Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Globalisasi Bus Rapid Transit System Terhadap Moda Transportasi Tradisional (Sistem Trans Jogja dan Eksistensi

Andong) disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Globalisasi Dosen Pengampu: Prof. Dr. Mochtar Masoed, MA Drs. Muhadi Sugiono, MA

Disusun oleh : Bayu Prajanto (08/265216/SP/22661) JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

Abstract : globalization has led to a wide impact in human life. Conscious or not, the effects of globalization have affected the every aspect of our lives, including in transport. along with the development of transport resulted in a change from the side of the cultural aspects of society. Nowadays, people prefer to use mass transit which proved to be more rapid, convenient and cheap. Beginning in 2008, the Yogyakarta provincial government introduced a system of mass transportation which today we call Trans Jogja. The implementation of this policy is a form of solution to the problems facing an increasingly complex mass transportation. The author tries to analyze the existence of traditional transportation, Andong, in the middle of cultural change society in choosing means of transportation. Keyword : globalization, culture, mass transportation systems, traditional transport, Trans Jogja, Andong

Sesuai dengan agenda kelas mata kuliah Globalisasi terdapat tugas kelompok dimana dalam tiap kelompok dibagi berdasarkan beberapa bidang. Kelompok kami tergabung dalam tema globalisasi di terminal. Didalam tugas kelompok tersebut, kelompok kami telah mengadakan pengamatan mengenai efek globalisasi dengan fokus utamanya adalah Bus Rapid Transit System (BRT) Trans Jogja. Kami menggunakan pengaruh globalisasi dengan melihatnya dari aspek kultural. Selanjutnya, kami mencoba menelitinya lebih dalam dengan studi kasus Bus Rapid Transit System Trans Jogja dan eksistensi andong. Aspek keberadaan globalisasi dapat kita temui dari konsep awal dari adanya sistem transportasi yang diterapakan dalam Trans Jogja. Sistem transportasi Trans Jogja diadopsi dari Konsep BRT yang sebelumnya telah diterapakan di banyak negara seperti Amerika Serikat, Kolombia, Brazil, Jerman dan lain sebagainya. Sebelum diadopsi oleh pemerintah provinsi DI Yogyakarta, konsep ini terlebih dulu dijalankan oleh Pemerintahan DKI Jakarta dengan kebijakan tansportasi massal Transjakarta. Bus Transjakarta memulai operasinya pada 15 Januari 2004 dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta.1 Untuk mencapai hal tersebut, bus ini diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain Transjakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat, maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah. Transjakarta atau umum disebut Busway adalah sebuah sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit yang pertama diterapakan di Indonesia. Sistem transportasi ini diadopsi berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Bogota hingga tahun 2000, misalnya, adalah kota tanpa karakter, semrawut, macet dan polutif. Namun, enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2006, Bogota berubah menjadi kota yang humanis. Kota ini kemudian berhasil dengan program angkutan umum massal memadai, murah, dan manusiawi menembus hingga ke permukiman di pinggiran kota.2 Dinamisasi pembangunan di Bogota mulai terasa saat Wali Kota Bogota dijabat Enrique Penalosa pada tahun 1998-2000. Penalosa mempunyai kemauan politik untuk menata
1

Diakses dari http://www.transjakarta.co.id/page.php#tab-2 pada tanggal 13 Juni 2011

Echeverey, Juan Carlos. THE ECONOMICS OF TRANSMILENIO, A MASS TRANSIT SYSTEM FOR BOGOT. Agosto De 2004. Hal 14

transportasi massal sebagai bagian dari strategi pembangunan kota, dan bukan program yang parsial. Penalosa juga mewajibkan semua bangunan di tepi jalan raya mundur tiga meter atau lebih demi pelebaran jalan. Hasilnya, hingga kini lebih dari 300.000 meter persegi ruang publik berhasil ditata (recuperate), dan dibangun untuk trotoar, jalur pedestrian, ruang terbuka hijau, dan lorong, serta jalur tambahan jalan utama. Penalosa merevitalisasi angkutan umum dalam wujud BRT TransMilenio berkelanjutan, dan menjadikannya tulang punggung kemajuan kota.3 Meskipun Busway di Jakarta meniru negara lain (Kolombia, Jepang, Australia), namun Jakarta memiliki jalur yang terpanjang dan terbanyak.4 Sehingga kalau dulu orang selalu melihat ke Bogota, sekarang Jakarta sebagai contoh yang perlu dipelajari masalah dan cara penanggulangannya. Meskipun belum sepenuhnya bisa dikatakan berhasil menanggulangi kemacetan, akan tetapi keberadaan Transjakarta lambat laun mulai menjadi pilihan utama bagi penduduk Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan jumlah tingkat penumpang yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Terakhir pada tahun 2010, jumlah penumpang Transjakarta mengalami peningkatan dari 83,2 juta penumpang pada 2009 menjadi 86,9 juta penumpang di tahun 2010.5 Prospek keberadaan sistem transportasi Transjakarta kemudian menarik minat dari pemerintah provinsi DIY untuk kemudian menerapkan kebijakan serupa. Tuntutan kemajuan jaman serta kondisi lapangan yang hampir sama, dimana kita ketahui bahwa Yogyakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia menjadi alasan utama untuk menyediakan sistem transportasi massal serupa. Keberadaan Trans Jogja merupakan salah satu program solutif yang dari pemerintah Provinsi Yogyakarta dalam menanggulangi permasalahan transportasi dengan berupaya menyediakan sarana transportasi massal yang murah, aman, serta nyaman bagi masyarakat. Pengoperasian moda transportasi massal yang berupa bus dengan kapasitas 20 40 orang tersebut, diharapkan mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang akhirnya juga akan mengurangi berbagai dampak negatif yang timbul akibatnya. Kebijakan pengoperasian sistem transportasi publik Trans Jogja dimulai pada Februari 2008, kini program tersebut telah berjalan lebih dua tahun, dalam mendukung kegiatan
3

Ardila, Arturo. How Public Transportations Past Is Haunting Its Future in Bogot, Colombia. Hal 9, pdf. 4 Pascal Bin Saju. Bus Transjakarta Versus TransMilenio. Senin 20 Oktober 2008. http://nasional.kompas.com/read/2008/10/20/01201991/bus.transjakarta.versus.transmilenio 5 Diakses dari http://bataviase.co.id/node/630841 pada 13 Juni 2011.

