Anda di halaman 1dari 59

BAB IV PEMBAHASAN DAN PROSES KPP 1.

Kegiatan selama praktikan Kegiatan/proyek yang diberikan oleh perusahaan tempat kerja praktek Tentang Studi Strategi Pembangunan Transportasi Di 7 (Tujuh) Wilayah Provinsi. Dalam hal ini ada 7 (tujuh) provinsi yang menjadi lokasi studi namun lebih dalam laporan ini membahas tentang transportasi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan praktikan selama kerja praktek ini adalah: 1. Tahapan persiapan Dalam tahapan ini, kegiatan yang dilakukan adalah mendapat pengenalan tentang kerja praktek yang akan dikerjakan. Dalm hal ini pengenalan dilakukan melalui pengarahan dari dosen tentang kegiatan kerja praktek dan dari pimpinan dari perusahaan yang menjadi tempat dilakukannnya kerja praktek mengenai tata cara serta aaturan-aturan yang harus dipahami dalam proses kerja yang akan dilaksanakan nantinya. Selain itu, pemahaman juga dilakukan dengan mencari literatureliteratur yang berkaitan dengan penyelesaian proyek. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Nusa Tenggara Barat yang terdiri atas Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, memiliki luas wilayah 20.153,15 Km2, terletak antara 115046' -1190 5' Bujur Timur dan 8010' - 905' Lintang Selatan. Kabupaten Lombok Timur mempunyai luas wilayah sekitar 1.605,55 Km2 atau 33,88 % dari seluruh wilayah Pulau Lombok. 1. Kondisi Fisik dan Geografis a. Letak Geografis proses pengerjaan dan

Nusa Tengara Barat terdiri dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, memiliki luas wilayah 20.153, 15 Km2. Terletak antara 115046- 1190 5' Bujur Timur 8010-905 Lintang Selatan dengan batas wilayah Sebelah Utara : Laut Jawa dan Laut Flores. Sebelah Selatan: Samudera Indonesia. Sebelah Barat Selat Lombok/Provinsi Bali. Sebelah Timur Selat Sape/Provinsi NTT. Tabel 4.1. Luas Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Menurut

Kabupaten/Kota. Luas Kabupaten / Kota ( Km2 ) (1) 1. Lombok Barat 2. Tengah 3. Lombok Timur 1.605,55 4. Sumbawa 5. D o m p u 6. B i m a 7. Barat 8. Kota Mataram 9. Kota Bima Jumlah 61,30 207,50 20.153,15 0,30 1,03 100,00 Mataram Bima 6.643,98 2.324,60 4.389,40 7,97 32,97 11,53 21,78 9,17 Selong Sumbawa Besar Dompu Raba Taliwang (2) 1.863,40 (3) 9,25 6,00 Gerung Praya Persentase (%) Ibu Kota

Lombok 1.208,40

Sumbawa 1.849,02

Sumber : BPS Nusa Tenggara Barat Tahun 2010

Gambar

4.1.

Peta

Administrasi

Nusa

Tenggara

Barat

Selong merupakan kota yang mempunyai ketinggian paling tinggi, yaitu 148 m dari permukaan laut sementara Raba terendah dengan 13 m dari permukaan laut. Dari tujuh gunung ada di pulau Lombok, Gunung Rinjani merupakan tertinggi dengan ketinggian 3,775 m, sedangkan sumbawa dengan ketinggian 2,851 m. Batas administrasi Kabupaten Lombok Timur di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Barat, di sebelah timur dengan Selat Alas, di sebelah selatan dengan Samudera Hindia, sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Bali. Kabupaten Lombok Timur terbagi menjadi 10 kecamatan dengan jumlah kelurahan sebanyak 13 buah dan desa sebanyak 96 buah. Kawasan Gili Suiat, Gili Lawang, Gili Pentangan, Gili Pasaran, dan Gili Lampu terletak di sebelah timur bagian utara Pulau Lombok. Secara administratif termasuk wilayah Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gili Lawang dan Gili Sulat terletak di sebelah utara pantai Lombok Timur dan pada jarak sekitar 1 mil merupakan jalur pelayaran laut dari Selat Alas menuju Selat Makasar dan Laut Jawa. Obyek wisata kawasan ini adalah berupa pantai pasir putih, ekosistem terumbu karang dan ekosisitem mangrove. Atraksi wisata berupa renang, snorkling, selam, berjemur (sun bathing), dayung (boating), perahu layar (sailling) dan khusus di Gili Petangan wisatawan dapat melakukan camping.

b. Klimatologi Berdasarkan data statistik dari lembaga meteorologi, temperatur maksimum pada tahun 2003 berkisar antara 30,70- 32,7OC dan temperatur minimum berkisar antara 20,90-24,90 C. Temperarur tertinggi terjadi pada bulan Nopember dan terendah pada bulan Juli. Sebagai daerah tropis, NTB mempunyai rata-rata kelembaban yang relatif tinggi, yaitu antara 60-93%.

c. Topografi Kondisi Topografi di Nusa Tenggara Barat relatif datar secara garis besar dibagi dua yaitu: - Dataran rendah dibagian utara dengan ketinggian berkisar antara 0-25 meter diatas permukaan laut, Daerah yang termasuk dataran rendah ini antara lain Kabupaten Mataram, Sumbawa Besar, Raba dan Mataram. - Dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 25 meter di atas permukaan laut. Daerah yang termasuk dataran tinggi ini di Kabupaten Praya, Selong dan Dompu. Tabel 4.2. Bulan Keadaan Cuaca Tiap Bulan Di Nusa Tenggara Barat 2005 Kelembab Tekanan Ma Mi M Mi an 1011, 1007, x n ax n 95 66 3 7 66 1010 1011, 1 1006, 7 Ratarata 41 Penyi naran 55 270 13 Arah Angi n 270 Kecep atan Lama nya

Tempera Ma Mi tur Januari x n 31,7 24,6 Februa ri Maret

12 Angin 33 Penyi naran 44

31,8 24,4 94

32,4 23,5 94

63

1008 71

270

12

5,7

April

32,9 23,9 93

58

1011, 1007, 2 6

88

270

11

7.0

Mei

31,6 22,5 93

61

1011, 1008, 8 1013, 8 1013, 8 2

83

120

6.6

Juni

31,3 21,4 94

58

1009 89

270

10

7.1

Juli

30,4 20,9 93

56

1010 86

120

11

6.9

Aqustu s

30,9 21,1 91

53 59

1013, 1009, 7 8

95

120 150

11 10

7,6 5,4

Septem 30,7 22,2 92

1014, 1010, 68

ber Oktobe r Nopem ber Desem ber Rata31,6 23,1 93 60 30,9 24,6 95 67 32,7 24,3 94 61 32,0 23,7 92 57

2 77 160 12 6,2

1012, 1008, 8 8

1011, 1007, 2 6

73

140

10

5,8

1010, 1007, 8 8

39

270 270

9 11

3,1 5,8

1021,1 1008,5 72

Sumberrata : Badan Meteorologi dan Geofisika Selaparang Mataram Topografi wilayah Kabupaten Lombok Timur merupakan perpaduan antara daerah dataran landai yang mencakup wilayah kecamatan yang berada di sekitar pantai atau berdekatan dengan pantai seperti wilayah Kecamatan Jeru-waru, Keruak, Labuhan Haji, dan Kecamatan Sakra dengan wilayah pemekarannya mencakup Kecamatan Sakra Barat dan Sakra Timur. Topografi wilayah dengan pola bergelombang mencakup wilayah kecamatan yang berada di wilayah kecamatan bagian tengah, sedangkan pola topografi terjal mencakup wilayah kecamatan yang berada di lereng Gunung Rinjani, mencakup kecamatan Sembalun, Suela, Montong Gading, sebagian Pringasela, sebagian Kecamatan Sikur, Sambelia dan sebagian wilayah Kecamatan Pringgabaya. Akibat adanya keragaman topografi wilayah ini, maka berpengaruh terhadap keragaman jenis potensi wilayah, dimana untuk wilayah yang berada di daerah pantai berpotensi untuk pengembangan kegiatan perikanan laut, untuk wilayah yang bertopografi datar hingga bergelombang berpotensi untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan, sedangkan untuk wilayah yang bertopografi terjal berpotensi untuk pengembangan kegiatan pertanian tanaman hortikultura dan pengembangan sektor kehutanan.

