P. 1
IHPS2011-sem1

IHPS2011-sem1

|Views: 39|Likes:
Dipublikasikan oleh Hanna Jie

More info:

Published by: Hanna Jie on Mar 13, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/28/2015

pdf

text

original

i

DAFTAR ISI
uafar lsl l
uafar 1abel ll
uafar Crañk lv
uafar Lamplran v
KATA PENGANTAR lx
RINGKASAN EKSEKUTIF xl
PEMERIKSAAN KEUANGAN 1
8A8 1 Laporan keuangan ÞemerlnLah ÞusaL (LkÞÞ) 5
8A8 2 Laporan keuangan kemenLerlan negara/Lembaga (LkkL) 11
8A8 3 Laporan keuangan ÞemerlnLah uaerah (LkÞu) 31
8A8 4 Laporan keuangan 8PMn dan 8adan Lalnnya S3
PEMERIKSAAN KINERJA 59
8A8 S Þenyelenggaraan lbadah Pa[l 1ahun 1431 P/2010 M 61
8A8 6 klner[a 8umah SaklL 65
8A8 7 klner[a 8ea dan Cukal 73
8A8 8 Þemerlksaan klner[a Lalnnya 77
PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU 8S
8A8 9 Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban ÞendapaLan 87
8A8 10 Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a 99
8A8 11 Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana 8ldang
Þendldlkan
12S
8A8 12 Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana CLonoml khusus 137
8A8 13 Þelaksanaan Subsldl ÞemerlnLah 151
8A8 14 SlsLem Þengendallan lnLern 8adan usaha Mlllk negara 161
8A8 1S Cperaslonal 8adan usaha Mlllk negara 167
8A8 16 Þemerlksaan uengan 1u[uan 1erLenLu Lalnnya 177
HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI
HASIL PEMERIKSAAN
183
HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH 191
DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM 197
LAMPIRAN
ii
DAFTAR TABEL
1. Cb[ek Þemerlksaan 8Þk pada SemesLer l 1ahun 2011
2. 1emuan Þemerlksaan 8Þk pada SemesLer l 1ahun 2011
3. Þerkembangan Cplnl LkkL 1ahun 2006-2010
4. Þerkembangan Cplnl LkÞu 1ahun 200S-2010
5. 1lndak Lan[uL 8ekomendasl 8Þk dengan ÞenyeLoran kas/Þenyerahan AseL
ke negara/uaerah/Þerusahaan
2.1. Þerkembangan Cplnl LkkL 1ahun 2006-2010
2.2. kelompok 1emuan Þemerlksaan LkkL 1ahun 2010
3.1. Þerkembangan Cplnl LkÞu 1ahun 200S-2010
3.2. Cplnl LkÞu 1ahun 200S-2010 8erdasarkan 1lngkaL ÞemerlnLahan
3.3. kelompok 1emuan Þemerlksaan LkÞu 1ahun 2010
4.1. Cakupan Þemerlksaan aLas Lk 8PMn dan 8adan Lalnnya
4.2. Cplnl aLas Laporan keuangan 8PMn dan 8adan Lalnnya
4.3. kelompok 1emuan Þemerlksaan aLas Laporan keuangan 8PMn dan 8adan
Lalnnya
9.1. kelompok 1emuan Þemerlksaan aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban
ÞendapaLan
10.1. kelompok 1emuan Þemerlksaan aLas 8elan[a ÞemerlnLah ÞusaL
10.2. kelompok 1emuan Þemerlksaan aLas 8elan[a ÞemerlnLah uaerah
12.1. Þembaglan uana CLonoml khusus anLara ÞemerlnLah Þrovlnsl dan
ÞemerlnLah kabupaLen/koLa
12.2. kelompok 1emuan Þemerlksaan Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban
uana CLonoml khusus
13.1. kelompok 1emuan Þemerlksaan aLas Þelaksanaan Subsldl/ÞSC
15.1. kelompok 1emuan Þemerlksaan aLas Cperaslonal 8uMn
16.1. Cakupan Þemerlksaan Þu11 Lalnnya
17.1. ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan
pada ÞemerlnLah ÞusaL 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun 2011
17.2. ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan
pada ÞemerlnLah uaerah 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun 2011
17.3. ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan
pada 8uMn (Lermasuk Anak Þerusahaan) 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun
2011
iii
17.4. ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan
pada 8PMn, kkkS, dan 8adan usaha Lalnnya 1ahun 200S s.d. SemesLer l
1ahun 2011
18.1. Þenyelesalan keruglan negara pada ÞemerlnLah ÞusaL
18.2. Þenyelesalan keruglan negara pada 8uMn
18.3. Þenyelesalan keruglan uaerah pada ÞemerlnLah uaerah
18.4. ÞemanLauan Pasll Þemerlksaan 8Þk yang 8erlndlkasl keruglan/Þldana
iv
DAFTAR GRAFIK
1. ÞersenLase kasus keruglan
2. ÞersenLase kasus ÞoLensl keruglan
3. ÞersenLase kasus kekurangan Þenerlmaan
17.1. SLaLus ÞemanLauan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan
ÞemerlnLah ÞusaL 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun 2011 (dalam ° !umlah
8ekomendasl)
17.2. SLaLus ÞemanLauan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan
ÞemerlnLah uaerah 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun 2011 (dalam ° !umlah
8ekomendasl)
17.3. SLaLus ÞemanLauan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan 8uMn
(Lermasuk Anak Þerusahaan) 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun 2011 (dalam
° !umlah 8ekomendasl)
17.4. SLaLus ÞemanLauan 1lndak Lan[uL 8ekomendasl Pasll Þemerlksaan 8PMn,
kkkS, dan 8adan usaha Lalnnya 1ahun 200S s.d. SemesLer l 1ahun 2011
(dalam ° !umlah 8ekomendasl)
v
DAFTAR LAMPIRAN
1. uafar Cplnl Laporan keuangan kemenLerlan/Lembaga dan 8adan Lalnnya
1ahun 2006-2010
2. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan Laporan
keuangan kemenLerlan/Lembaga 1ahun 2010
3. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan Laporan
keuangan kemenLerlan/Lembaga 1ahun 2010
4. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan Laporan keuangan
kemenLerlan/Lembaga 1ahun 2010
5. uafar Cplnl Laporan keuangan ÞemerlnLah uaerah 1ahun 200S-2010
6. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan Laporan
keuangan ÞemerlnLah uaerah 1ahun 2010
7. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan Laporan
keuangan ÞemerlnLah uaerah 1ahun 2010
8. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan Laporan keuangan
ÞemerlnLah uaerah 1ahun 2010
9. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan Laporan
keuangan 8PMn dan 8adan Lalnnya
10. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan Laporan
keuangan 8PMn dan 8adan Lalnnya
11. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan Laporan keuangan
8PMn dan 8adan Lalnnya
12. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban ÞendapaLan
13. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban ÞendapaLan
14. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban ÞendapaLan
15. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a
ÞemerlnLah ÞusaL
16. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a
ÞemerlnLah ÞusaL
17. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu aLas Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a ÞemerlnLah
ÞusaL
vi
18. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a
ÞemerlnLah uaerah
19. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a
ÞemerlnLah uaerah
20. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu aLas Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a ÞemerlnLah
uaerah
21. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana 8ldang
Þendldlkan
22. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana 8ldang
Þendldlkan
23. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu aLas Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana 8ldang Þendldlkan
24. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana CLonoml
khusus
2S. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana CLonoml
khusus
26. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu Þengelolaan dan ÞerLanggung[awaban uana CLonoml khusus
27. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þelaksanaan Subsldl ÞemerlnLah
28. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Þelaksanaan Subsldl ÞemerlnLah
29. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu aLas Þelaksanaan Subsldl ÞemerlnLah
30. Slmpulan Þemerlksaan uengan 1u[uan 1erLenLu aLas SlsLem Þengendallan
lnLern 8adan usaha Mlllk negara
31. uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Cperaslonal 8adan usaha Mlllk negara
32. uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu aLas Cperaslonal 8adan usaha Mlllk negara
33. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu aLas Cperaslonal 8adan usaha Mlllk negara
vii
34.1 uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Lalnnya pada ÞemerlnLah ÞusaL
34.2 uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Lalnnya pada 8uMn
34.3 uafar kelompok dan !enls 1emuan - kelemahan SÞl Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Lalnnya pada 8uMu
3S.1 uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Lalnnya pada ÞemerlnLah ÞusaL
3S.2 uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Lalnnya pada 8uMn
3S.3 uafar kelompok dan !enls 1emuan - keudakpaLuhan Þemerlksaan uengan
1u[uan 1erLenLu Lalnnya pada 8uMu
36. uafar kelompok 1emuan menuruL LnuLas Þemerlksaan uengan 1u[uan
1erLenLu Lalnnya
37. uafar 8ekaplLulasl Pasll ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL
8ekomendasl Pasll Þemerlksaan pada ÞemerlnLah ÞusaL 1ahun 200S s.d.
SemseLer l 1ahun 2011
38. uafar 8ekaplLulasl Pasll ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL
8ekomendasl Pasll Þemerlksaan pada ÞemerlnLah uaerah 1ahun 200S s.d.
SemseLer l 1ahun 2011
39. uafar 8ekaplLulasl Pasll ÞemanLauan Þelaksanaan 1lndak Lan[uL
8ekomendasl Pasll Þemerlksaan pada 8uMn, 8PMn, kkkS, Lembaga,
Saham ÞemerlnLah S0°, dan CLorlLa 1ahun 200S s.d. SemseLer l 1ahun 2011
40. keruglan negara dengan SLaLus 1elah ulLeLapkan pada lnsLansl ÞusaL
41. keruglan negara dengan SLaLus ualam Þroses ÞeneLapan pada lnsLansl ÞusaL
42. lndlkasl keruglan negara pada lnsLansl ÞusaL
43. keruglan negara dengan SLaLus 1elah ulLeLapkan pada 8uMn
44. lndlkasl keruglan negara pada 8uMn
4S. keruglan negara dengan SLaLus 1elah ulLeLapkan pada ÞemerlnLah uaerah
46. keruglan uaerah dengan SLaLus ualam Þroses ÞeneLapan pada ÞemerlnLah
uaerah
47. lndlkasl keruglan negara pada ÞemerlnLah uaerah
48. 8ekaplLulasl kelompok 1emuan keruglan Pasll Þemerlksaan 8Þk SemesLer l
1ahun 2011
49. 8ekaplLulasl kelompok 1emuan ÞoLensl keruglan Pasll Þemerlksaan 8Þk
SemesLer l 1ahun 2011
viii
S0. 8ekaplLulasl kelompok 1emuan kekurangan Þenerlmaan Pasll Þemerlksaan
8Þk SemesLer l 1ahun 2011
51. uafar Laporan Pasll Þemerlksaan (LPÞ) SemesLer l 1ahun 2011

ix
Kata Pengantar
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23E, Undang-Undang Nomor 15 Tahun
2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, tugas
dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah, lembaga negara lainnya, Bank Indonesia, badan usaha milik negara, badan
layanan umum, badan usaha milik daerah, dan lembaga atau badan lainnya yang
mengelola keuangan negara. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terdiri atas
pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan
tertentu (PDTT). Hasil pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil
pemeriksaan (LHP).
Selan[uLnya, 8Þk menyusun lkhusar hasll pemerlksaan semesLer (lPÞS) yang merupakan
informasi secara menyeluruh dari seluruh LHP yang diterbitkan oleh BPK dalam satu
semester tertentu. IHPS tersebut disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 18 yang mengharuskan BPK menyampaikan IHPS kepada
lembaga perwakllan, Þreslden, dan gubernur/bupau/wallkoLa selambaL-lambaLnya
uga bulan sesudah berakhlrnya semesLer yang bersangkuLan.
lPÞS lnl merupakan lkhusar hasll pemerlksaan yang Lelah dllaksanakan 8Þk pada
Semester I Tahun 2011 atas 682 objek pemeriksaan, yaitu 460 objek pemeriksaan
keuangan, 14 objek pemeriksaan kinerja, dan 208 objek PDTT.
Atas hasil pemeriksaan BPK selama Semester I Tahun 2011, sejumlah instansi
pemerlnLah pusaL dan daerah Lelah menlndaklan[uu kasus keruglan negara/daerah,
potensi kerugian negara/daerah, dan kekurangan penerimaan, dengan menyetor
ke kas negara/daerah atau penyerahan aset, yaitu senilai Rp136,77 miliar selama
proses pemeriksaan masih berlangsung. Penyetoran tersebut terdiri atas kasus
kerugian negara/daerah senilai Rp82,59 miliar, kasus potensi kerugian negara/daerah
senilai Rp4,33 miliar, serta kasus kekurangan penerimaan senilai Rp49,83 miliar. Hal
lnl membukukan bahwa respon lnsLansl pemerlnLah pusaL dan pemerlnLah daerah
sangaL posluf dalam menlndaklan[uu hasll pemerlksaan 8Þk dan peran 8Þk dalam
penyelamatan uang negara.
Akhir kata, dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, IHPS
I Tahun 2011 ini dapat diselesaikan tepat waktu. Penyusunan Buku IHPS I Tahun 2011
ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas BPK sebagai lembaga pemeriksa
keuangan negara kepada pemangku kepenungan (stakeholders). Selanjutnya, BPK
berharap Buku IHPS I Tahun 2011 ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat
bagi stakeholders dalam rangka perbaikan pengelolaan keuangan negara/daerah.
Informasi rinci dan lengkap hasil pemeriksaan BPK pada Semester I Tahun 2011
dlmuaL dalam laporan hasll pemerlksaan aLas uap-uap enuLas yang kaml lamplrkan
dalam bentuk cakram padat/digital video disc (DVD) bersama penyampaian IHPS ini.
Jakarta, 30 September 2011
x
xi
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
RINGKASAN EKSEKUTIF
IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER I TAHUN 2011
lkhusar Pasll Þemerlksaan SemesLer (lPÞS) l 1ahun 2011 dlsusun unLuk memenuhl
amanaL undang-undang nomor 1S 1ahun 2004 LenLang Þemerlksaan Þengelolaan
dan 1anggung !awab keuangan negara. lPÞS dlsampalkan kepada uÞ8, uÞu, dan
uÞ8u sesual dengan kewenangannya, serLa kepada Þreslden dan gubernur/bupau/
wallkoLa agar yang bersangkuLan memperoleh lnformasl secara menyeluruh LenLang
hasll pemerlksaan 8adan Þemerlksa keuangan (8Þk).
lPÞS l 1ahun 2011 merupakan lkhusar darl 682 Laporan Pasll Þemerlksaan (LPÞ) 8Þk
aLas pengelolaan dan Langgung [awab keuangan negara. Þemerlksaan dllaksanakan
Lerhadap enuLas dl llngkungan pemerlnLah pusaL, pemerlnLah daerah, badan usaha
mlllk negara (8uMn), badan usaha mlllk daerah (8uMu), serLa lembaga aLau badan
lalnnya yang mengelola keuangan negara.
!enls pemerlksaan 8Þk mellpuu pemerlksaan keuangan, pemerlksaan klner[a, dan
pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu (Þu11). Þemerlksaan keuangan dllakukan
aLas laporan keuangan dalam rangka memberlkan pendapaL/oplnl aLas kewa[aran
lnformasl keuangan yang dlsa[lkan dalam laporan keuangan. Þemerlksaan klner[a
berLu[uan unLuk menllal aspek ekonomls, eñslensl, dan efekuvlLas. Þu11 berLu[uan
memberlkan slmpulan aLas suaLu hal yang dlperlksa. Þu11 udak memberlkan oplnl
aLaupun unLuk memberlkan penllalan klner[a dan memberlkan rekomendasl. Þu11
blsa berslfaL eksamlnasl (pengu[lan), revlu, aLau prosedur yang dlsepakau.
MenglngaL wakLu pemerlksaan keuangan sangaL semplL sesual keLenLuan undang-
undang yalLu dua bulan se[ak laporan keuangan dlLerlma 8Þk unLuk dlperlksa,
maka pemerlksa dapaL melakukan pemerlksaan aLas akun-akun LerLenLu melalul
pemerlksaan klner[a aLau Þu11 sebelum pemerlksaan keuangan unLuk mendukung
pemberlan oplnl aLas laporan keuangan. !lka dalam pemerlksaan keuangan dlLemukan
hal-hal yang dlduga Ler[adl penylmpangan aLas kepaLuhan dan/aLau kepaLuLan,
semenLara wakLu pemerlksaan keuangan sangaL LerbaLas dan prosedur alLernauf udak
dapaL dllakukan, maka pemerlksa dapaL melakukan pendalaman aLas permasalahan
LersebuL dengan Þu11 seLelah pemerlksaan keuangan selesal dllaksanakan.
xii
Þada SemesLer l 1ahun 2011, pemerlksaan 8Þk dlprlorlLaskan pada pemerlksaan aLas
Laporan keuangan ÞemerlnLah ÞusaL (LkÞÞ) 1ahun 2010, pemerlksaan aLas Laporan
keuangan kemenLerlan/Lembaga (LkkL) 1ahun 2010 dan pemerlksaan aLas Laporan
keuangan ÞemerlnLah uaerah (LkÞu) 1ahun 2010 dan Lk badan lalnnya (Lermasuk
8PMn). Selaln prlorlLas pemerlksaan pada laporan keuangan, 8Þk [uga melakukan
pemerlksaan klner[a dan Þu11.
lPÞS l 1ahun 2011 [uga memuaL hasll pemanLauan undak lan[uL hasll pemerlksaan
dan hasll pemanLauan penyelesalan keruglan negara/daerah, Lermasuk dl dalamnya
pemanLauan Lerhadap hasll pemerlksaan 8Þk yang berlndlkasl keruglan negara/
undak pldana, yang dlsampalkan kepada lnsLansl yang berwenang (penegak hukum).
Cb[ek pemerlksaan 8Þk dalam SemesLer l 1ahun 2011 Lerdlrl aLas enuLas pemerlnLah
pusaL, pemerlnLah daerah, 8uMn, 8uMu, dan 8PMn/8Lu seperu yang dlsa[lkan
pada 1abel 1.
Tabel 1. Objek Pemeriksaan BPK pada Semester I Tahun 2011
*) Lermasuk LkÞÞ, Lk 8un, dan ob[ek 8A 999 pada llma kemenLerlan yang mendukung Lk 8A 999 pada kemenLerlan keuangan
**) Lermasuk llma LkÞu 1A 2009
1oLal ob[ek pemerlksaan 8Þk dalam SemesLer l 1ahun 2011 sebanyak 682 ob[ek
pemerlksaan yalLu pemerlksaan keuangan sebanyak 460 ob[ek pemerlksaan,
pemerlksaan klner[a sebanyak 14 ob[ek pemerlksaan, dan Þu11 sebanyak 208 ob[ek
pemerlksaan. Cb[ek pemerlksaan keuangan mellpuu LkÞÞ, LkkL, LkÞu, dan Lk badan
lalnnya (Lermasuk Lk 8PMn).
Cakupan pemerlksaan keuangan aLas LkkL, LkÞu, dan Lk badan lalnnya mellpuu
neraca dan laporan reallsasl anggaran (L8A). 8lnclan neraca adalah aseL senllal
8p4.926,S4 Lrlllun, kewa[lban senllal 8p2.946,94 Lrlllun, serLa ekulLas senllal
8p1.979,S8 Lrlllun. 8lnclan L8A mellpuu pendapaLan senllal 8p1.361,93 Lrlllun, belan[a
senllal 8p1.422,33 Lrlllun, dan pemblayaan neLo senllal 8p127,26 Lrlllun, serLa laba/
rugl aLau surplus/deñslL badan lalnnya senllal negauf 8p20,S3 Lrlllun.
Cakupan pemerlksaan klner[a aLas 14 ob[ek pemerlksaan LersebuL udak secara speslñk
menun[uk nllal LerLenLu, sedangkan cakupan Þu11 aLas 208 ob[ek pemerlksaan senllal
8p207,64 Lrlllun.
Lnntas ¥ang D|per|ksa
Pemeriksaan
keuangan
Pemeriksaan
Kinerja
Pemeriksaan
Dengan 1u[uan
Tertentu
Jumlah
ÞemerlnLah ÞusaL 89* 8 61 1S8
ÞemerlnLah uaerah 363** 4 92 4S9
8uMn - 2 44 46
8uMu - - 9 9
8 P M n / 8 L u / 8 a d a n
Lalnnya
8 - 2 10
Jumlah 460 14 208 682
xiii
Hasil Pemeriksaan
Pasll pemerlksaan mengungkapkan adanya kelemahan SÞl dan keudakpaLuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan. keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan
perundang-undangan dapaL mengaklbaLkan keruglan negara/daerah/perusahaan,
poLensl keruglan negara/daerah/perusahaan, kekurangan penerlmaan, kelemahan
admlnlsLrasl, keudakhemaLan, keudakeñslenan, dan keudakefekufan.
Pasll pemerlksaan 8Þk yang dllaporkan dalam lPÞS l 1ahun 2011 mengungkapkan
sebanyak 11.430 kasus senllal 8p26,68 Lrlllun, dengan rlnclan 8p26,S7 Lrlllun,
uSu12.11 [uLa (ekulvalen 8p104,19 mlllar) dan Lu8212.87 rlbu (ekulvalen
8p 2,6S mlllar). 8lnclan Lemuan LersebuL dlsa[lkan dalam 1abel 2.
Tabel 2. Temuan Pemeriksaan BPK pada Semester I Tahun 2011
1abel 2 (Sub 1oLal l) menun[ukkan Lemuan keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan
keruglan, poLensl keruglan, dan kekurangan penerlmaan sebanyak 3.463 kasus senllal
8p7,71 Lrlllun, dengan rlnclan 8p7,61 Lrlllun, uSu12.11 [uLa (ekulvalen 8p104,19 mlllar),
dan Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p301,S7 [uLa). 8ekomendasl 8Þk Lerhadap Lemuan
LersebuL adalah penyeLoran ke kas negara/daerah/perusahaan aLau penyerahan aseL.
Seleblhnya adalah Lemuan kelemahan SÞl, kelemahan admlnlsLrasl, keudakhemaLan,
keudakeñslenan, dan keudakefekufan. 8ekomendasl 8Þk aLas Lemuan LersebuL adalah
perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf (1abel 2 Sub 1oLal ll).
1abel 2 (Sub 1oLal ll) menun[ukkan Lemuan kelemahan admlnlsLrasl, keudakhemaLan,
keudakeñslenan, dan keudakefekufan serLa kelemahan SÞl sebanyak 7.967 kasus.
nllal Lemuan keudakhemaLan, keudakeñslenan, dan keudakefekufan senllal
8p18,96 Lrlllun dengan nllal Lemuan Lerbesar yalLu Lemuan keudakefekufan senllal
8p18,64 Lrlllun dl anLaranya senllal 8p13,90 Lrlllun Ler[adl dl ÞusaL lnvesLasl ÞemerlnLah
(ÞlÞ). uana lnvesLasl yang dlcalrkan pada 1A 2010, dana lnvesLasl darl ulÞA Lahun-
Lahun sebelumnya, dan surplus pendapaLan yang dlperoleh belum dlmanfaaLkan
sesual rencana blsnls dan anggaran secara opumal mengaklbaLkan adanya idle cash
per 31 uesember 2010 senllal 8p13,90 Lrlllun.
No
Kelompok
Temuan
Þemer|ksaan keuangan Þemer|ksaan Dengan 1u[uan 1ertentu Total
Jumlah
Kasus
Nilai
(miliar Rp)
Nilai
(ribu USD)
Jumlah
Kasus
Nilai
(miliar Rp)
Nilai
(ribu USD)
Nilai
(ribu EUR)
Jumlah
Kasus
Nilai
(miliar Rp)
Nilai
(ribu USD)
Nilai
(ribu EUR)
Jumlah Nilai
(miliar Rp)
1 2 3 4 S 6 7 8 9 10 = 3 + 6 11 = 4 + 7 12 = S + 8 13 = 9 14=11+12+13
1 keruglan 1.438 672,S9 200.00 414 290,36 - - 1.8S2 962,9S 200.00 - 964,67
2 ÞoLensl keruglan 3S3 3.713,S9 11,720.00 7S 71S,66 - 24.20 428 4.429,2S 11,720.00 24.20 4.S30,31
3
kekurangan
Þenerlmaan
984 901,43 1.0S 199 1.321,26 198.44 - 1.183 2.222,70 199.49 - 2.224,41
Sub Total I 2.775 5.287,62 11,921.05 688 2.327,28 198.44 24.20 3.463 7.614,90 12,119.49 24.20 7.719,40
4 AdmlnlsLrasl 2.0S9 - - 348 - - - 2.407 - - - -
S keudakhemaLan 173 172,94 - S3 8S,04 - 188.67 226 2S7,99 - 188.67 260,34
6 keudakeñslenan 2 1,37 - 4 S9,77 - - 6 61,14 - - 61,14
7 keudakefekufan 314 1S.227,S4 - 1S8 3.416,88 - - 472 18.644,42 - - 18.644,42
8 SÞl 3.9S7 - - 899 - - - 4.8S6 - - - -
Sub Total II 6.505 15.401,86 - 1.462 3.561,70 - 188.67 7.967 18.963,57 - 188.67 18.965,92
Total 9.280 20.689,48 11,921.05 2.150 5.888,99 198.44 212.87 11.430 26.578,48 12,119.49 212.87 26.685,32
keLerangan: 1. nllal kurs Lengah 8ank lndonesla per 30 !unl 2011 uSu1=8p8.S97,00 dan Lu81=8p12.461,78
2. ulolah darl Lamplran 48, Lamplran 49, dan Lamplran S0.
xiv
1emuan keruglan negara/daerah/perusahaan sebanyak 1.8S2 kasus senllal
8p964,67mlllar, dengan rlnclan 8p962,9S mlllar dan uSu200.00 rlbu (ekulvalen
8p1,71 mlllar), dlsa[lkan dalam Lamplran 49. keruglan negara/daerah/perusahaan
anLara laln belan[a ñkuf, kekurangan volume peker[aan dan/aLau barang, keleblhan
pembayaran selaln kekurangan volume, pemahalan harga (mark up), pembayaran
honorarlum dan/aLau blaya per[alanan dlnas ganda dan/aLau meleblhl sLandar dan
penggunaan uang unLuk kepenungan prlbadl. ÞersenLase kasus keruglan yang banyak
Ler[adl dlsa[lkan dalam Crañk 1.
Grahk 1. Þersentase kasus kerug|an
Crañk 1 menya[lkan kasus-kasus keruglan yang banyak Ler[adl, yalLu
- kasus kekurangan volume peker[aan dan/aLau barang sebanyak S32 kasus (29°
darl seluruh kasus keruglan) senllal 8p188,78 mlllar, banyak dlLemukan pada
pemerlksaan LkÞu dan Þu11 Þelaksanaan dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a,
- kasus keleblhan pembayaran selaln kekurangan volume peker[aan dan/
aLau barang sebanyak 290 kasus (16° darl seluruh kasus keruglan) senllal
8p73,73 mlllar, banyak dlLemukan pada pemerlksaan LkÞu dan Þu11 Þelaksanaan
dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a,
- kasus belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan sebanyak 28S (1S° darl
seluruh kasus keruglan) senllal 8p1S3,93 mlllar, banyak dlLemukan pada
pemerlksaan LkÞu dan LkkL,
- kasus pembayaran honorarlum dan/aLau blaya per[alanan dlnas ganda dan
aLau meleblhl sLandar yang dlLeLapkan sebanyak 203 kasus (11° darl seluruh
kasus keruglan) senllal 8p90,48 mlllar, dengan rlnclan 8p88,76 mlllar dan
uSu200.00 rlbu (ekulvalen 8p1,71 mlllar) banyak dlLemukan pada pemerlksaan
LkÞu dan LkkL, dan
- kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf sebanyak 169 kasus (9° darl
seluruh kasus keruglan) senllal 8p132,83 mlllar, banyak dlLemukan pada
pemerlksaan LkÞu dan LkkL.
xv
1emuan poLensl keruglan negara/daerah/perusahaan sebanyak 428 kasus
senllal 8p4,S3 Lrlllun, dengan rlnclan 8p4,42 Lrlllun, uSu11.72 [uLa (ekulvalen
8p100,7S mlllar) dan Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p301,S7 [uLa), dlsa[lkan dalam
Lamplran 49. ÞoLensl keruglan negara/daerah/perusahaan dl anLaranya Ler[adl karena
rekanan belum melaksanakan kewa[lban pemellharaan barang hasll pengadaan, aseL
dlkuasal plhak laln, aseL udak dlkeLahul keberadaannya dan pluLang/pln[aman aLau
dana bergullr yang berpoLensl udak LerLaglh. ÞersenLase kasus poLensl keruglan yang
banyak Ler[adl dlsa[lkan dalam Crañk 2.
Grahk 2. Þersentase kasus Þotens| kerug|an
Crañk 2 menya[lkan kasus-kasus poLensl keruglan yang banyak Ler[adl, yalLu
- kasus pluLang/pln[aman aLau dana bergullr yang berpoLensl udak LerLaglh
sebanyak 137 kasus (32° darl seluruh kasus poLensl keruglan) senllal 8p979,74
mlllar, banyak dlLemukan pada pemerlksaan LkÞu dan LkkL.
- kasus aseL dlkuasal plhak laln sebanyak 86 kasus (20° darl seluruh kasus poLensl
keruglan) senllal 8p1,40 Lrlllun, banyak dlLemukan pada pemerlksaan LkÞu dan
LkkL.
- kasus aseL udak dlkeLahul keberadaannya sebanyak 67 kasus (16° darl
seluruh kasus poLensl keruglan) senllal 8p1,72 Lrlllun, banyak dlLemukan pada
pemerlksaan LkÞu dan LkkL.
1emuan kekurangan penerlmaan sebanyak 1.183 kasus senllal 8p2,22 Lrlllun, dengan
rlnclan 8p2,22 Lrlllun dan uSu199.49 rlbu (ekulvalen 8p1,71 mlllar), dlsa[lkan dalam
Lamplran S0. kekurangan penerlmaan dl anLaranya Ler[adl karena penerlmaan
negara/daerah belum/udak dlLeLapkan aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/
daerah aLau perusahaan mlllk negara/daerah, penggunaan langsung penerlmaan dan
pengenaan Larlf pa[ak leblh rendah darl keLenLuan. ÞersenLase kasus kekurangan
penerlmaan yang banyak Ler[adl dlsa[lkan dalam Crañk 3.
xvi
Grahk 3. Þersentase kasus kekurangan Þener|maan
Crañk 3 menya[lkan kasus-kasus kekurangan penerlmaan yang banyak Ler[adl, yalLu
- kasus penerlmaan negara/daerah denda keLerlambaLan peker[aan belum/
udak dlLeLapkan aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/daerah aLau
perusahaan mlllk negara/daerah sebanyak 933 kasus (79° darl seluruh
kasus kekurangan penerlmaan) senllal 8p712,03 mlllar, dengan rlnclan
8p710,32 mlllar dan uSu199.49 rlbu (ekulvalen 8p1,71 mlllar), banyak dlLemukan
pada pemerlksaan LkÞu dan LkkL.
- kasus penggunaan langsung penerlmaan negara/daerah sebanyak 206 kasus
(17° darl seluruh kasus kekurangan penerlmaan) senllal 8p666,03 mlllar, banyak
dlLemukan pada pemerlksaan LkÞu dan LkkL.
uarl Lemuan keruglan, poLensl keruglan, dan kekurangan penerlmaan (1abel 2
Sub 1oLal l) senllal 8p7,71 Lrlllun (8p7,61 Lrlllun, uSu 12.11 [uLa=8p104,19 mlllar,
Lu824.20 rlbu=301,S7 [uLa), selama proses pemerlksaan enuLas Lelah menlndaklan[uu
dengan penyeLoran ke kas negara/daerah/perusahaan senllal 8p136,77 mlllar
(8p136,47 mlllar, Lu824.20 rlbu=8p301,S7 [uLa), dengan rlnclan Lemuan keruglan
senllal 8p82,S9 mlllar (Lamplran 48), poLensl keruglan senllal 8p4,33 mlllar (8p4,03
mlllar dan Lu824.20 rlbu=8p301,S7 [uLa), dlsa[lkan dalam Lamplran 49, dan
kekurangan penerlmaan senllal 8p49,83 mlllar (Lamplran S0).
Pasll pemerlksaan SemesLer l 1ahun 2011 berdasarkan [enls pemerlksaan dlsa[lkan
secara rlngkas dalam uralan berlkuL.
Þemer|ksaan keuangan
ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melaksanakan pemerlksaan keuangan aLas
1 LkÞÞ 1ahun 2010, 83 LkkL 1ahun 2010 (Lermasuk ob[ek 8A 999 pada S kemenLerlan
yang mendukung Lk 8A 999 pada kemenLerlan keuangan), dan 363 LkÞu yang
mellpuu 3S8 LkÞu 1ahun 2010 dan S LkÞu 1ahun 2009, serLa 8 laporan keuangan
8PMn/badan lalnnya.
xvii
Laporan keuangan Þemer|ntah Þusat
Þada SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah memberlkan oplnl wa[ar dengan pengecuallan
(WuÞ) aLas LkÞÞ 1ahun 2010. Cplnl LersebuL sama dengan oplnl LkÞÞ 1ahun 2009.
Sebelum 1ahun 2009, selama llma Lahun berLuruL-LuruL 8Þk memberlkan oplnl udak
memberlkan pendapaL (1MÞ) aLau disclaimer opinion aLas LkÞÞ.
Cplnl WuÞ dlberlkan Lerhadap LkÞÞ 1ahun 2010 karena 8Þk maslh menemukan
permasalahan-permasalahan anLara laln (a) adanya permasalahan penaglhan,
pengakuan dan pencaLaLan penerlmaan perpa[akan. uaLa yang ada udak
memungklnkan 8Þk unLuk mengu[l kewa[aran penerlmaan perpa[akan, (b) pencaLaLan
uang muka 8endahara umum negara (8un) udak memadal, (c) adanya permasalahan
dalam pengendallan aLas pencaLaLan ÞluLang Þa[ak, dan (d) LerdapaL permasalahan
dalam pelaksanaan lnvenLarlsasl dan Þenllalan (lÞ) AseL 1eLap.
Laporan keuangan kementer|an Negara]Lembaga (LkkL)
Selaln LkÞÞ, 8Þk [uga memerlksa laporan keuangan uap-uap kemenLerlan negara,
lembaga negara, dan lembaga pemerlnLah non kemenLerlan. Þada SemesLer l 1ahun
2011 lnl 8Þk memberlkan oplnl wa[ar Lanpa pengecuallan (W1Þ) aLas S2 laporan
keuangan kemenLerlan/lembaga (LkkL), oplnl wa[ar dengan pengecuallan (WuÞ) aLas
29 LkkL, dan oplnl udak memberlkan pendapaL (1MÞ) pada 2 LkkL 1ahun 2010.
Þerkembangan oplnl LkkL 1ahun 2006 sampal dengan 1ahun 2010 dapaL dlllhaL dalam
1abel 3 berlkuL lnl.
1abe| 3. Þerkembangan Cp|n| LkkL 1ahun 2006 - 2010
LKKL
Opini
Jumlah
WTP % WDP % TW % TMP %
1ahun 200S*
1ahun 2006 7 9° 36 46° 0 0° 36 46° 79
1ahun 2007 14 18° 32 40° 1 1° 33 41° 80
1ahun 2008 34 41° 31 37° 0 0° 18 22° 83
1ahun 2009 44 S6° 26 33° 0 0° 8 10° 78
1ahun 2010 S2 63° 29 3S° 0 0° 2 2° 83
Cakupan pemerlksaan aLas 83 LkkL LersebuL mellpuu neraca, laporan reallsasl
anggaran (L8A), laporan arus kas (LAk), dan caLaLan aLas laporan keuangan
(CaLk). 8ekaplLulasl nllal neraca dengan rlnclan aseL senllal 8p2.420,0S Lrlllun,
kewa[lban senllal 8p1.798,03 Lrlllun, dan ekulLas senllal 8p622,01 Lrlllun. Þada
L8A, rlnclan pendapaLan negara dan hlbah senllal 8p99S,27 Lrlllun, belan[a senllal
8p1.042,11 Lrlllun, dan pemblayaan neuo senllal 8p91,SS Lrlllun.
!umlah Lk 1ahun 2010 yang dlperlksa 8Þk leblh banyak dlbandlngkan pemerlksaan Lk
2009 dlsebabkan adanya penambahan pemerlksaan baglan anggaran yang dlperlksa
balk kL, non kL, maupun 8un.
* 8Þk Lelah memerlksa LkkL 1ahun 200S LeLapl belum memberlkan oplnl
xviii
uarl 1abel 3 LerllhaL bahwa oplnl LkkL 1ahun 2010, secara persenLase menun[ukkan
adanya kenalkan proporsl oplnl W1Þ dan WuÞ serLa penurunan proporsl oplnl 1MÞ
dlbandlngkan oplnl LkkL Lahun-Lahun sebelumnya. kondlsl lnl menggambarkan usaha
kL menu[u arah perbalkan dalam menyusun laporan keuangannya.
Selaln oplnl, laporan hasll pemerlksaan (LPÞ) 8Þk aLas LkkL [uga mengungkapkan
Lemuan LenLang kelemahan SÞl dan keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan. Pasll pemerlksaan 8Þk aLas 83 LkkL menemukan S19 kasus kelemahan
SÞl dan 731 kasus keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan
senllal 8p1,S0 Lrlllun, dengan rlnclan 8p1,40 Lrlllun dan uSu11.72 [uLa (ekulvalen
8p100,7S mlllar).
Selama proses pemerlksaan 83 LkkL LersebuL, Lemuan keudakpaLuhan Lerhadap
keLenLuan perundang-undangan yang mengaklbaLkan keruglan negara dan kekurangan
penerlmaan Lelah dlundaklan[uu dengan penyeLoran ke kas negara senllal 8p3S,S1
mlllar, yalLu Lemuan keruglan senllal 8p24,76 mlllar (Lamplran 48) dan Lemuan
kekurangan penerlmaan senllal 8p10,7S mlllar (Lamplran 49).
Laporan keuangan Þemer|ntah Daerah
Þada SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah memerlksa LkÞu 1ahun 2010 pada 3S8
aLau 69° darl S24 pemerlnLah daerah provlnsl/kabupaLen/koLa dan LkÞu 1ahun
2009 pada llma pemerlnLah daerah yalLu kabupaLen kepulauan Aru, Seram 8aglan
8araL, Seram 8aglan 1lmur dl Þrovlnsl Maluku, Mamberamo 8aya dl Þrovlnsl Þapua,
dan 1eluk Wondama dl Þrovlnsl Þapua 8araL. Cakupan pemerlksaan aLas 3S8 LkÞu
LersebuL mellpuu neraca dan L8A. 8lnclan neraca yalLu aseL senllal 8p1.281,03 Lrlllun,
kewa[lban senllal 8p8,26 Lrlllun, dan ekulLas senllal 8p1.272,7S Lrlllun. Sedangkan
rlnclan L8A mellpuu pendapaLan senllal 8p34S,22 Lrlllun, belan[a (Lermasuk Lransfer)
senllal 8p338,2S Lrlllun, dan pemblayaan neLo senllal 8p3S,71 Lrlllun.
8Þk memberlkan oplnl WTP aLas 32 LkÞu, oplnl WDP aLas 271 LkÞu, oplnl ndak wa[ar
(1W) aLas 12 LkÞu, dan oplnl TMP aLas 43 LkÞu. Sedangkan Lerhadap llma LkÞu 1ahun
2009 8Þk memberlkan oplnl TMP. Þerkembangan oplnl LkÞu 1ahun 200S s.d. 2010
dapaL dlllhaL dalam 1abel 4 berlkuL.
1abe| 4. Þerkembangan Cp|n| LkÞD 1ahun 200S-2010
LKPD
OPINI
JUMLAH
WTP % WDP % TW % TMP %
200S 18 S° 307 8S° 13 3° 24 7° 362
2006 3 1° 327 70° 28 6° 10S 23° 463
2007 4 1° 283 60° S9 13° 123 26° 469
2008 13 3° 323 67° 31 6° 118 24° 48S
2009 1S 3° 330 6S° 48 10° 111*) 22° S04
2010 32 9° 271 76° 12 3° 43 12° 3S8**)
*) 1ermasuk LkÞu kab. kepulauan Aru, kab. Seram 8aglan 8araL, kab. Seram 8aglan 1lmur, kab. Mamberamo 8aya, dan kab.
1eluk Wondama yang baru dlperlksa 1ahun 2011.
**) !umlah oplnl yang dlberlkan sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011
xix
uarl 1abel 4 dl aLas dlkeLahul bahwa oplnl LkÞu 1ahun 2010 menun[ukkan kenalkan
proporsl oplnl W1Þ dan WuÞ dlbandlngkan oplnl LkÞu Lahun-Lahun sebelumnya
kecuall 1ahun 200S. Pal lnl menggambarkan adanya perbalkan slsLem pengelolaan
dan Langgung [awab khususnya dalam pencaLaLan dan pelaporan keuangan daerah
oleh pemerlnLah daerah.
Maslh banyaknya oplnl 1MÞ dan 1W (1S°) yang dlberlkan oleh 8Þk menun[ukkan
efekuvlLas SÞl pemerlnLah daerah yang bersangkuLan belum opumal. kelemahan
pengendallan lnLern dalam pengelolaan keuangan daerah sebaglan besar karena
belum memadalnya unsur llngkungan pengendallan, penllalan rlslko dan keglaLan
pengendallan. Þada umumnya kelemahan LersebuL mellpuu permasalahan kurang
Lerubnya penyusunan dan penerapan kebl[akan, kurangnya komlLmen Lerhadap
kompeLensl, belum opumalnya keglaLan ldenuñkasl rlslko dan anallsls rlslko, lemahnya
pengendallan ñslk aLas aseL serLa pencaLaLan Lransaksl yang kurang akuraL dan LepaL
wakLu.
kelemahan dalam pengendallan lnLern LersebuL LerllhaL darl banyaknya kasus
pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL, penganggaran/perencanaan
udak memadal, pelaksanaan keglaLan udak sepenuhnya melalul mekanlsme AÞ8u
dan udak dlaLur dengan mekanlsme yang memadal, serLa belum adanya standard
opetouoq ptoceJote (SCÞ) yang memadal.
Þemerlksaan Lerhadap 3S8 LkÞu [uga menemukan 3.397 kasus kelemahan SÞl. Selaln
oplnl dan Lemuan SÞl, hasll pemerlksaan [uga menemukan keudakpaLuhan Lerhadap
keLenLuan perundang-undangan sebanyak 4.SS1 kasus senllal 8pS,28 Lrlllun. uarl
Lemuan keudakpaLuhan, Lemuan yang mengaklbaLkan keruglan, poLensl keruglan
dan kekurangan penerlmaan, Lelah dlundaklan[uu dengan penyeLoran ke kas negara/
daerah selama proses pemerlksaan senllal 8p73,81 mlllar, yalLu Lemuan keruglan
senllal 8pS0,64 mlllar (Lamplran 48), poLensl keruglan senllal 8p3,26 mlllar (Lamplran
49), dan kekurangan penerlmaan senllal 8p19,89 mlllar (Lamplran S0) .
Laporan keuangan 8nMN dan 8adan La|nnya
Selaln pemerlksaan aLas LkÞÞ, LkkL, dan LkÞu, 8Þk [uga Lelah memerlksa delapan
laporan keuangan 8PMn dan badan lalnnya. 8Þk memberlkan oplnl W1Þ Lerhadap
Laporan keuangan 8adan Þelaksana keglaLan usaha Pulu Mlnyak dan Cas 8uml
(8ÞMlCAS) 1ahun 2008, Laporan keuangan 8ank lndonesla (8l) 1ahun 2010, Laporan
keuangan konsolldasl 1ahun 2010 ltoject Moooqemeot O[ce of Asian Development
Bank on íottbpooke ooJ 1soooml ímetqeocy 5oppott ltoject (ÞMC Au8 L1LSÞ)
1ahun 2010, Laporan keuangan ÞusaL lnvesLasl ÞemerlnLah (ÞlÞ) 1ahun 2010, Laporan
keuangan Sekolah 1lnggl AkunLansl negara (S1An) 1ahun 2010, dan Laporan keuangan
Loan Au8 2S7S-lnC pada kotol loftosttoctote 5oppott to 1be ÞnÞM Mandlrl Project
2, ulrekLoraL !enderal ClpLa karya, kemenLerlan Þeker[aan umum (Loan Au8 2S7S-
lnC) 1ahun 2010. Cplnl 1MÞ dlberlkan Lerhadap Laporan keuangan Þenyelenggaraan
lbadah Pa[l (ÞlP) pada 8adan Þenyelenggara lbadah Pa[l 1ahun 1431 P/2010 M dan
Laporan keuangan Lembaga Þen[amln Slmpanan (LÞS) 1ahun 2010.
xx
Pemeriksaan Kinerja
ualam SemesLer l 1ahun 2010, 8Þk Lelah melaksanakan pemerlksaan klner[a aLas 14
ob[ek pemerlksaan, Lerdlrl aLas 8 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah pusaL,
4 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah daerah, dan 2 ob[ek dl 8uMn.
Pasll pemerlksaan 8Þk dapaL dlkelompokkan dalam beberapa Lema pemerlksaan
sebagal berlkuL:
- penyelenggaraan lbadah ha[l 1ahun 1431 P/2010 M,
- klner[a rumah saklL, dan
klner[a bea dan cukal.
Selaln Lema pemerlksaan dl aLas LerdapaL llma pemerlksaan klner[a yang udak dapaL
dlkelompokkan dalam Lema-Lema LersebuL dl aLas.
Pasll pemerlksaan klner[a aLas Lema-Lema dl aLas anLara laln sebagal berlkuL.
Þenyelenggara lbadah Pa[l 1ahun 1431 P/2010 M
- Þenyelenggara lbadah Pa[l 1ahun 1431 P/2010 M Lelah menlngkaLkan pelayanan
pemondokan, LransporLasl daraL, dan kaLerlng. namun, dalam pelaksanaannya
maslh dlLemukan permasalahan anLara laln peneLapan [arak pemondokan ke
Mas[ldll Param dl Mekkah yang dlbagl dalam 8lng l dan 8lng ll pada 1ahun 1429
P/2008 M, 1430 P/2009 M, dan 1431 P/2010 M mengalaml perubahan, akan
LeLapl perubahan [arak LersebuL belum dlsoslallsaslkan kepada calon [emaah
ha[l.
klner[a rumah saklL
- Þengelolaan sarana prasarana dan peralaLan kesehaLan pada 8SA8 Parapan klLa,
!akarLa belum eñslen dan efekuf dalam rangka menun[ang Lercapalnya Lu[uan
8SA8 Parapan klLa.
- 8Suu Langsa, Þrovlnsl Aceh belum efekuf dalam merencanakan, memenuhl
kebuLuhan lnfrasLrukLur, meneLapkan prosedur dan sLandar pelayanan, serLa
melakukan keglaLan monlLorlng dan evaluasl aLas pelayanan rawaL lnap.
- Þelayanan kesehaLan pada 8Suu CuL nyak uhlen Meulaboh dan ulnas kesehaLan
kabupaLen Aceh 8araL, Þrovlnsl Aceh belum sepenuhnya mencapal SLandar
Þelayanan Mlnlmum.
- SLrukLur pengendallan lnLern 8Suu kabupaLen 8uru, Þrovlnsl Maluku maslh
belum memadal, belum efekuf dalam merancang, melaksanakan, dan
memperLanggung[awabkan sumber daya yang ada dalam mencapal SÞM dan
memenuhl keLenLuan yang berlaku.
xxi
klner[a bea dan cukal
- keglaLan audlL kepabeanan dan cukal yang dllakukan oleh kanwll ulrekLoraL
!enderal 8ea dan Cukal (u!8C) !akarLa cukup efekuf unLuk mendukung
penlngkaLan pengamanan penerlmaan negara, semenLara lLu keglaLan audlL
kepabeanan dan cukal yang dllakukan kanwll u!8C !awa 1lmur l kurang efekuf
unLuk dapaL mendukung rencana sLraLegls dalam pengamanan aLas penerlmaan
negara.
- keglaLan pelayanan dan penaLausahaan penyelesalan lmpor barang klrlman
melalul Þ!1 dan kanLor 1ukar Þos udara pada kÞÞ8C Soekarno Paua 1angerang
serLa keglaLan pelayanan dan penaLausahaan pengeluaran barang lmpor unLuk
dlpakal darl 1ÞS pada kÞÞ8C 8elawan Medan kurang efekuf dalam rangka
mendorong kelancaran arus barang dan kepaLuhan Þ!1/penerlma barang
klrlman dalam memenuhl kewa[lban kepabeanannya sesual dengan keLenLuan
perundang-undangan yang berlaku.
klner[a lalnnya
- LfekuvlLas pengelolaan ka[lan aLas program penaLaan kelembagaan dan
keLaLalaksanaan pada LAn udak Lercapal secara opumal.
- Þrogram penaLaan kelembagaan dan keLaLalaksanaan pada kemenLerlan ÞÞn/
8appenas Lelah dllaksanakan secara efekuf.
- ÞemerlnLah koLa Ambon belum efekuf dalam merencanakan, melaksanakan,
serLa melakukan monlLorlng dan evaluasl aLas pengelolaan pelayanan pendldlkan.
- Þelaksanaan LransporLasl dan anLaran klrlman pos yang mellpuu perencanaan,
pelaksanaan, dan pemanLauan pada Þ1 Þos (Þersero) belum sepenuhnya eñslen
dan efekuf.
- Þelaksanaan keglaLan penerlmaan luran wa[lb pesawaL udara (lWÞu) dan
pengeluaran blaya admlnlsLrasl (8A) dalam menghasllkan penerlmaan lWÞu
darl semua operaLor pesawaL udara pada Þ1 !asa 8ahar[a (Þersero) belum
sepenuhnya eñslen dan efekuf.
Þemer|ksaan Dengan 1u[uan 1ertentu
ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melakukan Þu11 aLas 208 ob[ek pemerlksaan,
Lerdlrl aLas 61 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah pusaL, 92 ob[ek
pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah daerah, 44 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan
8uMn, 9 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan 8uMu, dan 2 ob[ek pemerlksaan dl
llngkungan 8PMn/8Lu/badan lalnnya.
Pasll pemerlksaan LersebuL dapaL dlkelompokkan dalam beberapa Lema sebagal
berlkuL:
- pengelolaan dan perLanggung[awaban pendapaLan,
xxii
- pelaksanaan dan perLanggung[awaban belan[a,
- pengelolaan dan perLanggung[awaban dana alokasl khusus bldang pendldlkan,
- pengelolaan dan perLanggung[awaban dana oLonoml khusus,
- pelaksanaan subsldl pemerlnLah,
- pengendallan lnLern badan usaha mlllk negara, dan
- operaslonal badan usaha mlllk negara.
Selaln Lema pemerlksaan dl aLas, LerdapaL 16 ob[ek pemerlksaan dengan Lu[uan
LerLenLu yang udak dapaL dlkelompokkan dalam Lema-Lema LersebuL sehlngga
dlkelompokkan dalam bab pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu lalnnya.
Pasll Þu11 mengungkapkan 899 kasus kelemahan SÞl dan 1.2S1 kasus keudakpaLuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan senllal 8pS,89 Lrlllun, dengan rlnclan
8pS,88 Lrlllun, uSu198.44 rlbu (ekulvalen 8p1,70 mlllar), dan Lu8212.87 rlbu
(ekulvalen 8p2,6S mlllar). nllal Lemuan LersebuL merupakan Lemuan keruglan,
poLensl keruglan, kekurangan penerlmaan, keudakhemaLan, keudakeñslenan, dan
keudakefekufan yang memlllkl lmpllkasl nllal uang. Selaln Lemuan LersebuL, LerdapaL
Lemuan kelemahan SÞl dan kelemahan admlnlsLrasl yang udak memlllkl lmpllkasl nllal
uang LeLapl memerlukan perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
Selama proses Þu11 LersebuL, Lemuan keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan
keruglan, poLensl keruglan, dan kekurangan penerlmaan Lelah dlundaklan[uu dengan
penyeLoran ke kas negara/daerah senllal 8p27,43 mlllar, dengan rlnclan 8p27,13
mlllar dan Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p301,S7 [uLa). ÞenyeLoran LersebuL Lerdlrl aLas
penyeLoran Lemuan keruglan senllal 8p7,17 mlllar (Lamplran 48), poLensl keruglan
senllal 8p1,07 mlllar (8p771,29 [uLa, Lu824.20 rlbu=8p301,S7 [uLa), dlsa[lkan dalam
Lamplran 49, dan kekurangan penerlmaan senllal 8p19,18 mlllar (Lamplran S0).
Pasll Þu11 anLara laln sebagal berlkuL.
- Þengelolaan dan perLanggung[awaban pendapaLan
ul kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka, ulL[en ÞosLel, SlsLem lnformasl
Mana[emen lrekuensl, udak dapaL menghlLung denda keLerlambaLan
pembayaran 8PÞ frekuensl radlo 1A 2009 dan 2010, sehlngga denda dlhlLung
manual yang mengaklbaLkan denda keLerlambaLan belum dlLeLapkan senllal
8p31,04 mlllar.
- Þelaksanaan dan perLanggung[awaban belan[a
ul kemenLerlan kesehaLan, kekurangan ñslk dan kesalahan perhlLungan
volume dalam konLrak pengadaan obaL dan alaL kesehaLan 1A 2007 s.d. 2009,
mengaklbaLkan keleblhan pembayaran senllal 8p4,78 mlllar.
xxiii
- Þengelolaan dan perLanggung[awaban dana alokasl khusus bldang pendldlkan
ul kemenLerlan Þendldlkan naslonal, LerdapaL keruglan negara aLas kesalahan
penyaluran dana subsldl Lun[angan guru 1A 2009 dan 2010 maslng-maslng senllal
8p3,S3 mlllar dan 8p616,39 [uLa anLara laln karena adanya pemberlan Lun[angan
profesl, fungslonal, dan Lambahan penghasllan secara ganda, pemberlan
Lun[angan fungslonal mesklpun Lelah menerlma Lun[angan profesl, pemberlan
Lun[angan Lambahan penghasllan kepada guru yang belum berseruñkaL, serLa
pemberlan subsldl Lun[angan Lambahan penghasllan kepada non guru.
- Þengelolaan dan perLanggung[awaban dana oLonoml khusus
ul Þrovlnsl Þapua, Ler[adl pemahalan harga aLas pengadaan solar cell, Lelevlsl,
radlo, dan parabola 1A 2010 pada 8lro ÞemerlnLahan kampung yang berlndlkasl
meruglkan keuangan daerah senllal 8p20,2S mlllar.
- Þelaksanaan subsldl pemerlnLah
ÞemerlnLah maslh mempunyal kewa[lban membayar subsldl kepada uga 8uMn
(Þ1 ÞLn, ÞerLamlna, dan Þ1 Þk1) penerlma subsldl senllal 8pS,S6 Lrlllun darl yang
Lelah dlLeLapkan dan ÞemerlnLah leblh bayar kepada empaL 8uMn (Þ1 Þk, Þ1
ÞlM, Þ1 Þusrl Þalembang, dan Þ1 ÞC) senllal 8p796,73 mlllar.
- Þengendallan lnLern badan usaha mlllk negara
Þ1 8aLan 1eknologl (Þersero) udak membuaL perhlLungan harga pokok produksl
(PÞÞ) berdasarkan pesanan aLau berdasarkan [enls produk mengaklbaLkan
perusahaan udak memlllkl daLa LenLang PÞÞ per pesanan aLaupun per [enls
produk yang akuraL sehlngga udak dapaL menghlLung margln pen[ualan maslng-
maslng produk.
- Cperaslonal badan usaha mlllk negara
ul Þerum Þerurl, LerdapaL peker[aan opqtoJe coottol of tbetmoteqolouoq unit
yang dlbaLalkan namun udak dlLuangkan dalam klausul adendum konLrak,
mengaklbaLkan pemborosan senllal Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p3,89 mlllar).
- Þu11 lalnnya
ul kemenLerlan Þeker[aan umum, rekanan yalLu Þ1 M!S Lelah melakukan
perbuaLan melawan hukum berupa pelanggaran aLas per[an[lan ker[a sama
(konLrak) yang mengaklbaLkan pembangunan lrlgasl Lersler 8lok-C (ÞakeL 13:
LC8 7) Muncak kabau Lerbengkalal dan uang muka unLuk peker[aan LersebuL
udak dapaL dlkemballkan dan [amlnan uang muka aLas pelaksanaan peker[aan
LersebuL senllal 8p6,8S mlllar udak blsa dlcalrkan yang berpoLensl meruglkan
keuangan negara.
xxiv
Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan
8erdasarkan hasll pemerlksaan 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011,
8Þk Lelah memberlkan 191.7S7 rekomendasl senllal 8p103,19 Lrlllun dengan rlnclan
8p76,13 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p27,0S Lrlllun). 8ekomendasl lnl harus
dlundaklan[uu oleh enuLas yang dlperlksa anLara laln dengan melakukan perbalkan
SÞl, undakan admlnlsLrauf, dan/aLau penyeLoran kas/penyerahan aseL ke negara/
daerah/perusahaan.
Pasll pemanLauan undak lan[uL rekomendasl 8Þk LersebuL menun[ukkan sebanyak
106.0S8 rekomendasl senllal 8p37,87 Lrlllun, dengan rlnclan 8p2S,40 Lrlllun dan
se[umlah valas (ekulvalen 8p12,46 Lrlllun) Lelah dlundaklan[uu sesual dengan
rekomendasl. Sebanyak 40.841 rekomendasl senllal 8p40,41 Lrlllun, dengan rlnclan
8p30,66 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p9,74 Lrlllun) dlundaklan[uu belum
sesual dengan rekomendasl aLau dalam proses undak lan[uL, dan sebanyak 44.8S8
rekomendasl senllal 8p24,91 Lrlllun, dengan rlnclan 8p 8p20,06 Lrlllun dan se[umlah
valas (ekulvalen 8p4,84 Lrlllun) belum dlundaklan[uu.
LnuLas Lelah menlndaklan[uu rekomendasl 8Þk 1ahun 200S sampal dengan SemesLer
l 1ahun 2011 berupa penyeLoran kas/penyerahan aseL ke negara/ daerah/perusahaan
senllal 8p2S,S7 Lrlllun, dengan rlnclan seperu dlsa[lkan pada 1abel S. berlkuL.
1abe| S. 1|ndak Lan[ut kekomendas| 8Þk dengan Þenyetoran kas]Þenyerahan Aset ke Negara]
Daerah]Þerusahaan
No. Lnntas
Nilai
(miliar Rp)
Valas
Total
(miliar Rp)
Nilai
(ribu valas)
kurs 1engah
30 Juni 2011
(Rp)
Nilai
Ekuivalen
(miliar Rp)
1 2 3 4 5 6 (4x5) 7
1 ÞemerlnLah ÞusaL 8.664,74 8.664,74


uSu 64,110.44 8.S97,00 SS1,1S SS1,1S


Lu8 S80.39 12.461,78 7,23 7,23


SA8 110.41 2.294,03 0,2S 0,2S


SCu 117.7S 6.984,61 0,82 0,82


C8Þ 396.10 13.834,73 S,47 S,47
Jumlah Pemerintah Pusat 9.229,68
2 ÞemerlnLah uaerah 8.997,1S 8.997,1S


