Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kompleks batuan dasar di Kalimantan di bagian barat dan bagian tengah Kalimantan (termasuk pegunungan Schwaner) mewakil singkapan dasar benua terbesar di Indonesia. Batuan dasar adalah batuan di dasar lapisan stratigrafi yang umumnya lebih tua dari batuan di atasnya. Batuan ini biasanya mengalami metamorfosis bila terkena panas. Hasil metamorfosis batuan ini yang khas adalah batu pualam yang berasal dari batu kapur; batu sekis hijau yang berasal dari batuan vulkanik, batu gneis yang berasal dari batu pasir atau granit. Daerah batuan metamorfosis atau batuan dasar adalah jenis kerak benua yang sering dipengaruhi oleh batuan intrusi muda. Kompleks batuan dasar Kalimantan terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari Era Palaezoikum dan Periode Terseir membentuk daerah kristal yang sangat luas. Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempeng Kalimantan mencakup opiolit (kerak samudera) dan melange. Potongan lantai samudera (kerak samudera) terdapat beberapa tempat didaratan Borneo. Potongan-potongan ini dicirikan oleh susunan batuan beku yang padat gelap tipe basa dan ultra basa dengan komponen granit. Endapan batu kersik samudera dan karbonat mungkin juga terdapat deretan batuan ini disebut opiolit. Sebagian pengganti jalur penunjaman, opiolit-opiolit ini terbentuk oleh tubrukan lempeng ketika kerak samudera terperangkap oleh gerakan tektonik lempeng dan tertekan ke pinggir lempeng yang berdekatan dan disini opiolit-opiolit ini tetap terlindungi. Proses pencuatan ini sering disertai oleh rubuh dan retaknya batuan. Kompleks opiolit di P. Laut dan Peg. Meratus terbentuk dengan cara ini.

Batuan melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan ukuran yang berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan yang sangat kuat. Potonganpotongan ini ukurannya dapat sangat kecil (cm) dan dapat juga berukuran besar (ratusan meter atau lebih. Malange sering dikaitkan dengan proses pembentukan jalur penunjaman. Melange merupakan perpaduan antara bahan-bahan yang terkikis dari lempeng samudera yang bergerak turun dengan endapan yang berasal dari massa daratan atau lengkung vulkanik di dekatnya. Seluruh massa ini tergesek dan terpotong karena desakan ke bawah dari lempeng yang bergerak turun. Batuan yang terbentuk dengan cara ini berasosiasi dengan desakan keatas lempeng opiolit yang besar di Pegunungan Meratus. Daerah melange yang luas di bagian tengah borneo, yaitu yang terbentang di perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia, masih belum diketahui dengan baik. Daerah melange ini merupakan zona batuan hancur, sering mengandung potongan-potongan opiolit, tetapi luas dan umur geologinya (akhir mesozoikum sampai periode tersier yang lebih tua) sulit untuk dijelaskan dalam peristilahan lempeng tektonik sederhana (williams dkk, 1989). Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus. Batuan vulkanik dan endapan tersier. Borneo tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapu memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang. Batuan vulkanik terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang

mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk batuan intrusi seperti granodiorit. Ditempat batuan vulkanik tua Kalimantan yang telah terkikis, intrusi yang mengandung cadangan emas, semula di bawah gunung api merupakan bagian penting dari proses utama pembentukan mineral seperti emas. Suatu kawasan yang luas di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua di kalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi. Bagian selatan Borneo terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai Setidaknya di kalimantan terdapat 205 formasi formasi batuan di Kalimantan, terdapat banyak patahan di Kalimantan Timur dan Barat, sedikit di Kalimantan Selatan dan sangat sedikit di Kalimantan Barat. Sebaran patahan yang paling sedikit berada di bagian selatan sampai barat dari pulau kalimantan. 1.2 Lokasi Pengamatan Daerah pengamatan yang akan dibahas berada di 112o 30BT 114o 00BT dan 2o 00LS 3o 00LS. Daerah pengamatan ini disebelah Timur di batasi oleh daerah Amuntai, Tenggara oleh daerah Banjarmasin, Selatan oleh daerah Kuala Pembuang, Barat Daya oleh daerah Tg. Puting, Barat oleh daerah Pangkalanbuun, Barat Laut oleh daerah

