Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sterilisasi terhadap kontaminasi mikroorganisme patogen dalam

bidang medis maupun bioindustrial sangat penting untuk dilakukan (Matsunaga et al, 1988). Berbagai jenis alat kedokteran seperti alat suntik dan bedah serta sediaan farmasi seperti salep mata dan antibiotika sangat rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme terutama mikroba yang bersifat patogen. Peralatan medis yang digunakan memiliki potensi sangat besar dalam menularkan mikroba patogen karena alat tersebut sebagian besar dirancang untuk dapat digunakan kembali. WHO Guidelines menyatakan bahwa kontaminasi yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh penggunaan peralatan medis secara berulang, tetapi juga melalui transmisi perorangan (misalnya Hepatitis B dan HIV) ataupun kontaminasi yang berasal dari lingkungan (Pseudomonas aeruginosa) (Rutala et al, 2008); (WHO dan ILO, 2005). Risiko besar terhadap kontaminasi mikroba patogen yang dihadapi menuntut adanya tindakan pencegahan dan perlindungan yang harus dilakukan (WHO dan ILO, 2005). Dekontaminasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi berbagai kontaminasi yang disebabkan oleh mikroba patogen dengan cara memusnahkan mikroorganisme yang tidak dikehendaki. Dekontaminasi meliputi pembersihan (cleaning), desinfeksi (disinfection) dan sterilisasi (sterilization). Terdapat tiga

tingkatan pembersihan atau dekontaminasi yang dilakukan berdasarkan prioritasnya yaitu kritis, semikritis dan non kritis (Rutala dan Weber, 2001). Sterilisasi hanya dilakukan pada kriteria kritis dan semi kritis melalui beberapa cara antara lain adalah dengan pemanasan, sinar X, dan sinar UV (Matsunaga et al, 1988). 1.2 Tujuan Percobaan 1.2.1 Untuk mengetahui berbagai cara dan metode yang digunakan dalam sterilisasi. 1.2.2 Mengetahui pengaruh waktu terhadap sterilisasi dengan sinar UV 1.2.3 Mengetahui pengaruh dan perbandingan efektifitas zat kimia terhadap suatu objek pada proses sterilisasi. 1.2.4 Mengetahui faktor yang mempengaruhi perbandingan jumlah mkiroba pada bagian tubuh tertentu.
1

BAB II MATERI DAN METODE Pada praktikum ini dilakukan sterilisasi secara fisika, kimia, dan pemeriksaan mikroba tubuh dengan swab. Sterilisasi secara fisika dilakukan dengan sinar UV. Tiga cawan petri berisi medium NA dibiarkan terbuka selama 10 menit. Cawan petri 1 disinari UV selama 1 menit, cawan 2 disinari selama 3 menit dan cawan 3 tidak disinari (kontrol). Ketiga cawan diinkubasi dalam keadaan terbalik pada suhu 37C selama 24 jam dan diamati pertumbuhan mikroba. Sterilisasi secara kimia menggunakan alkohol, bahan kimia, dan sabun. Untuk alkohol, digunakan empat buah jarum pentul dengan jarum pertama digunakan sebagai kontrol. Ketiga jarum lainnya dimasukkan ke dalam variasi konsentrasi alkohol tersebut. Jarum dimasukkan ke cawan petri yang dibagi menjadi 4 bagian. Diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam dan diamati ada atau tidaknya mikroba. Hal yang sama dilakukan pada sterilisasi dengan bahan kimia berupa wipol dan superpell. Pada sterilisasi dengan sabun digunakan 2 cawan petri yang berisi media dan masing-masing dibagi menjadi 2 bagian. Jari tangan yang belum dicuci (kontrol) diusapkan pada satu bagian cawan sebagai kontrol dan bagian lainnya diusapkan dengan jari tangan yang telah dicuci dengan Dettol (cawan 1) dan Lifebuoy (cawan 2). Pada pemeriksaan mikroba tubuh dengan swab digunakan 1 cawan petri yang berisi media NA yang dibagi menjadi 4. Empat buah swab steril dicelupkan pada air steril lalu tiga diantaranya diusapkan pada pipi, belakang telinga, permukaan tangan dan sisanya sebagai kontrol. Seluruh percobaan diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam dan diamati pertumbuhan mikroba di sekitar media.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Percobaan (Terlampir) 3.2 Pembahasan Pada praktikum ini, sterilisasi dilakukan dengan beberapa metode yaitu sterilisasi secara fisika menggunakan sinar UV, sterilisasi secara kimia dengan bahan kimia berupa wipol dan superpell. Sterilisasi dengan sabun juga dilakukan pada praktikum ini. Sterilisasi menggunakan sinar UV dilakukan untuk mengetahui efektifitas sinar UV yang digunakan untuk sterilisasi. Pengaruh waktu juga digunakan sebagai parameter sterilisasi dengan sinar UV. Dari hasil yang diperoleh diketahui bahwa penyinaran lampu UV selama 3 menit memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan penyinaran selama 1 menit dan cawan yang dibiarkan terbuka tanpa penyinaran. Hal ini dikarenakan sinar UV dengan panjang gelombang pendek yaitu 200nm memiliki daya antimikroba yang sangat kuat. Sinar UV yang dipancarkan akan diserap oleh purin dan pirimidin yang merupakan zat pembentuk DNA dan penyerapan ini akan membuat kerusakan permanen pada DNA sehingga mikroba tidak dapat mensintesis protein dan akhirnya mati (Black, 1999). Dengan sifat germisida yang dimiliki, sinar UV juga dapat membunuh bakteri yang bersifat vegetatif maupun spora (Entjang, 2003). Semakin lama paparan sinar UV yang diberikan akan menyebabkan semakin banyak mikroba yang mati atau dihambat pertumbuhannya. Percobaan kedua menggunakan alkohol dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 40%, 70%, 96%. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa alkohol 96% paling sedikit ditumbuhi mikroba. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa konsentrasi alkohol optimum yang sebaiknya digunakan dalam sterilisasi adalah sebesar 70-80% karena konsentrasi yang terlalu kecil dapat menurunkan efektifitasnya, sedangkan konsentrasi yang terlalu pekat menyebabkan alkohol cenderung lebih mudah menguap sebelum dapat mensterilkan (Perscott dkk, 2003). Alkohol bekerja dengan cara mengkoagulasi protein dan menarik air sel sehingga sel akan mati (Jawetz et al, 2001). Pada percobaan sterilisasi dengan bahan
3

kimia menggunakan wipol dan superpell. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa wipol lebih baik dan ampuh digunakan untuk sterilisasi. Hal ini dikarenakan kandungan aktif yang terdapat dalam wipol berupa sodium lauril etil sulfat merupakan salah satu zat bersifat karsinogenik sehingga dapat menyebabkan kuman dan bakteri letal. Dibandingkan dengan superpell, wipol teerbukti lebih ampuh. Hal ini juga dikarenakan kandungan fragrance pada superpell lebih dikedepankan dibandingkan bahan aktif pembunuh kuman yang terkandung. Percobaan selanjutnya yaitu sterilisasi menggunakan sabun dengan merek Lifebuoy dan Dettol. Pertumbuhan mikroba yang paling sedikit ditunjukkan oleh sabun dengan merek Dettol. Hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur dimana bahan aktif dalam sabun Dettol memiliki spektrum yang lebih luas dan sangat baik terhadap bakteri gram negatif seperti Eschericia coli dan Salmonella. Triclosan sebagai bahan aktif yang terkandung pada sabun lifebuoy hanya memiliki spektrum yang baik pada bakteri gram negatif dan virus dengan kecepatan sterilisasi yang lebih lambat dibandingkan sabun Dettol (Saifudin, 2005). Percobaan terakhir adalah pemeriksaan mikroba tubuh dengan swab yang dilakukan oleh dua kelompok dengan hasil yang jauh berbeda. Dari percobaan yang dilakukan oleh kelompok pertama menunjukkan pertumbuhan mikroba terbanyak ditemukan pada pipi dan belakang telinga. Jumlah pertumbuhan mikroba yang banyak pada pipi dikarenakan bagian ini sangat mudah terkontaminasi dan terpapar kotoran dari lingkungan luar, sedangkan pada bagian belakang telinga karena bagian ini jarang dijangkau untuk dibersihkan serta keadaan yang lembab membuat bakteri semakin mudah untuk tumbuh ditempat tersebut. Hasil swab yang dilakukan oleh kelompok kedua sangat berbeda dimana mikroba yang terbanyak tumbuh pada swab steril. Perbedaan hasil yang diperoleh juga sangat dipengaruhi oleh variasi hygiene yang berbeda untuk setiap individu.

BAB IV KESIMPULAN 4.1 Sterilisasi dapat dilakukan melalui beberapa metode dan cara yaitu sterilisasi secara fisik seperti penyinaran dengan sinar UV, sterilisasi dengan bahan kimia dan sterilisasi secara mekanik, seperti penggunaan filter atau saringan. 4.2 Waktu penyinaran sinar UV sangat berpengaruh. Jadi, semakin lama waktu penyinaran akan semakin banyak bakteri atau kuman yang akan mati. 4.3 Bahan kimia yang efektif adalah bahan kimia dengan konsentrasi tertentu yang efektifitasnya dipengaruhi oleh bahan aktif yang terkandung. 4.1 Faktor yang mempengaruhi perbandingan jumlah mikroba pada bagian tubuh tertentu yaitu kelembapan, pH, cahaya, dan hygiene setiap individu. DAFTAR PUSTAKA Black, J. G. 1999. Microbiology Principles and Exploration 4th Edition. New Jersey: Prentice-Hall Inc Entjang, Indan. 2003. Mikobiologi dan Parasitologi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti Jawetz, E., J. L. Melnick, dan E. A. Adelberg. 1996. Mikrobologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Matsunaga, Tadashi; Ryuza Tomoda; Toshiaki Nakajima, Noriyuki Nakamura; Tamotsu Komine. 1988. Continuous-Sterilization System That Uses Photosemiconductor Powders. Applied and Enviromental Microbiology, June 1988, p. 1330-1333 Vol. 54, No. 6. Tokyo, Japan: Department of Applied Chemistry for Resources, Tokyo University of Agriculture and Technology Prescott, L.M., J.P. Harley, and D.A. Klein. 2003. Microbiology Fitht Edition. Singapore: Mc Graw Hill Rutala, William dan David J. Weber. 2001. New Disinfection and Sterilization Methods. Emerging Infectious Diseases 348 Vol. 7, No. 2, MarchApril. North carolina, USA: University of North Carolina (UNC) Health Care System and UNC School of Medicine Rutala, William; David J. Weber; Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC). 2008. Guideline for Disinfection and Sterilization in Healthcare Facilities. Guideline for Disinfection and Sterilization in Healthcare Facilities. North carolina, USA: University of North Carolina (UNC) Health Care System, Division of Infectious Diseases and UNC School of Medicine Saifuddin, 2005. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan denghan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO). 2005. Pedoman Bersama ILO/WHO tentang Pelayanan Kesehatan dan HIV/AIDS. Jakarta : Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja, Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
5