Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya aplikasi Op-Amp banyak digunakan sebagai rangkaian pengontrol.

Rangkaian terintegrasi (IC) jenis ini utamanya digunakan sebagai amplifier dengan penguatan tinggi. Tanpa adanyang rangkaian balikan, op-amp mampu untuk memberi penguatan rangkaian terbuka sekitar 100.000. Dengan memasang balikan, op-amp mampu untuk memberi penguatan dari seharga 1 sampai setinggi 100.000, tergantung resistor yang dipasang. 1.2 1.3 Tujuan Menunjukkan cara kerja dari penguat inverting ( penguat membalik ) menggunakan OP-AMP. Mahasiswa dapat mengetahui tentang karakteristik dari penguat inverting. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja dari penguat inverting. Dasar teori Penguat Operasional (Op-Amp) merupakan rangkaian terpadu yang dikemas dalam satu IC. Pada umumnya kaki-kaki IC tersebut terdiri atas input membalik atau inverting input (-), input tak membalik atau non inverting input (+), output, offset, dan catu daya seperti pada gambar 1.1 Secara ideal, Op-Amp memiliki beberapa karakteristik, diantaranya : a. b. c. d. e. Penguat tegangan tak berhingga (AV0 = ~) Impedansi input tak berhingga (rin = ~) Impedansi output nol (ro = 0) Bandwidth tak berhingga (BW = ~) Tegangan offset nol pada tegangan input (Eo = 0 untuk Ein = 0) Komponen Op-Amp dikemas dalam satu IC, yakni dimana penguat Inverting amplifier ini, input dengan outputnya berlawanan polaritas. Jadi ada tanda minus pada rumus penguatannya. Penguatan inverting amplifier adalah bisa lebih kecil nilai besaran dari 1, misalnya -0.2 , -0.5 , -0.7 , dst dan selalu negative . Berikut dibawah ini adalah contoh gambar rangkaian IC 741

Gambar 1.1: IC LM 741 Perbedaan rangkaian antara penguat tegangan membalik dan tak membalik adalah pada penguat membalik dihubungkan dengan tanah. Penguat membalik memiliki kelebihan dalam kemampuannya mengatur suatu harga yang tepat dari impedansi masukan, berikut gambarnya :

Gambar 1.2 Penguat Membalik ( Penguat Inverting )


Besar penguatan tegangan dari penguat tegangan membalik dapat dirumuskan:

Gain = A= Vout/Vin= -R2/R1.

BAB II

METODOLOGI PRAKTIKUM 2.1 2.2 Alat Dan Bahan Project Board IC 741 Function Generator Resistor Multimeter Jumper Gambar Rangkaian

2.3

Prosedur Percobaan 1. 2. Periksa dahulu rangkaian pada modul ( Papan Rangkaian ) maka, pastikan semuanya terangkai benar serta janagan lupa koneksi ke sumber teganganya. Lakukan pengaturan osiloscop dengan setting sebagai berikut : Channel 1dan 2 : 0,1 v / division Time base : 1 ms/ division AC coupling

hidupkan sumber tegangan atau catu daya pada rangkaian anda kemudian amati hasilnya pda osciloscop. Pada saat melihat dua sinyal (pasukan dan keluaran ) dalam satu layer osciloscop tersebut pada saat bersamaan ( menggunakan dual dual trace osciloskop) 1. Sekarang atur keluaran dari generator fungsi sehinga tegangan masukan

kedalam rangkaian penguat inverting menjadi 0,2 Volt peak to peak. 2. Lakukan pengaturan pada control frekwensi (osciloscop) sedemikian hingga pada layer osciloscop ditampilkan sekitar dua gelombang saja ( untuk kedua sinyal tersebut atur frekwensi pada generator fungsi). Apa perbedaan kedua sinyal tersebut ? 3. 4. Ukurlah berapa tegangan puncak dari sinyal keluaran ( dihitung dalam tampilan osciloscop ) Usahakan agar tegangan puncak ke puncak masukan tetap 200 mV, kemudian lakukan langkah peubahan pada Rf serat lengkapi tabel 1.1. Bandingkan hasil pengamatan dengan persamaan teoritis. 5. Matikan sumber tegangan dari rangkaian anda dan lanjutkan dengan mengambil kesimpulan dari percobaan ini. 2.4 Metode Analisa Data Pada praktikum Elektronika analog kali ini persamaan yang digunakan untuk penguat noninverting yaitu : Gain Praktek Gain Teori Error persen : : : E% = HT HP x 100% HP

BAB 3 PEMBAHASAN 3.1 Data Praktikum Nilai Ri = 12 K No 1 2 3 4 5 Rf 2 K 3 K 5 K 8 K 10 K Ri = 12 K Vin 0,24 V 0,6 V 0,69 V 0,69 V 0,69 V Vout 0,03 V 0,23 V 0,23 V 0,24 V 0,22 V Gain 0,16 0,25 0,416 0,66 0,83

3.2

Pembahasan

Pada praktikum Elektronika Analog kali ini, dibahas tentang penguat Inverting. Penguat Inverting yaitu penguat yang membalik polaritas outputnya. Apabila input positif maka outputnya negatif dan apabila inputan negatif maka outputnya positif. Sehingga dirumusnya terdapat tanda minus (-). Pada percobaan dengan menggunakan Ri = 12 K, nilai dari Gain ( penguatan ) Praktek semakin tinggi seiring dengan bertambahnya nilai Rf. Ini ditunjukkan pada data sebagai berikut : Rf = 2 K Rf = 3 K Rf = 5 K Rf = 8 K Rf = 10 K Vo / Vi = 0,03 / 0,24 = 0,125 Vo / Vi = 0,23 / 0,6 = 0,383 Vo / Vi = 0,23 / 0,69 = 0,333 Vo / Vi = 0,24 / 0,48 = 0,5 Vo / Vi = 0,5 / 0,69 = 0,724 (-

Sedangkan nilai Gain ( penguatan ) Teori yang dihitung dengan persamaan nilai Rf. Ini dihasilkan pada data sebagai berikut : Rf = 2 K Rf = 3 K Rf = 5 K Rf = 8 K Rf = 10 K -Rf / Ri = -2K / 12 K = -0,16 -Rf / Ri = -3 K / 12 K = -0,25 -Rf / Ri = -5 K / 12 K = -0,41 -Rf / Ri = -8 K / 12 K = - 0,66 -Rf / Ri = -10 K / 12 K = -0,83

Rf / Ri ) menghasilkan nilai yang semakin tinggi pula seiring dengan bertambahnya

Pada praktikum ini dapat diketahui bahwa outputnya mendapat penguatan diketahui dari data perhitungan dan juga data pada gambar gelombang output dan inputnya karena dengan

time/div dan volt/div yang sama didapatkan amplitudo yang berbeda, amplitudo outputnya semakin tinggi sehingga diketahui kalau input tersebut mengalami penguatan.

BAB 4 PENUTUP

4.1

Kesimpulan Berdasarkan analisa data hasil praktikum dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa : 1. 2. 3. Penguat inverting yaitu penguat yang membalik polaritas outputnya,apabila inputnya positif maka outputnya negatif dan sebaliknya. Pada penguat inverting jika Vinput bernilai positif maka V outputnya bernilai negatif, begitu sebaliknya. Nilai dari Ri dan Rf berpengaruh pada Vout yang dihasilkan. Jika nilai Ri dan Rf besar maka nilai Voutnya juga besar. Jika nilai Ri dan Rf kecil maka nilai Voutnya juga kecil. Hasil penguatan dapat juga diketahui dari hasil gelombang input dan

4. 5. 6. outpunya.