uSu 449.96 8.S97,00 3,86 3,86
Jumlah Pemerintah Daerah 9.001,01
3 8uMn lnduk 6.33S,96 6.33S,96
uSu 82.344.3S 8.S97,00 707,91 707,91
Lu8 24.20 12.461,78 0,30 0,30
!Þ? 270,977.12 10.671,S7* 28,91 28,91
Jumlah BUMN Induk 7.073,09
4 8uMn Anak Þerusahaan 228,88 228,88
uSu 4,29S.29 8.S97,00 36,92 36,92
M?8 S2S.00 2.84S,99 1,49 1,49
Jumlah BUMN Anak
Perusahaan
267,30
Total (miliar Rp) 25.571,09
* !Þ? 100 = 8p10.671,S7
keLerangan: dlolah darl Lamplran 37 s.d. Lamplran 39
xxv
Þemantauan Þenye|esa|an kerug|an Negara]Daerah
Pasll pemanLauan penyelesalan keruglan negara/daerah SemesLer l 1ahun
2011 menun[ukkan bahwa keruglan negara/daerah perlode akhlr 1ahun 2004
sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 adalah sebanyak 8S.139 kasus senllal
8p17,93 Lrlllun, dengan rlnclan 8p12,92 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen
8pS,01 Lrlllun). Þenyelesalan berupa angsuran LerpanLau sebanyak 18.297 kasus
senllal 8p1,81 Lrlllun, dengan rlnclan 8p1,72 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen
8p91,S7 Lrlllun). Þelunasan sebanyak 22.992 kasus senllal 8p4,84 Lrllllun, dengan
rlnclan 8p1,29 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p3,S4 Lrlllun). Þenghapusan
keruglan negara/daerah Lelah dllakukan aLas 117 kasus senllal 8p10,20 mlllar, dengan
rlnclan 8p9,S0 mlllar dan se[umlah valas (ekulvalen 8p701,12 [uLa).
Þemantauan terhadap nas|| Þemer|ksaan 8Þk 8er|nd|kas| 1|ndak Þ|dana]
kerug|an Negara yang D|sampa|kan kepada Instans| yang 8erwenang
Selama 1ahun 2003 sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011, [umlah LPÞ 8Þk berlndlkasl
undak pldana yang Lelah dlsampalkan kepada lnsLansl berwenang adalah sebanyak
30S kasus senllal 8p33,66 Lrlllun, dengan rlnclan 8p29,S1 Lrlllun dan uSu480.88 [uLa
(ekulvalen 8p4,1S Lrlllun). uarl 30S kasus yang dlserahkan LersebuL, lnsLansl yang
berwenang yalLu kepollslan 8l, ke[aksaan 8l, dan komlsl ÞemberanLasan korupsl
(kÞk) Lelah menlndaklan[uu 166 kasus yalLu pellmpahan kepada [a[aran/penyldlk
lalnnya sebanyak 41 kasus, Lelaahan, gelar perkara dan penelluan sebanyak 21 kasus,
penyelldlkan sebanyak 24 kasus, penyldlkan sebanyak 10 kasus, proses sldang 1
kasus, penunLuLan sebanyak 11 kasus, vonls/bandlng sebanyak 47 kasus, dan SÞ3/
dlhenukan sebanyak 11 kasus. Slsa kasus yang belum dlundaklan[uu aLau udak ada
daLa undak lan[uLnya yalLu sebanyak 139 kasus.
Jakarta, 30 September 2011
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
xxvi
1
PEMERIKSAAN KEUANGAN
Salah satu jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK adalah pemeriksaan keuangan.
Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan
memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan
keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif
lainnya.
Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/
opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan.
Adapun kriteria pemberian opini menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, Penjelasan
Pasal 16 ayat (1), opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan
pada kriteria (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, (b) kecukupan
pengungkapan (adequate disclosures), (c) kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan, dan (d) efekuvlLas slsLem pengendallan lnLern (SÞl).
Oleh karena itu, dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan, selain memberikan
opini atas laporan keuangan, BPK juga melaporkan hasil pemeriksaan atas SPI, dan
laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa.
- Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (oopoollfeJ oploloo); opini wajar
tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan
diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan informasi keuangan
yang disajikan dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan.
- Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (poollfeJ oploloo); opini wajar
dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan
dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material, kecuali untuk
dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan, sehingga
lnformasl keuangan dalam laporan keuangan yang udak dlkecuallkan dalam
opini pemeriksa dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan.
- Opini Tidak Wajar – TW (oJvetse oploloo), oplnl udak wa[ar menyaLakan bahwa
laporan keuangan udak dlsa[lkan dan dlungkapkan secara wa[ar dalam semua
hal yang maLerlal, sehlngga lnformasl keuangan dalam laporan keuangan udak
dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan.
- Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat –
TMP (Jlsclolmet of oploloo); pernyataan menolak memberikan opini menyatakan
bahwa laporan keuangan udak dapaL dlperlksa sesual dengan sLandar
pemerlksaan. uengan kaLa laln, pemerlksa udak dapaL memberlkan keyaklnan
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material, sehingga informasi
keuangan dalam laporan keuangan udak dapaL dlgunakan oleh para pengguna
laporan keuangan.
2
Sistem Pengendalian Intern (SPI)
Salah saLu krlLerla pemberlan oplnl aLas laporan keuangan adalah efekuvlLas SÞl.
Pengendalian intern pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dirancang
dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). SPI dinyatakan memadai apabila
unsur-unsur dalam SPI menyajikan suatu pengendalian yang saling terkait dan dapat
meyakinkan pengguna bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.
Llngkungan pengendallan yang dlclpLakan seharusnya menlmbulkan perllaku posluf
dan kondusif untuk menerapkan SPI. SPI didesain untuk dapat mengenali apakah SPI
telah memadai dan mampu mendeteksi adanya kelemahan. Kelemahan tersebut
mengaklbaLkan permasalahan dalam akuvlLas pengendallan yang menlmbulkan
kasus-kasus kelemahan SPI sebagai berikut.
- Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan, yaitu kelemahan
sistem pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan akuntansi dan pelaporan
keuangan.
- Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja,
yaitu kelemahan pengendalian yang terkait dengan pemungutan dan penyetoran
penerlmaan negara/daerah serLa pelaksanaan program/keglaLan pada enuLas
yang diperiksa.
- Kelemahan struktur pengendalian intern, yaitu kelemahan yang terkait dengan
ada/udak adanya sLrukLur pengendallan lnLern aLau efekuvlLas sLrukLur
pengendallan lnLern yang ada dalam enuLas yang dlperlksa.
Kepatuhan
Pemberian opini atas laporan keuangan juga didasarkan pada penilaian kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan
mengungkapkan keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan yang
mengakibatkan kerugian negara/daerah/perusahaan, potensi kerugian negara/
daerah/perusahaan, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan,
keudakeñslenan, dan keudakefekufan sebagal berlkuL.
- Kerugian negara/daerah/perusahaan adalah berkurangnya kekayaan negara/
daerah berupa uang, suraL berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya
sebagai akibat perbuatan melawan hukum, baik sengaja maupun lalai.
- Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan adalah suatu perbuatan melawan
hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya
kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga,
dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
- Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak
negara/daerah LeLapl udak aLau belum masuk ke kas negara/daerah karena
adanya unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
3
- Temuan penyimpangan administrasi mengungkap adanya penyimpangan
terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau
pengelolaan aseL maupun operaslonal, LeLapl penylmpangan LersebuL udak
mengaklbaLkan keruglan aLau poLensl keruglan negara/daerah, udak mengurangl
hak negara/daerah (kekurangan penerlmaan), udak menghambaL program
enuLas, dan udak mengandung unsur lndlkasl undak pldana.
- 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lopot
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan
dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.
- 1emuan mengenal keudakeñslenan mengungkap permasalahan raslo
penggunaan kuanuLas/kuallLas lnpuL unLuk saLu saLuan ouLpuL yang leblh besar
dari seharusnya.
- 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll (outcome)
yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak memberlkan
manfaaL aLau hasll yang dlrencanakan serLa fungsl lnsLansl yang udak opumal
sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
Laporan Keuangan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan
bahwa presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)
kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa
oleh BPK, selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan
keuangan dlmaksud seudak-udaknya mellpuu laporan reallsasl AÞ8n (L8A), neraca,
laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, yang dilampiri dengan laporan
keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.
uemlklan [uga halnya dengan gubernur/bupau/wallkoLa, menyampalkan rancangan
peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan
dan belanja daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berupa
laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK, selambat-lambatnya enam bulan
seLelah Lahun anggaran berakhlr. Laporan keuangan dlmaksud seudak-udaknya
mellpuu laporan reallsasl AÞ8u (L8A), neraca, laporan arus kas, dan caLaLan aLas
laporan keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah dan
badan lainnya.
Dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) undang-undang tersebut,
dinyatakan bahwa pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambat-
lambatnya dua bulan setelah BPK menerima laporan keuangan dari pemerintah
pusat/daerah.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal
55 menyatakan bahwa presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah
pusaL kepada 8Þk pallng lambaL uga bulan seLelah Lahun anggaran berakhlr, dan
4
Þasal S6 undang-undang LersebuL menyaLakan bahwa gubernur/bupau/wallkoLa
menyampalkan laporan keuangannya kepada 8Þk pallng lambaL uga bulan seLelah
tahun anggaran berakhir.
Memenuhi ketentuan tersebut, pada Semester I Tahun 2011 BPK telah melakukan
pemeriksaan keuangan atas 1 LKPP Tahun 2010, 83 LKKL Tahun 2010 (termasuk objek
BA 999 pada 5 kementerian yang mendukung LK BA 999 pada Kementerian Keuangan).
BPK juga telah melakukan pemeriksaan atas 358 LKPD Tahun 2010 dan 5 LKPD Tahun
2009. Þada ungkaL pusaL, balk pemerlnLah maupun 8Þk Lelah dapaL memenuhl
amanat undang-undang tersebut dengan tepat waktu, dan BPK telah menyampaikan
hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2010 kepada DPR pada 1 Juni 2011. Namun, pada
ungkaL daerah maslh LerdapaL LkÞu yang belum dlperlksa oleh 8Þk karena maslh
cukup banyak daerah yang belum dapat memenuhi jadwal waktu penyerahan LKPD
sebagaimana diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004.
Dalam Semester I Tahun 2011, BPK juga telah menyelesaikan pemeriksaan atas satu
laporan keuangan BHMN dan tujuh laporan keuangan badan lainnya. Untuk BHMN,
pemeriksaan dilakukan atas Laporan Keuangan BP Migas Tahun 2008. Sedangkan
untuk badan lainnya, pemeriksaan dilakukan atas Laporan Keuangan Tahun 2010 pada
Bank Indonesia (BI), Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) 1431 H/2010 M, Lembaga
Þen[amln Slmpanan (LÞS), ÞusaL lnvesLasl ÞemerlnLah (ÞlÞ), Sekolah 1lnggl AkunLansl
Negara (STAN), ltoject Moooqemeot O[ce Asloo uevelopmeot 8ook íottbpooke AoJ
1soooml ímetqeocy 5oppott ltoject (PMO ADB ETESP) Bappenas Jakarta dan Loan
ADB 2575 INO pada kotol loftosttoctote 5oppott to lNlM MooJltl ltoject 2 Dirjen
Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum.
5
BAB 1
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP)
1.1 Pada Semester I Tahun 2011, BPK telah melakukan pemeriksaan atas LKPP
Tahun 2010. Pemeriksaan keuangan ini merupakan yang ketujuh atas LKPP
yang disusun Pemerintah yaitu sejak LKPP Tahun 2004.
1.2 Tujuan pemeriksaan LKPP adalah untuk memberikan pendapat atas
kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan empat kriteria, yaitu
(a) kesesuaian penyajian laporan keuangan dengan Standar Akuntansi
ÞemerlnLah, (b) enuLas yang dlperlksa Lelah memenuhl persyaraLan
kepatuhan terhadap peraturan keuangan tertentu; (c) sistem pengendalian
intern instansi tersebut baik terhadap informasi keuangan yang dihasilkan
maupun terhadap pengamanan atas kekayaannya, telah dirancang dan
dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian; dan (d)
pengungkapan yang memadai atas informasi laporan keuangan.
1.3 Cakupan pemerlksaan LkÞÞ mellpuu neraca, laporan reallsasl anggaran
(LRA), laporan arus kas (LAK) dan catatan atas laporan keuangan (CALK).
Rincian nilai neraca adalah aset senilai Rp2.423,68 triliun, kewajiban senilai
Rp1.796,07 triliun, dan ekuitas senilai Rp627,61 triliun. Pada LRA, rincian
pendapatan negara dan hibah senilai Rp995,27 triliun, realisasi belanja
negara senilai Rp1.042,11 triliun, pembiayaan neto senilai Rp91,55 triliun,
dan deñslL anggaran senllal 8p46,84 Lrlllun.
Hasil Pemeriksaan
1.4 BPK memberikan opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas LKPP Tahun
2010 atau sama dengan opini Tahun 2009. Sebelum Tahun 2009, selama lima
Lahun berLuruL-LuruL 8Þk memberlkan oplnl udak memberlkan pendapaL
(TMP) atau disclaimer opinion atas LKPP.
1.5 Opini WDP diberikan terhadap LKPP Tahun 2010 karena BPK masih
menemukan permasalahan-permasalahan yang merupakan bagian dari
kelemahan pengendallan lnLern dan keudakpaLuhan Lerhadap peraLuran
perundang-undangan sebagai berikut.
Adanya permasalahan penagihan, pengakuan, dan pencatatan
penerimaan perpajakan yaitu: (1) pengakuan pendapatan pajak
pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) senilai Rp11,28
Lrlllun udak sesual dengan undang-undang (uu) ÞÞn, (2) penaglhan
Pajak Bumi dan Bangunan Minyak dan Gas (PBB Migas) senilai Rp19,30
Lrlllun udak menggunakan suraL Laglhan yang dlaLur dalam uu Þ88 dan
pengakuannya udak menggunakan daLa dasar pengenaan pa[ak yang
valid; dan (3) transaksi pembatalan penerimaan (reversal) senilai Rp3,39
Lrlllun udak dapaL dlLelusurl ke daLa pengganu. uaLa yang ada udak
memungkinkan BPK untuk menguji kewajaran penerimaan perpajakan
di atas.
6
Pencatatan uang muka 8un udak memadal, yalLu: (1) saldo uang
muka dari rekenlng 8un yang dlsa[lkan pada neraca senilai Rp1,88
Lrlllun udak dldukung rlnclan balk per [enls pln[aman, per dokumen
pencalran dana Lalangan maupun dokumen usulan pengganuannya
(reimbursement); (2) nllal dana Lalangan dan pengganuan 1ahun 2009
s.d. 2010 masing-masing senilai Rp1,14 triliun dan Rp1,43 triliun yang
udak dapaL dlldenuñkasl, dan (3) nllal penga[uan pengganuan leblh kecll
senilai Rp2,92 triliun dibandingkan reimbursement-nya. Catatan yang
ada udak memungklnkan 8Þk mengu[l kewa[aran uang muka 8un dan
pengaruhnya terhadap catatan saldo anggaran lebih (SAL).
Adanya permasalahan dalam pengendalian atas pencatatan Piutang
Pajak yaitu: (1) penambahan piutang menurut data aplikasi piutang
berbeda senilai Rp2,51 triliun dengan dokumen sumbernya yaitu surat
ketetapan pajak kurang bayar (SKPKB) atau surat tagihan pajak (STP);
dan (2) pengurangan piutang PBB berbeda senilai Rp1,03 triliun dengan
penerlmaannya. uaLa dan caLaLan yang ada udak memungklnkan 8Þk
untuk menguji kewajaran piutang pajak.
Terdapat permasalahan dalam pelaksanaan inventarisasi dan penilaian
(IP) aset tetap yaitu: (1) nilai koreksi hasil IP berbeda dengan hasil koreksi
pada SIMAK BMN senilai Rp12,95 triliun; (2) aset tetap dengan nilai
perolehan senilai Rp5,34 triliun pada tujuh KL belum dilakukan IP; (3)
hasil IP pada empat KL senilai Rp56,42 triliun belum dibukukan; dan (4)
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) sampai saat ini belum dapat
mengukur umur manfaaL unLuk seuap aseL LeLap sehlngga pemerlnLah
belum dapat melakukan penyusutan terhadap aset tetap. Nilai aset
LeLap yang dllaporkan blsa berbeda secara slgnlñkan [lka pemerlnLah
menyelesaikan IP, mencatat seluruh hasil IP, dan memberlakukan
penyusutan.
1.6 Selain kelemahan tersebut, pokok-pokok kelemahan pengendalian intern
dan keudakpaLuhan Lerhadap peraLuran perundang-undangan lalnnya yalLu
sebagai berikut.
1.7 1erdapaL beberapa kelemahan yang dapaL mempengaruhl opumallsasl
penerlmaan pa[ak penghasllan (ÞÞh) Mlgas yalLu: (1) udak ada lnsLansl
yang merekonsiliasi selisih kewajiban PPh Migas antara laporan gabungan
satu wilayah kerja dengan laporan bulanan Tahun 2009; (2) belum adanya
mekanlsme peneLapan dan penaglhan ÞÞh Mlgas, dan (3) keudak[elasan
kewenangan dalam menlndaklan[uu hasll pemerlksaan 8adan Þengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terkait kurang bayar PPh Migas untuk
tahun buku sebelum 2009 yang belum diselesaikan KKKS. Permasalahan
tersebut mengakibatkan selisih kewajiban PPh Migas senilai Rp1,25 triliun
udak dapaL dlpanLau dan kekurangan ÞÞh Mlgas senllal 8p2,60 Lrlllun belum
dapat ditagih.
1.8 Seudaknya LerdapaL 29 kkkS yang udak konslsLen dalam menggunakan Larlf
ÞÞh. kkkS LersebuL udak menggunakan Larlf ÞÞh sesual pokok-pokok ker[a
sama yang disusun untuk menentukan bagi hasil migas, tetapi menggunakan
7
tarif PPh berdasarkan tax treaty. Akibatnya pemerintah memperoleh
pendapaLan yang leblh kecll selama 1ahun 2010 senllal uSu1S9.33 [uLa aLau
setara Rp1,43 triliun.
1.9 Penerimaan hibah secara langsung pada 18 KL minimal senilai Rp868,43
mlllar belum dlkelola dl dalam mekanlsme AÞ8n, sehlngga udak dllaporkan
dalam LRA.
1.10 Terdapat kelemahan dalam penyaluran, pencatatan, dan pelaporan realisasi
belanja bantuan sosial (bansos) yaitu: (1) penyaluran bansos pada enam
kL senllal 8p2,2S Lrlllun udak ada perLanggung[awaban keuangannya, (2)
dana bansos pada empat KL senilai Rp175,63 miliar belum disalurkan dan
maslh dlslmpan oleh plhak keuga yalLu bank/lembaga-kelompok penerlma/
koperasl, dan (3) penyaluran bansos pada uga kL senllal 8p4,94 mlllar udak
sesual perunLukannya aLau udak LepaL sasaran.
1.11 Anggaran belanja minimal senilai Rp4,70 triliun digunakan untuk kegiatan
yang udak sesual dengan klaslñkaslnya (perunLukannya) sehlngga dapaL
memberlkan lnformasl yang udak LepaL, yalLu sebagal berlkuL.
Anggaran belanja modal pada 35 KL direalisasikan sebagai belanja barang
senilai Rp660,00 miliar dan belanja bansos Rp16,62 miliar.
Anggaran belanja barang pada 53 KL direalisasikan sebagai belanja modal
senilai Rp118,26 miliar dan belanja bansos Rp988,95 miliar.
Pembiayaan pada satu KL senilai Rp17,00 miliar dianggarkan dari belanja
barang.
Anggaran belanja lainnya pada BA 999.08 senilai Rp2,90 triliun bukan
merupakan keglaLan yang slfaLnya mendesak dan udak berulang sehlngga
seharusnya dianggarkan di bagian anggaran masing-masing KL sebagai
belanja pegawai, belanja barang atau belanja modal.
Selain itu terdapat realisasi belanja lainnya pada Tahun 2010 senilai
8p1,79 Lrlllun yang dlLu[ukan unLuk blaya operaslonal llma enuLas yang
belum memiliki bagian anggaran tersendiri yaitu Lembaga Penyiaran
Publik (LPP) TVRI, LPP RRI, Badan Pengawas Pemilu, Badan Pengelola
Kawasan (BPK) Sabang, dan BPK Batam.
1.12 Terdapat kelemahan dalam pengendalian atas pelaksanaan IP aset KKKS
yaitu sebagai berikut.
uaLa Parmonl lll yang dlgunakan sebagal dasar lÞ aseL kkkS udak
dlvalldasl, dlanallsls, dan dlklaslñkasl ulang sehlngga udak sesual dengan
kebutuhan pelaksanaan IP.
Pengendalian atas pelaksanaan IP belum memadai, di antaranya: (1)
beberapa pelaksanaan IP aset KKKS yang telah dinyatakan 100% selesai,
udak seluruhnya dllakukan lnvenLarlsasl secara sensus sehlngga laporan
8
lÞ udak seluruhnya menggambarkan keberadaan dan kondlsl aseL, (2)
nllal perolehan udak dlvalldasl ke dokumen sumbernya, dan (3) udak ada
tanda (IP trail) pada seuap aseL yang sudah dlsensus.
Nilai wajar hasil IP belum dapat diyakini, di antaranya karena penilaian
aset belum memperhitungkan status aset, menggunakan kurs tanggal
penilaian (bukan tanggal perolehan), serta belum memperhitungkan
PPN.
Hasil IP aset KKKS yang sudah divalidasi ulang senilai Rp54,44 triliun, dicatat
di Neraca LKPP Tahun 2010.
1.13 Terdapat kelemahan dalam penatausahaan atas aset kredit tim koordinasi
senilai Rp6,18 triliun yaitu: (1) proses pemetaan atas 16.244 amplop aset
kredit ke dalam masing-masing debitur belum seluruhnya dilakukan dan
adanya reklaslñkasl deblLur asset transfer kit dalam debitur Non asset
transfer kit, mempersulit penatausahaan aset kredit eks BPPN; dan (2)
aseL properu eks 8ÞÞn yang berasal darl aseL yang dlkelola tim koordinasi
mlnlmal senllal 8pS32,09 mlllar dan aseL properu hasll verlñkasl 1ahun 2010
sebanyak 244 unit belum dilakukan inventarisasi dan penilaian.
1.14 Pemerintah belum menyempurnakan aturan mengenai tata cara pengelolaan,
penggunaan, dan pertanggungjawaban potongan gaji PNS untuk iuran dana
pensiun sehingga status dana senilai Rp28,76 triliun dan penggunaannya
untuk sharing pembayaran pensiun Tahun 1994 – 2008 senilai Rp36,26
triliun belum jelas.
1.15 Pengelolaan PNBP belum memenuhi ketentuan yang berlaku yaitu: (1) PNBP
pada 23 KL terlambat disetor ke kas negara minimal senilai Rp312,50 miliar
dan (2) PNBP pada 18 KL senilai Rp56,64 miliar yang belum disetor dan
Rp213,75 miliar yang digunakan langsung (di luar mekanisme APBN).
1.16 Penetapan alokasi atas dana penyesuaian Tahun 2010, khususnya untuk
dana penguatan desentralisasi fiskal dan percepatan pembangunan daerah
(DPDF PPD), dana penguatan infrastruktur dan prasarana daerah (DPIPD),
dan dana percepatan pembangunan infrastruktur pendldlkan (uÞÞlÞ) udak
berdasarkan kriteria yang jelas melainkan langsung ditetapkan dalam rapat
panlua ker[a DPR.
1.17 BPK menemukan permasalahan realisasi belanja barang pada 44 KL senilai
8p110,47 mlllar dan uSu63.4S rlbu yalLu: (1) reallsasl belan[a barang udak
dilaksanakan kegiatannya pada 23 KL senilai Rp16,66 miliar; (2) pembayaran
ganda pada sembllan kL senllal 8p1,29 mlllar, (3) reallsasl yang udak sesual
buku perLanggung[awaban pada 39 kL senllal 8p72,31 mlllar dan uSu63.4S
rlbu, dan (4) reallsasl yang udak dldukung buku perLanggung[awaban pada
dua KL senilai Rp20,21 miliar.
9
Rekomendasi
1.18 Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut di atas, BPK telah
merekomendasikan kepada pemerintah antara lain agar
menyempurnakan sistem penetapan, pencatatan, dan penagihan
penerimaan serta piutang perpajakan;
melakukan inventarisasi dan memperhitungkan pada tahun tahun
berikutnya atas dampak-dampak yang diakibatkan oleh pembayaran-
pembayaran PBB Migas serta menagih kekurangan PPh Migas;
mengupayakan amandemen atas klausul ptoJocuoo sbotloq coottoct
(PSC) yang belum memperhitungkan penerapan tax treaty;
menyempurnakan peraturan terkait pencatatan hibah yang diterima
langsung oleh KL;
menerubkan dan menyempurnakan pengelolaan reksus dan dana
Lalangan darl 8ekenlng 8un,
menyempurnakan pencatatan dan pengelolaan aset tetap;
memperbaiki metode IP dan penatausahaan Aset KKKS dan Aset Eks
BPPN;
menyempurnakan regulasi dana pensiun PNS;
menerubkan klaslñkasl belan[a dalam penyusunan anggaran,
menerapkan sanksi atas keterlambatan penyetoran PNBP dan
penggunaannya di luar mekanisme APBN;
membuat aturan dan kriteria yang jelas mengenai penentuan alokasi
dana penyesuaian; dan
mengkaji kembali mekanisme pelaksanaan dan pertanggungjawaban
kegiatan perjalanan dinas.
1.19 BPK telah menyampaikan hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2010 kepada
uÞ8, uÞu, dan Þreslden/ÞemerlnLah pada Langgal 30 Mel 2011.
1.20 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam
cakram padat terlampir.
10
11
BAB 2
Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL)
2.1 Pada Semester I Tahun 2011, BPK telah melaksanakan pemeriksaan keuangan
atas laporan keuangan kementerian negara/lembaga (LKKL) Tahun 2010
pada 75 bagian anggaran kementerian negara/lembaga (KL), tujuh bagian
anggaran non KL, dan satu Bendahara Umum Negara (BUN).
2.2 Untuk laporan keuangan Sekretariat Jenderal BPK diperiksa oleh Kantor
Akuntan Publik (KAP) “Wisnu B. Soewito & Rekan” sesuai ketentuan
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 Pasal 32. Persetujuan penggunaan
KAP “Wisnu B. Soewito & Rekan” ditetapkan dalam Surat Keputusan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 06/DPR RI/III/2010-2011
tanggal 29 Maret 2011 tentang Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia terhadap KAP untuk pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan tahunan BPK Tahun 2010.
2.3 Pemeriksaan atas LKKL bertujuan memberikan pendapat/opini atas
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan
mendasarkan pada (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintah dan
atau prinsip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan
perundang-undangan; (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure);
(c) kepaLuhan Lerhadap peraLuran perundang-undangan, dan (d) efekuvlLas
sistem pengendalian intern.
2.4 Cakupan pemerlksaan aLas 83 LkkL/Lk 8un LersebuL mellpuu neraca,
laporan realisasi anggaran (LRA), laporan arus kas (LAK), dan catatan atas
laporan keuangan (CALK). Rekapitulasi nilai neraca dengan rincian aset
senilai Rp2.420,05 triliun, kewajiban senilai Rp1.798,03 triliun, dan ekuitas
senilai Rp622,01 triliun. Pada LRA, rincian pendapatan negara dan hibah
senilai Rp995,27 triliun, realisasi belanja negara senilai Rp1.042,11 triliun,
dan pembiayaan neto senilai Rp91,55 triliun.
Hasil Pemeriksaan
2.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP)
yaitu LHP opini, LHP sistem pengendalian intern (SPI), dan LHP kepatuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas
saLu aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah
kasus yang merupakan bagian dari temuan.
12
Opini
2.6 Terhadap 83 LKKL Tahun 2010, BPK memberikan opini wajar tanpa
pengecualian (WTP) atas 52 KL, opini wajar dengan pengecualian (WDP)
atas 29 KL, dan opini ndak member|kan pendapat (1MÞ) pada 2 KL.
2.7 Perkembangan opini LKKL Tahun 2006 sampai dengan LKKL Tahun 2010
dapaL dlllhaL dalam 1abel 2.1. berlkuL lnl. 8lnclan oplnl uap-uap enuLas dapaL
dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 2.1. Perkembangan Opini LKKL Tahun 2006 – 2010
2.8 Dari Lampiran 1 terlihat bahwa secara bertahap opini Tahun 2010 pada
16 KL meningkat, yaitu dari sebelumnya memperoleh opini TMP menjadi
opini WDP, serta dari sebelumnya opini WDP menjadi opini WTP. Namun
ada empat KL yang opininya menurun yaitu Kementerian Pendidikan
Nasional, dari sebelumnya memperoleh opini WDP menjadi opini TMP, dan
8adan koordlnasl keluarga 8erencana naslonal, 8adan koordlnasl Survel
dan Pemetaan Nasional, serta Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
opininya menurun dari WTP menjadi opini WDP.
2.9 Jumlah LKKL Tahun 2010 yang diperiksa BPK lebih banyak dibandingkan
pemeriksaan LKKL 2009 disebabkan adanya penambahan pemeriksaan
bagian anggaran yang diperiksa baik KL, non KL maupun Bendahara
Umum Negara. Penambahan LKKL yang diperiksa yaitu Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Badan SAR Nasional, dan Komisi
Pengawas Persaingan Usaha. Sedangkan penambahan pemeriksaan bagian
anggaran non KL disebabkan belanja anggaran subsidi dan belanja lainnya
(BA 999.06) pada Tahun 2010 dipecah menjadi belanja anggaran subsidi (BA
999.07) dan belanja lainnya (BA 999.08). BPK juga memeriksa LK BUN Tahun
2010 yang sebelumnya belum diberikan opini secara utuh, melainkan parsial
pada BA tertentu.
2.10 Dari Tabel 2.1 terlihat bahwa opini LKKL Tahun 2010, secara persentase
menunjukkan adanya kenaikan proporsi opini WTP dan WDP serta penurunan
opini TMP dibandingkan opini tahun-tahun sebelumnya.
2.11 Kenaikan proporsi opini WTP dan WDP, serta penurunan TMP menggambarkan
bahwa dari tahun ke tahun jumlah KL yang menyajikan laporan keuangannya
LKKL
Opini
Jumlah
WTP % WDP % TW % 1MÞ %
Tahun 2005*
Tahun 2006 7 9% 36 46% 0 0% 36 46% 79
Tahun 2007 14 18% 32 40% 1 1% 33 41% 80
Tahun 2008 34 41% 31 37% 0 0% 18 22% 83
Tahun 2009 44 56% 26 33% 0 0% 8 10% 78
Tahun 2010 52 63% 29 35% 0 0% 2 2% 83
* BPK telah memeriksa LKKL Tahun 2005 tetapi belum memberikan opini
13
secara wa[ar semakln menlngkaL. ÞenlngkaLan LersebuL mellpuu semua hal
yang material dan informasi keuangan dalam laporan keuangan tersebut
dapat diandalkan oleh pengguna laporan keuangan. Kondisi ini juga
menggambarkan usaha KL menuju arah perbaikan dalam menyusun laporan
keuangannya.
Sistem Pengendalian Intern
2.12 Pemerintah wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan
pemerlnLahan unLuk mencapal pengelolaan keuangan negara yang efekuf,
eñslen, Lransparan, dan akunLabel.
2.13 Pengendalian intern pada pemerintah pusat termasuk KL dan pemerintah
daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
(SPIP).
2.14 SÞlÞ merupakan proses yang lnLegral pada undakan dan keglaLan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya tujuan organisasi
melalul keglaLan yang efekuf dan eñslen, keandalan pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara/daerah, dan ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan.
2.15 Standar pemeriksaan keuangan negara (SPKN) mengharuskan pemeriksa
unLuk mengungkapkan kelemahan aLas pengendallan lnLern enuLas.
8erdasarkan ÞÞ nomor 60 1ahun 2008 LenLang SÞlÞ, SÞl mellpuu llma unsur
pengendalian, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan
pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.
2.16 Unsur-unsur pengendalian intern dalam SPIP digunakan sebagai alat untuk
melakukan evaluasl aLas pengendallan lnLern pada kL.
2.17 LfekuvlLas SÞl merupakan salah saLu krlLerla yang dlgunakan oleh 8Þk dalam
menellu kewa[aran lnformasl keuangan, sesual dengan undang-undang
Nomor 15 tahun 2004, penjelasan Pasal 16 ayat (1) opini merupakan
pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan
yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria, salah
saLunya yang LerkalL dengan SÞl adalah efekuvlLas SÞl.
2.18 Untuk itu, selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang
berupa opini, BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI
pada seuap enuLas yang dlperlksa. Pasll evaluasl aLas SÞl kL dapaL dluralkan
sebagai berikut.
Hasil Evaluasi SPI
2.19 Pasll evaluasl menun[ukkan bahwa LkkL yang memperoleh oplnl W1Þ dan
WDP pada umumnya pengendalian intern telah memadai. Adapun LKKL
14
yang memperoleh opini TMP memerlukan perbaikan pengendalian intern
dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
2.20 Sebagian besar KL atau 98% memperoleh opini WTP dan WDP. Terdapat
peningkatan sebesar 8% dari tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari
menlngkaLnya perbalkan undakan dan keglaLan balk plmplnan maupun
seluruh pegawai KL untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya
tujuan organisasi. Adapun LKKL yang opininya menurun dari WDP menjadi
TMP atau WTP menjadi WDP, menunjukkan adanya peningkatan jumlah
kasus-kasus SPI.
2.21 Kelemahan lingkungan pengendalian tercermin dari lemahnya penegakan
lnLegrlLas dan nllal euka, kepemlmplnan yang konduslf, komlLmen Lerhadap
kompetensi, penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang
pembinaan sumber daya manusia (SDM), serta perwujudan peran aparat
pengawasan lnLern pemerlnLah yang efekuf. kelemahan aLas keglaLan
pengendallan Lercermln darl lemahnya pengendallan ñslk aLas aseL, oLorlsasl
aLas Lransaksl dan ke[adlan yang penung, serLa pencaLaLan yang akuraL dan
tepat waktu atas transaksi dan kejadian.
2.22 Secara umum unsur pemantauan pada 52 KL yang mendapat opini WTP
telah memadai, yaitu telah dilakukannya upaya pemantauan berkelanjutan
dan evaluasl Lerplsah, namun maslh LerdapaL rekomendasl 8Þk yang undak
lanjutnya belum selesai.
2.23 Pasll evaluasl SÞl menun[ukkan kasus-kasus kelemahan SÞl yang dapaL
dikelompokkan sebagai berikut:
kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan;
kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan
belanja; dan
kelemahan struktur pengendalian intern.
2.24 Pasll evaluasl SÞl aLas 83 LkkL menun[ukkan LerdapaL S19 kasus kelemahan
SPI, yang terdiri dari 226 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan
pelaporan, 134 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja, 159 kasus kelemahan struktur pengendalian
intern. Rincian jenis temuan pada Lampiran 2, rincian temuan berdasarkan
KL disajikan dalam Lampiran 4.
2.25 Sebanyak 226 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan
pelaporan, terdiri atas
sebanyak 113 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
sebanyak 63 kasus proses penyusunan laporan udak sesual dengan
ketentuan;
15
sebanyak 2 kasus enuLas LerlambaL menyampalkan laporan,
sebanyak 40 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan udak
memadai;
sebanyak 7 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum
didukung SDM yang memadai; dan
sebanyak 1 kasus laln-laln, yalLu hasll ka[lan dan penelluan belum
seluruhnya dinilai.
2.26 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan
tersebut di antaranya sebagai berikut.
ul kemenLerlan Þerhubungan, pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau
udak akuraL, hasll lnvenLarlsasl penllalan aseL ulL[en ÞerkereLaaplan
belum dapat dijadikan dasar untuk melakukan koreksi penyesuaian
aseL LeLap sehlngga aseL LeLap senllal 8p8,3S Lrlllun udak dapaL dlyaklnl
kewajarannya.
ul kemenLerlan kesehaLan, pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak
akurat, pendapatan jasa pelayanan badan layanan umum (BLU) RSCM
udak dldukung dengan pencaLaLan yang memadal sehlngga penya[lan
reallsasl pendapaLan [asa pelayanan senllal 8p613,47 mlllar udak dapaL
diyakini kewajarannya.
ul kemenLerlan kehuLanan, pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau
udak akuraL, pluLang provlsl sumber daya huLan dan dana rebolsasl
udak dldukung dengan dokumen yang memadal senllal 8p247,3S mlllar
sehlngga penya[lan nllal pluLang LersebuL dalam neraca udak dapaL
diyakini kewajarannya.
ul kemenLerlan kesehaLan, proses penyusunan laporan udak sesual
dengan keLenLuan, pluLang senllal 8p138,47 mlllar udak dldukung dengan
pencatatan dan pelaporan yang memadai sehingga saldo piutang yang
dllaporkan dalam neraca udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
ul kemenLerlan kelauLan dan Þerlkanan, pencaLaLan udak/belum
dllakukan aLau udak akuraL, lnvenLarlsasl, dan penllalan aseL belum
opumal sehlngga aseL LeLap senllal 8p93,88 mlllar udak dapaL dlyaklnl
kewajarannya.
2.27 Sebanyak 134 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja, terdiri atas
sebanyak 63 kasus perencanaan keglaLan udak memadal,
sebanyak 22 kasus mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan
serLa penggunaan penerlmaan negara dan hlbah udak sesual dengan
ketentuan;
16
sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang
diperiksa tentang pendapatan dan belanja;
sebanyak 6 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN;
sebanyak 23 kasus aLas peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak
tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/
pendapatan;
sebanyak 8 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja; dan
sebanyak 2 kasus laln-laln, yalLu aseL yang dlkuasal plhak laln udak blsa
dlkeLahul kondlsl ñslknya dan pemln[aman aseL udak dllengkapl dengan
berita acara peminjaman.
2.28 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja tersebut di antaranya sebagai berikut.
ul kemenLerlan Þeker[aan umum, perencanaan keglaLan udak memadal,
pengelompokan [enls belan[a pada saaL penganggaran udak sesual
dengan kegiatan yang dilaksanakan senilai Rp3,76 triliun.
ul kemenLerlan Þeker[aan umum, perencanaan keglaLan udak memadal,
alokasi belanja lain-lain BA 999.08 senilai Rp335,78 miliar digunakan
unLuk memblayal keglaLan yang udak sesual dengan deñnlsl dan
peruntukannya.
Di Kementerian Kesehatan, penyimpangan terhadap peraturan
perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern
organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja, penerimaan
dana hibah senilai Rp98,17 miliar belum dipertanggungjawabkan melalui
mekanisme APBN.
ul kemenLerlan Þendldlkan naslonal, perencanaan keglaLan udak
memadai, terdapat tunjangan profesi dan tagihan beasiswa Tahun 2010
kurang dibayar senilai Rp79,83 miliar sehingga membebani anggaran
untuk tunjangan profesi Tahun 2011 dan mempengaruhi proses belajar
mengajar penerima beasiswa.
Di Kementerian Pertanian, mekanisme pemungutan, penyetoran, dan
pelaporan serLa penggunaan penerlmaan negara dan hlbah udak sesual
dengan keLenLuan. Þenerlmaan hlbah udak melalul mekanlsme ulÞA
APBN 2010 minimal senilai Rp20,80 miliar, EUR1.32 juta, USD64.09 juta,
AUD4.87 juta, CNY12.27 juta, dan JPY1.03 miliar. Sebagian besar hibah
berupa kas diterima langsung oleh masing-masing satker yang ditransfer
ke rekenlng bendahara pengeluaran saLker dan udak dllaporkan dalam
Laporan Keuangan Kementerian Pertanian Tahun 2010.
17
2.29 Sebanyak 159 kasus kelemahan struktur pengendalian intern, terdiri atas
sebanyak 107 kasus karena enuLas udak memlllkl stooJotJ opetouoq
procedure (SOP) yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan
prosedur;
sebanyak 43 kasus karena SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan
secara opumal aLau udak dlLaau,
sebanyak 1 kasus enuLas udak memlllkl saLuan pengawas lnLern,
sebanyak 6 kasus saLuan pengawas lnLern yang ada udak memadal aLau
udak ber[alan opumal, dan
sebanyak 2 kasus karena udak ada pemlsahan Lugas dan fungsl yang
memadai.
2.30 Kasus-kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut di antaranya
sebagai berikut.
ul kemenLerlan kesehaLan, enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk
suatu prosedur atau keseluruhan prosedur, belum ada aturan yang
jelas batas akhir pembayaran gaji dokter/bidan PTT yang dilaksanakan
oleh PT Pos Indonesia sehingga terjadi keterlambatan penyaluran dana
kekurangan ga[l dan lnsenuf 1ahun 2010 senllal 8p396,83 mlllar.
ul kemenLerlan kesehaLan, enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk
suatu prosedur atau keseluruhan prosedur, monitoring penyaluran dana
Bantuan Sosial (Bansos) di lingkungan Ditjen Binkesmas belum maksimal
sehingga laporan pertanggungjawaban dana tersebut belum diterima
senilai Rp141,91 miliar.
ul kemenLerlan ÞerLanlan, enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal
untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur, pengendalian atas
pengelolaan [asa allh Leknologl hasll penelluan dl llngkup 8adan Þenelluan
dan Pengembangan Pertanian belum memadai sehingga pelaksanaan
kegiatan tersebut terhambat dan lisensi yang telah diberikan kepada
mlLra ker[asama serLa pendapaLan royalu darl ker[asama allh Leknologl
berpotensi disalahgunakan.
ul kemenLerlan Þendldlkan naslonal, SCÞ yang ada pada enuLas udak
ber[alan secara opumal aLau udak dlLaau, penggunaan rekenlng yang
udak memlllkl lzln kemenLerlan keuangan sebanyak 43 rekenlng dengan
saldo per 31 Desember 2010 senilai Rp26,43 miliar.
Penyebab
2.31 Kasus-kasus kelemahan SPI di KL pada umumnya terjadi karena pencatatan
udak/belum aLau udak akuraL, SuM udak memadal, perencanaan yang udak
memadal, kL udak menaau keLenLuan dan prosedur, peneLapan kebl[akan
18
yang udak LepaL, belum adanya kebl[akan dan perlakuan akunLansl yang
jelas, belum ditetapkannya prosedur kegiatan, belum adanya koordinasi
dengan pihak terkait, serta lemahnya pengawasan maupun pengendalian.
Rekomendasi
2.32 Atas kasus-kasus kelemahan SPI, BPK telah merekomendasikan agar pimpinan
enuLas yang dlperlksa memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku, segera
menetapkan prosedur dan kebijakan yang tepat, meningkatkan koordinasi
dan meningkatkan pembinaan terhadap SDM di KL serta dengan pihak
terkait, melakukan perencanaan dengan lebih cermat, dan meningkatkan
pengawasan serta pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
2.33 Selain opini dan temuan-temuan SPI, hasil pemeriksaan atas 83 LKKL Tahun
2010 [uga menemukan keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan yang berlaku sebanyak 731 kasus senilai Rp 1,50 triliun, dengan
rlnclan senllal 8p1,40 Lrlllun dan uSu11.72 [uLa (ekulvalen 8p100,7S mlllar)
sebagalmana dlsa[lkan dalam 1abel 2.2. 8lnclan [enls Lemuan pada uap-uap
kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3 dan rincian temuan berdasarkan KL
disajikan dalam Lampiran 4.
Tabel 2.2. Kelompok Temuan Pemeriksaan LKKL Tahun 2010
2.34 8erdasarkan Label dl aLas, dapaL dl[elaskan bahwa Lemuan aLas keudakpaLuhan
terhadap ketentuan perundang-undangan dikelompokkan dalam kelompok
temuan kerugian negara, potensi kerugian negara, kekurangan penerimaan,
admlnlsLrasl, keudakhemaLan/pemborosan, dan keudakefekufan. 1lap-uap
kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai
(juta Rp)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1. Kerugian Negara 235 294.196,65
2. Potensi Kerugian Negara
*)
39 530.720,05
3. Kekurangan Penerimaan 118 420.818,59
4. Administrasi 269 -
5. keudakhemaLan/Þemborosan 25 11.318,48
6. keudakefekufan 45 249.726,18
Jumlah 731 1.506.779,98
*) pada kelompok poLensl keruglan negara LerdapaL valas senllal uSu11.72 [uLa (ekulvalen
kurs tengah Bank Indonesia per 30 Juni 2011 senilai Rp8.597,00)
19
Kerugian Negara
2.35 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang, surat
berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal aklbaL
perbuatan melawan hukum, baik sengaja maupun lalai.
2.36 Pada umumnya kasus-kasus kerugian negara yaitu adanya belanja atau
pengadaan barang/[asa ñkuf, rekanan pengadaan barang/[asa udak
menyelesalkan peker[aan, kekurangan volume peker[aan, keleblhan
pembayaran selaln kekurangan volume peker[aan, dan pemahalan harga
(mark up). kasus keruglan negara [uga mellpuu penggunaan uang/barang
unLuk kepenungan prlbadl, pembayaran honorarlum dan/aLau blaya
per[alanan dlnas ganda, speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual
dengan konLrak, belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan, dan laln-laln
kasus kerugian negara.
2.37 Hasil pemeriksaan atas 83 LKKL menunjukkan adanya kerugian negara
sebanyak 235 kasus senilai Rp294,19 miliar, yang terdiri atas
sebanyak 31 kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf senllal
Rp70,22 miliar;
sebanyak 4 kasus rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
pekerjaan senilai Rp56,58 miliar;
sebanyak 41 kasus kekurangan volume peker[aan senllal 8p13,41 mlllar,
sebanyak S7 kasus keleblhan pembayaran selaln kekurangan volume
pekerjaan senilai Rp17,69 miliar;
sebanyak 10 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp32,93 miliar;
sebanyak S kasus penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl
senilai Rp2,71 miliar;
sebanyak 40 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan
dinas ganda senilai Rp63,85 miliar;
sebanyak 12 kasus speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual
dengan kontrak senilai Rp4,57 miliar;
sebanyak 27 kasus belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan senllal
Rp24,59 miliar; dan
sebanyak 8 kasus lain-lain senilai Rp7,58 miliar di antaranya adalah
proses LunLuLan ganu rugl (1C8).
2.38 Kasus-kasus kerugian negara tersebut di antaranya sebagai berikut.
ul kemenLerlan Þendldlkan naslonal, pengadaan barang/[asa pada uga
saLker udak selesal dllaksanakan senilai Rp55,91 miliar di antaranya
20
Program Þembela[aran ÞeraklLan AlaL Þrakuk CLomouf ÞakeL 3 oleh Þ1
AIK senilai Rp33,63 miliar.
Di Kepolisian RI, terdapat duplikasi pendanaan Satuan Tugas Unit Polisi
Berseragam (Formed Police Unit). Duplikasi tersebut adalah penggunaan
dana APBN dan non APBN sebagai talangan untuk operasional pasukan
Formed Police Unit yang di-reimburs oleh UNAMID yang mengakibatkan
kerugian negara senilai Rp22,48 miliar.
Di Kementerian Kesehatan, terdapat pemahalan harga dalam pengadaan
alat bantu belajar mengajar pendidikan dokter dan dokter spesialis di
rumah saklL pendldlkan dan rumah saklL ru[ukan 1A 2010 anLara Þ1 88C
dengan vendor yang mengaklbaLkan keruglan negara mlnlmal senllal
Rp28,55 miliar.
ul kemenLerlan ualam negerl, belan[a barang dan per[alanan dlnas udak
dapat dipertanggungjawabkan mengakibatkan indikasi kerugian negara
senilai Rp18,52 miliar.
Di Kementerian Kesehatan, belanja perjalanan dinas senilai Rp13,09 miliar
merugikan keuangan negara dengan rincian berupa pemahalan harga
ukeL pesawaL senllal 8p6S3,2S [uLa dan sebanyak S.149 ukeL pesawaL
senllal 8p12,43 mlllar udak sesual dengan daLa manlfes penerbangan.
Di Kementerian Kehutanan, terdapat kelebihan pembayaran perjalanan
dinas dalam negeri pada enam satker yang menggunakan penerbangan
komersial senilai Rp7,95 miliar.
2.39 uarl LoLal kasus keruglan negara senllal 8p294,19 mlllar Lelah dlundaklan[uu
dengan penyetoran uang ke kas negara senilai Rp24,76 miliar, di antaranya
Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp4,59 miliar, Kementerian ESDM
senilai Rp3,34 miliar, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai
Rp2,11 miliar.
Penyebab
2.40 Kasus-kasus kerugian negara di KL pada umumnya terjadi karena
keudakmampuan rekanan melaksanakan peker[aan sesual konLrak, pejabat
yang berLanggung [awab lalal dalam melaksanakan Lugasnya, udak menaau
dan memahami ketentuan yang berlaku, serta kuasa pemegang anggaran
saLker udak opumal dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
2.41 Atas kasus-kasus kerugian negara, BPK telah merekomendasikan antara
lain agar pimpinan KL memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku
kepada pejabat yang bertanggung jawab dan enuLas yang dlperlksa
mempertanggungjawabkannya dengan menyetor sejumlah uang ke kas
negara atau mengembalikan/menyerahkan barang ke negara melalui
mekanlsme pengenaan ganu keruglan negara sesual keLenLuan yang berlaku.
21
Potensi Kerugian Negara
2.42 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik
sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian
di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan
barang yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
2.43 Pada umumnya kasus-kasus potensi kerugian negara yaitu adanya rekanan
belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang
Lelah rusak selama masa pemellharaan, aseL dlkuasal plhak laln, aseL udak
diketahui keberadaannya. Selain itu kasus potensi kerugian juga dikarenakan
adanya pemberian jaminan dalam pelaksaan pekerjaan, pemanfaatan
barang dan pemberlan faslllLas udak sesual keLenLuan, plhak keuga belum
melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada negara, piutang/
pln[aman aLau dana bergullr yang berpoLensl udak LerLaglh, dan laln-laln
kasus potensi kerugian negara.
2.44 Hasil pemeriksaan atas 83 LKKL menunjukkan adanya potensi kerugian
negara sebanyak 39 kasus senilai Rp530,72 miliar, dengan rincian senilai
8p429,96 mlllar dan uSu11.72 [uLa (ekulvalen 8p100,7S mlllar), yang Lerdlrl
atas
sebanyak 1 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan
barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan
senilai Rp1,68 juta;
sebanyak 17 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp316,54 miliar;
sebanyak 7 kasus aseL LeLap udak dlkeLahul keberadaannya senllal
Rp96,28 miliar;
sebanyak 1 kasus pemberian jaminan dalam pelaksaan pekerjaan,
pemanfaaLan barang dan pemberlan faslllLas udak sesual keLenLuan
senilai USD11.72 juta;
sebanyak 2 kasus plhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk
menyerahkan aset kepada negara senilai Rp2,98 miliar;
sebanyak 6 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi
udak LerLaglh senllal 8p12,1S mlllar, dan
sebanyak 5 kasus lain-lain senilai Rp1,99 miliar di antaranya pembayaran
sudah dilakukan untuk pekerjaan pada tahun anggaran berikutnya,
jaminan pelaksanaan belum dapat dicairkan, dan perjalanan dinas dalam
proses klarlñkasl buku perLanggung[awaban.
2.45 Kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Kementerian Pendidikan Nasional, pemanfaatan aset tanah seluas
198.843 m
2
senilai Rp137,07 miliar serta gedung dan bangunan seluas
3.807 m
2
senllal 8p2,93 mlllar mlllk unlverslLas negerl Malang oleh
22
sekolah negeri berpotensi terjadi sengketa, sampai saat ini belum ada
penyelesaiannya.
Di Kementerian Kesehatan, aset tanah pada satker-satker Poltekkes
Maluku, RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang dan RSUP Persahabatan
mlnlmal senllal 8p111,69 mlllar dlgunakan unLuk kepenungan plhak
keuga/prlbadl.
ul kemenLerlan Llngkungan Pldup (kLP), lnvesLasl dana bergullr kepada
Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dalam menyalurkan dana bergulir sejak
1ahun 2006 sampal 2010 yang berpoLensl udak LerLaglh/ooo petfotmloq
loan (NPL) senilai Rp6,07 miliar atau 12,28% dari total dana ootstooJloq
KLH senilai Rp49,44 miliar.
Di Kementerian ESDM, selama Tahun 2009 dan 2010 terdapat tujuh
kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dari 42 KKKS bentuk PSC (product
sbotloq coottoct) dan 16 KKKS Coal Bed Methan yang telah melakukan
tanda tangan kontrak, masih belum menyerahkan jaminan pelaksanaan
senllal mlnlmal uSu11.72 [uLa (ekulvalen 8p100,7S mlllar).
Penyebab
2.46 Kasus-kasus potensi kerugian negara di KL pada umumnya terjadi karena
pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam melakukan pengamanan
atas pengelolaan aset negara, kurang menaau dan memahaml keLenLuan
yang berlaku, dan kepala satker lemah dalam melakukan pengawasan dan
pengendalian.
Rekomendasi
2.47 Atas kasus-kasus potensi kerugian negara, BPK telah merekomendasikan
agar pimpinan instansi memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku
kepada pejabat yang bertanggung jawab, melakukan pengamanan aset,
mengupayakan penagihan jaminan pelaksanaan kepada tujuh KKKS untuk
mencegah terjadinya kerugian negara.
Kekurangan Penerimaan
2.48 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi
hak negara LeLapl udak aLau belum masuk ke kas negara karena adanya
unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
2.49 Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan yaitu adanya
penerlmaan negara aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum/udak
ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas negara, penggunaan langsung
penerimaan negara, penerimaan diterima atau digunakan oleh instansi yang
udak berhak, pengenaan Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah darl keLenLuan, dan
kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah.
23
2.50 Hasil pemeriksaan atas 83 LKKL menunjukkan adanya kekurangan penerimaan
sebanyak 118 kasus senilai Rp420,81 miliar, terdiri atas
sebanyak 95 kasus penerimaan negara atau denda keterlambatan
peker[aan belum/udak dlLeLapkan/dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas
negara senilai Rp143,91 miliar;
sebanyak 17 kasus penggunaan langsung penerimaan negara senilai
Rp257,81 miliar;
sebanyak 3 kasus penerimaan negara diterima atau digunakan oleh
lnsLansl yang udak berhak senllal 8p16,63 mlllar,
sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari
ketentuan senilai Rp61,31 juta; dan
sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi pemerintah senilai
Rp2,40 miliar
2.51 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Kementerian Pertahanan, terdapat sejumlah paket pekerjaan yang
penyerahannya LerlambaL udak sesual dengan [aLuh Lempo konLrak dan
udak dapaL Lerselesalkan sampal dengan akhlr 1A 2010 namun LeLap
dllakukan pembayaran dan udak dlkenakan sanksl denda keLerlambaLan
senilai Rp11,33 miliar, yaitu denda keterlambatan pada 1) Ditpalad
minimal senilai Rp4,60 miliar; dan 2) Puspenerbad minimal senilai
Rp6,72 miliar, belum dipungut dan disetorkan ke kas negara.
Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) masih
memiliki tunggakan nilai tambah dan denda per 31 Desember 2010 yang
terutang kepada Badan Layanan Umum – Badan Pengatur Jalan Tol (BLU-
BPJT) senilai Rp21,28 miliar.
Di Kementerian Kehutanan, penerimaan hasil pengelolaan gedung
Manggala Wanabaku senllal 8p48,70 mlllar dlgunakan unLuk blaya
operasional senilai Rp45,84 miliar. Temuan ini merupakan temuan
berulang penggunaan langsung penerimaan negara sejak pemeriksaan
LK Tahun 2005.
ul kepollslan 8l, Þn8Þ mlnlmal senllal 8p38,7S mlllar udak dlseLorkan
ke kas negara, udak dllaporkan dan dlgunakan langsung Lanpa
melalui mekanisme APBN. PNBP tersebut berupa pendapatan sewa
(pemanfaaLan aseL oleh plhak keuga), pendapaLan pengamanan ob[ek
vlLal, pendapaLan pelauhan dasar saLpam, pendapaLan karLu Landa
anggota satpam, pendapatan sbotloq tto[c sbott messoqe setvlce, dan
pendapatan pelayanan rumah sakit.
24
Di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, PNBP yang bersumber
darl lzln ker[a Þerpan[angan SemenLara dan Mendesak bagl 1kWnAÞ
Tahun 2010 pada Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan
Þrovlnsl !awa 1lmur dlseLorkan ke kas daerah senllal 8p14,68 mlllar.
Di Badan SAR Nasional, pendapatan jasa sewa atas ruangan yang telah
digunakan oleh penyewa pada Tahun 2010 minimal senilai Rp8,94 miliar
udak dllakukan penaglhan sampal dengan akhlr 1ahun 2010.
2.52 Dari sejumlah kasus kekurangan penerimaan senilai Rp420,81 miliar telah
dlundaklan[uu dengan penyetoran uang ke kas negara senilai Rp10,75 miliar,
antara lain Kepolisian RI senilai Rp4,20 miliar, Badan SAR Nasional senilai
Rp1,63 miliar, dan Kementerian Pertanian senilai Rp1,57 miliar.
Penyebab
2.53 kasus-kasus kekurangan penerlmaan pada umumnya Ler[adl karena udak
dipatuhinya ketentuan berkaitan dengan PNBP, adanya peraturan daerah
yang mengklaim PNBP tersebut sebagai pendapatan asli daerah (PAD) dan
lemahnya pengawasan dan pengendalian dari atasan langsung.
Rekomendasi
2.54 Atas kasus-kasus kekurangan penerimaan negara, BPK telah
merekomendasikan kepada pimpinan KL agar memberikan sanksi kepada
pejabat yang bertanggung jawab dan menyetorkan kekurangan penerimaan
ke kas negara.
Administrasi
2.55 Temuan kelemahan atas penyimpangan administrasi mengungkap adanya
penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan
anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional, tetapi penyimpangan
LersebuL udak mengaklbaLkan keruglan aLau poLensl keruglan negara/
daerah, udak mengurangl hak negara/daerah (kekurangan penerlmaan),
udak menghambaL program enuLas, dan udak mengandung unsur lndlkasl
undak pldana.
2.56 kasus-kasus penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf yalLu adanya
perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld),
pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran,
proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak menlmbulkan
kerugian negara), pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan
pelelangan dan penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan
bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara.
2.57 Þenylmpangan admlnlsLrasl [uga mellpuu penylmpangan Lerhadap peraLuran
perundang-undangan bidang tertentu lainnya, penyetoran penerimaan
negara melebihi batas waktu yang ditentukan, pertanggungjawaban/
25
penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan, sisa kas
di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor
ke kas negara, kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang sah, dan
pengallhan anggaran anLar maLa anggaran keglaLan (MAk) udak sah, serLa
penyimpangan administrasi lainnya.
2.58 Hasil pemeriksaan atas 83 LKKL menunjukkan adanya penyimpangan yang
berslfaL admlnlsLrauf sebanyak 269 kasus yang terdiri atas
sebanyak S2 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap/udak valld),
sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau
penetapan anggaran;
sebanyak 33 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
(udak menlmbulkan keruglan negara),
sebanyak 6 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan
pelelangan;
sebanyak 87 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara;
sebanyak 14 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang tertentu lainnya;
sebanyak 26 kasus penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu
yang ditentukan;
sebanyak 12 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan
melebihi batas waktu yang ditentukan;
sebanyak 8 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran
terlambat/belum disetor ke kas negara;
sebanyak 2S kasus kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang
sah;
sebanyak 4 kasus pengallhan anggaran anLar MAk udak sah, dan
sebanyak 1 kasus lain-lain di antaranya proses penjualan barang
rampasan berlarut-larut.
2.59 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
Di Kementerian Pendidikan Nasional, penggunaan dana bantuan sosial
pada beberapa saLker pusaL maupun daerah dl wllayah Þrovlnsl ukl
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Selatan yang berada
di lingkungan Kemendiknas menunjukkan sebanyak 45.219 lembaga/
26
sekolah/perorangan penerima bantuan senilai Rp1,42 triliun belum
menyampaikan laporan penggunaan dana.
Di Kementerian Pertahanan, terdapat kontrak kerjasama dengan pihak
keuga yang pelaksanaan/presLaslnya belum selesal dllaksanakan sampal
dengan akhir tahun/per 31 Desember 2010. Namun demikian anggaran
yang tersedia dicairkan dengan menggunakan pertanggungjawaban
keuangan (wabku) antara lain dengan menggunakan berita acara
penyerahan/komisi barang formallLas dengan ungkaL penyelesalan
pekerjaan pengadaan seolah-olah selesai 100%, untuk dapat mencairkan
dana. Kemudian dana hasil pencairan tersebut dikelola secara o[-
boJqetet pada rekening yang dibuka tanpa izin Menteri Keuangan.
Rekening tersebut digunakan untuk pembayaran kepada pihak keuga
sesual reallsasl ñslk peker[aan sebenarnya dan/aLau arahan plmplnan
sesuai kesepakatan senilai Rp870,86 miliar.
Di Kementerian Sosial, penyaluran dana bantuan sosial senilai Rp209,83
mlllar unLuk program subsldl panu, banLuan operaslonal 8ÞSA, banLuan
penumbuhan Laman penlupan anak, kelompok bermaln dan Laman ballLa
sejahtera, bantuan telepon sahabat anak, bantuan program jaminan
sosial lanjut usia, serta dana monlLorlng dan evaluasl senllal 8p82S,S3
juta belum dipertanggungjawabkan secara memadai.
Di Kementerian Perhubungan, aset tetap pada satker-satker di Ditjen
Perhubungan Darat senilai Rp174,06 miliar dan persediaan senilai
Rp11,86 miliar di wilayah Þrovlnsl !awa 1engah, Sumatera Utara, dan
Sulawesi Utara seluruhnya telah dimanfaatkan oleh pemda setempat
namun belum dilakukan serah terima operasional dari pihak Ditjen
Perhubungan Darat kepada pemda setempat.
Di Kementerian Agama, terdapat aset yang digunakan oleh satker di
llngkungan kemenLerlan Agama belum dldukung buku kepemlllkan,
yaitu: 1) tanah wakaf seluas 65.183 m
2
senilai Rp9,80 miliar belum
didukung dokumen Akte Ikrar Wakaf; 2) kepemilikan tanah atas nama
Kementerian Agama seluas 1.212.465 m
2
senilai Rp156,15 miliar belum
dldukung buku kepemlllkan, dan 3) kepemlllkan 291 unlL kendaraan
bermoLor senllal 8p4,99 mlllar belum dldukung buku kepemlllkan.
Di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
LerdapaL proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan yalLu :
1) beberapa pengadaan barang/jasa yang bernilai di atas Rp50,00 juta
udak dllkaL dengan konLrak, melalnkan hanya dengan suraL perlnLah
kerja atau surat perjanjian kerjasama; 2) kontrak pengadaan barang/jasa
masih memuat klausul tentang pembatasan sanksi denda keterlambatan
sebesar lima persen dari nilai kontrak; dan 3) kontrak pengadaan barang
dan [asa yang udak menggunakan harga perklraan sendlrl (PÞS) sebagal
acuan panlua pengadaan barang dan [asa dalam menenLukan pemenang
lelang terhadap rekanan penyedia barang/jasa.
27
Penyebab
2.60 Kasus-kasus administrasi di KL pada umumnya terjadi karena pejabat yang
bertanggung jawab lalai dalam melakukan tanggung jawabnya, kurang
memaLuhl keLenLuan yang berlaku, dan kuasa pengguna anggaran udak
opumal dalam melaksanakan pengawasan serLa pengendallan.
Rekomendasi
2.61 Atas kasus-kasus penyimpangan administrasi, BPK telah merekomendasikan
kepada enuLas yang dlperlksa antara lain untuk mempertanggungjawabkan
secara admlnlsLrauf, mengelola dan menaLausahakan aseL sesual keLenLuan,
serta memberikan sanksi kepada pejabat pelaksana yang bertanggung jawab.
kendakhematan
2.62 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lnpuL
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan
dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.
2.63 Pada umumnya kasus-kasus keudakhemaLan yalLu adanya pengadaan
barang/jasa melebihi kebutuhan dan pemborosan keuangan negara atau
kemahalan harga.
2.64 Hasil pemeriksaan atas 83 LKKL menunjukkan adanya penyimpangan yang
berslfaL keudakhemaLan sebanyak 25 kasus senilai Rp11,31 miliar, terdiri
atas
sebanyak 2 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai
Rp2,87 miliar; dan
sebanyak 23 kasus pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga
senilai Rp8,44 miliar.
2.65 kasus keudakhemaLan di antaranya adalah sebagai berikut.
Di Kementerian Dalam Negeri, pengadaan blangko surat pemberitahuan
nomor induk kependudukan (SPNIK) penduduk per keluarga pada
Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Ditjen Dukcapil)
melebihi kebutuhan senilai Rp2,84 miliar.
Di BPOM, addendum kontrak pekerjaan rehabilitasi dan perluasan
gedung pelayanan publik BBPOM Bandung menambah biaya pelaksanaan
pekerjaan senilai Rp810,37 juta dan adendum kontrak pekerjaan
peningkatan dan perluasan laboratorium BBPOM Manado menambah
biaya pelaksanaan pekerjaan senilai Rp428,92 juta.
Di Kementerian Sosial, realisasi pembayaran biaya permakanan kepada
Satuan Tugas Kota Tanjung Pinang lebih besar senilai Rp637,78 juta dari
plafon yang ditetapkan dalam RKA/KL.
28
Penyebab
2.66 kasus keudakhemaLan pada umumnya Ler[adl karena pe[abaL yang
berLanggung [awab udak memaLuhl keLenLuan dan kurang cermaL dalam
melaksanakan tugas.
Rekomendasi
2.67 ALas kasus-kasus keudakhemaLan, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
pimpinan instansi agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang
berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan lebih cermat dalam
melaksanakan kegiatan.
kendakefeknfan
2.68 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll
(outcome), yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak
memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang
udak opumal sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
2.69 Þada umumnya kasus-kasus keudakefekufan yalLu adanya penggunaan
anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual perunLukkan, pemanfaaLan barang/
[asa dllakukan udak sesual dengan rencana yang dlLeLapkan, barang yang
dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan, pelaksanaan keglaLan LerlambaL/
terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi, dan
fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak dlselenggarakan dengan balk
Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
2.70 Hasil pemeriksaan atas 83 LKKL menunjukkan adanya kasus keudakefekufan
sebanyak 45 kasus senilai Rp249,72 miliar yang terdiri atas
sebanyak 10 kasus penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak
sesuai peruntukan senilai Rp16,57 miliar;
sebanyak 1 kasus pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual
dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp7,34 miliar;
sebanyak 26 kasus barang yang dlbell belum/udak dlmanfaaLkan senllal
Rp127,62 miliar;
sebanyak 6 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga
mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai 98,18 miliar; dan
sebanyak 2 kasus fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
2.71 kasus-kasus keudakefekufan LersebuL, dl anLaranya adalah sebagal berlkuL.
Di Kementerian Pendidikan Nasional, barang milik negara (BMN) hasil
pengadaan Tahun 2010 senilai Rp18,14 miliar belum dimanfaatkan.
29
Di Kementerian Kesehatan, pengadaan aset Tahun 2010 di antaranya CT
5coo Molusllce senilai Rp65,90 miliar belum dimanfaatkan.
Di Kementerian Dalam Negeri, aset hasil pengadaan TA 2010 senilai
Rp3,99 miliar belum dapat dimanfaatkan yaitu: 1) pengadaan 25 unit
mesin foqetptlot pada Setjen senilai Rp158,51 juta; 2) rehabilitasi
jaringan irigasi bendungan dan saluran irigasi hasil tugas pembantuan
prakarsa pembaharuan tata pemerintahan daerah (P2TPD)/loluouve
locol qovetomeot tefotm (lLC8) pada ulL[en CLda senllal 8p3,17 mlllar,
3) pengadaan pencetakan buku pada Ditjen KD senilai Rp38,05 juta; 4)
pekerjaan pengadaan trafo 630 KVA pada Balai Diklat Semplak Bogor
senilai Rp538,49 juta; dan 5) pekerjaan panel SDP-4 pada pengadaan
powet ploot qeoset Balai Diklat Semplak Bogor senilai Rp84,95 juta.
Di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, hasil kegiatan pengadaan
senllal 8p2,14 mlllar yalLu peralaLan hoLel prakuk senllal 8p168,46 [uLa
dan peralatan spa senilai Rp1,97 miliar belum dimanfaatkan.
Penyebab
2.72 kasus-kasus keudakefekufan pada umumnya Ler[adl karena kekurangcermaLan
bagian perencanaan, kurangnya koordinasi, serta kurangnya pengawasan
dan pengendalian penanggung jawab kegiatan.
Rekomendasi
2.73 ALas kasus-kasus keudakefekufan, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
plmplnan enuLas yang dlperlksa agar membuaL perencanaan yang memadal,
memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku, meningkatkan pengawasan,
dan segera memanfaatkan hasil pengadaan.
2.74 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam cakram
padat terlampir.
30
31
BAB 3
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
3.1 Pada Semester I Tahun 2011 BPK telah melaksanakan pemeriksaan atas
laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) Tahun 2010 pada 358 dari 524
pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota.
3.2 Pemeriksaan atas LKPD bertujuan memberikan pendapat/opini atas
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan
berdasarkan pada, (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan
dan atau prinsip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan
perundang-undangan; b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure);
(c) kepaLuhan Lerhadap peraLuran perundang-undangan, dan (d) efekuvlLas
sistem pengendalian intern.
3.3 Cakupan pemerlksaan aLas 3S8 LkÞu LersebuL mellpuu neraca dan laporan
realisasi anggaran (LRA). Rekapitulasi nilai neraca LKPD dengan rincian aset
senilai Rp1.281,03 triliun, kewajiban senilai Rp8,26 triliun, dan ekuitas senilai
Rp1.272,75 triliun. Pada LRA, rincian pendapatan senilai Rp345,22 triliun,
belanja (termasuk transfer) senilai Rp338,25 triliun, dan pembiayaan neto
senilai Rp35,71 triliun.
3.4 Selain itu, pada Semester I 2011 BPK juga telah menyelesaikan laporan hasil
pemerlksaan (LPÞ) aLas llma LkÞu 1ahun 2009, yalLu uga LkÞu dl wllayah
Þrovlnsl Maluku yang mellpuu LkÞu kabupaLen kepulauan Aru, kabupaLen
Seram Bagian Barat, dan Kabupaten Seram Bagian Timur, LKPD Kabupaten
Mamberamo Raya (Provinsi Papua), serta LKPD Kabupaten Teluk Wondama
(Provinsi Papua Barat). LHP tersebut baru dapat diselesaikan pada Semester
l 2011 karena LkÞu uga kabupaLen dl Þrovlnsl Maluku dan LkÞu kabupaLen
Mamberamo Raya baru diterima BPK pada Semester II 2010, sedangkan
pemeriksaan atas LKPD Kabupaten Teluk Wondama diselesaikan setelah
ditunda dengan alasan force majeure (banjir Wasior).
Hasil Pemeriksaan
3.5 Pasll pemerlksaan keuangan aLas LkÞu dlsa[lkan dalam uga kaLegorl, yalLu
opini, sistem pengendalian intern (SPI), dan kepatuhan terhadap ketentuan
perundang-undangan.
3.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam LHP dan dinyatakan dalam
se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl darl saLu aLau leblh kasus.
Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus yang merupakan
bagian dari temuan.
32
Opini
3.7 Terhadap 358 LKPD Tahun 2010, BPK memberikan opini wajar tanpa
pengecualian (W1Þ) aLas 32 enuLas, oplnl wajar dengan pengecualian
(WuÞ) aLas 271 enuLas, oplnl ndak wa[ar (1W) aLas 12 enuLas, dan oplnl
ndak member|kan pendapat (1MÞ) aLas 43 enuLas. Sedangkan Lerhadap
lima LKPD Tahun 2009 BPK memberikan opini ndak member|kan pendapat
(TMP).
3.8 Perkembangan opini LKPD Tahun 2005 s.d. 2010 dapat dilihat dalam Tabel
3.1. berlkuL lnl. 8lnclan oplnl uap-uap enuLas dapaL dlllhaL pada Lamplran S.
1abe| 3.1. Þerkembangan Cp|n| LkÞD 1ahun 200S-2010
3.9 Dari Tabel 3.1. di atas opini LKPD Tahun 2005 telah diberikan kepada 362
LKPD, Tahun 2006 kepada 463 LKPD, Tahun 2007 kepada 469 LKPD, Tahun
2008 kepada 485 LKPD, dan Tahun 2009 kepada 504 LKPD. Adapun Tahun
2010 belum seluruh pemerintah daerah dapat diberikan opini atas LKPD-
nya. Dalam Semester I Tahun 2011, opini baru diberikan kepada 358 LKPD
Tahun 2010.
3.10 Dari Tabel 3.1. diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2010 yang dalam
persentase, menunjukkan kenaikan proporsi opini WTP dan WDP
dibandingkan dibandingkan opini LKPD tahun-tahun sebelumnya, kecuali
untuk LKPD Tahun 2005.
3.11 kenalkan proporsl oplnl W1Þ dan WuÞ yang dllkuu penurunan oplnl 1W
dan TMP menggambarkan adanya perba|kan yang dlcapal oleh enuLas
pemerintahan daerah dalam menyajikan suatu laporan keuangan secara
wajar. Penyajian suatu laporan keuangan yang wajar merupakan gambaran
dan hasil dari pertanggungjawaban keuangan yang lebih baik.
3.12 ulllhaL darl ungkaL pemerlnLahan provlnsl, kabupaLen, dan koLa, oplnl LkÞu
Tahun 2005 s.d. 2010 disajikan dalam Tabel 3.2 berikut ini.
LKPD
OPINI
JUMLAH
WTP % WDP % TW % TMP %
2005 18 5% 307 85% 13 3% 24 7% 362
2006 3 1% 327 70% 28 6% 105 23% 463
2007 4 1% 283 60% 59 13% 123 26% 469
2008 13 3% 323 67% 31 6% 118 24% 485
2009 15 3% 330 65% 48 10% 111*) 22% 504
2010 32 9% 271 76% 12 3% 43 12% 358**)
*) Termasuk LKPD Kab. Kepulauan Aru, Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Seram Bagian Timur,
Kab. Mamberamo Raya, dan Kab. Teluk Wondama yang baru diperiksa Tahun 2011
**) Jumlah opini yang diberikan sampai dengan Semester I Tahun 2011
33
1abe| 3.2. Cp|n| LkÞD 1ahun 200S-2010 8erdasarkan 1|ngkat Þemer|ntahan
3.13 Dari Tabel 3.2. di atas terlihat bahwa rata-rata opini LKPD Tahun 2005 s.d.
2010 pada pemerlnLahan ungkaL provlnsl dan koLa leblh balk dlbandlngkan
dengan pemerlnLahan ungkaL kabupaLen. ÞemerlnLah provlnsl dan koLa
memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 81% dan 82% dari keseluruhan
enuLas provlnsl dan koLa, dlbandlngkan pemerlnLah kabupaLen yang
memperoleh opini WTP dan WDP hanya sekitar 70%.
Sistem Pengendalian Intern
3.14 Pemerintah daerah wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan
kegiatan pemerintahan untuk mencapai pengelolaan keuangan daerah yang
efekuf, eñslen, Lransparan, dan akunLabel.
3.15 Pengendalian intern pada pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman
pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).
3.16 SÞlÞ merupakan proses yang lnLegral pada undakan dan keglaLan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya tujuan organisasi
melalul keglaLan yang efekuf dan eñslen, keandalan pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara/daerah, dan ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan.
3.17 Standar pemeriksaan keuangan negara mengharuskan pemeriksa untuk
mengungkapkan kelemahan aLas pengendallan lnLern enuLas. 8erdasarkan
ÞÞ nomor 60 1ahun 2008 LenLang SÞlÞ, SÞl mellpuu llma unsur pengendallan,
yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian,
informasi dan komunikasi, serta pemantauan.
3.18 Unsur-unsur pengendalian intern dalam SPIP digunakan sebagai alat untuk
melakukan evaluasi atas pengendalian intern pada pemerintah daerah.
Pemerintahan Provinsi kabupaten Kota
Tahun WTP WDP TW TMP Jml WTP WDP TW TMP Jml WTP WDP TW TMP Jml
2005
2 28 1 1 32 14 213 10 20 257 2 66 2 3 73
6% 88% 3% 3% 100% 5% 83% 4% 8% 100% 3% 90% 3% 4% 100%
2006
0 25 4 4 33 2 236 21 85 344 1 66 3 16 86
0% 76% 12% 12% 100% 1% 68% 6% 25% 100% 1% 77% 3% 19% 100%
2007
1 21 3 8 33 1 201 45 103 350 2 61 11 12 86
3% 64% 9% 24% 100% 1% 57% 13% 29% 100% 2% 71% 13% 14% 100%
2008
0 24 1 8 33 6 235 26 96 363 7 64 4 14 89
0% 73% 3% 24% 100% 2% 65% 7% 26% 100% 8% 72% 4% 16% 100%
2009
1 24 3 5 33 7 240 37 95 379 7 66 8 11 92
3% 73% 9% 15% 100% 2% 63% 10% 25% 100% 7% 72% 9% 12% 100%
2010
6 20 0 2 28 15 200 10 35 260 11 51 2 6 70
22% 71% 0% 7% 100% 6% 77% 4% 13% 100% 16% 73% 3% 8% 100%
Rata-rata
untuk 2005-
2010 (N*/6)
2 24 2 4 32 8 221 25 72 326 5 63 5 10 83
6% 75% 6% 13% 100% 2% 68% 8% 22% 100% 6% 76% 6% 12% 100%
N* : Jumlah Opini
34
3.19 LfekuvlLas SÞl merupakan salah saLu krlLerla yang dlgunakan oleh 8Þk dalam
menellu kewa[aran lnformasl keuangan, sesual dengan undang-undang
Nomor 15 tahun 2004, penjelasan Pasal 16 ayat (1) opini merupakan
pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan
yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria, salah
saLunya yang LerkalL dengan SÞl adalah efekuvlLas SÞl.
3.20 Untuk itu, selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang
berupa opini, BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada
seuap enuLas yang dlperlksa. Pasll evaluasl aLas SÞl LkÞu dapaL dluralkan
sebagai berikut.
Hasil Evaluasi SPI
3.21 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengendalian intern pemerintah
daerah yang laporan keuangannya memperoleh opini WTP pada umumnya
telah memadai sedangkan yang opininya WDP cukup memadai. Adapun
pemerintah daerah yang laporan keuangannya memperoleh opini TMP
dan TW memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
3.22 Masih banyaknya opini TMP dan TW (15%) yang diberikan oleh BPK
menun[ukkan efekuvlLas SÞl pemerlnLah daerah belum opumal. kelemahan
pengendalian intern atas pemerintah daerah sebagian besar karena belum
memadainya unsur lingkungan pengendalian, penilaian risiko, dan kegiatan
pengendalian.
3.23 Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku
posluf dan konduslf unLuk menerapkan SÞl. namun, hal LersebuL maslh sullL
untuk tercapai karena terdapat kelemahan dalam lingkungan pengendalian
LeruLama karena kurang Lerubnya penyusunan dan penerapan kebl[akan
tentang pembinaan SDM serta kurangnya komitmen terhadap kompetensi.
3.24 Kelemahan lingkungan pengendalian terlihat pula dari pendelegasian
wewenang dan tanggung jawab yang kurang tepat, kurangnya penegakan
lnLegrlLas dan nllal euka, peran aparaL pengawasan lnLern yang kurang
efekuf, serLa kepemlmplnan yang kurang konduslf.
3.25 Penilaian risiko dilakukan untuk menjamin bahwa tujuan organisasi dapat
tercapai. Untuk mendukung hal tersebut, pimpinan instansi pemerintah
daerah harus menetapkan strategi operasional yang konsisten dan strategi
manajemen yang terintegrasi dengan rencana penilaian risiko. Hal tersebut
maslh sullL unLuk Lerwu[ud karena pemerlnLah daerah belum opumal dalam
melakukan keglaLan penllalan rlslko yang Lerdlrl aLas keglaLan ldenuñkasl
risiko dan analisis risiko.
3.26 Kelemahan atas kegiatan pengendalian tercermin dari belum memadainya
pengendallan ñslk aLas aseL, pencaLaLan Lransaksl yang akuraL dan LepaL
waktu, pendokumentasian yang baik atas SPI, transaksi, dan kejadian
3S
penung, pengendallan aLas pengelolaan slsLem lnformasl, serLa peneLapan
dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja.
3.27 unsur lnformasl dan komunlkasl yang perlu mendapaL perhauan pemerlnLah
daerah terutama perlunya upaya pengembangan dan pembaharuan sistem
informasi secara terus menerus.
3.28 unsur pengawasan pada pemerlnLah daerah belum opumal. Pal LersebuL
LerllhaL darl upaya penyelesalan undak lan[uL aLas rekomendasl Lemuan
pemeriksaan yang belum memadai sehingga masih ditemukan temuan-
Lemuan berulang dan lambaL dlundaklan[uu.
3.29 Hasil evaluasi SPI menunjukkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan;
kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan
belanja; dan
kelemahan struktur pengendalian intern.
3.30 Hasil evaluasi atas 358 LKPD terdapat 3.397 kasus kelemahan SPI, yang terdiri
atas 1.401 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan,
1.368 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja, serta 628 kasus kelemahan struktur pengendalian
intern. Rincian jenis temuan disajikan pada Lampiran 6, rincian temuan
menuruL enuLas dlsa[lkan dalam Lamplran 8.
3.31 Sebanyak 1.401 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan
pelaporan, terdiri atas
sebanyak 784 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
sebanyak 371 kasus proses penyusunan laporan udak sesual dengan
ketentuan;
sebanyak 24 kasus enuLas LerlambaL menyampalkan laporan,
sebanyak 204 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan udak
memadai;
sebanyak 17 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum
didukung SDM yang memadai; dan
sebanyak 1 kasus lain-lain, yaitu belum digunakannya aplikasi simda/
simbada.

36
3.32 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan
tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi DKI Jakarta, aset hasil revaluasi senilai Rp12,72 triliun belum
dllakukan pemerlksaan lapangan oleh um sensus sehlngga aseL LersebuL
udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
Di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat, pencatatan aset tetap
Lanah senllal 8p104,23 mlllar udak dldukung dengan buku-buku yang
memadai sehingga penyajian aset tersebut dalam Neraca Tahun 2010
udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
Di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, penyajian aset tetap
belum berdasarkan hasil inventarisasi dan rekonsiliasi sehingga aset
LeLap senllal 8p1,03 Lrlllun udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
Di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, nilai aset tetap pada neraca
awal belum ditentukan dan nilai aset tetap merupakan nilai akumulasi
aset tetap yang diperoleh dari realisasi belanja modal, sehingga nilai aset
LeLap senllal 8p1,17 Lrlllun udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
Di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, pengendalian intern atas
pengelolaan aset masih lemah, yaitu buku aset daerah belum menyajikan
informasi yang cukup sebagai dasar penyajian aset tetap dalam neraca,
saldo aset tetap belum termasuk aset yang bersumber dari APBN dan
belum dibuatkan berita acara serah terima dengan masing-masing
lnsLansl verukal, belum meneLapkan baLas nllal yang dlkaplLallsasl, belum
melakukan perhitungan penyusutan atas aset tetap, sehingga saldo aset
LeLap dalam neraca per 31 uesember 2010 senllal 8p2,21 Lrlllun udak
dapat diyakini kewajarannya.
3.33 Sebanyak 1.368 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja, terdiri atas
sebanyak 499 kasus perencanaan keglaLan udak memadal,
sebanyak 170 kasus mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan
serLa penggunaan penerlmaan negara dan hlbah udak sesual dengan
ketentuan;
sebanyak 375 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang
diperiksa tentang pendapatan dan belanja;
sebanyak 63 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD;
sebanyak 173 kasus aLas peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak
tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/
pendapatan;
37
sebanyak 70 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja; dan
sebanyak 18 kasus lain-lain, di antaranya kasus kelemahan pengelolaan
ñslk aseL, barang mlllk daerah udak [elas keberadaannya, dan mekanlsme
swakelola udak Lerub.
3.34 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, penganggaran belanja modal
[alan, lrlgasl, dan [arlngan udak LepaL senllal 8p32,S1 mlllar.
Di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, pemerintah daerah
belum memenuhi kewajiban untuk membayar subsidi dan iuran asuransi
kesehatan sejak TA 2004 sampai dengan 2010 kepada PT Askes sehingga
akan membebani APBD TA selanjutnya senilai Rp29,08 miliar.
Di Provinsi Bali, pelaksanaan kegiatan yang bersumber dari dana bantuan
soslal pasca bencana udak sepenuhnya melalul mekanlsme AÞ8u yalLu
belanja tersebut dilakukan sebelum perubahan APBD TA 2010 ditetapkan
senilai Rp10,39 miliar.
Di Provinsi Sulawesi Selatan, manajemen kas bendahara umum daerah
(8uu) kabupaLen Sldrap belum Lerub sehlngga penerlmaan kas yang
Lelah dlLenLukan penggunaannya dlgunakan unLuk kepenungan laln pada
TA 2010 dan akan membebani APBD TA berikutnya senilai Rp22,99 miliar.
Di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, penetapan tarif pajak
pengambllan dan pengolahan bahan gallan golongan C udak sesual
peraturan daerah sehingga mengakibatkan hilangnya potensi penerimaan
daerah senilai Rp7,89 miliar.
3.35 Sebanyak 628 kasus kelemahan struktur pengendalian intern, terdiri atas
sebanyak 26S kasus karena enuLas udak memlllkl stooJotJ opetouoq
procedure (SOP) yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan
prosedur;
sebanyak 326 kasus karena SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan
secara opumal aLau udak dlLaau,
sebanyak 3 kasus enuLas udak memlllkl saLuan pengawas lnLern,
sebanyak 17 kasus saLuan pengawas lnLern yang ada udak memadal aLau
udak ber[alan opumal, dan
sebanyak 17 kasus karena udak ada pemlsahan Lugas dan fungsl yang
memadai.
38
3.36 Kasus-kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut di antaranya
sebagai berikut.
Di Provinsi Riau, investasi jangka panjang program pemberdayaan desa-
dana usaha desa udak dlaLur dengan mekanlsme yang memadal sehlngga
berpoLensl udak LerLaglh senllal 8p73,64 mlllar.
Di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pemerintah
daerah belum memiliki SOP yang memadai untuk pengelolaan
penerimaan sehingga membuka peluang terjadinya penyimpangan
dalam proses penerimaan kas pada bendahara penerimaan.
Þenyebab
3.37 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena pejabat yang
berwenang belum menyusun dan menetapkan kebijakan yang formal untuk
suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.
3.38 Selain itu, para pejabat/pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat
dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan tugas.
3.39 kasus kelemahan SÞl yang laln mellpuu pe[abaL yang berLanggung [awab
lemah dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan dan
belum sepenuhnya memahami ketentuan dan belum adanya koordinasi
dengan pihak-pihak terkait.
Rekomendasi
3.40 Atas kasus-kasus kelemahan SPI, BPK telah merekomendasikan antara lain
agar
pejabat yang berwenang segera menyusun dan menetapkan kebijakan
yang formal atas suatu prosedur atau keseluruhan prosedur;
kepala daerah meningkatkan pengawasan serta pengendalian dalam
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan koordinasi
dengan pihak terkait;
pejabat yang bertanggung jawab agar melaksanakan tugas dan tanggung
jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat
yang bertanggung jawab.
kepatuhan 1erhadap ketentuan Þerundang-Undangan
3.41 Selain opini dan temuan-temuan SPI, hasil pemeriksaan atas 358 LKPD Tahun
2010 [uga menemukan keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan sebanyak 4.551 kasus senilai Rp5,28 triliun sebagaimana disajikan
39
dalam Tabel 3.3. Rincian jenis temuan pada masing-masing kelompok dapat
dlllhaL pada Lamplran 7 dan rlnclan Lemuan menuruL enuLas dlsa[lkan dalam
Lampiran 8.
1abe| 3.3. ke|ompok 1emuan Þemer|ksaan LkÞD 1ahun 2010
3.42 8erdasarkan 1abel 3.3. dl aLas, Lemuan aLas keudakpaLuhan Lerhadap
ketentuan perundang-undangan mengakibatkan kerugian daerah, potensi
keruglan daerah, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan/
pemborosan/keudakekonomlsan, keudakeñslenan, dan keudakefekufan.
1lap-uap kelompok Lemuan beserLa conLohnya dluralkan sebagal berlkuL.
Kerugian Daerah
3.43 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang,
suraL berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal aklbaL
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.
3.44 kasus-kasus keruglan daerah mellpuu permasalahan belan[a aLau pengadaan
barang/[asa ñkuf, rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
pekerjaan, kekurangan volume pekerjaan dan atau barang, kelebihan
pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang,
pemahalan harga (mark up), penggunaan uang/barang unLuk kepenungan
pribadi, pembayaran honorarium dan/atau perjalanan dinas ganda dan atau
melebihi standar yang ditetapkan.
3.45 Selaln lLu, kasus keruglan daerah [uga mellpuu permasalahan speslñkasl
barang/[asa yang dlLerlma udak sesual dengan konLrak, belan[a udak
sesuai atau melebihi ketentuan, pengembalian pinjaman/piutang atau
dana bergullr maceL, keleblhan peneLapan dan pembayaran resuLusl pa[ak
atau penetapan kompensasi kerugian, penjualan/pertukaran/penghapusan
aseL daerah udak sesual keLenLuan dan meruglkan daerah, pelanggaran
ketentuan pemberian diskon penjualan, dan lain-lain kasus kerugian daerah.
3.46 Kasus kerugian daerah lain yang sering terjadi yaitu kekurangan volume
peker[aan dan aLau barang serLa belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan.
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai
(juta Rp)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon
yonq Menqokibotkon:
1 Kerugian Daerah 1.197 376.965,01
2 Potensi Kerugian Daerah 313 3.283.343,78
3 Kekurangan Penerimaan 857 478.101,00
4 Administrasi 1.774 -
5 keudakhemaLan/Þemborosan/keudakekonomlsan 144 73.215,37
6 keudakeñslenan 2 1.370,03
7 keudakefekufan 264 1.068.576,00
Jumlah 4.SS1 S.281.S71,22
40
3.47 Hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2010 menunjukkan adanya kerugian
daerah sebanyak 1.197 kasus senilai Rp376,96 miliar terdiri atas
sebanyak 100 kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf senllal
Rp31,73 miliar;
sebanyak 30 kasus rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
pekerjaan senilai Rp3,69 miliar;
sebanyak 340 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang
senilai Rp74,99 miliar;
sebanyak 147 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume
pekerjaan dan/atau barang senilai Rp30,97 miliar;
sebanyak 47 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp7,76 miliar;
sebanyak 94 kasus penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl
senilai Rp65,83 miliar;
sebanyak 131 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan
dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp21,90
miliar;
sebanyak 37 kasus speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual
dengan kontrak senilai Rp8,19 miliar;
sebanyak 217 kasus belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan senllal
Rp68,90 miliar;
sebanyak 10 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir
macet senilai Rp25,43 miliar;
sebanyak 2 kasus keleblhan peneLapan dan pembayaran resuLusl pa[ak
atau penetapan kompensasi kerugian senilai Rp52,50 juta;
sebanyak 4 kasus pen[ualan/perLukaran/penghapusan aseL daerah udak
sesuai ketentuan dan merugikan daerah senilai Rp990,61 juta;
sebanyak 1 kasus pelanggaran ketentuan pemberian diskon penjualan
senilai Rp16,06 juta; dan
sebanyak 37 kasus lain-lain senilai Rp36,44 miliar di antaranya adanya
LunLuLan ganu rugl dan LunLuLan perbendaharaan.
3.48 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, pemberian panjar kas
belum dipertanggungjawabkan sampai dengan 31 Desember 2010.
Þan[ar kas LersebuL dl anLaranya dlberlkan kepada plhak keuga Lanpa
41
mekanisme surat perintah pencairan dana (SP2D), digunakan untuk
penyelesaian kerugian daerah hasil pemeriksaan BPK, serta digunakan
unLuk memblayal keglaLan yang udak Lersedla anggarannya dalam
APBD TA 2010 sehingga merugikan keuangan daerah seluruhnya senilai
Rp11,87 miliar.
ul Þrovlnsl kallmanLan 1lmur, pencalran lnsenuf pemunguLan pa[ak
daerah TA 2010 didasarkan realisasi penerimaan pajak daerah dan bukan
menggunakan rencana penerimaan pajak daerah sehingga merugikan
daerah senilai Rp10,88 miliar.
Di Provinsi Riau, terdapat ketekoran kas senilai Rp7,40 miliar pada
Sekretariat DPRD yang merupakan akumulasi Tahun 2008–2010.
Ketekoran yang terjadi pada Tahun 2010 disebabkan kas pada bendahara
pengeluaran di antaranya digunakan untuk membayar pengembalian
kepada plhak keuga senllal 8p2,3S mlllar, pln[aman prlbadl Þlmplnan/
Anggota DPRD Provinsi Riau senilai Rp437,04 juta, dan pembayaran
tunjangan hari raya (THR) Tahun 2010 kepada Pimpinan/Anggota DPRD
Þrovlnsl 8lau yang udak dlanggarkan senllal 8p1,4S mlllar.
Di Provinsi Sulawesi Barat, perjalanan dinas luar daerah dengan moda
transportasi angkutan darat dipertanggungjawabkan dengan moda
LransporLasl pesawaL udara senllal 8p237,6S [uLa dan berlndlkasl ñkuf
senilai Rp4,80 miliar.
Di Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara, Bendahara
Pengeluaran Dinas Pendidikan menyalahgunakan uang kas berupa
punguLan pa[ak 1ahun 2008 senllal 8p2,0S mlllar yang udak dlseLorkan
ke kas negara dan dana tunjangan profesi guru Dinas Pendidikan TA 2010
senilai Rp2,90 miliar.
3.49 uarl 1.197 kasus keruglan daerah senllal 8p376,96 mlllar Lelah dlundaklan[uu
dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp50,64
miliar, di antaranya penyetoran dari Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi
Tengah senilai Rp5,71 miliar dan Provinsi Sulawesi Barat senilai Rp5,56 miliar
seperu dlsa[lkan dalam Lamplran 8.
Þenyebab
3.50 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat
yang berLanggung [awab lalal, udak cermaL, dan belum opumal dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab.
3.51 Selain itu, kerugian daerah tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat
yang berLanggung [awab udak menaau dan memahaml keLenLuan yang
berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
42
Rekomendasi
3.52 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah tersebut, BPK telah
merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai
ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.
3.53 Selain itu, BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar
memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan
pengawasan dan pengendalian serta mempertanggungjawabkan kasus
kerugian daerah dengan menyetor ke kas daerah.
Potensi Kerugian Daerah
3.54 Potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik
sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian
di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan
barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
3.55 Þada umumnya kasus poLensl keruglan daerah mellpuu permasalahan
adanya aseL dlkuasal plhak laln, aseL udak dlkeLahul keberadaannya, pluLang/
pln[aman aLau dana bergullr yang berpoLensl udak LerLaglh, dan laln-laln
kasus potensi kerugian daerah.
3.56 Selaln lLu, kasus poLensl keruglan daerah [uga mellpuu permasalahan
kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran
pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya, rekanan belum
melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah
rusak selama masa pemeliharaan, pembelian aset yang berstatus sengketa,
pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang
dan pemberlan faslllLas udak sesual keLenLuan, dan plhak keuga belum
melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah.
3.57 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya potensi kerugian daerah
sebanyak 313 kasus senilai Rp3,28 triliun yang terdiri atas
sebanyak 29 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa
tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya
senilai Rp20,01 miliar;
sebanyak 13 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan
barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan
senilai Rp26,18 miliar;
sebanyak 63 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp1,03 triliun;
sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp93,78
miliar;
sebanyak S7 kasus aseL udak dlkeLahul keberadaannya senllal 8p1,62
triliun;
43
sebanyak 9 kasus pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan
peker[aan, pemanfaaLan barang dan pemberlan faslllLas udak sesual
ketentuan senilai Rp100,96 miliar;
sebanyak 3 kasus plhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk
menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp1,65 miliar;
sebanyak 110 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi
udak LerLaglh senllal 8p330,68 mlllar, dan
sebanyak 28 kasus lain-lain senilai Rp46,31 miliar di antaranya
perLanggung[awaban belum lengkap dan sah dan enuLas dlsarankan
unLuk memperLanggung[awabkan pengeluaran dan apablla udak dapaL
mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah.
3.58 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi Sulawesi Selatan, status kepemilikan 12 bidang tanah milik
pemerintah provinsi senilai Rp93,78 miliar sampai dengan Tahun
2010 masih menjalani proses hukum sehingga menimbulkan potensi
kehilangan aset.
Di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, sebanyak 107 persil
tanah seluas 583.960 m
2
senilai Rp50,02 miliar sampai dengan TA 2010
berseruñkaL aLas nama plhak laln sehlngga Lanah LersebuL udak memlllkl
kekuatan hukum yang sah dan melemahkan posisi Pemerintah Kabupaten
Agam apabila terjadi gugatan atas kepemilikan tanah tersebut.
Di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, dana jaminan
pengelolaan lingkungan (DJPL) perusahaan tambang senilai Rp36,18
miliar belum memenuhi persyaratan sebagai jaminan untuk reklamasi
dan penutupan tambang karena bentuk jaminan berupa rekening bank
nama perusahaan dan bukan deposlLo aLas nama bupau qq perusahaan.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan tambang untuk
mencalrkan [amlnan Lanpa lzln darl 8upau karlmun.
ul koLa 1ernaLe, Þrovlnsl Maluku uLara, aseL LeLap yang udak dlkeLahul
keberadaannya senilai Rp26,59 miliar, kendaraan dinas operasional
senilai Rp3,88 miliar dikuasai oleh mantan-mantan pejabat dan sembilan
bidang tanah seluas 40.220 m
2
senilai Rp6,00 atas nama pribadi dan
instansi lain sehingga berpotensi merugikan daerah seluruhnya senilai
Rp30,47 miliar.
Di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, nilai aset kemitraan dengan
plhak keuga build operate and transfer (BOT) senilai Rp23,03 miliar
berbeda dengan nilai yang tertera dalam perjanjian kemitraan yang
hanya mencantumkan nilai Rp5,50 miliar. Selain itu, aset BOT berupa
bangunan ruko dan los pasar di atas tanah Pemerintah Kabupaten
!ombang dlkuasal plhak keuga sehlngga kepemlllkan aLas aseL LersebuL
berisiko hilang.
44
3.59 uarl 313 kasus poLensl keruglan senllal 8p3,28 Lrlllun Lelah dlundaklan[uu
dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp3,26
miliar, di antaranya dari Provinsi DKI Jakarta senilai Rp2,27 miliar dan Kota
Þagaralam Þrovlnsl SumaLera SelaLan senllal 8p7S0,00 [uLa seperu dlsa[lkan
dalam Lampiran 8.
Þenyebab
3.60 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat
yang berLanggung [awab lalal, udak cermaL, dan belum opumal dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab.
3.61 Selain itu, potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat
yang berLanggung [awab udak menaau dan memahaml keLenLuan yang
berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
3.62 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut, BPK telah
merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai
ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.
3.63 Selain itu, BPK juga telah merekomendasikan kepada pihak-pihak
yang bertanggung jawab agar mengupayakan penagihan dan
mempertanggungjawabkan potensi kerugian daerah atau melakukan
langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian
daerah.
Kekurangan Penerimaan
3.64 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak
negara/daerah LeLapl udak aLau belum masuk ke kas negara/daerah karena
adanya unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
3.65 Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah yaitu
adanya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan
belum/udak dlLeLapkan/dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/daerah,
penggunaan langsung penerimaan daerah, dan pengenaan tarif pajak/PNBP
lebih rendah dari ketentuan.
3.66 Selaln lLu, kasus kekurangan penerlmaan [uga mellpuu permasalahan dana
perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah, penerimaan
daerah dlLerlma aLau dlgunakan oleh lnsLansl yang udak berhak, keleblhan
pembayaran subsidi oleh pemerintah, dan kasus lain-lain kekurangan
penerimaan.
3.67 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya kekurangan penerimaan
negara/daerah sebanyak 857 kasus senilai Rp478,10 miliar terdiri atas
sebanyak 648 kasus penerimaan negara/daerah atau denda
keLerlambaLan peker[aan belum/udak dlLeLapkan aLau dlpunguL/
4S
diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/
daerah senilai Rp188,30 miliar;
sebanyak 179 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai
Rp260,68 miliar;
sebanyak 4 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk
ke kas daerah senilai Rp4,37 miliar;
sebanyak 8 kasus penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh
lnsLansl yang udak berhak senllal 8pS,16 mlllar,
sebanyak 15 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari
ketentuan senilai Rp11,95 miliar;
sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah senilai
Rp69,25 juta; dan
sebanyak 2 kasus lain-lain kekurangan penerimaan senilai Rp7,55 miliar.
3.68 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan, hasil
eksploitasi marmer dari 19 perusahaan pemegang surat izin usaha
pertambangan (SIUP) belum dikenakan Pajak Pengambilan dan
Pengolahan Bahan Galian Golongan C mengakibatkan penerimaan
daerah TA 2010 kurang diterima senilai Rp30,55 miliar.
Di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, prosedur perhitungan dan penetapan
pa[ak udak sesual dengan peraLuran daerah mengaklbaLkan kekurangan
pembayaran pajak sampai dengan 31 Desember 2010 senilai Rp10,22
miliar, terdiri atas pajak hiburan senilai Rp9,92 miliar, pajak parkir senilai
Rp74,06 juta, dan pajak restoran senilai Rp220,46 juta.
Di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, penerimaan
retribusi pelayanan kesehatan TA 2010 yang berasal dari kegiatan
pelayanan kesehatan melalui Program Askes Sosial, Jamkesmas, dan
Jamkesda pada puskesmas-puskesmas dan RSUD dr. M. Zein Painan
senllal 8p10,03 mlllar udak dlseLorkan ke kas daerah, LeLapl dlgunakan
langsung.
Di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, bantuan dana
keuangan TA 2010 dari Pemerintah Provinsi Bengkulu senilai Rp4,00
miliar dan dari Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara senilai Rp5,00
miliar belum diterima sehingga berpotensi mengganggu proses transisi
pemerintah daerah otonomi baru.
Di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, Kuasa BUD belum
menyetorkan PPN dan PPh TA 2010 yang berada dalam rekening
penampungan pajak beserta jasa gironya, serta Bendahara Pengeluaran
46
SKPD belum memungut dan menyetorkan PPN dan PPh mengakibatkan
kekurangan penerimaan senilai Rp4,21 miliar.
3.69 Dari 857 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp478,10 miliar tersebut
Lelah dlundaklan[uu dengan penyeLoran uang ke kas daerah senllal 8p19,89
miliar di antaranya penyetoran dari Provinsi Riau senilai Rp7,00 miliar dan
Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat senilai Rp2,93 miliar
seperu dlsa[lkan dalam Lamplran 8.
Þenyebab
3.70 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya terjadi karena pejabat
yang berLanggung [awab lalal, udak cermaL, dan belum opumal dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab.
3.71 Selain itu, kasus kekurangan penerimaan terjadi karena pejabat yang
berLanggung [awab udak memedomanl keLenLuan yang berlaku serLa lemah
dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
3.72 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut, BPK telah
merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai
ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab serta
menetapkan surat ketetapan pajak, memungut, dan/atau menyetorkan
kekurangan penerlmaan ke kas daerah serLa menyampalkan buku seLor ke
BPK.
Administrasi
3.73 Temuan kelemahan atau penyimpangan administrasi mengungkap adanya
penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan
anggaran aLau pengelolaan aseL, LeLapl penylmpangan LersebuL udak
mengaklbaLkan keruglan daerah aLau poLensl keruglan daerah, udak
mengurangl hak daerah (kekurangan penerlmaan), udak menghambaL
program enuLas, dan udak mengandung unsur lndlkasl undak pldana.
3.74 Þada umumnya kasus-kasus penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf
yalLu adanya perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/
udak valld), penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-undangan
bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah, penyetoran
penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan,
kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang sah, dan penylmpangan
terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya.
3.75 kasus laln penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf yalLu adanya proses
pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak menlmbulkan keruglan
daerah), pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas
waktu yang ditentukan, sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun
47
anggaran belum disetor ke kas daerah, dan pengeluaran investasi pemerintah
udak dldukung buku yang sah.
3.76 Selaln lLu, penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf yalLu peker[aan
dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran, pemecahan
kontrak untuk menghindari pelelangan, pelaksanaan lelang secara proforma,
koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum, pengalihan
anggaran anLar maLa anggaran keglaLan (MAk) udak sah, pembenLukan
cadangan pluLang, perhlLungan penyusuLan aLau amorusasl udak sesual
ketentuan, dan lain-lain kasus administrasi.
3.77 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya penyimpangan yang
berslfaL admlnlsLrauf sebanyak 1.774 kasus yang Lerdlrl aLas
sebanyak S26 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap/udak valld),
sebanyak 16 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau
penetapan anggaran;
sebanyak 69 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
(udak menlmbulkan keruglan daerah),
sebanyak 8 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan
pelelangan;
sebanyak 4 kasus pelaksanaan lelang secara proforma;
sebanyak 317 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah;
sebanyak 156 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan,
perpajakan, dan lain-lain;
sebanyak 1 kasus koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan
umum;
sebanyak 1 kasus pembentukan cadangan piutang, perhitungan
penyusuLan aLau amorusasl udak sesual keLenLuan,
sebanyak 250 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas
waktu yang ditentukan;
sebanyak 122 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan
melebihi batas waktu yang ditentukan;
sebanyak 84 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun
anggaran belum disetor ke kas daerah;
48
sebanyak S9 kasus pengeluaran lnvesLasl pemerlnLah udak dldukung
buku yang sah,
sebanyak 138 kasus kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang
sah;
sebanyak 9 kasus pengallhan anggaran anLar MAk udak sah, dan
sebanyak 14 kasus lain-lain penyimpangan administrasi.
3.78 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi Sulawesi Selatan, aset tanah yang dimiliki pemerintah provinsi
sebanyak 442 persil dengan luas 5.855.277 m
2
senilai Rp1,18 triliun
sampal dengan 1A 2010 belum memlllkl seruñkaL sehlngga berpoLensl
disalahgunakan dan diklaim atau diserobot oleh pihak lain.
Di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, aset tanah yang dimiliki
Pemerintah Kabupaten senilai Rp961,62 miliar sampai dengan TA 2010
belum memlllkl seruñkaL sehlngga berpoLensl dlsalahgunakan dan
diklaim atau diserobot oleh pihak lain.
ul Þrovlnsl uaerah lsumewa ?ogyakarLa (ul?), hlbah barang mlllk daerah
pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya
Mineral TA 2010 senilai Rp149,19 miliar kepada pemerintah kabupaten/
koLa se-Þrovlnsl ul? belum dldukung dengan berlLa acara serah Lerlma
sehingga aset tersebut masih diakui sebagai milik Pemerintah Provinsi
ul?.
Di Provinsi Sumatera Barat, belanja bantuan hibah dan bantuan
sosial TA 2010 terlambat dipertanggungjawabkan senilai
Rp59,52 miliar, belum dipertanggungjawabkan senilai Rp1,40 miliar, dan
dlperLanggung[awabkan udak sesual keLenLuan senllal 8p33,38 mlllar
sehlngga udak dapaL dlevaluasl dan dlyaklnl apakah Lelah dlgunakan
sesuai ketentuan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, realisasi belanja bagi hasil pajak
dan retribusi daerah kepada pemerintah desa berupa pencairan dana
mouvasl kepada masyarakaL senllal 8pS0,42 mlllar dlberlkan secara
langsung kepada kelompok masyarakat tanpa melalui pemerintah desa
aLau udak masuk dalam anggaran pendapaLan dan belan[a desa.
Þenyebab
3.79 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena
pe[abaL yang berLanggung [awab lalal dan belum opumal dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawab.
3.80 Selain itu, kasus administrasi terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab
udak menaau dan memahaml keLenLuan yang berlaku serLa lemah dalam
melakukan pengawasan dan pengendalian.
49
Rekomendasi
3.81 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut, BPK telah merekomendasikan
kepada kepala daerah agar memperLanggung[awabkan secara admlnlsLrauf
aLas buku perLanggung[awaban yang belum valld dan segera melengkapl
dokumen kepemilikan aset daerah.
3.82 BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar meningkatkan
pengawasan dan pengendalian atas aset serta memberi sanksi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.
kendakhematan
3.83 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lnpuL
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan
dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.
3.84 Þada umumnya kasus keudakhemaLan yalLu adanya pengadaan barang/
[asa meleblhl kebuLuhan, adanya peneLapan kuallLas dan kuanuLas barang/
[asa yang dlgunakan udak sesual sLandar, dan Ler[adl pemborosan aLau
kemahalan harga.
3.85 Pasll pemerlksaan aLas LkÞu menun[ukkan adanya keudakhemaLan sebanyak
144 kasus senilai Rp73,21 miliar terdiri atas
sebanyak 3 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai
Rp182,96 juta;
sebanyak 7 kasus peneLapan kuallLas dan kuauLas barang/[asa yang
dlgunakan udak sesual sLandar senllal 8p2,94 mlllar, dan
sebanyak 134 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan
harga senilai Rp70,08 miliar.
3.86 kasus-kasus keudakhemaLan dl anLaranya sebagal berlkuL.
Di Provinsi Lampung, realisasi belanja bantuan sosial TA 2010 melebihi
ketentuan besaran maksimal sehingga memboroskan keuangan daerah
senilai Rp6,47 miliar.
Di Provinsi Riau, belanja barang TA 2010 senilai Rp3,05 miliar digunakan
untuk tambahan biaya perjalanan dinas di luar biaya perjalanan dinas
yang diatur dalam peraturan gubernur dengan besaran yang kurang
memperumbangkan kewa[aran dan kepaLuLan.
Di Provinsi Sulawesi Barat, analisis standar belanja penyusunan APBD
Provinsi Sulawesi Barat TA 2010 belum ditetapkan sehingga pada
beberapa keglaLan LerdapaL belan[a pendukung yang udak wa[ar dan
memboroskan keuangan daerah senilai Rp3,01 miliar.
S0
ul Þrovlnsl 8all, harga pengadaan vaksln anu rables (vA8) oleh ulnas
Kesehatan dan RSUP Sanglah TA 2009 dan 2010 lebih mahal senilai
Rp2,68 miliar jika dibandingkan dengan harga apabila Pemerintah
Provinsi Bali melakukan penunjukkan langsung kepada PT SC yang
merupakan perusahaan pemegang lzln dlsLrlbusl vA8 unLuk public sector
(qovetomeot).
Di Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur, penyelenggaraan workshop dalam
rangka Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pimpinan dan Anggota DPRD TA
2010 dilaksanakan di luar kota sehingga membutuhkan biaya tambahan
senilai Rp1,25 miliar dibandingkan kebutuhan biaya jika kegiatan tersebut
dilaksanakan di dalam kota.
Þenyebab
3.87 kasus-kasus keudakhemaLan pada umumnya Ler[adl karena pe[abaL
yang berLanggung [awab lalal, udak cermaL, dan belum opumal dalam
melaksanakan tugas.
3.88 Selaln lLu, kasus keudakhemaLan Ler[adl karena plhak-plhak yang
berLanggung[awab udak memedomanl keLenLuan yang berlaku serLa lemah
dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
3.89 1erhadap kasus-kasus keudakhemaLan LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendasikan kepada kepala daerah antara lain agar memberikan
sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung
jawab, memedomani ketentuan yang berlaku dan menghindari pemborosan.
kendakefeknfan
3.90 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll
(outcome) yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak
memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang
udak opumal sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
3.91 Þada umumnya kasus-kasus keudakefekufan yalLu adanya penggunaan
anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual perunLukan, barang yang dlbell
belum/udak dapaL dlmanfaaLkan, dan pelaksanaan keglaLan LerlambaL/
terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
3.92 kasus keudakefekufan yang laln yalLu pemanfaaLan barang/[asa dllakukan
udak sesual dengan rencana yang dlLeLapkan, pemanfaaLan barang/[asa
udak berdampak Lerhadap pencapalan Lu[uan organlsasl, pelayanan kepada
masyarakaL udak opumal, dan fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
S1
3.93 Pasll pemerlksaan aLas LkÞu menun[ukkan adanya keudakefekufan sebanyak
264 kasus senilai Rp1,06 triliun yang terdiri atas
sebanyak 1S3 kasus penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak
sesuai peruntukan senilai Rp207,67 miliar;
sebanyak 16 kasus pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual
dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp20,84 miliar;
sebanyak 39 kasus barang yang dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan
senilai Rp71,79 miliar;
sebanyak 6 kasus pemanfaaLan barang/[asa udak berdampak Lerhadap
pencapaian tujuan organisasi senilai Rp439,64 juta;
sebanyak 35 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga
mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp763,91 miliar;
sebanyak 6 kasus pelayanan kepada masyarakaL udak opumal senllal
Rp868,07 juta; dan
sebanyak 9 kasus fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal
senilai Rp3,03 miliar.
3.94 kasus-kasus keudakefekufan LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
Di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, bantuan sosial
1A 2010 senllal 8p11,S9 mlllar udak sesual perunLukan, yalLu dlberlkan
kepada organlsasl masyarakaL yang udak Lermasuk kaLegorl organlsasl
yang berhak menerima bantuan.
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, pelaksanaan pembangunan rumah
toko pada TA 2010 di Dinas Pendapatan dan Aset Daerah senilai Rp11,42
miliar terlambat sehingga belum dapat dimanfaatkan untuk segera
menghasilkan pendapatan asli daerah.
Di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hasil
pengadaan TA 2010 senilai Rp9,94 miliar berupa alat kesehatan di RSUD
Sejiran Setason dan rumah dinas yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum
belum dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pengadaannya.
Di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, realisasi belanja hibah, bantuan
sosial, dan bantuan keuangan TA 2010 senilai Rp6,36 miliar digunakan
untuk membiayai kegiatan beberapa SKPD di lingkungan Pemerintah
kabupaLen Seluma yang udak dlanggarkan sebelumnya.
Di Provinsi DKI Jakarta, sampai dengan TA 2010, pembangunan Bandara
Þulau Þan[ang Lerbengkalal dan udak pernah dllakukan penanganan
unLuk men[aga kondlsl ñslk aseL sehlngga belum memberlkan manfaaL
sesuai tujuan pengadaan dan berpotensi terjadi penurunan fungsi aset.
S2
Þenyebab
3.95 kasus-kasus keudakefekufan pada umumnya Ler[adl karena pe[abaL yang
berLanggung [awab lalal, udak cermaL dalam merencanakan keglaLan dan
melaksanakan Lugas, udak memedomanl keLenLuan yang berlaku, serLa
lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan.
Rekomendasi
3.96 1erhadap kasus-kasus keudakefekufan LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi
sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab,
memedomani ketentuan yang berlaku dan lebih cermat dalam perencanaan
keglaLan serLa memperhaukan asas efekuvlLas dalam melaksanakan keglaLan.
LkÞD 1ahun 2009
3.97 Dalam pemeriksaan LKPD Tahun 2009 terdapat kerugian daerah di antaranya
terjadi di Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, yaitu pekerjaan
pembangunan kanLor bupau dan sekreLarlaL daerah senllal 8pS,93 mlllar
dan pekerjaan pembangunan Kantor DPRD TA 2008 senilai Rp7,09 miliar
udak dllaksanakan dan dlkonLrakkan kemball darl awal keglaLan dl 1A 2009
kepada rekanan yang sama.
3.98 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam
cakram padat terlampir.
53
BAB 4
Laporan Keuangan BHMN dan Badan Lainnya
4.1 Pada Semester I Tahun 2011, BPK telah menyelesaikan laporan hasil
pemeriksaan (LHP) atas satu laporan keuangan (LK) BHMN dan tujuh laporan
keuangan badan lainnya. LHP tersebut terdiri atas LK Badan Pelaksana
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) Tahun 2008, LK Bank
Indonesia (BI) Tahun 2010, LK Konsolidasi ltoject Moooqemeot O[ce of
Asian Development Bank on Earthquake and Tsunami Emergency Support
Project (PMO ADB ETESP) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Tahun 2010, LK Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Tahun 2010, LK Pusat
Investasi Pemerintah (PIP) Tahun 2010, LK Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN) Tahun 2010, LK Loan ADB 2575-INO pada Rural Infrastructure
Support to The PNPM Mandiri Project 2, Direktorat Jenderal Cipta Karya,
Kementerian Pekerjaan Umum (Loan ADB 2575-INO) Tahun 2010, dan LK
Penyelenggaraan Ibadah Haji pada Badan Penyelenggara Ibadah Haji (PIH)
Tahun 1431 H/2010 M.
4.2 Pemeriksaan laporan keuangan BHMN dan badan lainnya bertujuan untuk
memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang
disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan (a) kesesuaian dengan
standar akuntansi pemerintahan dan atau prinsip-prinsip akuntansi yang
ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan; (b) kecukupan
pengungkapan (adequate disclosure); (c) kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan, dan (d) efekuvlLas slsLem pengendallan lnLern.
4.3 Cakupan pemerlksaan aLas Lk 8PMn dan badan lalnnya mellpuu neraca,
laporan laba rugl, laporan reallsasl anggaran aLau laporan surplus (deñslL)
aLau laporan akuvlLas, laporan perubahan ekulLas dan raslo modal, serLa
laporan arus kas. Rincian cakupan pemeriksaan untuk LK BHMN dan badan
lainnya tersebut disajikan dalam Tabel 4.1. berikut.
Tabel 4.1. Cakupan Pemeriksaan atas LK BHMN dan Badan Lainnya
(dalam miliar rupiah)
No. Objek Pemeriksaan
Neraca
Laporan Laba Rugi/Laporan Surplus
(Dehs|t)]Laporan Aknv|tas]Laporan
Kinerja Keuangan/Laporan Realisasi
Proyek
Aset Kewajiban Ekuitas Pendapatan Biaya
Laba (rug|)]
Surplus
(dehs|t)
1 BPMIGAS 514,54 578,68 (64,13) 634,39 531,72 102,67
2 Bank Indonesia 1.180.012,32 1.111.213,52 68.798,80 12.875,17 34.034,36 (21.159,18)
3 Penyelenggaraan Ibadah Haji 29.097,26 27.772,05 1.325,21 7.079,43 6.945,07 134,35
4 Lembaga Penjamin Simpanan 22,54 11,11 11,43 5,32 4,38 0,93
5 Pusat Investasi Pemerintah 15.079,17 1.070,43 14.008,74 362,14 12,43 349,70
6
Sekolah Tinggi Akuntansi
Negara
737,12 1,42 735,70 104,60 63,94 40,65
7 PMO ADB ETESP 0,86 0,86 -
8 Loan ADB 2575-INO - - - 374,65 374,65 -
54
Hasil Pemeriksaan
4.4 Hasil pemeriksaan keuangan atas LK BHMN dan badan lainnya disajikan
dalam uga kaLegorl, yalLu oplnl, slsLem pengendallan lnLern (SÞl), dan
kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.
4.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan
dlnyaLakan dalam se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas saLu
aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus
yang merupakan bagian dari temuan.
Opini
4.6 BPK memberikan opini WTP terhadap LK BPMIGAS Tahun 2008, LK BI Tahun
2010, LK Konsolidasi PMO ADB ETESP Tahun 2010, LK PIP Tahun 2010, LK
STAN Tahun 2010, dan LK Loan ADB 2575-INO Tahun 2010. Opini TMP
diberikan terhadap LK PIH Tahun 1431 H/2010 M dan LK LPS Tahun 2010.
Þerkembangan oplnl delapan enuLas LersebuL unLuk 1ahun 2008, 2009, dan
2010 disajikan pada Tabel 4.2. berikut.
Tabel 4.2. Opini atas Laporan Keuangan BHMN dan Badan Lainnya
Sistem Pengendalian Intern
4.7 unLuk mencapal pengelolaan keuangan negara yang efekuf, eñslen,
transparan, dan akuntabel, pemerintah wajib melakukan pengendalian
intern atas penyelenggaraan kegiatannya. Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas
pengendallan lnLern enuLas.
4.8 Selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini,
8Þk [uga menerblLkan laporan hasll pemerlksaan aLas SÞl pada seuap enuLas
yang diperiksa. Hasil evaluasi atas SPI LK BHMN dan badan lainnya dapat
diuraikan sebagai berikut.
No Lnntas
OPINI
2008 2009 2010
1 BPMIGAS WTP -- --
2 Bank Indonesia WTP WTP WTP
3 Penyelenggaraan Ibadah Haji TMP TMP TMP
4 Lembaga Penjamin Simpanan WTP TMP TMP
5 Pusat Investasi Pemerintah WTP WTP WTP
6 Sekolah Tinggi Akuntansi Negara -- WDP WTP
7 PMO ADB ETESP -- -- WTP
8 Loan ADB 2575-INO -- -- WTP
55
nas|| Lva|uas| SÞI
4.9 Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan BHMN dan badan lainnya
menunjukkan adanya 41 kasus kelemahan SPI, terdiri atas
sebanyak 11 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan
pelaporan;
sebanyak 7 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja; dan
sebanyak 23 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.
4.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.
ul 8ÞMlCAS, kanLor perwakllan 8ÞMlCAS udak melakukan pencaLaLan
dan pelaporan akuntansi, dan hanya melaporkan penerimaan dan
penggunaan dana dari kantor pusat. Di sisi lain, kantor pusat BPMIGAS
mencatat dana yang dikirim ke kantor perwakilan sebagai beban
operaslonal LeLapl udak melakukan penyesualan aLas beban operaslonal
kantor perwakilan pada akhir tahun. Dinas Keuangan Internal kantor
pusat BPMIGAS dan Kantor Perwakilan Jawa Timur, Papua, dan Maluku
(!apalu) [uga udak melakukan rekonslllasl aLas blaya-blaya yang sudah
dibebankan dan biaya-biaya yang masih harus dibayar pada tahun
bersangkutan. Hal tersebut mengakibatkan penyajian beban operasional
pada Lk 8ÞMlCAS 1ahun 2008 men[adl udak wa[ar.
Di BI, beberapa kegiatan Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) belum
diatur secara jelas pendanaannya dalam Keputusan Gubernur BI
mengaklbaLkan adanya keglaLan yang seharusnya udak dlblayal darl
anggaran BSBI menjadi beban BI.
ul ÞlP, penerapan aLuran pengemballan pemondokan Makkah udak
konsisten, yaitu adanya persetujuan pembayaran kompensasi kepada
[emaah yang udak berhak senllal SA890S.40 rlbu (ekulvalen 8p2,18
miliar).
Di Loan ADB 2575-INO, dalam proses penyusunan LK terdapat transaksi
pada rekenlng khusus udak LercaLaL pada laporan mana[emen keuangan
(LMk), penyusunan LMk udak menggunakan daLa hasll rekonslllasl
antara BI dan Kementerian Keuangan, serta pengakuan realisasi dalam
LMK berbeda dengan jumlah realisasi menurut rekening khusus dan
realisasi menurut rekening dana talangan Bendahara Umum Negara
(8un) sehlngga pengakuan reallsasl senllal 8p3,30 mlllar udak [elas.
Penyebab
4.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung
[awab udak memaLuhl keLenLuan dan peraLuran yang berlaku serLa lemahnya
pengawasan dan pengendalian pimpinan BUMN dan badan lainnya.
56
Rekomendasi
4.12 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut, BPK telah merekomendasikan
agar pimpinan BHMN dan badan lainnya memberikan sanksi kepada pihak
yang bersalah aLas kelalalannya udak memaLuhl keLenLuan yang berlaku
serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
4.13 Selain opini dan evaluasi atas SPI, BPK masih menemukan adanya
keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan yang
mengakibatkan kerugian negara/perusahaan milik negara, potensi
kerugian negara/perusahaan milik negara, kekurangan penerimaan negara/
perusahaan mlllk negara, admlnlsLrasl, keudakhemaLan, dan keudakefekufan
mellpuu 41 kasus senllal 8p14,00 Lrlllun dan uSu201.0S rlbu (ekulvalen
Rp1,72 miliar) yang dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BHMN
dan Badan Lainnya
4.14 Berdasarkan Tabel 4.3. di atas, hasil pemeriksaan mengungkapkan 41 kasus
senilai Rp14,00 triliun dan USD201.05 ribu (ekuivalen Rp1,72 miliar) sebagai
aklbaL adanya keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan
yang ditemukan dalam pemeriksaan atas satu LK BUMN dan tujuh badan
lainnya. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 10 dan rincian
per enuLas dapaL dlllhaL pada Lamplran 11.
4.15 ul anLara Lemuan slgnlñkan aLas keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan
perundang-undangan adalah sebagai berikut.
ul 8l, keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keruglan negara, pembayaran
penghasilan kepada pegawai yang telah dijatuhi hukuman pidana penjara
udak sesual keLenLuan sehlngga meruglkan 8l senllal 8p1,0S mlllar unLuk
Tahun 2009 dan Rp158,38 juta untuk Tahun 2010.
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai
(juta Rp/ribu
USD)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 Kerugian Negara/Perusahaan 6 1.430,11
USD200.00
2 Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 285,45
3 Kekurangan Penerimaan 9 2.519,47
USD1.05
4 Administrasi 16 -
5 keudakhemaLan 4 88.414,43
6 keudakefekufan 5 13.909.244,23
Jumlah 41 14.001.893,70
USD201.05
57
ul ÞlP, keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan kekurangan penerlmaan,
bunga deposito pada Bank Mandiri senilai Rp1,17 miliar belum diterima
ÞlP, Lerdlrl aLas perhlLungan bunga yang udak sesual keLenLuan senllal
Rp438,44 juta dan bunga deposito yang belum dibayarkan senilai
Rp736,58 juta.
ul ÞlP, keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan pemborosan, perhlLungan
harga saLuan blaya konsumsl dl Armlna udak [elas perhlLungannya
mengakibatkan pemborosan senilai Rp2,59 miliar. Selain itu, pembayaran
blaya keberslhan dan keamanan (konLrak loglsuk) kepada Muassasah
(badan-badan yang khusus melayani jemaah haji) di Armina tumpang
undlh dengan pembayaran beban Maslahat Ammah (general service)
yang sudah dibayar sendiri oleh jemaah mengakibatkan pemborosan
senilai Rp28,58 miliar.
ul ÞlÞ, keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keudakefekufan, dana
investasi yang dicairkan pada TA 2010, dana investasi dari DIPA tahun-
tahun sebelumnya, dan surplus pendapatan yang diperoleh belum
dimanfaatkan sesuai dengan rencana bisnis dan anggaran (RBA) secara
opumal mengaklbaLkan adanya idle cash per 31 Desember 2010 senilai
Rp13,90 triliun. Hal tersebut menunjukkan masih banyak idle cash
belum dapat diinvestasikan oleh PIP sehingga belum dapat memberikan
manfaat yang maksimal.
Penyebab
4.16 Kasus-kasus tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung
[awab lalal dalam menaau keLenLuan yang berlaku, udak cermaL, dan belum
opumal dalam melaksanakan Lugas dan Langgung [awab.
Rekomendasi
4.17 1erhadap kasus-kasus keudakpaLuhan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
agar pimpinan BHMN dan badan lainnya memberikan sanksi kepada pejabat
yang berLanggung [awab serLa leblh cermaL dan opumal dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawab.
4.18 Selaln lLu, 8Þk [uga Lelah merekomendaslkan agar enuLas yang dlperlksa
mempertanggungjawabkan kasus kerugian negara/perusahaan dan
kekurangan penerimaan negara/perusahaan dengan menyetor ke kas
negara/perusahaan.
4.19 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam
cakram padat terlampir.
58
59
PEMERIKSAAN KINERJA
Þemerlksaan klner[a berLu[uan unLuk menllal aspek ekonomls, eñslensl, dan
efekuvlLas. ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melaksanakan pemerlksaan
klner[a aLas 14 ob[ek pemerlksaan, Lerdlrl aLas 8 ob[ek dl llngkungan pemerlnLah
pusaL, 4 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah daerah, dan 2 ob[ek dl 8adan
usaha Mlllk negara (8uMn).
Þemerlksaan klner[a LersebuL dllakukan aLas:
- penyelenggaraan lbadah ha[l 1ahun 1431 P/2010 M,
- klner[a rumah saklL,
- klner[a bea dan cukal, dan
- klner[a lalnnya (2 enuLas pusaL, 1 enuLas daerah, dan 2 8uMn).
60
61
BAB 5
Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1431 H/2010 M
5.1 Penyelenggaraan ibadah haji adalah rangkaian kegiatan pengelolaan
pelaksanaan ibadah haji yang merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan
oleh Pemerintah kepada calon/jemaah haji melalui Kementerian Agama.
5.2 Keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji antara lain ditentukan oleh
kualitas pemondokan jemaah haji di Makkah, Madinah, dan hotel transito
di Jeddah, pelayanan transportasi darat, dan pelayanan konsumsi/katering
kepada jemaah haji.
5.3 Dalam Semester I Tahun 2011, BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja
atas penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1431 H/2010 M.
Tujuan Pemeriksaan
5.4 Þemerlksaan berLu[uan unLuk menllal efekuvlLas pengelolaan pelayanan
pemondokan, transportasi darat, dan katering yang dilaksanakan oleh
Penyelenggara Ibadah Haji.
Hasil Pemeriksaan
5.5 Penyelenggara Ibadah Haji telah melakukan berbagai upaya untuk
meningkatkan pelayanan pemondokan jemaah haji di Arab Saudi, khususnya
di Makkah, antara lain melakukan penyewaan lebih awal dari tahun
sebelumnya agar mendapatkan pemondokan yang letaknya di dekat Masjidil
Haram dengan harga terjangkau sesuai plafon, dan memenuhi kriteria
pemondokan.
5.6 Tahun 1431 H/2010 M penyewaan pemondokan di Ring I Makkah telah
dlopumalkan men[adl 62,94° aLau menlngkaL 3S,69° dlbandlngkan Lahun
sebelumnya yang hanya 27,2S°. !arak pemondokan Ler[auh men[adl
4.000 m dari tahun sebelumnya sejauh 7.000 m. Sedangkan penempatan
jemaah haji di wilayah sentral (markaziah) Madinah Tahun 1431 H/2010 M
men[adl 94,47° aLau menlngkaL 10,9S° dlbandlngkan Lahun sebelumnya
yang hanya 83,S2°.
5.7 Penyelenggara Ibadah Haji Tahun 1431 H/2010 M telah meningkatkan
pelayanan pemondokan, transportasi darat, dan katering, tetapi dalam
pelaksanaannya masih ditemukan permasalahan-permasalahan yang antara
lain diuraikan sebagai berikut.
Pelayanan Pemondokan
5.8 Pada musim haji Tahun 1431 H/2010 M, proyek perluasan Masjidil Haram
di Makkah yang telah dimulai sejak musim haji tahun-tahun sebelumnya
masih terus berlangsung dan telah menggusur cukup banyak bangunan
62
gedung dan hotel-hotel yang biasa digunakan untuk menampung jemaah
haji. Kondisi ini berdampak pada melambungnya harga sewa pemondokan
sehingga Penyelenggara Ibadah Haji mengalami kesulitan untuk memperoleh
pemondokan di wilayah Ring I (berjarak di bawah 2.000 m dari Masjidil
Haram). Hal ini karena terbatasnya plafon harga sewa perumahan yang telah
ditetapkan pemerintah.
S.9 keLerbaLasan [umlah rumah yang dekaL Mas[ldll Param dan ungglnya
persalngan dengan negara laln Lelah dlanuslpasl dengan melakukan proses
perslapan pelayanan pemondokan leblh awal. namun demlklan saaL um
perumahan melakukan penyewaan rumah, plafon pemondokan masih
bersifat perkiraan karena plafon resmi belum ditetapkan oleh DPR.
5.10 Penetapan jarak pemondokan ke Masjidil Haram di Makkah yang dibagi
dalam 8lng l dan 8lng ll pada 1ahun 1429 P/2008 M, 1430 P/2009 M, dan
1431 H/2010 M mengalami perubahan, akan tetapi perubahan jarak tersebut
belum disosialisasikan kepada calon jemaah haji.
Penyebab
5.11 Hal tersebut disebabkan Direktur Pelayanan Haji belummengusulkan
pedoman penyewaan yang mengatur lebih rinci mekanisme pengambilan
keputusan penyewaan perumahan pada saat proses peninjauan
lapangan (kosyfob), proses negosiasi, dan penetapan harga akhir yang
meneLapkan komposlsl maupun [umlah um yang harus hadlr, dan
pembenLukan um unLuk menyusun database perumahan.
Rekomendasi
5.12 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri
Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar memerintahkan
kepada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU)
untuk:
menyempurnakan pedoman penyewaan perumahan/pemondokan,
membenLuk um penyusun database perumahan di wilayah Makkah dan
Madlnah, dan
menetapkan dan mensosialisasikan petunjuk/edaran kepada jemaah haji
terkait dengan perubahan jarak pemondokan berikut hak yang dimiliki
dan kewajiban yang harus dipenuhi jemaah haji.
Pelayanan Transportasi Darat
5.13 Tugas pengendalian dan pengawasan angkutan jemaah haji di Makkah oleh
1lm Þenylapan AngkuLan !emaah Pa[l dl Makkah Lumpang undlh dengan
tugas Bidang Transportasi Daerah Kerja (Daker) Makkah.
63
5.14 Petunjuk pelaksanaan pelayanan transportasi belum disusun dan ditetapkan.
Hal tersebut mengakibatkan peran dan tanggung jawab petugas transportasi
udak dapaL dlukur dan menyullLkan peLugas LransporLasl dalam memahaml
Lugasnya yang berpoLensl Ler[adlnya keudakseragaman dalam pelayanan
transportasi kepada jemaah.
5.15 Þelayanan LransporLasl Lerhadap perumahan yang lokaslnya [auh darl uuk
pen[empuLan belum opumal. Pal lnl mengaklbaLkan Lerganggunya pelayanan
yang dlberlkan kepada [emaah dan menlmbulkan kelelahan ñslk khususnya
bagi jemaah usia lanjut/sakit.
Penyebab
5.16 keudak[elasan pembaglan Lugas dan belum adanya peLun[uk pelaksanaan
transportasi darat.
Rekomendasi
5.17 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada
Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji untuk
memerintahkan Dirjen PHU agar
menyempurnakan uralan Lugas um penylapan angkuLan [emaah ha[l dl
Makkah,
menyusun petunjuk pelaksanaan pelayanan transportasi darat dan
memberlkan pelauhan kepada para peLugas secara lnLenslf, dan
meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan
pelayanan LransporLasl daraL dengan memperhaukan beban ker[a
petugas transportasi.
Pelayanan Katering
5.18 Untuk melaksanakan pengadaan katering di Arab Saudi, Ditjen PHU
Kementerian Agama belum memiliki pedoman formal yang merinci tata cara
tentang
pembenLukan dan pembaglan Lugas um pengadaan beserLa um
pendukungnya, dan
evaluasl dan penllalan penyedla kaLerlng.
S.19 Pal LersebuL menlmbulkan poLensl LerbenLuknya um dengan susunan
anggoLa yang udak sesual dengan Lu[uannya, adanya Lumpang undlh
pelaksanaan Lugas dan keudakselmbangan pembaglan Lugas anLar personel
um, serLa penun[ukan perusahaan penyedla kaLerlng kurang dapaL dlyaklnl.
64
5.20 Þanlua Þenyelenggara lbadah Pa[l (ÞÞlP) dl Arab Saudl udak konslsLen
menerapkan pemberian sanksi blacklist terhadap perusahaan katering yang
wanprestasi. Hal ini mengakibatkan adanya potensi terulangnya pelanggaran/
wanprestasi di kota lain.
Rekomendasi
5.21 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri
Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar memerintahkan
Dirjen PHU untuk:
meneLapkan pedoman LaLacara pembenLukan dan pembaglan Lugas um
pengadaan beserLa um pendukungnya, LaLacara evaluasl dan penllalan
penyedla kaLerlng, serLa peLun[uk pelaksanaan peLugas kaLerlng, dan
memberikan sanksi blacklist yang berlaku untuk seluruh kota perhajian
bagi penyedia katering yang wanprestasi.
5.22 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam
cakram padat terlampir.
65
BAB 6
Kinerja Rumah Sakit
6.1 Dalam Semester I Tahun 2011, BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja
rumah sakit pada Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Anak dan Bunda
(RSAB) Harapan Kita, pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Langsa, Kota Langsa, RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh,
Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, dan RSUD Kabupaten Buru, Provinsi
Maluku.
Tujuan Pemeriksaan
6.2 Pemeriksaan kinerja pada BLU RSAB Harapan Kita bertujuan menilai aspek
eñslensl dan efekuvlLas pengelolaan sarana prasarana dan peralaLan
kesehatan untuk TA 2009 dan Semester I TA 2010.
6.3 Pemeriksaan kinerja pelayanan rawat inap pada RSUD Langsa TA 2009 dan
SemesLer l 1A 2010 berLu[uan menllal efekuvlLas mana[emen 8Suu Langsa
dalam mengelola pelayanan rawat inap.
6.4 Pemeriksaan atas kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan
Kabupaten Aceh Barat, RSUD Cut Dhien Meulaboh, dan satuan kerja
lainnya yang menangani bidang kesehatan Kabupaten Aceh Barat bertujuan
menilai keberhasilan pencapaian standar pelayanan minimal (SPM) bidang
kesehaLan, ungkaL ekonoml penggunaan sumber daya, dan ungkaL eñslensl
pelaksanaan kegiatan.
6.5 Pemeriksaan kinerja atas pelayanan kesehatan pada RSUD Kabupaten Buru
serta instansi terkait lainnya bertujuan untuk menilai sistem pengendalian
intern (SPI) atas pelayanan kesehatan telah dirancang dan dilaksanakan
secara memadal, pencapalan Lerhadap SÞM, ungkaL ekonoml penggunaan
sumber daya dan pelaksanaan keglaLan, ungkaL eñslensl pelaksanaan dan
efekuvlLas hasll pelayanan kesehaLan, serLa menllal pelaksanaan anggaran
dan pelayanan kesehatan telah sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.
Hasil Pemeriksaan
RSAB Harapan Kita
6.6 Hasil pemeriksaan BPK menyimpulkan bahwa pengelolaan sarana prasarana
dan peralaLan kesehaLan pada 8SA8 Parapan klLa belum eñslen dan efekuf
dalam rangka menunjang tercapainya tujuan RSAB Harapan Kita. Tujuan
RSAB antara lain meningkatkan kepuasan pelanggan sesuai moto “FACT”
(Fast, Accurate, Convenient and Safe by Teamwork), dan mengembangkan
mana[emen rumah saklL secara efekuf dan eñslen, berslh dan berwlbawa
dengan melaksanakan pemberanLasan prakuk korupsl, kolusl dan nepousme
66
(kkn) dl segala bldang. 1emuan-Lemuan slgnlñkan LerkalL klner[a pengelolaan
sarana prasarana dan peralatan kesehatan antara lain diuraikan sebagai
berikut.
6.7 Direksi RSAB Harapan Kita belum menetapkan pemetaan atas jenis, jumlah,
serta nilai sarana prasarana dan peralatan kesehatan dalam periode rencana
strategis (Renstra) 2006-2010. Direksi juga belum menetapkan standar
sarana prasarana dan peralatan kesehatan yang harus dipenuhi selama
kurun waktu Renstra 2006-2010. Hal tersebut terjadi karena direksi kurang
pedull Lerhadap rlslko apablla udak mempunyal pemeLaan dan perencanaan
pemenuhan sarana prasarana dan peralatan kesehatan. Akibatnya program
pemenuhan dan pengembangan sarana prasana dan peralatan kesehatan
udak mempunyal arah.
6.8 Terdapat kelebihan pembayaran atas pekerjaan rumah duka senilai
8p11,S0 [uLa aLas peker[aan yang udak dllaksanakan. Selaln lLu, gedung
parkir senilai Rp43,25 miliar, rumah duka senilai Rp1,42 miliar, serta
peralaLan kesehaLan mlnlmal senllal 8p929,62 [uLa belum dlmanfaaLkan
secara opumal. Pal LersebuL mengaklbaLkan Lu[uan pembangunan dan
pengeluaran dana kurang efekuf. Pal LersebuL Ler[adl karena mana[emen
8SA8 Parapan klLa udak cermaL dalam menyusun perencanaan.
6.9 Þemellharaan sarana prasarana dan peralaLan kesehaLan udak sesual
dengan SPM rumah sakit. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peralatan
kesehaLan mlnlmal sebanyak 126 unlL yang udak dlkallbrasl ulang. Selaln lLu
pemellharaan yang dllakukan berslfaL menunggu laporan kerusakan, udak
ditujukan untuk mencegah kerusakan. Hal tersebut terjadi karena petugas
lnsLalasl udak melaksanakan Lugas secara opumal khususnya LerkalL kallbrasl
peralatan medis.
Rekomendasi
6.10 BPK merekomendasikan kepada Direktur Utama RSAB Harapan Kita agar
menyusun dan menetapkan pemetaan dan perencanaan pemenuhan
sarana prasarana dan peralatan kesehatan;
menyeLorkan ke kas negara aLas peker[aan yang udak dllaksanakan
senilai Rp11,50 juta;
memanfaaLkan sarana dan prasarana secara opumal, dan
melakukan pendataan dan perencanaan peralatan yang wajib dikalibrasi,
serta berkoordinasi dengan instansi yang berwenang guna melaksanakan
kalibrasi.

67
Pelayanan Kesehatan RSUD Langsa
6.11 Hasil pemeriksaan atas kinerja rawat inap RSUD Langsa menunjukkan bahwa
dalam 1A 2009 dan SemesLer l 1A 2010 8Suu Langsa belum efekuf dalam
merencanakan, memenuhl kebuLuhan lnfrasLrukLur, meneLapkan prosedur
dan standar pelayanan, serta melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi
atas pelayanan rawat inap. Permasalahan-permasalahan tersebut antara
lain diuraikan sebagai berikut.
6.12 Þerencanaan pemberlan pelayanan rawaL lnap 8Suu Langsa belum opumal,
hal ini terlihat dari program/kegiatan pengembangan RSUD Langsa belum
sepenuhnya berpedoman pada renstra yang telah ditetapkan. Selain itu,
sLrukLur organlsasl rawaL lnap 8Suu Langsa udak [elas sehlngga udak ada
pihak yang bertanggung jawab secara khusus terhadap pelayanan rawat
lnap secara keseluruhan. Pal LersebuL Ler[adl karena udak ada mekanlsme
koordinasi yang memadai antar unit kerja dalam penyusunan program dan
keterbatasan anggaran yang disediakan Pemerintah Kota Langsa. Selain itu,
Direktur RSUD Langsa belum melaksanakan tugas manajerial rumah sakit
secara cermat sesuai ketentuan yang berlaku.
6.13 lnfrasLrukLur serLa sarana dan prasarana ruang rawaL lnap 8Suu Langsa
udak memadal. Pasll cek ñslk aLas sarana dan prasarana pendukung layanan
ruang inap pada 15 ruang rawat inap yang dimiliki RSUD Langsa dalam kondisi
kurang layak digunakan dan kurang memenuhi standar kesehatan sebagai
rumah saklL upe 8. Pal LersebuL Ler[adl karena mana[emen 8Suu Langsa
udak meneLapkan skala prlorlLas dalam memperbalkl faslllLas rawaL lnap
dan ÞemerlnLah koLa Langsa kurang memberlkan perhauan aLas penyedlaan
sarana dan prasarana RSUD Langsa.
6.14 8Suu Langsa belum meneLapkan SÞM 8umah SaklL ungkaL koLa Langsa dan
belum sepenuhnya melaksanakan SPM standar nasional. Hal tersebut terjadi
karena mana[emen 8Suu Langsa lalal menlndaklan[uu kepuLusan MenLerl
kesehaLan unLuk menyusun SÞM 8Suu ungkaL koLa Langsa dua Lahun
setelah SPM standar nasional ditetapkan dan lalai mensosialisasikan SPM
kepada seluruh pegawai. Manajemen juga belum sepenuhnya mengarah
pada pencapaian SPM dalam menetapkan perencanaan.
6.15 Mekanisme pelaporan atas kegiatan monitoring dan evaluasi (monev)
pelayanan rawat inap belum disusun secara memadai. RSUD Langsa belum
memiliki prosedur tertulis mengenai mekanisme pelaporan untuk pelayanan
rawaL dan laporan darl pelayanan rawaL lnap udak mengungkapkan
pencapalan klner[a rawaL lnap. Selaln lLu, lnformasl hasll penllalan klner[a
pelayanan yang selama ini telah dilaporkan belum didukung data yang
lengkap, akurat, dan valid serta belum dilaporkan tepat waktu dan secara
periodik. Hal tersebut terjadi karena Direktur RSUD Langsa lalai dalam
menyusun petunjuk dan prosedur tentang mekanisme pelaporan monev
serta lemah dalam melaksanakan monev atas pelayanan rawat inap.
68
Rekomendasi
6.16 BPK telah merekomendasikan kepada Pemerintah Kota Langsa untuk
memprioritaskan dana peningkatan pelayanan RSUD Langsa khususnya
rawat inap dan Direktur RSUD Langsa agar
menciptakan mekanisme koordinasi antar unit kerja dalam penyusunan
program/kegiatan;
meneLapkan skala prlorlLas dalam menlngkaLkan faslllLas rawaL lnap
supaya memenuhi SPM dan mengupayakan agar Pemerintah Kota Langsa
memberl perhauan leblh balk aLas penyedlaan sarana prasarana 8Suu
Langsa LeruLama LerkalL faslllLas pelayanan rawaL lnap,
segera menyusun SÞM 8Suu ungkaL koLa Langsa dan meneLapkan
perencanaan yang mengarah pada pencapaian SPM serta melakukan
sosialisasi SPM secara menyeluruh kepada seluruh pegawai RSUD
Langsa; dan
segera menyusun petunjuk dan prosedur mekanisme pelaporan atas
monev pelayanan rawat inap dan meningkatkan kegiatan monev
pelayanan rawat inap.
Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan dan RSUD Cut Nyak Dhien
Meulaboh
6.17 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kinerja pelayanan kesehatan pada
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat dan RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh
belum sepenuhnya mencapai SPM:
Dinas Kesehatan, TA 2009 terdapat 16 indikator, terdiri atas 6 indikator
pelayanan kesehatan dasar, 2 indikator pelayanan kesehatan rujukan,
dan 8 indikator tambahan yang belum memenuhi SPM. TA 2010 terdapat
25 indikator, terdiri atas 12 indikator pelayanan kesehatan dasar, 2
indikator pelayanan kesehatan rujukan, 1 indikator promosi kesehatan
dan pemberdayaan, dan 10 indikator tambahan yang belum memenuhi
SÞM. Pal LersebuL Ler[adl karena 8upau Aceh 8araL kurang makslmal
dalam memberlkan perhauan Lerhadap kuallLas pelayanan kesehaLan
yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan.
8upau Aceh 8araL belum meneLapkan SÞM unLuk 8Suu CuL nyak uhlen
Meulaboh sehingga dalam melakukan penilaian kinerja digunakan SPM
rumah sakit yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Hasil penilaian
terhadap pencapaian SPM tersebut diketahui terdapat indikator belum
mencapal SÞM yang dlLeLapkan. Pal LersebuL Ler[adl karena 8upau Aceh
8araL kurang makslmal memberl perhauan unLuk meneLapkan SÞM dan
ulrekLur 8Suu CuL nyak uhlen kurang memberlkan perhauan Lerhadap
capaian kinerja unit kerja yang dipimpinnya.
69
6.18 Pasll pemerlksaan laln yang perlu mendapaL perhauan pada pelayanan
kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat dan RSUD Cut Nyak
Dhien Meulaboh antara lain diuraikan sebagai berikut.
6.19 Terdapat harga pengadaan obat generik yang melebihi harga patokan
Lerunggl (PÞ1) makslmal yang dlLeLapkan MenLerl kesehaLan sehlngga
terjadi kerugian daerah senilai Rp133,28 juta. Hal tersebut terjadi karena
panlua pengadaan barang dan [asa dan pe[abaL pelaksana Leknls keglaLan
(ÞÞ1k) dalam menellu penawaran yang masuk udak sesual keLenLuan yang
berlaku.
6.20 Pejabat pengelola teknis kegiatan RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh TA 2009
udak mengenakan denda senllal 8p61,37 [uLa aLas keLerlambaLan pengadaan
alat-alat kedokteran umum. Keterlambatan tersebut karena perubahan
kontrak dengan alasan terjadinya gempa di Sumatera Barat, namun alasan
LersebuL udak LepaL. Pal LersebuL Ler[adl karena ÞÞ1k 8Suu CuL nyak uhlen
Meulaboh TA 2009 lalai memedomani ketentuan pengadaan barang dan
jasa dalam memberikan persetujuan perpanjangan waktu pelaksanaan
pekerjaan.
Rekomendasi
6.21 Berkaitan dengan permasalahan tersebut di atas, BPK telah
merekomendaslkan kepada 8upau Aceh 8araL unLuk
memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan supaya membuat rencana aksi
yang nyaLa dan reallsus dalam rangka memperbalkl capalan lndlkaLor
SPM yang di bawah standar;
menetapkan target capaian SPM pada RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh
sesuai ketentuan yang berlaku;
memberlkan sanksl admlnlsLrauf kepada kepala ulnas kesehaLan dan
Direktur RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh agar lebih meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan di unit kerjanya;
melalui Kepala Dinas Kesehatan agar memerintahkan PPTK dan rekanan
untuk mempertanggungjawabkan kelebihan harga pengadaan obat
generlk darl harga paLokan Lerunggl yang dlLeLapkan MenLerl kesehaLan
senilai Rp133,28 juta dan disetorkan ke kas daerah, selanjutnya salinan
buku seLornya dlsampalkan ke 8Þk, dan
memerintahkan Direktur RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh untuk
memunguL denda keLerlambaLan kepada Þ1 lndofarma Clobal senllal
Rp61,37 juta sesuai ketentuan yang berlaku.


70
Pelayanan Kesehatan RSUD Kabupaten Buru
6.22 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa SPI RSUD Kabupaten Buru masih
belum memadal, belum efekuf dalam merancang, melaksanakan dan
mempertanggungjawabkan sumber daya yang ada dalam mencapai SPM
dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Berdasarkan hasil pemeriksaan
LerdapaL hal-hal yang perlu mendapaL perhauan anLara laln sebagal berlkuL.
6.23 Renstra RSUD Kabupaten Buru Tahun 2007-2012 belum disusun secara
memadal, anLara laln rensLra udak memuaL LargeL Lahunan maupun akhlr
1ahun 2012 serLa vlsl dan mlsl yang dlLeLapkan dalam rensLra [uga udak
sinkron. Dari hambatan yang telah ditelaah melalui strengths, weaknesses,
oppottoolues, tbteots (SWOT) analysis udak dlkeLahul LargeL dan benLuk
pelaksanaan strategi penanggulangan hambatan tersebut. Selanjutnya
dlkeLahul bahwa rensLra udak dlevaluasl dan adanya reallsasl keglaLan Lanpa
penganggaran. Hal tersebut terjadi karena Plt. Direktur RSUD Kabupaten
8uru kurang cermaL dalam menyusun rensLra dan udak melakukan evaluasl
mendalam Lerhadap ungkaL pencapalan klner[a.
6.24 Pelayanan RSUD Kabupaten Buru belum sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Pal lnl anLara laln Lampak darl belum dlmlllklnya faslllLas pelayanan
serta sarana prasarana yang memadai, di antaranya RSUD Kabupaten Buru
baru memiliki 8 (dari seharusnya 26) jenis pelayanan dan 9 (dari seharusnya
28) sarana prasarana yang dlpersyaraLkan unLuk 8Suu upe u. Selaln lLu,
perbandingan jumlah tenaga perawat, paramedik non perawatan dan non
medls belum opumal. Pal LersebuL Ler[adl karena dukungan, perhauan
dan upaya pemenuhan faslllLas, sarana dan prasarana oleh ulrekLur 8Suu
kabupaLen 8uru dan ÞemerlnLah kabupaLen 8uru belum opumal.
6.25 Pengelolaan retribusi pelayanan kesehatan RSUD Kabupaten Buru belum
dlselenggarakan secara Lerub dan memadal, anLara laln pengelolaan
reLrlbusl dl uap-uap lnsLalasl dllakukan oleh peLugas yang dlLun[uk secara
llsan oleh bendahara penerlmaan dan udak ada buku pemunguLan reLrlbusl.
Bendahara penerimaan menyetorkan penerimaan lebih dari satu hari kerja
dan Lanpa ada buku seLor. Selaln lLu, penerlmaan aLas reLrlbusl [asa pelayanan
langsung dibagikan pada dokter dan perawat tanpa disetor dahulu ke kas
daerah. Hal tersebut terjadi karena Plt. Direktur RSUD Kabupaten Buru belum
menetapkan uraian tugas dan tanggung jawab serta prosedur pengelolaan
penerimaan retribusi pelayanan kesehatan. Plt. Direktur RSUD Kabupaten
Buru lemah dalam pengawasan dan pengendalian penerimaan retribusi
serta kurang memahami prosedur penatausahaan penerimaan retribusi jasa
pelayanan kesehatan.
6.26 ÞemunguLan reLrlbusl pada lnsLalasl farmasl dan lnsLalasl unlL gawaL daruraL
(uCu) udak memlllkl dasar hukum yang sah dan dlgunakan langsung mlnlmal
senilai Rp393,98 juta, serta terdapat saldo hasil penjualan obat-obatan per
24 november 2010 senllal 8pS4,S6 [uLa yang udak dlseLor ke kas daerah.
Pal LersebuL Ler[adl karena peraLuran daerah mengenal Larlf dan [enls
71
penerimaan yang ada belum mengakomodasi semua sumber penerimaan.
8endahara Þenerlmaan, kepala lnsLalasl larmasl dan kepala lnsLalasl uCu
udak memaLuhl keLenLuan penggunaan dana penerlmaan, dan ÞlL. ulrekLur
RSUD Kabupaten Buru lemah dalam pengawasan dan pengendalian atas
dana penerimaan.
Rekomendasi
6.27 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada 8upau 8uru agar
mengopumalkan pemenuhan faslllLas, sarana dan prasarana rumah saklL
yang baik sesuai dengan ketentuan dan kemampuan daerah;
merevisi peraturan daerah mengenai retribusi pelayanan kesehatan agar
mengakomodasi seluruh penerimaan RSUD Kabupaten Buru; dan
melakukan proses penyelesaian indikasi penyalahgunaan uang daerah
senilai Rp393,89 juta dan menyetorkan saldo penjualan obat-obatan
senllal 8pS4,S6 [uLa ke kas daerah dan buku seLor dlsampalkan ke 8Þk.
6.28 8Þk [uga Lelah merekomendaslkan kepada 8upau 8uru agar memerlnLahkan
Plt. Direktur RSUD Kabupaten Buru untuk
mengevaluasi renstra RSUD Kabupaten Buru Tahun 2007-2012 dan
merevisi serta menetapkan dengan Keputusan Direktur RSUD Kabupaten
Buru;
menetapkan uraian tugas dan tanggung jawab serta prosedur pengelolaan
penerimaan retribusi pelayanan kesehatan pada RSUD Kabupaten Buru;
dan
memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan
meningkatkan pengawasan serta pengendalian penerimaan retribusi
pelayanan kesehatan.
6.29 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam
cakram padat terlampir.
72
73
BAB 7
Kinerja Bea dan Cukai
7.1 Dalam Semester I Tahun 2011, BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja
atas
kegiatan audit kepabeanan dan cukai TA 2009 dan 2010 pada Kantor
Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jakarta di
Jakarta dan Kanwil DJBC Jawa Timur I di Surabaya;
pelayanan dan penatausahaan penyelesaian impor barang kiriman
melalul perusahaan [asa uupan (Þ!1) dan kanLor Lukar pos udara 1A 2009
dan 2010 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC)
1lpe Madya Þabean Soekarno Paua dl 1angerang, dan
pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor untuk dipakai
dari tempat penimbunan sementara (TPS) TA 2009 dan 2010 pada KPPBC
Tipe Madya Pabean Belawan di Medan.
Tujuan Pemeriksaan
7.2 1u[uan pemerlksaan unLuk menllal efekuvlLas
kegiatan audit kepabeanan dan cukai yang dilakukan Kanwil DJBC
Jakarta dan Kanwil DJBC Jawa Timur I dalam rangka pengamanan atas
penerimaan negara;
kegiatan pelayanan dan penatausahaan penyelesaian impor barang
kiriman melalui PJT dan kantor tukar pos udara pada KPPBC Tipe Madya
Þabean Soekarno Paua dalam rangka kelancaran arus barang dan
kepatuhan PJT/penerima barang kiriman dalam memenuhi kewajiban
kepabeanannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku; dan
kegiatan pelayanan dan penatausahaan pengeluaran barang impor untuk
dipakai dari TPS pada KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan, dalam rangka
meningkatkan kecepatan penyelesaian dokumen kepabeanan dan cukai,
serta kelancaran arus barang dan penumpang.
Hasil Pemeriksaan pada Kanwil DJBC Jakarta
7.3 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kegiatan audit kepabeanan dan cukai
yang dllakukan oleh kanwll u!8C !akarLa cukup efekuf unLuk mendukung
peningkatan pengamanan penerimaan negara. Namun, masih terdapat
permasalahan-permasalahan yang perlu mendapaL perhauan anLara laln
diuraikan sebagai berikut.
74
7.4 Kebijakan dan prosedur belum diatur secara tertulis, antara lain peraturan
batas waktu penyelesaian audit, dan batas waktu maksimal penetapan
kembali tarif dan atau nilai pabean.
7.5 Implementasi kebijakan dan prosedur tentang audit belum sepenuhnya
dllaksanakan, anLara laln adanya pembaLalan suraL Lugas aLau penghenuan
pelaksanaan audit karena sedang diaudit oleh kanwil DJBC yang lain, dan
adanya laporan hasil audit (LHA) yang diterbitkan lebih dari 18 bulan sejak
tanggal surat tugas. Hal tersebut terjadi karena belum ada petunjuk teknis
atau mekanisme yang jelas mengenai pembagian kewenangan objek audit,
dan revlu aLas pelaksanaan audlL unLuk men[amln kuallLas hasll audlL, serLa
belum ada ketentuan yang mengatur batas waktu penyelesaian LHA.
Rekomendasi
7.6 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Direktur
Bea dan Cukai agar
menetapkan batas waktu penagihan untuk kekurangan penerimaan dari
penetapan tarif dan nilai pabean; dan
menetapkan petunjuk teknis dan mekanisme yang jelas mengenai
pembagian wewenang pelaksanaan audit oleh kanwil, serta batas waktu
penyelesaian LHA.
Hasil Pemeriksaan pada Kanwil DJBC Jawa Timur I
7.7 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kegiatan audit kepabeanan dan
cukal yang dllakukan oleh kanwll u!8C !awa 1lmur l kurang efekuf unLuk
mendukung rencana strategis dalam pengamanan atas penerimaan negara.
Þermasalahan-permasalahan yang perlu mendapaL perhauan anLara laln
diuraikan sebagai berikut.
7.8 Pelaksanaan audit pada umumnya telah dilaksanakan sesuai dengan
kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. Namun, beberapa proses yang
belum dilaksanakan sesuai kebijakan yang berlaku, antara lain LHA belum
didukung dengan kertas kerja audit (KKA) yang memadai serta adanya
keslmpulan dan rekomendasl yang udak [elas. Pal LersebuL Ler[adl karena
kelemahan pengendallan aLas pelaksanaan audlL dan udak adanya peLun[uk
teknis tentang pendokumentasian KKA, serta pelaksanaan audit yang belum
memenuhi standar audit.
7.9 MonlLorlng dan undak lan[uL hasll audlL pada kanwll u!8C !awa 1lmur l pada
umumnya berlangsung baik. Namun masih ada kelemahan pada pemantauan
tagihan baik pada KPPBC terkait maupun atas keberatan/banding, antara
laln udak ada pemanLauan undak lan[uL aLas Laglhan berdasarkan hasll
audit senilai Rp5,34 miliar dan terdapat kekurangan pembayaran bunga
atas keterlambatan pembayaran tagihan hasil audit senilai Rp93,96 juta. Hal
LersebuL Ler[adl karena udak adanya SCÞ yang [elas mengaLur pemanLauan
undak lan[uL Lerhadap Laglhan darl hasll audlL.
75
Rekomendasi
7.10 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan Direktur Bea dan
Cukai agar
meneLapkan peLun[uk Leknls LenLang pendokumenLaslan kkA, dan SCÞ
pemanLauan undak lan[uL aLas Laglhan darl hasll audlL, dan
meningkatkan pengendalian dan kualitas audit dengan melakukan
pelauhan bagl pengendall muLu audlL (ÞMA), pengendall Leknls audlL
(PTA), dan auditor.
nas|| Þemer|ksaan pada kÞÞ8C Soekarno naua
7.11 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kegiatan pelayanan dan
penatausahaan penyelesaian impor barang kiriman melalui PJT dan kantor
Lukar pos udara kurang efekuf dalam rangka mendorong kelancaran arus
barang dan kepatuhan PJT/penerima barang kiriman dalam memenuhi
kewajiban kepabeanannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku. Þermasalahan-permasalahan yang perlu mendapaL perhauan
antara lain diuraikan sebagai berikut.
7.12 Pelayanan penyelesaian impor barang kiriman belum didukung kebijakan,
sistem, dan prosedur yang jelas dan memadai. Hal tersebut terjadi karena
belum adanya sistem otomasi pelayanan untuk barang kiriman melalui PJT
yang terintegrasi dengan sistem pengawasan.
7.13 Pelayanan importasi barang melalui PJT belum didukung oleh sistem otomasi
dan teknologi yang memadai. Hal tersebut terjadi karena faktor lingkungan
eksLernal yaknl Þ!1, pengusaha 1ÞS, dan lmporur berslkap reslsLen Lerhadap
penerapan sistem aplikasi dan teknologi bagi pelayanan pemberitahuan
impor barang khusus (PIBK).
Rekomendasi
7.14 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan Direktur Jenderal
Bea dan Cukai agar
menyusun prosedur pengendalian yang memadai dan diintegrasikan
dengan sistem otomasi pelayanan untuk barang kiriman melalui PJT; dan
membuat sistem otomasi pelayanan PIBK yang terintegrasi dengan sistem
aplikasi pelayanan manifes dan memerintahkan kepada Kepala KPPBC
Soekarno Paua unLuk memberlkan pemahaman kepada pengguna [asa
LenLang penungnya slsLem oLomasl yang dapaL mempercepaL pelayanan.
76
Hasil Pemeriksaan pada KPPBC Belawan
7.15 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kegiatan pelayanan dan
penatausahaan pengeluaran barang impor untuk dipakai dari TPS kurang
efekuf dalam menlngkaLkan pelayanan lmporLasl barang dan kepaLuhan
lmporur dalam memenuhl kewa[lban kepabeanannya sesual dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam rangka meningkatkan
penerimaan negara. Permasalahan-permasalahan yang perlu mendapat
perhauan anLara laln dluralkan sebagal berlkuL.
7.16 kÞÞ8C udak memlllkl prosedur LerkalL undak lan[uL hasll evaluasl dan
penilaian kinerja, serta prosedur penutupan pos manifes atas barang impor
angkuL Lerus. Pal LersebuL Ler[adl karena u!8C belum meneLapkan SCÞ
mekanlsme undak lan[uL aLas laporan evaluasl klner[a yang dlbuaL seksl
kepatuhan internal (KI) dan mekanisme penatausahaan penutupan pos
manifes atas barang impor angkut terus.
7.17 Penyelesaian penetapan tarif dan nilai pabean atas 1.757 dokumen
pemberitahuan impor barang (PIB) jalur hijau dan atas 3.700 dokumen jalur
merah Tahun 2009 dan 2010 melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan
standar pelayanan. Hal tersebut terjadi karena pejabat fungsional pemeriksa
dokumen (PFPD) lalai menjalankan ketentuan yang berlaku dan lemahnya
pengawasan atasan langsung maupun pengawasan seksi KI.
Rekomendasi
7.18 Atas permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan Direktur Jenderal
Bea dan Cukai agar
menyusun dan meneLapkan SCÞ yang [elas dan speslñk yang mengaLur
mekanlsme undak lan[uL aLas laporan hasll evaluasl klner[a yang dlbuaL
seksi KI dan mekanisme penatausahaan penutupan pos manifes atas
barang impor angkut terus;
membuat warning system ke dalam aplikasi impor agar PFPD cepat
mengetahui dokumen PIB yang belum diselesaikan penetapannya dan
memudahkan pengawasan oleh atasan langsung dan seksi KI;
membuaL mekanlsme revlu peneLapan dokumen [alur merah dan
melaksanakannya secara periodik; dan
memerintahkan Kepala KPPBC Belawan untuk melakukan pembinaan
kepada PFPD terkait.
7.19 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam
cakram padat terlampir.
77
BAB 8
Pemeriksaan Kinerja Lainnya
8.1 Selaln Lema-Lema pemerlksaan klner[a seperu yang dluralkan pada bab-
bab sebelumnya, dalam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melaksanakan
pemerlksaan klner[a pada S ob[ek pemerlksaan sebagal berlkuL.
8.2 uua ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah pusaL, yalLu
efekuvlLas pengelolaan ka[lan pada program penaLaan kelembagaan dan
keLaLalaksanaan pada Lembaga AdmlnlsLrasl negara (LAn) dl !akarLa,
8andung, dan Makassar, dan
klner[a program penaLaan kelembagaan dan keLaLalaksanaan pada uepuu
Lkonoml dan uepuu kemlsklnan, keLenagaker[aan dan usaha kecll dan
Menengah (ukM) pada kemenLerlan negara Þerencanaan Þembangunan
naslonal (ÞÞn)/8adan Þerencanan Þembangunan naslonal (8appenas).
8.3 SaLu ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah daerah, yalLu klner[a
pelayanan pendldlkan pada ÞemerlnLah koLa Ambon dan lnsLansl LerkalL 1A
2008, 2009, dan 2010.
8.4 uua ob[ek pemerlksaan 8adan usaha Mlllk negara (8uMn), yalLu
klner[a keglaLan LransporLasl dan anLaran klrlman pos Þ1 Þos lndonesla
(Þersero) 1ahun 2009 dan 2010 (s.d. CkLober) dl 8andung dan !akarLa,
dan
klner[a pada Þ1 !asa 8ahar[a (Þersero) (Þ1 !8) 1ahun 8uku 2009 s.d.
SemesLer l 1ahun 2010 dl kanLor ÞusaL dan kanLor Cabang !akarLa,
SumaLera uLara, 8lau, kallmanLan 1engah, dan nusa 1enggara 1lmur.
Lembaga Administrasi Negara
8.S 1u[uan pemerlksaan unLuk menllal apakah pengelolaan ka[lan pada program
penaLaan kelembagaan dan keLaLalaksanaan Lelah efekuf menyangkuL
aspek perencanaan, pelaksanaan ka[lan, serLa monlLorlng dan evaluasl aLas
pelaksanaan pengelolaan ka[lan dan pemanfaaLannya.
8.6 Pasll pemerlksaan menun[ukkan efekuvlLas pengelolaan ka[lan aLas program
penaLaan kelembagaan dan keLaLalaksanaan pada LAn udak Lercapal secara
opumal. Þermasalahan-permasalahan yang mengaklbaLkan keudakefekufan
anLara laln dluralkan sebagal berlkuL.
8.7 koordlnasl perencanaan anLara LAn dengan kemenLerlan Þendayagunaan
AparaLur negara dan 8eformasl 8lrokrasl (ÞAn dan 88) kurang makslmal,
sehlngga ka[lan yang dlhasllkan oleh LAn kurang dlmanfaaLkan oleh
kemenLerlan ÞAn dan 88 sebagal pembuaL kebl[akan.
78
8.8 MonlLorlng dan evaluasl Lerhadap pemanfaaLan hasll ka[lan belum
dllaksanakan sehlngga LAn udak mempunyal lnformasl LenLang pemanfaaLan
hasll ka[lan, udak ada feedback yang memadal unLuk perbalkan muLu
ka[lan dl masa yang akan daLang, dan udak blsa menllal efekuvlLas keglaLan
pembuaLan ka[lan. Pal LersebuL Ler[adl karena mekanlsme monlLorlng
LenLang pemanfaaLan hasll ka[lan belum dlLeLapkan.
8.9 ALas permasalahan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada kepala
LAn agar
menglnsLrukslkan kepala 8lro Þerencanaan dan kedepuuan bldang
LlLbang unLuk menglnLenslßan pelaksanaan koordlnasl perencanaan
maupun pelaksanaan LerkalL subsLansl ka[lan dengan kebl[akan dl bldang
admlnlsLrasl negara yang akan dlbuaL oleh kemenLerlan ÞAn dan 88
pada uap perlode, dan
membuaL mekanlsme monlLorlng pemanfaaLan hasll ka[lan LAn oleh
stakeholder serLa menggunakan hasll monlLorlng yang dllakukan sebagal
bahan evaluasl Lerhadap efekuvlLas keglaLan pembuaLan ka[lan.
Kementerian PPN/Bappenas
8.10 1u[uan pemerlksaan unLuk menllal apakah
sLrukLur organlsasl dan pengelolaan keuangan Lelah mendukung
pelaksanaan program dan keglaLan,
proses pelaksanaan keglaLan Lelah sesual dengan sLandar dan prosedur
yang dlLeLapkan,
pelaksanaan program dan keglaLan dllaksanakan secara ekonomls dan
efekuf, dan
pengukuran klner[a pelaksanaan program dan keglaLan Lelah dlkelola
dan dlperLanggung[awabkan dengan balk.
8.11 Pasll pemerlksaan menun[ukkan program penaLaan kelembagaan dan
keLaLalaksanaan pada kemenLerlan ÞÞn/8appenas Lelah dllaksanakan secara
efekuf. namun, maslh LerdapaL beberapa kelemahan anLara laln dluralkan
sebagal berlkuL.
8.12 keglaLan ka[lan, evaluasl, koordlnasl, pemanLauan dan database belum
sepenuhnya dldukung perencanaan yang memadal. Þermasalahan LersebuL
anLara laln penyusunan kerangka acuan ker[a (kAk) udak sesual dengan
kerangka yang dlaLur dalam ÞeraLuran MenLerl negara ÞÞn/kepala 8appenas
no.ÞL8.08/M.ÞÞn/12/2006. Pal LersebuL Ler[adl karena penanggung [awab
keglaLan belum sepenuhnya menyadarl penungnya kAk sebagal pedoman
pelaksana keglaLan serLa proses penllalan usulan keglaLan uepuu Lkonoml
dan uepuu kemlsklnan, keLenagaker[aan dan ukM oleh um anggaran belum
sepenuhnya ber[alan dengan balk.
79
8.13 uepuu Lkonoml dan uepuu kemlsklnan, keLenagaker[aan dan ukM
8appenas belum sepenuhnya melaksanakan keglaLan penyusunan rencana
pembangunan anLara laln penyusunan ouLpuL dan laporan pelaksanaan
keglaLan belum seluruhnya dlbuaL dan dllaksanakan LepaL wakLu sehlngga
hasll keglaLan yang Lelah dllakukan udak dapaL dlgunakan secara opumal.
Þermasalahan LersebuL dlsebabkan 8lro Þerencanaan Crganlsasl dan
1aLalaksana (8enoLala) udak melakukan pemanLauan Lerhadap pelaksanaan
keglaLan secara opumal LeruLama Lerhadap penyampalan laporan pada
Lahun ber[alan (selaln laporan akhlr). Selaln lLu, belum ada keLenLuan yang
mengaLur LenLang baLas akhlr penyampalan laporan keglaLan dan sanksl
[lka Ler[adl keLerlambaLan penyampalan laporan dan [lka dlrekLoraL udak
menyampalkan laporan kema[uan.
8.14 8lro 8enoLala belum sepenuhnya melakukan evaluasl capalan klner[a
keglaLan koordlnasl, ka[lan, pemanLauan, evaluasl, dan database sehlngga
efekuvlLas keglaLannya udak dapaL dlkeLahul dan dlnllal. Þermasalahan
LersebuL dlsebabkan unlL ker[a eselon (ukL) l dan ukL ll udak memperhaukan
kewa[lbannya membuaL laporan evaluasl klner[a. Selaln lLu 8lro 8enoLala,
dan lnspekLoraL 8ldang klner[a kelembagaan (l8kk) udak memperhaukan
kewa[lbannya melakukan evaluasl klner[a Lerhadap pelaksanaan keglaLan.
8.1S ALas permasalahan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan agar
penanggung [awab keglaLan melakukan revlu Lerhadap usulan keglaLan
yang dlsampalkan oleh dlrekLoraL sebelum dlsampalkan ke 8lro 8enoLala
dan agar um anggaran leblh Lellu dalam melakukan penllalan kAk sesual
keLenLuan yang berlaku,
8lro 8enoLala melakukan pemanLauan Lerhadap penyampalan laporan
pada Lahun ber[alan, dan mengaLur keLenLuan LenLang baLas akhlr
penyampalan laporan keglaLan beserLa sanksl [lka Ler[adl keLerlambaLan
penyampalan laporan dan [lka dlrekLoraL udak menyampalkan laporan
kema[uan, dan
ukL l, ukL ll, 8lro 8enoLala, dan l8kk leblh memperhaukan kewa[lbannya
dalam melakukan evaluasl klner[a Lerhadap pelaksanaan keglaLan dan
membuaL laporannya.
Pemerintah Kota Ambon
8.16 1u[uan pemerlksaan unLuk menllal apakah
slsLem pengendallan lnLern (SÞl) aLas keglaLan pelayanan pendldlkan
Lelah dlrancang dan dllaksanakan secara memadal,
pencapalan Lerhadap sLandar naslonal pendldlkan bldang sarana dan
prasarana serLa Lenaga pendldlk dan kependldlkan,
80
ungkaL ekonoml penggunaan sumber daya pelaksanaan keglaLan, ungkaL
eñslensl dan efekuvlLas pelaksanaan keglaLan, dan
pelaksanaan anggaran dan keglaLan Lelah menglkuu peraLuran yang
berlaku.
8.17 Pasll pemerlksaan menun[ukkan pemerlnLah koLa Ambon belum efekuf dalam
merencanakan, melaksanakan, serLa melakukan monlLorlng dan evaluasl
aLas pengelolaan pelayanan pendldlkan. Þermasalahan-permasalahan yang
perlu mendapaL perhauan anLara laln sebagal berlkuL.
8.18 Sarana dan prasarana pendldlkan dl koLa Ambon belum memadal, anLara
laln LerdapaL 11S Su menempau SS gedung dan 2S lokasl sekolah yang sama,
12 SMÞ menempau 6 gedung dan 6 lokasl sekolah yang sama, serLa beberapa
sekolah belum dllengkapl dengan sarana dan prasarana yang dlpersyaraLkan
dalam sLandar sarana dan prasarana sekolah yang dlLeLapkan oleh MenLerl
Þendldlkan naslonal. Pal lnl Ler[adl karena kepala ulnas Þendldlkan udak
cermaL dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasl aLas
pemenuhan sarana dan prasarana pendldlkan dl koLa Ambon serLa database
sarana dan prasarana sekolah yang dlmlllkl oleh ulnas Þendldlkan udak
memadal.
8.19 ÞemerlnLah koLa Ambon belum melakukan penllalan aLas pencapalan klner[a
penyelenggaraan pendldlkan secara memadal, anLara laln ÞemerlnLah
koLa Ambon belum meneLapkan sLandar pelayanan mlnlmal (SÞM) bldang
pendldlkan yang mengacu pada kepuLusan MenLerl Þendldlkan naslonal
LenLang SÞM 8ldang Þendldlkan. Pal LersebuL Ler[adl karena WallkoLa Ambon
sebagal penanggung [awab penyelenggaraan pendldlkan maslh lemah dalam
melaksanakan pengawasan dan pengendallan Lerhadap pemenuhan SÞM
8ldang Þendldlkan.
8.20 Þengadaan [arlngan lnLerneL unLuk kebuLuhan sekolah-sekolah dl Ambon
pada 1A 2009 udak efekuf dan berlndlkasl pemborosan keuangan daerah.
Pal LersebuL Ler[adl karena SekreLarls ulnas Þendldlkan koLa Ambon udak
cermaL dalam menyusun perencanaan keglaLan pengadaan [arlngan lnLerneL
unLuk kebuLuhan sekolah-sekolah khususnya LerkalL capalan program
(ouLpuL) dan pengalokaslan anggaran (lnpuL).
8.21 uana Lambahan penghasllan bagl guru ÞnSu 1A 2009 LerlambaL dlsalurkan,
dan sebelum dlsalurkan pada 1ahun 2010 Lelah dlgunakan Lerleblh dahulu
unLuk keglaLan laln. Pal LersebuL Ler[adl karena kepala 8adan Þengelola
keuangan koLa (8Þkk) dan ulnas Þendldlkan koLa Ambon lalal dalam
melakukan pembayaran Lambahan penghasllan berdasarkan beban ker[a
guru ÞnSu secara LepaL wakLu dan kebl[akan kepala 8Þkk menggunakan dana
Lambahan penghasllan bagl guru ÞnSu unLuk menuLupl deñslL ÞemerlnLah
koLa Ambon 1A 2009.
81
8.22 ALas permasalahan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada WallkoLa
Ambon agar
memerlnLahkan kepala ulnas Þendldlkan unLuk memuLakhlrkan
database sarana dan prasarana sekolah dl koLa Ambon,
menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan Lerhadap pemenuhan
SÞM 8ldang Þendldlkan,
memberlkan sanksl kepada pe[abaL yang udak cermaL dalam menyusun
keglaLan perencanaan pengadaan [arlngan lnLerneL unLuk kebuLuhan
sekolah-sekolah khususnya LerkalL capalan program (ouLpuL) dan
pengalokaslan anggaran (lnpuL), dan
memberlkan sanksl kepada kepala 8Þkk dan kepala ulnas Þendldlkan yang
lalal dalam melakukan pembayaran Lambahan penghasllan berdasarkan
beban ker[a guru ÞnSu dengan LepaL wakLu serLa meneLapkan kebl[akan
unLuk menuLup deñslL udak mengambll dana darl Lambahan penghasllan
guru.
PT Pos (Persero)
8.23 1u[uan pemerlksaan unLuk menllal eñslensl dan efekuvlLas keglaLan
LransporLasl dan anLaran klrlman pos yang mellpuu perencanaan,
pelaksanaan, dan pemanLauan.
8.24 Pasll Þemerlksaan menun[ukkan pelaksanaan keglaLan pada Þ1 Þos (Þersero)
belum sepenuhnya eñslen dan efekuf. Þermasalahan-permasalahan yang
perlu mendapaL perhauan anLara laln sebagal berlkuL.
8.2S keglaLan LransporLasl klrlman pos oleh Þerum uamrl belum sepenuhnya
eñslen dan efekuf, anLara laln LerdapaL sellslh leblh [arak Lempuh se[auh
1.2S3,49 km unLuk ruLe !awa dan !ambl, kapaslLas pemakalan angkuLan Lrayek
Mail Processing Center (MÞC) 8andung-MÞC ?ogyakarLa-MÞC Surabaya
udak opumal, dan LerdapaL hak klalm keLerlambaLan kepada Þerum uamrl
yang udak dlLaglhkan. Pal LersebuL Ler[adl karena ulreksl Þ1 Þos
(Þersero) dan Vice President !arlngan serLa Mana[er 1ransporLasl belum
sepenuhnya melaksanakan fungsl dan Lugas pokok pengelolaan keglaLan
LransporLasl sesual keLenLuan organlsasl dan LaLa ker[a kanLor pusaL.
8.26 8laya bahan bakar mlnyak (88M) unLuk penganLar klrlman pos dl Delivery
Center (uC) !akarLa ÞusaL, uC 1angerang, dan uC Express MÞC !akarLa belum
eñslen, LerdapaL sellslh leblh alokasl 88M dengan esumasl kebuLuhan
berdasarkan [arak Lempuh anLaran perLama. Pal LersebuL Ler[adl karena
ulreksl Þ1 Þos (Þersero), kepala ulvlsl 8eglonal lv !akarLa dan kepala MÞC
!akarLa belum meneLapkan kebl[akan dan aLuran yang memadal mengenal
88M unLuk anLaran klrlman pos.
82
8.27 ALas permasalahan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada ulreksl
Þ1 Þos (Þersero) agar
menlngkaLkan pelaksanaan fungsl dan Lugas pokok pengelolaan keglaLan
LransporLasl anLara laln, membuaL anallsls kebuLuhan dan pemlllhan
[enls, kapaslLas, [umlah armada, frekuensl, serLa blaya LransporLasl pada
[arlngan prlmer daraL, dan
mengevaluasl dan meneLapkan kebl[akan penggunaan 88M unLuk
anLaran klrlman pos.
PT Jasa Raharja (Persero)
8.28 1u[uan pemerlksaan unLuk menllal eñslensl keglaLan penerlmaan luran
wa[lb pesawaL udara (lWÞu) dan pengeluaran blaya admlnlsLrasl dalam
menghasllkan penerlmaan lWÞu darl semua operaLor pesawaL udara dengan
LepaL wakLu dan LepaL [umlah serLa keefekufan penerlmaan lWÞu.
8.29 Pasll pemerlksaan menun[ukkan pelaksanaan keglaLan pada Þ1 !8 belum
sepenuhnya eñslen dan efekuf. Þermasalahan-permasalahan yang
mengaklbaLkan keudakeñslenan dan keudakefekufan anLara laln sebagal
berlkuL.
8.30 keglaLan penerlmaan lWÞu dan pengeluaran blaya admlnlsLrasl belum
eñslen dalam menghasllkan penerlmaan lWÞu secara LepaL wakLu dan LepaL
[umlah, anLara laln pembebanan blaya admlnlsLrasl lWÞu udak konslsLen
yang mengaklbaLkan pembebanannya meleblhl keLenLuan operaslonal
mlnlmal senllal 8p11,82 mlllar. Pal LersebuL Ler[adl karena ulreksl Þ1 !8
udak cermaL dan konslsLen dalam meneLapkan dan menerapkan keLenLuan
operaslonal blaya admlnlsLrasl yang berlaku serLa udak opumal melakukan
pengendallan aLas keglaLan pengelolaan lWÞu, khususnya pembebanan
blaya admlnlsLrasl.
8.31 keglaLan pemanfaaLan lWÞu secara opumal belum efekuf sehlngga Þ1 !8
berpoLensl kehllangan hasll lnvesLasl senllal 8p33,S8 mlllar anLara laln senllal
8p28,36 mlllar darl pluLang maceL, 8p1,23 mlllar darl lWÞu yang LerlambaL
dlLerlma 1ahun 2009 dan 2010 (s.d. SemesLer l), serLa senllal 8p3,99 mlllar
darl kekurangan lWÞu selama 1ahun 2009 dan 2010 (SemesLer l). Pal
LersebuL Ler[adl karena ulreksl Þ1 !8 belum memlllkl stooJotJ opetouoq
procedure (SCÞ) dan uralan Lugas yang [elas dalam sLrukLur organlsasl
unLuk penyelesalan pluLang lWÞu yang maceL dan bermasalah, serLa kanLor
cabang (kC) dan kabag lWÞu Þ1 !8 belum menaglh dan menerlma lWÞu
secara LepaL wakLu dan LepaL [umlah.
8.32 ALas permasalahan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada ulreksl
Þ1 !8 agar
merevlsl keLenLuan mengenal blaya admlnlsLrasl dan dlselaraskan
dengan kebl[akan anggarannya serLa secara konslsLen membayar/
membebankan blaya admlnlsLrasl dengan mengacu kepada pedoman/
keLenLuan yang berlaku, dan
83
membuaL SCÞ dan uralan Lugas yang [elas aLas penyelesalan pluLang
lWÞu yang maceL dan bermasalah serLa menglnsLrukslkan kepada
pengelola daLa lWÞu unLuk melaksanakan penerlmaan lWÞu secara
LepaL wakLu dan LepaL [umlah.
8.33 Pasll pemerlksaan secara lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam
cakram padaL Lerlamplr.
84
85
PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU
Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan memberikan simpulan atas
suaLu hal yang dlperlksa. Þu11 udak memberlkan oplnl aLaupun unLuk memberlkan
penllalan klner[a dan memberlkan rekomendasl. Þu11 blsa berslfaL eksamlnasl
(pengu[lan), revlu, aLau prosedur yang dlsepakau.
- Lksamlnasl lalah pemerlksa menyaLakan slmpulan dengan ungkaL keyaklnan
posluf bahwa suaLu pokok masalah Lelah sesual aLau Lelah dlsa[lkan secara wa[ar
dalam semua hal yang material sesuai dengan kriteria.
- 8evlu lalah pemerlksa menyaLakan slmpulan dengan ungkaL keyaklnan negauf
bahwa udak ada lnformasl yang dlperoleh pemerlksa bahwa pokok masalah
udak sesual dengan krlLerla dalam semua hal yang maLerlal.
- ualam prosedur yang dlsepakau (agreed upon procedures), pemeriksa
menyaLakan slmpulan aLas hasll pelaksanaan prosedur LerLenLu yang dlsepakau
dengan pemberl Lugas Lerhadap pokok masalah.
Sebaglan besar pemerlksaan yang dllaksanakan 8Þk berslfaL eksamlnasl.
ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melakukan Þu11 aLas 208 ob[ek pemerlksaan.
Cb[ek pemerlksaan LersebuL Lerdlrl aLas 61 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan
pemerlnLah pusaL, 92 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah daerah, 44 ob[ek
pemerlksaan dl llngkungan 8uMn, 9 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan 8uMu, dan 2
ob[ek pemerlksaan dl llngkungan 8PMn/8Lu/badan lalnnya. Cakupan pemerlksaan
aLas 208 ob[ek pemerlksaan LersebuL adalah senllal 8p207,64 Lrlllun.
Pasll pemerlksaan LersebuL dapaL dlkelompokkan dalam beberapa Lema sebagal
berikut:
- pengelolaan dan perLanggung[awaban pendapaLan,
- pelaksanaan dan perLanggung[awaban belan[a,
- pengelolaan dan perLanggung[awaban dana bldang pendldlkan,
- pengelolaan dan perLanggung[awaban dana oLonoml khusus,
- pelaksanaan subsldl pemerlnLah,
- slsLem pengendallan lnLern badan usaha mlllk negara,
- operaslonal badan usaha mlllk negara, dan
- pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya.
86
87
BAB 9
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Pendapatan
9.1 ÞendapaLan mellpuu pendapaLan negara dan pendapaLan daerah.
ÞendapaLan negara mellpuu pendapaLan perpa[akan Lermasuk bea dan
cukal dan penerlmaan negara bukan pa[ak (Þn8Þ), sedangkan pendapaLan
daerah mellpuu pendapaLan asll daerah (ÞAu).
9.2 ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melakukan pemerlksaan dengan
Lu[uan LerLenLu aLas pengelolaan dan perLanggung[awaban pendapaLan
negara/daerah 1A 2008 - 2010 pada 9 kemenLerlan/lembaga (kL) dl llngkungan
pemerlnLah pusaL dan dua enuLas pada pemerlnLah daerah. Þemerlksaan lnl
mellpuu pemerlksaan Þn8Þ yang dllakukan pada 9 kL yalLu kemenLerlan Luar
negerl, 1nl Au, 1nl AL, 1nl Au, kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka,
kepollslan 8l, 8adan Þengawasan keuangan dan Þembangunan, 8Lu C8k/
SeLneg, 8Lu kemayoran dan pemerlksaan ÞAu pada dua enuLas yalLu Þrovlnsl
Maluku dan koLa Ambon.
9.3 Cakupan pemerlksaan aLas pengelolaan dan perLanggung[awaban
pendapaLan adalah senllal 8p16,77 Lrlllun aLau 97,61° darl reallsasl
pendapaLan senllal 8p17,18 Lrlllun. 1oLal Lemuan pemerlksaan pengelolaan
pendapaLan senllal 8p813,10 mlllar dan uSu198.44 rlbu (ekulvalen
8p1,70 mlllar) merupakan Lemuan keruglan, poLensl keruglan, kekurangan
penerlmaan, keudakhemaLan, dan keudakefekufan yang memlllkl lmpllkasl
nllal uang. Selaln Lemuan LersebuL, LerdapaL Lemuan kelemahan slsLem
pengendallan lnLern (SÞl) dan admlnlsLrasl yang udak memlllkl lmpllkasl nllal
uang LeLapl memerlukan perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
Tujuan Pemeriksaan
9.4 Secara umum Lu[uan pemerlksaan aLas pendapaLan negara/daerah adalah
unLuk menllal apakah
SÞl yang LerkalL pendapaLan negara/daerah Lelah dlrancang dan
dllaksanakan secara memadal unLuk mencapal Lu[uan pengendallan, dan
pemunguLan, penaLausahaan, dan penyeLoran pendapaLan negara/
daerah Lelah memaLuhl keLenLuan perundang-undangan yang berlaku.
Hasil Pemeriksaan
9.5 Pasll pemerlksaan 8Þk dlLuangkan dalam laporan hasll pemerlksaan (LPÞ)
dan dlnyaLakan dalam se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas
saLu aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus
yang merupakan baglan darl Lemuan. Sesual dengan Lu[uan pemerlksaannya,
hasll pemerlksaan dlsa[lkan dalam dua kaLegorl yalLu slsLem pengendallan
lnLern dan kepaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
88
Sistem Pengendalian Intern
9.6 Salah saLu Lu[uan pemerlksaan aLas pengelolaan dan perLanggung[awaban
pendapaLan negara/daerah adalah unLuk menllal apakah SÞl aLas pengelolaan
dan perLanggung[awaban pendapaLan sudah dlrancang dan dllaksanakan
secara memadal unLuk mencapal Lu[uan pengendallan.
9.7 Pasll evaluasl aLas SÞl pengelolaan pendapaLan negara/daerah menun[ukkan
adanya kelemahan pada aspek perencanaan, pembukuan dan pencaLaLan,
serLa pelaporan dan perLanggung[awaban yang menlmbulkan kasus-kasus
kelemahan SÞl yang dlkelompokkan sebagal berlkuL:
kelemahan aLas slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan,
kelemahan aLas slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, dan
kelemahan aLas sLrukLur pengendallan lnLern.
9.8 Pasll evaluasl SÞl Lerhadap pengelolaan pendapaLan negara/daerah
menun[ukkan LerdapaL 67 kasus kelemahan SÞl. 8lnclan kelemahan SÞl
LersebuL mellpuu 6 kasus kelemahan slsLem pengendallan akunLansl dan
pelaporan, 40 kasus slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, serLa 21 kasus kelemahan sLrukLur pengendallan lnLern. 8lnclan
per kelompok dan [enls Lemuan kelemahan SÞl dlsa[lkan pada lamplran 12.
9.9 Sebanyak 6 kasus kelemahan slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan,
Lerdlrl aLas
sebanyak 4 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
sebanyak 1 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan udak
memadal, dan
sebanyak 1 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan belum
dldukung SuM yang memadal.
9.10 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 1nl Au, ulnas kesehaLan 1nl AngkaLan udara, Lakespra, LakesglluL
dan 8umklLmun serLa lnsLansl LerkalL, LerdapaL perbedaan pencaLaLan
penerlmaan darl paslen yang dlbuaL oleh sekreLarlaL medlk dan baglan
markeung dengan penerlmaan paslen yang dlbuaL oleh 8endahara
Lakespra SaryanLo 1A 2009 dan 2010 senllal 8p301,26 [uLa.
ul 1nl AL, pelaksanaan pencaLaLan ?anmasum oleh 8endaharawan
?anmasum 8umklL 1nl AL ur. 8amelan 1A 2009 dan 2010 udak memadal
yalLu kurang caLaL penerlmaan ?anmasum, pluLang dan huLang senllal
8p3,22 mlllar.
89
ul kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka, ulL[en ÞosLel, slsLem
lnformasl mana[emen frekuensl udak dapaL menghasllkan ouLpuL berupa
laporan pluLang 1A 2009 dan 2010.
9.11 Sebanyak 40 kasus slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, Lerdlrl aLas
sebanyak 1 kasus perencanaan keglaLan udak memadal,
sebanyak 12 kasus mekanlsme pemunguLan, penyeLoran dan pelaporan
serLa penggunaan penerlmaan negara/daerah/perusahaan dan hlbah
udak sesual keLenLuan,
sebanyak 11 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang Leknls LerLenLu aLau keLenLuan lnLern organlsasl yang
dlperlksa LenLang pendapaLan dan belan[a,
sebanyak 11 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL hllangnya poLensl penerlmaan/pendapaLan,
dan
sebanyak S kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL penlngkaLan blaya/belan[a.
9.12 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul ÞÞk kemayoran, Þerum Þerumnas udak melaksanakan kewa[lban
sesual per[an[lan 1A 2008 s.d. 2010 sehlngga 8Lu ÞÞkk kehllangan
kesempaLan memperoleh pendapaLan senllal 8p111,27 mlllar dan
menanggung beban blaya alr berslh rumah susun Þerum Þerumnas
senllal 8p989,94 [uLa.
ul ÞÞk kemayoran, pengenaan Larlf sewa lahan 1A 2008 s.d. 2010 udak
sesual ÞeraLuran MenLerl keuangan nomor 96/ÞMk.06/2007 LenLang
formula Larlf sewa barang mlllk kekayaan negara sehlngga 8Lu ÞÞkk
kehllangan poLensl pendapaLan senllal 8p11,14 mlllar.
ul Þrovlnsl Maluku, LerdapaL penerlmaan [asa pelayanan pada 8Su ur.
M. Paulussy, 8Suu 1ulehu, 8Sku, 8alal kesehaLan Þaru MasyarakaL, dan
8alal LaboraLorlum kesehaLan yang langsung dlbaglkan kepada dokLer,
perawaL dan peLugas pelaksana pelayanan kesehaLan 1A 2009 dan 2010
Lanpa melalul mekanlsme AÞ8u senllal 8p3,19 mlllar.
9.13 Sebanyak 21 kasus kelemahan sLrukLur pengendallan lnLern, Lerdlrl aLas
sebanyak 14 enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk suaLu prosedur
aLau keseluruhan prosedur, dan
sebanyak 7 kasus SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan secara opumal
aLau udak dlLaau.
90
9.14 kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka, ulL[en ÞosLel, prosedur
pelayanan pada 8alal 8esar Þengu[lan ÞerangkaL 1elekomunlkasl (88ÞÞ1)
dan ulrekLoraL SLandardlsasl (ulLsLand) belum opumal pada 1A 2009 s.d.
2010.
ul 1nl Au, Þemblnaan kesehaLan unlL Crganlsasl (uC) 1nl Au 1A 2009
dan 2010 pada kesdam dan 8umah SaklL dl llngkungan kodam vll/
Wlrabuana dan kodam lv/ulponegoro dl Makassar dan Semarang,
pembenLukan apoLek unlL khusus belum dldasarkan pada hasll ka[lan
dan belum mendapaL perseLu[uan kasad.
ul Þrovlnsl Maluku, ÞemerlnLah Þrovlnsl Maluku belum memlllkl
peraLuran daerah LenLang reLrlbusl pemakalan kekayaan daerah pada
badan dlklaL dan LerdapaL rekenlng unLuk operaslonal keglaLan dlklaL
yang udak dllaporkan pada 1A 2009 dan 2010.
Penyebab
9.15 kasus-kasus kelemahan SÞl pada umumnya Ler[adl karena plmplnan enuLas
dan kepala daerah belum membuaL aLau memperbalkl SCÞ yang mengaLur
secara Legas mengenal pengelolaan pendapaLan negara/daerah.
Rekomendasi
9.16 1erhadap kasus-kasus kelemahan SÞl, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
enuLas yang dlperlksa anLara laln agar plmplnan enuLas dan kepala daerah
memperbalkl slsLem pelaporan keuangan dan segera menyusun SCÞ
pengelolaan pendapaLan negara/daerah.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
9.17 Pasll pemerlksaan mengungkapkan adanya keudakpaLuhan Lerhadap
keLenLuan perundang-undangan. keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan
perundang-undangan dapaL mengaklbaLkan keruglan negara/daerah,
poLensl keruglan negara/daerah, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl,
keudakhemaLan, dan keudakefekufan yang dapaL dlllhaL pada 1abel 9.1.
8lnclan [enls Lemuan pada uap-uap kelompok dapaL dlllhaL pada Lamplran
13 dan rlnclan Lemuan menuruL enuLas dlsa[lkan pada Lamplran 14.
91
Tabel 9.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertangungjawaban
Pendapatan
9.18 8erdasarkan Label dl aLas, hasll pemerlksaan mengungkapkan 67 kasus senllal
8p813,10 mlllar dan uSu198.44 rlbu (ekulvalen 8p1,70 mlllar) sebagal aklbaL
adanya keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan yang
dlLemukan darl hasll pemerlksaan pengelolaan pendapaLan pada sembllan
kemenLerlan/lembaga dan dua enuLas pemerlnLah daerah.
Kerugian Negara/Daerah
9.19 keruglan negara/daerah adalah berkurangnya kekayaan negara berupa
uang, suraL berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal
aklbaL perbuaLan melawan hukum balk senga[a maupun lalal.
9.20 Þada umumnya kasus-kasus keruglan negara/daerah mellpuu belan[a aLau
pengadaan barang/[asa ñkuf, keleblhan pembayaran selaln kekurangan
volume peker[aan dan/aLau barang, pemahalan harga (mark up), dan
penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl.
9.21 Pasll pemerlksaan aLas pengelolaan pendapaLan negara/daerah menun[ukkan
adanya keruglan negara/daerah sebanyak 7 kasus senllal 8pS89,92 [uLa yang
Lerdlrl aLas
sebanyak 1 kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf senllal
8p97,90 [uLa,
sebanyak 2 kasus keleblhan pembayaran selaln kekurangan volume
peker[aan dan/aLau barang senllal 8p117,26 [uLa,
sebanyak 2 kasus pemahalan harga (mark up) senllal 8p321,63 [uLa, dan
sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl
senllal 8pS3,11 [uLa.
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai
(juta Rp dan ribu valas)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 keruglan negara/uaerah 7 S89,92
2 ÞoLensl keruglan negara/uaerah 4 604.782,84
3 kekurangan Þenerlmaan 36 202.441,14
uSu198.44
4 AdmlnlsLrasl 11 -
5 keudakhemaLan 5 3.713,76
6 keudakefekufan 4 1.S81,S7
Jumlah 67 813.109,25
USD198.44
92
9.22 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 1nl AL, 8umklLal ur. MlnLohard[o dan Ladokgl 8.L. MarLadlnaLa,
beberapa perLanggung[awaban keuangan pengeluaran dana ?anmasum
1A 2009 dan 2010 udak sesual kondlsl senyaLanya yang mengaklbaLkan
keleblhan pembayaran senllal 8p273,23 [uLa.
ul 1nl AL, 8umklLal ur. MlnLohard[o dan Ladokgl 8.L. MarLadlnaLa,
pengadaan beberapa [enls barang ceLak 1A 2009 dan 2010 senllal 8pSS,32
[uLa dan maLerlal kesehaLan senllal 8p42,S7 [uLa udak dllaksanakan yang
mengaklbaLkan keruglan senllal 8p97,90 [uLa.
ul 1nl Au, pemblnaan kesehaLan uC 1nl Au 1A 2009 dan 2010 pada
kesdam dan 8umah SaklL dl llngkungan kodam vll/Wlrabuana dan
kodam lv/ulponegoro dl Makassar dan Semarang, LerdapaL kesalahan
perhlLungan uang lauk pauk paslen umum pada 8umah SaklL 1k. lll
8haku Wlra 1amLama dan Wl[ayakusuma serLa pembayaran penlngkaLan
glzl paslen dlnas darl dana ?anmasum pada 8umah SaklL 1k.lll Þelamonla
sehlngga Ler[adl keleblhan pembayaran senllal 8p67,62 [uLa.
9.23 ALas kasus-kasus yang mengaklbaLkan keruglan negara/daerah senllal
8pS89,92 [uLa LersebuL, dl anLaranya Lelah dlundaklan[uu oleh 1nl AL dengan
penyeLoran ke kas negara senllal 8p79,63 [uLa.
Penyebab
9.24 kasus-kasus keruglan negara/daerah pada umumnya dlsebabkan
para pelaksana kurang cermaL melaksanakan Lugas dan membuaL
perLanggung[awaban keuangan hanya sebagal sarana pencalran anggaran,
serLa kurang opumalnya pengawasan dan pengendallan.
Rekomendasi
9.25 1erhadap kasus-kasus keruglan negara/daerah, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar memperLanggung[awabkan
pengeluaran dengan melakukan penyeLoran aLas keruglan negara/daerah
melalul mekanlsme ganu keruglan sesual keLenLuan perundang-undangan.
Potensi Kerugian Negara/Daerah
9.26 ÞoLensl keruglan negara adalah adanya suaLu perbuaLan melawan hukum balk
senga[a maupun lalal yang dapaL mengaklbaLkan rlslko Ler[adlnya keruglan
dl masa yang akan daLang berupa berkurangnya uang, suraL berharga, dan
barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
9.27 Pasll pemerlksaan aLas pengelolaan pendapaLan negara/daerah menun[ukkan
adanya poLensl keruglan negara yalLu pluLang/pln[aman aLau dana bergullr
yang berpoLensl udak LerLaglh sebanyak 4 kasus senllal 8p604,78 mlllar.
93
9.28 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 1nl Au - kodam lll dan kodam vl, LerdapaL pluLang bermasalah pada
8umah SaklL 1k. lll Clremal, 8umah SaklL 1k. ll uusura, dan 8umah SaklL
1k. lll dr. 8. Pard[anLo 1A 2009 dan 2010 mlnlmal senllal 8p1,39 mlllar.
ul kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka, ulL[en ÞosLel, penyelesalan
pluLang Þ1 SmarL 1elecom 1A 2009 dan 2010 berlaruL-laruL senllal
8p603,16 mlllar.
ul 1nl Au, ulskesau, 8SÞAu dr. Lsnawan AnLarlksa, Lañau, dan 8SAu
dr. Pard[oluklLo, LerdapaL klalm pluLang 8SÞAu dr. Lsnawan AnLarlksa
sampal dengan MareL 2010 belum dlbayarkan oleh para mlLra ker[a
sama 1A 2009 dan 2010 senllal 8p188,49 [uLa.
Penyebab
9.29 kasus-kasus poLensl keruglan negara/daerah pada umumnya dlsebabkan
para pelaksana kurang opumal dalam melakukan penaglhan dan proses
penaglhan pluLang kepada plhak keuga yang Lerlalu lama.
Rekomendasi
9.30 1erhadap kasus-kasus poLensl keruglan negara/daerah, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar
melakukan penaglhan pluLang leblh opumal dan menyampalkan laporan
perkembangannya kepada 8Þk 8l.
Kekurangan Penerimaan
9.31 kekurangan penerlmaan adalah adanya penerlmaan yang sudah men[adl
hak negara LeLapl udak aLau belum masuk ke kas negara karena adanya
unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
9.32 Þada umumnya kasus-kasus kekurangan penerlmaan mellpuu penerlmaan
negara/daerah aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum/udak dlLeLapkan
aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/daerah, penggunaan langsung
penerlmaan negara/daerah, dan pengenaan Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah
darl keLenLuan.
9.33 Pasll pemerlksaan aLas pengelolaan pendapaLan negara/daerah
menun[ukkan adanya kekurangan penerlmaan negara sebanyak 36 kasus
senllal 8p202,44 mlllar dan uSu198.44 rlbu (ekulvalen 8p1,70 mlllar) yang
Lerdlrl aLas
sebanyak 27 kasus kekurangan penerlmaan Lermasuk denda
keLerlambaLan peker[aan yang belum/udak dlLeLapkan/
dlpunguL/ dlLerlma/dlseLor ke kas negara senllal 8pS4,92 mlllar
dan uSu198.44 rlbu (ekulvalen 8p1,70 mlllar),
94
sebanyak 7 kasus penggunaan langsung penerlmaan negara/daerah,
senllal 8p146,S1 mlllar, dan
sebanyak 2 kasus pengenaan Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah darl
keLenLuan senllal 8p1,00 mlllar.
9.34 kasus-kasus kekurangan penerlmaan daerah dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka, ulL[en ÞosLel, SlsLem
lnformasl Mana[emen lrekuensl udak dapaL menghlLung denda
keLerlambaLan pembayaran 8PÞ frekuensl radlo 1A 2009 dan
2010, sehlngga denda dlhlLung manual yang mengaklbaLkan denda
keLerlambaLan belum dlLeLapkan senllal 8p31,04 mlllar.
ul 1nl Au, kesdam dan 8umklL dl Llngkungan kodam lll/Slllwangl dan
kodam vl/Mulawarman, slsa Þn8Þ 1A 2009 dan 2010 senllal 8p774,11
[uLa udak dlseLorkan ke kas negara sebagal Þn8Þ LeLapl dlgunakan unLuk
operaslonal 8S.
ul Þrovlnsl Maluku, pengelolaan reLrlbusl mlnuman beralkohol udak
memadal dan pada 1ahun 2009 Ler[adl kurang peneLapan senllal 8p1,00
mlllar.
9.35 ALas kasus-kasus yang mengaklbaLkan kekurangan penerlmaan
negara/daerah senllal 8p202,44 mlllar dan uSu198.44 rlbu (ekulvalen
8p1,70 mlllar) LersebuL, dl anLaranya Lelah dlundaklan[uu oleh kemenLerlan/
lembaga dengan penyeLoran ke kas negara/daerah senllal 8p9,36 mlllar,
uga Lerbesar dlanLaranya adalah penyeLoran oleh kemenLerlan komunlkasl
dan lnformauka senllal 8p6,S7 mlllar, kemenLerlan Luar negerl senllal
8p1,32 mlllar, dan 1nl Au senllal 8p814,78 [uLa.
Penyebab
9.36 kasus-kasus kekurangan penerlmaan pada umumnya Ler[adl karena para
pelaksana udak berpedoman pada keLenLuan yang berlaku, lemahnya
pengawasan dan pengendallan dan kurangnya koordlnasl anLara para
penanggung[awab keglaLan.
Rekomendasi
9.37 1erhadap kasus-kasus kekurangan penerlmaan, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar memberlkan sanksl kepada
pe[abaL yang berLanggung [awab, memerlnLahkan para pelaksana unLuk
melaksanakan keglaLan sesual keLenLuan, menarlk dan menyeLorkan
kekurangan penerlmaan ke kas negara/daerah dan menyampalkan buku
seLor ke 8Þk.
95
Administrasi
9.38 1emuan admlnlsLrasl mengungkap adanya penylmpangan Lerhadap
keLenLuan yang berlaku balk dalam pelaksanaan anggaran aLau pengelolaan
aseL maupun operaslonal perusahaan, LeLapl penylmpangan LersebuL udak
mengaklbaLkan keruglan negara/daerah, udak mengurangl hak negara/
daerah, kekurangan penerlmaan, udak menghambaL program enuLas, dan
udak mengandung unsur lndlkasl undak pldana.
9.39 kasus-kasus penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf mellpuu
perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld), proses
pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak menlmbulkan keruglan
negara/daerah), pelaksanaan lelang secara proforma, dan penylmpangan
Lerhadap peraLuran perundang-undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu
kehuLanan, perLambangan, perpa[akan .
9.40 kasus penylmpangan admlnlsLrasl [uga mellpuu penyeLoran penerlmaan
negara/daerah meleblhl baLas wakLu yang dlLenLukan.
9.41 Pasll pemerlksaan aLas pengelolaan pendapaLan negara/daerah
menun[ukkan bahwa keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan penylmpangan
admlnlsLrasl sebanyak 11 kasus yang Lerdlrl aLas
sebanyak 1 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap/udak valld),
sebanyak 4 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
(udak menlmbulkan keruglan negara/daerah),
sebanyak 1 kasus pelaksanaan lelang secara proforma,
sebanyak 2 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan,
perpa[akan, dan
sebanyak 3 kasus penyeLoran penerlmaan negara/daerah meleblhl baLas
wakLu yang dlLenLukan.
9.42 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan Luar negerl, Þn8Þ k!8l koLa klnabalu LerlambaL dlseLor
ke kas negara pada 1A 2008 dan 2009 senllal 8p1,46 mlllar.
ul 1nl Au - kodam lll dan kodam vl, pengadaan alaL kesehaLan nlCu
ÞlCu 1A 2010 senllal 8p394,06 [uLa dllakukan udak melalul prosedur
pelelangan umum.
ul koLa Ambon, Þrovlnsl Maluku, pengelolaan reLrlbusl daerah pada
ulnas 1enaga ker[a koLa Ambon udak Lerub yalLu penyeLoran reLrlbusl
ulnas 1enaga ker[a 1A 2009 dan 2010 ke kas daerah udak LepaL wakLu
yaknl dllakukan 1 s.d. 2 bulan berlkuLnya senllal 8p298,12 [uLa.
96
Penyebab
9.43 kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl pada umumnya Ler[adl karena para
pelaksana lalal dalam melaksanakan Lugas, kurangnya komlLmen plmplnan
enuLas yang dlperlksa unLuk melaksanakan keglaLan sesual keLenLuan-
keLenLuan pelaksanaan anggaran dan penaLausahaannya.
Rekomendasi
9.44 1erhadap kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln unLuk
memberlkan Leguran dan aLau sanksl kepada pe[abaL pelaksana yang udak
menaau keLenLuan perundang-undangan.
kendakhematan
9.4S 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lnpuL
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kuallLas yang meleblhl kebuLuhan, dan harga yang leblh mahal dlbandlngkan
dengan pengadaan serupa pada wakLu yang sama.
9.46 Þada umumnya kasus-kasus keudakhemaLan mellpuu peneLapan kuallLas dan
kuanuLas barang/[asa yang dlgunakan udak sesual sLandar dan pemborosan
keuangan negara aLau kemahalan harga.
9.47 Pasll pemerlksaan aLas pengelolaan pendapaLan negara/daerah
menun[ukkan bahwa keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan penylmpangan
keudakhemaLan sebanyak S kasus senllal 8p3,71 mlllar yang Lerdlrl aLas
sebanyak 1 kasus peneLapan kuallLas dan kuanuLas barang/[asa yang
dlgunakan udak sesual sLandar senllal 8p1,42 mlllar, dan
sebanyak 4 kasus pemborosan keuangan negara aLau kemahalan harga
senllal 8p2,28 mlllar.
9.48 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 1nl AL- 8lnkes 8amelan, pengadaan obaL non lañal 1A 2009 dan 2010
dl llngkungan ulskesal udak memakslmalkan penggunaan obaL generlk
dan menlmbulkan pemborosan senllal 8p1,42 mlllar.
ul 1nl Au, Þemblnaan kesehaLan uC 1nl Au 1A 2009 dan 2010
pembayaran [asa, LransporL, dan honor pada rumklL dl llngkungan
kesdam lv/ulponegoro dan kesdam vll/Wlrabuana udak mempunyal
landasan hukum yang mengaklbaLkan pemborosan senllal 8p1,2S mlllar.
Penyebab
9.49 Þermasalahan keudakhemaLan Ler[adl karena belum adanya kebl[akan
dl llngkungan 1nl AL unLuk menggunakan obaL generlk dan lemahnya
pengawasan dan pengendallan dl llngkungan maslng-maslng.
97
Rekomendasi
9.S0 ALas kasus keudakhemaLan, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada enuLas
yang dlperlksa anLara laln agar memberlkan sanksl kepada pe[abaL yang
berLanggung [awab, memakslmalkan penggunaan obaL generlk dl [a[arannya
dan mengka[l obaL-obaL generlk yang kuallLasnya sebandlng dengan
obaL speslallsuknya dan menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan dl
llngkungan 1nl Au dan 1nl AL.
kendakefeknfan
9.51 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll
(outcome), yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak
memberlkan manfaaL aLau hasll yang dlrencanakan serLa fungsl lnsLansl yang
udak opumal sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
9.52 kasus keudakefekufan mellpuu penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/
udak sesual perunLukan, pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual
dengan rencana yang dlLeLapkan, dan pelaksanaan keglaLan LerlambaL/
LerhambaL sehlngga mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl.
9.53 Pasll pemerlksaan aLas pengelolaan dan perLanggung[awaan pendapaLan
negara/daerah menun[ukkan bahwa keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan
keudakefekufan sebanyak 4 kasus senllal 8p1,S8 mlllar yang Lerdlrl aLas
sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual
perunLukan senllal 8p294,04 [uLa,
sebanyak 1 kasus pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual
dengan rencana yang dlLeLapkan senllal 8p1,28 mlllar, dan
sebanyak 1 kasus pelaksanaan keglaLan LerlambaL/LerhambaL sehlngga
mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl.
9.S4 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 1nl Au, kesdam dan 8umklL dl Llngkungan kodam lll/Slllwangl dan
kodam vl/Mulawarman, LerdapaL penggunaan dana pemellharaan alaL
cangglh 1A 2009 dan 2010 senllal 8p270,00 [uLa dl 8umklL 1k. lv Salak
yang udak sesual perunLukannya yalLu unLuk keperluan operaslonal
rumah saklL.
ul 1nl AL, ulnas kesehaLan 1nl AL, Lembaga larmasl 1nl AL urs.
Mochamad kamal, 8umah SaklL ur. 8amelan, penggunaan dana
pemellharaan alaL cangglh udak sesual perunLukan dan pengelolaannya
unLuk 1A 2010 maslh dlplsahkan darl ?anmasum senllal 8p1,28 mlllar
yalLu unLuk pengaspalan dan pemasangan paving dl [alan rumah saklL.
98
Penyebab
9.55 kasus-kasus keudakefekufan Ler[adl karena adanya l[ln darl Asrena kasal
perlhal perseLu[uan pengallhan penggunaan anggaran dan karumklL 1k. lv
Salak udak melaksanakan anggaran sesual keLenLuan.
Rekomendasi
9.S6 1erhadap kasus-kasus keudakefekufan, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
enuLas yang dlperlksa agar memperLanggung[awabkan penylmpangan
penggunaan anggaran dengan memlnLa perseLu[uan perubahan alokasl
anggaran kepada kÞkn seLempaL.
9.S7 Pasll pemerlksaan secara lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam
cakram padaL Lerlamplr.
99
BAB 10
Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Belanja
10.1 Þelaksanaan belan[a mellpuu belan[a pemerlnLah pusaL dan belan[a
pemerlnLah daerah. 8elan[a pemerlnLah pusaL/daerah dlpergunakan
unLuk keperluan penyelenggaraan Lugas pemerlnLah pusaL/daerah dan
pelaksanaan perlmbangan keuangan anLara pemerlnLah pusaL dan daerah.
MenuruL [enlsnya, belan[a pemerlnLah pusaL/daerah Lerdlrl aLas belan[a
pegawal, belan[a barang, belan[a modal, bunga, subsldl, hlbah, banLuan
soslal, dan belan[a laln-laln.
Belanja Pemerintah Pusat
10.2 ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah memerlksa belan[a aLau pengadaan
barang/[asa pemerlnLah pusaL 1A 2009 dan 2010. Þemerlksaan dllakukan
pada 31 kemenLerlan/lembaga (kL) yang mellpuu 47 ob[ek pemerlksaan.
10.3 Cakupan pemerlksaan belan[a pemerlnLah pusaL pada 31 kL adalah senllal
8p23,37 Lrlllun darl reallsasl anggaran belan[a senllal 8p78,83 Lrlllun.
1oLal Lemuan pemerlksaan pelaksanaan belan[a pemerlnLah pusaL senllal
8p3,19 Lrlllun merupakan Lemuan keruglan, poLensl keruglan, kekurang
penerlmaan, keudakhemaLan, keudakeñslenan dan keudakefekufan yang
memlllkl lmpllkasl nllal ruplah. Selaln Lemuan LersebuL, LerdapaL Lemuan
kelemahan slsLem pengendallan lnLern (SÞl) dan admlnlsLrasl yang udak
memlllkl lmpllkasl nllal uang LeLapl memerlukan perbalkan SÞl dan/aLau
undakan admlnlsLrauf.
Tujuan Pemeriksaan
10.4 Secara umum, Lu[uan pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah pusaL adalah
unLuk menllal apakah
SÞl aLas pelaksanaan dan perLanggung[awaban belan[a sudah dlrancang
dan dllaksanakan secara memadal unLuk mencapal Lu[uan pengendallan,
penguasaan, pengurusan, dan perLanggung[awaban anggaran belan[a
Lelah dllaksanakan sesual dengan peraLuran perundangan yang berlaku,
pelaksanaan keglaLan yang LerkalL pengadaan barang dan pemborongan
peker[aan Lelah dllaksanakan sesual dengan prosedur/keLenLuan yang
berlaku dengan memenuhl prlnslp ekonomls, eñslen, dan efekuf, dan
lnformasl keuangan Lelah dlsa[lkan sesual krlLerla yang Lelah dlLeLapkan.
100
Hasil Pemeriksaan
10.5 Pasll pemerlksaan 8Þk dlLuangkan dalam laporan hasll pemerlksaan (LPÞ)
dan dlnyaLakan dalam se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas
saLu aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus
yang merupakan baglan darl Lemuan. Sesual dengan Lu[uan pemerlksaannya,
hasll pemerlksaan dlsa[lkan dalam dua kaLegorl yalLu slsLem pengendallan
lnLern dan kepaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
Sistem Pengendalian Intern
10.6 Salah saLu Lu[uan pemerlksaan aLas belan[a adalah unLuk menllal apakah
SÞl aLas pelaksanaan anggaran belan[a sudah dlrancang dan dllaksanakan
secara memadal unLuk mencapal Lu[uan pengendallan.
10.7 Pasll evaluasl aLas SÞl belan[a menun[ukkan adanya kelemahan pada
aspek perencanaan, pembukuan dan pencaLaLan, serLa pelaporan dan
perLanggung[awaban yang menlmbulkan kasus-kasus kelemahan SÞl yang
dlkelompokkan sebagal berlkuL:
kelemahan aLas slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan,
kelemahan aLas slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, dan
kelemahan aLas sLrukLur pengendallan lnLern.
10.8 Pasll evaluasl SÞl Lerhadap pelaksanaan belan[a pemerlnLah pusaL
menun[ukkan LerdapaL 78 kasus kelemahan SÞl. 8lnclan kelemahan SÞl
LersebuL mellpuu 16 kasus kelemahan slsLem pengendallan akunLansl dan
pelaporan, 40 kasus slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, serLa 22 kasus kelemahan sLrukLur pengendallan lnLern. 8lnclan
per kelompok dan [enls Lemuan kelemahan SÞl dlsa[lkan pada Lamplran 1S.
10.9 Sebanyak 16 kasus kelemahan slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan,
Lerdlrl aLas
sebanyak 11 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
sebanyak 2 kasus proses penyusunan laporan udak sesual keLenLuan,
sebanyak 2 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan udak
memadal, dan
sebanyak 1 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan belum
dldukung SuM yang memadal.
101
10.10 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan Luar negerl, konsulaL !enderal 8epubllk lndonesla
(k!8l) Chlcago, security deposit sewa gedung kanLor 1A 2010 senllal
uSu207.S2 rlbu (ekulvalen 8p1,8S mlllar) belum dlcaLaL.
ul kemenLerlan Soslal, persedlaan buku ceLakan dan ma[alah hasll
pengadaan 1A 2010 senllal 8p120,S4 [uLa belum dlmasukkan ke apllkasl
persedlaan.
ul kemenLerlan komlnfo, Laporan keuangan 8aglan Anggaran (8A)
999.07 1A 2010 bukan merupakan kompllasl darl Laporan keuangan
Lselon l dan CaLk aLas neraca udak men[elaskan penyebab kenalkan/
penurunan per pos reallsasl anggaran dan pos neraca.
10.11 Sebanyak 40 kasus slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, Lerdlrl aLas
sebanyak 11 kasus perencanaan keglaLan udak memadal,
sebanyak 18 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang Leknls LerLenLu aLau keLenLuan lnLern organlsasl yang
dlperlksa LenLang pendapaLan dan belan[a,
sebanyak 1 kasus pelaksanaan belan[a dlluar mekanlsme AÞ8n/AÞ8u,
sebanyak 4 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL hllangnya poLensl penerlmaan/pendapaLan,
sebanyak S kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL penlngkaLan blaya/belan[a, dan
sebanyak 1 kasus laln-laln kelemahan slsLem pengendallan pelaksanaan
anggaran pendapaLan dan belan[a.
10.12 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan ÞerLahanan, pengganggaran 8A 999.06 8elan[a Laln-
laln dlgunakan unLuk keglaLan operasl pengamanan daerah rawan/
pengamanan daerah perbaLasan dan pengamanan pulau Lerluar 1A 2009
senllal 8p399,99 mlllar udak sesual keLenLuan karena keglaLan operasl
LersebuL merupakan keglaLan ruun yang uap Lahun selalu dlanggarkan
dalam 8kA-kL.
ul kemenLerlan kesehaLan, rekanan udak menglnformaslkan bahwa
vaksln 8CC yang dlserahkan merupakan vaksln lmpor senllal 8p43,38
mlllar, sehlngga vaksln 8CC LersebuL udak sesual syaraL kandungan lokal.
ul kemenLerlan Þemuda dan Clah 8aga, dana 8elan[a Laln-laln 1A 2010
senllal 8p4,23 mlllar dlgunakan unLuk keglaLan 1A 2011.
102
10.13 Sebanyak 22 kasus kelemahan sLrukLur pengendallan lnLern, Lerdlrl aLas
sebanyak 4 kasus enuLas udak memlllkl stooJotJ opetouoq ptoceJote
(SCÞ) yang formal unLuk suaLu prosedur aLau keseluruhan prosedur,
sebanyak 16 kasus SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan secara
opumal aLau udak dlLaau, dan
sebanyak 2 kasus SaLuan Þengawas lnLern yang ada udak memadal aLau
udak ber[alan opumal.
10.14 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan Agama, proses dan reallsasl pemberlan banLuan soslal
1A 2009 dan 2010 udak sesual proposal dan peLun[uk Leknls senllal
8p3,34 mlllar.
ul kemenLerlan Luar negerl, pengeluaran blaya represenLasl 1A 2009 dan
2010 pada k!8l Sydney senllal Auu62.86 rlbu (ekulvalen 8pS28,96 [uLa)
udak sesual Sk Menlu no.011/ku/ll/2000/02 Langgal S !anuarl 2000
LenLang pengganuan uang represenLasl bagl dlplomaL yang berLugas
pada perwakllan 8l dl luar negerl.
ul 1nl Au, rumah saklL dl llngkungan kodam lv dan vll belum menerlma
resuLusl pelayanan kesehaLan LerlnLegrasl 1A 2009 dan 2010 darl Þuskes
1nl senllal 8p4S7,0S [uLa.
Penyebab
10.15 kasus-kasus kelemahan SÞl Ler[adl karena perencanaan udak memadal,
pengelola keuangan lalal dalam melaksanakan Lugas dan Langgung [awabnya,
pe[abaL yang berLanggung [awab belum opumal dalam pengawasan dan
pengendallan keglaLan, serLa SCÞ belum memadal.
Rekomendasi
10.16 1erhadap kasus-kasus kelemahan SÞl, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
enuLas yang dlperlksa anLara laln agar melakukan perencanaan dengan leblh
cermaL, menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan dalam pelaksanaan
keglaLan, melaksanakan keglaLan sesual dengan SCÞ, serLa memberl sanksl
sesual keLenLuan yang berlaku kepada pe[abaL yang berLanggung [awab.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
10.17 Pasll pemerlksaan mengungkapkan adanya keudakpaLuhan Lerhadap
keLenLuan perundang-undangan. keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan
perundang-undangan dapaL mengaklbaLkan keruglan negara, poLensl
keruglan negara, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan,
dan keudakefekufan yang dapaL dlllhaL pada 1abel 10.1. 8lnclan [enls Lemuan
pada uap-uap kelompok dapaL dlllhaL pada Lamplran 16 dan rlnclan Lemuan
menuruL enuLas dlsa[lkan pada Lamplran 17.
103
Tabel 10.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat
10.18 8erdasarkan Label dl aLas, hasll pemerlksaan mengungkapkan 309 kasus
senllal 8p3,19 Lrlllun sebagal aklbaL adanya keudakpaLuhan Lerhadap
keLenLuan perundang-undangan yang dlLemukan pada delapan kL.
Kerugian Negara
10.19 keruglan negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang, suraL
berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal aklbaL
perbuaLan melawan hukum balk senga[a maupun lalal.
10.20 kasus-kasus keruglan negara yalLu belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf,
rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan peker[aan, kekurangan
volume peker[aan dan/aLau barang, keleblhan pembayaran selaln kekurangan
volume peker[aan dan aLau barang, pemahalan harga (mark up), dan
penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl. keruglan negara, [uga
mellpuu pembayaran honorarlum dan/aLau blaya per[alanan dlnas ganda
dan/aLau meleblhl sLandar yang dlLeLapkan, speslñkasl barang/[asa yang
dlLerlma udak sesual dengan konLrak, belan[a udak sesual aLau meleblhl
keLenLuan, dan pengemballan pln[aman/pluLang aLau dana bergullr maceL.
10.21 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah pusaL menun[ukkan adanya
keruglan negara sebanyak 110 kasus senllal 8p63,0S mlllar, yang Lerdlrl aLas
sebanyak 11 kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf senllal
8p1,60 mlllar,
sebanyak 2 kasus rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
peker[aan senllal 8p44,01 [uLa,
sebanyak 2S kasus kekurangan volume peker[aan dan/aLau barang senllal
8p4,8S mlllar,
sebanyak 32 kasus keleblhan pembayaran selaln kekurangan volume
peker[aan dan/aLau barang senllal 8p17,87 mlllar,
No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus
Nilai
(Juta Rp)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 keruglan negara 110 63.0SS,7S
2 ÞoLensl keruglan negara 5 1.10S,22
3 kekurangan Þenerlmaan 49 82.074,92
4 AdmlnlsLrasl 94 -
5 keudakhemaLan 18 34.163,66
6 keudakeñslenan 2 2.703,9S
7 keudakefekufan 31 3.014.09S,62
Jumlah 309 3.197.199,16
104
sebanyak 3 kasus pemahalan harga (mark up) senllal 8p30,16 mlllar,
sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl
senllal 8pS43,16 [uLa,
sebanyak 1S kasus pembayaran honorarlum dan/aLau blaya per[alanan
dlnas ganda dan/aLau meleblhl sLandar yang dlLeLapkan senllal 8p1,77
mlllar,
sebanyak 10 kasus speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual
dengan konLrak senllal 8pS,07 mlllar,
sebanyak 9 kasus belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan senllal
8p1,02 mlllar, dan
sebanyak 1 kasus laln-laln keruglan negara senllal 8p102,S9 [uLa.
10.22 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan kesehaLan, kekurangan ñslk dan kesalahan perhlLungan
volume dalam konLrak pengadaan obaL dan alaL kesehaLan 1A 2007 s.d.
2009, mengaklbaLkan keleblhan pembayaran senllal 8p4,78 mlllar.
ul Mabes 1nl-8abek 1nl, bekal mlnyak dan pelumas yang dlLerlma udak
sesual speslñkasl Leknls dalam konLrak 1A 2009, mengaklbaLkan keruglan
negara senllal 8p2,66 mlllar.
10.23 1erhadap kasus-kasus yang mengaklbaLkan keruglan negara LersebuL, senllal
8p4,91 mlllar Lelah dlundaklan[uu oleh kL dengan penyeLoran ke kas negara,
dl anLaranya dua Lerbesar dalam penyeLoran ke kas negara adalah penyeLoran
oleh Mabes 1nl senllal 8p2,98 mlllar, dan kepollslan 8l senllal 8p718,32 [uLa.
Penyebab
10.24 kasus-kasus keruglan negara pada umumnya dlsebabkan rekanan udak
melaksanakan keLenLuan yang Lelah dlsepakau dalam konLrak, dan penerlma
barang udak cermaL dalam melaksanakan pemerlksaan barang yang
dlLerlma. Selaln lLu, para pelaksana lalal dalam pelaksanaan Lugas dan udak
cermaL dalam perencanaan, pengawasan, dan pengendallan.
Rekomendasi
10.25 1erhadap kasus-kasus keruglan negara LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar memberlkan sanksl kepada
pe[abaL yang berLanggung [awab dan memperLanggung[awabkan keruglan
negara dengan menyeLorkan uang ke kas negara aLau melengkapl/
menyerahkan aseL melalul mekanlsme pengenaan ganu keruglan negara
sesual dengan keLenLuan yang berlaku.
105
Potensi Kerugian Negara
10.26 ÞoLensl keruglan negara adalah adanya suaLu perbuaLan melawan hukum balk
senga[a maupun lalal yang dapaL mengaklbaLkan rlslko Ler[adlnya keruglan
dl masa yang akan daLang berupa berkurangnya uang, suraL berharga, dan
barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
10.27 kasus-kasus poLensl keruglan negara mellpuu rekanan belum melaksanakan
kewa[lban pemellharaan barang hasll pengadaan yang Lelah rusak
selama masa pemellharaan, aseL dlkuasal plhak laln, aseL udak dlkeLahul
keberadaannya, dan plhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk
menyerahkan aseL kepada negara.
10.28 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah pusaL menun[ukkan adanya
poLensl keruglan negara sebanyak S kasus senllal 8p1,10 mlllar yang Lerdlrl
aLas
sebanyak 1 kasus rekanan belum melaksanakan kewa[lban pemellharaan
barang hasll pengadaan yang Lelah rusak selama masa pemellharaan,
sebanyak 1 kasus aseL dlkuasal plhak laln senllal 8p7S4,20 [uLa,
sebanyak 1 kasus aseL udak dlkeLahul keberadaannya senllal 8p3S1,02
[uLa,
sebanyak 1 kasus plhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk
menyerahkan aseL kepada negara/daerah, dan
sebanyak 1 kasus laln-laln poLensl keruglan negara.
10.29 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 8kk8n, Lanah seluas 1.2S7 m² senllal 8p7S4,20 [uLa dl !alan Þer[uangan,
Samarlnda dlkuasal oleh plhak laln.
ul kemenLerlan kesehaLan, alaL kesehaLan hasll pengadaan 1A 2007,
2008, dan 2009 senllal 8p3S1,02 [uLa udak dlkeLahul keberadaannya.
ÞÞk Celora 8ung karno, aseL yang dlkelola secara kar[asama dengan Þ1
Þuu-Þuu darl 1ahun 1999 s.d. 2009 belum dlserahkan.
Penyebab
10.30 kasus-kasus poLensl keruglan negara dlsebabkan enuLas udak
memprlorlLaskan penyelesalan Lanah sengkeLa dan mengelola barang secara
Lerub, ÞÞk lemah dalam melaksanakan pengawasan dan pengendallan.
106
Rekomendasi
10.31 1erhadap kasus-kasus poLensl keruglan negara LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar segera
menyelesalkan Lanah sengkeLa, mengelola barang lnvenLarls secara Lerub,
dan memberlkan sanksl kepada pe[abaL yang berLanggung [awab.
Kekurangan Penerimaan
10.32 kekurangan penerlmaan adalah adanya penerlmaan yang sudah men[adl
hak negara LeLapl udak aLau belum masuk ke kas negara karena adanya
unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
10.33 kasus-kasus kekurangan penerlmaan negara mellpuu penerlmaan aLau
denda keLerlambaLan peker[aan belum/udak dlLeLapkan aLau dlpunguL/
dlLerlma/dlseLor ke kas negara, penggunaan langsung penerlmaan negara,
dan pengenaan Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah darl keLenLuan.
10.34 Pasll pemerlksaan aLas belan[a negara menun[ukkan adanya kekurangan
penerlmaan negara sebanyak 49 kasus senllal 8p82,07 mlllar yang Lerdlrl
aLas
sebanyak 46 kasus kekurangan penerlmaan negara Lermasuk denda
keLerlambaLan peker[aan yang belum/udak dlLeLapkan/dlpunguL/
dlLerlma/dlseLor ke kas negara senllal 8p80,91 mlllar,
sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerlmaan negara/daerah
senllal 8p967,67 [uLa, dan
sebanyak 1 kasus pengenaan Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah darl
keLenLuan senllal 8p196,07 [uLa.
10.3S kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan kesehaLan, denda keLerlambaLan aLas penyelesalan
peker[aan pengadaan barang dan [asa 1A 2007-2009 belum dlpunguL
senllal 8p61,04 mlllar.
ul uÞ8, denda keLerlambaLan aLas penyelesalan peker[aan renovasl
8umah !abaLan AnggoLa uÞ8 1A 2009 belum dlpunguL senllal 8pS,22
mlllar, dan pa[ak penghasllan aLas pembayaran Lunal Lun[angan kredlL
pembellan kendaraan bermoLor perorangan AnggoLa uÞ8 belum
dlpunguL senllal 8p4,46 mlllar.
ul kemenLerlan 1enaga ker[a dan 1ransmlgrasl, Þn8Þ fungslonal darl
ker[asama penyelenggaraan pendldlkan dan pelauhan dan Þn8Þ aLas
keglaLan pemerlksaan/pengu[lan hlglene perusahaan, keselamaLan, dan
kesehaLan ker[a 1A 2009 dan 2010 kurang dlseLor ke kas negara senllal
8p1,40 mlllar.
107
10.36 1erhadap kasus-kasus yang mengaklbaLkan kekurangan penerlmaan
negara LersebuL, senllal 8p1,0S mlllar Lelah dlundaklan[uu oleh kL dengan
penyeLoran ke kas negara. ÞenyeLoran Lerbesar dllakukan oleh kepollslan 8l
senllal 8p789,69 [uLa.
Penyebab
10.37 kasus-kasus kekurangan penerlmaan pada umumnya Ler[adl karena
rekanan udak memaLuhl keLenLuan dalam per[an[lan yang Lelah dlsepakau,
bendahara pengeluaran dan panlua penerlma barang udak berpedoman
pada keLenLuan yang berlaku, penanggung [awab keglaLan lemah dalam
melaksanakan pengawasan dan pengendallan.
Rekomendasi
10.38 1erhadap kasus-kasus kekurangan penerlmaan LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar
memberlkan sanksl kepada pe[abaL yang berLanggung [awab, memerlnLahkan
bendahara pengeluaran dan panlua penerlma barang unLuk melaksanakan
keglaLan sesual keLenLuan, menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan,
dan melakukan upaya penarlkan aLas kekurangan penerlmaan yang Ler[adl
dan menyeLorkannya ke kas negara.
Administrasi
10.39 1emuan admlnlsLrasl mengungkap adanya penylmpangan Lerhadap
keLenLuan yang berlaku balk dalam pelaksanaan anggaran aLau pengelolaan
aseL maupun operaslonal perusahaan, LeLapl penylmpangan LersebuL udak
mengaklbaLkan keruglan negara, udak mengurangl hak negara, kekurangan
penerlmaan negara, udak menghambaL program enuLas, dan udak
mengandung unsur lndlkasl undak pldana.
10.40 kasus-kasus penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf mellpuu
perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld),
peker[aan dllaksanakan mendahulul konLrak aLau peneLapan anggaran,
proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan LeLapl udak
menlmbulkan keruglan negara, pemecahan konLrak unLuk menghlndarl
pelelangan, pelaksanaan lelang secara proforma, dan penylmpangan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan bldang pengelolaan barang mlllk
negara.
10.41 Þenylmpangan admlnlsLrasl [uga mellpuu penylmpangan Lerhadap
peraLuran perundang-undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan,
perLambangan, perpa[akan dan laln-laln, pembenLukan cadangan
pluLang, perhlLungan penyusuLan aLau amorusasl udak sesual keLenLuan,
penyeLoran penerlmaan negara meleblhl baLas wakLu yang dlLenLukan,
perLanggung[awaban/penyeLoran uang persedlaan meleblhl baLas wakLu
yang dlLenLukan, dan slsa kas dl bendahara pengeluaran akhlr Lahun anggaran
LerlambaL/ belum dlseLor ke kas negara.
108
10.42 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah pusaL menun[ukkan bahwa
keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan penylmpangan admlnlsLrasl sebanyak
94 kasus yang Lerdlrl aLas
sebanyak 27 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap/udak valld),
sebanyak 3 kasus peker[aan dllaksanakan mendahulul konLrak aLau
peneLapan anggaran,
sebanyak 23 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
LeLapl udak menlmbulkan keruglan negara,
sebanyak 4 kasus pemecahan konLrak unLuk menghlndarl pelelangan,
sebanyak 2 kasus pelaksanaan lelang secara proforma,
sebanyak 19 kasus penylmpangan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan bldang pengelolaan perlengkapan aLau barang mlllk negara,
sebanyak 2 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan,
perpa[akan, dan laln-laln,
sebanyak 1 kasus pembenLukan cadangan pluLang, perhlLungan
penyusuLan aLau amorusasl udak sesual keLenLuan,
sebanyak 4 kasus penyeLoran penerlmaan negara/daerah meleblhl baLas
wakLu yang dlLenLukan,
sebanyak 1 kasus perLanggung[awaban/penyeLoran uang persedlaan
meleblhl baLas wakLu yang dlLenLukan,
sebanyak 7 kasus slsa kas dl bendahara pengeluaran akhlr Lahun anggaran
LerlambaL/belum dlseLor ke kas negara, dan
sebanyak 1 kasus laln-laln penylmpangan admlnlsLrasl.
10.43 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan Soslal, penyaluran dana banLuan unLuk rumah korban
konßlk 1A 2010 senllal 8p174,76 mlllar belum dlLerlma penerlma
banLuan.
ul kemenLerlan kesehaLan, hasll pengadaan barang 1A 2009 senllal
8p79,8S mlllar dlslmpan dl gudang rekanan Lanpa berlLa acara
penlupan, dasar penaglhan klalm blaya dlsLrlbusl obaL dan bahan habls
pakal 1A 2009 oleh Þ1 Þl (Þersero) senllal 8p27,89 mlllar belum dapaL
dlperLanggung[awabkan, proses pengadaan kendaraan khusus ambulans
dan peralaLan kesehaLan 1A 2009 senllal 8p22,20 mlllar udak Lransparan.
109
ul 8adan naslonal Þenanggulangan 8encana (8nÞ8), proses penenLuan
penyedla barang/[asa 1A 2009 senllal 8p26,00 mlllar belum sesual
keppres no. 80 1ahun 2003 dan perubahannya.
Penyebab
10.44 kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl Ler[adl karena pelaksana lalal
dalam melaksanakan Lugas, kurang cermaL dalam melaksanakan keLenLuan
pelaksanaan anggaran, serLa lemahnya pengawasan dan pengendallan para
penanggung [awab keglaLan.
Rekomendasi
10.4S 1erhadap kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar melengkapl
buku perLanggung[awaban, memberlkan Leguran dan aLau sanksl kepada
pe[abaL pelaksana yang udak menaau keLenLuan perundang-undangan.
kendakhematan
10.46 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lnpuL
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kuallLas yang meleblhl kebuLuhan, dan harga yang leblh mahal dlbandlngkan
dengan pengadaan serupa pada wakLu yang sama.
10.47 kasus-kasus keudakhemaLan mellpuu pengadaan barang dan [asa meleblhl
kebuLuhan dan pemborosan keuangan negara aLau kemahalan harga.
10.48 Pasll pemerlksaan aLas belan[a negara menun[ukkan bahwa LerdapaL
keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keudakhemaLan sebanyak 18 kasus
senllal 8p34,16 mlllar yang Lerdlrl aLas
sebanyak 4 kasus pengadaan barang dan [asa meleblhl kebuLuhan senllal
8p24,74 mlllar, dan
sebanyak 14 kasus pemborosan keuangan negara aLau kemahalan harga
senllal 8p9,42 mlllar.
10.49 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul uÞ8, kemahalan harga renovasl 8umah !abaLan AnggoLa uÞ8 1A 2009
senllal 8p3,13 mlllar sehlngga membebanl keuangan negara. kemahalan
harga pengadaan foLo copy, fllloq cobloet, dan mesln penghancur 1A
2009 senllal 8p483,04 [uLa.
ul 1nl Au, kepala Lembaga larmasl AngkaLan udara (kalañau) menerlma
bahan baku obaL senllal 8p184,8S [uLa darl kepala ulnas kesehaLan
AngkaLan udara (kadlskesau) unLuk produksl 1ahun 2010, sedangkan
slsa persedlaan bahan baku dl gudang maslh mencukupl, sehlngga
persedlaan bahan baku obaL meleblhl kebuLuhan yang sebenarnya.
110
ul kemenLerlan kesehaLan, pengadaan Makanan Þengganu Alr Susu lbu
(MÞ ASl) 1A 2007 udak Lersalurkan dan kedaluwarsa senllal 8p168,73[uLa.
Penyebab
10.50 kasus-kasus keudakhemaLan Ler[adl karena adanya kecenderungan
memanfaaLkan anggaran Lanpa memperhaukan prlnslp ekonomls, enuLas
kurang cermaL merencanakan keglaLan, serLa lemahnya pengawasan dan
pengendallan.
Rekomendasi
10.51 1erhadap kasus-kasus keudakhemaLan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar memberlkan sanksl kepada
pe[abaL yang berLanggung [awab, dan menlngkaLkan pengawasan dan
pengendallan.
kendakehs|enan
10.52 1emuan mengenal keudakeñslenan mengungkap permasalahan raslo
penggunaan kuanuLas/kuallLas lnpuL unLuk saLu saLuan ouLpuL yang leblh
besar darl seharusnya.
10.S3 kasus-kasus keudakeñslenan mellpuu penggunaan kuanuLas lnpuL unLuk
saLu saLuan ouLpuL leblh besar/unggl darl yang seharusnya, dan penggunaan
kuallLas lnpuL unLuk saLu saLuan ouLpuL leblh unggl darl seharusnya.
10.S4 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah pusaL menun[ukkan 2 kasus
keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keudakeñslenan senllal 8p2,70 mlllar
yaknl penggunaan kuanuLas lnpuL unLuk saLu saLuan ouLpuL leblh besar/
unggl darl yang seharusnya.
10.55 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul 1nl AL-8S ur. 8amelan, pembuaLan obaL [adl sLandar lañal 1A 2009
yang dllaksanakan secara swakelola menghablskan blaya leblh unggl [lka
dlbandlngkan dengan harga obaL generlk unLuk [enls yang sama menuruL
kepuLusan MenLerl kesehaLan no. 302/ Menkes/Sk/lll/2008, sehlngga
pembuaLan C!SL udak eñslen senllal 8p2,21 mlllar.
ul 1nl Au-8S ur. Salamun, pemberlan uang lauk pauk (uLÞ) paslen 1A
2009 dan 2010 meleblhl Larlf senllal 8p490,61 [uLa.
Penyebab
10.56 kasus-kasus keudakeñslenan Ler[adl karena enuLas meneLapkan kebl[akan
pengadaan obaL secara swakelola, dan merencanakan anggaran uLÞ
yang cenderung dlperbesar dengan memperhlLungkan [umlah penderlLa
berdasarkan hasll perkallan [umlah LempaL udur dengan lndeks uLÞ dan
[umlah harl dalam seLahun.
111
Rekomendasi
10.S7 1erhadap kasus-kasus keudakeñslenan LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa agar membuaL ka[lan
komprehenslf mengenal penlngkaLan eñslensl dalam pembuaLan obaL
[adl secara swakelola dan membuaL rencana anggaran uLÞ paslen sesual
keLenLuan.
kendakefeknfan
10.S8 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll
(outcome), yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak
memberlkan manfaaL aLau hasll yang dlrencanakan serLa fungsl lnsLansl yang
udak opumal sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
10.S9 kasus-kasus keudakefekufan mellpuu penggunaan anggaran udak LepaL
sasaran/udak sesual perunLukan, pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak
sesual dengan rencana yang dlLeLapkan, barang yang dlbell belum/udak
dapaL dlmanfaaLkan, pemanfaaLan barang/[asa udak berdampak pada
pencapalan Lu[uan organlsasl, pelaksanaan keglaLan LerlambaL/LerhambaL
sehlngga mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl, pelayanan kepada
masyarakaL udak opumal, dan fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
10.60 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah pusaL menun[ukkan 31 kasus
keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keudakefekufan senllal 8p3,01 Lrlllun
Lerdlrl aLas
sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual
perunLukan senllal 8p22,63 mlllar,
sebanyak 6 kasus pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual
dengan rencana yang dlLeLapkan senllal 8p13,0S mlllar,
sebanyak 17 kasus barang yang dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan
senllal 8p264,49 mlllar,
sebanyak 4 kasus pelaksanaan keglaLan LerlambaL/LerhambaL sehlngga
mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl senllal 8p2,71 Lrlllun, dan
sebanyak 2 kasus pelayanan kepada masyarakaL udak opumal senllal
8pS94,16 [uLa.
10.61 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan Þerumahan 8akyaL, penyaluran dana faslllLas llkuldlLas
pemblayaan perumahan 1A 2010 senllal 8p2,68 Lrlllun belum dlsalurkan
kepada masyarakaL berpenghasllan menengah bawah dan masyarakaL
berpenghasllan rendah.
112
ul kemenLerlan kesehaLan, alaL kesehaLan hasll pengadaan 1A 2007 s.d.
2010 senllal 8p216,49 mlllar dan vaksln reguler hasll pengadaan 1A 2007
s.d. 2009 senllal 8p3,30 mlllar belum dlmanfaaLkan.
ul Mabes 1nl-8abek, bekal alaL perlengkapan saLuan 1A 2009 senllal
8p30,26 mlllar LerlambaL dldlsLrlbuslkan kepada uenma Þasukan
Þemukul 8eaksl CepaL.
ul 8nÞ8, dana banLuan bencana senllal 8p22,63 mlllar dlgunakan unLuk
keglaLan operaslonal dan pengadaan barang/[asa.
Penyebab
10.62 kasus-kasus keudakefekufan Ler[adl karena enuLas membuaL perencanaan
yang kurang memadal, meneLapkan kebl[akan yang menyalahl keLenLuan
anggaran, ÞÞk dan penanggung [awab keglaLan lalal dalam melaksanakan
Lugas dan Langgung [awabnya, serLa pengawasan dan pengendallan belum
opumal.
Rekomendasi
10.63 1erhadap kasus-kasus keudakefekufan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar merencanakan keglaLan
secara cermaL, memberlkan sanksl kepada ÞÞk dan penanggung [awab
keglaLan yang lalal dalam melaksanakan Lugas dan Langgung [awabnya,
segera memanfaaLkan barang hasll pengadaan dan menlngkaLkan fungsl
pengawasan dan pengendallan.
Belanja Pemerintah Daerah
10.64 ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah melakukan pemerlksaan aLas
belan[a aLau pengadaan barang/[asa pemerlnLah daerah 1A 2008, 2009,
dan 2010 pada 29 ob[ek pemerlksaan. Þemerlksaan dllakukan aLas 19 ob[ek
pemerlksaan pada pemerlnLahan provlnsl/kabupaLen/koLa. Selaln lLu,
pemerlksaan aLas belan[a daerah [uga mellpuu 1 ob[ek pemerlksaan aLas
belan[a lnfrasLrukLur 1A 2009 dan 2010 pada ÞemerlnLah Þrovlnsl kallmanLan
1lmur dan 9 ob[ek pemerlksaan perLanggung[awaban pengelolaan keuangan
kepada parLal polluk 1A 2010 pada pemerlnLahan provlnsl/kabupaLen/koLa
dl Þrovlnsl !ambl.
10.65 Cakupan pemerlksaan belan[a daerah pada 29 ob[ek pemerlksaan adalah
senllal 8pS,S2 Lrlllun darl reallsasl anggaran belan[a senllal 8p10,09 Lrlllun.
1oLal Lemuan pemerlksaan pelaksanaan belan[a pemerlnLah daerah senllal
8p187,39 mlllar merupakan Lemuan keruglan, poLensl keruglan, kekurangan
penerlmaan, keudakhemaLan, dan keudakefekufan yang memlllkl lmpllkasl
nllal ruplah. Selaln Lemuan LersebuL, LerdapaL Lemuan kelemahan SÞl dan
admlnlsLrasl yang udak memlllkl lmpllkasl nllal uang LeLapl memerlukan
perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
113
Tujuan Pemeriksaan
10.66 Secara umum, Lu[uan pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah daerah adalah
unLuk menllal apakah
SÞl yang LerkalL dengan program/keglaLan yang dlperlksa Lelah dlrancang
dan dllaksanakan secara memadal, dan
pelaksanaan pengadaan barang/[asa Lelah memaLuhl peraLuran
perundang-undangan yang LerkalL Lermasuk penerapan prlnslp
ekonomls, eñslen, dan efekuf.
Hasil Pemeriksaan
10.67 Pasll pemerlksaan 8Þk dlLuangkan dalam LPÞ dan dlnyaLakan dalam se[umlah
Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas saLu aLau leblh kasus. Cleh karena
lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus yang merupakan baglan darl
Lemuan. Sesual dengan Lu[uan pemerlksaannya, hasll pemerlksaan dlsa[lkan
dalam dua kaLegorl yalLu SÞl dan kepaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan.
Sistem Pengendalian Intern
10.68 Þemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah daerah berLu[uan anLara laln menllal
apakah SÞl enuLas Lerhadap belan[a daerah maupun Lerhadap pengamanan
aLas kekayaan daerah Lelah dlrancang dan dllaksanakan secara memadal
unLuk mencapal Lu[uan pengendallan.
10.69 Pasll evaluasl SÞl aLas pemerlksaan belan[a pemerlnLah daerah menun[ukkan
adanya kelemahan aLas aspek perencanaan, pembukuan dan pencaLaLan,
serLa pelaporan dan perLanggung[awaban yang menlmbulkan kasus-kasus
kelemahan SÞl yang dlkelompokkan sebagal berlkuL:
kelemahan aLas slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan,
kelemahan aLas slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan
dan belan[a, dan
kelemahan aLas sLrukLur pengendallan lnLern.
10.70 Pasll pemerlksaan aLas belan[a daerah pada 29 ob[ek pemerlksaan
menun[ukkan adanya 27 kasus kelemahan SÞl, yalLu 10 kasus kelemahan
slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan, 1S kasus kelemahan slsLem
pengendallan pelaksanaan anggaran pendapaLan dan belan[a, serLa 2 kasus
kelemahan sLrukLur pengendallan lnLern. 8lnclan [enls Lemuan pada uap-
uap kelompok Lemuan kelemahan SÞl dlsa[lkan pada Lamplran 18.
114
10.71 Sebanyak 10 kasus kelemahan slsLem pengendallan akunLansl dan pelaporan,
Lerdlrl aLas
sebanyak 3 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
dan
sebanyak 7 kasus proses penyusunan laporan keuangan udak sesual
keLenLuan.
10.72 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya Ler[adl dl kabupaLen 8ungo, kerlncl,
Sarolangun, 1an[ung !abung 8araL, 1ebo, dan koLa !ambl, Þrovlnsl !ambl,
laporan perLanggung[awaban penggunaan banLuan keuangan kepada parLal
polluk 1A 2010 belum dllakukan sesual keLenLuan sehlngga udak lnformauf
dan akunLabel.
10.73 Sebanyak 1S kasus kelemahan slsLem pengendallan pelaksanaan anggaran,
Lerdlrl aLas
sebanyak 6 kasus perencanaan keglaLan udak memadal,
sebanyak 4 kasus penylmpangan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan bldang Leknls LerLenLu aLau keLenLuan lnLern organlsasl yang
dlperlksa LenLang pendapaLan dan belan[a,
sebanyak 1 kasus pelaksanaan belan[a dl luar mekanlsme AÞ8u, dan
sebanyak 4 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL penlngkaLan blaya/belan[a.
10.74 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya Ler[adl dl kabupaLen Maros, Þrovlnsl
Sulawesl SelaLan, AÞ8u 1A 2009 dan 2010 dlsusun berdasarkan pada
perencanaan yang udak reallsus dan udak berdasarkan kemampuan
keuangan daerah sehlngga udak dapaL mendukung pengeluaran daerah.
10.7S Sebanyak 2 kasus kelemahan sLrukLur pengendallan lnLern, yalLu kasus
berupa permasalahan enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk suaLu
prosedur aLau keseluruhan prosedur.
10.76 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya Ler[adl dl kabupaLen kepulauan Meranu,
Þrovlnsl 8lau, LaLa cara pemberlan banLuan soslal dan Lun[angan perumahan
plmplnan dan anggoLa uÞ8u belum dlLeLapkan dalam suaLu kepuLusan
kepala daerah.
Penyebab
10.77 kasus-kasus kelemahan SÞl pada umumnya dlsebabkan pe[abaL yang
berLanggung [awab belum sepenuhnya memahaml keLenLuan yang berlaku,
kurang cermaL dalam perencanaan dan pelaksanaan Lugas, pengawasan dan
pengendallan keglaLan lemah, serLa kepala daerah kurang cermaL dalam
membuaL aLuran pelaksanaan anggaran.
115
Rekomendasi
10.78 1erhadap kasus-kasus kelemahan SÞl LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada kepala daerah agar memberlkan sanksl kepada pe[abaL yang
berLanggung [awab dalam perencanaan dan pelaksanaan keglaLan,
menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan dalam pelaksanaan keglaLan,
serLa segera membuaL aLuran pelaksanaan anggaran.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
10.79 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pada 29 ob[ek pemerlksaan menun[ukkan
adanya 370 kasus keudakpaLuhan senllal 8p187,39 mlllar yang mellpuu
keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keruglan daerah, poLensl keruglan
daerah, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan, dan
keudakefekufan seperu dlsa[lkan pada 1abel 10.2. 8lnclan [enls Lemuan
pada uap-uap kelompok dapaL dlllhaL pada Lamplran 19 dan rlnclan Lemuan
menuruL enuLas dlsa[lkan pada Lamplran 20.
Tabel 10.2. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah
Kerugian Daerah
10.80 keruglan daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang,
suraL berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal aklbaL
perbuaLan melawan hukum balk senga[a maupun lalal.
10.81 Þada umumnya kasus-kasus keruglan daerah yalLu belan[a aLau pengadaan
barang/[asa ñkuf, rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
peker[aan, kekurangan volume peker[aan dan/aLau barang, keleblhan
pembayaran selaln kekurangan volume peker[aan dan aLau barang, pemahalan
harga (mark up), dan penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl.
10.82 keruglan daerah [uga mellpuu pembayaran honorarlum dan/aLau blaya
per[alanan dlnas ganda dan/aLau meleblhl sLandar yang dlLeLapkan,
speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual dengan konLrak, dan
belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan.
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai (juta Rp)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 keruglan uaerah 155 S2.248,SS
2 ÞoLensl keruglan uaerah 28 17.398,81
3 kekurangan Þenerlmaan 44 17.163,86
4 AdmlnlsLrasl 87 -
5 keudakhemaLan 15 16.88S,S3
6 keudakefekufan 41 83.700,26
Jumlah 370 187.397,02
116
10.83 Pasll pemerlksaan aLas belan[a daerah menun[ukkan adanya keruglan daerah
sebanyak 1SS kasus senllal 8pS2,24 mlllar, Lerdlrl aLas
sebanyak 10 kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf senllal
8p3,64 mlllar,
sebanyak 3 kasus rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
peker[aan senllal 8p327,22 [uLa,
sebanyak 67 kasus kekurangan volume peker[aan dan/aLau barang senllal
8p34,40 mlllar,
sebanyak 41 kasus keleblhan pembayaran selaln kekurangan volume
peker[aan dan/aLau barang senllal 8pS,84 mlllar,
sebanyak 12 kasus pemahalan harga (mark up) senllal 8pS,21 mlllar,
sebanyak 7 kasus penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl
senllal 8p1,62 mlllar,
sebanyak 8 kasus pembayaran honorarlum dan/aLau blaya per[alanan
dlnas ganda dan/aLau meleblhl sLandar yang dlLeLapkan senllal 8p394,13
[uLa,
sebanyak 2 kasus speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual
dengan konLrak senllal 8pS0,96 [uLa,
sebanyak 4 kasus belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan senllal
8pS28,16 [uLa, dan
sebanyak 1 kasus keruglan daerah lalnnya senllal 8p206,77 [uLa.
10.84 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þrovlnsl kallmanLan 1lmur, kekurangan volume pada pelaksanaan
48 pakeL peker[aan lnfrasLrukLur dl ulnas Þu 1A 2009 dan 2010 senllal
8pS,87 mlllar yang Lelah dlreallsaslkan pembayarannya. Selaln lLu,
LerdapaL pemahalan aLas harga saLuan peker[aan pengadaan uang
pancang pengembangan pollkllnlk dan pengembangan gedung private
wloqs dlbandlngkan dengan harga saLuan pokok keglaLan ÞemerlnLah
Þrovlnsl kallmanLan 1lmur 1A 2009 senllal 8p4,00 mlllar.
ul kabupaLen kepulauan Sula, Þrovlnsl Maluku uLara, LerdapaL
kekurangan volume uga peker[aan konsLruksl [alan pada ulnas Þu 1A
2010 senllal 8p2,40 mlllar.
ul Þrovlnsl 8lau, kekurangan volume Þeker[aan LasLon Lapls Aus (ospbolt
cooctete weotloq cootse), LasLon Lapls AnLara (ospbolt cooctete bloJet
course), dan Lapls AgregaL kelas 8 pada peker[aan pembangunan !alan
8agan !aya-Lnok-kuala Lnok 1A 2009 dan 2010 senllal 8p1,76 mlllar.
117
10.8S ALas kasus-kasus yang mengaklbaLkan keruglan daerah LersebuL, senllal
8p1,31 mlllar Lelah dlundaklan[uu pemerlnLah daerah dengan penyerahan
aseL aLau penyeLoran ke kas daerah, yalLu dl anLaranya dl ÞemerlnLah
Þrovlnsl SumaLera uLara senllal 8pS00,00 [uLa, 8adan Þenanaman Modal
dan Þromosl ÞemerlnLah Þrovlnsl ukl !akarLa senllal 8p497,S8 [uLa, dan
ÞemerlnLah Þrovlnsl 8lau senllal 8p177,10 [uLa.
Penyebab
10.86 kasus-kasus keruglan daerah pada umumnya dlsebabkan para pelaksana
lalal dalam men[alankan Lugasnya dan dengan senga[a membuaL berlLa
acara presLasl peker[aan yang udak sesual dengan kenyaLaan dl lapangan,
udak cermaL dalam penyusunan PÞS, serLa kurangnya pengawasan dan
pengendallan penanggung [awab keglaLan.
Rekomendasi
10.87 1erhadap kasus-kasus keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keruglan daerah
LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa
anLara laln agar memberlkan sanksl kepada para pelaksana yang lalal dalam
men[alankan Lugasnya dan memperLanggung[awabkan keruglan daerah
yang Ler[adl dengan cara menyeLor uang ke kas daerah aLau melengkapl
peker[aan melalul mekanlsme pengenaan ganu keruglan daerah sesual
dengan keLenLuan yang berlaku.
Potensi Kerugian Daerah
10.88 ÞoLensl keruglan daerah adalah adanya suaLu perbuaLan melawan hukum
balk senga[a maupun lalal yang dapaL mengaklbaLkan rlslko Ler[adlnya
keruglan dl masa yang akan daLang berupa berkurangnya uang, suraL
berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
10.89 Þada umumnya kasus-kasus poLensl keruglan daerah mellpuu keleblhan
pembayaran dalam pengadaan barang/[asa LeLapl pembayaran peker[aan
belum dllakukan sebaglan aLau seluruhnya, rekanan belum melaksanakan
kewa[lban pemellharaan barang hasll pengadaan yang Lelah rusak selama
masa pemellharaan, aseL dlkuasal plhak laln, pemberlan [amlnan dalam
pelaksanaan peker[aan, pemanfaaLan barang dan pemberlan faslllLas udak
sesual keLenLuan, serLa plhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk
menyerahkan aseL kepada daerah.
10.90 Pasll pemerlksaan aLas belan[a daerah menun[ukkan LerdapaL 28 kasus yang
berpoLensl meruglkan daerah senllal 8p17,39 mlllar, Lerdlrl aLas
sebanyak 21 kasus keleblhan pembayaran dalam pengadaan barang/[asa
LeLapl pembayaran peker[aan belum dllakukan sebaglan aLau seluruhnya
senllal 8p9,80 mlllar,
118
sebanyak 2 kasus rekanan belum melaksanakan kewa[lban pemellharaan
barang hasll pengadaan yang Lelah rusak selama masa pemellharaan
senllal 8p9S,37 [uLa,
sebanyak 1 kasus aseL dlkuasal plhak laln,
sebanyak 1 kasus pemberlan [amlnan dalam pelaksanaan peker[aan,
pemanfaaLan barang dan pemberlan faslllLas udak sesual keLenLuan
senllal 8p36,S8 [uLa,
sebanyak 1 kasus plhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk
menyerahkan aseL kepada daerah senllal 8p887,01 [uLa, dan
sebanyak 2 kasus poLensl keruglan daerah lalnnya senllal 8p6,S7 mlllar.
10.91 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kabupaLen kepulauan Sula, Þrovlnsl Maluku uLara, LerdapaL rekenlng
penerlma dana pada ulnas Þu 1A 2010 yang udak sesual konLrak sehlngga
pencalran SÞ2u senllal 8pS,97 mlllar berpeluang dlLerlma oleh plhak
yang udak berhak dan berlslko adanya klalm oleh rekanan dl kemudlan
harl.
ul kabupaLen Palmahera 1lmur, Þrovlnsl Maluku uLara, LerdapaL
peker[aan lapls agregaL kelas C unLuk keglaLan penlngkaLan [alan aspal
ke hoLmlx pada ulnas Þu 1A 2010 senllal 8p2,0S mlllar udak sesual
speslñkasl konLrak namun baru dllakukan pembayaran sebesar 3S° darl
harga konLrak. Selaln lLu, LerdapaL kekurangan volume pada beberapa
pakeL peker[aan pada ulnas Þerhubungan dan 1elekomunlkasl 1A 2010
senllal 8p1,77 mlllar yang belum sepenuhnya dlbayarkan.
10.92 ALas kasus-kasus yang mengaklbaLkan poLensl keruglan daerah LersebuL,
senllal 8p278,21 [uLa Lelah dlundaklan[uu pemerlnLah daerah dengan
penyerahan aseL aLau penyeLoran ke kas daerah, yalLu dl ÞemerlnLah Þrovlnsl
8lau senllal 8p271,46 [uLa dan ÞemerlnLah kabupaLen 8okan Plllr senllal
8p6,7S [uLa.
Penyebab
10.93 kasus-kasus poLensl keruglan daerah pada umumnya dlsebabkan konLrakLor
udak menyelesalkan peker[aan sesual konLrak yang Lelah dlsepakau, para
pelaksana lalal dalam men[alankan Lugasnya, serLa lemahnya pengawasan
dan pengendallan penanggung [awab proyek.
Rekomendasi
10.94 1erhadap kasus-kasus poLensl keruglan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar memberlkan sanksl
kepada konLrakLor sesual keLenLuan dan memperLanggung[awabkan
keudaksesualan speslñkasl konLrak, memberl sanksl kepada pelaksana dan
119
memperLanggung[awabkan uang/barang yang berpoLensl hllang, serLa
melakukan langkah-langkah unLuk mencegah Ler[adlnya keruglan daerah.
Kekurangan Penerimaan
10.9S kekurangan penerlmaan adalah adanya penerlmaan yang sudah men[adl hak
negara/daerah LeLapl udak aLau belum masuk ke kas negara/daerah karena
adanya unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
10.96 Þada umumnya kasus kekurangan penerlmaan LersebuL yalLu penerlmaan
negara/daerah Lermasuk denda keLerlambaLan peker[aan yang belum/udak
dlLeLapkan/dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas daerah.
10.97 Pasll pemerlksaan aLas belan[a pemerlnLah daerah menun[ukkan LerdapaL 44
kasus kekurangan penerlmaan daerah, yalLu penerlmaan daerah Lermasuk
denda keLerlambaLan peker[aan yang belum/udak dlLeLapkan/dlpunguL/
dlLerlma/dlseLor ke kas daerah senllal 8p17,16 mlllar.
10.98 kasus-kasus kekurangan penerlmaan daerah dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kabupaLen 8engkalls, Þrovlnsl 8lau, LerdapaL denda keLerlambaLan
yang belum dlkenakan senllal 8p3,31 mlllar dan [amlnan pelaksanaan
yang belum dlLarlk ke kas daerah senllal 8p1,68 mlllar pada 22 pakeL
peker[aan dan S pakeL [asa konsulLansl 1A 2009 dan 2010 pada ulnas
8lna Marga.
ul kabupaLen Maros, Þrovlnsl Sulawesl SelaLan, sanksl keLerlambaLan
pembangunan Þasar 1radlslonal Modern 8uml Salewangang 1A 2009
dan 2010 belum dlkenakan, sehlngga denda senllal 8p2,S9 mlllar belum
dlLerlma.
ul Þrovlnsl ukl !akarLa, ulnas Þerhubungan, pelaksanaan uga keglaLan
dalam program penlngkaLan angkuLan umum penyeberangan darl dan
ke Þulau Serlbu 1A 2010 belum selesal dan aLas keLerlambaLan LersebuL
rekanan belum dlkenakan denda keLerlambaLan senllal 8p2,SS mlllar.
10.99 ALas kasus-kasus yang mengaklbaLkan kekurangan penerlmaan negara/
daerah LersebuL, Lelah dlundaklan[uu dengan penyeLoran ke kas daerah
senllal 8p836,34 [uLa, yalLu dl anLaranya dl ÞemerlnLah Þrovlnsl Þrovlnsl
8lau senllal 8p426,S0 [uLa, ÞemerlnLah Þrovlnsl kallmanLan 1lmur senllal
8p127,37 [uLa, dan ulnas Þerhubungan ÞemerlnLah Þrovlnsl ukl !akarLa
senllal 8p121,16 [uLa.
Penyebab
10.100 kasus-kasus kekurangan penerlmaan pada umumnya dlsebabkan konLrakLor
udak menyelesalkan peker[aan sesual wakLu yang dlrencanakan, pelaksana
keglaLan dan bendaharawan kurang cermaL dalam melaksanakan Lugas dan
Langgung [awabnya, serLa lemahnya pengawasan dan pengendallan para
pelaksana keglaLan dan plmplnan SkÞu.
120
Rekomendasi
10.101 1erhadap kasus-kasus kekurangan penerlmaan LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar segera
menaglh kekurangan penerlmaan dan segera menyeLorkannya ke kas daerah.
Administrasi
10.102 1emuan admlnlsLrasl mengungkap adanya penylmpangan Lerhadap
keLenLuan yang berlaku balk dalam pelaksanaan anggaran aLau pengelolaan
aseL, LeLapl penylmpangan LersebuL udak mengaklbaLkan keruglan daerah
aLau poLensl keruglan daerah, udak mengurangl hak daerah, kekurangan
penerlmaan, udak menghambaL program enuLas, dan udak mengandung
unsur lndlkasl undak pldana.
10.103 kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl mellpuu perLanggung[awaban
udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld), peker[aan dllaksanakan
mendahulul konLrak aLau peneLapan anggaran, proses pengadaan barang/
[asa udak sesual keLenLuan LeLapl udak menlmbulkan keruglan daerah,
pemecahan konLrak unLuk menghlndarl pelelangan, pelaksanaan lelang
secara proforma.
10.104 Þenylmpangan admlnlsLrasl [uga mellpuu penylmpangan Lerhadap peraLuran
perundang-undangan bldang pengelolaan perlengkapan aLau barang mlllk
daerah, perLanggung[awaban/penyeLoran uang persedlaan meleblhl baLas
wakLu yang dlLenLukan, slsa kas dl bendahara pengeluaran akhlr Lahun
anggaran belum dlseLor ke kas daerah, dan kepemlllkan aseL udak/belum
dldukung buku yang sah.
10.105 Pasll pemerlksaan aLas belan[a daerah menun[ukkan LerdapaL 87 kasus
penylmpangan admlnlsLrasl, Lerdlrl aLas
sebanyak S7 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap aLau udak valld),
sebanyak 1 kasus peker[aan dllaksanakan mendahulul konLrak aLau
peneLapan anggaran,
sebanyak 19 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
LeLapl udak menlmbulkan keruglan daerah,
sebanyak 1 kasus pemecahan konLrak unLuk menghlndarl pelelangan,
sebanyak 1 kasus pelaksanaan lelang secara proforma,
sebanyak 2 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang pengelolaan perlengkapan aLau barang mlllk daerah,
sebanyak 1 kasus perLanggung[awaban/penyeLoran uang persedlaan
meleblhl baLas wakLu yang dlLenLukan,
121
sebanyak 1 kasus slsa kas dl bendahara pengeluaran akhlr Lahun anggaran
belum dlseLor ke kas daerah,
sebanyak 3 kasus kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang sah,
dan
sebanyak 1 kasus penylmpangan admlnlsLrasl lalnnya.
10.106 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kabupaLen Palmahera 1lmur, Þrovlnsl Maluku uLara, proses
perpan[angan wakLu penyelesalan pelaksanaan 26 konLrak peker[aan
pada ulnas Þu 1A 2009 dan 2010 senllal 8pS4,41 mlllar belum dldukung
dengan dokumen yang memperkuaL alasan dlLerblLkannya adendum
sehlngga udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
ul kabupaLen Mamberamo 1engah, Þrovlnsl Þapua, LerdapaL reallsasl
belan[a daerah pada 16 SkÞu 1A 2009 senllal 8p1S,77 mlllar yang belum
dllengkapl buku perLanggung[awaban yang memadal.
ul kabupaLen ?allmo, Þrovlnsl Þapua LerdapaL penggunaan anggaran
belan[a daerah 1A 2008 dan 2009 senllal 8p7,S7 mlllar belum
dlperLanggung[awabkan.
ul Þrovlnsl kallmanLan 1lmur, LerdapaL proses pelelangan berlndlkasl
dllakukan secara proforma dlmana peserLa pelelangan aLas uga pakeL
peker[aan pada 8Suu AW S[ahranle 1A 2009 dan 2010 merupakan saLu
grup perusahaan.
Penyebab
10.107 kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl pada umumnya dlsebabkan para
pelaksana lalal dalam membuaL perLanggung[awaban keglaLan dan udak
berpedoman pada keLenLuan perundang-undangan yang berlaku, serLa
lemahnya pengawasan dan pengendallan.
Rekomendasi
10.108 1erhadap kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar melengkapl
buku perLanggung[awaban, memberl Leguran/sanksl kepada pelaksana yang
lalal, serLa menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan aLas pelaksanaan
keglaLan yang dllaksanakan dl unlL ker[anya maslng-maslng.
kendakhematan
10.109 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lnpuL
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kuallLas yang meleblhl kebuLuhan, dan harga yang leblh mahal dlbandlngkan
dengan pengadaan serupa pada wakLu yang sama.
122
10.110 keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keudakhemaLan pada umumnya
mellpuu peneLapan kuallLas dan kuanuLas barang/[asa yang dlgunakan udak
sesual sLandar dan pemborosan keuangan daerah aLau kemahalan harga.
10.111 Pasll pemerlksaan aLas belan[a daerah menun[ukkan LerdapaL 1S kasus
keudakhemaLan senllal 8p16,88 mlllar yang Lerdlrl aLas
sebanyak S kasus peneLapan kuallLas dan kuanuLas barang/[asa yang
dlgunakan udak sesual sLandar senllal 8p898,83 [uLa, dan
sebanyak 10 kasus pemborosan keuangan daerah aLau kemahalan harga
senllal 8p1S,98 mlllar.
10.112 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þrovlnsl ukl !akarLa, ulnas Þerhubungan, LerdapaL perbedaan
speslñkasl dan harga yang slgnlñkan anLara 8A8 dengan PÞS pada pakeL
keglaLan pengadaan bus 8usway (otucoloteJ bos) unLuk [enls peker[aan
atucoloteJ jololoq 1A 2010 sehlngga menlmbulkan pemborosan
keuangan daerah senllal 8p9,1S mlllar.
ul kabupaLen 8engkalls, Þrovlnsl 8lau, LerdapaL pemborosan keuangan
daerah senllal 8p2,63 mlllar yang berasal darl pembayaran yang dllakukan
sesual dengan per[an[lan konLrak leblh besar darl nllal daya produksl
pada keglaLan penyedlaan Lenaga llsLrlk 1A 2009 dan 2010.
ul kabupaLen Palmahera 1lmur, Þrovlnsl Maluku uLara, harga saLuan
16 pakeL peker[aan konsLruksl pada ulnas Þendldlkan, Þemuda, dan
Clahraga 1A 2010 meleblhl SLandar naslonal lndonesla senllal 8p17S,78
[uLa.
Penyebab
10.113 kasus-kasus keudakhemaLan pada umumnya Ler[adl karena para pelaksana
lalal dalam melaksanakan Lugas, panlua pengadaan kurang cermaL dalam
merencanakan keglaLan, serLa lemahnya pengawasan dan pengendallan
penanggung [awab keglaLan.
Rekomendasi
10.114 1erhadap kasus-kasus keudakhemaLan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar memberlkan sanksl kepada
pe[abaL yang berLanggung [awab serLa menlngkaLkan pengawasan dan
pengendallan.
kendakefeknfan
10.115 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll
(outcome), yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak
memberlkan manfaaL aLau hasll yang dlrencanakan serLa fungsl lnsLansl yang
udak opumal sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
123
10.116 Þada umumnya kasus-kasus keudakefekufan mellpuu penggunaan anggaran
udak LepaL sasaran/udak sesual perunLukan, barang yang dlbell belum/udak
dapaL dlmanfaaLkan, pemanfaaLan barang/[asa udak berdampak Lerhadap
pencapalan Lu[uan organlsasl, pelaksanaan keglaLan LerlambaL/LerhambaL
sehlngga mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl, pelayanan kepada
masyarakaL udak opumal, dan fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
10.117 Pasll pemerlksaan aLas belan[a daerah menun[ukkan LerdapaL 41 kasus
keudakefekufan senllal 8p83,70 mlllar yang Lerdlrl aLas
sebanyak 19 kasus penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak
sesual perunLukan senllal 8p27,06 mlllar,
sebanyak 10 kasus barang yang dlbell udak dapaL dlmanfaaLkan senllal
8p9,89 mlllar,
sebanyak 2 kasus pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak berdampak
Lerhadap pencapalan Lu[uan organlsasl senllal 8p863,31 [uLa,
sebanyak 2 kasus pelaksanaan keglaLan LerlambaL/LerhambaL sehlngga
mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl senllal 8p611,91 [uLa,
sebanyak 7 kasus pelayanan kepada masyarakaL udak opumal senllal
8p4S,26 mlllar, dan
sebanyak 1 kasus fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
10.118 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kabupaLen Maros, Þrovlnsl Sulawesl SelaLan, banLuan keuangan
alokasl dana desa (Auu) kepada pemerlnLah desa 1A 2007 s.d. 1A 2010
belum dlsalurkan senllal 8p31,13 mlllar sehlngga pemerlnLah desa se-
kabupaLen Maros udak dapaL segera memanfaaLkan dana Auu.
ul koLa 1ernaLe, Þrovlnsl Maluku uLara, LerdapaL hasll pelaksanaan
keglaLan pengembangan slsLem penyedlaan alr mlnum koLa 1ernaLe 1A
2009 senllal 8p2,03 mlllar belum dapaL dlmanfaaLkan aklbaL kurangnya
pasokan llsLrlk darl ÞLn.
ul kabupaLen ?allmo, Þrovlnsl Þapua, dua peker[aan pembangunan dan
rehablllLasl rumah dlnas pada ulnas ÞerLanlan dan kehuLanan 1A 2009
senllal 8p1,24 mlllar belum dlgunakan karena belum memlllkl SuM/
peLugas unLuk dlLempaLkan sehlngga Lu[uan pengadaan udak Lercapal.
124
Penyebab
10.119 kasus-kasus keudakefekufan pada umumnya dlsebabkan enuLas yang
dlperlksa kurang cermaL dalam perencanaan dan peneLapan skala prlorlLas
pembangunan, pelaksana proyek/keglaLan kurang Legas kepada rekanan,
serLa lemahnya pengawasan dan pengendallan aLasan.
Rekomendasi
10.120 1erhadap kasus-kasus keudakefekufan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada enuLas yang dlperlksa anLara laln agar kepala daerah menegur secara
LerLulls kepada pe[abaL yang berLanggung [awab dan memberlkan sanksl
kepada rekanan, serLa menlngkaLkan pengawasan dan pengendallan aLas
pelaksanaan keglaLan.
10.121 Pasll pemerlksaan lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam cakram
padaL Lerlamplr.
125
BAB 11
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana Bidang Pendidikan
11.1 Þada SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah memerlksa uga ob[ek pengelolaan
dan perLanggung[awaban dana bldang pendldlkan. Cb[ek-ob[ek pemerlksaan
LersebuL adalah dana pendldlkan yang bersumber darl AÞ8n LerkalL
rlnusan sekolah berLaraf lnLernaslonal (8S8l), Lun[angan profesl, Lun[angan
fungslonal, dan dana Lambahan penghasllan guru, serLa dana alokasl khusus
(uAk) bldang pendldlkan.
Dana Þend|d|kan yang 8ersumber dar| AÞ8N 1erka|t k|nnsan
Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
11.2 Sekolah bersLandar lnLernaslonal adalah sekolah/madrasah yang sudah
memenuhl sLandar naslonal pendldlkan dan dlperkaya dengan mengacu
pada sLandar pendldlkan salah saLu anggoLa Otqoolzouoo fot ícooomlc
uevelopmeot (CLCu) dan/aLau negara LerLenLu yang mempunyal keunggulan
LerLenLu dalam bldang pendldlkan sehlngga memlllkl daya salng dl forum
lnLernaslonal.
11.3 ualam uu nomor 20 1ahun 2003 LenLang SlsLem Þendldlkan naslonal
dan dl[abarkan dalam ÞÞ nomor 19 1ahun 200S LenLang SLandar naslonal
Þendldlkan mensyaraLkan bahwa delapan unsur yang harus dlpenuhl adalah:
sLandar lsl, proses, kompeLensl lulusan, pendldlk dan Lenaga kependldlkan,
sarana dan prasarana, sLandar pengelolaan, sLandar pemblayaan, dan
sLandar penllalan.
11.4 Sekolah sasaran yang dlLeLapkan sebagal 8S8l dan akan mendapaLkan
banLuan dana pendldlkan sumber dana AÞ8n yang LerkalL 8S8l adalah
se[umlah sekolah yang dlLeLapkan sebagal 8S8l oleh pemerlnLah. ualam
pelaksanaannya, 8S8l harus mengembangkan rencana ker[a sekolah (8kS)
dan rencana ker[a dan anggaran sekolah (8kAS).
11.S Þada SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah memerlksa Þengelolaan dan
ÞerLanggung[awaban uana Þendldlkan Sumber uana AÞ8n 1A 2008, 2009,
dan 2010 yang LerkalL dengan 8S8l pada SMÞn 1 !ambl, SMÞn 7 !ambl,
SMkn 3 !ambl, dan SMkn 4 !ambl. !umlah anggaran yang dlalokaslkan pada
empaL sekolah LersebuL senllal 8p3,40 mlllar dan Lelah dlreallsaslkan senllal
8p3,08 mlllar. Adapun cakupan pemerlksaan 8Þk adalah senllal 8p2,92 mlllar
aLau 9S° darl reallsasl anggaran dan Lemuan senllal 8p192,39 [uLa aLau 6,S°
darl cakupan pemerlksaan.
126
Tujuan Pemeriksaan
11.6 1u[uan pemerlksaan aLas pengelolaan dan perLanggung[awaban dana 8S8l
adalah untuk
menllal apakah SÞl aLas pengelolaan dana pendldlkan Lelah dlrancang
dan dllaksanakan secara memadal,
menllal apakah dana pendldlkan dlsalurkan dan dlLerlma oleh sekolah
penerlma secara LepaL [umlah, wakLu, dan sasaran,
menllal apakah penerlmaan dan penggunaan dana pendldlkan yang
Lelah dlLerlma oleh sekolah Lelah sesual dengan keLenLuan yang berlaku,
dan
pelaporan dan perLanggung[awaban dana pendldlkan Lelah dlbuaL dan
dllaporkan kepada enuLas pemberl dana serLa aseL-aseL hasll pelaksanaan
keglaLan oleh sekolah Lelah dlkelola sesual keLenLuan.
Hasil Pemeriksaan
11.7 Pasll pemerlksaan 8Þk mengungkapkan beberapa kelemahan SÞl dan
keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan. ul anLara Lemuan
LersebuL adalah
Mana[emen sekolah belum menerapkan penllalan rlslko Lerhadap
akunLablllLas pengelolaan 8S8l seperu monlLorlng poLensl Lumpang
undlh pemblayaan keglaLan yang bersumber darl dana AÞ8u dan
dana masyarakaL yang dlLampung dalam saLu rekenlng penampungan
belum dllaksanakan, seperu melakukan revlsl aLas 8kAS. kenyaLaan
dl lapangan, 8kAS langsung dlsesualkan keuka ada perubahan Lanpa
melalul mekanlsme perseLu[uan secara ber[en[ang.
Sekolah udak memlllkl monlLorlng dan pengawasan aLas penggunaan
dana dalam benLuk laporan reallsasl keglaLan sekolah. Þengelolaan
dan perLanggung[awaban maslng-maslng sumber pendanaan maslh
Lerplsah-plsah dan udak ada koordlnaLor yang dlLun[uk unLuk mengawasl
keseluruhan pengelolaan dan perLanggung[awaban keuangan sekolah.
Þengelolaan dan perLanggung[awaban keuangan pada SMÞn dan SMkn
8S8l dl koLa !ambl belum memadal mengaklbaLkan keudakpaLuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan yang mengaklbaLkan keruglan
negara senllal 8p189,29 [uLa dan kekurangan penerlmaan senllal 8p3,09
[uLa.
Penyebab
11.8 Þermasalahan SÞl dl anLaranya Ler[adl karena Þlmplnan ulnas Þendldlkan
kurang melakukan pemblnaan dan koordlnasl dalam menyusun 8kAS serLa
kepala sekolah udak memaLuhl keLenLuan penyusunan 8kAS.
127
11.9 kasus-kasus keruglan negara dan kekurangan penerlmaan Ler[adl karena
Þlmplnan ulnas Þendldlkan Þrovlnsl dan koLa !ambl kurang melakukan
pengawasan aLas penggunaan dan perLanggung[awaban dana 8S8l. Selaln
lLu, kasus LersebuL [uga Ler[adl karena kepala Sekolah SMkn 4 !ambl belum
mengenakan sanksl denda keLerlambaLan penyelesalan peker[aan kepada
rekanan.
Rekomendasi
11.10 1erhadap kelemahan SÞl LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
Cubernur !ambl agar memberlkan sanksl kepada plhak yang bersalah aLas
kelalalannya udak memaLuhl keLenLuan dan menlngkaLkan pengawasan.
11.11 1erhadap Lemuan keruglan negara dan kekurangan penerlmaan, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada Cubernur !ambl agar memberlkan sanksl sesual
keLenLuan yang berlaku kepada pe[abaL yang lalal melaksanakan Lugasnya
serLa menyeLorkan ke kas negara aLas penggunaan uang unLuk kepenungan
prlbadl dan denda keLerlambaLan penyelesalan peker[aan.
Tunjangan Profesi, Tunjangan Fungsional, dan Dana
Tambahan Penghasilan Guru
11.12 uu nomor 14 1ahun 200S LenLang Curu dan uosen menyaLakan bahwa
guru adalah pendldlk profeslonal dengan Lugas uLama mendldlk, menga[ar,
memblmblng, mengarahkan, melauh, menllal, dan mengevaluasl peserLa
dldlk pada pendldlkan anak usla dlnl [alur pendldlkan formal, pendldlkan
dasar, dan pendldlkan menengah. Curu profeslonal harus memlllkl kuallñkasl
akademlk mlnlmum sar[ana (S-1) aLau dlploma empaL (u-lv), menguasal
kompeLensl (pedagoglk, profeslonal, soslal, dan keprlbadlan), memlllkl
seruñkaL pendldlk, sehaL [asmanl dan rohanl, serLa memlllkl kemampuan
unLuk mewu[udkan Lu[uan pendldlkan naslonal.
11.13 kemendlknas Lelah mengeluarkan kebl[akan-kebl[akan unLuk menlngkaLkan
kuallñkasl dan kompeLensl guru. unLuk menlngkaLkan kuallñkasl guru anLara
laln dengan memberlkan banLuan blaya penlngkaLan kuallñkasl akademlk
guru ke [en[ang S-1/u-lv, sedangkan unLuk menlngkaLkan kompeLensl
dllakukan melalul program seruñkasl profesl guru yang dlmulal pada 1ahun
2007 seLelah dlLerblLkannya Þermendlknas nomor 18 1ahun 2007 LenLang
Seruñkasl Curu.
11.14 ÞenlngkaLan profeslonallsme guru harus dllkuu penlngkaLan kese[ahLeraan.
Pal LersebuL mengacu pada Þasal 14 ayaL (1) huruf a uu nomor 14 1ahun 200S
yang mengamanaLkan bahwa dalam melaksanakan Lugas keprofeslonalan,
guru berhak memperoleh penghasllan dl aLas kebuLuhan hldup mlnlmum
dan [amlnan kese[ahLeraan soslal, selan[uLnya Þasal 1S ayaL (1) men[elaskan
bahwa penghasllan dl aLas kebuLuhan hldup mlnlmum mellpuu ga[l pokok,
Lun[angan yang melekaL pada ga[l, serLa penghasllan laln berupa Lun[angan
profesl, Lun[angan fungslonal, Lun[angan khusus, dan maslahaL Lambahan
yang LerkalL dengan Lugasnya sebagal guru yang dlLeLapkan dengan prlnslp
penghargaan presLasl.
128
11.1S 1un[angan profesl guru sebagalmana LercanLum dalam Þermendlknas
nomor 36 1ahun 2007 menyaLakan bahwa guru yang Lelah memlllkl seruñkaL
pendldlk dan nomor reglsLrasl guru darl kemendlknas dlberlkan Lun[angan
profesl dengan keLenLuan yang bersangkuLan melaksanakan Lugas sebagal
guru dengan beban ker[a yang sesual dengan peraLuran.
11.16 1un[angan fungslonal adalah pemberlan dana Lun[angan fungslonal kepada
guru non ÞnS yang menga[ar dl sekolah negerl dan swasLa yang melaksanakan
Lugas mendldlk, menga[ar, memblmblng, mengarahkan, melauh, menllal, dan
mengevaluasl peserLa dldlk pada pendldlkan anak usla dlnl [alur pendldlkan
formal, pendldlkan dasar, dan pendldlkan menengah.
11.17 1ambahan penghasllan guru pegawal negerl slpll daerah (ÞnSu) yang
dlmaksud adalah penambahan penghasllan bagl guru ÞnSu yang maslh akuf
melaksanakan Lugas sebagal guru pada 1k, Su, SMÞ, SL8, SMA, dan SMk guna
menlngkaLkan kese[ahLeraan dan profeslonallLas guru dalam men[alankan
Lugasnya.
11.18 Þada SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah memerlksa pengelolaan dan
perLanggung[awaban Lun[angan profesl, Lun[angan fungslonal, dan dana
Lambahan penghasllan guru 1A 2009 dan 2010 pada kemenLerlan Þendldlkan
naslonal, ulnas Þendldlkan Þrovlnsl !awa 8araL, koLa uepok, koLa 8ekasl,
koLa 8ogor, dan lnsLansl LerkalL. !umlah anggaran yang dlalokaslkan maslng-
maslng senllal 8p1,20 Lrlllun dan 8p839,82 mlllar serLa Lelah dlreallsaslkan
maslng-maslng senllal 8p1,17 Lrlllun dan 8p306,66 mlllar.
Tujuan Pemeriksaan
11.19 1u[uan pemerlksaan aLas pengelolaan dan perLanggung[awaban 1un[angan
Þrofesl, 1un[angan lungslonal, dan uana 1ambahan Þenghasllan Curu 1A
2009 dan 2010 adalah unLuk
menllal apakah pelaksanaan keglaLan penyaluran Lun[angan pada
Lselon 1 ÞenlngkaLan MuLu Þendldlk dan 1enaga kependldlkan (ÞMÞ1k)
kemenLerlan Þendldlkan naslonal Lelah dldukung dengan penerapan
slsLem pengendallan lnLern yang memadal, dan
menllal apakah penyaluran Lun[angan pada Lselon 1 ÞMÞ1k kemendlknas
dan ulnas Þendldlkan provlnsl/kabupaLen/koLa Lelah sesual dengan
keLenLuan yang berlaku mulal darl penganggaran, peneLapan,
pelaksanaan, sampal dengan perLanggung[awaban.
Hasil Pemeriksaan
11.20 Pasll pemerlksaan mengungkapkan Lemuan slgnlñkan, dl anLaranya sebagal
berlkuL.
1erdapaL keruglan negara aLas kesalahan penyaluran dana subsldl
Lun[angan guru 1A 2009 dan 2010 maslng-maslng senllal 8p3,S3 mlllar
129
dan 8p616,39 [uLa anLara laln karena adanya pemberlan Lun[angan
profesl, fungslonal, dan Lambahan penghasllan secara ganda, pemberlan
Lun[angan fungslonal mesklpun Lelah menerlma Lun[angan profesl,
pemberlan Lun[angan Lambahan penghasllan kepada guru yang belum
berseruñkaL, serLa pemberlan subsldl Lun[angan Lambahan penghasllan
kepada non guru.
1erdapaL lndlkasl keruglan negara senllal 8p3,22 mlllar aLas pemberlan
subsldl Lun[angan profesl kepada 140 guru yang udak memenuhl syaraL
sebagal penerlma Lun[angan karena udak memenuhl persyaraLan
menga[ar 24 [am LaLap muka.
1erdapaL slsa dana Lambahan penghasllan bagl guru ÞnSu 1A 2009 pada
ÞemerlnLah Þrovlnsl !awa 8araL dan ulnas Þendldlkan koLa uepok yang
udak dlseLor ke kas negara senllal 8p1,33 mlllar.
Penyebab
11.21 kasus-kasus LersebuL anLara laln dlsebabkan pengelola dana dekonsenLrasl
udak cermaL dalam melakukan verlñkasl daLa guru penerlma subsldl
Lun[angan guru, ulr[en ÞMÞ1k udak menaau keLenLuan LenLang penyaluran
dana subsldl Lun[angan fungslonal. Selaln lLu, kasus LersebuL [uga Ler[adl
karena bendahara lalal dengan udak segera mengemballkan slsa dana
subsldl Lun[angan Lambahan penghasllan ke kas negara.
Rekomendasi
11.22 1erhadap kasus-kasus LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
MenLerl Þendldlkan naslonal agar memberlkan sanksl sesual keLenLuan
yang berlaku kepada pe[abaL yang lalal melaksanakan Lugasnya serLa
memperLanggung[awabkan keleblhan pembayaran dengan menyeLorkan ke
kas negara.
Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan
11.23 uAk adalah dana yang bersumber darl Anggaran ÞendapaLan dan 8elan[a
negara (AÞ8n) yang dlalokaslkan kepada daerah LerLenLu dengan Lu[uan
unLuk membanLu pendanaan keglaLan khusus yang merupakan baglan darl
program prlorlLas naslonal dan merupakan urusan daerah.
11.24 uAk 8ldang Þendldlkan dlalokaslkan unLuk menun[ang pelaksanaan
Wa[lb 8ela[ar (Wa[ar) Þendldlkan uasar Sembllan 1ahun yang bermuLu.
keglaLannya dlarahkan unLuk rehablllLasl ruang kelas dan pembangunan
ruang perpusLakaan sekolah dasar, meubelalr serLa pengadaan buku dan
alaL peraga pendldlkan. ÞeneLapan kebl[akan penggunaan uAk 8ldang
Þendldlkan melalul subsldl ke sekolah dldasarkan pada perumbangan adanya
manfaaL-manfaaL sebagal berlkuL (1) uAk dapaL memperbalkl layanan publlk
dl 8ldang Þendldlkan khususnya sarana dan prasarana bela[ar, (2) uAk
dapaL mewu[udkan pengelolaan pendldlkan yang Lransparan, profeslonal,
130
dan akunLabel, (3) uAk dapaL mewu[udkan pellbaLan masyarakaL secara
akuf dalam keglaLan pendldlkan, (4) uAk dapaL mendorong adanya
pengawasan langsung darl masyarakaL, dan (S) uAk dapaL menggerakkan
roda perekonomlan masyarakaL bawah melalul [alur pendldlkan.
11.2S Arah kebl[akan uAk adalah sebagal berlkuL
membanLu daerah-daerah dengan kemampuan ñskal rendah aLau dl
bawah raLa-raLa naslonal,
menun[ang percepaLan pembangunan sarana dan prasarana dl wllayah
peslslr dan pulau-pulau kecll, perbaLasan, Lerunggal/ Lerpencll, rawan
ban[lr dan longsor kaLegorl daerah keLahanan pangan dan daerah
parlwlsaLa,
mendorong penlngkaLan produkuvlLas, perluasan kesempaLan ker[a, dan
dlverslñkasl ekonoml,
menlngkaLkan akses penduduk mlskln Lerhadap pelayanan dasar melalul
keglaLan khusus dl bldang pendldlkan, kesehaLan dan lnfrasLrukLur,
menlngkaLkan keLerpaduan dan slnkronlsasl keglaLan yang dldanal uAk
dengan anggaran kemenLerlan/lembaga (kL) serLa keglaLan yang dldanal
darl AÞ8u, dan
program uAk 8ldang Þendldlkan dlfokuskan unLuk menunLaskan
rehablllLasl ruang kelas yang rusak dan pembangunan ruang
perpusLakaan sekolah dasar.
11.26 Þengalokaslan uAk 8ldang Þendldlkan dllakukan oleh kemenLerlan
keuangan dengan memperumbangkan daLa Leknls darl kemenLerlan
Þendldlkan naslonal. uAk dlsalurkan oleh ulrekLoraL !enderal Þerlmbangan
keuangan (u!Þk) ke kas daerah. Crganlsasl pelaksanaan uAk 8ldang
Þendldlkan dl daerah mellbaLkan pemerlnLah kabupaLen/koLa, ulnas
Þendldlkan kabupaLen/koLa, sekolah, dan komlLe sekolah. ÞemerlnLah
kabupaLen/koLa LerllbaL dalam penyaluran dana darl kas daerah ke rekenlng
sekolah, sedangkan ulnas Þendldlkan merupakan SkÞu yang dlberl delegasl
wewenang unLuk mengelola dan melaksanakan keglaLan uAk. Sekolah
bersama komlLe sekolah melaksanakan peker[aan rehablllLasl ñslk dan/aLau
pengadaan barang penlngkaLan muLu dl sekolah.
11.27 ualam SemesLer l 1ahun 2011, 8Þk Lelah menyelesalkan pemerlksaan aLas
pengelolaan dan perLanggung[awaban uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2007, 2008,
2009, dan 1rlwulan lll 2010 yang dllakukan pada kemenLerlan Þendldlkan
naslonal, kemenLerlan keuangan, dan 39 pemerlnLah kabupaLen/koLa pada
32 provlnsl.
11.28 Anggaran uAk yang Lelah dlreallsaslkan dalam 1A 2008, 2009, dan 2010
(1rlwulan lll) maslng-maslng senllal 8p21,20 mlllar, 8p24,70 mlllar, dan
131
8p12,02 mlllar, sedangkan daLa LoLal reallsasl uAk 1A 2007 udak dapaL
dlsa[lkan oleh u!Þk karena unLuk uAk 1A 2007 dlsalurkan oleh kanLor
Þelayanan Þerbendaharaan negara (kÞÞn) maslng-maslng daerah.
Þelaksanaan uAk LersebuL dllakukan dengan menggunakan meLode
swakelola, namun se[ak 1A 2010 meLode pelaksanaan uAk LersebuL dlubah
dengan menglkuu mekanlsme pengadaan barang/[asa pemerlnLah sesual
dengan keLenLuan perundang-undangan.
Tujuan Pemeriksaan
11.29 Þemerlksaan aLas uAk 8ldang Þendldlkan berLu[uan unLuk menllal apakah
slsLem pengendallan lnLern aLas pengelolaan uAk 8ldang Þendldlkan
Lelah dlrancang dan dllaksanakan secara memadal,
kebl[akan uAk 8ldang Þendldlkan LerkalL dengan alokasl dan perencanaan
sampal dengan meLode penyaluran dan penggunaan dana cukup
memadal unLuk mencapal Lu[uan yang dlLeLapkan,
pengalokaslan uAk 8ldang Þendldlkan Lelah dlrencanakan melalul
Lahapan yang Lelah dlLeLapkan dalam peLun[uk pelaksanaan dan dldukung
dengan penyedlaan anggaran dana pendamplng oleh pemerlnLah daerah
sesual dengan keLenLuan,
uAk 8ldang Þendldlkan dlsalurkan dan dlLerlma oleh sekolah penerlma
secara LepaL [umlah, wakLu, dan sasaran, dan
uAk 8ldang Þendldlkan Lelah dlgunakan dan dlperLanggung[awabkan
sesual pedoman/keLenLuan, serLa aseL-aseL hasll pelaksanaan keglaLan
darl uAk 8ldang Þendldlkan oleh sekolah negerl Lelah dlmanfaaLkan dan
dlkelola sesual keLenLuan.
Hasil Pemeriksaan
11.30 Pasll pemerlksaan menun[ukkan bahwa slsLem pengendallan lnLern belum
dlrancang dan dllaksanakan secara memadal sehlngga kebl[akan uAk 8ldang
Þendldlkan belum sepenuhnya dapaL mendukung pencapalan Lu[uan
yang Lelah dlLeLapkan. ualam pelaksanaan uAk 8ldang Þendldlkan [uga
maslh dlLemukan adanya keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan. Pal lnl dapaL dlkeLahul darl Lemuan pemerlksaan berlkuL lnl.
Kebijakan Pemerintah
11.31 ÞeneLapan alokasl uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2007 s.d. 2009 udak dldukung
daLa Leknls yang valld dan muLakhlr anLara laln berupa daLa [umlah ruang
kelas yang rusak dan daLa [umlah Su yang udak memlllkl ruang perpusLakaan.
Selaln lLu, krlLerla umum, khusus, dan Leknls dalam pengalokaslan uAk udak
dlLerapkan secara konslsLen oleh pemerlnLah dan uÞ8. Pal lnl berdampak
pada alokasl uAk ke maslng-maslng daerah yang udak LepaL sasaran.
132
11.32 ualam 1A 2010, dengan LerblLnya uu nomor 2 1ahun 2010 Langgal 2S Mel
2010 LenLang AÞ8n-Þ, Ler[adl perubahan kebl[akan aLas pelaksanaan uAk
darl yang sebelumnya menggunakan meLode swakelola men[adl meLode
pengadaan yang berpedoman pada keLenLuan pengadaan barang dan
[asa. Þerubahan meLode LersebuL udak segera dllkuu dengan peneLapan
[uknls. uAk yang Lelah dlsalurkan pada akhlr 1ahun 2010 sebaglan besar
udak dlgunakan dan maslh mengendap dl kas daerah sehlngga berpoLensl
dlgunakan unLuk keperluan laln dl luar uAk 8ldang Þendldlkan. uengan
demlklan sebaglan besar program uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2010 udak
Lercapal.
Penyebab
11.33 kasus-kasus LersebuL Ler[adl anLara laln karena Mendlknas udak cermaL
dalam menerapkan krlLerla Leknls yang Lelah dlLeLapkan, belum memlllkl
mekanlsme yang memadal dalam mengumpulkan dan mengelola daLa
LerkalL kondlsl sekolah dl seuap kabupaLen/koLa. ÞeLun[uk Leknls ([uknls)
uAk 8ldang Þendldlkan dan speslñkasl Leknls alaL peraga pendldlkan yang
dlLeLapkan LerlambaL [uga men[adl penyebab udak Lercapalnya program
uAk 8ldang Þendldlkan.
Rekomendasi
11.34 1erhadap kasus-kasus LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
Mendlknas unLuk memperbalkl pengelolaan daLa Leknls. 8Þk [uga
Lelah merekomendaslkan kepada pemerlnLah dan uÞ8 agar menln[au
kemball kebl[akan yang mewa[lbkan !uknls uAk 8ldang Þendldlkan harus
dlkonsulLaslkan dan dlseLu[ul uÞ8.
Perencanaan dan Alokasi
11.3S Alokasl dana pendamplng pada 18 kabupaLen/koLa dan blaya admlnlsLrasl
umum pada 66 kabupaLen/koLa unLuk uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2007 s.d.
2009 leblh kecll darl keLenLuan, sehlngga cakupan keglaLan uAk 8ldang
Þendldlkan men[adl LerbaLas, LargeL penunLasan rehablllLasl gedung sekolah
udak makslmal dan keglaLan perencanaan, soslallsasl, serLa pengawasan
kurang memadal.
11.36 Alokasl uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2007 s.d. 2009 pada 39 kabupaLen/koLa
udak sepenuhnya LepaL sasaran karena LerdapaL sekolah rusak yang udak
mendapaL alokasl uAk 8ldang Þendldlkan, seballknya sekolah yang berkondlsl
balk mendapaL alokasl uAk 8ldang Þendldlkan. Pal lnl mengaklbaLkan
penunLasan keglaLan rehablllLasl ruang kelas rusak belum Lercapal.
Penyebab
11.37 kasus-kasus LersebuL dlsebabkan
kurangnya komlLmen bupau/wallkoLa unLuk menyedlakan dana
pendamplng dan blaya umum unLuk keglaLan uAk 8ldang Þendldlkan,
dan
133
kelalalan bupau/wallkoLa dan kepala ulnas Þendldlkan LerkalL dalam
menenLukan prlorlLas penerlma uAk 8ldang Þendldlkan.
Rekomendasi
11.38 1erhadap kasus-kasus LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
MenLerl keuangan unLuk berkoordlnasl dengan Mendagrl dan Mendlknas
agar menyusun dan menerapkan kebl[akan yang mengaLur sanksl kepada
pemda yang udak memenuhl kewa[lban unLuk menyedlakan dana
pendamplng dan blaya admlnlsLrasl umum.
Penyaluran
11.39 Þenyaluran uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2007 s.d. 2009 darl kas daerah ke
sekolah LerlambaL karena: (1) penyalurannya pada Lu[uh kabupaLen/koLa
udak secara langsung ke rekenlng sekolah, (2) LerlambaLnya penerblLan
SÞ2u yang Ler[adl pada 28 kabupaLen/koLa, dan (3) LerlambaLnya pencalran
SÞ2u yang Ler[adl pada 18 kabupaLen/koLa.
11.40 Þenyaluran uAk 8ldang Þendldlkan ke 87 sekolah pada Lu[uh kabupaLen/
koLa udak sesual dengan Sk ÞeneLapan kepala uaerah, yalLu: (1) penyaluran
yang leblh kecll darl Sk ÞeneLapan kepala uaerah, (2) pemoLongan ÞÞn dan
ÞÞh yang dllakukan oleh 8endahara Þengeluaran ulnas Þendldlkan yang
dl anLaranya senllal 8p668,18 [uLa belum dlseLor ke kas negara, dan (3)
pemoLongan blaya pengadaan buku, pembellan meubelalr, dan admlnlsLrasl
senllal 8p11,12 mlllar yang dllakukan oleh 8endahara Þengeluaran ulnas
Þendldlkan kabupaLen CoronLalo dan Melawl.
Penyebab
11.41 kasus-kasus LersebuL Ler[adl karena kepala ulnas Þendldlkan kabupaLen/
koLa udak makslmal dalam penyaluran uAk 8ldang Þendldlkan dan udak
memedomanl !uknls Þelaksanaan uAk 8ldang Þendldlkan.
Rekomendasi
11.42 1erhadap kasus-kasus LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
bupau dan wallkoLa agar memberlkan sanksl sesual peraLuran yang berlaku
kepada kepala ulnas Þendldlkan karena kurang memberlkan pemblnaan,
pengawasan dan pengendallan. 8Þk [uga merekomendaslkan kepada kepala
ulnas Þendldlkan agar memberlkan sanksl kepada para pelaksana keglaLan
yang udak memedomanl !uknls Þelaksanaan uAk 8ldang Þedldlkan.
Pelaksanaan
11.43 kekurangan volume peker[aan dalam pengadaan peker[aan rehablllLasl pada
29 kabupaLen/koLa mengaklbaLkan adanya lndlkasl keruglan daerah senllal
8p4,20 mlllar.
134
11.44 1erdapaL punguLan mlnlmal senllal 8p778,73 [uLa oleh plhak-plhak LerLenLu
kepada sekolah dan poLongan harga/rabaL/bonus senllal 8p1,33 mlllar
yang dlLerlma pengelola uAk 8ldang Þendldlkan darl pengadaan sarana
penlngkaLan muLu pada beberapa kabupaLen/koLa yang mengaklbaLkan
lndlkasl keruglan keuangan daerah.
Penyebab
11.4S kasus-kasus LersebuL dlsebabkan karena para pelaksana kurang cermaL
dalam men[alankan Lugasnya dan udak menglkuu keLenLuan pelaksanaan
uAk 8ldang Þendldlkan.
Rekomendasi
11.46 1erhadap kasus-kasus LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada bupau
dan wallkoLa agar memerlnLahkan kepala ulnas Þendldlkan unLuk menarlk
kemball punguLan dan keleblhan pembayaran aLas kekurangan volume
peker[aan serLa menyeLorkan ke kas daerah, dan memperLanggung[awabkan/
menyeLorkan poLongan harga/rabaL/bonus.
Pertanggungjawaban dan Pelaporan
11.47 Pasll pelaksanaan uAk 1A 2007, 2008, dan 2009 pada 30 kabupaLen/koLa
senllal 8p1S,01 mlllar belum sepenuhnya dlmanfaaLkan karena adanya
kebl[akan peneLapan [umlah mlnlmal pengadaan sarana pendldlkan dan
sarana perpusLakaan Lanpa memperumbangkan kondlsl/kebuLuhan rlll
sekolah. Selaln lLu, beberapa kepala daerah udak menyampalkan laporan
Lrlwulanan dan/aLau laporan akhlr uAk 8ldang Þendldlkan 1A 2007 s.d.
1A 2009 kepada MenLerl Þendldlkan naslonal sehlngga pemanLauan dan
evaluasl aLas pelaksanaan uAk secara ber[en[ang udak dapaL dllakukan
secara opumal dan berpengaruh pada pengalokaslan uAk Lahun anggaran
berlkuLnya.
11.48 ÞerLanggung[awaban penggunaan uAk 8ldang Þendldlkan dl 283 sekolah
pada 12 kabupaLen/koLa senllal 8p11,SS mlllar udak dldukung buku yang
lengkap sehlngga udak memenuhl asas pengelolaan keuangan negara/
daerah berupa Lerub admlnlsLrasl, Lransparan dan akunLabel.
Penyebab
11.49 kasus-kasus LersebuL dlsebabkan
[uknls uAk 8ldang Þendldlkan meneLapkan [umlah mlnlmal pengadaan
sarana pendldlkan dan sarana perpusLakaan Lanpa memperumbangkan
kebuLuhan, dan
kepala sekolah, kepala ulnas Þendldlkan, dan kepala uaerah udak
memahaml Lugas dan Langgung [awabnya dalam perLanggung[awaban
dan pelaporan uAk 8ldang Þendldlkan.
135
Rekomendasi
11.S0 1erhadap kasus-kasus LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan agar
Mendlknas berkoordlnasl dengan Mendagrl dalam memberlkan sanksl
kepada daerah yang udak menyampalkan laporan akhlr.
11.S1 Pasll pemerlksaan lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam cakram
padaL Lerlamplr.
.
136
137
BAB 12
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana Otonomi Khusus
12.1 Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah membangun masyarakat
Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Masyarakat Papua sebagai Warga Negara
lndonesla memlllkl hak unLuk menlkmau hasll pembangunan secara
wajar. Sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut
undang-undang uasar 194S mengakul dan menghormau saLuan-saLuan
pemerlnLahan daerah yang berslfaL khusus aLau berslfaL lsumewa yang
diatur dalam undang-undang.
12.2 Penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Provinsi
Papua selama ini belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan, belum
sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat, belum
sepenuhnya mendukung terwujudnya penegakan hukum, dan belum
sepenuhnya menampakkan penghormatan terhadap hak asasi manusia
khususnya masyarakat Papua. Pengelolaan dan pemanfaatan hasil kekayaan
alam Þrovlnsl Þapua belum dlgunakan secara opumal unLuk menlngkaLkan
taraf hidup masyarakat asli, sehingga telah mengakibatkan terjadinya
kesenjangan antara Provinsi Papua dan daerah lain.
12.3 Dalam rangka mengurangi kesenjangan antara Provinsi Papua dan provinsi
lain, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di Provinsi Papua, serta
memberikan kesempatan kepada penduduk asli Papua, diperlukan adanya
kebijakan khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemberlakuan kebijakan khusus dimaksud didasarkan pada nilai-nilai dasar
perllndungan dan penghargaan Lerhadap euka dan moral, hak-hak dasar
penduduk asli, hak asasi manusia, supremasi hukum, demokrasi, pluralisme,
serta persamaan kedudukan, hak, dan kewajiban sebagai warga negara.
12.4 Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan otonomi daerah pada
umumnya dan otonomi khusus (Otsus) bagi Aceh dan Irian Jaya, maka
Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000 membuat Ketetapan MPR RI Nomor: IV/
MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi
Daerah. Dalam Ketetapan ini disebutkan undang-undang Otsus bagi Daerah
lsumewa Aceh dan lrlan !aya, sesual [uga dengan keLeLapan MÞ8 nomor lv/
MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 agar
dikeluarkan selambat-lambatnya 1 Mei 2001.
12.5 Menlndaklan[uu amanaL kedua keLeLapan MÞ8 LersebuL uÞ8 8l Langgal
22 Oktober 2001 menyetujui dan menetapkan Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Presiden Republik
Indonesia sesuai kewenangan yang dimiliki tanggal 21 November 2001
telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 yang kemudian
dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135
dan Tambahan Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 4151.
138
12.6 Untuk Provinsi Papua Barat pemberlakuan Otsus diberikan melalui Undang-
Undang Nomor 35 Tahun 2008. Peraturan tersebut merupakan landasan
hukum unLuk pelaksanaan CLsus agar udak menlmbulkan hambaLan
percepaLan pembangunan khususnya dl bldang soslal, ekonoml, dan polluk,
serta infrastruktur. Hal tersebut disebabkan Provinsi Papua Barat telah
menjalankan urusan pemerintahan dan pembangunan serta memberikan
pelayanan kepada masyarakat sejak Tahun 2003, namun belum diberlakukan
Otsus berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001.
12.7 Sesuai data Kementerian Keuangan diketahui dana Otsus dan tambahan
infrastruktur yang telah disalurkan kepada Provinsi Papua dan Papua Barat
dari Tahun 2002 s.d. 2010 dengan penetapan senilai Rp28,84 triliun dan
realisasi penyaluran senilai Rp28,84 triliun. Dari jumlah tersebut dialokasikan
pada Pemerintah Provinsi Papua senilai Rp14,52 triliun dan pada pemerintah
kabupaten/kota di wilayah Provinsi Papua senilai Rp10,84 triliun, serta pada
Provinsi Papua Barat Tahun 2009-2010 pada pemerintah provinsi dialokasikan
senilai Rp1,94 triliun dan pada pemerintah kabupaten/kota senilai
Rp1,53 triliun. Rincian pengalokasian, disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 12.1. Pembagian Dana Otonomi Khusus antara
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota

No. Tahun
Papua Papua Barat
Jumlah
Digunakan Provinsi
Didistribusikan Ke
Kabupaten/Kota
Digunakan
Provinsi
Didistribusikan ke
Kabupaten/Kota
1 2002 829.512.500.000 552.770.000.000
Papua Barat baru mendapatkan alokasi
dana otsus mulai Tahun 2009
1.382.282.500.000
2 2003 934.047.731.000 605.512.386.000 1.539.560.117.000
3 2004 657.417.943.000 985.200.000.000 1.642.617.943.000
4 2005 920.312.000.000 855.000.000.000 1.775.312.000.000
5 2006 1.839.353.200.000 1.648.930.800.000 3.488.284.000.000
6 2007 2.315.139.200.000 1.730.608.800.000 4.045.748.000.000
7 2008 2.021.142.897.420 1.899.000.000.000 3.920.142.897.420
8 2009 2.813.919.741.000 1.265.877.659.000 857.559.380.000 860.925.220.000 5.798.282.000.000
9 2010 2.196.154.788.000 1.298.710.000.000 1.083.182.615.600 671.759.436.400 5.249.806.840.000
14.527.000.000.420 10.841.609.645.000 1.940.741.995.600 1.532.684.656.400 28.842.036.297.420
12.8 Pada Semester I Tahun 2011, BPK telah melakukan pemeriksaan dengan
tujuan tertentu atas pengelolaan dan pertanggungjawaban dana Otsus
Tahun 2002-2010 pada Provinsi Papua dan Papua Barat. Pemeriksaan
atas pengelolaan dan pertanggungjawaban dana otsus dilaksanakan pada
1S enuLas dl Þrovlnsl Þapua, mellpuu Þrovlnsl Þapua, kabupaLen AsmaL,
Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Jayapura,
Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Merauke, Kabupaten Nabire, Kabupaten
Paniai, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Sarmi, Kabupaten
Supiori, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, dan Kota Jayapura.
12.9 Sedangkan dl Þrovlnsl Þapua 8araL dllaksanakan pada enam enuLas mellpuu
Provinsi Papua Barat, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana, Kabupaten
Manokwari, Kabupaten Sorong, dan Kabupaten Sorong Selatan.
139
12.10 Cakupan pemeriksaan atas pengelolaan dan pertanggungjawaban
dana otsus adalah senilai Rp6,27 triliun dari realisasi anggaran senilai
Rp20,34 triliun. Total temuan pemeriksaan pengelolaan dan
pertanggungjawaban dana otsus senilai Rp281,07 miliar merupakan temuan
keruglan, poLensl keruglan, kekurangan penerlmaan, keudakhemaLan,
dan keudakefekufan yang memlllkl lmpllkasl nllal ruplah. Selaln Lemuan
tersebut, terdapat temuan kelemahan sistem pengendalian intern (SPI) dan
admlnlsLrasl yang udak memlllkl lmpllkasl nllal uang LeLapl memerlukan
perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
Tujuan Pemeriksaan
12.11 Pemeriksaan atas pengelolaan dana otsus bertujuan untuk menilai apakah
SPI dalam pengelolaan dana Otsus telah dirancang dan dilaksanakan
secara memadai;
kebijakan yang ditetapkan dalam rangka pengelolaan dana Otsus telah
sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
mengetahui apakah dana Otsus yang ditransfer dari Pemerintah Pusat ke
Provinsi Papua dan Papua Barat serta penyaluran ke seluruh kabupaten/
kota di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat telah tepat jumlah, tepat
waktu dan tepat rekening;
penggunaan, pertanggungjawaban, dan pemanfaatan hasil pelaksanaan
kegiatan yang dibiayai dari dana Otsus, telah sesuai dengan ketentuan
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
LerdapaL Lemuan-Lemuan yang berulang dan belum dlundaklan[uu pada
tahun sebelumnya.
Hasil Pemeriksaan
12.12 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP)
dan dlnyaLakan dalam se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas
saLu aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus
yang merupakan bagian dari temuan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya
hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian
intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.
Sistem Pengendalian Intern
12.13 Hasil evaluasi atas SPI pengelolaan dan pertanggungjawaban dana otsus
menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan, pembukuan dan
pencatatan, serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan
kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut:
kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan;
140
kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan
dan belanja; dan
kelemahan atas struktur pengendalian intern.
12.14 Hasil evaluasi SPI terhadap pengelolaan dan pertanggungjawaban dana
otsus menunjukkan terdapat 75 kasus kelemahan SPI. Rincian per kelompok
dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 24.
12.15 Sebanyak 75 kasus kelemahan sistem pengendalian intern tersebut, terdiri
atas
8 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan;
42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan
belanja; dan
25 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.
12.16 Kasus-kasus kelemahan SPI tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, penganggaran dalam APBD TA
2007-2009 udak mengacu pada rencana deñnluf senllal 8p13,17 mlllar.
Di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, penggunaan dana
oLsus 1A 2010 pada kabupaLen Manokwarl senllal 8p94,6S mlllar udak
dilaporkan ke Provinsi Papua Barat.
Di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, penyusunan laporan
sebagal benLuk perLanggung[awaban penggunaan dana oLsus udak
Lerub dan laporan yang dlhasllkan udak pernah dlsampalkan kepada
Pemerintah Provinsi Papua (TA 2008) dan Provinsi Papua Barat (TA 2009).
Di Provinsi Papua dan Papua Barat, hasil pemeriksaan BPK sebelumnya
belum dlundaklan[uu secara opumal mengaklbaLkan penyelesalan
undak lan[uL hasll pemerlksaan balk yang belum sesual rekomendasl
atau dalam proses rekomendasi senilai Rp420,16 miliar dan yang belum
dlundaklan[uu senllal 8p136,92 mlllar men[adl berlaruL-laruL dan semakln
berLambahnya permasalahan yang udak dlselesalkan seuap Lahun, serLa
cenderung umbul permasalahan yang sama dl Lahun mendaLang.
Penyebab
12.17 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena para pejabat/
pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat dalam melakukan
perencanaan dan pelaksanaan tugas, lemah dalam melakukan pengawasan
dan pengendalian kegiatan serta belum sepenuhnya memahami ketentuan
dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
141
Rekomendasi
12.18 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI, BPK telah merekomendasikan kepada
enuLas yang dlperlksa anLara laln agar melakukan perencanaan dengan leblh
cermat, meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan
kegiatan, serta memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada
pejabat yang bertanggung jawab.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
12.19 keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan mengaklbaLkan
kerugian daerah, potensi kerugian daerah, kekurangan penerimaan,
admlnlsLrasl, keudakhemaLan, dan keudakefekufan. !umlah dan nllal maslng-
masing kelompok temuan disajikan dalam Tabel 12.2.
Tabel 12.2. Kelompok Temuan Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
Dana Otonomi Khusus
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai (juta Rp)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 Kerugian Daerah 102 124.191,99
2 Potensi Kerugian Daerah 5 5.039,28
3 Kekurangan Penerimaan 19 5.350,11
4 Administrasi 36 -
5 keudakhemaLan/pemborosan/keudakekonomlsan 4 1.258,88
6 keudakefekufan 52 145.235,12
Jumlah 218 281.075,41
12.20 Dari tabel di atas dapat diungkapkan bahwa terdapat 218 kasus senilai
8p281,07 mlllar sebagal aklbaL keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan
perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah, potensi
keruglan daerah, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan/
pemborosan, dan keudakefekufan. 8lnclan per [enls Lemuan dapaL dlllhaL
pada Lamplran 2S dan rlnclan per enuLas dapaL dlllhaL pada Lamplran 26.
Kerugian Daerah
12.21 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang,
suraL berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal aklbaL
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.
12.22 Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan
barang/[asa ñkuf, rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
pekerjaan, kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang, kelebihan
pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang,
pemahalan harga (mark up), penggunaan uang/barang unLuk kepenungan
pribadi, pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda
dan/aLau meleblhl sLandar yang dlLeLapkan, dan belan[a udak sesual aLau
melebihi ketentuan.
142
12.23 Hasil pemeriksaan atas dana otsus menunjukkan adanya kerugian daerah
sebanyak 102 kasus senilai Rp124,19 miliar terdiri atas
sebanyak 16 kasus belan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf senllal
Rp25,51 miliar;
sebanyak 4 kasus rekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan
pekerjaan senilai Rp1,65 miliar;
sebanyak 49 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai
Rp54,94 miliar;
sebanyak 7 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume
pekerjaan dan/atau barang senilai Rp264,69 juta;
sebanyak 9 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp20,83 miliar;
sebanyak 1 kasus penggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl
senilai Rp438,00 juta;
sebanyak 4 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan
dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp268,23
juta; dan
sebanyak 12 kasus belan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan senllal
Rp20,26 miliar.
12.24 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi Papua, terjadi pemahalan harga atas pengadaan solar sell,
televisi, radio, dan parabola TA 2010 pada Biro Pemerintahan Kampung
yang berindikasi merugikan keuangan daerah senilai Rp20,25 miliar.
Di Provinsi Papua, terdapat indikasi kelebihan pembayaran atas
pekerjaan detail engineering design PLTA Sungai Urumuka tahap I dan
II di TA 2009 pada Dinas Pertambangan dan Energi senilai Rp8,64 miliar
dan peker[aan yang udak dllakukan (ñkuf) unLuk Lahap lll dl 1A 2010
senilai Rp9,67 miliar.
Di Provinsi Papua Barat, terdapat kekurangan volume pada pengadaan
obat-obatan, alat kesehatan dan makanan tambahan (MP-ASI)
Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Barat dan bo[et stock TA 2010 pada
Dinas Kesehatan senilai Rp8,14 miliar dan Rp1,79 miliar.
ul Þrovlnsl Þapua, LerdapaL ukeL per[alanan dlnas pada ulnas Þendldlkan
Pemuda dan Olahraga, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan,
SekreLarlaL Ma[ells 8akyaL Þapua, serLa ulnas kesehaLan udak sesual
dengan manlfes penerbangan 1ahun 2010 darl Þ1 Merpau nusanLara
mengakibatkan indikasi kerugian daerah senilai Rp1,16 miliar.
143
12.25 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut, senilai
8p260,7S [uLa Lelah dlundaklan[uu dengan penyeLoran ke kas daerah, yalLu
pada Provinsi Papua Barat senilai Rp156,75 juta dan Kabupaten Sarmi,
Provinsi Papua senilai Rp104,00 juta.
Penyebab
12.26 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang
berLanggung [awab lalal, kurang cermaL, belum opumal dalam melaksanakan
Lugasnya, udak menaau dan memahaml keLenLuan yang berlaku, serLa lemah
dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
12.27 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah, BPK telah merekomendasikan
antara lain kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan
yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan
pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan pengawasan dan
pengendalian.
12.28 Selaln lLu, 8Þk [uga merekomendaslkan agar enuLas yang dlperlksa
mempertanggungjawabkan kasus kerugian daerah dengan menyetor ke kas
daerah melalul mekanlsme ganu keruglan daerah sesual keLenLuan yang
berlaku.
Potensi Kerugian Daerah
12.29 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum
baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya
kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat
berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
12.30 Pada umumnya kasus potensi kerugian daerah yaitu adanya kelebihan
pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan
belum dilakukan sebagian atau seluruhnya, aset dikuasai pihak lain dan lain-
lain kasus potensi kerugian daerah.
12.31 Hasil pemeriksaan atas dana otsus menunjukkan adanya potensi kerugian
daerah sebanyak 5 kasus senilai Rp5,03 miliar yang terdiri atas
sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa
tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya
senilai Rp4,00 miliar;
sebanyak 1 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp60,00 juta; dan
sebanyak 1 kasus lain-lain senilai Rp977,15 juta.
144
12.32 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi Papua, kelebihan pembayaran pada pekerjaan pembangunan
gedung Kantor Distamben tahap I dan pekerjaan pembangunan dermaga
uepapre Lahap v 1A 2010 udak sesual dengan presLasl peker[aan senllal
Rp3,88 miliar namun pembayaran atas pekerjaan baru dilaksanakan
sebesar 74,79%.
Di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, terdapat kekurangan
volume pada pelaksanaan peker[aan rehablllLasl ñslk gedung (4
ruang kelas) SMAN 02 Manokwari TA 2010 senilai Rp103,74 juta dan
pelaksanaan peker[aan rehablllLasl ñslk gedung (7 ruang kelas) SMAn 01
Manokwari TA 2010 senilai Rp10,92 juta.
Penyebab
12.33 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat
yang berLanggung [awab lalal dalam melakukan Lugas, kurang menaau
dan memahami ketentuan yang berlaku, dan lemah dalam melakukan
pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
12.34 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah, BPK telah merekomendasikan
antara lain kepada pimpinan instansi agar memberikan sanksi sesuai
ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan
mempertanggungjawabkan kekurangan volume pekerjaan dengan
memperhitungkan pembayaran berikutnya atau menyetorkan ke kas daerah
atau menyelesaikan pekerjaan.
Kekurangan Penerimaan
12.35 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi
hak daerah LeLapl udak aLau belum masuk ke kas daerah karena adanya
unsur keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
12.36 Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan yaitu adanya
penerlmaan daerah dan/aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum/udak
ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah.
12.37 Hasil pemeriksaan atas dana otsus menunjukkan adanya kekurangan
penerimaan daerah sebanyak 19 kasus senilai Rp5,35 miliar yaitu berupa
kekurangan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan
belum/udak dlLeLapkan/dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas daerah.
12.38 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi Papua, denda keterlambatan atas penyelesaian pekerjaan TA
2009 dan 2010 pada Dinas Pertambangan dan Energi, Biro Pemerintahan
145
Kampung Sekretariat Daerah, dan Dinas Perhubungan Provinsi belum
ditetapkan dan dipungut senilai Rp3,59 miliar.
Di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat, denda keterlambatan
atas pelaksanaan pekerjaan TA 2008 dan 2009 pada Dinas Pendidikan,
Dinas Kesehatan, dan Dinas Pekerjaan Umum belum disetor ke kas
daerah senilai Rp438,25 juta.
Di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, denda keterlambatan
atas kegiatan pengadaan obat TA 2008 dan 2009 di RSUD Kabupaten
Manokwari belum ditetapkan dan disetorkan ke kas daerah senilai
Rp163,14 juta.
Penyebab
12.39 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah pada umumnya terjadi karena
rekanan udak melaksanakan peker[aan secara LepaL wakLu sesual syaraL-
syarat yang diperjanjikan dalam kontrak, pejabat yang bertanggung jawab
lalai, dan lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
12.40 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah, BPK telah
merekomendasikan kepada kepala daerah antara lain agar memberikan
sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang
bertanggung jawab, melakukan penagihan atas kekurangan penerimaan dan
menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas daerah.
Administrasi
12.41 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap
ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan
aseL, LeLapl penylmpangan LersebuL udak mengaklbaLkan keruglan daerah
aLau poLensl keruglan daerah, udak mengurangl hak daerah (kekurangan
penerlmaan), udak menghambaL program enuLas, dan udak mengandung
unsur lndlkasl undak pldana.
12.42 Þada umumnya kasus-kasus penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf yalLu
adanya perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld),
proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak menlmbulkan
kerugian daerah), penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan
bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah, penyimpangan
Lerhadap peraLuran perundang-undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu
kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll, serta pertanggungjawaban/
penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan.
146
12.43 Hasil pemeriksaan atas dana otsus menunjukkan adanya penyimpangan
yang berslfaL admlnlsLrauf sebanyak 36 kasus yang Lerdlrl aLas
sebanyak 21 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap aLau udak valld),
sebanyak 7 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
(udak menlmbulkan keruglan daerah),
sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah;
sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bldang LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan,
perpajakan dll.; dan
sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan
melebihi batas waktu yang ditentukan.
12.44 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut.
Di Provinsi Papua, terdapat penggunaan dana otsus oleh lembaga
keagamaan, lembaga pendidikan, dan organisasi sosial TA 2010 belum
dipertanggungjawabkan senilai Rp47,66 miliar.
Di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, terdapat penggunaan
dana Otsus TA 2010 pada SKPD yang belum dipertanggungjawabkan
senllal 8p13,16 mlllar sehlngga udak dapaL dlyaklnl kewa[arannya.
Di Kota Jayapura, Provinsi Papua, pekerjaan pengadaan barang dan jasa
TA 2008 pada Dinas Pendidikan dan Pengajaran dilakukan dengan cara
pemilihan langsung senilai Rp5,32 miliar.
Penyebab
12.45 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena
pe[abaL yang berLanggung [awab lalal, udak cermaL dan belum opumal
dalam melaksanakan Lugas dan Langgung [awab, udak menaau keLenLuan
serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
12.46 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut, BPK telah merekomendasikan
anLara laln agar enuLas yang dlperlksa memperLanggung[awabkan secara
admlnlsLrauf aLas buku perLanggung[awaban yang belum valld dan kepala
daerah agar memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada
pejabat yang bertanggung jawab.
147
kendakhematan
12.47 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan lnpuL
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan
dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.
12.48 Þada umumnya kasus keudakhemaLan yalLu adanya pemborosan keuangan
daerah atau kemahalan harga.
12.49 Pasll pemerlksaan aLas dana oLsus menun[ukkan adanya keudakhemaLan
sebanyak 4 kasus senilai Rp1,25 miliar yaitu berupa pemborosan keuangan
daerah atau kemahalan harga.
12.50 kasus-kasus keudakhemaLan LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul kabupaLen !ayapura, Þrovlnsl Þapua, LerdapaL perklraan kuanuLas
yang udak sesual sLandar yang seharusnya, adanya perhlLungan sewa
alaL yang udak sesual kondlsl sebenarnya dan peralaLan yang udak
dlgunakan mengaklbaLkan Ler[adlnya keudakhemaLan pembayaran aLas
pekerjaan yang bersumber dari dana otsus TA 2009 pada Dinas Pekerjaan
Umum senilai Rp741,12 juta.
Di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, biaya transportasi
perjalanan dinas dalam daerah TA 2008 dan 2009 melebihi standar
harga bupau pada ulnas kesehaLan dan keluarga 8erencana sehlngga
memboroskan keuangan daerah senilai Rp133,11 juta.
Di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, pada TA 2008 terdapat
peker[aan yang udak dapaL dlselesalkan oleh rekanan karena masalah
transportasi alat berat ke lokasi tujuan sehingga dikategorikan fotce
majeure mengakibatkan pemborosan keuangan daerah senilai Rp312,75
juta.
Penyebab
12.51 kasus-kasus keudakhemaLan pada umumnya Ler[adl karena pe[abaL yang
berLanggung [awab udak cermaL dalam perencanaan, pelaksanaan Lugas dan
udak memedomanl keLenLuan yang berlaku serLa lemah dalam melakukan
pengawasan dan pengendalian.
Rekomendasi
12.52 1erhadap kasus-kasus keudakhemaLan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada Kepala Daerah antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat
yang bertanggung jawab dan lebih meningkatkan pengawasan dan
pengendalian atas pelaksanaan kegiatan di satuan kerjanya.
148
kendakefeknfan
12.53 1emuan mengenal keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll
(ootcome), yalLu Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak
memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang
udak opumal sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
12.54 Þada umumnya kasus-kasus keudakefekufan yalLu adanya penggunaan
anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual perunLukan, pemanfaaLan barang/
[asa dllakukan udak sesual dengan rencana yang dlLeLapkan, barang yang
dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan, pelaksanaan keglaLan LerlambaL/
terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi, dan
fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak dlselenggarakan dengan balk
Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
12.55 Pasll pemerlksaan aLas dana oLsus menun[ukkan adanya keudakefekufan
sebanyak 52 kasus senilai Rp145,23 miliar yang terdiri atas
sebanyak 13 kasus penggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak
sesuai peruntukan senilai Rp69,04 miliar;
sebanyak 2 kasus pemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual
dengan rencana yang dlLeLapkan, barang yang dlbell belum/udak dapaL
dimanfaatkan senilai Rp320,00 juta;
sebanyak 18 kasus barang yang dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan
senilai Rp35,60 miliar;
sebanyak 18 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga
mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp40,26 miliar; dan
sebanyak 1 kasus fungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak
dlselenggarakan dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal.
12.56 kasus-kasus keudakefekufan LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
Di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat, terdapat beberapa kegiatan
yang udak sepaLuLnya dlblayal darl dana oLsus sehlngga penggunaan
dana otsus TA 2008 dan 2009 belum sepenuhnya tepat sasaran senilai
Rp14,32 miliar.
Di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, hasil kegiatan pembangunan
sektor perhubungan TA 2008 berupa 1 unit bus air kapasitas 50
penumpang dan 1 unlL kapal upe looJloq ctof 1ook ukuran 200 GRT
senilai Rp9,29 miliar belum dimanfaatkan.
Di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat, hasil kegiatan
program pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dasar dan
menengah TA 2009 pada Dinas Pendidikan senilai Rp1,34 miliar belum
dimanfaatkan.
149
Di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, pada Badan Pemberdayaan
Masyarakat Kampung terdapat realisasi belanja bantuan keuangan TA
2008 dan 2009 belum disalurkan ke kampung-kampung mengakibatkan
dana bantuan senilai Rp17,34 miliar belum dapat segera dimanfaatkan
untuk pembangunan kampung/kelurahan.
Penyebab
12.57 kasus-kasus keudakefekufan pada umumnya Ler[adl karena pe[abaL yang
berLanggung [awab udak cermaL dalam merencanakan dan lalal dalam
melaksanakan keglaLan, udak memedomanl keLenLuan yang berlaku serLa
lemah dalam pengawasan dan pengendalian kegiatan.
Rekomendasi
12.58 1erhadap kasus-kasus keudakefekufan, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada kepala daerah antara lain agar memberikan sanksi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab, lebih
cermat dalam perencanaan kegiatan dan memedomani ketentuan yang
berlaku serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.
12.59 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada sofcopy LHP dalam cakram
padat terlampir.
150
151
BAB 13
Pelaksanaan Subsidi Pemerintah
13.1 Dalam Semester I Tahun 2011, BPK telah menyelesaikan laporan hasil
pemerlksaan subsldl pada Lu[uh enuLas dl llngkungan 8uMn, yalLu subsldl
[enls 88M LerLenLu (subsldl !81) dan subsldl LÞC Labung gas 3 kg pada Þ1
ÞerLamlna (Þersero), subsldl llsLrlk pada Þ1 Þerusahaan LlsLrlk negara
(Þersero) (Þ1 ÞLn), dan subsldl pupuk pada Þ1 Þupuk Srlwld[aya Þalembang
(Þ1 Þusrl Þalembang), Þ1 Þupuk kallmanLan 1lmur (Þ1 Þk1), Þ1 Þupuk ku[ang
(Þ1 Þk), Þ1 Þupuk Creslk (Þ1 ÞC), dan Þ1 Þupuk lskandar Muda (Þ1 ÞlM).
Selaln lLu 8Þk [uga memerlksa banLuan langsung benlh unggul (8L8u) pada
kemenLerlan ÞerLanlan (kemenLan), Þ1 Sang Pyang Serl (Þersero) (Þ1 SPS),
dan Þ1 ÞerLanl (Þersero).
13.2 Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan subsidi pemerintah pada tujuh
8uMn dan kemenLerlan ÞerLanlan senllal 8p148,06 Lrlllun darl reallsasl
anggaran senllal 8p166,30 Lrlllun. 1oLal Lemuan pemerlksaan pelaksanaan
subsldl pemerlnLah senllal 8p90S,40 mlllar dan koreksl subsldl senllal
8p1,4S Lrlllun merupakan Lemuan keruglan negara/perusahaan, kekurangan
penerlmaan, dan keudakefekufan yang memlllkl lmpllkasl nllal ruplah.
Selaln Lemuan LersebuL, LerdapaL Lemuan kelemahan slsLem pengendallan
lnLern (SÞl) dan admlnlsLrasl yang udak memlllkl lmpllkasl nllal uang LeLapl
memerlukan perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
Tujuan Pemeriksaan
13.3 Þemerlksaan aLas subsldl !81 dan subsldl Labung 3 kg pada Þ1 ÞerLamlna
(Þersero), dan badan usaha lalnnya yang mendapaL penugasan unLuk
mendlsLrlbuslkan !81 yalLu Þ1 ÞeLronas nlaga lndonesla (ÞeLronas) dan Þ1
Aneka klmla 8aya Corporlndo (Þ1 Ak8), berLu[uan unLuk menllal kewa[aran
volume pen[ualan [enls 88M LerLenLu yang dldlsLrlbuslkan kepada konsumen
dl seluruh wllayah lndonesla selama 1ahun 2010, menllal kewa[aran nllal
subsldl !81 dan subsldl LÞC Labung 3 kg yang layak dlbayar oleh ÞemerlnLah,
dan menllal keLaaLan badan usaha pada peraLuran perundang-undangan
dan slsLem pengendallan lnLern yang dlLerapkan.
13.4 Þemerlksaan aLas subsldl llsLrlk berLu[uan unLuk mengu[l dan menllal
kewa[aran nllal subsldl llsLrlk 1A 2010 yang layak dlbayarkan pemerlnLah
kepada Þ1 ÞLn (Þersero).
13.S Þemerlksaan aLas subsldl pupuk pada Þ1 Þk1, Þ1 Þusrl Þalembang, Þ1 Þk,
Þ1 ÞC, dan Þ1 ÞlM, berLu[uan unLuk menllal kewa[aran perhlLungan [umlah
subsidi pupuk TA 2010 dan menilai penyaluran pupuk bersubsidi sampai
dengan ungkaL pengecer resml Lelah sesual dengan keLenLuan yang berlaku.
152
13.6 Þemerlksaan aLas 8L8u berLu[uan unLuk menllal penyaluran 8L8u 1A 2009
yang dlLaglhkan oleh pelaksana lobllc 5etvlce Obllqouoo (ÞSC) (Þ1 SPS dan
Þ1 ÞerLanl) dan blaya pemblnaan serLa pendamplngan Lelah memenuhl
syarat untuk dibayar.
Hasil Pemeriksaan
13.7 Pasll pemerlksaan 8Þk dlLuangkan dalam laporan hasll pemerlksaan dan
dlnyaLakan dalam se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas
saLu aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah
kasus yang merupakan baglan darl Lemuan. Pasll pemerlksaan aLas subsldl
pemerlnLah selaln menya[lkan perhlLungan/koreksl aLas subsldl yang
dlLanggung oleh pemerlnLah, [uga mengungkapkan SÞl dan keudakpaLuhan
pelaksanaan subsldl Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
Koreksi Subsidi
13.8 Pasll pemerlksaan aLas pelaksanaan subsldl menun[ukkan bahwa pemerlnLah
maslh mempunyal kewa[lban membayar subsldl kepada uga 8uMn
penerlma subsldl senllal 8pS,S6 Lrlllun darl nllal yang Lelah dlLeLapkan dan
ÞemerlnLah leblh bayar kepada empaL 8uMn senllal 8p796,73 mlllar, secara
rlncl dluralkan dlbawah lnl.
13.9 Pasll pemerlksaan aLas subsldl !81 pada Þ1 ÞerLamlna (Þersero), Þ1 ÞeLronas,
dan Þ1 Ak8, menun[ukkan bahwa [umlah subsldl !81 yang dlhlLung oleh
Þ1 ÞerLamlna (Þersero) senllal 8p61,07 Lrlllun dan dlkoreksl kurang senllal
8p6,2S mlllar, sehlngga [umlah subsldl !81 men[adl senllal 8p61,06 Lrlllun.
ÞemerlnLah sudah membayar kepada Þ1 ÞerLamlna (Þersero), Þ1 ÞeLronas
dan Þ1 Ak8 senllal 8p60,60 Lrlllun. uengan demlklan subsldl kurang dlLerlma
Þ1 ÞerLamlna (Þersero), Þ1 ÞeLronas dan Þ1 Ak8 senllal 8p4S6,36 mlllar.
13.10 Pasll pemerlksaan aLas subsldl LÞC Labung 3 kg pada Þ1 ÞerLamlna (Þersero)
menun[ukkan bahwa [umlah subsldl yang dlhlLung oleh Þ1 ÞerLamlna
(Þersero) senllal 8p14.926,88 mlllar dan dlkoreksl kurang senllal 8p217,31
[uLa, sehlngga [umlah subsldl LÞC 3 kg men[adl senllal 8p14.926,66 mlllar.
ÞemerlnLah sudah membayar kepada Þ1 ÞerLamlna (Þersero) senllal
8p14.676,14 mlllar. uengan demlklan subsldl kurang dlLerlma Þ1 ÞerLamlna
(Þersero) senllal 8p2S0,S2 mlllar.
13.11 Pasll pemerlksaan aLas subsldl llsLrlk pada Þ1 ÞLn (Þersero), menun[ukkan
bahwa semula Þ1 ÞLn (Þersero) menghlLung subsldl llsLrlk senllal
8pS9,03 Lrlllun dan dlkoreksl kurang senllal 8p92S,8S mlllar, sehlngga [umlah
subsldl llsLrlk men[adl senllal 8pS8,10 Lrlllun. ÞemerlnLah sudah membayar
kepada Þ1 ÞLn (Þersero) senllal 8pS3,33 Lrlllun. uengan demlklan subsldl
kurang dlLerlma Þ1 ÞLn (Þersero) senllal 8p4,77 Lrlllun.
13.12 Pasll pemerlksaan aLas subsldl pupuk pada Þ1 Þk1, menun[ukkan bahwa
semula Þ1 Þk1 menghlLung subsldl pupuk senllal 8p1,89 Lrlllun dan dlkoreksl
posluf senllal 8pS9,07 mlllar, sehlngga [umlah subsldl pupuk men[adl senllal
153
8p1,9S Lrlllun. ÞemerlnLah sudah menyelesalkan pembayaran kepada
Þ1 Þk1 senllal 8p1,87 Lrlllun. uengan demlklan subsldl kurang dlLerlma
Þ1 Þk1 senllal 8p84,22 mlllar.
13.13 Pasll pemerlksaan aLas subsldl pupuk pada Þ1 Þusrl Þalembang,
menun[ukkan bahwa semula Þ1 Þusrl Þalembang menghlLung subsldl
pupuk senllal 8p1,78 Lrlllun dan subsldl pasokan (Þ1 Þk1, Þ1 ÞlM, dan
Þ1 Þk) senllal 8p891,36 mlllar, dlkoreksl kurang senllal 8p333,49 mlllar,
sehlngga [umlah subsldl pupuk men[adl senllal 8p2,34 Lrlllun. ÞemerlnLah
sudah menyelesalkan pembayaran kepada Þ1 Þusrl Þalembang senllal
8p2,77 Lrlllun. uengan demlklan subsldl leblh dlLerlma Þ1 Þusrl Þalembang
senllal 8p431,SS mlllar.
13.14 Pasll pemerlksaan aLas subsldl pupuk pada Þ1 ÞC, menun[ukkan bahwa
semula Þ1 ÞC menghlLung subsldl pupuk senllal 8pS,79 Lrlllun dan dlkoreksl
kurang senllal 8p30,28 mlllar, sehlngga [umlah subsldl pupuk men[adl senllal
8pS,76 Lrlllun. ÞemerlnLah sudah menyelesalkan pembayaran kepada Þ1 ÞC
senllal 8p 6,07 Lrlllun. uengan demlklan subsldl leblh dlLerlma Þ1 ÞC senllal
8p30S,86 mlllar.
13.1S Pasll pemerlksaan aLas subsldl pupuk pada Þ1 Þk, menun[ukkan bahwa
semula Þ1 Þk menghlLung subsldl pupuk senllal 8p9S2,89 mlllar dan dlkoreksl
kurang senllal 8pS9,43 mlllar, sehlngga [umlah subsldl pupuk men[adl senllal
8p893,4S mlllar. ÞemerlnLah sudah menyelesalkan pembayaran kepada
Þ1 Þk senllal 8p90S,2S mlllar. uengan demlklan subsldl leblh dlLerlma Þ1 Þk
senllal 8p11,79 mlllar.
13.16 Pasll pemerlksaan aLas subsldl pupuk pada Þ1 ÞlM, menun[ukkan bahwa
semula Þ1 ÞlM menghlLung subsldl pupuk senllal 8p241,73 mlllar dan dlkoreksl
kurang senllal 8p43,SS mlllar, sehlngga [umlah subsldl pupuk men[adl senllal
8p198,18 mlllar. ÞemerlnLah sudah menyelesalkan pembayaran kepada
Þ1 ÞlM senllal 8p24S,70 mlllar. uengan demlklan subsldl leblh dlLerlma
Þ1 ÞlM senllal 8p47,S2 mlllar.
13.17 Pasll pemerlksaan aLas banLuan langsung benlh unggul (8L8u) pada
kemenLerlan ÞerLanlan, Þ1 SPS, Þ1 ÞerLanl (Þersero), dan ulnas ÞerLanlan
pada kabupaLen/koLa dl wllayah Þrovlnsl Sulawesl SelaLan menun[ukkan
bahwa kemenLan memperoleh alokasl anggaran 8L8u pada 1A 2009 senllal
8p1,08 Lrlllun. Anggaran LersebuL bersumber darl AÞ8n murnl 1A 2009
senllal 8p791,99 mlllar dan AÞ8n-Þ 1A 2009 senllal 8p291,3S mlllar, dan
dlreallsaslkan maslng-maslng senllal 8p774,3S mlllar dan 8p269,68 mlllar.
Þelaksanaan 8L8u 1A 2009 yang bersumber darl AÞ8n-Þ 1A 2009 LerdapaL
Laglhan darl pelaksana ÞSC senllal 8p9,00 mlllar yang belum dlseLu[ul dan
belum dlbayarkan. Selaln lLu, hasll pemerlksaan aLas pelaksanaan 8L8u,
mengungkapkan adanya keudakpaLuhan oleh pelaksana ÞSC (Þ1 SPS dan
Þ1 ÞerLanl), karena belum sepenuhnya memenuhl persyaraLan pembayaran
aLas penyaluran 8L8u dan blaya pemblnaan serLa blaya pendamplngan.
154
Sistem Pengendalian Intern
13.18 Pasll pemerlksaan mengungkapkan adanya 3S kasus kelemahan slsLem
pengendallan lnLern pada delapan enuLas Lerdlrl aLas
sebanyak 6 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
sebanyak 1 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan udak
memadal,
sebanyak 1 kasus slsLem lnformasl akunLansl dan pelaporan belum
dldukung SuM yang memadal,
sebanyak 4 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang Leknls LerLenLu aLau keLenLuan lnLern organlsasl yang
dlperlksa LenLang pendapaLan dan belan[a,
sebanyak 1 kasus peneLapan pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL hllangnya poLensl penerlmaan/pendapaLan,
sebanyak 1 kasus enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk suaLu
prosedur aLau keseluruhan prosedur,
sebanyak 19 kasus SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan secara
opumal aLau udak dlLaau, dan
sebanyak 2 kasus laln-laln.
13.19 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
Þ1 ÞlM, pengendallan pembebanan blaya kanLong pupuk bersubsldl
kurang memadal, mengaklbaLkan keleblhan pembebanan senllal
8p1,1S mlllar.
Þ1 ÞerLamlna (Þersero), LerdapaL keudakakuraLan pencaLaLan volume
penerlmaan dan pen[ualan 88M pada Þemasaran 88M 8eLall 8eglon l dan
ll, mengaklbaLkan volume premlum dan solar yang dllaporkan ÞerLamlna
udak sesual dengan daLa beberapa penyalur dan udak menggambarkan
jumlah penjualan sebenarnya.
Þ1 ÞerLamlna (Þersero), Þemasaran lndusLrl dan Marlne 8eglon ll
menyalurkan solar bersubsldl kepada beberapa kapal dengan manlfes
yang udak Lerlncl, mengaklbaLkan subsldl !81 udak LepaL guna dan
berlslko melampaul kuoLa yang Lelah dlLeLapkan.
Penyebab
13.20 kasus-kasus kelemahan SÞl anLara laln dlsebabkan 8aglan AkunLansl 8laya
dan MaLerlal lalal dalam melakukan pengecekan oolt ptlce pada slsLem loglsuk
(Movetlc 5ystem) pada saaL membebankan blaya kanLong pupuk bersubsldl,
155
agen penyalur udak mencaLaL dan mendokumenLaslkan daLa pembellan dan
pen[ualan secara Lerub dan akuraL serLa ÞerLamlna 88M 8eLall 8eglon l dan
ll udak merekonslllasl secara ruun anLara daLa darl lembaga penyalur dengan
data dalam sistem 8osloess lotellqeot (bock op Joto ttoosoksl) Pertamina,
dan perusahaan pemlllk kapal/perusahaan bongkar muaL kapal menya[lkan
laporan rencana keglaLan bongkar muaL (moolfest) udak lengkap dan [elas.
Rekomendasi
13.21 1erhadap kasus-kasus kelemahan SÞl, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
ulreksl Þ1 ÞlM agar memberlkan sanksl sesual keLenLuan yang berlaku
kepada kepala 8aglan AkunLansl 8laya dan MaLerlal, melakukan soslallsasl
ulang LenLang pembuaLan pelaporan yang balk dan Lerub, serLa kapal/agen
kapal melamplrkan manlfes bongkar dan muaL secara rlncl.
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
13.22 Selaln koreksl perhlLungan subsldl dan kelemahan aLas SÞl, hasll pemerlksaan
[uga mengungkapkan adanya keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan
perundang-undangan yang mengaklbaLkan keruglan negara, kekurangan
penerlmaan, admlnlsLrasl, dan keudakefekufan.
13.23 keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan mellpuu 39 kasus
senllal 8p90S,40 mlllar sebagalmana dlsa[lkan dalam 1abel 13.1. 8lnclan
[enls Lemuan pada uap-uap kelompok dapaL dlllhaL pada Lamplran 28 dan
rlnclan Lemuan menuruL enuLas dlsa[lkan dalam Lamplran 29.
Tabel 13.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi/PSO
No. Rincian Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai (juta Rp)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 keruglan negara/Þerusahaan 2 384,78
2 kekurangan Þenerlmaan S 822.SS0,03
3 Administrasi 29 -
4 keudakefekufan 3 82.467,0S
Jumlah 39 905.401,86
13.24 8erdasarkan 1abel 13.1, dapaL dl[elaskan bahwa Lemuan aLas keudakpaLuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan dapaL dlkelompokkan dalam
kelompok Lemuan keruglan negara, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl,
dan keudakefekufan. 1lap-uap kelompok Lemuan beserLa conLohnya
dluralkan sebagal berlkuL.
156
Kerugian Negara/Perusahaan
13.2S keruglan negara (Lermasuk keruglan negara yang Ler[adl pada perusahaan
mlllk negara) adalah keruglan nyaLa dan pasu [umlahnya berupa berkurangnya
kekayaan negara aLau perusahaan berupa uang, suraL berharga, dan barang,
yang nyaLa dan pasu [umlahnya sebagal aklbaL perbuaLan melawan hukum
balk senga[a maupun lalal.
13.26 Pasll pemerlksaan menun[ukkan LerdapaL dua kasus mengenal keruglan
negara senllal 8p384,78 [uLa. kasus LersebuL Ler[adl dl kemenLerlan ÞerLanlan
dl anLaranya mengenal keleblhan pembayaran blaya per[alanan dlnas pada
keglaLan pemblnaan dan pendamplngan 8L8u 1A 2009, mengaklbaLkan
lndlkasl keruglan negara senllal 8p367,13 [uLa.
Penyebab
13.27 kasus keruglan negara karena peLugas pelaksana per[alanan dlnas lalal
memperhaukan keLenLuan yang berlaku, pe[abaL penandaLangan SÞM
dan pe[abaL pembuaL komlLmen (ÞÞk) kurang cermaL dalam melakukan
pengawasan Lerhadap pelaksanaan belan[a pemblnaan dan pendamplngan
dan um verlñkasl pelaksanaan 8L8u udak cermaL memverlñkasl aLas buku
pendukung Laglhan blaya pemblnaan dan pendamplngan darl Þ1 SPS dan Þ1
Pertani.
Rekomendasi
13.28 1erhadap kasus keruglan negara LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
agar melakukan LunLuLan ganu rugl/pengemballan keruglan negara aLas
keleblhan blaya per[alanan senllal 8p367,13 [uLa, memberlkan sanksl kepada
peLugas/pe[abaL/um verlñkasl yang melaksanakan keglaLan.
Kekurangan Penerimaan
13.29 kekurangan penerlmaan adalah adanya penerlmaan yang sudah men[adl
hak negara/perusahaan mlllk negara LeLapl udak aLau belum masuk ke
kas negara/perusahaan mlllk negara karena adanya unsur keudakpaLuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan.
13.30 Þada umumnya kasus-kasus kekurangan penerlmaan, mellpuu penerlmaan
negara/perusahaan aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum aLau udak
dlLeLapkan/dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/ perusahaan dan
adanya kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah.
13.31 Pasll pemerlksaan menun[ukkan LerdapaL llma kasus kekurangan penerlmaan
negara/perusahaan senllal 8p822,SS mlllar. kasus LersebuL Ler[adl keleblhan
pembayaran subsldl dl Þ1 Þusrl Þalembang senllal 8p431,SS mlllar, Þ1 ÞC
senllal 8p30S,86 mlllar, dan Þ1 ÞLn (Þersero) Wllayah Sulawesl SelaLan,
Sulawesl 8araL, dan Sulawesl 1enggara (SulLanbaLara) belum menaglh
denda keterlambatan konstruksi, denda daya mampu, dan denda speclfc
foel coosompuoo kepada Þ1 Coglndo uaya 8ersama (Þ1 Cu8) aLas sewa
pembangklL senllal 8p2S,81 mlllar.
157
Penyebab
13.32 kasus-kasus kekurangan penerlmaan dl anLaranya karena Þ1 Þusrl Þalembang
dan Þ1 ÞC kurang LepaL dalam menghlLung PÞÞ pupuk subsldl dan nllal
subsldl dalam laporan perhlLungan ooooJlteJ dan Mana[er ÞembangklLan
Þ1 ÞLn (Þersero) Wllayah SulLanbaLara kurang cermaL dalam memverlñkasl
Laglhan sewa dan menghlLung denda kepada Þ1 Cu8.
Rekomendasi
13.33 ALas kasus kekurangan penerlmaan, 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada
ulreksl Þ1 Þusrl dan Þ1 ÞC anLara laln agar menyeLor keleblhan pembayaran
subsldl LersebuL ke kas negara maslng-maslng senllal 8p431,SS mlllar dan
senllal 8p30S,86 mlllar serLa ulreksl Þ1 ÞLn (Þersero) memerlnLahkan CM
ÞLn Wllayah SulLanbaLara unLuk menaglh keLerlambaLan konsLruksl, denda
daya mampu, dan denda SlC kepada Þ1 Cu8 aLas sewa pembangklL.
Administrasi
13.34 1emuan admlnlsLrasl mengungkapkan adanya penylmpangan Lerhadap
keLenLuan yang berlaku balk dalam pelaksanaan anggaran aLau
pengelolaan aseL maupun operaslonal, LeLapl penylmpangan LersebuL udak
mengaklbaLkan keruglan aLau poLensl keruglan negara/perusahaan mlllk
negara, udak mengurangl hak negara/perusahaan mlllk negara (kekurangan
penerlmaan), udak menghambaL program enuLas, dan udak mengandung
unsur lndlkasl undak pldana.
13.3S Pasll pemerlksaan menun[ukkan adanya 29 kasus penylmpangan
admlnlsLrasl. kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
per[an[lan pln[am memln[am pupuk anLara Þ1 ÞlM dan Þ1 Þusrl
Þalembang unLuk memenuhl kewa[lban pengadaan dan penyaluran
pupuk bersubsldl dl Wllayah nAu udak dlserLal suraL penugasan darl
ulrekLoraL !enderal Þerdagangan ualam negerl, mengaklbaLkan blaya
angkuL dan blaya bongkar aLas pupuk yang dl pln[am oleh Þ1 ÞlM darl
Þ1 Þusrl Þalembang udak dapaL dlbebankan sebagal blaya PÞÞ pupuk
bersubsldl,
asersl mana[emen Þ1 Þk1 dalam Laporan Subsldl Þupuk 1A 2010 dlsa[lkan
belum sepenuhnya berdasar lnformasl yang ob[ekuf, mengaklbaLkan
laporan subsldl pupuk Þ1 Þk1 1A 2010 udak akuraL dan udak ob[ekuf
serLa adanya koreksl posluf yang cukup maLerlal aLas perhlLungan PÞÞ
pupuk bersubsidi khususnya pupuk urea TA 2010 dan volume penyaluran
pupuk urea dan zeorganlk bersubsldl, dan
Þ1 Þusrl Þalembang melaporkan volume penyaluran pupuk bersubsldl
udak berdasarkan laporan bulanan pengecer dan udak memlsahkan
volume penyaluran berdasarkan sumber produk, mengaklbaLkan
laporan volume penyaluran pupuk bersubsldl Þ1 Þusrl Þalembang belum
menggambarkan kondlsl yang sebenarnya.
158
Penyebab
13.36 kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl anLara laln dlsebabkan
komparLemen Þemasaran Þ1 ÞlM belum sepenuhnya memahaml prosedur
pemenuhan pasokan pupuk dari produsen lain, manajemen PT PKT belum
cermaL dalam membuaL laporan subsldl, khususnya dalam perhlLungan PÞÞ
pupuk bersubsldl, ulrekLoraL komersll d.h.l ueparLemen 8enbangsar Þ1 Þk1
belum cermaL dalam membuaL laporan [umlah penyaluran pupuk bersubsldl
serLa udak melakukan rekonslllasl daLa penyaluran seluruh kÞ secara ruun,
ulrekLoraL Þemasaran Þ1 Þusrl Þalembang udak memperhaukan keLenLuan
dalam membuat laporan volume penyaluran pupuk bersubsidi, dan Area
Mana[er Þusrl Þemasaran uaerah 8anLen belum melaksanakan pengawasan
dengan balk.
Rekomendasi
13.37 1erhadap kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl LersebuL, 8Þk Lelah
merekomendaslkan kepada ulreksl Þ1 ÞlM agar seuap pemenuhan
pasokan pupuk darl produsen laln memperhaukan keLenLuan yang
berlaku, memperbalkl meLode perhlLungan PÞÞ Lermasuk blaya yang udak
diperkenankan (ooJeJocuble cost) dan penyusunan laporan subsidi pupuk
sesual keLenLuan yang berlaku, mengadakan rekonslllasl secara berkala
data penyaluran pupuk bersubsidi, menyajikan volume penyaluran dalam
laporan subsldl pupuk dengan formula perhlLungan sesual keLenLuan, dan
melakukan pemlsahan pencaLaLan pen[ualan anLara lsl pupuk produksl
sendiri dan pupuk produksi produsen lain.
kendakefeknfan
13.38 1emuan keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll (ootcome) yaitu
Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak memberlkan
manfaaL aLau hasll yang dlrencanakan, serLa fungsl lnsLansl udak opumal
sehlngga Lu[uan organlsasl udak Lercapal.
13.39 Þada umumnya kasus-kasus keudakefekufan, mellpuu pemanfaaLan barang/
[asa dllakukan udak sesual rencana yang dlLeLapkan, pelaksanaan keglaLan
LerlambaL/LerhambaL sehlngga mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl
dan pelayanan kepada masyarakaL udak opumal.
13.40 Pasll pemerlksaan menun[ukkan adanya uga kasus keudakefekufan yang
Ler[adl. kasus-kasus LersebuL anLara laln Ler[adl pada Þ1 ÞLn (Þersero) yalLu
Þ1 lndonesla Þower (Þ1 lÞ) belum dapaL mengopumalkan persedlaan Motloe
Fuel Oil (MlC) sebanyak S0,33 [uLa llLer aLau senllal 8p81,61 mlllar dl unlL
8lsnls ÞembangklLan (u8Þ) Suralaya.
Penyebab
13.41 kasus-kasus keudakefekufan dlsebabkan mana[emen Þ1 lÞ belum mengka[l
pemanfaaLan persedlaan MlC dl u8Þ Suralaya ke unlL pembangklL laln.
159
Rekomendasi
13.42 1erhadap kasus-kasus keudakefekufan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada Direksi PT IP untuk melakukan analisis kebutuhan atas persediaan
MlC dl u8Þ Suralaya, dan segera mengallhkan ke pembangklL Þ1 lÞ lalnnya
yang maslh membuLuhkan blla hasll anallsls LersebuL mengungkapkan
bahwa uÞ8 Suralaya udak membuLuhkan MlC.
13.43 Pasll pemerlksaan secara lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam
cakram padaL Lerlamplr.
160
161
BAB 14
Sistem Pengendalian Intern Badan Usaha Milik Negara
14.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas sistem
pengendallan lnLern (SÞl) 8uMn pada 33 enuLas yalLu Þ1 ÞerLamlna,
Þ1 8uklL Asam, Þ1 Aneka 1ambang, Þ1 8aLan 1eknologl (Þersero), Þ1 Caruda
lndonesla (Þersero) 1bk, Þ1 !asa Marga (Þersero) 1bk, Þ1 kereLa Apl lndonesla
(Þersero), Þ1 kawasan lndusLrl Medan, Þ1 Þelayaran naslonal lndonesla
(Þersero), Þ1 1elekomunlkasl lndonesla 1bk, Þ1 Wl[aya karya (Þersero)
1bk, Þ1 lnhuLanl ll (Þersero), Þerum Þerurl, Þ1 Þerkebunan nusanLara vlll
(Þersero), Þ1 lnhuLanl l (Þersero), Þerum ÞerhuLanl, Þerum ÞerceLakan
negara 8epubllk lndonesla, Þ1 Þerkebunan nusanLara vll (Þersero), Þ1 Þupuk
Srlwld[a[a (Þersero), Þ1 Askrlndo (Þersero), Þerum 8ulog, Þerum !amkrlndo,
Þ1 !asa 8ahar[a (Þersero), Þ1 Asuransl !lwasraya (Þersero), Lembaga
Þemblayaan Lkspor lndonesla, Þ1 8ank Mandlrl (Þersero) 1bk, Þ1 8ank
negara lndonesla (Þersero) 1bk, Þ1 8ank 1abungan negara (Þersero) 1bk,
Þ1 Surveyor lndonesla (Þersero), Þerum Þegadalan, Þ1 Sucoñndo (Þersero),
Þ1 8ank 8akyaL lndonesla (Þersero) 1bk, dan Þ1 Þos lndonesla (Þersero).
14.2 Sasaran pemerlksaan SÞl 8uMn mellpuu slklus aLau keglaLan perusahaan
yang men[adl akuvlLas uLama (core bussines) pada masing-masing BUMN
yang dlperlksa.
Tujuan Pemeriksaan
14.3 1u[uan pemerlksaan SÞl pada 33 8uMn LersebuL unLuk menllal apakah SÞl
perusahaan Lelah dlrancang dan dlLerapkan sesual dengan kepuLusan MenLerl
8uMn nomor kLÞ-117/M-M8u/2002 LenLang Þenerapan Þrakuk Good
Corporate Governance pada BUMN pasal 22 dan Integrated Framework of
Internal Control yang dlLerblLkan oleh commluee of 5poosotloq Otqoolzouoos
of the Treadway Commission (CCSC). khusus unLuk 8uMn Þerbankan, selaln
dua peraLuran LersebuL dl aLas Lu[uan pemerlksaan mellpuu [uga kesesualan
aLas SuraL Ldaran 8ank lndonesla nomor S/22/uÞnÞ Langgal 23 SepLember
2003 LenLang Þedoman SLandar SlsLem Þengendallan lnLern 8agl 8ank
Umum.
Hasil Pemeriksaan
14.4 Sesual dengan Lu[uan pemerlksaannya, hasll penllalan aLas SÞl 8uMn
dlLuangkan dalam laporan hasll pemerlksaan (LPÞ) yalLu berupa pernyaLaan
ungkaL kesesualan SÞl dengan krlLerla yang dlLeLapkan dan Lemuan
pemerlksaan yang merupakan hasll revlu SÞl yang dapaL dlkelompokkan
pada temuan sesuai dengan Integrated Framework of Internal Control yang
dlLerblLkan oleh cO5O.
162
Simpulan
14.S 1erhadap 33 8uMn yang dlrevlu slsLem pengendallan lnLernnya, 8Þk
memberlkan slmpulan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan atas 11
8uMn, sesuai dengan pengecualian atas kriteria yang ditetapkan atas 13
8uMn, dan ndak sesua| dengan kriteria yang ditetapkan atas 9 BUMN.
8lnclan slmpulan uap-uap enuLas dapaL dlllhaL pada Lamplran 30.
Hasil Reviu SPI
14.6 Pasll revlu SÞl menun[ukkan bahwa secara umum rancangan dan Lerapan SÞl
dalam segala hal yang maLerlal Lelah sesual dengan krlLerla yang dlLeLapkan.
namun unLuk beberapa 8uMn LerdapaL kasus-kasus yang menyebabkan
rancangan dan Lerapan SÞl dlslmpulkan mendapaLkan pengecuallan dan
beberapa dlslmpulkan udak sesual dengan krlLerla yang dlLeLapkan.
14.7 Sesuai dengan cO5O ltomewotk, pengendallan lnLern enuLas dlrevlu
berdasarkan llma unsur yalLu: llngkungan pengendallan, penakslran rlslko,
akuvlLas pengendallan, lnformasl dan komunlkasl, serLa pemanLauan
(monitoring). Þengendallan lnLern dlobservasl dan dlrevlu balk rancangan
maupun penerapannya dan dlslmpulkan dengan berpedoman pada unsur-
unsur LersebuL.
Lingkungan Pengendalian
14.8 Llngkungan pengendallan merupakan undakan, kebl[akan, dan prosedur
yang mencermlnkan slkap semua plhak (mana[emen puncak, dlrekLur,
dan pemegang saham) Lerhadap pengendallan dan penungnya organlsasl.
Pal LersebuL dlharapkan akan menclpLakan budaya organlsasl dan
mempengaruhl kesadaran anggoLa organlsasl/pegawal aLas pengendallan
lnLernal. Llngkungan pengendallan men[adl dasar darl empaL komponen
pengendallan lnLernal lalnnya. Llngkungan pengendallan mencakup unsur
lnLegrlLas dan nllal euka, komlLmen Lerhadap kompeLensl, ñlosoñ mana[emen
dan gaya operasl, sLrukLur organlsasl, Langgung [awab dan wewenang,
kebl[akan dan prakuk sumber daya manusla, keglaLan pengawasan, serLa
peran komlLe audlL.
14.9 Pasll revlu Lerhadap llngkungan pengendallan dlLemukan kasus-kasus
kelemahan pengendallan lnLern dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þerkebunan nusanLara vlll (Þersero), mana[emen udak membuaL
5totemeot of cotpotote loteot dan konLrak mana[emen serLa belum
menerapkan Key Performance Indicator unLuk maslng-maslng baglan aLau
unlL ker[a dan personal mengaklbaLkan ke[elasan fungsl, pelaksanaan
dan perLanggung[awaban organlsasl pengelolaan perusahaan udak
Lerlaksana secara efekuf.
ul Þ1 Asuransl !lwasraya (Þersero), perubahan sLrukLur organlsasl
belum dllkuu dengan penyesualan uralan Lugas dan stooJotJ opetouoq
163
procedure (SCÞ) sehlngga berpoLensl memperLanggung[awabkan
keglaLan perusahaan Lanpa dldasarl SCÞ yang [elas.
ul Þ1 Sucoñndo (Þersero), mana[emen karlr dan pemberlan faslllLas bagl
pe[abaL perusahaan serLa pemberlan lnsenuf udak dlkalLkan dengan
penllalan klner[a sehlngga berpoLensl menurunkan mouvasl pegawal
dalam beker[a, dan pemberlan car ownership program dan lnsenuf
berpoLensl udak LepaL sasaran.
ul Þ1 8aLan 1eknologl (Þersero), udak membuaL perhlLungan harga
pokok produksl (PÞÞ) berdasarkan pesanan aLau berdasarkan [enls
produk mengaklbaLkan perusahaan udak memlllkl daLa LenLang PÞÞ
per pesanan aLaupun per [enls produk yang akuraL sehlngga udak dapaL
menghlLung margln pen[ualan maslng-maslng produk.
Þ1 Caruda lndonesla (Þersero) 1bk, mana[emen udak memlllkl aLuran
mengenal pengambllan kebl[akan yang menylmpang darl keLenLuan (dl
luar operaslonal penerbangan) sehlngga udak adanya pedoman yang
pasu bagl mana[emen dalam pengambllan undakan yang menylmpang
dari ketentuan.
Penaksiran Risiko
14.10 Þenakslran rlslko adalah ldenuñkasl dan anallsls aLas rlslko-rlslko pencapalan
Lu[uan, sebagal dasar unLuk menenLukan langkah dalam menanganl
rlslko LersebuL. 8lslko merupakan suaLu konsep yang dlgunakan unLuk
mengekspreslkan keudakpasuan ke[adlan dan/aLau dampaknya yang dapaL
memlllkl efek aLas pencapalan organlsasl. Þenakslran rlslko mencakup unsur
peneLapan Lu[uan perusahaan, peneLapan Lu[uan operaslonal enuLas,
ldenuñkasl rlslko, anallsls rlslko, dan mengelola rlslko aklbaL perubahan.
14.11 Pasll revlu Lerhadap penakslran rlslko dlLemukan kasus-kasus kelemahan
pengendallan lnLern dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 Þerkebunan nusanLara vlll (Þersero), udak LerdapaL kebl[akan
LerLulls mengenal mana[emen rlslko dan ldenuñkasl rlslko mengaklbaLkan
pengendallan rlslko dl llngkungan perusahaan belum memadal.
ul Þerum ÞerhuLanl, ldenuñkasl rlslko yang Ler[adl aklbaL perubahan
yang Ler[adl dl dalam dan dl luar perusahaan belum dllakukan sehlngga
pelaksanaan keglaLan unLuk mencapal Lu[uan perusahaan berpoLensl
udak opumal.
ul Þ1 8aLan 1eknologl (Þersero), udak memlllkl rencana [angka pan[ang
yang mengaklbaLkan perusahaan udak mempunyal rencana sLraLegls
unLuk mencapal vlsl dan mlsl perusahaan.
ul Þ1 !asa Marga (Þersero), 1bk., pelaksanaan ldenuñkasl rlslko udak
sesual dengan pedoman pengelolaan rlslko serLa belum dlLerapkan pada
164
8encana ker[a dan Anggaran Þerusahaan (8kAÞ) dan 8encana !angka
Þan[ang Þerusahaan (8!ÞÞ) sehlngga perusahaan udak memlllkl rencana
undak llndung yang dapaL mencegah umbulnya keruglan perusahaan
aklbaL fakLor-fakLor dl luar program ker[a unlL/dlvlsl/blro.
ul Þ1 Sucoñndo (Þersero), perusahaan belum menerapkan mana[emen
rlslko secara menyeluruh mengaklbaLkan perusahaan berpoLensl
kehllangan pendapaLan, menanggung keruglan, menlmbulkan pluLang
Lak LerLaglh dan mengeluarkan beban/blaya yang sesungguhnya udak
dlperlukan, sehubungan kurangnya alaL kendall.
Aknv|tas Þengenda||an
14.12 AkuvlLas pengendallan adalah kebl[akan dan prosedur yang dapaL
meyaklnkan bahwa peLun[uk yang dlbuaL oleh mana[emen dllaksanakan.
AkuvlLas pengendallan mencakup unsur pelaksanaan revlu oleh top level
management, pengelolaan lnformasl unLuk memasukan ungkaL keakuraLan
dan kelengkapan lnformasl, revlu pengelolaan SuM, pengelolaan lnformasl
unLuk memasukan ungkaL keakuraLan dan kelengkapan lnformasl,
meneLapkan dan memanLau lndlkaLor serLa ukuran klner[a, pemlsahan
Lugas aLau fungsl, oLorlsasl kepada personll LerLenLu dalam melakukan
suaLu Lransaksl, pencaLaLan aLas Lransaksl, baLasan akses dan akunLablllLas
Lerhadap sumber daya dan caLaLan, serLa pendokumenLaslan.
14.13 Pasll revlu Lerhadap akuvlLas pengendallan dlLemukan kasus-kasus
kelemahan pengendallan lnLern dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 Asuransl !lwasraya (Þersero), ÞenempaLan deposito on call senilai
8p70,6S mlllar dan uSu930.00 rlbu (ekulvalen 8p7,99 mlllar) Lanpa
oLorlsasl darl dlreksl mengaklbaLkan pengendallan dlreksl berupa lzln
penempaLan deposlLo seLelah Lransaksl dllakukan, men[adl udak efekuf.
ul Þ1 !asa 8ahar[a (Þersero), pedoman lnvesLasl non belan[a modal maslh
lemah karena mengaLur perangkapan fungsl dlvlsl lnvesLasl sebagal
pelaksana lnvesLasl dan penylmpan dokumen lnvesLasl mengaklbaLkan
pengendallan Lerhadap hasll keglaLan lnvesLasl pada dlvlsl lnvesLasl lemah
dan berlslko Ler[adl penyalahgunaan aseL lnvesLasl dl dlvlsl LersebuL.
ul Þ1 lnhuLanl ll (Þersero), belum memlllkl SCÞ proses blsnls yang
komprehenslf sehlngga keudak[elasan mengenal kewenangan, verlñkasl,
rekonslllasl, penllalan aLas presLasl ker[a, pembaglan Lugas karena
perbedaan anLara sLrukLur organlsasl yang baru dengan yang LerdapaL
dalam SCÞ lama yang belum dlperbarul.
ul Þ1 Askrlndo (Þersero), kebl[akan dlreksl LenLang pencadangan pluLang
bermasalah aLas akun Laglhan pemullhan deposlLo senllal 8pS0,36 mlllar
udak mempunyal dasar yang memadal sehlngga saldo beban penylslhan
cadangan pluLang berpoLensl udak akuraL.
165
ul Þerum 8ulog, pengelolaan aseL LeLap belum memadal mengaklbaLkan
nllal aseL belum sepenuhnya andal dan berpoLensl rusak/hllang.
Informasi dan Komunikasi
14.14 lnformasl dan komunlkasl merupakan slsLem yang dlgunakan enuLas unLuk
meyaklnkan bahwa lnformasl dlldenuñkasl, dlproses, dan dllaporkan oleh
slsLem lnformasl dan komunlkasl mellpuu penyedlaan dan penyampalan
lnformasl secara [elas dan seragam kepada semua pegawal enuLas yang
LerllbaL dalam pelaporan keuangan. lnformasl dan komunlkasl mencakup
unsur lnformasl, komunlkasl lnLernal, komunlkasl eksLernal, serLa benLuk
dan alaL komunlkasl.
14.1S Pasll revlu Lerhadap lnformasl dan komunlkasl dlLemukan kasus-kasus
kelemahan pengendallan lnLern dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 Caruda lndonesla (Þersero), 1bk., lmplemenLasl mana[emen
rlslko dan slsLem lnformasl komunlkasl LerkalL perubahan Leknologl
slsLem lnformasl belum memadal mengaklbaLkan operaslonal
penerbangan Lerganggu, perusahaan kehllangan poLensl pendapaLan
dan mengeluarkan blaya Lambahan sebagal kompensasl bagl para calon
penumpang yang LerLunda aLau baLal dlLerbangkan.
ul Þ1 lnhuLanl l (Þersero), ceLak blru (blue print) aLas Leknologl lnformasl
belum dlmlllkl sehlngga pengembangan/perbalkan slsLem lnformasl
perusahaan udak mendukung rencana dan sLraLegls serLa akuvlLas
enuLas.
ul Þ1 !asa Marga (Þersero), 1bk., mekanlsme pelaporan penylmpangan
dan [alur komunlkasl kepada plhak yang leblh unggl dl luar aLasan
langsung belum memadal sehlngga karyawan LakuL aLau sungkan unLuk
melaporkan adanya penylmpangan dan saluran komunlkasl unLuk
melaporkan adanya dugaan penylmpangan men[adl udak efekuf.
ul Þ1 !asa 8ahar[a (Þersero), belum memlllkl slsLem lnformasl yang
LerlnLegrasl dan dlrevlu oleh plhak lndependen yang mengaklbaLkan
lnformasl dan laporan yang dlhasllkan oleh slsLem lnformasl kurang
andal dan LepaL wakLu.
ul Þ1 8aLan 1eknologl (Þersero), rapaL dlreksl dan dewan komlsarls belum
dllaksanakan secara ruun mengaklbaLkan keglaLan pengawasan dewan
komlsarls kepada dlreksl melalul rapaL dewan komlsarls dengan dlreksl
udak opumal dan pengambllan kepuLusan LerkalL keglaLan perusahaan
dan permasalahan yang muncul udak dapaL dlanuslpasl dengan opumal
sehingga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
166
Pemantauan (Monitoring)
14.16 ÞemanLauan merupakan proses penllalan kuallLas klner[a pengendallan
lnLern sepan[ang wakLu, mellpuu penllalan aLas desaln dan pengoperaslan
pengendallan. ÞemanLauan yang efekuf mellpuu pemanLauan berkelan[uLan
(on going monitoring), evaluasl Lerplsah (sepotote evoloouoo), dan pelaporan
aLas kelemahan/kekurangan kepada komlLe audlL/aparaL pengawas.
14.17 Pasll revlu Lerhadap monlLorlng dlLemukan kasus-kasus kelemahan
pengendallan lnLern dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 lnhuLanl l (Þersero), ocuoo ploo aLas penllalan klner[a pengelolaan
huLan alam produksl lesLarl (ÞPAÞL) unLuk unlL Mana[emen PuLan (uMP)
SambaraLa oleh Lembaga Þenllalan lndependen belum sepenuhnya
dllaksanakan mengaklbaLkan perusahaan belum memperoleh seruñkaL
ÞPAÞL dan berpoLensl udak memperoleh ÞPAÞL [lka ocuoo ploo belum
sepenuhnya dllaksanakan.
ul Þ1 !asa Marga (Þersero), 1bk., mekanlsme pemanLauan Lerhadap
reallsasl program ker[a, anggaran, dan klner[a unlL ker[a pada kanLor
pusaL, belum dlLeLapkan dalam prosedur yang baku dan memadal,
serta terintegrasi dengan job Jesctlpuoo unit kerja perusahaan sehingga
keudak[elasan mekanlsme pemanLauan dan evaluasl pencapalan reallsasl
program ker[a, anggaran dan klner[a unlL ker[a serLa pengendallan
akuvlLas lnLernal udak dapaL ber[alan secara efekuf.
ul Þ1 8aLan 1eknologl (Þersero), perusahaan belum memlllkl prosedur
pelaksanaan undak lan[uL laporan hasll pemerlksaan oleh dlvlsl LerkalL
sehlngga hasll pemerlksaan saLuan pengawasan lnLern belum efekuf.
ul Þ1 Caruda lndonesla (Þersero), 1bk., fungsl pemanLauan dan evaluasl
aLas peneLapan harga dan alokasl seat belum dllaksanakan mengaklbaLkan
seuap hasll penerapan dan pelaksanaan sLraLegl tocucol ptlcloq dan seat
ollocouoo yang dllakukan oleh Unit Revenue Management udak Leru[l
dan Lerukur efekuvlLasnya.
Penyebab
14.18 kasus-kasus kelemahan SÞl pada umumnya dlsebabkan karena para dlreksl
dan pelaksana belum sepenuhnya memaLuhl keLenLuan yang berlaku dan
kurang cermaL dalam melaksanakan Lugas.
Rekomendasi
14.19 1erhadap kasus-kasus kelemahan SÞl LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada para dlreksl agar membuaL dan menerapkan SCÞ, menlngkaLkan
pengendallan dan melakukan pemlsahan fungsl, serLa para pelaksana unLuk
leblh cermaL dalam melaksanakan Lugas.
14.20 Pasll pemerlksaan secara lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam
cakram padaL Lerlamplr.
167
BAB 15
Operasional Badan Usaha Milik Negara
15.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional
8uMn pada uga enuLas yalLu Þ1 Þerlkanan nusanLara Þersero (Þ1 Þerlnus),
Þ1 Þupuk Srlwld[aya Þersero (Þ1 Þusrl), dan Þerum ÞerceLakan uang 8epubllk
lndonesla (Þerum Þerurl).
15.2 Cakupan pemerlksaan operaslonal aLas uga 8uMn adalah senllal 8p3,23
Lrlllun darl reallsasl anggaran senllal 8p4,64 Lrlllun. 1oLal Lemuan pemerlksaan
operaslonal 8uMn senllal 8p3S,70 mlllar dan Lu8212.87 rlbu (ekulvalen
8p2,6S mlllar) yang merupakan Lemuan poLensl keruglan, kekurangan
penerlmaan, keudakhemaLan, dan keudakefekufan yang memlllkl lmpllkasl
nllal ruplah. Selaln Lemuan LersebuL, LerdapaL Lemuan kelemahan slsLem
pengendallan lnLern (SÞl) dan admlnlsLrasl yang udak memlllkl lmpllkasl nllal
uang LeLapl memerlukan perbalkan SÞl dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
1S.3 Secara umum Lu[uan pemerlksaan pada uga 8uMn LersebuL unLuk
memberlkan keyaklnan yang memadal bahwa pelaksanaan pengelolaan
pendapaLan, pengendallan blaya dan keglaLan lnvesLasl serLa keglaLan
pengadaan Lelah dllaksanakan sesual dengan keLenLuan yang berlaku.
Hasil Pemeriksaan
1S.4 Sesual dengan Lu[uan pemerlksaannya, hasll pemerlksaan aLas operaslonal
8uMn dapaL dlkelompokkan pada Lemuan yang berkalLan dengan SÞl dan
temuan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.
Sistem Pengendalian Intern
15.5 Pasll pemerlksaan aLas operaslonal 8uMn mengungkapkan adanya 36 kasus
kelemahan SÞl pada uga 8uMn, Lerdlrl aLas
sebanyak 2 kasus pencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL,
sebanyak 7 kasus perencanaan keglaLan udak memadal,
sebanyak 11 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL hllangnya poLensl penerlmaan/pendapaLan,
sebanyak 7 kasus peneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau
belum dllakukan beraklbaL penlngkaLan blaya/belan[a,
sebanyak 1 kasus enuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk suaLu
prosedur aLau keseluruhan prosedur,
sebanyak 6 kasus SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan secara opumal
aLau udak dlLaau, dan
sebanyak 2 kasus laln-laln.
168
1S.6 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
Þerum Þerurl, pengadaan mesln Super Orlof Intaglio (SCl) produksl k8A
Clorl udak sesual keLenLuan, mengaklbaLkan Þerum Þerurl udak dapaL
mengenakan denda aLas keLerlambaLan penyelesalan peker[aan dan
berpoLensl menanggung blaya pengganuan spare part setelah cetufcote
Of Acceptooce ditandatangani.
Þ1 Þerlnus (Þersero), kelemahan slsLem pengendallan dalam pengelolaan
persedlaan lkan dl kanLor Cabang Makasar yang menlmbulkan blaya
persedlaan lkan hllang dan rusak senllal 8pS47,21 [uLa, sehlngga
perusahaan mencadangkan blaya penylslhan keruglan persedlaan lkan
hllang dan rusak senllal 8pS47,21 [uLa.
ul Þ1 Þusrl (Þersero), peneLapan harga [ual pupuk urea non subsldl
1ahun 2009 udak sesual dengan keLenLuan, sehlngga Þ1 Þusrl (Þersero)
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan minimal senilai
8pS,68 mlllar.
Penyebab
1S.7 kasus-kasus kelemahan SÞl pada umumnya dlsebabkan karena
Þerum Þerurl, ulreksl Þerum Þerurl kurang cermaL dalam perencanaan
dan pelaksanaan pengadaan mesln SCl serLa udak mengaLur [angka
wakLu penyelesalan peker[aan dalam konLrak,
Þ1 Þerlnus (Þersero) Cabang Makasar udak memlllkl sLandar operaslonal
penylmpangan yang baku dan udak melakukan monlLorlng aLas
penylmpanan dan pengeluaran lkan darl gudang, dan
Þ1 Þusrl (Þersero), dlreksl udak memperhaukan keLenLuan yang berlaku
dalam menetapkan harga jual pupuk urea.
Rekomendasi
1S.8 ALas kasus-kasus kelemahan SÞl, 8Þk Lelah merekomendaslkan anLara laln
agar
ulreksl Þerum Þerurl, memperLanggung[awabkan pengadaan mesln SCl
pada 8uÞS, yang dllakukan dengan perencanaan yang kurang cermaL
dan lalal mengaLur [angka wakLu penyelesalan pengadaan,
ulreksl Þ1 Þerlnus (Þersero), menyusun sLandar operaslonal penylmpanan
dan perdagangan lkan, serLa melakukan lnvenLarlsasl dan penllalan
kemball persedlaan secara perlodlk, dan
Þ1 Þusrl (Þersero), memperbalkl keLenLuan LenLang harga [ual pupuk
urea non subsldl dan melaksanakan secara konslsLen.
169
Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
1S.9 Selaln kelemahan SÞl hasll pemerlksaan operaslonal 8uMn [uga
mengungkapkan adanya keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-
undangan yang mengaklbaLkan poLensl keruglan perusahaan, kekurangan
penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan dan keudakefekufan.
keudakpaLuhan Lerhadap keLenLuan perundang-undangan mellpuu 40
kasus senllal 8p3S,70 mlllar dan Lu8212.87 rlbu (ekulvalen 8p2,6S mlllar)
sebagalmana dlsa[lkan dalam 1abel 1S.1. 8lnclan [enls Lemuan pada uap-
uap kelompok dapaL dlllhaL pada Lamplran 32 dan rlnclan Lemuan menuruL
enuLas dlsa[lkan dalam Lamplran 33.
1S.10 8erdasarkan Label dl aLas, dapaL dl[elaskan bahwa Lemuan aLas keudakpaLuhan
terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam
kelompok Lemuan poLensl keruglan perusahaan, kekurangan penerlmaan,
admlnlsLrasl, keudakhemaLan, dan keudakefekufan. 1lap-uap kelompok
Lemuan beserLa conLohnya dluralkan sebagal berlkuL.
Potensi Kerugian Perusahaan
15.11 ÞoLensl keruglan perusahaan adalah adanya suaLu perbuaLan melawan
hukum balk senga[a maupun lalal yang dapaL mengaklbaLkan rlslko
Ler[adlnya keruglan dl masa yang akan daLang berupa berkurangnya uang,
suraL berharga, dan barang, yang nyaLa dan pasu [umlahnya.
15.12 kasus-kasus poLensl keruglan perusahaan yalLu adanya keleblhan pembayaran
dalam pengadaan barang/[asa LeLapl pembayaran peker[aan belum dllakukan
sebaglan aLau seluruhnya, pluLang/pln[aman yang berpoLensl udak LerLaglh,
dan lain-lain.
Tabel 15.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN
No. Kelompok Temuan
Jumlah
Kasus
Nilai
(juta Rp dan ribu valas)
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
1 Potensi kerugian perusahaan 6 3.890,8S
Lu824.20
2 Kekurangan penerimaan 5 1.S17,21
3 AdmlnlsLrasl 19 -
4 keudakhemaLan 4 10.113,34
Lu8188.67
5 keudakefekufan 6 20.188,S4
Jumlah 40
35.709,95
EUR212.87
170
1S.13 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai potensi
keruglan perusahaan senllal 8p3,89 mlllar dan Lu824.20 rlbu (ekulvalen
8p301,S7 [uLa) Lerdlrl aLas
sebanyak 2 kasus keleblhan pembayaran dalam pengadaan barang/[asa
LeLapl pembayaran peker[aan belum dllakukan sebaglan aLau seluruhnya
senllal 8p720,00 [uLa dan Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p301,S7 [uLa),
sebanyak 2 kasus pluLang/pln[aman berpoLensl udak LerLaglh senllal
8p1,31 mlllar, dan
sebanyak 2 kasus laln-laln poLensl keruglan perusahaan senllal 8p 1,8S
mlllar berupa penurunan nllal aseL perubahan peker[aan dalam konLrak.
1S.14 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 Þerlnus (Þersero), pluLang usaha Þ1 Þerlnus Cabang Makasar senllal
8p1,10 mlllar udak LerLaglh berpoLensl meruglkan perusahaan.
ul Þ1 Þusrl (Þersero), LerdapaL perubahan drawing pekerjaan pengadaan
Cas 1urblne CeneraLor (C1C) kettoft Lanpa dllkuu dengan perubahan
lotcbose OtJet (lO), sehlngga Þ1 Þusrl menderlLa keruglan aLas slsa
material (coble) darl pengadaan C1C kettoft mlnlmal uSu129.36 rlbu
seLara dengan senllal 8p1,21 mlllar (uSu1=8p9.384,01).
ul Þerum Þerurl, LerdapaL peker[aan opqtoJe coottol of tbetmoteqolouoq
unit yang dlbaLalkan namun udak dlLuangkan dalam klausul addendum
konLrak, sehlngga pemborosan senllal Lu824.20 rlbu (ekulvalen
8p301,S7 [uLa).
15.15 kasus-kasus poLensl keruglan perusahaan pada umumnya dlsebabkan
Þ1 Þerlnus (Þersero), adanya undakan penghllangan pendapaLan
perusahaan oleh kepala Cabang Makasar perlode sebelum lebruarl
2008,
Þ1 Þusrl (Þersero), kepala Þroyek Þeker[aan Þemasangan beberapa
peralaLan lnsLrumen dan ueparLemen 8ancang 8angun dan Þerekayasaan
lalal udak mengkomunlkaslkan adanya perubahan speslñkasl peker[aan
kepada baglan pengadaan aLau unlL yang berLanggung [awab aLas aspek
legal (penerblLan ÞC) dan lukad udak balk darl rekanan yang meruglkan
perusahaan, dan
Þerum Þerurl, 8aglan Þengadaan lalal mengurangkan blaya lnsLalasl aLas
pembaLalan peker[aan opqtoJe coottol of tbetmoteqolouoq oolt.
171
Rekomendasi
1S.16 1erhadap kasus-kasus poLensl keruglan negara/perusahaan, 8Þk Lelah
merekomendasikan kepada
ulreksl Þ1 Þerlnus (Þersero) agar akuf mengupayakan penyelesalan
melalul [alur hukum,
ulreksl Þ1 Þusrl (Þersero), memlnLa perLanggung[awaban dan
mengenakan sanksl kepada kepala Þroyek Þeker[aan Þemasangan
ÞeralaLan lnsLrumen Þusrl l8 dan ueparLemen 8ancang 8angun dan
Þerekayasaan, dan
ulreksl Þerurl segera memlnLa pengurangan blaya lnsLalasl pada k8A
Clorl senllal Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p301,S7 [uLa).
1S.17 ALas kasus yang mengaklbaLkan poLensl keruglan LersebuL, Lelah
dlundaklan[uu dengan memasukkan pengurangan blaya lnsLalasl pada k8A
Clorl senllal Lu824.20 rlbu (ekulvalen 8p301,S7 [uLa).
Kekurangan Penerimaan
1S.18 kekurangan penerlmaan adalah adanya penerlmaan yang sudah men[adl hak
negara d.h.l. perusahaan LeLapl udak aLau belum masuk ke kas perusahaan
karena adanya unsur keudakpaLuhan Lerhadap peraLuran.
1S.19 kasus-kasus kekurangan penerlmaan mellpuu penerlmaan negara/
perusahaan aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum/udak dlLeLapkan
aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/perusahaan dan pengenaan
Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah darl keLenLuan.
1S.20 Pasll pemerlksaan menun[ukkan LerdapaL llma kasus penerlmaan negara/
perusahaan aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum/udak dlLeLapkan
aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/perusahaan senllal 8p1,S1
miliar.
15.21 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 Þerlnus (Þersero), perusahaan belum membayar pa[ak dan bea
perolehan hak (8ÞP18) aLas pengadaan Lanah Lambak seluas 97,416 m
2
senllal 8p106,89 [uLa,
ul Þ1 Þusrl (Þersero), pelaksanaan pengadaan uCS Ammoolo dan ÞC8u Þ3
belum sepenuhnya sesual konLrak, sehlngga sLaLus pengadaan maLerlal
men[adl berlaruL-laruL dan belum dlkenakan denda senllal 8p81,48 [uLa,
dan
ul Þerum Þerurl, LerdapaL kekurangan pembayaran ÞÞn [asa luar negerl
dan ÞÞh Þasal 26 aLas peker[aan [asa pengadaan wlploq solouoo tecovety
system dan denda aLas keLerlambaLan penglrlman senllal 8p980,08 [uLa
belum dlseLor ke kas negara.
172
15.22 ALas kasus kekurangan penerlmaan LersebuL, Lelah dlundaklan[uu dengan
penyeLoran oleh Þerum Þerurl ke kas negara senllal 8p4S1,76 [uLa.
Penyebab
1S.23 kasus-kasus kekurangan penerlmaan pada umumnya dlsebabkan karena
Þ1 Þerlnus (Þersero), 1lm 1eknls Cabang udak Lellu menyelesalkan
kewa[lban aLas perolehan Lanah lahan Lambak,
Þ1 Þusrl (Þersero), udak serlus menyelesalkan sLaLus pengadaan maLerlal,
dan
Þerum Þerurl, 8aglan keuangan lalal dengan udak menghlLung,
menyeLor, dan melaporkan ÞÞn !asa Luar negerl dan ÞÞh Þasal 26 dan
udak menaglh denda keLerlambaLan penglrlman WS8S.
Rekomendasi
1S.24 ALas kasus-kasus kekurangan penerlmaan, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada
Þ1 Þerlnus (Þersero), agar melunasl kewa[lban pembayaran pa[ak dan
8ÞP18 senllal 8p106,89 [uLa,
ulreksl Þ1 Þusrl (Þersero), segera mengenakan denda kepada Þ1 lnvesys
lndonesla aLas keLerlambaLan penyelesalan peker[aan, dan
ulreksl Þerum Þerurl, agar memerlnLahkan 8aglan keuangan unLuk
menyeLor ÞÞn !asa Luar negerl senllal 8p4S1,76 [uLa dan menaglh denda
keLerlambaLan penglrlman senllal 8pS28,32 [uLa.
Administrasi
15.25 1emuan admlnlsLrasl mengungkap adanya penylmpangan Lerhadap
keLenLuan yang berlaku balk dalam pelaksanaan anggaran aLau pengelolaan
aseL, LeLapl penylmpangan LersebuL udak mengaklbaLkan adanya suaLu
keruglan aLau poLensl keruglan, udak mengurangl hak negara/perusahaan
(kekurangan penerlmaan), udak menghambaL operaslonal/program enuLas
dan udak mengandung unsur lndlkasl undak pldana.
1S.26 kasus-kasus penylmpangan yang berslfaL admlnlsLrauf mellpuu
perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld),
proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak menlmbulkan
keruglan negara), penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-undangan
bldang LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan, perpa[akan, dll.,
dan penyeLoran penerlmaan negara/daerah meleblhl baLas wakLu yang
ditentukan.
173
1S.27 Pasll pemerlksaan menun[ukkan LerdapaL 19 kasus mengenal penylmpangan
administrasi terdiri atas
sebanyak 2 kasus perLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak
lengkap/udak valld),
sebanyak 14 kasus proses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan
(udak menlmbulkan keruglan negara),
sebanyak 1 kasus penylmpangan Lerhadap peraLuran perundang-
undangan bldang LerLenLu lalnnya, dan
sebanyak 2 kasus kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang sah.
1S.28 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
ul Þ1 Þerlnus (Þersero), konLrak peker[aan Joe Jlllqeoce dan penilaian
osset & lloblllues oleh Þ1 Magna 1ransforma uLama (M1u) sebesar
8p671,00 [uLa belum sesual keLenLuan, sehlngga Þ1 Þerlnus udak
memperoleh harga konLrak yang Lerbalk aLas peker[aan LersebuL,
ul Þerum Þerurl, pengadaan mesln SCl produksl k8A Clorl udak sesual
keLenLuan senllal 8p319,18 mlllar, mengaklbaLkan mesln SCl udak dapaL
dlyaklnl sebagal mesln baru, dan
ul Þerum Þerurl, proses pengadaan dan pemasangan generator
set dan ttoosfotmet senllal 8p12,91 mlllar udak sesual keLenLuan,
sehlngga kewa[aran kuallLas dan harga dlragukan serLa harga konLrak
yang dlsepakau udak dapaL dlperLanggung[awabkan dengan harga
perhlLungan sendlrl (PÞS).
Penyebab
1S.29 kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl pada umumnya dlsebabkan karena
Þ1 Þerlnus (Þersero), um pengadaan barang dan [asa Joe Jlllqeoce udak
mampu melengkapi dokumen harga perhitungan sendiri dan Direksi
kurang Legas melaksanakan keLenLuan dalam per[an[lan,
Þerum Þerurl, 8aglan Þengadaan udak melakukan pengecekan mesln
dan pengeLesan ñslk dan fungslnya, dan
Þerum Þerurl, Þanlua Þelelangan dan Þemlllhan Langsung Þengadaan
8arang dan !asa (Þ3LÞ8!) udak melakukan evaluasl Leknls dalam
menenLukan pemenang dan ulreksl lalal memberlkan perseLu[uan
konLrak pengadaan yang udak dldasarl dengan perumbangan PÞS.
174
Rekomendasi
1S.30 ALas kasus-kasus penylmpangan admlnlsLrasl, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada
ulreksl Þ1 Þerlnus (Þersero) agar memberlkan sanksl kepada 1lm
Þengadaan 8arang dan !asa Joe Jlllqeoce sesual keLenLuan ,
ulreksl Þerum Þerurl agar memperLanggung[awabkan pada 8apaL umum
Þemegang Saham (8uÞS) LerkalL udak dllakukannya pengecekan mesln
dan pengeLesan ñslk dan fungsl, dan
ulreksl Þerum Þerurl agar memperLanggung[awabkan kepada 8uÞS
aLas udak dllakukannya evaluasl Leknls dan perseLu[uan konLrak udak
dldasarl PÞS.
kendakhematan
1S.31 1emuan mengenal keudakhemaLan mengungkap adanya penggunaan input
dengan harga aLau kuanuLas/kuallLas yang leblh unggl darl sLandar, kuanuLas/
kuallLas yang meleblhl kebuLuhan, dan harga yang leblh mahal dlbandlngkan
dengan pengadaan serupa pada wakLu yang sama.
1S.32 Þada umumnya kasus-kasus keudakhemaLan mengenal pemborosan
keuangan perusahaan atau kemahalan harga.
1S.33 Pasll pemerlksaan menun[ukkan LerdapaL empaL kasus keudakhemaLan,
dl Þerum Þerurl senllal 8p10,11 mlllar dan Lu8188.67 rlbu (ekulvalen
8p2,3S mlllar) dl anLaranya LerdapaL pengadaan bahan unLa cottox ckul
dan bahan unLa intaglio belum dlmanfaaLkan.
Penyebab
1S.34 Þerum Þerurl, kurang adanya koordlnasl anLara unlL Seksl 8aLanLa dan 8aglan
Þemasaran LerkalL adanya perubahan kebuLuhan bahan unLa.
Rekomendasi
1S.3S ulreksl Þerum Þerurl agar segera memanfaaLkan slsa bahan unLa cottox
ckul dan bahan unLa intaglio dan memerintahkan Bagian Pemasaran
menlngkaLkan fungsl koordlnasl dengan Seksl 8aLanLa.
kendakefeknfan
1S.36 1emuan keudakefekufan berorlenLasl pada pencapalan hasll (ootcome) yalLu
Lemuan yang mengungkapkan adanya keglaLan yang udak memberlkan
manfaaL aLau hasll pengadaan barang/[asa udak memberlkan manfaaL
aLau hasll yang dlrencanakan udak Lercapal, serLa fungsl lnsLansl yang udak
opumal sehlngga Lu[uan organlsasl LerhambaL.
175
1S.37 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai
keudakefekufan Lerdlrl aLas
sebanyak 3 kasus barang yang dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan
senllal 8p17,4S mlllar, dan
sebanyak 3 kasus pelaksanaan keglaLan LerlambaL/LerhambaL sehlngga
mempengaruhl pencapalan Lu[uan organlsasl senllal 8p2,73 mlllar.
1S.38 kasus-kasus LersebuL dl anLaranya sebagal berlkuL.
Þ1 Þerlnus (Þersero), pengadaan kapal ÞrlncLara 01 oleh Þ1 Sarana
llberlndo Marlna (Þ1 SlM) senllal 8p2,73 mlllar belum sesual speslñkasl
konLrak dan LerlambaL penyelesalannya, sehlngga penyelesalan
pembangunan kapal berlaruL-laruL dan perusahaan belum dapaL
memanfaaLkan kapal unLuk usaha.
Pengadaan olt blost fteezet colJ stotoqe berkapaslLas empaL Lon per harl
yang pemblayaannya berasal darl ÞMn sebesar 8p33S,00 [uLa belum
dlmanfaaLkan unLuk menylmpan hasll produksl fsb jelly.
ul Þ1 Þusrl (Þersero), barang eks pembellan Jltect cbotqe senllal 8p16,8S
mlllar dlslmpan dl gudang uupan, sehlngga dana yang Lerslmpan dalam
benLuk barang eks pembellan dlrecL charge belum dapaL dlmanfaaLkan
unLuk kepenungan perusahaan.
Penyebab
1S.39 kasus-kasus keudakefekufan LersebuL Ler[adl karena
ulreksl Þ1 Þerlnus (Þersero) banyak memberlkan kelonggaran kepada Þ1
SlM dalam menyelesalkan peker[aan pembangunan kapal,
Þ1 Þerlnus (Þersero) dalam merencanakan pengembangan usaha udak
memperhlLungkan hambaLan sLaLus lahan pabrlk, dan
unlL LerkalL dengan pengadaan belum melakukan perencanaan dengan
balk dan pelaksanaan pengadaan maLerlal yang belum sepenuhnya
memperhlLungkan [angka wakLu pengadaan dan kebuLuhan maLerlal
dl Þ1 Þusrl (Þersero). Selaln lLu, komlLe Þengendallan dan SLandarlsasl
MaLerlal & ÞeralaLan (kÞSMÞ) dan user belum secara ruun melakukan
evaluasl keberadaan barang uupan yang sudah Lerslmpan lama dl
gudang.
Rekomendasi
1S.40 1erhadap kasus keudakefekufan LersebuL, 8Þk Lelah merekomendaslkan
kepada
ulreksl Þ1 Þerlnus (Þersero), agar memlnLa kepada Þ1 SlM unLuk
segera menyelesalkan peker[aan pembangunan kapal dan melengkapl
176
kekurangan perlengkapan kapal sesuai dengan perjanjian dan
memperLanggung[awabkan kepada pemegang saham aLas reallsasl
lnvesLasl kapal LersebuL,
ulreksl Þ1 Þerlnus (Þersero), agar mengka[l kemball kelayakan darl
pengembangan usaha fsb jelly, dan
ulreksl Þ1 Þusrl (Þersero), agar memanfaaLkan barang-barang Jltect
cbotqe yang Lerslmpan dl gudang uupan.
1S.41 Pasll pemerlksaan secara lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam
cakram padaL Lerlamplr.
177
BAB 16
Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya
16.1 Selaln Lema-Lema pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu seperu yang
dluralkan pada bab-bab sebelumnya, dalam SemesLer l 1ahun 2011 8Þk
[uga melakukan pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu lalnnya pada 16 ob[ek
pemerlksaan yalLu S ob[ek pemerlksaan dl llngkungan pemerlnLah pusaL,
1 ob[ek pemerlksaan dl llngkungan 8uMn, dan 10 ob[ek pemerlksaan dl
llngkungan 8uMu.
Pemerintah Pusat
16.2 Llma ob[ek pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu dl llngkungan pemerlnLah
pusaL, rlnclannya adalah sebagal berlkuL.
ul kemenLerlan Þeker[aan umum, Þembangunan lrlgasl 1ersler 8lok-C
(ÞakeL 13: LC8 7) Muncak kabau.
ul 8adan kepegawalan negara (8kn), Mahkamah Agung (MA), dan 8adan
ÞerLanahan naslonal (8Þn), Þengelolaan SlsLem lnformasl kepegawalan
dan ÞerLanggung[awaban 8elan[a Þegawal 1ahun 2009 dan 2010.
ul kemenLerlan keuangan dan Þ1 Þerusahaan Þengelola AseL (Þersero),
Þengelolaan Slsa AseL Lks 8adan ÞenyehaLan Þerbankan naslonal (8ÞÞn).
Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
16.3 SaLu ob[ek pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu dl llngkungan 8uMn adalah
dl Þ1 kereLa Apl lndonesla (Þersero), Þengelolaan AseL non Þroduksl 1A 2008
dan 1A 2009.
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
16.4 Sepuluh ob[ek pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu dl llngkungan 8uMu,
rlnclannya adalah sebagal berlkuL.
ul Þu Þasar koLa Medan, Þelaksanaan keglaLan Cperaslonal Þerusahaan
unLuk 1ahun 8uku 2009 dan 2010.
ul Þ1 8ank 8lau keprl, Cperaslonal Þ1 8ank 8lau keprl 1ahun 2008, 2009,
dan 2010.
ul Þ1 8uml Laksamana !aya, keglaLan Cperaslonal Þ1 8uml Laksamana
!aya 1ahun 8uku 2007, 2008, 2009, dan 2010 (s.d. CkLober) pada
ÞemerlnLah kabupaLen 8engkalls.
ul Þ1 Þermodalan Lkonoml 8akyaL, keglaLan Cperaslonal Þ1 Þermodalan
Lkonoml 8akyaL 1ahun 8uku 2009 dan 2010 dl Þekanbaru.
178
ul Þ1 8ank Þapua, Þengelolaan Cperaslonal Þ1 8ank Þapua 1ahun 2009
dan 2010 (SemesLer l).
ul 8Suu uok ll !ayapura, Þengelolaan ÞendapaLan dan 8elan[a 8Suu uok
ll !ayapura 1ahun 2008, 2009, dan 2010 sampal dengan november.
ul Þu Þasar !aya, Þ1 lood SLauon 1[lplnang !aya, dan Þ1 !akarLa 1ourlslndo,
ÞendapaLan dan 8laya 1ahun 8uku 2009 dan 2010 dl !akarLa.
ul Þu Sarana Þembangunan Muara Lnlm, Þer[an[lan ker[asama dengan
Þlhak keuga dalam 8angka Þengelolaan Lapangan Selo dan 8eLun.
16.S Cakupan pemerlksaan aLas 16 ob[ek pemerlksaan LersebuL, dlsa[lkan pada
1abel 16.1. dl bawah lnl.
Tabel 16.1. Cakupan Pemeriksaan PDTT Lainnya
Hasil Pemeriksaan
16.6 Pasll pemerlksaan 8Þk dlLuangkan dalam laporan hasll pemerlksaan dan
dlnyaLakan dalam se[umlah Lemuan. Seuap Lemuan dapaL Lerdlrl aLas saLu
aLau leblh kasus. Cleh karena lLu, dl dalam lPÞS lnl dlgunakan lsulah kasus
yang merupakan baglan darl Lemuan.
Pemerintah Pusat
16.7 Pasll pemerlksaan aLas llma ob[ek pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu dl
llngkungan pemerlnLah pusaL menun[ukkan adanya 10 kasus keudakpaLuhan
Lerhadap keLenLuan perundang-undangan yang berlaku senllal 8p14,00
mlllar yang mellpuu keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keruglan negara,
poLensl keruglan negara, kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, dan
keudakhemaLan.
Kementerian Pekerjaan Umum
16.8 Þemerlksaan aLas peker[aan pembangunan lrlgasl Lersler 8lok-C (ÞakeL
13: LC8 7) Muncak kabau dl kabupaLen Cgan komerlng ulu 1lmur 1ahun
2008 s.d. 2010 berLu[uan unLuk menllal apakah proses pengadaan [asa
konsLruksl, pelaksanaan pembangunan, dan perLanggung[awaban peker[aan
pembangunan Lelah sesual dengan keLenLuan perundang-undangan.
Lnntas yang
DIperiksa
Cakupan
Pemeriksaan
(miliar Rp)
Total Temuan
(miliar Rp)
% Temuan
1 2 3 4 = 3/2 x 100°
ÞemerlnLah ÞusaL 1.373,16 14,00 1,02°
8uMn - 209,73 -
8uMu 986,82 197,6S 20,03°
Jumlah 2.359,98 421,39 17,86%
179
16.9 Pasll pemerlksaan mengungkapkan Lemuan slgnlñkan, dl anLaranya rekanan
yalLu Þ1 M!S Lelah melakukan perbuaLan melawan hukum berupa pelanggaran
aLas per[an[lan ker[a sama (konLrak) yang mengaklbaLkan pembangunan
lrlgasl Lersler 8lok-C (ÞakeL 13: LC8 7) Muncak kabau Lerbengkalal dan uang
muka unLuk peker[aan LersebuL udak dapaL dlkemballkan dan [amlnan uang
muka aLas pelaksanaan peker[aan LersebuL senllal 8p6,8S mlllar udak blsa
dlcalrkan yang berpoLensl meruglkan keuangan negara.
Penyebab
16.10 Þermasalahan LersebuL dlsebabkan Þ1 M!S udak mempunyal kemampuan
unLuk menyelesalkan peker[aan dan senga[a menghalangl proses pencalran
jaminan uang muka.
Rekomendasi
16.11 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada MenLerl Þeker[aan umum agar
menglnsLrukslkan ulr[en Sumber uaya Alr segera menyelesalkan masalah lnl
sesual dengan mekanlsme penyelesalan sengkeLa sebagalmana dlaLur dalam
konLrak.
Sistem Informasi Kepegawaian pada Badan Kepegawaian
Negara, Badan Pertanahan Nasional, dan Mahkamah Agung
16.12 Þemerlksaan aLas SlsLem lnformasl kepegawalan (Slk) pada 8kn, 8Þn dan
MA anLara laln berLu[uan menllal apakah 8kn, 8Þn, dan MA Lelah mengelola
slsLem lnformasl kepegawalan secara memadal unLuk menghasllkan
lnformasl kepegawalan yang andal.
16.13 Pasll pemerlksaan mengungkapkan Lemuan slgnlñkan, dl anLaranya sebagal
berlkuL. MenuruL database 8kn, ÞnS dl 8Þn per 30 !unl 2010 sebanyak
23.08S pegawal dan ÞnS dl MA sebanyak 31.069 pegawal. namun menuruL
database 8Þn, [umlah ÞnS 8Þn sebanyak 21.899 pegawal aLau leblh kecll
sebanyak 1.186 pegawal (S,14°). MenuruL database MA, [umlah ÞnS MA
sebanyak 33.281 pegawal aLau leblh besar 2.212 pegawal (7,12°). Pal lnl
Ler[adl karena Slk yang dlbangun oleh 8Þn dan MA udak LerlnLegrasl dengan
Slk dl 8kn.
Penyebab
16.14 kasus-kasus keudaksesualan daLa ÞnS LersebuL dlsebabkan karena udak
ada proses rekonslllasl daLa pegawal anLara 8kn dengan MA dan 8Þn, serLa
MA dan 8Þn belum menggunakan slsLem apllkasl pelayanan kepegawalan
(SAÞk) yang dlbangun 8kn.
Rekomendasi
16.1S 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada Þlmplnan Lembaga agar segera
melakukan klarlñkasl dan rekonslllasl daLa ÞnS, dan 8kn hendaknya segera
mensoslallsaslkan penggunaan SAÞk kepada MA dan 8Þn.
180
PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero)
16.16 Þemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu aLas Þengelolaan Slsa AseL Lks 8adan
ÞenyehaLan Þerbankan naslonal (8ÞÞn) anLara laln berLu[uan :
menllal apakah pengelolaan slsa aseL eks 8ÞÞn Lelah dlkelola sesual
dengan keLenLuan serLa kebl[akan yang dlLeLapkan, dan
menllal efekuvlLas slsLem pengendallan lnLern dalam pengelolaan slsa
aseL eks 8ÞÞn.
16.17 Pasll pemerlksaan mengungkapkan Lemuan slgnlñkan, dl anLaranya sebagal
berikut.
1erdapaL aseL properu eks 8ÞÞn udak dlLemukan ñslknya dan Lelah
dlmanfaaLkan oleh plhak laln, dan
1erdapaL kekurangan penerlmaan hasll lelang aseL properu 1ahun 2009
senllal 8p402,21 [uLa.
Penyebab
16.18 Þermasalahan LersebuL dlsebabkan keudakLegasan kemenLerlan keuangan
dalam melakukan pengelolaan slsa aseL eks 8ÞÞn. Þroses lnvenLarlsasl, balk
dokumen maupun ñslk dllakukan pada Lahun 2009, padahal masa Lugas
8ÞÞn berakhlr pada Lahun 2004 dan belum sepenuhnya melakukan undakan
aLas aseL properu yang dlkuasal/dlhunl plhak laln. Selaln lLu, kasus LersebuL
[uga Ler[adl karena pe[abaL lelang pada kanLor Þelayanan kekayaan negara
dan Lelang (kÞknL) udak sepenuhnya memahaml keLenLuan bahwa hasll
pen[ualan aseL properu eks kelolaan Þ1 ÞÞA udak dlkenakan pemoLongan
ÞÞh dan merupakan lelang aseL non eksekusl.
Rekomendasi
16.19 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada MenLerl keuangan agar
menglnsLrukslkan ulr[en kekayaan negara melakukan penyelesalan dan
pengamanan LerkalL permasalahan aseL properu slsa aseL eks 8ÞÞn serLa
melakukan koordlnasl dengan plhak LerkalL unLuk segera menyelesalkan
kekurangan penerlmaan negara darl hasll lelang aseL properu.
BUMN
16.20 Llngkup pemerlksaan pada Þ1 kereLa Apl lndonesla (kAl) (Þersero) mellpuu
penerlmaan pendapaLan 1ahun 2008 dan 2009 yalLu pendapaLan yang
bersumber darl pengelolaan aseL non produksl yang mellpuu penerlmaan
ker[asama operasl dan penyewaan lahan/bangunan, serLa pemanfaaLan
Lanah dan/aLau bangunan yang dlmlllkl Þ1 kAl.
181
16.21 Þemerlksaan berLu[uan unLuk menllal keandalan rancangan dan pelaksanaan
pengendallan lnLern pada aseL non produksl perusahaan, kecurangan,
dan penylmpangan keLenLuan perundang-undangan serLa keudakpaLuLan
akuvlLas blsnls perusahaan.
16.22 Pasll pemerlksaan mengungkapkan Lemuan slgnlñkan, dl anLaranya sebagal
berikut.
Þ1 kAl belum memperoleh pendapaLan kompensasl mlnlmal senllal
8p88,36 mlllar darl kSC per[an[lan pemanfaaLan lahan dl kawasan
emplasemen sLaslun selama 20 s.d. 30 Lahun unLuk pengembangan
kawasan blsnls, perhoLelan, dan/aLau bangunan laln. uarl 13 per[an[lan
kSC yang dlLandaLanganl, hanya 2 kSC yang sudah operaslonal, 2 kSC
dalam proses pelaksanaan, dan 9 kSC lalnnya sLagnan.
Calon lnvesLor Lelah memanfaaLkan lahan Þ1 kAl Lanpa dllandasl
per[an[lan kSC dan/aLau perseLu[uan uewan komlsarls/MenLerl negara
8uMn sehlngga Þ1 kAl belum dapaL menerlma hak kompensasl senllal
8p48,06 mlllar.
1anah Þ1 kAl seluas 316.617,68 m
2
dlkuasal dan/aLau dlseruñkaLkan
aLas nama lnsLansl pemerlnLah dan masyarakaL/swasLa aklbaLnya Þ1 kAl
berpoLensl kehllangan hak aLas Lanah mlnlmal senllal 8p37,69 mlllar.
Penyebab
16.23 kasus-kasus LersebuL anLara laln dlsebabkan udak adanya lukad balk darl
mlLra kSC unLuk melaksanakan kewa[lban sesual per[an[lan, Þ1 kAl udak
Legas dalam mengambll undakan Lerhadap lnvesLor yang udak memaLuhl
memorandum of understanding (Mou). Selaln lLu, kasus-kasus LersebuL [uga
Ler[adl karena ulreksl Þ1 kAl lalal mengamankan aseL perusahaan.
Rekomendasi
16.24 8Þk Lelah merekomendaslkan kepada ulreksl dan komlsarls Þ1 kAl
agar menln[au ulang kSC yang maceL dan kelangsungan ker[asamanya,
memperbalkl meLode pemlllhan mlLra kSC unLuk men[amln kelangsungan
kSC, serLa menlngkaLkan upaya pemlllkan Lanah yang dlkuasal/dlmlllkl plhak
laln melalul koordlnasl dengan lnsLansl LerkalL.
BUMD
16.2S Pasll pemerlksaan aLas sepuluh ob[ek pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu dl
llngkungan 8uMu menun[ukkan adanya 99 kasus keudakpaLuhan Lerhadap
keLenLuan perundang-undangan yang berlaku senllal 8p197,6S mlllar yang
mellpuu keudakpaLuhan yang mengaklbaLkan keruglan, poLensl keruglan,
kekurangan penerlmaan, admlnlsLrasl, keudakhemaLan, keudakeñslenan,
dan keudakefekufan.
182
16.26 Pasll pemerlksaan mengungkapkan Lemuan slgnlñkan, dl anLaranya sebagal
berikut.
ul Þ1 8ank 8lau keprl, pembayaran Lanuem dan [asa produksl udak
dllakukan sesual dengan yang dlanggarkan dan dlsahkan 8uÞS sehlngga
LerdapaL keleblhan pembayaran Lanuem dan [asa produksl 1ahun 2007,
2008, dan 2009 senllal 8p27,13 mlllar.
ul Þ1 8ank 8lau keprl, penyaluran kredlL lnvesLasl kepada pengusaha
kecll dl anLaranya senllal 8p19,73 mlllar dlberlkan kepada peLanl/
pedagang anggoLa llma koperasl/asoslasl dengan kaLegorl maceL
berpoLensl meruglkan daerah. Pal lnl dlsebabkan Þlmplnan dan 8aglan
kredlL Cabang ÞembanLu 8umbal kurang cermaL dan hau-hau serLa udak
menglkuu prosedur dalam menganallsls dan menyeLu[ul kredlL.
ul Þu Þasar !aya, pada pelaksanaan proyek Þembangunan Þasar
Mayesuk dlkeLahul bahwa Þ1 MÞ belum membayar kewa[lban senllal
8pS,37 mlllar yang Lerdlrl aLas pembayaran aLas kompensasl ker[a sama,
blaya pengawasan, blaya pengendallan Leknls, blaya sewa lahan LempaL
penampungan, dan blaya pengelolaan pasar yang Lelah [aLuh Lempo.
ALas Lemuan LersebuL Lelah dlundaklan[uu Þ1 MÞ dengan penyeLoran
uang senllal 8p4,7S mlllar.
ul 8Suu uok ll !ayapura, penerlmaan yang berasal darl ruangan bedah
senLral, ruangan rawaL lnap super vlÞ, ruangan kebldanan, dan ruangan
lCu udak dlseLorkan ke kas daerah sehlngga LerdapaL kekurangan
penerlmaan daerah senllal 8p3,66 mlllar.
16.27 Laporan hasll pemerlksaan aLas pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu
lalnnya secara lengkap dapaL dlllhaL pada sofcopy LPÞ dalam cakram padaL
terlampir.
183
HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT
REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN
Memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 20, BPK memantau
pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan dan memberlLahukan
hasll pemanLauan undak lan[uL kepada lembaga perwakllan dalam hasll pemerlksaan
semesLeran, maka dalam lPÞS dlmuaL daLa pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL
rekomendasl hasll pemerlksaan aLas pengelolaan dan Langgung [awab keuangan
negara yang dllakukan oleh pe[abaL pemerlnLah pusaL, pemerlnLah daerah, 8uMn,
dan badan lalnnya. ualam lPÞS l 1ahun 2011 dlsa[lkan hasll pemanLauan pelaksanaan
undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan 1ahun 200S sampal dengan SemesLer
l 1ahun 2011 yang dlsa[lkan menuruL enuLas kemenLerlan/lembaga, pemerlnLah
provlnsl/kabupaLen/koLa, 8uMn, 8PMn, dan badan lalnnya.
1lndak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan adalah keglaLan dan/aLau kepuLusan
yang dllakukan oleh plmplnan enuLas yang dlperlksa dan/aLau plhak laln yang
kompeLen unLuk melaksanakan rekomendasl hasll pemerlksaan 8Þk. 1lndak lan[uL
rekomendasl hasll pemerlksaan 8Þk wa[lb dllakukan oleh plmplnan enuLas yang
dlperlksa. Þlmplnan enuLas yang dlperlksa wa[lb memberlkan [awaban aLau pen[elasan
kepada 8Þk LenLang undak lan[uL aLas rekomendasl hasll pemerlksaan selambaL-
lambaLnya 60 harl seLelah laporan hasll pemerlksaan dlLerlma.
Selan[uLnya, 8Þk menelaah [awaban aLau pen[elasan yang dlLerlma darl pe[abaL yang
dlperlksa dan/aLau aLasannya unLuk menenLukan apakah undak lan[uL rekomendasl
Lelah dllakukan sesual dengan rekomendasl 8Þk.
ualam rangka pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan lnl, 8Þk
menatausahakan laporan hasil pemeriksaan dan menginventarisasi temuan,
rekomendasl, sLaLus undak lan[uL aLas rekomendasl dalam laporan hasll pemerlksaan,
dan nllal penyerahan aseL aLau penyeLoran ke kas negara/daerah.
8ekomendasl 8Þk yang dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl adalah rekomendasl
aLas Lemuan pemerlksaan yang Lelah dlundaklan[uu secara nyaLa dan LunLas oleh plhak
enuLas yang dlperlksa sesual dengan rekomendasl 8Þk. 8ekomendasl 8Þk dlharapkan
dapaL memperbalkl pengelolaan dan Langgung [awab keuangan negara/daerah/
perusahaan pada enuLas yang bersangkuLan. Mlsalnya, rekomendasl unLuk menaglh
keleblhan bayar aLau denda yang belum dlpunguL dan hasll penaglhan/pemunguLan
harus dlseLor ke kas negara/daerah, maka rekomendasl LersebuL dlnyaLakan ºLelah
dlundaklan[uu sesual rekomendasl" [lka enuLas yang bersangkuLan Lelah menyeLor
seluruh penaglhan/pemunguLannya ke kas negara/daerah dan 8Þk Lelah menerlma
serLa memvalldasl buku seLor LersebuL. Seballknya, apablla buku undak lan[uL
rekomendasl udak dlLerlma dan/aLau baru dlLerlma sebaglan oleh 8Þk, maka
rekomendasl yang bersangkuLan dlnyaLakan sebagal ºdalam proses dlundaklan[uu".
Sesual ÞeraLuran 8Þk nomor 2 1ahun 2010, sLaLus pemanLauan undak lan[uL
rekomendasl dlLambahkan saLu [enls yalLu sLaLus º1ldak dapaL dlundaklan[uu dengan
alasan yang sah". Adapun krlLerla alasan sah sehlngga rekomendasl udak dapaL
dlundaklan[uu adalah:
184
a. force majeure, yalLu suaLu keadaan peperangan, kerusuhan, revolusl, bencana
alam, pemogokan, kebakaran, dan gangguan lalnnya yang mengaklbaLkan undak
lan[uL udak dapaL dllaksanakan,
b. sub[ek aLau ob[ek rekomendasl dalam proses peradllan:
1. pe[abaL men[adl Lersangka dan dlLahan,
2. pe[abaL men[adl Lerpldana, dan
3. ob[ek yang dlrekomendaslkan dalam sengkeLa dl peradllan.
c. rekomendasl udak dapaL dlundaklan[uu secara efekuf, eñslen, dan ekonomls,
yalLu:
1. perubahan sLrukLur organlsasl, dan
2. perubahan regulasl.
Secara umum, rekomendasl 8Þk dapaL dlundaklan[uu dengan cara penyelamaLan
uang/aseL ke negara/daerah/perusahaan dan/aLau undakan admlnlsLrauf.
ÞenyelamaLan uang/aseL ke negara/daerah/perusahaan dllakukan dengan cara
menyeLorkan se[umlah uang ke kas negara/daerah/perusahaan, dan mengemballkan/
menyerahkan se[umlah aseL ke negara/daerah/perusahaan aLau dengan cara
melengkapl peker[aan/barang. Adapun undakan admlnlsLrauf blasanya berupa
pemberlan perlngaLan, Leguran, dan/aLau sanksl kepada para penanggung[awab
dan/aLau pelaksana keglaLan. 1lndakan admlnlsLrauf [uga dapaL berupa undakan
koreksl aLas penaLausahaan keuangan negara/daerah/perusahaan, melengkapl buku
perLanggung[awaban dan perbalkan aLas sebaglan aLau seluruh slsLem pengendallan
lnLern.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Tahun 2005 sampai dengan Semester I Tahun 2011,
8Þk Lelah memberlkan 191.7S7 rekomendasl senllal 8p103,19 Lrlllun dengan rlnclan
8p76,13 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p27,0S Lrlllun). 8ekomendasl lnl harus
dlundaklan[uu oleh enuLas yang dlperlksa anLara laln dengan melakukan perbalkan
SÞl, undakan admlnlsLrauf, dan/aLau penyeLoran kas/penyerahan aseL ke negara/
daerah/perusahaan.
Pasll pemanLauan undak lan[uL rekomendasl 8Þk LersebuL menun[ukkan sebanyak
106.0S8 rekomendasl senllal 8p37,87 Lrlllun, dengan rlnclan 8p2S,40 Lrlllun dan
se[umlah valas (ekulvalen 8p12,46 Lrlllun) Lelah dlundaklan[uu sesual dengan
rekomendasl. Sebanyak 40.841 rekomendasl senllal 8p40,41 Lrlllun, dengan rlnclan
8p30,66 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p9,74 Lrlllun) dlundaklan[uu belum
sesual dengan rekomendasl aLau dalam proses undak lan[uL, dan sebanyak 44.8S8
rekomendasl senllal 8p24,91 Lrlllun, dengan rlnclan 8p20,06 Lrlllun dan se[umlah
valas (ekulvalen 8p4,84 Lrlllun) belum dlundaklan[uu.
Adapun rekomendasl 8Þk yang berhasll dlundaklan[uu dengan penyerahan aseL
dan penyeLoran ke kas negara/daerah se[ak 1ahun 200S sampal dengan SemesLer
185
l 1ahun 2011 adalah senllal 8p2S,S7 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p24,22 Lrlllun
dan se[umlah valas (ekulvalen 8p1,34 Lrlllun). 8lnclan seLoran LersebuL adalah darl
pemerlnLah pusaL senllal 8p9,22 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p8,66 Lrlllun dan
se[umlah valas (ekulvalen 8pS64,94 mlllar), pemerlnLah daerah senllal 8p9,00 Lrlllun,
dengan rlnclan senllal 8p8,99 Lrlllun dan uSu449.96 rlbu (ekulvalen 8p3,86 mlllar),
serLa 8uMn (lnduk dan anak perusahaan) senllal 8p7,34 Lrlllun, dengan rlnclan senllal
8p6,S6 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p38,42 mlllar).
Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil
Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat
Pasll pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan dl
llngkungan pemerlnLah pusaL mengungkapkan bahwa dalam perlode 1ahun 200S
sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 secara keseluruhan darl 86 kemenLerlan/
lembaga LerdapaL 13.897 Lemuan pemerlksaan senllal 8pSS,43 Lrlllun, dengan
rlnclan senllal 8pS0,77 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p4,66 Lrlllun) serLa
23.942 rekomendasl senllal 8p31,S9 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p27,36 Lrlllun
dan se[umlah valas (ekulvalen 8p4,22 Lrlllun). SLaLus pemanLauan hasll pelaksanaan
undak lan[uL rekomendasl darl 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011
dlsa[lkan dalam 1abel 17.1. 8lnclan hasll pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll
pemerlksaan menuruL enuLas kemenLerlan/lembaga dlsa[lkan pada Lamplran 37.
Tabel 17.1. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada
Pemerintah Pusat Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011
ualam benLuk yang leblh rlngkas, sLaLus pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll
pemerlksaan 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 dlsa[lkan dalam
Crañk 17.1. adalah sebagal berlkuL.
(dalam [uLa ruplah dan rlbu valas)
Temuan Rekomendasi
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi
yang telah
d|nndak|an[un
dengan
penyetoran/
penyerahan
aset ke negara/
daerah/
perusahaan
negara/daerah
Sesuai dengan
Rekomendasi
Belum Sesuai dan Dalam
Proses Tindak Lanjut
8e|um D|nndak|an[un
Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai
13.897 S0.77S.317,33 23.942 27.366.261,90 1S.1S9 7.724.966,78 4.749 9.338.876,S6 4.034 10.302.418,S4 8.664.740,2S
uSu S3S,176.90 uSu 488,202.13 uSu 60,890.S2 uSu 126,937.36 uSu 300,374.24 uSu 64,110.44
Lu8 664.63 Lu8 628.83 Lu8 S9S.22 Lu8 33,61

-
Lu8 S80.39
Auu 36.S2 Auu 36.S2
-
Auu 36.S2

- -
!Þ? 266,082.19 !Þ? 1S0,83S.S0 -
-
!Þ? 1S0,83S.S0
-
SA8 8,0S9.29 SA8 177.07 SA8 177.07
-

-
SA8 110.41
- SCu 349.9S SCu 117.7S SCu 232.20

-
SCu 117.7S
C8Þ 396.10 C8Þ 396.10 C8Þ 396.10
-

-
C8Þ 396.10
186
Grahk 17.1. Status Þemantauan 1|ndak Lan[ut kekomendas| nas|| Þemer|ksaan Þemer|ntah Þusat
Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011 (dalam % Jumlah Rekomendasi)
uarl 1abel 17.1. dan Crañk 17.1. pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl
hasll pemerlksaan dl aLas LerllhaL bahwa [umlah rekomendasl yang Lelah dlundaklan[uu
sesual dengan rekomendasl sebanyak 1S.1S9 aLau 63,32°, sedangkan sebanyak
4.749 rekomendasl aLau 19,84° belum sesual rekomendasl aLau dalam proses
undak lan[uL, dan sebanyak 4.034 rekomendasl aLau 16,8S° belum dlundaklan[uu
(Lermasuk sebanyak S9 rekomendasl dl anLaranya adalah rekomendasl yang udak
dapaL dlundaklan[uu dengan alasan yang sah). uarl 1S.1S9 rekomendasl senllal
8p8,26 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p7,72 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen
8pS37,60 mlllar) yang dlundaklan[uu sesual rekomendasl, dl anLaranya Lelah
dlundaklan[uu dengan penyeLoran ke kas negara/penyerahan aseL ke negara senllal
8p9,22 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p8,66 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen
8pS64,94 mlllar).
ÞersenLase [umlah rekomendasl yang Lelah dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl
LerllhaL leblh domlnan (63,32°). Pal lnl menun[ukkan bahwa pemerlnLah pusaL Lelah
memperhaukan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan 8Þk.
Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil
Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah
Pasll pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan dl
llngkungan pemerlnLah daerah mengungkapkan bahwa darl 1ahun 200S sampal
dengan SemesLer l 1ahun 2011 secara keseluruhan darl S1S pemerlnLah daerah
LerdapaL 77.623 Lemuan pemerlksaan senllal 8p170,27 Lrlllun, dengan rlnclan
senllal 8p170,17 Lrlllun dan uSu10.72 [uLa (ekulvalen 8p92,24 mlllar) serLa 161.SS1
rekomendasl senllal 8p37,01 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p36,91 Lrlllun dan
uSu10.72 [uLa (ekulvalen 8p92,24 mlllar). SLaLus pemanLauan pelaksanaan undak
lan[uL rekomendasl 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 dlsa[lkan dalam
1abel 17.2. 8lnclan hasll pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan
menuruL enuLas pemerlnLah daerah dlsa[lkan pada Lamplran 38.
187
Tabel 17.2. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada
Pemerintah Daerah Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011
(dalam [uLa ruplah dan rlbu valas)
Temuan Rekomendasi
Status Pemantauan Tindak Lanjut
Rekomendasi
yang telah
d|nndak|an[un
dengan
penyetoran/
penyerahan aset
ke negara/daerah/
perusahaan
Sesuai dengan
Rekomendasi
Belum Sesuai dan
Dalam Proses Tindak
Lanjut
8e|um D|nndak|an[un
Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai
77.623 170.179.204,86 161.SS1 36.919.434,02 87.937 11.013.SS8,9S 34.7S3 17.729.7S7,69 38.861 8.176.117,38 8.997.1S1,29
uSu 10,729.S0 uSu 10,729.S0 uSu 449.96 uSu 9,949.S4 uSu 329.98 uSu 449.96
ualam benLuk yang leblh rlngkas, sLaLus pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll
pemerlksaan 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 dlsa[lkan dalam
grañk adalah sebagal berlkuL.
Grahk 17.2. Status Þemantauan 1|ndak Lan[ut kekomendas| nas|| Þemer|ksaan Þemer|ntah
Daerah Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011 (dalam % Jumlah Rekomendasi)
uarl 1abel 17.2. dan Crañk 17.2. dl aLas LerllhaL bahwa [umlah rekomendasl yang Lelah
dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl sebanyak 87.937 aLau S4,43°, sedangkan
sebanyak 34.7S3 rekomendasl aLau 21,S1° belum sesual rekomendasl aLau dalam
proses undak lan[uL, dan sebanyak 38.861 rekomendasl aLau 24,06° belum
dlundaklan[uu (Lermasuk sebanyak S6 rekomendasl dl anLaranya adalah rekomendasl
yang udak dapaL dlundaklan[uu dengan alasan yang sah). uarl 87.937 rekomendasl
senllal 8p11,01 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p11,01 Lrlllun dan uSu449.96 rlbu
(ekulvalen 8p3,86 mlllar) yang dlundaklan[uu sesual rekomendasl, dl anLaranya Lelah
dlundaklan[uu dengan penyeLoran ke kas negara/daerah senllal 8p9,00 Lrlllun, dengan
rlnclan senllal 8p8,99 Lrlllun dan uSu449.96 rlbu (ekulvalen 8p3,86 mlllar).
ÞersenLase [umlah rekomendasl yang Lelah dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl
LerllhaL leblh domlnan (S4,43°). Pal lnl menun[ukkan pemerlnLah daerah Lelah
memperhaukan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan 8Þk.
188
Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil
Pemeriksaan pada BUMN (Termasuk Anak Perusahaan)
Pasll pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan dl
llngkungan 8uMn (Lermasuk Anak Þerusahaan) mengungkapkan bahwa dalam
perlode 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 secara keseluruhan darl
169 8uMn (Lermasuk anak perusahaan) LerdapaL 3.S33 Lemuan pemerlksaan senllal
8p14S,89 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p130,68 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen
8p1S,20 Lrlllun) serLa S.840 rekomendasl senllal 8p19,44 Lrlllun, dengan rlnclan senllal
8p11,83 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p7,60 Lrlllun). SLaLus pemanLauan
pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun
2011 dlsa[lkan dalam 1abel 17.3. 8lnclan hasll pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL
rekomendasl hasll pemerlksaan menuruL enuLas 8uMn (Lermasuk anak perusahaan)
dlsa[lkan pada Lamplran 39.
Tabel 17.3. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan
pada BUMN (termasuk Anak Perusahaan) Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011
ualam benLuk leblh rlngkas, sLaLus pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll
pemerlksaan 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 dlsa[lkan dalam
grañk adalah sebagal berlkuL.
(dalam [uLa ruplah dan rlbu valas)
No Lnntas
Temuan Rekomendasi
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi
yang telah
d|nndak|an[un
dengan
penyetoran/
penyerahan
aset ke negara/
daerah/
perusahaan
Sesuai dengan Rekomendasi
Belum Sesuai dan Dalam
Proses Tindak Lanjut
8e|um D|nndak|an[un
Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai
1
8uMn (lnduk
perusahaan)
3.178 101.474.7S4,03 S.288 11.436.338,07 2.373 6.422.76S,S6 1.099 3.43S.S34,S8 1.816 1.S78.037,92 6.33S.963,41
uSu 1,697,117.S9 uSu 874,0S3.27 uSu 201,049.00 uSu 486,788.36 uSu 186,21S.90 uSu 82,344.3S
SCu 836.14 SCu 106.30 - SCu 106.30 - -
Lu8 221.47 Lu8 24.20 Lu8 24.20 - - Lu8 24.20
C8Þ 123.00 - - - - -
!Þ? 379,197.34 !Þ? 274,280.S2 !Þ? 270,977.12 !Þ? 3,303.40 - !Þ? 270,977.12
Cn? 896.89 - - - - -
2
8uMn (anak
perusahaan)
355 29.213.37S,S3 552 39S.770,S4 374 228.884,60 97 161.602,04 81 S.283,90 228.884,60
uSu 6S,101.44 uSu 7.417,92 uSu 4.29S,29 uSu 828,62 uSu 2.294,01 uSu 4.29S,29
Lu8 117.49 - - - - -
M?8 S2S.00 MYR 525,00 MYR 525,00 - - MYR 525,00
TOTAL 3.533 130.688.129,57 5.840 11.832.108,62 2.747 6.651.650,16 1.196 3.597.136,63 1.897 1.583.321,82 6.564.848,01
USD 1,762,219.04 USD 881,471.20 USD 205,344.30 USD 487,616.98 USD 188,509.91 USD 86,639.64
SGD 836.14 SGD 106.30 - SGD 106.30 - -
EUR 338.97 EUR 24.20 EUR 24.20 - - EUR 24.20
GBP 123.00 - - - - -
JPY 379,197.34 JPY 274,280.52 JPY 270,977.12 JPY 3,303.40 - JPY 270,977.12
CNY 896.89 - - - - -
MYR 525.00 MYR 525.00 MYR 525.00 - - MYR 525.00
189
Grahk 17.3. Status Þemantauan 1|ndak Lan[ut kekomendas| nas|| Þemer|ksaan 8UMN (termasuk
Anak Perusahaan) Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011 (dalam % Jumlah Rekomendasi)
uarl 1abel 17.3. dan Crañk 17.3. LersebuL LerllhaL bahwa [umlah rekomendasl yang
Lelah dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl sebanyak 2.747 aLau 47,04°,
sedangkan sebanyak 1.196 rekomendasl aLau 20,48° dlundaklan[uu belum sesual
rekomendasl aLau dalam proses undak lan[uL, dan sebanyak 1.897 rekomendasl
aLau 32,48° belum dlundaklan[uu (Lermasuk sebanyak 10 rekomendasl dl anLaranya
adalah rekomendasl yang udak dapaL dlundaklan[uu dengan alasan yang sah). uarl
2.747 rekomendasl senllal 8p8,44 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p6,6S Lrlllun dan
se[umlah valas (ekulvalen 8p1,79 Lrlllun) yang dlundaklan[uu sesual rekomendasl, dl
anLaranya Lelah dlundaklan[uu dengan penyerahan aseL/penyeLoran ke perusahaan
8uMn (Lermasuk anak perusahaan) senllal 8p7,34 Lrlllun, dengan rlnclan senllal
8p6,S6 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen 8p77S,SS mlllar).
ÞersenLase [umlah rekomendasl yang Lelah dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl
LerllhaL leblh domlnan (47,04°). Pal lnl menun[ukkan 8uMn (Lermasuk anak
perusahaan) Lelah memperhaukan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl 8Þk.
Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil
Pemeriksaan pada BHMN, KKKS, dan Badan Usaha Lainnya
Pasll pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl hasll pemerlksaan aLas
8PMn, kkkS, dan badan usaha lalnnya mengungkapkan bahwa darl 1ahun 200S
sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 LerdapaL 297 Lemuan pemerlksaan senllal
8p278,70 Lrlllun, dengan rlnclan senllal 8p30,73 Lrlllun dan se[umlah valas (ekulvalen
8p247,97 Lrlllun) dan 424 rekomendasl senllal 8p1S,14 Lrlllun, dengan rlnclan senllal
8p20,S9 mlllar dan se[umlah valas (ekulvalen 8p1S,12 Lrlllun). SLaLus pemanLauan
pelaksanaan undak lan[uL 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 dlsa[lkan
dalam Lamplran 39.
190
Tabel 17.4. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BHMN,
KKKS, dan Badan Usaha Lainnya Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011
ualam benLuk leblh rlngkas, sLaLus pemanLauan undak lan[uL rekomendasl hasll
pemerlksaan 1ahun 200S sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 dlsa[lkan dalam
grañk adalah sebagal berlkuL.
Grahk 17.4. Status Þemantauan 1|ndak Lan[ut kekomendas| nas|| Þemer|ksaan 8nMN, kkkS, dan
Badan Usaha Lainnya Tahun 2005 s.d. Semester I Tahun 2011 (dalam % Jumlah Rekomendasi)
uarl 1abel 17.4. dan Crañk 17.4. pemanLauan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl
hasll pemerlksaan dlaLas LerllhaL bahwa [umlah rekomendasl yang Lelah dlundaklan[uu
sesual dengan rekomendasl sebanyak 21S rekomendasl aLau S0,71°, sedangkan
sebanyak 143 rekomendasl aLau 33,73° belum sesual rekomendasl dan dalam proses
undak lan[uL, dan sebanyak 66 rekomendasl aLau 1S,S7° belum dlundaklan[uu.
ÞresenLase [umlah rekomendasl yang Lelah dlundaklan[uu sesual dengan rekomendasl
LerllhaL leblh domlnan (S0,71°). Pal lnl menun[ukkan 8PMn, kkkS, dan badan usaha
lalnnya Lelah memperhaukan pelaksanaan undak lan[uL rekomendasl 8Þk.
(dalam [uLa ruplah dan rlbu valas)
No Lnntas
Temuan Rekomendasi
Status Pemantauan Tindak Lanjut
Rekomendasi
yang telah
d|nndak|an[un
dengan
penyetoran/
penyerahan
aset ke
negara/
daerah/
perusahaan
Sesuai dengan Rekomendasi
Belum Sesuai dan Dalam
Proses Tindak Lanjut
8e|um D|nndak|an[un
Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai Jml Nilai
1 BHMN 35 30.S73.024,40 46 - 14 - 24 - 8 - -
uSu 23,8S4,24S.42 uSu 11,2S0.02 - uSu 11,2S0.02 - -
2 KKKS 231 98.162,33 321 20.S9S,36 177 17.266,S3 86 2.748,23 S8 S80,S9 -
uSu 4,989,618.40 uSu 1,748,429.81 uSu 1,178,279.06 uSu 497,102.23 uSu 73,048.S1 -
SCu S.30 SCu S.30 SCu S.30 - - -
3
badan
usaha
lainnya
(Lembaga)
31 63.277.22 S7 - 24 - 33 - - - -
TOTAL 297 30.734.463,96 424 20.595,36 215 17.266,53 143 2.748,23 66 580,59 -
USD 28,843,863.82 USD 1,759,679.83 USD 1,178,279.06 USD 508,352.26 USD 73,048.51 -
SGD 5.30 SGD 5.30 SGD 5.30 - - -
191
HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/
DAERAH
Pendahuluan
Ketentuan Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan memberikan kewenangan kepada BPK untuk memantau
penyelesaian kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah, pelaksanaan
pengenaan kerugian negara/daerah yang telah ditetapkan oleh BPK, dan
pelaksanaan pengenaan ganu keruglan negara/daerah yang dlLeLapkan berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, untuk menjamin
pelaksanaan pembayaran ganu keruglan negara/daerah.
Gambaran Umum
Hasil pemantauan penyelesaian kerugian negara/daerah Semester I Tahun Anggaran
2011 merupakan kompilasi Laporan Hasil Pemantauan Penyelesaian Kerugian
negara/uaerah SemesLer l 1ahun 2011 darl seuap unlL pelaksana Lugas pemerlksaan
yang memuat data kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya periode akhir Tahun
2004 sampai dengan Semester I Tahun 2011 dengan status sudah ditetapkan, dalam
proses peneLapan dan lnformasl keruglan negara/daerah.
Cakupan enuLas yang Lelah dlpanLau pada SemesLer l 1ahun 2011 adalah sebanyak
602 enuLas darl 2.04S enuLas aLau sebesar 29,44°.
Nilai kerugian negara/daerah pada Laporan Hasil Pemantauan Penyelesaian Kerugian
Negara/Daerah yang berupa valuta asing, telah diekuivalenkan dengan nilai tukar
ruplah per 30 !unl 2011 darl daLa 8ank lndonesla.
Secara umum dapat dinyatakan bahwa kerugian negara/daerah periode akhir Tahun
2004 sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 adalah sebanyak 8S.139 kasus senllal
8p12,92 Lrlllun dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8pS,01 Lrlllun
dengan penyelesalan berupa angsuran sebanyak 18.297 kasus senllal 8p1,72 Lrlllun
dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p91,S7 mlllar, pelunasan sebanyak
22.992 kasus senllal 8p1,29 Lrlllun dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal
8p3,S4 Lrlllun serLa penghapusan sebanyak 117 kasus senllal 8p9,S0 mlllar dan
se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p701,1 [uLa.
Sisa kerugian negara/daerah sampai dengan Semester I Tahun 2011 adalah sebanyak
62.030 kasus senllal 8p9,89 Lrlllun dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal
8p1,37 Lrlllun.
192
Hasil Pemantauan Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah
Hasil pemantauan penyelesaian kerugian negara/daerah pada Semester I Tahun 2011
adalah sebagai berikut:
Instansi Pusat
Kasus kerugian negara pada pemerintah pusat yang diambil dari saldo akhir Tahun 2004
sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 sebanyak 19.488 kasus senllal 8p2,88 Lrlllun
dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p4,90 Lrlllun dengan penyelesalan
berupa angsuran sebanyak 6.008 kasus senllal 8p306,79 mlllar dan se[umlah valuLa
aslng ekulvalen dengan nllal 8p90,S9 mlllar, pelunasan sebanyak S.046 kasus senllal
8p302,70 mlllar dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p3,S4 Lrlllun serLa
penghapusan keruglan negara Lerhadap 12 kasus senllal 8p2,96 mlllar dan se[umlah
valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p701,12 [uLa. Sampal dengan SemesLer l 1ahun
2011 slsa keruglan negara yang belum dlselesalkan sebanyak 14.430 kasus senllal
8p2,26 Lrlllun dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p1,26 Lrlllun.
Data pemantauan penyelesaian kerugian negara instansi pusat diambil periode akhir
1ahun 2004 sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 adalah sebagal berlkuL.
Tabel 18.1. Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat
(nilai dalam rupiah)
SUBYEK
MATA
UANG
KERUGIAN
PEMBAYARAN
SISA
ANGSURAN LUNAS PENGHAPUSAN
PENANGGUNG
JAWAB KERUGIAN
NEGARA
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI JML KASUS NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11=3-(7+9) 12=4-(6+8+10)
TGR BENDAHARA 226 27.497.929.S11,82 63 1.874.431.1S7,94 120 1.681.342.078,01 4 7S9.138.829,00 102 23.183.017.446,87
USD 60.000,00 - - - - - 60.000,00 - -
KSHS 2.000.000,00 - - - - - 2.000.000,00 - -
TGR NON
BENDAHARA
3.198 208.093.694.098,01 447 63.624.S22.646,S4 1.619 40.718.346.9S0,S8 3 7S9.064.702,00 1.S76 102.991.7S9.798,89
USD 2.308.331,73 - 6.974,44 - - - - - 2.301.3S7,29
AUD 1.111.670,40 - - - - - - - 1.111.670,40
JPY 7SS.447.276,13 - - - - - - - 7SS.447.276,13
Ffr 37.318.6S6,92 - - - - - - - 37.318.6S6,92
uß 3.017.147,S2 - - - - - - - 3.017.147,S2
DM 1.708.302,81 - - - - - - - 1.708.302,81
NLG 182.972,72 - - - - - - - 182.972,72
PIHAK KETIGA 1.424 S49.648.S28.036,S7 203 123.414.782.237,61 1.1S7 28.179.178.626,8S - - 267 398.0S4.S67.172,11
USD 97.232.96S,14 - 9.907.118,28 - 48.84S.940,22 - - - 38.479.906,64
INFORMASI
BPK 7.644 1.S87.392.824.783,37 1.2S3 30.444.949.100,76 9S3 124.132.173.988,33 - - 6.691 1.432.81S.701.694,28
USD 6.603,00 - - - - - - - 6.603,00
APIP 6.996 S08.34S.097.086,7S 4.042 87.439.620.392,39 1.197 107.991.S72.907,90 5 1.449.420.104,00 S.794 311.464.483.682,46
USD 394.406.23S,97 - SS6.771,64 - 360.204.737,33 - - - 33.644.727,00
EUR 123.836,07 - 10.S00,00 - 83.790,S6 - - - 29.S4S,S1
CAD 19.031,S0 - - - 19.031,S0 - - - -
AUD 22.4S0,24 - - - 22.4S0,24 - - - -
MYR 121.484,79 - - - 121.484,79 - - - -
HKS 29.878,62 - - - 29.878,62 - - - -
NOK 1.027,72 - - - 1.027,72 - - - -
RUB 48.23S,00 - - - 48.23S,00 - - - -
SGD 1.221,00 - - - 1.221,00 - - - -
GBP 350,00 - - - 350,00 - - - -
TOTAL IDR 19.488 2.880.978.073.S16,S2 6.008 306.798.30S.S3S,24 S.046 302.702.614.SS1,67 12 2.967.623.63S,00 14.430 2.268.S09.S29.794,61
USD 494.014.13S,84 - 10.470.864,36 - 409.0S0.677,SS - 60.000,00 - 74.432.S93,93
KSHS 2.000.000,00 - - - - - 2.000.000,00 - -
AUD 1.134.120,64 - - - 22.4S0,24 - - - 1.111.670,40
JPY 7SS.447.276,13 - - - - - - - 7SS.447.276,13
Ffr 37.318.6S6,92 - - - - - - - 37.318.6S6,92
uß 3.017.147,S2 - - - - - - - 3.017.147,S2
DM 1.708.302,81 - - - - - - - 1.708.302,81
NLG 182.972,72 - - - - - - - 182.972,72
EUR 123.836,07 - 10.S00,00 - 83.790,S6 - - - 29.S4S,S1
CAD 19.031,S0 - - - 19.031,S0 - - - -
MYR 121.484,79 - - - 121.484,79 - - - -
HKS 29.878,62 - - - 29.878,62 - - - -
NOK 1.027,72 - - - 1.027,72 - - - -
RUB 48.23S,00 - - - 48.23S,00 - - - -
SGD 1.221,00 - - - 1.221,00 - - - -
GBP 350,00 - - - 350,00 - - - -
VALAS EKUIVALEN*) 4.902.4S2.263.276,01 90.S99.77S.740,40 3.S47.466.14S.S69,98 701.120.000,00 1.263.68S.221.96S,63
TOTAL KERUGIAN 19.488 7.783.430.336.792,S3 6.008 397.398.081.27S,64 S.046 3.8S0.168.760.121,6S 12 3.668.743.63S,00 14.430 3.S32.194.7S1.760,2S
Nilai kerugian dalam tabel di atas termasuk nilai kerugian dalam valas yang telah dikonversi berdasarkan kurs tengah BI per
30 Juni 2011
193
Rincian penyelesaian kerugian negara pada instansi pusat berdasarkan proses
penyelesaiannya, yaitu sudah ditetapkan dapat dilihat pada Lampiran 40 dan dalam
proses peneLapan pada Lamplran 41. Adapun rlnclan lnformasl keruglan negara dapaL
dlllhaL pada Lamplran 42.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Kasus kerugian negara pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diambil dari
saldo akhlr 1ahun 2004 sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 sebanyak 69S kasus
senllal 8pS9,43 mlllar dengan penyelesalan berupa angsuran sebanyak 1S7 kasus
senllal 8p11,4S mlllar, pelunasan sebanyak 173 kasus senllal 8p7,14 mlllar serLa
penghapusan kerugian negara pada BUMN Lerhadap 1S kasus senllal 8p392,04 [uLa.
Total penyelesaian kerugian negara pada BUMN sebesar 49,64° senllal 8p18,99
mlllar. Sampal dengan SemesLer l 1ahun 2011 slsa keruglan negara pada BUMN yang
belum dlselesalkan sebanyak S07 kasus senllal 8p40,44 mlllar.
Data hasil pemantauan penyelesaian kerugian negara pada BUMN adalah sebagai
berlkuL.
Tabel 18.2. Penyelesaian Kerugian Negara pada BUMN
(nilai dalam rupiah)
Rincian penyelesaian kerugian negara pada BUMN berdasarkan proses penyelesaian,
yaitu sudah ditetapkan dapat dilihat pada Lampiran 43 dan rincian informasi kerugian
negara dapaL dlllhaL pada Lamplran 44.
Pemerintah Daerah
Kasus kerugian daerah yang terjadi diambil dari saldo akhir Tahun 2004 sampai
dengan SemesLer l 1ahun 2011 sebanyak 64.9S6 kasus senllal 8p9,98 Lrlllun dan
se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p107,40 mlllar dengan penyelesalan
berupa angsuran sebanyak 12.132 kasus senllal 8p1,40 Lrlllun dan se[umlah valuLa
aslng ekulvalen dengan nllal 8p979,43 [uLa , pelunasan sebanyak 17.773 kasus
senllal 8p98S,36 mlllar dan se[umlah valuLa aslng ekulvalen dengan nllal 8p9,S0
juta , serta penghapusan keruglan daerah Lerhadap 90 kasus senllal 8p6,14 mlllar.
Sampai dengan Semester I Tahun 2011 sisa kerugian daerah yang belum diselesaikan
sebanyak 47.093 kasus senllal 8p7,S9 Lrlllun dan sejumlah valuta asing ekuivalen
dengan nilai Rp106,41 miliar.
Data hasil pemantauan penyelesaian kerugian daerah diambil dari periode akhir
Tahun 2004 sampai dengan pemantauan pada Semester I Tahun 2011 adalah sebagai
berlkuL.
ENTITAS
YANG
DIPANTAU
SUBYEK
MATA
UANG
KERUGIAN
PEMBAYARAN
SISA
ANGSURAN LUNAS PENGHAPUSAN
PENANGGUNG JAWAB
KERUGIAN NEGARA
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI JML KASUS NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12= 4-(8+10) 13=S-(7+9+11)
PENGELOLA BUMN
TUGAS KEBENDAHARAAN IDR 34 S.886.664.062 20 981.462.228 10 80.674.260 - - 24 4.824.S27.S74
BUKAN TUGAS
KEBENDAHARAAN
IDR - - - - - - - - - -
PIHAK KETIGA IDR 340 17.883.207.762 70 S.697.263.992 11 4.80S.1SS.978 - - 329 7.380.787.792
INFORMASI
BPK IDR 2 329.S74.000 1 9S.000.000 1 1S6.114.000 - - 1 78.460.000
APIP IDR 319 3S.334.S02.8S2 66 4.680.284.4S2 151 2.102.140.487 15 392.042.7S1 153 28.160.03S.162
JUMLAH IDR 69S S9.433.948.67S,74 1S7 11.4S4.010.672,23 173 7.144.084.72S,00 15 392.042.7S0,9S S07 40.443.810.S27,S6
194
Tabel 18.3 Penyelesaian Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah
(nilai dalam rupiah)
Rincian penyelesaian kerugian daerah pada instansi daerah berdasarkan proses
penyelesaian, yaitu sudah ditetapkan dapat dilihat pada Lampiran 45 dan dalam
proses peneLapan dapaL dlllhaL pada Lamplran 46. Adapun lnformasl keruglan daerah
dapaL dlllhaL pada Lamplran 47.
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Þada SemesLer l 1ahun 2011 udak LerdapaL daLa mengenal keruglan daerah dan
penyelesalannya pada 8uMu.
Kerugian pada Badan Pengelola Keuangan Lainnya
Þada SemesLer l 1ahun 2011 udak LerdapaL daLa mengenal keruglan negara/daerah
dan penyelesalannya pada badan pengelola keuangan lalnnya seperu badan hukum
mlllk negara (8PMn) dan badan layanan umum (8Lu).
PERMASALAHAN DALAM PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH
Permasalahan yang muncul dalam penyelesaian kerugian negara/daerah antara lain:
1. Tindak lanjut oleh Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (TPKN/D) atas
informasi indikasi kerugian negara/daerah baik yang berasal dari hasil pemeriksaan
BPK, hasil pengawasan/pemeriksaan Bawasda, Inspektorat Jenderal, maupun dari
8ÞkÞ (AÞlÞ) belum opumal,
2. uaLa base/dafar keruglan negara/daerah dl maslng-maslng lnsLansl belum
Lersusun,
3. Penyelesaian kerugian negara/daerah belum menggunakan mekanisme
sebagalmana dlmaksud peraLuran perundang-undangan,
4. Penyelesaian kerugian negara/daerah belum dapat dilaksanakan secara tepat
wakLu dan cenderung berlaruL-laruL,
S. Kelemahan dokumentasi/administrasi data kerugian negara/daerah dan
penyelesalannya,
6. uukungan plmplnan lnsLansl aLas keberadaan dan klner[a 1Þkn/u belum opumal,
SUBYEK
PENANGGUNG
JAWAB
KERUGIAN
NEGARA /
SUMBER
INFORMASI
MATA
UANG
KERUGIAN
PEMBAYARAN
SISA
ANGSURAN LUNAS PENGHAPUSAN
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
JML
KASUS
NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11=3-(7+9) 12=4-(6+8+10)
TGR BENDAHARA IDR 1.469 273.226.093.90S,70 479 19.934.81S.S44,6S 558 10.113.142.719,04 37 1.178.SS6.617,00 874 241.999.S79.02S,01
TGR NON
BENDAHARA
IDR S.220 412.324.719.233,93 1.778 80.2S3.63S.342,4S 1.209 22.68S.430.677,12 11 3.313.644.000,00 4.000 306.072.009.214,36
PIHAK KETIGA IDR 2.116 1S3.448.68S.288,43 462 19.221.173.764,9S 446 38.796.736.679,21 3 - 1.667 9S.430.774.844,27
INFORMASI
BPK IDR 18.140 8.049.676.702.431,04 3.861 1.123.746.727.236,74 4.341 771.287.003.798,44 3 S87.S83.478,00 13.796 6.1S4.0SS.387.917,86
USD 7.166,94 - - - 1.100,00 - - - 6.066,94
APIP IDR 38.009 1.096.919.20S.098,08 S.SS2 160.362.078.931,08 11.219 142.482.996.670,80 36 1.069.0S6.617,00 26.7S4 793.00S.072.879,20
USD 12.423.860,4S - 113.360,80 - - - - 2 12.310.499,6S
TOTAL IDR 64.9S6 9.98S.S9S.40S.9S7,18 12.132 1.403.S18.430.819,87 17.773 98S.36S.310.S44,60 90 6.148.840.712,00 47.093 7.S90.S62.823.880,71
USD 12.431.027,39 - 113.360,80 - 1.100,00 - - 2 12.316.S66,S9
VALAS EKUIVALEN*) 107.404.076.649,60 - 979.437.312,00 - 9.504.000,00 - - 106.415.135.337,60
TOTAL KERUGIAN 64.956 10.092.999.482.606,80 12.132 1.404.497.868.131,87 17.773 985.374.814.544,60 90 6.148.840.712,00 47.093 7.696.977.959.218,31
Nilai kerugian dalam tabel di atas termasuk nilai kerugian dalam valas yang telah dikonversi berdasarkan kurs tengah BI per 30
Juni 2011
195
7. koordlnasl anLara lnspekLoraL dan 1Þkn/u dalam menlndaklan[uu laporan hasll
pemerlksaan berlndlkasl keruglan negara/daerah belum makslmal,
8. Þroses penyelesalan berlaruL-laruL karena penanggung [awab keruglan udak ada,
sudah menlnggal dunla, plndah LempaL unggal, aLau plndah peker[aan,
9. Þelaporan keruglan negara/daerah belum sesual keLenLuan,
10. Ketentuan tentang penyelesaian kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan
bendahara dan pe[abaL laln belum ada sehlngga menlmbulkan keudakseragaman
dalam penyelesalan aLau pengenaan keruglan negara/daerah.
REKOMENDASI
Terhadap permasalahan penyelesaian kerugian negara/daerah, BPK telah
merekomendasikan:
1. Pemerintah segera menerbitkan peraturan yang mengatur penyelesaian kerugian
negara/daerah Lerhadap pegawal negerl bukan bendahara dan pe[abaL laln,
2. Pimpinan instansi memberikan dukungan terhadap keberadaan dan kinerja
1Þkn/u,
3. Pimpinan instansi memberikan sosialisasi dan pemahaman tentang penyelesaian
keruglan negara/daerah kepada seluruh plmplnan unlL ker[a dl llngkungannya,
4. Pimpinan Instansi menginstruksikan kepada pimpinan unit kerja untuk melaporkan
kasus keruglan negara/daerah yang Ler[adl dl unlL ker[anya.
Hasil Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak
Pidana/Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang
Berwenang
Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Kerugian Negara, mewajibkan BPK
unLuk melaporkan hasll pemerlksaan yang mengandung lndlkasl undak pldana kepada
lnsLansl yang berwenang. Se[ak 1ahun 2003 8Þk Lelah melaporkan hasll pemerlksaan
yang mengandung indikasi unsur pidana kepada instansi yang berwenang yaitu
kepollslan negara 8l, ke[aksaan, dan komlsl ÞemberanLasan korupsl (kÞk).
Sampai dengan Semester I Tahun 2011, LHP BPK yang mengungkapkan indikasi
undak pldana dan Lelah dlsampalkan kepada lnsLansl berwenang adalah sebanyak
30S kasus senllal 8p29.S1 Lrlllun dan uSu 480,88 [uLa aLau ekulvalen dengan nllal
8p4,1S Lrlllun berdasarkan kurs 8ank lndonesla per 30 !unl 2011. uarl 30S kasus yang
diserahkan tersebut, Instansi yang berwenang (Kepolisian, Kejaksaan dan KPK) telah
menlndaklan[uu 166 kasus melalul proses hukum (S4,42°) ke dalam proses peradllan,
yalLu pellmpahan kepada [a[aran/penyldlk lalnnya sebanyak 41 kasus (13.44°),
Lelaahan, gelar perkara dan penelluan sebanyak 21 kasus (6.89°), penyelldlkan
sebanyak 24 kasus (7.87°), penyldlkan sebanyak 10 kasus (3.28°), proses sldang 1
kasus (0.33°) penunLuLan sebanyak 11 kasus (3.61°), vonls/bandlng sebanyak 47
kasus (1S.41°) dan SÞ3/dlhenukan sebanyak 11 kasus (3.61°). Sedangkan Lemuan
yang belum dlundaklan[uu aLau udak ada daLa undaklan[uLnya sebanyak 139 kasus
(4S.S7°). 8lnclan pemanLauan hasll pemerlksaan 8Þk yang berlndlkasl keruglan/
pldana dapaL dlllhaL pada Label berlkuL.
196
Tabel 18.4 Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana
Instansi Penegak
Hukum
Sudah D|nndak|an[un
Belum
D|nndak|an[un
/ Tidak Ada Ket
Tahun Temuan Limpah
Ekspose/
Telaah/
Koordinasi
Lidik Dik
Proses
Sidang
Tut
Vonis/
Banding/
Kasasi
SP3
Kepolisian RI 2003 - - - - - - - - - -
2004 10 - - - - - - - 10 -
2005 1 - - - - - - 1 - -
2006 - - - - - - - - - -
2007 4 - - 2 1 - - 1 - -
2008 1 - - - 1 - - - - -
2009 - - - - - - - - - -
2010 2 - - - 2 - - - - -
2011 7 - - - - - - - - 7
KEPOLISIAN RI SUB TOTAL 25 - - 2 4 - - 2 10 7
Kejaksaan 2003 17 16 - - - - - 1 - -
2004 54 25 - - - - - 28 - 1
2005 14 - - - 4 - 4 - - 6
2006 18 - - 14 - - - - - 4
2007 28 - - - - - 1 3 - 24
2008 4 - - - - - - - - 4
2009 20 - - 1 1 1 - 1 1 15
2010 15 - - - - - - - - 15
2011 2 - - - - - - - - 2
KEJAKSAAN SUB TOTAL 172 41 - 15 5 1 5 33 1 71
KPK 2003 - - - - - - - - - -
2004 - - - - - - - - - -
2005 - - - - - - - - - -
2006 8 - 3 - - - - 5 - -
2007 5 - 3 - - - - 2 - -
2008 23 - 9 5 - - 5 4 - -
2009 22 - 6 2 1 - 1 1 - 11
2010 46 - - - - - - - - 46
2011 4 - - - - - - - - 4
KPK SUB TOTAL 108 - 21 7 1 - 6 12 - 61
TOTAL 305 41 21 24 10 1 11 47 11 139
197
Dahar S|ngkatan dan Akron|m
A
ADB : Asian Development Bank
ADD : Alokasi Dana Desa
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
APBN-P : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan
APIP : Aparat Pengawasan Internal Pemerintah
APP : Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan
Asrena Kasal : Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Laut
B
BA : Bagian Anggaran
Babek : Badan Pembekalan
Bansos : Bantuan Sosial
Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Batanta : Bagian Pembuatan Tinta
BBM : Bahan Bakar Minyak
BBPOM : Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
BBPPT : Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi
BCG : 8ocllle colmeue Coetlo
BHMN : Badan Hukum Milik Negara
BHP : Badan Hukum Pendidikan
BHP Frekuensi : Biaya Hak Penggunaan Frekuensi
BI : Bank Indonesia
Binkes : Pembinaan Kesehatan
Biro Renotala : Biro Perencanaan Organisasi dan Tatalaksana
BKKBN : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
BKN : Badan Kepegawaian Negara
BLBU : Bantuan Langsung Benih Unggul
BLU : Badan Layanan Umum
BLU-BPJT : Badan Layanan Umum – Badan Pengatur Jalan Tol
BMN : Barang Milik Negara
BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana
BOT : 8ollJ, Opetote, ooJ 1toosfet
BPHTB : Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
BPK : Badan Pemeriksa Keuangan
BPKK : Badan Pengelola Keuangan Kota
BPKP : Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
BPMIGAS : Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
BPN : Badan Pertanahan Nasional
BPOM : Badan Pengawas Obat dan Makanan
198
BPPN : Badan Penyehatan Perbankan Nasional
BPYBDS : Bantuan Pemerintah yang Belum Ditetapkan Statusnya
BRR NAD-Nias : Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam-
Nias
BSBI : Badan Supervisi Bank Indonesia
BSBL : Belanja Subsidi dan Belanja Lainnya
BUD : Bendahara UmumDaerah
BUJT : Badan Usaha Jalan Tol
BUMD : Badan Usaha Milik Daerah
BUMN : Badan Usaha Milik Negara
BUN : Bendahara UmumNegara
C
CaLK : Catatan atas Laporan Keuangan
cO5O : commluee of 5poosotloq Otqoolzouoos of tbe 1teoJwoy commlssloo
CT Scan : compotetlzeJ 1omoqtopby 5coo
D
DAK : Dana Alokasi Khusus
Daker : Daerah Kerja
DC : uellvety ceotet
DCS : ulsttlboteJ coottol 5ystem
denma : Detasemen Markas
Diklat : Þendldlkan dan Þelauhan
DIPA : uafar lslan Þelaksanaan Anggaran
Dirjen : Direktur Jenderal
Diskesal : Dinas Kesehatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
Diskesau : Dinas Kesehatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara
Distamben : Dinas Pertambangan dan Energi
Ditjen : Direktorat Jenderal
Ditjen PMPTK : Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan
Ditjen Postel : Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi
Ditjen Dukcapil : Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil
Ditjen KD : Direktorat Jenderal Keuangan Daerah
Ditjen Otda : Direktorat Jenderal Otonomi Daerah
Ditjen PHU : Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah
Ditpalad : Direktorat Peralatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
Ditstand : Direktorat Standardisasi
DJA : Direktorat Jenderal Anggaran
DJBC : Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
DJKN : Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
DJP : Direktorat Jenderal Pajak
199
DJPK : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
DJPL : Dana Jaminan Pengelolaan Lingkungan
DJPU : Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
DK/TP : Dana Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan
DPD : Dewan Perwakilan Daerah
DPDF PPD : Dana Penguatan Desentralisasi Fiskal dan Percepatan Pembangunan
Daerah
DPIPD : Dana Penguatan Infrastruktur dan Prasarana Daerah
DPPIP : Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pendidikan
DPR : Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DVD
: ulqltol vlJeo ulsc
E
EA : íxecouoq Aqeocy
ESDM : Energi dan Sumber Daya Mineral
ETESP : íottbpooke ooJ 1sooomy ímetqeocy 5oppott ltoject
G
GM : Ceoetol Moooqet
GTG : Cos 1otbloe Ceoetotot
HPP : Harga Pokok Produksi
HPS : Harga Perkiraan Sendiri
HPT : Parga ÞaLokan 1erunggl
I
IBKK : Inspektorat Bidang Kinerja Kelembagaan
ICU : loteoslve cote uolt
IHPS : lkhusar Pasll Þemerlksaan SemesLer
ILGR : loluouve locol Covetomeot kefotm
IP : inventarisasi dan penilaian
IWPU : Iuran Wajib Pesawat Udara
J
Jamkesda : Jaminan Kesehatan Daerah
Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat
Japalu : Jawa Timur, Papua, dan Maluku
JBT : Jenis BBM Tertentu
Juknis : Petunjuk Teknis
K
Kadiskesau : Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Udara
KAI : Kereta Api Indonesia
KAK : Kerangka Acuan Kerja
kalañau : Kepala Lembaga Farmasi Angkatan Udara
200
Kanwil : Kantor Wilayah
KAP : Kantor Akuntan Publik
Karumkit : Kepala Rumah Sakit
Kasad : Kepala Staf Angkatan Darat
KBRI : Kedutaan Besar Republik Indonesia
KC : Kantor Cabang
Kemendiknas : Kementerian Pendidikan Nasional
Kementerian
PAN dan RB
: Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Kementerian PPN : Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional
Kesdam : Kesehatan Komando Daerah Militer
KI : Kepatuhan Internal
KJRI : Konsulat Jenderal Republik Indonesia
KKA : Kertas Kerja Audit
KKKS : Kontraktor Kontrak Kerja Sama
KKN : korupsl, kolusl, dan nepousme
KL : Kementerian/Lembaga
KLH : Kementerian Lingkungan Hidup
Kodam : Komando Daerah Militer
Kominfo : Komunikasi dan Informasi
KP : Kantor Pemasaran
KPA : Kuasa Pengguna Anggaran
KPK : Komisi Pemberantasan Korupsi
KPKN : Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara
KPKNL : Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
KPPBC : Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
KPPN : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
KPSMP : Komite Pengendalian dan Standardisasi Material dan Peralatan
KSO : Kerjasama Operasi
KVA : kllo volt Ampete
L
Ladogi : Laboratorium Kedokteran Gigi
Lañal : Lembaga Farmasi Angkatan Laut
Lañau : Lembaga Farmasi Angkatan Udara
LAK : Laporan Arus Kas
Lakesgilut : Lembaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Lakespra : Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa
LAN : Lembaga Administrasi Negara
LHA : Laporan Hasil Audit
LHP : Laporan Hasil Pemeriksaan
LK : Laporan Keuangan
201
LKKL : Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga
LKPD : Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
LKPP : Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
LMK : Laporan Manajemen Keuangan
Loan ID : looo lJeoufcouoo
LPG : llpolfeJ lettoleom Cos
LPP : Lembaga Penyiaran Publik
LPS : Lembaga Penjamin Simpanan
LRA : Laporan Realisasi Anggaran
M
MA : Mahkamah Agung
Mabes : Markas Besar
MAK : Mata Anggaran Kegiatan
Mendagri : Menteri Dalam Negeri
Mendiknas : Menteri Pendidikan Nasional
Menkes : Menteri Kesehatan
Menlu : Menteri Luar Negeri
MFO : Motloe loel Oll
Monev : Monitoring dan Evaluasi
MoU : memotooJom of ooJetstooJloq
MP ASI : Makanan Þengganu Alr Susu lbu
MPC : Moll ltocessloq ceotet
MPN : Modul Penerimaan Negara
N
NICU : Neoootol loteoslve cote uolt
NPL : Noo letfotmloq looo
O
OECD : Otqoolzouoo fot ícooomlc uevelopmeot
Otsus : Otonomi Khusus
P
P2TPD : Prakarsa Pembaharuan Tata Pemerintahan Daerah
P3LPBJ : Þanlua Þelelangan dan Þemlllhan Langsung Þengadaan 8arang dan
Jasa
PAD : Pendapatan Asli Daerah
Panja : Þanlua ker[a
PBB : Pajak Bumi dan Bangunan
PBB Migas : Pajak Bumi dan Bangunan Minyak dan Gas
PD : Perusahaan Daerah
PDTT : Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Pemda : Pemerintah Daerah
202
PFPD : Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen
PGRU P3 : lotqe Cos kecovety uolt Pupuk Sriwijaya 3
PHAPL : Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari
PIB : Pemberitahuan Impor Barang
PIBK : Pemberitahuan Impor Barang Khusus
PICU : leJlottlc loteoslve cote uolt
PIH : Penyelenggaraan Ibadah Haji
PIP : Pusat Investasi Pemerintah
PJT : Þerusahaan !asa 1lupan
PLN : Perusahaan Listrik Negara
Plt : Pelaksana tugas
PLTA : Pembangkit Listrik Tenaga Air
PMA : Pengendali Mutu Audit
PMK : Peraturan Menteri Keuangan
PMN : Penyertaan Modal Negara
PMOADBETESP : ltoject Moooqemeot O[ce of Asloo uevelopmeot 8ook oo
íottbpooke-ooJ 1soooml ímetqeocy 5oppott ltoject
PNBP : Penerimaan Negara Bukan Pajak
PNPM Mandiri : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
PNS : Pegawai Negeri Sipil
PNSD : Pegawai Negeri Sipil Daerah
lO : lotcbose OtJet
Poltekkes : Politeknik Kesehatan
PP : Peraturan Pemerintah
PPA : Perusahaan Pengelolaan Aset
PPh : Pajak Penghasilan
PPIH : Þanlua Þenyelenggara lbadah Pa[l
PPK : Pejabat Pembuat Komitmen
PPK GBK : Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno
PPKK : Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran
PPN : Pajak Pertambahan Nilai
PPN DTP : Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah
PPTK : Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
PSC : ltoJocuoo 5botloq coottoct
PSO : lobllc 5etvlce Obllqouoo
PT : Perseroan Terbatas
PTA : Pengendali Teknis Audit
PTT : Pegawai Tidak Tetap
PU : Pekerjaan Umum
Puskes : Pusat Kesehatan
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
203
Puspenerbad : Pusat Penerbangan Angkatan Darat
R
RAB : Rencana Anggaran dan Biaya
RBA : Rencana Bisnis dan Anggaran
Reksus : Rekening Khusus
Renstra : Rencana strategis
RJPP : Rencana Jangka Panjang Perusahaan
RKA/KL : Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga
RKAP : Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
RKAS : Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah
RKS : Rencana Kerja Sekolah
RPSA : Rumah Perlindungan Sosial Anak
RRI : Radio Republik Indonesia
RSAB : Rumah Sakit Anak dan Bunda
RSAU : Rumah Sakit Angkatan Udara
RSBI : 8lnusan Sekolah 8erLaraf lnLernaslonal
RSCM : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
RSKD : Rumah Sakit Khusus Daerah
RSPAU : Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara
RSU : Rumah Sakit Umum
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
RSUP : Rumah Sakit Umum Pemerintah
Rumkit : Rumah Sakit
Rumkital : Rumah Sakit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
Rumkitmun : Rumah Sakit Umum dr. Moch. Salamun
RUPS : Rapat Umum Pemegang Saham
S
SAI : SistemAkuntansi Instansi
SAL : Saldo Anggaran Lebih
SAPK : Sistem Aplikasi Pelayanan Kepegawaian
Satker : Satuan Kerja
SAU : SistemAkuntansi Umum
SD : Sekolah Dasar
SDM : Sumber Daya Manusia
Setjen : Sekretaris Jenderal
Setneg : Sekretariat Negara
SFC : 5peclfc foel coosompuoo
SIK : Sistem Informasi Kepegawaian
SIMAK BMN : Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara
Simbada : Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah
204
Simda : Sistem Informasi Manajemen Daerah
SIUP : Surat Izin Usaha Pertambangan
SK : Surat Keputusan
SKP : Surat Ketetapan Pajak
SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah
SKPKB : Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
SLB : Sekolah Luar Biasa
SMA : Sekolah Menengah Atas
SMAN : Sekolah Menengah Atas Negeri
SMK : Sekolah Menengah Kejuruan
SMKN : Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SMPN : Sekolah Menengah Pertama Negeri
SOI : Sopet Otlof lotoqllo
SOP : 5tooJotJ Opetouoq ltoceJote
SP2D : Surat Perintah Pencairan Dana
SP3 : SuraL ÞerlnLah Þenghenuan Þenyldlkan
SPI : Sistem Pengendalian Intern
SPIP : SistemPengendalian Intern Pemerintah
SPKN : Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
SPM : Standar Pelayanan Minimal
SPNIK : Surat Pemberitahuan Nomor Induk Kependudukan
SPPT : Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang
STAN : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
STP : Surat Tagihan Pajak
Sultanbatara : Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara
SWOT : 5tteoqtbs, weokoesses, Oppottoolues, 1bteots
T
TA : Tahun Anggaran
TB : Tahun Buku
TGR : 1unLuLan Canu 8ugl
THR : Tunjangan Hari Raya
THT : Tunjangan Hari Tua
TK : Taman Kanak-Kanak
TKWNAP : Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang
TMP : Tidak Memberikan Pendapat
TNI AD : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
TNI AL : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
TNI AU : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara
TPKN/D : Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah
TPS : Tempat Penimbunan Sementara
205
TVRI : Televisi Republik Indonesia
TW : Tidak Wajar
U
UBP : Unit Bisnis Pembangkitan
UGD : Unit Gawat Darurat
UKE : Unit Kerja Eselon
UKM : Usaha Kecil dan Menengah
ULP : Uang Lauk Pauk
UMH : Unit Manajemen Hutan
UMK : Usaha Mikro dan Kecil
UNAMID : Aftlcoo uoloo/uolteJ Nouoos nlbtyJ Opetouoo lo uotfot
UO : Unit Organisasi
UU : Undang-Undang
V
Valas : Valuta Asing
VAR : vaksln anu 8ables
VIP : vety lmpottoot letsoo
W
WA : wltbJtowol Appllcouoo
Wabku : Pertanggungjawaban Keuangan
Wajar : Wajib Belajar
WDP : Wajar Dengan Pengecualian
WSRS : wlploq 5olouoo kecovety 5ystem
WTP : Wajar Tanpa Pengecualian
WTP-DPP : Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelas
Y
Yanmasum : Pelayanan Masyarakat Umum
206
Mata uang
AUD : Australian Dollar
CAD : Canadian Dollar
CNY : Chinese Yuan
uß : Dutch Florin
DM : Deutsche Mark
EUR : Euro
Ffr : France Franc
GBP : Great Britain Poundsterlling
IDR : Indonesian Rupiah
JPY : Japanese Yen
KSHS : Kenyan Shilings
MYR : Malaysian Ringgit
NLG : Dutch Guilder
NOK : Norwegia Krone
RUB : Russian Ruble
SAR : Saudi Arabian Real
SGD : Singapore Dollar
USD : United States Dollar
Lampiran
IHPS I Tahun 2011
1
Halaman 1 - Lampiran 1
Dahar Cp|n| Laporan keuangan kementer|an]Lembaga dan 8adan La|nnya
1ahun 2006 - 2010
No. Lnntas kementer|an]Lembaga dan 8adan La|nnya
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
kementer|an]Lembaga
1 Majelis Permusyawaratan Rakyat WDP WDP WTP WTP WTP
2 Dewan Perwakilan Rakyat WDP WDP WDP WTP WTP
3 Badan Pemeriksa Keuangan WDP WTP-DPP WTP WTP WTP
4 Mahkamah Agung TMP TMP TMP TMP WDP
5 Kejaksaan Agung TMP TMP TMP WDP WDP
6 Sekretariat Negara WDP WDP WDP WDP WTP
7 Kementerian Dalam Negeri TMP TMP TMP WDP WTP-DPP
8 Kementerian Luar Negeri TMP TMP WDP TMP WDP
9 Kementerian Pertahanan TMP TMP WDP WDP WDP
10 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia TMP TMP TMP WTP-DPP WTP-DPP
11 Kementerian Keuangan TMP TMP WDP WDP WDP
12 Kementerian Pertanian TMP TMP WDP WDP WDP
13 Kementerian Perindustrian TMP WDP WTP-DPP WTP WTP
14 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral TMP WDP WDP WDP WTP-DPP
15 Kementerian Perhubungan TMP TMP WDP WDP WDP
16 Kementerian Pendidikan Nasional TMP TMP WDP WDP TMP
17 Kementerian Kesehatan TMP TMP WDP TMP TMP
18 Kementerian Agama TMP TMP TMP WDP WDP
19 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi TMP TMP WDP WDP WDP
20 Kementerian Sosial TMP WDP WDP WDP WDP
21 Kementerian Kehutanan TMP TMP TMP WDP WDP
22 Kementerian Kelautan dan Perikanan TMP TMP TMP WDP WTP-DPP
23 Kementerian Pekerjaan Umum TMP TMP TMP WDP WDP
24
kemenLerlan koordlnaLor 8ldang Þolluk, Pukum, dan
Keamanan
WDP WDP WTP-DPP WTP WTP
25 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian WDP WDP WTP WTP WTP
26 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat WDP WDP WDP WTP WTP
27 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata TMP TMP TMP WDP WDP
28 Kementerian Badan Usaha Milik Negara WDP WTP WTP WTP WTP
29 Kementerian Riset dan Teknologi WDP WDP WTP WTP WTP
30 Kementerian Lingkungan Hidup WDP TMP TMP TMP WDP
31 Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah TMP TMP WDP WDP WTP
32 Kementerian Pemberdayaan Perempuan WDP WDP WTP WTP WTP
33 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara WDP WDP WTP WTP WTP
34 Badan Intelijen Negara WDP WTP WTP WTP WTP
35 Lembaga Sandi Negara WDP WDP WDP WDP WTP-DPP
36 Dewan Ketahanan Nasional WDP WTP WTP WTP WTP
37 8adan ÞusaL SLausuk TMP TMP TMP WDP WDP
38
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
WDP WDP WTP WTP WTP
39 Badan Pertanahan Nasional TMP TMP TMP TMP WDP
40 Perpustakaan Nasional WDP TMP WDP WDP WTP
41 kemenLerlan komunlkasl dan lnformauka WDP TW WDP WDP WDP
42 Kepolisian Negara Republik Indonesia TMP TMP TMP WTP-DPP WTP-DPP
43 Badan Pengawas Obat dan Makanan WDP WDP WDP WDP WTP-DPP
44 Lembaga Ketahanan Nasional WDP WTP WTP WTP WTP
45 Badan Koordinasi Penanaman Modal WDP WDP WTP WTP WTP
46 8adan narkouka naslonal WDP WDP WTP-DPP WTP-DPP WTP-DPP
47 kemenLerlan Þembangunan uaerah 1erunggal WDP WDP WDP WDP WDP
48 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional WDP WDP WDP WTP WDP
49 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia WDP WDP WTP-DPP WTP-DPP WTP
50 8adan MeLeorologl, kllmaLologl dan Ceoñslka TMP WDP WTP-DPP WTP-DPP WTP
51 Komisi Pemilihan Umum TMP TMP TMP TMP WDP
2
na|aman 2 - Lamp|ran 1
No. Lnntas kementer|an]Lembaga dan 8adan La|nnya
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
52 Mahkamah konsuLusl WTP WTP WTP WTP WTP
53 Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan WTP WTP WTP WTP-DPP WTP-DPP
54 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia WDP WDP WDP WDP WTP
55 Badan Tenaga Nuklir Nasional WDP WDP WDP WTP WTP
56 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi WDP WDP WDP WTP WTP
57 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional WDP WDP WDP WTP WTP
58 Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional TMP TMP WTP WTP WDP
59 Badan Standarisasi Nasional WDP WDP WTP WTP WTP
60 Badan Pengawas Tenaga Nuklir WDP WDP WTP WTP WTP-DPP
61 Lembaga Administrasi Negara WDP WTP WTP WTP WTP
62 Arsip Nasional Republik Indonesia WDP WDP WTP WTP WTP
63 Badan Kepegawaian Negara TMP WDP WDP WTP WTP
64 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan WDP WDP WTP-DPP WTP WTP
65 Kementerian Perdagangan TMP TMP WDP WTP-DPP WTP-DPP
66 Kementerian Perumahan Rakyat WTP WTP WTP WTP WTP
67 Kementerian Pemuda dan Olahraga WDP WDP WDP WTP WDP
68 Komisi Pemberantasan Korupsi WTP WTP-DPP WTP WTP WTP
69 Dewan Perwakilan Daerah WTP WTP WTP WTP WTP
70 Komisi Yudisial WDP WTP WTP WTP WTP
71 Badan Nasional Penanggulangan Bencana TMP TMP TMP WDP
72
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia
WTP WTP WTP
73 Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo WDP WTP-DPP WTP-DPP
74 Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah WTP
75 Badan SAR Nasional WDP
76 Komisi Pengawas Persaingan Usaha WTP
77 APP 61 (Pembayaran Bunga Utang) TMP WTP WTP * *
78 APP 62 (Subsidi dan Transfer Lainnya) TMP TMP WTP-DPP * *
79 APP 69 (Belanja Lain-Lain) TMP TMP TMP * *
80 APP 70 (Dana Perimbangan) WDP TMP WDP * *
81 APP 71 (Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian) WTP TMP WTP * *
82 APP 96 (Cicilan Pokok Utang LN) TMP TMP WTP-DPP * *
83 APP 97 (Cicilan Pokok Utang DN) TMP WTP WTP * *
84 APP 98 (Penerusan Pinjaman) TMP TMP TMP * *
85 APP 99 (Penyertaan Modal Negara) WTP WTP WDP * *
86 BA 999.01 - Pengelolaan Utang ** ** ** WTP WTP
87 BA 999.02 - Hibah ** ** TMP WDP WDP
88 BA 999.03 - Penyertaan Modal Negara ** ** ** WTP WTP-DPP
89 BA 999.04 - Penerusan Pinjaman ** ** ** TMP WDP
90 BA 999.05 - Transfer ke Daerah ** ** ** WTP-DPP WTP-DPP
91 BA 999.06 - Belanja Subsidi dan Belanja Lainnya ** ** ** WDP *
92 BA 999.07 - Belanja Subsidi ** ** ** ** WDP
93 BA 999.08 - Belanja Lain-lain ** ** ** ** WDP
94 Bendahara Umum Negara *** *** WDP
95 Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias TMP WTP WDP ****
8adan La|nnya
96 Lembaga Penjamin Simpanan WTP WTP TMP TMP
97 Bank Indonesia WTP WTP WTP WTP
98 Pusat Investasi Pemerintah WTP WTP WTP
99 Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Satker
Kemenkeu
WDP WTP
100 Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) 1431 H/2010 M TMP TMP TMP
101
Laporan Keuangan Konsolidasi Tahun Anggaran 2010
Pada Ptoject Moooqemeot O[ce Asloo uevelopmeot
8ook íottbpooke AoJ 1soooml ímetqeocy 5oppott
Project (PMO ADB ETESP) Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Di Jakarta
WTP
3
Halaman 3 - Lampiran 1
No. Lnntas kementer|an]Lembaga dan 8adan La|nnya
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
102
Laporan Keuangan Loan ADB 2575-INO Pada kotol
loftosttoctote 5oppott to tbe PNPM Mandiri Project 2
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan
Umum Tahun 2010
WTP
103
8adan Þelaksana keglaLan usaha Pulu Mlnyak dan Cas
8uml (8ÞMlCAS) unLuk 1ahun ?ang 8erakhlr pada 31
Desember 2008
WTP ***** *****
Keterangan
WTP : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (oopoollfeJ oploloo)
WTP-DPP : Opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelas (oopoollfeJ oploloo wltb moJlfeJ wotJloq)
WDP : Opini Wajar Dengan Pengecualian (poollfeJ oploloo)
TW : Opini Tidak Wajar (oJvetse oploloo)
TMP : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (Jlsclolmet oploloo)
* : Perubahan nomor BA
** : BA baru
*** : Tidak diberikan opini
**** : Dibubarkan Tahun 2009
***** : Belum diperiksa
4
No. ke|ompok dan Ien|s 1emuan Ium|ah kasus %
Kelemahan Sistem Pengendalian Intern
I ke|emahan S|stem Þengenda||an Akuntans| dan Þe|aporan 226 43,55
1 ÞencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL 113
2 Þroses penyusunan laporan udak sesual keLenLuan 63
3 LnuLas LerlambaL menyampalkan laporan 2
4 SlsLem lnformasl AkunLansl dan Þelaporan udak memadal 40
5 Sistem Informasi Akuntansi dan Pelaporan belum didukung SDM yang memadai 7
6 Lain-lain 1
II ke|emahan S|stem Þengenda||an Þe|aksanaan Anggaran Þendapatan dan 8e|an[a 134 2S,82
1 Þerencanaan keglaLan udak memadal 63
2
Mekanlsme pemunguLan, penyeLoran dan pelaporan serLa penggunaan penerlmaan
negara/uaerah/Þerusahaan dan Plbah udak sesual keLenLuan
22
3
Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau
ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja
10
4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD 6
5
ÞeneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau belum dllakukan beraklbaL
hilangnya potensi penerimaan/pendapatan
23
6
ÞeneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau belum dllakukan beraklbaL
peningkatan biaya/belanja
8
7 Lain-lain 2
III ke|emahan Struktur Þengenda||an Intern 1S9 30,64
1
LnuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk suaLu prosedur aLau keseluruhan
prosedur
107
2 SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan secara opumal aLau udak dlLaau 43
3 LnuLas udak memlllkl SaLuan Þengawas lnLern 1
4 SaLuan Þengawas lnLern yang ada udak memadal aLau udak ber[alan opumal 6
5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 2
1ota| ke|emahan S|stem Þengenda||an Intern S19 100
Lamp|ran 2
Dahar ke|ompok dan Ien|s 1emuan - ke|emahan SÞI
Þemer|ksaan Laporan keuangan kementer|an]Lembaga 1ahun 2010
5
Halaman 1 - Lampiran 3
No. ke|ompok dan Ien|s 1emuan
Ium|ah
kasus
%
Nilai
([uta kp dan r|bu va|as)
%
kendokpotuhon terhodop ketentuon Peroturon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
I kerug|an Negara 23S 32,1S 294.196,6S 20,92
1 8elan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf 31 70.229,74
2 8ekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan peker[aan 4 S6.S89,83
3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 41 13.412,67
4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/
atau barang
57 17.696,21
5 Pemahalan Harga (Motk up) 10 32.939,88
6 Þenggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl 5 2.71S,S1
7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan
atau melebihi standar yang ditetapkan
40 63.8S0,79
8 Speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual dengan konLrak 12 4.S76,21
9 8elan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan 27 24.S96,08
10 Lain-lain 8 7.S89,68
II Þotens| kerug|an Negara 39 5,34 429.963,21 30,S8
USD11,720.00
1 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil
pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan
1 1,68
2 Aset dikuasai pihak lain 17 316.S47,0S
3 AseL udak dlkeLahul keberadaannya 7 96.283,S7
4 Þemberlan [amlnan dalam pelaksanaan peker[aan, pemanfaaLan
barang dan pemberlan faslllLas udak sesual keLenLuan
1 -
uSu11,720.00
5 Þlhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk menyerahkan
aset kepada negara
2 2.988,98
6 ÞluLang/pln[aman aLau dana bergullr yang berpoLensl udak LerLaglh 6 12.1S1,63
7 Lain-lain 5 1.990,28
III kekurangan Þener|maan 118 16,14 420.818,S9 29,93
1 Penerimaan Negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/
udak dlLeLapkan aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara
95 143.914,14
2 Penggunaan langsung Penerimaan Negara 17 2S7.811,72
3 Þenerlmaan negara dlLerlma aLau dlgunakan oleh lnsLansl yang udak
berhak
3 16.631,41
4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 2 61,31
5 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah 1 2.400,00
IV Adm|n|stras| 269 36,80 - -
1 ÞerLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak
valid)
52 -
2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan
anggaran
1 -
3 Þroses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak
menimbulkan kerugian negara)
33 -
4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 6 -
5 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan
perlengkapan atau Barang Milik Negara
87 -
6 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang
LerLenLu lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan, perpa[akan, dll.
14 -
7 Penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu yang
ditentukan
26 -
8 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas
waktu yang ditentukan
12 -
Dahar ke|ompok dan Ien|s 1emuan - kendakpatuhan
Þemer|ksaan Laporan keuangan kementer|an]Lembaga 1ahun 2010
6
No. ke|ompok dan Ien|s 1emuan
Ium|ah
kasus
%
Nilai
([uta kp dan r|bu va|as)
%
9 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir Tahun Anggaran belum
disetor ke kas negara
8 -
10 kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang sah 25 -
11 Þengallhan anggaran anLar MAk udak sah 4 -
12 Lain-lain 1 -
V kendakhematan 2S 3,42 11.318,48 0,80
1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 2.877,0S
2 Pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga 23 8.441,42
VI kendakefeknfan 45 6,16 249.726,18 17,76
1 Þenggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual perunLukan 10 16.S76,40
2 ÞemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual dengan rencana
yang ditetapkan
1 7.340,60
3 8arang yang dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan 26 127.626,32
4 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga
mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi
6 98.182,84
5 lungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak dlselenggarakan
dengan balk Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal
2 -
1ota| kendakpatuhan terhadap ketentuan Þerundang-undangan 731 100 1.406.023,14 100
USD11,720.00
Keterangan
Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah
na|aman 2 - Lamp|ran 3
7
H
a
l
a
m
a
n

1

-

L
a
m
p
i
r
a
n

4
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
a
t
u
r
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
u
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n

N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
a
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

1
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n
1
o
t
a
|
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|
k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
1
M
a
j
e
l
i
s

P
e
r
m
u
s
y
a
w
a
r
a
t
a
n

R
a
k
y
a
t

1


1


-


-


2


S
1
9
,
6
S


-


-


-


-


-


-


1


-


-


1


S
1
9
,
6
S


-


-

2
D
e
w
a
n

P
e
r
w
a
k
i
l
a
n

R
a
k
y
a
t

2


-


1


1


8


3
S
9
,
2
7


4


1
3
8
,
0
8


-


-


3


2
2
1
,
1
8


1


-


-


-


-


-


-

3
M
a
h
k
a
m
a
h

A
g
u
n
g

4


3


1


-


1
3


1
.
0
4
8
,
7
4


4


8
4
,
0
9


2


9
6
4
,
6
S


-


-


7


-


-


-


-


-


-

4
K
e
j
a
k
s
a
a
n

R
e
p
u
b
l
i
k

I
n
d
o
n
e
s
i
a

1
7


1
0


2


5


1
1


3
0
2
,
0
0


2


2
4
1
,
4
1


1


-


1


2
0
,
S
8


6


1


4
0
,
0
0


-


-


2
4
1
,
4
1


-

5
S
e
k
r
e
t
a
r
i
a
t

N
e
g
a
r
a

3


2


1


-


1
9


1
.
8
0
4
,
1
2


3


4
S
,
0
4


-


-


3


6
S
,
9
3


9


-


-


4


1
.
6
9
3
,
1
4


-


-

6
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

D
a
l
a
m

N
e
g
e
r
i

1
0


3


3


4


3
5


3
8
.
S
8
3
,
3
4


1
2


2
6
.
0
3
8
,
2
4


1


4
9
,
9
9


2


4
.
4
6
4
,
S
9


1
7


2


4
.
0
3
6
,
0
6


1


3
.
9
9
4
,
4
4


1
.
6
9
6
,
6
1


3
S
3
,
6
1

7
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

L
u
a
r

N
e
g
e
r
i

4


-


3


1


6


3
.
4
6
8
,
6
6


-


-


-


-


2


3
.
4
6
8
,
6
6


3


-


-


1


-


-


-

8
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
t
a
h
a
n
a
n

4


2


1


1


9


S
1
.
1
7
S
,
6
1


-


-


1


2
.
7
9
3
,
9
8


4


4
8
.
3
8
1
,
6
3


4


-


-


-


-


-


-

9
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

H
u
k
u
m

d
a
n

H
a
k

A
s
a
s
i

M
a
n
u
s
i
a

1
2


8


2


2


5


S
4
9
,
1
8


-


-


2


S
4
9
,
1
8


-


-


3


-


-


-


-


-


-

1
0
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
e
u
a
n
g
a
n

1
2


8


1


3


1
1


1
.
2
6
0
,
8
7


2


S
3
4
,
8
S


-


-


3


7
2
6
,
0
2


6


-


-


-


-


-


-

1
1
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
t
a
n
i
a
n

2
6


1
0


4


1
2


2
6


9
3
.
9
3
6
,
0
0


6


1
.
2
7
6
,
2
3


3


8
S
.
8
3
6
,
S
S


9


6
.
6
8
4
,
1
6


7


-


-


1


1
3
9
,
0
4


1
0
9
,
8
S


1
.
S
7
6
,
8
4

1
2
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
i
n
d
u
s
t
r
i
a
n

3


1


1


1


1
0


4
1
7
,
6
0


3


4
1
7
,
6
0


-


-


-


-


6


-


-


1


-


4
1
7
,
6
0


-

1
3
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

E
n
e
r
g
i

d
a
n

S
u
m
b
e
r

D
a
y
a

M
i
n
e
r
a
l

1
0


3


3


4


1
1


4
.
3
S
3
,
2
8


3


3
.
3
4
3
,
S
4


2


-


1


1
.
0
0
9
,
7
3


5


-


-


-


-


3
.
3
4
3
,
S
4


1
.
0
0
9
,
7
3

u
S
u
1
1
,
7
2
0
.
0
0

u
S
u
1
1
,
7
2
0
.
0
0

1
4
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
h
u
b
u
n
g
a
n

1
8


8


5


5


6


1
1
2
.
9
1
0
,
1
0


1


2
1
.
7
2
6
,
0
9


2


9
.
4
0
3
,
1
S


1


8
1
.
7
8
0
,
8
S


2


-


-


-


-


-


-

1
5
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

2
2


1
0


7


5


3
7


3
2
S
.
4
7
6
,
4
1


1
0


8
6
.
7
0
9
,
0
1


3


1
6
3
.
7
2
1
,
0
6


5


3
9
.
8
2
6
,
1
9


1
2


1


1
S
,
7
S


6


3
S
.
2
0
4
,
3
9


4
.
S
9
4
,
S
7


3
0
8
,
2
9

1
6
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n

2
2


1
2


7


3


4
2


2
6
7
.
8
4
1
,
2
8


1
2


4
7
.
9
2
4
,
1
8


4


1
2
4
.
9
S
3
,
4
0


5


2
1
.
8
7
3
,
3
8


1
5


2


6
6
3
,
0
2


4


7
2
.
4
2
7
,
2
8


1
9
3
,
2
0


4
,
2
8

1
7
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

A
g
a
m
a

1
4


2


6


6


2
4


1
S
.
7
0
1
,
1
1


7


6
.
8
1
0
,
2
S


-


-


7


S
.
9
0
S
,
S
0


8


1


2
.
0
S
4
,
6
0


1


9
3
0
,
7
S


1
.
6
S
9
,
1
9


2
2
7
,
S
9

1
8
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

d
a
n

T
r
a
n
s
m
i
g
r
a
s
i

9


5


3


1


1
0


1
S
.
2
8
S
,
1
0


4


S
7
7
,
6
8


1


-


3


1
4
.
7
0
7
,
4
1


2


-


-


-


-


2
9
,
2
2


-

1
9
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

S
o
s
i
a
l

8


1


5


2


2
5


4
.
8
8
9
,
1
8


2


2
.
2
7
6
,
1
6


-


-


4


1
.
2
8
1
,
2
4


1
3


3


1
.
1
0
7
,
3
S


3


2
2
4
,
4
2


-


2
8
,
3
9

2
0
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
e
h
u
t
a
n
a
n

2
0


1
0


5


5


2
5


7
4
.
1
4
3
,
8
3


1
1


1
S
.
4
2
9
,
2
1


1


1
7
8
,
2
4


7


S
8
.
S
3
6
,
3
8


6


-


-


-


-


7
2
1
,
4
3


3
4
,
8
8

2
1
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
e
l
a
u
t
a
n

d
a
n

P
e
r
i
k
a
n
a
n

7


6


1


-


8


2
.
6
7
S
,
9
8


4


2
.
4
6
2
,
2
0


-


-


1


2
1
3
,
7
7


3


-


-


-


-


2
.
1
1
1
,
3
9


2
1
3
,
7
7

2
2
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
k
e
r
j
a
a
n

U
m
u
m

1
1


6


1


4


1
8


2
8
.
1
8
3
,
S
8


9


6
.
6
7
4
,
1
0


-


-


4


2
1
.
S
0
9
,
4
8


5


-


-


-


-


9
0
6
,
2
0


-

2
3
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
o
o
r
d
i
n
a
t
o
r

B
i
d
a
n
g

P
o
l
h
u
k
a
m

2


1


1


-


4


4
1
8
,
S
4


2


4
1
8
,
S
4


-


-


-


-


2


-


-


-


-


-


-

D
a
h
a
r

k
e
|
o
m
p
o
k

1
e
m
u
a
n

M
e
n
u
r
u
t

L
n
n
t
a
s
Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

L
a
p
o
r
a
n

k
e
u
a
n
g
a
n

k
e
m
e
n
t
e
r
|
a
n
]
L
e
m
b
a
g
a

1
a
h
u
n

2
0
1
0
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
a
t
u
r
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
u
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n

N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
a
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

1
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n
1
o
t
a
|
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|
k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
4
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
o
o
r
d
i
n
a
t
o
r

B
i
d
a
n
g

P
e
r
e
k
o
n
o
m
i
a
n

2


-


1


1


1


4
0
,
9
1


1


4
0
,
9
1


-


-


-


-


-


-


-


-


-


4
0
,
9
1


-

2
5
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
o
o
r
d
i
n
a
t
o
r

B
i
d
a
n
g

K
e
s
r
a

2


1


-


1


3


S
0
1
,
8
6


2


S
0
1
,
8
6


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

2
6
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
e
b
u
d
a
y
a
a
n

d
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

1
0


3


4


3


2
6


6
.
2
S
1
,
3
2


9


2
.
1
8
0
,
0
3


-


-


4


4
9
4
,
1
3


1
0


1


3
7
4
,
9
0


2


3
.
2
0
2
,
2
4


-


-

2
7
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

B
a
d
a
n

U
s
a
h
a

M
i
l
i
k

N
e
g
a
r
a

4


1


1


2


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

2
8
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

R
i
s
e
t

d
a
n

T
e
k
n
o
l
o
g
i

5


1


2


2


1
0


9
S
7
,
S
7


2


9
2
8
,
3
0


-


-


-


-


7


1


2
9
,
2
6


-


-


7
,
9
S


-

2
9
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

L
i
n
g
k
u
n
g
a
n

H
i
d
u
p

2


1


1


-


1
2


8
.
9
8
6
,
8
S


3


2
.
4
7
2
,
7
7


3


6
.
4
7
7
,
0
4


1


3
7
,
0
2


5


-


-


-


-


1
.
3
6
2
,
6
9


3
3
,
7
1

3
0
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
o
p
e
r
a
s
i

d
a
n

U
s
a
h
a

K
e
c
i
l

M
e
n
e
n
g
a
h

5


-


1


4


7


1
2
.
6
6
4
,
9
8


1


1
.
1
3
3
,
4
3


4


4
.
1
9
0
,
9
3


-


-


1


-


-


1


7
.
3
4
0
,
6
0


-


-

3
1
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
m
b
e
r
d
a
y
a
a
n

P
e
r
e
m
p
u
a
n

d
a
n

P
e
r
l
i
n
d
u
n
g
a
n

A
n
a
k

5


2


2


1


6


9
S
9
,
1
4


1


2
2
4
,
8
6


-


-


1


3
4
,
4
7


2


1


1
0
8
,
0
0


1


S
9
1
,
7
9


-


3
4
,
4
7

3
2
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
n
d
a
y
a
g
u
n
a
a
n

A
p
a
r
a
t
u
r

N
e
g
a
r
a

d
a
n

R
e
f
o
r
m
a
s
i

B
i
r
o
k
r
a
s
i

1


1


-


-


3


4
4
8
,
4
7


2


4
4
3
,
6
0


-


-


1


4
,
8
7


-


-


-


-


-


2
1
4
,
1
0


-

3
3
B
a
d
a
n

I
n
t
e
l
i
j
e
n

N
e
g
a
r
a

3


2


1


-


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

3
4
L
e
m
b
a
g
a

S
a
n
d
i

N
e
g
a
r
a

6


2


1


3


5


9
7
2
,
7
S


2


7
7
7
,
7
S


1


1
9
S
,
0
0


-


-


2


-


-


-


-


-


-

3
5
D
e
w
a
n

K
e
t
a
h
a
n
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

4


-


-


4


1


3
,
S
2


1


3
,
S
2


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
6
8
a
d
a
n

Þ
u
s
a
L

S
L
a
u
s
u
k

1
1


6


1


4


1
3


4
7
1
,
4
1


6


4
6
9
,
9
1


-


-


2


1
,
S
0


5


-


-


-


-


7
1
,
8
7


-

3
7
B
a
d
a
n

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

P
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

5


4


1


-


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

3
8
B
a
d
a
n

P
e
r
t
a
n
a
h
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

5


1


1


3


6


7
3
3
,
3
2


2


S
8
3
,
3
4


-


-


1


1
4
9
,
9
8


3


-


-


-


-


2
S
6
,
1
3


1
4
9
,
9
8

3
9
P
e
r
p
u
s
t
a
k
a
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

3


-


2


1


2


4
7
,
6
1


2


4
7
,
6
1


-


-


-


-


-


-


-


-


-


4
7
,
6
1


-

4
0
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

d
a
n

l
n
f
o
r
m
a
u
k
a

1
1


2


4


5


1
7


3
.
4
0
0
,
8
7


5


8
S
S
,
7
1


-


-


2


2
.
2
6
S
,
4
6


6


3


2
7
9
,
6
9


1


-


-


-

4
1
K
e
p
o
l
i
s
i
a
n

R
e
p
u
b
l
i
k

I
n
d
o
n
e
s
i
a

1
6


8


3


5


1
1


7
8
.
3
0
4
,
2
S


6


2
4
.
8
9
S
,
0
2


-


-


5


S
3
.
4
0
9
,
2
2


-


-


-


-


-


3
8
8
,
4
7


4
.
2
0
1
,
S
9

4
2
B
a
d
a
n

P
e
n
g
a
w
a
s

O
b
a
t

d
a
n

M
a
k
a
n
a
n


1
2


7


3


2


7


4
.
2
2
7
,
2
8


1


4
S
1
,
4
9


-


-


2


1
.
2
2
7
,
S
7


2


1


1
.
2
3
9
,
2
9


1


1
.
3
0
8
,
9
0


4
3
6
,
S
6


7
3
9
,
8
S

4
3
L
e
m
b
a
g
a

K
e
t
a
h
a
n
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

1


-


1


-


5


6
0
,
S
0


1


4
9
,
1
2


-


-


1


1
1
,
3
7


3


-


-


-


-


4
9
,
1
2


1
1
,
3
7

4
4
B
a
d
a
n

K
o
o
r
d
i
n
a
s
i

P
e
n
a
n
a
m
a
n

M
o
d
a
l

1


1


-


-


2


3
4
,
2
9


-


-


-


-


1


3
4
,
2
9


-


-


-


1


-


-


-

n
a
|
a
m
a
n

2

-

L
a
m
p
|
r
a
n

4
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
9
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
a
t
u
r
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
u
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n

N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
a
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

1
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n
1
o
t
a
|
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|
k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
4
5
8
a
d
a
n

n
a
r
k
o
u
k
a

n
a
s
l
o
n
a
l

1
2


5


3


4


1
2


2
.
S
1
9
,
S
1


4


1
.
7
0
2
,
0
9


1


S
6
0
,
6
9


2


1
3
0
,
S
2


4


-


-


1


1
2
6
,
2
0


1
.
0
0
7
,
1
8


1
4
,
2
4

4
6
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

u
a
e
r
a
h

1
e
r
u
n
g
g
a
l

9


8


1


-


1
3


1
0
4
.
4
7
0
,
7
9


4


1
.
S
1
8
,
0
7


1


1
,
6
8


2


S
2
S
,
1
9


4


-


-


2


1
0
2
.
4
2
S
,
8
3


-


-

4
7
B
a
d
a
n

K
o
o
r
d
i
n
a
s
i

K
e
l
u
a
r
g
a

B
e
r
e
n
c
a
n
a

N
a
s
i
o
n
a
l

1
0


7


2


1


6


1
6
.
9
0
7
,
0
0


1


6
6
S
,
8
1


-


-


4


1
6
.
2
4
1
,
1
9


1


-


-


-


-


-


-

4
8
K
o
m
i
s
i

N
a
s
i
o
n
a
l

H
a
k

A
s
a
s
i

M
a
n
u
s
i
a

8


3


2


3


1


7
3
,
S
2


1


7
3
,
S
2


-


-


-


-


-


-


-


-


-


7
3
,
S
2


-

4
9
B
a
d
a
n

M
e
t
e
o
r
o
l
o
g
i

K
l
i
m
a
t
o
l
o
g
i

d
a
n

C
e
o
ñ
s
l
k
a

5


1


3


1


4


8
.
1
4
0
,
4
2


1


1
9
,
8
0


-


-


-


-


2


-


-


1


8
.
1
2
0
,
6
1


1
9
,
8
0


-

5
0
K
o
m
i
s
i

P
e
m
i
l
i
h
a
n

U
m
u
m

8


6


1


1


6


6
.
6
9
1
,
9
9


2


2
.
S
9
3
,
9
1


2


4
.
0
0
2
,
2
4


1


4
1
,
2
8


-


-


-


1


S
4
,
S
4


1
.
3
4
0
,
6
3


-

5
1
M
a
h
k
a
m
a
h

k
o
n
s
u
L
u
s
l

1


1


-


-


2


1
9
6
,
7
9


1


1
9
6
,
7
9


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-

5
2
P
u
s
a
t

P
e
l
a
p
o
r
a
n

d
a
n

A
n
a
l
i
s
i
s

T
r
a
n
s
a
k
s
i

K
e
u
a
n
g
a
n

5


4


1


-


4


3
0
S
,
1
0


-


-


-


-


1


3
0
S
,
1
0


3


-


-


-


-


-


-

5
3
L
e
m
b
a
g
a

I
l
m
u

P
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

I
n
d
o
n
e
s
i
a

8


2


5


1


1
4


6
.
S
1
6
,
9
8


3


1
2
8
,
7
7


1


6
.
3
8
8
,
2
1


-


-


1
0


-


-


-


-


-


-

5
4
B
a
d
a
n

T
e
n
a
g
a

N
u
k
l
i
r

N
a
s
i
o
n
a
l

3


-


2


1


7


3
6
,
8
9


1


2
4
,
3
S


-


-


-


-


5


1


1
2
,
S
4


-


-


-


-

5
5
B
a
d
a
n

P
e
n
g
k
a
j
i
a
n

d
a
n

P
e
n
e
r
a
p
a
n

T
e
k
n
o
l
o
g
i

5


3


1


1


7


3
8
0
,
9
8


3


2
6
8
,
7
8


-


-


-


-


3


1


1
1
2
,
2
0


-


-


-


-

5
6
L
e
m
b
a
g
a

P
e
n
e
r
b
a
n
g
a
n

d
a
n

A
n
t
a
r
i
k
s
a

N
a
s
i
o
n
a
l

6


1


3


2


7


9
.
7
7
2
,
9
6


1


2
9
,
7
0


1


9
.
S
9
S
,
1
S


1


4
6
,
8
0


3


-


-


1


1
0
1
,
3
0


-


-

5
7
B
a
d
a
n

K
o
o
r
d
i
n
a
s
i

S
u
r
v
e
i

d
a
n

P
e
m
e
t
a
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

5


4


1


-


1
3


S
.
S
0
0
,
0
2


7


4
.
4
7
S
,
4
S


-


-


1


2
,
1
4


3


1


S
4
1
,
3
2


1


4
8
1
,
1
0


8
3
3
,
2
7


-

5
8
B
a
d
a
n

S
t
a
n
d
a
r
d
i
s
a
s
i

N
a
s
i
o
n
a
l

1


-


-


1


6


S
9
,
2
3


3


S
9
,
2
3


-


-


-


-


3


-


-


-


-


2
8
,
7
9


-

5
9
B
a
d
a
n

P
e
n
g
a
w
a
s

T
e
n
a
g
a

N
u
k
l
i
r

2


1


-


1


7


7
3
,
2
S


5


7
3
,
2
S


-


-


-


-


2


-


-


-


-


2
0
,
4
7


-

6
0
L
e
m
b
a
g
a

A
d
m
i
n
i
s
t
r
a
s
i

N
e
g
a
r
a

-


-


-


-


6


9
4
S
,
4
3


2


2
3
1
,
S
1


1


S
8
2
,
9
0


1


3
2
,
1
0


1


-


-


1


9
8
,
9
2


1
3
1
,
3
3


-

6
1
A
r
s
i
p

N
a
s
i
o
n
a
l

R
e
p
u
b
l
i
k

I
n
d
o
n
e
s
i
a

2


1


-


1


9


8
.
3
9
3
,
4
8


3


1
9
S
,
3
0


-


-


1


4
,
9
0


4


-


-


1


8
.
1
9
3
,
2
8


-


-

6
2
B
a
d
a
n

K
e
p
e
g
a
w
a
i
a
n

N
e
g
a
r
a

1


1


-


-


5


2
.
S
0
3
,
S
8


1


2
0
4
,
0
0


-


-


2


1
9
6
,
9
4


-


-


-


2


2
.
1
0
2
,
6
4


-


-

6
3
B
a
d
a
n

P
e
n
g
a
w
a
s
a
n

K
e
u
a
n
g
a
n

d
a
n

P
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

3


1


1


1


5


3
7
2
,
9
9


2


7
9
,
7
3


-


-


-


-


2


-


-


1


2
9
3
,
2
S


-


-

6
4
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
d
a
g
a
n
g
a
n

5


3


-


2


1
4


3
.
S
0
0
,
4
S


8


3
.
4
3
0
,
6
7


-


-


1


1
6
,
6
3


4


-


-


1


S
3
,
1
S


8
8
2
,
3
3


-

6
5
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
u
m
a
h
a
n

R
a
k
y
a
t

2


1


1


-


3


4
0
3
,
2
S


2


4
0
3
,
2
S


-


-


-


-


1


-


-


-


-


2
2
7
,
S
1


-

6
6
K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
m
u
d
a

d
a
n

O
l
a
h
r
a
g
a

2


-


2


-


9


1
6
.
3
7
0
,
7
7


4


1
.
4
1
8
,
0
S


-


-


4


1
4
.
9
S
2
,
7
2


1


-


-


-


-


-


-

H
a
l
a
m
a
n

3

-

L
a
m
p
i
r
a
n

4
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
10
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
a
t
u
r
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
u
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n

N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
a
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

1
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n
1
o
t
a
|
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|
k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

N
e
g
a
r
a
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
I
m
|

k
a
s
u
s
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
6
7
K
o
m
i
s
i

P
e
m
b
e
r
a
n
t
a
s
a
n

K
o
r
u
p
s
i

5


1


2


2


3


-


-


-


-


-


-


-


3


-


-


-


-


-


-

6
8
D
e
w
a
n

P
e
r
w
a
k
i
l
a
n

D
a
e
r
a
h

-


-


-


-


1
0


1
.
S
6
4
,
S
4


7


1
.
S
3
7
,
4
8


-


-


2


2
7
,
0
S


1


-


-


-


-


1
7
8
,
6
7


2
7
,
0
S

6
9
K
o
m
i
s
i

Y
u
d
i
s
i
a
l

2


1


1


-


3


1
9
,
2
8


-


-


-


-


1


3
,
6
S


1


1


1
S
,
6
2


-


-


-


3
,
6
S

7
0
B
a
d
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

B
e
n
c
a
n
a

2


1


1


-


7


3
8
7
,
2
0


3


2
8
6
,
0
6


-


-


2


1
0
1
,
1
4


2


-


-


-


-


6
,
0
0


S
3
,
4
7

7
1
B
N
P
2
T
K
I

1


-


-


1


1
0


3
6
6
,
9
2


5


2
3
6
,
3
8


-


-


1


2
8
,
6
9


3


1


1
0
1
,
8
S


-


-


-


-

7
2
B
a
d
a
n

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

L
u
m
p
u
r

S
i
d
o
a
r
j
o

3


-


1


2


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

7
3
B
a
d
a
n

S
A
R

N
a
s
i
o
n
a
l

6


3


-


3


1
1


2
0
.
8
2
S
,
3
3


5


8
7
4
,
7
9


1


9
.
S
1
9
,
1
0


2


1
0
.
3
3
2
,
8
2


2


-


-


1


9
8
,
6
1


-


1
.
6
3
7
,
0
8

7
4
B
e
n
d
a
h
a
r
a

U
m
u
m

N
e
g
a
r
a

(
B
U
N
)

1
0


4


2


4


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-

7
5
B
A

9
9
9
.
0
1

-

P
e
n
g
e
l
o
l
a
a
n

U
t
a
n
g

3


1


-


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-

7
6
B
A

9
9
9
.
0
2

-

P
e
n
e
r
i
m
a
a
n

H
i
b
a
h

3


-


-


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-

7
7
B
A

9
9
9
.
0
3

-

P
e
n
y
e
r
t
a
a
n

M
o
d
a
l

N
e
g
a
r
a

3


-


-


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-

7
8
B
A

9
9
9
.
0
4

-

P
e
n
e
r
u
s
a
n

P
i
n
j
a
m
a
n

3


2


1


-


1


7
9
4
,
7
7


-


-


-


-


1


7
9
4
,
7
7


-


-


-


-


-


-


-

7
9
B
A

9
9
9
.
0
5

-

T
r
a
n
s
f
e
r

k
e

D
a
e
r
a
h

6


1


-


5


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

8
0
B
A

9
9
9
.
0
7

-

B
e
l
a
n
j
a

S
u
b
s
i
d
i

3


-


-


3


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

8
1
B
A

9
9
9
.
0
8

-

B
e
l
a
n
j
a

L
a
i
n
n
y
a

5


3


1


1


9


2
2
.
8
3
9
,
0
0


4


1
3
.
9
0
6
,
S
8


-


-


2


8
.
6
8
8
,
1
7


2


1


2
4
4
,
2
4


-


-


7
4
3
,
1
S


8
6
,
2
7

8
2
L
e
m
b
a
g
a

K
e
b
i
j
a
k
a
n

P
e
n
g
a
d
a
a
n

B
a
r
a
n
g
/
J
a
s
a

P
e
m
e
r
i
n
t
a
h

3


1


1


1


8


7
2
0
,
0
2


4


3
7
7
,
3
0


-


-


-


-


2


2


3
4
2
,
7
2


-


-


3
7
6
,
4
4


-

8
3
K
o
m
i
s
i

P
e
n
g
a
w
a
s

P
e
r
s
a
i
n
g
a
n

U
s
a
h
a

3


-


1


2


1


-


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-

I
U
M
L
A
n

S
1
9


2
2
6


1
3
4


1
S
9


7
3
1


1
.
4
0
6
.
0
2
3
,
1
4


2
3
S


2
9
4
.
1
9
6
,
6
S


3
9


4
2
9
.
9
6
3
,
2
1


1
1
8


4
2
0
.
8
1
8
,
S
9


2
6
9


2
S


1
1
.
3
1
8
,
4
8


4
5


2
4
9
.
7
2
6
,
1
8


2
4
.
7
6
8
,
9
0


1
0
.
7
S
0
,
2
3

U
S
D
1
1
,
7
2
0
.
0
0

U
S
D
1
1
,
7
2
0
.
0
0

K
e
t
e
r
a
n
g
a
n
P
e
n
j
u
m
l
a
h
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

d
a
t
a

a
n
g
k
a

a
s
a
l

y
a
n
g

d
i
b
u
l
a
t
k
a
n

k
e

b
a
w
a
h
H
a
l
a
m
a
n

4

-

L
a
m
p
i
r
a
n

4
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
11
Halaman 1 - Lampiran 5
Dahar Cp|n| Laporan keuangan Þemer|ntah Daerah
1ahun 200S - 2010
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
1 Þrov. Aceh
LkÞD 18 22 22 24 24 9
1 1 Prov. Aceh 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 2 Kab. Aceh Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 3 Kab. Aceh Barat Daya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 4 Kab. Aceh Besar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 5 Kab. Aceh Jaya 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP
6 6 Kab. Aceh Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 7 Kab. Aceh Singkil 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 8 Kab. Aceh Tamiang 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 9 Kab. Aceh Tengah 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
10 10 Kab. Aceh Tenggara 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
11 11 Kab. Aceh Timur 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
12 12 Kab. Aceh Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
13 13 Kab. Bener Meriah 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 14 Kab. Bireuen 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
15 15 Kab. Gayo Lues 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
16 16 Kab. Nagan Raya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
17 17 Kab. Pidie 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18 18 Kab. Pidie Jaya 1 WTP 1 WDP
19 19 Kab. Simeulue 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW
20 20 Kota Banda Aceh 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
21 21 Kota Langsa 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP
22 22 Kota Lhokseumawe 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP
23 23 Kota Sabang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
24 24 Kota Subulussalam 1 WDP 1 WDP
2 Þrov. Sumatera Utara
LkÞD 20 26 27 27 29 22
1 25 Prov. Sumatera Utara 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 26 Kab. Asahan 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
3 27 Kab. Batubara 1 WDP 1 TMP 1 TMP
4 28 Kab. Dairi 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 29 Kab. Deli Serdang 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
6 30 Kab. Humbang Hasundutan 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 31 Kab. Karo 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 32 Kab. Labuhanbatu 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
9 33 Kab. Labuhanbatu Selatan ** 1 WDP
10 34 Kab. Labuhanbatu Utara **
11 35 Kab. Langkat 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
12 36 Kab. Mandailing Natal 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
13 37 Kab. Nias 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
14 38 Kab. Nias Barat **
15 39 Kab. Nias Selatan 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
16 40 Kab. Nias Utara **
17 41 Kab. Padang Lawas 1 TMP
18 42 Kab. Padang Lawas Utara 1 TMP
19 43 Kab. Pakpak Bharat 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
20 44 Kab. Samosir 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
21 45 Kab. Serdang Bedagai 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
22 46 Kab. Simalungun 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
23 47 Kab. Tapanuli Selatan 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW
24 48 Kab. Tapanuli Tengah 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
25 49 Kab. Tapanuli Utara 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
26 50 Kab. Toba Samosir 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
27 51 Kota Binjai 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW
28 52 Kota Gunung Sitoli **
29 53 Kota Medan 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
30 54 Kota Padangsidimpuan 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
12
na|aman 2 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
31 55 Kota Pematangsiantar 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
32 56 Kota Sibolga 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
33 57 Kota Tanjungbalai 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
34 58 Kota Tebing Tinggi 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 Þrov. Sumatera 8arat
LkÞD 15 20 20 20 20 13
1 59 Prov. Sumatera Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
2 60 Kab. Agam 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 61 Kab. Dharmasraya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 62 Kab. Kep. Mentawai 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 63 Kab. Lima Puluh Kota 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 64 Kab. Padang Pariaman 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WDP 1 WDP
7 65 Kab. Pasaman 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 66 Kab. Pasaman Barat 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
9 67 Kab. Pesisir Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 68 Kab. Sijunjung 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 69 Kab. Solok 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 70 Kab. Solok Selatan 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
13 71 Kab. Tanah Datar 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WTP
14 72 koLa 8uklmnggl 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15 73 Kota Padang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
16 74 Kota Padang Panjang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
17 75 Kota Pariaman 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WDP 1 WDP
18 76 Kota Payakumbuh 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
19 77 Kota Sawahlunto 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
20 78 Kota Solok 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 Þrov. k|au
LkÞD 9 12 12 12 12 6
1 79 Prov. Riau 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
2 80 Kab. Bengkalis 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 81 Kab. Indragiri Hilir 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
4 82 Kab. Indragiri Hulu 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
5 83 Kab. Kampar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 84 kab. kepulauan Meranu **
7 85 Kab. Kuantan Singingi 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 86 Kab. Pelalawan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 87 Kab. Rokan Hilir 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 88 Kab. Rokan Hulu 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 89 Kab. Siak 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 90 Kota Dumai 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 91 Kota Pekanbaru 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WDP 1 WDP
5 Þrov. Iamb|
LkÞD 8 11 11 11 12 9
1 92 Prov. Jambi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 93 Kab. Batang Hari 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 94 Kab. Bungo 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 95 Kab. Kerinci 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
5 96 Kab. Merangin 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 97 Kab. Muaro Jambi 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 98 Kab. Sarolangun 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 99 Kab. Tanjung Jabung Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 100 Kab. Tanjung Jabung Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 101 Kab. Tebo 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 102 Kota Jambi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 103 Kota Sungai Penuh 1 WTP 1 WDP
13
Halaman 3 - Lampiran 5
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
6 Þrov. Sumatera Se|atan
LkÞD 15 15 15 16 16 16
1 104 Prov. Sumatera Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 105 Kab. Banyuasin 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 WDP
3 106 Kab. Empat Lawang 1 WDP 1 TW 1 WDP
4 107 Kab. Lahat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 108 Kab. Muara Enim 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 109 Kab. Musi Banyuasin 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 110 Kab. Musi Rawas 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 111 Kab. Ogan Ilir 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 112 Kab. Ogan Komering Ilir 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 113 Kab. Ogan Komering Ulu 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP
11 114 Kab. Ogan Komering Ulu Selatan 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 115 Kab. Ogan Komering Ulu Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 116 Kota Lubuklinggau 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 117 Kota Pagaralam 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15 118 Kota Palembang 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
16 119 Kota Prabumulih 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 Þrov. 8engku|u
LkÞD 6 10 10 10 11 11
1 120 Prov. Bengkulu 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 121 Kab. Bengkulu Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
3 122 Kab. Bengkulu Tengah 1 WDP 1 WTP
4 123 Kab. Bengkulu Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 124 Kab. Kaur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP
6 125 Kab. Kepahiang 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
7 126 Kab. Lebong 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
8 127 Kab. Mukomuko 1 TMP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
9 128 Kab. Rejang Lebong 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 129 Kab. Seluma 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 130 Kota Bengkulu 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 Þrov. Lampung
LkÞD 11 11 11 11 12 15
1 131 Prov. Lampung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
2 132 Kab. Lampung Barat 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
3 133 Kab. Lampung Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
4 134 Kab. Lampung Tengah 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
5 135 Kab. Lampung Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
6 136 Kab. Lampung Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
7 137 Kab. Mesuji ** 1 WDP
8 138 Kab. Pesawaran 1 WDP 1 WDP
9 139 Kab. Pringsewu ** 1 TMP
10 140 Kab. Tanggamus 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 141 Kab. Tulang Bawang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 142 Kab. Tulang Bawang Barat ** 1 WDP
13 143 Kab. Way Kanan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
14 144 Kota Bandar Lampung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
15 145 Kota Metro 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
9 Þrov. kepu|auan 8angka 8e||tung
LkÞD 6 8 8 8 8 8
1 146 Prov. Bangka Belitung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 147 Kab. Bangka 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 148 Kab. Bangka Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 149 Kab. Bangka Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 150 Kab. Bangka Tengah 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 151 Kab. Belitung 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14
na|aman 4 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
7 152 Kab. Belitung Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 153 Kota Pangkalpinang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
10 Þrov. kepu|auan k|au
LkÞD 5 7 7 7 8 7
1 154 Prov. Kepulauan Riau 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
2 155 Kab. Bintan 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 156 Kab. Karimun 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 157 Kab. Kepulauan Anambas 1 TMP 1 WDP
5 158 Kab. Lingga 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 159 Kab. Natuna 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 160 Kota Batam 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 161 Kota Tanjungpinang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 Þrov. DkI Iakarta
LkÞD 1 1 1 1 1 1
1 162 Prov. DKI Jakarta 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 Þrov. Iawa 8arat
LkÞD 23 26 26 27 27 27
1 163 Prov. Jawa Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 164 Kab. Bandung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 165 Kab. Bandung Barat 1 TMP 1 TMP 1 TMP
4 166 Kab. Bekasi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 167 Kab. Bogor 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 168 Kab. Ciamis 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 169 Kab. Cianjur 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
8 170 Kab. Cirebon 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 171 Kab. Garut 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 172 Kab. Indramayu 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 173 Kab. Karawang 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 174 Kab. Kuningan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 175 Kab. Majalengka 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 176 Kab. Purwakarta 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15 177 Kab. Subang 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
16 178 Kab. Sukabumi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
17 179 Kab. Sumedang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18 180 Kab. Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
19 181 Kota Bandung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
20 182 Kota Banjar 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
21 183 Kota Bekasi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
22 184 Kota Bogor 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
23 185 Kota Cimahi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
24 186 Kota Cirebon 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
25 187 Kota Depok 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
26 188 Kota Sukabumi 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
27 189 Kota Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 Þrov. Iawa 1engah
LkÞD 36 36 36 36 36 36
1 190 Prov. Jawa Tengah 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 191 Kab. Banjarnegara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 192 Kab. Banyumas 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
4 193 Kab. Batang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 194 Kab. Blora 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 195 Kab. Boyolali 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 196 Kab. Brebes 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 197 Kab. Cilacap 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 198 Kab. Demak 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
10 199 Kab. Grobogan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15
Halaman 5 - Lampiran 5
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
11 200 Kab. Jepara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
12 201 Kab. Karanganyar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 202 Kab. Kebumen 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 203 Kab. Kendal 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15 204 Kab. Klaten 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
16 205 Kab. Kudus 1 WTP-DPP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
17 206 Kab. Magelang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18 207 kab. Þau 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
19 208 Kab. Pekalongan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
20 209 Kab. Pemalang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
21 210 Kab. Purbalingga 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
22 211 Kab. Purworejo 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
23 212 Kab. Rembang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
24 213 Kab. Semarang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
25 214 Kab. Sragen 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
26 215 Kab. Sukoharjo 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
27 216 Kab. Tegal 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
28 217 Kab. Temanggung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
29 218 Kab. Wonogiri 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
30 219 Kab. Wonosobo 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
31 220 Kota Magelang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
32 221 Kota Pekalongan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
33 222 koLa Salauga 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
34 223 Kota Semarang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
35 224 Kota Surakarta 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
36 225 Kota Tegal 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 Þrov. D.I. ¥ogyakarta
LkÞD 6 6 6 6 6 6
1 226 Prov. D.I. Yogyakarta 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
2 227 Kab. Bantul 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 228 Kab. Gunung Kidul 1 WDP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 229 Kab. Kulon Progo 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 230 Kab. Sleman 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 231 Kota Yogyakarta 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP
15 Þrov. Iawa 1|mur
LkÞD 26 39 39 39 39 39
1 232 Prov. Jawa Timur 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WTP
2 233 Kab. Bangkalan 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WTP
3 234 Kab. Banyuwangi 1 TW 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 WDP
4 235 Kab. Blitar 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 236 Kab. Bojonegoro 1 WDP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
6 237 Kab. Bondowoso 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 238 Kab. Gresik 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 239 Kab. Jember 1 TW 1 TW 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
9 240 Kab. Jombang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 241 Kab. Kediri 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 242 Kab. Lamongan 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 243 Kab. Lumajang 1 WTP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 244 Kab. Madiun 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 245 Kab. Magetan 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15 246 Kab. Malang 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
16 247 Kab. Mojokerto 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
17 248 Kab. Nganjuk 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18 249 Kab. Ngawi 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
19 250 Kab. Pacitan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
20 251 Kab. Pamekasan 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
21 252 Kab. Pasuruan 1 TW 1 TW 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 WDP
22 253 Kab. Ponorogo 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 WDP
16
na|aman 6 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
23 254 Kab. Probolinggo 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
24 255 Kab. Sampang 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
25 256 Kab. Sidoarjo 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 TMP 1 WDP
26 257 Kab. Situbondo 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
27 258 Kab. Sumenep 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
28 259 Kab. Trenggalek 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 WDP
29 260 Kab. Tuban 1 TW 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
30 261 Kab. Tulungagung 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WTP
31 262 Kota Batu 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TMP
32 263 Kota Blitar 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WTP
33 264 Kota Kediri 1 WDP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
34 265 Kota Madiun 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
35 266 Kota Malang 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
36 267 Kota Mojokerto 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WTP
37 268 Kota Pasuruan 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
38 269 Kota Probolinggo 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
39 270 Kota Surabaya 1 WDP 1 WTP 1 TW 1 TMP 1 TW 1 WDP
16 Þrov. 8anten
LkÞD 7 7 7 8 9 9
1 271 Prov. Banten 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 272 Kab. Lebak 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 273 Kab. Pandeglang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
4 274 Kab. Serang 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 275 Kab. Tangerang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
6 276 Kota Cilegon 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
7 277 Kota Serang 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 278 Kota Tangerang 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 WTP 1 WTP
9 279 Kota Tangerang Selatan 1 WDP 1 WTP
17 Þrov. 8a||
LkÞD 10 10 10 10 10 10
1 280 Prov. Bali 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
2 281 Kab. Badung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
3 282 Kab. Bangli 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 283 Kab. Buleleng 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
5 284 Kab. Gianyar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 285 Kab. Jembrana 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW
7 286 Kab. Karangasem 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
8 287 Kab. Klungkung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 288 Kab. Tabanan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 289 Kota Denpasar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18 Þrov. Nusa 1enggara 8arat
LkÞD 7 10 10 10 11 11
1 290 Prov. Nusa Tenggara Barat 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
2 291 Kab. Bima 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 292 Kab. Dompu 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
4 293 Kab. Lombok Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 294 Kab. Lombok Tengah 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 295 Kab. Lombok Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 296 Kab. Lombok Utara 1 WDP 1 WDP
8 297 Kab. Sumbawa 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 298 Kab. Sumbawa Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 299 Kota Bima 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
11 300 Kota Mataram 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
19 Þrov. Nusa 1enggara 1|mur
LkÞD 15 17 17 20 21 12
1 301 Prov. Nusa Tenggara Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 302 Kab. Alor 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
17
na|aman 7 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
3 303 Kab. Belu 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 304 Kab. Ende 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
5 305 Kab. Flores Timur 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 306 Kab. Kupang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
7 307 Kab. Lembata 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 TMP
8 308 Kab. Manggarai 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
9 309 Kab. Manggarai Barat 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
10 310 Kab. Manggarai Timur 1 TMP
11 311 Kab. Nagekeo 1 WDP 1 TMP 1 TMP
12 312 Kab. Ngada 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
13 313 Kab. Rote Ndao 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
14 314 Kab. Sabu Raijua ** 1 WDP
15 315 Kab. Sikka 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
16 316 Kab. Sumba Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
17 317 Kab. Sumba Barat Daya 1 WDP 1 TMP 1 WDP
18 318 Kab. Sumba Tengah 1 WDP 1 TMP 1 WDP
19 319 Kab. Sumba Timur 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
20 320 Kab. Timor Tengah Selatan 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
21 321 Kab. Timor Tengah Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
22 322 Kota Kupang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
20 Þrov. ka||mantan 8arat
LKPD 11 13 13 14 15 10
1 323 Prov. Kalimantan Barat 1 TMP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
2 324 Kab. Bengkayang 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 TMP
3 325 Kab. Kapuas Hulu 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TMP
4 326 Kab. Kayong Utara 1 TMP 1 TMP
5 327 Kab. Ketapang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 328 Kab. Kubu Raya 1 TW 1 TW
7 329 Kab. Landak 1 TW 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW
8 330 Kab. Melawi 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 TW
9 331 kab. Þonuanak 1 WTP 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 332 Kab. Sambas 1 WDP 1 WTP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 333 Kab. Sanggau 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 334 Kab. Sekadau 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
13 335 Kab. Sintang 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 336 koLa Þonuanak 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
15 337 Kota Singkawang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP
21 Þrov. ka||mantan 1engah
LKPD 15 15 15 15 15 8
1 338 Prov. Kalimantan Tengah 1 WDP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 TW
2 339 Kab. Barito Selatan 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW 1 TW
3 340 Kab. Barito Timur 1 TMP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TW
4 341 Kab. Barito Utara 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW 1 TMP
5 342 Kab. Gunung Mas 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW
6 343 Kab. Kapuas 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
7 344 kab. kaungan 1 TMP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
8 345 Kab. Kotawaringin Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP
9 346 Kab. Kotawaringin Timur 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW 1 TW 1 TW
10 347 Kab. Lamandau 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW
11 348 Kab. Murung Raya 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 TW
12 349 Kab. Pulang Pisau 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW
13 350 Kab. Seruyan 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
14 351 Kab. Sukamara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP
15 352 Kota Palangkaraya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW
22 Þrov. ka||mantan Se|atan
LkÞD 13 14 14 14 14 5
1 353 Prov. Kalimantan Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 354 Kab. Balangan 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18
na|aman 8 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
3 355 Kab. Banjar 1 TW 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW
4 356 Kab. Barito Kuala 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW 1 TW
5 357 Kab. Hulu Sungai Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 358 Kab. Hulu Sungai Tengah 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 359 Kab. Hulu Sungai Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 360 Kab. Kotabaru 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 361 Kab. Tabalong 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP
10 362 Kab. Tanah Bumbu 1 TMP 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP
11 363 Kab. Tanah Laut 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 364 Kab. Tapin 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 365 Kota Banjarbaru 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 366 Kota Banjarmasin 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
23 Þrov. ka||mantan 1|mur
LkÞD 12 14 14 14 15 7
1 367 Prov. Kalimantan Timur 1 WDP 1 TW 1 TW 1 TW 1 TW 1 WDP
2 368 Kab. Berau 1 TW 1 TMP 1 TW 1 TW 1 TW 1 WDP
3 369 Kab. Bulungan 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW 1 TW
4 370 Kab. Kutai Barat 1 TMP 1 TW 1 TW 1 TW
5 371 Kab. Kutai Kartanegara 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
6 372 Kab. Kutai Timur 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
7 373 Kab. Malinau 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 WDP
8 374 Kab. Nunukan 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 WDP 1 TW 1 TW
9 375 Kab. Paser 1 TMP 1 TW 1 TW 1 TW 1 TW
10 376 Kab. Penajam Paser Utara 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 TW 1 TW
11 377 Kab. Tana Tidung 1 TMP
12 378 Kota Balikpapan 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 379 Kota Bontang 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 WDP 1 WDP
14 380 Kota Samarinda 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW
15 381 Kota Tarakan 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
24 Þrov. Su|awes| Utara
LkÞD 8 10 10 14 16 1
1 382 Prov. Sulawesi Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP
2 383 Kab. Bolaang Mongondow 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 384 Kab. Bolaang Mongondow Selatan 1 WDP
4 385 Kab. Bolaang Mongondow Timur 1 WDP
5 386 Kab. Bolaang Mongondow Utara 1 WDP 1 WDP
6 387 Kab. Kepulauan Sangihe 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 TW
7 388 Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 1 WDP 1 WDP
8 389 Kab. Kepulauan Talaud 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
9 390 Kab. Minahasa 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
10 391 Kab. Minahasa Selatan 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 TW
11 392 Kab. Minahasa Tenggara 1 TMP 1 TMP
12 393 Kab. Minahasa Utara 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
13 394 Kota Bitung 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
14 395 Kota Kotamobagu 1 WDP 1 WDP
15 396 Kota Manado 1 TMP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 TW
16 397 Kota Tomohon 1 TMP 1 WDP 1 TW 1 TW
2S Þrov. Su|awes| 1engah
LkÞD 8 11 11 11 12 12
1 398 Prov. Sulawesi Tengah 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
2 399 Kab. Banggai 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 400 Kab. Banggai Kepulauan 1 WTP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
4 401 Kab. Buol 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
5 402 Kab. Donggala 1 WTP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
6 403 Kab. Morowali 1 WTP-DPP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
7 404 Kab. Parigi Moutong 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
8 405 Kab. Poso 1 WTP-DPP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
19
na|aman 9 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
9 406 Kab. Sigi 1 TMP 1 WDP
10 407 Kab. Tojo Una-Una 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 408 Kab. Tolitoli 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
12 409 Kota Palu 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
26 Þrov. Su|awes| Se|atan
LkÞD 20 24 24 24 2S 14
1 410 Prov. Sulawesi Selatan 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WTP
2 411 Kab. Bantaeng 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 412 Kab. Barru 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
4 413 Kab. Bone 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 414 Kab. Bulukumba 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 415 Kab. Enrekang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 416 Kab. Gowa 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
8 417 Kab. Jeneponto 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
9 418 Kab. Kep. Selayar 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
10 419 Kab. Luwu 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
11 420 Kab. Luwu Timur 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
12 421 Kab. Luwu Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
13 422 Kab. Maros 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
14 423 Kab. Pangkajene dan Kepulauan 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
15 424 Kab. Pinrang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
16 425 Kab. Sidenreng Rappang 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
17 426 Kab. Sinjai 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
18 427 Kab. Soppeng 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
19 428 Kab. Takalar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
20 429 Kab. Tana Toraja 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
21 430 Kab. Toraja Utara 1 WDP 1 WDP
22 431 Kab. Wajo 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
23 432 Kota Makassar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
24 433 Kota Palopo 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
25 434 Kota Pare-Pare 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
27 Þrov. Su|awes| 1enggara
LkÞD 8 11 11 13 13 6
1 435 Prov. Sulawesi Tenggara 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
2 436 Kab. Bombana 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
3 437 Kab. Buton 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP
4 438 Kab. Buton Utara 1 TMP 1 TMP
5 439 Kab. Kolaka 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TW 1 WDP
6 440 Kab. Kolaka Utara 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 WDP
7 441 Kab. Konawe 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
8 442 Kab. Konawe Selatan 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TMP
9 443 Kab. Konawe Utara 1 TMP 1 TMP
10 444 Kab. Muna 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
11 445 Kab. Wakatobi 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW
12 446 Kota Bau-Bau 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP
13 447 Kota Kendari 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 WDP 1 WDP
28 Þrov. Goronta|o
LkÞD 6 6 7 7 7 7
1 448 Prov. Gorontalo 1 WTP 1 WDP 1 WTP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 449 Kab. Boalemo 1 WTP-DPP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 450 Kab. Bone Bolango 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
4 451 Kab. Gorontalo 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WTP 1 WTP
5 452 Kab. Gorontalo Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
6 453 Kab. Pohuwato 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
7 454 Kota Gorontalo 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
20
na|aman 10 - Lamp|ran S
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
29 Þrov. Su|awes| 8arat
LkÞD 4 6 6 6 6 5
1 455 Prov. Sulawesi Barat 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
2 456 Kab. Majene 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
3 457 Kab. Mamasa 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
4 458 Kab. Mamuju 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
5 459 Kab. Mamuju Utara 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
6 460 Kab. Polewali Mandar 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
30 Þrov. Ma|uku
LkÞD 4 9 9 9 12 3
1 461 Prov. Maluku 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
2 462 Kab. Buru 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
3 463 Kab. Buru Selatan 1 TMP
4 464 Kab. Kepulauan Aru 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP*
5 465 Kab. Maluku Barat Daya 1 TMP
6 466 Kab. Maluku Tengah 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
7 467 Kab. Maluku Tenggara 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
8 468 Kab. Maluku Tenggara Barat 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
9 469 Kab. Seram Bagian Barat 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP*
10 470 Kab. Seram Bagian Timur 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP*
11 471 Kota Ambon 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TMP
12 472 Kota Tual 1 TMP
31 Þrov. Ma|uku Utara
LkÞD 1 9 9 9 9 3
1 473 Prov. Maluku Utara 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW
2 474 Kab. Halmahera Barat 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TW
3 475 Kab. Halmahera Selatan 1 TMP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TMP
4 476 Kab. Halmahera Tengah 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW
5 477 Kab. Halmahera Timur 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW
6 478 Kab. Halmahera Utara 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 TMP
7 479 Kab. Kepulauan Sula 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TW
8 480 Kab. Pulau Morotai **
9 481 Kota Ternate 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 TW 1 TMP
10 482 Kota Tidore Kepulauan 1 WDP 1 WDP 1 TMP 1 WDP
32 Þrov. Þapua
LkÞD 6 18 21 22 23 9
1 483 Prov. Papua 1 TW 1 TW 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
2 484 Kab. Asmat 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP
3 485 Kab. Biak Numfor 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 TMP
4 486 Kab. Boven Digoel 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
5 487 Kab. Deiyai **
6 488 Kab. Dogiyai 1 TMP 1 TMP
7 489 Kab. Intan Jaya **
8 490 Kab. Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP
9 491 Kab. Jayawijaya 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
10 492 Kab. Keerom 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
11 493 Kab. Kepulauan Yapen 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
12 494 Kab. Lanny Jaya **
13 495 Kab. Mamberamo Raya 1 TMP*
14 496 Kab. Mamberamo Tengah **
15 497 Kab. Mappi 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
16 498 Kab. Merauke 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TMP
17 499 Kab. Mimika 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 WDP
18 500 Kab. Nabire 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TMP
19 501 Kab. Nduga **
20 502 Kab. Paniai 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
21 503 Kab. Pegunungan Bintang 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 TMP
21
Halaman 11 - Lampiran 5
No. Lnntas Þemer|ntah Daerah
Cp|n|
1ahun 200S
Cp|n|
1ahun 2006
Cp|n|
1ahun 2007
Cp|n|
1ahun 2008
Cp|n|
1ahun 2009
Cp|n|
1ahun 2010
22 504 Kab. Puncak **
23 505 Kab. Puncak Jaya 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
24 506 Kab. Sarmi 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 TMP
25 507 Kab. Supiori 1 TW 1 TMP 1 TMP 1 TMP
26 508 Kab. Tolikara 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
27 509 Kab. Waropen 1 TMP 1 TMP 1 TMP
28 510 Kab. Yahukimo 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
29 511 Kab. Yalimo **
30 512 Kota Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 WDP
33 Þrov. Þapua 8arat
LkÞD 2 9 10 10 10 1
1 513 Prov. Papua Barat 1 WDP 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
2 514 Kab. Fakfak 1 TMP 1 TMP 1 WDP 1 TMP
3 515 Kab. Kaimana 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
4 516 Kab. Manokwari 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 WDP
5 517 Kab. Maybrat **
6 518 Kab. Raja Ampat 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
7 519 Kab. Sorong 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
8 520 Kab. Sorong Selatan 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
9 521 Kab. Tambrauw **
10 522 Kab. Teluk Bintuni 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 TMP
11 523 Kab. Teluk Wondama 1 TMP 1 TMP 1 TMP*
12 524 Kota Sorong 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 TW
Ium|ah 362 463 469 48S S04 3S8
Keterangan
WTP : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (oopoollfeJ oploloo)
WTP-DPP : Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelas (uopoollfeJ Oploloo wltb MoJlfeJ wotJloq)
WDP : Opini Wajar Dengan Pengecualian (poollfeJ Oploloo)
TW : Opini Tidak Wajar (oJvetse oploloo)
TMP : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (Jlsclolmet oploloo)
* : LKPD Tahun 2009 untuk Kab. Kepulauan Aru, Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Seram Bagian Timur, Kab. Mamberamo Raya, dan Kab. Teluk
Wondama baru diperiksa pada Semester I Tahun 2011
** : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD)
22
Dahar ke|ompok dan Ien|s 1emuan - ke|emahan SÞI
Þemer|ksaan Laporan keuangan Þemer|ntah Daerah 1ahun 2010
Lamp|ran 6
No. ke|ompok dan Ien|s 1emuan Ium|ah kasus %
Kelemahan Sistem Pengendalian Intern
I ke|emahan S|stem Þengenda||an Akuntans| dan Þe|aporan 1.401 41,24
1 ÞencaLaLan udak/belum dllakukan aLau udak akuraL 784
2 Þroses penyusunan laporan udak sesual keLenLuan 371
3 LnuLas LerlambaL menyampalkan laporan 24
4 SlsLem lnformasl AkunLansl dan Þelaporan udak memadal 204
5 Sistem Informasi Akuntansi dan Pelaporan belum didukung SDM yang memadai 17
6 Lain-lain 1
II ke|emahan S|stem Þengenda||an Þe|aksanaan Anggaran Þendapatan dan 8e|an[a 1.368 40,27
1 Þerencanaan keglaLan udak memadal 499
2
Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan Penerimaan Daerah
dan Plbah udak sesual keLenLuan
170
3
Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan
intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja
375
4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD 63
5
ÞeneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau belum dllakukan beraklbaL hllangnya
poLensl penerlmaan/pendapaLan
173
6
ÞeneLapan/pelaksanaan kebl[akan udak LepaL aLau belum dllakukan beraklbaL penlngkaLan
blaya/belan[a
70
7 Lain-lain 18
III ke|emahan Struktur Þengenda||an Intern 628 18,49
1 LnuLas udak memlllkl SCÞ yang formal unLuk suaLu prosedur aLau keseluruhan prosedur 265
2 SCÞ yang ada pada enuLas udak ber[alan secara opumal aLau udak dlLaau 326
3 LnuLas udak memlllkl SaLuan Þengawas lnLern 3
4 SaLuan Þengawas lnLern yang ada udak memadal aLau udak ber[alan opumal 17
5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 17
1ota| ke|emahan S|stem Þengenda||an Intern 3.397 100
23
na|aman 1 - Lamp|ran 7
Dahar ke|ompok dan Ien|s 1emuan - kendakpatuhan
Þemer|ksaan Laporan keuangan Þemer|ntah Daerah 1ahun 2010
No. ke|ompok dan Ien|s 1emuan Ium|ah kasus %
Nilai
([uta kp)
%
kendokpotuhon terhodop ketentuon Perundonq-undonqon yonq Menqokibotkon
I kerug|an Daerah 1.197 26,30 376.96S,01 7,14
1 8elan[a aLau pengadaan barang/[asa ñkuf 100 31.735,43
2 8ekanan pengadaan barang/[asa udak menyelesalkan peker[aan 30 3.699,38
3 kekurangan volume peker[aan dan/ aLau barang 340 74.999,50
4
keleblhan pembayaran selaln kekurangan volume peker[aan dan/ aLau
barang
147 30.970,01
5 Pemahalan harga (Motk op) 47 7.765,68
6 Þenggunaan uang/barang unLuk kepenungan prlbadl 94 65.839,13
7
Þembayaran honorarlum dan/aLau blaya per[alanan dlnas ganda dan aLau
melebihi standar yang ditetapkan
131 21.909,44
8 Speslñkasl barang/[asa yang dlLerlma udak sesual dengan konLrak 37 8.195,68
9 8elan[a udak sesual aLau meleblhl keLenLuan 217 68.909,07
10 Þengemballan pln[aman/pluLang aLau dana bergullr maceL 10 25.439,54
11
keleblhan peneLapan dan pembayaran resuLusl pa[ak aLau peneLapan
kompensasi kerugian
2 52,50
12
Þen[ualan/perLukaran/penghapusan aseL daerah udak sesual keLenLuan dan
merugikan daerah
4 990,61
13 Pelanggaran ketentuan pemberian diskon penjualan 1 16,06
14 Lain-lain 37 36.442,94
II Þotens| kerug|an Daerah 313 6,88 3.283.343,78 62,17
1
keleblhan pembayaran dalam pengadaan barang/[asa LeLapl pembayaran
pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya
29 20.013,53
2
Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil
pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan
13 26.187,51
3 Aset dikuasai pihak lain 63 1.039.248,12
4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 1 93.782,51
5 AseL udak dlkeLahul keberadaannya 57 1.624.500,39
6
Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan
pemberlan faslllLas udak sesual keLenLuan
9 100.967,93
7
Þlhak keuga belum melaksanakan kewa[lban unLuk menyerahkan aseL
kepada daerah
3 1.650,53
8 ÞluLang/pln[aman aLau dana bergullr yang berpoLensl udak LerLaglh 110 330.681,39
9 Lain-lain 28 46.311,83
III kekurangan Þener|maan 8S7 18,83 478.101,00 9,0S
1
Þenerlmaan negara/uaerah aLau denda keLerlambaLan peker[aan belum/
udak dlLeLapkan aLau dlpunguL/dlLerlma/dlseLor ke kas negara/uaerah
648 188.300,94
2 Penggunaan langsung Penerimaan Daerah 179 260.680,54
3 Dana Perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas Daerah 4 4.373,28
4 Þenerlmaan daerah dlLerlma aLau dlgunakan oleh lnsLansl yang udak berhak 8 5.160,99
5 Þengenaan Larlf pa[ak/Þn8Þ leblh rendah darl keLenLuan 15 11.956,06
6 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah 1 69,25
7 Lain-lain 2 7.559,91
24
Keterangan
Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah
na|aman 2 - Lamp|ran 7
No. ke|ompok dan Ien|s 1emuan Ium|ah kasus %
Nilai
([uta kp)
%
IV Adm|n|stras| 1.774 38,98 -
1 ÞerLanggung[awaban udak akunLabel (buku udak lengkap/udak valld) 526 -
2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 16 -
3
Þroses pengadaan barang/[asa udak sesual keLenLuan (udak menlmbulkan
kerugian daerah)
69 -
4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 8 -
5 Pelaksanaan lelang secara proforma 4 -
6
Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan
perlengkapan atau Barang Milik Daerah
317 -
7
Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu
lalnnya seperu kehuLanan, perLambangan, perpa[akan, dll.
156 -
8 koreksl perhlLungan susbsldl/kewa[lban pelayanan umum 1 -
9
ÞembenLukan cadangan pluLang, perhlLungan penyusuLan aLau amorusasl
udak sesual keLenLuan
1 -
10
ÞenyeLoran penerlmaan negara/daerah meleblhl baLas wakLu yang
ditentukan
250 -
11
ÞerLanggung[awaban/penyeLoran uang persedlaan meleblhl baLas wakLu
yang ditentukan
122 -
12
Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir Tahun Anggaran belum disetor ke
kas daerah
84 -
13 Þengeluaran lnvesLasl pemerlnLah udak dldukung buku yang sah 59 -
14 kepemlllkan aseL udak/belum dldukung buku yang sah 138 -
15 Þengallhan anggaran anLar MAk udak sah 9 -
16 Lain-lain 14 -
V kendakhematan]pemborosan]kendakekonom|san 144 3,16 73.21S,37 1,39
1 Þengadaan barang/[asa meleblhl kebuLuhan 3 182,96
2
ÞeneLapan kuallLas dan kuanuLas barang/[asa yang dlgunakan udak sesual
standar
7 2.948,66
3 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga 134 70.083,74
VI kendakehs|enan 2 0,04 1.370,03 0,03
1
Þenggunaan kuallLas lnpuL unLuk saLu saLuan ouLpuL leblh unggl darl
seharusnya
2 1.370,03
VII kendakefeknfan 264 S,80 1.068.S76,00 20,23
1 Þenggunaan anggaran udak LepaL sasaran/udak sesual perunLukan 153 207.679,38
2
ÞemanfaaLan barang/[asa dllakukan udak sesual dengan rencana yang
ditetapkan
16 20.845,37
3 8arang yang dlbell belum/udak dapaL dlmanfaaLkan 39 71.793,18
4
ÞemanfaaLan barang/[asa udak berdampak Lerhadap pencapalan Lu[uan
organisasi
6 439,64
5
Þelaksanaan keglaLan LerlambaL/ LerhambaL sehlngga mempengaruhl
pencapaian tujuan organisasi
35 763.913,72
6 Þelayanan kepada masyarakaL udak opumal 6 868,07
7
lungsl aLau Lugas lnsLansl yang dlperlksa udak dlselenggarakan dengan balk
Lermasuk LargeL penerlmaan udak Lercapal
9 3.036,61
1ota| kendakpatuhan terhadap ketentuan Þerundang-undangan 4.SS1 100,00 S.281.S71,22 100
25
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
D
a
h
a
r

k
e
|
o
m
p
o
k

1
e
m
u
a
n

M
e
n
u
r
u
t

L
n
n
t
a
s
Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

L
a
p
o
r
a
n

k
e
u
a
n
g
a
n

Þ
e
m
e
r
|
n
t
a
h

D
a
e
r
a
h

1
a
h
u
n

2
0
1
0
n
a
|
a
m
a
n

1

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
1
Þ
r
o
v
.

A
c
e
h

S
4


2
3


1
9


1
2


1
0
7


4
2
.
6
6
2
,
7
S


1
7


1
2
.
S
S
0
,
0
2


1


-


2
S


1
0
.
1
7
8
,
9
8


4
8


6


1
.
9
4
S
,
7
9


-


-


1
0


1
7
.
9
8
7
,
9
4


1
3
,
3
9


-


1
1
2
,
6
3

1
1
K
a
b
.

A
c
e
h

B
e
s
a
r

7


3


2


2


1
1


2
0
.
5
1
1
,
1
2


1


7
.
4
3
6
,
3
1


-


-


5


6
.
7
7
9
,
2
3


4


-


-


-


-


1


6
.
2
9
5
,
5
6


-


-


-

2
2
K
a
b
.

a
c
e
h

S
e
l
a
t
a
n

8


4


3


1


5


4
3
7
,
3
0


-


-


-


-


2


4
3
7
,
3
0


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
3
K
a
b
.

A
c
e
h

S
i
n
g
k
i
l

5


2


1


2


1
2


2
.
9
3
6
,
4
8


2


2
.
0
0
7
,
2
8


-


-


-


-


8


-


-


-


-


2


9
2
9
,
1
9


-


-


-

4
4
K
a
b
.

A
c
e
h

T
a
m
i
a
n
g

5


2


2


1


1
2


2
.
2
9
9
,
5
3


2


1
.
8
9
8
,
6
8


-


-


3


4
0
0
,
8
5


7


-


-


-


-


-


-


-


-


-

5
5
K
a
b
.

A
c
e
h

T
e
n
g
a
h

4


2


2


-


1
5


4
.
5
6
5
,
5
4


4


1
5
4
,
7
3


-


-


4


1
.
2
7
0
,
4
0


5


-


-


-


-


2


3
.
1
4
0
,
4
0


-


-


5
5
,
0
7

7
7
K
a
b
.

G
a
y
o

L
u
e
s

4


3


1


-


1
5


1
.
3
3
0
,
2
2


5


6
3
0
,
7
0


-


-


4


6
1
4
,
5
4


5


1


8
4
,
9
6


-


-


-


-


-


-


-

6
6
K
a
b
.

N
a
g
a
n

R
a
y
a

5


2


1


2


1
7


6
.
1
3
2
,
2
5


2


4
0
4
,
8
7


-


-


1


9
4
,
9
4


9


4


1
.
7
8
9
,
2
3


-


-


1


3
.
8
4
3
,
1
9


-


-


-

8
8
K
o
t
a

B
a
n
d
a

A
c
e
h

9


3


4


2


1
3


3
.
7
9
2
,
6
3


1


1
7
,
4
1


1


-


4


5
1
5
,
4
3


5


1


7
1
,
6
0


-


-


1


3
.
1
8
8
,
1
8


1
3
,
3
9


-


5
7
,
5
6

9
9
K
o
t
a

S
a
b
a
n
g

7


2


3


2


7


6
5
7
,
6
4


-


-


-


-


2


6
6
,
2
4


2


-


-


-


-


3


5
9
1
,
4
0


-


-


-

2
Þ
r
o
v
.

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

1
6
S


6
3


7
6


2
6


3
0
2


1
4
0
.
0
4
1
,
4
8


1
3
9


6
8
.
1
8
9
,
8
7


1
1


1
0
.
3
3
8
,
S
1


6
2


4
2
.
7
1
S
,
3
2


6
8


4


2
.
1
3
9
,
0
3


-


-


1
8


1
6
.
6
S
8
,
7
2


2
.
9
S
7
,
9
3


-


1
9
3
,
3
3

1
1
0
P
r
o
v
.

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

6


2


2


2


1
4


5
.
0
2
3
,
0
3


4


4
.
1
7
8
,
9
2


-


-


4


7
4
6
,
3
5


5


-


-


-


-


1


9
7
,
7
5


-


-


-

2
1
1
K
a
b
.

A
s
a
h
a
n

1
3


6


6


1


1
1


9
.
8
3
4
,
6
8


6


2
.
0
7
5
,
8
4


-


-


2


5
.
2
9
3
,
8
9


1


1


1
2
7
,
6
2


-


-


1


2
.
3
3
7
,
3
3


-


-


-

3
1
2
K
a
b
.

D
a
i
r
i

9


3


4


2


1
8


3
.
4
6
4
,
2
4


1
1


2
.
5
6
0
,
5
5


-


-


1


6
,
9
7


5


-


-


-


-


1


8
9
6
,
7
2


1
7
6
,
2
3


-


-

4
1
3
K
a
b
.

D
e
l
i

S
e
r
d
a
n
g

6


2


4


-


8


1
0
.
0
2
0
,
4
9


1


1
0
6
,
0
0


2


3
.
4
0
5
,
6
8


2


6
.
5
0
8
,
8
1


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

5
1
4
K
a
b
.

H
u
m
b
a
n
g

H
a
s
u
n
d
u
t
a
n

9


2


4


3


1
6


4
.
3
2
7
,
6
8


6


6
4
5
,
7
7


-


-


6


2
.
0
3
1
,
9
1


2


1


1
.
6
4
4
,
8
0


-


-


1


5
,
2
0


-


-


5
7
,
7
9

6
1
5
K
a
b
.

K
a
r
o

9


6


2


1


2
0


4
.
8
9
7
,
2
9


9


1
.
8
5
4
,
9
0


2


8
6
3
,
2
6


6


5
5
6
,
0
1


1


-


-


-


-


2


1
.
6
2
3
,
1
1


3
,
1
7


-


-

7
1
6
K
a
b
.

L
a
b
u
h
a
n
b
a
t
u

8


4


2


2


1
0


1
1
.
0
4
2
,
2
7


4


5
.
8
1
8
,
1
3


-


-


2


5
8
5
,
2
9


3


-


-


-


-


1


4
.
6
3
8
,
8
4


-


-


-

8
1
7
K
a
b
.

L
a
b
u
h
a
n
b
a
t
u

S
e
l
a
t
a
n

7


2


5


-


8


1
.
9
3
2
,
3
4


3


1
.
7
7
6
,
8
4


-


-


2


1
5
5
,
5
0


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

9
1
8
K
a
b
.

L
a
n
g
k
a
t

6


4


1


1


1
4


1
0
.
4
6
9
,
5
1


8


3
.
1
4
9
,
5
1


1


5
6
3
,
1
4


2


6
.
7
5
6
,
8
6


3


-


-


-


-


-


-


1
.
1
4
0
,
7
0


-


-

1
0
1
9
K
a
b
.

M
a
n
d
a
i
l
i
n
g

N
a
t
a
l

4


1


3


-


1
0


1
.
8
9
9
,
8
9


8


1
.
6
0
5
,
1
3


-


-


1


2
4
8
,
2
1


-


-


-


-


-


1


4
6
,
5
5


-


-


-

1
1
2
0
K
a
b
.

P
a
k
p
a
k

B
h
a
r
a
t

5


2


1


2


1
7


1
.
2
5
3
,
7
2


1
0


1
.
1
1
1
,
7
3


-


-


2


3
7
,
5
9


4


-


-


-


-


1


1
0
4
,
4
0


2
6
,
9
9


-


-

1
2
2
1
K
a
b
.

S
a
m
o
s
i
r

1
2


4


7


1


1
0


5
.
3
7
0
,
3
3


5


2
.
8
6
1
,
5
1


1


7
5
5
,
5
2


3


1
.
7
5
3
,
2
9


1


-


-


-


-


-


-


-


-


1
3
4
,
1
9

1
3
2
2
K
a
b
.

S
e
r
d
a
n
g

B
e
d
a
g
a
i

1
2


3


6


3


1
2


5
.
3
8
7
,
0
9


5


2
.
2
6
3
,
0
8


-


-


2


3
.
0
7
4
,
0
0


4


-


-


-


-


1


5
0
,
0
0


-


-


-

1
4
2
3
K
a
b
.

S
i
m
a
l
u
n
g
u
n

7


2


5


-


2
3


4
.
8
7
7
,
4
8


9


2
.
7
1
6
,
2
6


1


1
.
3
0
0
,
7
4


4


5
3
3
,
0
4


7


-


-


-


-


2


3
2
7
,
4
3


1
3
2
,
4
5


-


-

1
5
2
4
K
a
b
.

T
a
p
a
n
u
l
i

S
e
l
a
t
a
n

8


4


3


1


9


2
2
.
5
3
1
,
2
1


4


2
1
.
9
7
9
,
9
1


2


2
4
5
,
3
1


1


3
0
5
,
9
8


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
6
2
5
K
a
b
.

T
a
p
a
n
u
l
i

U
t
a
r
a

6


2


3


1


1
0


2
.
0
1
5
,
5
6


6


2
9
5
,
1
1


-


-


2


1
.
7
2
0
,
4
5


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
7
2
6
K
o
t
a

B
i
n
j
a
i

6


1


3


2


2
4


1
1
.
3
1
8
,
7
7


9


5
.
7
3
0
,
9
6


2


3
.
2
0
4
,
8
2


6


1
8
9
,
6
7


4


1


3
0
0
,
0
0


-


-


2


1
.
8
9
3
,
3
0


-


-


-

1
8
2
7
K
o
t
a

M
e
d
a
n

5


3


-


2


1
2


2
.
8
1
0
,
3
2


5


1
.
5
3
2
,
2
2


-


-


3


1
.
2
1
1
,
4
7


3


1


6
6
,
6
1


-


-


-


-


-


-


-

1
9
2
8
K
o
t
a

P
a
d
a
n
g
s
i
d
i
m
p
u
a
n

7


4


3


-


2
3


4
.
5
7
8
,
3
5


1
0


9
5
8
,
9
6


-


-


3


4
5
,
3
0


7


-


-


-


-


3


3
.
5
7
4
,
0
9


-


-


-

2
0
2
9
K
o
t
a

P
e
m
a
t
a
n
g
s
i
a
n
t
a
r

1
1


4


7


-


2
4


1
2
.
8
2
6
,
4
5


1
3


2
.
6
0
7
,
9
3


-


-


5


9
.
1
5
4
,
5
3


5


-


-


-


-


1


1
.
0
6
3
,
9
7


4
,
5
7


-


1
,
3
4

2
1
3
0
K
o
t
a

T
a
n
j
u
n
g
b
a
l
a
i

6


2


3


1


5


1
.
8
0
0
,
1
3


-


-


-


-


3


1
.
8
0
0
,
1
3


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
2
3
1
K
o
t
a

T
e
b
i
n
g

T
i
n
g
g
i

3


-


2


1


4


2
.
3
6
0
,
5
4


3


2
.
3
6
0
,
5
4


-


-


-


-


1


-


-


-


-


-


-


1
.
4
7
3
,
8
0


-


-

26
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

2

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
3
Þ
r
o
v
.

S
u
m
a
t
e
r
a

8
a
r
a
t

1
9
0


7
6


7
9


3
5


2
1
3


1
4
1
.
S
3
8
,
4
S


3
1


1
1
.
2
2
0
,
4
8


1
7


7
1
.
3
3
2
,
0
8


4
3


2
7
.
4
8
3
,
3
3


9
8


1
0


2
.
6
1
3
,
4
2


-


-


1
4


2
8
.
8
8
9
,
1
2


9
4
7
,
2
1


-


2
3
3
,
2
9

1
3
2
P
r
o
v
.

S
u
m
b
a
r

3
2


1
2


1
8


2


3
0


1
2
.
3
5
1
,
7
0


6


6
.
7
0
5
,
3
2


3


2
.
5
8
7
,
8
3


9


2
.
8
6
5
,
7
6


1
0


2


1
9
2
,
7
9


-


-


-


-


2
,
6
6


-


-

2
3
3
K
a
b
.

A
g
a
m

6


2


1


3


2
1


5
2
.
6
5
7
,
0
3


2


1
0
7
,
1
1


4


5
0
.
0
5
2
,
2
5


2


1
.
0
1
1
,
4
0


1
1


1


7
5
,
0
5


-


-


1


1
.
4
1
1
,
2
0


1
3
,
8
4


-


-

3
3
4
K
a
b
.

P
a
d
a
n
g

P
a
r
i
a
m
a
n

2
1


9


6


6


1
4


1
8
.
3
5
5
,
4
9


3


2
1
8
,
0
8


1


3
.
6
5
8
,
1
7


2


2
3
5
,
0
0


6


-


-


-


-


2


1
4
.
2
4
4
,
2
2


-


-


-

4
3
5
K
a
b
.

P
a
s
a
m
a
n

8


6


1


1


1
2


1
.
5
4
1
,
0
4


1


6
2
6
,
4
5


-


-


3


7
9
4
,
1
7


6


1


1
2
0
,
4
0


-


-


1


-


2
7
5
,
0
0


-


-

5
3
6
K
a
b
.

P
e
s
i
s
i
r

S
e
l
a
t
a
n

7


2


3


2


2
5


1
6
.
8
4
0
,
0
4


3


3
7
7
,
9
7


2


2
.
3
0
3
,
4
2


6


1
3
.
2
5
4
,
1
9


1
2


1


2
6
7
,
3
8


-


-


1


6
3
7
,
0
6


7
8
,
3
1


-


-

6
3
7
K
a
b
.

S
i
j
u
n
j
u
n
g

2
1


4


1
2


5


9


7
6
5
,
7
6


-


-


-


-


2


6
2
9
,
7
6


6


-


-


-


-


1


1
3
6
,
0
0


-


-


2
3
2
,
0
0

7
3
8
K
a
b
.

S
o
l
o
k

2
1


1
2


6


3


1
6


7
.
0
4
6
,
4
3


4


2
9
4
,
4
5


2


6
.
1
3
4
,
3
9


3


5
4
1
,
9
2


6


1


7
5
,
6
5


-


-


-


-


6
6
,
7
0


-


-

8
3
9
k
o
L
a

8
u
k
l
m
n
g
g
l

1
1


5


4


2


8


1
.
1
7
5
,
1
5


-


-


-


-


-


-


4


1


1
.
1
1
2
,
0
0


-


-


3


6
3
,
1
5


-


-


-

9
4
0
K
o
t
a

P
a
d
a
n
g

1
5


6


4


5


1
7


6
.
4
4
3
,
1
1


6


6
7
2
,
1
4


2


1
3
8
,
8
8


4


5
.
2
6
2
,
4
0


3


1


4
9
,
1
4


-


-


1


3
2
0
,
5
4


4
0
0
,
2
8


-


-

1
0
4
1
K
o
t
a

P
a
d
a
n
g

P
a
n
j
a
n
g

1
0


4


3


3


1
2


3
2
6
,
7
6


3


2
8
2
,
5
2


-


-


1


4
4
,
2
3


8


-


-


-


-


-


-


7
5
,
8
0


-


-

1
1
4
2
K
o
t
a

P
a
r
i
a
m
a
n

8


1


6


1


1
6


1
4
.
1
9
0
,
4
6


-


-


1


2
.
1
3
2
,
0
3


2


6
8
7
,
5
0


1
0


1


1
9
1
,
7
5


-


-


2


1
1
.
1
7
9
,
1
6


-


-


-

1
2
4
3
K
o
t
a

P
a
y
a
k
u
m
b
u
h

1
4


6


8


-


1
2


4
.
3
5
6
,
3
2


1


1
7
,
6
3


2


4
.
3
2
5
,
0
6


1


1
3
,
6
2


8


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
3
4
4
K
o
t
a

S
a
w
a
h
l
u
n
t
o

1
6


7


7


2


2
1


5
.
4
8
9
,
1
1


2


1
.
9
1
8
,
7
7


-


-


8


2
.
1
4
3
,
3
2


8


1


5
2
9
,
2
5


-


-


2


8
9
7
,
7
6


3
4
,
6
0


-


1
,
2
8

4
Þ
r
o
v
.

k
|
a
u

6
0


2
S


2
2


1
3


1
0
2


7
2
.
7
7
9
,
S
0


3
0


1
6
.
6
3
9
,
7
8


8


3
.
4
2
6
,
9
7


1
5


1
0
.
9
7
8
,
0
2


3
6


3


4
.
S
7
6
,
0
0


-


-


1
0


3
7
.
1
S
8
,
7
1


3
.
2
9
9
,
3
6


2
3
,
S
8


7
.
1
2
7
,
4
7

1
4
5
P
r
o
v
.

R
i
a
u

1
5


3


7


5


2
8


2
8
.
7
6
1
,
5
9


4


1
0
.
8
0
5
,
2
9


2


6
5
3
,
8
5


7


1
0
.
1
7
5
,
8
5


1
0


2


4
.
4
9
1
,
0
0


-


-


3


2
.
6
3
5
,
6
0


1
.
8
9
2
,
4
5


-


7
.
0
0
0
,
0
0

2
4
6
K
a
b
.

K
a
m
p
a
r

6


3


3


-


2
1


2
.
0
7
0
,
3
2


7


1
.
6
4
9
,
0
0


-


-


4


3
3
6
,
3
2


8


1


8
5
,
0
0


-


-


1


-


3
3
0
,
7
4


-


1
2
7
,
4
7

3
4
7
K
a
b
.

K
u
a
n
t
a
n

S
i
n
g
i
n
g
i

7


5


2


-


1
5


3
2
.
7
6
8
,
1
4


5


2
3
1
,
4
0


1


9
3
,
4
7


-


-


6


-


-


-


-


3


3
2
.
4
4
3
,
2
6


7
2
,
6
0


-


-

4
4
8
K
a
b
.

R
o
k
a
n

H
u
l
u

8


3


3


2


1
2


3
.
0
1
2
,
8
2


3


4
4
9
,
4
0


2


1
.
2
3
1
,
7
5


1


5
1
,
6
6


5


-


-


-


-


1


1
.
2
8
0
,
0
0


3
1
5
,
0
0


-


-

5
4
9
K
a
b
.

S
i
a
k

1
1


5


4


2


1
6


3
.
5
1
1
,
9
5


7


1
.
7
5
8
,
8
3


1


5
3
9
,
0
8


3


4
1
4
,
1
8


3


-


-


-


-


2


7
9
9
,
8
5


-


-


-

6
5
0
K
o
t
a

P
e
k
a
n
b
a
r
u

1
3


6


3


4


1
0


2
.
6
5
4
,
6
6


4


1
.
7
4
5
,
8
4


2


9
0
8
,
8
1


-


-


4


-


-


-


-


-


-


6
8
8
,
5
6


2
3
,
5
8


-

5
Þ
r
o
v
.

I
a
m
b
|

7
9


6
S


1
1


3


1
2
1


S
2
2
.
9
4
4
,
1
6


4
0


9
.
9
4
7
,
6
0


2
1


S
0
7
.
8
3
2
,
4
S


1
4


3
.
8
9
3
,
3
0


4
1


2


2
2
S
,
1
2


-


-


3


1
.
0
4
S
,
6
6


3
6
7
,
2
7


2
,
S
8


-

1
5
1
P
r
o
v
.

J
a
m
b
i

1
4


8


5


1


1
6


4
9
7
.
9
1
5
,
2
0


2


3
.
4
0
5
,
2
4


4


4
9
3
.
0
9
9
,
3
6


2


2
2
6
,
8
2


5


1


1
7
1
,
9
2


-


-


2


1
.
0
1
1
,
8
6


-


-


-

2
5
2
K
a
b
.

B
a
t
a
n
g


H
a
r
i

8


7


-


1


1
7


8
.
6
9
2
,
4
0


5


7
8
,
2
0


3


7
.
9
5
5
,
5
0


3


6
5
8
,
7
0


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
5
3
K
a
b
.

B
u
n
g
o

1
1


1
1


-


-


1
5


3
.
3
1
4
,
5
8


4


1
7
4
,
8
4


3


3
.
0
9
4
,
3
1


1


4
5
,
4
2


7


-


-


-


-


-


-


-


-


-

4
5
4
K
a
b
.

K
e
r
i
n
c
i

1
2


1
1


1


-


8


2
.
6
3
1
,
1
3


2


6
3
,
9
1


-


-


3


2
.
5
6
7
,
2
1


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

5
5
5
K
a
b
.

S
a
r
o
l
a
n
g
u
n

4


3


1


-


1
5


3
.
3
7
5
,
1
1


4


1
.
5
3
0
,
1
6


3


1
.
7
4
2
,
9
9


2


1
0
1
,
9
5


6


-


-


-


-


-


-


1
2
,
8
8


-


-

6
5
6
K
a
b
.

T
a
n
j
u
n
g

J
a
b
u
n
g

B
a
r
a
t

8


7


-


1


1
1


2
.
0
3
1
,
7
2


4


2
6
8
,
8
7


3


1
.
7
5
0
,
8
4


1


1
2
,
0
0


3


-


-


-


-


-


-


-


2
,
5
8


-

7
5
7
K
a
b
.

T
e
b
o

8


7


1


-


1
1


3
.
1
1
1
,
2
7


7


2
.
8
1
1
,
4
8


1


5
0
,
7
2


1


2
4
9
,
0
6


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

8
5
8
K
o
t
a

J
a
m
b
i

8


7


1


-


1
1


3
8
0
,
7
9


4


1
8
9
,
9
8


2


1
0
3
,
7
9


-


-


3


1


5
3
,
2
0


-


-


1


3
3
,
8
0


1
2
2
,
7
2


-


-

9
5
9
K
o
t
a

S
u
n
g
a
i

P
e
n
u
h

6


4


2


-


1
7


1
.
4
9
1
,
9
3


8


1
.
4
2
4
,
8
8


2


3
4
,
9
2


1


3
2
,
1
2


6


-


-


-


-


-


-


2
3
1
,
6
6


-


-

27
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

3

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
6
Þ
r
o
v
.

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
|
a
t
a
n

1
3
4


S
6


S
4


2
4


2
3
9


2
8
6
.
9
3
1
,
9
1


S
4


1
2
.
7
9
8
,
7
2


1
2


2
3
4
.
S
8
0
,
0
8


3
1


8
.
3
1
2
,
S
S


1
1
0


1
0


2
.
S
6
7
,
0
7


-


-


2
2


2
8
.
6
7
3
,
4
8


4
.
6
1
0
,
9
6


7
S
0
,
0
0


1
9
8
,
1
0

1
6
0
P
r
o
v
.

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

1
6


6


6


4


2
1


2
3
.
0
2
2
,
1
8


8


2
.
0
7
0
,
9
2


1


-


2


2
.
2
5
1
,
3
6


7


2


1
9
9
,
8
8


-


-


1


1
8
.
5
0
0
,
0
0


-


-


-

2
6
1
K
a
b
.

B
a
n
y
u
a
s
i
n

8


3


4


1


9


1
.
8
5
8
,
3
5


1


3
0
7
,
6
5


-


-


3


1
.
4
0
5
,
3
7


4


-


-


-


-


1


1
4
5
,
3
3


-


-


-

3
6
2
K
a
b
.

E
m
p
a
t

L
a
w
a
n
g

2


1


1


-


1
9


2
.
4
4
3
,
8
4


3


1
.
6
5
4
,
0
9


1


2
2
0
,
8
9


1


3
,
7
6


9


1


3
0
,
0
0


-


-


4


5
3
5
,
0
9


8
0
,
3
8


-


-

4
6
3
K
a
b
.

L
a
h
a
t

1
2


7


5


-


1
1


4
6
5
,
4
0


3


2
5
0
,
1
1


-


-


4


2
1
5
,
2
9


4


-


-


-


-


-


-


5
,
0
1


-


0
,
7
8

5
6
4
K
a
b
.

M
u
a
r
a

E
n
i
m

6


4


1


1


8


1
.
4
2
6
,
5
2


1


2
8
,
2
0


1


2
2
0
,
0
0


2


2
5
,
2
3


1


-


-


-


-


3


1
.
1
5
3
,
0
9


2
8
,
2
0


-


5
,
0
0

6
6
5
K
a
b
.

M
u
s
i

B
a
n
y
u
a
s
i
n

7


4


1


2


1
7


2
0
9
.
2
0
9
,
5
6


6


1
.
4
5
1
,
2
2


2


2
0
6
.
5
5
0
,
3
2


1


1
7
8
,
0
1


6


1


4
3
0
,
0
0


-


-


1


6
0
0
,
0
0


8
0
,
7
0


-


-

7
6
6
K
a
b
.

M
u
s
i

R
a
w
a
s

5


-


5


-


1
6


3
.
5
0
8
,
4
7


7


2
8
4
,
0
2


-


-


3


1
8
8
,
4
2


4


-


-


-


-


2


3
.
0
3
6
,
0
3


7
,
3
1


-


-

8
6
7
K
a
b
.

O
g
a
n

I
l
i
r

1
2


2


6


4


1
8


3
.
6
8
5
,
3
2


3


5
4
1
,
7
7


3


8
8
1
,
3
6


1


1
.
9
0
0
,
0
9


1
0


1


3
6
2
,
1
0


-


-


-


-


-


-


-

9
6
8
K
a
b
.

O
g
a
n

K
o
m
e
r
i
n
g

I
l
i
r

9


2


4


3


1
0


1
.
3
9
6
,
7
1


1


3
7
,
4
5


1


5
1
0
,
0
0


-


-


6


-


-


-


-


2


8
4
9
,
2
6


-


-


-

1
0
6
9
K
a
b
.

O
g
a
n

K
o
m
e
r
i
n
g

U
l
u

6


1


4


1


2
0


2
9
.
5
7
9
,
7
0


5


2
.
7
6
8
,
0
3


1


2
5
.
1
2
6
,
9
1


3


1
0
8
,
5
4


8


2


4
6
7
,
1
6


-


-


1


1
.
1
0
9
,
0
5


2
.
3
4
5
,
4
9


-


-

1
1
7
0
K
a
b
.

O
g
a
n

K
o
m
e
r
i
n
g

U
l
u

S
e
l
a
t
a
n

6


3


3


-


1
3


5
2
4
,
3
7


6


4
8
8
,
3
3


-


-


1


3
6
,
0
4


6


-


-


-


-


-


-


1
6
5
,
7
8


-


-

1
2
7
1
K
a
b
.

O
g
a
n

K
o
m
e
r
i
n
g

U
l
u

T
i
m
u
r

7


5


1


1


1
5


1
.
6
5
5
,
2
0


1


5
4
6
,
2
7


-


-


3


5
4
,
4
4


9


1


2
6
0
,
2
5


-


-


1


7
9
4
,
2
3


-


-


-

1
3
7
2
K
o
t
a

L
u
b
u
k
l
i
n
g
g
a
u

1
0


4


3


3


1
4


2
.
9
8
9
,
4
4


3


8
7
5
,
4
9


-


-


-


-


7


1


7
9
1
,
2
3


-


-


3


1
.
3
2
2
,
7
1


5
7
9
,
7
3


-


-

1
4
7
3
K
o
t
a

P
a
g
a
r
a
l
a
m

1
2


7


5


-


2
8


3
.
4
5
2
,
4
7


5


1
.
3
1
8
,
3
2


2


1
.
0
7
0
,
5
9


4


6
6
9
,
0
7


1
5


1


2
6
,
4
4


-


-


1


3
6
8
,
0
4


1
.
3
1
8
,
3
2


7
5
0
,
0
0


1
9
2
,
3
2

1
5
7
4
K
o
t
a

P
a
l
e
m
b
a
n
g

7


2


3


2


1
1


1
.
3
9
8
,
9
8


1


1
7
6
,
7
9


-


-


2


1
.
2
2
2
,
1
9


8


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
6
7
5
K
o
t
a

P
r
a
b
u
m
u
l
i
h

9


5


2


2


9


3
1
5
,
3
1


-


-


-


-


1


5
4
,
6
9


6


-


-


-


-


2


2
6
0
,
6
2


-


-


-

7
Þ
r
o
v
.

8
e
n
g
k
u
|
u

5
3


2
1


2
2


1
0


1
2
3


S
0
.
8
7
2
,
8
3


3
8


8
.
7
7
6
,
3
1


5


3
.
2
S
1
,
6
3


2
6


1
6
.
4
6
8
,
0
3


4
0


3


8
1
,
9
3


-


-


1
1


2
2
.
2
9
4
,
9
1


S
6
2
,
7
6


-


1
2
7
,
8
0

1
7
6
P
r
o
v
.

B
e
n
g
k
u
l
u

8


2


5


1


1
2


4
.
4
0
1
,
2
3


5


1
.
4
3
7
,
4
0


-


-


1


3
7
2
,
0
0


4


1


1
8
,
9
1


-


-


1


2
.
5
7
2
,
9
2


3
6
,
6
9


-


-

2
7
7
K
a
b
.

B
e
n
g
k
u
l
u

S
e
l
a
t
a
n

6


2


3


1


9


2
.
1
9
5
,
5
1


-


-


-


-


2


2
.
0
6
2
,
5
7


5


1


1
5
,
0
0


-


-


1


1
1
7
,
9
3


-


-


-

3
7
8
K
a
b
.

B
e
n
g
k
u
l
u

T
e
n
g
a
h

2


1


1


-


8


9
.
3
0
8
,
5
2


2


1
4
9
,
1
1


-


-


3


9
.
1
5
9
,
4
0


3


-


-


-


-


-


-


2
5
,
7
1


-


-

4
7
9
K
a
b
.

B
e
n
g
k
u
l
u

U
t
a
r
a

8


3


4


1


1
3


6
.
3
4
1
,
5
6


3


1
6
9
,
4
1


1


1
3
1
,
7
9


6


9
8
9
,
8
1


2


-


-


-


-


1


5
.
0
5
0
,
5
3


-


-


4
,
3
0

5
8
0
K
a
b
.

K
a
u
r

2


1


1


-


5


1
.
5
7
9
,
4
1


-


-


1


1
.
4
1
2
,
3
4


1


1
6
7
,
0
7


2


-


-


-


-


1


-


-


-


1
2
3
,
5
0

6
8
1
K
a
b
.

K
e
p
a
h
i
a
n
g

4


2


2


-


1
4


4
.
8
6
0
,
5
6


6


4
.
1
3
6
,
5
3


-


-


1


5
3
2
,
5
2


6


-


-


-


-


1


1
9
1
,
5
0


-


-


-

7
8
2
K
a
b
.

L
e
b
o
n
g

7


4


2


1


1
0


2
.
2
9
9
,
0
8


2


5
4
7
,
7
1


1


2
8
,
0
1


2


1
.
4
1
8
,
5
8


4


-


-


-


-


1


3
0
4
,
7
7


-


-


-

8
8
3
K
a
b
.

M
u
k
o
m
u
k
o

5


2


2


1


1
6


2
.
6
1
3
,
8
9


6


2
9
8
,
6
1


1


1
.
6
0
9
,
4
8


3


7
0
5
,
8
0


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

9
8
4
K
a
b
.

R
e
j
a
n
g

L
e
b
o
n
g

2


1


1


-


1
7


7
.
9
5
1
,
4
8


2


5
4
,
2
6


1


6
9
,
9
9


3


1
3
0
,
6
6


7


-


-


-


-


4


7
.
6
9
6
,
5
5


-


-


-

1
0
8
5
K
a
b
.

S
e
l
u
m
a

5


2


-


3


9


7
.
5
6
6
,
2
4


3


2
3
6
,
1
5


-


-


3


9
2
1
,
3
8


1


1


4
8
,
0
1


-


-


1


6
.
3
6
0
,
6
8


-


-


-

1
1
8
6
K
o
t
a

B
e
n
g
k
u
l
u

4


1


1


2


1
0


1
.
7
5
5
,
2
8


9


1
.
7
4
7
,
1
0


-


-


1


8
,
1
8


-


-


-


-


-


-


-


5
0
0
,
3
5


-


-

8
Þ
r
o
v
.

L
a
m
p
u
n
g

1
3
7


6
7


S
0


2
0


1
3
6


1
7
6
.
9
9
4
,
4
1


2
3


8
.
7
0
S
,
2
7


1
2


1
2
S
.
9
3
S
,
4
6


2
8


1
1
.
4
9
3
,
7
3


5
3


8


1
4
.
4
1
8
,
9
S


-


-


1
2


1
6
.
4
4
0
,
9
7


2
.
0
1
7
,
S
8


-


3
2
,
4
0

1
8
7
P
r
o
v
.

L
a
m
p
u
n
g

1
2


7


4


1


1
3


1
5
.
3
3
6
,
4
2


4


4
.
4
6
8
,
0
9


1


1
.
4
1
5
,
0
0


3


2
.
1
6
9
,
6
0


3


2


7
.
2
8
3
,
7
2


-


-


-


-


-


-


-

2
8
8
K
a
b
.

L
a
m
p
u
n
g

B
a
r
a
t

1
0


3


7


-


6


1
.
3
7
8
,
0
8


1


1
4
2
,
5
3


-


-


3


7
8
2
,
4
4


1


-


-


-


-


1


4
5
3
,
1
0


1
4
2
,
5
3


-


1
7
,
4
7

3
8
9
K
a
b
.

L
a
m
p
u
n
g

S
e
l
a
t
a
n

1
2


5


6


1


7


6
.
8
3
7
,
3
1


1


1
3
,
3
1


-


-


1


6
5
8
,
6
7


4


-


-


-


-


1


6
.
1
6
5
,
3
2


-


-


-

28
n
a
|
a
m
a
n

4

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
4
9
0
K
a
b
.

L
a
m
p
u
n
g

T
e
n
g
a
h

7


6


-


1


1
1


5
.
4
7
0
,
4
4


3


7
4
6
,
9
2


2


2
.
9
3
9
,
3
2


2


7
6
7
,
2
2


3


-


-


-


-


1


1
.
0
1
6
,
9
6


1
6
0
,
9
5


-


-

5
9
1
K
a
b
.

L
a
m
p
u
n
g

T
i
m
u
r

8


4


3


1


1
2


1
1
8
.
0
5
9
,
3
8


2


1
2
1
,
7
6


2


1
1
1
.
5
8
8
,
7
8


2


7
0
8
,
2
6


3


2


3
.
9
1
8
,
2
5


-


-


1


1
.
7
2
2
,
3
0


-


-


-

6
9
2
K
a
b
.

L
a
m
p
u
n
g

U
t
a
r
a

1
2


7


3


2


1
1


2
.
1
7
1
,
8
6


1


1
.
7
1
4
,
0
9


-


-


1


2
1
1
,
7
6


8


-


-


-


-


1


2
4
6
,
0
0


1
.
7
1
4
,
0
9


-


-

7
9
3
K
a
b
.

M
e
s
u
j
i

9


3


3


3


1
1


1
.
3
5
4
,
8
3


1


5
7
8
,
9
6


-


-


1


4
3
2
,
4
7


8


1


3
4
3
,
3
9


-


-


-


-


-


-


-

8
9
4
K
a
b
.

P
e
s
a
w
a
r
a
n

7


5


2


-


1
3


2
.
3
1
4
,
5
0


2


2
5
5
,
4
6


1


2
0
5
,
9
6


2


2
6
5
,
8
9


6


1


1
.
5
8
7
,
1
7


-


-


1


-


-


-


-

9
9
5
K
a
b
.

P
r
i
n
g
s
e
w
u

1
1


6


2


3


8


1
.
1
5
5
,
9
9


4


3
8
8
,
9
7


-


-


2


7
6
7
,
0
1


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
0
9
6
K
a
b
.

T
a
n
g
g
a
m
u
s

6


4


1


1


6


2
7
7
,
1
3


-


-


1


1
5
4
,
4
8


2


1
2
2
,
6
5


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
1
9
7
K
a
b
.

T
u
l
a
n
g

B
a
w
a
n
g

6


2


3


1


3


5
7
,
0
5


-


-


-


-


2


5
7
,
0
5


1


-


-


-


-


-


-


-


-


1
4
,
9
3

1
2
9
8
K
a
b
.

T
u
l
a
n
g

B
a
w
a
n
g

B
a
r
a
t

9


2


4


3


8


7
.
4
6
2
,
3
1


1


4
3
,
9
3


2


7
.
1
3
5
,
7
7


1


2
8
2
,
6
0


4


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
3
9
9
K
a
b
.

W
a
y

K
a
n
a
n

1
1


5


4


2


9


1
0
.
5
4
4
,
2
6


1


2
2
3
,
9
9


1


4
6
5
,
8
2


3


2
.
4
8
8
,
7
9


1


1


1
.
0
0
6
,
8
0


-


-


2


6
.
3
5
8
,
8
5


-


-


-

1
4
1
0
0
K
o
t
a

B
a
n
d
a
r

L
a
m
p
u
n
g

1
1


6


5


-


1
1


3
.
7
0
6
,
3
3


-


-


1


1
.
3
6
9
,
9
8


3


1
.
7
7
9
,
2
6


4


1


2
7
9
,
5
9


-


-


2


2
7
7
,
4
8


-


-


-

1
5
1
0
1
K
o
t
a

M
e
t
r
o

6


2


3


1


7


8
6
8
,
4
6


2


7
,
2
0


1


6
6
0
,
3
1


-


-


2


-


-


-


-


2


2
0
0
,
9
4


-


-


-

9
Þ
r
o
v
.

k
e
p
.

8
a
n
g
k
a

8
e
|
|
t
u
n
g

6
9


3
1


2
6


1
2


7
7


1
9
2
.
2
9
0
,
4
9


1
3


1
.
3
4
9
,
0
2


7


1
7
8
.
6
8
7
,
2
8


1
2


2
.
2
9
7
,
0
2


4
3


-


-


-


-


2


9
.
9
S
7
,
1
S


-


-


0
,
8
8

1
1
0
2
P
r
o
v
.

K
e
p
.

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g

8


5


2


1


9


7
0
,
7
7


2


3
0
,
6
0


-


-


1


4
0
,
1
7


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
1
0
3
K
a
b
.

B
a
n
g
k
a

6


3


3


-


1
0


2
.
9
8
6
,
3
2


1


9
,
3
8


1


2
.
4
2
4
,
2
4


2


5
5
2
,
6
9


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
1
0
4
K
a
b
.

B
a
n
g
k
a

B
a
r
a
t

1
0


4


3


3


7


1
8
0
.
3
9
7
,
4
9


1


2
0
,
8
0


1


1
7
0
.
4
3
1
,
2
0


1


2
,
9
3


3


-


-


-


-


1


9
.
9
4
2
,
5
5


-


-


-

4
1
0
5
K
a
b
.

B
a
n
g
k
a

S
e
l
a
t
a
n

1
0


4


3


3


1
1


1
.
7
3
0
,
0
2


4


4
8
3
,
6
6


-


-


2


1
.
2
4
6
,
3
5


5


-


-


-


-


-


-


-


-


0
,
8
8

5
1
0
6
K
a
b
.

B
a
n
g
k
a

T
e
n
g
a
h

6


1


3


2


1
1


1
8
1
,
4
7


1


6
0
,
1
7


2


1
1
2
,
9
7


1


8
,
3
3


7


-


-


-


-


-


-


-


-


-

6
1
0
7
K
a
b
.

B
e
l
i
t
u
n
g

9


4


3


2


9


5
.
1
1
2
,
9
3


1


1
2
2
,
0
9


1


4
.
9
5
9
,
6
1


2


3
1
,
2
2


5


-


-


-


-


-


-


-


-


-

7
1
0
8
K
a
b
.

B
e
l
i
t
u
n
g

T
i
m
u
r

7


2


5


-


1
0


1
.
3
2
2
,
8
3


2


5
7
1
,
1
1


1


4
8
8
,
2
9


1


2
4
8
,
8
3


5


-


-


-


-


1


1
4
,
5
9


-


-


-

8
1
0
9
K
o
t
a

P
a
n
g
k
a
l
p
i
n
a
n
g

1
3


8


4


1


1
0


4
8
8
,
6
3


1


5
1
,
1
9


1


2
7
0
,
9
6


2


1
6
6
,
4
8


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
0
Þ
r
o
v
.

k
e
p
.

k
|
a
u

9
2


2
3


5
3


1
6


1
1
3


7
7
9
.
4
1
0
,
9
1


3
2


9
.
4
9
0
,
4
7


4


4
8
.
6
9
6
,
3
0


1
2


1
.
6
6
1
,
0
6


4
9


3


2
7
6
,
2
4


-


-


1
3


7
1
9
.
2
8
6
,
8
2


4
3
S
,
S
1


-


-

1
1
1
0
P
r
o
v
.

K
e
p
.

R
i
a
u

1
3


4


8


1


1
8


7
1
9
.
7
1
8
,
9
5


5


4
4
0
,
2
8


2


1
.
0
7
1
,
4
9


-


-


2


1


1
2
2
,
0
4


-


-


8


7
1
8
.
0
8
5
,
1
3


3
7
8
,
1
7


-


-

2
1
1
1
K
a
b
.


B
i
n
t
a
n

1
0


3


5


2


1
2


2
8
4
,
1
1


3


2
6
6
,
8
3


-


-


2


1
7
,
2
7


6


-


-


-


-


1


-


-


-


-

3
1
1
2
K
a
b
.


K
a
r
i
m
u
n

1
1


2


8


1


1
7


4
8
.
8
6
1
,
8
5


5


2
8
4
,
4
8


2


4
7
.
6
2
4
,
8
1


2


7
9
8
,
3
5


7


1


1
5
4
,
2
0


-


-


-


-


4
5
,
8
2


-


-

4
1
1
3
K
a
b
.


K
e
p
.

A
n
a
m
b
a
s

1
1


1


8


2


1
5


3
5
0
,
4
1


6


2
4
2
,
5
1


-


-


2


1
0
7
,
9
0


6


-


-


-


-


1


-


-


-


-

5
1
1
4
K
a
b
.


L
i
n
g
g
a

1
1


4


5


2


1
6


1
9
2
,
7
8


6


1
9
2
,
7
8


-


-


-


-


8


-


-


-


-


2


-


1
1
,
5
0


-


-

6
1
1
5
K
a
b
.


N
a
t
u
n
a

1
6


5


8


3


1
6


8
.
2
0
5
,
7
5


6


6
.
9
6
1
,
0
2


-


-


1


4
3
,
0
4


8


-


-


-


-


1


1
.
2
0
1
,
6
9


-


-


-

7
1
1
6
K
o
t
a

T
a
n
j
u
n
g
p
i
n
a
n
g

2
0


4


1
1


5


1
9


1
.
7
9
7
,
0
2


1


1
.
1
0
2
,
5
4


-


-


5


6
9
4
,
4
8


1
2


1


-


-


-


-


-


-


-


-

1
1
Þ
r
o
v
.

D
k
I

I
a
k
a
r
t
a

4
8


2
3


1
0


1
5


7
1


1
6
.
4
4
S
,
4
4


3
1


S
.
3
9
1
,
0
0


1
3


6
.
2
1
4
,
3
8


8


4
.
7
4
6
,
S
0


1
6


1


9
3
,
S
S


-


-


2


-


3
.
1
6
1
,
2
0


2
.
2
7
6
,
1
6


4
1
2
,
S
0

1
1
1
7
P
r
o
v
.

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

4
8


2
3


1
0


1
5


7
1


1
6
.
4
4
5
,
4
4


3
1


5
.
3
9
1
,
0
0


1
3


6
.
2
1
4
,
3
8


8


4
.
7
4
6
,
5
0


1
6


1


9
3
,
5
5


-


-


2


-


3
.
1
6
1
,
2
0


2
.
2
7
6
,
1
6


4
1
2
,
5
0

29
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

S

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
1
2
Þ
r
o
v
.

I
a
w
a

8
a
r
a
t

2
1
6


1
0
S


7
8


3
3


3
6
1


1
.
3
7
7
.
7
4
2
,
1
4


1
1
8


2
3
.
3
6
2
,
7
4


2
8


1
.
3
0
4
.
4
1
S
,
2
1


5
1


2
9
.
6
S
7
,
6
9


1
3
6


2
1


1
4
.
3
4
1
,
2
8


-


-


7


S
.
9
6
S
,
2
0


2
.
8
6
2
,
8
2


1
1
6
,
8
0


1
.
9
3
S
,
6
7

1
1
1
8
P
r
o
v

J
a
w
a

B
a
r
a
t

1
0


7


2


1


1
7


4
9
.
3
7
4
,
7
9


4


2
0
7
,
7
2


2


3
9
.
0
1
8
,
0
6


5


1
0
.
0
2
5
,
2
5


4


2


1
2
3
,
7
4


-


-


-


-


1
1
8
,
1
7


-


-

2
1
1
9
K
a
b
.

B
a
n
d
u
n
g

6


2


4


-


1
6


4
.
0
0
5
,
6
6


9


2
.
1
4
6
,
3
9


-


-


2


1
.
6
0
1
,
5
9


3


1


6
0
,
9
7


-


-


1


1
9
6
,
7
0


6
0
,
3
0


-


1
.
5
9
0
,
0
9

3
1
2
0
K
a
b
.

B
a
n
d
u
n
g

B
a
r
a
t

1
2


9


2


1


8


1
4
.
8
8
3
,
8
2


3


3
7
8
,
5
5


1


1
4
.
3
6
5
,
3
6


2


1
3
9
,
8
9


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

4
1
2
1
K
a
b
.

B
e
k
a
s
i

6


3


2


1


1
6


5
.
0
8
6
,
1
1


7


3
6
6
,
5
1


2


4
.
6
9
9
,
5
4


1


2
0
,
0
5


5


-


-


-


-


1


-


-


-


2
0
,
0
5

5
1
2
2
K
a
b
.

B
o
g
o
r

6


2


3


1


1
6


4
9
.
4
0
1
,
9
6


3


2
4
7
,
3
5


3


4
7
.
6
2
6
,
8
3


3


1
.
4
9
9
,
9
7


6


1


2
7
,
8
0


-


-


-


-


-


-


-

6
1
2
3
K
a
b
.

C
i
a
m
i
s

7


1


3


3


7


2
.
2
1
8
,
9
8


1


2
.
2
1
8
,
9
8


-


-


-


-


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

7
1
2
4
K
a
b
.

C
i
a
n
j
u
r

5


3


1


1


9


1
.
9
7
7
,
7
6


3


1
8
3
,
7
1


1


2
7
9
,
8
2


3


1
.
5
1
4
,
2
2


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

8
1
2
5
K
a
b
.

C
i
r
e
b
o
n

5


4


1


-


1
1


4
.
4
5
0
,
3
1


5


7
5
9
,
9
4


1


1
6
6
,
9
5


1


2
2
,
3
7


1


3


3
.
5
0
1
,
0
4


-


-


-


-


-


-


-

9
1
2
6
K
a
b
.

G
a
r
u
t

1
0


5


5


-


1
6


6
.
6
1
0
,
9
6


7


1
.
7
1
5
,
9
8


2


3
.
8
7
2
,
5
5


1


1
7
3
,
6
9


5


1


8
4
8
,
7
2


-


-


-


-


6
5
,
0
0


5
4
,
8
0


-

1
0
1
2
7
K
a
b
.

I
n
d
r
a
m
a
y
u

1
0


3


5


2


1
3


5
.
0
8
9
,
8
4


1


1
8
7
,
6
5


2


4
.
8
6
3
,
0
2


1


3
9
,
1
5


9


-


-


-


-


-


-


7
,
8
4


-


-

1
1
1
2
8
K
a
b
.

K
a
r
a
w
a
n
g

6


3


1


2


1
2


1
0
2
.
9
3
4
,
0
7


2


6
0
5
,
8
2


1


9
9
.
4
8
9
,
0
1


3


2
.
8
3
9
,
2
2


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
2
1
2
9
K
a
b
.

K
u
n
i
n
g
a
n

6


2


2


2


1
0


1
.
1
4
8
,
5
1


3


8
5
8
,
9
5


1


1
9
5
,
0
1


1


9
4
,
5
4


5


-


-


-


-


-


-


1
7
1
,
2
3


-


-

1
3
1
3
0
K
a
b
.

M
a
j
a
l
e
n
g
k
a

5


4


1


-


1
1


1
.
8
1
6
,
1
5


2


5
3
9
,
6
9


1


1
8
1
,
0
0


2


1
.
0
9
5
,
4
6


6


-


-


-


-


-


-


-


6
2
,
0
0


-

1
4
1
3
1
K
a
b
.

P
u
r
w
a
k
a
r
t
a

3


2


1


-


1
3


3
.
9
7
0
,
3
1


7


1
.
4
1
8
,
5
8


-


-


2


1
.
2
2
2
,
2
6


2


1


2
3
1
,
0
0


-


-


1


1
.
0
9
8
,
4
7


-


-


-

1
5
1
3
2
K
a
b
.

S
u
b
a
n
g

1
1


2


6


3


1
5


1
4
.
2
9
4
,
2
5


3


6
4
4
,
4
9


1


7
.
4
5
5
,
8
8


4


4
.
4
2
7
,
1
8


5


1


2
7
3
,
4
6


-


-


1


1
.
4
9
3
,
2
2


-


-


-

1
6
1
3
3
K
a
b
.

S
u
k
a
b
u
m
i

8


4


2


2


1
9


2
4
.
1
3
7
,
8
2


8


2
.
5
9
7
,
2
5


2


2
1
.
1
6
6
,
0
6


3


3
7
4
,
4
9


6


-


-


-


-


-


-


8
5
4
,
6
3


-


5
0
,
2
6

1
7
1
3
4
K
a
b
.

S
u
m
e
d
a
n
g

5


3


2


-


1
0


5
5
9
,
3
4


7


4
9
1
,
1
5


-


-


2


6
8
,
1
9


1


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
8
1
3
5
K
a
b
.

T
a
s
i
k
m
a
l
a
y
a

8


4


2


2


1
4


7
.
1
4
3
,
5
6


6


1
.
7
3
0
,
2
4


-


-


1


3
0
,
1
3


5


2


5
.
3
8
3
,
1
7


-


-


-


-


-


-


-

1
9
1
3
6
K
o
t
a

B
a
n
d
u
n
g

1
3


1
0


3


-


2
8


5
.
6
6
4
,
7
5


1
1


1
.
1
2
9
,
0
4


-


-


3


3
.
4
1
5
,
3
5


8


5


1
.
1
0
3
,
5
5


-


-


1


1
6
,
8
0


5
3
5
,
6
8


-


2
7
5
,
2
5

2
0
1
3
7
K
o
t
a

B
a
n
j
a
r

8


4


3


1


8


6
2
4
,
5
9


3


4
9
2
,
9
2


-


-


1


1
3
1
,
6
7


4


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
1
1
3
8
K
o
t
a

B
e
k
a
s
i

8


4


4


-


2
0


2
1
.
6
9
9
,
7
1


3


2
5
2
,
2
7


3


2
1
.
3
4
4
,
5
0


1


5
9
,
7
2


1
2


1


4
3
,
2
0


-


-


-


-


-


-


-

2
2
1
3
9
K
o
t
a

B
o
g
o
r

8


5


1


2


9


8
.
6
1
1
,
8
2


4


7
4
2
,
8
2


1


7
.
8
6
0
,
6
9


1


8
,
3
0


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
3
1
4
0
K
o
t
a

C
i
m
a
h
i

6


2


3


1


1
2


2
.
8
5
8
,
9
3


5


3
0
3
,
2
5


1


2
.
0
0
1
,
5
0


2


5
5
4
,
1
7


4


-


-


-


-


-


-


5
5
,
0
0


-


-

2
4
1
4
1
K
o
t
a

C
i
r
e
b
o
n

5


4


1


-


1
0


5
.
8
1
9
,
6
2


3


5
1
3
,
6
7


-


-


2


1
3
6
,
2
0


3


1


2
.
3
5
9
,
4
4


-


-


1


2
.
8
1
0
,
3
0


-


-


-

2
5
1
4
2
K
o
t
a

D
e
p
o
k

4


2


2


-


3


2
4
,
1
2


1


2
4
,
1
2


-


-


-


-


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
6
1
4
3
K
o
t
a

S
u
k
a
b
u
m
i

2
3


6


1
2


5


2
9


1
.
0
3
3
.
2
7
0
,
3
9


6


2
.
5
4
1
,
6
6


3


1
.
0
2
9
.
8
2
9
,
3
4


4


1
6
4
,
5
0


1
3


2


3
8
5
,
1
6


-


-


1


3
4
9
,
7
1


9
9
4
,
9
4


-


-

2
7
1
4
4
K
o
t
a

T
a
s
i
k
m
a
l
a
y
a

1
2


5


4


3


9


6
3
,
8
9


1


6
3
,
8
9


-


-


-


-


8


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
3
Þ
r
o
v
.

I
a
w
a

1
e
n
g
a
h

2
8
4


1
2
9


1
1
3


4
2


3
1
9


7
0
.
1
1
9
,
4
4


3
6


4
.
4
7
S
,
4
6


2
1


1
9
.
7
S
1
,
3
4


6
6


3
4
.
4
9
8
,
9
8


1
6
8


9


2
.
8
2
0
,
8
4


-


-


1
9


8
.
S
7
2
,
8
0


8
S
8
,
7
3


-


6
8
9
,
7
2

1
1
4
5
P
r
o
v
.

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h

8


4


1


3


9


7
.
0
5
5
,
1
3


3


3
4
6
,
4
9


2


2
.
1
7
1
,
5
4


1


4
.
4
1
7
,
1
4


2


1


1
1
9
,
9
4


-


-


-


-


3
4
9
,
8
2


-


-

2
1
4
6
K
a
b
.

B
a
n
j
a
r
n
e
g
a
r
a

6


3


3


-


1
4


4
.
8
8
4
,
1
0


1


1
.
8
2
7
,
5
9


-


-


5


3
.
0
5
6
,
5
0


8


-


-


-


-


-


-


-


-


8
,
0
0

3
1
4
7
K
a
b
.

B
a
n
y
u
m
a
s

4


3


1


-


1
0


9
9
2
,
0
5


2


4
8
,
4
6


1


6
3
0
,
7
8


2


3
1
2
,
8
0


5


-


-


-


-


-


-


4
8
,
4
6


-


-

4
1
4
8
K
a
b
.

B
a
t
a
n
g

9


2


6


1


4


-


-


-


-


-


-


-


4


-


-


-


-


-


-


-


-


-

5
1
4
9
K
a
b
.

B
l
o
r
a

8


3


4


1


1
2


1
0
.
8
3
5
,
2
7


1


1
9
,
8
2


-


-


5


1
0
.
8
1
5
,
4
5


6


-


-


-


-


-


-


1
9
,
8
2


-


1
5
,
9
4

30
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

6

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
6
1
5
0
K
a
b
.

B
o
y
o
l
a
l
i

6


3


2


1


6


2
.
1
7
9
,
5
8


-


-


-


-


2


1
1
,
2
7


3


-


-


-


-


1


2
.
1
6
8
,
3
1


-


-


0
,
7
4

7
1
5
1
K
a
b
.

B
r
e
b
e
s

9


3


3


3


5


4
4
5
,
4
2


1


9
0
,
4
3


1


2
9
6
,
2
2


1


5
8
,
7
6


2


-


-


-


-


-


-


9
0
,
4
3


-


1
2
,
3
9

8
1
5
2
K
a
b
.

C
i
l
a
c
a
p

1
1


6


5


-


2
0


7
2
4
,
1
1


2


1
9
0
,
4
8


2


1
6
,
4
5


5


2
4
4
,
3
7


1
0


1


2
7
2
,
8
0


-


-


-


-


6
,
1
2


-


3
,
3
8

9
1
5
3
K
a
b
.

D
e
m
a
k

9


5


2


2


1
0


4
0
5
,
0
3


1


1
0
1
,
6
5


1


6
7
,
2
0


3


3
7
,
2
2


3


2


1
9
8
,
9
5


-


-


-


-


-


-


-

1
0
1
5
4
K
a
b
.

G
r
o
b
o
g
a
n

1
0


4


4


2


8


8
7
0
,
5
3


-


-


1


4
2
,
3
9


1


4
9
5
,
4
9


3


2


1
5
1
,
4
9


-


-


1


1
8
1
,
1
4


-


-


-

1
1
1
5
5
K
a
b
.

J
e
p
a
r
a

5


1


3


1


3


1
6
,
7
1


2


1
3
,
4
1


-


-


-


-


-


-


-


-


-


1


3
,
2
9


1
3
,
4
1


-


-

1
2
1
5
6
K
a
b
.

K
a
r
a
n
g
a
n
y
a
r

6


4


1


1


2
2


7
3
7
,
6
6


4


4
2
,
4
7


-


-


3


2
2
8
,
2
5


1
2


-


-


-


-


3


4
6
6
,
9
3


-


-


-

1
3
1
5
7
K
a
b
.

K
e
b
u
m
e
n

1
2


6


6


-


9


6
9
4
,
0
8


-


-


-


-


2


6
9
4
,
0
8


7


-


-


-


-


-


-


-


-


1
2
,
0
6

1
4
1
5
8
K
a
b
.

K
e
n
d
a
l

4


3


1


-


8


5
.
2
3
3
,
4
4


2


7
7
4
,
7
9


1


3
.
6
5
9
,
1
5


1


7
9
9
,
4
9


4


-


-


-


-


-


-


3
3
,
5
0


-


-

1
5
1
5
9
K
a
b
.

K
l
a
t
e
n

8


3


3


2


9


2
.
4
1
4
,
3
4


1


8
7
,
9
9


-


-


2


3
5
2
,
0
0


5


1


1
.
9
7
4
,
3
4


-


-


-


-


2
4
,
0
0


-


-

1
6
1
6
0
K
a
b
.

K
u
d
u
s

7


2


3


2


6


2
.
3
9
5
,
2
4


-


-


1


-


4


2
.
3
9
5
,
2
4


1


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
7
1
6
1
K
a
b
.

M
a
g
e
l
a
n
g

8


3


5


-


4


8
6
9
,
9
7


-


-


-


-


1


8
6
9
,
9
7


3


-


-


-


-


-


-


-


-


3
,
9
3

1
8
1
6
2
k
a
b
.

Þ
a
u

5


3


1


1


1
2


6
.
9
2
2
,
5
9


2


3
2
,
1
8


3


6
.
0
5
3
,
7
3


1


7
9
1
,
7
2


5


-


-


-


-


1


4
4
,
9
4


3
2
,
1
8


-


-

1
9
1
6
3
K
a
b
.

P
e
k
a
l
o
n
g
a
n

1
0


3


6


1


8


3
3
,
7
9


1


3
3
,
7
9


-


-


-


-


6


-


-


-


-


1


-


3
2
,
9
8


-


-

2
0
1
6
4
K
a
b
.

P
e
m
a
l
a
n
g

7


1


4


2


1
0


2
,
6
7


1


2
,
6
7


-


-


-


-


7


-


-


-


-


2


-


-


-


-

2
1
1
6
5
K
a
b
.

P
u
r
b
a
l
i
n
g
g
a

1
0


3


4


3


9


5
8
7
,
5
0


1


2
3
,
4
1


-


-


2


5
6
4
,
0
8


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
2
1
6
6
K
a
b
.

P
u
r
w
o
r
e
j
o

1
0


4


3


3


2
1


5
.
4
4
8
,
9
8


-


-


-


-


6


1
.
0
4
0
,
1
9


1
2


1


3
7
,
8
9


-


-


2


4
.
3
7
0
,
8
8


-


-


5
5
8
,
5
2

2
3
1
6
7
K
a
b
.

R
e
m
b
a
n
g

6


5


1


-


2


2
0
,
0
5


-


-


-


-


1


2
0
,
0
5


1


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
4
1
6
8
K
a
b
.

S
e
m
a
r
a
n
g

9


3


4


2


5


3
1
8
,
1
7


1


3
0
5
,
9
0


1


1
2
,
2
7


-


-


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
5
1
6
9
K
a
b
.

S
r
a
g
e
n

9


3


6


-


1
1


2
.
3
9
3
,
7
4


1


5
9
,
8
5


2


2
.
0
3
7
,
7
3


3


2
9
6
,
1
5


5


-


-


-


-


-


-


5
9
,
8
5


-


0
,
5
3

2
6
1
7
0
K
a
b
.

S
u
k
o
h
a
r
j
o

6


3


2


1


8


6
0
3
,
6
4


-


-


-


-


1


2
7
,
5
6


5


-


-


-


-


2


5
7
6
,
0
8


-


-


-

2
7
1
7
1
K
a
b
.


T
e
g
a
l

5


4


-


1


8


1
.
2
0
3
,
3
9


3


3
1
0
,
4
0


-


-


3


8
9
2
,
9
9


2


-


-


-


-


-


-


-


-


9
,
1
7

2
8
1
7
2
K
a
b
.

T
e
m
a
n
g
g
u
n
g

1
0


6


2


2


9


2
.
1
4
4
,
0
5


-


-


1


5
3
,
4
4


1


2
.
0
9
0
,
6
0


7


-


-


-


-


-


-


-


-


-

2
9
1
7
3
K
a
b
.

W
o
n
o
g
i
r
i

6


2


4


-


4


1
.
9
7
0
,
2
7


-


-


1


-


2


1
.
9
7
0
,
2
7


1


-


-


-


-


-


-


-


-


9
,
5
4

3
0
1
7
4
K
a
b
.

W
o
n
o
s
o
b
o

1
1


4


7


-


9


8
2
4
,
4
0


2


7
,
7
1


-


-


1


5
5
,
4
8


5


-


-


-


-


1


7
6
1
,
2
0


-


-


5
5
,
4
8

3
1
1
7
5
K
o
t
a

M
a
g
e
l
a
n
g

7


3


1


3


7


7
5
,
2
9


-


-


-


-


1


9
,
9
0


5


1


6
5
,
3
9


-


-


-


-


-


-


-

3
2
1
7
6
K
o
t
a

P
e
k
a
l
o
n
g
a
n

8


6


2


-


8


1
.
6
9
1
,
4
9


2


5
,
0
2


1


1
.
5
7
3
,
8
9


1


1
1
2
,
5
6


4


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
3
1
7
7
k
o
L
a

S
a
l
a
u
g
a

9


6


1


2


7


3
.
1
4
4
,
3
6


1


7
,
8
5


2


3
.
1
3
6
,
5
0


-


-


3


-


-


-


-


1


-


5
,
1
1


-


-

3
4
1
7
8
K
o
t
a

S
e
m
a
r
a
n
g

1
3


5


7


1


9


4
7
7
,
9
0


-


-


-


-


2


4
7
7
,
9
0


6


-


-


-


-


1


-


-


-


-

3
5
1
7
9
K
o
t
a

S
u
r
a
k
a
r
t
a

6


3


3


-


6


1
.
1
4
5
,
4
6


1


1
4
2
,
9
9


-


-


1


1
.
0
0
2
,
4
6


3


-


-


-


-


1


-


1
4
3
,
0
0


-


-

3
6
1
8
0
K
o
t
a

T
e
g
a
l

7


4


2


1


7


3
5
8
,
9
1


-


-


-


-


2


3
5
8
,
9
1


4


-


-


-


-


1


-


-


-


-

1
4
Þ
r
o
v
.

D
a
e
r
a
h

I
s
n
m
e
w
a


¥
o
g
y
a
k
a
r
t
a

4
6


1
8


2
S


3


4
4


8
.
6
6
7
,
4
1


7


7
S
0
,
7
0


2


2
.
6
8
0
,
0
0


8


2
.
1
S
6
,
7
1


2
1


-


-


-


-


6


3
.
0
7
9
,
9
9


3
6
,
S
4


-


1
.
1
7
9
,
2
1

1
1
8
1
Þ
r
o
v
.

u
a
e
r
a
h

l
s
u
m
e
w
a

?
o
g
y
a
k
a
r
L
a

4


1


3


-


1
1


2
.
5
2
7
,
0
7


1


2
7
,
0
7


1


2
.
5
0
0
,
0
0


-


-


7


-


-


-


-


2


-


-


-


-

2
1
8
2
K
a
b
.

B
a
n
t
u
l

1
2


6


4


2


7


2
.
6
6
7
,
1
7


2


5
4
,
5
4


-


-


2


7
0
5
,
6
1


2


-


-


-


-


1


1
.
9
0
7
,
0
2


3
6
,
5
4


-


1
9
3
,
5
6

31
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

7

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
3
1
8
3
K
a
b
.

G
u
n
u
n
g

K
i
d
u
l

6


1


5


-


6


1
.
2
6
1
,
5
0


2


6
5
1
,
9
3


-


-


2


2
,
0
7


1


-


-


-


-


1


6
0
7
,
5
0


-


-


-

4
1
8
4
K
a
b
.

K
u
l
o
n

P
r
o
g
o

9


4


4


1


6


1
9
4
,
2
1


-


-


1


1
8
0
,
0
0


1


1
4
,
2
1


4


-


-


-


-


-


-


-


-


1
4
,
2
1

5
1
8
5
K
a
b
.

S
l
e
m
a
n

6


3


3


-


5


4
4
1
,
2
4


-


-


-


-


1


9
,
2
4


3


-


-


-


-


1


4
3
2
,
0
0


-


-


9
,
2
4

6
1
8
6
K
o
t
a

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a

9


3


6


-


9


1
.
5
7
6
,
1
8


2


1
7
,
1
5


-


-


2


1
.
4
2
5
,
5
5


4


-


-


-


-


1


1
3
3
,
4
7


-


-


9
6
2
,
1
8

1
5
Þ
r
o
v
.

I
a
w
a

1
|
m
u
r

3
7
7


1
1
4


1
8
7


7
6


3
8
3


2
0
8
.
1
9
2
,
6
4


8
2


1
6
.
0
0
9
,
1
S


2
2


1
1
1
.
S
2
1
,
7
3


9
2


4
6
.
1
7
S
,
7
9


1
S
6


9


2
.
S
1
0
,
4
4


-


-


2
2


3
1
.
9
7
S
,
S
0


6
.
0
8
S
,
4
1


S
2
,
7
9


2
.
3
0
7
,
7
7

1
1
8
7
P
r
o
v
.

J
a
w
a

T
i
m
u
r

8


1


5


2


9


1
3
9
,
7
3


1


1
6
,
8
8


1


5
2
,
7
9


1


7
0
,
0
5


6


-


-


-


-


-


-


1
6
,
8
8


5
2
,
7
9


7
0
,
0
5

2
1
8
8
K
a
b
.

B
a
n
g
k
a
l
a
n

7


1


5


1


5


5
.
9
8
0
,
9
2


-


-


1


9
7
,
1
7


1


5
.
8
8
3
,
7
5


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
1
8
9
K
a
b
.

B
a
n
y
u
w
a
n
g
i

1
2


3


7


2


1
3


9
.
7
0
8
,
7
2


2


1
9
6
,
6
9


-


-


4


3
6
3
,
4
9


6


-


-


-


-


1


9
.
1
4
8
,
5
3


-


-


-

4
1
9
0
K
a
b
.

B
l
i
t
a
r

1
3


3


7


3


1
9


4
.
2
4
8
,
6
5


5


3
.
0
0
6
,
8
4


1


5
0
,
0
0


3


8
9
9
,
6
8


8


1


2
9
2
,
1
2


-


-


1


-


2
.
5
1
2
,
1
4


-


5
2
,
2
4

5
1
9
1
K
a
b
.

B
o
j
o
n
e
g
o
r
o

1
1


2


6


3


2
0


5
.
3
3
0
,
0
6


8


6
1
1
,
7
7


1


3
.
9
5
6
,
6
2


3


1
5
,
7
4


6


-


-


-


-


2


7
4
5
,
9
1


1
0
3
,
5
7


-


3
,
3
4

6
1
9
2
K
a
b
.

B
o
n
d
o
w
o
s
o

8


1


4


3


1
6


1
.
2
4
1
,
8
0


1


3
6
,
7
3


2


1
.
1
0
1
,
4
0


5


1
0
3
,
6
6


8


-


-


-


-


-


-


3
0
,
1
8


-


2
1
,
7
1

7
1
9
3
K
a
b
.

G
r
e
s
i
k

6


-


6


-


1
0


8
.
4
4
1
,
2
1


1


4
.
0
5
2
,
7
3


-


-


4


4
.
3
8
8
,
4
7


5


-


-


-


-


-


-


-


-


9
1
,
4
5

8
1
9
4
K
a
b
.

J
e
m
b
e
r

1
1


5


2


4


1
3


5
.
1
4
5
,
4
1


2


7
3
,
5
3


2


5
9
,
2
8


3


1
.
7
5
9
,
9
1


3


-


-


-


-


3


3
.
2
5
2
,
6
7


4
,
0
0


-


-

9
1
9
5
K
a
b
.

J
o
m
b
a
n
g

6


2


4


-


1
2


3
0
.
7
3
0
,
3
7


4


7
3
2
,
2
3


4


2
9
.
9
1
2
,
9
6


2


8
5
,
1
7


2


-


-


-


-


-


-


1
9
,
0
0


-


-

1
0
1
9
6
K
a
b
.

K
e
d
i
r
i

7


2


4


1


2


1
4
,
0
7


-


-


-


-


-


-


1


-


-


-


-


1


1
4
,
0
7


-


-


-

1
1
1
9
7
K
a
b
.

L
a
m
o
n
g
a
n

5


2


2


1


4


5
1
9
,
1
7


-


-


-


-


2


5
1
9
,
1
7


2


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
2
1
9
8
K
a
b
.

L
u
m
a
j
a
n
g

5


3


2


-


1
5


1
.
2
9
7
,
2
7


4


3
2
7
,
8
8


-


-


2


6
6
5
,
5
2


8


-


-


-


-


1


3
0
3
,
8
7


-


-


-

1
3
1
9
9
K
a
b
.

M
a
d
i
u
n

9


2


7


-


6


3
.
1
0
6
,
6
9


1


3
1
,
6
9


1


1
.
1
9
6
,
9
9


1


1
.
6
3
8
,
3
5


2


-


-


-


-


1


2
3
9
,
6
4


2
1
,
1
5


-


-

1
4
2
0
0
K
a
b
.

M
a
g
e
t
a
n

8


3


3


2


1
0


2
.
8
7
5
,
5
4


3


1
2
4
,
2
7


1


2
7
5
,
0
0


2


4
2
4
,
2
1


2


-


-


-


-


2


2
.
0
5
2
,
0
5


7
8
,
9
4


-


-

1
5
2
0
1
K
a
b
.

M
a
l
a
n
g

1
6


5


1
1


-


1
7


2
.
8
2
0
,
7
5


2


1
1
4
,
9
5


1


2
.
1
1
8
,
5
1


6


3
0
5
,
2
1


7


-


-


-


-


1


2
8
2
,
0
8


1
1
4
,
9
5


-


6
2
,
2
9

1
6
2
0
2
K
a
b
.

M
o
j
o
k
e
r
t
o

1
0


6


3


1


5


1
.
8
0
4
,
5
4


-


-


-


-


1


1
.
4
2
3
,
8
3


3


-


-


-


-


1


3
8
0
,
7
0


-


-


-

1
7
2
0
3
K
a
b
.

N
g
a
n
j
u
k

1
0


4


4


2


9


2
9
5
,
5
9


5


1
2
5
,
7
7


-


-


1


1
6
9
,
8
1


3


-


-


-


-


-


-


5
2
,
1
8


-


-

1
8
2
0
4
K
a
b
.

N
g
a
w
i

9


4


2


3


1
1


6
.
3
2
3
,
0
6


3


9
3
6
,
5
9


-


-


3


5
.
3
8
6
,
4
6


5


-


-


-


-


-


-


-


-


-

1
9
2
0
5
K
a
b
.

P
a
c
i
t
a
n

1
0


4


4


2


8


3
1
1
,
7
6


1


5
0
,
6
6


-


-


2


1
6
1
,
0
9


4


-


-


-


-


1


1
0
0
,
0
0


5
0
,
6
6


-


-

2
0
2
0
6
K
a
b
.

P
a
m
e
k
a
s
a
n

7


-


6


1


4


2
3
6
,
9
8


2


2
3
6
,
9
8


-


-


-


-


2


-


-


-


-


-


-


2
3
6
,
9
8


-


-

2
1
2
0
7
K
a
b
.

P
a
s
u
r
u
a
n

1
0


1


7


2


3


1
1
5
,
8
7


1


1
0
6
,
1
5


-


-


1


9
,
7
1


1


-


-


-


-


-


-


-


-


9
,
7
1

2
2
2
0
8
K
a
b
.

P
o
n
o
r
o
g
o

8


2


3


3


1
8


2
.
8
0
6
,
2
5


6


1
.
4
1
1
,
9
2


-


-


6


1
.
3
2
1
,
8
2


5


1


7
2
,
5
0


-


-


-


-


3
8
9
,
3
9


-


7
9
7
,
3
8

2
3
2
0
9
K
a
b
.

P
r
o
b
o
l
i
n
g
g
o

1
0


1


6


3


1
1


1
1
.
0
7
0
,
7
2


2


2
2
9
,
1
7


-


-


2


9
2
5
,
3
4


4


-


-


-


-


3


9
.
9
1
6
,
2
0


2
2
9
,
1
7


-


3
5
1
,
4
9

2
4
2
1
0
K
a
b
.

S
a
m
p
a
n
g

8


4


3


1


1
0


7
.
5
7
6
,
6
4


2


1
0
7
,
7
8


1


6
.
7
6
9
,
6
9


5


6
7
0
,
4
1


1


-


-


-


-


1


2
8
,
7
4


1
0
7
,
7
8


-


1
5
8
,
5
6

2
5
2
1
1
K
a
b
.

S
i
d
o
a
r
j
o

1
9


1
0


7


2


1
0


3
.
1
9
2
,
1
7


-


-


-


-


3


2
.
8
0
3
,
8
7


6


1


3
8
8
,
3
0


-


-


-


-


-


-


-

2
6
2
1
2
K
a
b
.

S
i
t
u
b
o
n
d
o

8


1


5


2


1
5


4
8
7
,
2
2


5


8
3
,
1
2


-


-


5


4
0
4
,
1
0


5


-


-


-


-


-


-


2
1
,
1
7


-


2
8
9
,
2
9

2
7
2
1
3
K
a
b
.

S
u
m
e
n
e
p

6


2


2


2


4


4
0
.
8
4
6
,
6
0


-


-


1


4
0
.
0
0
0
,
0
0


-


-


2


-


-


-


-


1


8
4
6
,
6
0


-


-


-

2
8
2
1
4
K
a
b
.

T
r
e
n
g
g
a
l
e
k

1
7


7


6


4


1
0


2
.
6
3
5
,
9
5


1


5
,
8
9


-


-


5


2
.
6
3
0
,
0
5


4


-


-


-


-


-


-


5
,
8
9


-


3
7
,
3
2

2
9
2
1
5
K
a
b
.

T
u
b
a
n

7


3


3


1


1
1


4
.
7
7
2
,
1
8


3


4
1
9
,
2
4


1


2
.
8
1
1
,
3
3


4


1
.
4
6
6
,
1
8


2


1


7
5
,
4
2


-


-


-


-


1
0
0
,
2
1


-


2
1
6
,
2
4

32
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

8

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
3
0
2
1
6
K
a
b
.

T
u
l
u
n
g
a
g
u
n
g

8


3


3


2


9


3
.
0
5
0
,
2
4


1


1
7
8
,
2
5


1


2
.
7
1
1
,
4
8


2


1
6
0
,
5
1


5


-


-


-


-


-


-


1
7
8
,
2
5


-


6
4
,
5
0

3
1
2
1
7
K
o
t
a

B
a
t
u

1
2


1


7


4


1
3


2
0
.
6
9
5
,
5
2


3


3
3
5
,
3
3


1


1
0
.
0
1
4
,
2
2


4


1
0
.
2
8
0
,
6
4


4


1


6
5
,
3
2


-


-


-


-


-


-


-

3
2
2
1
8
K
o
t
a

B
l
i
t
a
r

8


2


5


1


1
0


3
.
6
6
8
,
8
1


-


-


1


3
.
4
6
3
,
3
8


4


2
0
5
,
4
3


5


-


-


-


-


-


-


-


-


6
8
,
5
5

3
3
2
1
9
K
o
t
a

K
e
d
i
r
i

1
5


6


8


1


7


1
.
4
9
7
,
2
4


1


7
3
,
5
0


-


-


2


1
7
1
,
9
0


3


1


1
.
2
5
1
,
8
3


-


-


-


-


7
3
,
5
0


-


-

3
4
2
2
0
K
o
t
a

M
a
d
i
u
n

1
2


3


6


3


7


3
7
0
,
5
4


1


1
6
3
,
6
0


-


-


-


-


5


1


2
0
6
,
9
4


-


-


-


-


-


-


-

3
5
2
2
1
K
o
t
a

M
a
l
a
n
g

1
4


3


4


7


9


1
.
0
1
3
,
7
8


1


7
7
,
8
3


-


-


1


8
1
3
,
7
1


6


-


-


-


-


1


1
2
2
,
2
4


7
7
,
8
3


-


-

3
6
2
2
2
K
o
t
a

M
o
j
o
k
e
r
t
o

1
2


5


4


3


4


3
7
,
0
0


1


3
7
,
0
0


-


-


-


-


3


-


-


-


-


-


-


3
7
,
0
0


-


-

3
7
2
2
3
K
o
t
a

P
a
s
u
r
u
a
n

1
0


2


5


3


1
1


1
2
.
2
0
9
,
7
2


4


5
6
1
,
5
4


1


6
.
9
3
0
,
8
3


1


3
5
,
8
7


3


1


1
3
9
,
3
3


-


-


1


4
.
5
4
2
,
1
3


8
1
,
9
9


-


5
,
8
1

3
8
2
2
4
K
o
t
a

P
r
o
b
o
l
i
n
g
g
o

9


3


6


-


6


1
0
8
,
3
3


2


9
5
,
7
9


-


-


1


1
2
,
5
4


3


-


-


-


-


-


-


9
5
,
7
9


-


7
,
7
7

3
9
2
2
5
K
o
t
a

S
u
r
a
b
a
y
a

6


2


3


1


7


1
.
4
6
5
,
3
7


3


1
.
4
4
6
,
7
2


-


-


-


-


3


1


1
8
,
6
5


-


-


-


-


1
.
4
4
6
,
7
2


-


-

1
6
Þ
r
o
v
.

8
a
n
t
e
n

7
8


3
0


2
4


2
4


1
8
3


7
2
.
9
3
4
,
9
1


8
S


1
1
.
S
2
6
,
8
0


1
2


3
6
.
9
6
2
,
0
1


4
2


1
7
.
2
8
7
,
2
6


3
5


3


2
S
S
,
0
0


-


-


6


6
.
9
0
3
,
8
2


2
.
7
4
9
,
3
3


2
9
,
7
3


6
0
9
,
0
2

1
2
2
6
P
r
o
v
.

B
a
n
t
e
n

1
0


2


6


2


2
5


9
.
5
3
8
,
4
9


1
5


4
.
4
8
4
,
0
8


1


3
7
1
,
4
9


5


2
9
8
,
9
1


3


-


-


-


-


1


4
.
3
8
4
,
0
0


1
.
0
6
3
,
6
5


-


6
5
,
1
6

2
2
2
7
K
a
b
.

L
e
b
a
k

9


3


3


3


1
3


1
.
8
7
0
,
7
4


7


9
3
0
,
8
1


-


-


3


8
8
9
,
9
2


2


-


-


-


-


1


5
0
,
0
0


-


-


-

3
2
2
8
K
a
b
.

P
a
n
d
e
g
l
a
n
g

1
0


5


1


4


1
8


1
5
.
6
3
3
,
0
1


6


2
0
9
,
3
5


4


1
.
7
2
9
,
3
4


4


1
3
.
5
9
6
,
1
0


3


1


9
8
,
2
0


-


-


-


-


7
4
,
2
4


2
9
,
7
3


2
1
,
0
8

4
2
2
9
K
a
b
.

S
e
r
a
n
g

1
1


7


2


2


2
1


2
.
0
0
3
,
5
3


9


1
.
7
2
2
,
2
4


1


2
,
5
6


5


1
2
1
,
9
3


5


1


1
5
6
,
8
0


-


-


-


-


2
4
,
5
4


-


9
,
1
6

5
2
3
0
K
a
b
.

T
a
n
g
e
r
a
n
g

9


3


2


4


2
6


3
.
3
5
6
,
2
8


1
3


1
.
1
9
6
,
2
6


1


2
5
8
,
3
3


6


1
.
4
0
1
,
6
9


5


-


-


-


-


1


5
0
0
,
0
0


4
2
6
,
6
9


-


4
4
,
2
7

6
2
3
1
K
o
t
a

C
i
l
e
g
o
n

1
1


9


2


-


1
5


2
.
5
8
8
,
3
8


6


5
9
6
,
1
2


-


-


2


2
2
,
4
2


4


-


-


-


-


3


1
.
9
6
9
,
8
2


-


-


-

7
2
3
2
K
o
t
a

S
e
r
a
n
g

7


1


1


5


2
3


1
.
8
8
1
,
1
8


7


4
5
6
,
3
5


2


1
.
3
0
7
,
9
4


5


1
1
6
,
8
9


9


-


-


-


-


-


-


4
1
2
,
0
8


-


5
0
,
2
2

8
2
3
3
K
o
t
a

T
a
n
g
e
r
a
n
g

3


-


1


2


2
0


1
.
1
6
3
,
8
9


1
1


9
6
7
,
8
9


-


-


7


1
9
6
,
0
0


1


1


-


-


-


-


-


7
0
3
,
0
0


-


1
9
6
,
0
0

9
2
3
4
K
o
t
a

T
a
n
g
e
r
a
n
g

S
e
l
a
t
a
n

8


-


6


2


2
2


3
4
.
8
9
9
,
3
6


1
1


9
6
3
,
6
7


3


3
3
.
2
9
2
,
3
2


5


6
4
3
,
3
5


3


-


-


-


-


-


-


4
5
,
1
1


-


2
2
3
,
1
0

1
7
Þ
r
o
v
.

8
a
|
|

1
0
S


3
3


6
3


9


1
4
3


4
S
.
S
7
9
,
3
1


2
9


2
.
S
9
1
,
2
8


1
0


3
3
.
9
4
3
,
1
2


1
9


2
.
1
7
7
,
2
3


7
3


8


3
.
9
9
0
,
6
3


-


-


4


2
.
8
7
7
,
0
3


3
2
2
,
S
6


-


2
7
6
,
9
8

1
2
3
5
P
r
o
v
.

B
a
l
i

1
0


1


8


1


1
2


4
.
3
7
4
,
3
5


2


1
8
7
,
0
1


1


1
7
7
,
8
9


2


9
6
1
,
6
7


4


2


3
.
0
1
6
,
3
8


-


-


1


3
1
,
3
9


-


-


9
3
,
3
0

2
2
3
6
K
a
b
.

B
a
d
u
n
g

1
0


4


6


-


9


-


-


-


-


-


-


-


9


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
2
3
7
K
a
b
.

B
a
n
g
l
i

9


3


4


2


1
8


4
0
3
,
3
7


3


5
0
,
6
7


1


2
4
0
,
5
8


2


2
3
,
7
1


1
1


1


8
8
,
4
0


-


-


-


-


-


-


-

4
2
3
8
K
a
b
.

B
u
l
e
l
e
n
g

1
0


4


5


1


2
1


2
9
.
6
0
9
,
3
4


2


3
1
6
,
5
5


3


2
8
.
9
8
4
,
8
2


4


1
9
3
,
0
5


9


2


1
1
4
,
9
0


-


-


1


-


-


-


-

5
2
3
9
K
a
b
.

G
i
a
n
y
a
r

1
2


3


9


-


8


3
8
1
,
5
0


2


3
8
1
,
5
0


-


-


-


-


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

6
2
4
0
K
a
b
.

J
e
m
b
r
a
n
a

1
0


4


4


2


1
8


1
.
7
5
3
,
0
5


2


4
8
,
3
9


1


2
1
3
,
7
7


5


7
4
7
,
6
2


7


2


7
4
3
,
2
5


-


-


1


-


-


-


-

7
2
4
1
K
a
b
.

K
a
r
a
n
g
a
s
e
m

1
6


6


9


1


1
4


9
8
4
,
2
8


5


9
7
,
6
4


1


8
8
6
,
6
4


-


-


8


-


-


-


-


-


-


2
6
,
6
8


-


-

8
2
4
2
K
a
b
.

K
l
u
n
g
k
u
n
g

8


2


6


-


1
0


1
.
1
0
8
,
0
9


2


6
9
2
,
3
4


1


4
1
0
,
7
7


1


4
,
9
7


6


-


-


-


-


-


-


1
2
3
,
0
7


-


-

9
2
4
3
K
a
b
.

T
a
b
a
n
a
n

8


4


4


-


1
7


3
.
2
5
0
,
1
1


6


1
7
7
,
7
1


-


-


3


1
9
9
,
0
7


6


1


2
7
,
6
8


-


-


1


2
.
8
4
5
,
6
4


1
7
0
,
5
5


-


1
7
2
,
9
5

1
0
2
4
4
K
o
t
a

D
e
n
p
a
s
a
r

1
2


2


8


2


1
6


3
.
7
1
5
,
1
7


5


6
3
9
,
4
4


2


3
.
0
2
8
,
6
2


2


4
7
,
1
0


7


-


-


-


-


-


-


2
,
2
4


-


1
0
,
7
2

33
(
n
i
l
a
i

d
a
l
a
m

j
u
t
a

r
u
p
i
a
h
)
n
a
|
a
m
a
n

9

-

L
a
m
p
|
r
a
n

8
N
o
.
L
n
n
t
a
s
k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n
k
e
n
d
a
k
p
a
t
u
h
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
t
e
n
t
u
a
n

Þ
e
r
u
n
d
a
n
g
-
U
n
d
a
n
g
a
n

y
a
n
g

M
e
n
g
a
k
|
b
a
t
k
a
n
N
|
|
a
|

Þ
e
n
y
e
r
a
h
a
n

A
s
e
t

a
t
a
u

Þ
e
n
y
e
t
o
r
a
n

k
e

k
a
s

N
e
g
a
r
a
]
D
a
e
r
h

a
t
a
s

1
e
m
u
a
n

y
a
n
g

t
e
|
a
h

D
|
n
n
d
a
k
|
a
n
[
u
n

d
a
|
a
m

Þ
r
o
s
e
s

Þ
e
m
e
r
|
k
s
a
a
n

1
o
t
a
|


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

A
k
u
n
t
a
n
s
|

d
a
n

Þ
e
|
a
p
o
r
a
n


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
|
s
t
e
m

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

Þ
e
|
a
k
s
a
n
a
a
n

A
n
g
g
a
r
a
n

Þ
e
n
d
a
p
a
t
a
n

d
a
n

8
e
|
a
n
[
a


k
e
|
e
m
a
h
a
n

S
t
r
u
k
t
u
r

Þ
e
n
g
e
n
d
a
|
|
a
n

I
n
t
e
r
n

1
o
t
a
|
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n

A
d
m
|
n
|
s
t
r
a
s
|

k
e
n
d
a
k
h
e
m
a
t
a
n
k
e
n
d
a
k
e
h
s
|
e
n
a
n
k
e
n
d
a
k
e
f
e
k
n
f
a
n
k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h
Þ
o
t
e
n
s
|

k
e
r
u
g
|
a
n

D
a
e
r
a
h

k
e
k
u
r
a
n
g
a
n

Þ
e
n
e
r
|
m
a
a
n


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

I
m
|

k
a
s
u
s


N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i

N
i
l
a
i
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
1
8
Þ
r
o
v
.

N
u
s
a

1
e
n
g
g
a
r
a

8
a
r
a
t

7
7


3
9


3
0


8


1
1
6


6
2
.
0
S
4
,
0
9


2
4


2
.
S
9
3
,
6
4


1


S
8
7
,
S
0


3
2


S
8
.
3
9
0
,
0
0


S
6


-


-


-


-


3


4
8
2
,
9
4


1
S
6
,
8
8


-


6
,
6
3

1
2
4
5
P
r
o
v
.

N
u
s
a

T
e
n
g
g
a
r
a

B
a
r
a
t

8


6


2


-


7


1
9
2
,
0
0


3


1
9
2
,
0
0


-


-


-


-


4


-


-


-


-


-


-


1
1
0
,
1
4


-


-

2
2
4
6
K
a
b
.

B
i
m
a

7


5


2


-


8


1
3
.
2
8
7
,
3
8


-


-


-


-


2


1
3
.
2
8
7
,
3
8


6


-


-


-


-


-


-


-


-


-

3
2
4
7
K
a
b
.

D
o
m
p
u

8


6


2


-


8


8
.
6
4
6
,
0
5


3


1
1
5
,
3
1


-


-


2


8
.
5
3
0
,
7
4


3


-


-


-


-


-


-


-


-


-

4
2
4
8
K
a
b
.

L
o
m
b
o
k

B
a
r
a
t

6


4


2


-


1
2


9
.
8
0
4
,
2
0


2


1
8
9
,
8
5


-


-


2


9
.
6
1
4