Anda di halaman 1dari 29

PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU MASA NIFAS : RESPON IBU TERHADAP BAYI BARU LAHIR

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan III

Disusun Oleh : Kelompok 5 Yatty Erni Destiani Desy Rachmasari Lilis Suryani Tari Regia Pratiwi Yeni Silpia 130103100008 130103100024 130103100026 130103100031 130103100033

VI A

PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................... i I. PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS MASA NIFAS 1.1 Adaptasi psikologis ibu masa nifas ................................................1 1.2 Gangguan Psikologis Postpartum ..................................................5 1.2.1 PostPartum Blues .................................................................6 1.2.2 Depresi Postpartum ..............................................................7 1.3 Kesedihan dan Duka Cita ............................................................12

II. RESPONS IBU DAN AYAH TERHADAP BAYI 2.1 Bounding Attachment .................................................................15 2.2 Respon Ayah Dan Keluarga Terhadap Bayi Baru Lahir ...............18 2.3 Sibling Rivalry ............................................................................23

DAFTAR PUSTAKA

I. PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS MASA NIFAS 1.1 Adaptasi psikologis ibu masa nifas(2,4) Proses adaptasi psikologi sudah terjadi selama kehamilan, menjelang proses kelahiran maupun setelah persalinan. Pada periode tersebut, kecemasan seorang wanita dapat bertambah. Pengalaman yang unik dialami oleh ibu setelah persalinan. Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah. Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai berikut: y y y y Fungsi menjadi orang tua Respon dan dukungan dari keluarga Riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan Harapan, keinginan dan aspirasi saat hamil dan melahirkan

Fase-fase yang akan dialami oleh ibu pada masa nifas antara lain: a. Fase Dependen(8) Selama satu sampai dua hari pertama setelah melahirkan, ketergantungan ibu menonjol. Pada waktu ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi orang lain, ibu memindahkan energy psikologisnya kepada anaknya. Rubin (1961) menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking in phase), suatu waktu dimana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Dalam penjelasan klasik Rubin, fase menerima ini berlangsung selama dua sampai tiga hari. Penelitian yang lebih baru (Ament, 1990) mendukung pernyataan Rubin, kecuali bahwa wanita sekarang berpindah lebih cepat dari fase menerima. Fase menerima yang kuat hanya terlihat pada 24 jam pertama setelah ibu melahirkan. Selama beberapa jam atau beberapa hari setelah melahirkan, wanita sehat yang dewasa tampaknya mengesampingkan semua tanggung jawab sehari-

hari. Mereka bergantung kepada orang lain sebagai respons terhadap kebutuhan mereka akan istirahat dan makanan. Fase dependen ialah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengomunikasikannya. Mereka merasa perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan dan kelahiran dengan kata-kata. Pemusatan, analisis, dan sikap yang menerima pengalaman ini membantu orang tua untuk berpindah ke fase berikutnya. Kecemasan dan keasyikan terhadap peran barunya sering mempersempit tingkat persepsi ibu. Oleh karena itu, informasi yang diberikan pada waktu ini mungkin perlu diulang. Ketidaknyamanan yang biasanya dialami pada fase ini antara lain rasa mules, nyeri pada luka jahitan, kurang tidur, kelelahan. Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat cukup, komunikasi yang baik dan asupan nutrisi.(4) Gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu pada fase ini adalah: (2,4) y y y y Kekecewaan pada bayinya Ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik yang dialami Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya

b. Fase Dependen-Mandiri(8) Apabila ibu telah menerima asuhan yang cukup selama beberapa jam atau beberapa hari pertama maka pada hari kedua atau ketiga keinginan untuk mandiri timbul dengan sendirinya. Dalam fase dependen mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Ia berespons dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan berlatih tentang cara perawatan bayi atau jika ia adalah seorang ibu yang gesit, ia akan memiliki keinginan

untuk merawat bayinya secara langsung. Rubin (1961) menjelaskan keadaan ini sebagai fase taking-hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari. Dalam 6-8 minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu untuk mengusai tugas-tugas sebagai orang tua merupakan hal yang penting. Harapan yang realistis mempermudah kelangsungan fungsi-fungsi keluarga selanjutnya sebagai suatu unit. Beberapa awanita sulit menyesuaikan diri terhadap isolasi yang dialaminya karena ia harus merawat bayi dan tidak suka terhadap tanggung jawab dirumah dan merawat bayi. Ibu yang kelihatannya memerlukan dukungan tambahan adalah sebagai berikut. y y y Primipara yang belum berpengalaman mengasuh anak. Wanita karier. Wanita yang tidak punya cukup banyak teman/keluarga untuk dapat berbagi rasa. y y Ibu yang berusia remaja. Wanita yang tidak bersuami.

