Anda di halaman 1dari 29

Tugas Etika Bisnis

Prinsip-Prinsip Etika dalam Bisnis

Disusun oleh : Febrina Lesley Natali (545090029) Christine Aprilia (545090031) Indri Prawilo (545090033) Elizabeth Maria (545090047) Eileen Celsia (545090053)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA 2011

Pendahuluan

Pada tahun 1948, partai Nasional khusus Kulit Putih menguasai pemerintahan Afrika Selatan dan mengesahkan undang-undang Apartheid pertama. Sistem Apartheid memberlakukan diskriminasi rasial pada seluruh aspek kehidupan. Apharteid menghapuskan seluruh penduduk kulit hitam dari hak-hak politik dan sipil seperti: mereka tidak dapat memilih, tidak dapat memiliki jabatan politis yang penting, tidak dapat bergabung atau menawar secara kolektif, tidak memiliki ha katas kebebasan berkumpul atau hak atas undang-undang. Kulit hitam harus tinggal di wilayah yang terpisah, mereka tidak dapat menikah dengan kulit putih, bersekolah ditempat yang terpisah dengan kulit putih dan lebih rendah, menggunakan kamar mandi yang terpisah, pintu masuk yang terpisah dan dilarang bersosialisasi dengan kulit putih. Pada tahun 1980-an ada sebuah perusahaan minyak Amerika yang bernama Caltex, beroperasi di Afrika Selatan. Caltex, didirikan oleh Texaco dan Standard Oil. Seiring berjalannya waktu peruashaan ini terus bertumbuh dengan memperluas operasi pengilangan di Afrika Selatan. Perekonomian Afrika Selatan menggantungkan 25 % kebutuhan energy mereka pada minyak, dan hukum mewajibkan hal seperti itu. Pemegang saham Texaco dan Standard Oil menentang operasi pengilangan di Afrika Selatan, sehingga meminta Caltex untuk memutuskan hubungan dengan pemerintahan Afrika Selatan. Tetapi manajemen Caltex merasa tidak perlu mereka menghentikan penjualan minyak pada pemerintahan Afrika Selatan ataupun meninggalkan negara tersebut. Perusahaan mengakui bahwa operasi emmberikan keuntungan sumber daya strategis bagi pemerintahan rasis Afrika Selatan. Perusahaan juga menyatakan mereka sesungguhnya membantu orangorang kulit hitam menjadi penaggung jawab perusahaan. Permasalahan ini tentang apakah Caltex perlu melanjutkan operasinya di Afrika Selatan merupakan perdebatan moral. Argumen-argumen yang diajukan kedua belah pihak mengacu pada pertimbangan-pertimbangan moral, yang dapat dikelompokan dalam empat jenis standar moral yaitu utilitarianisme, hak,

keadailan, dan perhatian. Lebih jauh lahi, perdebatan ini mengacu pada karakter moral orang-orang yang ada di dalamnya. 2.1 Utilitarianisme : Menimbang Biaya dan Keuntungan Sosial Pada awal tahun 1960-an, posisi Ford sebagai produsen mobil mengalami penurunan besar akibat persaingan ketat dari produsen mobil luar negeri, khususnya dari perusahaan-perusahaan Jepang yang memproduksi mobil dengan desain mobil kecil dan hemat bahan bakar. Akhirnya direktur Ford, Lee laccoca memperoleh kembali pangsa pasar dengan memfokuskan strategi proses desain, pemanukfaturan, dan penjualan yang cepat atas sebuah mobil baru, yaitu Pinto (sebuah mobil murah dengan berat kurang dari 2000 pon, dan harganya tidak lebih dari $2000, dipasarkan dalam waktu 2 tahun tidak 4 tahun seperti biasanya). Namun Pinto merupakan proyek yang terburu-buru sehingga dalam pembuatannya hanya difokuskan pada model bukan desain teknisnya. Model desain Pinto mengharuskan pemasangan tangki bensin di belakang gardan yang lebih rentan terhadap kebocoran akibat tabrakan dari belakang sehingga dapat menyebabkan percikan api yang dapat meledakan mobil dan membahayakan keselamatan penumpang. Hal ini sudah dilakukan pengujian pada Pinto. Namun manajer Ford tetap memutuskan memproduksi Pinto dengan alasaan :
1.

Desain mobil memenuhi semua standar hukum dan peraturan pemerintah, yaitu tangki bahan bakar tetap dalam keadaan utuh meskipun mobil ditabrak dari belakang dengan kecepatan kurang dari 20 mil per jam.

2. 3.

Manajer Ford merasa mobil ini memiliki tingkat keamanan yang sebanding dengan mobil yang diproduksi dari perusahaan lain Biaya modifikasi Pinto tidak dapat ditutupi oleh keuntungan yang diraih (biaya modifikasi tangki bahan bakar sebesar $137 juta)

Utilitarianisme Tradisional Tindakan tepat dari sudut pandang etis adalah dengan memilih kebijakan yang mampu memberikan utilitas paling besar. Prinsip utilitarian menurut Jeremy Bentham menyatakan bahwa :

Suatu tindakan dianggap benar dari suatu sudut pandang etis jika dan hanya jika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang dihasilkan oleh tindakan lain yang dapat dilakukan. Prinsip utilitarian mengasumsikan bahwa kita bisa mengukur dan menambahkan kuantitas keuntungan yang dihasilkan oleh suatu tindakan dan menguranginya dengan jumlah kerugian dari tindakan tersebut, dan selanjutnya menentukan tindakan mana yang menghasilkan keuntungan paling besar dan biaya paling kecil. Prinsip utilitarian mengatakan bahwa tindakan yang benar dalam suatu situasi adalah tindakan yang menghasilkan utilitas lebih besar dibandingkan kemungkinan tindakan lainnya, namun ini tidak berarti tindakan yang benar adalah tindakan yang menghasilkan utilitas paling besar. Satu hal yang harus diperhatikan yakni tidak hanya mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi langsung dari tindakan kita melainkan juga mempertimbangkan biaya dan keuntungan langsung yang ditawarkan masing-masing alternatif, serta perngaruh-pengaruh tidak langsungnya juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, untuk memastikan apa yang harus kita lakukan dalam situasi tertentu, kita perlu melakukan tiga hal, yakni : 1. Menentukan tindakan-tindakan atau kebijakan alternatif apa saja yang dapat dilakukan dalam situasi tertentu. Manajer ford mempertimbangkan dua alternatif (mendesain kembali Pinto dengan menambahkan pelindung karet di sekeliling tangki atau tidak sama sekali) 2. Untuk setiap tindakan alternatif, kita perlu mempertimbangkan keuntungan dan biaya langsung dan tidak langsung yang akan diperoleh dari tindakan tersebut bagi semua orang yang terlibat dnegan tindakan tersebut pada masa yang akan datang Perhitungan Ford atas biaya dan keuntungan yang akan diterima oleh semua pihak yang terlibat jika desain Pinto diubah, dan yang akan ditanggung jika desain Pinto tidak diubah 3. Alternatif yang memberikan jumlah utilitas paling besar wajib dipilih sebagai tindakan yang secara etis adalah tepat.

Manajer Ford memutuskan bahwa tindakan yang memberikan biaya paling rendah dan keuntungan paling tinggi adalah tidak mengubah desain Pinto. Masalah Pengukuran Masalah yang muncul dalam utilitarianisme adalah saat menilai dan mengukur utilitas. Salah satunya adalah bagaimana nilai utilitas dari berbagai tindakan yang berbeda pada orang-orang yang berbeda dapat diukur atau dibandingkan seperti yang dinyatakan dalam utilitarianisme? Misalkan terdapat dua orang berbeda (A dan B) yang sama-sama menikamati pekerjaan. Bagaimana kita bisa menentukan apakah utilitas yang diperoleh si A lebih besar atau lebih kecil dibanding dengan utilitas yang si B peroleh? Setiap orang mungkin merasa yakin bahwa dia bisa memperoleh keuntungan paling besar dari suatu pekerjaan, namun karena kita tidak dapat menjadi orang lain, maka penilaian ini tidak dapat memiliki dasar objektif. Para kritikus berpendapat bahwa komparatif atas nilai dari sesuatu bagi orang-orang yang berbeda tidak dapat diperoleh. Masalah kedua adalah sulit untuk menilai sejumlah biaya dan keuntungan tertentu. Misalnya para manajer Ford yang menilai nyawa manusia sebesar $200.000. Tapi apakah nilai ini tidak terlihat sembarangan? Karena menilai nyawa seseorang merupakan tindakan yang secara moral tidak tepat. Masalah ketiga adalah banyaknya keuntungan dan biaya dari suatu tindakan tidak dapat diprediksi dengan baik, maka penilaiannya pun juga tidak dapat dilakukan dengan baik. Misalnya,akibat-akibat yang menguntungkan atau merugikan dari sebuah ilmu pengetahuan sangat sulit dipediksi. Masalah keempat adalah bahwa sampai saat ini masih belum jelas apa yang bisa dihitung sebagai keuntungan dan apa yang bisa dihitung sebagai biaya. Misalkan sebuah bank harus memastikan apakah akan memberikan pinjaman pada manajer sebuah bioskop porno lokal atau pada manajer sebuah bar yang khusus menyediakan pelayanan bagi kaum homoseksual. Satu kelompok masyarakat mungkin melihat bahwa tindakan mendukung pornografi dan homoseksual merupakan suatu keuntungan bagi masyarakat. Namun kelompok lain mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang merugikan, jadi dinilai sebagai biaya.

Tanggapan Utilitarian Terhadap Masalah Penelitian Para Utilitarianisme memberikan sejumlah tanggapan untuk menghadapi keberatankeberatan yang muncul. Pertama, kaum utilitarian menyatakan bahwa meskipun utilitarianisme idelanya mensyaratkan penilaian-penilaian yang akurat dan dapat dikuantifikasikan atas biaya dan keuntungan, namun persyaratan ini dapat diperlonggar jika penilaian seperti itu tidak dapat dilakukan. Utilitarianisme hanya menegaskan bahwa konsekuensi dari semua tindakan wajib dinyatakan dengan tindakan wajib dinyatakan dengan tingkat kejelasan dan ketepatan sebaik mungkin dan semua informasi relevan sehubungan dengan konsekuensi-konsekuensi tersebut harus disajikan dalam bentuk yang memungkinkan dilakukannya perbandingan dan pertimbangan secara sistematis antara yang satu dengan yang lainnya. Namun apabila data-data kuantitatif tidak dapat diperoleh,maka kita bisa menggunakan penilaian umum dan pertimbangan akal sehat atas nilai-nilai komparatif. Misalnya steak sebagai makanan memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding kacang, siapapun yang memakannya. Kedua, kaum utilitarian menunjuk sejumlah kriteria akal sehat yang dapat digunakan untuk menentukan nilai relatif yang perlu diberikan pada berbagai kategori barang. Satu kriterianya antara barang intinsik dan instrumental. Barang instrumental adalah barang yang dianggap bernilai hanya karena barang-barang tersebut mengarahkan pada hal-hal yang dianggap baik. Misalnya berobat ke dokter gigi, karena tindakan tersebut hanya diinginkan sebagai cara untuk menjadi sehat. Sedangkan barang intrinsik adalaah barang yang diinginkan dan tidak bergantung pada keuntungan-keuntungan lain yang mungkin dihasilkannya. Contohnya adalah Kesehatan,diinginkan karena memang diinginkan. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa barang-barang intrinsik memiliki prioritas lebih tinggi dibanding barang-barang instrumental. Dalam situasi, uang yang merupakan barang instrumental tidak boleh diprioritaskan atas kehidupan dan kesahatan yang dalam hal ini merupakan barang-barang yang memiliki nilai intrinsik. Ketiga, kriteria akal sehat yang dapat digunakan untuk menilai suatu barang adalah perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan menyatakan bahwa tanpa sesuatu itu maka dia akan mengalami kerugian, misalnya kebutuhan-

kebutuhan dasar manusia yang jika tidak dipenuhi maka orang tersebut akan mengalami kerugian, misalnya sakit,luka-luka,atau kematian. Sedangkan keinginan hanya terbatas dengan apa yang diinginkan oleh seseorang saja. Kebutuhan bisa saja sebagai sebuah keinginan, namun keingingan tidak dapat dijadikan sebagai kebutuhan, misalnya keinginan memiliki barang-barang mewah yang buka trmasuk pokok. Secara umum, memenuhi kebutuhan dasar seseorang lebih berharga dibanding dengan memenuhi keinginannya. Jika orang-orang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka maka akan timbul kerugian yang akan dirasakan dan tidak dapat diimbangi dengan pemenuhan atas berbagai keinginan. Masalah Hak dan Keadilan Hambatan utama utilitarianisme adalah tidak dapat menghadapi dua jenis permasalahan moral yang berkaitan dengan hak dan keadilan. Dengan kata lain bahwa ada tindakan tertentu yang secara moral dibenarkan meskipun pada kenyataanya tidak adil dan melanggar hak-hak orang lain. Misalnya dapat dilihat dari para manajer Ford yang menagani desain Pinto. Apabila mereka memutuskan untuk mengubah desain Pinto dan menambahkan $11 dalam harga tiap unitnya, maka mereka membebankan biaya pengubahan desain sebesar $137 pada semua pembeli Pinto. Namun dengan tidak mengubah desain Pinto, para manajer Ford berarti membebankan semua biaya pada 180 orang yang akan meninggal akibat desain Pinto. Ada kemungkinan para pengendara Pinto dengan senang hati akan menerima tambahan resiko ini sebagai ganti harga mobil yang lebih rendah, namun dalam hal ini mereka tidak memiliki pilihan karena mereka tidak mengetahui bahwa mobil tersebut memiliki resiko tambahan. Kasus Pinto ini menggambarkan dengan jelas bahwa utilitarianisme mengabaikan aspek-aspek penting dari etika dengan mengesampingkan pertimbangan atas keadilan dan hak dalam suatu analisis yang hanya mempertimbangkan biaya dan keuntungan dari suatu keputusan.

Tanggapan Utilitarian Terhadapa Pertimbangan Hak dan Keadilan Untuk menangani keberatan dalam contoh kasus ketidakadilan yang diajukan oelh para kritikus utilitarian tradisional, kaum utilitarian mengajukan rule-utilitarianism (praturan utilitarianisme) dengan tujuan untuk membatasi analisis utilitarian yang hanya pada evaluasi atas peraturan moral. Menurut rule-utilitarian, saat menentukan apakah suatu tindakan dianggap etis, kita tidak perlu menanyakan apakah tindakan tersebut akan memberikan nilai utilitas paling besar. Sebaliknya kita perlu menanyakan apakah tindakan tersebut diwajibkan oleh peraturan moral yang harus dipatuhi oleh semua orang. Jika benar, maka kita perlu melakukannya. Peraturan moral yang benar adalah peraturan-peraturan yang mampu memberikan nilai utilitas paling besar jika semua orang mengikutinya. Misalnya seorang pengusaha akan menetapkan harga dangan salah satu pesaing. Menurut rule-utilitarian, pengusaha tidak perlu menanyakan apakah tindakan menetapkan harga tersebut akan memberikan utilitas yang lebih besar dibandingkan dengan tindakan-tindakan alternatif lainnya. Sebaliknya pengusaha tersebut harus menanyakan apa saja peraturan moral yang benar dalam kaitannya dengan penetapan harga. Kemudian menyakan apakah pengusaha tersebut perlu terlibat dalam tindakan penetapan harga ini. Teori rule-utiliatarian memiliki dua bagian penting, yakni : 1. Suatu tindakan dianggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jika tindakan tersebut dinyatakan dalam peraturan moral yang benar 2. Sebuah peraturan moral dikatakan benar jika dan hanya jika jumlah utilitas total yang dihasilkannya: jika semua orang yang mengikuti peraturan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang diperoleh : jika semua orang mengikuti peraturan moral alternatif lainnya. Dengan demikian, menurut rule-utilitarian fakta bahwa sebuah tindakan tertentu akan mampu menghasilkan utilitas dalam suatu kondisi tertentu, tidak berarti bahwa hal itu benar dari sudut pandang etis.

2.2 Hak dan Kewajiban Pada tanggal 17 Mei 2009 anak berumur 17 tahun yang bernama Yiu Wah yang dipekerjakan dari umur 15 tahun, telah terbunuh ketika membersihkan mesin yang macet di pabrik pemasok China yang membuat produk Walt Disney Company, perusahaan terbesar kedua. Para saksi mengklaim bahwa pekerja anak-anak merupakan pelanggaran hak asasi yang biasa terjadi pada perusahaan pemasok dari disney. Hal ini bukan yang pertama kali bahwa Walt Disney Company dituduh telang elanggar hak asasi dala rantai pasokan. Pada tanggal 3 Maret 2003 Country Reports on Human Rights Practices, Departemen Luar Negeri AS mengatakan ekonomi China juga membuat penggunaan besar-besaran tenaga kerja penjara paksa. Pabrik-pabrik bahkan membeli bahan kemudian dibuat dalam penjara dan kemudian dimasukkan kedalam produk mereka sendiri. Bahkan sebelumnya, pada tahun 2001 Hong Kong Christian Industrial Commitee telah membuat kunjungan lapangan dalam rangka menyamar untuk beberapa pabrik china Walt disney dan melaporkan bahwa mereka mendirikan melebihi batas jam kerja, upah kemiskinan, denda tidak masuk akal, bahaya tempat kerja, makanan yang buruk dan berbahaya asrama yang penuh sesak. Prihatin dengan laporan kondisi tersebut pemegang saham disney menyarankan bantuan yang mengadopsi 11 prinsip. Prinsip-prinsip ini dirancang agar komitmen perusahaan dapat diterima secara luas dan melalui standar HAM dan tenaga kerja untuk China. Prinsip-prinsip hak asasi manusia yang terpenting adalah seperti berikut : 1. Tidak ada barang atau produk dari fasilitas perusahaan yang dihasilkan dengan menggunakan tenaga kerja terikat, tenaga kerja paksa dari kamp penjara atau sebagai bagian dari program pembentukan kembali atau pendidikan kembali melalui kerja. 2. 3. Fasilitas darn pemasok wajib memberikan upah yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar para pekerja, dan juga jam kerja Fasilitas dan pemasok berkewajiban melarang penggunaan hukuman badan serta perlakuan kasar secara fisik, verbal, ataupun pelecehan seksual terhadap pekerja.

4. 5. 6.

Fasilitas dan pemasok boleh menggunakan metode produkasi yang tidak berpengaruh negatif terhadap keamanan kerja dan kesehatan para pekerja. Fasilitas dan pemasok tidak boleh meminta bantuan polisi militer untuk mencegah pekerja melakukan hak-hak mereka. Kita perlu melaksanakan tindakan-tindakan untuk menjaga kebebasan para pekerja dan pekerja dari pemasok: kebebasan berkumpul, gtermasuk hak untuk membentuk serikat pekerja dan melakukan tawar menawar kolektif, kebebasan berpendapat dan kebebasan terhadap perlakuan semena-mena atau penahanan. Manajer Disney yang tidak mau mendukung hak-hak prinsip manusia karena

perusahaan sudah memiliki kode etik dan sudah diperiksa pabrik untuk memastikan kepatuhan terhadap kode tersebut. Kritikus, bagaimanapun, menjawab bahwa kode yang dimiliki disney itu terlalu sempit, bahwa itu tidak ditegakkan, sistem inspeksi itu cacat dan perusahaan tidak mengadopsi prinsip-prinsip hak asasi manusia, kemungkinan akan terus memiliki masalah. Konsep hak berperan penting dalam banyak argumen moral dan klaim moral yang diminta alam kontroversi yang melibatkan etika bisnis. Karyawan misalnya, berpendapat bahwa mereka memiliki "hak untuk pekerjaan yang sama"; manajer menegaskan bahwa serikat pekerja melanggar "hak mereka untuk mengelola"; investor mengeluh bahwa pajak melanggar "hak milik mereka", dan konsumen mengklaim bahwa mereka memiliki "hak untuk tahu ". Pada tahun 1948, PBB mengesahkan Universal Declaration of Human Rights, yang menyatakan bahwa semua manusia memiliki : Hak atas properti pribadi dan juga propertibersama dengan orang lain Hak untuk memperoleh pekerjaan, memilih pekerjaan, memperoleh lingkungan kerja yang adil dan menyenangkan, dan memperoleh perlindungan terhadap pengangguran. Hak untuk memperoleh upah yang adil dan layak untuk menjaminn bahwa, para pekerja dann keluarganya bisa menikmati hidup dengan layak. Hak untuk membentuk dan begabung dengan serikat para pekerja. Hak untuk beristirahat dan menikmati waktu luang, termasuk batasan jam kerja yang masuk akal dan libur berkala dengan tetap memperoleh gaji.

Bagian pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman atas konsep-konsep tersebut serta sejumlah prinsip etika metode analisis yang mendasarinya. Konsep Hak Hak adalah klaim kepemilikan individu atau sesuatu. Hak hukum berasal dari sebuah sistem hukum yang memungkinkan atau mengizinkan seseorang untuk bertindak dalam suatu cara tertentu atau yang mewajibkan orang lain bertindak dalam suatu cara tertentu terhadapnya. Hak hukum terbatas hanya pada yuridiksi khusus di mana sistem hukum yag memberikannya dilaksanakan. Hak juga berasal dari sistem standar moral yang tidak bergantung pada sistem hukum tertentu. Misalnya: hak untuk bekerja tidak dijamin dalam Konstirusi Amerika, namun banyak yang menyatakan bahwa ini adalah hak yang dimiliki semua manusia. Hak moral atau hak asasi manusia didasarkan pada aturan dan prinsip-prinsip moral yang menegaskan bahwa semua manusia diizinkan atau diberi kewenangan untuk melakukan sesuatu atau berhak memiliki sesuatu. Hak moral tidak terbatas pada yuridiksi tertentu. Hak merupakan sebuah sarana yang penting dan bertujuan agar memungkinkan individu untuk memilih dengan bebas apa pun kepentingan atau aktivitas mereka dan melindungi pilihan-pilihan mereka. Hak moral mengidentifikasi aktivitas yang boleh dilaksanakan atau bebas dilaksanakan, atau harus dibantu dalam pelaksanaanya oleh orang lain; dan hak ini melindungi usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam pelaksaan aktivitas tersebut dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh hak-hak tertentu. Hak moral seperti ini memiliki tiga karakteristik penting, yaitu : 1. Memiliki hak moral berarti orang lain memiliki kewajiban-kewajiban tertentu terhadap pemilik hak tersebut. Kewajiban secara umum merupakan sisi lain dari hak moral: jika saya memiliki hak moral untuk melakukan sesuatu, maka orang lain memiliki kewajiban moral untuk tidak ikut campur mengganggu saat saya melaksanakannya. Jadi hak moral memberikan kewajiban korelatif pada orang lain baik itu kewajiban untuk tidak ikut campur atau kewajiban untuk melakukan sesuatu yang positif.

2.

Hak moral memberikan otonomi dan kesetaraan bagi individu dalam mencari kepentingan-kepentingan mereka. Hak menunjukkan aktivitas yang bebas mereka cari atau tidak mereka cari dan yang pencariannya tidak boleh diabaikan demi kepentingan orang lain kecuali untuk alasan-alasan yang bersifat khusus dan penting. Jadi, mengakui hak moral seseorang berarti mengakui bahwa ada salah satu aspek dalam diri orang tersebut yang tidak terpengaruh atau tunduk pada keingian-keinginan saya dan kepentingan orang tersebut tidak lebih rendah dibandingkan kepentingan saya.

3.

Hak moral memberikan dasar untuk membenarkan tindakan yang dilakukan seseorang dan untuk melindungi atau membantu orang lain. Jika saya memiliki hak moral untuk melakukan sesuatu, maka saya otomatis juga memiliki pembenaran moral dalam melakukannya. Dengan adanya ketiga karakteristik ini, hak moral berarti memberikan dasar

dalam membuat keputusan moral yang secara sustansial berbeda dari standarstandar utilitarian. 1. Hak moral mengharuskan adanya moralitas dari sudut pandang individu, sementara ulitarianisme mensyaratka moralitas dari sudut pandang masyarakan ssecara keseluruhan. 2. Hak membatasi validitas acuan pada keuntungan sosial. Dengan kata lain jika seseorang memiliki hak untuk melakukan sesuatu, maka salah apabila ada orang lain yang ikut campur, meskipun sebagian besar anggota masyarakat mungkin memperoleh utilitas lebih besar dari campur tangan itu. Semakin penting kepentingan yang dilindungi oleh sebuah hak, maka semakin besar pula imbal balik utilitariannya. Hak Negatif dan Positif Hak negatif dapat digambarkan dari fakta bahwa hak-hak yang termasuk didalamnya dapat didefinisikan sepenuhnya dalam kaitannya dengan kewajiban orang lain untuk tidak ikut campur dalam aktivitas-aktivitas tertentu dari orangorang yang memiliki hak tersebut. Contoh : jika saya punya hak untuk menggunakan, menjual atau menghancurkan aset-aset bisnis pribadi saya, maka ini

berarti semua orang lain berkewajiban untuk tidak mencegah saya untuk menggunakan, menjual atau menghancurkan properti bisnis pribadi saya. Hak positif tidak hanya memberikan kewajiban negatif, namun juga mengimplikasikan bahwa pihak lain memiliki kewajiban positif pada si pemilik hak untuk memberikan apa yang dia perlukan untuk dengan bebas mencari atau mengejar kepentingan-kepentingannya. Hak positif ini belum ditegaskan sampai abad ke-20, sedangkan hak negatif telah sering digunakan di abad ke-17 dan 18 oleh para manifesto yang bertujuan untuk melindungi individu terhadap gangguan pemerintahan monarki. Hak positif mulai berperan penting di abad ke-20 saat masyarakat mulai semakin berusaha menyediakan sendiri semua kebutuhan hidup anggotanya yang tidak mampu mereka peroleh. Orang-orang abad ke-18 menginterpretasikan hak untuk hidup sebagai hak negatif untuk tidak dibunuh orang lain, sementara abad ke-20 menginterpretasikannya kembali dengan mengacu pada hak positif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan dasar. Hak dan Kewajiban Kontraktual Hak dan Kewajiban Kontraktual adalah hak terbatas dan kewajiban korelatif yang muncul saat seseorang membuat perjanjian dengan orang lain. Hak dan Kewajiban Kontraktual dapat dibedakan : 1. 2. 3. Keduanya berkaitan dengan individu tertentu dan kewajiban korelatif hanya dibebankan pada individu tertentu. Hak kontraktual muncul dari suatu transaksi khusus. Kecuali saya bener-benar berjanji dengan Anda tidak memperoleh hak kontraktual apa pun atas saya. Hak dan kewajiban kontraktual bergantung pada sistem peraturan yang diterima publik, sistem yang mengatur tentang transaksi yang memunculkan hak dan kewajiban tersebut. Tanpa adanya perjanjian kontrak, serta hak dan kewajiban yang diciptakannya, masyarakat bisnis modern tidak akan berjalan. Pada dasarnya hampir semua transaksi bisnis pada titik tertentu mewajibkan salh satu pihak untuk bergantung pada pernyataan pihak lain, di mana pihak lain tersebut berjanji akan membayar,

melakukan pekerjaan, atau akan mengirim barang-barang dalam jumlah dan kualitas tertentu. Sistem peraturan yang mendasari hak dan kewajiban kontraktual secara umum diinterpretasikan mencakup sejumlah batasan moral : 1. 2. 3. 4. Kedua belah pihak dalam kontrak harus memahami sepenuhnya sifat dari perjanjian yang mereka buat Kedua belah pihak dilarang mengubah fakta perjanjian kontraktual dengan sengaja. Kedua belah pihak dalam kontrak tidak boleh menandatangani karena paksaan atau ancaman Perjanjian kontrak tidak boleh mewajibkan kedua belah pihak melakukan tindakan-tindakan amoral. Dasar Hak Moral : Kant Dasar yang lebih baik bagi hak moral diberikan oleh etis yang dikembangkan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Kant berusaha mennunjukkan bahwa ada hak dan kewajiban moral tertentu yang dimiliki semua manusia apapun keuntungan utilitarian yang diberika dari pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut pada orang lain. Teori Kant didasarkan pada sebuah prinsip moral yang ia sebut perintah kategoris dan yang mewajibkan semua orang diperlakukan sebagai makhluk yang bebas dan sederajat dengan yang lain. Rumusan Pertama Perintah Kategoris Kant Versi perintah kategoris Kant berasal dari prinsip berikut ini : Sebuah tindakan secara moral benar bagi seseorang dalam suatu situasi jika, dan hanya jika, alasan orang tersebut melakukan tindakan itu adalah alasan yang dipilih semua orang dalam situasi yang sama. Contoh ; saya berusaha memutuskan apakah akan memecat seorang pegawai karena dia berbeda ras. Menurut prinsip Kant, dsaya perlu bertanya paa diri sendiri apakah saya menyetujui tindakan seseorang memecat pegawai karena alasan ras. Secara khusu, saya perlu bertanya pada diri sendiri apakah saya bersedia dipecat jika atasan

saya berbeda ras. Jika saya tidak ingin orang lain melakukan tindkan seperti itu, bahkan pada diri saya sendiri, melakukannya. Dengan demikian, rumusan pertama perinta kategoris mencakup dua kriteria : 1. 2. Universalisabilitas : alasan seseorang melakukan suatu tindakan haruslah alasan yang dapat diterima semua orang, setidaknya daam prinsip Reversibilitas : alasan seseorang melakukan suatu tindakan haruslah alasan yang dapat dia terima jika orang lain menggubakannya, bahkan sebagai dasar dari bagaimana mereka memperlakukan dirinya. Rumusan kedua Perintah Kategoris Kant Bertindaklah dalam suatu cara seperti Anda memperlakukan semua manusia, baik terhadap diri sendiri atau orang lain, bukan hanya sebagai sarana, namun juga sebagai tujuan. Atau janga pernah memperlakukan orang lain sebagai sarana namun juga sebagai tujuan. Memperlakukan manusia sebagai tujuan adalah : a. b. Menghormati kebebasan semua orang dengan memperlakukan mereka hanya seperti yang mereka setujui sebelumnya Mengembangkan kapasitas semua orang untuk memilih tujuan secara bebas bagi dirinya sendiri Memperlakukan seseorang hanya sebagai sarana berarti memanfaatkan orang tersebut hanya sebagai cara dalam meraih kepentingan dan tidak melibatkan penghargaan ataupun pengembangan atas kemampuannya untuk memilih secara bebas. Versi kedua dijelaskan dalam kalimat bberikut : Suatu tindakan secara moral benar bagi seseorang jika, dalam melakukannya orang tersebut tidak hanya memanfaatkan orang lain sebagai sarana dalam meraih kepentingan-kepentingannya, namun juga menghargai dan mengembangkan kapasitas mereka untuk memilih secara bebas bagi diri mereka sendiri. Contoh: seorang pegawai wajib melaksankan tugas-tugas yang tidak menyenangkan jika dia secara sukarela setuju menerima pekerjaan tersebut dan mengetahui bahwa maka secara moral salah bagi saya bila saya

pekerjaannya itu mencakup tugas-tugas yang tidak menyenangkan. Namun salah jika seorang pegawai diharuskan menerima resiko tanpa sepengetahuannya. Hak Menurut Kant Untuk mengetahui hak moral khusus yang dimiliki seseorang, kita pertama perlu mengetahui apa kepentingannya dan apakah ada alasan yang baik untuk memberikan hak yang dilindungi terhadap kepentingan tersebut, dan bukan kepentingan yang lain. Contohnya, untuk menyatakan bahwa manusia memiliki hak atas kebebasan berbicara, kita perlu menunjukkan bahwa kebebasan mengatakan sesuatu yang ingin dikatakan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Hak-hak tertentu dipertahankan dengan berdasarkan pada dua rumusan Kant tentang perintah kategoris : 1. Manusia memiliki sebuah kepentingan yang jelas untuk dibantu dengan diberi pekerjaan, makanan pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan yang mereka perlukan apabila mereka tidak dapat memperolehnya sendiri 2. Manusia juga memiliki sebuah kepentingan yang jelas untuk tidak dirugikan atau ditipu serta memiliki kebebasan dalam berpikir, berorganisasi, berbicara dan menjalani kehidupan pribadi seperti yang mereka pilih. 3. Seperti yang telah kita lihat, manusia memiliki sebuah kepentingan yang jelas untuk mempertahankan intuisi kontrak. Dengan kata lain manusia memiliki hak kontraktual atas apa yang dijanjikan pada mereka seperti dalam perjanjian kontrak dan semua orang memiliki hak untuk memperoleh informasi lengkap dengan kebebasan membuat perjanjian kontrak.

Masalah pada Pandangan Kant 1. Kant tidak cukup tepat untuk bisa selalu bermanfaat. Salah satu hambatannya adalah saat menentukan apakah seseorang bersedia jika semua orang mengikuti suatu kebijakan tertentu. Contoh: nyonya Jones, seorang pengusaha, hanya memberikan upah minimum pada para pegawai dan tidak bersedia memasang peralatan pengamn yang mereka inginkan namun dia mengatakan menghormati hak mereka untuk memilih secara bebas bagi diri mereka sendiri karena dia bersedi memberikan kebebaan bagia mereka untuk bekerja ditempat lain jika mereka menginginkan. 2. Sejumlah kritikus mengklaim bahwa, meskipun kita mungkin sependapat atas jenis-jenis kepentingan yang memiliki status sebagai hak moral, namun ada ketidaksepakatan yang cukup besar tentang apa saja batas-batas tersebut dan bagaimana masing-masing hak diseimbangkan dengan hak-hak yang saling berkonflik lainnya. Contoh : suara musik keras yang dibawakan leh sekelompok pemain trombone yang mengganggu orang lain atau perusahaan mencemari udara dan air yang merugika kesehatan. Perintah kategoris Kant tidak mengatakan pada kita bagaimana hak-hak yang saling berkonflik dari orang-orang ini harus disesuaikan satu sama lain: hak mana yang harus dibatasi dan yang harus diutamaan? 3. Kelompok kritikus ketiga mengajukan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa teori tersebut salah. Sebagai contoh ini difokuskan pada kriteria universalisabilitas dan reversibilitas. Misalkan : seorang pemilik perusahaan melakukan diskriminasi terhadap pekerja kulit hitam dengan membayar upah yang lebih rendah dibandingkan pekerja kulit putih untuk pekerjaan yang sama. Selanjutnya menurut teori Kant, atasan tersebut secara moral bertindak benar, sedangkan menurut para kritikus tindakan tersebut salah karena diskriminasi jelas merupakan tindakan yang tidak bermoral.

Keberatan Libertarian : Nozick Filsuf Albert Nozick mengkalin bahwa satu-satunya hak asasi yang dimiliki semua orang adalah hak negatif untuk tidak mendapatkan paksaan atau tekanan dari orang lain. Menurut Nozick, melarang orang-orang untuk tidak saling memaksa merupakan sebuah perintah moral yang sah dengan berdasarkan pada prinsip Kant bahwa individu adalah tujuan, bukan hanya sarana; mereka tidak boleh dikorbankan atai dimanfaatkan untuk mencapai tujuan lain tanpa persetujuan mereka. Dalam hal ini Nozick sependapat dengan teori Kant. Pandangan libertarian menyatakan bahwa pembatasan yang memaksa merupakan tindakan yang tidak bermoral, hal ini dimaksudkan sebagai pembenaran atas penggunaan properti secara bebas, atas kebebasan dalam perjanjian, dan pembentukan pasar bebas di mana individu dapat saling mempertukarkan barang sekehendak mereka tanpa batasan, serta penghapusan pajak atas berbagai program kesejahteraan sosial. Karena ada banyak kebebasan maka kebebasan yang diberikan pada suatu kelompok untuk mencapai tujuannya cenderung selalu membatasi kebebasan kelompok lain yyang berusaha mencapai tujuan yang berbeda. Contohnya : kebebasan pekerja untuk membentuk serikat pekerja mungkin berkonflik dengan kebebasan perusahaan untuk memekerjakan para pegawai non serikat pekerja. Argumen untuk kebebasan tertentu haruslah menunjukkan bahwa sejumlah kepentingan dapat dipenuhi melalui kebebasan tersebut yang dinilai lebih baik atau lebih memuaskan dibandingkan yang bisa diberikan oleh kebebasan lain. 2.3 Keadilan dan Kesamaan Pertentangan antarindividu dalam bisnis sering dikaitkan dengan masalah keadilan dan kewajaran/kesamaan. Keadilan dan kewajaran pada dasarnya bersifat kooperatif. Keduanya berkaitan dengan perlakuan komparatif yang diberikan pada anggota suatu kelompok tertentu saat dilakukan pendistribusian keuntungan dan beban, saat peraturan-peraturan diberlakukan, saat anggota satu kelompok bekerja sama atau bersaing satu sama lain, dan saat orang-orang dihukum karena telah

melakukan kesalahan atau memperoleh kompensasi atas kesalahan yang membuat mereka menderita. Masalah yang berkaitan dengan keadilan dan kewajaran biasanya dapat dibagi ke dalam tiga kategori. Keadilan distributif, yang merupakan kategori pertama dan paling mendasar, berkaitan dengan distribusi yang adil atas keuntungan dan beban dalam masyarakat. Keadilan retributif, kategori kedua, mengacu pada pemberlakuan hukuman yang adil pada pihak-pihak yang melakukan kesalahan. Hukuman yang adil adalah hukuman yang dalam artian tertentu layak diterima oleh pihak yang melakukan kesalahaan. Keadilan kompensatif, kategori ketiga, berkaitan dengan cara yang adil dalam memberikan kompensasi pada seseorang atas kerugian yang mereka alami akibat perbuatan orang lain. Kompensasi yang adil adalah kompensasi yang dalam artian tertentu proporsional dengan nilai kerugian yang diderita (misalnya kehilangan mata pencaharian). Berikutnya akan dibahas masing-masing jenis keadilan tersebut secara terpisah, diawali dengan diskusi tentang prinsip dasar keadilan distributif lalu dilanjutkan dengan pembahasan tentang sejumlah pandangan tentang kriteria yang relevan dalam menentukan apakah dua orang tertentu dapat dianggap sederajat. Bagian selanjutnya menyajikan diskusi tentang keadilan retributif dan diakhiri dengan pembahasan tentang keadilan kompensatif. Keadilan Distributif Prinsip dasar keadilan distributif adalah bahwa yang sederajat haruslah diperlakukan secara sederajat dan yang tidak sama juga harus diperlakukan dengan cara yang tidak sama. Sebagai contoh, jika Susan dan Bill melakukan pekerjaan yang sama dan tidak ada perbedaan relevan antara keduanya atau dalam pekerjaan yang mereka lakukan, maka mereka juga harus memperoleh gaji yang sama. Namun demikian, jika jam kerja Susan dua kali lebih lama dari Bill dan jika jam kerja merupakan dasar yang relevan untuk menentukan gaji mereka, maka Susan harus memperoleh gaji dua kali lipat. Namun demikian, prinsip dasar keadilan distributif sepenuhnya bersifat formal. Prinsip ini tidak menjelaskan aspek-aspek relevan yang bisa dipakai sebagai dasar dalam menetukan kesamaan dan ketidaksamaan perlakuan.

Contohunya, apakah ras relevan saat menentukan siapa yang akan mendapat pekerjaan? Kita sekarang beralih mempelajari berbagai pandangan tentang sejumlah karakteristik yang mungkin relevan saat menentukan siapa yang memperoleh apa., masing-masing pandangan ini memuat dasar keadilan tertentu (misalnya dasar keadilan yang memberikan muatan khusus pada prinsip fundamental keadilan distributif). Keadilan sebagai Kesamaan: Egalitarian Kaum egalitarian meyakini bahwa tidak ada perbedaan yang relevan di antara semua orang, yang bisa dipakai sebagai pembenaran atas perlakuan yang tidak adil. Pandangan egalitarian didasarkan pada proporsi bahwa semua manusia adalah sama dalam sejumlah aspek dasar dan bahwa, sejalan dengan kesamaan ini, setiap orang juga memiliki klaim yang sama atas segala sesuatu yang ada dalam masyarakat. Pandangan ini berarti semuanya haruslah diberikan pada semua orang dalam jumlah yang sama. Akan tetapi, meskipun populer, pandangan-pandangan egalitarian juga banyak mendapat kecaman. Salah satunya ditujukan kepada klaim egalitarian yang menyatakan bahwa semua manusia adalah sama dalam sejumlah aspek dasar. Para kritikus mengklaim bahwa tidak ada kualitas yang dimiliki semua manusia berada dalam tingkatan yang sama persis. Manusia berbeda dalam hal kemampuan, inteligensi, kebaikan, kebutuhan, keinginan, dan semua karakteristik fisik dan mental lainnya. Jadi, ini berarti manusia dalam segala hal adalah tidak sama. Keeadilan Berdasarkan Kontribusi: Keadilan Kapitalis Menurut pandangan keadilan kapitalis ini, saat orang-orang terlibat dalam pertukaran ekonomi, apa yang diperoleh seseorang dari pertukaran ini setidaknya haruslah sama nilainya dengan yang dia berikan atau sumbangkan. Jadi, keadilan mensyaratkan bahwa keuntungan yang diperoleh seseorang haruslah proporsional dengan nilai sumbangan yang diberikannya. Masalah utama yang muncul dari prinsip kontribusi keadilan distributif ini adalah bagaimana menilai kontribusi masing-masing individu. Salah satu cara yang telah lama digunakan adalah dengan menilainya menurut jumlah usaha.

Namun demikian ada banyak masalah dalam penggunaan nilai usaha sebagai dasar distribusi. Salah satunya adalah menghargai seseorang menurut usaha yang dilakukannya tanpa referensi pada masalah tentang apakah orang tersebut menghasilkan sesuatu yang bernilai melalui usaha yang dilakuannya berarti menghargai inkompetensi dan inefisiensi. Keadilan Berdasarkan Kebutuhan dan Kemampuan: Sosialisme Karena mungkin jumlah sosialisme dan kaum sosialis sama banyaknya, maka agaknya kurang tepat bila kita bicara tentang pandangan sosialis tentang keadilan distributive. Namun demikian, dictum yang pertama kali diusulkan oleh Louis Blanc (1811-1882) dan selanjutnya oleh Karl Marx (1818-1883) serta Nikolai Lenin (1870-1924) secara umum dianggap mempresentasikan pandangan sosialis tentang distribusi. Dari semua orang sesuai dengan kemampuan mereka, bagi semua orang sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun ada satu hal yang perlu disampaikan tentang prinsip sosialis, yaitu kebutuhan dan kemampuan memang harus dipertimbangkan dalam menentukan distribusi keuntungan dan beban di antara anggota suatu kelompok atau masyarakat. Prinsip sosialis ini juga mendapat kritikan, para penentangnya menyatakan bahwa dalam prinsip sosialis tidak akan ada kaitan antara jumlah usaha yang dilakukan seorang pekerja dengan jumlah penghargaan yang diterimanya. Jadi, menurut mereka, para pekerja tidak akan memperoleh insentif untuk bekerja lebih keras karena mengetahui bahwa apa yang akan mereka teria akan sama saja, baik bekerja keras maupun tidak. Akibatnya adaah kemacetan ekonomi dengan produktivitas yang semakin menurun.

Keadilan Sebagai Kebebasan: Libertarianisme Kaum libertarian juga memiliki sejumlah pandangan yang jelas tentang sifat keadilan. Mereka menyatakan bahwa tidak ada cara pendistribusian barang yang dapat dikatakan adil atau tidak adil apabila dipertimbangkan secara terpisah dari pilihan bebas masing-masing individu. Semua jenis distribusi keuntungan dan beban adalah adil jika memungkinkan individu melakukan pertukaran barang secara bebas. Jelasnya, Dari setiap orang sesuai dengan apa yang mereka pilih, bagi setiap orang sesuai dengan apa yang dipilihkan bagi mereka. Ada sejumlah masalah dalam pandangan libertarian. Masalah utamanya adalah pandangan ini mengabadikan sebuah nilai tertentu, kebebasan dari paksaan orang lain, dan mengorbankan semua hak dan nilai-nilai lain tanpa memberikan alasan persuasif mengapa hal tersebut perlu dilakukan. Para penentang pandangan ini menyatakan bahwa ada kebebasan-kebebasan lain yang perlu dipertahankan, misalnya kebebasan dari kebodohan dan kebebasan dari kelaparan. Dalam banyak kasus, kebebasan-kebebasan ini lebih penting dibandingkan kebebasan dari paksaan. Keadilan Sebagai Kewajaran: Rawls Rawls mengusulkan dua prinsip dasar yang menurutnya perlu kita pilih jika ingin memperoleh metode yang tepat guna memilih prinsip untuk menyelesaikan konflikkonflik sosial. Prinsip keadilan distributif yang diusulkan Rawls menyatakan bahwa distribusi keuntungan dan beban dalam suatu masyarakat adalah adil jika, dan hanya jika: 1. Setiap orang memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar paling ekstensif yang dalam hal ini mirip dengan kebebasan untuk semua orang, dan 2. Ketidakadilan sosial dan ekonomi diatur sedemikian rupa sehingga keduanya: a. Mampu memberikan keuntungan terbesar bagi orang-orang kurang beruntung, dan b. Ditangani dalam lembaga dan jabatan yang terbuka bagi semua orang berdasarkan prinsip persamaan hak dalam memperoleh kesempatan.

Rawls mengatakan bahwa prinsip 1 harus lebih diprioritaskan dari prinsip 2 apabila keduanya berkonflik, dan dalam prinsip 2 bagian b harus lebih diprioritaskan dari bagian a. prinsip 1 disebut prinsip kebebasan sederajat, bagian a prinsip 2 disebut prinsip perbedaan, dan bagian b prinsip 2 disebut prinsip kesamaan hak dalam memperoleh kesempatan. Keadilan Retributif Keadilan retributif berkaitan dengan keadilan dalam menyalahkan atau menghukum seseorang yang telah melakukan kesalahan. Hal yang relevan dengan tujuan kita adalah situasi yang dianggap adil untuk menghukum seseorang yang telah berbuat kesalahan. Ada beberapa kondisi dimana seseorang dianggap tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia lakukan. Pertama, jika seseorang tidak tahu atau tidak bisa memilih secara bebas apa yang dia lakukan, maka dia tidak bisa dihukum secara adil. Kondisi kedua dari hukuman yang adil adalah kepastian bahwa orang yang dihukum benar-benar melakukan apa yang dituduhkan. Dan jenis kondisi ketiga dari hukuman yang adil adalah hukuman tersebut haruslah konsisten dan proporsional dengan kesalahannya. Hukuman dianggap konsisten hanya jika semua orang akan memperoleh hukuman yang sama untuk kesalahan yang sama, hukuman dianggap proporsional dengan kesalah jika hukuman tidak lebih besar dibandingkan kerugian yang diakibatkan dari kesalahan. Keadilan Kompensatif Keadilan kompensatif berkaitan dengan keadilan dalam memperbaiki kerugian yang dialami seseorang akibat perbuatan orang lain. Kita umumnya meyakini bahwa saat seseorang melakukan tindakan yang merugikan kepentingan orang lain, maka pelakunya memiliki kewajiban moral untuk memberikan ganti rugi kepada korbannya. Tidak ada aturan yang pasti dalam menentukan seberapa banyak kompensasi yang perlu diberikan oleh pelaku kepada korban.

Kaum moralis tradisional menyatakan bahwa seseorang memiliki kewajiban moral untuk memberikan kompensasi pada pihak yang dirugikan jika tiga syarat berikut terpenuhi: 1. Tindakan yang mengakibatkan kerugian adalah kesalahan atau kelalaian. 2. Tindakan tersebut merupakan penyebab kerugian yang sesungguhnya. 3. Pelaku mengakibatkan kerugian secara sengaja. 2.4 Etika Memberi Perhatian Pendekatan-pendekatan etika mengasumsikan bahwa etika harus imparsial dan demikian semua hubungan khusus antara seseorang sengan individu yang lain harus dikesampingkan terlebih dahulu, misalnya anggota keluarga, teman, atau pegawai. Karena situasi seperti itu bisa membebankan sebuah kewajiban khusus untuk memberikan perhatian kepada mereka dan mengesampingkan semua kewajiban kita pada orang asing. Moralitas dalam memberikan perhatian didasarkan pada pemahaman atas hubungan sebagai tanggapan terhadap orang lain. Belas kasihan, pertimbangan, cinta, persahabatan, dan kebaikan merupakan sifat baik tang umunya mewujudkan dimensi moralitas. Dalam hal ini, etika perhatian menekankan pada dua persyaratan moral: 1. Kita hidup dalam suatu rangkaian hubungan dan wajib mempertahankan serta mengembangkan hubungan yang konkret dan bernilai dengan orang lain. 2. Kita memberikan perhatian khusus pada orang-orang yang menjalin hubungan baik dengan kita dengan cara memerhatikan kebutuhan, nilai, keinginan, dan keberadaan mereka dari prespektif pribadi mereka sendiri dan dengan memberikan tanggapan secara positif pada kebutuhan, nilai, keinginan, dan keberadaan orang-ornag yang membutuhkan dan bergantung pada perhatian kita. Ada tiga bentuk perhatian: 1. Perhatian pada sesuatu 2. Perhatian pada seseorang. 3. Perhatian dlaam arti menjaga dan merawat seseorang.

Jenis perhatian yang dipersyaratkan oleh etika perhatian adalah yang diekspresikan dalam perhatian dalam arti menjaga dan merawat seseorang. Sebaliknya, perhatian pada sesuatu adalah semacam perhatian atau kepentingan yang dimiliki seseornag terhadap sesuatu dimana tidak ada orang kedua yang realita subjektifnya terlibat dengan orang pertama. Ini buakn termasuk etika perhatian. Keuntungan etika perhatian yaitu dengan hal tersebut mendorong kita untuk fokus pada nilai moral dari sikap parsial terhadap orang-orang yang dekat dengan kita, dan arti penting moral dalam memberikan tanggapan pada mereka secara khusus yang tidak kita berikan pada orang lain. 2.5 Memadukan Utilitas, Hak, Keadilan, dan Perhatian Standar utilitarian wajib digunakan saat kita tidak memiliki sumber daya yang mampu memenuhi tujuan atau kebutuhan semua orang, dimana kita didorong untuk mempertimbangkan keuntungan dan biaya sosial dari suatu tindakan dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu. Saat menggunakan pertimbanagan-pertimbangan utilitarian, dalam penalaran moral kita perlu memasukkan pengukuran, perkiraan, dan perbandingan atas sejumlah keuntungan dan biaya yang relevan. pengukuran, perkiraan, dan perbandingan inilah yang membentuk informasi yang menjadi dasar penilaian moral utilitarian. Standar Moral: 1.Memaksimalkan utilitas sosial 2.Mengahrgai hak moral. 3.Mendistribusikan keuntungan dan beban secara adil. 4.Memberi perhatian. Informasi Faktual: Berkaitandengan kenijakan, institusi atau perilaku yang dihadapi.

Penilaian Moral Atas baik burukbya kebijakan, institusi, atau perilaku.

Gambar 2.1 Empat pertimbangan moral dalam penilaian moral 2.6 Moralitas dalam Konteks Internasional

Masing-masing negara memiliki peraturan hukum, adat kebiasaan, tingkat perkembangan dan pemahaman budaya memang berbeda-beda. Jika perusahaanperusahaan ingin menjalankan bisnis mereka ke negara-negara lain, perusahaan perlu mempertimbangkan saat memutuskan apakah perusahaan perlu menerapkan standar dari negara yang lebih maju ke negara yang kurang maju dan jika mendapatkan klaim bahwa kita perlu menerapkan standar yang lebih tinggi dari negara maju dimana pun berada, perusahaan perlu mempertimbangkannya.

Studi Kasus
Unocal di Burma Union Oil Company of California (Unocal) adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas termasuk di dalamnya penyulingan, pengekstakan, pendistribusian, pemasaran, dan bahkan penjualan minyak dan gas secara eceran. Oleh karena persediaan minyak dan gas di California sudah mulai menipis, maka Unocal memutuskan untuk ikut serta dalam proyek internasional bernama Yadana Field milik Burma. Yadana Field memiliki lebih dari lima triliun kaki kubik gas alam yang cukup untuk memproduksi gasa alam secara terus menerus selama tiga puluh tahun. Di Burma sendiri, pemerintah membuat sebuah perusahaan yang bernama Myanmar Oil and Gas Enterprise (MOGE) yang bertujuan mencari perusahaanperusahaan yang bersedia membantu dalam mengembangkan Yadana Field. Salah satu perusahaan yang berhasil dikontak yaitu sebuah perusahaan Prancis bernama Total S.A. dalam membangun jalur pipa untuk mengalirkan gas dari Yadana ke negara yang akan membeli gas tersebut seperti Thailand. Tugas Total adalah menjamin keamanan dan kenyamanan melalui angkatan darat Burma yang sebagaimana selalu diminta oleh perusahaan-perusahaan yang akan bekerja sama dengan Burma dalam proyek Yadana Field ini.

Ada beberapa alasan mengapa Unocal sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Burma. Alasan-alasan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Pekerja-pekerja di Burma cenderung murah dan terpelajar 2. Burma kaya akan gas alamnya dan ternyata masih bahan lahan gas dan minyak yang masih belum termanfaatkan 3. Burma terletak pada jalur perdagangan internasional yang cukup menguntungkan. Beberapa negara yang dapat terhubung dengan Burma yaitu China, India, dan sebagian besar kawasan Asia Tenggara.

4. Keadaan politik di Burma cenderung stabil Sebelum akhirnya berkomitmen bekerja sama dengan Burma, Unocal melakukan penelitian terhadap keadaan sosial politik di negara tersebut. Menurut hasil penelitian, Burma ternyata merupakan negara yang tergolong miskin. Hal ini dapat dilihat dari tingkat inflasinya yang mencapai 20% dan tingkat kematian bayi yang cukup tinggi yaitu 95 kematian dari seribu kelahiran. Selain itu, sifat kepemimpinan dari pemerintah Burma demi kesuksesan proyek negaranya sangat menunjukkan sifat kediktatoran dengan melakukan kekerasan terhadap hak asasi manusia secara berkelanjutan. Hal ini terlihat dengan dibentuknya kesatuan militer bernama State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang terdiri dari militer-militer senior yang cenderung memaksa warganya demi mempertahankan hukum dan tata tertib dengan cara menganiaya, mewajibkan pekerjanya bekerja secara terus-menerus, dan tidak adanya kebebasan pers, berpendapat, membentuk organisasi swasta. Dengan kondisi seperti ini, Burma telah banyak mendapat kecaman dari banyak organisasi HAM di dunia untuk segera menghentikan kebijakan kemiliterannya. Walaupun Unocal tidak dapat dengan bebas mengatur strategi dalam bekerja sama dengan Burma dalam proyeknya ini dan bahaya atau ancaman apabila tetap menggunakan perlindungan dari kemiliteran Burma, Unocal tetap pada tujuan utamanya untuk terus mempertahankan eksistensi perusahannya dalam penyediaan gas alam. Menurut Unocal, keuntungan besar yang nantinya akan didapat oleh perusahaan, masyarakat Burma dan Thailand jauh lebih penting. Unocal akan membuat jalur pipa sepanjang 256 mil yang akan membawa gas alam dari Yadana ke Thailand. Sebagian besar pipa akan diletakkan di bawah samudra, tetapi sisa pipa sepanjang 40 mil akan melewati Burma bagian selatan yang merupakan kawasan tempat tinggal suku Karen. Suku Karen merupakan suku minoritas di Burma yang paling berseteru denagn pemerintah Burma. Dalam persiapan pembangunan jalur pipa tersebut (pembuatan jalan, bangunan, barak, dan fasilitas lainnya), telah terjadi pemaksaan, perbudakan dan kekerasan pada para pekerja yang berasal dari suku Karen demi rampungnya pembuatan jalur pipa dan menjamin keamanan di sekitar kawasan jalur pipa tersebut. Hal ini tentu saja telah dikalim oleh beberapa organisasi HAM di dunia.

Walaupun, proyek Yadana Field ini terus menerus diberi kecaman, Unocal tidak mengelak telah melakukan tindak kemiliteran di sekitar kawasan tersebut dan meraka tidak juga menghentikan proyeknya. Bahkan Unocal manyatakan bahwa mereka telah memberikan 7551 pekerjaan berupah kepada 587 pekerja Burma dan telah mengalirkan 500-600 juta kaki kubik per hari ke Thailand. Dengan demikian, secara otomatis peningkatan ekonomi nasional di Burma meningkat secara cepat dan signifikan. Selain itu, dampak baik dari pelaksanaan proyek ini yaitu peningkatan secara signifikan pada kesehatan, pendidikan, infrastruktur transportasi baru, dan penurunan angka kematian dari 78 kematian per 1000 kelahiran menjadi 13 kematian per 100 kelahiran. Keuntungan-keuntungan ini dibenarkan oleh sebuah organisasi bernama Collaborative for Development Action, Inc. (CDA). Kesewenang-wenangan militer di kawasan jalur pipa tersebut ternyata membuat pengadilan-pengadilan federal di dunia. Pada akhirnya, pada tanggal 20 Desember 2004, Unocal menyelesaikan kasus hukum ini, mengganti rugi penduduk Karen, dan menyediakan dana untuk mengadakan program sosial ekonomi bagi penduduk di sekitar kawasan jalur pipa. Program pemulihan kondisi HAM ini dibantu oleh Earth Rights International (ERI). Empat bulan setelah pengumuman penyelesaian kasus hokum dan HAM tersebut, Chevron Corporation menyatakan akan membeli Unocal dan sahamnya di proyek Yadana Field. Namun, Chevron malah dituntut atas keterlibatannya dalam meneruskan kekerasan HAM di sekitar Yadana Field. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya perlakuan kasar terhadap HAM masih terjadi. Seperti pada tahun 2007, para tentara militer menembak dan membunuh serta memenjarakan sejumlah umat Budis dan biarawan yang mengadakan demonstrasi. ERI mengatakan keuntungan dari proyek Yadana sebagian digunakan untuk membiayai persenjataan dalam menjaga keamanan di sekitar kawasan tersebut dan pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan masih rendah yang mengakibatkan kemelaratan masih tinggi.