Laporan Study Tour

Nama Kelas / no abs

: Alexander Raymond.S : 8E/3 SMP PANGUDI LUHUR Jl. Haji Nawi no. 21 Jakarta 2012

Laporan Study Tour

Nama

: Alexander Raymond.S : 8E/3 SMP PANGUDI LUHUR Jl. Haji Nawi no. 21 Jakarta Selatan 2012

Kelas / no abs

PENGESAHAN

Judul Laporan : Laporan Studi Luar Kampus Nama Kelas / no. : Alexander Raymond.S : 8E / 3

Laporan ini telah disahkan dan disetujui pada tanggal 13 Maret 2012 oleh :

Guru pembimbing,

Penulis,

_______________________ Bp. Antonius Bagus G. S.Pd

__________________________ Alexander Raymond.S

PERSEMBAHAN

Laporan ini di persembahkan kepada pihak sekolah SMP Pangudi Luhur semoga dapat sebagai arsip yang bisa di simpan dan berguna untuk memperkenal kan budaya Indonesia kepada murid-murid SMP Pangudi Luhur kedepan

MOTTO

Hargailah sejarah sejarah yang terkandung dalam Negara Indonesia

KATA PENGANTAR

laporan ini adalah mengenai Studi luar kampus yang mengunjungi PLTA Jati Luhur, Saung Angklung Mang Udjo, Museum Geologi, Observatorium Bosscha, Gedung Asia Africa. Akhir kata dari saya mengucapkan terima kasih pada semua orang yang telah membantu saya dalam mengerjakan maupun menyelesaikan laporan ini. Semoga laporan ini bisa dimanfaat kan sebagai memperkenalkan sebagian budayabudaya dan sejarah Indonesia

DAFTAR ISI

Judul ...................................................................................................................................... i Pengesahan ............................................................................................................................ ii Persembahan ......................................................................................................................... iii Motto ..................................................................................................................................... iv Kata Pengantar ...................................................................................................................... v Daftar Isi ............................................................................................................................... vi

Bab 1 : Pendahuluan............................................................................................................ 1 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang ......................................................................................................... 1 Tujuan ........................................................................................................................ 1 Metode Pengumpulan Data ....................................................................................... 1

Bab 2 : Pembahasan ............................................................................................................ 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 PLTA Jatiluhur .......................................................................................................... 2 Saung Angklung Mang Udjo .................................................................................... 3 Museum Geologi .......................................................................................................4 Gedung Asia Africa ..................................................................................................4 Observatorium Bosscha ............................................................................................ Recount (Bahasa Inggris) ..........................................................................................

Bab 3 : Penutup ................................................................................................................... 3.1 3.2 3.3 Kesimpulan ............................................................................................................... Saran ......................................................................................................................... Lampiran ....................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kami memilih pergi ke Bandung karena:    Bisa Lebih cepat atau tidak terlalu banyak memakan waktu. Biaya bisa lebih ringan dari pada pergi keYogyakarta Agar tidak terlalu memakan tenaga untuk berpergian Kami berangkat ke Bandung pada tanggal 9 Februari 2012, dan kami kembali ke SMP

Pangudi Luhur pada tanggal 10 Februari 2012. Kami mengunjungi :      1.2 PLTA Jatiluhur. Saung Angklung Udjo. Museum Geologi Bandung. Observatorium Bosscha. Museum Konfrensi Asia – Afrika. Tujuan Kami menuju ke Bandung untuk tujuan belajar langsung ke Lapangan dengan ditambah wisata yang bisa membuat otak bisa menjadi segar lagi dan siap untuk belajar lagi di sekolah. 1.3 Metode Pengumpulan Data

Kelompok saya berbagi tugas ketika pagi hari sebelum pergi. Kebetulan saya mendapat untuk lebih mengutamakan pengambilan gambar di Lapangan. Rian mendengarkan dan membantu penulis dan ada murbo sebagai penulis

BAB II PEMBAHASAN

2.1

PLTA JatiLuhur

Sebelum dibangunnya bendungan ini terdapat 27 desa. Lalu saat akan dibuat, semua penduduknya dipindahkan dan diratakanuntuk membangun bendungan. PLTA jatiluhur terletak di jati mekar kec. Jatiluhur Kab. purwakarta memiliki panjang 1.200m, dan tower setinggi 14,5m dan di bangun tahun 1957 – 1967 pada saat pemerintahan presiden Soeharto kedalaman air kurang lebih 107m. Waduk yang memiliki nama resmi Waduk Ir. H. Djuanda ini dibangun di atas danau dengan luas 8.300 ha, yang daya tampungnya mencapai 3 miliyar kubik air. Waduk ini memiliki air yang bersumber dari Sungai Citarum, yang memiliki mata airnya di Gunung Wayang. Pada saat pembangunannya waduk ini dibantu oleh negara Italia dan Perancis, dan mengeluakan biaya sampai 147 juta USD. Memiliki manfaat – manfaat sebagai : Irigasi. Pengelolaan air bersih. Kolam jarring apung. Rekreasi dan olahraga air. Pembangkit listrik yang bisa menghasilkan listrik hingga 187,5 MW.

Ada 5 insinyur yang terlibat dalam pembangunan PLTA Jatiluhur : Agus Pramitama Ir. Sugianto Sutami S.Santoso

-

Abdulah Angdo

Bendungannya juga di sebut “morning glory” karena bentuknya seperti bunga kecubung . Turbin ini memiliki diameter atas sebesar 90 meter, dan memiliki diameter bawah 70 meter. PLTA ini memiliki 6 unit pembangkit. Direktur utama sekarang adalah Ir.H.Tjetjep Sudjaha. Proses kerja PLTA : 1. PLTA menghasilkan energy listrik rmenggunakan air yang mengalir ke turbin 2. Turbin bergerak karena ada air yang mengalir 3. Kemudian generator berkerja karena turbin bergerak sehingga menghasilkan energy lisrik 4. Tenaga listrik tersebut di tampung lalu di alirkan ke rumah warga . Turbin adalah suatu komponen berupa kipas besar di gerakan oleh air Sweethart adalah tampungan listrik yang bias menampung listrik sebanyak 150 kv Pembangkit listrik ini dapat mendisitribusikan listriknya dari Pulau Jawa sampai Pulau Bali ada 3 bendungan : 1. Sangguling. 2. Cirata 3. Ir. Haji Djuanda (jati luhur) Dampak adanya PLTA Jatiluhur kepada lingkungan di sekitarnya adalah daerah pertanian di sana menjadi subur dan kebutuhan listrik terpenuhi.

2.2

Saung Angklung Mang Udjo Saung Angklung Mang Udjo terletak di Jl. Padasuka no.18 Bandung 40192 Jawa Barat.

Sejarah angklung sebenarnya dari Bali yang dilestarikan oleh masyarakat pulau Jawa khususnya daerah Jawa Barat. Mang Udjo mempunyai misi untuk menyebar luaskan kesemian angklung sampai ke seluruh dunia. Pertunjukan bambu yang terdapat di Saung Anklung Mang Udjo adalah Demonstrasi Wayang Golek. Wayang Golek merupakan Kesenian Khas tanah Sunda yaitu pemetasan sandiwara boneka kayu yang menyerpai badan manusai lengkap dengan kostumnya. Kesinian ini awalnya sering dipentaskan ketika upacara – upacara adat seperti: Upacara bersih desa, Ngaruwat, dll yang dilakukan oleh seorang dalang. Didalam cerita wayang golek diceritakan tentang orang yang serakah, angkara murka, kebajikan, dll yang membawa pesan moral agar kita selalu patuh terhadap sang penciptadan berbuat baik terhadap sesama. 2.3 Museum Geologi 1. Sejarah museum Geologi Berdirinya museum geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang telah du mulai sejak tahun 1850-an,oleh “Dients van het Mijnwezen”,yang berkedudukan di bogor (1852-1866) .Lembaga ini mulai pindah ke Jakarta (1866-19240 dan akhirnya pindah ke Bandung,menempati Gedung Govertment Bedrijven (sekarang gedung sate) Para ahli geologi dala mmelakukan penelitian geologi di lapangan selalu membawa contoh batuan,mineral dan fosil untuk diteliti di laboratorium karena banyak fosil yang di temukan di Indonesia sehingga memerlukan tempat khusus untuk di dokumentasikan , sehingga di bangun gedung untuk laboratorium geologi di JL.Diponogoro pada tahun 1928,gedung ini di rancang dengan gaya arsitektur “art Deco” oleh arsitek belanda Ir.H. Menalda van Schouwenberg kemudian timbul gagasan dengan memperlihatkan koleksi itu kepada masyarakat luas sehingga pada tanggal16 mei 1929 bertepatan dengan kongres Ilmu pengetahuan pasifik ke IV diresmikan gedung sebagai museum geologi dengan nama Geologische museum

