Anda di halaman 1dari 20

STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas mata kuliah Teori Akuntansi

Adrian Octavian Taher Yesi Agustin Denny Triwira Tesa Saqina

120110080027 120110080079 120110080099 120110080128

Departemen Pendidikan Nasional Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Bandung 2011

BAB I PENDAHULUAN Dalam mendefinisikan akuntansi terdapat pandangan yang berbeda- beda. Pada perkembangan saat ini, akuntansi dapat kita definisikan dengan mengacu pada konsep informasi. Akuntansi adalah aktivitas jasa. Fungsinya adalah menginformasikan informasi yang kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan. Para akuntan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang proses akuntansi dalam menguraikan perbedaan teori akuntansi. Sebeleum menguji pendekatan dalam perumusan teori akuntansi, akan lebih baik apabila dilakukan pengujian terlebih dahulu kepada prinsip-prinsip keuangan yang sudah berkembang saat ini. Tujuan utama teori akuntansi adalah menyajikan suatu dasar dalam menjelaskan perilaku serta kejadian akuntansi. Maka dari itu dalam tulisan ini, penulis akan menjelaskan tentang subab struktur teori akuntansi secara detail.

BAB II PEMBAHASAN

Batasan utama dari teori akuntansi telah didefinisikan sebelumnya sebagai pengukuran dan komunikasi data yang mengungkapkan aktivitas ekonomi yang terdiri atas tiga elemen: 1. Data yang mengungkapkan aktivitas ekonomi 2. Pengukuran dari data yang mengungkapkan aktivitas ekonomi 3. Komunikasi dari data yang mengungkapkan aktivitas ekonomi akan tetapi, apresiasi penuh dari lingkup akuntansi saat ini dan masa depan bergantung tidak hanya pada pemahaman atas teknik-teknik akuntansi tetapi juga pada pemahan atas struktur teori akuntansi dari mana teknik-teknik tersebut diturunkan. A. HAKIKAT DARI STRUKTUR TEORI AKUNTANSI Apapun pendekatan dan metedologi yang digunakan dalam formulasi suatu teori akuntansi (deduktif atau induktif, normatif atau deskriptif), kerangka refensi yang dihasilkan didasarkan pada sekelompok elemen dan hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi. Di bawh ini merupakan gambaran dari struktur teori akuntansi:

Elemen pertama, yaitu perumusan dari tujuan laporan keuangan, telah di bahas pada Bab 6. Ingat kembali pentingnya tujuan dalam pengembangan dari struktur teori. Elemen ke empat, sekelompok pengetahuan atau teknik untuk akuntan, adalah pokok bahasan dari mata kuliah-mata kuliah lainnya yang berorientasi pada teknik dan tidak akan di bahas pada makalah ini. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai tiga elemen sisanya dari teori akuntansi, yang adalah: Dalil-dalil akuntansi Konsep teoritis dari akuntansi Prinsip-prinsip akuntansi

B. HAKIKAT DARI DALIL, KONSEP TEORITIS, DAN PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI Pengembangan dari dalil, konsep teoritis, dan prinsip-prinsip akuntansi selalu menjadi salah satu tugas yang paling menantang dalam akuntansi. Kurangnya terminologi yang akurat, yang telah diakui oleh kebanyakan ahli teori, telah memperburuk masalah. Littleton menyatakan bahwa:

Setiap buku biasanya berisi suatu campuran dari aksioma, konvensi, generalisasi, metode, atura, dalil, praktik, prosedur, prinsip, dan standar. Istilah-istilah ini tidak mungkin seluruhnya bersifat sinonim. Kebingungan semacam ini dapat dihindari dengan cara

mempertimbangkan perumusan dari struktur teori akuntansi sebagai suatu proses deduktif dan interaktif, dimana tujuan dari akuntansi menyediakan dasar baik untuk dalil maupun konsep teoritis dari mana teknik tersebut diturunkan. Pembahasan ini dimulai dengan definisi-definisi berikut: 1. Dalil akuntansi (accounting potsulate) adalah pernyataan atau

aksioma yang sangat jelas, umumnya diterima berdasarkan kesesuainnya terhadap laporan keuangan, yang menggambarkan lingkungan ekonomi, politik, sosial, dan hukum di mana akuntansi harus beroperasi. 2. Konsep teoritis (theoretical concept) dari akuntansi juga

merupakan pernyataan atau aksioma yang sangat jelas, umumnya diterima berdasarkan kesesuaiannya terhadap tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan hakikat dari entitas akuntansi yang beroperasi dalam suatu perekonomian bebas yang ditandai oleh kepemilikan pribadi atas properti. 3. Prinsip-prinsip akuntansi (accounting principles) adalah aturan

pengembilan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan maupun konsep teoritis akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi. 4. Teknik-teknik akuntansi (accounting technique) adalah aturan-

aturan khusus yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi yang menerangkan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian tertentu yang dihadapi oleh antitas akuntansi tersebut.

C. DALIL-DALIL AKUNTANSI 1. Dalil Entitas Akuntansi mengukur hasil dari operasi entitas tertentu, yang terpisah dan berbeda dari si pemilik entitas tersebut. Dalil entitas (entity postulate)

menganggap bahwa setiap perusahaan adalah suatu unit akuntansi yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan dari perusahaan-perusahaan lain. Dalil ini mendefinisikan bidang perhatian akuntan dan membatasi jumlah objek, kejadian dan atribut-atribut kejadian yang akan dimasukkan ke dalam laporan keuangan. Dalil ini memungkinkan akuntan untuk membedakan antara transaksi bisnis dengan transaksi pribadi. Dalil ini juga mengakui tanggung jawab fidusia dari manajemen kepada pemegang saham. Cara lain mendefinisikan suatu entitas akuntansi adalah dalam hal kepentingan ekonomi dari berbagai pengguna, dan bukannya aktivitas ekonomi dan pengendalian administrasi dari unit tersebut. Pendekatan ini berorientasi pada pengguna daripada berorientasi pada perusahaan. Kepentingan pengguna, dan bukannya aktivitas ekonomi dari perusahaan, mendefinisikan batasanbatasan dari entitas akuntansi dan informasi yang akan dimasukkan dalam laporan keuangan.

2. Dalil Kelangsungan Usaha Dalil kelangsungan usaha (going-concern postulate), atau dalil kontinuitas, menganggap bahwa entitas bisnis akan melanjutkan operasinya cukup lama untuk merealisasikan proyek, komitmen, dan aktivitasnya yang berkelanjutan. Dalil ini mengasumsikan bahwa entitas tersebut tidak diharapkan akan dilikuidasi di masa depan atau bahwa entitas tersebut akan berlanjut sampai periode yang tidak dapat ditentukan. Dalil kelangsungan usaha juga dapat digunakan untuk mendukung teori manfaat (benefit theory). Harapan akan manfaat masa depan mendorong manajer untuk melihat ke depan dan memotivasi perusahaan. Beberapa teori akuntansi memilih untuk tidak memasukkan dalil investor untuk membuat komitmen modal kepada suatu

kelangsungan usaha dalam struktur teori akuntansi. Chambers memandang kelangsungan usaha sebagai suatu entitas yang berada dalam kondisi likuidasi secara teratur yang terus menerus, dan bukannya suatu entitas yang berada dalam kondisi likuidasi yang dipaksakan. Interpretasi atas kelangsungan usaha ini sesuai dengan penggunaan ekuivalen kas sekarang yang diusulkan oleh Chambers sebagai dasar penilaian. Ahli teori lainnya tidak memasukkan dalil

kelangsungan usaha, karena mereka berasumsi bahwa dalil tersebut tidak relevan terhadap struktur dari teori akuntansi

3. Dalil Unit Pengukuran Suatu unit pertukaran dan pengukuran adalah perlu untuk menghitung transaksi dari perusahaan secara seragam. Penyebut (denominator) umum yang dipilih dalam akuntansi adalah unit moneter. Dapat dipertukarkannya barang, jasa, dan modal diukur dalam satuan uang. Dalil unit pengukuran (unit-ofmeasure postulate) menganggap bahwa akuntansi adalah proses pengukuran dan pengomunikasian aktivitas perusahaan yang dapat diukur dalam satuan uang Namun, unit moneter mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang

melibatkan unit moneter itu sendiri sebagai unit pengukuran. Tidak seperti satu meter yang panjangnya pastilah 100 sentimeter, daya beli dari unit moneter, misalnya dollar ($) atau rupiah (Rp.), dapat berubah sepanjgan waktu. Profesi akuntan menghadapi tantangan untuk memilih antara unit uang dengan daya beli umum sebagai unit pengukuran akuntansi.

4. Dalil Periode Akuntansi Meskipun dalil kelangsungan usaha menganggap bahwa perusahaan akan tetap ada selama periode yang tidak terbatas, pengguna mermelukan beragam informasi mengenai posisi dan kinerja keuangan dari suatu perusahaan untuk membuat keputusan jangka pendek. Sebagai tanggapan atas keterbatasan yang disebabkan oleh lingkungan pengguna, dalil periode akuntansi (accountingperiod postulate) menganggap bahwa laporan keuangan yang menggambarkan perubahan dalam kekayaan perusahaan sebaiknya diungkapkan secara periodik. Durasi dari suatu periode dapat bervariasi, tetapi hukum pajak penghasilan, yang mengharuskan penentuan laba tahunan, dan praktik bisnis tradisional, menghasilkan periode waktu normal satu tahun.

D. KONSEP TEORITIS DARI AKUNTANSI 1. Teori Kepemilikan Menurut Teori Kepemelikan (proprietary theory), entitas adalah agen, perwakilan, atau pengaturan dimana wirausahan individual atau pemegang saham beroperasi. Tujuan utama dari teori kepemilikan adalah penentuan dan analisis dari kekayaan bersih (net worth) pemilik. Oleh karena itu, persamaan akuntansi adalah :

Aktiva Kewajiban = Ekuitas Pemilik

Dengan kata lain, pemilik mempunyai aktiva dan kewajiban. Jika kewajiban dapat dianggap sebagai aktiva negative, teori kepemilikan dapat dikatakan sebagai berpusat pada aktiva dan sebagai akibatnya, berorientasi pada neraca. Aktiva dinilai dan neraca disusun untuk mengukur perubahan dalam kepentingan atau kekayaan si pemilik. Dengan demikian, laba bersih atas utang dan pajak penghasilan perusahaan adalah beban dividen adalah penarikan modal. Teori kepemilikan dapat memiliki paling tidak dua bentuk, yang berbeda dalam hal siapa yang dimasukkan dalam kelompok pemilik. Dalam bentuk pertama, hanya pemegang sahm biasa yang menjadi bagian dari kelompok

pemilik sementara pemegang saham preferen dikeluarkan. Dengan demikian, dividen saham preferen dikurangkan ketika menghitung laba pemilik. Dalam bentuk kedua teori kepemilikan, baik saham biasa maupun saham preferen dimasukkan dalam ekuitas pemilik. Pandangan yang lebih luas dari teori ini memfokuskan perhatian pada bagian ekuitas pemegang saham di neraca dan jumlah yang akan dikreditkan kepada semua pemegang saham di laporan laba rugi. 2. Teori Entitas Teori entitas (entity theory) memandang entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari mereka yang menyediakan modal bagi entitas tersebut. Sederhananya, unit bisnis, dan bukannya pemilik, yang menjadi pusat dari kepentingan akuntansi. Oleh karena itu, persamaan akuntansinya adalah : Aktiva = Ekuitas Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemegang saham Teori entitas paling sesuai bagi bentuk perusahaan dari usaha bisnis, yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya. Dampak dari teori entitas dapat ditemukan dalam beberapa teknik akuntansi dan terminology yang digunakan dalam praktik. Pertama, teori entitas lebih memilih penggunaan penilaian persediaan dengan LIFO dan bukannya FIFO, karena penilaian LIFO menghasilkan penentuan laba yang lebih baik, akibat penerapannya dalam teori kepemilikan. Kedua, definisi umum dari pendapatan sebagai produk dari perusahaan dan beban sebagai barang dan jasa yan dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan ini adalah konsisten dengan pandangan teori entitas dengan indeks kinerja dan akuntabilitas terhadap pemegang ekuitas. Ketiga, penyusunan laporan konsolidasi dan pengakuan atas kelas kepemilikan minoritas sebagai tambahan pemegang ekuitas adalah juga konsisten dengan teori entitas. Terakhir, baik teori entitas, dengan penekanannya pada penentuan laba yang sesuai bagi pemegang saham maupun teori kepemilikan dengan penekanannya pada penlaian aktiva yang tepat, dapat dipandang sebagai memihak penggunaan nilai sekarang, atau dasar penilaian selain biaya historis.

3. Teori Dana

Dalam teori dana (fund theory) dasar akuntansi bukanlah pemilik maupun entitas, melainkan sekolompok aktiva dan kewajiban serta pembatasan yang terkait, yang disebut dana, yang mengatur penggunaan aktiva tersebut. Persamaan akuntansinya adalah : Aktiva = Pembatasan Aktiva Teori dana terutama berguna bagi pemerintah dan organisasi nirlaba.Contohnya adalah Rumah Sakit, Universitas, kota dan unit pemerintahan. Jumlah dana yang digunakan oleh institusi nirlaba mana pun bergantung pada jumlah dan jenis aktivitas atas mana restriksi hokum diberlakukan mengenai penggunaan aktiva yang dipercayakan kepada organisasi tersebut. Misalnya saja, delapan utama berikut ini direkomendasikan bagi administrasi keuangan yang bagus dari suatu unit pemerintahan : 1. Dana Umum (General Fund) 2. Dana Pendapatan Khusus (Special Revenue Fund) 3. Dana Pelunasan Utang (Debt Service Funds) 4. Dana Proyek Modal (Capital Projects Funds) 5. Dana Perusahaan (Enterprise Funds) 6. Dana Perwalian dan Agensi (Trust and Agency Funds) 7. Dana Layanan Antarpemerintah (Trust and Agency Funds) 8. Dana Pungutan Khusus (Special Assessment Funds)

E. PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI 1. Prinsip Biaya Menurut prinsip biaya, biaya perolehan atau biaya historis adalah dasar penilaian yang sesuai untuk mengakuisisi dari seluruh barang dan jasa, beban, biaya, dan ekuitas. APB statement no.4 mendefinisikan biaya sebagai berikut:

Biaya adalah jumlah yang diukur dalam uang, dari kas yang dkeluarkan atau property lain yang ditransfer, modal saham yang dikeluarkan, jasa yang diberikan, atau kewajiban yang terjadi dalam hubungannya dengan barang atau jasa yang telah atau akan diterima.

2. Prinsip Pendapatan (Revenue Recognition) Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu. Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.

3. Prinsip Mempertemukan (Matching Principle) Yang dimaksud dengan prinsip ini adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini berguna untuk menentukan besarnya penghasilan bersih setiap periode. Prinsip ini biasanya diterapkan saat kita membuat jurnal penyesuaian. Dengan adanya prinsip ini kita harus menghitung berapa besarnya biaya yang sudah benar-benar menjadi beban kita meskipun belum dikeluarkan, dan berapa besarnya pendapatan yang sudah benar-benar menjadi hak kita meskipun belum kita terima selama periode berjalan. 4. Prinsip Objektivitas Prinsip objektivitas menyatakan bahwa teori akuntansi bebas dari bias personal pengukurnya, pengukurannya merupakan pengukuran variabel dan didasarkan pada bukti, merupakan konsensus di antara kelompok pengamat atau pengukur tertentu, digunaka sebagai indikator tingkat objektivitas suatu sistem pengukuran.

5. Prinsip Konsistensi Prinsip ini menyatakan bahwa peristiwa ekonomi yang serupa seharusnya dicatat dan dilaporkan secara konsisten dari periode ke periode. Penerapan ini membuat laporan keuangan menjadi lebih komparabel dan berguna. Metode dan prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Konsistensi tidak dimaksudkan sebagai larangan penggantian metode, jadi masih dimungkinkan untuk mengadakan perubahan metode yang dipakai. Jika ada penggantian metode, maka selisih yang cukup berarti (material) terhadap laba perusahaan harus dijelaskan dalam laporan keuangan, tergantung dari sifat dan perlakukan terhadap perubahan metode atau prinsip tersebut. 6. Prinsip Pengungkapan Penuh Yang dimaksud dengan prinsip ini adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan. Hal ini diperlukan karena melalui laporan keuanganlah kita dapat mengetahui kondisi suatu perusahaan dan mengambil keputusan atas perusahaan tersebut. Apabila informasi yang disajikan tidak lengkap, maka laporan keuangan tersebut bisa menyesatkan para pemakainya. Prinsip ini menyatakan bahwa tidak ada informasi penting atau

kepentingan bagi rata-rata investor yang disembunyikan. 7. Prinsip Konservatisme Prinsip konservatisme merupakan prinsip pengecualian atau modifikasi, artinya bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan untuk penyajian data akuntansi yang relevan dan dapat dipercaya.Prinsip ini menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih tehknik akuntansi yang dapat diterima, maka preferensinya adalah memilih yang paling kecil dampaknya akuntansi terhadap konvesional ekuitas pemegang dengan saham. Prinsip ini, dalam berkaitan ketidakpastian, umumnya

digunakan untuk mengartikan bahwa akuntan harus melaporkan yang terendah dari beberapa nilai yang mungkin untuk aktiva dan pendapatan;

dan yang tertinggi dari beberapa nilai yang mungkin untuk kewajiban dan beban. Ini berarti bahwa beban harus diakui segera dan pendapatan harus diakui nanti, bukan segera. Oleh karena itu, aktiva bersih lebih cenderung diakui dibawah nilai harga pertukaran kini daripada di atasnya; dan perhitungan laba mungkin menghasilkanyang terendah dari beberapa jumlah alternatif. Jadi, pesimisme diasumsikan lebih baik daripada optimisme dalam pelaporan keuangan. Hendriksen dan Breda menilai prinsip konservatisme ini sebagai metode yang sangat buruk untuk menghitungkan adanya ketidakpastian dalam penilaian dan laba. Konservatisme mempunyai pengaruh yang berubah-ubah, oleh karena itu data yang dikumpulkan secara konservatif tidak dapat diinterprestasikan dengan tepat bahkan oleh pembaca yang sangat terinformasi. Konservatisme juga bertentangan dengan tujuan mengungkapkan semua informasi yang relevan. 8. Prinsip Materialitas Prinsip materialitas (materiality principles) adalah suatu prinsip

pengecualian atau modifikasi. Prinsip ini menganggap bahwa transaksi dan kejadian yang memilikindampak ekonomi yang tidak signifikan dapat ditangani secara sangat cepat, tanpa memedulikan apakah hal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau tidak dan tidak perlu disclosure. Berkaitan dengan aplikasi prinsip materialitas, APB Statement nomor 4 mengemukakan bahwa laporan keuangan hanya berkaitan dengan pengungkapan informasi yang berpengaruh secara signifikan terhadap evaluasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para pemakai informasi. pentingnya Sedangkan disclosure APB Opinion semua Nomor 22 merekomendasikan atau prinsip yang tentang kebijakan

berpengaruh material terhadap posisi keuangan, hasil operasi dan perubahan posisi keuangan. The Accountants International Study Group (1974) mengemukakan karakteristik materialitas sebagai berikut : Materialitas merupakan persoalan esensial dalam professional judgment. Suatu item dianggap material jika diketahui bahwa item tersebut berpengaruh besar terhadap evaluasi dan pengambilan keputusan para

pemakai laporan keuangan Pedoman atau criteria yang jelas untukdigunakan dalam menetapkan tingkat materialitas yaitu : 1. Size approach, penetapan materialitas dilakukan berdasarkan

hubungan antara ukuran atau jumlah item dengan variable lain yang relevan, misalkan income. 2. The change criterion approach, dalam criteria kedua ini penetapan

materialitas dilakukan berdasarkan evaluasi pengaruh suatu item terhadap tren atau perubahan antarperiode.

9. Prinsip keseragaman dan komparabilitas Prinsip keseragaman menyangkut penggunaan prosedur yang sama dengan yang dilakukan oleh perusahaan lain. Tujuan yang diharapkan dari prinsip keseragaman adalah untuk mencapai daya banding laporan keuangan diantara beberapa perusahaan,dengan mengurangi perbedaan dalam penggunaan prosedur akuntansi.

Dukungan utama untuk keseragaman (uniformity) adalah klaim bahwa hal itu akan : 1. Mengurangi keseragaman pengguna prosedur akuntansi dan

ketidakcukupan praktik-praktik akuntansi 2. Memungkinkan perbandingan yang berarti atas laporan keuangan

dari perusahaan berbeda 3. 4. Memperbaiki kepercayaan pengguna dalam laporan keuangan Mengarah kepada investasi dan peraturan pemerintah mengenai

praktik akuntansi. Dukungan utama untuk fleksibilitas adalah klaim bahwa :

Penggunaan

prosedur

akuntansi

yang

seragam

untuk

mencerminkan transaksi yang sama yang terjadi dalam banyak kasus memiliki rasio menyembunyikan perbedaan yang penting antar kasus - Komparabilitas adalah suatu cita-cita yang bersifat utopia Perbedaan dalam situasi atau variable situasi membutuhkan dapat

perlakuan

yang

berbeda.

Sehingga

pelaporan

perusahaan

menanggapi situasi dimana transaksi dan kejadian terjadi.

10. Ketepatan waktu dari laba dan konservatisme akuntansi Ketepatan waktu dari laba akuntansi (timeliness of accounting earnings) adalah sejauh mana laba akuntansi periode sekarang memasukan laba ekonomi periode sekarang. Laba ekonomi (economic income) dan laba akuntansi (accounting Income) yang dijumlahkan selama umur dari perusahaan adalah identik,keduanya berbeda dalam jangka pendek. Laba ekonomi segera mengakui perubahan dalam perkiraan nilai sekarang atas arus kas masa depan, sementara laba akuntansi menggunakan prinsip pengakuan untuk memasukan perubahan yang sama secara perlahanlahan sejalan dengan waktu. Konservatisme (conservatism) adalah sampai sejauh mana laba akuntansi periode sekarang secara asimetris memasukan kerugian ekonomi, relative terhadap keuntungan ekonomi

F. KEBENARAN DALAM AKUNTANSI 1. Pemikiran mengenai kebenaran dalam filosofi Kebenaran berkaitan dengan pelaporan dari kejadian atau terdapatnya kondisi masalah. Kebenaran tersebut dapat dinyatakan secara berbeda Hal tersebut dapat berupa kebenaran sebagai kesesuaian ketika proposisi tersebut adalah benar jika sesuai dengan fakta. Hal tersebut dapat berupa kebenaran sebagai koherensi ketika prosisi tersebut adalah benar karena koheren dengan proposisi

lain Hal tersebut dapat berupa kebenaran sebagai apa yang berlaku, mengimplikasikan bahwa proporsi yang benar adalah apa yang berlaku Perbedaan dapat dibuat antara kebenaran dengan kepalsuan proposisi serta keyakinan orang mengenai keduanya. Keyakinan tidak selalu berhubungan dengan kondisi masalah. Kebenaran dari proposisi dapat dipastikan dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Proposisi analitis, seperti seluruh akuntan Amerika adalah orang Amerika. Adalah jelas benar tanpa pembuktian lebih lanjut, karena bentuk negative dari proposisi itu adalah saling berlawanan (self contradictory) 2. Kemungkinan dan kebenaran dalam Akuntansi a. Kebenaran sebagai netralitas Pertama, kesulitannya adalah mengetahui fakta. Kedua, kesulitan untuk menggambarkannya. Sekarang sangat dipahami bahwa catatan kejadian tidak dapat dipisahkan dari si pencatat. Tidak ada sejarah yang tidak mengandung bias. Untuk menghindari dimasukkannya bias dalam pengetahuan gambaran dan komunikasi fakta, akuntan diharapkan bersikap netral. Karakteristik penting dari informasi yang disediakan adalah bebas dari bias atau netral. Netralitas (neutrality) dianggap sebagai karakteristik kualitatif penting dari informasi akuntansi. Netralitas, dalam konteks ini, mengacu pada tiadanya bias dalam penyajian informasi atau laporan akuntansi. Informasi akuntansi adalah benar karena hal tersebut sesuai dengan fakta. b. Kebenaran sebagai objektivitas Objektivitas telah memperoleh paling tidak empat arti : 1. Pengukuran yang impersonal atau berada di luar pikiran dari orang yang melakukan pengukuran 2. Pengukuran yang didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi

3. Pengukuran berdasarkan suatu kesepakatan dari para ahli yang memiliki kualifikasi 4. Kecilnya penyebaran statistic dari pengukuran atribut ketika

dilakukan oleh pengukur yang berbeda. Keunggulan dari penyebaran sebagai criteria objektivitas adalah dapat diterapkannya criteria tersebut terhadap prediksi sebelum dapat divalidasi oleh analisis korelasi. Kedua, Penyebaran dapat dinyatakan sebagai suatu kontinum. Keunggulan lainnya dari penyebaran adalah kemampuannya untuk menguji hipotesis hubungan dari perubahan yang disebabkan oleh modifikasi terhadap salah satu dari parameter pengukuran seperti atribut, objek, pengukur, dan lain-lain. c. Kebenaran, objektivitas, dan keandalan Keandalan mengacu pada kualitas yang memungkinkan pengguna data untuk mengandalkannya dengan penuh keyakinan sebagai perwakilan dari apa yang diwakili oleh data tersebut. Dengan demikian keandalan informasi tergantung pada tingkat kejujuran dalam penyajian suatu kejadian. Keandalan akan berbeda antarpengguna, tergantung pada tingkat pengetahuan mereka akan aturan-aturan yang digunakan untuk menyusun informasi tersebut. Secara serupa, pengguna yang berbeda mungkin mencari informasi dengan tingkat keandalan yang berbeda. Masalah lain yang timbul dari fakta bahwa criteria penyebaran dapat diterapkan baik pada penilaian maupun predictor sementara criteria pemindahan hanya berlaku pada ukuran penilaian, bukan pada ukuran predictor. e. Kebenaran dan peran akuntansi Bagian ini adalah perbandingan antara berbagai kelompok akuntan yang berbeda. Hubungan tersebut adalah antara objektivitas dengan tingkat kekerasan (hardness). Objektivitas dalam kasus ini adalah tingkat kesepakatan yang tinggi antara beragam kelompok akuntan, dalam pengertian bahwa kelompok akuntan yang berbeda menghasilkan sekelompok ukuran.

Hasil

pengukuran

dalam

situasi

yang

kompetitif

sering

kali

mengungkapkan lebih banyak dibandingkan dengan hasil dalam situasi netral. Hal ini disebabkan karena orang mungkin saja mengabaikan banyak hal ketika mereka netral dan tidak peduli terhadap hasil dari pengukuran tersebut. Mereka cendurung menoleransi ambiguitas selama pilihan mereka tidak dianggap keluar jalur. Dalam lingkungan yang kompetetif, tidak keluar jalur belumlah mencukupi. Seseorang harus menjustifikasi pilihannya dengan alasan yang lebih kuat. Dengan demikian tingkat dari ambiguitas disoroti oleh perbedaan dalam ukuran yang dihasilkan oleh kedua pihak dengan kepentingan yang saling berlawanan. f. Mustahilnya kebenaran dalam akuntansi Kebenaran dalam akuntansi mengimplikasikan kebutuhan untuk

menghindari kerahasiaan. Kerahasiaan adalah tindakan menutupi fakta atau menahan informasi mengenai hal tersebut atau bukti mengenai hal tersebut agar tidak sampai ke public yang berkepentingan yang dapat memperoleh manfaat untuk mengetahui hal tersebut. Kerahasiaan berbeda dalam hal ini dengan kebohongan, pelanggaran janjim kekerasan dan praktik-praktik kerahasiaan lain untuk dari mana beban pembuktian berada di pundak mereka yang tergantung pada hal tersebut. Sebaliknya, berbeda kebenaran, pertemanan, dan praktik-praktik lain yang memiliki anggapan yang menguntungkan. Jelas bahwa teori akuntansi tidak dapat dikatakan terdiri atas penjelasan-penjelasan ilmiah. Tidak terdapat hokum akuntansi abadi yang dapat dibandingkan dengan hokum abadi dari alam tidak ada pengujian dan eksperimen terkendali untuk menghasilkan data yang dapat ditetapkan sebagai rumus matematika untuk menyatakan hubungan yang ada.

BAB III KESIMPULAN Aturan-aturan akutansi yang ada saat ini didasarkan pada fondasi teori

akuntansi. Fondasi ini terdiri atas elemen-elemen yang bersifat hierarki yang berfungsi sebagai kerangka referensi atau struktur teoritis. Suatu pemahaman atas elemen-elemen ini dan hubungan dari teori akuntansi menjamin suatu pemahaman atas rasional di balik praktik actual dan masa depan. Laporan keuangan yang disajikan dalam laporan akuntansi formal hanyalah cerminan dari penerapan struktur teoritis akuntansi. Yang paling terdepan dari agenda badan akuntansi sebaiknya merupakan formulasi dari elemen-elemen teori akuntansi.