Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Eksistensi badan hukum didalam ilmu hukum erat kaitannya dengan substansi penyelenggaraan hukum itu sendiri. Kaitan tersebut terlihat dalam realita hukum yang menyatakan bahwa badan hukum itu merupakan salah satu dari pendukung hak dan kewajiban atau yang lebih dikenal dengan subjek hukum.1 Dalam perkembangannya ada beberapa teori yang mendasari mengapa badan hukum masuk ke dalam subjek hukum. Adapun Teori-teori tersebut adalah Teori Organ, Teori Fiksi, Teori Kekayaan Bersama, Teori Kekayaan Bertujuan dan Teori Kenyataan Yuridis. Badan hukum ( Recht Persoon ) memiliki kedudukan yang sedikit lebih istimewa dibandingkan dengan manusia ( Naturlijk Persoon ) sebagai subjek hukum. Dari segi pengaturan, ketentuan mengenai badan hukum tidak diatur secara tegas dalam KUHPerdata namun ada beberapa ketentuan tentang perkumpulan di dalam Buku III Pasal 1653 s / d 1655 KUHPerdata yang sedikit memberikan kepastian mengenai keberadaan badan hukum ini.2 Berpijak pada ketentuan yang sangat singkat pada KUHPerdata, Subekti memaparkan pendapatnya yang menyatakan bahwa badan hukum merupakan Suatu badan yang dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti menerima serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat, dan menggugat dimuka hakim. Menurut Logemann, Badan Hukum adalah suatu personifikasi yaitu suatu perwujudan/ penjelmaan dari hak
1 2

18

R. Soeroso, 2006, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 145 Handri Raharjo, 2009, Hukum Perusahaan, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, hlm.

dan kewajiban. Sedangkan Salim HS menyatakan bahwa Badan Hukum merupakan kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu, harta kekayaan, hak dan kewajiban, serta organisasi. Dari pemaparan mengenai definisi Badan hukum diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Badan hukum itu terdiri dari unsur-unsur berupa harta kekayaan yang terpisah dar kekayaan anggotanya, memiliki tujuan tertentu, punya hak dan kewajiban sendiri, dapat menuntut / dituntut serta punya organisasi yang teratur yang dapat tercermin dari Anggaran Dasar ( AD ) dan Anggaran Rumah Tangganya ( ART ).3 Badan hukum dari segi bentuknya dapat diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu Badan Hukum Publik yang begerak dalam lingkup negara, provinsi, bank negara dan lainlain. Sedangkan Badan hukum privat keberadaannya dapat dilihat dengan adanya Perseroan Terbatas ( PT ), Yayasan, dan lain-lain. Dalam perkembangan dunia bisnis, badan hukum yang paling populer adalah badan hukum yang berbentuk Perseroan terbatas ( PT ). Badan Hukum dalam bentuk Perseroan Terbatas ( PT ) merupakan bentuk yang paling lazim, bahkan sering dikatakan bahwa Perseroan Terbatas ( PT ) merupakan bentuk perusahaan yang dominan. Dominasi Perseroan Terbatas ( PT ) ini terlihat, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya.4 Selain itu Perseroan terbatas ( PT ) juga dapat didefinisikan sebagai suatu badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Ketentuan ini memiliki nilai variatif yang tinggi yang membuat kedudukan Perseroan terbatas lebih terkenal dibandingkan dengan jenis badan hukum lainnya. Selain hal tersebut, Perseroan terbatas sebagai badan hukum

Ibid, hlm. 22 Richard Burton Simatupang, 2007, Aspek Hukum Dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta, hlm. 3
4

memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang menarik karenadibebankan pada masingmasing organ yang ada didalamnya. Oleh karena itu, guna membahas dan mengupas mengenai hal diatas, penulis tertarik untuk memaparkannya dalam makalah yang berjudul Kewenangan Dan Tanggung Jawab Perseroan Terbatas Sebagai Badan Hukum B. Rumusan Masalah Berdasarakan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan di analisis dalam penelitian ini meliputi : 1. Bagaimanakah status Perseroan Terbatas sebagai badan hukum ? 2. Bagaimanakah Kewenangan dan Tanggung Jawab Perseroan Terbatas sebagai badan hukum dalam melakukan perbuatan hukum ? C. Tujuan Penulisan Adapun Tujuan Penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui status Perseroan Terbatas ( PT ) sebagai Badan Hukum 2. Untuk mengetahui Kewenangan dan Tanggung Jawab Perseroan Terbatas ( PT ) sebagai Badan Hukum dalam melakukan perbuatan hukum.

BAB II PEMBAHASAN
A. Status Perseroan Terbatas Sebagai Badan Hukum

Istilah dari Perseroan Terbatas ( PT ) adalah Naamloze Vennootschap yang disingkat dengan NV. Istilah ini NV dahulu digunakan pada pasal 36 KUHD yang secara harfiah bermakna persekutuan tanpa nama dan hal ini merupakan pengecualian dari ketentuan Pasal 16 KUHD. Sesuai perkembangan zaman, di Indonesia istilah Perseroan Terbatas ( PT ) yang lazim digunakan itu merupakan istilah yang dikawinkan dari hukum inggris yang menampilkan segi tanggung jawab dan hukum jerman yanng menonjolkan segi saham.5 Menurut Pasal 1 huruf 1 Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang perseroan Terbatas, yang dimaksud dengan Perseroan Terbatas adalah Badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar ang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini. Bila dilakukan pengkajian dari definisi diatas, maka diawal kalimat telah tergambar bahwa Perseroan Terbatas ( PT ) itu berstatus sebagai Badan hukum. Hal ini berarti bahwa Perseroan terbatas ( PT ) adalah badan yang memenuhi syarat keilmuan sebagai pendukung hak dan kewajiban, antara lain memiliki harta kekayaan yang terpisah dari kekayaan pribadi pengurusnya.6 Selain itu
5 6

Handri Raharjo, Op. cit., hlm. 69 Zaeni Asyhadie, 2009, Hukum Bisnis, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 42

ketentuan tersebut secara eksplisit sangat jelas mesebutkan bahwa PT merupakan badan hukum karena Perseroan Terbatas adalah bentuk (legal form) yang didirikan atas fiksi hukum (legal fiction) yang menggambarkan bahwa bahwa perseroan memiliki kapasitas yuridis yang sama dengan yang dimiliki oleh orang perseorangan (natural person). Berpatokan pada defiisi diatas, Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perusahaan terbatas yang kemudian disebut UUPT, tegas menyebutkan bahwa Perseoan Terbatas ( PT ) berstatus sebagai badan hukum. Setelah PT berstatus sebagai badan hukum, sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat (1) UUPT maka pemegang saham PT tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan serta tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah diambilnya. Dengan demikian, pertanggungjawaban pemegang saham dalam PT itu terbatas, pemegang saham dalam PT secara pasti tidak akan memikul kerugian hutang PT lebih dari bagian harta kekayaan yang ditanamkannya dalam PT. Sebaliknya, tanggung jawab dari perusahaan (PT) itu sendiri tidak terbatas, apabila terjadi hutang atau kerugiankerugian dalam PT, maka hutang atau kerugian itu akan semata-mata dibayar secukupnya dari harta kekayaan yang tersedia dalam PT.7 Sekaitan dengan kewenangan dan tanggung jawab Perseroan Terbatas ( PT ), maka akan diberikan pemaparannya dalam poin selanjutnya. B. Kewenangan dan Tanggung Jawab Perseroan Terbatas ( PT ) Dalam Melakukan Perbuatan Hukum. Dalam melakukan perbuatan hukum dan berhubungan dengan pihak ketiga Perseroan Terbatas ( PT ), diwakili oleh masing-masing organ yang disertai dengan tanggung jawab dan kewenangannya masing-masing. Dalam pasal 3 ayat (1) UUPT
7

