (Prabumulih ‐ Bukit Asam) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.86 2014
125 Sumsel Lahat PLTU Banjar Sari 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 40 3.62 2014
126 Sumsel Muara Dua Baturaja 150 kV 2 cct, 2 Hawk 92 7.02 2015
127 Sumsel Lahat PLTU Keban Agung 150 kV 2 cct, 2 Zebra 70 15.76 2015
128 Sumsel Gumawang Martapura 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.65 2016
129 Sumsel Sarolangun Muara Rupit 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.43 2017
130 Sumsel PLTP Rantau Dedap PLTP Lumut Balai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.05 2018
131 Sumsel Muara Dua PLTP Danau Ranau 150 kV 2 cct, 2 Hawk 90 6.87 2019
1
7
9
131 Sumsel Muara Dua PLTP Danau Ranau 150 kV 2 cct, 2 Hawk 90 6.87 2019
132 Sumut Galang Namurambe 150 kV 2 cct, 2 Zebra 80 18.01 2012
133 Sumut Galang Tanjung Morawa 150 kV 2 cct, 2 Zebra 20 4.50 2012
134 Sumut Rantau prapat Labuhan Bilik 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 7.20 2012
135 Sumut Lamhotma Belawan 150 kV 1 2nd cct, 2 Hawk 6.2 0.28 2012
136 Sumut Dolok Sanggul/Parlilitan Incomer 1 Phi (Tele‐Tarutung) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 76 4.21 2012
137 Sumut Tanjung Morawa Kuala Namu 150 kV 2 cct 2 Hawk 34 2 60 2013 137 Sumut Tanjung Morawa Kuala Namu 150 kV 2 cct, 2 Hawk 34 2.60 2013
138 Sumut Padang Sidempuan Panyabungan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7.76 2013
139 Sumut Sei Rotan (uprate) Tebing Tinggi (uprate) 150 kV 2 cct, ACCC 310 mm2 108 14.45 2013
140 Sumut Galang Negeri Dolok 150 kV 2 cct, 1 Hawk 66 3.66 2013
141 Sumut Sidikalang Salak 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2013
142 Sumut Tele Pangururan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 26 1.44 2013
143 Sumut Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2) Pangkalan Brandan 150 kV 2 cct, 2 Zebra 22 4.95 2013
144 Sumut PLTU Sewa Sumbagut Tebing Tinggi 150 kV 2 cct, 2 Hawk 30 2.29 2013
145 Sumut Tanjung Pura Incomer (P.Brandan‐Binjai) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 30 1.66 2013
146 Sumut PLTA Wampu Brastagi 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.43 2014
147 Sumut Teluk Dalam Gunung Sitoli 70 kV 2 cct, 1 Hawk 220 12.19 2014
148 Sumut PLTU Nias Gunung Sitoli 70 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.11 2014
149 Sumut Mabar Glugur 150 kV 1 cct, CU 1000 mm2 10 22.20 2015
150 Sumut GIS Listrik KIM 150 kV 1 cct, CU 1000 mm2 10 22.20 2015
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
Biaya
(M USD)
COD
Pengembangan Penyaluran Sumatra (Lanjutan 5)
151 Sumut Simangkok PLTA Asahan III(FTP 2) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.68 2016
152 Sumut Panyabungan PLTP Sorik Marapi (FTP 2) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 46 2.55 2017
153 Sumut Porsea PLTA Hasang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.32 2017
154 Sumut Tarutung PLTP Simbolon Samosir 150 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2.77 2018
155 Sumut PLTP Sipoholon Ria‐Ria 2 Pi Incomer (Tarutung‐Porsea) 150 kV 4 cct, 1 Hawk 8 0.44 2019
156 Sumut Pangkalan Susu Binjai 275 kV 2 cct, 2 Zebra 160 36.01 2012 g j ,
157 Sumbar Kiliranjao Payakumbuh 275 kV 2 cct, 2 Zebra 282 63.47 2013
158 Sumut Simangkok Galang 275 kV 2 cct, 2 Zebra 318 71.57 2013
159 Sumut Galang Binjai 275 kV 2 cct, 2 Zebra 160 36.01 2013
160 Sumut PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok 275 kV 2 cct, 2 Zebra 194 43.67 2013
161 Sumut Padang Sidempuan PLTP Sarulla (FTP 2) 275 kV 2 cct, 2 Zebra 138 31.06 2013
162 Riau Payakumbuh New Garuda Sakti 275 kV 2 cct, 2 Zebra 300 67.52 2013 162 Riau Payakumbuh New Garuda Sakti 275 kV 2 cct, 2 Zebra 300 67.52 2013
163 Sumbar Padang Sidempuan Payakumbuh 275 kV 2 cct, 2 Zebra 600 135.05 2013
164 Sumsel Lahat Lumut Balai 275 kV 2 cct, 2 Zebra 50 11.25 2014
165 Jambi Bayung Lincir/PLTU Sumsel‐5 Aur Duri 275 kV 2 cct, 2 Zebra 120 27.01 2014
166 Sumsel Lahat Muara Enim 275 kV 2 cct, 2 Zebra 70 15.76 2014
167 Sumsel Muara Enim Gumawang 275 kV 2 cct, 2 Zebra 290 65.27 2014
168 Sumsel Bayung Lincir/PLTUSumsel‐5 Sungai Lilin/PLTUSumsel‐7 275 kV 2 cct 2 Zebra 124 27 91 2014
1
8
0
168 Sumsel Bayung Lincir/PLTU Sumsel 5 Sungai Lilin/PLTU Sumsel 7 275 kV 2 cct, 2 Zebra 124 27.91 2014
169 Sumsel Betung Sungai Lilin/PLTU Sumsel‐7 275 kV 2 cct, 2 Zebra 120 27.01 2014
170 NAD Sigli Lhokseumawe 275 kV 2 cct, 2 Zebra 322 72.47 2015
171 Riau Rengat New Garuda Sakti 275 kV 2 cct, 4 Zebra 440 143.61 2015
172 Jambi Aur Duri Rengat 275 kV 2 cct, 4 Zebra 420 137.08 2015
173 Sumsel Muara Enim Betung 275 kV 2 cct, 2 Zebra 350 78.78 2015
174 Riau Rengat Cirenti (PLTURiau MT) 275 kV 2 cct 2 Zebra 110 24 76 2016 174 Riau Rengat Cirenti (PLTU Riau MT) 275 kV 2 cct, 2 Zebra 110 24.76 2016
175 NAD Sigli Ulee Kareng 275 kV 2 cct, 2 Zebra 130 29.26 2018
176 Riau Border Pulau Rupat 250 kV DC 2 Cable MI with IRC 52 51.00 2016
177 Riau Pulau Rupat Utara Pulau Rupat Selatan 250 kV DC 2 cct, 2xCardinal 548 m 60 2.60 2016
178 Riau P. Rupat Selatan  Sumatra Landing Point 250 kV DC 2 Cable MI with IRC 10 9.80 2016
179 Riau Sumatera Landing Point New Garuda Sakti 250 kV DC 2 cct, 2xCardinal 548 m 340 14.90 2016
180 J bi PLTUJ bi A D i 500 kV 2 t 4 Z b 150 48 96 2018 180 Jambi PLTU Jambi Aur Duri 500 kV 2 cct, 4 Zebra 150 48.96 2018
181 Sumsel Muara Enim PLTU MT HVDC A 500 kV 2 cct 4 Zebra 400 133.37 2016
182 Sumsel Muara Enim PLTU MT HVDC B 500 kV 2 cct 4 Zebra 100 33.35 2016
183 Sumsel Muara Enim perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC 2 cct 4 Falcon 200 67.20 2016
184 Lampung Ketapang perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC 2 cct 4 Falcon 600 201.60 2016
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Pengembangan Gardu Induk Sumatra
Extension 
1 NAD Sigli 150/20 kV Extension 30 1.40 2011 Uprating 10 MVA Ex Banda Aceh
2 NAD Banda Aceh 150/20 kV Extension 60 2.12 2011 Uprating 30 MVA
3 NAD Meulaboh 150/20 kV Baru 2x30 4.03 2012 1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
4 NAD PLTU Meulaboh Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2012 T/L ke Meulaboh
5 NAD Jantho 150/20 kV Baru 30 2.64 2012 1x30 MVA 
6 NAD Panton Labu 150/20 kV Baru 30 2.64 2012 1x30 MVA 
7 NAD Takengon 150/20 kV Baru 60 3 36 2013 2x30 MVA 7 NAD Takengon 150/20 kV Baru 60 3.36 2013 2x30 MVA 
8 NAD Bireun Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 ke Takengon
9 NAD Sabulussalam 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
10 NAD Kutacane/Kotacane 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
11 NAD Blang Pidie 150/20 kV Baru 30 3.88 2013 4 L/B (2 T/L ke Meulaboh dan 2 T/L ke T.Tuan)
12 NAD PLTU Meulaboh Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Blang Pidie
13 NAD Tapak Tuan 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
14 NAD Lhokseumawe 150/20 kV Extension 60 2 12 2013 14 NAD Lhokseumawe 150/20 kV Extension 60 2.12 2013
15 NAD Ulee Kareng 150/20 kV Baru 120 4.03 2014 2x60 + 2 LB
16 NAD Samalanga 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
17 NAD Krueng Raya 150/20 kV Baru 60 4.03 2014 2x30 MVA
18 NAD Banda Aceh Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 ke Krueng Raya
19 NAD Tualang Cut 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
20 NAD Blang Kjeren 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
21 NAD Langsa 150/20 kV Extension 30 1 40 2014
1
8
1
21 NAD Langsa 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
22 NAD Sigli 150/20 kV Extension 60 2.12 2015 Uprating 10 MVA
23 NAD Cot Trueng 150/20 kV Baru 30 2.64 2015 1x30 MVA 
24 NAD Takengon 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 ke Blang Kjeren
25 NAD Idi 150/20 kV Extension 30 1.40 2015
26 NAD Banda Aceh 150/20 kV Extension 60 2.12 2015 Uprating 30 MVA
27 NAD Bireuen 150/20 kV Extension 30 1.40 2016
28 NAD Jantho 150/20 kV Extension 30 1 40 2016 28 NAD Jantho 150/20 kV Extension 30 1.40 2016
29 NAD Meulaboh 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
30 NAD Tualang Cut 150/20 kV Extension 30 1.40 2018
31 NAD Lam Pisang 150/20 kV Baru 120 4.95 2018 2x60
32 NAD Krueng Raya Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2018 Ke arah Lamp Pisang
33 NAD Panton labu 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
34 NAD Cot Trueng 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
35 NAD Samalanga 150/20 kV Extension 30 1 40 2019 35 NAD Samalanga 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
36 NAD Tualang Cut 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
37 NAD Bireun 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
38 NAD Subulussalam 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
39 Babel Pangkal Pinang 150/20 kV Baru 60 4.00 2011
40 Babel Sungai Liat 150/20 kV Baru 30 2.62 2011
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 1)
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Extension 
41 Babel Air Anyir 150/20 kV Baru 30 2.62 2011
42 Babel Dukong 70/20 kV Baru 30 2.20 2012
43 Babel Manggar 70/20 kV Baru 20 2.38 2012
44 Babel Suge 70/20 kV Baru 30 2.20 2012
45 Babel Kelapa 150/20 kV Baru 30 2.62 2014
46 Babel Koba 150/20 kV Baru 30 2.62 2014
47 Babel Sungai Liat 150/20 kV Extension 30 1 39 2015 47 Babel Sungai Liat 150/20 kV Extension 30 1.39 2015
48 Babel Mentok 150/20 kV Baru 30 2.62 2016
49 Babel Toboali 150/20 kV Baru 30 2.62 2016
50 Babel Dukong 70/20 kV Extension 30 1.26 2016
51 Babel Pangkal Pinang 150/20 kV Extension 30 1.39 2018
52 Babel Koba 150/20 kV Extension 30 1.39 2018
53 Babel Manggar 70/20 kV Extension 30 1.26 2018
54 Babel Air Anyir 150/20 kV Extension 30 1 39 2019
1
8
2
54 Babel Air Anyir 150/20 kV Extension 30 1.39 2019
55 Babel Dukong 70/20 kV Extension 30 1.26 2019
56 Bengkulu Manna 150/20 kV Baru 30 2.64 2012 1x30 MVA 
57 Bengkulu Pulau Baai 150/20 kV Baru 120 4.03 2013 2x60 MVA
58 Bengkulu Pekalongan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L Pulo Baai
59 Bengkulu Pekalongan 150/20 kV Extension 30 1.40 2013
60 Bengkulu Manna 150/20 kV Extension 30 1.40 2013
61 Bengkulu Pekalongan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2014 T/L Hululais 61 Bengkulu Pekalongan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L Hululais
62 Bengkulu Muko‐muko 150/20 kV Baru 30 2.64 2015 1x30 MVA 
63 Bengkulu Argamakmur 150/20 kV Baru 30 3.88 2015 1x30 MVA 
64 Bengkulu Pulau Baai Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 T/L ke Argamakmur
65 Bengkulu Pulau Baai 150/20 kV Extension 60 2.12 2017
66 Bengkulu Bintuhan 150/20 kV Baru 30 2.64 2017 1x30 MVA 
67 Bengkulu Manna Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2017 T/L ke Bin Tuhan
68 Bengkulu Muko muko Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2020 T/L ke Argamakmur 68 Bengkulu Muko‐muko Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2020 T/L ke Argamakmur
69 Jambi Payoselincah Ext LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.49 2011 untuk PLTG Payo Selincah & PLTG Sungai Gelam 12MW
70 Jambi Sungai Penuh 150/20 kV Baru 30 2.64 2012 1x30 MVA 
71 Jambi Bangko Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2012 T/L ke Sungai penuh
72 Jambi Aurduri 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
73 Jambi Payoselincah 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
74 Jambi Bangko 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
75 Jambi Muaro Bulian 150/20 kV Extension 60 2 12 2012 75 Jambi Muaro Bulian 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
76 Jambi Muara Sabak 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
77 Jambi Muaro Bungo 150/20 kV Extension 60 2.12 2013 T/L ke GI PLTG Sei Gelam CNG, bay eks IBT 275/150 kV
78 Jambi Sarolangun 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
79 Jambi Muara Bulian Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L Ke Sarolangun
80 Jambi Sungai Penuh 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 2)
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Extension 
81 Jambi PLTP Sungai Penuh Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 Untuk PLTP Sungai Penuh
82 Jambi Sungai Penuh Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 T/L ke PLTP Sungai Penuh
83 Jambi PLTA Merangin Ext LB 150/20 kV Extension 4 LB 1.83 2016 untuk PLTP Merangin 2 Pi
84 Jambi Sarolangun Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2017 T/L Muara Rupit
85 Jambi Payoselincah 150/20 kV Extension 60 2.12 2017
86 Jambi Kuala Tungkal 150/20 kV Baru 30 2.64 2018 1x30 MVA 
87 Jambi Muara Sabak Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2018 T/L Kuala Tungkal 87 Jambi Muara Sabak Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2018 T/L Kuala Tungkal
88 Jambi Aurduri 150/20 kV Extension 60 2.12 2018
89 Jambi Muaro Bungo 150/20 kV Extension 60 2.12 2018
90 Jambi Bangko 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
91 Jambi Muara Sabak 150/20 kV Extension 30 1.40 2019 Up Rate 30 ke 60
92 Jambi Sarolangun 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
93 Jambi Payoselincah 150/20 kV Extension 60 2.12 2020
94 Kep Riau Air Raja 150/20 kV Baru 60 3 34 2013
1
8
3
94 Kep. Riau Air Raja 150/20 kV Baru 60 3.34 2013
95 Kep. Riau Sri Bintan  150/20 kV Baru 30 2.62 2013
96 Kep. Riau Kijang 150/20 kV Baru 60 3.34 2013
97 Kep. Riau Tanjung Uban 150/20 kV Baru 2x30 3.34 2013 1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
98 Kep. Riau Pulau Ngenang 150/20 kV Baru 10 1.90 2013
99 Kep. Riau Tanjung Uban 150/20 kV Extension 60 2.12 2015
100 Lampung Seputih banyak 150/20 kV Baru 30 3.88 2011 1x30 MVA 
101 Lampung Sribawono Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2011 T/L Seputih Banyak 101 Lampung Sribawono Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2011 T/L Seputih Banyak
102 Lampung Menggala  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2011 T/L Seputih Banyak
103 Lampung Kotabumi 150/20 kV Extension 60 2.12 2011 Uprating 20 MVA
104 Lampung Ulubelu 150/20 kV Baru 30 3.88 2012 1x20 MVA 
105 Lampung Kalianda 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
106 Lampung Adijaya 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
107 Lampung Bukit Kemuning 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
108 Lampung Natar 150/20 kV Extension 60 2 12 2012 108 Lampung Natar 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
109 Lampung Pagelaran 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 20 MVA
110 Lampung New Tarahan 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
111 Lampung Dipasena 70/20 kV Baru 90 4.72 2012 1x20 MVA 
112 Lampung Sukarame 150/20 kV Extension 30 1.40 2013
113 Lampung Metro 150/20 kV Extension 60 2.12 2013 Uprating 20 MVA
114 Lampung Sribawono 150/20 kV Extension 60 2.12 2013 Uprating 20 MVA
115 Lampung Kota Agung 150/20 kV Baru 30 2 64 2014 1x30 MVA 115 Lampung Kota Agung 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
116 Lampung Pagelaran  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L Kota Agung
117 Lampung Liwa 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
118 Lampung Bukit Kemuning  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L Liwa
119 Lampung Tegineneng 150/20 kV Extension 60 2.12 2014 Uprating 20 MVA
120 Lampung Seputih Banyak 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 3)
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Extension 
121 Lampung Kotabumi 150/20 kV Extension 60 2,12 2014 Uprating 20 MVA
122 Lampung Ketapang 150/20 kV Baru 30 2,64 2015 1x30 MVA 
123 Lampung Kalianda  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2015 T/L Ketapang
124 Lampung Gedong Tataan 150/20 kV Baru 60 5,28 2015 2x30 MVA
125 Lampung Pagelaran  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2015 T/L Gedon Tataan
126 Lampung Mesuji 150/20 kV Baru 30 2,64 2015 1x30 MVA 
127 Lampung Gumawang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2015 T/L Mesuji 127 Lampung Gumawang  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2015 T/L Mesuji
128 Lampung Teluk Ratai 150/20 kV Baru 30 2,64 2015 1x30 MVA 
129 Lampung New Tarahan 150/20 kV Extension 60 2,12 2015
130 Lampung Adijaya 150/20 kV Extension 30 1,40 2015
131 Lampung Dipasena 150/20 kV Baru 120 5,28 2015 1x30 MVA 
132 Lampung Mesuji  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2015 T/L Mesuji
133 Lampung Sutami 150/20 kV Extension 30 1,40 2016
134 Lampung Pakuan Ratu 150/20 kV Baru 30 2 64 2016 1x30 MVA
1
8
4
134 Lampung Pakuan Ratu 150/20 kV Baru 30 2,64 2016 1x30 MVA 
135 Lampung Menggala 150/20 kV Extension 60 2,12 2016 Uprating 20 MVA
136 Lampung Jati Agung 150/20 kV Baru 30 2,64 2016 1x30 MVA 
137 Lampung Natar Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 3,11 2016 T/L ke Jati Agung
138 Lampung Kalianda  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2017 T/L PLTP Raja Basa
139 Lampung Langkapura 150/20 kV Baru 60 4,03 2017 1x60 MVA
140 Lampung Besai  Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2018 T/L PLTP Suoh Sekincau
141 Lampung Tegineneng 150/20 kV Extension 60 2 12 2018 Uprating 20 MVA 141 Lampung Tegineneng 150/20 kV Extension 60 2,12 2018 Uprating 20 MVA
142 Lampung Mesuji 150/20 kV Extension 30 1,40 2018
143 Lampung Bengkunat 150/20 kV Baru 30 2,64 2019 1x30 MVA 
144 Lampung Liwa Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2019 T/L ke Bengkunat
145 Lampung Pakuan Ratu 150/20 kV Extension 30 1,40 2019
146 Lampung Jati Agung 150/20 kV Extension 30 1,40 2019
147 Lampung Sukarame 150/20 kV Extension 60 2,12 2019
148 Lampung Ketapang 150/20 kV Extension 30 1 40 2019 148 Lampung Ketapang 150/20 kV Extension 30 1,40 2019
149 Lampung Teluk Ratai Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2019 T/L ke PLTP Wai Ratai
150 Lampung Kotabumi 150/20 kV Extension 60 2,12 2020
151 Lampung Sribawono 150/20 kV Extension 60 2,12 2020 Uprating 30 MVA
152 Riau Bangkinang 150/20 kV Extension 30 1,40 2011
153 Riau Bagan Batu 150/20 kV Extension 30 1,40 2011
154 Riau Duri 150/20 kV Extension 60 2,12 2012
155 Riau Koto Panjang 150/20 kV Extension 20 2 12 2012 155 Riau Koto Panjang 150/20 kV Extension 20 2,12 2012
156 Riau Garuda Sakti 150/20 kV Extension 80 3,27 2012
157 Riau Teluk Kuantan Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0,62 2012 T/L ke Kiliranjao
158 Riau Teluk Lembu 150/20 kV Extension 60 2,12 2012
159 Riau Dumai 150/20 kV Extension 60 2,12 2012 Uprating 30 MVA
160 Riau Pasir Putih 150/20 kV Baru 60 6,52 2013 2x30 MVA + 4 LB
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 4)
Extension 
161 Riau Garuda Sakti Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Pasir Putih
162 Riau Pasir Pangaraian 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
163 Riau Bangkinang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Pasir Pangaraian
164 Riau Rengat 150/20 kV Baru 2x30 5.28 2013 1x30 MVA didanai APBN, 1x30 MVA didanai APLN
165 Riau Teluk Kuantan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Rengat
166 Riau KIT Tenayan 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 GI Pembangkit 1x30 MVA
167 Riau KID Dumai 150/20 kV Baru 30 2 64 2013 1x30 MVA 167 Riau KID Dumai 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
168 Riau Dumai Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke KID Dumai
169 Riau Bagan Siapiapi 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
170 Riau Dumai Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Bagan Siapiapi
171 Riau Pangkalan Kerinci 150/20 kV Baru 30 3.88 2013 1x30 MVA 
172 Riau New Garuda Sakti 150/20 kV Baru 2x60 6.73 2014 1x60 MVA didanai APBN, 1x60 MVA didanai APLN
173 Riau GI/GIS Kota Pekanbaru 150/20 kV Baru 60 5.28 2014 1x60 MVA
174 Riau Teluk Lembu Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 3 11 2014 T/L ke GI/GIS Kota Pekanbaru 174 Riau Teluk Lembu Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 3.11 2014 T/L ke GI/GIS Kota Pekanbaru
175 Riau Teluk Lembu Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke Pasir Putih
176 Riau Pasir Putih Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke Teluk Lembu
177 Riau Perawang 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
178 Riau Tenayan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke Perawang
179 Riau Tembilahan 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
180 Riau Rengat Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke Tembilahan
181 Riau Siak Sri Indra Pura 150/20 kV Baru 30 2 64 2014 1x30 MVA
1
8
5
181 Riau Siak Sri Indra Pura 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
182 Riau Tenayan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke Siak Sri Indra Pura
183 Riau Kandis 150/20 kV Baru 30 2.64 2015 1x30 MVA 
184 Riau Lipat Kain 150/20 kV Baru 30 2.64 2015 1x30 MVA 
185 Riau Bangkinang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 T/L ke Lipat Kain
186 Riau Pasir Putih 150/20 kV Extension 120 4.24 2016 2x60 MVA
187 Riau Bangkinang 150/20 kV Extension 60 2.12 2016
188 Riau Teluk Kuantan 150/20 kV Extension 30 1 40 2017 188 Riau Teluk Kuantan 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
189 Riau Duri 150/20 kV Extension 60 2.12 2017
190 Riau KIT Tenayan 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
191 Riau Tembilahan 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
192 Riau KID Dumai 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
193 Riau Bagan Batu 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
194 Sumbar Bungus 150/20 kV Baru 30 3.88 2011 On Going
195 Sumbar Indarung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2011 ke Bungus 195 Sumbar Indarung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2011 ke Bungus
196 Sumbar Kambang 150/20 kV Baru 30 2.64 2011 1x30 MVA 
197 Sumbar Padang Luar 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 20 MVA
198 Sumbar PIP 150/20 kV Extension 30 1.39 2012 Mengganti trafo rusak
199 Sumbar Pauh Limo 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 30 MVA
200 Sumbar Simpang Empat 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 5)
Extension 
201 Sumbar Padang Panjang 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
202 Sumbar Solok 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 20 MVA
203 Sumbar Payakumbuh 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
204 Sumbar Kiliranjao Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 2nd sirkit ke Teluk Kuantan
205 Sumbar Maninjau Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 2nd sirkit ke Padang Luar
206 Sumbar Padang Luar Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2012 2nd sirkit ke Maninjau&Payakumbuh
207 Sumbar Payakumbuh Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0 62 2012 2nd sirkit ke Padang Luar 207 Sumbar Payakumbuh Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 2nd sirkit ke Padang Luar
208 Sumbar Batusangkar Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 T/L ke arah Singkarak
209 Sumbar Singkarak Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 T/L ke arah Batusangkar
210 Sumbar Salak 150/20 kV Extension 30 1.40 2013
211 Sumbar Kiliranjao Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Sungai Rumbai
212 Sumbar Sungai Rumbai 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
213 Sumbar Maninjau 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
214 Sumbar Kiliranjao 150/20 kV Extension 30 1 40 2016 214 Sumbar Kiliranjao 150/20 kV Extension 30 1.40 2016
215 Sumbar Payakumbuh 150/20 kV Extension 30 1.40 2016
216 Sumbar GI/GIS Kota Padang 150/20 kV Baru 120 10.09 2016 2x60 MVA
217 Sumbar Sungai Rumbai Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2017 T/L ke PLTP Muara Labuh
218 Sumbar Bungus 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
219 Sumbar Kambang 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
220 Sumbar Simpang Empat 150/20 kV Extension 60 2.12 2017
221 Sumbar Solok 150/20 kV Extension 30 1 40 2017
1
8
6
221 Sumbar Solok 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
222 Sumbar PIP Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2018 T/L ke GI/GIS Kota Padang
223 Sumbar Lubuk Alung 150/20 kV Extension 30 1.40 2018
224 Sumbar Sungai Rumbai 150/20 kV Extension 30 1.40 2018
225 Sumbar Pariaman 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
226 Sumbar PIP 150/20 kV Extension 60 2.12 2020
227 Sumbar GIS Kota Padang 150/20 kV Extension 60 2.12 2020
228 Sumbar Padang Luar 150/20 kV Extension 30 1 40 2020 228 Sumbar Padang Luar 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
229 Sumbar Batusangkar 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
230 Sumsel Baturaja 150/20 kV Extension 60 2.12 2011 Uprating 30 MVA
231 Sumsel Lubuk Linggau 150/20 kV Extension 60 2.12 2011 Uprating 20 MVA
232 Sumsel Lahat Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2011 T/L 2nd Sirkit Pagar Alam
233 Sumsel Pagar Alam Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2011 T/L 2nd Sirkit Pagar Alam
234 Sumsel Bukit Siguntang 70/20 kV Extension 30 1.27 2011 Uprating 15 MVA
235 Sumsel Tanjung Api‐Api 150/20 kV Baru 60 5 28 2012 2x30 MVA 235 Sumsel Tanjung Api‐Api 150/20 kV Baru 60 5.28 2012 2x30 MVA
236 Sumsel Lahat 150/20 kV Extension 30 1.40 2012 Uprating 10 MVA
237 Sumsel Pagar Alam 150/20 kV Extension 30 1.40 2012 Uprating 10 MVA
238 Sumsel Gungung Megang 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
239 Sumsel Simpang Tiga 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
240 Sumsel Prabumulih 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 6)
Extension 
241 Sumsel Baturaja 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
242 Sumsel Pagar Alam Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2012 T/L ke Manna
243 Sumsel Gunung Megang Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 Untuk ST Gunung Megang
244 Sumsel Talang Kelapa 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
245 Sumsel Bukit Siguntang 70/20 kV Extension 30 1.27 2012
246 Sumsel Bungaran 70/20 kV Extension 30 1.27 2012 Uprating 15 MVA
247 Sumsel Bungaran 70/20 kV Extension 30 1 27 2012 Uprating 10 MVA 247 Sumsel Bungaran 70/20 kV Extension 30 1.27 2012 Uprating 10 MVA
248 Sumsel Kenten 150/20 kV Baru 120 4.03 2013 2x60 MVA
249 Sumsel Gandus 150/20 kV Baru 120 4.03 2013 2x60 MVA
250 Sumsel Sekayu 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
251 Sumsel Betung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L Ke Sekayu
252 Sumsel Jakabaring 150/20 kV Baru 60 4.03 2013 1x60 MVA
253 Sumsel Baturaja 150/20 kV Extension 60 2.12 2013
254 Sumsel Keramasan 150/20 kV Extension 60 2 12 2013 254 Sumsel Keramasan 150/20 kV Extension 60 2.12 2013
255 Sumsel Kayu Agung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L Gumawang
256 Sumsel Gumawang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L Kayu Agung
257 Sumsel Bukit Asam 150/20 kV Extension 60 2.12 2013
258 Sumsel Mariana Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Kayu Agung
259 Sumsel Bukit Siguntang 70/20 kV Extension 30 1.27 2013 Uprating 15 MVA
260 Sumsel Kayu Agung 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
261 Sumsel Gumawang 150/20 kV Extension 30 1 40 2014
1
8
7
261 Sumsel Gumawang 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
262 Sumsel Tebing Tinggi 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
263 Sumsel Lubuk Linggau Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L arah Tebing Tinggi
264 Sumsel Keramasan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 Untuk PLTGU Keramasan
265 Sumsel Lahat Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 Untuk PLTP Lumut Balai
266 Sumsel Sungai Lilin 150/20 kV Baru 30 2.64 2014 1x30 MVA 
267 Sumsel Betung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke Sungai Lilin
268 Sumsel Lubuk Linggau 150/20 kV Extension 60 2 12 2014 268 Sumsel Lubuk Linggau 150/20 kV Extension 60 2.12 2014
269 Sumsel Muara dua 150/20 kV Baru 30 2.64 2015 1x30 MVA 
270 Sumsel Baturaja Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 T/L ke Muara dua
271 Sumsel Lahat Ext LB 150/20 kV Extension 4 LB 2.49 2015 Untuk PLTU Banjar Sari & Untuk PLTU Keban Agung
272 Sumsel Mariana 150/20 kV Extension 30 1.40 2015
273 Sumsel Martapura 150/20 kV Baru 30 2.64 2016 1x30 MVA 
274 Sumsel Gumawang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2016 T/L ke Martapura
275 Sumsel Muara Rupit 150/20 kV Baru 30 2 64 2017 1x30 MVA 275 Sumsel Muara Rupit 150/20 kV Baru 30 2.64 2017 1x30 MVA 
276 Sumsel Keramasan 150/20 kV Extension 60 2.12 2017
277 Sumsel Sungai Lilin 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
278 Sumsel Kenten 150/20 kV Extension 60 4.03 2018
279 Sumsel Talang Kelapa 150/20 kV Extension 60 2.12 2018
280 Sumsel Bukit Asam 150/20 kV Extension 60 2.12 2018
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 7)
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Extension 
281 Sumsel Pagar Alam 150/20 kV Extension 30 1.40 2018 Uprating 15 MVA
282 Sumsel Betung 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
283 Sumsel Kayu Agung 150/20 kV Extension 30 1.40 2019
284 Sumsel Muara Dua Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2020 Untuk Double Pi dan T/L PLTP D.Ranau
285 Sumsel Sekayu 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
286 Sumsel Tebing Tinggi 150/20 kV Extension 30 1.40 2020
287 Sumsel Gandus 150/20 kV Extension 60 2 12 2020 287 Sumsel Gandus 150/20 kV Extension 60 2.12 2020
288 Sumsel Simpang Tiga 150/20 kV Extension 60 2.12 2020
289 Sumut Rantau Prapat 150/20 kV Extension 60 2.12 2011 Uprating 30 MVA
290 Sumut Gunung Para 150/20 kV Extension 30 1.40 2011 Uprating 10 MVA
291 Sumut Tanjung Morawa 150/20 kV Extension 60 2.12 2011
292 Sumut Tele 150/20 kV Extension 30 1.40 2011 Uprating 10 MVA
293 Sumut Gunung Tua 150/20 kV Extension 30 1.40 2011 Uprating 10 MVA
294 Sumut Binjai 150/20 kV Extension 60 2 12 2011
1
8
8
294 Sumut Binjai 150/20 kV Extension 60 2.12 2011
295 Sumut Padang Sidempuan 150/20 kV Extension 30 2.12 2011
296 Sumut Denai 150/20 kV Extension 60 2.12 2011
297 Sumut Tebing Tinggi 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
298 Sumut Kisaran 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 30 MVA
299 Sumut Pematang Siantar 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
300 Sumut Gunung Tua 150/20 kV Extension 10 0.66 2012
301 Sumut Sei Rotan 150/20 kV Extension 60 2 12 2012 301 Sumut Sei Rotan 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
302 Sumut Glugur 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
303 Sumut Rantau Prapat 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 30 MVA
304 Sumut Brastagi 150/20 kV Extension 60 2.12 2012 Uprating 20 MVA
305 Sumut Sidikalang 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
306 Sumut Porsea 150/20 kV Extension 20 1.15 2012
307 Sumut Tarutung 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
308 Sumut Sibolga 150/20 kV Extension 60 2 12 2012 308 Sumut Sibolga 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
309 Sumut Perbaungan 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
310 Sumut Namurambe 150/20 kV Extension 60 2.12 2012
311 Sumut Aek Kanopan  150/20 kV Extension 30 1.40 2012
312 Sumut Galang 150/20 kV Baru 0 2.49 2012 2 LB arah Namurambe dan 2 LB arah T.Marowa
313 Sumut Labuhan Bilik 150/20 kV Baru 60 3.36 2012 1x60 MVA
314 Sumut Lamhotma 150/20 kV Extension 30 1.40 2012 Uprating 20 ke 30 MVA
315 Sumut Lamhotma 150/20 kV Extension 30 1 40 2012 Tambah trafo 30 MVA 315 Sumut Lamhotma 150/20 kV Extension 30 1.40 2012 Tambah trafo 30 MVA
316 Sumut Lamhotma Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 Ke arah Belawan
317 Sumut Belawan Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0.62 2012 Ke arah Lamhotma
318 Sumut Namurambe Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2012 Ke arah Galang
319 Sumut Denai Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2012 Ke arah Galang
320 Sumut Labuhan 150/20 kV Extension 30 1.40 2012
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 8)
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Extension 
321 Sumut Parlilitan/Dolok Sanggul 150/20 kV Baru 10 1.90 2012 1x10 MVA 
322 Sumut Kuala Namu 150/20 kV Baru 60 4.03 2013 2x30 MVA
323 Sumut Tanjung Marowa Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke Kuala Namu
324 Sumut Panyabungan 150/20 kV Baru 60 4.03 2013 2x30 MVA
325 Sumut Padang Sidempuan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L Ke Panyabungan
326 Sumut Sidikalang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 ke Sabulussalam
327 Sumut Brastagi/Berastagi Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2013 ke Kutacane 327 Sumut Brastagi/Berastagi Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 ke Kutacane
328 Sumut Paya Pasir 150/20 kV Extension 60 2.12 2013
329 Sumut Salak 150/20 kV Baru 60 2.12 2013
330 Sumut Sidikalang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 ke Salak
331 Sumut Negeri Dolok 150/20 kV Baru 60 2.12 2013
332 Sumut Galang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 Ke arah Negeri Dolok
333 Sumut Pangururan 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
334 Sumut Tele Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2013 ke Pangururan
1
8
9
334 Sumut Tele Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 ke Pangururan
335 Sumut Rantau Prapat Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L Ke Labuhan Bilik
336 Sumut Pangkalan Brandan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 T/L ke PLTU Pangkalan Susu
337 Sumut Pangkalan Susu Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2013 Ke arah Pangkalan Brandan
338 Sumut Tanjung Pura 150/20 kV Baru 30 2.64 2013 1x30 MVA 
339 Sumut Gunung Sitoli 70/20 kV Baru 30 2.20 2014 1x30 MVA 
340 Sumut Teluk Dalam 70/20 kV Baru 30 2.20 2014 1x30 MVA 
341 Sumut Kota Pinang 150/20 kV Extension 30 1 40 2014 341 Sumut Kota Pinang 150/20 kV Extension 30 1.40 2014
342 Sumut KIM Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah GIS Listrik
343 Sumut GIS Listrik ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah KIM
344 Sumut Mabar Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah Glugur
345 Sumut Glugur Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 1.55 2014 Ke arah Mabar
346 Sumut Brastagi Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2014 T/L ke PLTA Wampu
347 Sumut Simangkok Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2015 Ke arah PLTA Asahan III
348 Sumut Tanjung Pura 150/20 kV Extension 30 1 40 2017 348 Sumut Tanjung Pura 150/20 kV Extension 30 1.40 2017
349 Sumut Titi Kuning 150/20 kV Extension 60 2.12 2017
350 Sumut GIS Listrik 150/20 kV Extension 60 2.12 2017 1x60 MVA
351 Sumut Paya Geli 150/20 kV Extension 60 2.12 2018
352 Sumut Panyabungan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2018 Ke PLTP Sorik Merapi
353 Sumut Tarutung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1.24 2019 Ke PLTP Pusuk Bukit
354 Sumut Rantauprapat Ext LB 150/20 kV Extension 2 TB 1.24 2020 Untuk IBT 500/150 kV
355 Sumut Tebing Tinggi Ext LB 150/20 kV Extension 2 TB 1 24 2020 Untuk IBT 500/150 kV 355 Sumut Tebing Tinggi Ext LB 150/20 kV Extension 2 TB 1.24 2020 Untuk IBT 500/150 kV
356 Sumut Tebing Tinggi Ext LB 150/20 kV Extension 2 TB 1.24 2020 Untuk IBT 275/150 kV
357 Sumut Belawan Ext LB 150/20 kV Extension 2 TB 1.24 2020 Untuk IBT 275/150 kV
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension
Kap Jumlah  COD  Keterangan
Pengembangan Gardu Induk Sumatra (Lanjutan 9)
Extension 
358 Sumut Binjai 275/150 kV Baru 1000 31.83 2011
359 Sumut Pangkalan Susu 275/150 kV Baru 0 9.11 2012 2x500 MVA
360 Jambi Bangko 275/150 kV Baru 250 21.08 2013 2 x 250 MVA
361 Jambi Muara Bungo 275/150 kV Baru 250 20.08 2013 1 x 250 MVA
362 Riau New Garuda Sakti 275/150 kV Baru 500 24.28 2013 2x250 MVA
363 Sumbar Kiliranjao 275/150 kV Baru 250 19.66 2013
364 Sumbar Payakumbuh 275/150 kV Baru 250 20 17 2013 1 x 250 MVA 364 Sumbar Payakumbuh 275/150 kV Baru 250 20.17 2013 1 x 250 MVA
365 Sumsel Lahat 275/150 kV Baru 1000 35.50 2013 1 x 250 MVA
366 Sumsel Lubuk Linggau 275/150 kV Baru 250 20.32 2013 2 x 500 MVA
367 Sumut Galang 275/150 kV Baru 1000 35.13 2013 1 x 250 MVA
368 Sumut Sarulla 275/150 kV Baru 500 24.00 2013 2x250 MVA
369 Sumut Padang Sidempuan 275/150 kV Baru 500 21.88 2013 2x250 MVA
370 Jambi Aur Duri 275/150 kV Baru 500 25.98 2014
371 Sumsel Lahat 275/150 kV Extension 0 2 97 2014 Untuk PLTUPangkalan Susu II 2x250 MVA 371 Sumsel Lahat 275/150 kV Extension 0 2.97 2014 Untuk PLTU Pangkalan Susu II 2x250 MVA
372 Sumsel Lumut Balai 275/150 kV Baru 500 24.28 2014 2 LB arah Lumut Balai dan 2 LB arah Muara Enim
373 Sumsel Betung 275/150 kV Baru 500 24.00 2014 2x250 MVA
374 Sumsel Gumawang 275/150 kV Baru 500 21.03 2014 2x250 MVA
375 NAD Sigli 275/150 kV Baru 250 25.98 2015 1 x 250 MVA
376 NAD PLTU Meulaboh 275/150 kV Baru 250 20.08 2015 2x250 MVA
377 NAD Lhokseumawe 275/150 kV Baru 250 20.08 2015 2x250 MVA
378 Riau Rengat 275/150 kV Baru 250 20 08 2015 2x250 MVA
1
9
0
378 Riau Rengat 275/150 kV Baru 250 20.08 2015 2x250 MVA
379 Riau Riau Mulut Tambang 275/150 kV Baru ‐                  8                 2015 2x250 MVA
380 Sumsel Muara Enim 275/150 kV Baru 0 12.21 2015 2x500 MVA
381 Sumsel Bayung Lincir/PLTU Sumsel ‐ 5 275/150 kV Baru 0 12.08 2015 Untuk Mengantisipasi PLTU Hululais
382 Sumsel Sungai Lilin/PLTU Sumsel ‐ 7 275/150 kV Baru 0 12.08 2015 1 x 125 MVA
383 Sumut Pangkalan Susu 275/150 kV Extension 250 21.03 2015 2x250 MVA
384 Jambi Bangko 275/150 kV Extension 500 17.92 2017
385 NAD Ulee Kareng 275/150 kV Baru 500 21 03 2018 Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin 385 NAD Ulee Kareng 275/150 kV Baru 500 21.03 2018 Untuk Mengantisipasi PLTP Merangin
386 Jambi Aurduri 275/150 kV Extension 0 2.81 2018 2x250 MVA
387 Sumsel Lubuk Linggau 275/150 kV Extension 250 7.45 2020 2x250 MVA
388 Riau New Garuda Sakti HVDC Station Converter 250 kV DC Baru 600 19.95 2016 HVDC ke Peninsula
389 Riau HVDC Switching Station 250 kV DC Baru 0 16.68 2016 HVDC ke Peninsula
390 Jambi PLTU Jambi 500 kV 500 kV Baru 0 9.82 2018 1x500 MVA
391 Lampung Ketapang Switching Station 500 kV DC Baru 0 1.47 2016 2x500 MVA
392 Sumsel Muara Enim 500 kV 500 kV DC Baru 3000 324 00 2016 2x500 MVA 392 Sumsel Muara Enim 500 kV 500 kV DC Baru 3000 324.00 2016 2x500 MVA
393 Sumsel Muara Enim 500 kV 500/275 kV Baru 1000 54.31 2016 Untuk 500kV Aurduri
394 Jambi Aurduri 500kV 500/275 kV Baru 500 25.77 2018 2x500 MVA
395 Riau New Garuda Sakti 500 kV 500/275 kV Baru 1000 36.22 2018
396 Riau Rengat 500 kV 500/275 kV Baru 500 25.77 2018 2x500 MVA
P
E
T
S
L
A
M
T
A

P
E
N
G
E
I
S
T
E
M

I
N
M
P
I
R
A
N

E
M
B
A
N
G
A
T
E
R
K
O
N
1
9
1
A
1
.
7
A
N

P
E
N
Y
E
K
S
I

S
U
M
Y
A
L
U
R
A
N
M
A
T
R
A
Sistem Kelistrikan 275 kV dan 500 kV Sumatera
1
9
2
Eksisting 70 kV
Eksisting150kV
Rencana 150 kV
Eksisting 150 kV
Rencana 275 kV AC
Eksisting 275 kV (Operasi 150 kV)
Rencana 250 kV DC
Rencana 500 kV AC
Rencana 500 kV DC
Sistem Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
1
9
3
Sistem Sumatera Utara
1
9
4
Sistem Riau
1
9
5
Sistem Sumatera Barat
1
9
6
Sistem J ambi
1
9
7
Sistem Bengkulu
1
9
8
Sistem Sumatera Selatan
1
9
9
Sistem Lampung
2
0
0
S
I
S
L
A
M
A
N
A
L
I
S
T
E
M

I
N
T
M
P
I
R
A
N

S
I
S

A
L
I
R
A
T
E
R
K
O
N
E
2
0
1
A
1
.
8
A
N

D
A
Y
A
K
S
I

S
U
M
A
A

A
T
R
A
PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA
TAHUN 2011
83 MW 240.12 MW
SUB SISTEM
BENGKULU
SUB SISTEM
NAD
211 MW
85.9 MW
PKLNG
LANGSA
LLGAU
PBDAN
177
MW
194.3
MW
172.4 MW
121 MW
SUB SISTEM
SUMSEL
SUB SISTEM
JAMBI
875 MW
599.7 MW
BTRJ A
LLGAU
MBNGO
L
L
G
A
U
B
N
G
K
O
INALUM
0 MW
168.4 MW
SUB SISTEM
SUMUT
2
0
2
BKMNG &
BUMPU
KTPNG
148.8 MW
222.4 MW
PLTA
ASAHAN 1
2 X 90 MW
160 MW
1
.
2
0
9
,
7
8

M
W
1
.
1
5
8
,
7
8

M
W
SMKOK
160 MW
SUB SISTEM
LAMPUNG
SUB SISTEM
SUMBAR
SUB SISTEM
RIAU
568 68 397
KLJ AO
B
B
A
T
U
P
Y
B
U
H
K
T
P
J
G
172.2 MW
568.68
MW
397
MW
458.77
MW
275 kV
150 kV
359
MW
196
MW
402.28
MW
PLTA ASAHAN 1
2 X 90 MW
PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA
TAHUN 2012
LAHAT LLGAU BNGKO MBNGO KLJ AO SMKOK
56 MW 8.6 MW 38.5 MW 67.5MW
1
6
0
M
W
56 MW
SUB SISTEM
BENGKULU
SUB SISTEM
BANGKO
SUB SISTEM
JAMBI
SUB SISTEM
SUMBAR & RIAU SEL
PYBUH
SUB SISTEM
SUMUT
64.8 MW
47.2 MW 28.8 MW
67.5 MW
1
6
0
M
W
SUB SISTEM
SUMSEL &
BENGKULU SEL
PBDAN
KTPNG
8
0
.
2
M
W
1
9
9
M
W
97.88 MW 177.8 MW 47.1 MW - MW 188.9 MW 164.9 MW 464 MW 626 MW
1273 MW
1049 MW
2
0
3
SUB SISTEM
KTPJ G
BTRJ A
T
U
BNJ AI
PSUSU
1
5
1

M
W
8
2
.
4
M
W
723 MW 858 MW
PLTU Pangkalan Susu
1 X 220 MW
SUB SISTEM
LAMPUNG
BKMNG &
BUMPU
RIAU
SUB SISTEM
NAD
LNGSA
B
B
A
T
2
0
0
M
W
460 MW 360 MW
275 kV
150 kV
705 MW 525 MW
373 MW 273 MW
PRAKIRAAN ALIRAN DAYA SISTEM 275 KV SUMATERA
TAHUN 2013
PLTA ASAHAN 1
2 X 90 MW
160 MW
PLTP SARULLA
W W
BNGKO MBNGO KLJ AO PYBUH LAHAT LLGAU
160 MW
SMKOK GLANG
W
156.9 MW
WW
134.8 MW 134.8 MW 174.6 MW
W
138.6 MW
W
134 MW
1
5
2

M
W
SUB SISTEM
SUB SISTEM
BENGKULU
SUB SISTEM
BANGKO
SUB SISTEM
JAMBI
SUB SISTEM
SUMBAR & RIAU SEL
PYBUH
2
5
.
3

M
W
SUB SISTEM
SUMUT
1
5
6
.
8
M
W
2
5
.
4
M
W
5
3
.
5
M
W
1
5
.
3
M
W
3
6
M
W
1
3
8
.
6
M
W
.
2

M
W
SUB SISTEM
SUMSEL &
BENGKULU SEL
- MW
PBDAN
BTRJ A &
KTPNG
1
6
0
.
6
M
W
1
8
2
8
6

M
W
129.6 MW 160 MW
53.4 MW
261.6 MW 277.9 MW
522 MW 552 MW
1400 MW 966 MW
2
0
4
SUB SISTEM
RIAU
KTPJ G
1
9
9
.
2

M
W
BTRJ A &
MRDUA
B
A
T
U
PSUSU
BNJ AI
9
5
.
6
M
W
304 MW
792 MW 705 MW
PLTU
Pangkalan Susu
2 x 220 MW
SUB SISTEM
LAMPUNG
RIAU
SUB SISTEM
NAD
LNGSA
B
B
B
K
M
N
G
3
0
4

M
W
792 MW 717 3 MW
537 MW 697 MW
2 x 220 MW
275 kV
150 kV
792 MW 717.3 MW
451 MW 259 MW
1
0
0

M
W
1
0
0

M
W
1
6
0

M
W
4
3
0
.
6

M
W
3
4
.
3

M
W
4
4
.
1

M
W
4
6
.
6

M
W
1
7
.
2

M
W
1
0
0
.
4

M
W
1
0

M
W
G
L
A
2
1
.
8

M
W
2
3
3
.
4

M
W
N
G
1
1
.
8

M
W
9
3

M
W
2
0
5
U
1
0
4
.
9

M
W
2
2
9

M
W
6
9
.
4

M
W
2
3
2
.
8

M
W
2
9
3
.
5

M
W
2
6
7
.
9

M
W
B
B
A
T
U
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
4
0
0

M
W
M
1
5
6

M
W
3
0
0

M
W
1
5
9
.
4

M
W
2

M
W
1
4
.
6

M
W
6

M
W
1
8
.
6

M
W
8
3
.
7

M
W
4
8
.
9

M
W
1
1
8
.
9

M
W
G
L
A
4
7
.
9

M
W
2
.
1

M
W
1
9
9
.
2
6

M
W
2

M
W
3
9
.
2

M
W
A
N
G
7
3
.
8

M
W
3
6
1

M
W
2
0
6
2
0
2
.
2
5
1
.
8

M
W
6
7
.
2

M
W
4
3
9

M
W 2
8
0

M
W
1
8
2
.
7

M
W
B
B
A
T
U
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
3
0
0

M
W
2
6
6

M
W
7
2
0

M
W
1
6
0

M
W
W
3
0
0

M
W
1
6
0

M
W
W W
1
4
6
.
3

M
W
1
2
8
.
7

M
W
4
0
.
1

M
W
6
.
8

M
W
1
3
6
.
6

M
W
6
2
.
1

M
W
1
6
0
.
9

M
W
3
8
.
9

M
W
G
L
A
N
G
1
9
1
.
4

M
W
5
5
.
1

M
W
1
4
4
.
7

M
W
4
.
9

M
W
2
8
4
.
6

M
W
G
2
0
7
W
2
4
0

M
W
2
4
0

M
W
8
.
1

M
W
1
9
4
.
6

M
W
6
5
.
8

M
W
1
3
9
.
2

M
W
3
1
7
.
3

M
W
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
5
4
0

M
W
4
0
2

M
W
6
0
0

M
W
1
9
0

M
W
M
W
W
W
1
7
0

M
W
W
2
9
0

M
W
1
6
0

M
W
W
W
M
W
2
2
.
2

M
W
1
2
7
.
7

M
2
9

M
W
3
8
.
3

M
W
4
5
.
2

M
W
1
7
8
.
3

M
W
1
7
8
.
4

M
W
3
0
.
2

M
W
6
4
.
5

M
W
G
L
A
N
9
0
.
6

M
W
2
2
8
.
6

M
8

M
W
2
2
2
8

M
W
4
4
5
.
4

M
W
G
2
0
8
M
W
1
4
7
.
6

M
W
2
4
0

M
W
2
4
0

M
W
3
0
.
8
1
9
8
.
4

M
W
1
.
6

M
W
1
7
8
.
3

M
W
1
1
1
.
4

M
W
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
5
0
0
4
5
8
.
9

M
W
6
0
0

M
W
1
9
0

M
W
8
0


M
W
1
8
0

M
W
W
W
1
6
0


M
W
1
4
0

M
W
9
3
.
4

M
W
M
W
2
0
0


M
W
1
3
8
.
7

M
W
1
3
.
6

M
W
2
3
9

M
W
1
0

M
W
2
9
4


M
W
2
4
0


M
W
G
L
A
N
5
3

M
W
1
2
5
.
3


M
W
WW
3
9
3
9
7
.
8


M
W
M
W
M
W
4
0
0


M
W
5
8
5
.
2


M
N
G
6
0
.
3


M
W
4
4
5


M
W
2
0
9
1
.
3


M
W
M
W
2
0
0


M
W
2
6
0


M
W
3
8
0


M
W
6
5
4


M
2
7
5
.
9


M
2
6
0
.
6


M
W
5
5
.
1


M
W
3
3
0


M
W
2
1
1


M
W
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
5
4
0


M
W
5
4
0

7
2
0


M
W
1
6
0


M
W
8
0


M
W
1
5
0

M
W
W
W
W
1
6
0

M
W
1
6
0


M
W
W W
4
5
3
.
9

M
W
4
2
0

M
W
2
6
7
.
3

M
W
2
0
9

M
W
1
4
.
5

M
W
1
9
4

M
W
1
9
6
.
6

M
W
2
6
.
1

M
W
3
9
.
9

M
W
1
1
.
8

M
W
G
L
A
N
2
2
.
3

M
W
W
W
4
W
W
4
4
3

M
W
7
1
8

M
W
4
1
.
6

M
W
2
9
9
.
6

M
W
N
G
2
1
0
W
M
W
3
5

M
W
2
4
0

M
W
2
4
0

M
W
1
1
2
6

M
1
4
5

M
W
3
6
1
.
5

M
W
7
1
8

M
W
1
0
5

M
W
3
4
4

M
W
2
3
1

M
W
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
5
1
1
.
4


M
W
5
0
0

8
0
0

M
W
2
0
0

M
W
W
1
6
0


M
W
2
0
0

M
W
1
6
0


M
W
M
W
5

M
W
W
M
W
M
W
W
M
W
W
1
6
0

M
W
4
7
0
.
7

M
W
1
8
6
.
7

2
1
4
.
5
1
0
.
7

M
W
2
6
1

M
6
4
.
3

M
6
6
.
6

M
W
2
6
6
.
3

M
4
0
.
6

M
W
G
L
A
N
G
4
2
.
7

M
W
M
W
M
W
1

M
W
5

M
W
7
5
8

M
W
4
4
5
.
4

M
W
4
2
4
.
6

M
W
5
9
.
7

M
W
4
5
0

M
W
2
1
1
2
0

M
W
2
9
.
3

M
W2
7
0

M
2
7
0

M
1
1
5
1
1
3
5
7
5
8

M
W
3
7
5

M
W
1
2
6
.
4

M
W
2
9
9

M
W
B
K
M
N
G
M
N
G
L
A
5
1
5


M
W
5
2
7
6
0

M
W
W
1
7
0

M
W
KK
E
B
U
T
U
H
S
I
S
L
A
H
A
N

F
I
S
I
K
S
T
E
M

I
N
T
EA
M
P
I
R
A
N
K

P
E
N
G
E
M
E
R
K
O
N
E
K
2
1
2
N

A
1
.
9
M
B
A
N
G
A
N
K
S
I

S
U
M
A
N

D
I
S
T
R
I
B
A
T
E
R
A
B
U
S
I

Provinsi Regional Sumatera
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 6.569 6.711 1.470 1.091.206
2012 4.562 4.285 766 594.512
2013 4.661 4.509 819 605.242
Tahun Pel anggan
2014 5.011 4.869 836 619.356
2015 5.031 4.982 872 537.293
2016 5.403 5.271 900 498.951
2017 5.548 5.273 941 493.516
2018 5.951 5.608 978 506.895
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Regional Sumatera
2
1
3
2019 6.291 5.788 1.041 522.635
2020 6.590 5.955 1.072 540.399
J umlah 55.618 53.251 9.694 6.010.005
J uta USD
2011 148,8 100,1 50,9 39,0 338,9
2012 106,0 64,0 36,2 42,3 248,6
Provinsi Regional Sumatera
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 06,0 6 ,0 36, ,3 8,6
2013 111,4 69,1 37,0 54,8 272,3
2014 123,4 76,8 38,4 63,1 301,8
2015 126,0 79,8 37,1 32,7 275,5
2016 140,8 88,4 34,2 34,6 298,0
2017 145,3 87,1 35,8 36,3 304,5
2018 161,7 98,3 38,0 38,2 336,2
2019 174,5 104,2 41,1 39,1 359,0
2020 188,3 108,5 43,9 39,0 379,7
J umlah 1.426,3 876,4 392,7 419,1 3.114,5
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Aceh
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 878 994 53 42.227
2012 937 1.061 56 39.193
2013 1.000 1.132 60 40.171
Tahun Pel anggan
2014 1.068 1.208 64 41.179
2015 1.140 1.290 69 34.291
2016 1.216 1.377 73 30.598
2017 1.298 1.469 78 31.418
2018 1.385 1.568 83 33.447
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Aceh
2019 1.478 1.673 89 34.369
2020 1.578 1.786 95 35.332
J umlah 11.979 13.558 720 362.225
2
1
4
J uta USD
2011 21,9 13,3 4,5 3,0 42,7
2012 23,4 14,2 4,8 2,7 45,1
Provinsi Aceh
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 3, , ,8 , 5,
2013 24,9 15,2 5,2 2,8 48,1
2014 26,6 16,2 5,5 2,9 51,2
2015 28,4 17,3 5,9 2,4 53,9
2016 30,3 18,4 6,3 2,1 57,2
2017 32,4 19,7 6,7 2,2 60,9
2018 34,5 21,0 7,1 2,3 65,0
2019 36,9 22,4 7,6 2,4 69,3
2020 39,3 23,9 8,1 2,5 73,8
J umlah 298,6 181,5 61,7 25,3 567,2
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Sumatera Utara
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 1.376 1.092 146 125.011
2012 1.461 918 153 120.266
2013 1.438 996 166 118.720
Tahun Pel anggan
2014 1.538 1.078 180 116.353
2015 1.538 1.158 193 102.587
2016 1.718 1.218 220 113.957
2017 1.903 1.260 240 118.215
2018 2.076 1.339 263 122.640
2
1
5
2019 2.291 1.378 287 127.238
2020 2.467 1.414 314 132.016
J umlah 17.805 11.850 2.160 1.197.004
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Sumut
J uta USD
2011 26,5 12,9 1,2 8,7 49,4
2012 28,1 10,9 1,3 8,4 48,7
Provinsi Sumut
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 8, 0,9 ,3 8, 8,
2013 27,7 11,8 1,4 8,3 49,1
2014 29,6 12,7 1,5 8,1 52,0
2015 29,6 13,7 1,6 7,2 52,1
2016 33,1 14,4 1,8 8,0 57,3
2017 36,6 14,9 2,0 8,3 61,8
2018 40,0 15,8 2,2 8,6 66,6
2019 44,1 16,3 2,4 8,9 71,7
2020 47,5 16,7 2,6 9,2 76,1
J umlah 342,7 140,2 18,1 83,7 584,6
Provinsi Sumatera Barat
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 262 308 38 32.205
2012 295 347 43 34.715
2013 314 370 46 35.286
Tahun Pel anggan
2014 315 371 46 35.420
2015 321 378 47 36.075
2016 331 391 48 37.323
2017 339 400 49 38.203
2018 342 404 50 38.633
2
1
6
2019 351 414 51 39.670
2020 372 439 54 42.004
J umlah 3.242 3.823 471 369.534
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Sumbar
J uta USD
2011 7,4 6,5 5,4 2,5 21,8
2012 8,3 7,3 6,0 2,8 24,4
Provinsi Sumbar
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 8,3 ,3 6,0 ,8 ,
2013 8,9 7,8 6,4 3,0 26,0
2014 9,0 7,9 6,5 3,0 26,5
2015 9,2 8,1 6,7 3,1 27,1
2016 9,5 8,3 6,9 3,2 27,8
2017 9,7 8,6 7,0 3,3 28,6
2018 9,9 8,8 7,2 3,4 29,3
2019 10,2 9,1 7,4 3,5 30,2
2020 10,6 9,4 7,7 3,6 31,4
J umlah 92,7 81,9 67,2 31,3 273,1
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Riau
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 1.340 1.546 785 216.003
2012 534 616 271 57.399
2013 565 652 287 60.743
Tahun Pel anggan
2014 541 624 275 58.151
2015 584 673 296 62.700
2016 599 692 304 64.408
2017 602 694 306 64.649
2018 609 703 309 65.476
2
1
7
2019 629 725 319 67.548
2020 591 682 300 63.549
J umlah 6.595 7.610 3.454 780.626
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Riau
J uta USD
2011 31,5 26,4 7,1 6,2 71,3
2012 12,6 10,5 2,5 6,7 32,2
Provinsi Riau
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 ,6 0,5 ,5 6, 3 ,
2013 13,3 11,2 2,6 10,2 37,2
2014 12,7 10,7 2,5 11,5 37,4
2015 13,7 11,5 2,7 4,6 32,6
2016 14,1 11,8 2,8 4,8 33,5
2017 14,2 11,9 2,8 4,9 33,7
2018 14,3 12,0 2,8 5,1 34,3
2019 14,8 12,4 2,9 4,3 34,4
2020 13,9 11,7 2,7 2,3 30,6
J umlah 155,2 130,1 31,2 60,5 377,0
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Kepulauan Riau
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 293 338 107 23.272
2012 105 121 61 13.335
2013 130 150 76 13.837
Tahun Pel anggan
2014 184 212 82 14.842
2015 203 234 87 15.700
2016 217 250 91 16.566
2017 209 241 94 16.964
2018 200 231 96 17.487
2
1
8
2019 173 200 101 18.287
2020 163 188 105 19.113
J umlah 1.876 2.164 900 169.404
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Kepulauan Riau
J uta USD
2011 6,9 5,8 1,0 1,4 15,0
2012 2,5 2,1 0,6 0,5 5,6
Provinsi Kepulauan Riau
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 ,5 , 0,6 0,5 5,6
2013 3,1 2,6 0,7 0,6 6,9
2014 4,3 3,6 0,7 0,8 9,5
2015 4,8 4,0 0,8 0,9 10,5
2016 5,1 4,3 0,8 1,0 11,2
2017 4,9 4,1 0,8 1,0 10,8
2018 4,7 3,9 0,9 0,9 10,4
2019 4,1 3,4 0,9 0,8 9,2
2020 3,8 3,2 1,0 0,8 8,7
J umlah 44,1 37,0 8,1 8,7 97,9
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi J ambi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 558 515 49 84.765
2012 222 205 20 33.693
2013 226 210 20 36.589
Tahun Pel anggan
2014 234 220 21 37.591
2015 240 227 22 29.433
2016 245 230 23 30.565
2017 253 238 24 31.424
2018 264 253 25 33.567
2019 275 263 26 34.516
2020 282 264 27 37.725
J umlah 2.800 2.626 257 389.868
2
1
9
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi J ambi
J uta USD
2011 13,1 9,8 0,5 4,3 27,7
2012 5,7 3,8 0,2 1,1 10,9
Provinsi J ambi
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 5, 3,8 0, , 0,9
2013 6,4 4,4 0,2 3,9 14,9
2014 7,2 5,0 0,2 5,6 18,0
2015 8,1 5,7 0,3 1,7 15,8
2016 9,1 6,5 0,3 1,8 17,8
2017 10,3 5,0 0,4 2,0 17,7
2018 11,8 7,7 0,3 2,1 21,9
2019 13,4 8,7 0,4 2,3 24,8
2020 15,4 7,4 0,6 2,5 25,9
J umlah 100,5 64,1 3,4 27,3 195,4
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Sumatera Selatan
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 716 721 100 233.427
2012 394 396 44 102.644
2013 414 421 54 116.372
Tahun Pel anggan
2014 438 447 50 116.204
2015 462 475 62 88.735
2016 488 504 58 83.599
2017 516 535 71 73.059
2018 544 567 67 69.997
2
2
0
2019 574 602 82 70.865
2020 606 638 88 76.896
J umlah 5.152 5.306 675 1.031.799
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Sumatera Selatan
J uta USD
2011 18,3 11,0 1,2 6,2 36,7
2012 11,0 6,7 0,6 6,4 24,7
Provinsi Sumatera Selatan
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 ,0 6, 0,6 6, ,
2013 12,8 7,8 0,8 12,5 33,9
2014 14,8 9,1 0,8 16,9 41,7
2015 17,3 10,6 1,1 4,7 33,7
2016 20,0 12,4 1,1 5,1 38,7
2017 23,3 14,5 1,0 5,4 44,2
2018 27,0 16,9 1,2 5,8 50,9
2019 31,4 19,7 2,1 6,2 59,5
2020 36,4 23,0 2,5 6,7 68,6
J umlah 212,3 131,9 12,3 76,0 432,6
Provinsi Bengkulu
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 290 316 20 40.147
2012 191 208 13 26.366
2013 176 191 12 24.262
Tahun Pel anggan
2014 271 295 18 34.442
2015 133 144 8 11.963
2016 306 333 16 19.182
2017 141 153 12 14.146
2018 227 247 15 16.836
2
2
1
2019 194 211 13 17.100
2020 188 204 13 16.816
J umlah 2.115 2.301 140 221.260
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Bengkulu
J uta USD
2011 7,4 4,8 0,2 0,2 12,6
2012 5,3 3,5 0,2 0,1 9,1
Provinsi Bengkulu
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 5,3 3,5 0, 0, 9,
2013 5,4 3,5 0,2 0,1 9,3
2014 9,2 6,0 0,3 0,2 15,6
2015 4,9 3,2 0,1 0,2 8,5
2016 12,6 8,2 0,3 0,2 21,3
2017 6,4 4,2 0,3 0,2 11,0
2018 11,3 7,4 0,4 0,3 19,3
2019 10,6 6,9 0,3 0,3 18,1
2020 11,3 7,4 0,4 0,3 19,3
J umlah 84,3 55,1 2,6 2,1 144,2
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Lampung
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 428 403 144 236.225
2012 281 264 94 155.182
2013 269 254 88 148.793
Tahun Pel anggan
2014 277 261 87 153.230
2015 260 244 72 143.322
2016 169 159 54 93.527
2017 174 164 55 96.093
2018 179 168 56 98.721
2
2
2
2019 184 173 57 101.417
2020 189 178 59 104.182
J umlah 2.409 2.268 765 1.330.692
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Lampung
J uta USD
2011 10,3 5,4 28,6 4,6 49,0
2012 7 1 3 7 19 7 13 0 43 6
Provinsi Lampung
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
2012 7,1 3,7 19,7 13,0 43,6
2013 7,2 3,8 19,2 12,7 42,9
2014 7,8 4,1 20,0 13,5 45,3
2015 7,6 4,0 17,5 7,1 36,3
2016 5,2 2,7 13,6 7,7 29,3
2017 5,6 3,0 14,6 8,3 31,5 2017 5,6 3,0 14,6 8,3 31,5
2018 6,1 3,2 15,7 9,0 33,9
2019 6,5 3,4 16,9 9,7 36,5
2020 7,1 3,7 18,2 10,4 39,3
J umlah 70,5 37,0 184,1 96,0 387,6
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Bangka Belitung
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 428 477 29 57.924
2012 143 149 11 11.719
2013 128 133 10 10.468
Tahun Pel anggan
2014 146 152 13 11.944
2015 152 159 17 12.486
2016 113 117 12 9.226
2017 114 119 13 9.345
2018 123 128 14 10.091
2
2
3
2019 142 148 16 11.624
2020 156 162 17 12.766
J umlah 1.645 1.744 151 157.594
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Bangka Belitung
J uta USD
2011 5,6 4,1 1,1 2,0 12,8
2012 1,9 1,3 0,4 0,6 4,3
Provinsi Bangka Belitung
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 ,9 ,3 0, 0,6 ,3
2013 1,8 1,2 0,3 0,6 4,0
2014 2,2 1,5 0,4 0,6 4,6
2015 2,4 1,6 0,4 0,7 5,0
2016 1,8 1,2 0,3 0,7 4,0
2017 1,9 1,3 0,2 0,7 4,2
2018 2,2 1,5 0,2 0,7 4,6
2019 2,6 1,8 0,2 0,8 5,4
2020 3,0 2,1 0,2 0,8 6,0
J umlah 25,3 17,7 3,7 8,1 54,8
P
S
I
S
L
A
P
R
O
G
R
A
M
S
T
E
M

I
N
T
A
M
P
I
R
A
N
M

L
I
S
T
R
I
K
T
E
R
K
O
N
E
2
2
4
N

A
1
.
1
0
K

P
E
R
D
E
S
E
K
S
I

S
U
M
S
A
A
N

A
T
E
R
A
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d R i l S Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 3.344,0 3.280,9 139,9 2.263 -
2012 1 810 2 1 531 0 44 4 758 89 727 8 515
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 1.810,2 1.531,0 44,4 758 89.727 8.515
2013 3.657,2 3.260,8 89,8 1.426 122.274
2014 3.539,5 3.207,4 89,1 1.440 125.131
Total 12.351,0     11.280,1       363,1       5.887,9       337.132,4        
2
2
5
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp)
2011 602.819,7 291.317,9 158.190,5 2.601,8 - 1.148.370,6
2012 309.601,9 146.424,4 69.034,1 - - 590.994,6
2013 893 240 2 378 469 5 218 991 7 29 401 0 1 520 102 5
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 893.240,2 378.469,5 218.991,7 - 29.401,0 1.520.102,5
2014 953.237,8 406.867,9 231.746,3 - 32.186,6 1.624.038,6
Total 2.758.899,7      1.223.079,7    677.962,7     2.601,8          61.587,7      4.883.506,3   
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i NAD Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi NAD
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 411,0 669,9 12,0 266
2012 58 0 151 5 4 4 71 10 018 1 620
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 58,0 151,5 4,4 71 10.018 1.620
2013 164,1 209,0 7,7 114 5.227
2014 162,0 221,0 6,5 108 5.518
Total 795,1           1.251,4        30,6         559,0          20.763,0          
2
2
6
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi NAD (juta Rp)
2011 30.254,5 32.325,1 9.827,5 141.707,0
2012 11.553,6 16.933,5 6.625,1
2013 50 575 4 36 497 2 16 376 6 103 449 2
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 50.575,4 36.497,2 16.376,6 103.449,2
2014 57.039,7 42.330,8 17.476,7 116.847,2
Total 149.423,2         128.086,7       50.305,8       ‐                 ‐                362.003,4      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i S U Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 350,0 201,0 4,7 157
2012 110 0 86 1 2 0 60 3 614 2 530
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 110,0 86,1 2,0 60 3.614 2.530
2013 440,0 200,3 4,6 155 11.042
2014 422,0 210,1 6,0 201 10.590
Total 1.322,0        697,5            17,3         573,9          25.246,0          
2
2
7
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Utara (juta Rp)
2011 37.343,4 18.746,3 8.090,2 94.179,9
2012 23.938,0 10.003,8 4.472,9 38.414,7
2013 103 883 2 22 297 1 18 055 1 144 235 4
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 103.883,2 22.297,1 18.055,1 144.235,4
2014 109.661,8 25.317,3 18.360,6 153.339,6
Total 274.826,4         76.364,4          48.978,8       ‐                 ‐                430.169,7      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i S B Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 315,0 255,0 7,3 166
2012 132 0 145 0 2 0 41 11 419 1 620
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 132,0 145,0 2,0 41 11.419 1.620
2013 301,0 307,1 7,5 80 9.480
2014 273,0 295,1 7,5 80 12.000
Total 1.021,0        1.002,2        24,2         367,0          32.899,0          
2
2
8
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Barat (juta Rp)
2011 61.027,1 23.629,5 10.297,1 94.953,8
2012 30.518,5 17.332,1 4.472,8 52.323,4
2013 93 044 3 38 420 5 13 778 1 145 243 0
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 93.044,3 38.420,5 13.778,1 145.243,0
2014 97.560,9 41.415,9 16.348,2 155.325,0
Total 282.150,8         120.798,0       44.896,3       ‐                 ‐                447.845,2      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau 
JTM JTR
Listrik murah
kms kms MVA Unit
dan Hemat (RTS)
2011 310,0 389,0 28,0 380
2012 198 0 213 9 6 0 90 8 855
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 198,0 213,9 6,0 90 8.855
2013 170,0 190,0 7,7 97 13.755
2014 170,0 180,0 7,9 100 14.205
Total 848,0                972,9            49,6         667,0          36.815             
2
2
9
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau (uta Rp)
2011 59.940,8 40.381,7 35.912,0 136.234,5
2012 41.747,8 22.265,4 11.020,3 75.033,5
2013 47 998 8 24 352 8 18 183 0 90 534 5
JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total Tahun
2013 47.998,8 24.352,8 18.183,0 90.534,5
2014 51.653,8 24.460,3 20.062,5 96.176,5
Total 201.341,1         111.460,1       85.177,8       ‐                 ‐                397.979,0      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i Ri K l Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011
2012 280 0 239 3 6 0 90 13 125 425
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 280,0 239,3 6,0 90 13.125 425
2013
2014
Total 280,0           239,3            6,0           90,0            13.125,0          
2
3
0
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Riau Kepulauan (juta Rp)
2011 -
2012 63.439,5 26.442,1 11.164,7 101.046,3
2013
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 -
2014 -
Total 63.439,5            26.442,1          11.164,7       ‐                 ‐                101.046,3      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i J bi Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Jambi
JTM JTR
Listrik murah
kms kms MVA
dan Hemat (RTS)
2011 366,0 319,0 23,5 360
2012 121 4 127 2 5 3 76 8 450 80
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 121,4 127,2 5,3 76 8.450 80
2013 471,0 535,0 26,0 379 18.400
2014 436,1 572,1 25,0 360 16.400
Total 1.394,5            1.553,3        79,7         1.175,0       43.250             
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Jambi (juta Rp)
2
3
1
2011 75.023,2 32.965,2 28.398,8 136.387,3
2012 24.595,7 11.181,1 8.721,9 44.498,7
2013 109 329 6 49 157 8 60 990 9 10 686 7 230 165 0
JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total Tahun JTM
2013 109.329,6 49.157,8 60.990,9 10.686,7 230.165,0
2014 114.396,1 57.148,8 64.089,1 10.477,6 246.111,6
Total 323.344,7         150.452,8       162.200,7     ‐                 21.164,4      657.162,6      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i S S l Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 480,0 323,0 29,5 459
2012 238 0 148 0 6 8 135 16 236 625
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 238,0 148,0 6,8 135 16.236 625
2013 750,0 611,0 12,0 240 39.000
2014 750,0 560,0 11,3 225 42.000
Total 2.218,0        1.642,0        59,5         1.059,0       97.236,0          
2
3
2
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Sumatera Selatan (juta Rp)
2011 86.311,9 34.437,6 32.265,5 153.015,0
2012 49.581,8 18.747,3 11.641,5 79.970,6
2013 133 530 0 74 410 0 28 740 0 236 680 0
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 133.530,0 74.410,0 28.740,0 236.680,0
2014 146.890,0 74.960,0 29.640,0 251.490,0
Total 416.313,7         202.554,9       102.287,1     ‐                 ‐                721.155,7      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i B k l Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 450,0 344,0 11,0 149
2012 340 9 150 0 4 1 71 4 500 470
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 340,9 150,0 4,1 71 4.500 470
2013 769,0 668,0 9,1 180
2014 776,0 674,0 9,2 184
Total 2.335,9        1.836,0        33,3         584,0          4.500,0            
2
3
3
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bengkulu (juta Rp)
2011 102.399,7 34.523,0 13.847,7 150.724,9
2012 47.072,3 15.717,4 8.523,5 71.313,3
2013 188 731 8 63 360 6 25 586 2 277 678 7
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 188.731,8 63.360,6 25.586,2 277.678,7
2014 199.972,1 67.117,3 27.310,9 294.400,4
Total 538.175,9         180.718,4       75.268,3       ‐                 ‐                794.117,2      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i L Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Lampung
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 370,0 633,0 17,0 230
2012 150 0 215 0 4 2 62 10 580 1 040
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 150,0 215,0 4,2 62 10.580 1.040
2013 227,1 310,5 6,4 76 20.000
2014 205,4 280,0 4,1 52 20.000
Total 952,5           1.438,5        31,7         420,0          50.580,0          
2
3
4
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Lampung (juta Rp)
2011 99.150,2 45.265,7 13.283,5 157.699,4
2012 34.655,4 28.288,2 8.110,8 71.054,4
2013 80 342 6 44 592 9 22 138 0 16 163 7 163 237 2
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 80.342,6 44.592,9 22.138,0 16.163,7 163.237,2
2014 87.039,7 48.258,6 17.907,8 19.396,5 172.602,5
Total 301.187,9         166.405,3       61.440,1       ‐                 35.560,2      564.593,5      
P ki K b h Fi ik J i Li ik P d P i i B k B li Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 292,0 147,0 7,0 96
2012 182 0 55 0 3 8 62 2 930 105
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 182,0 55,0 3,8 62 2.930 105
2013 365,0 230,0 9,1 105 5.370
2014 345,0 215,0 11,6 130 4.418
Total 1.184,0        647,0            31,4         393,0          12.718,0          
2
3
5
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Bangka Belitung (juta Rp)
2011 51.368,9 29.043,7 6.268,2 2.601,8 83.468,7
2012 45.938,8 5.955,7 5.445,2 57.339,7
2013 85 804 5 25 380 7 15 143 8 2 550 6 128 879 5
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 85.804,5 25.380,7 15.143,8 2.550,6 128.879,5
2014 89.023,8 25.859,0 20.550,5 2.312,5 137.745,8
Total 272.136,0         86.239,1          47.407,6       2.601,8          4.863,1        407.433,7      
PP
R
O
Y
E
K
S
S
I
S
L
A
S
I

K
E
B
U
T
S
T
E
M

I
N
T
A
M
P
I
R
A
T
U
H
A
N

K
E
T
E
R
K
O
N
E
2
3
6
A
N

A
1
.
1
1
E
B
U
T
U
H
A
E
K
S
I

S
U
M
A
A
N

I
N
V
E
S
A
T
E
R
A
S
T
A
S
I

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi & Distribusi y g ,
[Fixed Asset Addition]
Sumatra
(Juta US$)
Pembangki t T/L dan GI Di stri busi
2011 480 135 281 895
Tahun
Investasi
Total
(Juta US$)
2011 480 135 281 895
2012 1,515 411 299 2,225
2013 1,691 1,205 359 3,254
2014 2 025 582 398 3 004
2
3
7
2014 2,025 582 398 3,004
2015 3,210 826 297 4,333
2016 2,252 900 321 3,473
2017 2,687 97 344 3,128
2018 1,332 264 374 1,969
2019 2,792 54 395 3,241
2020 1,445 76 402 1,923
T t l 19 428 4 549 3 469 27 446 Total 19,428 4,549 3,469 27,446
238


PENJELASAN LAMPIRAN A
WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT


239

PENJELASAN LAMPIRAN A1
SISTEM INTERKONEKSI SUMATERA

A1.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Produksi listrik pada sistem Sumatera diperkirakan meningkat rata-rata 10,4% per
tahun antara tahun 2011 dan 2020, yaitu meningkat dari 23.414 GWh pada tahun
2011 menjadi 56.806 GWh pada tahun 2020. Sekitar 43% dari produksi tersebut
adalah untuk memenuhi demand di sistem Sumatera bagian utara (Sumbagut)
dan selebihnya nya untuk Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel).
Faktor beban diperkirakan antara 65.4% sampai 67.0%.
Beban puncak sistem Sumatera pada tahun 2011 adalah 4.269 MW dan akan
tumbuh rata-rata 10.2% per tahun, sehingga menjadi 9.641 MW pada tahun 2020.
Proyeksi kebutuhan listrik sistem Sumatera tahun 2011 – 2020 ditunjukkan pada
Lampiran A1.1.
A1.2 Neraca Daya
Sistem interkoneksi masih lemah
Walaupun telah dibangun transmisi 150 kV Baganbatu – Rantauprapat yang
menghubungkan sistem Sumbagut dan Sumbagselteng, namun kedua sistem
tersebut pada dasarnya secara elektris masih terpisah. Kedua sistem ini belum
dapat dioperasikan sebagai satu sistem interkoneksi karena terkendala oleh
masalah stabilitas, yaitu adanya osilasi inter-area pada frekuensi rendah dengan
damping sangat rendah antara kelompok generator di Sumbagut dan kelompok
generator di Sumbagselteng.
Interkoneksi kedua sistem melalui transmisi 275 kV Payakumbuh –
Padangsidempuan pada tahun 2014 diharapkan akan dapat mewujudkan sistem
interkoneksi Sumatera
1
. Dengan beroperasinya interkoneksi Sumatera, maka
sistem Sumbagsel yang memiliki sumber energi primer yang banyak dan murah
akan dapat memasok sebagian kebutuhan sistem Sumbagut, walaupun besarnya
daya yang dapat ditransfer akan dibatasi oleh limit stabilitas sistem interkoneksi.

1
Untuk memastikan hal tersebut diperlukan studi small signal stability.
240

Rencana reserve margin tinggi
Neraca daya sistem interkoneksi Sumatera direncanakan dengan reserve margin
yang tinggi, yaitu mencapai 78% pada tahun 2017 apabila semua proyek
pembangkit berjalan dan selesai tepat waktu. Apabila keadaan tersebut benar-
benar terjadi maka sistem Sumatera akan mengalami over supply. Namun melihat
pengalaman PLN selama ini, tingkat keberhasilan proyek IPP sangat rendah, yaitu
hanya sekitar 16%. Bahkan proyek pembangkit PLN juga mengalami
keterlambatan, termasuk proyek PLN dalam program percepatan tahap 1. Lebih
dari itu, dalam RUPTL 2011-2020 ini direncanakan banyak sekali pembangkit
panas bumi (PLTP) yang mencapai 2.495 MW, termasuk PLTP yang masih
green field bahkan WKP-nya belum ditender. Proyek PLTP yang diperkirakan
dapat selesai pada tahun 2014 adalah PLTP yang WKP-nya telah dimiliki oleh
Pertamina.
Dari perjelasan diatas dapat dimengerti bahwa perencanaan reserve margin yang
tinggi hingga 78% dimaksudkan semata-mata untuk memberikan kepastian yang
lebih tinggi kepada masyarakat Sumatera (yang telah lama menderita kekurangan
listrik) bahwa listrik akan tersedia cukup di Sumatera.
Penamaan proyek PLTU IPP
Proyek-proyek IPP yang belum financial closing, kecuali PLTP, tidak disebut nama
lokasinya secara spesifik, namun hanya disebutkan kawasan daerah dimana
proyek tersebut berada. Hal ini dimaksudkan agar PLN dapat menawarkan proyek
IPP kepada pengembang melalui tender kompetitif. Status beberapa IPP saat ini
dalam RUPTL 2011 – 2020 adalah sebagai berikut: PLTU Sumbar 1 adalah PLTU
Kambang; PLTU Sumsel 2 adalah PLTU Keban Agung; PLTU Sumsel 5 adalah
PLTU Bayung Lencir; PLTU Sumsel 6 adalah PLTU Mulut Tambang Pendopo;
PLTU Sumsel 7 adalah PLTU Sungai Lilin; PLTU Riau Mulut Tambang adalah
PLTU Cirenti.
Proyek-proyek strategis
1. Proyek PLTU Percepatan Tahap I ( PLTU Meulaboh, PLTU Pangkalan Susu,
PLTU Sumbar Pesisir, PLTU Tarahan) dan PLTA Asahan III, merupakan
proyek yang sangat strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat
mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini terjadi juga sekaligus akan
mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit yang eksisting.
241

2. PLTU Mulut Tambang (IPP) skala besar yang listriknya juga akan disalurkan
ke sistem interkoneksi Sumatera disamping ditransfer ke J awa melalui
transmisi 500 kV HVDC harus dapat diselesaikan selaras dengan
penyelesaian proyek interkoneksi J awa-Sumatera 500 kV HVDC.
3. PLTA Merangin 350 MW di Provinsi J ambi akan memenuhi kebutuhan sistem
Sumatera dan sekaligus menurunkan BPP.
4. Pembangkit peaker di Sumatera yang akan memanfaatkan potensi bahan
bakar gas yang ada.
Pengembangan PLTP
Terkait dengan kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal, PLN akan
membangun sisi hilir pada lokasi-lokasi sebagai berikut: PLTP Ulubelu #1,2
(2x55 MW), PLTP HuluLais #1,2 (2x55 MW), PLTP Sungai Penuh #1,2 (2x55 MW).
Khusus untuk PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sumber dana sudah tersedia dari J BIC
dimana Loan Agreement sudah ditandatangani pada tahun 2005. Proyek-proyek
PLTP lainnya akan dikembangkan oleh IPP dengan total kapasitas 2.165 MW
sampai dengan tahun 2020, namun sampai dengan saat ini eksplorasi yang
dilakukan pihak swasta terhadap proyek-proyek PLTP tersebut belum tuntas,
sehingga hal ini menjadi sangat rawan terhadap ketersediaan reserve margin di
sistem Sumatera seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Pembangkit baru dalam program percepatan tahap II
– PLTU Pangkalan Susu#3,4 2x200 MW
– PLTA Asahan III 174 MW
– PLTP Hulu Lais #1,2 2x55 MW dan PLTP Sungai Penuh 2x55 MW
– PLTP-PLTP yang akan dikembangkan oleh swasta/ IPP yaitu PLTP Ulubelu
3,4 (2x55 MW), PLTP Seulawah 55 MW, PLTP Lumut Balai 4x55 MW,
PLTP Sarulla I 6x55 MW, PLTP Sarulla II 2x55 MW, PLTP Rajabasa 4x55
MW, PLTP Muara Laboh 4x55 MW, PLTP Rantau Dedap 4x55 MW dan
PLTP Sorik Marapi 240 MW.
Potensi pembangkit hidro
Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru
500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang
mengajukan proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS).
242

Apabila proyek tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan
kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited
tersebut akan diproses lebih lanjut.
Neraca Daya sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.2
A1.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala
Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A1.3
A1.4 Neraca Energi
Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi, maka produksi energi
per jenis energi primer di sistem Sumatera diberikan pada Lampiran A1.4
Produksi energi pada Lampiran B1.4 dialokasikan per unit pembangkit
berdasarkan merit order dengan menggunakan model simulasi produksi dengan
asumsi harga dan ketersediaan bahan bakar sebagai berikut:
− Harga bahan bakar HSD =USD 0,78 /liter, MFO=USD 0,62 /liter, gas alam
=USD 6 /mmbtu, dan batubara =USD 80/ton.
− Ketersediaan gas alam hanya berdasarkan pada kontrak yang ada.
− Ketersediaan batubara tidak terbatas.
− Pemanfaatan tenaga panas bumi dan tenaga air sesuai dengan proyek
PLTP dan PLTA pada neraca daya.
Lampiran B1.4 menunjukkan bahwa peranan masing-masing energi primer
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Peranan Minyak (HSD dan MFO) yang pada tahun 2010 masih tinggi, yaitu
sekitar 6.525 GWh, akan sangat berkurang menjadi sekitar nol pada tahun
2014. Hal ini terjadi karena PLTU Belawan 1 – 4 tidak dioperasikan lagi dan
PLTGU Belawan, PLTG Task Force, PLTG Paya Pasir di Sumatera Utara
dioperasikan dengan LNG
b. Peranan LNG akan mulai dirasakan pada tahun 2014, yaitu sekitar 4.324
GWh dan cenderung konstan berdasarkan sumber paskokan LNG yang telah
teridentifikasi.
c. Peranan pembangkit gas yang semula 4.946 GWh pada tahun 2010 akan
naik menjadi 7.932 GWh pada tahun 2014, dan secara bertahap akan
menurun kembali menjadi 4.575 GWh pada tahun 2020. Hal ini karena
243

pengoperasian pembangkit gas disesuaikan dengan ketersediaan gas dari
kontrak yang ada.
d. Peranan pembangkit batubara akan semakin dominan. Pada tahun 2010
hanya 4.346 GWh akan naik 6 kali lipat menjadi 26.714 GWh pada tahun
2020.
e. Peranan pembangkit hidro pada tahun 2010 semula 4.538 GWh dan akan
semakin besar dengan masuknya PLTA semakin besar dengan masuknya
PLTA Asahan 3, PLTA Peusangan 1-2 pada tahun dan PLTA Merangin pada
tahun 2016 serta PLTA Simonggo-2 dan PLTA Masang-2 pada tahun 2017.
Peranan hydro pada tahun 2020 akan mencapai 7.050 GWh.
f. Kontribusi pembangkit geothermal akan meningkat luar biasa besar pada
tahun 2020 dengan produksi 13.200 GWh, atau 23% dari produksi total. Hal
ini terjadi karena besarnya penambahan kapasitas PLTP, yang pada tahun
2009 hanya 10 MW akan menjadi 2.495 MW pada tahun 2020. Banyaknya
kandidat proyek PLTP di Sumatera akan menyebabkan capacity factor
pembangkit beban dasar lainnya, yaitu PLTU batubara, menjadi rendah jika
semua proyek PLTU dan PLTP tersebut terlaksana tepat waktu sesuai
jadwal. Namun banyaknya kandidat proyek PLTP yang kepastian
implementasinya masih rendah
2
akan membuat situasi yang cukup rawan
bagi Sumatera apabila pengembangan PLTP yang direncanakan tidak
terlaksana sesuai jadwal mengingat ketidakpastian pelaksanaan beberapa
pembangkit IPP juga tinggi.

Kebutuhan Bahan Bakar
Kebutuhan energi primer di sistem Sumatera dari tahun 2011 sampai dengan
tahun 2020 dapat dilihat pada Lampiran A1.4.
Kebutuhan bahan bakar HSD pada tahun 2011 sebesar 2,2 juta liter dan semakin
turun menjadi 27 ribu liter pada tahun 2014. Sedangkan MFO sudah tidak
diperlukan lagi mulai tahun 2014 karena dihentikannya operasi PLTU Belawan 1-
4 yang mempunyai biaya operasi sangat mahal dibandingkan PLTU batubara.
Proyeksi pemakaian gas akan mengikuti pasokan gas yang terus mengalami
depletion, namun sejalan dengan rencana akan dibangunnya LNG floating
terminal maka PLTGU akan dijalankan dengan LNG.

2
Karena banyak lokasi PLTP yang potensinya belum dibuktikan dengan drilling.
244

Volume pemakaian batubara meningkat dari tahun ke tahun, yaitu naik dari 4,0
juta ton pada tahun 2011 menjadi 16.4 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat 6
kali lipat.
A1.5 Capacity Balance Gardu Induk
Pengembangan gardu induk disusun berdasarkan capacity balance dengan
memasukkan GI existing dan GI ongoing project. Selanjutnya dari Capacity
Balance tersebut dapat dilihat pembebanan masing masing GI. GI yang telah
berbeban diatas 70% dari kapasitas nominalnya memerlukan penambahan trafo.
Kemudian dievaluasi juga kebutuhan GI baru untuk perbaikan kualitas pelayanan
dan de-dieselisasi serta pengembangan GI baru terkait dengan pembangkit baru.
Setelah mendapatkan GI-GI baru yang dibutuhkan, selanjutnya disusun kembali
capacity balance yang baru setelah mempertimbangkan penambahan GI baru
tersebut.
Dengan demikian dapat disusun proyeksi kebutuhan GI, dimana hasil
pengembangan GI tersebut dipergunakan juga sebagai dasar pengembangan
sistem penyaluran.
Dengan kriteria keandalan dan asumsi di atas, kebutuhan pembangunan Gardu
Induk Baru dan pengembangan trafo GI eksisting sampai tahun 2020 sebesar
28.400 MVA dengan rincian diberikan pada Lampiran A1.5.
A1.6 Rencana Pengembangan Penyaluran
Rencana pengembangan penyaluran di sistem Sumatera dalam rangka memenuhi
pertumbuhan kebutuhan listrik meliputi proyek berikut:
• Pembangunan transmisi baru 150 kV terkait dengan proyek pembangkit PLTU
percepatan, PLTA, PLTU IPP dan PLTP IPP.
• Pembangunan transmisi baru 275 kV terkait dengan proyek pembangkit
PLTU percepatan dan PLTA IPP Asahan 1.
• Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem
Sumatera dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk
mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan
fleksibilitas operasi.
• Pembangunan transmisi 275 kV dan 500 kV sebagai tulang punggung
transmisi interkoneksi Sumatera yang akan memudahkan pengiriman daya
245

dari Sumatera bagian selatan yang kaya akan sumber energi primer ke
demand di Sumatera bagian utara.
• Pembangunan transmisi dan kabel laut ±250 kV HVDC Sumatera – Peninsular
Malaysia yang bertujuan untuk mengoptimalkan operasi kedua sistem dengan
memanfaatkan perbedaan waktu terjadinya beban puncak pada kedua sistem
tersebut.
Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Sumatera diberikan pada
Lampiran A1.6.
A1.7 Peta Pengembangan Penyaluran
Peta pengembangan penyaluran sistem Sumatera adalah seperti pada Lampiran
A1.7.
A1.8 Analisis Aliran Daya
Analisa aliran daya sistem Sumatera dilakukan dengan memperhitungkan seluruh
pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya, meliputi sistem 275 kV, 150
kV dan 70 kV. Namun pada RUPTL 2011-2020 ini hanya ditunjukkan hasil analisa
aliran daya pada sistem transmisi 275 kV dan 500 kV saja.
Prakiraan aliran daya di sistem 275 kV Sumatera dilakukan setiap tahun mulai
tahun 2011 sampai dengan 2020, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Analisa aliran daya tahun 2011
Aliran Daya tahun 2011, transfer daya terlihat menuju Sumatera Bagian
Tengah (Sumbagteng), baik dari Sumatera Bagian Utara maupun Sumatera
Bagian Selatan, hal ini disebabkan tidak adanya pembangkit baru di sistem
Sumbagteng. Transfer Daya dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)
terbatas pada kisaran transfer 224 MW dikarenakan masalah limit stabilitas
transfer daya menggunakan sistem 150 kV di titik interkoneksi
Sumbagselteng (Lubuk Linggau – Bangko).
Dari simulasi aliran daya terlihat, kekurangan pembangkitan pada tahun 2010
ini berada di sub sistem Riau, dimana sub sistem ini menerima daya dari sub
sistem Sumatera Barat sebesar 172 MW.
Profil tegangan sistem masih berada dalam kriteria operasi yang bervariasi
antara 90%-105%. Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara
lain PLTU Tarahan #1 (100 MW), PLTG Duri (40 MW), PLTU Simpang
Belimbing #1,2 (227 MW) dan PLTG/PLTMG sewa total 182 MW.
246


2. Analisa aliran daya tahun 2012
Pada tahun ini akan dioperasikan sistem tegangan 275 kV pada transmisi
275 kV Lahat – Lubuk Linggau – Bangko – Muara Bungo – Kiliranjao, yang
sebelumnya dioperasikan pada tegangan 150 kV. Tambahan transmisi 275
kV baru adalah Pangkalan Susu – Binjai.
Transfer dari sub sistem Sumatera Barat ke sub Sistem Riau berkurang
hingga menjadi 80 MW seiring dengan beroperasinya beberapa pembangkit
di Riau.
Tegangan sistem 275 kV cukup baik, yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (285
kV) dan terendah di GI Binjai (278 kV). Tambahan pembangkit baru di sistem
Sumatera antara lain PLTU Meulaboh FTP 1 (2x110 MW), PLTU Pangkalan
Susu #1 (220 MW), PLTU Sumbar Pesisir #1 (112 MW), PLTU Tarahan #2
(100 MW), PLTP Ulubelu #2 (1x55 MW), PLTG Peaker total 160 MW, PLTG
Gunung Megang ST (30 MW) dll.
3. Analisa aliran daya tahun 2013
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV Payakumbuh – Kiliranjao dan Binjai – Galang – Simangkok.
Transfer ke sub sistem Riau menjadi 160 MW, dan PLTU Riau FTP1 #1 telah
beroperasi 100 MW.
Tegangan sistem 275 kV cukup baik, yaitu tertinggi di GI Lubuk Linggau (282
kV) dan terendah di GI Binjai (275 kV). Tambahan pembangkit baru di sistem
Sumatera antara lain PLTGU Keramasan (86 MW), PLTU Pangkalan Susu –
FTP1 #2 (1x220 MW), PLTU Sumbar Pesisir FTP1 #2 (112 MW), PLTP
Ulubelu-FTP2 #1 (1x55 MW), PLTU Riau FTP1 #1 (100 MW), PLTG Belawan
(400 MW), PLTG Sengeti (60 MW) dan PLTU Sewa (840 MW).
4. Analisa aliran daya tahun 2014
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV Payakumbuh – New Garuda Sakti, Payakumbuh – Padang
Sidempuan – Sarulla – Simangkok dan Lahat – Gumawang.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 110
247

MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Riau menjadi 230 MW
dan transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 230 MW.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Riau FTP1
#2 (100 MW), PLTU Simpang Belimbing Ekspansi (227 MW), PLTU
Banjarsari (230 MW), PLTP Lumut Balai-FTP2 #3,4 (2x55 MW), PLTP
Sarulla-FTP2 (110 MW), PLTA Lawe Mamas (45 MW) dan PLTG peaking
total 500 MW.
5. Analisa aliran daya tahun 2015
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV Muara Enim - Betung – Sungai Lilin (Sumsel-7) - Bayung Lincir
(Sumsel-5) Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti seiring dengan tambahan
pembangkit PLTU mulut tambang Sumsel-5 150 MW, Sumsel-7 150 MW,
Keban Agung 225 MW.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagut ke Sumbagselteng ke,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 216
MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 305
MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV sub Sistem J ambi
(Aur Duri) ke sub sistem Riau (Rengat) sebesar 202 MW.
Pada tahap awal pembangunan segmen transmisi 275 kV Aur Duri – Rengat
ini dibangun dengan konstruksi 500 kV, yang kemudian mulai akan
dioperasikan dengan sistem 500 kV setelah beroperasinya PLTU di J ambi
sampai dengan 800 MW mulai tahun 2018.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTU Pangkalan
Susu FTP2 #3,4 (2x200 MW), PLTU Meulaboh #3 (200 MW), PLTP Hululais
FTP2 (110 MW), PLTP Sungai Penuh FTP2 (110 MW), PLTU Keban Agung
(2x112,5 MW), PLTU Sumsel-5 #1 (150 MW), PLTU Sumsel-7 #1 (150 MW),
PLTP Ulubelu #3,4 (110 MW), PLTP Lumut Balai (110 MW) dan PLTP
Sarulla (220 MW).
6. Analisa aliran daya tahun 2016
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Lhokseumawe dan pengoperasian
transmisi 275 kV Meulaboh – Sigli yang sebelumnya dioperasikan dengan
tegangan 150 kV seiring dengan beroperasinya PLTU Meulaboh #3,4 (400
248

MW).Selain itu juga diperlukan pembangunan transmisi 275 kV PLTU Cirenti
– Rengat untuk mengevakuasi daya PLTU Cirenti.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan seiring dengan
mulai beroperasinya pembangkit mulut tambang dan panas bumi di sistem
Sumbagselteng. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung
sebesar 420 MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub
sistem Riau sebesar 211 MW.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA
Peusangan (88 MW), PLTA Asahan III (174 MW), PLTA Merangin (175 MW),
PLTU Sumsel-6 #1 (300 MW), PLTU Riau MT #1 (300 MW), PLTU Sumsel-5
#2 (150 MW), PLTU Sumsel-7 #2 (150 MW).
7. Analisa aliran daya tahun 2017
Pada tahun ini terdapat pembangunan transmisi 275 kV baru, yaitu transmisi
275 kV sub sistem NAD mulai Sigli – Ulee Kareng untuk memasok kota
Banda Aceh dan sekitarnya.
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 225
MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 261
MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau
sebesar 226 MW.
Tambahan pembangkit baru di sistem Sumatera antara lain PLTA Merangin
#2 (175 MW), PLTA Simonggo-2 (86 MW), PLTA Masang-2 (55 MW), PLTU
Sumsel-6 #2 (300 MW), PLTU Riau MT #2 (300 MW), PLTP Rajabasa FTP2
(220 MW), PLTP Muara Laboh FTP2 (220 MW) dan PLTP Sarulla II FTP2
(110 MW).
8. Analisa aliran daya tahun 2018
Pada tahun ini transmisi 500 kV dari PLTU J ambi – Aur Duri – New Garuda
Sakti sudah beroperasi, seiring dengan beroperasinya PLTU J ambi unit #1 (1
x 400 MW)
Arah aliran daya pada tahun ini adalah dari Sumbagselteng ke Sumbagut,
melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan sebesar 540
MW. Adapun transfer sistem 275 kV ke sub sistem Lampung sebesar 400
249

MW sedangkan transfer daya melalui transmisi 275 kV ke sub sistem Riau
sebesar 660 MW.
Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU J ambi KPS J ambi #1 (1x400
MW), PLTU Sumsel-1 #1 (400 MW), PLTP Rantau Dedap FTP2 (110 MW),
PLTP Sorik Marapi FTP2 (240 MW) dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).
9. Analisa aliran daya tahun 2019
Arah aliran daya masih dari selatan ke utara, dengan transfer daya sebesar
360 MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan,
transfer daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New
Garuda Sakti sebesar 1100 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui
transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 440 MW.
Tambahan pembangkit baru antara lain PLTU J ambi KPS #2 (1x400 MW),
PLTU Sumsel-1 #2 (400 MW) dan PLTP Rantau Dedap FTP2 #2 (110 MW)
dan PLTP Suoh Sekincau (110 MW).
10. Analisa aliran daya tahun 2020
Arah aliran daya dari selatan ke utara, dengan transfer daya sebesar 490
MW melalui transmisi 275 kV Payakumbuh – Padang Sidempuan, transfer
daya ke sub sistem Riau melalui transmisi 500 kV Rengat – New Garuda
Sakti sebesar 1150 MW dan transfer ke sub sistem Lampung melalui
transmisi 275 kV Muara Enim – Gumawang sebesar 450 MW.
Tambahan pembangkit baru antara lain PLTG Peaker (200 MW) dan PLTP
tersebar (695 MW)

A1.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk,
• Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan
• Perbaikan SAIDI dan SAIFI
• Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua
• Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan
Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Sumatera seperti pada Lampiran A1.9.
250

JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 6,569 6,711 1,470 1,091,206
2012 4,562 4,285 766 594,512
2013 4,661 4,509 819 605,242
2014 5,011 4,869 836 619,356
2015 5,031 4,982 872 537,293
2016 5,403 5,271 900 498,951
2017 5,548 5,273 941 493,516
2018 5,951 5,608 978 506,895
2019 6,291 5,788 1,041 522,635
2020 6,590 5,955 1,072 540,399
J umlah 55,618 53,251 9,694 6,010,005
Provinsi Regional Sumatera
Tahun Pel anggan
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI

J uta USD
2011 148.8 100.1 50.9 39.0 338.9
2012 106.0 64.0 36.2 42.3 248.6
2013 111.4 69.1 37.0 54.8 272.3
2014 123.4 76.8 38.4 63.1 301.8
2015 126.0 79.8 37.1 32.7 275.5
2016 140.8 88.4 34.2 34.6 298.0
2017 145.3 87.1 35.8 36.3 304.5
2018 161.7 98.3 38.0 38.2 336.2
2019 174.5 104.2 41.1 39.1 359.0
2020 188.3 108.5 43.9 39.0 379.7
J umlah 1,426.3 876.4 392.7 419.1 3,114.5
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Regional Sumatera
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total

Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional sumatera tahun 2011-2020
dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun J TM
61.600 kms, J TR 65.510 kms, Kapasitas gardu distribusi 14.054 MVA untuk
menunjang penyambungan pelanggan sejumlah 6,0 juta.
• Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang
pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar
USD 3.469 juta USD (J TM USD 1.564 juta, J TR USD 1.076 juta, gardu
USD 410 juta, dan sambungan pelanggan 419 juta USD) dan diperkirakan
setiap tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 350 juta.
• Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari
67,1 % tahun 2010, menjadi 73,3 % di tahun 2014 untuk regional sumatera
A1.10 Program Listrik Perdesaan
251

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Regional Sumatera
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 3.344,0 3.280,9 139,9 2.263 -
2012 1.810,2 1.531,0 44,4 758 89.727 8.515
2013 3.657,2 3.260,8 89,8 1.426 122.274
2014 3.539,5 3.207,4 89,1 1.440 125.131
Total 12.351,0     11.280,1      363,1       5.887,9       337.132,4      
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan

Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Regional Sumatera (juta Rp)
2011 602.819,7 291.317,9 158.190,5 2.601,8 - 1.148.370,6
2012 309.601,9 146.424,4 69.034,1 - - 590.994,6
2013 893.240,2 378.469,5 218.991,7 - 29.401,0 1.520.102,5
2014 953.237,8 406.867,9 231.746,3 - 32.186,6 1.624.038,6
Total 2.758.899,7     1.223.079,7     677.962,7     2.601,8         61.587,7      4.883.506,3     
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional
Sumatera tahun 2011-2014 dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Selama kurun waktu tahun 2010-2014 direncanakan membangun J TM
12.351 kms, J TR 11.280 kms, Kapasitas gardu distribusi 363 MVA.
• Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang
kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 4,88 triliun (J TM Rp 2,8
triliun, J TR Rp 1,22 triliun, gardu Rp 0,7 triliun, pembnagkit dan pelanggan
Rp 2,6 triliun
A1.11 Program Energi Baru dan Terbarukan
Lihat Bab 4.11, halaman 96.
A1.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi
Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem
Sumatera diberikan pada Lampiran A1.12.

S
I
S
T
E
M
L
A
M

I
N
T
E
R
K
O
A
M
P
I
R
A
N
O
N
E
K
S
I

K
2
5
2
N

A
2
K
A
L
I
M
A
N
T
A
N

B
A
RR
A
T
P
R
O
Y
L
A
M
Y
E
K
S
I

K
E
B
S
I
S
T
E
M
M
P
I
R
A
N

B
U
T
U
H
A
N
K
A
L
I
M
A
N
2
5
3
A
2
.
1
N

T
E
N
A
G
N
T
A
N

B
A
R
G
A

L
I
S
T
R
I
R
A
T
K
Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Kalimantan Barat
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Wil Kalbar
Sistem Satuan
Wil Kalbar
Sistem Khatulistiwa
Produksi GWh 1.121 1.379 1.749 2.021 2.201 2.544 2.707 2.879 3.060 3.304
Faktor Beban % 69 74 77 68 69 74 68 68 68 69
Beban Puncak MW 186 211 259 339 362 394 457 486 516 548
2
5
4
L
A
S
I
S
T
E
M
A
M
P
I
R
A
N
N
E
R
A
C
A
M

K
A
L
I
M
A
2
5
5
N

A
2
.
2
A

D
A
Y
A

A
N
T
A
N

B
AA
R
A
T


Grafik Neraca Daya Sistem Kalbar
51%
47%
54%
800
900
M
W
Pembangkit Terpasang PLN
Pembangkit Sewa
PLTGB Sewa
PLTU PLN
PLTG PLN
PLTA PLN
46%
53%
51%
600
700
PLTU FTP2
PLTU IPP
Power Purchase (Sesco)
PLTA PLN
Reserve Margin
57%
45%
43%
400
500
g
Beban Puncak
Power Purchase (Sesco)
PLTU IPP
2
5
6
45%
37%
200
300
PLTU (FTP2)
100
200
Kapasitas Terpasang
PLTU (FTP2)
-
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Tahun
256
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Kebutuhan dan Pasokan Satuan
Neraca Daya Sistem Kalbar
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi
GWh 1,121 1,379 1,749 2,021 2,201 2,544 2,707 2,879 3,060 3,304
Faktor Beban
% 69 74 77 68 69 74 68 68 68 69
Beban Puncak
MW 186 211 259 339 362 394 457 486 516 548
Pasokan
Kebutuhan dan Pasokan Satuan
Kapasitas Daya Terpasang 270 290 253 117 42 50 75 61 61 69
PLN
PLTG-HSD PLN (Siantan)
MW 34 34 34 - - - - - - -
PLTD-MFO PLN (Sei Raya & Siantan)
MW 100 100 100 - - - - - - -
PLTD-MFO PLN (Sei Wie & Sudirman)
MW 19 19 19 - - - - - - -
Interkoneksi sistem-sistem isolated - - 12 47 42 50 75 61 61 69
S MW 117 137 88 70 Sewa MW 117 137 88 70 - - - - - -
Retired & Moultbolled (PLN) MW 6 - - 153 - - - - - -
Tambahan Kapasitas
PLN
On-going dan Committed Project
Pantai Kura-Kura (FTP1) PLTU 55
Parit Baru(FTP1) PLTU 100
2
5
7
Parit Baru (FTP1) PLTU 100
Rencana
Parit Baru - Loan China (FTP2) PLTU 50 50
Nanga Pinoh PLTA 49 49
Kalbar - 1 PLTU 50 50
Kalbar - 2 PLTU 50 50
IPP IPP
Rencana
Pontianak - 2 PLTU 25 25
Pontianak - 3 PLTU 50
Power Purchase dengan SESCo (Peaking) 275 KV 120
Power Purchase dengan SESCo (Baseload) 275 KV 50 -50 g ( )
Jumlah Pasokan MW 270 290 408 492 517 575 699 734 759 842
Reserve Margin % 45 37 57 45 43 46 53 51 47 54
P
R
O
L
A
M
O
Y
E
K
-
P
R
S
I
S
T
E
M

K
M
P
I
R
A
N

A
R
O
Y
E
K

I
P
K
A
L
I
M
A
N
2
5
8
A
2
.
3
P

T
E
R
K
E
N
T
A
N

B
A
R
N
D
A
L
A
R
A
T
A
2
.
33
P
r
o
y
e
k
-
p
r
o
y
e
D
a
l
a
m

p
e
r
e
n
c
P
e
r
j
a
n
j
i
a
n

P
e
m
P
P
T
L

t
e
r
k
e
n
d
K
a
t
e
g
C
O
D
K
a
t
e
g
F
i
n
a
n
K
a
t
e
g
b
e
l
u
m
P
e
m
b
a
n
g
k
i
t

I
P
-
P
L
T
-
P
L
T
S
a
a
t

i
n
i

p
e
n
y
e
D
i
r
e
k
t
u
r

u
n
t
u
k
e
k

I
P
P

y
g

t
e
r
k
e
c
a
n
a
a
n

p
e
m
b
a
n
m
b
e
l
i
a
n

T
e
n
a
g
d
a
l
a


a
d
a
l
a
h
,
g
o
r
i

1
,

t
a
h
a
p

o
p
.

g
o
r
i

2
,

t
a
h
a
p

p
e
n
c
i
a
l

C
l
o
s
i
n
g

(
F
g
o
r
i

3
,

T
a
h
a
p

p
m

m
e
n
c
a
p
a
i

F
i
n
P
P

y
a
n
g

t
e
r
k
e
n
T
U

K
e
t
a
p
a
n
g

2
x
T
U

P
o
n
t
i
a
n
a
k


2
e
l
e
s
a
i
a
n

I
P
P

t
e
k

I
P
P

d
a
n

K
e
r
j
a
e
n
d
a
l
a


n
g
k
i
t

I
P
P
,

a
d
a

b
g
a

L
i
s
t
r
i
k

(
P
P
T
L
p
e
r
a
s
i

a
d
a
l
a
h

t
a
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n
/
k
o
F
C
)

t
a
p
i

b
e
l
u
m

m
p
e
n
d
a
n
a
a
n

I
P
P

n
a
n
c
i
a
l

C
l
o
s
i
n
g
n
d
a
l
a

d
i

s
i
s
t
e
m

x
7

M
W

m
a
s
u
k

2
x
2
5

M
W

m
a
s
u
r
k
e
n
d
a
l
a

t
e
r
s
e
a
s
a
m
a

K
e
m
i
t
r
a
a
2
5
9
b
e
b
e
r
a
p
a

p
r
o
y
e
L
)

n
y
a

m
e
n
g
a
l
a
a
h
a
p

d
i
m
a
n
a

I
P
o
n
s
t
r
u
k
s
i

d
i
m
a
n
m
e
n
c
a
p
a
i

C
O
D
y
a
n
g

s
u
d
a
h

m

(
F
C
)
.
K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

B
a
d
a
l
a
m

k
a
t
e
g
o
r
u
k

d
a
l
a
m

k
a
t
e
g
b
u
t

s
e
d
a
n
g

d
i
p
a
n
.
e
k

p
e
m
b
a
n
g
k
i
t

a
m
i

k
e
n
d
a
l
a
.

K
a
P
P

s
u
d
a
h

m
e
n
c
n
a

I
P
P

s
u
d
a
h

m
D
.
m
e
m
i
l
i
k
i

P
P
T
L
,

t
a
r
a
t

a
d
a
l
a
h
,
i

2
o
r
i

2
p
r
o
s
e
s

o
l
e
h

K
o
m
I
P
P

y
a
n
g

a
t
e
g
o
r
i

c
a
p
a
i

m
e
n
c
a
p
a
i

t
e
t
a
p
i

m
i
t
e

L
A N
S
I
S
T
E
M
A
M
P
I
R
A
N
E
R
A
C
A

E

K
A
L
I
M
A
N
2
6
0
N

A
2
.
4
E
N
E
R
G
I

N
T
A
N

B
AA
R
A
T
Proyeksi Neraca Energi Proyeksi Neraca Energi
Sistem Kalbar
(GWh)
JENIS 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Batubara - - 824 1.228 1.471 1.788 1.793 1.797 2.377 2.641
Gas
LNG - - - - - - - - - - LNG - - - - - - - - - -
HSD 117 257 171 12 6 7 7 10 14 10
MFO 1.004 1.121 753 72 3 16 21 35 55 35
SESCO - - - 709 721 733 737 738 314 317
Hydro - - - - - - 150 300 300 300
2
6
1
y
Total 1.121 1.379 1.749 2.021 2.201 2.544 2.707 2.879 3.060 3.304
Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
Sistem Kalbar
FUEL TYPE 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
HSD ( x 1000 kL ) 42 89 114 4 0 1 1 3 7 3 ( )
MFO ( x 1000 kL ) 254 279 171 18 1 4 5 9 14 9
GAS (GBTU)
LNG (GBTU) - - - - - - - - - -
2
6
2
LNG (GBTU)
Batubara (kTON) - - 565 701 868 1.102 1.137 1.178 1.610 1.832
C
A
L
A
A
P
A
C
I
T
Y
S
I
S
T
E
M
A
M
P
I
R
A
N
Y

B
A
L
A
N
C
M

K
A
L
I
M
A
2
6
3
N

A
2
.
5
C
E

G
A
R
D
U
A
N
T
A
N

B
A
U

I
N
D
U
K

A
R
A
T
Capacity Balance Sistem Kalimantan Barat
TEG.
Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf
(KV) MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA
1 GI SIANTAN 150/20 2 30 60 25,67 29,33 34,04 40,13 60 48,04 51,82 53,64 56,15 61,82 30 67,13
50,34% 57,50% 66,75% 39,34% 47,10% 50,81% 52,59% 55,05% 60,61% 65,82%
No. NAMA GI
CAPACITY 2020 2011 2012 2013 2014 2015
MVA
2016 2017 2018 2019
p y
2 GI SEI RAYA 150/20 2 30 60 38,01 35,75 120 39,00 40,90 46,01 50,10 52,62 52,69 69,12 69,40
74,54% 23,37% 25,49% 26,73% 30,07% 32,75% 34,39% 34,44% 45,17% 45,36%
3 GI. PARIT BARU 150/20 1 30 30 15,18 15,60 17,34 15,86 17,33 15,66 22,55 30 32,68 33,06 35,31
59,54% 61,17% 67,98% 62,19% 67,98% 61,40% 44,22% 64,08% 64,83% 69,24%
4 GI. MEMPAWAH 150/20 1 30 30 16,78 17,55 15,00 21,85 30 23,66 30,63 33,75 29,04 31,51 33,89
65,79% 68,84% 58,84% 42,84% 46,40% 60,06% 66,17% 56,94% 61,79% 66,45%
5 GI.SINGKAWANG 150/20 1 30 30 14,62 15,30 16,34 15,85 19,33 30 20,12 21,85 28,72 33,74 32,69
57,35% 60,01% 64,09% 62,16% 37,90% 39,45% 42,85% 56,32% 66,17% 64,09% , , , , , , , , , ,
6 GI. KOTA BARU 150/20 1 30 30 14,41 16,93 15,79 17,07 13,31 13,87 15,29 15,81 17,44 24,96 30
56,50% 66,39% 61,91% 66,96% 52,19% 54,40% 59,97% 62,01% 68,40% 48,95%
7 GI PLTU KURA-KURA 150/20 1 30 30 11,71 12,14 12,83 13,88 14,88 15,34 16,50 17,73 14,06 15,29
45,94% 47,60% 50,33% 54,44% 58,37% 60,17% 64,70% 69,54% 55,13% 59,98%
8 GI SAMBAS 150/20 1 30 30 12,02 12,83 16,02 15,18 15,80 17,16 23,63 30 17,22 21,74
47,13% 50,33% 62,81% 59,53% 61,96% 67,29% 46,33% 33,76% 42,63%
9 GI SANGGAU 150/20 1 30 30 17,04 15,63 19,59 30 21,48 23,55 25,80 28,02
2
6
4
66,82% 61,31% 38,41% 42,12% 46,17% 50,60% 54,95%
10 GI TAYAN 150/20 1 30 30 6,54 7,29 8,04 8,54 9,45 10,46 11,58 12,70
25,66% 28,57% 31,55% 33,48% 37,08% 41,04% 45,41% 49,79%
11 GI BENGKAYANG 150/20 1 30 30 6,48 7,15 7,82 8,21 9,01 9,88 10,82 11,75
25,41% 28,03% 30,65% 32,22% 35,33% 38,73% 42,44% 46,09%
12 GI NGABANG 150/20 1 30 30 9,07 10,01 10,94 11,50 12,61 13,83 15,15 16,45
35,57% 39,24% 42,91% 45,10% 49,46% 54,22% 59,42% 64,53%
13 GI SEKADAU 150/20 1 30 30 6,66 10,28 7,66 8,40 9,20 10,09 10,95
26,12% 40,33% 30,03% 32,93% 36,09% 39,56% 42,96%
14 GI SINTANG 150/20 2 30 60 18,36 20,27 21,51 23,82 26,36 32,17 31,99
35,99% 39,74% 42,18% 46,70% 51,69% 63,08% 62,72%
15 GI NANGA PINOH 150/20 1 20 20 9,43 10,34 11,34 9,43 13,49
55,48% 60,84% 66,70% 55,45% 79,38%
16 GI KETAPANG 150/20 2 30 60 28,53 30,98 33,62 33,15
55,95% 60,74% 65,92% 65,01% , , , ,
Capacity Balance Sistem Kalimantan Barat p y
TEG.
Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf Peak Add Trf
(KV) MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA MW MVA
17 GI SANDAI 150/20 1 30 30 3,36 3,68 4,04 4,42 7,80
13,17% 14,44% 15,83% 17,35% 30,60%
18 GI KOTA BARU 2 150/20 1 30 30 8,76 9,42 10,12 10,88 11,59
34,35% 36,93% 39,70% 42,67% 45,43%
No. NAMA GI
CAPACITY 2020 2011 2012 2013 2014 2015
MVA
2016 2017 2018 2019
, , , , ,
19 GI SUKADANA 150/20 1 30 30 8,76 9,70 10,73 11,88 13,02
34,35% 38,03% 42,10% 46,58% 51,08%
20 GI PUTUSIBAU 150/20 1 30 30 14,77
57,92%
710 - 120 - 90 30 30 30 30 30 30
136,39 154,61 185,27 248,05 270,73 311,91 370,39 406,81 442,94 494,54
20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00
2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000
Penambahan Trafo (MVA)
Total Beban Gardu Induk
Beban Pembangki t Si antan
Beban Pembangki t Sei Ra a
2
6
5
20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00
176,39 194,61 225,27 288,05 310,73 351,91 410,39 446,81 482,94 534,54
173,34 192,33 224,27 287,01 309,73 378,08 410,28 445,11 482,82 533,53
1,02 1,01 1,00 1,00 1,00 0,93 1,00 1,00 1,00 1,00
Beban Pembangki t Sei Raya
Total Beban Gardu Induk & PLTD
Total Beban Si stem
Di versi ty Factor
R
E
N
C
A
L
A
M
A
N
A

P
E
N
S
I
S
T
E
M

M
P
I
R
A
N

N
G
E
M
B
A
N
K
A
L
I
M
A
N
2
6
6
A
2
.
6
N
G
A
N
P
E
N
N
T
A
N

B
A
N
Y
A
L
U
R
A
A
R
A
T
A
N

Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Kalimantan Barat
(kms)
Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
275 kV - - 180 - - - - - - - 180
150 kV 112 310 596 280 - 180 860 - - 300 2.638
TOTAL 112 310 776 280 - 180 860 - - 300 2.818
(MVA)
2
6
7
Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Total
275/150 kV - - 250 - - - - - - - 250
150/20 kV 60 150 90 210 30 150 90 30 60 60 930
(MVA)
TOTAL 60 150 340 210 30 150 90 30 60 60 1.180
Rencana Pengembangan Transmisi
N P i i D i K T C d t k
Biaya
COD
Kalimantan Barat
No. Propinsi Dari  Ke  Tegangan  Conductor  kms 
(M USD)
COD
1 Kalbar Parit Baru Kota Baru 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2,22 2011
2 Kalbar Sei Raya Kota Baru 150 kV 2 cct, 1 Hawk 32 1,77 2011
3 Kalbar PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2 Incomer 2 pi (Singkawang‐Mempawah) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2,22 2011
4 Kalbar Singkawang Sambas 150 kV 2 cct, 1 Hawk 126 6,98 2012
5 Kalbar Siantan Tayan 150 kV 2 cct 2 Hawk 184 10 19 2013 5 Kalbar Siantan Tayan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 184 10,19 2013
6 Kalbar Singkawang Bengkayang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 120 6,65 2013
7 Kalbar Bengkayang Ngabang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 9,97 2013
8 Kalbar Ngabang Tayan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 110 6,09 2013
9 Kalbar PLTU Parit Baru (IPP) Parit Baru 150 kV 2 cct, 1 Hawk 6 0,33 2013
10 Kalbar Tayan Sanggau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 9,97 2014
2
6
8
11 Kalbar Sanggau Sekadau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5,54 2014
12 Kalbar Sintang Sekadau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 9,97 2014
13 Kalbar Sintang Nanga Pinoh 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 9,97 2016
14 Kalbar Sukadana Sandai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 13,74 2016
15 Kalbar Sandai Tayan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 300 22,90 2016
16 Kalbar Nanga Pinoh Kota Baru 2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 9,97 2016
17 Kalbar Ketapang Sukadana 150 kV 2 cct, 2 Hawk 200 15,27 2017
18 Kalbar Sintang Putusibau 150 kV 2 cct, 2 Hawk 300 22,90 2020
19 Kalbar Bengkayang Perbatasan 275 kV 2 cct, 2 Zebra 180 28,36 2013
Rencana Pengembangan Gardu Induk
No.  Propinsi Nama Gardu Induk  Tegangan 
Baru/
Extension 
Kap Jumlah  COD  Keterangan
1 Kalbar Kota Baru  150/20 kV Baru 30 2,62 2011
2 Kalbar Parit Baru Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2011
Kalimantan Barat
2 Kalbar Parit Baru Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2011
3 Kalbar Sei Raya Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2011
4 Kalbar PLTU Singkawang (Perpres)/Kura2 150/20 kV Baru 30 1,37 2011
5 Kalbar Sei Raya 150/20 kV Extension 120 3,81 2012
6 Kalbar Sambas 150/20 kV Baru 30 2,42 2012
7 Kalbar Singkawang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2012
8 Kalbar Tayan  150/20 kV Baru 30 2,42 2013
9 Kalbar Tayan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1 24 2013 9 Kalbar Tayan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2013
10 Kalbar Sei Raya Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,24 2013
11 Kalbar Bengkayang  150/20 kV Baru 30 2,62 2013
12 Kalbar Ngabang  150/20 kV Baru 30 2,62 2013
13 Kalbar Sanggau  150/20 kV Baru 30 2,62 2014
14 Kalbar Sekadau  150/20 kV Baru 30 2,62 2014
15 Kalbar Sintang  150/20 kV Baru 60 4,00 2014
16 K lb Si t 150/20 kV E t i 60 1 39 2014
2
6
9
16 Kalbar Siantan 150/20 kV Extension 60 1,39 2014
17 Kalbar Mempawah 150/20 kV Extension 30 1,39 2014
18 Kalbar Singkawang 150/20 kV Extension 30 1,39 2015
19 Kalbar Naga Pinoh  150/20 kV Baru 30 2,62 2016
20 Kalbar Sintang Ext LB 150/20 kV Extension 1 LB 0,62 2016
21 Kalbar Sukadana  150/20 kV Baru 30 2,62 2016
22 Kalbar Sandai  150/20 kV Baru 30 2,62 2016
23 Kalbar Sanggau 150/20 kV Extension 30 1 39 2016 23 Kalbar Sanggau 150/20 kV Extension 30 1,39 2016
24 Kalbar Kota Baru 2 150/20 kV Baru 30 2,62 2016
25 Kalbar Ketapang  150/20 kV Baru 60 4,00 2017
26 Kalbar Parit Baru 150/20 kV Extension 30 1,39 2017
27 Kalbar Sambas 150/20 kV Extension 30 1,39 2018
28 Kalbar Siantan 150/20 kV Extension 60 1,39 2019
29 Kalbar Putusibau  150/20 kV Baru 30 2,62 2020
30 Kalbar Kota Baru 150/20 kV Extension 30 1 39 2020 30 Kalbar Kota Baru 150/20 kV Extension 30 1,39 2020
31 Kalbar Bengkayang  275/150 kV Baru 250 25,98 2013
P
E
L
E
T
A

P
E
N
G
S
I
S
T
E
M
L
A
M
P
I
R
A
G
E
M
B
A
N
G
M

K
A
L
I
M
A
2
7
0
A
N

A
2
.
7
G
A
N

P
E
N
Y
A
N
T
A
N
B
A
Y
A
L
U
R
A
N
A
R
A
T
N
The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
your computer, and then open the file again. If the red x still appears, you …
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN
KALIMANTAN BARAT 2011 - 2020
KUCHI NG
GI. SAMBAS
Thn2013
BIAWAK
ARUK
PLTU 2 KALBAR  TJ. GUNDUL
(PLN); 
2 x 27,5 MW (2013)
SERIKIN
PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP); 
2 x 400 KW (2012)
PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN); 
2 x 750 KW (2010)
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn2013
KUCHI NG
GI. SINGKAWANG
Thn 2009
GI. PUTUSIBAU
Thn 2020
GI MAMBONG (MATANG)
BADAU
BATU KAYA
2 x 27,5 MW (2013)
PLTU PERPRES TAHAP II  2 X 
50 MW (2014) LOAN CHINA
PLTGB (IPP) 8 MW  (2012)
TEBEDU
J AGOI BABANG
ENTIKONG
GI. SINTANG
Thn2014
GI SANGGAU
Thn2014
GI. NGABANG
Thn2013
GI. MEMPAWAH
GI. SIANTAN
GI. PARIT BARU
GI TAYAN
GI. SEKADAU
GI. PLTU KURA-KURA
Thn
2011
55 km
PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW (2012)
PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)
GI . K0TA
BARU2
2017
GI. NANGA PINOH
Thn2016
GI. KOTA BARU
Thn 2011
GI. SEI RAYA
GI. TAYAN
Thn2013
Thn2014
PLTU 1 KALBAR ‐PARIT BARU (PLN); 2 x 50 
MW (2013)
PLTU  PARIT BERKAT (IPP); 2 x 25 MW  
(2014);
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X 
7 MW (2012)
PLTGB NANGAPINOH  (PLN); 6 (2013)
PLTU TAYAN (IPP); 2 X 25 
MW (2015)
PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW 2017‐18
GI KETAPANG
GI. SANDAI
Thn2017
BARU2
2017
GI. SUKADANA
Thn2017
GI Kuala Kurun
GI. KUALA KURUN
(2014); 
PLTU KETAPANG (PLN) ; 
2 X 10 MW (2013)
GI. KETAPANG
Thn2017
PLTURencana Gardu Induk 275 kVRencana
KETERANGAN :
PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X  7 MW (2012)
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana
PLTU Rencana Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana
PLTMH Rencana
L
A
A
N
A
L
S
I
S
T
E
M
A
M
P
I
R
A
N
L
I
S
I
S

A
L
I
R
K
A
L
I
M
A
N
2
7
2
N

A
2
.
8
R
A
N

D
A
Y
A
N
T
A
N

B
A
RA

R
A
T
Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012 Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2012
2
7
3
Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015 Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2015
2
7
4
Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018 Load Flow Sistem Kalimantan Barat Tahun 2018
2
7
5
KK
E
B
U
T
U
H
A
S
L
A
N

F
I
S
I
K
S
I
S
T
E
M

K
L
A
M
P
I
R
A
P
E
N
G
E
M
K
A
L
I
M
A
N
T
2
7
6
A
N

A
2
.
9
M
B
A
N
G
A
N
T
A
N

B
A
R
N

D
I
S
T
R
I
B
R
A
T
B
U
S
I

PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Kalimantan Barat
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 138 394 51 44.189
2012 120 343 53 40.543
2013 109 312 46 36.973
Tahun Pel anggan
2014 115 329 43 38.980
2015 122 347 50 41.105
2016 138 394 53 46.655
2017 146 418 56 49.419
2018 155 442 59 52.353
2019 164 469 62 55.467
2020 174 497 66 58.773
J umlah 1.381 3.944 540 464.457
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Kalimantan Barat
2
7
7
J uta USD
2011 10,2 7,5 4,9 2,6 25,2
2012 17,2 10,9 4,5 2,4 35,0
Provinsi Kalimantan Barat
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total
0 , 0,9 ,5 , 35,0
2013 18,4 11,8 4,2 2,3 36,7
2014 18,2 13,7 4,3 2,5 38,8
2015 10,3 7,6 5,5 2,8 26,3
2016 17,8 11,7 5,3 3,4 38,1
2017 19,2 12,9 5,8 3,7 41,7
2018 19,1 15,0 6,6 4,1 44,9
2019 11,3 9,1 7,6 4,6 32,7
2020 18,7 13,2 7,6 5,1 44,6
J umlah 160,7 113,4 56,3 33,6 364,0
P
R
S
L
A
M
R
O
G
R
A
M
S
I
S
T
E
M

K
M
P
I
R
A
N

A
L
I
S
T
R
I
K

K
A
L
I
M
A
N
T
2
7
8
A
2
.
1
0
P
E
R
D
E
S
A
T
A
N

B
A
R
A
A
N

R
A
T
Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat
JTM JTR
Listrik murah
kms kms MVA Unit
dan Hemat (RTS)
2011 348,0 221,0 10,0 197
2012 182 5 167 6 2 3 62 5 725 875
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan
2012 182,5 167,6 2,3 62 5.725 875
2013 511,0 590,3 2,3 47 4.125
2014 468,0 645,0 2,4 47 4.525
Total 1.509,5            1.623,9        17,0         353             14.375             
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp)
2
7
9
2011 82.108,8 54.416,8 7.966,8 22.500,0 166.992,4
2012 46.875,3 23.395,5 6.120,8 76.391,5
2013 159 909 4 91 808 3 7 099 4 258 817 0
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total
2013 159.909,4 91.808,3 7.099,4 258.817,0
2014 156.909,5 108.375,4 8.796,1 274.081,0
Total 445.802,9         277.996,0       29.983,1       22.500,0      ‐                776.281,9      
L
P
R
O
Y
E
K
S
I
S
T
E
L
A
M
P
I
R
A
K
S
I

K
E
B
U
T
E
M

K
A
L
I
M
2
8
0
A
N

A
2
.
1
1
T
U
H
A
N

I
N
M
A
N
T
A
N

BN
V
E
S
T
A
S
B
A
R
A
T
I

Proyeksi Kebutuhan Investasi Pembangkit, Transmisi & Distribusi y g ,
[Fixed Asset Addition]
Kalimantan Barat
(Juta US$)
Pembangki t T/L dan GI Di stri busi
2011 0 13 25 38
Tahun
Investasi
Total
2012 82 14 35 132
2013 322 98 37 457
2014 75 37 39 151
2015 163 1 26 191
2
8
1
2015 163 1 26 191
2016 75 69 38 182
2017 149 21 42 211
2018 74 1 45 120 2018 74 1 45 120
2019 119 1 33 153
2020 119 27 45 191
Total 1.178 283 364 1.825
282

PENJELASAN LAMPIRAN A2.
SISTEM KALIMANTAN BARAT
A2.1 Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Sistem Kalimantan Barat (Khatulistiwa) merupakan salah satu sistem besar di
pulau Kalimantan selain Sistem Kaltim (Mahakam) dan Sistem Kalimantan Selatan
& Tengah (Barito). Saat ini sistem Kalimantan Barat belum terinterkoneksi dengan
sistem Kalimantan Selatan dan Tengah.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik tahun 2011-2020, diperkirakan produksi energi
listrik pada sistem Kalbar meningkat rata-rata 12.7% per tahun, yaitu meningkat
dari 1.121 GWh pada tahun 2011 menjadi 3.304 GWh pada tahun 2020.
Faktor beban diperkirakan antara 67.6% sampai 76.9%
Beban puncak sistem Kalbar pada tahun 2011 sebesar 186 MW akan meingkat
menjadi 548 MW pada tahun 2020 dengan tersambungnya beberapa sistem
isolated yaitu sistem Singkawang, Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga
Pinoh, Ngabang dan Ketapang. Sistem-sistem kecil lainnya masih beroperasi
isolated.
Proyeksi kebutuhan beban sistem Kalimantan Barat tahun 2011 – 2020 diberikan
pada Lampiran A2.1.
A2.2 Neraca Daya
Sistem interkoneksi
Sistem interkoneksi Kalimantan Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki
potensi pertumbuhan tinggi, yaitu tumbuh rata-rata 12,6% per tahun sampai
dengan tahun 2020. Saat ini, di Kalimantan Barat terdapat sewa PLTD lebih dari
100 MW. Kapasitas terpasang pembangkit saat ini adalah 270 MW (termasuk
sewa), dimana semua pembangkit di sistem Kalbar menggunakan BBM sehingga
biaya operasi sangat tinggi.
Tambahan pembangkit pada sistem Kalbar seluruhnya masih dalam tahap
rencana, kecuali PLTU Percepatan Tahap 1, yaitu PLTU Parit Baru (2x50 MW) dan
PLTU Kura-kura (2x25 MW) yang direncanakan beroperasi tahun 2013.
Penandatangan kontrak untuk kedua PLTU ini sudah dilaksanakan pada tahun
2009.
283
Pada tahun 2014 dan 2015 sistem Kalimantan Barat akan melakukan pembelian
listrik dari Serawak sebesar 50 MW pada LWBP dan 120 MW pada WBP untuk
menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak. Dalam jangka panjang (setelah
tahun ke-5) dimungkinkan seluruh pembelian tenaga listrik dari Serawak adalah
hanya selama WBP, hal ini dapat menunda kebutuhan pembangkit peaking yang
berbahan bakar mahal
Dari neraca daya sistem Kalimantan Barat terlihat bahwa reserve margin akan
mencapai 57% pada tahun 2013. Namun hal ini masih dapat diterima dengan
pertimbangan proyek-proyek PLTU Kalbar berisiko terlambat karena berbaga
sebab, interkoneksi dengan Serawak tidak ada klause take or pay yang berbasi
power pada WBP.
PLTU Batubara
Dengan adanya sumber batubara di Kabupaten Sintang, maka direncanakan
PLTU batubara 3x7 MW di Sintang untuk beroperasi pada tahun 2012. Selain itu
PLTU IPP juga akan dilaksanakan di Ketapang sebesar 2x10 MW.
PLTU Pantai Kura-kura FTP1 (2x27,5 MW) dan PLTU Parit Bru FTP1 (2x50)
diharapkan beroperasi pada tahun 2013. PLTU batubara (ex Loan China 2x50
MW) di Parit Baru juga diharapkan beroperasi pada tahun 2014.
Untuk memenuhi kebutuhan demand jangka panjang di Kalbar, maka
direncanakan pembangunan PLTU Kalbar-1 sebesar 2x50 MW dan PLTU Kalbar-2
(2x50 MW). PLTU IPP Pontianak-2 diperkirakan akan mundur dalam waktu yang
lama, sedangkan PLTU IPP Pontianak 3 diharapkan dapat beroperasi pada tahun
2015.
Interkoneksi Kalbar - Sarawak
Tujuan dari interkoneksi Kalbar-Sarawak adalah untuk menurunkan BPP dengan
menggantikan pembangkit BBM, meningkatkan keandalan sistem Kalbar dan
mengantisipasi keterlambatan pembangunan proyek PLTU. Proyek ini diperkirakan
akan selesai pada tahun 2014. Pola operasi 5 tahun pertama adalah impor 50 MW
flat pada LWBP dan maksimum 180 MW (on top dari beban dasar) pada WBP.
Tidak ada ketentuan take or pay yang berbasis daya. Setelah 5 tahun akan
berubah menjadi power exchange.
Proyek-proyek strategis:
284

− Proyek PLTU Percepatan Tahap 1 (PLTU Parit Baru dan PLTU Pantai Kura-
Kura) merupakan proyek strategis karena selain proyek-proyek ini akan dapat
mengatasi defisit pasokan daya yang saat ini sudah terjadi, juga sekaligus
akan mengurangi pemakaian BBM dari pembangkit-pembangkit eksisting.
− PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) 2x50MW dan PLTU Pontianak-3
diharapkan dapat beroperasi tepat waktu karena diperlukan oleh sistem
Kalbar.
Neraca Daya sistem Kalbar diberikan pada Lampiran A2.2.
A2.3 Proyek-proyek IPP yg terkendala
Telah cukup jelas diuraikan pada Lampiran A2.3.
A2.4 Neraca Energi
Selaras dengan pertumbuhan demand yang harus dipenuhi dengan
pengembangan pembangkit, produksi energi per jenis energi primer di sistem
Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.4.
Rencana pembangunan beberapa PLTU di Kalbar merupakan salah satu usaha
mengurangi biaya operasi pembangkitan mengingat pembangkit di Kalbar 100%
berbahan bakar minyak, HSD dan MFO. Adanya sumber batubara di Kabupaten
Sintang juga membuka peluang pembangunan PLTU batubara di daerah tersebut.
Peranan masing-masing energi primer tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Peranan MFO yang pada tahun 2010 masih cukup tinggi di Kalbar. Produksi
dengan menggunakan BBM adalah sebesar 650 GWh dan produksi dengan
BBM dari pembangkit sewa sebesar 718 GWh (termasuk sistem isolated).
Pada tahun 2011 karena belum adanya pengoperasian pembangkit baru
berbahan bakar selain BBM, maka produksi dengan BBM untuk sistem
interkoneksi akan mencapa 1.121 GWh.
b. Sejalan dengan rencana pengoperasian PLTU, maka diharapkan
penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama pada sistem kelistrikan Kalbar
dapat dikurangi.
c. Peranan sumber energi lain selain BBM dan batubara juga direncanakan.
Sumber energi tersebut adalah Air. Potensi air di daerah Nanga Pinoh
memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber daya tersebut untuk
285
memenuhi kebutuhan listrik. PLTA Nanga Pinoh direncanakan dapat
beroperasi sebesar 98 MW pada tahun 2017/2018.
d. Peranan HSD hingga tahun 2020 tetap penting, mengingat beberapa sistem
kecil terisolasi dan tidak terhubung ke Grid sistem khatulistiwa masih
menggunakan PLTD sebagai pembangkit.
Kebutuhan Bahan Bakar

Kebutuhan bahan bakar HSD dan MFO cenderung menurun dari tahun 2011
hingga tahun 2020. Pada tahun 2011 penggunaan HSD dan MFO untuk sistem
interkoneksi sebesar 296 juta liter dan pada tahun 2020 sebesar 12 juta liter.
Volume pemakaian batubara meningkat dari 0,57 juta ton pada tahun 2013
menjadi 1,83 juta ton pada tahun 2020 atau meningkat hampir 4 kali lipat.
Kebutuhan bahan bakar di sistem Kalbar dari tahun 2011 sampai dengan tahun
2020 dapat dilihat pada Lampiran A2.4.
A2.5 Capacity Balance Gardu Induk
Capacity Balance dibuat berdasarkan prakiraan beban per GI sampai tahun 2020
dengan kriteria penambahan trafo GI dilakukan saat pembebanan trafo terpasang
sudah melebihi 70%. Dengan kriteria tersebut kebutuhan pembangunan GI baru
dan pengembangan trafo GI eksisting untuk sistem Kalimantan Barat sampai
dengan tahun 2020 sebesar 1.240 MVA.
Proyeksi kebutuhan pengembangan gardu induk sistem Kalbar seperti pada
Lampiran A2.5.
A2.6 Rencana Pengembangan Penyaluran
Kebutuhan pembangunan dan pengembangan jaringan transmisi untuk Kalbar
sampai dengan tahun 2020 adalah sepanjang 2.818 kms, meliputi,
– Pembangunan transmisi 150 kV baru terkait dengan proyek pembangkit
PLTU percepatan, PLTU IPP dan PLTA.
– Pengembangan transmisi 150 kV yang ada di lokasi tersebar di sistem
Kalbar dalam rangka memenuhi kriteria keandalan (N-1) dan untuk
mengatasi bottleneck penyaluran, perbaikan tegangan pelayanan dan
fleksibilitas operasi.
– Pembangunan transmisi 275 kV interkoneksi Kalbar - Sarawak untuk
mendapatkan benefit ekonomi dari energy exchange pada saat terjadi
286

perbedaan marginal cost antara kedua sistem. Interkoneksi ini juga
bermanfaat sebagai contingency apabila konstruksi pembangkit baru
terlambat.
Proyeksi kebutuhan pengembangan jaringan sistem Kalimantan Barat diberikan
pada Lampiran A2.6.
A2.7 Peta Pengembangan Penyaluran
Peta pengembangan penyaluran adalah seperti pada Lampiran A2.7.
A2.8 Analisis Aliran Daya
Analisa aliran daya pada sistem Khatulistiwa dilakukan dengan memperhatikan
seluruh pembangkit dan beban yang ada pada neraca daya. Pada RUPTL 2011-
2020 ini hanya dilakukan analisa untuk tahun 2012, 2015 dan 2019.
Prakiraan aliran daya sistem Khatulistiwa dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tahun 2012
Pada tahun 2012 belum ada tambahan pembangkit baru. Tegangan sistem
tertinggi di GI Singkawang (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang
(148,5 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih
memenuhi kriteria N-1.
Tambahan transmisi baru dari tahun 2011 s.d 2012 adalah transmisi 150 kV
Sambas–Singkawang, transmisi 150 kV Singkawang–Bengkayang dan
transmisi 150 kV Siantan–Tayan.
2. Tahun 2015
PLTU Pantai Kura-Kura (FTP1) 2x27,5 MW, PLTU Parit Baru (FTP1) 2x50
MW, PLTU Parit Baru – Loan China (FTP2) , PLTU Pontianak-3 50 MW
sudah beroperasi pada tahun 2013 s.d 2015. Sistem Kalbar juga telah
terinterkoneksi dengan sitem Sarawak. Tegangan sistem tertinggi di GI
PLTU Kura-Kura (150 kV) dan tegangan terendah di GI Sintang (142 kV).
Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV masih memenuhi kriteria
N-1.
Tambahan transmisi baru dari tahun 2013 s.d 2015 adalah transmisi 275 kV
Bengkayang – Border (Sarawak), transmisi 150 kV Bengkayang – Nabang –
Tayan – Sanggau – Sintang.
3. Tahun 2018
PLTU Kalbar-1 2x50 MW, PLTA Nanga Pinoh 89 MW beroperasi pada
tahun 2016-2018. Pola operasi interkoneksi dengan Sarawak masing tetap
sama, yaitu 50 MW di LWBP dan 120 MW di WBP. Tegangan sistem
287
tertinggi di GI PLTU Kura-Kura (153 kV) dan tegangan terendah di GI
Nanga Pinoh (143 kV). Pembebanan pada semua ruas transmisi 150 kV
masih memenuhi kriteria N-1.
Tambahan transmisi baru dari tahun 2016 s.d 2019 ada tiga ruas transmisi
yaitu SUTT 150 kV Tayan–Sandai, SUTT 150 kV Sandai–Sukadana, SUTT
150 kV Sukadana–Ketapang.
A2.9 Kebutuhan Fisik Pengembangan Distribusi
Kebutuhan pengembangan sistem distribusi diperlukan untuk,
• Meningkatkan keandalan dan mutu tegangan pelayanan
• Perbaikan SAIDI dan SAIFI
• Menurunkan susut teknis jaringan dan rehabilitasi jaringan yang tua
• Meningkatkan penjualan tenaga listrik dengan menambah pelanggan
Proyeksi kebutuhan fisik distribusi wilayah Kalimantan Barat seperti pada Lampiran
A2.9.
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 138 394 51 44,189
2012 120 343 53 40,543
2013 109 312 46 36,973
2014 115 329 43 38,980
2015 122 347 50 41,105
2016 138 394 53 46,655
2017 146 418 56 49,419
2018 155 442 59 52,353
2019 164 469 62 55,467
2020 174 497 66 58,773
J umlah 1,381 3,944 540 464,457
PROYEKSI KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
Provinsi Kalimantan Barat
Tahun Pel anggan


288

J uta USD
2011 10.2 7.5 4.9 2.6 25.2
2012 17.2 10.9 4.5 2.4 35.0
2013 18.4 11.8 4.2 2.3 36.7
2014 18.2 13.7 4.3 2.5 38.8
2015 10.3 7.6 5.5 2.8 26.3
2016 17.8 11.7 5.3 3.4 38.1
2017 19.2 12.9 5.8 3.7 41.7
2018 19.1 15.0 6.6 4.1 44.9
2019 11.3 9.1 7.6 4.6 32.7
2020 18.7 13.2 7.6 5.1 44.6
J umlah 160.7 113.4 56.3 33.6 364.0
PROYEKSI KEBUTUHAN INVESTASI DISTRIBUSI
Provinsi Kalimantan Barat
Tahun JTM JTR Trafo Pel anggan Total


Dari tabel perkiraan kebutuhan distribusi regional Kalimantan Barat tahun 2011-
2020 dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Selama kurun waktu tahun 2011-2020 direncanakan membangun J TM
1.381 kms, J TR 3.944 kms, kapasitas gardu distribusi 540 MVA untuk
menunjang penyambungan sejumlah 464 ribu pelanggan.
• Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang
pengembangan sistem distribusi tersebut membutuhkan biaya total sebesar
USD 364 juta (J TM USD 161 juta, J TR USD 113 juta, gardu distribusi USD
56 juta dan sambungan pelanggan USD 34 juta) dan diperkirakan setiap
tahunnya dibutuhkan anggaran sebesar USD 36 juta.
• Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi dari
58,3 % tahun 2010, menjadi 66,5 % di tahun 2014 untuk regional
Kalimantan Barat.
A2.10 Program Listrik Perdesaan

Perkiraan Kebutuhan Fisik Jaringan Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat
JTM JTR Listrik murah
kms kms MVA Unit dan Hemat (RTS)
2011 348,0 221,0 10,0 197
2012 182,5 167,6 2,3 62 5.725 875
2013 511,0 590,3 2,3 47 4.125
2014 468,0 645,0 2,4 47 4.525
Total 1.509,5            1.623,9         17,0         353             14.375            
Tahun
Trafo
Jml Pelanggan

289
Perkiraan Biaya Listrik Perdesaan Propinsi Kalimantan Barat  (juta Rp)
2011 82.108,8 54.416,8 7.966,8 22.500,0 166.992,4
2012 46.875,3 23.395,5 6.120,8 76.391,5
2013 159.909,4 91.808,3 7.099,4 258.817,0
2014 156.909,5 108.375,4 8.796,1 274.081,0
Total 445.802,9         277.996,0        29.983,1       22.500,0      ‐                 776.281,9        
Tahun JTM JTR Trafo Pembangkit Pelanggan Total

Dari tabel perkiraan kebutuhan fisik dan biaya listrik perdesaan regional
Kalimantan Barat tahun 2011-2014 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Selama kurun waktu tahun 2011-2014 direncanakan membangun J TM
1.510 kms, J TR 1.624 kms, Kapasitas gardu distribusi 17 MVA.
• Perkiraan biaya total selama kurun waktu tersebut, untuk menunjang
kegiatan listrik perdesaan tersebut sebesar Rp 776,3 milyar (dengan rincian
J TM Rp 445,8 milyar, J TR Rp 278,0 milyar, gardu distribusi Rp 30,0 milyar,
pembangkit dan sambungan pelanggan Rp 22,5 milyar).
A2.11 Program Energi Baru dan Terbarukan
Lihat Bab 4.11, halaman 96.
A2.12 Proyeksi Kebutuhan Investasi
Proyeksi kebutuhan Investasi pembangkit, transmisi dan gardu induk sistem
Kalimantan Barat diberikan pada Lampiran A2.12.
290




RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN

PER PROVINSI

WILAYAH OPERASI INDONESIA BARAT











291

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PER PROVINSI WILAYAH
OPERASI INDONESIA BARAT

A3. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
A4. PROVINSI SUMATERA UTARA
A5. PROVINSI RIAU
A6. PROVINSI KEPULAUAN RIAU
A7. PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
A8. PROVINSI SUMATERA BARAT
A9. PROVINSI JAMBI
A10. PROVINSI SUMATERA SELATAN
A11. PROVINSI BENGKULU
A12. PROVINSI LAMPUNG
A13. PROVINSI KALIMANTAN BARAT








292


LAMPIRAN A.3
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM


A3.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI
Sistem kelistrikan di Aceh terdiri dari sistem interkoneksi 150 kV Sumut-Aceh dan
sub-sistem isolated dengan tegangan distribusi 20 kV. Sekitar 71% dari sistem
kelistrikan Aceh dipasok oleh sistem interkoneksi 150 kV Sumbagut dan sisanya 29%
dilayani oleh pembangkit PLTD isolated tersebar. Saat ini daerah yang sudah dipasok
sistem interkoneksi 150 kV meliputi pantai timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
melalui 7 gardu induk yang terletak di Kabupaten/Kota: Tamiang, Langsa, Aceh Timur,
Lhokseumawe, Bireuen, Pidie dan Pidie J aya, Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan
posisi pembangkit semua berada di Sumut. Peta sistem kelistrikan Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam ditunjukkan pada Gambar A3.1.
Seluruh wilayah pantai barat dan tengah Aceh serta kepulauannya masih dipasok
oleh PLTD berbahan bakar HSD dengan sistem kelistrikan 20 kV.

Gambar A3.1 Peta Sistem Kelistrikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
293

Daerah yang dilayani dari sistem interkoneksi masih dalam kondisi rawan
pemadaman karena jumlah kapasitas pembangkit yang masuk grid tidak mempunyai
cadangan daya yang cukup. Pemadaman dalam skala besar bisa terjadi apabila ada
gangguan pada jaringan transmisi atau ganggguan (atau pemeliharaan) pada unit
pembangkit berkapasitas besar. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan sewa
genset sebesar 150 MW di 4 lokasi.
Pada sistem isolated 20 kV yang meliputi Kabupaten Aceh J aya, Aceh Barat, Nagan
Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Aceh
Tenggara, Gayo Lues, Kota Sabang dan Simeulu terdapat genset sewa dengan
kapasitas total 53 MW untuk mengatasi defisit pada sistem isolated tersebut.
Kapasitas terpasang ketujuh GI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah 390
MVA. Rincian kapasitas GI dan pembangkit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
masing-masing seperti ditunjukkan pada Tabel A3.1 dan Tabel A3.2.
Tabel A3.1 Kapasitas Gardu Induk Eksisting per 2010
Nama Peak Load
Gardu Induk #1 #2 #3 (MW)
1 Banda Aceh 85,9
a. Lambaro 30 30 60
2 Sigli 28,4
a. Tijue 30 10 20
3 Lhokseumawe 81,2
a. Bayu 30 30
b. J uli Bireun 30 30
4 Langsa 44,2
a. Alur Dua 30
b. Tualang Cut 10 10 10
c. Alur Bate, Idi 30
239,7
Kapasitas Trafo (MVA)
390
Keterangan No
J umlah
KIT-PLTD // 20 KV=57.9 MW
KIT-PLTD // 20 KV=20 MW
KIT-PLTD // 20 KV=70 MW
KIT-PLTD // 20 KV=15 MW







294

Tabel A3.2. Kapasitas Pembangkit Eksisting per 2010
No Nama Pembangkit J enis
Bahan
Bakar
Pemilik
Daya
Mampu
(MW)
Beban
Puncak
(MW)
A Sistem Interkoneksi 150 KV
1 Banda Aceh PLTD HSD PLN 22 86
Genset Sewa Swasta 45
2 Lhokseumawe PLTD HSD PLN
14 81
Genset Sewa Swasta
70
3 Sigli PLTD HSD PLN
8 28
Genset Sewa Swasta
20
4 Langsa PLTD HSD PLN
0 44
Genset Sewa Swasta
15
Total A
194 240
B Sistem Isolated
1 Takengon PLTD HSD PLN 13 13
2 Sabang PLTD HSD PLN 7 4
3 Kutacane PLTD, PLTM HSD, Air PLN 14 9
4 Blangkejeren PLTD HSD PLN 5 3
5 Meulaboh PLTD HSD PLN 46 23
6 Calang PLTD HSD PLN 6 5
6 Sinabang PLTD HSD PLN 7 4
7 Blang Pidie PLTD HSD PLN 16 9
8 Tapaktuan PLTD HSD PLN 7 4
9 Subulussalam PLTD HSD PLN 19 12
10 Isolated Kepulauan PLTD HSD PLN 2 1
Total B 282 172

Beban puncak sistem kelistrikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang telah
mencapai sekitar 325 MW sebagian besar dipasok dari pembangkit-pembangkit yang
berada di provinsi Sumut melalui transmisi 150 kV Pangkalan Brandan – Langsa –
Idie – hingga ke Banda Aceh dengan transfer daya rata-rata 230 MW dan sistem
isolated tersebar rata-rata 85 MW.
Biaya Pokok Penyediaan listrik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih tinggi,
yaitu Rp 2.238/kWh karena masih dioperasikannya banyak PLTD, baik di sistem
interkoneksi maupun sistem isolated.

295

A3.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI PROVINSI NANGGROE
ACEH DARUSSALAM
Pertumbuhan ekonomi daerah Aceh terus meningkat dalam kurun waktu 5 tahun
terakhir. Hal tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi
pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi Aceh-
Nias pada tahun 2006 s/d 2010. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah
penandatanganan MOU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal
penting dalam pemulihan ekonomi Aceh. Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan
ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik.
Penjualan pada tahun 2010 tumbuh hinggga 16,9% dan tahun 2011 diperkirakan
akan tumbuh sekitar 13,8%. Selain itu beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari
272 MW pada tahun 2009 menjadi 299 MW pada tahun 2010.
Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 16,4%
per tahun, dimana penjualan pada tahun 2006 sebesar 839 GWh telah meningkat
menjadi 1.492 GWh pada tahun 2010.
Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 961 GWh (64%),
kemudian sektor bisnis sebesar 268 GWh (18%) seperti ditunjukkan pada Tabel A3.3.
Tabel A3.3. Komposisi Penjualan per Sektor Pelanggan pada Tahun 2010
No
Kelompok
Tarif
Energi J ual
(GWh)
Porsi
(%)
1 Rumah Tangga 960,7 64,4
2 Komersil 267,6 17,9
3 Publik 219,5 14,7
4 Industri 44,1 3,0
J umlah 1.491,9 100,0

Dari realisasi pengusahaan lima tahun sebelumnya dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio
elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 diberikan
pada Tabel A3.4.





296




Tabel A3.4. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 1.698 1.855 308 1.029.254
2012 1.936 2.111 349 1.068.448
2013 2.206 2.402 394 1.108.619
2014 2.508 2.727 444 1.149.798
2015 2.842 3.084 499 1.184.089
2016 3.208 3.476 559 1.214.687
2017 3.609 3.904 623 1.246.105
2018 4.044 4.368 692 1.279.552
2019 4.515 4.869 766 1.313.920
2020 5.024 5.409 845 1.349.252
Growth 12,9% 11,7% 11,0% 3,2%


A3.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan
pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi dengan memperhatikan
potensi energi primer setempat sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersedia cukup besar,
yaitu panas bumi 589 MW, tenaga air 1.482 MW dan cadangan batubara 1,7 miliar
ton. Peta potensi sumber energi diperlihatkan pada Gambar A3.2. Disamping itu di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam juga terdapat cadangan gas, namun sudah
dieksploitasi dan saat ini sudah jauh berkurang.
297


Gambar A3.2. Peta Sumber Energi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Pengembangan Pembangkit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sampai tahun 2020 diperlukan
pembangunan pusat pembangkit dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kV Sumatera dengan daya sebesar 1.102
MW dan pada sistem isolated dengan daya sebesar 65 MW dengan rincian diberikan
pada Tabel A3.5.






298

Tabel A3.5. Rencana Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Meulaboh #1,2 (FTP1) PLTU PLN 220 2012
2 Tapaktuan PLTU PLN 14 2012
3 Aceh PLTG Swasta 66 2012-13
4 Aie Tajun / Sinabang PLTGB PLN 6 2013
5 Lhokseumawe PLTG PLN 120 2013
6 Sabang (FTP2) PLTGB PLN 8 2013
7 Singkil PLTGB PLN 8 2013
8 Meulaboh PLTM Swasta 10 2013
9 Takengon PLTM Swasta 1.5 2013
10 Aceh Timur PLTG PLN 70 2014
11 Meulaboh #3,4 PLTU PLN 400 2015-16
12 Peusangan 1-2 PLTA PLN 88 2016
13 Lho Pria Laot PLTP Swasta 7 2017
14 Seulawah (FTP2) PLTP Swasta 55 2017
15 Peusangan-4 PLTA Swasta 83 2018
16 J aboi (FTP2) PLTP Swasta 10 2019
J umlah 1167

Pembangunan PLTP Seulawah 55 MW saat ini sedang dalam proses pelelangan
WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) oleh Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan WKP PLTP J aboi di Sabang 10 MW sudah dilelang oleh Pemko
Sabang.
Mengingat daya pembangkit pada sistem interkoneksi Sumut – Aceh belum
seimbang dengan demand yang ada, maka beroperasinya PLTA Peusangan 88 MW,
PLTG Lhokseumawe 120 MW, PLTU Meulaboh/Nagan Raya 200 MW, dan PLTP
Seulawah Agam 55 MW sangat penting untuk memperbaiki sistem kelistrikan Aceh.
Untuk mengatasi defisit kelistrikan saat ini, sampai dengan beroperasinya PLTU
Nagan 2x100 MW telah dilakukan tambahan sewa pembangkit diesel pada sejumlah
subsistem 150 KV dan Isolated 20 KV, sebagai berikut: Banda Aceh 45 MW, Sigli 20
MW, Lhokseumawe 70 MW, Langsa 15 MW, Calang 4 MW, Sabang 2 MW, Meulaboh
15 MW, Kuta Fajar 2,5 MW, Kutacane 6 MW, Blang Keujeuren 2 MW, Takengon 4
MW, Rimo 7 MW, Blang Pidie 4 MW dan Sinabang 3 MW.
Untuk penyediaan listrik jangka panjang dan sekaligus memperbaiki biaya pokok
penyediaan listrik di sistem kecil isolated akan dibangun PLTU skala kecil di Tapak
Tuan 2x7 MW, PLTGB di Sinabang 6 MW, Singkil 8 MW, dan Sabang 8 MW.

299

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan Gardu Induk
P Pe em mb ba an ng gu un na an n GI baru untuk mengevakuasi energi listrik dari pembangkit skala besar
dan dari hasil perkiraan pertumbuhan dan capacity balance per gardu induk, maka
kebutuhan penambahan kapasitas trafo GI di PLN Wilayah Aceh tahun 2011 s/d 2020
untuk pembangunan GI baru adalah sebesar 690 MVA dan extension GI sebesar 660
MVA. Disamping itu juga akan dibangun GI 275 kV di Aceh dengan total kapasitas
1.250 MVA sampai dengan tahun 2020.
Tabel A3.6. Pengembangan GI Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 J antho 150/20 kV 30 2012
2 Meulaboh 150/20 kV 60 2012
3 Panton Labu 150/20 kV 30 2012
4 Blang Pidie 150/20 kV 30 2013
5 Kutacane 150/20 kV 30 2013
6 Sabulussalam 150/20 kV 30 2013
7 Takengon 150/20 kV 60 2013
8 Tapak Tuan 150/20 kV 30 2013
9 Blang Kjeren 150/20 kV 30 2014
10 Krueng Raya 150/20 kV 60 2014
11 Samalanga 150/20 kV 30 2014
12 Ulee Kareng 150/20 kV 120 2014
13 Cot Trueng 150/20 kV 30 2015
14 Lam Pisang 150/20 kV 120 2018
J umlah 690










300

Tabel A3.7. Pengembangan Extension GI Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Banda Aceh 150/20 kV 60 2011
2 Sigli 150/20 kV 30 2011
3 Lhokseumawe 150/20 kV 60 2013
4 Langsa 150/20 kV 30 2014
5 Tualang Cut 150/20 kV 30 2014
6 Banda Aceh 150/20 kV 60 2015
7 Idi 150/20 kV 30 2015
8 Sigli 150/20 kV 60 2015
9 Bireuen 150/20 kV 30 2016
10 J antho 150/20 kV 30 2016
11 Meulaboh 150/20 kV 30 2017
12 Tualang Cut 150/20 kV 30 2018
13 Cot Trueng 150/20 kV 30 2019
14 Panton Labu 150/20 kV 30 2019
15 Samalanga 150/20 kV 30 2019
16 Bireun 150/20 kV 30 2020
17 Subulussalam 150/20 kV 30 2020
18 Tualang Cut 150/20 kV 30 2020
J umlah 660

Tabel A3.8. Pengembangan GI 275 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Baru/
Extension
Kapasitas
(MVA)
Biaya
(juta US$)
COD
1
Lhokseumawe 275/150 kV Baru 250 20.08 2015
2
PLTU Meulaboh 275/150 kV Baru 250 20.08 2015
3
Sigli 275/150 kV Baru 250 25.98 2015
4
Ulee Kareng 275/150 kV Baru 500 21.03 2018
J umlah 1250 87.2

Pengembangan Transmisi
Rencana pembangunan transmisi sampai dengan tahun 2020 adalah 1.645 kms
(150 kV) dan 452 kms (275 kV) dengan kebutuhan dana sekitar US$ 263,2 juta seperti
yang ditampilkan dalam Tabel A3.9 dan Tabel A3.10.




301

Tabel A3.9. Pembangunan Transmisi 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 J antho Inc. (Sigli-Banda Aceh) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 1 0.1 2012
2 Meulaboh PLTU Meulaboh 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.3 2012
3 Panton Labu Inc. (Idi-Lhokseumawe) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 0.1 2012
4 Sigli PLTU Meulaboh 150 kV 2 cct, 2 Zebra 333 75.0 2012
5 Bireun Takengon 150 kV 2 cct, 2 Hawk 126 9.6 2013
6 Blang Pidie Tapak Tuan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 7.2 2013
7 Brastagi/Berastagi Kutacane 150 kV 2 cct, 1 Hawk 290 16.1 2013
8 PLTU Meulaboh Blang Pidie 150 kV 2 cct, 1 Hawk 190 10.5 2013
9 Sidikalang Sabulussalam 150 kV 2 cct, 1 Hawk 111.2 6.2 2013
10 Krueng Raya Ulee Kareng 150 kV 2 cct, 2 Hawk 60 4.6 2014
11 Samalanga Inc. (Bireun-Sigli) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 4 0.2 2014
12 Takengon Blang Kjeren 150 kV 2 cct, 1 Hawk 174 9.6 2014
13 Ulee Kareng Banda Aceh 150 kV 2 cct, 2 Zebra 40 9.0 2014
14 Cot Trueng Inc. (Bireun-Lhokseumawe) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 6 0.3 2015
15 PLTA Peusangan-1 PLTA Peusangan-2 150 kV 2 cct, 2 Hawk 14 1.1 2016
16 PLTA Peusangan-2 Takengon 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.7 2016
17 PLTP Seulawah 2 Pi Inc. (Sigli-Banda Aceh) 150 kV 4 cct, 1 Hawk 32 3.5 2017
18 Banda Aceh Lam Pisang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 30 2.3 2018
19 Takengon PLTA Peusangan-4 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.1 2018
J umlah 1645 161.5
Konduktor

Tabel A3.10. Pembangunan Transmisi 275 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Sigli Lhokseumawe 275 kV 2 cct, 2 Zebra 322 72.5 2015
2 Sigli Ulee Kareng 275 kV 2 cct, 2 Zebra 130 29.3 2018
J umlah 452 101.7
Konduktor

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tersebut di point 2.2 di atas, diperlukan tambahan
pelanggan baru 362 ribu pelanggan atau rata-rata 36.200 pelanggan setiap tahunnya.
Selaras dengan penambahan pelanggan, diperlukan pembangunan J TM 11.979 kms,
J TR sekitar 13.558 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 720.3 MVA,
seperti ditampilkan dalam Tabel A3.11.







302

Tabel A3.11. Rincian Pengembangan Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 878 994 53 42.227
2012 937 1.061 56 39.193
2013 1.000 1.132 60 40.171
2014 1.068 1.208 64 41.179
2015 1.140 1.290 69 34.291
2016 1.216 1.377 73 30.598
2017 1.298 1.469 78 31.418
2018 1.385 1.568 83 33.447
2019 1.478 1.673 89 34.369
2020 1.578 1.786 95 35.332
J umlah 11.979 13.558 720 362.225
Tahun Pel anggan


A3.4. PENGEMBANGAN PULAU WEH – SABANG
Sabang merupakan merupakan kawasan istimewa karena berada pada jalur lalu
lintas pelayaran dan penerbangan internasional, sehingga menjadi salah satu pintu
gerbang kegiatan ekonomi Indonesia. Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam telah
menetapkannya sebagai kawasan industri yang akan menjadi pusat kemajuan
ekonomi Aceh. Untuk memajukan Sabang, telah dibentuk BPKS (Badan
Pengusahaan Kawasan Sabang) dengan harapan dapat menjadi fasilitator dalam
pengembangan ekonomi baik skala provinsi, nasional, regional dan international.
Disamping itu pulau yang eksotis ini juga akan dikembangkan menjadi kawasan
wisata bahari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Untuk mempercepat pengembangan Sabang, penyediaan tenaga yang memadai dan
handal sangatlah diperlukan. Sistem kelistrikan saat ini dipasok dari PLTD dan
genset sewa dengan daya mampu 4,2 MW dan beban puncak 2,8 MW.
Potensi energi panas bumi di Sabang diperkirakan sebesar 70 MW, namun yang
akan dikembangkan oleh Pemko Sabang saat ini sebesar 2 x 5 MW yang diharapkan
dapat beroperasi pada tahun 2013 dan 2017. Dalam rangka mendukung
pengembangan kawasan Sabang oleh Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam, PLN
mendorong pembangunan PLTP J aboi 7 MW oleh IPP dan siap untuk membeli
dengan harga yang wajar. Disamping itu untuk menjaga kemungkinan kemunduran
beroperasinya PLTP J aboi, PLN juga akan PLTGB 8 MW pada tahun 2013.

303

A3.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam
Tabel A3.12.
Tabel A3.12. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 1,698 1,855 308 0 90 0 46
2012 1,936 2,111 349 278 120 396 494
2013 2,206 2,402 394 176 240 847 240
2014 2,508 2,727 444 70 300 278 127
2015 2,842 3,084 499 200 930 328 462
2016 3,208 3,476 559 288 60 36 455
2017 3,609 3,904 623 62 30 32 217
2018 4,044 4,368 692 83 650 180 251
2019 4,515 4,869 766 10 90 0 101
2020 5,024 5,409 845 0 90 0 78
J umlah 31,591 34,205 5,478 1,167 2,600 2,097 2,472

304


LAMPIRAN A.4
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA UTARA

A4.1. KONDISI SAAT INI
Sistem kelistrikan di Provinsi Sumatera Utara dipasok dengan menggunakan sistem
transmisi 150 kV (tidak termasuk Pulau Nias / Gunung Sitoli, Teluk Dalam, Pulau
Tello dan Pulau Sembilan yang beroperasi secara isolated). Saat ini beban puncak
sekitar 1.339 MW dan dipasok oleh Sektor Pembangkitan Belawan, Sektor
Pembangkitan Medan, Sektor Pembangkitan Pandan dan Sektor Pembangkitan
Labuhan Angin. Pada saat ini PLN juga melakukan swap energi dengan PT Inalum
untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan beban puncak.
Disamping pusat-pusat pembangkit di atas, ada beberapa PLTMH yang memasok
listrik langsung ke sistem distribusi (20 kV) dan IPP PLTP Sibayak sebesar 10 MW.
Sehubungan dengan kurangnya pasokan listrik di Sumatera Utara sebagai akibat dari
tidak seimbangnya penambahan pembangkit dan pertumbuhan beban, maka pada
saat beban puncak diberlakukan pemadaman bergilir. Untuk menanggulangi
pemadaman yang berkepanjangan, PLN Wilayah Sumatera Utara melakukan
demand side management dengan cara mengurangi laju pertumbuhan beban, yaitu
membuat kuota (pembatasan) jumlah sambungan baru.
J umlah GI di Sumatera Utara adalah 32 buah dengan kapasitas trafo 2.146 MVA.
Peta kelistrikan sistem Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar A4.1.

305

Porsea
Tarutung
Sibolga
Padang
Sidempuan
Kisaran
Kualatanjung
Gunung
Tua
Tebing
Tinggi
Sidikalang
Renun
Tele
Labuhan
Angin
Brastagi
Perbaungan
ke
GI Langsa
(NAD)
ke
GI Bagan Batu
(Riau)
1
8
3
4
7
9
10
11
12 14 16
Binjai Sei Rotan
Perbaungan
T.Morawa
Denai
Namurambe
Paya Geli
Glugur
Mabar
Galang
GIS Listrik
Sarulla
Asahan I
G.Para
Pematang
Siantar
ke
GI Payakumbuh
(Sumatera Barat)
PLTGU Belawan
395,3 MW &422,5 MW
PLTU Belawan
4 x 65 MW
PLTG Glugur
19,85 MW &12,85 MW
PLTG Paya Pasir
90 MW (Total)
PLTD Titi Kuning
6 x 4,14 MW
Titi
Kuning
PLTA Renun
2 x 41 MW
PLTA Sipan
17 MW &33 MW
PLTA Asahan I
180 MW ‐ 2010
Labuhan
Kuala Namu
Lamhotma
Binjai
15
2
Rantau
Prapat
Belawan
Simangkok
ACSR 2 x 430 mm
2
97 km - 2013
ACSR 2 x 430 mm
2
159 km - 2013
ACSR 1 x 240 mm
2
55,6 km- 2013
Panyabungan
Dolok Sanggul/
Parlilitan
PLTMH tersebar
Parlilitan (3x2,5), Hutaraja(2x2,5),
Pakkat(2x5), TaraBintang(2x5),
Simonggo(3x3), Rahu‐1(2x4),
Rahu‐2(2x2,5)
ACSR 2 x 240mm
2
11 km- 2016
ACSR 2 x 430 mm
2
300 km - 2014
PLTP Sarulla 1 (FTP2)
330 MW – 2014/2015
PLTP Sarulla 2 (FTP2)
110 MW – 2017
ACSR 2 x 430 mm
2
40 km ‐ 2012 ACSR 2 x 430 mm
2
10 km ‐ 2012
PLTU P.Susu #1,2 (FTP1)
2 x 220 MW – 2012/2013
PLTU P. Susu #3,4
2 x 200 MW – 2015
ACSR 2 x 430 mm
2
69 km - 2013
D
U
P
D
A
U
P
A
A
P. Brandan
ACSR 2 x 240 mm
2
17 km – 2013
ACSR 1 x 240 mm
2
15 km ‐ 2013
Kota
Pinang
U
Aek
Kanopan
to
GI Sabussalam
(NAD)
ACSR 1 x 240 mm
2
178 km- 2013
to
GI Kutacane
(NAD)
PLTU Labuhan Angin
2 x 115 MW
PLTP Sibayak
10 MW
P
A
C
S
R
1
x
2
4
0
m
m
2
2
3
k
m
-
2
0
1
7
PLTP Sorik Merapi
(FTP2) 240 MW – 2018
P
PLTP Simbolon Samosir
2 x 55 MW– 2019
ACSR 1x 240mm
2
25km- 2018
6
5
T. Pura
A
Paya Pasir
G
Galang
ACSR 2 x 240 mm2
6,2 km ‐ 2012
13
11
ACSR 2 x 430 mm2
80 km - 2011
GU
ACSR 1 x 240 mm
2
70 km– 2013
A
PLTA Wampu
45 MW – 2014
ACSR 1 x 240 mm
2
40 km ‐ 2014
ACSR 2 x 430 mm
2
11 km ‐ 2013
ACSR 2 x 430 mm
2
80 km - 2013
A
PLTA Hasang
40 MW ‐ 2017
ACSR 1 x 240mm
2
30km- 2017
Pangururan
ACSR 1 x 240mm
2
13km- 2013
ACSR 1 x240 mm2
7 km- 2013
ACSR 4 x 282 mm
2
200 km - 2020
Labuhan
Bilik
ACSR 1x 240 mm
2
65km– 2012
PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA
PETA J ARINGAN
PROPINSI SUMATERA UTARA
PERENCANAAN SISTEM
BIDANG PERENCANAAN
PLTD
PLTGU
PLTU
PLTG PLTA
Kit Eksisting
Kit Rencana
Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
PLTP
Edit
September 2011
D
A
P
U
G
GU
GI Eksisting
GI Rencana
GI 275/150
kV Renc
Rencana 500 kV
Rencana 275 kV HVDC
Rencana 500 kV HVDC
Salak
ACSR 1 x 240mm
2
30 km- 2013
Negeri
Dolok
ACSR 1 x 240mm
2
33km- 2013 A
PLTM Tersebar
Karai‐1(2x5)
Karai‐7(2x3,2)
Karai‐12(2x3,7)
Karai‐13(2x4,2)
A
PLTMH tersebar
Lae‐Ordi‐1(2x2,5),Lae‐Ordi‐
2(2x5),Lae‐Kombih2(2x4) 2 A
G PLTG BELAWAN
400 MW – 2013
CU 1000
10 km ‐ 2015
KIM
G
U PLTU Sewa
Kuala Tanjung
3x120 MW – 2013
A
PLTA Simonggo – 2
86 MW– 2017
ACSR 2x 240mm
2
15km- 2013
Asahan III
PLTA Asahan III (FTP2)
174 MW ‐ 2016
P
PLTP Sipoholon
Ria-Ria
55 MW – 2019
ACSR 1x 240 mm2
2 km- 2019

Gambar A4.1. Peta Kelistrikan Sumatera Utara
Penjualan tenaga listrik PLN di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan
yang sejalan dengan pertumbuhan ekonominya. Namun pasokan tenaga listrik
(pembangkitan) mengalami penurunan daya mampu (derating capacity) karena umur
pembangkit yang semakin tua dan penambahan kapasitas pembangkit baru yang
relatif kecil. Secara lebih rinci, kapasitas pembangkit dapat dilihat pada Tabel A4.1.












306

Tabel A4.1. Kapasitas Pembangkit Sistem Interkoneksi per 2010
A Sektor Pembangkitan Belawan 1.183 1.033
1 PLTU Belawan 1,2 1984 130 90
PLTU Belawan 3,4 1989 130 105
2 PLTGU Belawan GT 1.1 1993 118 105
PLTGU Belawan GT 1.2 1988 129 115
PLTGU Belawan ST 1.0 1995 149 120
PLTGU Belawan GT 2.1 1995 130 130
PLTGU Belawan GT 2.2 1994 130 130
PLTGU Belawan ST 2.0 1994 163 133
3 PLTG Belawan TTF - - 105 105
B Sektor Pembangkitan Medan 300 213
1 PLTG Glugur 1 1975 20 0
PLTG Glugur 2 1967 13 0
PLTG Glugur TTF 3 2008 12 11
2 PLTG Paya Pasir 1,2 1976 29 0
PLTG Paya Pasir 3,4 1978 40 33
PLTG Paya Pasir 5 1983 21 17
PLTG Paya Pasir TTF 6 2008 22 18
PLTG Paya Pasir TTF 7 - 34 34
3 PLTD Titi Kuning 1-6 1976 25 18
4 PLTD Sewa Paya Pasir (Arti Duta) - 2008 20 18
5 PLTD Sewa Belawan (AKE) - 2008 65 65
C Sektor Pembangkitan Pandan 139,5 136,3
1 PLTMH Batang Gadis 1,2 1994 0,9 0,8
2 PLTMH Tonduhan 1,2 1987/88 0,4 0,4
3 PLTMH Kombih I 1,2 1987/88 1,5 1,2
4 PLTMH Kombih II 1,2 1987/88 1,5 1,1
5 PLTMH Boho 1 1989 0,2 0,2
6 PLTMH Aek Raisan 1,2 1987/89 1,5 1,3
7 PLTMH Aek Silang 1 1988 0,8 0,7
8 PLTMH Aek Sibundong 1 1987 0,8 0,7
9 PLTA Sipansihaporas 1,2 2003/04 50,0 50,0
10 PLTA Lau Renun 1,2 2005/06 82,0 80,0
D Sektor Pembangkitan Labuhan Angin 230 210
1 PLTU Labuhan Angin 1,2 2008 230 210
E IPP 206 205
1 PLTP Sibayak - 2008 11 10
2 PLTA Asahan I 1,2 2010 180 180
3 PLTMH Parlilitan - 2010 8 8
4 PLTMH Silau II - 2010 8 8
F Excess Power 25 25
1 PT Growt Sum.#1 - 2009 6 6
2 PT Growt Sum.#2 - 2010 9 9
3 PT Growt Asia - 2011 10 10
T O T A L 2.084 1.822
Kapasitas
Terpasang
(MW)
Daya
Mampu
(MW)
No. Pembangkit Unit
Tahun
Operasi

307

Sedangkan kapasitas pembangkit PLTD isolated yang beroperasi di Gunung
Sitoli,Teluk Dalam (Pulau Nias), Pulau Sembilan (Kabupaten Langkat) dan Pulau
Tello (Kabupaten Nias Selatan) ditunjukkan pada Tabel A4.2.
Tabel A4.2. Pembangkit Sistem Isolated per 2010
Terpasang Mampu
(kW) (kW)
1
- PLTD PLN 12.178 4.650
5.920 4.700
- PLTD Sewa 6.500 4.650
24.598 14.000
2
- PLTD PLN 3.380 1.850
5.225 4.070
8.605 5.920
3
- PLTD PLN 700 400
700 400
33.903 20.320
Daya
- PLTD Sewa
Lokasi PLTD
Total PLTD Teluk Dalam
Pulau Tello
Total PLTD Pulau Tello
Total PLTD Cabang Nias
No
Gunung Sitoli
- PLTD Sewa
Total PLTD Gunung Sitoli
Teluk Dalam

Kota Medan merupakan pusat beban terbesar di Sumatera Utara (hampir 60% dari
seluruh demand di provinsi ini) dengan tingkat pertumbuhan beban yang tinggi.
Dengan adanya pembangunan KIM 3 (Kawasan Industri Medan tahap tiga)
diperlukan penambahan GI baru untuk mengurangi beban lebih pada beberapa GI,
misalnya GI Titi Kuning, GIS Listrik dan GI KIM.
Di Sumatera Utara masih terdapat beberapa daerah pelayanan listrik yang
tegangannya terlalu rendah akibat dipasok oleh jaringan yang terlalu panjang (sampai
200 km dari gardu induk). Situasi ini telah diketahui oleh PLN dan direncanakan
penanggulangannya dalam RUPTL ini.

A4.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Dari penjualan tenaga listrik PLN pada lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020
diberikan pada Tabel A4.3.



308

Tabel A4.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 7.257 7.998 1.363 2.676.942
2012 7.921 8.721 1.484 2.797.208
2013 8.642 9.487 1.612 2.915.928
2014 9.421 10.320 1.750 3.032.281
2015 10.258 11.212 1.899 3.134.869
2016 11.210 12.226 2.068 3.248.825
2017 12.250 13.331 2.251 3.367.041
2018 13.388 14.537 2.451 3.489.681
2019 14.631 15.853 2.669 3.616.919
2020 15.991 17.289 2.907 3.748.935
Growth 9,2% 8,8% 8,9% 3,9%


A4.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi, GI dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Sumatera Utara untuk membangkitkan energi listrik
cukup besar dalam bentuk tenaga air dan panas bumi. Namun provinsi ini tidak
mempunyai potensi batubara sedangkan sumber gas alam telah mengalami
penurunan.Potensi tenaga air dapat dilihat pada Tabel A4.4 dan Tabel A4.5.
Tabel A4.4. Daftar Potensi PLTA > 10 MW
No Nama
Perkiraan
COD
Pengembang
Kapasitas
(MW)
1 Asahan 3 2015 PLN 174
2 Wampu 2016 IPP 84
3 Asahan 4-5 2017 PLN 60
4 Simanggo-2 2018 PLN 59
5 Bila-2 2019 PLN 42
6 Kumbih-3 2019 PLN 42
7 Sibundong-4 2019 PLN 32
8 Lake Toba 2020 PLN 400
9 Ordi-3 2020 PLN 18
10 Ordi-5 2020 PLN 27
11 Raisan-1 2020 PLN 26
12 Siria 2020 PLN 17
13 Toru-2 (Tapanuli Utara) 2020 PLN 34
14 Toru-3 (Tapanuli Utara) 2026 PLN 228

309

Pada saat ini terdapat sebuah proposal proyek IPP unsolicited PLTA Batang Toru
500 MW yang berlokasi di Tapanuli Selatan. Saat ini perusahaan yang mengajukan
proposal proyek sedang melakukan pra studi kelayakan (Pre-FS). Apabila proyek
tersebut layak secara teknis, keekonomian dan sesuai dengan kebutuhan sistem
kelistrikan Sumatera, maka proposal proyek IPP unsolicited tersebut akan diproses
lebih lanjut.
Tabel A4.5. Daftar Potensi PLTM < 10 MW
NO NAMA PEMBANGKIT
DAYA
(MW)
LOKASI COD

NO NAMA PEMBANGKIT
DAYA
(MW)
LOKASI COD
I IPP 20 Sidikalang 1 8,6 Dairi 2014
1 Parluasan 4,2 Tobasa 2012 21 Sidikalang 2 7,4 Dairi 2014
2 Huta Raja 5,0 Humbahas 2012 22 Simbelin 1 6,0 Dairi 2014
3 Pakkat 1 10,0 Humbahas 2012 23 Simonggo 7,0 Humbahas 2015
4 Lau Gunung 10,0 Dairi 2013 24 Sei Wampu 2 9,0 Langkat 2015
5 Lae Ordi 10,0 Pakpak Barat 2013 25 Lae Kombih 4 10,0 Pakpak Barat 2015
6 Lae Kombih 3 8,0 Pakpak Barat 2013 26 Aek Sisiran 7,0 Humbahas 2015
7 Batang Toru 7,5 Taput 2013 27 Aek Rambe 3,0 Humbahas 2015
8 Karai 1 10,0 Simalungun 2013 28 Batang Toru 3 10,0 Taput 2015
9 Karai 7 6,7 Simalungun 2013 29 Batang Toru 4 10,0 Taput 2015
10 Karai 12 6,0 Simalungun 2013 Total IPP 78,0
11 Karai 13 8,3 Simalungun 2013 II EXCESS POWER
12 Lae Ordi 2 10,0 Pakpak Barat 2013 1 PT.Evergreen Paper Int 2,0 Deli Serdang 2012
13 Tara Bintang 10,0 Humbahas 2013 2 PTPN III Sei Mangkei 3,5 Simalungun 2012
14 Raisan Huta Dolok 7,0 Tapteng 2014 3 PT Nubika J aya 15,0 Labuhan Batu 2012
15 Raisan Naga Timbul 7,0 Tapteng 2014 4 PT Victorindo Alam Lestari 8,0 Padang Lawas 2012
16 Sei Wampu 1 9,0 Langkat 2014 5 PLTU Nias 31,0 Gunung Sitoli 2014
17 Rahu 1 9,2 Humbahas 2014 Total Excess Power 59,5
18 Rahu 2 5,0 Humbahas 2014 Total 137,5
19 Sidikalang 1 8,6 Dairi 2014

Berdasarkan Master Plan Study for Power Development in the Republic of Indonesia
oleh WestJ EC/Direktorat J endral Minerbapabum tahun 2007, potensi panas bumi yang
terdapat di Provinsi Sumatera Utara adalah seperti ditunjukkan pada Tabel A4.6.
Tabel A4.6 Daftar Potensi Panas Bumi
Taman Nasional Demand
(MW) (MW)
Sarulla & Sibual Buali Existing / Expansion 660 630 630
Sibayak/Lau Debuk-Debuk Existing / Expansion 160 40 40
Sorik Merapi High Possibility 500 100 100
Sipaholon Low Possibility 50 50 50
G. Sinabung Tidak cukup data - - -
Pusuk Bukit Tidak cukup data - - -
Simbolon Tidak cukup data - - -
Potensi
(MW)
Keterangan Lokasi Panas Bumi
Dibatasi Oleh

310

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara hingga tahun 2020 diperlukan
pembangunan pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel A4.7.
Tabel A4.7. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Pangkalan Susu #1,2 (FTP1) PLTU PLN 440 2012-13
2 Belawan PLTG PLN 400 2013
3 Sumbagut PLTU Sewa 360 2013
4 PLTM Tersebar Sumut PLTM Swasta 154 2013-15
5 Wampu PLTA Swasta 45 2014
6 Nias PLTGB PLN 8 2014
7 Sarulla I (FTP2) PLTP Swasta 330 2014-15
8 Nias (FTP2) PLTU Swasta 21 2014-15
9 Pangkalan Susu #3,4 (FTP2) PLTU PLN 400 2015
10 Asahan III (FTP2) PLTA PLN 174 2016
11 Hasang PLTA Swasta 38 2017
12 Sarulla II (FTP2) PLTP Swasta 110 2017
13 Simonggo-2 PLTA PLN 86 2017
14 Sorik Marapi (FTP2) PLTP Swasta 240 2018
15 Simbolon Samosir PLTP Swasta 110 2019
16 Sipoholon Ria-Ria PLTP Swasta 55 2019
17 Pembangkit Peaker PLTG PLN 200 2020
18 Sumut-2 PLTU Sewa 225 2020
J umlah 3396

Pengembangan Transmisi
Di Sumatera dalam waktu dekat akan terwujud transmisi 275 kV sebagai tulang
punggung sistem interkoneksi Sumatera
1
. Transmisi 275 kV ini dapat menyalurkan
energi listrik antar provinsi di Sumatera yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit
utama seperti PLTU batubara, PLTP dan PLTA skala besar, untuk ditransmisikan ke
pusat-pusat beban. Selain itu direncanakan pula pengembangan transmisi 150 kV
yang merupakan jaringan regional untuk menyalurkan tenaga listrik dalam kawasan
yang lebih terbatas.
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan transmisi sepanjang 2.262 kms
guna mendukung program penyaluran dan target target yang telah ditetapkan, yaitu
untuk mengatasi bottleneck penyaluran daya, mengevakuasi daya dari pusat

1
Di Sumatera juga direncanakan pembangunan transmisi 500 kV sebagai tulang punggung sistem
kelistrikan Sumatera pada koridor timur. Transmisi 500 kV tersebut direncanakan masuk Sumatera
Utara setelah tahun 2020.
311

pembangkit, mendapatkan tegangan pelayanan yang baik dengan membatasi panjang
J TM, menurunkan losses transmisi dan distribusi, serta meningkatkan keandalan
sistem tenaga listrik.
Rencana pembangunan transmisi di Provinsi Sumut diberikan pada Tabel A4.8 dan
Tabel A4.9.
Tabel A4.8. Rencana Pembangunan Transmisi 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Galang Namurambe 150 kV 2 cct, 2 Zebra 80 18.0 2012
2 Galang Tanjung Morawa 150 kV 2 cct, 2 Zebra 20 4.5 2012
3 Lamhotma Belawan 150 kV 1 2nd cct, 2 Hawk 6.2 0.3 2012
4 Dolok Sanggul/Parlilitan Incomer 1 Pi (Tele-Tarutung) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 76 4.2 2012
5 Rantau prapat Labuhan Bilik 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 7.2 2012
6 Galang Negeri Dolok 150 kV 2 cct, 1 Hawk 66 3.7 2013
7 Padang Sidempuan Panyabungan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7.8 2013
8 Pangkalan Susu 3&4 (FTP 2) Pangkalan Brandan 150 kV 2 cct, 2 Zebra 22 5.0 2013
9 PLTU Sewa Sumbagut Tebing Tinggi 150 kV 2 cct, 2 Hawk 30 2.3 2013
10 Sei Rotan (uprate) Tebing Tinggi (uprate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 108 14.4 2013
11 Sidikalang Salak 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.3 2013
12 Tanjung Morawa Kuala Namu 150 kV 2 cct, 2 Hawk 34 2.6 2013
13 Tanjung Pura Inc. (P.Brandan-Binjai) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 30 1.7 2013
14 Tele Pangururan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 26 1.4 2013
15 PLTA Wampu Brastagi 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.4 2014
16 PLTU Nias Gunung Sitoli 70 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.1 2014
17 Teluk Dalam Gunung Sitoli 70 kV 2 cct, 1 Hawk 220 12.2 2014
18 GIS Listrik KIM 150 kV 1 cct, CU 1000 mm2 10 22.2 2015
19 Mabar Glugur 150 kV 1 cct, CU 1000 mm2 10 22.2 2015
20 Simangkok PLTA Asahan III(FTP 2) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.7 2016
21 Panyabungan PLTP Sorik Marapi (FTP 2) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 46 2.5 2017
22 Porsea PLTA Hasang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.3 2017
23 Tarutung PLTP Simbolon Samosir 150 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2.8 2018
24 PLTP Sipoholon Ria-Ria 2 Pi Inc. (Tarutung-Porsea) 150 kV 4 cct, 1 Hawk 8 0.4 2019
J umlah 1354 149.2
Konduktor

Tabel A4.9. Rencana Pembangunan Transmisi 275 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Pangkalan Susu Binjai 275 kV 2 cct, 2 Zebra 160 36.0 2012
2 Galang Binjai 275 kV 2 cct, 2 Zebra 160 36.0 2013
3 Padang Sidempuan PLTP Sarulla (FTP 2) 275 kV 2 cct, 2 Zebra 138 31.1 2013
4 PLTP Sarulla (FTP 2) Simangkok 275 kV 2 cct, 2 Zebra 194 43.7 2013
5 Simangkok Galang 275 kV 2 cct, 2 Zebra 318 71.6 2013
J umlah 970 218.3
Konduktor


Pembangunan Gardu Induk
Pembangunan gardu induk di Wilayah Sumatera Utara dimaksudkan untuk melayani
pertumbuhan beban, meningkatkan keandalan pasokan, memperbaiki mutu
tegangan, mengantisipasi masuknya beberapa pembangkit dalam beberapa tahun
kedepan dan perbaikan tegangan yang sangat rendah karena jarak GI yang terlalu
312

jauh dari konsumen. Rencana pembangunan GI dapat dilihat pada Tabel A4.10
berikut.
Tabel A4.10. Rencana Pembangunan GI Baru s/d Tahun 2020
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Galang 150/20 kV 0 2012
2 Labuhan Bilik 150/20 kV 60 2012
3 Parlilitan/Dolok Sanggul 150/20 kV 10 2012
4 Kuala Namu 150/20 kV 60 2013
5 Negeri Dolok 150/20 kV 60 2013
6 Pangururan 150/20 kV 30 2013
7 Panyabungan 150/20 kV 60 2013
8 Salak 150/20 kV 60 2013
9 Tanjung Pura 150/20 kV 30 2013
10 Gunung Sitoli 70/20 kV 30 2014
11 Teluk Dalam 70/20 kV 30 2014
J umlah 430

Selain itu diperlukan juga extension banyak GI existing dengan menambah unit trafo
hingga tambahan kapasitas seluruhnya mencapai 1.470 MVA seperti terlihat pada
Tabel A4.11.
Tabel A4.11. Rencana Extension GI s/d Tahun 2020
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Binjai 150/20 kV 60 2011 17 Pematang Siantar 150/20 kV 60 2012
2 Denai 150/20 kV 60 2011 18 Perbaungan 150/20 kV 60 2012
3 Gunung Para 150/20 kV 30 2011 19 Porsea 150/20 kV 20 2012
4 Gunung Tua 150/20 kV 30 2011 20 Rantau Prapat 150/20 kV 60 2012
5 Padang Sidempuan 150/20 kV 30 2011 21 Sei Rotan 150/20 kV 60 2012
6 Rantau Prapat 150/20 kV 60 2011 22 Sibolga 150/20 kV 60 2012
7 Tanjung Morawa 150/20 kV 60 2011 23 Sidikalang 150/20 kV 30 2012
8 Tele 150/20 kV 30 2011 24 Tarutung 150/20 kV 30 2012
9 Aek Kanopan 150/20 kV 30 2012 25 Tebing Tinggi 150/20 kV 60 2012
10 Brastagi 150/20 kV 60 2012 26 Paya Pasir 150/20 kV 60 2013
11 Glugur 150/20 kV 60 2012 27 Kota Pinang 150/20 kV 30 2014
12 Gunung Tua 150/20 kV 10 2012 28 GIS Listrik 150/20 kV 60 2017
13 Kisaran 150/20 kV 60 2012 29 Tanjung Pura 150/20 kV 30 2017
14 Labuhan 150/20 kV 30 2012 30 Titi Kuning 150/20 kV 60 2017
15 Lamhotma 150/20 kV 60 2012 31 Paya Geli 150/20 kV 60 2018
16 Namurambe 150/20 kV 60 2012 J umlah 1470

Rencana pembangunan GI 275 kV yang berada di provinsi Sumatera Utara diberikan
pada Tabel A4.12.

313


Tabel A4.12. Rencana Pembangunan GI 275 kV s/d Tahun 2020
No Nama Gardu Induk Tegangan
Baru/
Extension
Kapasitas
(MVA)
Biaya
(juta US$)
COD
1
Binjai 275/150 kV Baru 1000 31.83 2011
2
Pangkalan Susu 275/150 kV Baru 0 9.11 2012
3 Galang 275/150 kV Baru 1000 35.13 2013
4
Padang Sidempuan 275/150 kV Baru 500 21.88 2013
5
Sarulla 275/150 kV Baru 500 24.00 2013
6
Pangkalan Susu 275/150 kV Extension 250 21.03 2015
J umlah 3250 143.0

Pengembangan Distribusi
Tambahan pelanggan baru sampai dengan tahun 2020 adalah sekitar 1,2 juta
pelanggan atau rata-rata 120.000 pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan
penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan J TM 17.800 kms, J TR
sekitar 11.850 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 2.160 MVA,
seperti ditampilkan dalam Tabel A4.13.
Tabel A4.13. Pengembangan Sistem Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 1.376 1.092 146 125.011
2012 1.461 918 153 120.266
2013 1.438 996 166 118.720
2014 1.538 1.078 180 116.353
2015 1.538 1.158 193 102.587
2016 1.718 1.218 220 113.957
2017 1.903 1.260 240 118.215
2018 2.076 1.339 263 122.640
2019 2.291 1.378 287 127.238
2020 2.467 1.414 314 132.016
J umlah 17.805 11.850 2.160 1.197.004
Tahun Pel anggan


A4.4. SISTEM ISOLATED NIAS DAN TELUK DALAM
Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera mempunyai kondisi
sebagai berikut: (i) Merupakan pulau yang terpisah cukup jauh dari pulau Sumatera,
(ii) Pemerintahan terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, (iii) Rawan gempa dan rawan
314

longsor, (iv) Hubungan antar kabupaten dan antar kecamatan sulit dijangkau, (v)
Mata pencaharian utama adalah bercocok tanam kelapa dan nelayan.
Pengusahaan kelistrikan dikelola oleh PLN Cabang Nias, terdiri dari Ranting Gunung
Sitoli dan Ranting Teluk Dalam yang juga mengelola PLTD di Pulau Tello. Pasokan
listrik untuk sistem kelistrikan dipasok dari PLTD Gunung Sitoli dan PLTD Teluk
Dalam. J umlah pelanggan adalah sekitar 54 ribu, daya tersambung 35 MVA dengan
penjualan mencapai 52 GWh. Pembangkitan di Pulau Nias saat ini mempunyai daya
terpasang 28.904 kW, daya mampu 12.960 kW, beban puncak 9.858 kW, dan
mengingat kondisi pembangkitan sudah tua, maka telah diambil langkah-langkah
sewa PLTD untuk jangka pendek dan merencanakan pembangunan PLTU 3x7 MW
(IPP) dan PLTGB 8 MW (PLN).

A4.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi adalah untuk membangun sistem kelistrikan sampai dengan
tahun 2020 adalah seperti Tabel A4.14 berikut:
Tabel A4.14. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 7,257 7,998 1,363 0 1,360 0 96
2012 7,921 8,721 1,484 220 880 472 457
2013 8,642 9,487 1,612 1,063 2,360 1,326 1,072
2014 9,421 10,320 1,750 209 90 320 507
2015 10,258 11,212 1,899 666 250 20 1,231
2016 11,210 12,226 2,068 174 0 22 320
2017 12,250 13,331 2,251 236 150 106 504
2018 13,388 14,537 2,451 240 60 50 315
2019 14,631 15,853 2,669 165 0 8 469
2020 15,991 17,289 2,907 425 0 0 496
J umlah 110,968 120,974 20,453 3,398 5,150 2,324 5,468

315


LAMPIRAN A.5
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI RIAU


A5.1. KONDISI SAAT INI
Sistem Interkoneksi
Pada sistem kelistrikan di Provinsi Riau terdapat 8 gardu induk (GI) 150 kV, yaitu
Koto Panjang, Bangkinang, Garuda Sakti, Teluk Lembu, Duri, Dumai, Bagan Batu
dan Taluk Kuantan. Sebagian GI tersebut sudah mengalami overload dan perlu
segera dimitigasi.
Sistem kelistrikan Riau dipasok dari grid Sumatera sebesar 379 MW. Kapasitas
pembangkit PLN di Riau yang tersambung ke grid sebesar 267 MW, dimana 43% dari
kapasitas tersebut adalah PLTA Koto Panjang, dengan demikian untuk memenuhi
kebutuhan Riau masih diperlukan transfer energi dari sistem interkoneksi Sumatera
Bagian Selatan Tengah maupun sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara.
Sistem Sumbagselteng sendiri dipasok oleh beberapa jenis pembangkit, dimana 30%
(711 MW) berupa PLTA yang pada musim kering sering kali mengalami penurunan
kapasitas. Dengan demikian sistem Riau ikut mengalami defisit daya.
Peta kelistrikan sistem interkoneksi di Provinsi Riau diperlihatkan pada Gambar A5.1.
316


Gambar A5.1. Peta Sistem Kelistrikan di Provinsi Riau
Daftar kapasitas terpasang pembangkit yang memasok ke sistem interkoneksi 150 kV
ditunjukkan pada Tabel A5.1.
Tabel A5.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No. Nama Pembangkit J enis B. Bakar Pemilik Kapasitas
Terpasang (MW)
1 PLTA Koto Panjang PLTA Air PLN 114
2 PLTG Teluk Lembu PLTG Gas/HSD PLN 43
3 PLTD Teluk Lembu PLTD HSD PLN 8
4 PLTD Dumai/Bg Besar PLTD HSD PLN 12
5 PLTG Riau Power PLTG Gas PT Riau- Power 20
6 PLTD Sewa Teluk Lembu PLTD HSD Sewa 40
7 PLTD Sewa Dumai PLTD HSD Sewa 30
Jumlah 267
Sistem Isolated
Sistem isolated di Provinsi Riau tersebar di kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir,
Kabupaten Bengkalis dan Meranti. Seluruh sistem isolated tersebut dipasok oleh
PLTD tersebar dengan kapasitas 83 MW dan daya mampu 44 MW.
317

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan, sehingga PLN
menyewa pembangkit diesel untuk mengatasi kekurangan pasokan jangka pendek.
Daftar pembangkit pada sistem isolated diberikan pada Tabel A5.2.
Tabel A5.2. Pembangkit Isolated per 2010
UNIT
J umlah
(unit)
Daya Beban
Terpasang
(MW)
Mampu
(MW)
Puncak
(MW)
MESIN PLN
1. Cab. Pekanbaru 42 7,6 4,6 4,6
2. Cab. Dumai 80 37,0 21,6 16,1
3. Cab. Rengat 115 38,6 18,1 17,0
J UMLAH 237 83.2 44.3 37.7
MESIN PEMDA
1. Cab. Pekanbaru 7 2,5 1,5 1,8
2. Cab. Dumai 23 32,0 13,0 12,5
3. Cab. Rengat 13 7,3 4,2 4,6
J UMLAH 33 41,8 18,7 18.9
MESIN SEWA
1. Cab. Pekanbaru 3 1,2 1,1 1,2
2. Cab. Dumai 2 2,4 2,0 2,1
3. Cab. Rengat 2 2,0 0 2,0
J UMLAH 10 5,6 3,1 5,3
Kondisi kekurangan pasokan kelistrikan pada sistem isolated disebabkan oleh
menurunnya daya mampu pembangkit, meningkatnya konsusmsi listrik oleh
pelanggan secara alami (bahkan tanpa penyambungan baru) dan kebutuhan sistem
isolated yang dipasok dari excess power telah melampaui kesepakatan perjanjian jual
beli (kontrak).

A5.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Ekonomi Riau tumbuh sangat pesat antara 6,6-8,7% pada tahun 2006-2010 (tidak
termasuk migas) dan kondisi ini diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa
yang akan datang. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian
Pemerintah Daerah dengan memberikan kemudahan kepada investor untuk
menanamkan modalnya di Riau. Semua rencana tersebut akan dapat dicapai apabila
ada dukungan ketersediaan tenaga listrik di Provinsi Riau.
318

Perekonomian Provinsi Riau diperkirakan akan makin meningkat, ditandai oleh
adanya rencana pembangunan kawasan-kawasan industri pada beberapa kabupaten
yang telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), seperti Kawasan
Industri Khusus Dumai, Kawasan Buton di kabupaten Siak Indrapura, Kawasan Kuala
Enok kabupaten Indragiri Hilir dan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru.
Dari realisasi penjualan listrik PLN lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat
dilihat pada Tabel A5.3.
Tabel A5.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 2.663 2.900 470 801.630
2012 3.013 3.274 530 859.028
2013 3.401 3.687 595 919.772
2014 3.722 4.028 649 977.923
2015 4.046 4.368 703 1.040.623
2016 4.386 4.726 759 1.105.031
2017 4.726 5.090 816 1.169.680
2018 5.082 5.472 876 1.235.156
2019 5.479 5.897 942 1.302.704
2020 5.968 6.422 1.024 1.366.253
Growth 11,4% 10,7% 10,3% 9,2%

Apabila kapasitas pembangkit yang tersedia mencukupi, pertumbuhan listrik di
Provinsi Riau diperkirakan dapat lebih tinggi lagi, karena seiring dengan
perkembangan yang sangat pesat pada setiap kabupaten dan adanya rencana
pengembangan wilayah menjadi kawasan industri di Dumai, Buton, Kuala Enok dan
Tenayan-Pekanbaru.

A5.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan pembangkit pada
sistem isolated dan sistem interkoneksi 150 kV serta pengembangan jaringan
transmisi dan distribusi untuk menjangkau pelanggan.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di provinsi Riau untuk membangkitkan tenaga listrik
berupa sumber-sumber gas alam di banyak lapangan, antara lain Seng, Segat di
319

kabupaten Pelalawan, Bento dan Baru di Pekanbaru yang saat ini dikelola PT Kalila
yang sebagian produksi gasnya dialokasikan untuk PLTG Teluk Lembu.
Disamping itu terdapat potensi batubarayang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu
dan Kuantan Singingi dengan cadangan 1,55 juta metrik ton
2
.
Potensi PLTA skala besar terdapat di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan
Singingi. Menurut pra studi kelayakan oleh sebuah konsultan pada tahun 1980-an di
Kabupaten Kuantan Singingi dan Sungai Kampar Kiri terdapat potensi tenaga air
yang cukup besar, yaitu sebesar masing-masing 830 MW dan 170 MW. Namun perlu
dilakukan studi ulang karena saat ini kondisi lingkungan sudah banyak berubah dan
dapat mempengaruhi potensi debit air.
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan
mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem Interkoneksi 150 kV dan sistem
isolated dan pengembangan jaringan transmisi 150 kV yang memasok sistem Riau.
Pembangkit yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau berkapasitas sekitar
1.732 MW seperti ditampilkan pada Tabel A5.4.
Tabel A5.4. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Duri 1 (Relokasi) PLTG PLN 60 2011-12
2 Duri PLTG PLN 100 2012
3 Duri PLTGU Swasta 100 2012
4 Rengat PLTG PLN 20 2012
5 Selat Panjang PLTGB PLN 6 2012
6 Bengkalis (FTP1) PLTU PLN 20 2013
7 Dumai PLTU Sewa 240 2013
8 IPP Kemitraan PLTU Swasta 14 2013
9 Tembilahan PLTU PLN 14 2013
10 Riau (Amandemen FTP1) PLTU PLN 220 2013-14
11 Pembangkit Peaker PLTG PLN 200 2014
12 Selat Panjang Baru #1,2 PLTU Swasta 14 2014
13 Bengkalis PLTGB PLTGB PLN 24 2015/17/19
14 Riau Mulut Tambang PLTU Swasta 600 2016-17
J umlah 1632


2
Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau
320

PLTU Riau 2x110 MW di kawasan industri Tenayan Kota Pekanbaru merupakan
salah satu proyek percepatan pembangkit 10.000 MW tahap 1 yang saat ini sedang
tahap konstruksi dan dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013. PLTG Duri dengan
kapasitas total 160 MW merupakan upaya PLN untuk secepatnya mengurangi
kekurangan pembangkit di Riau dengan memanfaatkan gas dari lapangan J ambi
Merang. Pembangkit peaker PLTG 200 MW dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan beban puncak sistem Sumatera yang lokasinya sedang dikaji berkaitan
dengan penyediaan gas yang dapat disimpan (CNG). PLTU Riau Mulut Tambang
2x300 MW ditawarkan kepada swasta sebagai IPP untuk beroperasi pada tahun
2016 – 2017. Selain itu PLN berupaya memanfaatkan semua potensi gas yang
mungkin digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik, termasuk gas skala kecil,
seperti di Melibur Kabupaten Meranti, Selat Kabupaten Inhil, Bentu Kabupaten
Kampar, Tembilahan Kabupaten Inhil, Kurau Siak Sri Indrapura dan Rawa Minyak
Kabupaten Siak Sri Indrapura.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Guna menyalurkan energi listrik yang berasal dari pembangkit yang masuk ke sistem
interkoneksi 150 kV, hingga tahun 2020 diperlukan pengembangan 14 GI 150 kV
baru dengan kapasitas total 600 MVA dan extension GI dengan tambahan kapasitas
730 MVA seperti diperlihatkan pada Tabel A5.5 dan Tabel A5.6.
Tabel A5.5. Pembangunan GI 150 kV Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Bagan Siapiapi 150/20 kV 30 2013
2 KID Dumai 150/20 kV 30 2013
3 KIT Tenayan 150/20 kV 30 2013
4 Pangkalan Kerinci 150/20 kV 30 2013
5 Pasir Pangaraian 150/20 kV 30 2013
6 Pasir Putih 150/20 kV 60 2013
7 Rengat 150/20 kV 60 2013
8 GI/GIS Kota Pekanbaru 150/20 kV 60 2014
9 New Garuda Sakti 150/20 kV 120 2014
10 Perawang 150/20 kV 30 2014
11 Siak Sri Indra Pura 150/20 kV 30 2014
12 Tembilahan 150/20 kV 30 2014
13 Kandis 150/20 kV 30 2015
14 Lipat Kain 150/20 kV 30 2015
J umlah 600

321

Tabel A5.6. Extension GI 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Bagan Batu 150/20 kV 30 2011
2 Bangkinang 150/20 kV 30 2011
3 Dumai 150/20 kV 60 2012
4 Duri 150/20 kV 60 2012
5 Garuda Sakti 150/20 kV 80 2012
6 Koto Panjang 150/20 kV 20 2012
7 Teluk Lembu 150/20 kV 60 2012
8 Bangkinang 150/20 kV 60 2016
9 Pasir Putih 150/20 kV 120 2016
10 Duri 150/20 kV 60 2017
11 KIT Tenayan 150/20 kV 30 2017
12 Teluk Kuantan 150/20 kV 30 2017
13 KID Dumai 150/20 kV 30 2019
14 Tembilahan 150/20 kV 30 2019
15 Bagan Batu 150/20 kV 30 2020
J umlah 730

Disamping itu juga direncanakan pembangunan GI dengan tegangan ekstra tinggi
275 kV dan 500 kV3, serta konverter transmisi HVDC ±250 kVDC yang merupakan
bagian dari link interkoneksi Sumatera – Malaysia seperti pada Tabel A5.7.
Tabel A5.7. Pembangunan GI 275kV, 500 kV dan HVDC ±250 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Baru/
Extension
Kapasitas
(MVA)
Biaya
(juta US$)
COD
1
New Garuda Sakti 275/150 kV Baru 500 24.28 2013
2
Rengat 275/150 kV Baru 250 20.08 2015
3
Riau Mulut Tambang 275/150 kV Baru 0 8.14 2015
4
HVDC Switching Station 250 kV DC Baru 0 16.68 2016
5 New G. Sakti HVDC St.Converter 250 kV DC Baru 600 19.95 2016
6 New Garuda Sakti 500 kV 500/275 kV Baru 1000 36.22 2018
7
Rengat 500 kV 500 kV Baru 500 25.77 2018
J umlah 2850 151.1

Pengembangan Transmisi
Pengembangan transmisi di Provinsi Riau hingga tahun 2020 adalah sepanjang 1.942
kms (150 kV) dan 1.312 kms (275 kV, 500 kV dan 250 kV DC) dengan kebutuhan dana
UD$ 510,8 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A5.8 dan Tabel A5.9.

3
GITET 500 kV di New Garuda Sakti dan Rengat merupakan bagian dari transmisi interkoneksi 500
kV yang merupakan tulang punggung kelistrikan Pulau Sumatera koridor timur.
322


Tabel A5.8. Pembangunan SUTT 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 PLTG Duri Inc. 2 Pi (G.Sakti-Duri) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 22 1.7 2011
2 Bangkinang Pasir Pangaraian 150 kV 2 cct, 1 Hawk 220 12.2 2013
3 Dumai Bagan Siapi api 150 kV 2 cct, 1 Hawk 228 12.6 2013
4 Dumai KID Dumai 150 kV 2 cct, 1 Hawk 56 3.1 2013
5 Duri (up rate) Dumai (up rate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 118 15.8 2013
6 Garuda Sakti (up rate) Duri (up rate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 230 30.8 2013
7 Pasir Putih Garuda Sakti 150 kV 2 cct, 2 Zebra 55 12.4 2013
8 Pasir Putih Pangkalan Kerinci 150 kV 2 cct, 2 Hawk 134 10.2 2013
9 PLTU Sewa Dumai Dumai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 14 1.1 2013
10 Teluk Kuantan Rengat 150 kV 2 cct, 2 Hawk 194 14.8 2013
11 Tenayan / PLTU Riau Pasir Putih 150 kV 2 cct, 2 Zebra 35 7.9 2013
12 New Garuda Sakti Inc. ( G.Sakti-Duri) 150 kV 4 cct, AC3 310 mm2 12 1.6 2014
13 Rengat Pangkalan Kerinci 150 kV 2 cct, 2 Hawk 220 16.8 2014
14 Rengat Tembilahan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.6 2014
15 Teluk Lembu GIS Kota Pekan Baru 150 kV 2 cct, CU 1000 mm2 14 31.1 2014
16 Tenayan / PLTU Riau Perawang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2.8 2014
17 Tenayan / PLTU Riau Siak Sri Indra Pura 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5.5 2014
18 Bangkinang Lipat Kain 150 kV 2 cct, 1 Hawk 70 3.9 2015
19 Kandis Inc. ( New G.Sakti-Duri) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 10 2.7 2015
20 Pasir Putih Teluk Lembu 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.1 2015
J umlah 1942 196.6
Konduktor

Tabel A5.10. Pembanguan Transmisi 275 kV, 500 kV dan HVDC ± 250 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Payakumbuh New Garuda Sakti 275 kV 2 cct, 2 Zebra 300 67,5 2013
2 Rengat New Garuda Sakti 275 kV 2 cct, 4 Zebra 440 143,6 2015
3 Border Pulau Rupat 250 kV DC 2 Cable MI with IRC 52 51,0 2016
4 P. Rupat Selatan Sumatra Landing Point 250 kV DC 2 Cable MI with IRC 10 9,8 2016
5 Pulau Rupat Utara Pulau Rupat Selatan 250 kV DC 2 cct, 2 Cardinal 60 2,6 2016
6 Rengat Cirenti (PLTU Riau MT) 275 kV 2 cct, 2 Zebra 110 24,8 2016
7 Sumatera Landing Point New Garuda Sakti 250 kV DC 2 cct, 2 Cardinal 340 14,9 2016
J umlah 1312 314,2
Konduktor

Transmisi Aur Duri – Rengat – New Garuda Sakti akan dibangun dengan desain
tegangan 500 kV karena pada jangka panjang akan merupakan bagian dari sistem
transmisi 500 kV, namun dalam jangka menengah akan dioperasikan sementara
dengan tegangan 275 kV.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
baru sekitar 780 ribu pelanggan sampai dengan 2020. PLN berencana untuk
menyambung hingga 216.000 sambungan pada tahun 2011 untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60%, dan pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 64 ribu
pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan
323

pembangunan J TM 6.595 kms, J TR sekitar 7.610 kms dan tambahan kapasitas trafo
distribusi sekitar 3.454 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A5.10.
Tabel A5.10. Pengembangan Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 1.340 1.546 785 216.003
2012 534 616 271 57.399
2013 565 652 287 60.743
2014 541 624 275 58.151
2015 584 673 296 62.700
2016 599 692 304 64.408
2017 602 694 306 64.649
2018 609 703 309 65.476
2019 629 725 319 67.548
2020 591 682 300 63.549
J umlah 6.595 7.610 3.454 780.626
Tahun Pel anggan


A5.4. SISTEM KELISTRIKAN PULAU RUPAT
Pulau Rupat yang berada di Kabupaten Bengkalis merupakan sebuah pulau yang
istimewa karena kedekatannya dengan Malaka dan Port Dickson Malaysia. Pulau ini
sangat indah dan berpotensi menjadi tujuan wisata yang akan sangat diminati. Pulau
ini hanya dipisahkan oleh selat sempit pantai Kota Dumai yang telah dirancang
sebagai pelabuhan distribusi barang dan jasa untuk Riau daratan dan Pulau
Sumatera. J alur utama pengangkutan dari dan ke pulau ini adalah melalui laut. Peta
Pulau Rupat ditampilkan pada Gambar A5.2.

324


Gambar A5.2. Peta Pulau Rupat
Saat ini listrik di Pulau Rupat dipasok dari 5 sentral PLTD dengan kapasitas
terpasang 3.600 kW namun daya mampunya hanya 1.195 kW dengan beban puncak
841 kW. Sistem distribusi listrik berupa J TM sepanjang 69 kms, J TR 92 kms, gardu
distribusi 36 unit, 878 kVA. Rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Rupat
adalah menginterkoneksikan kelima sub-sistem tersebut.
Pulau Rupat merupakan landing point dari kabel laut interkoneksi antara Sumatera
dan Malaysia.

A5.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi hingga tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A5.11.






325

Tabel A5.11. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 2,663 2,900 470 40 60 22 76
2012 3,013 3,274 530 246 280 0 211
2013 3,401 3,687 595 398 770 1,584 535
2014 3,722 4,028 649 324 270 516 414
2015 4,046 4,368 703 12 310 560 234
2016 4,386 4,726 759 300 780 572 570
2017 4,726 5,090 816 306 120 0 435
2018 5,082 5,472 876 0 1,500 0 96
2019 5,479 5,897 942 6 60 0 44
2020 5,968 6,422 1,024 0 30 0 32
J umlah 42,486 45,864 7,363 1,632 4,180 3,254 2,646
326


LAMPIRAN A.6
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU (tanpa BATAM)


A6.1. KONDISI SAAT INI
Provinsi Kepulauan Riau mempunyai posisi geografis yang sangat strategis karena
berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah timur dan juga berbatasan
dengan pusat bisnis dan keuangan di wilayah Asia Tenggara. Provinsi Kepulauan
Riau dimungkinkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi bagi
Republik Indonesia dimasa depan. Apalagi saat ini pada beberapa daerah di
Kepulauan Riau (Batam, Bintan, dan Karimun) tengah diupayakan sebagai pilot
project pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerjasama dengan
Pemerintah Singapura.
Provinsi Kepulauan Riau mencakup Kota Tanjungpinang, Batam, Kabupaten Bintan,
Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga yang terdiri dari
2.408 pulau besar dan kecil dimana 40% belum bernama dan berpenduduk, dengan
95% dari wilayahnya merupakan lautan.

327


Gambar A6.1. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau
Penerapan kebijakan KEK di Batam-Bintan-Karimun merupakan bentuk kerjasama
yang erat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan partisipasi dunia
usaha. KEK ini nantinya merupakan simpul-simpul dari pusat kegiatan ekonomi
unggulan yang perlu didukung dengan infrastruktur yang berdaya saing internasional.
Kepulauan Riau memerlukan dukungan pasokan tenaga listrik yang cukup dan andal
terutama di Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Pasokan listrik untuk kota Tanjung Pinang dipasok melalui sistem Tanjung Pinang
yang melayani 3 daerah administrasi, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Kotamadya
Tanjung Pinang dan serta Kabupaten Bintan. Sistem Tanjung Pinang dipasok dari
PLTD Air Raja dan PLTD Sukaberenang dengan kapasitas terpasang 43 MW dan
untuk melayani beban puncak saat ini yang telah mencapai 39 MW melalui jaringan
20 kV.
Sistem-sistem isolated di Provinsi Kepulauan Riau mempunyai 144 unit pembangkit
kecil tersebar dengan kapasitas total 90,7 MW dan daya mampu 65,9 MW seperti
terlihat pada Tabel A6.1.
328

Tabel A6.1. Pembangkit Isolated per 2010

Pemilik
J umlah
(Unit)
Daya
Terpasang
(MW)
Daya
Mampu
(MW)
Beban
Puncak
(MW)
PLN 136
80,9 55,3 53,4
Pemda 5
0,8 0,6 0,7
Sewa 3
9,0 10,0 11,4
Total 144
90,7 65,9 65,5

Sebagian besar sistem isolated mengalami kekurangan pasokan dan ini telah
berlangsung beberapa tahun terakhir. Kondisi kekurangan pasokan pada umumnya
disebabkan oleh keterbatasan jumlah daya mampu mesin pembangkit, baik karena
gangguan mesin pembangkit maupun usia, meningkatnya pertumbuhan pemakaian
tenaga listrik alami. Untuk mengatasi kekurangan pasokan pada beberapa sistem
isolated dilakukan dengan sewa pembangkit.

A6.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7,53% pada tahun 2010 (tidak termasuk migas)
dan diperkirakan masih akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Target
pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi perhatian Pemerintah Daerah dengan
memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya di
Kepulauan Riau. Kegiatan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau terus meningkat,
ditandai dengan akan dibangunnya kawasan-kawasan industri dan pada beberapa
Kabupaten telah dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.
Proyeksi Kebutuhan Listrik Provinsi Kepulauan Riau 2011-2020
Dari realisasi penjualan listrik PLN dalam lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020
seperti pada Tabel A6.2.



329

Tabel A6.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 543 582 101 139.930
2012 601 642 112 153.266
2013 671 715 125 167.103
2014 766 816 142 181.945
2015 871 925 161 197.645
2016 975 1.034 181 214.211
2017 1.049 1.111 194 231.175
2018 1.119 1.185 208 248.663
2019 1.185 1.255 220 266.950
2020 1.249 1.323 232 286.062
Growth 11,0% 10,6% 10,0% 9,4%


A6.3. Pengembangan Sarana Kelistrikan
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, di West Natuna Basin terdapat potensi
gas alam sebesar 51,46 TCF. Selain itu di kawasan blok D-Alpha Natuna terdapat
cadangan gas yang sangat besar, yaitu 222 TCF dan 500 juta barel minyak.
Sedangkan potensi tenaga air relatif kecil.
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan
mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi 150 kV dan sistem
isolated. Rencana pengembangan pembangkit ditampilkan pada Tabel A6.3.








330

Tabel A6.3. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 TB. Karimun #1,2 (FTP1) PLTU PLN 14 2011
2 Tanjung Batu (FTP2) PLTGB Swasta 8 2012
3 Dabo Singkep PLTGB PLN 9 2012/18
4 Natuna PLTU PLN 14 2013
5 Tanjung Uban PLTU PLN 14 2013-14
6 Tanjung Pinang 1 (TLB) PLTU Swasta 30 2014
7 TB. Karimun (Terkendala) PLTU Swasta 14 2014
8 TB. Karimun #3,4 PLTU PLN 14 2014-15
9 Tanjung Batu Baru PLTU PLN 14 2015
10 Tanjung Pinang 2 (FTP2) PLTU Swasta 30 2015
11 Tanjung Pinang 3 PLTU PLN 30 2019-20
12 TB. Karimun-2 PLTU PLN 20 2019-20
J umlah 211

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan 4 buah GI 150 kV di Pulau Bintan dan 1 lokasi
di Pulau Ngenang seperti diperlihatkan pada Tabel A6.4.
Tabel A6.4. Pengembangan GI 150 kV Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Air Raja 150/20 kV 60 2013
2 Kijang 150/20 kV 60 2013
3 Sri Bintan 150/20 kV 30 2013
4 Tanjung Uban 150/20 kV 60 2013
5 Pulau Ngenang 150/20 kV 10 2013
J umlah 220

Selain itu diperlukan juga extension GI dengan menambah unit trafo 150/20 kV
kapasitas 60 MVA pada tahun 2015 di GI Tanjung Uban.
Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 150 kV, diperlukan pengembangan transmisi 150
kV sepanjang 258 kms dengan kebutuhan dana sekitar US$ 21,1 juta seperti
ditampilkan dalam Tabel A6.5.


331

Tabel A6.5. Pembangunan SUTT 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Air Raja Kijang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2,2 2013
2 Pulau Ngenang Tanjung Taluk 150 kV 2 cct, 3 x 300 mm2 12 4,8 2013
3 Sri Bintan Air Raja 150 kV 2 cct, 1 Hawk 70 3,9 2013
4 Tanjung Kasam Tanjung Sauh 150 kV 2 cct, 3 x 300 mm2 6 2,4 2013
5 Tanjung Sauh Pulau Ngenang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 10 1,1 2013
6 Tanjung Taluk Tanjung Uban 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3,3 2013
7 Tanjung Uban Sri Bintan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3,3 2013
J umlah 258 21,1
Konduktor

Walaupun di sistem kelistrikan Bintan telah direncanakan pembangkit yang cukup
banyak seperti pada tabel A6.3, sistem ini direncanakan akan diinterkoneksi dengan
sistem Batam melalui kabel laut 150 kV. Tujuan interkoneksi tersebut adalah untuk
menggantikan peran PLTD di sistem Bintan, baik peak maupun baseload, dengan
transfer energi dari Batam yang biaya produksinya lebih rendah. Interkoneksi ini juga
dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem Bintan karena terinterkoneksi
dengan sistem kelistrikan yang jauh lebih besar.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
baru sekitar 169 ribu pelanggan sampai dengan 2020 atau rata-rata 16.940
pelanggan setiap tahunnya. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut,
diperlukan pembangunan J TM 1,875 kms, J TR sekitar 2.164 kms dan tambahan
kapasitas trafo distribusi sekitar 900 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A6.6
berikut.
Tabel A6.6. Pengembangan Sistem Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 293 338 107 23.272
2012 105 121 61 13.335
2013 130 150 76 13.837
2014 184 212 82 14.842
2015 203 234 87 15.700
2016 217 250 91 16.566
2017 209 241 94 16.964
2018 200 231 96 17.487
2019 173 200 101 18.287
2020 163 188 105 19.113
J umlah 1.876 2.164 900 169.404
Tahun Pel anggan



332

A6.4. SISTEM KELISTRIKAN NATUNA
Kabupaten Natuna terletak paling utara dari wilayah Republik Indonesia di kawasan
Laut Cina Selatan seperti terlihat pada Gambar A6.2.


Gambar A6.2. Peta Pulau Natuna
Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, J epang, Korea dan
Taiwan. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil migas dengan cadangan yang
sangat besar sebagaimana diuraikan pada butir A6.3.
Kelistrikan Pulau Natuna dipasok dari PLTD dengan Kapasitas terpasang 3.080 kW,
daya mampu 2.845 kW dan beban puncak 2.355 kW. Sistem distribusi berupa SUTM
sepanjang 57,4 kms dengan jumlah gardu 29 unit dan kapasitas terpasang 2.450 kVA.
Adapun rencana pengembangan kelistrikan di Pulau Natuna berupa penambahan
PLTU batubara 2x7 MW yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2013.

A6.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel
A6.7.



333

Tabel A6.7. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 543 582 101 14 0 0 44
2012 601 642 112 14 0 0 21
2013 671 715 125 21 220 258 87
2014 766 816 142 58 0 0 126
2015 871 925 161 51 60 0 114
2016 975 1.034 181 0 0 0 11
2017 1.049 1.111 194 0 0 0 11
2018 1.119 1.185 208 3 0 0 14
2019 1.185 1.255 220 25 0 0 58
2020 1.249 1.323 232 25 0 0 57
J umlah 9.028 9.588 1.676 211 280 258 544




334


LAMPIRAN A.7
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG


A7.1. KONDISI SAAT INI
Sistem kelistrikan di Provinsi Bangka Belitung secara garis besar dikelompokkan
menjadi dua sistem kelistrikan yang terpisah yaitu:
1. Sistem Bangka yang dipasok dari 4 PLTD milik PLN dan 1 PLTU Biomassa IPP,
yaitu: PLTD Merawang, PLTD Mentok, PLTD Koba, PLTD Toboali, dan PLTU
Listrindo (Biomassa). Pembangkit-pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui
jaringan distribusi 20 kV.
2. Sistem Belitung yang dipasok dari 2 PLTD PLN dan 1 PLTU IPP Biomassa, yaitu:
PLTD Pilang, PLTD Manggar dan PLTU Belitung Energy (IPP). Pembangkit-
pembangkit tersebut terinterkoneksi melalui jaringan distribusi 20 kV.
Sistem kelistrikan 20 kV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti ditunjukkan
pada Gambar A7.1.

Gambar A7.1. Peta Jaringan SUTM di Provinsi Kep. Babel Saat Ini
335

Pada saat ini sebagian besar pasokan listrik di Provinsi Bangka Belitung diperoleh
dari pembangkit dengan bahan bakar HSD. Total kapasitas terpasang adalah 144,6
MW dengan daya mampu sebesar 99,8 MW, termasuk pembangkit rental dan IPP
dengan daya mampu sebesar 46,25 MW. Tabel A7.1 memperlihatkan komposisi
sistem pembangkitan di Provinsi Bangka Belitung.
Tabel A7.1. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit Tahun 2010

A7.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Provinsi Kep. Bangka Belitung merupakan provinsi pemekaran dari Provinsi
Sumatera Selatan. Sebagai provinsi baru maka sangat memerlukan banyak sarana
prasarana untuk mendukung aktivitas perekonomian dan program pemerintahan,
antara lain pada tahun 2010 adalah Visit Archi Babel dan Babel Benderang. Salah
satu sarana yang sangat diperlukan adalah ketersediaan energi listrik, sehingga
sangat diharapkan adanya penambahan/pembangunan pembangkit baru yang
bertujuan untuk melayani pertumbuhan beban, menggantikan mesin-mesin yang
336

sudah tua, meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan dan meningkatkan
efisiensi penyaluran tenaga listrik.
Dari realisasi penjualan listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik Bangka Belitung
pada tahun 2011–2020 dapat dilihat pada Tabel A7.2.
Tabel A7.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 625 747 130 208.736
2012 708 839 146 237.149
2013 805 953 165 266.399
2014 907 1.071 186 289.726
2015 986 1.163 201 295.881
2016 1.086 1.277 221 302.124
2017 1.210 1.421 246 308.458
2018 1.367 1.605 277 314.888
2019 1.566 1.839 318 321.417
2020 1.820 2.137 369 328.051
Growth 15,7% 16,2% 16,2% 8,6%


A7.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Pengembangan sarana di Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pengembangan sarana pembangkit,
transmisi, gardu induk dan distribusi.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi di Bangka Belitung untuk membangkitkan energi listrik sangat
terbatas. Oleh sebab itu kebutuhan energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik di
Babel harus didatangkan dari luar wilayah berupa batubara, gas dan BBM.
Pengembangan Pembangkit
Rencana pengembangan pembangkit untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di
Bangka Belitung sampai dengan tahun 2020 adalah seperti ditampilkan pada
Tabel A7.3. berikut.

337

Tabel A7.3. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Air Anyer (FTP1) PLTU PLN 60 2011
2 Belitung Baru (FTP1) PLTU PLN 33 2012-13
3 Belitung-2 / Tanjung Pandan PLTGB Swasta 5 2013
4 Belitung-3 PLTU PLN 17 2014
5 Mentok PLTU PLN 14 2014
6 Toboali PLTU Swasta 14 2014
7 Bangka (FTP2) PLTU Swasta 60 2015-16
8 Bangka IV (Peaker) PLTG PLN 40 2015/18
9 Belitung-4 PLTU PLN 34 2015/19
10 Belitung (Peaker) PLTG PLN 20 2017-18
11 Bangka-3 PLTU PLN 60 2018-19
12 Bangka-5 PLTU PLN 30 2020
13 Belitung-5 PLTU PLN 17 2020
J umlah 404

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV di 10
lokasi seperti diperlihatkan pada Tabel A7.4.
Tabel A7.4. Pembangunan GI 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Air Anyir 150/20 kV 30 2011
2 Pangkal Pinang 150/20 kV 60 2011
3 Sungai Liat 150/20 kV 30 2011
4 Dukong 70/20 kV 30 2012
5 Manggar 70/20 kV 20 2012
6 Suge 70/20 kV 30 2012
7 Kelapa 150/20 kV 30 2014
8 Koba 150/20 kV 30 2014
9 Mentok 150/20 kV 30 2016
10 Toboali 150/20 kV 30 2016
J umlah 320

Selain itu diperlukan juga extension GI existing dengan menambah unit trafo 150/20 kV
dan 70/20 kV hingga total tambahan kapasitas mencapai 210 MVA tersebar
dibeberapa GI.


338

Tabel A7.5. Pembangunan Extension GI 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Sungai Liat 150/20 kV 30 2015
2 Dukong 70/20 kV 30 2016
3 Koba 150/20 kV 30 2018
4 Manggar 70/20 kV 30 2018
5 Pangkal Pinang 150/20 kV 30 2018
6 Air Anyir 150/20 kV 30 2019
7 Dukong 70/20 kV 30 2019
J umlah 210

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 150 kV dan 70 kV, diperlukan pengembangan
transmisi 150 kV dan 70 kV sepanjang 946 kms dengan kebutuhan dana sekitar 52,4
M USD seperti ditampilkan pada Tabel A7.6.
Tabel A7.6. Pembangunan SUTT 150 kV & 70 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Air Anyir Pangkal Pinang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 44 2,4 2011
2 Air Anyir Sungai Liat 150 kV 2 cct, 1 Hawk 112 6,2 2011
3 Dukong Manggar 70 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7,8 2012
4 Suge Dukong 70 kV 2 cct, 1 Hawk 50 2,8 2012
5 Pangkal Pinang Kelapa 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6,6 2014
6 Pangkal Pinang Koba 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6,6 2014
7 Kelapa Mentok 150 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7,8 2016
8 Koba Toboali 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6,6 2016
9 Air Anyir/Sungai Liat PLTU Bangka Baru III 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5,5 2018
J umlah 946 52,4
Konduktor

Peta jaringan 150 kV di Bangka dan jaringan 70 kV di Belitung diperlihatkan pada
Gambar A7.2 dan Gambar A7.3.
339


Gambar A7.2. Peta Jaringan Sistem Bangka

Gambar A7.3. Peta Jaringan Sistem Belitung
340

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
baru sekitar 158 ribu pelanggan sampai dengan 2020, dimana untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60% pada tahun 2011 akan disambung 58.000 pelanggan. Selanjutnya
akan disambung rata-rata 13.000 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan
pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan J TM 1.645 kms, J TR sepanjang 1.744
kms, Gardu Distribusí 151 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A7.7 berikut.
Tabel A7.7. Pengembangan Sistem Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 428 477 29 57.924
2012 143 149 11 11.719
2013 128 133 10 10.468
2014 146 152 13 11.944
2015 152 159 17 12.486
2016 113 117 12 9.226
2017 114 119 13 9.345
2018 123 128 14 10.091
2019 142 148 16 11.624
2020 156 162 17 12.766
J umlah 1.645 1.744 151 157.594
Tahun Pel anggan


A7.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A7.8.
Tabel A7.8. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 625 747 130 60 120 156 136
2012 708 839 146 17 80 190 74
2013 805 953 165 22 0 0 62
2014 907 1.071 186 45 60 240 135
2015 986 1.163 201 67 30 0 79
2016 1.086 1.277 221 30 90 260 78
2017 1.210 1.421 246 10 0 0 9
2018 1.367 1.605 277 60 90 100 82
2019 1.566 1.839 318 47 60 0 114
2020 1.820 2.137 369 47 0 0 112
J umlah 11.080 13.051 2.258 404 530 946 881
341


LAMPIRAN A.8
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA BARAT


A8.1. KONDISI SAAT INI
Pasokan sistem kelistrikan Provinsi Sumatera Barat (diluar kepulauan Mentawai)
berasal dari sistem interkoneksi 150 kV Sumatera Bagian Tengah (J ambi-Sumbar-
Riau) melalui 14 gardu induk dengan kapasitas total 565 MVA dan beban puncak
sebesar 348 MW seperti yang terlihat pada Gambar A8.1.
PLTA Batang Agam
3 x 3,5 MW
PLTA Maninjau
4 x 17 MW
PLTG Pauh Limo
3 x 21,35 MW
PLTU Ombilin
2 x 100 MW
PLTA Singkarak
4 x 43,75 MW
Kiliranjao
Solok
Ombilin
Koto
Panjang
Indarung
Salak
Simpang
Empat
Maninjau
ke
GI Muara Bungo
(Jambi)
PIP
Pauh Limo
Simpang
Haru
Kambang
Bungus
Padang
Luar
Padang
Panjang
Lubuk Alung
RIAU
SUMATERA
UTARA
JAMBI
BENGKULU
Pariaman
Batusangkar
Payakumbuh
ke
GI Padang Sidempuan
(Sumatera Utara)
Ke
GI New Garuda Sakti
(Riau)
ke
GI Koto Panjang
(Riau)
New
Garuda
Sakti
ke
GI Teluk Kuantan
(Riau)
Singkarak
ACSR 2 x 430 mm
2
141 km - 2013
ACSR 2 x 430 mm
2
300 km - 2013
ACSR 2 x 430 mm
2
150 km - 2013
A
A
U
A
ACSR 1 x 240 mm
2
52 km, 2
nd
cct - 2012
P
PLTP G.Talang
20 MW– 2019
ACSR 1 x 240mm
2
10km– 2019
Sungai
Penuh
ke
GI Bangko
(JAMBI)
ACSR 1 x 240mm
2
42km, 2
nd
cct – 2012
ACSR 1x 240 mm
2
32km, 2
nd
cct – 2012
U
ACSR 2x 240 mm
2
5 km- 2012
P
PLTP Muara Labuh
2 x 110 MW – 2017
ACSR 2 x 430 mm
2
117 km
(Operasi 150 kV)
ACSR 2 x 240mm
2
80 km- 2017
G
GI/GIS Kota
ACSR 2x 240 mm
2
8km– 2016
Sungai Rumbai
ACSR 1 x 240 mm
2
35km– 2013
ACSR 2 x 240mm
2
90 km- 2011
PT PLN (Persero)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
SUMATERA
PETA J ARINGAN
PROPINSI SUMATERA BARAT
PERENCANAAN SISTEM
BIDANG PERENCANAAN
PLTD
PLTGU
PLTU
PLTG PLTA
Kit Eksisting
Kit Rencana
Existing 70 kV
Existing 150 kV
Rencana 150 kV
Rencana 275 kV
PLTP
Edit
September 2011
D
A
P
U
G
GU
GI Eksisting
GI Rencana
GI 275/150
kV Renc
Rencana 500 kV
Rencana 275kV HVDC
Rencana 500kV HVDC
ACSR 2 x 240mm
2
17,5km– 2011
ACSR 1x 240 mm
2
25 km, 2
nd
cct – 2012
PLTU Sumbar Pesisir
#1,2 (FTP1)
2 x 112 MW – 2012/2013
ACSR 2 x 240 mm
2
110 km- 2015
ke
GI Muko-muko
(Bengkulu)
A
PLTA Masang – 2
55 MW – 2017
P
PLTP Bonjol
165 MW – 2019
ACSR 1x 240 mm
2
52 km– 2020
A
ACSR 1x 240 mm
2
15 km– 2017
 
Gambar A8.1. Sistem Interkoneksi di Provinsi Sumatera Barat
Saat ini di Provinsi Sumatera Barat terdapat pembangkit-pembangkit besar
sebagaimana ditunjukan pada Tabel A8.1.

342

Tabel A8.1. Kapasitas Pembangkit di Sistem Interkoneksi Per 2010
No Nama Pembangkit J enis
Bahan
Bakar
Pemilik
Kapasitas
Terpasang (MW)
1 Ombilin PLTU Batubara PLN 200
2 Pauh Limo PLTG HSD PLN 64
3 Maninjau PLTA Air PLN 68
4 Singkarak PLTA Air PLN 131
5 Batang Agam PLTA Air PLN 11
474 Total

Dengan kapasitas pembangkit 474 MW dan beban puncak 348 MW, maka Provinsi
Sumbar pada saat musim hujan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan
dapat memasok kebutuhan listrik Provinsi Riau sebesar ±150 MW. Namun pada
musim kemarau saat PLTA-PLTA di Sumbar mengalami penurunan kapasitas,
Provinsi Sumbar mendapat tambahan pasokan dari sistem Sumbagsel sekitar
100 MW.
Pada saat beban puncak daerah-daerah Pesisir Selatan seperti sebagian Kambang,
sebagian Balai Selasa, sebagian Indrapura serta Tapan dan Lunang membentuk
sistem-sistem isolated sendiri dengan beban puncak total sebesar 4,2 MW. Hal
tersebut terjadi karena kualitas tegangan di daerah tersebut sangat rendah akibat
jauhnya jarak dari GI Pauh Limo sebagai pemasok tenaga listrik daerah Pesisir
Selatan (±260 km).
Untuk sistem kelistrikan di Kepulauan Mentawai, saat ini mempunyai beban puncak
2,1 MW yang dipasok dari beberapa PLTD berkapasitas kecil yang berjumlah 21 unit
dan tersebar di 8 sentral PLTD dengan kapasitas terpasang 2,9 MW.
Selain itu ada juga pembangkit PLTM Pinang Awan di Solok Selatan yang beroperasi
paralel dengan sistem 20 kV untuk membantu menaikan tegangan di daerah tersebut
mengingat jaraknya yang jauh dari GI Solok sebagai pemasok tenaga listrik daerah
tersebut. Pembangkit isolated di Provinsi Sumatera Barat diberikan pada Tabel A8.2.






343

Tabel A8.2. Pembangkit di Sistem Isolated per 2010
No Nama Pembangkit J enis
Bahan
Bakar
Pemilik
Kapasitas
Terpasang (MW)
Kepulauan Mentawai 2,8
1 Sikabaluan PLTD HSD PLN 0,1
2 Sikakap PLTD HSD PLN 0,4
3 Sipora PLTD HSD PLN 0,1
4 Seay Baru PLTD HSD PLN 0,1
5 Saumangayak PLTD HSD PLN 0,2
6 Simalakopa PLTD HSD PLN 0,0
7 Simalepet PLTD HSD PLN 0,2
8 Tua Pejat PLTD HSD PLN 1,6
Pesisir Selatan 7,3
1 Lakuak PLTD HSD PLN 1,9
2 Balai Selasa PLTD HSD PLN 0,6
3 Indra Pura PLTD HSD PLN 1,3
4 Tapan PLTD HSD PLN 0,9
5 Lunang PLTD HSD PLN 2,2
6 Salido Kecil PLTMH Air Swasta 0,3
Solok Selatan 0,4
1 Pinang Awan PLTM Air PLN 0,4
10,5 Total Isolated


A8.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 5 tahun
terakhir adalah 6,8% per tahun. Indikator penjualan energi listrik yang merefleksikan
permintaan tenaga listrik masyarakat meningkat dari 1.741 GWh pada tahun 2006
menjadi 2.187 GWh di tahun 2010. Konsumsi tenaga listrik diserap oleh sektor rumah
tangga (45%), sektor industri (34%), sektor komersil (13%) dan sektor publik (8%).
Dari realisasi penjualan tenaga listrik pada enam tahun terakhir dan
mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk
dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik
2011 – 2020 seperti pada Tabel A8.3.







344

Tabel A8.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 2.253 2.418 389 876.242
2012 2.470 2.647 425 910.957
2013 2.725 2.915 468 946.243
2014 3.014 3.219 516 981.663
2015 3.330 3.551 568 1.017.739
2016 3.678 3.916 625 1.055.062
2017 4.057 4.318 689 1.093.265
2018 4.468 4.754 757 1.131.897
2019 4.913 5.226 831 1.171.568
2020 5.387 5.728 910 1.213.571
Growth 9,7% 9,6% 9,4% 3,7%


A8.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Sumatera Barat antara lain batubara, panas bumi
dan tenaga air. Menurut informasi dari Bapeda Sumatera Barat, potensi batubara
tersebar di Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan,
Kabupaten Solok, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok Selatan.
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, potensi panas bumi di Sumatera Barat
adalah sekitar 908 MW dan berada di Muaralabuh – Kabupaten Solok Selatan dan di
Talang - Kabupaten Solok.
Sedangkan potensi tenaga air tersebar hampir di Provinsi Sumatera Barat seperti
terlihat pada Tabel A8.4.








345

Tabel A8.4. Potensi Tenaga Air
No Lokasi DAS Type
Kapasitas
(MW)
Kabupaten/
Kecamatan
No Lokasi DAS Type
Kapasitas
(MW)
Kabupaten/
Kecamatan
1 Pasaman Bt. Pasaman ROR 21,2 Pasaman 25 Batanghari-3 Batanghari RSV 34,8 Slk Selatan
2 Sangir-2 Bt. Sangir ROR 2,2 Solok 26 Batanghari-5 Batanghari ROR 6,7 Slk Selatan
3 Sangir-3 Bt. Sangir ROR 7,8 Solok 27 Batanghari-6 Batanghari ROR 10,1 Slk Selatan
4 Sinamar-2 Bt. Sinamar ROR 13,1 Tanah Datar 28 Batanghari-7 Batanghari ROR 6,9 Dhamasraya
5 Masang-2 Bt. Masang ROR 14,5 Agam 29 Fatimah Fatimah ROR 0,8 Pasbar
6 Tuik Bt. Tuik ROR 3,9 Pessel 30 Sikarbau Sikarbau ROR 0,7 Pasbar
7 Lanajan-2 Bt. Lengayang ROR 3,1 Pessel 31 Balangir Balangir ROR 0,4 Slk Selatan
8 Lubuk-2 Bt. Rokan ROR 4,6 Pasaman 32 Landai-1 Bt. Langir ROR 6,8 Pessel
9 Asik Bt. Asik RSV 1,7 Pasaman 33 Sumani Bt. Sumani ROR 0,6 Solok
10 Lubuk-4U Bt. Lubuk ROR 4,8 Pasaman 34 Guntung Bt. Guntung ROR 0,6 Agam
11 Sumpur-1U Bt.Sumpur RSV 2,7 Pasaman 35 Sungai Putih Bt. Lumpo ROR 1,7 Pessel
12 Kampar KN-1 Bt. Kampar Kanan RSV 29,4 50 Kota 36 Kerambil Bt. Bayang J aniah ROR 1,6 Pessel
13 Kampar KN-2 Bt. Kampar Kanan RSV 8,6 50 Kota 37 Muaro Sako Bt. Muaro Sako ROR 2,4 Pessel
14 Kapur-1 Bt. Kapur RSV 10,6 50 Kota 38 Induring Bt. J alamu ROR 2,2 Pessel
15 Mahat-10 Bt. Mahat RSV 12,6 50 Kota 39 Palangai-3 Bt. Palangai ROR 4,1 Pessel
16 Mahat-2U Bt. Mahat RSV 2,2 50 Kota 40 Kambang-1 Bt. Kambang ROR 5,5 Pessel
17 Sumpur-K1 Bt. Sumpur RSV 8,1 S. Sijunjung 41 Kapas-1 Bt. Tumpatih ROR 8,1 Pessel
18 Palangki-1 Bt. Palangki RSV 11,8 S. Sijunjung 42 Landai-2 Bt. Air Haji ROR 7,1 Pessel
19 Palangki-2 Bt. Palangki RSV 17,9 S. Sijunjung 43 Sumpur-K2 Bt. Sumpur ROR 4,2 Tanah Datar
20 Sibakur Bt. Sibakur RSV 5,5 S. Sijunjung 44 Lawas-1D Bt. Lawas RSV 11,2 S. Sijunjung
21 Sibayang Bt.Sibayang RSV 15,0 Agam 45 Gumanti-1 Bt. Gumanti ROR 5,9 Solok
22 Sukam Bt. Sukam RSV 19,4 S. Sijunjung 46 Sikiah-1 Bt.Gumanti RSV 30,4 Solok
23 Kuantan-1 Bt. Kuantan ROR 3,4 S. Sijunjung 47 Sikiah-2 Bt Sikiah RSV 18,0 Solok
24 Batanghari-2 Batanghari RSV 22,2 Slk Selatan

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik hingga tahun 2020 direncanakan
pengembangan pembangkit di Sumatera Barat berkapasitas total 684 MW dan
transfer energi dengan sistem interkoneksi Sumatera. Untuk Kepulauan Mentawai
direncanakan pembangkit 9,2 MW, yaitu PLTS 0,2 MW (2011), PLTGB 6 MW (2013)
dan PLTGB 3 MW (2020). Pengembangan pembangkit interkoneksi di Sumatera
Barat ditampilkan pada Tabel A8.5 dan Tabel A8.6.
Tabel A8.5. Pengembangan Pembangkit di Sistem Interkoneksi
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Sumbar Pesisir #1,2 (FTP1) PLTU PLN 224 2012-13
2 Masang-2 PLTA PLN 55 2017
3 Muara Laboh (FTP2) PLTP Swasta 220 2017
4 Bonjol PLTP Swasta 165 2019
5 G. Talang PLTP Swasta 20 2019
J umlah 684

Selain itu PLN juga sedang menjalin kerjasama dengan Pemda dan swasta untuk
mengembangkan pembangkit hidro skala kecil dan menengah seperti terlihat pada
Tabel A8.6.

346

Tabel A8.6. Pengembangan Pembangkit Hidro Skala Kecil
No Nama Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Manggani PLTM Swasta 1,1 2011
2 Gumanti PLTM Swasta 5,0 2012
3 Gumanti PLTM Swasta 5,0 2012
4 Sinamar PLTM Swasta 5,0 2012
5 Sinamar PLTM Swasta 5,0 2012
6 Lubuk Gadang PLTM Swasta 4,0 2012
7 Gunung Tujuh PLTM Swasta 4,0 2012
8 Gunung Tujuh PLTM Swasta 4,0 2012
9 Tarusan PLTM Swasta 3,0 2012
10 Bayang PLTM Swasta 3,0 2012
11 Bayang PLTM Swasta 3,0 2012
12 Muara Sako PLTM Swasta 2,5 2012
13 Sumpur PLTM Swasta 2,0 2012
14 Kambahan PLTM Swasta 1,5 2012
15 Fatimah PLTM Swasta 1,4 2012
16 Sikarban PLTM Swasta 1,4 2012
17 Guntung PLTM Swasta 0,6 2012
J umlah 51,6

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI di Provinsi Sumatera Barat sampai dengan tahun 2020 berupa
2 buah GI 275 kV dan 4 buah GI 150 kV yang diperlihatkan pada Tabel A8.7 dan
Tabel A8.8.
Tabel A8.7. Pengembangan GI 275 kV Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Baru/
Extension
Kapasitas
(MVA)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Kiliranjao 275/150 kV Baru 250 19.66 2013
2
Payakumbuh 275/150 kV Baru 250 20.17 2013
J umlah 500 39.8

Tabel A8.8. Pengembangan GI 150 kV Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Bungus 150/20 kV 30 2011
2 Kambang 150/20 kV 30 2011
3 Sungai Rumbai 150/20 kV 30 2013
4 GI/GIS Kota Padang 150/20 kV 120 2016
J umlah 210

347

Selain itu juga direncanakan pengembangan GI existing dengan menambah unit trafo
150/20 kV dengan tambahan kapasitas total 840 MVA sebagaimana diperlihatkan
pada Tabel A8.9.
Tabel A8.9. Pengembangan Extension GI 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Padang Luar 150/20 kV 60 2012
2 Padang Panjang 150/20 kV 30 2012
3 Pauh Limo 150/20 kV 60 2012
4 Payakumbuh 150/20 kV 30 2012
5 PIP 150/20 kV 30 2012
6 Simpang Empat 150/20 kV 30 2012
7 Solok 150/20 kV 60 2012
8 Salak 150/20 kV 30 2013
9 Maninjau 150/20 kV 30 2014
10 Kiliranjao 150/20 kV 30 2016
11 Payakumbuh 150/20 kV 30 2016
12 Bungus 150/20 kV 30 2017
13 Kambang 150/20 kV 30 2017
14 Simpang Empat 150/20 kV 60 2017
15 Solok 150/20 kV 30 2017
16 Lubuk Alung 150/20 kV 30 2018
17 Sungai Rumbai 150/20 kV 30 2018
18 Pariaman 150/20 kV 30 2019
19 Batusangkar 150/20 kV 30 2020
20 GIS Kota Padang 150/20 kV 60 2020
21 Padang Luar 150/20 kV 30 2020
22 PIP 150/20 kV 60 2020
J umlah 840

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan GI 275 & 150 kV, diperlukan juga pengembangan
transmisi 275 kV sepanjang 882 kms dan transmisi 150 kV sepanjang 786 kms dengan
kebutuhan dana investasi USD 249,7 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A8.10 dan
Tabel A8.11.
Tabel A8.10. Pembangunan Transmisi 275 kV Baru
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Kiliranjao Payakumbuh 275 kV 2 cct, 2 Zebra 282 63,5 2013
2 Padang Sidempuan Payakumbuh 275 kV 2 cct, 2 Zebra 600 135,0 2013
J umlah 882 198,5
Konduktor


348

Tabel A8.11. Pembangunan Transmisi 150 kV Baru
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Bungus Kambang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 13,7 2011
2 Indarung Bungus 150 kV 2 cct, 2 Hawk 35 2,7 2011
3 Kiliranjao Teluk Kuantan 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 52 1,7 2012
4 Maninjau Padang Luar 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 42 1,4 2012
5 Padang Luar Payakumbuh 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 32 1,0 2012
6 PLTU Sumbar Pessel 2 pi Inc. (Bungus-Kambang) 150 kV 4 cct, 2 Hawk 20 0,8 2012
7 Singkarak Batusangkar 150 kV 1 2nd cct, 1 Hawk 25 0,8 2012
8 Kiliranjao Sungai Rumbai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 70 5,3 2013
9 PIP/S Haru/Pauh Limo GI/GIS Kota Padang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 16 0,9 2016
10 Simpang Empat Masang-2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 30 1,7 2017
11 Sungai Rumbai PLTP Muara Labuh 150 kV 2 cct, 2 Hawk 160 12,2 2017
12 Payakumbuh PLTP Bonjol 150 kV 2 cct, 2 Hawk 104 7,9 2019
13 Solok PLTP Gunung Talang 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1,1 2019
J umlah 786 51,2
Konduktor

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diproyeksikan akan terjadi
penambahan pelanggan baru sekitar 369 ribu pelanggan sampai dengan tahun 2020,
atau rata-rata 36.900 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan
tersebut, diperlukan pembangunan J TM 3.242 kms, J TR sekitar 3.823 kms dan
tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 471 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel
A8.12.
Tabel A8.12. Pengembangan Sistem Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 262 308 38 32.205
2012 295 347 43 34.715
2013 314 370 46 35.286
2014 315 371 46 35.420
2015 321 378 47 36.075
2016 331 391 48 37.323
2017 339 400 49 38.203
2018 342 404 50 38.633
2019 351 414 51 39.670
2020 372 439 54 42.004
J umlah 3.242 3.823 471 369.534
Tahun Pel anggan


A8.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2020 diberikan pada
Tabel A8.13.
349

Tabel A8.13. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 2,253 2,418 389 0 60 215 47
2012 2,470 2,647 425 112 300 171 203
2013 2,725 2,915 468 118 560 952 438
2014 3,014 3,219 516 0 30 0 28
2015 3,330 3,551 568 0 0 0 27
2016 3,678 3,916 625 0 180 16 42
2017 4,057 4,318 689 275 150 190 617
2018 4,468 4,754 757 0 60 0 33
2019 4,913 5,226 831 185 30 124 460
2020 5,387 5,728 910 3 180 0 42
J umlah 36,295 38,692 6,176 693 1,550 1,668 1,936

350


LAMPIRAN A.9
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI JAMBI

A9.1. KONDISI SAAT INI
J umlah beban puncak non-coincident sistem kelistrikan Provinsi J ambi (interkoneksi
dan isolated) saat ini sebesar 207 MW dan dipasok dari sistem interkoneksi
Sumbagselteng melalui saluran transmisi 150 KV dengan 5 GI, yaitu GI Aur Duri
(2x30 MVA), GI Payo Selincah (2x60MVA), GI Muara Bulian (30 MVA), GI Muara
Bungo (2x30 MVA) dan GI Bangko (30 MVA). Peta jaringan distribusi Provinsi J ambi
seperti ditunjukkan pada Gambar A9.1.

Gambar A9.1. Peta Jaringan Distribusi di Provinsi Jambi
Kapasitas pembangkit di Provinsi J ambi adalah sekitar 222,9 MW seperti ditunjukkan
pada Tabel A9.1.


351

Tabel A9.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
1 PLTD Payo Selincah PLTD Gas Alam+HSD PLN 31
2
PLTG Payo Selincah PLTG Gas Alam Sewa
100
3 PLTG Batang Hari PLTG Gas Alam PLN 62
4
PLTG Eks Sunyarangi PLTG Gas Alam Sewa
18
5 PLTD lokasi tersebar PLTD HSD PLN 12
Jumlah 223
No Nama Pembangki t Jeni s Bahan Bakar Pemi l i k
Kapasi tas
(MW)


A9.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Kebutuhan listrik diserap oleh konsumen rumah tangga (62%), konsumen komersil
(24%), konsumen publik (7%) dan konsumen industri (7%).
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat
dilihat pada Tabel A9.2.
Tabel A9.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 1.159 1.277 203 522.280
2012 1.316 1.444 227 555.972
2013 1.453 1.588 256 592.561
2014 1.640 1.783 281 630.152
2015 1.749 1.891 315 659.586
2016 1.873 2.016 334 690.151
2017 2.000 2.143 355 721.574
2018 2.144 2.289 377 755.141
2019 2.303 2.448 402 789.658
2020 2.482 2.629 426 827.382
Growth 9,3% 8,8% 8,8% 6,7%


A9.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
352

Potensi Sumber Energi
Sumber energi yang tersedia di Provinsi J ambi terdiri dari batubara, gas dan tenaga
air. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi J ambi, potensi batubara yang
layak ditambang adalah 779 juta ton dengan nilai kalori rata-rata 5.715 kkal/kg yang
tersebar di seluruh daerah kabupaten kecuali Kabupaten Kerinci. Potensi gas
terdapat di Kabupaten Tanjung J abung dan Kabupaten Muaro J ambi dan potensi
tenaga air terdapat di Kabupaten Merangin (sungai Merangin dan sungai Batang Air
Batu).
Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 di J ambi direncanakan akan
dipenuhi dengan mengembangkan pembangkit di J ambi dan di daerah lain pada
sistem interkoneksi Sumatera. Adapun pembangkit yang direncanakan berada di
Provinsi J ambi mempunyai kapasitas total 1.712 MW seperti ditampilkan pada Tabel
A9.3.
Tabel A5.3.1 Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Sarolangun PLTU Swasta 12 2011
2 Sungai Gelam PLTMG Sewa 12 2011
3 Payo Selincah PLTG Sewa Beli 100 2011-12
4 Sungai Gelam (CNG/Peaker) PLTG PLN 90 2012
5 Sengeti (CNG/Peaker) PLTG PLN 80 2012-13
6 Batanghari PLTGU PLN 30 2013
7 Kuala Tungkal PLTU PLN 14 2013
8 Tebo PLTU PLN 14 2013
9 Pembangkit Peaker PLTG PLN 100 2014
10 Sungai Penuh (FTP2) PLTP PLN 110 2015
11 Merangin PLTA PLN 350 2016-17
12 J ambi (KPS) PLTU Swasta 800 2018-19
J umlah 1712

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Sampai dengan tahun 2020 diperlukan pengembangan GI 150 kV baru dan extension
GI existing seperti pada Tabel A9.4 dan Tabel A9.5.

353

Tabel A9.4. Pengembangan GI 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Sungai Penuh 150/20 kV 30 2012
2 Muara Sabak 150/20 kV 30 2013
3 Sarolangun 150/20 kV 30 2014
4 Kuala Tungkal 150/20 kV 30 2018
J umlah 120

Tabel A9.5. Pengembangan Extension GI 150/20 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Aurduri 150/20 kV 60 2012
2 Bangko 150/20 kV 60 2012
3 Muaro Bulian 150/20 kV 60 2012
4 Payoselincah 150/20 kV 60 2012
5 Muaro Bungo 150/20 kV 60 2013
6 Sungai Penuh 150/20 kV 30 2014
7 Payoselincah 150/20 kV 60 2017
8 Aurduri 150/20 kV 60 2018
9 Muaro Bungo 150/20 kV 60 2018
10 Bangko 150/20 kV 30 2019
11 Muara Sabak 150/20 kV 30 2019
12 Payoselincah 150/20 kV 60 2020
13 Sarolangun 150/20 kV 30 2020
J umlah 660

Berkaitan dengan pengembangan transmisi 275 kV dan 500 kV Sumatera, akan
dibangun 3 buah GI 275 kV yaitu GI Bangko, GI Muara Bungo dan GI Aur Duri, seperti
pada Tabel A9.6.
Tabel A9.6. Pengembangan GI 275 kV dan 500 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Baru/
Extension
Kapasitas
(MVA)
Biaya
(juta US$)
COD
1
Bangko 275/150 kV Baru 250 21,08 2013
2
Muara Bungo 275/150 kV Baru 250 20,08 2013
3
Aur Duri 275/150 kV Baru 500 25,98 2014
4
Bangko 275/150 kV Extension 500 17,92 2017
5
Aurduri 275/150 kV Extension 0 2,81 2018
6
Aurduri 500kV 500/275 kV Baru 500 25,77 2018
7
PLTU J ambi 500 kV 500 kV Baru 0 9,82 2018
J umlah 2000 123,5

354

Pengembangan Transmisi
Selaras dengan pengembangan Sistem Sumatera, diperlukan pengembangan
transmisi 150 KV, 275 KV dan 500 kV seperti ditampilkan dalam Tabel A9.7 dan
Tabel A9.8.
Tabel A9.7. Pembanguan Transmisi 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Bangko PLTA Merangin 150 kV 2 cct, 2 Zebra 136 30.6 2012
2 PLTA Merangin Sungai Penuh 150 kV 2 cct, 2 Zebra 110 24.8 2012
3 PLTG CNG Sei Gelam Aur Duri 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.3 2013
4 PLTG CNG Sengeti Aur Duri 150 kV 2 cct, 1 Hawk 26 1.4 2013
5 Muara Sabak Inc. 1 Pi (Payo Selincah-Aur Duri) 150 kV 2 cct, 2 x 340 mm2 121.6 3.6 2013
6 Muara Bulian Sarolangun 150 kV 2 cct, 1 Hawk 130 7.2 2014
7 PLTP Sungai Penuh Sungai Penuh 150 kV 2 cct, 1 Hawk 84 4.7 2015
8 Muara Sabak Kuala Tungkal 150 kV 2 cct, 1 Hawk 108.8 6.0 2018
J umlah 776 81.7
Konduktor

Tabel A9.8. Pembanguan Transmisi 275 dan 500 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Bayung Lincir Aur Duri 275 kV 2 cct, 2 Zebra 120 27,0 2014
2 Aur Duri Rengat 275 kV 2 cct, 4 Zebra 420 137,1 2015
3 PLTU J ambi Aur Duri 500 kV 2 cct, 4 Zebra 150 49,0 2018
J umlah 690 213,1
Konduktor

Peta sistem kelistrikan Provinsi J ambi diperlihatkan pada Gambar A9.2.
355

A
C
S
R
2
x
4
3
0
m
m
2
6
0
k
m
-
2
0
1
4
A
C
S
R
4
x
2
8
2
m
m
2
7
5
k
m
-
2
0
1
8
A
C
S
R
1
x
2
4
0
m
m
2
3
0
k
m
-
2
0
1
3

Gambar A9.2. Peta Jaringan Provinsi Jambi
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik akan dilakukan penambahan
pelanggan baru sebanyak 390 ribu sambungan sampai dengan tahun 2020. Khusus
untuk tahun 2011 akan disambung sekitar 85 ribu pelanggan untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60%. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 38.900
pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan
pembangunan J TM 2.800 kms, J TR sekitar 2.626 kms dan tambahan kapasitas trafo
distribusi sekitar 257 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A9.9.







356

Tabel A9.9. Pengembangan Sistem Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 558 515 49 84.765
2012 222 205 20 33.693
2013 226 210 20 36.589
2014 234 220 21 37.591
2015 240 227 22 29.433
2016 245 230 23 30.565
2017 253 238 24 31.424
2018 264 253 25 33.567
2019 275 263 26 34.516
2020 282 264 27 37.725
J umlah 2.800 2.626 257 389.868
Tahun Pel anggan


A9.4. SISTEM ISOLATED
Provinsi J ambi masih memiliki 6 PLTD berbahan bakar minyak, yaitu PLTD
Pelabuhan Dagang, PLTD Sungai Lokan, PLTD Mendahara Tengah dan PLTD Kuala
Tungkal, PLTD Batang Asai dan PLTD Sarolangun dengan total kapasitas terpasang
12,85 MW dan 1 pembangkit IPP berbahan bakar gas yang beroperasi di Kabupaten
Tanjung J abung kapasitas terpasang 7,2 MW.
Tabel A9.10. Pembangkit pada Sistem Isolated per 2010
1 Pelabuhan Dagang PLTD 3,15 PLN
2 Sungai Lokan PLTD 0,82 PLN
3 Mendahara Tengah PLTD 0,43 PLN
4 Kuala Tungkal PLTD 4,91 PLN
5 Batang Asai PLTD 0,55 PLN
6 Sarolangun PLTD 3,00 PLN
7 Tanjung J abung Power PLTMG 7,20 Swasta
Total 20,05
No Nama Pembangkit
Kapasitas
(MW)
Pemilik J enis


A9.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 adalah seperti tersebut dalam Tabel A9.11.

357

Tabel A9.11. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 1,159 1,277 203 74 0 0 55
2012 1,316 1,444 227 160 270 246 134
2013 1,453 1,588 256 118 590 208 188
2014 1,640 1,783 281 100 560 250 133
2015 1,749 1,891 315 110 0 504 336
2016 1,873 2,016 334 175 0 0 282
2017 2,000 2,143 355 175 560 0 302
2018 2,144 2,289 377 400 650 259 643
2019 2,303 2,448 402 400 60 0 548
2020 2,482 2,629 426 0 90 0 29
J umlah 18,118 19,507 3,178 1,712 2,780 1,466 2,651


358


LAMPIRAN A.10
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI SUMATERA SELATAN

A10.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI
Beban puncak sistem kelistrikan Sumatera Selatan saat ini sebesar 615 MW dan
dipasok dari pembangkit yang terinterkoneksi melalui grid 150 kV dan 70 kV. Untuk
sistem isolated yang lokasinya tersebar dipasok dari pembangkit IPP dan PLTD.
GU
G
U
2
nd cct, 2012
A
C
S
R
2
x
4
3
0
m
m
2
1
7
5
k
m
-
2
0
1
5
G A
C
S
R
2 x 3
30
m
m
2
60 km
-
20
12
A
C
S
R
2 x 2 4 0
m
m
2
3 5 k m

2 0 1
5

Gambar A10.1. Peta Kelistrikan Provinsi Sumatera Selatan
Pembangkit yang memasok Provinsi Sumsel diberikan pada Tabel A10.1.



359

Tabel A10.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010
No
Kapasitas
(MW)
No
Kapasitas
(MW)
A PLN (Interkoneksi) 829,1 13 PLTMG Rental Borang 30,0
1 PLTU Keramasan #1,2 25,0 14 PLTU Bukit Asam #1,2,3,4 260,0
2 PLTG Keramasan #1,2,3,4 64,9 B PLN (Isolated) 6,6
3 PLTG Indralaya GT #1.1 50,0 15 PLTD Makarti J aya 1,4
4 PLTG Indralaya GT #1.2 40,0 16 PLTD Sungsang 1,7
5 PLTGU Indralaya ST #1.0 40,0 17 PLTD Air Saleh 1,1
6 PLTG Truck Mounted #1,2 40,0 18 PLTD Simpang Sender 1,9
7 PLTD Sungai J uaro #1,2 25,2 19 PLTD Teluk Agung 0,5
8 PLTG Borang 14,0 C IPP 43,8
9 PLTG Talang Duku 20,0 20 PLTMG Sako Kenten 12,0
10 PLTG Sewa Beli Tl. Duku 60,0 21 PLTMG Musi II 19,8
11 PLTG Sewa Beli Borang 60,0 22 PLTMG Prabumulih 12,0
12 PLTG Keramasan AKE #1,2 100,0 879,4
Nama
Total
Nama

Kota Palembang dipasok dari ring transmisi 70 kV dan ring transmisi 150 kV, dengan
4 trafo IBT 150/70 kV yang berada di GI Borang dan GI Keramasan dengan kapasitas
400 MVA. Gardu induk terpasang di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 21 GI
dengan total kapasitas trafo 932 MVA, terdiri dari 8 GI 70/20/12 kV dan 13 GI
150/20 kV.

A10.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI SUMATERA SELATAN
Konsumsi energi listrik di Sumsel diserap oleh konsumen rumah tangga (60%),
komersil (18%), industri (14%) dan publik (8%)
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020
seperti pada Tabel A10.2.









360

Tabel A10.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 3.089 3.383 630 1.176.885
2012 3.460 3.781 698 1.279.529
2013 3.845 4.196 769 1.395.900
2014 4.273 4.648 845 1.610.969
2015 4.758 5.160 931 1.676.664
2016 5.157 5.576 998 1.743.913
2017 5.589 6.027 1.070 1.813.797
2018 6.054 6.513 1.147 1.884.344
2019 6.599 7.081 1.238 1.954.822
2020 7.188 7.696 1.335 2.027.626
Growth 10,1% 9,8% 9,3% 8,1%


A10.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di provinsi ini sangat banyak berupa batubara, gas bumi,
minyak bumi, panas bumi dan gas metan batubara (CBM), sebagaimana
diperlihatkan pada Tabel A10.3.
Tabel A10.3. Potensi Sumber Energi
Sumber Daya Potensi Produksi
Minyak Bumi (Oil) 757,6 MMSTB 27.933,07 ribu BBL
Gas Bumi 24179,5 BSCF 434.108,64 ribu MMBTU
Batubara 47,1 Milyar Ton 9.276.361 ton
Coal Bed Methane 183,00 TCF Belum dimanfaatkan
Panas Bumi (Geothermal) 1.911 MW Belum dimanfaatkan
Gambut 64.200 Ha Belum dimanfaatkan
Potensi Air (Mini/Mikro Hidro) 9.385,728 kW Sebagian dimanfaatkan
Energi Surya 53,85 x 10 MW Telah dimanfaatkan
Biomassa 16.034,24 GWh Sebagian dimanfaatkan
Biogas 235,01 kWh Belum dimanfaatkan
Sumber : Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Prov. Sumatera Selatan 2008


361













Gambar A10.2. Peta Potensi Sumber Energi di Provinsi Sumatera Selatan
Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan
kapasitas pembangkit sekitar 3.795 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada
Tabel A10.4.














18
3
4
5
6
11
7
10
12
17
13
15
16
8
20
14
1
2
19
01-074-27
01-074-15
01-074-14
01-074-07
01-074-02
P_53
P_59
P_56
P_55
P_57
PLTU 2 x 113 MW
Simpang Belimbing
PLTU 2 x 135 MW
Keban Agung
9
PLTM 2 x 2,29 MW
Tel anai Banding Agung
PLTP 4 x 55 MW
Lumut Balai
18 18
33
44
55
66
11 11
77
10 10
12 12
17 17
13 13
15 15
16 16
88
20 20
14 14
11
22
19 19
01-074-27 01-074-27
01-074-15 01-074-15
01-074-14 01-074-14
01-074-07 01-074-07
01-074-02 01-074-02
P_53 P_53
P_59 P_59
P_56 P_56
P_55 P_55
P_57 P_57
PLTU 2 x 113 MW
Simpang Belimbing
PLTU 2 x 135 MW
Keban Agung
99
PLTM 2 x 2,29 MW
Tel anai Banding Agung
PLTP 4 x 55 MW
Lumut Balai
362

Tabel A10.4. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Borang PLTMG Sewa 30 2011
2 Simpang Belimbing #1,2 PLTU Swasta 227 2011
3 Talang Duku PLTG Sewa Beli 60 2011
4 Borang PLTG Sewa 60 2011-12
5 Gunung Megang, ST Cycle PLTGU Swasta 30 2012
6 J aka Baring (CNG/Peaker) PLTG PLN 50 2012
7 Baturaja PLTU Swasta 20 2013
8 Keramasan PLTGU PLN 86 2013
9 Banjarsari PLTU Swasta 230 2014
10 Sumsel-11, MT PLTU Swasta 227 2014
11 Lumut Balai (FTP2) PLTP Swasta 220 2014-15
12 Sumsel-2 (Keban Agung) PLTU Swasta 225 2015
13 Sumsel-5 PLTU Swasta 300 2015-16
14 Sumsel-7 PLTU Swasta 300 2015-16
15 Sumsel-6, Mulut Tambang PLTU Swasta 600 2016-17
16 Sumsel-8, Mulut Tambang PLTU Swasta 1200 2016
17 Sumsel-9, Mulut Tambang PLTU Swasta 1200 2017
18 Sumsel-10, Mulut Tambang PLTU Swasta 600 2018
19 Rantau Dedap (FTP2) PLTP Swasta 220 2018-19
20 Danau Ranau PLTP Swasta 110 2019
21 Sumsel-1, Mulut Tambang PLTU PLN 800 2019-20
J umlah 6795

Pengembangan PLTU Sumsel-8, PLTU Sumsel-9 dan PLTU Sumsel-10 dengan
kapasitas total 3.000 MW merupakan PLTU batubara mulut tambang dengan
memanfaatkan tersedianya cadangan batubara low rank di Sumatera Selatan. Listrik
dari ketiga PLTU tersebut dimaksudkan akan disalurkan ke Pulau J awa melalui
transmisi HVDC 500 kV J awa-Sumatera. Rencana ini dilakukan dengan terlebih
dahulu memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Selatan pada khususnya dan
Sumatera pada umumnya melalui pengembangan banyak pembangkit batubara,
panas bumi dan gas.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan Gardu Induk
Provinsi Sumsel memerlukan pembangunan GI 150 kV baru di 11 lokasi dengan
kapasitas sebesar 570 MVA seperti pada Tabel A10.5.


363

Tabel A10.5. Pengembangan GI 150 kV Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Tanjung Api-Api 150/20 kV 60 2012
2 Gandus 150/20 kV 120 2013
3 J akabaring 150/20 kV 60 2013
4 Kenten 150/20 kV 120 2013
5 Sekayu 150/20 kV 30 2013
6 Kayu Agung 150/20 kV 30 2014
7 Sungai Lilin 150/20 kV 30 2014
8 Tebing Tinggi 150/20 kV 30 2014
9 Muara dua 150/20 kV 30 2015
10 Martapura 150/20 kV 30 2016
11 Muara Rupit 150/20 kV 30 2017
J umlah 570

Selain itu juga diperlukan pengembangan GI existing kapasitas total trafo 1.470 MVA
sampai tahun 2020 seperti pada Tabel A10.6.
Tabel A10.6. Pengembangan Extension GI 70 kV dan 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Baturaja 150/20 kV 60 2011 17 Gumawang 150/20 kV 30 2014
2 Bukit Siguntang 70/20 kV 30 2011 18 Lubuk Linggau 150/20 kV 60 2014
3 Lubuk Linggau 150/20 kV 60 2011 19 Mariana 150/20 kV 30 2015
4 Baturaja 150/20 kV 60 2012 20 Keramasan 150/20 kV 60 2017
5 Bukit Siguntang 70/20 kV 30 2012 21 Sungai Lilin 150/20 kV 30 2017
6 Bungaran 70/20 kV 60 2012 22 Bukit Asam 150/20 kV 60 2018
7 Gungung Megang 150/20 kV 60 2012 23 Kenten 150/20 kV 60 2018
8 Lahat 150/20 kV 30 2012 24 Pagar Alam 150/20 kV 30 2018
9 Pagar Alam 150/20 kV 30 2012 25 Talang Kelapa 150/20 kV 60 2018
10 Prabumulih 150/20 kV 60 2012 26 Betung 150/20 kV 30 2019
11 Simpang Tiga 150/20 kV 60 2012 27 Kayu Agung 150/20 kV 30 2019
12 Talang Kelapa 150/20 kV 60 2012 28 Gandus 150/20 kV 60 2020
13 Baturaja 150/20 kV 60 2013 29 Sekayu 150/20 kV 30 2020
14 Bukit Asam 150/20 kV 60 2013 30 Simpang Tiga 150/20 kV 60 2020
15 Bukit Siguntang 70/20 kV 30 2013 31 Tebing Tinggi 150/20 kV 30 2020
16 Keramasan 150/20 kV 60 2013 J umlah 1470

Sebagai bagian dari rencana pengembangan kelistrikan Sumatera dan nasional, di
Provinsi Sumatera Selatan terdapat proyek-proyek pengembangan GI 275 kV, GI 500
kV dan stasiun konverter transmisi HVDC 500 kV seperti pada Tabel A10.7.




364

Tabel A10.7. Pengembangan GI 275 kV, 500 kV dan 500 kV HVDC
No Nama Gardu Induk Tegangan
Baru/
Extension
Kapasitas
(MVA)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Lahat 275/150 kV Baru 1000 35,50 2013
2 Lubuk Linggau 275/150 kV Baru 250 20,32 2013
3 Betung 275/150 kV Baru 500 24,00 2014
4 Gumawang 275/150 kV Baru 500 21,03 2014
5 Lahat 275/150 kV Extension 0 2,97 2014
6 Lumut Balai 275/150 kV Baru 500 24,28 2014
7 Bayung Lincir/PLTU Sumsel - 5 275/150 kV Baru 0 12,08 2015
8 Muara Enim 275/150 kV Baru 0 12,21 2015
9 Sungai Lilin/PLTU Sumsel - 7 275/150 kV Baru 0 12,08 2015
10 Muara Enim 500 kV 500 kV DC Baru 3000 324,00 2016
11 Muara Enim 500 kV 500/275 kV Baru 1000 54,31 2016
12 Lubuk Linggau 275/150 kV Extension 250 7,45 2020
J umlah 7000 550,2

Pengembangan Transmisi
Di Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pengembangan transmisi 150 kV, 275 kV,
500 kV dan 500 kV DC sepanjang 2.876 kms sampai dengan tahun 2020 dengan
kebutuhan dana sekitar USD 498,1 juta seperti ditampilkan dalam Tabel A10.8. dan
Tabel A10.9.
Tabel A10.8. Pembanguan Transmisi 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 PLTU Simpang Belimbing Inc. 1 Pi (Prabumulih-Bk. Asam) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.9 2011
2 Kenten Inc. 2 Pi (T. Kelapa-Borang ) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 1 0.1 2012
3 Lahat Pagar Alam 150 kV 2 2nd cct, 1 Hawk 94.6 5.2 2012
4 PLTU Simpang Belimbing Lahat 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.9 2012
5 Tanjung Api-Api Inc.1 Pi (T.Kelapa-Borang )/Kenten 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 40 3.6 2012
6 Betung Sekayu 150 kV 2 cct, 1 Hawk 70 3.9 2013
7 Bukit Asam (uprate) Baturaja (uprate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 78 10.4 2013
8 Gandus Inc. 2 Pi (Keramasan-T. Kelapa) 150 kV 2 cct, CU 1000 mm2 20 44.4 2013
9 J akabaring Inc. 2 Pi (Keramasan-Mariana) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 1 0.1 2013
10 Betung Talang Kelapa 150 kV 1 2nd cct, 2 Hawk 55.2 8.4 2014
11 Kayu Agung Gumawang 150 kV 2 cct, 2 Zebra 90 20.3 2014
12 Lahat PLTU Banjar Sari 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 40 3.6 2014
13 Lubuk Linggau Tebing Tinggi 150 kV 2 cct, 1 Hawk 150 8.3 2014
14 Mariana Kayu Agung 150 kV 2 cct, 2 Zebra 60 13.5 2014
15 Sumsel-11, MT Inc. 1 Pi (Prabumulih-Bk. Asam) 150 kV 2 cct, 2 x 330 mm2 120 10.9 2014
16 Sungai Lilin Betung 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.6 2014
17 Lahat PLTU Keban Agung 150 kV 2 cct, 2 Zebra 70 15.8 2015
18 Muara Dua Baturaja 150 kV 2 cct, 2 Hawk 92 7.0 2015
19 Gumawang Martapura 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.6 2016
20 Sarolangun Muara Rupit 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.4 2017
21 PLTP Rantau Dedap PLTP Lumut Balai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.1 2018
22 Muara Dua PLTP Danau Ranau 150 kV 2 cct, 2 Hawk 90 6.9 2019
J umlah 1672 204.9
Konduktor


365

Tabel A10.9. Pembanguan Transmisi 275 kV, 500 kV dan 500 kV DC
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Betung Sungai Lilin 275 kV 2 cct, 2 Zebra 120 27,0 2014
2 Lahat Lumut Balai 275 kV 2 cct, 2 Zebra 50 11,3 2014
3 Lahat Muara Enim 275 kV 2 cct, 2 Zebra 70 15,8 2014
4 Muara Enim Gumawang 275 kV 2 cct, 2 Zebra 290 65,3 2014
5 Bayung Lincir Sungai Lilin 275 kV 2 cct, 2 Zebra 124 27,9 2014
6 Muara Enim Betung 275 kV 2 cct, 2 Zebra 350 78,8 2015
7 Muara Enim perbatasan Sumsel/Lampung 500 kV DC 2 cct 4 Falcon 200 67,2 2016
J umlah 1204 293,2
Konduktor

Selain proyek-proyek transmisi yang tercantum dalam tabel A10.8 dan tabel A10.9
terdapat pula ruas transmisi 500 kV AC yang menghubungkan PLTU mulut tambang
Sumsel-8, Sumsel-9 dan Sumsel-10 ke GI 500 kV Muara Enim. Panjang dan rute
transmisi 500 kV tersebut akan ditentukan kemudian sesuai hasil lelang ketiga PLTU
mulut tambang tersebut.
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan sebesar 1,03
juta pelanggan, dimana untuk mencapai rasio elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan
disambung 233.400 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan disambung rata-
rata 88.700 pelanggan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan,
diperlukan pembangunan J TM 5.152kms, J TR sekitar 5.306 kms dan tambahan
kapasitas trafo distribusi sekitar 675 MVA, seperti ditampilkan dalam Tabel A10.10.
Tabel A10.10. Rincian Pengembangan Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 716 721 100 233.427
2012 394 396 44 102.644
2013 414 421 54 116.372
2014 438 447 50 116.204
2015 462 475 62 88.735
2016 488 504 58 83.599
2017 516 535 71 73.059
2018 544 567 67 69.997
2019 574 602 82 70.865
2020 606 638 88 76.896
J umlah 5.152 5.306 675 1.031.799
Tahun Pel anggan



366

A10.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A10.11.
Tabel A10.11. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 3,089 3,383 630 347 150 120 372
2012 3,460 3,781 698 110 510 256 124
2013 3,845 4,196 769 106 1,790 169 301
2014 4,273 4,648 845 567 1,680 1,289 1,253
2015 4,758 5,160 931 635 60 512 1,178
2016 5,157 5,576 998 600 4,030 320 1,305
2017 5,589 6,027 1,070 300 120 80 445
2018 6,054 6,513 1,147 110 210 40 306
2019 6,599 7,081 1,238 620 60 90 1,073
2020 7,188 7,696 1,335 400 430 0 604
J umlah 50,012 54,063 9,661 3,795 9,040 2,876 6,961

367


LAMPIRAN A.11
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero)
DI PROVINSI BENGKULU


A11.1. KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI
Sistem kelistrikan di Provinsi Bengkulu saat ini mempunyai beban puncak sekitar 113
MW, terdiri dari 92 MW beban puncak interkoneksi dan 21 MW beban puncak sistem
isolated. Pasokan utama bersumber dari sistem interkoneksi Sumbagselteng melalui
transmisi 150 kV dan 70 kV. Sedangkan sistem isolated dipasok dari PLTD dan
PLTMH. Peta kelistrikan Provinsi Bengkulu diperlihatkan pada Gambar A11.1.

Gambar A11.1. Peta Kelistrikan Provinsi Bengkulu
Pembangkit di Provinsi Bengkulu diberikan pada Tabel A11.1.


368

Tabel A11.1. Kapasitas Pembangkit Terpasang per 2010
No. Nama Pembangkit
Bahan
Bakar Pemilik
Kapasitas
Terpasang (MW)
1 PLTA Musi Air PLN 210,0
2 PLTA Tes Air PLN 17,6
3 PLTD Isolated HSD PLN 17,6
4 PLTD Isolated HSD Sewa 8,8
5 PLTM Isolated Air PLN 1,6
J umlah 255,6

A11.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK DI BENGKULU
Dari realisasi penujualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat
dilihat pada Tabel A11.2.
Tabel A11.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 498 564 107 284.722
2012 565 638 120 311.088
2013 635 716 133 335.351
2014 709 796 146 369.793
2015 759 849 154 381.756
2016 814 908 162 400.938
2017 880 978 172 415.084
2018 934 1.034 181 431.919
2019 1.001 1.106 192 449.019
2020 1.072 1.180 204 465.835
Growth 9,2% 8,9% 7,8% 6,7%


A11.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Menurut informasi dari Kementerian ESDM, sumber energi yang tersedia di Bengkulu
untuk membangkitkan energi listrik terdiri dari potensi tenaga air dan panas bumi
dengan perkiraan potensi mencapai 400 MW untuk PLTA dan 500 MW PLTP. Selain
369

itu terdapat cadangan batubara sebesar 120 juta ton. Gambar A11.2 memperlihatkan
sebaran dan jumlah potensi energi tersebut.

Gambar A11.2. Peta Potensi Energi Primer
Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan
kapasitas pembangkit sebesar 367 MW di 5 lokasi dengan perincian seperti
ditampilkan pada Tabel A11.3.
Tabel A11.3. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Ipuh PLTU PLN 6 2013
2 Muko Muko PLTU Swasta 8 2013
3 Hululais (FTP2) PLTP PLN 110 2015
4 Simpang Aur (FTP2) PLTA Swasta 23 2015
5 Kepahiyang PLTP PLN 220 2020
J umlah 367


370

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan Gardu Induk
Rencana pengembangan gardu induk di Provinsi Bengkulu hingga tahun 2020 yaitu 5
penambahan GI baru dan 3 pengembangan GI existing. Total penambahan kapasitas
trafo GI mencapai 360 MVA dengan rincian kegiatan seperti pada Tabel A11.4 dan
Tabel A11.5.
Tabel A11.4. Pengembangan GI Baru 150 kV dan 70 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Manna 150/20 kV 30 2012
2 Pulau Baai 150/20 kV 120 2013
3 Argamakmur 150/20 kV 30 2015
4 Muko-muko 150/20 kV 30 2015
5 Bintuhan 150/20 kV 30 2017
J umlah 240

Tabel A11.5. Pengembangan GI Existing 150 kV dan 70 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Manna 150/20 kV 30 2013
2 Pekalongan 150/20 kV 30 2013
3 Pulau Baai 150/20 kV 60 2017
J umlah 120

Pengembangan Transmisi
Untuk mengikuti perkembangan gardu induk dan pembangkit, dibutuhkan juga
pengembangan jaringan transmisi sepanjang 1.318 kms dengan biaya sebesar
US$ 95,4 juta. Rincian kegiatan terdapat pada Tabel A11.6.
Tabel A11.6. Pembangunan Transmisi
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Pagar Alam Manna 150 kV 2 cct, 1 Hawk 96 5,3 2012
2 Pekalongan Pulo Baai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 90 6,9 2013
3 Kambang Muko-muko/Bantal/Ipoh 150 kV 2 cct, 2 Hawk 220 16,8 2015
4 Pekalongan PLTP Hululais 150 kV 2 cct, 2 Hawk 120 9,2 2015
5 PLTA Simpang Aur 1 Inc. 1 Pi (Pekalongan-P. Baai) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 20 1,5 2015
6 PLTA Simpang Aur 1 PLTA Simpang Aur 2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 12 0,7 2015
7 Pulau Baai Arga Makmur 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 13,7 2015
8 Manna Bintuhan 150 kV 2 cct, 1 Hawk 140 7,8 2017
9 Muko-muko/Bantal/Ipoh Arga Makmur 150 kV 2 cct, 2 Hawk 360 27,5 2020
10 PLTP Kepahiyang Inc. 2 Pi (Pekalongan-P. Baai) 150 kV 4 cct, 2 Hawk 80 6,1 2020
J umlah 1318 95,4
Konduktor

371

Pengembangan Distribusi
Proyeksi penambahan pelanggan baru mendekati 221 ribu sambungan untuk kurun
waktu 2011-2020, dimana untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 60% di
tahun 2011 akan disambung 40.147 pelanggan. Pada tahun-tahun selanjutnya akan
disambung rata-rata 20.100 pelanggan per tahun, dengan kebutuhan pertambahan
J TM sebanyak 2.115 kms, J TR sepanjang 2.301 kms dan penambahan kapasitas
gardu distribusi sebesar 140 MVA seperti pada Tabel A11.7.
Tabel A11.7. Rincian Pengembangan Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 290 316 20 40.147
2012 191 208 13 26.366
2013 176 191 12 24.262
2014 271 295 18 34.442
2015 133 144 8 11.963
2016 306 333 16 19.182
2017 141 153 12 14.146
2018 227 247 15 16.836
2019 194 211 13 17.100
2020 188 204 13 16.816
J umlah 2.115 2.301 140 221.260
Tahun Pel anggan


A11.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diperlihatkan pada Tabel A11.8.








372

Tabel A11.8. Rangkuman

Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 498 564 107 0 0 0 13
2012 565 638 120 0 30 96 17
2013 635 716 133 14 180 90 56
2014 709 796 146 0 0 0 17
2015 759 849 154 133 60 552 269
2016 814 908 162 0 0 0 21
2017 880 978 172 0 90 140 25
2018 934 1.034 181 0 0 0 19
2019 1.001 1.106 192 0 0 0 18
2020 1.072 1.180 204 220 0 440 406
J umlah 7.867 8.768 1.571 367 360 1.318 862
373


LAMPIRAN A.12
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (Persero) DI
PROVINSI LAMPUNG

A12.1. KONDISI SAAT INI
Sistem ketenagalistrikan di Provinsi Lampung adalah bagian dari sistem interkoneksi
Sumatera seperti ditunjukkan pada Gambar A12.1.

Gambar A12.1. Peta Sistem Interkoneksi & Sistem Isolated
Beberapa sistem di Provinsi Lampung belum tersambung dengan sistem interkoneksi,
meliputi sistem tersebar yang kecil (< 0,5 MW) yang pada umumnya merupakan
PLTD Listrik Pedesaan dengan jam operasi 12 jam per hari yang tersebar di lokasi
yang terpencil seperti Pulau Sebesi di Lampung Selatan, Pugung Tampak dan
Bengkunat di Lampung Barat.
Sistem kelistrikan Lampung akan dikembangkan untuk mencakup daerah-daerah
sebagai berikut : Kota Agung di Kabupaten Tanggamus, Liwa dan Ulubelu di
Kabupaten Lampung Barat, Pakuan Ratu di Kabupaten Tulang Bawang Barat dan
Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji. Peta kelistrikan Provinsi Lampung
diperlihatkan pada Gambar A12.2.
374


U

Gambar A12.2 .Peta Kelistrikan Provinsi Lampung
Beban puncak Lampung pada tahun 2010 adalah 482 MW dengan produksi energi
2.607 GWh.
Pembangkit yang berada di Provinsi Lampun ditunjukkan pada Tabel A12.1.
Tabel A12.1. Kapasitas Pembangkit per 2010
No Pembangkit
Daya
Terpasang
(MW)
Daya
Mampu
(MW)
1 PLTA Besai #1,2 90 89
2 PLTA Batutegi #1,2 30 28
3 PLTU Tarahan #3,4 200 200
4 PLTD Tarahan #2,4 15 12
5 PLTD Teluk Betung #7,8,10 14 11
6 PLTD Tegineneng #1,2,3 28 20
J umlah 377 361



375

A12.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Pertumbuhan penjualan tenaga listrik khususnya provinsi Lampung dalam lima tahun
terakhir sangat tinggi, yaitu mencapai 11,1%. Pertumbuhan ini masih berpotensi
untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi, karena pada tahun 2010 baru mencapai
60%.
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terkahir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat
dilihat pada Tabel A12.2.
Tabel A12.2. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 2.811 3.106 569 1.274.206
2012 3.325 3.637 660 1.429.388
2013 3.679 3.989 717 1.578.181
2014 4.052 4.361 776 1.731.411
2015 4.428 4.746 837 1.874.733
2016 4.747 5.077 887 1.968.260
2017 5.075 5.416 938 2.064.353
2018 5.411 5.762 989 2.163.074
2019 5.754 6.124 1.041 2.264.491
2020 6.102 6.491 1.094 2.368.673
Growth 10,6% 9,6% 8,2% 8,7%


A12.3. PENGEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan pembangunan sarana
pembangkit, transmisi dan distribusi sebagai berikut.
Potensi Sumber Energi
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung,
potensi sumber energi utama yang berada di provinsi ini adalah panas bumi dan
tenaga air sebagaimana diberikan pada Tabel A12.3 dan Tabel A12.4. Selain itu juga
terdapat potensi biomassa dan batubara.


376

Tabel A12.3. Potensi Panas Bumi

Speculative Hipothetic Possible Probable Proven
1 Way Umpu Way Kanan 100 - - - -
2 Danau Ranau Lampung Barat - 185 222 37 -
3 Purunan Lampung Barat 25 - - - -
4 Gn. Sekincau Lampung Barat - 100 130 - -
5 Bacingot Lampung Barat 225 - - - -
6 Suoh Antata Lampung Barat - 163 300 - -
7 Pajar Bulan Lampung Barat 100 - - - -
8 Natar Lampung selatan 25 - - - -
9 Ulu Belu Tanggamus - 156 380 - 110
10 Lempasing Lampung selatan 225 - - - -
11 Way Ratai Lampung selatan - 194 - - -
12 Kalianda Lampung selatan - 40 40 - -
13 Pmt. Belirang Lampung selatan 225 - - - -
925 838 1,072 37 110 Total Potency = 2,855 Mwe
No. Area Regency
Potency (Mwe) Reserve (Mwe)

Tabel A12.4. Potensi Tenaga Air
I Mesuji Tulang bawang III Semangka
1 Besai / Umpu 7.50 1 Semangka Atas I 26.8
2 GihamPukau 16.00 2 Semangka Atas II 23.2
3 GihamAringik 80.00 3 Semangka Atas III 28.2
4 Tangkas 1.60 4 Semangka Bawah I 35.5
5 Campang Limau 1.00 5 Semangka Bawah II 40.4
6 Sinar Mulia 978.00 6 Semung I 23.8
7 Way Abung 600.00 7 Semung II 38.7
8 Way Umpu 600.00 8 Semung III 11.6
9 Manula I 5.7
10 Manula II 8.4
11 Simpang Lunik I 6.1
II Seputih / Sekampung 12 Simpang Lunik II 3.8
1 Bumiayu 39.20 13 Simpang Lunik III 3.9
No. Lokasi
Kapasitas
(MW)
No. Lokasi
Kapasitas
(MW)

Pengembangan Pembangkit
Untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan tahun 2020, diperlukan tambahan
kapasitas pembangkit sekitar 1.301 MW dengan perincian seperti ditampilkan pada
Tabel A12.5.


377

Tabel A12.5. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Tarahan (FTP1) PLTU PLN 200 2012
2 Ulubelu #1,2 PLTP PLN 110 2012-13
3 Tarahan #5,6 PLTU Sewa 240 2013
4 Pembangkit Peaker PLTG PLN 200 2014
5 Ulubelu #3,4 (FTP2) PLTP Swasta 110 2015
6 Semangka PLTA Swasta 56 2016
7 Rajabasa (FTP2) PLTP Swasta 220 2017
8 Suoh Sekincau PLTP Swasta 110 2018-19
9 Wai Ratai PLTP Swasta 55 2019
J umlah 1301

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk
Pengembangan GI
Di Provinsi Lampung direncanakan pembangunan 14 buah gardu induk baru dan
pengembangan GI existing sampai dengan tahun 2020 seperti diperlihatkan pada
Tabel A12.6 dan Tabel A12.7.
Tabel A12.6. Rencana GI Baru 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Seputih banyak 150/20 kV 30 2011
2 Dipasena 70/20 kV 90 2012
3 Ulubelu 150/20 kV 30 2012
4 Kota Agung 150/20 kV 30 2014
5 Liwa 150/20 kV 30 2014
6 Dipasena 150/20 kV 120 2015
7 Gedong Tataan 150/20 kV 60 2015
8 Ketapang 150/20 kV 30 2015
9 Mesuji 150/20 kV 30 2015
10 Teluk Ratai 150/20 kV 30 2015
11 J ati Agung 150/20 kV 30 2016
12 Pakuan Ratu 150/20 kV 30 2016
13 Langkapura 150/20 kV 60 2017
14 Bengkunat 150/20 kV 30 2019
J umlah 630




378

Tabel A12.7. Rencana Pengembangan GI Existing
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Kotabumi 150/20 kV 60 2011 14 Adijaya 150/20 kV 30 2015
2 Adijaya 150/20 kV 30 2012 15 New Tarahan 150/20 kV 60 2015
3 Bukit Kemuning 150/20 kV 60 2012 16 Menggala 150/20 kV 60 2016
4 Kalianda 150/20 kV 30 2012 17 Sutami 150/20 kV 30 2016
5 Natar 150/20 kV 60 2012 18 Mesuji 150/20 kV 30 2018
6 New Tarahan 150/20 kV 30 2012 19 Tegineneng 150/20 kV 60 2018
7 Pagelaran 150/20 kV 60 2012 20 J ati Agung 150/20 kV 30 2019
8 Metro 150/20 kV 60 2013 21 Ketapang 150/20 kV 30 2019
9 Sribawono 150/20 kV 60 2013 22 Pakuan Ratu 150/20 kV 30 2019
10 Sukarame 150/20 kV 30 2013 23 Sukarame 150/20 kV 60 2019
11 Kotabumi 150/20 kV 60 2014 24 Kotabumi 150/20 kV 60 2020
12 Seputih banyak 150/20 kV 30 2014 25 Sribawono 150/20 kV 60 2020
13 Tegineneng 150/20 kV 60 2014 J umlah 1170

Pengembangan Transmisi
Pengembangan transmisi 150 kV dan 500 kV sampai dengan 2020 sepanjang
2.124 kms diperlihatkan pada Tabel A12.8.
Tabel A12.8 Pengembangan Transmisi 150 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Bukit Kemuning (uprate) Kotabumi (uprate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 68 9.0 2011
2 PLTU Tarahan (FTP1) Inc. 2 Pi (New Tarahan-Kalianda) 150 kV 2 cct, 2 Zebra 1 0.2 2011
3 Seputih Banyak Dipasena 70 kV 2 cct, 1 Hawk 120 9.2 2012
4 Ulubelu Inc. 1 Pi (Batutegi-Pagelaran) 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.1 2012
5 Baturaja (uprate) Bukit Kemuning (uprate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 96 12.8 2013
6 Menggala Seputih Banyak 150 kV 2 cct, 2 Zebra 120 27.0 2013
7 Sutami (uprate) Natar (uprate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 30 4.0 2013
8 Pagelaran (uprate) Tegineneng (uprate) 150 kV 2 cct, AC3 310 mm2 30 4.0 2013
9 Bukit Kemuning Liwa 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.4 2014
10 Pagelaran Kota Agung 150 kV 2 cct, 1 Hawk 80 4.4 2014
11 Gedon Tataan Teluk Ratai 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.3 2015
12 Gumawang Mesuji 150 kV 2 cct, 2 Hawk 160 12.2 2015
13 Kalianda Ketapang 150 kV 2 cct, 2 Zebra 90 20.3 2015
14 Mesuji Dipasena 150 kV 2 cct, 2 Hawk 152 11.6 2015
15 Pagelaran Gedong Tataan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 60 4.6 2015
16 PLTP Ulubelu #3,4 Ulubelu 150 kV 2 cct, 1 Hawk 20 1.1 2015
17 Natar J atiagung 150 kV 2 cct, CU 1000 mm2 16 35.5 2016
18 Pakuan Ratu Inc. 1 Pi (Menggala-Gumawang) 150 kV 2 cct, 2 Zebra 1 0.2 2016
19 PLTA Semangka Kota Agung 150 kV 2 cct, 1 Hawk 60 3.3 2016
20 Kalianda PLTP Rajabasa 150 kV 2 cct, 2 Hawk 40 3.1 2017
21 Langkapura Inc. 2 Pi (Natar-Teluk Betung) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 2 0.1 2017
22 Besai PLTP Suoh sekincau 150 kV 2 cct, 2 Hawk 38 2.1 2018
23 Liwa Bengkunat 150 kV 2 cct, 1 Hawk 120 6.6 2019
24 Teluk Ratai PLTP Wai Ratai 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2.2 2019
J umlah 1524 184.6
Konduktor

Di provinsi ini melintas transmisi 500 kV HVDC Sumatera-J awa dengan switching
station dan landing point kabel laut 500 kV HVDC akan berada di Ketapang.
379

Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, penambahan pelanggan baru
sampai dengan 2020 adalah 1.331 ribu pelanggan, dimana untuk mencapai rasio
elektrifikasi 60% di tahun 2011 akan disambung 236.225 pelanggan dan pada tahun-
tahun selanjutnya akan disambung rata-rata 121.600 pelanggan per tahun. Selaras
dengan penambahan pelanggan tersebut, diperlukan pembangunan J TM 2.409 kms,
J TR sekitar 2.268 kms dan tambahan kapasitas trafo distribusi sekitar 766 MVA,
seperti ditampilkan dalam Tabel A12.9.
Tabel A12.9. Pengembangan Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 428 403 144 236.225
2012 281 264 94 155.182
2013 269 254 88 148.793
2014 277 261 87 153.230
2015 260 244 72 143.322
2016 169 159 54 93.527
2017 174 164 55 96.093
2018 179 168 56 98.721
2019 184 173 57 101.417
2020 189 178 59 104.182
J umlah 2.409 2.268 765 1.330.692
Tahun Pel anggan


A12.4. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A12.10.











380

Tabel A12.10. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 2,811 3,106 569 0 90 69 67
2012 3,325 3,637 660 255 390 160 443
2013 3,679 3,989 717 295 150 276 184
2014 4,052 4,361 776 200 210 160 168
2015 4,428 4,746 837 110 360 542 380
2016 4,747 5,077 887 56 150 677 367
2017 5,075 5,416 938 220 60 42 524
2018 5,411 5,762 989 55 90 38 173
2019 5,754 6,124 1,041 110 180 160 321
2020 6,102 6,491 1,094 0 120 0 44
J umlah 45,384 48,709 8,507 1,301 1,800 2,124 2,671

381


LAMPIRAN A.13
RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN PT PLN (PERSERO)
DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT


A13.1. KONDISI SAAT INI
Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV
dan beberapa sistem isolated. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hingga
Singkawang. Sistem isolated terdiri atas sistem Sambas, Bengkayang, Ngabang,
Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Putussibau, Ketapang, Sukadana dan
sistem tersebar.
Beban puncak di sistem kelistrikan Kalimantan Barat pada tahun 2010 adalah 283
MW dengan produksi 1.478 GWh. Sistem interkoneksi merupakan yang terbesar
dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini. Tabel
A13.1 memperlihatkan komposisi sistem kelistrikan di Kalimantan Barat.
Tabel A13.1. Komposisi Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat
Beban Faktor
GWh % Puncak (MW) Beban (%)
Interkoneksi 1003 67,9 175 65,4
Bengkayang 21 1,4 4 53,3
Sambas 61 4,1 13 54,4
Ngabang 19 1,3 4 54,3
Sanggau 55 3,7 12 51,9
Sekadau 15 1,0 3 52,3
Sintang 63 4,3 13 57,8
Putusibau 22 1,5 4 58,9
Nangapinoh 22 1,5 4 63,4
Ketapang 109 7,4 19 66,0
Tersebar 88 5,9 32 31,5
Total 1478 100,0 283 59,6
Produksi
Sistem


382

Pertumbuhan penjualan 5 tahun terakhir sangat tinggi, yaitu rata-rata 9,1% per tahun.
Penjualan tenaga listrik diserap oleh konsumen rumah tangga & sosial (61%),
konsumen komersil (28%), konsumen industri (5%) dan konsumen publik (6%).
Pada saat ini hampir 100% pasokan listrik di Kalimantan Barat bersumber dari
pembangkit berbahan bakar minyak. Kecukupan dan keandalan pasokan masih
relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan
pembangkitan tidak memadai.
Kapasitas pembangkit adalah 385 MW dengan daya mampu 339 MW seperti
diperlihatkan pada Tabel A13.2.
Tabel A13.2. Kapasitas Terpasang dan Daya Mampu Pembangkit per 2010
Daya
Terpasang
Daya
Mampu
(MW) (MW)
Interkoneksi 236 212
Bengkayang 6 5
Sambas 15 15
Ngabang 7 5
Sanggau 14 14
Sekadau 5 4
Sintang 16 14
Putusibau 6 5
Nangapinoh 6 5
Ketapang 24 22
Tersebar 50 37
Total 385 339
Sistem


A13.2. PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK
Kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Kalbar pada 5 tahun terakhir tumbuh rata-rata
9,1% per tahun, dimana permintaan listrik didominasi oleh pelanggan rumah tangga.
Pertumbuhan ekonomi selama 2006-2010 cukup tinggi yaitu rata-rata 5.2% per tahun.
Rasio elektrifikasi saat ini adalah 58.3%. Untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi
dibutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup dan andal.
Dari realisasi penjualan tenaga listrik lima tahun terakhir dan mempertimbangkan
kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan
rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2011 – 2020 dapat
dilihat pada Tabel A13.3.

383

Tabel A13.3. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (Sistem Interkoneksi dan Isolated)
Tahun
Sales
(Gwh)
Produksi
(Gwh)
Beban Puncak
(MW)
Pelanggan
2011 1.406 1.594 289 622.019
2012 1.559 1.779 322 662.562
2013 1.713 1.954 353 699.536
2014 1.869 2.130 384 738.516
2015 2.030 2.313 416 779.621
2016 2.205 2.510 451 826.276
2017 2.394 2.723 488 875.695
2018 2.599 2.954 528 928.047
2019 2.820 3.204 572 983.514
2020 3.060 3.476 619 1.042.287
Growth 9,0% 8,9% 8,9% 6,1%

Beban puncak sistem interkoneksi pada tahun 2011 adalah 186 MW, dan sejalan
dengan rencana pengembangan transmisi 150 kV hingga mengambil alih beban pada
sistem-sistem isolated (Sistem Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh,
Ngabang dan Ketapang) maka beban puncak grid 150 kV pada tahun 2020 menjadi
548 MW atau tumbuh rata-rata 12,7% per tahun. Sedangkan sistem-sistem isolated
kecil lainnya masih tetap beroperasi isolated.

A13.3. PENGEMBANGAN SARANA KELISTRIKAN

Potensi Sumber Energi
Potensi sumber energi di Provinsi Kalimantan Barat berupa tenaga air, gambut dan
batubara.
Pemanfaatan potensi tenaga air menjadi PLTA/PLTM pada umumnya perlu didahului
dengan survey dan studi yang mendalam. Pada saat ini potensi yang dapat
dikembangkan adalah PLTA Nanga Pinoh dengan kapasitas 98 MW.
Di provinsi ini terdapat potensi gambut yang cukup besar yaitu di Kabupaten
Mempawah. Namun pemanfaatannya pada PLTU gambut terkendala oleh aspek
lingkungan.
Potensi batubara terdapat di daerah Sintang, berupa batubara dengan kandungan
kalori yang tinggi, namun pada saat ini belum dilakukan eksploitasi karena terkendala
infrastruktur transportasi. Sumber batubara ini dapat digunakan sebagai bahan bakar
untuk PLTU/PLTGB di Sanggau, Sintang, Nanga Pinoh dan Putusibau.
384

Pengembangan Pembangkit
Kebutuhan tenaga listrik sampai dengan tahun 2020 dipenuhi dengan
mengembangkan kapasitas pembangkit di sistem interkoneksi dan sistem-sistem
isolated sebagaimana ditampilkan pada Tabel A13.4.
Tabel A13.4. Pengembangan Pembangkit
No Proyek J enis Pemilik
Kapasitas
(MW)
COD
1 Riam Badau PLTM PLN 0.2 2011
2 Ketapang (IPP) PLTU Swasta 14 2012
3 Putussibau (FTP2) PLTGB Swasta 8 2012
4 Sanggau PLTU PLN 14 2012-13
5 Sintang PLTU PLN 21 2012-13
6 Ketapang (FTP2) PLTU PLN 20 2013
7 Nanga pinoh PLTGB PLN 6 2013
8 Pantai Kura-Kura (FTP1) PLTU PLN 55 2013
9 Parit Baru (FTP1) PLTU PLN 100 2013
10 Parit Baru-Loan China (FTP2) PLTU PLN 100 2014-15
11 Pontianak-3 PLTU Swasta 50 2015
12 Kalbar-1 PLTU PLN 100 2016-17
13 Nanga pinoh PLTA PLN 98 2017-18
14 Kalbar-2 PLTU PLN 100 2019-20
15 Pontianak-2 PLTU Swasta 50 2019-20
J umlah 736

Sebagai bagian dari rencana penyediaan tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Barat,
PLN berencana membeli tenaga listrik dari Sarawak melalui transmisi interkoneksi
275 kV antar negara yang berkapasitas lebih dari 200 MW. PLN bermaksud
mengimpor tenaga listrik baseload sebesar 50 MW dan peakload sebesar hingga 180
MW. Dengan pola transfer energi seperti ini PLN akan terhindar dari membakar BBM
untuk pembangkit beban puncak. Adanya rencana impor baseload sebesar 50 MW
adalah untuk mengurangi ketidakpastian penyediaan pembangkit baseload di sistem
Kalimantan Barat.
Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk (GI)
Pengembangan GI
Di Provinsi Kalimantan Barat akan dibangun 15 buah GI 150 kV baru dan
pengembangan trafo GI existing sebesar 930 MVA. Selain itu akan dibangun pula GI
275 kV sebagai simpul interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Serawak. Rencana
pembangunan GI diberikan pada Tabel A13.5 dan Tabel A13.6.
385

Tabel A13.5. Pengembangan GI 150 kV dan 275 kV Baru
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Kota Baru 150/20 kV 30 2011
2 PLTU Kura-Kura 150/20 kV 30 2011
3 Sambas 150/20 kV 30 2012
4 Bengkayang 150/20 kV 30 2013
5 Ngabang 150/20 kV 30 2013
6 Tayan 150/20 kV 30 2013
7 Sanggau 150/20 kV 30 2014
8 Sekadau 150/20 kV 30 2014
9 Sintang 150/20 kV 60 2014
10 Kota Baru 2 150/20 kV 30 2016
11 Nanga Pinoh 150/20 kV 30 2016
12 Sandai 150/20 kV 30 2016
13 Sukadana 150/20 kV 30 2016
14 Ketapang 150/20 kV 60 2017
15 Putusibau 150/20 kV 30 2020
16 Bengkayang 275/150 kV 250 2013
J umlah 760

Tabel A13.6. Pengembangan/Extension GI 150 kV
No Nama Gardu Induk Tegangan
Kapasitas
(MVA)
COD
1 Sei Raya 150/20 kV 120 2012
2 Mempawah 150/20 kV 30 2014
3 Siantan 150/20 kV 60 2014
4 Singkawang 150/20 kV 30 2015
5 Sanggau 150/20 kV 30 2016
6 Parit Baru 150/20 kV 30 2017
7 Sambas 150/20 kV 30 2018
8 Siantan 150/20 kV 60 2019
9 Kota Baru 150/20 kV 30 2020
J umlah 420

Pengembangan Transmisi
Pengembangan jaringan transmisi sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat
adalah seperti terlihat pada Tabel A13.7.




386

Tabel A13.7. Pengembangan Transmisi 150 kV dan 275 kV
No Dari Ke Tegangan
Panjang
(kms)
Biaya
(juta US$)
COD
1 Parit Baru Kota Baru 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2,2 2011
2 PLTU Kura-Kura Inc. 2 pi (Singkawang-Mempawah) 150 kV 2 cct, 1 Hawk 40 2,2 2011
3 Sei Raya Kota Baru 150 kV 2 cct, 1 Hawk 32 1,8 2011
4 Singkawang Sambas 150 kV 2 cct, 1 Hawk 126 7,0 2012
5 Bengkayang Ngabang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 10,0 2013
6 Ngabang Tayan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 110 6,1 2013
7 PLTU Parit Baru (IPP) Parit Baru 150 kV 2 cct, 1 Hawk 6 0,3 2013
8 Siantan Tayan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 184 10,2 2013
9 Singkawang Bengkayang 150 kV 2 cct, 2 Hawk 120 6,6 2013
10 Sanggau Sekadau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 100 5,5 2014
11 Sintang Sekadau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 10,0 2014
12 Tayan Sanggau 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 10,0 2014
13 Nanga Pinoh Kota Baru 2 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 10,0 2016
14 Sandai Tayan 150 kV 2 cct, 2 Hawk 300 22,9 2016
15 Sintang Nanga Pinoh 150 kV 2 cct, 1 Hawk 180 10,0 2016
16 Sukadana Sandai 150 kV 2 cct, 2 Hawk 180 13,7 2016
17 Ketapang Sukadana 150 kV 2 cct, 2 Hawk 200 15,3 2017
18 Sintang Putusibau 150 kV 2 cct, 2 Hawk 300 22,9 2020
19 Bengkayang Perbatasan 275 kV 2 cct, 2 Zebra 180 28,4 2013
J umlah 2818 195,0
Konduktor

Untuk mewujudkan interkoneksi antara Kalimantan Barat dan Sarawak tersebut, PLN
berencana membangun transmisi 275 kV sepanjang 180 kms dari GI Bengkayang ke
perbatasan negara dan trafo IBT berkapasitas 250 MVA.
Pengembangan kelistrikan Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar A13.1.
387

The image cannot be displayed. Your computer may not have enough
memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart
your computer, and then open the file again. If the red x still appears, you …
RENCANA PENGEMBANGAN SI STEM KELI STRI KAN
KALI MANTAN BARAT 2011 - 2020
GI. KETAPANG
Thn2017
GI. SANDAI
Thn2017
GI. K0TA
BARU2 2017
GI. SINTANG
Thn2014
GI. NANGA PINOH
Thn2016
GI SANGGAU
Thn2014
GI. NGABANG
Thn2013
GI & GITET. BENGKAYANG
Thn2013
KUCHI NG
GI. SAMBAS
Thn2013
GI. SINGKAWANG
Thn 2009
GI. MEMPAWAH
GI. SIANTAN
GI. PARIT BARU
GI. KOTA BARU
Thn 2011
GI. SEI RAYA
GI. TAYAN
Thn2013
GI. SEKADAU
Thn2014
GI. SUKADANA
Thn2017
GI. PUTUSIBAU
Thn 2020
GI Kuala Kurun
GI MAMBONG (MATANG)
GI. PLTU KURA-KURA
Thn
2011
55 km
BADAU
BATU KAYA
BIAWAK
ARUK
PLTU 2 KALBAR TJ. GUNDUL
(PLN);
2 x 27,5 MW (2013)
PLTU PERPRES TAHAP II 2 X
50 MW (2014) LOAN CHINA
GI. KUALA KURUN
PLTU 1 KALBAR ‐PARITBARU (PLN); 2 x 50
MW (2013)
PLTU PARITBERKAT(IPP); 2 x 25 MW
(2014);
PLTU KETAPANG (PLN) ;
2 X 10 MW (2013)
PLTU SINTANG (PLN); 3 X 7 MW ( 2012)
PLTU SANGGAU (PLN); 2 X
7 MW (2012)
PLTGB NANGAPINOH (PLN); 6 (2013)
PLTGB(IPP) 8 MW (2012)
TEBEDU
J AGOI BABANG
ENTIKONG
SERIKIN
Transmisi 150 kV Eksisting
Transmisi 150 kV Rencana
Gardu Induk 150 kV Eksisting
Gardu Induk 150 kV Rencana
PLTU Rencana Gardu Induk 275 kV Rencana
Transmisi 275 kV Rencana
KETERANGAN :
Listrik Perbatasan Eksisting
Listrik Perbatasan Rencana
PLTU KETAPANG (IPP) ; 2 X 7 MW (2012)
PLTM PANCAREK‐SAJINGAN (IPP);
2 x 400 KW (2012)
PLTM MERASAP‐BENGKAYANG (PLN);
2 x 750 KW (2010)
PLTMH Rencana
PLTU TAYAN (IPP); 2 X 25
MW (2015)
PLTA NANGA PINOH (PLN) 98 MW2017‐18

Gambar A13.1. Pengembangan Kelistrikan Provinsi Kalimantan Barat
Pengembangan Distribusi
Sesuai dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, diperlukan tambahan pelanggan
sebanyak 46.400 sambungan per tahun. Selaras dengan penambahan pelanggan
tersebut diperlukan pembangunan J TM 1.380 kms, J TR sekitar 3.944 kms dan
tambahan kapasitas trafo distribusi 540 MVA sampai dengan tahun 2020 seperti
ditampilkan dalam Tabel A13.8.






388

Tabel A13.8. Pengembangan Distribusi
JTM JTR Trafo
kms kms MVA
2011 138 394 51 44.189
2012 120 343 53 40.543
2013 109 312 46 36.973
2014 115 329 43 38.980
2015 122 347 50 41.105
2016 138 394 53 46.655
2017 146 418 56 49.419
2018 155 442 59 52.353
2019 164 469 62 55.467
2020 174 497 66 58.773
J umlah 1.381 3.944 540 464.457
Tahun Pel anggan


A13.4. ELEKTRIFIKASI DAERAH PERBATASAN ANTAR NEGARA

Kebutuhan energi listrik untuk daerah terpencil di perbatasan antara Kalimantan
Barat dan Sarawak masih belum tercukupi, sementara kondisi kelistrikan di wilayah
Sarawak lebih baik. Hal ini menimbulkan terjadinya kesenjangan pada daerah
perbatasan. PLN telah melakukan pembelian tenaga listrik skala kecil untuk 2 sistem
isolated di daerah perbatasan, yaitu di Sajingan dan Badau. Berikutnya akan
dilakukan pembelian listrik dari Sarawak untuk melistriki sistem isolated lainnya, yaitu
Entikong sebesar 150 kVA dan Seluas sebesar 100 kVA. Peta kelistrikan di daerah
perbatasan diberikan pada Gambar A13.2.
389


Gambar A13.2. Peta Kelistrikan di Daerah Perbatasan
A13.5. RINGKASAN
Ringkasan proyeksi kebutuhan tenaga listrik, pembangunan fasilitas kelistrikan dan
kebutuhan investasi sampai tahun 2020 diberikan pada Tabel A13.9.
Tabel A13.9. Rangkuman
Tahun
Energy
Sales
(Gwh)
Produksi
Energi
(Gwh)
Beban
Puncak
(MW)
Pembangkit
(MW)
GI
(MVA)
Transmisi
(kms)
Investasi
(juta US$)
2011 1,406 1,594 289 0 60 112 38
2012 1,559 1,779 322 43 150 126 132
2013 1,713 1,954 353 195 340 780 457
2014 1,869 2,130 384 50 210 460 151
2015 2,030 2,313 416 100 30 0 191
2016 2,205 2,510 451 50 150 840 182
2017 2,394 2,723 488 99 90 200 211
2018 2,599 2,954 528 49 30 0 120
2019 2,820 3,204 572 75 60 0 153
2020 3,060 3,476 619 75 60 300 191
J umlah 21,656 24,635 4,424 736 1,180 2,818 1,825


N
E
R
A
C
A

W
I
L
A
Y
A
L
A
M
D
A
Y
A

S
I
A
H

O
P
E
R
M
P
I
R
A
N

I
S
T
E
M
-
S
R
A
S
I

I
N
D
3
9
0
A
1
4
S
I
S
T
E
M

I
S
O
N
E
S
I
A

S
O
L
A
T
E
B
A
R
A
T
D
N
E
R
A
L
A
M
P
A
C
A

D
A
Y
P
R
O
P
I
R
A
N

A
Y
A

S
I
S
T
E
O
V
I
N
S
I

A
C
3
9
1
A
1
4
.
1
E
M

I
S
O
L
A
C
E
H
A
T
E
D
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Sabang
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 20.8 21.9 23.0 24.1 25.2 26.3 27.4 28.5 29.6 30.7
Beban Puncak MW 3.7 3.8 4.0 4.2 4.4 4.5 4.7 4.9 5.1 5.2
Load Faktor % 64.9 65.2 65.5 65.7 66.0 66.2 66.4 66.6 66.8 67.0
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 7 4 7 4 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 Kapasitas Terpasang MW 7.4 7.4 4.1 4.1 4.1 4.1 4.1 4.1 4.1 4.1
Derating Kapasitas 0.7 0.7 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4
Pembangkit PLN 6.68 6.68 3.71 3.71 3.71 3.71 3.71 3.71 3.71 3.71
PLTD Aneuk Loat
Marcedes MTU 0.18 1 PLTD 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2
Marcedes MTU 0.36 2 PLTD 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Caterpillar 0.87 1 PLTD 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9
Caterpillar 0.92 1 PLTD 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9
Caterpillar 1.44 1 PLTD 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4
PLTD Sewa
Sewa Diesel 2.00 PLTD 2.0 2.0
Genset BPKS 1 30 PLTD 1 3 1 3
3
9
2
Genset BPKS 1.30 PLTD 1.3 1.3
Tambahan Pembangkit
PLN
Sabang (FTP2) 2 PLTGB 8
IPP
Lho Pria Laot PLTP 7
Jaboi (FTP2) PLTP 10
J umlah Kapasitas MW 6.7 6.7 11.7 11.7 11.7 11.7 18.7 18.7 28.7 28.7
Cadangan MW 2.4 2.4 5.4 5.4 5.4 5.4 7.5 7.5 7.5 7.5
Pemeliharaan 1.4 1.4 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0 4.0
Operasi 1.0 1.0 1.4 1.4 1.4 1.4 3.5 3.5 3.5 3.5
S l /D fi i MW 0 6 0 4 2 3 2 1 1 9 1 7 6 5 6 3 16 2 16 0 Surplus/Defisit MW 0.6 0.4 2.3 2.1 1.9 1.7 6.5 6.3 16.2 16.0
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Blangpidie
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 42,8 45,0
Beban Puncak MW 8,7 9,1 Rencana masuk grid 150 kV thn 2013
Load Faktor % 56,2 56,7
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 23,3 23,3
Derating Capacity 1,2 1,2
Pembangkit PLN 22,1 22,1
PLTD Suak
SWD 6 FG 0,67 2 PLTD 1,3 1,3 SWD 6 FG 0,67 2 PLTD 1,3 1,3
Merrless 0,95 1 PLTD 1,0 1,0
MAK 2,39 2 PLTD 4,8 4,8
MTU 0,99 3 PLTD 3,0 3,0
Cummins 0,72 1 PLTD 0,7 0,7
Caterpillar 0,92 1 PLTD 0,9 0,9
3
9
3
p , , ,
Caterpillar 0,45 1 PLTD 0,5 0,5
Caterpillar 0,23 1 PLTD 0,2 0,2
Relokasi dari Lampung 4,5 2 PLTD 9,0 9,0
Sewa
Sewa Diesel 2,00 PLTD 2,0 2,0
J umlah Kapasitas MW 22,1 22,1
Cadangan MW 6,9 6,9
Pemeliharaan 4,5 4,5 Rencana masuk grid 150 kV thn 2013
Operasi 2,4 2,4
Surplus/Defisit MW 6 5 6 2 Surplus/Defisit MW 6,5 6,2
Neraca Daya Sistem Tapaktuan
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 31,1 32,5
Beban Puncak MW 5,9 6,2 Rencana masuk grid 150 kV thn 2013
L d F k % 59 8 60 2 Load Faktor % 59,8 60,2
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 10,4 6,4
Derating Kapasitas 0,6 0,6
Pembangkit PLN 9,73 5,73
PLTD Tapaktuan PLTD Tapaktuan
MTU 12V 4000 1,0 2 PLTD 2,0 2,0
SWD 6FG 0,7 1 PLTD 0,7 0,7
SWD 9F 1,1 2 PLTD 2,2 2,2
MTU 12V 2000 0,7 2 PLTD 1,5 1,5
Sewa
3
9
4
Sewa
Sewa Diesel PLTD 4,0
Tambahan Kapasitas
PLN
Tapaktuan 7,0 2 PLTU 14,0 Tapaktuan 7,0 2 PLTU 14,0
J umlah Kapasitas MW 9,7 19,7
Cadangan MW 2,1 8,1 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera
Pemeliharaan 1,1 7,0
Operasi 1,0 1,1
S l /D fi i MW 1 7 5 5 Surplus/Defisit MW 1,7 5,5
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Subulussalam
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 55,8 60,2
Beban Puncak MW 11,9 12,8
Load Faktor % 53,3 53,8
Pasokan Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV Pasokan Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV
Kapasitas Terpasang MW 14,7 14,7
Derating Capacity 2,2 1,9
Pembangkit PLN 12,5 12,8
PLTD Rimo PLTD 4,5 ,
PLTD Singkil PLTD 0,0
PLTD Kuta Fajar PLTD 1,2
PLTD Sewa PLTD 9,0
Tambahan Pembangkit
3
9
5
PLN
Singkil 3,0 2 PLTGB 6,0
Beli Energi / IPP
PLTU PT. GSS 1,4 1 PLTU 1,0
PLTBayu PT. GLA 10 1 PLTB 1,0 9,0
J umlah Kapasitas MW 14,5 23,8
Cadangan MW 1,9 1,9 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera
Pemeliharaan 1,0 1,0
Operasi 0,9 0,9
Surplus/Defisit MW 0,6 9,1 p f , ,
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Kutacane
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 49,2 52,6
Beban Puncak MW 10,3 10,8 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV
Load Faktor % 54,6 55,4
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 14,3 14,8
Derating Capacity 0,7 0,7
Pembangkit PLN 13,62 14,10
PLTD Kuning
MTU 0,85 3 PLTD 2,6 2,6 , , ,
SWD 6TM 1,96 1 PLTD 2,0 2,0
SWD 8FG 0,64 1 PLTD 0,6 0,6
Cummins 0,85 2 PLTD 1,7 1,7
PLTM Sepakat
Turbin WKC 0,75 2 PLTD 1,5 1,5
3
9
6
PLTD Sewa
Rental genset HSD PLTD 5,0 5,0
Suplai dari 20 kV Sistem Sumut 1,0 1,5
Tambahan Pembangkit
IPP
Lawe Mamas 30 3 PLTA 50
J umlah Kapasitas MW 13,6 14,1
Cadangan MW 2,8 2,8
Pemeliharaan 2,0 2,0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera
Operasi 0,9 0,9
Surplus/Defisit MW 0,5 0,4
Neraca Daya Sistem Blangkejeran
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 14,9 15,8 16,7 17,6
Beban Puncak MW 3,9 4,2 4,4 4,6 Rencana tahun 2014 masuk Grid 150 kV
Load Faktor % 43,3 43,3 43,4 43,4 Load Faktor % 43,3 43,3 43,4 43,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 5,6 5,6 5,6 5,6
Derating Capacity MW 0,6 0,6 0,6 0,6
Pembangkit PLN MW 5,1 5,1 5,1 5,1
PLTD Rema MW 3,6 3,6 3,6 3,6 , , , ,
Sewa
Rental genset HSD PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0
Tambahan Pembangkit
PLN
3
9
7
Rel. dari PLTD L. Bata 0,7 2 PLTD 1,4
Beli Energi
Rerebe PLTM 0,2
Putri Betung PLTM 0,3
J l h K it MW 6 7 7 0 7 0 7 0 J umlah Kapasitas MW 6,7 7,0 7,0 7,0
Cadangan MW 1,8 1,8 1,8 1,8
Pemeliharaan 1,0 1,0 1,0 1,0 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera
Operasi 0,8 0,8 0,8 0,8
Surplus/Defisit MW 0,9 1,0 0,8 0,5
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Takengon
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 57,3 60,4
Beban Puncak MW 18,0 18,9 Rencana tahun 2013 masuk Grid 150 kV
Load Faktor % 36,3 36,5
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 24,0 24,0
Derating Capacity MW 2,4 2,4
Pembangkit PLN 21,6 21,6
PLTD Ayangan PLTD 9,1 9,1
PLTD Janarata PLTD 0,3 0,3
PLTD Jagong Jeget PLTD 0,4 0,4
PLTMH Angkup PLTMH 0,6 0,6
PLTD Sewa PLTD 6,0 6,0
Suplai dari 20 kV GI Bireun 7,5 7,5
3
9
8
Tambahan Pembangkit
PLN
Peusangan 43 2 PLTA 88,0
IPP/Beli Energi
KERPAP 0,5 3 PLTMH 1,5
J umlah Kapasitas MW 23,1 23,1
Cadangan MW 4,2 4,2
Pemeliharaan 2,8 2,8 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera
Operasi 1,4 1,4
S l /D fi it MW 0 9 0 0 Surplus/Defisit MW 0,9 0,0
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Sinabang
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 18,4 19,5 20,7 21,9 23,0 24,2 25,4 26,5 27,7 28,9
Beban Puncak MW 3,3 3,5 3,7 3,9 4,1 4,3 4,5 4,8 5,0 5,2
Load Faktor % 63,9 63,8 63,8 63,8 63,8 63,7 63,7 63,7 63,7 63,7
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 7,0 7,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0
Derating Capacity 0,7 0,7 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Pembangkit PLN 6,33 6,33 4,53 4,53 4,53 4,53 4,53 4,53 4,53 4,53
PLTD Lasikin
MTU 0,36 1 PLTD 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4
MTU 0,48 1 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
MTU 0,58 1 PLTD 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6
Caterpillar 0,58 1 PLTD 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6
Caterpillar 0,87 1 PLTD 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87 0,87
Wartsilla 1,08 2 PLTD 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16 2,16
PLTD S
3
9
9
PLTD Sewa
Rental genset HSD PLTD 2,0 2,0
Tambahan Pembangkit
PLN
Aie Tajun 3 2 PLTGB 6 0 Aie Tajun 3 2 PLTGB 6,0
J umlah Kapasitas MW 6,3 6,3 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5
Cadangan MW 1,9 2,2 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1
Pemeliharaan 1,1 1,1 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0
Operasi 0,9 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
Surplus/Defisit MW 1,1 0,7 2,7 2,5 2,3 2,1 1,9 1,7 1,5 1,3
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Meulaboh
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 124
Beban Puncak MW 29,4
Load Faktor % 47,9
Pasokan
Rencana tahun 2012 masuk Grid 150 kV
Kapasitas Terpasang MW 50,1
Derating MW 5,0
Pembangkit PLN 45,1
Seunebok PLTD 19,2
Calang PLTD 1,2
Lamno PLTD 2,3
Teunom PLTD 1,5
Alue Bilie PLTD
Jeuram PLTD 1,8
Sewa PLTD 16,0
4
0
0
Media Group PLTU 8,0
Tambahan Pembangkit
PLN
Nagan PLTU 220
J umlah Kapasitas MW 45,1
Cadangan MW 6,7
Pemeliharaan 3,6 Masuk Interkoneksi 150 kV Sumatera
Operasi 3,1
Surplus/Defisit MW 9,0
N
E
R
A
P
R
O
L
A
M
P
A
C
A

D
A
Y
O
V
I
N
S
I

S
P
I
R
A
N

A
Y
A

S
I
S
T
E
S
U
M
A
T
E
4
0
1
A
1
4
.
2
E
M

I
S
O
L
A
E
R
A

U
T
A
A
T
E
D
A
R
A
Pasokan/Kebutuhan Unit 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Nias
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 54,5 58,0 61,5 65,1 68,8 72,7 77,1 81,8 86,8 92,0 97,6
Load Faktor % 44,3 43,6 43,0 42,8 42,7 42,9 43,2 43,3 43,5 43,7 43,9
Beban Puncak MW 14,0 15,2 16,3 17,3 18,4 19,3 20,4 21,5 22,8 24,0 25,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 23,6 23,6 23,6 23,6 15,6 15,6 15,6 15,6 15,6 15,6 15,6
Derating Kapasitas MW 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6
Pembangki t PLN
PLTD Gunung Sitoli
Deutz 0,56 2 PLTD 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
Deutz KHD 1,22 2 PLTD 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4
Cummins 1,01 4 PLTD 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0
Deutz MWM 1,53 3 PLTD 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6
PLTD Teluk Dalam
Cummins 1,01 1 PLTD 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
MTU 1,10 1 PLTD 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
Daihatsu 0,75 1 PLTD 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
Daihatsu 0,53 1 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
4
0
2
PLTD Sewa
Gunung Sitoli PLTD 5,0 5,0 5,0 5,0
Teluk Dalam PLTD 3,0 3,0 3,0 3,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Nias PLTGB 8,0
IPP
Nias (FTP2) PLTU 14,0 7,0
Juml ah Kapasi tas MW 24,0 24,0 24,0 24,0 30,0 37,0 37,0 37,0 37,0 37,0 37,0
Cadangan MW 2,6 2,6 2,6 2,6 8,5 8,5 8,5 11,0 11,0 11,0 11,0
Pemeliharaan 1,5 1,5 1,5 1,5 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0
Operasi 1,1 1,1 1,1 1,1 1,5 1,5 1,5 4,0 4,0 4,0 4,0
Surpl us/Defi si t (N-1) MW 7,4 6,2 5,1 4,1 3,1 9,2 8,1 4,5 3,2 2,0 0,6
N
E
R
A
L
A
M
P
A
C
A

D
A
Y
P
R
OP
I
R
A
N

A
Y
A

S
I
S
T
E
O
V
I
N
S
I

R
4
0
3
A
1
4
.
3
E
M

I
S
O
L
A
R
I
A
U
A
T
E
D
Neraca Daya Sistem Siak
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 25,5 28,9 32,6 35,8
Load Faktor % 77,7 77,9 78,1 78,2
Beban Puncak MW 3,8 4,2 4,8 5,2
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 0,79 0,79 0,79
Derating Capacity MW 0,17 0,18 0,20
Pembangki t PLN
MTU M.D 0,79 1 PLTD 0,62 0,60 0,59
Sewa
Sewa Diesel 1,00 3 PLTD 4,0
Sewa PLTU (Pemda) 3,00 2 PLTU 6,0 6,0
Sewa MFO 3,00 1 PLTD 3,0 3,0
Tambahan Pembangki t
MTU (Pemda) 0,60 1 PLTD 0,6
Di suppl ai dar i gr i d 150 kV SIS, Tahun 2014,30 MVA
4
0
4
Juml ah Kapasi tas MW 5,2 10,2 10,2
Cadangan MW 1,3 3,8 3,8
Pemeliharaan 0,8 3,0 3,0
Operasi 0,5 0,8 0,8
Surpl us/Defi si t MW 0,1 2,1 1,6
Neraca Daya Sistem Bengkalis
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 72,4 82,0 92,6 101,5 110,4 119,8 129,4 139,5 150,8 164,7
Load Faktor % 70,5 70,2 70,1 70,0 69,9 69,9 69,9 69,9 69,9 70,0
Beban Puncak MW 11,7 13,3 15,1 16,6 18,0 19,6 21,1 22,8 24,6 26,9
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 18,72 16,72 10,72 10,72
Derating Capacity MW 1,98 2,05 2,12 2,18
Pembangki t PLN
Deutz 1,20 2 PLTD 1,51 1,47 1,44 1,40
Deutz 0,56 1 PLTD 0,20 0,19 0,19 0,18
Yamar 0,60 2 PLTD 1,03 1,01 0,98 0,96
Sewa Pembangki t
4
0
5
Sewa Genset MFO 6,0 1 PLTD 6,0 6,0 6,0 6,0
Sewa Mesin 1 (HSD) 1,0 3 8,0
Sewa Mesin 2 (HSD) 1,0 6 6,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Bengkalis (FTP1) 10 2 PLTU 20,0
Bengkalis PLTGB 3 2 PLTGB 12,0 6,0 6,0
Juml ah Kapasi tas MW 16,7 14,7 28,6 28,5 32,0 32,0 38,0 38,0 44,0 44,0
Cadangan MW 1,8 1,8 11,2 11,2 11,5 11,5 11,5 11,5 11,5 11,5
Pemeliharaan 1,2 1,2 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0
Operasi 0 6 0 6 1 2 1 2 1 5 1 5 1 5 1 5 1 5 1 5 Operasi 0,6 0,6 1,2 1,2 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Surpl us/Defi si t MW 3,2 -0,5 2,3 0,8 2,5 0,9 5,4 3,7 7,9 5,6
Neraca Daya Sistem Selat Panjang
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 47,2 53,5 60,4 66,1 71,9 78,1 84,3 90,9 98,3 107,3
Load Faktor % 66,5 66,6 66,8 66,9 67,1 67,2 67,4 67,5 67,7 67,8
Beban Puncak MW 8,1 9,2 10,3 11,3 12,2 13,3 14,3 15,4 16,6 18,1
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4 4,4
Derating Capacity MW 1,5 1,6 1,7 1,7 1,8 1,9 1,9 2,0 2,1 2,1
Pembangki t PLN
BWSC 1,0 2 PLTD 1,3 1,2 1,2 1,2 1,1 1,1 1,1 1,1 1,0 1,0
Deutz 1,2 2 PLTD 1,6 1,6 1,5 1,5 1,5 1,4 1,4 1,3 1,3 1,3
Sewa Pembangki t
4
0
6
Sewa Genset MFO 2 3 PLTD 6 6 6
Sewa Mesin (HSD) 1 3 PLTD 6 6 6
Tambahan Pembangki t
PLN
Selat Panjang 3 3 PLTGB 6 3
Sewa
PLTG 3 3 PLTG 10
Proj ect IPP
Selat Panjang Baru #1,2 2 PLTU 14
Juml ah Kapasi tas MW 14,9 30,8 30,7 32,7 32,6 32,5 32,5 35,4 35,3 35,3
Cadangan MW 2 2 11 2 11 2 17 0 17 0 17 0 17 0 17 0 17 0 17 0 Cadangan MW 2,2 11,2 11,2 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0
Pemeliharaan 1,2 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0
Operasi 1,0 1,2 1,2 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0
Surpl us/Defi si t MW 4,6 10,4 9,2 4,4 3,4 2,3 1,2 3,0 1,8 0,2
Neraca Daya Sistem Bagan Siapiapi
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 31,2 35,3 39,9
Load Faktor % 55,3 55,5 55,6
Beban Puncak MW 6,4 7,3 8,2
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 2,8 2,8 2,8
Derating kapasitas MW 1,2 1,2 1,3
Pembangki t PLN
Deutz BA 12M 816 0,5 2 PLTD 0,43 0,42 0,41
Deutz KHD BV 8M 1,2 1 PLTD 0,83 0,81 0,79
Mitsubishi 0,6 1 PLTD 0,40 0,39 0,38
4
0
7
Pembangki t Sewa
Sewa HSD 2,0 1 PLTD 2,0 2,0 2,0
Sewa Mesin Pemda 0,8 3 PLTD 2,4 2,4 2,4
PLTGB 2,5 2 PLTGB 5,0 5,0 5,0
Di suppl ai dar i gr i d 150 kV SIS, Tahun 2014,30 MVA
Juml ah Kapasi tas MW 11 1 11 0 11 0 Juml ah Kapasi tas MW 11,1 11,0 11,0
Cadangan MW 1,8 1,8 1,8
Pemeliharaan MW 1,2 1,2 1,2
Operasi MW 0,6 0,6 0,6
Surpl us/Defi si t MW 2,8 1,9 1,0
Neraca Daya Sistem Rengat
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
K b t h Kebutuhan
Produksi Energi GWh 84,3 95,5
Load Faktor % 63,0 63,1
Beban Puncak MW 15,3 17,3
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 8,9
Derating Capacity MW 3 4 Derating Capacity MW 3,4
Pembangki t PLN
PLTD Air Molek 3,4
PLTD Danau Raja 2,2
Pembangki t Pemda
MTU 12V 2000G 62 0,63 2 PLTD 1,3
MTU 16V 2000G 62 0 64 4 PLTD 2 6
4
0
8
MTU 16V 2000G 62 0,64 4 PLTD 2,6
Proj ect Sewa
Sewa Diesel1 1,00 2 PLTD 2,0 2,0
Sewa Diesel2 1,00 2 PLTD 2,0 2,0
Sewa Diesel3 1,00 5 PLTD 5,0 5,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Rengat 10 2 PLTG 20,0
IPP
IPP Kemitraan 7,00 2 PLTU 14,0
Di supl ai dari Gri d 150 kV SIS- Tahun 2013
Juml ah Kapasi tas MW 18,3 29,0
Cadangan MW 2,2 11,2
Pemeliharaan 1,2 10,0
Operasi 1,0 1,2
Surpl us/Defi si t MW 0,9 0,5
Neraca Daya Sistem Tembilahan
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 61,4 69,6 78,6 86,1
Load Faktor % 59,5 59,6 59,8 59,9
Beban Puncak MW 11,8 13,3 15,0 16,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 7,79 7,79 7,79 7,79
Derating Capacity MW 1,59 1,69 1,79 1,89
Pembangki t PLN
SWD 0,34 3 PLTD 0,51 0,50 0,49 0,48
Deutz KHD BV 8M 1,20 1 PLTD 1,80 1,76 1,71 1,67
Yanmar 0,27 2 PLTD 0,19 0,18 0,18 0,17
Yanmar 0,60 4 PLTD 1,58 1,54 1,50 1,46
4
0
9
Pembangki t Pemda
Komatsu 0,40 4 PLTD 1,6 1,6 1,6 1,6
Rel okasi Ex Tl k Kuantan
PLTD 0,26 2 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5
Pembangki t Sewa
Sewa Mesin2 (HSD) 3,00 1 PLTD 3,0 3,0
Sewa Mesin3 (HSD) 0,80 1 PLTD 0,8 0,8
Sewa genset (MFO) PLTD 6,0 6,0 6,0 6,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Tembilahan PLTU 14,00
Di pasok dari gri d 150 kV, Tahun 2015
Juml ah Kapasi tas MW 16,0 15,9 26,0 25,9
Cadangan MW 1,7 1,7 8,2 8,2
Pemeliharaan 1,2 1,2 7,0 7,0
Operasi 0,5 0,5 1,2 1,2
Surpl us/Defi si t MW 2,5 0,9 2,8 1,3
Neraca Daya Sistem Kuala Enok
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 5,1 5,8 6,6 7,2 7,8 8,5 9,2 9,9 10,7 11,6
Load Faktor % 50,2 50,4 50,5 50,6 50,7 50,8 50,9 51,0 51,2 51,3
Beban Puncak MW 1,2 1,3 1,5 1,6 1,8 1,9 2,1 2,2 2,4 2,6
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6 1,6
Derating Capacity MW 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77 0,77
Pembangki t PLN
Mitsubishi S6U 0,60 2 PLTD 0,83 0,81 0,79 0,79 0,79 0,79 0,79 0,79 0,79 0,79
Catterpilar 0,36 1 PLTD 0,2
Sewa
4
1
0
Sewa
Sewa Diesel 1 2 PLTD 2,0 3,0

Tambahan Pembangki t
PLN
Di pasok dari gri d 150 kV, Tahun 2013 Di pasok dari gri d 150 kV, Tahun 2013
Juml ah Kapasi tas MW 2,8 3,8
Cadangan MW 0,6 1,6
Pemeliharaan 0,6 1,0
Operasi 0,0 0,6
Surpl us/Defi si t MW 1,0 0,9
N
E
R
A
P
R
L
A
M
P
A
C
A

D
A
Y
R
O
V
I
N
S
I

P
I
R
A
N

A
Y
A

S
I
S
T
E
K
E
P
U
L
A
4
1
1
A
1
4
.
4
E
M

I
S
O
L
A
A
U
A
N

R
I
A
A
T
E
D
A
U
Neraca Daya Sistem Bintan
Pasokan/Kebutuhan Uni t 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 286,6 318,3 524,1 582,9 749,4 819,8 886,1 948,9 1.010,3 1.077,2
Load Faktor % 69,3 69,0 69,8 72,4 74,8 76,9 78,1 78,6 78,6 78,6
Beban Puncak MW 47,2 52,7 85,7 91,9 114,4 121,7 129,5 137,9 146,8 156,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 40,9 40,9 40,9
Derating kapasitas MW 10,6 10,6 10,7
Pembangki t PLN
PLTD Tanjung Pinang PLTD 27,9 27,9 27,9
PLTD Tanjung Uban PLTD 1,2 1,2 1,2
Pembangkit Sewa Tanjung Uban PLTD 8,0 8,0 8,0
T b h P b ki t
4
1
2
Tambahan Pembangki t
SEWA
Sewa PLTU PT Cap.Tur PLTU 30
PLN
Tanjung Uban PLTU 7 7
Tanjung Pinang 3 PLTU 15 15
IPP
Tanjung Pinang 1 (TLB) PLTU 30
Tanjung Pinang 2 (FTP2) PLTU 30
Suplai dari Batam (Peaking) MW 10 10 10 10
Suplai dari Batam (Base) MW 40 10 10
Juml ah Kapasi tas MW 68 68 125 134 174 174 184 194 209 234
Reserve Margi n % 45 30 46 46 52 43 42 41 42 50
Neraca Daya Tanjung Pinang
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 257,1 284,6 318,3 363,8 413,8 467,4 520,0 571,3 623,2 680,2
Load Faktor % 69,2 68,9 69,6 72,2 74,6 76,7 77,9 78,4 78,5 78,8
Beban Puncak MW 42,4 47,2 52,2 57,5 63,4 69,6 76,2 83,2 90,6 98,5
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 38,9 38,9 38,9 p p g , , ,
Derating kapasitas MW 11,2 11,9 11,9
Pembangki t PLN
Manufacture
MAK 8M PLTD 8,2 8,0
MAK 6M PLTD 1,8 1,7
Allen PLTD 8,0 7,8
4
1
3
Mitshubishi PLTD 9,8 9,5
Tambahan Pembangki t
SEWA
Sewa PLTU PT CTI PLTU 30,0 30,0
PLN
PLTU Tanjug Pinang III PLTU 30,0
IPP
Tanjung Pinang I (TLB) PLTU 30,0
Tanjung Pinang II (FTP2) PLTU 30
Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam
Juml ah Kapasi tas MW 61,7 61,0
Cadangan MW 16,0 16,0
Pemeliharaan MW 15,0 15,0
Operasi MW 1,0 1,0
S l /D fi i t MW 3 3 2 2 Surpl us/Defi si t MW 3,3 -2,2
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Tanjung Uban
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 29,5 33,7 38,8 45,8 53,8 62,7 71,9 81,6 91,1 100,8
Load Faktor % 70,2 70,4 71,5 74,4 76,8 78,9 79,9 80,1 79,1 77,5
Beban Puncak MW 4,8 5,5 6,2 7,0 8,0 9,1 10,3 11,6 13,1 14,9
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 2,02 2,02 2,02
Derating kapasitas 0,92 0,94 0,94
Pembangki t PLN
Manufacture Size J lh unit PLTD
MWM 0,2 1 0,12 0,11
Perkins 0,3 1 0,11 0,11
Deutz 1,2 1 0,88 0,86
Volvo 0,3 1
Pembangki t Sewa
Sewa Genset 1,0 2 PLTD 2,0 2,0
Bl Energi PT BIIE MFO 2,0 1 PLTD 2,0 2,0
Sewa Mesin (HSD) 1,0 2 PLTD 2,0 2,0
Sewa Mesin (HSD) 2,0 1 PLTD 2,0 2,0
4
1
4
Proj ect PLN
PLTU Tanjung Uban 7,0 2 PLTU 14,0
Interkoneksi dengan sistem 150 kV Batam
Kapasi tas Efekti f MW 9,1 9,1
Cadangan MW 1,5 1,5
Pemeliharaan 1,2 1,2 , ,
Operasi 0,3 0,3
Surpl us/Defi si t MW 2,8 2,1
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Tanjung Balai Karimun
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 117,4 128,9 142,8 161,9 182,7 204,7 226,0 246,4 264,4 281,4
Load Faktor % 69,9 70,4 71,8 75,0 77,9 80,3 81,7 82,3 81,5 80,2
Beban Puncak MW 19,2 20,9 22,7 24,6 26,8 29,1 31,6 34,2 37,0 40,0
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 13 2 13 2 13 2 13 2 13 2 13 2 13 2 13 2 13 2 13 2 Kapasitas Terpasang MW 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2 13,2
Derating kapasitas MW 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2 4,2
Pembangki t PLN
MAK 8M 453B # 4 PLTD 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2 7,2
Allen # 1 PLTD 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8
Pembangki t Sewa Pembangki t Sewa
Sewa Mesin (HSD) # 1 PLTD 2 2 2
Sewa Mesin (HSD) # 1 PLTD 4 4 4
Sewa Mesin (HSD) # 1 PLTD 3 5 5
Tambahan Pembangki t
PLN
4
1
5
PLN
TB. Karimun #1,2 (FTP1) 2 PLTU 14
TB. Karimun #3,4 2 PLTU 7 7
TB. Karimun - 2 # 1 PLTU 10 10
IPP
TB. Karimun (Terkendala) # 2 PLTU 14
Juml ah Kapasi tas MW 32,0 34,0 34,0 44,0 51,0 51,0 51,0 51,0 61,0 71,0
Cadangan MW 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 10,0 17,0 17,0
Pemeliharaan 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 10,0 10,0
Operasi 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 7,0 7,0
Surpl us/Defi si t MW 2,8 3,1 1,3 9,4 14,2 11,9 9,4 6,8 7,0 14,0
Neraca Daya Sistem Tanjung Batu
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 30,5 33,4 36,9 41,8 47,0 52,5 57,8 62,8 67,2 71,4
Load Faktor % 55,1 55,7 57,0 59,7 62,1 64,2 65,5 66,1 65,8 64,9
Beban Puncak MW 6,3 6,9 7,4 8,0 8,6 9,3 10,1 10,8 11,7 12,6
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 1,65 1,65 1,65 1,65 1,65
Derating Capacity MW 0,57 0,57 0,57 0,57 0,57
Pembangki t PLN
Komatsu 0,30 2 PLTD 0,28 0,28 0,28 0,28 0,28
Deutz BA 12M 1,05 1 PLTD 0,80 0,80 0,80 0,80 0,80
Sewa
4
1
6
Sewa Diesel 2,5 2 PLTD 5,0 5,0
Sewa Diesel 1 2 PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Tanjung Batu Baru 7,0 2 PLTU 14,0
IPP
Tanjung Batu (FTP2) 4,0 2 PLTGB 8,0
Juml ah Kapasi tas MW 8,1 16,1 11,1 11,1 23,1 22,0 22,0 22,0 22,0 22,0
Cadangan MW 1,4 1,4 1,4 1,4 8,1 8,1 8,1 8,1 8,1 8,1
Pemeliharaan 1,1 1,1 1,1 1,1 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0
Operasi 0,3 0,3 0,3 0,3 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
Surpl us/Defi si t MW 0,4 7,8 2,3 1,7 6,3 4,6 3,8 3,1 2,2 1,3
Neraca Daya Sistem Dabo Singkep
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 19,9 21,6 23,7 26,6 29,7 32,9 35,9 38,7 41,1 43,2
Load Faktor % 55,4 56,1 57,5 60,3 62,9 65,2 66,7 67,4 67,2 66,4
Beban Puncak MW 4,1 4,4 4,7 5,0 5,4 5,8 6,1 6,6 7,0 7,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4
Derating kapasitas 0,74 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78 0,78
Pembangki t PLN
MAK PLTD 0,93 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90 0,90
MTU PLTD 0,78 0,76 0,76 0,76 0,76 0,76 0,76 0,76 0,76 0,76
4
1
7
Pembangki t Sewa
Sewa Genset PLTD 2,0 2,0
Sewa Diesel PLTD 3,0 3,0 3,0
Tambahan Pembangki t
PLN PLN
Dabo Singkep PLTGB 6,0 3,0
Kapasi tas Efekti f MW 6,7 12,7 10,7 7,7 7,7 7,7 7,7 10,7 10,7 10,7
Cadangan MW 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8
Pemeliharaan 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2 1,2
Operasi 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 Operasi 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6
Surpl us/Defi si t MW 0,8 7,1 4,8 1,4 1,1 0,7 0,3 2,9 2,5 2,0
Neraca Daya Sistem Ranai
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 17,8 19,4 21,3 24,0 26,9 29,9 32,7 35,4 37,7 39,9
Load Faktor % 64,6 65,0 66,4 69,3 71,9 74,2 75,5 76,0 75,3 74,1
Beban Puncak MW 3,1 3,4 3,7 4,0 4,3 4,6 5,0 5,3 5,7 6,1
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20
Derating Capacity MW 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06
Pembangki t PLN
Daihatsu 0,60 2 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00
Komatshu 0,16 1 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14 0,14
Proj ect Sewa
4
1
8
SEWA Perusda 1,8 1 PLTD 1,8 1,8 1,8
SEWA MFO 3 2 PLTD 6,0 6,0 6,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Natuna 7,0 2 PLTU 14,0
Juml ah Kapasi tas MW 8,9 8,9 22,9 15,1 15,1 15,1 15,1 15,1 15,1 15,1
Cadangan MW 0,7 0,7 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6 7,6
Pemeliharaan MW 0,6 0,6 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0 7,0
Operasi MW 0,1 0,1 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6
Surpl us/Defi si t MW 5,1 4,8 11,7 3,6 3,3 2,9 2,6 2,2 1,8 1,4
Neraca Daya Sistem Belakang Padang
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 9,3 10,2 11,3 12,7 14,3 16,0 17,7 19,3 20,6 21,9
Load Faktor % 55,3 56,5 58,4 61,8 65,0 68,0 70,1 71,5 71,8 71,6
Beban Puncak MW 1,9 2,1 2,2 2,4 2,5 2,7 2,9 3,1 3,3 3,5
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 1,52 1,52 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20
Derating Capacity MW 0,32 1,52 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20
Pembangki t PLN
Deutz 0,10 1 PLTD 0,08
MWM 0,22 1 PLTD 0,15
Yanmar 0,60 2 PLTD 0,98
4
1
9
Tambahan Pembangki t
PLN
Relokasi PLTD 2,0
Di supl ai dari Gri d 20 kV Kabel Laut Batam
Juml ah Kapasi tas MW 3,2
Cadangan MW 0,8
Pemeliharaan MW 0,6
Operasi MW 0,2
Surpl us/Defi si t MW 0,5
N
E
R
A
P
R
O
L
A
M
P
A
C
A

D
A
Y
O
V
I
N
S
I

BP
I
R
A
N

A
Y
A

S
I
S
T
E
B
A
N
G
K
A
4
2
0
A
1
4
.
5
E
M

I
S
O
L
A
A

B
E
L
I
T
U
A
T
E
D
U
N
G
Pasokan/Kebutuhan Uni t 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Bangka
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 560,0 629,3 714,7 803,4 871,9 957,8 1.065,6 1.203,8 1.379,2 1.602,7
Beban Puncak MW 97,2 109,2 123,9 139,2 151,0 165,8 184,3 208,1 238,3 276,7
Load Faktor % 65,8 65,8 65,8 65,9 65,9 66,0 66,0 66,0 66,1 66,1
Pasokan
Kapasi tas Terpasang MW 85,2 85,0 113,8 99,0 86,2 86,2 86,2 86,2 86,2 86,2
PLN MW 39,9 40,0 38,8 39,0 26,2 26,2 26,2 26,2 26,2 26,2
Merawang PLTD 24,0 24,0 24,0 24,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0 17,0
Mentok PLTD 4,0 4,0 2,1 2,1 2,1 2,1 2,1 2,1 2,1 2,1
Koba *) PLTD 2,9 2,9 2,9 2,9 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Toboali PLTD 3,7 3,7 4,3 4,3 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1
Dari Sistem Isolated PLTD 0,3 0,4 0,5 0,7 0,7 0,8 0,9 1,0 1,1 1,1
Miirless (Relokasi dari Sukamerindu) PLTD 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0
Sewa PLTD MW 45 45 75 60 60 60 60 60 60 60
Sewa PLTD HSD tersebar 1 PLTD 17 17 17
Sewa PLTD HSD tersebar 2 PLTD 16 16 16
Sewa PLTD HSD tersebar 3 PLTD 12 12 12
Bangka (Sewa) PLTU 30 60 60 60 60 60 60 60
4
2
1
Tambahan Pembangki t
PLN
Relokasi Mesin Miirless dari Pulau Baai PLTD 2,5
Relokasi Mesin Batam ke Toboali PLTD 5
Relokasi Mesin Batam ke Mentok PLTD 2,5
Bangka IV (Peaker) PLTG 20 20 20
Ai A (FTP1) PLTU 60 Air Anyer (FTP1) PLTU 60
Mentok PLTU 14
Bangka - 3 PLTU 30 30
Bangka - 5 PLTU 30
IPP
Bangka (FTP2) PLTU 30 30
T b li PLTU 14 Toboali PLTU 14
Jumlah Kapasitas MW 153 153 181 195 239 269 269 319 349 399
Reserve Margi n % 57 40 46 40 58 62 46 53 47 44
Neraca Daya Sistem Belitung
Pasokan/Kebutuhan Uni t 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pasokan/Kebutuhan Uni t 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 186,7 209,8 238,2 267,8 290,6 319,3 355,2 401,3 459,7 534,2
Beban Puncak MW 32,4 36,4 41,3 46,4 50,3 55,3 61,4 69,4 79,4 92,2
Load Faktor % 65,8 65,8 65,8 65,9 65,9 66,0 66,0 66,0 66,1 66,1
Pasokan
Kapasi tas Terpasang MW 43,5 36,0 27,0 16,0 16,0 16,0 16,0 16,0 16,0 16,0
PLN MW 16,5 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0
Pilang PLTD 13,5 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0
Manggar PLTD 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0
IPP
4
2
2
IPP
Biomass PLTU 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7
Sewa PLTD 20 20 11
Tambahan Kapasi tas
PLN
B lit B (FTP1) PLTU 17 17 Belitung Baru (FTP1) PLTU 17 17
Belitung - 3 PLTU 17 17
Belitung - 4 PLTU 17 17
Belitung Peaker PLTG 10 10
IPP
Belitung - 2 PLTGB 5 Belitung - 2 PLTGB 5
Juml ah Kapasi tas MW 44 53 65 71 88 88 98 108 125 142
Reserve Margi n % 34 44 57 53 75 59 59 56 57 54
N
E
R
A
P
R
O
L
A
M
P
A
C
A

D
A
Y
O
V
I
N
S
I

K
A
P
I
R
A
N

A
Y
A

S
I
S
T
E
A
L
I
M
A
N
4
2
3
A
1
4
.
6
E
M

I
S
O
L
A
T
A
N

B
A
RA
T
E
D
R
A
T
Neraca Daya Sistem Ketapang
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 118,6 134,7 151,9 175,7 187,8 200,1 212,9 226,5 240,8 256,0
Load Faktor % 64,1 64,2 64,2 64,2 64,2 64,2 64,2 64,3 64,3 64,3
Beban Puncak MW 21,1 24,0 27,0 31,2 33,4 35,6 37,8 40,2 42,8 45,5
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 24,1 24,1 17,1 17,1 14,1 14,1 0,0 0,0 0,0 0,0
Derating capacity MW 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,0 0,0 0,0 0,0
Pembangki t PLN
DEUTZ 1,2 2 PLTD 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 0 0 0 0
WARTSILA I 2,8 2 PLTD 5,6 5,6 5,6 5,6 5,6 5,6 0 0 0 0
RUSTON I 3,0 2 PLTD 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 0 0 0 0
4
2
4
Sewa
Sewa Diesel PLTD 7,0 7,0
Sewa Diesel PLTD 3,0 3,0 3,0 3,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Ketapang (FTP2) PLTU 20,0 Interkoneksi dengan Gri d 150 kV
Sewa/IPP Si stem Khatul i sti wa
Ketapang (IPP) PLTU 14,0
Relokasi Sewa Diesel PLTD 4,0
Sewa Sukadana PLTGB 3,0 -3,0
Juml ah Kapasi tas MW 28,1 45,1 58,1 58,1 55,1 55,1 38,0 38,0 38,0 38,0
Cadangan MW 5,8 10,0 17,0 17,0 17,0 17,0
Pemeliharaan 3,0 7,0 10,0 10,0 10,0 10,0
Operasi 2,8 3,0 7,0 7,0 7,0 7,0
Surpl us/Defi si t MW 1,2 11,1 14,0 9,8 4,7 2,5
Neraca Daya Sistem Sambas
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 71,6 81,4 91,8 106,2 113,5 120,9 128,8 137,0 145,6 154,9
Load Faktor % 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2 66,2
Beban Puncak MW 12,4 14,0 15,8 18,3 19,6 20,9 22,2 23,6 25,1 26,7
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 15,10 15,10 2,00 2,00
Derating capacity MW 0,40 0,40 0,00 0,00
Pembangki t PLN
SWD. I 0,34 1 PLTD 0,3 0,3
SWD. II 0,34 1 PLTD 0,3 0,3
SWD. III 0,40 1 PLTD 0,4 0,4 , , ,
DEUTZ. II 0,52 1 PLTD 0,5 0,5
DEUTZ MWM 0,50 1 PLTD 0,5 0,5
MTU ( TRAILER ) 0,60 1 PLTD 0,6 0,6
DEUTZ.MWM KHD 1,50 1 PLTD 1,5 1,5
DEUTZ.MWM KHD 1,50 1 PLTD 1,5 1,5
MITSUBISHI 1,00 1 PLTD 1,0 1,0
4
2
5
, , ,
MTU II 0,70 1 PLTD 0,7 0,7
MTU III 0,70 1 PLTD 0,7 0,7
PLTD Sewa
Sewa Diesel PLTD 5,0 5,0
Sewa Diesel PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Relokasi Sewa Diesel PLTD 2,0 2,0
Interkoneksi Gri d 150 kV Si stem Khatul i sti wa
Juml ah Kapasi tas MW 16,7 18,7 6,0 6,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0
Cadangan MW 2,5 2,5
Pemeliharaan 1,5 1,5
Operasi 1,0 1,0
Surpl us/Defi si t MW 1,8 2,2
Neraca Daya Sistem Ngabang
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 20,8 23,6 26,6 30,7 32,9 35,0 37,3 39,6 42,1 44,8
Load Faktor % 53,8 53,9 53,9 54,0 54,0 54,1 54,2 54,2 54,3 54,4
Beban Puncak MW 4,4 5,0 5,6 6,5 6,9 7,4 7,9 8,3 8,9 9,4
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 6,6 6,6
Derating capacity MW 0,2 0,2
Pembangki t PLN
MERCEDES (MTU) 0,9 1 PLTD 0,9 0,9
MITSUBISHI 1,6 1 PLTD 1,6 1,6
MERCEDES (MTU) 1 1 1 PLTD 1 1 1 1
4
2
6
MERCEDES (MTU) 1,1 1 PLTD 1,1 1,1
Sewa
Sewa Diesel PLTD 3,0 3,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Sewa PLTGB PLTGB 6 0 -6 Sewa PLTGB PLTGB 6,0 -6
Interkoneksi Gri d 150 kV Si stem Khatul i sti wa
Juml ah Kapasi tas MW 12,6 12,6 6,0 6,0 6,0 6,0
Cadangan MW 2,7 2,7
Pemeliharaan 1,6 1,6
Operasi 1,1 1,1
Surpl us/Defi si t MW 5 5 4 9 Surpl us/Defi si t MW 5,5 4,9
Neraca Daya Sistem Sanggau
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 74,7 84,9 95,8 110,8 118,5 126,2 134,4 143,0 152,1 161,7
Load Faktor % 67,5 67,5 67,5 67,5 67,5 67,5 67,4 67,4 67,4 67,4
Beban Puncak MW 12,6 14,4 16,2 18,7 20,0 21,4 22,7 24,2 25,7 27,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 14,4 14,4 8,4 2,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Derating capacity MW 0,3 0,3 0,3
Pembangki t PLN
SWD BBI 1,2 1 PLTD 1,2 1,2 1,2
SWD BBI 1,2 1 PLTD 1,2 1,2 1,2
DEUTZ MWM 0,8 1 PLTD 0,8 0,8 0,8
M T U 0,8 1 PLTD 0,8 0,8 0,8
MITSUBISHI 1,2 1 PLTD 1,2 1,2 1,2
MITSUBISHI 1,2 1 PLTD 1,2 1,2 1,2
PLTD Sewa
Sewa Diesel PLTD 6,0 6,0
Sewa Diesel PLTD 2,0 2,0 2,0 2,0
4
2
7
Tambahan Pembangki t
PLN
Sanggau PLTU 7,0 7,0
Sewa
Relokasi Sewa Diesel PLTD 2,0
Interkoneksi Gri d 150 kV Si stem Khatul i sti wa
Juml ah Kapasi tas MW 16,4 23,4 24,4 18,0 16,0 16,0 16,0 16,0 16,0 16,0
Cadangan MW 2,2 8,2 8,2
Pemeliharaan 1,2 7,0 7,0
Operasi 1,0 1,2 1,2
Surpl us/Defi si t MW 1,5 0,8 0,0
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Neraca Daya Sistem Sintang
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 71,4 81,1 91,5 105,9 113,3 120,8 128,6 136,9 145,6 154,9
Load Faktor % 64,2 64,3 64,3 64,3 64,3 64,4 64,4 64,4 64,5 64,5
Beban Puncak MW 12,7 14,4 16,3 18,8 20,1 21,4 22,8 24,2 25,8 27,4
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 15 9 15 9 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kapasitas Terpasang MW 15,9 15,9 9,9 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Derating capacity MW 0,5 0,5 0,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Pembangki t PLN
SWD BBI 0,5 1 PLTD 0,5 0,5 0,5
SWD BBI 1,2 1 PLTD 1,2 1,2 1,2
DEUTZ 1,5 1 PLTD 1,5 1,5 1,5
DEUTZ 1 5 1 PLTD 1 5 1 5 1 5 DEUTZ 1,5 1 PLTD 1,5 1,5 1,5
DEUTZ 1,5 1 PLTD 1,5 1,5 1,5
M T U 1,1 1 PLTD 1,1 1,1 1,1
MITSUBISHI 1,3 1 PLTD 1,3 1,3 1,3
MITSUBISHI 1,3 1 PLTD 1,3 1,3 1,3
PLTD Sewa
Sewa Diesel PLTD 6 0 6 0
4
2
8
Sewa Diesel PLTD 6,0 6,0
Tambahan Pembangki t
PLN
Sintang 3 7 PLTU 14,0 7,0
Sewa
PLTGB Sewa PLTGB 3 0 -3 0 PLTGB Sewa PLTGB 3,0 3,0
Interkoneksi Gri d 150 kV Si stem Khatul i sti wa
Juml ah Kapasi tas MW 18,9 32,9 33,9 24,0 24,0 24,0 21,0 21,0 21,0 21,0
Cadangan MW 2,8 8,5 8,5
Pemeliharaan 1,5 7,0 7,0
Operasi 1,3 1,5 1,5
Surpl us/Defi si t MW 3 4 10 0 9 2 Surpl us/Defi si t MW 3,4 10,0 9,2
Neraca Daya Sistem Nanga Pinoh
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 25,1 28,6 32,3 37,4 40,0 42,7 45,5 48,5 51,6 54,9
Load Faktor % 53,6 53,7 53,8 53,8 53,9 54,0 54,1 54,2 54,3 54,4
Beban Puncak MW 5,3 6,1 6,8 7,9 8,5 9,0 9,6 10,2 10,8 11,5
Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 6 3 6 3 3 3 3 3 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kapasitas Terpasang MW 6,3 6,3 3,3 3,3 2,3 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Derating capacity MW 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1
Pembangki t PLN
DEUTZ MWM 0,5 1 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
DEUTZ MWM 0,5 1 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
DEUTZ MWM 0,5 1 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
MITSUBISHI 0 8 1 PLTD 0 8 0 8 0 8 0 8 0 8
4
2
9
MITSUBISHI 0,8 1 PLTD 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
PLTD Sewa
Sewa Diesel 1,0 3 PLTD 3,0 3,0
Sewa Diesel 1,0 1 PLTD 1,0 1,0 1,0 1,0
Tambahan Pembangki t
PLN PLN
Nanga pinoh PLTGB 6,0 -6
Sewa
Relokasi Sewa Diesel PLTD 2,0
Interkoneksi Gri d 150 kV Si st. Khatul i sti wa
Juml ah Kapasi tas MW 8,3 8,3 11,3 11,3 10,3 8,0 8,0 2,0 2,0 2,0
Cadangan MW 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 Cadangan MW 1,3 1,3 1,3 1,3 1,3
Pemeliharaan 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
Operasi 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Surpl us/Defi si t MW 1,7 1,0 3,2 2,1 0,6
Neraca Daya Sistem Sekadau
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 5,8 6,6 7,6 8,2 8,7 9,3 9,9 10,6 11,3 12,3
Load Faktor % 44,9 45,0 45,1 45,1 45,2 45,3 45,4 45,5 45,6 45,6
Beban Puncak MW 1,5 1,7 1,9 2,1 2,2 2,4 2,5 2,7 2,8 3,1
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 4,6 4,6 4,6 3,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Derating capacity MW 0,1 0,1 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Pembangki t PLN
DEUTZ MWM 0,5 1 PLTD 0,5 0,5 0,5
M T U 0,4 1 PLTD 0,4 0,4 0,4
M T U 0 7 1 PLTD 0 7 0 7 0 7
4
3
0
M T U 0,7 1 PLTD 0,7 0,7 0,7
PLTD Sewa
Sewa Diesel PLTD 3,0 3,0 3,0 3,0
Tambahan Pembangki t
Interkoneksi Gri d 150 kV Si stem Khatul i sti wa
Juml ah Kapasi tas MW 4 4 4 4 4 4 2 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Juml ah Kapasi tas MW 4,4 4,4 4,4 2,9 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Cadangan MW 1,7 1,7 1,7
Pemeliharaan 1,0 1,0 1,0
Operasi 0,7 0,7 0,7
Surpl us/Defi si t MW 1,2 1,0 0,7
Neraca Daya Sistem Putussibau
Pasokan/Kebutuhan Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kebutuhan
Produksi Energi GWh 23,6 26,8 30,3 35,0 37,5 39,9 42,5 45,2 48,1 51,1
Load Faktor % 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2 59,2
Beban Puncak MW 4,6 5,2 5,8 6,8 7,2 7,7 8,2 8,7 9,3 9,9
Pasokan Pasokan
Kapasitas Terpasang MW 6,4 6,4 6,4 6,4 3,4 3,4 3,4 3,4 3,4 0,0
Derating capacity MW 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,0
Pembangki t PLN
DEUTZ MWM 0,50 1 PLTD 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
M T U 0,90 1 PLTD 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9
M T U 1 00 1 PLTD 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
Interkon
eksi Gri d
4
3
1
M T U 1,00 1 PLTD 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
Sewa
Putussibau PLTD 4,0 4,0 4,0 4,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
Tambahan Pembangki t
PLN
RiamBadau PLTMH 0 2
eksi Gri d
150 kV
dengan
si stem
khatul i sti
wa
Riam Badau PLTMH 0,2
IPP
Putussibau (FTP2) PLTGB 8,0
Juml ah Kapasi tas MW 6,6 14,6 14,6 14,6 11,6 11,6 11,6 11,6 11,6 8,2
Cadangan MW 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9
Pemeliharaan 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
Operasi 0 9 0 9 0 9 0 9 0 9 0 9 0 9 0 9 0 9 Operasi 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9
Surpl us/Defi si t MW 0,1 7,5 6,9 5,9 2,5 2,0 1,5 1,0 0,4
s
L
a
m
p
i
r
a
n

s
i
s
t
e
m

k
e
l
L
W
I
L
A
I
N
D
O
B

i
n
i

m
e
n
i
s
t
r
i
k
a
n

d
i
A
M
P
I
R
A
A
Y
A
H

O
P
O
N
E
S
I
A

j
e
l
a
s
k
a
n

r
W
i
l
a
y
a
h

O
4
3
2
A
N

B
P
E
R
A
S
I

T
I
M
U
R
r
e
n
c
a
n
a

p
e
O
p
e
r
a
s
i

I
n
e
n
g
e
m
b
a
n
n
d
o
n
e
s
i
a

T
n
g
a
n

T
i
m
u
r
L
A
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
B
1
P
E
B
2
D
A
S
U
(
S
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
B
2
P
EA
M
P
I
R
A
N


B
.


1
.

S
I
S
T
E
M

I
N
T
D
A
N

T
I
M
U
R
1
.
1
.

P
r
o
1
.
2
.

N
e
1
.
3
.
P
r
o
1
.
4
.

N
e
1
.
5
.

C
a
1
.
6
.

R
e
1
.
7
.
P
e
t
1
.
8
.

A
n
1
.
9
.

K
e
1
.
1
0
.

P
r
o
1
.
1
1
.

P
r
o
1
.
1
2
.

P
r
o
E
N
J
E
L
A
S
A
N

L
2
.

S
I
S
T
E
M

I
N
T
A
N

G
O
R
O
N
T
A
U
L
A
W
E
S
I

S
E
L
S
U
L
S
E
L
R
A
B
A
R
2
.
1
.

P
r
o
2
.
2
.

N
e
2
.
3
.

P
r
o
2
.
4
.

N
e
2
.
5
.

C
a
2
.
6
.

R
e
2
.
7
.

P
e
t
2
.
8
.

A
n
2
.
9
.

K
e
2
.
1
0
.

P
r
o
2
.
1
1
.

P
r
o
2
.
1
2
.

P
r
o
E
N
J
E
L
A
S
A
N

L

W
I
L
A
Y
A
H

O
P
T
E
R
K
O
N
E
K
S
I

R

(
K
A
L
S
E
L
T
E
o
y
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
r
a
c
a

D
a
y
a



o
y
e
k
-
P
r
o
y
e
k

I
P
r
a
c
a

E
n
e
r
g
i


p
a
c
i
t
y

B
a
l
a
n
c
e
n
c
a
n
a

P
e
n
g
e
m
t
a

P
e
n
g
e
m
b
a
n
a
l
i
s
i
s

A
l
i
r
a
n

D
a
b
u
t
u
h
a
n

F
i
s
i
k

P
o
g
r
a
m

L
i
s
t
r
i
k

P
o
g
r
a
m

E
n
e
r
g
i

B
o
y
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
L
A
M
P
I
R
A
N

B
1
T
E
R
K
O
N
E
K
S
I

A
L
O

(
S
U
L
U
T
T
E
L
A
T
A
N
,

S
U
L
A
W
R
)

o
y
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
r
a
c
a

D
a
y
a


o
y
e
k
-
P
r
o
y
e
k

I
P
r
a
c
a

E
n
e
r
g
i


p
a
c
i
t
y

B
a
l
a
n
c
e
n
c
a
n
a

P
e
n
g
e
m
t
a

P
e
n
g
e
m
b
a
n
a
l
i
s
i
s

A
l
i
r
a
n

D
a
b
u
t
u
h
a
n

F
i
s
i
k

P
o
g
r
a
m

L
i
s
t
r
i
k

P
o
g
r
a
m

E
n
e
r
g
i

B
o
y
e
k
s
i

K
e
b
u
t
u
h
L
A
M
P
I
R
A
N

B
2
P
E
R
A
S
I
I
N
D
O
N
K
A
L
I
M
A
N
T
A
N
E
N
G
T
I
M
)
h
a
n

T
e
n
a
g
a

L
i
s
P
P

T
e
r
k
e
n
d
a
l
a

e

G
a
r
d
u

I
n
d
u
k


m
b
a
n
g
a
n

P
e
n
y
a
g
a
n

P
e
n
y
a
l
u
r
a
a
y
a


P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n
e
r
d
e
s
a
a
n


B
a
r
u

d
a
n

T
e
r
b
a
h
a
n

I
n
v
e
s
t
a
s
i

S
U
L
A
W
E
S
I

U
T
E
N
G
G
O
)

D
A
N

W
E
S
I

T
E
N
G
G
A
h
a
n

T
e
n
a
g
a

L
i
s
P
P

T
e
r
k
e
n
d
a
l
a


e

G
a
r
d
u

I
n
d
u
k


m
b
a
n
g
a
n

P
e
n
y
a
g
a
n

P
e
n
y
a
l
u
r
a
a
y
a


P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n
e
r
d
e
s
a
a
n


B
a
r
u

d
a
n

T
e
r
b
a
h
a
n

I
n
v
e
s
t
a
s
i


2
4
3
3
N
E
S
I
A

T
I
M
U
R
N

S
E
L
A
T
A
N
,

T
t
r
i
k

a
l
u
r
a
n


n
n

D
i
s
t
r
i
b
u
s
i


a
r
u
k
a
n
T
A
R
A
,

S
U
L
A
W
S
I
S
T
E
M

I
N
T
E
A
R
A

D
A
N

S
U
L
t
r
i
k


a
l
u
r
a
n


n


n

D
i
s
t
r
i
b
u
s
i


a
r
u
k
a
n


E
N
G
A
H

W
E
S
I

T
E
N
G
A
H
R
K
O
N
E
K
S
I

L
A
W
E
S
I

B
A
R
A
H

A
T

R
E
N
C
A
N
A
W
I
L
A
Y
A
H

B
3
.

B
4
.

B
5
.

B
6
.

B
7
.

B
8
.

B
9
.

B
1
0
.

B
1
1
.

B
1
2
.

B
1
3
.

B
1
4
.
B
1
5
.

B
1
6
.

B
1
7
.

B
1
8
.

B
1
8
.
1
.

B
1
8
.
2
.

B
1
8
.
3
.

B
1
8
.
4
.

B
1
8
.
5
.

B
1
8
.
6
.

B
1
8
.
7
.

B
1
8
.
8
.

B
1
8
.
9
.

B
1
8
.
1
0
.

B
1
8
.
1
1
.

B
1
8
.
1
2
.

B
1
8
.
1
3
.

A

P
E
N
G
E
M
B
A
N
O
P
E
R
A
S
I

I
N
D
P
R
O
V
I
N
S
I

K
P
R
O
V
I
N
S
I

K
P
R
O
V
I
N
S
I

K
P
R
O
V
I
N
S
I

S
P
R
O
V
I
N
S
I

S
P
R
O
V
I
N
S
I

G
P
R
O
V
I
N
S
I

S
P
R
O
V
I
N
S
I

S
P
R
O
V
I
N
S
I

S
P
R
O
V
I
N
S
I

M
P
R
O
V
I
N
S
I

M
P
R
O
V
I
N
S
I

P
P
R
O
V
I
N
S
I

P
P
R
O
V
I
N
S
I

N
P
R
O
V
I
N
S
I

N
N
E
R
A
C
A

D
W
I
L
A
Y
A
H

O
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
N
e
r
a
c
a

D
a
y
N
e
r
a
c
a

D
a
y
N
G
A
N

S
I
S
T
E
M
D
O
N
E
S
I
A

T
I
M
U
K
A
L
I
M
A
N
T
A
N
K
A
L
I
M
A
N
T
A
N
K
A
L
I
M
A
N
T
A
N
S
U
L
A
W
E
S
I

U
T
S
U
L
A
W
E
S
I

T
E
G
O
R
O
N
T
A
L
O
S
U
L
A
W
E
S
I

S
E
S
U
L
A
W
E
S
I

T
E
S
U
L
A
W
E
S
I

B
A
M
A
L
U
K
U

M
A
L
U
K
U

U
T
A
P
A
P
U
A

P
A
P
U
A

B
A
R
A
N
U
S
A

T
E
N
G
G
N
U
S
A

T
E
N
G
G
D
A
Y
A

S
I
S
T
E
M
-
O
P
E
R
A
S
I

I
N
D
O
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

K
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

K
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

K
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

S
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

S
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

S
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

S
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

M
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

M
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

P
a
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

P
y
a

S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
t
y
a

S
i
s
t
e
m

I
s
o
l
a
t
4
3
4
M

K
E
L
I
S
T
R
I
K
A
U
R
N

S
E
L
A
T
A
N
N

T
E
N
G
A
H
N

T
I
M
U
R
T
A
R
A


E
N
G
A
H




E
L
A
T
A
N

E
N
G
G
A
R
A


A
R
A
T


A
R
A




A
T


G
A
R
A

B
A
R
A
T

(
G
A
R
A

T
I
M
U
R

(
N
-
S
I
S
T
E
M

I
S
O
L
O
N
E
S
I
A

T
I
M
U
a
l
i
m
a
n
t
a
n

S
e
l
a
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
e
n
g
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
u
l
a
w
e
s
i

U
t
a
r
a
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
a
u
l
a
w
e
s
i

S
e
l
a
t
a
u
l
a
w
e
s
i

T
e
n
g
g
M
a
l
u
k
u

M
a
l
u
k
u

U
t
a
r
a
a
p
u
a

a
p
u
a

B
a
r
a
t

t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

N
T
t
e
d

P
r
o
v
i
n
s
i

N
T
A
N

P
E
R

P
R
O
V
(
N
T
B
)
N
T
T
)
A
T
E
D

R
a
t
a
n

g
a
h

u
r

h

n

a
r
a
T
B
T
T
I
N
S
I

S
I
S
T
E
L
A
E
M

I
N
T
E
R
A
M
P
I
R
A
N
R
K
O
N
E
K
S
4
3
5
N

B
1
S
I

K
A
L
S
E
LL
T
E
N
G
T
I
MM
P
R
O
S
I
S
T
L
O
Y
E
K
S
I

K
E
T
E
M

I
N
T
E
RL
A
M
P
I
R
A
E
B
U
T
U
H
A
R
K
O
N
E
K
4
3
6
A
N

B
1
.
1
A
N

T
E
N
A
G
S
I

K
A
L
S
E
G
A

L
I
S
T
R
E
L
T
E
N
G
TR
I
K

T
I
M
P k i K b t h T Li t ik Si t K l lt ti Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Sistem Kalseltengtim
SISTEM 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Wil KALSELTENG
Sistem Barito
Energi Produksi (GWh 2,122 2,475 2,980 3,434 3,746 4,118 4,499 4,919 5,381 5,892
Load Factor (%) 67 67 67 68 69 69 70 70 71 71
BebanPuncak(MW) 362 424 504 575 623 680 737 799 868 942
4
Beban Puncak (MW) 362 424 504 575 623 680 737 799 868 942
Wil KALTIM
Sistem Mahakam
Energi Produksi (GWh 1,757 2,246 2,787 3,282 3,686 4,021 4,371 4,744 5,148 5,571
L dF t (%) 70 69 69 69 69 69 69 69 69 69
4
3
7Load Factor (%) 70 69 69 69 69 69 69 69 69 69
Beban Puncak (MW) 288 371 460 544 610 666 723 785 852 922
INTERKONEKSI
KALSELTENG & KALTIM
Energi Produksi (GWh 3,879 4,720 5,767 6,715 7,432 8,139 8,870 9,663 10,530 11,463
Load Factor (%) 68 68 68 69 69 69 69 70 70 70
Beban Puncak (MW) 650 795 964 1,119 1,233 1,346 1,460 1,584 1,719 1,864
S
I
S
T
E
L
A
N
E
M
I
N
T
E
R
A
M
P
I
R
A
N
N
E
R
A
C
A

D
K
O
N
E
K
S
4
3
8
N

B
1
.
2
D
A
Y
A

I

K
A
L
S
E
LL
T
E
N
G
T
I
MM
Grafik Neraca Daya Sistem Kalseltengtim
63%
61%
3,000
3,500
M
W
Reserve Margin
PLTG PLN
PLTG IPP
PLTA PLN
PLTG IPP
70%
70%
75%
69%
63%
2,500
PLTU PLN
PLTU IPP
PLTU Sewa
Pembangkit IPP  & Sewa
Pembangkit Terpasang  PLN
PLTG PLN
PLTA PLN
PLTGU IPP
76%
71%
1,500
2,000
Beban Puncak
PLTGU IPP
PLTU PLN
36%
33%
1,000
PLTU IPP
Pembangkit IPP &Sewa PLTU Sewa
-
500
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Pembangkit Terpasang PLN
Pembangkit IPP & Sewa PLTU Sewa
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
439 439
439
Neraca Daya Sistem Kalseltengtim
No. Unit 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 Keb t han GWh 1 798 842 2 232 2 439 2 666 2 916 3 191 3 191 3 191 3 191
Kebutuhan dan Pasokan
1 Kebutuhan GWh 1.798 842 2.232 2.439 2.666 2.916 3.191 3.191 3.191 3.191
Produksi GWh 3.879 4.720 5.767 6.715 7.432 8.139 8.870 9.663 10.530 11.463
Faktor Beban % 68,1 67,8 68,3 68,5 68,8 69,0 69,4 69,6 69,9 70,2
Beban Puncak MW 650 795 964 1.119 1.233 1.346 1.460 1.584 1.719 1.864
2 Pasokan 2 6 3 3 3 3
Kapasitas Terpasang MW 738 752 621 445 355 355 355 355 355 355
PLN 479 493 390 360 270 270 270 270 270 270
SWASTA 259 259 231 85 85 85 85 85 85 85
IPP MW 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 IPP MW 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85
Sewa & Excess Power MW 174 174 146 - - - - - - -
Retired & Mothballed - - 102 30 90 - - - - -
PLTG MW - - 20 - - - - - - -
PLTD MW - - 82 30 90 - - - - -
3 Tambahan Kapasitas
SEWA
Rencana
PLTG Bontang (Gas Storage) PLTG 100 PLTG Bontang (Gas Storage) PLTG 100 -
PLTU Sewa Asam Asam (3x50 MW) PLTU 150
PLTU Sewa Kariangau (2x120 MW) PLTU 240
PLN
On Going Project
Pulang Pisau (FTP1) PLTU 60 60
Asam Asam (FTP1) PLTU 130
Kaltim Peaking (APBN) PLTG 100
Muara J awa/Teluk Balikpapan (FTP1) PLTU 220 Muara J awa/Teluk Balikpapan (FTP1) PLTU 220
Sampit (APBN) PLTU 50
Rencana
Kaltim (Peaking) PLTG 50
Kalsel (Peaking) PLTG 50
Bangkanai (FTP2) PLTG 140 70 70
Kelai (Kaltim) PLTA 75 75
Kusan PLTA 65
IPP IPP
On Going
Mahakam (Senipah) PLTG 82
Pangkalan Bun PLTU 14
Rencana
Kalsel - 1 (FTP2) PLTU 100 100
Embalut (Ekspansi) PLTU 50
Kaltim - 2 (FTP2) PLTU 100 100
Kaltim (MT) PLTU 55 *)
440
• *) Kemungkinan bisa masuk lebih awal 1 unit tahun 2013
• **) Kemungkinan tidak jalan, tidak diperhitungkan dalam reserve
i
( ) )
Kalteng - 1 PLTU 200
Kaltim (PPP) PLTU 200
4 Jumlah Pasokan (Terpasang) MW 882 1.056 1.697 1.911 2.091 2.291 2.556 2.681 2.806 3.006
5 Reserve Margin (Terpasang) % 36 33 76 71 70 70 75 69 63 61
P
S
I
S
L
P
R
O
Y
E
K
-
S
T
E
M

I
N
T
EL
A
M
P
I
R
A
-
P
R
O
Y
E
K
E
R
K
O
N
E
K
4
4
1
A
N

B
1
.
3
K

I
P
P

T
E
R
K
S
I

K
A
L
S
K
E
N
D
A
L
A
S
E
L
T
E
N
G
A
G
T
I
M
B
1
.
3
D
a
l
a
m
p
e
n
g
y
a
n
g
P
e
r
j
a
n
I
P
P
d
e
n
g
a
n

K
a
b
e

K
a
c
l
o

K
a
n
a
P
e
m
b
a
n
g
k
i
t

P
L

P
L

P
L

P
L
S
a
a
t
i
n
i
p
e
n
D
i
r
e
k
t
u
r
u
n
t
s
u
d
a
h
d
a
l
a
m
P
r
o
y
e
k
-
p
r
o
y
g
e
l
o
l
a
a
n
p
r
o
y
e
k
n
j
i
a
n
P
e
m
b
e
l
i
a
n
P
P
T
L
t
e
r
k
e
n
d
a
a
t
e
g
o
r
i
1
:
t
a
h
r
o
p
e
r
a
s
i
n
a
m
u
n
a
t
e
g
o
r
i
2
,
t
a
h
a
p
o
s
i
n
g
t
a
p
i
t
i
d
a
k
a
t
e
g
o
r
i
3
,
t
a
h
a
p
m
u
n
t
i
d
a
k
k
u
n
j
t
I
P
P
y
a
n
g
t
e
r
k
e
L
T
U
E
m
b
a
l
u
t
2
x
L
T
U
T
a
n
a
h
G
r
o
L
T
U
P
a
n
g
k
a
l
a
n
L
T
A
M
T
K
a
l
t
i
m
n
y
e
l
e
s
a
i
a
n
I
P
P
t
u
k
I
P
P
d
a
n
K
m
t
a
h
a
p
p
e
n
y
e
l
y
e
k
I
P
P
Y
a
n
g
T
k
I
P
P
t
e
r
d
a
p
a
t
n
T
e
n
a
g
a
L
i
s
t
r
a
l
a
d
i
k
a
t
e
g
o
r
i
k
h
a
p
o
p
e
r
a
s
i
y
n
b
e
r
m
a
s
a
l
a
h
.
p
k
o
n
s
t
r
u
k
s
i
d
i
m
k
u
n
j
u
n
g
k
o
n
s
t
r
p
p
e
n
d
a
n
a
a
n
u
n
g
m
e
n
c
a
p
a
i
e
n
d
a
l
a
d
i
s
i
s
t
e
m
x
2
2
,
5
M
W
m
a
s
o
g
o
t
2
x
7
M
W
m
B
u
n
2
x
5
,
5
M
W
2
x
2
7
,
5
M
W
m
a
t
e
r
k
e
n
d
a
l
a
t
e
r
s
K
e
r
j
a
s
a
m
a
K
e
m
e
s
a
i
a
n
a
k
h
i
r
.
4
4
2
T
e
r
k
e
n
d
a
l
a
t
b
e
b
e
r
a
p
a
p
r
o
r
i
k
(
P
P
T
L
)
n
y
a
k
a
n
d
a
l
a
m
3
k
a
y
a
i
t
u
t
a
h
a
p
d
m
a
n
a
I
P
P
s
u
d
a
r
u
k
s
i
.
d
i
m
a
n
a
I
P
P
s
f
i
n
a
n
c
i
a
l
c
l
o
s
i
n
m
K
a
l
s
e
l
t
e
n
g
t
i
m
u
k
d
a
l
a
m
k
a
t
e
g
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
k
a
W
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
a
s
u
k
d
a
l
a
m
k
a
t
s
e
b
u
t
s
e
d
a
n
g
d
m
i
t
r
a
a
n
d
a
n
s
o
y
e
k
p
e
m
b
a
n
g
k
m
e
n
g
a
l
a
m
i
k
e
t
e
g
o
r
i
,
y
a
i
t
u
:
d
i
m
a
n
a
I
P
P
a
h
m
e
n
c
a
p
a
i
f
i
n
u
d
a
h
m
e
m
i
l
i
k
i
n
g
(
F
C
)
.
m
a
d
a
l
a
h
,
g
o
r
i
1
a
t
e
g
o
r
i
2
m
k
a
t
e
g
o
r
i
2
t
e
g
o
r
i
3
d
i
p
r
o
s
e
s
o
l
e
h
K
e
b
a
g
i
a
n
d
i
a
n
t
ak
i
t
I
P
P
e
n
d
a
l
a
.
s
u
d
a
h
n
a
n
c
i
a
l
P
P
T
L
K
o
m
i
t
e
a
r
a
n
y
a
S
I
S
T
E
L
A
N
E
E
M

I
N
T
E
R
A
M
P
I
R
A
N
E
R
A
C
A

E
R
K
O
N
E
K
S
4
4
3
N

B
1
.
4
N
E
R
G
I

I

K
A
L
S
E
LL
T
E
N
G
T
I
MM
Proyeksi Neraca Energi Proyeksi Neraca Energi
Sistem Kalseltengtim
(GWh)
Jenis 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Batubara 1.547 2.365 3.172 4.314 5.065 5.884 6.599 7.219 7.770 8.686
Gas 185 333 1 309 1 628 1 658 1 444 1 445 1 442 1 442 1 448
4
Gas 185 333 1.309 1.628 1.658 1.444 1.445 1.442 1.442 1.448
LNG - 156 155 156 155 156 156 234 310 311
HSD 778 705 247 238 234 230 235 227 229 238
MFO 998 734 456 5 - - - - - -
4
4
4
MFO 998 734 456 5
Geot. - - - - - - - - - -
Hydro 106 106 106 106 106 300 300 540 780 780
Proyeksi Kebutuhan Energi Primer Proyeksi Kebutuhan Energi Primer
Sistem Kalseltengtim
Jenis Satuan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Batubara 10^3 ton 1.054 1.594 2.259 3.171 3.648 4.012 4.546 4.928 5.319 5.872
Gas bcf 3 5 12 13 13 14 13 13 13 13
4
LNG - 2 2 1 1 1 1 1 2 3
HSD 10^3 kl 271 233 52 19 19 15 18 14 15 18
MFO 10^3 kl 242 198 124 10 7 4 6 3 3 6
4
4
5
Geot. - - - - - - - - - -
Hydro - - - - - - - - - -
C
S
I
S
L
C
A
P
A
C
I
T
Y
T
E
M

I
N
T
E
L
A
M
P
I
R
A
Y

B
A
L
A
N
E
R
K
O
N
E
K
4
4
6
A
N

B
1
.
5
N
C
E

G
A
R
D
K
S
I

K
A
L
S
D
U

I
N
D
U
K
S
E
L
T
E
N
G
T
K

T
I
M
Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah
Total Peak Add Peak Add Peak Peak Add Peak Add Peak Add Peak Peak Peak Peak
2017 2018 2013 2014 2012 2011 2015 2016 2019 2020
[ l ]
TEG
CAPACITY
Jml
Kap
[MVA]
Total 
Kap
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
1 [perGI.xls]GI CEMPAKA 150/20 1 60 60
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 31.4 33.1 34.6 39.9 37.7 41.6 45.5 60.0 49.8 54.7 59.9
58% 61% 64% 74% 70% 77% 42% 46% 51% 55%
No. NAMA [perGI.xls]GI
TEG
(KV)
2 GI CEMPAKA 70/20 1 10 10
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 2.0 6.0 12.00    8.2 8.3 9.0 9.9 10.1 10.7 11.1 11.6 12.2 12.7
‐        42% 42% 45% 50% 51% 54% 56% 59% 61% 64%
22
3 GI BANJARMASIN 70/20 1 6 6 uprating dari  6 MVA uprating 10 MVA
4
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 1.0 10.0 10 35.3 36.1 40.0 30.0 44.8 46.8 50.3 53.5 57.0 30.0 60.8 64.7
1 20 20 59% 61% 49% 55% 58% 62% 66% 52% 55% 65%
1 30 30
66
4 GI TRISAKTI 70/20 2 6 12 uprating beban dipindah ke GI Trisakti 150
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 1.0 15.0 15 21.0 21.6 21.2 27.4 28.9 31.3 30.0 22.6 24.3 26.2 28.2
2 10 20 50% 51% 50% 65% 68% 45% 33% 35% 38% 41%
4
4
747
5 GI TRISAKTI 150/20 1 60 60
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 28.1 29.3 33.0 37.7 40.2 60.0 43.9 58.6 I  63.6 69.1 75.0
52% 54% 61% 70% 37% 41% 54% 59% 64% 69%
6 GI MANTUIL 150/20 2 30 60
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 26.2 27.6 19.5 22.4 24.1 26.6 29.1 31.9 35.0 38.4 60.0
49% 51% 36% 42% 45% 49% 54% 59% 65% 36%
7 GI SEBERANG BARITO 150/20 2 20 40
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 14.3 14.2 15.0 16.3 16.6 17.3 17.9 18.5 19.1 19.8
40% 39% 42% 45% 46% 48% 50% 51% 53% 55%
8 GI SELAT 150/20 1 20 20
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 10.4 11.0 12.5 14.4 15.5 17.1 18.7 20.5 22.5 24.7
23% 24% 28% 32% 34% 38% 42% 46% 50% 55%
Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah
2017 2018 2013 2014 2012 2011 2015 2016 2019 2020 CAPACITY
Jml
Kap
[MVA]
Total 
Kap
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
9 GI PALANGKARAYA 150/20 2 30 60
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 15.3 36.7 41.8 30.2 32.4 35.8 28.2 30.9 33.9 37.2
28% 68% 0 77 56% 60% 66% 52% 57% 63% 69%
No. NAMA [perGI.xls]GI
TEG
(KV)
28% 68% 0.77 56% 60% 66% 52% 57% 63% 69%
10 GI BARIKIN 150/20 2 30 60 Uprating dari 30 MVA
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 29.3 30.3 25.2 28.5 30.1 32.6 35.0 37.6 60.00 40.5 43.6
54% 56% 47% 53% 56% 60% 65% 46% 50% 54%
11 GI TANJUNG 150/20 1 30 30 koordinnasi dg pikitring change amuntai
4
G JU G 50/ 0 30 30 oo d as dg p t g c a ge a u ta
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 17.6 18.4 20.7 30.0 23.7 25.2 27.6 29.9 32.5 35.3 38.3 60.0
65% 68% 38% 44% 47% 51% 55% 60% 65% 35%
12 GI AMUNTAI 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 15.3 12.7 14.3 16.3 17.4 19.0 30.0 20.6 22.4 24.3 26.4
57% 47% 53% 60% 64% 35% 38% 41% 45% 49% 4
4
8
13 GI ASAM‐ASAM 150/20 2 10 20
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 12.7 13.2 14.7 16.6 17.6 19.0 20.4 22.0 23.7 25.5 30.0
35% 37% 41% 46% 49% 53% 57% 61% 66% 40%
14 GI PELAIHARI 150/20 1 30 30
‐ Beban Puncak ( MW ) 11 1 11 6 13 0 14 9 15 9 17 4 18 8 30 0 20 4 22 2 24 1    Beban Puncak ( MW ) 11.1 11.6 13.0 14.9 15.9 17.4 18.8 30.0 20.4 22.2 24.1
41% 43% 48% 55% 59% 64% 35% 38% 41% 45%
15 GI RANTAU/BINUANG 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 12.3 12.7 14.2 16.1 16.9 18.4 19.7 30.0 21.2 22.8 24.6
46% 47% 53% 59% 63% 68% 37% 39% 42% 45%
16 GI TAPPING PULANG PISAU 150/20 1 10 10 Uprating d
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 3.6 3.7 4.0 4.5 4.7 5.0 5.3 5.6 6.0 6.3 30.0
40% 41% 45% 50% 52% 56% 59% 62% 66% 23%
Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah
Total Peak Add Peak Add Peak Peak Add Peak Add Peak Add Peak Peak Peak Peak
2017 2018 2013 2014 2012 2011 2015 2016 2019 2020
TEG
CAPACITY
Jml
Kap
[MVA]
Total 
Kap
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
17 GI BATULICIN 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 14.3 16.1 18.4 19.6 30.0 21.4 23.3 25.2 27.4 29.8
0% 53% 60% 68% 36% 40% 43% 47% 51% 55%
No. NAMA [perGI.xls]GI
TEG
(KV)
0% 53% 60% 68% 36% 40% 43% 47% 51% 55%
18 GI KAYU TANGI 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 10.3 10.8 12.3 14.2 15.3 16.9 18.5 30.0 20.2 22.2 24.3
38% 40% 46% 53% 57% 63% 34% 37% 41% 45%
19 GI SAMPIT 150/20 1 30 30 uprating dari 30 MVA
4
p g
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 18.8 21.4 30.0 24.7 26.5 29.3 32.1 35.1 60.0 38.5 42.2
0% 70% 40% 46% 49% 54% 59% 43% 48% 52%
20 GI KASONGAN 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.00 10.4 11.8 13.6 14.7 16.2 17.7 19.4 30.0 21.3 23.3
0% 38% 44% 51% 54% 60% 66% 36% 39% 43% 4
4
9
21 GI PANGKALAN BUN 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 16.4 18.8 20.2 30.0 22.2 24.1 26.3 28.7 31.4
0% 61% 70% 37% 41% 45% 49% 53% 58%
22 GI BUNTOK/AMPAH 150/20 1 30 30
Beban Puncak ( MW ) 0 0 0 0 0 0 12 1 13 1 14 6 16 1 17 8 19 7 30 0 21 8  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 0.0 0.0 12.1 13.1 14.6 16.1 17.8 19.7 30.0 21.8
0% 0% 0% 45% 49% 54% 60% 66% 37% 40%
23 GI MUARA TEWEH 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 0.0 0.0 9.1 9.8 10.8 11.8 12.9 14.2 15.6
0% 0% 0% 34% 36% 40% 44% 48% 53% 58%
24 GI PALANGKARAYA II [New] 150/20 1 60 60
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 0.0 0.0 18.1 19.4 21.4 34.4 37.7 41.4 60.0 45.4
0% 0% 0% 33% 36% 40% 64% 70% 38% 42%
Capacity Balance Sistem Kalimantan Selatan dan Tengah
Jml
Kap
[MVA]
Total 
Kap
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add 
Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
Peak 
Load
[MW]
Add Trafo
[MVA]
2016 2017 2018 2019 2020 2011 2012 2013 2014 2015
No. NAMA [perGI.xls]GI
TEG
(KV)
CAPACITY
25 GI KUALA KURUN 150/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 0.0 0.0 0.0 0.0 6.0 6.3 6.8 7.4 8.0 8.7
0% 0% 0% 0% 22% 23% 25% 27% 30% 32%
26 GI KANDANGAN 150/20 1 30 30
4
/
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 8.6 10.0 10.7 11.8 12.9 14.2 15.6 17.0
0% 0% 32% 37% 40% 44% 48% 53% 58% 63%
27 GI BANDARA 150/20 1 60 60
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 14.9 17.1 23.5 25.8 28.0 30.5 33.2 36.1
4
5
0
0% 0% 28% 32% 44% 48% 52% 56% 61% 67%
28 GI KOTABARU 70/20 1 30 30
  ‐ Beban Puncak ( MW ) 14.6 17.7 30.0 19.7 20.6 21.4 22.3 23.2 24.1
0% 0% 54% 33% 36% 38% 40% 41% 43% 45%
TOTAL BEBAN GI 302.6 0.0 374.6 0.0 448.9 90.0 537.5 30.0 578.6 120.0 630.6 60.0 682.5 150.0 739.0 180.0 801.7 90.0 869.0 180        
GI KONSUMEN .BESAR 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
GI UMUM 302.6 374.6 448.9 537.5 578.6 630.6 682.5 739.0 801.7 869.0
   Beban Puncak GI 327.6 371.6 443.6 507.8 556.6 608.3 660.3 716.9 779.8 847.4
DIVERSITY FACTOR 0 92 1 01 1 01 1 06 1 04 1 04 1 03 1 03 1 03 1 03 DIVERSITY FACTOR 0.92 1.01 1.01 1.06 1.04 1.04 1.03 1.03 1.03 1.03
Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur
CAPACITY 2012 2011 2013 2014 2016 2015 2017 2018 2019 2020
No. Substati on No Uni t Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add
Si ze Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf
(MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
SISTEM MAHAKAM
uprating 30 MVA
1. GI Gn Malang / Industri 1 60 110 57.4 64.9 60 66.0 77.5 77.5 77.5 77.5 77.5 77.5 77.5
1992 150/20 1 20 71% 60% 61% 72% 72% 72% 72% 72% 72% 72%
1 30
BEBAN LEWAT PLTD
2. GI Batakan/Manggar Sari 2 20 130 36.2 40.9 41.4 48.6 55.7 60.7 66.6 72.9 79.1 86.4
1992 150/20 1 30 31% 41% 35% 42% 48% 52% 57% 62% 68% 74%
1 60
4
BEBAN LEWAT PLTD
3. GI Karang J oang/Giri Rejo 1 30 60 24.3 27.5 28.8 33.8 38.7 42.2 26.2 30.6 35.0 40.0
1993 150/20 1 30 45% 51% 53% 63% 72% 78% 49% 57% 65% 74%
4. GI Sei Keledang/Harapan Baru 1 30 60 35.5 40.3 47.4 60 55.7 63.7 69.5 76.2 83.5 90.6 60 98.9
4
5
11993 150/20 1 30 66% 75% 44% 52% 59% 64% 71% 77% 56% 61%
BEBAN LEWAT PLTD - - -
5 GI Karang Asem/Tengkawang 1 30 120 84.6 60 83.0 97.0 112.6 126.0 127.9 121.5 117.3 104.8 84.7
1996 150/20 1 30 52% 51% 60% 70% 78% 79% 75% 72% 65% 52%
1 60
BEBAN LEWAT PLTD - - - - - - - - - -
6 GI Tanjung Batu/Embalut 1 30 60 9.7 11.0 12.9 15.2 17.4 19.0 20.8 22.8 24.7 27.0
1996 150/20 1 30 18% 20% 24% 28% 32% 35% 39% 42% 46% 50%
BEBAN LEWAT PLTD
7 GI Palaran/Bukuan 1 30 30 12.1 20 13.7 16.2 19.0 21.8 23.7 26.0 28.5 30.9 33.8
1996 150/20 27% 31% 36% 42% 48% 53% 58% 63% 69% 75%
Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur
No. Substati on No Uni t Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add
Si ze Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf
CAPACITY 2012 2011 2013 2014 2016 2015 2017 2018 2019 2020
(MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
8 GI Tenggarong / Bukit Biru 1 30 30 16.2 18.4 21.7 30 25.4 29.1 31.8 34.8 38.1 41.4 45.2 30
2007 150/20 60% 68% 40% 47% 54% 59% 64% 71% 77% 84%
Rencana Tambahan GI
4
9 GI Sambutan 10.0 30 13.1 17.2 30 22.5 29.4 41.5 54.4 60 71.3 93.4 60 122.3
2010 150/20 37% 49% 32% 42% 55% 77% 50% 66% 58% 75%
10 GI Kuaro / Tanah Grogot 14.2 30 15.4 16.8 19.2 21.1 23.2 30 25.4 27.8 30.4 4
5
2
2011 150/20 53% 57% 62% 71% 78% 43% 47% 51% 56%
11 GI Bontang 19.7 30 25.4 30 32.6 37.1 40.7 44.5 30 48.5 53.0 57.7
2011 150/20 73% 47% 60% 69% 75% 55% 60% 65% 71%
12 GI Sangatta 14.5 30 15.9 18.2 19.9 21.8 30 23.8 26.0 28.4
2012 150/20 54% 59% 67% 74% 40% 44% 48% 53%
13 GI Petung 10.7 30 11.8 13.0 14.9 16.3 17.9 19.5 21.3 30 23.3
2011 150/20 40% 44% 48% 55% 60% 66% 72% 40% 43%
14 GI New Industri / Balikpapan 11.2 30 19.2 48.6 60 58.7 68.6 60 80.2
2013 150/20 42% 71% 60% 72% 51% 59%
Capacity Balance Sistem Kalimantan Timur
No. Substati on No Uni t Total Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add Peak Add
Si ze Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf Transf
(MVA) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA) (MW) (MVA)
15 GI PLTG S b 11 0 60 12 0 13 1 14 2 15 5 16 9 18 4 20 1 21 9
CAPACITY 2012 2011 2013 2014 2016 2015 2017 2018 2019 2020
15 GI PLTG Sembera 11.0 60 12.0 13.1 14.2 15.5 16.9 18.4 20.1 21.9
2012 150/20 20% 22% 24% 26% 29% 31% 34% 37% 41%
16 GI Kariangau 20.9 30 24.6 30 28.1 30.7 33.6 36.8 40.0 43.7
2012 150/20 78% 46% 52% 57% 62% 68% 74% 81%
17 GI New Samarinda 10.0 30 15.1 22.8 30 34.4
2018 150/20 37% 56% 42% 64%
4
TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 286.1 368.6 448.5 526.4 602.1 657.1 720.6 788.9 857.0 935.8
TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 275.1 354.2 430.1 508.6 578.3 634.4 693.3 756.3 825.4 897.9
DIVERSITY FACTOR 1.04 1.04 1.04 1.04 1.04 1.04 1.04 1.04 1.04 1.04
SISTEM BERAU
4
5
3
SISTEM BERAU
17 GI Berau / Tj Redep 20.7 30 22.8 30 24.9 27.2 29.7 32.4
2013 150/20 77% 42% 46% 50% 55% 60%
18 GI Bulungan / Tj Selor 10.1 30 11.1 12.2 13.3 14.6 15.9
2011 150/20 38% 41% 45% 49% 54% 59%
TOTAL BEBAN PUNCAK GI UMUM 30.9 33.9 37.1 40.5 44.3 48.3
TOTAL BEBAN PUNCAK KONSUMEN 30.9 33.9 37.1 40.5 44.3 48.3
DIVERSITY FACTOR 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
R
E
N
C
A
S
I
S
T
E
L
A
A
N
A

P
E
N
E
M

I
N
T
E
R
A
M
P
I
R
A
N
G
E
M
B
A
N
R
K
O
N
E
K
S
4
5
4
N

B
1
.
6
N
G
A
N

P
E
N
S
I

K
A
L
S
E
L
N
Y
A
L
U
R
A
L
T
E
N
G
T
I
M
A
N

M
Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI Proyeksi Kebutuhan Fisik Transmisi dan GI
Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
(kms)
T 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 J l h Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 J umlah
T/L 500 kV - - - - - - - - - - -
T/L 275 kV
T/L 150 kV 328 1859 878 1046 240 138 236.5 510 5235.5
(MVA)
4
T/L 70 kV 80 80
J umlah 328 1859 958 1046 240 138 236.5 510 0 0 5315.5
(MVA)
4
5
5
Tegangan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 J umlah
500/275 kV - - - - - - - - - - -
275/150 kV - - - - - - - - - - -
150/70 kV 60 60 120
150/20 kV 140 270 450 180 270 120 330 30 240 30 2060
70/20 kV 60 30 30 120
J umlah 140 270 570 210 360 120 330 30 240 30 2300
Rencana Pengembangan Penyaluran
Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
Propinsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Juta US$ COD Status Sumber
Kalsel Kalselteng Barikin Amuntai 150 kV 2 cct, ACSR 1x240 mm2 66 5,87 2011 Operasi APLN
Kalsel Kalselteng Seberang Barito Kayutangi 150 kV 2 cct, ACSR 1x240 mm2 42 3,74 2011 Operasi APLN
Kalsel Kalselteng PLTU Asam-asam (Perpres) Mantuil 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 220 26,98 2011 Operasi APLN
Kalsel Kalselteng Asam-asam Batu licin 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 248 30,41 2012 on going APBN
Kalsel Kalselteng Tanjung Perbatasan 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 284 34,83 2012 on going ADB
Kalsel Kalselteng Rantau Incomer 2 phi (Barikin - Cempaka) 150 kV 4cct, ACSR 2 x 240 mm2 2 0,25 2012 Planned Unall
Kalsel Kalselteng Up rating Asam-Asam Pelaihari-Cempaka-Mantuil 150 kV 2cct, ACCC 460 mm2 180 30,00 2013 Planned Unall
4
Kalsel Kalselteng Batu Licin Landing point P. Laut 70 kV 2cct, ACCC 460 mm2 6 4,50 2013 Planned Unall
Kalsel Kalselteng Landing point P. Laut Kotabaru 70 kV 2cct, ACCC 460 mm2 74 6,59 2013 Planned Unall
Kalsel Kalselteng PLTU Kalsel Baru-1(FTP 2) Tanjung 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 100 12,26 2014 Planned IPP
Kalsel Kalselteng Barikin Kayutangi 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 240 29,43 2014 Planned Unall
Kalsel Kalselteng PLTA Kusan Single phi (Cempaka - Rantau) 150 kV 2cct, ACSR 1 x 240 mm2 138 12,28 2016 Planned Unall
4
5
6Kalsel Kalselteng Reconduktor Cempaka *) Barikin 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 212,5 26,06 2017 Planned Unall
Kalteng Kalselteng Palangkaraya Sampit 150 kV 2 cct, ACSR 2x240 mm2 346 30,79 2012 on going APBN
Kalteng Kalselteng Kasongan Incomer phi (Sampit - P raya) 150 kV 2cct, ACSR 2x 240 mm2 2 0,25 2012 on going APBN
Kalteng Kalselteng Tanjung Buntok 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 260 31,88 2012 Planned APBN
Kalteng Kalselteng Sampit Pangkalan Bun 150 kV 2cct, ACSR 1 x 240 mm2 344 30,62 2013 Planned APBN
K lt K l lt PLTGU B k i M T h 150 kV 2 t ACSR 2 240 2 100 12 26 2013 Pl d APLN Kalteng Kalselteng PLTGU Bangkanai Muara Teweh 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 100 12,26 2013 Planned APLN
Kalteng Kalselteng Muara Teweh Buntok 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 220 26,98 2013 Planned APBN
Kalteng Kalselteng PLTU P.Pisau Incomer 2 phi (P. Raya -Selat) 150 kV 4cct, ACSR 1 x 240 mm2 4 0,36 2013 on going APLN
Kalteng Kalselteng Palangkaraya [New] Incomer phi (Selat - P raya) 150 kV 2cct, ACSR 1 x 240 mm2 2 0,18 2014 Planned Unall
Kalteng Kalselteng Muara Teweh Puruk Cahu 150 kV 2cct, ACSR 2 x 240 mm2 94 8,37 2014 Propose APBN
Rencana Pengembangan Penyaluran
K li t S l t T h d Ti Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
Propi nsi Area Dari Ke Tegangan Conductor kms Bi aya MUSD COD Status Sumber
Kalteng Kalselteng Puruk Cahu Kuala Kurun 150 kV 2cct, ACSR 12x 240 mm2 196 17.44 2014 Planned Unall
Kalteng Kalselteng PLTU Sampit Sampit 150 kV 2cct, ACSR 1 x 240 mm2 40 3.56 2014 Planned APBN
Kalteng Kalselteng PLTU Kalteng 1 Kasongan 150 kV 2cct, ACSR 2x 240 mm3
120
10.68 2014 Planned APBN
Kalteng Kalselteng Kasongan Kuala Kurun 150 kV 2cct, ACSR 2x 240 mm2
240
7.60 2015 Planned Unall
Kaltim Kaltim Karang J oang Kuaro 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2
310
38.01 2012 on going ADB
Kaltim Kaltim Kuaro Perbatasan 150 kV 2cct, ACSR 2 x 240 mm2
93
11.40 2012 on going ADB
4
Kaltim Kaltim Bontang Sambutan 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2
180
22.07 2012 Plan APBN
Kaltim Kaltim GI Sembera incomer Sambutan - Bontang 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2
14
1.72 2012 plan APBN
Kaltim Kaltim PLTG Senipah incomer Manggar Sari - K.J oang 150 kV 2 cct, ACSR 2x240 mm2
90
11.04 2012 Plan IPP
Kaltim Kaltim Petung Incomer 2 phi (Karjo - Kuaro) 150 kV 2cct, ACSR 2 x 240 mm2
6
0.74 2012 Plan APBN
Kaltim Kaltim PLTU Teluk Balikpapan Incomer 2 phi (Karjo - Kuaro) 150 kV 4cct, ACSR 2x240 mm2
8
0.49 2012 Plan APLN
4
5
7
Kaltim Kaltim Up rating Teluk Balikpapan K. J oang 150 kV 2cct, ACSR 2xZebra
16
1.60 2012 Plan APLN
Kaltim Kaltim PLTU Kaltim 2 (FTP-2) Bontang 150 kV 2 cct, ACSR 2x240 mm2
30
3.70 2013 Plan IPP
Kaltim Kaltim PLTG Senipah Bukuan/Palaran 150 kV 2 cct, ACSR 2x240 mm2
120
9.29 2014 Plan APLN
Kaltim Kaltim Harapan Baru Bukuan 150 kV
Up rating mejadi Twin Hawk
24 5.35 2014
Plan
Unall
Kaltim Kaltim Tenggarong Kota Bangun 150 kV 2cct, ACSR 1x240 mm2
110
8.90 2014 Plan APBN gg g g ,
Kaltim Kaltim New Samarinda Sambutan 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2
16
1.96 2017 Plan Unall
Kaltim Kaltim PLTU Kaltim (PPP) Incomer 2 pi (Senipah-Palaran/Bukuan) 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2
8
0.98 2017 Plan IPP
Kaltim Kaltim Bontang Sangatta 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2
90
11.04 2018 Plan Unall
Kaltim Kaltim Berau Tanjung Selor 150 kV 2cct, ACSR 1x240 mm2
160
14.24 2018 Plan Unall
Kaltim Kaltim PLTA Kelai Sangatta 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 260 31.88 2018 Plan Unall Kaltim Kaltim PLTA Kelai Sangatta 150 kV 2cct, ACSR 2x240 mm2 60 31.88 2018 Plan Unall
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
Propinsi Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber
Kalsel Amuntai (GI baru ) 150/20 kV New 30 2,62 2011 Operasi APBN
Kalsel Barikin Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi APBN
Kalsel Kayu Tangi (GI baru ) 150/20 kV New 30 2,62 2011 Operasi APBN
Kalsel Seberang Barito Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi APLN
Kalsel Asam asam Diameter 3 CB 150/20 kV Extension 3 CB 1,62 2011 On Going APLN
Kalsel Asam asam Diameter 2 CB 150/20 kV Extension 2 CB 1,35 2011 On Going APLN
Kalsel Asam-asam Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi APLN
Kalsel Mantuil Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2011 Operasi APLN
Kalsel Batu licin (GI Baru) 150/20 kV New 30 2,62 2012 On Going APBN
4
Kalsel Asam-asam Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2012 On Going APLN
Kalsel Tanjung Ext LB (Perbatasan) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2012 Planned Unall
Kalsel Batulicin (IBT) 150/70 kV New 60 2,68 2013 Planned Unall
Kalsel Kotabaru 70/20 kV New 30 2,62 2013 Planned Unall
Kalsel Tanjung 150/20 kV Extension 30 1,39 2013 Planned Unall
Kalsel Tanjung Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2013 Planned Unall
4
5
8
Kalsel Tanjung Ext LB (PLTU IPP) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2013 Planned Unall
Kalsel Banjarmasin 70/20 kV Extension 30 1,26 2013 Planned Unall
Kalsel Cempaka 150/20 kV Extension 60 2,10 2013 Planned Unall
Kalsel Kotabaru 70/20 kV Extension 30 1,23 2014 Planned Unall
Kalsel Rantau (Rekonfigurasi) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2014 Planned Unall
Kalsel Rantau (NEW LINE) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2014 Planned Unall
Kalsel Kayutangi 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2014 Planned Unall
Kalsel Trisakti 150/20 kV Extension 60 2,10 2014 Planned Unall
Kalsel Batulicin 150/20 kV Extension 30 1,39 2015 Proposed IBRD
Kalsel Trisakti IBT 150/70 kV Extension 60 2,10 2015 Planned Unall
Kalsel Mantuil 150/20 kV Extension 60 2,10 2015 Proposed IBRD
Kalsel Trisakti (Uprating) 70/20 kV Extension 30 2,10 2015 Proposed IBRD ( p g) p
Kalsel Barikin 150/20 kV Extension 60 2,10 2016 Proposed IBRD
Kalsel Amuntai 150/20 kV Extension 30 1,39 2016 Proposed IBRD
Kalsel Rantau 150/20 kV Extension 30 1,39 2017 Planned Unall
Kalsel Kayutangi 150/20 kV Extension 30 1,39 2017 Planned Unall
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
Propinsi Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber
Kalsel Asam asam 150/20 kV Extension 30 1,39 2017 Planned Unall
Kalsel Rantau Ext LB (Kusan) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2017 Planned Unall
Kalsel Pelaihari 150/20 kV Extension 30 1 39 2017 Proposed IBRD Kalsel Pelaihari 150/20 kV Extension 30 1,39 2017 Proposed IBRD
Kalteng Kasongan 150/20 kV New 30 2,62 2011 On Going APBN
Kalteng Kasongan 150/20 kV New 4LB 5,24 2012 On Going APBN
Kalteng Sampit (GI Baru) 150/20 kV New 30 2,62 2012 On Going APBN
Kalteng Palangkaraya Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2012 On Going APBN
Kalteng Pangkalan Bun (GI Baru) 150/20 kV New 30 2,62 2013 Planned APBN
4
Kalteng Sampit Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2013 Planned APLN
Kalteng Buntok (GI Baru) 150/20 kV New 30 2,62 2013 Planned APBN
Kalteng Muara Teweh (GI Baru) 150/20 kV New 30 2,62 2013 Planned APBN
Kalteng Buntok Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2013 Planned APBN
Kalteng Muara Teweh Ext LB (PLTGU) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2013 Planned APLN
Kalteng Sampit 150/20 kV Extension 30 2,10 2013 Planned Unall
4
5
9
Kalteng Sampit 150/20 kV Extension 30 2,10 2013 Planned Unall
Kalteng Palangkaraya (GI Baru) 150/20 kV New 60 3,34 2014 Planned Unall
Kalteng Palangkaraya New Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2014 Planned Unall
Kalteng Pangkalan Bun (GI Baru) 150/20 kV Extension 30 1,39 2015 Proposed IBRD
Kalteng Kuala Kurun (GI Baru) 150/20 kV New 30 2,62 2015 Proposed IBRD
Kalteng Muara Teweh Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2014 Planned Unall
Kalteng Sampit Ext LB (PLTU ) 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2015 Planned APLN
Kalteng Puruk Cahu 150/20 kV Extension 30 2,62 2015 Proposed IBRD
Kaltim Bukuan/Palaran Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2011 Planned APLN
Kaltim Sambutan 150/20 kV New 30 2,62 2011 Operasi APBN
Kaltim Bukuan/Palaran 150/20 kV Ekst Relocating 20 0,52 2011 Plan APLN
Kaltim Karang J oang/Giri Rejo Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2012 On Going APLN g g j , g
Kaltim Kuaro / Tanah Grogot 150/20 kV New (4 LB) 30 3,85 2012 On Going APLN
Kaltim Petung 150/20 kV New 30 1,75 2012 Plan APBN
Kaltim Sambutan Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2012 On Going APBN
Kaltim Bontang 150/20 kV New 30 2,62 2012 On Going APBN
Rencana Pengembangan Gardu Induk
Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur
Propinsi Nama Gardu Induk Tegangan Baru/Extension Kap Biaya MUSD COD Status Sumber
Kaltim GI PLTG Sambera 150/20 kV New (4 LB - 2x30) 60 4,57 2012 Plan APBN
Kaltim Industri/Gunung Malang 150/20 kV Uprating 60 2,10 2012 Plan Unall
Kaltim Sei Kleidang / Harapan Baru 150/20 kV Extension 60 2,10 2013 Plan Unall
Kaltim Tengkawang/Karang Asem 150/20 kV Extension 60 2,10 2013 On Going APBN
Kaltim Sambutan 150/20 kV Extension 30 1,39 2013 Plan Unall
Kaltim Bontang 150/20 kV Extension 30 1,39 2013 Plan Unall
Kaltim Bontang Ext LB 150/20 kV Extension 2 LB 1,23 2013 Proposed Unall
Kaltim Kariangau / Tel. Balikpapan 150/20 kV New 30 2,62 2013 On Going APLN
Kaltim Tenggarong / Bukit Biru 150/20 kV Extension 30 1 39 2013 Plan Unall
4
Kaltim Tenggarong / Bukit Biru 150/20 kV Extension 30 1,39 2013 Plan Unall
Kaltim Kariangau / Teluk Balikpapan 150/20 kV Extension 30 1,39 2014 Plan Unall
Kaltim Kota Bangun 150/20 kV New 30 1,75 2014 Plan APBN
Kaltim Berau / Tj Redep 150/20 kV New 30 2,62 2015 Plan Unall
Kaltim Bulungan / Tj Selor 150/20 kV New 30 2,62 2015 Plan Unall
Kaltim New Industri 150/20 kV New 30 2,62 2015 Proposed IBRD
4
6
0
Kaltim Berau / Tj Redep 150/20 kV Extension 30 1,39 2016 Plan Unall
Kaltim Sambutan 150/20 kV Extension 60 2,10 2017 Plan Unall
Kaltim Kuaro / Tanah Grogot 150/20 kV Extension 30 1,39 2017 Plan Unall
Kaltim Bontang 150/20 kV Extension 30 1,39 2017 Plan Unall
Kaltim New Industri 150/20 kV Extension 60 2,10 2017 Plan Unall
K lti N S i d 150/20 kV N 30 2 62 2017 Pl Unall Kaltim New Samarinda 150/20 kV New 30 2,62 2017 Plan Unall
Kaltim Sangatta 150/20 kV New 30 2,62 2018 Plan Unall
Kaltim Sambutan Ext LB 150/20 kV Ekstension 2 LB 1,23 2018 Plan Unall
Kaltim Petung 150/20 kV Extension 30 1,39 2019 Plan Unall
Kaltim New Samarinda 150/20 kV Extension 30 1,39 2019 Plan Unall
Kaltim Sambutan 150/20 kV Extension 60 2,10 2019 Plan Unall ,
Kaltim New Industri 150/20 kV Extension 60 2,10 2019 Plan Unall
Kaltim Sei Kleidang / Harapan Baru 150/20 kV Extension 60 2,10 2019 Plan Unall
Kaltim Tenggarong / Bukit Biru 150/20 kV Extension 30 1,39 2020 Plan Unall
P
E
S
I
S
T
L
E
T
A

P
E
N
G
T
E
M

I
N
T
E
L
A
M
P
I
R
A
G
E
M
B
A
N
G
E
R
K
O
N
E
K
4
6
1
A
N

B
1
.
7
G
A
N

P
E
N
Y
K
S
I

K
A
L
S
E
Y
A
L
U
R
A
N
E
L
T
E
N
G
T
N
T
I
M
Peta Kelistrikan Sistem Kalselteng
2013
2015
Puruk Cahu
PLTG BANGKANAI 140 MW(2013)
70 MW (2014), 70 MW (2015)
2013
Kuala Kurun
Puruk Cahu
Muara Teweh
G
U
D
D
D
ACSR 2X240 mm
2
ACSR 1X240 mm
2
98 km (2014)
ACSR 1X240 mm
2
47 km (2014)
ACSR 2X429 mm
2
40 km (2013)
2012
2012
2010
2011
PLTU BUNTOK
2X7 MW(2013)
U
PLTU KALTENG-1
2X100 MW (2020)
Buntok
Kasongan
PLTU KUALA KURUN
2X3 MW(2013)
ke GI Kuaro
( KALTIM)
U
D
D
ACSR 2X240 mm
2
130 km (2012)
ACSR 2X240 mm
110 km (2013)
ACSR 2X240 mm
2
172 km (2015)
ACSR 2X240 mm
2
142 km (2012) ACSR 2X240 mm
2
60 km (2015)
2010
2012
2016
U
U
PLTU KALSEL [IPP]
2X100 MW (2015/16)
PLTU SAMPIT
2X25MW(2014)
PLTU PULANG PISAU
2X60 MW(2012)
U
Barikin
Tanjung
Palangkaraya
Sampit
Pangkalan Bun
Selat
D
D
D
D
D
U
PLTU CENKO
2X7 MW(2011)
ACSR 2X240
mm
2
174 km (2012)
ACSR 1X240
mm
2
172 km (2013)
Amuntai
ACSR 2X240
mm
2
ACSR 2X240
mm
2
21 km (2011)
New
Palangkaraya
2011
A
Ranatu
Seberan
g
Barito
Trisakti
Ulin
Cempaka
PLTA RIAM
KANAN 3X10
MW
BatuLicin
Kayutangi
D
D
mm
120 km (2014)
A
PLTA KUSAN
2X32,5 MW
(2017)
Kotabaru
ACSR 1X240
mm
2
40 k (2013)
U
PLTU ASAM ASAM
2X65 MW(2011)
PLTU ASAM ASAM
#1 & 2 (2X65 MW)
Mantuil
Cempaka
U
Pelaihari
ACSR 2X240
mm
2
124 km (2012)
40 km (2013)
PLTU Sewa
3X50 MW(2013)
Peta Kelistrikan Sistem Kaltim
SABAH (MALAYSIA)
BRUNEI DARUSSALAM
2013
BRUNEI DARUSSALAM
2011
SARAWAK
(MALAYSIA)
Tj. Selor
Tj. Redep
U
PLTU Tj. Selor
2x7 MW – 2012
U
PLTU Tj. Redep
2x7 MW – 2012
2010
2015
2012
KALIMANTAN
BARAT
Sangata
Bontang
U
PLTU Kaltim-2 (IPP)
2x100 MW – 2015/16
G
PERENCANAAN SISTEM
U
PLTU Embalut (Ekspansi)
PLTG Sewa
100 MW – 2012
G
PLTU Kaltim (MT)
2012
2012
KALIMANTAN
TENGAH
SULAWESI
TENGAH
Kuaro
U
PLTU Muara Jawa/Teluk Balikpapan FTP1
2 100 MW 2014
PT PLN (Persero)
PETA J ARINGAN
PROPINSI KALIMANTAN TIMUR
PLTU Existing / Rencana
PLTG Existing / Rencana
PLTP Existing / Rencana
PLTA Existing / Rencana
G
A
U
P
/
/
/
/
PLTGU Existing / Rencana
PLTGB Existing / Rencana
PLTMExisting / Rencana
GB
GU
M
GI 500 kV Existing / Rencana
GI 275 kV Existing / Rencana
GI 150 kV Existing / Rencana
GI 70 kV Existing / Rencana
GI 500/275 kV Existing / Rencana
GI 500/275/150 kV Existing / Rencana
GI 275/150 kV Existing / Rencana
/
/
/
/
/
/
/
/
GB
GU
M
G
A
U
P
/
/
/
/
PERENCANAAN SISTEM
PLTG Senipah
2x41 MW – 2013
PLTU Embalut (Ekspansi)
1x50 MW – 2014
Karangjoang
Manggarsari
Industri
G
U
Petung
PLTU Kaltim (MT)
2x27.5 MW – 2014
PLTU Kaltim (PPP)
2x100 MW – 2017
KALIMANTAN
SELATAN
SULAWESI
SELATAN
ke
GI Tanjung
(Kalsel)
2x100 MW – 2014
T/L 70 kV Existing / Rencana
T/L 150 kV Existing / Rencana
T/L 275 kV Existing / Rencana
T/L 500 kV Existing / Rencana
/
/
/
/
/
PLTDExisting / Rencana
D
GI 150/70 kV Existing / Rencana
/
D
Kit Eksisting
Kit Rencana
Edit Juli 2011
PLTU Sewa
2x120 MW - 2013
S
I
S
T
E
L
A
N
A
L
E
M
i
N
T
E
R
L
A
M
P
I
R
A
L
I
S
I