2.4

Gedung Asia Afrika

Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia-Afrika Bandung ini, pada tahun 1895, hanya berupa bangunan sederhana. Bangunan yang mempunyai luas tanah 7.500 meter persegi itu, menjadi tempat pertemuan "Societeit Concordia", sebuah perkumpulan beranggotakan orang-orang Eropa, terutama Belanda yang berdomisili di Kota Bandung dan sekitarnya. Pada 1921, bangunan yang diberi nama sama dengan nama perkumpulannya tersebut, yaitu Concordia, dirombak menjadi gedung pertemuan "super club" yang paling luks, lengkap, eksekutif, dan modern di Nusantara oleh perancang C.P. Wolff Schoemaker dengan gaya Art Deco. Dan tahun 1940, dilakukan pembenahan pada gedung tersebut agar lebih menarik yaitu dengan cara merenovasi bagian sayap kiri bangunan oleh perancang A.F. Aalbers dengan gaya arsitektur International Style. Fungsi gedung ini adalah sebagai tempat rekreasi.

Pada masa pendudukan Jepang, bangunan utama gedung ini berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan yang digunakan sebagai pusat kebudayaan. Sedangkan bangunan sayap kiri gedung diberi nama Yamato yang berfungsi sebagai tempat minum-minum, yang kemudian terbakar (1944). Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), gedung ini dijadikan markas pemuda Indonesia menghadapi tentara Jepang dan selanjutnya menjadi tempat kegiatan Pemerintah Kota Bandung. Ketika pemerintahan pendudukan (1946-1950), fungsi gedung dikembalikan menjadi tempat rekreasi.

Menjelang Konperensi Asia - Afrika, gedung itu mengalami perbaikan dan diubah namanya oleh Presiden Indonesia, Soekarno, menjadi Gedung Merdeka pada 7 April 1955.

Setelah terbentuk Konstituante Republik Indonesia sebagai hasil pemilihan umum tahun 1955, Gedung Merdeka dijadikan Gedung Konstituante. Ketika konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1955, gedung ini dijadikan tempat kegiatan Badan Perancang Nasional tahun 1959, kemudian diubah menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dari tahun 1960-1971. Pada 1965, di gedung tersebut berlangsung Konperensi Islam Afrika-Asia.

Setelah meletus pemberontakan G30S tahun 1965, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan tempat tahanan politik. Pada 1966, pemeliharaan gedung diserahkan dari pemerintah pusat ke Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat, yang selanjutnya diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tahun 1968, MPRS mengubah surat keputusannya dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induk gedung, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak dibagian belakang masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS. Tahun 1969, pengelolaan gedung diambil alih kembali oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dari Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tahun 1980, seluruh gedung ditetapkan sebagai lokasi Museum Konperensi Asia-Afrika.

Pertemuan dan Konperensi yang Berlangsung Setelah Konperensi Asia-Afrika, di Gedung Merdeka Bandung 1956 1961 1965 1970 1980 Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika Sidang Dewan Setiakawan Rakyat Asia-Afrika Konperensi Islam Afrika-Asia Kongres Pertama Organisasi Islam Afrika Asia (The Afro-Asian Islamic Organization) Peringatan ke-25 Konperensi Asia-Afrika, sekaligus pembukaan Sidang Komite Ahli Hukum Asia- Afrika ke-21 (Asian-African Legal Consultative Committee / AALCC) dan peresmian Museum Konperensi Asia-Afrika 1983 Peresmian Pusat Studi dan Pengkajian Masalah Asia-Afrika dan Negara-negara Berkembang 1984 Kunjungan peserta Konperensi Menteri Penerangan Negara-negara Non-Blok (The Conference on the Ministers of Information of Non-Aligned Countries / COMINAC) 1985 Peringatan ke-30 Konperensi Asia-Afrika, sekaligus membacakan "Pesan Bandung" ("Bandung Message") 1990 Peringatan ke-35 Konperensi Asia-Afrika

1991

Kunjungan peserta Konperensi Menteri Pariwisata Asia (Pasific Asian Tourism Association / PATA)

1991

Kunjungan peserta Organisasi Konperensi Islam (The Organization of Islamic Conference)

1992

Kunjungan peserta Konperensi Negara-negara Non-Blok X sekaligus napak tilas Konperensi Asia-Afrika 1955

1995

Kunjungan peserta Sidang Organisasi Konperensi Islam IX (The Organization of Islamic Conference)

1995 2000 2005

Peringatan ke-40 Konperensi Asia-Afrika Peringatan ke-45 Konperensi Asia-Afrika oleh "Bandung Spirit" 2005 Peringatan ke-50 Konperensi Asia-Afrika, sekaligus penandatanganan Deklarasi "Nawasila" hasil Konperensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika

2008

Seminar Regional Pasifik

2.5

Observatorium Bosscha Sejarah berdirinya Observatorium Bosscha berawal dari orang yang bernama Johan

Mauritz Mohr, yaitu pendeta Belanda kelahiran Jerman yang membangun observatorium pribadi di Batavia, dan hasil pengamatan Venus pada tahun 1761 dan 1769 yang dipublikasikan dalam Philosophoical Transactions. Pada tahun 1920, Nederland Indische Sterren Kundige Vereeniging (Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, tepatnya pada tanggal 12 September 1920 diadakan rapat pertama NISV di Hotel Homman, Bandung, dan hasil keputusannya dalah untuk membangun sebuah observatorium untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda lalu menemukan tempat yang cocok di salah satu anak Pegunungan Tangkuban Perahu, 15 km ke Utara dari pusat Kota Bandung. Akhirnya, pembangunannya dimulai pada tahun 1922, dan selesai pada tanggal 1 Januari 1923, dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal Mr. D. Foch.

Observatorium Bosscha adalah sebuah Lembaga Penelitian dengan program-program spesifik. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, obervatorium ini merupakan pusat penelitian dan pengembangan ilmu astronomi di Indonesia. Sebagai bagian dari Fakultas MIPA - ITB, Observatorium Bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya bagi Program Studi Astronomi, FMIPA - ITB. Penelitian yang bersifat multidisiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang optika, teknik instrumentasi dan kontrol, pengolahan data digital, dan lain-lain. Berdiri tahun 1923, Observatorium Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia.

Observatorium Bosscha adalah lembaga penelitian astronomi moderen yang pertama di Indonesia. Observatorium ini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung dan mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian dan pengembangan astronomi di Indonesia, mendukung pendidikan sarjana dan pascasarjana astronomi di ITB, serta memiliki kegiatan pengabdian pada masyarakat. Observatorium Bosscha juga mempunyai peran yang unik sebagai satu-satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh ini. Peran ini diterima dengan penuh tanggung-jawab: sebagai penegak ilmu astronomi di Indonesia. Dalam program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit, masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains. Dalam terminologi ekonomi modern, Observatorium Bosscha berperan sebagai public goods. Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.

Direktur Observatorium 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 1923 - 1940: Dr. Joan Voûte 1940 - 1942: Dr. Aernout de Sitter 1942 - 1946: Prof. Dr. Masashi Miyaji 1946 - 1949: Prof. Dr. J. Hins 1949 - 1958: Prof. Dr. Gale Bruno van Albada 1958 - 1959: Prof. Dr. O. P. Hok dan Santoso Nitisastro (pejabat sementara) 1959 - 1968: Prof. Dr. The Pik Sin 1968 - 1999: Prof. Dr. Bambang Hidayat 1999 - 2004: Dr. Moedji Raharto 2004 - 2006: Dr. Dhani Herdiwijaya 2006 - 2010: Dr. Taufiq Hidayat 2010 - 2012: Dr. Hakim Luthfi Malasan 2012 - sekarang: Dr. Mahasena Putra