Tumbangmanjul, Utara oleh daerah Kuala Kurun, dan Timur Laut oleh daerah Buntok. 1.3 Sumber Data Penulis mendapatkan data untuk menyusun makalah ini dari beberapa sumber literatur, dan Peta Geologi Lembar Palangkaraya, Kalimantan oleh E.S. Nila, E. Rustandi & R. Heryanto

1.4

Metode dan Teknik Metode yang saya gunakan dalam membuat makalah ini adalah dengan menggunakan metode Litelatur dan interpetasi geologi.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Satuan Batuan Daerah Pengamatan

Di dalam peta Geologi Palangkaraya ini terdapat satuan batuan

di

antaranya : Batuan Kuarsit, Batuan Gunung Api, Batuan Granit, Batuan Basal, Batuan Konglomerat dan Batuan Lempung (Formasi Dahor), dan Aluvium. 2.1.1 Batuan Kuarsit Batuan Kuarsit ini berwarna coklat kekuningan, jika teroksidasi berwarna kemerahan. Secara mikroskopik batuan ini memperlihatkan tekstur granoblastik dengan mineral penyusun kuarsa dan orthoklas dan kemas saling mengunci. Dan batuan ini berumur Trias Awal.

2.1.2

Batuan Gunung Api Batuan Gunung Api ini adalah batuan breksi gunung api, berwarna

kelabu kehijauan, sangat kompak, komponen terdiri atas andesit, basal dan rijang, berdimeter 2-3 cm, setempat kaya akan bijih besi dan limonit. Berasosiasi dengan basal berwarna coklat kemerahan, pejal setempat berongga dan tuf berwarna kelabu kemerahan, berupa abu gunung api, berbutir sangat halus, di beberapa tempat mengandung lapili berukuran sampai 5 cm. Dan bataun ini berumur Trias. 2.1.3 Batuan Granit Batuan ini adalah batuan plutonik dengan komposisi granitgranodiorit, berwarna putih berbintik hitam, kasat mata, berhablur penuh, berbutir menegah, hipidiomorf. Mineral penyusunnya terdiri dari othoklas, kuarsa, plagioklas dan hornblend serta sedikit biotit. Beberapa sayatan menunjukkan tekstur pertit, granofir, grafik dan mirmekrit. Dan batuan ini berumur Kapur Akhir. 2.1.4 Batuan Basal Batuan Basal ini berwarna kelabu kehijauan, berhablur penuh berbutir tak sama, halus-sedang, porfiritik dengan massa sulung plagioklas dan piroksen tertanam dalam masa dasar plagioklas dan piroksen. Dibeberapa tempat memperlihatkan struktur diabas dan ada juga berkomposisi andesit piroksen. Gejala ubahan tampak dengan adanya klorit dan mineral lempung. Batuan ini berumur Eosen sampai Oligosen, karena menerobos batuan granit (kapur akhir). 2.1.5 Batuan Konglomerat dan Batuan Lempung (Formasi Dahor) Batuan Konglomerat ini berwarna coklat kehitaman, agak padat, komponen terdiri dari fragmen kuarsit dan basal, berukuran 1 sampai 3 cm, kemas terbuka dengan matriks berukuran pasir. Berselingan dengan

batuan pasir, berwarna kekuningan sampai kelabu, berbutir sedang sampai kasar, setempat berstruktur sedimen silang siur. Batu lempung warna kelabu, agak lunak, karbonan setempat mengandung lignit, tersikap sebagai sisipan dalam batupasir dengan ketebalan 20-60 cm. Dari kedua batuan ini terdapat di formasi dahor yang berumur Miosen tengah sampai Plistosen. 2.1.6 Aluvium Gambut ini berwarna coklat kehitaman (endapan rawa), pasir lepas berwarna kekuningan halus-kasar, tak berlapis (endapan sungai), lempung kelabu kecoklatan, mengandung sisa tumbuhan, sangat lunak (daerah pasang surut), dan lempung kaolinan warna putih kekuningan, bersifat liat, tebal berkisar dari 50-100 m. Dan aluvium ini berumur Holosen.

2.2

Sejarah Geologi Dari penampakan lokali daerah Palangkaraya pada penampang A-B pada

peta penelitian menarik garis penampang dari arah Barat Laut - Tenggara peta dan C-D pada peta penelitian menarik garis penampang dari arah Barat - Tenggara peta. Dari susunan stratigrafi kita dapat mengurutkan susunan batuan dari yang berumur tua sampai yang berumur muda. Sebagai berikut yaitu pertama-tama pengendapan di daerah Palangkaraya ini di mulai pada kala Trias Awal sampai Tengah yaitu Batuan Kuarsit (Batuan malihan) yang terbekukan dengan komposisi material kuarsa dan orthoklas. Batuan ini berada di daerah Barat Laut Palangkaraya dan batuan ini terdapat di penampang A-B, kemudian lapisan tersebut terjadi erosi sehingga terjadi unconformity pada kala Trias Tengah dan diendapkan oleh batuan gunung api.

Pada kala Trias Tengah sampai Akhir diendapkan oleh Batuan Gunung Api dengan komponen batuan andesit, basal, rijang, basal tuf, dan beberapa tempat mengandung batuan lapili. Batuan ini berada di daerah Barat Laut Palangkaraya, kemudian setelah itu terjadi time gap selama kala Jurassic. Pada kala Kapur Akhir terjadi suatu pengangkatan yang disertai penerobosan dari batuan plutonik yaitu Batuan Granit dengan material granit dan granodiorit, dengan komposisi mineral orthoklas, kuarsa, plagioklas dan hornblend serta sedikit biotit dan terendapkan, pada batuan ini juga terjadi rekahan, Batuan ini berada di daerah Tenggara Palangkaraya dan batuan ini terdapat di penampang C-D, kemudian setelah itu terjadi time gap selama kala Paleosen. Pada kala Eosen terjadi pengangkatan berikutnya yang disertai penerobosan dari Batuan Basal dengan komposisi mineral plagioklas dan piroksen. Batuan ini berada di daerah Barat Laut Palangkaraya, kemudian lapisan tersebut terjadi erosi sehingga terjadi unconformity pada kala Miosen Awal sampai Miosen Tengah dan diendapkan oleh Formasi Dahor. Pada kala Miosen Tengah sampai kala Pliosen diendapkan oleh Formasi Dahor dengan material Batuan Konglomerat berselingan dengan batupasir yang di isi dengan material kaursit dan basal, dan material Batuan Lempung yang tersisipkan batupasir Karbonatan, daerah ini mengalami penurunan, batuan ini berada hampir di semua daerah pengamatan Palangkaraya, kemudian setelah itu terjadi time gap selama kala plistosen. Pada kala Holosen diendapkan oleh Aluvium dengan material Gambut (endapan rawa), Pasir lepas (endapan sungai), lempung (daerah pasang surut) dan lempung kaolinan, Aluvium ini berada hampir di semua daerah pengamatan Palangkaraya.

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

3.1

Simpulan Peta Geologi Lembar Palangkaraya dimulai pada kala Trias dengan terbentumya batuan kuarsit dan batuan gunung api. Pada kala Kapur terjadi pengangkatan yang di sertai penerobosan batuan granit, mungkin bagian dari Pegunungan Schwaner. Pengankatan berikutnya diduga terjadi pada kala Eosen atau Oligosen yang disertai penerobosan basal. Sejak kala Trias daerah ini berupa daratan, baru pada kala Miosen Tengah sampai Plio-Plistosen mengalami penurunan, sehingga

terendapkan Formasi Dahor yang kemudian ditutupi oleh endapan aluvial. 3.2 Saran Diharapkan pembaca dapat memberikan masukkan atas

kekurangan dalam pembuatan laporan ini.