DOM ACEH 1989-1998

⊆ 10/17/2008 03:35:00 AM by Jaringan Komunikasi Ummat | Analisis , Buku , Sejarah , Ummat . | ˜ 4 komentar »

Bab 08 dari "Bencana Ummat Islam di Indonesia 1980-2000" Upaya Pemusnahan Peradaban Muslim Paling Biadab Sepanjang Sejarah Indonesia PEMBANTAIAN di Aceh semasa rezim Soeharto jauh lebih biadab dan kejam dibanding kejahatan Abu Lahab dan Abu Jahal di zaman jahiliyah, karena mereka juga membantai wanita dan anak-anak yang tak bersalah. Militer yang didatangkan ke Aceh pada rezim Soeharto ini, lebih kejam bila dibandingkan dengan Abu Lahab dan Abu Jahal pada zaman jahiliyah. Pada zaman jahiliyah yang dipelopori Abu Jahal dan Abu Lahab pada waktu itu memburu Rasulullah untuk dibunuh. Pada suatu malam, Abu Jahal dan Abu Lahab datang mencari Rasul di rumahnya. Ternyata Rasulullah tidak ada, yang dilihat hanya Sayidina Ali yang sedang tidur di tempat pembaringan. Kedua pelopor jahiliyah itu, ternyata sedikitpun tidak mengusik Sayidina Ali dan keluarganya. Setelah mengetahui Rasulullah tidak bera-da di rumah itu mereka lalu pergi mencarinya ke tempat lain. Sementara Sayidina Ali sendiri bersama keluarga diketahui sebagai pejuang pembela Rasulullah. Peristiwa tersebut menggambarkan, bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab tidak membunuh dan mengusik orang lain yang bukan divonis mati oleh kelompok kafir Quraisy. Kualitas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Aceh sebagai hal yang luar biasa. Kejahatan ini juga terencana, terorganisir, dan sistematis. Di antara data yang diserah-kan pegiat LSM kepada Komnas HAM antara lain, ada korban yang diculik, dianiaya, disetrum, dan kemudian ditembak di depan umum. Ada pula yang diperkosa di depan anak atau di depan suaminya. Beberapa bagian bentuk kejahatan itu, ada kemiripan dengan modus operandi penculikan aktivis prodemokrasi yang melibatkan Kopassus di Jakarta. Peristiwa pembantaian, penyiksaan, perkosaan yang dirasakan rakyat Aceh atas perbuatan militer selama DOM, sangat pedih dirasakan. Karena hal itu dilakukan oleh bangsa sendiri dan bukan bangsa lain yang pernah menjajah Indonesia seperti Belanda dan Jepang. Sebagian peristiwa penyiksaan tragis dilakukan aparat militer, misalnya ada wanita yang diperkosa secara bergiliran kemudian dicambuk dengan kabel, ada pula yang diperkosa di depan anaknya, telinga disayat dan ditetesi jeruk nipis, kepala dipukul dengan balok lalu dikuliti di depan anaknya, kepala digantung dan dipukuli dengan kayu, leher digorok dan kepalanya ditenteng, dan suami dipaksa keluar dari rumah sementara istrinya ditelanjangi lalu diperkosa sambil berdiri. Selain itu, ada pula yang ditelanjangi dan diarak sambil disiksa di tengah keramaian pasar dan terakhir ditembak di depan massa. Wanita disetrum pada payu dara dan kemaluannya, giginya dicabut dengan tang, ditembak dalam sumur, pria yang dibakar kemaluannya lalu disiksa dengan kabel dan gagang cangkul, disalib dan ditembak, diseret pakai tali lalu didor, dipaksa bersenggama sesama tahanan, tidak boleh menutup aurat saat shalat, ada juga yang ditembak di atas pentas lalu diperton-tonkan, dikubur separoh badan lalu ditembak. Yang ironisnya ada juga wanita yang diperkosa secara bergiliran dan dimasukkan botol sprite ke dalam vaginanya, rumah dibakar, harta dijarah. Itulah antara lain ber-bagai cara penyiksaan dilakukan militer terhadap rakyat Aceh, sehingga para korban kini masih mengalami trauma berat. Di tengah operasi yang berlangsung, terjadi serpihan-serpihan peristiwa yang sangat sulit diterima oleh siapa saja yang masih mempunyai hati nurani. Penyiksaan dan penjarahan terhadap

Sampai saat ini jumlah korban yang mengalami perkosaan. pelecehan seksual dan pembunuhan belum sepenuhnya terdata lengkap. Kelihatannya masih berpeluang “diselamatkan”. hanya contoh kasus dari berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan akibat pemberlakuan Daerah Operasi Militer baik secara langsung dan tidak langsung. Namun sampai saat ini sebagian besar korban belum tertangani. Korban pemerkosaan terutama Aceh. Usaha pendampingan terhadap korban sudah dilakukan. Kasus-kasus dari berbagai bentuk tindak kekerasan yang dialami perempuan yang terjadi dari ratusan kekerasan yang terjadi seputar diberlakukannya Daerah Operasi Militer selama ini tidak pernah terungkap. seperti: 1. mulai dari pelecehan seksual sampai pembunuhan justru dilakukan oleh aparat yang seharusnya melindungi dan membela rakyatnya. pemulangan mereka yang masih dimungkinkan dari tempat-tempat yang begitu.“milik” perempuan yang berharga. Masyarakat Aceh menjadi masyarakat yang dibuat ketakutan sekian tahun. Ada beberapa alasan yang menyebabkan informasi ini tidak diketahui oleh masyarakat luas dan dunia internasional. Akibatnya korban atau keluarga selalu berusaha untuk menutupi kejadian tersebut. Tempattempat penyekapan di seluruh Aceh merupakan bukti tentang adanya operasi militer di Aceh. Data di atas. Adanya ancaman dari pihak-pihak tertentu terhadap orang ataupun LSM yang mendampingi korban. 3.1 Dari pemaparan fakta di atas dapat dilihat betapa kejamnya perla-kukan kekerasan oleh aparat terhadap kaum perempuan. selama berlakunya Operasi Militer. Secara otomatis. sehingga sangat sulit bagi korban untuk menceritakan pengalaman buruknya. otomatis tinggal dilepaskan saja dari tempat penye-kapannya. Dalam prosesproses begini. kerena pelakunya aparat yang sedang bertugas di daerah tersebut. atau adanya bentuk-bentuk penistaan kemanusiaan. Penderitaan dan trauma yang dialami korban sangat mendalam. membuat korban/keluarga selalu berada dalam kondisi diintimidasi.000 orang yang dinyatakan hilang sejak 1989. Wanita-wanita malang ini mencemaskan kalau pasukan ditarik. dan aktifis mahasiswa sudah mengawali mengungkapkan fakta tersebut. Ada data lapangan yang menunjukkan beberapa wanita Aceh dihamili aparat keamananan selama DOM. Kalau penculiknya jelas dan mereka dibawa ke mana. Adanya ancaman dari pelaku untuk “tidak mengungkap” kejadian tersebut pada orang lain. menjadi bagian . apalagi kepada orang yang tidak terlalu dikenalnya. sering dianggap aib dan memalukan. bahkan ada yang sudah punya anak. yang menyebabkan anak mereka tak (lagi) punya ayah. 2. selalu ada pemerkosaan dan ada anak yang dilahirkan oleh proses yang semacam itu. Beberapa diantaranya korban meninggal dunia. yang namanya bau busuk tidak pernah bisa ditutupi selama-nya. Mereka rata-rata dibawa ke Pos Sattis Kopassus. Di luar data hampir 2. bahkan langsung membawa korban ke Komnas HAM. Karena baru diculik. Di bawah ini akan diberikan beberapa contoh pola kekerasan yang terjadi terhadap perempuan di Aceh. beberapa yang lain berada dalam kondisi fisik dan psikologi yang sangat berat. Setidaknya LSM. sejumlah kasus perkosaan dan pembunu-han terhadap perempuan juga dimulai terungkap dan menghiasi hala-man muka surat kabar. 4. Tetapi. LBH. khusus di tahun 1998 ini sedikitnya ada 34 orang hilang di Aceh. Sejak turunnya TPF DPR RI ke Aceh.

ditekan. . mestinya itu tak dilakukan lagi. secara otomatis mereka memiliki kewajiban membangun ruang rasa aman masyarakat agar persoalan ini lebih menjadi mudah untuk lebih terbuka. Kemudian. untuk menyerahkan mereka yang diculik. Sebab. bahkan pembakaran rumah. Merehabilitasi kondisi ketakutan-ketakutan masyarakat. Harus ada upaya pemerintah untuk mela-kukan itu. maupun oleh masyarakat. untuk menunjukkan itikad pemerintah memperbaiki kondisi atau merehabilitasinya. Hal yang demikian akan membawa dampak psikologis juga terhadap proses pemu-lihan di masyarakat. misalnya. serta wajah yang sukar diidentifikasi lagi. perhiasan. sepanjang situasi ketakutan masyarakat masih belum mampu dikubur. uang. Ketika mereka terbunuh. terluka. Ter-masuk di beberapa daerah lain bahwa ini tidak saja termasuk penghi-langan orang. Umpamanya. Dengan begitu. misalnya ada yang cacat. Rehabilitasi terhadap fisik korban secara langsung. pressure. penjarahan. yang terbaik adalah pelepasan secara formal. karena hal itu bagian dari proses menghambat perbaikan kondisi di Aceh. Rehabilitasi itu mencakup juga ganti rugi barang-barang yang dirampas aparat dari masyarakat. dan sebagainya. ternyata banyak anggota masyarakat yang dimobilisir ABRI ikut operasi. sebelum situasi itu diikuti dengan perbaikan kondisi masyarakat Aceh.dari rehabilitasi situasi ketakutan masyarakat. Saya kira. Pemerintah harus mengumumkan secara terbuka siapa-siapa saja yang menjadi korban kekerasan ini untuk mendaftar di rumah sakit-rumahsakit untuk diberi pengobatan gratis. dan sebagainya. setelah itu dibunuh dan mayatnya dibuang dengan keadaan fisik yang rusak. Termasuk menjelaskan secara jujur kalau di antara mereka ada yang sudah meninggal kepada keluarganya masing-masing. Jangan sampai penyelesaian masalah ini malah membuka ruang bagi pelanggaran HAM lainnya. pencabutan DOM masih terlalu formil untuk dinilai sebagai suatu keputusan politik yang berarti. maka kita masih akan menghadapi hambatan-hambatan proses pertanggung-jawaban. tapi itu yang seharusnya tak boleh terjadi. Pelepasan dengan pola pembebasan aktivis di Jakarta malah menambah masalah pelanggaran hak asasi. Yang prinsipil saat ini tidak saja ABRI. Mungkin setelah di luar ada yang dihabisi. jika masyarakat masih ketakutan untuk memberikan informasi. Dimulai. agar masyarakat atau keluarganya tidak dapat mengenalinya lagi. sekaligus sebagai tameng saat ABRI berhadapan dengan GPK. Pernyataan-pernyataan yang berbau mengancam. Baik oleh ABRI sendiri. peta persoalan akibat dari semua proses yang terjadi di Aceh sejak 1989 itu belum terekam dengan baik. tapi juga diikuti dengan penghilangan harta. dan lain-lain. korbannya di-pressure. saat ini kalau memang pemerintah beritikad baik memperbaiki kondisi di Aceh. Digunakan cara-cara pelaku penculikan selama ini banyak dilakukan pemerintahan Soeharto. Yang sekarang jadi persoalan. serta menjadi bagian dari proses rehabi-litasi yang bertahap dan harus dilakukan. ABRI membuat daftar tentang orang dan keadaan mereka yang berada di tempat-tempat penyekapan itu. Dan ABRI menyatakan bertanggung jawab terhadap orang-orang yang sudah meninggal tersebut. tapi juga pemerintah daerah (Pemda) punya kewajiban untuk mengembalikan situasi ini. Bentuk-bentuk kekuasaan. kendaraan. Dari hasil investigasi LSM dan laporan keluarga korban. haruslah dihindari. tanah. mengundang keluarga-keluarga mereka dan tempat (lembaga-lembaga) di mana mereka selama ini mengadu. dan dianiaya. Maka. Kasus orang hilang di Aceh sama dengan kasus penculikan aktivis prodemokrasi di Jakarta.

pernah ada di beberapa negara Afrika dan beberapa negara Amerika Latin yang relatif tertinggal. Marcos saja di Filipina tak melakukannya. para janda yang suaminya diduga diculik aparat keamanan di daerah itu berharap agar suami mereka bisa dikembalikan. Satu hal yang mendasar yang terjadi di Aceh. bukan saja militer yang melakukan itu. bukan berarti mereka yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan itu tidak bisa dikenakan sanksi. tetap bukan hukum perang. maka itu tergolong kejahatan luar biasa dan menjurus pada pemusnahan peradaban etnis Aceh. misalnya. Sejauh ini. gara-gara DOM ini. Ibu rumah tangga yang sekarang tinggal bersama anaknya di gubuk reot tiga kilo meter bagian timur Kota Lhoksukon. memperoleh akses ekonomi dan sebagainya. Dan ini semua harus dipertanggungjawabkan. karena di Aceh tidak ada perang. Berbagai pelanggaran HAM selama berlangsungnya operasi militer di Aceh seperti yang belakangan ini terungkap benar adanya. komisi tersebut niscaya akan melakukan penelitian terhadap bentuk-bentuk kekerasan di Aceh. Ini seperti yang dilakukan terhadap Sintong Panjaitan.tak pernah dipertanggungjawabkan. baik secara individual. Selama ini ia mengaku hatinya tersiksa dan terpaksa menangis. tapi juga banyak orang yang memanfaatkan situasi DOM itu untuk. Dengan pernyataan pencabutan DOM di Aceh oleh Pangab di Lhok-seumawe. yang di dunia internasional. asal ada laporan dan pengaduan dari masyarakat. yang terakhir mempraktek-kannya itu Burma. Kecamatan Lhoksukon Aceh Utara. yang juga penting. ujar beberapa janda asal Lhoksukon3 melalui LBH Iskandar Muda dan LSM YAPDA Lhokseumawe. Saya tidak mampu jawab pertanyaan anak yang ditinggalkan. Mereka tiap hari menanyakan ke mana ayah pergi. Seperti diakui seorang ibu rumah tangga Kasmawati (30) warga Desa Matang Reudeup. Dan Indonesia termasuk negara yang terting-gal dalam menjauhi tindak kejahatan tradisional itu. Tapi. Kalau ia sudah dibunuh. karena hal ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. pertama . Kemudian. didampingi Direktur LSM-YAPDA Sugito Tassan Lhokseumawe mengatakan. sadisme yang terjadi di Aceh adalah kejahatan paling tradisional. maupun melalui organisasi. bahwa yang terjadi di sini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. sebetulnya warga Aceh. Tapi. Beliau dipersona non-grata di beberapa negara Eropa. Tapi. kejahatan kemanusia-an itu nilainya sangat tinggi. perorangan pun boleh. Maupun terhadap individual yang kemudian menim-bulkan persoalan-persoalan mendasar lainnya. Lagi pula. Dibanding apa yang terjadi di Aceh. Ini kejahatan paling kasar dan tradisional. cuma beberapa negara yang masih melakukannya. agama (Islam) mengajarkan bahwa membunuh satu orang itu sama dengan membunuh seluruh isi bumi dan langit. bisa melapor resmi langsung atau melalui faks atau surat. hendaknya bisa diketahui di mana kuburnya dan meminta pemerintah mengusut para pelakunya. Yang penting. kepada Komisi HAM PBB.2 Dia tidak termasuk hukum perang. Bila itu disampaikan. yang masih berlangsung di negara yang relatif berkehidupan modern ini. Kejahatan terhadap kemanusiaan secara otomatis harus dipertanggung-jawabkan oleh pemerintah yang mengambil keputusan untuk kemudian menimbulkan ruang bagi orang untuk melakukan berbagai kejahatan bagi kemanusiaan. Padahal. secara umum dikenal pembantaian para jenderal dalam peristiwa G30S/PKI sebagai sesuatu yang sadis. apa yang disebut dengan istilah dipersona nongratakan atas suatu tindakan yang dianggap melanggar kemanusiaan. ia berharap suaminya Amiruddin (30) bisa menyaksikan HUT-RI ke-53 bersama anaknya. Kalau dia ke sana akan ditangkap. Itu artinya. Di Asia ini.

