Anda di halaman 1dari 33

RENCANA PENGELOLAAN PERIKANAN

RAJUNGAN Portunus pelagicus DALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL KOMODO KABUPATEN MANGGARAI BARAT-PROVINSI NUSATENGGARA TIMUR

Pengelolaan perikanan rajungan yang dilakukan secara dini menjadi suatu solusi untuk menjaga keberlangsungan stok, sehingga pengelolaan tidak dinilai sebagai upaya pemulihan (kuratif), namun lebih dari itu sebagai upaya pencegahan (preventif)

AKBAR MARZUKI TAHYA

PROGRAM PASCASARJANA-UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR-2010

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, suatu bentuk kesyukuran itu adalah ketika kita dapat berbuat sesuatu yang berguna dan bertanggung jawab. Syukur hanya patut kita panjatkan kepada Allah SWT. Dan shalawat serta salam semoga tetap kita curahkan ke atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, beserta Sahabat dan Keluarga. Teladan pengelolaan sebenarnya telah dicontohkan oleh mereka pada waktu lampau, yang mencontohkan bagaimana menjadi khalifah dan berjalan di muka bumi dengan cerdas, arif dan bertanggung jawab. Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan perikanan di Kabupaten Manggarai Barat NTT. Kawasan ini menjadi tempat berkembang biaknya sumberdaya hayati laut sebelum beruaya ke tempat lain. Oleh karena banyaknya komoditi perikanan yang menjadi sumber kekayaan perairan TNK menjadikan kawasan ini sebagai areal penangkapan ikan yang sangat potensial dari nelayan setempat dan luar kawasan seperti; Sape-Bima, Flores Selatan dan Sulawesi. Namun hingga saat ini, masih terbatas pada penangkapan komoditi tertentu dengan keuntungan yang belum optimal. Dengan adanya rencana pengelolaan perikanan rajungan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keragaman hayati perairan TNK sebagai daya tarik wisata.

Akbar Marzuki Tahya

DAFTAR ISI Halaman Sampul KATA PENGANTAR ............................................................................................. i DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii PENDAHULUAN Latar Belakang ......................................................................................... 1 Dasar Hukum Pengelolaan ...................................................................... 2 PROFIL TAMAN NASIONAL KOMODO Gambaran Umum .................................................................................... 6 Pengelolaan Taman Nasional Komodo .................................................... 7 Permasalahan Pemanfaatan Sumberdaya ............................................... 8 PROFIL SUMBERDAYA PERIKANAN RAJUNGAN Klasifikasi Dan Morfologi ........................................................................ 11 Habitat Dan Penyebaran ........................................................................ 12 Siklus Hidup ........................................................................................... 13 Kebiasaan Makan .................................................................................. 14 Pengelolaan Perikanan Rajungan .......................................................... 15 TUJUAN PENGELOLAAN Tujuan Sosial ......................................................................................... 16 Tujuan Ekonomi ..................................................................................... 16 Tujuan Biologi ........................................................................................ 17 Tujuan Ekologi ....................................................................................... 17 Tujuan Pendidikan dan Pelatihan ........................................................... 17 POLA PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN Kerjasama Antar Lembaga dan Berbasis Masyarakat ............................ 18 Penertiban Administrasi ......................................................................... 19 Penetapan Zonasi .................................................................................. 20 Budidaya Rajungan Terintegrasi ............................................................ 20 STAKEHOLDERS DAN BADAN KHUSUS FOKUS RENCANA PENGELOLAAN Pengumpulan Data ................................................................................ 22 Pendidikan Budidaya Ramah Lingkungan dan Promosi Sumberdaya .... 23 PEMANTAUAN VARIABEL KEBERHASILAN Evaluasi ................................................................................................ 24 Parameter Keberhasilan ........................................................................ 24 Daftar Pustaka LAMPIRAN

ii

PENDAHULUAN Latar Belakang Sudah banyak yang mengetahui bahwa potensi sumberdaya alam Indonesia begitu melimpah, yang tersebar diseluruh penjuru alam Nusantara. Namun sumberdaya alam ini belum termanfaatkan secara optimal dan bijaksana demi kesejahteraan masyarakat. Meskipun di beberapa daerah diduga telah mengalami over eksploitasi akibat pemanfaatan yang tidak memperhitungkan kelangsungan stok sumberdaya yang ada. Pemanfaatan sumberdaya yang kita miliki haruslah mengikuti kaidah-kaidah pengelolaan yang bertanggungjawab, tentunya demi menjaga keberlangsungan sumberdaya itu sendiri. Rajungan Portunus pelagicus menjadi salah satu komoditas penting yang diandalkan Perikanan Indonesia untuk menembus pasar Internasional, seperti Amerika. Kebutuhan ini diprediksikan bertambah dengan adanya kerusakan lingkungan yang begitu parah di teluk Meksiko akibat kebocoran minyak British Petroleum 20 april 2010, dan banyak mengakibatkan kerugian industri perikanan. Taman Nasional Komodo (TNK) dikenal memiliki perairan yang cukup jernih dan luas, dengan keanekaragaman terumbu karang dan spesies perairan yang menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara untuk

mengunjunginya. Potensi sumberdaya yang ada selama ini hanya menghasilkan pendapatan daerah dari kegiatan pelancong, dan belum optimal dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Bahkan akhir-akhir ini ditemui konflik