operasionalnya, Trans Jogja dilengkapi dengan beberapa Bus yang mampu menampun 20 40 orang, dengan kapasitas tempat duduk 20 buah dan (free space) atau sebagian ruang tanpa tempat duduk mampu menampung 20 orang lagi, selain itu operasional Trans Jogja di lengkapi dengan 75 buah shalter dengan 67 shelter berfungsi sebagai shalter umum, dan 8 shelter lainnya berfungsi sebagai shelter pos, dengan lokasi masing-masing shelter tersebar di beberapa wilayah, untuk pembagian daerah operasional Trans Jogja sendiri di bagi menjadi 6 trayek, terdiri dari trayek 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, dan 3B.6 Operasional Trans Jogja dimulai pada pukul 06.00 dan berakhir hingga pukul 22.00 setiap harinya, dalam usahanya melayani penumpang manajemen Trans Jogja menempatkan masing-masing dua orang petugas di sebuah shalter dan dua orang petugas di dalam bus sebagai supir dan juga petugas yang memandu naik dan turunnya penumpang, waktu tunggu bus dengan trayek yang sama adalah selama maksimal 15 menit, misalnya bus 1A melintas di shelter X maka untuk menunggu kedatangan bus 1A kembali dibuthkan waktu 15 menit, sedangkan biaya yang harus di keluarkan oleh penumpang untuk menggunakan fasilitas Trans Jogja adalah sebesar Rp.3000,- untuk satu kali perjalanan dari shelter asal hingga shelter tujuan, manajemen Trans Jogja juga memberikan fasilitas kartu elektronik langganan. Mengenai sistem pengelolaan, armada transportasi Trans Jogja berada di bawah kewenangan Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam menjalankan program ini Dinas Perhubungan Provinsi DIY bekerja sama dengan PT Jogja Tugu Trans. Bentuk kerjasama yang terjalin antara keduannya adalah Dinas Perhubungan dalam hal ini sebagai pengelola utama yang bertugas mengatur sistem dan menyediakan fasilitas shelter bus beserta isinya, sedangkan PT. Jogja Tugu Trans menyediakan fasilitas kendaraannya dan mengelola SDM yang menjadi petugas baik di bus maupun di dalam shelter. Trans Jogja sebagai transportasi publik yang kini telah berjalan lebih dari dua tahun, sedikit demi sedikit telah memberikan perubahan, walaupun perubahan yang ada tidak sesignifikan yang diharapkan, dalam artian pemanfaatan Trans Jogja sebagai sarana transportasi umum belum terlalu optimal, terdapat banyak faktor yang menyebabkan kurang efektifnya penggunaan Trans Jogja oleh masyarakat dalam memfasilitasi pergerakan mereka. Faktor ini murni merupakan faktor yang berasal dari sistem operasional Trans Jogja, beberapa faktor yang

Diakses dari http://transjogja.com/rute/ pada 13 Juni 2011.

menyebabkan kurang maksimalnya peran Trans Jogja sebagai moda transportasi publik antara lain adalah :
-

Lokasi Halte, selama ini yang menjadi keluhan beberapa masyarakat sekaligus menjadi penyebab kurangnya minat untuk menggunakan Trans Jogja adalah lokasi halte yang cukup jauh dari dari asal calon penumpang, karena maksimal waktu perjalanan yang biasa di tempuh orang dengan berjalan kaki adalah 15 menit, bila jarak tempuh sudah melebihi iitu masyarakat lebih memilih untuk tidak melakukan perjalanan.

Inefisiensi Waktu, karena jalur yang digunakan oleh Trans Jogja adalah jalur reguler yang juga digunakan oleh kendaraan dan pemakai jalan lainnya, menyebabkan biasanya bus mengalami keterlambatan, waktu yang dialokasikan untuk menunggu bus dan perjalanan cukup lama bila dibandingkan menggunakan transportasi pribadi

Kenyamanan, fasilitas yang menghadirkan kenyamanan bagi penumpang ketika menunggu dirasa sangat kurang, ditambah dengan kapasitas halte yang kecil juga menjadi faktor kurangnya minat masyarakat menggunakan Trans Jogja

Berorientasi Tujuan, faktor ini hampir mirip dengan faktor a perbedaannya ada pada perspektif penentuan lokasi shelter yang selama ini koridor atau shelter yang ada lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada asal, sehingga menyebabkan terkadang jam-jam puncak lalu lintas terutama di pagi hari atau saat orang sedang bergerak dari lokasi asal menuju tempat beraktivitas masing-masing, masih sangat terasa padatnya. Implementasi kebijakan pengoperasionalan Trans Jogja ternyata tentu saja memiliki

dampak terhadap kondisi sosial ekonomi lainnya di lapangan. Saat ini, seiring dengan semakin majunya berbagai angkutan transportasi, lambat laun moda transportasi tradisional yang dahulu dijadikan sebagai pilihan utama mulai terpinggirkan. Masyarakat lebih memilih menggunakan sarana transportasi yang lebih cepat, murah dan nyaman. Konsep transportasi massal yang telah terbukti membawa perubahan pada tingkatan global dalam implementasinya dapat kita langsung di sekitar kita. Dalam tema yang kami usung, yaitu Pengaruh Globalisasi Bus Rapid Transit System Terhadap Moda Transportasi Tradisional dimana kami mengambil studi kasus pengaruh Trans Jogja terhadap eksistensi Andong. Dalam sejarahnya, andong merupakan alat transportasi massal yang dahulu menjadi pilihan utama masyarakat di kala berpergian. Sejarah andong dimulai dari berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dimana para Raja-raja Mataram atau Yogyakarta dulu

mempergunakan alat tranportasi ini sebagai Kendaraan. Karena bentuknya yang sangat Unik dan mempunyai nilai arsitektur yang tinggi serta terlihat wibawa, maka rakyat Mataram atau Yogyakarta pada Zaman dulu menciptakan andong sebagai alat transportasinya. Kalau untuk kalangan Raja-raja di Yogyakarta disebut dengan Kereta Kencana, sedangkan untuk Rakyat dengan sebutan andong. Di awal abad 19 hingga awal abad 20, andong ini menjadi salah satu penanda status sosial para priyayi keraton, yang dimulai ketika Mataram dipimpin oleh Sultan HB VII. Ketika itu rakyat jelata tidak diperbolehkan menggunakan andong. Tetapi ketika masa Sultan HB VIII, andong mulai digunakan oleh masyarakat umum, meskipun masih terbatas pada para pedagang saja. Biasanya, keberadaan andong difungsikan sebagai alat transportasi pengangkut barang-barang dagangan ibu-ibu dari pedesaan menuju pasar-pasar tujuan. Selain berfungsi sebagai media pengangkut barang dagangan pasar, andong juga tidak jarang berfungsi sesuai dengan aslinya sebagai alat transportasi umum bagi masyarakat. Kepopuleran andong biasanya akan muncul pada event-event tertetu seperti saat musim lebaran, musim kampanye pemilihan umum (termasuk pilpres, pilkada, dan pilgub), serta eventevent perayaan tertentu. Misalnya jika saat musim liburan tiba, siswa-siswa Taman Kanak-kanak dan sekolah-sekolah dasar sering memanfaatkan Andong sebagai media transportasi wisata sekaligus pengenalan kepada para siswa tentang alat tradisional khas Jawa ini. Saat pemilu, pilihan berkampanye dengan andong kerap menjadi alternatif kampanye simpatik dan tidak bising serta ramah lingkungan. Dalam event-event perayaan tertentu mulai peryaan hari besar nasional, ulang tahun kota, atau pembukaan festival-festival berkelas internasional. Lantas, bagaimanakah eksistensi andong saat ini ditengah-tengah modernisasi transportasi di Kota Yogyakarta ? Untuk mendapatkan jawabannya kami mengadakan wawancara langsung dengan seorang kusir andong bernama bapak Murtopo yang kesehariannya mencari nafkah dengan andongnya di kawasan wisata Malioboro. Beliau mulai menekuni pekerjaan ini sejak tahun 1978 hingga sampai saat ini. Beliau menceritakan kepada kami mengenai fungsi utama andong yang saat ini telah mengalami perubahan. Dahulu, andong menjadi pilihan utama masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya (Bantul, Sleman, Kulon Progo) untuk berpergian jarak jauh. Biasanya kebanyakan mereka memanfaatkan andong untuk pergi menuju kota dalam menjalankan pekerjaan keseharian mereka. Ada kalanya, penumpang andong ini ramai disaat musim mudik atau pulang kampung. Masyarakat yang merantau ke kota-kota

besar dari kawasan Jakarta pulang menuju kampung halamannya menggunakan Kereta Api, selanjutnya dari stasiun Kereta Api mereka menggunakan andong untuk melanjutkan perjalanannya ke kampung halaman masing-masing. Kebiasaan ini lantas berubah seiring dengan laju perkembangan jaman. Masyarakat mulai beraling menggunakan kendaraan bermotor sebagai pilihan utama. Keberadaan andong tidak lagi utama, dan hanya sebagian kecil saja yang masih setia memanfaatkannya. Untuk saat ini, andong masih dimanfaatkan oleh para pedagang-pedagang pasar yang berasal dari pinggiran kota Yogyakarta. Mereka membawa barang dagangan mereka menuju ke pasar-pasar yang letaknya berada di pusat kota. Di beberapa daerah pinggiran kota, andong juga masih digunakan oleh anak-anak usia sekolah dasar sebagai anggkutan untuk menuju sekolah mereka. Mengenai keberadaan Trans Jogja saat ini, menurut beliau bukanlah sebuah ancaman bagi keberadaan andong. Memang telah terbukti, bahwa saat ini masyarakat umum lebih memilih transportasi massal yang memanfaatkan tenaga mesin, akan tetapi, hingga saat ini andong tetap memiliki tempat. Saat ini, sebagian besar masyarakat Yogyakarta akan lebih condong memilih Trans Jogja apabila pergi dengan tujuan yang jauh, menuju Prambanan misalnya. Alasan utama mereka lebih memilihnya adalah karena lebih cepat, aman, nyaman dan murah. Sedangkan untuk berkeliling kota ataupun hanya ingin bernostalgia, makan andong menjadi pilihan utama. Pengguna andong pun juga tidak akan kehabisan peminat. Keidentikannya dengan kota Yogyakarta menjadikan andong sebagai instrument wajib yang harus dicoba ketika berkunjung ke kota ini, terutama bagi wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Dari kasus ini, kita dapat mengetahui bahwa aspek globalisasi semakin luas menyebar di seluruh pelosok negara. Keberadaan sistem Trans Jogja di kota Yogyakarta merupakan sebuah bukti nyata bahwa batas negara sudah semakin hilang. Dilatar belakangi dengan semakin majunya sarana transportasi, tingginya kepadatan penduduk yang kemudian berujung pada semakin kompleksnya permasalahan lalu lintas, dunia membutuhkan sebuah sistem transportasi yang baru. Aspek kenyamanan, keamanan, efisien dan ramah lingkungan menjadi konsep utama transportasi massal modern. Konsep ini kemudian tertuang dalam sistem BRT dan mampu dikembangkan di beberapa negara. Semakin majunya sarana dan sistem transportasi ini yang berbanding lurus dengan kemajuan informasi ini kemudian sistem BRT mengglobal. Konsep ini pada akhirnya sampai ke Indonesia dan diadopsi oleh pemda DKI dan selanjutnya oleh pemkot Yogyakarta.

Dalam proses pengadopsian sistem BRT ini, sejak 15 tahun lalu pemda DKI Jakarta beserta segenap elemen pemerintahan di bawah kepemimpinan Sutiyoso melakukan studi banding langsung ke kota Bogota, Kolombia.7 Globalisasi juga membuktikan bahwa jalinan kerja sama tidak hanya terbatas lagi pada pemerintahan antar negara. Dinamika hubungan internasional saat ini dalam perkembangannya juga memungkinkan bagi pemerintah daerah untuk melakukan kerjasama langsung dengan pemerintahan daerah di negara lain. Meskipun dalam bentuk pengadopsian konsep BRT dari pemerintah di Bogota oleh pemda DKI Jakarta, hal ini sudah cukup menjadi contoh nyata terjadinya perubahan dalam kerja sama internasional. Dari kasus ini pula kita juga dapat mengetahui bahwa globalisasi menyebabkan terjadinya perubahan budaya bagi masyarakat. Keberadaan andong saat ini telah mengalami pergeseran fungsi utama, dimana sebelumnya menjadi alat transportasi massal untuk kegiatan sehari-hari menjadi sebuah wahana di kawasan wisata di kota Yogyakarta. Globalisasi menuntut adanya perbaruan sistem transportasi, semua serba cepat, murah, nyaman dan praktis.

Diakses dari http://www.jakarta.go.id/jakv1/item/halaman/0/0/2680/nid/2679/5/71 pada 13 Juni 2011