Anda di halaman 1dari 20

Distosia Bahu

a. Pengertian Distosia Bahu Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. Distocia bahu terjadi karna kesulitan melahirkan bahu bayi, karena bayi lahir dengan berat 4500 gram, panjang 54 cm atau bayi Makrosomia. Makrosomia adalah bayi lahir yang beratnya lebih dari 4000gr. Bayi makrosomia yang dapat menyebabkan distosia jika beratnya melebihi 4500gr. Penyebab utama dari Makrosomia ialah ibu Diabetes, Keturunan (orang tua besar), dan Multiparitas. Bayi cukup bulan biasanya memiliki ukuran bahu yang lebih besar dari kepalanya, sehingga mempunyai resiko terjadinya Distocia bahu. b. Mekanisme Distosia Bahu Bahu melewati PAP dalam posisi diameter anteroposterior daripada posisi normal (oblique) menghasilkan : Secara umum sering bahu depan menjadi tertahan di PAP ketika bahu belakang melewati promotorium Konsekuensinya bisa terjadi kedua bahu menjadi tertahan di PAP c. Perbedaan Distosia Bahu 1. Distosia Bahu Anterior - Posterior Tinggi : Tampak kepala yang lahir terjepit vulva atau tertariknya kembali kepala kedalam vulva, hal ini mencerminkan bahu terfiksasi pada pintu masuk pelvis. tidak akan terjadi rotasi eksterna pada kepala. 2. Distosia Bahu Melintang Dalam : Bahu berakomodasi buruk terhadap oval panjang pelvis, sehingga bahu tidak mengalami rotasi interna yang diharapkan dan tidak akan terjadi pula rotasi eksterna pada kepala. B. Insidensi Kasus Distocia bahu tidak dapat di prediksi kapan akan terjadi dan belum ada cara untuk memastikan kapan akan terjadi Distocia bahu saat persalinan. Prosentasi distosia bahu terjadi sebesar 0,2-0,6% dari seluruh persalinan vaginal presentasi kepala. Apabila jarak waktu antara lahirnya kepala dengan lahir lebih dari 60 detik maka insidensinya menjadi 11%. Insidensi dapat meningkat dengan adanya peningkatan ukuran badan bayi dan hampir mendekati 1 : 100 kelahiran di masyarakat eropa yg akan berbeda di masyarakat lain. Insiden 2% akan meningkat pada persalinan bayi besar - 3% jika berat lahir >4000 gr. Pada ibu penderita Diabetes Gestasional, Distocia bahu bisa terjadi sebesar 7%. C. Etiologi (penyebab) Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu untuk melipat ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul. Distocia bahu juga dapat disebabkan kelainan tenaga, kelainan letak dan bentuk janin, serta kelainan jalan lahir. Distosia bahu dapat mengakibatkan terjadinya perlukaan pada pleksus brakialis bayi (kemungkinan karena penarikan kepala yang berlebihan).

Faktor Predisposisi dan Penyebab : Ada riwayat ibu pernah melahirkan distosia bahu Bayi besar dan selalu ada riwayat bahu besar Riwayat DM (diabetes melitus) pada wanita dan keluarga Tidak menunggu kepala melakukan putaran paksi luar pada saat menolong kelahiran bahu. D. Tanda dan Gejala Tanda-tanda dan gejala-gejala Distosia bahu : a. Kepala bayi lahir tapi tetap berada di vagina b. Kepala bayi tidak melakukan putaran paksi luar c. Kepala bayi sangkut di perineum, seperti masuk kembali ke dalam vagina (kepala kura-kura)

E. Diagnosa Distosia bahu dapat dikenali apabila didapatkan adanya : a. Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan. b. Kepala bayi sudah lahir, tetapi tetap menekan vulva dengan kencang. c. Dagu tertarik dan menekan perinium. d. Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakang simfisis pubis. - Gambaran Klinis dan Diagnosis Distosia Bahu : Biasanya ada perlambatan kemajuan turunnya kepala pada kala II yang ditandai dengan bidan kesulitan dalam melahirkan bahu Biasanya ada kelahiran kepala yang perlahan, dengan ekstensi kepala mengambil waktu lebih lama daripada biasanya Sekali kepala lahir, kepala masuk lagi ke vagina dan kepala terlihat tidak mampu bergerak Tidak terjadi restitusi dan putaran paksi luar Kepala bayi dipenuhi dengan darah, dan wajah menjadi bengkak dan biru tua. Begitu Distocia bahu di kenali, maka prosedur tindakan untuk menolongnya harus segera di lakukan. F. Faktor Resiko 1. Janin besar (macrossomia), distosia bahu lebih sering terjadi pada bayi dengan berat lahir yang lebih besar, meski demikian hampir separuh dari kelahiran doistosia bahu memiliki berat kurang dari 4000 g. 2. Riwayat obstetri/persalinan dengan bayi besar 3. Ibu dengan obesitas 4. Multiparitas 5. Kehamilan posterm, dapat menyebabkan distosia bahu karena janin terus tumbuh setelah usia 42 mingu. 6. Partus lama/persalinan sulit. 7. Kelainan anatomi panggul