Richard Burton Simatupang, Op. cit., hlm. 9

dipaparkan, bahwa pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki. Kutipan pasal dalam UUPT ini menegaskan bahwa tanggung jawab yang dimiliki oleh Perseroan Terbatas itu bersifat terbatas, yang artinya tidak sampai pada kekayaan pribadi anggota atau organnya. Adapun organ organ tersebut beserta kewenangannya adalah :8 1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) a. Hakikat Dan Wewenang Di atas telah dikemukakan bahwa perseroan pada hakikatnya adalah badan hukum dan wadah perwujudan kerjasama para pemegang saham (persekutuan modal). Hakikat ini berakibat bahwa demi kelangsungan keberadaannya perseroan mutlak membutuhkan organ yaitu RUPS di mana para pemilik modal sebagai pihak yang berkepentingan berwenang sepenuhnya untuk menentukan kepada siapa akan mereka percayakan pengurusan perseroan, direksi yang oleh UUPT ditugaskan mengurus dan mewakili perseroan, dan dewan komisaris yang oleh UUPT ditugaskan melakukan pengawasan serta memberi nasehat kepada direksi.9 Dapat dikatakan bahwa keputusan-keputusan yang menyangkut struktur organisasi perseroan misalnya perubahan anggaran dasar, penggabungan, peleburan, pemisahan, pembubaran dan likuidasi perseroan, hak dan kewajiban para pemegang saham, pengeluaran saham baru dan pembagian atau penggunaan keuntungan yang dibuat perseroan sepenuhnya termasuk wewenang RUPS.

Handri Raharjo, Op.cit,. hlm. 91 M. Yahya Harahap, 2009, Hukum Perseroan Terbatas, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 306
9

Dikatakan bahwa RUPS mempunyai kekuasaan tertinggi dalam perseroan, RUPS menjalankan kekuasaan perseroan secara De Facto, secara eksklusif kewenangan diatur dalam anggaran dasar dan pembatasan tertentu bagi direksi yang memerlukan persetujuan RUPS. Tetapi perwakilan untuk pengurusan perseroan di dalam maupun di luar pengadilan tidak termasuk wewenang RUPS. b. Pengaturan Oligarkis Dan Hak Suara Pengaturan oligarkis adalah pembagian saham dalam saham prioritas dan saham biasa. Saham prioritas adalah jenis saham yang lazimnya memberi kepada pemegangnya kekuasaan tertentu berkaitan dengan hal ikhwal perseroan, seperti misalnya membuat pencalonan yang mengikat dalam hal pengangkatan anggota direksi dan dewan komisaris. Berkaitan dengan pengaturan oligarkis tersebut perlu diperhatikan bahwa tidak dibenarkan adanya ketentuan dalam anggaran dasar perseroan yang mensyaratkan bahwa anggota direksi dan dewan komisaris hanya dapat diberhentikan apabila hal itu disetujui oleh jenis saham tertentu (saham prioritas). Pengaturan demikian memberikan hak veto kepada jenis saham tertentu, hal mana bertentangan dengan hak RUPS untuk sewaktuwaktu memberhentikan mereka. Pengaturan hak suara melalui suatu perjanjian antara para pemegang saham pada dasarnya dapat dibenarkan. Mengingat bahwa hak suara diberikan kepada pemegang saham oleh UUPT agar dapat menjaga kepentingannya sebagaimana ia kehendaki, sehingga pemegang saham pada dasarnya bebas mengikat dirinya berkenaan dengan cara pelaksanaan hak suara yang ia miliki dalam suatu perjanjian hak suara. Walaupun perjanjian tersebut membatasi kebebasan pemegang saham, tetapi sungguhnya kebebasan itu tetap ada.

Pemegang saham yang telah membuat perjanjian hak suara tetap bebas mengeluarkan hak suaranya sebagaimana ia kehendaki. Juga apabila ia mengeluarkan suaranya tidak sesuai dengan perjanjian hak suara, suaranya tetap sah sekalipun ia telah melanggar perjanjian yang bersangkutan dan oleh karena itu cidera janji. Ini penting diperhatikan, terutama dalam hal pemberian kuasa. Tidak jarang dalam hal gadai saham, kepada pemegang gadai diberikan kuasa mutlak untuk mengeluarkan suara atas sahamsaham yang digadaikan. Perlu diketahui bahwa kuasa dimaksud tidak dapat meniadakan hak suara pemberi gadai. Oleh karena itu pemberi gadai senantiasa dapat hadir sendiri pada RUPS dan kehadirannya tersebut dengan sendirinya karena hukum akan membatalkan hak pemegang gadai untuk mengeluarkan suara. Kenyataan ini bersumber pada ketentuan bahwa hanya pemegang saham yang mempunyai hak suara dan oleh karena itu hak suara tidak dapat dialihkan terlepas dari pemilikan saham. 2. Direksi a. Tugas Dan Wewenang Direksi ditugaskan dan oleh karena itu bewenang : a. b. c. Mengatur dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan usaha perseroan. Mengelola kekayaan perusahaan. Mewakili perseroan di dalam dan di luar pengadilan. Tugas dan wewenang untuk melakukan pengurusan perseroan adalah tugas dan wewenang setiap anggota direksi. Ditegaskan dalam tanggung jawab pribadi secara tanggung renteng yang diatur dalam pasal 97 ayat (4) UUPT. Namun tugas dan wewenang direksi dibatasi oleh peraturan undang-undang, maksud dan tujuan perseroan dan pembatasan-pembatasan dalam anggaran dasar. Sehubungan dengan pembatasanpembatasan yang mengikat direksi tersebut di atas UUPT dengan tegas dan jelas

mengatur bahwa pembatasan dimaksud pada dasarnya tidak mempunyai akibat keluar yaitu bahwa perbuatan hukum yang dilakukan direksi tanpa persetujuan RUPS atau Dewan Komisaris tetap mengikat perseroan sepanjang pihak lain dalam perbuatan hukum tersebut beritikad baik. Berarti bahwa pihak lain dimaksud dilindungi oleh praduga itikad baik yang merupakan suatu asas dalam Hukum Perdata Indonesia. b. Tanggung Jawab Pribadi Secara Tanggung Renteng Tanggung jawab tersebut bersumber pada dua kenyataan yaitu : perseroan adalah subyek hukum dan perseroan sebagai ciptaan hukum adalah orang buatan yang mutlak memerlukan direksi yang ditugaskan untuk menjalankan pengurusan dan perwakilan perseroan. Pasal 92 ayat (1) dan pasal 98 ayat (2) UUPT menetapkan bahwa direksi adalah pengurus dan wakil perseroan. Tugas tersebut melahirkan kewajiban pada setiap anggota direksi untuk senantiasa menjaga dan membela kepentingan perseroan. Kelalaian dalam melaksanakan tugas tersebut berakibat bahwa setiap anggota direksi secara tanggung renteng dapat dipertanggungjawabkan. Selama anggota direksi menjalankan kewajibannya dalam batas-batas kewenangannya, anggota direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian perseroan.10 c. Pengangkatan Dan Pemberhentian Direksi RUPS selaku organ yang satu-satunya berwenang mengangkat dan

memberhentikan anggota direksi. Berkaitan dengan pemberhentian anggota direksi perlu diperhatikan bahwa hubungan anggota dengan perseroan adalah unik. Direksi merupakan bagian yang essensial dari perseroan dan di lain pihak anggota direksi mempunyai hubungan kontraktual yang tidak melahirkan hubungan kerja dengan perseroan karena anggota direksi bukanlah karyawan perseroan.

10

Ibid., hlm. 382

3. Dewan Komisaris a. Tugas Dan Wewenang Dewan Komisaris adalah organ pengawas mandiri yang tidak dikenal dalam sistem hukum perseroan Anglo-Amerika. Menurut ketentuan pasal 1 angka 6 UUPT jelas bahwa ada keharusan bagi setiap perseroan mempunyai dewan komisaris. Tugas utama dewan komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan yang dijalankan direksi, jalannya pengurusan tersebut pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan, dan memberi nasehat kepada direksi. Dewan komisaris tidak mempunyai peran dan fungsi eksekutif. Sekalipun anggaran dasar menentukan bahwa perbuatan-perbuatan direksi tertentu memerlukan persetujuan dewan komisaris, persetujuan dimaksud bukan pemberian kuasa dan bukan pula perbuatan pengurusan. Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa tugas dan kewenangan pengawasan dipercayakan kepada dewan komisaris demi kepentingan perseroan, bukan kepentingan satu atau beberapa orang pemegang saham. Hal ini ditegaskan dalam pasal 85 ayat (4) UUPT yang melarang anggota dewan komisaris untuk bertindak selaku kuasa pemegang saham dalam pemungutan suara sewaktu RUPS. Dalam pengurusan perseroan kedudukan direksi dan dewan komisaris adalah setara. b. Tanggung Jawab Dewan Komisaris Tanggung jawab dewan komisaris mirip dengan tanggung jawab direksi. Perbedaannya adalah bahwa tanggung jawab dewan komisaris terdapat dalam bidang pengawasan atas kebijakan pengurusan yang dilakukan direksi dan pemberian nasehat

kepada direksi, sedangkan tanggung jawab direksi terdapat dalam bidang pengurusan dan perwakilan perseroan.11 Tanggung jawab dewan komisaris terbagi atas tanggung jawab ke luar dan tanggung jawab ke dalam. Mengingat tugas dewan komisaris adalah melakukan pengawasan, maka dewan komisaris bertanggung jawab atas pengawasan perseroan. Pertanggung jawaban tersebut diberikan sekali setahun pada waktu RUPS tahunan. Sedangkan tanggung jawab keluar, berkaitan dengan kerugian yang diderita oleh pihak ketiga. Dalam dal ini berlaku pula tanggung jawab seperti halnya direksi. Hal tersebut ditegaskan dalam padal 115 UUPT yang mengatur bahwa setiap anggota dewan komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng ikut bertanggung jawab dengan direksi atas kewajiban (utang) perseroan yang belum dilunasi bilamana terjadi kepailitan perseroan karena kesalahan atau kelalaian dewan komisaris dalam melakukan pengawasan terhadap pengurusan yang dilakukan direksi. Selanjutnya diatur pula dalam pasal 115 ayat (2) bahwa tanggung jawab tersebut berlaku juga bagi anggota dewan komisaris yang sudah tidak menjabat 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan. Ketentuan serupa ditetapkan pula bagi mantan anggota direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya selagi menjabat telah menyebabkan perseroan dinyatakan pailit. c. Pengangkatan Dan Pemberhentian Dewan Komisaris Dewan direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Dewan komisaris mempunyai hubungan ganda dengan perseroan, karena sebagai organ secara ia merupakan bagian essensial perseroan dan selain itu ia mempunyai hubungan kontraktual dengan perseroan sebagai badan hukum mandiri. Hubungan kontraktual dewan komisaris dengan perseroan tidak melahirkan hubungan kerja. Anggota dewan komisaris bukan karyawan perseroan. RUPS sebagai organ yang secara ekslusif mempunyai kewenangan
11

Ibid, hlm. 439

mengangkat anggota dewan komisaris, senantiasa dan sewaktu-waktu berhak memberhentikan mereka. Dikatakan bahwa RUPS mempunyai kekuasaan tertinggi dalam perseroan, RUPS menjalankan kekuasaan perseroan secara De Facto, secara ekslusif kewenangan diatur dalam anggaran dasar dan pembatasan tertentu bagi direksi yang memerlukan persetujuan RUPS. Tetapi perwakilan untuk pengurusan perseroan di dalam maupun di luar pengadilan tidak termasuk wewenang RUPS. Berdasarkan dari apa yang telah diuraikan di atas, maka dapatlah Direksi ditugaskan dan oleh karena itu bewenang : a. mengatur dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan usaha perseroan. b. Mengelola kekayaan perusahaan. c. Mewakili perseroan di dalam dan di luar pengadilan. Dewan Komisaris adalah organ pengawas mandiri yang tidak dikenal dalam sistem hukum perseroan Anglo-Amerika. Menurut ketentuan pasal 1 angka 6 UUPT jelas bahwa ada keharusan bagi setiap perseroan mempunyai dewan komisaris. Tugas utama dewan komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan yang dijalankan direksi, jalannya pengurusan tersebut pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan, dan memberi nasehat kepada direksi. Dewan komisaris tidak mempunyai peran dan fungsi eksekutif. Sekalipun anggaran dasar menentukan bahwa perbuatan-perbuatan direksi tertentu memerlukan persetujuan dewan komisaris, persetujuan dimaksud bukan pemberian kuasa dan bukan pula perbuatan pengurusan. Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa tugas dan kewenangan pengawasan dipercayakan kepada dewan komisaris demi kepentingan perseroan, bukan kepentingan satu atau beberapa orang pemegang saham.

Sekaitan dengan tanggung jawab diatas, Pasal 3 ayat (2), menetukan bahwa ketentuan tanggung jawab terbatas bagi pemegang saham tidak berlaku, apabila: a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi; b. Pemegang saham yang bersangkutan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan Etikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan. Berkaitan dengan ketentuan ini, dalam penjelasannya dipertegas bahwa, dalam hal-hal tertentu tidak menutup kemungkinan hapusnya tanggung jawab terbatas tersebut apabila terbukti terjadi hal-hal tersebut. Disamping itu, tanggung jawab pemegang saham sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya kemungkinan hapus apabila terbukti, antara lain terjadi percampuran harta kekayaan pribadi pemegang saham dan harta kekayaan Perseroan, sehingga perseroan didirikan semata-mata sebagai alat yang dipergunakan untuk memenuhi tujuan pribadinya. Dari hal diatas dapat ditetapkan bahwa tanggung jawab diatas merupakan tanggung jawab perseroan terbatas secata kontraktual, sedangkan tanggung jawab Perseroan Terbatas dalam perbuatan melawan hukum perseroan dapat ditangguhkan dengan merunut kepada ketentuan dalam pasal 1365 dan 1367 KUHPerdata.

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan
1. Perseroan Terbatas adalah Badan hukum yang merupakan persekutuan modal,

didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini. Hal ini menunjukkan bahwa Perseroan terbatas ( PT ) berstatus sebagai badan hukum karena Perseroan Terbatas adalah bentuk (legal form) yang didirikan atas fiksi hukum (legal fiction) yang menggambarkan bahwa bahwa perseroan memiliki kapasitas yuridis yang sama dengan yang dimiliki oleh orang perseorangan (natural person) sebagai subjek hukum. 2. Kewenangan dari Perseroan terbatas sebagai badan hukum dalam melakukan perbuatan hukum tergantung pada organ yang dimilikinya berupa Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi dan Dewan Komisaris yang masing-masingnya memiliki tanggung jawab yang terbatas.
3. Tanggung jawab Perseroan Terbatas dalam perbuatan melawan hukum perseroan

dapat ditangguhkan dengan merunut kepada ketentuan dalam pasal 1365 dan 1367 KUHPerdata.