Anda di halaman 1dari 3

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Akuntansi Sektor Publik

Fransiska Vena A. 08/268456/EK/17166 Tugas I

Analisis Perkembangan Akuntansi Sektor Publik di Indonesia

I.

Perkembangan Akuntansi Sektor Publik Secara Keseluruhan Dalam bukunya berjudul akuntansi sektor publik, Mardiasmo menjabarkan bagaimana

perkembangan sektor publik dari 1950-an sampai dengan 1990-an yang dapat saya buat garis besar sebagai berikut: Tahun 1950-an sampai dengan 1960-an akuntansi sektor publik memainkan peran utama sebagai pembuat dan pelaksana strategi pembangunan. Tahun 1952 dimulai penggunaan istilah akuntansi sektor publik. Pada masa ini sektor publik masih dikaitkan dengan ekonomi makro; pembangunan dan lembaga pelaksana pembangunan. Tahun 1970-an muncul kritik dari pendukung teori pembangunan radikal. Sektor publik dianggap tidak efisien dan jauh tertinggal dengan kemajuan dan perkembangan yang terjadi di sektor swasta. Selain itu sektor publik sering dijadikan sarang pemborosan dan inefisiensi ekonomi. Tahun 1980-an terjadi reformasi akuntansi sektor publik di negara-negara industri maju sebagai jawaban atas kritikan yang ada. Perubahan yang dilakukan antara lain melakukan adopsi praktik dan teknik manajemen sektor swasta ke sektor publik (pengadopsian mekanisme pasar, kompetisi tender, dan privatisasi). Akuntansi sektor publik berubah sesuai perkembangan lingkungan bisnis yang ada. Beberapa penyesuaian yang dilakukan antara lain perubahan akuntansi berbasis kas menjadi akrual yang terjadi di Negara-negara Anglo-Saxon. Pemerintahan yang paling cepat mengadopsi akuntansi berbasis akrual adalah pemerintahan New Zealand (1991), diikuti Jepang, dan Eropa.

Indonesia juga sudah mengadopsi basis akrual dengan ditetapkannya PP No.24 Tahun 2005 tentang Standard Akuntansi Pemerintahan.

II.

Permasalahan Akuntansi Sektor Publik di Indonesia Indonesia dengan tingkat korupsi yang tinggi seharusnya memiliki peraturan yang

semakin ketat terkait pelaporan keuangan, namun ternyata Indonesia tidak memilikinya (lihat gambar 1). Seperti dikemukakan dalam makalahnya berjudul Elaborasi Reformasi Akuntansi Sektor Publik: Telaah Kritis Terhadap Upaya Aktualisasi Kebutuhan Sistem Akuntansi Keuangam Pemerintah Daerah Mardiasmo mengatakan bahwa tingkat korupsi pada suatu negara berhubungan secara negatif dengan cara dan kualitas perkembangan ekonomi dan sosial suatu negara. Hal ini tentu saja akan sangat berbahaya bagi lingkungan bisnis dan pemerintahan di Indonesia. Bentuk yang paling jelas dari aplikasi akuntansi sektor publik terdapat di BUMN. Pada masa orde lama, pemerintah Indonesia banyak melakukan privatisasi perusahaan asing, namun karena tidak dikelola dengan baik dan profesional BUMN di Indonesia banyak di politisasi. BUMN menjadi sapi perahan para aktor-aktor politik untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Selanjutnya dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1983 tentang fungsi BUMN; fungsi BUMN hanya sebatas agent of development bukan business entity. Dengan fungsi tersebut tentu saja akuntansi tidak dapat terlalu berkembang karena masingmasing individu dalam organisasi tidak berkomitmen untuk berlaku secara professional. Pemerintah Indonesia mulai berbenah, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Hadi Purnomo dalam Rapat Paripurna tanggal 12 Oktober 2010 tentang kualitas penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) menyatakan bahwa kualitas penyusunan LKPP, LKKL dan LKPD telah lebih baik dari sebelumnya. Ditandai dengan perubahan opini BPK atas LKPP dari opini tidak memberikan pendapat (TMP/Disclaimer) atas LKPP tahun 2004-2008 menjadi opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas LKPP tahun 2009 serta terjadinya peningkatan persentase opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dan penurunan presentase opini TMP atas LKKL dan LKPD pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan kondisi yang searah dengan akuntansi sektor publik. Semakin baik laporan keuangan tentu mengindikasikan sistem akuntansi yang digunakan semakin baik dan meningkat.

Dalam majalah akuntan Indonesia, Andi Chairil Furqan berpendapat bahwa faktor utama yang mengakibatkan belum maksimalnya fungsi akuntansi di dalam lingkungan pemerintahan Indonesia disebabkan proses transformasi akuntansi sektor publik di Indonesia belum sepenuhnya diikuti dengan pembentukan mindset yang sesuai atas fungsi akuntansi dalam organisasi pemerintahan oleh sebagian penentu kebijakan dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati/Wali kota sampai dengan anggota DPR. Point penting dari artikel berjudul Refleksi Transformasi Akuntansi Sektor Publik Dari Hulu Sampai ke Hilir yang ditulis oleh Andi Chairil Furqan adalah adanya anggapan sebagian para penentu kebijakan yang hanya menganggap akuntansi sebagai alat pertanggungjawaban semata, hanya menjadikan akuntansi sebagai komoditas politik dalam rangka menjalankan ketentuan perundang-undangan belaka. Hal ini menjadi penting, kondisi ini mirip dengan yang terjadi di sektor swasta dimana akuntansi hanya sebagai alat untuk kepentingan manajemen semata. Untuk itulah mengapa penting pula untuk semakin digiatkan implementasi GCG baik di sektor swasta maupun sektor publik.

Gambar 1. Perlindungan Hukum di Berbagai Negara