Anda di halaman 1dari 12

PENJUALAN CICILAN

Penjualan harta benda tak-gerak seringkali dilakukan berdasarkan rencana pembayaran yang ditangguhkan, di mana pihak penjualan menerima uang muka, (down payment) dan sisanya dalam bentuk pembayaran cicilan selama beberapa tahun. Pendapatan ini biasanya ditetapkan atas dasar akrual dalam periode dimana penjualan itu terjadi dan dalam kontrak yang tidak dipaksakan untuk harus diterima, kemudian perkiraan penagihan yang diterima pada periode yang panjang berada dalam ketidakpastian sehingga disarankan agar penetapan pendapatan ditunda sampai probabilitas penagihan dapat diperkirakan dengan layak.

JAMINAN BAGI PIHAK PENJUAL Jika harta benda tak-gerak pribadi dijual, maka resiko kerugian karena kegagalan pihak pembeli menyelesaikan kontrak dapat diminimisasi dengan pemilikan kembali atas harta benda tersebut. Untuk melengkapi penjualan kredit barang-barang dengan proteksi ini, berbagai macam perangkat telah dikembangkan, seperti perjanjian, tugas hipotik barang bergerak, chattel trust, akte perwalian, factor hak gadai, equipment trust, penjualan bersyarat, dan trsut receipt Walaupun pihak penjual mampu memiliki kembali harta benda yang dimaksud dalam hal kontrak tidak dibayar oleh pihak pembeli, namun kerugian dalam menyelenggarakan kontrak penjualan cicilan dapat besar. Kontrak penjualan cicilan, yang menawarkan persetujuan kredit yang longgar, dapat menarik banyak konsumen, yang resiko kreditnya tinggi. Di samping itu dalam pembayaran dengan periode yang panjang, kemampuan pelanggan atau konsumen untuk membayar mungkin saja berubah. Penyusutan atau keusangan barang-barang yang dijual dapat melebihi jumlah pembayaranyang dilakukan, dan barang-barang yang terkena pemilikan kembali mungkin nilainya tidak sebesar saldo kontrak yang belum dibayar. Penjualan dengan dasar cicilan berarti pengeluaran biaya pembukuan dan penagihan yang kontinu dan dalam hal-hal tertentu, biaya pelayanan dan reparasi yang harus ditanggung oleh pihak penjual mungkin besar jumlahnya. Itulah faktor-faktor yang harus dipertimbangkan oleh pihak penjual dalam menetapkan kebijakan penjualan cicilan. Dalam upaya untuk mengurangi atau menghindari kerugian pemilikan kembali, pihak penjual harus mempertimbangkan tindakan pencegahan sebagai berikut: Uang muka yang ditetapkan harus cukup besar untuk menutup penurunan nilai barang karena perubahannya dari barang baru menjadi barang bekas. Periode pembayaran cicilan harus tidak terlalu lama atau panjang, sebaiknya tiap bulan.

Pembayaran cicilan berkala tidak harus melebihi penurunan niali barang yang terjadi di antara pembayaran berkala.

METODE PENETAPAN LABA KOTOR PADA PENJUALAN CICILAN 1. Laba Kotor dalam Periode Penjualan Laba kotor dapat kita tetapkan pada saat penjualan, saat di mana barang-barang ditukarkan dengan klaim yang secara hokum dapat dipaksakan terhadap pelanggan atau konsumen. 2. Penetapan Laba Kotor dalam Periode Penagihan Per Kas Arus masuk kas, kemudian menjadi kriteria penetapan pendapatan. Prosedur penetapan laba kotor dalam periode penagihan per kas ialah: Penagihan dipandang sebagai perolehan kembali harga pokok Pebagihan dipandang sebagai realisasi laba Penagihan dipandang sebagai perolehan kembali harga pokok dan realisasi laba

Metode yang tersebut pada bagian (3), disebut sebagai akuntansi dengan metode atau dasar cicilan.

METODE CICILAN Pada penggunaan metode cicilan dalam perkiraan, maka selisih antara harga jual kontrak dan harga pokok penjualan dicatat sebagai laba kotor yang ditangguhkan. Penangguhan laba kotor, pada dasarnya menyatakan penangguhan hasil penjualan yang disertai dengan penangguhan harga pokok penjualan seperti itu.

A. Penjualan Harta Benda Tak-Gerak dengan Dasar Cicilan Asumsikan bahwa pada tanggal 1 Oktober 1986, Westwood Realty Co. menjual harta benda miliknya, yang nilai bukunya sebesar $30.000 , kepada S. F. West dengan harga $50.000. Perusahaan ini menerima per kas $10.000 pada tanggal itu untuk penjualan ini dan wesel hipotik sebesar $40.000 yang dapat dibayar dalam 20 kali cicilan semesteran @$2.000 ditambah bunga 12% atas pokok yang belum dibayar. Komisi dan biaya lainnya atas penjualan ini yang berjumlah $1.500 dibayar. Cicilan regular pokok dan bunga atau wesel hipotik diterima oleh pihak penjual dalam tahun berikutnya, tahun 1987. Diasumsikan bahwa periode fiscal perushaan adalah tahun kalender. Keuntungan bersih atas penjualan harta benda ini ditetapkan berbeda di bawah dua macam metode: penetapan laba dalam periode penjualan yang menghasilkan keuntungan sebesar $18.500 ($20.000 - $1.500) pada tahun 1986; sedangkan penetapan laba berkala dalam proporsi penagihan

menghasilkan keuntungan sebesar $2.500 ($4.000 - $!.500) pada tahun 1986 dan keuntungan dalam tiap tahun berikutnya untuk waktu 10 tahun masing-masing adalah sebesar $1.600 (40% dari $4.000). Jika ternyata pembayaran kontrak tidak dipenuhi, maka pihak penjual mengambil tindakan untuk memiliki kembali harta benda yang telah dijual. Jika laba atas penjualan ditetapkan pada waktu penjualan itu terjadi, maka ayat jurnal harus menunjukkan perolehan kembali harta benda ini menurut nilai pasar wajarnya sekarang, pembatalan saldo klaim terhadap pihak pembeli. Dan keuntungan atau kerugian dari pemilikan kembali harta benda tersebut. Jika laba ditetapkan dengan metode cicilan, maka pembatalan saldo klaim terhadap pihak pembeli harus disertai dengan pembatalan saldo laba kotor yang ditangguhkan; harta benda masih dicatat dengan nilai pasar wajarnya, tetapi keuntungan atau kerugian atas pemilikan kembali diukur dengan selisih antara pos harta benda yang ditetapkan dan saldo kontrak cicilan yang dibatalkan. Asumsikan bahwa dalam contoh diatas pihak pembeli gagal memenuhi cicilan yang harus dibayar pada tanggal 1 April 1988. Pihak penjual menyerahkan wesel hipotik dengan saldo yang belum dibayar sebesar $36.000 dan memiliki kembali harta benda itu. Penilaian harta benda pada tanggal ini menunjukkan nilai pasar wajar sebesar $28.500. Ayat-ayat jurnalnya di bawah masing-masing metode berbunyi sebagai berikut: Ayat Jurnal Transaksi Penetapan Laba dalam Periode Penjualan Harta benda tak-gerak (Persil A) . . $28.500 Kerugian atas pemilikan kembali (Persil A) . . . . $36.000 Wesel Hipotik . . . . $36.000 Penetapan Laba Berkala dalam Proporsi Penagihan Harta benda tak-gerak (Persil A) . . $28.500 Laba kotor yang ditangguhkan (Persil A) . . . . . $14.400 Wesel Hipotik . . . $36.000 Keuntungan atas pemilikan kembali (Persil A) 6.900

Harta benda tak-gerak yang diperoleh kembali (Persil A) yang dinilai sebesar $28.500; wesel hipotik yang diserahkan dengan saldo yang belum dibayar sebesar $36.000

Ayat jurnal yang kedua juga dibutuhkan untuk menghapuskan bunga akrual sebesar $1.080 sebagai kerugian atas wesel hipotik, yang ditetapkan pada akhir tahun 1987, tetapi ternyata tak dapat ditagih dalam tahun 1988.

Kerugian dan keuntungan pada masing-masing metode di atas dapat kita buktikan dengan perhitungan sebagai berikut: Penetapan Laba dalam Periode Penjualan Total yang ditagih dan diterima . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Kerugian dalam nilai harta benda yang dimiliki kembali: Dasar semula . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $30.000 Nilai pasar yang wajar atas perolehan kembali . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $28.500 Keuntungan bersih . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Keuntungan yang ditetapkan sebelum pemilikan kembali . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Keuntungan (kerugian) atas pemilikan kembali . . . . . . . . $14.000 Penetapan Laba Berkala dalam Proporsi Penagihan $14.000

$1.500 $12.500 $20.000 ($7.500)

$1.500 $12.500 $5.600 $6.900

B. Penjualan Barang Dagangan Berdasarkan Cicilan Prosedur yang digunakan dalam akuntansi untuk penjualan barang dagangan berdasarkan cicilan sama dengan prosedur yang diilustrasikan di atas tadi. Ilustrasi akuntansi untuk penjualan barang dagangan yang berdasarkan cicilan, asumsikan bahwa neraca untuk Kelton Sales Co pada tanggal 1 Januari 1987 adalah sebagai berikut:

Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $ 25.000 Persediaan usaha barang dagangan . . . . . 100.000 Piutang usaha (biasa) . . . . . . . . . . . . . . . . . 15.000 Piutang usaha cicilan, thn 1976 . . . . . . . . . 60.000 Piutang usaha cicilan, thn 1975 . . . . . . . . . 20.000 Total aktiva . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $220.000

Hutang usaha . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .$ 40.000 Laba kotor yang ditangguhkan atas penjualan cicilan, thn 1976 . . . . . . . . . . . 22.800 Laba kotor yang ditangguhkan atas penjualan cicilan, thn 1975 . . . . . . . . . . . 7.000 Modal saham . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 100.000 Laba yang ditangguhkan . . . . . . . . . . . . . . . 50.200 Total kewajiban dan modal . . . . . . . . . . . . $220.000

Penjualan cicilan tahun 1986 dan tahun 1985 dilakukan dengan tingkat laba kotor masingmasing sebesar 38% dan 35%. Transaksi dan ayat jurnal untuk Kelton Sales Co. yang berkaitan dengan penjualan biasa dan penjualan cicilan tahun 1987 adalah sebagai berikut: Transaksi 1 Januari 31 Desember (1) Penjualan biasa, yang terdiri dari penjualan per kas (tunai) $250.000, dan penjualan dengan kredit $200.000; penjuala cicilan sebesar $150.000 (2) Pembelian barang dagangan dengan kredit sebesar $425.000 (3) Penerimaan tambahan dari penjualan per kas dan dari sumber sebagai berikut: Piutang usaha biasa . . . . . . . . . . . . . . . . . $190.000 Piutang usaha cicilan, 1987 . . . . . . . . . . . 80.000 Piutang usaha cicilan, 1986 . . . . . . . . . . . 40.000 Piutang usaha cicilan, 1985 . . . . . . . . . . . 15.000 (4) Pembayaran untuk: Hutang usaha . . . . . . . . . . . . $435.000 Dikurangi potongan yang diambil . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5.000 $430.000 Biaya operasi . . . . . . . . . . . . . 120.000 Penyesuaian dan penutupan per 31 Desember (5) Untuk mencatat harga pokok barang yang berkaitan dengan penjualan cicilan, $90.000 (6) Untuk menutup perkiraan penjualan cicilan dan harga pokok penjualan cicilan dan untuk mencatat laba kotor atas penjualan cicilan untuk tahun itu, $60.000 (40% dari penjualan cicilan) (7) Untuk mencatat laba kotor yang direalisasi sebagai akibat dari penagihan atas piutang usaha cicilan tahun 1987, 1986 dan 1985 sebagai berikut: Piutang usaha cicilan tahun 1987, 40% dari $80.000 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $32.000 Piutang usaha cicilan tahun 1986, 38% dari $40.000 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $15.200 Piutang usaha cicilan tahun 1985, 35% dari $15.000 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $5.250 Ayat Jurnal Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $250.000 Piutang usaha (biasa) . . . . 200.000 Penjualan (biasa) . . . . . . . Piutang usaha cicilan 1987 . . . $150.000 Penjualan cicilan . . . . . . . . Pembelian . . . . . . . . . . . . . . . . $425.000 Hutang usaha . . . . . . . . . . Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $325.000 Piutang usaha (biasa) . . . Piutang usaha cicilan, 1987 Piutang usaha cicilan, 1986 Piutang usaha cicilan, 1985

$450.000 $150.000 $425.000 $190.000 80.000 40.000 15.000

Hutang usaha . . . . . . . . . . . . . . $435.000 Biaya operasi . . . . . . . . . . . . . . . 120.000 Potongan pembelian . . . . . $ 5.000 Kas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 650.000

Dst

Harga pokok penjualan cicilan $ 90.000 Pengirman atas penjualan cicilan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $ 90.000 Penjualan cicilan . . . . . . . . . . . . $150.000 Harga pokok penjualan cicilan . . . . . . . . . . . . . . . . . . $ 90.000 Laba kotor yang ditangguhkan atas penjualan cicilan, tahun 1987 . . . . . . . . . . . . . . 60.000 Laba kotor yang ditangguhkan atas penjualan cicilan, tahun 1987 . . . . . . . . . . . . . . $ 32.000 Laba kotor yang ditangguhkan Atas penjualan cicilan, tahun 1986 . . . . . . . . . . . . . . $ 15.200 Laba kotor yang ditangguhkan atas penjualan cicilan, tahun 1985 . . . . . . . . . . . . . . . $ 5.250 Laba kotor yang direalisasi atas penjualan cicilan, tahun 1985-1987 . . . . . . . . . . . $ 52.450 Dst

Apabila system persediaan perpetual diselenggarakan, maka pembelian dicatat langsung pada perkiraan persediaan. Sedangkan penjualan yang terjadi akan dicatat dengan jalan mendebet perkiraan Harga Pokok Penjualan Cicilan atau perkiraan Harga Pokok Penjualan Biasa dan mengkredit perkiraan persediaan.

Prosedur Alternatif Untuk Menghitung Laba Kotor Yang Direalsasi. Laba kotor yang direalisasi juga dapat ditentukan dengan jalan menghitung jumlah laba kotor yang ditangguhkan pada akhir periode dan mengurangkan perkiraan laba kotor yang ditangguhkan dari saldo ini. Dengan menggunakan data-data untuk Kenton Sales Co. di muka itu, prosedur ini ditempuh sebagai berikut: Tahun 1987 Saldo laba kotor yang ditangguhkan sebelum penyesuaian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Laba kotor yang ditangguhkan pada akhir tahun 1987: Atas piutang usaha cicilan tahun 1987, 40% dari saldo yang tak-tertagih $70.000 . . . . . . . . . . . . . . . . Atas piutang usaha cicilan tahun 1986, 38% dari saldo yang tak-tertagih $20.000 . . . . . . . . . . . . . . . . Atas piutang usaha cicilan tahun 1985, 35% dari saldo yang tak-tertagih $ 5.000 . . . . . . . . . . . . . . . . . Pengurangan dalam saldo laba kotor yang ditangguhkan pada akhir tahun 1987 laba kotor yang direalsasi sebagai akibat dari penagihan selama tahun 1987 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . $60.000 Tahun 1986 $22.800 Tahun 1985 $7.000

$28.000 $ 7.600 $ 1.750

$32.000

$15.200

$ 5.250

Penggunaan Buku Harian Khusus Pada Pencatatan Penjualan Cicilan. Transaksi penjualan dan kas biasanya dicatat dalam buku harian khusus untuk penjualan dan kas. Buku harian khusus penjualan biasanya memuat kolom-kolom khusus untuk penjualan per kas, penjualan biasa dengan kredit, dan penjualan cicilan. Buku harian penerimaan kas memuat sebuah kolom untuk penagihan atas piutang usaha biasa dan juga kolom-kolom khusus untuk penagihan atas piutang usaha cicilan, untuk periode yang berjalan dan periode sebelumnya.

Penetapan Umur Piutang Dalam Akuntansi Dengan Metode Cicilan. Dalam ilustrasi, perkiraan diselenggarakan baik untuk piutang usaha cicilan maupun untuk laba kotor yang ditangguhkan menurut tahun; penagihan dikaitkan dengan piutang usaha yang dikelompokkan menurut tanggal penjualan semula.

PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PADA PENGGUNAAN METODE CICILAN Dalam melaporkan piutang usaha cicilan sebagai piutang lancer, pengungkapan tanggal jatuh tempo kontrak penjualan cicilan akan memberikan penilaian dan gambaran yang lebih baik kepada para pembaca neraca mengenai posisi keuangan perusahaan; tanggal jatuh tempo ini harus diungkapkan dalam tanda kurung atau pub dalam catatan kaki, atau dapat juga kita cantumkan menurut tanggal jatuh tempo tahunannya. Laba kotor yang ditangguhkan atas penjualan cicilan biasanya dilaporkan dalam neraca pada seksi kewajiban sebagai pendapatan yang ditangguhkan. Saldo laba kotor uang ditangguhkan lebih tepat kiranya dipandang sebagai perkiraan penilaian aktiva. Pengelompokkan kembali laba kotor yang ditangguhkan ke dalam 3 elemen sebagai berikut: Penyisihan untuk beban yang kontinu, yang masih diantisipasi dalam penagihan piutang usaha cicilan yang meliputi beban-beban yang timbul dari ketidakmampuan membayar dan pemilikan kembali. Kewajiban pajak penghasilan atas bagian dari laba kotor yang belum ditetapkan dalam SPT pajak. Saldo yang menyatakan laba bersih, yang ditetapkan pada kontrak penjualan cicilan.

C. Penjualan Cicilan dengan Tukar-Tambah (Trade-In) Dalam penjualan tertentu yang dilakukan berdasarkan cicilan, perusahaan akan menerima barang tukar-tambah sebagai pembayran sebagian atas kontrak penjualan cicilan baru. Utnuk ilustrasi penerapannya, asumsikan bahwa barang tertentu dengan harga pokok sebesar $675 dijual seharga $1.000. Sebuah barang bekas-pakai diterima sebagai uang muka, dengan nilai tukartambah sebesar $300. Perusahaan biasanya mengharapkan laba kotor sebesar 20% atas penjualan barang bekas-pakai. Nilai barang tukar-tambah dan jumlah nilai tukar-lebih dihitung sebagai berikut:
Jumlah yg ditetapkan atas tukar-tambah Nilai barang tukar-tambah : Nilai penjualannya Dikurangi: Biaya perbaikan Laba kotor yg direalisasi atas penjualannya Kembali, 20% dari $275 Nilai tukar-lebih $300 $275 $20 $55 $100 $200 $100

Sekarang penjualan cicilan dengan tukar-tambah ini dapat kita catat sebagai berikut:
Barang dagangan tukar-tambah Nilai tukar-lebih atas penjualan cicilan dengan tukar-tambah Piutang usaha cicilan, thn 1987 Penjualan cicilan Harga pokok penjualan cicilan Barang dagangan baru $200 $100 $700 $1.000 $675 $675

Ketidakmampuan Membayar dan Pemilikan Kembali Ketidakmampuan membayar atas kontrak penjualan cicilan dan pemilikan kembali barang yang telah dijual membutuhkan sebuah ayat jurnal dalam buku pihak penjual, yang melaporkan barang dagangan yang diperolehnya kembali, yang membatalkan piutang usaha cicilan beserta saldo laba kotor yang ditangguhkan, dan yang mencatat keuntungan atau kerugian atas pemilikan kembali barang ini. Untuk mengilustrasikan prosedur yang harus kita tempuh dalam hal ketidakmampuan membayar dan pemilikan kembali, kita asumsikan data-data sebagai berikut:
Total penjualan cicilan thn 1987 Tingkat laba kotor atas penjualan cicilan thn 1987 $100.000 36%

Penggunaan Metode Cicilan Penggunaan metode cicilan dalam penetapan pendapatan akan menimbulkan keputusan yang kontroversional penjualan cicilan, akuntan harus mempertimbangkan semua keadaan yang ia jumpai dalam situasi tertentu. Kemudian ia harus memilih alternatif yang ia anggap akan menunjukkan dengan sejujurnya operasi dan posisi keuangan perusahaan. Agen penjual yang menjual harta benda tak-gerak pribadi berdasarkan cicilan dan yang menetapkan keseluruhan laba kotor dalam periode penjualan untuk tujuan laporan keuangannya, masih dapat memilih penggunaan metode cicilan untuk tujuan pajak penghasilan. Metode cicilan biasanya dipilih untuk tujuan pajak sebagai cara untuk menangguhkan penetapan pendapatan sampai penagihan cicilan dilakukan dan uang kas yang ada benar-benar digunakan untuk memenuhi kewajiban pajak.

Bunga atas Kontrak Penjualan Kontrak penjualan cicilan seringkali menetapkan beban untuk bunga atas saldo yang terhutang. Bunga biasanya bisa dibayar bersama-sama dengan pembayaran cicilan yang mengurangi jumlah pokok. Persetujuan untuk pembayaran bunga berkala pada umumnya mengambil salah satu dari bentuk sebagai berikut: Bunga dihitung atas saldo yang terhutang antara periode cicilan. Bunga yang dihitung dengan cara ini kadang-kadang disebut bunga jangka panjang (long-end interest) Bunga dihitung atas masing-masing cicilan yang harus dibayar, dari tanggal kontrak ciciln ditandatangani sampai tanggal pembayaran cicilan. Bunga yang dihitung dengan cara ini disebut bunga jangka pendek (short-end interest) Pembayaran berkala dalam jumlah yang sama dan menyatakan bunga atas saldo pokok yang terhutang antara periode cicilan, sisanya merupakan pengurangan dalam saldo pokok. Bunga sepanjang periode pembayaran dihitung atas pokok semula.

1. Bunga Berkala atas Saldo Pokok yang Terhutang Antara Periode Cicilan Jika pembayaran pokok bulanan 6 kali @$50 harus dilakukan bersama-sama dengan bunga yang harus dibayar atas saldo pokok yang terhutang antara tanggal-tanggal cicilan, maka pembayaran akan dilakukan seperti terlihat dalam tabel di bawah ini: Tanggal Bunga atas saldo yg terhutang (1% per bulan) Pembayaran cicilan yg jatuh tempo Total Pembayaran Saldo Pokok

30 Juni 30 Juni 31 Juli 31 Agustus 30 September 31 Oktober 30 November 31 Desember $ 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 $ 10.50 $ 100.00 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00 $ 400.00 $ 100.00 53.00 52.50 52.00 51.50 51.00 50.50 $ 410.50

$ 400.00 300.00 250.00 200.00 150.00 100.00 50.00 Nol

2. Bunga Berkala atas Masing-Masing Cicilan yang Jatuh Tempo Kita misalkan fakta-fakta yang sama kecuali jika bunga harus dibayar berkala atas cicilan yang jatuh tempo dari tanggal kontrak penjualan cicilan sampai dengan tanggal pembayaran cicilan. Pembayaran akan terjadi seperti terlihat dalam tabel di bawah ini:

Tanggal

Bunga dari tanggal penjualan sampai tanggal pembayaran (1% per bulan)

Pembayaran cicilan yg jatuh tempo

Total Pembayaran

Saldo Pokok

30 Juni 30 Juni 31 Juli 31 Agustus 30 September 31 Oktober 30 November 31 Desember $ 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 $ 10.50 $ 100.00 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00 $ 400.00 $ 100.00 50.50 51.00 51.50 52.00 52.50 53.00 $ 410.50

$ 400.00 30.00 250.00 200.00 150.00 100.00 50.00 nol

3. Pembayaran Berkala dalam Jumlah yang Sama, yang Menyatakan Bunga dan Saldo Pokok Dengan menggunakan tabel akturial dapat kita tetapkan bahwa kewajiban sebesar $300 dengan bunga akrual sebesar 12% dipenuhi dengan 6 kali pembayaran cicilan bulanan @$51.76. Tabel yang menunjukkan pembayaran dan alokasi pembayaran ini yaitu antara bunga dan pokok diperlihatkan di bawah ini:

Tanggal

Pembayaran cicilan yang jatuh tempo

Bagian dari pembayaran yg menyangkut bunga akrual atas pokok (1% per bulan)

Saldo pembayaran yang menyatakan dalam pokok

Saldo Pokok

30 Juni 30 Juni 31 Juli 31 Agustus 30 September 31 Oktober 30 November 31 Desember $ 100.00 51.76 51.76 51.76 51.76 51.76 51.78* $ 410.58 $ 3.00 2.51 2.02 1.52 1.02 0.51 $ 10.58 $ 100.00 48.76 49.25 49.74 50.24 50.74 51.27 $ 400.00

$ 400.00 300.00 251.24 201.99 152.25 102.01 51.27 nol

*Pembayaran akhir sebesar $51.78 dibutuhkan untuk menghapus bunga bulanan yang terakhir bersama-sama dengan pokok yang belum dibayar sampai dengan tanggal ini

4. Bunga Berkala yang dihitung Atas Pokok Awal Dengan menggunakan yang sama kecuali jika pembayaran bunga berkala dilanjutkan dengan 12% dari pokok awal selama kontrak penjualan cicilan berlaku. Maka pembayaran akan dilakukan seperti terlihat dalam tabel berikut:

Tanggal

Bunga yang didasarkan atas pokok awal (1% per bulan)

Pembayaran cicilan yang jatuh tempo

Total Pembayaran

Saldo Pokok

30 Juni 30 Juni 31 Juli 31 Agustus 30 September 31 Oktober 30 November 31 Desember $ 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 $ 24.00 $ 100.00 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00 $ 400.00 $ 100.00 $ 54.00 $ 54.00 $ 54.00 $ 54.00 $ 54.00 $ 54.00 $ 424.00

$ 400.00 300.00 250.00 200.00 150.00 100.00 50.00 nol