kepentingan antara stakeholders untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada, misalnya pelarangan untuk menangkap ikan dalam kawasan TNK yang berujung pada perselisihan antar nelayan daerah yang sering mengakses penangkapan ikan dalam kawasan. Bagaimana dengan potensi sumberdaya rajungan?, dengan melihat potensi sumberdaya hayati yang ada dalam kawasan TNK, memungkinkan kita untuk mengoptimalkan keuntungan demi kesejahteraan masyarakat melalui matapencaharian alternatif. Eksploitasi sumberdaya rajungan bisa dilakukan sejauh tidak melebihi ambang batas yang dipersyaratkan, itu, dan tetap yang

memperhatikan

keramahan

lingkungan.

Selain

infestasi

berkesinambungan dan memberi keuntungan besar memungkinkan adanya kegiatan budidaya dalam kawasan TNK sehingga kegiatan penangkapan mulai dapat dikurangi. Dan oleh karena itu perencanaan pengelolaan dini perlu dilakukan sebagai usaha preventif untuk mereduksi kelangkaan sumberdaya dan kerusakan ekosistem akibat pemanfaatan yang tidak bertanggung jawab. Dasar Hukum Pengelolaan Dasar hukum berupa peraturan perundangan-undangan yang menjadi dasar hukum pengelolaan Rajungan dalam Taman Nasional Komodo (TNK), Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah: 1. 2. UUD RI Tahun 1945. Perundang Undangan: Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia Undang-undang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan

Lingkungan Hidup 3. UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Peraturan Pemerintah PP Nomor 54 Tahun 2002 tentang Usaha Perikanan

4.

Keputusan Presiden: Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1982 Tentang

Pengembangan Budidaya Laut di Perairan Indonesia. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1991 tentang Penggunaan Kawasan Lindung 5. Keputusan Menteri: Keputusan Menteri Kelautan tentang dan Perikanan Umum Nomor :

KEP.10/MEN/2002

Pedoman

Perencanaan

Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:

KEP.34/MEN/2002 Tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Keputusan Menteri Pertanian No. 392/Kpts/IK.120/4/99 tanggal 5 April 1999 tentang Jalur-jalur Penangkapan Ikan. Keputusan Menteri Keuangan No. 654 Tahun 2001 tentang Tatacara Pengenaan dan Penyetoran Pungutan Perikanan. Keputusan Menteri KP Nomor KEP.23/MEN/2001 tentang

Produktivitas Kapal Penangkap Ikan Keputusan Menteri KP Nomor KEP.02/MEN/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Penangkapan Ikan

Keputusan Menteri KP Nomor KEP.03/MEN/2002 tentang Log Book Penangkapan dan Pengangkutan Ikan

Keputusan

Menteri

KP

Nomor

KEP.08/MEN/2002

tentang

Pembangunan dan Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Departemen Kelautan dan Perikanan Keputusan Menteri KP Nomor KEP.10/MEN/2003 tentang Perijinan Usaha Penangkapan Ikan 6. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan: PER.17/MEN/2006 tentang Usaha Perikanan Tangkap PER.18/MEN/2006 tentang Skala Usaha Pengolahan Hasil Perikanan. 7. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur: Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 9 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur 2006-2020 (Lembaran Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2005 Nomor 009 1 seri E Nomor 058). Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Laut. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 10 Tahun 2007 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Peraturan Daerah Nusa Tenggara Timur Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2005-2025. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pelayanan Publik Di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Peraturan Daerah Nomor 8 tahun 2009 tentang Retribusi Izin

Usaha Perikanan. Peraturan Daerah Nusa Tenggara Timur Nomor 9 Tahun 2009 tentang Penyertaan Modal Daerah Pada Badan Usaha Milik Daerah. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. 8. Peraturan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur: Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 10 Tahun 2007 Tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah. Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 4 Tahun 2008 tentang Nusa Tenggara Timur. Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 72 Tahun 2008 Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009-2013. Pelayanan Publik Di Provinsi

PROFIL TAMAN NASIONAL KOMODO Gambaran Umum

Gambar 1. Peta Taman Nasional Komodo (Erdmann, 2004)

Taman Nasional Komodo (TNK) terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Taman nasional ini memiliki luas 1.817 km2 terdiri atas tiga pulau besar yakni Pulau Komodo sendiri, Pulau Rinca dan Pulau Padar, Dan banyak taburan pulau-pulau kecil yang menarik hati wisatawan untuk singgah. Akses menuju taman nasional menggunakan kapal carter dari Kota Labuan Bajo, yakni kota pinggir pantai yang menjadi ibukota Kabupaten Manggarai Barat. TNK didirikan pada tahun 1980. Pendirian taman nasional ini bertujuan menjalankan empat fungsi yakni 1). Sebagai tempat konservasi dan

perlindungan komunitas hewan dan tumbuhan yang beragam yang ditemukan di

darat, pesisir, dan perairan laut, 2). Sebagai tempat untuk menjamin kelangsungan hidup jangka panjang komodo beserta kualitas habitat hidupnya, 3). Sebagai tempat perlindungan untuk berkembang biak bagi ikan dan avertebrata yang bernilai ekonomi, sehingga menciptakan sumber pengambilan demi melengkapi daerah pengambilan ikan di sekitarnya, 4). Sebagai tempat untuk kegiatan pendidikan dan penelitian, juga sebagai tempat untuk pengembangan wisata alam dan selam yang berkelanjutan. Pengelolaan Taman Nasional Dalam mengelola taman nasional, tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan semua unsur masyarakat, yang sama-sama berpikir merumuskan suatu model pengelolaan yang tepat. Oleh

karena itu dalam rangka menjamin keberhasilan nasional, melakukan pengelolaan Pemerintah koordinasi taman perlu dengan

masyarakat lokal lembaga swadaya masyarakat pendidikan (LSM), dan institusi penelitian,

perangkat penegak hukum, maupun sektor swasta. Badan yang

mengambil peran terdepan di TNK adalah Balai TNK, yang berada di bawah naungan Departemen Kehutanan. Adapun tujuan utama pengelolaan TNK adalah: 1. Menjaga dan melindungi flora dan fauna yang terdapat pada ekosistem lautan dan daratan di TNK.

2. Mengusahakan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemanfaatan sumber daya dari dalam Taman Nasional secara efektif dan

berkelanjutan. 3. Mengembangkan dan mengelola wisata alam secara berkelanjutan. 4. Melakukan pemantauan habitat laut dan darat, serta mengembangkan rencana penelitian untuk menjelaskan permasalahan-permasalahan kunci pengelolaan Taman Nasional. 5. Mengembangkan fasilitas untuk pendidikan konservasi sumber daya alam dan meningkatkan kesadaran mengenai masalah-masalah konservasi Taman Nasional. 6. Menciptakan suatu sistem pengelolaan mandiri dan berkelanjutan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat lokal dalam bidang pengelolaan, dan para pihak (seperti masyarakat lokal dan sektor wisata selam) memberikan kontribusi yang positif terhadap pengelolaan TNK. Permasalahan Pemanfaatan Sumberdaya Pemanfaatan sumberdaya laut dalam kawasan TNK, tidak terlepas dari permasalahan terkait dengan pola pemanfaatan sumberdaya. Jumlah penduduk kawasan TNK sendiri mencapai 3.200 penduduk, dan di sekitarnya terdapat banyak penduduk yakni sekitar 16.000 penduduk dari daratan Flores dan SapeBima, dan hidup dengan memanfaatkan sumber daya dari dalam kawasan yang satu ini. Peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu terus bertambah memberi dampak terhadap peningkatan kebutuhan untuk menopang kehidupan. Pemanfaatan sumberdaya dalam Kawasan TNK tentunya memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Erdmann (2004) Beberapa masalah kunci sehubungan dengan pemanfaatan sumber daya antara lain termasuk pemanfaatan sumber daya terumbu karang secara berlebihan,

penangkapan yang bersifat destruktif, perburuan liar, penebangan hutan untuk kayu bakar, dan berkurangnya pasokan air tawar. Dengan adanya aktivitas penangkapan ikan yang banyak dalam kawasan TNK memberikan ancaman terhadap keberlangsungan sumber daya laut yang ada. Ancaman serius ini dinilai merupakan dampak aktivitas nelayan yang berlebih dan bersifat destruktif. Penangkapan ikan di kawasan TNK selain dilakukan banyak oleh masyarakat oleh dari dalam kawasan, juga

dilakukan

masyarakat dari luar seperti Flores dan Ancaman Sape, Selatan, Sulawesi. terbesar

terhadap sumber daya laut di TNK Karena adanya kompresor hookah digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan, meskipun Pemerintah Daerah telah melarang penggunaan alat tersebut. Penangkapan ikan dengan menggunakan bom, dan sianida, yang digunakan bersama dengan hookah, juga masih menjadi masalah walaupun kejadian pengeboman ikan sudah menurun 80% sejak tahun 1996 saat kegiatan patroli Taman Nasional mulai aktif (Erdmann, 2004). Ditambahkan oleh Erdmann (2004) Berbagai alat tangkap lainnya seperti rawai dasar dan pancing juga telah menurunkan sebagian besar populasi ikan predator, seperti ikan hiu dan kerapu. Gill net (jaring pukat) juga mengancam berbagai spesies penyu, dan setasea (kelompok paus dan lumba-lumba). Kegiatan pencungkilan karang (meting) yang merusak, yang dilakukan penduduk dalam kawasan, juga merupakan masalah terutama di daerah perairan

terumbu karang yang dangkal, walaupun tampak masalahnya sudah berkurang belakangan ini. Pada sisi lain, polusi dan pariwisata bisa mengancam keberadaan terumbu karang jika pembangunan wilayah pesisir dan

pengembangan pariwisata tidak dikelola dengan baik. Dengan adanya kerusakan ini pula mengakibatkan munculnya dampak kerusakan ekologis yang meluas hingga pada kepunahan organisme-organisme termasuk rajungan dan kerabatnya yang banyak menghuni pasir dan daerah terumbu karang. Sumberdaya laut yang diharapkan akan menopang

perekonomian tidak lagi menjadi harapan, karena keuntungan sesaat yang menjadi prioritas.

10

PROFIL SUMBERDAYA PERIKANAN RAJUNGAN Klasifikasi Dan Morfologi Klasifikasi Rajungan (P. pelagicus) menurut Weber (1975) dalam Wikipedia Foundation (2006) Kingdom Phylum Subphylum Class Order Suborder Infraorder Family Genus Species : Animalia : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Pleocyemata : Brachyura : Portunidae : Portunus : Portunus pelagicus.

Bentuk dan warna rajungan ini sangat menarik dan ada perbedaan antara jantan dan betina. Duri di kiri-kanan matanya berjumlah sembilan buah. Warna jantan adalah dasar biru dengan bercak-bercak putih sedangkan jenis betina dasar hijau kotor dengan bercak-bercak putih kotor. Rajungan sering ter-tangkap dalam jaring tangsi dan jaring kejer yang dibentangkan pada malam hari di tempat yang banyak rajungan. Tetapi dengan jalan ngobor, rajungan tersebut dapat ditanggok dari tempat di mana mereka bersembunyi. Beratnya mencapai 400 gram per ekor (Romimohtarto dan Juwana, 2005). Soim (1994) mengatakan bahwa ciri-ciri morfologi rajungan adalah bagian sebelah kiri dan kanan karapaks juga terdapat duri yang besar. Duri-duri sebelah belakang matanya berjumlah sembilan buah termasuk duri besar. Rajungan

11

jantan

karapaksnya

berwarna

dasar

biru

ditaburi

bintik-bintik

putih

beranekaragam bentuknya. Sedangkan yang betina berwarna dasar hijau dengan bintik-bintik seperti jantan, karapaksnya berbentuk pipih dengan warna yang sangat menarik. Mengenai jenis kelamin dapat dibedakan secara eksternal, kepiting jantan organ kelaminnya menempel pada bagian perut berbentuk segitiga dan agak meruncing, untuk yang betina bentuknya cenderung agak membulat. Selain itu juga dapat dibedakan berdasarkan berat capit terhadap berat tubuh dimana kepiting jantan dan betina yang lebar karapaksnya 3-10 cm berat capitnya sekitar 22 % dari berat tubuh. Setelah ukuran karapaksnya mencapai 10-15 cm, capit kepiting jantan menjadi lebih besar, yakni 30-35 % dari berat tubuh, sementara capit betina tetap sama 22 % dari berat tubuh. Menurut Moosa (1981) rajungan dalam suku portunidae mempunyai

pasangan kaki terakhir yakni daktilus yang pipih pada dua ruas terakhir, dimana salah satu fungsi kaki pipih tersebut adalah untuk berenang, oleh karena itu suku portunidae sering disebut juga kepiting yang pandai berenang. Habitat Dan Penyebaran Rajungan hidup di daerah pantai berpasir lumpur dan di perairan depan hutan mangrove. Mereka membenamkan diri di dalam pasir (Romimohtarto dan Juwana, 2000). Selanjutnya Moosa (1981) menambahkan bahwa rajungan dapat hidup pada beberapa habitat seperti pantai, pantai bersubstrat pasir, pasir

berlumpur, pasir putih berlumpur bersama-sama rumput laut di selat terbuka dan di pulau-pulau berkarang. Rajungan dapat ditemukan di daerah bakau, di tambak-tambak air payau yang berdampingan dengan laut terbuka, sering kali berenang dekat permukaan pada kedalaman kurang dari 1 meter dan dapat ditemukan sampai pada kedalaman lebih dari 56 meter.

12

Delsmen dan De Man (1925 dalam Jaenab, 1993) menyatakan bahwa hampir semua jenis rajungan hidup bersama binatang lainnya seperti teripang dan bulu babi, sehingga dapat dikatakan hidup di laut bebas dan berenang di permukaan. Penyebaran beberapa jenis rajungan yaitu P. pelagicus hingga lautan India, Singapura, Philipina, Australia, Jepang, China, Jepang, Hawaii, Lautan Australia dan Indonesia. Siklus Hidup Kebanyakan crustacea mengerami telurnya, adakalanya apendik tertentu, pada kantung pengeraman di dalam atau di luar tubuh. Pada kebanyakan spesieslaut dan beberapa spesies air tawar, telur menetas menjadi larva nauplius yang planktonis. Setelah beberapa kali mengalami pergantian kulit, secara bertahap terbentuk ruas-ruas tubuh berikut appendiknya. Nauplius malacostraca tidak makan (Suwignyo, dkk., 2005). Perkembangan rajungan di mulai dari telur yang disimpan di bawah lipatan abdomennya, namun didahului oleh suatu penempelan telur. Apabila abdomennya membuka ke arah belakang berarti massa telur telah menempel pada bagian endopodit dan pleopod yang letaknya pada daerah abdomen. Pada saat induk melakukan spawning, massa telur yang telah dibuahi tidak langsung menempel pada pleopod. Proses pembuahan telur berlangsung di dalam tubuh sesaat sebelum telur dikeluarkan. Pada awalnya massa telur yang dikeluarkan terpisah satu sama lain dan diletakkan pada substrat pasir, pada saat

bersamaan terlihat abdomen terbuka ke arah belakang serta mengangkat kaki jalannya. Proses penempelan telur berlangsung dengan cara abdomen digerakkan ke arah depan dan belakang secara perlahan dan dilakukan berulang kali. Massa telur yang dikeluarkan mempunyai membran bagian luar yang bersifat merekat sehingga menyebabkan proses penempelan telur pada pleopod

13

dapat berjalan dengan baik. Proses penempelan berlangsung kurang lebih 1 jam. Pembelahan sel berlangsung sesaat setelah spawning dan mulai nampak hari ke 4 sampai hari ke 6. Aktivitas denyut jantung terlihat pada 2-3 hari sebelum penetasan. Gerakan denyut jantung terlihat semakin kuat dan frekuensinya semakin cepat pada waktu menjelang penetasan. Selama masa inkubasi terjadi juga perubahan warna (Rusdi dan Melianawati, 2001 dalam Tuda, 2005). Daur hidup rajungan melalui fase telur burayak. Telur rajungan menetas sebagai zoea I yang akan berkembang melalui zoea II, zoea III dan zoea IV kemudian bermetamorfosa menjadi megalopa yang merupakan tingkat akhir perkembagan burayak. Selanjutnya tingkat perkembangan pasca burayak diawali dengan crab I yang memerlukan pergantian kulit (moulting) untuk menjadi besar sampai dewasa (Ong, 1964 dalam Tuda, 2005). Kebiasaan Makan Sifat makan pada crustacea sangat beraneka ragam, misalnya filter feeder, pemakan bangkai, herbivora, karnivora atau parasit (Suwignyo, dkk., 2005). Kebiasaan makan (food habits) rajungan dewasa adalah omnivore scavenger dan dapat saling memangsa sesama jenisnya (Ariola, 1940 dalam Salam dan Rustam, 1989). Menurut Hendriks (1983 dalam Irmawati, 2004) kepiting sering memakan mollusca dan jenis crustacea lainnya terutama udangudang kecil. Sedangkan menurut Nybakken (1988 dalam Kamaruddin, 1998) bahwa rajungan merupakan spesies pemakan bahan tersuspensi sebagai bahan makanan tambahan disamping plankton dan sebagian besar pemakan bahan tersuspensi ini di dataran lumpur memakan pula bahan terdeposit. Kepiting yang masih berbentuk larva menyukai pakan buatan berupa plankton atau kutu air yang memiliki ukuran sesuai bukaan mulutnya. Setelah menjadi dewasa memakan daging dan bangkai. Pakan yang telah ditangkap dan dihancurkan

14

oleh capitnya akan segera dimasukkan ke dalam mulut. Di dalam mulut, makanan tidak langsung masuk ke dalam perut tetapi disaring dahulu dan hingga bahan yang dapat dicerna saja (Tuda, 2005). Pakan untuk larva rajungan yang baru menetas dalam budidaya dikelompokkan menjadi dua yakni pakan hidup dan pakan buatan, pakan hidup yang digunakan berupa naupli Artemia yang baru ditetaskan. Sedangkan pakan buatan diramu dari bahan dasar tepung rebon, squid liver oil, telur, tepung terigu dan campuran vitamin yang mempunyai komposisi dan bentuk pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dan kebiasaan makan setiap tahap perkembangan larva sampai menjadi benih rajungan (Juwana dan

Romimohtarto, 2000). Pengelolaan Perikanan Rajungan Pengelolaan perikanan rajungan sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan stok sumberdaya rajungan di kawasan TNK. Saat ini rajungan belum menjadi prioritas utama untuk penangkapan di kawasan TNK, padahal potensi sumberdaya yang ada bisa diandalkan. Beberapa hal yang dinilai belum berkembangnya perikanan rajungan di kawasan TNK adalah belum adanya pasar yang jelas, perikanan lain masih menguntungkan, dan keterbatasan pengetahuan masyarakat. Pengelolaan perikanan rajungan yang dilakukan secara dini menjadi suatu solusi untuk menjaga keberlangsungan stok, sehingga pengelolaan tidak dinilai sebagai upaya pemulihan (kuratif), namun lebih dari itu sebagai upaya pencegahan (preventif). Dengan adanya pengelolaan dini ini, diharapkan ke depannya kawasan TNK dapat menjadi daerah asuhan dan penyedia stok sumberdaya rajungan untuk daerah di sekitarnya.

15

TUJUAN PENGELOLAAN Rencana Pengelolaan Rajungan di Kawasan TNK ini berorientasi untuk menjaga keanekaragaman hayati yang dapat menjadi aset bagi pengembangan pariwisata berkontribusi kondisi bahari, pada sosial dan

ekonomi, ekologi dan biologi, pula di termasuk dalamnya oleh

pemanfaatan perikanan.

Tujuan Sosial Dengan adanya pengelolaan perikanan rajungan diharapkan mampu meningkatkan penghasilan dan taraf kesejahteraan masyarakat. Penerapan penangkapan yang ramah lingkungan, dan memberikan perhatian terhadap jumlah stok dan upaya penangkapan akan memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan sumberdaya rajungan untuk memenuh kebutuhan pangan. Selain itu pengelolaan berbasis masyarakat yang mulai dikembangkan akan

membangun interaksi sosial di antara komponen masyarakat. Tujuan Ekonomi Pemanfaatan sumberdaya rajungan yang selama ini belum menjadi prioritas akan meningkatkan keuntungan tambahan bagi masyarakat, dengan adanya upaya penangkapan rajungan yang tetap menjaga kaidah keramahan lingkungan. Selama ini keuntungan hanya digantungkan pada penangkapan komoditi ikan-ikan tertentu dan mengharap penghasilan dari bidang pariwisata dengan keuntungan musiman.