000 orang. kata Kasmawati. didengar. Seorang srikandi Aceh. jumlah janda akibat operasi militer di daerah ini mencapai sekitar 1. tua atau muda. juga beberapa janda lainnya di desa Matang Reudeup Lhoksukon. korban sendiri ketika minta pamit memberitahukan dan dikuatkan keterangan kepala lorong. kata Kasmawati. namun Pemda Aceh akan terus berupaya membantu para keluarga korban akibat operasi meliter di daerah ini. Bahkan. tapi tidak datang ke pos. lantas petugas berinitial IRF. Sejak korban dibawa ke Pos Alue Bili 30 Maret 1997. Tapi. korban tidak di rumah. Ia yakin yang mengambil itu aparat keamanan. mengungkapkan bahwa trauma psikis yang dialami oleh mereka yang langsung mengalami-nya tentunya lebih berat. sampai sekarang belum pernah pulang ke rumah. sampai sekarang belum diketahui nasibnya. atau luka-luka dalam jiwa yang sulit untuk dipandang. tapi ia berada dalam tahanan petugas dan selama korban dijemput. Data sementara yang berhasil dihimpun Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh menyebutkan. korban mendapat kabar dari kepala lorong M Yusuf bahwa ada pesan dari petugas Kopassus. korban mendayung sepeda langsung datang ke pos Matang Ubi Lhoksukon menjumpai oknum itu. Nurjannah Bachtiar Nitura. terutama para janda dan anak-anak mereka yang telah menjadi yatim. dilihat. pihaknya bersama anak bersandar hidup pada orang tuanya. sarjana psikologi. Selama suaminya ditahan penculik. baik moril maupun meteril.480 orang. Seorang petugas berinitial IRF yang dijumpai di pos tersebut tidak tahu ke mana korban dibawa. Setelah dapat kabar itu. biaya sekolah dua di antara empat anaknya ditanggung ayahnya yang sudah uzur itu. Meski jumlah janda dan yatim belum diketahui persis.suaminya di jemput petugas ke rumah. kata Kasmawati meniru ucapan oknum IRF didampingi Direktur YAPDA Lhokseumawe. kata Kasmawati. Bahkan. Pemda Aceh berjanji akan terus membina dan menyantuni para keluarga korban orang hilang dan tindak kekerasan akibat operasi militer yang berlangsung di daerah ini sejak 1991. baik laki-laki atau perempuan. sehingga para janda dan anak yatim tidak merasa tertekan batinnya. beberapa jam kemudian korban pulang ke rumah menitip sepeda. tapi IRF mengaku pernah memesan Amiruddin ke pos lewat kepala lorong. Kasmawati datang sekaligus membawa pakaian dengan harapan bisa ketemu dengan Amiruddin. bahkan anak-anak. atau bahkan dirasakan. tak mungkin anak itu bisa melanjutkan sekolah ke SMP nanti. Pemda mengakui. Namun. Tiga hari setelah ia dibawa ke Pos Kopassus Alue Bili. Begitu suaminya Amiruddin pulang dari kerjanya sebagai petani. wanita hitam manis itu punya firasat bahwa suaminya masih hidup. apalagi diraba. kata Kasmawati menunjukkan wajah sedih. kala petugas datang. yakni Ny Rukiyah (35). Karena. Selain Kasmawati. mungkin ditangkap orang lain. Namun. tidak menutup kemungkinan trauma psikis tersebut juga dapat terimbas pada mereka yang secara tidak langsung . sedangkan anak yatim sekitar 6. kata Kasmawati. masih banyak para janda dan anak yatim dari keluarga korban yang perlu mendapat perhatian. menitip pesan pada kepala lorong jika ia sudah pulang segera datang ke pos penculik. Trauma psikis yang dialami para korban DOM. ia pernah bermimpi tiga kali seolaholah korban pulang ke rumah bersenda gurau dengan anak-anaknya. kala itu ia didampingi seorang petugas berpakaian preman dan kepada isterinya korban memberitahukan ia dibawa Kopassus ke Pos Alue Bilie. kata Kasmawati. Kecamatan Baktia Pantonlabu. Penderitaan panjang yang dialami telah meninggalkan luka-luka yang kasat mata karena merupakan luka fisik. terjadi karena berbagai peristiwa yang secara langsung maupun tidak langsung dialami.4 Hal itu dikemukakan gubernur seusai membuka Masa Sidang ke-2 1998/1999 DPRD Tk I Aceh di Banda Aceh. Isteri M Yusuf Husen itu mengisahkan bahwa suaminya dijemput petugas tahun 1991 lalu.

Sensus terakhir tahun 1990. Angka jumlah cerai mati dan cerai hidup ini hanya didata pada setiap sensus penduduk secara nasional sepuluh tahun sekali. Bahkan. atau penyebab lain. 6. peluang timbulnya kekacauan mental (mental disorder) semakin tinggi. menghadirkan sebuah situasi ketidakpastian dalam kehidupan seseorang. Hal ini akan mempengaruhi kondisi psikis seseorang sehingga ia merasa serba tidak pasti dan terancam keselamatannya. Beberapa gangguan seksual.366 orang. Dan.5 Bentuknya antara lain: 1.4 % per tahun menjadi 0. tuli. berusaha melupakan traumanya hingga terjadi amnesia. menyalahkan diri sendiri.000 janda. yakni 5. Data akurat menyangkut janda korban operasi militer sendiri hingga kini .5 % dari jumlah penduduknya waktu itu. Neurosa histerik ditandai dengan hilangnya fungsi mental atau fisik tanpa dikehendaki.498 janda cerai mati. Hasil sensus penduduk terakhir (1990). dan ketidakadilan. Juga pada operasi 1991. Paranoid dicirikan dengan adanya kecurigaan yang tinggi dan rasa bermu-suhan yang hebat. 4. dapat juga berupa reaksi disosiasi di mana beberapa fungsi kepribadian terpisah satu dengan yang lain. gadis-gadis yang tinggal di sekitar Sum juga dapat terimbas kecemasan karena jiwanya. Sum yang menjadi korban perkosaan oknum aparat tentu akan mengalami trauma psikis yang berat. temporer. Namun. tingkat pertumbuhan penduduk Pidie anjlok drastis. 5. Sebagai contoh. akibat operasi militer yang mulai gencar pada 1990 memang telah mendongkrak jumlah janda di Pidie. misalnya vaginismus (ketegangan otot vagina sehingga perempuan tak dapat berkoitus secara normal dengan suaminya). 2. menakutkan.7 Sayangnya. jumlah janda di Pidie mencapai angka 23. dari rata-rata 1. janda cerai mati meningkat hingga totalnya melampaui jumlah 24. Misalnya seorang gadis yang diperkosa menjadi takut dengan laki-laki atau seseorang yang menyerupai laki-laki (misal gadis tomboy). eksistensinya. Tapi. fitnah. Manifestasi gangguan ini dapat berupa reaksi konversi yang merupakan konversi kecemasan dalam bentuk gangguan fungsional syaraf. termasuk jumlah janda akibat kematian biasa. peluang kesembuhan masih tinggi) atau bahkan psikosa (mengenai seluruh kepribadian. dan sebagainya terancam. dalam tahun 1991 yang sedang marak operasi militer untuk memberantas gerombolan pengacau itu pula. murung. dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain. meliputi 19. Angka 23. Neurosa depresif merupakan suatu gangguan perasaan dengan ciri-ciri harga diri rendah. misal: lumpuh. dan 3. tidak melukai diri sendiri atau orang lain. baik jenis neurosa (mengenai sebagian kepri-badi-an. apatis. Neurosa phobia ditandai dengan ketakutan yang hebat terhadap sesuatu yang pernah menghadirkan pengalaman traumatis pada dirinya. dan lain-lain akibat diperkosa atau disakiti pada kemaluannya (dise-trum). Kantor Statistik Kabupaten Pidie tak mendata jumlah janda ini secara rutin tiap tahun. Pidie diperkirakan memiliki jumlah janda tertinggi. terus-menerus dan penyakitnya progresif.meng-alaminya. pada kondisi tertentu ada keinginan untuk bunuh diri. Yang jelas dalam situasi demikian. Namun.366 janda di Pidie yang didata sampai akhir 1990 itu.4 %. kurang bersemangat. Gangguan psikis lainnya. Situasi yang serba mencekam. ekspose kekerasan. harga dirinya sebagai wanita.6 Di antara 10 Dati II di Aceh. Hanya Nurjannahlah yang menyumbangkan ilmu psikologinya untuk Aceh bagi rehabilitasi mental-psikis rakyat yang sudah sangat menderita ini. buta dan lain-lain setelah mengalami pengalaman traumatis.868 janda cerai hidup. Sebagai contoh pecah kepribadian. 3. Jumlah janda cerai mati tersebut bukan semuanya janda korban operasi militer. frigid (dingin). sering hilang orientasi terhadap lingkungan dan kesembuhan permanen jarang sekali) yang pada kesempatan ini tak mungkin disebutkan satu per satu.

istri kehilan-gan suami dan anak-anak kehilangan ayahnya.547 perempu-an serta 220. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan salah seorang peng-urusnya. Kaum perempuan di Aceh ingin menikmati peringatan hari kemerde-kaan dalam suasana penuh kekhusyukan tanpa ada pemaksaan-pemak-saan dari siapa pun. Sedang-kan pada tahun-tahun selanjutnya pertumbuhan rata-rata 1.477 perempuan serta 204. Peristiwa pembantaian. sama sekali tidak patut kalau orang Aceh diba-ntai disiksa seperti yang terjadi pada era operasi militer digelar. yaitu Pidie. 440.4 % per tahun hanya ditemukan pada 1990 dan 1991.654 (1994). Meuredu.844 laki-laki. Perempuan-perempuan Aceh biasan-ya merayakan hari kemerdekaan pada 17 Agustus dengan men-ggendong anak dan membawa nasi bungkus turun dari desa ke kota-kota kecamatan. 446. dan pada 1991 217. 433.547 (1996). Rendahnya angka pertumbuhan penduduk di Pidie pada dua tahun itu memang bukan merupakan keberhasilan KB. dan 460. dan Kecamatan Pidie. Padahal. Atas tingkah-laku sege-lintir prajurit ABRI selama beroperasi di Aceh. enam kecamatan ini tidak semua masuk enam teratas dari segi jumlah penduduk.8 Pertumbuhan yang hanya 0. di tingkat nasional pertumbuhan pendu-duk Indonesia rata-rata 2 % per tahun.533 laki-laki. Glumpang Tiga.anak yatim. Terakhir ini. Pada 1990 terdapat 216. Akibat banyaknya jumlah janda di Pidie. Padahal. Jumlah janda di Pidie merata di semua kecamatan. disamping faktor budaya merantau di kalangan masyarakat Pidie. mere-hab dan membangun rumah-rumah yang dirusak dan dibakar serta menghukum aparat-apa-rat yang bertindak di luar kepatut-an. juga tidak cukup dilakukan Panglima ABRI. pertumbuhan penduduk di Pidie pada tahun 1990 dan 1991 hanya 0. Peringkat enam teratas ditempati berturut-turut Kecamatan Mutiara.4 persen.011 (1992). Meskipun pencabutan DOM sudah dilaku-kan.377 jiwa (1990). tapi mencari di mana suami dan ayah anak-anak mereka.700 (1993). Forum Perempuan Aceh pada kesempatan itu menguraikan sebagian kecil rincian peristiwa pilu yang dialami kaum wanita di daerah yang diberlakukan operasi militer. banyak perempuan Aceh menggendong anak bukan merayakan kemerdekaan.608 perempuan serta 205. 457. Jumlah penduduk Pidie selama delapan tahun terakhir berturut-turut 421. dan perkosaan semakin pedih dirasa-kan karena hal itu dilakukan bangsa sendiri.549 laki-laki. tapi Pemerintah Daerah Aceh dan tokoh-tokoh yang menghadirkan “DOM” di Aceh juga harus meminta maaf. 454.900 laki-laki. Sampai dua tahun terakhir pun tak jauh beda.924 (1995). perempuan Aceh belum bisa mem-aafkan semua peristiwa pedih itu. penyiksaan. Bila semua kita merenung-kan sumb-angan rakyat Aceh itu. baik ke luar negeri maupun luar daerah.belum terdata. Banyak sekali. Angka kematian di Pidie baru didata mulai 1996. dan pada 1997 239.391 (1997).012 penduduk perem-puan serta 219. Forum . 423. Aceh Utara. perempuan Aceh masih harus terus berjuang karena realisasi dari pernyataan itu belum dilak-ukan. Pada 1996 terdapat 238. anak.4 %. Permintaan maaf itu. Bandar Dua. Inilah peristiwa pedih yang pelakunya harus dihukum. Yang menarik. masa itu. Melainkan. Bandar Baru. tapi belakangan ini suasana memper-ingati hari kem-erde-kaan dilakukan secara terpaksa karena adanya tekan-an. Rakyat Aceh sejak zaman perjuangan telah memberi sumban-gan yang luar biasa kepada bangsa dan negara yang tercinta ini termasuk nyawa para syuhada yang memper-juangkan kemerdeka-an dari tangan penjajah. Permintaan maaf harus diiri-ngi dengan menyantuni para janda. besar kemungkinan karena angka kematian lebih besar dibandingkan jumlah kelahiran. maka tak heran perbandi-ngan jumlah penduduk lakilaki dan perempuan terlihat cukup mencolok.217 (1991). dan Aceh Timur.

jenis kelamin atau status sosialnya. Penyiksaan dan penjarahan terhadap “milik” perempuan yang sangat berharga.9 Terhadap permohonan maaf Habibie itu. Ketika Aceh dijadikan Daerah Operasi Militer. Metareum menyatakan.dalamnya atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di beberapa daerah pada masa lalu. keamanan. meskipun tidak . khususnya pemuka agama dan pimpinan masyarakat. Penjarahan harta rakyat.Perempuan Aceh mengajak semua unsur bangsa ini untuk melihat apa yang terjadi pada perempuan di Aceh terakhir ini. Kemudian. telah menimbul-kan banyak korban. Ismail Metareum mengomentari. Perlu pendekatan psikologis kepada rakyat Aceh agar mereka merasa aman hidupnya. kesejahteraan. yang dilakukan oknum petugas dalam operasi mengha-dapi gerakan separatis. terhadap keluarga korban. pembakaran rumah tempat tinggal bahkan pembu-nuhan. warna kulit. yang dilakukan oknum aparat dalam operasi mengha-dapi gerakan separatis. Apa yang tak biasa dilakukan Soeharto ketika menjabat Presiden RI tujuh periode. penganiayaan. Tetapi. Pelanggaran HAM yang telah terjadi perlu terus diusut dan ditun-taskan. bahkan ada korban yang lang-sung dibawa ke Komnas HAM. etnik. serta tidak merasa terancam lagi dengan kehadiran aparat keamanan di daerah itu. penculikan. yang namanya bau busuk tidak pernah bisa ditutupi selamanya. mereka yang berada dalam forum LSM.” kata sarjana hukum yang akrab dipanggil Buya itu di Jakarta. atau apa pun istilahnya yang dipakai pemerintah. ras. tidak lagi dihantui oleh berbagai rasa cemas dan ketakutan. mulai dari pelecehan seksual sampai ke pembunuhan justru dilakukan aparat yang seharusnya melindungi dan membela rakyatnya. “Itu bagus. berbagai tindak kekerasan terjadi. Kepala Negara yang menggantikan Soeharto itu menyampaikan penyesalan sedalam. kini dilakukan Presiden BJ Habibie. HAM adalah komitmen bangsa untuk menghormati harkat dan martabat manusia. permohonan maaf itu tidak berarti menggugurkan upaya pengusutan atas pelanggaran HAM yang terjadi. Di tengah operasi. mendukung. dan bernegara. Permintaan maaf pemerintah sudah termasuk dalam kasus orang-orang yang hilang di Aceh. bertekad bahwa kejadian itu tidak terulang dan menjadikan prinsip HAM sebagai tolok ukur dalam kehidupan bermasyarakat. terjadi serpihan-serpiha-n peristiwa yang sangat sulit diterima siapa saja yang masih mempunyai hati nurani. dan aktivis mahasiswa sudah mengungkapkannya. Rakyat Aceh sangat membutuhkan rasa keadilan. paling tidak perasaan para keluarga korban bisa terobati. Pemerintah. pelanggaran HAM yang dilakukan oknum aparat di Aceh. Presiden Habibie dalam pidato kenegaraan di DPR/MPR antara lain menyampaikan penyesalan yang sedalam-dalamnya atas terjadinya pelanggaran HAM di beberapa daerah pada masa lalu. misalnya anak-anak yatim atau janda-janda korban pelanggaran HAM tersebut juga perlu dilindungi dan dijamin kesejahteraan hidupnya. Paling tidak. serta memberikan kesempatan seluas-luasnya pada ABRI dalam meneliti peristiwa tersebut sekaligus menyelesaikannya secara hukum. berbangsa. Tapi. Pimpinan ABRI harus melakukan penyelidikan seksama atas kejadian itu dan mengajak semua pihak. Seluruh masyarakat merasa prihatin dengan terjadinya pelanggaran terhadap harkat dan martabat warga negara dan kemanusiaan tersebut. termasuk pimpinan ABRI. termasuk di Aceh. LBH. sehubungan dengan dinyatakan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) sejak 1989-1998. terlepas dari agama. Wakil Ketua DPR/MPR Ismail Hasan Metareum yang juga putra asli Aceh menyambut baik permohonan maaf Presiden Habibie atas terja-dinya pelanggaran HAM di berbagai daerah.

Hasil inventarisir FKP terhadap oknumoknum yang melakukan baru sementara. “Tapi.” kata kandidat doktor yang kini sedang melakukan penelitian tentang hubungan Islam dan ABRI itu. “Tentu tidak mungkin bahwa tataran verbal yang ideal itu. pernyataan Presiden Habibie sudah benar mengungkapkan hal itu di hadapan Dewan. bisa jadi perminta-an maaf yang disampaikan secara terbuka itu merupakan suatu wujud mengenai banyaknya tuntutan tokoh kritis tentang perlunya permintaan maaf dari pemerintah atas berbagai pelanggaran HAM di masa lalu. kalau pemerintah mau menegakkan HAM secara total. itu bukan masalah Golkar saja. satu hal yang kini ditunggu rakyat adalah apakah ada kesesuaian antara apa yang disam-paikan itu bisa menjadi kenyataan. tapi pemerintah harus diminta pertanggungjawaban.” kata Suriansyah tanpa menyebut oknum dari kesatuan mana. karena kasus Aceh sudah menjadi masalah bangsa. Seharusnya lebih detail lagi dengan menindak lanjuti suatu program pengusutan.keluarga korban.secara gamblang disebutkan. berpendapat senada bahwa pidato Presiden Habibie itu memerlukan pembuktian dalam bentuk implementasi kebijakan politiknya sehingga benar-benar dipercaya rakyat. kalau kemu-dian ada penegasan lagi dari Presiden. tapi juga menginventarisir oknum-oknum yang melakukannya. pemerintah harus buktikan. tidak percaya bahwa hal ideal yang baik dari isi pidato Presiden itu tiba-tiba langsung bisa menjadi sebuah mukjizat.” katanya. semua pihak harus memikirkan. Suriansyah berpendapat. jangan mau pemerintah difitnah. dan Dr Joshep Kristiadi dari CSIS. meski dinilai merupakan hal yang wajar. doktor Ilmu Politik lulusan UGM Yogyakarta itu. Sementara itu. Pemerintah harus membentuk yayasan itu. Secara politis. Namun. Kendati hal itu dilakukan pemerintah yang lalu. Otomatis negara harus bertanggung jawab. Mengenai apakah Hubda FKP Aceh akan menyampaikan ini kepada DPP Golkar untuk membantu. sehingga penyaluran dananya melalui yayasan tersebut. Ia mengatakan. Pemerintah tidak cukup hanya dengan minta maaf. “Jadi. Negaralah yang harus bertanggung jawab terhadap keluarga. jadi belum final. hukum. kasus orang-orang hilang di Aceh. di era reformasi ini itulah yang ditunggu semua rakyat. menurut-nya. Yang diinginkan kelanjutannya adalah langkah konkret melakukan pengadilan terhadap oknum-oknum yang bersalah. selain pemerintah wajib memberikan santunan kepada keluarga korban ekses dari DOM. namun dalam era reformasi seperti ini jelas menunjukkan sesuatu yang baik. Ditetapkannya Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM) adalah suatu keputusan politik.” ujarnya. Mengapa pernyataan permintaan maaf itu dinilainya wajar. kami ingin melihat orang-orang itu diadili. dalam tataran verbal harus diakui pidato kenegaraan Presiden memang selalu berusaha mengarah pada hal yang ideal dan baik. karena korban Aceh yang paling banyak. Menurutnya. seharusnya dibentuk yayasan yang khusus menangani korbankorban Aceh. dua pengamat politik. jelas itu merupakan sesuatu yang baik. karena sebelumnya Panglima ABRI Wiranto—ketika mengumum-kan pencabutan soal Daerah Operasi Militer (DOM)—secara terbuka juga menyatakan permintaan maaf mengenai hal itu. tiba-tiba kemudian menjadi kenyataan semua. Kasus Aceh ini kan faktanya lebih besar dari kasus-kasus orang hilang selama Orba. . “Namun. pencabutan status DOM harus diikuti dengan pertanggungjawaban politik. Jika ada pernyataan terbuka seperti itu. Tak kalah sengitnya adalah tuntutan dari pegiat LSM di Aceh. Dengan data-data yang kami kumpul. FKP tidak saja menginventarisir orang-orang yang hilang. Dr Indria Samego dari Puslitbang Politik dan Kewilayahan LIPI. Pernyataan permohonan maaf secara terbuka dari Presiden BJ Habibie atas berbagai pelanggaran HAM selama ini merupakan sesuatu yang baik. misalnya. Menurut Direktur Politik CSIS Joseph Kristiadi. Karenanya. Tapi.

maka Presidenlah yang paling bertanggung jawab. Pemerintah belum melakukan pertanggungjawaban seperti itu. Kecamatan Simpang Ulim. Pencabutan DOM baru start awal dan harus ditindaklanjuti. Nyatanya. dalam kunjungan TPF ke lokasi PT Irwim. apakah kemudian harus menurunkan aparat sedemikian besar?” tanya mantan Wakil Ketua DPRD I Aceh ini. maka ini tidak ada makna. serta perkosaan—di lapangan. ada perampasan senjata dan lain-lain. pertanggungjawaban paling makro adalah keputusan memberlakukan sebagai daerah operasi. Bahkan. Sedangkan pertanggungjawaban sosial menyangkut rehabilitasi ekonomi bagi janda-janda dan anak yatim korban operasi militer. kemudian mengeluarkan daftar orang-orang yang menjadi korban operasi. Dalam bahasa lain. Tapi. Kuburan para korban pembantaian aparat keamanan semasih berlangsungnya operasi militer di Aceh.dan sosial-ekonomi dari pemerintah. kasus Aceh adalah perusakan peradaban. Untuk semua itu. sampai hari ini pemerintah belum melaku-kan pertanggungjawaban politik. mulai diungkapkan warga dua desa di Aceh Timur. Ghazali memang tidak menampik keberhasilan pembangunan di Aceh selama ini. Satu di antaranya gigi perak.” kata Ilyas. serta mengumumkan langkah-langkah apa yang diambil pemerintah dengan kesalahannya itu. dan di Desa Alue Ie Mirah. pencabutan itu hanya di tingkat formal.” tegas mantan “Abang Jakarta” yang duduk di Komisi I DPR RI ini. Pertanggungjawaban hukum meliputi siapa yang paling bersalah dan siapa yang bertanggungjawab secara hukum. tapi di tingkat riil kondisi masyarakat Aceh tidak ada perubahan secara substansial. bisa saja diusut oknum lainnya. berhasil ditemukan sehelai celana panjang warna abu-abu dan satu set rahang gigi palsu yang berisikan 14 biji gigi. Golkar juga ikut memainkan peranan dalam tragedi di Aceh. Sebab. Namum. penduduk Desa Alue Meuh. Kecamatan Sulok.10 Yang paling bertanggung jawab terhadap kejahatan kemanusia-an di Aceh selain Pangab adalah Presiden.11 TPF ketika turun ke lokasi di Desa Blang Gleum. “Memang dulunya saya mendengar ada pos-pos polisi yang diserbu. persis di Dusun Meureubo kawasan kompleks PT Irwim. Gigi plus celana panjang tersebut diperkirakan milik korban pembantaian oknum aparat keama-nan yang kala operasi militer berlangsung tempat itu digunakan sebagai camp pembantaian dan penyiksaan para korban. . apakah demi pembangunan lantas rakyat dizalimi. “Umumnya korban memang bukan penduduk setem-pat. “Namun. Bila tidak. Kalau kemudian secara teknis muncul persoalan-persoalan—pelanggaran HAM dan hukum. Kemenangan Golkar di Aceh tidak terlepas dari keterli-batan aparat militer. Diperkirakan. itu ada di tingkat Presiden. di lokasi tersebut. pada dua lokasi itu ditanam secara massal 50 korban pembantaian. pertanggungjawaban hukum. hampir semua warga di situ tahu kalau di kompleks itu pernah ditanam setidaknya 45 jasad korban keganasan oknum aparat antara tahun 1991-1993. yakni di Desa Blang Gleum Arakundo. Penduduk setempat saja tak berani mendekat ke sana. ditindas? Inilah yang kita tentang. menangkap kesan bahwa kawasan itu sangat angker. Pertanggungjawaban politik yang dimaksudkan adalah pemerintah harus mengakui bahwa operasi militer di Aceh itu salah. sebagai sebuah keputusan politik. Namun. Apa yang terjadi di Aceh merupakan tragedi kemanusiaan yang telah merusakkan sendi-sendi budaya manusia. apalagi pertanggungjawaban sosial. Jadi. Pembicara lainnya HM Kaoy Syah menceritakan secara singkat munculnya aksi sekelompok orang yang kemudian dicap GPK. baik sebagai Kepala Negara maupun sebagai Panglima Tinggi (Pangti) ABRI.

selagi aparat keamanan masih berkantor di PT Irwim. “Beberapa penduduk juga pernah menemukan mayat di pinggir jalan. Kecamatan Julok Rayeuk. Kecamatan Peureulak. di paha Ibrahim sempat bersarang peluru yang kemudian dioperasi di RSU Dokter Zainal Abidin. Pidie. Kemudian. Banda Aceh. beberapa penduduk yakin. bahkan bila perlu dengan mempertaruhkan kredibilitas serta independensi lembaga tersebut. Dari hampir 800 kasus yang terdata di kantor tersebut. hampir tiap malam terdengar suara ledakan senjata api.” ujar M Kasem (45) penduduk Arakundo. dari jarak kurang dari 10 meter. pihaknya pernah memandikan dan menanam seorang korban pembantaian. Tanpa kesalahan yang jelas. yang kebetulan sedang berada di Banda Aceh. 368 korban penganiayaan. Komnas HAM hanya memilih beberapa sampel untuk dicek ulang di lapangan. salah seorang korban penembakan oknum militer pada Juli 1990 di Desa Teurucot. 550 orang hilang. wajahnya sulit dikenal. tersebar di tiga kabupaten (Pidie. kecuali karena Anda ajak. kalau gigi dan celana itu milik korban yang terbunuh dalam operasi militer. 387 orang hilang kemudian ditemukan mati. ia bersama empat warga lainnya— termasuk ayahnya—yang siang itu berada di sebuah kedai dipaksa ke luar dan disuruh berbaris oleh petugas. Dua warga tewas di tempat. Data sementara yang sudah terhimpun sebagai ekses DOM di Aceh sepanjang 1989-1998. penduduk Desa Tanjung Tok Blang. serta 102 korban perkosaan. banyak juga yang dibuang ke tempat lain namun masih dalam kawasan itu. Untuk itu Komnas HAM harus bersungguh-sungguh mengungkap-nya. tapi diperkirakan warga Desa Simpang Paloh. tim berdialog dengan aktivis LSM. apalagi sekarang kawasan itu ditumbuhi hutan lebat. Bekas luka tembak di paha kirinya itu ia perlihatkan kepada Tim Lopa dan difoto dengan cermat oleh Koesparmono Irsan. mengingat jumlahnya demikian banyak. dan Aceh Timur) sedangkan Komnas HAM hanya tiga hari di . Sementara. Begitupun. Ketika menemukan celana panjang dan satu set gigi palsu di lokasi yang sama. Tim Lopa juga mengun-jungi Forum Peduli HAM yang selama ini juga aktif menghimpun data orang hilang/korban tindak kekerasan. sedangkan Ibrahim bersama ayahnya. Yakni 871 orang tewas di TKP karena tindak kekera-san. Lopa lebih tertarik pada kasus perkosaan. sehingga warga tak berani ke sana. Mengingat. mereka dihujani peluru. Orang itu tak dikenal dan ditemukan tewas dengan beberapa luka tembak. Kecamatan Geumpang. Warga memperkirakan selain ditanam di kompleks perusahaan itu. Jenazah korban dikebumikan masyarakat di kebun milik Halimah Bansu Dusun Meureubo 50 meter dengan kompleks PT Irwim. penduduk Desa Blang Gleum mengatakan. Kalau diteliti intensif angkanya bisa mencapai dua atau tiga kali lipat. tim yang dipimpin Lopa itu merancang jadwal serta sasaran kunjungan berikutnya yang mereka rahasiakan setelah mening-galkan Banda Aceh menuju Sigli. Di tempat ini. Apalagi. “Kami tak pernah datang ke sini. Nur dan Hasni yang ikut bersama TPF ke lokasi yang angker itu.” ujar Muhammad Amin. Kuburan tersebut masih ditandai dengan pohon Muku. “Malah. adalah hampir tak mungkin. Untuk menghubungi dan menemui semua korban dan saksi mata. Lalu. Melihat luka tembak yang tak kecil itu Pak Koes geleng-geleng kepala.Beberapa penduduk kawasan itu mengatakan. Ibrahim (25). Teungku Mustafa alias Teungku Nek. setelah mendengar cerita Ibrahim bahwa tak lama setelah kejadian itu ayahnya meninggal karena sakit-sakitan. karena data sementara itu saja sudah cukup besar. mengingat beberapa korbannya masih mungkin ditemui oleh Tim Komnas HAM. serta seorang lainnya luput dari maut. Aceh Utara. Lokasi kuburan massal itu memang jauh dengan rumah penduduk.” ucap M. 120 korban dibakar rumahnya. Sebelumnya. lokasi itu tidak pernah didatangi penduduk. Namun. banyak warga melihat para tahanan dibawa ke lokasi itu dengan mata tertutup.

Operasi Jaring Merah/DOM menjadi momok yang sangat mena-kutkan dan traumatik. Untuk pembongkaran kuburan massal. GAM adalah rekayasa politik Orde Baru untuk menghabisi umat Islam di Indonesia. . Mata dunia dan harapan masyarakat internasional saat ini memang tertumpu pada Komnas HAM untuk me-ngungkap Kasus Aceh ini sebenar-benarnya dan supaya tak perlu menyangsikan itikad dan independensi tim yang dipimpinnya itu. dua korban yang rumahnya dibakar/dijarah. ya kasus Aceh ini luar biasa. dan hadir serta membuat berita acara mengenai pembongkaran dan apa-apa yang ditemukan di dalam kuburan tersebut. “Ya. Yang terjadi di Aceh adalah pelanggaran HAM yang sudah menjurus kepada pemusnahan perada-ban. ia keberatan ketika didesak untuk menggolongkan pembantai-an di Aceh ini sebagai tragedi Bosnia kedua. “Tak usah bilang seperti Bosnia dululah. Lalu.mena terhadap rakyat yang dicurigai mempunyai hubungan dengan GPK atau GAM.” Apa yang dikatakan Lopa itu juga diamini Koesparmono Irsan. dua korban perkosaan. apa yang bisa di-janjikan Komnas HAM dengan kedatangannya ke Aceh kali ini? “Kita akan rekomendasikan kepada pemerintah untuk memulihkan kembali kondisi di Aceh seperti semula. harus dianalisa. mereka hanya memilih sampel kasus. Tunggu sajalah hasil investigasi kami. Di antaranya mereka sepakati untuk bertemu dengan hanya tujuh janda.” ujarnya diplomatis. masih kita pelajari. Bagi masyarakat Aceh. Lopa masih belum berani menyim-pulkannya. ternyata telah terjadi bukan hanya pelang-garan hukum dan hak asasi manusia yang begitu nyata. Ironisnya masyarakat yang tidak mempunyai hubungan apa pun dengan GAM atau GPK telah pula menjadi korban. semacam pembersihan etnis. Namun sejak operasi tersebut diberlakukan. ini luar biasa. Saya itu tak mau omong kalau tak lihat. yang jelas di Aceh. untuk mempertautkan apakah benar pembantaian di Aceh itu berkait langsung dengan apa yang dilakukan Kopassus di Jakarta di bawah komando Prabowo Subianto. DOM. Tapi. lalu dilaporkan kepada pemerintah. dan dua kuburan massal yang akan dibongkar oleh Tim Komnas HAM. namun juga suatu pembantaian peradaban religius yang sudah berabad-abad dibangun oleh masyarakat Aceh. harus saya lihat dulu. langkah klarifikasi yang dilakukannya bersama anggota tim sangat penting untuk mengungkap apa yang benar terjadi dan yang tidak terjadi selama operasi militer di Aceh.Aceh. yang selanjutnya disebut Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) ini12 telah begitu kejam sehingga melebihi dari apa yang pernah dikenal dalam sejarah Asia tenggara sebagai the killing field (ladang pembantaian) di Kamboja. bahwa ini yang terjadi di Aceh. Setelah ada data. yang pada mulanya diperuntukkan menga-mankan situasi dari tindakan suatu gerakan. yang disebut pemerintah sebagai GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Itulah sebabnya. Luar biasa. Menurut Lopa. 10 anak yatim dari 10 orangtua yang berbeda. baru saya omong. dokter forensik dari Medan didatangkan ke Sigli. Makanya. mengapa itu terjadi. sebelum terjadi operasi militer. sebab aparat ABRI cenderung bertindak semena. Cuma. kalau apa yang sudah terungkap itu benar semua.” jawab Lopa. seperti tindak kekerasan/penyiksaan yang langsung maupun tidak langsung dirasakan sendiri oleh masyarakat.” ujarnya yakin. luar biasa. The Killing Field Aceh DOM dengan Operasi Jaring Merah di daerah Aceh telah diberla-kukan sejak tahun 1989 lalu. “Iya. pun dianggap sebagai anggota gerakan tersebut. akan tetapi selalu direkayasa bahwasannya rakyat yang tidak terlibat tindak kriminalitas apalagi melanggar hukum lainnya. Soalnya saya belum pernah ke Bosnia dan tak tahu persis bagaimana kejadian di sana. Tapi.

Aceh Timur (25 km dari Langsa). Aceh Timur. dan hutan Krueng Campli Pidie (30 km dari Lhoukseumawe). bernama Adnan Kelana. Mustafa. Aceh Utara. Kalau di Bosnia dilakukan oleh Serdadu Biadab (Serbia). ada satu bukit lagi sebagai tempat yang disinyalir dijadikan kuburan massal. di lokasi ini ada tiga lubang yang belum ditutup dan dua lubang lainnya sudah tertutup. Selain Bukit Tengkorak. Tindakan kekerasan/penyiksaan juga dialami seorang Kepala Desa Rengkam. yaitu Bukit Seuntang (5 km dari jalan raya Medan-Lhokseumawe). mendapat siksaan dengan cara payudara dan kemaluannya disetrum. seperti di Jalan Mobil Oil Industri (MOI) Kecamatan Suka Makmur (27 km dari Lhoukseumawe). Di tempat itu diperkirakan dikuburkan mayat-mayat warga Aceh akibat tindak kekerasan/penyiksaan selama ini. sebagaimana diuraikan oleh istrinya. Contoh-contoh di atas hanya sekelumit penderitaan rakyat Aceh yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan tidak manusiawi selama berlangsungnya Operasi Jaring Merah. sebelumnya juga pernah diberitakan oleh Reuters pada sekitar tahun 1990. telah disiksa oleh tiga petugas berpakaian loreng hitam. selain diper-kosa. dia melihat ratusan jenazah bergelimpangan di dalam satu lubang yang kemudian dikenal sebagai Bukit Tengkorak. Menurut salah seorang penduduk. Di sini terdapat mayat yang masih berdaging maupun yang tinggal tulang-belulang saja. Dari hasil investi-gasi di lapangan maupun keterangan dari beberapa anggota masyarakat. Adanya lubang berisi mayat yang terdapat di daerah Alue. Beberapa contoh dari tindakan kekerasan dalam bentuk penyiksaan melebihi penyiksaan terhadap binatang yang dihadapi oleh rakyat Aceh dapat dilihat dengan penderitaan seorang anak yatim piatu bernama M Yusuf (12 tahun). yaitu Aman Ismail. yang telah dianiaya sebelumnya. serta ditahan beberapa hari di pos Pinti I Tiro. hingga mengalami muntah darah. yang pada saat berumur 6 tahun ayahnya. . dan kemungkinan banyak lagi hal-hal yang pasti dialami oleh rakyat Aceh itu sendiri. seorang warga Seureuke. selanjutnya begitu saja dicam-pakkan ke dalam kendaraan Kijang. Kecama-tan Jambo Aye. Aceh Utara. Begitu juga halnya yang dialami seorang ibu muda bernama Nyak Maneh13 Abdullah (35). Kecamatan Geumpang Pidie. di mana kepala sang ayah dikoyak sadis dan dikuliti secara paksa. namun berita tersebut tidak pernah ditanggapi pemerintah. Kecamatan Kuta Makmur. Penemuan mayat-mayat tersebut oleh Adnan Kelana karena upayanya mencari mayat orangtuanya. Keterangan Teungku Ayub ini diperkuat dengan keterangan salah seorang warga Desa Menye VII Kecamatan Matang Kulit. yang pernah ditangkap dan digebuki di pekarangan suatu sekolah dasar. yang telah ditembak petugas dan kepalanya ditebas hingga terpisah dengan badannya. maka serdadu biadab dari bangsa sendiri melakukan aksi yang sama di Aceh. yang menemui banyak mayat di sekitar Bukit Tengkorak tersebut. atau penghilangan nyawa manusia maupun praktek-praktek pelanggaran hukum dan HAM lainnya berlangsung hampir setiap saat. Bem prang. Selain di kedua bukit tersebut. Saodah Saleh (41). dan tujuh warga lainnya. Juga di perkebunan Alue Nireh (44 km dari Langsa) dan Sungai Tamiang. Aceh Utara.Akibatnya. penduduk Desa Blang Talon. Apa yang dialami oleh Muslim Bosnia di Eropa ternyata juga terjadi di Indonesia. Hal sama dialami Muhammad Jalil. tindak kekerasan/penyiksaan atau penangkapan tanpa prosedur atau penculikan atau pelecehan seks dan pemerkosaan. Menurut penuturan Teungku Ayub. diperkirakan terdapat kuburan-kuburan massal di tempat lainnya. terdapat beberapa tempat yang disinyalir sebagai kuburan massal. terletak di Seurueke. Kabupaten Aceh Utara (lebih kurang 60 km dari Lhokseu-mawe). serta jurang di Jalan Tangse Beurenun (20 km dari Sigli). Kecamatan Jambo Aye. perkebunan PTP V Hutan Seureuke. penduduk Desa Maneh.

yang diduga melakukan tindak kekerasan/penyiksaan terhadap rakyat. Selain itu. yang ada di Banda Aceh. tokoh adat dan pemerintah setempat. Sigli. Artinya. ada sebagian napol Aceh yang masih menjalani hukuman atas tuduhan subversi. suatu jumlah yang melebihi jumlah ladang pembantaian di Kamboja. Dalam era reformasi sekarang. Tidak ada kata yang tepat untuk melukiskan penderitaan rakyat di Aceh kecuali kata: biadab. pelang-garan HAM di daerah Aceh lebih tinggi dibanding di Irian Jaya maupun di Timor Timur. Kalau di Kamboja dikenal dengan istilah the killing field. tidak cukup hanya meminta maaf saja. Lhokseumawe. Dunia internasional pun akan lebih percaya terhadap negara kita ini. apakah hilangnya orang-orang tersebut karena masih dalam tahanan. hendaknya tidak terjadi tindak diskriminasi menyangkut upaya pembebasan para tapol/napol yang telah dilakukan. perlu dibentuk Tim Pencari Fakta yang independen untuk menyelidikinya. hal ini tidak akan menimbulkan spekulasi yang dapat merugikan pihak ABRI dan/ atau tidak akan ada upaya balas dendam dari generasi yang akan datang. Langsa. kuburan. demi kepastian hukum.kuburan massal harus segera dibongkar kembali. atau kalau berada di tempat lain di mana tempatnya.14 Dengan banyaknya orang hilang di Aceh. sebagaimana yang telah dilakukan terhadap para napol yang ada di Jakarta. Hal ini dapat diperhatikan dengan DOM-nya Irian Jaya. Bireuen. maka di Aceh realitas ladang pembantaian itu adalah “Bukit Tengkorak” yang jumlahnya sekitar 35 tempat. Artinya. atau kalau sudah menjadi mayat di mana tempat kuburannya. Takengon. maupun Aceh. pemerintah melalui Panglima ABRI mengusut tuntas keberadaan aparat ABRI. Timor Timur.Terdapatnya kuburan massal di daerah Aceh sebagaimana hasil temuan tim pencari fakta maupun dari hasil keterangan masyarakat. karena Aceh begitu kuat kultur keagamaan dan adat istiadatnya. Suatu kebiadaban yang pernah dilakukan oleh Pol Pot di killing field Kamboja yang kualitasnya hampir sama dengan yang dilakukan oleh rezim fasis di bawah manajemen Soeharto. Dengan pengusutan secara transparan dan tuntas pelanggaran hukum dan HAM di daerah Aceh. Dan menurut pernyataan Komnas HAM. pelanggaran HAM di Aceh harus diusut tuntas terutama para pelaku dan aktor intelektualnya. dan kalau ditahan di mana rumah tahanannya. serta Tanjung GustaMedan. Seharus-nya untuk menyelesaikan permasalahan Aceh harus terlebih dahulu memanfaatkan jasa para ulama. Apa pun alasannya. sehingga diperoleh kejelasan dan kepastian atas diri mayat-mayat yang ada di dalamnya. akibat diberlakukannya Operasi Jaring Merah dan dijadikannya DOM di Aceh telah menimbulkan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia. Para napol Aceh tersebar di beberapa lembaga pemasyarakatan. Berdasarkan daftar yang diperoleh. Menyangkut diberlakukannya Operasi Jaring Merah di daerah Aceh. apakah mayat-mayat tersebut termasuk korban kekerasan/penyiksaan akibat diberlakukannya Operasi Jaring Merah/DOM atau bukan. serta memba-wanya ke hadapan Mahkamah Militer. sebagai negara yang selalu memperhatikan penegakan hukum dan HAM. Hendaknya pemerintah melalui Menteri Kehakiman segera membebaskan para napol tersebut. seharusnya ditindaklanjuti dengan melakukan pembongkaran kuburan-kuburan tersebut. Apalagi mengingat daerah Aceh lain dengan kedua daerah tersebut. mengingat Aceh merupakan kawasan DOM yang sarat dengan pelanggaran HAM. Konsekuensinya dari semua itu. Artinya. . Menjadikan suatu daerah menjadi DOM memang belum pasti menyelesaikan masalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful