P. 1
Pengaruh Desentralisasi Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Sistem Akuntansi Manajemen (Broadscope,Timeliness,Aggregation Dan Integration)Sebagai Variabel Intervening

Pengaruh Desentralisasi Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Sistem Akuntansi Manajemen (Broadscope,Timeliness,Aggregation Dan Integration)Sebagai Variabel Intervening

|Views: 979|Likes:
Dipublikasikan oleh Arnis Lastriana Lukman

More info:

Published by: Arnis Lastriana Lukman on Mar 13, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

PENGARUH DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI

VARIABELINTERVENING (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Jawa Tengah) The Effect of Decentralization on the Managerial Performance Using Management Accounting System (Broadscope, Timeliness, Aggregation and Integration) as the Intervening Variable

Jaryanto*)

Abstract This research aims to examine the effect of decentralization on the managerial performance using management accounting system as the intervening variable. The object ofthe research was the manufacturing companies located in Central Java, Indonesia. This research employed contingency theories. The study belonged to empirical research using the convenience sampling technique in the data collection. The data was obtained by sending questionnaire to 77 production, marketing, and financial managers of manufacturing companies located in Central Java, Indonesia. The data analysis was conducted using Structural Equation Model (SEM) and SmartPLS (Partial Least Square) program. The result of hypotheses testing shows that hypotheses supported are the hypothesis 2a (there is an effect of decentralization on the managerial performance ifit is mediated by broadscope of Management Accounting Sistem), hypothesis 2b (there is an effect of decentralization on the managerial performance ifit is mediated by timeliness of Management Accounting Sistem), hypothesis 2c (there is an effect of decentralization on the managerial performance if it is mediated by aggregation of Management Accounting Sistem), hypothesis 2d (there is an effect of decentralization on the managerial performance ifit is mediated by integration of Management Accounting Sistem. Meanwhile, the hypothesis rejected is the hypothesis 1 (there is no effect of decentralization managerial performance. on the

*) Dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta

12

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008 ; 12 - 31

The result of research confirms the evidence of previous studies, there is no direct effect between decentralization on the managerial performance. In addition, the management accounting system proves as the variable mediating the effect of decentralization on managerial performance'.

Keywords: Decentralization, Management Accounting System, Managerial, Structural Equation Model (SEM), Partial Least Square, Abstraksi
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial dengan sistem akuntansi manajemen sebagai variabel intervening. Obyek dari penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang berlokasi di Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian ini menggunakan Teori Kontijensi. Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan teknik convenience sampling di dalam pengumpulan data. Data diperoleh dengan mengirimkan kuesioner terhadap 77 manager produksi, pemasaran dan keuangan perusahaanperusahaan manufakturyang berlokasi di Jawa Tengah, Indonesia. Analisis data dilakukan dengan Structural Equation Model (SEM) dengan program SmartPLS (Partial Least Square). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis yang diterima yaitu hipotesis 2a (desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh broadscope sistem akuntansi manajemen), hipotesis 2b (desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh timeliness sistem akuntansi manajemen), hipotesis 2c (desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh aggregation sistem akuntansi manajemen), dan hipotesis 2d (desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh integration sistem akuntansi manajemen). Sedangkan Hipotesis yang ditolak adalah hipotesis 1 (desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial). Hasil penelitian ini memperkuat bukti dari penelitian-penelitian sebelumnya bahwa tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Selain itu sistem akuntansi manajemen terbukti merupakan variabel yang memediasi pengaruh antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial.

Keywords:

Desentralisasi, Sistem Akuntansi Manajemen, Kinerja Manajerial, Structural Equation Model ( SEM), Partial Least Square

l.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Desentralisasi adalah salah satu variabel dari stuktur organisasi yang mendapat perhatian cukup banyak dalam penelitian akuntansi (Chia, 1995 dalam Soobaroyen dan Poorundersing, 2008) dan juga penelitian rnengenai manajemen atau riset organisasional (van De ven, 1976 dalam Soobaroyen dan Poorundersing, 2008). Hal ini mengacu pada keberadaan pengambilan keputusan

PENGARUH DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Jaryanto

13

dan otoritas dalam sebuah organisasi yang berada pada tingkat hirarkis yang lebih rendah atau desentralisasi yang tinggi. Semakin tinggi tingkat desentralisasi akan memungkinkaan proses pengambilan keputusan atau proses informasi yang lebih akurat dan akan meningkatkan kinerja sehingga tingkatan desentralisasi akan memberikan dampak pada ketersediaan sistem akuntansi manajemen. Salah satu karakteristik sistem akuntansi manajemen adalah sebagai sumber informasi penting yang membantu manajemen mengendaIikan aktivitasnya. Sistem akuntansi manajemen merupakan prosedur dan sistem formal yang menggunakan informasi untuk mempertahankan atau menyediakan aItematif dari berbagai kegiatan organisasi (Simon, 1995 dalam Davilla dan Foster, 2005 ). Banyak penelitian yang telah dilakukan (Mia & Chenhall, 1994; Gul dan Chia, 1994; Chong, 1996 dan Soobaroyen dan Poorundersing, 2008) dengan menguji pengaruh variabelvariabel kontekstual pad a desain sistem akuntansi manajemen dan kinerja manajerial. Penelitianpenelitian ini mendefinisikan sistem akuntansi manajemen dalam istilah dimensi informasi yang meliputi broad scope, timeliness, agregation dan integration (Chenhall dan Morris, 1986). Dimensi informasi sistem akuntansi manajemen tersebut bermanfaat bagi manajer untuk pengambilan keputusan. Dimensi informasi sistem akuntansi rnanajemen yang tersedia dalam organisasi akan menjadi efektif apabila mendukung kebutuhan pengguna informasi atau pengambi I keputusan. Simon, et.a! (1954) dalarn Chenhall dan Morris (1986) menyatakan bahwa informasi 'broadscope berguna untuk membantu manajer yang terdesentralisasi dalam area seperti penentuan harga, pemasaran, pengendalian persediaan dan negosiasi tenaga kerja. Dalam organisasi yang terdesentralisasi manajer mempunyai kebutuhan yang spesifik, informasi broad scope akan memudahkan rnanajer untuk memutuskan secara lebih efektif dan pacta akhimya akan menghasilkan kinerja manajerial yang lebih baik. Disamping itu scope sistem akuntansi manajemen yang luas akan memberikan estimasi kemungkinan terjadinya peristiwa yang akan datang didalam ukuran probabilitas, Ketepatan waktu (timeliness) informasi menunjukkan rentangwaktu antara permohonan infonnasi dengan penyajian informasi yang diinginkan serta frekuensi pelaporan informasi (Chenhall dan Morris, 1986). Informasi yang disajikan secara tepat waktu artinya informasi tersebut harus tersedia untuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan sebelurn informasi tersebut kehilangan kemampuannya untuk mempengaruhi keputusan. Sistem akuntansi manajemen merupakan respon dari adanya desentralisasi dan ketidakpastian tugas. Dengan adanya desentralisasi maka perlu didukung dengan infonnasi yang tepat waktu. Chia (1995) dalam B udiarto (2004) menyatakan bahwa tingkat desentralisasi yang tinggi perlu didukung dengan informasi yang tepat waktu. Desentralisasi akan berpengaruh terhadap agregasi sistem informasi, Kebutuhan informasi yang dapat mencerminkan area pertanggungjawaban dapat diperoleh dari informasi teragregasi (Chenhall dan Morris, 1986). Dengan adanya informasi yang jelas mengenai area pertanggungjawaban fungsional para manajer maka akan mengurangi kemungkinan akan terjadinya konflik (Chenhall dan Morris, 1986). Agregasi perlu dalarn organisasi yang desentralisasi karena dapat mencegah terjadinya over load informasi. Peningkatan konflik telah terjadi sebagai

14

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008: 12 - 31

konsekuensi dari penggunaan evaluasi kinerj a yang tidak mencerminkan otonomi dan integrasi diantara sub-sub organisasi. Inforrnasi terintegrasi mencerrninkan adanya koordinasi antar unit yang satu dengan lainnya. Informasi teintegrasi mencakup aspekseperti ketentuan targetatau aktivitas yang dihitung dari proses interaksi antar sub unit dalam organisasi (Chenhall dan Morris, 1986). Inforrnasi terintegrasi akan lebih dibutuhkan pada organisasi dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Inforrnasi terintegrasi akan berperan dalam mengkoordinasikan keijakan organisasi yang memiliki tingkat desentralisasi tinggi, agar terjadi keselarasan dalam mencapai tujuan perusahaan. Informasi yang bersifat integrasi akan memberikan kontribusi positif dalam kinerja manaj erial (Chenha11dan Morris, 1986). Kegunaan informasi yang terintegrasi akan dipengaruhi variabel konstektual desentralisasi, Pada saat sub-sub organisasi menjadi terdesentralisasi kemungkinan bahwa diversifikasi aktivitas akan meningkat. Apabila ini yang terjadi maka informasi yang terintegrasi akan sangat membatu dalam mengkoordinasikan diversifikasi keputusan operasi yang semakin meningkat. Soobaroyen dan Poorundersing (2008) meneliti hubungan antara ketidakpastian tugas dan desentralisasi dengan kinerja manajerial melalui variabel intervening sistem akuntansi manaj emen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketidakpastian tugas dan tiga dimensi sistem akuntansi manaj emen (scope, timeliness. dan integration), sedangkan terdapat hubungan negatifyang signifikan antara ketidakpastian tugas dan agregation. Semakin tinggi tingkatTU mengarah pada makin berkurangnya tingkat inforrnasi yang teragregasi begitu pula sebaliknya. Selain itu terdapathubungan positifyang terjadi antara desentralisasi dengan dimensi dari sistem akuntansi manajemen yaitu dimensi scope, timeliness, dan integration. Hubungan yang tidak signifikan terjadi antara dimensi agregation sistem akuntansi manajemen dengan desentralisasi. Selain itu keempat dirnensi sistem akuntansi manajemen seeara positif mempengaruhi kinerja manaj erial. Soobaroyen dan Poorundersing (2008) menyatakan bahwa sistem akuntansi manajemen memainkan peranan sebagai variabel intervening yang signifikan antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Tingkat ketersediaan sistem akuntansi manajemen akan memfasilitasi berbagai j enis informasi yang rei evan dan tepat yang dibutuhkan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan manajer Soobaroyen dan Poorundersing (2008). Davis dan Newstrom (1985) dalam Miah dan Mia ( 1996) menyatakan bahwa desentralisasi dapatmeningkatkan kinerja manajerial. Pada kondisi desentralisasi manajer membutuhkan informasi yang lebih khusus sesuai dengan kebutuhan departemen yang dipimpinnya. Selain inforrnasi yang berhubungan dengan departemen yang dipimpinnya juga diperlukan inforrnasi dari departemen yang berbeda, Dengan adanya kebutuhan informasi dari departemen-departemen yang berbeda tersebut dibutuhkan adanya sistem akuntansi manaj emen yang handal yang mampu menyediakan informasi yang tepat waktu, informasi yang bersifat agregation, integration dan menyediakan informasi finansial maupun non finansial. Hasil penelitian Soobaroyen danPoorundersing (2008) menunjukkan bahwa sistem akuntansi manajemen merupakan variabel intervening yangmampu memperkuat hubungan desentralisasi dengan kinerja manajerial. Di Indonesia masih sedikit penelitian mengenai sistem akuntansi manajemen dengan memasukkan semua dimensi sistem akuntansi manajemen yang meliputi broadscope, timeliness,

PENGARUH DESENTRALlSASI TERHADAP KINERJA MAN.AJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Jaryanto

15

agregation dan integration sebagai variabel intervening. Penelitian terdahulu masih fokus pada salah satu dari dimensi sistem akuntansi manajemen seperti dimensi broadscope (Pratiwi, 2006; Muslichah, 2003; Desrniyawati, 2001). Penelitian Budiarto (2004) memasukkan sistem akuntansi manajemen sebagai variabel independen dalam hubungannya dengan kinerja organisasi dan desentralisasi sebagai variabel moderating. Penelitian tentang pengaruh ketidakpastian terdapat pengaruh positifantara desentralisasi tugas dan desentralisasi terhadap kinerja

manajerial dengan sistern akuntansi manajemen sebagai variabel intervening (1) Menguji bahwa terhadap kinerja manajerial (2) Menguji bahwa terdapat pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh broad scope sistem akuntansi manaj emen. (3) Menguji bahwa terdapat pengaruh desentralisasi terhadap kinerj a manajerial apabila dimediasi oleh timeliness sistem akuntansi manajemen. (4) Menguji bahwa terdapat pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh agregation sistem akuntansi manajemen. (5) Menguji bahwa terdapatpengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh integration sistem akuntansi manajemen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mernberi kontribusi bagi pengembangan akuntansi manajemen dan akuntansi keperilakuan terutama yang berkaitan dengan desentralisasi da!am kaitannya dengan kinerja manajerial dan faktor-faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah sistem akuntansi manajemen. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dan masukan bagi organisasi, khususnya dalam penggunaan informasi sistem akuntansi manajemen untuk peningkatan kinerja manajerial. 1.2 Landasan Teori 1.2.1 Kontijensi Teori Teori kontijensi dapat digunakan untuk rnenganalisis desain dan sistem akuntansi manajemen untuk memberikan infonnasi yang dapat digunakan perusahaan untuk berbagai macam tujuan (Otley, 1980) dan untuk menghadapi (1980) sistem pengendalian dipengaruhi persaingan (Mia dan Clarke, 1999). Menurut Otley oleh konteks dimana mereka beroperasi dan perlu

disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan organisasi. Premis dari teori kontinjensi adalah tidak terdapat sistem pengendalian yang secara universal selalu tepat untuk bisa diterapkan pada seluruh organisasi dalam -setiap keadaan. Suatu sistem pengendalian akan berbeda-beda di tiap-tiap organisasi yang berdasarkan pada faktor organisatoris dan faktor situasional. Otley (1980) menyatakan bahwa variabel yang berpengaruh dalam menentukan sistem pengendalian manajemen adalah lingkungan, teknologi, ukuran organisasi dan strategi perusahaan. Weill dan Olson (1989) menyatakan bahwa beberapa variabel kontijensi yang berpengaruh dalam menentukan kinerja antara lain strategi (strategy), struktur (structure), ukuran (size), lingkungan (environment), teknologi (technology), tugas (task), dan faktor individual. Beberapa variabel kontijensi yang dipakai dalam penelitian tentang sistem akuntansi manajemen antara lain variabel ketidakpastian lingkungan yang dipersepsikan (Gordon dan Marayannan, 1984; Gul, 1991), orientasi strategis (Chong dan Chong, 1997), Desentralisasi (Chia,

16

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008; 12 - 31

1995), budaya nasional (Tsui,2001),

task uncertainty (Chong, 1996) dan interdependensi

atau

ketergantunganChenhall dan Morris,J986, Bouwens dan Abemethy, 2000). Perencanaan sistern akuntansi rnanajernen yang rnerupakan bagian dari sistempengendalian organisasi perlu mendapat perhatian sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung keberhasilan sistem pengendalian manajemen. Donaldson (1996) dalam Kim dan Burton (2002) menyatakan bahwa dalam konteks teori kontijensi, dalam kondisi ketidakpastian rendah dengan struktur sentralisasi akan menunjukkan kinerja yang yang lebih efektif; sebaliknya pada struktur desentralisasi menyebabkan adanya peningkatan ketidakpastian tugas.

1.2.2 Desentralisasi (Dezentralizationy
Desentralisasi mengacu pada tingkat otonomi yang didelegasikan kepada manager dengan tanggungjawab yang lebih besar dalam hal perencanaan dan pengendalian aktivitas dengan akses informasi yang lebih besar pula (Soobaroyen dan Poorundersing, 2008). Menurut Miah dan Mia (1996) adalah seberapa j auh manaj er yang lebih tinggi mengij inkan manaj er di bawahn ya un tuk mengambil keputusan seeara independen. Abernethy dan Bouwens (2000) mendefinisikan desentralisasi merupakan pernberianwewenang dan otoritas kepada rnanajer sub unit untuk mengambil suatu tindakan yang akan mempengaruhi kemampuan adaptasi dari pihak inanajer sub unit. Sedangkan Simon dalam Siegel dan Marconi (1989) menyatakan bahwa suatu organisasi adrninistratif'adalah sentralistik yangluas apabilakeputusan yang dibuatpada level organisasi yang tinggi, desentralisasi yang luas apabila keputusan didelegasikan kepada level yang lebih rendah dari wewenang eksekutif. dari manaj emen korporat

1.2.3 Sistem Akuntansi Manajemen (Management Accounting Systems)
Sistem akuntansi manajemen adalah suatu mekanisme-mekanisrne pengendalian organisasi, serta merupakan alat yang efektif dalam menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi konsekuensi yang mungkin terjadi dari berbagai alternatifyang dapat dilakukan, sedangkan tujuan organisasi mendesain sistem akuntansi manajemen adalah membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, sebagai eerminan dari fungsi perencanaan manajemen yaitu pemberi informasi untuk pengambilan keputusan, memotivasi perilaku manajer dan sebagai alat meningkatkan efisiensi organisasi (Belkoui, 1980). Fungsi akuntansi manajemen sebagai pemberi informasi untuk pengambilan keputusan, memotivasi perilaku manajer dan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi organisasi (Belkoui, 1980). Atkinson (1997) dalam Bouwens dan Abernethy (2000) menyatakan bahwa akuntansi manajemen menghasilkan informasi yang berguna untuk membantu para pekerja, manajer dan eksekutif'dalam membuat keputusan. Sistem informasi manajemen adalah sistem informasi yang mengumpulkan data operasional dan finansial, memproses, menyimpan dan melaporkan kepada pengguna. Secara tradisional informasi sistem akuntansi manajemen didominasi oleh informasi finansial, tetapi dalam perkembangannya ternyata peran informasi non finansial juga menentukan. Penelitian Chenhall dan Morris (1986) menemukan bukti empiris mengenai karakteristik informasi yang bennanfaat menurut persepsi manajerial yang terdiri dari broad scope, timeliness, agregation

PENGARUH DESENTRAUSASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING

17

Jaryanto

dan integration. Informasi akuntansi manajemen yang semakin baik dan akurat mengacu pada
semakin tingginya ketersediaan informasi yang memiliki arti (Chenhall dan Morris, 1986). Ringkasan karakteristik informasi sistem akuntansi manajemen menurut Chenhall dan Morris (1986) adalah sebagai berikut: GAMBARI SISTEM AKUNTANSI

DIMENSI INFORMASI

MANAJEMEN

--.

Broad of Scope ~

-

Informasi eksternal Informasi non finansial Informasi yang berorientasi ke depan

~

Timeliness

~

- Frekuensi pelaporan

-

Kecepatan pelaporan

Dimensi
Informasi Sistem Akuntansi Manajemen

-

f---+

Agregation

____.. -

Teragregasi oleh periode waktu Teragregasi oleh area fungsional Analitical of decision model

1--110

Integration . ~

-

Target yang tepat untuk aktivitas dan hubungannya dengan sub unit Pelaporan pada interaksi intra sub unit

Sumber: Chenhall dan Morris (1986) 1.2.4 Kinerja Manajerial Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan dan memenuhi tanggungjawab sosialnya, sebagian besar tergantung pada manajer. Apabila manaj er mampu melakukan tugastugasnya dengan baik maka organisasi akan mampu mencapai sasaran dan tujuan yang dikehendaki. Seberapa baik seorang manajer melakukan perannya dalam mengerjakan tugas-tugas yang merupakan isu utama yang banyak diperdebatkan dalam penelitian akhir-akhir ini. Kinerja manajerial dapat dijelaskan sebagai bentuk eksistensi dimana manajer sudah menyelesaikan pekerjaan mereka seefektifmungkin (Soobaroyen dan Poorundersing, 2008).

18

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008: 12 - 31

1.2.5 Pengaruh Desentrallsasi (Decentralization), Kinerja Manajerial dan Sistem Akuntansi Manajemen (broad scope, timeliness, agregation dan integration).
WiIiamson (1975) dalam Miah dan Mia (1996) menyatakan bahwa desentralisasi dalarn pengambilan keputusan merniliki implikasi dalam pencapaian kinerja pernsahaan secara keseluruhan. Desentralisasi dalam pengambilan keputusan ditujukan untuk meningkatkan kinerja manajer dengan cara mendorong manajer untuk mengembangkan kompetensinya (Chenhall dan Morris, 1986) .. Davis dan Newstrom (1985) dalam Soobaroyen dan Poorundersing (2008) mendukung bahwa desentralisasi akan meningkatkan kinerja manajeriaL Dari beberapa penelitian tersebut maka desentralisasi mernberikan efek positifterhadap kinerja rnanajerial. Selain peneIitian ten tang desentralisasi terdapat penelitian-penelitian lainnya yang fokus pada variabel sentralisasi. Dari penelitian yang dilakukan (Tannenbaum, 1961; Miller, 1967; Luke et al, 1973; Harrison, 1974; Sorensen dan Baum, 1975; Beck dan Betz, 1975; Pennings, 1976; Mcmahon, 1976 dalam Miah dan Mia, 1996) menunjukkan bahwa sentralisasi berhubungan negatif dengan kinerja. Dalam kondisi desentralisasi para manajer memiliki peran yang lebih besar dalam pengambilan keputusan dan mengimplementasikannya. Adanya desentralisasi ini akan menyebabkan para manajeryang diberi wewenang mernbutuhkan informasi yang berkualitas serta reI evan guna mendukung kualitas keputusan untuk mencapai kinerja yang optimal. Oleh karena itu, tingkatan desentralisasi diperkirakan akan memberikan darnpak pada ketersediaan sistern akuntansi manajemen yang canggih. Namun hasil temuan tentang hubungan antara struktur organisasi dan kinerja sudah dijelaskan sebagai hal yang ambigu atau semu dan lemah (Dalton et.a!, 1980) dan hal ini mencerminkan pentingnya penelitian tentang sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi (Soobaroyen dan Poorundersing, 2008). Chenhall dan Morris (1986) menemukan bahwa hanya terdapat dua dimensi sistem akuntansi manajemen yang berhubungan secara positif dengan desentralisasi yaitu agregasi dan integrasi. Peneliti menyimpulkan bahwa skope dan ketepatan informasi menjadi hal yang penting baik untuk manajer sentralisasi dan manajer desentralisai meskipun manajer sentralisasi memiliki keputusan yang lebih terbatas. Namun hasil akhir yang berbeda didapatkan dari studi Gul dan Chia (1994) saat mereka memakai desentralisasi sebagai variabel moderating untuk hubungan yang terjadi antara skope dan agregasi sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial. Peneliti menyimpulkan bahwa skope menjadi aspek yang lebih penting bagi manajer desentralisasi tetapi hanya dibawah kondisi perceived environmental uncertainty (PEU) yang tinggi (interaksi tiga arah), Dengan menggunakan data yang sarna dari penelitian Gul dan Chia (1994) dan hubungan positifantara keempat dimensi sistem akuntansi manajemen dan kinerja manajerial, kedua studi ini sudah memfokuskan pada persepsi akan ketersediaan sistem akuntansi manajemen daripada persepsi kegunaan atau nilai sistem akuntansi manajemen. Desentralisasi dapat berpengaruh langsung terhadap kinerja manajerial, tetapi dapatjuga berpengaruh tidak langsung yaitu melalui variabel sistem akuntansi manajemen terlebih dahulu barn kemudian ke kinerja manajerial. Dihubungkan dengan kemampuan pengambilan keputusan maka dengan adanya informasi yang luas akan memberikan keunggulan relatif dalam membantu rnengerjakan tugas manajerial dan meningkatkan kinerja bagi manager yang bekerja pada departemen yang bersifat desentralisasi . Pada waktu yang bersamaan informasi yang terintegrasi akan

PENGARUH DESENTRAUSASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Jaryanto

19

berhubungan dengan input, output, proses operasi, dan teknologi yang digunakan departemendepartemen yang ada dan hal tersebut sangat berguna bagi manajer fungsional. Pada struktur desentralisasi dengan adanya informasi yang teragregasi akan dapat membantunya memproses informasi dengan eara yang lebih efektif dan efisien. Misalnya, hasil dari keputusan untuk memperkenalkan kebijakan baru dapat dievaluasi pengaruhnya terhadap efisiensi dan kualitas produksi. Oleh karena itu, informasi teragregasi dapat menguntungkan bagi manajer dalam rnengarnbil keputusan. Akhirnya dimensi ketepatan rnenjadi faktor kunei menuju peningkatan kinerja manjerial. Apapun tingkat informasi yang ada yang diharapkan adalah bahwa informasi ini harus tersedia berdasarkan ketepatan waktu uutuk memastikan tindakan koreksi atau keputusan yang harus diambil, Hasil penelitian Soobaroyen dan Poonrnndersing (2008) juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara semua dimensi dalam sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial. Soobaroyen dan Poorundersing (2008) meneliti hubungan Iangsun g antara desentralisasi dengan kinerja manajerial maupun hubungan tidak langsung apabila dimediasi oleh sistem akuntansi manajemen. Dati hasil penelitian diketahui bahwa hubungan antara desentralisasi dengan kinerja manajerial tidak signifikan, sedangkan hubungan tidak langsung antara ketidakpastian tugas dengan kinerja manajerial apabila dimediasi oleh sistem akuntansi manajemen signifikan untuk semua dimensi sistem akuntansi manajemen.
HI: Hi.:

H2b: H2c H2d:
:

Desentralisasi berpengaruh positifterhadap kinerja manajerial Desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh broad scope sistem akuntansi manajemen. Desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh timeliness sistem akuntansi manajemen. Desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh agregation sistem akuntansi manajemen. Desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manaj erial apabila dimediasi oleh oleh

integration sistem akuntansi manajemen. 2. METODE PENELITIAN 2.1. Populasi, Sampel, Besar Sampel dan TeknikPengambilan

Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah manajer perusahaan manufaktur di Jawa Tengah. Unit analisis di dalam penelitian ini adalah perusahaan manufakturyang diproksikan melalui manajer yang bekerja di perusahaan manufakturdi Jawa Tengah. Sampel dalam penelitian ini adalah manajer produksi, manajer pernasaran dan manajer keuangan dari perusahaan rnanufaktur. Besar sampel dalam penelitian ini sebesar 77. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Convenience Sampling. Metode Convenience Samplingmerupakan metode pemilihan sampel dari elernen populasi yang datanya mudah diperoleh peneliti,

20

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008: 12 - 31

2.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 2.2.1. Variabel Desentralisasi (Decentralization) Desentralisasi merupakan pendelegasian wewenang dan tanggungjawab kepada para manager. Variabel desentralisasi diukur dengan menggunakan lima item pertanyaan yang dikembangkan oleh Burns dan Stalkers (1961). Instrumen variabel desentralisasi dinilai dengan menggunakan skala likert lima dari nilai satu hingga nilai lima. Nilai satu berarti bahwa tingkat otonomi yang didelegasikan kepada manajer dalam hal perencanaan dan pengendalian aktivitas adalah rendah atau kecil sedangkan nilai lima berarti bahwa tingkat otonomi yang didelegasikan kepada manajer dalam hal perencanaan dan pengendalian aktivitas adalah tinggi atau besar. 2.2.2. Varia bel Sistem Akuntansi Manaj emen (Management Accounting Systems/MAS)
Menurut Chia (1995) dalam Pratiwi (2006) bahwa sistem akuntansi manajemen adalah suatu mekanisme kontrol organisasi yang memberikan fasilitas kontrol melalui pelaporan dan penciptaan yang tampak dalam tindakan dan kinerja serta merupakan alat efektif dalam penyediaan informasi yang berguna dalam memprediksi akibat yang mungkin terjadi dari berbagai alternatif yang dapat dilakukan. Sistem akuntansi manajemen terdiri atas empat karakteristik yaitu broadscope, timeliness, agregation dan integration. Sistem akuntansi manaj emen (SAM) diukur dengan menggunakan 19 item pertanyan yang dikembangkan oleh Chenhall dan Morris (1986). Ukuran sistem akuntansi manajemen (SAM) didasarkan pada tanggapan subyek terhadap serangkaian item yang menggunakan skala lima pain, yang dimulai dari: 1 (informasi yang dibutuhkan tidak tersedia) hingga 5 (informasi yang dibutuhkan selalu tersedia).

2.2.3.

Variabel Kinerja Manajerial (Managerial Performance)

Kinerja yang di maksud dalam penelitian ini adalah kinerja manajerial sebagai kecakapan manajer dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan manajerial antara perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staf, negosiasi dan perwakilan (Mahoney

et.aI1963, 1965). Kinerja manajerial diukur dengan menggunakan skala likert dengan sembilan
item yang dikembangkan oleh Mahoney et.al (1963, 1965) dengan nilai satu jika kinerja jauh dibawah rata-rata hingga nilai lima jika kinerja jauh diatas rata-rata.

2.3.

ANALISIS DATA

Dafam penelitian ini analisis data menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan software SmartPLS. PLS adalah model persamaan struktural (SEM) yang berbasis komponen atau varian (variance). Menurut Ghozali (2006) PLS merupakan pendekatan altematifyang bergeser dari pendekatan SEM berbasis covariance menjadi berbasis varian.SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji kausalitas/teori sedangkan PLS lebih bersifat predictive model. PLS merupakan metode analisis yangpoweifull hams besar. (Wold, 1985 dalam Ghozali,2006) karena normal, sampel tidak tidak didasarkan pada ban yak asumsi. Misalnya, data harus terdistribusi

PENGARUH DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MAN.AJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Jaryanto

21

,I

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 3.1. Gambaran Umum Responden Responden sebagai sampel dalam penelitian ini sebanyak 77 responden yang meliputi manaj er produksi, manaj er pemasaran dan manaj er keuangan. Ringkasan jumlah pengiriman dan pengemba1ian kuesioner dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 TABELl

RINCIAN PENGEMBALIAN KUESIONER
Total Pengiriman

Kuesioner

675 57
27

Kuesioner yang kembali sebelum 28 April 2008 Kuesioner yang kembali setelah 28 April 2008 Total kuesioner yang kembali Kuesioner yang tidak dapat digunakan Total Kuesioner yang digunakan Tingkat pengembalian (response rate) Tingkat pengembalian yang digunakan (usabel response rate)

84 _]_ 77

=84/675*100% = 77 1 675

12,4%

* 100%

11,4%

Sumber: Data primer diolah 2008 3.2. Uji Kualitas Data

Uji kualitas data meliputi realibilitas dan uji validitas. Uji reliabitas dilakukan dengan melihat nilai composite reliability yang dihasilkan dengan per~itungan PLS untuk masing-rnasing konstruk. Nilai suatu konstruk dikatakan reliabeljika memberikan nilai composite reliability> 0.70 (Werts et al. 1974 dalam Ghozali, 2006). Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa semua konstruk adalah reliabel dengan kisaran nilai composite reliability antara 0,765 sampai dengan 0,890. Uj i validitas dilakukan dengan menggunakan evaluasi measurement (outer) model yaitu dengan menggunakan convergent validity (besarnya loadingfactoruntuk masing-masing konstruk). Hasil dati uji validitas dengan menggunakan convergent validity yang dihitung dengan SmartP LS menunj ukkan bahwa indikator yang tidak valid adalah IL2, AG R5, INII dan MP 5.

3.3. UjiNon-Response Bias (T-Test)
Pengujian non-response bias dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah jawaban kuesioner yang dikembalikan responden sebelum tanggal yang ditetapkan sebagai batas keterlambatan yaitu tanggaI 28 Apti12008 denganjawaban responden terlambat mengembalikan kuesioner (non-response) berbeda. Dari hasil uji non-response bias diketahui bahwa tidak ada perbedaan antarajawaban responden sebelum dengan sesudah tanggal cutoff

22

Fokus Ekonom i
Vol. 3 No.2 Desember 2008 : 12 - 31

3.4.

Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis yang diajukan, dapat dilihat besarnya nilai t-statistik. Batas untuk menolak dan menerima hipotesis yang diajukan adaIah 1,645,dimana apabila nilai t statistik lebihbesar dari 1,645 maka hipotesis alternatifakan diterima.

TABEL3 RESULT FOR INNER WEIGHTS Original Sample Estimate
0,493 0,362 0,523 0,439 0,043 0,418 0,191 0,233 0,206

Variabel DECT->BS DECT ->TL DECT->AGR DECT->INT DECT->MP BS->MP TL->MP AGR-> MP INT->MP

T -statistik
5,356 3,055 5,561 3,285 0,560 3,618 2,098 3,488 1,901

TTabel
1,645 1,645 1,645 1,645 1,645 1,645 1,645 1,645 1,645

Keterangan
Signifikan

Signifikan Signifikan
Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan

Sumber : Data primer diolah 2008

3.4.1.

Hipotesis 1

Hipotesis satu menyatakan bahwa Desentralisasi berpengamh positif terhadap Kinerja Manajerial. Hasil perhitungan terhadap kofisien parameter antara Desentralisasi (DezentralizationDECT) terhadap Kinerja Manajerial (Manajerial Performance-MP) menunjukkan ada pengaruh positifsebesar 0,043 dengan nilai t-statistik sebesar 0,560 tetapi tidak signifikan pada tingkat signifikansi 5% (Lihat tabeI3). Nilai t statistik tersebut berada jauh di bawah nilai kritis 1,645 (satu ekor) dengan demikian hipotesis kesatu (HI) ditolak.
,

3.4.2. Hipotesis 2a
Hipotesis 2a (H2) menyatakan bahwa desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh broadscope sistem akuntansi manaj emen. Untuk hipotesis 2a (H,ra ) pada penelitian ini dikembangkan model yang menghubungkan pengaruh tidak langsung konstruk desentralisasi terhadap kinerjamanajerial (MP) melalui variabel intervening broadscope sistern akuntansi manajemen.

PENGARUH DESENTRAUSASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Jaryanto

23

,I

TABEL4
PENGARUH TIDAK LANGSUNG DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL MELALUI BROADSCOPE SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN Pengaruh
lalur Keterangan Langsung DECT-MP (A) Pengaruh Langsung DECT-BS (B) Pengaruh Langsung BS-MP (C) Pengaruh Tidak Langsung A+(BXC)

1

DECT-BS-MP

0,043*

0,493**

0,418**

0,249**

* Tidak berpengaruh
**Berpengaruh

Sumber : Data primer diolah 2008

Besamya pengaruh tidak Iangsung desentralisasi (DECT) terhadap kinerja manajerial (MP) melalui variabel intervening broadscope sistem akuntansi manajemen sebesar 0,249. Pengaruh tidak langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial melalui broadscope sistem akuntansi manajemen tersebut lebih besar daripada pengaruh langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Sedangkan pengaruh langsung desentralisasi (DECT) terhadap broadscope sistem akuntansi manajemen maupun pengaruh langsungbroadscope sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial menunjukkan hasil yang signifikan sehingga Hipotesis 2a (H) yang menyatakan bahwa desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh broadscope sistem akuntansi manajemen diterima.

3.4.3. Hipotesis 2b
Hipotesis 2b (H2b) menyatakan bahwa desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh timeliness sistem akuntansi manajemen. Untuk hipotesis 2b (H2o) pada penelitian ini dikembangkan model yang menghubungkan pengaruh tidak langsung konstruk desentralisasi terhadap kinerja manajerial (MP) melalui variabel intervening timeliness sistem akuntansi manajemen.

24

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008 : 12 - 31

TABEL5 PENGARUH TIDAK LANGSUNG DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERlAL MELALUI TIMELINESS SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN Pengaruh Langsung DECT-MP (A) 0,043* Pengaruh Langsung DECT-TL (B) 0,362** Pengaruh Langsung TL-MP (C) 0,191 ** Pengaruh Tidak Langsung A+(BXC) 0,112**

Jalur

Keterangan

1

DECT-TL-MP

Sumber: Data primer diolah 2008 * Tidak berpengaruh **Berpengaruh Besamya pengaruh tidak langsung desentralisasi (DEeT) terhadap kinerja manajerial (MP) melalui variabel intervening timeliness sistem akuntansi manajemen sebesar 0, 112. Pengaruh tidak langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial melalui timeliness sistem akuntansi manajemen tersebut lebih besar daripada pengaruh langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Sedangkan pengaruh langsung desentralisasi (DECT) terhadap timeliness sistem akuntansi manajemen maupun pengaruh 1angsung timeliness sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial menunjukkan hasil yang signifikan sehingga Hipotesis 2b ~b) yang menyatakan bahwa desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manaj erial apabila dimediasi oleh timeliness sistem akuntansi manajemen diterima. 3.4.4. Hipotesis 2c Hipotesis 2c (H2c) rnenyatakan

bahwa desentralisasi

berpengaruh

terhadap

kinerj a

manajerial apabila dimediasi oleh agregation sistem akuntansi manaj emen. Untuk hipotesis 2c (H2C) pada penelitian ini dikembangkan model yang menghubungkan pengaruh tidak langsung konstruk desentralisasi terhadap kinerjamanajerial sistem akuntansi manajemen. (MP) melalui variabel intervening agregation

PENGARUH DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Jaryanto

25

,!

TABEL6 PENGARUH TIDAK LANGSUNG DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL MELALUI A GREGATIONSISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN
Pengaruh Langsung. DECT-MP (A) Pengaruh Langsung
DECT-AGR

Jalur

Keterangan

(B)
0,523**

Pengaruh Langsung AGR-MP (C) 0,233**

Pengaruh Tidak Langsung

A+(BXC)
0,165**

1

DECT-AGR-MP

0,043*

Sumber : Data primer diolah 2008

* Tidak

berpengaruh **Berpengaruh

Besarnya pengaruh tidak langsung desentralisasi (DECT) terhadap kinerja manajerial (MP) melalui variabel intervening agregation sistemakuntansi manajemen sebesarO,165. Pengaruh tidak langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial melalui agregation sistem akuntansi manajemen tersebut lebih besar daripada pengaruh langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial, Sedangkan pengaruh langsung desentralisasi (DECT) terhadap agregation sistem akuntansi manajemen maupun pengaruh langsungagregation sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial menunjukkan basil yang signifikan sehingga Hipotesis 2c (H2C) yangmenyatakan bahwa desentralisasi berpengaruh terhadap kinerj a manajerial apabiia dimediasi oleh agregation sistem akuntansi manajemen diterima.

3.4.5. Hipotesis 2d
Hipotesis 2d (H2d) menyatakan bahwa desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh integration sistem akuntansi manajemen. Untuk hipotesis 2d (H2) pada penelitian ini dikembangkan model yang menghubungkan pengaruhtidak langsung konstruk desentralisasi terhadap kinerja rnanajerial (MP) melalui variabel intervening integration sistem akuntansi manajemen.

26

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008: 12 - 31

TABEL7 PENGARUH TIDAK LANGSUNG DESENTRALISASI
KINERJA MANAJERIAL MELALUI INTEGRATIONSISTEMAKUNTANSI MANAJEMEN Pengaruh Langsung DECT-MP TERHADAP

Pengaruh
Langsung
DECT-INT

Jalur

Keterangan

Pengaruh Langsung INT-MP

Pengaruh Tidak Langsung

(A) 1
DECT-INT-MP 0,043*

(B)
0,439**

(C)
0,206**

A+(BXC)
0,133**

Sumber : Data primer diolah 2008 * Tidak berpengaruh **Berpengaruh Besarnya pengaruh tidak langsung desentralisasi (DECT) terhadap kinerja manajerial (MP) melalui variabel intervening integration sistem akuntansi manajemen sebesar 0, 133. Pengaruh tidak langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial melalui integration sistem akuntansi manajemen tersebut lebih besar daripada pengaruh langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Sedangkan pengaruh langsung desentralisasi (DECT) terhadap integration sistem akuntansi manajemen maupun pengaruh langsung integration sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial menunjukkan hasil yang signifikan sehingga Hipotesis 2d (H2d) yang menyatakan bahwa desentralisasi berpenga~h terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh integration sistem akuntansi manajemen diterima. 3.5. 3.5.1. Pembahasan

Hasil Penelitiari
Terhadap Kinerja Manajerial.

Pengaruh Desentralisasi

Hasil pengujian hipotesis 1 (HI) menunjukkan bahwa pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial sebesar 0,043 dengan nilai t-statistik sebesar 0,560 pada tingkat signifikansi 5%. Nilai t-statistik tersebut beradajauh di bawah nilai kritis 1,645 (satu ekor), dengan demikian hipotesis kedua ditolak. Penolakan terhadap hipotesis satu (HI) mengindikasikan bahwa Desentralisasi tidak cukup memberikan bukti dapat meningkatkan Kinerj a manaj erial. Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukkan bahwa desentralisasi berhubungan positif namun tidak signifikan terhadap kinerja manajerial pada tarafsignifikansi 5% sehingga semakin tinggi level desentralisasi maka kinerja iidak akan meningkat secara signifikan. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis alternatiffll.) ditolak. Hal ini disebabkan pada kondisi desentralisasi manajer lebih banyak membutuhkan informasi untuk dapatmenjalankan tugasnya secara efisien. Desentralisasi tidak akan meningkatkan kinerja dimana indikatomya adalah tercapainya efisiensi tanpa dilengkapi dengan informasi akuntansi yangmemadai. Hasil pengujian

PENGARUH DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJI;MEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Jaryanto

27

,I

Hipotesis ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang menemukan hubungan positifantara desentralisasi dengan kinerja namunhubungan positiftersebuttidak signifikan (Miah dan Mia, 1996; Soobaroyen dan Poorundersing, 2008). 3.5.2. Pengaruh Desentralisasi Akuntansi Manajemen. Terhadap Kinerja Manajerial apabila dimediasi oleh Sistern

Hasil pengujian hipotesis 2 (H2) menunjukkan bahwa pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial apabila dimediasi oleh sistem akuntansi manajemen adalah lebih besar dati pengaruh langsung desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Soobaroyen dan Poorundersing (2008) dimana integration sistem akuntansi manajemen memberikan efek intervening dalam hubungan antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Chi a (1995) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa desentralisasi berpengaruh positifterhadap semua dimensi sistem akuntansi manajemen untuk meningkatkan kinerja. 4. SIMPULAN DAN SARAN

4.1. Simpulan
1. Desentralisasi terbukti tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Miah dan Mia (1996); Soobaroyen dan Poorundersing (2008) dimana dalam penelitiannya menemukan tidak adanya pengaruh antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial. Hasil ini menunjukkan bahwa desentralisasi pengambilan keputusan tidak serta merta meningkatkan kinerja manajer tapi desentralisasi periu didukung oleh faktor lain (seperti sistem akuntansi manajemen) sebagai upaya peningkatan kinerja manajerial. Desentralisasi terbukti berpengaruh terhadap kinerja manajeriaI apabila dimediasi oleh sistem akuntansi manajemen. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitiannya Soobaroyen dan Poorundersing (2008) yang menemukan adanya pengaruh antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial apabila dimediasioleh semua dimensi). sistem akuntansi manajemen (untuk

2.

4.2. Saran
1. Penelitian mendatang dapat mempertimbangkan pemilihan responden yang berbeda dengan penel itian ini misalnya dengan mengambil responden dari manaj er perusahaan jasa atau j enis industri yang lain. Penelitian ini menggunakan metodemail survey yang menyebabkan tingkat response rate menjadi rendah, sehingga untuk penelitian selanjutnya mungkin bisa digunakan metode lain sehingga diperoleh response rate yang tinggi.

2.

28

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2 Desember 2008: 12 - 31

DAFTARPUSTAKA

Abernethy, M. A., and Bouwens, Accounting pp.221-41.

J. 2000. "The Consequences ofCustomization
Organizations

on Management

System Design". Accounting,

and Society. Vol. 25 No.3.

Belkoui, A. 1980. Conceptual Foundation of Management Accounting. Wesley Publishing Company

Menlo Park: Addyson-

Budiarto, D.S. 2004. "Pengaruh Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen (SIAM) Terhadap Kinerja Organisasi dengan Tingkat Desentralisasi sebagai Moderating Variabel", Tesis Program Pasca Sarjana Magister Sains Akuntansi Undip. (Tidak Dipublikasikan) . Chenhall, R.H. and Monis, D. 1986. ''The Impact of Structure, Environment, and Interdependece on The Perceived Usefulness of Management Accounting Sistem", The Accounting Review. VoL 61. Januari. Pp. 16-35. Chong, VK. 1996. "Management Accounting Systems, Task Uncertainty and Managerial Performance: A Research Note". Accounting, Organizations and Society. Vol. 21 No. 5. pp. 415-421. Chong, Y.K. and Chong, K.M. 1997. "Strategic Choices, Environmental Uncertainty And SB U Performance: AN ote On The Intervening Ro le Of Management Accounting Systems". Accounting & Business Research. Vol. 27. No.4. pp.268-76. Dalton, D.R., Todor, W.O., Spendolini, MJ., fielding, OJ. and Porter, L.W. 1980. "Organization Structure And Performance: Vol. 5. No. 1. pp.49-64. Davilla,Aand Foster, G. 2005. "Management Accounting Systems Adoption Decisions: Evidence and Performance Implications From Early-Stage/Startup Company". Accounting Review. Vol. 80. No.4. Pp. 1039-1068. Desmiyatwati. 2001. "Pengaruh Strategi Bisnis dan Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Hubungan Antara Karakteristik Informasi Broadscope Sistem Akuntansi Manajemen Dengan Kinerja Organisasi". Tesis S2 UOM. (Tidak Dipublikasikan). Ghozali, I. 2006. Structural Equation Modeling, Metode Altematif dengan Partial Least Square. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. A Critical Review". Academy

0/ Management

Review.

PENGARUH DESENTRAUSASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Jaryanto

29

____

. 2004. Model Persamaan Struktural, Konsep dan Aplikasi dengan Program Amos Ver.5.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. dan Fuad. 2005. Structural Equation Modelling. Teori, Konsep & Aplikasi Dengan Program LISREL 8.54. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

____

Gordon, L.A. and Narayanan, Environmental

Y.K. 1984. "Management

Accounting pp.33-47.

Systems,

Perceived

Uncertainty And Organization Structure: An Empirical Investigation ".

Accounting, Organizations and Society. Vol. 9. No.1.

Gul, F.A. 1991. "The Effects of Management Accounting Systems and Environmental Uncertainty on Small Business Managers' Performance". Accounting and Business Research. Vo. 22. No. 85. Pp. 57-61.

Gul, F.A. and Chi a, YM. 1994. "The Effects Of Management Accounting Systems, Perceived
Environmental Uncertainty And Decentralization On Managerial Performance: A Test Of Three- Way Interaction". Accounting, Organizations and Society. Vol. 19. Nos 415. pp.413-26. Kim, Jisung and Burton,

R.M. 2002. "The Efeect of Task Uncertainty and Decentralization

on

Project Team Performance". Vol. 8. No.4. Pp. 365-384.

Computational and Mathematical Organization Theory.

Mahoney, T. A., Jerde, T. H., & Carroll, S. 1. 1965. "The Jobs of Management Relations. Vol. 4. pp. 97-110.

". Industrial

Mia, L. and Chenhall, R.H. 1994. "The Usefulness Of Management Accounting Systems, Functional Differentiation And Managerial. Effectiveness". Accounting, Organizations and Society. Vol. 19. No. 1. pp. 1-13. Miah, N.Z and Mia, L. 1996. "Decentralization, Accounting Controls and Performance of Government Organizations: A New Zealand Empirical Study". Financial Accountability & Management. Vol. 12. No.3. Pp. 173-190.

Muslichah. 2003. "Pengaruh Interaksi Strategi dan SAM Terhadap Kinerja Manajerial". Jurnal Penelitian Akuntansi Bisnis dan Manajemen. Vol. 10. No.1. April 2003. Otley, D.T. 1980. "The Contingency Theory Of Management Accounting: Achievement Prognosis". Accounting, Organizations and Society. Vol. 5. No.4. pp. 413-28. And

30

Fokus Ekonomi
Vol. 3 No.2

Desember2008:

12" 31

Pratiwi,

Umi, 2006. "Pengaruh Strategi Bisnis, Ketidakpastian Lingkungan dan Desentralisasi
Terhadap Hubungan Broad Scope Sistem Akuntansi Manajemen dengan Kinerja Manajerial". Tesis Program Pasca Sarjana Magister Sains Akuntansi Undip, (Tidak Dipublikasikan) .

Siegel, G. and Marconi, H,R. 1989. Bevavioral Cincinnati. Ohio. Soobaroyen, T. and Poorundersing.

Accounting.

South Western Publishing.

Co.

2008. "The Effectiveness

of Management

Accounting

Systems. Evidence From Functional Managers in a Developing Country". Managerial Auditing Journal. Vol. 23. No. 2. Pp.187~219. Tsui, J .S.L. 2001. "The Impact Of Culture On The Relationship Between Budgetary Participation, Management Accounting Systems,And Managerial Performance: An Analysis Of Chinese And Western Managers". 125. The International Journal of Accounting. Vol. 36. No.2. Pp.

Weill, P. and Olson, M.H. 1989. "An Assessment of the Contingency Information Pp.59~85. Systems". Journal of Management Information

Theory of Management Systems. Vol. 6. No.1.

PENGARUH DESENTRAUSASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN (BROADSCOPE, TIMELINESS, AGGREGATION DAN INTEGRATION) SEBAGAI VARIABEl INTERVENING Jaryanto

31

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->