2.6 Recount (Bahasa Inggris) On 9th of February 2012 we,the 8th grade students of Pangudi Luhur Junior High School have a Study tour to Bandung and I‟m arrived at school at half to five in the morning because the road was really peacefull and not many traffic and it‟s still dark We departed to bandung at a quarter to six in the morning, firstly I have a seat in the front and then I was moved to the middle beside maxi and then we have a breakfast at the bus and not long after that we stopped at a rest area in the toll road if I‟m not wrong it‟s rest area 57 ,at there we have a break to but some food and go to the rest room. After from the rest area we continue our study tour to Bandung, before we went to bandung we stopped first at PLTA jatiluhur at there I make a group with Murbo and Rian , Murbo is the one who write the instructor say and Rian is helping Murbo and I the one who taking the picture At there we first walking to the dam its rather far but we manage get to the dam ,the dam is so big and really scary to looked down after that we walked back and go to the building and

watch some presentasi in there about the PLTA jatiluhur after that we walked down back to the bus and we go to the saung angklung udjo because we get there faster than its predicted so we waiting there a while but soon the concert was started When the concert,the host was so nice to us all and there is rain came and also the strong wind was come because of that we got a little wet because of the rain and wind but the concert is great and then we get an angklung each one and we played a song, and the concert is ended,when we went back to bus its still raining so we got a little wet After we went to the Udjo‟s Angklung hut we go to the geology museum at there we first watching a film and then we looked around the museum for a while ,it‟s a big museum and there is a lot of ancient stuff and and some history of the beginning of the earth and then we went back to the bus and go to the hotel At the hotel we fiind our room and took the key in the “aula” , I‟m in the same room with Murbo,Rian and Maxi when we went into our room and we take a bath simulatinously after that we had a little free time and at the seven o‟clock at the evening we had a dinner in the café in the hotel and then we all go to the “aula” to complete the textbook after that we go to bed at 11o‟clock In the morning we woke up at 5 o‟clock and then take a bath and ate breakfast in the café in the hotel after that we packed the belongings and went to the bus and went to bosccha Observatory ,after we arrived at bosccha we walked about 1 km to bosscha in there we first took a photo of each class and the we splited into two group, one Group went to the Observatory and the other group went to a house to watch a movie about bosscha Observatory after we went to the both we walked down again to the bus and went to the kartika sari for shopping some souvenir . After from kartika sari we went to Museum of confrention asia – Africa but we waited in the bus for about 1 hour because the museum is still not open but inside the museum is about the history of something that ever happened in Indonesia and the building is big and clean after we visited the musum we went to the rest area in toll road to rest a while and buy some souvenir because we can‟t go to tangkuban perahu because we don‟t have much time after that we went back to Jakarta but there is a traffic jam in the toll road so we arrived in the Pangudi Luhur Junior High School and we all went back to our home…

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan Banyak sakali sejarah yang ada di setiap daerah di Indonesia yang masih bisa kita pelajari dan lihat 3.2 Saran Kunjungi lah tempat – tempat yang memiliki sejarah yang memajukan Negara Indonesia sengga kit tau apa yang dulu terjadi dan merubah nasib Indonesia  Kepada pihak objek : PLTA Jatiluhur : Tolong jaga kebersihan di jalan menuju ke bendungan karena banyak „ranjau‟ kambing. Saung Angklung Udjo : Tambahkan penerangannya karena terlalu gelap. Tambahkan atap karena panggung berada di ruang terbuka, supaya penonton tidak kehujanan. Museum Geologi : Kalau bisa guide – nya ditambah, karena murid – murid SMP Pangudi Luhur sangat banyak serta penjelasannya juga nggak jelas Observatorium Bosscha : Penyediaan transportasi ke komplek Observatorium Bosscha.

Penyediaan tempat untuk bersantai / berteduh. Museum Konferensi Asia – Afrika : Guide – nya kurang jelas.  Kepada pihak penyelenggara : Objek – objek wisata yang dikunjungi harusnya lebih banyak, untuk menambah wawasan murid – murid. Perjanjian dengan pihak – pihak objek seharusnya dicek 2 kali. 3.3 LAMPIRAN

Gambar bendungan PLTA jatiluhur

Dalam bendungan Jatiluhur

Dia Saung angklung Mang Udjo

MangUdjo

Observatorium bosscha

Bangunan utama Observatorium Bosscha

Teleskop Zeiss

Diorama Gedung Asia Afrika

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful