Anda di halaman 1dari 6

GEOMORFOLOGI DASAR

BENTUK LAHAN ASAL PROSES SOLUSIONAL

Dosen Mata Kuliah: Drs. Ardin Siallagan

Disusun Oleh: Oswald Reynhard Sitanggang NIM: 3113331025

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2012

PENDAHULUAN BENTUK LAHAN ASAL PROSES SOLUSIONAL

Proses Solusional atau Karst adalah Proses terbentuknya sebuah lahan akibat pelarutan material batuan karbonat oleh air. Karst merupakan suatu daerah yang memiliki karakteristik relief dan drainase yang khas yang diakibatkan oleh proses pelarutan batuan yang tinggi oleh air. Batuan yang dapat larut dalam air adalah jenis batuan karbonat tertentu yang mengandung CaCO3 Contohnya adalah Batu Gamping dan Dolomite. Topografi Karst merupakan akibat dari proses terbentuknya sebuah lahan akibat pelarutan material batuan. Berikut ini beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya Bentuk Lahan Solusional atau Karst: 1. Curah Hujan yang sangat tinggi 2. Jenis Batuan disuatu daerah mudah larut didalam air 3. Vegetasinya rapat 4. Banyak terdapat celah-celah atau rongga pada Batuan 5. Tingkat keasaman air yang tinggi 6. Topografi Lahan 7. Geologi 8. Suhu

FAKTOR PEMBENTUKAN BENTUK LAHAN PROSES SOLUSIONAL ATAU KARST

1. Curah Hujan Tinggi Curah hujan yang tinggi dapat mempengaruhi perkembangan bentukan karst. Jumlah air yang banyak maka proses pelarutan yang terjadi juga semakin banyak. air mempunyai batasan tertentu dalam pelarutan, apabila air telah semakin pekat maka daya larut air akan semakin berkurang dan lama kelamaan akan jenuh dan tidak dapat lagi melarutkan. Hal ini menyebabkan semakin cepat terbentuk maupun berkembangnya bentukan karst.

2. Terdapat Banyak Rongga pada Batuan Semakin banyak celah, rongga atau retakan-retakan pada batuan akan mempercepat laju pembentukan Bentuk Lahan karst, karena Air akan melewati celah-celah retakan tersebut dan akan terus bergerak karena pengaruh gravitasi sehingga partikel-partikel air akan bertumbukan dengan partikel material batuan dan melepaskan partikel-partikelnya sehingga material penyusun batuan tersebut akan terlarut dan terbawa oleh air.

3. Tingkat Keasaman Air Air dengan pH tinggi akan lebih mudah melarutkan material batuan. Hal tersebut terjadi karena air yang asam lebih mudah melepaskan partikel-partikel material yang dilewatinya dan bersifat lebih merusak, sehingga pelarutan lebih cepat terjadi.

4. Vegetasi Vegetasi akan membentuk humus yang dapat meningkatkan keasaman air yang dapat lebih cepat melarutkan material-material batuan. Vegetasi juga menyebabkan terbentuknya celah-celah retakan akibat aktivitas pertumbuhan akar yang dapat memecahkan dan membentuk celah-celah pada batuan.

5. Suhu Suhu air juga berpengaruh dalam proses solusional atau pelarutan material batuan karena suhu yang semakin tinggi akan menyebabkan pergerakan partikel air yang semakin cepat dan akan menyebabkan semakin banyak dan cepatnya tumbukan antar partikel air dan batuan yang dapat melepaskan partikel-partikel batuan sehingga larut di dalam air.

6. Topografi Lahan Topografi lahan yang cocok untuk perkembangan bentukan karst adalah topografi yang relative landai sehingga waktu yang dibutuhkan air untuk membentuk aliran permukaan akan semakin lambat dan waktu aliran untuk memasuki celah-celah batuan akan semakin banyak, apalagi berbentuk cekungan sehingga air akan tertampung lama di atasnya dan masa air untuk melarutkanpun akan semakin lama. Ketinggian lahan yang memungkinkan terbentuknya sungai bawah tanah juga mempengaruhi perkembangan karst karena air akan dapat terus mengalir dan melarutkan lebih cepat sehingga pembentukan karst lebih cocok pada lahan yang relative tinggi.

7. Geologi Faktor yang sebenarnya paling penting adalah jenis batuannya. Tidak semua jenis batuan dapat larut di dalam air. Air hanya dapat melarutkan material batuan karbonat tertentu yang mengandung CaCO3. Lapisan batuannya pun harus tebal, karena apabila tidak tebal semuanya akan habis terlarut dan bentukan karstnya tidak tersisa.

BENTUK LAHAN PROSES SOLUSIONAL

Bentukan Lahan yang terjadi akibat Proses Solusional atau Karst dikelompokkan menjadi 4, yaitu: Bentuk Lahan Positif, Bentuk Solusional (saat terjadinya proses), deposisional, dan Bentuk Sisa (residual)

1. Bentuk Lahan Positif Kygelkarst Merupakan suatu bentuk lahan karst tropic yang terdiri dari sejumlah bukit berbentuk kerucut yang kadang-kadang dipisahkan oleh cockpit. Cockpit ini saling berhubungan satu sama lain dan terjadi pada suatu garis yang mengikuti pola kakr (diaklas). Kygelkarst sering disebut sebagai kerucut karst atau butte. Lereng-lereng bukit ini terdiri dari cliff dan endapan scree.

Turmkarst Merupakan perpadanan dengan menara karst, mogotehill, pepino hill atau pinnacle karst. Turmkarst terdiri atas perbukitan belerang curam atau vertical menjulang tersendiri diantara dataran alluvial.

2. Bentuk Lahan Solusional atau negative (Saat terjadinya proses) Bentukan-bentukan ini merupakan bentukan-bentukan yang terjadi pada saat awal-awal proses solusional. Contohnya adalah Doline Uvala Polje Blind Valley

3. Bentuk Lahan Deposisional Bentukan-bentukan ini merupakan bentukan hasil pengendapan material yang terlarut oleh air. Pengendapan yang terjadi di sini juga bisa terjadi akibat pengkristalan material terlarut akibat pelarut yang hilang.

Stalaktit Merupakan bentukan solusional berupa batu kapur runcing yang menggantung pada langit-langit goa. Hal in disebabkan akibat pengkristalan terjadi sebelum air yang mengandung material batuan yang terlarut jatuh dari langit-langit goa ke lantai goa.

Stalakmit Merupakan bentukan solusional berupa batu kapur runcing menghadap ke atas pada lantai goa. Hal ini disebabkan pengendapan terjadi setelah air mencapai lantai goa.

Kolom Merupakan bentukan solusional yang merupakan stalaktit dan stalakmit yang bertemu.

Dataran Aluvial Merupakan bentukan yang merupakan hasil gabungan dari proses fluvial dan solusional. Material yang terlarut terbawa oleh aliran sungai dan terendapkan di suatu wilayah dan membentuk dataran

Anda mungkin juga menyukai