16

Tujuan Biologi Secara biologi, perikanan berkelanjutan dapat dicapai apabila

memperhatikan ketersediaan stok sumberdaya. Oleh karena itu, tujuan pengelolaan ini untuk mengestimasi secara biologi stok rajungan yang ada dalam kawasan TNK dan menyelaraskan upaya pemanfaatan melalui eksploitasi yang bertanggung jawab. Tujuan Ekologi Mempertahankan keanekaragaman hayati dengan mengedepankan pemanfaatan yang bertanggung jawab, ramah lingkungan dan tetap

memperhatikan aspek biologi untuk kelestarian rajungan dalam Kawasan TNK. Tujuan Pendidikan dan Pelatihan Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan oleh

masyarakat dengan penerapan pengelolaan berbasis masyarakat. Oleh karena adanya pengelolaan ini, masyarakat menjadi sadar lingkungan dan peduli terhadap sumberdaya yang mereka miliki untuk diwariskan ke generasi selanjutnya.

17

POLA PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN Dalam pengelolaan perikanan rajungan di dalam kawasan TNK perlu dirancang suatu pola pengelolaan yang dapat menggambarkan model kebijakan dan memprediksikan

pengambilan keputusan mengoptimalkan kinerja Adapun pengelolaan. pengelolaan untuk

yang diterapkan untuk mendukung pengelolaan tujuan yang

telah ditetapkan dalam aturan Undang-Undang R.I. No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan adalah sebagai berikut: Kerjasama Antar Lembaga dan Berbasis Masyarakat Pola pengelolaan berbasis masyarakat dan keterpaduan banyak dikembangkan saat ini karena dalam implementasinya membutuhkan kerjasama komponen masyarakat yang terkait mulai dari merencanakan, melaksanakan sampai pada evaluasi program pengelolaan. Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat dinilai sebagai suatu solusi, oleh karena masyarakat paling tahu kebutuhan lingkungannya. Dalam pengelolaan sumberdaya pelibatan aturan hukum sangat besar perananya sehingga pelibatannya sangat dibutuhkan. Lembaga masyarakat lainnya juga menunjang pengelolaan sumberdaya, sehingga dibutuhkan komitmen bersama untuk pengelolaan ini. Lembaga yang berkomitmen dalam mengelola sumberdaya laut yang ada

18

dalam kawasan TNK harus menjalin kerjasama yang baik antara lembaga, dan pemerintah. Dalam kerjasama ini dikenal adanya nota kesepahaman (MOU) antara lembaga yang saling bekerjasama. Dalam MOU ini dicantumkan pihakpihak yang saling bekerjasama, hak dan kewajiban, bentuk kegiatan yang dikerjasamakan dan jangka waktu berlaku. Penertiban Administrasi Dengan adanya akses terbuka di kawasan TNK memfasilitasi nelayan untuk menangkap ikan dalam kawasan, tidak hanya nelayan lokal melainkan nelayan dari beberapa daerah luar kawasan TNK. Oleh karena demikian bebasnya kegiatan penangkapan ikan yang tidak terbatas pada masyarakat lokal sehingga membutuhkan pengelolaan yang dini, apalagi ketika sumberdaya rajungan telah dilirik oleh masyarakat. Penertiban administrasi dapat berupa pengelolaan armada penangkapan dan pendaftaran nomor armada, serta pemberian nomor registrasi armada. Dengan adanya nomor registrasi yang dipasang pada armada ataupun penerapan registrasi nelayan, akan memudahkan pihak pengelola

memonitoring kegiatan penangkapan oleh nelayan, hal ini

tidak terbatas pada perikanan rajungan, namun lebih dari itu pada komoitas perikanan lainnya.

19

Penetapan Zonasi Penentuan zonasi-zonasi pada kawasan TNK memberikan ruang sesuai kebutuhan dan memudahkan dalam pengelolaan. Penetapan zonasi ini dirundingkan bersama masyarakat dan pihak-pihak yang terkait sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman yang berdampak pada kegagalan pengelolaan. Penetapan zonasi dapat berupa pembagian daerah perlindungan laut dan konservasi, daerah perikanan, daerah industri dan pariwisata, dan daerah pendidikan dan penelitian. Zonasi ini membatasi kegiatan sesuai fungsi dan peruntukannya, oleh karena itu terdapat aturan-aturan yang mengikut di dalamnya sebagai alat pengelolaan. Budidaya Rajungan Terintegrasi Konsep Budidaya terintegrasi mencoba memadukan kegiatan

pembenihan (hatchery), pembesaran (rearing), dan pemasan (marketing). Konsep ini berorientasi pada pemanfaatan sumberdaya yang dikelola secara profesional tanpa mengharapkan hasil eksploitasi dari alam. Jalur pemasaran produk hasil budidaya ini menjadi bagian yang tak terpisahkan, dengan adanya pasar yang jelas akan menarik minat pengusaha untuk menginfestasikan modalnya disektor budidaya. Berjalannya kegiatan budidaya akan memberikan kesempatan sumberdaya di alam menjadi lestari. Selain itu memungkinkan untuk melakukan kegiatan restocking dengan mengandalkan bibit rajungan yang sengaja dibenihkan pada panti-panti pembenihan (hatchery) untuk ditebar kembali ke kawasan perairan TNK sebagai upaya konservasi.

20

STAKE HOLDERS DAN BADAN KHUSUS Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan bagian dari Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengelolaan TNK saat ini dibawah Jenderal dan Direktorat Perlindungan Alam.

Konservasi

Beberapa institusi pemerintah yang juga terlibat dalam pengelolaan di antaranya:

Dinas Perikanan, dan Dinas Pariwisata. Sementara untuk Lembaga Swadaya Masyarakat, melibatkan: PT. Putri Naga Komodo, dan beberapa organisasi kecil pemerhati TNK. Untuk kegiatan pengamanan dilibatkan pula aparat penegak hukum yang secara rutin melakukan patroli ke dalam kawasan TNK. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya rajungan di TNK, seyogyanya dibentuk badan khusus pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya yang salah satu sumberdaya itu adalah rajungan. Boleh jadi badan khusus ini berada di bawah koordinasi Dinas Perikanan setempat, dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya rajungan dalam kawasan TNK. Untuk pelaksanaan, Dinas Perikanan mengajak komponen masyarakat untuk terlibat aktif memikirkan pengelolaan, pemanfaatan, promosi dan pemasaran produk.

21

FOKUS RENCANA PENGELOLAAN Pengumpulan Data Pengumpulan data ilmiah dapat dilakukan melalui kegiatan riset yang menunjang kebutuhan data untuk menetapkan kebijakan yang tepat. Beberapa data yang dibutuhkan sebagai berikut: 1. Data jumlah armada penangkapan, dan asal armada penangkapan

yang melakukan penangkapan setiap musim dalam tahunnya.


2. Data jenis dan komoditi perikanan yang prioritas ditangkap oleh

nelayan, termasuk rajungan; jenis dan ukurannya.


3. Data alat tangkap yang digunakan dan jumlah rajungan yang

tertangkap per alat tangkap.


4. Data parameter biologi rajungan yang dapat diperoleh melalui data

sebaran frekuensi lebar karapas dan bobot badan, yang berkala setiap tahunnya.
5. Data biologi rajungan termasuk hubungan antara lebar karapas dan

bobot badan (untuk konversi data), musim pemijahan, dan ukuran saat pertamakali matang gonad setiap tahunnya.
6. Data kondisi lingkungan, termasuk di dalamnya data oseanografi dan

klimatologi setiap musim dalam tahunnya.

7. Data daerah penangkapan dan musim penangkapan rajungan setiap


tahunnya. 8. Data sosial ekonomi meliputi berbagai faktor penentu kelangsungan usaha, seperti nilai produksi, harga rajungan pertahun, jumlah pembeli atau penampung rajungan (perorangan atau perusahaan), dan jumlah perusahaan miniplan atau pengolah rajungan yang beroperasi.

22

Pendidikan Budidaya Ramah Lingkungan dan Promosi Sumberdaya Kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan rajungan tidak hanya bergantung pada potensi sumberdaya yang ada di alam. Namun lebih dari itu, untuk mencegah eksploitasi yang berlebih, maka perlu adanya pengenalan konsep budidaya yang ramah lingkungan kepada masyarakat TNK. Beberapa hal yang penting untuk dilakukan di antaranya: 1. Promosi sumberdaya rajungan untuk menarik minat pengusaha untuk menginfestasikan modalnya untuk kegiatan pemanafaatan sumberdaya rajungan. 2. Melakukan riset kelayakan lokasi secara bersama antara akademisi, pemerintah, pengusaha dan masyarakat. 3. Pelatihan budidaya ramah lingkungan bagi masyarakat TNK, yang di dalamnya menanamkan konsep budidaya terintegrasi. 4. Pembagian zonasi khusus kegiatan budidaya rajungan, agar tidak mengganggu dan diganggu oleh aktivitas lain. 5. Skala berkala mengadakan kegiatan penebaran bibit di alam untuk menjaga stok sumberdaya (restocking), bersama komponen masyarakat. 6. Penyuluhan dan promosi mengenai arti penting menjaga lingkungan perairan dan kecintaan terhadap TNK sebagai warisan anak cucu kita, di sekolah-sekolah, desa-desa, dan kantor-kantor pemerintah dan swasta, baik di dalam kawasan maupun ke luar, dengan memanfaatkan teknologi yang telah ada.

23

PEMANTAUAN VARIABEL KEBERHASILAN Evaluasi Rencana pengelolaan perikanan yang telah dimandatkan kepada badan khusus perlu dikoordinir dengan baik dan dieveluasi setiap semester untuk melihat kinerja dan keberhasilannya dalam menjalankan program-program yang telah ditetapkan bersama. Dinas Perikanan melakukan kegiatan evaluasi dengan memberikan rating tingkat keberhasilan dalam 6 (enam) bulan sekali. Rating dapat berupa nilai A (excellent), B (baik), C (cukup), D (buruk), E (buruk sekali). Apabila kinerja dari badan khusus dinilai buruk atau buruk sekali, maka pihak koordinator perlu melakukan evaluasi internal ke dalam badan khusus dengan mencari tahu kekurangan-kekurangan yang ada dan melakukan pembenahan.

Parameter Keberhasilan Parameter keberhasilan dapat dilihat dari apresiasi masyarakat dan kemampuan mengintroduksi pengetahuan. Beberapa parameter yang dapat dinilai berkaitan dengan program-program dalam rencana pengelolaan: 1. Adanya produksi rajungan dan menjadi komoditas perikanan prioritas untuk kawasan TNK 2. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat TNK dengan adanya

matapencaharian alternatif dari kegiatan yang dikembangkan

24

3. Investasi di bidang perikanan rajungan mulai meningkat 4. Budidaya rajungan ramah lingkungan dan terintegrasi mulai

dikembangkan oleh masyarakat 5. Produksi hasil tangkapan mulai bergeser menjadi produksi hasil budidaya 6. Kerusakan lingkungan dapat diminimalisir dan kasus kerusakan

lingkungan menjadi berkurang dan bahkan tidak ada lagi over eksploitasi dan destructive fishing 7. Pariwisata bahari kawasan TNK semakin dikenal dan menjadi primadona 8. Lembaga swadaya masyarakat semakin aktif dalam membangun kegiatan-kegiatan partisipatif, kooperatif dan membangun kekuatan daerah melalui community based 9. Masyarakat semakin sadar akan arti penting menjaga lingkungan dan sumberdayanya.

25

Daftar Pustaka Erdmann, A. M. 2004. Panduan Sejarah Ekologi Taman Nasional Komodo. The Nature Conservancy-Indonesia Coastal and Marine Program. Irmawati. 2004. Hubungan Bobot Dengan Lebar Karapaks, Faktor Kondisi Dan Kebiasaan Makanan Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) Di Sekitar Perairan Sungai Tello Makassar, Sulawesi Selatan. Skripsi. FIKP. Unhas. Jaenab. 1993. Studi terhadap potensi dan penyebaran Rajungan (Portunus spp) di perairan pantai Bajoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Unhas. Ujung Pandang. Kamaruddin, F. 1998. Hubungan Parameter Fisika Kimia Air Dengan Biomassa Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus) Di Perairan Pantai Mandalle Kabupaten Pangkep. Skripsi. FIKP-UH. Ujung Pandang. Moosa, M.K. 1981. Beberapa Catatan Mengenai Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus) Di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. Sumberdaya Hayati Bahari. LON LIPI. Jakarta. Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2000. Rajungan Perikanan, Cara Budidaya dan Menu Masakan. Djambatan. Jakarta. Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2005. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta. Salam, A., dan Rustam. 1989. Uji Coba Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) Dalam Tambak. Bappeda Tingkat I Sul-Sel-LPPM. Unhas. Ujung Pandang. Soim, A. 1994. Pembesaran Kepiting. Penebar Swadaya. Jakarta. Suwignyo, S., Bambang W, Yusli W, dan Majariana K. 2005. Avertebrata Air Jilid 2. Penebar Swadaya. Jakarta. Tuda, M. D., 2005. Teknik Pemeliharaan Induk Rajungan (Portunus pelagicus) Matang Gonad Di Balai Budidaya Air Payau Desa Bontoloe Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Laporan PKL. FAPERTA UNDANA. Kupang. Wikipedia. 2006. Portunus. "http://en.wikipedia.org/wiki/Portunus". Diakses 28 Januari 2007.

26

LAMPIRAN Matriks Rencana Pengelolaan Perikanan Rajungan NO. STRATEGI PROGRAM KEGIATAN Bekerjasama para akademisi melakukan riset Pengumpulan informasi 1. Riset Riset sosial ekonomi Pengumpulan data & analisis Evaluasi kelayakan budidaya Penetapan Zonasi Iklan pada media Penyuluahan Pendidikan Pelatihan Promosi Sumber 2. daya Pariwisata Bahari di dalam & luar negeri Mendukung kampanye Pameran Kegiatan pameran & Inventarisir potensi sumberdaya untuk publikasi Riset inventaris Riset kelayakan bersama masyarakat

27

Komodo as New 7 Wonder Mengaktifkan website & update data rajungan pada website kabupaten & provinsi Studi banding pada instansi yang berhasil menerapkan teknologi Pembenihan & 3. konservasi Intensifikasi Program Integrasi budidaya ramah lingkungan dan terintegrasi Restocking & konservasi Promosi keunggulan 4. Pemasaran komoditi Research based Industry Meningkatkan daya saing rajungan kawasan TNK Survey pasar Penerapan Aplikasi teknologi Program yang layak Pemilihan lokasi

28

Pembangunan konsep daerah perikanan -

internasional Kegiatan masyarakat perikanan yang terintegrasi Pengelolaan lembaga pemasaran berbasis masyarakat Pemberian sertifkat terpercaya untuk produk perikanan

Sertifikasi produk

29

Pengelolaan

perikanan rajungan yang dilakukan secara dini menjadi suatu solusi untuk menjaga keberlangsungan stok, sehingga pengelolaan tidak dinilai sebagai upaya pemulihan (kuratif), namun lebih dari itu sebagai upaya pencegahan (preventif) Akbar M Tahya

C@2010.amtahya 30