Pada fase ini tidak jarang terjadi depresi. Perasaan mudah tersinggung bisa timbul akibat berbagai faktor. Secara psikologis, ibu mungkin jenuh dengan banyaknya tanggung jawab sebagai orang tua. Ia bisa merasa kehilangan dukungan yang pernah diterimanya dari anggota keluarga dan teman-teman ketika dia hamil. Beberpa ibu menyesal tentang hilangnya hubungan antara ibu dengana anak yang belum lahir. Beberpa yang lain mengalami perasaan kecewa ketika persalinan dan kelahiran telah selesai. Keletihan setelah melahirkan diperburuk pleh tuntutan bayi yang banyak sehingga dengan mudah dapat timbul perasaan depresi. Dikatan bahwa masa puerperium ini, kadar gluko kortikoid dalam sirkulasi dapat menjadi redah atau terjadi hipotiroid subklinis. Keadaan fisiologis ini dapat menjelaskan depresi pasca partum ringan (baby blues). Reaksi depresif idak perlu diekspresikan secara verbal. Keadaan depresif biasanya ditandai

oleh perilaku yang khas (menarik diri, kehilangan perhatian terhadap sekeliling, dan menangis). Ketika tugas-tugas dan penyesuaian telah dijalankan dan dapat dikendalikan, tercapailah suatu keadaan stabil. Pada saat ini, tanggung jawab baru sebagai orang tua, yang harus dihadapi selama hidup, mulai menjadi pusat perhatian. Diharapkan bahwa pada akhir fase dependen-mandiri, tugas dan penyesuaian rutinitas sehari-hari akan mulai menjadi suatu pola yang tetap. Bayi mulai mengambil posisi tertentu dalam keluarga. Banyak persoalan makan, yang berkaitan dengan pemberian susu ibu atau susu botol, sebagian besar telah diatasi. Kekuatan dan energy fisik ibu pulih. Pada minggu kelima, bayi telah diperiksa oleh petugas kesehatan dan ibu juga gtelah diperiksa atau telah mengadakan perjanjian untuk melakukan pemeriksaan. Sudah waktunya untuk berpindah ke fase penyesuaian berikutnya. Tugas bidan antara lain: mengajarkan cara perawatan bayi, cara menyusui yang benar, cara perawatan luka jahitan, senam nifas, pendidikan kesehatan gizi, istirahat, kebersihan diri dan lain-lain.(4) c. Fase Interdependen(8) Pada fase ini perilaku interdependen muncul, ibu dan keluarganya bergerak maju sebagai suatu sistem dengan para anggota saling berinteraksi. Hubungan antar pasangan, walaupun sudah berubah dengan adanya seorang anak, kembali menunjukan banyak karakteristik awal. Tuntutan utama ialah menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal, tidak melibatkan anak pasangan ini harus berbagi kesenangan yang bersipat dewasa. Kebanyakan suami istri memulai lagi hubungan seksualnya pada minggu ketiga atau keempat setelah anak lahir. Beberapa memulai hubungan lebih awal, yakni segera setelah hal itu dapat dilakukan tanpa wanita merasa nyeri. Hibungan seksual meningkatkan pria-wanita pada suatu keluarga

dan pasangan dewasa ini akan merasa dekat satu sama lain tanpa terganggu oleh anggota keluarga lain. Banyak ayah baru yang mengatakan bahwa ia mengalami perasaan disingkirkan ketika melihat keintiman hubngan ibu anak dan beberapa mengungkapkan terbuka kecemburuan terhadp bayi mereka. Dimulainy alagi hubungan perkawinan tanpaknya membawa hubungan orang tua kembali kedalam focus perhatian. Fase interdependen (letting go) merupakan fase yang penuh stress bagi orang tua. Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam masa ini. Pria dan wanita menyelesaikan efek dari perannya masing-masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan membina karier. Suatu upaya khusus harus dilakukan untuk memperkuat hubungan orang dewasa dengan orang dewasa sebagai dasar keasatuan keluarga. 1.2 Gangguan Psikologis Postpartum(9) Secara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional. Gangguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah masamasa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguangangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulanbulan atau bertahun tahun lamanya. Postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum

depression yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung saat masa nifas, dimana para wanita yang mengalami hal ini kadang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami). Tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.(9) 1.2.1 PostPartum Blues (4)

Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kahadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan. Disini hormone

memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari diding rahim,tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga

membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dalam keadaan normal. Gejala-gejala Baby blues, antara lain menangis, mengalami perubahan perasaan, cemas, kesepian, khawatir mengenai sang bayi, penurunan gairah sex, dan kurang percaya diri terhadap kemampuan menjadi seorang ibu. Jika hal ini terjadi, ibu disarankan untuk melakukan hal-hal berikut ini: 1. Mintalah bantuan suami atau keluarga jika ibu membutuhkan istrahat untuk menghilangkan kelelahan 2. Beritahu suami mengenai apa yang sedang ibu rasakan. Mintalah dukungan dan pertolongannya 3. Buang rasa cemas dan keckhawatiran akan kemampuan merawat bayi 4. Carilah hiburan dan luangkan waktu untuk diri sendiri 1.2.2 Depresi Postpartum(9)

Depresi postpartum terjadi dalam 10-15% wanita pada populasi umum. Depresi postpartum paling sering terjadi dalam 4 bulan pertama setelah melahirkan, tetapi dapat terjadi kapan pun pada tahun pertama. Depresi postpartum tidak berbeda dari depresi yang dapat terjadi setiap saat lainnya dalam kehidupan wanita. Masa pasca-melahirkan adalah waktu yang paling rentan bagi wanita untuk mengembangkan penyakit kejiwaan. Wanita yang menderita 1 episode depresi mayor setelah melahirkan memiliki risiko kekambuhan sekitar 25%. Perempuan resiko tertinggi adalah mereka dengan sejarah pribadi depresi, episode sebelumnya depresi pasca melahirkan, atau depresi selama kehamilan. Selain memiliki riwayat depresi, kehidupan yang penuh stress akhir-akhir ini, stres sehari-hari seperti perawatan anak, kurangnya dukungan sosial (terutama dari pasangan), kehamilan yang tidak diinginkan, dan status asuransi telah divalidasi sebagai faktor risiko. Biasanya, depresi pasca melahirkan berkembang secara diam-diam selama 3 bulan pertama pasca melahirkan, meskipun gangguan tersebut mungkin memiliki onset yang lebih akut. Depresi postpartum lebih persistent dan melemahkan daripada postpartum blues. Faktor-faktor yang menyebabkan depresi postpartum(9) Depresi postpartum tidak berbeda secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional. Penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek

sampingan kehamilan dan persalinan. Faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan

ketidakpuasaan dalam pernikahan.

Perempuan yang memiliki riwayat masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi. Karakteristik wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum adalah : wanita yang mempunyai sejarah pernah mengalami depresi, wanita yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis, wanita yang kurang mendapatkan dukungan dari suami atau orangorang terdekatnya selama hamil dan setelah melahirkan, wanita yang jarang berkonsultasi dengan dokter selama masa kehamilannya misalnya kurang komunikasi dan informasi, wanita yang mengalami komplikasi selama kehamilan. Depresi pascasalin dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain y Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat. y Karakteristik ibu, yang meliputi : o Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 2030 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu. o Faktor pengalaman. Depresi pascasalin ini lebih banyak ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat menimbulkan stres. o Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi

menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan

sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anakanak mereka. o Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin. o Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang. Gejala-gejala depresi postpartum(9) Depresi merupakan gangguan yang betulbetul dipertimbangkan sebagai psikopatologi yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian. Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau

bunuh diri. Keluhan dan gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran pikiran ingin bunuh diri, waham waham paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anakanaknya. Tetapi dibandingkan dengan gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain :  Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpimimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.

10

Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.

Fobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacammacam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum.

Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak

menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.  Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu.  Perubahan mood. Depresi postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih murung, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak

mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta

11

mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benarbenar memusuhi bayinya. Depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian. 1.3 Kesedihan dan Duka Cita(6)

Berduka yang paling besar adalah disebabkan karena kematian bayi meskipun kematian terjadi saat kehamilan. Bidan harus memahami psikologis ibu dan ayah untuk membantu mereka melalui pasca berduka dengan cara yang sehat. Berduka adalah respon psikologis terhadap kehilangan. Proses berduka terdiri dari tahap atau fase identifikasi respon tersebut. Tugas berduka, istilah ini diciptakan oleh Lidermann, menunjukkan tugas bergerak melalui tahap proses berduka dalam menentukan hubungan baru yang signifikan. Berduka adalah proses normal, dan tugas berduka penting agar berduka tetap normal. Kegagalan untuk melakukan tugas berduka, biasanya disebabkan keinginan untuk menghindari nyeri yang sangat berat dan stress serta ekspresi yang penuh emosi. Seringkali menyebabkan reaksi berduka abnormal atau patologis.

12

Tahap-tahap berduka: 1. Syok 2. Berduka 3. Resolusi

1. Syok Merupakan respon awal individu terhadap kehilangan. Manifestasi perilaku dan perasaan meliputi: penyangkalan, ketidakpercayaan, putus asa, ketakutan, ansietas, rasa bersalah, kekosongan, kesendirian, kesepian, isolasi, mati rasa, intoversi (memikirkan dirinya sendiri) tidak rasional, bermusuhan, kebencian, kegetiran, kewaspadaan akut, kurang inisiatif, tindakan mekanis, mengasingkan diri, berkhianat, frustasi, memberontak dan kurang konsentrasi. Manifestasi klinis: y y y y y y Gel distress somatik yang berlangsung selama 20-60 menit Menghela nafas panjang Penurunan berat badan Anoreksia, tidur tidak tenang, keletihan, dan gelisah Penampilan kurus dan tampak lesu Rasa penuh di tenggorokan, tersedak, nafas pendek, nyeri dada, gemetaran internal y Kelemahan umum dan kelemahan tertentu pada tungkai

2. Berduka Ada penderitaan, fase realitas. Penerimaan terhadap fakta kehilangan dan upaya terhadap realitas yang harus ia lakukan terjadi selama periode ini. Contohnya orang yang berduka menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa ada orang yang disayangi atau menerima fakta adanya pembuatan penyesuaian yang diperlukan dalam kehidupan dan membuat perencanaan karena adanya deformitas.
13

Nyeri karena kehilangan dirasakan secara menyeluruh dalam realitas yang memanjang dan dalam ingatan setiap hari, setiap saat dan peristiwa yang mengingatkan. Ekspresi emosi yang penuh penting untuk resolusi yang sehat. Menangis adalah salah satu bentuk pelepasan yang umum. Selain masa ini, kehidupan orang yang berduka terus berlanjut. Saat individu terus, melanjutkan tugas berduka. Dominasi kehilangna secara bertahap menjadi ansietas terhadap masa depan 3. Resolusi Fase menentukan hubungan baru yang bermakna. Selama periode ini seseorang yang berduka menerima kehilangan, penyesuaian telah komplet dan individu kembali pada fungsinya secara penuh. Kemajuan ini berasal dari penanaman kembali emosi seseorang pada hubungan lain yang bermakna. Manifestasi perilaku reaksi berduka abnormal atau patologis meliputi: y y Menghindari dan distorsi pernyataan emosi berduka normal Depresi agitasi, kondisi psikosomatik, mengalami gejala penyakit menular atau terakhir yang diderita orang yang meninggal y y Aktivitas yang merusak keberadaan sosial ekonomi individu Mengalami kehilangan pola interaksi sosial

Tanggung jawab utama bidan dalam peristiwa kehilangan adalah membagi informasi tersebut dengan orang tua. Bidan juga harus mendorong dan menciptakan lingkungan yang aman untuk pengungkapan emosi berduka. Jika kehilangan terjadi pada awal kehamilan. Bidan dapat dipanggil untuk berpartisipasi dalam perawatan.

14

Kemurungan Masa Nifas Kemurungan masa nifas disebabkan perubahan dalam tubuh selama kehamilan, persalinan dan nifas. Kemurungan dalam masa nifas merupakan hal yang umum, perasaan-perasaan demikian akan hilang dalam dua minggu setelah melahirkan. Tanda-tanda dan gejala

kemurungan masa nifas antara lain: emosional, cemas, sedih, khawatir, mudah tersinggung, cemas, hilang semangat, mudah marah, sedih tanpa sebab, sering menangis. Kemurungan dapat menjadi semakin parah akibat ketidaknyamanan jasmani, rasa letih, stress, maupun kecemasan. Terciptanya Ikatan Ibu Dan Bayi Menciptakan ikatan ibu dan bayi dilakukan segera setelah kelahiran dengan cara memotivasi pasangan orang tua untuk memegang dan menyentuh bayinya, memberi komentar positif, meletakkan bayi di samping ibunya. II. RESPONS IBU DAN AYAH TERHADAP BAYI 2.1 Bounding Attachment (7)

Pengertian Bounding Attachment Menurut Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.

15

Menurut Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab. Menurut Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu. Elemen-Elemen Bounding Attachment  Sentuhan Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.  Kontak mata Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).  Suara Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.  Aroma Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).  Entrainment Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa

mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif

16

kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.  Bioritme Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.  Kontak dini Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tuaanak.

Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :     Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat. Reflek menghisap dilakukan dini. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai. Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal). Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment    Dilakukan segera (menit pertama jam pertama). Sentuhan orang tua pertama kali. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.     Kesehatan emosional orang tua. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan. Persiapan PNC sebelumnya. Adaptasi.

17

Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.

Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.

   

Fasilitas untuk kontak lebih lama. Penekanan pada hal-hal positif. Perawat maternitas khusus (bidan). Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.

Informasi bertahap mengenai bounding attachment.

Keuntungan Bounding Attachment  Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.  Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.

Hambatan Bounding Attachment     Kurangnya support sistem. Ibu dengan resiko (ibu sakit). Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik). Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.

2.2 Respon Ayah Dan Keluarga Terhadap Bayi Baru Lahir Respons setiap ibu dan ayah terhadap bayinya dan terhadap pengalaman dalam membesarkan anak berbeda-beda dan mencakup seluruh spectrum reaksi dan emosi, mulai dari tingginya kesenangan yang tidak berbatas hingga dalamnya keputusasaan dan duka. Situasi yang bahagia didapatkan apabila kelahiran tersebut diinginkan dan diharapkan sebaliknya bila kelahiran tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan harapan maka respon mereka menjadi tidak bahagia dan kecewa.(10)

18

Bidan yang masuk dalam situasi menyenangkan akan menemukan harapan atau kebahagiaan atau setidaknya kepuasan. Jika respons tersebut tidak menyenangkan, bidan perlu memahami apa yang sedang terjadi dan memfasilitasi proses pemberian respons yang sehat untuk kesejahteraan setiap orang tua, bayi, dan keluarga. Hal tersebut membantu mengingat beberapa pemikiran dasar: 1. Perlekatan tidak dimulai pada saat lahir. Ibu merawat bayinya sepanjang kehamilan. Ibu dan ayah memfantasikan tentang bayinya selama kehamilan (dan seringkali sebelumnya). 2. Kelahiran adalah momentum dalam kontinum ikatan ibu dengan bayinya. 3. Hubungan antara ibu dan bayi bersifat simbiosis masing-masing saling membutuhkan. Peran ayah saat ini(3) Tema umum pada sebagian besar model perkembangan bayi adalah kurangnya perhatian mengenai peran para ayah (Biller, 1993; Marsiglio, 1995). Bukti yang tak dapat dihindari adalah bahwa faktor-faktor yang membuat para ibu menjadi penting bagi anak-anak mereka juga merupakan faktor-faktor yang membuat para ayah menjadi penting (Lamb dan Lamb, 1976) Penenlitian tentang peran pria tetap kurang berkembang dan berakar dalam nilai-nilai budaya dan stereotype, yang mempertahankan pria untuk tetap berada dalam peran mencari nafkah (Hawkins, et al. 1995) Nama calon ibu adalah ibu hamil namun tidak ada nama yang sesuai diberikan untuk seorang calon ayah. Calon ayah digambarkan sebagai seseorang yang menunjukkan perhatian pada kesejahteraan emosional, serta fisik janin dan ibunya. Ia tidak hanya mempunyai tanggung jawab sebagai orang tua terhadap anak, tetapi jika ini merupakan pertama kalinya ia menjadi ayah, pria juga menjalani sebuah transisi peran.

19

Transisi menjadi orang tua merupakan hal yang menimbulkan stres dan pria membutuhkan banyak dukungan sebagai mana wanita. Transisi di gambarkan sebangai suatu periode krisis identitas yang melibatkan terjadinya serangkaian perubahan kehilangan dan ansietas yang

berhubungan dengan dunia esternal dan internal seseorang. Bagian-bagian sebelumnya menyebutkan ketidaksetaraan gender dan berfokus pada kaum wanita dalam menjadi orang tua. Harus diingatkan bahwa seperti yang dikatakan Raphael-Leff (1991) pria mempunyai kebutuhan pribadi yang unik selama dan sesudah masa transisi mengenai penampilannya dalam menjadi orang tua. Menurut Barbour (1990) para ayah harus membuat kemajuan yang sungguh-sungguh dalam memperkuat posisi mereka pada saat kelahiran, para ayah kini perlu membuat kemajuan tersebut di periode antenatal dan pascanatal jika keluarga yang baru akan diperkuat secara sukses.

Perilaku orang tua yang mempengaruhi adanya ikatan kasih sayang : a. Perilaku menfasilitasi, meliputi : y y y y y y y y y y y Menatap, mencari ciri khas anak Kontak mata Memberikan perhatian Mengganggap anak sebagai individu yang unik Menganggap anak sebagai anggota keluarga memberikan senyuman Berbicara/bernyayi Menunjukkan kebanggaan pada anak Mengajak anak pada acara keluarga Memahami prilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak Bereaksi positif terhadap prilaku anak.

20

b. Perilaku penghambat y Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya,

menghindar, menolak untuk menyentuh anak. y Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak. y y y y Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai. Tidak menggenggam jarinya. Terburu-buru dalam menyusui. Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya. Faktor Yang Mempengaruhi Respons Orangtua(8) Cara orangtua berspons terhadap kelahiran anaknya dipengaruhi berbagai faktor, meliputi usia, jaringan, social, budaya, keadaan sosioekonomi, dan aspirasi pribadi tentang masa depan. y Usia Maternal Lebih dari 35 Tahun Usia ibu sangat mempengaruhi hasil akhir kehamilan. Ibu dan bayi umumnya dianggap beresiko tinggi jika ibu berusia remaja atau berusia lebih dari 35 tahun. Kehamilan pada masa remaja merupakan masalah yang penting di Amerika Utara. Masalah dan kekhawatiran yang terkait dengan kelompok ibu berusia lebih dari 35 tahun semakin banyak muncul pada decade terakhir ini. Penelitian menunjukan beberapa faktor tertentu yang mempengaruhi respons orangtua pada kelompok yang lebih tua ini. Keletihan dan kebutuhan untuk lebih bnayak istirahat tampaknya telah menjadi maslaha utama pada orangtua yang sudah berusia ini (Queenam, 1987; Winslow, 1987). Tindakan yang bertujuan membantu ibu memperoleh kembali kekuatan dan tonus otot (misalnya, latihan senam prenatal dan pascapartum) sangat dianjurkan. Beberapa ibu yang telah berusia merasa bahwa
21

merawat bayi baru lahir melelahkan secara fisik. (Scott, Meredith, Angwin, 1986). y Jaringan sosial Primipara dan multipara memiliki kebutuhan yang berbeda. Multipara akan lebih realistis dalam mengantisipasi keterbatasan fisiknya dan dapat lebih mudah beradaptasi terhadap peran dan interaksi sosialnya. Primipara mungkin memerlukan dukungan yang lebih besar dan tindak lanjut yang mencakup rujukan ke badan bantuan dalam masyarakat. Keluarga dan teman-teman orangtua dan anak baru lahir ini membentuk dimensi penting dalam jaringan social orangtua, yang sebagian besar mungkin tergantung pada keadaan budaya. Jaringan social member suatu system dukungan, di mana orangtua dapat meminta bantuan (Crawford, 1985; Cronenwett, 1985a, b). Hubungan cinta dan emosi yang positif tampaknya sangat penting untuk memperkaya kemampuan menjadi orangtua dan mengasuh anak (Gottlieb, 1980; Schornkoff, 1984). Jaringan social meningkatkan potensi pertumbuhan anak dan mencegah kekeliruan dalam

memperlakukan anak. Pada beberapa kelompok budaya, suatu jaringan kekerabatan yang luas dapat menjadi unsur pendukung yang penting. y Budaya Kepercayaan dan praktik budaya menjadi determinan penting dalam perilaku orangtua. Kedua hal tersebut mempengaruhi interaksi orang tua dengan bayi, demikian juga dengan orangtua atau keluarga yang mengasuh bayi.

Kondisi Sosioekonomi Keluarga yang mampu membayar pengeluaran tambahan dengan hadirnya bayi baru ini mungkin hampir tidak merasakan beban keuangan. Keluarga yang menemukan kelahiran seorang bayi suatu beban financial dapat mengalami peningkatan stress. Stress ini bisa

22

mengganngu perilaku orangtua sehingga membuat masa transisi untuk memasuki masa menjadi orangtua menjadi lebih sulit.

Aspirasi Personal Bagi beberapa wanita, menjadi orangtua mengganggu kebebasan pribadi atau kemajuan karier mereka. Apabila rasa kecewa ini tidak terselesaikan, hal ini akan berdampak pada cara mereka merawat dan mengasuh bayinya dan bahkan mereka bisa menelantarkan bayinya. Atau sebaliknya, hal tersebut bisa membuat mereka menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan atau menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap diri mereka dalam memberi perawatan dan juga pada kemampuan perkembangan bayi mereka.(Shainess, 1970).

2.3 Sibling Rivalry(1,7)

Pengertian Sibling Rivalry Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil)anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antarasaudara

kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu

23

kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih. Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih. Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship. Penyebab Sibling Rivalry Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain: 1. Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka. 2. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka. 3. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggotakeluarga baru/ bayi. 4. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat

mempengaruhi proseskedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain. 5. Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran. 6. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka. 7. Dinamika keluarga dalam memainkan peran. 8. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang

berlebihan dalam keluargaadalah normal.

24

9. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga. 10. Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya. 11. Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya. 12. Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.

Segi Positif Sibling Rivalry Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain: 1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting. 2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi. 3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif. Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator. Mengatasi Sibling Rivalry Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anakdapat bergaul dengan baik, antara lain: 1. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain. 2. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri. 3. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda. 4. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain. 5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi. 6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.

25

7. Bersikap

adil

sangat

penting,

tetapi

disesuaikan

dengan

kebutuhan anak. Sehingga adil bagianak satu dengan yang lain berbeda. 8. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang. 9. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan

kebebasan mereka sendiri. 10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasanfisik. 11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anakanak, bukan untukanak-anak. 12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak

menyalahkan satu sama lain. 13. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak. 14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh adalah yang baik

dari perilaku orang

tua sehari-hari

cara pendidikan anak-

anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus. Peran Bidan Peran bidan dalam mengatasi sibling rivalry, antara lain: 1. Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pascakelahiran. 2. Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 87-96). 2. Irhami. 2010.Proses Adaptasi Psikologis Ibu Masa. (online). (Nifas.zikramyblog.blogspot.com.htm, diakses 25 februari 2012) 3. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 63-69). 4. Lusa. 2010. Adaptasi Psikologis Ibu Nifas. (online). diakses

(http://www.lusa.web.id/adaptasi-psikologis-ibu-masa-nifas.htm, 25 Februari 2012) 5. Web Pustaka. 2010. Adaptasi Psikologis Ibu Nifas.

(online).

(http://webpustaka.com/berita/proses-adaptasi-psikologis-ibu-masanifas.htm, diakses 25 februari 2012) 6. Lusa. 2010. Kesedihan dan Duka Cita. (online).

(http://www.lusa.web.id/kesedihan-dan-duka-cita.htm, diakses 25 februari 2012) 7. Lusa. 2010. Sibling Rivalry. (online). (http://www.lusa.web.id/siblingrivalry.htm, diakses 25 februari 2012) 8. Bobak, Lowdermilk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta: EGC 9. Dr.cantik. 2011. Depresi Postpartum. (online).

(http://www.artikelkedokteran.com/776/depresi-postpartum.html, diakses 25 Februari 2012) 10. Varney, Helen, et.al. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC