Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Dalam keluarga orang tua sangatlah di cintai dan di banggakan oleh anak, begitu juga sebaliknya anak merupakan buah hati yang sangat berharga, harus dijaga dan dilindungi, sehingga saat anak sakit sangat di khawatirkan sehingga menimbulkan reaksi emosi serta terjadi ekpresi tingkah laku yang tidak biasa. Orang tua, khususnya ibu adalah faktor yang sangat penting dalam mewariskan status kesehatan kepada anak-anak mereka. Rendahnya kesehatan orang tua, terutama ibu dan anak bukan hanya karena sosial ekonomi yang rendah, tapi sering disebabkan karena orang tua atau ibu yang tidak mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatannya dan kesehatan anaknya atau tidak tahu makanan yang bergizi yang harus dimakan (Notoatmodjo, 2007). Tubuh manusia mempunyai alat dan cara untuk mengatasi penyakit sampai batas kemampuan tubuh itu sendiri. Dalam peristiwa sehari hari sering kita saksikan seorang anak yang sakit demam, batuk, filek atau luka luka yang sembuh tanpa pengobatan (Markum, 1997). UNICEF telah memainkan peranan yang besar dalam memperingatkan dunia mengenai beban yang sangat berat akibat penyakit dan kematian yang dialami

Universitas Sumatera Utara

oleh anak anak di dunia. Bagaimanapun, dalam beberapa dekade penanganan masalah ini diperkirakan bahwa di seluruh dunia 12 juta anak mati setiap tahunnya akibat penyakit atau malnutrisi dan paling sering gejala awalnya demam (Anderson, 2007). Penyakit yang paling umum diderita bayi dan balita antara lain : demam, infeksi saluran pernapasan dan diare. Tapi yang paling sering membuat orangtua khususnya ibu segera membawa anaknya kedokter adalah demam dan diare (Suyono, 1998). Demam pada anak merupakan hal yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua mulai di praktek dokter sampai ke unit gawat darurat (UGD) anak, meliputi 1030% dari jumlah kunjungan (Kania, 2007). Panas tinggi atau demam dapat terjadi pada semua tingkat umur manusia. Hal ini tidak lepas dari berbagai kemungkinan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh. Panas tinggi atau demam pada dasarnya memang bukan penyakit tapi gejala suatu penyakit. Yaitu, suatu proses ilmiah yang timbul akibat perlawanan tubuh terhadap masuknya bibit penyakit. Namun demam pada bayi dan anak balita merupakan salah satu kasus yang tidak dapat diabaikan begitu saja (Soedarmo, 2002). Sebagian besar demam berhubungan dengan infeksi yang dapat berupa infeksi lokal atau sistemik. Paling sering demam di sebabkan oleh penyakit infeksi 50% diikuti penyakit vaskular kolagen 15%, neoplasma 7%, inflamasi usus besar 4%, dan penyakit lainnya 12% (Soedarmo, 2002). Demam pada bayi dan anak sering menimbulkan fobia tersendiri bagi banyak ibu. Keyakinan untuk menurunkan segera panas ketika anak demam sudah melekat dalam benak ibu. Keinginan untuk menenangkan kegelisahan orang tua inilah yang terkadang memaksa dokter memberikan obat penurun panas walaupun sebenarnya tidak perlu. Seorang ibu adalah bagian integral dari penyelenggaraan rumah tangga yang dengan kelembutan dan kehalusannya di butuhkan untuk

Universitas Sumatera Utara

merawat dan mengasuh anak secara terampil agar anak tumbuh dengan sehat. Ketika anak mengalami demam, ibu harus mempunyai sikap untuk

menghadapinya. (Harjaningrum, 2004) Desa Ngembat Padas, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen merupakan salah satu desa dengan kejadian demam yang relative tinggi, yaitu 54,93% dari keseluruhan balita (Puskesmas II Gemolong). Desa ini memiliki jumlah penduduk 5241 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki 2532, perempuan 2709, dengan jumlah balita sebesar 415 (7,2%) dan jumlah ibu yang mempunyai anak balita sebesar 392 (6,8%) dari keseluruhan penduduk di Desa Ngembat Padas (Profil Kelurahan Ngembat Padas, 20 Demam ini jika terus meningkat akan menyebabkan terjadi kejang demam atau bahasa awamnya terjadi step pada bayi, oleh karena itu pada saat bayi demam kita perlu melakukan pengukuran suhu tubuh bayi supaya si ibu tahu apa yang harus dilakukan pada saat suhu tubuh bayi meningkat. Angka kejadiannya tidak diketahui, meskipun demikian angka kejadian di Amerika Serikat berkisar antara 0,8 1,2 setiap 1000 bayi per tahun sedangkan kepustakaan lain menyebutkan 15% bayi pada bulan pertama mengalami kejang. Insidensi meningkat pada bayi kurang bulan sebesar 57,5 132 dibanding bayi cukup bulan sebesar 0,7 2,7 setiap 1000 kelahiran hidup. Pada kepustakaan lain menyebutkan insidensi 20% pada bayi kurang bulan dan 1,4% pada bayi cukup bulan, Sekitar 70-80% bayi baru lahir secara klinis tidak tampak kejang, namun secara elektrografi masih mengalami kejang (Kosim,dkk, 2009). Berdasarkan laporan diagnosa Lab/SMF Ilmu Kesehtan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang demam. Pada tahun 1999 di temukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0%). Pada tahun 2000 ditemukan pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0%). Dari data ini menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar 37% akibatnya (Depkes RI).

Universitas Sumatera Utara

Dari penelitian lain, kejadian demam sendiri tidaklah terlalu besar yaitu sekitar 2,4% artinya dari 100 anak dengan demam sekitar 2-4 mengalami kejang, dan kejang demam terjadi pada usia 6 bulan 5 tahun dan terbanyak terjadi pada usia 17 23 bulan (Pusponegoro, 2009).

Jika bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan sel-sel otak kurang menyenang di kemudian hari, terutama adanya cacat fisik , mental atau sosial yang menganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, pada saat bayi demam kita harus sering melakukan pengukuran suhu tubuh bayi, supaya kita tahu peningkatan suhu tubuhnya dan apa yang harus kita lakukan untuk mencegah kejang demam pada bayi tersebut (Depkes RI). Berdasarkan uraian diatas , maka penulis akan mengadakan penelitian mengenai Tingkat Pengetahuan Ibu terhadap Pengukuran Suhu Tubuh Bayi saat Demam di RSU Panyabungan, Kabupaten MADINA. Menurut data yang didapat dari kepala ruangan anak di RSU Panyabungan,

Kabupaten MADINA bayi yang mengalami demam dalam 1 2 bulan terdapat 100 bayi. 1.2 1. Rumusan Masalah Bagaimana tingkat pengetahuan ibu terhadap pengukuran suhu tubuh bayi saat demam di RSU Panyabungan Kabupaten MADINA. 2. Berapa persentase tingkat pengetahuan ibu terhadap pengukuran suhu bayi saat demam di RSU Panyabungan Kabupaten MADINA.

Universitas Sumatera Utara

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum : Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahuai bagaimana tingkat pengetahuan ibu terhadap pengukuran suhu tubuh bayi saat demam di Panyabungan Kabupaten MADINA. 1.3.2. Tujuan Khusus : Tujuan khusus dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu terhadap cara melakukan pengukuran suhu tubuh bayi. 2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu terhadap tempat pengukuran suhu tubuh bayi. 3. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu terhadap akibat meningkatnya suhu tubuh bayi. 4. Untuk mengetahui gambaran karaktristik usia, tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu yang mempunyai bayi di RSU Panyabungan Kabupaten MADINA.

1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk :

Universitas Sumatera Utara