2. Kondisi Sosial Kependudukan a. Sosial Budaya Provinsi menjadi tempat bertemunya tiga kebudayaan besar di Kebudayaan Jawa Kuno, Islam dan Hindu Bali. Pulau Lombok mempunyai budaya yang khas. ini bisa dilihat dari bangunan

bercorak Hindu Bali dapat dijumpai di Mataram. Taman Narmada, didirikan Anak Agung Gde Ngurah Karang Asem pada 1727, adalah duplikat danau Segara Anak. Taman ini dibuat ketika Sang Raja sudah terlalu tua untuk mempersembahkan kurban ke puncak Gunung Rinjani. Ditaman ini terdapat mata air awet muda dan sebuah Pura Hindu untuk Memuja Dewa Siwa. Bangunan Bercorak Hindu yang telah terpengaruh Jawa Kono dan Islam ada di Taman Mayura, Cakranegara. Pada Zaman kuno, wilayah sekarang merupakan wilayah provinsi NTB dikuasai beberapa kerajaan kecil. Menurut babad lombok, kerajaan pertama dan tertua di lombok adalah desa Laek, yang hampir seluruh penduduknya menganut anisme. Penduduknya kemudian menyebar dan membangun negeri baru, Pamatan. Pemimpin Pamatan adalah seorang raja yang Bantu patih, demang demung, temunggung rangga, nyaka, lurah, dipati dan jangka. Kemudian masuklah Kerajaan Majapahit dan NTB menjadi bagian dari kerajaan yang berpusat di pulau jawa itu. Mahapatih Majapahit yang mansyur, Gajah Mada, menurut catatan daun lontar pernah datang ke Lombok pada 1344. Orang Sasak berdiam diseluruh Pulau Lombok. Perkampungan tradisonal mereka sekarang dapat dijumpai di Sukarare, 24 Kilo meter dari Mataram. Perkampungan ini umumnya dibangun diatas bukit, dikelilingi rumpun-rumpun bambu. Mereka terkenal sangat ramah dan tampil mengerjakan kain tenun ikat. Orang Sumbawa dan Bima mendiami wilayah Pulau Sumbawa. Orang Bima mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Hampir semua penduduk NTB memeluk Islam (96 persen). Agama Islam masuk ke NTB pada permulaan abad ke 16. Penyebar Islam yang terkenal adalah Sunan Prapen, putra Sunan Giri yang diutus khusus mengislamkan Lombok dan Sumbawa. Upacara adat maupun keagamaan di Pulau lombok menampakan ciri khas yang di sana-sini menunjukan budaya tersebut melebur dengan kebudayaan Hindu dan Islam. Misalnya upacara perang ketupat, diselenggarakan tiap tahun antara Oktober dan Desember di Pulau Linsar memohon datangnya hujan dan kemakmuran. Upacara ini lebih bercorak Hindu Bali, tetapi ketupat merupakan atribut masyarakat Islam tradisonal.

b. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Penduduk provinsi terdiri atas beberapa suku asli maupun pendatang. Suku bangsa asli di Pulau Lombok adalah suku Bangsa Sasak. Di Pulau Sumbawa, suku bangsa yang dianggap penduduk asli adalah suku bangsa Sumbawa dan suku Bangsa Bima. Selain itu terdapat juga suku bangsa Bali, yang menurut catatan sejarah, sudah ada di NTB sejak abad ke 17, mendiami sekitar Mataram dan Cakranegara. Penduduk NTB sebagian besar bekerja di bidang pertanian dan peternakan. Padi merupakan hasil pertanian yang utama disusul jagung, ketela pohon, ketela rambat dan lain-lain. Peternakan utamanya adalah sapi, disusul kerbau, kuda, kambing, domba dan lain-lain. Jumlah penduduk provinsi NTB pada tahun 2005 mencapai 4.143.292 orang, dengan komposisi 1.999.820 orang laki-laki dan 2.143.472 orang perempuan. Distribusi penduduk berdasarkan kabupaten di provinsi NTB adalah sebagai berikut. Tabel 4.3. Jumlah Dan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2005. Kabupaten Kota / Lakilaki Perempu an Jumlah Rasio JK Luas (Km2) Kepadat an (jiwa/k m2) (1) 1. Barat 2. Lombok Lombok (2) 404.685 (3) 425.092 (4) 829.777 (5) 105,04 (6) 1.863,40 (7)

Tengah 3. Lombok

382.531

474.144

856.675 1.080.2 37 420.750 217.479

123,95

1.208,40

Timur 4. S u m b a w a 5. D o m p u

501.166

579.071

115,54

1.605,55

214.699 110.399

206.051 107.080

95,97 96,99

6.643,98 2.324,60

6. B i m a 7. Sumbawa

204.980 50.758

215.227 50.331

420.207 101.089

105,00 99,16

4.389,40 1.849,02

Barat 8. Kota

Mataram 9. Kota Bima Jumlah /Total

185.321 64.999 2.119.5 38 2.084.3 64 2.043.6 89 2.043.4 58 1.999.8 20

190.185 67.293 2.314.474

375.506 132.292 20.153, 15

102,62 103,53 109,20

61,30 207,50 20.153, 15

2008

2.279.392

4.363.7 56 4.292.4 91 4.257.3 06 4.143.2 92

109,36

2007

2.248.802

110,04

2006

2.213.848

108,34

2005

2.143.472

107,18

Sumber : BPS Provinsi NTB Tahun 2010 Adapun tingkat kepadatan penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat mencapai 206 orang/Km2, apabila dilihat menurut kabupaten/kota, Kota Mataram memiliki tingkat kepadatan tertinggi yaitu sebesar 5.820 orang/Km 2 dan Kabupaten Sumbawa Barat memiliki tingkat kepadatan terendah yaitu 48 orang/Km2.

c. Jumlah Tenaga Kerja Jumlah penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat usia 15 tahun keatas atau yang termasuk Penduduk usia produktif atau usia kerja pada tahun 2005 sebanyak 1.798.646 jiwa atau 43,41 % dari total penduduk. Sebesar 54,96 % dari penduduk usia kerja termasuk dalam penduduk angkatan kerja dan sisanya 45,04 % adalah penduduk bukan angkatan kerja (sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya).

Penduduk usia kerja yang bekerja apabila dilihat dari sektor lapangan pekerajaan tampak bahwa sebesar 48,11 % penduduk usia kerja yang bekerja terserap di sektor pertanian 16,72 % terserap sektor perdagangan dan sektor jasa menyerap 11,20 %. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai persentase penduduk yang bekerja berdasarkan sektor lapangan kerja dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 4.4. Persentase Penduduk Yang Bekerja Berdasarkan Sektor Lapangan Kerja Di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2005. N O Sektor Kerja Lapangan Persentase Penduduk Laki-Laki Perempua n 1 2 Pertanian Pertambangan Penggalian 3 4 5 6 7 8 9 Industri Listrik, Gas & Air Konstruksi Perdagangan Angkutan & Komunikasi Keuangan Jasa 7,75 0,20 7,02 9,88 9,35 1,08 11,94 14,98 0,02 0,30 26,70 0,46 0,60 10,11 10,69 0,13 4,38 16,72 5,74 0,88 11,20 & 50,61 1,90 44,43 2,01 48,11 1,95 Jumlah Jumla h

Jumlah 100,00 Sumber : BPS Nusa Tenggara Barat Tahun 2010

100,00 100,00

3. Kondisi Perekonomian PDRB atas dasar berlaku pada tahun 2008 sebesar 35.261,68 milyar rupiah, sedang pada tahun sebelumnya 33522,22 milyar rupiah, atau mengalami peningkatan sebesar 5,19 persen. Struktur perekonomian Prov. NTB masih didominasi oleh sector pertambangan dan penggalian karena didalamnya terdapat perusahaan tambang emas PT. Newmont dengan perannya mencapai 30,84 persen. Setelah sektor tersebut peranan kedua diberikan oleh sektor pertanian yang mencapai 23,22 persen. Industri belum begitu berperan dalam perekonomian NTB karena peranannya baru mencapai sekitar 5 (lima) persen. Dilihat dari penggunaan PDRB yang tercipta di Provinsi NTB, 47,69 persen digunakan untuk konsumsi masyarakat dan 25,08 persen digunakan untuk kegiatan investasi. Investasi sangat dibutuhkan oleh suatu daerah untuk meningkatkan perekonomiannya. Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008 mencapai pertumbuhan sebesar 2,63 persen. Tabel 4.5. PDRB Provinsi NTB ADH Berlaku Manurut Lapangan Usaha (Termasuk Sub Sektor Pertambangan Non Migas) ( Juta Rupiah / Million Rupiahs) Lapangan UsahaIndustrial Origin (1) 1. Pertanian (2) / 6.505.201,84 (3) 7.181.227,76 (4) 8.188.653,02 2006 2007 2008*

Agriculture 1.1 Pertanian Tanaman 4.105.667,20 Pangan / Food Crops 1.2 Perkebunan /Estate 803.934,77 Crops 1.3 Peternakan / 841.821,92 973.338,51 1.137.412,18 900.695,07 1.031.374,18 4.458.769,73 5.081.364,91

Livestock 1.4 Kehutanan / 19.042,72 21.685,65 23.738,42

Forestry 1.5 Perikanan / Fishery 734.735,24 826.738,80 914.763,33

2. Pertambangan dan 10.104.778,39 12.669.015,54 10.875.211,38 Penggalian Mining and Quarrying 3. Industri Pengolahan / 948.803,74 Manufacturing Industry 4. Listrik, Gas dan Air 112.989,91 Bersih Electricity, Water Supply 5. Bangunan / 1.649.786,58 1.917.450,38 2.299.099,66 Gas dan 130.548,23 153.888,51 1.083.503,48 1.279.191,14

Contruction 6. Perdagangan, Hotel 3.384.598,31 dan Restoran Trade, Hotels and 3.951.539,77 4.678.201,70

Restaurant 7. Pengangkutan dan 2.236.903,11 Komunikasi Transportation Communication 8. Persewaan Perusahaan Finance, Real Estate Keuangan, 1.141.129,85 dan Jasa 1.315.742,78 1.597.561,74 dan 2.456.413,92 2.786.513,09

and Business Service 9. Jasa - jasa / Services PDRB/GRDP 2.512.689,80 2.816.783,15 3.403.356,53

28.596.881,53 33.522.225,00 35.261.676,77

Sumber : BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pertumbuhan masing-masing sektor usaha dapat dilihat pada Tabel 4.47 Tabel 4.6. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi NTB ADH Berlaku Menurut Lapangan Usaha ( Persen / Percent) ) Lapangan Origin (1) 1. Pertanian / Agriculture UsahaIndustrial 2006 (2) 11,87 2007 (3) 2008* (4)

10,39 14,03 8,60 13,96

1.1 Pertanian Tanaman Pangan / 13,59 Food Crops 1.2 Perkebunan / Estate Crops 1.3 Peternakan / Livestock 1.4 Kehutanan / Forestry 1.5 Perikanan / Fishery 2. Pertambangan dan 4,90 10,08 11,32 12,61 8,79

12,04 14,51 15,62 16,86 13,88 9,47 12,52 10,65 25,38 14,16

Penggalian Mining and Quarrying 3. Industri Pengolahan

/Manufacturing Industry 4. Listrik, Gas dan Air Bersih Electricity, Gas dan Water Supply 5. Bangunan / Contruction 6. Perdagangan, Hotel dan

9,24 14,00

14,20 18,06

15,54 17,88

12,16 15,78

16,22 19,90 16,75 18,39

Restoran Trade, Hotels and Restaurant 7. Pengangkutan dan

Komunikasi Transportation Communication dan

12,15

9,81

13,44

8. Keuangan, Persewaan dan 14,30

15,30 21,42

Jasa Perusahaan Finance, Real Estate and

Business Service 9. Jasa - jasa / Services PDRB/GRDP Sumber Source 12,96 11,35 12,10 20,82 17,22 5,19

: BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat BPS - Statistics Of Nusa Tenggara Barat Province

Catatan/Note :

*) Angka sementara / Temporary data

4. Kondisi Sistem Transportasi a. Sistem Transportasi Darat Jalan dan jembatan merupakan prasarana untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Makin meningkatnya usaha pembangunan menuntut adanya peningkatan

pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar perdagangan antar daerah. Panjang jalan nasional dan Provinsi di NTB sampai akhir 2009 mencapai 2.444,16 km. Berdasarkan klasifikasi jalan, 601,83 km merupakan jalan nasional dan 1.842,33 km merupakan jalan Provinsi. Jumlah jembatan Negara dan jembatan provinsi pada tahun 2009 mencapai 1.039 buah dengan panjang mencapai 20.914 meter. Jumlah kendaraan bermotor tahun 2009 sebanyak 775.863 unit atau meningkat 23,45 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 628.467 unit. komposisi jumlah kendaraan bermotor terdiri dari : 28.998 unit mobil penumpang, 12.576 unit bus, 26.043 unit mobil barang, dan 708.246 unit sepeda motor.

Moda trasportasi darat di Provinsi NTB adalah berupa angkutan umum dan bus umum yang jaringan pelayanannya selain diwilayah perkotaan juga wilayah sekitarnya. Angkutan umum yang tersedia di Provinsi NTB minimnya didominasi oleh jenis kendaraan roda dua (sepeda motor). Sarana transportasi jalan di Nusa Tenggara Barat didominasi oleh bus (78.205 buah) dan sepeda motor (98.357 buah). Secara keseluruhan sebagian besar kendaraan bermotor di Nusa Tenggara Barat berada di Lombok Barat dan Kota Mataram sebagai wilayah terbanyak jumlah penduduknya. Tabel 4.7. Panjang Jalan, Status Jalan dan Kondisi Jalan Keadaan Status Jalan Jalan (Km) 2008 1. Jenis Permukaan a. Diaspal b. Kerikil c. Tanah d. Tidak Dirinci Jumlah 601,8 3 601,8 3 601,8 3 601,8 3 1.317,36 214,84 161,93 148,20 1.842,33 1.331,3 8 224,22 142,03 144,70 1.842,3 3 2009 Negara Jalan (Km) 2008 2009 Provinsi

2. Kondisi Jalan

(HRS + Lap en da dan Keri kil + Tanah) 1.331, 38 224,22 142,03 144,70 1.842,

a. Baik b. Sedang c. Rusak Ringan d. Rusak Berat e. Tidak Diri nci

33 Jumlah 3. Kelas Jalan a. Kelas I b. Kelas II c. Kelas 120,39 122,59 8,55 8,55 438,63 340,63 551,28 456,80

III/MST.10 Ton d. Kelas III

A/MST.8.16 Ton e. Kelas III

481,44

479,24

460,63

460,63

B/MST.5 Ton f. Kelas III

848,60

848,60

C/MST.3,5Ton g. Kelas Tidak

360,25

360,25

Dirinci Jumlah

164,30 1.842,3 3

164,30 1.842, 33

601,83

601,83

Sumber: NTB Dalam Angka Secara umum kondisi jalan di NTB kurang baik, jalan nasional pada umumnya kondisinya lebih baik dari pada jalan provinsi atau alan kaupaten. Tabel 4.48 menunjukkan pankjang jalan dan kondisi masing-masing jalan. Data angkutan jalan yang ada menujukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah dilayani oleh Jaringan Trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota. Dalam Provinsi (AKDP), Angkutan Kota (angkot) dan Angkutan Desa (Angdes) seperti yang tercantum pada tabel. Untuk trayek AKAP rata-rata trayek yang dilayani adalah NTB Jawa dengan trayek terjauh adalah Sape Jakarta. Untuk mendukung operasi trayek saat ini terdapat terminal bus yang tersebar diseluruh Provinsi.

Tabel 4.8. N 1 o

Data AKAP, AKDP, Angkot dan Angdes di Propisi Nusa Tenggara Barat, 2004 Jenis Perusaha Kendara 96 an Seat -

Antar Kota Antar Provinsi an 21 (AKAP)

Antar Kota Dalam Provinsi (AKAP)

263

21.453

Angkutan Kota (Angkot) Mataram Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Dompu Bima 78 198 24 532 175 178 91 270 54.252 12.016 17.088 8.592 25.920

Angkutan Desa (Angdes) Mataram Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Dompu Bima 358 77 168 716 667 546 363 100 224 32.800 26.800 24.206 20.680 11.136 13.692

Sumber : BPS NTB 2010 Dalam rangka menjamin persebaran pelayanan angkutan jalan keseluruhan wilayah Nusa Tenggara Barat tealah ditetapkan jaringan trayek AKDP Angkot, Angdes melalui Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat melalui usulan dari

Bupati/Walikota, Jaringan trayek tersebut adalah :


a. Jaringan trayek AKDP sebanyak 52 trayek, 18 trayek di Pulau Lombok, 20 trayek

tersebar di Pulau Sumbawa dan 14 trayek lintas di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

b. Jaringan trayek angkot sebanyak 41 trayek masing-masing : Kota Mataram 13 Trayek Praya 13 trayek (belum terlayani). Selong 3 trayek Sumbawa Besar 14 trayek. Dompu 4 trayek Bima 4 trayek c. Jaringan trayek Angdes sebanyak 325 trayek dengan rincian

Kabupaten Lombok Barat Kabupaten Lombok Tengah Kabupaten Lombok Timur

: 43 Trayek : 43 Trayek : 48 Trayek

Kabupaten Sumbawa : 102 Trayek


Kabupaten Dompu Kabupaten

: 28 Trayek : 71 Trayek

Berdasarkan pada surat Keputusan Gubernur NTB Nomor 137 Tahun 1999, terdapat 52 jaringan trayek antar kota untuk pelayanan angkutan antar kota dengan kendaraan bermotor umum dalam wilayah Provinsi Daerah Tingakat I NTB. Salah satu prasarana yang menunjang kelancaran operasional transportasi angkutan umum adalah lokasi terminal yang tepat, kapasitas yang memadai dan sistem operasional yang sesuai dengan kondisi yang ada. Terminal angkutan umum di NTB terdiri dari beberapa Type yaitu A,B, dan C, data tersebut dijabarkan pada Tabel berikut

Tabel 4.9.

Terminal di Nusa Tenggara Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Terminal LB. Lombok Jati Baru Dara Kumbe Mandalika Sumer Payung Poto Tano Lembar Tanjung Renteng Tente Sape Boto Ginte Jenis Tipe C Terminal Tipe A Tipe A Tipe A Tipe A Tipe A Tipe B Tipe B Tipe B Tipe B Tipe C Tipe C Tipe C Tipe A

Sumber : Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam angka 2011. Kondisi eksisting pada sebagian besar terminal yang berada di NTB menunjukkan kondisi fasilitas terminal yang kurang memadai.

Tabel 4.10. Jaringan Trayek Antar Kota Dalam Wilayah Provinsi Daerah Tingkat No 1 2 3 4 5 6 Jaringan Trayek Mandalika Praya- PP Mandalika Pancor- PP Mandalika Labuhan Kayanqan - PP Mandalika Prata-Kruak PP Mandalika Tanjung- Bayan- Sembalu PP Mandalika Masbagik- Lab.Lombok Semabalu PP 7 Mandalika Praya Kopanq Sumbawa Besar Palampang PP 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Mandalika Taliwang PP Mandalika Sumbawa Besar PP Mandalika Maluk- PP Mandalika Sumbawa Besar Lunyuk- PP Mandalika Uthe Rhe- PP Mandalika Empanq PP Mandalika Praya- Empang PP Mandalika lereweh PP Mandalika Dompu PP Mandalika Bima PP Mandalika Dompu Calabay - PP Mandalika Sape PP Lembar Mandalika, Bayan Sedang Gile PP (melalui senggigi bangsa Pemenang- Tanjung) 21 22 23 24 Lembar Mandalika Pancor-PP Lembar Praya PP Lembar Mandalika Pancor- PP Praya Pengatap Mandalika PP (Melalui Montong Sapah Teluk Sepi Sekatong- Lembar) Jenis Pelayanan Patas Patas Patas Patas Patas Patas

Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas

No 25 26

Jaringan Trayek Praya Kopanq Labuhan Kayanqan - PP Pancor Bayan Tanjung Mandalika PP ( melalui masbagik Lab. Lombok Sembelia Pemenang Rembiga Sayang-sayang Salaqales) Pancor Praya Mandalika- PP ( melalui Lab. Haji Rambang Selayar Keruak Mujur Kediri Bengkel Pancor Kopanq Praya Mandalika PP Sumbawa Besar Ginte Dompu Bima PP Dompu Sumbawa Besar PP Dompu Praya Mandalika PP Calabai- cabang Sariutu Praya Mandalika PP Calabai Cabanq sariutu Mandalika - PP Bima Ginte Dompu Kore- PP Bima- Talabiu --Ginte Dompu PP Sape- Bima Ginte Dompu PP Sape- Nina Ginte Dompu- Lab. Kenagan PP Bima Ginte Dompu- Lab. Kenagan - PP Bima Ginte Dompu- kilo PP Tente Ginte Dompu Kore Bima- PP Sila Ginte Dompu- Kore Bima - PP Sila Ginte Dompu Kore PP Sila Ginte Dompu Sumbawa Besar Alas PP Sila Ginte Dompu Sumbawa Besar Alas Taliwang PP Tente Gente Dompu- Bima PP Tente Ginte Dompu- Sumbawa Besar Mandalika Bima PP

Jenis Pelayanan Patas

Patas

27

Patas

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44

Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas Patas

45 46

47

Tente Ginte Dompu Sumbawa Besar Bima- PP

No 48 49 so 51 52

Jaringan Trayek Sila- Ginte Dompu Sumabwa Besar Bima PP Sape- Bima- Ginte Dompu- Sumabwa Besar PP Dompu Alas PP Dompu Sumbawa Besar Alas Taliwang PP Sape Bima Dompu Sumbawa Besar Alas

Jenis Pelayanan Patas Patas Patas Patas Patas

Sumber : Laporan Tahunan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Man Propinsi NTB 2010

b. Transportasi Laut Angkutan laut telah memainkan peranan penting di NTB. Berdasarkan data dari pelabuhan Lembar, terlihat bahwa pelabuhan tersebut selain melayani bongkar muat barang/ternak yang terinci menurut jenis barang strategis, yaitu: bahan pokok, strategis, migas dan non migas, juga melayani angkutan penumpang. Hal demikian juga terjadi di Pelabuhan Badas dan Bima. Jumlah kunjungan kapal dalam negeri tahun 2009 di Pelabuhan Lembar 1.722 unit, Labuan Badas 358 unit dan Bima 1.454 unit. Disamping tersebut juga terdapat kunjungan kapal luar negeri di Pelabuhan Lembar 7 unit dan Pelabuhan Badas 1 unit. Wilayah Provinsi NTB meliputi 2 Pulau Besar dan beberapa pulau kecil yang dipisahkan oleh laut dari provinsi-provinsi lain, sehingga sistem transportasi laut merupakan sistem transportasi laut yang mendukung sistem transportasi laut adalah dermaga, gudang, lapangan, penumpukan, terminal penumpang. Tabel 4.11. Banyaknya Bongkar, Muat Barang Menurut Jenisnya Di Pelabuhan Lembar, Bima Dan Badas Jenis Barang Lembar Bongkar Muat Bima Bongkar Muat Badas Bongkar Muat

Unloaded Loaded Unloaded Loaded Unloaded Loaded Bahan Pokok

1. Beras 2. Gula Pasir 3. Tepung Terigu 4. Kacang Kedelai 5. Kacang2an 6. Minyak Goreng 7. Garam Bahan Strategis 1.Pupuk 2.Semen 3.Baja /Besi Beton 4.Aspal 5. Batu Bara Migas Non Migas 1. Bawang Merah 2.Barang Lainnya 3.Pakan Ternak 4.Gergajian (M3) 5. Brng Lainnya 6. Batu Apung Sumber :

9.941 24.941 -

27.843 -

6 2.974 4.336 197

21.121 11.130 610

784 -

19.924 -

2.065 36

1.646 20.969

165.118 387.785 35.767 8.857 9.773 760

1.950 -

25.091 84.947 5.152 21 96.577

5.476

16.326 83.857 121 30 4.899 99.231

1.725 16.550 14.288 1.533

2.352 3.181

3.322 9.073 63.476

45.168 108 108 14.288

1.199 4.572

54.897

PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Lembar, Bima dan Badas

Tabel 4.12. Arus Kunjungan Kapal Laut Luar Dan Dalam Negeri Di Pelabuhan Lembar Provinsi NTB Bulan Kapal Luar Negeri Unit Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus 2 4 8 6 6 6 6 GRT 19.126 38.252 57.378 57.378 57.378 57.378 57.378 DWT 7.504 15.008 22.512 22.512 22:512 22.512 22.512 LOA 309 618 927 927 927 927 927 Kapal Dalam Negeri Unit 197 259 377 491 610 740 824 1.015 GRT 138.049 248.056 358.814 484.715 656.644 739.279 880.850 1.006.64 7 Septembe r Oktober November 65 95.631 143.73 0 112.72 8 159.83 7 45.31 8 1.421 4.748 1.284 1.258.83 2 1.411.85 2 7.183.73 8 1.499.57 5 1.653.99 4 7.777.40 3 376.95 0 67.665 60.834 DWT 137.845 265.337 378.783 499.879 648.185 772.937 891.219 1.029.64 9 LOA 6.940 13.694 10.454 24.286 31.202 49.608 52.770 59.497

Desember

71

Jumlah 174 552.62 438.63 55.62 7.218 Sumber : BPS Provinsi Nusa Tengara Barat 2010. 7 9 8

Tabel 4.13. Arus Kunjungan Kapal Laut Luar dan dalam Negeri di Pelabuhan Badas Provinsi NTB. Bulan Kapal Luar Negeri Unit Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Septemb er Oktober Novembe r Desember Jumlah GRT DW T LOA Kapal dalam Negeri Uni t 29 30 28 23 19 26 28 24 26 22 27 36 31 8 GRT 18.734 18.722 12.518 1.554 15.570 17.073 21.385 17.437 15.774 15.329 21.446 26.257 201.799 DWT LOA 1.148 1.179 967 937 871 1.086 1.261 1.006 1.007 939 1.213 1.681 13.295

Sumber : BPS Provinsi Nusa Tengara Barat, 2010 Rencana peruntukan lahan dan perairan pelabuhan untuk menetukan kebutuhan penempatan fasilitas dan kegiatan operasional pelabuhan meliputi
a. Kegiatan jasa kepelabuhan. b. Kegiatan Pemerintahan. c. Kegiatan jasa kawasan d. Kegiatan penunjang kepelabuhan.

Rencana peruntukan lahan dimaksudkan untuk penyediaan lokasi kegiatan bagi fasilitas pokok dan fasilitas pununjang darat. Komponen darat pelabuhan yang termasuk fasilitas pokok antara lain
a. Dermaga b. Gudang Lini 1 c. Lapangan penumpang Lini 1 d. Terminal penumpang e. Terminal Peti kemas f.

Terminal ro-ro

g. Fasilitas penampungan dan pengelolaan limbah. h. Fasiltas bunker. i. j. k.

Faslitas pemadam kebakaran. Faslitas gudang untuk bahan/barang berbahaya dan beracun (B) Fasilitas pemeliharaan dan perbaikan peralatan dan sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)

Komponen darat pelabuhan yang termasuk fasiltas penujang antara lain


a. Kawasan perkantoran. b. Fasilitas pos dan telekomunikasi c. Fasilitas pariwisata dan perhotelan d. Instalasi air bersih, listrik dan telekomunikasi. e. Jaringan jalan dan rel kereta api f.

Jaringan air limbah, drainase dan sampah

g. Areal pengembangan pelabuhan. h. Tempat tunggu kendaraan bermotor. i. j. k.

Kawasan perdagangan. Kawasan industri Fasilitas umum lainnya (peribadatan, taman, tempat rekreasi, olah raga, jalur hijau dan kesehatan.

Rencana peruntukan perairan dimaksudkan untuk penyediaan lokasi kegiatan bagi fasilitas

pokok dan fasilitas penunjang perairan. Komponen perairan pelabuhan yang termasuk fasilitas pokok antara lain
a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Alur Pelayaran. Perairan tempat labuh. Kotam pelabuhan untuk kebutuhan Bandar dan olah gerak kapal. Perairan tempat alih muat kapal Perairan untuk kapal yang mengangkut bahan/barang berbahaya. Perairan untuk kegiatan karantina Perairan alur penghubung intra pelabuhan Perairan pandu. Perairan untuk kapal pemerintah.

Komponen perairan pelabuhan yang termasuk fasilitas penunjang antara lain


a. Perairan untuk pengembangan pelabuhan jangka panjang. b. Untuk fasilitas pengembangan pelabuhan jangka panjang. c. Perairan tempat uji coba kapal (percobaan kapal) d. Perairan tempat kapal mati. e. Perairan untuk keperluan darurat. f.

Perairan untuk kegiatan rekreasi (wisata air)

Rencana induk pelabuhan untuk pelabuhan taut ditetapkan sebagai berikut :


a.

Pelabuhan International Hubungan, ditetapkan oleh menteri setelah mendapat rekomendasi dari Gubenur dan Bupati/ Walikota.

b.

Pelabuhan Regional ditetapkan oleh Gubernur setelah mendapat rekomendasi dari Bupati/Walikota.

c.

Pelabuhan Lokal ditetapkan oleh Bupati/ Walikota.

Provinsi NTB memiliki beberapa pelabuhan laut yang vital perannya baik bagi transportasi intra provinsi maupun antar provinsi. Beberapa Pelabuhan yang vital misalnya pelabuhan Lembar, Labuhan Lombok dan Sape. Tabel 4.14. Tabel Pelabuhan Laut di Provinsi Nusa Tenggara Barat

No 1

Kabupaten Lombok Barat

Nama Lembar Pelabuhan Pemenang

Lokasi Lembar Tanjong Labuhan Lombok

Lombok Barat

Labuhan Lombok

Sumbawa

Badas Alas

Sumbawa Alas Kempo Kempo Bima Sape

Dompu

Kempo Calabai

5 6

Bima Sape

Bima Sape

Sumber : BPS Provinsi Nusa Tengara Barat

c. Sistem Transportasi Penyeberangan Provinsi NTB di bagi menjadi dua buah pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa sehingga peran fasilitas penyeberangan menjadi sangat vital dalam rangka menampung mobilitas penumpang dan barang didalam provinsi dari atau ke NTB. Pelabuhan penyeberangan di NTB ada 4 buah yaitu Pelabuhan Penyeberangan Padang Bai Lembar yang menghubungkan Pulau Bali dengan Pulau Lombok, Pelabuhan penyeberangan Kayangan Pototano yang menghubungkan Pulau Lombok dengan pulau Sumbawa, Pelabuhan Penyeberangan Sape Pototano yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan NTT, Pelabuhan penyeberangan Sape Walkelo yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan NTT. Pelabuhan Penyeberangan Padang Bai terletak di Desa Padang Bai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Dari Kota Denpasar pelabuhan Padang Bai berjarak 53 Km atau sekitar 3 Km dari Kota Amlapura. Letak Geografis Kabupaten Karangasem terletak pada 8 derajat 54'8,9" Bujur Timur, dengan luas wilayah 83.954,00 Hektar, yang terdiri dari 7.308,00 Hektar tanah sawah dan sisanya 76.646,00 Hektar adalah bukan tanah

sawah (Lahan perkarangan, tegal/kebun, hutan rakyat, perkebunan dan lain-lain). Jumlah curah hujan terbanyak adalah pada bulan Februari sebanyak 16 har, dengan rata-rata curah hujan 349,71 mm. Di bidang angkutan tercatat jumlah bus/mikro bus di Kabupatem Karangasem adalah 141 buah dan truk/pick up sebanyak 1.221 buah, Jumlah mobil bus yang melayani trayek Amiapura Denpasar 85 buah dan Amiapura Singaraja sebanyak sebanyak 27 buah. Kunjungan kapal penumpang di pelabuhan penyeberangan Padangbai sebanyak 4.762 buah untuk kapal Indonesia dan 27 buah untuk kapal berbendera Kapal asing, dengan total penumpang naik sebanyak 532.341 orang. Kunjungan kapal penumpang yang naik sebanyak 36.463 orang. Pelabuhan penyeberangan lembar terletak di Kacamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat 26 kilometer dari Kota Mataram, Sebagai penghubung Pulau Bali dan Pulau Lombok. Pelabuhan Penyeberangan Lembar letaknya yang berbatasan dengan selat Lombok, menjadikan Pelabuhan lembar ramai di kunjungi kapal. Tidak Kurang dari 16 pelayaran setiap hari di pelabuhan ini dengan aru s penumpang dan barang. Peningakatan arus barang yang keluar dan masuk 19 persen dan 5,6 persen dari tahun sebelumnya merupakan indikator majunya perdagangan Lombok Barat. Untuk lebih jelasnya data nama, lokasi pelabuhan penyeberangan dan jarak dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.15. Data Nama, Lokasi Pelabuhan Penyeberangan Dan Jarak Dari Ibukota Kabupaten/Kota DI NTB. Nama Pelabuhan 1. Lembar Penyeberanga 2. Kayangan n 3. Pototano Lokasi Kab/Kota Kab. Lobar Kab. Lotim Kab. Sumbawa Jarak dari Nama Kecamata Kota(Kab/Ko (Kab/Kota) Ibukota n ta) Lembar 8 Km Giri Menang Selong Seteluk 32, 5 Km 102 km Selong Sumbawa

4. Sape

Kab. Bima

Sape

46 Km

Raba

Sumber : NTB Dalam Angka 2010 Pelabuhan Penyeberangan Lembar sebagai pelabuhan penyeberangan yang menjadi penghubung antara Pulau Lombok dengan Pulau Bali. Pelayanan penumpang dan barang serta angkutan penyeberangan pada pelabuhan penyeberangan ini terdiri dari satu dermaga dan mempunyai 16 armada kapal dengan waktu tempuh berkisar 4 jam. Untuk Pelabuhan Penyeberangan Kayangan yang menjadi penghubung Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pelayanan penumpang dan barang serta angkutan penyeberangan pada Pelabuhan Penyeberangan ini terdiri dari satu dermaga dan mempunyai 10 armada kapal dengan waktu tempuh berkisar 1,5 jam dan kapal diberangkatkan setiap satu setengah jam. Sedang di lintas Kayangan (Lombok) Pototano (Sumbawa) kapal diberangkatkan dari masing-masing pelabuhan. Sedang di Selat Alas, 10 Kapal setiap hari hilir-mudik bergiliran tanpa henti. Sementara Pelabuhan Penyeberangan Sape menjadi penghubung Pulau Sumabwa dan Bima, pelayanan penumpang dan barang serta angkutan penyeberangan pada Pelabuhan Penyeberangan ini terdiri dari satu dermaga dan mempunyai 2 armada kapal dengan waktu tempuh berkisar 10 jam. Salah satu kendalanya adalah jarak tempuh lintas penyeberangan yang tidak bisa disebut pendek. Diatas Sape Labuhanbajo saat ini hanya ada dua kapal penyeberangan milik ASP yang beroperasi. Pada saat ini di lintasan itu belum memungkinkan menambah armada, karena secara ekonomis kurang mengutungkan. Terutama disebabkan minimnya penumpang dan kendaraan yang menyeberang di rute itu. Tabel 4.16. Sarana & Prasarana , jarak Lintasan Angkutan Penyeberangan Di Provinsi NTB. N O Uraian Pelabuhan Penyeberangan Lemba Kayanga Sape Sape r Pd. n Bai 1 Jarak Lintas ( Mil) 36 L. Bajo Waikelo Pototano 11 90 8

Waktu (jam)

Tempuh

1,5

10

Jumlah (Unit)

Kapal

16

10

4 5

Frekuensi ( Kl/Hr) Dermaga (Unit)

36 1

32 1

1 1

3Kl/mg Beacin g

Ter. (M2)

Penumpang

400

200

150

150

Lapangan (M2)

Parkir

2.1

6.39 5

1.00 0

1.000

Sumber : NTB Dalam Angka 2010 Kapasitas angkut kapal penyeberangan pada lintas penyeberangan di NTB dapat di lihat pada Tabel. Di Pelabuhan Penyeberangan Kayangan Pototano mengangkut 2990 penumpang dan kendaraan sebanyak 143. Sedangkan di Pelabuhan Penyeberangan Sape Labuhan Bajo dan Sape Waikelo jumlah penumpang sebanyak 867 sedangkan banyaknya kendaraan 29. Sedangkan data arus lalulintas pada tiap Pelabuhan Penyeberangan dapat dilihat Tabel 4.58

Tabel 4.17. Kapasitas Angkut Kapal Penyeberangan Pada Lintas Penyeberangan Pada Lintas Penyeberangan Lembar Padangbai. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Mania Kapal Nusa Sejahtera Nusa Sakti Nusa Penida Nusa Sakti Wimala Dharma Wicitra Dharma Rodi Salindo Satria Pratama Pelangi Nusantara Citra Abadi 12 13 14 15 16 Perdana Nusatra Marina Primena Persada Nusatra Citra Nusantara Marina Segunda 550 450 250 308 450 6.389 35 30 10 25 30 420 Mandala Kapasitas Muat Penumpa Kendar 309 Kendaraan 30 ng aan 400 22 280 340 352 400 450 520 475 475 380 22 14 25 30 35 40 25 25 22

Jumlah Sumber : NTB Dalam Angka 2010

Tabel 4.18. Kapasi t as An gkut K apal P en yeb eran gan P ada Li nt as Penyeberangan Kayangan Pototano. No Mama Kapal Kapasitas Penumpang Kendaraan 1 2 3 Nusa Wangi Munawar Nusa Abadi 460 400 400 18 18 12

4 5 6 7 8 9

Nusa Sentosa Dharma Rucitra Dharma Manggala Citra Mandala Bahari Srikandi Nusatra Senggigi I

300 350 397 335 200 148

18 20 12 21 13 11 143

Jumlah 2.90 Sumber : NTB Dalam Angka 2010

Tabel 4.19. Nama & Kapasitas Angkut Kapal Penyeberangan Pada Lintas Penyeberangan Sape Labuhan Bajo & Sape Waikelo No Nama Kapal Kapasitas Penumpang Kendaraan 1 2 Cengkiih Afo Innelika 417 450 8 21 143 Frekuensi 1 round trip/hari Keterangan

2990 Jumlah Sumber : NTB Dalam Angka 2010

Arus lalu intas penyeberangan cukup ramai pada lintasan antar kabupaten di NTB (Kayangan-Pototano) demikan juga lintasan antarprovinsi (Lembar-Padangbai; Sape Labuahbajo).

Tabel 4.20. Arus Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan Pada Lintasan Penyeberangan Lember Padangbai Tahun Penumpang (org) Turun 435.25 2 2004 430.94 7 2003 392.91 8 2002 468.97 6 2001 488.23 8 2000 450.05 1 1999 468.65 1 Naik 433.45 0 494.44 2 516.41 4 472.46 9 487.62 7 428.32 2 430.93 5 Kendaraan (unit) Turun 145.32 5 142.62 8 192.34 3 92.912 Naik 124.35 2 123.25 8 157.03 8 89.477 Bongk ar 2005 362.75 4 357.89 1 328.51 5 387.26 7 318.79 5 306.57 4 200.02 2 345.2 55 341.2 17 301.5 92 380.8 41 292.6 15 292.3 25 190.9 68 Muat Barang(Ton)

78.531

76.475

74.961

70.281

63.541

59.950

Sumber : NTB Dalam Angka 2003.

Tabel 4.21. Arus Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan Pada Lintasan Penyeberangan Kayangan Pototano Penumpang Tahun (org) Turun 448.97 2005 5 439.74 2004 0 488.86 2003 5 390.614 Naik 415.67 5 405.63 3 451.98 0 359.28 6 424.46 8 375.62 0 430.93 5 Kendaraan (unit) Turun Naik 85.257 86.754

Barang (ton) Bongka r 88.564

Muat 90.87 5 89.91 9 94.14 7 85.69 0 77.49 9 57.28 6 37.52 2

80.057

83.588

85.541

91.632

86.837

82.898

2002

68.481

80.338

88.183

2001

412.062 388.43

69.651

63.004

88.183

2000

1 468.65

62.687

59.061

70.453

1999

47.280

59.590

47.552

Sumber : NTB Dalam Angka 2005 Tabel 4.22. Arus Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan Pada Lintasan Penyeberangan Sape Komodo - LB Bajo Tahun Penumpang (org) Turun Naik Kendaraan (unit) Turu n 2005 37.25 8 38.458 4.975 3.987 Naik Bongka Muat r 11.452 15.77 5 Barang (ton)

2004

35.23 1

35.335

4.065

3.553

11.421

14.67 8

2003

26.50 2

27.793

3.184

3.251

8.580

13.82 6

2002

43.95 9

42.877

4.945

3.855

14.262

15.52 8

2001 2000 1999

2.353 2.560 2.986

35.004 28.098 25.723

2.256 2.108 1.532

2.353 2.560 2.986

9.222 834 458

9.206 3.418 1.602

Sumber : NTB Dalam Angka 2005 Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan arus lalu lintas angkutan penyeberangan pada semua penyeberangan di NTB dari tahun ke tahun, terutama penyeberangan Kayangan Pototano. Pada Lintasan Kayangan Pototano arus lalu lintas yang semakin padat karena merupakan penyebarangan satu-satunya yang menghubungkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa, sedangkan perputaran distribusi barang yang besar di kedua pulau tersebut. Oleh karena itu direncanakan akan dibangun perlintasan penyeberangan Elong-Elong ke Talo yang menghubungkan kedua pulau tersebut.

d. Sistem Transportasi Udara. Transportasi udara berfungsi menyalurkan penumpang dan barang secara cepat. Mengingat kondisi wilayah nasional, Pengembangan transportasi udara disamping untuk menghubungkan kawasan-kawasan dalam ruang wilayah nasional dengan pusat perkembangan

internasional, juga digunakan untuk membuka dan mendorong perkembangan internasional, juga digunakan untuk membuka dan mendorong perkembangan kawasankawasan kurang berkembang dan terisolasi. Sesuai fungsinya dalam tata ruang wilayah nasional, jaringan transportasi udara menggambarkan lokasi pelabuhan udara untuk pelayanan penumpang dan bongkar muat barang untuk melayani kawasan dan wilayah pelayanan masing-masing. Kualitas pelayanan

suatu bandara secara umum selain ditentukan olah kondisi fisik dan pelayanan bandara yang bersangkutan, juga terkait dengan aksesibilitas bandara tersebut dari dari/ke daerah pelayanannya. Hiraraki Bandar udara adalah sebagai berikut :

Bandar udara utama, berperan malayani penumpang dengan jumlah besar dengan lingkup pelayanan nasional atau beberapa Provinsi dan pintu utama untuk keluar negeri.

Bandar udara kedua, berperan melayani penumpang dengan jumlah sedang dengan lingkup pelayanan satu Provinsi dan terhubungkan dengan Bandar udara utama.

Bandar udara kelas tiga, berperan melayani penumpang dengan jumlah rendah dengan lingkup pelayanan beberapa kabupaten dan terhubungkan dengan Bandar udara utama atau kedua.

Jaringan Pelayanan Transportasi udara dapat dibedakan sebagai berikut:


Jaringan pelayanan transportasi primer, yaitu jaringan pelayanan transportasi yang

menghubugkan antar Bandar udara primer.


Jaringan pelayaran tranportasi sekunder, yaitu jaringan pelayanan transportasi yang

menghubungkan Bandar udara primer dengan sekunder dan antar Bandar udara sekunder.
Jaringan Pelayanan Transportasi tersier, yaitu jaringan pelayanan transportasi yang

menghubungkan Bandar udara sekunder dengan tersier dan antar Bandar udara tersier.

Tabel 4.23. Tatanan Bandar Udara di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nama Bandar Udara 2002 200 7 Selapar Matara ang m Pusat Penyebera Teta p Lokasi Fungsi Stat us Klasifik asi 20 02 Umu C m 20 07 C Penggun aan 20022007 Internatio nal BUMN Penyelengg araan 2002-2007 Kegiat an 20022007 FW dan

ngan Salahud Bima din Bukan Pusat Penyebera ngan Brangbi Sumba ji wa Bukan Pusat Penyebera ngan Lunyuk Sumba wa Bukan Pusat Penyebera ngan Sumber : Keputusan Menteri Perhubungan 2002. Teta p Umu B m B Domesti k Kabupaten/ Kota Teta p Umu B m B Domestik Kabupaten/ Kota Teta p Um um B C Domestik Pusat

RW FW dan RW

FW dan RW

FW dan RW

Kebijakan pembangunan transportasi udara dilakukan untuk menunjang keberadaan Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu simpul jasa distribusi yang mendukung arus perdagangan dan wisata. Kebijakan ini diwujudkan dengan meningkatkan kemampuan dan kinerja fasilitas bandara sehingga terselenggara pelayanan angkutan udara yang teratur, aman, lancar, cepat, dan efisien sebagai suatu sistem terpadu, Transportasi udara di Provinsi NTB yang saat ini digunakan adalah Bandara Selaparang di Mataram, Bandara Brangbiji di Sumbawa Besar dan Bandara Salahuddin di Bima. Sampai saat ini bandara utama di NTB adalah Bandara Selaparang di Mataram. Sejauh ini Bandara Selaparang sudah mamapu melayani pendaratann jenis pesawat Boing 737. Bandara lain yang banyak dimanfaatkan untuk penerbangan domestik adalah Bandara Salahuddin di bima. Bandara Barangbiji di Sumbawa juga dipergunakan untuk melayani penerbangan domestik, namun masih belum sebanyak Bandara Salahuddin. Untuk Mengatisipasi kebutuhan penerbangan pada masa yang akan datang Bandara Brangbiji di Sumbawa Besar dapat digunakan sebagai salah satu gerbang menuju Sumbawa. Sejauh ini baik Bandara Salahuddin maupun Bandara

Brangbiji memiliki kapasitas yang mampu melayani pendaratann pesawat jenis foker. Adapun tujuan penerbangan, jenis pesawat, dan sat yang tersedia untuk masingmasing bandara tersebut diatas dapat dilihat .

Tabel 4.24. Tujuan, Jenis Pesawat, frekuensi, Jumlah Seat Melalui Bandara Selaparang, Brangbiji dan Salahuddin. No I Bandara SELAPA RANG Tujuan SURAB AYA Perusa GARU haan DA Jenis BPesa 737 wat B737 Ka Frekue 12 7 p. nsi 4 Se Kl/M g at 11 8 0 Kl/M q JAKAR TA GARU DA B737 12 3 4 KI/M g SURAB AYA MNA F28 85 2 Kl/M g DENPA SAR MNA F27 52 8 KI/M g DENPA SAR AIR MARK C212 24 4 Kl/M g SUMBA MNA F52 2 15 96 416 25 53 Jml. 124 Seat per. Hari 110

YOGYA

GARU DA

WA

27

KI/M g

BIMA

MNA

F27

52 2 KI/M g

15

SINGAP MNA URA

A319

11 4 8 Kl/M g

67

Jumlah II BRANGB IJI F27 AIR MARK C212

74 1

921

MATAR MNA AM DENPA SAR

Jumlah III M. Salahuddi n DENPA SAR LB. BAJO RUTEN G ENDS MNA MNA MNA MNA F27 F27 F27 F27 WAING APU Jumlah Sumber : Statitik perhubungan NTB MNA F27 31 2 52 2Kl/ Mg 52 2Kl/ Mg 52 2Kl/ Mg 52 2Kl/ Mg 52 2Kl/ Mg 74 7 7 15 15 15 MATAR MNA AM F27 52 2KI/ Mg 15

Besarnya pergerakan penumpang, jumlah pesawat dan jumlah barang lewat udara yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada ketiga bandara tersebut setiap bulannya selama setahun dapat dilihat pada Tabel 4.66-4.68.

Tabel 4.25. Banyaknya Pesawat, Penumpang, dan Barang Melalui Bandara Selaparang Mataram Setiap Bulan Selama Tahun 2004. Bulan Pesawat Penumpang Berang kat 24.549 90.238 28.08 1 Pebruari 304 302 15.288 14.248 75.322 23.28 5 Maret 382 381 20.227 18.138 93.806 32.05 6 April 324 324 13.139 13.892 92.287 33.90 4 Mei 354 354 19.286 20.735 111.816 34.26 8 Juni 339 339 20.058 20.344 125.803 34.26 8 Juli 368 367 23.689 23.894 128.432 37.10 7 Agustus 318 318 21.657 23.523 141.817 39.66 3 Septemb 349 349 23.179 22.484 124.454 44.11 Barang Bongkar Muat

Datan Berang Datan g Januari 468 kat 468 g 17.135

er Oktober 389 389 23.585 24.434

8 131.267 48.52 6

Novembe 376 r Desembe r Jumlah 4.382 411

376

20.839

21.302

104.015 45.56 1

411

49.564

52.407

124.726 40.22 3

4.378

267.64 279.95 6 0

1.343.98 3

441.71 9

Sumber : NTB Dalam Angka 2004

Tabel 4.26. Banyaknya Pesawat Penumpang dan Barang Melalui Bandara Brangbiji Sumbawa Setiap Bulan Selama Tahun 2004. Bulan Pesawat Datan Berangk g Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 10 16 12 13 15 14 20 21 20 24 13 14 at 10 16 13 13 15 14 20 21 20 24 13 14 Penumpang Datan g 153 160 123 118 174 167 432 358 460 462 424 508 3.539 Berangk at 225 188 127 170 184 163 356 339 418 434 408 410 3.422 Barang Bongka Mua r 351 101 139 360 176 419 371 496 991 798 798 5.000 t 302 138 204 146 151 494 176 406 458 166 166 2.80 7

192 193 Jumlah Sumber: NTB Dalam Angka 2004

Tabel 4.27. Banyaknya Pesawat, Penumpang dan Barang Melalui Bandara M. Salahuddin Bima Setiap Bulan Selama Tahun 2004. Bulan Pesawat Data ng Januari 74 Berang kat 74 Penumpang Datan g 786 Berang kat 717 Barang Bongk Mua ar 2.035 t 4.93 6 3.14 2 5.86 5 4.65 6 Mei 81 81 1.069 1.005 1.962 3.89 2 6.57 2 2.64 4 2.95 6 3.10 7 3.80 0 4.48

Pebruari

65

65

664

655

4.333

Maret

76

76

928

963

3.031

April

77

77

869

806

889

Juni

78

78

1.176

1.115

1.105

Juli

81

81

1.330

1.387

1.016

Agustus

76

76

1.029

1.155

1.679

Septem ber Oktober

71

71

927

989

1.144

73

73 73

1.082

1.065

2.526 1.521

Novemb 73

1.183 946

er Desemb er 899 Jumlah 899 Sumber : NTB Dalam Angka 2004 74 74 1.081 12.12 4 1.219 12.032 1.467 22.70 8

3 3.43 7 49.4 90

Transportasi udara merupakan salah satu dari fasilitas yang sangat besar andiInya dalam ikut memperlancar tercipta NTB sebagai daerah pariwisata. Kalau kita perhatikan pada tahun 2004 data angkutan udara cukup pesat perkembangannya. Dari ketiga pelabuhan udara yang ada di NTB pada tahun 2004, maka untuk Bandara Selaparang frekuensi penerbangan yang datang berjumlah 4.382 penerbangan yang datang dan 4.378 penerbangan yang datang bejumlah 4.382 penerbangan yang datang dan 4.378 penerbangan yang berangkat Untuk Bandara Barangji Sumbawa Besar sebanyak 192 kali penerbangan yang datang dan 193 penerbangan yang berangkat. Sementara Bandara M. Salahuddin Bima sebanyak 899 penerbangan yang datang dan 899 penerbangan yang berangkat. Untuk jumlah penumpang yang datang maupun berangkat dari ketiga bandara tersebut adalah sebagai berikut : Unbuk Bandara selaparang, jumlah penumpang yang datang sebanyak 267.646 penumpang dan yang berangkat sebanyak 279.950 penumpang. Untuk Bandara Brangbiji Sumbawa Besar, jumlah penumpang yang berangkat sebanyak 3.539 penumpang dan yang berangkat sebanyak 12.124 penumpang dan yang berangkat sebanyak 12.032 penumpang. Untuk jumlah barang yang dibongkar maupun yang dimuat sepanjang tahun 2004 dari ketiga bandara tersebut adalah untuk Bandara Selaparang yang dibongkar sebanyak 1.343.983 kg. dan yang dimuat sebanyak 441.719 kg. Banyaknya barang yang dibongkar untuk Bandara Brangbiji Sumbawa adalah sebesar 5.000 kg, dan yang dimuat sebesar 2.807 kg. Untuk Bandara M Salahuddin Bima, Banyaknya barang yang dibongkar adalah sebesar 22.708 kg dan barang yang dimuat sebesar 49.490 kg. Selain Bandara Selaparang, Bandara Brangbiji dan bandara Salahuddin, juga terdapat beberapa bandara khusus yang dioperasikan oleh pihak swasta untuk kepentingan perusahaan, diantaranya Airstrip Sekokang di kabupaten Sumbawa Barat dan Water

Base/Bandara PT. NTT di Kabupaten Sumbawa. Data Prasarana kedua bandara khusus 1 2 3 4 Nama Bandara Nama Kota/ Kabupaten Nama Pemilik Nama Pengelola/Penyelenggara 5 6 7 8 9 Status Koordinat Reference Elevasi : Bandara Khusus : 0805955N : 11604418E : 24 feet MSL : Sekokang : Maluk/Sumbawa Provinsi NTB : PT. Tropical : PT. Tropical

Referensi Temperatur Udara : 320C Jenis Pelayanan Lalulintas Udara: UN-UTTANED : Sunri

10 Operating Hours 11 Runway


a. b. c. d. e. f. g. h.

Runway Dimention Turning area Longitudinal siope Transverse siope Surface Strenght Deciared Distance

: designation/azimuth : 04-22 : 750m x 21m : tidak ada : 0.24% : 1% : Asphalt Penetrasi : Twin Otter/DHC-6

Data-data prasarana Waterbase/ Bandara PT 1 2 3 4 Nama Waterbase Nama Pemilik/Pengelola Lokasi Klasifikasi Operasi Newmont Amphibious Aircraft Facilies PT. NNT Sumbawa VFR dailyligt private/company use 5 Dimensi , Take off & landing 900 x 100 m operation,

area 6 7 Koordinat/Reference point Arah take off/landing area 8.53'.70"S 290-310 116.44'.83E

Transportasi udara di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang saat ini digunakan adalah Bandar Udara Selaparang di Mataram, Bandar Udara Barang Biji di Sumbawa Besar dan Bandar Udara M. Salahuddin di Bima. Sejauh ini ketiga Bandar udara ini digunakan untuk penerbangan domestik, dimana Bandar udara Selaparang dapat digunakan untuk pendaratann pesawat boeing foker. Pada masa yang akan datang sesuai dengan tujuan pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kemungkinan pengembangan wilayah untuk mancapai kemandirian yang lebih tinggi, maka bila perkembangan perekonomian dan pariwisata sudah cukup pesat maka pengembanghan Bandara Udara di Lombok Tengah untuk dengan kelas Bandara Udara Internasional dapat dikembangkan lebih ianjut, serta upaya menghidupkan Bandar Udara Barang Biji untuk mendorong kegiatan perekonomian pada umumnya dan pariwisata khususnya. Untuk mengetahui bongkar muat penumpang dan barang di beberapa bandara di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2005 dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.69. Banyaknya Pesawat, Penumpang dan Barang Melalui Bandar Udara Selaparang Mataram, 2005 No Bulan 1 Januari Pesawat Data Berang 425 426 ng kat 562 .562 Penumpang Datan Beran 22.706 29.49 g gkat 1 28.483 24.28 0 3 Maret 562 561 24.554 25.18 3 4 April 556 557 27.106 29.19 8 5 Mei 483 483 31.197 31.62 856 127.120 797 124.632 969 179.984 Barang Bongka Muat 122.575 48.98 r 9. 122.644 40.65 0 47.38 8 52.82 6 61.26

Tran 723 sit 741

2 February

1 6 Juni 472 472 31.077 30.82 1 7 Juli 624 625 34.922 35.43 9 8 Agustus 665 665 36.806 38.55 0 9 Septemb er 1 Oktober 0 1 Novemb 1 er Desembe 12 r Jumlah 6.894 6.794 371.06 590 588 33.071 683 582 34.925 628 629 32.565 644 644 33.653 34.81 3 30.81 0 34.84 3 34.43 5 379.4 7.20 1.752.4 13 187 164.220 254 129.852 330 170.629 383 154.411 329 145.839 686 164.162 948 146.345

7 59.41 0 76.21 2 60.57 4 61.56 4 92.21 9 116.2 22 124.7 18 842.0 39

5 84 Sumber : BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2005 3

Tabel 4.70. Banyak Pesawat, Penumpang Dan Barang Melalui Bandar Udara Brangbiji Sumbawa, 2005 No Bulan Pesawat Datan Berangk g 1 2 3 4 5 6 7 Januari February Maret April Mei Juni Juli 2 10 18 21 15 13 11 at 2 10 18 21 15 13 11 Penumpang Datan Berangk g 0 186 192 322 304 292 0 at 0 192 183 277 308 218 0 0 Trans it Barang (Kg) Bongka Muat r 0 0 1.091 73 2.052 469 2.651 2.852 2.651 143 1.072 98 0

8 9

Agustus Septemb er

26 73

26 73

0 0

0 0

0 0

0 0

1 0 1 1 1 2

Oktober

62

62

Novemb er

40

40

Desembe 3 r

0 0

0 9.517 3.635

Jumlah 294 294 1.296 1.178 Sumber : BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat

Tabel 4.71. Banyak Pesawat, Penumpang Dan Barang Melalui Bandar Udara Salahudin Bima, 2005 No Bulan Pesawat Data ng 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Januari February Maret April Mei Juni Juli Agustus Septemb er 1 0 1 1 1 2 Novemb er Desembe r 674 660 16.181 16.480 14.53 9 18.84 1 47.97 5 52 38 1.077 1.387 135 1.177 5.413 57 57 1.220 1.385 434 871 3.426 Oktober 40 40 1.072 875 572 3.426 1.119 68 56 61 67 69 60 43 50 51 Berang kat 68 56 61 67 69 60 43 50 51 Penumpang Datan g 1.452 1.203 1.384 1.487 1.630 1.589 1.443 1.398 1.226 Berang kat 1.504 1.176 1.308 1.496 1.768 1.506 1.442 1.389 1.244 Barang (Kg) Trans Bongk it 1.567 1.557 1.756 1.748 1.581 1.349 1.501 1.136 1.203 ar 1.596 1.743 1.459 1.047 1.689 1.506 934 1.493 1.900 7.438 4.201 5.283 5.495 1.395 3.362 2.394 4.014 4.435 Muat

Jumlah

Sumber: BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat

2. Tahap penginputan data

Pada tahap ini praktikan melakukan data dari hasil literature-literatur yang telah didapatkan berdasarkan tema dari proyek proyek yang telah dilaksanakan. Pengolahan data yang dikerjakan praktikan menggunakan aplikasi Microsoft office office Word. Microsoft office Excel, ArcGIS, dan Coreldraw Data-data yang akan diolah berupa data primer dan data sekunder.

3. Tahap analisis. Pada tahap analisis, ada beberapa kegiatan yaitu: Analisis profil wilayah Analisis

Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) biasa digunakan dalam perencanaan strategic untuk menilai kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan tantangan eksternal. Kelebihan dari metode ini adalah tidak membatasi tujuan dan informasi yang digunakan, dapat menggunakaninfbrmasi dari media mass, hasil interview dst. Dengan memperhatikan berbagai faktor yang terkait dengan isu dan permasalahan utama masing-masing provinsi seperti permintaan muatan,pola pergerakan, prasarana dan sarana transportasi dapat diformulasi lebih rinci lagi dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT. Faktor-faktor penentu strategi, program dan upaya peningkatan pelayanan serta pembangunan transportasi di tujuh provinsi kepulauan di kelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal diuraikan menjadi faktor kekuatan atau kelemahan dan faktor eksternal dapat digolongkan sebagai peluang atau ancaman. Faktor eksternal dan internal diidentifikasi dari unsur potensi, permasalahan, ketersediaan sumberdaya dan target-target pengembangan dan pembangunan wilayah dalam kaitannya dengan upaya pengembangan sistem transportasi pulau pulau. Secara eksternal, selain permintaan angkutan komoditas bahan pokok, bahan bangunan dan makanan dalam kemasan, ada potensi besar angkutan pariwisata karena di gugus pulau sangat potensial dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Sejauh ini permintaan angkutan pariwisata ini masih ditangani oleh perusahaan travel biro secara eksklusif.

Angkutan bahan tambang yang diduga berpotensi tinggi di beberapa gugus pulau di provinsi kepulauan akan diangkut dengan armada khusus yang dioperasikan oleh perusahaan pertambangan bersangkutan. Model eksploatasi pertambangan seperti itu cenderung tidak berdampak pada perekonomian rakyat setempat.

Berdasarkan hasil analisis kondisi internal dan eksternal provinsi kepulauan termasuk dengan memperhatikan rencanan tata ruang dan opini pihak regulator (masing-masing pemerintah daerah) dan operator transportasi terkait, terdapat beberapa dasar pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam strategi pengembangan transportasi provinsi kepulauan. Berikut hasil analisis swot tentang kondisi transportasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Inventarisasi Faktor Internal dan Eksternal

Provinsi Faktor Internal Kekuatan - Masalah ketersediaan transportasi antar pulai kecil bukan Nusa Tenggara Barat kendala - Terdapat pulau terluar wilayah Indonesia yaitu jadi Kelemahan - Transportasi ke Pulau

Faktor Eksternal Peluang - Sebagai kawasan pariwisata maka peluang pengembang an transportasi dari dan ke pulau-pulau Tantangan - Beberapa pulau kecil di kawasan kepulauan pulau kecil

terluar masih sangat minim - Sebagian besar pulaupulau belum terlayani kecil

merupakan kawasan konservasi jadi pengembanga

P. Sophialouisa dan merupakan pulau terpencil - Pulau-pulau kecil terdapat diwilayah NTB merupakan wilayah daerah perikanan perkebunan - Potensi jumlah pergerakan dari pulau-pulau kecil ke pulau besar besar - Mobilitas pergerakan bukan hanya cukup akan dan yang juga

transportasi dengan baik - Kebutuhan biaya yang

kecil sangat besar. - Merupakan jalur paariwisata dibagian selatan Indonesia - Sarana prasarana sangat mendukung pengembang an transportasi dari dank e pulau-pulau kecil - Terdapat rencana alur lintas pelayaran Indonesia bagian selatan. dan

n transportasi kemungkinan dapat mengganggu keberadaan kawasan tersebut - Besarnya biaya operasional untuk antar

sangat besar untuk pengembang an transportasi dari dan ke pulau-pulau kecil sehingga pihak swasta sangat riskan untuk investasi sector transportasi. di

pulau-pulau kecil yang

masih belum didukung oleh kebijakan akan yang mamadai. tariff

penumpang saja juga melainkan pergerakan barang mempunyai mobilitas yang juga

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT