Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK

MAHASISWA JURUSAN GIZI


POLTEKKES KEMENKES GORONTALO

Disusun Oleh :
FEBRIYANTI DATAU NIM : 71197070180

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN GIZI 2010

PEDOMAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK DI RUMAH SAKIT MAHASISWA JURUSAN GIZI POLTEKKES KEMENKES GORONTALO

A. LATAR BELAKANG Salah satu strategi untuk mencapai indonesia sehat pada tahun ini adalah peningkatan kualitas sumber daya tenaga kesehatan. Peranan tenaga kesehatan kesehatan sangat menentukkan keberhasilan pelaksanaan program pembangunan di bidang kesehatan untuk mencapai misi paradigma sehat menuju indonesia sehat 2010 yaitu untuk memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau oleh masyarakat. Kesehatan dan gizi merupakan faktor terpenting karena secara langsung berpengaruh harapan hidup dan tingkat pendidikan. Adanya kecenderungan peningkatan kasus penyakit yang terkait dengan gizi, nutrition related disease, pada semua kelompok rentan dari ibu hamil sampai usia lanjut, memerlukan pelayanan gizi yang bermutu untuk mempertahankan status gizi yang optimal, sehingga tidak terjadi kurang gizi dan untuk mempercepat penyembuhan. Resiko kurang gizi akan muncul secara klinis pada orang sakit, terutama pada penderita anokresia, kesulitan menelan, penyakit saluran cerna disertai mual, muntah, dan diare, infeksi berat, koma dalam waktu lama, kegagalan fungsi saluran cerna dan pasien yang mendapat kemoterapi. Disamping itu masalah gizi lebih dan obesitas yang erat hubungannya dengan penyakit degeneraif, seperti Diabetes melitus, jantung koroner, dan hipertensi, penyakit kanker, memelukan terapi gizi untuk membantu penyembuhannya. Asuhan gizi merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan untuk gizi pasien secara optimal baik pada pasien rawat inap maupun konseling gizi pada pasien rawat jalan. Upaya peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam maupun di luar rumah sakit sebagai salah satu upaya mewujudkan indonesia sehat 2010, merupakan tugas dan bertanggung jawab tenaga kesehatan, khususnya tenaga yang bekerja di bidang gizi. terhadap kualitas sumber daya manusia di suatu negara, yang di gambarkan melalui pertumbuhan ekonomi, umur

Pneumonia adalah radang parenkim paru-paru atau infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru. Pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, mycoplasma pneumonia, jamur, aspirasi, pneumonia hypostatic, dan sindrom weffer. Pneumonia sering terjadi pada anak usia 2 bulan 5 tahun, pada usia dibawah 2 bulan pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali/menit juga disertai penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah kedalam. Pada usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali/menit dan pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali/menit. Pneumonia berat ditandai dengan adanya gejala seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu memuntahkan semuanya, kejang, dan terdapat tarikan dinding dada kedalam dan suara nafas bunyi krekels (suara nafas tambahan pada paru) saat inspirasi. Kasus terbanyak terjadi pada anak dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak pada bayi yang berusia kurang dari 2 bulan. Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat di puskesmas atau balai pengobatan, maka anak perlu segera dirujuk setelah diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai. B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Mampu melaksanakan manajemen asuhan gizi pada pasien 2. Tujuan Khusus a). Mampu melaksanakan asuhan gizi klinik pengkajian data dasar pasien pneumonia Lobaris b). Mampu menerapkan dan mampu melakukan evaluasi hasil asuhan gizi klinik pada pasien .

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Penyakit 1. Definisi Pneumonia Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi. Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah. Penyakit ini adalah infeksi akut jaringan paru oleh mikroorganisme.Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi "inflame" dan terisi oleh cairan. 2.Jenis-jenisPneumonia Pneumonia terbagi dalam berbagai asal jenis berdasarkan ini didapat. dengan Seperti penyebab, berikut :

anatomik,dan

berdasarkan

penyakit

1.Berdasarkanpenyebab a.PneumoniaLipid b.PneumoniaKimiawi c.pneumoniakarenaextrinsikallergicalveolitis d.Pneumoniakarenaobate.Pneumoniakarenaradiasi f.PneumoniadenganpenyebabtakjelasPneumoniaLobaris

Merupakan pneumonia yang terjadi pada seluruh atau satu bagian besar dari lobus paru dan bila kedua lobus terkena bisa dikatakan sebagai pneumonia lobari 3. Penyebab Tejadinya Pneumonia Pneumonia 1.Bakteri Agen penyebab pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau gram-negatif seperti : Steptococcus pneumoniae (pneumokokus), Streptococcus piogenes, Staphylococcus aureus, Klebsiela pneumoniae, Legionella, hemophilus influenzae 2.Virus yang disebabkan oleh infeksi antara lain :

Influenzae virus, Parainfluenzae virus, Respiratory, Syncytial adenovirus, chickenpox (cacar air), Rhinovirus, Sitomegalovirus, Virus herves simpleks, Virus sinial pernapasan,hantavirus. 3.Fungi Aspergilus, Fikomisetes, Blastomises dermatitidis, histoplasma kapsulatum. (hhtp:/medicastore.com/med/subkategori_pyk.Php,2007) Selain disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa di sebabkan oleh bahan-bahan lain/noninfeksi 1. Pneumonia Lipid :Disebabkan karena aspirasi minyak : mineral

2. Pneumonia Kimiawi : Inhalasi bahan-bahan organik dan anorganik atau uap kimiasepertiberillium 3. Extrinsik allergic alveolitis : Inhalasi bahan debu yang mengandung alergen seperti spora aktinomisetes termofilik yang terdapat pada ampas debu di pabrik gula. 4.Pneumonia karena obat :Nitofurantoin, busulfan, metotreksat 5.Pneumoniakarenaradiasi 6.Pneumoniadengan penyebab tak jelas Pada 2.adenovirus 3.virusparainfluenza 4.virusinfluenza 4.Faktorresikopenyakitpneumonia Faktor-faktor resiko terkena pneumonia, antara lain: Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin laki-laki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara, Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi vitamin A dan penyakit kronik menahun. Selain faktor-faktor resiko diatas, faktor-faktor di bawah ini juga mempengaruhi resiko dari pneumonia : 1. Individu yang mengidap HIV 2. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah: 1.virussinsisialpernafasan

3. Individu yang mengalami aspirasi isi lambung 4. Karena muntah air akibat tenggelam 5. Bahan yang teraspirasi 6. Patofisiologi Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh berbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. 6. Manifestasi Klinik/ Tanda dan Gejala Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae), merah muda (untuk staphylococcus aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas aeruginosa). Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala. Tanda dan Gejala berupa: 1. Batuk nonproduktif 2. Ingus (nasal discharge) 3. Suara napas lemah 4. Retraksi intercosta 5. Penggunaan otot bantu nafas 6. Demam 7. Krekels 8. Cyanosis 9. Leukositosis 10. Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar

11. Batuk 12. Sakit kepala 13. Kekakuan dan nyeri otot 14. Sesak nafas 15. Menggigil 16. Berkeringat 17. Lelah. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: 1. kulit yang lembab 2. mual dan muntah 3. kekakuan sendi. 7. Pencegahan Pneumonia Pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif, imunisasi, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak, karena ASI mengandung nutrien, anti oksidan, hormon dan antibody yang dibutuhkan anak untuk tubuh, berkembang dan membangun sistem kekebalan tubuh. Mencegah kematian anak akibat pneumonia melalui 2 cara yakni mencegah perkembangan infeksi dan komplikasi pneumonia dengan penyakit lain seperti campak dan pertusis, lebih lanjut ia menjelaskan kematian akibat pneumonia bisa dikurangi dengan menerapkan upaya pencegahan sekaligus pengobatan. Selain 2 cara diatas, beliau juga mengatakan cara yang paling efektif untuk mencegah infeksi pneumokokus melalui pemberian vaksin pneumokokus konjugasi (PCV-7) kepada bayi. Pemberian ini pada bayi usia 4 bulan dari 6 bulan serrta diulang lagi pada usia 12-15 bulan agar melindungi anak dari infeksi pneumokokus. Menurut laporan unicef lebih dari 1 juta jiwa anak akan bisa diselamatkan bila intervensi pencegahan dan penanganan pneumonia diterapkan secara universal. Sekitar 600 ribu nyawa anak setiap tahunnya juga bisa diselamatkan melalui penanganan antibiotik yang biayanya sekitar 600 juta dolar AS. Dari berbagai pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pneumonia dapat dicegah dengan cara-cara sebagai berikut :

1. Memberikan ASI ekslusif. 2. Mencegah perkembangan infeksi 3. Mencegah komplikasi pneumonia dengan penyakit lain 4. Menggunakan penanganan antibiotik. B. PENATALAKSANAAN ASUHAN GIZI 1. Tujuan Diet Tujuan Diet Pneumonia adalah untuk A. Meningkatkan BB sehingga status gizi menjadi status gizi baik. B. Meningkatkan intake makan 2. Syarat Diet - Energi yang di berikan sesuai kebutuhan 100 mg / kg BBI, di tambahakan faktor stres sebesar 20 % dari BEE - Protein di berikan tinggi sebesar 15 % dari kebutuhan total - Lemak cukup di berikan 20% dari kebutuhan total - Kh cukup di berikan 65 % dari kebutuhan total - Vitamin cukup, terutama Vit B, Vit C, Vit K, bila perlu di tambahkan suplemen. - Mineral cukup - Makanan yang di berikan makanan lunak. 3. Bahan makanan yang di anjurkan - Penderita kurang kalori protein ( KKP ) - Penderita penyakit infeksi kronis - Orang yang baru sembuh dari penyakit yang berat dan lama - Orang yang sering berolah raga berat - Anak-anak, remaja, dan dewasa yang sehat dan berat badan kurang - Lansia ( orang lanjut usia ) Bahan tidak baik di berikan kepada Bayi di bawah 6 bulan Anak yang gemuk Penderita penyaakit ginjal, jantung, hati ( tanpa sepengetahuan dokter ).

a. ) Diet Makanan Lunak Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah di kunyah, di tim, dan di cerna di bandingkan makanan biasa. Makanan ini mengandung cukup zat-zat gizi, asalkan pasien mampu mengkonsumsi makanan dalam jumlah cukup menurut keadaan penyakit, makanan lunak dapat di berikan langsung kepada pasien atau sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa. b.) Indikasi Pemberian Makanan lunak di berikan pada pasien sesudah operasi tertentu, pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan, serta sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa. c.) Bentuk makanan di berikan oleh RSSA MALANG berupa susu laktona, daging ayam, telur, nasi lunak, sayur, buah, air, gula. d.) Syarat Tidak merangsang saluran pencernaan dan mudah ditelan. Diberikan bertahap menuju ke makanan lunak, porsi diberikan kecil dan sering.

BAB V PEMBAHASAN A. Rencana Terapi

Pasien direncanakan di berikan diet Modisco dengan tujuan memberikan yang sesuai dengan kebutuhan penderita dengan memperhatikan keadaan pasien dan mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit. Kebutuhan energi : 961,8, kalori perhari dengan cara pemberian oral. Karena tidak terdapat masalah adanya pencernaan pasien. Bentuk makanan diberikan lunak (bubur) energi diberikan sesuai kebutuhan yaitu 74 % daro total kebutuhan energi, dan diutamakan dari sumber kebutuhan karbohidrat kompleks. Lemak 20 % diberikan dari total kebutuhan energi, protein 15 % diberikan dari total kebutuhan energi. A. Hasil Monitoring Dan Skrining Gizi 1 Konsumsi Energi dan Zat Gizi Konsumsi energi dan zat gizi adalah asupan zat gizi selama di rawat di rumah sakit ruang rawat inap sesuai dengan kebutuhan pasien yang telah dihitung pada saat pasien dirawat di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. a. Energi Berdasarkan perhitungan menurut standar kebutuhan energi dan zat gizi di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang diketahui bahwa energi pasien adalah 961,8 / hari.

1000 800 600 400 200 0 hari 1 hari 2 hari k3 aupan kebutuhan

Gambar 1. Tingkat konsumsi energi ( 3 hari pengamatan ) Dari gambar 1. dapat di simpulkan bahwa tingkat konsumsi energi pasien masih di bawah angka kecukupan gizi yang di anjurkan sebesar 961,8 kalori pemenuhan kebutuhan energi yang di capai pada hari pertama yaitu sebesar 68 %, 68 % untuk hari kedua, 68 % untuk hari ke tiga pengamatan. Hal ini di sebabkan pasien hanya mengkonsumsi susu formula sedangkan makanan yang adia berikan kadang di habiskan karena adanya faktor psiologis.

B. Protein
37 36 35 34 33 32 31 30 29 hari 1 hari 2 hari 3

asupan kebutuhan 3-D Column 3

Gambar 2. Tingkat konsumsi protein ( 3 hari pengamatan ) Dari hasil pengamatan 2, dapat di simpulkan bahwa tingkat konsumsi protein pasien tidak mengalami perubahan pada hari 1 ataupun hari ke 2.kebutuhan pada hari pertama 36,06 gr, pada hari kedua 36,06 gr, pada hari ketiga 36.06 gr. Hal ini di sebabkan pasien hanya mengkonsumsi daging ayam karena pasien mempunyai alergi apabila mengkonsumsi telur dan ikan sedangkan makanan yang di berikan kadang di habiskan karena adanya faktor psiologis. C. Lemak

25 20 15 10 5 0 1s Qtr 2nd 3 Qtr4th Qtr t rd Qtr as upan kebutuhan 3-D C olum 3 n

Gambar 3. Tingkat konsumsi lemak ( 3 hari pengamatan ) Dari hasil pengamatan 3, dapat di simpulkan bahwa tingkat konsumsi lemak tidak mengalami perubahan pada 1,2 sampai 3 hari. Kebutuhan pada hari pertama 21 gr, pada hari kedua 21 gr, pada hari ketiga 3. ini di sebabkan pasien hanya mengkonsumsi daging ayam dan susu formula sedangkan makanan yang di berikan kadang di habiskan karena adanya faktor psiologis. D. Kharbohidrat
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

a upa s n k ebutuha n North

1s Qtr 2nd Qtr 3rd Qtr 4th Qtr t

Gambar 4. Tingkat konsumsi kharbohidrat ( 3 hari pengamatan ) Dari hasil pengamatan , dapat di simpulkan tingkt konsusmsi kharbohidrat tidak mengalami mengalami perubahan 1,2, sampai 3. Kebutuhan pada hari

pertama 156,29 gr, pada hari kedua 156,29 gr, pada hari ketiga. Ini di sebabkan pasien kurang menghabiskan makanan yang di berikan oleh rumah sakit. 2 Perkembangan Pengukuran Antropometri Dari hasil pengukuran antropometri selama 3 hari, pasien tidak mengalami penurunan berat badan dan penambahan berat badan. Status gizi pasien ditentukan dengan %Lla karena kondisi pasien penurunan kesadaran. Dari hasil pengukuran LLA, pasien tergolong status gizi kurang. 3 Perkembangan pemeriksaan Biokimia/Laboratorium Selama 3 hari pengamatan, pasien melakukan pemeriksaan

laboratorium pada hari ke tiga, Dan hasil laboratorium pada Hb sudah mencapai normal. 4 Perkembangan Pemeriksaan Fisik/Klinis Perkembangan fisik klinis pasien diperoleh dari pengamatan secara langsung terhadap pasien selama studi kasus. KU dan kesadaran pasien mengalami peningkatan dari hari ke hari. Dari hasil pengamatan selama studi kasus terlihat bahwa keadaan umum pasien tergolong cukup, hal ini karena pasien sudah mulai sadar. 5 a. Hasil Motivasi Diet melalui Konsultasi Gizi Diskripsi Pemahaman Diet Pasien Pengamatan yang dilakukan selama 3 hari, selain merencanakan konsumsi makan pasien juga memberikan motivasi dengan cara menjelaskan bagaimana menjalankan Diet Modisco Selain itu diberikan motivasi untuk lebih mengatur pola makan dengan kondisi yang dialami saat ini. Diberikan juga motivasi mengenai makanan

yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh pasien. Motivasi keluarga pasien sejak hari pertama pengamatan. Sejak hari pertama pengamatan, nafsu makan pasien menurun dikarenakan pasien mengalami infeksi susu saluran pernapasan dan paling banyak mengkonsumsi formula.Pendekatan edukatif merupakan

rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terencana, sistematik dan terarah. Hal ini dibuktikan dengan disusunnya rencana penyuluhan yang meliputi ketepatan waktu, materi, metode, alat bantu, dan sasaran yang terarah sebelum dilakukannya penyuluhan. Hal ini diberikan setelah mengetahui masalah pasien dari data subyektif dan obyektif pasien. Dari data subyektif dan obyektif tersebut, maka keluarga pasien diberikan edukasi melalui penyuluhan tentang penyakit yang diderita pasien lengkap dengan diet yang harus diberikan pada pasien besrta bahan makanan yang boleh, tidak boleh dan dibatasi oleh pasien. b. Obsevasi Makanan Pasien Observasi sisa makanan pasien dapat dilihat dari berapa jumlah intake yang dikonsumsi pasien dibandingkan dengan standar porsi yang disediakan pihak rumah sakit. Selama observasi dilakukan, sisa makanan pokok, lauk nabati, lauk hewani, sayur dan buah, banyak yang tidak dihabiskan pasien karena pasien pada saat itu kesadarannya menurun. 6 Evaluasi asuhan gizi 1. Indikator Keberhasilan Asuhan Gizi Indikator keberhasilan asuhan gizi dapat dilihat dengan cara membaiknya kesadaran pasien dan kadar Hb tidak mengalami penurunan.

2. Rencana Tindak Lanjut a) Memberikan motivasi kepada keluarganya untuk selalu patuh dalam menjalankan dietnya. b) Pasien tetap diberikan Diet TKTP Dan Modisco c) Pasien harus meningkatkan kebiasaan makannya agar tidak memperburuk keadaan kesehatan pasien.

BAB VI KESIMPULA DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari studi kasus diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Diagnosis penyakit adalah Pneumonia Lobaris Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Pasien adalah sebagai berikut Energi : 961,8 Kkal/hari Protein : 36,06 % gram /hari Lemak : 21 % gram/hari KH 2. : 156,29s gram/hari

Tujuan diet bagi pasien adalah A. Memberikan makanan yang adekuat untuk 1. Meningkatka BB sehingga status gizi menjadi status gizi baik 2. Meningkatkan intake makanan

3.

Prinsip diet bagi pasien adalah diet TKTP dan Modisco a. Energi cukup sesuai kebutuhan dan Fa, Fs. b. Protein cukup yaitu 15 % dari total kebutuhan energi c. Lemak cukup 20% dari total kebutuhan energi d. Karbohidrat di berikan sisa perhitungan dari kebutuhan energi. e. Vitamin dan mineral cukup f. Natrium rendah G. Cara pemberian oral

Bentuk diet yang diberikan yaitu berupa makanan lunak 4. Dari hasil pengukuran antropometri pasien tidak mengalami penurunan berat badan. Status gizi pasien ditentukan dengan % LLA dan pasien tergolong pasien dalam status gizi kurang. 5. kesadaran Secara umum kondisi fisik klinis pasien tergolong kesedaran cukup. 6. Pemeriksaan laboratorium dilakukan 3 hari sekali untuk melihat adanya kenaikan Hb. 7. Pemberian edukasi melalui pendekatan konsultasi/penyuluhan gizi dan pendekatan motivasi keluarganya dapat memberikan konstribusi terhadap terapi diet yang tepat. 8. Terapi terpadu gabungan antara terapi medis dan terapi gizi sangat dibutuhkan pasien untuk menunjang kesembuhan pasien. B. Saran Untuk pasien: 1. Agar menjaga setiap makanan yang diberikan 2. Agar mematuhi dan menjalankan diet yang diberikan rumah sakit Untuk Rumah Sakit : 1. Ahli gizi memberikan motivasi terus menerus kepada pasien dan untuk mematuhi diet yang dianjurkan serta

keluarganya 2. Ahli gizi

menghabiskan makanan rumah sakit. memberikan konsultasi kepada setiap pasien yang membutuhkan dengan maksimal agar pasien mendapatkan informasi yang benar tentang diet yang harus dijalankan. 3. Ahli gizi melakukan home visite kepada pasien yang benar-benar membutuhkan pemantauan dengan langsung. Namun hal ini sulit dilakukan karena terbatasnya tenaga dan waktu.

4. Ahli gizi memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya mengenai makanan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan agar kondisi pasien tidak semakin berat.

Daftar Pustaka Almatsier, 2004, Instalasi gizi perjan RS DR.Cipto Mangunkusumo dan asosiasi dietsien indonesia, Penuntun Diet.

A. Aziz Alimul, 2006, pengertian Bronchopneumonia Elizabeth J. Corwin, 2006, Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah. (http:/medicastore.com/med/subkategori_pyk.Php,2007) (http:// 4li Fetransfer factor jakarta.com /