G. Upaya Pencegahan Upaya yang bisa di lakukan ialah :

a. Tawarkan untuk dilakukan bedah cesar pada persalinan vaginal beresiko tinggi: janin luar biasa besar (> 5kg), janin sangat besar (>4,5kg) dengan ibu diabetes, janin besar(>4kg) dengan riwayat distocia bahu pada persalinan sebelumnya, kala II yang memanjang dengan janin besar b. Indensifkasi dan obati diabetes pada ibu c. Selalu bersiap-siap apabila terjadi distocia d. Kenali adanya distocia seawall mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis atau pundus dan traksi berpotensi meningkatkan resiko cedera pada janin e. Perhatikanlah waktu dan segera minta perlolongan begitu distocia diketahuhi. Bantuan diperlukan untuk membuat posisi McRoberts pertolongan persalinan resusitasi bayi dan tindakan anastesia (bila perlu). H. Penanganan Prinsip utama dalam penanganan distosia bahu adalah melahirkan badan bayi sesegera mungkin dengan beberapa teknik berikut : 1. Membuat episiotomi yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan memberi ruangan yang cukup untuk tindakan. 2. Lakukan posisi McRoberts dengan meminta ibu untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya dalam posisi ibu berbaring terlentang. Meminta bantuan 2 asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu ke arah dada. 3. Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi : Melakukan tarikan yang kuat dan terus-menerus ke arah bawah pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan dibawah simfisis pubis. Catatan : hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibatkan trauma pada fleksus brakhialis. Meminta seorang asisten untuk melakukan tekanan secara ke arah bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu. Catatan : jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptur uteri. Contoh langkah penanganan No. 3 :

4. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan : Pakailah sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi, masukkan tangan ke dalam vagina. Lakukan penekanan pada bahu yang terletak di depan dengan arah sternum bayi untuk memutar bahu dan mengecilkan diameter bahu. Jika diperlukan, lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum. 5. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan : Masukkan tangan ke dalam vagina. Raih humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku, gerakkan lengan ke arah dada. Ini akan memberikan ruangan untuk bahu depan agar dapat bergerak dibawah simfisis pubis. Contoh langkah penanganan No. 5 :

6. Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain : Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan. Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lengan belakang. Setelah melakukan prosedur pertolongan persalinan Distosia bahu, tindakan selanjutnya adalah melakukan proses dekontaminasi dan pencegahan infeksi pasca tindakan serta perawatan pasca tindakan. I. Posisi janin normal dan Posisi Janin Distosia Bahu

J. Komplikasi dan Bahaya Distosia Bahu Pada Ibu : Laserasi yang hebat : perineum, vagina, kk, rectum dan serviks Rupture uteri Traumatik perdarahan post partum perdarahan akibat atonia uteri Syok Infeksi Trauma psikologi dan distress Pendarahan pasca salin Pada Janin : Kematian bayi selama atau setelah persalinan Trauma lahir, brachial palsy, fraktur clavikula, trauma spinal Jika bayi hidup, ada bercak merah di muka beberapa hari setelah kelahiran Gejala lanjut, kelainan neuro-psiki Diposkan oleh nara di 01:29 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke Twitter

DISTOSIA BAHU
Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 2

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Distosia adalah penyulit persalinan, sedangkan distosia bahu adalah penyulit persalinan bahu. Angka kejadian distosia bahu tergantung pada kriteria diagnosa yang digunakan. Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila dalam persalinan pervaginam untuk melahirkan bahu harus dilakukan maneuver khusus seperti traksi curam bawah dan episiotomi. Dengan menggunakan kriteria diatas menyatakan bahwa dari 0.9% kejadian distosia bahu yang tercatat direkam medis, hanya 0.2% yang memenuhi kriteria diagnosa diatas.untuk menentukan distosia

bahu di gunakan criteria objektif yaitu interval waktu antara lahirnya kepala dengan seluruh tubuh. Nilai normal interval waktu antara persalinan kepala dengan persalinan seluruh tubuh adalah 24 detik , pada distosia bahu 79 detik. Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang memanjang. distosia bahu yang berulang terjadi pada 17% pasien. Distosia bahu adalah komplikasi gawat yang memerlukan penanganan yang cepat tepat dan terencana secara jelas B. RUMUSAN MASALAH Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan masalah: Apa yang dimaksud dengan distosia bahu? Apa factor resiko terjadinya distosia bahu? Bagaimana tanda dan gejala distosia bahu? Bagaimana menentukan diagnose distosia bahu? Apa komplikasi distosia bahu? Bagaimana penatalaksanaan distosia bahu? C. TUJUAN PENULISAN Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini yaitu: Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan distosia bahu Untuk mengetahui factor resiko terjadinya distosia bahu Untuk mengetahui bagaimana tanda dan gejala distosia bahu Untuk mengetahui bagaimana menentukan diagnose distosia bahu Untuk mengetahui komplikasi distosia bahu Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan distosia bahu BAB II DISTOSIA BAHU A. PENGERTIAN DISTOSIA BAHU Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. Selain itu distosia bahu juga dapat di defenisikan sebagai ketidakmampuan melahirkan bahu dengan mekanisme atau cara biasa. B. FAKTOR RESIKO TERJADINYA DISTOSIA BAHU Kelainan bentuk panggul, diabetes gestasional, kehamilan postmature, riwayat persalinan dengan distosia bahu dan ibu yang pendek. 1. Maternal Kelainan anatomi panggul Diabetes Gestational Kehamilan postmatur

Riwayat distosia bahu Tubuh ibu pendek 2. Fetal Dugaan macrosomia 3. Masalah persalinan Assisted vaginal delivery (forceps atau vacum) Protracted active phase pada kala I persalinan Protracted pada kala II persalinan Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang memanjang. C. TANDA DAN GEJALA TERJADINYA DISTOSIA BAHU 1. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia bahu kepala akan tertarik kedalam dan tidak dapat mengalami putar paksi luar yang normal. 2. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga obese. 3. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksi lateral dan traksi tidak berhasil melahirkan bahu. D. DIAGNOSA DISTOSIA BAHU Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tettap berada dekat vulva. Dagu tertarik dan menekan perineum. Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakang simfisis pubis. E. KOMPLIKASI DISTOSIA BAHU 1. Komplikasi Maternal Perdarahan pasca persalinan Fistula Rectovaginal Simfisiolisis atau diathesis, dengan atau tanpa transient femoral neuropathy Robekan perineum derajat III atau IV Rupture Uteri 2. Komplikasi Fetal Brachial plexus palsy Fraktura Clavicle Kematian janin Hipoksia janin , dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen Fraktura humerus F. PENATALAKSANAAN DISTOSIA BAHU

Rekomendasi dari American College of Obstetricians and Gynecologist (2002) untuk penatalaksanaan pasien dengan riwayat distosia bahu pada persalinan yang lalu: 1. Perlu dilakukan evaluasi cermat terhadap perkiraan berat janin, usia kehamilan, intoleransi glukosa maternal dan tingkatan cedera janin pada kehamilan sebelumnya. 2. Keuntungan dan kerugian untuk dilakukannya tindakan SC harus dibahas secara baik dengan pasien dan keluarganya. American College Of Obstetricians and Gynecologist (2002) : Penelitian yang dilakukan dengan metode evidence based menyimpulkan bahwa : 1. Sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat diramalkan atau dicegah. 2. Tindakan SC yang dilakukan pada semua pasien yang diduga mengandung janin makrosomia adalah sikap yang berlebihan, kecuali bila sudah diduga adanya kehamilan yang melebihi 5000 gram atau dugaan berat badan janin yang dikandung oleh penderita diabetes lebih dari 4500 gram. Untuk penatalaksanaannya: 1. Beritahu ibu bahwa terjadi komplikasi yang gawat dan diperlukan kerja sama lebih lanjut. 2. Geser posisi ibu sehingga bokong berada dipinggir tempat persalinan agar memudahkan traksi curam bawah kepala anak. 3. Pakai sarung tangan DTT atau steril 4. Lakukan episotomi secukupnya 5. Lakukan manuver Mc Roberts Posisi ibu berbaring pada punggungya, minta ibu untuk menarik lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya. Minta suami atau anggota keluarga untuk membantu ibu Maneuver Mc Robert Tehnik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik dkk tahun 1983 dan selanjutnya William A Mc Robert mempopulerkannya di University of Texas di Houston. Maneuver ini terdiri dari melepaskan kaki dari penyangga dan melakukan fleksi sehingga paha menempel pada abdomen ibu Tindakan ini dapat menyebabkan sacrum mendatar, rotasi simfisis pubis kearah kepala maternal dan mengurangi sudut inklinasi. Meskipun ukuran panggul tak berubah, rotasi cephalad panggul cenderung untuk membebaskan bahu depan yang terhimpit. Fleksi sendi lutut dan paha serta mendekatkan paha ibu pada abdomen sebaaimana terlihat pada (panah horisontal). Asisten melakukan tekanan suprapubic secara bersamaan (panah vertikal) 6. Lakukan fleksi maksimal pada sendi paha dan sendi lutut kedua tungkai ibu sedemikian rupa sehingga lutut hampir menempel pada bahu. Penolong persalinan menahan kepala anak dan pada saat yang sama seorang asisten memberikan tekanan diatas simfisis. 7. Tekan kepala bayi secara mantap dan terus menerus kearah bawah(kearah anus ibu) untuk menggerakkan bahu anterior di bawah simfisis pubis. 8. Tekanan suprapubik ini dimaksudkan untuk membebaskan bahu depan dari tepi bawah simfsis pubis. Ibu diminta untuk meneran sekuat tenaga saat penolong persalinan berusaha untuk melahirkan bahu. Meminta seorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan kearah bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu.

Catatan : jangan lakukan dorongan pada fundus, karena akan mempengaruhi bahu lebih jauh dan bisa menyebabkan rupture uteri. Tekanan ringan pada suprapubic Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan dilakukan traksi curam bawah pada kepala janin. Tekanan ringan dilakukan oleh asisten pada daerah suprapubic saat traksi curam bawah pada kepala janin. 9. Bila prosedur diatas tidak membawa hasil maka lahirkan bahu belakang: 1. Masukkan telapak tangan kanan kejalan lahir diantara bahu belakang dan dinding belakang vagina. Ruangan sacrum cukup luas untuk meneuver ini 2. Telusuri bahu sampai mencapai siku. Lakukan gerakan fleksi pada sendi siku dan lahirkan lengan belakang melalui bagian depan dada. Dengan lahirnya lengan belakang ini maka bahu belakang anak juga lahir. 3. Bahu depan dilahirkan lebih lanjut dengan melakukan traksi curam bawah kepala (traksi ke posterior) 4. Bila bahu depan masih belum dapat dilahirkan maka tubuh anak harus dirotasi 1800 .Saat melakukan gerakan rotasi tersebut, tubuh anak dicekap. Arah putaran sesuai dengan bahu yang sudah dilahirkan (putar tubuh anak mengikuti bagian bahu yang sudah dilahirkan). Bahu yang terperangkap dapat dibebaskan dengan memasukkan tangan ke bagian posterior seperti 3 hal yang sudah dijelaskan diatas Maneuver Woods ( Wood crock screw maneuver ) Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara crock screw maka bahu anterior yang terjepit pada simfisis pubis akan terbebas. Tangan kanan penolong dibelakang bahu posterior janin. Bahu kemudian diputar 180 derajat sehingga bahu anterior terbebas dari tepi bawah simfisis pubis melahirkan bahu belakang Usaha melahirkan bahu jangan dilakukan dengan kepanikan. Bila prosedur ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit maka diperkirakan tidak akan terjadi cedera pada otak anak. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah fraktura klavikula fraktura humerus Erbs paralysa (paralisa pleksus brachialis. Jangan buang-buang waktu dengan melakukan menuver yang tidak efektif. Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior janin dan kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada dengan mempertahankan posisi fleksi siku Tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui wajah janin Lengan posterior dilahirkan Maneuver Rubin Terdiri dari 2 langkah : A. Mengguncang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan pada abdomen ibu, bila tidak berhasil maka dilakukan langkah berikutnya yaitu : B. Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan kemudian ditekan kedepan kearah dada anak. Tindakan ini untuk melakukan abduksi kedua bahu anak sehingga

diameter bahu mengecil dan melepaskan bahu depan dari simfisis pubis Maneuver Rubin II A. Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah B. Bahu anak yang paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak sehingga diameter bahu mengecil dan membebaskan bahu anterior yang terjepit 10. Pematahan klavikula dilakukan dengan menekan klavikula anterior kearah SP. 11. Maneuver Zavanelli mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak dilahirkan melalui SC. Memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau posterior sesuai dengan PPL yang sudah terjadi.Membuat kepala anak menjadi fleksi dan secara perlahan mendorong kepala kedalam vagina. 12. Kleidotomi dilakukan pada janin mati yaitu dengan cara menggunting klavikula. 13. Simfisiotomi. Hernandez dan Wendell (1990) menyarankan untuk melakukan serangkaian tindakan emergensi berikut ini pada kasus distosia bahu 1. Minta bantuan asisten , ahli anaesthesi dan ahli anaesthesi. 2. Kosongkan vesica urinaria bila penuh. 3. Lakukan episiotomi mediolateral luas. 4. Lakukan tekanan suprapubic bersamaan dengan traksi curam bawah untuk melahirkan kepala. 5. Lakukan maneuver Mc Robert dengan bantuan 2 asisten. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. tanda dan gejala terjadinya distosia bahu yaitu: Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia bahu kepala akan tertarik kedalam dan tidak dapat mengalami putar paksi luar yang normal. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga obese. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksi lateral dan traksi tidak berhasil melahirkan bahu. Untuk penatalaksanaannya dengan melakukan episotomi secukupnya dan manuver Mc Roberts karena maneuver Mc Robert sebagai pilihan utama adalah sangat beralasan

B. SARAN Penulis menyadari terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini,untuk itu penulis mengharapkanDISTOSIA BAHU & Penatalaksanaannya
Friday, 13 May 2011

Share

Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral promontory karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul, atau bahu tersebut bisa lewat promontorium, tetapi mendapat halangan dari tulang sacrum (tulang ekor). Lebih mudahnya distosia bahu adalah peristiwa dimana tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. Salah satu kriteria diagnosis distosia bahu adalah bila dalam persalinan pervagina untuk melahirkan bahu harus dilakukan maneuver khusus. Spong dkk (1995) menggunakan sebuah kriteria objektif untuk menentukan adanya distosia bahu yaitu interval waktu antara lahirnya kepala dengan seluruh tubuh. Nilai normal interval waktu antara persalinan kepala dengan persalinan seluruh tubuh adalah 24 detik , pada distosia bahu 79 detik. Mereka mengusulkan bahwa distosia bahu adalah bila interval waktu tersebut lebih dari 60 detik.

American College of Obstetrician and Gynecologist (2002) menyatakan bahwa angka kejadian distosia bahu bervariasi antara 0.6 1.4% dari persalinan normal. Posting ini akan membahas bagaimana menghindari distosia bahu dan menangani situasi ini jika terjadi. Ada banyak informasi yang yang tersedia di internet tentang distosia bahu. Jadi, saya akan menikmati beberapa link blog untuk memudahkan Anda agar semakin mengerti.
Sumber: Anda dapat men-download http://www.cetl.org.uk/learning/Shoulder_Dystocia/player.html CETL mempunyai slide presentasi pembelajaran yang tersedia secara online. sumber ini akan memberikan Anda gambaran yang komprehensif tentang kejadian, faktor risiko dan pendekatan standar untuk distosia bahu. Selain itu juga ada referensi lain jika Anda membutuhkannya.

Apa yang terjadi selama distosia bahu? Pada dasarnya bahu bayi tertangkap di pinggir panggul Gambaran urutan kejadian distosia bahu dapat dilihat di video berikut ini:

Patofisiologi Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat ibu meneran akan meyebabkan bahu depan (anterior) berada di bawah pubis, bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala. Etiologi Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu untuk melipat ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul. Penilaian Klinik

1. Kepala janin telah lahir namun masih erat berada di vulva 2. Kepala bayi tidak melakukan putaran paksi luar 3. Dagu tertarik dan menekan perineum 4. Tanda kepala kura-kura yaitu penarikan kembali kepala terhadap perineum sehingga tampak masuk kembali ke dalam vagina. 5. Penarikan kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang terperangkap di belakang symphisis.

Faktor Risiko

1. Ibu dengan diabetes, 7 % insiden distosia bahu terjadi pada ibu dengan diabetes gestasional (Keller, dkk) 2. Janin besar (macrossomia), distosia bahu lebih sering terjadi pada bayi dengan berat lahir yang lebih besar, meski demikian hampir separuh dari kelahiran doistosia bahu memiliki berat kurang dari 4000 g. 3. Riwayat obstetri/persalinan dengan bayi besar 4. Ibu dengan obesitas 5. Multiparitas 6. Kehamilan posterm, dapat menyebabkan distosia bahu karena janin terus tumbuh setelah usia 42 mingu. 7. Riwayat obstetri dengan persalinan lama/persalinan sulit atau riwayat distosia bahu, terdapat kasus distosia bahu rekuren pada 5 (12%) di antara 42 wanita (Smith dkk., 1994) 8. Cephalopelvic disproportion
The American College of Obstetrician and Gynecologist (1997,2000) meninjau penelitian-penelitian yang diklasifikasikan menurut metode evidence-based yang dikeluarkan oleh the United States Preventive Sevice Task Force, menyimpulkan bahwa :

1. Sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat diramalkan atau dicegah karena tidak ada metode yang akurat untuk mengidentifikasi janin mana yang akan mengalami komplikasi ini. 2. Pengukuran ultrasonic untuk memperkirakan makrosomia memiliki akurasi yang terbatas. 3. Seksio sesarea elektif yang didasarkan atas kecurigaan makrosomia bukan merupakan strategi yang beralasan. 4. Seksio sesarea elektif dapat dibenarkan pada wanita non-diabetik dengan perkiraan berat janin lebih dari 5000 g atau wanita diabetik yang berat lahirnya diperkirakan melebihi 4500 g.
Komplikasi pada Ibu

Distosia bahu dapat menyebabkan perdarahan postpartum karena atonia uteri, rupture uteri, atau karena laserasi vagina dan servik yang merupakan risiko utama kematian ibu (Benedetti dan Gabbe, 1978; Parks dan Ziel, 1978) Komplikasi pada Bayi Distosia bahu dapat disertai morbiditas dan mortalitas janin yang signifikan. Kecacatan pleksus brachialis transien adalah cedera yang paling sering, selain itu dapat juga terjadi fraktur klavikula, fraktur humerus, dan kematian neonatal Bagaimana Cara Menghindari distosia bahu? Banyak sumber dari ilmu kebidanan dan obstetri berfokus pada bagaimana mengelola komplikasi tertentu atau masalah. Namun saya lebih suka untuk menghindari situasi ini daripada mengelola komplikasinya. Meskipun di beberapa kasus distosia bahu tidak dapat dihindari, nakun ada sejumlah cara untuk mengurangi kesempatan itu terjadi kasus tersebut: Proses Persalinan Alami yang Terganggu Ketika seorang perempuan dapat melahirkan secara naluriah (tanpa arah) dan alami atau tanpa intervensi mereka mereka akan lebih lancar saat bersalin. Saya telah melihat beberapa posisi persalinan yang aneh dan gerakan yang masuk akal setelah bayi muncul/keluar. Dan dalam kasus terjebak nya bahu di pinggiran tulang panggul (distosia bahu), gerakan panggul naluriah dapat melepaskan dan membebaskan bahu bayi tanpa intervensi. Dan itu alami ada di naluriah seorang ibu. Dan dulu saya tidak pernah menyadarinya. Kesabaran Sebenarnya seorang bayi memerlukan waktu untuk masuk ke dalam posisi terbaik. Posisi dimana dia bisa bergerak melewatkan tubuhnya agar bisa masuk ke panggul ibu nya. Namun ketika kita mencoba untuk terburu-buru melahirkan bayi, maka bayi tersebut mungkin tidak dapat membuat penyesuaian atau tidak punya waktu untuk melakukan penyesuaian secara alami. Coba anda lihat proses persalinan normal seperti video di bawah ini, disini Anda akan melihat betapa secara alamiah si bayi berusaha

memutar bahunya, tubuhnya kepalanya, menundukkan kepala dan menekukkan dahinya hanya untuk menyesuaikan tubuhnya dengan panggul dan jalan lahir sang ibu (sebuah usaha yang luar biasa)

Namun sering kali kita sebagai petugas kesehatan tidak sabaran. Selalu kaku dan terpaku pada JAM. Padahal kita tahu setiap persalinan punya waktunya sendiri. Induksi persalinan dan intervensi melahirkan meningkatkan kemungkinan terjadinya distosia bahu (Gherman, 2002). Atau kadang walaupun sudah dilarang namun sampai sekarang masih sering dilakukan oleh bidan-bidan saat menolong persalinan yaitu dengan mendor0ng secara paksa dengan menekan fundus ibu dan membantu mendorong ketika si ibu mengejan. Atau dengan memberi aba-aba kepada si ibu untuk mengejan padahal sebenarnya Seorang wanita yang sedang melahirkan tau dan ahli mengenai kapan dan bagaimana dia mendorong / mengejan. Kita sebagai bidan atau dokter cukup membimbingnya saja. Ketika kita memaksa siibu mengejan ini justru dapat memaksa bayi masuk ke dalam panggul tanpa membiarkan dan memberikan waktu padanya untuk melakukan penyesuaian dahulu. Saya juga yakin (tapi harus ada penelitian kembali untuk saya, artinya saya harus melakukan riset kecilkecilan dahulu untuk semakin memastikan ini) dengan menarik keluar bayi bisa meningkatkan kejadian distosia bahu. Ketika kepala bayi keluar sebaiknya menunggu kontraksi dulu (bisa 5 menit) agar bahu bisa keluar dengan nyaman. Namun ini sangat menggoda bagi kita untuk segera memberitahu siibu agar segera mengejan tanpa menunggu kontraksi ada. Padahal mungkin bayi menggunakan waktu ini untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan agar bahu mudah untuk dilahirkan. Karena biasanya begitu kepala keluar dia akan melakukan putaran paksi untuk menyesuaikan kepala dengan bahunya. Tunggu dan amati saja dulu. Jika proses ini lama dan kita melihat ada tanda asfiksia baru kita lakukan maneuver atau intervensi. Bersalin dalam posisi semi-recumbant Ternyata bersalin dengan posisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya distosia bahu karena panggul tidak dapat terbuka. Manajemen sebuah distosia bahu

Meskipun distosia bahu relatif jarang (1:200), namun Anda harus tahu apa yang harus dilakukan jika menemukan kasus seperti ini. Pertama adalah penting untuk tidak membuat situasi yang buruk menjadi semakin buruk:

Jangan menarik bayi karena hal ini akan berdampak bahu semakin tertahan. Ini adalah kesalahan yang paling umum orang membuat karena mereka panik. Traksi dapat menyebabkan cedera pleksus brakialis pada bayi (lihat film di atas). Jangan memotong tali pusat jika sudah di sekitar leher bayi. Karena tali pusat yang utuh masih ada kemungkinan bayi menerima oksigen yang memberi Anda lebih banyak waktu dan membantu dengan melakukan resusitasi sesudahnya. Berkomunikasi dengan ibu . Anda selalu punya waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi dan mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan, atau meminta dia untuk melakukan sesuatu.
Berikut adalah video yang menggambarkan mengapa menarik bayi keluar ketika terjadi distosia bahu adalah praktik yang buruk:

Dalam manajemen penatalaksanaan ditosia bahu juga harus memperhatikan kondisi ibu dan janin. Syarat-syarat agar dapat dilakukan tindakan untuk menangani distosia bahu adalah :

1. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan persalinan 2. Masih mampu untuk mengejan 3. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai untuk akomodasi tubuh bayi 4. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup 5. Bukan monstrum atau kelainan congenital yang menghalangi keluarnya bayi
Karena distosia bahu tidak dapat diramalkan, pelaku praktik obstetric harus mengetahui betul prinsipprinsip penatalaksanaan penyulit.

Kita semua masih dalam tahapan belajar dan menyimpan informasi berbeda. Sebagai seorang bidan, trainer dan dosen saya mengajar dua pendekatan berbeda untuk alasan yang berbeda dalam penanganan distosia bahu: HELPERR - PENDEKATAN STANDAR Dalam kasus HELPERR: H E L P E R R Call For Help Evaluate For Episiotomy Leg: Mc Robert Manuver External Pressure Suprapubic Enter: Rotation Manuver Remove The Posterior Arm Roll The Patient To Her Hand and Knees

Dalam pendekatan ini E pertama adalah untuk 'mengevaluasi melakukan episiotomi' namun ini jarang sekali dilakukan pada prakteknya di lapangan. Pertama, Anda harus sangat berani untuk mencoba menempatkan/meletakkan gunting sedemikian rupa di ruang yang sangat sempit di samping kepala bayi / wajah. Kedua, Anda benar-benar perlu untuk meletakkan tangan kiri anda untuk melindungi kepala dan wajah bayi dari gunting. Dalam management HELPERR masih ada beberapa kelemahan. PENDEKATAN HOLISTIK Ketika distosia bahu terjadi salah satu atau kedua dari 2 hal yang perlu terjadi untuk melepaskan atau membebaskan bahu:

1. Mengubah ukuran dan posisi (ibu) panggul


Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong ibu untuk bergerak dan mengubah posisi. Anda dapat meminta atau membantu ibu untuk mengubah pinggulnya dengan:

a. Mengangkat kaki dapat disertai dengan menggoyang ke belakang dan ke depan dari pelvis. b. McRoberts adalah mudah jika ibu sudah berbaring. caranya adalah: - Dengan posisi ibu berbaring, minta ibu untuk menarik kedua lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya, minta dua asisten (boleh suami atau anggota keluarganya) untuk membantu ibu. - Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (kearah anus ibu) untuk menggerakkan bahu anterior di bawah symphisis pubis. Hindari tekanan yang berlebihan pada bagian kepala bayi karena mungkin akan melukainya. - Secara bersamaan minta salah satu asisten untuk memberikan sedikit tekanan supra pubis ke arah bawah dengan lembut. Jangan lakukan dorongan pada pubis, karena akan mempengaruhi bahu lebih jauh dan bisa menyebabkan ruptur uteri c. Gaskin Manuver. Ini dengan melakukan perubahan posisi yaitu saat ibu dalam posisi berbaring, si ibu langsung diminta untuk berputar dan mengubah menjadi posisi merangkak.

Langkah dari Gaskin maneuver ini sering di sebut FlipFLOP Flip = memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak FLOP = F Flips Mom Over (memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak). Setelah ibu posisi terbalik menggunakan Gaskin's Manuver kebanyakan bayi akan lahir spontan. Namun, jika bayi tidak lahir segera, bidan atau asistennya mengarahkan langkah berikutnya dilakukan ketika kontraksi berikutnya terjadi atau sebelum ada kontraksi.
L Lift Legs, Dengan di bantu bidan, mintalah ibu mengangkat satu kaki, arahkan ke depan posisi ini persis seperti posisi ketiaka atlet lari hendak bersiap-siap untuk mulai balapan lari. Jadi posisinya seperti gambar berikut ini:

Mohon perhatikan posisi kaki, sehingga lutut tidak terlalu jauh dari tubuhnya. Sekarang mulailah melakukan lekukan atau menggulung bahu anterior bayi dari tulang kemaluan hingga bergerak disamping simfisis pubis. pergeseran Pubis dari gerakan menempatkan kaki ke dalam posisi "Running Start" seperti diatas seolah-olah ini adalah seperti maneuver setengah McRoberts yang dilakukan dengan ibu di dalam posisi terlentang. Setengah dari tulang kemaluan yang terguling atau bergeser ketika kaki diangkat. Jika lengan tidak dapat diputar, pindah ke manuver berikutnya lebih cepat.

O Oblique (Rotete Shoulder To Oblique) memutar bahu kearah oblique. jika bayi tidak langsung lahir ketika kontraksi setelah dilakukan perubahan posisi menjadi posisi "Running Start, selipkan tangan bidan ke ibu ssampai ia menemukan bagian belakang bahu posterior bayi. memutar bahu posterior ke arah dada bayi ke diameter miring dari panggul ibu. Ada ruangan yang paling dalam dari diameter miring (diameter oblique) panggul. Dengan demikian bayi akan mudah dari memutar bahu posterior ke diameter miring. Jika tetap gagal Lanjutkan upaya. P Posterior Arm To Get it. ini dilakukan dengan mencari lengan bayi dan mengeluarkannya menyapu tangan ke arah dada bayi . sehingga Lengan ini akan flex, yang berarti itu akan membuat sebuah tikungan. Sekarang bidan dapat menangkap pergelangan tangan bayi, Kemudian seluruh lengan lalu goyangkan dengan hati-hati. Hal ini akan mengurangi diameter tubuh bayi sekitar 2 cm.Jika itu tidak cukup, bayi diputar 180 derajat sehingga lengan sebelumnya anterior sekarang

posterior dan lengan dibawa keluar. Sekarang ibu bisa mendorong dan bayi akan keluar.
Manuver Gaskin ini angka keberhasilannya cukup tinggi yaitu 80-90% Gambaran maneuver ini ada di video berikut:

2. Mengubah ukuran dan posisi (bayi) bahu


Tindakan ini akan membuat diameter bahu bayi lebih kecil. Memutar bahu ke diameter oblique dari panggul akan tersedia ruang ekstra. Beberapa maneuver yang dilakukan untuk memperkecil diameter bahu bayi antara lain dengan:

a. Manuver Rubin (1964) - Pertama dengan menggoyang-goyang kedua bahu janin dari satu sisi ke sisi lain dengan memberikan tekanan pada abdomen. - Bila tidak berhasil, tangan yang berada di panggul meraih bahu yang paling mudah di akses, kemudian mendorongnya ke permukaan anterior bahu. Hal ini biasanya akan menyebabkan abduksi kedua bahu kemudian akan menghasilkan diameter antar-bahu dan pergeseran bahu depan dari belakang simfisis pubis

b. Manuver Corkscrew Woods (1943) - Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan lakukan penekanan pada bahu anterior, ke arah sternum bayi, untuk memutar bahu bayi dan mengurangi diameter bahu - Jika perlu, lakukan penekanan pada bahu posterior ke arah sternum. c. Teknik Pelahiran Bahu Belakang - Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan pegang tulang lengan atas yang berada pada posisi posterior

- Fleksikan lengan bayi di bagian siku dan letakkan lengan tersebut melintang di dada bayi
Dalam penanganan distosia bahu tidak ada urutan tertentu tindakan mana dulu yang bisa Anda coba. Ini akan tergantung pada seberapa baik ibu bisa bergerak, posisi pasien, dan akses yang Anda miliki menjadi yaitu pinggulnya. bagaimana dan di mana Anda bisa mendapatkan jari anda di (jika diperlukan). Sebagai contoh, maneuver Rubins akan lebih mudah untuk dilakukan daripada tekanan suprapubik pada ibu yang posisinya bersandar ke depan. Suatu pendekatan holistik berarti mengambil dan menggunakan gerakan atau tindakan yang tepat pada saat itu. PENDEKATAN DRASTIS Jika pilihan yang lain gagal yang biasanya melibatkan kerusakan pada bayi atau ibunya. Langkah berikutnya adalah menggunakan maneuver Zanvanelli namun ini mustinya dilakukan di RS besar dengan persiapan SC karena langkahnya adalah sebagai berikut: Manuver Zavanelli (Sandberg, 1985)

- Mengembalikan kepala ke posisi oksiput anterior atau posterior bila kepala janin telah berputar dari posisi tersebut - Memfleksikan kepala dan secara perlahan mendorongnya masuk kembali ke vagina yang diikuti dengan pelahiran secara sesar. - Memberikan terbutaline 250 mg subkutan untuk menghasilkan relaksasi uterus
DAFTAR PUSTAKA

kritik maupun saran dari pembaca. Demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya.