Anda di halaman 1dari 19

Pengantar

Berbagai konsep dasar (filsafat) hak kepemilikan kekayaan mineral yang berlaku di berbagai negara ; Hak ada pada si pemilik tanah Hak ada pada suku tertentu (yang dilindungi) Hak ada pada raja (mahkota) Hak ada pada negara (yang mewakili rakyat) Pelaksanaan/cara memperoleh manfaat dari hak kepemilikan dari usaha pertambangan ; Melalui pungutan royalty iuran produksi Melalui pemilikan saham dalam usaha dengan cara bagi hasil
Community Development

Relationships
STATE

Interaction
COMMUNITIES COMPANY

Community Development

Before Industrialization
STATE

Control
COMMUNITIES

COMPANY

The State in control of mining no independent role for companies or local communities

Mineral wealth a source of state and military power


Community Development

Solving The Labour Problem in The 14th Century


First we decide, and promise all those that come to the mining area intending to remain there, that they shall be wholly free in both life and goods for any missdeed that they have done before, unless they be murderers, thieves or traitors.
(Letter of privilege by king Magnus Eriksson of Sweden for The Western Mining Area in The Province of Nrke, 1340)
Community Development

20th Century Industrialized Countries

STATE

Control
COMMUNITIES

COMPANY

Role of The state for mining same as for other industries Emphasis on regulation, sometimes resulting from tradition Companies provide basic social and commercial service to employes
Community Development

KONSEP DASAR HAK KEPEMILIKAN KEKAYAAN MINERAL


Kebijakan Pertambangan Hindia Belanda Indische Mijnwet 1899 tidak menyatakan secara tegas soal hak kepemilikan atas kekayaan bahan galian yang terdapat dalam bumi Hindia Belanda; tekanan lebih diberikan pada wewenang dan hak pemberian izin usaha ; Artikel 1, Indische Mijnwet berbunyi ; Over de navolgende delfstoffen mag in Nederlands Indie de rechthebbende op den grond niet beschikken ; a. Edelgesteenten, graphiet, platine, enz b. Anthraciet en alle soorten steen-en btuinkool; aardolie, enz
1.

Community Development

Pengusahaan / penambangan bahan galian yang disebutkan dalam Indische Mijnwet hanya dapat dilakukan dengan seizin Gubernemen (Gubernur Jenderal).
1.

Perangkat peraturan perundang undangan terpenting yang mendasari kebijaksanaan pertambangan pemerintah Hindia Belanda :
a. b. c.

Indische Mijnwet (1899, dengan amademen 1910 dan 1918) Mijnordonnantie (1906, dengan amandemen 1930); Mijn Politie Reglement (1930)

Indische Mijnwet 1899 menggariskan kebijaksanaan sangat etatis, tetapi kemudian dilonggarkan dengan amandemen tahun 1910 dan 1918 yang menghasilkan rumusan Artikel 5a Gubernemen Hindia Belanda dapat membuat perjanjian 5a Contract dengan pihak swasta untuk mengembangkan sektor perminyakan dan pertambangan mineral. Gubernemen mengadakan pencadangan wilayah untuk minyak bumi, batubara dan berbagai mineral logam, belerang dan batu permata yang dianggapnya perlu untuk nantinya diusahakan sendiri oleh perusahaan milik pemerintahan atau dengan kerjasama dengan pihak swasta Community Development

Kebijakan Pertambangan Indonesia


Perkembangan Penting Selama Periode 1950 1959 ; 1951
1.

Mosi Teuku Moh. Hassan dkk. Di DPRS antara lain mendesak pemerintah untuk membentuk Panitia Urusan Pertambangan guna menyiapkan rencana UU pertambangan Indonesia dan sementara menunda pemberian segala izin pertambangan
Penerbitan UU No. 78/Tahun 1958 tentang Modal Asing yang dalam Pasal 3 menetapkan ; Perusahaan-perusahaan Pertambangan bahan-bahan vital tertutup bagi modal asing Penerbitan UU No. 10/Tahun 1959 tentang Pembatalan Hak-hak Pertambangan, disusul penerbitan PP No. 25/Tahun 1959 tentang Peraturan Pelaksanaannya Sebelum hak pertambangan yang diberikan sebelum 1949 yang selama itu belum dikerjakan/diusahakan dengan sungguh-sungguh dinyatakan batal

1958

1959

Community Development

20Th Century Colonies


STATE

COMMUNITIES

COMPANY

In Colonial Africa and Asia, Ensure that Territory Open for Prospecting and Mining In Latin America, Strong Private Sector, Foreign Invesment Gradually more Important

Companies Provide Basic Social and Commercial Service to Employees


Community Development

1959 Dekrit Presiden RI tanggal 5 Juli 1959 : Indonesia kembali ke UUD 1945; Dewan Konstituante dibubarkan; Indonesia memasuki era Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin.
2.

Periode 1950 1959 ; Masa berlakunya kebijaksanaan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin
Penerbitan UU No. 37 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan (menganut pola etatis; banyak mengacu pada Indische Mijnwet); Penerbitan UU No. 19 Prp. Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara Pengundangan Pola Pembangunan Nasional Semester Berencana (yang disusun Dewan Perancang Nasional) Pengundangan Deklarasi Ekonomi (DEKON) oleh Presiden RI Penerbitan Keppres No. 20/Tahun 1963 tentang Pemberian Fasilitas bagi Proyek-proyek yang dibiayai dengan Kredit Luar Negeri atas dasar Production Sharing. Pecah Peristiwa G 30S/PKI (September / Oktober 1965)

1960

1962

1963

1965

Community Development

1970s DEVELOPING COUNTRIES STATE

COMMUNITIES

COMPANY

Strengthened Role of The State National Sovereignty over Resources Nationalizations Sharing Resource Rents

Companies Now State-Owned-Provide Basic Social And Commercial Services to Employees


Mining Communities Relatively Prosperous and Exercise Political Influence
Community Development

2.

Reformasi Kebijaksanaan Pertambangan Indonesia


Kebijaksanaan Ekonomi Terpimpin, terpimpin tidak berhasil mengangkat perekonomian nasional SU MPRS 1966 menetapkan kebijaksanaan baru tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan (TAP MPRS No. XIII/MPRS/1966) yang antara lain menyatakan ;

Kekayaan potensial alam Indonesia perlu digali dan diolah agar dapat dijadikan kekuatan ekonomi riil; Modal, teknologi dan keahlian dari luar negeri dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan kemerosotan ekonomi serta pembangunan Indonesia Perlu segera ditetapkan UU mengenai modal asing dan modal domestik

Januari 1967 Terbit UU No. 1/Tahun 1967 tentang Oenanaman Modal Asing; Pasal 8 Ayat (1) menyatakan ; PMA di bidang pertambangan didasrkan pada suatu kerjasama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Penerbitan UU tentang PMA disusul dengan terbitnya UU No. 11/Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Nopember 1967) Community Development

Yang berlaku di Indonesia, sesuai UU No. 11 / Tahun 1967, Pasal 1 : Bahan galian yang merupakan endapan alam ; Adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa Merupakan kekayaan nasional Dikuasai oleh Negara Dipergunakan oleh Negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2.

Sesuai konsep dasar dalam UU No. 11/Tahun 1967 dalam pertambangan di Indonesia tidak dikenal konsep/pengertian Konsesi Pertambangan melainkan hanya Kuasa Pertambangan. Semangat UU No. 11/Tahun 1967 mengatur kemungkinan pola kebijaksanaan etatis. Perusahaan Negara dicanangkan untuk tetap pegang peran Utama; PMA sebagai pelengkap apabila diperlukan. Pasal 10 UU No. 11/Tahun 1967 mengatur kemungkinan pengikutsertaan PMA dalam bidang pertambangan adalah sebagai berikut ; Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah atau perusahaan negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan Community Development

2.

3.

Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, instansi pemerintah atau perusahaan negara harus berpegang pada pedoman-pedoman dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri Perjanjian karya tersebut dalam ayat (2) pasal ini mulai berlaku sesuadah disahkan oleh pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat apabila menyangkut eksploitasi golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang ditentukan dalam pasal 13 undangundang ini dan atay yang perjanjian karyanya berbentuk penanaman modal asing Kebijaksanaan PMA bidang pertambangan cukup berhasil. Pola Kontrak Karya Pertambangan mineral dan PKP2B untuk pertambangan batubara cukup menarik.

Community Development

1980s DEVELOPING COUNTRIES STATE

COMMUNITIES

COMPANY

Contractionary Economic Policies Promotion of Foreign Investment Privatization Reduced Influence for Communities

Community Development

PERTAMBANGAN INDONESIA DEWASA INI


1. Perkembangan usaha dan kegiatan PMA sangat menonjol; sebaliknya peranan (swasta) nasional sangat kecil. Perusahaan negara tidak lagi memiliki leading posisition 2. Masyarakat luas tidak cukup memahami hakekat dan permasalahan usaha pertambangan 3. Banyak kritik (terutama dari LSM) ditunjukkan kepada Pemerintah dan Kontraktor PMA Pertambangan

CHALLENGES
Traditional Challenges Maintain Economic Stability Safeguard Employment Promote Lingkage

New Challenges Enviromental Management Manage Social Impacts


Community Development

Hal-Hal Yang dipersoalkan, antara lain ;

1. Kepentingan penduduk asli setempat terabaikan bahkan dikorbankan, terutama menyangkut persoalan lingkungan hidup dan HAM
2. Pola KK pertambangan merugikan secara nasional; pola kontrak bagi hasil (diperkirakan) lebih menguntungkan 3. Persyaratan dalam KK terlalu menguntungkan PMA; 4. Tidak adanya/sangat kecilnya saham pemerintah dalam proyek-proyek PMA.
Community Development

Hal-hal dalam UU No. 11/Tahun 1967


1. Pencantuman ketentuan mengenai Community Development

2. Pencantuman ketentuan mengenai soal soal lingkungan


3. Pentahapan kegiatan usaha pertambangan 4. Pembatasan luas Wilayah kerja dalam kaitannya dengan pentahapan kegiatan usaha; 5. Konsep mengenai penggolongan bahan galian (kriteria serta kaitannya dengan batasan hak pengusahaan);

6. Konsep mengenai keterlibatan Negara/Pemerintah dalam usaha pengembangan pertambangan


Community Development

1990s INDUSTRIALIZED AND DEVELOPMENT COUNTRIES

STATE

Partnership COMMUNITIES

COMPANY

Secure investment climate consultation decentralization Maximate Opportunities for economic and social development

Ensure an equitable distribution of benefits


Contribute to political stability
Community Development