Anda di halaman 1dari 33

I.

PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai : (1) Latar Belakang Percobaan, (2) Tujuan Percobaan, (3) Prinsip Percobaan dan (4) Reaksi pencorbaan 1.1. Latar Belakang Percobaan Kita telah mengatakan sebelumnya bahwa reaksi kimia yang menyangkut oksidasi-reduksi secara luas digunakan dalam analitik titimetrik. Ion banyak unsur dapat ada dalam berbagai keadaan oksidasi, yang menghasilkan kemungkinan dari suatu jumlah sangat besar reaksi redoks. Kebanyakan dari ini memenuhi persyaratan untuk penggunaan dalam analisa titrimetrik dan penggunannya sangat banyak sekali. Dalam bab ini kita akan membicarakan beberapa yang lebih luas digunakan sebagai pereaksi redoks, sifatsifat, cara-cara yang dipakai untuk menstandarisasikan larutan, serta penggunannya dalam analisa (Underwood. 1989, Hal. 283). Oksidasi dan reduksi semua reaksi yang disebut dalam seksi-seksi di depan adalah reaksi penggabungan ion, dimana bilangan oksidasi (valensi) spesi-spesi yang bereaksi tidaklah berubah. Namun terdapat sejumlah reaksi dalam mana keadaan oksidasi berubah, yang disertai dengan pertukaran elektron antara pereaksi. Ini disebut reaksi oksidasi-reduksi, atau dengan pendek reaksi redoks.

Dari sejarahnya istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses diamana oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian penangkapan hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen harus dibuat oksidasi. Sekali lagi reaksi-reaksi lain dimana baik oksigen maupun hidrogen tidak ambil bagian belum dapat dikelompokkan sebagai oksidasi atau reduksi sebelum definisi oksidasi dan reduksi yang paling umum, yang didasarkan pada pelepasan dan pengambilan elektron, disusun orang (Svehla. 1985, Hal. 107). 1.2. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan permanganometri ini adalah untuk menentukan konsentrasi larutan atau zat dengan menentukan volume KMNO4 sebagai titer, sehingga dicapai titik ekivalen dan titik akhir titrasi dari zat yang bereaksi. 1.3. Prinsip Percobaan Prinsip dari titrasi permanganometri adalah reaksi redoks antara Mn O4 dengan C2O4
+ 2-

dalam suasana asam

dan panas. Titik akhir titrasi ditunjukan dengan perubahan warna yang terjai dari tak berwarna ke rose lemah.

1.4. Reaksi Percobaan K MnO4- p K+ + MnO4Red Oks :MnO4 + 8H :C2O422MnO45C2O4


+ 22+

Mn + 4H2O ( v 2 ) (v 5 ) 2Mn2+ + 8H2O 10CO2 + 10 e 2Mn + 8H2O + 10 CO2


2+ + +

2+

2CO2 + 2e + 16H + 10 e

2MnO4 + 16H + 5C2O4

III BAHAN, ALAT DAN METODE PERCOBAAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Bahan yang digunakan, (2) Alat yang digunakan dan (3) Metode percobaan. 3.1 Bahan yang digunakan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut : larutan standar KMnO4, larutan asam (H2C2O4), dan asam sulfat 6 N, air aquadest, serta sampel E. 3.2. Alat yang Digunakan Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah labu takar, timbangan , pemanas bunsen, kaki tiga,gelas kimia, kertas karbon, pipet tetes, pipet gondok, erlemeyer, tabung ukur, pipet tetes, buret, pipet gondok dan kaki tiga.

3.3. Metode Percobaan 3.3.1. Pembuatan Larutan Baku Primer H2C2O4

Timbang 0,315 H2C2O4.2H2O Dimasukan dengan 100 ml aquades dalam labu takar 100ml. dihomogenkan pipet 25 ml. kemudian

Gambar 12. Pembuatan Larutan Baku Primer H2C2O4

Dipanaskan hingga letupan pertama

Dititrasi dengan larutan KMnO4 hingga TAT rose

Gambar 13. Pembakuan KMnO4

pipet 25 ml sampel. kemudian masukan kedalam erlenmeyer 250 ml + As. Sulfat 10 ml dan air untuk membilas

Gambar 14. Pembakuan Sampel

Dipanaskan hingga letupan pertama

Dititrasi dengan larutan KMnO4 hingga TAT rose

Gambar 15. Pembakuan Sampel

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Hasil

pengamatan dan (2) Pembahasan. 4.1. Hasil pengamatan Pada percobaan permanganometri ini didapat beberapa percobaan diantaranya pembuatan larutan baku primer asam oksalat, pembuatan larutan baku sekunder, pembakuan KMnO4 dan prosedur sampel (I). Berikut hasil pengamatan percobaan permanganometri. Tabel 5. Pembuatan Larutan Baku Asam Oksalat. gr. Oksalat 0,315 gr BE 63 N 0.05 N Pelarut 100 mL

(Sumber : Komalasari, Meja 7,Kelompok 1, 2010)


Tabel 6. Pembuatan Larutan Baku Sekunder KMnO4

V1 20 mL

N1 0,3 N

V2 100 ml

N2 0,06 N

(Sumber : Komalasari, Meja 7,Kelompok 1, 2010)


Tabel 7. Pembakuan KMnO4

V KMnO4 12,5 mL

N KMnO4 0,100 N

V H2C2O4 25 mL

N H2C2O4 0,05 N

(Sumber : Komalasari, Meja 7,Kelompok 1, 2010)

Tabel 8. Sampel (E)

V KMnO4 12,5 mL

N KMnO4 0,100 N

V Sampel 25 mL

N Sampel 0,050 N

(Sumber : Komalasari, Meja 7, Kelompok 1, 2010) 4.2. Pembahasan Pada pembahasan kali ini akan dibahas tentang percobaan permanganometri dalam kimia analitik. Terdapat beberapa prosedur yang harus diljalani yaitu pembuatan larutan baku primer asam oksalat, Pembuatan Larutan Baku Sekunder KMnO4, Pembakuan KMnO4 dan Sampel (E). Pada percobaan ini dilakukan dengan cara pertamatama mencari berat dari asam oksalat. Setelah itu dicari dalam perhitungan pengenceran larutan baku sekunder KMnO4, kemudian dilanjutkan dengan pembakuan larutan KMnO4 0,05 N dan pembakuan larutan sampel (E). Kesalahan dapat terjadi apabila kurang teliti pada saat melakukan titrasi. Pada saat melakukan titrasi terjadi kelebihan reagen yaitu perubahan warna yang seharusnya berwarna ros menjadi berwarna pink atau merah muda. Hal ini mengakibatkan titik akhir titrasi yang dilihat menjadi berbeda yang dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan pada saat dilakukannya perhitungan-perhitungan untuk mencari nomor Senyawa Na2C2O4, juga merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan asam. Dapat diperoleh dengan derajat kemurnian yang

tinggi, stabil pada pengeringan dan tidak hilang. Reaksi dengan permanganat agak rumit, meskipun telah banyak dilakukan penyelidikan, mekanisme yang eksak masih belum jelas. Kalium permanganat Reagensia ini mudah telah digunakan murah, sebagai dan tak zat pengoksidasi secara meluas lebih dari 100 tahun ini. diperoleh, memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Setelah permanganat 0,1 N memberikan warna merah muda yang tampak, kepada larutan yang volumenya lazim digunakan dalam titrasi. Warna ini digunakan untuk menyatakan berlebihnya reagensia itu. Permanganat bereaksi secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7. Reaksi yang paling lazim dijumpai dalam laboratorium pengantar adalah yang pertama, reaksi dalam larutan yang sangat asam. Permanganat dengan cepat dengan banyak zat pereduksi, namun beberapa zat memerlukan pemanasan atau katalis untuk mempercepat reaksi. Seandainya banyak reaksi itu tidak lambat, akan dijumpai lebih banyak kesulitan dalam menggunakan reagensia ini. Misalnya permanganat merupakan zat pengoksidasi yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn (II) menjadi MnO2. Sedikit kelebihan permanganat yang ada pada titik akhir suatu titrasi telah cukup untuk menimbulkan pengendapan MnO2. Untung bahwa reaksi ini lambat,

sehingga biasanya MnO2 tidak diendapkan pada titik akhir titrasi permanganat. Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti: (1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan. (2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan. Sumber-sumber kesalahan pada banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4 titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang

lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air 2C2O4 + O2 H2O2 H2O2 + 2CO2 H2O + O2 Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan. Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi

terhadap permanganat dalam larutan encer.Pembakuan KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air, dan mendidihkannya selama beberapa jam dan kemudian endapan MnO2 disaring. Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama, yaitu natrium oksalat. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan natrium oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N, natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat, kemudian dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. Setelah didapat volume titrasi, maka dapat dicari normalitas KMnO4. (Anonim, 2008, Hal. 1) Dalam mempersiapkan larutan permanganat harus dilakukan tindakan pencegahan khusus. Mangan dioksida mengkatalis penguraian larutan permanganat. Runutan MnO2 yang ada pada awalnya dalam permanganat, atau terbentuk oleh reaksi permanganat dengan runutan zat pereduksi dalam air, menimbulkan penguraian. Biasanya dianjurkan untuk melarutkan kristal, kemudian pemanasan untuk memusnahkan zat pereduksi, dan penyaringan lewat asbes atau kaca masir (filter yang tak mereduksi) untuk menyingkirkan MnO2. Larutan itu kemudian distandarkan, dan jika disimpan dalam gelap dan tak diasamkan, konsentrasinya tidak akan berubah dengan nyata

dalam

kurun

waktu

beberapa

bulan

(Underwood. 1989, Hal. 286-287) Permanganat bereaksi dengan cepat pada suasana asam menghasilkan Mn , tetapi beberapa zat memerlukan pemanasan atau penggunaan katalis untuk mempercepat reaksinya. Titrasi permanganometri digunakan untuk penetapan kadar reduktor dalam suasana asam sulfat encer. Dalam suasana basa atau basa lemah akan terbentuk endapan cokelat MnO2 yang
2+

dapat

mengganggu

kalium

permanganat adalah oksidator kuat. Kelemahannya adalah dalam medium HCl, Cl dapat teroksidasi demikian juga larutannya, mempunyai kestabilan terbatas biasanya digunakan pada medium asam 0,1N. Reaksi oksidasi terhadap H2C2O4 berjalan lambat pada temperatur ruang. Untuk mempercepat reaksi diperlukan pemanasan. Sedangkan reaksinya dengan As (III) memerlukan katalis. Titik akhir permanganat tidak permanen dan warnaya dapat hilang karena reaksi 2 MnO4- + 3 Mn 2+ + 2 H2O ungu 5 Mn O2 + 4 H+ tidak berwarna

Larutan dalam air tidak stabil dan air teroksidasi dengan cara: 4 MnO4- + 2 H2O 4 Mn O2 + 3 O2 + 4 H+

Penguraiannya dikatalis oleh cahaya panas asam basa, ion Mn (II) dan MnO2 biasanya terbentuk dari dekomposisinya Pada sendiri dan bersifat auto-katalitik (Khopkar. 2007, Hal. 49-50). larutan KMnO4 harus ditutup dengan kertas karbon karena KMnO4 adalah zat yang kurang stabil, memilki faktor yang menunjang ketidakstabilannya yaitu mudah bereaksi dengan udara, sangat peka terhadap cahaya sehingga apabila tidak ditutup dengan kertas karbon maka hasil titrasi yang akan dihasilkan bukan berwarna rose melainkan warna cokelat atau titrasi tersebut gagal, bereaksi dengan cepat dengan banyak zat pereduksi dan pH. Pada titrasi tersebut harus dilakukan pemanasan. Fungsi pemanasan disini adalah mempercepat reaksi sehingga volume KMnO4 pada tidak banyak diperlukan. untuk Penambahan H2SO4 titrasi tersebut

mempercepat reaksi sehinnga mencapai hasil didapatkan TAT berwarna rose. H2SO4 ini tidak bias diganti dengan reaksi lain karena apabila di titrasi nanti tidak akan mendapatkan hasil TAT yang berwarna rose melainkan warna cokelat atau titrasi tersebut gagal. TAT itu sendiri adalah dimana titik akhir titrasi dihentikan sehingga didapatkan perubahan warna terakhir dari proses titrasi tersebut, sedangkan TET adalah dimana

titik titrasi tersebut banyaknya titran yang ditambahkan sama dengan jumlah yang dititrasi. Dalam titrimetri zat-zat yang direaksikan dapat dikelompokkan sebagai zat yang dianalisa (cuplikan), pereaksi, indicator, larutan (zat) baku dan mungkin juga katalis. Zat baku (standar) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut yaitu mudah didapat dalam keadaan murni yang tinggi dan mempunyai rumus molekul yang pasti, harus stabil dan mudah ditimbang, berat ekivalennya harus besar, reaksinya harus sempurna dan harganya relatif murah. Zat baku ada dua macam yaitu zat baku primer dan zat baku sekunder. Zat baku primer adalah zat baku yang langsung setelah ditimbang secara analitis, (diambil volume tertentu dari larutannya) dapat digunakan dalam titrasi dan daripadanya dihitung zat yang dianalisa yang terdapat dalam cuplikan yang setara dengannya. Contoh zat baku primer adalah asam oksalat, natrium oksalat, kalium bromat, kalium iodat, natrium klorida, boraks dan natrium karbonat. Zat baku sekunder adalah zat baku konsentrasinya harus dibakukan dengan zat baku primer. Contoh sekunder adalah NaOH, KMnO4, H2SO4,dll (Tim Kimia Analitik. 2010, Hal. 102). Di dalam tirasi tersebut terdapat indikator, indikator itu sendiri adalah suatu zat untuk penanda TAT. Biasanya indikator tersebut ada yang ditanbahkan di awal dan ada

yang ditambahkan di akhir. Pada reaksi percobaan ini ada yang disebut auto indikator. Auto indikator tersebut adalah apabila pereaksinya mempunyai warna yang kuat, kemudian warna tersebut hilang atau berubah bila direaksikan dengan zat lain, maka pereaksi tersebut dapat bertindak sebagai indikator. Contoh dari percobaan Permanganomerti ini adalah KMnO4 bersifat sebagai auto indikator karena merupakan zat sekunder dan indikator dari pereaksinya sendiri. Autoindikator adalah indikator yang digunakan untuk menunjukan perubahan warna pada senyawa itu sendiri. Contoh larutan KMnO4 dengan perubahan warna menjadi rose. Larutan standar atau larutan baku adalah larutan yang diketahui konsentrasinya secara pasti sehingga bisa dipakai untuk menetapkan konsentrasi larutan lainnya. Larutan ini bisa dibuat dengan menimbang secara teliti zat yang disebut standar primer. Zat ini harus mempunyai sifat stabil dan tidak higroskopis.

V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini dan (2) Saran. 5.1. Kesimpulan Dari hasil perhitungan pembuatan larutan baku primer asam oxalat didapatkan gr = 0,315 gram, dari hasil perhitungan KMnO4 didapatkan V1 = 20 mL, dari hasil perhitungan konsentrasi pembakuan H2C2O4 pada KMnO4 sampel didapatkan didapatkan dan N KMnO4 = 0,100 N, dan dari hasil perhitungan N (E) = 0,050 N. 5.2. Saran Melakukan percobaan ini seorang praktikan harus teliti karena apabila salah dalam melakukan pengukuran maka akan menghasilkan suatu hasil yang berbeda. Dalam menggunakan alat-alat harus dalam keadaan bersih, agar dalam melakukan percobaan yang berlangsung tidak mendapatkan kendala sehingga lebih mudah. menguraikan mengenai : (1) Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA Anonim, (2008), Larutan Baku Standar .

http :/ www.google.com. 6 November 2008. Anonim. (2008), akses 6 November 2008. Khopkar, S.M., (2007), Konsep Dasar Kimia Analitik., penerbit Universitas Indonesia., Jakarta. (Hal 48). Svehla. G, (1985), Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro., Cetakan pertama., PT. Kalman Media Pusaka., Jakarta. (107). Tim Kimia Analitik, (2000), Dasar-Dasar Kimia Analitik., penerbit Universitas Pendidikan Indonesia., Bandung. (Hal 102, 112 ). Underwood, A. L dan Day, R. A , (1989), Analisis Kimia Kualitatif., Edisi keenam., Jakarta : Erlangga. (Hal 283, 286-287). Underwood, A. L dan Day, R. A , 2000, Analisis Kimia Kualitatif., Edisi ketujuh., Jakarta : Erlangga. (Hal 290-293). Permanganometri. ,

http://id.Wikipedia.org/wiki/permanganometri

LAMPIRAN PERHITUNGAN 1. Pembuatan larutan g BE g BE 0,05 = g 126/2 g = 0,315 g x baku primer asam oksalat

(BM + 126) 0,05 N. N N = = x x L 1000 V 1000 100

2. Pengenceran 0,3 N 0,06 N.

larutan

baku

sekunder

KMNO4

V1 . N1 = V2 . N2 V1 . 0,3 = 100 . 0,06 0,3 V1 = 6 V1 = 20 mL + 80 mL aquades 3. Pembakuan larutan KMnO4 0.05 N V KMnO4 = =
 

= 12,5 mL
V as.oksalat = 25 ml N as. Oksalat = 0,05 maka,

N KMnO4

     

=0.100 N
4. Sampel E N (I) =
     

=0,050 N

KUIS 1. Apa yang dimaksud dengan auto indikator? Jawab : Auto indikator tersebut adalah apabila pereaksinya mempunyai warna yang kuat, kemudian warna tersebut hilang atau berubah bila direaksikan dengan zat lain, maka pereaksi tersebut dapat bertindak sebagai indikator. 2. Sebutkan tujuan dan prinsip permangonometri Jawaban : Tujuan dari percobaan permanganometri ini adalah untuk menentukan konsentrasi larutan atau zat dengan menentukan volume KMNO4 sebagai titer, sehingga dicapai titik ekivalen dan titik akhir titrasi dari zat yang bereaksi. Prinsip dari titrasi permanganometri adalah reaksi redoks antara Mn O4 dengan C2O4
+ 2-

dalam suasana asam dan

panas. Titik akhir titrasi ditunjukan dengan perubahan warna yang terjai dari tak berwarna ke rose lemah. 3. Apa yang dimaksud dengan permanganometri Jawaban : Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu.

4. Sebutkan perbedaan analisis volumetri dengan analisis gravimetri? Jawab : Analisis volumetri adalah analisa yang didasarkan pada pengukuran volume dalam pelaksanaanya, sedangkan analisis gravimetri adalah analisa kuantitatif yang menggunakan massa (berat) sebagai langkah utama dalam melaksanakan analisanya. 5. Sebutkan apa yang dimaksud dengan eksikator pada gravimetri Jawaban : Eksikator adalah untuk menurunkan kadar air yang terdapat pada sampel tersebut agar tidak terpengaruh oleh udara luar yang lainnnya dan kelembaban udara sehingga berat pada sampel pun meningkat. Di atas eksikator terdapat penutup yang dinamakan Vaseline cair.

Wiki: Permanganometri Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti: (1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan. (2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan. Sumber-sumber kesalahan pada banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4 titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan

terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4dengan Mn2+. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air 2C2O4 + O2 H2O2 H2O2 + 2CO2 H2O + O2

Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan. Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer.Pembakuan

KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air, dan mendidihkannya selama beberapa jam dan kemudian endapan MnO2 disaring. Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama, yaitu natrium oksalat. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan natrium oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N, natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat, kemudian dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. Setelah didapat volume titrasi, maka dapat dicari normalitas KMnO4. TEORI SINGKAT Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih.. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi (Day, 1980). Kalium permangatat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangan

oksida. Lagipula, air suling yang biasa mungkin mengandung zat-zat pereduksi yang akan bereaksi dengan kalium permanganat dengan membentuk mangan dioksida serta bukanlah suatu larutan standar primer (Basset, 1994). Kalium permangatat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau (Rivai, 1995). Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangakan potensial elektroda sangat tergantung pada pH (Rivai, 1995). Kalium Permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar primer (Basset, 1994). Pengertian Larutan Standar Larutan standar atau larutan baku adalah larutan yang diketahui konsentrasinya secara pasti sehingga bisa dipakai untuk menetapkan konsentrasi larutan lainnya. Larutan ini bisa dibuat dengan menimbang secara teliti zat yang disebut standar primer. Zat ini harus mempunyai sifat stabil dan tidak higroskopis. Prinsip Pembuatan Standar

Untuk membuat larutan standar, setidaknya analis harus tau terlebih dahulu berapa bobot molekul/ ekivalennya, berapa target molaritas atau normalitasnya dan berapa volume yang bakal dibuatnya. Contoh. untuk membuat 100 ml NaOH 0.1 M, berapa bobot yang harus ditimbang? Jawab: jika V x N atau V x M akan menghasilkan nilai mol. dan [bobot] /BM juga akan menghasilkan mol perhatikan, ml x [mmol/ml] = mgr / [mgr/mmol] jadi, V x M = [bobot] / BM------------------> hati-hati dengan satuan ml atau L!!! sehingga, bobot yang harus ditimbang adalah = V x M x BM .: 100 mL x [0.1 mmol/ml] x 40 [mgr/mmol] .: hasilnya 400 mgr .: 0.4 gram NaOH Mengerti????

Pengenceran

Yang disebut pengenceran adalah membuat konsentrasi baru dari konsentrasi yang sudah dibuat dengan penambahan pelarut air. jika telah dibuat Larutan standar NaOH 1000 ml 1 N, ingin dibuat lagi larutan 100 ml NaOH 0.4 N, maka V1 x N1 = V2 x N2 0.4 N x 100 ml = 1 N x V2 .: V2 = 40/1 = 40 ml .: pipet 40 ml NaOH 1 N lalu encerkan kedalam labu ukur, tera sampai 100 ml.

Permanganometri
Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana MnO4+ asam, 8H+ + 5e netral Mn dan 2+ + alkalis. 4H2O

Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator, dan umumnya titrasi dilakukan dalam suasan asam karena karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasinya. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana netral atau alkalis contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan tiosulfat . Reaksi dalam suasana MnO4 ke + 4H+ Reaksi + + netral 3e dalam 3e MnO4 suasana yaitu +2H2O alkalis :

Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi kanan MnO4MnO42-

MnO42MnO4-

+ +

2H2 2H2

O O

+ +

2e 3e

MnO2 MnO2

4OH+4OH-

Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumahjumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu /dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser. Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa Kalau pereaksi membutuhkan fakta pemanasan banyak atau reaksi penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. bukan karena bahwa permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai menjadi 3Mn2+ + contoh, MnO2
2MnO4

permanganat sesuai + 2H2O

adalah dengan

agen

unsur

pengoksida, yang cukup kuat untuk mengoksida Mn(II) persamaan + 4H+ 5MnO2

Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Tindakan pencegahan

khusus

harus

dilakukan Mangan

dalam

pembuatan

larutan

permanganat.

dioksidasi

mengkatalisis

dekomposisi larutan permanganate. Jejak-jejak dari MNO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristalkristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MNO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan. Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting dalam titrasi-titrasi permanganat. Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan.Sebelum dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi menjadi besi (II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengan timah (II) klorida. Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk . Jika larutannya mengandung asam klorida seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan lebih memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya dan perkembangan

reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning dari ion besi. SUMBER: BASSET. J dan DENNEY R. C .1994. Vogel. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit buku kedokteran : Jakarta. Hal kuantitatif Erlangga : Jakarta . hal: 290-293. : 406-410. . DAY. J.Y dan UNDERWOOD A. L. 2002. Analisis kimia